Anda di halaman 1dari 57

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan

sumber belajar kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan

agar siswa dapat mengalami perubahan pada dirinya (Hamalik 1983: 21)

belajar merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri

seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat

pengalaman dan latihan.

Di sekolah seorang guru berperan sangat penting untuk dapat

meningkatkan aktivitas belajar siswa agar dapat mencapai tujuan yang

diharapkan.

Saat pembelajaran bahasa Indonesia yang didominasi dengan metode

ceramah ternyata aktivitas tidak muncul secara maksimal karena Pembelajaran

berpusat pada guru (Sardiman 2004 : 95) pada prinsipnya belajar merupakan

berbuat atau melakukan. Berbuat untuk mengubah tingkah laku. Tidak

dikatakan belajar apabila di dalamnya tidak terdapat aktivitas. Oleh sebab itu

aktivitas merupakan suatu prinsip atau asas yang sangat penting di dalam

interaksi belajar mengajar. Rendahnya hasil belajar siswa di SD No 15 Inpres

1
2

Lalang Tedong Kabupaten Maros pada pelajaran Bahasa Indonesia masih ada

anak yang nilainya masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal ideal yaitu

75, hal itu diduga disebabkan kurangnya aktivitas dan perhatian siswa pada

mata pelajaran di sekolah khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada

saat pembelajaran berlangsung siswa kurang terlibat pikir atau dengan kata lain

siswa cenderung pasif, prestasi belajar anak sangat ditentukan oleh aktivitas

belajar anak itu sendiri. Katagori aktivitas digunakan pedoman menurut

Memes (2001: 36 ). Bila nilai aktivitas siswa < 75,6 maka dikatagorikan aktif,

bila 59, 4 < nilai aktifitas < 75,6 maka dikatagorikan cukup aktif bila nilai

aktivitas < 59, 4 dikatagorikan kurang aktif.

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan, dengan menerapkan

suatu metode pembelajaran yaitu melalui Teams Games Tournaments (TGT).

Metode ini dapat melatih pola pikir siswa karena dihadapkan dengan

permasalahan-permasalahan kemudian dituntut untuk menyelesaikan

permasalahan tersebut. Selain itu dapat melatih kerja sama siswa di dalam

kelompok dan melatih tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan.

Dengan demikian metode ini diharapkan siswa terbisa terlibat dan aktif

mengikuti pembelajaran sehingga aktifitas siswa meningkat dan berujung pada

peningkatan hasil belajar (Slameto, 1991: 2) belajar merupakan proses usaha

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku


3

yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dan interaksi

dengan lingkungan. Belajar diharapkan dapat mempengaruhi daya pikir

seseorang yang berujung pada perubahan tingkah laku untuk memantapkan

penguasaan konsep suatu materi diperlukan suatu metode pembelajaran yang

baik.

Nana Sudjana (1992: 19) menyatakan “mengajar adalah membimbing

kegiatan siswa belajar, mengajar adalah mengatur dan mengorganisasikan

lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan

menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar”.

Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin mengetahui peningkatan

prestasi dan aktivitas belajar melalui Teams Games Tournaments (TGT) siswa

kelas V di SD No. 15 Inpres Lalang Tedong Kabupaten Maros dan

pertimbangan biaya dan kemudahan akomodasi. Selain itu, pula, di tempat

tersebut belum ada yang mengangkat masalah tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka

rumusan masalah yang diajukan adalah ”Apakah dengan penerapan Team

Games Tournaments (TGT) dapat meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar

siswa pada kelas V SD Inpres No 15 Lalang Tedong ?”


4

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan

Team Games Tournament (TGT) dalam meningkatkan prestasi dan

aktivitas belajar siswa pada kelas V SD Inpres Lalang Tedong Kabupaten

Maros.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :

a. Dapat memberikan suatu masukan pada pengajaran bahasa dan

sastra Indonesia, khususnya model pembelajaran tipe Teams

Games Tournamenet (TGT) di SD No. 15 Inpres Lalang Tedong

Kabupaten Maros;

b. Memberikan sumbangan pikiran terhadap guru-guru mata

pelajaran bahasa Indonesia di SD tentang cara penyusunan materi

bagi pembelajaran/ pengajaran Bahasa Indonesia.

c. Memberikan masukan dalam rangka peningkatan kemampuan

kreativitas guru-guru bahasa Indonesia di SD No. 15 Inpres

Lalang Tedong Kabupaten Maros dalam mengajarkan bahasa

indonesia dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif

melalui Teams Games Turnaments (TGT)


5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan pustaka

1. Pengertian belajar

Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat

tafsirannya tentang ”belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu

berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa

perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang

mengajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalaui

pengalaman.(Hamalik, 1983).

Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu

kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat,

akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu

penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.(Hamalik, 1983).

Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lain tentang belajar,

yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan; belajar

adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.

5
6

Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar,

yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku

individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Hamalik, 2008)

Dibandingkan dengan pengertian pertama, maka jelas, tujuan belajar itu

prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha

pencapainnya. Pengertian ini menitikberatkan pada interaksi antara individu

dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman

belajar.

Pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan sebagainya yang

dimiliki seseorang tidak dapat diidentifikasi, karena ini merupakan

kecenderungan perilaku saja. Hal ini dapat diidentifikasi bahkan dapat diukur

dari penampilan (behavior performance). Penampilan ini dapat berupa

kemampuan menjelaskan, menyebutkan sesuatu, atau melakukan suatu

perbuatan. Jadi, kita dapat mengidentifikasi hasil belajar melalui penampilan.

Namun demikian, individu dapat dikatakan telah menjalani proses belajar,

meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam kecenderungan perilaku.

De Cocco & Crawford (dalam Hamalik, 2008).

Menurut Kimble & Garmezy (dalam Hamalik, 2008), sifat perubahan

perilaku dalam belajar relatif permanen. Dengan demikian hasil belajar dapat

diidentifikasi dari adanya kemampuan melakukan sesuatu secara permanen,


7

dapat berulang-ulang dengan hasil yang sama. Kita membedakan antara

perubahan perilaku hasil belajar dengan terjadi secara kebetulan. Orang yang

secara kebetulan dapat melakukan seasuatu, tentu tidak dapat menghalangi

perbuatan itu dengan hasil yang sama. Sedangkan orang dapat melakukan

sesuatu karena hasil belajar dapat melakukannya secara berulang-ulang dengan

hasil yang sama.

2. Aktifitas belajar

Aktifitas belajar yang dimaksud adalah seluruh aktivitas siswa dalam

proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Kegiatan fisik

berupa ketrampilan-ketrampilan dasar sedangkan kegiatan psikis berupa

ketrampilan terintegrasi. Ketrampilan dasar yaitu mengobservasi,

mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan dan

mengkomunikasikan. Sedangkan ketrampilan terintegrasi terdiri dari

mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam

bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan dan

mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan

variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan

eksperimen. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak

ada aktivitas. Itulah mengapa aktifitas merupakan prinsip yang sangat penting
8

dalam interaksi belajar mengajar (Sardiman, 2004). Dalam aktifitas belajar ada

beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yaitu pandangan

ilmu jiwa lama dan modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama, aktifitas

didominasi oleh guru sedangkan menurut pandangan ilmu jiwa modern,

aktifitas didominasi oleh siswa. Paul B. Diedrich (dalam Nasution, 2000)

membuat suatu daftar kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan

sebagai berikut.

