Anda di halaman 1dari 8

Saat ingin kembali memahami akar permasalahan yang menyulut konflik berkepanjangan di

tanah Palestina, saya teringat pada satu buku terbitan 1992 yang teronggok di rak buku. Buku
berjudul “Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru” ini berisi kumpulan makalah
Diskusi Pekan Persahabatan Indonesia-Palestina yang diselenggarakan oleh BKK-KUA
Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, 13-18 Januari 1992, termasuk transkrip dan
terjemahan materi yang disampaikan para pembicara dari dalam dan luar negeri.
Dalam pengantar buku ini, M Riza Sihbudi dan Achmad Hadi selaku editor buku memaparkan
dua kepentingan AS di tanah Arab, yaitu Israel dan Minyak. Siapa pun yang menguasai Gedung
Putih, kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah harus selalu menguntungkan (minimal tidak
merugikan) Israel dan menjamin ketersediaan minyak untuk memenuhi kebutuhan minyak AS
yang super besar.
Dengan dukungan penuh Amerika ini, Israel leluasa mempertahankan politik pemukiman
emigran Yahudi, aneksasi (pencaplokan) wilayah, penindasan dan pelanggaran hak-hak asasi
bangsa lain di tanah Palestina. Dan inilah yang terjadi selama 60 terakhir (dan berpuluh-puluh
tahun ke depan): sebuah pembantaian dan penghapusan hak hidup manusia yang dilakukan
tentara-tentara Israel terhadap penduduk Palestina.
Penyerbuan Israel ke kawasan Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 500 orang lebih sejak
akhir Desember 2008 lalu hanyalah sebuah fakta yang dapat direkam secara nyata oleh generasi
kita yang hidup saat ini. Tapi dibandingkan dengan kekejaman-kekejaman yang mereka lakukan
sebelumnya, penyerbuan tersebut akan masuk ke skala normal untuk ukuran moralitas komunitas
Zionis Yahudi (penggagas berdirinya negara Israel) yang sedikitpun tidak memiliki hati nurani.
Ada beribu kasus penembakan jarak dekat, pemukulan, penyiksaan dan pembantaian yang terjadi
di sana setidaknya sejak negara Israel resmi diproklamasikan pada 14 Mei 1948. Harap maklum,
salah satu tujuan utama kaum Zionis adalah menghilangkan orang-orang Palestina,
memusnahkan dan mengusir mereka dari tanah Palestina. “They are no succinct as Palestinian.
They are all Arab,” tandas Gold Hammer pada tahun 1971. Artinya, dalam kamus orang-orang
Zionis, Palestina adalah milik Zionis. Orang yang mengaku sebagai bangsa Palestina akan
diberantas habis-habisan dan mereka akan diusir dari tanah Palestina karena mereka dianggap
sebagai bangsa Arab yang hanya layak tinggal di tanah Arab—bukan di tanah Palestina.
Untuk sekedar memaparkan satu kisah pembunuhan yang memilukan, pengalaman Maria
Mitsotakis, seorang warga AS yang sempat berziarah ke Yerussalem untuk menyalakan lilin di
Gereja Kelahiran Yesus (Church of Nativity) dalam rangka memenuhi nazar ibunya berikut bisa
dijadikan secuil gambaran nyata:
“Saya sedang berjalan di sebuah jalan di Tepi Barat, dekat sebuah gereja, meskipun saya telah
diperingatkan oleh orang-orang Palestina di situ bahwa setelah jam 6 sore tak seorang pun
dibolehkan berada di luar rumah, kecuali tentara Israel. Tiba-tiba saya melihat soerang anak laki-
laki Palestina berumur sekitar 12-13 tahun berlari keluar ke jalan dan menyemprotkan cat di
sebuah tembok untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Arab. Setelah itu, saya diberitahu
orang bahwa anak itu mencoba menuliskan kata ‘Palestina’, sebuah kata yang sangat
diharanmkan oleh tentara pendudukan Israel. Belum sempat anak itu menyelesaikan tulisannya,
muncullah dari semua arah tentara-tentara Israel yang bersenjata, dan terjadilah pengejaran
terhadap anak kecil itu, yang lari seperti seekor kijang.
Malang baginya, dari arah depan datang beberapa orang tentara yang lalu mengepungnya. Anak
itu pun mengangkat tangan dan menyerah kepada serdadu-serdadu itu, sambil tubuhnya gemetar
karena takut akan nasib yang mungkin sekali akan menimpanya. Serdadu-serdadu itu berteriak
kepadanya dalam bahasa Ibrani dan Arab. Salah seorang dari mereka mendekati anak itu dan
mengatakan sesuatu dengan suara keras kepada teman-temannya, dan seketika itu juga, dengan
tenang dan tanpa ragu-ragu dia menembak anak itu di kepalanya. Anak yang tak berdaya itu
jatuh, mukanya mengucurkan darah dan dia melolong kesakitan seperti seekor binatang yang
terluka. Kemudian beberapa orang serdadu dengan buas mulai memukulinya dengan pentungan
dan tinju secara bergiliran, sampai anak itu pingsan.
Ketika anak itu siuman, serdadu-serdadu itu memaksanya untuk berdiri dan memulai pemukulan
yang tak henti-hentinya, yang mereka lakukan dengan kemarahan dan kebencian yang luar biasa.
Anak yang terluka parah itu sekali lagi pingsan dan jatuh terkapar di tanah berlumuran darah,
sekarat. Tubuhnya yang kecil dan tak keruan lagi keadaannya itu teronggok tak bergerak untuk
jangka waktu yang lama. Hampir satu jam lamanya tak ada ambulan yang datang ke tempat itu.
Serdadu-serdadu Israel mempunyai kebijaksanaan untuk tidak mengizinkan orang-orang
Palestina yang terluka dibawa ke rumah sakit pada waktunya, dengan ahrapan agar mereka mati
karena kehabisan darah, seperti yang banyak terjadi dikarenakan pelambatan yang disengaja.”
(hal. 25-26).
Saat ini Jalur Gaza dan Tepi Barat memang tidak lagi diduduki oleh Israel dan sudah diserahkan
sepenuhnya ke warga Palestina. Tapi pencaplokan demi pencaplokan wilayah terus terjadi. Israel
masih memblokade negeri ini sehingga tidak ada satu pun pintu perdagangan dan bisnis yang
terbuka lebar. Kehidupan rakyat Palestina tak ubahnya seperti berada dalam penjara. Setiap
pasokan barang harus melalui pos penjagaan Israel. Mereka benar-benar terisolasi dan terpaksa
membangun terowongan-terowongan untuk sekedar dapat memasok makanan dan melanjutkan
hidup.
Lebih parah lagi, rakyat Palestina dikenakan banyak pajak, yang semuanya disetor dan dipegang
oleh pemerintah Israel. Bahkan hasil pemasukan dari wisata rohani ke Masjidil Aqsa juga masuk
ke kas negara Israel. Pemerintah Palestina hanya bisa mendapatkan hasil pengumpulan pajak dan
pendapatan negara lainnya dengan syarat tidak ada ketegangan di daerah perbatasan.
Politik Pecah Belah
Penyerbuan Israel ke tanah Palestina awal 2009 ini sebenarnya tidak lepas dari strategi lanjutan
Israel dalam meraih legitimasi solid atas wilayah permukiman Yahudi yang terus mereka perluas
secara bertahap–dan ditentang keras oleh Palestina.
Langkah Israel menjadi lebih efektif setelah negeri ini, dibantu oleh AS dan para sekutunya,
berhasil memecah-belah dua kekuatan utama Palestina, yaitu Fatah dan Hamas. Hamas yang
memenangi pemilu legislatif 2006 diboikot oleh para sekutu AS. Pemimpin Hamas Ismail
Haniya yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri akhirnya dipecat oleh Mahmoud Abbas
sang presiden. Hamas memang masih memegang teguh semangat perjuangan melawan
penindasan dan pencaplokan wilayah oleh Israel. Sementara Fatah pimpinan Mahmoud Abbas
lebih bersikap koorporatif dan membuka pintu dialog dengan Israel. Dan puncak perpecahan dua
kubu Palestina ini terjadi saat Hamas mengambil alih Jalur Gaza pada Juni 2007.
Serbuan Israel ke wilayah Gaza juga terkait erat dengan strategi politik yang sedang dibangun
Fatah menjelang pemilu legislatif Januari 2010. Dengan menghancurkan kekuatan fisik Hamas,
Fatah mencoba melumpuhkan kekuatan politik Hamas bahkan sebelum pemilu digelar. Upaya
memenangi pemilu legislatif ini belum termasuk upaya mengulur waktu pemilu presiden yang
sedianya diadakan awal 2009 ini, sebuah upaya yang secara terang-terangan ditolak oleh Hamas
yang mendesak Abbas mengumumkan jadwal presiden tahun ini juga.
Kekuatan Hamas
Dengan dua kekuatan yang terbelah, Israel hanya perlu menghadapi Hamas yang berjuang
sendirian. Namun sejarah membuktikan, setiap serangan Israel tidak akan bisa meredam
kekuatan Hamas, tapi justru akan semakin memperkuat organisasi ini di tingkat akar rumput.
Menlu Iran Manouchehr Mottaki memiliki istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan
kekuatan utuh Hamas. Menurutnya, upaya untuk melenyapkan Hamas tidak akan dapat dicapai
karena Hamas adalah satu bangsa dan satu bangsa tidak akan pernah dapat dimusnahkan—
kecuali jika Israel ternyata berniat lain dan memilih mencaplok kembali Gaza dan membunuh
semua orang Palestina di Gaza.
Istilah ‘Hamas dalah satu bangsa’ tidaklah berlebihan. Pasalnya, seperti ditulis Azyumardi Azra
dalam artikel “Pelastina Pascaagresi Israel” (KOMPAS, 3 Januari 2009), Hamas lebih dari
organisasi militer, tetapi sebuah organisasi yang cukup kompleks. Hamas bukan sekedar Brigade
Izz al-Din al-Qassam–sayap militernya. Hamas merupakan jaringan berbagai organisasi lain
yang mencakup asosiasi mahasiswa (Kutla Islamiyyah), lembaga-lembaga pelayanan sosial (al-
Mujamma al-Islami), Universitas Islam Gaza (al-Jami’ah al-Islamiyyah), bank Islam (bayt al-
mal), dan Partai Penyelamatan Islam Nasional. Dipimpin ulama, intelektual, dan kaum terdidik
lainnya, jaringan Hamas memberikan berbagai bentuk pelayanan sosial-ekonomi dan bantuan
hukum kepada masyarakat Palestina, khususnya yang berada di Jalur Gaza yang berpenduduk
1,2 juta jiwa.
Amunisi dan Peran Indonesia
Dalam menyikapi agresi berdarah yang dilakukan Israel terhadap Palestina, Indonesia sejak awal
selalu berada di pihak Palestina. Salah satunya diwujudkan dengan tidak mengakui Israel sebagai
negara berdaulat dan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan pemerintah Israel. Tapi di
tingkat lobi internasional, kedudukan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar
ternyata belum memberikan hasil yang gemilang. Dalam pengambilan keputusan di DK PBB
kemarin, misalnya, Indonesia dan anggota DK PBB lain gagal melahirkan resolusi baru untuk
PBB karena ditolak mentah-mentah oleh AS, penyokong kekuatan militer utama Israel, yang
memiliki hak veto.
Padahal Indonesia sejatinya punya lebih banyak amunisi untuk membela bangsa Palestina yang
tidak pernah sepi dari aksi pembantaian sistimatis oleh tentara Israel. Indonesia bisa saja
memboikot kegiatan pengilangan minyak perusahaan AS di kawasan Indonesia. Atau, minimal,
Indonesia secara permanen menempatkan pasukan perdamaian di daerah perbatasan Palestina-
Israel sebagai perisai bagi masyarakat Palestina dari setiap aksi genosida yang direncanakan
Israel di masa mendatang.
Pertanyaannya, beranikah Indonesia dan negarBASILAN (Arrahmah.com) – Sedikitnya 40
tentara kafir Philipina tewas dalam pertempuran sengit melawan mujahidin Moro di Basilan,
Selasa (9/12). Pertempuran berlangsung sejak pukul 7 pagi di Barangay Kailih, Al Barka,
Basilan. Angkatan Laut Philipina sedang gencar-gencarnya menyerang wilayah Basilan akhir-
akhir ini.
Tempat evakuasi (pengungsian) untuk warga sipil juga menjadi target serangan tentara
Philipina. 4 buah bom dihantamkan dari helicopter mereka.
4 anggota MILF syahid (Insya Allah) ditempat dan 6 lainnya luka-luka. Pertempuran baru
berhenti sore hari.
Sementara itu, rumah-rumah milik warga muslim Moro habis dibakar, hingga saat ini belum
pasti berapa jumlah rumah yang dibakar.
Ribuan warga sipil meninggalkan rumah mereka di Basilan karena takut akan serangan tentara
Philipina yang tak pandang bulu di Provinsi tersebut.
Kekejaman tentara Philipina memerangi muslim di Basilan seperti serangan dengan artileri udara
yang tak pandang bulu, pembakaran rumah adalah pelanggaran HAM yang sering diagung-
agungkan oleh mereka.
Situasi di Basilan kian hari semakin memburuk, sementara tentara Philipina terus menghantam
dengan persenjataan lengkap.
Warga sipil Moro di Basilan meminta Muslim dunia untuk menengok apa yang mereka alami di
Basilan, apa yang dilakukan oleh tentara Philipina terhadap mereka, kekejaman-kekejaman yang
terus berlangsung tanpa henti setiap harinya. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)
a-negara pecinta damai lainnya mengambil langkah strategis untuk menghentikan pembantaian
jutaan manusia oleh Israel? Jika ya, maka tidak akan ada lagi darah yang tumpah di bumi
Palestina. Tidak sekarang dan tidak untuk masa mendatang. tergabung dalam International
Women's Peace Service (IWPS). Setahun terakhir ini, dia tinggal di Tepi Barat. Berikut
penuturan Kim tentang Tembok Pembatas yang dibangun oleh Israel di Tepi Barat yang
dirancang sepanjang 650 kilometer (4x lebih besar dari Tembok Berlin). Tulisan ini dibuat oleh
Kim tentang pengalamannya saat berkunjung ke Qalqilya, salah satu daerah yang menjadi
korban Tembok Zionis.

Ketika kami tiba di pintu masuk Qalqiliya (dan ini satu-satunya pintu masuk ke kota itu), yang
tampak adalah kekacauan belaka. Mobil, truk, kereta, dan keledai, berbaris lebih dari satu
kilometer di sebelah dalam kota dan setengah kilo di sebelah kami. Salah satu sopir kami tidak
mau memasuki kawasan Mascom (pos pemeriksaan militer Israel), maka kami - berlima belas
keluar dari mobil dan berjalan mendekati pos pemeriksaan itu. Tentara yang bertugas terlihat
kaget melihat sedemikian banyak orang asing yang ingin masuk kota. Ketika dia bertanya apa
yang sedang kami lakukan, aku menjawab bahwa kami akan mengunjungi teman. Kebingungan
dan tidak tahu harus berkata apa lagi, dia mengatakan sesuatu yang sudah sering dikatakan
tentara ditempat lain kepadaku, "Di sana sangat berbahaya."
Mohammed, guide kami, telah mengatur kunjungan ke kantor walikota. Walikota memberikan
penjelasan selama 45 menit mengenai efek tembok terhadap kota. Sangat mengejutkan melihat
foto-foto kota sebelum tembok dibangun dan setelah dibangun, kerusakan datang karena tembok
itu. Foto-foto itu dipampang berdampingan. Di sebuah foto tampak (bekas) pintu masuk utama
Qalqilya : jalan yang bersih, dinaungi pohon-pohon, dan deretan toko-toko yang terawat. Di
sebelahnya, foto setelah kerusakan, jalan itu tidak lagi dikenali, tidak ada pohon, tak ada
rumput, yang ada hanya rombengan kaleng, kaca pecah, dan kayu, tak ada satu gedung pun
yang berdiri, semua dihancurkan dalam satu malam.

Foto ini mengingatkanku pada foto bencana alam paling buruk di Australia, Badai Tracy, yang
menghancurkan kota Darwin pada tahun 1974. Hanya saja, kerusakan yang direkan di foto ini
tidak alami, kerusakan ini buatan tangan, disengaja, dan hasil dari intimidasi.

Foto yang lain memperlihatkan lahan pertanian yang hijau dan subur. Foto disebelahnya
menunjukan kondisi lahan itu saat ini : gersang, rusak, menakutkan, dan tidak lagi mampu
untuk mempertahankan hidup. Tembok itu telah menghancurkan perekonomian kota ini. Banyak
lahan pertanian yang dijarah, termasuk 15 dari 39 sumur yang ada di kota itu. Pengangguran
sekarang meningkat hingga 65% dari populasi.

Setelah meninggalkan kantor walikota, kami menaiki taksi dan Mohammed membawa kami ke
tembok itu.

---

Menurut Undang-Undang Israel (diadopsi sejak era Mandat Inggris), jika orang-orang
Palestina tidak mendatangi tanahnya selama 3 tahun, maka tanah itu akan menjadi milik
negara. Undang-Undang ini berlaku tanpa peduli, bahwa alasan si pemilik tanah tidak
mendatangi tanahnya itu adalah karena tentara Israel membangun tembok, pagar listrik, atau
kawat berduri untuk mengalangi si pemilik tanah mendatangi tanahnya; mereka juga menolak
permohonan izin berulang-ulang yang disampaikan si pemilik tanah.

Mohammed kemudia membawa kami mendatangi bagian lain tembok. Salah satu area tembok
itu telah menjadi 'terkenal', minimalnya disini, di Palestina. Bagian tembok itu segera kukenali
dari berbagai poster anti Tembok Pemisah di rumah kami, dan di tempat lain. Pada tembok
didepanku, tertulis banyak grafitti protes dalam bahasa Spanyol, Inggris, dan lain-lain. Salah
satu tulisan di grafitti itu berbunyi, "Welcom to the Jewish Shame" atau "the New Wailing
Wall."

Saat aku berjalan naik ke arah tembok, membaca grafitti itu dan menyentuh tembok, kemarahan
muncul dalam diriku dan aku ingin menangis, tapi kutahan. Mohammed bercerita bagaiman
sekolah putri di dekat tembok itu secara berkala menjadi sasaran tentara Israel. Dari menara
besar di tembok itu, dekat sekolah, tentara Israel secara berkala menembakkan gas air mata,
memaksa anak-anak perempuan itu meninggalkan kelas mereka, dan sekolah ditutup pada hari
itu juga.

Permberhentian terakhir kami adalah lokas bekas pintu masuk utama kota Qalqilya. Seperti
kusebutkan tadi, kamu sudah melihat foto dari lokasi ini di kantor walikot: sebelumnya bersih
dan ramah, namun kini, dihadapanku, yang ada hanyalah terbengkalai, berdebu, dan gersang.

---

Kunjunganku ke Qalqilya sangatlah berat. Aku pernah melihat tembok itu, tapi kunjunganku ke
Qalqilya memberika pengaruh besar ke hatiku; dampak dan kerusakan akibat tembok itu
sedemikian membekas di hatiku sehingga aku harus berjuang menahan air mata beberapa kali.
Berkali-kali, aku harus berjalan menjauhi teman-temanku dan mengambil nafas panjang. Aku
tidak mau menangis di depan Mohammed atau orang Palestina lain yang menemani kami.
Karena sebagai orang asing, kami bisa datang dan pergi; kami bisa pulang kapan saja. Tapi
bagi orang Palestina, ini adalah kenyataan yang harus mereka hadapi tiap hari. Betapapun
mengerikannya realitas ini, aku tahu, yang dibutuhkan orang-orang Palestina adalah
solidaritas, bukan air mataku.

Diringkas dari Blog Pribadi Kim Bullimore.


Dari buku Ahmadinejad On Palestine.
Prev: Konser As i Lay Dying, Keren, Tapi Black List Buat Promotornya.

tergabung dalam International Women's Peace Service (IWPS). Setahun terakhir ini, dia
tinggal di Tepi Barat. Berikut penuturan Kim tentang Tembok Pembatas yang dibangun oleh
Israel di Tepi Barat yang dirancang sepanjang 650 kilometer (4x lebih besar dari Tembok
Berlin). Tulisan ini dibuat oleh Kim tentang pengalamannya saat berkunjung ke Qalqilya, salah
satu daerah yang menjadi korban Tembok Zionis.

Ketika kami tiba di pintu masuk Qalqiliya (dan ini satu-satunya pintu masuk ke kota itu), yang
tampak adalah kekacauan belaka. Mobil, truk, kereta, dan keledai, berbaris lebih dari satu
kilometer di sebelah dalam kota dan setengah kilo di sebelah kami. Salah satu sopir kami tidak
mau memasuki kawasan Mascom (pos pemeriksaan militer Israel), maka kami - berlima belas
keluar dari mobil dan berjalan mendekati pos pemeriksaan itu. Tentara yang bertugas terlihat
kaget melihat sedemikian banyak orang asing yang ingin masuk kota. Ketika dia bertanya apa
yang sedang kami lakukan, aku menjawab bahwa kami akan mengunjungi teman. Kebingungan
dan tidak tahu harus berkata apa lagi, dia mengatakan sesuatu yang sudah sering dikatakan
tentara ditempat lain kepadaku, "Di sana sangat berbahaya."

Mohammed, guide kami, telah mengatur kunjungan ke kantor walikota. Walikota memberikan
penjelasan selama 45 menit mengenai efek tembok terhadap kota. Sangat mengejutkan melihat
foto-foto kota sebelum tembok dibangun dan setelah dibangun, kerusakan datang karena tembok
itu. Foto-foto itu dipampang berdampingan. Di sebuah foto tampak (bekas) pintu masuk utama
Qalqilya : jalan yang bersih, dinaungi pohon-pohon, dan deretan toko-toko yang terawat. Di
sebelahnya, foto setelah kerusakan, jalan itu tidak lagi dikenali, tidak ada pohon, tak ada
rumput, yang ada hanya rombengan kaleng, kaca pecah, dan kayu, tak ada satu gedung pun
yang berdiri, semua dihancurkan dalam satu malam.

Foto ini mengingatkanku pada foto bencana alam paling buruk di Australia, Badai Tracy, yang
menghancurkan kota Darwin pada tahun 1974. Hanya saja, kerusakan yang direkan di foto ini
tidak alami, kerusakan ini buatan tangan, disengaja, dan hasil dari intimidasi.

Foto yang lain memperlihatkan lahan pertanian yang hijau dan subur. Foto disebelahnya
menunjukan kondisi lahan itu saat ini : gersang, rusak, menakutkan, dan tidak lagi mampu
untuk mempertahankan hidup. Tembok itu telah menghancurkan perekonomian kota ini. Banyak
lahan pertanian yang dijarah, termasuk 15 dari 39 sumur yang ada di kota itu. Pengangguran
sekarang meningkat hingga 65% dari populasi.

Setelah meninggalkan kantor walikota, kami menaiki taksi dan Mohammed membawa kami ke
tembok itu.

---

Menurut Undang-Undang Israel (diadopsi sejak era Mandat Inggris), jika orang-orang
Palestina tidak mendatangi tanahnya selama 3 tahun, maka tanah itu akan menjadi milik
negara. Undang-Undang ini berlaku tanpa peduli, bahwa alasan si pemilik tanah tidak
mendatangi tanahnya itu adalah karena tentara Israel membangun tembok, pagar listrik, atau
kawat berduri untuk mengalangi si pemilik tanah mendatangi tanahnya; mereka juga menolak
permohonan izin berulang-ulang yang disampaikan si pemilik tanah.

Mohammed kemudia membawa kami mendatangi bagian lain tembok. Salah satu area tembok
itu telah menjadi 'terkenal', minimalnya disini, di Palestina. Bagian tembok itu segera kukenali
dari berbagai poster anti Tembok Pemisah di rumah kami, dan di tempat lain. Pada tembok
didepanku, tertulis banyak grafitti protes dalam bahasa Spanyol, Inggris, dan lain-lain. Salah
satu tulisan di grafitti itu berbunyi, "Welcom to the Jewish Shame" atau "the New Wailing
Wall."

Saat aku berjalan naik ke arah tembok, membaca grafitti itu dan menyentuh tembok, kemarahan
muncul dalam diriku dan aku ingin menangis, tapi kutahan. Mohammed bercerita bagaiman
sekolah putri di dekat tembok itu secara berkala menjadi sasaran tentara Israel. Dari menara
besar di tembok itu, dekat sekolah, tentara Israel secara berkala menembakkan gas air mata,
memaksa anak-anak perempuan itu meninggalkan kelas mereka, dan sekolah ditutup pada hari
itu juga.

Permberhentian terakhir kami adalah lokas bekas pintu masuk utama kota Qalqilya. Seperti
kusebutkan tadi, kamu sudah melihat foto dari lokasi ini di kantor walikot: sebelumnya bersih
dan ramah, namun kini, dihadapanku, yang ada hanyalah terbengkalai, berdebu, dan gersang.

---

Kunjunganku ke Qalqilya sangatlah berat. Aku pernah melihat tembok itu, tapi kunjunganku ke
Qalqilya memberika pengaruh besar ke hatiku; dampak dan kerusakan akibat tembok itu
sedemikian membekas di hatiku sehingga aku harus berjuang menahan air mata beberapa kali.
Berkali-kali, aku harus berjalan menjauhi teman-temanku dan mengambil nafas panjang. Aku
tidak mau menangis di depan Mohammed atau orang Palestina lain yang menemani kami.
Karena sebagai orang asing, kami bisa datang dan pergi; kami bisa pulang kapan saja. Tapi
bagi orang Palestina, ini adalah kenyataan yang harus mereka hadapi tiap hari. Betapapun
mengerikannya realitas ini, aku tahu, yang dibutuhkan orang-orang Palestina adalah
solidaritas, bukan air mataku.

Diringkas dari Blog Pribadi Kim Bullimore.


Dari buku Ahmadinejad On Palestine.
Prev: Konser As i Lay Dying, Keren, Tapi Black List Buat Promotornya.