Anda di halaman 1dari 87

Sekuen Stratigrafi

BAB 1

PENDAHULUAN

Emery dkk (1996)

1.1 APA SEKUEN STRATIGRAFI?

Sekuen stratigrafi secara sederhana dapat diartikan sebagai cabang stratigrafi yang mempelajari paket-paket sedimen yang dibatasi oleh bidang ketidakselarasan atau bidang lain yang korelatif dengan bidang ketidakselarasan tersebut. Analisis sekuen stratigrafi akan menghasilkan kerangka kronostratigrafi dari endapan yang dianalisa. Kerangka itu selanjutnya dapat dipakai untuk mengkorelasikan dan memetakan fasies-fasies yang ada dalam endapan yang dianalisis. Sekuen stratigrafi merupakan ancangan stratigrafi modern yang memanfaatkan sejumlah metoda dan konsep yang telah ada sebelumnya, terutama biostratigrafi, seismik stratigrafi, kronostratigrafi, dan sedimentologi. Perlu ditekankan disini bahwa konsep litostratigrafi tidak memberikan sumbangan yang berarti dalam pengembangan konsep dan metoda sekuen stratigrafi.

Satuan litostratigrafi ditentukan berdasarkan kesamaan litologi dan biasanya memotong garis waktu. Di lain pihak, satuan sekuen stratigrafi pada hakekatnya merupakan satuan kronostratigrafi yang sejajar dengan garis waktu (gambar 1-1).

1.2 SEJARAH PERKEMBANGAN SEKUEN STRATIGRAFI

Sekuen stratigrafi sering dipandang sebagai ilmu baru yang dikembangkan pada dasawarsa 1970-an dari seismik stratigrafi. Sebenarnya tidak demikian. Konsep sekuen stratigrafi berakar pada kontroversi selama berabad-abad mengenai faktor-faktor yang mengontrol terbentuknya daur sedimen. Pertentangan itu terjadi antara kelompok yang berpendapat bahwa guntara (eustasy) merupakan faktor pengontrol terbentuknya daur sedimen dengan kelompok yang berpendapat bahwa tektonik merupakan faktor pengontrol terbentuknya daur sedimen. Sejarah perdebatan panjang itu dipaparkan dalam buku yang disunting oleh Dott (1992). Buku lain yang memiliki kaitan penting dengan sejarah perkembangan sekuen stratigrafi adalah AAPG Memoir 26 yang disunting oleh Payton (1977) serta SEPM Special Publication 42 yang disunting oleh Wilgus dkk (1988). Mereka yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai sejarah perkembangan konsep ini dapat membaca buku-buku tersebut. Walau demikian, disini akan dikemukakan pula ringkasan sejarah perkembangan tersebut.

1.2.1 Teori-Teori Sakral tentang Perubahan Muka Air Laut Banjir besar jaman Nabi Nuh merupakan salah satu cerita yang memiliki kaitan dengan konsep perubahan muka air laut. Bagi para peneliti jaman dulu, kebenaran adanya banjir itu tidak pernah dipermasalahkan. Hal yang dipermasalahkan adalah asal mula terjadinya banjir. Topik itu tidak hanya menarik perhatian para ilmuwan, namun juga kaum agamawan. Topik yang menarik itu telah melahirkan sejumlah teori, konsep, dan publikasi. Dua publikasi yang termashyur pada waktu dulu adalah Sacred Theory of the Earth karya Burnet (1681) dan Telliamed karya de Maillet (1742). Menurut de Maillet (1742), setelah bumi terbentuk akibat akrasi debu kosmik, massa air yang menyelimuti bumi sedikit demi sedikit berkurang volumenya sehingga akhirnya timbul topografi seperti yang kita lihat kini. Jadi, dilihat dari kaca mata de Maillet, perubahan muka air laut merupakan sebuah proses searah yang berskala global. Konsep penurunan muka air laut seperti itu disebut teori neptunisme. Pengerosian rantai pegunungan primitif dan pembentukan sejumlah paket sedimen yang mem- perlihatkan gejala sayupan (offlapping), sebagaimana yang diimplikasikan oleh de Maillet, dilukiskan pada gambar 1-2.

1

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

1.2.2 Perkembangan pada Abad 18

Banyak analisis stratigrafi mendetil dilakukan pada abad 18. Pada 1788, Hutton untuk pertama kali mengungkapkan arti penting ketidakselarasan sebagai ciri pemisah jenjang erosi, pengangkatan, dan pengendapan. Ketidakselarasan juga di- gunakan oleh para ahli stratigrafi, misalnya Sedgwick dan Murchison, sebagai bukti fisik untuk membagi waktu geologi. Di lain pihak, pada waktu itu teori atau konsep yang terkait dengan teori neptunisme masih tetap dikembangkan orang. Pada 1823, William Buckland mengajukan teori diluvium. Dalam teori ini produk-produk geologi yang terbentuk sebelum banjir besar Nabi Nuh disebut endapan pra-diluvium, sedangkan produk-produk geologi setelah banjir besar Nabi Nuh disebut endapan pasca-diluvium atau aluvium. Teori ini pernah populer, namun kemudian memudar dengan munculnya banyak bukti geologi yang mengindikasikan bahwa proses geologi jauh lebih kompleks dibanding satu peristiwa banjir yang dramatis.

1.2.3 Perkembangan pada Abad 19

Pada pertengahan abad 19, perdebatan antara pendukung guntara dengan pendukung tektonik sebagai faktor pengontrol perubahan muka air laut mulai menghangat sejalan dengan munculnya teori glasiasi. Lyell dan beberapa ahli lain, termasuk Linneaus dan Celsius, menemukan bukti penurunan muka air laut dalam singkapan-singkapan di pantai Scandinavia. Fakta itu ditafsirkannya sebagai bukti bahwa daratan telah mengalami penurunan secara lambat (Lyell, 1835). Pendapat itu kemudian didukung oleh Bravais pada 1840 setelah dia memperoleh tafsiran yang sama berdasarkan fakta bahwa gisik di sepanjang fjord Scandinavia telah miring. Di lain pihak, pada waktu yang hampir bersamaan, Agassiz (1840) mengembangkan teori glasiasi. Pada 1842, MacLaren mengemukakan pendapat bahwa proses pelelehan es seperti yang diungkapkan dalam teori glasiasi dapat menyebabkan penaikan muka air laut secara global. Sayang sekali, gagasan Agassiz dan MacLaren itu tidak mendapat tanggapan yang memadai selama sekitar dua dasawarsa, sampai Croll (1864) mengajukan konsep glasiasi yang dijelaskannya terjadi akibat proses-proses yang berkaitan dengan pergerakan bumi.

1.2.4 Perkembangan pada Awal Abad 20

Pada akhir abad 19, teori glasiasi dipandang mampu menjelaskan perubahan muka air laut global dan pengangkatan isostatis. Namun, kesahihan teori itu kemudian dipertanyakan lagi pada awal abad 20. Pada 1906, Edward Suess memperkenalkan istilah guntara untuk menamakan proses penurunan dan penaikan muka air laut yang terjadi secara global di seluruh permukaan bumi. Suess menafsirkan bahwa penurunan muka air laut global itu terjadi akibat penurunan dasar laut, sedangkan penaikannya terjadi akibat sedimentasi di laut dalam. Walau demikian, sebagian ahli geologi yang hidup pada awal abad 20 masih tetap berpegang pada teori Lyell yang menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan muka air laut adalah perubahan-perubahan tektonik di daratan. Pada waktu itu, sebagian ahli geologi Amerika mulai mengembangkan berbagai konsep yang menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terbentuknya ketidakselarasan global. Salah seorang pemuka kelompok ini adalah Chamberlin yang pada 1898 dan 1909 menerbitkan teorinya mengenai faktor-faktor diastrofisme terhadap stratigrafi sebagai akibat perubahan muka air laut global‖. Tiga diagram yang ditampilkan oleh Chamberlin dalam makalah tahun 1898 diperlihatkan pada gambar 1-3. Ketiga diagram itu dewasa ini dipandang oleh para ahli sebagai bentuk awal dari konsep-konsep sekuen stratigrafi modern. Gagasan-gagasan Chamberlin kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli geologi Amerika pada beberapa dekade berikutnya. Sebagian diantara ahli itu adalah Ulrich, Schuchert, dan Grabau. Sebuah gagasan penting dari kelompok guntaraini adalah teori pulsasi yang diformulasikan oleh Grabau. Pada dasarnya teori itu menyatakan bahwa perselingan endapan transgresi dan regresi dalam rekaman stratigrafi terjadi karena perubahan aliran panas dari dalam bumi. Menurut Grabau, dalam The Rhythm of the Ages (terbit tahun 1940), ―irama‖ denyut bumi memiliki periodisitas sekitar 30 juta tahun dan menyebabkan terbentuknya ketidakselarasan global. Ketidakselarasan itu selanjutnya dapat digunakan untuk membagi rekaman stratigrafi.

2

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Sebelum The Rhythm of the Age diterbitkan, ahli-ahli geologi Eropa, khususnya Stille (1924), mengembangkan gagasan mengenai ketidakselarasan global yang disebabkan oleh tektonik global. Dia juga menyatakan bahwa tektonik global itu juga menimbulkan perubahan muka air laut global. Pada awal abad 20 itu, sebagian ahli mulai menemukan adanya gejala pendauran berskala kecil (hingga beberapa meter) dalam sedimen pengandung batubara yang berumur Karbon di Illinois dan Kansas. Pada 1935, setelah melakukan penelitian terhadap perubahan-perubahan glacio-eustatic Plistosen, Wanles dan Shepard berpendapat bahwa siklotem pada strata Karbon terbentuk akibat akumulasi dan pelelehan gletser Gondwana. Pendapat ini mengangkat kembali konsep kontrol glacio-eustatic yang dicetuskan oleh Croll beberapa dekade sebelumnya. Sejak itu, konsep daur sedimen pada berbagai skala mulai meruak ke permukaan. Namun, pada 1949 Gilully mengemuka- kan bahwa orogenesis bukan merupakan proses episodik seperti yang dipahami para ahli geologi masa itu, melainkan proses yang menerus. Pendapat Gilully, seorang ahli geologi terpandang waktu itu, banyak mempengaruhi pandangan para ahli geologi lain. Akibatnya, siklotem kemudian ditafsirkan ulang sebagai produk autosiklis, yaitu sebagai hasil perpindahan lobus delta dari waktu ke waktu. Inilah yang kemudian menyebabkan sedimentologi naik daun pada tahun 1960-an karena orang memandang betapa pentingnya proses sedimentologi dalam menghasilkan daur sedimen. Menarik sekali apa yang dikemukakan oleh Dott (1992) bahwa pada waktu itu banyak ahli stratigrafi lebih menyukai menyebut dirinya sebagai ahli sedimentologi.

1.2.5 Pertengahan hingga Menjelang Akhir Abad 20

Pada 1949, Sloss, Krumbein, dan Dapples untuk pertama kalinya mengajukan konsep sekuen stratigrafi dalam sebuah pertemuan dimana Gilully justru mengajukan pendapat seperti yang telah dikemukakan di atas. Waktu itu ketiga ahli stratigrafi

tersebut mendefinisikan sekuen sebagai kumpulan strata dan formasiyang dibatasi oleh ketidakselarasan inter-regional. Meskipun konsep sekuen tidak mendapat tanggapan yang menggembirakan, Sloss (1963) memperlihatkan contoh penerapan konsep itu dengan menyajikan sejumlah sekuen pada Kraton Amerika Utara. Konsep tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh murid-murid Sloss di Northwestern University. Peter Vail, yang dewasa ini dipandang sebagai pencetus konsep sekuen stratigrafi modern, adalah salah seorang diantara murid Sloss. Salah satu karya tulis terpenting pada waktu itu adalah buah tangan Wheeler (1958) mengenai konsep kronostratigrafi. Isi makalah itu masih tetap digunakan hingga saat ini dan merupakan salah satu kunci dari konsep sekuen stratigrafi modern.

1.2.6 Seismik Stratigrafi

Terobosan penting dalam bidang stratigrafi terjadi pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an, sejalan dengan keberhasilan teknologi perekaman dan pengolahan data seismik. Pada 1977, dalam AAPG Memoir 26, Vail dkk mengemukakan konsep-konsep sekuen dan perubahan muka air laut global sebagai faktor utama yang mengontrol pembentukan sekuen. Tahun itu juga menandai pergantian tongkat kepemimpinan pengembangan konsep stratigrafi modern dari kalangan akademisi ke kalangan industri. Pada tahun-tahun berikutnya konsep sekuen dikembangkan lebih jauh sehingga tidak hanya diterapkan pada data seismik, namun juga pada data bor dan singkapan (Vail dkk, 1984). Pada 1985, dalam AAPG Memoir 39, Hubbard dkk mengajukan konsep megasekuen dan mengemukakan bahwa paket-paket endapan seperti itu terbentuk akibat proses-proses tektonik. Dengan demikian, perdebatan antara para pendukung tektonik dan guntara sebagai faktor pengontrol pembentukan sekuen kembali menghangat. Pada 1987, Haq dkk menerbitkan kurva perubahan muka air laut global. Kurva itu mungkin merupakan salah satu gambar paling kontroversial yang pernah diterbitkan oleh kelompok Exxon,‖ terutama karena data pendukung gagasan yang terkandung dalam diagram itu tidak pernah diterbitkan. Banyak ahli masih bertanya-tanya apakah koreksi-koreksi terhadap pengangkatan

3

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

dan subsidensi telah dimasukkan atau tidak. Selain itu, keakuratan penentuan umur ketakselarasan seperti yang diimplikasikan oleh diagram itu juga banyak dipertanyakan (a.l. Miall, 1991).

1.2.7 Sekuen Stratigrafi

Dalam SEPM Special Publication 42, ―kelompok Exxon‖ mengajukan sejumlah konsep baru seperti ruang akomodasi (accomodation space) dan parasekuen (parasequence). Publikasi ini menandai perluasan komunitas peminat sekuen stratigrafi, dari para penafsir seismik ke komunitas geologi secara keseluruhan. Sejak akhir dekade 1980-an hingga pertengahan dekade 1990-an ini, banyak diterbitkan makalah mengenai sekuen stratigrafi. Sebagian diantara makalah itu menerapkan teknik sekuen stratigrafi secara langsung, tanpa mengkajinya lebih dulu. Padahal, banyak ahli seperti Miall (1991) dan Schlager (1992), masih mempertanyakan kesahihan korelasi antar cekungan yang menjadi dasar penyusunan ―kurva Vail‖ (1987) dan model-model yang ditampilkan dalam SEPM Special Publication 42. Pada 1989, Galloway mengajukan sebuah model alternatif berupa sekuen yang tidak dibatasi oleh bidang ketidakselarasan, melain- kan oleh bidang banjir maksimum (marine flooding surface). Pitman (1978) jauh-jauh hari telah menunjukkan bahwa asal-usul sekuen dan pola onlap dapat dijelaskan sebagai produk subsidensi tepian cekungan. Cloething (1988) serta Kooi & Cloething (1991) menunjukkan bahwa perubahan muka air laut dan sekuen yang berskala jutaan tahun tidak hanya dapat dijelaskan sebagai produk perubahan muka air laut global, melainkan juga sebagai produk tegasan-tegasan dalam lempeng litosfir. Perkembangan mutakhir dalam sekuen stratigrafi muncul dalam bentuk yang disebut sebagai sekuen stratigrafi resolusi- tinggi (high-resolution sequence stratigraphy), yaitu penerapan konsep sekuen stratigrafi pada skala subseismik, serta dalam pemodelan cekungan sedimen. Van Wagoner dkk (1990) memelopori studi ini. Studi sekuen stratigrafi resolusi-tinggi juga dilakukan hingga daur-daur sedimen berukuran beberapa meter, khususnya pada endapan karbonat dan endapan campuran karbonat-silisiklastik (Hardie dkk, 1986; Goldhammer dkk, 1991). Teori milankovitch digunakan oleh para ahli sekuen stratigrafi untuk menjelaskan proses pembentukan siklus-siklus berskala subsekuen. Pemodelan komputer juga digunakan untuk meng- analisis dan mereplikasi proses pengisian cekungan sedimen, mulai dari skala beberapa meter hingga skala cekungan. Perangkat lunak yang menampilkan model-model pengisian cekungan banyak bermunculan, misalnya program yang dibuat oleh Royal Dutch/Shell, Aigner dkk (1990), dan program SEDPAK yang dibuat oleh University of South Caroline. Program komputer yang memperlihatkan model-model pembentukan daur sedimen pada skala sub-cekungan juga banyak dibuat, misalnya program Mr Sediment (Goldhammer dkk, 1989) serta program yang dirancang oleh Bosence & Waltham (1990).

1.2.8 Perkembangan di Masa Datang

Arah perkembangan sekuen stratigrafi di masa mendatang masih sukar untuk diprakirakan. Namun, paling tidak untuk jangka pendek, sistem karbonat perlu dipelajari lebih lanjut untuk membuktikan faktor yang mempengaruhinya. Selain itu, sebagaimana ditekankan oleh Posamentier & Weimer (1993), penelitian masa datang juga hendaknya diarahkan pada penerapan konsep sekuen stratigrafi terhadap endapan non-bahari dan endapan laut-dalam serta pada usaha-usaha untuk meningkatkan kesahihan atau menggantikan kurva perubahan muka air laut yang ada sekarang ini berdasarkan hasil penelitian terhadap singkapan dan data bawah permukaan. Schlager (1992) dan beberapa ahli lain menyarankan agar pendekatan sedimentologi lebih ditingkatkan sehingga kita dapat mengetahui dengan jelas sejauh mana pengaruh autosiklisitas dalam kerangka sekuen secara keseluruhan. Sebagai kata akhir, kita boleh berharap untuk menyaksikan perdebatan hangat mengenai berbagai konsep di seputar sekuen stratigrafi. Hal ini sudah barang tentu menggembirakan karena wajah stratigrafi menjadi jauh lebih menarik dibanding sebelum tahun 1960-an, sebelum Vail dkk menyelamatkan stratigrafi dari bentuknya yang membosankan.

4

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

BAB 2 KONSEP DAN PRINSIP SEKUEN STRATIGRAFI

2.1 PENDAHULUAN Rekaman stratigrafi dan pola strata batuan sedimen merupakan produk interaksi antara tektonik, guntara, sedimentasi, dan iklim. Interaksi tektonik dengan guntara mengontrol volume akomodasi (ruang yang tersedia untuk pengendapan sedimen). Interaksi tektonik, guntara, dan iklim mengontrol volume sedimen yang akan diendapkan dalam akomodasi sehingga secara tidak langsung menentukan volume akomodasi yang akan terisi oleh sedimen. Proses-proses sedimentasi autosiklis mengontrol arsitektur sedimen pengisi cekungan. Tulisan ini disusun untuk memperkenalkan prinsip-prinsip pembentukan, pengisian, dan penghancuran akomodasi. Setelah itu, akan ditunjukkan bagaimana prinsip-prinsip itu digunakan untuk membagi rekaman stratigrafi ke dalam sejumlah sekuen dan systems tract yang melukiskan penyebaran batuan dalam ruang dan waktu. Penjelasan disini ditujukan pada sistem silisiklastik. Sistem karbonat akan dijelaskan pada Bab 10 karena sistem tersebut memiliki karakter yang berbeda dengan sistem silisiklastik.

2.1.1 Pembentukan Cekungan

Tektonik merupakan faktor utama yang mengontrol pembentukan dan penghancuran akomodasi. Tanpa subsidensi tektonik, tidak akan ada cekungan sedimen. Tektonik juga mempengaruhi laju pemasokan sedimen ke dalam cekungan. Subsidensi tektonik terjadi melalui dua mekanisme utama: ekstensi dan pembebanan fleksur (flexural loading). Gambar 2-1 melukiskan kurva-kurva laju subsidensi teoritis dalam extensional, foreland, dan strike-slip basins. Laju subsidensi itu menentu- kan volume sedimen yang terakumulasi dalam cekungan, setelah dimodifikasi oleh efek pembebanan, kompaksi dan guntara. Extensional basin dapat terbentuk pada berbagai tatanan tektonik lempeng, namun umumnya terbentuk pada tepi lempeng

konstruktif. Dalam extensional basin, laju perubahan subsidensi tektonik berlangsung secara sistematis dari waktu ke waktu. Subsidensi pada cekungan ini diawali oleh perioda subsidensi awal yang berlangsung cepat akibat peneraan isostatis, kemudian diikuti oleh perioda subsidensi termal yang berlangsung lambat dan berangsur (60-100 juta tahun) akibat pendinginan astenosfir. Perubahan yang sistematis dari laju subsidensi tektonik sangat mempengaruhi geometri endapan pengisi cekungan. Hubbard (1988) membagi endapan cekungan ini ke dalam 3 paket: (1) megasekuen yang terbentuk sebelum terjadinya retakan (pre-rift megasequence); (2) megasekuen yang terbentuk selama berlangsungnya retakan (syn-rift megasequence); dan (3) mega- sekuen yang terbentuk setelah terjadinya retakan (post-rift megasequence). Pada model syn-rift megasequence sederhana, sedimen diendapkan dalam deposenter-deposenter yang keberadaannya dikontrol oleh sesar-sesar aktif dalam cekungan itu. Subsidensi diferensial di sepanjang sesar-sesar ekstensi mengontrol penyebaran fasies dalam deposenter-deposenter tersebut. Dalam post-rift megasequence, setiap topografi yang terbentuk selama syn-rift phase sedikit demi sedikit akan tertutup oleh sedimen yang diendapkan pada post-rift phase. Sedimen-sedimen itu akan memperlihatkan pola onlap terhadap tepi cekungan sehingga menghasilkan geometri “streers head” (McKenzie, 1978). Syn-rift megasequence dan post-rift megasequence dalam cekungan bahari mengandung sekuen-sekuen yang pembentukannya dikontrol oleh perubahan muka air laut frekuensi tinggi. Foreland basin terbentuk sebagai hasil tanggapan litosfir terhadap beban pada sabuk anjakan. Litosfir akan melengkung dan amblas akibat beban baru yang diletakkan di atas litosfir itu melalui proses pensesaran naik. Subsidensi tidak sama di setiap tempat. Subsidensi paling tinggi terjadi pada pusat beban. Sedimen pengisi cekungan ini memiliki ciri khas, yaitu bentuknya membaji, dimana ketebalan sedimen bertambah ke arah sabuk anjakan. Lebar cekungan ini sebanding dengan ketegaran litosfir yang ada di bawah sabuk anjakan, sedangkan kedalamannya sebanding dengan besarnya beban. Foreland basin di dekat

5

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

sabuk pegunungan yang sedang tumbuh umumnya besar serta memperoleh pasokan sedimen dalam jumlah dan laju yang tinggi. Penghentian sementara pensesaran naik serta tererosinya sabuk pegunungan menyebabkan berkurangnya beban yang dipikul oleh litosfir dan, pada gilirannya, menyebabkan cekungan terangkat. Strike-slip basin tidak memiliki pola subsidensi yang khas. Walau demikian, secara umum laju subsidensi dan pengangkatan pada cekungan itu sangat tinggi. Gambar 2-2 menunjukkan kurva subsidensi dari dua cekungan nyatayaitu Llanos Basin (Columbia, AS) dan South Viking Grabenyang diperoleh dari hasil perhitungan. Di Llanos Basin, pasokan sedimen lebih tinggi daripada subsidensi. Karena itu, cekungan tersebut terisi penuh oleh sedimen. Sedimen lain yang masuk ke dalam cekungan tersebut di-bypass menuju laut yang lebih dalam. Kurva subsidensi cekungan itu menunjukkan bahwa subsidensi Jaman Kapur dan Tersier berlangsung lambat dan ditafsirkan sebagai subsidensi termal dalam cekungan belakang busur. Dua kali penambahan laju subsidensi yang terjadi pada Eosen Tengah-Akhir dan Miosen Tengah ditafsirkan terjadi pada dua fasa pembentukan Pegunungan Andes. Di South Viking Graben, sebuah rift basin, sedimentasi tidak selalu sejalan dengan subsidensi tektonik. Pada Jaman Kapur, cekungan ini kekurangan sedimen sehingga laju subsidensi lebih lambat daripada yang sewajarnya. Pada Jaman Tersier,

sewaktu daratan Skotlandia dan North Sea Basin terangkat, sedimen banyak diangkut ke dalam cekungan ini sehingga kembali mengalami subsidensi (Milton dkk, 1990). Bagian-bagian lain dari cekungan ini kemudian terisi oleh sedimen sehingga akhirnya terbentuk laut dangkal seperti keadaannya sekarang. Pemisahan fasa subsidensi syn-rift dan post-rift dalam cekungan ini sukar dilakukan karena adanya perioda kekurangan sedimen yang menjadi perioda transisi dari kedua fasa tersebut (Milton, 1993). Sewaktu subsidensi berlangsung cepat, batas-batas sekuen yang terbentuk akibat penurunan muka air laut akan terhapus sehingga sukar dikenal. Di lain pihak, batas-batas sekuen yang terbentuk pada waktu subsidensi atau pengangkatan yang lambat akan tampak jelas.

2.1.2 Konsep Tepian Cekungan

Hasil-hasil pengamatan seismik menunjukkan bahwa progradasi pada tepi cekungan sering memperlihatkan geometri yang konsisten (gambar 2-3). Topset adalah istilah yang digunakan untuk menamakan bagian puncak profil tepi cekungan yang bergradien rendah (< 1 o ). Pada penampang seismik, topset tampak datar dan umumnya mengandung sistem pengendapan aluvial, delta, dan laut dangkal. Garis pantai merupakan suatu titik pada topset. Titik itu dapat berimpit dengan offlap break, namun dapat pula terletak ratusan kilometer lebih ke arah darat daripada offlap break. Titik-titik terminasi topset ke arah daratan disebut coastal onlap. Di

atas coastal onlap terdapat dataran pantai atau fasies paralik. Klinoform (clinoform) adalah istilah yang dipakai untuk menama- kan bagian profil tepian cekungan yang lebih curam (umumnya > 1 o ) serta terletak lebih ke arah cekungan dibanding topset. Klinoform umumnya mengandung sistem pengendapan perairan yang lebih dalam dibanding topset serta bercirikan sistem lereng. Kemiringan klinoform seringkali dapat diketahui dari data seismik. Bottomset adalah istilah yang dipakai untuk menama- kan bagian profil tepi cekungan yang bergradien rendah dan mengandung sistem pengendapan laut dalam. Titik dimana terjadi perubahan kemiringan pada profil tepi cekungan terletak antara topset dan klinoform. Titik itu disebut offlap break (Vail dkk, 1991). Sebelumnya titik itu disebut shelf edge (Vail dan Todd, 1981; Vail dkk, 1984). Namun, istilah yang disebut terakhir ini dapat menimbulkan kerancuan dengan istilah shelf break, yaitu tepi cekungan masa kini yang biasanya bukan merupakan gejala pengendapan, melainkan gejala morfologi. Istilah depositional shoreline break (Van Wagoner dkk, 1988) juga pernah digunakan, namun istilah itu mengimplikasikan bahwa titik perubahan kemiringan dalam profil pengendapan berimpit dengan garis pantai. Istilah offlap break dipakai disini mengingat istilah tersebut tidak mengimplikasikan bahwa titik perubahan kemiringan dalam profil pengendapan sama dengan garis pantai. Profil topset-clinoform merupakan produk interaksi pasokan sedimen dengan energi gelombang, badai, dan pasut di dalam cekungan. Sedimen diangkut menuju cekungan melalui coastal onlap oleh sistem sungai, kemudian didistribusikan ke daerah

6

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

topset oleh gelombang dan/atau berbagai sistem arus seperti arus fluvial, arus pasut, arus badai, dsb. Proses pengangkutan sedimen pada topset ini hanya bekerja efektif pada perairan dangkal, hingga kedalaman beberapa puluh meter. Agar sedimen dapat terangkut menuju perairan yang lebih dalam, diperlukan adanya lereng yang memungkinkan sedimen dikenai oleh gaya gravitasi. Klinoform terbentuk dengan kemiringan yang memenuhi persyaratan tersebut. Besarnya sudut kemiringan klinoform sangat dipengaruhi oleh tipe sedimen penyusunnya. Sedimen kasar akan membentuk klinoform yang lebih curam dibanding sedimen halus (Ketner, 1990). Sedimen karbonat juga menghasilkan klinoform yang lebih curam (hingga 35 o ) dibanding sedimen klastika halus (0,5 o 3 o ). Selain oleh material yang kasar, lereng pengendapan sistem klastika yang curam juga dapat terbentuk jika lereng itu merupakan zona erosi atau zona bypassing sedimen. Arti penting dari offlap break dalam sistem pengendapan akan tampak jelas sewaktu terjadi penurunan muka air laut. Jika penurunan muka air laut menyebabkan tersingkapnya offlap break, sungai akan menoreh sebagian topset untuk membentuk kesetimbangan baru dengan base level baru (hal ini akan dibahas lebih jauh pada sub bab 2.4.3). Tanggapan sistem peng- endapan terhadap penurunan muka air laut ini tergantung pada khuluk tepi cekungannya (gambar 2-4). Shelf break margin adalah tepi cekungan dimana klinoform berkembang baik. Penorehan oleh sungai selama terjadinya penurunan muka air laut akan menyebabkan diendapkannya sedimen pada bagian-bagian tertentu dari klinoform. Hancurnya massa sedimen akan menyebabkan terbentuknya arus turbid besar dan endapan kipas bawah laut. Shelf break margin umumnya ditemukan pada tepi benua pasif dan terbentuk pada waktu terjadinya penaikan muka air laut secara lambat, pada saat mana sistem delta dengan mudah berprogradasi menuju tepi paparan. Ramp margin umumnya berupa perairan dangkal, dimana badai dan arus dapat mempengaruhi daerah yang luas. Sudut pengendapan disini umumnya < 1 o dan seismic clinoform (jika ada) akan miring sekitar 0,5 o . Offlap break pada ramp margin kemungkinan terletak pada garis pantai, di tempat mana terjadi perubahan gradien dari gradien sungai menjadi gradien paparan atau perenggan delta yang sedikit lebih curam daripadanya. Tanggapan ramp margin terhadap perubahan muka air laut berbeda dengan tanggapan yang diberikan oleh shelf break margin. Dalam tatanan ramp margin, turbidit tidak terbentuk pada waktu penurunan muka air laut. Pada waktu itu sedimen diangkut menuju cekungan tanpa melalui proses bypassing. Jadi, turbidit yang ditemukan dalam endapan silisiklastik ramp margin kemungkinan bukan merupakan kipas bawah laut, melainkan endapan perenggan delta (Van Wagoner dkk, 1990). Banyak delta masa kini membentuk ramp margin. Delta-delta itu umumnya merupakan delta paparan yang berprogradasi di atas topset shelf break margin yang terbentuk sebelumnya (gambar 2-4). Frazier (1974) menyatakan bahwa pengendapan di Teluk Meksiko praktis hanya terbatas pada Delta Mississippi yang berprogradasi hingga mencapai perairan dengan kedalaman 100 m. Delta Mississippi masa kini membentuk ramp margin, meskipun sedikit progradasi akan mengubah status delta tersebut menjadi shelf break margin. Rift margin merupakan ciri khas dari cekungan yang mengalami ekstensi kerak secara aktif. Dalam cekungan seperti itu, sesar-sesar ekstensi sangat mempengaruhi paleogeografi dan laju influks sedimen. Penyebaran akomodasi dalam rift margin terutama dikontrol oleh tektonik. Laju subsidensi umumnya bertambah ke arah pusat retakan, meskipun setiap individu blok sesar akan memiliki pola akomodasi masing-masing. Subsidensi paling kecil terjadi pada puncak foot-wall, bahkan bagian itu mungkin terangkat dan tererosi. Subsidensi makin tinggi ke arah sesar pengontrol. Sistem pengendapan yang ada tergantung pada tatanan tektonik cekungan; apakah retakan itu terjadi pada tatanan benua atau tatanan samudra. Zona-zona transfer (transfer zones) pada rift margin akan mengontrol titik-titik dimana sedimen memasuki cekungan. Rift margin dicirikan oleh relief topografi yang tinggi dan akumulasi sedimen yang sangat rendah pada beberapa bagian cekungan karena sedimen yang diangkut ke dalam cekungan ini akan di-bypassing menuju pusat-pusat retakan. Basin margin system, dengan klinoform yang panjang dan topset yang relatif sempit, mungkin terbentuk di perairan dalam (gambar 2-4). Penjebakan material kasar pada topset kemungkinan kecil terjadi karena sebagian besar tampaknya di-bypassing menuju cekungan.

