Anda di halaman 1dari 4

Minat Baca dan Kualitas Bangsa

Oleh.

KI SUPRIYOKO

Baru-baru ini, atau tepatnya tanggal 5 Maret 2004, Presiden Megawati


Soekarnoputri meresmikan secara serentak sebanyak 50 rumah baca yang tersebar di
seluruh Indonesia. Peresmian yang dipusatkan di Rumah Baca Pesisir di Kompleks SDN
Pesisir Lama I, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon, Jawa
Barat tersebut menandai dimulainya "gerakan" membaca masyarakat di rumah-rumah
baca yang dibangun oleh pemerintah.

Setelah meresmikan rumah baca tersebut Presiden "disuguhi" aktivitas membaca


oleh puluhan siswa SD setempat. Terlepas kegiatan membaca siswa tersebut sudah
menjadi kebiasaan atau hanya sesaat ketika presiden berkunjung itu soal lain, yang jelas
tradisi formalitas seperti itu memang sudah membudaya dalam kehidupan kita.

Peresmian rumah baca itu sendiri memang menimbulkan berbagai pendapat, di satu
sisi ada pendapat yang menyatakan kebijakan tersebut sangat positif dalam upaya
mendongkrak minat baca masyarakat, di sisi lain ada yang berpendapat mengapa dana
untuk mendirikan rumah baca tersebut tidak digunakan untuk melengkapi buku-buku
perpustakaan SD (setempat) yang selama ini kurang diperhatikan pemerintah.

Minat baca rendah

Terlepas dari ketepatan kebijakan pendirian rumah baca, tujuan untuk mendongkrak
minat baca masyarakat memang positif. Hal ini didukung realitas tentang rendahnya
minat baca masyarakat kita pada umumnya dan siswa sekolah kita pada khususnya.

1
Secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest)
dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability).
Rendahnya minat baca masyarakat menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan
kebiasaan membaca yang rendah ini menjadikan kemampuan membaca rendah. Itulah
yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini.

World Bank di dalam salah satu laporan pendidikannya, "Education in Indonesia -


From Crisis to Recovery" (1998) melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca
anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi dari Vincent Greanary, dilukiskan
siswa-siswa kelas enam SD Indonesia dengan nilai 51,7 berada di urutan paling akhir
setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Artinya,
kemampuan membaca siswa kita memang paling buruk dibandingkan siswa dari negara-
negara lainnya.

Keadaan tersebut mengingatkan hasil penelitian yang saya lakukan di desa-desa


wilayah Sulawesi Selatan, seperti di daerah Galesong, Bantaeng, Tamalatea, Bisapu, dsb.,
beberapa waktu lalu. Dari sekira 2.000 kasus ada 30-an atau 1,5 persen anak lulusan SD
yang tidak lancar membaca. Pada mulanya kami terkejut, surprise, apa benar anak
lulusan SD belum lancar membaca? Setelah diteliti proses beserta metodenya, termasuk
pengetesan membaca dengan 250 kata, ternyata memang begitulah senyatanya. Artinya,
benar-benar ada anak lulusan SD yang belum lancar membaca karena kemampuan
membacanya memang rendah.

Mengapa hal itu terjadi? Karena kebanyakan SD kita tidak memunyai koleksi buku-
buku perpustakaan yang cukup sehingga tidak memotivasi siswa untuk membaca.

Kebanyakan atau bahkan hampir keseluruhan SD kita yang jumlahnya sekira 155
ribu tidak memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai. Buku pelajaran dan buku
bacaan umum tidak terkoleksi secara lengkap. Bahkan, banyak SD yang tidak memiliki
ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola
perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa SD kita tidak memiliki kebiasaan
membaca yang memadai.

2
Keadaan seperti itu ternyata juga terjadi pada siswa SLTP, SMU, dan SMK. Dan
yang sangat ironis, tidak dimilikinya kebiasaan membaca yang memadai tersebut juga
terjadi di kalangan perguruan tinggi, baik dosen maupun mahasiswanya. Beberapa
perguruan tinggi kita memang memiliki perpustakaan dengan koleksi buku, jurnal,
majalah ilmiah, dan terbitan lain dalam jumlah yang cukup, namun kebanyakan dari
perguruan tinggi tidak memiliki fasilitas seperti itu. Kebanyakan mahasiswa dan dosen
perguruan tinggi tidak memunyai kebiasaan berkunjung ke perpustakaan kampus, apalagi
perpustakaan di luar kampusnya.

Kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga rendah. Salah satu indikatornya
adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar
dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1:45; artinya setiap 45 orang
mengonsumsi satu surat kabar. Di Filipina angkanya 1:30 dan di Sri Lanka angkanya
1:38. Artinya dalam soal membaca, masyarakat kita kalah dibandingkan dengan
masyarakat negara berkembang lainnya seperti Filipina dan bahkan dengan masyarakat
negara belum maju seperti Sri Lanka.

Indikator lainnya adalah rendahnya pengunjung perpustakaan. Kepala Perpustakaan


Nasional, Dady P. Rachmanata, dalam kegiatan Hari Aksara Nasional (HAN) beberapa
waktu lalu menyampaikan informasi mengenai rendahnya pengunjung perpustakaan
nasional dan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia. Dari pengunjung yang ada hanya
10 s.d. 20 persen yang meminjam buku dan kalau diasumsikan kebiasaan membaca itu
ada pada mereka yang meminjam buku maka tingkat kebiasaan membaca kita baru 10
s.d. 20 persen. Padahal, di negara maju angkanya mencapai 80 persen.

Indikator kualitas

Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu
indikator kualitas bangsa. Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum
tinggi, yaitu 88 persen. Di negara maju seperti Jepang angkanya sudah mencapai 99
persen. Sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasan membaca secara memadai
sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf tersebut.

3
Oleh UNDP, United Nations Development Programme, angka melek huruf telah
dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka
melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau HDI,
human development index; dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa.

Dalam publikasi UNDP yang terakhir, "Human Development Report 2003"


(2003), Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas
bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia
(58), dan Brunei Darussalam (31). Jelas sekali bahwa kualitas bangsa Indonesia masih
belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa Vietnam, Thailand, Malaysia, dan
Brunei. Belum maksimalnya kualitas bangsa ini antara lain disebabkan belum
maksimalnya angka melek huruf kita.

Apabila dirunut minat baca itu sangat berkait dengan kualitas bangsa. Pada satu
sisi rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca masyarakat kita disebabkan
rendahnya minat baca, di sisi lain rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca tidak
mengondisikan kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan. Di samping itu,
rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi menurunkan angka melek
huruf yang secara langsung menentukan kualitas bangsa.

Jadi, kalau bangsa ini mau maju dan lebih berkualitas maka harus ada upaya-
upaya yang lebih konkret baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk mendongkrak
minat baca masyarakat. Meskipun hal ini sangat tidak mudah akan tetapi harus
dilakukan!