Anda di halaman 1dari 16

SUMBANGAN ISLAM BAGI PERADABAN DUNIA

Selasa, 29 Desember 09 - oleh : Awang JF

SUMBANGAN ISLAM BAGI PERADABAN DUNIA

A. Pendahuluan
Islam yang hadir di tengah kerasnya peradaban jahiliyah, melaui Muhammad saw. Akan tetapi
untuk selanjutnya Islam mampu bermetamorfosa menyebar hampir ke seluruh penjuru jagad.
Setelah masa Rasulullah saw, yang kemudian dilanjutkan oleh masa khulafau-r-rasyidin dan
dinasti-dinasti Islam yang muncul sesudahnya. Dan telah berhasil membangun peradaban dan
kekuatan politik yang menandingi dinasti besar lainnya pada masa itu, yakni Bizantium dan
Persia.
Demikian Islam telah menorehkan tinta emas pada sejarah kehidupan umat manusia. Dan
sebagaimana Islam yang datang sebagai rahmatan lil µalamin, sehingga Islam mampu berdiri
tegak pada setiap masa dan kurun waktu. Realitas spiritual dan metahistorikal yang
mentransformasi kehidupan lahir dan batin dari beragam manusia di dalam situasi temporal
maupun ruang yang berbeda. Dan secara historis Islam telah memainkan peran yang signifikan
dalam perkembangan beberapa aspek pada peradaban dunia.
Dengan pernyataan diatas, memungkinkan adanya pertanyaan ³Bagaimana Islam mempengaruhi
peradaban dunia?´ dan ³Bagaimanakah tanggapan dunia terhadap peradaban Islam?´.

B. Sekilas tentang peradaban Islam dan periode kejayaan peradaban Islam


Peradaban Islam adalah bagian-bagian dari kebudayaan Islam yang meliputi berbagai aspek
seperti moral, kesenian, dan ilmu pengetahuan, serta meliputi juga kebudayaan yang memilliki
sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang luas.
Dengan kata lain peradaban Islam bagian dari kebudayaan yang bertujuan memudahkan dan
mensejahterakan hidup di dunia dan di akhirat.
Sejalan dengan pengertian tersebut, Islam dalam menegakkan peradabannya tidak hanya
memandang satu sisi kehidupan dunia dengan pencapaian kebudayaan yang dapat memajukan
peradabannya, akan tetapi juga memperhatikan prinsip pencapaian kebahagiaan kehidupan
akhirat, dengan memberikan ajaran dengan cara berkehidupan yang bermoral dan santun dalam
memandang keberagaman dunia.
Dalam memahami peradaban Islam, amat penting untuk mengingat tidak hanya keragaman seni
dan ilmu pengetahuan, tetapi juga keragaman interpretasi teologis dan filosofis pada doktrin-
doktrin Islam, bahkan pada bidang hukum Islam. Tidak ada kesalahan yang serius daripada
pendapat yang menegaskan bahwa Islam adalah realitas yang seragam, dan peradaban Islam
tidak mengapresiasi ciptaan atau eksistensi beragam. Meskipun kesan adanya keseragaman
sering mendominasi segala hal yang berkaitan dengan Islam, sisi keragaman di bidang
interpretasi agama itu sendiri selalu ada, sebagaimana juga terdapat aspek beragam pada
pemikiran dan kultur Islam. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw sebagai pembawa ajaran Islam,
menganggap bahwa keragaman pendapat para pemikir Muslim adalah sebuah karunia Tuhan.
Namun dengan segala keberagamannya tersebut, masih saja terlihat kesatuan yang amat
mengagumkan tetap mempengaruhi peradaban Islam, sebagaimana hal tersebut telah
mempengaruhi agama yang melahirkan peradaban itu, dan membimbing alur sejarahnya selama
berabad-abad.
Demikianlah Islam dengan ajaran suci dan universal sebagaimana yang telah diwahyukan,
mengalami perkembangan dari masa ke masa. Adapun penyebaran Islam dan torehan
peradabannya ke penjuru dunia, tak kan lepas dari metode dan sistem penyebarannya, mulai dari
perdagangan, korespondensi (seperti yang dilakukan Rasulullah dengan mengirim surat kepada
para raja Mesir, Persia, dll.), diplomasi politik, sampai pada peperangan perebutan kekuasaan
dan pendudukan wilayah.
Sedangkan periode penyebaran Islam dan peradabannya yang dimulai sejak masa Rasulullah saw
pada abad ke-6 M hingga saat ini, terdapat masa-masa kejayaan peradaban Islam yang kemudian
diwarisi oleh peradaban dunia. Dan pereodisasi peradaban Islam tersebut, secara umum terbagi
menjadi 3 (tiga) periode, yang antara lain :

