Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

Lembar Pengerahan......................................................................................................

Lembar Persetujuan......................................................................................................

Kata Pengantar..............................................................................................................

Daftar Isi.......................................................................................................................

Bab I Judul....................................................................................................................

Bab II Latar Belakang...................................................................................................

Bab III Rumusan Masalah............................................................................................

Bab IV Tujuan Penelitian.............................................................................................

Bab VI Pengumpulan dan pengolahan data pemeliharaan kualitatif............................

Bab VII Analisa data penelitian kualitatif....................................................................

Bab VIII Penutup..........................................................................................................


BAB II

LATAR BELAKANG

Pendidikan hukum mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting di dalam
aturan sendi-sendi kehidupan Negara yang tertera di dalam norma kehidupan
bermasyarakat khususnya hukum adat yang masih kuat dianut serta diterapkan di Bali yang
mana dari zaman nenek moyang sampai zaman globalisasi saat ini masih di terapkan dalam
kehidupan sehari-hari.hukum adat juga mempunyai dasar Undang-undang sesuai dengan
Perda No.06 tahun 1986 tentang fungsi dan kedudukan desa Adat kemudian direvisi
menjadi Perda No.03 tahun 2001 tentang Pakraman adat.

Hukum adat adalah suatu system hukum yang di kenal dalam lingkungan kehidupan
sosial di Indonesia dan Negara – Negara asia lain nya .sedangkan peraturan-peraturan
hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang masih di pertahankan dengan
kesadaran dan dukungan dari masyarakatnya.Karena dengan peraturan-peraturan yang
tidak tertulis dan tumbuh berkembang maka hukum adat memiliki kemampuan
menyesuaikan diri dan elastis.

Pendapat lain terkait bentuk dari hukum adat,selain hukum tidak tertulis ada juga
hukum tertulis,seperti halnya hukum tertulis yaitu hukum nasional yang di syahkan oleh
pemerintah sedangkan hukum tidak tertulis ialah hukum yang tidak disyahkan oleh
pemerintah namum hukum tersebut tercatat di dokumentasi awig-awig ( undang-undang
adat ) di Bali.
BAB III

RUMUSAN MASALAH

Rumusan Masalah

1) Dalam hukum adat (Awig – awig) ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan
kenapa tidak boleh bertentangan dengan pancasila, undang-undang dasar,
peraturan-peraturan yang ada?
2) Dimana letak hukum adat dan hukum formal untuk menindak kasus-kasus
pelanggaran?
BAB IV
TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Khusus

Praktek Kerja Nyata merupakan mata kuliah yang harus ditempuh oleh setiap
mahasiswa jurusan Hukum S-1,Mayjen Sungkono Mojokerto. Adapun sasaran dan tujuan
yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah:
- Untuk memenuhi persyaratan akademik dari mata kuliah hukum waris adat dengan
bobot 3 sks di jurusan hukum S-1,Universitas Mayjen Sungkono di Mojokerto
- Untuk melihat secara langsung penerapan dari teori – teori yang didapat di bangku
kuliah
- Untuk memantapkan pemahaman dari ilmu-ilmu yang didapat di bangku kuliah

- Untuk membahas wawasan berfikir dan memperoleh pengetahuan baru sesuai


dengan praktek yang ada di lapangan.

Tujuan Umum

Tujuan penelitian secara umum yaitu tujuan umum yang hendak dicapai dalam
penelitian untuk memperoleh gambaran mengenai praktek pelaksanaan bantuan hukum
dalam proses hukum tertulis maupun tidak tertulis yang ada di ADAT PANGLIPURAN
(Bali).
BAB V
METODE PENELITIAN

- Penelitian deskriptif yaitu menggambarkan secara lengkap karakteristik atau ciri-


ciri dari suatu keadaan, tanpa didahului hipotesa.
BAB VI

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENELITIAN


KUALITATIF

Ayat 1 : Kedudukan lokasi dan Jumlah Warga Adat

Desa Adat yang dengan luas wilayah ± 70 Ha, dengan jumlah penduduk ±
900 orang terdapat di wilayah Kecamatan Bangli, Kabupaten Daerah Tingkat II
Bangli yang sudah ada pada tahun 1741 adalah Desa Adat Penglipuran yang juga
merupakan salah satu objek pariwisata dan obyek penelitian bagi para ilmuwan
maupun para Mahasiswa dari beberapa Universitas yang ada di Dunia, salah
satunya adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Mayjen Soengkono Mojokerto, yang
pada tanggal 24 Mei 2010 telah melakukan penelitian tentang Hukum adat yang
ada di Desa Adat Panglipuran.Bahwa syarat berdirinya Desa adat ada 4 unsur yaitu
unsur keyakinan, unsur Pemimpin adat yang dianut / sebagai panutan, unsure
wilayah dan unsur kraman ( warga ) selain itu Desa Adat juga ada konsep tata
ruang / TRI MANDALA yaitu Utama mandala / ada ruang / tanah / tempat ibadah,
Madya mandala / Pemukiman warga, Mista mandala / kuburan warga.Selain itu
juga dalam hal Perkawinan di hukum Adat hanya menganut sistem Monogami
karena seorang laki-laki tidak boleh melecehkan seorang perempuan apabila
seorang laki-laki melanggar dengan menikah lebih dari dua istri maka akan
mendapat sanksi dari kepala adat seperti dikucilkan dari Desa adat dengan di
tempatkan di tempat pengungsian yang sudah disediakan dari nenek moyang kepala
Adat.Pada dasarnya warga adat apabila menikah dengan seorang laki-laki maka
tidak boleh ikut dengan Si Istri jadi seharusnya Si Istri yang ikut suaminya.
Sesuai dengan kosep yang ada, desa adat penglipuran dibagi menjadi tiga bagian
yaitu bangunan suci yang terletak di hulu/ perumahan di tengah, dan lahan usaha
tani di pinggir atau hilir. Di Pura Penataran/ masyarakat desa adat penglipuran
memuja Dewa Brahma manifestasi Ida Sang Hyang Widi sebagai pencipta alam
semesta beserta isinya.

Dan masyarakat desa adat panglipuran percaya bahwa leluhur mereka berasal
dari Desa Bayung Gede, Kintamani.Dilihat dari segi tradisi, desa adat ini
menggunakan sistem pemerintahan hulu abad.Pemerintahan desa adatnya terdiri
dari prajuru hulu abad. Prajuruhulu abad terdiri dari jero kubayan, jero kubahu,
jero singgukan, jero cacar, jero balung dan jero pati. Prajuru hulu abad otomatis
dijabat oleh mereka yang paling senior dilihat dari usia perkawinan tetapi yang
belum ngelad / pensiun.Ngelad atau pensiun terjadi bila semua anak sudah kawin
atau salah seorang cucunya telah kawin. Mereka yang baru kawin duduk pada
posisi yang paling bawah dalam tangga keanggotaan desa adat. Menyusuri jalan
utama desa kearah selatan akan menjumpai sebuah tugu pahlawan yang tertata
dengan rapi.Tugu ini dibangun untuk memperingati serta mengenang jasa
kepahlawanan Anak Agung Gede Anom Mudita atau yang lebih dikenal dengan
nama kapten Mudita.Anak Agung Gde Anom Mudita, yang gugur melawan
penjajah Belanda pada tanggal 20 November 1947. Taman Pahlawan ini dibangun
oleh masyarakat desa adat penglipuran sebagai wujud bakti dan hormat mereka
kepada sang pejuang bersama segenap rakyat Bangli, Kapten Mudita berjuang
tanpa pamrih demi martabat dan harga diri bangsa sampai titik darah penghabisan.

Ayat II : Pintu Gerbang (angkul) Khas Bali

Keteraturan angkul atau pintu gerbang dan pola hunian di setiap pekarangan
rumah menjadi ciri khas desa adat yang pernah meraih penghargaan Kalpataru ini.
Keserasian antara arsitektur bangunan dengan lingkungan membuat desa ini
berbeda dengan desa adat lainnya yang ada di Bali.

Penglipuran merupakan satu dari sembilan desa adat yang ada di Bali. Desa
ini berada di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. Konon, keberadaan warga
di sini berawal dari perang pada tahun antara kerajaan Bangli dengan kerajaan
Gianyar. Warga yang diminta bertempur oleh raja Bangli lantas diberi hadiah
berupa sebidang tanah yang kini lokasi tanah tersebut berdiri Desa Adat
Penglipuran.

