Anda di halaman 1dari 10

MENCERMATI KINERJA TEKSTIL INDONESIA :

ANTARA POTENSI DAN PELUANG

Oleh : Ermina Miranti 1

Meskipun tak putus didera masalah, hingga saat ini Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia masih memainkan peran yang cukup besar terhadap perekonomian nasional. Pada 2006, industri ini memberikan kontribusi sebesar 11,7 persen terhadap total ekspor nasional, 20,2 persen terhadap surplus perdagangan nasional, dan 3,8 persen terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara daya serap industri ini terhadap tenaga kerja juga cukup besar, mencapai 1,84 juta tenaga kerja.

Hingga saat ini, industri TPT Indonesia menghadapi berbagai masalah. Masalah- masalah tersebut diantaranya adalah biaya energi yang mahal, infrastruktur pelabuhan yang belum kondusif, mesin-mesin pertekstilan yang sebagian besar sudah sangat tua, dan maraknya produk impor ilegal terutama dari China. Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan Industri TPT Indonesia berjalan dengan kondisi yang kurang sehat. Biaya operasional menjadi relatif mahal, namun dengan produktivitas yang relatif rendah. Dengan kondisi yang cukup berat tersebut, produk TPT Indonesia masih berhasil mendapat tempat yang cukup baik di pasar luar negeri, bahkan memiliki daya saing yang cukup tinggi di pasar internasional. Ini terbukti dari cukup besarnya kontribusi devisa yang dihasilkan dari sektor ini dari tahun ke tahun maupun kontribusi Indonesia terhadap perdagangan TPT internasional dibanding negara-negara eksportir lainnya. Pada 2006 misalnya, devisa yang dihasilkan dari sub sektor TPT mencapai US$ 9,5 miliar.

Profil Industri

Hingga 2006, jumlah industri tekstil Indonesia mencapai 2.699 perusahaan, dengan total investasi Rp 135,7 triliun. Jumlah ini hanya mengalami sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 2,656 perusahaan. Lokasi industri TPT terkonsentrasi di Jawa Barat (57 persen), Jawa Tengah (14 persen), dan Jakarta (17 persen). Sisanya tersebar di Jawa Timur, Bali, Sumatera dan Yogyakarta. Pada 2006, total kapasitas produksi mencapai 6,1 juta ton dengan utilitas 69,8 persen. Kapasitas produksi tersebut terdiri dari industri pemintalan 2,4 juta ton, industri pertenunan,

1 Analis Ekonomi dan Bisnis pada bank BUMN di Jakarta

Economic Review No. 209 September 2007

1

perajutan, pencelupan dan finishing 1,8 juta ton, industri garmen 754 ribu ton dan tekstil lainnya 101 ribu ton. Kapasitas produksi ini mengalami kenaikan sebesar 1,7 juta ton dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5,86 juta ton.

Industri tekstil memiliki struktur industri yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir (up stream, mid stream, dan down stream) dan memiliki keterkaitan yang sangat erat antara satu industri dengan industri lainnya. Karena itu, analisis mengenai industri ini akan menyentuh berbagai segmen industri baik langsung maupun tidak langsung

Di tingkat hulu Indonesia memiliki industri serat yang terdiri dari industri serat alam, serat buatan dan benang filamen; dan industri pemintalan serta pencelupan (spinning). Hingga 2006, Indonesia telah memiliki 26 perusahaan industri serat dengan total kapasitas terpasang 1,077 ribu ton. Sekitar 70% dari hasil industri serat ini diserap oleh industri pemintalan di dalam negeri. Sedangkan sisanya diekspor ke luar negeri. Saat ini Indonesia merupakan produsen serat buatan ketujuh terbesar dunia yang memasok 10% kebutuhan serat rayon dunia.

Sementara itu, jumlah industri pemintalan mencapai 204 perusahaan dengan kapasitas terpasang 2,4 juta ton dan jumlah mesin 7.803.241 unit pada 2006. Jumlah mesin ini tidak mengalami perkembangan sejak 2003. Dari jumlah mesin tersebut, sebanyak 64 persen diantaranya telah berusia diatas 20 tahun. Ini menyebabkan industri ini tidak mampu memenuhi permintaan pasar dalam negeri maupun luar negeri secara optimal. Sekitar separuh dari produksi industri pemintalan dikonsumsi di dalam negeri, dan sisanya di ekspor ke luar negeri.

