Anda di halaman 1dari 24

SUMBANGAN ISLAM TERHADAP SAINS

DAN PERADABAN DUNIA


Makalah
Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Muslih Shabir, MA.
Disusun Oleh :
Muh. Asroruddin A.J.
NIM : 095112032

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) WALISONGO
2009
1

PROPOSAL
SEJARAH PERADABAN ISLAM :
Sumbangan Islam Kepada Sains dan Peradaban Dunia
Disusun Oleh :
A. PENDAHULUAN
Pada saat seluruh dunia Arab tenggelam dalam arus kebodohan, kedangkalan iman, jauh dari sinaran
tauhid, dan keadaan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama, masyarakat Arab sangat rapuh dan
memperihatinkan, muncul seorang tokoh besar yang dikemudian hari akan menjadi sosok yang
memiliki pengaruh dan dikagumi yang membawa ajaran baru seperti yang kita kenal hingga saat ini.
Beliau adalah Rasulullah saw sebagai pembawa risalah Islam yang sampai saat ini masih eksis dan
mendarah daging di sebagian besar masyarakat dunia.
Semenjak munculnya, ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. telah banyak memberikan sumbangan
kepada dunia Arab khususnya dan seluruh dunia pada umumnya, baik semenjak zaman Rasulullah saw
sendiri hingga zaman modern saat ini. Dari sejak munculnya hingga saat ini banyak tokoh-tokoh dan
ilmuan muslim yang lahir dan memberikan pengaruh besar terhadap khazanah keilmuan dan peradaban
dunia, terlebih lagi ketika zaman keemasan Islam.
Saat ini banyak hal yang telah dapat dinikmati dan kita gunakan dari hasil pemikiran para tokoh-tokoh
muslim terdahulu, baik di bidang kesehatan, politik, sosial, budaya, keilmuan dan lain sebagainya.
Hasil pemikiran mereka tidak kalah dengan apa yang dihasilkan oleh para pemikir-pemikir barat,
bahkan banyak ilmuan-ilmuan barat yang justru mengambil hasil fikiran para pemikir-pemikir muslim
dan dianggap menjadi hasil produk pemikiran mereka.
Pada pembahasan selanjutnya, penulis akan mencoba membahas lebih lanjut
tentang sumbangan besar Islam kepada perkembangan sains dan peradaban dunia.
B. PEMBAHASAN
1.Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah Dan Setelah
Beliau Wafat
Ilmu pengetahuan dalam dunia Islam dimulai sejak diutusnya Rasulullah untuk menyampaikan risalah
dan ajaran Islam kepada umat manusia. Seiring berjalannya waktu, para sahabat dan tabi’in mulai
muncul dan dikenal
2

masyarakat luas karena keilmuannya. Terlebih lagi ketika munculnya dinasti Umayyah dan Abbasiyah
begitu pesatnya ilmu pengetahuan yang berkembang saat itu, hingga banyak sekali ilmuan dan tokoh
muslim yang menghasilkan produk-produk pemikiran yang brilian.
Berikut ini akan dijabarkan secara singkat perkembangan ilmu pengetahuan sejak diutusnya Rasulullah
sebagai sang penyampai risalah, hingga dinasti Abbasiyah yang telah menelurkan begitu banyak
pemikir dan ilmuan muslim.
a.Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin
Pada masa Rasulullah, ilmu pengetahuan lebih banyak berkembang dibidang ilmu-ilmu pokok tentang
agama (ushuluddin), dan ilmu akhlak (moral). Akan tetapi ilmu – ilmu lainnya tetap berkembang
walaupun tidak sepesat ilmu agama dan akhlak. Saat itu pun mulai terjadi proses pengkajian ilmu yang
lebih sistematis, diantaranya dasar-dasar ilmu tafsir yang dikembangkan oleh para sahabat Rasulullah.
Jika kitaflashback, pada waktu sebelum Islam diturunkan, bangsa Arab dikenal dengan sebutan
kaumjahiliyah. Hal ini disebabkan karena bangsa Arab sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan
kepandaian yang lain. Keistimewaan mereka hanyalah ketinggian dalam bidang syair-syair jahili yang
disebarkan secara hafalan (Bernard Lewis, 1996: 25). Dengan kenyataan itu, maka diutuslah nabi
Muhammad SAW dengan tujuan untuk memperbaiki akhlak, baik akhlak untuk berhubungan dengan
Tuhan maupun dengan sesama manusia. Demikian pula dalam masalah ilmu pengetahuan, perhatian
Rasul sangat besar. Rasulullah SAW memberi contohr evolus ioner bagaimana seharusnya
mengembangkan ilmu.
Diantara gerakan yang dilakukan Rasulullah SAW adalah dengan menggiatkan budaya membaca, yang
merupakan pencanangan dan pemberantasan buta huruf, suatu tindakan awal yang membebaskan
manusia dari ketidaktahuan. Membaca merupakan pintu bagi pengembangan ilmu. Rasulullah SAW
juga memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Dengan cara ini
dapat menjaga kemurnian dan juga media memahami ayat-ayat al-Qur’an. Disamping dengan hafalan,
3

juga membuat tradisi menulis/ mencatat wahyu pada kulit, tulang, pelepah
kurma dan lain-lain.(Sunanto, 2003:14-16)