Secara arsitektur, yang menarik dari desa ini adalah pola huniannya. Setiap
bangunan yang ada di masing-masing pekarangan ditata dengan rapi. Meskipun
kini sudah menggunakan material yang bukan aslinya, tatanan pola setiap bangunan
tetap mencerminkan sebagai sebuah bangunan arsitektur tradisional.

Suasana desa ini terlihat berbeda dengan desa adat lainnya yang berada di
Bali. Ketika memasuki pintu gerbang dan memarkirkan kendaraan, suasana
berbeda sungguh terasa.

Pintu gerbang khas Bali atau disebut angkul yang merupakan akses menuju
rumah penduduk yang berada setiap pekarangan terlihat seragam satu sama lain.
Dindingnya terbuat dari pasangan bata dengan atap bambu. Meskipun warna dan
ornamennya ada yang berbeda, tetapi keteraturan angkul di setiap rumah
memberikan ciri khas yang berbeda dengan desa adat yang lain.
Ayat III : Zonanisasi Hulu Kelod

Menurut I Wayan Supat (42), Kepala Desa Adat Panglipuran, keseragaman


angkul ini tak terlepas dari pembagian zona desa. Setidaknya terdapat 3 pembagian
zona; zona hulu, zona pawongan atau zona pemukiman, dan zona kelod atau teben.

Ketiga zona ini letaknya membujur dari arah utara ke selatan dengan poros
tengah berupa jalan desa yang disebut rurung gede. Jalan desa ini jugs memisahkan
bagian zona pawongan menjadi dua, bagian barat yang disebut Kauh dan di sebelah
timur yang disebut Kangin.

Jika diibaratkan sebagai tubuh manusia, zona hulu adalah bagian kepala, zona
pawongan adalah bagian tubuh, dan zona kelod adalah bagian kaki. Di bagian zona
hulu, terdapat bangunan suci atau disebut parahyangan. Di sini terdapat pura yang
bernama Pura Penataran, tempat bersembahyang warga desa.

Di zona pawongan yang merupakan zona pernukiman penduduk terdapat 76


pekarangan atau kaveling rumah tempat bermukim warga. Setiap pekarangan yang
memiliki luas sekitar 120 are memiliki satu kepala keluarga dan dihuni turun
temurun.

Di setiap pekarangan terdapat beberapa bangunan seperti sanggah (tempat


bersembahyang di rumah), dapur, bale sangkanan, clan lumbung. Seiring
perkembangan jaman, beberapa fungsi bangunan ini berubah. Meski berganti, letak
setiap bangunannya tidak bergeser. Bangunan lumbung contohnya. Kini, bangunan
lumbung ada yang dibangun dan berfungsi sebagai rumah induk tempat bermukim
warga.

Selain pergeseran fungsi, material pembentuknya juga diganti. Sebagai


contoh, bangunan dapur yang dulunya menggunakan anyaman bambu kini ada
yang diganti dengan batu bata.

Sedangkan zona kelod adalah zona yang terdapat tempat pemakaman. Jika
ada warga yang meninggal, jenazah akan dimakamkan di sans. Warga Desa
Penglipuran tidak mengenal ritual pembakamn jenazah sehingga jenazah harus
dimakamkan.
Hingga sekarang, tatanan pola hunian seperti ini tetap masih dipertahankan
sehingga sangat menarik untuk dikunjungi. Maka tak heran jika desa yang
mayoritas penduduknya adalah petani ini mendapatkan penghargaan Kalpataru dan
ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah pada tahun 1995.

Ayat IV : Penyelesaian Kasus Adat

Pada hukum adat apabila ada warga adat yang melakukan pelanggaran
terhadap aturan yang berlaku pada hukum adat maka orang yang melanggar
tersebut di musyawarahkan terdahulu oleh para tetua adat untuk proses hukuman
yang layak diberikan karena pada hukum juga ada aturan adat yang disebut dengan
awig-awig

Pada dasarnya penyelesaian hukum adat diberikan kewenangan penuh kepada


Hakim Adat, pada prinsipnya kasus-kasus adat haruslah dapat diselesaikan secara
Adat, akan tetapi kalau merasa tidak puas warga adat dapat pula untuk
menyelesaian secara hukum pemerintah.

