Anda di halaman 1dari 60

RESPONS MUHADDITSUN

MENGHADAPI TANTANGAN KEHIDUPAN UMAT


Studi Tentang Hadis Sebagai Sumber Ajaran
Keagamaan Era Nabi, Kodifikasi, Dan Informasi

Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Hadis


Disampaikan di Hadapan Sidang Senat Terbuka
IAIN Walisongo Semarang
Rabu, 31 Agustus 2005

oleh :
Prof. DR. H. Moh. Erfan Soebahar, M.Ag.

Institut Agama Islam Negeri Walisongo


SEMARANG
2005
PENGANTAR

Assalamu'alaikum Wr. Wb,

Yang saya hormati:


Bapak Gubernur Kepala Daerah Provinsi Jawa Tengah,
Bapak Rektor/Ketua Senat IAIN Walisongo Semarang,
Para Anggota Senat/Guru Besar IAIN Walisongo Semarang,
Bapak Rektor, Pimpinan PTN dan PTS di Jateng dan DIY,
Bapak-bapak Pejabat Instansi di Jawa Tengah,
Bapak Ketua Umum MUI Jawa Tengah dan Kota Semarang,
Bapak Ketua PWNU, Ketua PWMuhammadiyah, dan Segenap Ketua
Organisasi Sosial-Keagamaaan di Jawa Tengah,
Bapak Ketua BAZ Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang,
Para Pejabat di Lmgkungan IAIN Walisongo, Para Dosen, Asisten
Dosen,
para Karyawan, serta Para Perwakilan Mahasiswa1AIN Walisongo,
Bapak dan Ibu dari Persaudaran Haji dan Pengurus Forum Jalasda Kota
Semarang,
Ibunda tercinta, para guru, saudara-saudara, segenap kolega,
serta para tamu undangan yang berbahagia yang tidak mampu saya
sebutkan satu persatu pada kesempatan ini.

Mengawali pidato pengukuhan ini, puji dan syukur mari kita


panjatkan ke hadirat Allah Swt, yang berkat rahmat dan karunia-Nya
kita pada pagi ini dapat hadir bersama di ruangan ini dalam keadaan
sehat wal'afiat. Pada saat ini segenap anggota senat institut hadir dan
duduk khidmat, para pejabat pemerintah, pimpinan PTN, pimpinan PTS,
dan undangan institusi hadir de-ngan tenang serta khidmat. Juga terlihat
undangan dari keluarga, handai tolan, kenalan, dapat ikut serta di forum
mi. Ini adalah salah satu bentuk rahmat dan karunia AlJah yang bisa
dnvujudkan di forum lain.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad


Saw, yang berkat perjuangannya, ajaran Islam dan kebenaran tetap
tegak di dunia ini, sunnah-sunnahnya menjadi amalan di ka-langan
umat yang taat dan setia, betapa pun guncangan zaman datang dan
pergi. Keyakinannya, akan tetap mantap di dada, karena cahaya Allah
Swt tetap ada dan tarnpak jelas, utamanya dalam kehidupan hamba yang
peduli merawat wahyu yang dibisikkan nuraninya dalam kenyataan
keseharian. Dari situ pula, kemauan mewujudkan kehidupan yang
maslahat terus mewujud, di antaranya melalui solusi-solusi responsip
para ahli hadis (muhadditsun) menghadapi tantangan kehidupan umat,
terutama berke-naan dengan penerapan hadis sebagai sumber ajaran
baik para era Nabi, era kodifikasi, dan era informasi sekarang.

Selanjutnya kepada seluruh hadirin, saya mengucapkan teri-ma


kasih yang setulus-tulusnya atas kehadirannya memenuhi un-dangan
kami. Saya yakin, kehadiran bapak-ibu dan saudara-saudara di samping
memeriahkan majelis ini juga memberi doa restu sehingga acara ini
dapat berjalan lancar.

Khusus kepada Ketua, Sekretaris, dan semua anggota senat IAIN


Walisongo, saya mengucapkan terima kasih atas kesem-patan yang
diberikan kepada saya untuk membacakan orasi ini, dengan harapan
semoga isinya bermanfaat bagi aknamater ter-cinta. Dan walaupun
ibarat setetes air di permukaan laut yang luas, buah jerih payah ini
mudah-mudahan merupakan sum-bangan pemikiran dalam bidang ilrau
hadis. Dalam kaitan ini, maka judul orasi yang saya pilih adalah
"Respons Muhadditsun da-lam Menghadapi Tantangan Kehidupan
Umat; Studi tentang Sumber Ajaran Keagamaan pada Era Nabi,
Kodifikasi, dan Informasi".
DAFTAR ISI

Pengantar
1. Pendahuluan
2. Hadis, Muhadditsun, dan Kedudukan Hadis
Hadis
Muhadditsun
Kedudukan Hadis
3. Kondisi Tantangan Sumber Ajaran Keagamaan pada Era Nabi,
Kodifikasi dan Informasi
Pada Era Nabi
Pada Era Kodifikasi Hadis
Pada Era Informasi
4. Kontribusi bagi Kehidupan Umat
Agenda Kodifikasi Hadis
Pandangan di Sekitar Kodifikasi Hadis
Agenda Keilmuan dan Pengamalan Ajaran Keagamaan Klasik dan
Kontemporer
Khazanah Klasik
1. Tokok Periwayat
2. Ilmu-ilmu Hadis
Khazanan Kontemporer
1. Epistemologi Ilmu Hadis
2. Kontekstualisasi Pemahaman Hadis
3. Penelitian yang Sambung dengan Kenyataan
4. Porsi Hadis-Hadis Pendidikan
5. Aspek Pengamalan Hadis
5. Penutup
Daftar Pustaka
Riwayat Hidup
RESPONS MUHADDITSUN
MENGHADAPI TANTANGAN KEHIDUPAN UMAT
Studi Tentang Hadis Sebagai Sumber Ajaran Keagamaan Era Nabi,
Kodifikasi, Dan Informasi
Oleh Moh. Erfan Soebahar

BAB 1
PENDAHULUAN

Kehidupan adalah “universitas pengalaman” yang mesti dihadapi


dengan berpegangan pada prinsip-prinsip esensial untuk memberi
jawaban yang diperlukan, guna mewujudkan kehidupan maslahat bagi
semua makhluk, terutama umat penghuni jagat ini. Untuk maksud itu, di
dalam Al-Qur’an, Allah Swt telah menegaskan ajaran pronsip yang juga
mengait dengan tugas muhadditsun mengadapi tantangan kehidupan
umat terutama mengenai hadis sebagai sumber ajaran keagamaan
Islam.1 Yang dilaksanakan dalam kehidupan nyata pada masa Nabi Saw
namun diragukan kedudukan dan pengamalannya pada masa
kehidupan sesudahnya.

Allah Swt dalam penetasan itu menyatakan : bahwa agama Islam


adalah agama yang sempurna ajarannya; Allah Swt telah melimpahkan
karunia nikmat-nya secara tuntans ke dalam agama itu; dan Allah Swt
rela atas Islam dijadikan sebaga agama yang berlaku bagi seirma umat
manusia.2 Penegasan penting Allah Swt demikian meraberi petunjuk
bahwa agama Islam itu selalu sesuai dengan segala waktu dan tempat,
serta untuk semua umat manusia da-lam pelbagai era dan ras di dalam
kehidupan.

Penegasan di atas tidak mengecualikan sumber ajaran agama-Nya


1
Untuk mempermudah sebutan, maka istilah “hadis sebagai sumber ajaran
keagamaan Islam” akan disebut dengan hadis sebagai sumber ajaran keagamaan. Hal
itu disamping mempermudah posisi konteks keilmuan, juga untuk mempermudah
hadis dalam bingkai ajaran Islam adalah rahmat li al-‘amin, yang substansi ajarannya
juga memberi rahmat bagi pemeluk agama lain.
2
Q.S. Al-Maidah (5): 3.
yang juga penting, yaitu Al-Quran dan hadis, yang disepa-kati menjadi
sumber ajaran hukum dan petunjuk bagi kehidupan umat. Pendek kata,
itu berlaku juga pada sumber ajaran AJ-Quran dan hadis. Jika pada masa
Nabi saw sumber ajaran dalam kenyataan berlangsung demikian, maka
pada masa-masa sesu-dahnya, mestinya tinggal melanjutkan. Dengan
ungkapan lain, posisi sumber ajaran tersebut sesuai di segala waktu dan
tempat serta berlaku untuk semua umat di pelbagai era dan ras dalam
kehidupan. Dari sudut posisi, Al-Quran menjadi sumber utama,
sedangkan hadis3 menjadi sumber pendampingnya yang menje-laskan
Al-Quran.

Masyarakat (manusia) pada setiap zaman4 hingga di era informasi


atau era global sekarang, pada dasarnya sudah dituruni pegangan al-
Kitab, yang isinya bisa dipahami secara jernih dan utuh melalui
penjelasan para Rasul, yang pada masa umat Nabi Muhammad saw
dituangkan di dalam kitab-kitab hadis. Dua sumber ajaran tersebut
disepakari oleh umat Islam hingga akhir zaman Nabi saw.5

Namun sesudah Nabi Muhammad Saw wafat, yang menutut Al-


Quran zaman Nabi akhir zaman juga berakhir,6 pemahaman me-ngenai
3
Sesuai dengan fokus pembicaraan, maka uraian mengenai sumber ajaran ke-
agamaan hanya dibatasi pada hadis, sebagai disiplin ilmu yang paling banyak saya tekuni
dalam pengabdian diri di almamater IAIN Walisongo.
4
Istilah zaman, era, dan masa dalam penulisan ini dipergunakan dalam arti yang
sama; dipakai sesuai dengan nuansa kebahasaannya; khusus istilah era lang-sung
dipergunakan dalam hubungan dengari waktu yang berlangsung sekarang.
5
Lihat Ahmad Amm, Fajr al-Islam, (Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Mishny-yah,
1975); Lihat juga, misalnya, Moh. Erfan Soebahar, Menguak Fakta Keabsaban ai-Sunnah,
Jakarta: Prenada Media, 2003, hlm. 4.
6
Q.S. Al-Ahzab (22): 40. Dengan penegasan Surat ini, maka tak ada ruang lagi bagi
kernunculan Nabi lain di akhir zaman setelah Nabi Muhammad saw. Jika dalam kenyataan
masih ada aliran yang mengaku punya Nabi lain lagi, sedang ia kini sedang beragama
Islam, maka pengakuannya itu meragukan dan mesti diluruskan, karena bertentangan
dengan pokok ajaran. Dalam konteks ini, adalah sesuai dengan kebenaran nash jika MUI
dalam fatwa pertama, 27 Juni 1983 dan fatwa kedua, tahun 2005 ini menetapkan bahwa
aliran yang tidak mcmpercayai hadis Nabi saw sebagai sumber hukum syan'at Islam,
adalah sesat menyesatkan dan berada di luar agama Islam. lihat, Departemen Agama RI,
Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Jakarta: Dirjen Bimas Isiam dan
Penyelenggaraan Haji, 2003, hlm. 108.
eksistensi dua sumber ajaran dijumpai perbedaan. Tampaknva, itu
disebabkan perbedaan asumsi, paradigma, dan realisasi kemampuan
umat dalam melaksanakan ajaran keagamaan.

Kalau dua sumber ajaran Islam di atas dihubungkan dengan


adanya kesamaan dan perbedaan konseptual para ilmuwan dari hasil
mereka dalam merespons ajaran, itu berarti bahwa Islam juga mentolerir
adanya "pluralitas" pemahaman. Itu dibolehkan pada tingkat wacana
dalam kehidupan sepanjang tidak menyeret kepada peraguan
pengamalan dan pelestarian ajaran dan mengarah ke penghancuran lima
sendi pokok (dlaruri) esensial dalam kehidupan. Yakni pemeliharaan
ajaran Agama (Hifzh al-Din), pemeliharaan akal (Hifzh al-'Aql),
pemeliharaan jiwa (Hifzh al-Nafs), pemeliharaan keturunan (Hifzh al-
Nashl), dan pemeli-haraan kepemilikan harta benda (Hifzh al-Mal). Jadi,
toleransinya hingga ke hal-hal sebatas yang mengarah ke upaya
mewujudkan kemaslahatan umat; tidak kepada hal-hal yang mudlarat.

Maka dalam kerangka menemukan ajaran ideal keagamaan,


sektlas menyinggung toleransinya., dan terutama melakukan upaya
gigih menghadapi gerak destruktif yang bisa terjadi dalarn kehidupan,
maka pembicaraan pada kesempatan ini akan dimanfaatkan untuk
melihat respons muhadditsun, terutama menghadapi tantangan
kehidupan umat dalarn aspek hadis sebagai sumber ajaran. Selain
menuangkan hal asumtif di muka, uraian tentang hal ideal juga
didahulukan di dalam pemahaman hadis.

Hal yang dimaksud di atas tidak melewatkan kenyataan bahwa


tantangan yang dihadapi muhadditsun mengenai hadis sebagai sumber
ajaran keagamaan, hadir pada setiap zaman: dari zaman Nabi saw,
kodifikasi hadis, hingga era global sekarang. Wujud tantangannya
terbagi atas dua macam; kalangan muslim dan non muslim. Di kalangan
umat Islam sendiri, tantangannya mewujud dua versi: pertama, di
kalangan umat Islam yang setia dan taat serta mampu menyaring secara
jernih cahaya kebenaran, mereka tetap mengikuti dan berpegang teguh
kepada apa-apa yang berasal dari Nabi saw. Namun kedua, di kalangan
mereka yang juga taat beragama berikut sumber ajarannya tetapi
kemudian membaca tulisan-tulisan bermisi menempatkan hadis di posisi
yang tidak menguntungkan, lalu tidak kritis dengan propaganda
mempergagah image daripada fakta. Bagi yang kedua ini, terlihat dua
dampak.. Dampak pertama, menjadikan mereka mengabulkan hadis
secara kognitif tetapi tidak demikian secara afektif dan psikomotorik.
Dampak kedua, aparis dengan hadis; serta yang tidak kalah serunya,
mereka memusuhi hadis yang memprofil sebagai golongan ingkar
sunnah, dan golongan ekstrim lainnya yang dilarang oleh ajaran agama.

Di tengah kondisi tantangan zaman seperti di atas, saya pada


kesempatan ini tidak berdiri sebagai penghipnotis yang akan mengubah
umat ini melalui sebuah pidato pengukuhan. Akan tetapi, sebagai
ilmuwan yang pernah dibuat resah secara intelektual menghadapinya,
pada kesempatan ini saya menawarkan analisis historis-teologis-
fenomenologis atas hadis dan kepedulian muhadditsun dalam
menghadapi persoalan zaman terutama: hadis sebagai sumber ajaran
keagamaan bagi terwujudnya kehidupan umat yang maslahat. Hal ini
sejalan dcngan tujuan direalisasikannya ajaran Islam dalam kehidupan
yaitu unluk mewujudkan kemaslahatan hidup bagi segenap makluk.
Untuk itu, permasalahan yang mcnjadi fokus yang ingin dijawab dalam
konteks ini, yaitu: Apa yang di-maksud hadis serta muhadditsun dan
bagaimana hadis mesti didudukkan dalam hubungan dengan Al-Quran?
Apa respons konseptual muhadditsun menghadapi tantangan kehidupan
umat, terutama pada era Nabi saw, era kodifikasi hadis dan era
informasi? Bagaimana wujud konstribusinya bagi kehidupan umat?