Kondisi yang relatif sama juga terlihat pada industri pertenunan, perajutan, pencelupan dan finishing. Jumlah perusahaan yang berjumlah 1,044 perusahaan dengan total kapasitas produksi 1,78 juta ton pada 2006 nyaris tidak mengalami perkembangan sepanjang 5 tahun terakhir. Demikian juga jumlah mesin tidak mengalami penambahan sejak 2003. Diantara industri TPT, industri ini kondisinya termasuk yang paling memprihatinkan. Dari 248.957 unit mesin tenun yang ada, sekitar 66 persen diantaranya telah berusia diatas 20 tahun, dan 26 persen diatas 10 tahun. Kondisi mesin rajut dan mesin finishing jauh lebih memprihatinkan. Jumlah mesin rajut yang berusia diatas 20 tahun mencapai 84 persen dari jumlah mesin 41.312 unit. Sementara pada mesin finishing, jumlah mesin yang berusia diatas 20 tahun jumlahnya mencapai 93 persen dari 349 unit mesin yang ada. Itulah sebabnya, karena kemampuan mesin finishingnya yang rendah, ekspor di sub sektor ini didominasi oleh kain mentah. Pasar utama dari hasil industri tenun adalah negara-negara di Eropa dan Timur Tengah.

Di tingkat hilir, terdapat industri garmen yang jumlahnya mencapai 897 perusahaan pada 2006 dengan total kapasitas terpasang 754 ribu ton. Sekitar 88 persen dari hasil industri garmen diekspor ke luar negeri dan 12 persen untuk pasar domestik.

Beberapa Permasalahan

Salah satu permasalahan terbesar industri TPT Indonesia saat ini adalah usia mesin-mesin yang sudah sangat tua. Ini memang permasalahan klasik, namun belum terselesaikan hingga saat ini. Menurut catatan Departemen Perindustrian, dari seluruh mesin TPT yang ada (8,38 juta unit mesin pada 2006), sekitar 80 persen diantaranya telah berusia diatas 20 tahun. Ini menyebabkan produktivitas menurun hingga 50 persen. Di Industri pemintalan jumlah mesin yang berusia diatas 20 tahun mencapai 64 persen (5.025.287 mata pintal dari 7.803.241 mata pintal). Di industri pertenunan jumlahnya mencapai 82,1 persen (204.393 ribu alat tenun mesin dibanding 248.957 unit), perajutan 84%, finishing 93% dan pakaian jadi atau garmen 78%. Dengan kondisi mesin- mesin yang sudah sangat tua tersebut, produktivitas industri TPT Indonesia diperkirakan menurun hingga 50 persen.

Untuk merestrukturisasi mesin-mesin yang sudah tua tersebut diperkirakan dibutuhkan biaya sekitar Rp 44,07 triliun. Jumlah yang cukup besar tersebut terdiri dari restrukturisasi mesin di industri pemintalan sebesar Rp 13,26 triliun, industri serat Rp 8,07 triliun, industri tenun, rajut dan finishing Rp 20,9 triliun, dan industri garmen Rp 1,84 triliun.

Tabel 1. Perkiraan Kebutuhan Investasi untuk Restrukturisasi Mesin-Mesin TPT

SUB SEKTOR

Target Nilai Ekspor (US$ miliar)

Penambahan Kapasitas Produksi

 

Kebutuhan Investasi*)

 
 

US$

Rupiah

Serat

 

711.000

ton

0.95

miliar

8.07

triliun

Pemintalan

3

miliar

864.682

ton

1.56

miliar

13.26

triliun

Tenun, Rajut

 

(grey) 775.505 ton

   

& Finishing

3

miliar

(finish) 971.380 ton

2.46

miliar

20.90

triliun

Garment

8

miliar

359.678

ton

0.22

miliar

1.84

triliun

Total

14 miliar

 

5.19 miliar

44.07 triliun

Sumber: Asosiasi Pertekstilan Indonesia

Economic Review No. 209 September 2007

3

Dengan kondisi tersebut wajar apabila kemudian pemerintah berupaya membantu industri TPT untuk merestrukturisasi mesin-mesinnya. Selama 2007, pemerintah telah menyalurkan dana sebesar Rp 255 miliar untuk membantu peningkatan teknologi atau restrukturisasi mesin industri TPT. Kucuran dana tersebut rencananya akan dilakukan lagi pada 2008 sebesar Rp 400 miliar. Dibanding kebutuhan dana restrukturisasi yang sebesar Rp 44 triliun lebih, dana sebesar itu tentu saja masih jauh dari cukup. Karena itu, keterlibatan lembaga pembiayaan khususnya perbankan sangat diperlukan.