Dengan bimbingan Nabi Muhammad SAW, telah mendorong semangat belajar membaca, menulis dan
menghafal sehingga umat Islam menjadi umat yang memasyarakatkan kepandaian tulis-baca. Dengan
semangat itulah, maka terbangun jiwa umat Islam untuk tidak hanya beriman tetapi juga berilmu,
sehingga nantinya lahir sarjana-sarjana Islam yang ahli dibidangnya masing-masing.
Dengan demikian dapat dimengerti , salah satu aspek dari peradaban adalah mengembangkan ilmu
pengetahuan. Kalau pada masa Nabi dan Khulafau ar-Rasyidin perhatian terpusat pada usaha untuk
memahami Al- Qur’an dan Hadits Nabi, untuk memperdalam pengajaran akidah, akhlak, ibadah,
mu’amalah dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, maka perhatian sesudah itu disesuaikan dengan
kebutuahn zaman, tertuju pada ilmu-ilmu yang diperoleh dari bangsa-bangsa sebelum munculnya
Islam. (Sunanto,2003:38)
Peradaban Islam memiliki tiga pengertian yang berbeda.Pertama, kemajuan dan tingkat kecerdasan
akal yang dihasilkan dalam suatu periode kekuasaan Islam, mulai dari periode Nabi Muhammad Saw.
sampai perkembangan peradaban Islam masa setelahnya.Kedua, hasil-hasil yang dicapai oleh umat
Islam dalam lapangan kesusasteraan, ilmu pengetahuan dan kesenian.Ketiga, kemajuan politik atau
kekuasaan Islam yang berperan melindungi pandangan hidup Islam, terutama dalam hubungannya
dengan ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup kemasyarakatan. (Munthoha, 1998:14)
Pertumbuhan ilmu pengetahuan telah terjadi sejak Rasulullah mendakwahkan agama islam, wahyu
pertamanya yaitu surat Al – alaq ayat 1-5 bercerita tentang dasar – dasar ilmu pengetahuan, didalam
wahyu tersebut terdapat perintah untuk membaca, Allah pun menegaskan bahwa hakikat ilmu
datangnya dari Allah dan awalnya manusia tidak mengetahui apa – apa. Kata Iqra’ pada ayat ke-1 surat
Al- alaq memiliki makna yang beragam, seperti menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri
sesuatu, membaca baik teks maupun bukan teks.
4
Selanjutnya pada zaman khulafaurrasyidin, pada masa ini sering disebut dengan masa klasik awal (650
– 690 M). Pada masa klasik awal ini, merupakan peletakan dasar-dasar peradaban Islam yang berjalan
selama 40 tahun. Seperti yang telah dijelaskan diawal, bahwa diantara kemajuan yang dicapai dibidang
ilmu pengetahuan dan sains pada masa ini adalah terpusat pada usaha untuk memahami Al-Qur’an dan
Hadits Nabi, untuk memperdalam pengajaran akidah, akhlak, ibadah, mu’amalah dan kisah- kisah
dalam Al-Qur’an. Akan tetapi yang perlu dicatat bahwa, pada masa ini telah ditanamkan budaya tulis
dan baca. Dengan budaya baca tulis maka lahirlah orang pandai dari para sahabat rasul, diantaranya
Umar bin Khatab yang mempunyai keahlian dibidang hukum dan jenius pada ilmu pemerintahan, Ali
bin Abi Thalib yang mempunyai keahlian dibidang hukum dan tafsir.
Diantara ahli tafsir dimasa itu adalah khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Ibnu
Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Ka’ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-’Asy’ari dan Abdullah bin
Zubair. Dan dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya tentang tafsir adalah
Ali bin Abi Thalib r.a.
Ibnu Abbas adalah anak paman Rasulullah SAW, sekaligus murid dari Rasulullah. Ia dikenal sebagai
ahli bahasa/penterjemah Al-Qur’an. Dia adalah sahabat yang paling pandai/tahu tentang tafsir Al-
Qur’an. Dia mempunyai biografi yang menunjukkan kebolehan ilmunya dan kedudukannya yang tinggi
dalam hal penggalian secara mendalam tentang rahasia-rahasia Al-Qur’an.
b. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Daulah Bani
Umayyah
Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah, adalahkekhalifahan
Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661
sampai750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari756 sampai1031 di
Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek
buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah I.
5

Masa ini sebagai masa perkembangan peradaban Islam, yang meliputi tiga benua yaitu, Asia, Afrika,
dan Eropa. Masa ini berlangsung selama 90 tahun (661 – 750 M) dan berpusat di Damaskus. Pada masa
ini perhatian pemerintah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat besar. Penyusunan ilmu
pengetahuan lebih sistematis dan dilakukan pembidangan ilmu pengetahuan (Sunanto,2003 : 42)
sebagai berikut;
1.
Ilmu pengetahuan bidang agama yaitu, segala ilmu yang
bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
2.
Ilmu pengetahuan bidang sejarah yaitu, segala ilmu yang
membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
3.
Ilmu pengetahuan bidang bahasa yaitu, segala ilmu yang
mempelajari bahasa, nahwu, sharaf dan lain-lain.
4.
Ilmu pengetahuan bidang filsafat yaitu, segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa asing,
seperti ilmu mantiq, kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu lain yang berhubungan dengan
ilmu itu.
Penggolongan ilmu tersebut dimaksudkan untuk meng-klasifikasi- kan ilmu sesuai dengan
karakteristiknya, kesemuanya saling bahu-membahu satu dengan yang lainnya, karena satu ilmu tidak
bisa berdiri sendiri. Sehingga ilmu pengetahuan sudah menjadi satu keahlian, masuk kedalam bidang
pemahaman dan pemikiran yang memerlukan sitematika dan penyusunan.
Akan tetapi, golongan yang sudah biasa dengan keahlian ini adalah golongan non-Arab yang
disebutMawali. Sedangkan bangsa Arab disibukkan dalam pimpinan pemerintahan. Maka dapat kita
ketahui tokoh- tokoh ilmunahwu seperti Sibawaihi, Al-Farisy dan Al-Zujaj yang kesemuanya mawali.
Demikian juga tokoh Hadits, seperti Al-Zuhry, Abu Zubair Muhammad bin Muslim bin Idris, Bukhary
dan Muslim. (Supriyadi,2008 :109)
Hal itu dapat dikatakan bahwa peradaban Islam pada masa itu sudah bersifat internasional.
Penduduknya meliputi puluhan bangsa, menganut bermacam-macam agama, yang kesemuanya
disatukan dengan bahasa Arab.
6

