Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I

A. Latar Belakang Masalah

Dunia berkembang begitu pesatnya. Segala sesuatu yang semula tidak bisa

dikerjakan, mendadak dikejutkan oleh orang lain yang bisa mengerjakan hal tersebut.

Agar kita tidak tertinggal dan tidak ditinggalkan oleh era yang berubah cepat, maka

kita sadar bahwa pemebelajaran itu sangat penting. Sekolah dasar merupakan tempat

atau wadah terpenting untuk peningkatan pembelajaran karena perbedaan dalam

intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan

perkembangan fisik anak. Khususnya dalam bidang mata pelajaran penjas, banyak hal

yang diterapkan untuk penerapan dalam kehidupan aspek tersebut salah satunya

adalah dengan bentuk-bentuk permainan yang di terapkan oleh guru. Sekarang ini

sebagian besar sekolah dasar sedang merintis kembali berbagai macam bentuk

permainan untuk mengembangkan sisi nilai kehidupan sosial untuk anak, bahkan

permainan bola kecil yang hampir termakan oleh era ini telah di kembangkan kembali

sebagai wujud makna kehidupan. Akan tetapi banyak terjadinya guru penjas yang

tidak menerapkan hal tersebut, banyak guru pada saat dilapangan sama sekali tidak

mengajarkan apa itu permainan bola kecil sehingga siswa hanya tau sepak bola saja,

bahkan lebih parahnya siswa sedikit bergerak dan hanya mementingkan dirinya

masing–masing. Bagaimanapun, dalam proses belajar kerjasama sangat perlu

mendapat mendapat perhatian sebab, tentunya akan sangat berpengaruh pada siswa

ketika melakukan aktivitas belajar.


Salah satu untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan penerapan pendekatan

model Cooperative Learning. Cooperative Learning dalam wacana bahasa Indonesia

dikenal dengan pembelajaran kooperatif atau pembelajaran secara kelompok–

kelompok kecil, dapat juga diartikan sebagai suatu motif kerjasama di mana setiap

individu dihadapkan pada pilihan yang harus diikuti apakah memilih kerja sama,

berkompetensi, atau individualistis. Model ini juga merupakan suatu strategi dalam

proses pembelajaran yang membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok

yang dapat meningkatkan cara kerja siswa menuju lebih baik, sikap tolong-menolong

dalam beberapa perilaku sosial (Stahl, 1994).

Lebih lanjut Ausubel (dalam Kartadinata,2001) mengemukakan, seseorang

belajar dengan mengasosiasikan fenomena, pengalaman dan fakta-fakta baru ke

dalam skemata yang telah dipelajari. Dengan model Cooperative Learning materi

yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja,

melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata

dan terlibat dalam pemecahan masalah. Diharapkan akan dapat mengusir kejenuhan

dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas maupun di lapangan karena selama ini

hanya mendengarkan materi dan guru saja. Penekanan sendiri adalah selain siswa

mendapat bimbingan langsung dan guru, mereka juga diberi kebebasan untuk

memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri.

Piaget dan Ausubel (Dahar 1996) secara rinci mendeskripsikan konsep

pembelajaran secara kelompok dalam belajar sebagai berikut :


3

Pembelajaran yang cukup berhasil pada kelompok-kelompok kecil, di mana pada


tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa dari berbagai tingkat kemampuan,
melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka
tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok
bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk
membantu rekan rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan.
Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan
melengkapinya. Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan
fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu
mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif
yang dimiliki siswa. Oleh itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang
sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap
olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan
pembelajaran.
Berdasarkan definisi yang dinyatakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

kerjasama dalam belajar merupakan kegiatan belajar yang melibatkan aspek

metakognisi, motivasi, dan kerjasama siswa dalam melaksanakan aspek motivasi

berupa pengarahan perilaku untuk mencapai kegiatan belajar. Siswa yang melibatkan

aspek-aspek metakognisi, motivasi, dan perliku dalam melaksanakan kegiatan

belajarnya akan cenderung untuk motivasi dan kerjasama dalam melakasanakan

kegiatan belajarnya akan cenderung untuk menjadi otonom dalam melaksanakan

kegiatan belajar. Mereka pada umumnya lebih bertanggung jawab terhadap kegiatan

belajarnya karena mereka menyadari bahwa hanya atas usaha mereka sendirilah

tujuan belajar mereka dapat dicapai. Sementara itu, ada lima komponen teoritis yang

