Anda di halaman 1dari 16

POLIGAMI

A. Pendahuluan

Islam diyakini sebagai agama yang menebar rahmat lil alamin (rahmat bagi semesta
alam). Dan salah satu bentuk rahamat yang dibawanya adalah ajaran tentang
perkawinan. Perkawinan merupakan aspek penting dalam ajaran islam. Didalam al-
quran dijumpai tidak kurang dari 80 ayat yang membahas tentangnya, baik yang
menggunakan kata nikah (berkumpul) atau dengan kata zawwaja (berpasangan).1
Tentunya dengan ayat-ayat tersebut dapat menuntun kepada tujuan pernikahan
yang dikehendakai oleh agama.

Untuk itu islam merumuskan sejumlah ketentuan yang harus di jadikan sebagai
pedoman, meliputi tata cara yang dimulai dari cara memilih calon pasutri,
peminangan, penentuan mahar, cara ijab qabul, hubungan pasutri, serta kewajiban
antar keduanya.

Secara umum Syariat membagi jenis pernikahan menjadi dua, yaitu monogami dan
poligami. Salah satu bentuk perkawinan yang sering terangkat dalam sebuah
perbincangan di antara muslim adalah “Poligami”. Pembahasan tersebut masih
menuai berbagai pendapat yang kontradiktif. Masalah poligami merupakan salah
satu isu yang diatur dalam Hukum Perkawinan di Indonesia, yakni berupa Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun
1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan1, 2 Instruksi
Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.3

Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, masalah poligami


diatur dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 65. Sedangkan dalam Peraturan
Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan, masalah poligami diatur dalam Pasal 40, Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43,
Pasal 44, Pasal 45 Sementara dalam Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang
Kompilasi Hukum Islam masalah poligami diatur dalam Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57,
Pasal 58, Pasal 59. Demikian dalam pembahasan berikut ini secara signifikan akan
dibahas berbagai hal terkait dengan poligami.

1 Musda Mulia, Pandangan Islam Tentang Poligami, 1999.


2 Mengenai sejarah dan proses legislasi Undang-Undang Perkawinan, lihat Amak F.Z., Proses
Undang-Undang Perkawinan, (Bandung: Almaarif, 1976).
3 Mengenai sejarah pembentukan Kompilasi Hukum Islam, lihat Abdurrahman, Kompilasi Hukum
Islam di Indonesia, (Jakarta; Akademika Pressindo, 1992).
1
B. Pembahasan

1. Asal Usul Poligami

Banyak orang yang salam dalam pemahaman terhadap Poligami, salah satunya
mereka menganggap bahwa poligami tertanam setelah islam. Mereka berpendapat
bahwa islamlah pencetus konsep poligami, bahkan sekte extreme berdalih bahwa
jika bukan karena islam, poligami tidak akan dikenal dalam sejarah manusia.
Pendapat demikian adalah salah, karena berabat-abat sebelum al-qur’an di turunkan
masyarakat secara umum diberbagai belahan dunia telah mengenal dan
mempraktekkan poligami. 4

Di jazirah Arab jauh sebelum Islam masyarakat telah mempraktekkan poligami,


bahkan poligami dengan tanpa batasan. Sejumlah riwayat menyatakan bahwa
mayoritas dari pemimpin suku yang terdapa di jazirah arab ketika itu memiliki
puluhan istri.

Perkembangan poligami dalam iringan sejarah sangatlah tergantung pada pola


pandang masyarakat terhadap derajat kaum perempuan. Ketika masyarakat
menganggap kedudukan dan derajat perempuan rendah atau hina, maka poligami
akan berkembang. Serta sebaliknya, jika derajat wanita terhormat disisi masyarakat
maka poligami terminimalisir dengannya.5

Ketika islam datang, kebiasaan Poligami tidak serta merta dihapus. Namun, setelah
ayat tentang poligami diwahyukan, Rasulullah secara radikal melakukan perubahan
hukum sesuai ayat yang diwahyukan.

Pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Sejumlah riwayat
memaparkan pembatasan poligami tersebut, diantaranya riwayat dari Naufal ibn
Mu’awiyah. Ia berkata:

Ketika aku masuk islam aku memiliki lima istri, Rasulullah berkata: “Ceraikanlah satu
dan pertahankanlah yang empat”.6

Kedua, menetapkan syarat yang berat, yaitu keharusan untuk berlaku adil.

