Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum Kimia Organik

Percobaan - 09
ALKOHOL DAN FENOL:Sifat Fisik dan Reaksi Kimia

Disusun Oleh :

Nama : Albert Hendriawan Agus Angga


NIM : 10509082
Kelompok : VI
Asisten : Astanti
Mega
Tgl.Percobaan : 17 September 2010
Tgl.Pengumpulan : 24 Oktober 2010

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2010
I. Tujuan Percobaan:
-menentukan sifat senyawa alkohol dan fenol
-menetukan sampel A,C,D

II. Data Pengamatan:

A. Uji Kelarutan

Larutan air air dan heksana


Fenol Tidak larut 3 fasa
Etanol Larut 2 fasa
Sikloheksanol Tidak larut 2 fasa
n-butanol Larut 2 fasa
2-butanol Larut 2 fasa
Sampel A Larut 2 fasa
Sampel B Tidak larut 2 fasa
Sampel C Tidak larut 2fasa

B. Uji Lucas

Larutan Reagen Lucas ( 5 menit ) Dipanaskan


Fenol Kuning 2 lapis
Etanol Kuning Tidak berubah
Sikloheksanol Kuning Kuning keruh
n-butanol Kuning Tidak berubah
2-butanol Kuning Kuning keruh
Sampel A Kuning Kuning keruh
Sampel B Kuning Tidak berubah
Sampel C Kuning Kuning keruh

C.Uji Asam Kromat


Larutan Asam Kromat Dipanaskan
Fenol Hitam Hitam
Etanol Biru Biru Toska
Sikloheksanol Hijau Terbentuk endapan hijau
n-butanol Hijau Biru keruh, endapan biru
2-butanol Hijau bening, endapan biru Biru bening, endapan biru
Sampel A Kuning Biru, endapan kuning
Sampel B Kuning , endapan hijau Putih keruh, endapan hijau
Sampel C Kuning, endapan hijau Putih keruh, endapan biru

D. Reaksi Dengan Logam Na dan Larutan NaOH


1. Reaksi dengan logam Na

Larutan logam Na fenolftalein


Etanol Gelembung+panas Larutan ungu muda
n-butanol Gelembung+panas Larutan ungu tua
2-butanol Gelembung+panas Larutan ungu tua
Fenol Gelembung +panas Larutan merah

2. Reaksi dengan NaOH

Larutan NaOH
n-butanol Larut
Sikloheksanol 2 fasa
Fenol 2 fasa

E. Uji Keasaman

Sampel Uji lakmus merah


A merah
B merah
C merah

F. Uji Besi(III) Klorida

Sampel FeCl3
A Coklat+endapan
B Coklat+endapan
C Coklat+endapan

III. Pembahasan
Gugus hidroksil pada senyawa organik sifat fisiknya sangat lah beragam-ragam,
bila di kombinasikan dengan berbagai macam senyawa maka akan memiliki
berbagai macam sifat. Pada fenol tidak larut dalam air, karena fenol memiliki
gugus hidrofob yakni cincin aromatik yang membuatnya kurang larut dalam air,
namun senyawa seperti sikloheksanol, butanol cukup larut karena gugus
hidrofobnya cukup kecil. Dari kelarutan kita dapat menentukan apakah senyawa-
senyawa organik itu polar atau non polar, yakni jika dilarutkan dalam air dan
senyawa tersebut dapat larut berarti senyawa tersebut cenderung polar, dan jika
dilarutkan dalam senyawa heksana(non polar) dan senyawa tersebut larut berarti
senyawa tersebut cenderung non polar.
Uji lukas pada senyawa alkohol adalah untuk menentuka apakah senyawa alkohol
itu adalah senyawa alkohol primer, sekunder atau tersier. Karena senyawa alkohol
pun memiliki sifat yang berbeda jika gugus fungsi alkohol di tempatkan pada
posisi primer, sekunder atau tersier. Pada uji lukas kita menggunakan asam
klorida pekat dan seng(II)klorida untuk membentuk alkil klorida karena pada
gugus OH diganti dengan Cl, pada uji lukas kita akan melihat perbedaan yang
cukup mecolok jika terjadi reaksi yakni setelah dipanaskan akan menghasilkan
warna kuning keruh, bila terjadi reaksi berati senyawa tersebut adalah senyawa
tersier, jika terjadi reaksi tetapi memakan waktu yang cukup lama dan
memerlukan pemanasan berarti senyawa tersebut adalah alkohol sekunder, namun
jika tidak terjadi reaksi kemungkinan yang pasti adalah senyawa tersebut adalah
alkohol primer.

Pada pengujian senyawa alkohol apakah itu senyawa alkohol primer, sekunder,
dan tersier, selain menggunakan uji lukas kita dapat menggunakan reaksi reduksi
dan oksidasi dengan asam kromat, jika suatu alkohol primer dioksidasi maka akan
menghasilkan produk reaksi berupa asam karboksilat, jika senyawa tersebut
adalah alkohol sekunder maka hasil oksidasi senyawa tersebut akan menghasilkan
keton, jika senyawa tersebut adalah alkohol tersier maka tidak lah terjadi
perubahan, karena senyawa tersier suadah tidak dapat di oksidasi. Indikasi
terjadinya reaksi adalah terdapat warna hijau karena ion kromat adalah warna
hijau.

Pengujian dengan natrium menghasilkan kalor dan gelembung, karena natrium


sangat mudah bereaksi dan natrium adalah reduktor kuat, ketika etanol, n-butanol,
2-butanol, dan fenol ditambahkan dengan natrium kemudian diteteskan beberapa
tetes fenolftalein maka akan terdapat perbedaan warna indikator, semakin asam
senyawa tersebut maka warna larutan akan semakin muda, jika H+ yang dihasilkan
dari alkohol tersebut cukup banyak maka akan menghasilkan warna merah yang
cenderung kurang pekat, ini disebabkan karena indikator fenolftalein memberikan
indikator warna yang kurang pekat untuk suasana yang lebih asam, dan warna
yang cukup pekat untuk senyawa yang kurang asam. Ini disebabkan oleh jika
semakin asam maka semakin banyak H+ bereaksi dengan O H- yang menghasilkan
air, sehingga suasana kurang basa dan indikator memberikan warna yang kurang
pekat. Begitu juga sebaliknya jika semakin kurang asam maka lebih sedikit H+
bereaksi dengan O H- sehingga suasana larutan tersebut lebih basa dan fenolftalein
akan memberikan warna yang lebih gelap dan pekat untuk asam yang lebih lemah.

Senyawa alkohol biasanya cenderung bersifat asam, kita dapat menentukan


dengan memasukkan lakmus, jika lakmus berwarna merah maka senyawa tersebut
cenderung asam.

Pengujian terakhir adalah pengujian apakah alkohol tersebut adalah senyawa


aromatik dengan penambahan besi (III)klorida dengan indikator piridin, jika
senyawa tersebut adalah aromatik maka akan memberikan warna coklat beserta
endapan.

IV. Kesimpulan
-fenol adalah asam yang cukup kuat, fenol kurang polar sedangkan pada alkohol
terdapat berbagai macam sifat alkohol bergantung pada alkohol primer,sekunder
atau tersier, dan bergantung juga pada gugus hidrofob alkohol yang memengaruhi
sifat fisik dan kimia alkohol tersebut.
-A,C,D adalah senyawa alkohol aromatik karena dapat bereaksi dengan
besi(III)klorida.

V. Pustaka:
-http://www.tutornext.com/help/reaction-of-alcohol-and-phenol-with-alkali waktu
akses: 24 Oktober 2010 jam 8.30