menggambarkan proses teamwork dalam pendidikan jasmani, yaitu saling

ketergantungan yang positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka,

komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok (Stahl, 1994). Saling

ketergantungan positif artinya setiap anggota harus sadar bahwa keberhasilan


seseorang merupakan keberhasilan yang lain atau sebaliknya jadi keberhasilan

kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Tanggung jawab

perseorangan adalah motivasi mempertanggungjawabkan hasil kerjanya terhadap

kelompoknya. Interaksi tatap muka merupakan perbedaan yang akan menjadi modal

utama dalam proses bertukar pikiran dalam memecahkan permasalahan untuk saling

mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi

pribadi sehingga terjalin hubungan yang akrab. Berdasarkan pengamatan sekilas

kehidupan masa kini cenderung lingkungannya dididik secara individual.

Komunikasi antar anggota adalah untuk memiliki kemampuan berinteraksi

dengan temannya sehingga sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, siswa perlu

dibekali bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Adapun evaluasi proses

kelompok adalah agar siswa mengetahui apa yang harus diperbaikinya maka guru

harus mengeva1uasi dan memberikan arahan terhadap hasil pekerjaan siswa dan

kegiatan mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Lima komponen teoritis

tersebut yang mendukung dan membantu dalam proses kebebasan berfikir siswa dan

membuat siswa memahami konsep yang sedang dipelajari, sehingga siswa dapat

menggali berbagai informasi, dan siswa dapat belajar lebih mandiri, bertanggung

jawab, dan termotivasi dari konsep yang ditemukan atau yang dia terima untuk

mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, serta dapat mendorong siswa dan guru

lebih kreatif dan inovatif dalam memodifikasi alat bantu yang dibutuhkan sesuai

dengan ketersedian di lingkungan sekitar.


5

Berdasarkan hal – hal yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti tertarik

untuk mengetahui “Apakah Penerapan Pendekatan Model Cooperative Learning

Memberikan Pengaruh yang Signifikan Terhadap Peningkatan Kerjasama Tim Pada

Siswa di SDN Awirarangan III Kuningan”?

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

Apakah terdapat perbedaan antara yang menggunakan pendekatan model

Cooperative Learning dan dengan yang menggunakan pembelajaran kovensional

terhadap peningkatan kerja sama tim dalam permainan bola kecil pada siswa SD

Awirarangan III Kuningan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diungkapan di atas, maka yang

menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan terhadap kerja sama

tim dalam permainan bola kecil pada siswa antara yang menggunakan pendekatan

model Cooperative Learning dan yang tidak menggunakan pendekatan Cooperative

Learning.
D. Manfaat Penelitian

Bagi guru pendidikan jasmani, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan

acuan yang menyempurnakan pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani disekolah.

Karena dengan melaksanakan model pembelajaran Cooperative Learning. siswa

memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa

melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking

skill) maupun keterampilan sosial (social skill) seperti keterampilan untuk

mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, bekerjasama,

rasa setia kawan, dan mengurangi timbulnya perilaku yang menyimpang dalam

kehidupan kelas. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk

mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh dalam

suasana belajar yang terbuka dan demokratis. Siswa bukan lagi sebagai objek

pembelajaran namun bisa juga berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya (Stahl

1994) .

Penelitian ini diharapkan pula dapat mendorong guru lebih kreatif dan inovatif

bagi semua pihak terutama kepada yang berkecimpung dalam dunia pendidikan

diantaranya :

a. Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan dapat mendorong guru untuk lebih kreatif dan inovatif

dalam mengemban alat bantu pelajaran, dapat dijadikan suatu pedoman atau
7

alternatife model pembelajaran dalam proses belajar mengajar yang membelajarkan

siswa agar dapat mengembalikan pikiran, sikap dan tindakannya secara terencana,

sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi guru untuk lebih kreatif dan inovatif

dalam mengajar, serta dapat menjadi umpan balik bagi guru dalam menyusun bahan

pembelajaran yang lebih variatif dan diharapkan dapat bermanfaat untuk

menyempurnakan pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani di sekolah serta dapat

memberikan pembelajaran bagi siswa untuk terus termotivasi.