1. Periode klasik
Pada masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan keemasan Islam. Sebelum wafatnya Nabi
Muhammad saw (632 M), seluruh semenanjung Arabia telah tunduk ke bahwah kekuasaan
Islam, yang kemudian dilanjutkan dengan ekspansi keluar Arabia pada masa khalifah pertama
Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga berlanjut pada kekhalifahan berikutnya.
Pencapaian kemenangan Islam pada masa ini adalah dapat dikuasainya Irak pada tahun 634 M,
yang kemudian meluas hingga Suria, kemudian pada masa Umar bin Khattab, Islam mampu
menguasai Damaskus (635 M) dan tentara Bizantium di daerah Syiria pun ditaklukkan pada
perang Yarmuk (636 M), selanjutnya menjatuhkan Alexandria (641 M) dan menguasai Mesir
dengan tembok Babilonnya pada masa itu. Dan kekuasaan Islampun meluas hingga Palestina,
Syiria, Irak, Persia dan Mesir. Pada masa khalifah Utsman bin Affan, Tripoli dan Ciprus pun
tertaklukkan. Walaupun setelah itu terjadi keguncangan politik pada masa kekhalifahan Ali bin
Abi Thalib, hingga wafatnya.
Kekhalifahan berlanjut pada kekuasaan Bani Umayyah, yang pada masa ini kekuasaan Islam
semakin meluas, berawal dti Tunis, Khurasan, Afganistan, Balkh, Bukhara, Khawarizm,
Farghana, Samarkand, Bulukhistan, Sind, Punjab, dan Multan. Bukan hanya itu, perluasan
dilanjutkan ke Aljazair dan Maroko, bahkan telah membuka jalan ke kawasan Eropa yaitu
Spanyol, dan menjadikan Cordova sebagai ibu kota Islam Spanyol. Lebih ringkasnya, pada masa
dinasti ini kekuasaan Islam telah menguasai Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina,
Semenanjung Arabia, Irak, sebagaian dari Asia Kecil, Persia, Afganistan, Pakistan, Turkmenia,
Uzbek, dan Kirgis (di Asia Tengah).
Sejak kedinastian Bani Umayyah, peradaban Islam mulai menampakkan pamor keemasannya.
Walaupun Bani Umayyah lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan Arab. Benih-benih
peradaban baru tersebut antara lain perubahan bahasa administrasi dari bahasa Yunani dan
Pahlawi ke bahasa Arab, dengan demikian bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang harus
dipelajari, hingga mendorong Imam Sibawaih menyusun Al-Kitab yang menjadi pedoman dalam
tata bahasa Arab.
Pada saat itu pula (± abad ke-7 M), bermunculan sastrawan-sastrawan Islam, dengan berbagai
karya besar antara lain sebuah novel terkenal Laila Majnun yang ditulis oleh Qais al-Mulawwah.
Lain dari pada itu, dengan adanya pusat kegiatan ilmiah di Kufah dan Basrah, bermunculan
ulama bidang tafsir, hadits, fiqh, dan ilmu kalam.
Pada bidang ekonomi dan pembangunan, Bani Umayyah di bawah pimpinan Abd al-Malik, telah
mencetak alat tukar uang berupa dinar dan dirham. Sedangkan pembangunan yang dilakukan
adalah pembangunan masjid-masjid di Damaskus, Cordova, dan perluasan masjid Makkah serta
Madinah, termasuk al-Aqsa di al-Quds (Yerussalem), juga pembangunan Monumen Qubbah as-
sakhr, juga pembangunan istana-istana untuk tempat peristirahatan di padang pasir, seperti
Qusayr dan al-Mushatta.
Setelah kekuasaan Bani Umayyah menurun, dan ditumbangkan oleh Bani Abbasiyah pada tahun
750 H, kembali Islam dengan perkembangan peradabannya terus menerus bergerak pada
kemajuan. Di masa al-Mahdi, perekonomian mengalami peningkatan dengan konsep perbaikan
sistem pertanian dengan irigasi, dan juga pertambangan emas, perak, tembaga dan lainnya yang
juga meningkat pesat. Bahkan perekonomian menjadi lebih baik setelah dibukanya jalur
perdagangan dengan transit antara timur dan barat, dengan Basrah sebagai pelabuhannya.
Masa selanjutnya pada masa Harun al-Rasyid, kehidupan sosial pun menjadi lebih mapan dengan
dibangunnya rumah sakit, pendidikan dokter, dan farmasi. Hingga Baghdad pada masa itu
mempunyai 800 orang dokter. Dilanjutkan pada masa al-Makmun yang lebih berkonsenrasi pada
pengembangan ilmu pengetahuan, dengan menerjemahkan buku-buku kebudayaan Yunani dan
Sansekerta, dan berdirinya Baitu-l-hikmah sebagai pusat kegiatan ilmiahnya. Yang disusul
kemudian dengan berdirinya Universitas Al-Azhar di Mesir. Juga dibangunnya sekolah-sekolah,
hingga Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Maka, tak dapat dipungkiri
lagi bahwa masa-masa ini dikatakan sebagai the golden age.
Kemajuan keilmuan dan teknologi Islam mengalami masa kejayaan di masa ini. Munculnya para
ilmuwan, filosof dan cendekiawan Muslim telah mewarnai penorehan tinta sejarah dunia. Islam
bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku
Yunani, akan tetapi menambahkan ke dalam hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri
dalam lapangan sains dan filsafat. Tokoh cendekiawan Muslim yang terkenal adalah Muhammad
bin Musa al-Khawarizmi sebagai metematikawan yang telah menelurkan aljabar dan algoritma,
al-Fazari dan al-Farghani sebagai ahli astronomi (abad ke VIII), Abu Ali al-Hasan ibnu al-
Haytam dengan teori optika (abad X), Jabir ibnu Hayyan dan Abu Bakar Zakaria ar-Razi sebagai
tokoh kimia yang disegani (abad IX), Abu Raihan Muhammad al-Baituni sebagai ahli fisika
(abad IX), Abu al-Hasan Ali Mas¶ud sebagai tokoh geografi (abad X), Ibnu Sina sebagai seorang
dokter sekaligus seorang filsuf yang sangat berpengaruh (akhir abad IX), Ibnu Rusyd sebagai
seorang filsuf ternama dan terkenal di dunia filsafat Barat dengan Averroisme, dan juga al-Farabi
yang juga seorang filsuf Muslim.
Selain sains dan filsafat pada masa ini juga bermunculan ulama besar tentang keagamaan dalam
Islam, seperti Imam Muslim, Imam Bukhari, Imam Malik, Imam Syafi¶I, Abu Hanifah, Ahmad
bin Hambal, serta mufassir terkenal ath-Thabari, sejarawan Ibnu Hisyam dan Ibnu Sa¶ad. Masih
adalagi yang bergerak dalam ilmu kalam dan teologi, seperti Washil bin Atha¶, Ibnu al-Huzail,
al-Allaf, Abu al-Hasan al-Asyari, al-Maturidi, bahkan tokoh tasawuf dan mistisisme seperti,
Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husain bin Mansur al-Hallaj, dan sebagainya. Di dunia
sastra pun mengenalkan Abu al-Farraj al-Asfahani, dan al-Jasyiari yang terkenal melalui
karyanya 1001 malam, yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