c.Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Daulah Bani


Abbasiyah

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah adalahkekhalifahan keduaIs lam yang berkuasa
diBagdad (sekarang ibu kotaIrak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam
sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan
Persia. Kekhalifahan ini naik kekuasaan setelah mengalahkan
Bani Umayyah dari semua kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dibentuk oleh
keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda,Abbas. Berkuasa mulai tahun 750 dan
memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan
meredup setelah naiknya bangsa tentara-tentaraTurki yang mereka bentuk,Mamluk. Selama 150 tahun
mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada
dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut
amiratau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Umayyahyang
melarikan diri,Maghreb danIfriqiya kepadaAghlabid danFatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun1258
disebabkan serangan bangsaMongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad dan tak
menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Bagdad.
(Http://id.wikipedia.org/wiki/bani_abbasiyah, dikutip tanggal 1
Desember 2009)
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, Islam mencapai puncak kejayaan (ke-emasan) yang ditandai
dengan masa ekspansi kedaerah-daerah yang sangat luas,integrasi dan kemajuan dibidang ilmu dan
sains. Ilmu pengetahuan dipandang sesuatu yang sangat penting dan mulia. Para khalifah dan para
pembesar pemerintahan membuka kesempatan seluas- luasnya untuk kemajuan dan perkembangan
ilmu pengetahuan. Hasilnya ilmu pengetahuan daulah Islamiyah pada masa ini lebih tinggi
kemajuannya dibanding masa sebelumnya.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalifah Ja’far al-Mansur, setelah
mendirikan kota Baghdad dan menjadikannya sebagai ibu kota negara, Ia merangsang usaha
pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tauhid, hadits, tafsir dan ilmu lain seperti bahasa dan sejarah.
Adapun ahli tafsir yang termasyhur saat itu diantaranya ibnu Jarir Ath-
7

Thabari dengan model tafsir bil ma’tsur sebanyak 30 juz, dan Abu Muslim Muhammad bin Nashr al-
Isfahany dengan model tafsir bir Ra’yi sebanyak 14 jilid.(as-Shiddiqie,2000 : 245)
Pada masa itu juga lahir parafuqaha (ahli fiqh) yang hingga sekarang
masih dianut oleh masyarakat Islam, (Ensiklopedi Islam, 2002 : 134) yaitu;
1)
Imam Abu Hanifah, yaitu Nu’man bin Tsabit bin Zauthi, dilahirkan di Kufah tahun 80 H. Diantara kitab
madzab Imam Abu Hanifah, Fiqhul Akbar, Musnad Abu Hanifah, Washiyyatuhu Ii Binihi, dan
Washiyyatuhu Ii Ashhabihi.
2)
Imam Malik, yaitu Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir, lahir
di Madinah tahun 93 H. Kitab-kitab madzab Imam Malik diantaranya,
Al-Muwatta’, Risalah Fil Wa’dhi, Kitabul Masail.
3)
Imam Syafi’i, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i. Lahir 150 H
di Ghaza provinsi Askalan, Palestina dan pernah berguru pada Imam Malik. Diantara kitab-kitab
madzab Imam Syafi’i adalah Kitabul Um, As-Sunnah al-Ma’tsur, Ushul
Fiqh,dan Musnad Asy-Syafi’i.
4)
Imam Ahmad, yaitu Ahmad bin Hambal bin Hilal az-Zahly asy- Syaibany. Lahir tahun 164 H. Kitab-
kitab madzab Imam Ahmad bin Hambal antara lain, al-Musnad fil Hadits, Kitab as-Sunnah, kitab
Zuhud.
Pada perkembangannya, Ke-empat ahli fiqh tersebut disebut sebagai Imam Madzab Empat (al-Mazahib
al-Arba’ah) atau madzab fiqh sebagai aliran pemikiran tentang hukum Islam yang penetapannya
merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
2. Sumbangan Islam Terhadap Sains dan Peradaban Dunia
Perlu diketahui bersama, sisi gelap dalam pola pendidikan yang dirumuskan oleh Amerika dan Eropa
yaitu tidak adanya muatan nilai ruhiyah, dan lebih mengedepankan logika materialisme serta
memisahkan antara agama dengan kehidupan yang dalam hal ini sering disebut pahamSekulerisme.
Implikasi yang bisa dirasakan namun jarang disadari adalah adanya degradasi moral yang dialami oleh
anak bangsa. Banyak kasus buruk dunia pendidikan yang mencuat di permukaan dimuat oleh beberapa
media massa cukup
8

meresahkan semua pihak yang peduli terhadap masa depan pendidikan bangsa
yang lebih baik.