2. Pengertian Poligami (Poligini, poliandri, dan pernikahan kelompok)

Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari
satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus

4 Musda Mulia, Pandangan Islam Tentang Poligami, 1999. Hal. 4


5 Qasim Amin, Tahrir Al-Mar’ah, Dar Al-Ma’arif, Tunis, 1990, Hal. 155-156
6 Muslim, Shahih Muslim, jus IX, Hal. 172
pada suatu saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya
satu suami atau istri pada suatu saat).

Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istri
sekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), dan
pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligini dan
poliandri). Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah, namum poligini
merupakan bentuk yang paling umum terjadi.

Walaupun diperbolehkan dalam beberapa kebudayaan, poligami ditentang oleh


sebagian kalangan. Terutama kaum feminis menentang poligini, karena mereka
menganggap poligini sebagai bentuk penindasan kepada kaum wanita.

3. Hukum Poligami

Dalam perspektif Islam

Tidak diragukan bahwa ajaran islam memperbolehkan dan menetapkan syariat


Poligami (Poligami) dengan kandungan hikmah yang sangat tinggi serta membawa
maslahat yang tinggi.7

Secara frontal didalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, tidak terdapat larangan untuk
melakukan Poligami. Dan sebagai fortifikasi dalam Al-Qur’an tersenarai dalam surat
An-Nisa’, 4: 3.

bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? žÎû 4žuK»tGužø9$# (#qßsÅ3R$÷


$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/âžur
( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9Ϟ÷ès? ¸oyžÏnºuqsù ÷rr& $tB
ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷žr& 4 y7Ï9ºsž #žoT÷žr& žwr& (#qä9qãès?
Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan
yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain)
yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan
dapat Berlaku adil,8 Maka (kawinilah) seorang saja,9 atau budak-budak yang kamu
miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Begitu pula dalam seluruh kitab samawi seperti Perjanjian Lama dan Injil (Perjanjian
Baru), tidak melarang adanya poligami. Dalam hal ini, tindakan tersebut merujuk
pada para nabi dari Nabi Ibrahim As. hingga Nabi Isa As.10

7 Syaiful Islam Mubarak, Poligami Antara Pro & Kontra, 2007, Hlm. 17
8 Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat,
giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
9 Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini
poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad
s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.
10 Muhammad Baltaji, Poligami, 2007, Hal. 13
3
Poligami dalam pandangan perundang-undangan Di Indonesia

Masalah poligami di Indonesia, diatur dalam UU No. 1 Tahun1974 tentang


Perkawinan dan Inpres No. 1/1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.

Dalam UU No. 1 Tahun 1974, masalah poligami diatur pada pasal 3, 4, dan 5.
Pasal 3 berbunyi :

(1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh
mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang
suami.

(2) Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih
dari seorang apabila dikehendaki oleh pihakpihak yang bersangkutan.
Pasal 4 berbunyi :

(1) Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana
tersebut dalam pasal 3 ayat (2) undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan
permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin
kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila :
a. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri
b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat
disembuhkan
c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan Pasal 5 berbunyi :

(1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana


dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
a. adanya persetujuan dari isteri/ister-isteri
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin
keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak
mereka
c. adanya jaminan bahwa suami mampu menjamin
keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak
mereka.

(2) Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi
seorang suami apabila isteri/isteriisterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya
dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari
isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab
lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.19 Dalam Inpres No.
1/1991, masalah poligami diatur pada pasal 55, 56, 57, 58, dan 59.

Pasal 55 berbunyi :
(1) Beristeri lebih dari satu orang pada waktu yang bersamaan, terbatas hanya
sampai empat orang isteri.
(2) Syarat utama beristeri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil
terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya.
(3) Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi,
suami dilarang beristeri lebih dari seorang.

Pasal 56 berbunyi :
(1) Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari
Pengadilan Agama.
(2) Pengajuan permohonan izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut
tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah No. Tahun
1975.
(3) Perkawinan yang dilakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat
tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pasal 57 berbunyi :
Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada seorang suami yang yang
akan beristeri lebih dari seorang apabila :
a. isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri
b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 58 berbunyi :
(1) Selain syarat utama yang disebut pada pasal 55 ayat (2) maka untuk
memperoleh izin Pengadilan Agama, harus pula dipenuhi syarat-syarat yang
ditentukan pada pasal 5 Undangundang No. 1 Tahun 1974 yaitu :

a. adanya persetujuan isteri


b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-
isteri dan anak-anak mereka.