2. Periode pertengahan
Pada periode ini, terdapat periode kemunduran Islam pada sekitar 1250-1500 M. Yang mana satu
demi satu kerajaan Islam jatuh ke tangan Mongol, dan kerajaan Islam Spanyol pun mampu
ditaklukkan oleh raja-raja Kristen yang bersatu, hingga orang-orang Islam Spanyol berpindah ke
kota-kota di pantai utara Afrika.
Namun dengan demikian, terdapat kebangkitan kembali kedinastian Islam pada masa 1500-1800
M. Di sana terdapat 3 kerajaan besar, yang menjadi tonggak bejayanya peradaban Islam yang ke-
2. Kerajaan besar tersebut adalah Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi Persia, dan Kerajaan
Mughal di India.
Karajaan Turki Usmani berhasil mengambil alih Bizantium dan menduduki Konstantinopel
(Istambul). Hingga akhirnya kekuasaan Turki Usmani mampu menguasai Asia Kecil, Armenia,
Irak, Syiria, Hijaz, Yaman, Mesir, Libya, Tunis, Aljazair, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia,
Albania, Hongaria, dan Rumania.
Sedangkan di tempat lain, Persia Islam bangkit dengan dengan Kerajaan Safawi (1252 M),
dengan dinasti yang berasal dari Azerbaijan Syaikh Saifuddin yang beraliran Syi¶ah.
Kekuasaannya menyeluruh hingga seluruh Persia. Dan berbatasan dengan kekuasaan Usmani di
barat dan kerajaan Mughal di kawasan timur.
Kerajaan Mughal di India, yang berdiri pada tahun 1482 M dengan pendirinya Zahirudin Babur.
Kekuasaannya mencakup Afganistan, Lahore, India Tengah, Malwa dan Gujarat. Di India, bahsa
Urdu akhirnya menjadi bahasa kerajaan menggantikan bahasa Persia. Dan kemajuannya telah
membuat beberapa bukti peninggalan sejarah antara lain, Taj Mahal, Benteng Merah, masjid-
masjid, istana-istana, dan gedung-gedung pemerintahan di Delhi.
Akan tetapi pada masa kemajuan ini, ilmu pengetahuan tidak banyak diberikan perhatian, namun
perhatiannya terhadap seni dalam berbagai bentuk adalah sangat besar, sehingga kerajaan
Usmani mendapatkan julukan the patron of art. Ketiga kerajaan besar tersebut lebih banyak
memperhatikan bidang politik dan ekonomi. Sedangkan di Barat, mulai menuai kebangkitan
dengan melihat jalur yang terbuka ke pusat rempah-rempah dan bahan-bahan mentah dari daerah
Timur Jauh melaui Afrika Selatan.
Hingga pada Abad ke-17, di eropa mulai mencul negara-negara kuat, bahkan Rusia mulai maju
di bawah Peter Yang Agung. Dan melalui peperangan, Usmani mengalami kekalahan. Dan
Safawi Persia pun ditaklukkan oleh Raja Afghan yang mempunyai perbedaan faham. Dan
kerajaan Mughal India pecah dikarenakan terjadi pemberontakan dari kaum Hindu, bahkan
Inggris pun berperan menguasainya pada tahun 1857 M.

3. Periode Modern
Periode ini dikatakan sebagai periode kebangkitan Islam, yang mana dengan berakhirnya
ekspedisi Napoleon di Mesir, telah membuka mata umat Islam akan kemunduruan dan
kelemahannya di samping kemajuan dan kekuasaan Barat. Raja dan pemuka-pemuka Islam
mulai berpikir mencari jalan keluar untuk mengembalikan keseimbangan kekuatan, yang telah
pincang dan membahayakan umat Islam. Sebab Islam yang pernah berjaya pada masa klasik,
kini berbalik menjadi gelap. Bangsa Barat menjadi lebih maju dengan ilmu pengetahuan,
teknologi dan peradabannya.
Dengan demikian, timbullah pemikiran dan pembaharuan dalam islam yang disebut dengan
modernisasi dalam Islam. Sekian tokoh pembaharu Islam telah mengeluarkan buah pikirannya
guna membuat umat Islam kembali maju sebagaimana pada periode klasik. Para tokoh tersebut
antara lain, Muhammad bin Abdul Wahab di Arab, Muhammad Abduh, Jamaludin al-Afghani,
Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, Sayyid Ahmad Khan, Syah Waliyullah, dan Muhammad
Iqbal di India, Sultan Mahmud II dan Musthafa Kamal di Turki, dan masih banyak lagi yang
lainnya.

