Anda di halaman 1dari 55

Tersebutlah dua buah tempat kost yang amat sangat terkenal di sebuah kota

pelajar yang terkenal pula (bukan Yogyakarta, ini fiktif loh !) yang di sana berdiri
universitas terkenal pula. (Tampak seperti Hollywood pada terkenal). Kotanya bernama
Ramaizkale, dan dua tempat kost terkenal ini yang satu khusus wanita dan yang satu
khusus pria. Untuk yang wanita di pimpin oleh seorang Janda? yang namanya Hot Merry.
Nama tempat kostnya Taman Bidadari. Untuk yang pria di pimpin oleh seorang duda
bernama Guntur Gemuruh. Nama tempat kostnya Surga Ksatria.
Bulan ini adalah bulan dimana lagi musim-musimnya para mahasiswa mencari
tempat kost alias tahun ajaran baru dimana dimulai semester ganjil bagi para mahasiswa.
Mari kita tengok keadaan dua tempat kost ini yang kebetulan bersebelahan dan hanya
dihalangi oleh pagar setinggi 1,5 meter dan tempat jemuran serta lapangan parkir yang
cukup luas membentang diantara keduanya.
Sudah sejak pagi tadi, Tante Merry dan Om Guntur sudah mempersiapkan meja
daftar ulang. Nampak seperti sekolahan… maklum tempat kost ini isinya sepesial,
enggak sepesial-sepesial amat sih, pokoknya kalau mau gaul dan jadi orang asik juga
terkenal di Ramaizkale harus masuk tempat kost ini. Soalnya kalau nyasar semua orang
di kota ini tahu Taman Bidadari dan Surga Ksatria.
Kisah ini bermula dari kedatangan para penghuni barunya di kota Ramaizkale.
Ada yang enggak sih, ada satu cowok eh… cewek kali ya… yang merupakan penduduk
asli Ramaizkale, ia ikutan kost disini biar bisa ngikut famous. Tante Merry dan Papa
Guntur sudah mempersiapkan semuanya. Mereka berdua mulai mendata orang yang
datang hari itu. Orang yang pertama kali datang adalah kakak beradik Hadiningrat, Gadis
dan Lanang. Kedua kakak beradik itu nampak sudah keberatan dan kelelahan atas barang
yang dibawanya. Mereka berdua cukup merasa spekta dengan bangunannya.
Lanang dan Gadis terhenti di taman kota tepat di antara kedua tempat kost itu.
Mereka berdua duduk-duduk melepas lelah barang sejenak.
“Waahhh…. Tempatnya bagus banget ya Mas. Kayaknya Gadis bakalan betah
tinggal disini.” Puji Gadis atas tempat kost itu kepada Kakaknya Lanang.
“Iya… tapi yang penting, Mas bisa tetep ketemuan, jalan bareng sama Dayu.”
Jawab si Kakak sambil tersenyum.
“Apaan sih… kegenitan ya… eh itu Mbak Dayu Mas!!!” teriak Gadis kepada
kakaknya sambil melambaikan tangan pada Dayu yang baru saja keluar dari taksi menuju
tempat mereka berdua.
“Hai Dis, Lanang.” Sapa Dayu. Lanang pun mendekat dan mencium kening
Dayu,
“Aku enggak nyangka loh kita masih tetep kayak gini dari SMP.” Dayu hanya
tersenyum.
“Yu, kayaknya di bawah pohon sana adem deh.” Ajak Lanang kepada Dayu. Dan
mereka berdua pun pergi meninggalkan Gadis.

-1-
“Eh…Gadis gimana doong… jangan ditinggal sendiri.” Teriak Gadis. Saat itu
juga Guntur berteriak,
“Eh… gadis yang disana berisik tau enggak? Bikin ganggu orang saja!” Gadis
tersentak kaget, kok om itu tahu namanya. Gadis hanya tersenyum, tapi sesaat kemudian
seorang wanita gembrot yang tampangnya sangar berteriak juga,
“Eh, kerempeng apa urusanmu marahin anak kostku!!” Si Om menjawab sambil
mengusap koyo yang menempel di pipi kanannya,
“Heh gembrot, ajarin tuh anak kostmu supaya enggak ribut,”
“Lho memangnya kenapa? Ooo… lagi sakit gigi ya… kasihan enggak ada yang
ngurus, istrinya kabur sama adiknya sendiri.” Hot Merry mulai mengejek.
“Eh kamu lebih parah, keseringan makan sampai gemuk begitu karena frustasi di
tinggal suami merantau enggak pulang-pulang. Mungkin sudah kawin lagi.!” Guntur
membalas.
Tukiyem alias Mbok Iyem pembantu gaul Taman Bidadari segera melerai.
“Sudah Nyah, sudah. Enggak baik berantem saja Nyah, kalau mau bakar saja tempat
kostnya kan lagi musim Nyah bakar-bakaran.” Kata Iyem.
”Eh dasar pembantu enggak tau diuntung malah ikut campur.” Tante Merry
marah.
“Maaf Nyah… ya sudah, Nyonyah urusin lagi saja anak kostnya.” Setelah Merry
duduk Iyem meminta maaf, “Aduh maaf sodara-sodara, ini sudah biasa, jangan takut.
Mungkin nanti lebih parah yah kita do’a kan saja.” Tutup Iyem yang kemudian kembali
menjadi asisten sesaat Hot Merry.
Semakin siang semakin banyak yang datang, kali ini yang datang adalah Bunga
dengan mobil Bugatti EB 18/4 Veyron-nya yang berwarna mix biru dan hitam, lengkap
dengan ransel dan stick softball-nya. Begitu pula dengan Bagus dengan membawa Alfa
Romeo-Vipera import dari Italia berwarna silver, keluar dari mobil membawa ransel,
stick baseball dan gitar. Keduanya saling sinis berpandangan merasa tersaingi sama-sama
memiliki mobil sport import dari Italia.
Bunga dengan dandanan cowok banget kayak Avril Lavigne. Rambut panjang
lurus pake celana baggy hitam dipadankan dengan shirt putih polos di tutupi jaket hitam.
Bagus dengan dandanan atlit baseball, lengkap dengan topi New York Yankees.
Sepertinya mereka saingan. Kita lanjutkan dengan perkenalan berikutnya dengan
kedatangan Habib dan Naya.
Siang itu Habib sedang melamun menunggu panggilan Papa Guntur Gemuruh.
Tiba-tiba ia serasa mendengar lagu India ketika melihat seorang gadis dengan muka
Arabik. Habib berjalan mengikuti gadis itu, ketika sedang asik menguntit, seseorang
menubruknya cukup keras dari belakang.
“Masya Allah, ente khenafa fake tubrukh-tubrukh ane. Siafa nama ente?” kata
Habib.
“Ma..mmaa…maam…maamaa.” Jawab si penubruk gagap.
“Mama… Ismi Habibullah El Syarief bukhan mama, tafi ente ana maafkhan.
Siafa nama ente?” Habib bertanya lagi.
“Aaa…akk…akkku. Bbbiiinn, bbiinttt…bbiinnttta.” Si penubruk menyerah
berkata-kata, ia pun menggambarkan lambang bintang.
“Ohh… ente bintang. Eh… ente sudah buat bintang ana menghilang, Masya
Allah, siafa nama si fulan tadi?” kata Habib sambil menepuk dahinya.

-2-
Sepertinya Habib dan Bintang adalah orang terakhir yang datang ke Surga
Ksatria. Sekarang ini Papa Guntur sedang beres-beres, tiba-tiba saja seorang makhluk
keluar dari becak berlari-lari,
“Aduh… om cuco…gilingan deh yey, akika mau ditinggal? Maaf, biasa akika
habis dari salona, habis blonding rambut, keren kan? Akika jadi lebih mirip sama Elton
John sekarang.” Om cuco alias Papa Guntur,
“Ya sudah, masuk sana! Siapa nama kamu?”… “Nama akika Andika Satria
Kencana, tapi om bisa panggil eke Chika biar lebita cute. Deee….” Papa Guntur hanya
menggeleng, gelengkan kepalanya.
“Aduh, akika pengen pipong.” Bisik Chika sambil lari terbirit-birit.
Tak lama kemudian, para anak kost berbaris menunggu pembagian kamar, untung
saja tokoh-tokoh kita ini ada di lantai yang sama dan saling berhadapan pula. Mereka
tinggal di lantai 4. Dayu tinggal bersama Bunga, Naya dengan Gadis. Ada pun Lanang
dengan Bintang, Chika dengan Habib dan Bagus si orang tajir sendirian. Ketika sedang
mengantri, jauh di toilet Surga Kesatria sedang ada keributan kecil
Chika,”Aduh…indang toileta bawang sekalchi. Eh…yey tukang laundry, adita
yang lebita bersih tinta?”
“Ye… mana gua tau.” Jawab tukang lundry. “Iddih… yey begimandang sich, eke
pan tanya baik-baik.” Kata Chika.
“Peduli amat, si amat aja enggak peduli.” Si tukang laundry menjawab lagi.
“Ya sudah.” Kata Chika sambil masuk toilet, beberapa menit kemudian. Chika
keluar terburu-buru, dan bertabrakanlah dia dengan tukang laundry yang sedang berbalik
mengambil pakaian kotor yang jatuh.
“Aiiihhh, yey tukang laundry sialan, akika jadi kotor begindang.” Ucap Chika
seketika.
“Aduh, yey banci sialan, bisa diem gak sih…eke potong juga tuh onderdil.”
Ancam si tukang laundry. “Dan perhatian, tukang laundry ini punya nama Soleha Nur
Solihat…” lanjutnya.
“Aih…aih eke cacut. Siapa? Eha… oh iya, eha… sudita ah… akika telalita
lambreta ada di sindang. Deee…akika mau ketemu om cuco.” Salam good-bye Chika
pada Eha si tukang laundy.
Begitu terburu-burunya Chika datang lagi-lagi menabrak orang. Kali ini yang di
tabrak adalah Om cuco, yang datang dari arah berlawanan.
“Aduuuuhhh… Aih Om Cuco, maaf akika tabrak, indak sengajo, habis tadi ya…
waktu eke pipong eh… ada si Eha tukang laundry nabrak-nabrak eke.” Kata Chika.
“Apa hubunganya? Ehm… kamar kamu nomor 23 sama si orang arab.” Kata Papa
Guntur dingin sambil pergi.
“Ihh… serem… tapi… iya ya… apa hubungannya? Peduli amat… Dee…” kata
Chika lagi yang kemudian melongok sana-sini mencari kamarnya.
OK, sekarang kita sudah tahu penghuni-penghuni Taman Bidadari dan Surga
Kesatria. Mari kita lanjutkan dengan kisah berkutnya, tak lama setelah mereka mulai
kuliah dan ehm… saling mengenal? Mungkin tepatnya saling mengetahui nama penghuni
kost-an sebelah. Dan satu peraturan yang paling dibenci seluruh isi kedua tempat kost ini
adalah “NO DATE” enggak ada yang boleh pacaran sama orang sebelah. Boleh sih boleh
asal enggak ketahuan si Om dan Tante. Kita mulai dengan kisahnya si Bunga dan Bagus.

-3-
Bunga dan Bagus I

Suatu hari di teras kamar Taman Bidadari, ada Dayu dan Bunga.
“Ayu… eh… gue panggil lu apa?” Tanya Dayu pada Bunga,
“Apa ya…Bung?! Tauk ah… sama anak Phoenix (Klub Softball) sih di bilang
gitu, karena gue kayak…Bung?” jawab Bunga.
“Tapi selama ini gue panggil Ayu kok enggak pernah komplain?” tanya Dayu.
“Ya… lu enggak pernah nanya nama panggilan gue.” Kata Bunga.
“Habis, nama lu ada Ayu-nya. Lagi pula sekarang gue tau banget kalau lu tuh
cowok banget.” Jelas Dayu.
“Oh… jadi gue aneh? Gitu?” Bunga tampak tersinggung.
“Enggak…bukan gitu. Maksud gue lu tuh cantik sumpah inner dan outer beauty-
nya keren banget. I’m just wondering why kamu milih seperti ini?” Dayu memulai lagi
dan Bunga menjawab,
“I don’t know and I don’t care, it is me you like it or not and I won’t change it
now.”
Mereka terdiam lagi melihat ke arah kamar-kamar Surga Kesatria. “Bung… have
you ever been in love?” tanya Dayu dan Bunga menjawab sambil memetik gitarnya.
“Me? As long as I remember, I don’t think so?”
“Why?” tanya Dayu lagi.
“Don’t know. Maybe boys just hate me, I mean they don’t consider me as a girl.
Maksud gue, mereka enggak nganggap gue cewek, but a part of them.” Jawab Bunga.
“Do you want to fall in love?” masih oleh Dayu.
“Stop it, I won’t talk about it farther. I’ll fall in love when I’m ready to fall and
get hurt.”
“I’m still wondering, why is everyone think that love can make tears and pain.
Look at me… I’m with Lanang it’s been 5 years, and we have fun.”
“Not yet…!” potong Bunga.
Jadi apa maksud perkataan Bunga? Let see…
Suatu hari di kampus tercinta kota Ramaizkale, Bunga dan Bagus baru keluar dari
mobilnya yang diparkir bersebelahan. Mereka kembali berpandangan, disana Bunga
kembali bertemu dengan Dayu dan Bagus bertemu dengan Lanang.
“I hate him.” Kata Bunga pada Dayu, “Belagu banget sih…” lanjutnya. Dayu
hanya tersenyum. Sedangkan Lanang bertanya pada Bagus,
”Tuh cewek saingan ya…ama lu?”,
“Who cares…” jawab Bagus dingin.
“Oh shit…paper gue ketinggalan di mobil, tunggu bentar ya Day…” kata Bunga
tiba-tiba yang kemudian berlalri menuruni tangga terburu-buru dan Yah… klasik, dia
bertabrakan dengan Bagus,
“Eh…punya mata enggak sih?” kata Bagus. Bunga terhenti, dan menanggapi
perkataan Bagus
“Apa maksud nih? Mau ngejek? Lu yang jalan jangan seenaknya sendiri dong.
Emang ini kampus nyak lu?” Bagus membalas,
“Eh… hati-hati ya kalo ngomong…” tapi tak ia lanjutkan.
“Apa? Mau ngomong apa hah perlu diajarin?” kata Bunga. Bagus menjawab
dingin dan melangkah pergi,
“Whatever…” Bunga makin heran.
-4-
Sekembalinya dia dari mobil ia segera bercerita pada Dayu, “Gila ya… sumpah
tuh cowok bikin senga’ tau enggak, sesek gue.” Dan ditanggapi Dayu cukup dengan
senyuman.
“Trus…?” ucap Dayu.
“I don’t know, by the way… who cares. But He’ll pay for the ‘whatever’ word.”
Bunga nampaknya sudah kepalang benci dan ingin membalas segala perkataannya.
Masih di kampus sepulang kuliah, Bagus sedang mejeng di depan Alfa-Romeo-
nya. Tepat di depannya ada Bunga yang sedang berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba
Bunga tersandung kaki Bagus,
“Eh kalau jalan yang bener, jangan pake nginjek kaki orang segala. Perlu
diajarin?” celetuk Bagus, mendengar celetukan Bagus spontan Bunga menoleh dan
mendekati Bagus dan berkata,
“Apaan nih? Mau nantang? Yang jantan dong, jangan macam gini.”
“Jantan? Gue pengen yang betina.” Balas Bagus.
“Dasar kurang ajar, mau nantangin apa? Three on three, one on one, racing,
renang, apa?” Bunga menantang.
“Wall climbing.” Jawab Bagus datar.
“Hah?” Bunga kaget.
“Takut?!” kata Bagus, Bunga hanya tersenyum.
Mereka berdua segera pergi ke arena wall climbing kampus dan meminta bantuan
anak Astacala (Klub Pecinta Alam Kampus). Setelah siap di pasangin webbing, dan
segala macam alat mereka berdua segera berlomba memanjat setelah orang yang nge-
belay (orang yang nahan tali pemanjat di bawah biar enggak jatuh) memberi tanda. Satu
per satu pin yang menempel di papan yang menjulang sekitar hampir 15 meter itu mereka
naiki dengan cepat. Sesaat mereka menoleh ke arah lawan dengan sinis.
Kini jarak menuju puncak tinggal 1 meter lagi, Bunga terpeleset, saat itu ia
sempat melihat senyum puas Bagus yang tinggal menaiki satu pin lagi menuju puncak
papan. Para penonton sudah tercengang menegang, waktu serasa berhenti berjalan semua
terpaku diam dan menahan napas melihat kejadian itu. Bunga dengan sekuat tenaga
menyeimbangkan badannya sambil meloncat memegang puncak papan, dan…kedua
tangan mereka sampai di puncak papan pada saat yang bersamaan. Hah… seluruh
pemirsa lega membuang napas sekaligus dan segera bersorak. Kini giliran Bunga yang
tersenyum puas, Bagus terlihat marah dan segera melompat kebelakang, terjun layaknya
seorang superman sambil menunjuk ke arah Bunga tanda belum puas. Sekali lagi Bunga
tersenyum.

-5-
1. Lanang dan Dayu

“Hai honey!” sapa Lanang dalam telepon pada Dayu.


“Hai! Lagi ngapain?” Dayu bertanya.
“Lagi nelepon karena aku rindu kamu. Keluar deh…”kata Lanang.
“Ada apaan?” Dayu bertanya lagi sambil membuka gordyn kamarnya, ia melihat
Lanang melambaikan tangannya.
“Apaan sih, basi banget, enggak ada kerjaan ya?” lanjut Dayu.
“Keluar dulu kenapa sih? Enggak rugi kok lagian tinggal buka pintu jalan dua
langkah, enggak akan bikin kamu capek?”bujuk Lanang.
“Mau ngapain dulu ah?!” Dayu meminta penjelasan.
“Pokoknya keluar, aku mau nunjukkin sesuatu sama kamu.” jawab Lanang.
Dayu berfikir sesaat, masih dalam kebingungan dan rasa penasarannya ia
melangkah ragu membuka pintu dan berjalan menuju teras kamar. Lanang tersenyum
senang ketika melihat Dayu sudah ada di seberangnya. Perlahan-lahan ia membuka T-
shirt-nya.
“Eh, apa-apan nih. Kamu ngapain buka baju segala.” Kata Dayu. Tiba-tiba ia
melihat gambar hati di dada Lanang.
“Apaan sih…Gombal! Basi tau enggak.” Kata Dayu lagi, tapi Lanang tak peduli,
ia pun membalikkan badannya, menunjukkan punggungnya pada Dayu,
“Baca!” kata Lanang.
“Enggak kelihatan dong, kamu nih asal deh.” Jawab Dayu.
“Aku bacain ya… I Love You, I miss You, Jalan Yuuukkk!” kata Lanang sambil
berteriak. Spontan Dayu tertawa terbahak-bahak,
“Huaaaa…haaa gariiingg. Dah ah.”
Mendengar hal tadi semua penghuni Taman Bidadari dan Surga Kesatria
berhamburan melihat ke arah Lanang dan Dayu begitu juga dengan Tante Merry dan Om
Guntur. Begitu melihat mereka (Om dan Tante) semua bubar termasuk Dayu dan Lanang
masuk ke kamar masing-masing.
“Kamu tuh ngapain sih?” tanya Dayu.
“Aku cuman mau nunjukkin kalau aku tuh sayang sama kamu dan sekarang aku
rindu kamu.” jawab Lanang enteng.
“Tapi itu kan silly banget, bikin malu.” Kata Dayu. “Kenapa harus malu
nunjukkin rasa sayang kita.” Tanggap Lanang.
“Bukan gitu, maksudnya kan banyak cara lain, enggak harus kayak gini.”
“Jadi kamu enggak suka? Ya udah…”
“Ih…kok marah sih…”
“Siapa yang marah.”
“Tuh kan…nada ngomongnya aja kayak gitu, maafin aku deh, sorry.”
“Hmm” gumam Lanang.
“Ah… Lanang gitu, Dayu kan udah minta maaf.”
“Iya…iya…aku maafin. Jadi mau aku ajakin pergi?” kata Lanang lagi.
“Kapan? Sekarang? Aduh…lagi gak mood nih.”
“Ohh…jadi gitu ya…ya udah makasih.”
“Lanang! Kok jadi manja gitu sih? Iya deh…sekarang, aku tunggu satu jam lagi
di taman depan.”
-6-
“OK…daahhh, muah.” Kiss Bye jauh dari Lanang mengakhiri perbincangan
mereka.
Sejam kemudian Dayu sudah siap dan segera menuruni tangga menuju taman
depan. Ketika sampai di pelataran parkir ia melihat Bunga di papah oleh Lara,
“Kamu kenapa Bung?” tanya Dayu sedikit heran.
“Mmhh…keselo waktu panjat dinding.” jawab Bunga enteng.
“Hah panjat dinding?” Dayu kaget,”Kamu…kamu enggak apa-apa kan? Gue
anter ke atas ya…aduh tapi…Bung…aku ada janji ma Lanang, bentar aku balik lagi ya…
kalau enggak aku suruh Gadis buat nemenin kamu ya…sorry ntar aku balik lagi.” lanjut
Dayu bingung.
“Gue enggak apa-apa, pergi aja lagi…” jawab Bunga sambil berjalan agak
pincang di bantu Lara.
Dayu segera keluar mencari Gadis, “Ada apa Day?” tanya Lanang, “kayaknya
serius…” lanjutnya. Sepertinya Dayu tidak begitu mendengar perkataan Lanang,
”Hmm” ia hanya bergumam.
“Aha” celetuknya begitu melihat Gadis di taman depan bersama…siapa nih? Hati
Dayu bertanya-tanya, but whatever I gotta ask her to accompany Bunga.
“Dis, Mbak mo minta tolong, bentar aja yah, pliss?” ask Dayu to Gadis.
“Apaan sih mbak, males ah…” jawab Gadis.
“Plisss, bentar aja.” Pinta Dayu. “Mmm…aduh mbak gimana ya…”
“Gadis…” kata Lanang tegas.
“Iya deh…” akhirnya Gadis bersedia dengan amat sangat berat hati. Ia pun segera
pergi menuju Taman Bidadari meninggalkan Dayu dan Lanang.
Sementara itu gadis kembali melanjutkan obrolan dengan seorang wanita, yah
kalau dilihat-lihat sih seperti anak kuliahan.
“Trus gimana kak? Aku cuma tau sekilas dari cerita teman-teman disekolah, aku
juga sempet ngelihat buku tahunan angkatan kalian…wah! Keren banget. Eh ngomong,
ngomong Kak Mel lagi nunggu siapa?” kata Gadis.
“Aku kagi nunggu Andri, kita janjian disini tapi kok belum kelihatan juga ya.
Mmm oh ya, setahu aku setelah lulus si Ali sempet vakum kuliah satu tahun karena harus
terapi intensif. Lalu dia kuliah ke luar negeri, terakhir-terakhir aku denger dari Lia tahun
ini Ali mau pulang.” jawab Meily yang dari tadi menengok kesana-kemari mencari
Andri.
Gadis yang polos makin antusias, dia jadi penasaran, “Mereka pacaran jarak jauh
dong! Kasihan ya… eh Kak Mel, kapan-kapan datang dong ke sekolah, guru-guru
kelihatannya penasaran sama kabar kalian ber-empat. Oh ya…Kak Puspa mana?”
“Mm, Puspa ya… kamu kenal sama Chika anak Surga Kesatria enggak? Dia tuh
adiknya Puspa, kalau aku enggak salah Puspa juga masih kuliah, tapi sambil bantu-bantu
usaha orang tuanya gitu. Eh…Andri udah datang tuhh, lain kali aku kenalin deh sama
Puspa, sama Alia, tapi kenalin dulu pacar aku, Andri. And ini Gadis adik kelas kita.”
Kata Meily yang langsung mengenalkan Gadis pada Andri begitu ia mendekat. Dan
mereka pun berpisah, setelah itu Gadis menuju kamar Bunga.
“Ada apa sih say? Kayaknya ada yang ganggu pikiran lu?” Lanang bertanya
sambil melihat ke arah Dayu dan merangkulnya.
“Hmm… enggak ada apa-apa sih cuman enggak enak aja.” Jawab Dayu yang
kemudian disambung pertanyaan Lanang,
“Enggak enak gimana?”
-7-
“Ya…enggak enak aja, room-mate gue lagi kesakitan di kamar sedang gue disini.
Sound not fair aja, mana gue nyuruh Gadis buat jagain dia, bukan gue sendiri room-mate-
nya buat ngejaga dia.” Mereka berdua berjalan beriringan keliling taman ria terdekat.
“Gini deh, gue ngebalikin semua masalah-nya ke lu. Lu mau ada disini apa
disana? We’ll have another time. Look…actually gue bakalan sedikit kecewa kalau lu
pengen ada disana, but trust me she’ll understand and you have a right to take your
time;have fun. Lagi pula dengan lu udah nyuruh Gadis ngejagain dia itu udah nunjukkin
kalau lu perhatian sama dia.” Lanang memberikan pendapatnya. Dayu pun langsung
menanggapi,
“It’s not that simple. Gue enggak bisa begitu aja milih disini apa disana.” “But
you must!” kata Lanang.
“All right, I see.” kata Dayu sambil manggut-manggut.
Lanang bertanya, “So…apa keputusannya?”
“I’ll take my time, having fun for a while an hour or two, lalu gue mau ke
Bunga.” Itulah yang Dayu putuskan.
“Ok, kita mau kemana? Mau main atau ngobrol kesana-kemari.” Lanang
menawarkan acara.
“Both” jawab Dayu singkat.
Lanang pun tersenyum, ia mengajak Dayu naik jet coaster, sedikit maen tembak-
tembakan terus makan di side-walk.

