Anda di halaman 1dari 11

Biologi Konservasi merupakan bagian dari ilmu biologi dengan latar multi

disiplin ilmu yang bertujuan mempelajari permasalahan di bidang keragaman


hayati serta bagaimana memecahkan permasalahan tersebut. Tujuan utama
biologi konservasi adalah untuk memelihara tiga aspek penting kehidupan
bumi : 1) keragaman hayati yang terdapat dalam system kehidupan
(keragaman hayati); 2) komposisi, struktur, dan fungsi system tersebut
(keutuhan ekologi); dan 3) kemampuan aspek-aspek tersebut dalam
menyesuaikan seiring waktu) kesehatan ekologi (Callicott et al, 1999).
Trombulak et al (2004) mengemukakan bahwa biologi konservasi bertujuan
untuk melindungi dan melestarikan :

1. Keragaman biologi: keragaman biologi adalah berbagai organisme pada


semua tingkatan organisasi, termasuk gen, spesies, level taksonomi yang
lebih tinggi, dan berbagai habitat dan ekosistem.

2. Keutuhan ekologi: keutuhan ekologi adalah tingkat di mana sekumpulan


organism menjaga keutuhan komposisinya, strukturnya, dan fungsi seiring
waktu relative dibandingkan sekumpulan lainnya yang belum terganggu
oleh aktivitas manusia.

3. Kesehatan ekologi: kesehatan ekologi adalah ukuran relative kondisi suatu


ekosistem berkaitan dengan kemampuannya menghadapi stress dan
menjaga organisasi dan kemampuan mengatur diri sendiri seiring waktu.

Nilai penting keragaman hayati, keutuhan ekologi dan kesehatan ekologi.

Konservasi alam dipertimbangkan penting atas dasar tiga alasan: 1) nilai


intrinsik; 2) nilai instrumental / ekonomis; 3) nilai psikologis (emosional,
spiritual). Nilai intrinsic adalah nilai-nilai alami itu sendiri terlepas dari
kegunaannya bagi manusia. Nilai instrumental adalah nilai alam berdasarkan
kegunaannya bagi manusia, biasanya diukur dalam nilai ekonomis dan
jasanya. Sedangkan nilai psikologis adalah nilai alam dalam bentuk kontribusi
alam bagi psikologis manusia (esmosional, spiritual, dan estetik).

Konsep dasar pemahaman keragaman hayati, keutuhan dan kesehatan ekologi


Pemahaman akan pentingnya komponen alam yang perlu dipertimbangkan
untuk dalam upaya konservasi berdasar pemahaman berbagai konsep kunci
biologis, termasuk taksonomi, ekologi, genetic, geografi, dan biologi evolusi.
Komponen kunci tersebut adalah: hirarki taksonomi, hirarki ekologis,
keragaman genetic, konsep spesies, pertumbuhan populasi, distribusi spesies,
komunitas dan ekosistem, stokastik (stokastik adalah kemungkinan suatu
individu di alam dapat bertahan hidup dari satu periode ke periode lain), dan
kepunahan (hilangnya garis evolusi suatu spesies).
Ancaman terhadap keragaman hayati, keutuhan ekologi, dan kesehatan
ekologi

Alam terus menerus menghadapi berbagai ancaman dari manusia, termasuk


akibat dari aktivitias pemanenan, perusakan dan modifikasi habitat, dan
introduksi spesies bukan asli. Sejarah ekosistem hingga saat ini telah mencatat
terjadinya perubahan dramatis dan menunjukkan perbedaan yang sangat
ekstrim antara kondisi masa sekarang dibandingkan masa lalu. Keterancaman
alam sangat dipengaruhi oleh seberapa besar perubahan itu sudah terjadi.
Konsep yang salah tentang ekologi selama ini telah menuntun pembangunan
ke arah terjadinya kehilangan keragaman hayati, degradasi keutuhan ekologi,
dan penurunan kesehatan ekologi.
Dampak dari kolonisasi oleh manusia memiliki sejarah panjang menjadi
penyebab kepunahan dan perubahan besar pada ekosistem. Pola kepunahan
spesies yang saat ini terjadi terjadi dalam kecepatan yang sangat tinggi dan
belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Perubahan iklim global yang saat
ini melanda bumi adalah kenaikan rata-rata suhu bumi akibat efek rumah kaca
dan memberikan konsekuensi buruk pada kehidupan di muka bumi. Efek
rumah kaca terutama diakibatkan oleh berlebihnya penggunaan bahan bakar
fosil, pelepasan karbon dari tumbuhan.