C. Transformasi peradaban Islam kepada peradaban barat.


Sekian lamanya Islam melakukan penyebaran ajarannya, hingga lebih dari 14 abad lamanya.
Tentunya dari masa perjuangan tersebut telah menorehkan banyak hasil yang dapat dirasakan
oleh dunia saat ini walaupun sudah tidak ada lagi kekuasaan Islam yang mutlak. Karena Islam
dalam ekspansinya, tidak hanya mengambil keuntungan materi dari daerah yang dapat dikuasai,
melainkan ikut membangun dan memajukan peradaban yang ada dan tetap toleran terhadap
budaya lokal yang ada.
Hingga peradaban Islam telah memberi kontribusi besar dalam berbagai bidang khususnya bagi
dunia Barat. Kontribusi besar tersebut antara lain :
1. Sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam bidang
filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, khususnya dari
Spanyol. Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya kurikulum pendidikan dunia Barat.
2. Kaum muslimin telah memberi sumbangan eksperimental mengenai metode dan teori sains ke
dunia Barat.
3. Sistem notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia barat.
4. Karya-karya dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam bidang
kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad ke-
17 M.
5. Para ilmuwan muslim dengan berbagai karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa,
memperkaya dengan kebudayaan Romawi kuno serta literatur klasik yang pada gilirannya
melahirkan Renaisance.
6. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit dalam
bentuk ratusan madrasah adalah pendahulu universitas yang ada di Eropa.
7. Para ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persi
(Greco Helenistic) sewaktu Eropa dalam kegelapan.
8. Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagaio lembaga pendidikan tinggi Islam dan mentransfer
ilmu pengetahuan ke dunia Barat.
9. Para ilmuwan Muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi, dan
makanan kepada Eropa.
Demikianlah sumbangan besar Islam atas peradaban dunia Barat, yang selanjutnya jusru
dijadikan sebagai pusat peradaban dunia pada saat ini. Hal ini dikarenakan kekonsistensian dunia
Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Bahkan karya-karya besar
para ilmuwan Muslim tersebut hingga kini masih dapat kita teukan di perpustakaan-perpustakaan
internasional, khususnya di Amerika, yang secara profesional dan rapi telah menyimpannya.
Sehingga para umat Muslim di masa kini, yang ingin mempelajari lebih banyak tentang khasanah
Islam tersebut, harus pergi ke negara Barat (non Islam) agar dapat meminta kembali ³permata´
yang sementara ini telah mereka pinjam.

D. Tanggapan para pemikir Barat atas peradaban Islam.


Membicarakan masalah tanggapan dunia tentang peradaban Islam, tentunya tidak akan terlepas
dari pembicaraan para tokoh di luar Islam dalam menanggapi peradaban Islam yang telah
mempengaruhi peradaban dunia saat ini. Sebab dengan mengambil beberapa sampel yang
memberikan tanggapan terhadapnya tentulah akan dapat mewakili sejauh mana dunia
berkeyakinan bahwa Islam dan peradabannya telah benar-benar ada.
Walaupun pada dasarnya akan ada beberapa kerancuan dalam pemahamannya tentang peradaban
Islam itu sendiri. Sebab ada diantaranya yang masih memegang kuat absolutisasi konsep-konsep
barat, dan kebanggaan atas superioritasnya, terlebih lagi tentang renaisance yang cenderung
berdefinisi tentang ³manusia Eropa´. Akan tetapi banyak pula tokoh dunia yang terbuka dan
secara intelektual dan spriritual kritis menyadari kemiskinan spiritual modernisme dan mulai
mencari kebijakan pada sisi lain dari peradaban dunia. Di antara mereka mengarahkan pada studi
objektif, yang semakin meyakinkan mereka akan realitas.
Para penulis tersebut, telah membuahkan karya-karya dengan kerangka tulisan yang berakar pada
ajaran Islam yang otentik, walaupun masih dipengaruhi oleh bahasa intelektual Barat. Akan
tetapi ini bukan penolakan terhadap ajaran spiritual yang telah mereka yakini turut membangun
peradaban Barat tradisional pada masa itu. Bahkan menurut salah satu tokoh orientalis Gustave
Lebon, dan telah diterjemahkan oleh Samsul Munir Amin, mengatakan bahwa ³(orang Arablah)
yang menyebabkan kita mempunyai peradaban, karena mereka adalam imam kita selama enam
abad´.
Di satu sisi yang lain Ernest Gellner, dengan teori Triad-nya dalam pembentukan suatu sistem
demokrasi, yang mana warga sipil, umat Marxis, dan umat Islam berada dalam satu lingkup
persaingan. Yang pada akhirnya, secara evolutif umat Marxis musnah tegerus zaman dan
peradaban. Akan tetapi umat Islam tetap eksis dalam percaturan ini, walaupun pada kondisinya
Islam secara mentalitas dan kultur bersifat kaku dan baku. Akan tetapi mampu bersaing dengan
disertai otoritas politik dan primordialisme yang sama sekali asing dan berbeda dengan nilai-nilai
liberal. Dengan demikian, jelaslah bahwa peradaban Islam itu ada bahkan mempengaruhi
peradaban dunia.
Marshal G.S. Hodgson, seorang Amerika yang telah berkarya dengan sebuah karya besar The
Venture of Islam, telah menyampaikan pesan dengan seobyektif mungkin tentang Islam dan
peradabannya serta pengaruhnya terhadap peradaban Barat.
Dari beberapa pendapat tersebut, memberikan bukti bahwa Islam dan peradaban yang telah
dibangunnya pada masa lalu, telah memberikan investasi besar pada pencapaian peradaban dunia
modern saat ini.
E. Penutup
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas adalah :
1. Penyebaran ajaran Islam dan ekspansinya ke berbagai penjuru dunia telah berhasil membawa
kemajuan pada setiap masanya, baik dari segi keagamaan maupun non agama yang berupa ilmu
pengetahuan dan teknologi.
2. Para tokoh dan cendekiawan Islam yang telah berhasil mempelajari ilmu-ilmu Yunani dan
Sansekerta, telah memberikan pengembangan yang signifikan pada bidangnya masing-masing,
jauh sebelum para ilmuwan Barat menemukan teori-teori tentang ilmu pengetahuan.
3. Setelah mengalami beberapa masa menuju modernitas dunia, pada akhirnya banyak para
peneliti Barat yang mengakui bahwa peradaban Islam telah mempengaruhi peradaban dunia
modern saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, editor : Lihhiati, Ed.1, cet.1 (Jakarta: Amzah,
2009)

Ansary, Abdou Filali, Pembaharuan Islam : dari mana dan hendak ke mana?, terj. Machasin,
(Bandung : Mizan, 2009)

Hodgson, Marshal G.S, The Venture of Islam, Iman dan Sejarah Peradaban Dunia, (masa klasik
Islam), buku ke-2, Peradaban Kekhalifahan Agung, cet. 1, terj. Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta :
Paramadina, 2002)
Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, cet. 2 (Yogyakarta : Pustaka Book
Publisher, 2009)