(2) Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan


Pemerintah No. 9 Tahun 1975, persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat
diberikan secara tertulis atau dengan lisan, tetapi sekali pun telah ada
persetujuan tertulis, persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan isteri
pada siding Pengadilan Agama.

(3) Persetujuan dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak diperlukan bagi seorang
suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya
dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar
dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun atau karena
sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim.

Pasal 59 berbunyi :
Dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin
untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alas an yang
diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan
tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang
bersangkutan.

4. Poligami Menurut Imam Empat Madzhab

5
Tuqsithu ( ‫ ) تقسسسطوا‬dan ta’adilu ( ‫ ) تعسسد لسسوا‬yang keduanya diterjemahkan “ adil”.
Sedangkan pada kalimat( ‫" ) ما ملكت ايمانكم‬ma malakat aimanukum" diartikan dengan
budak-budak yang kamu miliki.

Dalam memahami ayat poligami di atas, imam Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali
berpendapat bahwa seorang suami boleh memiliki istri lebih dari satu, karena dalam
agama Islam seseorang laki-laki dibolehkan mengawini lebih dari satu tetapi dibatasi
hanya sampai empat orang istri. Akan tetapi kebolehannya tersebut memiliki syarat
yaitu berlaku adil antara perempuan-perempuan itu, baik dari nafkah atau gilirannya.

Para imam di atas juga memberikan saran, apabila tidak bisa berlaku adil,
hendaknya beristri satu aja itu jauh lebih baik. Para ulama ahli Sunnah juga telah
sepakat, bahwa apabila seorang suami mempunyai istri lebih dari empat maka
hukumnya haram. Dan perkawinan yang kelima dan seterusnya dianggap batal dan
tidak sah, kecuali suami telah menceraikan salah seorang istri yang empat itu dan
telah habis pula masa iddah-nya. Dalam masalah membatasi istri empat orang saja,
Imam Syafi’i berpendapat bahwa hal tersebut telah ditunjukkan oleh Sunnah
Rasulullah saw sebagai penjelasan dari firman Allah, bahwa selain Rasulullah tidak
ada seorangpun yang dibenarkan nikah lebih dari empat perempuan. sedangkan
pada ayat dzalika ‘adna an la ta ‘ulu dipahami oleh Imam Syafi’i dalam arti tidak
banyak tanggungan kamu. Ia terambil dari kata ‘ala ya ‘ulu yang berarti menanggung
dan membelanjai.

Para ulama ahli Sunnah dalam hal membatasi istri empat orang saja, merujuk pada
dalil dari sunnah Rasulullah saw adalah hadis yang diriwayatkan oleh Qois bin al-
Harits ra, beliau berkata:

‫ عن حميضة بنت‬, ‫ ثنا هشيم عن ابن ابي ليلى‬,‫حد ثنا احمد بن ابراهيم الدورقي‬
‫ فا تيت‬.‫ اسلمت وعند ى ثما نين نسوة‬:‫ عن قيش بن الحارث قال‬,‫الشمرد ل‬
‫ رواه ابن ماجه‬.‫ اختر منهن اربعا‬:‫ فقال‬, ‫ فقلت ذ لك‬:‫النبي صلى ال عليه وسلم‬

Artinya: “Ketika masuk Islam saya memiliki delapan istri, saya menemui
Rasulullah dan menceritakan keadaan saya, lalu beliau bersabda: “Pilih empat
diantara mereka”.

Selain penjelasan dari empat mazhab di atas, disini juga terdapat penafsiran surat
An-Nisaa ayat 3 oleh para mufassir. Pada ayat di atas Ali Ash-Shabuni berpendapat,
bahwa ayat tersebut menunjukkan haramnya nikah lebih dari empat, pendapat beliau
ini merujuk pada pendapat para ulama dan ahli fiqih. Dan tidak setuju dengan
pendapat ahli bid’ah yang membolehkan nikah dengan sembilan wanita, dengan
mengingat bahwa huruf wawu (‫ )و‬adalah untuk menambah dan bahwa yang
dimaksudkan adalah seseorang itu boleh mengumpulkan dua dan tiga dan empat.
Al-Qurthubi berpendapat, bahwa sebenarnya bilangan dua, tiga, atau empat, ini
bukan menujukkan diperbolehkannya mempunyai sembilan istri, seperti yang
dikatakan oleh orang yang tidak memahami al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena
pendapat mereka itu telah menyimpang dari pendapat para ulama.