b. Bagi siswa

Siswa diharapkan mampu mengatasi keckapan hidup (life skills) untuk bisa

berkiprah di dunia lokal dan global. Selain itu penelitian ini dapat meningkatkan

motivasi siswa untuk belajar pendidikan jasmani disekolah serta dengan adanya

penelitian ini siswa tidak saja memiliki pengetahuan dan keterampilan gerak

mengenai aspek permainan dan olahraga, kegiatan pengembanagan, uji diri atau

atletik, senam, kegiatan ritmik, akuatik dan kegiatan luar kelas tetapi juga memiliki

tingkat kebugaran yang tinggi, memiliki pengetahuan tentang manfaat aktivitas fisik

terhadap organ tubuh, kesehatan dan kebugaran, keterampilan untuk berkomunikasi

secara efektif, bersaing secara sehat, mengembangkan kerjasama, menyelamatkan diri

ketika berada di dalam air, menngambil keputusan secara cepat dan akurat, memiliki

kebiasaan hidup sehat, membiana hubungan interpersonal dengan efektif,

mengembangkan gaya hidup sehat, juga menekankan pada pengembangan

kemandirian, tanggung jawab pribadi, dan kemotivasian peserta didik selama


melaksanakan proses pembelajaran.

c. Bagi Peneliti

Penelti dapat mengetahui salah satu alternatife pendekatan pembelajaran mata

pelajaran pendidikan jasmani, yaitu dengan menggunakan pendekatan Cooperative

Learning didalam pembelajaran pendidikan jasmani yang dalam tataran pedagogis

melibatkan aktivitas belajar peserta didik secara metakognisi, motivasional dan

behavioral.

d. Bagi Masyarakat

Penelitian kelas ini dapat dijadikan masukan bagi kepentingan perkembangan

dan kemajuan dalam pendidikan khususnya pendidikan jasmani dalam meningkatkan

kualitas pendidikan.

E. Pembatasan Penelitian

Agar penelitian lebih tearah untuk menghindari terlalu luasnya ruang lingkup

permasalahan yang dimungkinkan akan memperoleh hasil yang tidak memuaskan,

maka penelitian ini akan dibatasi agar dapat memperoleh hasil yang penulis inginkan

dan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dijelaskan di atas, aspek – aspek yang

menjadi fokus pada penelitian ini adalah ;

1. Penelitian menitik beratkan pada pengaruh penerapan Model Cooperative

Learning tipe……terhadap kerja sama tim pada siswa di Sekolah Dasar.


9

2. Variable bebas dalam penelitian ini adalah penerapan pendekan Cooperative

Learning.

3. Variablel terikat dalam penelitian ini adalah kerja sama tim pada siswa.

4. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa – siswi yang bersekolah di SDN

Awirarangan III. Yang berlokasi di kecamatan Kuningnan, Kab. Kuningan.

5. Subyek (sampel) penelitian berjumlah 50 orang dengan rincian kelas

eksperimen sebanyak 25 orang, serta kelas pengendali atau pembanding

sebanyak 25 orang. Teknik pemilihn subjek (sampel) yang digunakan adalah

random sampling.

6. Teknik pengumpulan data pada penelitian menggunakan

F. Pembatasan Istilah

Dalam kaitannya dengan penjelasan istilah, Nasution (1991:33) mengemukakan

bahwa “istilah – istilah, konsep – konsep, atau pengertian – pengertian yang

terpenting atau digunakan dengan makna tertentu harus yang diberi batasan agar

jangan timbul tafsiran yang bermacam – macam dan keseluruhan penelitian ini istilah

harus digunakan dengan arti yang sama”.

Dengan adanya batasan istilah ini diharapkan istilah yang digunakan tidak

meluas dan untuk menghindari kekeliruan dalam menafsirkan beberapa istilah penulis
memberikan batasan yang berkaiatan dengan permasalahan ini adalah :

1. Pengaruh menurut Purwadarminta (1989 : 64) adalah daya yang ada atau

timbul dari suatu yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan

seseorang.

