Anda di halaman 1dari 2

Rasm al-Qur'an

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ilmu Al-Qur'an

Rasm Al-Qur’an atau adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan Mushaf Al-
Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun
bentuk-bentuk huruf yang digunakan. Rasimul Qur’an dikenal juga dengan sebutan
Rasm Al-Utsmani, Khalifah Usman bin Affan memerintahkan untuk membuat sebuah
mushaf Al-Imam, dan membakar semua mushaf selain mushaf Al-Imam ini karena pada
zaman Usman bin Affan kekuasaaan Islam telah tersebar meliputi daerah-daerah selain
Arab yang memiliki sosio-kultur berbeda. Hal ini menyebabkan percampuran kultur antar
daerah. Sehingga ditakutkan budaya arab murni termasuk didalamnya lahjah dan cara
bacaan menjadi rusak atau bahkan hilang tergilas budaya dari daerah lainnya. Implikasi
yang paling ditakutkan adalah rusaknya budaya oral arab akan menyebabkan banyak
perbedaan dalam membaca Al-Qur’an.

Hukum dan Kedudukan Rasm Al-Qur’an


Jumbur ulama berpendapat bahwa pola rams Utsmani bersifat dengan alasan bahwa para
penulis wahyu adalah sahabat-sahabat yang ditunjuk dan dipercayai Nabi saw. Pola
penulisan tersebut bukan merupakan ijtihad para sahabat Nabi, dan para sahabat tidak
mungkin melakukan kesepakatan (ijma) dalam hal-hal yang bertentangan dengan
kehendak dan restu Nabi [1] Terdapat sekelompok ulama berpendapat lain, bahwa pola
penulisan didalam rams Ustmani tidak bersifat taufiqi, tetapi hanya ijtihad para sahabat.
Tidak pernah ditemukan riyawat Nabi mengenai ketentuan pola penulisan wahyu.
Bahkan sebuah riwayat Nabi mengenai ketentuan pola penulisan wahyu. Bahkan sebuah
riwayat dikutip oleh Rajab Farjani : “Sesungguhnya Rasulullah saw, memerintahkan
menulis Al-Qur’an, tetapi tidak memberikan petunjuk teknis penulisannya, dan tidak pula
melarang menulisnya dengan pola-pola tertentu.

Kekeliruan dalam penulisan


Mengenai mushaf Utsamani, walaupun sejak awal telah dilakukan evaluasi ulang, ketika
dilakukan tauhid al-Mashahif, ternyata tidak luput dari kekeliruan dan inkosistensi. Hal
demikian terjadi karena pada masa dilakukannya tauhid al-Mashahif, kaum muslimin
belum begitu mengenal dengan baik seni khath dan cara penulisan (usluh al-Kitabah).
Bahkan mereka beluim mengenal tulisan, kecuali beberapa orang saja. Adanya kekeliruan
(lahn) ini, diakui oleh Ustman sendiri. Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa setelah
mereka menyelesaikan naskh Al-Mahsahif, mereka membawa sebuah mushaf kepada
Utsman, kemudian beliau melihatnya dan mengatakan : “Sungguh kalian telah
melakukan hal yang baik. Didalamnya aku melihat ada kekeliruan (lahn) yang lanjutnya
Utsman mengatakan : “Seandainya yang mengimlakan dan Hudzail dan yang menulis
dari tsaqif, tentu ini tidak akan terjadi diatasnya.

Waktu akan diluruskan oleh (kemampuan) bahasa “mereka sepanjang sejarah tidak
dilakukan. Disini terdapat hikmah. Karena bila dilakukan, justru oleh tangan-tangan ahli
kebatilan yang mengatasnamakan istilah atas kekeliruan, atau dijadikan mainan para
pengekor hawa nafsu. Oleh karena itu pula, seperti diatas, Ali bin Abi Thalib A.S
mengatakan. “Sejak ini Al-Qur’an tidak dapat dirubah apapun. [2]

Referensi
1. ^ Shihab, Quraish Muhammad dkk. Sejarah dan Ulumul Al-Qur’an, Jakarta :
Pustaka Firdaus. 2000, hal 19
2. ^ Subhi ash-Shalih, Mabâhits fî `Ulûm Al-Qur`an (Beirut:Dâr al`Ilmi li al-
Malâyîn, 1977)