1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya seperti membaca,


memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan.
2. Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat mengadakan wawancara, diskusi,
interupsi.
3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian,
percakapan, diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket,
menyalin.
5. Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta,
diagram.
6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan
percobaan, membuat konsstruksi, model mereparasi, bermain,
berkebun, beternak.
7. Mental activities, sebagai contoh misalnya: mengingat, memecahkan
soal, menganalisis, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, seperti minat, merasa bosan, berani, tenang,
gugup, gembira, bersemangat. Tentu saja kegiatan itu tidak terpisah
satu sama lain. Dalam suatu kegiatan motoris terkandung kegiatan
mental dan disertai oleh perasaan tertentu. Dalam tiap pelajaran
dapat dilakukan bermacam-macam kegiatan (Nasution, 2000).
9

3. Pembelajaran Teams Games Turnaments (TGT)

TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan

siswa dalam kelompok–kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6

orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras

yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok

mereka masing–masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada

setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama–sama dengan

anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak

mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain

bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum

mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.

Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah

menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik.

Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja–meja turnamen,

dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan

wakil dari kelompoknya masing–masing. Dalam setiap meja permainan

diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama.

Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi

kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap

peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai
10

yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap peserta

dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok

diperoleh dengan menjumlahkan skor–skor yang diperoleh anggota suatu

kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor

kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa sertifikat

dengan mencantumkan predikat tertentu.

Menurut Slavin (dalam Yasa, 2008) pembelajaran kooperatif tipe TGT

terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu: tahap penyajian kelas (class

precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (gemes),

pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok ( team

recognition). Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model

pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri–ciri sebagai berikut.

1) Siswa bekerja dalam kelompok–kelompok kecil

Siswa ditempatkan dalam kelompok–kelompok belajar yang

beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin,

dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota

kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar

siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang

dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa
11

kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat

menyenangkan.

2) Games tournament

Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari

kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing–masing

ditempatkan dalam meja–meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5

sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal

dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap

peserta homogen. Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan

permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu–kartu

soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga

soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan

dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja

menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian.

Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi

nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan

membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain.

Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai

dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk
12

mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya

yang akan ditanggapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca

soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain

yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban

benar.

Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja.

Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal

habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap

peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal,

pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali

dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama

sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.

Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal

dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan

jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain

dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan

berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan.

Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan

poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya

setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang
13

diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang

diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian

menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

3) Penghargaan kelompok

Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah

menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok

dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing–

masing anggota kelompok dibagi dengan dibagi dengan banyaknya anggota

kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata–rata poin yang didapat

oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing–

masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh

seperti ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 1. Perhitungan Poin Permainan untuk Empat Pemain

Poin Bila Jumlah Kartu yang


Pemain dengan
Diperoleh
Top Score 40
High Middle Score 30
Low Middle Score 20
Low Score 10

Tabel 2 Perhitungan Poin Permainan untuk Tiga Pemain


Pemain dengan Poin Bila Jumlah Kartu yang
14

Diperoleh
Top Score 60
High Middle Score 40
Low Score 20
Sumber : Slavin dalam Yasa, 2008

Top Scorer (skor tertinggi), High Middle scorer (skor tinggi), Low

Middle Scorer (skor sedang), Low Scorer (skor terendah).

Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada

beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu :

a) Mengajar (teach)

Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan,

tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.

b) Belajar kelompok (team study)

Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang

dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras/ suku yang berbeda.

Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok

berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk

memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi

jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.

c) Permainan (game tournament)


15

Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing–masing

kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui

apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan–

pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan

dalam kegiatan kelompok.

d) Penghargaan kelompok (team recognition)

Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang

diperoleh oleh kelompok dari permainan. Lembar penghargaan dicetak dalam

kertas HVS, dimana penghargaan ini akan diberikan kepada tim yang

memenuhi kategori rerata poin sebagai berikut.

Tabel 3 Kriteria Penghargaan Kelompok

Kriteria (rerata kelompok) Predikat


30 sampai 39 Tim kurang baik
40 sampai 44 Tim baik
45 sampai 49 Tim baik sekali
50 ke atas Tim istimewa
Sumber Slavin dalam Yasa, 2008

4. Pengertian hasil belajar

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang

melalui penguatan (reinfarcemen), sehingga terjadi perubahan yang bersifat

permanen dan persistem pada dirinya sebagai hasil pengalaman, demikian


16

pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari

aliran bahavioural approach (Dwitaqma, 2008:1).

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan

akumulatif, mengarah pada kesempatan, misalnya dari tidak mampu menjadi

mampu, dan tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek

pengetahuan (coqnitive domain), aspek afektif (afektive domain). Hal tersebut

sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Winkel (1996:244) bahwa “dalam

taksonomi Bloom, aspek belajar yang harus diukur keberhasilannya adalah

aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sehingga dapat menggambarkan

tingkah laku menyeluruh sebagai hasil belajar siswa?”.

Pencapaian hasil belajar dapat diukur dengan melihat prestasi belajar

yang diperoleh pada proses pembelajaran. Tingkah laku sebagai hasil belajar

juga tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk

interaksi belajar lainnya. Menurut Sudjana (1992 : 3) bahwa hasil belajar

adalah “tingkah laku yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program

belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Hasil

belajar dalam hal ini, meliputi wawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Hasil belajar dan prestasi belajar ibarat dari sisi mata uang yang tidak

dapat dipisahkan. Oleh Karena itu, berbicara hasil belajar maka orientasinya

adalah berbicara prestasi belajar yang diukur dengan nilai tertentu.


17

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa hasil belajar adalah perubahan yang dicapai seorang pelajar setelah

mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang

diharapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Berdasarkan hal tersebut, maka hasil yang dimaksudkan adalah prestasi

belajar yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian,

tujuan pembelajaran dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh

siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini sebagaimana

dikemukakan oleh Nasution (2000: 61) bahwa “hasil belajar siswa dirumuskan

sebagai standar kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik

dan merupakan komponen dari tujuan umum bidang studi”.

5. Fungsi hasil belajar

Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dijadikan indikator untuk

mengikuti tingkat kemampuan, kesanggupan, penguasaan tentang materi

belajar. Sehingga hasil belajar dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari

tujuan evaluasi itu sendiri. Di dalam pengertian tentang evaluasi pendidikan

ialah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di

mana kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan kurikuler.