Ancaman utama bagi keanekaragaman hayati adalah kerusakan dan hilangnya


habitat, spesies pendatang baru, dan pengambilan sumber daya alam yang
berlebihan.

• Hilangnya habitat disebabkan oleh pembabatan hutan untuk permukiman,


pertanian, dan industri serta ilegal logging.
• Kerusakan habitat terjadi akibat pencemaran, polusi, dan erosi.
• Adanya spesies pendatang baru di suatu tempat mengakibatkan kompetisi
dengan spesies lokal dalam hal tempat hidup dan sumber pangan.
• Pengambilan sumber daya alam berlebihan, misalnya adalah menangkap
ikan dengan bahan peledak, berburu gajah untuk diambil gadingnya,
berburu badak untuk diambil culanya, berburu macan untuk diambil
kulitnya, dan lain sebagainya.

Perlindungan dan Restorasi keragaman hayati, keutuhan ekologi, dan


kesehatan ekologi

Konservasi sumber daya alam memerlukan kombinasi berbagai strategi,


termasuk perlindungan spesies teracam punah, pencadangan kawasan ekologi,
pengendalian kegiatan manusia yang dapat merusak ekosistem, restorasi
ekosistem, penangkaran, pengendalian spesies bukan asli, dan pendidikan
biologi konservasi.
Perlindungan spesies terancam punah. Spesies dengan resiko kepunahan
memerlukan perlindungan dari berbagai eksploitasi dan hilangnya habitat.
Perlidungan spesies dilakukan dengan dengan melakukan identifikasi factor-
faktor yang mengarahkan pada penurunan ukuran populasi serta penghilangan
factor-faktor tersebut.
Sistem pencadangan kawasan ekologi. Kawasan yang ditujukan untuk
keperluan konservasi perlu dibentuk dan dikelola sehingga dapat melindungi
suatu ekosistem secara utuh, termasuk perlindungan terhadap spesies-spesies
terancam punah. Kawasan ini merupakan suatu kawasan yang dikelola dengan
tujuan utama untuk perlindungan spesies dari kepunahan, serta
mempromosikan proses-proses ekologi dan evolusi. Efektivitas system ini
sangat dipengaruhi berbagai aspek, termasuk tekanan terhadap kawasan,
aktivitas yang dilakukan di dalam kawasan, konektivitas habitat bagi organism
di dalamnya. Kawasan ini perlu pula dipersiapkan untuk menghadapi dampak
perubahan iklim global yang dapat mengancam spesies yang dilindungi di
dalamnya.

Restorasi ekosistem

Ekosistem yang sudah terdegradasi sehingga menyebabkan terjadinya


perubahan fungsi dan perubahan komposisi spesies perlu dilakukan upaya
restorasi terhadapnya sehingga dapat mencapai kondisi sedekat mungkin
dengan kondisi alaminya. Upaya restorasi dapat dilakukan melalui berbagai
aktivitas penghilangan tekanan terhadap ekosistem, penghilangan spesies
exotic, serta restorasi proses-proses ekologi.
Harapan Rainforest (http://harapanrainforest.org) adalah merupakan satu
contoh upaya restorasi yang dilakukan di Indonesia. Sebagai proyek restorasi
ekosistem pertama di Indonesia dan terbesar di dunia, dengan didukung
Burung Indonesia, BirdLife International dan the Royal Society for the
Protection of Birds, Harapan Rainforest melakukan upaya pemulihan
ekosistem bekas lahan konsesi pembalakan hutan di atas areal hutan hujan
dataran rendah seluas sekitar 98.555 ha yang terletak di perbatasan provinsi
Jambi dan Sumatra Selatan. Upaya-upaya yang ditempuh Harapan Rainforest
meliputi perlindungan kawasan, pemulihan kawasan dengan kegiatan
penanaman, partisipasi dan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat, dan
penelitian keragaman hayati untuk mendapatkan strategi restorasi terbaik.
Peningkatan populasi alami. Pada spesies yang terancam punah, manfaat dari
peningkatan ukuran populasi melalui introduksi hasil penangkaran ke alam,
dapat ditempuh. Tindakan perlu diambil untuk memelihara keragaman genetic
antara generasi, serta minimalisasi habitatuasi terhadap manusia. Meski
demikian perlu dipertimbangkan bahwas opsi ini sangatlah mahal, namun
strategi ini bermanfaat untuk mencegah kepunahan secara awal.

