Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

Ya. Ya sangat dalam. naluriku memaksaku berpikiran begitu. dia menangis. Aku menunduk. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Siapa tahu itu tangis buaya. http://www. Dengan langkah yang gagah. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. alat pemotong kaca.processtext. penuh kerut-merut. Entah kenapa. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. agar tidak konyol dicincang massa. Orang itu merasa serba salah. atau benda lainnya.html berbisik. Tapi. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Hujan turun makin deras. drei. Perasaanku campur aduk. menyiapkan berbagai peralatan. Maka. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Dengan bahasa isyarat. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Kuamati orang itu. Maling pun tetap harus serius. aku selalu waspada. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. kuambil jarak beberapa depa. . Ia mencoba memberiku segumpal daging. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. pukul besi. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. Rupanya ia tanggap. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit. Kudekati dia. dan siap dihunjamkan di perutku. Dia memandangku. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. alat pemotong besi. karena dulu. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. linggis kecil dan masih banyak yang lain. Tuhan. Aku tahu itu. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. mengenai kakinya. Aku pun menurut. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Melihat urat-uratnya. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. Kukibaskan ekorku. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. orang itu telah keluar membawa bungkusan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi aku menolak dengan halus. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Dari tempias cahaya lampu. Tangannya mengelus-elus kepalaku. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. ia menjumpaiku. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. ada besi pengungkit. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. hand phone. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Ia pelan-pelan bangkit.com/abclit. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol.

Muncrat darah merah dari dadanya. Sial. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Aku menggonggong makin keras. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Edisi 05/21/2006 Malam itu. Tangis itu sangat panjang dan dalam. ia menghentikan kegiatan itu. hingga orang-orang pun keluar rumah. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. http://www. Entah kenapa. . Senapannya terus menyalak.com/abclit. maling itu tetap diam. Ia tersedu-sedu. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. Mereka mengelu-elukan aku. muncul kilat.html Tapi aku merasa kehilangan selera makan.processtext. Melihat mata ibu. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. Ia tampak panik. Terus menatapku. Aku memaksanya lari. seperti menatapku. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. Makin keras. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Orang itu tumbang. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. Aku menggonggong sangat keras. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. tangis anak dan istrinya. Aneh. Tiba-tiba saja. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. penuh kesunyian. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. makin berkurang. rebah ke tanah. dan berharap ia segera berlari. dan canggung. akhirnya. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Aku sangat panik. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Bahkan. Aku masih mendengar tangisnya. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku.

Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. Namun. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah. Dan memang semestinya demikian. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu... karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. Ia memang selalu dimanjakan. Tubuhnya sampai gemetaran. Tidak. apa? . ia pun tidak menangis.html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur.. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. (Mungkin pula. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. ia juga tak menangis.processtext. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. Namun. tak lama berselang. besok. Ayah berhenti memukul ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Namun ia takut pada ayah. ampun pak. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Pastor dari paroki datang. http://www. Ketika kanak-kanak. Batu penggilingan? . Dan ibu menjerit-jerit lagi. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. Monang mencari-cari pisau. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. ayah mendengus. Kayu bakar? .com/abclit. Beberapa kali. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya. Ayahnya pasti bisa menghindar! . Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau.. Dan lebih lagi. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. "Ampun. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Ah. dalam pikiran ayah." katanya.. Tapi. Monang berlari ke dapur. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Tapi. di ruang dalam. minyak tanah! . Waktu ayah meninggal. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya.. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Seumur-umur Monang jarang menangis. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. lalu memukuli ibu lagi. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. Monang minta digantikan. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Tapi. Minyak tanah. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. ia tetap bergeming. Ia minta ijin pulang...

tapi menahan diri.processtext. "Maafkanlah anakmu ini. Lalu berbalik. maka aku tidak membakar kamar ini. ayah.!" . Di tengah samudera itu. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya.. Namun. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi. "Ayah. ayah. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya..!" panggil Monang.html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar. http://www.. Ia tak menjawab. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu...?" suara si ayah pelan.com/abclit. Ayah menoleh.. menghadap Monang menatap mata sang ayah. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. Sebab. "Mo-nang. Tapi tangis ibu yang lirih itu. ada sebuah perahu yang terombang-ambing. Ia merasa diajari seperti anak kecil. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya.. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat.. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. Dan tetap tak menjawab. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana.Generated by ABC Amber LIT Converter... di malam pekat.. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!.

. Serasa sekejap. Berikutnya..?" ayah bergerak pelan mendekati Monang. Lama. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca....html "Kau. "Ya." Monang bergerak pelan mundur. . berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi.!" "Kau. ayah. tetap di situ. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai.! Ya..com/abclit. "Ayah..!" tangis ibu.processtext. "Berhenti di situ. Nak.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Ayah menggelengkan kepala. "Ya. Kemudian ayah tertegun. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya. ayah berlutut dengan punggung tegak..!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung... ayah.... http://www. Monang terkejut mendengarnya. Ibu pun demikian. "Jangan.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. lalu menghela napas panjang. Tuhan. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. Mulai hari ini.

. Hingga kini. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam.com/abclit." katanya.." Sungguh. ayahnya sudah meninggal. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir. Tapi menurut Monang. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi. Monang terkesiap mendengar janji ayah.. Monang membersihkan kelopak matanya.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian... Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?.. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya.?" Monang menenangkan hati. "Engkau harus pulang sekarang. Monang.." suara kak Nurma terputus. "I-ibu. Kerabatmu datang menjemput. Ayahmu sakit keras. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. waktu itu. >diaC< Telepon genggam berbunyi.?" ... Namun.... Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal. "Ya... Allah. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu... Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan... "I-i-ibu kenapa. http://www. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi. Dan akhirnya. Berdoa?. waktu itu.processtext. Kak...Generated by ABC Amber LIT Converter.. Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya.. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka..

..?" "Mo-nang. Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini.. I-i-ibuu.?" .. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan.. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu. Nak?" "Beginilah tukang koran. Jantungnya berdetak lebih cepat..... Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang.. Nak.. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau. ibu mau juga ikut......processtext. permintaan! Monang terdiam.. "Aku tukang mabuk. nanti aku merepotkan mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok.. Bu.." jawab ibu waktu itu.com/abclit. tapi ini penting..... http://www. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?.!" Oo. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok...html "Nah... Kak." "Ibu kenapa.? "Ya.. Tapi...?" "Mmm. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. Namun.?" Monang mengangguk dan lega. "Mo-nang? Kau mendengar aku. Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi.. "Kau belum tidur.

Namun..Generated by ABC Amber LIT Converter..... Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi... Ya. "Aku tahu keadaanmu. "Hallo. Aku tahu hatimu!" katanya... http://www. Tapi lima bulan kemudian. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya.. Bu.!" "Mm.. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. ya.. ah! Lalu apa permintaan ibu?.. Bu.. Tak ada yang sempat mengantarkan. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi.. iya. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya.. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak. sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. anak mereka sakit dan mesti dioperasi. Si ibu menguatkan hatinya. Betapa.. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon. Ibu tak bisa menginap di rumahmu.. Nak. ia bertekad membahagiakan ibu. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. Bu. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka. "Kenapa putus?" "Habis baterei." . Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu..." "Oo. Nak.." Terputus. Monang dan istrinya kekurangan biaya. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu... Maafkanlah.com/abclit.html "Mm. Tak apa-apa. Nanti terganggu usaha koranmu." "Lusa Ibu pulang." Ah.. menantu dan cucu-cucuku..i-i-iya.processtext." kata ibu dari seberang sana. Nak. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya.

.. ." Monang ingat. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. ada kak Nurma di situ." Monang memasang pendengaran baik-baik. di sebelahku...... Bu. "Permintaanku?" "Ya...! Katakanlah apa permintaanmu itu." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ.. Bu. "Tapi. Berpantun pun. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang. dan pohon-pohon bambu memagari kampung. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya.. http://www. "Monang? Kau mendengarku kan. di kampungnya ada pohon mangga...com/abclit. Monang. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening..?" "Iiya. "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ. Lantas?. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu.. Pemiliknya Ompung Ojak. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang.html "Ibu. dua hari sebelum aku berangkat ke sini." kata Monang akhirnya. Dan.. Ia ingat." Monang menghela nafas. Teruskanlah.......processtext...?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa. Kau ingat tempat itu. Bila kayu bakar di rumah habis.?" Monang mengiyakan. pohon johar.Generated by ABC Amber LIT Converter.. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya..

?" "Ada. Diam beberapa saat..!" "Bagus. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur.. Nak. Bu... Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya. aku akan beritahu Ompung Ojak." "Satu batang digunakan sebagai peti. "Baiklah... Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga.... Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar.html Sepeninggal ayah..... kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?. tinggal Ibu.com/abclit." "Apa. Bu? Ibu kan masih sehat." "Terus..!" Monang mengangguk.. ibulah yang selalu menyuruhnya.?" Oh..... Kalau pohon johar. Bu..Generated by ABC Amber LIT Converter. Nak. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak. Sepulang dari sini. "Lagi pula. Nai Manjur sudah meninggal.... maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. http://www.. Nak.. Bagaimana.. tak ada anak-anaknya yang di kampung. Nak. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang.processtext. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang. "Sekarang dengarlah baik-baik... Ibu! Monang menarik nafas.." . Nak.." jawab ibu cepat..?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu. maka ditebang yang tidak lurus.

Aku ingin menyenangkan hatimu.... sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok. Menelepon. Menelepon..!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya. Dia tersenyum. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya..processtext. Ibu.!" Tut-tut-tut. seperti yang kakak-kakak lakukan. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Keindahan memang tak bisa diam.. http://www. Pergelangan tangan itu ngukel1. Sekali lagi dia tersenyum.. ... Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana... Aku ingin ada kacanya juga." "Ibu. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. Monang menelepon.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Bu.. lalu telunjuknya menjentik. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan...html "Ibu masih kuat. Nak.

Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. "Aku ingin menari. Airmatanya beku. suaminya tak menjawab apa-apa. makan. Malam ini. tentu akan lain ceritanya. si ABG-itu. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. Wening hanya diam. entah ada di ufuk mana saat ini. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Bang Irfan sendiri. akan diberi untaian melati. mengkristal di dinginnya malam. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. . nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. harus masuk sangkar. Berdiri luka. rajangan dadar. kering tempe. tetapi inilah hidupnya. hampir dua puluh tahun lalu. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini.samar. Anak. boleh ya. Sepi kian runcing. Sejak hampir sebulan ini. sudah punah. mungkin pergi dengan pacarnya. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. Tetapi. Kadang begitu datang. Bang?" bisiknya suatu malam. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah. Dia berada di tandu.html Dibayangkannya. yang oleh Mas Ondi—penata busana. dan dia bukan lagi Si Wening. mencium kening istrinya. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. Wening si walet. Jadi. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. Neny. Barangkali saja. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. ketimun. abon. mandi. duduk luka. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. mengeluarkan baju-baju dari koper. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. Tetapi. lalu menghilang di kamar kerjanya.anaknya entah ke mana. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. dan menusuknya tanpa kata. Wening si prenjak telah musnah. sudah mendengkur kelelahan. Ah. tetapi menebarkan harum yang samar. siap senyum. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. Waktu terlipat oleh kecepatan. Sony. Dan sejak itu. yang harus selalu menjaga penampilan. Wening si bunga matahari. seperti tangan penari. sejak 25 tahun yang lalu. entah siapa yang menjadi biang keladinya. tak banyak bicara. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi.com/abclit. setelah mereguk kenikmatan. sesuatu yang mustahil sebetulnya. si sulung.processtext. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. tak banyak gerak. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya. nantinya.

com/abclit. rapi. Dialah Drupadi berambut panjang itu. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya. Aku lebih suka kau . ". "Kenapa.." bisik suaminya. Itu saja. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa." "Kalau begitu. Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Maka pembicaraan itu terkunci di situ. cermin. Bang?" "Tidak boleh. Dia ingin menjelma Drupadi. entah kapan.. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday. http://www.. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya.." "Aku enggak suka tarian. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua.html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Album foto pentas terakhirnya." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku . Apa susahnya?" ucap Bang Irfan. Wening beku. dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari.." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan.... karena kau istriku.. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh.Generated by ABC Amber LIT Converter. segalanya. Mereka bergerak dalam diam. Tetapi tak ada dari Bang Irfan. hening.. atau apa pun impiannya. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya. Hidupnya memang menjadi barang taruhan.processtext. bahkan sms.... Dia ingin menari... Dan jiwa itu. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak.... enggak pakai ini. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian. Dialah dengan kain panjang . Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya.. Aku memberimu semuanya." dari Neny sebelum pergi. biar aku menari untuk Abang saja. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya. Mom. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti.

"Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. dan karenanya. Tetapi. tertiup pendingin udara. manakah Wening dan manakah Drupadi.. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. yang menciptakan jarak sepi. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". dia selalu lantang menjawab. Akan kuajarkan kepada kalian. Wening ingat. http://www. ajaklah dia berbicara. Tepuk tangan berkepanjangan. Bang Irfan pulang. Biarkan matamu menangkapnya. menaiki tangga. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan.. Izinkan dia bersamaku malam ini. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup. Dan penonton memang tak bisa membedakan. menyedot seluruh pancaindera penonton. melintas perlahan di karpet merah. membelah kerumunan penonton yang masih di luar. Jiwamu lebih halus. Wening bangkit dari tempat duduknya. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. memasuki pintu. membiarkan dengung gong pertama bergema. wahai makhluk bumi. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. . malam itu. Mereka terhenti di suatu ruang.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Akulah keindahan. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. Cahaya lampu berkebit." jawabnya agak polos dan kekanakan. Langkah yang sudah dihafalnya benar. berjalan dari pelataran GKJ. menggema. GKJ pecah. berulang. Dalam gemulai geraknya. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum. Itulah yang menggerakkan Drupadi. maka kau akan dilimpahi cahaya. melangkah hati-hati. menghidupkannya dalam sebuah lakon.com/abclit.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. membiarkan berpuluh. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. memberikan keheningan. "jadi penari. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku.. bahwa inilah jiwa kalian.

Generated by ABC Amber LIT Converter. runcing. Begitu kasar ucapan bang Irfan. Suaminya terdiam. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Irfan keluar dengan langkah besar. Pintu terbanting. http://www. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang.. Belum lagi Wening duduk. Bang?" sapanya. api kemarahannya menggelegak. Pintu rusak. Aku suamimu. Sunyi. Pasti bisnisnya gagal. dasar. Silakan larang aku. Ucapan kasar. Aku tidak suka.. Lakukan keinginan abang. telanjang. Wening terpaku. "Abang pulang? Sudah makan. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. Sesaat kemudian. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang." Wening tercambuk. tapi kali ini.. terbuka dengan paksa. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening.. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami." Berkata demikian. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat". Didobraknya pintu.processtext.html "Masih saja . Wening melepas bajunya. Diserbunya kamar Wening. Dikenakannya kemben kain panjang putih..com/abclit. . Wening masuk kamar. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. darah mengalir.

sejak malam ini.. mencoba mengingatkan ibunya. juga mertua. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. selebihnya dia melangkah perlahan. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah. Dilaluinya pintu yang rusak itu. laki-laki memang tak pernah dewasa. yang anehnya. yang diberikan manusia. sesekali pula dia tawing. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. sebuah bangun menakjubkan. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. menariknya perlahan. dari tempatnya berdiri. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. dengan tatapan tertuju pada bumi. entah sudah berapa lama. yang berhasil diciptakannya. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. Perlahan langkahnya menjauh. Langkahnya terus mengalir.. Mereka berubah menjadi batu. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. Dia adalah Wening. Bumi yang halus. Tetapi Wening telah menari. Dan baginya.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m." bisik Neny setengah menangis. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender.. ah. dan membagikannya kepada dunia. sesekali dia ukel. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh. http://www. menoleh ke sudut. Wening bergerak sangat lambat. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. Wening yakin sekali. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. Namun. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu. Dibiarkannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. please. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. terseret gerak tubuhnya. pintu hidupnya. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. tak paham akan keindahan. dan tak ada yang bisa menghentikannya. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur.com/abclit. Wening hanya melihat.html Iringan rebab menyayat malam. condong ke depan. miring ke kanan.. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. "Mama.processtext. ibu dan ayahnya yang renta. Dia akan menari. dungu. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. Sesekali dia kengser. berenang dalam cahaya keindahan geraknya. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya.. Kain samparannya terlalu panjang. . Mereka semua membisu. Tidak. kemudian sanak saudaranya. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. kali ini.

dia tengah menari dengan jiwanya. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto. *** Bukit Nusa Indah. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya. 982 1 Gerak tari Jawa. http://www. khususnya pada bagian tangan.html Irfan mencoba meringkus istrinya.. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. Dia hanya tersenyum.. Wening bahkan tak melawan. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora.processtext.com/abclit. Karena saat ini. tak terdengar sama sekali oleh Wening. .Generated by ABC Amber LIT Converter.. Wening tetap menari. dibantu sanak saudara yang ada di situ. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg.

sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. . Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara." katanya dengan gusar. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu.com/abclit. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Justru sepanjang digelandang. Opsir itu murka dan menampar mukanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. setelah mendapat laporan dari seorang kacung.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan.processtext. http://www." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan. Seorang opsir dan dua pembantunya. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol.

" "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa. http://www. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu. tentu tuan akan mengerti lagu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau.html "Aku seorang seniman." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Tuan. . Itu lagu Jawa. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut.processtext. Saya bicara sesungguhnya.com/abclit." Opsir itu memerintahnya. bukan seperti pemberontak macam kamu." jawab sang opsir." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya." jawabnya dengan enteng." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa.

" katanya dengan bahasa Jawa yang halus. "Saya baru datang dari Surabaya. Tuan benar-benar memiliki darah . Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah. Tentu saja tuan tak mengenal saya. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami." katanya. tuan. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas. tuan sungguh berbudaya. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah. Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.com/abclit. "Aha. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira. "Oh." "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi.Generated by ABC Amber LIT Converter. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya.processtext." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. Saya tinggal di sana selama tiga tahun. http://www." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu. Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar.

Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya. http://www. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. "Hapuslah darah tuan. "Ya." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya.html seni yang kuat. Dan yang ketiga. Telah saya cari . masih menurut opsir kami. tuan.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas." katanya dengan senyum simpul. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu. Saya pernah merantau ke negeri tuan. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya." katanya. "Ah. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini. saya kagum pada tuan." "Ah. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. Kedua. dan tinggal di Paris selama dua tahun. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh." katanya. ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. menurut pengakuan opsir kami.

Multatuli. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. mengetukkan jemarinya pada meja. Tuan." "Oh." sergahnya. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter." katanya. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. Dia amat menghormati kesenian. Rencananya berjalan mulus. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. http://www. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. . orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. "Saya seorang penulis. "Tentu saja. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. Ucapannya tajam. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. Itulah sebabnya saya sampai di sini. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh.com/abclit.

Yogyakarta.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang.com/abclit. bilik-bilik kandang. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. tempat . selaksa celurit menggantung di dinding. rebah di halaman. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri. Terang. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya. di belakang rumah serupa gubuk.processtext. Edisi 04/30/2006 Bulan." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg. Segaris cahaya menelusup. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. dan selamatlah aku dari hukuman mati. http://www.

beriringan. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi.” Gani geram. mencintai dan dicintai. dilepaslah baju hitam Madrusin. Cericit tikus. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. menepikan bayang. Serupa tarian rombongan seronen. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. ”Bagaimana mungkin. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. kecipak air dari padasan. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. yang belum lama ini. serupa pengembara letih. mau merampas hak kami. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. ia tidak langsung menuju rumahnya.html tinggal Madrusin. ketika itu. Gani. Namun entah. eppak-embuk. Ia terdiam. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. tidak pantas jadi suami Asnain.Generated by ABC Amber LIT Converter. masing-masing dibawa pulang. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. Kok. Kalau. Lalu. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. berontak. calon istrinya yang telah raib. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. Paman. atas keputusan Gani. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. Musdar. tak menyia-nyiakan kesempatan. krik-jangkrik. perlahan redup. Lenguh sapi menggaung. kala itu. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. Bulan.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya.. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. Gani belum kalah. Ya. Pada Gani.processtext. di tempat yang sama. tiba-tiba. beberapa kanca Gani. bersama Luki. ”Dulu. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. Madrusin. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. campuri. Pada Asnain. kecewa kepada eppak-embuk. Nasib tak bisa ditimang. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. Hubunganku dengan Asnain. merampas dan segera menyeret keduanya. Mail. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. menuju arena kerapan sapi. Cobalah sedikit sopan.. Sengaja. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. Dan sekarang. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. Tatap matanya lelap. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. paman. Madrusin. saling berpaut. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. decak cicak. ”Lancang benar mulutmu. Beruntung.com/abclit. memegang tangan. Madrusin segera menghindar. . ”Bilang sama eppakmu. Paman. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. Paman. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. Kami tak ada masalah. Madrusin bisa mengelak. tanpa sebab-musabab jelas. Beruntung. waktu itu. Di benaknya. ”Kamu. Begitu pun. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. http://www. Memang tidak pulang.

Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. menggaruk. Madrusin. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. lengang. Sesekali. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. eppak-embuk. kandang dan pematang. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. apa maksud dari semua itu. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti.orang kampung kami. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak.) Sepagi ini. bisa dibilang. sepagi ini. Ia mengernyitkan dahi. (Tapi tidak. Entahlah. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. mengusap. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. Pertengkaran. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani.html Langit tampak lebih cerah. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. Terasa. Bahkan. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. Gani kala itu berang. Madrusin terpaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Atau. Ya. Madrusin benar-benar gelisah. Asnainkah. Siapkan sapi-sapi andalannya. Ya. Kita bertemu beberapa bulan lagi. (sebagaimana kebanyakan orang. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. Asnain. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. belum kalah! Gani memalingkan muka. kepada Eppakmu. http://www. Terang. Keputusan sepihak. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. Madrusin yang gelisah.processtext. semenjak ia berusia sepuluh tahun.com/abclit. Hijau daun-daun. Kalau Gani. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. Ia nikmati secangkir kopi. ilalang bagi Madrusin. Madrusin pun gairah. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). seumur hidup baru kali ini. menyabit rumput sebagai pakan sapi. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya. mengingat pesan dari Gani.

Sementara. Tentu saja Madrusin tak ingin. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya. Selang beberapa saat. Gani menunggu terlalu lama. celana komprang berlapis sarung. Pada Asnain mantan tunangannya. ”Ya. apa gerangan yang membuat Gani. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. Ah.” desisnya. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. saling meminta maaf. cepat menghindar. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo.” imbuh Imron. dijemputlah celurit. apalagi sampai ia kecewa. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani.” Madrusin tergagap. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. Madrusin. Tidak. Ia kenakan peci dan baju hitam. Madrusin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. Bukannya ia takut dibunuh. ”Asytaga. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. Sebagaimana tradisi di kampung kami. Karuan celurit itu luput sasaran. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. meski sebenarnya ia ragu dan curiga. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. . tiba-tiba. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak. cepat ditunggu kakek. Madrusin mendesis di antara kebingungannya.com/abclit. Untunglah. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. http://www. di sela kegelisahannya. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan. Madrusin penuh tanya.html merunduklah serimbunan ilalang. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani.processtext. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga.

Asnain sudah ada yang meminang.com/abclit. tak kunjung jatuh. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. menampakkan seseorang yang sedang patah hati. ia . Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. Asnain?” ”Tidak mungkin. barangkali sudah lama menunggu. Sesaat tubuh Madrusin tersentak. Ranting-ranting pohon menggantung. ”Tapi. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. Kakek. menggantung pada batang bambu atap kandang. ada apa. melihat Gani. ada yang perlu dibicarakan denganmu. langsat warnanya keemasan.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. Ia masih ingin kamu jadi suaminya.” ujar Imron. Lampu teplok menyala remang.” Mendadak. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama. Asnain tak suka kepada tunangannya. beriringan menuntun sapi. Ron?” ”Barangkali. ”Sebenarnya. ia duduk.processtext. tenang. wajahnya berkerut. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. Tidak. tubuhnya agak bungkuk. Madrusin tergagap. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. orang-orang berjalan bersama. di antara mereka sudah akrab dengan alam. Sebagian di antara mereka membawa obor. http://www. pada batang pohon dan buah siwalan.” imbuh. Imron. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin.” ”Tentang. Sin. Tentu ia akan marah-marah. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung. menunggumu. ”Itu. Mata Madrusin nanar.

http://www. kau dapat membujuk Eppakmu. Ah.html harus tenang. seraya meminta maaf didekatinya Gani.” ”Ada apa dengan sapi. ”Ada yang perlu kubantu. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran.” suara Madrusin ramah.Generated by ABC Amber LIT Converter. kalau soal itu maaf. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. ”Maaf. Madrusin. tidak. Man?" ”Ya.processtext.” ”O. Madrusin mendekati Gani.com/abclit. terlambat. ya?” ”Kita nego. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. Man. Pelan. yang tengah duduk menunggu. sapi kita. bernafas lega. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. ”O. ”Tak apa-apa. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot.” ”Memang kenapa?” .” jawabnya. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan.” Sejenak Madrusin. saya berharap. kita?” ”Bulan depan.

ingin menampar mulut Gani.” Madrusin. ”Naif benar. tajam. Paman. sangat kuat dengan prinsipnya. Percayalah.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani. Madrusin terus menjaga dirinya. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging. Lancang benar kamu. yang hanya sisa tradisi.html ”Asnain. Asnain?” ”Taruhannya. Man. Namun. naik pitam. mengendalikan emosi. Tak seperti biasa. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. Beliau. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat.com/abclit. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf.” desis Gani.” ”Sin. Jogja 2004-2006 . tak bakal mau.processtext. untung saja Madrusin segera menghindar.” ”Eppak. Madrusin tergagap. http://www. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. Gani pun naik pitam. ”Kenapa dengan. dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. Asnain tetaplah akan menjadi istriku.

Para sesepuh adat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saat ditemukan. Tadi pagi masih segar bugar. seperti korban overdosis. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri.com/abclit. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Bapak Ibu. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. [2] Eppak Embuk. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. http://www. alim ulama.html Catatan [1] Lotreng sapi. mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa. Tanpa firasat. Amat menakutkan. uji coba pertandingan kerapan sapi.processtext. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat ." "Istighfar kak. [3] Kae. juga tanpa wasiat.

Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . Nah. tak lama lagi akan segera disembahyangkan. semuanya terserah ayah…. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. sebelum diusung ke pemakaman. agak sinis. menyelesaikan program doktor.html membendung kesedihan.com/abclit. Sebab. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. jika ayah tidak ’pandai-pandai’. tidak segampang itu. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. http://www. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Tapi. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. kampung kita. bidang ilmu politik. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur." ketus Lusi. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne.

sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. "Iya pak. Meski sudah pensiun. sedikit berdiplomasi. "Daripada menganggur saja. Itu saja tidak dikabulkan bupati. . Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. jaringan telepon dipasang. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang.com/abclit. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. http://www. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton.html ke rumah dinasnya. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. Tapi. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. biar mampus!" umpatnya. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. mentang-mentang kita sekampung. menghormati beliau. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil.orang nagari Sungai Emas. Kalau saya bantu. Ah. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. agar si Bujang Paik. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya. ceritanya akan lain. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. itu artinya kita berkolusi. Hingga kini. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. Padahal. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer.Generated by ABC Amber LIT Converter. meski tidak menjabat bupati lagi. Selama menjabat. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. seperti hendak mengelak. "Tentu saja boleh Nduang. Bermohon kepada pak bupati.processtext. pasti akan diterima. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas)." jawab bupati. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri.

"Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. mengadu peruntungan ke Jakarta.processtext. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. Tak ada biaya." "Ah. Tak dihormati lagi. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. Maka. pergi merantau. Lagi pula. tak layak tempuh. Ua-ha-ha-ha…. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. http://www. sok jujur. kasar benar kelakar sutan. Terlalu lurus. Sementara itu. Genap tujuh hari kematian bupati.com/abclit. janda tua pemilik kedai kopi. pura-pura tidak paham. Apa boleh buat! Kini. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana. bupati sudah tiada.Generated by ABC Amber LIT Converter. lurus tabung. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer." balas kak Pi’ah. petugas parkir. Ironis! Namanya Sungai Emas. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut . tukang jahit. jalan satu-satunya adalah. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. entah sampai kapan." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. bupati mulai dimusuhi. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. Kematian yang misterius. seperti tabung. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). tapi kini sudah mati. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. agak kesal. Sebenarnya. tak jelas juntrungan. tidak pula penyakit kronis. Sejak itulah. Namun. kuli bangunan. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. dasar orang jujur. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. hanya tinggal nama. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. satpam. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu.html Sayang sekali. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. Anak-anak muda menganggur.

