Anda di halaman 1dari 17

I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I

Minggu I

Minggu I

PENGANTAR ESTETIKA DESAIN

BAGIAN I
(Disarikan sebagian dari tulisan Agus Sachari, 2002)

CAKUPAN ISI

Pengantar estetika desain akan dibahas pada modul minggu pertama, kedua
dan ketiga. Dalam modul minggu pertama ini, akan dibahas hal-hal umum yang
terkait dengan estetika dalam dunia desain, yang meliputi pengertian dasar
tentang estetika.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Dali modul minggu pertama ini, mahasiswa diharapkan mengetahui dan


memahami pengertian dasar tentang estetika serta sejarah dan perkembangan
estetika.

KRITERIA PENILAIAN

Mengerti dan mampu menunjukkan serta memahami tentang pengertian dasar


tentang estetika serta sejarah dan perkembangan estetika dengan baik dan
benar.

METODA PENYAMPAIAN DAN PENILAIAN

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

Metoda penyampaian materi yang digunakan untuk mencapai tujuan


pembelajaran seperti yang disebutkan diatas adalah:
1. Perkuliahan/ceramah
2. Diskusi
3. Visualisasi contoh-contoh
4. Kerja studio

Sedangkan metode penilaian yang digunakan adalah:


1. Tanya-jawab
2. Pemberian tugas
Adapun materi penugasan belum diberikan pada perkuliahan di minggu pertama
ini, maupun di minggu kedua dan ketiga.

PENDAHULUAN

"Nilai itu mutlak, nilai tidak dikondisikan oleh perbuatan"


"Nilai itu bersifat historis, sosial, biologis atau mumi individual, hanya pengetahuan kita
tentang nilai itu bersifat relatif, bukan nilai itu sendiri".
(Risieri Frondizi)

Pandangan-pandangan mengenai estetika tetap menjadi suatu wacana penting


dalam kajian filsafat, terutama dalam proses penyadaran manusia menjasmani.
Raut yang telah terbentuk selama peradaban berlangsung hingga sekarang,
tetap didominasi oleh raut estetika Barat yang telah mengalami proses
universalisasi dalam pelbagai bentuknya. Peradaban di negara-negara
berkembang, dalam raut percaturan itu merupakan suatu peradaban yang
terpinggirkan, diposisikan menjadi sangat primitif dan serba tertinggal. Kondisi
itu pun dilengkapi oleh kepercayaan yang sangat tinggi pads peradaban Barat
sebagai satu-satunya jalan untuk menjadi setara dalam pergaulan
antarbangsa di dunia. Dalam situasi tersebut, ketika budaya
posmodemitas menjadi wacana di tanah air dan mulai menggeser
wacana modemitas, ter acli pula proses pelindasan tanpa sengaja pads
kebudayaan lokal. Sejumlah pemikir estetika mencoba mengangkat budaya lokal

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

yang modem sebagai upaya perlawanan terhadap wacana yang tidak adil itu.
Dalam paparan ini, penulis berupaya memosisikan kedayaan estetika yang
telah terbangun di tengah-tengah perkembangan budaya nasional secara lebih
proporsional.

Agus (2002) berkeyakinan bahwa dalam menilai dan mengkaji nilai estetis, tetap
harus diposisikan dalam tiga pilar daya kebudayaan, yaitu daya penyadaran,
daya pembelajaran, dan daya pesona. Menilai karya estetis di negara timur
melalui teoriteori estetika Barat, sebenarnya merupakan pernaksaan yang
kurang bermakna. Karena dalam konteks pemikiran modem, nilai estetika di
Timur, terutama negara berkembang telah mengalami tekstualisasi sebagai
sebuah wacana yang tak memiliki arti apa-apa dalam membangun peradaban
dunia.

ESTETIKA DAN KEINDAHAN

Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714 - 1762)


melalui beberapa uraian yang berkembang menjadi ilmu tentang keindahan
(Encarta Encyclopedia 2001, 1999). Baumgarten menggunakan instilah estetika
untuk membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan indrawi.
Dengan melihat bahwa istilah estetika baru muncul pada abad 18, maka
pemahaman tentang keindahan sendiri harus dibedakan dengan pengertian
estetik.

Jika sebuah bentuk mencapai nilai yang betul, maka bentuk tersebut dapat
dinilai estetis, sedangkan pada bentuk yang melebihi nilai betul, hingga
mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut dinilai sebagai indah.
Dalam pengertian tersebut, maka sesuatu yang estetis belum tentu indah dalam
arti sesungguhnya, sedangkan sesuatu yang indah pasti estetis. Banyak pemikir
Seni berpendapat bahwa keindahan berhubungan dengan rasa yang
menyenangkan seperti Clive Bell, George Santayana, dan R.G Collingwood
(Sutrisno,1993).

Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi dari estetika sendiri, salah satu
definisi yang cukup lengkap diberikan oleh Hospers, "aesthetics is the branch of

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

philosophy that is concerned with the analysis of concepts and the solutions of
problems that arise when one contemplates aesthetic objects. Aesthetic objects,
in turn, comprise all the objects of aesthetic experience; thus, it is only after
aesthetic experience has been sufficiently characterized that one is able to
delimit the class of aesthetic objects" (Sutrisno,1993. Hal 16)

Jika mengacu pada pendapat Hospers, maka diperlukan satu sikap khusus bagi
seseorang agar dapat mencari pengalaman estetik, termasuk pengamatan
objek estetik ataupun penciptaan objek estetik itu sendiri. Dalam kajian filsafat,
menurut Sutrisno, pemahaman mengenai estetika dapat dibagi menjadi dua
pendekatan yaitu,
1. Langsung meneliti keindahan itu dalam obyek-obyek atau benda-benda
atau alam indah serta karya Seni.
2. Menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami oleh
pengamat ( pengalaman keindahan yang dialami seseorang).

Salah satu pernyataan mengenai estetika dirumuskan oleh Clive Bell,


"keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri telah
memiliki pengalaman sehingga dapat mengenali wujud bermakna dalam satu
benda atau karya Seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan".

Persoalan mengenai dasar pengalaman estetis sendiri muncul sejak abad 18


setelah berkembangnya matematika. Semua pemikir cenderung mencari dasar
dasar yang kuat yang bersifat matematis untuk moral, politik hingga estetika
(Sutrisno, hal 82).

Pada abad pertengahan, pengalaman keindahan dikaitkan dengan kebesaran


alam ciptaan Tuhan, pada masa ini pengalaman estetis dikaitkan dengan
pengalaman religi. Pada jaman modern, pengalaman keindahan dikaitkan
dengan tolak ukur lain seperti fungsi, efisiensi, yang memberi kepuasan,
berharga untuk dirinya sendiri, pada cirinya sendiri, dan pada tahap kesadaran
tertentu.

Kajian mengenai keindahan telah didokumentasikan dari jaman antik hingga


sekarang. Pada jaman antik keindahan dalam Arsitektur dihargai lebih tinggi

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

dibandingkan dengan keindahan obyek-obyek lainnya, akan tetapi secara


mendasar tingkat keindahan pada aneka objek itu sama penting.

Ketika peradaban Mesir menghasilkan banyak objek yang kita sebut hari ini
sebagai indah, kata keindahan secara nyata tidak pernah hadir pada tulisan
tulisan saat itu. Di Mesir, ahli bangunan dan pematung/seniman menggunakan
teori proporsi yang berkaitan dengan rumus-rumus matematik untuk mencapai
keindahan, sebagai dasar untuk mengkonstruksikan sistem proporsi seperti
yang kemudian dipergunakan secara luas.

Pada abad pertengahan, penelitian tentang keindahan umumnya


diklasifikasikan sebagai cabang dari teologi. Hal ini dikarenakan adanya
pendapat bahwa keindahan adalah atribut dari Tuhan. Penulis yang patut
dicatat adalah Augustinus (354 -430 : De vera religione). Ia mengatakan bahwa
keindahan berdasarkan atas kesatuan dan keberaturan yang mengimbangi
kompleksitas. Masing masing cara mengatur itu adalah melalui rhythm, simetri
atau proporsi-proporsi sederhana (perbandingan ukuran yang enak dilihat).

Filosof lain yang terkenal adalah Thomas Aquino (1225 - 1274), menulis
mengenai esensi dari keindahan. Rumusannya yang terkenal adalah
"keindahan berkaitan dengan pengetahuan". Sesuatu disebut indah jika
menyenangkan mata sipengamat, namun disamping itu terdapat penekanan
pada pengetahuan bahwa pengalaman keindahan akan bergantung pada
pengalaman empirik dari pengamat. Hal yang selalu mencolok adalah kondisi
dan sikap terhadap subyek keindahan, persiapan individu untuk memperoleh
pengalaman estetik. Selanjutnya, ia berpikir bahwa keindahan adalah hasil dari
tiga sarat: keseluruhan (lat. Integritas) atau kesempurnaan, keselarasan yang
benar (lat. Proportio) dan kejelasan atau kecemerlangan.

Secara umum gagasan Thomas Aquinas merupakan rangkuman segala filsafat


keindahan yang sebelumnya telah dihargai. Sejalan dengan Aristoteles,
Thomas Aquinas menekankan pentingnya pengetahuan dan pengalaman
empiris-aposteriori yang terjadi dalam diri manusia (Sutrisno, 1993).

