Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM APIKULTUR

Oleh :
Eka Puspita Mirasari B1J006135
Evy Tyas Fatiana B1J006139
Suryati B1J006140
Fefi Febriani Indah Sari B1J006143
Tri Nofrianto B1J006148
Siti Maryam B1J006187
Aziz Rokhman W B1J006193

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010
LAPORAN PRAKTIKUM APIKULTUR
Memindahkan Koloni Lebah Madu dari Glodog ke Stup

Oleh :
Eka Puspita Mirasari B1J006135
Evy Tyas Fatiana B1J006139
Suryati B1J006140
Fefi Febriani Indah Sari B1J006143
Tri Nofrianto B1J006148
Siti Maryam B1J006187
Aziz Rokhman W B1J006193

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lebah mempunyai kecenderungan untuk menempatkan anak-anaknya pada


bagian bawah sarang sedekat mungkin dengan lubang masuk (rumah lebah)
persediaan madunya di bagian atas di kelilingi anak-anaknya. Lebah mempunyai
kecenderungan untuk menjaga jarak yang sama antara sarang-sarangnya, yang
dikenal dengan jarak lebah. Dengan demikian, apabila kita akan membuat rumah
lebah, maka jarak lebah tersebut harus dijadikan patokan dalam pembuatan bingkai-
bingkainya. Pada Lebah Indonesia (Apis cerana javanica) jarak lebah tersebut adalah
28 mm. Di beberapa daerah lebah dipelihara dalam "glodok-glodok", yaitu batang
pohon yang tengahnya dilubangi, dibelah memanjang menjadi dua bagian sama besar
dan didalam belahan kayu tersebut lebah-lebah akan menempelkan sarangnya pada
bagian atasnya.
Metode tradisional ini biasa dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan
membuat sarang lebah dari kayu kelapa atau kayu randu (glodok) dengan meniru
rumah-rumah lebah. Batang yang digunakan berbentuk silinder berukuran panjang
80-100 cm yang dibelah dua dengan diameter 12 cm. Bagian tengah diambil
sebagian isinya agar kayu dapat ditutup dan terdapat rongga pada bagian dalamnya.
Glodok digantung disamping rumah atau pohon yang besar. Biaya yang diperlukan
untuk melakukan teknik ini hampir tidak ada atau lebih rendah karena bahan-bahan
yang digunakan berasal dari alam.

B.Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah :


1. Mampu membalik glodok berisi koloni lebah madu dengan baik
2. Meletakkan posisi glodok yang berisi lebah dengan tepat terhadap letak stup
II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah rafiah, cutter, sikat
atau kuas dan masker muka. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah glodok
berisi lebah madu dan stup kosong.

B.Metode

Cara kerja praktikum ini adalah :


1. Letakkan stup dalam kedudukan lebih kurang 35 cm dari tanah
2. Diambil 3-5 bingkai bagian dalam
3. Buka bagian atas stup
4. Letakkan glodok berisi koloni disebelah stup
5. Diangkat secara hati-hati glodok bagian atas, kemudian dibalik ( diusahakan
koloni lebah terang)
6. Letakkan ujung glodok tepat dipintu stup
7. Diusahakan posisi glodok 450 terhadap permukaan tanah
8. Biarkan lebah naik ke stup
9. Pada glodok yang ditinggalkan, sisir sarang dipotong dan diukur dengan lebar
bingkai
10. Talilah sisir sarang pada bingkai menggunakan rafia
11. Setelah 3-5 bingkai selesai dipasang sisir sarang, tutuplah stup
12. Biarkan lebih kurang 5 menit agar koloni tenang
13. Rapatkan pada lokasi yang terlindung dari panas
III.HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