2. Di Kamar Bunga

Sementara itu, di Taman Bidadari,


“Bung, gue enggak bisa lama-lama, ada kuliah bentar lagi yah… gue cabut.”
Kalimat itu kalimat yang terakhir yang diucapkan Lara. Tak lama setelah Lara pergi
Gadis pun datang mengetuk pintu.
“Sapa tuh?! Masuk ajalah pintunya enggak dikunci.” teriak Bunga dari dalam
kamarnya.
“Permisi, Mbak? Ini Gadis, boleh masuk gak?” kata Gadis sambil celingak-
celinguk nyari Bunga.
“Masuk aja, jangan lupa tutup pintu, gue lagi di kamar, sini!” lagi-lagi Bunga
berteriak.
“Mbak.” sapanya.
“Oi! Ada apaan?” kata Bunga.
“ Enggak, pengen maen aja, mmm… sebenernya sih, aku disuruh Mbak Dayu
temenin Mbak.” Gadis menjawab dengan sedikit nada kecewa.
“Oo…eh…jangan panggil gue mbak lah, risih kayak yang udah tua. Panggil aja
Bung, eh tolong ambilin balsem otot di meja dong.” Bunga memulai pembicaraan sambil
memijit kakinya.
Gadis menjawab sambil beranjak mengambil balsem, “Aduh, enggak enak nih,
aku panggil kakak aja yah.” Dan Bunga pun berdehem tanda setuju.
“Jatuh kenapa kak?” Gadis bertanya lagi.
“Tadi keselo waktu panjat dinding.” jawab Bunga.
“Hah? Sama siapa?”
“Itu tuh PSK sialan.”
“PSK? Kenal dari mana? Kok bisa?”
-8-
“Ya gitu, dia nantangin gue.”
“Beneran? dasar PSK kurang ajar.”
“Emang, baru ketemu udah pake acara nabark-nabrak segala, rese banget gak sih.
Terus pulang-pulang ngajak panjat dinding.”
“Gila tuh PSK, berani banget. Berapa sih bayarannya semalem?”
“Hah? Bayaran? Lu kira dia PSK beneran?” Gadis melongo mendengar perkataan
Bunga dan mengangguk.
“Dasar bego, PSK tuh singkatan dari Pria Sebelah Kost-an.”
“Istilah baru tuh, keren…keren. Btw orangnya yang mana? Aku tahu enggak?”
kata Gadis menutupi rasa malunya.
Bunga,” kayaknya sih lu tahu, itu tuh anak satu-satunya yang bawa alfa romeo.”
Gadis,“Oo si cowok cakep itu, itu sih kecengan aku, keren ya.” Mereka berdua
pun pindah ke ruang depan mencari suasana yang lebih bersahabat dari kamar Bunga
yang di penuhi asesoris khas anak pecinta alam.
“Kakak udah punya cowok?” pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulut
Gadis, Bunga hanya tersenyum.
“Wah…cerita dong…cerita, ihh…aku pengen banget punya cowok, tapi kata
temen-temen enggak mungkin soalnya aku childish, iya enggak sih? Tapi aku enggak
ngerasa gitu.” lanjut Gadis yang membuat senyum Bunga makin melebar.
“Iya lah…cowok mana maun sama orang kayak lu, childish sih, ya… dikit-dikit
masih ada, wajarlah. Tapi lu tuh polos banget, bikin cowok males tau gak? Terkesan
manja.” Katanya.
Hal itu membuat Gadis tertunduk diam. “eh… jangan cemberut gitu dong, sini
deh.” Bunga merangkul Gadis,
”Eh, tiap orang itu di ciptakan berpasang-pasangan, jadi jangan takut gak punya
pacar, lu pasti ketemu kok sama prince charming pujaan.” Lanjutnya.
“gotcha!” seru Gadis, “ternyata, kak Bunga tuh enggak tomboy banget, he…
masih ada sisi feminim-nya.”
“Gila lu nipu gue? Kurang ajar.” Bunga menimpuk bantal yang kemudian dibalas
Gadis, yah akhirnya mereka timpuk-timpukan.
Tak lama Dayu pun pulang dengan membawa beberapa “gembolan” yang cukup
mengundang perhatian.
Gadis dengan semangat bertanya, “Apaan tuh mbak?”
Dayu pun menjawab, “Makanan kesukaan Bunga, batagor kuah sama beberapa
camilan. Ambilin mangkuk sama sendok gih di dapur.”
Dengan semangat ’45 Gadis berlari menuju dapur mengambil segala keperluan
makan, sementara Dayu pergi ke kamarnya berganti baju.
“Thank’s” kata Bunga saat Dayu melintas dan Dayu pun tersenyum.
Acara makan makan selesai, kini giliran Dayu yang bertanya tentang keadaan
Bunga,
“Gimana Bung, masih sakit? Sori lho tadi gue tinggalin soalnya ada janji ma
abang anak ini nih,” tunjuk Dayu kepada Gadis, “Jadi enggak enak kalau gue batalin gitu
aja.”
“Nyantai aja lagi, gue juga enggak apa kok, cuman terkilir gini doang, udah
biasa.” Bunga menanggapi.
“Syukur deh, gue kira lu kenapa-napa gitu.” Kata Dayu lagi.

-9-
“Aduh, udah deh Mbak kan udah liat kak Bunga baik-baik aja, sekarang kita
ngobrol ngalor-ngidul aja. Aku punya cerita lho tentang alumni sekolah aku yang baru,
aku juga baru diceritain temen malah barusan aku ketemu sama sobatnya Meily dan
Andri. Katanya 3 atau 4 tahun yang lalu ada perfect couple di sekolah aku yang kisah
cintanya bikin heboh, si cewek adik kelas si cowok, bedanya cuman 1 tahun. Kalau gak
salah mereka punya nama, Alia . Panggilan si cowok Ali dan si cewek Lia, jadi kalau di
satuin namanya Alia… dan ternyata emang cocok, kemaren aku ngeliat YearBook
angkatan mereka, keren banget! Yang satu disebut, the Survivor, karena bisa lepas dari
drugs, yang satu disebut MadammeVice, karena jadi wakil sekolah buat kuliah diluar
negeri (bla,bla,bla).”
Baru saja Gadis memulai ceritanya, Bunga pergi ke dapur. Sekilas Dayu
melihatnya, nampak raut sedih dan marah diwajah Bunga. Gadis masih bercerita dengan
seru, sedangkan Dayu hanya berkomentar Oh, Oh ya, mmm, wah!, ck…ck…ck, terus.
Hari seudah semakin sore menjelang malam, Gadis pun pamit setelah berjam-jam
bercerita. Dayu yang sedari tadi mengakhawatirkan Bunga karena pergi tiba-tiba segera
mengetuk pintu kamarnya,
“Boleh gue masuk?” tanyanya pada Bunga.
“Masuk aja.” Jawab Bunga.
“Lagi ngapain? tumben tiduran?” tanya Dayu lagi.
“Habis baca-baca, kaki gue sakit jadi enggak bisa dilipet.” Jawabnya. Dayu,
“Oo, ada apa?” Bunga,
“Nothing” Dayu, “Don’t lie!” Bunga,
“All right you know it, it just… year book… I miss my firend, it’s been 2 month
I’m not contact them. So gue ngobrol-ngobrol ama mereka di telepon.”kata Bunga.
Dayu, “Fine, kalau gitu gue balik ke kamar, kalau ada perlu ketok aja ya.” Bunga
mengangguk pada Dayu yang kemudian menutup pintu kamarnya. Tapi Dayu kembali
membuka pintu kamar Bunga,
“Bung if you…” kata Dayu yang segera di potong oleh Bunga,
“I know Dayu, I’ll tell you…everything!” dan Dayu pun menutup kamar Bunga
untuk terkahir kalinya hari itu.

3. Kisah si Gadis, Alia, Meily dan Andri

Suatu hari yang panas sekali, Gadis memutuskan untuk pergi pelesir ke mall
‘Ramaizkale’. Sambil mencari baju-baju casual, memanjakan diri ke salon dan makan
enak, tanpa sengaja ia melihat Andri dengan, Wah…kak Lia! Tapi ia kembali
melanjutkan acara cuci matanya keluar masuk counter dari pada memilih untuk jadi
kambing conge diantara kedua orang itu. Lagi pula siapa sih Gadis bagi mereka.
Lain halnya dengan Meily yang tampak kebingungan, ia mencari-cari kesana
kemari, pandangan matanya menyebar ke segala arah. Tiba-tiba ia melihat Gadis baru
saja melewatinya dengan tangan penuh belanjaan. Mel ragu-ragu, ia ingin menyapa
Gadis, tapi ia malu, ia takut, ia…ah pokoknya macam-macam. Akhirnya Mel pun
menyapa Gadis,
“Hai” sapa Mel sambil menepuk pundak Gadis. Hal itu membuat Gadis terkejut,
“Eh…hai Kak Mel, kok enggak sama Kak Andri sih, perasaan tadi aku lihat dia di
food court sama…” mulut ember Gadis emang susah di kontrol, kalimat yang tidak ia
selesaikan itu mengundang tanya Mel,
- 10 -
“Sama siapa?” tanya Mel.
“Sama…siapa ya? Aku enggak begitu kenal, tapi kayaknya pernah lihat. Kayak…
Lia.” Gadis menjawab dengan ragu-ragu dan takut apalagi pas bilang ‘Lia’.
“Siapa?” Mel mencoba memastikan apakah ia tidak salah mendengar kata ‘Lia’.
“Enggak tau…mmm aku pergi dulu ya? Sebentar lagi ada les…da da Kak Mel…”
Gadis langsung ngeloyor pergi takut jadi kambing hitam. Mel jadi semakin bingung, ia
segera menuju food court seperti yang dikatakan Gadis, bahwa Gadis melihatnya disana.
Sampai juga Meily di food court, ia melihat sekeliling mencari Andri, tapi ia
malah bertemu dengan Lia yang hendak meninggalkan tempat itu.
“Hey Mel, dah lama banget ya kita enggak ketemu. Gimana kabar lu?” sapa Lia
spontan begitu melihat Mel.
“Hey Chell, iya yah… terakhir waktu nganterin Ali ke Eindhoven. Gue baik-baik
aja, kalian? Long distance relationship nih? Oh ya…ngeliat Andri enggak?”jawab Mel
yang kemudian bertanya kepada Lia.
“Ya…gitu deh, dia sering kirim e-mail kok, foto-foto disana juga. Eh…mmm
Andri? Andrian Paksi-mu? Heh…enggak deh, gue tadi janjian sama temen disini baru aja
mau balik.” Lia menjawab dengan sedikit tersenyum.
“See you deh…gue lagi buru-buru! Telepon gue ya Mel.” kata Lia lalu pergi.
Mel kembali mencari, akhirnya ketemu juga dengan Andri. “Hai…lama nunggu
ya? Sori jalanan macet!” kata Mel menyapa Andri yang sedang bengong di pojokan food
court.
“Enggak, baru aja.” kata Andri.
“Jangan bohong deh, itu piring udah habis dua.” kata Mel lagi.
“Enggak kok, ini bekas tamu sebelum gue, belom di beresin ama pelayannya.”
Andri mengelak.
“Oh ya? Eh…mmm tadi kamu ketemu sama Lia enggak? Chellya?” Meily
bertanya lagi pada Andri.
Andri pun menjawab, “Chell…Alia? Iya! Ketemu sih enggak, gue cuma lihat dia
lagi makan bareng sama temennya gitu. Kayaknya dia enggak ngeliat gue deh, boro-boro
nyapa. Lagi pula males banget gue nyapa dia, habis dah lama banget enggak ketemu.
Seingat gue kita terakhir ketemu tuh pas ngaterin Ali ke bandara waktu dia mau ke
Endihoven deh? Lama ya…? Enggak kirim-kirim kabar pula, lupa sama temen lama nih.
Oh ya kenapa gue enggak coba e-mail atau chatting sama dia, tolol!” Andri terus saja
mengoceh sementara Meily hanya mengurut dada tenang… ia berfikir kalau si Gadis
salah lihat. Hmm daripada suasana-nya jadi kacau dan berantem…Mel mengalah.
Satu jam setelah acara makan Meily dan Andri pun pergi dari Mall mencari
tempat nongkrong yang lain, ketika pulang lagi-lagi si Mel ketemu dengan Gadis.
“Waduh! Mampus gue.” kata Gadis dalam hati. Ia tak bisa lagi menghindar
apalagi bersembunyi, terpaksa ia kembali berhadapan dengan Mel.
“Hei…Kak Lia-nya mana?” tanya Gadis pada Meily dan Andri. ‘Ups’ dasar
mulut ember! Sejak saat itu Gadis membenci mulut embernya dan mulai berhati-hati
kalau bicara.
“Lia?” kata Mel yang jadi sensitive begitu mendengar nama Lia.
“Perasaan tadi Kak Andri makan bareng sama Kak Lia.” kata Gadis. ‘Aduhh!’ ini
sih namanya bukan ember, tapi polos!! “eh…aku salah lihat kali ya? Sori deh habis mirip
banget sih.” Gadis segera menutup pernyataan bodohnya tadi setelah melihat tatapan
penuh ancaman dari Andri.
- 11 -
“Katanya mau les Dis, kok gak jadi?” tanya Mel.
“Ehm…iya, lagi males ah…temen-temen aku banyak yang bolos hari ini, jadi
sepi.! Mmm aku duluan deh…Mas Lanang kayaknya dah nyariin deh. Daaa…!” Gadis
segera beres-beres dan berjalan cepat meninggalkan Meily dan Andri.
“Andri!” kata Meily pada Andri sesaat setelah Gadis pergi.
“Apa Mel? Kamu enggak percaya? Kamu…kamu lebih percaya sama orang yang
baru kamu kenal macam anak ingusan itu?” Andri jadi marah.
“Kamu kok jadi nyolot kayak gitu, biasa aja dong!” kata Meily.
“Siapa yang mulai?” balas Andri.
“Udah deh…sebaiknya kita break dulu.” kata Mel sesaat sebelum pergi. Raut
wajah keduanya terlihat kesal. Fiuh…ini adalah pertengkaran pertama mereka tentang
hal-hal sepele. Biasanya mereka bisa bicara baik-baik.
Diluar sana nun jauh di Eindhoven, ada Ali yang sedang menikmati dinginnya
winter. Didekat perapian ia rebahan membaca buku, sesekali melihat ke foto Alia yang ia
pajang di rak samping kanan perapian itu. Ia tersenyum, “Ah…Lia. Aku segera pulang!”
katanya dalam hati.
Berikut adalah sedikit penggalan kisah ‘jadian’ antara Meily dan Andri. Kala itu
mereka masih duduk di bangku SMU, Andri yang setahun lebih tua dari Meily duduk di
kelas 3. Mereka adalah 5 sekawan, ada Alia (Ali dan Lia), Meily, Andri, dan Puspa. Mel,
Puspa dan Lia adalah kawan sejak kecil, sedangkan Ali dan Andri hanya kawan satu
kelas.
Kedekatan mereka berdua di mulai ketika sahabat mereka tercinta Alia sedang
diterpa hujan dan badai yang mencoba memisahkan cinta mereka. Mel, Andri dan Puspa
sebagai sahabatnya tak ingin mereka berpisah dengan alas an sederhana, mereka tak ingin
tali persahabatan yang telah dijalin selama ini berakhir. Andri adalah sahabat Ali dan
satu-satunya orang yang nyambung adalah Mel yang merupakan sahabat yang paling
dekat dengan Lia. Mereka menjadi lebih dekat lagi ketika sedang menyusun rencana
untuk mempersatukan Alia.
Malam itu, setelah acara penguntitan Lia dengan Tito, Mel menghempaskan diri
berbaring di ranjangnya, lelaaah sekali. Telepon pun berdering,
“Halo…”kata Mel.
“Halo.” jawab seseorang diujung sana.
“Siapa nih?” tanya Mel.
“Ini Andri.” jawabnya.
“Ada apaan And?” Mel bertanya lagi.
Andri menjawab dengan gugup, “Mmm gue cuma mau…ah enggak jadi deh, sori
ganggu, see you.”
“Eh…tunggu, ada apa sih?” Mel yang penasaran bertanya lagi.
“Itu…tadi gue ngobrol sama Ali, dari yang gue lihat nih…dia lagi enggak begitu
concern dengan hubungannya dengan Lia. Gue berharap kita bisa lebih deket lagi, tidak
hanya sebagai seorang teman. Eh…gue ngomong apa tadi?” Andri keceplosan.
Begitu mendengar kalimat terakhir tadi, Mel sangat terkejut sampai tak bisa
berkata apa-apa. Andri pun segera meminta maaf, “Eh…sori…sori gue lagi enggak
konsen, lagi baca naskah drama. Maksud gue, gue tuh berharap kalau mereka bisa lebih
deket lagi seperti dulu, sekarang mereka jadi jauh. Gue ikut sedih.” Mel mengurut dada,

- 12 -
“Fiuh…gue kira…Ya sih, gue khawatir banget sama Alia. Apa lagi akhir-akhir
ini…gue sering ngerasa rindu kita barengan lagi.” kata Mel.
“Kita?” Andri bertanya-tanya.
“Iya kita, aku dan kamu…juga Alia dan Puspa.” Mel menjelaskan. Tak lama
acara telepon-teleponan pun selesai. Mel kembali berbaring, ‘Emh…kok tadi
omongannya rada-rada enggak nyambung sih? Malah sampai nyerempet-nyerempet gitu.
Aduh kenapa gue sampai ngomong kita lagi. ..’ kata hati Mel.
Lama berselang, kini perpisahan Alia tak dapat mereka cegah lagi. Itu sudah
terjadi beberapa minggu yang lalu. Hari ini tiba-tiba saja Ali mengajak Mel, Andri dan
Puspa jalan bareng, ternyata dia mendapatkan gelar sudent of the year untuk ke tiga
kalinya.
“Cheers! Untuk Ali yang mendapatkan gelar-nya kembali.” kata Andri.
“Cheers juga untuk jadian-nya Mel dan Andri.” kata Puspa. ‘Ups’ keceplosan.
“Wah gimana ceritanya tuh?” tanya Ali.
“Ehm…it happen about a week before…Chell…you know, I’m sorry…flight.
Andri…menculik gue sepulang sekolah, dia bilang dia punya informasi tentang kalian.
Gue ikut, tapi aneh…dia ngajak gue ke ‘White Tower’ (menara tertinggi kota
Ramaizkale). Sebelumnya dia ngajak gue muter sana-sini, sampai sekitar jam 5 sore kita
baru ke ‘White Tower’ itu. Tiba-tiba aja dia down on bended knees dan bilang… bilang
apa And?” tanya Mel.
“Gue cuma bilang, ‘I don’t know how or when did this feeling came. I just
realized that you already took my heart away since a long ago. You already know what I
mean, do you accept my proposal?’ lalu dia jawab, ‘Look, I don’t have anytime to accept
your proposal, and any pen to sign your proposal. I’m sorry…’ gila banget enggak sih,
gue down banget. Ya udah gue berdiri dan pergi…rese banget enggak sih nih cewek.”
cerita Andri.
“Eh… kurang ajar lu. Tapi kan gue manggil lu lagi!” Mel membela diri. Puspa
hanya tersenyum senyum, begitu juga Ali,
“Lalu…Mel bilang, ‘I may have no time, and I may have no pen, but I have my
heart for you to love for the rest of our life. Do you accept my negotiation?’ lalu si Andri
jawab, ‘I won’t made any other contract, to have a contract with you, and I’ll be loyal
with this agreement.” cerita Puspa karena tak sabar lagi. That’s the story.

4. Boyz!!

Sore itu di atap Surga Kesatria yang merupakan arena olah raga. Dari lapangan
Basket, Bulu Tangkis, dan beberapa meja pingpong. Lanang, Chika, Bintang dan ehm…
Bagus juga beberapa anak yang lain sedang berolahraga. Mereka bermain three on three,
kecuali chika yang sibuk teriak-teriak jadi supporter. Lanang, Bintang dan Bagus satu
tim, disini keliatan banget kalau Bagus tuh individualis banget, sekali dapet bola
langsung maen shoot, jarang inget buat pass sama team-mate-nya. Tapi memang,
permainannya bagus banget. Semua orang bisa tahu dari body-nya yang atletis.
“Hah…hah…” suara ngos-ngosan itu terdengar cukup jelas. Keringat bercucuran
dengan deras, kulit yang semakin mengkilat dan memerah.

- 13 -
“Mau di terusin lagi nih.” Kata seseorang,
“Enggak deh, capek gue” sahut yang lain. Mereka pun rebahan di lapangan.
Keadaan sudah hampir gelap, langit masih menyisakan warna-warna oranye matahari.
Sejenak mereka terdiam, dan taklama Lanang bangun mendekati tepi bangunan
merasakan angin dingin, ah… segarnya. Ia menutup mata, dan ketika ia buka, ia melihat
hal yang sama kecuali…Bagus. Ia duduk di tepian dan memandang lembayung senja
yang indah.
Tiba-tiba seseorang berkata, “Duh, kalau lagi kayak gini paling asik kalau ada
cewek, terus kita peluk. Apa lagi kalau lagi di pantai…” Lanang pun segera teringat pada
Dayu, dia paling suka sama sunset. Ia segera berlari turun ke kamarnya, meminta Dayu
melihat ke luar.
Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, semua sibuk untuk mandi, Lanang yang
sedari tadi sms-an sama Dayu ketinggalan. Ia terpaksa mengetuk kamar sebelah,
kamarnya Bagus. Ia pun mulai mengetuk, setelah Bagus keluar Lanang segera
menyampaikan maksudnya,
“Eh, boleh numpang mandi enggak, air di kamar mandi gue macet, lagian di
kamar mandi “bersama” lagi ngantri.”
“Masuk kamar mandinya di belakang.” Kata Bagus tanpa banyak omong.
“OK, thanks” Lanang berterima kasih dan segera menuju kamar mandi sambil
sedikit ccp melihat keadaan kamar Bagus. Yah…jelas banget dia anak tunggal. Foto
keluarganya cuman bertiga, he’s got all.
Lanang pun sedikit berbasa-basi sebelum akhirnya meninggalkan kamar Bagus,
“Gus, lu anak tunggal ya?” tanya Lanang.
“Nope.” jawab Bagus singkat.
“Tuh di foto cuma ada lu sama bonyok lu.” kata Lanang.
“Jangan sok tau deh.” kata Bagus dengan logat bule.
“Ya, gue cuma ingin kenal aja sama boys next door gue. Kali aja bisa jadi temen
yang…baik.” Kata Lanang setelah ber-ooo ria.
“Gue punya dua saudara, mereka yang difoto itu orang tua gue, all of them lived
in the other country, and should I mention it?” jawab Bagus dengan sinis.
“No, I guess that’s enough, itu cukup untuk pertama kali kita jumpa, but nama
gue Lanang Hadiningrat, kamu? Gue janji bakal ninggalin kamar lu secepatnya setelah lu
jawab pertanyaan gue.” Lanang makin penasaran sama orang ini.
“Gue Bagus Indra Radityo, no get h**l out of here…” jawab Bagus.
“Fine, by the way thank’s. maybe I’ll come again.” kata Lanang yang segera
pergi. Duh jutek amat orang ini fikirnya.
Setelah urusannya di kamar Bagus selesai, Lanang segera meninggalkan ruangan
itu lalu dandan seadanya dan mejeng di taman depan. Disana dia ketemu si Chika,
“Aduh-aduh, abang ganteng yang satu ini mawar ke mandita?” katanya.
“B’risik lu!” jawab Lanang ketus,
“aih-aih galak kayak macan, arrgg!”
“eh…ni banci iseng bener!” Lanang jadi kesel, tiba-tiba ada yang mencubit pantat
si Chika,
“Aww” jeritnya. “Kurang ajar deh yey, eke panggillin om eke yang tukang santet
tau rasa lu!” katanya. Lanang pun melanjutkan perjalanan menuju taman depan, disana
anak-anak lagi pada kumpul di Bakso Mas Parto.

- 14 -
“Ooii!” sapanya.
“Sini Boy!” ajak teman-temannya, lalu seseorang nyeletuk,
“Emangnya nama dia Boy?” dan di jawab,
“Boy kan artinya cowok, nama dia juga Lanang yang artinya cowok, iya ga?”
di sahut oleh seseorang yang lain, “Ah…jayus lu.” Sambil mendorong kepalanya.
“Boy, katanya lu tadi masuk ke kamarnya si “jendral”? ngapain aja? Ada apa
aja?” tanya salah seorang diantara mereka.
“Gue cuman nebeng mandi doang.” Jawab Lanang singkat sambil memesan
Bakso.
“Terus?” tanya mereka lagi, tapi Lanang hanya menggeleng-gelengkan kepala
tanda tidak ada apa-apa lagi.
“Bo’ong! Apa yang lu liat di kamar dia, pasti tajir kan? Masak satu mini
apartemen dia isi sendirian.”
Lanang,“Kayaknya sih gitu, dia tajir, dan kayaknya juga anak tunggal, soalnya
waktu gue liat fotonya cuman bertiga.”
“Ada foto cewek gak?”
Lanang menggeleng, “Kalian kenapa sih tanya-tanya soal dia?”
“Pengen tau aja, dia kan orangnya individualis banget, gak pernah gabung sama
kita-kita, berangkat pagi pulang malem kayak orang kerja aja!”
Lanang, “Ya sih, gue aja baru hari ini maen basket bareng, itu juga dia yang
nguasain, lu pada liat gak?” Obrolan makin seru dan tampaknya mereka tambah
sentimen aja sama orang yang namanya Bagus itu.
“Eh liat! Si Om sama si Tante berantem lagi, dasar duda sama janda, enggak ada
bedanya, berantem mulu.!” Kata Tony, perhatian anak-anak langsung tertuju pada
mereka berdua. Kalau dalam film ceritanya si kamera makin deket sama Om dan Tante,
dan omongan mereka berdua jadi jelas terdengar.
Merry, “Apa liat-liat?”
Guntur, “Siapa yang liat-liat dasar ke-GR-an!”
Merry, “Dasar kakek ganjen, hari gini masih gangguin wanita cantik.”
Guntur jadi panas, “Apa? Gak salah ngomong? Nenek yang satu ini ngakunya
wanita cantik? Udah berapa tahun kamu enggak ngaca? Udah lupa sama uban? Lagian
masak orang ganteng gini disebut kakek.”
Merry, “Eh berani-beraninya nge-hina! Kamu yang udah berabad-abad enggak
ngaca!”
Guntur pun mengeluarkan jurusnya, “Astagfirullah Mer… jangan sampai gara-
gara ditinggal suami, kamu jadi benci sama pria, nanti di tinggal lagi tau rasa kamu!”
Tante Merry jadi geram, tapi tak punya kata-kata lagi untuk membalas, ia segera
pergi dari teras sambil mencibir pada Guntur. Om Guntur melanjutkan inspeksi malam
hari ke sekitar “mini apartemen” miliknya, takut-takut ada penghuninnya yang berbuat
mesum. Ia pun segera mendekati Bakso Mas Parto.
“Si Om dataaaaang.” Tony berteriak lagi.
“Jadi gimana Bin tentang teori turbulensi yang kemaren?” tanya seseorang,
berakting sedang belajar.
“Ggue jjuga kurrang ngeerttti sihh! Ttapi kayaknya adda hhubbungaannya ssama
pppeembbuaatan bblaack hhollee.” Jawab Bintang, gagap seperti biasanya.

- 15 -
Lain lagi dengan omongan anak Fakultas Sosial, “Demokrasi itu bohong belaka di
negeri ini. Gembar-gembor tentang reformasi padam begitu saja setelah pergantian
beberapa presiden, korupsi yang makin merajalela. Seharusnya hukum-hukum itu
semakin diperketat!” Gusti memulai diskusi.
“Ehmm” suara deheman itu menghentikan aktivitas akting,
“Malam Om,” sapa mereka. Si Om tersenyum, ia mendekati anak kostnya.
“Lagi diskusi ya…”tanya Om Guntur.
“Iya Om.” Koor mereka.
“Kumpul sini deh!” kata si Om.
Mereka pun berkumpul mendekati si Om. “Kalian gak usah bohong, Om juga
pernah kuliah lho, jurusan Teater di Unversitas Teladan sekitar ya… 22 tahun lalu. Jadi
gak usah bohong, akting kalian jelek, masih ingusan!” Om mulai menasihati.
Gusti nyeletuk, “Terus kenapa malah jadi “bapak kost” bukan jadi aktor.”
Si Om menjawab, “Karena Om ingin tetap muda, bergaul dengan mahasiswa jadi
enggak ketinggalan jaman. Gini-gini Om dulu pujaan kampus banyak cewek yang jatuh
ke tangan Om.”
“Masak sih…tapi kok sama Tante Merry gagal barusan.!” Lanang ngeledek.
“Itu orangnya lain, Om enggak selera sama dia, kegemukan enggak bikin nafsu.”
Jawabnya mencari-cari alasan. Ha…ha… anak-anak pun tertawa terbahak-bahak.
“Sebetulnya nih, kalian tuh lagi ngomongin apa sih barusan.” tanya Guntur.
“Itu Om tentang si “jendral” eh… orang satu-satunya yang nyewa mini apartemen
sendirian.” Jawab Tony.
“Oh si…anu siapa sih… si Bagus ya? Kata si Om. Bla…bla…bla. Sementara itu
di Taman Bidadari…

5. Galss!!

“haa…haa… apaan sih!” ceria canda dan tawa menghiasi suasana lobby Taman
Bidadari.
“Gila lu ya, kok tega.”
“Iya dong, si Rene’ itu kan cakep banget, blesteran Perancis dan yang pasti
romantis. Liat aja di filmnya.”
Yah… ucapan-ucapan seperti itulah yang terdengar diantara mereka. Mulai
candaan yang garing banget, pacar, sampai gossip cowok cakep dan selebritis.
“Bung, mau ikutan gak?” ajak Vanya.
“Ngapain?” tanya Bunga lagi dengan sedikit acuh, ia sibuk baca majalah sport.
“Ramal-ramalan, cinta…cinta…” jawab Vanya sedikit menggoda.
“Enggak deh, lagi enggak mood.” Jawabnya dingin.
Mereka ribut-ribut cekakak-cekikik lesehan, apalagi si “anak bawang” Gadis,
“Aah masak enggak ada cowok yang bakalan ngedeketin aku sih. Masak aku harus
nunggu sampai umur 20 sih.!” Gadis cukup kecewa dengan hasil ramalan Vanya.
“ah yang bener?” tanya Dayu yang diam-diam penasaran juga tentang
hubungannya dengan Lanang.
“yang gue liat sih gitu, bakalan ada lautan diantara dua pulau cinta kalian.” Vanya
menjelaskan hasil ramalannya.

- 16 -
“ah… itu kan cuman ramalan, aslinya siapa tahu.” Dayu menyenangkan diri
sedangkan Vanya hanya mengangkat bahu.
“Eh… ramalin aku dong sama cowok sebelah, yang bawa mobil keren itu lho,”
pinta Naya pada Vanya.
Vanya,”Coba kamu bayangin dia sambil sebut namanya dalam hati.” Katanya
pada Naya.
“Hah? Aku enggak tahu nama dia, gimana dong?” Naya kecewa.
“Mmm, kalo enggak salah kak Bunga pernah berantem sama tuh cowok, tanya aja
sama dia?” timpal Gadis tiba-tiba.
“Bung, tahu nama cowok yang berantem sama lu gak?” Vanya bertanya pada
Bunga yang duduk di kursi sebelahnya.
“siapa? Yang kemaren? Mana gue tahu, tanya sama si Dayu dong, cowoknya kan
anak sebelah.” Jawab Bunga enteng.
Semua hening menunggu Dayu berbicara, sampai akhirnya Naya bertanya, “Tahu
enggak? Cowok kamu pernah cerita enggak?”
“Kok gue sih, au ah…” Dayu keheranan dan mengalihkan perhatiannya pada
buku yang sedari tadi ia bawa namun baru kali ini dia baca.
Kemudian Sheika bertanya, “Bung, cerita dong, lu diem-diem aja kalo ketemu
cowok cakep!”
“Apaan sih, rese’ lu.” Jawab Bunga ketus.
“Alaah dasar maruk lu!” kata Sheika.
Bunga,”Apa sih mau lu, enggak ada cerita. Gue cuman berantem terus tanding
panjat dinding sama tuh cowok sial, sampe kaki gue terkilir gini. Puas.”
Sesaat kemudian terdengar sayup-sayup suara orang berantem di teras. “sapa tuh”
mereka bertanya-tanya.
“si tante sama om sebelah” sahut Vanya.
Mereka pun segera mendekat ke jendela, mengintip dan menguping. “Bung, sini!
Seru loh!” ajak Naya.
“apaan sih” kata Bunga sambil berjalan perlahan menuju jendela. Si tante kembali
masuk tempat kost setelah kalah perang sama si om.
“tante balik, tante balik” seru mereka sambil sibuk kembali ke tempat masing-
masing, ada yang nonton lah, ramal-ramalan lah.
“Malam Tante.” Sapa Dayu.
“Malam” jawab Merry dingin. “Eh, kalian ya… jangan sampai pacaran sama
orang sebelah awas! Yang punyanya aja udah kurang ajar anak kost-nya pasti enggak
jauh beda. Dengerin ya, kalau sampai si Guntur sialan itu kawin lagi, tak obrak-abrik
kawinan-nya, biar tahu rasa!” lanjut Merry yang ngeloyor pergi setelahnya.
“Yee… marah tuh.” Kata Dayu.
“Marah apa marah…” sahut Gadis.
“Bukan, bukan marah, cemburu kali si Om udah punya pacar baru, ada saingan!”
ledek Vanya.
“Shhtt! Kayaknya si tante tuh suka loh sama si om, buktinya dia bilang kalau si
om kawin lagi bakalan dia obrak-abrik. Berarti dia enggak rela si Om kawin lagi.! Ya
enggak?” Vanya mulai buat gossip.
“Komentar lu gimana Bung?” lanjut Vanya.

- 17 -
“Hah? Kalau gue sih, kayaknya nih… si tante tuh emang udah jodoh sama si om.
Mereka kan katanya tetanggaan, kayaknya sih udah saling jatuh hati dari dulu, cuman
munafik enggak ada yang mau ngaku duluan. Akhirnya kawin cerai, begitu denger yang
satu mau kawin, bawaannya jadi marah dan enggak ridho.” Bunga menjawab dengan
panjang lebar.
“Wah, wah, wah dapet dari mana tuh, gue kira lu orangnya dingin enggak suka
gossip.” Komen Naya.
“Yah… untuk hal tertentu gue juga asik orangnya…” jawab Bunga dengan nada
sombong dan becanda. Hu… anak-anak ber-hu… ria.
“Shhttt, si tante datang lagi!” Gadis memberi peringatan.
“malam tante” sapa mereka begitu Merry lewat di samping mereka.
“Malam” jawab Merry lagi-lagi dengan dinginnya. Tampaknya ia akan pergi,
sudah dandan dengan rapi bawa kunci mobil pula. Tak lama anak-anak pun kembali
tertawa.

Yah sepertinya begitulah kehidupan anak kost, susah senang bersama-sama.


Mereka melanjutkan kehidupan mereka masing-masing. Disibukkan oleh kuliah hingga
akhirnya lupa-lah mereka dengan acara hanging out tiap weekend yang sering kali
mereka lakukan di awal-awal tahun mereka masuk kuliah.

6. Bunga dan Bagus II

Hari itu di kampus tercinta, Bunga dan Bagus ternyata satu jurusan dan hari ini
mereka satu kelas, untuk ujian mata kuliah fisika dasar. Ujian pun di mulai semua sibuk
dengan “catatan kecil” dan corat-coret menghitung. Ditengah waktu pelajaran “tukk”
begitulah kira-kira suara kertas yang membentur kepala Bunga dari arah belakang.
“apaan nih” pikirnya. Ia pun membungkuk dan mengambil kertas itu, disana tertulis
jawaban soal-soal.
Bunga tersentak kaget “Hah!!” pekiknya yang mengundah perhatian,
Pak Dosen pun menghampirinya, “Ada apa?” tanyanya,
Bunga menggelengkan kepala. Sial! Kertas jawaban itu jatuh ketika ia menggeser
tangannya waktu akan menulis.
“Apa itu?” tanya Pak Dosen.
“Oh….S**t” jerit Bunga…dalam hati. Waktu rasanya semakin lambat saja
sampai akhirnya Pak Dosen membuka kertas itu.
Nomor 4j pake rumus yang ada koordinat. Nomor 9f
pake rumus yang ada sigmanya. Nomor 7 a
jawabannya 9,876 x 10-16 N Kg/m2.
Pak Dosen kaget dan langsung menuduh, “Kamu mahasiswa tak
bertanggungjawab! Kamu sudah mencontek mata kuliah saya, kamu tahu sanksinya-kan?
IP kamu bisa saya kurangi sampai 0,9. tahu!”
“Bukan pak sumpah bukan gue…eh bukan saya pak. Tadi saya dapet lemparan
kertas ini dari belakang.” Bunga membantah tuduhan itu.
“Bohong!”
“Suer pak suer!” Pak Dosen pun segera mencari korban,
“Siapa yang melempar kertas ini!” tiba-tiba seseorang mengacungkan tangannya.

- 18 -
“Saya Pak.” Kata orang itu. Perhatian mayoritas mahasiswa pun segera terfokus
pada mereka, meskipun ada yang mengambil kesempatan untuk mencontek seperti Habib
misalnya.
“Thank God” bisik hati Bunga dalam hati. “he must be a good guy.” Tapi begitu
melihat si pengaku, Bunga jadi ilfil.
“Benar kamu yang melempar?” tanya Pak Dosen lagi.
“Siapa namamu?”
“Bagus Pak, tapi bukan saya yang mencontek, saya hanya memberikan jawaban
pada dia, karena tadi dia bertanya pada saya.” Begitu mendengar pernyataan Bagus,
Bunga segera menyangkal,
“Bohong Pak!”
“Diam kamu” kata si Bapak.
“apa buktinya?”
“ini Pak!” Bagus menyerahkan sobekan kertas kecil, yang kemudian dibawa Pak
Dosen kepada Bunga,
“Benar ini tulisan kamu?” Bunga melihat tulisan itu, disana tertulis Tolongin gue
dong Pliss, cepetan! *BUNGA*. Bunga jadi kaget “Lara!” itu tertera dalam pikirannya.
Apa mau dikata itu memang tulisannya dan ia mengakuinya. Akhirnya Bunga di
keluarkan dari Ruangan dan harus mengerjakan ujian lagi esok hari dengan soal 3 kali
lebih banyak. “Siaaallll” mungkin itu yang tertulis di fikiran Bunga.
Saat itu juga Bunga mencari Lara, yang sedang menunggu ujian mata kuliah
selanjutnya. “Brengsek lu!, ngapain lu kasih itu kertas sama… sama orang gila yang
namanya Bagus!”
“Apa-apan lu? Pake maki-maki gue segala, kertas apaan? Bagus yang mana?”
Lara jadi ikut nafsu.
“Jangan banyak omong deh, ngaku lu, ngaku!” Bunga makin menjadi-jadi.
“Lu kemanain kertas pesan gue tempo hari?” tanya Bunga.
“Kertas yang mana?” Lara jadi bertanya-tanya.
“Kertas waktu gue minta tolong buat dianter pulang gara-gara terkilir yang gue
kasihin sama Jojo?” jelas Bunga.
“Oh kertas itu… gue…gue…” ingatan Lara terbang mengingat saat kejadian itu
terjadi.
Siang itu, Lara sedang ada di ruang BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), lalu ia
menerima surat dari Jojo, “Di mana?” tanya Lara begitu membaca tulisannya.
“Di lapangan parkir.” Jawab Jojo. Lara pun berterima kasih dan segera menuju
tempat parkir. Ditengah jalan ia dicegat oleh Kiko teman seperjuangannya waktu SMP,
“Mau kemana cantik?” goda Kiko.
“Mau ke parkiran, kenapa?” Lara balik bertanya.
“Enggak heran aja, kok buru-buru amat, mau ketemu siapa sih?” tanya Kiko lagi.
“Ketemu Bunga kenapa?”jawab Lara dan balik bertanya.
“Enggak apa-apa, pengen tahu aja, eh… kertas apaan tuhh? Contekan ujian
ya…?” Kiko menggoda lagi.
“Bukan, ini enggak penting kok.”
“Alah…pelit ama sama temen seperjuangan.” Kiko memaksa.
“ya udah nih kalau enggak percaya. Gue duluan, lagi ditunggu soalnya, daaa”
Lara segera pergi setelah memberikan kertas itu.

- 19 -
“Gitu ceritanya…” kata Lara pada Bunga setelah bercerita. “mungkin Kiko yang
kasih sama Bagus.” Katanya lagi.
“Kiko…Kiko bule’ kerempeng?” tanya Bunga dan Lara mengangguk
membenarkan.
“Astaga apa lu amnesia hah? Kiko tuh salah satu ‘pemuja’ setan berandal Bagus!”
Bunga menyalahkan Lara.
“Eh, mana gue tahu lu punya masalah sama Bagus waktu itu, lagian lu baru cerita
waktu gue udah ngasihin. Mau gimana lagi… lu juga kenapa enggak sms aja.” Lara
membela diri.
“Gue enggak puna pulsa. Ya udah…terserah deh.” Bunga segera pergi.

Sore yang mendung itu sekitar jam 3 sore, kampus sudah mulai sepi, kecuali
beberapa anak yang masih betah main-main. Bunga berniat pulang, ia pun menuju
parkiran mencari letak mobilnya. Dari jauh sayup-sayup terdengar suara pria-pria sedang
tertawa terbahak-bahak, setelah berjalan lebih dekat bisa di pastikan itu adalah Bagus dan
kawan-kawan ‘elite’-nya. Bunga berjalan lebih cepat mendekati mereka, ingin marah-
marah namun di tengah jalan ia mengurungkan niatnya, “biarlah” pikirnya, untuk kali ini
saja.
Bunga melewati mereka dengan dingin menuju mobilnya yang tak jauh dari sana,
tiba-tiba saja emosinya meluap dan menghampiri gerombolan pria itu,
“Dasar cobek, cowok bresengsek! Enggak mau ngakuin kekalahannya, pake acara
balas dendam segala!” Bunga langsung nyolot.
“Makanya kalau ujian belajar dulu, jangan pengen di kasih tahu, kalau enggak
harus ujian lagi dengan soal yang 3 kali lebih banyak.” Ejek Kiko.
“Eh bule’ Depok berisik lu!” Bunga marah lagi.
“Whuss, ada macan betina lagi beranak, awas galak!” Bagus mulai mengejek.
Yah… si Bunga jadi bahan ejekan kali ini. Daripada terus di ejek dan enggak akan
mungkin menang, ia pun gugur dalam pertempuran, alias pergi.
“Ugh, rese’ banget nih cowok!” katanya dalam mobil yang di dera hujan deras.
Seharusnya ia sudah sampai di Taman Bidadari sejak sejam yang lalu, tapi dia memilih
berputar-putar hingga akhirnya terjebak dalam hujan deras. Suara hujan bersaing dengan
lagu yang di putar keras dalam mobil Bunga, menambah suasana hatinya jadi makin
panas. Di suatu tikungan dekat halte bus tua mobil Bunga tiba-tiba mati. Apalagi
pikirnya, kurang sial apa dia hari ini. Sudah dikeluarkan ujian, kena malu, dan di saat
hujan begini mobilnya harus mati entah dimana. Bunga terdiam dalam mobil, menunggu
kendaraan lain lewat, untung saja ada yang lewat. Bunga turun dari mobilnya dan
mencoba memberikan tanda menumpang dengan melambaikan tangan pada mobil itu
agar berhenti, tapi ternyata tidak. Bunga pun mencoba menyelesaikan masalahnya, ia
membuka kap mesin mobilnya dan mengotak-atik, tapi tetep aja blank, ini mobil import!
Tak lama ia melihat sebuah mobil sport silver melewatinya, dengan baju basah
kuyup ia mencoba memberhentikan mobil itu, dan berhentilah ia. Sambil menggigil
kedinginan dalam baju basah, Bunga mengetuk kaca mobil itu dan berteriak,
“Tolongin gue, mobil gue mogok, bisa numpang sampai TB (Taman Bidadari)
enggak?” kata Bunga sambil memeluk dirinya sendiri.
Lalu kaca mobil terbuka, “masuk aja, gue juga mau SK (Surga Kesatria).” Kata si
pengemudi lalu membuka pintu. Bunga masuk dan berterima kasih. Saat itu si pengemudi
sedang berbalik ke belakang mengambil jaket.
- 20 -
“pake, biar enggak terlalu dingin.” Kata si pengemudi lagi.
“Nyantai aja, ntar gue telepon bengkel suruh ngambil mobil lu disini.” Katanya
lagi. Bunga sibuk mengeringkan diri, sementara si pengemudi sedikit terpesona oleh
tubuh Bunga, pakaian putihnya yang basah membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas begitu
juga dalam-dalamnya. Bunga pun menengok ke arah si pengemudi karena merasa di
perhatikan dan si pengemudi segera memakai kacamata hitamnya. Sssrrtt sekilas terlihat
wajah itu,
“Ah…mampus gue!!” bisik Bunga.
“Kenapa?” tanya si pengemudi, tapi Bunga menggelengkan kepala.
Selama perjalanan mereka terdiam, ketika mereka ingin berkata, berbarengan
pula, akhirnya saling mengalah, dan si pengemudi memulai lebih dulu, “Mobil lu
kenapa?”
Bunga menjawab dengan gugup,”E..e…enggak tau tuh, tiba-tiba aja mogok gitu.”
“Mm, paling ada konsleting dikit, biasa, mobil import kan elektronik banget, satu
mati, bisa semua mati. Oh ya… lu asli orang sini?” tanya si pengemudi lagi.
“Enggak, bukan, gue bukan dari sini, gue tinggal deket ibu kota, lumayan…”
“Jauh juga ya…gue juga bukan dari sini, gue malah dari ibu kota. Eh… boleh
kenalan gak? Dari tadi ngobrol tapi enggak tau siapa namanya. Gue Bagus Indra
Radityo.”
“Gue Adinda Bunga Ayu.”
Mereka terdiam lagi, dan Bunga memulai, “Ehm…Bagus, thanks ya, dah mau
nganterin gue. Maaf kalau gue sering banget ngajakin lu berantem.”
“Sama-sama, gue juga mau minta maaf udah bikin lu kesel, apalagi hari ini.” Kata
Bagus.
“Eh, kayaknya gue turun disini aja deh.” Bunga berkata tiba-tiba.
“kenapa?” tanya Bagus sambil memelankan mobilnya dan berhenti di pinggir
jalan. “Ini kan masih lumayan jauh.” Katanya.
“enggak apa-apa, gue cuman enggak enak, ntar dikira apa-apa lagi. Makasih ya…
da…” Bunga segera keluar dari mobil dan berjalan di trotoar. “kejar dong!” pikirnya
dalam hati.
Sudah cukup jauh Bunga berjalan, ia jadi penasaran, ia pun berbalik. Pada saat itu
juga mobil silver itu melesat kencang dan menyipratkan air kotor jalanan hingga
mengenai wajah dan otomatis kena baju. Kotorlah baju kesayangan Bunga. “Bagus!!!
Brengsek!!!” teriak Bunga, sedangkan Bagus hanya melambaikan tangannya. Sial!!!
Bunga sial hari ini, amat sangat sial! Sudah jatuh tertimpa tangga dan mendapatkan
durian runtuh tepat diatas kepalanya. “Eh…tapi jaket ini…” kata Bunga dalam hati
sambil melepas dan mencium baunya. “Emh…wangi…”

- 21 -
7. Segi-empat yang goyah
Kisah segitiga, Andri diantara Meily dan Chellya. Hubungan Mel-Andri kini
makin ricuh saja. Chell yang plin-plan masih suka kelayapan sama pacar sahabatnya.
Inilah Chellya yang kadang tidak berpendirian, alasannya cukup masuk akal, ia hanya
kesepian, figur Ali lekat terihat pada Andri yang memang sobat karibnya. Sedangkan
Mel, ia merasa tersingkir. Fiuh susah memang, jika punya temen yang perfect…mmm
close to perfect I guess.
Malam ini Andri surfing di dunia maya. Ia ingin bermain aman dalam segitiga api
yang ia mainkan. Ia ingin memastikan keadaan Ali. Pada acara surfing yang lalu, ia
mengirim e-mail kepada Ali, menanyakan keadaan dan keberadaan Ali. Kini ia mendapat
balasannya :
Apa? Eindhoven? Gue udah lama balik dari sana, yah sekitar 3
mingguan ini gue bolak-balik Ramaizkale-Stuggart ngurusin visa gue yang
hampir abis. Oh ya...bilang sama Lia, sorry gue enggak bisa ketemu dia,
sibuk banget sih... gue dapet kerja jadi free-lance coach di salah satu
club Baseball anak-anak di Stuggart, lumayan lah...buat modal kawin
he3x... lu sendiri gimana sama Meily? Kok gak pernah kirim-kirim kabar
sama gue? Ups...I must go to work...watch my lady for me Ok? Tell her
that I miss her, that she’s always on my mind, and I’ll come home soon!
See you And...Go Bro!!!
Kata pertama yang Andri ucapkan ketika selesai membaca adalah, “Mampus!!!”.
Ia jadi panik dan panas-dingin, ia jadi was-was, jangan-jangan Ali ngelihat mereka lagi
barengan. Aduuhhh! Kenapa jadi temen makan temen nih! Fikirnya.
Segera sesudahnya Andri segera menghubungi Chellya, “Halo? Chell?” katanya.
“Halo And? Siapa? Chell? Ah…brengsek kamu!!!”
Waduh, celaka bagi Andri, “Emhh…halo say…” kata Andri begitu mendengar
jawaban tadi.
“Apaan say, say! Basi!” jawab Mel.
“Eh, tunggu dong, gue cuma mau nyampaiin kabar dari Ali buat Lia. Jangan salah
sangka gitu dong. Kali aja kamu ketemu dia kayak tempo hari, tolong sampai-in.” kata
Andri, tapi Mel tak menjawab. Ia pun melanjutkan perkataannya, “Iya, barusan gue dapet
e-mail dari Ali. Katanya ia udah enggak di Eindhoven lagi. Dia lagi ada di Stuggart dan
kerja jadi free-lance coach di Baseball Club anak-anak disana. Dia juga mau minta maaf
sama Lia, karena selama 3 minggu bolak-balik Stuggart-Ramaizkale dia enggak sempet
nemuin Lia. Gitu… dan Ali bilang bakal segera pulang!. See… gue enggak bohong, liat
aja e-mailnya kesini.” Andri menjelaskan, tapi sedikit pun Meily tak berkata.
“Mel…sayang… kamu masih marah ya…ayo dong ngomong…gue jadi bete nih!
Maafin gue yah, udah…ngasarin lu tempo hari. Sori…maaf dong!” Andri terus
mengoceh meminta maaf.
“Hmmm” gumam Mel. “Gue maafin, tapi lain kali jangan kayak gitu lagi. Berita
dari Ali bakal gue ceritain sama Lia, udah ya…gue capek!” katanya. Telepon pun
ditutup, dan Mel segera menghubungi Lia mengabarkan berita tentang Ali kepadanya.
Esok hari di kampus, Andri dan Chellya sedang berseteru, bersitegang.
“Apa? Ngapain kamu e-mail Ali?” Lia memulai pemanasan bertengkar siang itu.
“Gue hanya ingin tahu Ali ada dimana? Gue enggak mau kita ketahuan?” jawab
Andri yang enggak kalah nyolot.

- 22 -
“Ketahuan? Memang ada apa diantara kita?” Chell bertanya pada Andri.
“Gue sama lu…ada sesuatu.” jawab Andri.
“Apa? Kita enggak lebih dari sekedar teman ok?! Jangan kira karena selama ini
gue deket sama lu karena gue interest. Enggak…enggak sedikitpun, gue enggak akan
pernah makan temen gue sendiri!” kata Lia.
“Lalu apa maksud semua ini?” tanya Andri.
Ditengah keributan, Meily berlari menghampiri mereka, “Shut Up Chell!!”
katanya.
“What?” Lia tak mengerti.
“Just shut up and get h**l out of here!” masih kata Meily.
“What Mel? Cukup Ali yang mengatakan shut up, no more get h**l out of here,
after Ali. I can’t belive it Mel. What you know about this thing? You know nothing but a
b**l s**t! He’s in love with me! Your Andri…loves me! Believe it or not!!” kata Lia
yang kemudian pergi dengan penuh amarah. Lalu ia berbalik dan berkata, “Listen And,
gue enggak pernah sedikitpun suka sama lu as a boy friend. But I care about you as a
friend that’s all. Gue enggak pernah berniat memainkan hati lu, dan sedikitpun gue
enggak mau nyakitin hati lu. But it is too long you tread on heels me, I know because Ali
have see you take and keep my picture without my permission. Mel…maafkan aku.
And…she’s a good girl, even she’s better than me. You should be proud of her. I’m sorry
I didn’t meant this to happen.” Lia pun berbalik and leave for good.
Lia berkata dalam hati, “Once more And, I do want you, but then I realized that I
just missing a figure of Ali, he’s my everything. I’m sorry if I hurt you, I didn’t mean to,
and I never think that it would end like this. And I believe that you all the same as I do,
you’re not in love with me, you just get bored with your relationship, coz it’s too flow.
I’m sure you’ll be back to Mel soon as you can. Mel, I’m sorry that I lied. I do meet
Andri that day, we have lunch together, aku hanya ingin menjaga perasaanmu. Aku tak
ingin kau mengira bahwa aku merebut Andri. It’s all my fault. Al, why’d you go so long.
I miss you more than I can take. Meski kamu kirimkan e-mail dan foto, atau bercakap-
cakap walau hanya sekejap. Aku hanya ingin jumpa, ingin menatap matamu, ingin
memelukmu. Al, aku kembali salah memilih, karena kau tak ada disini untuk
memanduku.”
Kembali kepada Mel dan Andri. Dia tertunduk malu, dia merasa di telanjangi oleh
perkataan Lia, Andri merasakan malu yang luar biasa. Mel hanya bisa menangis meratapi
nasibnya yang malang, Andri, pangeran pujaannya, jatuh hati pada sahabatnya. Ugh!
Hancur berantakan isi hati Mel saat ini. Keduanya hanya bisa duduk bersebelahan,
dipisahkan jurang bisu tak nyata. Hampa…kosong, perih…pedih, hancur lebur.
Malamnya, Lia merenung dalam kamar sampai akhirnya terbangun mendengar e-
mail masuk. Ah…dia lupa untuk log-off. Ia berjalan dengan malas menuju lap-top-nya.
Ali! Ia berkata kalau, saat ini dia sedang chatting dan ingin mengajak Lia untuk chatting.
Akhirnya mau tak mau Lia melayaninya. Ah… begitulah hebatnya Ali bagi diri Lia, se-
suntuk apapun suasana hatinya, Ali selalu bisa menceriakannya kembali, membuatnya
kian rindu. Segala beban Lia tumpahkan malam itu, termasuk pertengkarannya dengan
Mel dan Andri.

- 23 -
Chell : Al, maaf...selama kamu di Eindhoven, Stuggart, aku mendekati
Andri. Sekali lagi maaf, bukan karena aku tidak menyayangimu,
tapi...aku rindukan sosokmu dalam hidupku. Kau terlalu lama
pergi. hingga akhirnya aku menemukan sisa-sisa dirimu dalam
sosok Andri...Maaf, tapi aku tetap sayang padamu.
Ec@n :Apa? Why? I trust you all this time, then...you betray me? God
damn it!! How could you do this?! What a damn boy, I should
come to visit you last week. It’s my fault too. Aku tak pernah
memikirkan perasaanmu, aku terlalu percaya padamu. Sudahlah,
semua sudah terjadi...apa mau dikata. Tenanglah...aku akan
segera pulang, dan selama itu cobalah perbaiki hubungan kalian.
Chell : I said I’m sorry?! Would you forgive me? I’ll try to keep the
friendship here, but I strike too hard, it already broken. I
need you here honey, I’m powerless... did I mention that I miss
you here...that I always see you in my dreams...that you always
haunt my mind? Oh Al...when will you come?
Ec@n : Honey, I must forgive you because it’s my fault too, and I hope
you forgive me too. Look, just call me, just contact me, just
call my name, I’ll try to make you strong from here (he3x...
b**l s**t isn’t it?) ah...pokoknya aku siap membantumu meski
tak akan sepenuhnya berguna. Yes...I know, you shouldn’t
mention it! I’ll come as fast as I can, but I’m a coach and
it’s in the middle of the season, I can’t just flight there.
I’m sorry.
Chell : I understand, maaf jika segala permintaanku menjadi beban
untukmu, I’m nothing but a burden! Well, I know that’s a crap,
but it make me feel better, trust me! Thank you, and I’m
waiting for your come Al...haa...haaa I’m happy, coz I’ll meet
you soon. Ha..ha..

Yah, begitulah kira-kira obrolan mereka malam itu, huff. Lia merasa sedikit
tenang. Tapi Meily? Jauh dari tenang…ia bergelung selimut dan menangis tersedu dalam
kamarnya, ‘even it isn’t my first love, but it’s my first true love’ katanya dalam hati.
‘mengapa disaat aku mencintai seseorang dengan tulus, ia malah mengkhianatiku?’ masih
kata hati Mel, dasar bodoh! Aku termakan rayuan gombal Andri, I should know it better!
But how could I ? my love is blinding my heart. Begitu katanya.
Hmm, love thing is always blinding, it always shining, it always confusing, and
sometimes embarrassing. It makes us thinking that love is not only hoping and dreaming,
but also giving and forgiving, even sometimes make you grinning and crying.

8. Awal segalanya

Oaahh…! Hari yang melelahkan untuk semuanya sudah lewat. It’s holiday! Akhir
semester yang lamanya sampai 4 minggu-an. Banyak orang mengisinya dengan pergi-
pergi, ada yang ngajak temen ada juga yang ngajak saudara-saudara kumpul. Pagi sekali
warga Taman Bidadari yang enggak mudik sudah mulai jogging, sambil mendinginkan
badan mereka periksa surat-surat yang datang dan memesan sarapan favorit “Bubur
Ayam”.

- 24 -
“Surat buat Sheika, Lara, Mey, Tante, Tante, Mandayu, Vanya, Vanya, Vanya
lagi, masih Vanya. Van…surat buat lu nih.” Bunga memeriksa satu-satu surat itu,
“Vanya kan udah balik buat liburan…” jawab Mey teman sekamarnya, “Mana
surat gue, Vanya juga biar ntar kalau dia balik bisa langsung gue kasihin.” lanjutnya.
Bunga pun memberikan surat yang diminta,
“Emang lu enggak balik?” tanya Bunga pada Mey,
“Enggak ah, ada feeling bakal ada kejadian seru di sini.” Jawab Mey.
Bunga, “Apaan?”
“Gak tahu.” Mey menjawab kemudian pergi.
“Ehmm Dis, si Dayu kemana? Ada surat buat dia nih.” Bunga bertanya lagi, kali
ini pada Gadis,
“Enggak tahu, tadi sih Mbak Dayu bilang ke aku mau ketemuan sama Mas
Lanang, tapi aku enggak tahu ketemuan dimana.” Bunga manggut-manggut.
Sementara itu di parkiran Taman Bidadari yang bersebelahan dengan parkiran
Surga Kesatria, Dayu dan Lanang sedang bercakap-cakap. Keduanya bersandar pada
pagar yang tingginya hanya 1,5 meter berhadap-hadapan,
“Pagi sayang.” sapa Lanang.
“Pagi.” balas Dayu di iringi senyuman.
“Kamu kok enggak liburan? Biasanya kan ‘going abroad’ kemana…gitu.” tanya
Dayu pada Lanang.
“Enggak, Romo (ayah) bilang nanggung, nanti saja sekalian.” jawab Lanang dan
Dayu pun mengagguk mengerti. “Terus kamu sendiri?” masih Lanang.
“Aku… pengen aja disini, karena kalau aku pulang kamu pasti mati karena rindu
sama aku.” mendengar hal itu Lanang jadi tak mengerti, “Sayang… sebenernya aku udah
tahu kamu enggak akan holiday dari Gadis, makanya aku enggak pulang biar bisa
barengan sama kamu.” Dayu menjelaskan. Lanang pun ber ‘Ooo’.
Mereka cukup lama mengobrol, sampai akhirnya Lanang berkata, “Tau enggak,
sebenarnya kalau kamu sampai pulang liburan ini, aku bakalan nyesel seumur hidup.
Saat-saat ter…” belum juga Lanang menyelesaikan kalimatnya seseorang berteriak jauh
di belakang mereka,
“Heiii!!! Apa-apaan kalian?” suara itu begitu lantang memecah kesunyian yang
mendung pagi itu. “Kalian ini dasar pemberontak, bisanya cuman melanggar aturan
saja!!” teriak wanita itu.
“Tapi tante, kita cuman ngobrol kita… enggak ngapa-ngapain.” Dayu membela
diri.
“Enggak ada alasan! Peraturan no.1 sudah kamu langgar Mandayu Ayla! Apa
perlu tante kasih tahu apa pertaurannya, ‘Dilarang berpacaran dengan anak kost sebelah
di lingkungan Taman Bidadari.’ Mengerti!”
“Tapi Tante kita hanya ngobrol…ngobrol. Enggak lebih!” Lanang mencoba
membantu.
“Diam kamu! Urusan kamu berbeda!” kata Merry masih marah-marah.
Situasi menjadi lebih tegang dan makin seru saja, ketika Guntur turun tangan. Dia
yang baru saja datang dari pasar dan hendak menyimpan sepeda kesayangannya segera
memburu ketiga orang itu.

- 25 -
“Eh…Eh…! Merry berhenti! Ada apa ini, jelaskan!” Guntur terbawa nafsu.
“Enggak ada apa-apa Om, kita berdua cuman ngobrol tapi tiba-tiba Tante ini
datang terus marah-marah tanpa sebab.” Lanang menjelaskan sesingkat mungkin.
“Bukan tanpa sebab! Saya punya peraturan bahwa tidak ada satu anak kost pun
yang boleh berpacaran di lingkungan tempat kost milik saya, dan anak ini sudah
melanggar.” Merry membela diri.
“Ya sudah marahi saja anak kostmu jangan bawa-bawa anak kostku.” kata
Guntur.
Merry,“Siapa yang marah sama anak kostmu, jangan sok tahu!”
Guntur, “Ah…sudah…sudah. Cukup sampai disini saja, kalian berdua pergi.”
Lanang, “Tapi Om…”
Guntur, “Sudah Pergi!”
Lanang, “Dayu…”
Dayu, “Lanang…” tapi apa boleh buat Guntur menarik Lanang pergi menjauh
begitu juga Merry kepada Dayu.
Dayu menangis dan lari menuju kamarnya. “Mau kemana kamu?” bentak Merry.
“Mau ke kamar Tante, enggak boleh? Ya… saya salah maafkan saya, dan saya
tidak akan mengulanginya lagi. Puas?!” balas Dayu dengan nada yang tak jauh berbeda
sambil menunjuk ke wajah Merry.
“Mandayu!!!” teriak Merry tapi Dayu tak menghiraukannya.
Sebagian penghuni kost keluar kamar begitu mendengar keributan tadi, terutama
Gadis yang kebetulan sedang ada di kamar temannya. Lain cerita dengan Lanang, ia
diajak ngobrol berdua oleh Guntur.
“Kita bener-bener ngobrol Om, enggak ada yang lain, tapi…Tante itu…ah…
brengsek!!” Lanang marah dan memukul pintu kamarnya.
“Sudahlah Merry itu dari dulu memang keras orangnya. Mungkin ini terjadi
karena ia dikecewakan suaminya dan dia tak mau hal ini terjadi pada anak kostnya.
Bagus memang, tapi dengan kekangan kita bukan menciptakan seseorang yang penurut
malah seorang pemberontak kasarnya, yah…seperti yang dilakukan Dayu.”
Guntur mencoba menenangkan Lanang. “Sudah…telepon dia, dan bicara baik-
baik.” nasihatnya.
Di kamar Dayu suasana menjadi begitu emosional, penuh emosi. Dayu menangis
dan menutup wajahnya dengan tangan, air matanya mengalir cukup deras, hatinya
berkecamuk hebat.
“Apa sih maunya tante, ini kan masalah sepele. Kita cuman ngobrol…cuman
ngobrol!” kata Dayu dengan penekanan yang dalam.
Beberapa menit kemudian Bunga datang menghampiri, “Dayu?!”. Begitu
mendengar suara Bunga, Dayu segera memburunya dan memeluknya dengan erat.
“Kenapa? Cerita dong sama gue?!” pinta Bunga. Mereka berdua duduk-duduk di
ranjang Dayu,”Ada apa?” tanya Bunga.
Cukup lama Dayu menenangkan diri. Ia menyusut airmata-nya dan kemudian
menarik nafas panjang sebelum akhirnya bercerita.

- 26 -
“Tante…kenapa sih orang-orang selalu berfikir buruk tentang pacaran. Itu kan
hanya sebuah istilah buat sepasang manusia yang mencoba mencari kecocokan jiwa
diantara keduanya. Memang, kebanyakan orang menyalahartikan semua itu, mereka
mencoba hal-hal konyol yang sebenarnya lebih pantas dilakukan oleh pasutri. Tapi gue
sama Lanang enggak kayak gitu, jauh dari hal yang seperti itu, semua tergantung dari
pribadi kita sendiri. Dan…kamu tahu pasti kan? Kita berdua enggak mungkin melakukan
hal-hal yang enggak baik. Kenapa harus ada peraturan semacam itu?” keluh Dayu dengan
lamban. Bunga,
“IC, gue percaya kok sama lu. But why don’t we look the good side of this
things? Maybe… tante cuman mencoba untuk mencegah hal-hal konyol tadi dengan
peraturan seperti itu.”.
Dayu,“Tapi Bung look at this time, look where we were now. It’s a different
world between her at our age and us right now. Harusnya dia ngerti, the world has
change, begitu juga dengan dia. Tante memang kolot.”
Bunga, “ I know, but you know kalau enggak semua orang bisa dengan cepat
beradaptasi dengan zaman seperti tante. Ya…dia memang kolot, tapi dengan
kekolotannya dia sudah menciptakan manusia yang…apa ya… bersih-lah dari tempat
kostnya.”
“You’re not making me feeling better at all, even worst Bung.” Dayu kecewa.
Bunga terdiam, kemudian berkata, “I’m sorry…I just don’t know what to say. I’m
not good in this kind of situation. I’m sorry… now what you want me to do?”
“Just hold me tight.” jawab Dayu.
“Calm down, it just another storm that strike you’re love-life. It’ll be over sooner
or later.” Bunga menenangkan.
“Thank’s. You finally make me feel better.” kata Dayu sambil tersenyum
menyusut kembali air matanya dan berbaring.
“Apa sih maunya Tante? Bikin anak orang nangis, sakit hati. Ada apa sih tante
dengan Dayu? Apa yang salah dari Dayu sampai tante memarahinya di hadapan warga
Surga Kesatria sampai anak kost yang lain juga denger. Apa tante enggak malu marah-
marah soal sepele kayak gitu?” Bunga nyerocos dihadapan Merry setelah meninggalkan
Dayu yang tertidur kelelahan.
“Tante hanya ingin menjalankan peraturan disini, tidak ada satu pun yang boleh
melanggarnya dan hari ini teman sekamarmu Mandayu Ayla sudah melanggarnya.
Mengerti?!” jawab Merry dengan tegas.
“Peraturan? Peraturan macam apa?” Bunga mulai meninggikan suara.
“Peraturan bahwa dilarang berpacaran di lingkungan sini.” Dengan bangga Merry
mengatakan peraturan itu. Bunga, “Itu yang tante sebut peraturan? Itu peraturan bodoh
tante. Apa tante enggak sadar atau pura-pura tidak menyadari bahwa secara tidak
langsung anda, tante Merry sudah mengekang kebebasan seseorang, dan itu adalah hak
setiap manusia untuk merasakan kebebasan.”
Merry segera memotong, “Jangan bicara tentang hak dan kewajiban dihadapan
saya. Saya ini sarjana hukum, lebih tahu dibandingkan dengan kamu yang masih bocah
ingusan.”

- 27 -
Bunga tersenyum mengejek, “Lalu kenapa anda melanggarnya. Tante… setiap
manusia berhak untuk menyayangi lawan jenisnya dan mereka di beri kebebasan untuk
mengekspresikan rasa sayangnya dalam batas-batas tertentu, dan saya yakin apa yang
dilakukan Dayu tidak melanggar batas-batas itu.” kata Bunga dengan nada yang lebih
sopan. “Saya mohon tante…berubahlah.” Itulah ucapan terakhir Bunga sebelum
meninggalkan lobby, yang saat itu sudah sepi.
Keadaan semakin genting saja sejak saat itu, Tante Merry jadi lebih cuek tapi
kalau udah marah enggak bakalan ketulungan seremnya. Untung saja Taman Bidadari
lagi sepi ditinggal mudik mayoritas penghuninya. Sejak saat itu pula makin gencar
serangan ‘pacaran terang-terangan’ diantara penghuni Taman Bidadari dan Surga
Kesatria, membuat Guntur dan Merry menjadi lebih sering cekcok, adu mulut. Hinaan,
cacian, dan makian mengalir deras dari mulut mereka berdua, sampai-sampai anak kost
pun harus turun tangan, nyeret-nyeret Guntur dan Merry agar berhenti adu mulut. Karena
itulah makhluk-makhluk penghuni TB dan SK jadi lebih deket lagi. Mereka sering
ketemu diam-diam, bukan buat pacaran tapi buat merencanakan sesuatu.
“Jadi gimana nih?” tanya Bimo pada rekan-rekan seperjuangannya.
“Kalau kata gue sih bakalan rada susah ngejalanin rencana itu, dua-duanya
pejuang sejati, maksudnya enggak ada yang mau ngalah.” komentar Tony.
“Tapi bener kan Shey, dia suka?” tanya Bimo lagi pada Sheika.
“Well, I’m not sure, she sound solemn (sungguh-sungguh) when say those things
in front of us. Enggak ada salahnya buat di coba?” jawab Sheika.
“Jadi setuju kita jalanin rencana ini? Teknis-nya gampang, kita enggak terikat
waktu, bisa dilakuin kapan aja.” Masih Bimo yang dengan semangat melanjutkan
perjuangan.
“Setuju!!!” teriak para pejuang.

9. My Past...

Hari itu mendung cukup gelap, rintik-rintik hujan sudah mulai menyapa daratan,
mengusir panas dan cerahnya mentari. Masih dalam suasana liburan, beberapa warga TB
dan KS yang peduli akan ‘kelangsungan hidup’ mereka di kota tercinta Ramaizkale
kembali ber-embuk, setelah beberapa rencana gagal dilaksanakan dikarenakan hal-hal
yang tak terduga. Dayu dan Lanang sebagai promotor gerakan ‘underground’ ini mau tak
mau harus ikut demi memperjuangkan kebebasan mereka.
Dikala para pasangan TB dan KS lagi berembuk dengan penuh semangat Bunga
sedang menyendiri. Yah…it’s all about Bunga. Dia duduk di kursi depan ‘mini
apartemen’-nya dan bermain gitar tak keruan lagunya. Ia melamun menerawang ke langit
mendung, mencoba membuka kenangannya yang ada dibalik awan gelap. Sesekali dia
mengambil nafas panjang dan menghembuskannya sekaligus, meringakan beban hati dan
fikirannya yang nampaknya begitu berat. Kadang ia pun melihat keadaan sekitarnya yang
kian sepi saja, beberapa orang malas keluar, memilih tiduran berbalut selimut tebal
sambil nonton. Nikmat memang…
“Ugh! Hujan, sebel deh, pakaian jadi lebih sering kotor tapi susah keringnya.”
Dayu mengeluh soal hujan yang sejak hari kemarin masih saja mengguyur Ramaizkale.
Dilihatnya Dayu yang sedang sibuk membersihkan pakaiannya setelah hujan-hujanan
dari bakso Mas Parto mengikuti rapat rahasia dan seulas senyum halus terlihat
diwajahnya.
- 28 -
“Eh, Bung!” sapa Dayu.
Bunga, “Hei, tapi gue suka hujan, karena hujan mengingatkan aku…”
“Eits… jangan dulu diterusin, tunggu gue ganti baju dan balik lagi…it is the time,
I knew it!” potong Dayu.
Sekembalinya Dayu, Bunga masih saja terdiam, Dayu yang duduk di sebelahnya
jadi sedikit kesal, “Come On, you look a little gloomy (murung) since…you get close
to... Look, I’ve told you and share my past to you, and you? Not even a word. You
always hide, come on. I’ll listen to your fears, comfort your falling tears…”
Bunga masih diam, sampai disaat ia merasa siap, ia pun mulai terbuka, “It’s…
rain, and Reo…” Dayu, “Who is he? Tell me…”
Bunga bercerita, “It just… when Gadis talk about year book, all my past seems
shown again. Gue enggak bohong waktu bilang, I miss my friend, terutama Reo…Areola
Gleveckas Hadji, cowok keturunan Ukraina. Anak paling bungsu dari 3 bersaudara. Sejak
SMU dia punya kerja sampingan jadi pianis di kafe tantenya tiap week-end. Honestly he
was more than a friend, just like you and Lanang. We’ve been together just like you since
9th grade. Tapi waktu kelas 10 kita beda sekolah, I was here and he was there. Sejak saat
itu kita agak-agak renggang, banyak temen gue bilang, Reo selingkuh lah, punya pacar
baru lah, but who cares, we’re not married yet, but still I dissapointed, ‘cause I’ve given
my heart to stay with him. Lalu…enggak lama kita pisah, bukan karena Reo punya yang
baru, tapi…” Mata Bunga mulai berkaca-kaca,
Dayu terkejut, “Oh my God, are you okay? How could it be? Tapi lu enggak
harus cerita kalau belum siap bener…” katanya.
“Udah kepalang nanggung, I’ve fall my tears. Since… I try a lot of activites, most
of them are sport just to forget it. Gue bukan seorang tomboy as you can see. Gue cuman
ingin mengganti imej, biar kenangan itu enggak terbayang.”
Tangis Bunga meledak saat itu. Setelah selesai menceritakan tentang kisahnya
dan Reo malam itu. Ia memeluk Dayu rapat-rapat, “ Sumpah Day, gue sayang banget
sama dia. But why should we… he was too nice to go…everybody loves him. I wish I’m
not coming that night, it wont end like this…Oh my god…Oh…My…Lord.” Bunga
berkata dengan air mata yang terus mengalir, it’s a rare thing to see, Bunga yang begitu
lekat dengan imej ‘liar’ tapi bagaimana pun juga ia tetap seorang wanita yang punya sisi
yang rapuh.
Dayu membelai rambutnya, memeluknya dengan hangat. “It’s Ok, calm down.
It’s not your fault, meski kamu enggak datang malam itu kalau he was meant to… he’ll
go no matter what.” kata Dayu.
Bunga, “But, it’s not fair for me especially him. We’re just…kita baru baikan,
kita baru beberapa jam ngejalanin malam itu. Ugh! Kenapa harus malam itu, kenapa
enggak besok…lusa…atau ah! Kenapa harus di saat itu!”
Dayu, “Bunga…God may have another path for you. Maybe He wants you to be
strong to face this world, Maybe He’ll give you some other guy that will love you more
than Reo. It’s depend on how you think it. He may already give the best for you, but you
just don’t know because you still thinking that Reo is the only one. I hope you can more
and more sensitive to everything around you, untuk lebih merasakan orang-orang yang
ada di sekelilingmu, yang mungkin akan menuntunmu dan membuatmu berhenti berfikir
bahwa Reo tak tergantikan. .”

- 29 -
Bunga melepaskan pelukannya, ia duduk dan kembali menerawang, “Hhm,
you’re right. Masih banyak orang yang sayang sama gue, ada lu, ada orang tua gue, dan
akan lebih tidak adil lagi, kalau gue masih menginginkan orang lain, gue egois. Thank’s.
You know what, let me tell you about Reo. Reo tuh…gimana ya, dia orangnya kaku
tapi…baik, ya gitu. Kita sekolah bareng di International School, waktu kelas 10, gue
pindah rumah otomatis sekolah gue juga, padahal enggak begitu jauh kok, tapi ya
udahlah…Ibunya orang Ukraina dan bokapnya orang Monaco, bule banget lah, makanya
dia rada kagok ngomong bahasa Melayu, so…we’re talking in English. I don’t know how
we met, I just know him. I guess we met about maybe 10 years ago, he’s the leader of my
class. My first kiss on august 29 three years ago, there was a sunset and were on the
shore. It’s…great…fantastic. Oh…” Air mata Bunga mengalir perlahan, “I fall my tears
again, I’m sorry…it’s so embarrassing.” kata Bunga lagi sambil menyusut air matanya.
“Hmm…dari yang kamu ceritain barusan, kayaknya yang namanya Reo tuh,
cakep, baek, romantis…pria idaman lah! Dan aku bangga, aku juga seneng kalau orang
yang dicintai cowok macem gitu adalah sobatku. Aku juga enggak heran kamu setengah
mati mencoba melupakan dan tetep enggak bisa. He was special, don’t worry I believe
you have some other guy that will love you even more then he could do.” Dayu
berkomentar tentang Reo.
“You’re right, perhaps!” kata Bunga.
Bunga kembali melanjutkan ceritanya, “Setelah kecelakaan itu, gue selalu
menengok Reo, hingga suatu hari…gue datang ke kamar Reo. Gue kaget banget, karena
kamar itu, bersih. Suster bilang Reo meninggal jam 1 malam, dan udah dibawa orang
tuanya. Gue langsung datangin rumah Reo, nyokapnya bilang dia dibawa ke Monako atas
permintaan bokapnya. Dia juga bilang kalau mereka sengaja enggak ngasih tahu gue,
karena mereka mau gue move on… melupakan Reo dan mencari yang lain. Katanya Reo
selalu berkata begitu, jika suatu saat dia pergi atau kita berdua putus. Well maybe, it’s my
time to moving on. I have a life that I must live, right?”
Dayu mengangguk membenarkan. “Yeah, don’t worry, I’m on your side, dan gue
siap bantuin lu!”

10. The Night

Bunga sendiri dalam kamarnya, merenungi nasib sialnya yang enggak punya
valentine date malam ini. Yeah…it’s Valentine’s Day, hampir semua pasangan pada
pergi candle light dinner dan saling bertukar hadiah. Bunga meraih Diary-nya,

Dear Diary...
There is no good in Val's day this years. Ugh,
kenapa coba Aku harus berantem sama Reo
disaat-saat penting kayak gini. Lagian Reo-nya
sendiri yang rese. Ada gossip selingkuh,
bukannya ngebantah eh... malah senyum-
senyum. Anak-anak kan jadi kasihan sama aku.

- 30 -
Dikiranya beneran dia selingkuh. Tauk ah, I hate
valentine pokoknya!!!

Baru saja Bunga menulis 1 paragraf, ibunya memanggil. “Adin…Adinda… ada


supirnya Reo tuh.” Dahi Bunga berkerut, “Ehm? Ada apa Mang Dede kesini?” Bunga
keluar kamar dan menuju halaman dengan baju tidurnya.
“Ada apa Mang? tanya Bunga.
“Anu…tadi Dik Reo bilang suruh jemput Adin terus ke… aduh Dik Reo bilang
jangan dikasih tahu.” jawab Mand Dede.
“Kok enggak boleh?” tanya Bunga lagi.
“Ya…enggak boleh aja. Hayu atuh, sudah ditunggu, dandan yang cantik yah?!”
kata Mang Dede sambil tersenyum. Bunga pun kembali masuk rumahnya dalam keadaan
penasaran dan bingung, “Bu, bantu aku cariin baju dong!” pinta Bunga.
“Perfect” gumam Bunga, kini ia telah siap dengan atasan blus rajut warna putih
dan bawahan rok berbahan satin silk selutut yang dilapisi brokat berwarna senada.
Kakinya yang putih bersih dibiarkan terbuka dengan selop yang cantik. Rambutnya di
gerai bebas, ditambah polesan tipis make-up diwajahnya. Mang Dede berdecak kagum
melihatnya. “Hayu atuh.” ajak Mang Dede yang langsung membukakan pintu.
Dalam perjalanan Bunga melamun, wondering why and what will happen. She
was so excited and so afraid. Mang Dede hanya tersenyum melihat Bunga yang senyum-
senyum sendiri. Finally mereka sampai di kafe yang dituju. Hmm… Bunga menarik
nafas panjang, ketika sampai di pintu, ia di hampiri seorang waitress, “Sudah reservasi
mbak?”
Bunga bingung menjawabnya,”Mmm…gimana ya…Mmm” katanya.
“Oh, maaf anda di tunggu meja 12, di sana” kata waitress itu kepada Bunga. “Di
tengah sana Mbak.” Tunjukknya. Bunga jadi canggung, ia berjalan hati-hati takut malu-
maluin mencari meja-nya, dan yup… benar-benar di tengah, pusat perhatian banget.
Untuk kesekian kalinya Bunga melamun lagi… masak di val’s day gini duduk
sendirian di kafe macam ini. “Orang-orang lagi asik romantis-romantisan gue malah
melongo melihat mereka” mungkin itulah yang di pikirkan Bunga. Terkadang orang-
orang itu tertawa ceikikian melihat dia, “kasihan” itu mungkin yang dikatakan mereka.
Tapi…kemudian…dia…
Denting piano itu…Hmm cukup sering ia dengar…tak salah lagi, lagunya Lionell
Richie, Endless Love. Intronya membuat ia semakin merinding, wondering kepada siapa
lagu ini ditujukan. Lalu seorang pria mulai menyanyi,

My Love…there’s only you in my life, the only thing that’s bright


My first love…your every breath that I take, you’re every step I
made
And I…I want to share all my love with you, no one else will do
Oh…you will always be my endless love
Cause no one can deny, this love I have inside, and I’ll give it all
to you

- 31 -
“Oh yeah… I know who it is…” kata Bunga dalam hati, dan yah memang benar,
Reo… di akhir lagu ia berkata, “For my lady valentine…I love you…” Huuh… lagi-lagi
jadi pusat perhatian, semua orang melihat kearahnya, beberapa orang malah berdiri dan
bertepuk tangan. Bunga hanya bisa menunduk…

- 32 -
“Hey…get your face up, are you ashame to have someone like me?” kata Reo,
yang kini sudah ada di sampingnya, down on bended knees. “Come on, I’m sorry…”
masih kata Reo. Bunga mengangkat wajahnya, air matanya mengalir. Reo, “I’m sorry…”
Bunga berkata, “It’s not your fault, I’m just… just hold me. I don’t think I can
stand.”
Reo pun memeluknya dan berdiri, Bunga masih memeluk erat, enggan
melepaskan kepalanya yang bersandar di dada Reo. “Shh...” Reo menenangkan dan
tersenyum. Mulai saat itu acara melantai pun di mulai, diiringi lagu-lagu romantis tahun
90-an. Apalagi pas lagu Forever Tonight (Wanna take forever tonight. Wanna
stay on this moment forever. I’m gonna give you all the love that I’ve
got… I don’t wanna leave, I just wanna be with you, cause I love like
this…)…ugh ‘dalem’ banget.
“You know what…it is the greatest night I’ve ever had. I swear, you’ll be my
last…” Reo mulai merayu.
“Don’t you ever said that again, I don’t wanna lose you , I do, even you’re not
mine again!” kata Bunga.
Reo, “Cut it off, aku enggak bakalan ninggalin kamu, kalau pun aku harus pergi
aku pasti kembali.”
Bunga, “You cut it off, kamu bikin aku takut.”
Reo, “I mean it! Kalau memang tiba saatnya aku harus pergi, aku pasti kembali
meski bukan sebagai Reo… bisa sebagai angin, hujan, atau bintang yang bisa ngejaga
kamu.”
Bunga, “Okay, lalu…kenapa kamu harus pergi?”
Reo menjawab, “I don’t know, somebody will leave this world, no matter
what…”
Bunga, “Udah deh, I love you and you love me, you right here right beside me.
That’s enough.”
Reo, “Fine… and if I must leave sooner or later… promise me to be strong, I’ll
watch you from above.”
“Reo…!” tekan Bunga, tapi matanya memaksa untuk menjawab, “Okay, I
promise…satisfied?” tanya Bunga. Reo tersenyum lagi dan kembali memeluknya.
Ketika makan malam… mereka ngobrol seperti biasanya, sampai Bunga bertanya,
“Reo,why you doing this?”
Reo balik bertanya, “Doing what? This? Don’t you like it?”
“I do like it, its so sweet.” jawab Bunga,
Reo, “I just want to show how much I care about you and how much I love you,
and I’m sorry for every fight that we have before.”
“That’s Ok, aku juga minta maaf. But Reo, it’s too special, I mean it don’t have to
be like this to show your love, there’s another way. It just too great, too good for me.”
kata Bunga menggenggam tangan Reo,
Reo pun menggenggam tangan Bunga dan berkata,”I’m doing this special thing
only for a special girl and I don’t want another way, I love like this and I want to stay
forever like this.”
Bunga, “Cut it off! Don’t flattering me, I’m already flattered!” It was a perfect
night, until…

- 33 -
It’s about to mid-night, 11.23 PM. Reo mengantar Bunga pulang dengan mobil
tante-nya yang punya kafe. Mereka berdua bercanda-candaan sepanjang perjalanan
pulang yang memang agak-agak sepi malam itu. Sisa-sisa gerimis dan hujan masih tersisa
di jalanan yang basah dan lembab. “Reo jangan becanda terus ah, watch the road!” kata
Bunga pada Reo yang sedari tadi terus menerus ngocol sampai main gelitik-gelitikan.
“Reo! watch the road!” Bunga memperingatkan lagi.
“It’s mid night, the road is clear, see were safe!” jawab Reo.
“You know what…sometimes I dream to going abroad, somewhere you and I… “
Bunga mulai berhayal.
“Adin… I’ll take you, gue tahu beberapa tempat bagus di Monaco…but…some-
other times.” Hujan kembali turun, Reo pun membelok ke kanan, memasuki ‘jalan tikus’
dan ia pun memelankan kendaraannya, secara tiba-tiba terdengar dentuman keras
menabrak bagian belakang mobil Reo saat itu handphone Bunga berbunyi. Keduanya
bingung, hingga akhirnya truk yang menabrak tadi kembali beradu, kali ini lebih keras
lagi, entah bagaimana Reo terlempar keluar, Bunga yang hendak menjawab teleponnya
ikut terlempar. “Bu…” kata yang terakhir Bunga ucapkan malam itu. Handphonenya
terjatuh…dan hancur, keadaan sunyi senyap, sang pengendara truk yang mabuk itu mati
seketika saat kendaraannya terguling-guling beberapa kali hingga akhirnya menghantam
salah satu rumah.

11. Final Compromise

Anak-anak mulai berkumpul lagi setelah sekian banyak rencana yang mereka
susun gagal total. Bimo Sang pemimpin perjuangan memulai rapat sore itu, “Eh, gimana
nih rencana kita gagal maning!”
“Lu sih, teknisnya gampang… gampang gimana, giliran kita mau ngejalanin
rencana, tiba-tiba orang-orang terserang virus gagap! Kalau kata gue, mendingan kita
bikin drama aja sekalian, tiap orang yang mau ikut andil, diatur dialognya…tapi harus
bisa improvisasi! Gimana?” Tony berdiri, menyampaikan pendapatnya.
Sheika menyahut, “Kalau gue… setuju aja, asal cepetan. Keadaan di TB udah
makin gawat, si Tante yang asalnya dingin ama Dayu, sekarang merembet sama kita-
kita!”
Lanang ikut ngomong, “Iya, kita harus bikin revolusi! Kita harus bisa mengubah
peraturan mencekik ini menjadi menyenangkan.”
“Maksudnya apa tuh?” Gusti bertanya.
“Maksudnya kita harus bisa mempersatukan kedua tempat kost ini!” jawab
Lanang.
“Gggak mmunggkinn!” timpal Bintang.
Lanang, “Mungkin saja! Kita harus bisa! Kita jodohin si Om sama Tante…”
Tony,”Itu gagal!”

- 34 -
Lanang, “Tunggu gue beres ngomong, gimana pun caranya kita harus bisa
meyakinkan mereka, kalau orang pacaran enggak selamanya mesum! Mungkin kita bisa
kasih ide sama mereka, kalau sebagian tempat parkir kita jadiin tempat hang-out
bersama. Peraturan masih sama kayak dulu, hanya saja kedua penghuni tidak boleh saling
mengunjungi! Mereka punya meeting point terjauh yaitu tempat hang-out tadi. Kecuali
diluar tempat kost, jadi kita bisa seneng ngobrol bareng dan para ‘tetua’ masih bisa
mengawasi. Kita harus komitmen sama satu hal ini, jangan sampai ada yang melanggar,
atau kita kembali ke tempat kita saat ini.” Lanang menarik napas panjang, setelah
menjelaskan panjang lebar. Anak-anak kembali terdiam.
“Gini deh, untuk urusan meyakinkan dan soal drama itu gue setuju, tapi soal
menjodohkan mereka kayaknya bakalan susah banget. Kita enggak bisa maksain dua hati
yang pada dasarnya enggak punya perasaan apa-apa.” kata Bimo.
“Iya… kalau soal penjodohan gue enggak begitu yakin bakalan berhasil, tapi
kalau soal drama gue sama Gusti bisa sedikit-sedikit bantu, gimana?” Vanya memberi
komentar begitu juga Dayu, “Ya deh, kita harus bikin situasi dimana Om Guntur dan
Tante Merry berantem lagi, terus kita nasihatin…”
Tony, “Mmm, gue punya ide…gimana kalau kalian, Lanang ma Dayu, kepergok
berduaan lagi sama Om dan Tante?”
”Enggak! Suasana antara gue sama Tante udah cukup keruh! Gue enggak mau
tambah keruh lagi!” Dayu dengan serta merta tidak setuju lalu Lanang pun menenangkan,
“Kalau gue sih, boleh-boleh aja demi kebaikan kita semua…”
Dayu memelototi Lanang, “Honey!!!”
“Demi teman-teman Day, demi kebebasan kita semua!” kata Lanang.
“Terserah deh…” jawab Dayu sambil ngeloyor pergi.
“Enggak apa-apa tuh Lan? Kita enggak maksa, kita bisa cari ‘korban’ lain, hanya
untuk saat ini, kalian dirasa sebagai korban paling tepat. Soalnya kalian udah pernah
punya masalah sama mereka, dan kalian bisa menyulut percek-cokan diantara Om dan
Tante.” Kata Bimo.
“She’s fine… we can do it!” Lanang memastikan.
Lanang keluar rapat mencari Dayu, untuk beberapa saat fokus rapat itu menjadi
terpecah sampai akhirnya si Tony berkata,”Eh…liat tuh si Bagus sama temen se-
kamarnya Dayu…mm Bunga! Ngerasa aneh enggak sih kalian? Akhir-akhir ini mereka
sering barengan.”
Sheika menimpali,”Iya…padahal setahu gue si Bunga itu rada anti sama makhluk
yang disebut cowok.”
Vanya ikut-ikutan,”Menurut ramalan kartu gue tadi malam…mereka berdua ini
enggak lama lagi bakalan ikut rapat kita. Alias jadi pasangan baru…mereka bakalan
jadian enggak lama lagi.”
Bintang enggak mau kalah,”Tapi kalau menurut reaksi kimia kemungkinan yang
terjadi sangat kecil…dan kalau pakai logika juga begitu, tapi kalau menurut ilmu
psikologi…” belum selesai Bintang meneruskan teorinya si Gusti sudah mendorong
kepalanya. “Diem deh lu…kebanyakan teori, eh… orang pacaran mah enggak ada teori
yang pasti! Meski diukur pake rumus hasilnya suka jauh dari realita.!”
“Eh…! Jangan nge-gossip aja, kembali ke permasalahan… jadi kalian setuju
kalau korbannya si Lanang sama Dayu?” tanya Bimo melanjutkan rapat.

- 35 -
Di tempat lain Dayu dan Lanang sedang berdebat, “Lanang… gue enggak mau
kalau harus berantem lagi sama Tante Merry, gue enggak mau kayak gini.”
Lanang, ”Dayu…kalau kita enggak coba, kita enggak tahu apa hasilnya… masak
kita mau back-street terus. Gue capek…”
Dayu,”Emang gue enggak? Trus kalau misalnya kita ngelakuin semua ini dan
gagal… apa mereka mau tanggung-jawab?”
Lanang,” Makanya kita harus coba!”
“Udah deh…gue capek! Capek Lanang! Terserah…” Dayu pergi menuju
kamarnya dan Lanang kembali ke tempat rapat. Di atas, Dayu bertemu dengan Bunga
yang baru saja pulang. “Hai Day” sapanya.
“Kenapa? Gimana rapatnya?” masih Bunga. “Hai juga,” jawab Dayu sambil
menghempaskan diri di sofa. “Ya gitu deh… gue sama Lanang dijadiin umpan buat
ngejalanin rencana mereka. Lu sendiri gimana?” lanjut Dayu sambil meregangkan
ototnya yang tegang setelah sedikit berdebat dengan Lanang.
“Yah…gue coba buat buka hati gue, but still I felt nothing about. Ah… kayaknya
kita harus rileks dulu deh… ntar kalau kita udah bersih-bersih, baru kita ngobrol serius.”
Kata Bunga.
Hari menjelang malam, Bunga dan Dayu kembali bicara panjang dan lebar,
”Day… should I left my memories and stay with somebody new that I felt nothing about?
Thinking that he might be the one, because of his love? Or…I’ll keep my memory,
looking for another one that might be ‘my destiny’ that I love?” tanya Bunga pada Dayu.
Dayu menjawab, “Always keep your memory, that’s yours…but it just a
memory…someday love will come back to find you…If you try…”
Bunga,”I want to forget my past, but I want to keep it.”
Dayu,” You’ll never really-really can forget your past, that’s your past, it’s there
to be yours not to forget, but to keep and to remember.”
Bunga, “Day, I know he loves me, and I’m not. Maybe it’s my chance to love
someone once again, well I don’t know…”
Dayu,”Bung, I don’t know for sure…but if you try maybe… “
Bunga,” Actually, I want to be with him not because he loves me, but because
once again it might be a chance. You know I believe that love can grow if somebody
show me how to love, and in this case he showed me.”
Dayu, “Well that’s your chance, take it, not my opinion again!”
“Tapi Day, gue masih sedikit ragu… gue enggak enak sama Gadis… berkali-kali
dia cerita sama gue, kalau dia suka banget sama orang itu. Gue takut dia terluka… she’s
so young.” kata Bunga.
“She’ll understand… I’ll try to make her understand, Gadis masih muda, dia
punya banyak kesempatan diluar sana, masih ada orang lain yang bakal mencintai dia.!
kata Dayu.
“Tok…tok…tok!” obrolan Dayu-Bunga terhenti seketika saat mendengar ketukan
pintu. Tak lama muncul sebuah kepala dari dibalik pintu kamar mereka, “Eh, Dis…
masuk.” Ajak Dayu, Gadis melihat-lihat sejenak tanpa masuk selangkah pun,
“Mbak, Aku mau ngomong…” kata Gadis,
“Masuk aja…” kata Dayu.

- 36 -
“Enggak ah” Gadis menolak setelah melihat sekilas ke arah Bunga. Bunga
tersenyum kecut, ia pun beranjak pergi, “Ya sudah kita ngobrol di luar aja, “ kata Dayu.
Diluar kamar kost, udara cukup dingin membuat sebagian besar penghuninya
enggan keluar, Dayu dan Gadis berjalan menuruni tangga dan menuju ke lobby malam
itu. “Ada apa Dis?” tanya Dayu.
Gadis menjawab, “Mbak, apa bener Kak Bunga sama Kak Bagus udah jadian…”
Dayu tidak menjawab malah balik bertanya, ”Tahu dari siapa kamu?”
“Aku dikasih tahu Chika, kata anak-anak SK mereka udah jadian…jadi gimana?”
kata Gadis.
Dayu menjawab sebijak dan se-hati-hati mungkin, “Untuk sekarang, mereka
enggak ada apa-apa. They just a friend, but tomorrow or some-other day, Mbak enggak
tahu.” Raut wajah Gadis terlihat sedikit lebih tenang,
“Terus Kak Bunga-nya sendiri gimana?” kata Gadis.
“Dari yang Bung pernah bilang sama Mbak, they fall in love.” jawab Dayu.
“Tuh kan bener… Kak Bunga udah merebut Kak Bagus dari aku, Kak Bunga
rese’” Gadis jadi semakin bete.
Dayu kembali menasihati setelah cukup lama berfikir, ia berkata, “Dis, atas dasar
apa kamu menyalahkan Bung sampai kayak gitu?”
Gadis menjawab, “Aku pernah cerita sama Kak Bunga tentang Kak Bagus, aku
juga bilang kalau aku suka dia… berarti dia milik aku, Kak Bunga enggak boleh
merebutnya.”
Dayu, “Kamu pasti sudah tahu, kalau cinta itu tak harus memiliki, lagi pula apa
pernah kamu jalan bareng atau at least disapa sama Bagus? Seperti Bung sekarang ini?”
Gadis tertunduk malu, “Enggak sih, cuman… sebenarnya aku hanya ingin tahu pacaran
itu kayak gimana, masak sampai kelas 2 SMU aku belum juga punya pacar.”
Dayu membelai rambut Gadis yang hanya se-bahu itu, dia berkata, ”Pacaran itu
enggak selamanya enak, kita harus bisa menahan ego kita, kita harus bisa mengalah demi
kebaikan kita berdua, suka dan duka harus bisa dijalanin bersama, dan harus rela… disaat
kita bete kita masih harus membuat pasangan kita yang down jadi cheers lagi… kalau
dilihat-lihat… ego kamu masih terlalu kuat, kamu sendiri masih bisa dibilang manja,
kalau kamu bisa sedikit berubah… kamu pasti dapat seseorang itu, di luar sana Mbak
yakin ada sejuta orang yang mengantri jadi pacar kamu!” Gadis tak berkata apa-apa, ia
hanya menghela nafas cukup panjang, ia larut dalam pelukan Mbak Dayu sampai
akhirnya Dayu mengantar Gadis ke kamarnya.
Tengah malam, hari ini memang banyak kejadian penting. Kali ini diantara Dayu
dan Lanang. Saat itu Lanang meng-SMS Dayu, ‘Gimana Day…masih buka konsultasi
ga?dah tidur? Anything to share?’ Dayu terbangun dari lamunannya begitu menerima
SMS Lanang, dia menjawab, ‘Ya…gitu deh, pasien terakhir gw br aja tidur, gw butuh
bantuan km, tolong kl bisa bilang ma Bagus, kl Bunga nunggu reaksi dy.’ Lanang,
‘Reaksi apaan? Bung ma Bagus mo jadian? Well I’ try, but it takes time’ Dayu, ‘Don’t
worry I’ll wait, thanks, good nite and sweet dream my dear…’ Lanang, ‘Good nite too
and dream about me… Wait gw lupa sswatu, gw mo ngomong pntng ma km…’ Sial bagi
Lanang, malam itu Dayu tertidur lelap.

- 37 -
Sekitar jam 2 pagi, giliran Bunga yang dapat MMS, Terdapat sebuah foto
suasana luar yang gelap, sebuah ringtone dan pesan tertulis, ‘follow the light, and you’ll
find me..’ Bunga bangun dengan malas melihat ada pesan, tapi begitu melihat isinya ia
segar kembali. Ia berpakaian dan melihat keluar teras, sepi. Lalu ia membalas, ‘I see no
light, where would you find me.’ Balasan pun datang, Bunga masih bingung siapa orang
ini, dia menyembunyikan nomornya, ‘the light of your heart will leads you to me’ Lama
sekali Bunga berjalan berkeliling, sampai akhirnya ia memutuskan untuk turun ke luar,
then she find him.
“What are you doing here?” tanya Bunga pada pria yang wajahnya terhalang
bayangan pohon itu.
“I’m watching on my girl right now.”jawab pria itu. ‘Reo’ kata hati Bunga,
fikiran tentangnya terlintas sesaat. Pria itu berjalan mendekatinya, dekaat sekali,
“Bagus?” Bunga linglung tak tahu harus berbuat apa, berkata apa, atau pergi ke mana.
“It is my time, look at me in the eye. I shouldn’t say anything, you already know
what I mean.” jawab Bagus.
“Yes, but… I know that you… you know, but I…” Bunga tak melanjutkan tapi
Bagus malah berkata, “Look! At! Me! In! the! Eye! Is there anything that makes you
doubt me, is there any lies? Is there something familiar?” Bunga kembali bingung, dia
memang tidak melihat ragu atau bohong dimatanya, tapi…familiar?
“The shore…the kiss…the night…?” kata Bagus lagi.
“Reo…?” kata Bunga berbisik, ia kembali menatap mata Bagus, dan yah dia ingat
tatapan itu, the look! “No…no it cannot be…?”
Bunga terkejut dan mundur selangkah. “Yes…yes…it’s me, I’m Areola
Gleveckas.” Bagus yang alias Reo meyakinkan.
“But how could it be? You are de..ad!” Bunga masih bertanya-tanya.
“I’m survive…” jawab Reo.
“But… I’ve come to the hospital, to your house, everyone said that…” ketika
Bunga berkata begitu Reo melangkah lebih dekat lagi, Bunga terpana melihat Reo yang
kini begitu dekat, saking dekatnya hidung mereka bersentuhan,
“Is there a room for me to keep in your heart, do I still have a chance to live in
there?” kata Reo. Desah nafas mereka begitu terlihat karena dinginnya malam itu,
“Always…” kata Bunga yang kemudian memejamkan mata. Bibir Bunga
menyentuh bibir Reo saat berkata always, dan mereka berdua… (Yeah you know what
happen next, imagine by your self) once…twice…thrice…
“Reo, is that really you?” tanya Bunga. Ia meraba wajah Reo sambil memejamkan
mata, mengingat kembali masa-masa dulu ‘benarkah ini Reo?’ tanya Bunga lagi dalam
hati.
“Do you still doubt me?” Reo balik bertanya,
“A little, how can I make sure that it’s you?” Bunga masih saja ragu.
“How about this?” Reo kembali mencium Bunga untuk kesekian kalinya malam
itu, “Can you taste it? I never kissed another girl since I left you, please…trust me, I’m
Reo! call me Reo will you?” kata Reo.

- 38 -
“I’m sorry…it just…a long time…I miss you more than anything, I miss you…I
miss you Reo.” kata Bunga, ia memeluk Reo begitu erat. She cries…
“Reo, where are you all this time?” Bunga masih penasaran, sejuta tanya ada di
benaknya tentang keberadaan Reo selama ini.
“Aku ada Monako, setelah malam itu aku kena disleksia, I can’t move on there.
Bayanganmu ada di benakku, but I don’t know who are you, my parents said, that you are
a great girl and you love me, they told me your name but I can’t remember the whole
part. So I came here, looking for you. Then I found you…” Reo menjelaskan masih
dalam bahasa melayu yang kental dengan logat ‘bule’.
“So why’d you change your name?” tanya Bunga.
“Reo was dead here, I need a new identity, tapi aku masih Reo yang dulu… your
Reo.” jawab Reo.

12. The Drama

Waktu begitu cepat berlalu the Drama yang sudah mereka latih dan mereka susun
sedemikian rupa sudah waktunya di pentaskan. Dayu dan Lanang sudah siap kena
semprotan Om Guntur Gemuruh dan Tante Hot Merry. Tanpa TB tahu…script drama itu
di tulis oleh Lanang, ia menyimpan sesuatu didalamnya, ia bermaksud untuk… let see…
Di waktu yang sudah di tetapkan, semua sudah menempati posisinya masing-
masing. Tepat di gerbang Taman Bidadari, Lanang memeluk Dayu sambil menatap
mentari yang kian menggelap, ia mencium leher Dayu dan berkata, “Day mungkin kah
ini saat-saat terakhir kita untuk bisa kayak gini?” Dayu jadi agak bingung, “Improve dari
script nih? Biar bisa lebih mendalami ya?” katanya.
“I’m serious Day!” kata Lanang.
“Ok, let’s improve. I don’t think so, I love like this…do you? Do you want it to be
the last?” Dayu mulai menanggapi kata-kata Lanang dengan serius, namun ia masih
berfikir kalau ini hanya sebuah drama.
“I love this, and I don’t want it to be the last, but…I think it is the last. Kita…aku
tak punya banyak waktu untuk kita habiskan seperti ini. Aku ingin jika saat-saat terakhir
itu ada, adalah menjadi yang terbaik, yang terindah. Jangan pernah lupakan karena aku
akan terus mengingatnya.” kata Lanang. Dayu tersenyum dan bersandar pada Lanang.
“Lan, kau tahu…aku ingin merasakan bagaimana jika kita terpisah jauh atau lama
tak berjumpa. Karena selama ini kau selalu ada di dekatku, bersamaku. ‘Pasienku’ bilang
rasanya enggak enak tapi indah dan nikmat. Kau mengerti? Maksudku… kita benci
perasaan itu karena kita enggak bisa ketemu, enggak bisa barengan. Tapi itu menjadi
indah karena selama itu kita akan mengingat kenangan-kenangan yang pernah kita buat,
hal ini menjadi nikmat, karena tak akan selamanya kita merasa demikian, suatu saat nanti
kita akan merindukan perasaan seperti ini. Begitu katanya, benarkah?” Dayu berbicara
panjang lebar.

- 39 -
“Aku tak tahu…namun sepertinya kita harus siap menghadapi perasaan itu, kita
harus bisa bertahan dan tetap menjadi diri kita seutuhnya. Kau pernah berkata padaku
kalau sebuah pertemuan akan berakhir dengan perpisahan meski suatu saat nanti akan
bertemu kembali. Sanggupkah kita menghadapi perpisahan itu? Setelah sekian banyak
hal yang kita lalui bersama. Akan rela-kah kita melepaskan? Setelah sekian banyak yang
kita berikan untuk bertahan dan tetap bersama? Entahlah Day, akhir-akhir ini aku sering
berfikir seperti itu…” kata Lanang.
Di kala dua pasangan ini sedang serius-seriusan curhat, seisi TB dan SK sibuk
mengundang Om dan Tante untuk menyaksikan ‘kebersamaan’ Dayu dan Lanang. Di TB,
Vanya dengan sengaja menubruk Tante Merry, “Mmmaafff, Tante…anu…itu…di depan,
enggak apa-apa ding, permisi tante…” kata Vanya. Tante yang penasaran segera menuju
depan. Di lobby, ada Sheika, Mey, Gadis dan beberapa penghuni lain sedang mengintip
Dayu dan Lanang. Mendengar langkah berat si Tante, mereka segera menutup pintu
depan dan melarang tante pergi ke luar,
“Ada apa sih tanya Tante?”
seseorang menjawab, “Ada yang pac…” Shhtt, bisik yang lain lalu dipotong oleh
Mey,“Itu Tante…ada orang gila yang telanjang di depan, makanya kita tutup pintu biar
enggak masuk.” Tante makin penasaran dan enggak percaya, ia melihat sekilas keluar
dan menyaksikan Dayu dan Lanang sedang berpelukan. Bukan main marahnya dia,
dengan serta merta dan sekuat tenaga Tante menerobos pagar betis yang dibuat anak-
anak TB, ia segera menerjang dan keluar menuju medan pertempuran dengan marah yang
membara.
“Mandayu Ayla! Dan…seorang pria Surga Kesatria yang dulu. Kembali kamu
melanggar!” kata Tante Merry yang mendekat perlahan, tak sampai 10 detik amarahnya
kembali meluap. “Dayu, apa Tante kurang jelas dengan peraturan itu? Atau kamu segitu
bodohnya sampai tidak bisa mengerti peraturan itu? Harus Tante hukum apa kamu ini?
Kamu sudah mencoreng nama baik Taman Bidadari, sebaiknya kamu angkat kaki!” kata
Tante. Dayu menunduk tak bisa berkata apa-apa, ia membisu ingin menangis, Lanang
menggenggam tangannya dengan erat, mencoba menguatkan hati Dayu.
Diluar skenario yang sudah disusun rapi itu dua pemain yang tak diharapkan
datang, keduanya tertawa habis bersenang-senang dan keluar dari mobil penghuni Surga
Kesatria. Tawa mereka terhenti, terkejut luar biasa, seakan melihat alien atau makhluk
mengerikan. Keduanya terpaku melihat teman seperjuangannya sedang dihukum, dan si
penghukum sedang melihat kearah mereka dengan marah. Bunga menutup matanya dan
Bagus alias Reo memeluknya. “Satu lagi, seorang pelanggar Adinda Bunga Ayu. Teman
sekamar dari pemberontak yang satu ini…” Ejekan, sumpah serapah dan segala hinaan
terus mengalir dari mulut Tante kepada kedua pasangan ini. Skenario yang sudah
disiapkan hancur berantakan.
Di Surga Kesatria para pria masih menjalankan scenario itu dengan baik, lain
halnya dengan penghuni Taman Bidadari yang hanya berani mengintip di balik teralis
lobby. Sementara teman-teman mereka sedang dihakimi. Tony dan kawan-kawan
memanggil Om Guntur, mengadukan bahwa Lanang sedang dimarahi Tante sebelah. Om
Guntur pun keluar mencoba untuk tetap sabar dan menghadapi Tante dengan kepala
dingin, betapa kagetnya mereka karena melihat Bunga dan Bagus ada disana, sungguh
diluar dugaan.

- 40 -
“Hentikan Mer..hentikan! Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain
marah dan marah! Kau membuatku malu!” Om Guntur langsung berkata demikian dan di
balas Tante, “Kenapa kau harus malu, ini urusanku. Lagi pula apa hubungan mu dengan
ku? Selain seorang rival usaha.” katanya.
Guntur,”Oh…begitu? Terkutuk kau Mer!!”
Merry, “Apa maksudmu?”
Guntur, “Kau tak pernah mengerti isi hati orang yang sedang jatuh cinta, kau
mengabaikan semua perasaanmu demi sebuah ego. Tidak kah kau sadari seseorang
sedang menunggumu, sudah menunggumu, dan lelah menunggumu!”
Merry, “Apa yang kau bicarakan Gun?” tanya Merry yang makin tidak mengerti.
“Sudahlah aku muak dengan semua ini!!”
Guntur melangkah pergi. “Tunggu!” pinta Merry, tapi Om Guntur tak
menghiraukannya, ia tetap pergi masuk kedalam Surga Kesatria.
Di sana ada Bimo dan kawan-kawan, ia berkata, “Om…tolong, jangan
bersembunyi lagi, jangan simpan lagi. Nanti Om terlalu lelah menunggu kesempatan lain
yang mungkin enggak akan pernah datang lagi.”
“Enggak semudah itu Mo…” kata Om Guntur. “Om mengajari kami banyak hal,
tapi maaf untuk yang satu ini biar kami yang mengajari Om.” kata Bimo sambil
membawa Om Guntur kembali ke depan, face to face dengan Tante Merry. Keadaan jadi
tegang, jadi haru juga. Benar-benar diluar script yang sudah disiapkan. Semua pasangan
berpegangan tangan, Bimo dengan Sheika, Vanya dengan Gusti, ada Lanang dan Dayu,
Bunga dan Bagus, ada juga Tony dengan Mey, dan… pasangan-pasangan lain.
Lanang memberanikan diri memecah suasana yang dingin dan amat sangat tidak
enak itu, “Om…Tante, kami hanya ingin di beri kebebasan untuk mengungkapkan rasa
sayang kami, kami hanya ingin itu saja.”
Tante Merry menjawab, “Saya tidak pernah melarang anda semua untuk saling
menyayangi, tapi tidak untuk di tempat kost saya. Di luar sana anda ingin bercinta silakan
saja, tapi jika ada yang sampai hamil… dengan hormat saya meminta untuk angkat kaki.”
Dayu pun berkata, “Lalu mengapa Tante mengusir saya? Saya tidak hamil, saya
tidak pernah bercinta dengan Lanang dan apa yang saya lakukan dengan Lanang hanya
berbicara waktu itu, Tante sendiri tahu, kecuali kali ini. Kenapa Tante? Apa Tante iri
dengan kebersamaan kita?”
“Ya, apa begitu kesepiannya kah Tante, sampai Tante benci melihat orang
pacaran?” Vanya ikut-ikutan. Mulut Hot Merry terkunci, ia diam tak berkutik lagi.
“Udah deh, jangan menghina Tante, enggak ada gunanya, hatinya sudah mati.
Saya sudah mencoba menjelaskan kepada Tante tempo hari tapi kenapa tante belum juga
mengerti. Sudahkah Tante renungkan mengapa sampai detik ini Tante masih sendiri, dan
mengapa dulu Tante di tinggal pergi? Karena mata hati Tante buta oleh rasa egois,
kenapa Tante tidak mengalah dan menyatakan cinta Tante? Tante sok suci!!” Bunga naik
pitam, di peluknya Bunga oleh Bagus dengan erat di belailah rambutnya, agar ia merasa
tenang.
Keadaan kembali hening, kini giliran Om Guntur yang kena ‘omong’ anak-anak.
“Om Gun… anda mengajarkan kami untuk menyatakan cinta jika kami cinta pada
seorang gadis. Kami semua disini, saling menggenggam tangan gadis-gadis kami, kami
tidak akan seperti ini tanpa nasihat-nasihat Om. Lalu mengapa Om sendiri tidak
melaksanakan ajaran Om? Biarlah kami menjadi yang terakhir melihat perselisihan
kalian, Om Guntur dan Tante Merry…” Bimo sang pemimpin unjuk suara.
- 41 -
“Kalian berdua memang munafik… munafik!!! Kalau sayang ya bilang saja, tak
perlu seperti ini. Kalian bertingkah seperti anak ABG saja. Kalian ini sudah pernah
berkeluarga, kalian ini teman kan?” lanjut Bimo.
“Ah…sudahlah…omong kosong!!! Bull S**t…” Tante Merry pun pergi
meninggalkan pentas.
Om Guntur segera mengejar, “Mer… tunggu! Aku ingin bicara.” tapi Tante
Merry tak menghiraukannya ia berkata, “Simpan saja kata-kata mu, aku tak tahan lagi.!”
dan si Om pun berhenti, padam kemudian harapannya.
Lanang pun segera membangkitkan semangatnya, “Om Gun! Yakinlah pada hati
Om, ajak dia bicara baik-baik, itu nasihat Om ketika aku dan Dayu bertengkar.
Compromise, Om… bicarakan dari hati ke hati, apapun yang terjadi nanti yang penting
Om Gun sudah jujur tidak ada beban lagi, meski menyesal perasaan itu akan tersisih
seiring waktu yang berjalan. Go for it!!” katanya.

13. Antara Kita

Sementara itu malam sebelumnya ada Mel yang sedang bingung. Sebenarnya Mel
sudah muak dengan semua ini, semua tentang hubungannya dengan Andri. Selama ini
keduanya sama-sama egois enggak mau ngalah dan seperti biasa Meily mengalah.
Malam ini dengan sangat terpaksa Mel menelepon Andri untuk membicarakan ehm…
hubungan mereka.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, cell-phone Andri berdering. Begitu melihat
nomor Meily yang masih bertuliskan ‘Ade’ ia termenung sesaat, bimbang untuk
menjawab tapi akhirnya dia mengangkat telepon itu, “Hallo Mel?” katanya.
“Andri? Lagi dimana?” tanya Mel dan Andri menjawab dengan dingin, “Di
rumah.”
Mel bertanya lagi, “Kira-kira aku ganggu enggak?” katanya.
Dengan nada yang tidak jauh berbeda Andri hanya menjawab,”Tergantung.”
“It’s all about us, I want to talk about us. You’re different now, why? Kalau
semua ini hanya tentang Lia, f**k her!” kata Mel yang nadanya langsung naik begitu
menyebut nama Lia.
“Hey watch your mouth! She’s your friend, does she? Listen Mel, I don’t wanna
talk about it now. Gue capek…” Andri jadi ikut nyolot,
“Lho emang gue enggak capek hah? Hidup dalam ketidakpastian selama ini?”
kata Mel. Baru saja Mel akan berkata lagi, Andri memotongnya, “Udah deh, besok gue
tunggu di Mas Parto jam 3 sore.” Katanya. Dan ‘klik’ Andri menutup teleponnya.
Esok harinya Andri masih tidur setelah semalaman clubbing bersama teman-
teman barunya sedangkan Mel masih terjaga sejak semalam. Ia tak bisa tidur memikirkan
hari esok, apakah gerangan yang akan terjadi? Jam 3 sore Mel sudah tiba di Bakso Mas
Parto, sebuah warung makan bakso yang sederhana. Dilihatnya jam dinding yang
menempel di sudut kiri ruangan, sudah hampir setengah jam ia mununggu tapi Andri
belum juga tiba. Setelah menunggu setengah jam lebih lama lagi Andri pun tiba dengan
wajah kusut.
“Sori telat.” katanya enteng. “Gue pulang pagi habis clubbing, sori.” Masih kata
Andri sambil mengacak-acak rambutnya. “Biasa…party habis sidang, buat ngilangin
stress.” kata Andri lagi. Mel hanya bisa mengurut dada, ini bukan lagi Andri yang dia
kenal, Andri yang lain…dia berubah.
- 42 -
“Andri…kamu yakin mau ngomongin hal itu sekarang? You look mess..”kata
Mel prihatin.
“Oaahh…siap enggak siap sih, Mel gue baru bangun dan gue enggak sempet
mandi. I’m a mess, well let me clean up my face first.” kata Andri. Ia pergi ke Surga
Kesatria dan mencuci mukanya di kran depan. Ia sedikit heran dengan suasananya, kok
rame banget, banyak pasangan Surga Kesatria dan Taman Bidadari bersliweran lewat.
Ah…watta hell fikirnya.
Taklama Andri pun muncul, kali ini dengan wajah yang sedikit lebih fresh. “Let
start.” kata Andri lagi.
“Ok, first why’d you acting so weird?” tanya Mel.
“I’m not.” Andri membantah.
“Oh yes you are. You never call and you always hide, and it’s too long. Andri kita
masih pacaran kan?” kata Mel.
Andri pun mencoba menjelaskan, ia berkata, “Listen up girl, it’s all because of
you?” kata-kata Andri dipotong Mel yang membela diri, “What? You blame me?”
Andri, “Hey! Let talk first, just…shut up, you’re talking to much than I do. Let
me explain first! Yes it’s all because of you. Di mulai ketika kamu menyudutkan ku di
resto di depan teman barumu yang masih ingusan itu. Di lanjutkan dengan amarah mu
yang meledak-ledak ketika aku dan Lia sedang bertengkar, dan kau tak memberikan ku
waktu sedikitpun untuk menjelaskan semuanya sampai hari ini. Awalnya aku merasa
hancur tapi sekarang, so what?!”
Mel terdiam dengan susah payah ia mencerna kata-kata Andri supaya tidak lagi
menyesakkan hatinya. “Right, I’m sorry. But…are you sure with the word ‘so what’?”
katanya.
“Sure or not itu tergantung dari apa yang kita dapat hari ini. Nah sekarang
giliranku untuk bertanya, have you forgive me?” kata Andri.
Mel tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Aha… itu tergantung dari apa yang
kita dapat hari ini.” jawab Mel. Mendengar jawaban itu Andri pun ikut tersenyum.
Fiuh…finally cair juga suasana sore ini. Mereka sempat tertawa untuk beberapa jokes
yang dilontarkan Andri, yah… the atmosphere just like the old days.
“Stop the jokes.” kata Mel ketika sudah tak tahan lagi menahan rasa sakit di
perutnya karena ketawa,
“I still have questions in my pocket.” katanya lagi. Sesaat setelah menenangkan
diri Mel berkata, “Next, aku masih penasaran dan aku masih ingin tahu tentang kau dan
Lia, sampai detik ini aku yakin apa yang dikatakan Gadis benar, bahwa kau bersama
dengan Lia hari itu? Aku mencoba menepis semua fikiran itu, tapi dalam hatiku aku
merasa bahwa kau berbohong dan memang kau…jatuh cinta pada Lia. It hurt.”
“Well, aku enggak sanggup untuk menjawabnya sekarang, aku belum siap.
Sejujurnya aku tak siap untuk menjawab semua pertanyaanmu. Aku akan jawab
belakangan. Tapi aku janji akan aku jawab hari ini juga.” jawab Andri.
“Meilia Nandya…kamu, Ah… seharusnya kamu jangan pernah ragu atas
perasaanku. The contract was already signed, no one of us can break it. Kita sudah
berjanji dalam hati kita bahwa kita akan selalu terikat bukan? Huff I’m a mess, I’ve
messed up everything, you and me.” Andri kembali menghindari pertanyaan Meily.
Mel pun berkata, “No And, you mess nothing. Aku masih Meilia Nandya yang
kau tahu, dan tak sedikit pun aku berubah dan aku masih menganggap kita seperti yang
dulu, aku ingin yang seperti dulu.”
- 43 -
“Yeah, aku selalu berharap kita akan seperti dulu lagi, tapi aku takut suatu saat
nanti… ah Mel aku sayang kamu saat ini, hari ini, esok dan seterusnya. Percayalah Mel,
meski selalu ada… aku akan selalu berusaha menyayangimu dengan segala
kekuranganku seperti saat ini.” kata Andri yang menunduk matanya mencoba
membendung air matanya.
“Aku percaya And, itulah mengapa kita ada disini, aku ingin memastikan bahwa
aku tidak salah mempercayai. “ kata Mel.
Sampailah mereka di suatu titik dimana Meily menanyakan kembali perihal Lia.
“Apakah aku masih harus menjawab pertanyaan itu? Setelah apa yang aku katakan sejak
tadi, setelah apa yang kita dapat hari ini?” tanya Andri, ia merasa sedikit tersinggung, ia
merasa bahwa ia tak harus menjawabnya.
“Memangnya kita dapat apa hari ini?” Mel balik bertanya.
Andri menjawab, “Entahlah…tapi aku mendapat keyakinan bahwa kau, kita
masih saling menyayangi dan kita akan kembali seperti dulu. Antara kita masih ada
sesuatu, itu pendapatku.”
“Oh…begitu? Dan menurutku, untuk kembali seperti dulu kita harus saling
terbuka jangan sampai hal yang buruk seperti dulu terulang kembali, iya kan?” Mel jadi
sinis, ia bersikeras ingin tahu tentang Andri dan Lia.
“Well, if you insist.” kata Andri sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Antara aku dan Lia tidak ada apa-apa, seperti yang dia katakan. Kita masih
teman. I’m sorry kalau aku berbohong soal makan siang itu. Aku takut kau mengira
antara aku dan Lia ada sesuatu, karena kita sudah lama tidak bicara bahkan bertemu.”
jelasnya.
“Justru jika kau menyembunyikannya aku akan curiga, kau lebih baik mengatakan
dengan jujur kepadaku.” kata Mel.
Sesaat kemudian Andri memotongnya, “Tapi…” katanya. Mel jadi diam, segala
ketakutannya muncul seketika.
Andri, “Tapi Mel, dulu…saat itu, bukan sekarang Mel, dan jangan kau anggap
aku merasakan hal yang sama sekarang ini. Saat ini aku hanya inginkanmu. Dulu…aku
akui…Ya aku jatuh cinta pada Lia.” Mendengar kalimat terakhir Mel menggeleng-
gelengkan kepala “F**k You!” katanya dan segera pergi.
“Mel!!! tunggu!! Itulah kenapa aku tak mau memberitahumu. Aku tahu kau pasti
marah dan pergi meninggalkanku.” kata Andri.
“Wanita mana And yang tidak meninggalkan kekasihnya, jika ia tahu bahwa si
kasih mencintai orang lain.” kata Mel yang masih bersikeras pergi, mencoba melepaskan
genggaman tangan Andri.
Andri, “Itu dulu Meily, bukankah sudah ku katakan sebelumnya. Saat ini aku
hanya inginkan mu.”
Mel, “Bohong!!! Dasar bajingan.”
Andri terus mencoba membujuk Mel, “Meily…Ok gue pembohong, gue bajingan
terserah lu, tapi gue minta maaf banget sama lu, sumpah Mel gue udah berubah, gue udah
enggak jatuh cinta lagi sama Lia. It’s a fool f**king love ok? Gue sadar dia milik Ali
temen gue sendiri! dan gue enggak mau, enggak akan pernah mau suka sama dia lagi…
itu salah !!” katanya.

- 44 -
“Fine up to you.” Jawab Mel yang berhenti berjalan dan bersandar pada tiang
warung Bakso Mas Parto.
“So…have you forgive me now? After all the things we get today? Because the
‘so what’ word is just a bull s**t. I do care about you, I do care about us, and I want us to
be together again. Will you forgive me? Do you receive my apologize?” Andri merayu
Mel, wajahnya memohon dengan sungguh mengkhawatirkan.
Belum sempat Mel menjawab terjadi sebuah keributan di seberang, yaitu di depan
Surga Kesatria dan Taman Bidadari. “Ada apa tuh?” gumam Mel. “Apa?” Andri tidak
mengerti. “Itu di Surga Kesatria sama Taman Bidadari, kok anak-anaknya pada keluar
semua gitu?” kata Mel. Andri mengeluarkan nafas panjang, ‘Ugh, gue kira apaan?’
katanya dalam hati.
“Jadi gimana Mel?” Andri kembali bertanya.
“Apa? Ntar dulu deh, gue penasaran…gue jadi khawatir sama Tante gue yang
punya Taman Bidadari. Ada apa ya?” sepertinya Mel tidak peduli dengan apa yang
ditanyakan Andri. Rasa khawatir menyelubungi hatinya.
“Tante…” Mel berkata dengan lirih.
“Mel…” Andri kembali mencoba merebut perhatiannya dari kedua tempat kost
itu, tapi Mel malah pergi kesana dan meninggalkan Andri dalam kebingungan tanpa
jawaban. Nah itulah rasanya hidup dalam ketidak-pastian And!
“Mel tunggu!” kata Andri lagi.
“Nanti aja deh, tunggu gue. Gue mau kesana dulu, takut ada apa-apa sama Tante
gue. Nantilah…nanti.” Kata Mel yang entah sadar atau tidak mengatakan hal itu. Andri
terdiam ia tidak mengejar Mel, ia kembali ke warung dan diam termenung. What’s wrong
fikirnya.

14. Taman Surga

Om Gun mengikuti Tante Mer yang masuk ke TB, di luar gossip pun menyebar
dengan cepat. Mel yang merupakan keponakan Tante Mer ikut bingung dan jadi ikut deg-
deg-an.
“Chika, ada apaan?” tanya Mel pada adik Puspa, Chika.
“Akika tinta mengerti, gini yah…akika juga tinta tawar yang jelasnya
begimandang, akika baru datinta dari salona bo. Eh tiba-tiba ini orang lagi padita
berantem ne’. Masalah pelanggaran aturannya tempat kost Tante yey. Eh ya…tahu-tahu
dari cibuntu, mereka-mereka ini jadi malah balik nyerang yey punya Tante. Katanya
harus jujurlah tentang perasaan, en Om Cuco pun ikut digitu-in. Ah…akika pusiiing!”
jawab Chika.
Mel hanya bisa bilang, “Oh…My…God !”dalam hati.
Di Taman Depan, semua orang harap-harap cemas menunggu kepastian. Rasa
ragu kembali timbul ketika sudah menunggu sekian lama Om Guntur dan Tante Mer
tidak juga keluar. Bimo berkata, “Guys! Gimana dong? Gue blank banget… gue enggak
tahu mereka lagi ngapain di dalem, dan gue enggak mau ngintip. Gue takut si Om lagi di
siksa sama Tante. Bukannya apa-apa si Tante kan killer banget.”

- 45 -
Mendengar ibu kost-nya di katain seperti itu tentu saja anak Taman Bidadari tidak
terima, “Enak aja lu bilang killer! Tante tuh baik banget lagi, sumpah! Dia hanya tegas
dan disiplin, wah pokoknya menjunjung tinggi ‘girl power’ lah! Kalau memang si Om di
siksa itu mah cowok-nya aja yang ‘chicken’!” kata Vanya membela Tante Mer, sekaligus
harkat dan martabat wanita yang Bimo injak-injak.
“Nyantai dong! Jangan nyolot gitu, sori…” kata Bimo, ia pun melanjutkan, “Gue
hanya khawatir, selama ini kita yang ‘keukeuh’ menjodohkan mereka, kita yang main
tuduh-menuduh kalau si Om dan Tante saling suka. Dan kita yang maksa mereka buat
bersatu. Takutnya kalau kita semua salah, dan keadaan malah jadi lebih parah. Gitu
maksud gue.” katanya.
Sheika mendekat meremas tangan Bimo, “Bim, enggak ada gunanya kita mikir
semua itu. Sekarang semua sudah terjadi dan apa-pun hasilnya kita akan hadapi bersama.
Kita melakukan semua ini untuk kepentingan bersama jadi kita akan tetap bersama kan?”
kata Sheika mencoba memastikan, apakah teman-temannya masih bersama dia. Yang lain
tertunduk termenung, mencoba berfikir, dan sekali lagi mereka merasa ragu, takut.
Tanpa harus menunggu lama waga TB dan SK pun segera melihat si Om keluar…
lalu…si Tante juga! Dan mereka nampak damai-damai saja, malah ehm…jadi lebih…
ehm…setelah….ehm berpegangan tangan. Waduh senangnya bahagianya!! begitu
melihat hal tersebut anak-anak bersorak riuh rendah dan bertepuk tangan wah rame!
Sampai ada yang loncat-loncat segala itu tuh si Chika! “Horeee!!!” teriak semuanya.
Sementara itu sesaat sebelumnya di TB, Om Gun masih giat mengejar Mer.
Sampai akhirnya Om menarik tangan Tante Mer. “Apa sih Gun? Tidak ada lagi hal yang
harus kita bicarakan.” kata Merry sambil menghindar.
“Mer, tunggu…kau tahu…” kata Guntur.
“Aku tahu…” jawab Mer sambil menghindar lagi.
“Tidak…kau tidak tahu…kau salah mengerti!” kata Guntur.
“Kau yang tidak tahu dan kau yang salah mengerti Gun!” kata Mer yang kini
berbalik arah, berhadapan dengan Guntur. Keduanya terdiam, Merry tertunduk dan Gun
menerawang.
“Dulu…dulu kenapa kau memilih dia?” tanya Gun.
“Aku tak punya pilihan…aku tak mau terus berharap tanpa kepastian…aku lelah
menunggu Gun.” jawab Mer.
“Aku mengunggumu hingga detik akhir pelaminan. Andai kau datang…aku pasti
pergi denganmu.” lanjut Mer.
“Ah Mer… penyesalanku…setiap kali aku akan menyatakan cintaku, aku selalu
berhenti dan berfikir, ‘kau…terlalu baik untukku’ dan kau…ah entahlah Mer…” kata
Guntur.
Merry, “Oh…Gun, penyesalanku bermula ketika aku tersadar dan bangun dengan
pria lain ada di ranjangku, telanjang. Segera aku berfikir dan aku sadari bahwa aku tak
lagi pantas bersanding denganmu. Namun apa daya Gun…kau tak kunjung datang dan
orang tuaku mendesak agar aku segera menikah.”

- 46 -
Guntur, “Begitu pun aku Mer, mendengar kau bersanding dengan yang lain
membuatku tak ingin lagi melihatmu, aku membencimu, aku menghindarimu, karena aku
tak ingin terluka. Perih Mer…sakit. Namun gelora hasratku kembali bergejolak begitu
tahu kau ditinggal pergi. istriku meminta cerai ketika aku bercerita tentangmu, impianku
bersamamu, dan kami pun berpisah… aku pergi mengasingkan diri ke luar negeri,
bekerja dan membangun Surga Kesatria, dua tahun sesudah tempat ini berdiri…aku
kembali, dan tak kusangka kau berada begitu dekat disampingku.”
Merry mendekati Gun, ia berkata, “Shakespeare berkata, ‘My only love, sprung
from my only hate’, begitu benci-nya aku melihat mu, hingga aku kembali
menyayangimu, mimpikanmu. Tak pernah sekali pun aku ingin bertengkar, namun rasa
sesal itu belum habis hingga hanya amarah yang menguasai diriku. Maafkan aku Gun…
atas semuanya.”
Guntur pun memotong, “Aku yang seharusnya meminta maaf. Maafkan aku
karena tak segera meminangmu, maafkan aku yang tega tinggalkanmu disaat kau rapuh,
disaat kau sendiri. Maaf…mau kah kau menerimaku kembali, bersanding denganmu?”
Merry menjawab dengan ragu, “Entahlah Gun…setelah semua ini terjadi…
sepertinya aku tak ingin…sendiri. Aku ingin kau bersanding denganku…” dan mereka
pun berpelukan.
Kemudian, setelah berpelukan mereka kembali berbicara empat mata, tak seorang
pun berani menguping pembicaraan mereka, semuanya pergi terutama gadis-gadis yang
tinggal di lantai dasar. Mereka tak berani menganggu pembicaraan para petinggi, takut-
takut nanti diusir.
Merry dan Guntur duduk di salah satu teras kamar, keduanya bertatapan dan
tersenyum bahagia, sampai Guntur berkata sesuatu. “Mer, sebelum semuanya kita akhiri
dengan bahagia, ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku, yang membuatku tak
sepenuhnya bahagia…” katanya sedikit merenung.
“Ada apa Gun? Apa gerangan yang kau risaukan, hingga kau tampak begitu
murung saat ini?” kata Merry yang sedari tadi memperhatikan wajah Guntur.
“Sebenarnya sudah sejak dulu aku ingin membicarakan ini denganmu, tapi waktu
sepertinya belum mengizinkan. Masalah ini selalu membuat kita bertengkar, masalah ini
selalu membuat kita bermusuhan. Ini sepele Mer, aku hanya ingin berbicara tentang
masalah peraturan-mu itu…” kata Guntur.
“Peraturan apa Gun? Tentang pacaran itu?” tanya Mer.
“Ya…itu.” kata Gun. “Selama ini aku kasihan melihat anak-anak kost kita, yang
selalu backstreet. Biarkanlah mereka berpacaran dengan tempat kost-ku, atau… apa kau
setuju jika kita mempersatukan tempat kost kita?” lanjut Gun.
“Apa??! Jadi maksudmu melamarku karena ingin mengambil tempatku? Tidak!
Maaf Gun, tapi dengan terpaksa aku harus menolak lamaranmu.” kata Mer begitu
mendengar usulan Gun. Ia langsung pergi meninggalkan Gun lagi.
Gun menggeleng-gelengkan kepalanya, inilah Mer yang dulu. Mer yang egois dan
selalu menjunjung tinggi emansipasi wanita, yang bahasa kerennya ‘girl power’. “Mer!
Tunggu. Jangan salah faham dulu!” untuk kesekian kalinya Gun memanggil Mer dan
menarik tangannya. “Mer aku jelaskan dulu.” kata Gun lagi dengan raut memohon.
“Tidak Gun, tidak!!!” jawab Mer.

- 47 -
Guntur pun berkata, “Duduklah dulu, kita bicarakan baik-baik.” Setelah Mer
duduk, Guntur pun menjelaskan, “Maksudku begini Mer… kita akan menikah dan…
bagaimana dengan anak kost kita. Maksudku warga Surga Kesatria juga warga mu, dan
warga Taman Bidadari adalah warga ku, tapi mereka hidup dalam kekangan kita. Ah…
intinya aku hanya ingin mempersatukan tempat kost kita, tapi kau tetap mengelola kost-
an anak putri dan aku putra. Semua masalah keuangan dan sebagainya terserah padamu.
Aku hanya ingin punya simbol bersatunya kita Mer, itu saja.” jelas Guntur.
Mer tersenyum malah hampir tertawa, “Aku tahu Gun…aku mengerti. Aku hanya
ingin kau kembali mengejarku…aku suka itu. Aku suka saat kau memohon, melihat
wajahmu yang menyedihkan itu, aku ingin tertawa teringat ketika kau memohon
meminjam buku PR-ku dulu. Semua terserah padamu Gun, aku tak ingin mengurusi
tempat kost lagi. Aku lelah… aku ingin kau mengelola tempat ini untukku.” katanya.
Guntur hanya bisa tersenyum kecut ‘sialan’ katanya dalam hati.
1 bulan kemudian senyum kebahagiaan dan kelegaan terukir di wajah seluruh
penghuni Surga Kesatria dan Taman Bidadari. Hari ini si Om dan Tante akhirnya resmi
menikah, waduh akhirnya…jadi juga!. Di pagi yang sibuk itu anak-anak Surga Kesatria
sedang sibuk menempel billboard di depan tempat kost mereka. Sudah hampir satu
minggu ini mereka bekerja keras membuat-nya di bantu oleh senyuman manis warga
Taman Bidadari. Pagi ini si Om dan Tante keluar untuk pertama-kalinya sebagai pasutri.
“Surprise!!“
Teriak anak-anak. Begitu bangganya Om dan Tante ketika melihat billboard
bertuliskan, “Taman Surga”. Inilah nama tempat kost mereka yang baru.

15. Sebuah Akhir

Di suatu hari yang damai di Ramaizkale, suka dan duka sudah mereka lewati
selama ini. Hampir 4 tahun dan semua terasa begitu cepat, awal tahun berjalan dengan
baik, sampai masuk tahun ke-2 dan akhir tahun ke-3 itulah saat-saat yang paling
menegangkan. Disaat semua masalah muncul. Hal sepele menjadi begitu besar karena
insiden ‘parkiran’. Saat haru mereka berpegangan tangan erat, saat sendu mereka
berpelukan menangis bersama. Suatu kebersamaan antara 2 kost yang jarang sekali
terjadi. Memang sudah menjadi hal yang umum jika warga Surga Kesatria dan Taman
Bidadari ada yang ‘jadi’. Lagian siapa sih yang setuju sama peraturan bodoh seperti itu?
Hari yang indah itu di suatu siang yang tidak begitu cerah Lanang dan Dayu sedang
ada di Taman Ria. Keduanya sedang makan siang di salah satu kafé favorit. Sepertinya
mereka sedang santai-santai.
“Akhirnya…kamu pergi juga.” kata Dayu.
Lanang “Akhirnya? Jadi selama ini kamu ingin aku pergi, gitu?”
“Bukan, it just… selama kita kuliah kamu enggak pernah lagi liburan jauh sama
keluarga kamu kayak waktu SMP.” Dayu menjelaskan.
“Ooo, I see. Terus rencana kamu liburan selama aku pergi apa?” Lanang bertanya
kepada Dayu.
Dayu pun menjawab, “Apa ya… kayaknya aku mau buat cerpen lagi, aku mau
menyelesaikan kisah-kisahku. Habis selama ini sibuk, urusan Om dan Tante lah, praktek
kerja lah. Liburan ini aku mau istirahat, sedikit berkhayal yah pokokbya males-malesan
lah.” Dayu menjelaskan rencana liburannya kali ini.

- 48 -
“Hmm, enggak ada rencana buat ngecengin cowok?” tanya Lanang.
“Hah? Enggak salah tuh? Cinta…aku kan udah punya kamu, ngapain aku cari yang
lain…” jawab Dayu. Lanang pun tersenyum puas.
Di tempat lain dalam Taman Ria, ada Adin dan Reo, mereka juga sedang bermalas-
malasan, pelesir di siang bolong. “Adin, I’m so happy, we finally together and we
shouldn’t hide again.” kata Reo.
“Yeah, but the other thing that make me happy is, I’m finally ‘fly’” kata Bunga.
“Mmm, not yet my dear, were still on the ground.” Sindir Reo.
“Ah…what ever, life is getting better and better every single day.” Bunga
sepertinya tidak begitu peduli dengan sindiran Bagus, malah ia tidak merasa tersindir
sedikitpun.
“Look, isn’t that your room-mate?” tanya Bagus pada Bunga sambil menunjuk ke
arah sebuah kafe.
“Yeah…I think.”jawab Bunga.
“Let’s go there, ini adalah makan siang terakhirmu dengannya.” Bagus
menggodanya.
“Lho, memang dia mau pergi kemana?” Bunga jadi heran.
“Ups, a friend told me to shut up.” Sepertinya Bagus keceplosan.
“Ok, it’s a what? Mmm secret between man, and the ladies !must not know. What a
man ego?” Bunga menyindir.
“What?” kata Bagus.
“Just shut up, lets go there.” Ajak Bunga.
“Hei…” sapa Bagus dan Bunga kepada Lanang dan Dayu.
“Hei…” jawab mereka.
“Can we…” Bagus tak meneruskan kata-katanya, ia hanya menggerak-gerakan
tangan tanda ingin bergabung.
“Sure, come in.” sambut Lanang. “So…the new couple, what’s up?” masih kata
Lanang.
“Apaan sih lu?” Bunga malu-malu.
“Alaah, jangan suka malu-malu gitu deh. Oh ya…kalian lagi ngapain disini?” Dayu
memulai pembicaraan siang itu.
“Kita lagi jalan-jalan, yah…biasa lah…” jawab Bunga.
“Honey, I’m hungry, it’s my lunch time.” Bagus memotong pembicaraan.
Tiba-tiba saja handphone Lanang berbunyi, “Halo? Kenapa? Oh iya gue lupa, lu
jemput gue di kafe…apaan nih, pokoknya yang ada miniatur menara pisa aja. Sekalian
kita pergi. nanggung nih.” Jawabnya.
“Siapa Lan?” Dayu bertanya pada Lanang. “Gadis, dia mau jemput gue disini terus
sekalian ke bandara.” Kata Lanang menjawab pertanyaan Dayu.
“Bandara?” Bunga jadi ingin tahu, “Lu mau kemana Lan?” tanya-nya.
“Gue mau pergi…somewhere in…Edinburg? I don’t know. My Dad…” jawab
Lanang.
“Are you sure? I’m going abroad too, me and Bunga. We’re going to Monaco, meet
my parents.”Reo ikut nimbrung.

- 49 -
“Oh ya…?” Dayu nampak excited. “When?” Dayu kembali bertanya.
“Sore ini, gimme a favor please, kalian bisa nganter ke bandara kan? Sekalian
anterin Dayu pulang.” Kata Lanang.
“Ok, no problem. Dayu kan sobat gue, apa sih yang enggak di lakuin buat sobat.”
Bunga menyanggupi permintaan Lanang.
Sementara itu di airport saat itu juga, Chellya dan Meily sedang menunggu arrival
dari Jerman. Yah…Ali pulang!!! Begitu melihat Lia, Ali segera membentangkan
tangannya, Lia pun berlari dan jatuh dalam peluknya penuh tangis. “Al…I miss you.”
Kata Lia, ia mengangkat wajahnya dan melihat Ali lekat-lekat sembari merabanya,
“You’ve change, this beard, a little mustache, oh… I love you.” Mereka berciuman,
“Miss you too honey.” Kata Ali kemudian.
Ali meliat keadaan sekitar bandara, “Andri mana?” tanya dia.
“Andri? Mel?” Lia sempat berfikir sejenak, kemudian ia melimpahkan pertanyaan
itu kepada Mel.
Hal itu membuat Mel diam,bingung tak tahu harus berkata apa,Lia pun
berkata,”Lho Mel gue kan udah bilang sama lu kalo Ali pulang hari ini,apa lu enggak
ngasih tau Andri?” Meily tak menjawab ia masih terpekur merasa bersalah,
”Ya sudah.”” kata Ali. “Kita makan yuk,I miss indonesian food, maybe we can ask
And to join us there!!” lanjut Ali penuh semangat.
Lalu mereka pun pergi ke Lâ Viołä Café tempat nongkrong zaman SMA dulu.
Ketika hendak bandara mereka melihat Andri datang digiring... Puspa. Meilia kaget
setengah mati ternyata selama ini Puspa... Ali dan Lia yang tidak tahu apa-apa
menyambut mereka layaknya kawan lama, kata Ali,“Hei Bro! kemana aja? gue kira lu
nggak bakal datang, happy to see you pal!”
“Hey…what’s wrong with you guys?” tanya Lia yang lama kelamaan melihat
kecanggungan antara Meily dan Andri.
“Us?” Meily balik bertanya, “Nothing.” katanya lagi.
“Come On… I see, a strange thing between both of you.” kata Lia lagi.
“No, were doing just fine. See nothing.” Andri masih menyangkal, ia menggandeng
tangan Meily.
“No! there is something.” tiba-tiba saja Mel berkata demikian sambil melepaskan
gandengan tangan Andri dengan cukup kasar. Melihat hal itu otomatis semua kaget dong!
“Antara gue dan Andri udah enggak ada apa-apa lagi. We return to where we were.
Me and him are just a friend…I guess.” Mel berkata dengan sedikit ragu.
“Yakin lu Mel? Enggak salah?” Puspa jadi bingung, ia yang baru bergabung
kembali tampak kehilangan banyak jejak, begitu juga Ali. Lain dengan Lia yang nampak
sedikit mengerti.
“I see. Gue enggak ada maksud untuk nyampurin masalah intern kalian berdua, tapi
jika ini masalah tempo hari…gue minta maaf banget. Gue asal nuduh kalau Andri fall in
love sama gue, karena it looks that he more considering me than you Mel. I don’t know
what he was truly felt about me. I’m just lonely, and tired thinking how and when me and
Al meet.” katanya.
“Well, kayaknya gue sama Puspa ketinggalan banyak cerita nih, I think we better
move to a private place, it an airport.” Ali mencoba menyadarkan kawan-kawannya yang
mulai curhat, padahal sekarang mereka ada di airport dan menjadi tontonan banyak
orang.

- 50 -
Somewhere…in a private place. “Ok, beritahu gue cerita yang seutuhnya. Jangan
biarin gue jadi kambing conge. I think masalah ini terpusat sama kamu And…so if you
don’t mind… tell me.” pinta Ali yang kini berubah menjadi sedikit bijak. Andri
menceritakan semuanya, ia akui bahwa ia memang pernah suka sama Lia dan beberapa
saat yang lalu perasaan itu bersemi kembali dihatinya. Ali mengangguk-angguk serius
begitu juga dengan Puspa.
“Ok, gue ngerti. So… kesimpulan dari kamu apa And?” tanya Ali lagi.
“That I do want Mel, and I do not love your girl friend Al, that’s all.” jawab Andri.
“Then…?” Ali mempertanyakan keinginan Meily,
“Gue…I do want you And, tapi setelah semua ini gue ngerasa kalau kita lebih baik
jadi temen aja. Bukannya apa-apa, selama ini gue berusaha untuk tidak mengaggap kamu
sebagai pacarku lagi, and I did forget you. If I try to remind you, I’m afraid that I’ll fall
again. Gue pingin semua ini jadi kenangan dan pelajaran buat gue, itu.!” jawab Mel
tegas.
“Are you sure?” Andri bertanya. Dan tanpa mereka sadari Alia dan Puspa sudah
pergi entah kemana.
Dalam ke-berdua-an itu…Andri dan Mel mencoba memperjelas dan menata
kembali apa yang sudah mereka bangun. “Mel apa lu yakin dengan keputusan lu? Setelah
apa yang gue katakan barusan?” kata Andri lagi.
“I don’t know And, what do you think?” Mel malah balik bertanya.
“Why should I know? Gue udah yakin kalau gue pengen balik lagi sama lu,
sekarang tinggal jawaban dari lu? Apa gue masih punya tempat di hati lu?” tanya Andri.
Mel terdiam lagi, kini giliran dia diinterogasi setelah di Bakso Mas Parto tempo hari, kini
giliran Andri yang mempertanyakan kesediaan Meily.
“Gimana ya And... sejujurnya gue cuma takut kalau rasa itu ‘kambuh’ lagi. Gue
enggak sanggup kalau harus menghadapi hal-hal kemarin, cukup sekali saja.” kata Mel.
Andri, “Sorry, it was a mistake, please. Gue akan berubah, lu tau gue enggak akan
ingkar. Ini janji seorang cowok, bukan buaya.”
“Gimana ya And…gue masih belum yakin, lu bakal bersetia… I really want to
try… but please no more drama. Kalau kita harus pisah, kita bicarakan baik-baik. Kalau
ada yang lu enggak suka, dan kalau lu udah enggak suka…bilang aja. It feel better than to
know that you have an affair.” kata Mel yang mencoba berdamai dengan hatinya karena
sejak tadi terus saja berantem.
“Thank you, I promise. Gue enggak mau maksa, lu…jawab pertanyaan ini jangan
karena kasihan sama gue jangan ada tekanan.” Andri masih ingin lebih yakin.
“No, no pressure. Gue jujur masih ingin balik sama lu, bukan karena kasihan. Tapi
karena gue punya banyak cinta yang ingin gue bagi sama lu.” jawab Mel, tersenyum.
Yahhhh…another happy ending.
Di airport selepas Alia dkk pergi. Tanpa di duga di sana ada Om dan Tante, ada
Bimo dan Sheika, ada juga Vanya dengan Gusti hadir melepas kepergian Lanang. What a
friendship! “Guys…thank’s for coming. Gue appreciate banget. Sumpah kalian udah jadi
temen yang paling baik selama gue disini. Aduh… kayaknya gue bakalan nyesel
ninggalin kalian semua. I’ll miss every-one of you.” kata Lanang.

- 51 -
Suasana airport selepas tokoh kita pergi menjadi makin haru aja. Apalagi ketika
pengumuman bahwa pesawat Lanang dan Gadis hendak boarding. Dayu tersenyum lebar
melepas ‘yayang’nya, “Hati-hati ya!” katanya. Lanang dan Gadis segera menuju pesawat,
tapi tiba-tiba Lanang berhenti dan berbalik arah. Gadis sempat terkejut namun akhirnya ia
meninggalkan si kakak. Tak lama yah…sekitar 10-20 menit kemudian Lanang sudah tiba
di pesawat. Dari mulai take-off sampai bener-bener terbang, Lanang tak berkata sepatah
kata pun baru kemudian ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Aduh…tokoh-
tokoh kita ini sepertinya butuh seorang psikologis, senyam-senyum terus dari tadi. Gadis
pun bertanya, “Kenapa Mas? Mbak Dayu…???”
Lanang pun menjawab, “Hmmm?? She’s fine, I hope.”
“Mas ngomong apaan sih sama Mbak Dayu???” Gadis masih bertanya-tanya. Ada
apakah gerangan? Let’s check this out…
“Hati-hati ya!” kata Dayu melepas kepergian Lanang. Ia tertunduk menangis
setelah beberapa kali menarik napas panjang, ia duduk dan di kelilingi kawan-kawannya.
Sayang… Bunga teman baiknya hendak pergi juga… Dayu kembali ke Taman Surga
sendiri, ia mendapati Bunga sedang packing, yah… tinggal menunggu detik-detik
terakhir keberangkatan.
“Day…kenapa? Lesu amat?! Need to talk?” kata Bunga.
“Well… biasalah gue sedih…karena kita enggak akan ketemu lagi. Yah ketemu
sih mungkin…cuman kita beda, kita enggak seperti sejam yang lalu, kita bukan apa-apa
lagi.” Dayu menjawab dengan lesu, ia merebahkan diri di ranjang sebelah Bunga.
“Apa???” Bunga kaget luar biasa. “Kalian putus?! Gimana sih? Kok bisa?”
“Shtt…” Dayu menenangkan.
“Bisa tenang gimana? Kamu lagi… yang nyantai gitu. Apa kamu udah enggak
sayang dia lagi???”
“Habis mau gimana? That’s the way it is.” Kata Dayu.
“What? That’s the way it is? Kamu memang gila Day.” Bunga berkata seakan tak
percaya.
“Gila gimana? Kalau dia emang udah enggak sayang lagi, mau diapain? Gue
enggak bisa maksa dong.” Jawab Dayu.
“Iya tapi…” ‘Tok tok tok’ seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
“Tunggu bentar.” Bunga menghentikan pembicaraan itu sesaat dan membukakan
pintu.
“Aaa…Reo.”Bunga nampak bingung melihat Reo dihadapannya.
“What??” tanya Reo. “Kita harus pergi sekarang…” katanya lagi.
“Amm, could you wait for a second? Maybe ten…mmm an hour??” Bunga
mengajukan keringanan.
“What’s up? Penting banget? Harus banget?” Reo sedikit memaksa. Bunga
kembali menjawab tanpa mempersilakan Reo masuk, ia menjawab dengan badan di balik
pintu kamarnya, “Come on please??!! It’s a girl things. Kamu bisa hang out bentar sama
anak-anak yang lain kan sambil nunggu, atau kemana kek. Bisa kan? Aduuhh please
banget, enggak ada waktu lagi soalnya. “ katanya.
“What-ever, jangan lebih dari satu jam oke? Kita bakal ketinggalan sunset
soalnya.” Kata Reo yang kemudian pergi entah kemana dengan berat hati.

- 52 -
“Honey…” panggil Bunga pada Reo. ia berbalik dan mendekatinya. “Come here.
I love you muach, don’t be mad ok?!” kata Bunga lagi yang kemudian mencium…pipi
Reo.
“Hmm, Bung kamu enggak boleh gitu. Pergi aja lagi, gue enggak apa-apa kok.”
Dayu jadi enggak enak hati.
“He’ll be fine. Dia udah nunggu gue selama itu, dan pasti dia enggak keberatan
untuk nunggu gue yang cuma minta waktu beberapa jam aja.” kata Bunga.
Ia mendekati Dayu dan duduk di sampingnya. “Yah, gimme the details.” Masih
kata Bunga yang penasaran.
Flash back, waktu di ait port… Dayu dan Lanang sudah menyingkir menjauhi
teman-temannya. Mereka ingin mengobrol berdua saja. Lanang meletakkan tasnya dan
memegang tangan Dayu, ia berkata, “Honey, I think we better separated.” Kalimat itu
meluncur begitu saja dari mulut Lanang.
Dayu merengutkan dahinya, “I bag your pardon please??!!” Dayu memastikan
kata ‘separated’ yang ia dengar itu benar-benar dikatakan oleh Lanang.
“Ya, aku enggak bisa apa-apa lagi. Kita berpisah…kita sampai disini saja, aku tak
ingin lebih jauh lagi.” kata Lanang sambil menghembuskan napas panjang. Dayu
tertunduk mendengarnya, untuk beberapa saat ia terdiam tapi kemudian ia mengangkat
kepalanya, menatap Lanang dalam-dalam dan tak sedikitpun Lanang menghindari
tatapannya, ia membalas lebih tajam lagi.
“Fine, I’ll be fine. Aku enggak bisa apa-apa lagi. Just leave…leave. But perhaps
we’ll have another time together as our self. You and me as a different person, different
status. Hmm (Dayu tersenyum), Thank you for everything, all the things you gave to me.
Your time… your love… your heart, everything. I’ll be grateful for having a time with
someone like you, and I wont regret even we have to end like this.” kata Bunga. Air
matanya mulai menggenang.
“Thank’s for understanding me. All love has gone, I felt nothing. Well Day,waktu
terbaikku adalah waktuku saat bersamamu. Hari terbaikku adalah ketika kau ada disisiku,
dan hal yang terbaik adalah bahwa kau mengertiku, bahwa kau telah menjadi bagian
hidupku yang aku cintai selama ini. I’m sorry kalau semua itu harus menjadi seperti ini,
aku berharap ini bukan akhir tapi ini adalah sebuah awal. Semoga kau mengerti kalau aku
mungkin akan datang lagi.” kata Lanang. Setelah itu mereka berpelukan.
Lanang membelai Dayu dengan lembut mencium keningnnya . “Do you mind…if
I kiss you? For the last time?” tanya Lanang. Dayu tak menjawab, ia hanya menunduk
kemudian Lanang mengangkat dagunya, lalu menciumnya,
“Aku sayang kamu.” Katanya. jatuhlah air mata Dayu membasahi pipinya, ia
menyusutnya dan mengatar Lanang sampai ke depan petugas dan…dan… usai semua.
Lanang melangkah pergi, untuk sesaat ia menyusut air matanya yang turun di akhir
cerita.
“Then…??” Bunga masih bertanya-tanya.
“Hanya itu Bung, dia cuman bilang itu. ‘all love has gone’ jelas kan??” jawab
Dayu.
“Hah??? Kamu puas dengan jawaban seperti itu?” kata Bunga.

- 53 -
Dayu pun menjawab, “Enggak sih, cuman itu sudah cukup jelas. Aku merasa tak
perlu bertanya lagi. Udahlah Bung, I’ll be fine. I’ll get over it, trust me.”
“Tapi Day… eh tunggu sebelum dia ngomong sama kamu, dia ngasih sesuatu ke
aku, katanya aku suruh kasihin sama kamu setelah dia pergi. Aduh! Dimana ya???
Sebentar.” Bunga mencari-cari benda itu, Dayu hanya bisa diam, ‘duh kenapa harus ada
begituan segala. Semua kan jadi terasa lebih berat, gimana sih’ dalam hatinya ia berkata
demikian.
“Aha…” teriak Bunga, sepertinya ia menemukan benda yang dicari. Ia pun
memberikannya pada Dayu dan kembali duduk disampingnya.
Tiba-tiba saja sebuah ringtone memecah kesunyian dalam kamar itu, ternyata itu
dari Reo, “Honey we’re late. Hurry up. I’ll wait you downstair.” kata Reo yang
langsung menutup teleponnya.
“Sorry Day, aku enggak bisa ngulur waktu lagi. I have to go. Don’t worry I’ll be
back as soon as I can. See you friend.” Bunga segera mengangkat ranselnya dan
menggiring kopernya. Ia pun berpamitan, bercium pipi dan berpelukan.
“I’ll miss you Bung.” kata Dayu melepas Bunga.
Setelah kepergian Bunga, Dayu kembali ke kamarnya dan mulai meraih benda
yang Lanang berikan untuknya. Ia rebahan dan mulai membuka kertas dalam amplop itu.

- 54 -
- 55 -