Pengelolaan pemanenan dan spesies non alami. Jumlah individual yang dapat
dipanen di alam harus diatur sehingga tidak meningkatkan ancaman
kepunhanan spesies tersebut. Aturan yang jelas dan konsisten perlu dijalankan
untuk pengaturan pemanenan populasi di alami. Sedangkan pengaturan
spesies non alami perlu dijalankan agar tidak meningkatkan ancaman
kepunahan populasi spesies yang terpengaruh oleh spesies non alami tersebut.
Kebanyakan spesies non alami dapat berkembang biak dan menyebar diluar
kendali sehingga mengakibatkan tekanan dan meningkatkan ancaman
kepunahan terhadap spesies alami.
Partisipasi politik. Sangatlah penting kuatnya pemahaman dan partisipasi
politik untuk memastikan konservasi biologi ke dalam ranah kebijakan public.
Dalam hal ini diperlukan pemahaman proses dan struktur bagaiman kebijakan
public dibuat, termasuk peraturan, administrative, hubungan dan lobi.
Mengenal orang-orang kunci yang memainkan peran penting di berbagai
tingkatan. Berbagi pengalaman dengan politisi untuk meningkatkan
pemahaman mereka tentang konservasi biologi serta pemahaman
konservasionis mengenai pembuatan kebijakan public.
Pendidikan konservasi. Pendidikan konservasi perlu dijalankan di seluruh lini
dan tingkatan komunitas, sehingga menciptakan kondisi di mana masyarakat
dapat hidup berdampingan dengan alam. Pendidikan konservasi bertujuan
untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta perilaku yang
penting bagi upaya konservasi.

Bagaimana Membantu Konservasi?

Tidak hanya para peneliti yang dapat melakukan konservasi. Kita pun dapat
turut berperan, misalnya dengan cara berikut ini.

• Menghentikan pengambilan sumber daya alam yang berlebihan.


• Menghentikan penebangan hutan secara liar.
• Mengurangi polusi dengan cara menggunakan transportasi umum ketika
bepergian, tidak membuang limbah sembarangan, dan lain sebagainya.
• Menghemat energi, antara lain dengan mematikan lampu ketika tidak
digunakan, mematikan keran saat bak sudah penuh, dan lain sebagainya.
• Menggunakan produk yang dapat didaur ulang.

Konservasi Anggrek di Indonesia Masih Minim


Kamis, 06 Mei 2010 11:22 Ditulis oleh Humas UGM / Ika

Indonesia merupakan negara yang memiliki variasi keanekaragaman tanaman


anggrek cukup banyak. Di negeri ini, terdapat sekitar 6.000 dari 35.000 spesies
yang tersebar di seluruh belahan dunia. Namun, tanaman anggrek di Indonesia
kurang mendapat perhatian yang cukup serius, terutama dalam hal pelestariannya.

Dr. Aziz Purwantoro, M.Sc., staf pengajar Fakultas Pertanian UGM, mengatakan
studi tentang anggrek tropis, baik dari aspek biologi maupun ekologinya, menjadi
sangat penting untuk mendukung usaha konservasi anggrek. Informasi tersebut
berguna untuk mendesain langkah konservasi yang akan diambil, juga untuk
mengetahui daerah yang cocok untuk tumbuhnya spesies ini.
Dari kajian yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa anggrek dapat digunakan
sebagai indikator dasar penanda sebuah ekositem dalam keadaan sehat. “Hal ini
dikarenakan tanaman anggrek hanya dapat tumbuh di lingkungan yang kondusif.
Namun demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai hal itu,”
katanya dalam Workshop on Writing EfSD Based on Research Proposal on
Tropical Biodiversity yang digelar di Fakultas Biologi UGM, Senin (3/5).