Menjawab tiga permasalahan hadis atau sunnah di atas, saya


percaya itu bisa dilakukan melalui usaha keras kita sendiri-sendiri pada
kesempatan lain. Namun, pada kesempatan yang baik ini, saya akan
coba memanfaatkan waktu untuk bersama menelusuri jejak para ahli
hadis (muhadditsun) dalam menjawab tantangan kehidupan umat untuk
menciptakan suatu atmosfir kehi-dupan umat yang maslahat.

Di dalamnya, uraian banyak menyebut dimensi kependidikan


disamping dimensi lain, seperti dimensi hukum. Karena di posisi itu,
yakni Fakultas Tarbiyah sejauh im saya "berlayar" dalam suka dan duka;
mencoba memberi dengan apa yang saya miliki dan terus dioptimalkan
menurut kemampuan. Dan ke arah itu juga kemudian insya Allah saya
"berlabuh," dalam mempelajari dan mengajarkan studi hadis,
memahami, serta beramal dalam dunia pendidikan setidaknya di
almamater tercinta.
Allah menegaskah bahwa agama Islam adalah
agama yang sempurna ajarannya; Allah telah
melimpahkan karunia nikmat-Nya secara tuntas ke
dalam agama itu; dan Allah rela atas Islam
menjadikan sebagai agama yang berlaku bagi
semua umat manusia. Penegasan penting Allah
demikian memberi pentunjuk bahwa agama Islam
itu selalu sesuai dengan segala waktu dan tempat,
serta untuk semua umat manusia dalam pelbagai
era dan ras dalam kehidupan. Penegasan di atas
tidak mengecualikan sumber ajaran agama-Nya
yang juga penting, yaitu Al-Quran dan hadis, yang
disepakati menjadi sumber ajaran hukum dan
petunjuk bagi kehidupan umat. Pendek kata, itu
berlaku juga pada sumber ajaran Al-Quran dan
hadis. Jika pada era Nabi Saw sumber ajaran
dalam kenyataan berlangsung demikian, maka
pada era-era sesudahnya, mestinya tinggal
melanjutkan. Dengan ungkapan lain, posisi sumber
ajaran tersebut sesuai di segala waktu dan tempat
serta berlaku untuk semua umat di pelbagai era
dan ras dalam kehidupan. Dari sudut posisi, Al-
Quran sumber utama, hadis sumber pendamping
menjelaskan Al-Quran.
Bab 2
HADIS, MUHADDITSUN DAN KEDUDUKAN HADIS

Pada bagian ini, uraian lebih dahulu akan memahami hadis, sketsa
muhadditsun, dan dilanjutkan dengan mendudukkan hadis.

Hadis
Untuk memahami hadis, uraian dimulai dengan menyimak ke
kondisi hadis pada masa Nabi saw. Karena umat yang hidup pada masa
itu merupakan orang beruntung, sehingga generasinya (shahabat) tidak
boleh dilewatkan untuk maksud mereguk menu segar pemahaman
ajaran keagamaan di dalam kehidupan.
Dalam kehidupan nyata para sahabat, yang kemudian di
antaranya menjadi periwayat hadis7 disaksikan bagaimana Nabi saw itu
bertutur efektif; suka menyapa akrap pihak yang dihadapi; selalu
menyelingi tuturnya dengan senyum-senyum ramah;8 menyampaikan
ajaran keagamaan sesuai dengan jangkauan pikiran yang dihadapi;
dalam menyampaikan salam atau pernyataan di mana perlu diulanginya
hingga tiga kali sehingga mudah dipaham; namun pada momentum lain
Nabi saw menyatakan dengan serius tapi mengena dalam menyikapi
kasus pelanggaran hukum guna mewujudkan kemaslahatan hidup
bersama. Ketika melaksanakan ajaran, umat tidak dipersukar menerima
ajaran dengan memberi contoh praktis seperti bagaimana "mendirikan
shalat" di awal waktunya: tepat pelaksanaan, menyatu dalam bahasa dan

7
Dikatakan diantaranya, karena tidak semua sahabat atau orang yang hidup
pada masa Nabi, meriwayatkan hadis. Umumnya dimaklumi, bahwa menjadi
periwayat hadis, tidak sekedar karena biasa bicara lantas disebut periwayat hadis. Di
situ diisyaratkan memiliki komitmen kuat keislaman, untuk menyandang predikat
periwayat. Diantara mereka yang tidak digolongkan sahabat, juga tidak layak disebut
periwayat adalah Abu Lahab, Abu Jahal, dan segenap musyrikin yang memusuhi
Islam. Sekalipun mereka “pernah hidup semasa dengan Nabi,” namun tidak termasuk
orang yang meninggal dalam keadaan beragama Islam. Jadi, disamping bukan sahabat
mereka juga bukan muslim, sehingga otomatis tidak bisa disebut periwayat.
8
Sunggingan "senyum ramah" yang menampakkan deretan gigi ke samping itu,
disebut oleh Nabi sebagai "sedekah" (tabassumuka 'ala wajhi akhika bihi shadaqah) yang
kemudian ternyata dikenal: menjadi obat ampuh penangkal stress pada masa sekarang, tak
lain adalah ajaran Nabi saw juga.
ucapan, sehingga kompak; mengeluakan "zakat" seperti yang
dicontohkannya; "berpuasa" dengan berniat yang diberi contoh patokan
melakukannya; "berhaji" seperti dicontohkan Nabi saw di dalam praktek
manasik hajinya. Menghadapi kehidupan kolektif bersama sahabat, Nabi
saw bersikap aktif hingga penghormatan selalu berbalas hormat.
Misalkan, ketika hidangan di suatu pertemuan sudah siap disantap, Nabi
saw dimohon bersama menyantap hidangan berlauk dlab yang sangat
disuka kebanyakan sahabat. Untuk menyataan keengganan karena tidak
biasa menyantap bersama lauk dlab yang secara hukum "halal"
dimakan, ajakan makan itu tidak serta merta ditolak Nabi saw,
melainkan dijawab dengan tidak ikut menyantap bersama, karena Nabi
saw tidak biasa menyantap ikan itu. Artinya, itu berisi isyarat silakan
hidangan disantap-nikmati; tidak usah rikuh [walau Nabi ada di situ],
pertanda dari persetujuan (taqrir) nya. Sudah biasa dipahami, kalau
dalam hadis akhirnya terlukis jelas: bagaimana sahabat me-nyandarkan
sesuatu kepada Nabi saw dari apa yang dilihat atau diamatai sendiri
mengenai ketampanan Nabi, gaya bertutur, sosok fisiknya, kebiasaan
mengajarnya di berbagai forum, yang membuat orang betah duduk
berlama-lama menyimak ajaran Nabi. Ini yang kemudian dikenal
dengan persifatan, cita-cita, dan karakter (shifat dan hammiyah) Nabi
saw.
Oleh karena itu, terlalu bagus bagi peminat kebenaran untuk
melewatkan zaman Nabi saw atau generasi sahabat dalam memahami
ajaran Islam yang utuh dan aplikatif. Sebab sahabat pada masa itu,
bukan saja menyaksikan sendiri pernyataan Nabi saw, pengamalan,
persetujuan dan sifat-sifatnya, melainkan juga mengaplikasikan yang
dilihatnya itu langsung di sekitar Nabi saw.
Wujud konkritnya, kehidupan mereka dalam beragama semakin
lama semakin membaik dan aktivitasnya benar-benar eksis dan berdaya.
Nabi saw sendiri menamakan zaman itu khar al-qurun (kurun terbaik);
'sebaik baik masa adalah masa dimana orang bisa hidup bersamaku,
generasiku itu dalam upaya mereguk ajaran berkualitas, yakni al-Quran
dan hadis. Karena pada masa itu, semua yang mengait dengan wahyu
kenabian bisa ditimba langsung dalam pengalaman bersama Nabi saw.
Data sejarahnya tergolong valid, yang sangat tinggi nilainya, layak
dikutip, diikuti, dan direalisasikan bagi kehidupan nyata sesudah masa
Nabi saw. Fakta itulah yang dicatat menjadi data emas sejarah umat
manusia, yang berisi goresan tinta emas ajaran yang dialami oleh
sahabat Nabi saw.
Itu pula masa Nabi saw, dimana para sahabat memperoleh
penerang langsung dan penjelas keagamaan melalui hadis di samping
Al-Quran sendiri dan hadapan Nabi, sehingga menjadi sumber ajaran
dan pedoman bagi menghadapi kehidupan. Tak satu pun fakta
terpercaya meragukan kelaikan generasi sahabat.
Kondisi kehidupan zaman Nabi saw di atas, mudah dipahami jika
dibawa dalam dimensi pendidikan. Pengajar umat pada masa Nabi itu
tak lain adalah Nabi saw sendiri, yang menerima ilmu dari sang Maha
Guru (Allah Swt), melalui wahyu yang tu-run disaksikan oleh para
murid. Kurikulumny adalah ajaran Islam yang bermisi rahmat bagi
seluruh alam (rahmat li al-alamin), yang dirujuk dari sumber Al-Quran
dan penjelasan Nabi (hadits), yang substansinya selalu seimbang antara
yang qauli dan kauni. Metodenya variatif sesuai kebutuhan seperti: soal-
jawab, dialog, kasus, ceramah, dan evaluasi. Sementara muridnya.
adalah para sahabat, yang rata-rata berdaya ingatan kuat (dlabit);
banyak di antara mereka yang sudah mampu menulis, sehingga untuk
memperoleh materi keilmuan mengenainya di masa sekarang, bahan
keterangan tertulis di masanya layak dijadikan sumber data. Mereka
tidak layak dinafikan sebagai murid Nabi saw9 pada saat itu. Jika ada
kekurangan, terutama yang sekarang dikenal sebagai periwayat hadis,
hal itu tidak sampai mengurangi martabat sebagai periwayat hadis.
Semua keterangan yang memuat data di sekitar Nabi saw, yang
diungkap para sahabat yang pernah hidup bersama Nabi saw dan para
pengikutnya, dikategorikan sebagai laporan yang disandarkan kepada
Nabi (hadits).
Dalam istilah teknis, hadis itu menurut arti bahasa al-Jadid (yang
baru; suatu yang baru wujud sekitar masa Nabi saw); al-Qarib (yang
dekat; suatu yang dekat dengan kehidupan Nabi saw), dan al-Khabar
(berita atau laporan). Dengan arti terakhir, hadis kemudian dikenal
dengan laporan seputar kehidupan Nabi saw.
Dalam rumusan istilah, para ahli hadis menyebut hadis dengan
9
Temuan hasil penelitian Syekh al-A'zhami, menyebutkan bahwa jumlah sahabat
yang memiliki rekaman hadis 58 orang; jumlah yang rak bisa dibilang sedikit.
suatu laporan, misalnya mereka menyatakan, hadis adalah:

(dalil)10

Segala sesuatu yang dihubungkan kepada Nabi saw berupa


pernyataan, perbuatan, penetapan, atau sifat perangai alau perilaku,
atau perjalanan hidup, baik sebelum masa kenabian seperti bersemedi
Nabi saw di Gua Hira atau sesudabnya.
Dengan rumusan teknis lain yang mirip dengan arti di atas, para
ahli hadis mengatakan bahwa hadis adalah:
11
(dalil)

Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw baik berupa perkataan,


perbuatan, penelapan atau yang semisalnya.

Dari rumusan di atas terlihat bahwa arti hadis itu dapat dipahami
baik dari kata sesuatu atau segala sesuatu yang disandarkan atau
dibubungkan (ma udlifa; ma utsira) kepada Nabi saw. Di situ, ada fakta
historis yang dengan kesadaran periwayat hadis harus dihubungkan
kepada Nabi. Artinya, melalui "data yang diperoleh" periwayat hadis
menyampaikan suatu riwayat yang berasal dari Nabi saw, dan apa yang
dinyatakan Nabi, dilakukannya, yang disetujuinya serta
12
pengamatannya sendiri atau periwayat lain.
Dari arti di atas, maka menyandarkan dan menghubungkan
sesuatu kepada Nabi saw itu bukan berarti bahwa periwayat me-

10
Lihat misalnya, Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, al-Snnnah Qabl al-Tadwin, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1401/1981), hlm. 16; Mushthafa al-Siba'i, al-Sunnah ma Makanatuha fi al-
Tasjri'i d-Islami, Beirut: al-Maktab al-Islami, hlm. 47.
11
"Muhammad Mahfiazh al-Tirmisi, Manhaj Dzaw al-Nazhar, (Surabaya: Maktabah
al-Nabhaniyyah, [tth]), hlm. 7.
12
Yang terakhir ini (terkesan tak layak Nabi saw menyuguhkan data tentang akunya
kepada lainnya), maka bisa dipahami jika itu disarnpaikan oleh periwayat dari hasil
pengarnatannya tentang pribadi Nabi saw. Jadi, jika pada data qauliyah fi’liyah, dan
taqririyah itu Nabi saw langsung direkam oleh para periwayat seperti apa adanya secara
langsung, retapi untuk yang terakhir adalah berdasarkan rekonstruksi sahabat dari data hasil
pengamatannya berkaitan dengan persifatan dan cita-cita Nabi saw.
rekonstruksi sesuatu persis seperti sejarawan merekonstruksi se-suatu
dari yang asalnya belum ada menjadi ada, sebagai analog dengan
peristiwa kesejarahan pada umumnya.13 'Akan tetapi, dalam konteks itu,
periwayat hadis menyandarkan sesuatu ke-pada Nabi saw, memang
karena Nabi saw pernah menyatakan demikian dalam sabda
(qauliyah)nya, pernah melakukan dalam perilaku ('ama/iyah)-nya,
pernah menyetujui begitu di hadapan sahabatnya (taqrir)-nya, serta
pernah terlihat demikian dalam sifat atau perilaku Nabi (shifat,
nahwaha)-nya. Jadi, semua merupakan sesuatu yang jelas sandaran atau
penghubungan kepada Nabi saw, yang lazim disebut laporan yaitu
"sesuatu yang dibawa kembali sebagai data yang benar mcngenai diri
Nabi saw".14
Hal di atas sekaligus menepis pernyataan yang pernah terlontar di
antara pengamat hadis. Misalkan, dia menyatakan bahwa hadis itu
adalah barang yang keterucut ada dan diadakan oleh seseorang
kemudian disandarkan atas nama Nabi saw, dalam memahami makna
kata ma udlifa.
Dalam studi kritis, pernyataan yang bersifat menilai layak diberi
tempat, karena berguna untuk melatih keberanian berpendapat secara
akademik. Namun dalam hubungan dengan pengamalan ajaran di
kakngan umum, tak semua pernyataan layak dilontar, karena bisa
kontraproduktif dan menimbulkan keraguan, sehingga perlu dibatasi.
Terkesan dari pernyataan di atas, bahwa semua posisi hadis seakan
begitu, karena memiliki redaksi yang tidak sekukuh atau berbeda
dengan Al-Quran, dan karena hadis dibukukan jauh setelah AJ-Quran.
Ucapan demikian, pada satu sisi terkesan bercanda, namun dalam
pengamatan yang cermat, hal itu bernuansa peraguan atau adanya
keidakyakinan terhadap data yang pernah ada yang dijadikan bahan
laporan sekitar Nabi saw. Padahal, hadis itu dalam kenyataan identik
dengan naskah laporan berisi data di sekitar Nabi saw yang himpunan

