Anda di halaman 1dari 9

BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini

Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini


Kajian Lanjutan Mengenai Esensi BHP dan Kontradiksi Penerapannya
dengan Dunia Pendidikan Indonesia

Pengesahan RUU BHP menjadi Undang-Undang pada tanggal 17 Desember 2008 lalu
menuai banyak protes dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Banyak demonstrasi
digelar dalam rangka menyerukan penolakan terhadap pengesahan RUU Badan Hukum
Pendidikan tersebut.
Berbagai alasan dikemukakan banyak pihak sebagai rasionalisasi penolakan pengesahaan
RUU BHP ini. Baik itu terkait dengan permasalahan pasal-pasal di dalamnya, maupun
mengenai ketidaksiapan pemerintah dalam mengimplementasikan undang-undang
tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun terlepas dari itu semua, dalam
paper ini KM ITB akan menjabarkan alasan utama penolakan BHP ditinjau dari sisi
filosofi pendiddikan dan esensi dari BHP itu sendiri. Hal ini dilakukan sebagai
rasionalisasi lebih lanjut dari pernyataan sikap bahwa kami MENOLAK penerapan
Badan Hukum dalam Pendidikan.

Selayang Pandang Filosofi Pendidikan Indonesia


Sebelum berbicara lebih jauh tentang BHP dan dampaknya pada dunia pendidikan
Indonesia, terlebih dahulu kami akan mengingatkan kembali filosofi dan tujuan dari
pendidikan negeri ini.
Pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara
Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupkan bangsa. Hal tersebut didetailkan lebih
lanjut pada batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 yang mengatur mengenai masalah
pendidikan di Indonesia. Pada pasal tersebut dikatakan bahwa:
1. Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan
2. Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan Negara wajib
membiayainya
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-


undang
Demikian, pada pasal tersebut jelas terlihat tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh generasi bangsa untuk mengenyam
pendidikan demi menjadi bangsa yang cerdas. Pendidikan akan mencetak generasi-
generasi cerdas, tangguh dan berkarakter dalam rangka meningkatkan kualitas SDM yang
akan menentukan kemajuan bangsa ini.
Bangsa cerdas adalah bangsa yang sanggup menyelesaikan berbagai permasalahan
dirinya tanpa perlu bergantung pada pihak lain. Ia juga dapat mengoptimalkan segala
potensi yang dimiliki negaranya, baik SDA maupun SDM guna kepentingan dan
kemajuan Bangsanya. Satu hal lagi, bangsa cerdas adalah bangsa yang memiliki
kedaulatan penuh atas negaranya. Kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa
adanya intervensi dari pihak lain, baik bentuk intervensi konkret maupun tersembunyi.
Itulah tujuan hakiki dari pendidikan Indonesia, dan sesuai dengan amanah konstitusi
tersebut, Pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan suatu sistem
pendidikan nasional guna mencapai tujuan pendidikan Indonesia.
Hal inilah yang perlu mendapat perhatian.

Aspek Esensial Badan Hukum Pendidikan


BHP (Badan Hukum Pendidikan) merupakan suatu konsep baru yang ditawarkan pada
dunia pendidikan Indonesia. Konsep tersebut adalah pengubahan bentuk institusi-
institusi pendidikan formal di Indonesia menjadi berbentuk Badan Hukum. Mulai
dari pendidikan dasar (SD, SMP, dan sederajat), pendidikan menengah (SMA, dan
sederajat) hingga pendidikan tinggi. Pengaturan lebih lanjut mengenai bentuk badan
hukum pendidikan ini tertuang dalam UU BHP.
Sebagai suatu institusi yang berbentuk Badan Hukum, BHP memiliki esensi dan
karakteristiknya yang khas sebagai suatu badan hukum. Esensi ini merupakan satu
hal yang tidak mungkin dapat dilepaskan dari keberadaannya sebagai suatu badan
hukum. Karenanya merupakan konsekuansi logis jika pada keberjalanannya institusi
pendidikan dengan bentuk BHP ini akan menjalankan mekanisme pengelolaan
sebagaimana layaknya pengelolaan badan hukum (perusahaan). Suatu perusahaan akan
menjalankan kegiatannya berorientasi pada keuntungan. Demikian pula halnya yang
terjadi dengan Badan Hukum Pendidikan. Hal tersebut dapat terlihat pada berbagai pasal
dalam UU BHP dan setidaknya dapat diklasifikasikan menjadi 3 aspek:
1. Pendanaan, Usaha, dan Pengelolaannya
Pada pasal 37 ayat 1 UU BHP disebutkan bahwa kekayaan awal BHPP, BHPPD,
atau BHPM berasal dari kekayaan pendiri yang dipisahkan Akibat dari adanya
mekanisme ini adalah meskipun BHP tersebut didirikan oleh pemerintah,
kekayaannya tetap terpisah dari keuangan Negara. Kekayaan dan pendapatan
BHP dikelola secara mandiri oleh institusi tersebut secara transparan dan