B. Pembahasan
Teknik budidaya lebah modern tidak menggunakan glodok yang terbuat dari
batang pohon kelapa. Petani lebih sering memakai stup. Stup merupakan tempat
(kotak) tinggal koloni lebah yang terbuat dari kayu dengan ketebalan 2 cm. Kayu
yang digunakan sebaiknya tidak berbau, tahan lama dan mudah didapat. Ukuran
panjang stup 50 cm, lebar 40 cm dan tinggi 26 cm. Di dalam stup terdapat frame
yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sarang sepanjang 48 cm, lebar 3 cm dan
tinggi 23 cm. Dengan bentuk sarang seperti ini, pemeriksaan koloni dan sisiran
mudah serta bisa dilakukan setiap saat. Lalu, disediakan fondasi sarang, penyekat
ratu, kurungan ratu, mangkokan ratu dan bingkai stimulasi yang bertujuan
mempercepat pembangunan sarang. Fondasi sarang dilekatkan pada frame. Adapun
penyekat ratu digunakan untuk menahan ratu agar tidak naik ke kotak di atas atau
kabur. Kurungan ratu digunakan untuk melindungi ratu atau mengenalkan ratu
kepada koloni. Mangkokan ratu digunakan untuk menempatkan calon-calon ratu
baru. Sarang yang baik dilengkapi bingkai stimulasi untuk digunakan sebagai wadah
makanan tambahan ketika paceklik. Selain itu dibutuhkan pengasap (smoker),
masker, pengungkit, sarung tangan dan sikat lebah. Pengasap digunakan untuk
menjinakkan lebah saat sisiran diangkat. Masker dan sarung tangan berguna
melindungi kulit dari serangan lebah. Pengungkit untuk mengangkat sisiran yang
melekat ke stup. Sikat lebah digunakan untuk menghalau lebah pada sisiran ketika
dipanen
Cara Pemindahan Lebah Madu Kedalam Stoep
1. Dari glodok/klutuk (batang kelapa yang dibuat rongga/lubang)
a). Pada umumnya lebah menyenangi tempat di bagian atas pada sebuah
klutuk dan gelap.
b). Dalam satu klutuk bisa lebih dari 1 sarang atau koloni.
c). Untuk memindahkanya, ambil klutuk yang bagian atas (yang ada
lebahnya) dengan pelan pelan dan sebelumnya stoep disiapkan terlebih
dahulu ditempatkan pada suatu tempat (hanya bagian kotak utamanya dan
tutut atas). Untuk frame diambil 2 atau 3 saja.
d). Setelah Stoep siap,klutuk yang telah diambil dibuka dan dibalik pelan-
pelan tepat dibawah stoep dan dengan pelan dan halus klutuk diketukketuk
untuk mempercepat pemindahan lebah
tersebut kedalam stoep.
e). Setelah pindah semua sisiran yang tertinggal diambil beberapa potong dan
dengan tali raffia /benang diikat pada 23 frame yang telah diambil selanjutnya
masukan kwedalam stoep.
f). supaya betah diberi makanan tambahan berupa cairan gula pasir/gula
jaawa
2. Dari alam/umah /koloni alami (pohon,gua/goronggorong, rumah pendudukan)
a). Dalam rongga pohon yang menghadap /berada diatas
• Dalam hal ini apabila pohon tersebut bagian atasnya tidakberlubang. Untuk
ini dibuat lubang kecil dengan garis tengah 1 cm yang tepat dibagian bawah
sisiran yang tepat dibagian bawah sisiran ini dan ini perlu diukur terlebih
dahulu berapa kedalamanya / terdapatnya koloni.
• Setelah terbuat lubang kecil dengan diameter 1 cm maka kita
• sediakan besek kecil/pithi dan bagian atasnya diolesi cairan gula atau madu,
kemudian ditutupkan tepat menutupi lubang kecil tersebut.
• Agar lebah pindah dari sarangnya kita ganggu sedikit dengan asap obat
nyamuk atau rokok lebah akan lari mencari yang gelap dan ke atas. Karena
pada lubang bagian atas ditutup besek kecil yang gelap.
• Setelah terkumpul didalam besek, bisa langsung dipindahkan ke stoep yang
tersedia. Cara hampir sama dengan pemindahan dari klutuk, hanya berbeda
pada waktu membalik. Besek dibalik langsung di bawah stoep. Ada bagian
yang ditindih stoep.
• Sisiran yang ada di rongga pohon sebagian diambil dan diikatkan pada frame
yamg kosong dari stoep yang baru.
• Selanjutnya setelah seluruh lebah berpindah semuanya dengan hati-hati
• stoep dipindahkan ketempat yang telah tersedia.
• Selama 3 hari diberi makanan tambahan
b). Dari gua, gorong-gorong, dan rumah penduduk.
• pada prinsipnya sama dengan pemindahan dari rongga pohon.
• Selama 3 hari diberi makan tambahan
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Lebah mempunyai kecenderungan untuk menempatkan anak-anaknya pada
bagian bawah sarang sedekat mungkin dengan lubang masuk (rumah lebah)
persediaan madunya di bagian atas di kelilingi anak-anaknya.
2. Pemindahan koloni lebah dari glodok ke dalam stup sebaiknya dilakukan di
tempat yang sama dan dilakukan sore hari.
3. Usahakan pemindahan lebah dilaksanakan setelah matahari terbenam,
sehingga semua koloni lebah sudah berada dalam sarangnya.
DAFTAR REFERENSI

Anonim. 2008. Budidaya Lebah Madu ( Apis indica ) Pelatihan Budidaya Lebah
Madu ( Apis indica ) di Desa Karangmulya Kecamatan Bojong dan Desa
Sesepan Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal
http://sakuriw.files.wordpress.com/2008/05/budi_daya_lebah.pdf. Diakses
Tanggal 7 Januari 2010

A N O N I M . 2007. K H A S I A T M A D U D I K O R A N P A K O L E S
http://maduterapi.blogspot.com/2007/12/2-peralatan-budidaya-lebah-
madu.html. Diakses Tanggal 7 Januari 2010
LAPORAN PRAKTIKUM APIKULTUR
Mengenal Bentuk Sarang Alamiah (glodog) dan Stup Lebah Madu

Oleh :
Eka Puspita Mirasari B1J006135
Evy Tyas Fatiana B1J006139
Suryati B1J006140
Fefi Febriani Indah Sari B1J006143
Tri Nofrianto B1J006148
Siti Maryam B1J006187
Aziz Rokhman W B1J006193
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Budidaya lebah madu akan berhasil jika lingkungan setempat sangat


mendukung, yaitu tersedia banyak tanaman berbunga/penghasil nektar dan pollen
serta cukup cadangan makanan lainnya. Penanganan yang serius, tekun, sabar
menjaga kebersihan juga merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan upaya
tersebut disamping tersedianya bibit atau lebah madu yang cukup tersedia di sekitar
lingkungan. Lebah madu yang hidup liar di sekitar dapat ditingkatkan hasil perolehan
madu manakala dikelola dengan baik melalui cara praktis budidaya lebah madu yang
mana dalam pengelolaan ini tentu saja bisa kita panen dengan sistem berkala.
Dengan pengelolaan yang baik secara berkala bisa diketahui kapan waktunya satu
koloni dengan koloni yang lain saatnya panen.
Lebah madu sering kita jumpai di sekitar tempat tinggal, di rumah tempat
tinggal ( atap / genteng, eternit ), di pohon sekitar rumah terutama pada batang pohon
yang berlubang, bahkan kadang dijumpai di tiang listrik, dan di gorong – gorong.
Lebah madu akan berkembang biak dan mempunyai koloni yang besar / individu
yang banyak jika kondisi lingkungan tempat tinggal sangat mendukung.

B.Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah :


1. Membedakan glodog dingin dan panas
2. Membuat glodok untuk menangkap lebah madu liar di alam
3. Menyebutkan bagian stup dan fungsinya masing-masing
II. MATERI DAN METODE

B. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mistar (cm).
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah glodok randu atau kelapa dan stup
Unsoed.

B.Metode

Cara kerja praktikum ini adalah :


1. Diambil glodog randu atau kelapa, dibalik secara perlahan-lahan, koloni
diusahakan tidak bubar
2. Diamati lebah sisir sarang terhadap pintu masuk (tegak lurus atau menyerong)
3. Diukur volume glodok bagian dalam bandingkan dengan volume stup
4. Bandingkan pula jumlah sisir sarang diantara kedua sarang lebah tersebut.
III.HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil

Gambar 1. stup/rumah lebah madu

Keterangan :
1. Tinggi stoep minimal 22 – 30 cm
2. Panjang 30 40 cm
3. Lebar menyesuaikan jumlah frame tempat sisiran

