Anda di halaman 1dari 19

Kisahku Tentang DIA

(Inez part 1)
Semua ini adalah kisah tentang aku. Aku yang bernama Inez Minerva, kata kakek
minerva itu salah satu nama dewi. Entahlah… itu memang namaku aneh seperti orang
blesteran aja, padahal aku tulen Indonesia. Semuanya tak pernah aku kira akan berakhir
seperti ini, tapi tak apa… ini memang indah.
Aku kelas 2 SLTP, masa lagi seru-serunya cinta pertama alias first love. Semua
temanku sudah mulai mengincar para anak lelaki untuk di jadikan pacar, istilah ngetrend-
nya ngeceng. Aku masih bingung dengan semua ini, mungkin karena aku-nya saja yang
masih ke-kanak-kanak-kan. Sampai saat ini aku belum pernah sangat tertarik kepada
seorang pria. Aku hanya tahu ‘Oh… anak itu cakep, anak itu baik, anak itu pintar’ tak
pernah sedikitpun terbayangkan untuk menjadi pacarnya. Bahkan aku belum terbayangkan
bagaimana sih pacaran itu.
Dulu waktu SD, aku punya teman cowok yang deket banget bahkan kita duduk
sebangku waktu kelas 6 SD. Pacaran sih enggak, boro-boro pacaran, kita belum tahu dan
kita belum ngerti tentang itu. kita hanya teman, teman yang senang bermain. Panggilannya
Engkos tapi sekarang jadi Cozy dari namanya Irfan Hiskia…Koswara. Yah… Koswara
adalah nama bapaknya. Aku sobatan deket sama dia sampai akhirnya kita masuk SLTP
sekarang. Kelas kita selalu tetanggan.
Hari ini aku datang ke sekolah lebih pagi. Sebetulnya aku sekolah siang, tapi
karena ada pelajaran Olahraga aku datang pagi. Sekolah-ku itu memang aneh, olah raga itu
belajarnya diluar jam pelajaran. Jadi buat yang sekolah pagi, olahraganya siang, buat yang
sekolah siang olahraganya pagi seperti aku ini. Setelah selesai olahraga seperti biasanya
aku nongkrong di perpustakaan sekolah untuk mengerjakan PR. Sambil mengerjakan PR
juga menonton TV, aku dan temanku Rara, Wiwi dan Shanty mengobrol kesana kemari,
dari iklan paling baru sampai gossip sekolah yang lagi HOT soal pemilihan ketua OSIS
yang akan diumumkan siang ini.

-1-
Saat sedang mengobrol, Wiwi sempat menceritakan tentang cinta pertamanya, dan Shanty
soal kecengan sekelasnya Kiki begitu juga dengan Rara pada Lanang. Aku hanya
terbengong-bengong mendengar cerita mereka, karena aku tak mengerti apa yang mereka
katakan. Ngerti sih ngerti cuman enggak kebayang aja. Tiba-tiba Wiwi bertanya padaku,
“Eh Nez, kenapa kamu enggak cari pacar juga? Kamu punya kecengan kan?”.
“Hah? Kecengan? Mmm… siapa yah… enggak tau ah…” aku bingung
menjawabnya.
“Eugh...” keluh Wiwi.
“Emangnya kenapa? Aku enggak punya kecengan… aku cuman punya sobat aja
dari SD… si Cozy.” Aku menggapi keluhan Wiwi,
Ia pun berkata lagi, “Cozy yang calon ketua OSIS itu? Anak 2-6?” aku tak
menjawab hanya mengangguk,
Tiba-tiba saja Rara berkata, “Nah…! Bisa juga tuh, dari sobat jadi pacar… cocok!
Enggak usah PDKT (pendekatan) lagi. Udah tahu dalem-dalemnya.”
“Oh ya…?” kataku bego. Kami pun terdiam.
Setelah lama aku berfikir, ‘Iya kali ya… aku suka sama Cozy. Tapi enggak tahu ah,
tapi pacar? Pacaran? Seru kali ya…? Eh… pacaran tuh kayak apa sih?’ di tengah
perdebatan nuraniku, Rara kembali berkata, “Ayo dong Nez… kapan kamu punya pacar?
Kita dukung loh…”
Aku pun kembali larut dalam perdebatan nurani, ‘eh…si Rara mau bantu, tapi apa
Cozy mau nerima aku jadi pacarnya?’. Bel sekolah pun berbunyi, tandanya aku harus
masuk sekolah. Sebelum bubar aku berkata pada Wiwi, “Wi… janji ya… kalau misalnya
aku mau nyata-in perasaan aku ke Cozy, kamu harus bantu ya…”. Wiwi pun mengangkat
jempolnya tanda setuju.
Esok harinya di sekolah… aku diam seharian memikirkan soal pacaran dan
persahabatanku dengan Cozy. Baikkah nantinya kalau aku pacaran sama Cozy. Waktu
cepat berlalu dan sekarang sudah waktunya istirahat. Aku yang masih melamun diajak
Wiwi dan Rara untuk pergi ke kantin.
Hari itu sudah keluar pengumuman Ketua OSIS yang baru, ternyata dia adalah
Irfan Hiskia si Cozy sobatku. Dalam perjalanan pulang dari kantin, aku bertemu dia di
depan Lab Biologi. Aku dan Cozy berjalan di dua sisi yang berbeda terhalang taman kecil
selebar hampir 1,5 meter. Ketika berpapasan dengan Cozy aku pun mengucapkan selamat