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

akuntabel (pasal 37 ayat 5). Mekanisme pengelolaannya tentu serupa dengan


mekanisme pengelolaan kekayaan dan pendapatan pada suatu badan hukum.
Dari sisi pendanaan, Pasal 41 UU BHP menjelaskan mengenai pendanaan dari
Badan Hukum Pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga
pendidikan tinggi.
Pada pasal tersebut terlihat bahwa baik pada pendidikan menengah maupun
pendidikan tinggi, tetap terdapat porsi-porsi pembiayaan yang tidak
ditanggung oleh pemerintah dan otomatis harus dipenuhi sendiri oleh Badan
Hukum Pendidikan tersebut, baik sumber pendapatan yang berasal dari peserta
didik maupun bukan, selain itu masih ada pembagian pendanaan antara BHP dan
Pemerintah yang tidak jelas porsinya (lihat pasal 41). Dari sinilah terbuka
beberapa mekanisme usaha bagi BHP untuk memenuhi kebutuhan biaya
operasionalnya. Persis seperti badan hukum (perusahaan) menjalankan usahanya.
Hal ini tentunya membuka lebar liberalisasi dan komersialisasi dalam institusi
pendidikan, dan diperkuat oleh pasal-pasal berikut:
Pertama, BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat mendirikan
suatu badan hukum (perusahaan) guna membiayai biaya operasional. Hal
tersebut tercantum pada pasal 43 ayat 1. Pada undang-undang ini tidak terdapat
penjelasan mengenai jenis-jenis usaha apa saja yang diperbolehkan atau yang
tidak diperbolehkan untuk dilakukan oleh institusi BHP.
Kedua, BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan
investasi dalam bentuk portofolio (saham). Hal tersebut tercantum dalam pasal
42 ayat 1. Artinya, sebagaimana layaknya perusahaan, institusi pendidikan
berbentuk BHP pun dapat bermain di bursa saham. Usaha ini sangat riskan,
terlebih bila dijalankan oleh sebuah badan hukum pendidikan. Apalagi mengingat
krisis luar biasa yang melanda pasar finansial di seluruh dunia dan mengakibatkan
puluhan perusahaan termasuk perusahaan-perusahaan besar gulung tikar dalam
waktu singkat. Bagaiman bila hal tersebut menimpa BHP? Tentu saja
dibubarkan, dan akan berlaku UU kepailitan seperti yang disebutkan dalam pasal
58 ayat 4. Tentang nasib keberjalanan proses pendidikan itu sendiri tak usah kita
pertanyakan lagi. Begitu juga tentang kisah guru dan siswanya.
Hal lain yang irasional adalah, seperti dijelaskan pada pasal 42 ayat 4 bahwa
‘Investasi dilaksanakan atas dasar prinsip kehati-hatian untuk membatasi resiko
yang ditanggung Badan Hukum Pendidikan’. Jelas-jelas pada ayat tersebut
disebutkan bahwa permainan saham yang dilakukan oleh institusi BHP
mengandung resiko. Meskipun tidak dijelaskan besar kecilnya resiko yang
mungkin terjadi, adalah hal yang mungkin resiko terbesar dari mekanisme
tersebut adalah pembubaran (kepailitan) dari institusi BHP. Tidak ada jaminan
bahwa konsekuensi terburuk itulah tidak akan terjadi. Bagaimana mungkin sebuah
sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti pendidikan dibuat dalam
sebuah mekanisme ketidakjelasan yang beresiko tinggi.
Dari kedua mekanisme pendanaan tersebut, tercium sekali aroma liberalisasi
pendidikan. Dapatkah kita bayangkan bagaimana jadinya dunia pendidikan

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

Indonesia jika mekanisme pengelolaannya didasarkan pada mekanisme


pengelolaan suatu perusahaan?

2. Penanaman Modal Dalam Badan Hukum Pendidikan


Konsekuensi dari bentuk institusi pendidikan sebagai Badan Hukum adalah
kebebasannya untuk mencari sumber dana. Apalagi ternyata pemerintah pun tidak
membiayai sepenuhnya dan tidak pula menjamin secara utuh ketersediaan biaya
bagi operasional suatu institusi pendidikan (lihat pasal 41). Karenanya terdapat
suatu keterbutuhan dari institusi BHP untuk mendapatkan dana operasional.
Selain dari mekanisme pendanaan yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat
mekanisme lain sebagaimana tercantum pada pasal 45 ayat 1, yakni:
‘Masyarakat dapat memberikan dana pendidikan pada Badan Hukum Pendidikan
… sesuai dengan peraturan perundang-undangan’
Pada pasal ini tidak dijelaskan masyarakat yang mana yang dimaksudkan. Apakah
itu masyarakat sipil biasa, ataukah para pengusaha (pemilik modal)? Bahkan,
meskipun yang dimaksud dengan ‘masyarakat’ pada ayat tersebut adalah
gabungan dari keduanya, kita dapat pikirkan sendiri, masyarakat jenis apa yang
mampu ‘mengucurkan’ dana bagi suatu institusi BHP.
Lebih jauh lagi, dalam menganalisis aspek ini, kita tidak bisa hanya terpaku pada
UU BHP saja, melainkan juga pada peraturan perundang-undangan lainnya.
Karena peraturan perundang-undangan lain lah yang memberikan pengaturan
mengenai apa dan bagaimana mekanisme masyarakat dalam memberikan dana
kepada institusi BHP. Hal tersebut tercantum dalam UU Penanaman Modal No.
25 tahun 2007 dan PerPres No.77 tahun 2007 mengenai daftar bidang usaha
yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang
penanaman modal.
Jadi, salah satu mekanisme dari BHP untuk memperoleh dana operasional adalah
dengan menarik investor dan membuka investasi pihak luar terhadap dirinya.
Inilah salah satu esensi utama juga urgensi utama dari bentuk Badan Hukum
Pendidikan.
Investor hanya akan menginvestasikan dananya pada sektor-sektor yang dirasa
dapat memberikan keuntungan baginya. Sektor pendidikan adalah sektor yang
menggiurkan karena pendidikan merupakan kebutuhan inelastik dan vital bagi
setiap Negara termasuk Indonesia. Keuntungan yang dijanjikan dari ‘bisnis’ di
bidang pendidikan ini sangat menggiurkan mengingat pasar pendidikan tidak
pernah kehilangan konsumen. Meskipun demikian untuk menginvestasikan
dananya, para investor perlu mendapat keyakinan bahwa dana yang mereka
investasikan pada suatu lembaga akan menghasilkan keuntungan. Oleh karenanya
mereka membutuhkan lembaga yang auditable dan accountable. Kedua kriteria
inilah yang ditawarkan oleh sebuah badan hukum. Karena itu pengubahan
bentuk institusi pendidikan menjadi badan hukum adalah hal yang urgen
untuk menarik investor.

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

Satu hal lagi yang menarik adalah mengenai kemungkinan masuknya modal asing
dalam penyelenggaraan pendidikan Indonesia.
Pada draft RUU BHP per agustus 2007 pasal 7 terdapat pengaturan mengenai
bolehnya lembaga pendidikan asing mendirikan BHP di Indonesia dengan
kepemilikan modal paling banyak 49% dari kebutuhan penyelenggaraan
pendidikan.
Hal ini mendapat kecaman dari banyak pihak, baik para ahli maupun mahasiswa.
Pada perkembangan berikutnya (versi draft selanjutnya), kata-kata ‘lembaga
pendidikan asing mendirikan BHP di Indonesia dengan kepemilikan modal paling
banyak 49% dari kebutuhan penyelenggaraan pendidikan’ hilang dari draft RUU
BHP sehingga banyak kalangan yang merasa’ lega’ dan merasa bahwa RUU BHP
tersebut aman karena tidak lagi mencantumkan kepemilikan modal asing pada
suatu institusi pendidikan.
Padahal, kenyataannya tidak demikian. Meskipun kata-kata kepemilikan modal
asing dihilangkan dari draft RUU BHP, namun pada PerPres no.77 tahun 2007
tetap disebutkan bahwa salah satu badan usaha yang dapat dimasuki modal
asing adalah pendidikan, baik formal maupun informal. Persentasi besarnya
modal asing tersebut adalah 49%. Artinya, institusi pendidikan dalam bentuk
BHP tetap dapat menerima investasi dari modal asing hingga maksimal 49% dari
biaya operasionalnya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena dalam UU BHP pun
tidak terdapat larangan untuk menerima investasi modal asing. Dan dari
pembagian porsi pendanaan, investasi asing memiliki peluang yang cukup besar
untuk memegang persentase terbesar. Bagaimana mungkin sektor yang penting
seperti pendidikan dalam suatu negara dikuasai oleh modal asing. Seperti apa
kebijakan yang akan diterapkan didalam badan hukum ini yang jelas-jelas bersifat
“mandiri”? lalu seperti apa wujud kedaulatan negeri ini bila sektor pendidikannya
diselenggarakan oleh pihak asing?
Fenomena ini menggelikan. Terlihat betapa Pemerintah mempermainkan
masyarakatnya. Mencoba ‘mengikuti’ tuntutan masyarakat untuk menghapuskan
kemungkinan kepemilikan modal asing dalam RUU BHP namun dibalik itu
ternyata tetap ada peraturan yang memperbolehkan masuknya investasi asing
dalam dunia pendidikan. Fenomena ini jarang sekali terekspose pada masyarakat
luas dan seringkali menjadi hal yang luput dari perhatian banyak pihak
Dari pemaparan pada poin ini jelas pula tercium aroma proses liberalisasi
pendidikan. Tentu saja hal ini bertentangan dengan tujuan pendidikan Indonesia.
3. Mengenai Pembubaran BHP (Kepailitan BHP)
Sebagaimana layaknya suatu badan hukum, Badan Hukum Pendidikan pun
memiliki mekanisme pembubaran atau kepailitan. Hal tersebut diatur pada pasal
57, 58 dan 59 UU BHP. Khusus pada pasal 58 ayat 4 dikatakan bahwa ‘Apabila
badan hukum bubar karena pailit, berlaku peraturan perundang-undangan di
bidang kepailitan.’ Artinya disini, posisi BHP tidak berbeda dengan perusahaan

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

dimana pada perusahaan yang dinyatakan pailit pun berlaku undang-undang


kepailitan.
Dalam hal ini, badan hukum pendidikan (bukan pemerintah) tetap bertanggung
jawab untuk menjamin penyelesaian masalah pendidik, tenaga kependidikan, dan
peserta didik. Tenaga pendidik (guru) dengan status PNS akan dikembalikan ke
instansi induk. Lalu guru yang berstatus pegawai badan hukum pendidikan
mengikuti perjanjian yang telah dibuat. Jelaslah disamping adanya komersialisasi
badan hukum pendidikan, guru pun ikut dikomersilkan dengan adanya bentuk
badan hukum ini yang tentu saja tidak membuat guru PNS dan guru yang menjadi
pegawai badan hukum pendidikan bernafas lebih lega dari resiko ini. Begitupula
halnya dengan para peserta didik yang akan dipindahkan ke badan hukum yang
lain setelah pembubaran badan hukum yang bersangkutan, belum tentu badan
hukum pendidikan yang ada mampu menampung kuantitas peserta didik tersebut,
lagipula badan hukum pendidikan memberlakukan kebebasan bagi tiap BHP unuk
menentukan kurikulumnya, maka akan terjadi penyesuaian antara kurikulum yang
diterima peserta didik yang akan memakan banyak waktu, didukung pula oleh
budaya ruwetnya birokrasi negara ini. Maka tak dapat disangsikan bahwa peserta
didik akan terganggu proses belajarnya.
Selain itu, pembubaran ini juga harus diikuti oleh likuidasi, berarti seluruh aset
badan hukum pendidikan baik aset usaha maupun aset pendidikan akan dicairkan
seluruhnya.
Oleh karena itu, bagaimana mungkin suatu institusi pendidikan memiliki
kemungkinan untuk pailit (bubar)? Mengingat pendidikan merupakan hal pokok
yang menentukan kualitas SDM bangsa dan dengan sendirinya juga berpengaruh
terhadap kemajuan-kemunduran bangsa ini, maka pembubaran (kepailitan) adalah
hal yang tidak boleh terjadi pada suatu institusi pendidikan di suatu negara.

Kontradiksi BHP secara Esensial dengan Tujuan Pendidikan Indonesia


Demikian telah dipaparkan mengenai aspek-aspek esensial pada suatu Badan Hukum
Pendidikan. Aspek-aspek tersebut lah yang akan selalu menyertai penerapan dari suatu
badan hukum termasuk dalam hal ini adalah Badan Hukum Pendidikan (BHP).
Berdasarkan hal tersebut, jelas sekali terlihat bahwa konsep BHP dalam penyelenggaraan
pendidikan bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Bagaimana tidak,
bukankah telah tergambar bahwa aroma liberalisasi pendidikan begitu kuat tercium pada
aspek-aspek esensial BHP?
Kembali diingatkan bahwa tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Artinya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh
generasi bangsa untuk mengenyam pendidikan demi menjadi bangsa cerdas. Sekarang,
silakan nilai, apakah penyelenggaraan pendidikan dengan institusinya yang
berbentuk BHP akan memfasilitasi bangsa ini untuk meraih tujuan pendidikannya?
Jawabannya tidak.

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

Alih-alih mencetak generasi cerdas, pendidikan Indonesia justru diliberalisasi dan


dijadikan komoditas. Pendidikan dianggap sebagai pasar yang menguntungkan dengan
para investor yang bermain di dalamnya. Pendidikan dipandang sebagai sektor bisnis
yang menguntungkan. Posisi pendidikan sebagai aspek penting penentu kemajuan negeri
ini nampaknya tergeser oleh keuntungan-keuntungan materi yang dijanjikan.
Ingat, pendidikan merupakan hak setiap warga Negara yang wajib dipenuhi oleh
Pemerintah. Pengalihbentukan institusi pendidikan menjadi BHP telah menghilangkan
penjaminan pemerintah terhadap kepastian setiap warga Negara dalam memperoleh
pendidikan ini. Bentuk BHP memungkinkan pengelolaan diserahkan pada masing-
masing institusi pendidikan dengan peran pemerintah yang minimal di dalamnya.
Dapat terlihat dari segi pendanaan Pemerintah tidak menjamin ketercukupan dana
operasional bagi institusi pendidikan dan ‘membebaskan’ masing-masing institusi untuk
‘menambal’ biaya yang kurang dengan berbagai mekanismenya, diantaranya adalah
dengan mendirikan suatu perusahaan atau ikut serta dalam pasar saham. Pada segi
investasi, ternyata berdasarkan Perpres no. 77 tahun 2007 terdapat kemungkinan modal
asing menjadi sumber dana bagi institusi pendidikan sampai dengan 49%. Pada sisi
pembubaran pun, ternyata terbuka kemungkinan terjadinya pembubaran suatu institusi
pendidikan salah satunya karena pailit.
Dimana sisi penjaminan pemerintah untuk memastikan terpenuhinya pendidikan
yang baik dan berkualitas bagi rakyatnya?
Dimana sisi kontrol pemerintah dalam mengelola pendidikan Indonesia yang
menjamin penyelenggaraan pendidikan akan mengantarkan pada tujuannya?
Satu hal lagi yang berbahaya dari BHP adalah adanya otonomisasi dalam pengelolaan
institusi pendidikan. Hal tersebut terlihat pada pasal 4 ayat 2 dimana disebutkan bahwa
salah satu prinsip pengelolaan pendidikan formal oleh Badan Hukum Pendidikan adalah
Otonomi, yaitu kemampuan untuk menjalankan kegiatan secara mandiri dalam bidang
akademik maupun non-akademik. Tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan
kemandirian dalam bidang akademik. Kemudian pada pasal 33 ayat 2 tentang tugas dan
wewenang organ pengelola pendidikan tinggi salah satunya adalah menyusun dan
menetapkan kebijakan akademik bersama dengan organ representasi pendidik. Pada
penjelasan RUU BHP disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kebijakan akademik
antara lain meliputi kebijakan tentang kurikulum dan pembelajaran.
Dari hal tersebut muncul pertanyaan, sejauh manakah kewenangan organ pengelola
pendidikan dan organ representasi pendidik dalam menetapkan kebijakan
akademik termasuk kurikulum? Apakah kurikulum tesebut benar-benar bebas disusun
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan organ tersebut, ataukan ada koridor-koridor dasar
yang ditentukan Pemerintah dalam menetapkan kurikulum?
Perlu diingat bahwa kurikulum merupakan hal amat penting dalam pelaksanaan
pendidikan. Kurikulum merepresentasikan tujuan dan esensi dari pelaksanaan suatu
pendidikan. Jika memang benar tujuan pendidikan negara kita adalah untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas SDM bangsa ini, maka mau
tidak mau Pemerintah harus melakukan kontrol yang sangat terperinci terhadap