Jika kasus adat tersebut dilaksanakan secara hukum formal, biasanya tetap
suara hakim adat tetap dipertimbangkan oleh Hakim peradilan Umum dalam
mengambil keputusannya, apakah sudah diselesaikan secara adat atau belum, dan
disini pertimbangan dari Hakim Adat juga selalu dipakai sebagai bahan
pertimbangan.
SANKSI HUKUM :

Sanksi hukum adat adalah berbentuk sanksi moral, misalnya :

Di Desa Adat Panglipuran hanya mengenal sistim perkawinan Monogami dan


tidak dikenal adanya perkawinan Polygami maupun Polyandri, dan jika ada warga
yang melakukan polyandry maka warga tersebut dapat dikenai saknsi adat yaitu
pengasingan dalam hal ini suami istri tersebut dibangunkan rumah ditempat yang
sudah disediakan oleh warga desa Adat, disamping itu juga yang bersangkutan
tidak boleh keluar desa melalui perempatan Desa adat.

Dalam hal perkara-perkara pidana sebisa mungkin Hakim adat dapat


mengambil kebijakan dalam arti lain memanggil warga yang berselisih, untuk
diberikan wejangan agar dapat diselesaikan secara adat dan bila tetap tidak bisa
diselesaikan secara adat, warga bisa melakukan secara hukum formal yaitu
melaporkan kepihak yang berwenang, akan tetapi dalam hal ini Hakim Adat wajib
untuk mengetahui terlebih dahulu permasalahan dimaksud.

Dalam hal yang dilaporkan tersebut sudah melalui proses secara hukum
positif, maka tidak hanya itu yang harus diemban oleh warga adat Desa
Panglipuran, akan tetapi masih bisa dikenai sanksi adat misalnya tidak ditegur sapa
bahkan sampai tidak diperbolehkan keluar melalui perempatan jalan Desa Adat.jadi
bagi warga adapt bisa mendapat dua sanksi selain dari hukum formal yang dari
kepolisian dengan kurungan badan ( penjara ) selain itu setelah keluar dari
hukuman kurungan maka warga tersebut juga mendapat sanksi hukuman adat lain
halnya dengan warga nyang bukan dari Desa adapt seumpama melakukan
pelanggaran terhadap aturan maka hanya mendapat sanksi hukuman formal
saja.jadi warga adat bisa jera terhadap pelanggaran yang dilakukan karena
mendapat dua sanksi dari Hukum adat dan hukum formal.Tapi warga Adat jarang
juga yang melanggar kesalahan aturan yang terjadi.
BAB VII

ANALISA DATA

Hukum Adat (Awig-awig) di Desa Panglipuran dibuat oleh Para tetua adat yang
hingga saat ini berjumlah 76 orang dan membawai + 900 warga adat yang berada di Desa
Adat Panglipuran, para tetua adat tersebut dipimpin oleh seoarang yang bernama KEPALA
ADAT.Dalam Desa Adat ada 2 (dua) Hukum yang berlaku, yaitu Hukum Adat (Awig-
awig) dan hukum formal (Hk Positif ). Dalam pembuatan Hukum Adat (Awig-awig) ada
beberapa syarat yag harus dipenuhi yaitu :

I. Tidak boleh bertentangan dengan Pancasila


II. Tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang
III. Tidak boleh bertentangan dengan peraturan-peraturan yang ada;

Disini menunjukkan bahwa, walaupun Desa adat Panglipuran lembaga yang


mempunyai hak otonom, akan tetapi dalam pembuatan Awig-awig (Hukum Adat) harus
melihat keselarasan dengan peraturan lainnya yaitu hukum positif yang berlaku ( Hukum
Pemerintah ).

PENYELESAIAN KASUS ADAT MENURUT HUKUM ADAT

Pada dasarnya penyelesaian hukum adat diberikan kewenangan penuh kepada Hakim
Adat, pada prinsipnya kasus-kasus adat haruslah dapat diselesaikan secara Adat, akan
tetapi kalau merasa tidak puasa warga adat dapat pula untuk menyelesaian secara hukum
pemerintah.

Jika kasus adat tersebut dilaksanakan secara hukum formal, biasanya tetap suara
hakim adat tetap dipertimbangkan oleh Hakim peradilan Umum dalam mengambil
keputusannya, apakah sudah diselesaikan secara adat atau belum, dan disini pertimbangan
dari Hakim Adat juga selalu dipakai sebagai bahan pertimbangan.