18

Di samping hasil belajar yang digunakan oleh guru-guru dan para

pengawas pendidik untuk mengukur dan menilai sampai di mana keefektifan

pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar dan metode-

metode mengajar yang digunakan. Dengan demikian, dapat dikatakan betapa

penting peranan dan fungsi hasil belajar dalam pendidikan dan pengajaran

dikelompokkan menjadi empat fungsi yaitu :

1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan

siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama

jangka waktu tertentu. Hasil belajar dapat diperoleh itu selanjutnya

dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi

formatif) dan atau untuk mengisi rapor atau Surat Keterangan Hasil

Ujian Nasional, yang berbarti pula untuk menentukan kenaikan kelas

atau lulus tidak hanya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan

tertentu (fungsi sumatif).

2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.

Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen

yang saling berkaitan satu sama lainnya.

3. Untuk keperluan bimbingan dan konseling (BK). Hasil-hasil yang

telah dilaksanakan terhadapa siswanya dapat dijadikan informasi

atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah.


19

4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah

yang bersangkutan.

Adapun menurut Winkel (1996: 483-484) bahwa hasil belajar dapat

digunakan untuk :

1. Mendapatkan informasi tentang masing-masing siswa, sampai

sejauh mana mereka telah mencapai tujuan-tujuan intruksional.

Hasil belajar pada tahap evaluasi formatif merupakan bahan untuk

memonitor kemajuan siswa menyangkut pencapaian tujuan

intruksional untuk unit pelajaran tertentu, pada tahap evaluasi

sumatif dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk

menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam beberapa tujuan

instruksional yang diuji bersama-sama.

2. Mendapatkan informasi tentang suatu kelompok siswa sampai

berapa jauh kelompok siswa mengenai tujuan-tujuan instruksional,

misalnya satu satuan kelas di bidang studi Bahasa Indonesia.

Informasi ini diperoleh dengan menerapkan evaluasi formatif dan

evaluasi sumatif. Hasil evaluasi tersebut juga bersifat diganostik

yaitu membantu menentukan faktor kesulitan dan kesukaran yang

masih dialami siswa dalam mencapai tujuan instruksional tertentu,

dimana faktor tersebut mungkin terdapat pada pribadi siswa dan


20

mungkin juga terletak dalam model proses belajar mengajar itu

sendiri.

6. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar

Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku

subyek belajar ternyata banyak faktor yang mempengaruhi dari sekian banyak

yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar, menurur Sardiman (2004:

49) bahwa secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor interen (dari

dalam) dan faktor eksteren (dari luar) diri subyek belajar. Hal ini, sama

dikemukakan oleh Abdurahman (1993: 114) bahwa “hasil belajar secara

pokok dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal .

Faktor internal terdapat pada diri siswa itu sendiri, yang meliputi faktor

fisiologis dan faktor psikologi. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi

yang berada di luar siswa yang terdiri atas faktor keluarga atau rumah tangga,

faktor sekolah dan faktor lingkungan masyarakat.

Menurut Abdurrahman (1993: 114) bahwa

Faktor fisiologis-biologis yang berpengaruh terhadap hasil belajar


siswa, antara lain:
a. bentuk atau postur tubuh,
b. kesegaran dan kebugaran,
c. kesehatan atau keutuhan tubuh,
d. instink, refleks dan driff (dorongan),
e. komposisi zat cair tubuh, dan
f. rentang dan susunan saraf.
21

Adapun faktor psikologis, antara lain :


a. kemampuan kognitif (pengenalan) berupa pengamatan, tanggapan,
ingatan, assosiasi/ reproduksi, fantasi dan intelegensi,
b. kematangan emosi (perasaan berupa kematangan emosi biologis dan
emosi rohani,
c. kekuatan konasi (kemauan), dan dorongan kombinasi berupa minat,
perhatian, dan sugesti.

Lebih lanjut Abdurrahman (1993: 115)

Faktor-faktor yang berkaitan dengan keluarga dan lingkungan, antara


lain:
a. suasana kehidupan dalam keluarga,
b. kondisi sosial ekonomi,
c. perhatian orang tua terhadap pelajaran anaknya,
d. pemberian motivasi dan dorongan untuk belajar,
e. fasilitas belajar.
Faktor sekolah berkaitan dengan
a. pengelolaan kelas dan sekolah,
b. hubungan antara guru dan siswa, antara siswa dan antara siswa
dengan guru,
c. pelaksanaan bimbingan konseling,
d. fasilitas dan sumber belajar,
e. penetapan dan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh
guru,
f. kondisi ruangan dan tempat belajar, dan
g. kerjasama orang tua dengan guru dan sekolah dengan masyarakat.
Sedangkan faktor ligkungan masyarakat berkaitan dengan
h. perhatian dan kepedulian lembaga-lembaga masyarakat akan
pendidikan,
i. keteladanan para pemimpin formal dan informal,
j. peranan media massa, dan
k. bentuk kehidupan masyarakat.

7. Prinsip-prinsip pengembangan hasil belajar


22

Pengembangan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan cara

mengemas pelajaran dan suasana menantang, merangsang dan menggugah

daya cipta siswa untuk menemukan dan mengesankan. Gagne dalam Mulyasa

(2007: 111) menambahkan bahwa ”Jika seorang siswa dihadapkan pada suatu

masalah pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah

memegang peranan penting dalam pemgembangan siswa.”

Menurut Abdurrahman (1993 : 189-110) bahwa “beberapa prinsip yang

dapat digunakan dalam mengembangkan hasil belajar antara lain:

1. Prinsip motivasi

Prinsip motivasi dimaksudkan untuk merangsan daya dorong pribadi

siswa melakukan sesuatu (motivasi intrinsil dan motivasi ekstrinsik). Untuk

motivasi instrinsik, gairahkanlah perasaan ingin tahu anak, keinginan mencoba

dan hasrta untuk lebih memajukan hasil belajar.

2. Prinsip latar atau konteks;

Siswa akan terangsang mempelajari sesuatu jika mengetahui adanya

hubungan langsung pada hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya. Guru

hendaknya mengetahui apa kira-kira pengetahuan, keterampilan, sikap, dan

pengalaman yang sudah dimiliki peserta didi. Dengan pengetahuan latar ini,

guru dapat mengembangkan kemampuan dan hasil belajar siswa.


23

3. Prinsip sosialisasi;

Kegiatan belajar bersama dala kelompok perlu dikembangkan di

kalangan siswa, karena hasil belajar akan lebih baik. Pengelompokan peserta

idik dapat dilakukan dengan pendekatan kemampuan, tempat tinggal, jenis

kelamin, dan minat. Setiap kelompok diberi tugas yang berbeda dari sumber

yang sama.

4. Prinsip belajar sambil bermain.

Bekerja merupakan tuntutan menyatakan diri untuk berprestasi pada

diri anak, karena itu berilah kesempatan mengembangkan kemampuan dan

hasil belajarnya melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar sambil

bermain.