Sebut saja tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun
beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya
yang penting dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum muslimin
yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika), Ibnu Batutah (bapak
geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan
(Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka
dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang
ilmu diniyyah.
Dalam buku milik Mehdi Nakosteen (2003, hal.85) disebutkan beberapa
kontribusi muslim terhadap dunia pendidikan sebagai berikut :
1. Melalui abad keduabelas dan sebagian abad ke tiga belas, karya-karya Muslim tentang sains, filsafat,
dan bidang-bidang lain telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin, terutama dari bahasa Spanyol dan
memperkaya kurikulum barat, khususnya Eropa barat laut
2. Orang-orang Muslim, telah memberi kepada Barat metode
eksperimental, sekalipun masih kurang sempurna.
3. Sistem notasi dan desimal Arab telah diperkenalkan kepada Arab
4. Karya-karya terjemahan mereka, terutama dari orang-orang seperti Avicenna dalam ilmu kedokteran,
sudah digunakan sebagai teks (kuliah) di dalam kelas-kelas sekolah tinggi, jauh ke dalam pertengahan
abad ke tujuh belas.
5. Mereka merangsang pemikiran orang-orang Eropa, dipelajari kembali hal itu dengan kebudayaan-
kebudayaan klasik dan lainnya, sehingga membantu menghasilkan (abad) Renaisance.
6. Mereka adalah perintis universitas-universitas Eropa, mereka telah
mendirikan ratusan sekolah tinggi sebelum Eropa
7. Mereka memelihara pemikiran Greco-Persian ketika Eropa bersikap
tidak toleran terhadap kebudayaan-kebudayaan Pagan
9

8. Mahasiswa-mahasiswa Eropa di dalam Universitas Muslim membawa


kembali (ke negaranya) metode-metode baru tentang pengajaran
9. Mereka telah memberi kontribusi tentang pengetahuan rumahsakit—
rumah sakit, sanitasi dan makanan kepada Eropa.
(Nakosteen, Kontribusi Islam Terhadap Dunia Barat, 2003, hal. 85)
3. Sarjana-Sarjana Muslim dan Karya Ilmiahnya
Sejak sekitar abad ke-8 M hingga abad ke-20 M, Islam telah melahirkan ribuan ilmuwan, baik dalam
bidang ilmu filsafat, kalam, tasawuf maupun sains, tekhnologi, dan seni. Apa-pun bidangnya, mereka
adalah tokoh-tokoh langka yang telah memperkaya dunia ilmu pengetahuan bahkan secara khusus
menjadi simbol kemajuan peradaban Islam. Berikut diantara sarjana-sarjana Muslim terkenal beserta
karyanya yang penulis kutip dari berbagai sumber.
a.Ibnu Musa Al-Khawarizmi (Astronom, Penemu Algoritma dan
Aljabar).
Tak banyak anak didik yang tahu, siapa yang orang yang dikenal sebagai bapak dan penemu dua
cabang ilmu matematika, yaitu Algoritma dan Aljabar. Dialah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa
Al-Khawirzmi, ilmuan Muslim penemu Algoritma dan Aljabar. Nama Algoritma sendiri diambil dari
nama penemunya, yaitu Al-Khawarizmi. Di kalangan ilmuan Barat ia lebih dikenal dengan nama
Algorizm.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi (770-840 M.) ilmuan yang berjasa besar dalam
memajukan ilmu pengetahuan ini lahir di Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini
Uzbekistan) pada tahun 770 M. kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di selatan kota
Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi hidup di masa kekhalifahan Bani Abbasiyah,
yakni Al-Makmun, yang memerintah pada 813-833 M. (Sucipto, The Great Muslim Scientist, 2008,
hal: 16).
Sejarah mencatat, Al-Khawarizmi dikenal sebagai orang yang memperkenalkan konsep Al-Goritma
dalam Matematika. Ia adalah penemu beberapa cabang ilmu dan konsep matematikayang dikenal
sebagai astronom geografer. Selain Algoritma, teori Aljabar juga merupakan buah fikirnya.
10

Nama Aljabar sendiri diambil dari bukunya yang terkenal, yakniAl-


Jabr wa-al-Muqabilah. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang
memuat fungsi sinus, kosinus, tangen dan kotangen serta konsep diferensiasi.

Tak hanya itu, di bidang ilmu ukur, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak rumus ilmu ukur dan
penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Sayangnya beberapa sarjana Barat seperti John
Napier (1550-1620 M.) dan Simon Stevin (1548-1620 M.) mengklaim bahwa penemuan tersebut
merupakan hasil pemikiran meraka.
Masih berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Al- Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi.
Bukunya Kitab Surat Al-ard, menjadi dasar ilmu bumi Arab. Naskah itu hingga kini masih disimpan di
Strassburg, Jerman oleh Abdul Fida, seorang ahli ilmu bumi terkenal (Sucipto, hal. 17-18).
Petualangan dan pengabdian panjangnya itu baru berakhir pada tahun 840 M. ketika Sang Khaliq
memanggilnya. Al-Khawarizmi meninggalkan warisan khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia.
b.Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik).
Sejatinya pemikir dan ulama peletak dasar ilmu sosiologi dan politik melalui karya magnum opus-nya,
Al Muqaddimah. Ia lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 dengan nama Abdurrahman
bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim
bin Abdurrahman bin Ibnu Khaldun. Moyangnya berasal dari Hadramaut, Yaman yang bermigrasi ke
Sevilla, Andlusia (Spanyol). Namun keluarganya harus pindah ketika Sevilla dikuasai Kristen (Sucipto,
hal. 47).
Pendidikannya dimulai di Tunisia dan di Fez (Maroko) dengan mempelajari berbagai bidang ilmu:
menghafal Al-Qur’an, mempelajari tata bahasa, hukum Islam (syari’ah), hadis, retorika, filologi dan
puisi. Selain itu ia mempelajari sastra Arab, filsafat, matematika dan astronomi. Khaldun sangat terlibat
dengan politik.
Kariernya di bidang politik membawanya keluar masuk istana, ia sebagai pemenang maupun
pecundang. Usia mudanya dihabiskan sebagai pendamping, penasihat sultan serta menduduki beraneka
jabatan.
11