"O. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. 2006 Catatan: . Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Meski diam-diam.processtext. mulai bersemangat. bisa saja jauh lebih mengerikan. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. Sebab. Lupa saya. itu dia yang kita cari selama ini. "Putuskan saja tali jantungnya….html sebab-sebab kematian almarhum bupati. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Lagi pula. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. hanya akan mengundang musibah baru. http://www. itu sama saja artinya dengan bunuh diri. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. di nagari Sungai Emas. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. "Tapi." Kelapa Dua. Sejenak si Datuk menerawang. Kenekatan macam itu. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. kematian selanjutnya. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. Iya.com/abclit. kini ia pejabat eselon di Jakarta. kali ini sambil bergurau. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. Namun. Tapi. Bagaimana menurutmu?" "Nah. Kabarnya." jawab Marajo Kapunduang. Tak bakal berhasil. ganti bertanya. Bila kelak ia memenangi pemilihan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. "Oh. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji.

omong sok tahu. tentu pula. tentu saja. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. tak lebih seorang dungu. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. Mengalir. ia pikir itu bisa saja. Di depan kamera." sebelum kemudian ditutup." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum. duh tampannya. gadis itu akan sering berada di depan televisi. "Dermawan." Timpal teman lain. Tangis dibuat-buat. saat itu. Ayahnya sendiri bukankah juga. Menggenang dari kepala yang rengkah. Lalu meluncur. si ayah. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah. tawa diejan. Dan. sodoran mike.Generated by ABC Amber LIT Converter. cengengesan." "Terkenal. melempar senyum kiri-kanan. janji palsu. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah." Beruntung? Hmh. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. awet muda. "Betapa beruntungnya kamu …. Tidakkah mereka memang menggali. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Karena. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. temannya akan berkata. julur perekam. http://www. .com/abclit.processtext. saat itu semua tak penting lagi. entah sampai kapan. masuk ke dalam sumur. Mengangguk-angguk. kalau memang demikian adanya. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. "Itu ayahmu. kaya. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. akting murahan. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. Lima tahun setelah hari ini. dari perut yang belah. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). oh sungguh tak tahu malu. selalu darah. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. darah. rakus. "Gagah. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata.

sumur itu. lelaki. Senyum.com/abclit. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. kepada dirinya. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. Disedot? Hati-hati. pernah muncul dalam hidupnya. atau seperti apakah. Ke angkasa? Bagaimana. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. nyembul-melesak. ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. tentu. kulit hitam. Tengkorak suaminya. angguk sopan—keramahan itu. takut-takut. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi.processtext. entah kenapa.html "Dua belas tahun putusan ringan. peduli apa. Lima puluh tahun lalu. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul. ke angkasa. kalau saja wartawan tahu. menjelma ada. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. dengan melayang? Ah. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. Bahkan kepadanya. si ayah … ah. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. ia teringat black-hole. berteriak. menjulurkan leher lambat-lambat. . meruang merongga. lantas melesat. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. Merangkak (rambut keriting. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. Terangkat. Black-hole. pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. Dan begitulah ia. Serasa disedot. Black-hole. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. samar pantul wajah. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. mengerang-erang. lama-lama. kadang ingat kadang tiada. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa…. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). berputar-putar bagai melayang. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. serta-merta duduk. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. Dan suatu hari. http://www. lenyap tiba-tiba. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. Melesat? Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). sumur. lubang hitam di jagat raya.

dan tersandar ke dinding. tidak. Oh! Apakah. geletir air. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. dan kemudian menjelas.processtext. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur.html Ia berdiri. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. Beberapa saat sesudahnya. Tetapi itu. semakin jelas. goyang pantul wajah. Dua sosok? Dua orang? Ya. lebar dan luas. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . tentu bukanlah tanak. Maka semua ini. Sang Pencipta. Berkelana di hutan. Dan yang kini. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. Jadi inilah ia: Fumeripits. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. lalu merangkak. tetapi juga mendayu. dengan menegarkan dada. ular. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. pelan-pelan menjulurkan leher. Juga berbagai buah. pelan-pelan bergerak. akan ia tinggalkan? O. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. Semakin jelas. sumur melesak dari rongga mata. Suaranya tak hanya mengentak. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. Desoipits dan Biwiripits. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. semua akan ia peroleh dengan mudah. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. jelas tak masalah. lalu berganti dengan pemandangan lain. Pemandangan yang mulanya juga samar.com/abclit. dan tubuhnya bergetar. Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. khusuk menabuh tifa. duduk. patung-patung itu. Riak kecil. tak boleh bertemu dengan siapa pun. Tetapi … itu. Hidup? Ya. tiba-tiba hidup. ia kembali melangkah. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. Itu biasa bagi mereka. lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. telah menemukan jawab.Generated by ABC Amber LIT Converter. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. Kadal. Merendahkan tubuh. Tapi hanya sebentar. seperti kata damero juga. Tabuhan yang ganjil. melainkan dengan mencuri. di kedalaman geronggang mata. Maka. mendekati tengkorak suaminya. ia lihat pemandangan itu: seseorang. umbi-umbian yang bisa dimakan. tengkorak suaminya. patung-patung kayu yang berserakan rebah. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. http://www. Oh. dedaun. membalikkan tubuh dan berlari. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. sumur itu … tampak begitu jelas. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. Sumur. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. yang disebut jangka waktu tertentu. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. mulanya samar dan kemudian jelas. ia tahu cara mendapatkan. dari kayu-kayu. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. Oh. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. tikus hutan. pelan menghilang.

menyembur-nyembur. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. rujak degan. Sampai lama. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. Lagi. oh …. Dan kini. cincin. dan dingin. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. kelebat kapak. 1 jam. Biwiripits. tirakatan semalam suntuk nglakoni. rasa mual itu. Hari telah malam. walau sudah senja. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. membuat ia limbung. leher tertebas. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. nyata? Dan tiba-tiba. darah menyembur. mangkok. dada. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. nyata? Darah. crass. Ia pun dedekep. perut … oh.com/abclit. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. 3 jam. dupa china. Darah. darah yang memancur. minyak bondet. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. cras. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. Tetapi ternyata tidak. hiasan mahkota atau entah apa. Dua jam. darah. O. Tetapi. pundak lepas. ujung dini hari. dan dindingnya—melingkar searah . Dengan hari Kamis ini. Senyum seperti mencemooh. darah. Lagi. orang masih berseliweran di sana-sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti nasihat gurunya. crass. tanpa sadar.html tradisi pengayauan kepala. atau jarum emas. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. pemandangan ini tentu juga akan hilang. seperti meremehkan. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. Semakin dekat. Ayun tangan. pusing yang kemudian menyusul. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. http://www. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam. lalu rebah. menyembur-nyembur memualkannya. Ah. 30 menit. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. dalam rongga luas yang bagai semesta. mata rantai. mulai nenepi. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur.processtext. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). dijulurkannya kaki ke dalam sumur. Crass. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. ketika waktunya tiba. Sepuluh menit. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. batu merah delima. itu bohong.

Crass. menatap kosong ke televisi. jauh dan kecil. pundak lepas. Guru. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. "Selasa Kliwon. Selasa Kliwon itu. takkan tampak sama sekali. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus. Lima hari lagi. Memancur-mancur. "mengangkat" si guci dari sumur. leher putus. Senyum lebar yang bagai tertawa. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Crass. "Aku berhasil. nangka. belimbing. perempuan juga.processtext." Ya. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. Lalu pelan. Desoipits-Biwiripits. . Darah. Selasa Kliwon. Tetapi. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu.com/abclit. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. Lalu gumam. Crass . akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. lima hari lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. sejenak. terutama buah-buahan seperti mangga.… Darah. Menajamkan mata. Tubuh lelaki itu bergetar. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. tetapi subur bagi pohon jati. Menyembur-nyembur…. Darah. Tetapi nanti. http://www. jambu. Dan di sana. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka. dibukanya mata." Ya. lima hari lagi. Dan seorang lagi. Payakumbuh. suku terasing juga.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. Seperti oase. Hela napas lega. Selasa Kliwon…. Lima hari lagi…. yang namanya guci.

Untuk praktisnya. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. Bahkan. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. dan kakus. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Guna menjaga tempat mandi. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. Pak Parto melakukan praktik pijat. Pak Parto. Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. bidah. singkatan dari takhayul.processtext. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Pada waktu siang. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. bahkan bisa dibilang fanatik. cuci.com/abclit. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. bukan sembarang air. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. yang dibantu oleh istrinya. seorang yang berusia setengah baya. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. dan churafat. demikian panggilan akrabnya. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. Saking besarnya. http://www. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. Walaupun demikian. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Namun. Sebagai penjaga kebun. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. yang penduduknya beragama Islam santri. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . setelah memeriksa dan membersihkan kebun. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. Tetapi. Istrinya ikut pula memijat. walaupun agak jauh dari batangnya.

yaitu Sang Penjaga. Pak Thohir.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini.processtext. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. bidah." kata Kyai Fauzan. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. http://www. bukan ke dukun syrik." kata Kyai Fauzan Saleh. "Tapi Kyai. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu.com/abclit. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. demikian nama pemborong itu." kata Thohir dengan nada ketus. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup.Generated by ABC Amber LIT Converter. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. "Wah. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul. "Itu syrik. bagaimana caranya memberantas takhayul. . dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya. orang-orang desa sulit diberi tahu. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI.

http://www. . Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri.html "Tapi." jawab Thohir memakai bahasa santri. masjid.processtext. Di atasnya persis kita dirikan masjid. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu." kata Thohir menjelaskan usulnya." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun." jelas Thohir lebih lanjut." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai.Generated by ABC Amber LIT Converter. MCK menggantikan kolam yang sekarang.com/abclit. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. Kedua. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa. rakyat harus dibuat simpati dulu. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka. Innal Batila kaan zahuko. Pohon trembesi terkutuk itu. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan"." "Begini Pak Kyai. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan. Pertama. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu.

com/abclit. http://www. Dalam tempo hanya enam bulan. mula-mula membangun masjid. Jika pohon itu ditebang. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas. penyakit menular." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. maka Sing mBau Rekso akan marah besar. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. Dengan kembali kepada yang benar.html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa. "Lagi-lagi takhayul.processtext. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada suatu hari Jumat. "Wah saya juga tidak tahu. Mereka pun marah. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. seluruh bangunan itu selesai." tangkis Kyai Fauzan. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. dan gedung puskesmas. atau kelaparan. . "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. al ruju’ ilal haq. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat. Parto berkata kepada para pengikutnya. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan. Tanah longsor mungkin gempa bumi. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. kemudian MCK. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong.

Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan.com/abclit. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka. Tidak saja air tidak lagi mengalir. http://www. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. terutama bangunan masjid. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. terutama masjid mulai retak-retak.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext." jawab Parto. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. "Ya betul. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. timbul suatu gejala yang aneh. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. Setahun kemudian. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. . Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai.

Tapi aku akan mencobanya. mengecat kamar mandi. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi.Generated by ABC Amber LIT Converter. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud." jawabnya sambil tertawa keras. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt." jawab Kyai Fauzan. karena . http://www.processtext. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. hidup dengan 460 watt. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik. memasang kabel-kabel listrik. Tidak cukup untukku hidup.com/abclit. memperbaiki engsel pintu dan jendela. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Kenyataannya. membuat pagar bambu. pemborong itu merasa tersinggung. bangunan rubuh bukan soal agama. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Jakarta. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. menggali lubang untuk resapan. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas.html "Waduh. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. Tanya saja pada pak insinyur. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Memperbaiki talang yang bocor. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat.

http://www. Kalau listrik tiba-tiba mati. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka. Rumah ini sudah dua tahun kosong. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. He-he. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Ah.. Katon. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir.. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. tempat seorang petani biasa beristirahat... Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. tengkeyu. aku menjadi sangat kerepotan.Generated by ABC Amber LIT Converter. man. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. Tengkeyu. Terus dikeduk.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Boi.. . ada bilik sederhana berdiri. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan.com/abclit. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu.. Kadang aku ragu. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Beberapa teman membantuku. Karena sebel. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Han. Rumah itu sebuah kubangan besar memang. Sebagai seorang penulis. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Kadang aku sebel. Tak ada honor untuk kontrak rumah. beberapa lukisan berjamur. tengkeyu. tidak terlalu membutuhkan listrik. Wianta. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. Di sebelah rumah. termasuk mengusir rezim kesenian. kadang aku biarkan listrik tetap mati.processtext. karena pemakaian yang berlebihan. dari teras depan hingga kamar mandi. Tak ada orang yang mengontrak.

Mata memandang mata.com/abclit. tapi lukisannya masih ada. tetapi karena lembab. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Mungkin tubuh mereka seperti angin. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. lalu mengalami kecelakaan dan mati. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. Kira-kira 10 tahun yang lalu. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Mata memandang mata. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi. Mata memandang mata. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Ada di depanku. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. http://www. membersihkan diri dari kotoran. Lembab. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang.html timbunan pasir yang mengotorinya. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. Antara aku dan genteng kaca. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. Pelukis perempuan itu sudah mati. kecemasanku muncul lagi. kadang kilatan-kilatan petir. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. Dadang menyewa tanah ini . Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Waktu yang membuat sebuah pintu.processtext. Kopi dan Kremi. Seorang teman bercerita. Sepasang anjing kami. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. aku pernah datang ke rumah ini. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu.

kalau hujan besar. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah.processtext.com/abclit. di Ancol. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. karena dia harus pindah ke kota lain. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil.html selama 15 tahun. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. http://www. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. lalu berdiri sebuah bangunan baru. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. Betapa malangnya hidup ini. "Dang. "Ya. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya." jawab Dadang. entah untuk rumah atau untuk ruko. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. Aku teringat 1. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. diambil oleh beton-beton. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. .

http://www. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Rumah itu memang terus bercerita. hari ini Petrus akan datang bersama Miko. dan sebuah harmonika. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Kalau aku mati.. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. 1. Fit.. Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Manajer itu orang asing. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Aku terus menggali. .000 patung Dadang ada di dalamnya. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Ketika dia meninggalkan rumah ini. He-he-he. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup.. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Ketika aku tak punya uang. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Dan aku mulai kehabisan uang. sayangku.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. saxophon. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. aku harus kembali menimba air dari sumur. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut.. Hmmm. rumah itu mirip dengan peti mati.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. Hmmm.

Langit mulai terang. Mata menatap mata. Perutku seperti tertekuk ke dalam. lalu mendarat kembali. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Asmara angsa. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. http://www.. Angsa-angsa putih menyelam. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur. menyembul. dan bukan bayangan mata air. Mereka saling memagut dan bercinta. bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. Hujan mulai berhenti. Waktu terasa dingin.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur.Generated by ABC Amber LIT Converter.. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. . Kalau itu juga adalah bayangan mata air. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri. . biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata. Aku melihat hidup.com/abclit.processtext... menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas.. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas.

Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. yang putih maupun yang merah. memamerkan putrinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. gubernur. Natalya Ashikhmina. Pangeran Siegfried. tidak minum wine. Maxim Fomin. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. pemilik istana dan telaga. yang secantik Odette. Sebaliknya. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Zahra. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Alvin Nikolai. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. kegemarannya. Andrei Joukov. untuk merebut cinta Siegfried. http://www.com/abclit. Mendengar kabar ini. plain croissant.processtext. Jerman. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Di antaranya di tempat ini. dan jus jambu kelutuk. juga grup dari Perancis. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Rothbart sang penyihir. pernah berpentas Martha Graham. insya Allah. ayu dan ganteng. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Mereka rame-rame menikmati salad. sup ikan tuna. buah-buahan. yang ditemani balerina Masami Chino. sebagai sponsor pertunjukan. dan pembesar negara lainnya. menteri. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Odille. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Usaha Rothbart berhasil. yang mengelus rambutnya. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Tampak Viatcheslav Gordeev.500 penonton. Odette dan . Begitu pula para pebalet teman Zahra. pemeran Rothbart bergantian. Maya Ivanova. Dengan 1. jatuh cinta kepada Odette. gubernur berjanji. tentang balet di Rusia. sangat populer di seluruh dunia. Irina Ablitsova.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. Dia memilih minum air jeruk nipis. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. balerina 21 tahun. Odette. angin sepoi-sepoi. ngobrol dengan gubernur. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya.

Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. ibu. angsa itu menjelma Odette.com/abclit. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. dan Anastasia Baranova. dan Anna Vakina. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Siegfried sadar.Generated by ABC Amber LIT Converter.” celetuk Nenek. ”Terpikat boleh terpikat. Begitulah. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. ”Awas. Olga Ivachenko. adalah para pemeran angsa kecil. Tatiana Chungunkina.processtext. Oxana Gasnikova. lho. Kakek terbatuk-batuk lagi. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. ”Odette atau Odille. saya sih. sampai Kakek terbatuk-batuk. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Sekalipun dengan mata terpejam. juga tante dan oomnya. Semuanya tertawa. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. ayah. http://www. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Semuanya tertawa. Eyang bisa kesleo. seluruh istana bergembira. kakek dan neneknya.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. kedua adiknya.” tukas Kakek. cocok-cocok saja. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. siapa pun tak bakal salah memilih.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Rothbart marah besar. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina.html dayang-dayangnya jatuh sedih. Eugenia Singur. . Seketika.

” ”Jangan begitu.com/abclit.processtext. pertunjukan itu harusnya disensor. memangnya kenapa?” tanya Zahra. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. Eyang.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. ”Itu kan mengumbar aurat.” tukas Zahra. Jika kita bicara soal kesan. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Lho.” sergah Kakek lagi.” ”Jangan begitu.” tukas Nenek. Semua tertawa. yang ndak cocok bagi kamu. semuanya terkesan jelek. http://www. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” sambung Kakek. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. ”Semuanya kan tertutup rapat. Aduh.” . sih.” kata Kakek.” sanggah Kakek. ”Tapi.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. ”Saya serius.html ”Apa.” ”Kesan. Melihat kostumnya. Kesan. Eyang.

Generated by ABC Amber LIT Converter. wah. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. Meriah. kok yang disalahin balerinanya. Obrolan berubah jadi perdebatan. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. mendadak berubah jadi filosof. Semuanya tertawa kecuali Kakek. sih. http://www. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget.” Semuanya tertawa. bubar.” ”Eyang yang kasmaran.processtext.html ”Wah.com/abclit. Eyang ini gimana. kecuali Kakek. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. . kostum Zahra ya seperti itu. peradaban. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Habis jadi diktator. deh. wah.” sambung Kakek.” ”Wah.

. runtuhlah kebudayaan. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Apa?” tanya Kakek.com/abclit. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. http://www.” kata Oom. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.” cetus Kakek. kok Eyang sampai segitunya.” ”Saya heran. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” sambung Kakek.” Zahra menukas. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ” sergah Tante. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.

” kata Zahra.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.Generated by ABC Amber LIT Converter. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari. ”Dalam KKN ada tradisi.com/abclit.” sewot Zahra.” sela Kakek. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Adalah tradisi balet. Mendengar kata Kakek ini. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar.” . http://www. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.processtext. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ”Kostum ketat itu. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. Eyang.

http://www.” kata si Oom.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Banyak negara yang busuk. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.processtext. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. Cucuku. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. atau lusa.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Eyang.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Bukan kepada Tuhan. Barangkali besok. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Eyang.” tambah Tante. kata Allah. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. . namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. Dan itu bukan teori.” ”Hati orang siapa tahu. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Kita bisa menuduh mereka ateis.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.com/abclit. Eyang.

Anakmu bukan milikmu. Allah mencintai keindahan. saya cuci tangan. Ada air yang mudah mematikan api.com/abclit. Lengang sejenak. Seperti tercium setan lewat. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….processtext.” sergah Kakek.” .” tukas Nenek.Generated by ABC Amber LIT Converter.” tukas Kakek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. http://www.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.html ”Coba. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. saya dikasih contoh. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Zahra. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan.. Kita wajib memeliharanya.” jawab Tante.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Dan ternyata Allah itu indah.” tambah Nenek.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Kecuali Kakek. Ada api yang menyala-nyala.

sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. cukup sulit. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil.html ”Saya setuju. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Eyang. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas.” sambung Zahra.Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya. di sebuah tempat yang sulit dijangkau. Tangerang.” ”Sebagaimana balet. tumbuh. tergetar.com/abclit. Dalam balet. dengan cara rumit dan sedih. apa saja yang masih bisa dipanggil. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. tidak ada pornografi dan pornoaksi.processtext. Cobalah nikmati tari bedoyo. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Dalam dandanan kebaya pinjungan. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. http://www. apa saja yang masih bisa . Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. tidak mudah baginya untuk mengingat. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia.

kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. tafsir yang berkerumun.html tapi tidak ingin ia panggil. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. kalau bukan karena penderitaan? . Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam. Jarak psikologi yang jauh. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. bahasa yang kabur. mendengarkannya. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. Mata yang menyempit. Suara lirih mulai terdengar. menyimak. Ia lalu lebih sering diam. sayup dan lamat-lamat. kadang membesar tanpa irama.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya. Dan banyak telinga sudah diproteksi. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. http://www.com/abclit. mendengarkan. kadang lirih. dan bagaimana mengisahkannya. dan apa saja yang tidak boleh didengar. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan.processtext. Juga tubuh yang gampang gemetar. lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki. Apalagi. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. Diam. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. Suara yang groyok. Bagiku sendiri. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. dan sebuah lukisan kaca. Tugasku adalah belajar untuk diam. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri. untuk apa. juga tidak kurang bermasalah. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. berkaca sekaligus berkapur.

saya ini seorang guru. Ya karena melihat guru-guru saya.html Tapi. ”Saya benar-benar tidak tahu. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. Saya ini dari kecil miskin. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. ”Sesampai di sekolah. ”Mereka sudah datang. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak. saya menciumi wajah murid-murid. Di luar .com/abclit. sepi itu begitu menjadi-jadi. Rapatnya mungkin akan lama. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara. Mbak. Kembali matanya temlawung jauh. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. saya pergi mandi. Lulus sekolah. Sesekali aku menengok ke arah pintu. Lalu saya bilang: Pak. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam. ”Pagi itu. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. belajarlah dengan baik. disusul oleh seekor yang lain. saya hanya ingin menjadi guru. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini. Nanti. dan jangan nakal. lalu mereka segera melesat pergi. ia terlihat cukup tenang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Waktu saya kecil. ”Satu per satu.” Ia diam. http://www. hanya anak seorang janda. kalau ada guru lain yang menggantikan. berdandan. apa salah saya. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih.processtext. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. Rombongan itu mengikuti dari belakang. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah….

makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang.com/abclit. Tubuh tuanya gemetar. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. saya diambil lagi…. kembali duduk di sampingku. http://www. matanya semakin berkeruh. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung. Bu…. si bocah digendong ibunya. Tangisan itu menjauh. ”Ya…. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah.” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. namun lirih. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. Saya juga tidak mengerti. wong saya memang tidak tahu. saya aktif di organisasi itu. . Bu…. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. mirip suara kanak-kanak.html kegiatan mengajar. Tiba-tiba di luar mendung. neraka katut. dan aku tidak tahu mana yang tepat. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. ia berkata. Saya mengira bahwa saya selamat. ternyata tidak…. Wong saya tahunya. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. neraka katut. Mataku selamat dari rasa silau. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi. Mbak…. Ia dengan segera keluar.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil. Saya sedih sekali.processtext.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. lalu mencoba mendiamkan si bocah. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat.” ”Sampai ke suwarga nunut. ”Maaf. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. dengan nada yang seperti berteriak. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. Ketika tiba giliran saya diperiksa. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. ”Dua tahun kemudian. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. Tapi….Generated by ABC Amber LIT Converter.

”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar. saya ini belum bersuami.html ”Yang kedua itu. kemaluan bapak itu mengkeret. ingatlah istri Bapak. Mbak. Saya baru masuk saja. Tubuh saya penuh dengan kutu. ”Maturnuwun. Mas…. Tapi tidak ada yang menggubris. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. . Sesampai di kamar. Ia mendekati saya. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. tanpa basa-basi. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan. ingatlah anak perempuan Bapak…. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ibu itu diam.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. Lalu membuka celananya…. lalu… mengencingi saya…. saya ditelanjangi…. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. Saya memohon berkali-kali. Saya dibawa ke pabrik tebu. Aku menawarinya minum. Ia menutup pintu kamar. dan mengambilkan segelas air putih di meja. http://www. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. ”Eh…. Tapi dia tetap mendekati saya. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. Saya memohon ampun berkali-kali. setelah saya bilang seperti itu. Kalau Bapak punya istri. Saya langsung diangkut begitu saja.” Ibu itu terdiam. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. Saya bilang: Pak. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. kalau Bapak punya anak perempuan.” Lagi-lagi. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. tapi saya tetap ditelanjangi….processtext. di dekat leher.com/abclit. Lalu orang-orang itu pergi.

hampir sampai lutut. kok diperlakukan seperti itu. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk . ”Suatu kali. Dulu. Yang tidak mau dipukuli. Kalau saya jawab. semakin lirih penuh dengan tekanan. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. Eh. menyeberangi jalan raya. saya minta rambut saya. Lalu…. Di kantor polisi itu. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. saya juga dipukuli. Tapi. Saya diberi pertanyaan yang sama. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. apa ya layak….” Andre mengambil minuman di meja. saya tunjukkan tempatnya. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. Kalau tidak dijawab.” Ibu itu terdiam lagi. Kami bertiga menunggu. mengguntingi rambut saya. memperlakukan saya seperti bukan manusia. Saya ini manusia.processtext. saya juga dipukuli pakai sepatu.com/abclit. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. lalu kalau diperiksa.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. saya juga dipukuli. ke kantor polisi. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu. kalau tidak saya lihat matanya. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. Setelah itu…. http://www. Mbak. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh.” Ibu itu suaranya mengecil. Semua serba salah. saya dibawa ke sebelah selatan. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. mereka itu. ”Setiap hari saya disiksa. muka saya dipukuli pakai sepatu. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu. Saya tidur di sebelah utara. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. saya juga dipukuli. tapi katanya saya dianggap menentang. rambut saya itu panjang. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu.

Andre membuang muka. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Kok ada yang dinistakan seperti ini…. Saya ingin tahu. Selesai kejadian itu. Sebelum saya memakai pakaian. Sepasang mata Mirna bobol. seperti apa itu. ”Sebelum melakukan itu. http://www. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. Ibu itu masuk sambil berkata. wajahnya yang putih segera memerah. ”Mbak.” Ruangan hening.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti….processtext. Saya mengulurkan gelas air minumnya. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya. Lalu menghirup napas agak panjang. Gerimis turun di luar. Tubuh Si Ibu terguncang. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. isak Mirna pun lenyap.html mengambilkan minuman. Sepintas yang sempat kudengar. ”Dan rupanya itu belum cukup…. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. saya harus ke tempat kesripahan. teriak kesakitan dan tidak didengarkan. Ada tetangga yang meninggal dunia. Dipotret. Mas. Tintrim.com/abclit. Tidak ada suara cicak. Saya menjerit.” .” Ibu itu kembali diam. Petugas-petugas itu malah tertawa.” Semua diam. saya minta waktu untuk berdoa. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. janji Tuhan tentang keadilan. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. dan itu dipotret. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu. Di dalam ruangan lembap ini. Ibu itu bangkit lalu keluar. Mbak. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu…. Ia minum dengan pelan.

berbincang pelan. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. http://www. Hari masih gerimis.html Kami mengiyakan. Berkoreng di lutut kirinya. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu. Setiap pagi. dan hanya bisa bertanya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. kapan kami bisa kembali lagi. mungkin memastikan jadwal.tara aku keluar rumah mencari taksi. Andre merapikan alat. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang.alat audiovisualnya. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Edisi 03/12/2006 Selalu. Selalu bercelana pendek kucel. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.processtext. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. semen. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Di dalam taksi. seperti menjolok sesuatu. Kadang berloncatan. Usianya paling 12 tahunan.com/abclit. Mirna lalu mendekati Si Ibu. Ketika ibuku menyapa. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar.

mata dengan sebilah pisau yang menancap. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. http://www. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. yang kata Mama.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Dan ia selalu menggambar mata. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya.com/abclit. saat ia berusia tujuh tahun. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Memandang mata itu. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah.html bocah itu. . Ia menurunkan kaca mobilnya. Tak ada keruwetan. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan. Ia ingat perkataan Oma. ia selalu disuruh menggambar. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia suka menatapnya berlama-lama. ”Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua.processtext. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Tapi Papa kerap menghardik.

Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. kawat berduri yang terjulur panjang. Eceng . Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga.processtext. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Rasanya. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. http://www. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Semua itu hanya mungkin. padang gersang ilalang. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Ketika berjongkok. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Setiap menatap mata seseorang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah.com/abclit. Gustaf kini bisa mengerti. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Begitu bening begitu jernih.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. seperti mata bocah itu. Setiap kali terkenang mata itu. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Mata yang penuh kemarahan. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. batin Gustaf. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Membuat Gustaf berpikir. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Karena itu. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. pecahan kaca yang menancap di kornea. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Mata yang berkilat licik. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya.

pikirnya. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Gustaf tersenyum. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Bila ia bisa memiliki mata itu. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Ia ingin ketika ia muncul kembali.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. . Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya….processtext. http://www. semuanya sudah tampak sempurna. sambil berbicara kepada temannya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Begitu lift itu tertutup. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan.com/abclit. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Bila perlu ia menculiknya. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Ia ingin membuka jendela. dan melemparkan recehan.

Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya. membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. menyeka tubuhnya. pekerjaannya.processtext. baca koran di ranjang. asal kota tempat tinggalnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. makan di ranjang. mengantar sarapan. meletakkan selembar koran.html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. Dengan takzimnya. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. http://www. apa pun di ranjang. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya. Meneer. ia memberi salam. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang.” . ”Selamat pagi. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. ia menyapa.com/abclit.

tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar.” jawab lelaki itu. ”Sekali Anda membiarkannya. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. Namun. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun. saya terpaksa melakukannya. Tetapi. empat kilometer jauhnya. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun.processtext. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar. pemuda itu menyalakan lampu.” sahut lelaki itu singkat.” >1<”Ya. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. angin laut masih terus berembus dengan kencang. Meneer!” ”Ya. menggenjot sepeda dari rumah. http://www.com/abclit. seterusnya akan diremehkan.” mulut lelaki itu menyahut. tidak demikian halnya dengan lelaki itu.” kata si pemuda. ”Ya. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya. . Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. Ayo bangun. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu bangun. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut. Tetapi. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. Meneer.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. apa boleh buat. apalagi gusar.

bayangkanlah. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu.” ”Nah. Anda renungkan.. si pemuda terus saja mengobrol. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya. bukan?” >d 1<”Mmmm. kenapa saya berada di sini. Kendati bukan jawaban yang memuaskan. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai.html ”Kalau tidak.. ”Coba. gajinya kecil Meneer. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer.com/abclit. http://www.” ”Hhmm.perang dingin sudah berakhir. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya. ”. ”Yaaa..” ”Anda tahu sekarang....processtext.” kata perawatnya.. kerja kasar seperti ini. Sebabnya. saya akan kehilangan satu setengah tahun.” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. tidak memerlukan rekrut serdadu baru. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil.” .” lelaki itu mengerinyutkan muka. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja.. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan.Generated by ABC Amber LIT Converter.

..” ”Mmmm. dan ya yang sangat menjemukan. ”Ya. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. kecuali ya. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. ya. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. Membunuh lalat saja saya tidak tega.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. dilontarkannya pertanyaan. pikirnya. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. Tragisnya. . perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar. Maka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. http://www. Dan ia mendapat kesan.” Suara lelaki itu terdengar datar.” ”Mmmm. sebagai profesi. Itu saya tidak bisa.com/abclit. Anda pernah berdinas di mana.” ”Ya? Tetapi. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan. dalam satuan apa. Di Serbia. Tetapi.. misalnya. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. ”Perang memang mengerikan. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang.processtext. Tetapi. Irak. tak ada juga tanggapan yang didengarnya.” Jawaban yang meragukan tentu saja. Meneer. Kroasia. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. Saya tak tahu. Bosnia.

Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut. bukan? Cukup sambil berbaring saja.” ”Ayo Meneer. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak untuk membunuhnya. lalu ditutup lagi bila udara dingin. mendesing di sekeliling lampu. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Tetapi.” ”Terima kasih. matanya nanar mengedari seluruh ruangan.processtext. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan. lantas mengganti seprai. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat. Meneer! Lakukanlah mulai esok. Cukup beberapa menit saja.” ujarnya.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. ”Ya. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. Ia lantas beranjak ke jendela. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. .” ”Ya. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran.” ”Ya.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. kapan itu terjadi. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. http://www. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan.com/abclit. Tidak terlalu sukar. akhirnya ia gagal menemukannya. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda.

” . mereka berada di bawah perintah penjajah. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo.com/abclit. Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia. di zaman dia dulu. ia mulai bicara lagi. bukan?” ”Mmmm. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut. tentara Ambon memang tukang perang. Tetapi..processtext. apalagi melawan bangsa sendiri. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. Meneer.. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi.” ”Ya. Meneer. kakek saya lupa.. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman.” ”Saya menentang perang Meneer. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. Konon. saya rada neuwsgierig sebenarnya. Meneer..” ”Mereka memerkosa wanita.html Namun. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm... ”Meneer.

Ia lantas bungkam. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua. Tidak terlalu sukar.. bukan?” ”Ahh.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang.processtext. seperti baru sadar. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. menukar piyamanya.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya.” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu. ”Maafkan saya. Tetapi. Ia . ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu.. http://www. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. Delapan ribu orang Islam.. dan mengganti seprai.” si pemuda nyengir karena merasa disindir.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor.. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang. ya. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu.” ”Mmm.com/abclit. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. ia melangkah keluar dari kamar.. kamar demi kamar. Ketika ia berpaling.. belum tertangkap sampai sekarang. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda. ”Saya terkadang lupa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Meneer. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. Tragisnya. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda.

Saya kehilangan dua tangan. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza.com/abclit. mulutnya diam. tak semuanya berhasil dijinakkan.. bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara.” ”Nah.” Pemuda itu melangkah keluar.” ujar lelaki itu.processtext..Generated by ABC Amber LIT Converter. kata Anda.html melangkah balik ke dalam. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya. kerja sipil gajinya kecil. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. cucu tukang perang. Tetapi. tetapi.” ”Ya. http://www. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya. tetapi menggumam dalam hati. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. merenggut kertas tisu dari saku. Panggil saja Patti. 7206 .” ”Apa? Anda bilang apa. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer. ”Ah.” ”Tetapi. perang perlu dilanjutkan.. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau.

Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh. ”Pak Muis. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu. Dengan bahasa kasarnya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. Beberapa detik. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu. ajudan itu tidak saja menyebalkan. Engku Nawar menarik nafas panjang. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. . masuk. dipersilakan. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. http://www.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama.processtext. Tak lama. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. Ajudan setengah berlari membuka pintu. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. berputar-putar dengan gagahnya. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu.com/abclit. SH dan rombongan. dan menutup kembali. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. tapi meyakinkan keganasannya.

Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam.” ”Sabar. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. Dari ruang tamu yang terbuka itu. Sebentar lagi selesai. yang sudah merasa haus. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. Minum dulu. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. Ibu. habis itu saya pulang. Sarini. Pak. dan jalan kaki. Semua mengisi formulir yang sama. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. Sarini. Tunggu saja. Saya cuma sebentar. Ia merasa sesak duduk . Ambil saja airnya di sini.html Sehabis magrib.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Engku Nawar mencoba bersabar. keperluan. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. Tak lama. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. minuman datang. http://www. motor. barangkali lima menit. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil. Ia memeluk erat Sarini. Dari percakapan orang-orang. alamat.” Mendengar pernyataan itu. nama. Oleh karena itu. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. Engku Nawar telah siap bersama cucunya. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya. Baginya waktu terasa berjalan lambat. yang lulusan kursus komputer berijazah itu. tuh.processtext. ”Silakan Pak. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis.com/abclit. nanti saya sampaikan. cucu kesayangannya itu. tapi cucunya.

dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. . kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus.Generated by ABC Amber LIT Converter. Engku Nawar merasa sangat bahagia. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Tapi. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. Lain halnya kalau malam telah larut. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. meski sangat berbahaya.com/abclit. http://www. komandan pasukan PRRI. Ia lalu berdiri. tak jauh dari Kampung Padangilalang. yakni milik Wali Kampung muda. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. di mana ada perang. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. Pada masa itu. biasanya mampir di warung kincir itu. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Diam dengan pikirannya yang menerawang. Akan tetapi. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. Mau tidak mau. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. Nyawa tantangannya. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. ia masih mencoba merokok. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Dan. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar.processtext. di bulan puasa. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. Engku Nawar harus bermuka dua. Kapten Tulus. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Akan tetapi. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. dari kejauhan. Suatu malam bergerimis. yang dikenal berani. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. menghilangkan rasa jenuh. Engku Nawar. Hampir dua tahun lalu.

”Engku Nawar.” Ketika orang tua itu mengiyakan.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. Sebelumnya.. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. Bahkan. di situ ada Engku Nawar. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. datang menjumpai Engku Nawar. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. mampir minum kopi di warung itu. Tempat pembuangan akhir sampah kota. Sejak itu. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu.com/abclit.processtext. Di mana ada bapak saya.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. Semua orang tahu. cucunya itu sudah dibelikan sepeda . Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. Sopir-sopir truk sampah. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu. ia bisa hidup lebih baik. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya.. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya. Untunglah perang cepat selesai. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. Esok malamnya. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. para pemulung dan calo-calo tanah.html Sejak peristiwa itu. Tanah itu tidak subur. http://www.. Tapi. datang saja ke rumah sehabis magrib.

sesuai urutan mendaftar. Orang-orang bilang. Orang-orang bilang. Di ruang yang terbatas itu. Pak. Tapi ia masih berharap.” kata ajudan berambut cepak tadi. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. besar sekali. Sebentar-sebentar menjawab telepon. Engku Nawar tidak percaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Engku Nawar tidak setuju. ”Sabar. Ini bukan kemauan saya. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota. Kalau saja ia tidak tua. ia akan menerobos masuk. dengan tanda bel listrik. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. Kalau ke kantor. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. ia akan mendapat giliran pertama. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Tiap kali ikut tes. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. Padahal. tapi tidak dinyatakan. . lebih baik menemuinya di rumah. Sarini tidak lulus. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. yang lain seperti protes. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu.html motor. Tamu sebanyak itu. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. orangtua Wali Kota itu. ”Bapak Engku Nawar. mesti pakai uang jutaan. nomor tiga. Tapi. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Pak Wali yang minta. tanpa banyak senyum. Dan. http://www. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. kemudian pada ajudan itu. Buktinya? Nomor satu. nomor dua. Dengan sedikit lega. ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. dan selanjutnya. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. kecuali Engku Nawar.” Meski tidak dibantahnya. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. Tapi. Semula. Engku Nawar sadar.processtext. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. tugas ajudan itu berat. Keduanya sama-sama lincah.com/abclit. niat itu ditekannya.

.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. ”Maaf Engku. meski matanya juga sudah merah. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum..html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu. Saya hari ini banyak tamu. sudah malam. Di perjalanan. ”Pak. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. http://www. Saya pulang dibonceng cucu saya ini. Pak. Sekarang pulanglah dulu. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. Menguap dan cepat tersadar. Engku Nawar mengucek-ucek matanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. Dan. Wali Kota telah berada di depannya. akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali.processtext. tulis saja surat. seperti hendak jatuh dari kedudukannya.com/abclit.*** Rawamangun. Giliran Bapak. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor. Kalau Engku ada perlu. 5 Januari 2006 .” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. besok atau lusa lewat pukul dua. Merasa hendak muntah.

Ada banyak kasus yang sangat pelik. Untungnya. Dita merasa lega. aku mendengar dari Mamamu.” . Padahal. Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. http://www. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater).html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. diam saja. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas. ”Tina.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya.com/abclit. Keterangan yang dibaca oleh Dita.” Perempuan remaja ini. bisa curhat kepadaku. menurut dokter neurolog. Dia capek sekali.processtext. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. sekali lagi cuma diam. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. tidak berbicara. Dita menghela nafasnya. Kalau kau mau. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis.

keluar dari masalah ini. bukan karena apa-apa.” Tina. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. meneleponnya. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. takut melihat kemarahan di mata Mama. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul. Setelah pesta yang luar biasa itu. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. meneruskan tulisannya. Tulisan itu terbaca demikian. http://www. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. Setelah bertemu beberapa kali. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita. Tiga bulan yang lampau.” Dita berkata sungguh-sungguh. Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. Bram. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. yang sudah lama kau inginkan. aku kepingin pipis. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. ”Mama.processtext. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” .Generated by ABC Amber LIT Converter. dia tadi membelikan boneka.html Pada jam ini.’ Aku mengangguk dengan cepat. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. punya kemampuan berbahasa yang baik. Wali muridnya menyangka. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran). Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. ”Sayang. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. ’Ini bukan kejahatan. yang adik suaminya itu.com/abclit. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam.

” ”Tina. aku tidak tahu.” Seandainya kau Mamaku. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu. kasus Tina sangat istimewa. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. O ya.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya. kalau pusingmu semakin bertambah. Dita memegang tangan Tina dan berkata. Sehingga .” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. ”Dokter Dita. Bram-nya. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya.” Bram menyambar cepat.processtext. kakakku. sayang. Dita tersenyum gelisah. Bisa jadi karena aku dianggap lancang. tapi diam saja. Aku pastikan. Windy. perselingkuhan di antara orangtuanya. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi. katakan kepadaku ya…. tetaplah melakukan terapi bicara. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya. Dita menelepon. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku. tulis Tina. suamimu yang kakakku itu. Buat Dita. http://www. di seantero dunia ini. apakah itu cinta. tapi kami saling menyayangi.com/abclit. yang penting belajarlah dari masalah ini. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. tahu hal itu. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita.” ”Kamu pasti bisa. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengarlah. ”Kita saling membutuhkan. ”Ini masalah mereka. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat.

yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan.” Bram mendengarkan ceritanya. ada dongeng. dokter Dita yang baik. kue kesukaanku. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. malam itu ingin tidur di kamarku. Tina datang lagi.” Dear. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. juga pada pacarku. ha-ha-ha-ha.processtext. sehingga mereka harus menutup hidungnya. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. yang menyayanginya. ”Jadi. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. setiap selesai tulisan. dengan menjadi psikiater. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. Ini berarti sangat spesial.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. ”Sayang. tanpa mengedipkan matanya. terus aku ingin sekali bunuh diri. Pada suatu senja. http://www. ”Papa dari anaknya”. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu. Yaa Tuhan. Sebab. memasuki laboratorium yang besar. Kemudian. Sungguh. Bude. ”Aku merasa. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. . Aku dulu senang. Hari ini. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. kurobek-robek.com/abclit. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. sahabat-sahabatku. namun Eyang bilang. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. kalau Eyang tidur di kamarku.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku.com/abclit.processtext. hiasan perang layaknya kaum ksatria.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. Adapun gambar tengkorak itu. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. Tuan. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan. Harap Tuan mengerti. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Namun. ”Jesus is mijn opstanding. http://www. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya. Inilah gambaran kaum bermartabat.

Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. ”Begitulah kami bangsa Belanda. adalah yang utama di antara perempuan Belanda. Tuan. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. Dan Mevrouw Gubernur. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. ”Tidak. . sebuah tubuh teronggok penuh luka.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa.” kata Kim Hok memuji. ah. Sayang. Dia terlalu menderita. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. ”Tentu saja. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Tuan. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh. Saya tidak akan mengatakannya. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu.com/abclit.processtext. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus. dan mencintai seni dan kerajinan. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu. Tuan. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Selamat jalan. meninggal terlalu cepat.html Kim Hok menggeleng. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa.Generated by ABC Amber LIT Converter. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. Tak lama kemudian. Akan kubawa pulang. Tuan. menghiasi dinding. Sayang Tuan.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah. saleh. Aku seorang opsir biasa. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. ia sangat menderita. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut. Ia mengelus bulu kuduknya. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal. apa harus kubilang untuk Nyonya itu. Sungguh. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini. http://www.

Tan Kim Hok.Generated by ABC Amber LIT Converter. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh. untuk menjelaskan kematiannya sendiri. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga.*** Yogyakarta. Lelaki tua ini. menjadi makanan lalat dan serangga. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya. tidak kenal. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu.processtext. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang.com/abclit. Sayangnya. ”Tanya saja kepada kepala desa. dan dilempar ke kanal. . http://www. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun.” kata salah seorang yang mengenalnya. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab.html ”Orang Tionghoa dibunuh. Banyak nama yang disebutkan. ya.” kata pemilik warung itu.” orang.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia. ”Dia si pengukir nisan. nama-nama seseorang. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

Dan. Namun. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut.html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. seperti tak pernah terjadi. Dia adik Ayah kami semua. dan dengan begitu menggeser pematang. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa.com/abclit. dengan menggeser pematang secara licik. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. karena dia tahu. untuk mengobati kepedihan hatiku. di pemakaman. Ketika aku berusia belasan. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. diiringi sedu-sedan. Saat menyiangi sawah. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. Membuat malam membeku sendiri. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. kematian suaminya. Juga di dalam hatinya sendiri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gusti…. Diganggang matahari. . ”Oh. Gerimis menyudahi dirinya. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. Namun. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. limpahan lumpur itu lantas mengering. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. Ayah kami. tempat jasad Pakde terkapar. Emprit ganthil.processtext. http://www. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan.

dan manakala dadanya belum tegak benar. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. Konon. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. Takkan terkikis dari ingatanku. turun dari jip. setelah Ayah berangkat entah ke mana. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. Tentara. kebingungan. Ayah diperintahkan bersujud. Di bawah todongan pistol. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. Di akhir tahun kekacauan. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. dan dia digelandang ke dalam jip. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. 1965. (Oh. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Berminggu-minggu kemudian. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo.html Dia sudah mati. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. dan penuh ketakutan. Ibu. Ah. koé akan kubunuh!” Siangnya. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. Suatu malam. Selang beberapa hari kemudian. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. Tapi. maka kami memercayai kabar burung itu. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali. dengan diiringi gerombolan pemuda. dan kepala Ayah. hati kami semua.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan cara yang sangat menghinakan. mata tertutup. sambil menggendong adikku yang terkecil. Ayah tinggal berpindah-pindah. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. dan kami anak.com/abclit.processtext. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. http://www. mencari kekuatan di situ. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur….anak yang lain. Paginya. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. Ah. Sakit hatiku. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. supaya tak ada orang desa yang . pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. tidak hanya sebatas pematang itu. mata tertutup. kami anak-anak.

Oh Tuhan. Sesuatu. katanya. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. ke makam Ayahku. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. mengharukan. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. Sama seperti ketika menjemput maut. ”Turunkan dulu. Tanpa itu. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. ketika kami menuruni tebing. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. itulah akhir perkawinan kami. maka mendengunglah . Katanya. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. Peti matinya diusung menuju pemakaman. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. gerimis mendesah dari langit. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. dan aku belum hamil juga. maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku.com/abclit. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu.html melihat. mengapa aku tak pernah bertanya. juga dicangkuli. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. bukankah dia juga ingin berziarah. meminta berkah. Letakkan di tanah. linggis. cepat dilarikan arus. ada semacam nista yang akan selalu melekat. Cuma. dan. Tak punya kuburan.processtext. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. Bunga-bunga itu mengambang. dengan tangan gemetar. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. Sebelum menuju bengawan. menghampiri bengawan. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. Setelah menikah. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. dari mana mayat akan diluncurkan. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. di mana salib dan nisan berbaur. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Walaupun tidak dikatakannya. Begitulah. kami kira. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. Mengikuti aku. diperlebar. Pukul dua siang sekarang. menakutkan. tak punya nisan. Dia. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. kami pulang. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. Setelah itu. dia mendesak. dua ratus meter ke arah bengawan. diperlebar nganganya. Kedua sisi. mencari Ayah. yang katanya. beberapa kali dia tertegun.

terpaksa mendobrak adat kebiasaan. biar Gusti mau menerimanya. kami minta maaf kepadamu. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. ”Las…. Tolong. seperti berbisik. Kalau kau maafkan. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. orang sedesa akan tahu siapa kita. ”Sudah berapa kali kami menggali. Seperti mengutuk diri sendiri.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. mendekati peti mati. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis. menguak membukakan jalan untukku. meninggalkan jejak di tanah basah. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. . perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. ”cuih…. beku. mengiba-iba. Ibu keluar menemui mereka di beranda.” Kuhela nafas. sarat di wajah para pengantar. maafkanlah umatmu ini.processtext. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. sudilah kiranya memaafkan. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. http://www. Ampunilah. ”Jeng.” katanya menunduk. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. dan dengan sebal. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman. Dengan kepala tertunduk. juga panik. Aku maju dengan dada tegak. atas nama jenazah dan keluarganya. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Beberapa saat kemudian. Sia-sia. Dari celah dinding tepas. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. ”Kami pasrah. terimalah saudara kami ini…. ”Ampun…. Kau yang jadi kunci. Aku membalik. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. diiringi isak-tangis.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. tapi tak bisa juga.

Desa Kwangko. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. terus menjauh. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. Ia selalu menundukkan kepala. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. http://www. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. Namun sebaliknya. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. Namun. Namanya pun aneh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. padahal ia tahu dan percaya pada nabi.com/abclit. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. Jika bicara.processtext. panggilan akrab Gazali. seorang idiot. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. sebelah barat Desa Kwangko. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara.html Aku cuma membatu. dengan wirid yang lama. Tapi Patek. ia tidak menjelaskan mengapa ia . Jali. tidak mengandung arti apa pun. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. Itu pun ia tidak banyak omong. mulai tinggal di Dusun nCuni. kira-kira delapan puluh kilometer. di masjid yang berbeda-beda. Patek dikenal sebagai seorang gila. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. karena perilakunya yang aneh.

maklum. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa.processtext. Hanya riak air kecil ditiup angin. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. Walaupun kecil. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. baik karyawan maupun orang kampung. Untuk membersihkan masjid itu. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. Tapi ia pantang meminta-minta. yang rajin membersihkan masjid. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. Kebersihan surau itu. barangkali lebih tepat disebut surau. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal. tanpa hijab. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. Walaupun tidak kawin. tempat tumpah darahnya itu. ia tak mau dibayar. walaupun terbuka tak berdinding. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. tak ragu lagi. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya. Masjid atau surau itu tampak bersih. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian.html meninggalkan kampung halaman. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. Patek tentu saja bukan orang kaya. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. sebagaimana di Laut Hindia. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. tempat orang mengambil air wudu. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak ada debu. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. laki-laki dan perempuan bercampur. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. bahkan dapat disebut orang miskin. Boleh dibilang.com/abclit. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. Mungkin karena sedihnya. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. adalah berkat peranan Patek. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. hidup sebatang kara. http://www.

Tapi anehnya. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja. Pastor Dhakidae. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. di sebelah timur. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. tanpa mau menerima upah. Namun. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. tanpa pembelaan diri. walaupun jaraknya cukup jauh. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. tentu saja dengan izin penjaganya. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. ia juga pergi ke gereja-gereja. Ternyata. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. Ia menanyakan kepada Patek. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. semuanya di kota Dompu. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. . Jika pergi ke kota Dompu.Generated by ABC Amber LIT Converter. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. mencintai anak-anak. ketika orang itu sampai di kota. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. Karena sering mendengar cerita itu. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu.html sekitar seratus kilometer. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. Patek yang jujur. http://www. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. Karena itu. tapi naik kendaraan umum. dari Gereja Katolik Santa Maria. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja.processtext. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja.com/abclit. hanya menjawab dengan anggukan. Di samping ke masjid-masjid. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. Ia menganggap.

html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. Tapi Patek tidak banyak bicara. ”Patek itu sesat. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini.” kata Ustadz Abdul Rasyid.processtext. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini. Karena itu. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. dan akhlak seseorang. Tapi dalam kenyataannya. Tapi. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali. Jali tidak bisa berbuat apa-apa.” sahut sang ustadz. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang. demi keselamatannya di akhirat nanti. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya. ”Ya itu lebih baik. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan.” ancamnya. ”Ini bukan hanya pandangan saya. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. sekalian pindah agama. Di samping itu ia pun mengancam Jali. Karena keteguhan sikap Jali.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. walaupun orang yang dinilai . http://www. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu.com/abclit. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. Sebagai akibatnya. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. sehingga ia mengadu kepada Jali. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. tetapi juga Protestan. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek. ibadah. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman.” lanjut sang ustadz. ”Pak Jali. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta.

dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin. khususnya orang suku Sasak. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. Di pinggiran kali berwarna cokelat. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. sesekali datanglah ke mari. Ya. Aku yakin. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung. melambai-lambai ditiup angin. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya. . Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH.processtext. Bagi orang Sumbawa. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. Karena Tuhan Yang Maha Tahu. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung.com/abclit. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri.*** Garis Cahaya Bulan. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang.. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin. Kalau kau tak percaya.. sorga itu ada di sini.

Tak seorang pun.. tanpa mempersalahkan siapa pun. Tak ada yang aneh di sana. Maaf. kawan. apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja. sudah biasa terjadi. ha-ha-ha-ha. Gampang. menziarahi kubur ibuku. itu pun tak sepenuhnya salah. aku bukan pembunuh. Jangan dibalik. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. Menjijikkan.. Oleh karenanya. Dan dengan enaknya. Hidup inilah yang memilih kita. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada.. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. aku bisa membunuh. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. karena semua sudah ada yang mengatur. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. kalau aku mau. Ah. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf. lahir di rahim siapa pun. misalnya. Aku tidak bisa mengelak. di tengah panas terik. Jika tugasku selesai. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. Tidak. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan.com/abclit. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. Jangankan hidup. Bayi merah. dan semuanya beres. tetapi.. tetapi. Itu pekerjaan kotor. Ikuti perintah. kau salah sama sekali. Aku tak mau hancur... Aku masih bisa membangun hidupku. maaf terlalu kasar kalimatku. ya. Aku tak mau mati sia-sia. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku menemukan sorga itu di sini. dan manakala kau mengeluh.. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. http://www. tetapi saat ini.. Begitu saja. Begini saja. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu. Tunggu dulu.. atas apa yang kau dapatkan. Sekali ini. Dialah yang memilihku. dan melompat dari rel berarti hancur.processtext. Mengelak berarti melompat dari rel. Tapi. Jangan salah. Ah. Kita ditentukan. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan .. kita tak pernah bisa memilih. Hujan yang turun. mudah sekali mendapatkan uang banyak. aku harus . Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah.html Aku sendiri tak mengerti. sebagaimana yang kukatakan tadi. mengendap-endap. tidak kali ini. perintah itu bertengger di pundakku. Hampir tiga hari aku berjalan. Bayi.. bukan? Ha-ha-ha.

Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. demikianlah. Siapakah aku. entah siapa.. pandangan yang wajar saja. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. tentu saja aku selimuti. mendadak akan pulang. Belum selesai dia berkata.. terlalu religius kurasa. baru saja rokok hendak kunyalakan. kuberikan sebotol susu. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. lalu aku letakkan di sudut jalan.. Hening sekali perasaanku. Bayi yang cantik.. karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin.. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. dia. aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. Begitulah. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah. Jujur saja. kurasa. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. Sepi sekali di sekitarku. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. ah. Kalau aku mau.processtext. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. Salah seorang. Bayi itu. sudahlah. Umurku masih belum tiga puluh. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. bayangkan jika itu terjadi dan . aku tak ingin menjadi juru rawat. bersih dan menawan hati. Hmm. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. tidak. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. http://www.. Tetapi. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. Maka. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. tidak. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. aku muak. tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu.com/abclit.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan)..Generated by ABC Amber LIT Converter. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing.

juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. Tidak hanya laki-laki. untuk pemerasan yang sama. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. http://www.. Dan aku—mau tak mau. air. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu. Dari sana. Sempat kudengar ada suara anak kecil. gedung.com/abclit. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. Asisten si nyonya datang. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. Mereka bahagia. tetapi juga perempuan. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter. bahkan sampah. aku duduk di ruang tunggu. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Semua itu mungkin bagiku. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. Tanpa bicara dia menatapku. Bayi itu dipungutnya. Atau. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. bagai piring perak. tentu saja kuurungkan. Pagi itu. penasaran apa yang terjadi di sana. . dibawanya bayi itu ke sarangnya. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. lebih buruk lagi. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia.html punggung. Mereka gembira. di pinggiran kali ini. Tidak. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi.. dan anak-anak. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). Kalau itu yang akan terjadi. Digendongnya dengan sukacita. Aku pun tahu. Kopi sudah separo kuhirup. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. mengikutinya dari jarak tertentu.processtext. akan kuhabisi mereka semuanya. jongkok di kotak bayi itu. lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. Detak sepatu mengisi sunyiku. Tetapi. Dia tiba di gubuknya. Bisa jadi dia orang gila. Kubayangkan. tepat ketika matahari tenggelam. Bulan di atas sana membulat putih.

Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. dengan semuanya. setelah menerima sesuatu. Ini aneh. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. Bercahaya penuh. Yang aneh. Kubayangkan. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini. Bulat penuh. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. bersih. http://www. dan tergilas zaman. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. kesialan. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. Aku tak peduli. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain.com/abclit. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. tangisnya. semoga sudah masuk hari ini. Tetapi.processtext. Begitu tajam rasanya di mataku. dia masih memiliki kasih sayang. . Tidak mungkin. Malam ini. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. ". Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Dia memiliki keluarga." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. yang menganggapnya ancaman. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. wajahnya.. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. Tetapi. Tidak. masih bisa kusaksikan bulan purnama. karena memang tak penting. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Aku beranjak. ah. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi. betapa bahagianya si kecil itu. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu. Ruang apartemenku harum.. Langit tanpa awan. Ada senyum tersudut di bibir. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan.

Di tempat ini melimpah kebahagiaan. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Bukit Nusa Indah. Sunyi. Kepalaku masih berat. Aku pernah menyaksikannya. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. semua penghuni gubuk merayakan pesta.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. kepalaku rasanya mau pecah. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. cobalah ke tempat ini. 982 .processtext.html Aku terbangun oleh dering telepon. Gelap. dulu. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. tergeletak di meja dan di karpet. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Alkohol menebar. Dan sudah terlaksana. aku bisa menolak permintaan. Sudahlah. Di tempat ini. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. ini adalah sorga. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Semua sampah harus dibersihkan. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. Ya. di sini. Maafkan. di pinggiran kali ini. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. kemarin malam. Kubayangkan bulan. Dan seperti kataku. Aku duduk di tengah sampah ini. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. http://www. di pinggiran kali ini. Dia tertawa penuh kemenangan. Kapan-kapan. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. Aku banting telepon itu. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. Aroma sangit pembakaran. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. Semua sampah harus dibersihkan. Ini sorga. kemarin malam. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar. jika kau ada waktu.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Aku jadi teringat Vietkong. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. Atas nama kemandirian itu pula. Antara suka dan tiada. Siapa duga. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. penuh cerita pilu. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Tapi.com/abclit. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. . penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Rambo. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Batam. Nguyen telanjur segalanya bagiku. Aku jadi ragu berterus terang. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Tuan Chew Song Kit. http://www. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam.processtext. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Aku tahu.

Wan Syariful. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. bila ditanya. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. Sesiapa yang sudah dilepas. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Nguyen muncul tiba-tiba. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen.com/abclit. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. Mana tahu. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan.processtext. . dari benang menjadi kain. aku berbelah-pihak pada Nguyen. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. Atas keteguhan sikapku ini. Tapi. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. http://www. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. Tapi. Tapi aku tak begitu hirau. Dari mana asalnya kapas. jujur. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. Padahal. Wan Syariful. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. sambung Wan berhujjah.html Sekali lagi. Aku kehilangan jejak Nguyen.

di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Kami bersitatap tegang. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. aku bagai melompat menuju buku tamu. Nguyen. teman setiaku sejak dulu. http://www. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan.processtext. Apalagi. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun. Meski. I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. Sungguh. lewat di depan stand kami. . aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Saat itu. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. Semua bisu. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. Dan perempuan itu langsung memelukku. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. terus terang.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan. Tapi. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku.html Aku tertunduk lemas. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya.com/abclit. Tak salah lagi. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Suasana benar-benar hening beberapa lama.

processtext. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. sahut Nguyen pelan. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Mereka sudah jarang bertemu. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Aku telah keliru memilih jodoh. Begitu pula kampung halamannya. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. airmatanya tak henti mengalir. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. Pembantunya. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Sebab. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Sing Anh. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami. http://www. Aku makin memperkuat pelukan. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Dua adiknya. Dalam perjalanan naik taksi itu. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya.com/abclit. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. San Nam dan San Nangh. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. Nguyen masih duduk . Nguyen pasrah. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Hampir setahun ini. Aku memeluknya sepenuh-mesra. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. kami sudah pisah ranjang.

Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen.processtext. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai.. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku.. Sungguh. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda. aku tak bisa. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Menelepon pun tidak. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya.. Lagi pula. Bang Rajab. Kamu tidak mencintaiku lagi. Iya. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Maksudmu?. Memang. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam.com/abclit. Inilah saatnya. Nguyen. Aku terdiam dan ternganga. kami sudah pisah ranjang cukup lama. Nguyen meraih jemariku. kamu masih menjadi istri orang lain. http://www. Tapi.html menyandar didadaku. Maaf. Lampu temaram. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain.

Nguyen. saat aku sudah kembali ke Tanah Air. . Tapi.processtext. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. Selalu. http://www. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Langit masih bertabur Nguyen. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Sungguh. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Langit Hanoi terasa merah jambu. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata.Generated by ABC Amber LIT Converter. Oktober 2005. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung.com/abclit. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya.html Aku duduk di bibir ranjang. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. Nguyen. memang bukan akhir segalanya. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi. Andai saja. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. bagiku.

Beberapa ratus meter ke arah bukit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas.com/abclit. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. arus sungai menjadi sangat deras. Tak ada yang peduli. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Terlalu angker. http://www. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang . kata mereka. selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan.processtext.

Dua orang gadis tangguh. suaminya. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah.com/abclit. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar.anaknya. Dua anak gadisnya. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona dan Warni. Tak lama. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Hampir-hampir tak ada privacy. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang.processtext. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. http://www.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Rencananya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak hanya secara fisik. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Tak ada apa-apa. . Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Bahkan. Kakek Lido. tepat di atas ranjang keduanya. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Gelap. Tak terhitung dukun yang didatanginya. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah.

Alu kita patah.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. http://www. nenek Lido dulu cantik. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. dan kuat seperti ibunya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Konon. Tapi kakek belum tertidur. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. Tak jelas ia berbicara dengan siapa.. Saat istrinya membopong pisang. Lagipula.. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya.processtext. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. . Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Kata ayahnya. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. segar. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Nenek Lido bertubuh subur.com/abclit.

Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah. Akh. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi.” kata Nenek Lido lagi.” Jona dan Warni menjerit.com/abclit. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan..Generated by ABC Amber LIT Converter. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. pikirnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido..processtext. ”Siapa kamu? Aaakkhh. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Baju Jona telah robek di bagian depan. Tiba-tiba. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek.. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. http://www. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Terdengan pelan suara krek. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Kindo. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya..html ”Kata Nisa. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. krreek. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. angin semakin kencang. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan.. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. krreeek dari loteng. Rumah panggung itu bergerak.. .

Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Dari arah belakang. Lelaki itu tersentak keras. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Nenek Lido melengking marah. dengan secepat kilat. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam gelap.html ”Siapaa.?” teriaknya setengah melompat.. Rumah panggung itu bergoyang keras. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. http://www. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Dengan keras. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido.. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Rappe. Dalam gelap. Sebilah pedang pendek. Rappe semakin marah. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore.processtext. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Dengan sekali mengayunkan tangan. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Rappe mundur. Maka. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. jawara kampung sebelah.com/abclit.

Nyalakan lampu. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. ”Kindo. Saat mendekati sakratul maut.”. . ”Dia sudah pergi. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis. Berhasil. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah. Kakek tak bereaksi apa-apa. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri.processtext. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Tak ada yang tahu. kepalanya juga.. Hanya itu. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah.. Tangannya gemetar dan nyeri. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Cresss. Dengan susah payah. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Entah apa. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan..” Nenek Lido menyuruh Jona.html ke depan pintu kamar. Tapi Nenek Lido tidak menangis.. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi.. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras..com/abclit. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido.

Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Dari balik kain penutup jasad. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. . Korban berjatuhan. Istrinya. Ling-Ling.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. A Cong dan Beng Sin. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan.html Jakarta. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. Kedua anaknya yang masih hidup. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam.processtext.com/abclit.

”Orang-orang yang berkedok membela . ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati.Generated by ABC Amber LIT Converter. mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu. sebagian menutupi wajahnya.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San.” katanya. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Suamiku? Siong. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Rambutnya kusut. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. Keng Hong melirik kedua adik iparnya. Asap hio menyengat. gantunganku bila kau tak ada. http://www. Relakan kepergian Siong. Jangan menangis terus-menerus. ”Sudahlah.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Tuhan akan menerimanya di surga.” kata Keng Hong.com/abclit. Ling. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat.processtext. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya.

com/abclit. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil.processtext. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Kau sekarang menjadi anak tertua. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong. meskipun tinggal rintik-rintik. Setelah empat jam menggali tanpa henti.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan kalimat terbata-bata. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Wajah-wajah mereka muram. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Semalam. http://www. kita pikirkan nanti saja. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Sekarang. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Hujan terus turun sejak semalam. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. ”A Cong. Tapi A Siong mewarisi . A Siong yang pertama kali membukakan pintu.” ”Sudahlah. air masih menggenangi halaman belakang.” kata Keng Hong. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. Jangan menangis terus. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. kau pergi ke tempat Paman Cia. tentu mau menolong kita. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Malam. Keng Hong mencangkul tanah basah. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. Dia orang baik.

” kata Hong San dengan wajah penuh sesal. walaupun kita loyal terhadap Republik. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. ia bisa mewakili ayahnya. pendiri Pao An Tui. http://www. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. .com/abclit. ”Kita memang serba sulit. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Sementara mereka. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir. ”Aku datang terlambat. Ayahku teman baik Oei Kim Sin. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. ”Ayahku selamanya membela Republik. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Setelah korbannya ambruk. babah-babah kaya itu. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang.orang miskin seperti kita. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu.processtext.” kata Sin Liong dengan nada menyesal. Ling-Ling melolong-lolong. mereka kabur dari tempat itu.html keberanian ayahnya. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu. Ia lahir di sini. Dan mati pun di sini. Kalau ada apa-apa. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Kedua adik A Siong keluar dari kamar.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. Ia menjawab ayahnya tidak ada.

Mereka berteman baik sejak kecil. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkali-kali ia duduk dan berdiri. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. baik yang kaya maupun yang miskin.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita. kau tidak tahu.processtext. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik. . resah. http://www. kaum peranakan Cina miskin. Matanya menyelundup keluar. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Ia mengenal baik Oei Kim Sin. Lihat saja buktinya.com/abclit. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. Kakak. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku.” jawab Sin Liong kesal. Keng Hong mengangguk. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL.Generated by ABC Amber LIT Converter. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL.” ”Benar.” kata Hong San yang dari tadi diam saja. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. ”Puh. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. Memang benar.

html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. dan tidak banyak terpencar-pencar. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung.” kata Hong San.com/abclit. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal. . Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. http://www. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.processtext.

Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu. http://www. Semua cahaya di rumah kumatikan. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. temani kami. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.” katanya dengan suara parau.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya. tidur di sini. Tadi baru saja ada orang mengintip.” jerit perempuan di luar pintu.html Seseorang mengetuk pintu. tapi ditahan Keng Hong. Mei Lan. ”Aku. Kakak Hong. Masuklah. ”Kau gantilah pakaianmu. ”Siapa?!” bentak Keng Hong.processtext. ”Aku takut di rumah sendirian. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong. Bukalah pintunya.” kata istrinya sambil menggigil. .com/abclit. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain.

meresahkan malam yang basah.processtext. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. dan kau diam saja. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. meninggalkan mereka. http://www. Anakmu sendiri menjadi korban. dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu.” katanya pelan. terbunuh sia-sia. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut. ”Tidak. tapi ratusan. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5.com/abclit. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban.” kata istrinya sambil terisak. . dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda.” Keng Hong tertawa samar dan kecut.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suara tangisannya pecah. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. Kakak Hong?” tanya Hong San. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya.” kata Hong San. Ia telah tercebur ke dalamnya. Tidak hanya puluhan. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya.

Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya.” kata Hong San.” katanya dalam hati. ”Kau telah menjadi tumbal untukku.” ”Kakak beristirahatlah. Apa yang harus kita lakukan. Sementara Sin Liong menggelar tikar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku akan di sini sampai pagi. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Firasatnya tak enak.com/abclit. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat.” bisik Hong San. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. Malam turun semakin sunyi. Tapi aku sangat lelah. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. http://www. Di Semarang.processtext. . Lebih baik kutangguhkan besok pagi. ada seseorang mengendap-endap di luar. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. ”Kakak. Dan tumbal kaum kita. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. kita telah membagi dua kekuatan. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua. Siong.” kata Keng Hong.

Generated by ABC Amber LIT Converter. . ”Sudah. Dia menunggu di samping pintu.” katanya.processtext. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah. ”Jangan terjebak.html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.” Keng Hong mendekati pintu depan. ”Mereka benar-benar meneror kita. http://www.” kata Keng Hong. ”Bangunkan Sin Liong.com/abclit. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar. Kita sergap saja dia.” katanya.” jawab Hong San. ”Cuma ada satu orang.

Dalam hitungan detik.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu membukanya. tak tahu mesti berbuat apa. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. Di antara rentetan senjata api. Lama mereka tiarap. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah. sebat. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya.” Mereka berpandangan satu sama lain. . Ia membaca tulisan itu. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. tercekam ketakutan. Kedua adik iparnya memandang bingung. Diambilnya korek dari kantong celananya.html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam.com/abclit. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. http://www. ia membuka selot pintu. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Perlahan-lahan.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit.processtext. Kedua belah pihak mencurigai kita.

suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. NICA. Panglima Tentara Belanda. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda.html Yogyakarta. 2. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15.com/abclit. 3. 4. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit. 13 Januari 2005 Catatan: 1. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. Ia mati bunuh diri tahun 1949. . Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota. http://www.processtext.

lingkaran hitam itu lalu menyatu. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. Tetapi bukan itu. Bukan hanya tameng. selintas tampak seperti mata kayu. http://www. Lingkaran hitam yang berputar-putar. jambang. Dan. kuning kelabu. .. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949. kelabu jadi samar. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Bagai melayang. semua terbentang. dinding-dinding kaca. dengan ganjil. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. menjelma kerumun bulatan pijar. siang memanggang meringkus dirinya. samar jadi terang. Begitulah terik. tak tertahan oleh tatap. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. memang. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. seperti kemarin-kemarin. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. itulah yang dilakukan olehnya. Tetapi bukan. putih pirang. Di sana. lantas mengembang. lelaki tua itu merasa nyaman. amat terang. Dan dari mata tuanya yang buram. terus mengembang. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. menggenang. yang semuanya kotor.html 5.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan lalu.. di puncak monumen. Pedih ini akan hilang. Begitulah hitam jadi kelabu. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. ada sebuah titik. Tetapi takkan lama. Begitulah semua datang. Dan. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. matahari membelah. segera merembes air.com/abclit.. sebentar memusat sebentar menebar. meranggas tak teratur panjang dan jarang. Dan gedung-gedung.processtext. dalam nanar. seperti bintang.

mulailah hari-hari itu. dinding-dinding kaca. menyandang tas di bahu kirinya. seperti angin menyapu ilalang. menghunjam mata. Menerobos hutan. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. di puncak Monas. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. Derek II.. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. gema lori. Bengkulu.Generated by ABC Amber LIT Converter. menjelma kerumun bulatan pijar. bagai melayang.. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa. ada sebuah titik.processtext. Maka. Berdebar. Orang itu masih muda.. Atau menyibak.. Maka. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai... Titik putih. Dan gedung-gedung. pun mengajaknya. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka. Memandang ke luar. Membujuk. Huah! Orang.. Kata Pak Daud.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. tidak. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. berlalu lalang. Tetapi ya... Di sana. lift ke atas ke bawah... Mungkin lebih tampak seolah rebah. dadanya. sepatu boot.orang dengan helm.. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. semua terbentang. http://www. bukan itu. Akar-akar yang juga bagai bersembulan. Jepang menyerah. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. Seperti hamburan. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. pasokan senjata berdatangan. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu.com/abclit. Pak Daud. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. Apakah hanya matanya? Karena hari ini. Si remaja ini. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. semua terbentang. lalu proklamasi. Dan lihatlah. di atas kereta itulah ia. tajam pedih. tidak. Melayang. Kini tertahan. langit goa yang runtuh. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. lihat. Makin jelas. ledakan dinamit.. Derek (pos) I. beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. ada banyak emas. Atau mungkin membelah. Tetapi memang. Begitu juga tambang emas di Lebong. Letusan? Belanda kembali datang. ia . Dan Belanda pergi. Bagai melayang. Dan ah. bagai mengambang. Ia akan bekerja di sebuah tambang... Tampak amat sibuk. Menyerang tambang.html Begitulah semua datang. dalam nanar. Di atas papan itulah ia duduk. tangga-tangga besi. berkacamata.” kata mereka.. Masa berganti. Lorong-lorong. Berlompatan. Dan seperti mimpi. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. Dan wajah-wajah itu muncul. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. matahari membelah.. Monumen Nasional. tidak. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang.

Tatapan di balik kacamata. Tak enak ketahuan mengamati. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam.. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti. mendehem beberapa kali. kita berjuang. Maaf.Generated by ABC Amber LIT Converter. setelah Pak Daud meninggal. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant). Cuping hidung besar. saya mengerti..com/abclit. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu. Pak Jusuf berkata. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini.. Dik Najir.. Ia tak suka. anak Pak Daud. dalam kepalanya? Tentu tidak. ”Begitulah yang orang-orang dengar. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang.processtext.. seingatnya. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi. .. Pak Jusuf. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah.. tatapan itu. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. kenapa kini berbeda? Senyum itu. ”Ma-maaf.. itu. ia mengalihkan pandang. Dibuat di Jepang.” Senyum itu masih. yang diangkat jadi juru tulis gudang. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang. http://www. coba berdagang.” Yang orang-orang dengar. Kacamata itu. Dari jauh ia datang karena yakin Nur.” ”Begini.” Pak Jusuf inilah.. Refleks.. kembali ia palingkan muka. Lihatlah kini diri Dik Najir. Tetapi hei.. ”Saya membutuhkannya. Dik Najir. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu.. Tetapi. Tetapi. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. yang ingin saya tahu yaa.” mendehem lagi.” katanya. Agaknya ia harus terus-terang.html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. kini tersenyum. ”Saya paham. Jalan yang lebih baik. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. emas Monas itu didatangkan dari Jepang. cacat. Tiba-tiba si pemuda menoleh. dulu merupakan sosok sederhana. Tatapan di balik kacamata. bagai melayang. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. Kacamata itu. ”saya punya usul. terasa ganjil. Untuk modal.” senyum itu kembali.. emas yang kita sumbangkan dulu. apa adanya.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. di tambang itu. ”Dulu. menatap ke arahnya. ”Tapi. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana.. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik.

Lalu.html Satu kaki tak ada. baiklah saya terangkan. seperti mencari lagi posisi yang tepat.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas. Jadi. Saya tak mau. Dik Najir. mereka hanya meneruskan. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran.. disalurkan.. ”Emas itu memang ada pada saya. Saya. mendengus...Generated by ABC Amber LIT Converter. ia mengangguk. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf. Sumbangkan saja. Dan karena jumlahnya sedikit.” Diperbaikinya duduk. Kaki saya putus bukan karena berperang. melainkan disalurkan. bagai mencari persetujuan. saya kemari hanya untuk hal itu. Itu gampang.. Pak Jusuf mengeruk saku celananya. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. ”Sebetulnya bukan dikembalikan. lalu berkata.processtext. Tapi karena dinamit itu. tapi jumlahnya tak lagi sama. Tak lebih. Pak Jusuf. http://www.” ”Tidak. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu. Saya. langit goa yang runtuh. emas itu tak usah dibagikan. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. Dik Najir tentu bertanya-tanya. ”Nah. kata mereka. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. Saya akan membantu. begini. mengeluarkan dompet.com/abclit. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah..” Ragu. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. Dik Najir. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya.” ”Ah tidak! Mana bisa.” ”Tenang. Kemudian katanya.” .” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan. mereka bilang ada yang digunakan. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. maaf. seperti kecewa.. Jemarinya merogoh.

!” ”Triiingngng.Generated by ABC Amber LIT Converter.. teronggok di trotoar. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu... tak berkedip. kelihatan seperti patung. Semua tak bergerak. atau mungkin tiga puluh detik. astaga. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut. diam. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut. tidakkah berair bagai menangis? Pusing. Pak Jusuf mengangguk. Dengan hanya seribu. Bahkan udara pun seperti mati. Ia terus meluncur. Saat koin itu bergerak turun. kursi.. tapi kembali tertegun. Meja.!” Lelaki tua itu terkejut.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya.. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong. lapar. yang berhenti? Dan Pak Jusuf. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. nyaris menyentuh loteng.. langkah si pemuda terhenti. gorden. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda.. Ketika koin itu bergerak turun... tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung. diam. tertahan bagai mengambang.processtext. Dan. Sepertiku. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. Semua tak bergerak. Waktukah. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. http://www..html Satu rupiah? Ia ternganga. Tetapi mendadak. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. Tangannya yang terangkat. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks. yang siap menyambut koin. koin satu rupiah itu tak tersambut. sekilas tampak seperti mata kayu. semua kembali seperti biasa. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. mata itu. tertahan bagai mengambang. Mata di balik bingkai besar itu menganga.. tetapi koin 1. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. iseng.000 rupiah itu kembali? .com/abclit. menatap ke arah koin. aku tahu yang ia rasakan. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. Sepuluh. Betulkah? Betul. tersentak. Lalu. Diayunnya kaki. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti. Wajah bulatnya tengadah. Senyap. kaku tergantung. Tapi ajaib. si pemuda membalikkan tubuh. Mulutnya terbuka. dua puluh.... Koin itu berhenti. ketika itulah. taplak.

Tiba-tiba ia merasa letih.. Dungu..” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. di hadapan si pengemis. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. Memasukkan lamaran terus..processtext.. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana.” Si pengemis seperti lega. Tujuh puluh tujuh? Eh.. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Karena itu. Ramadhan telah berlalu. . Mencari kerja terus. tujuh puluh tujuh lidah emas. Muak. ”Maaf.*** Payakumbuh. berapa umur Bapak?” ”Oh. http://www. Jadi. asalan ia berkata. kau juga tahu. ”Tujuh puluh tujuh.com/abclit. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah. Tetapi ia telah di sini. Minggu 28 Maret 1830. Edisi 11/06/2005 Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. hari itu. Dan mata itu. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu.html Konyol. dalam lukisanku.

processtext. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. Dan orang-orang. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. Namun di luar dugaan. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. "Kalau mau Sultan . Roest. Ya. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. Hanya aku saja yang boleh sedih. terutama aku. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. "Segalanya sudah diatur. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. Pangeran harus kulukis tegak menantang. Jadi. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. ke langit sarat sriti.html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan.com/abclit. Residen Kedu berwajah batu itu. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Raden Mas Joned." desis Haji Ngisa. Lewat bisikan batin. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu. Dia tak ingin de Kock atau Valck. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. de Stuers. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. Karena itu. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci.

http://www. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan.processtext. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. Dan. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga." . de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. Tetapi. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. Ya. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid." kata de Kock. Kalau berani menatap. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan. Pangeran. "Jadi. Nah. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang. saya tembak putra-putra Sampean.com/abclit." Ya.html Ngamid bisa menghilang. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Setelah itu. mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. hati Sampean bisa terbakar. Jenderal. Jika ingin berkelahi. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. Namun. apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga.

wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. Ketahuilah. Gusti. Mengapa tak Sampean lagi takjub. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. Karena itu. dia berseru. Tuan. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan.com/abclit.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa.processtext. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. ketahuilah. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga. sambil mendongakkan kepala. urusan Haji Ngisa. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. Saya siap dibunuh kapan pun. dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. "Hei. Kematian toh hanya kabut halus. Dengan hati-hati pula. Urusan siapa? Urusan saya. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. bukan urusan Sampean. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. Sekarang. Jadi. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. moksa ke langit. De Kock akan tinggal arang. seperti Isa yang tersalib. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. membumbung menembus kabut. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. Jenderal. silakan bunuh saya." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Karena itu. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. kau tahu. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. http://www. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? .

html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu." "Jadi. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Namun." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu.processtext. Sampean tahu. Ketakjuban. berlebaran pada Jenderal de Kock. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan. ya. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar. Sultan?" "Ya. Sampean boleh khawatir. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. Gandakusuma. Gandakusuma menyangkal. ." "Allah tak menghendaki seperti itu. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. > 0 Meski demikian. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat. kita hanya akan bersilaturahmi. sekali lagi. http://www.com/abclit. Sultan." "Maaf. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan. wangi bunga kubur. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. Sultan. Karena itu.

Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. Dia tahu sebentar lagi. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. namaku Saleh. Nanti….html "Kita memang akan bersilaturahmi." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok. Gandakusuma. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira.processtext. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan. Dan sebagai iblis. tetapi de Kock telah menjelma iblis. Juga sayap dan kemegahan dunia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nanti kuberi kuda baru. "Sudahlah. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. http://www. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. Ya.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru. setelah pada pukul 08. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. mata yang kehilangan keperkasaan. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. Digambarkan bersayap atau tak bersayap. Ayolah. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu.com/abclit. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. Sultan. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. O." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. Juga sayap dan segala yang dicinta. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan. .

Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. 2.html Semarang. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. Anak-anak Sultan Ngamid. Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro". nama Dipanegara dia berikan kepada putranya. die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro". 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . "Asal Usul Perang Jawa.com/abclit. Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. 4.Generated by ABC Amber LIT Converter. Juli 2004. http://www.processtext. Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. 3. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey. 5. "Historische Tableau.

agar Ibu mengerti. Namun.olah saja ia sedang disengat kalajengking. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. Setelah aku bercerita panjang. anak dendang itu juga manusia. Tetapi. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Seperti kemarin juga. . Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. Anak satu-satunya.html Sumber: Kompas. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan. Angin menusuk gigil. Semenjak usia lima tahun. bola mata tempat biasanya aku berteduh.processtext. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. "Ibu. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. Ah. Serupa sebelum-sebelumnya jua. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan. Mencucuk sumsum dan tulang. Tak biasanya Ibu seperti itu. hati-hati. Pukul dua belas tengah malam. Sebuah danau tenang. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih.com/abclit. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Hatiku terbakar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain. sore kali ini menjadi lain." ucapku pelan. Mulai sinis. http://www. Namun. Sampai aku besar. Menuju jantung kota kecilku.

Aku telah selami pribadinya. Percayalah. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. Berbuai-buai. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari . Sebatang rokok kuselai. dekat sebuah lampu taman. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah.html "Cobalah mengerti aku." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. Bersipongang. "Ya. semakin banyak aku berbicara. http://www. Rabina itu perempuan yang baik. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya. Ibu. Tidak semua anak dendang seperti itu. Aku terpojok. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. Asapnya membaur dengan cuaca. keluarganya. Ibu. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya.com/abclit. Banyak lagi yang kucoba jelaskan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak ada yang menggoreskan cela. Menyisik bersama angin malam yang tajam. Aku duduk di tepi trotoar. Aku telah menyelaminya. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota.processtext." "O. Bahkan. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang.

Seolah berlari menjauh menembus cakrawala. http://www. dan penerus kesenian nenek moyang kita. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. Memukul. Mengimbau. "Mengertilah. Di sanalah saluang tiap malam digelar. . Suara yang sudah teramat kukenal. Bergendang-gendang. Tetapi. Haruskah kita membunuhnya. Dan suara itu. bulu matanya. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. Lirih. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan. Bergema melantuni malam. penjaga. Mengapa mereka harus kita sisihkan. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Lekat di kedua belah anak telingaku. Sayup." jawabku tenang. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai.ulang datang. Ingin menikmati rambut panjangnya. bibirnya. Aku ingin ke sana. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara.html trotoar itu. "Di samping berdendang. Ingin melihat senyum Rabina. Ibu.com/abclit. Akrab. Dan berulang. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. kita lecehkan dalam keseharian. jelas kutangkap dari gelagatnya. Namun. Pewaris. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh.processtext. Kurasa Ibu tidak sepicik itu. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan." terangku lebih panjang. berburu ke arahku. Seolah berpitunang. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. Ibu tetap tak sependapat denganku. Tetapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas.pandangan sebelah mata?" Selalu.