B. Kerangka Pikir

Dalam proses belajar mengajar akan lebih baik bila siswa secara aktif

terlibat dalam proses penemuan pertalian-pertalian atau hubungan dari

informasi yang diperoleh. Dengan adanya aktivitas belajar ini akan

menghasilkan kemampuan belajar dan peningkatan pengetahuan. Proses

belajar tidak mungkin akan berhasil tanpa adanya aktivitas belajar itu sendiri.
24

Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip yang penting dalam interaksi

belajar mengajar.

Minat erat sekali hubungannya dengan suka atau tidak suka, tertarik

atau tidak tertarik dan senang atau tidak senang. Minat tidak tercetus dengan

sendirinya, tetapi sesuatu yang terwujud disebabkan oleh pengaruh-pengaruh

tertentu seperti penguasaan terhadap materi pelajaran. Perasaan senang akan

menimbulkan minat, yang diperkuat lagi oleh sikap yang positif. Yang jelas

perasaan tidak senang akan menghambat dalam belajar, karena tidak

melahirkan sikap positif dan tidak menunjang minat belajar siswa. Penyebab

turunnya minat belajar siswa antara lain karena kurangnya motivasi dalam diri

siswa itu sendiri. Turunnya minat belajar ini akan berdampak negatif pada

hasil belajar, karena sesuatu yang dilakukan tanpa dilandasi niat, kemauan dan

usaha yang keras hanya akan sia-sia dan memberikan hasil yang tidak
Proses Belajar
Mengajar
maksimal. Dengan demikian, motivasi dan aktivitas belajar siswa menentukan

tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran.


Teams Games
Tournaments

Motivasi Belajar Aktivitas Belajar

Sikap Pengetahuan

Temuan
25

Gambar 1 Skema kerangka penelitian

C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka rumusan hipotesis dalam

penelitian ini adalah Ada peningkatan antara aktivitas belajar dan minat siswa

dalam pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) secara bersama-sama

terhadap hasil belajar bahasa indonesia.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SD No 15 Inpres Lalang Tedong

Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros

B. Variabel dan Desain Penelitian


26

1. Variabel penelitian

Dalam penelitian ini, variabel yang diambil adalah Variabel terikat,

yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Touernament

(TGT).Variabel bebas, yaitu aktivitas belajar siswa kelas V SD No 15 Inpres

Lalang Tedong Kabupate Maros dan minat siswa kelas V SD No 15 Inpres

Lalang Tedong Kabupaten Maros.

2. Desain penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action

research).

Terdapat beberapa macam model PTK. Namun yang akan dipilih dala

penelitian ini adalah model Kemmis dan MC Taggart, model ini terdiri dari

empat komponen dalam satu siklus, yaitu (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3)

Obervasi, (4) Refleksi. Empat komponen tersebut dilaksanakan secara


26
berurutan dalam dua siklus. Daur penelitian tindakan kelas ditujukan sebagai

perbaikan atau hasil refleksi terhadap tindakan sebelumnya yang dianggap

belum berhasil. Secara skematik desain PTK dapat dilihat pada gambar berikut

ini.
Perencanaan

Refleksi Tindakan

Observasi
27

Gambar 2 Skema Penelitian tindakan kelas dalam satu siklus

C. Definisi Operasional Variabel

Untuk memperjelas hasil penelitian ini, maka perlu dikemukakan

definisi operasional variabel yang berkaitan dengan judul penelitian.

Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas siswa dalam proses belajar,

mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis.

Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang

beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis

kelamin dan suku atau ras yang berbeda.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi
28

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah

Dasar Nomor 15 Inpres Lalang Tedong Kabupaten Maros berjumlah 41 orang

dimana laki-laki berjumlah 16 orang dan perempuan berjumlah 25 orang.

2. Sampel

Karena populasi kurang dari 100 orang maka populasi tersebut

dijadikan sampel keseluruhan. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto

(2002: 70) bahwa: ”Apabila subjeknya kurang dari 100 orang, lebih baik

diambil semua. Sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi. Selanjutnya

jika jumlah sujeknya di atas 100 orang dapat diambil antara 10%-15% atau

20%-25%. Jadi, dalam pengampilan sampel dilakukan secara sampel populasi

karena hal ini populasi yang diteliti kurang dari 100 orang. Selain siswa, guru

juga dijadikan sampel karena teknik pengumpulan datanya adalah tes,

observasi, dan angket

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui beberapa teknik

sebagai berikut:

1. Tes

Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan

butir soal sehingga dapat diseleksi atau revisi. Tes adalah serentetan atau
29

latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, sikap,

intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok

(Rianto, 1996:83). Tes dibuat untuk mengukur sejauh mana siswa dapat

memahami atau mengerti materi yang diajarkan oleh guru. Sebelumnya perlu

dilakukan analisis butir soal dari soal pada tes tersebut. Pemberian tes

dilakukan setelah akhir pokok bahasan pecahan. Dalam penelitian ini, tes

digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar bahasa Indonesia.

2. Angket

Angket adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa daftar

pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.

Jenis angket yang dipergunakan adalah jenis angket tertutup. Angket tertutup

merupakan angket yang menghendaki jawaban pendek atau jawabannya

diberikan dengan membubuhkan tanda tertentu. Daftar pertanyaan disusun

dengan disertai alternatif jawaban, responden diminta untuk memilih salah satu

jawaban dari alternatif jawaban yang tersedia (Rianto, 1996).

Dalam penelitian ini angket dibuat untuk mengukur minat siswa dalam

pembelajaran kooperatif tipe TGT. Menurut Rianto (1996:73) prosedur

penyusunan instrumen yang berupa angket secara operasional dapat diuraikan

sebagai berikut.
30

1) Merumuskan tujuan yang akan dicapai melalui kuesioner (angket).

2) Setelah tujuan dirumuskan, tetapkan variabel-variabel yang akan

diangkat dalam penelitian.

3) Dari variabel-variabel yang telah ditetapkan, jabarkan indikator-

indikator variabelnya.

4) Dari indikator variabel tersebut, jabarkan ke dalam deskriptor-

deskriptor yang selanjutnya dirumuskan dalam item pertanyaan.

Angket ini diberikan kepada siswa setelah pembelajaran

dilakukan/setelah dikenai kondisi buatan. Teknik ini digunakan

untuk mengambil data tentang minat siswa dalam pembelajaran

kooperatif tipe TGT terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia.

3. Observasi

Tentang hasil belajar siswa dan keaktifan siswa selama mengikuti

kegiatan belajar mengajar. Observasi terhadap aktivitas kelas yang

berhubungan dengan perilaku siswa maupun guru. Observasi merupakan


31

teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek

penelitian. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi langsung, dalam

artian mengadakan pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala subyek

yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi sebenarnya

maupun dilakukan dalam situasi buatan yang khusus diadakan. Petunjuk yang

bersifat umum yang mendasari pelaksanaan obervasi menurut Winarno

Surachmad dalam Rianto (1996:78) adalah sebagai berikut.