Dan mereka juga berpendapat bahwa huruf wawu (‫ )و‬disitu berfaedah untuk
mengumpulkan, mereka berpendapat seperti itu dengan alasan bahwa Nabi saw
juga menikah dengan sembilan istri. Bahkan, sebagian dari mereka berpendapat
lebih parah lagi, yaitu boleh mempunyai delapan belas istri. Pendapat mereka itu
sudah jauh dari sunnah dan ijma’ ulama. Jadi pada dasarnya al-Qurthubi sepakat
dengan Ali Ash-Shabuni bahwasanya haran mempunyai istri lebih dari empat. Lain
halnya dengan Az-Zamakhsyari, dalam memahami kata ‫ وربسساع‬,‫ ثلث‬,‫مثنسسى‬, beliau
berpendapat bahwa apabila khitabnya adalah untuk semua, maka harus ada
pengulangan, supaya masing-masing orang yang ingin menikah yang menghendaki
poligami, mendapatkan bilangan yang diinginkannya. Karena jika tidak ada
pengulangan, tentu maknanya tidak dipahami.11

5. Syarat Poligami

1. Berkemampuan Untuk Menanggung Nafkah Isteri-isteri, suami berkewajiban


menanggung nafkah isteri dahir dan batin baik dia mempunyai seorang isteri
atau lebih. Nafkah dahir yang dimaksudkan di sini ialah dari aspek makan-
minum, pakaian, kediaman dan perubatan. Nafkah batin pula ialah suami
berkeupayaan dalam memberi layanan seks kepada isteri. Di dalam Mazhab
Syafi’e, terdapat dua pendapat mengenai kadar pemberian nafkah kepada
isteri iaitu :

a. Melihat keadaan suami saja tanpa mempertimbangkan


keadaan istri,

b. Melihat keadaan kedua-dua suami dan isteri, yaitu dinilai


menurut kesanggupan suami dan isteri.

Dalam hal ini pendapat kedua adalah lebih sesuai dan menepati konsep
keadilan memandangkan dalam banyak keadaan seseorang suami itu
mempunyai isteri yang datang dari berbagai-bagai status kedudukan yang
berbeza. Abu al-‘Aynayn berpandangan bahawa sebarang penambahan boleh
11 Musafir Husain Aj-Jahrani, Poligami dari berbagai Persepsi, Jakarta:Gema Insani Press,
1996.
7
diberikan kepada salah satu isteri dalam soal pemberian nafkah. Walaupun
begitu ia tidak boleh diamalkan jika boleh membawa kepada perselisihan dan
tidak puas hati di antara isteri.12

2. Menurut Abu al-‘Aynayn, keadilan adalah penyamarataan terhadap semua


isteri tanpa wujud pilih kasih di antara mereka. Ia termasuk interaksi yang baik
di antara suami isteri yang meliputi perbuatan, tutur kata dan akhlak. Keadilan
ini wajib dijelmakan di dalam perkara-perkara ikhtiari dan lahiriah yang
melibatkan beberapa aspek yaitu nafkah, pakaian, penempatan, giliran
bermalam dan musafir. Perasaan dan kasih sayang pula tidak termasuk di
dalam tuntutan keadilan kerana hal tersebut di luar kawalan manusia dan
bersifat relatif. Namun suami tetap dilarang untuk secara jelas menampakan
perbedaan tersebut, hal tersebut untuk mencegah adanya rasa cemburu
ataupun iri. Pendapat tersebut berdasarkan kepada firman Allah SWT dalam
surah al-Nisa’, ayat 129 :

ÈbÎ)ur îor&zžöD$# ôMsù%s{ .`ÏB $ygÎ=÷èt/ #·žqà±çR ÷rr&


$ZÊ#{žôãÎ) žxsù yy$oYã_ !$yJÍköžn=tæ br& $ysÎ=óÁãž
$yJæhuZ÷žt/ $[sù=ß¹ 4 ßxù=žÁ9$#ur מöžyz 3 ÏNužÅØômé&ur
Ú[àÿRF{$# £xž±9$# 4 bÎ)ur (#qãZÅ¡ósè? (#qà)Gs?ur cÎ*sù ©!$# žc%x.
$yJÎ/ žcqè=yJ÷ès? #ZžžÎ6yz ÇÊËÑÈ
128. Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz13 atau sikap tidak acuh dari
suaminya, Maka tidak mengapa bagi keduanya Mengadakan perdamaian yang
sebenar-benarnya,14 dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun
manusia itu menurut tabiatnya kikir.15 dan jika kamu bergaul dengan isterimu
secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka
Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