-2-
atas keberhasilannya menjadi ketua OSIS. Aku pun mengulurkan tanganku mengajak
bersalaman,dan kami pun bersalaman. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Hatiku dag-dig-dug tak keruan. Rara dan Wiwi yang melihat kejadian itu langsung
mengejekku,
“Deuh…kalau udah yang namanya cinta mah jarak selebar apapun di hadapi demi
untuk bersalaman saja.” Aku makin malu saja, aku pun tersenyum dan segera pergi ke
kelas.
Beberapa hari kemudian masih dengan bingung aku kembali terdiam selama
istirahat. Wiwi dan Rara pergi ke kantin, dan aku menunggu-nya. Lama menunggu, Wiwi
dan Rara tak kunjung tiba di kelas, baru setelah bel istirahat habis mereka muncul. Mereka
pun menceritakan padaku bahwa Cozy baru saja jadian sama teman sekelasnya Abel.
Hatiku sedikit hancur, tapi Rara menyemangatiku,
“Nez, kalau yang namanya cinta, harus di-omongin dari pada nyesel. Biar pun
Cozy sudah punya pacar, kalau kamu masih suka katakan saja perasaanmu. Bilang saja
kalau kamu hanya pingin Cozy tahu perasaanmu padanya.”
“Tapi aku bingung Ra, Wi ngomong-nya kayak gimana aku deg-deg-an banget.”
Kataku.
“Soal ngomong nanti juga keluar sendiri, berdo’a saja sama Tuhan agar kamu
diberi kekuatan untuk menyatakannya. Aku juga dulu begitu waktu dengan Dandy.” Kata
Wiwi.
Seminggu setelah berita itu aku belum juga menyatakan perasaanku pada Cozy.
Wiwi dan Rara jadi semakin penasaran saja, “Kamu tuh mau enggak sih sama Cozy? Soal
di terima atau enggak-nya itu urusan nanti.” Kata Wiwi,
Rara pun ikut nimbrung menasihatiku, “Iya, perasaan kamu pasti enggak tenang
kan sekarang? Makanya ‘ngomong’ biar kamu jadi plong.”
“Ya sudah, aku akan mencobanya malam ini.” Kataku.
“Janji? Tapi kayaknya kamu ciut, kamu enggak akan berani ‘ngomong’ sama
Cozy.” Kata Wiwi.
Aku merasa di-rendahkan oleh perkataan Wiwi. “Siapa bilang? Liat aja, aku
bakalan bilang sama Cozy.”
“Kalau bohong, aku dan Rara enggak mau temenan sama kamu lagi.” “OK!”
jawabku.

-3-
Sesampainya di rumah, pikiranku kacau, aku bingung sekali. Pukul 18.30 aku
mulai duduk di dekat telepon rumah. Beberapa kali aku menengok kanan kiri, takut kalau
kakak-ku tahu. Sampai akhirnya kakak menutup kamarnya, aku belum juga menyentuh
telepon. 18.40 aku mulai mengangkat gagang telepon namun menutupnya kembali… entah
berapa kali aku melakukan hal itu sampai aku akhirnya mulai mengangkat dan memencet
nomor telepon Cozy setelah berdo’a entah berapa puluh kali. ‘Tuuutt…tttuuuuttt’ suara itu
terdengar begitu jelas di telingaku, tanda bahwa telepon-ku mencoba connect ke
teleponnya.
“Halo.” Kakak Cozy mengangkat telepon itu. Setelah ku bilang aku ingin bicara
dengan Cozy, ia pun memanggilnya. Sempat ku-dengar ejekan kakaknya itu, “Dari cewek-
nya tuh Ma.”
Tak lama, “Halo…” suara itu kudengar dan amat sangat ku kenal.
“Halo” katanya lagi.
Aku pun menjawab, “Halo…Coz…ini dari Inez.”
“Hai Nez. Ada apa?” Sapa-nya hangat seperti biasa.
“Hem?… aku cuman mau ngucapin selamat, katanya kamu udah jadian ya sama
Abel?” hati-ku perih saat mengucapkan kata ‘selamat’ itu. Cozy menjawab tak
bersemangat,
“Hm… thank’s.”. Kami terdiam cukup lama.
Aku mulai berkata lagi setelah komat-kamit berdo’a, “Coz… sebenernya aku
nelepon mau bilang sesuatu sama kamu… tapi janji jangan ketawa… jangan marah…
jangan sebel.”
“Iya” jawabnya.
“Janji! Ini seriusan, aku enggak bohong.” Kataku.
“Iya” Cozy menjawab dengan kata yang sama.
“Coz…! Aku serius…” aku mencoba meyakinkan lagi mengingat Cozy yang
orangnya humoris.
“Iya Nez, Apa?”
Aku menghela nafas panjang dan berkata, “Jangan ketawa ya… Coz sebenernya
aku suka sama kamu dari dulu. Aku enggak peduli apa jawaban kamu, aku cuman mau
ngutara-in perasaan aku dan aku mau kamu tau perasaan aku.”

-4-
Hati plong rasanya setelah mengatakan hal itu. Lama ku tunggu Cozy tak juga
menjawab lalu aku berkata lagi, “Coz… aku enggak perlu jawabannya sekarang, yang jelas
‘I will always love you no matter what sampai kapan pun.’ ”.
Perkataanku tadi tidak mengundang jawaban Cozy. Dari pada malu akhirnya aku
menutup telepon tanpa menutup pembicaraan.
Aku ketawa-ketiwi sendiri (untung enggak ada yang lihat, kalau ada bisa-bisa aku
di katain gila) jingkrak sana jingkrak sini. Plong banget… tiba-tiba saja aku merasa
bersalah dan enggak enak hati karena sudah menutup telepon tanpa bilang-bilang. Aku
mencoba menguhubunginya lagi sampai tiga kali tapi si kakak yang mengangkat, aku pun
mengurungkan niatku. Menjelang tidur, aku kembali memikirkan kata-kataku pada Cozy
sore tadi. Aku malu dan merasa bodoh sekali, terutama kalimat ‘I will always love you no
matter what sampai kapan pun.’ Tapi apa boleh buat, itu sudah terjadi dan aku tak bisa
mengulangnya.
Di sekolah 19 jam kemudian Rara dan Wiwi menanyakan ‘hal itu’. Untung saja aku
tidak bertemu Cozy sejak tadi, jadi aku belum merasa malu. Sebetulnya aku penasaran apa
jawaban dia, dan aku menyesal berkata, ‘aku enggak peduli jawaban kamu’ sama ‘aku
enggak perlu jawabannya sekarang’.
Wiwi bertanya, “Gimana punya nyali enggak, ‘ngomong’ sama Cozy.”
“Punya dong, kamu kira aku pengecut apa?” jawabku bangga.
“Apa jawabnya?” Tanya Rara.
Aku hanya menggelengkan kepala.
“Apa yang kamu katakan padanya?” Tanya Wiwi.
Aku pun menceritakan semua kejadian kemarin. Ia pun tertawa, aku makin malu,
menyesal, dan kesal.
“Berani sumpah kamu bilang gitu?” Wiwi kembali bertanya kembali.
“Iya. Enggak percaya tanya aja sana!” tantangku.
“OK, istirahat nanti aku tanyakan, sekalian sama jawabnya.” Kata Wiwi.
Waktu istirahat pun tiba dan kami bertiga, Wiwi, aku, dan Rara pergi teras kelas
yang bersebelahan dengan kelas Cozy. Aku mulai curi-curi pandang, tapi Cozy sedang
sibuk mengobrol dengan Abel dan kawan-kawannya.
“Tunggu disini, aku mau tanya sama Cozy.” Kata Wiwi.