Ketika mengkaji secara empirik obyek yang sulit untuk didefinisikan atau diukur
secara langsung, pendefinisian dapat dipermudah dengan perbandingan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

dengan obyek objek atau benda lain, yang lebih mudah untuk dikaji, karena
telah dikenal. Kemudian, daripada menggunakan real definition untuk
sementara dapat digunakan definisi nominal untuk objek atau benda tersebut.
Cara ini telah dimanfaatkan dalam pengkajian tentang keindahan oleh
St.Augustinus dan Thomas Aquino.

Jauh sebelumnya, pada kebudayaan Yunani, definisi definisi nominal sudah


banyak digunakan seperti pada tulisan Plato "Dialog", dimana terdapat
beberapa bagian yang mencoba untuk memperjelas pengertian kata
"keindahan". Metoda yang dilakukan tidak benar-benar empirik; metoda yang
digunakan pada jaman ini mirip dengan fenomenologi modern yang
menekankan terjadinya ilham Seni dalam penciptaan karya Seni itu sendiri dan
juga menekankan kesinambungan pengamatan karya Seni dengan muncul dan
berkembangnya rasa keindahan atau pengalaman estetis (Sutrisno, hal 34).

Tulisan tulisan Plato mengenai keindahan banyak didasari pada doktrinnya


mengenai "idea". Menurut Plato segala kenyataan yang ada di dunia ini
merupakan peniruan (mimesis) dari yang asli, dan yang asli menurutnya adalah
yang terdapat didunia atas saja idea bukan di dunia nyata ini dan adalah jauh
lebih unggul daripada kenyataan didunia ini. Selanjutnya Plato berpendapat
bahwa seseorang seharusnya mencoba menemukan pengetahuan dibelakang
segalanya, yaitu pengetahuan tentang yang nyata dan permanen (Yunani;
episteme = pegetahuan) yang hadir sebagai pengertian tentang 'idea'.
Satu dari unsur/ciri 'idea' itu adalah keindahan (Yunani; to kalon), sifat
permanen yang dimiliki oleh semua objek objek yang indah. Plato menitik
beratkan pada pengalaman awal dari dirinya dan muridnya (audience), dan juga
pada maksud-maksud yang diakumulasikan pada kata kata dari bahasa
konvensional. Ketika memahami kata Yunani untuk indah, kalos, Plato mencatat
bahwa kata ini pertama bermaksud 'baik' dan 'pantas'.

Dari "Timaeus" dapat dikutip bahwa sesuatu yang dipahami oleh akal dan
pengetahuan akan tetap, akan tetapi sesuatu yang dipahami oleh pendapat
yang menolong sensasi, dan tanpa pengetahuan, akan selalu dalam proses
menjadi dan binasa yang tidak pernah mencatat hal-hal yang benar benar ada.
Esensi yang tetap dari keindahan akibat dari proporsi proporsi yang tepat yaitu
dari perbandingan ukuran. Gagasan ini dihubungkan pada penelitian dan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

falsafah Pytagoras (532 SM) yang telah mengembangkan sistem proporsi-


proporsi aritmatika tertentu dalam instrumen musik, seperti panjang string,
menghasilkan harmoni nada. Berdasarkan pada harmoni musik ini masyarakat
Yunani mencoba untuk menerangkan juga keindahan dalam proporsi-proporsi
tubuh manusia, Arsitektur, dan objek-objek lain.

Aristoteles (384-322 SM) memiliki kebiasaan untuk memperjelas konsep konsep


melalui perhitungan komponen-komponen. Untuk keindahan (Yunani: kalliste)
hal tersebut adalah keberaturan, perulangan ukuran (Yunani: symmetria) dan
kepastian.

Dalam pembahasan ilmiah mengenai Seni, dipikirkan bahwa keindahan


merupakan bagian dari objek. Tidak semua filosof jaman antik setuju pada teori
keindahan tersebut. Secara kontras, Epicurus menyajikan teori yang berbeda,
menetapkan bahwa ketika seseorang merasakan keindahan, perasaan pribadi
(Yunani; hedone) dilibatkan. Dalam tulisan Epicurus, ditemukan teori hedonistik
yang orisinal, yang mengaitkan pengalaman indah dengan perasaan yang
menyenangkan.

Vitruvius, dalam hal ini tampak mengadopsi teori Plato dan Epicurus dan
mencoba menggabungkan keduanya dalam teorinya sendiri. Pada
kenyataanya, ia sependapat dengan Epicurus yang mengatakan bahwa
keindahan sama dengan keanggunan, akan tetapi sensasi keanggunan akan
dihasilkan artefak jika telah memiliki proporsi yang benar. Hal ini tidak identik
dengan gagasan yang dibawa dari Plato. Vitruvius menulis dalam bukunya
instruksi-instruksi praktis bagi rancangan yang memungkinkan seniman
mencapai keindahan dalam karya, ia menyajikan teori Desain yang mengikut-
sertakan faktor faktor kualitatif, tidak saja faktor konstruktif.

Vitruvius mengatakan bahwa bangunan adalah indah bila rupa penampilan dari
pekerjaan menyenangkan, dalam cita-rasa yang baik, dan ketika setiap bagian
sesuai dengan proporsi yang mengacu pada prinsip-prinsip yang tepat, seperti
simetri (simetri dalam pengertian 'persetujuan yang tepat antara bagian bagian
karya itu sendiri, dan hubungan antara bagian bagian yang berbeda dengan
skema umum secara keseluruhan, dalam kesesuaian dengan standar yang
terpilih).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

Vitruvius, mencetuskan prinsip dasar dari Arsitektur, yaitu: Keberaturan, Sintaks,


Eurythmy, Symmetry, Propriety, Efesiensi (Fundamental Principles of
Architecture).

Selama abad-abad pertengahan, proporsi-proporsi dan perban-dingan-


perbandingan ukuran diperhatikan sebagai atribut yang penting bagi keindahan
objek-objek. Renaissance membangkitkan kembali pengkajian dari proporsi
Pythagoras yang menggunakan bentuk bentuk geometris melalui perbandingan
matematis.

Seorang arsitek besar pada masa Renaissance, Leon Battista Alberti (1404
-1472), menekankan pada aspek formal dari bangunan dan detailnya, proporsi
dan ornamen. Ia menyelidiki syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam karya
Seni lukis, Seni pahat dan Arsitektur dari sudut pengolahan materi, untuk
mencapai kesatuan dari bagian bagian karya Seni sehingga menjadi utuh.
Keindahan (lat. Pulchritrudo) adalah 'harmoni dari semua bagian, dalam bentuk
apapun, dipasangkan bersama dalam proporsi dan hubungan yang tepat,
sehingga tidak ada lagi yang dapat ditambahkan, dikurangi atau dirubah, selain
untuk bertambah buruk', hal inilah yang dicari melalui bentuk bentuk pada
latihan latihan Nirmana Ruang . Hal ini sebagai perkataan bahwa sesuatu
supaya menyenangkan harus harmonis, proporsional, dan hubungan antara
bagian bagian dari objek tersebut harus seimbang. Dasar yang disusun oleh
Alberti kemudian dielaborasi lebih luas sebagai teori Desain Arsitektur oleh
generasi generasi berikutnya hingga sekarang, seperti dapat dilihat pada materi
tugas Nirmana Ruang di pendidikan Arsitektur dan Desain (Fundamental
Principles of Architecture).

Selanjutnya, dikenal juga Leonardo da Vinci yang secara khusus menyinggung


mengenai ketelitian dalam pelaksanaan, hingga unsur terkecil pada satu karya,
perlu disempurnakan. Sikap ini kemudian menjadi ciri karya karya abad
pertengahan. Ajaran Leonardo da Vinci dan kemudian Buonarotti Michelanggelo
diperdalam dengan studi tentang perspektif geometris serta proporsi tubuh
manusia dan studi anatomi.

Mayoritas peneliti yang membahas keindahan akhirnya mengadopsi pandangan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

bahwa cita rasa keindahan bukanlah semata berasal dari sifat-sifat objek saja,
akan tetapi juga tergantung pada kondisi pengamat dan lingkungan.

Kajian mengenai keindahan sebagai kualitas objek Seni telah dilanjutkan lebih
sistematis dalam pendekatan modern tahun 1928 ketika matematikawan
Amerika George David Birkhoff mempresentasikan persamaannya;

M=O/C

Nilai keindahan = hasil dari keberaturan dibagi kompleksitas


M = (measure) Nilai keindahan
O = (order) Keberaturan
C = (complexity) Kompleksitas

Dua elemen terakhir dari persamaan Birkhoff memang dapat dihitung dan diberi
angka. Seperti yang dipakai oleh Birkhoff sendiri, dimana ia menguji
persamaannya pada suatu vas bunga, dengan jumlah elemen yang terbatas
(hanya terdiri dari tiga garis lengkung), tingkat keberaturan yang rendah
(disusun secara simetris saja), maka nilai keindahan dari vas menjadi tidak
tinggi (angka kecil dibagi tiga).

Pada dekade selanjutnya, para peneliti keindahan ,terutama di Jerman,


menghimpun pola-pola melalui pemasangan komponen komponen sederhana,
mengukur kompleksitas dan bagaimana sistematika pengaturannya, sehingga
nilai keindahan sebuah objek dapat dinilai. Namun cara penyelidikan ini tidak
sangat berhasil. Banyak seniman menemukan figur yang indah, sebagai
pekerjaan Seni yang nyata, tetapi tidak harus/dapat dikaitkan dengan parameter
Birkhoff.