Kariernya menanjak saat ia membantu Sultan Abu Salem dalam menjatuhkan Al-Mansyur, musuh
politiknya. Ia diberi jabatan sekretaris selama lebih dari dua tahun, lalu ditugaskan sebagai qadi
(hakim). Sultan Abu Salim tak lama kemudian dijatuhkan oleh Wazir Omar. Gagal mendapatkan
kedudukan di pemerintahan yang baru, Ibnu Khaldun meninggalkan Fez dan pergi ke Andalusia.
Salah satu di antara karya Ibnu Khaldun bahwa ia memetakan masyarakat dengan interaksi sosial,
politik, ekonomi dan geografi yang melingkupinya. Pendekatan ini dianggap menjadi terobosan yang
sangat signifikan. Menurutnya, organisme dapat tumbuh dan matang karena sebab- sebab nyata yang
mempengaruhinya.
Formasi masyarakat, fikiran yang dituangkan dalam karya besarnya,
Muqaddimah, misalnya, dikatakan sebagai hasrat manusia untuk berkumpul,
bersaing, lalu memperebutkan kepemimpinan. Mereka diikat dengan solidaritasashabiyah (ungkapan
pra-Islam) yang diarahkan oleh para pimpinannya. Ia memperkirakan bahwa solidaritas itu berlangsung
empat generasi.
Model ini menempatkan Ibnu Khaldun sebagai penganut teori siklus sejarah. Masyarakat lahir, tumbuh,
berkembang, lalu mati untuk diganti dengan yang lain, demikian seterusnya (Sucipto, hal. 49).
Kontribusi Ibnu Khaldun dalam Ilmu pengetahuan memang tidak sedikit. Setidaknya berkatnyalah
dasar-dasar ilmu sosiologi politik dan filsafat dibangun, tak heran jika warisannya itu banyak
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Seorang sejarawan Barat, Dr Boer, menulis “Ibnu Khaldun tak pelak lagi, adalah orang pertama yang
mencoba menerangkan dengan lengkap evolusi dan kemajuan suatu kemasyarakatan, dengan alasan
adanya sebab- sebab dan faktor-faktor tertentu, iklim, alat, produksi, dan lain sebagainya, serta akibat-
akibatnya pada pembentukan cara berfikir manusia, dan pembentukan masyarakatnya. Dalam derap
majunya peradaban ia mendapatkan keharmonisan yang terorganisasikan dalam dirinya sendiri.”
c.Jabir Ibnu Hayyan (Bapak Kimia)
12

Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa embrio persenjataan nuklir yang banyak digunakan oleh
negara-negara maju, entah mereka gunakan untuk hal-hal positif maupun negatif, semua itu bermula
dari ilmu kimia. Sebenarnya ilmu kimia sudah ada sejak puluhan abad silam. Memang belum pada
bentuk modern seperti sekarang yang telah diadopsi sedemikian canggihnya.
Ilmu kimia di kemudian hari berkembang sangat pesat dan dikenal banyak orang. Tapi, hanya sedikit
yang mengetahui siapa sejatinya orang pertama yang menemukan ilmu eksakta tersebut. Ia adalah Abu
Musa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 H.) ilmuan muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan
disiplin ilmu kimia tadi.
d. Ibnu Sina
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan,
dan juga dokter kelahiranPersia (sekarang sudah menjadi bagianUzbekistan). Ia juga seorang penulis
yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak
orang, beliau adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang
kebanyakan bersangkutan dengan karya- karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat
terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ‫انيس ىلعوب‬Abu Ali
Sina atau dalam tulisan arab : ‫ ب‬‫ي‬‫ح‬ ‫ لع وبأ انيس‬‫ ب‬ ‫د‬‫)ع‬. Ibnu Sina lahir pada980
diAfsyahnah daerah dekatBukhara, sekarang wilayahUzbekistan (kemudianPers ia), dan meninggal
pada bulan Juni1037 diHamadan,P ers ia (Iran).
Dia adalahpengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya
memusatkan padafilosofi dankedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran
modern."George
Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah
satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu."
pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing danThe
Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagaiQanun (judul lengkap:Al-
13

Qanun fi At Tibb). (http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina, dikutip tanggal


2-10-2009)
e. Ibnu Majid

Ibnu Majid adalah seorang navigator Arab terbesar yang bergelar “singa laut”. Pada usianya yang ke-
15, Ibnu Majid sudah memimpin sebuah pelayaran. Navigator yang lahir di Julfar, Mesir, tahun 1421 M
ini memiliki nama lengkap Shihabud Din Ahmad bin Majid bin Muhammmad bin Amir bin Duwayk
bin Yusuf bin Husain bin Abi Ma’lak as-Sa’di bin Abi ar- Raka’ib an-Najdi.
Sifat yang patut kita teladani dari Ibnu Majid adalah ketekunannnya dalam mempelajari ilmu navigator
yang ia dapatkan dari ayah dan kakeknya dengan cara menjalankan kapal laut atau kapal teerbang.
Selain itu, ia juga menguasai ilmu geografi dan astronomi sebagai syarat utama untuk menjadi
navigator ulung.
Diantara buku-buku karya Ibnu Majid berjudulal-Hijaziah (sejarah negei hijaz),Urjuza (melagukan
syair dengan prosa raja-raja ) terdiri dari 3 jilid, Hawiyatul-Ikhtisar fi Ushul Ilmil-Bihar ( ringkasan
ilmu navigator) yang ia tulis pada tahun 1490 M. Buku ini berisi tentang rute-rute laut sepanjang pantai
India hingga Sumatera, Cina, Taiwan dan sepanjang pantai Samudra
Hindia,
serta
tanda-tanda
dekatnya
daratan.
(http://frahasti.wordpress.com/2009/01/31/ibnu-majid, dikutip tanggal 2-10-
2009)
f. Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid,1126 -Marrakesh,Maroko,
10 Desember 1198) dalam bahasa Arab ‫دشش‬‫ ر‬‫ب‬ dan dalam bahasa Latin
Averroes, adalah seorangfils uf dariSpanyol (Andalusia).
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi).
Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri
adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti
kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan
Ibnu Baja.
14

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa
hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia
barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat
Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan,
termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk
mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang
filsafat, kedokteran dan
fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya
aslinya sudah tidak ada. Di antara karyanya adalah : Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih),
Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran), Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat
Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang
bertentangan dengan filsafat).
Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada
abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang
akidah
dan
sikap
keberagamaannya.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd, dikutip tanggal 2-10-2009)
g. Daftar Ilmuan Muslim
Ilmu pengetahuan di dunia Islam telah memainkan peran penting
dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dari semenjak Islam muncul, zaman keemasan, hingga zaman
modern saat ini, telah banyak para pemikir-pemikir Muslim dengan karya-karya yang dihasilkannya
telah memberikan sumbangan atau masukan tehadap pendidikan, sains dan peradaban. Berikut ini
adalah daftar lengkap para ilmuwan muslim terkemuka.
1.
Para astronom dan astrofisikawan

Khalid bin Yazid(Calid)

Ja'far ash-Shadiq

Tariq bin Yaqūb

Ibrahim al-Fazari

Muhammad al-Fazari
15


Naubakht

Al-Khawarizmi, yang juga seorang matematikawan

Ja'far bin Muhammad Abu Ma'shar al-Balkhi(Albumas ar)

Al-Farghani

Banu Musa (Ben Mousa)
o
Ja'far Muhammad bin Musa bin Shakir
o
Ahmad bin Musa bin Shakir
o
Al-Hasan bin Musa ibn Shakir

Tsabit bin Qurra(Thebit)
o
Sinan bin Tsabit
o
Ibrahim bin Sinan

Al-Majriti

Muhammad bin Jabir al-Harrānī Al-Battani(Albatenius )

Al-Farabi(Abunas er)

Abd Al-Rahman Al Sufi

Abu Sa'id Gorgani

Kushyar bin Labban

Abu Ja'far Al-Khāzin

Al-Mahani

Al-Marwazi

Al-Nayrizi

Al-Saghani

Al-Farghani

Abu Nashr Mansur

Abu Sahl al-Qūhī(Kuhi)

Abu-Mahmud al-Khujandi

Abū al-Wafā 'al-Būzjānī

Ibn Yunus

Ibn al-Haytham(Alhacen)

Abu Rayhan al-Biruni

Ibn Sina (Avicenna)

Abu Ishaq al-Zarqālī Ibrāhīm(Arzachel)

Omar Khayyām

Al-Khazini

Ibnu Bajjah(Avempace)

Ibnu Tufail(Abubacer)

Nur Ed-Din Al Betrugi(Alpetragius )

Ibnu Rusyd (Averroes)

Al-Jazari
16

Sharaf al-Din al-Tusi

Anvari

Mo'ayyeduddin Urdi

Nasir al-Din Tusi

Quthb al-Din al-Syirazi

Ibn al-Shatir

Syams al-Dīn al-Samarqandi

Jamshid al-Kashi

Ulugh Beg, juga seorang matematikawan

Jawad al-Din, Ottoman astronom

Ahmad Nahavandi

Haly Abenragel

Abolfadl Harawi

Karim Kerimov, seorang pendiri program luar angkasa Uni


Soviet, yang memimpin pertama arsitek di belakang spaceflight
manusia (Vostok 1), dan arsitek memimpin pertama stasiun ruang
angkasa (Salyutdan Mir)

Farouk El-Baz,ilmuwan NASA pertama yang terlibat dalam
pendaratan Bulandengan Program Apollo

Abdul Kalam

Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud

Muhammad Faris

Abdul Ahad Mohmand

Talgat Musabayev

Anousheh Ansari

Amir Ansari

Essam Heggy, seorang ilmuan planet yang terlibat dalam NASA
Mars Exploration Program

Ahmed Salem

Mohamed Sultan

Habbal Shadia spesialis dalam fisika matahari.

Sultana Nurun Nahar spesialis dalam astrofisika dan spektroskopi
atom.

Ahmed Noor

Arif Babul , Distinguished Professor and Director, Canadian
Computational Cosmology Collaboration, Dept of Physics and
Astronomy, University of Victoria - Astrophysiscist terlibat dalam
sebuah penelitian yang berkaitan dengan Pembentukan dan Evolusi
Galaksi dan Kelompok-kelompok Galaksi ...
2.
Kimiawan dan alkemis
17


Khalid bin Yazid(Calid)

Ja'far ash-Shadiq

Jabir bin Hayyan (Geber), bapak kimia

Abbas Ibnu Firnas (Armen Firman)

Al-Kindi(Alkindus )

Al-Majriti

Ibnu Miskawaih

Abu Rayhan al-Biruni

Ibnu Sina (Avicenna)

Al-Khazini

Nasir al-Din Tusi

Hasan Al-Rammah

Ibn Khaldun

Sake Dean Mahomet

Salimuzzaman Siddiqui

Al-Khwarizmi Bapa dari Al-Gabra, (Matematika)

Ahmed H. Zewail, Mendapatkan penghargaan Nobel Kimia,
1999

Ali Eftekhari
3.
Para ekonom dan Sosial Ilmuwan

Abu Hanifah an-Nu'man(699-767), ekonom

Abu Yusuf (731-798), ekonom

Ishaq bin Ali al-Rahwi (854-931), ekonom

Al-Farabi (Alpharabius) (873-950), ekonom

Al-Saghani (w. 990), salah satu yang paling awal ilmu
pengetahuans ejarah

Syams al-Mo'ali Abol- hasan Ghaboos ibn Wushmgir(Qabus)
(w. 1012), ekonom

Abu Rayhan al-Biruni (973-1048), yang dianggap sebagai "
antropolog pertama" dan bapakIndologi

Ibnu Sina (Ibnu Sina) (980-1037), ekonom

Ibnu Miskawaih (l. 1030), ekonom

Al-Ghazali (Algazel) (1058-1111), ekonom

Al-Mawardi (1075-1158), ekonom

Nasir al-Din al-Tusi (Tusi) (1201-1274), ekonom

Ibn al-Nafis(1213-1288), sosiolog

Ibnu Taimiyah (1263-1328), ekonom

Ibn Khaldun (1332-1406), pelopor ilmu-ilmu sosials eperti
demografi, sejarah budaya, historiografi, filsafat sejarah, Sosiologi
danekonomi

Al-Maqrizi (1364-1442), ekonom
18


Al-Jahiz,penemu seleksi alam

Ali bin Sahl Rabban al-Tabari, perintis medis bebas

Ahmed bin Sahl Al-Balkhi

Ishaq bin Ali al-Rahwi (854-931), perintis peer reviewdan medis
peer review

Al-Farabi(Alpharabius )

Ibn Al-Jazzar (circa 898-980)

Abul Hasan al-Tabari - dokter

Ali bin Sahl Rabban al-Tabari - dokter

Ali bin Abbas al-Majusi (w. 994), perintis kebidanandan
Perinatology

Abu Gaafar Amed bin Ibrahim bin abi al-Gazzar Halid (abad ke-
10), pelopor restorasi gigi

Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (Abulcasis) - bapak modern bedah,
dan perintis bedah saraf, craniotomy, hematologi dan operasi gigi

Ibn al-Haytha m (Alhacen), perintis operasi mata, sistem visual
dan persepsi visual

Abu Rayhan al-Biruni

Avicenna (Ibn Sina) (980-1037) - bapak ilmu kedokteran modern,
pendiriUnani kedokteran, perintis obat eksperimental, kedokteran
berbasis bukti, ilmu farmasi, farmakologi klinis, aromaterapi,
pulsology dan sphygmology, dan juga seorang filsuf

Ibnu Miskawaih

Ibnu Zuhr (Avenzoar) - bapak operasi eksperimental ,dan
perintis anatomi eksperimental, eksperimental fisiologi, pembedahan
manusia, otopsidan tracheotomy

Ibnu Bajjah(Avempace)

Ibnu Tufail(Abubacer)

Ibnu Rusyd (Averroes)

Ibn al-Baitar

Ibnu Jazla

Nasir al-Din Tusi
23


Ibnu al-Nafis (1213-1288), ayah dari fisiologi peredaran darah,
anatomi peredaran darah perintis, dan pendiri Nafisian anatomi,
fisiologi, pulsology dan sphygmology

Ibn al-Quff (1233-1305), perintis embriologimodern

Kamal al-Dīn al-Farisi

Ibnu Khatima (abad ke-14), penemu bakteriologidan
mikrobiologi

Ibn al-Khatib(1313-1374)

Mansur bin Ilyas

Saghir Akhtar - apoteker

Toffy Musivand

Samuel Rahbar

Muhammad B. Yunus , "bapak dari pandangan fibromyalgia
modern kita"

Sheikh Muszaphar Shukor,perintis penelitian biomedisdi
angkasa

Hulusi Behçet, dikenal untuk penemuan penyakit Behçet

Ibrahim B. Syed - radiolog

Mehmet Oz, dokter bedah kardiotoraks
8.
Fisikawan & Engineers

Ja'far ash-Shadiq, abad ke-8

Banu Musa (Ben Mousa), abad ke-9
o
Ja'far Muhammad ibn Mūsā ibn Shākir
o
Ahmad ibn Mūsā ibn Shākir
o
Al-Hasan ibn Mūsā ibn Shākir

Abbas Ibn Firnas (Armen Firman), abad ke-9

Thābit ibn Qurra (Thebit), abad ke-9

Al-Saghani, Abad ke-10

Abu Sahl al-Qūhī (Kuhi), abad ke-10

Ibn Sahl , Abad ke-10

Ibn Yunus , Abad ke-10

Al-Karaji, Abad ke-10
24


Ibn al-Haytham (Alhacen), ilmuwan Irak abad ke-11, bapak
optik,pelopor metode ilmiahdan eksperimen fisika,dianggap
sebagai "ilmuwan pertama"