13
Kecuali mengenai persifatan Nabi saw (aw nahwaha); karena untuk mengetahui
data yang demikian tidak mungkin Nabi saw sendiri yang mengatakan. Maka datanya,
dapat diperoleh dari orang-orang yang pernah mengetahui Nabi saw dan benman serta
wafat di dalam Islam, yang dikenal dengan sahabat (shahabat).
14
Lihat misalnya, M. Erfan Soebahar, op. cit. (Menguak Fakta), hlm. 216-217.
rnengenainya dijilid dalam format buku. Kebenaran muatanya tidak
sukar dicerna akal sehat. Kalau redaksinya ada yang keliru, hal itu ddak
sukar diuji, baik dengan redaksi Al-Quran sebagai sumber ajaran
pertama maupun kenyataan yang berkembang di dalam kehidupan.
Karena itu, hadis identik dengan penjelasan ayat Tuhan yang Qur'ani
serta yang kauni di dalam kehidupan. Adapun jika ditemukan fakta
bahwa redaksinya berbeda dengan Al-Quran, dan pembukuannya
dilakukan pada beberapa dekade belakangan dari Al-Quran, itu
sebenarnya masih bisa dipertegas. Bahwa bukankah sesuatu yang
menjadi penjelas ajaran itu mesti mempunyai bahasa yang variatif dan
memiliki banyak pola, sehingga pada tingkat kerumitan atau
kemusykilan seperti apapun ayat-ayat Al-Qur-an banyak bersifat global
itu, tetap bisa dijelaskan dengan hadis yang bergaya kasuistik, bertutur,
tanya jawab, dialog, yang pendek namun bernas, juga yang panjang,
untuk penjelas persoalan yang menghendaki penjelasan dengan jawaban
mumpuni. Kalau saja ada kebohongan yang terjadi mengenai hadis,
bukankah sekarang sudah ada studi kritis yang mudah dilakukan untuk
mengecek validitas suatu hadis.
Jelasnya, sebagai naskah laporan di seputar Nabi saw, hadis dari
sudut pandang periwayat, merupakan dokumen data pernyataan
(qauliyab), perbuatan (fi'liyah}, persetujuan (taqririyah), dan persifatan
atau perilaku (shifat; nahwaha). Semua data yang lolos seleksi
merupakan laporan otentik di sekitar Nabi saw yang bermanfaat,
mengenai sesuatu yang terhubung dan disandarkan
sebagai naskah laporan di seputar Nabi saw,
hadis dari sudut pandang periwayat, merupakan
dokumen data pernyataan (qauliyah), perbuatan
(fi'tiyah), persetujuan (taqririyah), dan persifatan atau
cita-cita (nahwaha; hammiyah). Semua data yang lolos
seleksi merupakan laporan otentik di sekitar Nabi saw
yang bermanfaat, mengenai suatu yang terhubung dan
disandarkan kepada Nabi saw. Isinya, yang disebut
sunnah, memuat ajaran keagamaan, Artinya, sunnah
itu suatu ajaran keagamaan yang faktanya termuat
secara detail dalam hadis, yang mencakup pe-san
keagamaan untuk menjalani kehidupan,
Jika sunnah dibedakan dengan hadis, esensinya
mengarah kepada arti bahwa sunnah adaiah isi hadis,
sementara hadis meru-pakan rumusan naskah yang
merekam, dan melaporkan sunnah itu. Jadi melalui
hadis, segala sesuatu dari Nabi saw- sebagai laporan
pernyatakan, perilaku, persetujuan, tampilan fisiknya -
dapat kita ketahui.
kepada Nabi saw. Isinya, yang disebut sunnah, memuat ajaran
keagamaan. Artinya, sunnah itu suatu ajaran keagamaan yang faktanya
termuat secara detail dalam hadis, yang mencakup pe-san keagamaan
untuk menjalani kehidupan.
Jika sunnah dibedakan dengan hadis, esensinya mengarah kepada
arti bahwa sunnah adalah isi hadis, sementara hadis meru-pakan
rumusan naskah yang merekam, dan melaporkan sunnah itu. Jadi
melalui hadis, segala sesuatu dari Nabi saw - sebagai laporan
pernyatakan, perilaku, persetujuan, tampilan fisiknya - dapat kita
ketahui.

Muhadditsun
Menyebutkan muhadditsun, maka itu seperti disebut di muka
dimaksudkan mereka yang banyak menekuni secara detail tugas-tugas
yang mengait dengan laporan (hadis). Maka dari muhaditsun, hadis-
hadis menyebar ke tengah-tengah masyarakat untuk kehi-dupan umat,
tak terkecuali zaman Nabi saw, zaman ketika hadis dibukukan, juga
zaman kita sekarang. Karena hadis, seperti halnya Al-Quran adalah
untuk dijadikan sumber ajaran dan pegangan umat bagi mcnghadapi
kehidupan.
Dari penghadapan itu terlihat hadis menjadi "fungsional," yakni
diaktualkan atau diterapkan di dalam kehidupan umat. Bahkan, ada yang
"tidak fungsional," tidak difungsikan karena maudlu’ (buatan); atau
yang dalam kenyataan berhadapan dengan internal atau pihak ikternal,
sedang yang dominan dalam pengha-dapan itu faktor peraguan terhadap
hadis. Namun, yang pasti hadis itu tetap menjadi naskah yang mewujud
di antara kita; ber-dialog dengan zaman, baik sebelum menjadi naskah
dalam kitab-kitab hadis atau pun sesudah menjadi kitab hadis induk
yang sembilan (Kutub al-Tis'ah).
Dalam wujud laporan, hadis diterima dan mudah menjadi amalan
umat pada masanya. Pada masa Nabi saw, hadis tinggal menjalankan
dalam kehidupan, karena disamping banyak dihafal ia juga ditulis di
kalangan sebagian sahabat, hingga tidak sulit diamalkan dalam
kehidupan. Di samping itu, umum dipahami kalangan pendidik, bahwa
syarat menjadi pengajar yang baik, harus mampu menjelaskan materi
yang disampaikan.
Aktivitas menjelaskan yang menggunakan ungkapan hadis
variatif, mempermudah pemahaman dan pengamalan Al-Quran. Dari
sudut redaksional, hadis yang diungkap dalam banyak bentuk: tanya
jawab,15 kasuistik,16 dialog,17 pernyataan prediktif,18 pernyataan
hipotesis,19 bentuk evaluatif,20 dan lain-lain, membuat nya mudah
dijalankan dalam hubungan dengan al-Quran.
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami posisi muhadditsun dalam
menjalankan tugas menyebarkan hadis di tengah-tengah kehidupan.
Dalam menghadapi hidup di tengah-tengah umat, mubadditsun tidak
berjalan sendirian. Mereka, banyak bersifat sebagai "pengawal" umat
dalam beramal dengan hadis - sebagai ajaran dan petunjuk dalam
menjalani kehidupan. Di dalam kehidupan itu, mereka berinteraksi
dengan umat yang berpemerintahan; yang selalu mendekat dan
membimbing secara moral melalui penyampaian segi-segi konseptual
ajaran hadis, juga meluruskan hal-hal yang dilihat bengkok dalam
15
Misalnya, hadis riwayat Ibnu Mas'ud yang menjelaskan kapan tepatnya shalat
dilakukan. Ketika dia menanya amal apa yang palmg disuka oleh Allah. Nabi saw
menjawab. "Shalat pada awal waktunya'' (Shahih al-Bukhari, Bab Kitab al-Adab)
16
Bagaimana cara Nabi saw mandi besar (jinabah). Dalam hadis riwayat 'Ai-syah ra
dinyatakan, "Bahwa Nabi saw apabila mandi jenabat mulai dengan membasuh kedua
tangannya, lalu berwudu seperti akan melakukan salat, lalu memasukkan jemarinya ke
dalam air, lalu menyeka rambutnya, kemudian menuangkan air ke kepala baru ke sekujur
badannya" (Sbabib al-Bukhari, Kitab al-Ghusl), dll.
17
Misalnya, hadis yang menyuruh menolong orang yang "menzhalimi." Hadis itu
menantang persoalan, yang layak ditanyakan oleh sahabat, karena mengandung informasi
dialogis baik didiskusikan lebih lanjut. Sejauh ini yang mesti ditolong dalam pemahaman
urnutn, bagi yang dizhalimi, sedang yang menzhalimi bagaimana menolongnya? Jawab
Nabi saw, "Cegah ia melakukan perbuatan menzhalimi itu." Tegas Nabi saw : (dalil)
18
Ketika kepada Nabi ditanyakan tanda-tanda akan datangnya Hari Kiamat, Nabi
memprediksi, "Apabila budak wanita telah melahirkan anak tuannya, dan Anda
menyaksikan orang-orang gembel mampu membangun singgasana bertingkat" (dalil)
19
Hadis riwayat Harisah bin Wahab, Nabi menyuruh bersadaqah karena akan
terjadi masa orang-orang menolak sadaqah, karena tak diperlukan pada masa itu (dalil)
20
Misalnya hadis riwayat 'Umar ibn al-Khattab, soal jawab "evaluatif' antara
Malaikat Jibril yang datang menyerupai laki-laki dengan Nabi yang berada di tengah para
sahabat; menanyakan apa itu iman, Islam, dan ihsan, dsb. Hadis tersebut memperjelas
detail rukun Islatn, rukun iman, ihsan, hingga ke Hari Kemudian yang tidak disebut
detailnya dalam Al-Quran. Lihat Shabib Muslim, Kitab al-lman.
kehidupan. Sub-stansinya, laksana guru bangsa yang mengawal ajaran
berjalan lurus; mengarahkan umat yang berada di jalan yang sesat sesuai
dengan budaya nash (hadlarat al-nash) untuk kembali ke hal-hal yang
baku sesuai dengan maksud asalnya di masa Nabi saw, namun tetap
dipahami secara lurus dalam konteks sekarang; di situlah asumsi-asumsi
berjalan di sekitar pemahaman ajaran, paradigmanya menjadi penguak
pemahamannya, dan kemampuannya menjalan kan ajaran dihargai
sesuai kemampuannya. Namun, tujuannya tetap satu yaitu melakukan
ikhtiar untuk memperoleh ridla Allah Swt. Di situ stempel aliran umat
juga dikenal, tetapi pemahaman Islam sebagai rabmat li al-'alamin tetap
berjalan, sehingga solusi bagi kehidupan tetap diberikan hingga ke akhir
zaman. Para umat di mata muhadditsun itu bermartabat sama, sedang
yang membedakannya adalah taqwa seperti dite-gaskan Penciptanya.
Dalam gambaran sosok ideal seperti itu, rumusan muhaddits, dengan
jamak muhadditsun, akhirnya dikenal.
Dalam bahasa teknis, studi hadis memperkenalkan siapa
muhadditsun itu. Muhadditsun, jama' dari Muhaddits, dalam pengertian
sekarang adalah: orang [orang-orang] yang melaksanakan aktivitas
periwayatan hadis, yang memiliki penguasaan luas dan detail mengenai
studi hadis, seperti bidang riwayah dan dirayah, mampu membedakan
dengan benar hadis yang shahib, hasan, dlaif, serta maudlu’, mampu
mengetahui yang mu'talij dan mukhtalifnya, dan juga mampu menguasai
minimal 1.000 hadis baik sanad, matan, maupun perawinya yang digali
di kitab-kitab hadis dan program lain seperti CD dan yang semisalnya.
21
Mereka tetap memiliki posisi penting di dalam kehidupan ini, yang
dengannya hadis tetap menjadi jelas dalam berhadapan dengan tanganan
kehidupan.
Dalam melakukan tugas di bidang hadis, muhadditsun merupakan
personal-personal yang peduli terhadap pelestarian hadis. Penguasaan
yang luas dalam referensi hadis, menjadikannya tidak mudah goyah
dalam mendudukkan posisi hadis dalam kehidupan. Karena hadis, sejak
awal kehadirannya di masa Nabi saw hingga sekarang, tatap di posisi
yang tak bisa dipisah dengan Al-Quran. Di belakang posisi itu, hadis
21
Lihat, misalnya, Moh. Erfan Soebahar, “Muhadditsun dan Tanggung Jawab
Moral Penulisan Kitab-kitab Hadis”, Orasi Ilmiah dalam Rangka Dies Natalis IAIN
Walisongo XXXIV, tanggal 7 April 2004, hlm. 4.
tetap dikawalnya, hingga tetap sesuai penegasan nash Al-Quran dan
hadis itu sendiri.
Posisinya dalam disiplin hadis, tetap mendudukkan ilmu hadis
dijalurnya. Mereka tegak berdiri di hadapan peradaban yang
dihadapinya, baik selaku muhaddis atau muhadditsun yang bisa
menyumbangkan pandangan kepada peradaban. Menghadapi peradaban
teks (hadlarat al-nash), bidangnya, dikuaklah pemahaman tekstual dan
kontekstual, mereka tampil diri di situ berbicara sehingga dapatlah
diputuskanan misalnya diktum suatu fatwa; ketika menghadapi
peradaban dialog (hadlarat al-kalam) yang mendialogkan teks bagi
kehidupan yang melahirkan pemahaman teologis muhadditsun tahu
posisinya dan bisa menyumbangkan pandangan keahlian dalam sorotan
bidangnya; begitu ketika menghadapi peradaban falsafah (hadlarat al-
falsafah) yang mendudukan nash dalam konteks kehidupan dunia luas,
mereka tidak memborong pembicaraan. Mereka tahu posisi, bahwa itu
wewenang lebih leluasa bagi bidang lain membicarakannya. Jadi,
membicarakan persoalan yang mengait dengan teks atau nash perlu
memegang etik peradaban nash, alam, dan falsafah. Menghormati etika
ini membawa pelakunya tetap memiliki gesah keilmuan, tidak khawatir
“kehilangan muka” karena pernyataan tetap diaris keahlian yang
dibinanya dalam kehidupan.

Kedudukan Hadis
Dalam hubungan dengan Al-Quran sebagai sumber ajaran
keagamaan, hadis itu dilihat dari sudut materi yang dimuatnya, paling
tidak memiliki tiga peran, yaitu:
1. Menguatkan (muakkid) hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan
di dalam Al-Quran. Dengan demikian, hukum pe-ristiwa tersebut
ditetapkan oleh dua sumber sekaligus, yakni Al-Quran sebagai
sumber penetap hukum, sementara hadis sebagai sumber penguat
hukumnya. Misalnya, ketentuan shalat dan zakat, dikuatkan
hukumnya dalam hadis. Misalnya, mengenai shalat disebutkan
dalam Al-Quran:

(dalil)
Dan dirikanlah shalat serta keluarkanlah zakat (Q.S. al-Nisa': 77)

Di dalam banyak hadis, ketentuan di atas diperkokoh ketentuan-


ketentuannya; tak ada ketentuan yang bertentangan satu dengan
yang lain.

2. Memberikan penjelasan (hayan) ayat-ayat Al-Quran, yakni dengan


memberikan perincian ayat yang masih mujmal. Misalnya, perintah
shalat dalam Al-Quran Surat al-Nisa': 103 masih mujmal:

Maka dirikankanlah shalat. Sesungguhtya shalat itu bagi orang-


orang mukmin adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya
(Q.S. al-Nisa': 103).