1. Lebih dahulu harus ditetapkan bahwa metode observasi merupakan


metode yang tepat untuk tujuan penelitian.
2. Bila observasi ini merupakan teknik yang tepat, kita harus mulai
merinci segala unsur data misal sifatnya, banyaknya dan unsur-unsur
lain yang mungkin penting dalam penelitian.
3. Bila telah jelas jenis dan jumlah data yang harus dikumpulkan dan
penggunaannya, maka perlu dipikirkan bagaimana cara kita
mencatat dan menyusun data tersebut.
4. Apabila dalam poin ke-3, ternyata membutuhkan alat-alat pembantu
data, maka alat-alat tersebut harus disediakan.
5. Kini tibalah saatnya untuk mengadakan observasi guna
pengumpulan data.

Petunjuk yang dikemukakan di atas memang tampak mengacu kepada

petunjuk prosedur umum dalam observasi. Sedangkan menurut Rummel dalam

Rianto (1996:78), petunjuk dalam menggunakan metode observasi adalah

sebagai berikut.
32

1. Memperoleh dahulu pengetahuan tentang apa yang akan diobservasi.

2. Menyelidiki tujuan-tujuan umum atau khusus dari masalah-masalah


penelitian untuk menentukan apa yang harus diobservasi.

3. Membuat suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi.

4. Mengadakan batasan yang tegas mengenai macam-macam tingkat


yang akan digunakan.

5. Mempertimbangkan observasi secara cermat dan kritis.

Lembar observasi dilakukan dengan menggunakan check list. Check

list atau daftar cek terdiri dari daftar item yang berisi faktor-faktor yang

diselidiki. Jenis alat ini mensistematisasi dan memudahkan perekaman hasil

observasi. Lembar observasi ini digunakan untuk mengukur aktivitas belajar

siswa.

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Siklus I

1. Tahap Perencanaan (planning)

1) Guru membuat Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP)

sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

2) Membuat bahan evaluasi berdasarkan materi yang diajarkan.


33

3) Selain perangkat pembelajaran juga disiapkan instrumen

penelitian berupa lembar observasi dan tes hasil belajar.

2. Tahap tindakan (acting)

Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar sesuai

dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah disiapkan.

Adapun hal yang dilakukan pada saat pelaksanaan tindakan adalah

implementasi rencana yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam penelitian ini

yang dimaksud adalah pelaksanaan langkah-langkah proses pembelajaran yang

telah disusun pada rencana perbaikan pembelajaran.

3. Tahap observasi (observation)

Untuk melihat penampilan guru dan pengaruhnya terhadap aktivitas

siswa selama proses belajar mengajar, maka peneliti mengamati lembar

observasi yang suda disiapkan.

Pelaksanaan tindakan, dilakukan pencatatan dengan menggunakan

daftar observasi untuk memudahkan pelaksanaannya. Observator mengamati

kegiatan yang berlangsung sambil mengisi daftar observasi yang telah

disiapkan.

Adapun hal-hal yang dicatat selama berlangsungnya kegiatan

observasi adalah keaktifan siswa meliputi kerjasama, partisipasi, kejujuran.


34

Sedangkan observasi untuk guru adala segala perubahan tindakan/ perilaku

guru saat terjadi proses belajar mengajar yang meliputi memotivasi siswa,

menyampaikan tujuan, peguasaan materi, dan pemberian umpan balik.

4. Tahap refleksi (reflection)

Guru dan peneliti berdiskusi untuk melihat keberhasilan dan

kegagalan yang telah terjadi setelah proses belajar mengajar dalam selang

waktu tertentu. Hasil sebagai masukan guru dan observatori untuk membuat

perencanaan siklus berikutnya. Untuk memperaiki kelemahan-kelemahan

siklus I, maka disepakati bersama observatori untuk merevisi rencana

perbaikan pemelajaran siklus II. Revisi dilakukan metode pendekatan proses

dan mengoptimalkan motivasi siswa serta perbaikan umpan balik.

Siklus II

1. Perencanaan (planning)

Rencana tindakan untuk siklus II masih menggunakan tahap kegiatan

seperti pada siklus I, namun diberikan penekanan untuk perbaikan terhadap

kekurangan berdasarkan hasil refleksi dan penemuan penelitian siklus I,

rencana tindakan perbaikan dilaksanakan pada siklus II.


35

2. Pelaksaaan tindakan (actioan)

Fokus utama dalam siklus II dibandingkan siklus sebelumnya adalah

mengupayakan semaksimal mungkin bagaimana siswa menjawab soal-soal

pertanyaan yang berkaitan dengan materi.

3. Tahap observasi (observation)

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ternyata paa siklus kedua ini

menunjukkan kreativitas belajar dengan kegiatan sangat baik pada seluruh

aktivitas yang diamati. Selanjutnya tindakan/ perilaku guru memperlihatkan

perubahan yang signifikan setelah rencana perbaikan pembelajaran direvisi.

Seluruh aspek yang diamati dalam proses belajar mengajar dengan kualitas

yang baik.

4. Refleksi (reflection)

Pada akhir siklus dilakukan refleksi hal-hal yang diperoleh baik dari

hasil observasi maupun hasil tes. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada

siklus I akan diperbaiki pada siklus selanjutnya. Siklus II dilakukan dengan

mangacu pada prosedur kegiatan yang sama pada siklus I yang meliputi

perencanaan, tindakan, osbservasi, dan refleksi. Hanya saja, pada siklus II

seluruh perencanaan dan pengambilan tindakan mengacu pada upaya peraikan

terhadap kekurangan-kekurangan yang diperoleh pada siklus I guna mencapai

hasil yang diharapkan.


36

Alur pelaksanaan penelitian sebagai berikut.

Perencanaan

Perencanaan Pelaksanaan
Observasi
tindakan I Tindakan I

Refleksi

Pelaksanaan Perencanaan
Hasil
Tindakan II Tindakan II

Observasi Refleksi Observasi

Hasil

Gambar 3 Alur Penilaian Tindakan Kelas

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik

deskriptif, yang terdiri dari rata-rata nilai maksimal dan minimum yang

diperoleh siswa pada setiap siklus untuk analisis kuantitatif, yang digunakan

teknik kategorisasi yang dikemukakan oleh Suherman (1990 : 272) sebagai

berikut:

a. Tingkat penguasaan 85 % - 100% sangat tinggi

b. Tingkat penguasaan 75% - 84% tinggi


37

c. Tingkat penguasaan 55 % - 74% sedang, cukup

d. Tingkat penguasaan 40 % - 74% rendah

e. Tingkat penguasaan 0 % - 40 % jelek, sangat rendah

Untuk analisis deskriptif, rumus yang digunakan sebagai berikut :

Keterangan :

Me = Mean

f = Frekuensi

x = Nilai perolehan siswa

N = Jumlah siswa
38

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Aktifitas siswa

Data kualitatif merupakan data sikap siswa kelas V SD Inpres No. 15

Lalang Tedong Kabupaten Maros dalam mengikuti Teams Games and

Tournaments (TGT) yang diperoleh dari lembar observasi. Lembar observasi

dalam Teams Games and Tournaments (TGT) terdiri dari dua, yaitu lembar

observasi siklus I dan lembar observasi siklus II. Lembar observasi siklus I,

merupakan gambaran sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran tiap

pertemuan pada siklus I. Sedang lembar observasi siklus II merupakan

gambaran sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran tiap pertemuan

pada siklus II. Berikut hasil analisis sikap siswa selama mengikuti proses

pembelajaran siklus I dan II.

