Anda di halaman 1dari 1

Soemarsono Pejuang Yang Terlupakan?

INFO BUKU
Judul Buku : NEGARA MADIUN? (Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan)
Penulis : Hersri Setiawan
Penerbit : FuSPAD ( Forum Studi Perubahan dan Peradaban)
Cetakan : I , September 2002
Tebal : xxii + 224 halaman
ISBN : 979-94965-03-6

Bab 1 adalah cerita Soemarsono dari masa kecil sampai keterlibatan dengan pergerakan.
Pengalamannya putus sekolah karena menceritakan kasus asusila kepala sekolahnya menjadi motivasi
awal menentang Belanda. Lalu perkenalannya dan bagaimana dia mengidolakan tokoh-tokoh
pergerakan juga diceritakan di bab ini. Silih berganti tokoh yang diidolakannya, semuanya dilihatnya
dari jalan hidup masing-masing tokoh yang diidolakannya. Bab 2 menuliskan bagimana situasi politik
awal kemerdekaan. Bagian bab ini juga dituliskan bagaimana situasi awal-awal penendatanganan teks
proklamasi. Seperti di tuliskan pada hal 53 – 54. Bab 3 Soemarsono menceritakan tentang Tan Malaka.
Soemarsono juga menuliskan tentang latar belakang dokumen yang diberikan Soekarno kepada Tan
Malaka. Soemarsono melanjutkan bahwa dokumen inilah dasar awal bagi Tan Malaka untuk mendesak
Soekarno agar menyerahkan tampuk pimpinan pada Tan. Hingga akhirnya peristiwa ini dikenal
dengan peristiwa 3 Juli 1946 atau terkenal dengan Kup Tan Malaka. Tentu kup ini berhasil digulung
seketika oleh pemerintah yang sah.
Bab 4 adalah peristiwa Surabaya. Bab ini menceritakan bagaimana gigihnya para pemuda di
Surabaya bertemur mempertahankan kemerdekaan. Juga diceritakan bagaimana peran Soemarsono
dalam peristiwa Surabaya yang kemudian dijadikan sebagai momen peringatan hari Pahlawan. Bab 5
ini menceritakan bagaimana peranan kepolisian Indonesia di Surabaya yang sangat membantu dalam
gerakan untuk menjalankan roda pemerintahan Republik Indonesia pada awal kemerdekaan. Bab 6
yakni aktivitas Soemarsono pasca-Surabaya pra-Madiun.
Bab 7 adalah Peristiwa Madiun. Tentang apa yang mengawali peristiwa Madiun dipaparkan
jelas oleh Soemarsono. Sampai pada Bung Karno yang mengeluarkan statement dalam pidatonya
“Pilih Soekarno-Hatta atau PKI-Musso!”. Lalu di sini dijelaskan juga Soemarsono pernah mendengar
dari Amir bahwa ada sas-sus pernah terjadi ‘Perundingan Sarangan’ yang diikuiti Soekarno-Hatta,
Sukiman, Kepala Polisi Sukanto dll dengan pihak Belanda. Kesimpulan perundingan itu adalah bahwa
Republik mau dibantu dan diakui kedaulatannya. Syaratnya adalah orang-orang komunis yang ada
dalam daftar pihak Belanda tidak boleh duduk dalam susunan pemerintahan.
Bab 8 Bab ini menceritakan bagaimana Soemarsono tertangkap di daerah pendudukan. Juga
diceritakan bagimana dia keluar masuk penjara karena keluarga dekatnya. Bab 9 menceritakan
akhirnya Soemarsono keluar dari penjara. Namun tahun 1950 dia dikirim (dibuang) Aidit ke Sumatera.
Alasannya adalah karena Partai akan melaksanakan kebijakan pembangunan Partai bekerja sama
dengan Sukarno. Selama empat belas tahun Soemarsono menjalani pengasingan di Pematang Siantar.
Dalam pengasingan, Soemarsono dilarang Aidit untuk menyatakan dirinya sebagai orang PKI dan dia
harus bekerja sebagai orang biasa untuk menghidupi dirinya. Diceritakan juga bahwa Bung Karno
pernah menawarkan Soemarsono untuk melawan Soeharto. Bab 10 menceritakan tentang pengalaman
pahit Soemarsono dalam Rumah Tahanan Chusus Salemba Jakarta. Kehidupan di RTC sangat pahit,
bahkan sesama tapol sendiri saling beradu dan menghianati. Bab 11 adalah sumbangan pemikiran-
pemikiran Soemarsono tentang partai. Pada bagian lampiran buku ini juga menyertakan dokumen
telegram Marshall dalam rangka penghancuran Sayap Kiri, lampiran pidato radio presiden Soekarno,
pidato radio Musso, studi sejarah tentang provokasi Madiun yang ditulis oleh Nita, lampiran transkrip
kaset wawancara dan juga catatan Suripno dari penjara Sala di saat sebelum dijatuhi hukuman militer.
Buku ini sangat layak dibaca oleh orang-orang yang ingin membela kepentingan kaum proletar.
Sikap hidup serta pengalaman Soemarsono yang luar biasa dituliskan rapi pada tiap halaman buku ini.
Tentu kondisi sekarang berbeda dengan dulu, tapi hakikatnya sekarang masih tetap ada penindasan.
Nah, bagamaimana Soemarsono bertahan di jaman dulu bisa ditransformasikan pada jaman ini.
Penyertaan dokumen-dokumen pada lampiran juga memperkuat fakta akan benarnya penuturan
Soemarsono yang dituliskan dalam buku ini. Walau bersumber dari kesaksian Soemarsono buku ini
layak dianggap seperti buku sejarah. Sebab menceritakan tentang peristiwa masa lampau yang pebuh
dinamika.
-Rolot-