6. Keadilan Dalam Poligami (Poligini)

Sebagai syarat untuk melakukan poligami (poligini), keadilan tentunya harus


dipenuhi. Yaitu, sebuah kemampuan untuk bersikap proposional terhadap istri-istri
yang telah dinikahi. Beberapa aspek haruslah dipenuhi dengan baik, diantaranya
suami benar-benar mampu untuk menunjang nafkah seluruh isteri secara dohir dan
batin.16

Namun tentunya kecondongan-kecondongan terhadap salah satu diantara istri pasti

12 Abu al-‘Aynayn, al-Ziwaj wa al-Talaq fi al-Islam.


13 Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti
meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras
terhadap isterinya; tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya.

14 Seperti isteri bersedia beberapa haknya dikurangi Asal suaminya mau baik kembali.
15 Maksudnya: tabi'at manusia itu tidak mau melepaskan sebahagian haknya kepada
orang lain dengan seikhlas hatinya, Kendatipun demikian jika isteri melepaskan
sebahagian hak-haknya, Maka boleh suami menerimanya.
16 Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, 1987, Hal. 13
ada, terutama dalam hal kecintaan atau rasa sayang. Demikian merupakan sifat
manusia yang begitu sulit untuk dirubah, sifat tersebut merupakan fitrah manusia
secara umum.

Dalam Al-Qur’an QS Al-Anfal : 24 dijelaskan bahwa Allah yang menguasai hati


manusia.

pkžžr'¯»tž z`žÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7žÉftGóž$# ¬!$


ÉAqߞ§ž=Ï9ur #sžÎ) öNä.$tãyž $yJÏ9 öNà6 žÍžøtäž (
(#þqßJn=ôã$#ur žcr& ©!$# ãAqçtsž žú÷üt/ ÏäöžyJø9$# ¾ÏmÎ7ù=s
%ur ÿ¼çm¯Rr&ur Ïmøžs9Î) žcrçž|³øtéB ÇËÍÈ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila
Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu,17
ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya18
dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Terkait dengan penjelasan tersebut, Rasulullah pun demikian, penjelasan terhadap


fakta ini dapat dilihat dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah dimana dia
mengatakan:
Rasulullah bisa membagi waktu bergilirnya sama diantara kami dan kemudian
berdo’a, “Ya Allah, inilah pembagianku dengan apa yang aku miliki, maka
hendaklah engkau tidak mempersalahkan saya karena pembagian [cinta] yang
hanya engkau miliki”

Demikian merupakan stigma bahwa manusia tidak damat mengatur rasa cinta
terhadapa seseorang. Dan dalam hal ini, rasulullah pun demikian.

Dalam Al-Qur’an QS. Al-Anfal: 63, secara jelas membuktikan bahwa Allahlah yang
mengatur rasa cinta yang dimiliki mahluknya.

y#©9r&ur žú÷üt/ öNÍkÍ5qè=è% 4 öqs9 |Mø)xÿRr& $tB žÎû ÇÚöžF{$#


$YèžÏHsd !$¨B |Møÿ©9r& žú÷üt/ óOÎgÎ/qè=è% £`Å6»s9ur ©!$# y#©9r&
öNæhuZ÷žt/ 4 ¼çm¯RÎ) ͞tã ÒOžÅ3ym ÇÏÌÈ
63. Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).19
walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya
kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.

17 Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat
membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. juga berarti menyeru
kamu kepada iman, petunjuk Jihad dan segala yang ada hubungannya dengan
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

18 Maksudnya: Allah-lah yang menguasai hati manusia.


19 Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum
Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu
hilang.
9
.

Berlaku adil untuk dirinya sendiri.

Seorang suami yang selalu sakit-sakitan dan mengalami kesukaran untuk


bekerja mencari rezeki, sudah tentu tidak akan dapat memelihara beberapa
orang isteri. Apabila dia tetap berpoligami, ini bererti dia telah menganiayai
dirinya sendiri. Sikap yang demikian adalah tidak adil.

