Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara tropis dengan bentang alam yang berbeda-beda.

Keanekaragaman jenis flora dan fauna yang dapat ditemui di Indonesia sangat

tinggi dan memiliki kekhasan pada daerah-daerah tertentu. Adanya interaksi

antara berbagai tumbuhan dan satwa ini banyak dijumpai pada hutan-hutan di

Indonesia, yang telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia baik

secara langsung maupun secara tidak langsung. Berbagai jenis hasil hutan baik

kayu maupun non kayu telah mengalami eksploitasi guna kepentingan manusia

secara langsung, sedangkan keteraturan tata air, suplai oksigen, sarana penelitian

untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan, serta keindahan alam yang tak

ternilai harganya juga telah disajikan secara tidak langsung untuk kepentingan

manusia.

Pengelolaan hutan tropis di Indonesia sudah dilakukan oleh nenek moyang bangsa

Indonesia berabad-abad lalu, dengan berbagai peraturan yang ditetapkan sebagai

norma sosial. Namun seiring dengan pertumbuhan kebutuhan manusia dan

bertambahnya pengetahuan mengenai nilai hasil hutan, tingkat eksploitasi melaju


2

semakin cepat. Hingga saat ini tingkat kerusakan hutan sudah sangat parah dan

mencapai ambang kritis. Ditambah lagi dengan adanya revolusi agraria yang
3

mengakibatkan hutan menjadi korban untuk penyediaan lahan pertanian, serta

ledakan penduduk yang ambil bagian dalam ‘program’ pengurangan lahan hutan

untuk pemukiman semakin menempatkan hutan Indonesia pada posisi sulit.

Siamang (Hylobates syndactylus) adalah salah satu jenis primata yang telah

menambah keanekaragaman jenis satwa pada hutan di Indonesia. Khususnya

hutan-hutan di Sumatera termasuk di dalamnya hutan-hutan di Propinsi Lampung.

Pada daerah lain, siamang dapat ditemui di Semenanjung Malaya. Tingkah laku,

anatomi tubuh, serta fisiologi yang mirip dengan manusia menjadi dasar

banyaknya kegiatan penelitian di bidang biomedis dilakukan terhadap siamang

(Harianto, 1988). Bagi hutan sebagai tempat tinggal alami, siamang berperan

sebagai penyebar benih lewat pergerakannya (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Seperti yang terjadi pada primata dari jenis yang lain, perburuan juga dilakukan

terhadap siamang untuk dijadikan binatang peliharaan. Meskipun larangan

terhadap kegiatan perburuan siamang telah dilakukan oleh pemerintah dengan

dikeluarkannya Undang-undang dan Peraturan Perlindungan Satwaliar pada tahun

1931 (Harianto, 1988), kegiatan perburuan ini terus berlangsung.

Selama proses evolusi berlangsung, margasatwa beradaptasi dengan berbagai

faktor fisik, vegetasi, dan margasatwa lain. Hasil adaptasi tersebut menyebabkan

margasatwa menetap di suatu daerah dengan kondisi lingkungan yang sesuai

dengan kehidupannya. Kondisi lingkungan tersebut meliputi tempat untuk

mencari makanan dan minuman, berlindung, bermain, serta berkembang biak

yang secara keseluruhan disebut habitat (Alikodra, 1980 dalam Bismark, 1984).
4

Dengan mempelajari tingkah laku serta adaptasi margasatwa terhadap kondisi

lingkungan tertentu, dapat diketahui lingkungan seperti apa yang dapat digunakan

sebagai habitat margasatwa. Sehingga konservasi margasatwa dapat berjalan

secara menyeluruh, baik menyangkut faktor internal maupun eksternal

margasatwa tersebut.

Kegiatan konservasi siamang lewat perlindungan terhadap satwa tersebut dan

habitatnya menjadi sangat penting untuk dilakukan guna mencegah terjadinya

kepunahan jenis satwa ini, mengingat kepunahan beberapa jenis satwa lain terjadi

akibat keterlambatan perlindungan yang diberikan terhadap satwa tersebut dan

habitatnya. Kegiatan konservasi terhadap siamang ini membutuhkan niat yang

kuat dan tulus untuk keberhasilannya, juga perlu didukung dengan ketersediaan

data dan informasi mengenai karakteristik habitat serta interaksi siamang dengan

habitatnya.

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat menambah ilmu pengetahuan

tentang satwa liar yang ada di hutan Indonesia, serta memberikan bahan

pertimbangan untuk kegiatan perlindungan dan konservasi satwa pada umumnya

dan perlindungan siamang pada khususnya, melalui pengelolaan habitat

margasatwa.

1.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengenal dan mendeskripsikan jenis-jenis pohon tempat tidur siamang,

pola percabangan, ketinggian (baik tinggi pohon maupun tinggi tempat tidur),
5

2. Mengetahui jarak antar pohon tempat tidur (Night Position Shift),

3. Mengetahui kecenderungan pemilihan pohon tempat tidur siamang

terhadap tinggi pohon dan persediaan pakan yang dikonsumsi oleh siamang,

serta

4. Mengetahui keberadaan satwa lain di sekitar pohon tidur siamang.

1.3. Kerangka Pemikiran

Sebagai makhluk hidup yang memiliki kekhasan perilaku masing-masing,

margasatwa juga memiliki pola adaptasi yang berbeda-beda dalam penyesuaian

dengan setiap perubahan yang terjadi pada habitatnya. Adaptasi yang dilakukan

bisa berupa adaptasi morfologis yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan

pada anatomi tubuh satwa bersangkutan, maupun adaptasi tingkah laku yang

menyebabkan terjadinya perubahan pola tingkah laku.

Secara umum kerusakan hutan serta intervensi manusia terhadap hutan telah

menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku satwa yang hidup di dalamnya,

termasuk siamang. Perubahan ini bisa terjadi pada perilaku harian maupun pola

jelajah harian siamang. Salah satu contoh dari perubahan ini adalah kemampuan

siamang untuk bergerak pada batang bambu (Chivers, 1974), meskipun dalam

areal yang luas vegetasi ini masih merupakan faktor yang menyebabkan

fragmentasi habitat siamang. Menghilangnya berbagai vegetasi hutan juga bisa

merubah perilaku siamang, terutama bila jenis vegetasi yang hilang tersebut

berkaitan dengan kebutuhan harian siamang terutama berkaitan dengan

ketersediaan pakan. Kondisi pada areal penelitian yang sebagian telah mengalami
6

perubahan fungsi menjadi areal pertanian, sangat memungkinkan terjadinya

perubahan perilaku.

Siamang adalah satwa yang hanya aktif di siang hari (diurnal), aktivitas mencari

makan dan melakukan pergerakan hanya dilakukan pada siang hari. Pada sore

hari, siamang mulai mencari pohon untuk beristirahat.

Meskipun siamang memiliki habitat alami pada hutan primer, aktivitas mencari

makan dan aktivitas makan bisa saja dilakukan pada hutan sekunder. Kemudian

siamang akan kembali ke hutan primer pada sore hari untuk memilih pohon

tempat tidur. Keamanan merupakan alasan terpenting dalam memilih tempat

untuk beristirahat, oleh karena itu siamang cenderung memilih pohon-pohon

tinggi dengan tajuk rapat. Namun demikian masih ada pertimbangan lain yang

digunakan dalam pemilihan pohon tempat tidur yaitu ketersediaan makanan

sebagai faktor kedua yang mempengaruhi pemilihan pohon tempat tidur.

Dengan melakukan penelitian ini dapat diketahui karakteristik pohon yang disukai

siamang untuk dijadikan pohon tempat tidur serta kecenderungan pemilihan

pohon tempat tidur siamang terhadap jenis makanan yang disukainya.

Anda mungkin juga menyukai