Kemudian shalat itu oleh Rasulullah saw diterangkan waktu-


waktunya, jumlah rakaatnya, syarat-syarat dan rukunnya, dengan
mempraktikkan shalat itu, yang setelahnya diikuti dengan sabdanya:

(dalil)

Shalatlah kamu yang seperti yang kamu lihat bagaimana aku


melakukan shalat (H.R. al-Bukhari)

3. Menciptakan hukum baru yang tidak terdapat di dalam Al-Quran.


Misalnya, hadis menetapkan hukum haram memakan daging
binatang buas yang bertaring kuat dan burung yang berkuku kuat,
scperti dalam hadis yang diriwayatkan olch Ibnu 'Abbas yang di-
takhrij oleh Muslim sbb:

(dalil)

Rasulullah saw melarang memakan setiap binatang yang bertaring


dari binatang buas, dan setiap binatang yang dapat menyimpan
kuku kuat dari golongan burung (H.R. Muslim dari Ibn Abbas)

Kedudukan hadis di atas jelas dipahami dengan diketahui dari


teksnya yang variatif, yakni disamping ada yang pendek dan padat isi
(jawami al-kalim), hadis juga yang lebih konkrit, sehingga mampu
untuk memperjelas ketentuan Al-Quran. Dari situ, baik yang
menyangkut bidang akidah, ibadah, mu'amalah, akhlak, yang termuat
dalam Al-Quran dapat ditemukan pcnjelasan de-tailnya dalam hadis
Nabi saw.
Kedudukan hadis di atas berlaku sepanjang zaman, sebagai
sumber hukum dan sekaligus sumber ajaran keagamaan, bagi umat
manusia dalam mengarungi kehidupan. Yaitu, kehidupan yang bertumpu
ke pencapaian maslahat. Dcngan mendudukkan hadis pada posisinya,
maka ajaran keagamaan akan berjalan mantap; tidak berjalan dalam
keraguan. Karena keraguan melumpuhkan keyakinan, sehingga ia mesti
ditinggal agar orang sukses berprestasi mengarungi kehidupan. Nabi
saw bersabda,

(dalil)

Tinggalkan apa yang meragukan kamu kepada apa yang tidak


meragukan kamu (H.R. al-Turmudzi dari Hasan bin 'Ali)

Meninggalkan apapun yang meragukan baik daiam pernya-taan


ataupun perilaku dan hanya mengerjakan yang diyakini, dapat membuat
seseorang memiliki aura keberanian yang dihargai dalam kehidupan,
karena itu sejalan dengan ajaran kebenaran.
Jadi, sudah waktunya ajaran atau pemahaman yang kcliru menurut
pcdoman agama yang timbul dari pcmikkan keliru, scgera
dikembalikkan ke jalan yang benar. Dan pada gilirannya, hadis sebagai
sumber ajaran Islam yang benar, mesti didudukkan pada posisi yang
layak bagi terwujudnya kehidupan yang drahmati Tuhan semesta alam.
Karena untuk kehidupan umat,
maka tidak cukup jika dalam merespons hanya
untuk diwacanakan apalagi dipolemikkan, melainkan
harus sampai menyentuh kehidupan nyata
pengamalan ajaran keagamaan. Itulah yang dihadapi
Muhadditsun yang dalam pemecahannya perlu
berbekal disiplin ilmu hadis yang mendalam,
disamping juga kepedulian untuk tetap
mendudukkan hadis pada proporsinya.
Pada setiap zaman dimana mereka berada,
komitmennya tetap ditantang, baik
untuk mendudukkan hadis di hadapan
masyarakat plural, maupun menghadapi
persoalan yang dijawab bagi pengamalan
ajaran dalam kehidupan di sekitar
sumber ajaran keagamaan.
BAB 3
KONDISI TANTANGAN SUMBER AJARAN
KEAGAMAAN PADA ERA NABI, KODIFIKASI,
DAN INFORMASI

Kehidupan merupakan universitas pengalaman yang memuat


aneka persoalan minta dihadapi dengan respons yang bijaksana bagi
kehidupan umat. Karena untuk kehidupan umat, maka tidak cukup jika
dalam merespons hanya untuk diwacanakan apalagi dipolemikkan,
melainkan harus sampai menyentuh kehidupan nyala pengamalan
ajaran keagamaan. Ilulah yang dibadapi Muhadditsun yang dalam
pemecahannya perlu berbekal disiplin ilmu hadis yang mendalam,
disamping juga kepedulian untuk tetap mendudukkan hadis pada
proporsinya. Pada setiap zaman dimana mereka berada, komitmennya
tetap ditantang, baik untuk mendudukkan hadis di hadapan masyarakat
plural, maupun menghadapi persoalan yang dijawab bagi pengamalan
ajaran dalam kehidupan di sekitar sumber ajaran keagamaan.
Pada masa Nabi saw, di sekitar hadis bukan dengan sendirinya
tanpa persoalan. Karena persoalan itu sendiri adalah sunnatullah yang
jika berhasil dipecahkan dengan tepat, memiliki keberartian di hadapan
zaman. Sumbcr ajaran Al-Quran dan Hadis, yang mestinya dibukukan
bersamaan, tetapi diputuskan bahwa Al-Quran didahulukan
kodifikasinya (al-jami'al-Qu'ran) atas kodifikasi hadis (Tadwin al-
Hadits) pada kesempatan lain, sudah adalah persoalan. Keputusan itu di
satu sisi merupakan pilihan zaman bahwa Al-Quran sejak awal harus
ditulis untuk kemudian dikodifikasi, sedang pada sisi lain hadis yang
juga sumber ajaran yang harus dipegangi umat masa Nabi saw, ditunda
penulisan dan kodifikasinya ke masa lain. Padahal langkah itu
sebenarnya juga persoalan, setidaknya di pundak pada sahabat dan
generasi yang hidup sesudahnya.
Persoalan penundaan kodifikasi sumber ajaran keagamaan hadis
dari masa Nabi saw ke masa yang sesudahnya, merupakan akar
persoalan yang tidak mudah dijelaskan, dan itu menjadi tanggung jawab
zaman yang relatif panjang. Kondisi-kondisi ke arah pemecahan
prosesnya terlihat dari respons sedap era berikut ini.

Pada Era Nabi Saw

Pada zaman Nabi saw, hadis tak lain dari profil di sekitar Nabi
saw, yang disebut laporan di sekitar Nabi saw. Tampilannya terdiri atas
apa yang dinyatakan Nabi saw, yang dipraktekkan Nabi, yang
disetujuinya, hingga persifatan dan cita-cita Nabi saw. Dalam kondisi
umat berkonsentrasi penuh pada ba-gaimana Al-Quran itu diterima,
ditulis lengkap kemudian dikodifikasi resmi, bisa dipahami apa yang
layak dinyatakan Nabi saw, misalnya dengan menunjuk di antara
sahabat untuk menulis wahyu Al-Quran, seperti Zait bin Tsabit, dan
Ibnu Mas'ud.
Pada hadis, penunjukannya tidak demikian, sekalipun sama
disadan dari petunjuk Al-Quran bahwa apa yang disampaikan Nabi saw
(hadis), tak lain dari wahyu Allah Swt juga.22 Posisi Nabi saw dalam
hubungan dengan Al-Quran, menjadikan hadis tak dapat dipisahkan
dengan Al-Quran, sehingga dari kedudukan di atas peranan hadis
terhadap Al-Quran ibarat dua sisi dari mata uang. Al-Suyuthi menyebut
kedudukan hadis sebagai sumber ajaran di samping Al-Quran;23 sebagai
sumber ajaran setelah Al-Quran; lainya menyebut sumber ajaran setelah
Al-Quran. Jelasnya, kedudukan hadis dalam hubungan dengan Al-
Quran, cukup jelas sehingga harus dipertahankan bagi kehidupan umat.
Dengan perbedaan proses penulisan dan kodiflkasi demi-kian,
hadis ada dalam kondisi yang menuntut perhatian lebih konkrit dari
mubadditsun. Paling tidak, menuntut jawaban ber-bentuk asumrif untuk
dipegangi oleh generasi sahabat dan sesu-dahnya agar tugas antar
generasi hadis dapat dijawab untuk dija-dikan pegangan bagi
mendudukan hadis secara proporsional di samping AJ-Quran. Karena,
tanpa asumsi yang benar, sulit bagi generasi kemudian melanjutkan

22
Lihat Q.S. Al-Najm (53): 3-4: Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al
Quran) menurut kemauan hawa nafsunya Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahya
yang diwahyukan (kepadanya).
23
Lihat al-Suyuthi, Muftah al-Jannah fi Ihtijaj bi al-Sunnah (Madinah al-
Munawarah: Mathba’ah al-Rasyid, 1399/1979).
perjuangan: menulis dan meng-kodifikasi hadis seperti yatig dilakukan
umat Islam periode awal terhadap Al-Quran. Jadi, pada masa Nabi saw
persoalan asumtif menjadi agenda zaman muhadditsun yang mesti
dipecahkan di samping mengamalkan hadis itu bagi kehidupan.
Sementara itu, untuk asumsi tersebut, Nabi saw menyampaikan
isyarat pemecahan melalui sejumlah pernyataan dengan pelarangan dan
suruhan. Misalnya, ada hadis yang melarang sahabat menulis sesuatu
selain Al-Quran. Tetapi, pada hadis dimaksud setelah dilacak, ternyata
ada illat khusus bagi pelarangannya yaitu karena adanya naskah yang
ditulis dalam selembar kertas yang di dalamnya bercampur antara Al-
Quran dengan naskah lain. Namun, dalam pernyataan Nabi saw di hadis
lain, Nabi saw justru menyuruh untuk, menuliskan hadis. Misalnya,
hadis yang menyuruh sahabat menulis hadis kepada Abu Syah; juga
menulis kepada Ayah si Fulan. Dalam kesempatan lain, Nabi saw
menyuruh sahabat menuliskan suratnya kepada para Raja Persi, Najasi,
dll. Logika kondisi di atas, kalau ada sesuatu yang pada awalnya
dilarang, namun kemudian justru ada perintah yang menunjukkan
kebalikannya, maka itu menunjukkan kebolehan melakukan hal itu
dalam hal ini penulisan dan pelestarian sumber ajaran kcagamaan
dimaksud. Ini juga berarti bahwa Nabi saw mengiyaratkan perlunya
penggunaan kecerdasan emosional dalam memahami pcrintah
keagamaan. Bukankah pada tokoh sehebat Nabi Muhammad saw, juga
layak dikodifikasi apa yang menjadi hadisnya, sedang hal itu sudah
menjadi sunnah Rasul saw yang dituangkan dalam kitab suci (al-Najm
11).
Dari pengamatan dan perenungan mendalam terhadap pembacaan
sejumlah literatur dapat dipahami apa asumsi yang dipetik oleh
muhadditsun era Nabi saw (shahahaf) dari emperi batinnya24 dalam
merespons persoalan apa yang menjadi agenda umat pada masa Nabi
saw.

24
Istilah ini dipinjam dari penyampaian Prof Noeng Muhadjir, di sejumlah
penataran, diskusi, dan pelatihan bahwa hal empirik itu bukan hanya yang kasat mata,
melainkan juga yang tak tampak di pengliha mat terapi ada dalam kenyataan di yang
bekasannya sudah tertulis dalam buku-buku dan kitab-kitab.
Dari pengamatan terhadap
banyak sumber, maka asumsi yang
dipegangi muhadditsun dan umat Islam
era Nabi saw dapatlah dirumuskan yaitu:
ada kesepakatan batin umat untuk menghadapi
tantangan sumber ajaran keagamaan, bahwa
selain membukukan Al-Quran
mereka juga sepakat membukukan hadis
pacfa waktu yang tidak sepakat dengan
pembukuan Al-Quran; mereka juga bertekad
menyelesaikan persoalan
kedua nash itu untuk menghadapi
tantangan kehidupan umat
masa kemudian.
Dari emperi batin terdalam sahabat disadari, bahwa dalam kondisi
Al-Quran 6.000 ayat lebih itu diproses kodifikasi di masa perangkat
tulis sukar belum seefektif sekarang, maka menyadari ridak pedunya
bersamaan waktu kodifikasi hadis dengan al-Quran adalah sikap yang
bijak. Sekalipun, disadarinya juga wa pengambilan langkah itu juga
beresiko akan mendatangkan persoalan lain sesudahnya.
Karena, hanya persoalan kodifikasi massal bagi hadis yang tidak
dilakukan, sementara penulisan secara individual tidak dilarang asal saja
sudah dipenuhi persyaratannya. Itu berarti bahwa untuk kepcntingan
pengamalan, sahabat-sahabat yang mampu menulis dibolehkan menulis
hadis pada masa Nabi saw. Sehubungan dcngan itu, bisa dipahami bila
cukup banyak sahabat yang melakukan penulisan hadis secara
individual, yang di kemudian hari menjadi bahan berharga bagi
penyempurnaan kodifikasi hadis secara massal.
Dari pengamatan terhadap banyak sumber, maka asumsi yang
dipegangi muhaddttsun dan umat Islam era Nabi saw dapat lah
dirumuskan yaitu: ada kesepakatan batin umat untuk menghadapi
tantangan sumber ajaran keagamaan, bahvva selain mem-bukukan Al-
Quran mereka juga sepakat membukukan hadis pada waktu yang tidak
sepaket25 dengan pembukuan Al-Quran; mereka juga bertekad
menyelesaikan persoalan kedua nash itu untuk menghadapi tantangan
kehidupan umat masa kemudian.
Respons asumtif di atas tentu perlu aktualitas bagi pembuktikan
signifikansinya di dalam kenyataan. Aktualisasinya ditemukan, setelah
umat bersama muhadditsun bergelut aktif dengan teks-teks manusknp
hadis, yang pada era kemudian diimbangi dengan prestasi gemilang
dengan "membalik paradigma", seperti diuraikan dalam beberapa
paragraf di subbab berikutnya.
Bagaimana respons muhadditsun pada era kodifikasi hadis?
Persoalan ini menuntut jawaban muhadditsun tentang bagaimana
kondisi hadis pasca wafat Nabi Muhammad saw. Karena tanpa
kodifikasi hadis, hafalan kuat suatau ketika bisa diragukan untuk
bertahan dalam waktu yang lama.
25
Lihat hal asumtif serupa dalam M.Erfan Soebahar "Cara Menemukan Lafal
Matn Hadis dalam Kitab al-Mu'jam dan Kitab Syarh Hadis, jurnalPendidikan Islami.
Volume 11, No. 1, Mei 2002, hlm. 128.
Pada Era Kodifikasi Hadis

Setelah wafat Nabi saw, yang kodifikasi Al-Quran sudah


memasuki titik-titik ke arah penyelesaiannya, hadis sudah memiliki
asumsi bagi ritik awal proses kodifikasi yang juga menuntut kesiapan
muhadditsun. Disamping memegangi asumsi di atas, untuk
mengakomodasi kebutuhan umat akan petunjuk Al-Quran dalam
pemahaman yang utuh, mereka tidak pasif. Karena Al-Quran, hanya
bisa dipahami secara utuh bila bergandengan dengan hadis sebagai
pengukuh hukum; penjelas isi global; serta pembuat hukum yang
menyempurnakan hukum Al-Quran.