Adil diantara isteri-isterinya.

Setiap isteri berhak mendapatkan hak masing-masing dari suaminya, berupa


kemesraan hubungan jiwa, nafkah berupa makanan, pakaian, tempat tinggal
dan lain-lain perkara yang diwajibkan Allah kepada setiap suami.

Adil diantara isteri-isteri ini hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah dalam
Surah an-Nisa’ ayat 3 dan juga sunnah Rasul. Rasulullah (s.a.w.) bersabda,
maksudnya;

"Barangsiapa yang mempunyai dua isteri, lalu dia cenderung kepada salah
seorang di antaranya dan tidak berlaku adil antara mereka berdua, maka kelak
di hari kiamat dia akan datang dengan keadaan pinggangnya miring hampir
jatuh sebelah." (Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal).

Adil memberikan nafkah

Dalam soal adil memberikan nafkah ini, hendaklah si suami tidak mengurangi
nafkah dari salah seorang isterinya dengan alasan bahawa si isteri itu kaya
atau ada sumber kewangannya, kecuali kalau si isteri itu rela. Suami memang
boleh menganjurkan isterinya untuk membantu dalam soal nafkah tetapi tanpa
paksaan. Memberi nafkah yang lebih kepada seorang isteri dari yang lain-
lainnya diperbolehkan dengan sebab-sebab tertentu. Misalnya, si isteri tersebut
sakit dan memerlukan biaya rawatan sebagai tambahan.

Prinsip adil ini tidak ada perbedaannya antara gadis dan janda, isteri lama atau
isteri baru, isteri yang masih muda atau yang sudah tua, yang cantik atau yang
tidak cantik, yang berpendidikan tinggi atau yang buta huruf, kaya atau miskin,
yang sakit atau yang sehat, yang mandul atau yang dapat melahirkan.
Kesemuanya mempunyai hak yang sama sebagai isteri.

Adil dalam memberikan tempat tinggal

Selanjutnya, para ulama telah sepakat mengatakan bahawa suami


bertanggungjawab menyediakan tempat tinggal yang tersendiri untuk tiap-tiap
isteri berserta anak-anaknya sesuai dengan kemampuan suami. Ini dilakukan
semata-mata untuk menjaga kesejahteraan isteri-isteri, jangan sampai timbul
rasa cemburu atau pertengkaran yang tidak diingini.

Adil dalam giliran


Demikian juga, isteri berhak mendapat giliran suaminya menginap di rumahnya
sama lamanya dengan waktu menginap di rumah isteri-isteri yang lain.
Sekurang-kurangnya si suami mesti menginap di rumah seorang isteri satu
malam suntuk tidak boleh kurang. Begitu juga pada isteri-isteri yang lain.
Walaupun ada di antara mereka yang dalam keadaan haidh, nifas atau sakit,
suami wajib adil dalam soal ini. Sebab, tujuan perkahwinan dalam Islam
bukanlah semata-mata untuk mengadakan 'hubungan seks' dengan isteri pada
malam giliran itu, tetapi bermaksud untuk menyempumakan kemesraan, kasih
sayang dan kerukunan antara suami isteri itu sendiri. Hal ini diterangkan Allah
dengan firman-Nya;

"Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-Nya, dan rahmat-


Nya, bahawa la menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari
jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya,
dan dijadikan-Nya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan
belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-
keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir." (Al-
Qur'an, Surah ar-Ruum ayat 21)

Andaikan suami tidak bersikap adil kepada isteri-isterinya, dia berdosa dan
akan menerima seksaan dari Allah (SWT) pada hari kiamat dengan tanda-tanda
berjalan dalam keadaan pinggangnya miring. Hal ini akan disaksikan oleh
seluruh umat manusia sejak Nabi Adam sampai ke anak cucunya.

Firman Allah (SWT) dalam Surah az-Zalzalah ayat 7 hingga 8;

"Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarrah, nescaya akan dilihatnya


(dalam surat amalnya)! Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarrah, nescaya
akan dilihatnya (dalam surat amalnya)."

Anak-anak juga mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan,


pemeliharaan serta kasih sayang yang adil dari seorang ayah.