-5-
Aku memperhatikan Wiwi bertanya dengan menarik Cozy jauh dari Abel, entah
apa yang dikatakannya. Ketika Cozy melihat ke arahku aku pun segera masuk kelas karena
malu ditemani Rara.
“Ra… aku malu banget, gimana dong. Aku juga deg-deg-an, kayaknya aku ditolak
deh…” kataku
Rara pun memelukku dan berkata, “Nyantai aja Nez, kalau pun iya, mungkin
dengan kamu bilang sama Cozy kalau kamu suka dia, suatu saat dia ‘nembak’ balik kamu.
Isi hati siapa yang tahu sih?” Ake lega mendengar perkataan Rara.
Aku larut dalam pelukan Rara sampai akhirnya Wiwi datang.
“Apa katanya Wi? Kamu ngomong apa?” tanyaku.
Wiwi pun mulai bercerita cukup panjang dan lebar, katanya, “Aku rebut dia dari
Abel, alasannya sih soal OSIS. Terus aku bilang sama dia, ‘Coz kamu jangan ngasih
harapan kosong sama Inez, jawab pertanyaan dia. Jujur! Dari pada Inez nunggu tanpa pasti
jawaban kamu.’ terus dia menjawab, ‘Enggak tahu juga Wi, Abel…Inez… sebenernya…
sorry Wi.’ Dia pergi… tapi aku kejar lagi, ‘Coz yang bener dong, jangan buat harapan Inez
terus melambung padahal kamu enggak suka dia.’ Kata aku. Gitu deh...”
“Jadi jawaban dia apa?” tanyaku lagi.
Wiwi mengangkat bahu. Aku pun menunduk sedih, Wiwi dan Rara pun
memelukku.
“Sabar ya… kita yakin kamu bakal dapat yang lebih baik. Tapi inget Nez, dia tidak
berkata kalau dia menolakmu, jadi dia tidak menolakmu tapi dia belum menerimamu itu
saja.” Kata mereka berdua.
Hari berlalu dalam kesedihan, sudah hampir 4 bulan berlalu. Mulai bulan depan
setelah Idul Fitri aku sekolah pagi, sebel! Jadi enggak bisa bangun siang lagi . Suatu hari
temanku yang lain, Citha, memberi kabar padaku kalau Seno sudah pulang. Seno? Dia itu
juga temen SD aku, kata temen-temen dia tuh suka sama aku. Mungkin juga sih… tapi aku
enggak mau ke GeeR-an tapi dia malah ngasih aku hadiah-hadiah gitu. Yang paling
berkesan adalah waktu di kasih tamagochi (lagi ngetrend-ngetrend-nya tuh) sama music
box yang sampai saat ini masih ku simpan dengan baik. Harapanku tumbuh kembali,
padahal sejak aku masuk SLTP aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Yah…
itung-itung pelampiasan dari rasa sedih-ku atas Cozy.

-6-
Setelah Citha memberitahukan kabar itu, aku pun punya kabar lain, aku berkata,
“Cit, hari minggu yang akan datang katanya temen-temen SD mau pada ke-rumah Ibu
Aya, silaturahmi…!”
“Oh ya? Ajakin yang lain ya… si Cozy juga, Ibu Aya pasti bangga punya murid
jadi ketua OSIS.” Citha menanggapi perkataanku.
Aku hanya tersenyum pedih mendengar kata Cozy.
“Ya sudah, minggu depan kita pergi bareng ya…” ajak Citha mengakhiri
pembicaraan kami.
Hari Minggu itu pun tiba, kami alumni (ciee-elaa..) SD 1, berkumpul di rumah
Davy sebelum akhirnya pergi bersama. Di sana kami saling bersalaman, bermaaf-maafan.
Aku pun mau tak mau bertemu juga dengan Cozy. Setiap pandangan kami bertemu, kami
berpura-pura tidak melihat, kami saling menghindar. Namun apa daya ketika angkutan
umum yang mengantar kami ke rumah Bu Aya penuh, aku dan Cozy kembali satu
angkutan.
Sesampainya di rumah Bu Aya, aku dan teman-teman segera ‘sungkeman’ juga
salaman lagi, sama teman-teman yang tidak mampir ke rumah Davy. Semua orang yang
datang sudah aku salami kecuali…Cozy. Suasana jadi kaku sekali, aku dan Cozy yang
biasanya sering nge-banyol, kini saling terdiam.
Lalu tiba-tiba ia berkata, “Eh…Nez kita belum salaman ya…” aku tersenyum dan
mengulurkan tanganku.
Bu Aya pun berkata, “Bagaimana kalian ini, satu sekolah tapi kok belum juga
maaf-an.”
Kami berdua tersenyum, hal itu ditanggapi oleh Ucan, “Kok, cuman senyum?
Enggak ada becanda-becanda-nya nih. Dulu aja… bikin kita ngakak, sekarang kok kayak
gini. Baru jadian ya…?” lalu kami pun tertawa dengan sedikit terpaksa.
“Ngasal kamu…” kataku.
Waduh…! Pokoknya hari itu kaku sekali, janggal, dan bikin enggak enak hati, niat-
nya mau jaga imej biar enggak ketahuan soal ‘itu’, tapi yang ada malah jadi kagok, dan
aneh.
Bulan Maret tahun 2000, sekolahku mengadakan study tour ke Kota Gudeg,
Yogyakarta. Tapi sayang, yang pergi hanya satu bis, kasihan sekali ya… Malam itu kami
berkumpul di kelas 3-B, untuk prepare keberangkatan. Bapak Kep-Sek ceramah soal jaga