Permasalahan lain yang cukup serius adalah maraknya tekstil impor ilegal yang masuk ke pasar domestik terutama dari China. Jumlah tekstil ilegal ini ditengarai menguasai hingga 50 persen pasar tekstil domestik yang mencapai 1.013 ribu ton pada 2006. Diperkirakan produk TPT Ilegal yang masuk melalui pelabuhan mencapai 74 persen dan melalui bandara 25 persen. Di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, produk TPT ilegal masuk dalam bentuk pakaian jadi.

Biaya energi yang mahal merupakan permasalahan lain yang cukup mengganggu daya saing produk tekstil Indonesia. Pada 2005 misalnya, biaya listrik yang dikeluarkan industri TPT Indonesia mencapai US$ 0.08 (8 cent/kwh, tertinggi dibanding negara lain yang hanya sebesar 7,6 cent/kwh di China, 7 cent/kwh di Vietnam, 6,6 cent/kwh di Pakistan, dan 3 cent/kwh di Bangladesh dan Mesir. Disamping mahal, kebutuhan listrik juga belum mampu dipenuhi secara optimal oleh PLN. Untuk biaya tenaga kerja, Indonesia juga merupakan yang tertinggi diantara negara produsen lainnya. Bila negara Bangladesh dan Vietnam hanya membayar upah buruh sebesar US$ 0,35/ jam, Pakistan US$ 0,40/jam, India US$ 0,6/jam, Indonesia membayar lebih mahal yakni lebih dua kalinya Bangladesh dan Vietnam, yakni sebesar US$ 0,76/jam. Diluar itu, Indonesia masih dihadapi biaya pelabuhan yang cukup mahal, termahal kedua diantara negara-negara ASEAN setelah Singapura.

Kinerja Industri

Kinerja ekspor industri TPT Indonesia sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan pada 2003. Namun demikian, sejak 2004 kinerjanya terus mengalami kenaikan baik dari sisi volume maupun nilai ekspor. Bahkan volume maupun nilai ekspor yang dicapai pada 2006 telah melampaui volume dan nilai ekspor pada tahun 2000. Lebih dari separuh nilai ekspor dikontribusi oleh industri garmen yang mencapai 55,7 persen (USD 5,27 juta), diikuti oleh industri pemintalan sebesar 18,9 persen, dan industri pertenunan

15,6 persen. Sebagian besar negara tujuan TPT Indonesia adalah AS, Uni Eropa, dan Jepang. Pada 2006, ekspor ke AS mencapai 41,3 persen, Uni Eropa 16,5 persen, dan Jepang 3,7 persen. Bila diperhatikan, terlihat bahwa kenaikan ekspor pada 2006 juga didorong oleh kenaikan harga rata-rata produk TPT yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya yakni dari USD 4,76/kg pada 2005 menjadi USD 4,99/kg.

Tabel 2. Perkembangan Ekspor TPT Indonesia

Tahun

Volume (ribu kg)

Value (ribu USD)

Harga rata-rata (USD/kg)

2000

1,777,132

8,377,397

4.71

2001

1,721,312

7,678,422

4.46

2002

1,758,675

6,888,559

3.92

2003

1,555,920

7,052,181

4.53

2004

1,626,461

7,647,441

4.70

2005

1,796,800

8,555,000

4.76

2006

1,877,400

9,376,000

4.99

Sumber

:

- BPS - Asosiasi Pertekstilan Indonesia

Sementara itu, volume penjualan (konsumsi) dalam negeri juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni dari 836 ribu ton pada 2005 menjadi 1,050 ribu ton pada 2006. Namun demikian kenaikan konsumsi yang tinggi ini diperkirakan lebih dari separuhnya dipasok dari tekstil impor ilegal. Diperkirakan jumlah tekstil impor ilegal di pasar domestik mencapai 58% pada 2005, dan 50% pada 2006, jauh diatas pasokan industri TPT domestik yang hanya sebesar 36% pada 2005 dan 45% pada 2006. Meningkatnya impor ilegal tersebut disebabkan antara lain harga, disain dan kualitas yang sangat bersaing.

