Anda di halaman 1dari 1

Nama : Rifka Sibarani

Nim : 08/267358/ SP/ 22868

ETIKA KOMUNIKASI

Polemik Nikah Siri danKumpul Kebo

Indonesia mengatur pernikahan warganya dalam Undang – Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan. Dalam Bab 1 telah diatur tentang dasar dan ketentuan pernikahan yang berlaku di
Indonesia. Pasal 2 ayat 1 menyatakan bahwa perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum
masing – masing agama dan kepercayaan, namun pada ayat 2 dinayatakan bahwa tiap perkawinan
harus dicatat menurut undang – undang yang berlaku. Jika sesorang suami ingin beristri lebih dari
satu, juga diatur dalam pasal 4. Dalam pasal ini terdapat ketentuan yang harus dipatuhi.

Bagi kelompok tertentu, pernikahan siri diizinkan atas asas menghindari perzinahan. Negara
mengizinkan adanya pernikahan siri, namun pernikahan siri tidak tercatat dalam catatan sipil dan
tidak resmi secara hukum negara. Menurut UU yang berlaku, sebuah pernikahan akan diakui secara
resmi oleh negara jika telah tercatat dalam catatan sipil. Sehingga apapun yang terjadi setelah dan di
dalam pernikahan resmi tersebut dapat diurus melalui hukum negara yang diakui.

Bagi masyarakat umum, khususnya mayoritas kaum perempuan nikah siri dianggap sebuah ancaman
jika pasangan mereka berencana untuk berpoligami tanpa persetujuan istri. Ataupun bagi mereka yang
ingin berpoligami namun terikat pada peraturan bahwa hanya boleh memiliki satu istri resmi secara
catatannegara/sipil.

Sedangkan perilaku kumpul kebo telah distigma salah oleh masyarakat karena umumnya mereka yang
terlibat dalam kumpul kebo adalah pasangan yang belum menikah namun tinggal bersama dan
melakukan hubungan suami istri. Kumpul kebo sendiri dianggap sebagai penyimpangan sosial karena
tidak sesuai dengan norma sosial dalam masyarakat.

Menurut teleologis, baik pernikahan secara siri maupun kumpul kebo pada hakekatnya dalam
sebagian masyarakat dianggap asusila, tujuannya adalah mencari dan menemukan kebahagiaan. Bagi
pelaku kedua perilaku tersebut, mereka pada tujuannya adalah menemukan kebahagiaan dengan
pasangan mereka. Secara teleologis kegiatan ini pada hakikatnya adalah pencapaian kebahagiaan
dengan menghalalakan cara yang menyimpang dari norma/ hukum sosial.

Secara deontologis, penerapan sanksi kepada kedua perilaku tersebut berbeda. Deontologis
menitikberatkan pada benar atau tidaknya suatu perbuatan berdasarkan hukum yang universal. Maka,
menurut pendekatan deontiologis, benar atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan pada hukum yang
berlaku untuk mengatur perilaku tersebut. M