Mansur, Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta : Global Pustaka Utama, 2004)

Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barata, Deskripsi Analisis Abad
Keemasan Islam, terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, cet. 2, (Surabaya : Risalah
Gusti, 2003)

Nasr, Seyyed Hossein, Islam : Agama, Sejarah, dan Peradaban, (Surabaya : Risalah Gusti, 2003)

p p
p

p p
m   m   
   
    
    m   
     
July 19, 2010 isa7695 Leave a comment Go to comments

Rate This

m 

Dalam istilah islam yang menggunakan istilah arab, akuntansi disebut sebagai Muhasabah.
Secara umum muhasabah memiliki 2 pengertian pokok yaitu: Muhasabah dengan arti musa¶alah
(perhitungan) dan munaqasyah (Perdebatan) . Proses musa-alah bisa diselesaikan secara
individual atau dengan perantara orang lain, atau bisa juga dengan perantara malaikat, atau oleh
allah sendiri pada hari kiamat nanti. Muhasabah dengan arti pembukuan/pencatatan keuangan
seperti yang diterapkan pada masa awal munculnya islam. Juga diartiakan dengan penghitungan
modal pokok serta keuntungan dan kerugian.

Muhasabah pun berarti pendataan, pembukuan, dan juga semakna dengan musa¶alah
(perhitungan) , perdebatan, serta penentuan imbalan/balasan seperti yang diterapkan dalam
lembaga-lembaga negara, lembaga baitul maal, undang-undang wakaf, mudharabah, dan serikat-
serikat kerja.

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa pengertian akuntansi (muhasabah) didalam islam
adalah:

1.Pembukuan keuangan

2.Perhitungan, perdebatan, dan pengimbalan

Kedua makna ini saling terkait dan sulit memisahkannya, yaitu sulit membuat perhitungan tanpa
adanya data-data, dan juga data-data menjadi tak berarti tanpa perhitungan dan perdebatan.

Akutansi Islam atau Akutansi Syariah pada hakekatnya adalah penggunaan akutansi dalam
menjalankan syariah Islam, misalnya mendefinisikan Akutansi Islam sebagai berikut:

³ m  
   
  
  
 

   
      




               
         

Sesuai dengan penjelasan Akutansi dalam bahasa Arab disebut Muhasabah terdapat 48 kali
disebut dalam Alquran.

Kata Muhasabah memiliki 8 pengertian :

1.p Yahsaba yang berarti menghitung,     , atau mengukur atau   



2.p Juga berarti pencatatan dan perhitungan perbuatan seseorang secara terus menerus
3.p Hasaba adalah selesaikan tanggung jawab
4.p Agar supaya bersifat netral
5.p Tahasaba berarti menjaga
6.p Mencoba mendapatkan
7.p Mengharapkan pahala diakhirat.
8.p Menjadikan perhatian atau mempertanggungjawabkan

Dari pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam
dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang
disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang
Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun
penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.

m !!"

Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya Akuntansi Islam :

1.p Meningkatnya religiousity (rasa keberagamaan) masyarakat.


2.p meningkatnya tuntutan kepada etika dan tanggung jawab sosial yang selama ini nampak
diabaikan oleh akuntansi konvensional.
3.p semakin lambannya akuntansi konvensional mengantisipasi tuntutan masyarakat
khusunya mengenai penekanan pada keadilan, kebenaran dan kejujuran.
4.p kebangkitan Islaam khususnya kaum terpelajr yang merasakan kekurangan yang terdapat
dalam kapitalisme barat. Kebangkitan Islam terasa setelah beberapa negara yang
penduduknya beragama Islam, merdeka lima puluh tahun yang lalu seperti Mesir, Arab
Saudi, India (Pakistan dan Bangladesh), Iran, Irak, Indonesia, Malaysia, dan lain
sebagainya. Negara baru ini tentu siap dengan pembangunan SDM-nya dan lahirlah
penduduk muslim yang terpelajar dan mendapatkan ilmu dari barat. Dalam akulturasi
ilmu ini maka pasti ada beberapa kontradiksi dan disinilah ia bersikap. Dan mulai
merasakan perlunya digali keyakinan akan agamanya yang dianggapnya komprehensif.
Sehingga dalam akuntansi lahirlah ilmu Akuntansi Islami ini.
5.p perkembangan atau anatomi disiplin akuntansi itu sendiri yang berproses dan berevolusi
mencari kesempurnaan.
6.p kebutuhan akan sistem akuntansi dalam lembaga bisnis syari¶ah seperti Bank, Ausransi,
Pasar Modal, Perdagangan dan lain-lain.
7.p kebutuhan yang semakin besar pada norma perhitungan zakat dengan menggunakan
norma akuntansi yang sudah mapan sebagi dasar perhitungan.
8.p kebutuhan akan pencatatan, pertanggungjawaban dan pengawasan harata ummat misalya
dalam Baitul Maal kekayaan milik umat Islam (wakaf) atau organisasinya.
#" $ %m

Ketika berbicara tentang sejarah akuntansi di kalangan orang Arab, maka yang dimaksud adalah
masa yang berakhir dengan hijrahnya Rasulullah SAW, dari Makkah ke Madina tahun 622 M,
yang setelah itu dimulailah sejarah Islam. Pada masa sebelum berdirinya negara Islam, bangsa
Arab terpecah-pecah, tidak disatukan oleh satu sistem poplitik, kecuali tradisi kekabilahan yang
dominan. Sekalipun demikian, mereka memiliki pasar dan tempat aktivitas perdagangan di
dalam negeri maupun di luar negeri, yang tercermin dalam dua perjalanan di musim dingin dan
di musim panas, yaitu ke negeri Syam dan ke negeri Yaman.

Nubuwwah Rasul Muhammad SAW berawal pada tahun 609 M. Dan beliau selama tiga belas
tahun tinggal di Makkah sampai berhijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Dengan hijrahnya
Rasul Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, mulailah tahun Hijtiyah menjadi kalender
Islam yang didasarkan pada peredaran bulan, sedangkan kalender masehi berdasarkan pada
peredaran matahari.

Kehidupan bangsa Arab di negeri antara dua sungai pada masa lampau telah mencapai tingkat
kehidupan yang makmur. Hal ini berpengaruh terhadap akuntansi yang ada dikalangan orang
Arab, yaitu konstruksi kehidupan sosial di negeri Rafidin atau yang dikenal dengan nama neggeri
anatara da sungai mulai berbuat untuk melayani kebutuhan merekan dalam bidang perdagangan
dan industri yang maju saat itu. Ensiklopedi Britanian menunjukkan bahwa negeri Rafidin juga
dikenal dengan nama Jaziratul Arabiyah.

Kemajuan dalam bidang perdagangan dan sosial serta keterkaitannya dengan penemuan tulisan
dalam kapasitasnya sebagai sesuatu yang penting yang sangat dibutuhkan oleh keadaan pada saat
itu, medorong salah seorang peneliti untuk mengatakan bahwa orang-orang Finiqiya pernnah
menggunakan huruf paku yang pernah digunakan di negeri Rafidin, namun setelah itu mereka
menemukan huruf-huruf khas mereka yang kemudian digunakan oleh orang Yunani. Huruf
Finiqiyah ini memiliki karakter tersendiri, menarik, ditulis dari arah kanan ke kiri.

Selanjutnya dapat dikatakan bahwa perkembangan dan kemajuan dalam bidang perdagangan dan
sosial berimplikasi pada penemuan tulisan, dan tulisan dengan perannya berimplikasi pada
peletakan batu dasar bagi akuntansi. Semuanya ini terjadi di wilayah tersebut yang merupakan
bagian dari dunia Arab. Dan tdak mustahil hal seperti itu terjadi pula di wilayah yang lain dari
dunia Arabm di samping negeri antara dau sungai. Namun sampai sekarang, berbagai ekskavasi
tidak menunjukkan hal itu, atau dalam bentuk yang lebih rinci lagi tidak ada seorang pun yang
mempelajari ekskavasi itu dari segi perdagangan dan akuntansi, khususny dalam hal yang
berkaitan dengan Yaman dan masa-masa keemasan yang dialaminya.

Tulisan Sumariyah termasuk bentuk tulisan yang terdahulu secara umum, karena tulisan
Mishiriyah (Mesir) muncul setelah itu. Kedua bentuk tulisan itu yaitu Sumariyah dan Mishiriyah
terbentu dari rumus-rumus sesuatu dan dikenal dengan nama pictographic yaitu tulisan dalam
bentuk gambar.

Demikian pula buku akunansi yang digunakan di Sumar dan Babilonia, yang sifatnya
mengandung hitungan berimbang (neraca), menurut pemikiran James Snyder mungkin
dikategorikan sebagai sistem Sumariyah untuk sistem Al-Qaidul Muzdawaj (Double Entry
Bookeeping).

Penduduk negeri antara dua sungai telah menggunakan papan tulis tembikar y aang bertuliskan
denga huruf paku untuk mencatat hitungan mereka. Meskipun sederhana itu sudah cukup dan
sesuai dengan kebutuhan mereka dalam bidang perdagangan dan sosial. Babilonia telah dikenal
dengan pekerjaan penukaran uang sejak masa yang tidak dikenal sampai abad IV SM.

Tujuan dari penggunaan akntansi di kalangan orang Arab adalah untuk mengukur keuntungan.
Keadaan seperti ini terus berlangsung sampai munculnya nega Islam pada tahun 1 H atau 622 M.
Adapun akuntansi sebagai sarana pembantu dalam pengambilan keputusan belumlah difungsikan
sampai munculnya negara Islam. Bagi orang-orang Arab pra Islam, perhitungan keuntungan
dilakukan dengan cara mengetahui kelebihan pada modal murni antara awal dan kahir (saldo
akhir) masa perdagangn. Bagi orang-orang Arab Hijaz, keuntungan dihitung dua kali: pertama
setelah perjalanan dagang ke Yaman pada musim dingin, dan kedua setelah perjalanan dagang ke
Syam pada musim panas. Tampaknya, karena minimnya bukti yang ada yang menjelaskan
tentang sejarah akuntansi di dunia Arab seperti Babilonia, oarng Arab pra Islam tidak
memberikan perhatian terhadap pencatatan penemuan mereka dan perkembangan kehidpan
mereka. Mereka menyebarkan pengetahuan kepada para generasi secara lisan, dari orang ke
orang. Orang Arab memiliki keistimewaan dalam hal kekuatan hafalan dan daya tangkapnya. Hal
seperti ini terus berlangsung sampai pada awal masa Islam. Namun, dengan tumbuhnya negara
Islam, hal ini mengalami perubahan yang cepat, karena pencatatan penemuan dan ilmu mulai
perannya, yaitu berawal dari pencatatan hadits Rasulullah Muhammad SAW.

&%'(

Jika kita kaji kembali kisah-kisah para nabi di Al-Qur¡¦an, maka


seorang akuntan sewajarnya tertegun pada saat membaca kisah nabi
yusuf. Dimana saat nabi yusuf mengartikan mimpi raja mesir, tercantum
pada surat Yusuf ayat 46-49 yang berbunyi:

´ hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang 7 ekor sapi betina yang
gemuk-gemuk yang dimakan oleh sapi berina yang kurus-kurus dan 7 bulir gandum yang hijau
dan lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.
Yusuf berkata: supaya kamu bertanam tujuh tahun
sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit
untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu datang 7 tahun yang amat sulit, yang menghabiskan
apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari yang kamu simpan. ´

Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dan dimasa itu
memeras anggur kemudian nabi yusuf diangkat sebagai bendaharawan mesir ini tercantum pada
surat Yusuf ayat 55 yang berbunyi:

´ Berkata yusuf: jadikanlah aku bendaharawan; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga lagi berpengetahuan¨.
Dan seperti yang kita ketahui, kemudian datanglah hal yang seperti mimpi raja tersebut. Maka
nabi Yusuf yang saat itu menjadi bendaharawan negara mengatur distribusi kekayaan kerajaan
dan juga mengurus distribusi bantuan pangan bagi orang-orang yang terkena dampak kemarau
panjang meskipun yang membutuhkan bantuan itu berasal dari negara lain. Tidaklah mungkin
nabi yusuf dapat melakukan itu semua tanpa sistem pencatatan yang baik serta perhitungan yang
akurat. Hanya saja karena masanya yang telah lama berlalu, sehingga sulit untuk menemukan
bukti mengenai bagaimana cara pencatatan keuangan pada masa itu.