Abū Rayhān al-Bīrūnī , abad ke-11, pelopor mekanika
eksperimental

Ibnu Sina, abad ke-11

Al-Khazini, abad ke-12

Ibnu Bajjah (Avempace), abad ke-12

Hibat Allah Abu'l-Barakat al-Baghdaadi (Nathanel), abad ke-12

Averroes, abad ke-12 matematik Andalusia, filsuf dan ahli medis

Al-Jazari, insinyur sipil abad ke-13, ayah dari robot,bapak
rekayasamodern

Nasir al-Din Tusi, abad ke-13

Quthb al-Din al-Syirazi, abad ke-13

Kamal al-Dīn al-Farisi, abad ke-13

Hasan Al-Rammah, abad ke-13

Ibn al-Shatir, abad ke-14

Taqi al-Din , abad ke-16

Hezarfen Ahmet Celebi, abad ke-17

Lagari Hasan Çelebi, abad ke-17

Sake Dean Mahomet, abad ke-18

Tipu Sultan , abad ke-18 pembikin mesin India

Fazlur Khan, abad ke-20 pembikin mesinBangladesh

Mahmoud Hessaby, abad ke-20 fisikawanIran

Ali Javan, abad ke-20 fisikawan Iran

Bacharuddin Jusuf Habibie, abad ke-20 Mantan Presiden
Indonesia dan presiden insinyur penerbangan

Abdul Kalam, insinyur penerbangan Indiadan ilmuwan nuklir

Mehran Kardar, fisikawan Iran

Cumrun Vafa, Iran fisikawan matematis

Nima Arkani-Hamed, fisikawan Amerika kelahiran Iran

Abdel Nasser Tawfik, Mesir, Particle Physisist kelahiran Jerman

Munir Nayfeh Palestina-Amerika Particle Physicist
25


Abdus Salam, fisikawan teoretis Pakistan- Penghargaan Nobel
dalam Fisika1979

Riazuddin, fisikawan teoretis Pakistan

Abdul Qadeer Khan, ilmuwan nuklir Pakistan

Munir Ahmad Khan, insinyur nuklir Pakistan

Pervez Hoodbhoy, ahli fisika nuklir Pakistan
9.
Politik Ilmuwan

Syed Qutb

Abul Ala Maududi

Hasan al-Turabi

Hassan al-Banna

Mohamed Hassanein Heikal

Shoaib ur Rehman Mughal
(http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Muslim_scientists, dikutip tanggal 1-
10-2009)
C. KESIMPULAN

Menggagas kebangkitan Peradaban Islam; jika umat Islam ingin membangun kembali peradabannya,
mereka harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa ini, kebangkitan Islam hanya akan
menjadiutopia belaka. Karena wujud suatu peradaban merupakan produk dariakumulasi tiga elemen
penting yaitu, kemampuan manusia untuk berfikir, yang menghasilkan sains dan teknologi,
kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, serta kesanggupan berjuang untuk
hidup.
Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen mendasar (asasi) bagi suatu peradaban. Suatu bangsa akan
beradab (ber-peradaban) apabila bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuanintele ktual tertentu.
Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban akan bisa
terwujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi, sehingga mampu
26

meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan
prasarana ataupuns upr a-s tr uktur daninfr a-s tr uktur yang tersedia. Dalam hal ini, pendidikan
merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran
adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup (agama).
Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu
pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan pembangunan ekonomi dari pada ilmu, dan hal
itu tidak sepenuhnya salah, sebab ekonomi akan berperan meningkatkan taraf kehidupan, namun
sejatinya faktor materi dan ekonomi menentukansetting kehidupan manusia, sedangkan yang
mengarahkan seseorang untuk memberirespon terhadap situasi yang sedang dihadapinya adalah faktor
ilmu pengetahuan. Sebagaimana ungkapan Albert Enstien
”science without religion is blind, religion without science is lame”. Dari sini dapat
kita lihat peranan penting pendidikan dan agama sebagai jalan kebangkitan
peradaban Islam.
D. PENUTUP
Demikian makalah ini penulis susun, mudahan ada manfaatnya bagi
pembaca, khususnya bagi penulis sendiri.
Saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan untuk
melengkapi makalah ini.
E. DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shidieqy, Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an
dan Tafsir, Semarang, Putra Rizki Putra, 2000.
Amin, Husayn Ahmad, Seratus Tokoh Islam,_________________
Bernard Lewis, the Arab In History, Harper London, Colophons Books, 1996.
27

Dewan Pimpinan Penerbit,Ensiklopedi Islam, (Perpustakaan Nasional RI), Jakarta.

PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.


http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Muslim_scientists
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina
http://frahasti.wordpress.com/2009/01/31/ibnu-majid
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rusyd
Masood, Ehsan, Ilmuan-Ilmuan Muslim Pelopoor Hebat di Bidang Sains Modern,
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009.
Munthoha, Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. 1, Yogyakarta, UII Press , 1998
Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Cet.2, Surabaya:
Risalah Gusti, 2003.
Sucipto, Hery, The Great Moslem Scientist, Cet.1, Jakarta; Grafindo Khazanah
Ilmu, 2008.
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Cet.2, Jakarta; Prenada Media, 2004.
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam,Bandung, Pustaka Setia, 2008.