38
39

Tabel 4. Hasil Aktifitas Siswa pada Siklus I dan Siklus II

Frekuensi Persentase
No Aktifitas Siklus Siklus Siklus Siklus
I II I II
1 Mendengarkan Penjelasan Guru 30 38 73,17 92,68
2 Membaca Materi Ajar 39 40 95,12 97,56
3 Mengerjakan Soal 38 41 92,68 100
Melakukan Keterampilan
4 33 36 80,48 87,80
Kooperatif
Mempresentasikan Hasil Kerja
5 30 38 73,17 92,68
Kelompok
Sumber : Hasil Observasi, 2010

Dari tabel 4 di atas diketahui bahwa pada siklus I frekuensi siswa yang

mendengar penjelasan guru sebanyak 30 orang dengan persentase 73,17% dan

setelah siklus II, siswa yang mendengarkan penjelasan guru sebanyak 38 orang

dengan persentase 97,56%, kemudian siswa yang membaca materi ajar pada

siklus frekuensinya adalah 39 orang dengan persentase 92,68% dan setelah

siklus II, siswa yang membaca materi ajar meningkat frekuensinya menjadi 40

orang dengan frekuensi 97,56%, selain itu pada siklus I pula siswa yang

mengerjakan soal frekuensinya sebanyak 38 orang dengan persentase 92,68%

dan pada siklus II terjadi perubahan tingkat siswa yang mengerjakan soal

frekuensinya yaitu 41orang dengan persentase 100%, seluruh siswa yang hadir

ternyata telah menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Dan yang lebih penting

lagi adalah pada siklus I siswa yang melakukan keterampilan kooperatif atau

kerja kelompok frekuensinya sebanyak 33 orang dengan persentase 80,48%


40

dan seteralah siklus II frekuensinya menjadi 36 orang dengan persentase

87,80%. Dan siswa yang mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya

pada siklus I frekuensinya hanya 30 orang dengan persentase 73,17% dan pada

siklus II frekuensinya adalah 38 orang dengan persentase 92,68%. Siswa yang

mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya hanya selisih 8 orang.

Kurangnya siswa yang mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya

dibandingkan dengan siswa yang mampu melakukan kegiatan kooperatif atau

kerjasa kelompok, hal ini karena siswa masih kurang percaya diri untuk tampil

di depan teman-temannya, dan siswa masih kurang mengerti tentang siswa

penilaian bahwa yang tampil mempresentasikan hasil kerja kelompoknya akan

mendapat nilai yang lebih dari temannya yang tidak mempresentasikannya,

walaupun sebelumnya siswa telah diberikan petunjuk dan pemberitahuan

tentang proses penilaian. Hal lain, yang membuat siswa kurang termotivasi

adalah tidak adanya pemberian motivasi penuh kepada peserta didik tentang

sistem penilaian di kelas sehingga pada siklus I ini memang masih dalam

kategori pemberian motivasi. Namun pada siklus II sudah menunjukkan angka

yang signifikan, dimana siswa sudah mulai aktif belajar dan termotivasi

dengan metode pembelajaran.

Jika tabel 4 di atas dibuatkan grafik maka dapat ditunjukkan sebagai

berikut.
41

Gambar 4. Grafik Aktifitas Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II

Dari grafik tersebut dapat diketahui dengan jelas perbandingan

perubahan aktifitas siswa pada sikus I dan siklus II, dimana pada siklus I siswa

belum terlalu mendengarkan penjelasan guru, kurang mengerjakan tugas guru,

belum terlalu membaca bahan ajar, belum terlalu aktif bekerja sama dalam

kelompok, dan belum terlalu berani mempresentasikan hasil kerja

kelompoknya.

2. Hasil tes siklus I

Proses belajar mengajar dimulai dengan perkenalan oleh guru dengan

siswa. Siklus I dilakukan dua kali pertemuan proses belajar mengajar, dan tes

akhir siklus I pada pertemuan ketiga. Khusus untuk pertemuan pertama semua

siswa hadir, dan begitu pun pada pertemuan kedua semua siswa yang hadir
42

berjumlah 41 orang sebagai subjek atau sampel. Pertemuan ketiga yang

merupakan tes akhir siklus I semua siswa menjadi sampel hadir. Tes akhir ini

bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yang

telah diberikan, adapun skor hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 5

berikut.

Tabel 5 Frekuensi Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus I

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid 30,00 2 4,9 4,9 4,9
40,00 4 9,8 9,8 14,6
50,00 1 2,4 2,4 17,1
60,00 13 31,7 31,7 48,8
70,00 16 39,0 39,0 87,8
80,00 5 12,2 12,2 100,0
Total 41 100,0 100,0
Sumber : Hasil Perolehan SPSS 15.0, 2010

Dari tabel 5 di atas diketahui bahwa frekuensi yang mendapatkan skor

30 adalah 3 orang dengan persentase 4,9%, yang mendapatkan skor 40

frekuensinya adalah 4 orang dengan persentase 9,8%, yang mendapatkan skor

50 frekuensinya adalah 1 orang dengan persentase 2,4%, yang mendapatkan

skor 60 frekuensinya adalah 13 orang dengan persentase 31,7%, yang

mendapatkan skor 70 frekuensinya adalah 16 dengan persentase 39%, yang

mendapatkan skor 80 frekuensinya adalah 5 orang dengan persentase 12,2%.


43

Apabila data tersebut di statistikkan maka hasilnya seperti yang ditunjukkan

oleh tabel berikut.

Tabel 6. Statistik Prestasi Belajar Melalui Teams Games Turnaments pada tes
akhir siklus I

Statistik Nilai Statistik


Subjek Penelitian 41
Mean 62,69
Median 70
Modus 70
Standar Deviasi 13,04
Rentang Nilai 50
Nilai Tertinggi 80
Nilai Terendah 30
Sumber : Hasil Penelitian, 2010
Dari tabel di atas menunjukkan nilai mean yang diperoleh adala 62,69,

nilai median yang diperoleh adalah 70, nilai modus yang diperoleh adalah 70,

nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 13,04, nilai rentang yang diperoleh

adalah 50 nilai tertinggi yang diperoleh adalah 80 dan nilai terendah yang

diperoleh adalah 30.

Jika skor penguasaan siswa pada tabel 6 di atas, dikelompokkan ke

dalam lima kategori maka diperoleh distribusi frekuensi skor seperti yang

ditujukkan pada tabel 7 berikut.