-7-
keamanan disana. Selama itu aku tak berpaling dari Cozy, bagaimana tidak. Malam itu dia
membuka luka lama. Ia duduk berdua dengan pacar barunya Mayang, mesra banget…
serasa dunia milik berdua, padahal Pak Kep-Sek lagi nyap-nyap bertuah. Hatiku geram,
tapi lebih banyak sedih, aku malu.
Selama di Yogya Cozy tak pernah sekalipun menyapaku, dari mulai sarapan sampai
makan malam, dirinya tak pernah pergi dari samping Mayang. Sampai suatu hari... Hari itu
hari Jum’at, setelah berkeliling di Keraton, kami mampir di Masjid Agung untuk shalat
jumat. Aku dan sobatku Ajeng diajak Ibu Lilis pergi membeli es kelapa di dalam kompleks
masjid. Lagi enak-enaknya, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kami bertiga terjebak, mau
kembali ke bis, jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke tempat wudlu untuk
berteduh. Bukannya bosan nunggu, aku dan Ajeng malash asik-asikan ngeceng anak SMU
Taruna Nusantara. Wah… body-nya keren-keren, cakep-cakep, dan yang jelas pinter-
pinter.
Hujan pun reda meski masih sedikit gerimis. Pakaianku basah kuyup. Aku, Ajeng,
dan Ibu Lilis kembali ke bis, sial-nya aku, Ajeng meninggalkanku sendiri, tapi dibalik
kesialan itu aku malah senang. Ditengah gerimis itu, aku berjalan sendiri sambil
mengumpat, “Ugh… Ajeng! Awas loh, nanti aku tinggal di Gua Batujajar tau rasa!.”
Tiba-tiba saja seseorang memakaikan jaket ke punggungku. “Kehujanan ya…” kata
orang itu.
Aku pun menoleh, ternyata dia Cozy, aku tersenyum dan mengucapkan terima
kasih. “Dari mana, kok sampai basah kuyup gitu.” Cozy bertanya padaku.
“Ya?!… mmm tadi habis beli es kelapa di warung sana sama Ajeng sama Bu Lilis.”
Kataku sambil menunjuk ke warung di sebelah kiriku. “Terus turun hujan, jadi tadi kita
ikut berteduh di tempat wudlu, sampai basah kuyup gini.” lanjutku.
“Terus Ajeng sama Ibu, kemana?” tanyanya lagi.
“Tauk tuh… mereka lari-lari ninggalin aku.” Jawabku kesal.
“Ih… kasian deh lu.” Ejeknya sambil mencubit kedua pipiku.
“Ih…apaan sih?” kataku sedikit kesal. “Gemes tau, udah lama enggak nyubit
kamu…” katanya.
Tak lama kami pun sampai di bis. Untung saja Mayang tidak melihat kejadian itu,
jika iya… dia pasti marah besar. Akhirnya… itu adalah kali pertama aku dan Cozy, saling
mengobrol cukup panjang setelah kejadian ‘itu’. Biarlah hanya sesaat, aku sudah senang,

-8-
sepertinya meskipun cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi aku masih punya cinta yang
lain, yang tumbuh di hatiku, setelah obrolan tadi bersama Cozy.
Yah… begitulah kabarku dengan Cozy, kami tak pernah lagi berbicara panjang
lebar seperti dulu. Sampai upacara kelulusan SLTP, bahkan sampai kami masuk SMU, tak
kusangka kami satu sekolah lagi, meski tidak sekelas. Kelas 1 berlalu begitu cepat, tak
kusangka aku sudah di akhir semester ke-2. Aku bingung harus masuk jurusan apa, IPA
atau IPS. Pengen-nya sih IPA, tapi masuk-kah aku? Nilai matematika dan fisika semester
1-ku merah. Entahlah… tapi aku masih berharap.
Kelasku tetangga-an dengan kelas Nana dan Yuli. Dua sobat yang, sejak kelas 4 SD
selalu sekelas dan duduk sebangku. Dua orang ini, juga teman SD-ku, mereka selama
SLTP selalu sekelas dengan Cozy. Aduh…! Lagi-lagi Cozy, apa dia tak pernah bisa hilang
dari otak-ku. Apakah ini berarti aku masih mengharapkan dia? Mungkin saja… dan kurasa
iya…
Aku, Nana, dan Yuli menjadi sahabat dekat, kami pulang bersama dan satu
ekstrakulikuler. Suatu hari kami ngobrol panjang lebar, mengenang masa SD dan SLTP
yang lalu, sampai aku keceplosan cerita soal Cozy. Dasar perempuan enggak bisa pegang
rahasia kerjaannya nge-gosip terus. Hal itu sebenarnya di-mulai Yuli ketika berkata padaku
bahwa si Nana baru saja ditolak oleh kecengannya. Hal ini mengingatkanku pada Cozy.
Dan mulai-lah aku bercerita.
“Nyantai aja Na, aku juga pernah seperti kamu, bahkan lebih parah. Kamu itu
mendingan, ia menjawab dengan tegas, tapi aku… pria itu tidak menjawab sampai detik
ini, dan kami tidak pernah berbicara panjang lebar setelah itu.” Kataku menenangkan
perasaan Nana, ia masih diam, tapi Yuli langsung bertanya, “Siapa Nez?”
“Ada deh… anak SMU kita juga, satu SLTP.” Jawabku, sambil sedikit menutupi.
“Ah… aku tahu Cozy kan? Cozy…Irfan Hiskia?” Yuli menebak dengan jitu.
Aku terkejut bukan main, sebetulnya aku malu, tapi sudah kepalang ketahuan ya
sudah, aku pun membongkar semua ceritaku tentang Cozy kepada mereka.
“Kok tahu sih Yul?” aku bertanya pada Yuli.
“Iyalah…aku kan sekelas sama dia.” Jawabnya.
“Kamu ngomong apa sih sama dia?” Tanya Nana.