Dan lagi. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Sudah tidak bisa berbuat apa.apa lagi. Ah. Karena setiap malam Rabina berdendang. Aku tahu. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Ratok Bonjo 8). banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. "Ayah dan Ibuku sudah tua. Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. Pariaman Panjang 9). Menatapku lama-lama. Sebuah rumah kecil. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. Di saat lain aku justru merasa bahagia. Sawah Rawang 11). Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. Lalu menunduk. sejak singgalang 13) didaki. aku telah mengatakan yang sesungguhnya. "Aku mencintaimu. . Sirompak Taeh 10).Generated by ABC Amber LIT Converter. tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. Ruang." ucapku lagi meyakinkan dirinya. biar sajalah. Hanya gambaran dari keberantakan. Nyaris tak mempunyai kelebihan.html Suara itu masih sangat jelas. Hidup memang keras bagi kami. Memburu dan mengepungku. Kadang aku merasa malu. Tigo Giriak 12). Dendang yang melirih. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Tidak jarang. Kemudian pada malam-malam berikutnya.com/abclit. bagaimana lagi. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Dan Rabina seolah tak percaya. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. Rabina. Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat. Tetapi. Kadang terkesan merintih. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. "Mungkin kamu tak percaya. aku harus membiayai keluargaku. Tetapi. Saat mula aku datang ke pagurawan. Diam. aku mulai mengikutinya berdendang. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7). http://www. Jam empat subuh saat itu. Istirahat. Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. Meratapi malam.processtext. aku setia menungguinya.

Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. Tetapi. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. Sepenuh rasa cinta." katanya pelan. Memendung. Rasa cinta yang cemas.com/abclit. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. "Pulanglah. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. Sudah hampir pagi. "Cobalah berpikir kembali. . Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. Bergulir. http://www. Tentang rindu. Lembut. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Tetapi.processtext. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. Namun.html Rabina mengangkat wajahnya. Terima kasih sudah mengantarku pulang. "Kamu berada di anjungan berukir megah. Rabina. Membenahi anak-anaknya yang berserakan. aku mengangguk juga. Ukur timbang matang-matang. mencoba menatapku lagi. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Wajah Rabina mengeruh. Mencintaimu. Lalu aku mencium keningnya. Anak dendang. Jatuh menimpa jemariku." Berat rasanya. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah. "Aku istirahat dulu ya." "Jangan berkata seperti itu. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. Rabina!" Sejak saat itu. Tak kuduga. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. Aku mengusap rambutnya. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya. kami akan menikmatinya berdua.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Aku sayang kamu. pada waktu-waktu tersisa.

"Aku mencintaimu. Aku ingin ke sana. 8). awan-awan diam. Aku menatapnya. Mendengar suara Rabina. 11).Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Aku ingin mengatakan kepadanya. 4) Pantun-pantun yang dilagukan. 5) Istilah. Aku masih di trotoar itu. 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang. Meninggalkan trotoar itu. 10).html "Pinanglah. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. Lalu aku berjalan. http://www. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). Di langit malam. Ingin berteriak. . Aku mencintaimu!" Namun. Rabina. kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. Ke lapik gurau tempat Rabina berada. Menikmati saluang yang masih berkumandang.com/abclit. Menyelai rokok lagi. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. 9). tempat kesenian musik sedang digelar. 6). Membelenggu. Malam melilit. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. Biasanya dilakukan oleh perempuan. Lama. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Aku ingin memberontak. Cahaya bintang berkilauan memendar bias.

sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Sebagai penulis. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Ini untuk melukiskan. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. . fana. pendeta. atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. kebiasaan serta irama keseharian mereka. lembah dan gunung-gunung.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. Di seberang sana. ”Kamu ini psikolog. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang.com/abclit. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. http://www. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

. Begitulah. Sang sahabat garuk-garuk kepala. ”Wah... Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti.” tambahnya getas. kamu jawab semua pertanyaanku. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri.” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. ha-ha-ha. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri.. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta.” komentar istrinya. ”Masih cantik ya. Ketika hari pensiun tiba. http://www. pekerjaanmu urban planner. Setelah itu sore tiba. waktu tidak seluas dibayangkannya. ya mustinya bangun pagi. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”.. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain. Kali ini aku mau.” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung. Pimpinan perusahaan.. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi. . Beberapa teman ada yang mengusap air mata.processtext.com/abclit. Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. ”Kalau ingin menulis. Terasalah. Dia disuruh pidato. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi.” sahutnya berseloroh. aku lupa. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. karena ini rumah wong edan.html ”Sudahlah.. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. Terus terang. ”Aku memang belum pernah membangun rumah..” tukas sang teman. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.. bukan teknis.

..Generated by ABC Amber LIT Converter. memangkas dan merapikan daun-daun bambu. lanscaping.. bersih-bersih. Waktu saya ke sana.com/abclit. Soal menulis. ”Mas Daru kini jadi petani lho..” celoteh orang di kantor. Pertama berat. sebelum matahari terbit.. merapikan barang-barang.” ujarnya dalam hati. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. dan lain-lain.” pikir sang istri. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi.” Begitulah kehidupan pensiunan ini. gardening. space planning.processtext. sampai-sampai. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya... orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani. Pa?” tanyanya. Dia lebih tertarik pada tanaman... takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. http://www. kalian tidak tahu. Coba tanya beberapa teman. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman. Ia mulai bangun saat subuh. Dia menjadi petani.. ..html Dia cuma tertawa. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. sesekali merawat dengan memberinya pupuk. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. dan semacamnya. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman. ”Kenapa bangun sepagi itu. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. Katanya dia sampai diprotes tetangga. ”Benar juga. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa. ”Ooh. dia seolah seperti landscaper.

. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi.. Sang istri percaya. selalu terjadi pada para pensiunan. kali. Dia baru menyadari.. Ia dilarikan ke rumah sakit. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki.” Perkembangan berikutnya lagi.. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga.. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya.. .. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya.com/abclit. Hanya saja. Bukan hanya stretching. berada di ruang kerja menghadap komputer. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. ”Liong bun. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali. dari berbagai penjelasan dokter. kaget juga banyak orang). Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian. ia percaya. Akan tetapi. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit..” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. melihat kemajuan suaminya.processtext.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan.” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya.. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa.

dengan menggunakan nama panggilan suaminya. . Semua saudaranya tumbang di jalan. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango. Wanita ini tersenyum. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam. Patman. http://www.. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka.. Ah.” tanyanya. Sang istri kian penasaran.. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan. Di balik gunung ada gunung. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan.. Suaminya telah pulih kembali.com/abclit. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. ”Itu gunung apa Bib. Si istri kaget.. diiringi anjing kita. bukan Gunung Indrakila.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Didekatinya suaminya dari belakang.” suaminya melanjutkan kata-katanya. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Sang suami diam. Itu Gunung Gede-Pangrango. ”Indrakila!” jawabnya. di balik cakrawala ada cakrawala.. Ia ingin menguji memori suaminya. Itu tadi ucapan suaminya.. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali.processtext..

”Bibib telah benar-benar sehat. Dia peluk suaminya dari belakang. tentang asal-usulnya.. pertemuan mereka. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. Itu peristiwa puluhan tahun lalu.html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri. Langit semburat merah. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita. Si suami diam sesaat. ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam.com/abclit. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. Pagi benar-benar datang. siap menulis lagi. http://www. Mata sang istri menjadi berkaca-kaca...processtext. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik. sebelum berucap. Ciawi Junction.” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya. bukan Mertasari.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Terhenyaklah sang istri... 2005 .. di pinggir kolam. Dia tahu.

Saat ia berbaring di ranjang. memandang langit siang yang terang. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Dan tadi.html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Menyisir rambut dan memotong kuku. sembari bersiul-siul kecil. Langsung. ia bisa mencium bau amis darah itu. keramas. Ia berdiri di ambang pintu. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Saat Ramadhan kemarin. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh.siul ringan. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu. ia berharap maut benar-benar akan datang. sembari terus bersiul. hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. mengusir bayangan buruk itu. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. http://www. Atau erang kesakitan leher digorok. dan wangi. Ramadhan kali ini. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Ia memejam. Setiap menjelang Ramadhan. dan segera saling bisik. Melipat selimut. tapi ia masih saja hidup.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bayangan kematian penuh darah. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Menyemprotkan pewangi ruangan... Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Ah. mengerut menatap laki-laki itu. Merapikan pakaian.processtext. rapi. .

Ini yang membuat kian penasaran. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Mungkin intel. Rutin yang ganjil. tapi pergi ke kuburan.Generated by ABC Amber LIT Converter.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Sering. menyapu. Menjelang Ramadhan ia muncul. Ia mengerang. Kulit wajah mayat. Bila pulang. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. seperti kotak tempat menyimpan gitar. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Ia seperti tak mau dikenali. Bergegas. Mengepungnya. Tato di lengan kanan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan. Sesekali. Menutup diri. Menenteng koper besar. Wajah. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Dan orang-orang merinding mendengarnya. mereka mendengis bengis. Misterius. Seperti selalu menghilang. seperti mengawasi. . Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki.com/abclit. Entahlah. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. ia terlihat merokok siang hari. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Parut luka seputar pundak. Kadang berbulan-bulan. Memakai jaket kulit hitam. Aneh. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Barangkali ia dukun. http://www. Lihat saja tampang seramnya.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita.html Ia jarang berada di kamarnya. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Para tetangga jadi gelisah. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. seperti lilin panas mencair.processtext. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Beres-beres kamar. seperti bekas bacokan. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Berhari-hari. Sebab. memandang entah apa. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Tiap sore ia keluar.mayat itu meleleh. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Mungkin ia rampok. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi.

Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Mati dengan tenang. Mungkin. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. di bulan Ramadhan. Seorang hakim. Ia terkapar.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menghabisi seorang wartawan. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Orang.” kata komandannya. Dan ia membusung bangga. ”Kamu punya bakat bagus. Benar kata komandannya. . Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia akan tinggal di rumahnya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Di kampungnya. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu.processtext. bisa memukuli orang sepuasnya. Paling mentok jadi sersan. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati.saat seperti itu. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. nanti bila sudah berhenti. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Meski ia tahu. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Tempat menyembunyikan diri. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia pun suka menikmati saat. Lalu beberapa order ringan lainnya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. dan disiplin. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Alangkah hebatnya jadi tentara. Tapi membuatnya merasa aman. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. kata teman-temannya. Memang. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. tertib. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Dikirim ke medan perang. Sumpek bau comberan. tak ada yang berani menghentikan. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. karena pejabat itu pingin kawin lagi. sebagai seorang pembunuh bayaran. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. http://www. Membunuh seorang pengusaha.html Ia tergeragap bangun.orang mengerubung. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. ia diberinya pekerjaan. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Dan itu disukai komandannya. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Lalu sepulang perang. Kisah para raksasa penyantap manusia. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Umur tujuh tahun. Percuma kalo cuma jadi tentara. Kamu pantas jadi tentara.

Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Rahang terkesan pipih. Beberapa mati dalam penjara.” ajak Kiai Karnawi.processtext. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. http://www.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun.” . Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. ”Aku tahu. Beberapa menderita sakit jiwa. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Tugasnya hanya membunuh. Mencibir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bicaranya santun. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Dan ia mulai mengawasi. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Biar tak banyak korban. kenapa mobil perlahan berhenti. kamu mau membunuhku.com/abclit. Karena itulah. Sorot matanya tenang. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Getir. Tanpa jejak. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Sayang kan.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Dan ia tersenyum. Kulitnya yang coklat resik. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. ”Kamu bisa membunuhku di sini. lalu mendorong mobil ke jurang. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Ia heran. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Ia tak terlalu menyimak. Kamu cukup membunuhku. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. itu mobil mahal. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Sepotong.

Lalu menggelar sajadah. Ia meraba belati. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Enggak usah merepotkan sampeyan…. lakukan tugasmu. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Terdengar letusan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. http://www. ia hanya berdiri gamang. Yogyakarta. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Tapi tolong. yang pelan. Ia merasa senja meremang. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Ia mulai diusik gelisah. Jangan sampai aku kesakitan ya. Dengung jutaan serangga mengepung. dan kini memburu kematiannya. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Kemeresek daun jati jatuh. Lengking gagak di kejauhan. kecuali mati di bulan Ramadhan. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Gemetar tak yakin. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat.html Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Kematian di bulan Ramadhan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang.com/abclit. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya.processtext. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Kelebat bayang burung menyambar. Ia bisa menembaknya. Singup. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. ”Sekarang. Dan semoga saja. Senyap. Kalau boleh memilih. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Amin. Pelan. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Ia pun kemudian selalu berharap.

kalau pulang. benjolan itu sering pindah-pindah. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Sampai akhirnya.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas.com/abclit. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. Sendiri aku kembali. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Dengan tersenyum ia menjawab. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. kataku dalam hati. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Jangan terlalu banyak bergerak. bertahun-tahun. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Nah. Kurasa benjolan itu mengganggu. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Kuraba kepalaku yang nyeri. Sejak itu. membuatku tidak betah. aku selalu mencari teman untuk pulang. aku tidak tahu. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. Entah berapa lama. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher.Generated by ABC Amber LIT Converter. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. berakhir pukul satu siang. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Setelah sadar. Setelah pulang dari rumah sakit. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. Seperti biasa. Ada rasa ngeri dalam diriku. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Bapak perlu istirahat banyak. katanya. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. Nyeri di kepala dan bagian . Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. aku tidak tahu. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. ternyata dibalut dengan perban. http://www. tetapi karena kalau tidur. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. justru itulah yang kukatakan kataku. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. bukan karena sakit. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Ketika aku membuka mata. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. aku menjadi takut ke rumah sakit. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Suster. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. di mana aku? tanyaku. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan.processtext.

tetapi tidak berhasil. kawan yang di sebelahku. Aku melihat cahaya yang indah.. Ia melayang jauh. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Kali ini kukira ia mengoceh lagi.html kaki. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. jarum itu menancap. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. tengah malam. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. kalau boleh dengan menelan obat saja. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. yang berbaring dekat jendela menyapaku. http://www. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. Ia menyapaku dengan lembut. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. Ketika makan siang usai. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Tadi malam. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam.processtext. Oh. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki.. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Sejak lama aku menghindari suntikan. Aku merintih-rintih. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Kami saling menyapa. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. . Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. Beberapa kali aku disuntik. dekat jendela pula. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. Persis di pantat. muncul lagi. Tidak ada tulang yang patah.com/abclit. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. hanya luka memar dan benturan di kepala. damai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. indahnya.

sungguh menyejukkan hati. Semua orang berpakaian yang indah-indah. HB-nya sedang menurun. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. kawan. mereka rindu bertemu dengan Anda. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali.. . Berjalanlah bersama kami. tidak usah takut. Tidur dekat jendela ini amat nyaman. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. Segala derita berlalu. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden.com/abclit. Petang harinya aku membuka mata. Ia harus mendapat tambahan darah. Semua tampan dan cantik jelita. Aku tidak tahu apa yang terjadi. persediaan yang tidak habis-habisnya.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. ketika Anda tertidur. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. seseorang menyapa aku. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. sebuah pesta yang meriah. oh. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. Para pelayan yang sopan. ada suara menarik.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www..processtext. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. aku bertanya. Dan belum lama berselang. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Suster itu tersenyum. Bidadari-bidadari dari kayangan menari. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. hidangan anggur merah yang meriah. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Suster. ayunannya yang menggoda. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. Lentiknya tangan mereka. nikmatnya. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya. Pak.

Pak. Ya.processtext. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar. minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. katanya sambil melangkah ke pintu. jawab suster itu tenang.Generated by ABC Amber LIT Converter. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Rupanya ia sedang terburu-buru. . Ruang perjalanan akhir. katanya perlahan. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. Baiklah. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah.html Paginya.com/abclit. tidak apa-apa. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. Ah. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. Maksud suster? tanyaku penasaran. Saya akan minta bantuan kawan yang lain. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. http://www.

di bangsal yang lain. Kudorong daun jendela. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar.. http://www. Pak? Suster. Namanya Roni. tanpa mengenalkan diri. Edisi 10/02/2005 Aku lupa. Kurasa lebih lima belas menit kemudian.com/abclit. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera. Setelah suster pergi. Buru-buru kutekan bel. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada apa. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. Bandung.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. kapan aku kenal temanku yang satu ini. aku dipindahkan ke ruang sebelah. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. membukanya lebar-lebar. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Suster berdatangan ke ruanganku. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia .. disangga bantal. Semula pada suatu sore dia datang.processtext. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas.

Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan. Berprofesi makelar tuyul.processtext. ”Anda sendiri gimana. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. genderuwo atau jin. apa tidak dosa?” . paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku.” katanya. genderuwo. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar.” Saya terdiam bengong. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. jin.html gaib. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya.com/abclit. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Ah musyrik. http://www. sampai segala macam pesugihan. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. ”Betul kok Mas. mobil. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. Soal tuyul. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. ”Ah yang benar!” sahutku.” jawabku.

aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan. Istriku merengut. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam. Kami bingung mencarinya. Wong saya hanya perantara. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian.html ”Ah ya tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap uang di tas kerjaku hilang. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu. ratusan ribu dengan ratusan ribu. ”Mau tahu siapa yang punya. Uang kami atur menurut nilainya. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. mana untuk uang sekolah anak-anak.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Itu orangnya.” jawabku. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. detik itu pula raib di depan mata kami.” . Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. http://www. ”Betul kan Mas. Harus dengan uang sebelumnya. ada tuyul di sekitar sini.” katanya. ”Ah memang.processtext. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.com/abclit.” Beberapa hari kemudian. Nanti akan terlihat siapa orangnya. itu dia sedang menggendong tuyul. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. ”Lihat Mas. Nanti kalau mau saya ajari. Perempuan berambut ikal. ada peristiwa aneh di rumahku. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia. dan lain-lain.” ”Saya tidak melihat apa-apa. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. Dia minta memerhatikan air.

pikirku. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo.processtext. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. atau di Desa Tempuran. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. Pandansimping. http://www.com/abclit.” Bulu kudukku meremang. ”Cerpenmu bagus Mas. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. pikirku.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. ”Bisa lho Mas. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.” ujarnya. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila. Mana mungkin. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S.” katanya. . Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan.” Benar-benar gila orang ini. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka.

” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. Ya Allah. Hingga pada suatu sore. ”Monggo Pak. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana.” ”Tidak kok Nak Mas. menjelang melintasi jembatan. telah membuatku tidak bisa . Ah. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku.” sapaku. http://www. rapal.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku. ini pasti perbuatan iseng si Roni. agak di luar kota.Generated by ABC Amber LIT Converter.” jawabnya lirih. Pulangnya sehabis magrib.processtext. saya boncengkan. Tapi… senyum itu… ya Allah. ”Lha. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. pikirku. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. ”Kalau mau ke kota. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya. terasa bulu kudukku meremang. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa. supaya kerap mengirimi saya makanan. senyuman seperti orang menahan sakit itu. Nak. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap.com/abclit. pikirku. ini saya beri tahu ritualnya. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu.

berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. Setelah bertanya kesana-kemari. Dia tertegun beberapa saat. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga. kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya.com/abclit. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik.... Ternyata tidak mudah.html tidur semalaman. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Seorang lelaki paruh baya. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh. http://www. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. alis tebal. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras.processtext.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga.” jawabku seingatnya. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya.) Klaten 2004 . berjanggut yang sudah sebagian memutih.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran.

. ”Elok-elok di sana. Kakak tak hirau. memeluk. . ”Paman dan bibi akan menjagamu. seperti puasa. Kosong. Wajahnya tambah putih. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. namun kakak bergeming.com/abclit. Hanya memandang. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari.Generated by ABC Amber LIT Converter. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. bukan?” Kakak diam saja.processtext. Kau akan dimasukkan kerja. Nak. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan.. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang. http://www. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. jauh. tidak tidur malam. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. kian lesi. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. Engkau akan mengajar lagi nanti. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. Kau senang dapat mengajar lagi.” pesan ibu. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. serta menarik-narik tangannya. dsb. Lurus. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. berlari mendekati.

tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. tetapi ayah tidak terjangkau. http://www. ”Payah hubungan pos sekarang. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh.” ”Kakak mendengar.html Tetapi ibu terus bicara. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan. Legam.” Kakak tetap tidak beringsut. Itu. padahal hanya masinis kereta api. Ah. bertangisan. Begitu.Generated by ABC Amber LIT Converter. harum dan bagus sekali rambutmu. Nak. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela. Sedang kami hanya bisa memandang. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. Sampai kini. Ikal.” ”Malas bicara. Membawa ayah. Sudah lama kakak serupa patung hidup.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap. ”Seperti tak mendengar.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak. izin dulu ke komandan. ”Tapi kakak diam saja. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah. Seolah-olah beliau orang penting.” kata adik-adik.processtext. Bukan kepala stasiun.” . paman dan bibimu tiba. ”Ai. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus.” jawab Kak Lela.” ujar ibu. ”Ajaklah terus berkata-kata. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat.com/abclit. ai. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. ”Dia sayang sekali kepada kalian. menyeru namanya. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya. Sejak dia tidak jadi mengajar. Salamilah paman dan bibimu. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA. ”Kakak sedang malas bicara. namun ayah tetap tidak dapat dicari. Lambat. Mariani.

” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. Yang lain siap-siap menyergap. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan. anak rancak? Eh. Kuburu anak-anak itu.processtext.” ”Terlalu! Tengoklah. Disuapi. ”Anak-anak nakal itu. lihatlah.com/abclit. http://www.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak. sama besar denganku. Sudah kering sekarang. Ibu-ibu menceracau. Berlubang-lubang.” istri paman menambahkan. Kak?” ”Mau.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia melengking.” kubilang.” balas ibu mengangguk. ”Mereka lempar kakakku dengan batu.” sahut ibu. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat. ”Paham aku itu. berdarah-darah. ”Disuapi engkau Mariani. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak. Kak. ”Begitu keadaannya. aku melesat ke luar rumah. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. berteriak-teriak.” . Ada empat orang.html ”Jalan pun buruk. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap. ”Tapi tidak dalam. ”Tapi mau dia makan. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. lalu menoleh kepada kakak.

Mengajilah saat maulud. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. Tapi yang muda-muda menolak.” dia bilang. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. ”Rumah ini bagaimana. Bibi ingin mendengarmu mengaji.Generated by ABC Amber LIT Converter. penumpangnya tak menengok. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. ingin bersih-lingkungan. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat. ”Bagaimana aku bisa pindah. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Mariani? Nanti mengaji. Bahunya bergerak-gerak.” ”Jual.” Tidak berjawab.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. ya. Hampir terjengkang. Paman kembali melihat ibu. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau.processtext. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Nak. bagai rembesan pada panci rusak. ”Lepaskan.” . Sebuah bendi lewat di muka rumah. ”Masih rajin engkau mengaji. Kuping mendenging. Pamanmu juga.” jawab ibu. sebagai biasa’. Katanya. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Sengaja buya tua itu kemari. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang. Tumpahkan terus. ia bilang. Kepalaku nanar. Kakak terisak. http://www.com/abclit. Membelai-belai rambut dekat luka. Jafar.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. kubalas berteriak. Seorang lelaki membelalak garang di depanku.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi.

” ulang Paman Jafar. serupa badai. bila aku pindah.” balas ibu. Padahal. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati.” lanjut bibi. Kak Lela berdoa. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak.” Berbisik pula pada adik-adik. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. memandang paman serta bibi penuh harap. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. Juga karena status ayah. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. Menyulut rokok.com/abclit. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap. Jafar. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. Sesekali kubawa pula ke sekolah. tak menengok. http://www. Lalu. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam.processtext. Lagi pula. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela. Berangkat gembira di pagi hari. ”Ambil bantal. ”Belum juga ia berubah. Karena status ayah. ”Tenanglah Kakak. banyak. meski tak diucapkan. ditolak jadi guru. Jafar. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Bagaimana . Orang-orang tetap lewat di muka rumah. Paling tidak.” kata ibu. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. menatap kejauhan tak berbatas. sudah tiga bulan ia mengajar.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman. sewaktu pulang. ”Tidur. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. Polos. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. Bersih. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Juga siang. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. menanti pengangkatan. tahu keberadaannya. Dia luruskan kakinya. ”Sudah ke mana-mana kuobati. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Atau diajaknya adik-adik.html ”Ei. Tetapi. Melihat pula ke luar. Diselimuti. diputus tunangan. aku.

” Ibu bernapas lega.” ujarnya kemudian. kalau laki-laki itu pulang suatu hari. *** . Mestinya ayah juga. Putih. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya. berharap kakak jadi guru tamat SGA. ”Terpikir olehku. ”Kubawa Mariani sekalian.html keadaannya. tak bergerak-gerak seperti bayi. Tetapi malah juru-api kereta api. Napasnya lunak. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. tapi tangannya campin pula. atau kami yang kehilangan mereka. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. Dik. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. Tetapi. Bila mati di mana berkubur…. Kak. ”Syukur ada kakak kalian. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil.” Kakak terus tidur di beranda. Dia kawanku. ya?” Kami mengangguk. ”Komandanku tahu. Dekat kami. Juga lalu di muka rumah. putri sulung. seperti ayah. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. tak mungkin tidak. ”Rencanaku besok kembali.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah.” ucap Paman Jafar. kakak dibawa paman dan istrinya. Tapi. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. Besoknya. http://www. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Kami juga.com/abclit. Tugasku menunggu. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami.” Ayah tertawa suatu ketika. ”Kakek-nenek kalian guru. Kulitnya bersih. Ibu menangis. Di Pakanbaru juga kacau keadaan. Barangkali karena perempuan. kalau cukup biaya.” Ibu mengangguk-angguk.processtext. Termasuk jalan hidup anak manusia. terampil-cekatan menangani rumah. Kakak telah pergi. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. Ayah bangga dengannya. Anak Ampek Angkek. kakak.

Karena kata Pa.processtext. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. mengalahkan aku. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Ma. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. orangtua Cik Giok kurang mampu. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting.html Jakarta. kamar itu amat sangat sederhana. Cik Giok menempati kamar belakang. setiap kali Pa bersuara. http://www. di sebelah gudang. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. bisu. diam. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. Malah sejak aku belum lahir. Emak. Separuh dindingnya dari tembok. lalu di pelabuhan. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. di Pontianak. Kalau mengikuti urutan keluarga. Supaya anak dan ibu selamat. aku mengikut saja.com/abclit. ibunya sakit-sakitan. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. Sempit. Di rumah kami. dekat dapur. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. Emak mau. Pa bilang. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. . Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di rapat persiapan perkawinanku. Hidup mereka susah.

hingga aku terlelap. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Emak. Katanya.html Aku pernah bertanya. Tiba-tiba aku menangis. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. bilang pada Emak. Cik Giok menangis seharian. tahu. membereskan rumah. Aku kelas enam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Supaya di hari Minggu. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. Tetapi aku diam saja. mengapa Sabtu. saat bisa sedikit bersantai di kamar. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Kalau sudah begitu. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. menemuinya. berusaha mengeluarkan senyum. Enam bulan. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. Sudah dekat ujian. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. memanggil. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. katanya. dan mengurusi segala keperluan Emak). Aku ditariknya keluar.com/abclit. mengajakku merasakan kesejukan di sana. Tidak apa-apa. Malam itu aku tak bisa tidur. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. dibuatkan baju. Ma bilang. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. ibunya Cik Giok sakit keras.. kudapati kamar itu sudah kosong. bahwa ia bohong. aku masuk kamarnya. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. Sehari sebelumnya. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku..processtext. Juga beberapa malam setelah itu. aku mengantuk. katanya. Terutama siang hari. Jadi Cik . ketika pulang sekolah. Lewat. mencuci. aku bayi yang cengeng. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak. Katanya. berdebu. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Sering di tengah cerita. Sebulan. Cik Giok harus dipanggil. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. Lewat seminggu. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. yang kebetulan tidak tidur siang. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. Pulang sekolah. menggosok. Memeluk bantalnya yang tipis. Esok harinya. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. Satu kuartal. Hingga seminggu lalu. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. http://www. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. sebelum Emak bangun. Sore hari.. Itu hari yang paling tepat. waktu itu.

Ma. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Tetapi melihat wajah Emak. . Makan. Menyiapkan sarapan untuk Emak. Cik Giok menangkupkan tangannya.html Giok akan datang. Ma menanyakan kabar Cik Giok. suwiran ikan asin bakar. memberi hormat pada Emak. aku putuskan kembali duduk. siap menyusulnya. Aku bilang. ia kembali ke rumah ini lagi. Keras. http://www. Baik. Pa. Aku sudah berdiri. yang tak beranjak dari meja makan. Aku mengikutinya dari belakang. Pagi-pagi. Cik Giok sudah sibuk di dapur. dan aku.processtext. Dan Cik Giok benar-benar datang. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Kami menyantapnya dengan lahap. Menghabiskan bubur di mangkukku. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. Ia akan tinggal terus bersama kita. Matanya. Semua dari kampung. Ia kutarik masuk. Sudah. katanya. kataku. dengan dahi berkerut. Tenggorokanku kering.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semua baik. atas perintah Ma. aku bertanya pada Ma. Emak. Tidak. Kami berpelukan erat. kelihatan sedih. Di ruang tamu. mau mengajak Cik Giok. Aku berlari menyambutnya. kata Cik Giok. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. Cik. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Persis seperti dulu. aku harus mengepas baju pengantin. kata Ma. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Mau kawin kamu. Siangnya. Aku menyeringai saja. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Kurebut tas kain dari tangannya. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. Ma kelihatan kurang senang. Setelah empat belas tahun pergi. Ubannya sudah banyak sekali. Bubur encer dengan tung cai. mendengus.com/abclit. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. selamat. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur. Wajahnya lebih tirus sekarang.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Aku masuk tanpa mengetuk pintu.processtext. Mungkin.com/abclit. Cik Giok tampak bingung. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Aku keluar kamar. Tulis surat buat siapa. Meski masih agak longgar di pinggang. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. perutku terasa sangat penuh. kataku. Baju sudah hampir selesai. Katanya lagi. Cik. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Sama persis dengan Ma. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Kami berjalan beriring. Tak berkomentar. Ma bilang itu biasa. Mencari bajaj. Aku berputar-putar di depan cermin. Ma menggeret Cik Giok keluar. Ada apa? Ia bertanya. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Terkejut dia melihatku. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Cik? . Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. http://www. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. Ia membereskan kertas suratnya. Menuju pulang. Tidak bisa tidur. Sakit. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Sedikit lebih gelap. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Cik Giok tetap diam. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Itu karena terlalu senang. Aku hanya mengangkat bahu. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. Cik. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. tak tersenyum. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. Tubuhku lelah. Mataku berat. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Ma mencubit lenganku. mencari makanan di dapur. menuju jalan besar. setiap calon pengantin selalu begitu. hanya beda warna. Ma menjelaskan. Dia belum tidur. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. kata Ma.html Ayo ikut.

Keesokan harinya aku bangun terlambat. Entah dari mana. Ketika aku tiba. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Ketika aku kembali ke ruang tamu. sudah lama tidak jalan jauh. Dia akan segera kembali menjelang pesta. nanti aku akan mengerti. Cepat bangun. menuju kamar mandi. Aku bersiap menyusul Cik Giok. Ma. kata Ma. Ma minta aku pulang. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Nanti semua akan jelas. Aku tak ingin pergi. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. Cik Giok kena stroke.Generated by ABC Amber LIT Converter. Penting. Aku berlari ke kamar tidurnya. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Cik Giok sudah pergi. Menguncinya dari dalam. Aku sudah tua. Sehat dan selamat. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. katanya. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Aku melompat. Mereka khawatir. Pa.com/abclit. Temani Pa. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Wajahnya tegang. Terlambat. http://www. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Nanti. Malamnya. Urus Emak. katanya. katanya. Pa tiba-tiba menghilang. Kau harus berangkat ke Pontianak. Dia cuma bilang. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. Dengan suara keras. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Ma ikut bersungut-sungut. Tetapi suami malah mendesak. Terserah apa kata Ma. Entah untuk berapa lama. Emak. Cik Giok sudah pergi. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Meninggalkanku. . Di tangannya ada kursi plastik. aku masuk kamar. dua belas hari lagi. Kosong. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Malas. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu.processtext. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Dicari Emak. Aku tertidur. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Emak menangis. Kuku menyuruhnya masuk. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok.html Keluarga di kampung. Katanya. tetapi Kuku menahanku.

Perutku mulas. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. ia berbisik. hingga aku sulit bernapas. Erat. mendorong. Maafkan aku. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. Rawamangun. genta-genta kecil bertalu-talu. . Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. menjerit sambil berebut mendekati aku. Pa. Beri hormat pada Mamamu. Kakak perempuan Cik Giok. Ia memelukku. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. besar. katanya berulang-ulang. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. diam-diam. Pa menangis lebih keras lagi. kakak Cik Giok mencium pipiku. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. membuang muka. Di rumah duka. http://www. Semua yang ada di sana menangis. Cik Giok tak menunggu aku tiba. memelukku. yang wajahnya amat mirip dengannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. Aku menangis.processtext. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. menyeka matanya. saling menindih. menjemput kami. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Dengan muka basah.com/abclit. menggilas.

bermunculan di sana mengusung misi mulia. gelombang itu menyemai ratapan. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. Apakah negarawan. politikus. Ketika surut. atau Pengisi Neraka. 26 Desember 2004. meraup uang selawat. Gelombang yang berlabuh.processtext. pengarang. Pencapaian yang luar biasa. Ya Allah. di negeri yang aku cintai ini. Banyak yang bisa dituai di sana. kendaraan roda empat. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai.com/abclit. penyair. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi. Gelombang itu bernama tsunami. kataku dengan titik air mata. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. . Said Huseini. Menjarah perhatian. Pembunuh yang tak pernah gagal. dan jasad manusia. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. pengusaha. Itulah yang terjadi pada Minggu. di Nanggroe Aceh Darussalam. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok.Generated by ABC Amber LIT Converter. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. http://www. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. Dan: Menjarah! Menjarah harta. dari hari ke hari. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. di dasar kerak samudra. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. secepat pesawat B747. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. dari waktu ke waktu. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas.000 jiwa melayang. penganjur kebaikan. Menjarah popularitas. Hampir 300. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. di Nanggroe Aceh Darussalam. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku.

Aceh Besar. kecuali ayunan rotan tersangkut. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. menggendong anak perempuan berkepang dua. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. Kami diajak ke belakang rumah. Secangkir kopi. Inilah sarapan pagi di luar hotel. Aku suka deburan ombak. tiga potong pisang goreng. Tak ada hiasan di dinding. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Kami masuk ke ruang tamu. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera.Generated by ABC Amber LIT Converter. Istrinya masih muda. . Celah daun tersibak.” ”Abang tak suka laut. Kunjungan singkat di Banda Aceh. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. seorang lelaki berdiri dari sofa. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. mencari buah pohon seri yang ranum. Mak menunggu berhari-hari di pantai. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Kami menuju tempat berangin-angin. di Kajhu. ”Aku suka laut. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. Angin berembus membawa sejuk pagi.com/abclit. Gelombangnya menelan perahu Ayah. memakai pita. Setelah itu. menyongsong kedatanganku. Di lobi. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. Aku duduk di halaman kedai kopi.processtext. aku kembali ke hotel berjalan kaki. Merbah terbang di ujung ranting. Berjalan di atas dua keping papan. bila pasang. Terkadang aku melempar pancing dari sini. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Tali ayunan menjuntai di kaso. Aku selalu bertanya kepada-Mu. Seperti menuju masjid. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. http://www. subuh tadi.

Kami melihat dia. orang dilahirkan di perahu.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. malam pertama engkau menginap di sini. Malam ini.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai.html Ayah tak pernah pulang. Di rumah istrimu sekarang.” ”Aku tidak terganggu. meletakkan tubuhnya yang lelah. bagiku. Dalam kampung terapung. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur. Engkau pernah dengar. http://www. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang.” teriak seseorang.” . menyumbat telinga ini. ”Aku heran. Dia berdiri. Mau rasanya aku mengambil kapas.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa. Di rumah kekasihmu.com/abclit. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. juga melihat laut di belakangnya.processtext. Tak ada sunyi di sini. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu. dibesarkan di perahu.” ”Aku sangat terganggu.

aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan. kata Ayah. Pengarang itu makan dengan lahap.processtext. jauh dari deburan itu. Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. Malahayati. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. Kata Mak.” ”Maksudku. Angin masuk membawa bau garam. itulah istimewanya Desember. Dia alihkan perhatian ke buku itu.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari. ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu. Mak menjelaskannya. ”tahun adalah lakon. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. Mungkin dia ingin melihat laut. Minggu. Mak menggendongku.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya.” Dia senyum. Dan aku tertawa. ’Apa maksudnya. ”Tapi mungkin. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. atau mungkin pada judulnya. Dan. http://www. 26 Desember 2004. ”Semisal pementasan. Sekarang sudah pukul 01:45.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berarti ini sudah Minggu.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. ”Engkau sudah tidur rupanya. Ayah gembira dan puas. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. Orang Jakarta. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. dia meneruskan ocehannya.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. ”Tinggal enam hari lagi. ”Sampah Bulan Desember. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia. ’Gulai pakis dan santan durian. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Buru-buru daun jendela dia tutup.” Tak ada jawaban. Akan muncul lakon baru penghias dinding. Dia pergi ke jendela. saat Pak Pos mengantar sebuah paket. Mala. sebentar lagi layar akan ditutup. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan.com/abclit.” . Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu. tidak. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu. 2004 akan digantikan 2005. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. ”Kalau adat membolehkan. kecuali kegelapan.” Dia menoleh kepada istrinya. Hanya tinggal beberapa hari lagi. ”Sampah Bulan Desember. Desember akan digantikan Januari. Dia berdiri dari tempat tidur. Mak ?’ tanyaku.” katanya ditujukan kepada si istri.

http://www. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. Dia tidak ingin mengganggunya. Ayu mengikutinya. Ditekannya alat pemadam lampu. Apalagi malam ini. kekasihnya itu. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. membuka pintu. tetapi gerak itu tidak berlanjut. Di dinding ruang tengah. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Kedua .Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti.processtext. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Kamar pengantin itu menjadi gelap. beranjak turun. Malam-malam lain masih ada. Rita menyerahkan ongkos. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Sehari penuh menyambut tamu. Masih panjang kehidupan bersamanya. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Barangkali dia berpikir seperti itu. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu. Melihat semua itu. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. masih juga dia tersenyum. Dia beranjak ke dekat pintu. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga.com/abclit. jam berdentang dua kali.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

”Suka juga. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. maafkan kata-kataku tadi. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai. Nggak suka ya. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas. Firda menyibak vitrage.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo.Generated by ABC Amber LIT Converter. he…he…he. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun.html marah. kalau cerai sulit cari suami lagi. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. berdebur-debur keras.” jawabnya datar. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. ”Mama. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. Di dalam taksi. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. Rita dan Ayu berpelukan. punya tiga anak.” . http://www.processtext.” kata Ayu.com/abclit. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua.

. Perasaannya lembut berdesir. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. . Firda?” Firda tidak segera menjawab. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur. ”Ada apa. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. ”Kamu bosan ya. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan. ”Setiap ketemu kita berbulan madu. Dan Ferdi ternyata merasakannya.html ”Ya.” ”So what ?” ”. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng.. kan?” Ferdi tersenyum lebar.” ”Aku serius.. ”. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat..” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Di luar penglihatan Ferdi.processtext. Memeluknya dari belakang.” Firda terdiam sesaat.” ”Tapi kata orang hotel... kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang.com/abclit.” Senyum Ferdi memudar. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu.

. melepaskan pelukan pada pinggang Firda. . Tapi sudah lama kenal. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.. http://www.com/abclit.” bisiknya dalam hati. berikut bursa saham yang terguncang....” Tangan Ferdi perlahan merenggang. berlalu begitu saja tanpa perhatian.html ”Jadi kenapa. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku.” ”Oh. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah.processtext. Guru yang beruntung. nyaris tak terdengar.” Firda terdiam. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian.. Tetangga dekat.. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh.?” ”.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu. Bulan depan aku mau nikah.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam.” Ferdi terdiam.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya..Generated by ABC Amber LIT Converter. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi..com/abclit.” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan. Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut.” .. ya.. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah...processtext.600 cc berhenti di tempat gelap.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu. http://www. ”Maafin aku.. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji.

. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras. saling melambaikan tangan. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda.com/abclit. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas.. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka.processtext. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda.. sewa gedung. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil.html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. http://www..Generated by ABC Amber LIT Converter. berbelok memasuki gang. Sampai kemudian keduanya berpisah..” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. ”Tolong kamu terima.” ”Nggak usah.. buru-buru membuka laci dashboard.. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan... biaya katering. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu. Cetak undangan.” Firda terdiam. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. . Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi.” Firda menjawab dengan pelukan erat. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya.

. belanja-belanja.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya. bahasa Inggris.” ”Berat sekali juga enggak. Karyawati biasa. kepribadian. yang bukanya dua puluh empat jam. Manajemen. tapi lebih seringnya di Bandung. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore.” si bibi menimpali. Kadang di Jakarta. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. ”Malam sekali.” ”Namanya juga kerja di restoran.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.” jawab ibu Firda.” kata ibu Firda. ya. http://www. komputer. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. belum. katanya. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. Jadi masih ada waktu buat rekreasi.” ”Ah.” ”Berat juga ya. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih... sampai harus ke Bandung segala. Bulan lalu malah di . pulangnya antara jam dua belas jam satu. Restoran di hotel berbintang lagi. Tapi uang lemburnya tinggi. ”Bukan lumayan lagi.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus.” ”Yang penting gajinya lumayan.processtext.

sih. Alloh. ”Ini siapa..html Bali sampai seminggu. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha..” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. http://www. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan. Ia pun bangkit hendak keluar kamar.. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami. Jam dinding menunjuk setengah tujuh.” Ferdi tertawa. dateng ke lumahku. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum.’. ”Ada apa. ya. ’Ya. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. Pasti. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga.” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai.” . cucunya eyang Feldi. Eyang nggak mungkin lupa. sayang?” ”Ental siang jangan lupa.processtext. Aku kan ulang tahun.” ”Oh.. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu. ya.

.” ”Dadaah. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini. http://www. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar.” ”Eh. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum. ”Hai. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.com/abclit.. Senyumnya seketika memudar. eyaaang. ”Icha.!” katanya dalam hati.” ”Ya. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab.html ”Dah.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Anak sekarang. ”Hampir lupa.processtext... seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh.” .” Ferdi menutup gagang telepon.” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya.. ”Minta sendiri gih sama Papa.

Sudah papa siapin.” ”Ah yang bener. ”Rumah. Tergantung papa dong. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm.?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah. ”Tenang aja. sih?” ”Mmm... rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” .” ”Kado kok minta.” ”Soalnya gini.” ”Terus.processtext.. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. mau ngasih apa. kan...” Setelah berpikir beberapa saat.” ”Kamu suka. Pa. Papa jangan ngasih aku mobil juga. Pa. rumah. ”Mau minta apa..html Ferdi bertanya-tanya. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya.com/abclit. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa. kado perkawinan..” Ferdi tertegun. Maksudku.

” Astrid heran. ”Thanks. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama. apa sih yang nggak papa kasih. ”Kok pakai balik nama segala.com/abclit..processtext..” Astrid sesaat terkesima. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ”Sudah. Edisi 08/14/2005 . lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas.?” Jakarta. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri.” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada. Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu.

. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Sesekali ia menyeka air mata. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Pada usia 16 dua tahun lalu. Matanya sembab. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Mahfud. menolak cintanya. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Memasuki usia 17. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. kata Mansur kepada ibunya. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Suka bermain sepak bola. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Meskipun badannya gemuk. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. Tatapan matanya kosong. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. begitu mendengar kabar duka itu. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. Mona. http://www. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. suaminya. ayahnya. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Suaranya patah-patah. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini.com/abclit. Mahmud. juga membacakan Surat Yasin. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Mansur adalah anak yang sangat sehat. Sesekali air matanya meleleh.processtext. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. ia adalah anak yang lincah. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. anaknya. Mansur meninggal karena bunuh diri. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. kakak Mansur. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Di sebelahnya. meninggal dunia.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Karena itu.

baru berjalan satu bulan. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. Duka mendalam menderanya. Lima malam sebelum kematian Mansur. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Dan menginap di rumah sakit. Tetapi.com/abclit. Yang terakhir.html Mengikuti nasihat ibunya. ia berhenti karena tak tahan godaan. Dengan alasan tubuhnya masih lemah. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. http://www. suaminya. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Mansur ingin segera dibawa pulang. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. Dan. panas dinginnya tak kunjung hilang. Kata Mahmud. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Karena itu. Tetapi. ginjalnya juga terganggu. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Juga kemarin. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Sesampainya di rumah. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Ny Laila membesuk putranya. Empat malam sebelumnya. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia.processtext. ia mengalami komplikasi. sebelum itu. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. ia tak lagi berani membesuk putranya. ia ingin sekali ibunya datang membesuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Amat merindukan ibunya. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Tiba-tiba ia menangis lagi. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. kata dokter. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. Mansur kemudian jadi langganan. Karena itu. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Tetapi. hasilnya sangat manjur. ternyata. arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Selain luka di usus yang kembali kumat. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan.

Air matanya meleleh. ”O. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan.com/abclit.processtext. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Tetapi. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. . ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. ”Habis melayat. ia tampak damai. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. ”Iya. ”Bang Acung? Bukan. Yah. Sebagai tetangga. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Suaranya serak. Ocha. Ia tersenyum getir. Tatapannya kosong. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Memangnya kenapa. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Sebelum pulang. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku.” istriku menimpali sambil lewat.” kataku. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. Bang Mansur. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. dengan tulus kuucapkan pula doa. gitu. putriku. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar.” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. Bang Acung itu Bang Mansur. Tak ada senyum. Matanya tampak lelah dan marah. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Apa pun penyebab kematiannya. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur.html memaafkan segala kesalahan anaknya.

Yah.” jawabnya. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. Bang Acung itu bukan bunuh diri. Orang-orang tidak pada tahu sih. Tetapi. Yah. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. Jadi.com/abclit. Kepalanya dua. Yah. Lalu terbayang wajah damai Mansur. cerita putriku selanjutnya. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Kata suara itu. Tanah Kusir. ”Jadi begitu ceritanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia jatuh.html ”Yah. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya.” gadisku bersila di hadapanku. Yah. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah.” Aku agak tertegun. Yah. Katanya. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Juli 2005 . http://www.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. Yah. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. menyambar cecak itu untuk dimakan. Bang Acung. ia melihat seekor cecak. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. kalau mau sembuh dari penyakitnya. Suaranya datang dari samping kamarnya. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri.processtext. Tak jauh dari tempatnya berdiri. orang-orang enggak tahu sih.

processtext. tinggi besar. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. Sangar sekali kesannya. Dari mulutnya tercium bau alkohol. Tubuhnya padat. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah. ”Iyya. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya. kurang nyaman. Kancing baju bagian atasnya ternganga. setelah melewati pekarangan kecil dan teras. Suatu sore. sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang.com/abclit.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. Ketika pintu dibuka. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. sedikit parau. http://www. ”Baru pindah. Berkumis tebal. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan. tanpa ada senyum. matanya memerah. Pipi kirinya. Kulit hitam. ada bekas luka sepanjang telunjuk. ya!” terdengar suaranya berat. seorang tak dikenal mendatangi saya. Saya amati tamu ini hati-hati. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur.Generated by ABC Amber LIT Converter. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah.

html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. Saya merasa. masukkan dalam amplop uang Rp 10. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. Saya menarik napas. Rautnya bengis. . Saya takut. Kalau tidak.000.com/abclit. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. Jangan lupa.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain…. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. untuk pertanyaan yang sama. Pisau dapur biasa. ”Iyyya. ”Ada berapa. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi. ada sesuatu yang ganjil. http://www. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. Bang…. Saya kaget. iya. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. Mau?” Setelah itu. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. ”Ada dua.processtext. saling berhadapan.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar. Kami masih berdiri di teras. ”Mulai besok pagi. saya.

Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. Tampaknya. Gedoran pintu terdengar makin kasar. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. Saya dan istri terkejut. http://www. tidak takut mati. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini.processtext. badan sedikit dibungkukkan.html ”Saya bersedia. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. Bang. saya bertanya. memang si sangar adanya. pergi begitu saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Maaf. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam. Saya mencoba menenangkannya. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. ada yang terlupa?” ”Istrimu.com/abclit. Bang. Nekat!” Memelas suara istri saya. Kemudian. Ketika pintu saya buka. ”Lagi kurang sehat. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Pucat membias di wajahnya. Si sangar itu pasti. ”Kita pindah saja. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar. Tiduran. Salah-salah.” ”Suruh dia keluar! . orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi.

kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. pintu saya tutup. cantik juga istrimu.processtext. Jangan-jangan itu semua pisau . ha-ha-ha…. Dengan perut terasa mulas. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. Pintu pagar dibukanya. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya. Di hadapan si sangar. Pisau dimasukkannya ke dalam karung. Sebelum jauh melangkah dari pagar. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Tangan istri saya terasa dingin. amplop ke kantong celananya yang besar.” katanya di sela sisa tawanya. si sangar menoleh dan berkata. Saya menunggu.html ”Tapi. ”Istrimu cantik. Setelah itu. Saya amati.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar. tapi wajahnya pucat sekali. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. ”Cantik…. ”Ini istri saya. Akhirnya dengan menguatkan diri.” Si sangar tertawa terbahak-bahak. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat. istri saya mencoba tersenyum. Bang…. Setelah menatap istri saya beberapa jenak.com/abclit. saya masuk menemui istri di kamar. ia terlihat cengengesan.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Akhirnya si sangar datang. membuat saya tergagap. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali.

akan sangat sakiiiit sekali. Pasti si sangar itu. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. pukul sebelas malam.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. ya pisau kami. Kalau sebelum ke tanganku. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. Pisau tumpul. dipakai menyembelih. Bang. ”Ada apa.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. Bang. ”Sudah sangat tajam. ha-ha-ha…. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang.processtext. termasuk menyembelih kambing atau ayam. http://www. ”Kalau setajam ini. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. Tapi. Pintu dibukakan perlahan. terduduk dengan napas sesak.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya. pisau ini digorokkan ke leher kita. Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya.” ia berkata dengan sangat dingin. Maaf. sama artinya sebuah penyiksaan. pintu rumah terdengar digedor kasar.” . apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. Saya lihat di tangannya ada dua pisau.

Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. bagai dicubit saja…. ”Bang.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. http://www. Bang! Saya tidak tahu maksud. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri. Sunyi.00.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya.com/abclit.” Langit malam bertaburan bintang. ia akan menyembelih saya. tidak menyakitkan! Termasuk. ha-ha-ha-ha…. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. nyaris tidak mampu berdiri. untuk melukai kulit ini.html Ia akan menyembelih. ”Berikan pisau ini ke istrimu. karena luka oleh mata pisau yang tajam. Lihatlah. . ia raba leher saya. Bermandikan cahaya. Jangan ya Tuhan. Rumah-rumah orang sudah tutup. Ya. pandangilah saya saat ini. Tuhan. ”Mmmaaf. dingin. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya.” Ia terbahak. mohon Bang! Jangan. Terlihat. Abang….Generated by ABC Amber LIT Converter. salah saya apa? Sesaat kemudian. Tapi. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. ”Darah manis.processtext.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. kemudian dipegangnya lambat-lambat. Kemudian.

Baru saja pintu dingangakan. ”Saya baru setahun keluar penjara. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. ”Kesiangan.com/abclit. Santai sekali tampaknya. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri.html Kami bangun agak kesiangan. http://www. Apa kabar. ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. berusaha tenang. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. ”Eh. dengan seringaiannya. Si sangar menyadari pintu terbuka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Abang. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. ya!” sapa si sangar.processtext. Saya menggeleng. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami. mempersilakan saya. membunuh orang. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya. Saya gelagapan. Saya membuka pintu depan.

” paparnya. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. ”Aku mahir mengasah pisau. ia mungkin akan tersenyum. sebagai ibu rumah tangga. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. aku berpikir tobat. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. Dalam hal ini. Bayarannya Rp 10. ketika dipotong menggunakan pisau tajam.” suaranya agak lunak. Kacang panjang. bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10. Memotong sayur. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi….000. Dan aku pun dipenjara. apakah ia tahu. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1. Lagi pula bukankah ini pemaksaan.000 sebulan. Kalau dia tertawa.processtext. Dan. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap rumah di kompleks ini. http://www.000. bawang. Istrimu. dulu. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang.” Saya mencoba belajar memahaminya. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. Karena tidak menyakitkan baginya.000. dan sebagainya. Begitu juga kentang. Iya. wortel. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. misalnya. Kalau dia tersenyum. ketimun. kalau pisaunya tajam. mati. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik.com/abclit. kusembelih. Ternyata. saya ikuti senyumnya. bisa kugarap jadi ladang. kangkung. Karena itulah. oleh mereka.html Saya hanya diam. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. buncis. Karena ingin hidup normal. Kalau tidak mau. Tapi. saya cobakan tertawa sebisanya. Terbayang tanah keluarga yang luas. golok atau merampok dan membunuh. Dan terakhir. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat. toh?” . yang jumlahnya lebih seratus rumah. Saya hanya melayani dengan tatapan mata. Uang dari keringat sendiri. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau. Sesekali mengangguk. ”Ketika dipenjara.

Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. Terasa lebih penyayang. tidak ada yang berani mengganggumu.processtext. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. Percayalah. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. Juga nyawamu!” . Paham. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. menyembelih ayam. Jika ada orang yang mengganggumu. ”Begitu juga memperlakukan ikan. sembari berkata. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya. mempererat rangkulannya. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati. Ia kemudian melepaskan rangkulannya. kalau dengan pisau yang tajam. ”Ingat.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. juga enak. Dan anak buahku. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. ia merangkul bahu saya dengan hangat. kan?” Saya mengangguk. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu. Menjelang sampai di pintu pagar. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga.html Saya cepat mengangguk. rezekiku ada pada pisaumu. yah barangkali saja Rp 10. ”Terima kasih. Iya.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya. saya pun ikut berdiri. Kamu telah mendengarkan aku. akan lebih baik. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat. Itu artinya. Kita yang menggunakannya.” ia berhenti sejenak. Dia berdiri. ”Kamu telah membantu saya. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau. http://www. ”Benar. Bang!” ”Itu artinya. katakan padaku.

dalam. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. gemetar. Ia datang bersama anak laki-lakinya. Gemanya sangat panjang. Memasuki kompleks gedung. sejak peristiwa berdarah itu berlalu. ia berjalan menuju suatu ruang.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. Tampak dari atas. ”Her. Memasuki lorong gedung. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Masih terngiang-ngiang. sambil menimang dokumen lusuh itu. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Setelah hampir 40 tahun.html Sejak saat itu.com/abclit. Kecemasan mengambang di bola matanya. Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu.processtext. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan. Bajunya basah. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. . http://www. aku masih mendengar jeritan bapakmu.

Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. menembus desa demi desa. itu urusan negara. Aku kaget. buru-buru Ibu mencegah. kami terdiam. ”Maaf Bu. Sepanjang perjalanan. atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. besok pagi. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan. Makam itu kosong. Tapi kutahan. kalau kamu tidak mengajar. Masih jauh. Ia minta mobil berjalan lurus. ya bapaknya Herjuno itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Waktu itu. antar Ibu nyekar bapakmu.com/abclit. dan sunyi. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka. dengan colt station sewaan.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. Kata petugas. Mobil pun terus melaju. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. aku merasa bingung dan cemas. ”Her. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun.html ”Bukan hilang. Di Karang Bolong. Tapi di sana. http://www. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. Nastiti. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. dan Murti.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. Seperti puluhan tahun lalu. kami berangkat ke makam Bapak. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. Suatu pagi. Tapi aku takut mereka kaget. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. Ibu meneleponku. Soal jasadnya. dalam. teman. tapi tidak matanya. gelap. Tapi dilenyapkan….” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara .

Bagai tepung terigu ditebah angin. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. Sebuah rumah bergaya limasan. Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Kan nggak sopan to. diiringi sorak-sorai. aku mendengar jeritan mereka…. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. Kami menempati rumah besar. Dalam zaman yang gemuruh itu. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa.” . Tangan mereka terkepal. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. ”Bersama tahanan lainnya. khas jahitan pasar. ”hidup Nasakom”. dan ada PSI. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. warisan mertua. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. langit kota kecil itu pun selalu menyala. kaku seperti baja. kami hidup menepi.” ujarnya dengan gemetar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. ada PKI. Waktu itu. ada NU. Menurut Swanggani. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. http://www. Hingga kini. seorang tokoh PKI di kota kami.html wajar dan terhormat. Aku terbebas? Tidak juga. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Di bagian belakang. rasa pedih terus merajamku. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril….com/abclit. Seperti siang itu. Bukan. Dari tempatku bersembunyi. partai-partai saling bersaing. Di pendopo itu. Dia menjawab ringan. ”ganyang nekolim”. ada Masyumi. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. Ada PNI. debu mengepul di jalanan. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung. secara cuma-cuma. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar. Kata-kata ”revolusi”.processtext. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng).

Katanya untuk rapat partainya. bau mayat tercium di mana-mana. Terima kasih. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. Ia memandangku. Sehabis isya. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. ”Ganyang Drajat!!!” . lewat RRI. ”Terima kasih. Mas Drajat pun tidak keberatan. Beberapa jenderal diculik. Pendopo kami selalu ramai. Ada latihan menari dan menyanyi. Kami hanya saling memandang. Mas Drajat terdiam. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Ada latihan ketoprak. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai.processtext. Wajah bapakku tampak masam. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. http://www. Setiap saat itu. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi….Generated by ABC Amber LIT Converter. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta.html Suatu ketika. Aku pun terdiam.” Tawa Pak Tular berderai. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. ”Hati-hati dengan Pak Tular. Apa salahnya?” kataku.com/abclit. Beberapa bulan kemudian. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. Tidak sampai seminggu.

Aku sendiri tidak paham. ”Jaga kandunganmu. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. aku membuka pintu. Aku tak bisa lagi menangis. aku melahirkan Herjuno.processtext. bentakanku menundukkan wajah mereka. dan Murti lari keluar. Keras. Sebulan kemudian. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. bambu runcing. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan. ”Saya tidak tahu apa-apa…. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. .Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. kelewang. Esoknya. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Nastiti. Menembus malam. Dia sangat tenang. Dadaku sesak. Sangat keras. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Pintu rumah kami digedor-gedor. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. Mas Drajat keluar dari kamar. kerumunan pun bubar.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. http://www. ”Bohong! Dasar Gerwani.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Sungguh.” Aku pun bergegas membawa Darsono. Aku memeluknya. Dengan gemetar. Pak RT mampu menyabarkan mereka. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. Menuju rumah Bapak.com/abclit. Dia mencoba memberikan penjelasan. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. aku menemui mereka. Dan ajaib. Di rumah itu. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. pada dini hari. Akhirnya. aku gemetaran melihat parang.

” Herjuno sangat kaget. Dengan tenang. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’. kini telinga negara telah tumbuh…. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. Ia hendak berbalik. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya.com/abclit. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. ”Bu…. Bahkan mungkin terguncang. Namun. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. http://www.html ”Bangun Her. sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya.” Herjuno tergeragap bangun. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya. ia menemui seseorang. pagi hari. Kami keluar dari mobil. kita sudah sampai. Kantor Komnas HAM. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. Kami pun berdoa.” Yogyakarta. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana. tapi luweng. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. 2005 .Generated by ABC Amber LIT Converter. langkahnya tertahan. Ia berharap negara berani untuk punya telinga.processtext.” ”Itu bukan makam Bu.

Aku pun keluar kamar. ini ada surat undangan.” kata Pak Marjan. ”Pak Bagus. Aku membaca surat tersebut. Istriku yang menyambutnya. http://www.” jawab tamu itu.html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas.processtext. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya.com/abclit. . ”Saya mengantarkan karena takut keliru. Dan suara berikutnya. Pak Memet. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. ya aku ada di rumah. juga ikut. Aku sudah tahu roh surat itu. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. ketua RT di wilayahku. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. ”Tidak usah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kudengar juga suara istriku mengatakan. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. Cuma sebentar saja. stensilan. Tapi ia tidak berbicara.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. istriku menyilakan tamu tersebut duduk. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah.

Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang. berpamitan bersamaan. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya. ”Sabar Mam. Sesampai di halaman. Dan semua isi dompet kutinggalkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kecuali uang beberapa ribu saja. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. takut hilang di tengah jalan. dan kedua pak RT. seorang berada di depan rumah. Tidak sopan pakai pakaian begini. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya.html ”Kalau begitu. Aku mencium dahinya. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami. ”Ya dibawa sebagai bukti. Ada Mahkamah Agung.processtext. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. .” Tamu itu. Mukanya pucat dan matanya kosong. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. sapu tangan tidak lupa. celana dalam baru. Ada polisi. Jawaban itu sudah cukup bagiku.com/abclit. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. Dengan jawaban itu.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. Ada kejaksaan. Tersirat posisinya dan posisiku. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. http://www.” jawabnya singkat. ”Nanti juga tahu. Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar. saya ganti baju saja. yang warnanya sudah pudar. diapit oleh dua orang dari mereka. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. ternyata ada tiga orang lainnya. Kartu SIM kutinggalkan. atau di tempat tujuan.” jawabnya. pakai kaus kaki. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku.

Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. Aku tidak mau melihat jam. mengajakku menginap di rumahnya.processtext. Disambung suara memberi komando. ”Bagus. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Tapi tidak terdengar suara manusia. Daun kemerisik kuinjak. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. terus berjalan. Sepi mencekam. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. Juga tidak ada suara radio atau televisi. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Aku tetap duduk. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. yang tak pernah kurasakan di . tunggu di situ.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Pohon-pohon ligir. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. Ketika ia bekerja. Gigil segar menyemangati. Remang malam turun menambah senyap. Juga suara orang tertawa sirna. Banglades. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Langit biru dan angin segar musim gugur. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup. Suaranya agak jauh. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. http://www. Tidak ada yang datang. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. Detik ke menit. menit ke jam. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. Pukul 16.com/abclit.35. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. yang kukunjungi beberapa hari. Suara banyak sepatu melangkah. Kemudian suara sepatu ramai. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Juga suara mobil. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak ada suara lain. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. yang jelas bukan dari kamar sebelah. berdetak besar dan cepat. Sementara aku duduk sendirian. Keringat membasahi tubuh. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun.

”Ini Blitz-krieg. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Ia meletakkan pistol di atas meja. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku. ”Di sini tidak ada Pancasila. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. Aku tidak senang di kedua negeri itu. Ia menyalakan lampu. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku mengangguk. Ia tidak menyahut. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. Kebebasan.com/abclit.” Suaranya menggelegar mengagetkan. ”Selamat malam Pak. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. http://www. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam. .” Suaranya lagi.html negeri ini. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam. Aku mengangguk terlebih karena terkejut.” Aku mendahului. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku.processtext.

Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. Entah berapa orang. Mereka muncul terkadang bersamaan. lintah. bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. lintah dan semut menggerayangi tubuh. nyamuk. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing.*** . Ketika aku tidur. ingus. sambil menahan napas. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. Perangai. tengkorak. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. tetapi tidak menemukannya. menciumi bau keringatku. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing. Alhasil. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. terasa darahku diisap lintah. terkadang sendiri-sendiri. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. mana kecoak. sampai ke rambut dan kukuku. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. menggeledah seluruh organ tubuhku. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong. kencing ludah.com/abclit.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja. membuat sesak napas. tikus dan kecoak. http://www. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. Aku ingat bahasa Inggris. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. dengan kawat berduri berlapis-lapis. di tanah airku. dan tikus. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. Sejak malam itu. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing. tikus besar-besar berlarian di tubuhku. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. bukan lagi suara manusia. atau berapa ekor.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku mengusap mataku. Aku mengusap kupingku. tulang-belulangku. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. getah bening. sperma. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. setelah hampir dua minggu. mana ular.processtext. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. pintu keluar barak itu dibuka. pancaindraku. aku tidak tahu lagi. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. menerbangkanku berkeliling dunia. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku.

mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. Kepala-kepala itu masih penuh derita. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. lelah. Sebagian dari kepala mereka menunduk. Ruang tunggu dengan warna pastel. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. Mungkin selamanya.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Lingsut.processtext. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. menekuni lantai. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. Tunggulah sejenak. http://www. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. dan menggelepar di sana. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ruang nyaman. Ruang teduh. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. Ada masa memang.com/abclit. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. . Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. mungkin ingin membaca masa lalu.

Setelah cukup tenaga. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api. http://www. kembali aku mengitari mereka. Dan aku terus mencoba lagi. Mengepak pelan. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain. Lalu aku akan terbang agak tinggi. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. Mereka bertiga berpelukan. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. Demikianlah. sempat aku hinggap. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. Ibu mereka terlalu bersedih. Percobaan yang selalu aku ulang. berpelukan.” Dan api berkobar. Hanya bermodal harap dan cita. Tapi satu di antara mereka. bisa kubawa pergi. ”Nak. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. Mereka mati dibalut api. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. sebelum kemudian kembali terlempar jauh. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. dan saling melingkarkan lengan. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. aku lebih sering terpelanting. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. Tangan ibu mereka sendiri. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. halaman-halaman tak terbaca. dengan mereka yang mengalami sendiri. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia. beradu kepala. Sekali dua. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. Dua orang yang masih lelap. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. Dua kakak beradik. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. aku terlempar. membuat rantai . berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah.processtext. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. Tapi selalu dan selalu. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. Aku mencium sari kisah yang terbakar.com/abclit. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. Mereka bertiga meregang. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai. mendekati lubang ventilasi. kuberanikan diri untuk merangkainya. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. Hanya sesekali. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga.

”Ada yang salah dengan tubuh kami. ”Orangtuaku tidak ada di rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter.rita. Hanya kami sungguh tidak mengerti.html lingkaran yang kokoh. Mereka . kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. Kami belum ingin ke sini. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Mereka bohong. Kami tidak ingin di sini. inilah kota kami yang indah dan makmur.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Mereka tahu kami akan mati. http://www. Kami ingin belajar menjadi manusia. Mulut mereka sangat lemah. Aku tidak enak dengan ibu guru. Dunia yang pahit. Ibuku sudah tidak punya air mata. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Tapi di hari itu. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. Kami ingin dunia.” Di samping lingkaran besar itu. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. dia harus menanggung nista dan sengsara. Tapi mereka memaksa kami. dan membiarkan perasaan ibuku bolong. Mereka mendorong kami. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. ada celah di dunia sana. Mereka ingin mengatakan pada dunia. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. tubuh-tubuh kecil berbaring. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka. menyadap sari ce. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. Kembali aku hampir terpelanting.” Si anak yang berkata. Mereka bilang biaya perawatan gratis. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. ”Kami belum ingin surga. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Suaranya serak. Kami ingin bermain air dan bermain api. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih.com/abclit. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. Pertama membiarkanku tidak punya gizi. Ibuku tahu aku akan mati. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. Satu di antaranya berkata. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Ibuku kalah dalam menagih janji. Mereka tahu kami mati. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. begitu bayi terlahirkan. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. Mereka mencoba membunuhku dua kali. Aku mengambil selendang milik ibu. bermata alum. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. sebelum kembali terlempar jauh. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. Kaki-kaki mereka mengecil. Kami ingin bernyanyi dan berlari.processtext. aku malu dengan teman-temanku. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Kaki-kaki mereka bengkok. Mereka membiarkan aku mati. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang.

Ya. Bagi orang miskin seperti kami. sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. beterbangan. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku.”.html tahu. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit. sambil menyeringai dan berkata. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. mati pun masih menyisakan masalah. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. itu hanya kabar yang berlebihan. Aku hanya seperti kupu-kupu. Dengan wajah dan kulit plastik. Aku hanya seperti kupu-kupu. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta.processtext. gitu loogh. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. Lihatlah.. Aku ditabrak warna hitam. meracuni laut. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil. Mereka datang dari mana-mana. Bahkan. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. Sangat besar dan kuat. .tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. Kembali. dengan tubuh terlilit kabel.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. dengan tangan penuh tombol. Aku ditabrak warna putih. membobol gunung. tanpa takut terserang polio. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit.” Aku hinggap lagi.. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. Aku terlempar lagi. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata. Dan tibalah satu sentakan besar. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Aku mati karena muntaber.com/abclit. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. Aku seperti hancur. di tengah. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. generasi yang lebih baik. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. ”Hari gini. Mungkin sampai mati. Tidak lebih. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. menebangi hutan. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. Aku digendong naik kereta. Seperti hilang. ”Ah. http://www. Hanya seperti.

Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar.com/abclit. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. dan mungkin sekaligus mereka tolol. http://www. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. maka dia pun berhenti sejenak. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. depresi. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. kelaparan. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat.Generated by ABC Amber LIT Converter. disorientasi.html Mereka benar. Hingga bagian yang terbakar itu. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. bunuh diri. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. Di sisi yang lain. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. Ada perbedaan memang. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. hingga tampak putih dan halus. Mereka benar. Hari itu. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. keracunan kabar bohong dan bahan makanan. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. kurang gizi. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. . Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya.processtext. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku.

Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Dengan uang itu dia bisa membeli beras. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. Kalau pedagang itu tidak datang. ”Benar Mbah. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. minyak tanah. Bagi Mbah Gimun. bersepatu bagus. ”Kalau aku ikut kalian. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Mereka berpakaian bagus-bagus. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. ”Iya. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. http://www. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. cucu-cucuku itu akan batuk semua. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. membawa tas bagus. orang-orang itu menolak. garam. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu.processtext. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. ini gambar calon pak bupati itu. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. dan naik mobil yang juga sangat bagus. nanti ditempel di sana ya Mbah?” . sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. gula. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan.html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Dalam sehari.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota.

Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut.com/abclit. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya.processtext. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. http://www. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. mencomot tembakaunya. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah. Mbah Gimun lalu membuka besek. ya terima kasih sekali. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya.” ”Tapi begini Mbah. Lumayan. diberi uang lagi.” Setelah para tamu itu pergi. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan. Katanya. pasti. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. melintingnya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bukan hanya itu Mbah. saya diberi tembakau. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. Cucu itu memberi tahu. . Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Mbah Gimun kaget tetapi senang.” ”O. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum.

”Terserah Embah. Yang ini yang kiri ini bupatinya. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. lebarnya seperti sajadah. Mau dicoblos wakilnya boleh. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. http://www. Yang kanan wakilnya.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran.com/abclit. ”Bukan dua tetapi satu Mbah. ”Iya Pak RT. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding. Kertas gambar itu tebal dan kaku. ”Salah satu saja Mbah.html Beberapa hari kemudian. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . ”Lalu minggu depan ini Mbah. gula. bupatinya juga boleh.Generated by ABC Amber LIT Converter. kita semua harus datang ke lapangan bola. Pak RT dan Tukijan juga datang.processtext.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT. Mereka mengantar beras. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi.

Sebab saya tidak tahu nama-namanya. http://www. dan tidak hapal wajahnya. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.” kata Mbah Gimun senang. Sebab baunya seperti minyak wangi. semua membagi-bagikan uang dan barang. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. sekitar jam empat. saya akan datang nanti. sepuluh ribu. Jam berapa Pak RT?” ”Sore. duapuluh ribu. Bau tembakaunya sudah tidak ada.html ”Ya. Mbah Gimun menerima semuanya. Kalau layu mengiratnya alot. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. jadi nanti kita semua makmur. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Ada yang limapuluh ribu. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. ya. ”Ya siapa saja. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua.” Enam calon bupati dan wakilnya.” . agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak.processtext. Dia kan pengusaha. Hanya dia berpesan kepada anak-anak.com/abclit. akan layu.” begitu alasan Mbah Gimun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menjelang hari pencoblosan. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman.” katanya pada anak-anak itu. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak.

processtext. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. Dengan mengucap Bismillah. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. ada yang tertawa. di hidung. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Bara api di ujung rokok itu memerah. dengan menantu-menantunya. dan diberi kertas suara. menawarinya tempat duduk. di mata. Dia mencari tempat duduk yang pas. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti. memberi beras. ada yang di pipi. Ada yang tersenyum. memberi teh. baju surjan hitam. ”Sayang. . memberi tembakau. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. dengan anak-anaknya. Dia lalu melolos satu lembar kertas. Ada yang dicoblos di jidat.Generated by ABC Amber LIT Converter. 2005. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. sandal jepit. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok. Di bilik pencoblosan. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. Melihat Mbah Gimun kebingungan. Baunya sangit dan keras.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana.” Cimanggis. satu-per satu warga kampung dipanggil. Mbah Gimun memakai kain sarung. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. Bukan pak bupati. ada yang di mulut. ada pula yang tegang dan cemberut. dia kebingungan. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. bukan kita. Karena masih pagi. dilihat kartunya. dan kepalanya ditutup udeng.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu.com/abclit. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Di rumah. udara terasa tidak terlalu panas. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. Enam calon semuanya memberi uang. http://www. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Dari saku surjannya. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. dicatat. memberi gula. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos.

entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu.processtext. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku. Saat itu. meski kau tak pernah lagi membalasnya.com/abclit. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. tak akan kembali ke moncong senapan. Nak! Tapi. ”Ibu restui kepergianmu.html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. dan moncong senapan itu seorang ibu. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu.” . Ya. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam.

Sejak itu. dan tinggal bersama ibu. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. setelah masa tugasnya berakhir. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Tanpa bapakmu. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Rehan. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. lambat laun ia sukses. Hanya kau yang tersisa. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. sejak menikah dengan perempuan rantau. Bapakmu rela di-perempuan-kan. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. Abangmu. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. Jika kau sudah pergi. merengek-rengek minta izin untuk merantau. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Umurnya sudah berkepala delapan. Tanpa Rehan. ”Ruz ingin jadi anak ibu. Tapi. Acin berjanji. . ”Kasihan. namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu.” Rumah kita makin lengang. Saat itu. sekaligus menjaganya. Acin dan juga kau. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. Wafa Sulastri. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. Pada surat itu. apalagi kerinduan ingin merawatnya. Tapi. tentu ibu akan bersendiri. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Delapan orang anak nenek. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. Mencuci pakaian. menimba air mandi. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. ibu sendiri saja di rumah!” katanya.processtext. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. bule perempuan berkebangsaan Spanyol.com/abclit. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. abangmu yang satu lagi. termasuk bapakmu. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. setelah tamat SMU di Payakumbuh. tak terdengar lagi khabar Acin. Sejak enam tahun lalu. http://www. Selain bergiat sebagai pelukis. menyuapkan makan. Setelah lulus jadi polisi. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. Acin akan pulang membawa istrinya. Kecuali bapakmu. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Tiga bayi itu semuanya laki-laki.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu.processtext.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli.Generated by ABC Amber LIT Converter. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. . Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. Yang jelas. Belum lama berselang. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. 13 tahun. http://www. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh. Pada saat itu. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang.com/abclit. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak.

Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap. http://www. ”Heh.” ”Tapi. Mereka memahami gerak-gerik kita.Generated by ABC Amber LIT Converter. makanya sering saling tubruk.” ”Mereka belum bisa melihat penuh. Cuma asal terbang.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka. . mereka sudah terbang duluan. setiap kali aku mau menghalau.processtext.com/abclit. Berlalu dari samping Anggi dan Olan.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh.

”Ke rumah Gumortap. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka.” kata Horas.com/abclit. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau. http://www.processtext. ”Mau apa?” tanya Olan. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Mau ke mana?” ulang Anggi. ”Dia dipanggil ayahku. . ”Ada enggak?” tanya Horas.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan.” kata Anggi.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan.

”Aku jalan dulu. kita harus mengusir burung.” kata Anggi. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. ”Aku ikut. ”Biarkan saja mereka makan padinya. ”Mesinnya kan sedang rusak. http://www. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana.” kata Anggi. ”Tapi semua sudah tahu.html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi. ”Heh. tak akan banyak!” .” katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Mereka masih anak-anak burung. siap berkelahi dengan ayahmu.com/abclit.” kata Anggi.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu.” kata Horas. Nanti malam musim ombak besar. ”Coba dia membawa kapal sekarang.processtext. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak.” ungkap Olan.” kata Olan. Gumortap sekarang membenci ayahmu.

Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau.Generated by ABC Amber LIT Converter. juru mesin dan juru mudi yang baik. http://www. . bahwa Gumortap tidak bisa datang. Dan sejak itu. pemain gondang yang baik. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya.” kata Ayah Horas. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. dan tentu saja. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore. melalui jendela. ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut. tapi kemudian berlanjut saling pukul.processtext. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun. ”Kau saja yang memanggil lagi. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. ”Bilang sangat penting.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. tak banyak yang tahu.com/abclit. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal.

Entah siapa yang datang bertamu. tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar.. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal.” kata salah seorang tamu itu. Suara ayahnya dan beberapa orang lain.html Begitulah.processtext. http://www. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. Dan seseorang itu bisa saja. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil. ”Kami mendengar lagi Pak. . Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. Horas mendengarkan dari balik pintu. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu.. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya.com/abclit. Licin dan halus. tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal.” kata yang lain. ”Banyak yang marah. Dia baru saja menutupkan jendela.Generated by ABC Amber LIT Converter.

akan saya panggil ia ke sini. barangkali seusia ayahnya.” ”Ya.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya. dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar. jangan mendatanginya. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua. ”Bapak harus menegurnya.” .” kata yang lain.” ”Jangan mendatanginya. Perintahkan.com/abclit. http://www.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua.” ”Bila perlu mendatangi rumahnya. ”Dia kurang ajar.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.

“Baru dari pekan. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah. Inang?” tanya salah seorang tamu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka.html ””Katanya Bapak menghinanya.processtext.” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. ”Eh. Tapi kalau ia keluar. berjaga-jaga. Ia . Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura. ada tamu. Yang dapat dilakukannya adalah. http://www. maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka.com/abclit.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati.

tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya. darah seharum ombak malam. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. Horas terus merangsek. Langit sore sebagian memerah. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Tangan Horas kini berlepotan darah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. http://www. Beberapa orangtua berusaha menolong. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. Di sebelahnya. entah mengkhawatirkan siapa. menusuk. menusuk. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Namun Horas tak mendengar. di kakinya. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya. Belati telanjang dan berbahaya. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya.processtext. Lalu Horas . Horas melihat sekilas. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. menusuk. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya.com/abclit. Horas tak menjawab. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. tapi Horas berhasil mengibaskan. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. seraya mengatakan sesuatu. ”Anak gila!” umpatnya.

seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. Tangannya gemetar menggenggam belati. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank.com/abclit. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. sebagian memilih jadi pengusaha. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. dari kampung Pasar Kliwon.processtext. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Teman-temannya itu. beberapa . tapi ia terpisah. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. tapi tak semuanya jadi pegawai. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. Bank Jerman. http://www. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. Mereka mendirikan rumah berderetan. termasuk ia sendiri. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu.Generated by ABC Amber LIT Converter. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Sesaat. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. Tapi pada suatu hari. Usamah juga ikut membeli tanah. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. Tapi semuanya sukses. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. semuanya telah lulus perguruan tinggi.

anjing itu pun mati. "Di Mekkah. Najib. dekat sawah. Minah. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang. Hector selalu menggonggong keras. Rahmah el Yunusiyah. http://www.processtext. Tak tanggung-tanggung. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. Pernah ada hadist yang menceritakan. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. Kebetulan ia mengikuti aliran modern. tertidur selama 300 tahun itu. jika Faris ingin . Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. sangat sedih kehilangan Nero. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah.html ekor dicuri orang. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. "Boleh tidak Buya. Ia dan keluarga. banyak penduduk yang memelihara anjing. dengan persetujuan seluruh keluarga. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. bermain-main di rerumputan pinggir kali.com/abclit. "Di Minangkabau. Itu ada anjing besar. Nabi sendiri suka dengan kucing." jelasnya lagi. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. al Irsyad. mungkin oleh tetangga yang tak suka. memberanikan diri. Faris. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. "Tengok ke halaman rumah. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah. dekat Masjid al Azhar. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. terutama anak kecilnya. termasuk anjing. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. bersama pengasuhnya." jelas ulama asal Minang itu." jawab Buya. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. maklum bertanya kepada ulama besar. itu separuh penghuninya adalah anjing. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. memelihara anjing sudah biasa.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung.

Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. setelah selesai belanja. jika tidak mau mengambil barang saya. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. "Tidak. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. "Jaga dong anjingnya." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. Pernah suatu pagi hari.processtext. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. Pencuri itu pun. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah." jawab Bu Usamah. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras." jawab si pencuri. Ia sempat membawa lari seekor ayam. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. setelah melapas ayam curiannya. Kalau Bapak tidak datang. Jika istri Usamah pergi ke pasar. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. tidak. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. berusaha mencuri ayam. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. Pada suatu hari. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. maka pencuri itu pun bebas. Hector mengejarnya sampai tertangkap." . Mendengar gonggongan anjingnya. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri.com/abclit. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. anjing itu pasti mati kami hajar.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia tak pernah berbohong. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. Anjing juga tidak pernah mencuri. Ketika mau mengambil kompor. saya tidak mencuri. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. Hector selalu dibawanya.html bermain-main di kali. Hector disuruh menunggu. karena mendapat gonggongan Hector. http://www. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. "Walaupun seekor anjing. Ketika lari terbirit-birit. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya. teriak-teriak minta tolong. karena jika ikut masuk.

Kalau siang.processtext. http://www. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. Anjing itu seperti malaikat. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. . Haram. Usamah sekeluarga menonton TV.com/abclit. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Cuma. Faris sudah berangkat besar. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. Anjing ini sehat dan bersih. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. Tapi kalau malam. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. karena tidak bisa. Pada suatu sore di hari Sabtu. tapi Hector tidak bangun juga. mengurungkan niatnya. Faris pun menggoyang-goyangkannya. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. Karena itu orang yang berniat jahat. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu. setia menjaga rumah dan majikannya. Dulu saya pernah kecurian ayam. sebelum punya anjing. baru Hector menggonggong. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Ia masih akrab saja dengan Hector. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. tanda ada yang mengganggu. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama." "Yang najis itu air liur anjing gila. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. Kalau ada yang dicurigainya. "Masya Allah. Tak pernah mencuri dan berbohong. anaknya yang terkecil. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya." jawab Usamah. cuma mengangguk. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV." "Apa Bapak tidak tahu. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. sudah masuk SMP. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. Setelah sejenak duduk. Hector sudah berhenti bernapas.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Lho Pak. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik. Rupanya. Dan Faris sangat menyayanginya. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah.

Tapi Hector lebih menyerupai manusia. malaikat akan masuk surga. Pak Usamah sempat membaca doa. sambil menitikkan air matanya. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Tidak sekalipun berkedip. Hanya menatap. Hector akan masuk surga. Sebenarnya. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. bagian dari keluarga Usamah. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Ia pun dikuburkan. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi. "Seperti ada dan tiada. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. seperti tidak kenal lelah. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Semuanya berasal dari Allah. pagi-pagi benar. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak." Keesokan harinya.processtext. seluruh keluarga gempar. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. Abah yakin. manusia pun akan mati. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Melihat keadaan itu maka Usamah pun. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya. Kepada mereka.html Melihat Hector tak bangun lagi. http://www. seperti manusia. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. terutama Faris. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. tanpa doa pun. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih." . Nius.

com/abclit. sebagai grosir roti dan permen. Berubah sekarang. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. akrab dengan pribumi. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. "Bun di Medan jadi dokter. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Satu di Palembang. Nius. Dulu kami sering . kendati kota kami tetap saja setelempap.processtext. diduduki hingga kini. Si Talib di Dumai. sudah bercucu satu. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. "Tak lama lagi pensiun." jawab Tum. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. si Talib dan si Tunik yang acap pulang." Biju menerangkan dengan gembira." tambah Amril.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Bahkan mengerikan. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Kami ajak bermalam tidak mau. Ayah Bun tukang gigi." "Hanya si Cudik." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. Kalau aku pulang. "Di mana dia?" tanyaku antusias. "Tentu!" kubilang. Dua lepau nasinya sekarang. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. dewasa atau jadi tua. Dia dan keluarganya tergolong aneh. lebih-lebih tukang gigi. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Nius. http://www. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Tidak kecuali Sultani. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Suka-suka kami mau makan apa. Nius. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. tidak halam! Enak laaa.processtext. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. Seperti di rumah Bun. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. kami kerap nginap di rumah Sultani. mengantar kue mohok hangat-hangat. "Jelas enak. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. tak pake babi laaa. lucu. . Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin.com/abclit. Bak orang-orang dalam mimpi. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. http://www. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. kadang susu. Matanya tak terlalu sipit. Ibunya baik seperti ibu Bun." KAWAN masa kecil itu lincah. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. atau menjelepak duduk di lantai. pintar di sekolah. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. mencukur. adik Bun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Mereka menggeleng. "Tidak halam. Juga pandai menjahit. "Percuma.html bermalam di rumah itu. Dia kapten sepak bola. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung." sahut Tum. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Tapi kami cegah. "Itulah. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Minumnya teh hangat." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. adik kelas kami. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan." bilang Tum. Rambut ekor kuda. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur.