Tabel 7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Prestasi Belajar melalui Teams


Games Turnaments pada tes akhir siklus I

Interval Kategori Frekuensi Persentase (%)


44

0 – 39 Sangat Rendah 2 4,9


40 – 54 Rendah 5 12,2
55 – 74 Sedang 29 70,7
75 – 84 Tinggi 5 12,2
85 – 100 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 41 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 7 di atas diperoleh bahwa dari 41 siswa kela V SD

Inpres No. 15 Lalang Tedong, Kabupaten Maros. Pada kategori sangan rendah

sebanyak 2 orang dengan persentase 4,9%, yang masuk kategori rendah

sebanyak 5 orang dengan persentase 12,2%, yang masuk kategori sedang

sebanyak 29 orang dengan persentase 70,7%, dan yang masuk kategori tinggi

sebanyak 5 orang dengan persentase 0%. Pada siklus I ini jumlah siswa yang

mempunyai kategori sedang yang paling dominan, oleh karena itu keberhasilan

siklus ini hampir mencapai skor nilai yang diharapkan.

Dari tabel 6 dan 7 dapat disimpulkan bahwa rata-rata siklus I berada

pada kategori rendah.

Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel

berikut.

Tabel 8 Deskripsi Ketuntasan Prestasi Belajar Siswa pada Siklus IV pada


Siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 – 59 Tidak Tuntas 7 17,1
60 – 100 Tuntas 34 82,9
45

Dari tabel 8 di atas menunjukkan bahwa 17,1% siswa termasuk dalam

kategori tidak tuntas dengan frekuensi tidak tuntas sebanyak 7 orang dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode TGT dan 82,9% siswa dalam

kategori tuntas dengan frekuensi 34 orang pada pembelajaran bahasa indonesia

dengan tema kegiatan. Hal ini berarti masih ada siswa sebanyak 7 orang yang

memerlukan perbaikan secara individual.

3. Hasil tes siklus II

Setelah melihat hasil tes akhir siklus I, maka semua yang ada pada

siklus I dilakukan perbaikan pada proses tindakan siklus II. Proses belajar

mengajar pada sikus II dilakukan selama dua kali pertmuan dan pertemuan

ketiga diadakan tes akhir. Hasil tes akhir siklus II dapat dilihat pada tabel 8

berikut.

Tabel 9. Frekuensi Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus II


Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid 70,00 6 14,6 14,6 14,6
80,00 10 24,4 24,4 39,0
90,00 23 56,1 56,1 95,1
100,00 2 4,9 4,9 100,0
Total 41 100,0 100,0
46

Dari tabel 9 di atas menunjukkan bahwa frekuensi skor hasil belajar

siswa pada siklus II sudah mengalami peningkatan, ditunjukkan bahwa siswa

yang mendapatkan skor 70 sebanyak 6 orang dengan persentase 14,6%, yang

mendapatkan skor 80 sebanyak 10 orang dengan persentase 24,4%, yang

mendapatkan skor 90 sebanyak 23 orang dengan persentase 56,1%, yang

mendapatkan skor 100 sebanyak 4,9% dari 100%. Jika data tersebut di

statistikkan akan diperoleh seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 10. Statistik Prestasi Belajar Melalui Teams Games Turnaments pada
tes akhir siklus II

Statistik Nilai Statistik


Subjek Penelitian 41
Mean 85,12
Median 90
Modus 90
Standar Deviasi 8,10
Rentang Nilai 30
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 70
Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Jika skor penguasaan siswa tabel 10 di atas, dikelompokkan ke dalam

lima kategori maka diperoleh distribusi frekuensi skor seperti yang ditunjukkan

pada tabel 11 berikut.

Tabel 11. Distribusi Frekuensi dan Persentase Prestasi Belajar Membaca Siswa
Kelas V SD Inpres No. 15 Lalang Tedong, Kab. Maros Siklus II
47

Interval Kategori Frekuensi Persentase (%)


0 – 39 Sangat Rendah 0 0
40 – 54 Rendah 0 0
55 – 74 Sedang 6 14,6
75 – 84 Tinggi 10 24,4
85 – 100 Sangat Tinggi 25 61
Jumlah 41 100

Berdasarkan tabel 11 di atas diperoleh bahwa dari 41 siswa kelas V SD

Inpres No 15 Lalang Tedong, Kabupaten Maros, terdapat 0% yang hasil

belajarnya masuk kategori sangat rendah, 0% yang masuk dalam kategori

rendah, 14,6% yang masuk dalam kategori sedang dengan frekuensi 6 orang,

24,4% yang masuk kategori tinggi dengan frekuensi 10 orang dan 61% yang

masuk dalam kategori sangat tinggi dengan frekuensi 25 orang.

Dari tabel 10 dan 11 dapat disimpulkan bahwa rata-rata siklus II berada

pada kategori tinggi.

Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada

tabel berikut.

Tabel 12. Deskripsi Ketuntasan Prestasi Belajar Siswa Kelas V pada Siklus II

Interval Kategori Frekuensi Persentase (%)


0 – 59 Tidak Tuntas 0 0
60 – 100 Tuntas 41 100
48

Dari tabel 12 di atas menunjukkan bahwa 0 siswa termasuk dalam

kategori tidak tuntas dalam pembelajaran dan 41 siswa dalam kategori tuntas

atau tuntas 100% dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan

Teams Games and Tournaments (TGT).

Untuk melihat secara jelas perubahan yang terjadi setelah penerapan

Teams Games and Tournaments (TGT) dalam meningkatkan hasil belajar dari

siklus I hingga siklus II. Perhatikan tabel 11 berikut.

Tabel 13. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar Membaca Siswa
Kelas V Siklus I dan siklus II
Frekuensi Persentase (%)
Interval Kategori
Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
0 – 39 Sangat Rendah 2 0 4,9 0
40 – 54 Rendah 5 0 12,2 0
55 – 74 Sedang 29 6 70,7 14,6
75 – 84 Tinggi 5 10 12,2 24,4
85 – 100 Sangat Tinggi 0 25 0 61
Jumlah 41 41 100 100
Tabel 13 di atas menunjukkan bahwa terjadi perubahan hasil belajar

siswa dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I frekuensi skor hasil belajar siswa

berada pada kategori sangat rendah yaitu 2 dengan persentase 4,9%. Kemudian

pada siklus II terlihat bahwa skor hasil belajar siswa meningkat menjadi

kategori sedang dengan frekuensi 14,6 dengan frekuensi 6 orang dan

persentase 61% yang berada pada kategori tinggi dengan frekuensi 25 orang
49

dan persentase 24,4% berada pada kategori tinggi dengan frekuensi 10 orang,

dan kategori sangat rendah dan rendah sudah tidak ada lagi. Hal ini terbukti

bahwa setelah menerapkan Teams Games and Tournaments (TGT) dapat

meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Inpres No. 15 Lalang Tedong

Kabupaten Maros. Secara jelas dapat diperhatikan pada grafik berikut ini

kategori yang terjadi pada siklus I dan siklus II.

Gambar 5. Grafik Kategori Siklus I dan Siklus II

Dari grafik di atas sudah sangat jelas menunjukkan perbandingan

prestasi belajar siklus I dan siklus II dalam setiap kategori, dimana pada sikus I

siswa mendapatkan hasil dengan kategori sangat tinggi, namun pada siklus II

grafik telah menunjukkan adanya siswa yang telah mencapai kategori sangat

tinggi bahkan sudah ada lagi siswa yang mencapai kategori rendah dan sangat

rendah.
50

Berikut ini ditunjukkan secara grafik prestasi belajar siswa melalui TGT

(Teams Games and Tournaments).

Gambar 6. Grafik Statistik prestasi belajar siklus I dan Siklus II

Pada grafik di atas jelas sekali bahwa begitu besar perubahan yang

terjadi pada siklus I ke siklus prestasi belajar siswa dengan menggunakan

metode Teams Games and Tournaments (TGT). Nilai terendah (minimum)

yang diperoleh pada siklus I yaitu 30 dan pada siklus II menjadi 70, nilai

terendah (maksimum) pada siklus I diperoleh 80 dan pada siklus II menjadi

100. Begitupun standar deviasinya pada siklus I 13,04 naik menjadi 8,09,

mengapa standar deviasinya dikatakan naik karena menurut Arikunto, jika

standar deviasnya turun maka prestasi belajar semakin baik.

B. Pembahasan
51

Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan tes sikus I melalui

Teams Games and Tournaments (TGT) adalah rata-rata yang diperoleh adalah

62,68 dengan nilai tertinggi 80 dan yang terendah 30 serta mediannya 70 dari

skor ideal 100, berada pada kategori sangat rendah yaitu dengan frekuensi 2

dengan persentase 4,9% standar deviasinya 13,04. Hal ini disebabkan karena

kurangnya motivasi belajar sehingga siswa tidak tertarik dengan pembelajaran

yang diberikan. Melalui Teams Games and Tournaments (TGT) siswa

ditekankan pada pembelajaran secara berkelompok, namun dalam siklus I

siswa belum dapat bekerja seefisien mungkin, dalam berkelompok masih

banyak siswa yang memonopoli tugas yang diberikan dan yang lain hanya

cerita dan tidak membantu temannya. Siswa belum mengetahui apa arti dalam

bekerja sama dalam kelompok. Oleh karena itu dalam siklus I ini guru lebih

banyak membimbing dan mengarahkan siswa.

Faktor lain yang menyebabkan belum maksimalnya hasil belajar siswa

pada siklus I, dikarenakan masih banyak siswa yang melakukan aktifitas yang

tidak relevan dengan pembelajaran diantaranyaa: tidak memperhatikan

penjelasan guru, mengobrol dengan teman, mengerjakan tugas lain, bersikap

seadanya dalam melakukan kegiatan. Meskipun jumlah siswa yang melakukan

kegiatan tersebut tidak terlalu signifikan dan masih terkategori ditoleransi,

namun tetap harus menjai perhatian karena jika dibiarkan tanpa tindakan
52

korektif akan mengakibatkan orientasi belajar siswa terganggu, sehingga

tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai.

Pada siklus II tidak jauh beda dengan siklus I. Siklus II keaktifan siswa

sudah nampak, dorongan dan minat siswa dalam belajar sudah dapat terlihat

dari keaktifannya bertanya, bekerja sama dalam kelompok dan hasil

belajarnya. Tes pada siklus II ini menunjukkan nilai yang lebih baik dari siklus

I yaitu dengan rata-rata 85,16, nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70, median

90 serta standar deviasi 8,09, persentase yang diperoleh yaitu 61% berada pada

kategori sangat tinggi. Dalam pendekatan struktural aktifitas siswa dalam

kelompok sudah baik, pasangan-pasangan bekerja baik, laporan lembar kerja

siswa sudah merupakan hasil diskusi kelompok. Dari pembahasan di atas kita

dapat memperhatikan grafik ketuntasan berikut.


53

Gambar 7. Grafik Ketuntasan Siklus I dan Siklus II

Dari grafik di atas, menunjukkan bahwa pada siklus I masih terdapat

siswa yang tidak tuntas belajar bahasa indonesianya yaitu sebesar 17,1% dan

siswa yang tuntas sebesar 82,9%, pada siklus II sudah tidak ada siswa yang

tidak tuntas bahkan siswa telah berhasil menuntaskan pembelajaran bahasa

indonesia dengan TGT.


54

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, maka penulis dapat mengemukakan beberapa

kesimpulan sebagai berikut.

1. Melalui metode Pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT)

terjadi peningkatan prestasi belajar di SD Inpres No 15 Lalang

Tedong Kabupate Maros, Tes pada siklus II ini menunjukkan nilai

yang lebih baik dari siklus I yaitu dengan rata-rata 85,16, nilai

tertinggi 100 dan nilai terendah 70, median 90 serta standar deviasi

8,09, persentase yang diperoleh yaitu 61% berada pada kategori

sangat tinggi

2. Melalui metode pembelajaran Teams Games and Tournaments

(TGT) ini terjadi perubahan sikap atau aktifitas belajar siswa di SD

Inpres No. 15 Lalang Tedong, Kabupaten Maros, Dalam pendekatan

struktural aktifitas siswa dalam kelompok sudah baik, pasangan-

pasangan bekerja baik, laporan lembar kerja siswa sudah merupakan

hasil diskusi kelompok.


55

B. Saran
54
Dari kesimpulan di atas maka peneliti dapat mengemukakan beberapa

saran sebagai berikut.

1. Menetapkan metode Teams Games Tournaments untuk meningkatkan

hasil belajar membaca pemahaman siswa dalam pembelajaran bahasa

indonesia.

2. Dalam kegiatan pembelajaran guru hendaknya memberikan situasi

yang bervariasi sehingga tidak menyebabkan kejenuhan bagi siswa.

3. Diharapkan para peneliti dibidang pendidikan, agar dapat melakukan

penelitian lebih lanjut tentang metode Teams Games Tournaments

dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran bahasa

Indonesia.
56

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, 1993. Pengelolahan Pengajaran. Ujung Pandang : PT. Bintang


Selatan.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Dwitaqama, D, 2008. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (online).

Kemis dan MC.Targgart. 1992, The Action Research Planne Victoria: Deaken
University

Hamalik,Oemar.1983, Metode Belajar dan Kesuitan Belajar. Tarsito:Bandung.

Memes. 2001, Penilaian hasil belajar, Pusat Antara Universitas


Pengembangan Aktivitas Instruksional Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional:Jakarta

Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution. 2000. Metode Research. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Rianto, Yatim. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan Suatu Tinjauan


Dasar. Surabaya: SIC Surabaya.

Sardiman, 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja


Grasindo.

Slameto. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana. 1992. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Yasa, Doantara. 2008. Pembelajaran Koopertatif tipe Teams Games


Tournaments (TGT). http://ipotes.wordpress.com/2008/05/11/
pembelajaran-kooperatif -tipe-teams-games-tournaments-tgt/.
57

Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.

56