-9-
“Aku cuman bilang kalau sebenernya aku tuh udah suka dia dari dulu. Sebelumnya
sih aku ngucapin selamat dulu, karena kalau enggak salah waktu itu dia baru jadian sama
Abel. Aku pun bilang secara tidak langsung kalau aku ingin dia jadi pacarku.” Jelasku.
Nana mulai bertanya lagi, “Apa jawaban dia?”
Aku menjawab, “Dia enggak jawab pertanyaanku, sampai detik ini. Aku nunggu
cukup lama, bukannya jawab pertanyaanku, eh… dia malah jadian sama Mayang. Gondok
enggak sih? Ya udah… aku pasrah aja.”
Sebelum aku melanjutkan perkataanku, Yuli memotong, “Enggak lagi… enggak.”
Katanya.
“Enggak apaan, Yul?” tanyaku.
“Itu… sebenernya Cozy enggak jadian sama Abel, waktu itu aku sama Nana
ngelarang dia. Aku sumpahin bakalan benci seumur hidup kalau dia jadian sama Abel, dan
aku bilang juga kalau dia bakalan nyesel jadian sama Abel, inget enggak Na?” jelas Yuli
yang kemudian bertanya pada Nana dan ia mengangguk membenarkan,
“Iya… kita berdua bilang gitu sama Cozy.”
“Oh ya… actually Cozy pernah curhat sama aku, waktu itu kita masih kelas 2 deh.
Dia nanya sama aku, katanya ‘Eh Yul, mendingan jadian sama temen yang baru kenal tapi
asik, atau sama sobat lama yang biasa aja tapi udah deket dan kenal dalem-dalemnya.’ Aku
enggak langsung jawab, aku mikir dulu sebentar lalu aku jawab ‘Ya… itu terserah kamu…
yang tau apa yang kamu mau kan kamu sendiri.’ Kataku. ‘Lalu aku nebak siapa sobat itu,
aku tahu langsung tau jawabannya kalau itu kamu Nez. Tapi aku enggak bilang sama
Cozy.” Yuli menjelaskan dengan panjang lebar.
Aku malu dan sedikit menutupi, “Yul, Na… sebenernya aku enggak serius-serius
amat waktu itu. Aku kayak gitu karena ditantangin Wiwi dan Rara untuk menyatakan
cinta. Aku enggak tahu siapa yang tepat, ya sudah… orang yang paling deket kan Cozy.
Tapi setelah kejadian itu, kita bukannya tambah deket malah tambah jauh.”
“Ah… maen-maen? Di tantangin? Bohong ah…?” Nana tak percaya.
“Ya terserah sih…”kataku.
“Tapi Nez, si Cozy nganggap itu serius loh. Malah dia cerita ke Tyas sama ‘anak-
anak’ “ kata Yuli.
“Hah? Sumpah Yul?” aku kembali terkejut.
“Beneran, iya enggak Na?” jawabnya sambil meminta penegasan dari Nana.

- 10 -
‘Aduh pikirku, aku kira ini bakalan jadi rahasia antara aku dan Cozy, tapi ternyata
banyak orang yang tahu.’ Aku mulai menghitung orang-orang itu, dimulai dari Wiwi, Rara,
Cozy, Citha, Nana, Yuli, Tyas, Nitha, Kiki, Jita, Yono dan…dan… aduh… maluuuu!
“Tapi Yul, Sumpah sebenernya gue rada nyesel ngomong suka sama Cozy. Kita
yang dulu sering ngakak bareng, sekarang boro-boro, yang ada kalau ketemu atau lewat aja
pura-pura enggak tahu. Aku nyesel… kalian tahu dong, waktu SD dulu kita se-deket apa?
Gimana dong…” aku meminta pendapat mereka.
“Bayangin aja… senyum jarang, kalau mau berpapasan kita bakalan saling
ngumpet. Aduh… dari dulu aku pingin banget nelepon dia lagi, tapi enggak pernah
kesampaian karena aku malu. Sekarang aku malah lebih malu. Takut-takutnya nanti kalau
aku cerita soal dulu, dia udah lupa dan nganggap itu enggak serius. Aku pingin hubungan
aku sama Cozy se-deket dulu lagi. Gimana ya caranya…” lanjutku.
Kami terdiam, Nana melamun mungkin karena masih memikirkan saat dia di tolak.
Sedangkan Yuli, aku tak tahu, mungkin ia berfikir untuk mencari solusi masalahku
mungkin juga tidak. Ah… aku bingung, masalah ini sudah lama berlalu, tapi mengapa
masih lekat di ingatanku. Apa ini tandanya aku masih cinta dia? Atau hanya rasa penasaran
yang makin menjadi karena dia belum juga menjawab pertanyaanku. Tauk ah…
pussiiiinnggg.
Hari kamis, sehari sebelum pembagian raport semester 2, aku dan teman-teman
SLTP-ku mengadakan foto angkatan. Kami janjian ketemu di studio foto jam 11.00 siang.
Aku tiba 30 menit lebih lambat dan disana juga belum banyak orang. Setelah membayar
uang foto, aku pun mencari tempat duduk dan kemudian bersalaman dan mengobrol
dengan teman-temanku yang dulu. Tak lama menunggu tiba-tiba Cozy ada dihadapanku.
Aku pun menyapanya.
“Hei… kemana aja, sombong ya… mentang-mentang kelas-nya jauh.” Kataku
sambil mendorong dadanya.
“Eh…hei, ada aja. Kamu yang sombong. Btw si Yuli sama Nana kemana? Kok
enggak kelihatan?” katanya.
Aku pun mengajaknya duduk sebelum menjawab pertanyaan itu. Karena kebetulan
kursi sebelahku kosong. “Duduk gih. Oh… enggak ada ya…” jawabku sambil melihat
sekeliling.
“Kamu enggak ngasih tahu?” tanyanya lagi.