7

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Foreland-basin margin sangat tergantung pada apakah sedimen masuk melalui sumbu cekungan atau langsung dari sabuk anjakan (thrust belt). Jika sedimen masuk ke dalam cekungan langsung dari sabuk anjakan, maka laju subsidensi cekungan akan bertambah ke arah sabuk anjakan (ke arah sumber sedimen). Dengan kata lain, akomodasi yang lebih besar tidak berada pada pusat cekungan, melainkan pada tepinya. Mekanisme itu akan mempengaruhi geometri endapan yang terbentuk dan akan menghasilkan endapan aggradatif yang kecil kemungkinan memiliki klinoform berskala seismik (Posamentier & Allen, 1993). Growth-fault margin dicirikan oleh sesar-sesar ekstensi yang terbentuk bersamaan dengan sedimentasi akibat gaya gravitasi. Laju subsidensi yang lebih tinggi terjadi pada sisi hanging-wall dari sesar tumbuh sedemikian rupa sehingga menyebabkan penyebaran sedimen menjadi lebih luas. Efek sesar tumbuh terhadap sistem pengendapan tergantung pada apakah sesar-sesar itu memiliki ekspresi topografi di dasar laut atau tidak. Jika hanging-wall memiliki relief topografi yang lebih rendah dibanding foot-wall, diferensiasi fasies akan terjadi di sepanjang sesar dengan sistem klastik laut-dalam akan terletak pada bagian sesar yang turun. Growth-fault margin akan dibahas lebih jauh pada sub bab 9.3.3.

2.2 MUKA AIR LAUT RELATIF, GUNTARA, DAN TEKTONIK

2.2.1 Definisi Muka Air Laut

Untuk memahami faktor-faktor yang mengontrol pembentukan sekuen, pertama-tama kita perlu memahami apa yang dimaksud

dengan guntara, muka air laut, dan kedalaman (lihat Gambar 2-5).

2.2.1.1 Guntara

Guntara (eustasy; global eustasy; global sea-level) diukur dari muka air laut hingga suatu datum tetap, biasanya pusat bumi.

Guntara dapat berubah dengan berubahnya volume cekungan (misalnya akibat perubahan volume punggungan tengah samudra) atau berubahnya volume air laut (misalnya akibat glasiasi-deglasiasi). Penafsiran perubahan guntara dari rekaman batuan sangat kompleks dan merupakan topik ilmiah yang kontroversial. Untuk sementara ini, hal yang patut dicatat adalah bahwa guntara dapat naik atau turun sedemikian rupa sehingga menyebabkan berubahnya posisi base-level secara global. Base level sendiri didefinisikan sebagai suatu batas di atas mana proses yang terjadi praktis hanya berupa erosi.

2.2.1.2 Muka Air Laut Relatif

Muka air laut relatif (relative sea-level) diukur dari muka air laut hingga suatu datum lokal yang dapat berubah-ubah posisinya, misalnya batas atas batuan dasar (basement) atau sebuah bidang di dalam tumpukan sedimen dasar laut (Posamentier dkk, 1988). Subsidensi, pengangkatan batuan dasar, kompaksi sedimen yang melibatkan bidang acuan pengukuran muka air laut relatif, dan perubahan guntara, semuanya dapat menyebabkan berubahnya muka air laut relatif. Muka air laut relatif dapat naik karena subsidensi, kompaksi dan/atau turunnya guntara; muka air laut relatif dapat turun karena adanya pengangkatan dan/atau penaikan guntara. Muka air laut relatif hendaknya tidak terancukan dengan kedalaman.

2.2.1.3 Kedalaman

Kedalaman diukur dari muka air laut hingga permukaan sedimen dasar laut. Titik kesetimbangan (equilibrium point) kadang- kadang digunakan untuk menamakan suatu titik pada profil pengendapan dimana laju perubahan muka air laut relatif sama dengan nol. Titik tersebut, pada suatu waktu, akan memisahkan zona dimana terjadi penaikan muka air laut relatif dengan zona dimana terjadi penurunan muka air laut relatif.

8

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

2.2.2 Akomodasi

Laju guntara dan subsidensi secara bersama-sama akan mengontrol akomodasi. Akomodasi didefinisikan sebagai ruang yang tersedia untuk pengakumulasian sedimen pada suatu waktu (Jervey, 1988). Akomodasi dikontrol oleh base level karena, untuk dapat terakumulasi, sedimen memerlukan ruang yang terletak di bawah base level. Posisi base level berbeda-beda, tergantung tatanan pengendapannya (gambar 2-6). Dalam lingkungan aluvial, base level dikontrol oleh profil sungai yang secara berangsur berubah mendekati base level laut atau danau, ke tempat mana sungai tersebut bermuara (Mackin, 1948). Dalam sistem delta dan pesisir, base level praktis ekivalen dengan muka air laut. Dalam lingkungan laut dangkal, base level juga praktis berupa muka air laut, meskipun dalam kondisi tertentu alas gelombang (wave base) dapat menyebabkan “graded shelf profile” berperan sebagai base level. Gambar 2-7 memperlihatkan kaitan antara akomodasi, guntara, dan kedalaman pada sistem pesisir-paparan. Berikut akan dibahas kaitan antara muka air laut relatif dengan akomodasi pada sistem pesisir-paparan. Sistem-sistem pengendapan lain seperti sungai, paralik, kipas bawah laut, dan karbonat akan dibahas pada bab-bab lain.

2.2.3 Akomodasi dari Waktu ke Waktu

Untuk memahami bagaimana keadaan akomodasi dari waku ke waktu, pertama-tama kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana laju subsidensi dan perubahan muka air laut global (dalam hal ini diidealkan bersifat sinusoidal) secara bersama- sama memberikan pengaruh terhadap laju pembentukan dan penghancuran akomodasi. Dengan kata lain, kita akan melihat pengaruh interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap penaikan dan penuruman muka air laut relatif. Pada gambar 2-8, subsidensi digambarkan sebagai garis lurus, dimana gradien pada suatu titik dari garis itu melukiskan laju subsidensi pada titik tersebut. Gradien yang berbeda-beda dapat terjadi untuk bagian-bagian cekungan yang laju subsidensinya berubah dari waktu ke waktu. Pada gambar itu akomodasi sama dengan perubahan muka air laut relatif karena kurvanya dilukiskan dari titik nol. Pada gambar tersebut guntara dilukiskan dengan sebuah kurva yang sama. Perubahan muka air laut

relatif dapat diketahui dengan mudah, yaitu dengan cara menjumlahkan kedua kurva tersebut. Jika subsidensi berlangsung lambat, akomodasi maksimum akan tercapai pada saat guntara mencapai maksimum. Ketika guntara turun hingga mencapai posisi yang sama dengan posisi awalnya, akomodasi turun hingga mencapai harga yang sama dengan harga yang semata-mata dihasilkan akibat subsidensi. Jika subsidensi berlangsung lebih cepat, akomodasi maksimum terjadi pada waktu yang lebih lambat. Akomodasi juga mungkin tidak akan berkurang, walaupun guntara mengalami penurunan, jika laju subsidensi sangat tinggi. Perhatikan bahwa kurva yang sama secara teoritis dapat diperoleh jika kita menggunakan kurva subsidensi yang berubah- ubah dengan waktu, sedangkan guntara dipandang tetap.

2.2.4 Orde Daur Endapan dan Korelasi Global

Sekuen pengendapan merupakan satu siklus endapan lengkap yang bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh bidang ketidakselarasan erosional. Suatu sekuen memiliki umur maksimum yang harganya sama dengan selisih antara umur bidang- bidang keselarasan yang korelatif dengan bidang ketakselarasan pembatas sekuen tersebut. Dengan demikian, umur sebuah sekuen ditentukan oleh event yang mengontrol pembentukan dan penghancuran akomodasi, yaitu subsidensi tektonik dan guntara. Siklus subsidensi tektonik dan siklus guntara dapat berlangsung pada rentang waktu yang berbeda-beda. Karena itu, endapan yang terbentuk juga berbeda-beda, sesuai dengan siklus guntara dan siklus subsidensi yang mengontrolnya. Dengan demikian, sangat penting artinya bagi kita untuk menggolongkan berbagai daur endapan berdasarkan umurnya. Penggolongan ini menghasilkan kategori-kategori yang dikenal dengan sebutan daur orde-1, orde-2, orde-3, dst (gambar 2-9). Adanya skema

9

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

penggolongan tersebut memungkinkan kita untuk membagi isi suatu cekungan ke dalam sejumlah daur yang masing-masing mencerminkan siklus subsidensi-guntara tertentu. Pada gambar 2-9 terlihat adanya empat orde daur stratigrafi. Daur penyusupan (encroachment cycle) terbentuk pada

rentang waktu yang lama (> 50 juta tahun) di tepi benua-benua raksasa dan merupakan daur orde pertama. Hingga saat ini, sebagaimana tersirat dari kurva perubahan muka air laut karya Haq dkk (1987), hanya dikenal ada dua daur penyusupan dalam rekaman stratigrafi Paleozoikum. Daur orde-1 diperkirakan dikontrol oleh tectono-eustasy, yaitu perubahan volume cekungan yang berkaitan dengan siklus tektonik lempeng (Pitman, 1978). Daur orde-2 (350 juta tahun) merupakan bagian utama dari daur orde-1. Daur ini mencerminkan jenjang-jenjang tertentu dari evolusi cekungan. Daur ini dapat terbentuk akibat perubahan laju subsidensi tektonik dalam cekungan atau akibat peningkatan laju pengangkatan di daerah sumber sedimen. Daur orde-3 (0,53 juta tahun) merupakan daur dasar dalam sekuen stratigrafi karena daur ini sering terdeteksi dengan baik dalam rekaman seismik. Daur inilah yang disebut "sekuen" oleh para ahli stratigrafi Exxon pada saat mencetuskan konsep- konsep sekuen stratigrafi. Menurut Vail dkk (1991), pembentukan daur ini dikontrol oleh glacio-eustasy. Walau demikian, mekanisme tektonik juga memungkinkan terbentuknya daur orde-3 ini (Cloetingh, 1988). Sekuen gabungan (composite sequence) adalah istilah yang sering dipakai untuk menyatakan daur orde-2 atau orde-3 yang disusun oleh daur-daur dari orde yang lebih tinggi (Mitchum & Van Wagoner, 1991). Daur orde-4 (0,10,5 juga tahun) merupakan paket endapan yang menunjukkan lingkungan pengendapan yang lebih dangkal ke bagian atas serta dibatasi oleh bidang-bidang yang mencerminkan perubahan kedalaman lingkungan pengendapan yang tiba-tiba. Daur yang disebut "parasekuen" dalam konsep sekuen stratigrafi Exxon ini mungkin terbentuk oleh proses-proses allosiklis. Teori yang mengungkapkan bahwa guntara merupakan faktor utama yang mengontrol pengendapan sedimen mungkin merupakan salah satu konsep stratigrafi terpadu yang banyak menarik perhatian para ahli geologi selama berabad-abad (Dott, 1992). Jika memang benar bahwa jejak guntara terekam dalam semua rekaman stratigrafi, maka kita akan dapat menentukan umur satu paket tertentu berdasarkan pola sekuen dan systems tract yang terlihat pada rekaman stratigrafi serta memprakirakan tatanan stratigrafi suatu daerah perawan berdasarkan pengetahuan mengenai tatanan stratigrafi baku. Diagram perubahan muka air laut global pertama kali diajukan oleh Vail dkk (1977), kemudian diperbarui oleh Haq dkk (1987), berdasarkan hasil pengukuran-pengukuran yang dilakukan pada berbagai cekungan di dunia ini. Diagram itu dibuat untuk mendukung teori yang menyatakan bahwa pembentukan sebagian besar daur orde-3 dikontrol oleh guntara. Diagram itu mengundang banyak pertanyaan dari kalangan ahli stratigrafi. Sebagian diantaranya kemudian menyimpulkan bahwa diagram itu disusun berdasarkan teori, bukan data. Masalah kontroversi kurva tersebut berada di luar ruang lingkup pembahasan buku ini. Walau demikian, akan dikemukakan beberapa komentar penting yang perlu dikaji bersama-sama. 1. Data yang menjadi dasar penyusunan kurva yang disusun oleh Haq dkk (1987) tidak pernah diungkapkan seluruhnya, khususnya data-data yang menunjukkan bahwa batas-batas sekuen memang korelatif secara global. Miall (1986, 1992), salah seorang pengkritik kurva tersebut, menyatakan: "Premis dasar dalam kurva Exxon, yang menyatakan bahwa siklus

Memang ada kasus-kasus tertentu yang memperlihatkan

bahwa paket-paket sedimen tertentu memperlihatkan kesamaan umur secara global (misalnya siklus glacioeustatic orde-4

namun sebagian besar

endapan Fanerozoikum tidak menunjukkan kesamaan umur seperti itu" (Miall, 1991). Miall juga menyatakan bahwa masih diragukan apakah kontrol biostratigrafi global cukup akurat (tanpa adanya kerancuan) untuk mengkorelasikan perubahan muka air laut orde-3. Dengan demikian, hingga saat ini, konsep globalitas kesamaan umur siklus-siklus guntara masih menjadi bahan perdebatan.

guntara orde-3 berkorelasi secara global, masih belum terbukti

dan orde-5 dalam endapan Neogen dan mungkin pula dalam endapan Paleo-zoikum akhir

),

10

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

2. Mekanisme pembentukan siklus orde-3 masih menjadi masalah untuk beberapa bagian waktu geologi tertentu. Bertambah- nya volume es selama zaman es akan menyebabkan turunnya guntara pada akhir Kenozoikum dan akhir Paleozoikum. Namun, mekanisme seperti itu tidak terjadi pada Jaman Kapur dan Jura yang bebas es. Cloetingh (1985) mengajukan gagasan bahwa intraplate stress merupakan mekanisme tektonik yang menyebabkan terbentuknya siklus orde-3.

3. Hingga kini para ahli belum sepakat bahwa jejak-jejak guntara memang terekam dalam semua cekungan. Beberapa ahli,

misalnya Hubbard (1988), bahkan berkeyakinan bahwa jejak-jejak itu kemungkinan tertutup oleh jejak-jejak tektonik. Walau demikian, penelitian masih terus dilakukan oleh para ahli. Penelitian dewasa ini antara lain diarahkan untuk menentu- kan umur ketidakselarasan pada tepi-tepi cekungan secara lebih akurat serta mengaitkan umur tersebut dengan rekaman isotop oksigen sehingga informasi ini dapat dikaitkan langsung dengan perubahan volume es (a.l. Miller dkk, 1991, 1993). Selain itu, banyak proyek penelitian dilaksanakan untuk menentukan umur dan mengkorelasikan batas-batas sekuen berskala regional di Eropa (a.l. De Graciansky dkk, 1993).

2.3 PASOKAN SEDIMEN Laju pemasokan sedimen mengontrol volume akomodasi yang terisi serta bagian-bagian mana saja yang akan terisi. Interaksi antara pasokan sedimen dengan subsidensi akan menentukan apakah fasies yang terbentuk dalam akomodasi berprogradasi ke arah cekungan atau beretrogradasi ke arah darat. Kaliber sedimen yang diangkut sangat mempengaruhi tipe fasies yang terbentuk dalam akomodasi. Dalam bagian ini, pertama-tama kita akan membahas prinsip-prinsip yang mengontrol pemasokan sedimen silisiklastik menuju tepian cekungan serta memperlihatkan bagaimana pasokan sedimen berubah dari waktu ke waktu. Setelah itu kita akan membahas bagaimana akomodasi terisi pada saat laju pasokan tinggi, sedang, atau rendah.

2.3.1 Prinsip-Prinsip Pemasokan Sedimen Klastik

Sungai merupakan agen utama yang mengangkut sedimen daratan menuju cekungan pengendapan. Volume sedimen yang terangkut menuju tepi cekungan merupakan fungsi yang kompleks dari fisiografi, tektonik, dan iklim daratan yang menjadi sumber sedimen. Hasil-hasil pemelajaran terhadap sungai masa kini menunjukkan bahwa laju pemasokan sedimen menuju tepi- tepi cekungan yang ada di seluruh dunia sangat bervariasi (gambar 2-10). Sekitar 70% beban sedimen berasal dari 10% bagian daratan yang ada di dunia ini. Selain itu, 20% beban sungai diangkut menuju tepi cekungan oleh tiga sungai besar: Gangga, Brahmaputra, dan Huang He (Sungai Kuning) (Summerfield, 1991). Jumlah sedimen yang diangkut menuju tepi cekungan merupakan fungsi dari dua faktor utama: (1) luas cekungan pengaliran dan (2) laju denudasi (erosi) mekanis. Tektonik, baik yang berskala lokal maupun regional, mempengaruhi bentuk, ukuran, dan relief cekungan pengaliran, geologi daerah sumber, serta kaliber sedimen yang tererosi. Laju denudasi sungai merupakan fungsi yang kompleks dari relief cekungan pengaliran dan iklim. Iklim tidak hanya mempengaruhi daya erosi sungai, namun juga erodibilitas tanah pada cekungan pengaliran serta menentukan ada tidaknya vegetasi. Menurut hasil penelitian akhir-akhir ini, laju denudasi bervariasi. Sebagai contoh, laju denudasi yang lebih kecil dari 1 mm per 1000 tahun terjadi di cekungan pengali ran Sungai St Lawrence dan 640 mm per 1000 tahun di cekungan pengaliran Sungai Brahmaputra. Cekungan pengaliran Sungai Huang He menunjukkan laju denudasi yang ekstrim, yaitu 19.800 mm per 1000 tahun. Salah satu alasan yang menyebabkan tingginya laju denudasi pada cekungan itu ialah karena cekungan tersebut mencakup daerah seluas 3000 km 2 yang ditutupi oleh loess serta terletak pada daerah semiarid yang jarang vegetasi (Summerfield, 1991). Dari pembahasan di atas tampak jelas bahwa tidak benar apabila kita berpikir bahwa pemasokan sedimen ke dalam cekungan bersifat tetap, baik dalam segi ruang maupun waktu. Pemasokan sedimen lokal tergantung pada posisi sebuah titik dimana sungai mulai memasuki wilayah tepi cekungan. Selain itu, mungkin ada pula kaitan antara siklus muka air laut yang

11

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

dikontrol oleh glacio-eustacy dengan iklim pada cekungan pengaliran sungai (Blum, 1990). Hal ini mengandung pengertian bahwa pemasokan sedimen berubah-ubah pada siklus muka air laut yang berbeda-beda.

2.3.2 Pengisian Akomodasi

Jumlah sedimen yang diangkut ke dalam cekungan merupakan fungsi dari laju pemasokan sedimen serta posisi titik masuk sedimen ke dalam cekungan. Gambar 2-11 memperlihatkan kaitan antara fasies, muka air laut relatif, dan laju akumulasi sedimen. Pada ketiga gambar itu, kurva perubahan muka air laut relatif dibuat tetap, sedangkan kurva laju sedimentasi berbeda- beda. Dengan demikian, ketiga gambar itu dapat dipandang sebagai lukisan yang memperlihatkan bagian-bagian cekungan yang jaraknya berbeda-beda, relatif terhadap titik sumber. Setiap model dibuat pada waktu dan kedalaman nol yang mengandung pengertian bahwa model itu diawali ketika garis pantai tepat berada pada titik tersebut. Untuk menyederhanakan gambaran tersebut, Jervey (1988) menyatakan adanya dua tipe endapan yang disebutnya "mud prone" (endapan bahari) dan "sand prone" (endapan dataran pantai). Pada lokasi dimana laju pemasokan sedimen rendah, akomodasi selalu lebih besar dari akumulasi sedimen, garis pantai bermigrasi ke arah daratan, trasgresi terjadi, dan akan membentuk daerah perairan yang relatif dalam. Pada kondisi seperti itu, kemungkinan besar akan terbentuk fasies bahari "mud prone". Pada lokasi dimana laju pemasokan sedimen sedang, dasar laut dapat beragradasi hingga mencapai muka air laut (alas kikis). Laju peningkatan akomodasi pada mulanya lebih tinggi dari pemasokan sedimen sehingga terjadi trangresi. Pada waktu itu akan diendapkan serpih bahari. Ketika laju penaikan muka air laut berkurang, akan terjadi regresi. Proses ini terus berlangsung sementara fasies bahari mulai beragradasi hingga mencapai muka air laut dan garis pantai kembali terletak pada titik tersebut. Setelah itu, pemasokan sedimen melebihi laju pembentukan akomodasi, namun bidang sedimen masih tetap dipertahankan pada posisi muka air laut masa itu bersamaan dengan diendapkannya fasies dataran pantai "sand prone". Sedimen yang berlebih akan di-bypass menuju bagian cekungan yang lebih dalam. Ketika laju pembentukan akomodasi berkurang (ketika terjadi penurunan muka air laut), sedimen yang telah terbentuk sebelumnya akan tererosi kembali. Pada lokasi dengan laju pemasokan sedimen tinggi, laju pemasokan sedimen selalu melebihi laju pembentukan akomodasi. Pada waktu itu kemungkinan akan diendapkan sedimen dataran pantai atau sedimen dataran delta. Regresi garis pantai akan terus terjadi selama siklus perubahan muka air laut. Laju akumulasi pada titik ini tergantung pada laju pembentukan akomodasi. Erosi kemungkinan akan terjadi sewaktu terjadinya penurunan muka air laut.

2.3.3 Arsitektur Cekungan

Untuk memahami perubahan topset-clinoform dari waktu ke waktu, pertama-tama kita perlu memahami kaitan antara laju pemasokan sedimen dengan laju pembentukan akomodasi topset . Akomodasi topset (topset accomodation) itu kadang-kadang disebut juga "akomodasi paparan" (shelf accomodation). Laju perubahan akomodasi merupakan fungsi dari besaran penaikan muka air laut dikalikan dengan luas topset. Interaksi antara laju pembentukan akomodasi dengan laju pemasokan sedimen akan menghasilkan berbagai geometri endapan seperti terlihat pada gambar 2-12. Geometri progradasional terbentuk jika laju pemasokan sedimen lebih tinggi dari laju pembentukan akomodasi. Pada waktu itu sabuk-sabuk fasies bermigrasi ke arah cekungan. Pada penampang seismik, progradasi itu terlihat sebagai klinoform dimana offlap break tampak bergeser secara berangsur menuju cekungan. Dalam kaitan dengan geometri ini, istilah regresi dapat

digunakan untuk menyatakan proses perpindahan garis pantai ke arah cekungan. Geometri agradasi terbentuk jika pemasokan sedimen lebih kurang sama dengan laju pembentukan akomodasi. Sabuk fasies bertumpuk satu di atas yang lain; offlap break tidak pindah, baik ke arah cekungan maupun ke arah daratan.

12

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Geometri retrogradasi terbentuk jika pemasokan sedimen lebih kecil dari laju pembentukan akomodasi. Sabuk-sabuk fasies bermigrasi ke arah darat dan offlap break yang relatif tua akan tinggal sebagai sisa. Dalam kaitannya dengan hal ini, istilah transgresi dipakai untuk menyatakan proses perpindahan garis pantai ke arah daratan. Ketiga tipe geometri endapan tersebut di atas (progradasi, agradasi, dan retrogradasi) tidak bersifat menerus, namun terdiri dari satuan-satuan progradasi berskala sub-seismik yang disebut parasekuen. Sejumlah parasekuen bertumpuk sedemikian rupa membentuk parasequence set yang keberadaannya dapat diamati pada penampang seismik. Tulisan berikutnya akan memperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip perubahan akomodasi yang mendaur dan berubah-ubah dari waktu ke waktu dapat digunakan untuk membagi rekaman stratigrafi ke dalam sejumlah paket endapan yang masing- masing diendapkan pada fasa perubahan laut tertentu.

2.4 SEKUEN DAN SYSTEMS TRACT

2.4.1 Sekuen dan Batas Sekuen

Istilah "sekuen" dalam pengertian sekuen stratigrafi pertamakali didefinisikan oleh Mitchum dkk (1977). Menurut mereka, sekuen adalah satuan stratigrafi yang disusun oleh sejumlah stratum yang selaras dan satu sama lain berkaitan secara genetik; sekuen dipisahkan dari sekuen lain oleh bidang ketakselarasan atau bidang keselarasan yang korelatif dengan bidang ketakselarasan tersebut. Definisi di atas tidak memberikan batasan mengenai ukuran fisik dan rentang waktu yang dicerminkan oleh suatu sekuen serta tidak pula mencerminkan mekanisme penyebab terbentuknya bidang ketakselarasan yang menjadi bidang pembatasnya. Pada mulanya, pemakaian bidang ketakselarasan sebagai pembatas sekuen menimbulkan kerancuan karena hal itu dilakukan oleh sejumlah ahli dalam pengertian yang berbeda-beda. Pada mulanya Mitchum dkk (1977) memasukkan hiatus bahari dan condensed section ke dalam lingkup ketakselarasan. Namun, pengertian itu kemudian dirubah ketika para ahli memandang perlu adanya pembedaan yang tegas antara ketakselarasan yang disebabkan oleh erosi daratan dengan hiatus yang terbentuk di sekitar pusat cekungan. Perlunya pembedaan tersebut terutama dirasakan ketika para ahli mencoba menyusun model-model pengendapan yang pembentukannya dipengaruhi oleh perubahan muka air laut relatif. Jadi, dalam sekuen stratigrafi, istilah "ketakselarasan" diartikan relatif sempit: "ketakselarasan adalah sebuah bidang yang memisahkan strata muda dari strata tua, pada bidang mana ditemukan jejak-jejak erosi atau pemancungan strata akibat aktivitas permukaan bumi (dalam beberapa kasus bidang itu juga korelatif dengan bidang erosi bawah laut), jejak-jejak penyingkapan di permukaan bumi, serta indikasi hiatus yang berarti (van Wagoner dkk, 1988). Dari pembahasan di atas jelas bahwa sebuah sekuen dibatasi oleh bidang erosi daratan. Satuan-satuan yang dibatasi oleh condensed surface, bidang transgresi, atau bidang marine onlap tidak termasuk ke dalam kategori batas sekuen. Perlu diketahui bahwa para peneliti Exxon, sebagaimana dikemukakan oleh Mitchum dkk (1977), telah mempertimbangkan dengan serius untuk memakai istilah "sintem" (synthem) sebagai pengganti istilah "sekuen", dengan harapan agar tidak terjadi kerancuan dengan istilah "sekuen" yang sebelumnya banyak digunakan dalam literatur sedimentologi atau dengan istilah-istilah yang digunakan untuk menamakan satuan strata yang ditentukan keberadaannya berdasarkan daur sedimentasi (misalnya "genetic depositonal sequence" yang digunakan oleh Galloway, 1989). Namun tampaknya mereka sukar untuk menerima "sintem stratigrafi". Pada mulanya definisi yang sederhana seperti tersebut di atas tampak mudah untuk diterapkan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Adalah suatu hal yang tidak mudah untuk mengenal bidang penyingkapan dalam rekaman log sumur atau rekaman seismik. Selain itu, pengkorelasian bidang ketakselarasan itu dengan bidang keselarasan yang ada dalam cekungan juga tidak jarang menimbulkan masalah. Dimasukkannya ungkapan "mengindikasikan hiatus yang cukup berarti" oleh van Wagoner (1988) tidak banyak menolong karena tidak ada batasan yang jelas mengenai rentang waktu yang dipandang "cukup berarti". Sekuen

13

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

gabungan (composite sequence) dapat mengandung ketakselarasan, namun ketakselarasan itu adalah ketakselarasan yang "tingkatannya" lebih tinggi daripada ketakselarasan yang menjadi pembatas sekuen. Ketakselarasan seperti itu dipandang "tidak cukup berarti" dari kacamata sekuen stratigrafi. Dalam pengertian yang terbatas, satu sekuen mencerminkan satu siklus pengendapan yang dibatasi oleh erosi non-bahari dan diendapkan dalam satu siklus naik-turunnya alas kikis yang berarti (dalam skala penelitian sekuen). Pada kebanyakan cekungan, alas kikis dikontrol oleh muka air laut. Dengan demikian, setiap sekuen merupakan produk dari satu siklus naik- turunnya muka air laut relatif. Lukisan ideal dari sebuah sekuen yang terbentuk pada satu siklus perubahan muka air laut diperlihatkan pada gambar 2-13. Sekuen itu dinamakan sekuen tipe-1. Pada sekuen tipe-1, penurunan muka air laut cukup besar sedemikian rupa sehingga topset pertama dari sekuen itu terletak onlap terhadap klinoform dari sekuen yang terbentuk sebelumnya. Sekuen tipe-2 akan dijelaskan kemudian. Menurut Van Wagoner dkk (1988), batas sekuen tipe-1 dicirikan oleh jejak penyingkapan yang berasosiasi dengan erosi non-bahari, peremajaan sungai, perpindahan fasies ke arah cekungan, penurunan coastal onlap, serta pola onlapping dari strata yang terbentuk kemudian. Coastal onlap adalah istilah yang digunakan untuk menamakan titik onlap pada strata topset yang ada di tepi cekungan (lihat Bab 3). Akibat migrasi fasies ke arah cekungan, endapan-endapan non-bahari atau pesisir, misalnya batupasir endapan sungai menganyam dan endapan estuarium, dapat terletak langsung di atas endapan laut dangkal seperti batupasir lower shoreface atau batulumpur paparan. Superposisi fasies seperti itu disebut dislokasi fasies (facies dislocation). Van Wagoner dkk (1988) menafsirkan bahwa batas sekuen tipe-1 terbentuk pada saat laju penurunan guntara lebih tinggi dibanding laju subsidensi cekungan pada offlap break.

2.4.2 Definisi Systems Tract

Sekuen tipe-1 seperti yang terlukis pada gambar 2-13 merupakan bentuk ideal dari sekuen yang terbentuk pada shelf-break margin. Sekuen itu dapat tersusun oleh sejumlah paket endapan tertentu. Sejak ditemukannya konsep seismik stratigrafi, diketahui bahwa pengendapan dalam suatu cekungan tidak berlangsung secara menerus dan seragam di semua tempat, melainkan dalam paket-paket yang masing-masing dibatasi oleh bidang-bidang seismik tertentu (lihat Bab 3). Para peneliti Exxon menemukan suatu keteraturan dimana paket-paket itu umumnya tersusun dalam pola yang dapat diprakirakan, sebagaimana kenampakannya pada penampang seismik. Paket-paket itu dinamakan systems tract. Istilah systems tract pertama kali didefinisikan oleh Brown & Fisher (1977) sebagai suatu paket sistem pengendapan seumur. Sistem pengendapan (depositional system) sendiri didefinisikan sebagai kumpulan tiga dimensional dari berbagai litofasies yang secara genetik dihubungkan satu sama lain oleh proses-proses atau lingkungan pengendapannya (Fisher & McGowen, 1967). Jadi, systems tract adalah satuan pengendapan tiga dimensional. Batas-batas systems tract dapat berupa onlap, downlap, dsb. Dalam rekaman seismik, systems tract adalah satuan yang memperlihatkan keseragaman refleksi seismik dan dibatasi oleh bidang-bidang terminasi strata. Satuan seperti itu disebut seismic-stratigraphic unit oleh Brown & Fisher (1977); seismic sequence oleh Mitchum dkk (1977); dan seismic package oleh sejumlah ahli lain. Systems tract dikenal dari khuluk bidang pembatas dan geometri internalnya. Dalam satu siklus perubahan muka air laut relatif, dikenal adanya tiga systems tract utama; masing-masing mencirikan tahap perubahan muka air laut relatif yang berbeda- beda (gambar 2-13). Tata istilah yang berkaitan dengan systems tract sering menimbulkan kerancuan. Untuk menghindarkan terjadinya kerancuan, kita perlu selalu mengingat tujuan pembagian stratigrafi ke dalam satuan-satuan yang disebut systems tract itu. Systems tract merupakan satuan yang dapat dipetakan dan berguna dalam prediksi stratigrafi karena mengandung kelompok sistem pengendapan dengan paleogeografi dan polaritas pengendapan yang konsisten.

2.4.3 Lowstand Systems Tract

14

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Systems tract paling bawah (jadi, secara stratigrafi berarti paling tua) dalam sekuen tipe-1 disebut lowstand systems tract. Systems tract ini diendapkan pada perioda antara penurunan muka air laut relatif pada offlap break dengan penaikan muka air laut relatif yang terjadi kemudian. Penurunan muka air laut pada offlap break dari shelf-break margin akan menimbulkan efek yang ekstrim terhadap sistem sungai. Sebelum terjadinya penurunan muka air laut relatif, sungai memiliki graded river profile yang relatif tetap, di atas mana terjadi erosi dan di bawah mana terjadi pengendapan. Pada waktu itu, sungai dapat dengan bebas memindahkan alurnya sebagai tanggapan terhadap perubahan muka air laut yang terjadi di bawah graded river profile. Ketika muka air laut turun pada offlap break, profil sungai harus menyesuaikan diri dengan alas kikis baru (lihat Bab 7). Sungai harus menoreh endapan- endapan yang sebelumnya membentuk topset: endapan dataran aluvial, endapan dataran pantai, dan/atau endapan paparan. Sedimen rombakan yang terbentuk akan langsung diangkut menuju bagian cekungan yang lebih dalam. Pada waktu itu, sungai tidak lagi bebas lagi untuk memindahkan alurnya. Sedimen yang ada didalamnya akan diangkut menuju satu titik fokus yang sama, yaitu bagian dalam dari cekungan. Tahap itu merupakan fasa tidak stabil dimana proses-proses sedimentasi didominasi oleh kekandasan lereng pada skala besar, bypassing lereng, dan pengendapan kipas bawah laut-dalam. Proses-proses itu terus mendominasi rekaman stratigrafi pada tahap penurunan muka air laut relatif dan sistem sungai terus didorong untuk menoreh endapan-endapan tua. Pada waktu muka air laut relatif mencapai titik paling bawah, profil sungai kembali mengalami masa stabil dan sistem topset- clinoform kembali terbentuk. Topset pertama yang terbentuk pada waktu itu akan terletak onlap terhadap offlap break sebelum- nya. Pada mulanya, laju penaikan air laut relatif cukup rendah sehingga laju pembentukan akomodasi topset juga rendah (gambar 2-15). Laju pembentukan akomodasi yang rendah ini tidak sebanding dengan pemasokan sedimen yang tinggi. Karena itu, sistem pengendapan akan berprogradasi. Bertambahnya laju pembentukan akomodasi kemudian dapat mengimbangi, bahkan melebihi, laju pasokan sedimen sehingga akhirnya sistem pengendapan akan beragradasi dan beretrogradasi membentuk transgressive systems tract. Dari penjelasan di atas tampak bahwa lowstand systems tract terdiri dari dua bagian. Pertama, kipas bawahlaut yang diendapkan selama penurunan muka air laut relatif. Kedua, sistem topset-clinoform yang pada awalnya berpola progradasi, namun kemudian berpola aggradasi, yang terbentuk selama terjadinya penaikan muka air laut relatif secara lambat. Bagian- bagian itu sebenarnya dapat dipandang sebagai dua systems tract tersendiri karena keduanya mungkin tidak mencerminkan satu kesinambungan pengendapan. Walau demikian, secara tradisional, keduanya dimasukkan ke dalam satu systems tract karena batas antara keduanya tidak jarang berangsur, di dalam mana kipas bawahlaut menempati bagian bawahnya (Posamentier dan Vail, 1988).

2.4.3.1 Lowstand Submarine Fan

Ada dua satuan yang dapat dikenal dalam lowstand submarine fan yakni kipas dasar cekungan (basin floor fan) yang terletak di bagian bawah lereng dan kipas lereng (slope fan) yang terletak pada lereng (gambar 2-14). Dalam literatur lama, kipas lereng sering disebut slope front fill. Van Wagoner dkk (1988) menyatakan bahwa kipas dasar cekungan disusun oleh endapan kipas bawahlaut yang terletak pada lereng bawah atau dasar cekungan. Proses pembentukan kipas berasosiasi dengan erosi ngarai bawah laut dan penorehan paparan oleh sungai. Sedimen silisiklastik tidak diendapkan di paparan atau lereng, melainkan langsung diangkut menuju bagian cekungan yang lebih dalam melalui lembah torehan dan ngarai bawahlaut,

untuk kemudian membentuk kipas dasar cekungan. Alas dari kipas dasar cekungan, yang berimpit dengan batas bawah lowstand systems tract, berkorelasi dengan batas sekuen tipe-1. Batas atas dari kipas tersebut dapat berupa bidang downlap dari lowstand progradation wedge (jika yang disebut terakhir ini berprogradasi cukup jauh) atau bidang downlap dari kipas

15

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

lereng. Pengendapan kipas dasar cekungan, pembentukan ngarai, dan erosi lembah torehan ditafsirkan terjadi selama penurunan muka air laut relatif. Menurut Van Wagoner dkk (1988), kipas lereng dicirikan oleh turbidit dan endapan aliran gravitasi di bagian tengah atau bagian bawah dari lereng. Pengendapan kipas lereng dapat terjadi pada waktu yang bersamaan dengan pem-bentukan kipas dasar cekungan atau dengan waktu pembentukan bagian bawah dari lowstand wedge. Batas atas dari kipas lereng dapat berperan sebagai bidang downlap untuk bagian tengah dan bagian atas dari lowstand wedge. Kipas lereng biasanya disusun oleh kompleks alur-tepi alur (lihat Bab 9).

2.4.3.2 Lowstand Prograding Wedge

Lowstand prograding wedge adalah sistem topset-clinoform yang diendapkan selama naiknya muka air laut relatif. Sistem ini dipisahkan dari transgressive system tract, yang terletak diatasnya, oleh bidang progradasi maksimum (maximum progradation surface). Bidang itu menandai terjadinya perubahan geometri tumpukan parasekuen dari geometri progradasional pada lowstand wedge menjadi geometri retrogradasional pada transgressive systems tract. Pada awalnya pengendapan lowstand prograding wedge hanya terbatas di sekitar muara lembah torehan (gambar 2-15). Hanya sedikit, jika ada, akomodasi topset pada waktu itu; seluruh sedimen di-bypass melewati topset kemudian diendapkan pada lereng klinoform. Pada waktu itu, lereng kemungkinan tidak stabil dan pengendapan kipas terjadi sewaktu-waktu. Bagian bawah lowstand prograding wedge dapat mengandung turbidit yang sering menunjukkan gejala seismik "shingled". Ketika muka air laut relatif naik sedikit demi sedikit, lembah torehan mulai terisi oleh endapan fluvial dan estuarium, dan topset dari prograding wedge mulai terbentuk. Peningkatan laju penaikan muka air laut relatif menghasilkan asosiasi fasies yang mengindikasikan pertambahan volume akomodasi, misalnya bertambah banyaknya batubara, serpih dataran limpah banjir, fasies laguna, dan fasies yang mencirikan pengaruh pasut ke bagian atas serta ketidaksinambungan tubuh-tubuh pasir endapan sungai. Perubahan menuju prograding systems tract yang ada diatasnya dapat berlangsung secara berangsur maupun tiba-tiba. Batas ini dapat disebut bidang progradasi maksimum, bidang transgresi, atau lowstand surface. Lowstand prograding wedge seringkali mengandung lebih banyak pasir dibanding highstand wedge yang terbentuk kemudian karena banyak memperoleh pasokan pasir hasil daur ulang dari highstand topset. Karena sering terletak di atas highstand systems tract sebelumnya, yang bagian atasnya kaya akan serpih, dan kemudian ditutupi oleh serpih transgressive system tract, lowstand wedge dapat berperan sebagai jebakan stratigrafi.

2.4.4 Transgressive Systems Tract

Transgressive systems tract adalah systems tract yang berada di tengah-tengah sekuen tipe-1 maupun sekuen tipe-2 (gambar 2-13, 2-16, 2-18). Sistem ini diendapkan pada suatu bagian dari fasa penaikan muka air laut relatif, pada saat mana laju pertambahan volume akomodasi topset lebih tinggi dibanding laju pemasokan sedimen. Sistem ini sebagian besar berupa topset, dengan sedikit klinoform, dan seluruhnya memiliki geometri retrogradasional. Sistem-sistem pengendapan yang aktif pada saat terbentuknya systems tract adalah sistem-sistem pengendapan topset seperti aluvial, paralik, dataran pantai, delta paparan, dan paparan. Jenis sedimen yang sering ditemukan antara lain batubara serta endapan limpah banjir, laguna, dan lakustrin. Sistem-sistem itu mengindikasikan rendahnya pasokan sedimen. Sistem-sistem pengaliran mungkin ditutupi oleh air laut sedemikian rupa sehingga membentuk estuarium. Luasnya paparan dan endapan yang dipengaruhi oleh pasut merupakan

sebagian dari ciri transgressive systems tract. Ke arah cekungan, transgressive systems tract dapat berkorespondensi dengan condensed section yang mengindikasikan laju pengendapan yang sangat lambat. Condensed section dapat berupa serpih glaukonitan, serpih organik, serpih fosfatik, maupun karbonat pelagik (lihat Bab 11).

16

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Laju penaikan muka air laut tertinggi terjadi pada fasa pembentukan transgressive systems tract. Systems tract ini berakhir ketika laju pertumbuhan volume akomodasi topset menurun hingga satu kondisi dimana laju pertumbuhan tersebut sebanding dengan laju pemasokan sedimen. Produk kondisi itu disebut marine flooding surface. Pada saat laju pertumbuhan dengan laju pemasokan sedimen mencapai kesetimbangan, pola endapan akan berubah dari pola retrogradasi menjadi progradasi. Topset dari transgressive systems tract cenderung mengandung persentase pasir lebih sedikit dibanding systems tracts lain karena dalam proses pembentukan systems tract ini hanya sedikit terjadi bypassing sedimen halus menuju bagian cekungan yang lebih dalam. Dengan kata lain, sedimen halus yang dikirim pada waktu pembentukan transgressive systems tract ini hampir seluruhnya diendapkan pada topset. Dengan demikian, transgressive systems tract sering mengandung lapisan penutup untuk reservoar hidrokarbon. Kadang-kadang sedimen berbutir halus dalam systems tract ini juga berperan sebagai batuan induk (lihat Bab 11). Posamentier & Allen (1993) mengusulkan satu komponen baru untuk transgressive systems tract yang disebut komponen "healing phase". Mereka menunjukkan adanya baji-baji sedimen yang terletak pada kaki klinoform transgressive systems tract yang ditafsirkan sebagai endapan rombakan selama berlangsungnya transgresi. Sebenarnya baji-baji sedimen itu dapat ditafsirkan sebagai komponen lowstand systems tract dari sekuen yang terbentuk kemudian atau sebagai nendat yang berasal dari endapan highstand systems tract. Sistem-sistem pengendapan yang ada di seluruh dunia dewasa ini umumnya membentuk transgressive systems tract. Dewasa ini banyak terdapat paparan benua yang luas dan sebagian besar diantaranya merupakan topset dari lowstand systems tract yang terbentuk paling akhir. Delta yang ada dewasa ini umumnya berupa delta paparan. Dalam delta-delta itu, banyak kipas tidak aktif. Estuarium dan wilayah pasang-surut banyak ditemukan di bagian baratdaya Eropa. Pantai timur AS, di lain pihak, didominasi oleh proses mundurnya gosong pesisir dan laguna, sedangkan sedimentasi laut-dalam umumnya hanya berupa turbidit yang terbentuk akibat nendatan dari lereng benua.

2.4.5 Highstand Systems Tract

Highstand systems tract adalah systems tract termuda, baik dalam sekuen sekuen tipe-1 maupun sekuen tipe-2 (gambar 2- 13, 2-18). Sistem ini merupakan sistem topset-clinoform yang terletak diantara maximum flooding surface dan batas sekuen. Sistem ini terbentuk pada saat laju penaikan muka air laut mulai menurun, setelah melalui masa puncak, pada saat mana laju pembentukan akomodasi lebih kecil dibanding laju pemasokan sedimen (gambar 2-17). Penurunan laju penaikan muka air laut pada mulanya menyebabkan terbentuknya geometri aggradasi, namun sedikit demi sedikit kemudian berubah menjadi geometri progradasi. Sistem-sistem pengendapan yang ada pada tahap awal pembentukan highstand systems tract mungkin sama dengan sistem-sistem pengendapan yang ada pada tahap akhir pembentukan transgressive systems tract. Namun, menurunnya laju penaikan muka air laut serta terisinya wilayah paparan melalui proses progradasi, menyebabkan berkurangnya volume batubara, serpih limpah banjir, endapan laguna, dan endapan lakustrin yang diendapkan pada waktu itu. Tubuh-tubuh pasir endapan alur makin lama makin banyak diendapkan dan sifatnya menerus. Posamentier & Vail (1988) membahas berbagai model yang mengimplikasikan bahwa bagian teratas dari highstand systems tract didominasi oleh endapan fluvial. Mereka menggunakan konsep "bay line" yang didefinisikan sebagai sebuah garis di tempat mana profil sungai bersifat "graded" dan di tempat mana proses-proses fluvial diagantikan oleh proses-proses paralik dan paparan. Garis itu juga merupakan titik coastal onlap selama terjadinya penaikan muka air laut. Pada tahap akhir pembentukan highstand systems tract, bay line mulai bermigrasi ke arah cekungan, sejalan dengan mulai menurunnya muka air laut relatif. Pada waktu itu, menurut Posamentier dan Vail (1988), akomodasi fluvial yang berarti akan terbentuk. Model ini terlalu sederhana dan telah menjadi salah satu penyebab timbulnya kesalahpahaman (lihat Miall, 1991; Shanley & McCabe, 1994).

2.4.6 Batas Sekuen Tipe-2 dan Shelf-margin Systems Tract

17

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Penurunan muka air laut relatif mungkin hanya terjadi pada daerah proksimal dari highstand topset sehingga muka air laut tidak sampai lebih rendah dibanding offlap break. Jika hal ini terjadi, batas sekuen akan terbentuk, namun tidak berasosiasi dengan penorehan sungai atau pengendapan kipas bawahlaut. Batas sekuen itu dapat dikenal dalam penampang seismik berdasarkan adanya perpindahan coastal onlap hingga suatu posisi yang lebih kurang sejajar dengan offlap break dan terletak onlap terhadap topset sekuen yang terbentuk sebelumnya (gambar 2-18). Batas sekuen seperti itu disebut batas sekuen tipe-2, sedangkan systems tract yang dialasi oleh bidang ini disebut shelf-margin systems tract. Pada mulanya, geometri systems tract ini sedikit progradasional, namun kemudian berubah menjadi aggradasional. Batas antara shelf-margin systems tract dengan highstand systems tract terletak pada bidang dimana terjadi perubahan pola tumpukan parasekuen: dari aggradasional menjadi retrogradasional. Di lain pihak, batas antara shelf-margin systems tract dengan highstand systems tract dari sekuen sebelumnya merupakan ketakselarasan yang samar dan mungkin hanya dapat dikenal dari perubahan pola tumpukan parasekuen: dari pro- gradasional menjadi aggradasional. Shelf-margin systems tract mungkin sangat sukar untuk dikenal dalam singkapan, core, atau well log, kecuali jika singkapannya sangat besar atau jika sumur yang ada cukup rapat. Batas sekuen tipe-2 dan shelf-margin systems tract kadang-kadang digunakan secara keliru dalam literatur karena sulitnya untuk menemukan bukti terjadinya pergeseran coastal onlap ke arah cekungan, namun tidak sampai melewati offlap break. Selain itu, resolusi rekaman seismik juga sering tidak cukup tinggi untuk mendeteksi adanya perubahan kemiringan yang samar, misalnya sewaktu suatu topset terletak onlap terhadap topset lain. Perubahan pola tumpukan parasekuen, dari progradasional

menjadi aggradasional, tidak bersifat definitif karena perubahan pola seperti itu dapat saja terjadi karena peristiwa lain seperti penurunan laju suplai sedimen. Dalam studi singkapan, batas sekuen tipe-2 sering digunakan untuk menamakan batas sekuen minor. Perlu disadari bahwa batas sekuen tipe-2 dapat sebanding dengan sekuen tipe-1, tergantung pola subsidensi tektonik dari cekungannya.

2.4.7 Lowstand Systems Tract pada Tatanan Ramp Margin

Berbagai systems tract yang telah dijelaskan di atas terbentuk pada tatanan shelf-margin, pada tatanan mana kemiringan klinoform cukup besar sehingga memungkinkan terbentuknya sistem kipas bawahlaut. Pada tatanan ramp margin, sebagaimana dijelaskan oleh Van Wagoner dkk (1988), lowstand systems tract berwujud lowstand wedge yang tipis dan dapat dibedakan menjadi dua bagian (gambar 2-19). Bagian pertama dicirikan oleh gejala penorehan sungai dan sediment bypassing melalui dataran pantai. Bagian ini ditafsirkan terbentuk pada suatu fasa penurunan muka air laut yang cepat, hingga suatu saat dimana penurunan itu mulai stabil. Bagian kedua dicirikan oleh endapan pengisi lembah torehan pada sub-bagian proksimal dan satu

atau lebih parasekuen set progradasional pada sub-bagian distal. Bagian ini ditafsirkan terbentuk pada tahap awal penaikan muka air laut yang berlangsung lambat. Selama penurunan muka air laut, pada tatanan ramp margin tidak terjadi bypassing sedimen menuju dasar cekungan, melainkan pengendapan sedimen dalam bentuk baji-baji endapan yang miring ke arah cekungan. Setiap baji endapan itu disebut force regressive wedge (Posamentier dkk, 1992). Rangkaian force regressive wedge terletak diantara lowstand prograding wedge dan highstand prograding wedge dan membentuk suatu systems tract tersendiri yang disebut force regressive wedge systems tract (Posamentier dkk, 1992). Batas bawah dari force regressive wedge systems tract adalah regressive marine surface of erosion, sedangkan batas atasnya adalah regressive subaerial surface of erosion. Regressive marine surface of erosion berkorelasi dengan bidang ketidakselarasan non-bahari sehingga secara bersama-sama keduanya berperan sebagai batas sekuen. Force regressive marine wedges sering didominasi pasir dan dapat berperan sebagai reservoar yang menarik jika diselubungi oleh serpih. Beberapa contoh sekuen stratigrafi untuk tatanan ramp margin disajikan Posamentier dkk (1992) serta Posamentier & Chamberlain (1992). Transgressive dan highstand systems tract pada tatanan ramp margin mirip dengan transgressive dan highstand systems tract pada tatanan shelf-margin, dengan sedikit perbedaan dimana klinoform tidak berkembang baik pada tatanan ramp margin.

18

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

2.4.8 Faktor-Faktor Pengontrol Batas-Batas Systems Tracts

Pembentukan systems tracts ditafsirkan oleh Van Wagoner dkk (1988) sebagai fungsi dari interaksi antara guntara, pasokan

sedimen, dan tektonik. Menurut penulis, selain itu ada satu faktor lain yang penting karena mempengaruhi pembentukan bidang transgresi dan maximum flooding surface, yakni daerah topset. Gambar 2-15 memperlihatkan hubungan antara akomodasi topset dengan systems tract dalam suatu sistem sederhana yang dicirikan oleh subsidensi menerus dan guntara sinusoidal. Beberapa kondisi yang menentukan pembentukan setiap tipe batas systems tract adalah sbb:

1. Batas sekuen tipe-1 (alas dari lowsand systems tract) terbentuk ketika laju penaikan muka air laut berharga nol dan penurunan terjadi melewati offlap break. Waktu pembentukan batas ini merupakan fungsi dari guntara dan subsidensi.

2. Batas antara lowstand fan dengan lowstand prograding wedge terbentuk ketika laju penaikan muka air laut relatif berharga nol, namun kemudian diikuti oleh penaikan hingga melewati offlap break. Waktu pembentukan batas ini merupakan fungsi dari guntara dan subsidensi.

3. Batas antara lowstand prograding wedge dengan transgressive systems tract terbentuk ketika laju pembentukan akomodasi

topset sama, atau sedikit lebih tinggi, dari laju pemasokan sedimen. Kondisi itu mungkin terjadi ketika muka air laut pertama kali menutupi topset higstand systems tract yang terbentuk sebelumnya. Waktu pembentukan batas ini merupakan fungsi dari guntara, subsidensi, pasokan sedimen, dan luas topset.

4. Batas antara transgressive systems tract dengan highstand systems tract (yakni maximum flooding surface) terbentuk ketika laju pembentukan akomodasi topset sama, atau sedikit lebih rendah, dibanding laju pemasokan sedimen. Waktu pembentukan batas ini merupakan fungsi dari guntara, subsidensi, suplai sedimen, dan luas topset.

Dari penjelasan singkat di atas tampak jelas bahwa pembentukan batas-batas systems tract dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Volume suatu systems tract merupakan fungsi dari durasi dan laju pemasokan sedimen. Selain itu, pemasokan sedimen juga memiliki kaitan lain dengan systems tract. Sebagai contoh, di daerah lintang tinggi, rendahnya posisi muka air laut pada jaman es berasosiasi dengan adanya tudung es yang mempengaruhi sistem pengaliran sungai. Faktor-faktor ini, serta sejumlah faktor lain (misalnya topografi cekungan) akan menyebabkan terdistorsinya geometri sekuen ideal seperti yang dilukiskan pada gambar 2-15. Memang, sebenarnya sukar bagi kita untuk menemukan suatu penampang seismik yang mirip dengan diagram ideal tersebut. Walau demikian, hal itu tidak mengandung pengertian bahwa model tersebut salah. Memang, model tersebut hendaknya tidak digunakan sebagai sebuah "sablon" (template).

2.4.9 Jenis-Jenis Systems Tract Lain

Van Wagoner dkk (1990) menyatakan bahwa systems tract hendaknya ditentukan secara objektif berdasarkan jenis-jenis bidang pembatasnya, posisinya dalam sekuen (jika hal ini dapat ditentukan), dan berdasarkan geometri internalnya. Ada dua systems tract yang tidak tercakup dalam skema penggolongan systems tract yang diajukan oleh para peneliti Exxon. Berikut akan dijelaskan kedua systems tract tersebut. Midstand systems tract (atau forced regressive systems tract dalam peristilahan Hunt dan Tucker, 1992) adalah suatu paket strata yang terbentuk ketika subsidensi tidak cukup besar untuk melampaui laju pemasokan sedimen sehingga tidak memungkinkan terjadinya transgresi. Systems tract ini kemungkinan besar terbentuk dalam cekungan dimana subsidensi tektonik rendah atau negatif dan/atau laju pemasokan sedimen tinggi. Keberadaan midstand systems tract orde-3 pada tepian cekungan telah dilaporkan oleh Jones dan Milton (1994) serta Milton dan Dyce (1995), sewaktu mereka meneliti endapan Paleogen di Laut Utara. Di daerah shelf-break margin (seperti Delta Rhone atau endapan Tersier di Laut Utara), midstand systems tract mungkin terdiri dari satu satuan kipas dan prograding wedge. Di daerah ramp margin, systems tract ini mungkin hanya akan disusun oleh prograding wedge.

19

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Regressive systems tract (gambar 2-20) adalah systems tract teoritis yang "akan" terbentuk jika ada dua perioda penaikan muka air laut yang cepat dan diselingi oleh satu perioda penaikan muka air laut yang lambat atau apabila ada dua perioda pemasokan sedimen yang tinggi dan diselingi oleh satu perioda pemasokan sedimen yang rendah. Batas bawah dari systems tract ini adalah maximum flooding surface, sedangkan batas atasnya berupa maximum prograding surface sehingga secara keseluruhan systems tract ini membentuk suatu prograding wedge. Geometri internal dari baji sedimen ini berubah dari aggradasional menjadi progradasional dan kembali menjadi aggradasional. Regressive systems tract kemungkinan akan terbentuk ketika siklus guntara lebih rendah dibanding subsidensi sehingga batas sekuen tipe-2 sekalipun tidak dapat terbentuk sewaktu terjadi penurunan muka air laut global. Situasi lain yang dapat menyebabkan terbentuknya systems tract ini adalah jika dalam perioda penaikan muka air laut yang menerus, terjadi fluktuasi pasokan sedimen. Posamentier & James (1993) memper- kirakan bahwa transgressive systems tract mungkin dapat terbentuk dalam foreland basin. Walau demikian, kedua peneliti itu cenderung menamakan systems tract yang terbentuk dalam foreland basin dan tidak memiliki batas sekuen bawah sebagai shelf-margin systems tract.

2.4.10 Composite Sequence dan Composite Systems Tracts

Mitchum & Van Wagoner (1991) mendefinisikan composite sequence sebagai "paket yang disusun oleh sejumlah sekuen yang satu sama lain memiliki kaitan genetik, di dalam paket mana setiap individu sekuen disusun oleh paket lowstand, transgressive, dan highstand systems tracts". Gambar 2-21 memperlihatkan suatu composite sequence, sedangkan gambar 2- 22 merupakan kurva perubahan muka air laut relatif untuk composite sequence pada gambar 2-21. Sebagian besar sekuen orde-2 dan banyak sekuen orde-3 mengandung batas-batas dari berbagai sekuen yang ordenya lebih tinggi. Sebagai contoh, highstand systems tract dari suatu composite sequence orde-2 dalam kenyataannya mungkin merupakan highstand sequence set, yakni tumpukan sejumlah sekuen dari orde yang lebih tinggi, di dalam tumpukan mana topset prograding parasequences bersifat dominan, walaupun endapan-endapan lowstand dari orde yang lebih tinggi juga masih mungkin ditemukan dalam paket endapan ini. Konsep ini dibuktikan kesahihannya oleh Jones & Milton (1994), dimana mereka menunjukkan bahwa semua systems tract dari sekuen orde-2 Tersier di Laut Utara mengandung lowstand fans dari orde yang lebih tinggi. Dari penjelasan di atas ini jelas kiranya bahwa adalah suatu hal yang penting untuk menyatakan orde dari systems tract atau sekuen yang dikomunikasikan. Selain itu, kita juga perlu ingat bahwa batas-batas systems tract dalam composite sequence

bersifat berangsur dan memperlihatkan gejala penjemarian sekuen-sekuen atau systems tracts yang ordenya lebih tinggi.

2.4.11 Genetic Stratigraphic Sequences

Sekuen, sebagaimana telah dibahas di atas, merupakan satuan stratigrafi berdaur yang dibatasi oleh ketakselarasan darat. Walau demikian, karena sifatnya yang mendaur, pemilihan bidang yang dipandang sebagai pembatas gejala pendauran itu sebenarnya bersifat arbiter. Galloway (1989), yang diilhami oleh gagasan-gagasan Frazier (1974), mengusulkan cara lain untuk membagi stratigrafi sedimen berdaur, yaitu dengan menggunakan maximum flooding surface sebagai bidang pembatas daur. Dia kemudian mendefinisikan genetic stratigraphic sequence sebagai suatu paket sedimen yang merupakan rekaman perioda pengisian dan pertumbuhan-lateral dari cekungan, sedangkan batas-batasnya mencerminkan perioda penutupan cekungan oleh massa air secara luas (gambar 2-23).

Satu hal yang disayangkan adalah dia menggunakan istilah "sekuen", bukan istilah "depositional episode" seperti yang semula digunakan oleh Frazier (1974). Pemakaian istilah itu telah menimbulkan kerancuan. Karena itu, dalam membaca makalah ilmiah yang diterbitkan pada akhir dekade 80-an dan awal dekade 90-an, kita perlu hati-hati mengingat sebagian peneliti menggunakan istilah sekuen dalam pengertian yang diajukan oleh Mitchum (1977) sedangkan sebagian lain memakai

20

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

istilah sekuen dalam pengertian yang diajukan oleh Galloway (1989). Batas sekuen, maximum flooding surface, dan maximum prograding surface semuanya merupakan bidang korelasi yang sahih dan dapat digunakan untuk membagi rekaman stratigrafi. Setiap bidang tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Batas sekuen dapat dengan mudah dikenali keberadaannya dalam penampang seismik karena, seperti telah dijelaskan pada 3.2.4, dicirikan oleh penurunan coastal onlap. Bidang itu mencerminkan terjadinya bypassing sedimen dan resedimentasi ke arah cekungan, peristiwa mana berasosiasi dengan pembentukan reservoar dan hydrocarbon play system. Karena itu, pengenalan batas sekuen memiliki nilai praktis yang tinggi dalam eksplorasi migas. Waktu pembentukan batas sekuen tidak tergantung pada variasi pasokan sedimen sehingga relatif seumur. Walau demikian, bidang ini sukar dikenal dalam log atau core, sukar untuk ditentukan umurnya secara cermat (bidang ini terdapat dalam sedimen proksimal yang seringkali steril akan fosil), serta sukar untuk ditelusuri ke arah cekungan (kecuali jika berasosiasi dengan kipas bawahlaut). Maximum flooding surface mudah diketahui keberadaanya dalam penampang seismik, bahkan tidak sukar dikenali dalam log dan core. Proses pembentukan bidang ini juga sering berasosiasi dengan pembentukan top seal dan batuan induk. Bidang ini dapat diwujudkan sebagai fasies bahari yang terkondensasikan serta kaya akan fauna dan mudah untuk ditentukan umurnya. Bidang ini dapat ditelusuri keberadaannya ke arah cekungan, karena berkorelasi dengan condensed interval, namun sukar ditelusuri keberadaannya ke arah daratan. Kesulitan dalam menentukan bidang ini akan muncul apabila sistem yang ada tersusun dari sejumlah lobe yang berprogradasi karena pada sistem seperti itu kita akan sukar untuk menentukan dengan tepat lobe mana yang terletak paling dekat ke darat (ingat bahwa batas dari lobe seperti inilah yang akan menjadi maximum flooding surface). Maximum progradation surface, atau bidang transgresi, juga pernah diusulkan oleh beberapa peneliti untuk dijadikan sebagai bidang pembagi stratigrafi. Bidang ini menandai progradasi paling jauh ke arah cekungan. Sebagaimana maximum flooding surface, bidang ini juga mudah dikenali keberadaanya dalam penampang seismik, singkapan, log, dan core. Umur bidang ini sukar ditentukan dengan cermat serta sukar dikorelasikan ke arah darat. Selain itu, untuk sistem-sistem yang terdiri dari sejumlah lobe, kesukaran juga muncul mengingat adanya kesukaran untuk menentukan lobe mana yang terletak paling dekat ke darat. Istilah sekuen biasanya sekarang hanya digunakan secara terbatas untuk menamakan satuan yang dibatasi oleh ketidak- selarasan darat. Walau demikian, seperti dikemukakan oleh Loutit dkk (1988), bidang yang paling mudah dikenal dalam cekungan adalah maximum flooding surface dan condensed interval. Bidang-bidang itu dapat digunakan secara pragmatis pada tahap awal untuk membagi rekaman stratigrafi ke dalam satuan-satuan yang dapat dipetakan. Prosedur ini akan menghasilkan lahirnya sejumlah "sekuen" dalam pengertian seperti yang dikemukakan oleh Galloway (1989). Tahap berikutnya, yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai paleogeografi dan penyebaran fasies, adalah membagi rekaman yang ada ke dalam sejumlah systems tracts. Pekerjaan ini hanya akan dapat dilaksanakan apabila kita dapat mengenal batas-batas sekuen, bidang transgresi, dan maximum flooding surface.

2.5 SEKUEN STRATIGRAFI RESOLUSI TINGGI

2.5.1 Tinjauan Umum Konsep daur stratigrafi yang pembentukannya dipengaruhi oleh fluktuasi muka air laut relatif dikembangkan dengan memanfaatkan data seismik. Ancangan ini memiliki resolusi yang rendah (resolusinya berkisar dari puluhan hingga ratusan meter). Karena itu, Posamentier & Weimer (1993) menamakan sekuen stratigrafi yang didasarkan pada data seismik sebagai "sekuen stratigrafi resolusi rendah" (low resolution sequence stratigraphy). Sekuen stratigrafi yang didasarkan pada data-data singkapan, core, dan log disebut sekuen stratigrafi resolusi tinggi (high-resolution sequence stratigraphy).

21

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Makin lama sekuen stratigrafi makin sering digunakan sebagai prosedur dalam memerikan reservoar hidrokarbon (sebagai contoh, lihat Posamentier & Chamberlain, 1992; Reynolds, 1994). Karya tulis yang pertama-tama menyajikan konsep dan teknik penerapan konsep sekuen stratigrafi resolusi tinggi adalah karya Van Wagoner dkk (1990).

2.5.2 Parasekuen dan Daur Kontinental yang Ekivalen dengannya

Sedimen laut dangkal umumnya tersusun dalam satuan-satuan yang makin kasar ke atas (gambar 2-24). Satuan-satuan itu dapat dibedakan menjadi dua komponen. Pertama, lintap fasies yang mencerminkan lingkungan yang makin dangkal ke atas; Kedua, lintap fasies yang mencerminkan lingkungan yang makin dalam ke atas. Walau demikian, perlu diketahui bahwa "volume" kedua komponen itu di dalam satuan endapan yang mengkasar ke atas tidaklah sama. Satuan yang mengkasar ke atas terutama disusun oleh lintap fasies yang mencerminkan lingkungan yang makin dangkal ke atas, sedangkan lintap fasies yang mencerminkan lingkungan yang makin dalam ke atas hanya berperan sebagai sisipan diantara komponen-komponen dominan tersebut. Komponen yang mencerminkan lingkungan yang makin dalam ke atas kadang-kadang berwujud hardground atau omision surface yang menandai transisi dari fasies perairan yang relatif dangkal menjadi fasies perairan yang lebih dalam. Dalam terminologi sekuen stratigrafi, satuan seperti itu disebut parasekuen (parasequence). Van Wagoner dkk (1990) men- definisikan parasekuen sebagai paket relatif selaras dari sejumlah lapisan atau himpunan lapisan yang satu sama lain memiliki kaitan genetik serta dibatasi oleh marine flooding surface atau oleh bidang lain yang korelatif dengannya. Untuk parasekuen yang terletak di dekat batas sekuen, maka batas atas atau batas bawahnya dapat berupa batas sekuen. Marine flooding surface adalah bidang yang memisahkan strata muda dari strata yang lebih tua, pada bidang mana ditemukan bukti-bukti perubahan kedalaman ke arah atas. Proses peningkatan kedalaman seperti itu biasanya disertai dengan erosi bawahlaut atau non-pengendapan serta mengindikasikan hiatus minor. Marine flooding surface memiliki bidang yang korelatif dengannya, baik di bagian cekungan yang lebih dalam maupun di tepi cekungan yang lebih dekat ke darat. Cara pengenalan batas-batas parasekuen serta perbedaannya dengan batas sekuen telah dibahas oleh Van Wagoner dkk (1990). Dalam karya tulis itu, mereka menyatakan bahwa batas-batas parasekuen laut dangkal pada dasarnya berupa condensed horizon yang datar dan mencirikan terjadinya peningkatan kedalaman yang tiba-tiba serta dapat dicirikan oleh adanya akumulasi karbonat bahari, fosfat, atau glakonit. Batas-batas itu juga menandai tempat terjadinya perubahan litologi dan ketebalan, serta kadang-kadang berasosiasi dengan lag deposits. Jika lag deposits terdapat di batas itu, maka endapan tersebut akan disusun oleh material sedimenter hasil rombakan sedimen yang terletak dibawahnya.

Parasekuen merupakan produk fluktuasi kesetimbangan antara pasokan sedimen dengan volume akomodasi. Fluktuasi pasokan sedimen akibat proses-proses autosiklis, misalnya avulsi (avulsion) dan perpindahan lobus, mungkin merupakan faktor utama yang mengontrol pembentukan parasekuen. Walau demikian, perubahan muka air laut frekuensi tinggi mungkin juga menjadi faktor pengontrol pembentukan parasekuen. Parasekuen dibatasi oleh marine flooding surface. Karena itu, parasekuen tidak akan dapat dikenali keberadaannya pada paket sedimen yang tidak mengandung rekaman perubahan kedalaman. Walau masih harus dibuktikan dulu kebenarannya, kemungkinan besar paket yang mirip dengan parasekuen juga dapat terbentuk dalam strata non-bahari, misalnya paket avulsi fluvial. Marine flooding surface mungkin dapat dikorelasikan dengan lapisan batubara dan wet palaeosol di dataran pantai serta dengan batulumpur limpah banjir (overbank mudstone). Tidak ada kriteria yang dapat digunakan untuk mengenal parasekuen laut-dalam. Parasekuen memiliki satuan yang korelatif dengan salah satu tipe paket endapan pada lereng klinoform. Parasekuen tidak memiliki satuan yang korelatif dengan fasies kipas dasar cekungan, kecuali jika sedimen juga di-bypass menuju dasar cekungan. Mitchum & Van Wagoner (1991) memperkirakan bahwa individu lobe atau leveed channel di laut dalam kemungkinan juga memiliki individu parasekuen tersendiri.

22

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

2.5.3 Parasekuen Set

Van Wagoner dkk (1990) mendefinisikan parasekuen set (parasequence set) sebagai paket selaras yang disusun oleh sejumlah parasekuen, di dalam lintap mana parasekuen-parasekuen itu memiliki kaitan genetik, serta dibatasi oleh maximum flooding surface dan keselarasan yang korelatif dengannya (gambar 2-25). Apabila parasekuen mencerminkan individu topset dalam suatu systems tract, sebagaimana yang tampak dalam rekaman seismik, parasekuen set biasanya mencerminkan keseluruhan komponen topset tersebut. Berdasarkan pola tumpukan vertikalnya, dapat dikenal adanya tiga jenis parasekuen set: parasekuen set progradasional (progradational parasequence set), parasekuen set aggradasional (aggradational parasequence set), dan parasekuen set retrogradasional (retrogradational parasequence set) (gambar 2-25 dan 2-26). Dalam parasekuen set progradasional, fasies yang terletak di atas suatu batas parasekuen mengindikasikan lingkungan yang lebih dangkal dibanding fasies yang terletak di bawah batas parasekuen itu. Dalam parasekuen set retrogradasional, fasies yang terletak di atas suatu batas parasekuen mengindikasikan lingkungan yang lebih dalam dibanding fasies yang terletak di bawah batas parasekuen tersebut. Dalam parasekuen set aggradasional, fasies yang terletak di atas suatu batas parasekuen mengindikasikan lingkungan yang lebih kurang sama dengan lingkungan yang diindikasikan oleh fasies yang terletak di bawah batas parasekuen tersebut. Topset dari lowstand dan highstand prograding wedges umumnya berupa parasekuen set progradasional, sedangkan transgressive systems tract berupa parasekuen set retrogradasional. Walau demikian, parasekuen set dan systems tract tidak selalu sinonim seperti itu. Posamentier & James (1993) memperlihatkan bahwa systems tracts yang terbentuk di daerah dengan laju subsidensi dan laju pemasokan sedimen yang tinggi dapat disusun oleh sejumlah parasekuen set. Jadi, parasekuen set adalah satuan pengendapan yang lebih tinggi tingkatannya daripada parasekuen, namun lebih rendah daripada sekuen. Marine flooding surface utama yang membatasi parasekuen set dapat digunakan sebagai lapisan penciri dalam korelasi regional.

2.5.4 Ketebalan Parasekuen

Ketebalan suatu parasekuen terutama dikontrol oleh kedalaman tempat ke arah mana garis pantai berprogradasi. Kedalaman itu mencerminkan penaikan muka air laut. Dengan demikian, ketebalan parasekuen merupakan produk dari interaksi antara laju penaikan muka air laut relatif dengan periodisitas parasekuen. Jika perioda parasekuennya relatif tetap, maka penaikan muka air laut yang lambat akan menyebabkan terbentuknya parasekuen yang tipis, sedangkan penaikan muka air laut yang cepat akan menyebabkan terbentuknya parasekuen yang tebal. Laju perubahan muka air laut itu sendiri dapat diketahui dari pola perubahan ketebalan parasekuen. Gagasan seperti ini telah dikemukakan oleh Posamentier dkk (1988) yang menyatakan bahwa lowstand prograding wedge dicirikan oleh parasekuen yang mengkasar ke atas (hal mana mencerminkan peningkatan laju penaikan muka air laut relatif), sedangkan highstand prograding wedge dicirikan oleh parasekuen yang menipis ke atas (hal mana mencerminkan penurunan laju penaikan muka air laut relatif). Analisis pola perubahan ketebalan parasekuen seperti itu hanya dapat diterapkan pada cakupan yang terbatas. Sebagai contoh, parasekuen set retrogradasional sering memperlihatkan gejala penipisan ke atas akibat penipisan setiap individu pararasekuen ke arah cekungan. Hal ini tidak berkaitan dengan penurunan laju penaikan muka air laut. Analisis perubahan ketebalan parasekuen atau parasekuen set itu juga mengasumsikan bahwa setiap parasekuen memiliki frekuensi yang tetap, padahal asumsi itu seringkali tidak sahih untuk banyak kasus.

2.5.5 Batas Sekuen

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, batas sekuen dapat dikenal dalam rekaman seismik berdasarkan penurunan coastal onlap, hal mana mengimplikasikan penurunan muka air laut relatif serta penyingkapan dan pengerosian highstand

23

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

topsets. Dalam core, well log, atau singkapan, perpindahan coastal onlap seperti itu jarang terlihat. Karena itu, dalam rekaman lubang pengeboran atau singkapan, gejala perpindahan seperti itu perlu dicari (gambar 2-27). Facies dislocation adalah suatu bidang di atas mana terdapat fasies laut dangkal, sedangkan di bawah bidang itu terdapat fasies lingkungan yang jauh lebih dalam. Dengan demikian, gejala perubahan fasies yang berangsur seperti yang diimplikasikan oleh Hukum Walther telah "terdislokasi". Gejala dislokasi ini mungkin jelas terlihat, misalnya ketika suatu lapisan batubara terletak di atas batulumpur paparan luar. Walau demikian, gejala inipun mungkin tidak tampak jelas, misalnya ketika lower shoreface facies ditindih langsung oleh upper shoreface facies, tanpa adanya endapan transisi yang berupa middle shoreface facies. Dalam tatanan laut dangkal, gejala dislokasi fasies sering berasosiasi dengan terjadinya perubahan besar butir yang tiba- tiba. Dislokasi fasies mengindikasikan terjadinya penurunan muka air laut relatif dan pembentukan ketakselarasan daratan. Walau demikian, jejak-jejak dari kedua peristiwa itu akan lebih jelas terlihat di daerah yang terletak lebih dekat dengan daratan. Di lain pihak, gejala dislokasi fasies sendiri lebih jelas terlihat pada highstand topsets yang terletak lebih dekat dengan pusat cekungan serta pada highstand clinoform. Keseluruhan gejala tersebut di atas mencirikan bidang ketakselarasan atau keselarasan yang korelatif dengannya dan, oleh karena itu, juga menjadi ciri-ciri batas sekuen. Lembah torehan (incised valley) telah dijelaskan oleh Van Wagoner dkk (1990) sebagai sistem fluvial yang alurnya memasuki wilayah yang semula berupa paparan dan bekerja di tempat itu sebagai bentuk tanggapan sistem tersebut terhadap penurunan muka air laut relatif. Di daerah paparan, endapan lowstand pengisi lembah torehan bagian bawahnya dibatasi oleh batas sekuen, sedangkan di bagian atasnya dibatasi oleh bidang transgresi. Gejala dislokasi fasies mungkin terjadi di bagian dasar lembah torehan. Untuk membuktikan keberadaaan lembah torehan, kita perlu melakukan pengamatan yang seksama terhadap singkapan berukuran besar atau terhadap data-data sumur yang rapat. Lembah torehan dibedakan dari alur sungai biasa dari ukurannya yang lebih dalam dan lebih besar dibanding individu alur biasa, bahkan dari satu individu sabuk alur sungai. Level lembah torehan lebih rendah dibanding level alur di muara sungai. Lembah itu sering diisi oleh fasies aluvial yang merupakan bagian proksimal dari bagian akhir lowstand prograding wedge. Walau demikian, lembah itu mungkin pula diisi oleh fasies estuarium atau fasies bahari yang diendapkan sebagai bagian dari highstand systems tract. Pada daerah yang terletak diantara lembah torehan dan daerah proksimal, batas sekuen kemungkinan sangat sukar dikenal. Bukti-bukti penyingkapan permukaan seperti paleosol, gejala oksidasi, dan gejala-gejala pelapukan hanya terjadi pada bagian terluar dari batuan sehingga kemungkinan akan tersapu pada waktu terjadi erosi yang berasosiasi dengan transgresi. Bidang yang menandai terjadinya erosi seperti itu disebut bidang erosi-transgresi (E/T surface) (Walker dan Eyles, 1991). Satu-satunya bukti yang mungkin dapat digunakan adalah transgressive lag yang sering memiliki besar butir jauh lebih besar dibanding endapan yang terletak dibawahnya atau mengandung partikel-partikel lain yang bukan berasal dari endapan dibawahnya. Pada kasus tertentu yang jarang ditemui, batas sekuen dapat dikenal dari gejala pemancungan parasekuen di bagian bawah (lihat contoh yang diberikan oleh Van Wagoner dkk, 1990). Walau demikian, kriteria ini hendaknya diterapkan dengan ekstra hati-hati, mengingat batas-batas parasekuen sendiri bersifat erosional.

2.5.6 Maximum Flooding Surface Dalam well log, core, atau singkapan, maximum flooding surface dikenal keberadaannya sebagai bidang utama yang memisahkan endapan transgresi (retrogradational parasequence sets) dari endapan regresi (progradational parasequence sets) yang terletak diatasnya. Di daerah proksimal, maximum flooding surface mungkin terletak di atas aggradational parasequence sets, sedangkan di daerah distal bidang ini dapat diwakili oleh condensed section. Condensed section sendiri dapat dicirikan oleh log facies atau litofasies yang khas seperti horizon yang kaya akan glaukonit, lapisan rijang, lapisan batugamping, atau lapisan serpih dengan kadar radioaktif tinggi atau berkecepatan seismik rendah. Keunikan condensed section dan tersebar

24

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

luasnya endapan yang ekivalen dengan condensed section menyebabkan bidang tersebut menjadi tipe bidang sekuen stratigrafi yang paling mudah dikenal keberadaannya (Loutit dkk, 1988). Istilah condensed section sinonim dengan istilah bidang hiatus (hiatal surface) yang digunakan oleh Galloway (1989) sebagai batas genetic stratigraphic unit. Perlu dicamkan bahwa ada sejumlah condensed section yang tidak ekivalen dengan maximum flooding surface, misalnya condensed section yang memisahkan kipas dasar cekungan dengan kipas lereng, condensed section yang memisahkan kipas lereng dengan lowstand prograding wedge, serta condensed section yang merupakan bidang avulsi utama dalam suatu systems tract.

2.5.7 Ravinement Surface

Ravinement surface adalah bidang erosi yang terbentuk selama berlangsungnya transgresi. Swift (1968) memaparkan bahwa paket-paket endapan transgresi dalam cratonic basin umumnya terletak disconformably di atas strata yang terletak dibawahnya. Strata yang terletak di bawah paket-paket endapan transgresi itu dapat berupa endapan yang telah terbentuk sebelumnya. Walau demikian, strata itu umumnya berupa endapan laut tepian yang satu generasi dengan paket-paket endapan transgresi yang menindihnya. Orang yang pertama-tama menyadari kebenaan bidang disconformity seperti tersebut adalah Stamp (1921). Dalam makalah yang disusunnya, dia memperlihatkan bahwa surf zone dari laut yang sedang bertransgresi dapat menyebabkan tertorehnya endapan di daerah pantai. Disconformity yang dihasilkan oleh proses seperti itu kemudian dinamakannya ravinement. Salah satu mekanisme pembentukan bidang ravinement adalah bermigrasinya gisik atau gosong pesisir ke arah daratan. Ketika muka air laut naik, sedimen di bagian upper shoreface akan tererosi, kemudian diendapkan di bagian lower shoreface, di lepas pantai sebagai endapan badai, atau dalam laguna sebagai washover fan (gambar 2-29). Luas penyebaran bidang erosi yang terbentuk di daerah pesisir tergantung pada laju penaikan muka air laut. Di daerah yang laju subsidensinya tinggi atau laju penaikan muka air lautnya tinggi, endapan transgresi yang lengkap akan dapat terawetkan. Di lain pihak, pada daerah yang laju subsidensinya rendah atau laju penaikan muka air lautnya rendah, bidang erosi menjadi lebih jelas terlihat dan paket endapan transgresi tidak terawetkan dengan lengkap (Fischer, 1961). Selama berlangsungnya transgresi, ravinement surface berlaku seperti sabuk fasies yang bergerak sejajar dengan sabuk fasies pantai. Dengan cara seperti itu, ravinement surface kemungkinan menjadi bidang pembatas parasekuen atau parasekuen set. Ravinement surface utama dapat menjadi bidang penciri transgresi (yakni sebagai pembatas antara lowstand systems tract

dan transgressive systems tract).

2.5.8 Masalah dan Ranjau dalam Penerapan Sekuen Stratigrafi Resolusi Tinggi

Penerapan konsep-konsep sekuen stratigrafi resolusi tinggi terhadap sejumlah data bawah permukaan tidak mudah dilakukan. Ada beberapa permasalahan yang perlu dipecahkan, yaitu:

1. Pengenalan parasekuen, dan tatanan pengendapan dari paket endapan yang diteliti, sukar untuk dilakukan apabila kita tidak

memiliki core control, kontrol biostratigrafi yang baik, atau indikator seismik dari tatanan cekungan.

2. Korelasi parasekuen mungkin tidak dapat dilakukan secara langsung. Parasekuen sering sangat mirip satu sama lain. Pengkorelasian ini akan lebih mudah dilakukan apabila jarak sumur cukup dekat, jika parasekuen yang akan dikorelasikan memiliki bentuk log yang khas, atau jika parasekuen itu mengandung lapisan penciri litologi, misalnya lapisan batubara.

3. Pengenalan batas sekuen tidak mudah dilakukan untuk daerah-daerah yang terletak diantara lembah torehan dan untuk batas-batas sekuen yang tersisip diantara sejumlah parasekuen.

4. Pembedaan antara lembah torehan dengan alur yang bukan merupakan lembah torehan seringkali sukar dilakukan. Untuk itu, Van Wagoner dkk (1990) memberi beberapa petunjuk untuk membedakannya.

25

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

5. Batas systems tract dapat dikenal karena merupakan bidang terminasi dari garis-garis korelasi parasekuen. Bidang itu secara garis besar dibedakan menjadi tiga tipe: (a) bidang onlap; (b) bidang pemancungan, dan (c) bidang pembajian. Dalam prakteknya, kita sering tidak tahu bidang terminasi seperti apa yang sedang kita hadapi dan, oleh karena itu, kita juga tidak mengetahui khuluk dari bidang tersebut.

6. Dalam singkapan, sekuen stratigrafi resolusi tinggi relatif lebih mudah dilakukan. Dalam singkapan sejumlah besar informasi fasies dapat diperoleh dan bidang-bidang yang ada dapat ditelusuri penyebarannya dengan cara yang relatif mudah. Walau demikian, pembedaan antara lembah torehan dengan lembah yang bukan merupakan lembah torehan masih sukar untuk dilakukan, walaupun idealnya dasar dari lembah torehan dapat ditelusuri secara lateral hingga berakhir pada bidang penyingkapan atau bidang erosi. Singkapan di bumi ini umumnya tidak menerus dan pengkorelasian antar singkapan tidak jarang juga menimbulkan permasalahan. Dalam singkapan ini tidak ada data seismik yang memungkinkan kita untuk mengetahui geometri strata secara umum. Walau demikian, tebing-tebing berukuran raksasa kadangkala memberikan informasi mengenai geometri strata itu (sebagai contoh, lihat karya Boselini, 1984).

26

Sekuen Stratigrafi

BAB 3 SEISMIK STRATIGRAFI

Emery dkk (1996)

3.1 PENAFSIRAN SEISMIK

3.1.1 Prinsip-Prinsip Penafsiran Seismik Stratigrafi

Seismik stratigrafi (seismic stratigraphy) adalah sebuah teknik untuk memperoleh informasi stratigrafi dari data seismik. Bersama-sama dengan sekuen stratigrafi, yang dapat disebut sebagai turunannya, seismik stratigrafi diakui merupakan salah satu terobosan terpenting dalam ilmu-ilmu kebumian, paling tidak selama tiga dasawarsa terakhir. Gagasan di belakang teknik ini diperkenalkan pertama kali oleh Vail dkk (1977) melalui serangkaian makalah dalam AAPG Memoir 26. Prinsip dasar sesimik stratigrafi adalah: dalam resolusi seismik, pantulan-pantulan seismik berasal dari bidang perlapisan dan, oleh karena itu, garis-garis yang mencerminkan rangkaian pantulan itu mendekati garis kesamaan waktu. Perlu disadari bahwa prinsip ini tidak mengesampingkan fakta fisika bahwa pantulan berasal dari bidang perubahan impedansi yang berarti (impedansi = densitas batuan x kecepatan rambat gelombang seismik dalam batuan itu). Prinsip itupun tidak mengesampingkan fakta bahwa variasi perbedaan impedansi akan menghasilkan amplitudo gelombang pantul yang juga bervariasi. Pesan utama yang disampaikan oleh prinsip ini adalah bahwa pantulan itu muncul dari bidang perlapisan; bukan dari bidang perubahan fasies pada arah lateral. Pada skala resolusi seismik, perubahan fasies dalam strata seumur berlangsung secara berangsur dan tidak akan menghasilkan pantulan gelombang seismik (gambar 3-1). Aksioma di atas menyatakan bahwa setiap garis pada rekaman seismik dapat dianggap sebagai garis waktu tiga dimensi yang memisahkan batuan muda dari batuan yang lebih tua. Sebagian gelombang pantul, misalnya multiple atau gelombang bias yang dipantulkan, merupakan produk samping dan hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang, secara geologi, tidak nyata. Bidang lain, misalnya bidang kontak fluida atau bidang perubahan derajat diagenesis, dipandang sebagai bidang nyata. Ada pula gelombang pantul yang muncul akibat ketebalan batuan (Biddle dkk, 1992) atau pertumpang-tindihan tunedlithofacies (Tipper, 1993). Meskipun ada sejumlah pengecualian seperti tersebut di atas, namun penampang seismik dapat dianggap sebagai penampang kronostratigrafi. Selain itu, penampang seismik juga dapat dianggap sebagai penampang litostratigrafi apabila arti litologidari karakter gelombang pantul dapat diketahui. Karena dapat berfungsi ganda, yakni sebagai penampang litostratigrafi sekaligus penampang kronostratigrafi, maka penampang seismik menjadi alat yang sangat handal untuk menafsirkan tatanan stratigrafi bawah permukaan.

3.1.2 Resolusi Data Seismik

Satu persyaratan kunci untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip seismik stratigrafi dengan baik adalah memahami resolusi seismik. Seorang geologiwan yang bekerja pada singkapan sebenarnya mampu menghasilkan data resolusi tinggi dimana lapisan dan karakter batuan yang berukuran mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa puluh meter akan dapat terekam. Di lain pihak, data singkapan memiliki kualitas dan ukuran yang terbatas karena sangat dipengaruhi oleh keberadaan, kualitas, dan ukuran singkapan. Alat-alat wireline logging dapat merekam lapisan-lapisan dengan ketebalan mulai dari 1 cm hingga beberapa meter, namun secara keseluruhan resolusi data yang dihasilkannya lebih rendah dibanding data singkapan. Selain itu, log merupakan rekaman karakter batuan yang ada disekitar lubang bor. Walau demikian, di lain pihak, data log bersifat menerus sehingga umumnya

lebih lengkap dibanding data singkapan. Rekaman seismik memiliki resolusi yang jauh lebih rendah daripada data singkapan maupun wireline logs (gambar 3-2). Namun, di lain pihak, data seismik mampu memperlihatkan geometri batuan dalam skala raksasa yang tidak mungkin akan pernah dapat diketahui dari singkapan atau electric logs. Selama bekerja dengan rekaman seismik, kita perlu selalu mengingat hal-hal tersebut.

3.1.2.1 Resolusi Vertikal Resolusi vertikal dapat didefinisikan sebagai jarak vertikal minimum antara dua bidang yang diperlukan agar setiap bidang itu tampak sebagai garis-garis pantul dalam rekaman seismik. Pada satu seismic trace yang bebas desau, pantulan itu dicirikan oleh panjang gelombang sinyal seismik. Dalam bentuknya yang paling sederhana, makin kecil panjang gelombang (atau dengan kata lain makin tinggi frekuensinya), makin makin tinggi pula resolusi vertikal rekaman seismiknya. Gelombang seismik direkam dan diproses sedemikian rupa sehingga dapat mencakup kisaran frekuensi selebar mungkin. Frekuensi tertinggi lah yang akan menentukan resolusi rekaman seismik. Bayangkan, misalnya saja ada suatu lapisan membaji (gambar 3-3). Pada bagian-bagian yang dekat dengan ujung baji batuan itu, ketebalan lapisan berada di bawah resolusi seismik. Pada tempat seperti itu, akan terjadi interferensi gelombang yang dipantulkan oleh bidang-bidang perlapisan yang berdekatan sehingga akan terbentuk gelombang pantul gabungan yang amplitudonya merupakan anomali dari amplitudo gelombang pantul normal. Apabila jarak antar bidang perlapisan kurang dari seperempat panjang gelombang yang merambat melalui batuan itu, maka akan terbentuk suatu gelombang pantul beramplitudo tinggi. Gejala seperti itu disebut efek lapisan tipis(thin bed effect; tuning). Selain ketebalan lapisan, ada hal lain yang turut menentukan resolusi vertikal dari data seismik. Pertama, bumi ini berlaku sebagai sebuah filter raksasa yang menyerap gelombang seismik. Karena itu, suatu gelombang seismik makin lama akan makin

27

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

lemah karena energi gelombang itu akan terserap oleh bumi. Kedua, makin dalam suatu gelombang akustik, makin cepat pula dia merambat. Hal itu terjadi karena makin dalam suatu posisi batuan di kerak bumi, makin tinggi pula tingkat kompaksi dan sementasinya. Hal ini pada gilirannya menyebabkan panjang gelombang seismik makin besar dengan bertambahnya kedalaman dan, pada gilirannya, akan menurunkan resolusi rekaman seismik. Terakhir, data seismik mentah biasanya mengandung banyak desau (noise). Ketika dilakukan pemrosesan data, desau-desau seperti itu biasanya dicoba dihilangkan dengan cara mem- buanggelombang-gelombang berfrekuensi tinggi yang biasanya muncul dari desau. Sayang sekali, pada waktu yang ber- samaan, cara itu juga akan menyebabkan hilangnya gelombang frekuensi tinggi asliyang berasal dari bidang-bidang pantul. Padahal, gelombang-gelombang itulah yang akan membantu kita untuk memperoleh resolusi yang tinggi.

3.1.2.2 Resolusi Lateral

Energi gempa merambat melalui berbagai material yang ada di bawah permukaan bumi dan dari waktu ke waktu

akan ber-interaksi dengan bidang-bidang pantul yang ada pada lintasan perambatannya. Energi gelombang itu

merambat sebagai rangkaian wave front. Suatu bagian bidang fisik yang menyebabkan terpantulkannya energi

gelombang seismik secara kons-truktif disebut zona Fresnel (Fresnel zone) (Sheriff, 1977). Resolusi lateral dari

rekaman seismik ditentukan oleh radius zona Fresnel, dimana radius zona Fresnel itu sendiri ditentukan oleh

panjang gelombang akustik dan kedalaman bidang pantul (gambar 3-4). Jadi, dalam data seismik yang belum

dimigrasi, resolusi lateral tengantung pada seismic bandwidth, kecepatan rambat gelombang untuk sampai pada

suatu bidang pantul, serta waktu tempuh menuju bidang pantul tersebut (gambar 3-5). Prosedur migrasi data seismik

akan membantu meningkatkan resolusi data seismik. Untuk migrasi dua dimensi, masih ada masalah mengenai

orientasi garis pantul, relatif terhadap kemiringan sebenarnya, sedangkan dalam migrasi tiga dimensi masalah itu

sudah dapat terpecahkan. Jadi, untuk data yang telah dimigrasi, resolusi lateral tergantung pada jarak antar jejak

gelombang seismik (seismic trace), panjang operator migrasi, waktu/kedalaman bidang pantul, dan bandwidth data.

3.1.3 Pemrosesan Seismik dan Penampilannya untuk Analisis Stratigrafi

Tidak ada urut-urutan pemrosesan data seismik yang dapat dipandang sebagai cara paling optimum untuk memperoleh penampang seismik sesuai untuk tujuan analisis stratigrafi. Parameter pengambilan data seismik yang berbeda-beda, sumber gelombang seismik yang berbeda-beda, dan variasi geologi daerah yang diteliti hendaknya dipertimbangkan secara hati-hati dan cermat. Masing-masing aspek itupun hendaknya dipandang sebagai aspek tersendiri. Penafsiran atau analisis stratigrafi dari

data seismik pada hakekatnya merupakan sebuah aktivitas untuk mengenal pola-pola tertentu dalam penampang seismik. Pemrosesan data seismik dapat memperjelas maupun mengaburkan representasi seismik dari geologi bawah permukaan. Pem- roses dan penafsir seismik hendaknya bekerja sama untuk dapat memperoleh hasil terbaik. Setiap pemroses data seismik hendaknya memahami masalah-masalah geologi yang ingin dipecahkan oleh si penafsir, sedangkan si penafsir sendiri hendak- nya memahami apa yang telah dilakukan oleh si pemroses untuk memperoleh penampang seismik yang akan dianalisisnya. Bahkan, setelah data seismik diproses secara hati-hati, setiap orang masih harus menghadapi satu masalah besar yakni menentukan parameter-parameter apa yang sebaiknya ditampilkan dalam penampang seismik. Masih banyak hal yang harus disempurnakan untuk meningkatkan potensi penampang seismik agar dapat ditafsirkan dengan lebih baik lagi. Selain itu, penampilan ulang data-data lama juga merupakan cara lain yang akan memberikan daya hidupbaru pada data-data tersebut. Ada empat metoda untuk menampilkan data seismik. Metoda pertama melibatkan pengubahan bentuk jejak gelombang seismik (maksudnya, bentuk kelokan-kelokan gelombang seismik) dengan tujuan untuk mempertegas aspek-aspek pantulan. Metoda kedua berkaitan dengan bentuk trace equalization dan dilakukan dengan tujuan untuk mengkompensasikan hilangnya energi gelombang pantul sejalan dengan bertambahnya kedalaman. Metoda ketiga ditujukan untuk menampilkan aspek-aspek lain dari data seismik. Aspek-aspek itu disebut complex attributes. Metoda keempat, yang relatif murah namun cukup efektif, adalah teknik penekanan visual. Tekni ini akan memperjelas data yang telah diproses secara visual.

3.1.3.1 Bentuk Jejak Gelombang Seismik Energi gempa yang ditangkap oleh geofon (geophone) disimpan sebagai deretan pasangan data yang terdiri

dari data waktu dan amplitudo. Data itu biasanya direkam secara periodik setiap 2 atau 4 milidetik. Setelah diproses,

28

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

data itu ditampilkan sebagai data rekaman menerus dengan cara menginterpolasikan deretan titikdata yang

sebenarnya tidak menerus itu.

Pemilihan parameter-parameter yang akan ditampilkan dalam jejak gelombang yang diinterpolasikan itu merupakan salah satu tahapan kritis yang akan menentukan kenampakan akhir dari penampang seismik. Metoda paling sederhana adalah menampilkan data itu sebagai deretan jejak gelombang yang berkelok-kelok(wiggle), dimana jauhnya setiap kelokan, relatif terhadap garis tengah jejak gelombang, merepresentasikan amplitudo, sedangkan pengkutubannya ditampilkan sebagai arah kelokan, relatif terhadap garis tengah itu (gambar 3-6). Format ini memungkinkan dilakukannya pengamatan yang cermat terhadap perubahan bentuk wavelet dari satu jejak gelombang ke jejak gelombang lain serta memperjelas anomali-anomali amplitudo tinggi dimana jejak-jejak gelombang itu saling bertumpang-tindih. Dengan demikian, metoda ini sangat bermanfaat dalam penafsiran stratigrafi, terutama pada skala reservoar, karena pada analisis itu kita memerlukan informasi-informasi mengenai ketebalan lapisan, litologi, dan fluida yang terkandung didalamnya. Sayang sekali, format jejak gelombang yang hanya berupa deretan kelokanseperti itu sangat sensitif terhadap kemiringan batuan serta cenderung menekankan event yang miring curam, terutama difraksi. Alternatif dari format kelokansederhana itu adalah format variable area. Dalam format itu tidak ada jejak gelombang yang menerus. Setiap gelombang ditampilkan sedemikian rupa sehingga besaran penyimpangan gelombang, relatif terhadap garis tengah, dinyatakan dalam bentuk variable area. Variable areaitu diberi warna (biasanya hitam) (gambar 3-6). Format ini dapat dengan jelas memperlihatkan kesinambungan pantulan. Namun, dalam penafsirannya, kita perlu hati-hati agar jangan sampai kehilangan informasi sewaktu perhatian kita terkonsentrasi pada bentuk wavelet. Format lain yang mirip dengan variable areaadalah format variable intensity (density), dimana variasi kekuatan pantulan ditampilkan dengan variasi nuansa warna abu-abu hingga hitam atau dengan variasi warna. Format ini merupakan format baku pada kebanyakan laboratorium dan memungkinkan diperolehnya resolusi yang jauh lebih tinggi dibanding dengan apa yang dapat diperoleh dari variable area. Penampang seismik konvensional umumnya menggunakan kombinasi format variable areadan wigglesedemikian rupa sehingga dalam penampang seismik itu akan tampak bukan saja wiggle, namun juga variable areadari pantulan tertentu, bahkan variable densitydari pantulan-pantulan tertentu (gambar 3-6). Format seperti ini memberikan informasi mengenai bentuk gelombang (waveform), sekaligus memberikan penekanan pada kesinambungan pantulan. Walau demikian, kenampak- an penampang seismik seperti itu sangat senstitif terhadap parameter-parameter lain seperti display gain. Selain itu, ada juga risiko kehilangan informasi amplitudo ketika jejak-jejak gelombang itu saling berpotongan atau bertumpang-tindih. Hal itu dapat dikontrol dengan membatasi defleksi jejak maksimum dalam limit-limit tertentu (clipping), namun hal itu pada gilirannya justru akan menyebabkan terjadinya distorsi informasi amplitudo dan juga dapat menyebabkan munculnya daerah-daerah putih dalam penampang seismik, padahal pada tempat-tempat seperti itu aplitudo pantulan justru paling besar. Setelah tipe jejak gelombang dapat ditentukan, ada sejumlah parameter yang dapat diubah untuk mengembangkan bentuk jejak dan hal itu dapat menyebabkan terjadinya perubahan besar pada penampang seismik yang dihasilkan. Swing mengontrol jumlah defleksi pada suatu puncak atau lembah sebagai presentasi jarak antar jejak

gelombang. Jika swing dioptimalkan, hal itu akan dapat memperlihatkan kesinambungan pantulan-pantulan yang

lemah.