Ada pemahaman umum dalam kesadaran umat, bahwa mereka


merasa tercerahkan jika telah membaca sendiri hadis tentang bagaimana
salat yang benar; mengeluarkan zakat yang sesuai; berpuasa dengan niat
yang tepat; juga menunaikan haji dengan melakukan manasik yang telah
dicontohkan Nabi; makan "bangkai" yang awalnya diharamkan
kemudian menjadi boleh dalam jenis tertentu seperti ikan teri, yakni
bangkainya ikan laut, dst. Kesadaran itu logis yang sesuai dengan
pemikiran umat. Berpegang asumsi yang disepakari, namun dengan
rcdaksi yang berbeda tetapi bermuara pada maksud yang sama,
muhadditsun maju selangkah. Dalam kenyataan kemudian, langkah ini
sangat membelalakkan penglihatan umat, yang hasilnya disaksikan
hingga sekarang. Mereka merasa tidak cukup dengan hanya
berpegangan pada asumsi, tetapi lalu mclangkah membuat suatu
lompatan sejarah. Yaitu, merumuskan paradigma untuk mewujudkan
kodifikasi, yang disertai gebrakan melakukan penelitian untuk
mendapatkan naskah hadis dengan melintasi banyak ujian di lapangan
dan menyingkirkan banyak rintangan-rintangan.
Dengan menggunakan
paradigma dimaksud, cara pandang umat
dalam menatap hadis benar-benar berubah,
sehingga aktualitasnya menemukan
bentuk yang sesuai,
yaitu terkodifikasinya hadis
dalam kitab-kitab sesuai kemampuan.
Paradigmanya yang dirumusan
muhadditsun adalah:
"mengubah orientasi dari paradigma tulis yang
berkisar kebolehan dan pelarangan penulisan
hadis, ke paradigma riset yakni melakukan
penelitian-peneiitian bagi penulisan laporan kitab-
kitab hadis untuk memenuhi kehidupan umat"
Memahami dan sekaligus mengantisipasi hadis dalam kondisi di
atas, di bawah tema sentral penuiisan dan kodifikasi hadis, muhadditsun
mengambil sikap tegas. Yaitu memberi jawaban dengan membalik
paradigma, suatu sudut pandangan yang dipedomani bagi mengarahkan
kegiatan menuju tujuan yang dikehendaki. Dengan menggunakan
paradigma dimaksud, cara pandang umat dalam menatap hadis benar-
benar berubah, sehingga aktualitasnya menemukan bentuk yang sesuai,
yaitu terkodifikasinya hadis dalam kitab-kitab sesuai kemampuan.
Paradigmanya dirumuskan rumuskan oleh muhadditsun adalah:
"mengubah orientasi dari paradigma tulis yang berkisar kebolehan dan
pelarangan penulisan hadis, ke paradigma riset yakni melakukan
penelitian-penelitian bagi penulisan laporan kitab-kitab hadis untuk
memenuhi kehidupan umat".26
Dengan paradigma itu muhadditsun menjadi makin proaktif.
Geraknya dinamik, karena didukung dengan kenyataan kebijakan yang
sangat kondusif di masanya, untuk bergerak cepat: dari kondisi yang
mengesankan "bungkam" menghadapi semesta gundukan data27 di
sekitar Nabi saw, yang dipermantap dengan melakukan kunjungan-
kunjungan untuk mclakukan wawancara (lazim disebut berguru) dan
memperoleh data melengkapi penelitian hadis dengan menghubungi
sumber data penting para tokoh yang menguasai hadis. Al-Bukhari
(w.256 H) misalnya, menggunakan masa 16 tahun melakukan penditian
bagi penulisan Shahih al-Bukhari', setelah menyeleksi 600.000-an data
yang siperoleh, ia berhasil mcndokumen 3.000-an hadis di dalam
laporannya. Begitu pula al-Turmudzi, menempuh penelitian bertahun-
tahun hingga membuahkan laporan yang mendokumentasi hampir 4.000
hadis, yang di dalamnya disertai komentar-komentar penting, tentang
keshahiban, hasan, serta dlaifnya.

Pada Era Informasi


26
Lihat subbab "Paradigma Tulis ke Riset" dalam M. Erfan Soebahar, op. cit.
(Orasi Ilmiah), hlm. 6-11.
27
Dikatakan semesta gundukan data, karena jika data itu dikumpulkan yang
masih berupa tulisan manuskrip dalam lembaran-lembaran kulit, lempengan kayu tipis,
batu-batu ripis, daun-daun lebar, pelepah kurma, dll.
Menghadapi pasca era kodifikasi hadis, muhadditsun tidak bercuti
tugas. Sekalipun tantangan sebelumnya membuahkan hasil yang
pembuktiannya di hadapan kehidupan makin menjawab persoalan, kini
tantangan datang dalam bentuk lain yang tidak mudah. Tantangan era
informasi, atau era global, mengait dengan konsep pembuktian
autentisitas hadis yang dikodifikasi, metodalogi kritik hadis, dan sikap
menghadapi ilmu dan teknologi.
Kodifikasi hadis selalu dipertanyaan di hadapan peminat studi
sejarah. Bagaimana studi yang disebarkan melalui tradisi lisan ke lisan
dengan hafalan, yang tidak ditulis pada masa Nabi saw itu menjadi
karya terkodifikasi bebcrapa ratus tahun kemudian, dapatkah hal itu
dipercaya? Pertanyaan ini tak mudah dijawab dcngan sekali pertemuan.
Menghadapi tantangan itu, tcrutama yang sudah mengkritiknya
secara tegas muhadditsun tampil memberi jawaban. Syekh 'Ajjaj al-
Khathib melakukan penelitian dan melaporkan hasilnya dalam al-
Sunnah Qabi a/-Tadwinya, yang menggunakan bahan-bahan manuskrip
di sejumlah perpustakaan di Siria dan negara-negara di Timur Tengah;
Musthafa al-Siba'i, meneliti naskah-naskah kitab dan manuskrip daiam
rentang masa panjang: dan era Nabi saw hingga era al-Nasa'i, yang
diakhiri dengan penulisan disertasi yang terbit dalam judul buku: Al-
Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-lslami. Datang kemudian, dalam
bentuk penelitian yang menggebuk penelitian sebelumnya yang berbau
pe-raguan pada ajaran yang dibawa Nabi saw, yakni dari segi sum-ber
ajaran hadis. Syekh al-A'zhami, meneliti scjumlah manuskrip dalam
banyak sumber, termasuk sumber primer yang digunakan oleh para
peneliti orientalis yang menurut pengakuannya dulu dilarang untuk
dilakukan oleh para peneliti muslim sebelumnya. Pengalaman Mantan
Kepala Perpustakaan Qatar dan Guru Besar Hadis di Fakultas
Pendidikan Universitas Ibnu Saud im dari studi doktoralnya di
Universiytas Cambridge, membuahkan laporan yang mengejutkan.
Melalui pelacakan yang mantap dan analisis akurat, disertasinya yang
kemudian terbit dalam bentuk buku Studies In Early Hadits Literature
(1978), atau edisi arabnya Dirasat fi al-Hadith al-Nabawi wa Tarikh
Tadw'inih yang diterjemahkan ke tengah-tengah kita dengan judul
Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya membuahkan hasil. Oleh M.
Erfan Soebahar, benang merah ketiga tokoh itu didudukkan, di samping
pembahasannya memposisikan fakta hadis pada proporsinya, dengan
menulis hasil penelitian yang kini terbit dalam buku berjudul, Menguak
Fakta Keabsahan al-Sunnah.
Kebenaran hadis sebagai tantangan yang mesti diselesaikan, pada
masa kini sudah terpecahkan karena kitab-kitab hadis sudah selesai
disusun.28 Sebanyak 9 kitab, hingga 15 kitab sudah dikenal di Indonesia.
Kesembilan kitab dikenal sebagai Kutub al-Tis'ah; sedang yang enam
(6) menyebar menjadi kitab yang juga dipergunakan sebagai rujukan
yang membantu untuk menopang kepada sembilan kitab yang ada.
Bahkan, untuk mengantisipasi keraguan, kitab-kitab yang memuat hadis
yang dlojf dan maudlu', pun kini juga sudah disusun. Kesemuanya
menjadi karya-karva penting yang menjawab tentang kodifikasi hadis
yang kebenarannya boleh saja dipersoalkan, tetapi sudah ada jawaban.
Dalam rangka untuk menanamkan kemantapan pada kitab-kitab di
atas, kini kitab-kitab hadis diiringi dengan perangkat lain, yang secara
metodologik menyajikan metode penelitian dari hadis-hadis yang
disusun. Dari situ, untuk membuktikan kebenaran hadis yang sudah
disusun dalam kitab-kitab kita menemukan pembenaran, dari sudut
sanad dan matan.
Bahkan, di era teknologi tinggi ini, hadis sudah mengantisi-pasi
perkembangan modern dengan pembukuannya dalam CD-CD. Di pasar
luas, kita sudah dengan mudah menemukan CD al-Mausu'ah, yang
merekam 9 kelompok judul hadis secara detail; CD Maktabah Hadis
yang di dalamnya merekam 1.300 kitab hadis; juga al-Bayan yang
memuat hadis beserta terjemahnya, dll. Kesemuanya menyebabkan studi
hadis masa sekarang mudah ditemukan dalam waktu yang sangat cepat
dan mudah.

28
Pernyataan selesai disusun di sini, seridaknya berlaku hingga tanggal 31
Agustus 2005 ini. Karena jika ada data lain yang lebih meyakinkan bahwa masih ada
kitab-kitab hadis lain yang datang kemudian setelah pernyataan ini - sedang itu berasal
dari informasi yang oleh sementara sumber disebutkan bahwa di Iran masih ada
manuskrip naskah hadis-hadis Nabi saw yang belum tergarap - jika itu benar, maka
pernyataan selesai disusun berarti bias diralat.
Sebanyak 9 kitab hingga 15 kitab
sudah dikenal di indonesia:
(1) Shahih al-Bukhari karya Imam al-Bukhari (w.256H),
(2) Shahih Muslim karya Imam Muslim (w. 261 H),
(3) Sunan Abi Daud karya Imam Abu Daud (w.275 H),
(4) Sunan al-Turmudzi karya Imam al-Turmudzi (w.279 H),
(5)Sunan al-Nasa'i karya Imam al-Nasa'i (w.303 H),
(6) Sunan Ibn Majah karya Ibnu Majah (w.274 H),
(7) Sunan al-Darimi karya Imam al-Darimi (w.255 H),
(8) al-Mu-waththa' Malik karya Imam Malik (w. 179 H), (9)
MusnadAhmad karya Imam Ahmad (w. 241 H).
Enam kitab lain,
yang juga beredar di Indonesia yaitu:
(10) Sunan al-Shaghir karya Imam al-Baihaqi (w.458),
(11) Shahih Ibn Khuzaimah karya Abu Bakar
Ibn Khuzaimah al-Naisaburi (w.311),
(12) al-Mustadrak 'ala al-Shahihain al-Hakim, karya
Muhammad al-Hakim al-Naisaburi (w.405H),
(13) Kitab al-Mu'jam al-Shaghir al-Thabrani karya Sulaiman
bin Ahmad al-Thabrani (w. 360),
(14) Kitab al-Umm karya Imam Syafi'i (w.204 H)
(15) Kitab al-Kafi karya Muhammad bin Yakkub
al-Kulaini al-Razi (w.328 H).
Bahkan dengan jawaban terakhir di atas, hadis yang semula sukar
dikumpulkan lengkap karena menggunungnya data (tulang-tulang,
pelepah kurma, potongan kulit-kulit. batu-batu tipis, daun-daun, kertas
yang di masa Khalifat Utsman mulai dikenal), kini sudah menjadi karya
hadis yang mudah dicerna dan dikenal. Jika diperlukan, dengan bantuan
teknologi bisa cepat dan mudah ditampilkan: bisa lengkap dengan
harakat (baris), tanpa harakat, dan bahkan dengan syarahnya sesuai
kebutuhan. Jika kita tidak memiliki dana cukup untuk itu, kini sejumlah
internet sudah menyiapkan jasa untuk di-download. Prestasi hadis, yang
ditopang oleh muhadditsun di era ini sudah demikian rupa, jauh di atas
prestasi yang dicapai dalam dua dekade sebelumnya.
Jadi, pada era informasi sekarang, agenda kerja muhatiditsun
adalah: "bersama umat meyakinan autentisitas data hadis-hadis Nabi
saw secara metodologik, dan menopangnya dengan sikap yang tepat
dalam raemanfaatkan ilmu dan teknologi (IPTEK) bagi memperjelas
jawaban Islam bagi mempermantap umat berpegang sumber ajaran
hadis, sehingga pada gilirannya keraguan dalam beramal dengan hadis
dapat diatasi." Jawaban ini, tentu masih dapat dikembangkan bersama
menghadapi kehidupan umat para era yang semuanya berubah, kecuali
satu hal yakni perubahan itu sendiri.
BAB 4
KONTRIBUSI
BAGI KEHIDUPAN UMAT

Sebagai kornunitas yang peduli terhadap hadis dan


perkembangannya, muhadditsun sejauh ini telah menampakkan
konstribusinya berkenaan dengan hadis di tengah kehidupan umat. Dari
asumsi yang disepakati, pembalikan paradigmanya, serta
penghadapannya dengan sikap dalam kehidupan pada era ini, mereka
tampak mclangkah dalam mcmberikan konstribusiaya di dalam
kehidupan umat. Uraian berikut akan melihat konstribusi itu, mulai dari
kodifikasi hadis baru ke lainnya.

Agenda Kodifikasi Hadis

Menjawab agenda kodifikasi hadis, yakni penulisan dan


pembukuan naskah hadis di daiam kitab hadis, dalam pembahasan ini
dikategorikan scbagai pemecahan central ke detail, karena soal
kodifikasi termasuk persoalan central bcrkaitan dengan sumber ajaran
keagamaan. Darinya, persoalan lain terhubung sebagai hal detail berkait
dengan konsep keilmuan dan aliran-aliran yang timbul di tengah
kehidupan umat.

Pandangan di Sekitar Kodifikasi Hadis

Setidaknya ada dua cara pandang dalam menyoroti kodifikasi


hadis, yaitu: (1) memandang kodifikasi hadis sebagai produk abad
kedua hijriyah yang prosesnya baru dimulai sejak al-Zuhri
melaksanakan tugas berdasarkan Surat Perintah Khalifah Umar Ibn
'Abdul Aziz; dan (2) memandang bahwa kodifikasi sudah berproses
sejak masa Nabi saw hingga hadis dibukukan di dalam kitab-kitab hadis.

Pertama, kodifikasi dipandang bermula sejak abad ke-2 hijriyah,


sejak beredar perintah menulis hadis secara formal melalui Surat
Perintah Khalifah Umar bin Ibn 'Abdil Aziz (99-101 H). Melalui surat
resmi Khalifah, hadis rnendapat perhatian luas di kalangan
muhadditsun, umat tidak sekedar merespons kebolehan atau pelarangan
menulis hadis tetapi sudah tergugah semangat untuk melakukan
penelitian guna mendapatkan naskah-naskah hadis, menyeleksi dan lalu
menulisnya menjadi laporan tertulis yang kemudian dikenal dengan
kitab hadis. Kodifikasi hadis dalam pandangan pertama ini, selain
kcmudian menghasilkan naskah-naskah yang sebelumnya terpencar di
tiap-tiap personal pemilik naskah, dapat terhimpun dengan baik,
sekalipun untuk itu masih diuji dari segi otenrisitasnya. Karena sekuat
apapun ingatan seseorang, jika itu berasal dari kumpulan naskah yang
dihimpun dari hasil ingatan seratus tahun lebih, akan bisa dikeraguan.
Jadi, pandangan ini diuji zaman segi otentisitasnya.