Oleh karena, disyaratkan agar setiap suami yang berpoligami tidak membeza-
bezakan antara anak si anu dengan anak si anu. Berlaku adil dalam soal
nafkah anak-anak mestilah diperhatikan bahawa nafkah anak yang masih kecil
berbeza dengan anak yang sudah besar. Anak-anak perempuan berbeza pula
dengan anak-anak lelaki. Tidak kira dari ibu yang mana, kesemuanya mereka
berhak memiliki kasih sayang serta perhatian yang seksama dari bapa mereka.
Jangan sampai mereka diterlantarkan kerana kecenderungan si bapa pada
salah seorang isteri serta anak-anaknya sahaja.

Keadilan juga sangat dituntut oleh Islam agar dengan demikian si suami
terpelihara dari sikap curang yang dapat merosakkan rumahtangganya.
Seterusnya, diharapkan pula dapat memelihara dari terjadinya cerai-berai di
antara anak-anak serta menghindarkan rasa dendam di antara sesama isteri.

11
Sesungguhnya kalau diperhatikan tuntutan syarak dalam hal menegakkan
keadilan antara para isteri, nyatalah bahawa sukar sekali didapati orang yang
sanggup menegakkan keadilan itu dengan sewajarnya.

Bersikap adil dalam hal-hal menzahirkan cinta dan kasih sayang terhadapisteri-
isteri, adalah satu tanggungjawab yang sangat berat. Walau bagaimanapun, ia
termasuk perkara yang berada dalam kemampuan manusia. Lain halnya
dengan berlaku adil dalam soal kasih sayang, kecenderungan hati dan perkara-
perkara yang manusia tidak berkesanggupan melakukannya, mengikut tabiat
semulajadi manusia.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah difirmankan Allah dalam Surah an-Nisak
ayat 129 yang berbunyi;

"Dan kamu tidak sekali-kali akan sanggup berlaku adil di antara isteri-isteri
kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu
janganlah kamu cenderung dengan melampau-lampau (berat sebelah kepada
isteri yang kamu sayangi) sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda
yang tergantung (di awang-awang)."

Selanjutnya Siti 'Aisyah (r.a.) menerangkan, maksudnya;

Bahawa Rasulullah (s.a.w.) selalu berlaku adil dalam mengadakan


pembahagian antara isteri-isterinya. Dan beliau berkata dalam doanya: "Ya
Allah, inilah kemampuanku membahagi apa yang ada dalam milikku. Ya Allah,
janganlah aku dimarahi dalam membahagi apa yang menjadi milikku dan apa
yang bukan milikku."

7. Poligami Rasulullah

Menurut Nasih Ulwan, Poligami yang terancak pada masa Rasulullah merupakan
salah satu hal yang berperan penting dalam penyebaran risalah keislaman.
Diantaranya:

a. Penyebaran Ilmu Islam

Secara faktual dari zaman terdahulu hingga sekaran kaum hawa selalu memenuhi
tingkat populasi, jumlah mereka dari zaman hingga zaman lebih banyak dari pada
laki-laki. Tentunya mereka membutuhkan bimbingan untuk orang yang berilmu dan
berwawasan luas, khususnya ilmu agama.20

Namun dalam beberapa kasus tetentu adakalanya laki-laki keberatan untuk memberi
penjelasan kepada golongan wanita, sehingga wanita yang lebih mengerti dan
mampu untuk menjelaskan dibutuhkan untuk memberikan penjelasan secara
eksplisit.

20 Abdullah Nasih Ula’addud Al Zaujat, Darussalam, Bairutv1998, Hlm. 64


Sebagai contoh, pada suatu ketika Rasulullah didatangi seorang wanita dari Anshar
yang bertanya tentang cara membersihkan najis haid. Namun wanita Anshar
tersebut tidak dapat memahami penjelasan yang diutarakan Rasulullah. Akhirnya,
Aisyah yang menjelaskan serta mempraktekkannya, sehingga wanita Anshar
tersebut mengerti tatacara dan ilmu yang telah dijelaskan.21

Rasulullah memberikan amanah bagi istri-istri beliau untuk memberikan ilmu


pengetahuan yang spesifik untuk para muslimat. Sehingga penyebaran Islam dapat
secara sempurna dicerna oleh seluruh golongan, laki-laki ataupun wanita.

b. Meraih Dukungan Dakwah

Tidak diragukan lagi bahwa dakwah islamiah dapat tersebar keseluruh masyarakat
arab dikarenakan Rasulullah telah menikah dengan tokoh-tokoh wanita dari berbagai
kabilah quraisy. Dan pada masanya, Quraisy adalah kabilah yang memimpin arab.