Bias mengontrol posisi garis dasar nol diantara refleksi-refleksi positif dan negatif. Dengan menera bias, kita dapat meng- arahkan agar pemrosesan lebih menekankan puncak gelombang dibanding lembah gelombang atau sebaliknya. Bias positif akan menyebabkan bergesernya garis dasar ke kiri sehingga puncak-puncak gelombang menjadi lebih "ter-expose. Bias yang sangat tinggi, baik bias positif maupun bias negatif, cenderung menekankan kesinambungan namun bias negatif yang sangat tinggi dapat menyebabkan tidak terkontrolnya derajat korelasi antar lembah gelombang. Clip digunakan untuk mengontrol defleksi maksimum lembah atau puncak gelombang dari garis dasar. Clip

biasanya di-rancang sebagai jarak antar jejak gelombang. Nilai-nilai yang rendah dapat digunakan untuk

memuluskan atau meng-homogenisasikan amplitudo.

3.1.3.2 Trace Equalization Masalah hilangnya amplitudo yang cukup banyak, sejalan dengan bertambahnya kedalaman, pada data seismik dapat dipecahkan dengan cara menerapkan sebuah teknik yang disebut equalization. Teknik itu bertujuan untuk menghasilkan suatu penampang yang lebih seimbang dan lebih mudah ditafsirkan. Proses itu menera aplitudo penampang sedemikian rupa sehingga amplitudo gelombang menjadi relatif konstan di seluruh bagian penampang yang telah dipilih untuk di -equalized. Bagian yang akan di-equalized, atau yang biasa disebut window, itu mungkin seluruh bagian penampang. Pada kondisi seperti itu, prosesnya disebut single gate equalization dan prosedurnya disebut automatic gain control (AGC).

29

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Fast AGC adalah bentuk khusus dari penerapan equalization, dimana gate dilakukan pada suatu interval

yang pendek, mungkin 110 kali sample rate (4-40 ms). Teknik ini digunakan untuk meng-equalized semua

amplitudo sebagai sebuah cara untuk memperjelas kesinambungan dan terminasi reflektor. Teknik ini hendaknya

digunakan secara hati-hati karena fast AGC menyebabkan terdistorsinya wavelet dan menyebabkan desau menjadi

jelas terlihat. Walau demikian, teknik ini tetap memiliki nilai tersendiri, terutama apabila diterapkan dengan maksud

memperjelas bagian-bagian penampang yang terletak dekat dengan daerah beramplitudo tinggi.

3.1.3.3 Complex Attributes

Informasi seismik konvensional diperlihatkan sebagai plot-plot frekuensi dan amplitudo. Walau demikian, data

tersebut, yang telah terekam dalam geofon atau hidrofon (hydrophone), dapat dimanipulasikan secara matematis

untuk menghasilkan sifat-sifat lain dari gelombang seismik. Meskipun kita tidak mendapatkan informasi baru dari

hasil manipulasi itu, namun tampilan dan penafsiran dari jejak-jejak gelombang seismik yang kompleks itu kadang-

kadang dapat memberikan wawasan baru ke dalam ilmu geologi yang semula tidak didapatkan dari data

konvensional. Manfaat potensial dari teknik ini dalam penafsiran seismik stratigrafi diperlihatkan pada tabel 3-1.

Pembahasan yang lebih jauh dari teknik pengolahan data ini disajikan oleh Tanner & Sheriff (1977).

3.1.3.4 Teknik-Teknik Penekanan Visual

Istilah teknik-teknik penekanan visual mencakup beberapa teknik yang murah dan sederhana, namun tidak jarang

sangat efektif, untuk menampilkan data seismik. Teknik-teknik ini dapat diterapkan dengan mudah, meskipun kita

tidak memiliki rekaman asli dari gelombang seismik.

3.1.3.4.1 Warna Tidak diragukan lagi bahwa pemakaian warna meningkatkan kemungkinan penampang seismik untuk

dapat ditafsirkan dengan benar. Secara historis, teknik ini terkenal mahal karena harus menggunakan tipe kertas

khusus. Namun, dewasa ini, sejalan dengan makin banyaknya plotter yang relatif murah, kesan mahal dari teknik ini

sudah tidak layak lagi. Selain itu, perusahaan-perusahaan pemroses data seismik banyak yang dapat menjalankan

pemrosesan ini serta memungkinkan dilakukannya berbagai percobaan untuk menemukan skala terbaik yang sesuai

dengan keinginan konsumen. Warna mungkin sebaiknya digunakan sebagai sebuah latar yang melukiskan intensitas,

di atas mana kemudian diletakkan wiggle.

30

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Tingginya kemungkinan penampang seismik untuk lebih mudah ditafsirkan apabila diberi warna makin

jelas terlihat pada saat rekaman seismik banyak mengandung desau. Sebaiknya kita tidak menggunakan terlalu

banyak warna serta selalu sadar bahwa banyak laki-laki di dunia ini ternyata buta warna.

3.1.3.4.2 Squash Plot

Penampang seismik pada mulanya disajikan untuk tujuan penafsiran struktur. Untuk tujuan itu, penampang

seismik perlu dibuat dengan skala yang mendekati skala sebenarnya, tanpa distorsi vertikal, selama hal itu memang

memungkinkan. Meskipun bentuk penampang seperti itu juga merupakan bentuk penampang seismik ideal untuk

analisis seismik stratigrafi, namun tidak jarang kurang optimum. Hal itu terjadi karena banyak analis seismik

stratigrafi kadang-kadang sangat tertarik pada bentuk atau hubungan geometri yang samar. Kemiringan sedimen

umumnya relatif rendah. Kipas bawahlaut dapat memiliki kemiringan 13 0 pada tangkis dan cuping kipas (lobe).

Kompleks endapan klastika laut-dangkal yang berprogradasi jarang memperlihatkan kemiringan lebih dari beberapa

derajat, sedangkan dataran pantai umumnya hampir horizontal. Untuk melihat adanya marine onlap, downlap, dan

coastal onlap pada lingkungan-lingkungan tersebut, terutama ketika terdapat struktur syn-sedimentation, kita perlu

memperjelas kemiringan tersebut. Bahkan, alasan inilah yang sebenarnya melandasi praktek mengapa analis seismik

stratigrafi sering memperhatikan penampang seismik dari sudut tertentu.

Proses penampilan ulang dapat dilaksanakan secara sederhana dan murah dengan cara memendekkan skala

horizontal, sedangkan skala vertikal dibiarkan tetap. Besarnya pemendekatan itu umumnya sekitar 5-10 cm/detik.

Dengan mempertahan-kan skala vertikal, garis-garis yang tidak bersambungan tetap ditampilkan sebagai garis-garis

yang terpisah. Walau demikian, untuk data masa kini, pengurangan skala horizontal harus diikuti dengan proses

penghilangan atau penggabungan beberapa garis pantul. Ancangan alternatif untuk memecahkan masalah ini adalah

mengurangi skala horizontal hingga suatu nilai maksimum tertentu yang tidak mengharuskan dilakukannya proses

penghilangan atau penggabungan beberapa garis pantul. Cara lain adalah membiarkan agar skala horizontal berharga

tetap, sedangkan skala vertikal diperbesar. Di masa lalu, seorang penafsir dapat meminta sebuah penampang dengan

skala horizontal yang telah diperkecil (misalnya skala 1 : 100.000 atau 1 : 200.000) atau data itu dapat dikompres

secara optik dengan menggunakan sebuah kamera yang dirancang khusus untuk tujuan tersebut. Dewasa ini

perusahaan-perusahaan pengolah data seismik dapat melakukan pengubahan skala dengan cepat dan semua penafsir

hendaknya melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan skala vertikal terbaik yang akan memperlihatkan

hubungan stratigrafi secara baik pula.

31

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

3.2 POLA-POLA TERMINASI REFLEKTOR SEISMIK

3.2.1 Menandai Penampang Seismik

Tahap pertama dalam pekerjaan penafsiran seismik stratigrafi adalah menentukan skala vertikal dan skala horizontal dari penampang tersebut. Hal ini penting artinya untuk memperkirakan batasan dari model-model geologi yang akan direkonstruksi- kan di kemudian hari. Selain itu, perlu juga diperhatikan bagian keterangan yang biasanya tercantum pada salah satu sudut atau sisi penampang seismik atau pada data itu sendiri untuk mengetahui apakah data-data seismiknya telah dimigrasi atau belum serta untuk mengetahui apakah data seismik itu berasal dari wilayah daratan atau wilayah perairan. Baik penampang yang berasal dari wilayah perairan maupun penampang yang berasal dari wilayah daratan mungkin sama-sama banyak mengandung mulitple, meskipun telah diproses secara optimum. Walau demikian, gejala multiple umumnya dapat dengan mudah diketahui pada penampang seismik perairan dimana perbedaan akustik di dasar wilayah perairan itu menghasilkan simple bottom-water multiple atau peg-leg multiple. Jika suatu bidang diperkirakan merupakan multiple, maka bidang itu hendaknya diberi warna khusus (menurut konvensi, warna itu biasanya biru muda). Pada gambar 3-7, yang berasal dari endapan Tersier di Outer Moray Firth, Laut Utara, bidang pantul yang terletak di sebelah kanan (sisi timur) dan berpotongan dengan tepi penampang pada 0,3 detik kemungkinan merupakan multiple. Bidang pantulitu terbentuk karena gelombang suara dipantulkan dua kali diantara permukaan air laut dan dasar laut dan kemudian terekam sebagai pantulanyang berasal dari suatu bidang yang terletak tempat yang jauhnya dua kali waktu-tempuh (two-way-time, TWT) gelombang tersebut untuk merambat dari permukaan-dasar laut-permukaan. Pantulan itu tidak memiliki arti geologi apa-apa serta dapat diabaikan dalam keseluruhan proses penafsiran. Tahap berikutnya adalah membagi data seismik ke dalam paket-paket stratigrafi alami. Untuk melakukan itu, pertama-tama kita harus mengenal dan memberi tanda setiap bentuk terminasi reflektor. Apabila telah memiliki pengalaman yang cukup lama, Anda akan menemukan kenyataan bahwa reflektor seismik umumnya tidak melampar secara menerus dari satu ujung ke ujung lain pada suatu penampang seismik, melainkan berakhir pada reflektor lain. Tandai ujung reflektor itu dengan sebuah anak panah (menurut konvensi, hal itu biasanya dilakukan dengan menggunakan pinsil merah). Pekerjaan itu tidak selalu merupakan sebuah prosedur langsung; kadang-kadang kita melihat adanya dua reflektor yang bergabung sedemikian rupa sehingga kita akan merasa kesulitan untuk menentukan reflektor mana yang berakhir pada reflektor kedua. Dalam data khaotik yang mudah diselimuti oleh banyak multiple atau pada data beramplitudo rendah, kita mungkin tidak dapat melihat dengan jelas apakah suatu reflektor itu berakhir pada pantulan lain, menghilang, atau muncul kembali di tempat lain. Secara umum, pada tahap awal, kita sebaiknya mengabaikan zona reflektor yang terputus atau khaotik dan menujukan perhatian pada bagian-bagian penampang dengan reflektor yang baik. Zona khaotik dan zona reflektor yang buruk dapat ditafsirkan nanti dengan bantuan model yang diturunkan dari data yang baik. Pada gambar 3-7, di atas 0,7 detik, kita akan kesukaran untuk menemukan terminasi-terminasi reflektor. Reflektor-reflektor itu tampak menerus, kecuali sewaktu terpotong oleh alur. Walau demikian, penentuan titik-titik terminasi reflektor akan terbantu apabila kita melihat keseluruhan penampang seismik itu dengan seksama dari satu sudut pandang yang miring. Dengan cara itu, terminasi-terminasi yang samar di bagian itu akan dapat diketahui. Di lain pihak, zona diantara 0,7 dan 1 detik, mengandung banyak pantulan yang miring dan secara konsisten berakhir ke sebelah kiri atas dan ke sebelah kanan bawah. Pantulan yang berakhir secara konsisten dilukiskan sebagai sebuah garis pada penampang tersebut (dan sebagai sebuah bidang pada penampang tiga-dimensi). Pantulan seperti itu disebut bidang seismik (seismic surface). Tahap berikutnya adalah menggunakan anak panah berwarna merah untuk menandai bidang seismik yang telah ditemukan. Jumlah bidang seismik dalam suatu penampang bervariasi, tergantung pada kompleksitas stratigrafi. Pada suatu penampang seismik biasanya terdapat beberapa bidang seismik utama dengan terminasi yang konsisten serta beberapa bidang seismik minor. Pada tahap awal penafsiran seismik stratigrafi, sesuai dengan konvensi yang berkembang di kalangan analis seismik, bidang-bidang itu diberi warna kuning. Pada tahap lanjut, bidang itu diberi warna tersendiri setelah diketahui tipe litologi atau umurnya. Pada gambar 3-7, reflektor-reflektor dengan terminasi yang konsisten seperti itu telah diberi tanda. Bidang yang paling jelas pada penampang seismik itu adalah satu atau dua bidang berrelief tinggi yang terletak diantara 0,2-0,5 detik. Walau demikian, bidang seismik yang baik juga terlihat di sekitar 0,5 detik. Bidang-bidang lain terletak di atas 0,5 detik dan di dalam paket reflektor yang kompleks dan miring diantara 0,71 detik. Pantulan yang kuat di sekitar 0,7 detik juga merupakan sebuah bidang seismik karena berakhir secara onlap terhadap reflektor-reflektor diatasnya di sekitar shotpoint (SP) 9000. Setelah semua bidang seismik diketahui keberadaannya, kita perlu melakukan pengamatan yang sama terhadap penampang-penampang seismik lain yang ada di sekitar tempat penelitian. Setelah itu, mengaitkan penafsiran yang dibuat dari satu penampang dengan penafsiran yang dibuat dari penampang lain untuk memastikan bahwa penafsiran yang dibuat bersifat konsisten di semua bagian daerah penelitian serta untuk membuat informasi tiga-dimensi dari semua data yang ada. Sebagian bidang seismik mungkin merupakan bidang yang memiliki kebenaan regional, sedangkan sebagian lain mungkin hanya memiliki kebenaan lokal. Dengan menentukan titik-titik terminasi reflektor, seorang analis data seismik penafsir pada dasarnya telah membagi strati- grafi penampang seismik itu ke dalam sejumlah paket pengendapan. Setiap paket itu disusun oleh reflektor-reflektor yang relatif selaras dan dipersatukan oleh kemiripan karakter dan geometri reflektor. Setiap paket itu dibatasi oleh bidang-bidang yang menandai terjadinya perubahan karakter dan geometri reflektor.

3.2.2 Menggolongkan Terminasi Reflektor Seismik

32

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Dalam penampang seismik dua dimensi, terminasi-terminasi bidang pantul seismik dicirikan oleh

hubungan geometris antara bidang pantul itu dengan bidang seismik dimana pantulan itu berakhir. Mitchum dkk

(1977a) memperkenalkan istilah-istilah lapout, truncation, baselap, toplap, onlap, dan downlap untuk menyatakan

ragam terminasi bidang pantul seismik (gambar 3-8). Sebagian besar ragam terminasi bidang pantul seismik itu

murni didasarkan pada geometri, sedangkan sebagian lain sedikit banyaknya melibatkan tafsiran mengenai asal-usul

terminasi itu (apakah terminasi itu merupakan limit pengendapan asli atau bukan).

Lapout adalah terminasi lateral dari sebuah bidang pantul atau reflektor (umumnya merupakan bidang perlapisan) pada limit pengendapannya, sedangkan truncation mengimplikasikan bahwa reflektor itu pada mulanya melampar lebih jauh, namun kemudian tererosi (sehingga disebut erosional truncation) atau terpotong oleh bidang sesar, bidang nendatan, berada dalam keadaan kontak dengan garam atau serpih yang mobil, atau sebuah intrusi batuan beku (Mitchum dkk, 1977a,b). Baselap adalah lapout reflektor terhadap bidang seismik yang terletak dibawahnya (yang menandai batas

bawah dari suatu paket seismik). Baselap dapat berupa: (1) downlap, yakni baselap dimana kemiringan bidang batas

bawah paket seismik itu lebih rendah dibanding kemiringan reflektor-reflektor yang terletak diatasnya; atau (2)

onlap, dimana kemiringan batas bawah paket seismik itu lebih besar daripada kemiringan reflektor-reflektor yang

terletak diatasnya.

Downlap umumnya terlihat pada bagian dasar suatu klinoform yang berprogradasi dan biasanya merepresentasikan pro- gradasi suatu sistem lereng tepi cekungan ke arah perairan-dalam (baik yang berupa laut maupun danau). Dengan demikian, downlap merepresentasikan perubahan dari pengendapan pada lereng laut (atau danau) menjadi kondensasi atau tidak terjadinya pengendapan di laut (atau danau). Bidang downlap merepresentasikan suatu condensed unit. Downlap sangat sukar terbentuk pada lingkungan terestrial. Walau demikian, perlu dicamkan bahwa tidak mudah untuk membedakan depositional downlap dengan original onlap yang kemudian terotasi akibat pengaruh tektonik. Dalam banyak kasus, banyak terminasi reflektor seismik yang ditafsirkan sebagai downlap sebenarnya merupakan terminasi semu (apparent termination) yang muncul akibat penipisan strata distal hingga ketebalannya berada di luar resolusi seismik. Onlap dikenal dalam penampang seismik berdasarkan terminasi bidang-bidang pantulan yang miring landai terhadap sebuah bidang seismik yang miring lebih curam daripadanya. Ada dua tipe onlap, yakni marine onlap dan coastal onlap. Marine onlap adalah onlap strata bahari yang merepresentasikan perubahan dari pengendapan bahari menjadi pengendapan non-bahari atau menjadi kondensasi akibat terjadinya pengisian parsial ruang akomodasi oleh sedimen bahari. Pola marine onlap tidak dapat dipakai untuk menentukan perubahan muka air laut relatif karena level marine onlap tidak memiliki kaitan langsung dengan muka air laut relatif. Marine onlap mencerminkan perubahan fasies bawahlaut, dari laju pengendapan yang berarti menjadi pelagic drape yang energinya jauh lebih rendah. Dalam sumur yang dibor di luar limit marine onlap akan ditemukan condensed unit atau hiatus (rumpang waktu) yang memiliki ekivalensi waktu dengan marine onlap itu. Bidang seismik dari marine onlap merepresentasikan suatu hiatus bahari atau condensed interval. Coastal onlap adalah onlap strata non-marin, paralik, atau marginal marine serta merepresentasikan perubahan dari zona pengendapan menjadi erosi dan non-pengendapan pada tepi cekungan (terestrial atau paparan). Coastal onlap umumnya di- tafsirkan keberadaannya dari data seismik berdasarkan adanya gejala onlaping endapan-endapan topset (lihat sub bab 2.4) karena gejala itu diasumsikan atau memang terbukti merepresentasikan endapan litoral, paralik, atau terestrial. Endapan- endapan topset itu diasumsikan terakumulasi dekat dengan muka air laut. Pola coastal onlap, relatif terhadap bidang yang di- onlap, mengindikasikan perubahan muka air laut relatif. Pergeseran coastal onlap ke arah darat terjadi akibat naiknya muka air laut relatif, sedangkan pergeseran coastal onlap ke arah laut atau ke arah cekungan terjadi akibat turunnya muka air laut (hal ini telah dibahas dalam Bab 2). Coastal onlap tidak harus terbentuk pada garis pantai. Pergeseran coastal onlap ke arah darat dapat disertai transgresi maupun regresi, tergantung pada pasokan sedimen. Dalam sumur bor yang melalui batuan yang mengandung limit coastal onlap yang dekat dengan daratan tidak ditemukan suatu paket yang ekivalen umurnya dengan coastal onlap itu. Sebagai gantinya, kita dapat menemukan ketidakselarasan, paleosol, atau sebuah horizon karst. Toplap adalah terminasi reflektor miring (klinoform) terhadap sebuah bidang yang miring landai dan terletak diatasnya. Titik terminasi itu diyakini merepresentasikan limit pengendapan di bagian proksimal. Dalam strata tepi laut, toplap merepresentasi- kan perubahan dari pengendapan lereng menjadi by-passing atau erosi pada lingkungan non-marin atau laut-dangkal. Bidang toplap merupakan sebuah ketidakselarasan. Sebuah bidang bisa tampak sebagai toplap semu apabila klinoform melampar ke

33

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

atas, menipis, dan membentuk strata topset yang terlalu tipis untuk dapat terdeteksi secara seismik. Dalam tatanan laut-dalam, toplap semu kemungkinan besar merupakan sebuah bidang erosi bahari, sebagaimana yang terlihat dalam konturit. Pada kasus itu, bidang tersebut bersifat lokal dan biasanya tidak tampak datar pada suatu wilayah yang luas. Erosional truncation adalah terminasi reflektor terhadap bidang erosi yang terletak diatasnya. Toplap dapat menerus menjadi erosional truncation. Walau demikian, erosional truncation umumnya lebih ekstrim dibanding toplap. Erosional truncation meng- indikasikan perkembangan relief erosi atau ketidakselarasan menyudut. Bidang erosi itu sendiri dapat merupakan bidang erosi bahari (misalnya di bagian bawah ngarai, alur, atau bidang kerukan) atau bidang erosi terestrial yang berkembang pada batas sekuen. Apparent truncation adalah terminasi reflektor yang relatif landai di bawah suatu bidang seismik yang miring. Gejala itu merepresentasikan kondensasi bahari. Terminasi itu sendiri merepresentasikan limit distal pengendapan (atau penipisan hingga ketebalannya berada di luar resolusi seismik) strata topset atau kadang-kadang juga kipas bawahlaut. Banyak terminasi pantulan dalam strata bahari termasuk ke dalam kategori semu, karena sebenarnya mungkin ada condensed unit yang merupakan kelanjutannya, namun ketebalan condensed unit itu berada di luar resolusi seismik (gambar 3-9). Fault truncation merepresentasikan terminasi reflektor terhadap bidang sesar, nendatan, longsoran, atau intrusi yang ter- bentuk pada saat yang bersamaan dengan berlangsungnya pengendapan (syn-depositional) maupun setelah berlangsungnya pengendapan (post-depositional). Terminasi terhadap sebuah gawir sesar tua adalah onlap. Dalam penampang seismik, kita seringkali menemukan adanya reflektor-reflektor yang terletak di atas

suatu bidang seismik tampak berakhir pada bidang itu, sedangkan reflektor-reflektor yang terletak dibawahnya

tampak selaras dengan bidang tersebut. Demikian sebaliknya. Keselarasan(conformity) seperti itu seringkali

bersifat semu karena sudut yang dibentuk oleh bidang seismik dan reflektor-reflektor itu demikian lancip sehingga

tampak selaras atau karena pada bidang itu terjadi kondensasi.

Beberapa tipe terminasi reflektor seismik dapat dilihat pada gambar 3-7. Dalam gambar itu jelas terlihat adanya truncation di bawah bidang alur berelief tinggi antara 0,3 dan 0,5 detik. Reflektor-reflektor pendek dalam alur itu berakhir secara onlap terhadap tepi-tepi alur tersebut. Reflektor-reflektor batuan Eosen yang miring dan terletak diantara 0,7 dan 1 detik berakhir secara downlap ke arah timur dan berakhir secara onlap atau terpancung ke arah barat. Bidang seismik yang menindih strata itu relatif datar dan terletak diantara SP 950 dan 1100. Bidang itu merupakan bidang toplap. Paket yang terletak di bawah 0,8 detik dan sebelah timur SP 1200 dapat dilihat berakhir secara onlap ke arah barat dan downlap ke arah timur.

3.2.3 Fasies Seismik dan Analisis Karakter Reflektor

Setelah data seismik dibagi-bagi ke dalam sejumlah paket pengendapan, dengan memakai prosedur yang telah dijelaskan di atas, maka tafsiran geologi dapat mulai dilaksanakan. Hal itu biasanya dijalankan dengan melakukan pemetaan fasies seismik (seismic facies mapping). Pemetaan fasies seismik, menurut Sangree & Widmier (1977), adalah kegiatan penafsiran fasies pengendapan dari data seismik. Pekerjaan itu mencakup pengenalan dan penafsiran geometri dan kesinambungan reflektor, amplitudo, frekuensi, dan kecepatan interval gelombang seismik, serta bentuk eksternal dan geometri tiga-timensi dari paket- paket reflektor. Setiap parameter reflektor seismik itu mengandung informasi stratigrafi yang penting. Salah satu karakter yang paling mudah untuk dipetakan dan didefinisikan adalah geometri reflektor.

Endapan tepi cekungan yang berprogradasi umumnya dapat terlihat dalam penampang seismik terdiri dari sejumlah

topset dan klinoform (gambar 3-10; lihat juga anak sub-bab 2.1.2). Contoh-contoh yang diperlihatkan pada gambar

3-7, dalam endapan Eosen akhir di sebelah timur SP 1200 dan di bawah 0,7 detik memperlihatkan topset dan

klinoform yang baik. Reflektor-reflektor yang miring di sebelah barat paket itu adalah klinoform, dengan topset

minor atau tanpa topset. Paket clinoform-topset yang berkembang baik dapat ditafsir-kan sebagai representasi suatu

systems tract endapan paralik hingga paparan (topset) serta sedimen lereng (klinoform). Titik perubahan kemiringan

dari topset kepada klinoform disebut offlap break (gambar 2-3).

Endapan sedimen lainnya, misalnya cuping kipas bawahlaut, kadang-kadang memperlihatkan bentuk yang mirip dengan itu, dimana reflektor-reflektor yang relatif datar menjadi makin curam ke arah cekungan. Kunci untuk mengenal paket clinoform- opset yang sebenarnya adalah menemukan sebuah offlap break yang jelas dan reflektor-reflektor topset yang konkordan dan

34

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

sejajar. Kedua kriteria tersebut terpenuhi oleh endapan Eosen pada gambar 3-7. Kadang-kadang, reflektor-reflektor klinoform terlihat makin menurun ke arah cekungan, dan kemudian berubahmenjadi reflektor-reflektor relatif datar yang disebut bottomset. Pada kasus lain, reflektor-reflektor distal yang miring landai tidak memperlihatkan kesinambungan pengendapan dengan klinoform, melainkan membentuk paket-paket endapan yang onlapping terhadap clinoform front. Ramsayer (1979) menyajikan sebuah metodologi untuk memetakan fasies seismik dua dimensi. Dalam metoda yang disebut teknik A,B,Citu, ada tiga karater paket seismik yang dicatat, diberi simbol huruf (tabel 3-2), dan dipetakan. Ketiga karakter itu adalah (1) khuluk terminasi-terminasi reflektor terhadap bidang pembatas atas; (2) khuluk terminasi-terminasi reflektor terhadap bidang pembatas bawah; dan (3) konfigurasi reflektor-reflektor yang terletak diantara kedua bidang pembatas itu. Dengan demikian, bagian proksimal paket endapan Eosen akhir pada gambar 3-7 akan dinyatakan sebagai C-On/P, sedangkan bagian distalnya akan dinyatakan sebagai C-Dwn/Ob. Sandi-sandi fasies seismik itu dapat dituliskan pada sebuah peta, dan penyebaran berbagai fasies seismik dapat dilukiskan setelah kita menggabungkan hasil-hasil penafsiran dari sejumlah penampang seismik. Setelah dikalibrasi dengan data sumur, kita biasanya dapat memperoleh peta fasies yang cukup dapat diandalkan berdasarkan fasies seismik. Endapan Eosen akhir yang dijelaskan di atas belum pernah dibor, namun analisis seismik stratigrafi dan analisis fasies seismik yang disajikan disini memprediksikan bahwa paket itu mengandung kumpulan endapan tepi cekungan dan lereng. Walau demikian, khuluk fasies topset masih belum dapat dipastikan; mungkin berupa fasies dataran aluvial, dataran pantai, paralilk, atau paparan. Sebuah contoh peta fasies seismik, yang dibuat oleh Mitchum & Vail (1977), diperlihatkan pada gambar 3-11. Mungkin dengan pengecualian untuk hubungan antara fasies klinoform dengan sistem lereng, fasies seismik tidak memiliki hubungan yang pasti dengan sistem pengendapan. Sangree & Widmier (1977) menyajikan sebuah daftar fasies seismik dengan tafsiran geologinya, namun tanpa adanya kontrol sumur, tafsiran itu tetap dipertanyakan. Sebagai contoh, reflektor mendatar dan menerus mungkin mencerminkan serpih laut-dalam, topset dataran pantai, dataran aluvial, atau fasies lakustrin. Walau demikian, sebuah peta fasies seismik dapat digunakan untuk merekonstruksikan satu atau beberapa model geologi tentatif, dimana semua model itu hendaknya diuji dan dikalibrasi dengan memakai data sumur yang menembus interval yang dipetakan. Tanpa adanya kontrol sumur, sebuah peta fasies seismik umumnya masih tetap terbuka untuk beberapa tafsiran geologi. Dengan menggunakan geophysical workstation technology modern, ada sejumlah parameter yang dapat dikuantifikasikan dan dipetakan untuk setiap paket seismik. Amplitudo pantulan seismik pada bagian puncak atau dasar paket itu dapat dipetakan (Enachescu, 1993). Workstation dapat memilihsuatu bagian penampang seismik, memastikan bahwa bagian terpilih itu selalu terletak pada lembah atau puncak gelombang seismik, serta dapat memetakan amplitudo horizon itu di semua bagian penampang seismik. Peta amplitudo dapat dibaca secara langsung sebagai suatu peta fasies geologi dan amplitudo gelombang pantul dikaitkan dengan geologi. Sebagai contoh, pasir yang menutupi suatu reflektor mungkin menyebabkan terbentuknya pantulan beramplitudo rendah, sedangkan serpih yang reflektor itu menghasilkan pantulan beramplitudo tinggi. Dengan demikian, peta amplitudo akan memperlihatkan distribusi pasir-serpih. Walau demikian, dalam penafsiran seismik stratigrafi, dimana bagian puncak suatu paket seismik bukan merupakan sebuah reflektor melainkan sebuah bidang terminasi reflektor, tidak mungkin bagi kita untuk memilih satu pantulan manapun dan peta amplitudo bidang seismik itu tidak mungkin dapat dibuat. Amplitudo rata-rata (average amplitude) dari keseluruhan paket seismik seringkali merupakan sebuah karakter yang bermanfaat. Hal itu umumnya diukur sebagai akar pangkat dua rata-rata (root-square mean) dari amplitudo dalam paket tersebut (jadi disebut RMS amplitude), atau sebagai amplitudo pangkat dua rata-rata (mean square amplitude) (atau ―energi rata-rata). Sifat itu dapat dikuantifikasikan, dipetakan, dan dibuat garis-garis konturnya dengan memakai sebuah workstation, serta diguna- kan untuk membedakan zona-zona dengan amplitudo seismik yang berbeda-beda. Amplitudo seismik merupakan fungsi dari perbedaan densitas dan/atau kecepatan dalam lapisan batuan, serta seringkali berhubungan erat dengan fasies pengendapan. Dalam kipas bawahlaut, misalnya saja, alur dapat dikenal sebagai zona reflektor beramplitudo tinggi dan linier, sedangkan cuping kipas itu diperlihatkan sebagai zona reflektor beramplitudo rendah. Demikian sebaliknya. Sebagai contoh, Jager dkk (1993) memperlihatkan suatu gated amplitude extraction(RMS amplitude) dari sebuah interval yang mencakup alur dalam reservoar di Forties Field. Batas-batas alur itu terlihat dengan jelas sebagai sebuah zona linier yang memiliki amplitudo anomali.

3.4.2 Pengenalan Batas-Batas Stratigrafi

Bidang-bidang kunci yang membagi paket endapan ke dalam systems tract yang merupakan komponen stratigrafinya adalah batas sekuen, bidang transgresi, maximum flooding surface, serta marine onlap/downlap antara lowstand fan dan lowstand wedge (lihat kembali Bab 2). Sebagian besar bidang itu dapat dikenal dalam penampang seismik (gambar 3-12). Batas sekuen dapat dikenal pada penampang seismik dengan dua cara. Pertama, dari perkembangan truncation surface yang memiliki relief tinggi, khususnya bidang yang menandai telah terjadinya erosi pada topset batuan tua. Kedua, berdasarkan pergeseran coastal onlap ke arah cekungan di sepanjang batas itu. Bidang erosi berelief tinggi dapat dilihat pada gambar 3-7 di sekitar 0,20,3 detik. Itu merupakan bata

sekuen yang berasosiasi dengan glacial lowstand dan erosi sungai, mungkin di bawah tudung es.

Coastal onlap adalah proximal onlap dari topset. Karena coastal onlap diyakini terbentuk pada atau dekat muka air laut dan dapat dipastikan terbentuk pada tempat-tempat yang dikenai oleh proses-proses laut-dangkal, maka pergeseran coastal onlap ke arah cekungan mengimplikasikan penurunan muka air laut relatif serta dapat diasumsikan disertai oleh penyingkapan dan erosi pada wilayah topset. Ketika coastal onlap turun hingga terletak di bawah offlap break sebelumnya, maka topset akan onlap

35

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

terhadap klinoform tua dan bidang itu akan menjadi batas sekuen tipe-1. Ketika coastal onlap turun namun posisi akhirnya tidak di bawah offlap break tua, maka topset akan onlap terhadap topset tua dan bidang itu akan menjadi batas sekuen tipe-2. Perbedaan antara batas sekuen tipe-1 dan batas sekuen tipe-2 telah dibahas panjang lebar pada Bab 2. Paket Eosen akhir pada gambar 3-7, yang terletak di bawah 0,7 detik dan di sebelah timur SP 1200, menindih suatu batas sekuen. Hal ini diperlihatkan oleh onlap tiga reflektor topset terhadap suatu klinoform tua di sekitar SP 1200. Topset paling bawah onlap pada 0,8 detik, sedangkan offlap break dari klinoform yang menindihnya terletak pada 0,7 detik. Itu merupakan batas sekuen tipe-1 dan mengindikasikan terjadinya penurunan muka air laut relatif sekitar 100 m (ekivalen dengan 0,1 detik TWT). Bidang transgresi menandai berakhirnya lowstand progradation, dan mulai terjadinya transgresi. Bidang ini tidak harus berasosiasi dengan terminasi apapun, namun akan menjadi pembatas antara paket clinoform-topset dengan paket yang hanya disusun oleh topset (lihat gambar 3-7). Maximum flooding surface dikenal dalam penampang seismik sebagai sebuah bidang dimana klinoform downlap terhadap topset yang terletak dibawahnya. Bidang itu dapat memperlihatkan backstepping dan pemancungan semu. Perlu dicamkan bahwa tidak setiap downlap surface merupakan maximum flooding surface. Downlap surface yang penting biasanya dapat dipetakan pada bagian dasar klinoform dari lowstand prograding wedge. Itu merupakan puncak lowstand fan surface (karena lowstand wedge sering downlap terhadap kipas). Perbedaannya adalah bahwa fasies yang terletak di bawah downlap surface itu adalah endapan cekungan, bukan topset. Komplikasi lain dapat muncul dalam suatu tatanan yang secara umum didominasi oleh transgresi, dimana baik highstand maupun lowstand wedge downlap terhadap topset sekuen tua. Jika dapat mengkorelasikan downlap surface ke arah darat, bidang itu akan melampar secara lateral menuju suatu batas sekuen (dalam kasus mana bidang itu merupakan bagian puncak dari lowstand fan surface) atau pada suatu kumpulan topset (dalam kasus mana bidang itu merupakan maximum flooding surface). Dalam tatanan cekungan, paket refleksi dibatasi oleh marine onlap surface. Idealnya, bidang itu dapat dikorelasikan ke arah darat, menuju tatanan tepi cekungan, dan dikenal sebagai salah satu dari keempat bidang yang telah disebutkan di atas. Hal it u tidak selalu dapat terjadi, terutama dalam suatu tatanan yang umumnya bersifat retrogradasional, dimana lereng purba mem- bentuk zona-zona by-passing. Pada tatanan distal dari suatu cekungan, dimana endapan satu-satunya adalah endapan yang disusun oleh lowstand fan, marine onlap surface antara kipas-kipas bawahlaut akan merepresentasikan condensed interval yang ekivalen secara temporal dengan lowstand wedge serta highstand dan transgressive systems tract serta akan mengandung bidang-bidang keselarasan yang korelatif dengan keempat bidang yang telah disebutkan di atas.

3.3 PENGENALAN SYSTEMS TRACT DALAM PENAMPANG SEISMIK

Telah dikemukakan pada Bab 2 bahwa systems tract hendaknya diidentifikasikan berdasarkan khuluk batas-batasnya dan berdasarkan pola tumpukan stratigrafi internalnya. Prinsip ini dapat diterapkan pada penampang seismik. Jika khuluk batas- batasnya dapat ditafsirkan, maka systems tract juga akan dapat ditafsirkan. Contoh-contoh systems tract dalam penampang seismik diperlihatkan pada gambar 3-14 hingga 3-17 yang diambil dari paket endapan Paleogen di bagian tengah Laut Utara. Paket itu sangat ideal untuk menyajikan prinsip-prinsip seismik stratigrafi karena relatif dangkal, dapat terungkapkan dengan baik dalam penampang seismik, serta kompleks. Detil-detil stratigrafi, yang diambil dari kumpulan data yang sama, disajikan oleh Jones & Milton (1994) yang membahas bagaimana sekuen dan systems tract terdistorsi oleh efek-efek laju pengangkatan tepi cekungan yang relatif tinggi.

3.3.1 Pengenalan Lowstand systems tract

Lowstand systems tract dibatasi bagian bawahnya oleh batas sekuen, sedangkan bagian atasnya dibatasi oleh bidang trans- gresi. Bidang-bidang itu dapat dikenal berdasarkan kriteria yang telah dijelaskan di atas. Gambar 3-13 memperlihatkan sebuah lowstand systems tract, yang telah dibahas sewaktu kita membahas tentang gambar 3-7. Batas bawahnya dikenal sebagai batas sekuen karena adanya coastal onlap tiga reflektor topset terhadap klinoform tua (pergeseran coastal onlap ke arah cekungan sejauh 100 m). Khuluk bidang batas atasnya tidak dapat ditentukan dari gambar 3-13, karena kita tidak dapat melihat ujung timur dari systems tract tersebut. Walau demikian, data lain di daerah itu mendukung tafsiran bahwa paket tersebut merupakan lowstand prograding wedge. Paket seismik ini adalah satuan T98 dalam karya tulis Jones & Milton (1994). Itu merupakan endapan Eosen paling akhir (bahkan mungkin awal Oligosen), namun terlalu dangkal untuk prospektif karena di daerah itu telah terjadi biodegradasi minyak pada tempat yang relatif dangkal. Kipas bawahlaut juga berkembang dalam lowstand systems tract tersebut, namun tidak terpotong oleh garis lintasan seismik ini. Gambar 3-14 memperlihatkan sebuah lowstand systems tract di daerah yang sama, namun untuk paket endapan yang lebih dalam. Paket itu dikenal sebagai lowstand systems tract karena menindih oleh suatu batas sekuen. Batas sekuen itu sendiri dikenal karena terjadinya pergeseran toplap level dari klinoform di dalam systems tract tersebut. Paket itu juga ditindih oleh sebuah bidang transgresi (transisi menjadi sebuah satuan topset retrogradatif, diperlihatkan dengan lebih mendetil pada gambar 3-15) dan mengandung endapan kipas cekungan. Endapan kipas cekungan itu diketahui sebagai tonjolan beberapa reflektor yang terletak di bawah, dan lebih ke arah distal, dari klinoform. Detil-detil hubungan antara reflektor-reflektor klinoform dengan reflektor-reflektor cekungan tidak terlalu jelas, namun salah satu tafsiran yang mungkin adalah bahwa klinoform itu downlapping terhadap puncak kipas (gambar 3-14). Dengan demikian, lowstand systems tract ini dapat dibagi menjadi dua bagian: (1) lowstand fan; dan (2) lowstand wedge.

36

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Systems tract ini diketahui umurnya adalah Paleosen akhir, dan menjadi bagian dari satuan T45 dalam karya tulis Jones & Milton (1994). Klinoform dalam systems tract ini kemungkinan merupakan Dornoch Formation, sedangkan serpih cekungan yang ada didalamnya kemungkinan Sele Formation. Kipas dari Larger Sele Formation merupakan reservoar yang menarik di Laut Utara. Lowstand systems tract ini merepresentasikan pengangkatan maksimum Scottish Mainland dan Laut Utara yang berdampingan dengannya selama berlangsungnya episode pengangkatan Paleosen (Jones & Milton, 1994).

3.3.2 Pengenalan Transgressive systems tract

Transgressive systems tract dibatasi bagian bawahnya oleh suatu bidang transgresi, sedangkan bagian atasnya dibatasi oleh maximum flooding surface. Systems tract itu disusun oleh parasekuen-parasekuen topset dengan pola retrogradasi. Transgressive systems tract seringkali sangat tipis dan dapat dipresentasikan oleh satu reflektor. Gambar 3-15 memperlihatkan suatu transgressive systems tract dari endapan Eosen awal di bagian tengah Laut Utara. Paket itu dikenal sebagai transgressive systems tract karena bagian bawahnya ditandai oleh transisi dari interval yang terutama berupa klinoform di bagian bawah menjadi interval yang sebagian atau seluruhnya merupakan topset di bagian atas. Bagian dalam paket itu juga memperlihatkan dengan jelas geometri retrogradasional. Ada dua reflektor beramplitudo tinggi yang terlihat dalam systems tract ini, dimana reflektor yang terletak di atas (lebih muda) terpindahkan, relatif terhadap reflektor yang terletak di bawah (lebih tua). Ref lektor- reflektor itu berasal dari dua interval batubara retrogradatif; salah satu atau keduanya ekivalen dengan batubara Top Dornoch Formation (Deegan & Scull, 1977). Gambar itu memperlihatkan kesulitan pemakaian fasies yang memotong bidang waktu, dalam kasus ini lapisan batubara, untuk membagi stratigrafi. Transgressive systems tract ditutupi oleh suatu maximum flooding surface. Maximum flooding surface dapat dikenal dari

adanya downlapping klinoform yang terletak diatasnya. Batubara lain yang menindih klinoform itu (yakni batubara Top Beauty Formation) menandai transgresi tahap berikutnya. Tidak ada gejala pemancungan yang terlihat dengan jelas di bagah maximum flooding surface itu, kecuali mungkin pada ujung kanan dari transgressive systems tract tersebut (gambar 3-15).

3.3.3 Pengenalan Highstand systems tract

Highstand systems tract dibatasi bagian bawahnya oleh maximum flooding surface,sedangkan bagian atasnya dibatasi oleh batas sekuen. Systems tract ini memperlihatkan geometri progradasional. Gambar 3-16 melukiskan suatu highstand systems tract dari endapan Eosen awal di bagian tengah Laut Utara. Systems tract itu terdiri dari sejumlah topset dan klinoform yang berprogradasi serta menindih maximum flooding surface. Klinoform dalam systems tract itu downlap terhadap topset dari systems tract yang terletak dibawahnya. Apparent truncation dapat dilihat di bawah bidang itu. Systems tract yang terletak diatasnya memperlihatkan adanya relief bidang erosi dan merupakan suatu batas sekuen. Topset mendatar dari systems tract yang terletak diatasnya onlap terhadap highstand clinoform yang lebih tua (merespresentasikan pergeseran ke arah cekungan sejauh 100 m). Khuluk kedua batas itu dan arsitekturnya yang progradasional mendukung gagasan bahwa paket itu merupakan highstand systems tract. Secara lebih mendetil, highstand systems tract dapat ditafsirkan terdiri dari dua atau mungkin tiga downstepping progradational wedge (masing-masing bergeser lebih ke arah cekungan dan lebih bawah dibanding prograding wedge sebelumnya). Hal itu mungkin merupakan sekuen dari orde yang lebih tinggi (sekuen orde-4) dan systems tract itu merupakan sebuah composite systems tract sebagaimana telah dibahas pada Bab 2.

3.4 RANJAU-RANJAU DALAM PENAFSIRAN REKAMAN SEISMIK

Banyak ranjau dan ketaksaan yang sifatnya inheren dalam penafsiran seismik stratigrafi. Ranjau dan taksa terpenting adalah:

1. Data seismik memiliki resolusi yang relatif rendah dan hubungan strata dalam paket-paket endapan yang tipis mungkin tidak mungkin dapat diketahui.

2. Tidak setiap systems tract hadir pada suatu penampang. Sebagai contoh, suatu penampang mungkin tidak memperlihatkan adanya lowstand fan system. Hal ini terlihat pada kasus gambar 3-17, dimana suatu lowstand fan diperlihatkan berkembang pada muara ngarai yang menoreh highstand slope. Penampang seismik pada garis AAtidak akan memperlihatkan adanya lembah torehan maupun lowstand fan tersebut.

3. Salah satu kekeliruan yang paling sering dilakukan oleh para analis seismik stratigrafi adalah mengasumsikan bahwa semua bidang seismik yang dicirikan oleh terminasi reflektor merupakan batas sekuen sebagaimana yang dikemukakan oleh Van Wagoner dkk (1990).

4. Kunci untuk memperoleh tafsiran seismik stratigrafi yang baik adalah menyadari kebenaan coastal onlap serta mampu mengenal coastal onlap dalam penampang seismik. Walau demikian, setiap penafsir seismik stratigrafi dapat dengan mudah keliru dalam membedakan coastal onlap dari marine onlap. Meskipun coastal onlap hanya terbatas pada reflektor-reflektor topset, namun tidak selalu mudah untuk menentukan apakan reflektor-reflektor tertentu merupakan topset yang sebenarnya atau bukan. Topset dapat dikenal dengan meyakinkan hanya apabila reflektor-reflektornya sejajar satu sama lain dan terletak lebih ke arah darat dari offlap break.

5. Penorehan sungai dan ngarai bawahlaut dapat dengan mudah saling tertukar. Torehan sungai merupakan indikator batas sekuen; torehan ngarai bawahlaut tidak harus mencirikan batas sekuen.

6. Dalam paket klinoform dengan bottomset yang melampar luas, setiap penafsir mungkin keliru dalam mengenal downlap surface. Banyak klinoform akan berakhir pada bottomset tua. Downlap surface yang sebenarnya terletak pada terminasi- terminasi bottomset.

37

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

BAB 4 DATA SINGKAPAN DAN DATA SUMUR

4.1 PENDAHULUAN DAN PERSPEKTIF SEJARAH

Sekuen stratigrafi yang didasarkan pada data singkapan, inti bor, dan wireline logs telah dikembangkan pada awal 1980-an, sejalan dengan dilakukannya pengujian terhadap ancangan seismik stratigrafi. Teknik-teknik itu kemudian dikembangkan lagi, terutama pada beberapa tahun terakhir. Hasilnya diterbitkan dalam dua simposia penting. Pertama, SEPM Special Publication 42 (Wilgus dkk, 1988) yang mengetengahkan sejumlah makalah kunci dimana para peneliti Exxon meletakkan konsep-konsep dasar sekuen stratigrafi. Berbagai definisi dan model yang ditampilkan dalam simposium tersebut pada dasarnya memperlihat- kan kaitan antara model-model seismik stratigrafi berskala cekungan dengan model-model fasies sedimen yang skalanya jauh lebih kecil. Kedua, AAPG Methods in Exploration 7 (Van Wagoner dkk, 1990) yang secara khusus membahas tentang sekuen stratigrafi resolusi-tinggi berdasarkan data-data singkapan, inti bor, dan wireline logs. Dengan diterbitkannya dua simposia itu, sekuen stratigrafi memperoleh tempat yang lebih luas di kalangan ahli-ahli geologi dan, pada gilirannya, memperoleh kemajuan pesat. Walau demikian, ada sejumlah ahli yang mengajukan kritik tajam terhadap konsep-konsep sekuen stratigrafi. Sebagai contoh, Miall (1991) mempertanyakan model-model dalam SEPM Special Publication 42 dan Walker (1990) menunjukkan bahwa model-model sekuen stratigrafi ternyata tidak mudah untuk diterapkan, misalnya pada kasus endapan bawah permukaan yang ada di bagian barat Canada. Bab ini akan memperlihatkan penerapan konsep-konsep sekuen stratigrafi terhadap data-data singkapan, inti bor, dan

wireline logs. Pembahasan tentang penerapan pada singkapan dan inti bor agak terbatas di sini karena kedua topik tersebut akan banyak dibahas pada Bab 7 hingga Bab 10.

4.2 RESOLUSI DATA SUMUR

Tidak semua teknik yang disajikan pada bab ini menghasilkan data stratigrafi yang skala atau resolusinya sama. Gambar 3-2 memperlihatkan log sinar-gamma dan kolom litologi yang telah disederhanakan, diambil pada suatu reservoar di Lapangan Minyak Beatrice (Laut Utara), kemudian disebandingkan dengan gelombang seismik. Dari gambar itu tampak bahwa log sinar- gamma dapat mendeteksi keberadaan bidang-bidang perlapisan, sedangkan gelombang seismik tidak dapat mendeteksinya. Karena itu, log sinar-gamma, dan berbagai jenis wireline log lain, dapat digunakan untuk melakukan analisis stratigrafi yang cukup mendetil. Walau demikian, log sinar-gamma dan log-log listrik tidak memiliki resolusi yang tinggi dan tidak dapat "meneliti" batuan yang terletak cukup jauh dari lubang bor (gambar 4-4). Selain itu, pengkonversian data log ke dalam data litologi tidak selalu dapat memberikan informasi geologi yang cukup berarti. Karena itu, apabila memungkinkan, data log sebaiknya dilengkapi dan dikalibrasi oleh data inti bor. Inti bor merupakan bahan analisis stratigrafi yang penting. Walau demikian, inti bor

jarang diambil karena alasan ekonomis. Inti bor biasanya hanya diambil di sekitar reservoar migas, dimana panjangnya paling- paling hanya beberapa puluh meter. Selain itu, seperti juga log, inti bor hanya memberikan data geologi satu dimensi dan hanya terletak pada sumur bor. Selain memberikan data litologi, sumur juga menghasilkan data biostratigrafi (lihat Bab 6).

4.3 SEKUEN STRATIGRAFI SINGKAPAN DAN INTI BOR

4.3.1 Parasekuen pada Singkapan dan Inti Bor

Parasekuen, sebagimana telah didefinisikan pada sub bab 2.5, adalah paket lapisan atau himpunan lapisan yang relatif selaras dan dibatasi oleh marine flooding surface dan bidang-bidang lain yang korelatif dengannya. Hingga dewasa ini, keberadaan parasekuen dapat ditentukan dengan keyakinan cukup tinggi dalam paket endapan laut-dangkal dan pesisir. Parasekuen pada paket endapan paparan-luar, laut-dalam, dan terestrial jauh lebih sukar untuk dikenali keberadaannya. Khuluk parasekuen tergantung pada asosiasi fasies. Sebagian telah dijelaskan oleh Van Wagoner dkk (1990) (lihat sub bab 2.5). Khuluk paling umum dari parasekuen adalah pengkasaran ke atas (coarsening upward) (gambar 4-1), gejala mana banyak ditemukan dalam endapan bahari. Dalam paket tersebut, kadar serpih makin ke atas makin menurun, namun kadar pasir dan ketebalan lapisan-lapisan batuan makin bertambah. Marine flooding surface dapat dikenali berdasarkan adanya perubahan yang tiba-tiba, misalnya serpih bahari terletak di atas batupasir yang mengandung jejak-jejak akar, dimana bidang pembatas itu

sendiri mengindikan telah terjadinya erosi. Selain itu ada beberapa aspek lain yang mengindikasikan batas parasekuen, namun sifatnya tidak diagnostik, yaitu:

1. Hadirnya karbonat bahari, fosfat, dan glaukonit yang mengindikasikan rendahnya laju sedimentasi silisiklastik.

2. Hadirnya endapan sisa yang mengindikasikan transgresi di daerah pesisir. Endapan ini sering ditemukan di atas batas parasekuen, namun seringkali tipis (tebalnya kurang dari 10 cm) dan hanya mengandung sedimen yang terletak di bawah batas parasekuen.

3. Hadirnya zona sedimentasi bahari preferensial. Zona ini hanya akan terbentuk apabila marine flooding surface melalui amalgamated marine sandstones.

4. Hadirnya bidang erosi yang bergelombang lemah (relief umumnya hanya beberapa centimeter; jarang yang mencapai satu atau dua meter). Kehadiran bidang ini biasanya hanya dapat dikenal apabila singkapannya baik atau jika inti bor diambil dari sejumlah lubang yang terletak berdekatan.

38

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Parasekuen yang makin "kotor" ke atas (dirtying-upward parasequence), maksudnya parasekuen yang makin ke atas kadar material halusnya makin banyak, juga dapat dikenal pada paket endapan estuarium. Selain itu, parasekuen yang mendangkal ke atas menuju endapan terestris, kadang-kadang juga memiliki serpih paralik atau batubara di bagian puncaknya. Parasekuen memiliki satuan yang korelatif dengannya pada sistem fluvial. Gejala pendauran pada sistem fluvial umumnya menghasilkan tumpukan fasies alur yang memperlihatkan gejala penghalusan ke atas. Kaitan antara daur-daur alur dengan parasekuen akan dibahas lebih jauh pada Bab 8.

4.3.2 Pola Tumpukan Parasekuen dan Systems tract

Pola tumpukan atau "arsitektur" parasekuen telah dibahas pada anak sub bab 2.5.3. Ada tiga pola tumpukan parasekuen:

1. Progradasional, dimana makin tinggi posisi suatu fasies dalam suatu parasekuen, makin dekat pula lokasi pengendapannya dengan pusat cekungan.

2. Agradasional, dimana dimanapun posisi suatu fasies dalam suatu parasekuen, fasies itu merepresentasikan lokasi

pengendapan yang lebih kurang sama.

3. Pola retrogradasional, dimana makin tinggi posisi suatu fasies dalam sebuah parasekuen, makin dekat lokasi

pengendapannya dengan daratan. Pola-pola tumpukan parasekuen itu dapat dikenali keberadaannya pada singkapan dan dalam inti bor. Posisi setiap parasekuen, relatif terhadap bidang-bidang stratigrafi utama, dapat digunakan untuk menentukan systems tract dimana parasekuen itu berada. Contoh yang ditampilkan pada gambar 4-2 berasal dari Formasi Viking di Alberta, Canada. Inti bor yang berasal dari sumur 6-11-48-21-W4 memperlihatkan dua parasekuen yang lengkap dan ditafsirkan sebagai endapan tidal sand-sheet environment (Reynold, 1994). Dasar setiap parasekuen itu berupa batupasir halus yang banyak mengandung struktur bioturbasi dan kadang- kadang memperlihatkan adanya laminasi silang-siur berskala gelembur. Peristiwa penurunan kadar pasir secara tiba-tiba menandai flooding surface yang juga mengandung struktur bioturbasi dan butir-butir pasir berukuran sedang. Makin ke atas, kadar pasir makin tinggi disertai dengan terjadinya perubahan pola lubang-lubang galian, dari horizontal menjadi vertikal. Perubahan-perubahan tersebut, bersama-sama dengan makin banyaknya lapisan berstruktur silang-siur yang tidak mengandung struktur bioturbasi, ditafsirkan mengindikasikan peristiwa pendangkalan dan progradasi dalam suatu parasekuen. Puncak parasekuen ditandai dengan menurunnya kadar pasir, diikuti dengan hadirnya sistem bioturbasi seperti yang terjadi pada parasekuen pertama. Namun, untuk parasekuen yang kedua ini, di sekitar puncaknya didominasi oleh batupasir berlapisan silang-siur berskala gumuk (sensu Ashley, 1990). Lapisan silang-siur ini ditafsirkan mengindikasikan aktivitas arus harian dan lokasi pembentukan fasies yang lebih dekat ke darat. Karena itu, kedua parasekuen itu ditafsirkan merupakan parasequence set progradasional. Di atas parasequence set kedua terdapat flooding surface yang ketiga, ditandai oleh adanya endapan sisa (lag deposits) yang cukup tebal . Setelah itu, terjadi perubahan besar butir dan stuktur sedimen secara dramatis. Perubahan proses- proses sedimen yang diindikasikan oleh endapan-endapan tersebut mungkin mengindikasikan bahwa endapan yang disebut terakhir ini merupakan interfluve sequence boundary yang dari pemetaan regional terbukti berkorelasi secara lateral dengan suatu lembah torehan. Parasequence set progradasional tersebut di atas kemungkinan besar adalah highstand systems tract yang kemudian ditutupi oleh batas sekuen. Tumpukan parasekuen retrogradasional terlihat dengan baik pada singkapan Formasi Scarborough yang berumur Jura di Yorkshire (gambar 4-3; Gowland & Riding, 1991). Di bagian bawah Formasi Scarborough terdapat Anggota Gristhorpe yang dicirikan oleh batupasir endapan bobolan yang mengadung jejak-jejak akar dan mengindikasikan lingkungan dataran delta. Endapan itu berturut-turut ditutupi oleh lapisan batubara dan batulumpur hitam. Batubara ditafsirkan sebagai produk penurunan pasokan sedimen pada tahap awal penaikan muka air laut. Batulumpur hitam sendiri ditafsirkan terbentuk di atas flooding surface, pada lingkungan laguna, sewaktu terjadi transgresi. Batulumpur ditutupi oleh dua parasekuen mengkasar ke atas yang relatif tidak beraturan. Parasekuen yang pertama dimulai oleh batulumpur bioturbasi yang dibatasi oleh kontak tajam dari batulumpur yang ada dibawahnya. Kontak tajam itu ditafsirkan mencerminkan transgresi di daerah pesisir berenergi rendah, sedangkan parasekuennya sendiri ditafsirkan sebagai endapan dataran delta bagian bawah yang berair payau. Tiga parasekuen berikutnya juga memperlihatkan pola mengkasar ke atas. Walau demikian, parasekuen-parasekuen itu dapat dibedakan dari dua parasekuen yang pertama karena flooding surface pada parasekuen-parasekuen yang disebut dimuka itu terbentuk lapisan bioturbasi dan batuan karbonat. Kemudian, dalam parasekuen-parasekuen itu, makin ke atas makin banyak ditemukan lapisan bioturbasi, makin banyak ditemukan fosil, dan makin tinggi kadar karbonatnya. Hal itu mengindikasikan bahwa parasekuen- parasekuen itu merupakan paket endapan retrogradasional. Hasil penelitian geologi regional juga menunjukkan bahwa parasekuen ke-5 merupakan parasekuen yang terbentuk pada lingkungan yang paling dekat ke laut. Di atas itu, parasekuen mengindikasikan progradasi. Dengan demikian, parasequence set retrogradasional ini ditafsirkan sebagai transgresive systems tract.

4.3.3 Bidang-Bidang Stratigrafi Kunci pada Singkapan dan Inti Bor

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, arsitektur parasekuen dapat membantu kita untuk menentukan status suatu bidang stratigrafi. Walau demikian, kita tidak dapat membedakan marine flooding surface dari flooding surface lain yang lebih penting dari singkapan yang terbatas atau dari inti bor yang tidak lengkap. Tanpa batuan data-data wireline logs atau data geologi regional, bidang tersebut hendaknya tidak diinterpretasikan lebih dari sekedar flooding surface. Demikian halnya dengan batas sekuen. Apabila tidak ada singkapan atau data-data lain yang menunjang, sebaiknya kita tidak menyebutkan adanya suatu batas sekuen. Batupasir alur yang berdasar tajam dan memotong endapan dataran banjir mungkin bukan mencerminkan batas

39

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

sekuen melainkan hanya sebagai jejak migrasi alur sungai. Dengan kata lain, gejala itu mungkin hanya mengindikasikan proses sedimentasi normal, bukan penorehan fluvial yang terjadi akibat menurunnya muka air laut. Pada kasus dimana kita memper- kirakan bahwa suatu bidang merupakan batas sekuen, tanpa memiliki data-data yang kuat, sebaiknya kita katakan bahwa bidang itu merupakan "kandidat" batas sekuen. Pengenalan batas sekuen dari singkapan atau dari inti bor memerlukan adanya bukti-bukti perpindahan fasies; adanya fasies relatif proksimal di atas fasies yang relatif distal, tanpa disertai adanya jejak pengawetan fasies-antara dari kedua fasies tersebut di atas (gambar 4-4). Gejala ini tidak akan tampak jelas di setiap lokasi pengamatan. Pada contoh data inti bor tersebut di atas, batas sekuen dicirikan oleh endapan sisa yang dapat dikorelasikan secara regional dengan endapan pengisi lembah torehan. Jika endapan pengisi lembah torehan tersingkap atau tertembus bor, kita akan menemukan adanya "loncatan," dari endapan bahari menjadi endapan fluvial atau endapan estuarium pengisi lembah torehan. Gejala seperti itu terpampang dengan baik pada singkapan Formasi Scarborough. Pada singkapan itu tampak bahwa di atas parasequence set retrogradational terdapat satu unit progradasional yang seluruhnya terbukti merupakan highstand parasequences. Diatasnya lagi terdapat batupasir kasar tebal, disebut Moor Grit, yang memotong Formasi Scarborough (gambar 4-3). Moor Grit adalah endapan pengisi lembah torehan berupa batupasir endapan pasut, dengan sedikit mud drapes, yang seluruhnya mengindikasikan perpindahan fasies, relatif terhadap endapan batulumpur dan batupasir yang terdapat dibawahnya. Di daerah-daerah dengan singkapan spektrakuler, kita mungkin dapat menemukan bidang stratigrafi utama berdasarkan geometri skala besar. Sebagai contoh, kasus seperti itu ditemukan di Italian Dolomites, di tempat mana batur karbonat Trias progradasional memperlihatkan sedimen lereng (yang merupakan highstand systems tract) menyapun (downlapping) pada batulumpur endapan laut dalam dan karbonat lain yang merupakan endapan transgressive systems tract. Line drawing gambar 4-5 (Bosellini, 1984) memperlihatkan maximum flooding surface di bagian dasar klinoform progradasi dari Formasi Catanaccio.

4.4 SEKUEN STRATIGRAFI BERDASARKAN WIRELINE LOGS

Analisis sekuen stratigrafi dari wireline logs merupakan komponen penting dari kegiatan analisis data bawah permukaan secara keseluruhan. Data log memungkinkan litologi dan lingkungan dapat ditempatkan pada penampang seismik. Dengan demikian, analisis ini akan mengaitkan fasies seismik dengan sifat-sifat batuan dan fasies sedimentologi. Pengikatan seismik terhadap data sumur bukan merupakan pekerjaan yang sepele. Karena itu, kami sarankan agar para pembaca menelaah karya tulis McQuillin dkk (1984) untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Analisis sekuen stratigrafi terhadap data wireline logs tidak mudah dan tidak jarang menjebak. Sebagian batas-batas systems tract mungkin tidak tampak dengan jelas pada log dan mungkin hampir tidak tampak sama sekali pada inti bor. Korelasi antar sumur bor seringkali salah. Jika lokasi lubang-lubang bor itu berdekatan dan jika kontrol inti bor baik, misalnya pada data sumur-sumur produksi di suatu lapangan migas, data itu mungkin cukup untuk memberikan gambaran dimana dan bagaimana batas-batas sekuen berada. Makin jauh jarak antar lubang bor, makin sukar kita untuk dapat mengenal batas-batas sekuen.

4.4.1 Kumpulan Log dalam Analisis Sekuen Stratigrafi

Analisis sekuen adalah metoda dan teknik penarikan kesimpulan mengenai faktor-faktor yang mengontrol pengendapan paket sedimen. Karena itu, agar data wireline logs dapat berperan sebagai bahan analisis sekuen, maka log yang digunakan untuk mengambil data itu hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan akan mencerminkan parameter- parameter pengendapan. Selain itu, kita juga harus selalu waspada terhadap berbagai potensi yang dapat menyebabkan timbulnya kekeliruan pengambilan informasi dan penafsiran stratigrafi dari wireline logs. Pembahasan yang lebih mendalam mengenai pemakaian log dapat diperoleh dari karya Rider (1986).

Kumpulan data wireline log yang melewati serangkaian batuan sedimen silisiklastik diperlihatkan pada gambar 4-6. Beberapa individu log akan dibahas di bawah ini.

4.4.1.1 Log Sinar Gamma

Log sinar gamma, atau biasa disingkat log gamma, merupakan tipe log yang paling berguna dalam analisis sekuen strati- grafi. Radioaktivitas batuan, yang diukur oleh alat log gamma, umumnya merupakan fungsi langsung dari kadar mineral lempung dalam batuan dan, oleh karena itu, mengindikasikan besar butir partikel-partikel sedimen. Log sinar gamma sering digunakan untuk mendeteksi perubahan energi pengendapan: penurunan radioaktivitas mengindikasikan meningkatan kadar mineral lempung dan, oleh karena itu, mengindikasikan penurunan energi pengendapan. Meskipun rampatan seperti itu memiliki nilai keumuman, namun kita harus selalu hati-hati karena ada beberapa pengecualian dari keumuman tersebut. Uranium dalam serpih yang kaya akan material organik, atau uranium yang dipresipitasikan dalam suatu sedimen setelah sedimen itu diendapkan, dapat menimbulkan anomali positif pada rekaman radiokativitas batuan (maksudnya radioaktivitas batuan itu tinggi, meskipun mineral lempung yang ada didalamnya tidak terlalu banyak). Anomali positif seperti itu juga dapat disebabkan oleh kehadiran felspar dalam jumlah yang bukup besar dalam batupasir arkose dan kehadiran mineral berat,

khususnya monazit dan thorit, dalam endapan sisa. Sebagian dari efek tersebut dapat diditeksi apabila kita menggunakan spectral gamma log. Sebagian besar variasi log sinar gamma yang diperlihatkan pada gambar 4-6 berkaitan dengan parameter pengendapan serta dengan nisbah pasir terhadap serpih. Pengecualian ditemukan pada zona batuan yang tersemenkan dengan kuat dan pada zona batubara, dimana rekaman sinar gamma rendah, meskipun hal itu tidak berkonotasi dengan tingginya kadar butir- butir pasir di dalam batuan tersebut.

40

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

4.4.1.2 Log Sonik

Log sonik mengukur waktu tempuh gelombang suara yang merambat melalui batuan. Waktu tempuh ini merupakan fungsi dari porositas dan litologi. Gelombang suara dalam serpih akan bergerak relatif lambat daripada gelombang suara dalam batu- pasir yang porositasnya sama. Dengan kata lain, waktu tempuh gelombang suara dalam serpih relatif lebih rendah dibanding waktu tempuh gelombang suara dalam batupasir yang porositasnya sama dengan serpih itu. Fenomena ini memungkinkan kita untuk menggunakan log sonik sebagai indikator besar butir. Tingginya kadar material organik dalam batubara dan serpih hitam menyebabkan tingginya nilai waktu tempuh gelombang suara dalam batuan tersebut. Karena itu, log sonik juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengenal condensed section yang kaya akan material organik. Selain dipengaruhi oleh kedua faktor di atas, log sonik juga dipengaruhi oleh sementasi dan kompaksi batuan serta oleh kehadiran retakan dalam batuan. Log sonik pada gambar 4-6 tidak mampu memperlihatkan perbedaan yang tegas antara batu- pasir dan batulumpur, namun dengan jelas membedakan zona yang tersemenkan dengan batubara.

4.4.1.3 Log SP

Log SP (spontaneous potential) mengukur perbedaan potensi kelistrikan antara batuan yang ada di bawah permukaan dengan potensi kelistrikan permukaan bumi. Log ini sensitif terhadap perubahan permeabilitas sehingga sangat baik untuk digunakan dalam membedakan pasir (yang umumnya permeabel) dengan serpih (yang umumnya impermeabel). Log SP paling baik bekerja pada kondisi dimana ada perbedaan resistivitas yang cukup tinggi antara fluida pengeboran dengan air formasi. Pada zona serpih yang impermeabel, log SP umumnya tampak lebih kurang lurus. Garis lurus itu biasa disebut garis-dasar serpih (shale base-line). Perbedaan antara tipe serpih dapat dilihat dengan jelas dari log sinar gamma.

Log SP dipengaruhi oleh kehadiran hidrokarbon, sementasi, dan perubahan salinitas air formasi. Log SP pada gambar 4-6 mampu membedakan batupasir dengan batulumpur di bagian bawah rekaman tersebut, namun tidak terlalu baik untuk membedakan batupasir dan batulumpur yang terletak di bagian atas rekaman tersebut.

4.4.1.4 Kerabat Log Densitas-Neutron

Kerabat log densitas-neutron (kerabat FDC-CNL di perusahaan Schlumberger) merupakan rangkaian log yang paling baik untuk mendeteksi litologi dan, oleh karena itu, dapat digunakan untuk menghubungkan litologi dengan trend pengendapan. Kerabat log ini merupakan salah satu kumpulan log yang paling baik untuk analisis sekuen stratigrafi, namun tidak selalu digunakan sebagaimana log sinar gamma. Log densitas (FDC) mengukur densitas elektron dalam formasi dengan cara menangkap sinar gamma yang dipantulkan dan kemudian mengkonversikannya menjadi harga densitas ruah sebenarnya, sedangkan log neutron (CNL) mengukur porositas formasi berdasarkan interaksi antara neutron yang dilepaskan oleh alat dengan hidrogen yang ada dalam formasi. Skala log ini ditera sedemikian rupa sehingga lebih kurang sama dan akan saling menindih pada zona batuan karbonat yang bersih. Pada zona batupasir, log akan memperlihatkan pemisahan, mulai dari pemisahan yang relatif kecil (pada sebagian besar batupasir) hingga pemisahan yang cukup besar (pada batupasir felspatik). Peningkatan kadar serpih akan menyebabkan ber- tambahnya pembacaan kadar neutron (dari hidrogen yang terikat pada mineral lempung), sedangkan densitasnya relatif tidak berubah. Dengan demikian, penindihan dan pemisahan kedua kurva tersebut merupakan indikator yang sensitif untuk besar butir. Selain itu, batubara dapat dengan mudah dikenal dalam kerabat log densitas-neutron. Log densitas dipengaruhi oleh kehadiran lubang bor yang melebihi ukuran yang seharusnya akibat erosi atau runtuhnya dinding sumur serta oleh kehadiran mineral-mineral berat seperti pirit dan siderit. Kehadiran gas akan menyebabkan tingginya pembacaan log neutron sejalan dengan bertambahnya proporsi atom hidrogen dalam metana. Kerabat log densitas-neutron pada gambar 4-6 memperlihatkan indikasi trend pengendapan yang sama baiknya dengan log

sinar gamma, disertai dengan satu kelebihan, yaitu mampu mendeteksi dengan baik kehadiran batubara dan zona yang tersemenkan. Log densitas, secara khusus, berperan dengan sangat baik untuk mendeteksi daur mengkasar ke atas berskala kecil seperti pada kasus gambar 4-6.

4.4.1.5 Kerabat Log Resistivitas

Log resistivitas mengukur resistivitas batuan, dimana resistivitas batuan itu sendiri merupakan fungsi dari porositas dan fluida ruang pori. Batuan yang sangat sarang dan mengandung fluida ruang pori dengan kadar garam tinggi akan memiliki resistivitas rendah, sedangkan batuan yang tidak sarang atau batuan yang mengandung hidrokarbon akan memiliki resistivitas tinggi. Jika kandungan fluida dalam suatu formasi konstan (misalnya pada kasus "oil leg" atau "water leg"), trend resisitivitas dapat menjadi indikator litologi yang sangat baik. Log resistivitas seringkali merupakan alat yang sangat baik untuk meng- korelasikan paket serpih atau paket batupasir bersih, pada saat mana pembacaan log sinar gamma praktis monoton. Tipe log resistivitas yang berbeda memiliki resolusi yang berbeda pula. Sebagian log resistivitas mengukur kolom batuan setiap 2,5 mm atau 5 mm sedemikian rupa sehingga hampir setiap lapisan akan dapat terdeteksi. Pada gambar 4-6, efek "oil leg" pada paket mengkasar ke atas menyebabkan trend pengendapan menjadi tidak terlalu jelas adanya.

4.4.2 Trend Log

Rekaman log dapat digunakan untuk memperkirakan litologi. Karena itu, trend rekaman log (pada berbagai skala) meng- indikasikan trend energi pengendapan dan, pada gilirannya, mengindikasikan pola tumpukan sedimen. Sebagai contoh, pada paket endapan laut-dangkal, peningkatan energi pengendapan berkaitan langsung dengan penurunan kedalaman. Banyak literatur stratigrafi menyajikan berbagai hasil penelitian yang mencoba melukiskan kaitan antara trend log dengan pengendapan,

41

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

misalnya kaitan antara peningkatan sinar gamma dengan endapan gosong tanjung atau antara penurunan sinar gamma dengan endapan gosong muara sungai (a.l. Pirson, 1977; Coleman & Prior, 1980; Galloway & Hodbay, 1983; Cant, 1984; Rider, 1986). Dari hasil pengamatan yang seksama terhadap log, para ahli mengetahui adanya sejumlah trend rekaman log, khususnya log sinar gamma. Trend log dapat dipandang sebagai perubahan pembacaan log rata-rata atau sebagai penyimpangan dari garis-dasar serpih atau garis-dasar pasir. Perlu diketahui, garis-dasar pasir pada suatu segmen log sinar gamma menandai nilai bacaan minimun pada segmen itu, sedangkan garis-dasar serpih menandai nilai bacaan maksimum pada segmen tersebut. Trend log utama diperlihatkan pada gambar 4-7.

4.4.2.1 Trend Makin Bersih ke Atas

Trend makin besih ke atas (the cleaning-up trend) memperlihatkan penurunan nilai rekaman kadar sinar gamma ke arah atas suatu paket batuan, hal mana mencerminkan kadar lempung dalam paket batuan tersebut makin ke atas makin rendah. Perubahan itu sendiri dapat terjadi karena berubahnya litologi: makin ke atas batuannya secara berangsur makin "bersih" akan lempung. Perubahan seperti itu juga dapat terjadi berubahnya proporsi lapisan-lapisan batuan yang relatif kaya akan lempung dengan batuan yang relatif miskin akan lempung, dimana lapisan-lapisan batuan itu sendiri berada di bawah resolusi log: makin ke atas lapisan yang relatif miskin akan lempung makin banyak dibanding lapisan yang relatif kaya akan lempung. Trend pada kurva lain tergantung pada rekaman log pada litologi yang paling "bersih." Pada kumpulan batulempung- batulanau-batupasir sarang yang mengandung air, waktu tempuh gelombang suara sering menurun ke arah atas jika paketnya dari bawah ke atas berupa serpih-batulanau-batupasir sarang. Pada paket batuan seperti itu, rekaman resistivitas makin ke atas makin rendah, sedangkan rekaman FDC-CNL akan saling terpisah satu sama lain. Pola yang dihasilkan mungkin akan berbeda apabila pasirnya makin ke atas makin banyak mengandung semen atau jika batupasirnya mengandung hidrokarbon. Pada tatanan laut-dalam, paket batuan yang makin ke atas makin bersih biasanya berkaitan dengan transisi dari litologi yang kaya akan serpih di bagian bawah menjadi litologi yang kaya miskin akan serpih di bagian. Paket seperti itu terjadi akibat bertambahnya energi pengendapan sedemikian rupa sehingga paket itu umumnya akan makin kasar ke atas dan sekaligus mengindikasikan makin dangkal ke atas. Penafsiran seperti ini hendaknya di-cross-check dengan data-data paleobatimetri yang ada (misalnya data inti bor, data biostratigrafi, kehadiran litologi kunci seperti batubara, dsb), dimana data seismik sendiri hendaknya diletakkan pada konteks pengendapan. Gambar 4-8 memperlihatkan suatu trend log sinar gamma yang meng- indikasikan paket yang makin ke atas makin bersih. Data tersebut diambil dari Formasi Tarbert (Jura Tengah) yang ditembus oleh sumur bor di Laut Utara. Kontrol dari inti bor menunjukkan bahwa trend itu berkorespondensi dengan gejala pengkasaran ke atas dan gejala pendangkalan ke atas dari fasies-fasies yang terekam oleh log tersebut. Trend log berskala besar yang mengindikasikan paket yang makin ke atas makin bersih umumnya berkorespondensi dengan klinoform seismik. Hal ini akan dibahas lebih jauh pada sub bab 4.4. Pada tatanan laut-dalam, trend yang mengindikasikan paket yang makin ke atas makin bersih umumnya merupakan suatu bagian dari trend berbentuk busur yang ukurannya lebih besar. Gejala yang disebut terakhir ini umumnya berkorespondensi dengan meningkatnya kadar pasir dalam suatu paket turbidit berlapis tipis. Paket yang makin ke atas makin bersih kadang-kadang juga terbentuk sebagai hasil perubahan berangsur dari sedimen klastika menuju sedimen karbonat atau penurunan secara berangsur anoxity. Kedua gejala yang disebut terakhir ini tidak selalu berkaitan dengan gejala pendangkalan ke atas atau gejala progradasi sistem pengendapan.

4.4.2.2 Trend Makin Kotor ke Atas

Trend peningkatan nilai pembacaan log sinar gamma ke arah atas (yang umumnya dapat terlihat pada garis-dasar serpih dan garis-dasar pasir; gambar 4-7), berkorespondensi dengan paket dimana kadar mineral lempung makin ke atas makin tinggi. Gejala ini mungkin disebabkan akibat perubahan litologi, misalnya dari batupasir ke serpih, atau akibat penipisan lapisan-lapisan batupasir ke arah atas disertai dengan penebalan lapisan-lapisan serpih. Kedua paket seperti yang disebut terakhir ini meng- implikasikan penurunan energi pengendapan ke atas. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, trend dari log-log lain tergantung pada tanggapan log terhadap pasir yang paling bersih. Paket menghalus ke atas umumnya terbentuk pada alur sungai meander atau alur pasut, dimana makin ke atas meng- indikasikan penurunan kecepatan arus (dan, oleh karenanya, penurunan energi) dalam alur-alur tersebut. Paket-paket batuan menghalus ke atas berskala besar umumnya ditemukan dalam endapan fluvial yang mengangkut sedimen berbutir kasar serta dalam endapan pengisi estuarium (lihat Bab 8). Endapan alur sering memiliki endapan sisa yang dapat mempengaruhi tanggapan log sinar gamma apabila material pembentuk endapan sisa itu berupa kecur-kecur serpih atau berupa mineral berat. Pada tatanan laut-dangkal, trend makin kotor ke atas seringkali mencerminkan peristiwa mundurnya sistem pantai-paparan sedemikian rupa sehingga peristiwa itu menghasilkan paket mendangkal ke atas atau paket yang makin ke atas makin men- cerminkan energi yang makin rendah. Pada kasus gambar 4-9, trend makin kotor ke atas berkorespondensi dengan endapan pantai-paparan transgresif yang merupakan salah satu bagian dari Formasi Tarbert (Jura Tengah). Bagian ini berbeda dengan bagian lain dari formasi tersebut yang telah dilukiskan pada gambar 4-8. Endapan-endapan laut dangkal yang memperlihatkan gejala penghalusan ke atas dapat terbentuk sebagai tumpukan parasekuen mengkasar ke atas yang berukuran kecil. Pada tatanan laut-dalam, trend makin kotor ke atas dapat terbentuk akibat menurunnya prosentase pasir dalam turbidit berlapis tipis dan mengindikasikan perioda penurunan aktivitas pembentukan kipas bawah laut (gambar 4-11). Paket makin kotor ke atas juga dapat terbentuk akibat peningkatan anoxity secara berangsur ke arah atas atau perubahan berangsur pengendapan sedimen klastika dan sedimen karbonat yang kemungkinan dipengaruh oleh iklim.

42

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

4.4.2.3 Trend Silindris

Trend silindris (cylindrical motif), atau disebut juga boxcar trend, adalah trend log sinar gamma dimana secara umum pem- bacaan log pada zona ini rendah, namun diatas dan dibawahnya dibatasi oleh pembacaan log yang tinggi, dan perubahan pada batas itu berlangsung secara tiba-tiba. Bacaan log sonik pada zona yang menghasilkan trend ini mungkin saja lebih rendah atau lebih tinggi daripada nilai bacaan log sonik pada serpih, tergantung pada tingkat sementasi dan kompaksi batuannya. Perselingan antara dua unit yang memiliki tanggapan log berbeda mengindikasikan adanya dua energi pengendapan yang berbeda. Perubahan dari satu unit ke unit lain terjadi secara tiba-tiba juga mengimplikasikan terjadinya perubahan energi peng- endapan secara tiba-tiba. Trend silindris merupakan trend tipikal untuk batupasir endapan alur sungai, turbidit, atau batupasir endapan eolus. Beberapa unit batupasir pada gambar 4-10 dapat ditafsirkan sebagai batupasir silindris dan unit J64 dengan jelas menunjukkan trend silindris. Log itu diambil dari reservoar batupasir turbidit di Miller Field, Laut Utara. Batupasir turbidit yang memperlihatkan trend silindris umumnya memiliki kisaran ketebalan yang jauh lebih bervariasi dibanding batupasir alur sungai. Trend menebal ke atas atau menipis ke atas dari pasir silindris dalam suatu satuan peng- endapan seringkali terlihat dalam turbidit (misalnya batupasir menebal ke atas di bagian bawah J64 pada gambar 4-10). Trend ini tidak memperlihatkan perpindahan yang sistematis garis-dasar serpih atau garis-dasar pasir sedemikian rupa sehingga satuan itu menjadi tampak tebal dan, oleh karena itu, dapat diditeksi oleh log. Perlu dicamkan bahwa tubuh pasir endapan laut-dangkal mungkin dapat terpancung bagian bawahnya oleh sesar atau memiliki dasar yang tajam akibat penurunan muka air laut atau faktor lain. Karena itu tubuh pasir itu dapat memiliki trend silindris, meskipun didalamnya mungkin memperlihatkan sedikit perpindahan garis-dasar serpih. Selain itu, evaporit sering mem- perlihatkan trend silindris.

4.4.2.4 Trend Busur

Trend busur (bow trend), atau dikenal juga dengan nama trend setangkup (symmetrical trend), terdiri dari trend makin bersih ke atas yang kemudian ditindih oleh trend makin kotor ke atas, dimana paket yang dicerminkan oleh kedua trend itu lebih kurang sama tebalnya dan perubahan dari trend bawah ke trend atas berlangsung secara berangsur. Trend busur umumnya terbentuk akibat peningkatan dan penurunan laju sedimentasi klastika dalam tatanan cekungan, dimana sedimen tidak terhambat oleh alas kikis, misalnya sewaktu progradasi dan retrogradasi suatu sistem kipas yang kaya akan lumpur. Gambar 4-11 memperlihat- kan sejumlah trend busur dalam kipas bawahlaut di Ettrick Field, bagian tengah Laut Utara. Pada beberapa sumur minyak di Ettrick Field, lapisan-lapisan batupasir turbidit terletak di bagian tengah busur. Trend busur jarang terbentuk pada tatanan laut-dangkal, di tempat mana alas kikis cenderung menghasilkan satuan pro- gradasional yang relatif tebal atau satuan transgresif yang relatif tipis. Walau demikian, trend busur bukan tidak pernah di- temukan dalam endapan laut-dangkal, khususnya apabila topografi retakan atau sesar tumbuh memungkinkan terbentuknya endapan transgresi yang tebal.

4.4.2.5 Trend Tak Beraturan

Trend tak beraturan (irregular trend) tidak memiliki perubahan atau ketetapan yang sistematis pada satu arah tertentu. Pola

ini biasanya mencerminkan aggradasi dari litologi serpihan atau lanauan dan mungkin merupakan trend tipikal dari endapan laut-dangkal maupun endapan laut-dalam, endapan danau, atau endapan limpah banjir. Sebenarnya mungkin ada suatu per- pindahan yang sistematis, namun samar, dari garis-dasar serpih. Namun, karena samar, perubahan itu dipandang "tidak ada." Pengolahan kembali tampilan log dengan cara meningkatkan skala horizontal dan atau menurunkan skala vertikal mungkin akan menyebabkan perubahan yang samar itu menjadi lebih jelas. Trend tak beraturan kemungkinan besar tidak akan muncul dalam endapan paparan atau endapan paya-paya, di tempat mana perubahan kedalaman yang berlangsung dengan pola mendaur akan menghasilkan rekaman log yang mendaur pula dan akan dikenal sebagai parasekuen.

4.4.3 Tanggapan Log terhadap Klinoform

Tanggapan log terhadap suatu systems tract berbeda cukup jauh, tergantung pada apakah sumur dimana log itu direkam terletak pada klinoform, topset, atau endapan cekungan. Prosedur analisis sekuen terhadap kurva log akan berbeda untuk setiap kasus. Untuk mendapatkan gambaran yang koheren mengenai arsitektur pengendapan dari data log, kita mungkin perlu melakukan analisis sejumlah besar sumur. Dalam well logs, unit klinoform disimpulkan dari pola makin bersih ke atas yang diperkirakan mencerminkan gejala pen- dangkalan ke atas. Alas dari paket yang menunjukkan pola makin bersih ke atas akan ekivalen dengan downlap surface. Konfirmasi kebenaran untuk tafsiran ini dapat diperoleh dari data inti bor atau data biostratigrafi yang menunjang adanya gejala pendangkalan ke atas karena, dalam sistem klastika, gejala pendangkalan ke atas hanya mungkin terjadi akibat progradasi, kecuali di bawah kondisi yang luar biasa. Konformasi tambahan dapat diperoleh dari data seismik dan data dipmeter serta dari

hasil penafsiran tatanan cekungan dan stratigrafi. Dasar dari satuan klinoform adalah horizon downlap. Horizon ini dapat dikenal keberadaannya sebagai suatu bidang yang melandasi satuan yang makin bersih ke atas yang seringkali disertai oleh suatu fasies log yang khas untuk condensed section, misalnya oleh kehadiran serpih yang memiliki tanggapan log sinar gamma tinggi (gambar 4-8) atau untuk horizon yang ter- semenkan. Pada kasus lain, downlap surface lebih sukar untuk dikenali keberadaanya. Puncak klinoform yang makin bersih ke

43

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

atas mungkin ditandai oleh peningkatan kadar serpih secara tiba-tiba (sebagaimana terlihat dalam kurva log sinar gamma) akibat peristiwa peningkatan kedalaman di sepanjang bidang transgresi atau mungkin oleh kehadiran topset. Pada satuan yang cukup tebal untuk dapat diditeksi oleh peralatan seismik, perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dari log yang makin bersih ke atas umumnya berkaitan dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam klinoform. Peningkatan kadar serpih yang tiba-tiba dalam trend klinoform umumnya mengimplikasikan loncatan fasies, dari facies yang relatif dangkal di bagian bawah menjadi fasies yang relatif jauh lebih dalam di bagian atas. Loncatan fasies itu sendiri disebabkan oleh per- pindahan cuping atau oleh transgresi sewaktu terjadinya penaikan muka air laut. Analog dengan itu, penurunan kadar serpih secara tiba-tiba dalam trend klinoform umumnya mengimplikasikan loncatan fasies, dari fasies yang relatif dalam di bagian bawah menjadi fasies yang relatif jauh lebih dangkal di bagian atas. Loncatan fasies itu dapat terjadi akibat erosi (dan karena bidang perubahan fasies itu merupakan batas fasies), sesar normal, atau nendatan. Dalam kasus yang disebut terakhir ini, masalah apakah loncatan itu disebabkan oleh erosi atau oleh sesar akan dapat diketahui dari penampang seismik. Pembahasan lebih jauh mengenai batas sekuen dalam log akan diberikan pada anak sub bab 4.4.7. Dua unit klinoform umumnya hadir dalam suatu sekuen: highstand prograding wedge dan lowstand prograding wedge (lihat kembali Bab 2). Kita tidak selalu dapat menentukan secara pasti klinoform dari systems tract mana yang dicerminkan oleh suatu rekaman log, meskipun kita telah memiliki beberapa kriteria untuk mengenal setiap tipe klinoform tersebut (lihat 4.4.7). Ketebal- an unit klinoform dalam log memberikan suatu nilai pendekatan dari ketinggian klinoform dan, oleh karena itu, juga meng- indikasikan kedalaman cekungan (setelah dimodifikasi oleh kompaksi, efek syn-depositional subsidence, dan faktor-faktor lain.

4.4.4 Tanggapan Log terhadap Parasekuen

Parasekuen-parasekuen topset terbentuk oleh daur-daur pengisian akomodasi yang terjadi berulang-ulang, dimana akomodasinya sendiri terletak diantara offlap break dan titik coastal onlap. Setiap parasekuen itu akan tampak dalam log sebagai daur berskala kecil. Khuluk mendetil dari tanggapan log terhadap parasekuen tergantung pada tipe fasies yang menyusun parasekuen itu (lihat 4.4.1). Dalam endapan bahari, motif yang paling umum adalah trend makin bersih ke atas (gambar 4-8). Dalam trend yang makin bersih ke atas, kadar serpih makin ke atas makin sedikit, sedangkan porositas primer dan ketebalan lapisan (seperti yang dapat diketahui dari rekaman microresistivity) mungkin bertambah ke bagian atas. Marine flooding surface dapat dikenal keberadaannya sebagai suatu bidang perubahan kandungan serpih yang berlangsung secara tiba-tiba sebagaimana yang tampak pada log SP, log sinar gamma, dan gejala-gejala log khas lainnya. Gambar 4-12 memperlihatkan serangkaian para- sekuen laut-dangkal dan parasekuen paralik dalam Formasi Ness (Jura Tengah) di Laut Utara. Dalam log tersebut, keberadaan parasekuen dapat dikenali dari inti bor sebagai daur yang mendangkal ke atas, dengan ketebalan parasekuen 15 meter. Puncak parasekuen itu seringkali berupa lapisan batubara. Pada log sinar gamma, parasekuen tersebut muncul sebagai satuan log berskala kecil yang makin bersih ke atas, sedangkan marine flooding surface ditandai oleh adanya peningkatan pembacaan log sinar gamma yang berlangsung tiba-tiba. Parasekuen yang mirip dengan itu dapat ditemukan pada gambar 4-6. Sistem progradasional, retrogradasional, dan aggradasional dapat dikenali keberadaannya berdasarkan cara parasekuen menumpuk satu di atas yang lain. Contoh pola tumpukan parasekuen diperlihatkan pada gambar 2-26. Pola tumpukan para- sekuen dan parasekuen set telah dibahas pada 2.5.3.

4.4.5 Tanggapan Log terhadap Lingkungan-Lingkungan Cekungan

Tanggapan log terhadap satuan-satuan batuan pengisi cekungan cenderung lebih simetris dibanding tanggapan log ter- hadap klinoform atau topset. Khuluk mendetil dari tanggapan log terhadap endapan ini tergantung pada khuluk sedimen. Endapan cekungan yang kaya akan lumpur cenderung memperlihatkan trend busur (gambar 4-11), sedangkan sistem sand- prone cenderung memperlihatkan trend silindris (gambar 4-10). Sumur yang melalui bagian yang berbeda dari satu sistem pengendapan sering menunjukkan trend log yang berbeda. Karakter seperti itu bersifat khas untuk kipas bawah laut. Trend-trend log tersebut di atas dipisahkan satu sama lain oleh log markers yang merepresentasikan sedimentasi pelagik yang tidak diiterupsi oleh aliran sedimen dari tepi cekungan. Log markers itu biasanya berupa serpih tipis, dengan sedikit atau tanpa lanau dan pasir, yang secara keseluruhan memperlihatkan pembacaan log sinar gamma tinggi, berdensitas rendah, berresistivitas rendah, dan dengan kecepatan gelombang suara yang rendah pula. Serpih seperti itu merepresentasikan condensed section (gambar 4-10). Pada beberapa lingkungan, condensed section berupa serpih yang kaya akan rijang atau kaya akan material karbonatan serta muncul sebagai anomali-tinggi dari log sonik. Condesed section pada gambar 4-10 ditandai oleh anomali-tinggi dari log sinar gamma yang mengindikasikan penghentian sementara sedimentasi kipas laut dalam. Bidang yang dicirikan oleh tanggapan log tersebut digunakan sebagai dasar untuk membagi-bagi stratigrafi Miller Field, Laut Utara, ke dalam sejumlah satuan pengendapan (Garland, 1993). Condensed section bahari merepresentasikan penghentian sementara pasokan sedimen pada lokasi sumur pengeboran, hal mana dapat terjadi akibat perpindahan arah pengendapan yang bersifat alosiklis pada kipas laut dalam, perpindahan "kipas dasar cekungan" ("basin-floor fan") menjadi "kipas lereng" ("slope fan") dalam pengertian seperti yang dikemukakan oleh Posamentier dkk (1988) (lihat Bab 9), atau penghentian pengendapan cekungan pada fasa penaikan muka air laut relatif. Log markers yang paling jelas mungkin ada kaitannya dengan peristiwa penghentian pengendapan cekungan yang juga kemungkinan besar merupakan onlap surface atau downlap surface. Zona itu seringkali sangat kaya akan fosil plankton sehingga dapat digunakan sebagai event yang dapat dikorelasikan secara kronostratigrafi (lihat Bab 6). Zona ini ekivalen-waktu dengan lowstand prograding wedge, transgressive systems tract, dan highstand systems tract. Condensed section lain yang telah dikemukakan sebelumnya kemungkinan besar hanya bersifat lokal dan mencerminkan rentang waktu yang pendek.

44

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Adalah suatu hal yang tidak mungkin untuk melakukan analisis sekuen stratigrafi hanya dari sedimen cekungan karena informasi yang diperlukan untuk mendefinisikan systems tract dan batas-batas sekuen terutama terletak di tepi cekungan.

4.4.6 Estimasi Faktor-Faktor Pengontrol Pengendapan dan Sekuen Stratigrafi dari Tanggapan Log

Analisis sekuen stratigrafi terhadap rangkaian well logs terutama ditujukan untuk mengenal perioda-perioda progradasi dan retrogradasi tepi cekungan serta mengenal variasi perubahan muka air laut. Rangkaian log yang diperlihatkan pada gambar 4-6 ditafsirkan pada gambar 4-13 dengan menggunakan metodologi sekuen stratigrafi yang dijelaskan pada bab ini. Progradasi dapat dikenal keberadaannya berdasarkan kurva klinoform (satuan berskala besar yang makin bersih dan makin dangkal ke atas) atau dari pola tumpukan progradasional dalam topset (sebagaimana terlihat pada gambar 2-25). Bukti pro- gradasi ke arah cekungan hanya akan ditemukan pada satuan-satuan di sekitar tepi cekungan (topset, klinoform, dan toeset). Dua satuan progradasi ditafsirkan pada gambar 4-13. Satuan serpih yang berprogradasi dapat dikenal keberadaannya sebagai satuan log yang dicirikan oleh penurunan kurva sinar gamma dan kurva densitas ke arah atas serta oleh penaikan kurva kecepatan dan kurva resistivitas ke arah atas, dimana ciri-ciri tersebut mengindikasikan peningkatan fraksi serpih ke bagian atas. Satuan batupasir yang terletak di bagian bawah juga mengindikasikan progradasi. Satuan ini merupakan tumpukan para- sekuen yang keberadaannya paling mudah terlihat dari log neutron-densitas. Retrogradasi tepi cekungan dapat dikenal keberadaanya dari tumpukan retrogradasional parasekuen-parasekuen topset atau dari penafsiran satuan log yang mengimplikasikan gejala pendalaman yang cukup berarti ke bagian atas (gambar 4-9). Dua satuan retrogradasi dapat dilihat pada gambar 4-13. Satuan atas merupakan suatu tumpukan parasekuen yang sangat tipis dengan satu hardground flooding surface yang tampak jelas dari loncatan log sonik. Satuan bawah merupakan tumpukan parasekuen paralik, dimana puncak dari sebagian parasekuen itu berupa lapisan batubara. Kedudukan muka air laut relatif dapat diketahui dari hasil pengenalan terhadap pola tumpukan parasekuen dalam sumur- sumur pengeboran yang melalui tepi cekungan. Sebagai contoh, tumpukan parasekuen pada gambar 4-13 mengimplikasikan proses pengisian akomodasi secara mendaur sewaktu penaikan muka air laut. Percepatan proses penaikan muka air laut di- tafsirkan terjadi (namun bukan berarti telah terbukti) berdasarkan adanya gejala penebalan parasekuen ke bagian atas, terutama jika gejala tersebut dapat dikenal keberadaannya secara regional. Walau demikian, perlu dicamkan bahwa penalaran seperti ini hanya dapat diterapkan pada parasekuen agradatif hingga alas kikis. Tanggapan satuan progradatif terhadap peningkatan laju penaikan muka air laut, apabila pasokan sedimen tetap, adalah perubahan pola tumpukan secara berangsur ke bagian atas, dari pola progradasi di bagian bawah menjadi pola aggradasi di bagian atas dan selanjutnya pada pola retrogradasi. Hal ini akan menghasilkan motif log yang berubah dari trend makin bersih ke atas menjadi trend agradasi yang merupakan pola khas dari lowstand prograding wedge. Penurunan laju penaikan muka air laut dicirikan oleh tumpukan parasekuen agradatif yang makin tipis ke bagian atas, khususnya apabila gejala ini dapat dikenali keberadaannya secara regional.

4.4.7 Bidang-Bidang Kunci

Sebelum membagi paket endapan ke dalam systems tracts yang menjadi komponennya, kita perlu mengenal bidang-bidang stratigrafi kunci dalam wireline logs. Maximum flooding surface dapat dikenal keberadaanya di daerah proximal sebagai bidang yang memisahkan satuan retro- gradasi dengan satuan progradasi yang menindihnya. Kedua satuan itu, berturut-turut, merupakan satuan yang makin kotor ke atas dan satuan yang makin bersih ke atas. Maximum flooding surface itu sendiri akan memiliki nilai bacaan sinar gamma maksimum. Maximum flooding surface akan melampar secara lateral menjadi condensed section paparan. Endapan yang disebut terakhir ini juga akan ditandai oleh nilai log sinar gamma yang tinggi, oleh nilai log resistivitas yang rendah, atau oleh nilai densitas maksimum atau minimum. Condensed section paparan sering mengandung banyak fosil dan, oleh karena itu, juga

merupakan bidang biostratigrafi yang penting artinya dalam korelasi kronostratigrafi. Kita harus selalu mengasumsikan bahwa puncak log sinar gamma sebagai maximum flooding surface. Kata kunci adalah bahwa bidang tersebut terletak di atas satuan retrogradasi dan di bawah satuan progradasi. Gambar 4-14 memperlihatkan suatu deretan well logs dimana daur progradasi dan retrogradasi berkembang baik, sebagian diantaranya merupakan tumpukan parasekuen. Maximum flooding surface dalam log itu dengan jelas terlihat terletak di bawah tumpukan parasekuen retrogradasi dan di atas tumpukan parasekuen progradasi. Maximum progradation surface dapat dikenal keberadaanya di daerah proximal sebagai sebuah bidang yang terletak di atas satuan progradasi dan di bawah satuan retrogradasi. Kedua satuan itu, berturut-turut, merupakan satuan yang makin bersih ke atas dan satuan yang makin kotor ke atas. Maximum progradation surface itu sendiri merupakan bidang yang dicirikan oleh nilai log sinar gamma minimum. Maximum progradation surface merupakan puncak dari parasekuen yang berprogradasi ke arah cekungan dan menandai titik balik dari progradasi menjadi retrogradasi. Jika peristiwa pembalikan itu berlangsung secara berangsur, maka bidang itu sukar atau bahkan tidak mungkin diketahui. Selain itu, bidang tersebut juga kemungkinan akan tererosi sewaktu terjadi transgresi. Maximum progradation surface dalam sekuen tipe-1 terletak pada puncak lowstand prograding wedge. Pada gambar 4-14, maximum flooding surface tampak dengan jelas terletak di atas tumpukan parasekuen progradasi dan di bawah parasekuen retrogradasi. Condensed section bahari bisa dikenal keberadaannya berdasarkan kehadiran shale-break diantara trend-trend log cekungan (gambar 4-10 dan 4-1). Sebagaimana telah dijelaskan di muka, hirarki dalam condensed section bahari hendaknya diperkirakan ada, dan kita tidak dapat menentukan dengan mudah condensed section mana yang paling penting arti stratigrafi- nya. Data paleontologi mungkin dapat membantu kita dalam menentukan condensed section tersebut (lihat Bab 6).

45

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

Downlap surface dapat dikenal keberadaannya berdasarkan adanya trend log klinoform (trend makin bersih ke atas berskala besar). Downlap surface yang terletak di bawah highstand prograding wedge dapat dikorelasikan dengan maximum flooding surface, sedangkan downlap surface yang terletak di bawah lowstand prograding wedge dapat dikorelasikan dengan puncak endapan kipas laut-dalam atau dengan batas sekuen. Batas sekuen, yang terbentuk akibat penurunan muka air laut relatif, mungkin sukar untuk dapat dikenal hanya dari data log. Keberadaan batas sekuen memerlukan bukti-bukti dislokasi fasies; superposisi fasies proksimal terhadap fasies distal, tanpa diselingi oleh fasies transisi. Gejala seperti ini kemungkinan besar hanya dapat dikenali keberadaannya pada dua tempat: (1) di muka highstand clinoform; dan (2) di lembah torehan. Di tempat lain, dislokasi fasies mungkin tidak cukup berarti dan, oleh karena itu, batas sekuen kemungkinan besar akan berimpit dengan flooding surface terakhir. Pada kasus dimana suatu bidang diperkirakan merupakan batas sekuen, namun tidak dapat terbuktikan secara meyakinkan, maka dikatakan bahwa bidang itu merupakan "kandidat" batas sekuen yang selanjutnya dapat digunakan untuk merekonstruksikan model-model prediktif. Pada lereng klinoform, batas sekuen tipe-1 ditandai oleh loncatan dalam trend makin bersih ke atas pada suatu tempat. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, gejala seperti ini dengan mudah tertukar dengan sesar normal. Hanya sumur-sumur yang melalui bagian akhir dari klinoform saja yang dapat memperlihatkan gejala tersebut. Pada topset, batas sekuen tipe-1 juga dapat dimanifestasikan sebagai loncatan fasies, dari fasies yang relatif "kotor" menjadi fasies yang jauh lebih "bersih," misalnya dari parasekuen paparan menjadi endapan fluviatil atau dari parasekuen paparan distal menjadi parasekuen paparan proximal yang relatif jauh lebih bersih. Batas bawah yang tajam dari lapisan batupasir (gambar 4-13) dapat digunakan sebagai kandidat batas sekuen. Tafsiran alternatif untuk lapisan batupasir itu adalah ravinement surface. Ada dua batas sekuen dapat dikenal keberadaannya dalam Kelompok Brent (Jura Tengah) di sebelah utara Laut Utara (gambar 4-15). Batas sekuen yang terletak di bawah dikenal berdasarkan pola log makin bersih ke atas yang muncul secara tiba-tiba dan adanya data inti bor yang menunjukkan bahwa fasies gisik transgresi menindih batulumpur paparan (perhatikan adanya lonjakan besar butir sebagaimana ditunjukkan oleh penampang stratigrafi dari inti bor). Kehadiran batas sekuen yang terletak di atas tidak terlalu jelas. Walau demikian, batas sekuen itu dapat dikenal juga berdasarkan pola log makin bersih ke atas yang muncul agak tiba-tiba dan adanya data inti bor yang menunjukkan adanya pergantian dari batupasir bioturbasi yang merupakan endapan lower shoreface menjadi batupasir gisik yang jauh lebih bersih (dan lebih kasar). Dalam sumur-sumur pengeboran yang menembus lembah torehan, mungkin ditemukan suatu paket yang dialasi oleh bidang batas yang tajam, dimana di atas bidang itu akan ditemukan pasir bersih yang memperlihatkan pola log makin halus ke atas atau pola log silindris. Paket ini, bersama-sama dengan endapan yang terletak dibawahnya, mengindikasikan gejala pen- dangkalan yang tiba-tiba, dari endapan paparan yang terletak di bawah bidang itu menjadi paket makin halus ke atas yang merupakan endapan fluviatil atau endapan estuarium. Walau demikian, lembah torehan kadang-kadang diisi oleh material serpihan, yang kemungkinan merupakan bagian dari transgressive systems tract. Pada kasus yang disebut terakhir ini, keberadaan lembah torehan menjadi sukar atau bahkan tidak mungkin untuk diketahui. Apabila "beruntung", maka sejumlah sumur pengeboran yang melalui lembah torehan seperti itu masih mengindikasikan gejala penorehan atau menunjukkan khuluk estuarium dari serpih pengisi lembah torehan. Batas sekuen sering merupakan batas dimana terjadi perubahan tiba-tiba ke arah atas, dari pola log yang mengindikasikan progradasi menjadi pola log yang mengindikasikan aggradasi atau retrogradaasi. Sebuah kandidat batas sekuen diberi tanda dengan ungkapan "downshif?" pada gambar 4-14, dimana bidang itu dipilih sebagai kandidat batas sekuen karena menandai terjadinya perubahan pola tumpukan batuan secara tiba-tiba, disertai oleh perpindahan garis-dasar serpih dan garis-dasar pasir yang agak samar pada log sinar gamma. Bukti lain yang digunakan sebagai penunjang tafsiran ini adalah ditemukannya kerikil endapan sisa tepat pada horizon tersebut dalam beberapa sumur yang berbeda. Di banyak tempat, batas sekuen berimpit dengan flooding surface dan tidak ditandai oleh adanya perpindahan fasies ke arah cekungan. Dalam kasus seperti ini, batas sekuen tidak akan terlihat dalam wireline log. Batas sekuen tipe-2 (Van Wagoner dkk, 1988) sukar atau tidak mungkin dapat dikenal hanya dari wireline logs. Dari definisi- nya, kriterion kritis dari batas sekuen ini adalah adanya pergeseran coastal onlap hingga melewati offlap break. Karena itu, keberadaan batas sekuen ini hanya akan diketahui dari hasil pengamatan terhadap sehimpunan well logs yang berasal dari sumur-sumur yang saling berdekatan dalam suatu pola yang teratur. Hal ini dimungkinkan setelah data-data himpunan well logs itu saling dikorelasikan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kita akan diperoleh gambaran evolusi coastal onlap dari waktu ke waktu. Karena batas sekuen tipe-2 umumnya tidak berasosiasi dengan jebakan hidrokarbon, maka kesulitan dalam mengenal bidang tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan para eksplorer. Van Wagoner dkk (1988) menyatakan bahwa batas sekuen tipe-2 dapat ditafsirkan keberadaannya dari data waktu dimana laju penaikan muka air laut mencapai harga minimum dan bahwa batas itu akan terletak di atas parasekuen yang menipis ke atas dan di bawah parasekuen yang menebal ke atas. Walau demikian, sebagian ahli meragukan apakah laju penaikan minimum seperti itu akan menghasilkan batas sekuen atau tidak.

4.4.8 Pengenalan Systems Tract dari Kurva Log

Pengenalan bidang-bidang kunci tersebut di atas memungkinkan dibaginya paket batuan yang diteliti ke dalam sejumlah systems tract. Penamaan systems tract akan membantu kita untuk menentukan posisi systems tracts itu dalam kerangka proses pengisian cekungan. Penentuan systems tract berdasarkan bidang-bidang pembatasnya telah dibahas pada Bab 2. Lowstand fan dapat dikenal keberadaannya sebagai paket batuan yang dibatasi oleh condensed sections. Paket ini dapat dikorelasikan dengan batas sekuen yang ada di tepi cekungan. Apabila korelasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena

46

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

hanya ada satu sumur bor), maka tidak mungkin bagi kita untuk dapat memutuskan apakah kipas yang sedang diamati memiliki kaitan dengan posisi muka air laut rendah atau tidak. Lowstand prograding wedge dapat dikenal sebagai paket batuan pengisi tepi cekungan yang berprogadasi ke arah cekung- an serta terletak di atas batas sekuen dan di bawah maximum progradation surface. Dengan demikian, satu prasyarat mutlak untuk dapat menyatakan bahwa suatu endapan merupakan lowstand prograding wedge adalah kita telah mengetahui posisi batas sekuen. Persyaratan ini kadang-kadang tidak dapat terpenuhi jika kita hanya memiliki data well logs. Topset para- sequences dari lowstand prograding wedge idealnya merupakan paket-paket batuan yang menebal ke atas dan mengindikasi- kan percepatan laju penaikan muka air laut relatif. Peristiwa peningkatan laju penaikan muka air laut relatif itupun akan di- indikasikan oleh perubahan pola progradasi menjadi pola agradasi. Transgressive systems tract dapat dikenal sebagai himpunan parasekuen retrogradasional yang terletak di atas maximum progradation surface (yang sering berimpit dengan batas sekuen) dan di bawah maximum flooding surface atau condensed section yang korelatif dengannya. Highstand systems tract dapat dikenal sebagai paket batuan pengisi tepi cekungan yang berprogradasi ke arah cekungan serta terletak di atas maximum flooding surface dan di bawah batas sekuen. Sebagaimana kasus lowstand fan, persyaratan mutlak yang harus dipenuhi agar kita dapat menentukan bahwa suatu paket batuan adalah highstand systems tract adalah mengetahui posisi batas sekuen. Persyaratan ini kadang-kadang tidak dapat terpenuhi apabila kita hanya memiliki data well logs. Topset parasequences dari highstand systems tract idealnya merupakan paket-paket batuan yang menipis ke atas dan mengindikasikan penurunan laju penaikan muka air laut relatif. Shelf-margin systems tract dapat dikenal sebagai paket batuan pengisi tepi cekungan yang berprogradasi serta terletak di atas batas sekuen tipe-2 dan di bawah maximum progradation surface. Batas sekuen tipe-2, dan oleh karena itu shelf-margin systems tract, sukar untuk dikenal dari data well logs saja.

4.4.9 Jebakan dan Ketaksaan dalam Analisis Sekuen Stratigrafi berdasarkan Well logs

Sebagian jebakan yang harus disingkirkan dalam usaha mengaitkan kurva log dengan parameter-parameter pengendapan

telah dijelaskan pada 4.4.1, sedangkan jebakan yang harus disingkirkan dalam menafsirkan well logs telah dijelaskan pada

4.4.2.

Di bawah ini akan dikemukakan sejumlah jebakan yang mungkin ditemui dan sejumlah petunjuk yang diperlukkan untuk menghindarkannya:

1. Apabila memungkinkan, gunakan data inti bor sebagai pengontrol. Kurva log, meskipun telah dikalibrasi oleh data inti bor, bukan alat yang tidak mungkin salah dalam penafsiran lingkungan pengendapan dan systems tract.

2. Jangan mengharapkan bahwa kita akan menemukan semua systems tract dalam setiap sumur bor. Systems tract memiliki penyebaran yang terbatas dan tempat pengendapannya seringkali bersifat eksklusif.

3. Jangan mengharapkan bahwa kita akan menemukan batas sekuen dalam setiap sumur bor. Batas sekuen hanya akan jelas

terlihat pada bidang dimana lowstand wedge terletak onlap terhadap highstand front dan pada dasar lembah torehan. Di tempat lain, batas sekuen mungkin berimpit dengan bidang transgresi atau terletak di dalam condensed section sehingga tidak akan tampak jelas dalam well logs.

4. Ada beberapa bidang yang dapat menimbulkan batas log tajam, namun bukan merupakan batas sekuen. Bidang-bidang itu antara lain sesar, bidang gelincir nendatan (slump scar), serta dasar alur.

5. Horizon terbaik untuk digunakan dalam korelasi antar sumur bor adalah maximum flooding surface dan condensed section yang korelatif dengannya. Horizon tersebut biasanya dapat dengan relatif mudah dikenal dalam well logs serta biasanya banyak mengandung fosil sehingga relatif mudah untuk ditentukan umurnya dengan hasil yang baik.

6. Korelasi antar berbagai paket batuan yang terletak diantara dua maximum flooding surface kadang-kadang sukar dilakukan. Batas sekuen yang ditemukan pada dua sumur bor yang terpisah jauh mungkin tidak korelatif satu sama lain, terutama apabila kita menemukan indikasi adanya lebih dari satu sekuen di daerah tersebut.

7. Systems tract tidak dapat diberi nama sebelum kriteria pendukungnya menyakinkan. Sebagai contoh, suatu paket batuan yang mengindikasikan progradasi mungkin dapat dikenal dalam sebuah sumur bor, namun selama batas sekuen tidak diketahui, systems tract tersebut tidak dapat disebut katakanlah progradasional systems tract. Kriteria yang meyakinkan biasanya tidak ditemukan dalam satu sumur bor, namun kemungkinan akan dapat diketahui berdasarkan data gabungan yang diperoleh dari sejumlah sumur bor yang diletakkan pada posisi yang relatif teratur atau dari data seismik dengan resolusi cukup tinggi.

8. Pemilihan datum-gantung (hanging-datum), yakni datum dimana kita akan meletakkan semua data sumur sedemikian rupa sehingga dianggap bahwa semua sumur itu berada pada posisi sewaktu pengendapan terjadi, sangat penting artinya karena pemilihan ini akan menentukan bagaimana garis-garis korelasi selanjutnya akan dibuat. Contoh korelasi yang salah, akibat kesalahan pemilihan datum-gantung, diperlihatkan oleh Van Wagoner dkk (1990). Datum-gantung ideal adalah datum yang terletak relatif mendatar sewaktu diendapkan. Lapisan batubara yang melampar luas atau major marine flooding surface dapat berperan sebagai datum-gantung yang baik untuk daerah-daerah yang terletak di sebelah dalam tekuk paparan.

4.4.10 Check-list untuk Penafsiran Sekuen Stratigrafi berdasarkan Data Well logs

1. Tampilkan data-data well logs dalam skala yang konsisten. Pilihlah beberapa trend log yang tampak jelas. Walau demikian, perlu diketahui bahwa skala log standar jauh dari skala ideal yang dapat menampilkan trend log.

47

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

2. Tandai trend-trend utama pada log. Tafsirkan pertama-tama dengan menggunakan log sinar gamma, kemudian cross-check tafsiran itu dengan log lain. Gunakan kontrol data inti bor untuk mengaitkan fasies dengan data log. Perhatikan kemungkinan adanya horizon yang tersemenkan dalam log sonik, hydrocarbon legs pada log resistivitas, perubahan dari batuan klastika ke batuan non-klastika, dan casing shoes (yang seringkali tampak seperti major break dalam trend log).

3. Tafsirkan tatanan pengendapan secara garis besarprograding clinoform, topset parasequences, cekungan, dsbberdasarkan trend log dan litologi penciri (misalnya batubara).

4. Gunakan data lain sebagai penunjang tafsiran lingkungan pengendapan: data seismik, inti bor, biostratigrafi.

5. Tafsirkan major condensed section pada batas-batas trend log dan/atau berdasarkan karakter log yang khas. Gunakan data biostratigrafi (data kelimpahan fauna) sebagai penunjang tafsiran tersebut.

6. Tentukan interval-interval progradasi dan retrogradasi berdasarkan pengetahuan mengenai pola tumpukan parasekuen dan pola major condensed section. Kenali maximum flooding surface dan maximum progradation surface. Gunakan data seismik sebagai cross-check terhadap hasil tafsiran tersebut.

7. Tafsirkan kandidat batas sekuen dari gejala ketidaksinambungan fasies, bukti adanya penorehan topset, dsb. Cross-check tafsiran ini dengan data seismik dan data inti bor. Perhatikan kemungkinan adanya sesar normal, casing shoes, dsb.

8. Tafsirkan pola penebalan dan penipisan parasekuen yang mengindikasikan variasi laju penaikan muka air laut relatif.

9. Tafsirkan systems tract, jika kriteria yang dipersyaratkan ada, berdasarkan pola tumpukan parasekuen dan khuluk batas- batas systems tract. Pengetahuan sedimentologi yang diperoleh dari inti bor mungkin dapat membantu tugas ini karena fasies-fasies tertentu mengindikasikan systems tract tertentu pula. Sebagai contoh, batubara dan endapan pasut meng- indikasikan transgressive systems tract. Cross-check tafsiran ini dengan data seismik.

10. Lanjutkan proses penafsiran ke seluruh bagian sumur. Ikatkan tafsiran terhadap data seismik secara hati-hati dengan menggunakan seismogram sintetis (synthetic seismogram), kemudian korelasikan dengan data biostratigrafi. Korelasikan sekuen, systems tract, dan parasekuen (jika memungkinkan).

48

Sekuen Stratigrafi

BAB 5 DIAGRAM KRONOSTRATIGRAFI

Emery dkk (1996)

5.1 TUJUAN PEMBUATAN DIAGRAM KRONOSTRATIGRAFI

Analisis sekuen stratigrafi mencakup penafsiran hubungan antar berbagai sistem pengendapan dalam kerangka ruang dan waktu. Diagram kronostratigrafi merupakan alat untuk memperlihatkan hubungan antar berbagai sistem pengendapan tersebut serta antara sistem-sistem tersebut dengan peristiwa non-pengendapan, kondensasi, dan erosi. Secara fisik ketiga peristiwa itu diwujudkan sebagai bidang atau lapisan tipis. Karena itu, kebenaan bidang dan lapisan tipis itu hanya akan tampak jelas apabila dilihat dalam kerangka waktu. Diagram kronostratigrafi akan menjadi wahana bagi seorang analis sekuen stratigrafi untuk menguji dan meyakinkan dirinya bahwa tafsiran yang dibuatnya masuk akal apabila dilihat dari kerangka ruang dan waktu, atau sebaliknya. Selain itu, diagram tersebut juga memberikan informasi waktu yang dapat digunakan untuk mengukur berbagai variabel seperti fluks sedimen, subsidensi, dsb. Lebih jauh lagi, plot-plot kronostratigrafi yang memperlihatkan limit proksimal pengendapan topset, atau yang lebih dikenal dengan sebutan coastal onlap chart atau coastal onlap curve, memberikan informasi mengenai frekuensi (bukan besaran) perubahan muka air laut relatif. Prosedur dasar untuk menghasilkan diagram kronostratigrafi dan coastal onlap chart dari data seismik pertama kali dijelas- kan oleh Wheeler (1958). Karena itu, diagram tersebut kadang-kadang disebut juga diagram Wheeler (Wheeler diagram). Diagram itu kemudian dikembangkan oleh Mitchum dkk (1977) serta Vail dkk (1977). Sebuah istilah yang digunakan untuk menamakan satuan batuan yang dibatasi oleh bidang-bidang waktu diajukan pertama kali oleh Schultz (1982). Istilah yang dimaksud adalah kronosom (chronosome). Diagram kronostratigrafi memiliki sumbu vertikal (berupa sumbu waktu) dan sumbu horizontal (berupa sumbu ruang). Pada diagram itu dirajahkan penyebaran systems tract, onlap, toplap, downlap, dsb. Di dalam systems tract, limit ruang dan waktu dari berbagai fasies yang menjadi unsur pembentuk systems tract itu dapat pula digambarkan. Bagian lain dari diagram krono- stratigrafi digunakan untuk menyatakan posisi dan durasi peristiwa non-pengendapan, hiatus, by-passing, erosi dan/atau kondensasi. Diagram kronostratigrafi paling mudah dan paling akurat direkonstruksikan dari data seismik, dimana posisi relatif setiap satuan pengendapan dalam kerangka ruang dan waktu dapat ditentukan dengan jelas. Prinsip-prinsip perekonstruksian diagram kronostratigrafi, sebagaimana kebanyakan prinsip seismik stratigrafi, didasarkan pada asumsi bahwa reflektor-reflektor seismik mengikuti bidang perlapisan dan, karena bidang perlapisan merupakan bidang kesamaan waktu (isochronous surface), maka reflektor seismik mendekati garis kesamaan waktu (Vail dkk, 1977). Konsekuensi logis dari asumsi-asumsi tersebut adalah bahwa suatu paket yang dibatasi oleh reflektor seismik merupakan suatu kronosom.

5.2 PEREKONSTRUKSIAN DIAGRAM KRONOSTRATIGRAFI DARI DATA SEISMIK

Setelah seorang analis sekuen stratigrafi memilih sebuah penampang seismik yang dipandang dapat merepresentasikan stratigrafi daerah yang ditelitinya, kemudian membuat tampilan penampang tersebut sebaik mungkin dan menandai reflektor- reflektor non-stratigrafis, maka proses pembuatan diagram kronostratigrafi dapat dimulai. Proses ini akan dijelaskan dengan memakai gambar 5-1 sebagai acuan, dimana penampang seismik (gambar 5-1a) akan dikonversikan menjadi diagram kronostratigrafi (gambar 5-1e).

Ada satu hal yang perlu dicamkan yaitu bahwa setiap reflektor seismik mungkin tidak mewakili keseluruhan stratigrafi endapan yang diteliti dan bahwa diagram kronostratigrafi yang dihasilkan dari perekonstruksian ini bagaimanapun juga tidak akan dapat memberikan tampilan lengkap dari semua proses pengendapan yang pernah terjadi pada cekungan yang dianalisis. Tampilan lengkap mengenai perubahan pola pengendapan dari waktu ke waktu hanya akan dapat diperoleh apabila kita membuat diagram kronostratigrafi tiga dimensi atau menggabungkan sejumlah diagram kronostratigrafi dua dimensi.

5.2.1 Pemilihan Terminasi-Terminasi Reflektor

Reflektor seismik tidak memiliki penyebaran yang tidak terhingga. Bila sejumlah reflektor berakhir secara konsisten pada suatu bidang, maka bidang itu disebut bidang seismik (seismic surface). Tipe-tipe bidang seismik utamaseperti telah dibahas pada Bab 3adalah bidang downlap, onlap, toplap, truncation (nyata dan semu), serta bidang sesar. Semua istilah itu meng- indikasikan posisi bidang itu sebagaimana yang terlihat pada penampang (pada masa sekarang), sebagai produk gabungan dari geometri asal dan modifikasi yang terjadi kemudian akibat kompaksi dan aktivitas tektonik. Bidang-bidang seismik diberi tanda tersendiri seperti terlihat pada gambar 5-1b. Keberadaan bidang-bidang tersebut ditentukan dari reflektor seismik.

5.2.2 Identifikasi Bidang-Bidang Seismik

Terminasi reflektor-reflektor seismik terjadi karena berakhirnya bidang perlapisan atau kerena menipisnya perlapisan sedemikian rupa sehingga berada di bawah resolusi seismik. Dengan demikian, bidang seismik merupakan zona perubahan fasies dari endapan yang merepresentasikan laju sedimentasi relatif tinggi menuju endapan yang merepresentasikan laju sedimentasi yang rendah, nol, atau bahkan negatif (erosi). Ada tiga jenis bidang seismik utama, masing-masing memiliki

49

Sekuen Stratigrafi

Emery dkk (1996)

ekspresi kronostratigrafi yang berbeda (gambar 5-1b dan 5-1e). Adalah suatu hal yang penting untuk membedakan bidang- bidang tersebut dan hubungan terminasinya dalam diagram kronostratigrafi. Bidang-bidang seismik non-marin (non-marine seismic surfaces) merepresentasikan produk erosi non-marin, by-passing, dan/atau non pengendapan. Bidang tersebut ditindih oleh coastal onlap (yang mungkin dapat tererosi kembali sewaktu garis pantai mundur ke arah darat) dan menindih toplap atau erosional truncation. Dalam diagram kronostratigrafi, ruang yang merepresentasikan bidang tersebut mencakup daerah dimana dahulu strata batuan pernah diendapkan (dan kemudian tererosi kembali) serta ruang yang merepresentasikan non-pengendapan. Bidang-bidang seismik bahari (marine seismic surfaces) merepresentasikan waktu non-pengendapan bahari, kondensasi, dan/atau erosi. Bidang tersebut ditindih oleh marine onlap dan menindih bidang pemancungan semu, bidang pemancungan erosi bahari, atau oleh bidang keselarasan semu. Dalam diagram kronostratigrafi, ruang yang merepresentasikan bidang ini mencakup daerah dimana terjadi hiatus bahari dan kondensasi, dan mungkin pula mencakup wilayah dimana strata pernah diendapkan (namun kemudian tererosi kembali). Bidang sesar (fault-plane surface) merepresentasikan dislokasi strata akibat ekstensi, diapirisme, atau kompresi. Dalam diagram kronostratigrafi, ruang yang merepresentasikan bidang ini menyatakan tempat dimana batuan tidak ditemukan akibat ekstensi atau tempat dimana ditemukan duplikasi batuan akibat pemendekan. Bidang-bidang seismik melingkupi paket-paket pengendapan (atau systems tract). Paket-paket pengendapan itu merupakan unsur-unsur penyusun stratigrafi yang ingin kita plot ke dalam diagram kronostratigrafi. Pada gambar 5-1b, bidang-bidang seismik non-bahari hadir pada bagian kiri, kemudian menyebar ke sebelah kanan (ke arah cekungan) untuk kemudian berubah menjadi keselarasan semu. Batas antara satuan 2 dan 4 adalah bidang seismik non-bahari yang ditindih oleh coastal onlap dan menindih toplap. Bidang-bidang seismik di bagian kanan diagram itu cenderung merupakan bidang-bidang seismik bahari. Bidang-bidang yang disebut terakhir ini sebagian onlapping ke arah darat (bidang-bidang seismik antara 2 dan 4), sedangkan sebagian yang lain menerus ke arah darat menjadi keselarasan semu (batas antara 1 dan 2).

5.2.3 Penomoran Paket-Paket Seismik dan Reflektor-Reflektor yang Ada Didalamnya

Diagram kronostratigrafi memiliki sumbu vertikal yang berupa sumbu waktu. Reflekfor-reflekfor seismik perlu dirajahkan pada diagram tersebut sesuai dengan urut-urutan waktu pembentukannya. Karena itu, kita perlu memberi nomor kepada setiap reflektor itu, mulai dari nomor 1 untuk reflektor paling tua hingga nomor ke sekian untuk reflekfor termuda. Tahap pertama dalam usaha memberikan nomor kepada setiap reflektor adalah memberi nomor kepada setiap paket reflektor (systems tract), yang dibatasi oleh bidang-bidang seismik, dalam urut-urutan umur mulai dari yang paling tua hingga yang paling muda. Umumnya pekerjaan ini dapat dilaksanakan secara otomatis dan relatif mudah, terutama apabila data sumur mengenai umur setiap paket itu telah diperoleh. Walau demikian, dalam banyak kasus, kita hampir tidak mungkin dapat mengetahui umur relatif secara persis antara dua atau lebih systems tract yang tidak memiliki hubungan ruang secara langsung. Sebagai contoh, pada gambar 5-1b, kita tidak dapat mengetahui secara persis umur relatif systems tract 2 terhadap systems tract 3. Data umur, hingga tingkat tertentu, perlu dimiliki agar kita dapat membuat diagam kronostratigrafi yang dapat diandalkan. Namun, kalaupun hal itu tidak dapat diperoleh, kita perlu membuat pilihan arbiter yang didasarkan pada alasan yang dapat diterima. Setelah setiap paket batuan diberi nomor sesuai dengan umurnya, maka setiap refleksi yang ada dalam setiap paket itu pun diberi nomor sesuai dengan umurnya pula (gambar 5-1c). Sekali lagi pekerjaan ini pun tidak mungkin dapat dilakukan dengan benar-benar objektif.

5.2.4 Penerjemahan Reflektor ke dalam Skala Waktu

Setelah semua paket reflektor dapat diidentifikasikan dan ditempatkan dalam urut-urutan stratigrafi, maka pekerjaan tahap berikutnya mudah untuk dilakukan. Kita membuat sebuah diagram yang sumbu horizontalnya berkorespondensi dengan sumbu horizontal penampang seismik, sedangkan sumbu vertikalnya dibuat dalam skala tertentu untuk menyatakan umur setiap reflektor. Setelah itu, setiap reflektor dirajahkan ke dalam diagram tersebut, sesuai dengan umurnya, sebagai garis horizontal dengan posisi lateral sebagaimana yang terlihat pada penampang seismik. Sebagai contoh, refleksi nomor 1 dari gambar 5-1c diplot di dekat sumbu horizontal pada gambar 5-1d, pada posisi horizontal yang sama sebagaimana terlihat pada gambar 5-1c. 1 Pada diagram yang dihasilkan kita dapat menambahkan sejumlah tanda, misalnya geometri umum (topset, bottomset, clino- form) atau nama fasies seismik. Posisi offlap break diberi tanda pada refleksi klinoform-topset pada gambar 5-1d dengan sebuah titik. Selain itu, variasi ketebalan strata yang direpresentasikan oleh diagram itu juga dapat diberi simbol khusus, misal- nya dengan memberi tanda atau nilai ketebalan. Jangan memindahkan bidang-bidang seismik ke dalam diagram gambar 5-1d; objek yang dipindahkan hanyalah reflektor-reflekfor seismik.

5.2.5 Pengisian Diagram Kronostratigrafi

Bagian diagram kronostratigrafi yang ditutupi oleh garis-garis horizontal mereprentasikan pola pengendapan dalam kerangka ruang dan waktu. Paket-paket pengendapan diskrit sebagaimana diperlihatkan oleh reflektor seismik (yakni systems tract) akan muncul sebagai bagian-bagian diskrit yang disusun oleh oleh garis-garis horizontal. Batas bagian-bagian diskrit seperti itu dapat diberi nama atau warna sesuai dengan tipe terminasi reflektornya (onlap, downlap, truncation, sesar, dsb).

1