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

kurikulum dalam menjamin ketercapaian tujuan pendidikan karena kurikulum sangat


terkait dengan apa-apa yang diajarkan kepada peserta didik. Kontrol Pemerintah terhadap
kurikulum bukan berarti menyamaratakan materi-materi pengajaran pada setiap institusi
pendidikan tinggi. Namun yang perlu dijaga adalah nilai-nilai dan tujuan dari materi
pengajaran tersebut yang diperuntukan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia
demi kemajuan Bangsa.
Kemungkinan masuknya modal asing dalam penyelenggaraan pendidikan Indonesia juga
menjadi cacat besar keberlangsungan pendidikan negeri ini. Hal ini tentu saja tidak hanya
terkait dengan UU BHP namun juga UU dan peraturan lain seperti PerPres No.77 tahun
2007. Perlu diingat, kemungkinan masuknya modal asing ditambah dengan adanya
otonomisasi kurikulum dalam BHP menjadi sebuah peluang besar bagi ‘tangan-tangan
asing’ untuk mengobok-obok pendidikan negeri ini. Hal tersebut tentunya tidak dapat
dibiarkan. Memberi kesempatan pada pihak asing untuk mengobok-obok pendidikan
negeri ini sama saja membuka peluang bagi mereka untuk mencetak SDM negeri ini
semau mereka. Mengkerdilkan potensi dan mentalitas bangsa kita sesuai dengan yang
mereka inginkan.

Bagaimana dengan ‘Semangat Positif’ dalam BHP?


Banyak pihak, termasuk pemerintah, yang mengemukakan serangkaian semangat positif
dari BHP yang dijadikan alasan legalisasi penerapan UU BHP dalam dunia pendidikan
kita. Diantaranya adalah:
Konsep BHP akan mewujudkan ’good university governance’
Efektivitas dan efisiensi kinerja institusi menjadi hal yang sangat diperhatikan dalam
institusi berbentuk badan hukum. Profesionalitas ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip
BHP, yakni transparansi dan akuntabilias. Apabila dibandingkan dengan sistem
sebelumnya, dimana aliran birokrasi sangat panjang, dalam konsep BHP terdapat
simplifikasi dengan kemandirian yang dimiliki oleh institusi BHP.
Kemandirian akan memicu kreativitas, inovasi dan memaksimalkan potensi diri
Institusi BHP akan semakin diarahkan untuk menjadi institusi yang mandiri, baik secara
pengelolan administrasi, kegiatan akademik, financial maupun pengontrolan kualitas.
Dengan ini, institusi tersebut, mau tidak mau, harus dapat bertahan dan memberikan
kinerja terbaiknya berdasar pada potensi sendiri dengan memanfaatkan segala sumber