Perkembangan investasi untuk industri TPT cenderung stagnan sepanjang 2001-

2005. Namun pada 2006 terjadi sedikit kenaikan sebesar Rp 3,34 triliun. Peningkatan

investasi ini terutama terjadi dalam PMA (Penanaman Modal Asing). Pada 2006, PMA mencapai US$ 418 juta atau meningkat 490% dibanding 2005, sedangkan PMDN

(Penanaman Modal Dalam Negeri) sebesar Rp 80 miliar atau turun 2100% dibanding

2005. Hingga 2007, penambahan investasi asing masih terus berlangsung. Saat ini ada 4

negara yang mendominasi industri TPT di Indonesia yakni india (PT Indorama), Jepang

(PT Summitmas Group), Korea Selatan (Korean Garmen Group), dan Taiwan (Taiwan Garmen Group). Selama Januari-April 2006 terdapat 40 perusahaan asal Korea yang menanamkan modalnya di sektor TPT dengan nilai investasi US$ 375 juta.

Grafik 1

PERKEMBANGAN INVESTASI INDUSTRI TPT

100,000

90,000

80,000

70,000

60,000

50,000

40,000

30,000

20,000

10,000

0

Serat/Fiber Benang/Yarn Kain/Fabric Pakaian/Clothing Produk lainnya Total
Serat/Fiber
Benang/Yarn
Kain/Fabric
Pakaian/Clothing
Produk lainnya
Total

2001

2002

2003

2004

2005

2006

134,000

133,500

133,000

132,500

132,000

131,500

131,000

130,500

130,000

129,500

129,000

Investasi Modal (Rp miliar)

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Serat/Fiber

11,640

11,929

11,929

11,929

11,929

12,306

Benang/Yarn

24,777

25,040

25,040

25,040

25,040

25,558

Kain/Fabric

30,811

31,428

31,636

31,705

31,567

32,330

Pakaian/Clothing

2,808

2,913

2,958

2,978

2,975

3,318

Produk lainnya

60,786

60,790

60,790

60,790

60,790

62,135

Total

130,822

132,100

132,353

132,442

132,301

135,647

Sumber : - Asosiasi Pertekstilan Indonesia - BPS

Daya Saing Indonesia Posisi dan daya saing tekstil Indonesia di pasar dunia cukup baik. Pada 2006, Indonesia merupakan pemasok keempat terbesar untuk pasar tekstil AS dengan kontribusi 4,18% (US$ 3,9 juta). Pemasok terbesar di AS adalah China (US$ 27,067 juta), Meksiko (US$ 6,378 juta), dan India (US$ 5,031juta). Posisi perdagangan TPT Indonesia di AS setiap tahunnya cenderung membaik. Peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di AS makin besar karena volume ekspor Indonesia tumbuh rata-rata 10,67% setiap tahunnya, lebih besar dibanding pertumbuhan volume impor AS yang hanya 10%.

Grafik 2. Pemasok (15 Besar) TPT di Pasar Amerika Serikat Tahun 2006 (dalam Juta USD)

Srilanka 1,703 Italy 2,068 Philippines 2,085 Thailand 2,124 Cambodia 2,151 Honduras 2,445 Canada 2,587
Srilanka
1,703
Italy
2,068
Philippines
2,085
Thailand
2,124
Cambodia
2,151
Honduras
2,445
Canada
2,587
Hongkong
2,893
Bangladesh
2,998
Pakistan
3,250
Vietnam
3,396
Indonesia
3,902
India
5,031
Mexico
6,378
Cina
27,067

Sumber :

0

5,000

10,000

- Asosiasi Pertekstilan Indonesia

- Major Shipper, OTEXA

15,000

20,000

25,000

30,000

Sementara di Uni Eropa Indonesia merupakan pemasok TPT kesepuluh terbesar dengan share 1,2% (EURO 1,57 juta) pada 2006. Pesaing utama Indonesia di Uni Eropa adalah China yang mendominasi pangsa pasar Eropa, diikuti Turki dan India. Posisi Indonesia di Eropa cenderung stagnan. Sebaliknya, posisi negara-negara yang berdekatan secara geografis dengan Eropa cenderung menguat. Sementara di pasar Jepang Indonesia merupakan pemasok kain & benang ketiga terbesar dengan kontribusi 6 persen (USD 349 juta). Pesaing utama Indonesia di Pasar Jepang adalah China yang mendominasi pasar (USD 3,037 miliar), diikuti oleh Uni Eropa, Korea, Taiwan dan AS. Posisi perdagangan Indonesia di Jepang cenderung stagnan.