Dr. Yao Chien Alex Chang, staf pengajar pada Department of Holticulture,
National Taiwan University (NTU), dalam kesempatan tersebut membagi
informasi tentang pengembangan riset dan industri anggrek di Taiwan. Yao Chien
mengatakan anggrek merupakan penyumbang pendapatan negara dan menjadi
salah satu komoditas ekspor andalan di Taiwan. “Anggrek memiliki variasi yang
cukup banyak, baik warna maupun ukuran. Di samping itu, bunga ini mekar
dalam waktu yang panjang, tiga bulan, dengan syarat adanya pemberian nutrisi
yang cukup dan juga mampu bertahan dalam perjalanan yang panjang (ekspor).
Kondisi inilah yang menjadikan industri bisnis anggrek semakin digemari
sehingga bisa menjadi penyumbang pendapatan di Taiwan,” jelasnya.

Ditambahkan Yao Chien, dilihat dari kacamata bisnis, anggrek memiliki prospek
yang cukup cerah dan diprediksikan industri ini akan semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Berbagai jalan dilakukan oleh sejumlah pihak di Taiwan guna
menghasilkan jenis anggrek yang berkualitas, seperti melakukan program
pemuliaan anggrek dengan intensif, memproduksi secara massal, dan membangun
rumah kaca yang berkualitas. Untuk saat ini, Taiwan menjadi satu-satunya negara
pengekspor anggrek terbesar ke Amerika, selanjutnya diikuti oleh Nederland dan
Thailand.

Dalam kesempatan terpisah, Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., staf pengajar
Fakultas Biologi UGM, menyebutkan workshop kali ini merupakan bagian dari
Indonesian Managing Higher Education for Relevance and Eficiency (I-MHERE)
yang didanai oleh Bank Dunia. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan
efisiensi dan relevansi bagi perguruan tinggi yang unggul. UGM, lanjutnya,
adalah salah satu perguruan tinggi yang mendapatkan hibah tersebut selain ITB,
UI, Unair, dan Unibraw. Dituturkan Budi, untuk UGM, hanya tiga fakultas yang
mendapatkan proyek I-MHERE, yakni Fakultas Biologi, Farmasi, dan Pertanian.

Saat disinggung tentang kondisi anggrek di Indonesia, Budi memaparkan


pandangannya. Menurutnya, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis anggrek
tropis yang cukup banyak. Namun sangat disayangkan, usaha pelestarian terhadap
tanaman yang ditetapkan sebagai puspa pesona nusantara ini masih sangat rendah.
“Memang upaya pengembangan telah dilakukan, akan tetapi baru sampai pada
tahap budidaya, sedangkan untuk pelestariannya masih sangat minim. Apabila
tidak ada pihak yang benar-benar fokus melakukan konservasi, maka anggrek di
Indonesia bisa tidak terselamatkan. Apalagi ditambah dengan maraknya kegiatan
illegal loging, kebakaran hutan, dan perubahan iklim akan semakin mempercepat
punahnya spesies ini,” tambahnya.
Atas dasar fenomena tersebut, Fakultas Biologi UGM bekerja sama dengan
berbagai pihak, antara lain, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, lembaga
penelitian, dan instansi pemerintah untuk melakukan riset terhadap tanaman
anggrek. Fakultas Biologi berusaha untuk menjadi center of excellent bagi
pelestarian tanaman anggrek di wilayah tropis. Berbagai upaya yang telah
dikembangkan, antara lain, identifikasi anggrek, budidaya, kultur jaringan
tumbuhan, persilangan anggrek lokal, dan membuat tanaman transgenik anggrek.

