Anda di halaman 1dari 5

Meningkatkan Kemampuan Penanganan Bencana di Indonesia1

1. Pengantar

Laporan audit BPK dalam pemeriksaan rangkaian bencana alam maupun


bencana buatan manusia selama dua tahun terakhir ini menggambarkan bahwa
kemampuan kita untuk menghadapi bencana alam maupun buatan manusia sendiri
masih jauh dari harapan. Lemahnya kemampuan tersebut adalah sangat mendasar dan
menyangkut segala bidang. Kelemahan itu diawali dengan kurang adanya upaya
pencegahan karena ketidaktertiban kita sendiri dan lemahnya perijinan serta
penegakan aturan hukum. Organisasi kita yang kurang efektif, mulai dari tingkat
Pusat hingga Daerah. Peralatan kita yang tidak mencukupi. Keahlian personil untuk
menanggungi bencana dan menolong korbannya pun masih jauh dari harapan. Dana
pun kita sangat kekurangan apakah untuk menangani bencana itu, apalagi untuk
membangun kembali kehidupan masyarakat yang menjadi korbannya. Kekurangan
dana terjadi karena gabungan korupsi dengan keterbatasan anggaran negara yang
terasa sejak krisis ekonomi tahun 1997. Sementara itu, anggaran negara yang semakin
terbatas tersebut juga semakin banyak terserap oleh pengeluaran untuk membayar
hutang negara, mensubsidi BBM dan membelanjai pengeluaran militer untuk
memadamkan perang saudara dan teroris yang berkecamuk mulai dari Aceh, Jawa,
Bali, Kalimantan, Poso, Ambon hingga Papua. Akibatnya, porsi anggaran negara
yang tersedia bagi penanggulangan bencana menjadi semakin terbatas. Pada
gilirannya, penggunaan anggaran negara yang semakin besar bagi penanggulangan
bencana telah mengurangi penggunaan anggaran bagi keperluan lain yang lebih
penting, seperti penanggulangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan masyarakat dan
pemeliharaan serta pembangunan infrastruktur.

2. Bencana alam
Karena terletak dilempengan Australia-Asia, Indonesia sangat rawan terhadap gempa
bumi. Gesekan lempeng tersebut telah menyebabkan terjadinya tsunami di NAD dan
Nias pada bulan Desember 2004 maupun rente tan gempa setelah itu, termasuk di
Bantul pada tahun berikutnya. Sebagai negara yang memiliki gunung berapi yang

1
Keynote speech pada Seminar Nasional "Penanganan Bencana Yang Berorientasi Pad a Rakyat",
Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, Malang, 14 Maret 2007

1
terpadat didunia dalam gugusan ring of fire, yang mencakup Italia hingga Jepang,
Indonesia juga rawan pada letusan gunung berapi. Gunung Merapi di DIY meletus
setelah terjadinya gempa di Bantul pada tahun y.l. Indonesia juga rawan pada
kebakaran hutan karena memiliki hutan tropis yang merupakan salah satu yang terluas
didunia. Kebakaran hutan menjadi semakin rawan karena kurang baiknya
pengelolaannya maupun karena praktik pertanian ladang berpindah yang membakar
hutan. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan terjadi hampir setiap tahun telah
mengganggu keselamatan pelayaran di Selat Malaka maupun kesehatan penduduk di
negara-negara tetangga. Indonesia pun rawan akan banjir, apakah karena derasnya
hujan tropis, penggundulan hutan maupun pemeliharaan serapan air serta aliran
sungai yang kurang baik. Banjir semakin sering menimbulkan kerugian besar bagi
perekonomian pantai Utara pulau Jawa dan melumpuhkan kegiatan masyarakat di
DKI Jakarta.

3. Bencana karena ulah manusia


Bencana juga terjadi karena ulah manusia yang sebenarnya dapat dihindarkan.
Bencana karena ulah manusia itu terjadi karena gabungan antara tidak adanya tata
ruang dengan kelemahan law enforcement. Keadaan menjadi semakin parah dengan
maraknya korupsi, mulai dari tingkat perijinan, pembangunan serta pengadaan sarana
maupun inspeksi kelaikan operasional alat angkut serta fasilitas produksi. Hutan
bakau, yang berfungsi sebagai penahan deburan ombak, telah digantikan dengan
tambak udang dan ikan serta daerah pemukiman. Batu karang pelindung pantai
dijadikan pengeras jalan raya. Pulau di Kepulauan Riau tenggelam karena tanahnya
dijual bagi keperluan pengurukan Singapura. Keperluan akan lahan pemukiman
semakin besar karena pola hidup kita yang tinggal di single dwelling unit yang padat
lahan. Akibatnya, sawah, ladang, hutan, taman kota dan kawasan rekreasi semakin di
konversi menjadi daerah pemukiman dan usaha. Negara lain, seperti Malaysia, China
dan Singapura sudah menggunakan lahannya secara efisien dan tinggal di rumah
susun. Law enforcement kita masih sangat lemah, termasuk mengenai Aroda.
Monitoring dan supervisi ketaatan perusahaan pengusahan hutan, perkebunan,
pertambangan maupun industri pengolahan atas ketentuan yang berlaku hampir tidak
pernah dilakukan. Juga tidak di check kesediaan peralatan dan personil mereka untuk
menanggulangi bencana dan men test efektifitasnya. Peraturan mengatakan bahwa
perusahaan wajib memberikan laporannya secara periodik, setiap enam bulan, tidak

2
dilaksanakan dengan baik. Juga tidak ada alat untuk mendeteksi dan melaporkan titik
api kebakaran. Ketentuan Arodal hanya perhiasan yang tidak pernah di enforce.
Sungai dijadikan sebagai pembuangan lirnbah industri dan rumah tangga yang
merusak lingkungan dan menimbulkan penyakit bagi penggunanya.
Dalam kelompok bencana karena ulah manusia termasuk tenggelamnya kapal
ferry Senopati Nusantara karena kelebihan penumpang dan perawatan yang buruk.
Demikian pula dengan rangkaian kecelakaan kereta api dan penerbangan karena
kurangnya pemeliharaan alat angkut, buruknya inspeksi pengujian kelaikan operasi
serta landasan udara kita yang tidak memadai. Semua alat transportasi kita: pesawat
udara, kereta api dan kapallaut adalah barang rongsokan dari luar negeri. Kecelakaan
lalu lintas di jalan raya serta lintasan kereta api cukup tinggi karena buruknya
infrastruktur dan lemahnya penegakan hukum. Ditutupnya jalan toll karena lemburan
lumpur panas Lapindo di Sidoarjo menyebabkan lalu lintas Surabaya-Pandaan
menjadi rawan kecelakaan. Rel kereta api, pipa gas, aliran listrik serta prasarana
lainnya yang melintasi daerah itu menjadi rusak total tidak berfungsi. Kesalahan
manusia juga berperan pada semburan lumpur panas Lapindo tersebut karena diduga
melanggar prosedur dalam melakukan eksplorasi gas. Bencana Lapindo telah
menyebabakan lebih dari 10 ribu orang penduduk Sidoarjo menjadi pengungsi,
mematikan kehidupan perekonomian masyarakat di daerah itu dan sekaligus
melumpuhkan ekonomi Jawa Timur bagian Tengah dan Selatan.

4. Ilustrasi di sektor kehutanan dan perkebunan


llustrasi di bawah ini mengambil contoh kebakaran hutan dan perkebunan.
Kedua sektor ekonomi ini merupakan multi billion dollar industries yang seharusnya
tidak ada masalah untuk mendapatkan manajer yang mampu menjalankan roda
organisasinya, mengadakan peralatan yang cukup, melatih dan menggaji tenaga kerja
terampil serta menyediakan dana yang diperlukan. Kedua sektor ini merupakan objek
KKN yang pada masa Orde Baru sehingga mengkorupsikan dana yang dikumpulkan
untuk keperluan kebakaran hutan.

(1) Organisasi
Selain pada tingkat perusahaan pengusahaan hutan/perkebunan, ada tiga tingkat
organisasi pemerintahan yang menangani kebakaran hutan/perkebunan. Ketiga
tingkat organisasi penanggulangan kebakaran hutan/perkebunan itu adalah: (i)

3
Bakomas pada tingkat nasional; (ii) Satkorlak pada tingkat provinsi yang dipimpin
oleh gubernur (iii) dan Satlak pada tingkat kabupaten/kota yang dipimpin oleh
bupati/walikota. Ketiga tingkat organisasi pemerintahan itu mengkoordinasi 46 orang
dari berbagai instansi terkait, seperti pejabat Pemda, Kadis Perkebunan, Kehutanan,
Pertanian Tanaman Pangan, Kehewanan dan Peternakan, Pemukiman dan Prasarana
Wilayah, Energi dan SDM Perindustrian, Sosial, Pemberdayaan Perempuan,
Perhubungan dan Telkom, Informasi Daerah, maupun penegak hukum serta aparat
keamanan. Dalam realita, tidak ada perincian yang jelas akan tugas dan tanggung
jawab masing-masing instansi. Koordinasinya pun lemah dan semakin melemah
karena adanya konflik kepentingan di antara mereka. Berbeda dengan di Amerika
Serikat, gubernur dan bupati serta walikota di Indonesia, misalnya, tidak punya
otorita untuk memobilisasi seluruh tenaga maupun peralatan yang ada di daerahnya
untuk mengatasi bencana.
Koordinasi dalam suatu provinsi menjadi semakin lemah jika kabupaten dan
kota enggan dikoordinasikan oleh gubernur. Koordinasi antara provinsi yang
berdekatan juga belum seperti yang diharapkan.

(2) Peralatan
Selain tidak mencukupi, jenis peralatan pemadam kebakaranan yang dimiliki
oleh Satlah maupun Satkorlak adalah tidak memadai. Baik secara sendiri sendiri
maupun gabungan perusahaan tidak memiliki, misalnya, pesawat udara pemadam
kebakaran. Demikian juga kabupaten dan kota serta provinsi, baik secara sendiri-
sendiri rnaupun secara bersama. UPT Dephut BKSDA di Kalimantan Barat, misalnya,
hanya memiliki 240 orang personil dengan peralatan 24 unit Mobkar, 25 unit sepeda
motor, 624 unit peralatan tangan, 16 unit tenda dan 28 unit pompan jinjing. Dishutbun
Kabupaten rnemiliki 208 orang personil dengan peralatan 57 unit pompa, 186 unit
asesoris pompa dan 263 unit peralatan tangan. Satu perkebunan besar di Jawa atau
Sumatera mungkin memiliki peralatan pemadam kebakaran yang jauh lebih banyak
dan lebih canggih daripada milik kedua instansi itu. Padahal, luas Provinsi Kalbar
adalah sekitar tiga kali luas Pulau Jawa.
(3) Keterampilan dan keahlian tenaga kerja
Keterampilan teknis tidak dilatih secara periodik untuk meningkatkan
keterampilan petugas permadam kebakaran. Kekurangan latihan seperti itu terjadi
pada tingkat unit perusahaan maupun secara bersama sarna di antara sekelompok

4
perusahaan maupun latihan gabungan pada tingkat kabupaten, kota dan provinsi.
Dalam hal keuangan, tidak ada sistem akuntansi dan tidak ada tenaga yang
memahami bagaimana caranya menyusun pembukuan. Dalam kasus bencana tsunami,
Bakomas dan Menko Kesra yang menangani sehari hari tidak mendapatkan bantuan
dari BPKP baik berupa penyusunan sistem pembukuan maupun berupa tenaga kerja
yang memahami pembukuan. Justru kantor akuntan internasional (seperti
Pricewaterhouse and Coopers) yang menawarkan jasanya secara gratis untuk
menyusun sistem pembukuan bantuan internasional atas bencana tsunami itu.

5. Apa yang harus dilakukan?


(1) Kepatuhan kepada aturan perijinan, keselamatan serta tata ruang perlu
dipaksakan berlakunya (enforce) sehingga menjadi efektif untuk dapat
menghindarkan terjadinya bencana akibat dari ulah manusia;
(2) Peraturan yang berlaku untuk menanggulangi bencana perlu dilaksanakan
secara efektif;
(3) Sistem pengendalian bencana perlu difungsikan agar menjadi efektif,
organisasi, peralatan, dana dan keterampilan sumber daya manusia;
(4) Kerjasama kabupaten/kota dengan provinsi dalam menanggulangi bencana
perlu diefektifkan guna mengadakan peralatan bersama dan membiayai kegiatan
bersama pula. Demikian pula kerjasama antara kabupatan/kota/provinsi dan
negara yang berdekatan;
(5) Peralatan penanggulangan bencana perlu ditingkatkan dan disesuaikan dengan
medan daerah setempat. Pengadaan alat berat seperti mobil/kapal serta pesawat
udara pemadam kebakaran dapat dilakukan secara urunan atau patungan antar
berbagai perusahaan maupun gabungan unit pemerintahan;
(6) Latihan keterampuilan petugas penanggulangan bencana, termasuk pemadam
kebakaran, perlu ditingkatkan apakah pada tingkat perusahaan pengusahaan
hutan/perkebunan, kabupaten/kota, provinsi ataupun gabungan antar sesamanya
maupun gasbungan penggunaan berbagai jenis peralatan: pompa tangan, mobil
pemadam kebakaran, kapal pemadam kebakaran maupun pesawat udara;
(7) Secara bertahap dilakukan upaya peningkatan efisiensi penggunaan lahan,
dengan merobah pola hidup untuk tinggal di rumah susun. Dengan demikian
tekanan permintaan lahan bagi keperluan pemukiman dan komersil dapat
dikurangi.