- 11 -
“Enggak sih, soalnya dari selasa kemarin kita enggak ketemu. Aku kira mereka
sudah diberi tahu Ully temen sekelasnya. Lagi pula aku juga baru tahu kemarin. Ngedadak
banget enggak sih?” jawabku yang kemudian balik bertanya. Cozy menjawab dengan
manggut-manggut.
“Ngomong-ngomong, besok pembagian rapor. Madesu (masa depan suram) nih.”
Cozy memulai lagi pembicaraan.
Aku pun menjawab,” Iya, masuk apa ya… IPA atau IPS? Aduh jadi deg-degan…
tapi kayaknya aku masuk IPS deh… soalnya nilai semester 1 aku jelek ada merah-nya di
pelajaran MIPA pula. Kamu sendiri?”
“Sama… tapi sampai detik terakhir besok aku masih berharap aku masuk IPA.”
Jawabnya.
“Btw kalau masuk IPA masuk jurusan apa kuliah nanti?” tanyaku.
“Gak tahu, masih gelap. Kamu?” katanya balik bertanya.
“Mmm… kalau IPA aku mau masuk kedokteran, tapi disuruh bokap masuk teknik
kimia. Aduh… padahal aku kimia-nya bego.” Jawabku.
Kami mengobrol cukup lama, sampai akhirnya tiba waktu pemotretan. Waduh
kacau banget waktu difoto, sampe runtuh dan jatuh-jatuh. Tapi aku legaaa… banget,
enggak nyangka bakalan kayak gini. Maksudku ngobrol seperti ini dengan Cozy.
Kayaknya terakhir kali kita kayak gini tuh waktu SD. Aduh seneng banget… Cozy…
Cozy…
Setelah foto selesai aku duduk di teras studio sendirian, tiba-tiba seseorang
menepuk pundakku. “Heh… masih muda ngelamun aja…” katanya. Aku menoleh,
ternyata itu Cozy. Aduh mimpi apa aku semalam bisa kayak gini.
“Ngapain?” tanyanya.
Aku menjawab, “Mau pulang. Kenapa? Mau nganterin?” tanyaku iseng.
“Ayo… aku juga lagi males kemana-mana, ingin langsung pulang. Kita searah
kan?” aku menangguk.
Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar kota, menuju jalan yang dilewati
angkutan umum menuju rumah. Kami berhenti hendak menyeberang, tiba-tiba dia
menggenggam tangan erat sekali. Aku keheranan dan menatap wajahnya, untung dia tidak
melihat, ia begitu serius melihat ke arah jalanan. Dan kami pun menyeberang. Sambil

- 12 -
berjalan kami mengobrol kesana kemari, mengenang masa lalu. Selama itu dia tidak
melepas genggaman tangannya.
“Coz, kamu masih berminat jadi ketua OSIS kayak dulu?” tanyaku,
Ia menjawab, “Enggak ah… dulu aku enggak dianggap, mereka pikir aku enggak
bisa apa-apa. Hanya karena kemenanganku itu di sebabkan ancaman temanku kepada adik
kelasnya. Padahal kan aku bener-bener ingin jadi ketua. Sekarang jadi il-feel (ilang
feeling).” Kami pun terdiam
“Ehm…mmm… Nez… kamu sama pacarmu, Seno gimana?” ia bertanya dan
membuatku kaget setengah mati.
“Pacar aku? Kamu tahu dari mana?” tanyaku balik.
“Enggak, sorry ini bukan urusanku.” Jawabnya.
“Oh Ya? kenapa kamu tanya?” kataku.
“Entahlah… menurutmu kenapa?” jawabnya.
“Lho mana aku tahu. Menurutmu?” aku balik bertanya tapi dia tak menjawab, aku
pun bertanya lagi, “Ya sih, aku sama Seno. Kamu sendiri, pacar?” pertanyaanku hanya
dijawab dengan senyuman dan lepasnya genggaman tangan Cozy.
“Well… actually…” lanjutku “Aku… Seno, dia hampir 3 bulan ini enggak pernah
menghubungiku. Ini bukan pertama kalinya…” aku mulai curhat, aduh kasihan banget aku
ini. “Makanya semenjak itu aku menganggap hubungan kami berakhir dan aku enggak
akan menerima dia kembali. Aku enggak mau sendiri tanpa ada kejelasan” perkataanku
mulai naik, “Aku benci sendirian, aku takut sendirian.” Tangan kananku menyusut air
mataku.
Tiba-tiba (lagi, aduh kok banyak tiba-tibanya sih…) Cozy menarik tangan kiriku,
“Awas.” Katanya. Sebuah mobil melaju kencang tepat dihadapan kami. Aku pun memeluk
Cozy dan menangis, untung saja jalanan itu memang sepi karena tidak dilewati angkutan
umum. Ia merangkulkan tangannya dan membelai rambutku.
“It’s Ok. I’m sorry for making you cry.” Katanya. Aku menangis cukup lama,
setelah merasa puas aku pun melepas pelukanku. “Ayo kita pulang.” Ajaknya sambil
mengenggam tanganku lagi.
Aku mengangguk, “Thank’s banget Coz… ma’ kasih…” aku mengucapkan terima
kasih kepada Cozy karena sudah melepaskan bebanku.
“It’s nothing, but every man have to protect every girl.” Jawabnya.

- 13 -
Aduh… dia salah pengertian!!! Dan kami pun pulang bersama menuju rumah
masing-masing.
Liburan semester lewat cepat sekali, padahal 3 minggu lho. Aku melewatkan
minggu pertama dengan pergi ke Villa temanku untuk acara perpisahan kelas. Seru
bangettt… dengan perasaan Plong, karena finally aku masuk IPA… aduh senangnya. Rasa
plong itu berubah kembali saat sekolah sudah mulai. Hari ini adalah hari pertama MOS
angkatan 2003-2004. Sekarang aku duduk di kelas 2.
Aku berkumpul bersama teman sekelas-1-ku dulu untuk menyaksikan promosi
organisasi sekolah. Hari ini seluruh siswa kelas 1 dikumpulkan di lapangan Basket. Aku
menonton di pinggir lapangan di belakang barisan adik kelasku. Setelah lama menunggu
akhirnya promosi wahana dimulai. Moderator acara itu pun yang kebetulan alumni
menjelaskan tentang organisasi itu.
Tiba-tiba di tengah penjelasan ia berkata, “Apa? Cozy jomblo?”
Mendengar kata itu fikiranku langsung teringat kisah SLTP dulu, dan hatiku
menjadi berdebar-debar. Aku benci perasaan itu, tapi aku senang mendengar Cozy jomblo,
mau benar atau tidak berita itu, pokoknya aku senaaangg.
Sekolah sudah mulai hampir satu bulan lamanya. Pemilihan dan pendaftaran
pengurus OSIS dimulai, ketika pengumuman calon ketua OSIS keluar, aku mendengar
nama Irfan Hiskia. Yah… memang benar aku sampai lagi di titik ini. Titik dimana aku
bingung. Dulu aku bingung mau atau tidaknya aku menyampaikan perasaanku. Kali ini aku
bingung tentang mau atau tidaknya aku bertanya dan berbicara pada Cozy perihal kejadian
SLTP dulu. Mau-kah dia menjawab pertanyaanku dulu, atau mau-kah dia memperbaiki
hubungan kami yang sudah semakin renggang, karena aku ingin memperbaikinya, dan aku
ingin tahu jawabannya tentang hal ‘itu.’ Yah…Aku masih memendam perasaan ini.
Malam ini aku sendirian mengunci diri dalam kamarku dan memutar Mp3 secara
acak (pake rumus kombinasi loh..). Entah mengapa aku ingin sendiri, dan tiba-tiba saja aku
teringat Cozy lagi saat lagu Joy Eniquez ‘How can I not love you’ melantun pelan. Oh
Coz… how can you make me feel this way. Love you that much. Aku melamun dan mulai
mencari secarik kertas, aku tulis permainan kata indah ungkapan isi hatiku yang ku
pendam dan ingin aku keluarkan. Tapi mengapa begitu sulit? Aku pun mulai menulis
beberapa kata, hingga menjadi suatu susunan yang… terlalu hiperbolis kali ya… but that’s
what I was truly felt.

- 14 -
Aku mencoba berdialog dengan hatiku, hatiku yang paling dalam dan yang paling
jujur…nurani. Sekelumit pertanyaan menghantuiku. Apa kamu serius soal perasaanmu
dengan Cozy? Mungkinkah ini hanya nafsumu yang berbicara? Apakah kau benar-benar
jujur saat mengatakan Ya…aku menyayangi dia? Dapatkah kamu menerima kalau dia
menjawab TIDAK? Dan apa yang akan kamu lakukan nanti jika memang kamu menjadi
miliknya, kamu belum pernah seperti ini?! Apakah nantinya kamu siap menghadapi
masalah yang akan dihadapi nanti, karena amat sangatlah mungkin masalah itu datang jika
kamu memiliki suatu hubungan yang “spesial” dengan orang se-tenar dia?! Pada intinya,
apapun jawabanmu pasti ada resiko yang sudah menunggu dan siap menganggu kelancaran
hidupmu!!
Kata yang pertama kutulis adalah ‘sick’ karena aku sedang ‘sick’ dan memang aku
ini ‘sick’ karena cinta. Dan judul permainan kata yang hiperbolis tadi adalah…Sick Lover
Pray. Karena aku berdo’a atas segala sesuatu tentang cinta. Tentang hasrat dan
keinginanku untuk menjadi miliknya dan agar dia menjadi milikku. Cinta…ah…cinta
semua karenanya. Gila ya… giliran aku suka sama orang jadinya kayak gini. Malam ini
pula aku menerima SMS kalau katanya Cozy baru aja jadian sama temennya siapa.. gitu?
Yah…untuk kesekian kalinya aku jatuh dan kali ini sakiiit sekali. Kenapa aku selalu
terlambat menyampaikan perasaanku. I’ve lost my chance before, should I lose again this
time? He knew what I feel about him, but he’s not answer it yet. Should I ask the same
question? Will he answer?

Sick lover Prays

I know you since we were small


And I love you since I was four

I don't know if you are the one


But I hope you are the one
And I want you to be the one

I don't know what we will be


But I dream what we will be

- 15 -
I hope that we were meant to be
And I wish that you want to be

I am here and I am crying


I miss you and I thought I'm dying

I just wish that you were here


Comfort my falling tears

For the only love that I would give


I want your love to be my gift

It doesn't mean that I insist


It just me who too possess

Oh sick lover keep in pray


Hope the pain goes away
And hope the lover makes you fly away
When you finally find your love... someday
Some other day

Hari ini adalah giliran kelompokku untuk mempresentasikan hasil penelitian kami
tentang suatu makalah. Hari ini juga aku lupa membawa buku sebagai bahan untuk
presentasi nanti. Maka hari ini pula aku harus meminjamnya ke kelas IPA - 8 mengapa?
Karena hanya kelas itulah yang tidak ada guru jam ini dan ada pelajarannya. Aku dan
teman sekelasku Lia segera pergi ke sana sebelum guru pelajarannya masuk. Aku terhenti
melangkah, begitu juga Lia.
“Ayo Nez… cepat pinjam…” kata Lia.
Aku diam,
“Cepat…sebelum gurunya datang!” lanjutnya.
“No Lia, please.” Kataku.
“Tuh ada Irfan… kamu kan kenal dia.” Katanya lagi.
“Jangan…please. Kamu aja?!” pintaku.

- 16 -
“Aku enggak ada yang kenal…” jawab dia.
Aku malah pergi karena… malu, takut, tegang. Masalahnya akhir-akhir ini
hubungan aku dan Cozy jadi hambar lagi… (sayur kurang garam kali…!) Yah… entah
kenapa tiba-tiba kami jadi saling diam dan tidak menyapa lagi. Aku terus berjalan
sementara Lia mengikuti dan memanggilku, tapi aku tak peduli, aku jadi sedih dan ingin
menangis mengingat aku yang begitu… mengharapkan Cozy seperti yang kutulis dalam
puisiku. Aku pun tiba di teras kelas.
“Ih…Nez, gimana sih…katanya mau minjem buku…!” Lia tampak kesal padaku.
Lalu Nana menghampiri,
“Kenapa? Apaan? Mau minjem buku, sini aku anterin. Kemana? IPA-8? Ayo…!”
ajaknya.
“Iya… nih padahal ada Irfan yang kenal…eh malah enggak mau.” Sahut Lia
menanggapi ajakan Nana sambil beranjak pergi.
Aku malah terdiam dan duduk memeluk lututku. “Aku mau…! Tapi please… itu
Cozy…! Cozy…Na…! Jangan Cozy…!” kataku dan mulai menangis padahal enggak sedih
hanya… entahlah perasaanku campur aduk, enggak tentu. (aduh aku ini cengeng banget
sih…! Nangiiiisss mulu).
Malam itu aku tertidur pulas, setelah puas melamun dan bersendiri. Aduh aku
merasa kasihan atas diriku sendiri. Aku pun tak sadar kapan aku tidur, yang ku ingat
hanyalah aku yang berbaring di tempat tidur memeluk erat bantal dan berlinang air mata.
Aku bangun dan menghadapi hari yang baru, tapi dengan perasaan yang sama.
Di sekolah masih dengan kesibukannya, aku menemukan pengumuman OSIS yang
bertuliskan ‘LAST ROSE’ Astaga!!! OSIS SMU-ku memang menyediakan jasa kirim-
kirim bunga antar kelas setiap bulannya, dan ini yang terakhir? Astaga aku belum pernah
menggunakan jasa ini seumur hidupku di sekolah. Maybe it’s the last chance that I have, to
ask him the same question. Lagi, untuk kedua kalinya, aku menanyakan hal yang sama di
saat situasi yang sama, saat dia baru saja memiliki pacar yang baru. What a phatetic girl am
I?.
Hari kamis aku mengiriminya sekuntum bunga, bukan bunganya yang ingin ku
kirim, tapi pesan yang ada pada bunga itu. Aku hanya menulis. ‘I still wondering your
answer about the things I said three years ago.” Simpel kan? Dan tak disangka esok

- 17 -
harinya Jum’at, sekolah mengadakan rapat siswa. Aku menjadi salah satu wakil kelas dari
kelasku.
Menunggu lama, akhirnya anak-anak OSIS pun datang, lalu Cozy lewat tepat di
hadapanku dan tersenyum sambil berkata,”Hei…misi ya…” katanya sambil mengambil
kursi dan duduk tepat dihadapanku. Aku hanya tersenyum malu, tapi hatiku dag-dig-dug
tak keruan, inilah pertama kalinya dia menyapaku lagi. Aduuhh…nampak cintaku ini
sudah bertepuk sebelah tangan dan terpendam jauh dalam hati tak kunjung ada penjelasan.
Tiba saatnya Bazaar sekolah, Cozy menjadi Ketua Panitia dan (lagi!!!) dia
menggandeng pacar barunya, temanku dulu. Ternyata Gossip dia sudah punya pacar akhir-
akhir ini benar, Oh My God aku terlambat lagi. Aku masih mencari-cari waktu yang tepat
untuk bicara dengannya but still I can find a good time. Pagi ini…sejujurnya sejak kemarin
Cozy mulai menyapaku lagi, Ugh..! dasar pria menyebalkan, dia melambaikan tangannya
padaku dan tersenyum padaku, Oh…I miss that smile. Kapan aku bisa melihat dia tertawa
di sampingku lagi.
Oh Cozy setip kali aku melihat pacarmu,aku selalu teringat tentang kita dulu. Kau
yang memapahku menyusuri jalan setapak persawahan,kita yang saling mengejar saat main
kucing-kucingan, kita yang selalu bersama melewati masa kecil kita, ah kau! yang selalu
ada ketika ku bersedih.
Kini Jogja kembali aku kunjungi kenangan pahit ketika kau sarapan dan makan
siang dengan pacarmu tepat di depan batang hidungku kini menhantui. Kenangan manis
ketika kau merangkulku dalam gerimis ketika itu. Kini dalam perjalananku,aku kembali
merajut harapan dan mimpiku,selalu dan akan terus berharap kali ini aku yang makan siang
dan sarapan denganmu,aku yang kau rangkul bukan lagi sebagai seorang teman kecilmu
tapi sebagai... Malam ini aku tertidur dengan bayangmu dibenakku dan sejuta harap yang
terus beranak-pinak di hatiku. Perjalanan masih panjang dan aku harus siapkan diriku
untuk hari esok semoga asaku jadi nyata.
Sekarang pagi hari di Parang Tritis,aku masih sendiri nikmati mentari terbit dari
pinggir pantai. Tak lama dua sosok manusia melintas cepat,berlari berkejar-kejaran menuju
pantai bergabung dengan yang lain. Yang ku lihat dari mereka hanyalah bayangan
semata,tidaklah dapat ku kenali siapa mereka,tapi aku yakin salah satu dari mereka adalah
Cozy dan pacarnya...

- 18 -
ShrtStr 04/250204/17
Created by
Zeny Roehmawati
Based On
a True story of...

- 19 -