KERAGAMAN JENIS AMFIBI DAN REPTIL DI KAWASAN HARAPAN


RAINFOREST

Hutan hujan dataran rendah Sumatra merupakan habitat yang kaya akan
keragaman biologinya, sekaligus juga merupakan habitat yang sangat terancam di
muka bumi ini. Dari sekitar 16 juta hektar hutan Sumatra pada tahun 1900, kini
hanya tersisa 500,000 ha saja. Harapan Rainforest, merupakan serpihan hutan
hujan tropis di Sumatra yang tersisa, meliputi kawasan seluas 98.555 ha hutan di
perbatasan provinsi Jambi dan Sumatra Selatan baik yang masih utuh maupun
yang telah mengalami pembalakan. Sekitar 36% dari kawasan ini merupakan
hutan dengan tipe hutan sekunder tinggi, 15% hutan sekunder sedang, 41%
merupakan hutan sekunder rendah, dan 8% adalah lahan terbuka. Saat ini kawasan
Hutan Harapan Harapan Rainforest dalam pengelolaan Unit Majemen Harapan
Rainforest untuk kegiatan restorasi ekosistem dengan tujuan mengembalikan
kepada keadaan menjadi seperti semula.

Survey amfibi dan reptil di Harapan Rainforest dilakukan setiap bulan sepanjang
tahun 2009, kecuali bulan Juli hingga September menggunakan tiga metode
survey yang biasa digunakan, yaitu pencarian secara acak (opportunistic
searching), metode transek (1.4 km) dan plot (20 m X 20 m). Sebelumnya Mistar
(2003) menggunakan metode Visual Encounter Survey-Night Stream, penulusuran
transek sepanjang 1.5 km dan pencarian secara acak.

Dengan menggabungkan hasil survey pada tahun 2003 dan 2009, tercatat 29 jenis
amfibi dan 45 jenis reptiledi Harapan Rainforest, termasuk 5 jenis Amfibi dan 15
jenis reptile yang baru tercatat (Tabel 1). Jenis amfibi yang paling sering dijumpai
adalah Fejerfarya cancricova, Fejerfarya limnocharis, Hylarana nicobariensis,
dan Racophorus appendiculatus. Sedangkan jenis reptil yang paling umum
dijumpai adalah Gecko smithii, Mabuya multifasciata dan Varanus salvator.
Selain itu, di daerah camp utama Harapan Rainforest hingga daerah BPDAS
banyak dijumpai (Naja sumatrana, Ophiophagus hannah, dan Pyton reticulates.

Dari keseluruhan jenis-jenis amfibi dan reptil tersebut berdasarkan kategori


keterancampunahan menurut IUCN terdapat empat jenis amfibi yang
dikategorikan Mendekati Terancam Punah (Near Threatened), yaitu Pelophrine
signata, Limnonectes blythii, Limnonectes malesiana, dan Occidozyga baluensis,
dan satu jenis reptile yang dikategorikan Terancam Punah (Endangered), yaitu
Heosemis spinosa (Tabel 1). Enam jenis reptil juga termasuk dalam Appendix II
CITES, yaitu Pyton reticulatus, Ophiophagus Hannah, Heosemys spinosa,
Varanus dumerili, dan Varanus salvator (Tabel 1) . Sedangkan untuk amfibi tidak
terdapat satu jenis pun yang masuk appendix CITES. Dari sisi perlindungan
hukum berdasar PP no 7 tahun 1999, tidak satu jenis pun baik amfibi maupun
reptile yang terdapat di dalam kawasan Harapan Rainforest terdaftar dalam
lampiran PP tersebut.

Ancaman terhadap jenis-jenis reptile dan amfibi di dalam kawasan Harapan


Rainforest adalah masih terjadinya aktivitias illegal logging dalam skala kecil di
sepanjang sungai Kapas dan SPAS, ancaman ini terutama terjadi saat musim
hujan berlangsung. Meski terjadi secara sporadis dan kecil-kecilan, namun karena
sensitifitas amfibi dan reptile terhadap perubahan sekecil apapun terhadap
lingkungan, hal ini dapat menjadi ancaman serius bagi konservasi amfibi dan
reptil di Harapan Rainforest. Selama survey tidak ditemukan adanya tanda-tanda
pemanenan jenis-jenis amfibi dan reptile.

Laporan Singkat Hasil survey populasi biawak Komodo dan Populasi mangsa
Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Juni – Juli 2009

Laporan Singkat Hasil survey populasi biawak Komodo dan Populasi mangsa
Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Juni – Juli 2009
Survey populasi biawak komodo dan mangsanya di dalam Kawasan Cagar Alam
Wae Wuul Flores Barat telah dilakukan sejak tanggal 22 Juni hingga 19 Juli 2009.
Metode lapangan yang digunakan untuk mendapatkan perkiraan populasi Biawak
Komodo di Cagar Alam Wae Wuul adalah dengan menangkap menandai melepas
dan menangkap kembali (Capture Mark Release Recapture). Metode ini dilakukan
dengan menempatkan 26 perangkap yang disebar merata di dalam kawasan Cagar
Alam Wae Wuul, setelah tertangkap, Biawak Komodo akan diukur dan ditandai,
setelah itu, Biawak Komodo yang sudah ditandai akan dilepas kembali. Sementara
itu, untuk mendapatkan nilai kepadatan mangsa Biawak Komodo (terutama Rusa),
metode lapangan yang digunakan adalah metode penghitungan kotoran (pellet
group) dalam setiap 30 titik/plot berdiameter 2 meter yang terletak di setiap 10
meter pada garis transek sepanjang 30 meter, dengan jumlah total garis transek
sebanyak 40. Selain itu, untuk mendapatkan perkiraan nilai populasi mangsa
Biawak Komodo, dilakukan juga penghitungan langsung dengan menggunakan
metode jarak sepanjang garis transek.
Selama 22 hari survey populasi Biawak Komodo, diperoleh 17 ekor Biawak
Komodo yang tertangkap, ditandai dan dilepas kembali. Dari 17 ekor Biawak
Komodo yang tertangkap, hampir sebagian besar berukuran di bawah 4 Kg,
dengan hanya satu ekor berukuran yang paling besar yaitu 19 Kg. Selama survey
tidak pernah terlihat Biawak Komodo yang mempunyai ukuran lebih dari 20 Kg.
Sementara itu, jumlah penghitungan kotoran rusa pada plot sepanjang garis
transek yang berjumlah 40, menunjukan nilai yang sangat kecil (rata-rata dibawah
1 grup pelet pertransek), nilai rendah juga didapat dengan menggunakan metode
penghitungan langsung sepanjang garis transek, yaitu hanya terdapat lima
perjumpaan.
Berdasarkan data lapangan yang belum lama diperoleh, Populasi Biawak Komodo
di Cagar Alam Wae Wuul berada dalam kondisi yang rentan untuk punah, selain
terdapat penurunan yang signifikan sejak survey yang dilakukan tahun 1991, 2000
dan tahun lalu (Nopember 2008), tidak terdapatnya ukuran dewasa akan
mengkhawatirkan untuk rekrutmen individu baru dalam populasi. Rendahnya
ukuran populasi di Cagar Alam Wae Wuul juga berkaitan dengan rendahnya
jumlah Rusa yang merupakan mangsa utama Biawak Komodo. Berdasarkan hal
tersebut, maka diperlukan usaha-usaha untuk pengelolaan habitat agar populasi
Komodo dan Rusa kembali meningkat. selain itu usaha-usaha pengamanan juga
perlu dilakukan beriringan dengan usaha pengelolaan habitat untuk mencegah
terjadinya ancaman yang mengganggu proses ekologis dalam kawasan Cagar
Alam Wae Wuul, seperti pencegahan kebakaran hutan.

Populasi Komodo di Wae Wuul menurun drastis

Kegiatan survey populasi biawak Komodo (Varanus komodoensis) dan


mangsanya yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
Nusa Tenggara Timur (Balai Besar KSDA NTT) bekerjasama dengan Komodo
Survival Program (KSP) di Cagar Alam Wae Wuul, Kabupaten Manggarai Barat,
Nusa Tenggara Timur, antara 22 Juni hingga 19 Juli 2009, sebagai implementasi
naskah Perjanjian Kerjasama antara BALAI BESAR KSDA NTT NTT dan KSP
tentang Penelitian dan Pemantauan Populasi Biawak Komodo dan
Keanekaragaman Hayati Beserta Habitatnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur
yang ditandatangani pada tanggal 3 Maret 2008, dengan ini kami menyampaikan
laporan sementara sebagai informasi mengenai keadaan terkini populasi biawak
Komodo di CA Wae Wuul.

Dari hasil survey menggunakan metode penangkapan dan penandaan selama 22


hari dengan menggunakan 26 titik perangkap dan pencarian secara aktif meliputi
kawasan seluas 14.484 ha (14.8 km2), hanya 17 individu yang terpantau di CA
Wae Wuul. Sementara survey populasi mangsa utama biawak Komodo yang
diukur menggunakan metode transek plot menunjukkan indeks kepadatan
populasi Rusa Timor (Cervus timorensis) sebesar 0.48/transect.
Survey yang dilakukan pada tahun 1991 oleh PHKA menemukan 66 Komodo di
Wae wuul dan area sekitarnya, sedangkan survey pada tahun 2000 oleh Ciofi dan
De Boer bersama dengan Balai Besar KSDA NTT II, hanya 19 Komodo saja yang
tertangkap, dengan kepadatan populasi 10 kali lebih rendah dibandingkan yang
tertangkap di Taman Nasional Komodo. Pada survey yang dilakukan oleh BALAI
BESAR KSDA NTT NTT dan KSP tahun 2008, hanya 10 kali perjumpaan saja 6
titik penempatan umpan gantung dari 16 lokasi tempat pengumpanan di Cagar
Alam Wae Wuul. Sedangkan survey pada 2009 hanya 17 individu yang
tertangkap. Indeks kepadatan Rusa Timor pada tahun 2008 tercatat 0.48/transek
sedangkan pada survey tahun 2009 diperoleh nilai kepadatan dibawah 1/km2,
menunjukkan adanya penurunan kepadatan populasi mangsa.
Berdasarkan hasil survey tersebut diatas, sangat jelas bahwa populasi biawak
Komodo di Wae Wuul sangat terancam. Faktanya, populasi Komodo disana telah
mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu 18 tahun. Kondisi ini
diperparah oleh rendahnya kepadatan Rusa Timor sebagai mangsa biawak
Komodo dan tingginya tekanan aktivitas manusia seperti perburuan Rusa dan
pembakaran padang rumput di sekitar dan di dalam kawasan.
Berdasar fakta tersebut, sehubungan dengan izin penangkapan biawak Komodo
yang Bapak keluarkan melalui SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009
tentang izin penangkapan 10 ekor biawak Komodo dari habitat aslinya di CA Wae
Wuul, yang secara administratif termasuk kedalam wilayah Desa Macan Tanggar
dan Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, dengan ini
kami menyarankan agar Bapak dapat mempertimbangkan pembatalan
SK.384/Menhut-II/2009. Penangkapan 10 individu biawak Komodo di CA Wae
Wuul akan sangat mempengaruhi keberadaan populasi tersebut. Kami khawatir
penangkapan tersebut akan menyebabkan kepunahan biawak Komodo di Flores,
khususnya di CA Wae Wuul yang mewakili keragaman genetik terpisah dari
Taman Nasional Komodo.
Hingga saat ini, berbagai Kebun binatang di Indonesia telah bekerja dengan baik
dalam membiakkan Komodo di penangkaran dan menurut pusat penelitian biologi
LIPI, Komodo asal flores terdapat di tiga kebun binatang di Jawa: Ragunan (44
ekor), Gembira Loka (26 ekor), Surabaya (11 ekor). Alternatif yang mungkin
dilakukan oleh kebun binatang Indonesia (dan luar negeri) yang lain untuk
menambah jumlah koleksi Komodo adalah dengan mengandalkan Komodo yang
ada dari kebun binatang – kebun binatang di Indonesia yang telah berhasil
membiakkan Komodo. Populasi Komodo dalam penangkaran ini cukup mewakili
secara genetis dan merupakan sumber yang baik untuk program penangkaran
Komodo.
Oleh karena itu, kami menyarankan rencana perlindungan khusus untuk populasi
Komodo yang tersisa di Cagar Alam Wae Wuul. EAZA akan melanjutkan
membantu menyediakan dana untuk kegiatan perlindungan komodo yang
dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA NTT dan KSP.
Daftar Situs Warisan Dunia Tambah 8 Kawasan

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO)


menetapkan delapan daerah baru yang masuk dalam daftar situs warisan dunia
(world heritage list). Kedelapan situs itu dinilai sangat berarti bagi kemanusiaan,
tapi dibutuhkan proteksi yang kuat agar tetap bertahan.Situs-situs itu adalah
Kepulauan Socotra di Yaman yang dikenal sebagai Galapagos di Samudra India.
Di kawasan tersebut terdapat 825 spesies tumbuh-tumbuhan dengan 37 persennya
hanya ditemukan di sana. Sekitar 90 persen reptil juga endemik kawasan tersebut.
Kehidupan lautnya juga beragam dengan 253 jenis karang, 730 jenis ikan karang,
dan 300 jenis kepiting, lobster, dan udang. Socotra saat ini sudah menjadi
kawasan dilindungi.

Kawasan lainnya adalah Lembah Fosil Joggins di Kanada. Kawasan tersebut juga
setara dengan Galapagos. Di tempat ini dapat mempelajari kehidupan pada zaman
purba sekitar 300 juta tahun lalu, dan ditemukan banyak sekali fosil reptil dari
umur yang tertua.

Pulau Surtsey di Islandia Selatan merupakan pulau yang terbentuk saat terjadi
letusan gunung berapi pada tahun 1963-1967. Kehidupan yang terbentuk di pulau
tersebut sangat kaya dan unik dengan beragam spesies tumbuh-tumbuhan dan
hewan.

Stepa atau padang semak yang masih asli di Saryarka, Kazakhstan, juga termasuk.
Di wilayah tersebut terdapat danau yang menyediakan sumber air bagi 16 juta
burung migrasi dan ratusan ribu burung air. Sarayarka juga habitat antelop saiga
(Saiga tatanica) yang sudah terancam punah.

Lokasi yang tak kalah menarik adalah Biosfer Kupu-kupu Raja Mariposa
monarca. Kawasan tersebut merupakan habitat kupu-kupu raja saat melakukan
migrasi pada musim dingin.

Area tektonik Sardona di Swis juga terpilih karena nilai geologisnya. Di kawasan
tersebut terdapat Glarus Overthrust, lapisan-lapisan batuan dari zaman ke zaman
yang menggambarkan proses pembentukan gunung berapi.

Taman Nasional Gunung Sangingshan (China) terpilih karena kecantikannya. Di


sana terdapat batu-batuan granit yang berrdiri tegak dan dapat dinikmati
keindahannya sepanjang mata memandang.

Laguna di Kaledonia Baru terpilih karena kaya akan ekosistem karang.


Keragamannya bisa dibandingkan dengan gugusan karang Great Barrier Reef di
Australia. "Kedelapan situs budaya yang menarik perhatian ini adalah di antara
tempat terbaik di dunia," ujar David Sheppard, kepala program kawasan
dilindungi dari IUCN (International Union for Conservation of Nature), yang
mengusulkannya. Dengan tambahan 8 tempat, daftar warisan dunia kini menjadi
878 lokasi, terdiri dari 679 situs budaya, 174 situs alam, dan 25 situs campuran
keduanya.

Daftar 8 situs baru dalam Daftar Warisan Dunia:

1. Lembah Fosil Joggins (Kanada)

2. Taman Nasional Gunung Sangingshan (China)

3. Laguna Kaledonia Baru (Perancis)

4. Surtsey (Islandia)

5. Saryarka (Kazakhstan)

6. Biosfer Kupu-kupu Raja (Meksiko)

7. Arena Tektonik Sardona (Swis)

8. Kepulauan Socotra (Yaman) sumber dari situs kompas cyber