Gambar 2. Stup tampak dari atas


Gambar 3. Bentuk Frame/sisiran

Gambar 4. Contoh penempatan stup lebah madu

B. Pembahasan
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa lebah madu merupakan insekta
yang memiliki banyak kegunaan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Namun
bagaimana untuk membudidayakan lebah madu tersebut dengan mempertimbangkan
metode yang akan digunakan. Untuk beternak lebah madu terdapat dua metode yang
dapat digunakan, yaitu metode tradisional dan metode stup. Keduanya mempunyai
keunggulan dan kekurangan yang berbeda. Berikut adalah penjelasan mengenai
kedua metode tersebut.
1. Metode tradisional
Metode tradisional ini biasa dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan
membuat sarang lebah dari kayu kelapa atau kayu randu (glodok) dengan meniru
rumah-rumah lebah. Batang yang digunakan berbentuk silinder berukuran panjang
80-100 cm yang dibelah dua dengan diameter 12 cm. Bagian tengah diambil
sebagian isinya agar kayu dapat ditutup dan terdapat rongga pada bagian dalamnya.
Glodok digantung disamping rumah atau pohon yang besar. Biaya yang diperlukan
untuk melakukan teknik ini hampir tidak ada atau lebih rendah karena bahan-bahan
yang digunakan berasal dari alam.

2. Metode stup
Stup jenis MD (modified dadants) adalah sarang yang dipergunakan untuk
budidaya lebah madu, stup ini berisi delapan buah sisiran sarang dengan satu buah
feeder frame tempat meletakkan larutan gula.

