Anda di halaman 1dari 2

Pandangan realisme lahir sebagai bentuk kritik terhadap pandangan idealisme yang dianut oleh

Woodrow Wilson melalui pembentukan Liga Bangsa Bangsa (LBB). Pandangan realisme memiliki
empat prinsip dasar. Pertama, negara (state) diposisikan sebagai aktor utama dalam hubungan
internasional. Kedua, negara merupakan satu kesatuan aktor. Ketiga, negara diasumsikan sebagai
aktor yang rasional, dan prinsip terakhir, para penganut realis memandang keamanan (security)
sebagai prioritas utama.1 Prinsip ini merupakan asumsi-asumsi dasar yang pada pejalannya mengalami
perkembangan teoritis.

Sejarah tertua pemikiran ini dimulai sejak 500 S.M melalui tulisan Thucydides (History of
Peloponnesian War) tentang Perang Peloponnesia antara Athena dan Sparta. Thucydides
mengarisbawawi kenyataan pada kondisi nyata saat itu bahwa peningkatan power Athena secara terus
menerus mengakibatkan Sparta merasa terancam eksistensinya dan memutuskan untuk menghambat
peningkatan power tersebut melalui opsi perang. Kemudian pada abad ke-14, Machiavelli melalui
karyanya The Prince, mendeskripsikan kondisi negaranya dengan mengatakan bahwa keamanan
negara merupakan hal yang terpenting. Thomas Hobbes (Leviathan), memiliki kesamaan dengan
Machiavelli yaitu memiliki sifat pesimis terhadap sifat dasar manusia.

Berbeda dengan pemikiran realism klasik lainnya, Hugo Grotius beranggapan bahwa sifat hubugan
internasional yang anarki bisa diikat melalui hukum maupun aturan-aturan yang diterima oleh setiap
negara.

diperlukan untuk menjaga kedamaian dalam interaksi antar negara, Carl Von Clausewitz atas
pandangannya mengenai perang sebagai kelanjutan dari proses politik,

1
P.R Viotti and Mark V. Kauppi. International Relations Theory 4th edition. New York :
Pearson Education. Inc. 2010. 42-43
Pandangan realis pada perkembangannya secara substansial terdapat dua perbedaan, realisme klasik
dan neorealisme (structural realism). Perbedaan yang terlihat diantara pemikiran tersebuat adalah
dalam hal pencapaian power. Realisme klasik beranggapan, power berasal dari sifat dasar manusia
yang memiliki keinginan untuk terus mengejar kekuasaan. Morgenthau menyebutnya sebagai “The
Struggle for Power” dalam bukunya Politics Among Nations. Secara berbeda, Neorealisme yang
diwakili oleh Kenneth Waltz mengatakan bahwa kondisi sistem internasional yang menyebabkan
negara mencari power.

Dalam pandangan neorealisme, negara mengabaikan perbedaan

Tokoh realisme klasik yang dikenal yaitu Thucydides (History of Peloponnesian War), Machiavelli
(The Prince), Thomas Hobbes (Leviathan), Hugo Grotius (Law of War and Peace), Carl Von
Clausewtiz (On War), Edward Hallet Carr (The Twenty Years’ Crisis), dan Hans Joachim
Morgenthau (Politics Among Nations).

Secara khusus, Morhenthau mengenalkan enam prinsip dari realisme: