Anda di halaman 1dari 49

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII F SMP NEGERI 1 BOJONG KABUPATEN TEGAL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE JIGSAW II DALAM POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL

SKRIPSI

Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Studi Strata 1 untuk Memperoleh Gela r Sarjana Pendidikan Oleh: Nama : Sulistyowati Nim : 4101906170

Oleh:

Nama

:

Sulistyowati

Nim

:

4101906170

Program Studi

:

Pendidikan Matematika

Jurusan

:

Matematika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2007

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi skripsi ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan

Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis dirujuk

dalam skripsi ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka.

Semarang, 16 Agustus 2007

SULISTYOWATI

ABSTRAK

Sulistyowati, 4101906170, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong Kabupaten Tegal melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw II dalam Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel” Skripsi, Semarang, FMIPA Pogram Studi Pendidiksn Matematika, UNNES.

Ketuntasan belajar pada mata pelajaran matematika masih rendah, terutama pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel. Hal ini dibuktikan dengan melihat data pada tahun pelajaran 2005/2006 dan diperkuat dari hasil wawancara dengan siswa. Kurangnya keterlibatan siswa dalam proses KBM, rendahnya tingkat ekonomi, dan proses KBM yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan meningkatkan mutu pembelajaran matematika pada umumnya dan khususnya akan meningkatkan hasil belajar siswa VII F terutama di SMP Negeri 1 Bojong. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah apakah dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II dapat meningkatakan hasil belajar siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel tahun pelajaran 2005/2006? Dalam penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong. Penilitian ini juga diharapkan agar ketuntasan belajar siswa pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel dapat tercapai. Metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dari hasil perhitungan diperoleh ketuntasan belajar siswa pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel adalah meningkat. Hal ini terlihat pada peningkatan ketuntasan belajar dari 65,85% menjadi 75,61% dan meningkat lagi menjadi 85,37%. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II perlu dilaksanakan dalam pelajaran matematika khususnya pokok bahasan persamaan linier satu variabel. Hal ini karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel yang diterapkan pada kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong dapat meningkat.

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong

Kabupaten Tegal melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Type

Jigsaw II dalam Pokok Bahasan Persamaan Linear Satu Variabel.

Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang, pada:

Ketua

Hari

Tanggal

:

:

Kamis 16 Agustus 2007

Panitia Ujian

Drs. Kasmadi Imam S, M.S NIP. 130781011

Pembimbing Utama

Drs. Moch. Chotim, M.S NIP. 130781008

Pembimbing Pendamping

Drs. Supriyono, M.Si NIP. 130815345

Sekretaris

Drs. Supriyono, M.Si NIP. 130815345

Penguji Utama

Drs. Wuryanto, M.Si NIP. 131281225

Anggota Penguji

Drs. Moch. Chotim, M.S NIP. 130781008

Anggota Penguji

Drs. Supriyono, M.Si NIP. 130815345

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

1. Kesempatan tidak akan pernah datang kepada orang yang tidak cekatan

dan selalu ragu dalam mengambil keputusan.

(Penulis)

2. Bercerminlah pada dirimu sendiri, maka akan kamu temukan segi positif

dan segi negatifnya.

(Penulis)

3. Masa depan harus diraih di masa sekarang.

(Penulis)

4. Tiada keberhasilan tanpa perjuangan, tiada jalan tanpa kemauan dan

semangat.

1. Suami

(Penulis)

PERSEMBAHAN:

dan

anak-anakku

tercinta

(Karyono,

Apung, Bagus, dan Ria) yang selalu setia

menemani setiap langkah.

2. Bapak

tercinta

yang

selalu

semangat dan dorongan.

3. Saudara-saudaraku

(Joko,

Ani,

memberikan

Budi,

dan

Anto) yang selalu memberikan motivasi.

4. Sahabat-sahabatku

5. Semua rekan di SMP N 1 Bojong.

KATA PENGANTAR

Dengan penuh syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat

rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menulis skripsi ini.

Terselesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik

materi maupun spiritual. Oleh karena itu pada kesempatan ini, perkenankanlah

penulis menyampaikan terima kasih secara mendalam kepada:

1. Prof. DR. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si Rektor Universitas Negeri

Semarang.

2. Drs. Kasmadi Imam, S.M.S Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang.

3. Drs.

Supriyono,

M.Si

Ketua

Jurusan

Semarang.

4. Drs.

Moh.

Chotim,

M.S

Pembimbing

Matematika

Universitas

Negeri

Utama

yang

telah

membantu

mengarahkan dan membimbing peneliti dalam penyusunan skripsi ini.

5. Drs. Supriyono, M.Si Pembimbing Pendamping yang telah membantu

mengarahkan dan membimbing peneliti dalam menyusun skripsi ini.

6. Drs. Wuryanto, M.Si Dosen Wali yang memberi masukkan dan dorongan

dalam penyusunan skripsi ini.

7. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan matematika yang telah memberikan bekal

kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.

8. Walidi, S.Pd Kepala SMP Negeri 1 Bojong yang telah memberikan

dorongan dan semangat serta mengizinkan peneliti mengadakan penelitian

di SMP N 1 Bojong.

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

PERNYATAAN

ii

ABSTRAK

iii

HALAMAN PENGESAHAN

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

v

KATA PENGANTAR

vi

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR LAMPIRAN

x

BAB I. PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Permasalahan

3

C. Tujuan Penelitian

4

D. Manfaat Penelitian

4

E. Sistematika Penulisan Skripsi

5

BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

7

A.

Landasan Teori

7

1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

dalam Pembelajaran

7

2. Proses Pembelajaran Model Cooperative Learning Type

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran

matematika

di

sekolah

disarankan

menggunakan

pendekatan PAKEM. Pembelajaran dengan model PAKEM di sekolah masih

merupakan barang langka. Hal ini dapat

matematika.

mengakibatkan anak tidak gemar

Pembelajaran kelompok

tidak menjamin siswa aktif. Keaktifan siswa

dalam belajar perlu dibangun oleh seorang guru. Mesin pembangkit keaktifan

merupakan seperangkat tugas dan pertanyaan yang mewakili rantai kognitif.

Jika siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan dapat menjawab semua

pertanyaan dengan benar, siswa akan menemukan konsep, prinsip, pola, teknik

menghitung, dan bahkan solusi masalah. Di sini siswa terlibat, sehingga

mereka merasa senang, tumbuh motivasi, dan yakin bahwa belajar matematika

itu perlu bagi dirinya.

Sering terjadi guru dalam membangun proses pembelajaran belum

tuntas. Dalam kondisi ini guru melangkah ke materi berikutnya. Pasti akan

terjadi kesulitan siswa dalam belajar. Ini mengakibatkan siswa berpendapat

bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit.

Oleh karena itu, sering kali terjadi taraf ketuntasan pada pelajaran

matematika rendah terutama pada pokok bahasan persamaan linear satu

variabel. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran terutama pada pokok

2

bahasan persamaan linear satu variabel yang terdapat pada SMP Negeri 1

Bojong Tegal Tahun Pelajaran 2005/2006 masih kurang mendapat perhatian

dari siswanya.

Oleh

karena,

itu

peneliti

mencoba

mengadakan

observasi

dengan

membagi angket/brosur. Berdasarkan hasil informasi dari guru matematika

sebelumnya dan dengan melihat hasil wawancara siswa pada tahun pelajaran

2005/2006

itu

(pedoman

wawancara

terlampir

pada

lampiran

2)

maka

disimpulkan bahwa kelemahan mereka adalah sebagai berikut.

1. Rendahnya aktivitas (keterlibatan) siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan sikap tidak mau menjawab dan tidak

mau bertanya bila diberikan soal oleh guru.

2. Kurangnya minat mengerjakan soal-soal pada diri siswa.

Hal

ini

dapat

ditunjukkan

dengan

adanya

mengerjakan pekerjaan rumah.

3. Proses

kegiatan

belajar

mengajar

sebagaimana mestinya.

(KBM)

siswa

yang

yang

tidak

tidak

mau

dilaksanakan

Hal ini ditunjukkan dengan adanya pada saat siswa mengerjakan soal di

kelas, guru tidak/kurang mengadakan pendekatan dengan siswa yang

mengalami kesulitan.

4. Rendahnya tingkat ekonomi, sehingga tidak menunjang pendidikan .

Hal ini dapat ditunjukkan dengan tidak adanya siswa yang mempunyai

buku pegangan selain dari sekolah ataupun LKS.

Sehubungan dengan itu, maka peneliti mempunyai beberapa alasan

untuk terus mencari cara-cara yang baik dan benar dalam pembelajaran pada

3

pokok bahasan persamaan linear satu variabel. Menurut Dewan Nasional

Guru-guru Matematika di Amerika pada tahun 1989 dalam bukunya “Bruce

Cambell “ yang diterjemahkan Kelompok Intuisi (2004:43) menyatakan:

Pembelajaran seharusnya menggunakan kedua potensi siswa, baik intelektual maupun fisik. Mereka harus menjadi pengajar yang aktif, ditantang untuk menerapkan pengetahuan utama dan pengalaman baru mereka serta makin bertambahnya situasi-situasi yang lebih sulit. Berbagai pendekatan pembelajaran daripada sekedar mengirimkan informasi kepada mereka untuk diterimanya.

Selanjutnya,

peneliti

mencoba

untuk

mengubah

sikap

siswa

yang

tradisional dari pasif menjadi pelajar yang aktif. Guru dapat menemukan

sesuatu yang bernilai dari sub bab atau soal yang akan diberikan dan

dikerjakan oleh siswanya.

Sedangkan alasan peneliti tertarik memilih cara pembelajaran kooperatif

dengan tipe Jigsaw II dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut.

1. Siswa dilatih keterampilan-keterampilan yang spesifik untuk membantu

sesama temannya bekerja sama dengan baik.

2. Adanya pengakuan atau ganjaran kecil

kelompok yang kinerjanya baik.

yang harus diberikan kepada

3. Meningkatkan prestasi siswa melalui kesempatan bekerja sama dalam satu

kelompok kecil.

B. Permasalahan

Pada penelitian tindakan kelas ini yang menjadi rumusan masalah

adalah sebagai berikut.

“Apakah

dengan

menerapkan

model

pembelajaran

cooperative

learning type Jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII F

4

SMP Negeri 1 Bojong pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel

tahun pelajaran 2006/2007?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan

diadakan

penelitian

ini

adalah

untuk

meningkatkan

hasil

belajar siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong Tegal pada pokok bahasan

persamaan linear satu variabel.

D. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat kepada banyak pihak

antara lain siswa, guru dan sekolah.

1. Manfaat yang diperoleh siswa.

a. Siswa

merasa

senang

terhadap

matematika

terutama

pada

pokok

bahasan persamaan linear satu variabel.

 

b. Prestasi siswa meningkat.

 

c. Siswa

mampu

dan

terampil

dalam

menyelesaikan

soal

yang

berhubungan pada pokok bahasan persamaan linear satu variabel.

2. Manfaat yang diperoleh guru.

a. Guru akan memiliki kemampuan penelitian tindakan kelas yang lebih

inovatif.

b. Guru semakin kreatif dalam pengembangan materi pelajaran.

c. Memberikan kesempatan guru untuk lebih menarik perhatian siswa

dalam proses belajar mengajar.

5

3. Manfaat bagi sekolah.

a. Sekolah dapat masukkan tentang cara penelitian ini dalam kelas.

b. Dapat meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah.

c. Sekolah dapat dijadikan sebagai sekolah yang bermutu di antara

sekolah lain.

E. Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika penulisan skripsi ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu:

bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.

1. Bagian awal skripsi

Pada bagian awal penulisan skripsi memuat beberapa halaman yang

terdiri dari halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, halaman motto

dan persembahan, kata pengantar, daftar isi dan daftar lampiran.

2. Bagian isi

Bagian isi memuat lima bab yaitu sebagai berikut.

Bab I.

Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, permasalahan,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan

skripsi.

Bab II.

Landasan Teori dan Hipotesis Tindakan

Bab

ini

berisi

landasan

teoritis

tentang

model

pembelajaran

kooperatif, proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, uraian

materi persamaan linear satu variabel, kerangka berpikir dan

hipotesis tindakan.

6

Bab III. Metode Penelitian

Bab ini membahas tentang lokasi penelitian, subjek penelitian,

siklus penelitian, sumber data dan cara pengumpulan data, serta

tolok ukur keberhasilan. Siklus penelitian terdiri dari tiga siklus,

dan

tiap

siklus

memuat

empat

tahapan

yakni

perencanaan,

pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab ini membahas pelaksanaan siklus 1, siklus 2, dan siklus 3.

Bab V.

Penutup

Bab ini memuat simpulan hasil penelitian dan saran-saran yang

operasional dan relevan dalam pembelajaran.

3. Bagian akhir

Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

7

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori

1.

Model

Pembelajaran

Pembelajaran

Kooperatif

(Cooperative

Learning)

dalam

Guru dalam kegiatan belajar mengajar tidak harus terpaku dengan

menggunakan satu model. Guru sebaiknya juga menggunakan model yang

bervariasi agar jalannya pembelajaran tidak membosankan tetapi menarik

perhatian anak didik. Menurut Kiensmen (1992) dalam kurikulum 2004

(2003:2) suatu model pembelajaran terdapat ciri-ciri sebagai berikut:

(1) adanya penjelasan teoritik, ilmiah dan penemuan, (2) adanya tujuan yang akan dicapai, (3) adanya tingkah laku guru dan siswa yang khusus, dan (4) dalam model pembelajaran diperlukan suatu kondisi yang khusus.

Oleh karena itu, seorang guru harus kompeten dalam memilih suatu

model pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran

kooperatif atau cooperative learning mengacu pada pengajaran di mana

siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil yang saling membantu

dalam belajar.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu teknik instruksional

yang diteliti secara cermat di Amerika Serikat. Ada banyak model, teori

dan

sumber

dengan

perspektif

yang

bermacam-macam

dalam

pembelajaran kooperatif. Beberapa buku yang membahas masalah ini

8

adalah Circle of Learning, Learning Together and None, karya David dan

Roger, ditambah Cooperative in The Classroom, kemudian Spencer Kagan

dalam bukunya Cooperative Learning: Resources for Teacher.

Menurut

Johnson

bersaudara

komponen

penting

dari

model

cooperative learning meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Pertanggungjawaban individual

Keberhasilan

kelompok

didasarkan

pada

kemampuan

setiap

anggota untuk menunjukkan bahwa dia telah belajar materi-materi

yang sangat dibutuhkan. Pencapaian siswa terlihat meningkat ketika

diketahui keberhasilan kelompok yang didasarkan pada nilai quiz

anggota kelompok digabungkan.

b. Ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok didasarkan atas kemampuan kelompok

itu dalam bekerja sama untuk meraih hasil yang diinginkan, misalnya

tingkatan penghargaan dan ketenaran (pengakuan).

Ketika

siswa

mulai

mempelajari

keterampilan-keterampilan

kooperatif, kelompok itu haruslah kelompok kecil yang terdiri dari 4

atau 5 anak. Menurut Slavin (dalam Amin Suyitno), sejalan dengan

perkembangan keterampilan sosial, siswa diharapkan mulai mampu

bekerja sama dalam kelompok yang lebih besar. Penting juga untuk

melihat lamanya waktu kelompok itu dalam bekerja sama. Pertemuan

kelompok

yang

teratur

dalam

jangka

waktu

tertentu

akan

dapat

meningkatkan kesuksesan dari pada kelompok yang hanya bekerja

sama kadang-kadang saja.

9

Aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memerankan banyak peran

dalam pelajaran. Dalam skenario yang

lain, kelompok kooperatif

dapat juga digunakan untuk memecahkan sebuah masalah kompleks.

2.

Proses Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw II dalam

Pembelajaran Matematika

Langkah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II

adalah sebagai berikut:

(1) siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen (4

sampai 5 siswa). Setiap kelompok diberi materi/soal-soal tertentu

untuk dipelajari/dikerjakan,

(2) ketua kelompok membagi materi/tugas guru agar menjadi topik-topik

kecil (sub-sub soal) untuk dipelajari/dikerjakan oleh masing-masing

anggota

kelompok

(misalnya,

setiap

siswa

dalam

mendapat 1 soal yang berbeda),

1

kelompok

(3) anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama

bertemu untuk mendiskusikan sub-bab (atau soal) tersebut sampai

mengerti benar isi dari sub bab tersebut atau cara menyelesaikan soal

tersebut,

(4) kemudian siswa itu kembali ke kelompok asalnya dan bergantian

mengajar teman dalam satu kelompoknya, dan

(5) kegiatan diakhir dengan memberikan kuis kepada siswa.

10

C. Uraian Materi

1. Mengenal Persamaan Linear Satu Variabel dalam Berbagai Bentuk

a. Pernyataan

Pernyataan adalah kalimat yang bernilai benar atau salah.

Contoh:

(1) Pernyataan 5 + 4 = 9 bernilai benar.

(2) Pernyataan 3 x 4 = 10 bernilai salah.

b. Kalimat Terbuka

Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat suatu variabel.

Contoh:

(1) Kalimat x + 4 = 9 belum mempunyai nilai kebenaran.

(2) Kalimat 2 + 4p = 14 juga belum mempunyai nilai kebenaran.

Kalimat x + 4 = 9 dan 2 + 4p = 14 disebut persamaan. Jika x diganti 5

dan p = 3 diperoleh 5 + 4 = 9 dan 2 + 12 = 14 maka keduanya bernilai

benar. Sedangkan 5 disebut solusi (selesaian) x + 4 = 9 dan 3 disebut

solusi (selesaian) 2 + 4p = 14.

c. Persamaan Linear dengan Satu Variabel

Persamaan linear dengan satu variabel adalah persamaan dengan satu

variabel dan berpangkat satu.

Contoh:

(1) Persamaan 4x – 9 = 11 merupakan persamaan linear dengan satu

variabel.

(2) Persamaan x 2 = 16, ini bukan merupakan persamaan linear dengan

satu variabel.

11

2. Menentukan Solusi (Selesaian) Persamaan Linear dengan Satu Variabel

(1)

Tentukan solusi (selesaian) persamaan linear dengan satu variabel

x

+ 4 = 8.

Penyelesaian:

Jelas x + 4 = 8 x = 4.

Jadi 4 adalah solusi (selesaian) x + 4 = 8.

(2)

Tentukan solusi (selesaian) Persamaan linear dengan satu variabel

x

– 3 = 2.

Penyelesaian:

Jelas x – 3 = 2 x = 5.

Jadi 5 adalah solusi (selesaian) x – 3 = 2

(3)

Tentukan solusi (selesaian) persamaan linear dengan satu variabel

2x = 20.

Penyelesaian:

Jelas 2x = 20 x = 10

Jadi 10 merupakan solusi (selesaian) 2x = 20.

3.

Menentukan Solusi (Selesaian) Persamaan Linear dengan Satu Variabel

pada Soal Cerita

Contoh:

a. Umur Andi sekarang adalah 2 kali umur Budi. Jumlah umur mereka

sekarang adalah 18 tahun. Tentukan umur mereka masing-masing.

Penyelesaian:

12

Tulis x = umur Budi.

Jelas 2x = umur Andi.

Dipunyai 2x + x = 18

3x = 18

x = 6.

Jadi umur Budi adalah 6 tahun dan umur Andi adalah 12 tahun.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian dari landasan teori dan kerangka berpikir maka

hipotesis tindakan yang akan diajukan adalah sebagai berikut.

“Melalui model pembelajaran Cooperative Learning type Jigsaw II dalam

pokok bahasan persamaan linear satu variabel maka hasil belajar siswa kelas

VII F SMP Negeri 1 Bojong tahun pelajaran 2006/2007 dapat ditingkatkan”.

13

A. Lokasi Penelitian

BAB III

METODE PENELITIAN

Tempat penelitian adalah SMP Negeri 1 Bojong Tegal yang beralamat di

Jl. Raya Tuwel, Bojong Tegal. Telp. (0283) 352238. Penelitian dilakukan di

tempat ini dikarenakan penulis adalah sebagai pengajar di SMP tersebut.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Bojong Tegal

tahun pelajaran 2006/2007. Adapun jumlah siswanya adalah 41 anak yang

terdiri dari 21 siswa perempuan dan 20 siswa laki-laki.

C. Prosedur Kerja dalam Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus

terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan

refleksi. Dalam setiap tahapan siklus disusun dan dilaksanakan sesuai dengan

perubahan yang dicapai.

Siklus I

1. Perencanaan

a. Menyusun rencana pembelajaran pokok bahasan persamaan linear satu

variabel.

b. Merencanakan

pembelajaran

dengan

membentuk

kelompok

yang

beranggotakan 4-5 siswa dengan penyebaran tingkat kecerdasan.

14

c. Menyusun materi/soal

d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.

e. Merencanakan skor untuk individual atau skor kelompok.

2. Tindakan

a. Guru membagi dalam kelompok–kelompok kecil yang heterogen (4-5

siswa).

b. Guru membagi materi/soal untuk dipelajari/dikerjakan.

c. Guru menyuruh ketua kelompok membagi materi atau soal agar menjadi

topik-topik kecil (sub-sub) soal untuk dikerjakan oleh masing-masing

anggota kelompok.

d. Guru menyuruh anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau

soal yang sama bertemu untuk mendiskusikan soal tersebut serta cara

menyelesaikannya.

e. Guru menyuruh siswa kekelompok asalnya dan bergantian mengajar

teman dalam satu kelompoknya.

f. Guru memberikan kuis secara individu.

g. Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau tim yang berprestasi.

3. Pengamatan

Dalam penelitian tindakan kelas ini, pengamatan dilaksanakan dengan

beberapa aspek yang diamati adalah sebagai berikut.

a. Pengamatan terhadap siswa

1) Kehadiran siswa.

2) Perhatian siswa terhadap guru yang menerangkan.

3) Jumlah siswa yang bertanya.

15

4) Aktivitas siswa bekerja sama dalam satu kelompok.

5)

Antusias

siswa

untuk

bekerja

secara

individual

setelah

bekerja

sama.

b. Pengamatan terhadap guru

1)

Kehadiran guru.

2)

Penampilan guru di depan kelas dan mengelola kelas.

3)

Penguasaan materi seorang guru.

4)

Cara guru membagi kelompok yang beranggotakan 4 siswa dalam

satu kelompok.

5)

Cara penguatan guru terhadap kelompok yang berprestasi kinerjanya.

6)

Pemberian bimbingan pada kelompok yang belum mampu bekerja

sama dengan baik.

c. Sarana dan prasarana

Keadaan dan situasi kelas yang menyenangkan akan membantu

dalam proses penelitian ini. Penataan tempat duduk dalam membagi

kelompok

tiap kelompok pun sangat membantu sekali. Setiap anak

dalam satu kelompok diharapkan harus sudah memiliki buku pegangan

untuk menunjang pelajaran.

4. Refleksi

Setelah siswa benar-benar menguasai pelajaran persamaan linear satu

variabel maka diadakan kuis. Kuis tersebut untuk perorangan/invidual guna

menambah poin skor kelompok.Penghargaan pada kelompok yang baik

kerja samanya harus diberikan agar mereka betul-betul dihargai. Pada tiap

akhir kegiatan diadakan evaluasi.

16

Siklus II

1. Perencanaan

a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah berdasarkan

pada siklus I.

refleksi

b. Merencanakan

skenario

baru

meningkatkan keaktifan siswa.

c. Menyusun materi atau soal

dengan

perbaikan

model

dan

d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.

e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.

2. Implementasi Tindakan

a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.

b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.

c. Memberikan kuis akhir siklus II.

3. Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengadakan pendataan ulang

untuk mengetahui hasil dari tindakan sklus II. Penulis menyiapkan angket

observasi yang dilakukan dengan data pengukur.

4. Refleksi

Guru menganalisis semua tindakan pada siklus I dan II kemudian

dicari kekurangan-kekurangan pada siklus II.

Siklus III

1. Perencanaan

a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah yang didasarkan pada

17

b. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.

c. Menyusun lembar kegiatan siswa (LKS).

d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.

e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.

2. Implementasi Tindakan

a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.

b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.

c. Memberikan kuis akhir siklus III.

3. Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengadakan pendataan ulang

untuk mengetahui hasil dari tindakan siklus III. Penulis menyiapkan angket

observasi yang dilakukan dengan data pengukur.

4. Refleksi

Guru menganalisis semua tindakan pada siklus I, II, dan III. Pada

akhir siklus III, guru melakukan refleksi dengan adanya penerapan tipe

Jigsaw II yang dilakukan dalam tindakan kelas ini. Bila hasilnya meningkat

artinya model pembelajaran yang diterapkan dalam tindakan ini berhasil

meningkatkan prestasi belajar siswa.

D. Sumber Data dan Cara Pengambilan Data

Data

yang

diperlukan

dalam

penelitian

ini

melalui

angket

dan

wawancara serta hasil tes tertulis. Cara pengambilan data melalui lembar

kegiatan siswa (LKS) setiap siklus atau nilai-nilai tes formatif tiap siklus.

18

E. Tolok Ukur Keberhasilan

Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Secara individu bila mereka sudah dapat mencapai 6,0 atau lebih, berarti sudah menyerap materi yang diajarkan sebesar 60% atau lebih dikatakan tuntas belajar. b. Jumlah siswa dalam kelas dapat menyerap materi paling sedikit 70% dari jumlah siswa keseluruhan dengan nilai rata-rata kelas mencapai 70.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Siklus I

Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 2 November 2006 tentang

pernyataan, kalimat terbuka, dan himpunan selesaian kalimat terbuka. Pada

siklus pertama ini, penulis melaksanakan kegiatan sebagai berikut.

1.

Perencanaan

Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM),

maka

yang dilakukan guru adalah sebagai berikut.

a Menyusun rencana pembelajaran pokok bahasan persamaan linear

satu variabel.

b Merencanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok yang

beranggotakan 4 - 5 siswa dengan penyebaran tingkat kecerdasan.

c Menyusun materi/soal

d Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.

e Merencanakan skor untuk individual atau skor kelompok.

Setelah perencanaan ini tertata dengan baik maka yang dilakukan

selanjutnya

adalah

perencanaan di atas.

melakukan

19

tindakan-tindakan

sesuai

dengan

2.

Tindakan

Tindakan guru selanjutnya adalah melaksanakan prosedur yang

sudah direncanakan yaitu sebagai berikut.

a. Guru membagi dalam kelompok–kelompok kecil yang heterogen (4-5

siswa).

b. Guru membagi materi/soal untuk dipelajari/dikerjakan.

c. Guru menyuruh ketua kelompok membagi materi atau soal agar

menjadi

topik-topik

kecil

(sub-sub)

masing-masing anggota kelompok.

soal

untuk

dikerjakan

oleh

d. Guru menyuruh anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab

atau soal yang sama bertemu untuk mendiskusikan soal tersebut serta

cara menyelesaikannya.

e. Guru menyuruh siswa kekelompok asalnya dan bergantian mengajar

teman dalam satu kelompoknya.

f. Guru memberikan kuis secara individu.

g. Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau tim yang berprestasi.

3. Pengamatan

Pada siklus I pengamatan dilaksanakan dengan beberapa aspek yang

diamati.

Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) selama siklus

pertama digambarkan dengan tebel berikut ini.

20

Partisipasi Siswa

   

Siklus I

 
 

Jumlah Siswa

 

Prosentase

Acuh

   

12

29,27 %

Sedang

   

13

31,73 %

Aktif

   

16

39,00 %

Jumlah

   

41

 

100 %

Pada

siklus

I

keaktifan

siswa

dalam

mengikuti

pembelajaran

tergolong meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adanya keaktifan siswa

dalam pembelajaran yang pro aktif dibandingkan dengan cara/model

pembelajaran sebelumnya.

Siswa yang acuh pada siklus I berjumlah 12 orang atau 29,27 %.

Siswa yang tergolong sedang tingkat partisipasinya berjumlah 13 orang

atau 31,73 %, dan yang tergolong aktif berjumlah 16 orang atau 39 %.

Data

ini

menunjukkan

bahwa

adanya

perubahan

tingkat

partisipasi

belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran yang berbeda dari

sebelumnya.

Pada siklus I ini, siswa yang aktif masih dinilai kurang karena baru

39 %. Pada umumnya, siswa yang acuh disebabkan karena mereka

kurang paham terhadap tugas yang harus dilakukan. Oleh karena itu,

siswa yang acuh terus diberi motivasi untuk lebih semangat dalam proses

pembelajaran,

yaitu

melalui

pendekatan

dan

bimbingan

khusus.

Sedangkan siswa yang sedang tingkat partisipasinya diberikan pula

21

motivasi agar lebih aktif yaitu dengan cara diberikan nilai bonus apabila

bersungguh-sungguh dan bisa dalam mengerjakan tugas kelompok.

4.

Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I maka perlu diadakan

perbaikan diantaranya sebagai berikut.

a. Mengeraskan suara pada saat menerangkan pelajaran.

b. Memberikan penguatan dan penghargaan pada kelompok

yang

berprestasi kinerjanya.

c. Meberikan bimbingan pada kelompok

yang belum mampu bekerja

sama dengan baik.

d. Memberikan

kuis

yang

berkaitan

dengan

pokok

bahasan

ini.

Tujuannya untuk menggugah kreatifitas siswa dalam bekerja sama.

B. Pelaksanaan Siklus II

Siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 9 November 2006. Pada siklus

II ini membahas tentang persamaan dan himpunan selesaian persamaan

dengan

satu

variabel.

Sebelum

melaksanakan

siklus

mengadakan kegiatan sebagai berikut.

1.

Perencanaan

II

ini,

penulis

Perencanaan yang dilakukan pada siklus II ini adalah sebagai

a.

berikut.

Mengidentifikasi

masalah

dan

refleksi pada siklus I.

22

perumusan

masalah

berdasarkan

b. Merencanakan

skenario

baru

meningkatkan keaktifan siswa.

c. Menyusun materi atau soal.

dengan

perbaikan

model

dan

d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.

e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.

2. Tindakan

Setelah perencanaan itu disusun maka langkah berikutnya adalah

melaksanakan beberapa tindakan, diantaranya sebagai berikut.

a. Melaksanakan

metode.

skenario

yang

telah

disusun

dengan

perbaikan

b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.

c. Memberikan kuis akhir siklus II.

3. Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini meliputi beberapa

aspek yaitu sebagai berikut.

a. Pengamatan terhadap siswa

Pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini ternyata keadaan

siswa berbeda dengan siklus I. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut

ini.

23

Partisipasi Siswa

Siklus I

Siklus II

Jumlah Siswa

Prosentase

Jumlah Siswa

Prosentase

Acuh

12

29,27 %

8

19,51 %

Sedang

13

31,73 %

10

24,39 %

Aktif

16

39,00 %

23

56,10 %

Jumlah

41

100 %

41

100 %

Perhatian siswa terhadap guru yang menerangkan mengalami

peningkatan. Siswa yang dulunya acuh terhadap pelajaran yang

sedang disampaikan oleh gurunya kini mulai aktif. Siswa yang acuh

dari 12 orang kini mengalami penurunan dan jumlahnya hanya 8

orang.

Proses KBM berjalan lebih efektif. Hal ini terlihat dari antusias

siswa yang aktif dalam menerima materi. Siswa banyak yang aktif

untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan oleh

guru atau temannya. Pada siklus II ini siswa yang menjawab dengan

benar dari 10 soal yang diberikan mulai mengalami peningkatan.

Pada siklus I yang menjawab benar baru 27 anak, tetapi pada siklus

II naik menjadi 31 anak.

b. Sarana dan prasarana

Siswa pada siklus II sudah mulai aktif untuk melengkapi

kebutuhan yang menunjang proses KBM. Mereka meminjam buku-

buku matematika di perpustakaan atau pada teman. Hal ini tampak

24

pada saat KBM berlangsung, siswa sudah menyiapkan sumber

bahan pelajaran yang akan dipelajarinya.

4.

Refleksi

Setelah melihat hasil pengamatan yang dilakukan maka ada

beberapa hal yang perlu diadakan perbaikan di antaranya adalah sebagai

berikut.

a. Memberikan motivasi dan penguatan pada kelompok

kinerjanya.

yang bagus

b. Memberikan sanksi pada kelompok yang masih bergurau.

c. Memberikan kuis agar kreatifitas anak lebih maju lagi.

C. Pelaksanaan Siklus III

Siklus

III

dilaksanakan

pada

tanggal

24

November

2006

dan

membahas tentang penyelesaian persamaan linear satu variabel dalam bentuk

soal

cerita.

Pada

siklus

III

ini,

penulis

melaksanakan

kegiatan

yang

menunjang proses ini, di antaranya adalah sebagai berikut.

1.

Perencanaan

Perencanaan dilakukan sebelum melaksanakan KBM. Hal-hal yang

dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut.

a.

Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah yang didasarkan

pada siklus I dan siklus II.

 

b.

Melaksanakan

skenario

yang

telah

disusun

dengan

perbaikan

metode.

 

25

c. Menyusun lembar kegiatan siswa (LKS).

d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.

e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.

2. Tindakan

Setelah

perencanaan

tersusun

dengan

baik,

selanjutnya adalah sebagai berikut.

maka

tindakan

a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.

b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.

c. Memberikan kuis akhir siklus III.

3. Pengamatan

Keadaan siswa pada siklus III ini jauh lebih baik dibanding siklus

sebelumnya. Hal ini dapat diperlihatkan dari tabel berikut ini.

 

Siklus I

Siklus II

Siklus III

Partisipasi

Jumlah

Persentase

Jumlah

Persentase

Jumlah

Persentase

Siswa

Siswa

Siswa

Siswa

Acuh

12

29,27 %

8

19,51 %

3

7,31 %

Sedang

13

31,71 %

10

24,39 %

8

19,51 %

Aktif

16

39,02 %

23

56,10 %

30

73,18 %

Jumlah

41

100 %

41

100 %

41

100 %

Dari tabel tersebut terlihat bahwa proses KBM berjalan lebih

efektif.

Masing-masing

anggota

dalam

satu

kelompok

sudah

bisa

menempatkan posisinya. Kerja sama antar kelompok

lebih maksimal.

26

Antusias siswa dalam mengerjakan LKS lebih meningkat. Hal ini tampak

pada hasil nilai yang meningkat. Dari 14 siswa yang tidak tuntas turun

menjadi 10 siswa dan turun lagi menjadi 6 siswa.

Siswa yang acuh pada siklus III tinggal 3 orang atau 7,31%, siswa

yang sedang tingkat partisipasinya ada 8 orang atau 19,51%, dan yang

4.

aktif

berjumlah

30

peningkatan

siswa

orang

atau

73,18%.

Ini

menunjukkan

adanya

yang

aktif

tingkat

partisipasinya

pada

siklus

III

sebesar 17,08% dari siklus II.

Refleksi

Pada siklus III ini, ternyata sudah tidak perlu perbaikan-perbaikan

lagi sebab dengan adanya model pembelajaran Cooperative Learning tipe

Jigsaw II ini hasil prestasi siswa meningkat.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian pada tiap siklus ditunjukkan dengan tabel berikut ini.

Prestasi

Siklus I

Siklus II

Siklus III

Siswa

Persentase

Persentase

Persentase

Siswa

Siswa

Siswa

Nilai 60

14

34,14%

10

24,39%

6

14,63%

Nilai > 60

27

65,86%

31

75,61%

35

85,37%

Prestasi

Siklus I

Siklus II

Siklus III

Siswa

Persentase

Persentase

Persentase

Siswa

Siswa

Siswa

 

27

Tuntas

27

65,86%

31

75,61%

35

85,37%

Belajar

Tdk Tuntas

14

34,14%

10

24,39%

6

14,63%

Belajar

Nilai Rata-

275 : 41 = 6,7

289 : 41 = 7,1

300 : 41 = 7,3

rata

Taraf Serap

6,7 x

100%

=

67%

7,1 x

100%

=

71%

7,3 x

100%

=

73%

10

10

10

Dengan melihat tabel tingkat prestasi siswa diketahui pada siklus III

mengalami peningkatan dibandingkan siklus I dan siklus II. Jika melihat data

ketuntasan belajar, maka terdapat 14 siswa yang belum tuntas pada siklus I,

10 siswa pada siklus II, dan 6 siswa pada siklus III. Pada siklus III, siswa

yang tuntas belajarnya berjumlah 35 orang atau 85,37%.

Ketuntasan belajar siswa tiap siklus dapat dilihat dengan diagram

batang sebagai berikut.

Diagram Ketuntasan

40 35 30 25 20 15 10 5 0 Siklus I siklus II siklus III
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Siklus I
siklus II
siklus III
Tidak Tuntas
siklus
Tuntas
jumlah siswa

28

Ketuntasan dapat tercapai dikarenakan adanya keterlibatan guru atau

pendekatan

guru

kepada

siswa

untuk

menanyakan

kesulitan

dalam

mengerjakan

soal-soal.

Kreatifitas

guru

dalam

memberikan

kuis

dan

pemberian semangat kepada siswa akan memacu siswa untuk senang siap

dan lebih berpengalaman dalam proses KBM sehingga hasil nilai lebih baik.

29

A. Simpulan

BAB V

PENUTUP

Berdasarkan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) di kelas

VIIF SMP N 1 Bojong pada tahun pelajaran 2006/2007 dapat disimpulkan

bahwa dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II

dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII F pada pokok bahasan

persamaan linear dengan satu variabel.

B. Saran

Dari pengalaman selama melaksanakan penelitian tindakan kelas di

kelas VII F SMP N 1 Bojong pada tahun pelajaran 2006/2007 dapat

disampaikan saran-saran sebagai berikut.

1. pembelajaran

Dalam

matematika

pokok

bahasan

persamaan

linier

dengan

satu

variabel

hendaknya

menerapkan

model

pembelajaran

Cooperative Learning melalui tipe Jigsaw II.

2. Hasil penelitian ini hendaknya dapat digunakan untuk refleksi bagi guru

dari kepala sekolah.

3. Kepala sekolah diharapkan memberikan kesempatan kepada guru untuk

mengembangkan pola pembelajaran di sekolah.

30

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Bruce. 2004. Teaching and Learning Trough, Multiple Inteligences. Jakarta: Intuisi Press.

Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jakarta:

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Kagan, Spencer. 2003. Cooperative Learning Resources for Teacher. Jakarta:

Intuisi Press.

Pandoyo, Dkk. 2004. Matematika 1a untuk Sekolah Menengah Pertama Kelas 7. Jakarta: Balai Pustaka.

Rusoni, Elin. 1999. Buku Pedoman Guru Madrasah Tsanawiyah Bernuansa Islam dengan Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: BEP Dikjen Depag RI.

Suyitno,

Amin.

2005.

Petunjuk

Praktis

Penelitian

Penyusunan Skripsi. Semarang: UNNES.

Tindakan

Kelas

untuk

Suyitno, Amin. 2005. Pemilihan Model-model Pembelajaran Matematika dan Penerapannya di Madrasah Aliyah. Semarang: UNNES.

Zain, Aswan dan B.D, Syaiful. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

31

Lampiran 2

DAFTAR NAMA SISWA SMPN I BOJONG TAHUN PELAJARAN 2006/2007

No.

NIS

 

NAMA SISWA

L/P

KETERANGAN

1

 

A.

Riyadi Wahyu

L

 

2

 

Abdul Kharis

L

L

= 20 Siswa

3

 

Aditya Permadi

L

P

= 21 Siswa

4

 

Agung Furdaus F

L

Jumlah

= 41 Siswa

5

 

Ahmad Safri

L

 

6

 

Amri Tuslaeni

P

 

7

 

Ayu Tri Astuti

P

 

8

 

Dita Oktapiani

P

 

9

 

Fiqih Asqiyah

L

 

10

 

Hendra Setiadi

L

 

11

 

Hermawan Susanto

L

 

12

 

Indra Choerunisa

P

 

13

 

Khaerunisa

P

 

14

 

Khalimatus S.

P

 

15

 

Kholifah

P

 

16

 

Lilis Lia M.

P

 

17

 

Lilis Malahi

P

 

18

 

Lutfi Bakhtiar

L

 

19

 

M.

Mualana A.

L

 

20

 

Masruri

L

 

21

 

Miftah Fauzi

L

 

22

 

Moh. Sukron M.

L

 

23

 

Mujib Bidawat

L

 

24

 

Nalaratih

P

 

25

 

Nikmatul M.

P

 

26

 

Nur Hidayatulah

L

 

27

 

Putikhatul Kh.

P

 

28

 

Queenindya P.

P

 

29

 

Ratih Suci

P

 

30

 

Rheza Paghluri

L

 

31

 

Rizal Zaki M.