#" $

Sesosok Luca Pacioli yang disebut-sebut sebagai Bapak Akuntansi Modern , atau akan lebih
banyak lagi yang belum tahu kesenjangan jarak waktu dan history yang terbentang jauh antara
jaman ³ jahiliyyah ³ yang dialami dunia barat (1494 M) seorang Luca Pacioly berdasarkan nasab
, seorang pendeta Kristen , pada tahun 1494 M dia menerbitkan sebuah buku yang berjudul
 
   


  berdasarkan catatan peneliti pada tahun 1963 M
adanya sebuah rekomendasi-rekomendasi yang jauh lbih valid bahkan disusun lebih valid dan
menjadi dasar pencatatan selanjutnya oleh Pacioli tahun 1363 M yakni Abdullah Al Mazindaani
dalam kitabnya   dengan kata lain apa yang dilakukan oleh
Pacioli hanyalah berperan sebagai penukil , pencatat , terhadap apa yang beredar saat itu .

Ada banyak hal yang membuat perhatian saat mempelajari sebuah buku yang di susun oleh Prof.
Dr. Umar Abdullah Zaid salah satu pada Bab Kedua yang masih berkutat tentang sejarah
akuntansi islam yang kemudian di manipulasi oleh para intelektual barat karena begitu penting
diluruskan apa yang selama ini dijadikan banyak acuan para intelektual seluruh dunia akan
tradisi plagiatisme keilmuan yang malah terlihat seperti telah begitu biasa maka semuanya
mengantarkan kesimpulan logika yang bertentangan dengan fakta sejarah yang telah ada . Seperti
yang dicatat oleh Prof .Dr.Umar Abdullah Bin Zaid pada halaman 31 mengatakan ³ Mungkin
dapat dikatakan bahwa saat itu Eropa hidup pada masa kegelapan ,kaum muslimin telah
menggunakan akuntansi dan ikut andil , dalam mengembangkannya .sementara itu , peradaban
islam dalam sebuah fase yang subur dan berkembang pesat di dunia dengan syariat islam sebagai
fondasinya dan berhasil mengintegrasikan antara tuntunan spiritual dan material

Æ÷tGö/$#ur !$yJ½Ïù š 9t?#uä ª!$# uµ#¤$!$# not ÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB
$u½÷RµÅ 9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# š ø½s9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# ¶Îû
ÇÚöµF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä‚ tûïÏÅ Å¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ


     
  ! " 


    
! " # 

!  
"  
    


 !"   
$



!
%&''"

Jika mau dirunut secara kronologis bagaimana awal kelahiran dan pertumbuhan Akuntansi di
dunia Islam yang ternyata telah berkembang jauh sebelum dekade ini Akuntansi Kapitalis
mencatat bahwa Akuntansi dengan sistem   (
  atau dikenal di kalangan awam
sebagai debet kredit . Maka Akuntansi sebagai bagian yang 
dengan kultur, identitas,
dan kebudayaan serta peradaban Islam telah dimulai sejak pertama kali Baginda Rasulullah
Shalallahu alaihi wassalam mendirikan sebuah masyarakat dan negara Islam di Madinah telah
dimulai. Terutama ketika bertambahnya pemasukan negara dari pelbagai hasil taklukan dan zakat
yang dikumpulkan dalam lembaga pengumpulan pemasukan harta negara yang kelak dikenal
dengan Baitul Maal.

Pada era pertumbuhan dan perkembangan berikutnya Khalifah Umar Ibn Khattab pada tahun 14-
24 H memerintahkan mencatat harta umum diklasifikasikan sesuai dengan sumber
pendapatnnya. Umar Ibn Khattab dalam sebuah riwayat diceritakan mengangkat dan menggaji
staf-staf pencatat sumber pemasukan dan pengeluaran. Pada era khalifah kedua setelah Abu
Bakar ini tercatat dalam sejarah yang paling banyak terjadi kemajuan dalam hal keuangan public
dan perekonomian negara Islam. Mulai ada pembukuan dan dokumentasi yang harus dimilikinya
sebagai asas pencatatan.

Sistematika pencatatan transaksi dan pencatatan sumber pendapatan negara secara tersusun
sistematis rupanya telah dimulai dan dikembangkan sejak era kekhalifahan Al Walid Ibn Abdul
Malik pada tahun 86-96. Setelah itu proses pertumbuhan dan perkembangan Akuntansi di dunia
Islam mecapai puncaknya pada era Kekhalifahan Abbasiyah. Dalam ]
 
 
)
] *
yang ditulis oleh Prof .Dr. Umar Abdullah
Zaid dan diterjemahkan oleh Muhammad Syafi¶i Antonio ,M.Ec dipaparkan bahwa salah satu
bukti telah tersusunnya secara sistematis Akuntansi dalam bentuk pembukuan dan jurnal pada
tahun 132 H / 749 M. Jurnal-jurnal pencatatan dalam proses pembukuan Akuntansi lebih dikenal
dengan nama +
 yang kemudian diterjemahkan menjadi + 
sebagaimana yang tercacat
dalam bukunya Luca Pacioly dan terjemahan latin ,
sebagaimana yang dikenal di Venice ,
Italy.