Untuk produk serat, Indonesia merupakan produsen ketujuh terbesar dunia dengan kontribusi 10% terhadap total pasok dunia. Pasar utama Indonesia untuk benang pintal adalah Jepang, Brazil, Korea dan Turki. Untuk benang filament pasar utama Indonesia adalah India dan Taiwan. Sementara itu, posisi Indonesia di perdagangan kain tenun cenderung terus melemah karena ketertinggalan teknologi di sektor pertenunan dan kurangnya kemampuan manufacturing di sektor pencelupan dan finishing.

Untuk pakaian jadi, Indonesia berada di posisi sembilan besar. Posisi Indonesia di posisi ini masih cukup kuat terutama karena kemampuannya dalam memenuhi kualifikasi produk yang diinginkan buyer luar negeri. Namun kompetisi di segmen ini cukup ketat. Pasar utama pakaian jadi adalah Uni Eropa (UE), AS, Jepang dan Hongkong. Sedangkan eksportir utama adalah China, UE, Hongkong, Turki, Meksiko, India, AS dan Rumania.

Prospek Tekstil Dunia dan Peluang Indonesia

Kedepan, perdagangan TPT dunia diperkirakan akan terus bertumbuh sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Tingkat konsumsi tekstil dunia yang pada 2006 baru mencapai 65,2 kg per kapita, pada 2008 diperkirakan akan mencapai 66,6 kg. Dan pada 2010, dengan asumsi jumlah penduduk dunia mencapai 6,8 miliar jiwa, tingkat konsumsi tekstil diperkirakan akan bertumbuh menjadi 68 kg per kapita. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan permintaan TPT dari AS, Uni Eropa dan Jepang. Pada saat tersebut perdagangan TPT dunia akan mencapai US$ 649 miliar. Impor TPT AS, selain paling besar juga mengalami kenaikan paling pesat diantara negara-negara importir yakni dari 55,8 miliar SME pada 2006 menjadi 81,7 miliar pada 2010. Sementara impor TPT dari Uni Eropa diperkirakan meningkat dari 19,6 juta ton pada 2006 menjadi 20,8 juta ton pada 2010. Sedangkan impor Jepang pada kurun waktu yang sama meningkat dari 2,6 juta ton menjadi 2,92 juta ton.

Di dalam negeri permintaan domestik akan TPT diperkirakan juga akan meningkat dari 3,8 kg per kapita menjadi 4,5 kg per kapita sehingga merupakan peluang pula bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di dalam negeri.

Bagaimanakah peluang Indonesia meningkatkan pangsa pasar? Dengan posisi yang cukup kuat saat ini sebagai pemain 10 besar dunia, Indonesia berpeluang cukup besar untuk meningkatkan penetrasi pasarnya di pasar luar negeri terutama pasar AS, Uni Eropa dan Jepang. Pada 2006, Indonesia merupakan pemasok keempat terbesar di pasar tekstil AS dengan nilai pasok US$ 3,9 juta, pemasok TPT kesepuluh terbesar di pasar Uni Eropa dengan nilai EUR 1,57 juta, dan pemasok kain dan benang ketiga terbesar di Jepang dengan nilai pasok USD 349 juta. Peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya menjadi semakin besar dengan adanya aksi safeguard oleh AS terhadap produk TPT China yang meliputi 22 kategori dan oleh Uni Eropa yang meliputi 10 kategori produk TPT. Aksi ini akan diikuti juga oleh negara-negara lain seperti Turki dan Brazil sehingga akan memperbesar peluang bagi eksportir non China termasuk Indonesia.

Permasalahannya kemudian adalah seberapa besar kemampuan Indonesia menangkap peluang tersebut. Karena, meskipun peluang cukup terbuka lebar, Indonesia hingga kini masih memiliki sejumlah hambatan yang cukup serius untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus produktivitas, serta daya saing di pasar global. Dari sisi kualitas dan jumlah mesin misalnya. Dari sekitar 8 juta lebih unit mesin TPT yang ada, sekitar 80 persen diantaranya merupakan mesin-mesin tua yang berusia diatas 20 tahun. Itu sebabnya meskipun jumlah mesin yang tercatat cukup banyak, mesin yang benar- benar beroperasi hanya sebagian kecil diantaranya. Yang terjadi di Majalaya Jawa Barat adalah contoh yang menarik untuk menggambarkan situasi ini. Dari 15.000 unit mesin tekstil yang ada di daerah ini hanya sekitar 5.000 unit yang masih beroperasi.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia menargetkan nilai ekspor TPT sebesar USD 14 miliar pada 2010, Itu berarti meningkat sebesar 48 persen dibanding 2006. Secara rata- rata berarti terjadi kenaikan nilai ekspor sebesar USD 1,14 miliar per tahun. Nilai ekspor tersebut berasal dari industri pemintalan USD 3 miliar, finishing USD 3 miliar, dan garmen USD 8 miliar. Untuk itu dilakukan peningkatan kapasitas produksi di semua jenis industri TPT sehingga total kapasitas produksi mencapai 10,91 juta ton pada 2010.

Tabel 3. Proyeksi Kapasitas Produksi dan Nilai Ekspor Industri TPT Indonesia 2010

Jenis Industri

Kapasitas Produksi (juta ton)

Nilai Ekspor (USD miliar)

2003

2010

2003

2010

Serat/Fiber

1.04

1.76

   

Pemintalan

2.3

3.2

1.5

3

Tenun & Rajut

1.72

2.5

   

Finishing

1.52

2.5

1.52

3

Garment

0.59

0.95

3.93

8

Total

7.17

10.91

6.95

14

Sumber : Asosiasi Pertekstilan Indonesia, diolah.

Upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi ini (melalui restrukturisasi mesin) mulai gencar dilakukan dalam setahun terakhir. Pemerintah telah menganggarkan Rp 255 miliar dalam APBN 2007 dan Rp 400 miliar dalam APBN 2008 untuk program percepatan peremajaan mesin. Jumlah ini tentu saja masih jauh dari yang diharapkan. Karena itu, keterlibatan perbankan dalam upaya peremajaan mesin-mesin TPT ini sangat diperlukan. Permasalahannya adalah, track record kredit industri TPT kurang begitu baik di kalangan perbankan, yang menimbulkan persepsi sebagai industri berisiko tinggi. Karena itu pula perlu dicarikan jalan keluar yang sifatnya win-win solution. Perbankan dapat bekerjasama dengan API dalam mengidentifikasi calon-calon debitur kredit tekstil yang potensial untuk dibiayai merestrukturisasi mesin-mesinnya yang tentu saja bankable

Economic Review No. 209 September 2007

9

(layak secara perbankan). Informasi yang akurat dan transparan dari Asosiasi mengenai calon debitur akan sangat membantu perbankan untuk meningkatkan keamanan kredit dan meminimalisir risiko kemacetan kredit.

Faktor lain yang akan menjadi ganjalan upaya peningkatan pangsa pasar industri tekstil Indonesia adalah biaya energi dan biaya buruh yang mahal. Disamping mahal, suplai energi dari PLN belum mampu memenuhi kebutuhan industri TPT secara maksimal. Saat ini PLN masih berupaya meningkatkan kapasitas energinya dari baru bara dan gas. Demikian juga dengan kebijakan sistem perburuhan yang hingga saat ini dirasakan masih kurang berpihak kepada dunia usaha.

Terakhir adalah illegal textile import. Aksi yang sangat menganggu ini sudah sedemikian rupa sehingga telah menyedot pangsa pasar tekstil domestik hingga 50 persen. Dengan biaya produksi yang jauh lebih murah ditambah biaya operasional yang rendah pula adalah sulit bagi industri tekstil nasional bersaing dengan produk China. Karena itu, diperlukan langkah-langkah yang serius dari pemerintah untuk mencegah dan meminimalisir masuknya tekstil impor legal ke Indonesia.

Dengan restrukturisasi mesin-mesin dan iklim dunia usaha yang lebih kondusif (sistem perburuhan, biaya energi yang murah dan cukup tersedia) peningkatan pangsa pasar TPT Indonesia di dalam maupun luar negeri bukan lagi suatu yang mustahil untuk dicapai.