L

 

32

 

Seli Faradila

P

 

33

 

Siti Fatimatus Z

P

 

34

 

Siti Susmiyati

P

 

35

 

Suci Nurhalimah

P

 

36

 

Uswatun Khasanah

P

 

37

 

Vini Alfunita

P

 

38

 

Wandi Hermawan

L

 

39

 

Wini Bahtiar

P

 

40

 

Yovie Ardhi

P

 

41

 

Zia Wilda I.

L

 

33

Lampiran 3

PEDOMAN WAWANCARA

No.

 

Pernyataan

Ya

Tidak

1.

Apakah

kamu

aktif

bertanya

jika

penjelasan

   

bapak/ibu guru kurang jelas?

2.

Jika

menemukan

kesulitan

dalam

belajar

matematika,

apakah

kamu

menanyakan

pada

bapak/ibu guru?

3.

Apakah

kamu

senang

mengerjakan

soal-soal

matematika?

4.

Apakah kamu memiliki buku pegangan atau LKS?

Kalau mendapatkan kesulitan dalam belajar, apakah

gurumu membantu menyelesaikan kesulitanmu?

34

Lampiran 4

DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS I

PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

No.

Kegiatan yang diamati

Jumlah siswa

1.

a. Memperhatikan saat guru menerangkan

32

b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman

25

2.

Kegiatan berbicara

 

a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok

8

b. Menjawab pertanyaan temannya

13

c. Mengeluarkan pendapat

7

3.

Hubungan kerja sama antar satu kelompok

35

4.

Kegiatan emosional

 

a. Bersemangat

33

b. Bosan

10

Bojong, 2 November 2006

Observer,

Drs. Bahrudin

35

Lampiran 5

DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS II

PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

No.

Kegiatan yang diamati

Jumlah siswa

1.

a. Perhatikan saat guru menerangkan

35

b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman

28

2.

Kegiatan berbicara

 

a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok

6

b. Menjawab pertanyaan temannya

17

c. Mengeluarkan pendapat

13

3.

Hubungan kerja sama antar satu kelompok

38

4.

Kegiatan emosional

 

a. Semangat

34

b. Bosan

8

Bojong, 9 November 2006

36

Observer,

Drs. Bahrudin

Lampiran 6

DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS III

PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)

No.

Kegiatan yang diamati

Jumlah siswa

1.

a. Memperhatikan saat guru menerangkan

38

b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman

35

2.

Kegiatan berbicara

 

a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok

5

b. Menjawab pertanyaan temannya

24

c. Mengeluarkan pendapat

15

3.

Hubungan kerja sama antar satu kelompok

39

4.

Kegiatan emosional

 

a. Bersemangat

39

b. Bosan

2

Bojong, 24 November 2006

37

Observer,

Drs. Bahrudin

Lampiran 7

INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS

SIKLUS I

Sekolah

:

SMP N 1 Bojong

Kelas / Semester

:

VII F / Gasal

Hari / Tanggal

: Kamis, 2 November 2006

Materi Pokok

: Persamaan Linier Satu Variabel

Waktu

Kompetensi Dasar

Himpunan Selesaian Kalimat Terbuka

: Pernyataan, Kalimat Terbuka, dan

:

2 x 45 materi

No.

Yang Diamati

A

B

C

D

Keterangan

I

Pendahuluan

         

1. Apersepsi

V

2. Motivasi

V

3. Revisi

V

II

Pengembangan

1. Penguasaan materi

V

2. Penguasaan metode

V

3. Keterampilan guru

a. Membagi kelompok

V

b. Pemberian kuis

V

4. Menciptakan suasana aktif

V

dalam kelompok

III

Penutup

Pemberian Tugas

V

Keterangan

A = Baik sekali

B = Baik

C = Cukup

D = Kurang

38

Bojong, ……………

Observer,

Drs. Bahrudin

Lampiran 8

INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS

SIKLUS II

Sekolah

:

SMP N 1 Bojong

Kelas / Semester

:

VII F / Gasal

Hari / Tanggal Materi Pokok Kompetensi Dasar

: Kamis, 9 November 2006 : Persamaan Linier Satu Variabel : Persamaan dan Himpunan Selesaian Persamaan

Waktu

:

dengan Satu Variabel 2 x 45 materi

No.

Yang Diamati

A

B

C

D

Keterangan

I

Pendahuluan

         

1. Apersepsi

V

2. Motivasi

V

3. Revisi

V

II

Pengembangan

1. Penguasaan materi

V

2. Penguasaan metode

V

3. Keterampilan guru

a. Membagi kelompok

V

b. Pemberian kuis

V

4. Menciptakan suasana aktif dalam

kelompok

III

Penutup

Pemberian Tugas

V

Keterangan

A = Baik sekali

B = Baik

C = Cukup

D = Kurang

39

Bojong, ……………

Observer.

Drs. Bahrudin

Lampiran 9

INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS

SIKLUS III

Sekolah

:

SMP N 1 Bojong

Kelas / Semester

:

VII F / Gasal

Hari / Tanggal Materi Pokok Kompetensi Dasar

: Jum’at, 24 November 2006 : Persamaan Linier Satu Variabel : Menyelesaikan Persamaan dengan Aturan

Waktu

:

Tertentu dan dalam Bentuk Soal Cerita 2 x 45 materi

No.

 

Yang Diamati

A

B

C

D

Keterangan

I

Pendahuluan

         

1. Apersepsi

V

2. Motivasi

V

3. Revisi

V

II

Pengembangan

1.

Penguasaan materi

V

2. Penguasaan metode

V

3. Keterampilan guru

 

a. Membagi kelompok

V

b. Pemberian kuis

V

4. Menciptakan suasana aktif dalam

V

 

kelompok

III

Penutup

Pemberian Tugas

V

Keterangan

A = Baik sekali

B = Baik

C = Cukup

D = Kurang

40

Bojong, ……………

Observer.

Drs. Bahrudin