Mestinya waktu kita kelas tiga. Ayah dan ibunya setuju. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa.processtext. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Berenang kalang kabut ke tepi. Dan Bun disunat. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Babah mau coba? Sret. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Dan pernah pula Buya Makruf. Mukanya pucat serupa mayat. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Portir bioskop juga dia ulahi. kopiah. jadi keras. mencangkunginya seperti buang hajat. serta sarung beliau "terbang." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. Kami berebut. alias usil plus kurang ajar. "Sebetulnya telat Bun. Bun?" Bun mengangguk lemah. guru mengaji kami. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. Lalu ia sambar roti. Biju dan Tunik juga. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Ulah Sultani! Suatu kali.html "Makan. Bun mau potong bulung bole potong. mengajak makan. Terbahak-bahak seperti hantu air. "Ayaaa. . http://www. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Baju. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. tidak terasa. ke halaman masjid. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. "Malah. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Kelas enam disunat. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. laaa. Iya kan. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia." "Tidak sakit. selesai!" Ayah Bun terkekeh. Ibunya tersipu.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.

terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Tetapi. "Tadi di sini terlampau pendek. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Rustam. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. kan?" Aku mengangguk. Tapi aku merasa. ikut mengaji saja. Suaranya merdu.html Setelah sembuh. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. sepekan rambutmu . Ketika kuraba.com/abclit. Sudahlah. Jangan pula licin tandas bak kelapa. tidur-tidur ayam. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Bukan saja Bun. Biar aku yang ngajar. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. "Rambutku dia cukur. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Eh. Mendesis-desis lunak. malah sebelah sini terlampau pendek. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. kuratakan. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. tentu saja. Dan sesekali. Tunik juga. "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Aku malah tak sekali. Tak licin di sekeliling kepala. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Rancak. Sebulan ditanggung fasih. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Kepandaian itu turun dari ibunya. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Sultani berkata: "Sudah Bun. "Seperti model rambut Bang Rustam. Mataku merem melek.processtext. banyak kawan merasakan ulah Sultani. tajwid dan kiraahnya elok.

Kaca-kaca pecah berderai.com/abclit. Menyepak pintu hingga rubuh. Nius. Sejumlah orang menerabas masuk. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Nius. Tetapi mereka pun tidak tahu. Tepatnya.processtext. Atau pergi. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak." kata Amril. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran. Mereka menuju rumah Sultani. Dia mendekat." Tum diam saja mendengarkan sunyi. Tahi kambing. Mereka melempar rumah itu dengan batu. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun.html panjang lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. hasilnya nihil. http://www. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu." sambung Biju lesu. suatu pagi. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Suara mereka teramat gaduh. Pernah kami tanya ke situ. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. aku menghambur ke jalan. aku menghindar. berteriak-teriak. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Mereka . Bagus juga kau gundul.

Hanya mata saja. "Semua orang bilang begitu. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara.Generated by ABC Amber LIT Converter. Perempuan itu terjerembap di halaman. seolah-olah tidak pernah lelah. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang.* Jakarta.com/abclit.processtext. http://www. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. dua buah. Menangis. "Dan. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Buas sekali. Tanganku dicekal. kemarin pagi. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Ibu Sultani berlari mengejar. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. 2 April 2005 . Aneh sekali. "Mulai kurang ajar ya. Bahkan sampai kini. Menghabisinya. Lututku menggigil. Orang-orang masih berteriak. melihat aku di tengah kerumunan. diseret abangku pulang. meraung-raung. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. Dia juga menangis. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Mukanya berdarah. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. Kusaksikan ayah Sultani diseret. yang menatapku tanpa berkedip. Bergelombang-gelombang manusia. Sultani juga. tegak kaku di ambang pintu.html terus berteriak.

pengairan sawah.processtext. . Misalnya. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. Ada apa? Saya acuh tak acuh. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. perburuhan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Istri saya belum menemui mereka. Saya rasa kali ini juga begitu. http://www. menantu dengan mertua. Kadang datang berbondong. Sudah sering datang orang. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. setelah sarapan. soal usaha tambak udang. Karena istri saya gelisah. maupun wali kota. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. saya menjawab sekenanya. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. perbankan.com/abclit. Di samping para tetangga. persoalan anak dengan orangtuanya. yang sama sekali tidak saya ketahui. satu dua. bupati. Saya acuh tak acuh. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. mengular sampai jalanan. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. satu dua.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Juga tentang hubungan suami istri. Kadang-kadang saya juga diundang camat. bibit tanaman. Sudah sering datang orang. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Sungguh menghabiskan waktu. menjenguk lewat jendela. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Jika ditanya. bawahan dengan atasan. ramai.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. sekadar yang saya tahu. Istri saya memberi tahu.

Kadang sampai 8. sementara beban keluarganya besar. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. misalnya. Begitulah. Begitu siuman. teman-teman. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. lalu saya cari alamatnya. bupati. Saya interviu keluarganya. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Seluruhnya orangorang biasa. Saya catat riwayat hidupnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. agaknya hanya saya seorang. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. keluarga. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. Masa pensiun pasti datang. saya dijuluki "pendengar yang baik". menyadarkan saya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. sedangkan untuk orang-orang biasa. Tulisan obituari itu tidak panjang. Untuk sikap saya itu. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. tidak benar-benar membutuhkan saya. kenapa tidur di rumah. Barangkali mereka juga membaca obituarinya.html Rasanya camat. ia kaget.com/abclit. sebagaimana kematian itu pasti tiba. tidak ke mana-mana. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Misalnya. Alasan saya. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Kepala kantor orang itu kebingungan. sekitar 5. . dibawa pulang ke rumahnya.000 orang. Keluarganya memberi tahu. teman. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. juga tayangan televisi. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Sebagai penulis lepas. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. http://www. ia seharian di rumah saja.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. dan wali kota.processtext. Cukup menyenangkan.000 karakter. di sebuah desa yang lengang. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. dan berapa orang saudaranya. sampai kenalan baru. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. pekerjaan terakhirnya. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama.

Pak. kompleks pertokoan. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios.com/abclit. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. http://www. Ini benar-benar klenik. Wah. jika seseorang ngobrol dengan saya. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Dari kejadian itu. Ntar saya yang menulis Bapak. ada yang mengartikan." Tapi. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis.processtext. ataupun di stasiun bus." jawabnya. tak ada yang menulis. "Lho. "Pak." . ini bahaya. saya sedang mewawancarainya. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. Dan sebagainya. Sementara itu ada pula yang bilang. ia meninggal. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis. Banyak komentar. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. seseorang yang ngobrol dengan saya. Yang jail maupun pelesetan. Tidak kenapa-kenapa. Ada yang bilang. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. "Maaf. Pak Jurnalis. Saya nggak mau ditulis sekarang. Maka ada saja orang yang anti-saya. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Tapi ini kebetulan saja. Saya tak bisa menjawab. Banyak usulan. kenapa?" "Maaf.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar.

Generated by ABC Amber LIT Converter. yang paling kritis. lima orang. Banyak ngomong dianggap meramal.html "Baiklah. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Keterlaluan. Kritiknya tidak berdasar. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. dan si bungsu di SD kelas 5." "Jangan ditinggal korek apinya ini. Pak. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Pak. wah. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya. Anak-anak saya. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Menurut mereka. http://www. Pak. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya.processtext.com/abclit. anak-anak ini sok tahu. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: . terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. kenapa?" "Maaf. Lalu malah terjadi serba-salah. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Apa yang akan terjadi dengan saya. katanya. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya." "Lho. Tidak kenapa-kenapa. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Di pertemuan-pertemuan desa. Jika sampai di sini hal itu masih baik." "Saya permisi. Memangnya saya cenayang. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya." "Biar untuk Bapak saja. sedikit saja saya ngomong.

com/abclit.processtext." jawab saya." "Semuanya. http://www." "Ayah marah kena keritik." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. kan. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga. ." "Boleh saja." "Itu harapan saya." "Tidak bisa seenaknya begitu. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga." "Nah. "Kalian ngawur. kalian ngawur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu doa saya. Ayah pernah menulis obituari. Nah. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. ini dosa." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala." jawab anak-anak itu.html "Dari mana kalian tahu." "Begini." "Semua orang bicara dosa dan pahala.

Sudah sering datang orang.com/abclit.00. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Saya rasa kali ini juga begitu. Padahal saya selalu bilang. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Sebagai ayah. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai.anak saya tersebut. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. Istri saya memberi tahu. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Istri saya belum menemui mereka. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka.processtext. http://www. Nah. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. mengular sampai jalanan. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. merangsek ke depan meja saya." "Nah. cerdas dan berani. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya guru SMP.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya acuh tak acuh. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. satu dua. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. sedang rakus-rakusnya makan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . Ada apa? Setelah sarapan. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Jam baru menunjukkan pukul 05. Lima anak semuanya sekolah. Kami sebenarnya keluarga bahagia. setelah sarapan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain. termasuk menulis berita.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. menjenguk lewat jendela. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. anak-anak saya itu diam. Saya menulis apa saja. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Hari baru membuka matanya." Mendengar keterangan saya. Saya sering lelah berdebat dengan anak. Karena istri saya gelisah.

nistagmus. Entah berapa lama saya pingsan. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas.Generated by ABC Amber LIT Converter. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. di pekarangan. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan.html Mata mereka nanar. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. diselimuti lumpur. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. Tapi tidur itu tak pernah panjang. di luar kemauan. mencecap pencerahan. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. panas.com/abclit. di reruntuhan rumah. berserakan memenuhi ruang dan udara. kemudian dibiarkannya mencair. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. http://www. perempuan.. muda. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. tua. di jalan. Ahad. Kalau toh ia tertidur. Tangerang. Seluruh mayat itu. di atas pohon. bayi. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. . itu bukan karena ia ingin. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Sinar matahari memancar. 20 Januari 2005. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Cuaca cerah. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah.tanggal akhir hayat. di kebun. Alhamdulillah. tak seekor pun tampak terbang. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. berserak. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun.processtext. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. 26 Desember 2004. Bahkan burung-burung.. Mungkin hanya karena terlalu lelah. mereka menatap kebenaran. laki-laki. anak-anak. Waktu saya siuman.

html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. Bagaimana kabarmu. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pada siang yang murung itu. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Pertanyaan serupa diulang. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan. Tapi sayang. hingga warna itu berubah tua. Masmu Jito tidak ikut. Kami juga sudah menunggu lama.com/abclit.processtext. namun tetap tanpa jawaban. "Ya. http://www. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. "Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. Kantuk masih menggelayutinya. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Mbok Nah diam. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" . Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin.

"Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak. Swandaru yang anggota DPRD. "Eyang Putri tidak senang bau rokok. http://www. Mereka sudah lama menunggumu. hendak menyulut." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah.html "Di ruang tengah. "Di kamar. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya.processtext. entahlah. seperti koor. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak. kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. Tapi. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. tapi dicegah Ambar. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan Drajat yang pengusaha real estate. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi.." . persisnya sejak Lebaran tahun lalu.com/abclit.

"Ndut. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda. coba kamu temui Eyang Putri. Kamu kan cucunya yang paling disayangi. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar." Gendut termangu. http://www. Pintu kamar itu diketuknya. perlahan..com/abclit. Setelah diam beberapa jenak. Swandaru merangkul Gendut. Mbak Ambar.processtext. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Empat pasang mata mengepung dirinya. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" .html Gendut memasukkan rokok di sakunya. Mbak Kunti. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. Gendut pun beranjak." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru.. "Saya Gendut.

" "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . Nggak ada komplain.com/abclit. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. http://www. Gendut langsung menyelinap masuk. semua beres. Perkara pembangunan itu macet. Aku menebak. dong. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri. Semua kakaknya saling memandang. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan.html Pintu pelan dibuka. ya bukan urusan saya. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani.processtext. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. Kalian mesti tanya developernya." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. Ketika menonton televisi. namun hanya beberapa puluh senti. Seperti yang kami kenal.

Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. Aku ngomel sendiri. Mereka pun langsung masuk rumah sakit. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi. tapi gagal. hingga commercial break memotong tayangan berita itu. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement.processtext. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu.com/abclit. Anak dan istriku tampak cemas. Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. Mereka menangis. tapi HP-nya off. http://www. . Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami.html "Tanya itu developer. Aku terus mengomel.

yang gigih menentang setiap penyimpangan. Walau cuma serupiah. wajahnya tampak lelah. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. wajah Eyang Putri tampak pucat. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas. ia hanya berucap "no comment. dengan bangga.html Kami sama sekali tidak menyangka.. tapi juga sangat sedih. semakin bersilangan.com/abclit. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. Ia melihat. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. dia akan mengejarmu sampai neraka.processtext. semakin tumpang-tindih. no comment" . bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. http://www.. jujur. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. Gendut belum berani bicara. dan berani. DI antara para cucu. Namun. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat." pesan bapak belasan tahun lalu. Di layar televisi siang tadi. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. malu. Sesungguhnya. Ia hanya mematung di samping ranjang.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Setelah Eyang Kakung meninggal. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. Jamu itu kemudian dijual di pasar. Rimpang-rimpang jahe. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. toh akhirnya goyah juga. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. http://www. Juga nama cicit-cicitnya. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. sawah yang membentang. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar.processtext. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. laut yang bergelombang. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Padahal jumlahnya belasan. Harum tapi juga semegrak. Tapi. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. pemberani. sungai yang mengalir. cabe puyang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. meskipun akhirnya tidak . dan entah apa lagi. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. Ada yang culas." ujarnya. dengan berbagai wataknya. Matanya masih bercahaya. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. Dengan runtut. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. Meskipun usianya di atas delapan puluh. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. kencur. Tubuhnya masih cukup tegap.html Setegar apa pun hati keluarga kami. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. licik. Rumah kami pun penuh aroma jamu. jahe. jujur. atau penjilat. Setiap pagi. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. Ketika kami kecil. gunung yang menjulang atau langit yang biru.com/abclit. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. Dan ingatannya masih tajam. adas pula waras. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. dlingo bengle.

http://www.processtext." pesan Eyang Putri. Aku kelimpungan.html hidup bahagia." ujar Mas Swandaru sambil bercanda. yang dipikir cuma perut. Ayo. Semua tertawa." Eyang menatapku. "Bicaralah. Gendhut. "Ah kamu." sergah Mbak Ratri.com/abclit. Bingung. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya. "Kalau saya ya pilih kaya. "Kalau kamu bagaimana.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri. nggak apa-apa…" .

html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik. "Pintar kamu. Eyang Putri diam. http://www. tapi hanya untuk mengakali.Generated by ABC Amber LIT Converter." Semua tertawa. "Dia bukan pintar. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . Ndhut…" Eyang Putri terkekeh. ketakutan diam-diam merambat. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar.processtext. Mendadak. Dia punya banyak akal. tapi licik.com/abclit. mengurung kami.

com/abclit. . Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. Kantuk pun bergelayut. dalam gelap malam.processtext. "Benar Eyang. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang. "Maka. "Akhirnya. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam. Dia bilang. kalau kalian besar nanti. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Kami mengangguk. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. Satu per satu kami tertidur. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana. Ratri menyahut." ujar Mbak Kunthi. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri. http://www. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani….…"sahut Mas Swandaru." Malam makin larut. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. "Iya.

Tapi Gendut memberanikan diri bicara. Di luar kamar. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Eyang. tak ada suara terucap. lemah. Eyang Putri menggeleng." ujarnya pelan. Perempuan renta itu berjalan pelan. Gendut kaget. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. Dalam beberapa kejap. tapi masih tetap tegap. Urat-urat wajah mereka menegang.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. Wajah mereka tertunduk. Ke mana air mata itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras.processtext. pikir Gendut. "Kita berdoa. http://www. "Ndut. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya.com/abclit. Bukan kancil atau ular piton…" . Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. "Biar aku duduk…. Mereka hanya saling memandang. empat kakak Gandut masih menunggu. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar.

Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang.processtext.html "Bagaimana kamu tahu. "Itu yang aku sesalkan. http://www. "Mestinya sejak dulu. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. meskipun kami tidak punya bukti. "Tapi maaf Eyang. Ya. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil. kami percaya dan yakin.Generated by ABC Amber LIT Converter. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" . merintih.com/abclit. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya…." ujar Gendut." "Tapi.

http://www. akan mengembalikan martabatnya…." ujar Kunthi. seperti terbaca.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. sebelum akhirnya pingsan. ditelanjangi. Eyang Putri berkali-kali menarik napas. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu. Tubuh mereka serasa berubah transparan. Edisi 05/22/2005 . Semua mendadak terasa terlepas. Mungkin…. Itu masalahnya. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. Mereka merasa dilucuti. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. DI rumah itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. "Kebenaran akan membersihkan namanya.processtext. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya.com/abclit. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…." ujar Eyang setengah meradang.

memanjang ke fragmen tengkorak. Di suatu waktu di zaman lain. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu. homo erectus. menguap. segera jadi bohong besar. seperti yang selalu kami yakin. dengan cara begitu rupa. TETAPI trilobite. tak kurang dua ratus juta tahun lalu.html SEPATU itu.com/abclit. dengan bertumpu di bagian tumit. Semua akan hancur. Jejak melesak di tubuh-tubuh . bongkah itu akhirnya pecah. homo sapiens. menginjak seekor trilobite. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. di zaman homo habilis juga belum ada. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong. Jejak sepatu celaka. Betapa kekal. seluruh waktumu. sepatu manusia.. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. Dari satu waktu ke lain waktu. lebar 11 cm. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? .. neanderthal. tertahan dalam bongkah batu. Dengarlah sepatu berderap. ternyata sia. Betapa kekal jejak itu. lekuk bawah tumit 2 cm.sia? Maka sembunyi itu. SEPATU itu. sepatu serupa. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. Dan itu artinya. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. ditemukan juga jejak sepatu. http://www. selain fosil antilope. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu. Jejak celaka! Bagaimana bisa. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. tak bisa tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter.. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. melesak di leher. dan waktu melenguh.processtext. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. artinya pula tak lain satu kata: gila. bagi kami. harus kami bikin tetap sembunyi. setiap detik dalam hidupmu. dari satu batu ke lain batu. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. Homo habilis. pikirmu. Sepatu lars.

merangsek masuk ke dalam kampus. Menembus ruang. telah hampir sepuluh tahun kini. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. semua kami musnahkan. bertumpang tindih dengan hardik. tetapi kami lupa? Tetapi toh. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Fragmen tengkorak itu. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. Racau panik. Dan setelah segalanya beres. Betulkah foto itu hilang? Atau. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila.html Tetapi. Memang muncul berita di koran lokal. tetapi itu biasa. timbul-hilang.. Bisa runyam. ruang kuliah. Menggasak leher. Terdengar pula suara seperti letusan. juga lolongan.. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. gebuk pukulan. Pekik. selesai. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. berhamburan. jerit. membuat kami sungguh kelabakan. Baiklah. dengan amarah bagai meluah. Orang-orang berseragam ini.com/abclit. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. Gemuruh derap menggasak koridor. lengking tangis. menerjang. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu. tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto. Dengan satu kali jumpa pers. melipat waktu. perpustakaan. Tetapi lalu.processtext. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. kenapa mereka menyerbu kampus? . sebetulnya telah ikut terbakar. begitu jauh. rusuk. penuh literatur fiktif. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh.. Mahasiswa berlarian. menjalar lirih ke telingamu. dengan foto-foto yang dideformasi. Bisa heboh. Artinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. bentak. Jadi. ketika muncul di Science. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. SEPATU itu. untunglah. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. Tulisan yang tentu saja direkayasa. http://www.

Tetapi yang jelas. Tak ada hujan. beberapa dilarikan ambulans. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. TAK ada hujan. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. kemudian. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. kini menjelma jadi kuyu. seperti berat. Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. Dan di lantai. Menembus waktu. Seperti lelap. Dan lihatlah itu tadi. ternyata ada di sini? Memang aneh. seperti halnya juga tadi di lantai satu. Pulau-pulau yang terbujur. setiap detik dalam hidup kami.html Namun tentu. Dan setelah segalanya selesai. tetapi terasa seperti hujan. berbaku tindih jejak sepatu. Merembes dalam bisik. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini). Di dalam juga tak kalah sesak. Beberapa digelandang digiring ke truk. seluruh waktu kami. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. Melalui pintu yang ternganga. http://www. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Tak ada becek. kami gunakan untuk mencari. menembus ruang. Begitu tenang. Takkah aneh bahwa foto itu. Kampus diserbu. pada setiap kepala yang tepekur. bagai tertidur.processtext. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). . aku bagai melayang. Padahal tak ada hujan. basah itu. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. Rumah yang kukenal. Bila sebelumnya tampak heroik. demonstrasi. kursi-meja berjumpalitan. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. Juga senggukan tertelan. Labor-ruang praktikum hancur. dari hari lain. meresap dalam senyap. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. Dan lihatlah lembab itu. Menatap ruyup ke tengah ruangan. Tetapi. Menetes. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. bagai tertidur. Dan takkah pula lumpur lain. pun ruang perpustakaan. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu.bermimpi tentang demokrasi. Di luar rumah sangat banyak orang. Sungguh situasi yang tak terduga. di sinilah foto itu kini. dalam basah. Mahasiswa diburu. Lihatlah seorang dari kami. tegak termangu di puncak tangga. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. Dalam lembab. itu bukan urusan kami. bukan? Sesekali terdengar helaan napas.com/abclit. ruangan itu juga tampak porak-poranda. Masuk ke halaman yang kukenal. Mungkinkah hujan lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. entah ruangan apa. Dan juga celaka. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. di luar tak ada becek. Beberapa kepala pelan terangkat. Ke sesosok tubuh yang terbujur. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu.

melipat waktu. Dengarlah sepatu berderap. Tubuhku. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. Begitu pas. Dari satu waktu ke lain waktu. mematahkan rusuk. begitu jauh. di hampir seluruh bagian tubuh itu. Dan. Siapa tahu. Sangat serupa. http://www. dari satu batu ke lain batu. Kamar yang juga tampak begitu tenang. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. tak lagi penting. tepat menimpa si fosil jejak sepatu. menjalar lirih ke telingamu. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. Kembali aku melayang. Dan. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. Mungkin pula itu di masa depan. Begitu lengang. bukan aku. pikirmu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. rusuk. Dan.com/abclit. dan waktu melenguh. timbul-hilang. Menembus ruang. Menggasak leher. Menghunjam dan melesak. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. pernah atau tidak. tak jauh dari tubuhku. Ruang kerja Ayah. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. memintaku mencarinya.html Itulah aku. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. atau mencoba melihat menggunakan mataku. Meremukkan leher. ganjilnya pula: di atas foto itu. Kini aku bebas ruang. sebuah jejak baru. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. sang arkeolog ini. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Jejak melesak di tubuh-tubuh. Menerima makian. Tetapi. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. Menembus dinding. ke lain ruang. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. kamarku. aku selalu lupa. 4 April 2005 .processtext. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Betapa kekal jejak itu. sehingga ia begitu marah? Tetapi. Dan inilah ia. Bebas waktu. ada foto itu. Gebrakan meja. Tetapi itulah. Mungkin juga itu orang lain.

http://www. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. Gusti. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Maka. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu.processtext. dengarkanlah ceritaku. Karena itu. memedihkan mata dengan getir pasir. . untukmu Gusti.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. tanpa cambukan. dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri.

http://www. . Dengan petikan sitar gaib. dan malam yang kehilangan rembulan. kepala yang dilindas truk." Ia tak bisa lagi menangis. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika tak percaya. Ramli. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga. "O. Ia tak bisa mengamuk.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. Tak di mana-mana. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota." Ia tak lagi punya jejak. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. Tak bisa mengutuk.com/abclit.processtext. Ya. tapi keretanya telah remuk. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan. darah yang terus mengucur.

Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium.com/abclit. http://www. Maka. aku memang cuma budak haram. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena .html "Tak di mata yang menyimpan surga. ke got becek untuk mandi. ke jalanan becek bertabur roti. Lukman. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku. "Ya." Kamu cuma budak haram. mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu." Tak di mata yang menciptakan surga.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga. ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.

"Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800. "Ya. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. pulanglah ke negeri ibumu. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular.com/abclit.. . Lukman.processtext. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko. http://www. segeralah pulang.html pasporku hanyut di sungai. Hanya. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian. tetapi segera pulanglah. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan. aku akan pulang." Maka. Nanti kamu didenda. Lukman.Generated by ABC Amber LIT Converter." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam.000 budak haram. Nanti kamu dipenjara.. Lukman. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Ayolah. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang." Ya. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. "Mereka tak punya algojo.

ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri. http://www. "Ke gua gelap itu?" Ya. Sayang. .com/abclit. Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. Kalaupun masih hidup. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang.processtext. Sayang. "Ibu? Ibuku telah mati.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu. ke kopi terakhirmu.

Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir.html "Setelah itu." Begitulah Cara Waktu Mengaduh.com/abclit. http://www.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rahma. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa . Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu.. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati. Karena itu. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu.. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam. "Kalau begitu aku tak mau pulang." Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu. menguburmu dengan bunga mimpi. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan.

"Kalau begitu kota ini sungguh sialan. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak .processtext. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. Tentu keindahan tak harus disembunyikan. Rahma. Kau tentu bisa menjelma ikan." Ya. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. Tidak di jalan-jalan. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. Rahma. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. "Tidak di keriuhan?" Ya. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. Kau tahu bukan Redana. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. Padri Minohek itu. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. Rahma. Kau tahu bukan Romo Sindu.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak.com/abclit. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. kota ini memang sialan. Rahma. http://www. Rahma. "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. Pangeran Kelelawar itu.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban.

Aku hanya. Ia menangis dalam gerimis. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. http://www.com/abclit. Rahma. Kunti. Bukan di padang pembantaian. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra. Tetapi. "Namaku Petro Sale. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi." Dor! . Aku hanya. Kunti.. Rahma. Tetapi mereka hendak dibunuh juga. Bukan di Kurusetra. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi. ke ujung mati.. aku tahu. "Jangan lari. Maka begitulah cara Waktu mengaduh.. Kunti. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu. mereka melenguh seperti kerbau api. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api.processtext. 37 tahun." Dor! "Namaku Guspar Hasan. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. Kunti. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki. 23 tahun. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi mereka hendak dijagal juga.. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri. Rahma.html pernah pulang.

.Generated by ABC Amber LIT Converter." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri." Dor! Lalu kau pun tahu.com/abclit. buaya.. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi. 25 tahun. "Halo. .html "Namaku Markus Taji. aku hanya membawa tikar menuju belukar. musang. Tak ada obat.processtext. kuldi." Dor! "Namaku Remi Guis. ya Kasturi. Kunti. "Aku mencintai Hang Tuah.. http://www. hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan. Aku hanya. tikus. Aku. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri.. ular." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela. Lalu kaulepaskan angsa. Soekarno. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi.

burung-burung terbang ke langit entah. kau keliru. krok. Sebab di hadapan Sang Waktu. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. krok.com/abclit.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. krok.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela. Hijazz. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok." tiba-tiba Angela menyela. "Jadi. http://www. kalau dia menangis." "Ya. kita memang kodok. Oke." "Ah. tua. . kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya. "kita cuma eng-krok. Ya." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. Soekarno kehilangan tuah." "Aha! Aku suka metaforamu. kita adalah budak yang tak punya malu. danau akan gaduh. kita memang bahagia. revolusi telah patah. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku." kataku mengolok-olok. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. Sayang. eng-krok. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia. dan kita akan kesepian.

http://www. Jadi. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. Dan Kau tahu. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. Lumpur-Mu.processtext. Kekasihku. Kuala Lumpur-Selangor. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. semua ternyata hanya lumpur. "Lihat Hijazz.com/abclit. Karena itu. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. Cintaku." Aneh. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti. 2005 . Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung.Generated by ABC Amber LIT Converter. suami-istri yang kian merenta itu. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. itu aku dan engkau.

processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.html .com/abclit. http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful