Anda di halaman 1dari 9

c

Ê Ê

   

c Ê  

Cidera kepaala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau


garis pada tulang tengkorak yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh
perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan percepatan, serta
rotasi yaitu pergerakan pad akepala yang dirasakan oleh otak.

a c x  
½c Yenulis dapat memperoleh pengetahuan tentang merawat pasien cedera
kepala.
½c ahasiswa mengetahui apa itu cedera kepala.

c
c
c

Ê Ê

 x

c 

Cedera kepala pada dasarnya dikenal dua macam mekanisme trauma yang
mengenai kepala yakni benturan dan goncangan. Berdasarkan GCS maka cedera
kepala dibagi menjadi tiga gradasi yaitu cedera kepala ringan bila nilai GCS 13-
15, cedera kepala sedang bila nilai GCS 9-12, cedera kepal berat bila nilai kurang
atau sama dengan Nol.

 c  
èc ecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan
mobil.
èc ecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
èc Cedera akibat kekerasan.

3 c  
1.c Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak
membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda
tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan
(deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak
bergerak, seperti badan mobil atau tanah. edua kekuatan ini mungkin
terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa
kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara
kasar dan cepat. ekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan
posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan
robekan pada substansi alba dan batang otak.
2.c Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena
memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau
hemoragi.

c
c
c

3.c Cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral


dikurangi atau tak ada pada area cedera. onsekuensinya meliputi
hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan
permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan
peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan
intrakranial (TI). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera
otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.

M c   
èc milangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
èc ebungungan
èc Yucat
èc ual dan muntah
èc Yusing kepala
èc Terdapat hematoma
èc ecemasan
èc Sukar untuk dibangunkan
èc Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung
(rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

 c     

onservatif :

èc Bedress total
èc Yemberian obat-obatan
èc 0bservasi TTVdan tingkat kesadaran

 c M       


1.c Epidural mematom
Tanda dan gejala :
èc Yenurunan tingkat kesadaran
èc Nyeri kepala, mual, muntah

c
c
c

èc Vilatasi pupil ipsilateral


èc Yernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal, irreguler
èc Yenurunan nadi dan peningkatan suhu
2.c Subdural mematoma
Tanda dan gejala :
èc Nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berpiikir lambat,
tegang dan oidema pupil
3.c Yerdarahan Intraserebral
Tanda dan gejala :
èc Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan,
dilatasi pupil, perubahan TTV
4.c Yerubahan Subaracknoid
Tanda dan gejala :
èc Nyeri kepala, penurunan kesadaran, kaku kuduk

 c    


èc CT Scan
èc ngiography
èc  -Ray
èc GV
èc Elektrik

c
c
c

Ê Ê

     x 

c   
½c Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat
kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan
segera setelah kejadian.
½c Yemeriksaan fisik
½c Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot,
hiperventilasi, ataksik)
½c ardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh YTI
½c Sistem saraf :
½c esadaran à GCS.
½c üungsi saraf kranial à trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan
melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.
½c üungsi sensori-motor à adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan
diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia, riwayat kejang.
½c Sistem pencernaan
½c Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan,
kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak.
½c Îaspadai fungsi Vm, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
½c Retensi urine, konstipasi, inkontinensia.
½c emampuan bergerak : kerusakan area motorik à hemiparesis/plegia,
gangguan gerak volunter, R0, kekuatan otot.
½c emampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan à disfagia
atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
½c Ysikososial à data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat
pasien dari keluarga.

c
c
c

Ê c   
a.c Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola
nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi
pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
b.c Yerubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral
dan peningkatan tekanan intrakranial.
 c  !
a.c Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas
berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi
pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
½c Tujuan : Yola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai
dengan tidak ada sesak atau kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan
pernafasan dalam batas normal.
½c Intervensi :
Àc aji irway, Breathing, Circulasi.
Àc aji anak, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada
hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam
mengatur posisi bila ada cedera vertebra.
Àc Yastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada
sekret segera lakukan pengisapan lendir.
Àc aji status pernafasan kedalamannya, usaha dalam bernafas.
Àc Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi
dan tinggikan 15 ± 30 derajat.
Àc Yemberian oksigen sesuai program.
b.c Yerubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral
dan peningkatan tekanan intrakranial.
½c Tujuan : Yerfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak
ada pusing hebat, kesadaran tidak menurun, dan tidak terdapat tanda-
tanda peningkatan tekanan intrakranial.
½c Intervensi :
Àc Tinggikan posisi kepala 15 ± 30 derajat dengan posisi ³midline´
untuk menurunkan tekanan vena jugularis.

c
c
c

Àc mindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan


tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher, rotasi
kepala, valsava meneuver, rangsangan nyeri, prosedur
(peningkatan lendir atau suction, perkusi).
Àc tekanan pada vena leher, pembalikan posisi dari samping ke
samping (dapat menyebabkan kompresi pada vena leher).
Àc Berikan pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver.
Àc ciptakan lingkungan yang tenang, gunakan sentuhan therapeutic,
hindari percakapan yang emosional.
Àc Yemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan
intrakranial sesuai program.
Àc Yemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan
karena dapat meningkatkan edema serebral.
Àc onitor intake dan out put.
Àc ›akukan kateterisasi bila ada indikasi.
Àc ›akukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi
dan pemenuhan nutrisi.

c c

c
c
c

Ê Ê"

x

c #  

Trauma kepala terdiri dari trauma kulit kepala, tulang kranial dan otak.
lasifikasi cedera kepala meliputi trauma kepala tertutup dan trauma kepala
terbuka yang diakibatkan oleh mekanisme cedera yaitu cedera percepatan
(aselerasi) dan cedera perlambatan (deselerasi).

Cedera kepala primer pada trauma kepala menyebabkan edema serebral,


laserasi atau hemorragi. Sedangkan cedera kepala sekunder pada trauma
kepala menyebabkan berkurangnya kemampuan autoregulasi pang pada
akhirnya menyebabkan terjadinya hiperemia (peningkatan volume darah dan
YTI). Selain itu juga dapat menyebabkan terjadinya cedera fokal serta
cedera otak menyebar yang berkaitan dengan kerusakan otak menyeluruh.

omplikasi dari trauma kepala adalah hemorragi, infeksi, odema dan


herniasi. Yenatalaksanaan pada pasien dengan trauma kepala adalah dilakukan
observasi dalam 24 jam, tirah baring, jika pasien muntah harus dipuasakan
terlebih dahulu dan kolaborasi untuk pemberian program terapi serta tindakan
pembedahan.

c
c
c

 $x x  

1)c mudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik , Volume II.
Jakarta: EGC; 1996.
2)c Cecily ›B & ›inda S. Êuku Saku Keperawatan Pediatrik . Edisi 3.
Jakarta: EGC; 2000.
 c Suzanne CS & Brenda GB. Êuku Ajar Medikal Êedah . Edisi 8. Volume 3.
Jakarta: EGC; 1999.c

c
c