Kedua, kodifikasi itu sudah berproses sejak masa Nabi saw, karena
Nabi pernah menyuruh hadis ditulis oleh sahabat untuk menghadapi
kehidupan umat. Mula-mulai ia berbentuk respons kesadaran individu-
individu sahabat, yang diwujudkan dalam pe-nulisan hadis demi hadis
di dalam catatan pribadinya berwujud shahifah-shahifah atau nama-
nama lain dari agenda menuskripnya. Sekalipun mulanya berupa
kumpulan catatan agenda individual, namun akhirnya menjadi bahan-
bahan yang tak ternilai harganya bagi kelengkapan proses kodifikasi
hadis yang dibukukan pada masa kodifikasi hadis. Syekh al-A'zhami,
yang mendukung pandangan kedua ini dari penelitiannya berhasil
menemukan daftar jumlah sahabat yang menulis naskah-naskah hadis,
29
dan bahkan berhasil meneliti hadis dan sekaligus sejarah
kodifikasinya.30
Dari keterangan di atas terlihat bahwa kodifikasi itu berjalan

29
Lihat Muhammad Musthafa al-A'zhami, Kuttab al-Nabi Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1401/1981. Secara Abjadi, nama nama itu
dinnulai dari Aban bin Sa'id bin al-'Ash hingga Yazid bin Abi Sufyan, yang berjumlah
61 orang penulis.
30
Bahkan dalam penelitian disertasmya, kelengkapan nama nama mereka yang
punya catatan naskah hadis itu tidak kurang dari 450 orang. Lihat, al-A'zhami, op.cit.
(Studies); juga misalnya, Soebahar, op. cit. (Al-Sunnah), hlm. 188.
melalui proses mata rantai penulisan panjang sehingga kemudian
mewujud kitab-kitab hadis yang berjumlah banyak.
Sembilan kitab yang naskah asli dan CDnya menyebar di tanah
air adalah: (1) Shahih al-Bukhari karya al-Imam Abu Abdillah
Muhammad bin Isma'il al-Bukhari (w.256H), (2) Shahih Muslim karya
al-Imam Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj (w. 261 H), (3) Sunan Abi
Daud karya al-Imam Abu Daud Sulaiman bin al-Asy'as al-Sijistani
(w.275 H), (4) Sunan al-Turmudzi karya al-Imam Abu Isa Muhammad
bin Isa al-Turmudzi (w.279 H), (5) Sunan al-Nasa'i karya al-Imam Abu
'Abdirrahman bin Ahmad bin Syu'aib al-Nasa'i (w.303 H), (6) Sunan Ibn
Majah karya al-Imam Abu 'Abdillah Muhammad bin Yazid Ibni Majah
(w.274 H), (7) Sunan al-Darimi karya al-Imam Abu Muhammad
'Abdullah bin 'Abdurrahman al-Darimi (w.255 H), (8) al-Muwathtba'
Malik karya al-Imam 'Abdullah Malik bin Anas (w. 179 H), serta (9)
Musnad Ahmad karya al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Mu-hammad
al-Marwasi (w. 241 H). Enam kitab lain, yang juga mulai beredar di
Indonesia yaitu (10) Kitab Sunan al-Shaghir al-Ba-haqi karya Abu
Bakar Ahmad ibn Husain ibn 'Ali ibn 'Abdillah ibn Musa al-Baihaqi (w.
458), (11) Shahih Ibn Khuzaimah karya Abu Bakar Muhammad bin
Ishaq bin Khuzaimah al-Naisaburi (w.311), (12) al-Mustadrak 'ala al-
Shahihain al-Hakim, karya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin
Muhammad bin Hamdun bin Hakam bin Nu'aim bin al-Bayyi' al-Dlabbi
al-Tahmani al-Naisaburi (w. 405H), (13) Kitab al-Mu'jam al-Shaghir al-
Thabrani karya Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthair al-Lakhmi
al-Yamani al-Thabrani (w. 360), (14) Kitab al Umm al-Syafi'i karya
Muhammad bin Idris bin 'Abbad bin Utsman bin Syafi'i (w. 204 H) serta
(15) Kitab al-Kafi al-Kulaini karya Abu Jakfar Muhammad bin Yakkub
bin lshaq al-Kulaini al-Razi (w.328 H).
Banyak metode digunakan untuk menyusun kitab hadis, yaitu
metodey juz dan atraf, metode tahwib, metode muwaththa, metode
mushannaf, metode musnad, metode jami', metode mustakhraj, metode
mustadrak, metode sunan, metode mu'jam, metode majma', dan metode
zawaid. Metode itu dijelaskan di bawah ini.
Metode juz dan athraf. Metode juz adalah menyusun matn hadis
berdasarkan nama-nama guru yang meriwayatkan, seperti Shahifah Amr
al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib dan Shahifah al-Shahihah tulisan
Hammam bin Munabbih (w.131 H); sedang metode athraf,
menunjukkan pangkalnya saja bagi petunjuk matn hadis selengkapnya,
seperti tulisan Auf bin Abu Jamilah al-'Abadi (w. 146 H) yang banyak
dikenal abat ke-4 dan ke-5 hijriah.
Metode tahwih, mengklasifikasi penyusunan kitab hadis ber-
dasarkan topik atau pembidangan tertentu dalam pembahasan. Isinya,
memuat hadis-hadis sesuai dengan pembidangan topik yang dipilih,
seperti yang dilakukan oleh Ibn Juraij (w. 150 H).
Metode muwaththa, yang berarti sesuatu yang memudahkan;
dipakai dalam pembukuan hadis berdasarkan klasifikasi hukum Islam
(fiqih) dengan mencantumkan jenis hadisnya-marfu' (berasal dari Nabi),
mauquf (dari sahabat), serta maqthu' (berasal dari ta-bi'in), sehingga
mempermudah orang yang mencarinya. Misalnya Muwaththa Malik
karya Imam Malik bin Anas (w. 179 H).
Metode Mushamaf, berarti sesuatu yang disusun; disamakan
dengan muwaththa, yaitu metode pembukuan hadis berdasar klasifikasi
hukum Islam dengan menggunakan atribut seperti di atas. Misal,
Mushannaf karya Hammad bin Salamah (w. 167H).
Metode Musnad, dalam penyusunan menggunakan nama para
sahabat yang meriwayatkan hadis. Misalnya, Kitab al-Musnad karya
Abu Dawud al-Tayalisi (w. 204) dan Kitab al-Musnad karya al-Humaidi
(w. 219 H).
Metode al-Jami’ berarti yang mengumpulkan afau mencakup;
dalam disiplin ilmu hadis dikenal sebagai metode penyusunan kitab
yang yang mencakup seluruh topik agama seperti akidah, hukum, adab,
tafsir, dan manaqib. Kitab bermetode ini cukup banyak, seperti al-Jami'
al-Shahih karya Imam al-Bukhari (w. 256 H), yang dikenal dengan
Shahih al-Bukhari.
Metode Mustakhraf, disebut bagi kitab manakala penyusun kitab
hadis berdasarkan penulisan kembali hadis-hadis yang mendapat dalam
kitab lain, kemudian penulis kitab pertama tadi mencantumkan sanad
hadis dari dia sendiri; bukan dari kitab aslinya. Misalnya, Mustakhraj
'ala Shabih al-Bukhari, susunan al-Isma'ili (w.371 H).
Metode Mustadrak, jika penyusunan kitab hadis disertai
menyusulkan hadis-hadis yang tidak tercantum dalam suatu kitab hadis
yang lain, tetapi dalam menuliskan hadis-hadis susulan itu penulis kitab
pertama tadi mengikuti persyaratan periwayatan hadis yang dipakai oleh
kitab yang lain. itu. Misalnya, Kitab al- Mustadrak 'ala al-Shahihain,
karya Imam al-Hakim al-Naisaburi (w. 405 H) dimana hadis-hadis yang
tidak tercantum dalam Shahihain dicantumkan dalam kitabnya, namun
tetap mengikuti kriteria yang ditetapkan oleh Imam al-Bukhari dan
Muslim.
Metode Sunan, dimaksudkan bagi penyusunan kitab hadis
berdasarkan klasifikasi hukum Islam (fiqih), dan hanya mencantumkan
hadis-hadis yang bersumber dari Nabi saw (marfu’), selain itu jumlah
jenis lainnya sangat sedikit. Misalnya, Sunan Abu Dawud karya Abu
Dawud al-Sijistani (w.275) dan Sunan al-Nasa'i karya Imam al-Nasa'i
(w. 303 H).
Metode Mu'jam, metode penulisan kitab hadis dimana hadis-hadis
yang terdapat di dalamnya disusun berdasar nama para sahabat, guru-
guru hadis, negeri-negeri atau lainnya, dan lazimnya nama-nama itu
disusun berdasarkan huruf mu'jam (alfabetis). Misalnya, kitab al-
Mu'jam al-Kabir, dan al-Mu'jam al-Shaghir.
Metode Majma', digunakan bagi penyusunan kitab hadis yang
menggunakan kombinasi dari kitab-kitab hadis yang ada, yang ditempuh
untu mempermudah orang merujuk hadis. Misalnya, al-Jam' baina al-
Shahihain karya al-Humaidi (w. 488 H) dan al-Jam' bain al-Ushul al-
Sittah karya Ibn al-Atsir (w. 606 H).
Metode Zawaid, yang berarti tambahan-tambahan; digunakan
dalam arti: satu kitab ada kalanya ditulis oleh sejumlah penulis secara
kolektif; ada pula sebuah kitab hanya ditulis oleh seorang penulis tanpa
penulis lain. Maka, kemudian kitab-kitab hadis yang kedua ini menjadi
lahan penelitian para pakar hadis yang datang kemudian. Misalnya,
kitab Mishbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majab karya al-Bushairi (w.
840 H).
Demikian tantangan kodifikasi hadis, yang telah dihadapi dengan
mengadakan penelitian dan penulisan kitab-kitab hadis, yang disusun
dengan berbagai metode pilihan penyusunnya.
Agenda Keilmuan dan Pengamalan Ajaran Keagamaan: Klasik dan
Kontemporer

Dimaksud agenda keilmuan dan pengamalan ajaran keagamaan,


adalah agenda tantangan yang telah dihadapi muhadditsun yang
kemudian membuahkan warisan. Yaitu, berupa khaiianah intelektual dan
javvaban naqli serta aqli bagi pengamalan hadis dalam kehidupan umat,
dalam rangka menciptakan kehidupan yang maslahah. Khazanah hingga
1960-an dikategorikan klasik, sedang pasca 1970-an dikategorikan
kontemporer.

Khazanah Klasik

Khazanah klasik, sebagai warisan intclektual yang ditinggal-kan


ke tengah-tengah kehidupan umat cukup banyak, terutama yang
berkenaan dengan hadis-hadis yang dibukukan menggunakan metode-
metode yang tepat sesuai pilihan penulisnya. Dalam konteks ini, selain
yang telah dibahas dalam subbab kodifikasi sebelumnya, akan
dicantumkan hal-hal berikut:

Tokoh Periwayat Hadis:


1. Tarikh al-Rijal (Sejarah Para Periwayat Hadis) karya Yahya
bin Main (w. 234 H).
2. Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) menulis al-‘llal wa Ma'rifat al-
Rijal (Cacat-cacat Madis dan Mengetahui Periwayatnya).
3. Muhammad bin Sa'ad (w.230 H), menulis al-Tabaqat al-Kubra
(Generasi-Generasi Agung), terdiri dari 11 jilid, berisi biog
rafi Nabi saw, para sahabat, tabi'in, dan tokoh-tokoh yang
hidup sampai awal abad ketiga hijrah.
4. Ibnu Abi Hatim al-Razi (w.327 H), menulis buku al-]arb wa
al-Ta'dil (Evaluasi Negatif dan Positif Periwayat), 9 jilid, yang
berisi kritik terhadap para periwayat hadis.
5. Ibn Hibban al-Busti (w.354 H) menulis al-Majruhin (orang-
orang yang dilukai), mengkritik periwayat yang ditolak hadisnya.
6. Imam al-Bukhari (w. 256 H) menulis buku al-Tarikh al-Kabir
(Sejarah yang Agung), yang berisi kritik periwayat hadis.
Ilmu-Ilmu Hadis:
1. Al-Ramahurmuzi (w. 360 H), menulis ilmu hadis pertama
yang komprehensif berjudul al-Muhaddits al-Fashil bain al-Rawi
wa al-Wa'ie (Ahli Hadis: Pemisah antara Periwayat dan Penerima),
2. Al-Hakim al-Naisaburi (w.405), menulis karya Ma'rifat Ulum
al-Hadits,
3. al-Khatib al-Baghdadi (w. 464 H), dll.
4. Ibn Shalah (w. 643 H),
5. al-Nawawi (w. 676 H),
6. al-Zhahabi (w. 748 H),
7. Ibn Hajar al-'Asqalani (w. 852 H), dll.

Deretan di atas masih dapat diperpanjang, yang menulis kitab-


kitab hadis, yang dilakukan dalam rangka kritik hadis, agar dapat
diseleksi mana hadis yang otentik dan mana yang palsu.

Khazanah Kontemporer

Di samping khazanah klasik, muhodditsun juga meninggalkan


warisan intelektual ke tengah-tengah kehidupan umat dengon khazanah
kontemporernya. Yang tampak dari khazanah itu hingga sekarang,
antara lain: epistemologi ilmu hadis, kontekstualisasi pemahaman hadis,
penelitian yang sambung dengan kenyataan, porsi hadis-hadis
pendidikan, pengamalan hadis: yakin, bukan meragukan.

1. Epistemologi Ilmu Hadis.


Ilmu hadis bukan ilmu yang lahir dengan serta-merta. Ilmu ini
tumbuh seperti disiplin ilmu yang lain, semisal sosiologi yang timbul
pasca Revolusi Prancis 1789. Embrionya muncul di zaman periwayatan,
sedang perumusannya dilakukan kemudian. Penyelidikan berkaitan
dengan hadis, bukan diarahkan kepada menyelidiki Nabi saw,
melainkan ke arah: apakah benar hal itu berasal dari Nabi atau tidak
benar. Fokusnya:bagaimana kebenaran itu sampai dicapai dan apa pula
standar kebenaran-nya?
Dalam lintasan sejarah, penyampaian hadis oleh Nabi saw berjalan
apa adanya secara alamiah. Nabi sebagai penyampai yang sekaligus
sebagai figur sentral, dan sahabat sebagai penerima, tanpa syarat-syarat
yang ketat.
Seiring faktor makin menyebarnya sahabat, yang menyebabkan
kesempatan menimba ilmu dari Nabi saw tidak sama, sehingga
pengetahuan mereka dalam mengikuti Nabi pun tidak sama: ada yang
menerima riwayat banyak, ada yang sedikit, sesuai kemampuan masing-
masing. Dari situ, Nabi mendorong minat sahabat agar menyampaikan
apa yang diterima dari Nabi saw (hadis) dari yang hadir kepada yang
tidak hadir di dalam pertemuan. Dari situ, lahir embrio cabang ilmu
hadis, ilmu riwayah.
Sebagai bagian dan masyarakat, Nabi saw sebenarnya tidak
mempunyai tempat khusus menyampaikan hadis.
Namun, sekalipun demikian kegiatannya lebih sering dila-kukan di
masjid yang memudahkan diikuti oleh orang banyak.31 Di tempat seperti
itu, Nabi saw kemudian menyampaikan hadis-hadisnya dengan tiga
cara: verbal, tertulis (minta ditiiliskan salah seorang sahabat), serta
demontrasi secara praktis.32 Seiring dengan perjalanan dakwah Rasul,
dengan segala peristiwa dan yang kejadian yang melingkupi, maka
tersebarlah ajaran itu ke berbagai tempat, yang membuat hadis juga ikut
tersebar. Akan tetapi, hingga wafat Rasul saw tidak ada yang
menyebabkan persoalan berarti mengenai hadis. Kalaupun ada, itu bisa
diselesaikan dengan menanyakan langsung kepada Nabi saw untuk
memperoleh solusinya. Bahkan, di zaman Nabi saw tak ada hal-hal yang
membawa diragukan hadis baik mengenai kesahisan atau lainnya.
Namun, karena kebijakan Nabi saw yang lebih mengutamakan Al-
Quran, untuk menulis hingga membukukannya, menyebabkan hadis
terlambat ditulis. Tetapi, seperti asumsi yang dipegangi di muka, itu
sudah disepakati dalam "emperi batin" para sahabat, untuk juga
dibukukan di lain waktu maupun untuk terus melestarikan
pemeliharaannya. Maka itu, di samping penulisan Al-Quran yang Nabi
saw menunjuk personal formal untuk itu seperti disebut, penulisan hadis
31
Muhammad Abu Zahw. Al-Hadits wa al-Muhadditsun, Beirut : Dar al-Kitab al-‘Arabi,
1984, hlm. 50.
32
Muhammad Musthafa al-A'zhami, Metodologi Kntik Hadis Nabi, Terj. A. Yamin,
Jakarta: Pustaka al-Hidayah, 1992, hllm. 27.
pada zaman Nabi saw, berlangsung dalam kegiatan pribadi-pribadi,
sehingga naskah-naskah (shuhuf) berjumlah tidak; ada yang diberi nama
ada yang tidak, seperti telah disinggung di muka.
Karena juga sudah ditulis di masa Nabi saw, walau oleh para
personal sahabat, maka hadis yang beredar masa Nabi saw sudah tidak
bisa dibilang sedikit. Menurut Prof. Quraish Syihab, yang mengutip
pendapat Syekh Abdul Halim Mahmud, bahwa apabila dihimpun matn
hadis dari seluruh kitab hadis yang muktabar, maka jumlahnya tidak
lebih dari 50.000 hadis.33
Dari uraian di atas dapat dipahami: pemalsuan hadis belum terjadi
pada masa Nabi saw; pernyatannya pada masa Nabi saw berjalan
alamiah, tanpa memakai persyaratan ketat; sampai wafat Nabi saw
sudah ada tulisan-tulisan sahabat mengenai hadis.
Dari pengamatan terhadap sejumlah literatur dapat dicatat
beberapa alasan mengapa hadis tidak ditulis resmi masa Nabi: (1) agar
perhatian sahabat tertuju penuh kepada Al-Quran di samping tidak
mengabaikan hadis sebagai penjelasnya; (2) agar otentisitas Al-Quran
tetap dapat disangga dengan baik; (3) Al-Quran memang didahulukan
oleh Nabi sedang hadis dijadikan pendampingnya.
Setelah Nabi saw wafat, hadis tetap dijaga periwayatannya, di
masa sahabat hingga masa berikutnya. Mengingat berbagai faktor yang
tidak sama penerimaannya terhadap hadis sebagaimana di atas, maka
penjagaan itu berkelanjutan. Di situlah yang embrio timbulnya cabang-
cabang imu hadis, seperri Jarh wa al-Ta'dil balik penerapan sistem
isnad, yang dikembangkan dalam periwayatan, ilmu Gharib al-Hadits,
hingga Tarikh al-Ruwat, dll.

IlmuHadits: Untuk Metawat Tradisi


Mengakumudasi perlunya merawat suatu tradisi yakni hadis,
persoalan epistemologis juga perlu dilanjutkan. Dari uraian di atas dapat
dipahami bahwa epistemologi berkait apakah pengetahuan kita itu benar
(valid) atau bagaimana kita membedakan antara yang benar dan yang
salah. Praktiknya dalam hadis, apakah hadis itu valid (shahih) dan
bagaimana membedakan hadis yang valid dengan yang tidak valid.
33
Quraish Shihab, "Membumikan" Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1992, hlm. 130.
Bila diteliti bagaimana bekerjanya ilmu hadis, maka unruk
mencapai kebenaran terlihat cukup jclas. Ilmu hadis memperlihatkan
suatu langkah metodologis, sehmgga akurasi atau validitas sabda
berkenaan dengan Nabi saw bisa ditetapkan dan dipastikan; standarnya
ketat sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Untuk mendapatkan suatu kebenaran, ilmu hadis menempuh jalan
yang pelik, yang menggunakan beberapa ilmu bantu, sehingga ilmu
hadis itu merupakan kurnpulan beberapa ilmu, yang multi-disiplin. Dari
situlah, kemudian dari ilmu hadis berkembang beragam seperti ilmu
rijal al-hadits, ilmu tashif wa al-ta'rif, ilmu talfiq al-hadits, dan lain-lain
yang berkembang seiring dengan masa pertumbuhan hadis.
Proses lahirnya ilmu hadis menurut penjelasan Nur al Din Itr
dalam Manhaj al-Naqd fi 'Ulum al-hadits-nya sebagai berikut:

Pertama, masa pertumbuhan; terjadi sejak masa sahabat liingga


abad ke-1 hijri, yang di dalamnya mclahirkan istilah: hadis ?maqbul dan
mardud.
Kedua, masa penyempurnaan; sejak abad kedua sampai awal abad
ketiga hijrah, yang di dalamnya dilakukan: kodifikasi hadis; perluasan
cakupan jarah dan ta’dil, menunda menerima hadis dari orang yang
kurang dikenal; dan membuat kaidah-kaidah yang dapat digunakan
untuk mengetahui hukum suatu hadis.
Ketiga, masa pembukuan ilmu hadis secara independen; mulai
abad ke-3 sampai pertengahan abad ke-4 hijriah, yang di dalamnya
satuan-satuan istilah dirumuskan: hadis mursal, hadis sahih, dll. Pada
masa ini disusun Thabaqat Ibn Sa'ad.
Keempat, masa penyusunan (keilmuan) secara komprehensif dan
melimpahnya kegiatan pembukuan hadis; sejak pertengahan abad ke-4
samapai ke-7 hijrah. Pada masa inilah muhadditsun melakukan
penyusunan ilmu hadis, mengumpulkan apa yang berbeda ke dalam satu
bidang dan menyisipkan apa yang belum diungkap. Kitab yang
dihasilkan di masa ini: Ma'rifat Ulum al-Hadits, karya Hakim al-
Naisaburi (w. 405 H).
Kelima, masa kematangan dan kesempurnaan kodifikasi ilmu
hadis; mulai abad ke-7 sampai ke-10 hijrah, yang memunculkan kitab
seperti al-Irsyad karya al-Nawawi (w. 676 H).
Keenam, masa statis; sejak abad ke-10 sampai ke-14, dimana
kreativitas banyak terhenti. Kegiatannya sebatas peringkasan dan
pendiskusian hal-hal yang harfiyah, seperti Taudlih al-Afkar, karya al-
Shan'ani (1182 H).
Ketujuh, masa kebangkitan dari kejumudan; sejak awal abad ke-14
hingga sekarang. Aktivitasnya banyak digunakan untuk membahas
pendapat-pendapat yang banyak berkembang di Barat, seperti al-hadits
wa al-Muhadditsun karya Muhammad Abu Zahw; al-Sunnah wa
Makanatuha fi al-Tasyri al-lslami karya Mushthafa al-Siba'i, dll.
Dari paparan di atas, tampak bahvva ilmu hadis merupakan ilmu
terbuka, yang selalu siap diuji. Dan usaha-usaha penelitian dengan
menggunakan iknu hadis akan memberikan manfaat ganda, baik segi
keotentikannya yang terawat dan terjaga juga hadsinya yang dapat
dijadikan pegangan dan petunjuk, Jelasnya, ilmu hadis telah
menciptakan ilmu yang sistematis dan penjaga gudang informasi
khazanah yang amat kaya bagi kehidupan.
Ilmu ini merupakan khazanah intelektual yang teruji epistemo
loginya, yang bermanfaat bagi kehidupan ilmu-ilmu lain di dalam
kehidupan umat.

2. Kontekstualisasi Pemahaman Hadis


Ajaran yang dapat dikuak dari studi hadis, bukan hanya dari
pemahaman teksnya yang tersurat, melainkan juga apa yang tersirat.
Hadis yang diterima sahabat, tabiin dan periwayar sesudahnya, yang
kemudian diterimakan informasinya secara tertulis ke kehidupan umat
sekarang, bukan hanya mengandung ajaran yang terkait dengan zaman
Nabi saw dan bagi umat masa itu sa ja, melainkan juga bagi umat
sekarang, untuk menguak substan-sinya bagi kehidupan sekarang dan
yang akan datang. Karena itu, ia menjadi bahan yang sangat kaya, yang
keberlakuannya dapat dilacak secara tekstual dan kontekstual.
Prof. Syuhudi Isma'il (w. 1995 M) pada tahun 1994, telah
mengutip 40 teks matan hadis yang sekaligus dikuak pemahamannya
secara tekstual dan kontekstual dalam pidato pengukuhan guru besar
dalam ilmu hadis di Ujung Pandang. Pembahasan itu memperkaya
pemahaman bahwa selain tahu teks dalam upaya memahami hadis, kita
perlu memperkaya diri untuk menyelami pemahaman konteksnya.
Namun tidak sebaliknya, mendalami pemahaman teks hadis, sedang kita
tidak tahu atau tidak pernah menyimak teks, bahkan meninggalkan teks
hadisnya, lalu mengambil pemahaman lain yang diakuinya sebagai
pemahaman hadis tekstual dan kontekstual. Yang terakhir ini, jika
memang benar ada, tentu bukan yang dikehendaki.
Dalam dialog pemahaman lebih lanjut, dilakukan muhaddi-tsun
muda dari UIN Yogyakarta, menampilkan kebenarian membahas detail
pemahaman kontekstual itu yang menerbitkannya dalam bentuk buku
Wacana Studi Hadis Kontemporer. Karya ini pada hemat saya layak
dibaca untuk memperoleh bahan yang lebih luas tentang pemahaman
kontekstual ini. Kajiannya sudah cukup berani, dan layak diapresiasi
bagi pemahaman kontekstual.

3. Penelitian yang Sambung dengan Kenyataan


Sejauh ini tujuan penelitian hadis diarahkan untuk mengeta hui
apakah hadis yang diteliti itu maqbul diterima untuk menjadi hujjah
pengamalan agama' atau mardud' ditolak untuk dijadikan hujjah agama.
Penelitian demikian, dalam hubungannya dengan pemahaman agama
yang luas yang sambung dengan kehidupan, belum sepenuhnya
terwadai. Karena, pengamalan agama dalam pemahaman umum masih
mengesankan hubungan yang vertikal, antara pemeluk dan sang
Pencipta ansich, walaupun kandungannya jelas lebih dari itu.
Untuk menjembatani hal di atas, maka penelitian hadis yang
biasanya didahului dengan melakukan takhrij dan i'tibar perlu
dilengkapi dengan pembahasan pemahaman dan penjelasan hadis,
dengan mencantumkan fiqh al-hadis serta syarah al-hadits. Keluasan
pemahaman dan penjelasan itu pun bisa diperkaya dengan meminjam
pendekatan dari ilmu-ilmu sosial serti sosiologi, sejarah, dao
antropologi.34 Karena ilmu ilmu dimaksud memiliki teori yang dapat
menjelaskan fenomena dengan lebih gamblang dan muda dipahami serta
sambung dengan kenyataan.

4. Porsi Hadis-Hadis Pendidikan

34
Lihat misalnya, M. Erfan Soebahar, op. cit. (Menguak Fakta), hlm. 234-244.
Di dunia pendidikan, hadis didududukkan sebagai sumber nilai
penting yang melandari tujuan pendidikan Islam. Kenyataan itu tegas
dan berlaku hingga sekarang. Namun, pcnerapan hadis yang sudah
dijadikan sumber nilai itu, di institusi pendidikan ini kita mengctahui
bahwa hadis kadang masih disalah-mengerti. Hal itu misalnya: tradisi
suka mengutip hadis maudlu masih tampil dalam mendukung
pernyataan dosen; mahasiswa sulit membuat kutipan hadis yang searah
dengan maksud paragraph; uraiannya dogmatis tidak empirik; jika hadis
terus dikritik dan dijatuhkan: lama kelamaan kan bisa habis, dan hadis
kependidikan sebagai obyek penelitian. Namun, kalau persoalan di atas
ditatap dengan kepala dingin dan dikembalikan ke sejumlah rujukan
standar hadis, jawabannya akan berdatangan dcngan baik. Ini
dimasukkan dirkhazanah kontemporer, untuk sama kita tangani.
Pertama, di sekitar mengutip hadis. Dewasa mi kitab-kitab yang
memuat hadis dlaif dan maudluk sudah ada, misalnya Silsilat al-Ahadits
al-Dla 'ijah wa al-Mau'-dlu'ah wa Atsaruha ai-Sayyi’ fi al-Ummah
karya Muhammad Nashir al-Din Al-Albani. Pembaca kitab ini tentu
mudah memilih bahwa hadis yang dikutipnya termasuk hadis shahih,
dlaif atau ma lah maudlu'. Kalau masih ragu, itu bisa dicek dalam hadis-
hadis di dalam kitab tersebut. Kecermatan pembaca, akan sangat
membantu dalam mencari penyelesaian terhadap apa yang dibahas.
Kedua, sulitnya membuat kuripan hadis yang searah dengan
maksud paragraph; bisa diatasi kalau dalam mengutip tidak selalu harus
menggunakan kutipan langsung yang diapit tanda kutip ganda. Atau
dalam mengutip diarahkan kepada mengutip matn hadisnya saja,
sehingga mempermudah rnengutip teks hadis dalam menyerasikan
dengan uraian yang ditulis. Setelah cukup jelas dimana persambungan
kontcksnya baru di belakang hadis [yang mungkin diambil potongan
relevansinya] diberi catatan kaki dcngan mencantumkan hadis diriwikan
oleh siapa dan diambil dari periwayat siapa.
Ketiga, tentang uraian dogmatik tidak empirik. Sebagai kalangan
ilmuwan yang cendekia, selalu dituntut untuk menetapkan pilihan
sebagai pendekatan kajiannya; kalau memang akan memilih pendekatan
normatif, hadis tentu bisa dipilih. Dan harus juga dimaklumi, bahwa
hadis yang sudah tcruji sanad dan matn-nya dapat dipastikan tidak
bertentangan dengan ayat qur'ani (qauli) dan ayat kauni (alam semesta,
termasuk yang empirik). Memilih yang lebih diyakini, dan
meninggalkan yang diragukan, tentu merupakan jalan yang bijaksana.
Dari situ, kita tidak terjebak di dalam kaum yang diben "predikat: suka
ndalil atau karena tahu hadis maka haditsya asal bisa ngomong, yang
kalau disimak dengan kepala dingin, karena kurang proporsional dalam
menyelesaikan suatu persoalan. Yang jelas, ridak semua hal mesti
dipikirkan apa bahasan empiriknya, karena pendekatan mesti melihat
tentang materi apa yang sedang kita bahas dalam menyelesaikan
persoalan.
Keempat, jika hadis terus dikririk dan dijatuhkan: lama kelamaan
kan bisa habis. Bagaimana menjawab ini? Jumlah hadis itu sebenarnya
adalah cukup banyak. Di depan disebutkan menurut Syekh Halim
Mahmud, yang dikurip Prof Quraish Shihab, jumlah hadis yang shahih
itu sekitar 50.000; delapan kali lipat jumlah ayat Al-Quran. Kalau
dihitung sendiri dengan cermat, jika dalam masa 23 tahun Nabi bersama
sahabat menyampaikan hadis, yang setahunnya terdiri dari 365 hari,
sedang setiap harinya Nabi saw dapat menyampaikan atau dicatat
sahabat mengemukakan tujuh teks hadis, maka jumlah hadis
keseluruhan akan mencapai: 58.765 buah; sembilan kali lipat ayat Al-
Quran, jika ayatnya dihitung 6236 ayat. Kririk hadis, pada dasarnya
untuk memperoleh hadis yang otenrik (maqbul, bisa dijadikan hujah
dalam beramal), yang maudlu' dan dlaif sudah tercantum dokumennya
dalam kita, antara lain, yang sudah disebut di atas. Mungkin yang
dimaksud dengan istilah kritik di atas, para pendidik atau muballigh itu
jangan membuang waktu hanya membahas hadis-hadis yang sudah jelas
statusnya sebagai dlaif atau maudlu’ lalu dikritiknya di depan umum,
tanpa memberi solusi metodologis misalnya bagaimana: apa ada teori
yang bisa dita-warkan sebagai argumen dia mengutip hadis dlaij
misalnya, kalau saja hal itu dipandang layak dikutip menurut
pandangannya.
Kelima, hadis-hadis kependidikan sebagai obyek penelidan. Pada
daftar metode membukukan kitab-kitab hadis sebagai yang dipaparkan
dalam uraian di muka, tidak dicantumkan secara eksplisit adanya
metode atau pendekatan pendidikan dalam penulisan kitab hadis. Akan
tetapi, ada satu metode yakni metode tabwib (topik, atau bagian), yang
pcrnah digunakan muhadditsun dalam membukukan hadis. Tampaknya,
satu mctode ini dapat digunakan dalam proses membukukan suatu
hadis, dalarn hal ini hadis-hadis yang bernuansa pendidikan.
Namun, kaitannya dengan persoalan hadis-hadis kependi-dikan
sebagai obyek peneiitian, beberapa upaya dapat diarahkan melakukan
hal tersebut. Misalnya, sejauh ini belum banyak dila-kukan penggalian
intensip terhadap hadis-hadis di dalam sembi-lan atau 15 kitab hadis
yang disebutkan di muka padahal kitab tersebut merupakan sumber
yang kaya dalam studi hadis; bisa juga diangkat hal-hal yang bersifat
perbandingan dari kitab-kitab itu dalam menguak nuansa pendidikan
dalam kitab hadis; lainnya bisa mencermati muatan hadis-hadis
kependidikan di dalam kitab-kitab hadis induk (sembilan) atau kitab
yang 15; bisa di-lanjutkan ke kitab-kitab hadis nukilan, seperti Riyadl
al-Shalihin, dan lain-lain.