Pada saat ini, "mainstream" dari penelitian estetika lebih melihat keindahan
bukan sebagai sifat dari objek itu sendiri, tetapi sebagai hasil sensasi atau
interaksi antara persepsi dan obyek. Masalah keindahan ternyata kadang
kadang dikaitkan dengan ajaran agama, seperti lukisan lukisan geometris Islam
yang dipengaruhi oleh ajaran yang mengharamkan penggambaran makhluk
hidup.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

Persepsi karya Seni sebagai kesenangan indra tidak sesuai dengan filosofi
gereja kristen muda. Definisi keindahan sebagai sesuatu yang layak dikaji telah
ada dalam Kitab Injil , dikarenakan tekanan Gereja hal ini tidak dapat
berkembang. Baru setelah jaman Renaissance, teoritikus Arsitektur pertama
yang menonjol, Philibert de l'Orme (sekitar 1510 - 1570) mempengaruhi
perkembangan yang memunculkan psikologi modern dari persepsi.

Philibert de l'Orme tidak mempercayai keindahan berdasarkan proporsi-proporsi


saja, setelah ia membuktikan melalui pengukuran bahwa Panthenon memiliki
kolom kolom Corinthian yang dirancang dengan tiga sistem proporsi yang
berbeda (menentang hukum Vitruvian yang mengizinkan hanya satu set
proporsi). Ia menyimpulkan bahwa dimensi yang layak untuk kolom bergantung
pada seberapa tinggi kolom tersebut, dan posisi kolom itu, apakah di letakan
rendah atau tinggi dalam struktur bangunan. Hal ini memberi pengertian bahwa
keindahan kolom tidak bergantung pada bentuk aktual dari kolom itu sendiri,
melainkan hanya merupakan impresi akhir seseorang ketika melihat kolom
tersebut. Hal ini mendorong de l'Orme untuk menambah model model baru
daftar model kolom tradisional mengenai keberaturan sebuah rancangan.

Pemikiran Philibert de l'Orme selanjutnya dikembangkan oleh rekan


senegaranya, Claude Perrault (1613 - 1688) dan diekspresikan secara khusus
dalam ulasannya berupa terjemahan ke bahasa Perancis mengenai Vitruvius
pada tahun 1673. Perrault menyatakan dalam ulasan tersebut bahwa keindahan
tidaklah absolut, melainkan, pengetahuan tentang keindahan diperoleh melalui
kebiasaan atau belajar.

Pada tahun 1750, Alexander Gottlieb Baumgarten melihat adanya syarat syarat
tertentu dalam menafsirkan pekerjaan-pekerjaan Seni. Ia ingin mengetahui
secara pasti mengapa seseorang dapat mengalami keindahan dan sanggup
mengapresiasi pekerjaan Seni. Selanjutnya ia melakukan penelitian psikoogi
Seni. Baumgarten tidak menggunakan lagi kata keindahan melainkan
mengambil istilah "estetika" dari bahasa Yunani 'aisthekos', yang dihubungkan
dengan persepsi.

Inisiatif Baumgarten tidak dengan segera memunculkan teori yang meyakinkan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

Hipotesis yang lebih baik disajikan oleh Immanuel Kant (1724 - 1804), yang
membuat estetika menjadi bagian dari sejarah umum filsafat, dalam bukunya
"Kritik der Urteilskraft"(1790). Mengikuti langkah Epicurus, ia menetapkan
bahwa “keindahan adalah segala sesuatu yang menyenangkan semua orang
dan menghargai opini mereka bahwa objek yang menyenangkan adalah indah".
Gagasan Baumgarten mengenai keindahan secara empirik telah diletakkan oleh
George Th.Fechner. dalam eksperimen laboratoriumnya. Ia mengkaji preferensi
dari masyarakat biasa yang tidak dilatih mengenai estetika terhadap karya Seni.
Eksperimen-eksperimennya kemudian diikuti oleh peneliti lain, seperti Weber,
yang menemukan bahwa terdapat beberapa ketetapan pada ulasan masyarakat
mengenai keindahan objek dan bentuknya, dimana proporsi Phytagoras, dan
proporsi yang disebut Golden Section tidak digunakan.

Pada tahun-tahun selanjutnya, kajian Fechner berkembang menjadi cabang


penting dari sains, yaitu psikologi persepsi. Contoh penelitian Arsitektur yang
dipengaruhi oleh jiwa psikologi persepsi adalah "Arkitekturens uttrycksmedel"
oleh Sven Hesselgren (1954). Resep untuk membuat keindahan tidak dapat
selalu ditemukan, akan tetapi dengan menganalisanya, kita dapat menentukan
penyebab terjadinya perbedaan impresi, keaslian dan sumbernya, dan
kemudian menjadikan Arsitektur lebih mudah, yaitu ketika desainer menjadi
lebih sadar terhadap sifat kreasinya dan faktor faktor yang mengarahkan pada
hasil.