2. Penerapan adalah “ kemampuan menggunakan atau menafsirkan suatu bahan

yang sudah di pelajari ke dalam situasi baru atau situasi yang kongkrit seperti

menerapkan sauatu dalil, metode, konsep, prinsip, atau teori” (Muhammad

Ali 1983 : 43).

3. Pendekatan adalah konsep dasar mewadahi, menginpiras, menguatkan, dan

melantari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Yang dikutip

dari http://agungprudent.wordpress.com.

4. Model adalah abstaksi dunia nyata atau representasi peristiwa kopleks atau

system dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta lambang – lambang

lainnya (Good, 1972; Traver,1973). Jadi, model merupakan sebuah

repersentasi realita yang dikembangkan dari keadaan. Model pembelajaran

adalah kerangka koseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam

mengoganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu,

dan berfungsi sebagai pedoman para pengajar dalam merencanakan dan

melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Joyce & Weil, 1980).

5. Cooperative Learning (Kooperatif) menurut Piaget pembelajaran sesuai


11

dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan

dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama,

pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu,

belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk

saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab.

Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena

koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari

kekurangan dan kelebihan masing-masing (Dahar 1996; Hasan 1996; Surya

2003).

6. Kerja Sama Tim, menurut Andi Taufik (2004 : 1) adalah sekumpulan dua

orang atau lebih yang satu sama lain saling berinteraksi dalam mencapai

tujuan bersama.

7. Permainan Bola Kecil adalah “Permainan terdiri atas sekumpulan peraturan

yang membangun situasi bersaing dari dua sampai beberapa orang atau

kelompok dengan memilih strategi yang dibangun untuk memaksimalkan

kemenangan sendiri atau pun untuk meminimalkan kemenangan lawan.

Peraturan-peraturan menentukan kemungkinan tindakan untuk setiap pemain,

sejumlah keterangan diterima setiap pemain sebagai kemajuan bermain, dan

sejumlah kemenangan atau kekalahan dalam berbagai situasi. Dengan

menggunakan bola kecil ”(J. Von Neumann and O. Morgenstern, Theory of

Games(1953 : 2).
8. Siswa, menurut Lukman Ali (1995 : 431) adalah murid yang terdaftar disalah

satu lembaga pendidikan.

Pendidikan Jasmani adalah alat yang disediakan pendidik melalui aktivitas fisik

yang tujuannya mencari dan mempengaruhi aspek perkembangan dalam bidangn

pendidikan meliputi aspek fisik, emosional, spiritual termasul perkembangan mental

dan sosial peserta didik (Prof.Rusli Lutan, 2002 : 49).

G. Anggapan Dasar dan Hipotesis

1. Anggapan Dasar

Anggapan dasar merupakan suatu titik tolak pendapat dalam menilai suatu

bahasan dengan menelusuri gejala yang akan diamati dalam suatu penelitian.

Anggapan dasar dalam penelitian juga merupakan pegangan sebagai titik tolak

dari proses yang dilakukan dalam penelitian dan harus didasarkan atas kebenaran

yang telah diyakini oleh peneliti. Sesuai dengan pernyataan Arikunto (2007 : 24)

“Anggapan Dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang

berfungsi sebagai hal – hal yang dipakai untuk tempatberpijak bagi peneliti di dalam

melaksanakan penelitiannya”.

2. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2009:64) Hipotesis adalah :

Jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan


13

masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. “Dikatakan


sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan,
belum didasarkan pada fakta – fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan
data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban yang empiris dengan
data”.

Berdasarkan anggapan dasar yang telah dikemukakan oleh penulis, dan didasari

dengan pengertian hipotesis diatas, makaa rumusan hipotesis penelitian ini adalah :

“Terdapat perbedaan peningkatan kerja sama tim permainan bola kecil pada siswa

anatara yang menggunakan pendekatan Cooperative Learning dengan tanpa

pendekatan Cooperative Learning”. Penerapan pendekatan Cooperative Learning

dalam pendidikan jasmani meberikan pengaruh lebih tinggi dari pada tanpa

pendekatan Cooperative Learning untuk meningkatkan kerja sama tim permainan

bola kecil pada siswa”.