Realita sejarah membuktikan bahwa kabilah-kabilah dari kaum quraisy memberikan


respon positif terhadap kehadiran rasulullah. Bahkan, merekapun berduyun-duyun
memeluk agama islam. Sehingga penyebaran islam semakin luas dan dapat diterima
diberbagai golongan selain Quraisy.

21 Syaiful Islam Mubarak, Poligami Antara Pro & Kontra, 2007, Hlm. 40
13
C. Penelitian

Polling

1. Setujukah anda terhadap poligami (Poligini)?

2. Apakah anda berkenan untuk di-poligami oleh suami anda? (pertanyaan untuk
Wanita)

3. Apakah anda berkeinginan untuk berpoligami? (pertanyaan untuk Pria)

Berdasarkan pertanyaan diatas, dengan jumlah responden sebanyak 10 orang


secara random (laki-laki & wanita)

Laki-laki: 6 orang

Perempuan: 4 orang

___________________

Hasil:

1. Ya: 7 orang / Tidak: 3 orang

2. Ya: 1 orang / Tidak: 3 orang

3. Ya: 2 orang / Tidak: 3 orang

Observasi

1. Dari keterangan Bapak Amrullah Husein (pemilik restaurant di Stadion


Brawijaya Kediri), beliau memiliki empat isteri.

Dalam persepsi beliau, banyak istri banyak rezeki.

Selain dari itu, beliau juga memiliki kharisma terhadap wanita.

2. Dari keterangan Bapak Sarni (Peternak Kuda di Tulungagung), beliau memiliki


sembilan isteri.

Beliau berpoligami karena untuk memiliki banyak keturunan.


Beliau adalah pengusaha yang kaya raya.

15
D. Daftar Pustaka

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2007.

Suma, Muhammad Amin, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2004.

Sinân, Muhammad ibn ‘Ali ibn, al-Jânib al-Ta‘zîriy fi Jârîmat al-Zinâ, t.tp.: t.np, 1402
H/1982 M.

Sosroatmodjo, Arso, Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Bulan


Bintang, 1978.

Turmudzi, Abû ‘Îsa Muhammad ibn‘Îsa al-, Sunan al-Turmudzi wa Huwa al-Jâmi‘ al-
Sahîh, Beirut: Dâr al-Fikr, 1400 H/1980 M.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Wahbah, Taufîq ‘Ali al-Tadâbîr
al-Zajriyyah wa al-Wiqâ’iyyah fi al-Tasyrî‘ al-Islâmiy wa Uslûb Tatbîqiha, Riyad: Dâr al-
Liwâ’, 1401 H/1981 M. Wibisono, Yusuf, Monogami atau Poligami

Ali Engineer, Asghar, Hak-hak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Assegaf,
Cici Farkha, Yogyakarta: LSPPA & CUSO, 1994.

Departemen Agama RI, Bahan Penyuluhan Hukum, Jakarta: Dirjen Pembinaan


Kelembagaan Islam, 2000.

Dokumen Litbang Rifka Annisa Women Crisis Center, Data Kasus Kekerasan Terhadap
Perempuan Yang masuk di Rifka Annisa WCC, Periode Tahun 1994-2000.

Effendi, Djohan, “Memikirkan Kembali Asumsi Pemikiran Kita”, dalam kata pengatar
bukunya Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, alih bahasa Hairus Salim dan
Imam Baehaqy, Cet. I, Yogyakarta: Lkis, 1993.

El Alami, Dawoud dan Hinchliffe, Doreen, Islamic Marriage and Divorce Laws of The
Arab Word, London, The Hague, Boston: Kluwer Law International, 1996.

Eka, Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, Jakarta: P3M, 1999.

Grafik Solusi yang dipilih klien kasus KTI Bulan Januari-Desember 2000 di Rifka Annisa
WCC Yogyakarta, Sumber Divisi Litbang RAWCC Yogyakarta.

Hasyim, Syafiq, Poligami dan Keadilan kualitatif, Jakarta: P3M,


1999. Labib MZ., Pembelaan Ummat muhammad, Surabaya: Bintang
Pelajar, 1986.

Mulia, Musdah, Pandangan Islam tentang Poligami, Jakarta: LKAJSP, 1999.


Nasution, Khoiruddin, ”Perdebatan sekitar Status Poligami”, Jurnal Musawa, No. 1. Vol.
1. Maret 2002.