Sebuah pola atau figur dapat menyenangkan mata bila dengan mudah dapat
dimengerti, dan ini selanjutnya memberikan kepuasan. Perancang tidak boleh
menimbulkan ketidak jelasan pada pengamat. Ia menemukan dasar dasar yang
bersifat psikologis bagi sejumlah hukum arsitektural, sebagai contoh dasar
mengenai kontras.

Dalam kehidupan sehari hari, hal yang luar biasa adalah refreshmen yang
didasarkan pada kontras. Panas dan dingin, malam dan siang, bayang dan
kilap, air dan api, gunung dan lembah, kerja dan bermain adalah konsep dan
fenomena penting tanpa dimana kehidupan kita akan menjadi lebih
menyedihkan. Kebutuhan yang sama akan rangsangan, umumnya terdapat
didalam Desain.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

Penelitian dalam psikologi persepsi dan estetika dikembangkan secara khusus


sebagai ilmu yang dikenal sebagai art psycology. Psikologi persepsi
berkembang dari psikologi tradisional dimana manusia dan lingkungan
merupakan elemen dasar dan saling mempengaruhi satu sama lain melalui
stimuli dan respon.

Sekolah psikologi behaviorisme mempertimbangkan apakah ada kemungkinan


untuk mendapatkan jawaban yang pasti terhadap pertanyaan "Apa yang terjadi
pada kesadaran dan kognisi manusia dalam jangka waktu antara diterimanya
stimuli dan memberikan respon ? ", karena kandungan dan fungsi dari
kesadaran tidak dapat dikaji secara tepat tanpa mencampuri keduanya.

Teoritikus psikologi kognitif memiliki pandangan berbeda;, model hipotesis dari


fungsi kesadaran diuraikan dengan sangat detail. Pada awalnya, banyak
peneliti yang masih membagi persepsi pada tiga fase yaitu, persepsi - kognisi -
intrepretasi dan evaluasi. Hal ini berbeda dengan pandangan umum pada saat
ini, bahwa pada satu tahapan terdapat aspek aspek yang berbeda, sehingga
garis stimuli-respon-tindakan tidak bersifat linier.

Outline membantu asosiasi agar terjadi proses persepsi. Konsep outline


(Jerman;Gestalt) pertama kali disajikan dalam ilmu psikologi oleh Christian von
Ehrenfels pada tahun 1890. Ia mengarahkan perhatiannya pada kenyataan
bahwa untuk mengerti sebuah komposisi, keseluruhan outline lebih penting
daripada bagian. Jika urutan komposisi diubah menjadi susunan baru, semua
komposisi akan menjadi sesuatu yang lain tetapi keseluruhan outline dari
komposisi tersebut tetap sama.

Ketika seniman sedang menarik outline, bagian bawah sadar ternyata mematuhi
aturan aturan tertentu, yang dikenal dengan hukum-hukum Gestalt. Sebagai
contoh, ketika manusia melihat sebuah figur yang tidak sempurna, akan
dilengkapi menjadi figur yang dapat dikenal (asosiasi). Manusia cenderung
untuk melengkapi bagian bagian yang tidak lengkap berdasarkan kemiripan
gambaran dalam memorinya.

Tanda tanda yang dekat satu sama lain cenderung bergabung dalam pikiran

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

untuk membuat kesatuan yang lebih besar. Jika terdapat kemiripan pada
beberapa tanda, maka tanda-tanda tersebut akan saling bergabung membentuk
satu kesatuan.

Dengan melihat uraian diatas, maka dapat dilihat beberapa sudut pandang dan
sikap manusia terhadap keindahan. Pada masa Yunani, kemudian pada abad
pertengahan, keindahan ditetapkan sebagai bagian dari teologi.

Pada abad pertengahan di Barat, tekanan diletakan pada subjek, proses yang
terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman keindahan. Pada jaman
modern, tekanan justru diletakkan pada obyek, sehingga tampak bahwa
estetika dipertimbangkan sebagai dari cabang dari sains, khususnya filsafat dan
psikologi.

RAUT ESTETIKA

Dimulai dengan istilah yang kerap tidak tepat dipergunakan, Berta definisi yang
sangat beragam, maka bangun estetika itu pun dapat ditarik ulur. Istilah
tersebut semakin mengabur ketika nama Estetika dan Filsafat Seni dipakai
sebagai nama bidang ilmu untuk hal yang sama. Para ahli pendidikan seni
semakin bersilang pendapat ketika bangun praksis seni rupa, desain produk
industri, desain interior, desain komunikasi visual, dan Icriya seni ditarik ke arah
bidang kajian estetika. Kejadian itu menunjukkan simpang siurnya pemahaman
estetika sebagai filsafat, dan estetika sebagai praksis dalam berkesenian di
Indonesia. Pada tahun 80-an, penulis pemah membuat buku beduclul
Estetika Terapan yang mencoba memposisikan persoalan ini agar tidak
bias, yaitu antara, estetika sebagai praksis dan estetika sebagai kajian filsafat.
Dalam praksis kesenirupaan dan desain, diposisikan adanya unsur-unsur yang
melibatkan aspek estetis (kepekaan, keterampilan, pengalaman, proses
kreatif, dan seterusnya) yang diimplementasikan pelbagai wujud berkarya,
balk tematis maupun bebas. Namur sampai beberapa tahun terakhir ini,
di lingkungan perguruan tinggi seni, istilah "estetika" tetap
dipergunakan untuk keduanya, yaitu dalam pengertian praksis ataupun filsafat.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

PENGERTIAN ESTETIKA

Memandang estetika sebagai suatu filsafat, hakikataya telah menempatkannya


pads satu titik dikotomis antara realitas dan abstraksi, Berta jugs antara
keindahan dan makna. Estetika tidak lagi menyimak keindahan dalam
pengertian konvensional, melainkan telah bergeser ke arah sebuah wacana
dan fenomena. Estetika dalam karya seni modem, jika didekati melalui
pemahaman filsafat seni yang merujuk pads konsep-konsep keindahan
zaman Yunani atau abad pertengahan, akan mengalami pemiuhan
perceptual karena estetika bukan hanya simbolisasi dan makna, melainkan
juga daya.

Kedayaannya dapat diamati melalui wajah teraga peradaban Barat yang kini
tetap menjadi bangsa yang memiliki eksistensi kuat di dunia. Nilai-nilai estetik
yang menyertai hampir semua bends, gagasan, dan proyeksi, dipiuhkan oleh
para ahli estetika Barat menjadi wacana yang "tersembunyi" dalam materialisma
dan eksistensialisma, kemudian diadopsi oleh negara-negara berkembang
sebagai suatu orientasi baru menjadi "Barat'. Namur kenyataannya, selama
lebih dari satu abad berorientasi menjadi masyarakat makrnur yang rasional,
dan kemakmuran itu hanya mampu sebatas pads kulit, dan negara ketiga,
kemudian menjadi sangat tergantung dan berupaya meleburkan diri dalam
situasi yang kebaratan.

Jepang, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan negara-negara kebangkitan


bare, contoh negara yang telah lurch ke dalam estetika Barat. Kunci utama ke
arah itu adalah meleburkan diri dalam materialisma Barat, menjasmani
seluruhnya pads kearifan estetika Barat dalam wujud-wujud artifak ataupun
nilai. Estetika barat secara substansial dan eksistensial telah
membuktikan kedayaannya untuk menjadikan wajah peradaban umat
manusia di abad ke-21 menjadi bentuknya yang sekarang. Di luar wacana itu,
wujud estetis dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang primitif dan
terpinggirkan.

Jargon-jargon peradaban dan kunci kegemilangan budaya bagi kebudayaan


Barat modem selalu memiliki konotasi ke arah terselenggaranya demokrasi, hak
asasi manusia, kelestarian lingkungan, penghargaan terhadap karya cipta,

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

industrialisasi, wujud teknologi tinggi, tingginya pendapatan per kapita,


penyelenggaraan pendidikan modem, kedayaan mats uang, dan juga
pergaulan intemasional. Tentu Baja wujud estetika yang menyertai hal itu
adalah legal sesuatu yang carat dengan nilai-nilai modemitas. Praksis kesenian
yang menjadi wujud nilai estetik sebagai kebenaran universal, direpresentasikan
dari seni modem yang berakar di dalam peradaban masyarakat Barat itu.
Barat telah berupaya untuk mentekstualisasi peradaban dunia, sesuai
dengan "dirinya", (westemisasi, amerikanisasi, dan eropanisasi), dan jenis
kebudayaan yang lain adalah inferior, tidak bermakna.

Demikian pula dengan estetika modern, telah mengalami tekstualisasi


yang mendalam oleh kebudayaan Barat, kemudian mengalami eksistensialisasi
dalam diri penggagas-penggagas estetika lokal, para pengajar seni dan juga
para seniman di tanah air melalui pendidikan, buku, informasi, gays hidup, dan
barang. Sejumlah pemikir di tanah air cenderung lebih hafal teori-teori estetika
Barat dan para tokoh filsafat seni Barat secara terperinci daripada prestasi-
prestasi estetis bangsa Timur. "Pemujaan-pemujaan" terhadap estetika Barat
berlangsung terns hingga saat ini sejalan dengan tawaran teori-teoribaru yang
tak terbantahkan.

Namun, kerap juga pemikiran Barat masuk ke tanah air terpiuh oleh
penoemahan yang tidak lengkap ataupun salah tafsir, termasuk dalam
kajian-kajian estetika. Kondisi tersebut dapat disimak dalam tulisan-tulisan
yang membahas tentang .estetika di Indonesia seperti terdapatnya tumpang-
tindih pengertian antara seni (art), karya seni (work of arts), filsafat seni
(philosophy of art), nilai estetik (aesthetic value), estetis estetik (aesthetic),
dan estetika (aesthetics). Istilah tersebut sering dipergunakan untuk pengertian
yang sama, padahal semuanya memiliki perbedaan yang penting. Kondisi itu
berlangsung terns dalam buku-buku estetika di Indonesia sehingga maknanya
kemudian membias.

Beberapa pengertian estetika dan lingkupnya dapat dicermati di bawah ini:


 Estetika adalah segala sesuatu dan kajian terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kegiatan seni (Kattsoff, Element of Philosophy, 1953).
 Estetika merupakan suatu telaah yang berkaitan dengan penciptaan,
apresiasi, dan kritik terhadap karya seni dalam konteks keterkaitan seni

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

dengan kegiatan manusid dan peranan seni dalam perubahan dunia


(van Mater Ames, Colliers Encyclopedia, vol. 1).
 Estetika merupakan kajian filsafat keindahan dan juga keburukan
(Jerome Stolnitz, Encyclopedia of Philosophy, vol. 1).
 Estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang
berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut
keindahan (AA Djelantik, Estetika Suatu Pengantar, 1999).
 Estetika adalah segala hal yang berhubungan dengan sifat dasar nilai-
nilai nonmoral suatu karya seni (William Haverson, dalam Estetika
Terapan, 1989).
 Estetika merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan proses
penciptaan karya estetis (John Hosper, dalam Estetika Terapan, 1989).
 Estetika adalah filsafat yang membahas esensi dari totalitas kehidupan
estetik dan artistik yang sejalan dengan zaman (Agus Sachari, Estetika
Terapan, 1989).
 Estetika mempersoalkan hakikat keindahan slam dan karya seni,
sedangkan filsafat seni mempersoalkan hanya karya seni atau bends
seni, atau artifak yang disebut seni (Jakob Sumardjo, Filsafat Seni,
2000).

Pandangan-pandangan mengenai estetika, di atas, setiap waktu


mengalami pergeseran, sejalan dengan pergeseran konsep estetik setiap
zaman. Pandangan bahwa estetika hanya mengkaji segala sesuatu yang indah
(cantik dan gays seni), telah lama dikoreksi, karena terdapat kecenderungan
karya-karya seni modem tidak lagi menawarkan kecantikan seperti zaman
Romantik atau Klasik, tetapi lebih pads makna dan aksi mental. Demikian pula
di akhir abad ke-20, pandangan-pandangan mengenai estetika mengalami
rekonstruksi dan penyegaran-penyegaran bare ketika filsafat Posmodern
berkembang sejalan dengan wacana kaum Postrukturalis. seperti ter adinya
diskursus pads seni posmodem: Pastis (pastische), Parodi, Kitsch
(murahan), Camp (bermakna, juga anti makna), Skizofrenia (fenomena psikis),
Fun (dagelan,plesetan), Horor (menakutkan), Misteri (slam gaib, UFO, mitos),
Simulasi (realitas semu), dan sebagainya.

Dalam wacana posmodern, karya seni tidak lagi dipandang sebagai karya
artistik, tetapi dipandang dari aspek tends, jejak, dan makna. Dengan dernikian

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK
I Program Studi Teknik Arsitektur I FTSP - UMB I Modul Perkuliahan 2008 I
Minggu I

kajian-kajian estetika pun menjadi meluas, tidak sebatas pads artifak yang
disepakati sebagai suatu karya seni, tetapi pads sate artifak yang
mengandung makna.

DAFTAR PUSTAKA

1. Agus Sachari; Estetika – Makna, Simbol dan Daya, Penerbit ITB,


Bandung, 2002
2. Mundi, Andrew; Principles of Graphic Design.
3. Widya, Leonardo; Fundamental of Art & Design;
4. Mary Zimmerman; Metamorphosis
5. Dr. Bruce Clarke; Transformations of Metamorphosis
6. D.K. Ching, Frank; Arsitektur: Bentuk, Ruang dan Susunannya;
Erlangga
7. Whelan, M. Bride; Color Harmony 1 &2
8. Wong, Wucius; Beberapa Asas Merancang Dwimatra
9. Wong, Wucius; Beberapa Asas Merancang Trimatra

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Danto Sukmajati, ST


ESTETIKA BENTUK

Anda mungkin juga menyukai