Cara membuat stup MD (modified dadants) yang terbuat dari kayu albasia atau randu
dengan ukuran lebar 40 cm x 50 cm, tinggi 25 cm x 2 cm. Bagian-bagiannya terdiri
dari:
1. Bagian dasar (alas) kotak, yang berfungsi sebagai pintu keluar masuk lebah.
2. Bagian sarang penelur, yang berfungsi untuk memperbanyak jumlah koloni.
3. Penyekat ratu, berperan untuk mencegah lebah ratu berkeliaran ke kotak
pembuatan royal jelly pada kotak super.
4. Kotak sarang madu, berfungsi khusus untuk pembuatan royal jelly.
5. Penyekat kassa, diletakkan di bawah penutup stup fungsinya untuk memudahkan
pengontrolan.
6. Penutup stup yang dilapisi seng, fungsinya agar stup tidak basah ketika terkena air
hujan.
7. Feeder frame adalah tempat meletakkan larutan gula pada musim paceklik.
Terbuat dari triplek dengan ketebalan 3 mm bagian bawah,samping kanan kiri
semuanya tertutup rapat. Bentuk feeder frame serupa dengan sisiran sarang.
8. Frame, terdiri dari frame penelur, frame royal jelly, frame perbanyakan lebah ratu,
frame menyimpan madu.
9. Alat perangkap tepung sari (pollen craft), diletakkan dipintu masuk agar serbuk
sari yang dibawa oleh lebah madu tersangkut dan ditampung.
Perubahan suhu dalam stup hendaknya tidak terlalu cepat, oleh karena itu ketebalan
dinding perlu diperhatikan untuk menjaga agar suhu tetap stabil. Bahan yang
digunakan adalah kayu empuk setebal 2,5 cm (Anonim, 2008)
Cara pembuatan stup lebah
Pertama, dibuat kotak dari papan setebal 2 cm - 2,5 cm ukuran bagian dalam
34 cmx 7,5 cm. Bagian depan berukuran 28 cmx 7,5 cm. Di bagian bawahnya dibuat
lubang berukuran 5 cm x 1 cm untuk pintu masuk lebah. Kotak penutup alas
berukuran 40 cm x 24 cm.
Kotak peneluran dibuat dengan ukuran bagian dalam 34 cm x 18 cm x 13 cm.
Bagian luar diberi bilah penghalang berkeliling dengan lebar 10 cm, ditempelkan
pada kotak selebar 4 cm sehingga tersisa 6 cm yang berfungsi sebagai penyambung
antar kotak peneluran dan kotak dasar. Dibagian dalam kotak peneluran pada sisi
bidang 18 cm diberi lubang sebesar 3,7 mm. Dibagian bawah sebelah luar diberi
papan tenggeran yang berguna untuk bertengger sementara lebah pekerja sebelum
masuk atau keluar.
Disalah satu dinding samping dibuatkan pintu untuk memudahkan perawatan.
Engsel- engsel pintu dipasang ditepi bagian atas kotak, dengan demikian pintu dapat
di buka dan ditutup.
Kotak sarang madu berukuran 34 cm x 18 cm x 15 cm. Cara pembuatan sama
dengan kotak penelur, lengkap dengan lebang keluar masuk, bilah penghalang, bilah
penggantung dan pintu.
Antara kotak penelur dan kotak sarang madu dibuatkan penyekat penghalang
dari kassa berukuran 34 cm x 18 cm, yang berfungsi untuk menghalangi lebah ratu
masuk kedalam kotak madu tetapi lebah pekerja dapat leluasa melewati kassa
tersebut.
Setelah pembuatan kotak madu selesai dibuat, dilanjutkan dengan pembuatan
bingkai ( frame ) untuk sisiran sarang lebah. Ukuran disesuaikan dengan kotak
peneluran dan sarang madu. tebal bingkai 1 cm dan lebar 2 cm. Bingkai yang
menggantung dalam kotak dibuat menonjol ke kanan dan ke kiri sepanjang 1 cm.
Dengan demikian bilah – bilah bingkai ( frame ) akan berjejer 8 buah dengan jarak
sisiran 2 cm. Diatas bingkai- bingkai kotak sarang madu tepatnya dibawah penutup
kotak diberi penyekat kassa agar semua lebah tidak dapat naik. Pada bagian luar
penutup kotak madu di beri tutup terbuat dari seng agar terlindungi dari hujan dan
panas. Di bawah tutup kotak harus terdapat ventilasi agar uap air sisa pernapasan
lebah dapat menguap dengan cepat agar tidak merusak sisiran sarang lebah madu.
Oleh karena itu di bawah penutup kotak diberi kassa persegi empat agar sirkulasi
udara bagus dan mencegah kaburnya lebah madu (Anonim, 2008)
Kualitas produk yang dihasilkan
Metode yang digunakan dalam beternak tidak hanya mempengaruhi kuantitas
madu dan produk-produk lebah madu, melainkan juga kualitas yang akan diperoleh.
Pada metode tradisional peternak menggunakan glodok yang mempunyai diameter
12 cm. Hal tersebut menyebabkan kematangan madu tidak dapat diketahui dengan
tepat dan kelembaban udara di dalam glodok tinggi, sehingga madu yang terdapat di
dalamnya mempunyai kadar air 23%-25%. Sedangkan pada teknik stup, bagian atas
stup yang lebar dan mudah dibuka dan ditutup menimbulkan sirkulasi udara yang
lebih bagus sehingga kelembaban sarang bisa dikurangi. Selain itu penyekat kassa
yang terdapat di bawah penutup stup memudahkan pengontrolan sehingga dapat
diketahui tingkat kematangan madu. Tingginya kadar air memepengaruhi kualitas
madu tersebut, semakin rendah kadar air yang terkandung di dalam madu maka
semakin tinggi kualitasnya. Kadar air yang diperbolehkan untuk diekspor adalah
sebesar 17%.
Stup lebah dapat juga ditempatkan pada rak-rak yang dibuat dari bahan
bambu dengan bagian atasnya diberi atap dari anyaman bambu ditutup dengan
plastik. Stup dapat ditempatkan di atas rak dengan jarak 50 cm, dan rak bambu
tersebut dapat dibuat 2 tingkat.

Tabel . 1 Perbandingan kedua metode

No.
TRADISIONAL STUP
1. Produk dapat rusak Kerusakan diminimalisir
2. Tidak efisien Efisien
3. Tidak efektif Efektif
4. Sulit mengontrol gangguan hama danMudah dilakukan pengontrolan
tingkat kematangan madu hama dan tingkat kematangan madu
5. Kadar air tinggi Kadar air rendah
6. Rasa berubah Rasa tetap
7. Perawatan sulit Perawatan mudah
8. Produk kurang hygienis Hygienis

(Anonim, 2008)
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Metode yang digunakan dalam beternak tidak hanya mempengaruhi kuantitas
madu dan produk-produk lebah madu, melainkan juga kualitas yang akan
diperoleh.
2. Metode tradisional ini biasa dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan
membuat sarang lebah dari kayu kelapa atau kayu randu (glodok) dengan
meniru rumah-rumah lebah.
3. Stup jenis MD (modified dadants) adalah sarang yang dipergunakan untuk
budidaya lebah madu, stup ini berisi delapan buah sisiran sarang dengan satu
buah feeder frame tempat meletakkan larutan gula.
DAFTAR REFERENSI

Anonim, 2008. Karya Tulis Lebah Madu.


http://indonesia-sinarmatahari.blogspot.com/2008/06/karya-tulis-lebah-
madu.html. Diakses Tanggal 7 Januari 2010

Anonim. 2008. Budidaya Lebah Madu ( Apis indica ) Pelatihan Budidaya Lebah
Madu ( Apis indica ) di Desa Karangmulya Kecamatan Bojong dan Desa
Sesepan Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal
http://sakuriw.files.wordpress.com/2008/05/budi_daya_lebah.pdf. Diakses
Tanggal 7 Januari 2010
LAPORAN PRAKTIKUM APIKULTUR
Mengenal Bentuk Sisir Sarang Lebah Madu

Oleh :
Eka Puspita Mirasari B1J006135
Evy Tyas Fatiana B1J006139
Suryati B1J006140
Fefi Febriani Indah Sari B1J006143
Tri Nofrianto B1J006148
Siti Maryam B1J006187
Aziz Rokhman W B1J006193

LAPORAN PRAKTIKUM APIKULTUR


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sel sisir sarang adalah tabung silindris dengan bentuk heksagonal (permukaan
segi enam) terletak menempel pada 1 bidang lilin/malam sehngga membentuk sisir
sarang. Setiap sel-sel tersebut diletakkan satu dengan yang lain secara rapi
menggunakan propolis dan disusun pada kedua sisinya sehingga bangunan sel
tersebut terletak berhadapan. Isi dari setiap sel sangat kecil yaitu kurang dari 0,25 cc.
Setiap sel sisir sarang mempunyai panjang sisi-sisi heksagonal antara 4,0 mm-5,0
mm

B.Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah :


1. Membedakan dengan bentuk sel ratu, sel jantan dan sel pekerja serta sel
madu/sel polen
2. Menyebutkan fungsi dan letak dalam sisir lebah masing-masing sel di atas
II.MATERI DAN METODE

A.Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mistar (cm), gelas
ukur, hand counter dan busur derajat. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum
adalah sisir sarang yang berisi lebah anakan, polen madu dan sel ratu.

B.Metode

Cara kerja praktikum kali ini adalah :

1. Letakkan sisir sarang lebah di atas meja preparat


2. Hitunglah jumlah sel ratu yang ada pada sisir sarang
3. Menggunakan hand counter, hitung pula jumlah sel yang berisi polen, madu
dan sel pekerja serta lebah jantan
4. Sel yang ditutup dihitung lilin dengan melihat lilin penutupnya, bila
membentuk kubah, kelompokkanlah ke dalam sel jantan, bila tutup lilin rata,
kelompokkan ke dalam sel pekerja
5. Sel pollen dihitung dengan melihat isi sel yaitu polen tumbuhan
6. Hitunglah sudut yang paling banyak digunakan tempat menempelkan sel ratu
dari titik pusat lingkaran sisir sarang menggunakan busur derajat
III.HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil

Keterangan :
Sarang dengan beberapa sel
ratu di bawahnya
(sel calon ratu berada di
pinggir sisiran dg posisi
menggantung)

Sel calon ratu

Keterangan :
bentuk seperti kacang
dibangun disaat tertentu
digunakan hanya sekali

Sel Ratu
Keterangan :
Larva lebah selama 4 hari
namun calon ratu lebah
mendapakan asupan royal
jelly terus menerus.

