Anda di halaman 1dari 10

J. Tek. Reaktor. Nukl.

ISSN 1411–240X
Vol. 11 No. 1 Pebruari 2009, Hal. 52-61 Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007

KORELASI BARU KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS KONDENSASI UAP


YANG TERCAMPUR DENGAN GAS TAK-TERKONDENSASI

Diterima sekretariat 16 Desember 2008


Disetujui editror 03 Pebruari 2009
Surip Widodo
Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir (PTRKN),
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
E-mail: suripw@batan.go.id

ABSTRAK
KORELASI BARU KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS KONDENSASI UAP YANG
TERCAMPUR DENGAN GAS TAK TERKONDENSASI. Satu set percobaan kondensasi uap
yang tercampur dengan gas tak-terkondesasi (dalam hal ini: udara) telah dilakukan untuk
mengevaluasi kapasitas perpindahan panas unit pendingin pasif konsep baru di dalam sungkup
paska-kecelakaan. Koefisien perpindahan panas kondensasi pada pipa halus yang dipasang tegak
telah diperoleh menggunakan pendekatan tidak linier untuk tekanan total berkisar antara dari 0,2
MPa (abs) sampai 0,46 MPa (abs), fraksi massa udara berkisar dari 5% sampai 70% dan
temperatur sub dingin dinding berkisar dari 10 °C sampai 55 °C. Sebuah korelasi empiris
koefisien perpindahan panas kondensasi (hc), telah dikembangkan dalam bentuk sekumpulan
parameter yang terdiri dari fraksi massa udara (Wnc), total tekanan (Pt), dan temperatur sub dingin
dinding (Tsub). Korelasi ini mencakup semua nilai data berada dalam simpangan maksimum 25%.

Kata kunci: Korelasi, koefisien perpindahan panas, gas tak-terkondensasi

ABSTRACT
A set of condensation experiments in the presence of noncondensables gas (e.g. air) was
conducted to evaluate the heat removal capacity of a new concept of passive cooling unit in a
post-accident containment. Condensation heat transfer coefficients on a vertically mounted
smooth tube have been obtained using regression non-linear approach for total pressure ranging
from 0,2 MPa (abs) to 0,46 MPa (abs), air mass fraction ranging from 5% to 70% and wall sub
cooling temperature ranging from 10°C to 55°C. An empirical correlation for condensation heat
transfer coefficient (hc), has been developed in terms of a parameter group made up of air mass
fraction (Wnc), total pressure (Pt), and wall sub cooling temperature (Tsub). This correlation
covers all data points within 25%.

Key words: Correlation, heat transfer coefficient, non-condensable gas

PENDAHULUAN

Sistem pendingin sungkup pasif (Passive Containment Cooling System, PCCS)


merupakan salah satu sistem keselamatan yang beroperasi selama terjadi kecelakaan-
kecelakaan yang dipostulasikan dan berfungsi untuk mencegah terjadinya pemanasan dan
penekanan berlebih, serta patahnya sungkup yang disebabkan oleh energi panas. Pada
kondisi kecelakaan yang dipostulasikan uap yang berasal dari bejana reaktor akan
bercampur dengan udara, dan merupakan gas tak-terkondensasi yang berada di sungkup
reaktor. PCCS bekerja dengan cara memindahkan panas dari sungkup reaktor dan
melepaskannya ke lingkungan.

52
ISSN 1411–240X Korelasi Baru Koefisien Perpindahan .........
Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 (Surip Widodo)

Sebuah konsep tipe PCCS baru dengan tabung pemindah panas tegak telah
diusulkan oleh Aritomi dan Kawakubo[1,2]. Tipe PCCS baru ini dikembangkan untuk
mengatasi keterbatasan lamanya operasi yang diakibatkan oleh pembatasan kapasitas air di
dalam kolam pada disain PCCS yang telah ada sebelumnya[3,4]. Disain PCCS baru ini
berupa sistem pendingin rangkaian tertutup yang terpasang secara vertikal melewati
dinding bejana sungkup dan mendinginkan gas-gas yang ada di bejana sungkup, serta
didinginkan secara konveksi alam pada sisi luarnya. Konsep dari PCCS baru ini
diperlihatkan di Gambar 1.

Bejana Sungkup Reaktor

Alat Penukar Panas


Uap
Udara
Patah
Header Atas
RPV

Air
Pendingin

Tabung
Kondensor
Header Bawah Udara

Gambar 1. PCCS konsep baru dengan tabung kondensor[2]


Untuk keperluan perhitungan detail disain PCCS konsep baru ini, maka sebuah
korelasi koefisien perpindahan panas kondensasi uap yang tercampur dengan gas tak-
terkondensasi diperlukan. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan
korelasi koefisien perpindahan panas yang diperlukan berdasarkan hasil-hasil percobaan.
Dehbi dkk[5], telah meneliti pengaruh gas-gas tak terkondensasi pada kondensasi uap dalam
keadaan konveksi alam turbulence sedangkan Liu dkk[6], melakukan eksperimen untuk
kondensasi permukaan sisi luar pipa. Kedua eksperimen tersebut mempunyai kemiripan
dengan PCCS konsep baru, akan tetapi mereka mempunyai keterbatasan fraksi massa
udara. Dalam hal ini fraksi massa udara terendah masing-masing adalah 25% untuk Dehbi
dan 30% untuk H. Liu. Fraksi massa udara di sungkup reaktor pada kondisi kecelakaan
yang dipostulasikan kemungkinan dapat bernilai lebih rendah dari harga-harga tersebut.
Untuk keperluan jangkauan fraksi massa udara yang lebih lebar, maka penelitian
guna mengembangkan korelasi koefisien perpindahan panas kondensasi yang dapat
digunakan pada disain tipe PCCS baru ini telah dilakukan. Salah satu hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa korelasi yang dibuat oleh Dehbi dkk. adalah lebih rendah
dibandingkan dengan hasil percobaan yang telah dilakukan, meskipun korelasi tersebut
mempunyai kecenderungan yang serupa dengan hasil percobaan[7].
Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat korelasi baru koefisien perpindahan
panas kondensasi uap yang tercampur dengan gas tak-terkondensasi berdasarkan hasil
percobaan yang dilakukan. Korelasi ini nantinya dapat digunakan untuk melakukan
perhitungan perpindahan panas desain PCCS baru dengan tepat.

53
J. Tek. Reaktor. Nukl. ISSN 1411–240X
Vol. 11 No. 1 Pebruari 2009, Hal. 52-61 Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007

METODE PENELITIAN
Fasilitas Uji

Penelitian ini dilakukan di Aritomi laboratory, Research Laboratory for Nuclear


Reactors, Tokyo Institute of Technology, Jepang. Skema peralatan penelitian yang
digunakan ditunjukkan dalam Gambar 2. Komponen-komponen utama fasilitas percobaan
ini adalah tangki eksperimen (experimental tank), sistem pendingin, alat penukar panas
(heat exchanger), sistem instrumentasi dan sistem akuisisi data. Untuk meminimalkan
kehilangan panas ke lingkungan, maka semua komponen yang dipanasi diisolasi dengan
menggunakan bahan isolasi fiberglass.
Tangki eksperimen yang mensimulasikan sungkup reaktor dalam kondisi
kecelakaan terbuat dari bahan baja stainless dengan diameter dalam 500 mm dan panjang
tegak 2700 mm. Tangki eksperimen diisi dengan air sampai pada batas ketinggian yang
cukup untuk merendam enam buah pemanas. Total daya pemanas yang berada di dalam
tangki eksperimen adalah 10 kW. Pemanas ini memanaskan air yang berada di dalam tangki
eksperimen sampai mendidih guna membangkitkan uap, selanjutnya uap ini digunakan
untuk mengendalikan tekanan total tangki eksperimen. Pipa pendingin (bagian uji) yang
merupakan bagian sistem pendingin adalah baja stainless yang berdiameter dalam 10 mm
dan berdiameter luar 12 mm dengan tinggi bagian tegak adalah 1200 mm dan panjang
bagian mendatar 256 mm. Air pendingin disirkulasi di dalam sistem pendingin dengan
menggunakan pompa yang mempunyai kapasitas maksimum 4800 cm3/menit. Alat
penukar panas mempunyai diameter dalam 500 mm dan tinggi 755 mm. Alat penukar
panas mengendalikan temperatur masuk air pendingin serta juga tekanan sistem
pendingin.

Gambar 2. Skema peralatan eksperimen

54
ISSN 1411–240X Korelasi Baru Koefisien Perpindahan .........
Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 (Surip Widodo)

Sistem Instrumentasi

Temperatur ruangan gas tangki eksperimen diukur dengan menggunakan enam


buah termokopel yang disisipkan ke dalam ruangan gas dan didistribusikan secara tegak.
Sebagai tambahan, dua buah termokopel dipasang di permukaan luar dinding tangki untuk
mengukur temperatur dinding tangki. Temperatur pendingin di bagian uji diukur dengan
menggunakan enam buah termokopel. Temperatur air umpan pendingin yang berasal dari
alat pemindah panas diukur dengan menggunakan sebuah termokopel yang berada di
dalam alat penukar panas. Tekanan tangki eksperimen dan tekanan alat penukar panas
diukur dengan bourdon tube pressure gauge. Tiga pengukur aliran orifice digunakan
untuk mengukur laju alir volumetrik dari pendingin air di dalam sistem pendingin.
Kondisi uji ditampilkan di dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kondisi uji


Parameter Jangkauan
Tekanan total (MPa) 0,2 - 0,46
Fraksi massa udara (%) 5 - 70
Temperatur sub-dingin dinding (ºC) 10 - 55

Reduksi Data

Dalam kondisi tunak, distribusi temperatur gas campuran, temperatur dinding, dan
temperatur pendingin kondensor pipa tegak dapat ditunjukkan seperti pada Gambar 3.

Z Tg : temperatur gas campuran udara dan uap


Tc : temperatur air pendingin
Two : temperatur dinding pipa bagian luar
Tco λss Twi : temperatur dinding pipa bagian dalam
dZ Tg hc : koefisien perpindahan panas kondensasi
Tci hc hw : koefisien perpindahan panas konveksi di sisi
Twi Two pendingin
hw do : diameter luar pipa
Tc
di : diameter dalam pipa
Z : arah aliran pendingin
di/2 dZ : jarak antar termokopel.
do/2 Tci : temperatur pendingin masuk
Tco : temperatur pendingin keluar

Gambar 3. Distribusí temperatur pada kondensor pipa tegak


Di dalam eksperimen, temperatur campuran uap-udara (Tg) dan temperatur pendingin
(Tc) diukur. Fluks panas pada sisi permukaan luar tabung pemindah panas ( q′′ ) serta
koefisien perpindahan panas menyeluruh (K) didefinisikan oleh persamaan-persamaan
berikut:

55
J. Tek. Reaktor. Nukl. ISSN 1411–240X
Vol. 11 No. 1 Pebruari 2009, Hal. 52-61 Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007

q′′ = K ∆tm (1)


T − Tci (2)
∆t m = co
T g − Tci
ln
T g − Tco

1 1 d ⎛d ⎞ 1 (3)
= + o ln⎜⎜ o ⎟⎟ +
K hc 2λss ⎝ d i ⎠ hw
Besaran Tci dan Tco masing-masing adalah temperatur pendingin pada bagian sisi masuk
dan bagian sisi keluar. Diameter luar dan diameter dalam tabung pemindah panas masing-
masing dengan notasi do dan di. Sementara itu λ ss adalah konduktivitas panas tabung
pemindah panas, hw adalah koefisien perpindahan panas di sisi pendingin dan hc adalah
koefisien perpindahan panas kondensasi. Bagian kedua pada sisi kanan dari persamaan (3)
dapat dihitung berdasarkan dimensi dan sifat fisika dari tabung pemindah panas. Koefisien
perpindahan panas sisi pendingin (hw) dapat dihitung dengan menggunakan korelasi
perpindahan panas konveksi paksa berdasarkan kondisi aliran pendingin. Untuk aliran air
pendingin dalam kondisi turbulen dapat diterapkan rumus empiris Dittus-Boelter:
h d
Nu = w i = 0, 023Re0,8 Pr 0,4
(4)
λw
Besaran λ w adalah konduktivitas panas air, Re dan Pr adalah bilangan Reynolds dan
bilangan Prandtl. Oleh karenanya, koefisien perpindahan panas kondensasi, hc, dapat
dihitung apabila perpindahan panas lokal diketahui.
Dari variasi temperatur pendingin, fluks panas rata-rata ( q ′′ ) antara bagian-bagian yang
diukur dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut:
q′′dA = G ρ c p dTc (5)

dTc G ρ c p dTc
q′′ = G ρ c p =
dA π d o dZ

Besaran G adalah laju alir volumetrik pendingin, ρ mewakili kerapatan pendingin, cp


adalah panas spesifik air pada tekanan tetap.

Evaluasi Fraksi Massa Udara

Konsentrasi udara dapat di hitung berdasarkan temperatur uap. Dengan


menganggap bahwa uap dalam keadaan jenuh untuk setiap temperatur yang ada, maka
tekanan parsial udara, Pa, diberikan oleh
Pa = Pt − Ps (Tg ) (6)
Besaran Pt adalah tekanan total sistem dan Ps(Tg) adalah tekanan jenuh uap pada
temperatur Tg. Dengan menggunakan hukum-hukum gas ideal untuk uap dan udara,
maka perbandingan massa udara (ma) terhadap uap (ms) dapat dinyatakan dalam bentuk:

56
ISSN 1411–240X Korelasi Baru Koefisien Perpindahan .........
Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 (Surip Widodo)

ma ⎛ Pa ⎞ ⎛ M a ⎞ ⎛ Pa ⎞ ⎛ 29 ⎞ (7)
=⎜ ⎟⎜ ⎟⎟ = ⎜⎜ ⎟⎟ ⎜ ⎟
ms ⎜⎝ Ps (Tg ) ⎟⎠ ⎜⎝ M s ⎠ ⎝ Ps (Tg ) ⎠ ⎝ 18 ⎠
⎛ P − Ps (Tg ) ⎞
= 1.61 ⎜⎜ t ⎟⎟
⎝ Ps (Tg ) ⎠
Jika Ma dan Ms masing-masing adalah berat molekul udara dan uap, maka fraksi massa
udara (Wnc) dapat dihitung dengan persamaan:
ma ⎛ P − Ps (Tg ) ⎞ (8)
1.61⎜ t ⎟
Wnc =
ma
=
ms
= ⎝ Ps (Tg ) ⎠
ma + ms 1 + ma ⎛ P − Ps (Tg ) ⎞
1 + 1.61⎜ t ⎟
ms ⎝ Ps (Tg ) ⎠

Evaluasi Temperatur Sub-dingin Dinding

Temperatur dinding tabung bagian luar (Two) dihitung berdasarkan hubungan berikut ini
(
q′′ = hc Tg − Two ) (9)
Karena campuran uap dan udara diasumsikan dalam kondisi jenuh, maka temperatur sub-
dingin dinding Tsub adalah sama dengan (Tg-Two).

Analisis Data

Analisis hubungan tidak linier digunakan untuk menyatakan hubungan koefisien


perpindahan panas kondensasi (hc) dengan fraksi massa udara (Wnc), tekanan total sistem
(Pt), dan temperatur sub-dingin dinding (Tsub). Pendekatan yang dilakukan oleh peneliti
sebelumnya, Dehbi dkk[5], digunakan dalam analisis data. Koefisien perpindahan panas
kondensasi, hc, dinyatakan dalam bentuk:
h (W , P , T ) = F (W , P )T δ
c nc t sub nc t sub
(10)

di mana F dan δ ditentukan secara percobaan. Lebih lanjut F(Wnc, Pt) dinyatakan dalam
bentuk:
F(Wnc, Pt) = (A + B Pt) – (C + D Pt ) Log10 (Wnc) (11)
Pencarian besaran δ, A, B, C dan D dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat
lunak DATAFIT (Oakdale Engineering) [8]

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Wnc > 20%

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, untuk kondisi Wnc lebih
besar dari 20%, diperoleh nilai δ = - 0,35 sehingga persamaan 10 dapat dinyatakan dalam
bentuk

57
J. Tek. Reaktor. Nukl. ISSN 1411–240X
Vol. 11 No. 1 Pebruari 2009, Hal. 52-61 Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007

hc (12)
F (Wnc , Pt ) =
− 0,35
Tsub
Berdasarkan hc dari hasil analisis data maka fungsi persamaan (12) dapat ditunjukkan di
Gambar 4. Untuk masing-masing tekanan, dapat dilihat bahwa laju kondensasi terhadap
fraksi massa udara cenderung berbentuk grafik logaritmik, seperti yang telah diduga
sebelumnya.
Setelah dilakukan regresi non-linear, untuk masing-masing tekanan, laju kondensasi dapat
dinyatakan sebagai berikut:
F(Wnc, Pt) = 9466,36 – 4602,35 log10 (Wnc) untuk Pt = 0,2 Mpa.
F(Wnc, Pt) = 12780,19 – 6374,44 log10 (Wnc) untuk Pt = 0,3 MPa
F(Wnc, Pt) = 15930,45 – 8057,52 log10 (Wnc) untuk Pt = 0,4 MPa
F(Wnc, Pt) = 19592,31 – 10148,71 log10 (Wnc) untuk Pt = 0,46 MPa
Kondisi di atas disederhanakan lebih lanjut berdasarkan persamaan (11). Hasil yang
didapat dapat dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut:

F(Wnc, Pt) = (1688,81 + 37510,35 Pt) – (339,71 + 20458,94 Pt ) Log10 (Wnc) (13)

5000
Data Percobaan Hasil Regresi
Pt= 0,2 MPa P t= 0,2 MPa
Pt= 0,3 MPa P t= 0,3 MPa
4000 Pt= 0,4 MPa P t=0 ,4 MPa
Pt= 0,46 MPa P t= 0,46 MPa

3000
F(Pt,Wnc)

2000

1000

0
20 30 40 50 60 70
W nc (%)

Gambar 4. Pengaruh tekanan pada laju kondensasi untuk fraksi massa udara > 20 %

Dengan menggabungkan persamaan (12) dan (13) dapat dibentuk korelasi koefisien
perpindahan panas kondensasi sebagai berikut:
(1688,81 + 37510,35 Pt ) - (339,71 + 20458,94 Pt ) Log10 (Wnc ) (14)
hc =
Tsub
0,35

58
ISSN 1411–240X Korelasi Baru Koefisien Perpindahan .........
Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 (Surip Widodo)

dengan :
Wnc > 20%
0,2 MPa < Pt < 0,46 MPa
10°C < Tsub < 55 °C
Perbandingan antara koefisien perpindahan panas kondensasi berdasarkan korelasi
baru dengan koefisien perpindahan panas kondensasi percobaan diperlihatkan pada
Gambar 5. Dapat dilihat bahwa sebagian besar data berada di dalam penyimpangan
maksimum 10% dari nilai korelasi baru. Sebagian data berada di luar penyimpangan
maksimum 10% tetapi berada di dalam penyimpangan maksimum 25% . kelompok data
yang terakhir ini adalah data yang mempunyai Tsub lebih rendah dari 15°C. Hal ini terjadi
karena dalam percobaan ini diasumsikan bahwa perpindahan panas secara konveksi dari gas
ke dinding pipa merupakan bagian perpindahan panas kondensasi. Karena turunnya Tsub
akan mengakibatkan berkurangnya besar perpindahan panas konveksi dari gas ke air
pendingin melalui dinding pipa.

2000
Korelasi baru
Pt= 0,2 MPa 10%
Pt= 0,3 MPa 25 %
Pt= 0,4 MPa
1500 Pt= 0,46 MPa
-10%
hc eksperimen (W/m K)
2

-25%

1000

500

00 500 1000 1500 2000


2
hc korelasi baru (W/m K)

Gambar 5. Perbandingan nilai korelasi baru koefisien perpindahan panas kondensasi


dengan hasil percobaan untuk kondisi Wnc > 20%.

Kondisi Wnc ≤ 20%

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, untuk kondisi Wnc lebih
kecil dari 20%, diperoleh nilai δ = - 0,479 sehingga persamaan (10) dapat dinyatakan dalam
bentuk :
hc (15)
F (Wnc , Pt ) =
− 0,479
Tsub

59
J. Tek. Reaktor. Nukl. ISSN 1411–240X
Vol. 11 No. 1 Pebruari 2009, Hal. 52-61 Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007

Nilai δ yang besar ini menunjukkan bahwa pengaruh Tsub terhadap koefisien perpindahan
panas kondensasi lebih besar untuk kondisi Wnc ≤ 20% dibandingkan untuk kondisi Wnc >
20%.
Dengan menggunakan cara regresi tidak linier yang sama untuk kasus Wnc > 20%, dan
dengan dasar persamaan (11), laju kondensasi dapat dinyatakan dalam bentuk sebagai
berikut:

F(Wnc, Pt) = (7555,40 + 24521,96 Pt) – (3972,89 + 8050,09 Pt ) Log10 (Wnc) (16)

Dengan menggabungkan persamaan 15 dan 16 dapat dibentuk korelasi koefisien


perpindahan panas kondensasi sebagai berikut:

(7555,40 + 24521,96 Pt )- (3972,89 + 8050,09 Pt ) Log10 (Wnc ) (17)


hc =
Tsub
0,479

dengan :
Wnc ≤ 20%
0,2 MPa < Pt < 0,4 MPa
20°C < Tsub < 55 °C
Gambar 6 memperlihatkan perbandingan antara koefisien perpindahan panas
kondensasi berdasarkan korelasi baru dengan koefisien perpindahan panas kondensasi dari
percobaan untuk kondisi Wnc ≤ 20%. Semua data berada di penyimpangan maksimum 25%
dari nilai korelasi baru.

2500
K orelasi baru
Pt= 0,2 MPa 10%
Pt= 0,3 MPa
2000 Pt= 0,4 MPa 25 %
-10%
hc eksperimen (W/m K)
2

1500 -25%

1000

500

00 500 1000 1500 2000 2500


2
hc korelasi baru (W/m K)

Gambar 6. Perbandingan nilai korelasi baru koefisien perpindahan panas kondensasi


dengan hasil percobaan untuk kondisi Wnc ≤ 20%.

60
ISSN 1411–240X Korelasi Baru Koefisien Perpindahan .........
Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 (Surip Widodo)

KESIMPULAN

Korelasi baru koefisien perpindahan panas kondensasi uap yang tercampur dengan
gas tak-terkondensasi (hc) yang dinyatakan dalam bentuk fraksi massa udara (Wnc), total
tekanan (Pt), dan temperatur sub dingin dinding (Tsub) mencakup semua nilai koefisien
perpindahan panas kondensasi hasil percobaan dengan simpangan maksimum 25 %

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Mr. M. Kawakubo, DR. H. Kikura, dan


Prof. M. Aritomi di Aritomi Laboratory, Research Laboratory for Nuclear Reactors
Tokyo Institute of Technology atas kesempatan dan bimbingannya dalam pelaksanaan
percobaan ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Nuclear Safety
Research Association of JAPAN (NSRA) atas dukungannya melalui program MEXT
University Course, tahun 2006-2007.

DAFTAR PUSTAKA

1. Aritomi M. et al., “Fundamental Research on Concept of Passive Containment


Cooling System”, Technical report, Tokyo Inst. Tech., Japan Atomic Power
Company (2003), 4-26, . in Japanese.
2. Kawakubo. M. et al., “Fundamental Research on the Cooling Characteristric
of Passive Containment Cooling System”, 12th International Conference on
Nuclear Engineering, ICONE12-49330, (2004), 1-6.
3. Duncan J.D., “SBWR, a Simplified Boiling Water Reactor”, Nuclear
Engineering Design, 109, (1988) ,73-77.
4. Upton H.A., et al., “Simplified Boiling Water Reactor Passive Safety Feature”,
2nd ASME/JSME International Conference on Nuclear Engineering, San
Francisco, Vol.1 (1993), 705-712.
5. Dehbi A.A., Golay M.W. and Kazimi M.S., “The Effects of Noncondensable
Gases on the Steam Condensation under Turbulent Natural Convection
Conditions”, Report No. MITANP- TR-004, June, 1990
6. Liu H. et al.. “An Experimental Investigation of a Passive Cooling Unit for
Nuclear Plant Containment.”, Nuclear Engineering Design, Vol. 199, (1999),
243-255
7. Widodo S. dkk. “Karakterisasi Perpindahan Panas Kondensasi pada Fasilitas
Eksperimen Passive Containment Cooling System”, disampaikan pada
Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi Nuklir di Yogyakarta, 2008
8. Oakdale Engineering, “Online Help DataFit version 9.0.59”, 2008.

61