‘Semangat Positif’ BHP yang disebutkan diatas bukanlah nilai esensial dari suatu
bentuk Badan Hukum Pendidikan. Artinya hal-hal positif tersebut dapat diperoleh
tidak hanya dengan bentuk BHP. Bahkan hal tersebut merupakan dampak dari penerapan
badan hukum dalam pendidikan ini. Dalam badan usaha tentunya membutuhkan
akuntabilitas dan transparansi dalam pelaksanaannya, selain itu akuntabilitas dan
transparansi memang menjadi syarat utama bagi masuknya investasi.

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB


BHP : Skenario Liberalisasi Pendidikan Negeri Ini
Kajian lanjutan mengenai esensi BHP dan kontradiksi penerapannya dunia pendidikan Indonesia

Bukankah peningkatan kualitas pendidikan, daya inovasi dan kreativitas peserta didik,
pemenuhan sarana dan prasarana pelengkap pendidikan, efisiensi birokrasi, dsb dapat
pula tercapai dengan sistem pendidikan yang ada sekarang? Tentunya dengan berbagai
perbaikan dan peningkatan efisiensi.

Ada Apa Dibalik Pengesahan UU BHP?


Protes yang berdatangan dari berbagai kalangan terkait pengesahan RUU BHP ini tidak
membuat Pemerintah urung mengesahkannya. Alih-alih membatalkan, Pemerintah malah
membuat modifikasi dan penyesuaian sehingga RUU ini mengalami berbagai perubahan
dengan proses penggodokan yang sangat panjang (2003-2008).
Dari fenomena tersebut timbul pertanyaan, mengapa harus bersusah-susah ‘mengotak-
atik’ sebuah RUU agar dapat disahkan? Apalagi mengingat hal-hal esensial dari BHP
yang tidak sesuai dengan tujuan dan filosofi pendidikan Indonesia. Jika memang yang
diinginkan Pemerintah adalah tercapainya sistem pendidikan yang lebih baik, apakah
BHP adalah jawabannya?
Kemunculan RUU BHP memang menjadi tanda tanya bagi banyak pihak. Dasar hukum
paling kuat dari pemberlakukan UU BHP ini adalah pada UU Sisdiknas no.20/2003 pasal
53 ayat 1 yang menyebutkan bahwa ‘Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal
yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk Badan Hukum Pendidikan.’
Namun, tidak dijelaskan mengapa bentuk institusi pendidikan haruslah suatu badan
hukum.
Meskipun RUU BHP ini baru dirancang pada tahun 2003, beberapa tahun sebelumnya
yakni pada tahun 2000 melalui PP No.152-155 mekanisme Badan Hukum mulai
diterapkan sebagai bentuk dari beberapa institusi perguruan tinggi Indonesia (UI, UGM,
IPB, ITB) dengan bentuk BHMN.
Mekanisme pembuatan peraturan yang janggal ini (PP diberlakukan terlebih dahulu baru
kemudian menyusul undang-undangnya) memberikan kesan bahwa pengalihbentukan
institusi pendidikan menjadi badan hukum adalah hal yang telah didesain sejak awal.
Mengingat pula keterkaitan permasalahan pendidikan ini dengan peraturan-peraturan
lainnya seperti UU Penanaman Modal No.25/2007, PerPres No.77/2007, dan UU
Kepailitan No.37/2004 serta kentalnya nuansa liberalisasi di dalamnya. Maka, apakah
langkah untuk menjadikan pendidikan berbadan hukum adalah pilihan yang tepat bagi
masalah pendidikan di negara ini? Atau ternyata hanya bagian dari sebuah skenario
liberalisasi?
[Kajian Strategis Kabinet KM ITB 2008/2009]

Kajian Strategis Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB