Anda di halaman 1dari 16

!

"# "$ % !"# $ &


'$ % #& # "$( $ !" % "# ! #
' )*%" $( #$ +
, -# ! "
./0/
1. BAB I : PENDAHULUAN

Latar Belakang

Wilayah pesisir merupakan suatu ekosistem khas yang kaya akan sumberdaya
alam baik yang berada pada mintakat di daratan maupun pada mintakat perairannya.
Potensi yang sangat besar dimiliki kawasan pesisir sehingga fungsi ekonomis yang
terkandung di dalamnya diikuti oleh efek pengganda (multiplier effect), yaitu
berkembangnya kegiatan yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan
kegiatan ekonomi utama. Aktivitas ekonomi dan tekanan penduduk yang berasosiasi
dengan keinginan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan pada
akhirnya akan memanfaatkan ruang spasial yang tersedia. Pesisir sebagai wilayah
yang relatif mudah dijangkau, akan menjadi sasaran untuk pengembangan aktivitas
manusia. Kawasan pesisir menghadapi berbagai tekanan dan perkembangan serta
perubahan. Kerangka tersebut mendorong semua pihak untuk melaksanakan
perencanaan dan pengelolaan pesisir sesuai kondisi alamiahnya, dan harus
berorientasi pada penyelamatan lingkungan ekosistemnya.
Pantai sebagai bagian pesisir merupakan wilayah yang memiliki
permasalahan yang kompleks. Masalah erosi pantai sebagai salahsatu permasalahan
yang dihadapi di kawasan pesisir cukup banyak mendapat perhatian utama dalam
kurun waktu sepuluh tahun terakhir, dan banyak menimbulkan kerugian bagi
masyarakat pesisir, seperti hilangnya lahan pesisir ataupun pulau. Pantai secara
alamiah merupakan dinamika perubahan yang dapat ditinjau atas dasar waktu. Tidak
demikian dengan akresi (bertambahnya garis pantai ke laut) yang jarang mendapat
sorotan publik karena menguntungkan beberapa gelintir masyarakat pesisir berupa
tambahan lahan baru sebagaimana dijumpai pada delta-delta muara sungai.
Pantai sebagai bagian pesisir dapat memberi informasi penting bagi
pengelolaan pesisir. Pembangunan pesisir harus dilaksanakan atas dasar keserasian
pemanfaatan potensi darat dan perairan agar keseimbangan alami terjadi dan arah
pemanfaatan tetap berorientasi pada keberlanjutan. Kondisi alam pantai merupakan
gambaran keseimbangan, dimana satuan panjang pantai menggambarkan
keseragaman kondisi dan karakter ruang tertentu.
Permasalahan

Telah terjadi pergeseran cara pandang (paradigma) dalam menangani masalah


pesisir di daerah maju. Bekerja sama dengan alam (corporate with natural process)
dijadikan sebagai slogan utama dalam penanganan masalah erosi pantai dengan
memperhatikan proses-proses alam yang lebih regional dibandingkan lokal
(Suhardi,2004). Pendekatan sel sedimen merupakan salah satu pendekatan dengan
mengenali karakteristik pantai sebagai satu kesatuan sedimen. Sel sedimen adalah
satuan panjang pantai yang mempunyai keseragaman kondisi fisik dengan
karakteristik dinamika sedimen dalam wilayah pergerakannya tidak mengganggu
keseimbangan kondisi pantai yang berdekatan (Crown,1996). Sel sedimen dapat
memberi informasi tentang kondisi pantai berdasarkan keseragaman yang dapat
dimanfaatkan bagi perencanaan pemanfaatan ruang pesisir. Pemahaman tentang sel
sedimen sebagai dasar pengelolaan pesisir merupakan suatu keharusan karena setiap
segmen garis pantai merupakan satuan subsistem dalam keseragaman. Pendekatan
sel sedimen dalam pengelolaan ruang pesisir memberi dampak positif dalam
pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir. Berdasarkan pendekatan sel sedimen,
setiap kegiatan pemanfaatan wilayah pesisir harus memperhatikan sistem perairan
laut dan homogenitas satuan penggalan garis pantai atau satuan sel untuk
memperhitungkan aspek ruang perairan pesisir.
Data keruangan sangat membantu dalam analisis yang menggunakan
pendekatan keruangan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Integrasi penginderaan jauh dan SIG terletak pada pemanfaatan data keruangan dan
pendekatan spasial dalam analisisnya. Dalam penentuan tata ruang, para perencana
mempunyai kesukaran dalam mengetahui kondisi secara menyeluruh daerah yang
akan ditata. Pesisir merupakan daerah yang sarat tekanan, sehingga pemanfaatan
ruangnya terkadang kurang memperhatikan kondisi dan karakteristik sumberdaya
dan ruangnya. Sel sedimen merupakan fenomena keselarasan tenaga dan kondisi
keruangan, sehingga perencanaan sebaiknya menggunakan sel sedimen sebagai
satuan perencanaannya. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana penggunaan
sel sedimen dalam penataan ruang pesisir dan juga mengakomodir keselarasan
potensi darat dan perairan pesisir.
2. BAB II : LANDASAN TEORI

Sel Sedimen

A sediment cell is defined as a length of coastline, which is essentially self


contained as far as the movement of sand and other sediments is concerned such that
the interruption to such movement in one cell should not have a significant effect on
adjacent sediment cells (www.ICZM Sabah).
A length of COASTLINE in which interruptions to the movement of sand or
shingle along the beaches or nearshore sea bed do not significantly affect beaches in
thr adjacent lengths of COASTLINE (www.norfalk coast).
A sediment cell is defined as a length of coastline which is relatively self
containe as far as the movement of sand or shingle is concerned and where
interruption to such movement should not have a significant effect on adjacent
sediment cells’. (MAFF,1995)
Berdasarkan pengertian diatas, maka secara umum sel sedimen adalah satuan
panjang pantai yang mempunyai keseragaman kondisi fisik dengan karakteristik
dinamika sedimen yang dalam wilayah geraknya tidak menganggu keseimbangan
kondisi pantai yang berdekatan.
Dulbahri (2001) mengemukakan bahwa pendekatan sel sedimen untuk model
perencanaan tata ruang dapat dikaji melalui citra satelit dan foto udara. Integrasi data
penginderaan jauh dan survei lapangan merupakan pendekatan yang dapat diterapkan
dalam pengelolaan pesisir. Proses yang terjadi di wilayah pesisir adalah sangat
dinamis, karena gelombang, arus, dan pasang surut merupakan tenaga yang selalu
‘mencari’ keseimbangan dengan cara melakukan erosi di satu tempat dan
mengangkut serta mengendapkan materi tersebut di tempat lain.

Pesisir

Sugandhy (1996) mengemukakan bahwa wilayah pesisir merupakan wilayah


peralihan antara daratan dan perairan laut, yang secara fisiografis didefinisikan
sebagai wilayah antara garis pantai hingga ke arah daratan yang masih dipengaruhi
oleh pasang-surut air laut, dengan lebar yang ditentukan oleh kelandaian pantai dan
dasar laut, serta dibentuk oleh endapan lempung hingga pasir yang bersifat lepas, dan
kadang materinya berupa kerikil. Sementara menurut Soegiarto (1976) dalam
Sugandhy (1996), wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah pertemuan antara
darat dan laut, ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam
air yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan
perembesan air asin; sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih
dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan
aliran air tawar maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti
penggundulan hutan dan pencemaran.
Definisi lain menurut kesepakatan internasional, wilayah pesisir merupakan
peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena
pengaruh percikan air laut atau pasang surut air laut, sedangkan ke arah laut meliputi
daerah paparan benua (continental shelf) (Beatly et al., 1994 dalam Sugandhy, 1996).
Batas wilayah pesisir pada umumnya adalah jarak secara arbitrer dari rata-rata
pasang tertinggi (mean high tide), dan batas ke arah laut umumnya sesuai dengan
batas jurisdiksi provinsi.
Wilayah pesisir terbentuk melalui suatu proses yang panjang secara genetik,
maka batasan wilayah pesisir perlu dikaji kembali berdasarkan sudut pandang
geomorfologis. Berdasarkan tinjauan secara genetik berdasar asal-usul proses
pembentukannya, yang secara etimologi lebih tepat disebut sebagai wilayah
kepesisiran (coastal area) adalah bentang lahan yang dimulai garis batas wilayah laut
(sea) yang ditandai oleh terbentuknya zona pecah gelombang (breakers zone) ke arah
darat hingga pada suatu bentang lahan yang secara genetik pembentukannya masih
dipengaruhi oleh aktivitas marin, seperti dataran aluvial kepesisiran (coastal alluvial
plain) (dirumuskan dari konsep CERC, 1984; Pethick, 1984; dan Sunarto, 2000).
Menurut definisi ini, maka yang termasuk dalam wilayah kepesisiran adalah
laut dekat pantai (nearshore), pantai (shore) dan pesisir (coast). Pantai merupakan
suatu mintakat antara daratan dan laut yang dibatasi oleh rata-rata garis surut
terendah, yang disebut dengan garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang
tertinggi air laut, yang disebut dengan garis pesisir (coastline). Pesisir merupakan
suatu mintakat yang dimulai dari garis pesisir (coastline) yang menunjukkan rata-rata
garis pasang tertinggi ke arah daratan sampai pada suatu mintakat yang secara
genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin, yang biasanya
bentanglahan terakhir berupa dataran aluvial kepesisiran (coastal alluvial plain).
Gambar 1. Ilustrasi Batas Wilayah Kepesisiran

Pada wilayah pesisir landai dengan material didominasi lumpur, dengan proses utama sedimentasi lumpur dan
pasang-surut air laut, yang menunjukkan perkembangan wilayah berlumpur yang sangat pesat, maka wilayah
pesisir (coastal area) dimulai dari zona pecah gelombang (breakers zone), pantai (shore), rataan pasang-surut
(tidal flat) – rataan pasang surut dapat berupa rataan lumpur (mud flat) jika seluruh materi penyusun lumpur
dan tidak ada vegetasi apapun, tetapi dapat berupa rawa payau (saltmarsh) jika di atas lumpur telah tumbuh
vegetasi seperti bakau atau tumbuhan rawa lainnya – hingga daerah-daerah yang secara morfogenesis
pembentukannya masih dipengaruhi aktivitas marin, seperti dataran aluvial kepesisiran (coastal alluvial plain)
yang termasuk dalam pesisir (coast) (dirumuskan berdasar konsep CERC, 1984; Pethick, 1984; dan Sunarto,
2000). Wilayah di belakang pesisir disebut sebagai wilayah atau lahan belakang atau buritan (hinterland).
Kondisi semacam ini banya dijumpai pada pesisir-pesisir primer yang terbentuk akibat proses sedimentasi dari
darat yang kuat (sub-aerial deposition coast) atau pantai dengan perkembangan delta yang baik (dirumuskan
dari konsep Shepard dalam King, 1972).

Tata Ruang Pesisir

Sugandhy (1996) mengemukakan bahwa pengelolaan lingkungan dalam


wilayah pesisir sesuai dengan konsep yang ada harus dilaksanakan secara terencana,
rasional, bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan daya dukungnya dengan
mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan
kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan kawasan pesisir bagi pembangunan
yang berkelanjutan. Konsep perencanaan tata ruang pesisir tidak dapat mengikuti
sepenuhnya konsep daratan, karena karakteristik eko-biologis dan prinsip dasar yang
berbeda. Pada kawasan pesisir, pola perencanaan sangat dipengaruhi oleh pembagian
zona-zona perlindungan yang sangat ketat. Hal ini disebabkan karakter pesisir yang
sangat dinamis tetapi rentan terhadap perubahan yang terjadi.
Perencanaan tata ruang kawasan pesisir mencakup penetapan peruntukan
lahan yang terbagi menjadi empat zone yaitu : (1) zona preservasi, (2) zona
konservasi, (3) zona penyangga, dan (4) zona budidaya (zona pemanfaatan) (Dahuri,
dkk, 1996). Dalam UU No.24/1992 tentang tata ruang, zona (1) dan (2) dinamakan
kawasan lindung, sedangkan zona (4) dinamakan kawasan budidaya. Zona preservasi
adalah suatu daerah dengan ekosistem yang unik, biota endemik atau langka, atau
proses penunjang kehidupan seperti daerah pemijahan (spawning ground), daerah
pembesaran (nursery ground) dan alur ruaya (migration rates) dari biota perairan.
Dalam zona ini tidak diperbolehkan adanya kegiatan manusia , kecuali kegiatan
pendidikan dan penelitian. Sementara itu, beberapa kegiatan pembangunan
(pemanfaatan) dilakukan secara terbatas dan terkendali, misalnya kawasan hutan
mangrove atau terumbu karang untuk kegiatan wisata alam bahari (ecotourism) dapat
berlangsung dalam zona konservasi.
Keberadaan zona preservasi dan konservasi dalam suatu wilayah
pembangunan sangat penting dalam memelihara berbagai proses penunjang
kehidupan, seperti siklus hidrologi dan unsur hara, membersihkan limbah secara
alamiah, dan sumber keanekaragaman (biodiversity) bergantung pada kondisi alam.
Luas zona preservasi dan konservasi yang optimal dalam suatu kawasan
pembangunan sebaiknya antara 30-50% dari luas totalnya (Dahuri, dkk 1996).
Selanjutnya, setiap kegiatan pembangunan (industri, pertanian, budidaya perikanan,
permukiman, dan lainnya) pada zona budidaya (pemanfaatan) hendaknya
ditempatkan pada lokasi yang secara biofisik sesuai, sehingga membentuk suatu
mosaik yang harmonis.

Penginderaan Jauh

Lillesand dan Kiefer (1994) mengemukakan bahwa penginderaan jauh adalah


ilmu dan seni memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah atau fenomena
melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan
obyek, daerah atau fenomena yang dikaji. Data penginderaan jauh merupakan hasil
interaksi antara tenaga elektromagnetik dengan obyek yang diindera yang direkam
oleh sensor, dimana setiap obyek mempunyai karakteristik tertentu dalam
berinteraksi dengan setiap spektrum elektromagnetik.
Tenaga elektromagnetik dalam perjalanannya ke bumi maupun setelah
dipantulkan obyek dalam perjalanannya mencapai sensor, juga berinteraksi dengan
atmosfer dalam bentuk serapan dan hamburan oleh butir-butir yang ada di atmosfer,
seperti debu dan uap air. Kondisi atmosfer bervariasi dan hal ini tergantung pada
situs (site), ketinggian tempat, waktu, dan kondisi cuaca lokal (Lillesand dan Kiefer,
1994).
Pengenalan obyek pada dasarnya dapat dilakukan dengan menyidik
karakteristik spektralnya. Pengertian karakteristik spektral obyek adalah besaran
yang terukur yang dimiliki oleh suatu obyek pada satu atau beberapa julat panjang
gelombang. Tiap obyek mempunyai karakteristik tersendiri dalam menyerap dan
memantulkan tenaga yang diterima olehnya. Karakteristik ini disebut karakteristik
spektral yang pada umumnya digambarkan dengan kurva pantulan seperti gambar
berikut.

Gambar 2. Kurva pantulan umum vegetasi, air, tanah dan rumput kering
(Lillesand, et al., 1994)

Landsat adalah satelit sumber daya bumi yang diluncurkan sejak tahun 1972.
Misi program Landsat adalah merekam data permukaan bumi multispektral dengan
resolusi tinggi secara global dan berulang. Hingga tahun 1991, satelit Landsat telah
sampai pada Landsat-5 yang sampai saat ini masih beroperasi dan Landsat-7 yang
diluncurkan pada tanggal 15 Desember 1998 untuk menggantikan Landsat-6 yang
gagal mengorbit.
Landsat-5 memuat dua macam sensor dengan mempertahankan sensor MSS
dan menggantikan sensor Return Beam Vidicon dengan sensor Thematic Mapper
karena alasan kapabilitas. Sensor Thematic Mapper merupakan sensor optik-mekanik
yang merekam pantulan dan pancaran energi pada gelombang tampak, inframerah
pantulan, inframerah tengah dan inframerah thermal pada spektrum gelombang
elektromagnetik. Sensor ini menghasilkan citra mutispektral yang relatif lebih baik
dalam resolusi spasial, resolusi spektral dan resolusi radiometrik, dibandingkan
dengan sensor Multispectral Scanner. Landsat-5 memiliki 7 saluran, dimana saluran
satu sampai enam mempunyai resolusi spasial 30m sedangkan saluran inframerah
termal mempunyai resolusi spasial sebesar 120 meter dan resolusi temporal 16 hari.
Tabel 1. Karakteristik Satelit Landsat 5 dan Landsat 7

Spesifikasi Deskripsi teknis


Jenis Orbit Sinkron matahari, hampir polar
Dimensi Berat 2211 kg, ukuran 2m x 4m

Sudut Inklinasi 98,2˚


Ketinggian orbit 705 km di ekuator

Periode Orbit 99 menit (14 orbit/hari) melintasi ekuator pukul 9.45 waktu global
Resolusi Temporal 16 hari, 233 lintasan orbit
Daerah Liputan 81˚ LU – 81˚ LS
Global
Kuantifikasi Data 8 bit
Luas liputan per scene 185 x 185

Band Band TM ETM+


Panjang Gel Res Spasial Panjang Gel Res Spasial

1 0.45-0.52 30 0.45-0.52 30
2 0.52-0.60 30 0.53-0.61 30

3 0.63-0.69 30 0.63-0.69 30
4 0.76-0.90 30 0.78-0.90 30

5 1.55-1.75 30 1.55-1.75 30
6 10.40-12.50 120 10.40-12.50 60

7 2.08-2.35 30 2.09-2.35 30
8 Tidak ada 0.52-0.90 15

(Sumber : Lillesand, et al.,1996)


Gambar 2.. Spesifikasi Satelit Landsat 7 (http://landsat7.usgs.gov,2003)

Gambar 3. Orbit Landsat 7 (http://landsat7.usgs.gov,2003)

3. BAB III : PEMBAHASAN

Penentuan Sel Sedimen Menggunakan Citra Penginderaan Jauh

Citra penginderaan jauh merupakan rekaman kenyataan lapangan, kondisi


lapangan dapat tergambarkan karena adanya proses interaksi antara panjang
gelombang elektromagnetik dan sifat benda. Gambaran pada citra dapat digunakan
untuk mengenali obyek berdasarkan nilai pantulan yang berasal dari obyek yang
tertangkap oleh sensor Keseragaman kenampakan merupakan unsur yang dapat
digunakan untuk melakukan identifikasi bahwa obyek yang diamati merupakan
obyek yang sama. Keseragaman dapat ditelusuri baik melalui rona atau warna
maupun pola. Faktor rona merupakan faktor yang paling mudah digunakan untuk
melakukan deteksi kesamaan atau perbedaan obyek.
Satu satuan panjang garis pantai (sel sedimen) dapat tampak jelas pada citra
melalui kenampakan pada citra sehingga dapat ditentukan karakteristik pantainya.
Tanda yang dapat dimanfaatkan kecuali rona, pola, bentuk, situs, asosiasi melalui
unsur-unsur tersebut dapat ditentukan perwilayahan keseragaman dan kemudian
keseragaman diubah menjadi satu satuan atau unit. Penentuan unit sel sedimen
keseragaman dapat didasarkan pada perairan dan daratannya. Perbedaan konsentrasi
sedimen dapat tampak jelas sehingga sebarannya dapat diikuti dan kondisi pesisirnya
dapat dicermati dengan jelas Satuan sel sedimen memberikan informasi bahwa
daerah tersebut merupakan daerah dengan karakteristik seragam, baik tenaga fisik
yang bekerja maupun pola pantainya sehingga pemanfaatannya harus menyesuaikan
dengan kondisi pantai.
Penentuan sel sedimen dapat dikaji melalui intepretasi data penginderaan jauh,
antara lain dengan memanfaatkan citra Landsat 7 ETM+. Interpretasi citra
merupakan kegiatan mengidentifikasi obyek dan menilai arti penting obyek tersebut.
Keakuratan hasil interpretasi perlu diuji dengan melakukan uji lapangan, yaitu
menguji kebenaran hasil interpretasi citra tentang kenampakan keseragaman satu
satuan panjang pantai (Khakhim,2003). . Kombinasi saluran (band) yang digunakan
yaitu komposit 321 dipilih berdasarkan nilai OIF (Optimum Index Factor), yaitu
suatu nilai yang menunjukkan nilai variasi spektral yang optimum untuk menyajikan
citra komposit dengan jelas khususnya kenampakan di wilayah pantai.Hasil
penentuan sel sedimen tersebut kemudian dijadikan acuan penataan ruang kawasan
pesisir.
Pengenalan kondisi fisik pantai didasarkan pada keseragaman, melalui citra
pengenalan ditinjau atas kenampakan pada citra. Lokasi penyebaran materi
tersuspensi dan pengendapan dapat diidentifikasi, sehingga batas keseragaman pantai
dapat ditentukan. Hasil identifikasi batas sel sedimen melalui pengolahan citra secara
digital ini kemudian digunakan sebagai penentuan titik pengambilan sampel air laut
dan pengukuran data fisik di lapangan.
Penentuan Sel Sedimen melalui Analisis Data Lapangan

Penentuan sel sedimen disamping melalui interpretasi citra juga harus


dilengkapi dengan penelitian lapangan. Pemahaman tentang sel sedimen harus
dibangun dari beberapa faktor yang berperan dalam penentu kondisi pantai
(Khakhim,2003). Faktor yang harus diketahui adalah kecepatan angin, suhu udara,
suhu air laut, dan melalui ketiga faktor tersebut dapat ditentukan energi gelombang.
Faktor lain yang diperlukan adalah periode gelombang. Perpaduan dari berbagai
faktor tersebut dapat diperoleh sifat gelombang. Faktor sudut lereng gisik dan sudut
datang gelombang pecah diperlukan untuk mengetahui tenaga gelombang pecah
sepanjang pantai, serta kecepatan gelombang pecah sehingga dapat diketahui tipe
gelombang pecah. Transport sedimen per satuan waktu dapat diperoleh melalui
integrasi kecepatan gelombang dan tenaga gelombang. Kedalaman gelombang pecah
diperoleh melalui tinggi gelombang pecah, dan kedalaman gelombang pecah
merupakan batas sirkulasi sedimen dalam satu sel sedimen ke arah laut, sedangkan
penyebaran gerak sedimen sepanjang pantai dipengaruhi oleh sudut lereng gisik, arah
datang gelombang pecah, dan sifat gelombangnya.
Berdasarkan sifat gelombang, kedalaman gelombang pecah, tipe gelombang
pecah dan sudut lereng gisik dapat diketahui kondisi pantai. Keseragaman kondisi
pantai dapat diketahui melalui sifat fisik dan sudut arah gelombang pecah yang dapat
digunakan untuk mengetahui dinamika sedimen sepanjang pantai; sehingga dapat
diperoleh satu satuan zonasi dinamika sedimen dan zonasi pengendapannya.
Berdasarkan pada keseragaman kondisi pantai pada satu satuan panjang tertentu
dapat difahami kondisi satu sel sedimen.

Keterkaitan Sel Sedimen dengan Tata Ruang

Gelombang, pasang surut laut dan arus merupakan tenaga yang selalu
mencari keseimbangan alami seperti dengan energi yang dibawanya akan
mengadakan erosi sehingga membentuk suatu garis pantai yang mengakibatkan pula
terjadinya erosi sepanjang garis pantai disatu tempat dan mengangkut serta
mengendapkan materi tersebut di tempat lain. Kondisi fisik pantai merupakan
kenyataan keseimbangan alami yang prosesnya berjalan setiap saat dalam akumulasi
masa yang panjang. Rencana pengelolaan garis pantai bertujuan untuk
menghindarkan problema yang terjadi di pantai agar terjadi keseimbangan yang
menyeluruh.
Berdasarkan sel sedimen sebagai satu unit satuan pengelolaan maka rencana
pengelolaan dapat dilakukan karena sel sedimen merupakan satu satuan yang
mempunyai satu unit keseimbangan alami. Sel sedimen merupakan faktor yang
membatasi aktivitas manusia di pesisir, terusiknya sel sedimen akan mengubah sel
sedimen yang lain, sehingga mungkin terjadi dampak negatif ditempat lain, karena
tenaga yang bekerja pada sel sedimen akan membentuk keseimbangan baru.
Berdasarkan berbagai tinjauan yang bermaterikan pengertian mengenai sel
sedimen, pantai, pesisir, tata ruang, tata guna tanah dan perundang-undangan yang
menyangkut pemanfaatan ruang pesisir maka secara konseptual dapat disusun pola
pikir, bahwa karakteristik pantai dapat diketahui dan dapat ditentukan satuan sel
sedimen, serta karakteristik pantai yang berkaitan erat dengan kondisi pesisir.

Dinamika sedimen

Zonasi Pengendapan

Sel sedimen

Karakteristik Pantai Kondisi pesisir

Pemanfaatan ruang Kesesuaian aktivitas

PP/Kepmen/U Pemanfaatan aktual

Pemanfaatan terkendali Tata Ruang

Gambar 4: Diagram Alir Pola Pikir Penentuan Tata Ruang berdasarkan Sedimen Sel
Penggunaan Sel Sedimen dalam Perencanaan Tata Ruang Pesisir

Pola dasar pemanfaatan ruang pesisir merupakan wujud interaksi antar


beberapa aktivitas pada suatu kawasan pesisir dengan kawasan lainya akan tercipta
dan memungkinkan terjadinya perkembangan yang optimal antar unit-unit kawasan
maupun dengan kawasan sekitarnya. Penyusunan pemanfaatan kawasan pesisir
dibuat sedemikian rupa sehingga kegiatan antar kawasan dapat saling menunjang dan
memiliki keterkaitan dengan kawasan yang berbatasan. Perencanaan tata ruang pada
wilayah pesisir seharusnya saling berhubungan secara fungsional (compatible use
principle).
Selanjutnya, setiap kegiatan pembangunan (industri, pertanian, budidaya
perikanan, pemukiman dan lainya) dalam zona pemanfaatan hendaknya ditempatkan
pada lokasi yang secara biofisik sesuai, hingga membentuk suatu mozaik yang
harmonis. Sehubungan dengan sifat dinamis dan dan keterkaitan ekologis dari
ekosistem pesisir, maka penataan pemanfaatan ruang pesisir selain berdasarkan pada
kesesuaiaan biofisik, harus pula memperhatikan keterkaitan dampak antara kegiatan
yang berada di kawasan pesisir dan keserasian (compatability) antar kegiatan di
sekitarnya. Untuk menguji apakah dua kegiatan dapat secara serasi berdampingan,
dapat ditempuh dengan menyusun matriks keserasian. Matriks ini disusun
berdasarkan pada kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, dan
kemampuan respon dari kegiatan yang berdampingan didalam menenggang dampak
termaksud. Misalnya, kegiatan tambak udang tidak mungkin dapat berdampingan
dengan industri kimia yang mengeluarkan limbah tanpa diolah terlebih dahulu.
Tabel 2. Matriks Keserasian (Campatability Matrix)
Antar Kegiatan Pembangunan di Wilayah Pesisir
No KEGIATAN A B C D E F G H I J K L M

1 Perikanan Tangkap (A) X S S S S S S S S S S S S


2 Perikanan Tambak (B) S X S S S S K K K S S S S
3 Marikultur (C) S S X S S K S S S S S S S
4 Pertanian (D) K K K X S S K K K S S S S

5 Perhutanan (E) S S S S X S S S S S S S S
6 Perhubungan (F) S K K S K X K K K S S S S
7 Pariwisata Pantai Diving (G) S S S S S S X S S S S S S
8 Pariwisata Pantai Berpasir(H) S S S S S S S X S S S S S
9 Pariwisata Renang dan Selancar (I) S S S S S K S S X S S S S
10 Pertambangan Migas (J) K K K K K K K K K X K S S
11 Pertambangan Mineral (K) K K K K K K K K K K X S S
12 Pelabuhan (L) S K K S K S K K K S S X S
13 Galangan Kapal (M) S S S S K S S S S S S S X
(Sumber: Cicin-Sain dan Knecht, 1998 dalam Khakhim, 2003)
Keterangan :
* Pembacaan tabel dari kiri ke kanan
S = Aktivitas Pembangunan di sebelah kiri tidak memberikan dampak negatif
terhadap aktivitas di sebelah kanan
K = Aktivitas Pembangunan di sebelah kiri memberikan dampak negatif terhadap
aktivitas pembangunan disebelah kanan
Secara grafis pedoman penentuan tata ruang kawasan pesisir menggunakan sel sedimen dapat dilihat pada gambar berikut

Gelombang Kedalaman Arus Materi Lereng Pasang surut

Lokasi pemecah Lebar


Distribusi dinamika Pantai
gelombang

Zonasi dinamika Dasar identifikasi sel


sedimen sedimen

Sosial Ekonomi Pemanfaatan Ruang oleh


masyarakat Zonasi sel Zonasi kondisi
darat pesisir

Orientasi dan kemampuan


masyarakat/wilayah PP. Kepmen/UU
Zonasi kondisi pesisir

Evaluasi Lahan

Persyaratan Pemanfaatan Ruang


Arahan penggunaan

Pedoman Rencana Tata Ruang Pesisir

Gambar 5: Diagram Alir Pedoman Penentuan Tata Ruang


Kawasan Pesisir Menggunakan Sel Sediman
4. BAB IV : KESIMPULAN

Sel sedimen adalah satuan panjang pantai yang mempunyai keseragaman


kondisi fisik dengan karakteristik dinamika sedimen yang dalam wilayah geraknya
tidak menganggu keseimbangan kondisi pantai yang berdekatan. Penentuan sel
sedimen dapat dilakukan melalui interpretasi citra penginderaan jauh terintegrasi
dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai alat bantu analisis , dan dari hasil
penentuan sel sedimen ini dapat dipakai sebagai acuan penentuan tata ruang wilayah
pesisir dengan tetap memperhatikan karakteristik dan dinamika proses yang terjadi
sehingga penentuan kegiatan-kegiatan dalam wilayah pesisir dapat serasi dan
seimbang tanpa menimbulkan dampak negatif antar kegiatan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1992. Undang-Undang Republik Indonesia No.24 Tahun 1992 tentang


Penataan Ruang. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan
Hidup. Jakarta
Anonim . 2001. Sediment Cell. Http://www.ICZM Sabah.gov.sediment.html. Diakses
pada : 30 Oktober 2010
Anonim . 2001. Managing a Changing Coastline : Shoreline Management Planning.
http://www.norfalk.coastacom. Diakses pada : 30 Oktober 2010
Crown,1996. Cost Protection and Sea Acfence Toward Strategic Guidance for The
Solent.
Dahuri,R., J.Rais, S.P.Ginting dan M.J. Sitepu., 1996. Pengelolaan Sumberdaya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT.Pradnya Paramita.Jakarta
Dulbahri, 1999. Integration of Remote Sensing and Geographic Information System
for Monitoring The Area of Segara Anakan. The Indonesian Journal of
Geography vol.30 No.77-78
Khakhim, Nurul. 2003. Pendekatan Sel Sedimen (Sediment Cell) Sebagai Acuan
Penataan Ruang Wilayah Pesisir Menggunakan Teknologi Penginderaan
Jauh. Makalah. Tidak Diterbitkan
Lillesand, Thomas M., Ralph W Kiefer, Chipmann. 2004. Remote Sensing and Image
Interpretation 5th Edition. New York: John Willey and Sons.
MAFF. 1995. Shoreline Management Plan: A Guide for Operating Authorities.
Ministry of Agriculture Fisheries and Foods And Welsh Office. London
Sunarto, 2000. Kasualitas Pologenetik dan Ekuilibrium Dinamik sebagai Paradigma
dalam Pengelolaan Ekosistem Pesisir. Prosiding Seminar Nasional.
Yogyakarta.
Sugandhy, 1996. Penataan Kawasan Pesisir Yang Berkelanjutan, Makalah Seminar
Nasional
Suhardi, 2004. Peran Sel Sedimen (Sediment Cell) dalam Perencanaan dan
Penataan Ruang Pesisir di Indonesia dalam Menata Ruang Laut Terpadu. PT
Pradnya Paramita. Jakarta