5. Aspek Pengamalan Hadis


Mengamalkan hadis-hadis yang benar-benar termasuk yang
diterima dari Nabi saw (mutawatir, hasan, shahih) di dalam kehi-dupan
adalah kevvajiban muslitn dalam kehidupan beragama. Ketentuan
mengenai hal ini cukup jelas tertuang baik dalam Al-Quran maupun al-
Hadis. Periksa misalnya: Al-Quran Surat al-Hasyr : 7; Surat Al-Nisa':
80; Surat Ali Imran: 31-32; Surat Al-Nisa: 65; Surat Al-Nisa: 105; Surat
Al-Nisa: 150-151; Surat Al-Nahl 44; juga sejumlah hadis: tentang apa
yang diharamkan Rasul sebenarnya juga diharamkan Allah (H.R. al-
Hakim); tentang warisan Al-Quran dan al-Sunnah (H.R. al-Turmudzi);
juga tentang Suruhan menyampaikan hadis kepada pihak lain (H.R. al-
Bukhari). Kesemuanya terkait pertimbangan perlunya mengamalkan
ajaran agama Islam secara utuh termasuk yang dicantumkan dalam
sumber hadis di dalam kehidupan, karena ketentuan itu sudah jelas-jelas
disebutkan. Hal-hal yang halal dan yang haram, sudah tegas-tegas diatur
dalam kchidupan beragama, begitu pula yang halal; beberapa
kebolehan, sudah banyak produk ketentuannya dalatn ajaran agama.
tercantum dalam nash-nash yang tegas.
Jelanya, hadis (yang merupakan sumber ajaran keagamaan di
samping Al-Quran) itu diturunkan ke tengah-tengah kehidupan adalah
untuk diamalkan. Namun, di sela-sela nash yang sudah jelas itu,
manusia punya pilihan, termasuk bebas memilih untuk tetap mau
diganggu syaitan. Sekedar diganggu dan dibi-arkan diganggu hingga di
tahap detik-detik atau menit-menit awal suatu aktivitas — kalau mau
demikian tetapi pada kelanjut annya kita tidak mau mentolerirnya —
masih dikategorikan jauh lebih baik, daripada orang yang terus menerus
mau digoda syaitan sedang dia terus saja mengingkari ajaran agamanya,
dalam hal ini ketentuan hadis. Agaknya, kawan-kawan yang anti sunnah
(ingkar al-sunnah) terrnasuk yang terakhir ini. Begitu juga, yang
berpandangan bahwa hadis secara kognitif yes, sedangkan secara afektif
dan psikomotorik no. Anehnya, orang yang terakhir ini lalu semaunya
dalam beragama, hingga kadang sudah lupa bahwa di dalam dirinya ada
kewajiban shalat yang mesti dikerjakannya, tetapi itu sudah ditinggalkan
karena pada segi afektif dan segi motoriknya dipandangnya no terhadap
hadis, Na'uzubillah.
Namun, di sela-sela nash yang sudah jelas itu,
manusia punya pilihan, termasuk bebas
memilih untuk tetap mau diganggu syaitan.
Sekedar diganggu dan dibi-arkan diganggu
hingga di tahap detik-detik atau menit-menit
awal suatu aktivitas — kalau mau demikian
tetapi pada kelanjut annya kita tidak mau
mentolerirnya — masih dikategorikan jauh
lebih baik, daripada orang yang terus menerus
mau digoda syaitan sedang dia terus saja
mengingkari ajaran agamanya, dalam hal ini
ketentuan hadis. Agaknya, kawan-kawan yang
anti sunnah (ingkar al-sunnah) terrnasuk yang
terakhir ini. Begitu juga, yang berpandangan
bahwa hadis secara kognitif yes, sedangkan
secara afektif dan psikomotorik no. Anehnya,
orang yang terakhir ini lalu semaunya dalam
beragama, hingga kadang sudah lupa bahwa di
dalam dirinya ada kewajiban shalat yang mesti
dikerjakannya, tetapi itu sudah ditinggalkan
karena pada segi afektif dan segi motoriknya
dipandangnya no terhadap hadis, Na'uzubillah.
Bab 5
PENUTUP

Mengakhiri pidato pengukuhan ini perkenankanlah saya


menyampaikan beberapa penegasan juga implikasi penting.
Hadis yang dapat diartikan sebagai laporan sesuatu yang
dihubungkan kepada Nabi saw berupa pernyataan, perbuatan,
penetapan, dan persifatan atau perilaku Nabi, merupakan doku-men
penting ajaran keagamaan dan sekaligus sumber ajaran ke-agamaan
Islam bagi kehidupan.
Dalam perkembangannya di dalam kehidupan, umat yang sadar
bersama muhadditsun mengkawal hadis itu selain sebagai tradisi yang
dilestarikan, juga sebagai ajaran untuk dilaksanakan. Untuk itu,
mendudukkannya secara benar di dalam kehidupan akan menjadikan
umat dapat optimal dalam keyakinan dalam bcramal dengan ajaran dan
menambah kemantapan dalam beragama.
Dalam tiga era dan masa beredamya hadis dalam Islam,
muhadditsun memberikan respons bagi kehidupan umat. Respons nya
berupa mengkawal autentika hadis, baik dalam starusnya sebagai
sumber ajaran yang mesti dilestarikan maupun dari wacana yang dapat
membuat umat meragukan autenrika hadis sehingga membuatnya surut
dalam beramal. Dalam konteks tugas ini respons umat, terlihat cukup
besar untuk berjuang bersama melestarikan hadis di dalam kehidupan,
yang merupakan tugas yang berjalan hingga akhir zaman.
Respons konkrit yang merupakan jawaban konstributif
muhadditsun bersama umat di dalam kehidupan, terlihat dengan
hadirnya indikator tampilan karya-karya atau dialog yang memberi
tawaran jawaban kepada umat dalam kehidupan. Kesemuanya
merupakan tugas yang berlanjut sejalan dengan perkembangan zaman
dalam kehidupan umat. Wallahu A'lam.

***

Sebagai akhir dari pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya


juga keluarga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
mengantarkan kami kepada kondisi sekarang, yang tak bisa kami balas
dengan imbalan apapun. Pertama, kepada Bapak serta guru tercinta,
Kiai Haji Soebahar (yang tidak sempat menyaksikan acara ini) serta Ibu
tercinta Nyai Hajjah Sri Indiah yang sengaja hadir untuk menyaksikan
puteranya dikukuhkan menjadi guru besar di kampus para wali ini.
Selanjutnya kepada saudaraku tercinta Mbak Muhassonah, Dinda
Dr. H. Abd. Ilalim Soebahar, MA; Moh. Fadli Soebahar, M.H., Drs.
Zarkasyi Soebahar, M.Ag; Bulik Hj. Wuryati Isnain, Pakde dan Bude A.
Kadir Muchtar, serta semua keluarga Bondowoso dan Surabaya. Tak
ketinggalan kepada semua famili dari Kudus, Lasem dan Solo, antara
lain: Bapak Pribadi dan Ibu, Mbak Wardati sekalian, Dinda Drs. M.
Taufiq, M.Ag. sekalian, Drs. A. Zaenuri sekalian, Kang Mas H. Nur
Badri sekalian, KH.A.Falih sekalian, Kanda Drs. H. Ihsan Mudzakkir,
serta Bulik Hj. Chadidjah.
Kemudian, istri yang menemani dalam duka dan suka, yang selalu
siap ngeroki saat masuk angin dan lain-lain; anak-anakku yang
semuanya menantang keluarga untuk tetap bisa hidup man diri dan
berprestasi, yang waktunya banyak saya rampas untuk terus menambah
iJmu untuk khidmat bagi sesama.
Guru-guru kami, yang banyak hadir di acara ini, yang dengan
ketulusan telah membimbing tanpa kenal lelah. Para senior juga
pembimbing kami, antara lain: Prof. PLA. Qodri A. Azizi MA dan Prof.
H. Abdul Djamil, MA, yang suka memberi kritikan "mencubit" namun
mampu membuat saya sadar dan mau bangkit untuk memberi
konstribusi aktif bagi almamater tercinta. Para pejabat IAIN, Prof. H.
Ibnu Hadjar, M.Ed., Drs. H.M. Nafis, MA, Drs. Machasin, Drs. H.
Mustaqim, M.Pd., Drs. II. Satriyan Abd. Rahman, serta Drs. H. Suyari
Muthalib dan segenap stafnya, juga kawan-kawan di UPMA yang
bantuannya cukup berarti bagi terselenggaranya acara ini.
Para pejabat di lingkungan IAIN Walisongo, terutama dari
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo yang tidak kami sebutkan satu
persatu; juga seluruh dosen dan karyawan, yang selama ini dalam
kebersamaan membina IAIN tercinta.
Akhirnya, seluruh panitia dari mstitut, fakultas, maupun adik-adik
mahasiswa, yang tak dapat saya sebutkan satu persatu. Hanya kepada
Allah Swt saya berdoa, semoga mereka mendapat balasan dari seluruh
amal salihnya, Amin. Sekian.
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Alm. Prof. Dr. Mustafa al-Siba’i
Tokoh Hadis yang Energik
Dari Damaskus, Siria
DAFTAR PUSTAKA

Ibn al-Shalah, Abu 'Amr 'Utsman ibn 'Abd al-Rahman, Muqad-ditnah


ibn ShalahftVlum al-Hadits, Beirut: Dar al-Kutub al-'llmiyyah,
1978.
Ibn Anas, Abu Abdillah Malik, al-Muwaththa\ fnaskah diteliti dan
diberi notasi oleh Muhammad FVad 'Abd al-Baqi], [ttp.]:Daral-
Sya'b, [tth.J.
Ibn Faris bin Zakariyya, Abu al-Husain Ahmad, Mu'jam Maqa-yis al-
Lughah, Jilid I-VI, Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi
waSyarikah, 1392/1972.
Ibn HanbaLAbu 'Abdillah Ahmad, Musnad al-lmam Ahtnad ibn
Hanbal, Bcirut: Dar al-Fikr, [tth.].
Ibn Katsir, Abu al-Fida" Isma'il, Ikbtishar 'Vlum al-Hadits, [diberi
syarah oleh Ahmad Muhammad Syakk dan diberi judul al-Ba'tis
al-Hasis ft IkhtisharVlum al-Hadits\, Beirut: Dar al-Fikr, [tth.].
Ibn Khaldun,'Abd al-Rahman bin Muhammad, Muqaddimah Ibn
Khal'dun,[wp]\ Dar al-F'ikr, ['tth.].
Ibn Majah, Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid, Sunan Ibn Majah,
Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, [tth].
Ibn Sa'ad, Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra, Juz IV danVII, Lei-
den:EJ. Brill, 1322.
Ilyas, Yunahar dan M. Mas'udi (Ed.), Pengembangan Pemikiran Ter-
badap Hadis, Yogyakarta: LPPI UniA^ersitas Muhamma-diyah,
1996.
Ismail, M. Syuhudi, Metodokgi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta: Bu-
lanBintang, 1413/ 1992.
s "Pemahaman Fladis Nabi secara Tekstual dan Konteks-
tual (Telaah Ma'ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Uni-
versal, Temporal, dan Lokal," Pidato Pengukuhan Gum Be-sar
llmu Hadis, IAIN Alauddin, 1992.
Al-Jaburi, Abu al-Yaqdxhan 'Athiyyah, Mabahitsfi 'Tadwin al-Sun-nah
al-Muthabharah, Beirut: Dar al-Nadwah al-Jadidah, [tth.]
Al-Jundi, Anwar, Tashhih al-Mafahimfi Dlan> ^al-Qur"an al-Karim
n>a al-Sunnah al-Nabawiyyah, Kairo: Maktabat al-Turats al-Isla~
mi, [tth.].
Al-Kliathib, Muhammad 'Ajjaj, al-Sunnab Qabla al-Tadmn, Kairo:
Maktabah Wahbah, 1383/1963.
Al-Kirmani, Muhammad bin Yusuf bin 'Ali, Shahih Abi'Abdillah al-
Bukhari bi Syarh al-Kirmani, Juz I, Kairo: 'Abd al-Rahman
Muhammad, [tth.].
Mahmudunnasir, Syed, hlamic in Concept and Hisfory, New Dcl-
hi: Nurat 'Ali Nasr for Kitab Bhavan, 1981.