Artinya Proses penumbuhan Akuntansi di dunia Islam telah digunakan sekitar 745 tahun sebelum
kemunculan buku Pacioly yang berjudul  
   


 .
Kemudian barulah Akuntansi Islam menemukan puncak kegemilangannnya di tahun 765 H/1363
M dengan sebuah manuskrip yang disusun oleh Abdullah bin Muhammad bin Kayah Al
Mazindarani. bertajuk ] . Walaupun sebelum Al Mazindarani
menyusun manuskripnya tersebut

Penulis muslim lainnya yang juga telah menyusun sebuah karya tentang perkembangan
Akuntansi dan penggunaaanya dalam masyarakat Islam juga telah dimulai oleh An Nuwairi
(734H/1336M) dan Ibnu Khaldun (167H/784M)

˜#)˜#

Disinilah gunanya sebuah pemurnian yang dikembalikan dengan jujur, saat plagiatisme
menjelma budaya lumrah, atau saat telah tertutup mata dunia dengan segenap keangkuhannya
pada karya gemilang yang pernah direntas oleh putra-putri islam terbaik sepanjang masa. Antara
jejak-jejak ingatan kolektif masyarakat terkaburkan oleh sikap yang memang disengaja
menghilangkan selenyap-lenyapnya dari muka bumi kegemilangan yang pernah direntas bersama
kepingan-kepingan bagai puzzle, kepingan-kepingan yang disusun oleh tangan-tangan insan
berdedikasi dan keimanan yang bukan lahir dari lubuk formalitas dan retorika lidah
menggulirkan wacana, ia hanyalah satu jejak dari berribu-ribu jejak lainnya mengisyaratkan
keteladanan kemudian diwariskan olehnya keteladanan tersebut untuk generasi berikutnya.

Jejak kegemilangan yang memang sengaja dikaburkan melalui sederet kisah pemusnahan
manuskrip berharga sepertti yang pernah dilakukan oleh pasukan barbar terhadap kekhalifahan
terakhir Dinasti Abbasiyah sampai-sampai seorang ulama sejarawan yang masyhur pernah
mencatat tentang sungai di sepanjang Baghdad menjelma hitam karena lautan tinta dari buku-
buku yang dihanyutkan ke sungai tersebut, Seperti yang pernah dipaparkan pada paragraph
sebelumnya, jauh seorang pendeta Kristen pada tahun 1494 M yang bernama Lucas Pacioli
dalam jangka perbedaan waktu Selama 131 tahun di depan karya yang diterbitkan oleh Lucas
Pacioli serta memuat pembukuan dua belas kolom atau kolom tunggal, pada tahun 1363 M yakni
Abdullah bin Muhammad Al Mazindarani telah merentas dan disempurnakan olehnya untuk
selanjutnya dapat diaplikasikan dalam system Akuntansi yang tengah popular saat itu tahun 765
H/1363 M

· Akuntansi Bangunan

· Akuntasi Pertanian

· Akuntansi Pergudangan

· Akuntansi Pemuatan Uang

· Akuntasi Pemeliharaan Binatang

Bahkan di antara yang sangat unik dalam pencatatan pembukuan pada masa tersebut dan juga
merupakan pembeda antara Akuntansi yang murni syariah dengan konvensional adalah sebgai
berikut

· Sebelum menyiapkan laporan atau dimuat di buku-buku Akuntansi harus dimulai dengan
Basmallah. Hal inilah yang juga disebutkn oleh Lucas Pacioli 131 tahun kemudian.

· Laporan keuangan dibuat berdasarkan fakta buku Akuntansi yang digunakan, di antara
laporan keuangan yang pernah dibuat di Negara islam yang terkenal adalah$]dan $
]+-. ]merupakan sebuah laporan keuangan tiap akhir bulan dan juga
memuat pemasukan serta pengeluaran sesuai kelompok jenisnya sedangkan $]
+- laporan keuangan yang ditujukan untuk orang yang lebih tinggi derajatnya untuk
kemudian diberi persetujuan laporan keuangan yang persetujuanya diberi nama *#. 
namun apabila ia tak disetujui maka ia dinamakan * karena adanya perbedaan pada
data-data yang dimuat dalam laporan keuangan

· Ketika melakukan transaksi jual beli, tanda terima diberikan kepada pembeli atau disebut
juga dengan )
/ sedangkan copiannya atau salinan disebut sebagai  yang kemudian
disimpan oleh Akuntan untuk kemudian dipertanggungjawabkan dan disetujui oleh pimpinan
kantor, menteri, atau sulthan dan apabila transaksi perdagangan terjadi di luar kota salinan syahid
tersebut dikirim ke ibukota wilayah islam untuk kemudian diberikan persetujuan oleh Sultan dan
disimpan sebagai dasar pembukuan dasar kantor pusat

· Pada akhir tahun buku, seorang akuntan harus mengirimkan laporan keuangan dalam
setahun dan secara rinci

· Harus mengelompokkan transaksi-transaksi keuangan dan mencatatnya sesuai dengan


karakternya dalam kelompok-kelompok yang sejenis

'*

=p Al Qur¶an dan Terjemahan

=p Harahap, Sofyan Syafri, 2001, PT Bumi Aksara, Jakarta.

=p Harahap, Sofyan Syafri, Ê , Jakarta

=p Karim, Adiwarman,  
m 
(  ( 0Jakarta.

=p Muhammad, 2002, m 



- Salemba Empat, Jakarta.

=p Perwataatmada, Karnaen,  
m 
(  Diktat kuliah Pasca Sarjana
UI, Jakarta.

=p Wiyono, Slamet, 2005, Ë


* * m

Ê


m] mmGrasindo, Jakarta.

=p Zaid, Umar Abdullah, 2004, 


&]

  
] 
*
( )
 LPFE Universitas Trisakti, Jakarta.