Larva Lebah Ratu

Keterangan :
Bentuk seperti kubah dengan
titik hitam di puncaknya

Sel Lebah Jantan

Keterangan :
Sel berukuran kecil,
digunakan untuk menetaskan
telur-telur calon lebah pekerja

Sel Lebah Pekerja


Keterangan :
Sel madu berada di atas
sarang dan sel anakan di
bagian bawah sarang

Sel Madu dan Sel Anakan

Keterangan :
Sel berwarna kuning karena
telah berisi polen

Sel Pollen

B.Pembahasan

Pada sel-sel yang telah tertutup berisi :

Pupa lebah madu, sedangkan sel-sel yang tidak tertutup berisi larva maupun telur
dalam berbagai umur ataupun berisi makanan (polen dan madu). Atas dasar isi dan
ukuran, fungsi sel sisir sarang dapat dibagi dalam :

1. Sel ratu :

Merupakan sel sisir sarang yang berukuran paling besar, sel-sel ini dibangun
dibagian bawah sisir sarang meskipun kadang-kadang dibangun di tengah
sisir sarang (Praktiknyo, 1986). Sel-sel ini berisi larva-larva calon ratu dan
terletak lebih menonjol, berbentuk seperti kacang tanah. Sel-sel tersebut tidak
selalu ditentukan pada setiap sisir sarang (Siswowijoto, 1991).

2. Sel jantan :

Ukuran lebih kecil dari sel ratu, volume kurang lebih 5 mm3, berisi larva-
larva calon lebah jantan. Pada stadium pupa sel akan ditutup dengan
lilin/malam menyerupai bentuk kubah dengan titik hitam dipuncaknya. Sel ini
dapat pula diisi madu sehingga sel jantan tidak selalu ditemukan pada setiap
sisir sarang (Siswowijoto, 1991).

3. Sel pekerja :

Merupakan sel yang berukuran paling kecil (± 4 mm2), digunakan utnutk


menetaskan telur-telur calon lebah pekerja. Kadang-kadang sel ini diisi
dengan polen, jumlah sel merupakan jumlah yang terbanyak. Masa pupa, sel
ini ditutup dengan malam dengan struktur rata dengan permukaan. Kehadiran
pupa dan sel-sel pekerja memberikan petunjuk bahwa koloni masih
berkembang baik atau ratu masih produktif (Siswowijoto, 1991).

4. Sel madu :

Merupakan sel yang digunakan sebagai tempat menyimpan madu, berukuran


hampir sama dengan sel jantan tetapi lebih besar dari sel pekerja. Pada
umumnya sel ini lebih dalam, berdinding lebih tebal dengan lubang
menghadap ke atas. Kebanyakan sel-sel ini ditempatkan di bagian atas dari
sisi sarang, apabila sudah penuh, sel-sel madu akan ditutup dengan propolis
(Siswowijoto, 1991).

5. Sel tepung sari :

Ukurannya lebih kecil dari sel-sel pekerja. Bila telah diisi dengan polen
warna sel tersebut menjadi kuning karena adanya tepung sari.

6. Sel penghubung :
Merupakan sel-sel yang dibangun pada tempat-tempat tertentu dengan tujuan
untuk memudahkan aktifitas lebah sehari-hari. Paling banyak terdapat antara
dua sisir sarang yang memiliki jarak terlalu jauh (>> 9 mm) (Darsono, 1985).

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dapat membedakan bentuk sel ratu, sel jantan dan sel pekerja serta sel
madu/sel polen pada lebah madu.
2. Sel-sel yang tidak tertutup berisi larva maupun telur dalam berbagai umur
ataupun berisi makanan (polen dan madu).
3. Sel-sel tersebut diletakkan satu dengan yang lain secara rapi menggunakan
propolis dan disusun pada kedua sisinya sehingga bangunan sel tersebut
terletak berhadapan.

DAFTAR REFERENSI
Darsono. 1985. Lebar Sisiran dan Jarak antar Sisiran Lebah Madu Lokal (Apis
indica). Skripsi Fak. Biologi Unsoed Purwokerto.

Praktiknyo. H. 1986. Pengaruh pemotongan sisir sarang terhadap pemunculan Sel


Ratu Lebah Madu Lokal (Apis indica). Skripsi Fak. Biologi Unsoed
Purwokerto.

Siswowijoto, A. 1991. Bahan kuliah Lebah Madu (Apis cerana L). PAU Bidang
Hayati ITB, Bandung.