Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. alat pemotong besi. Maling pun tetap harus serius. atau benda lainnya. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. Aku tahu itu. Orang itu merasa serba salah. sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. naluriku memaksaku berpikiran begitu. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Maka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ya. Rupanya ia tanggap. Aku pun menurut. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. menyiapkan berbagai peralatan.html berbisik. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. Perasaanku campur aduk. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Tapi. ada besi pengungkit. pukul besi. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. Melihat urat-uratnya. Kudekati dia. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. ia menjumpaiku. Kukibaskan ekorku. agar tidak konyol dicincang massa. Dengan langkah yang gagah. karena dulu. Kuamati orang itu. linggis kecil dan masih banyak yang lain. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. aku selalu waspada. kuambil jarak beberapa depa. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. . Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap.processtext. mengenai kakinya. Tapi aku menolak dengan halus. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Siapa tahu itu tangis buaya. hand phone.com/abclit. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. alat pemotong kaca. Tuhan. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. orang itu telah keluar membawa bungkusan. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. http://www. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Ia pelan-pelan bangkit. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Tangannya mengelus-elus kepalaku. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. Dengan bahasa isyarat. Ya sangat dalam. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. dia menangis. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. drei. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. Dia memandangku. Hujan turun makin deras. Entah kenapa. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Dari tempias cahaya lampu. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Aku menunduk. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). penuh kerut-merut. dan siap dihunjamkan di perutku. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau.

html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. Terus menatapku. Aku memaksanya lari. tangis anak dan istrinya. Aneh. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. hingga orang-orang pun keluar rumah. rebah ke tanah. muncul kilat. Aku masih mendengar tangisnya. Sial. ia menghentikan kegiatan itu. Aku menggonggong sangat keras. Aku sangat panik. makin berkurang. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. penuh kesunyian. seperti menatapku. Ia tersedu-sedu. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Bahkan. akhirnya. http://www. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Makin keras. Entah kenapa. Edisi 05/21/2006 Malam itu. Orang itu tumbang. dan canggung. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Ia tampak panik. maling itu tetap diam. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Aku menggonggong makin keras. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. Muncrat darah merah dari dadanya. . Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Tangis itu sangat panjang dan dalam.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Mereka mengelu-elukan aku. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku.com/abclit. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Senapannya terus menyalak. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. dan berharap ia segera berlari. Melihat mata ibu. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Tiba-tiba saja.

. minyak tanah! . ia tetap bergeming. Namun. Tidak. Namun. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Beberapa kali. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat. Dan ibu menjerit-jerit lagi. Ia memang selalu dimanjakan.processtext. Batu penggilingan? . Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Tapi. ayah mendengus. Monang mencari-cari pisau. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. dalam pikiran ayah.. ampun pak. (Mungkin pula. Tubuhnya sampai gemetaran.com/abclit. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar.. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. Ia minta ijin pulang. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah.. Waktu ayah meninggal. "Ampun. Ayah berhenti memukul ibu.html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur. tak lama berselang. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. ia juga tak menangis. Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. Ayahnya pasti bisa menghindar! . Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). Minyak tanah. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah.. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. Namun ia takut pada ayah. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Pastor dari paroki datang. Ah. Tapi. lalu memukuli ibu lagi. Monang berlari ke dapur. Tapi.. Dan lebih lagi. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah.. apa? . tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. http://www. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. Monang minta digantikan. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi.. besok. Kayu bakar? . di ruang dalam. ia pun tidak menangis. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah. Dan memang semestinya demikian. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. Seumur-umur Monang jarang menangis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketika kanak-kanak." katanya.

"Mo-nang. Ia tak menjawab. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi. "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya. Lalu berbalik.processtext. Namun.Generated by ABC Amber LIT Converter. ayah. tapi menahan diri.. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana.. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus.!" . di malam pekat.com/abclit.. Ayah menoleh. Di tengah samudera itu. ayah. Ia merasa diajari seperti anak kecil. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api.. Dan tetap tak menjawab. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. maka aku tidak membakar kamar ini. ada sebuah perahu yang terombang-ambing.!" panggil Monang. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!.?" suara si ayah pelan. Sebab... "Maafkanlah anakmu ini. menghadap Monang menatap mata sang ayah..... http://www.. Tapi tangis ibu yang lirih itu. "Ayah.html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar.

ayah. Nak. Berikutnya. ayah berlutut dengan punggung tegak.. Ibu pun demikian..!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung.processtext. lalu menghela napas panjang.. "Ya. Kemudian ayah tertegun.?" ayah bergerak pelan mendekati Monang.." Monang bergerak pelan mundur. ayah. http://www. Monang terkejut mendengarnya. "Berhenti di situ.!" tangis ibu. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. Tuhan. "Jangan.. "Ya.. berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca.. Lama. Ayah menggelengkan kepala. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi..! Ya. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya. Serasa sekejap... Mulai hari ini.. "Ayah. .!" "Kau. tetap di situ.com/abclit.html "Kau....Generated by ABC Amber LIT Converter.

Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya. Allah.?" Monang menenangkan hati.. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi. Kerabatmu datang menjemput..... >diaC< Telepon genggam berbunyi.... Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?.. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. Hingga kini. Monang terkesiap mendengar janji ayah..." suara kak Nurma terputus. Kak. Ayahmu sakit keras.. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka.. "Engkau harus pulang sekarang. Monang membersihkan kelopak matanya. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi.. "I-ibu. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo..com/abclit.. Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu. waktu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. "I-i-ibu kenapa. Tapi menurut Monang. ayahnya sudah meninggal.. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal. "Ya.processtext.. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya..?" . Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya.. meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi.. Monang. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu.. http://www. Dan akhirnya. waktu itu. Berdoa?. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir." Sungguh. Namun. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian." katanya..

berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu... tapi ini penting.. http://www... Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu.. Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter..?" "Mo-nang.?" Monang mengangguk dan lega.. Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini..?" "Mmm. Nak.. Bu.?" .? "Ya.. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau." "Ibu kenapa. permintaan! Monang terdiam. Kak. Nak?" "Beginilah tukang koran. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok.. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?. Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok.. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan. Jantungnya berdetak lebih cepat. nanti aku merepotkan mereka.com/abclit..processtext. I-i-ibuu.html "Nah. "Kau belum tidur.... Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi.... ibu mau juga ikut. "Aku tukang mabuk... Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu.. "Mo-nang? Kau mendengar aku...." jawab ibu waktu itu... Namun..!" Oo... Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang..

" . Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya." Terputus. menantu dan cucu-cucuku. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya. Betapa. Bu. Nanti terganggu usaha koranmu. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu.com/abclit. Monang dan istrinya kekurangan biaya.. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi. "Aku tahu keadaanmu... Ibu tak bisa menginap di rumahmu.. Tak ada yang sempat mengantarkan." "Oo. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak. Bu.... Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka.." "Lusa Ibu pulang.. Maafkanlah.. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka..processtext... Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas.. Namun. Nak. Bu. anak mereka sakit dan mesti dioperasi.. Aku tahu hatimu!" katanya.. ia bertekad membahagiakan ibu. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian.. ya. Si ibu menguatkan hatinya.. Nak. iya." kata ibu dari seberang sana.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ya. "Hallo. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi.. "Kenapa putus?" "Habis baterei. ah! Lalu apa permintaan ibu?.!" "Mm." Ah. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu..i-i-iya. Tak apa-apa.. http://www.. Tapi lima bulan kemudian. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya.... Nak.html "Mm. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu.

Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang.. Kau ingat tempat itu. . Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. dua hari sebelum aku berangkat ke sini.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa... Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening. "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom... di kampungnya ada pohon mangga.html "Ibu. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu.?" "Iiya..com/abclit.. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. ada kak Nurma di situ.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. pohon johar... Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain.. di sebelahku. Dan. Monang...... Ia ingat." kata Monang akhirnya... Pemiliknya Ompung Ojak." Monang ingat... dan pohon-pohon bambu memagari kampung." Monang memasang pendengaran baik-baik." Monang menghela nafas.?" Monang mengiyakan.processtext. Berpantun pun... Lantas?. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu.! Katakanlah apa permintaanmu itu. Bila kayu bakar di rumah habis.. Bu.. "Permintaanku?" "Ya. Bu." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang. "Monang? Kau mendengarku kan. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya.... Teruskanlah. "Tapi.

. kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?.. Sepulang dari sini. Nai Manjur sudah meninggal.Generated by ABC Amber LIT Converter.....!" Monang mengangguk... Nak. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang....html Sepeninggal ayah.?" "Ada. Nak..?" Oh...processtext. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak. maka ditebang yang tidak lurus." "Apa." jawab ibu cepat. Bu? Ibu kan masih sehat... Bu.. Nak.. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang. http://www.?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu.. Bagaimana.. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar. aku akan beritahu Ompung Ojak.. "Baiklah. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya. maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. Nak. Kalau pohon johar.com/abclit. Diam beberapa saat. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur.." . Nak. tinggal Ibu.!" "Bagus." "Terus.. ibulah yang selalu menyuruhnya.. tak ada anak-anaknya yang di kampung.. Bu. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga.. "Sekarang dengarlah baik-baik. "Lagi pula.... Ibu! Monang menarik nafas.." "Satu batang digunakan sebagai peti..

.. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok.!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya... Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. Aku ingin ada kacanya juga. . Menelepon.." "Ibu.com/abclit. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok. Ibu.html "Ibu masih kuat. Aku ingin menyenangkan hatimu.. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan.. Dia tersenyum.processtext..Generated by ABC Amber LIT Converter. Bu. seperti yang kakak-kakak lakukan.. Nak. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. Pergelangan tangan itu ngukel1. Menelepon.... Jangan memikirkan yang tidak-tidak. lalu telunjuknya menjentik. Sekali lagi dia tersenyum. Monang menelepon... Keindahan memang tak bisa diam.!" Tut-tut-tut. http://www.

akan diberi untaian melati. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. Anak. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya.html Dibayangkannya. tetapi inilah hidupnya. nantinya. "Aku ingin menari. yang harus selalu menjaga penampilan. mengeluarkan baju-baju dari koper. hampir dua puluh tahun lalu. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. makan. Wening hanya diam. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. suaminya tak menjawab apa-apa. duduk luka.processtext. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. Tetapi. Airmatanya beku. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. Bang Irfan sendiri. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. seperti tangan penari. si sulung. sesuatu yang mustahil sebetulnya. Tetapi. setelah mereguk kenikmatan. tentu akan lain ceritanya. entah ada di ufuk mana saat ini. yang oleh Mas Ondi—penata busana. . seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening.samar. Waktu terlipat oleh kecepatan. Wening si walet. sudah punah. dan menusuknya tanpa kata. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini. sejak 25 tahun yang lalu. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. tetapi menebarkan harum yang samar. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. mencium kening istrinya. Barangkali saja. kering tempe. Berdiri luka. siap senyum. mungkin pergi dengan pacarnya. Ah. abon. Wening si bunga matahari. Dia berada di tandu. entah siapa yang menjadi biang keladinya. Jadi. Neny.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wening si prenjak telah musnah. sudah mendengkur kelelahan. mengkristal di dinginnya malam. Bang?" bisiknya suatu malam. boleh ya. Kadang begitu datang. Sony. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. Sejak hampir sebulan ini. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. dan dia bukan lagi Si Wening. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. http://www. tak banyak gerak. ketimun. lalu menghilang di kamar kerjanya. mandi. tak banyak bicara. Sepi kian runcing.anaknya entah ke mana. Dan sejak itu. si ABG-itu. Malam ini.com/abclit. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah. harus masuk sangkar. rajangan dadar.

atau apa pun impiannya. dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu.. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti. Dia ingin menjelma Drupadi. Maka pembicaraan itu terkunci di situ." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. http://www.html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Bang?" "Tidak boleh." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan. Dan jiwa itu.." "Aku enggak suka tarian. Mom. Dialah Drupadi berambut panjang itu. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak. segalanya." "Kalau begitu. Wening beku. Dialah dengan kain panjang . juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya.. Tetapi tak ada dari Bang Irfan.com/abclit.processtext.. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua.. Itu saja. Apa susahnya?" ucap Bang Irfan.. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa. entah kapan. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya. rapi... Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. Album foto pentas terakhirnya. Mereka bergerak dalam diam. biar aku menari untuk Abang saja. cermin. Aku memberimu semuanya.." bisik suaminya. ". karena kau istriku... namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Aku lebih suka kau . Dia ingin menari..Generated by ABC Amber LIT Converter... Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Hidupnya memang menjadi barang taruhan.. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya. hening." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku ." dari Neny sebelum pergi.. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday.. "Kenapa. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh.. bahkan sms.. enggak pakai ini.

. "jadi penari. melangkah hati-hati. membiarkan berpuluh. memberikan keheningan. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum. http://www. Tetapi. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. ajaklah dia berbicara. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. Langkah yang sudah dihafalnya benar. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. membiarkan dengung gong pertama bergema. menaiki tangga. berjalan dari pelataran GKJ.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang Irfan pulang.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. Tepuk tangan berkepanjangan. menyedot seluruh pancaindera penonton. Izinkan dia bersamaku malam ini. manakah Wening dan manakah Drupadi. Akulah keindahan. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. Dan penonton memang tak bisa membedakan. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. Biarkan matamu menangkapnya. .processtext. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup. Cahaya lampu berkebit. memasuki pintu. membelah kerumunan penonton yang masih di luar. Wening ingat. Akan kuajarkan kepada kalian. maka kau akan dilimpahi cahaya. yang menciptakan jarak sepi." jawabnya agak polos dan kekanakan. Jiwamu lebih halus. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. Wening bangkit dari tempat duduknya. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". GKJ pecah. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. "Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. malam itu. menghidupkannya dalam sebuah lakon. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya.com/abclit. dan karenanya. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya.. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. bahwa inilah jiwa kalian. berulang.. dia selalu lantang menjawab. wahai makhluk bumi. tertiup pendingin udara. Mereka terhenti di suatu ruang. menggema. melintas perlahan di karpet merah. Dalam gemulai geraknya. Itulah yang menggerakkan Drupadi.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya.

dasar.com/abclit. terbuka dengan paksa. Irfan keluar dengan langkah besar.. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. telanjang. Sunyi. Pintu rusak. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. Bang?" sapanya. http://www.. Begitu kasar ucapan bang Irfan.processtext." Wening tercambuk. darah mengalir. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. Wening masuk kamar. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat".html "Masih saja .Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tidak suka. Diserbunya kamar Wening. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. Dikenakannya kemben kain panjang putih. Pasti bisnisnya gagal. . Ucapan kasar. Wening melepas bajunya. api kemarahannya menggelegak. Wening terpaku. runcing. Belum lagi Wening duduk. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. "Abang pulang? Sudah makan. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar.." Berkata demikian. Didobraknya pintu. Suaminya terdiam. Silakan larang aku. tapi kali ini. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. Sesaat kemudian. Aku suamimu. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. Pintu terbanting. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang. Lakukan keinginan abang...

.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. selebihnya dia melangkah perlahan. ibu dan ayahnya yang renta. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. dengan tatapan tertuju pada bumi. menariknya perlahan. kemudian sanak saudaranya. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah. http://www. sebuah bangun menakjubkan. please. Dia akan menari. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. miring ke kanan. Perlahan langkahnya menjauh. Wening hanya melihat. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. dan membagikannya kepada dunia. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. yang diberikan manusia. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. ah. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu.html Iringan rebab menyayat malam. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. Mereka berubah menjadi batu. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun. tak paham akan keindahan.Generated by ABC Amber LIT Converter. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. Tidak. Namun. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. dan tak ada yang bisa menghentikannya.processtext. Dilaluinya pintu yang rusak itu. juga mertua. terseret gerak tubuhnya. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. mencoba mengingatkan ibunya. sesekali dia ukel. sesekali pula dia tawing. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. .. pintu hidupnya. dungu. Wening bergerak sangat lambat. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. menoleh ke sudut. Kain samparannya terlalu panjang. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. kali ini. Dan baginya. Mereka semua membisu. Wening yakin sekali. yang berhasil diciptakannya. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh.. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya.com/abclit. Sesekali dia kengser. yang anehnya. Langkahnya terus mengalir. entah sudah berapa lama." bisik Neny setengah menangis. Bumi yang halus. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. "Mama. laki-laki memang tak pernah dewasa. Dia adalah Wening. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. Tetapi Wening telah menari. dari tempatnya berdiri. sejak malam ini.. berenang dalam cahaya keindahan geraknya. Dibiarkannya. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. condong ke depan.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu..

Dia hanya tersenyum. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa.processtext. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto.. dibantu sanak saudara yang ada di situ. 982 1 Gerak tari Jawa. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wening bahkan tak melawan. dia tengah menari dengan jiwanya. http://www. seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora.. Karena saat ini. khususnya pada bagian tangan..html Irfan mencoba meringkus istrinya. Wening tetap menari. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. . *** Bukit Nusa Indah. tak terdengar sama sekali oleh Wening. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya.

Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter." katanya dengan gusar. Opsir itu murka dan menampar mukanya. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara.processtext. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. setelah mendapat laporan dari seorang kacung. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. Justru sepanjang digelandang. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu. http://www. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu.com/abclit. Seorang opsir dan dua pembantunya. .

processtext." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut.html "Aku seorang seniman. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu." jawab sang opsir. . http://www. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau. Saya bicara sesungguhnya." Opsir itu memerintahnya. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum. Tuan. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter." jawabnya dengan enteng." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa. bukan seperti pemberontak macam kamu. tentu tuan akan mengerti lagu itu. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. Itu lagu Jawa." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek.

" "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi. Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama. tuan sungguh berbudaya." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. Tentu saja tuan tak mengenal saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah.processtext. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung." katanya dengan bahasa Jawa yang halus. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya. "Saya baru datang dari Surabaya. "Aha. tuan.com/abclit. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah. Tuan benar-benar memiliki darah . bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami. "Oh. http://www. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda." katanya.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu. Saya tinggal di sana selama tiga tahun." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu. Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar.

" katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi. saya kagum pada tuan. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. Saya pernah merantau ke negeri tuan. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu." katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. Kedua. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. masih menurut opsir kami." katanya. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini.html seni yang kuat. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. http://www. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang." katanya dengan senyum simpul.processtext. Telah saya cari . Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. "Ya. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. "Hapuslah darah tuan.com/abclit." "Ah. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. tuan. ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. menurut pengakuan opsir kami. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. "Ah. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. dan tinggal di Paris selama dua tahun. Dan yang ketiga. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.

orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. "Saya seorang penulis. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. Itulah sebabnya saya sampai di sini." sergahnya. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu.processtext. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual." katanya. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh. Rencananya berjalan mulus. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda. Tuan. Multatuli. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. Ucapannya tajam. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. http://www.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami. .com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Oh. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda. "Tentu saja. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. mengetukkan jemarinya pada meja. Dia amat menghormati kesenian. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya.

Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri. Edisi 04/30/2006 Bulan. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg.com/abclit.processtext. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. Segaris cahaya menelusup. rebah di halaman. tempat . dan selamatlah aku dari hukuman mati. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. http://www. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur. selaksa celurit menggantung di dinding. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yogyakarta. bilik-bilik kandang. di belakang rumah serupa gubuk. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya. Terang. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi.

melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. decak cicak.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. Cericit tikus. Paman. Hubunganku dengan Asnain. saling berpaut. Madrusin. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. atas keputusan Gani. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. Kami tak ada masalah. kala itu. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. perlahan redup. memegang tangan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ketika itu. Beruntung. campuri. merampas dan segera menyeret keduanya. Madrusin.processtext. tidak pantas jadi suami Asnain. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. Dan sekarang.html tinggal Madrusin. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. dilepaslah baju hitam Madrusin. krik-jangkrik. mau merampas hak kami. Mail. Lenguh sapi menggaung. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. Bulan. Beruntung. berontak. waktu itu. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. Madrusin segera menghindar. beberapa kanca Gani. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. calon istrinya yang telah raib. Memang tidak pulang. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. Gani. yang belum lama ini. ”Kamu. Kalau. Madrusin bisa mengelak. Serupa tarian rombongan seronen. Sengaja. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. Paman. ia tidak langsung menuju rumahnya. masing-masing dibawa pulang. Ya. menepikan bayang. Gani belum kalah. ”Dulu. ”Bagaimana mungkin. Cobalah sedikit sopan.” Gani geram.com/abclit. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. bersama Luki. mencintai dan dicintai.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. Namun entah. di tempat yang sama. beriringan. Di benaknya. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang.. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. ”Lancang benar mulutmu. tanpa sebab-musabab jelas. Begitu pun. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. menuju arena kerapan sapi. Ia terdiam. Lalu. paman.. serupa pengembara letih. . kecewa kepada eppak-embuk. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. Kok. http://www. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. Paman. ”Bilang sama eppakmu. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. tak menyia-nyiakan kesempatan. Tatap matanya lelap. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. Pada Gani. Pada Asnain. eppak-embuk. kecipak air dari padasan. Musdar. Nasib tak bisa ditimang. tiba-tiba.

Asnainkah. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. Madrusin benar-benar gelisah. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . Gani kala itu berang. eppak-embuk. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. http://www. bisa dibilang. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. mengingat pesan dari Gani. belum kalah! Gani memalingkan muka. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. Kita bertemu beberapa bulan lagi.com/abclit. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. mengusap. Keputusan sepihak. Atau. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. Madrusin terpaku. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. Madrusin pun gairah. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. Bahkan. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya.) Sepagi ini. Madrusin yang gelisah. Kalau Gani. Pertengkaran. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. (Tapi tidak. menggaruk. seumur hidup baru kali ini. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti. Hijau daun-daun. kepada Eppakmu. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. kandang dan pematang. Ia nikmati secangkir kopi. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). Ia mengernyitkan dahi. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. Siapkan sapi-sapi andalannya. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. Asnain. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. apa maksud dari semua itu. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya.orang kampung kami. Madrusin. Terang.html Langit tampak lebih cerah. Ya. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. lengang. Sesekali. sepagi ini. Entahlah. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu.processtext. ilalang bagi Madrusin. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. Ya. (sebagaimana kebanyakan orang. menyabit rumput sebagai pakan sapi. Terasa. semenjak ia berusia sepuluh tahun.

Madrusin mendesis di antara kebingungannya. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. Karuan celurit itu luput sasaran. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. cepat menghindar.” imbuh Imron. ”Ya. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. tiba-tiba. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. Ah. cepat ditunggu kakek.” desisnya. celana komprang berlapis sarung. apa gerangan yang membuat Gani. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan.processtext. Ia kenakan peci dan baju hitam. ”Asytaga. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. Bukannya ia takut dibunuh. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak. Selang beberapa saat. Sebagaimana tradisi di kampung kami. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. Madrusin penuh tanya. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. . Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. Madrusin.html merunduklah serimbunan ilalang. Untunglah. meski sebenarnya ia ragu dan curiga. Tidak. Madrusin. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. Tentu saja Madrusin tak ingin. dijemputlah celurit. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Gani menunggu terlalu lama.com/abclit.” Madrusin tergagap. Pada Asnain mantan tunangannya. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. Sementara. saling meminta maaf. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam. di sela kegelisahannya. apalagi sampai ia kecewa. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. http://www.

Imron. tubuhnya agak bungkuk. Kakek. ada apa. Asnain?” ”Tidak mungkin. sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. Ron?” ”Barangkali. Sesaat tubuh Madrusin tersentak. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung. orang-orang berjalan bersama.” imbuh. Madrusin tergagap. Sebagian di antara mereka membawa obor. Tentu ia akan marah-marah. Mata Madrusin nanar. menampakkan seseorang yang sedang patah hati. beriringan menuntun sapi. Ranting-ranting pohon menggantung.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. wajahnya berkerut. ”Tapi. menggantung pada batang bambu atap kandang. tenang. barangkali sudah lama menunggu. Sin. menunggumu. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. Ia masih ingin kamu jadi suaminya. ia duduk. di antara mereka sudah akrab dengan alam. http://www. ”Itu. pada batang pohon dan buah siwalan. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama. Lampu teplok menyala remang.” ujar Imron. langsat warnanya keemasan. tak kunjung jatuh.” ”Tentang. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar.processtext. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. Asnain tak suka kepada tunangannya. ia . melihat Gani. ada yang perlu dibicarakan denganmu. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. Asnain sudah ada yang meminang.” Mendadak. ”Sebenarnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh.com/abclit. Tidak.

benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. ”Tak apa-apa. ”O. kau dapat membujuk Eppakmu. tidak.” suara Madrusin ramah.” ”O. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. kalau soal itu maaf. bernafas lega. Ah. yang tengah duduk menunggu.html harus tenang. ”Maaf.” ”Ada apa dengan sapi. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. Man?" ”Ya.com/abclit. Madrusin. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran. terlambat. Pelan. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan. ya?” ”Kita nego. saya berharap. http://www. sapi kita.” jawabnya. seraya meminta maaf didekatinya Gani. kita?” ”Bulan depan.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Memang kenapa?” . Madrusin mendekati Gani. ”Ada yang perlu kubantu. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot. Man.” Sejenak Madrusin.

Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin. dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. Paman. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat. tajam.” Madrusin. ingin menampar mulut Gani. Percayalah. Asnain?” ”Taruhannya. Madrusin tergagap. untung saja Madrusin segera menghindar. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. Man. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. Gani pun naik pitam.” ”Eppak. Beliau. Madrusin terus menjaga dirinya. sangat kuat dengan prinsipnya. Jogja 2004-2006 . ”Kenapa dengan. yang hanya sisa tradisi. Asnain tetaplah akan menjadi istriku.html ”Asnain. naik pitam. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi.” ”Sin. mengendalikan emosi. http://www. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging. Lancang benar kamu.com/abclit. Namun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak seperti biasa. tak bakal mau. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. ”Naif benar.processtext.” desis Gani.

mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa. alim ulama. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas.com/abclit. Tadi pagi masih segar bugar.processtext." "Istighfar kak. Para sesepuh adat. seperti korban overdosis.html Catatan [1] Lotreng sapi. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat . Bapak Ibu. Tanpa firasat. juga tanpa wasiat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Amat menakutkan. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. [2] Eppak Embuk. [3] Kae. uji coba pertandingan kerapan sapi. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. http://www. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Saat ditemukan.

Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah. sebelum diusung ke pemakaman.Generated by ABC Amber LIT Converter. agak sinis. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. Tapi. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. menyelesaikan program doktor. kampung kita. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. Sebab. http://www. semuanya terserah ayah…. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini.com/abclit. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah." ketus Lusi. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh.processtext. jika ayah tidak ’pandai-pandai’. bidang ilmu politik. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . tak lama lagi akan segera disembahyangkan. Nah. tidak segampang itu. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau.html membendung kesedihan. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi.

sedikit berdiplomasi. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. .com/abclit. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. meski tidak menjabat bupati lagi. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. jaringan telepon dipasang. agar si Bujang Paik. ceritanya akan lain. mentang-mentang kita sekampung. http://www. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. Selama menjabat. Meski sudah pensiun. menghormati beliau. "Iya pak. "Daripada menganggur saja. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. "Tentu saja boleh Nduang. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau.processtext. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati.orang nagari Sungai Emas. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. pasti akan diterima. Ah. tiba-tiba saja berubah menjadi kota.html ke rumah dinasnya. Itu saja tidak dikabulkan bupati. tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. seperti hendak mengelak. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton. Hingga kini. Tapi. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. biar mampus!" umpatnya. Padahal. itu artinya kita berkolusi. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan. Kalau saya bantu. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas)." jawab bupati. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. Bermohon kepada pak bupati. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh.

com/abclit. Ua-ha-ha-ha…. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. bupati mulai dimusuhi. Ironis! Namanya Sungai Emas. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. hanya tinggal nama. satpam. Genap tujuh hari kematian bupati. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. dasar orang jujur. Tak ada biaya. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut . pura-pura tidak paham. entah sampai kapan. tidak pula penyakit kronis. tapi kini sudah mati. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. kuli bangunan. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. Maka. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. tak jelas juntrungan. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. bupati sudah tiada. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. petugas parkir. Terlalu lurus. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. jalan satu-satunya adalah. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. tak layak tempuh. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). sok jujur. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. seperti tabung. Kematian yang misterius. Sementara itu.html Sayang sekali. lurus tabung." "Ah. agak kesal. http://www." balas kak Pi’ah. Lagi pula. janda tua pemilik kedai kopi. Tak dihormati lagi. Namun. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. Sejak itulah. Apa boleh buat! Kini. mengadu peruntungan ke Jakarta.Generated by ABC Amber LIT Converter. Anak-anak muda menganggur. Sebenarnya.processtext. pergi merantau. kasar benar kelakar sutan. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. tukang jahit.

Tapi. ganti bertanya. bisa saja jauh lebih mengerikan. Lagi pula. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. 2006 Catatan: .com/abclit. di nagari Sungai Emas. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. Namun. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Lupa saya. itu dia yang kita cari selama ini. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas." jawab Marajo Kapunduang. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. kini ia pejabat eselon di Jakarta. kali ini sambil bergurau. Tak bakal berhasil. http://www. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. Meski diam-diam. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. Sebab. "Putuskan saja tali jantungnya…. kematian selanjutnya. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Kabarnya. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Iya. itu sama saja artinya dengan bunuh diri. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata.processtext. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. "Tapi." Kelapa Dua. Bagaimana menurutmu?" "Nah. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Sejenak si Datuk menerawang. Bila kelak ia memenangi pemilihan. mulai bersemangat.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. Kenekatan macam itu. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. "O. "Oh. hanya akan mengundang musibah baru. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo.

yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. tawa diejan. http://www. . "Gagah. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. omong sok tahu. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya)." sebelum kemudian ditutup. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Lima tahun setelah hari ini." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum. "Dermawan." Beruntung? Hmh. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. saat itu. tak lebih seorang dungu. ia pikir itu bisa saja. duh tampannya. akting murahan. "Itu ayahmu. tentu pula. kalau memang demikian adanya. dari perut yang belah. julur perekam. rakus.processtext. Tidakkah mereka memang menggali. tentu saja. entah sampai kapan. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. darah. masuk ke dalam sumur. sodoran mike. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata." "Terkenal. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. cengengesan. selalu darah. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. saat itu semua tak penting lagi. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah. Mengalir. Ayahnya sendiri bukankah juga. Menggenang dari kepala yang rengkah. oh sungguh tak tahu malu. Dan. Tangis dibuat-buat." Timpal teman lain. temannya akan berkata. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. kaya. awet muda. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. Mengangguk-angguk. "Betapa beruntungnya kamu …. Di depan kamera. Lalu meluncur. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. janji palsu. Karena. melempar senyum kiri-kanan. si ayah. gadis itu akan sering berada di depan televisi.

nyembul-melesak. Black-hole. lantas melesat. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. serta-merta duduk. Terangkat. tentu. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. Dan begitulah ia. berteriak. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). entah kenapa. sumur. Ke angkasa? Bagaimana. Dan suatu hari. Black-hole. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. menjelma ada. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa…. ia teringat black-hole. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. sumur itu. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul. Melesat? Ya. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. lubang hitam di jagat raya. Senyum. . Serasa disedot. pernah muncul dalam hidupnya. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. si ayah … ah. Merangkak (rambut keriting. meruang merongga. dengan melayang? Ah. kadang ingat kadang tiada. berputar-putar bagai melayang. lelaki. ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. takut-takut. ke angkasa. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. lama-lama. kepada dirinya. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. lenyap tiba-tiba. Bahkan kepadanya. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air.com/abclit. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. atau seperti apakah. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban.Generated by ABC Amber LIT Converter. peduli apa. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. samar pantul wajah. kalau saja wartawan tahu.html "Dua belas tahun putusan ringan. Disedot? Hati-hati. http://www. mengerang-erang. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. menjulurkan leher lambat-lambat.processtext. Tengkorak suaminya. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). Lima puluh tahun lalu. angguk sopan—keramahan itu. kulit hitam. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal.

tengkorak suaminya. yang disebut jangka waktu tertentu. tak boleh bertemu dengan siapa pun. lalu merangkak. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. Semakin jelas. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. lebar dan luas. tiba-tiba hidup. Berkelana di hutan. Dua sosok? Dua orang? Ya. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. Beberapa saat sesudahnya. Juga berbagai buah. lalu berganti dengan pemandangan lain. dari kayu-kayu. Tetapi … itu. lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa. dan tersandar ke dinding. Suaranya tak hanya mengentak. Dan yang kini. pelan-pelan bergerak. tetapi juga mendayu. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. ular. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. semakin jelas. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. mendekati tengkorak suaminya. tikus hutan. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). geletir air.processtext. semua akan ia peroleh dengan mudah. Tapi hanya sebentar. Kadal. seperti kata damero juga. pelan-pelan menjulurkan leher. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. Pemandangan yang mulanya juga samar. Oh. sumur melesak dari rongga mata. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. tidak. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. mulanya samar dan kemudian jelas.html Ia berdiri. Jadi inilah ia: Fumeripits. ia kembali melangkah. dan tubuhnya bergetar. jelas tak masalah. di kedalaman geronggang mata. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. Oh. tentu bukanlah tanak. khusuk menabuh tifa. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. Itu biasa bagi mereka. patung-patung kayu yang berserakan rebah. Maka. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. pelan menghilang. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. dedaun. Hidup? Ya. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. Desoipits dan Biwiripits. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. Tetapi itu. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. Sang Pencipta. goyang pantul wajah. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. Maka semua ini. akan ia tinggalkan? O. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. Tabuhan yang ganjil.com/abclit. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . sumur itu … tampak begitu jelas. ia lihat pemandangan itu: seseorang. Sumur. duduk. melainkan dengan mencuri. umbi-umbian yang bisa dimakan. Merendahkan tubuh. Riak kecil. membalikkan tubuh dan berlari. telah menemukan jawab. patung-patung itu. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. ia tahu cara mendapatkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Oh! Apakah. http://www. dengan menegarkan dada. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. dan kemudian menjelas.

tirakatan semalam suntuk nglakoni. O. darah menyembur. cras. Sepuluh menit. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. menyembur-nyembur. darah. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. seperti nasihat gurunya. darah. mulai nenepi. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. crass. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. rujak degan. Ah. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. Darah. Tetapi. Biwiripits. membuat ia limbung. ujung dini hari. cincin. batu merah delima. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). perut … oh. atau jarum emas. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi.Generated by ABC Amber LIT Converter. mata rantai. nyata? Darah. Lagi. pemandangan ini tentu juga akan hilang. oh …. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. Dengan hari Kamis ini. itu bohong. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. pusing yang kemudian menyusul. lalu rebah. pundak lepas. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. tanpa sadar. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. minyak bondet. 3 jam. leher tertebas. Hari telah malam. dan dingin. Lagi. kelebat kapak. ketika waktunya tiba. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. Ayun tangan. mangkok. dupa china. 1 jam. Senyum seperti mencemooh. dan dindingnya—melingkar searah . Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi.processtext. Sampai lama. darah yang memancur. Ia pun dedekep. dalam rongga luas yang bagai semesta. Tetapi ternyata tidak. walau sudah senja. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. nyata? Dan tiba-tiba.html tradisi pengayauan kepala. seperti meremehkan. orang masih berseliweran di sana-sini. Semakin dekat. http://www. dada. menyembur-nyembur memualkannya. Dua jam. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. dijulurkannya kaki ke dalam sumur. rasa mual itu. Crass. crass. 30 menit. hiasan mahkota atau entah apa. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur.com/abclit. Dan kini.

com/abclit. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Hela napas lega. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. http://www. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. Guru. jambu. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. Crass. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. Lalu gumam. Dan di sana. Menajamkan mata. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. yang namanya guci. Dan seorang lagi.… Darah. Tetapi. "mengangkat" si guci dari sumur. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus.processtext." Ya. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. lima hari lagi. takkan tampak sama sekali. Crass. Darah. "Selasa Kliwon. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. dibukanya mata. Selasa Kliwon. Senyum lebar yang bagai tertawa. Menyembur-nyembur….html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. tetapi subur bagi pohon jati. Lima hari lagi…. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. terutama buah-buahan seperti mangga. lima hari lagi. Memancur-mancur. menatap kosong ke televisi. jauh dan kecil. suku terasing juga. Darah. Seperti oase. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka. "Aku berhasil.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lima hari lagi. Lalu pelan. ." Ya. belimbing. sejenak. leher putus. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya. Selasa Kliwon itu. akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. Crass . pundak lepas. Tetapi nanti. Selasa Kliwon…. Desoipits-Biwiripits. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. nangka. perempuan juga. Tubuh lelaki itu bergetar. Payakumbuh.

Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. Pada waktu siang. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. dan kakus. yang dibantu oleh istrinya.com/abclit. Pak Parto.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. seorang yang berusia setengah baya. Bahkan. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. bidah. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. bahkan bisa dibilang fanatik. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. bukan sembarang air. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. Untuk praktisnya. Pak Parto melakukan praktik pijat. Saking besarnya. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. Walaupun demikian. http://www. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. Istrinya ikut pula memijat. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. demikian panggilan akrabnya. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua.processtext. Namun. setelah memeriksa dan membersihkan kebun. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. dan churafat. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. singkatan dari takhayul. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. Tetapi. Sebagai penjaga kebun. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. yang penduduknya beragama Islam santri. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Guna menjaga tempat mandi. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. cuci. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. walaupun agak jauh dari batangnya.

"Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya. bagaimana caranya memberantas takhayul. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah." kata Thohir dengan nada ketus.processtext. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat. bukan ke dukun syrik. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya. bidah. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul. yaitu Sang Penjaga. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup." kata Kyai Fauzan Saleh. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. orang-orang desa sulit diberi tahu.com/abclit. demikian nama pemborong itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Wah. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. "Itu syrik. . yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya." kata Kyai Fauzan.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. Pak Thohir. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. "Tapi Kyai. http://www.

saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka.com/abclit." jawab Thohir memakai bahasa santri. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri. Innal Batila kaan zahuko. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". MCK menggantikan kolam yang sekarang." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. masjid. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu. Di atasnya persis kita dirikan masjid. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini. Kedua. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. http://www." kata Thohir menjelaskan usulnya. . Sedangkan saya mengusahakan proyek itu." jelas Thohir lebih lanjut.processtext." "Begini Pak Kyai. Pertama.html "Tapi. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Pohon trembesi terkutuk itu. rakyat harus dibuat simpati dulu.

al ruju’ ilal haq. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". . penyakit menular. Parto berkata kepada para pengikutnya. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan. Jika pohon itu ditebang." tangkis Kyai Fauzan. Mereka pun marah. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. seluruh bangunan itu selesai. maka Sing mBau Rekso akan marah besar. http://www. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. mula-mula membangun masjid. "Lagi-lagi takhayul. dan gedung puskesmas. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. Tanah longsor mungkin gempa bumi. "Wah saya juga tidak tahu. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah.processtext. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. Dengan kembali kepada yang benar. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain.html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. atau kelaparan.com/abclit. kemudian MCK. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. Dalam tempo hanya enam bulan. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Pada suatu hari Jumat.

processtext. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu.com/abclit. Setahun kemudian. Tidak saja air tidak lagi mengalir. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya." jawab Parto. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. http://www. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. "Ya betul. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri. timbul suatu gejala yang aneh. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. terutama bangunan masjid. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. terutama masjid mulai retak-retak. . Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang.

Jakarta. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. menggali lubang untuk resapan. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang. Tapi aku akan mencobanya. Tidak cukup untukku hidup." jawab Kyai Fauzan. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat. http://www. bangunan rubuh bukan soal agama. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. Tanya saja pada pak insinyur. memperbaiki engsel pintu dan jendela. Memperbaiki talang yang bocor. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud. mengecat kamar mandi. memasang kabel-kabel listrik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Hampir tak ada waktu untuk istirahat.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kenyataannya. membuat pagar bambu." jawabnya sambil tertawa keras.html "Waduh. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya.com/abclit. hidup dengan 460 watt. pemborong itu merasa tersinggung. karena .

Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka.com/abclit. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. aku menjadi sangat kerepotan. Rumah ini sudah dua tahun kosong. Rumah itu sebuah kubangan besar memang. Karena sebel. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. He-he. Sebagai seorang penulis. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. tengkeyu. . Kadang aku sebel. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. beberapa lukisan berjamur. Wianta. Boi. http://www. kadang aku biarkan listrik tetap mati. Tengkeyu. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Terus dikeduk. Kalau listrik tiba-tiba mati.. ada bilik sederhana berdiri... Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. Katon. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. tempat seorang petani biasa beristirahat. tengkeyu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kadang aku ragu. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton... Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Ah. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik.processtext. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. termasuk mengusir rezim kesenian. tidak terlalu membutuhkan listrik. karena pemakaian yang berlebihan. Han. man. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. Beberapa teman membantuku. Tak ada orang yang mengontrak. dari teras depan hingga kamar mandi. Di sebelah rumah.. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur.

aku pernah datang ke rumah ini. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu.processtext. lalu mengalami kecelakaan dan mati. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Pelukis perempuan itu sudah mati. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. kecemasanku muncul lagi. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. Kira-kira 10 tahun yang lalu. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Mata memandang mata. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan. http://www. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. tetapi karena lembab. Seorang teman bercerita. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Kopi dan Kremi. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. Sepasang anjing kami. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Ada di depanku. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Waktu yang membuat sebuah pintu. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Antara aku dan genteng kaca. membersihkan diri dari kotoran. kadang kilatan-kilatan petir. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. Lembab. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi.html timbunan pasir yang mengotorinya. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Mungkin tubuh mereka seperti angin. Mata memandang mata. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. Dadang menyewa tanah ini . tapi lukisannya masih ada. Mata memandang mata. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini." jawab Dadang. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok. diambil oleh beton-beton. lalu berdiri sebuah bangunan baru. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Betapa malangnya hidup ini.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. "Dang. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. di Ancol. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. http://www.html selama 15 tahun. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen.processtext. "Ya. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Aku teringat 1. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. karena dia harus pindah ke kota lain. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu.com/abclit. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil. entah untuk rumah atau untuk ruko. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. kalau hujan besar. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. .

dan sebuah harmonika. aku harus kembali menimba air dari sumur. Fit. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri.com/abclit. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. 1. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati.000 patung Dadang ada di dalamnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Hmmm. Ketika dia meninggalkan rumah ini. saxophon.. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami.processtext. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Aku terus menggali. Dan aku mulai kehabisan uang. . maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati.. rumah itu mirip dengan peti mati. Manajer itu orang asing. Rumah itu memang terus bercerita.. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Kalau aku mati. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. sayangku. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup. Hmmm. He-he-he. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. Ketika aku tak punya uang. hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. http://www. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup..

maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata. Waktu terasa dingin. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku melihat hidup. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar.. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. menyembul.. Mereka saling memagut dan bercinta. Hujan mulai berhenti. Angsa-angsa putih menyelam. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. .. lalu mendarat kembali. Langit mulai terang. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Perutku seperti tertekuk ke dalam. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur. menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas.. http://www.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur.com/abclit.processtext. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri.. dan bukan bayangan mata air. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. . bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. Kalau itu juga adalah bayangan mata air. Asmara angsa. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Mata menatap mata.

500 penonton. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette.com/abclit. dan pembesar negara lainnya. balerina 21 tahun. pemeran Rothbart bergantian. Di antaranya di tempat ini. Tampak Viatcheslav Gordeev. tentang balet di Rusia. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. Mereka rame-rame menikmati salad. sangat populer di seluruh dunia. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. pemilik istana dan telaga. dan jus jambu kelutuk. kegemarannya. Dia memilih minum air jeruk nipis. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. sebagai sponsor pertunjukan. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga.processtext. untuk merebut cinta Siegfried. Alvin Nikolai. insya Allah. yang secantik Odette. gubernur berjanji.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. plain croissant. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Odette. Zahra. jatuh cinta kepada Odette. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Usaha Rothbart berhasil. yang mengelus rambutnya. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. Odille. Mendengar kabar ini. buah-buahan. Pangeran Siegfried. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. yang ditemani balerina Masami Chino. http://www. Sebaliknya. Odette dan . Irina Ablitsova. menteri. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. angin sepoi-sepoi. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. gubernur. ayu dan ganteng. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Andrei Joukov. Begitu pula para pebalet teman Zahra. Rothbart sang penyihir. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. pernah berpentas Martha Graham. Dengan 1. Maxim Fomin. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Natalya Ashikhmina. ngobrol dengan gubernur. sup ikan tuna. yang putih maupun yang merah. memamerkan putrinya. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Jerman. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. juga grup dari Perancis. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. tidak minum wine. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Maya Ivanova. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda.

”Terpikat boleh terpikat. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina.” celetuk Nenek. siapa pun tak bakal salah memilih.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Kakek terbatuk-batuk lagi. saya sih. ”Awas. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. kedua adiknya. http://www. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Siegfried sadar. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya.html dayang-dayangnya jatuh sedih.” tukas Kakek. seluruh istana bergembira. sampai Kakek terbatuk-batuk. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Eugenia Singur. Seketika. Semuanya tertawa. Semuanya tertawa. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. . dan Anna Vakina. cocok-cocok saja. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. ibu. Begitulah. dan Anastasia Baranova. ”Odette atau Odille. Eyang bisa kesleo. ayah.com/abclit. lho. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. Tatiana Chungunkina. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. Sekalipun dengan mata terpejam. Olga Ivachenko. kakek dan neneknya. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. angsa itu menjelma Odette.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. juga tante dan oomnya.processtext. Oxana Gasnikova. adalah para pemeran angsa kecil. Rothbart marah besar.

” ”Jangan begitu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” sergah Kakek lagi.” tukas Nenek. semuanya terkesan jelek. ”Semuanya kan tertutup rapat. yang ndak cocok bagi kamu.html ”Apa. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. ”Tapi. Melihat kostumnya. sih. Aduh.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” sambung Kakek. ”Itu kan mengumbar aurat.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. Jika kita bicara soal kesan.” . Semua tertawa.” sanggah Kakek. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. ”Saya serius. ”Lho.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.” ”Kesan.com/abclit. Eyang. memangnya kenapa?” tanya Zahra. http://www. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. pertunjukan itu harusnya disensor.” kata Kakek.processtext.” ”Jangan begitu. Eyang.” tukas Zahra. Kesan.

Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet.com/abclit.” ”Eyang yang kasmaran.html ”Wah. wah.” ”Wah.processtext. Habis jadi diktator.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. sih. deh. .” sambung Kakek. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. kostum Zahra ya seperti itu. http://www. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kecuali Kakek. mendadak berubah jadi filosof. Obrolan berubah jadi perdebatan. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. peradaban. kok yang disalahin balerinanya.” Semuanya tertawa. bubar. Eyang ini gimana. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. wah. Meriah. Semuanya tertawa kecuali Kakek.

”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. http://www.processtext. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” kata Oom. kok Eyang sampai segitunya.” sambung Kakek. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.com/abclit. runtuhlah kebudayaan. .” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ” sergah Tante. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Saya heran.” cetus Kakek.” Zahra menukas. ”Apa?” tanya Kakek.

” .” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. Eyang.” sela Kakek. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. http://www. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.processtext. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.” sewot Zahra. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. Mendengar kata Kakek ini.” kata Zahra. ”Kostum ketat itu. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN.com/abclit. ”Dalam KKN ada tradisi.Generated by ABC Amber LIT Converter. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ”Adalah tradisi balet. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari.

” Semuanya tertawa kecuali Kakek.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. . mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Banyak negara yang busuk.” tambah Tante. Barangkali besok. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. Bukan kepada Tuhan. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Kita bisa menuduh mereka ateis.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Eyang. kata Allah.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. Cucuku.” ”Hati orang siapa tahu. atau lusa.processtext. Eyang. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.com/abclit. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. Dan itu bukan teori. Eyang.” kata si Oom. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. http://www.

Kecuali Kakek.” sergah Kakek.com/abclit. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Ada air yang mudah mematikan api.” jawab Tante. Ada api yang menyala-nyala.” tambah Nenek.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Anakmu bukan milikmu.” tukas Nenek.” tukas Kakek. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Semuanya tertawa kecuali Kakek.html ”Coba.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kita wajib memeliharanya.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.” . Seperti tercium setan lewat. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. Lengang sejenak. saya cuci tangan. saya dikasih contoh. Dan ternyata Allah itu indah. Allah mencintai keindahan.processtext. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.. Zahra. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. http://www.

menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. dengan cara rumit dan sedih. tidak mudah baginya untuk mengingat.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. tergetar.html ”Saya setuju. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Dalam balet. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya. sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. di sebuah tempat yang sulit dijangkau. Eyang. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Tangerang. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. apa saja yang masih bisa dipanggil. Suatu dakwah keindahan tiada tara.” sambung Zahra. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. http://www. Cobalah nikmati tari bedoyo. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. cukup sulit. tumbuh. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. apa saja yang masih bisa . Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu.” ”Sebagaimana balet.

Generated by ABC Amber LIT Converter. juga tidak kurang bermasalah. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. berkaca sekaligus berkapur. kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. sayup dan lamat-lamat. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. Juga tubuh yang gampang gemetar. Dan banyak telinga sudah diproteksi. menyimak. mendengarkannya. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang.com/abclit. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya.processtext. tafsir yang berkerumun. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya. Suara lirih mulai terdengar. bahasa yang kabur. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam.html tapi tidak ingin ia panggil. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. http://www. Suara yang groyok. untuk apa. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. dan sebuah lukisan kaca. Ia lalu lebih sering diam. kalau bukan karena penderitaan? . >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. Apalagi. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. mendengarkan. Tugasku adalah belajar untuk diam. lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. Mata yang menyempit. Jarak psikologi yang jauh. Bagiku sendiri. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. kadang lirih. dan apa saja yang tidak boleh didengar. kadang membesar tanpa irama. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. dan bagaimana mengisahkannya. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. Diam. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.

” Ia diam. saya pergi mandi. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. Saya ini dari kecil miskin. belajarlah dengan baik.Generated by ABC Amber LIT Converter. disusul oleh seekor yang lain. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku. Kembali matanya temlawung jauh. http://www. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. sepi itu begitu menjadi-jadi. kalau ada guru lain yang menggantikan. Di luar . saya menciumi wajah murid-murid. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak.com/abclit. Sesekali aku menengok ke arah pintu. dan jangan nakal.processtext. Nanti. Ya karena melihat guru-guru saya. apa salah saya. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. Mbak. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih. Waktu saya kecil. berdandan. ”Pagi itu. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. hanya anak seorang janda. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam. lalu mereka segera melesat pergi. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. ”Mereka sudah datang. ia terlihat cukup tenang.html Tapi. ”Saya benar-benar tidak tahu. ”Sesampai di sekolah. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar. Rapatnya mungkin akan lama. Rombongan itu mengikuti dari belakang. ”Satu per satu. saya ini seorang guru. Lulus sekolah. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. saya hanya ingin menjadi guru. Lalu saya bilang: Pak.

dan aku tidak tahu mana yang tepat. Bu…. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. matanya semakin berkeruh. neraka katut. Saya sedih sekali. ternyata tidak….html kegiatan mengajar. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. dengan nada yang seperti berteriak. Tangisan itu menjauh.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.” ”Sampai ke suwarga nunut. ”Maaf. saya diambil lagi…. Ia dengan segera keluar. wong saya memang tidak tahu. Mbak…. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. Saya mengira bahwa saya selamat. ”Dua tahun kemudian. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu.” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. neraka katut. . Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi.com/abclit. ”Ya…. mirip suara kanak-kanak. namun lirih. Tapi…. saya aktif di organisasi itu. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung. Ketika tiba giliran saya diperiksa. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. si bocah digendong ibunya. Mataku selamat dari rasa silau. Saya juga tidak mengerti. lalu mencoba mendiamkan si bocah. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. Tubuh tuanya gemetar. Bu…. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. kembali duduk di sampingku. http://www. Wong saya tahunya. ia berkata. Tiba-tiba di luar mendung. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil.processtext. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang.

tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. Mas…. kemaluan bapak itu mengkeret.processtext. Saya memohon ampun berkali-kali. dan mengambilkan segelas air putih di meja. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. . Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan. tapi saya tetap ditelanjangi…. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya. ingatlah anak perempuan Bapak….com/abclit.” Lagi-lagi. Kalau Bapak punya istri. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar.” Ibu itu terdiam.html ”Yang kedua itu. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. Tubuh saya penuh dengan kutu. Saya bilang: Pak. Lalu orang-orang itu pergi. di dekat leher. kalau Bapak punya anak perempuan.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar. setelah saya bilang seperti itu. tanpa basa-basi. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. http://www. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. Tapi tidak ada yang menggubris. Aku menawarinya minum. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. Tapi dia tetap mendekati saya. Sesampai di kamar. saya ditelanjangi…. Saya langsung diangkut begitu saja. Saya baru masuk saja. Saya dibawa ke pabrik tebu. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. ”Eh…. lalu… mengencingi saya…. ”Maturnuwun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mbak. saya ini belum bersuami. Ia menutup pintu kamar. Saya memohon berkali-kali. Lalu membuka celananya…. ingatlah istri Bapak. Ibu itu diam. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. Ia mendekati saya.

kalau tidak saya lihat matanya. Kami bertiga menunggu. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. menyeberangi jalan raya. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu. Kalau saya jawab. kok diperlakukan seperti itu. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh. saya dibawa ke sebelah selatan.” Ibu itu suaranya mengecil. saya juga dipukuli. rambut saya itu panjang. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya. Saya ini manusia.Generated by ABC Amber LIT Converter. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. http://www. Yang tidak mau dipukuli. mengguntingi rambut saya. Semua serba salah. saya juga dipukuli.processtext. Eh. hampir sampai lutut. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. ke kantor polisi. Setelah itu…. Lalu…. saya tunjukkan tempatnya. memperlakukan saya seperti bukan manusia. saya juga dipukuli. Saya tidur di sebelah utara. muka saya dipukuli pakai sepatu. lalu kalau diperiksa.com/abclit. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. ”Suatu kali. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. ”Setiap hari saya disiksa. saya juga dipukuli pakai sepatu. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. apa ya layak….” Andre mengambil minuman di meja. tapi katanya saya dianggap menentang.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. Di kantor polisi itu. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk . Tapi. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu.” Ibu itu terdiam lagi. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. Dulu. mereka itu. saya minta rambut saya. Saya diberi pertanyaan yang sama. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu. Kalau tidak dijawab. semakin lirih penuh dengan tekanan. Mbak.

”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu. Gerimis turun di luar. saya harus ke tempat kesripahan. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti…. teriak kesakitan dan tidak didengarkan. ”Mbak. Ibu itu bangkit lalu keluar. Sepintas yang sempat kudengar. Mas. saya minta waktu untuk berdoa.” . http://www. Tintrim. Petugas-petugas itu malah tertawa. Kok ada yang dinistakan seperti ini….” Ibu itu kembali diam. Saya mengulurkan gelas air minumnya. Andre membuang muka. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu. janji Tuhan tentang keadilan. Sepasang mata Mirna bobol.html mengambilkan minuman. ”Dan rupanya itu belum cukup…. ”Sebelum melakukan itu. Sebelum saya memakai pakaian.processtext. Di dalam ruangan lembap ini.com/abclit. Ia minum dengan pelan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Ibu itu masuk sambil berkata.” Semua diam. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya. dan itu dipotret. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata. Saya menjerit. isak Mirna pun lenyap. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. Ada tetangga yang meninggal dunia. seperti apa itu. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana. Mbak. Saya ingin tahu. Tubuh Si Ibu terguncang. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. Tidak ada suara cicak. wajahnya yang putih segera memerah. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. Lalu menghirup napas agak panjang. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu…. Dipotret. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. Selesai kejadian itu.” Ruangan hening.

Setiap pagi. Edisi 03/12/2006 Selalu. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Di dalam taksi. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu.processtext. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kadang berloncatan. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. mungkin memastikan jadwal. seperti menjolok sesuatu.alat audiovisualnya. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Andre merapikan alat. Mirna lalu mendekati Si Ibu. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. http://www. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari.html Kami mengiyakan.tara aku keluar rumah mencari taksi. Hari masih gerimis. Berkoreng di lutut kirinya. dan hanya bisa bertanya. Ketika ibuku menyapa. berbincang pelan. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Selalu bercelana pendek kucel. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. semen. Usianya paling 12 tahunan. kapan kami bisa kembali lagi.

Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Memandang mata itu. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah.processtext. yang kata Mama. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Ia ingat perkataan Oma. . Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. saat ia berusia tujuh tahun. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. mata dengan sebilah pisau yang menancap. Dan ia selalu menggambar mata. ”Mata itu seperti jendela hati. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tak ada keruwetan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar.com/abclit. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi Papa kerap menghardik. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. ia selalu disuruh menggambar.html bocah itu. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Ia menurunkan kaca mobilnya. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. http://www. Ia suka menatapnya berlama-lama. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu.

Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. pecahan kaca yang menancap di kornea. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. kawat berduri yang terjulur panjang. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Eceng . Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia.processtext. Semua itu hanya mungkin. Karena itu. http://www. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap.com/abclit. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. batin Gustaf. Rasanya. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Setiap kali terkenang mata itu. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Gustaf kini bisa mengerti. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Setiap menatap mata seseorang. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Membuat Gustaf berpikir. seperti mata bocah itu. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Begitu bening begitu jernih. Ketika berjongkok.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. padang gersang ilalang. Mata yang berkilat licik. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama.

Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia ingin membuka jendela. Bila ia bisa memiliki mata itu. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan.com/abclit. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. semuanya sudah tampak sempurna. Begitu lift itu tertutup. http://www. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Bila perlu ia menculiknya. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Gustaf tersenyum. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. dan melemparkan recehan. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Ia ingin ketika ia muncul kembali. . bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. sambil berbicara kepada temannya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu.processtext. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. pikirnya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran.

html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. ”Selamat pagi. apa pun di ranjang. mengantar sarapan. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya. Meneer. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya.processtext. pekerjaannya. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. baca koran di ranjang. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang.com/abclit. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya. asal kota tempat tinggalnya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. Dengan takzimnya. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. ia menyapa. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. ia memberi salam. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri. makan di ranjang. http://www.” . meletakkan selembar koran. menyeka tubuhnya.

seterusnya akan diremehkan. apalagi gusar. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun.” sahut lelaki itu singkat. Meneer. Tetapi. empat kilometer jauhnya.” mulut lelaki itu menyahut. Namun. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya.processtext. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang.com/abclit. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. Meneer!” ”Ya.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya. pemuda itu menyalakan lampu.” jawab lelaki itu. . Ayo bangun. ”Ya. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. saya terpaksa melakukannya. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun. http://www. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. ”Sekali Anda membiarkannya. menggenjot sepeda dari rumah. tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar. tidak demikian halnya dengan lelaki itu. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. lalu bangun. apa boleh buat. angin laut masih terus berembus dengan kencang.Generated by ABC Amber LIT Converter.” >1<”Ya. Tetapi.” kata si pemuda. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya.

gajinya kecil Meneer.com/abclit. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya. ”Yaaa. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu. kenapa saya berada di sini. bayangkanlah.. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai.. si pemuda terus saja mengobrol..” kata perawatnya. ”Coba.. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil..” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya. Sebabnya. saya akan kehilangan satu setengah tahun. tidak memerlukan rekrut serdadu baru.perang dingin sudah berakhir. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer..” ”Anda tahu sekarang. http://www. kerja kasar seperti ini. bukan?” >d 1<”Mmmm.html ”Kalau tidak..” ”Hhmm. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan.” lelaki itu mengerinyutkan muka.” ”Nah.” . Anda renungkan. Kendati bukan jawaban yang memuaskan.. ”. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja.

ya.” ”Mmmm. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya. Maka. Irak. Dan ia mendapat kesan..” Suara lelaki itu terdengar datar. Meneer.. http://www.” Jawaban yang meragukan tentu saja.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. sebagai profesi. Tragisnya. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. kecuali ya. Anda pernah berdinas di mana. Membunuh lalat saja saya tidak tega. Bosnia. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium.” ”Mmmm. ”Ya. Kroasia. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. pikirnya. dan ya yang sangat menjemukan. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan. Di Serbia. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. . dilontarkannya pertanyaan. Saya tak tahu. tak ada juga tanggapan yang didengarnya. Tetapi.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Ya? Tetapi. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. ”Perang memang mengerikan.processtext.com/abclit. misalnya.. Tetapi. dalam satuan apa. Itu saya tidak bisa. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini.

”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang.processtext. Cukup beberapa menit saja. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. Ia lantas beranjak ke jendela. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan. . mendesing di sekeliling lampu. Tetapi.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. Tidak terlalu sukar.com/abclit. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat.” ujarnya. akhirnya ia gagal menemukannya. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. matanya nanar mengedari seluruh ruangan. ”Ya. kapan itu terjadi.” ”Ya. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya.” ”Ya.” ”Terima kasih. bukan? Cukup sambil berbaring saja.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja.” ”Ayo Meneer. http://www. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya. lantas mengganti seprai. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. Meneer! Lakukanlah mulai esok. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. lalu ditutup lagi bila udara dingin. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. tidak untuk membunuhnya.

mereka berada di bawah perintah penjajah. ia mulai bicara lagi. bukan?” ”Mmmm.. apalagi melawan bangsa sendiri. Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan.processtext.. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm. Meneer.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi. Meneer. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai.” . kakek saya lupa. saya rada neuwsgierig sebenarnya.” ”Saya menentang perang Meneer. http://www. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. ”Meneer. Meneer. di zaman dia dulu.” ”Mereka memerkosa wanita.. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk..” ”Ya. Tetapi. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman.html Namun.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang. Konon.. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai.com/abclit. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu. tentara Ambon memang tukang perang.

” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. Meneer. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. menukar piyamanya. Ketika ia berpaling. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. http://www.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan..” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja.” ”Mmm. Delapan ribu orang Islam.” si pemuda nyengir karena merasa disindir. ”Maafkan saya.. ia melangkah keluar dari kamar. ya. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman. Tragisnya. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron.processtext. Ia lantas bungkam. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu..Generated by ABC Amber LIT Converter. bukan?” ”Ahh. Tidak terlalu sukar. seperti baru sadar. dan mengganti seprai. ”Saya terkadang lupa. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama.com/abclit. kamar demi kamar. Tetapi. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. belum tertangkap sampai sekarang.... Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor. Ia .

Tetapi. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. cucu tukang perang. tak semuanya berhasil dijinakkan. tetapi. kerja sipil gajinya kecil.” ujar lelaki itu. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya. Saya kehilangan dua tangan. bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara.com/abclit.” Pemuda itu melangkah keluar.html melangkah balik ke dalam.” ”Apa? Anda bilang apa. ”Ah. perang perlu dilanjutkan. 7206 .” ”Tetapi. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau.. mulutnya diam.processtext. merenggut kertas tisu dari saku. kata Anda. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya. http://www.” ”Nah. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban.” ”Ya.. tetapi menggumam dalam hati..Generated by ABC Amber LIT Converter. Panggil saja Patti.

” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. Ajudan setengah berlari membuka pintu. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. ”Pak Muis. SH dan rombongan. Dengan bahasa kasarnya. . dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu.com/abclit. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. masuk.processtext. tapi meyakinkan keganasannya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. dan menutup kembali. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh. Engku Nawar menarik nafas panjang. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. http://www. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. berputar-putar dengan gagahnya. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. dipersilakan.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Tak lama. ajudan itu tidak saja menyebalkan. Beberapa detik.

Ibu. motor. yang lulusan kursus komputer berijazah itu. Dari percakapan orang-orang. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Semua mengisi formulir yang sama. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. tapi cucunya. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. nanti saya sampaikan.” Mendengar pernyataan itu. Tunggu saja. Ambil saja airnya di sini. Saya cuma sebentar. cucu kesayangannya itu. barangkali lima menit. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. minuman datang. dan jalan kaki. alamat. habis itu saya pulang.Generated by ABC Amber LIT Converter. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. keperluan. tuh. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam. yang sudah merasa haus. ”Silakan Pak. Baginya waktu terasa berjalan lambat. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. Ia merasa sesak duduk . Sarini. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. Dari ruang tamu yang terbuka itu.html Sehabis magrib. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. Sarini. Ia memeluk erat Sarini. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja. Engku Nawar telah siap bersama cucunya. Pak. Oleh karena itu.processtext.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas.com/abclit. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. nama. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. http://www. Minum dulu.” Engku Nawar mencoba bersabar. Sebentar lagi selesai. Tak lama.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis.” ”Sabar. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya.

Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Dan. Ia lalu berdiri. Tapi. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. . Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Engku Nawar. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. Nyawa tantangannya. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. di bulan puasa. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. Lain halnya kalau malam telah larut. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu.processtext. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. yakni milik Wali Kampung muda. dari kejauhan.com/abclit. Engku Nawar harus bermuka dua. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Engku Nawar merasa sangat bahagia. Suatu malam bergerimis. di mana ada perang. Akan tetapi. ia masih mencoba merokok. menghilangkan rasa jenuh. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. Mau tidak mau. Hampir dua tahun lalu. Diam dengan pikirannya yang menerawang. Akan tetapi. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. http://www. komandan pasukan PRRI. meski sangat berbahaya. tak jauh dari Kampung Padangilalang. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. biasanya mampir di warung kincir itu. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. Pada masa itu. yang dikenal berani. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. Kapten Tulus. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit.

. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. Bahkan. datang menjumpai Engku Nawar.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. Di mana ada bapak saya. cucunya itu sudah dibelikan sepeda . ia bisa hidup lebih baik. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. Tanah itu tidak subur. datang saja ke rumah sehabis magrib. para pemulung dan calo-calo tanah. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu.. Untunglah perang cepat selesai. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. Tempat pembuangan akhir sampah kota. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA. http://www.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. Tapi.html Sejak peristiwa itu. Semua orang tahu. ”Engku Nawar. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. mampir minum kopi di warung itu. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya.processtext. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. di situ ada Engku Nawar. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota. Sebelumnya. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. Esok malamnya.” Ketika orang tua itu mengiyakan.. Sejak itu. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar. Sopir-sopir truk sampah.com/abclit.

Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. ”Sabar. Tiap kali ikut tes. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. Ini bukan kemauan saya. tapi tidak dinyatakan. Orang-orang bilang. Dengan sedikit lega. Pak. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. . sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. Orang-orang bilang. niat itu ditekannya. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. nomor dua. besar sekali. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. yang lain seperti protes. Tapi. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. Tapi ia masih berharap. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk.com/abclit. Engku Nawar sadar. Tapi. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. ”Bapak Engku Nawar. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. tugas ajudan itu berat. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. kemudian pada ajudan itu. ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. Engku Nawar tidak setuju. Buktinya? Nomor satu. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. Sarini tidak lulus. Padahal. ia akan menerobos masuk. Dan. lebih baik menemuinya di rumah. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu.” kata ajudan berambut cepak tadi. ia akan mendapat giliran pertama. orangtua Wali Kota itu. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. sesuai urutan mendaftar. Sebentar-sebentar menjawab telepon. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. nomor tiga. tanpa banyak senyum.html motor. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. Tamu sebanyak itu. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Semula.” Meski tidak dibantahnya. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. kecuali Engku Nawar. dan selanjutnya. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. Engku Nawar tidak percaya. Keduanya sama-sama lincah. dengan tanda bel listrik. http://www. Di ruang yang terbatas itu. Kalau ke kantor. mesti pakai uang jutaan. Pak Wali yang minta. Kalau saja ia tidak tua.

Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. Menguap dan cepat tersadar. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya.. ”Maaf Engku. meski matanya juga sudah merah. Saya hari ini banyak tamu. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu. Sekarang pulanglah dulu. Wali Kota telah berada di depannya. Kalau Engku ada perlu. ”Pak. 5 Januari 2006 . akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. tulis saja surat. Pak. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya.*** Rawamangun. sudah malam. Dan. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. Giliran Bapak.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Merasa hendak muntah. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali..com/abclit. besok atau lusa lewat pukul dua. Di perjalanan.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. Saya pulang dibonceng cucu saya ini.processtext. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. seperti hendak jatuh dari kedudukannya.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor.

” Perempuan remaja ini. sekali lagi cuma diam. Padahal. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan.processtext. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas. Dita merasa lega. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara. diam saja. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. Dita menghela nafasnya. Dia capek sekali. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. menurut dokter neurolog. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham. aku mendengar dari Mamamu. Untungnya. kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara.” . Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu.html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. ”Tina. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Keterangan yang dibaca oleh Dita. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga.com/abclit. bisa curhat kepadaku. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. http://www. Ada banyak kasus yang sangat pelik. tidak berbicara. Kalau kau mau.

Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA. Wali muridnya menyangka. Setelah bertemu beberapa kali. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. aku kepingin pipis. meneleponnya. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. ’Ini bukan kejahatan. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik.html Pada jam ini. takut melihat kemarahan di mata Mama. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun.processtext. ”Mama.Generated by ABC Amber LIT Converter.’ Aku mengangguk dengan cepat.” Dita berkata sungguh-sungguh. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. punya kemampuan berbahasa yang baik. Setelah pesta yang luar biasa itu. Tulisan itu terbaca demikian. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. Tiga bulan yang lampau. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. meneruskan tulisannya. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam. ”Sayang. Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga.” Tina. dia tadi membelikan boneka. yang adik suaminya itu. yang sudah lama kau inginkan. bukan karena apa-apa. http://www. keluar dari masalah ini. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul.com/abclit. Bram. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran).

com/abclit. Buat Dita. tulis Tina. Bram-nya. ”Dokter Dita. tahu hal itu. perselingkuhan di antara orangtuanya. Dita tersenyum gelisah. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu. tapi kami saling menyayangi.processtext. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya. Dita memegang tangan Tina dan berkata. Dengarlah. apakah itu cinta.” ”Tina. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku.Generated by ABC Amber LIT Converter. sayang.” ”Kamu pasti bisa. tapi diam saja. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi. kalau pusingmu semakin bertambah.” Seandainya kau Mamaku. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita. O ya. Aku pastikan.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. yang penting belajarlah dari masalah ini.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita. Dita menelepon. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku.” Bram menyambar cepat. di seantero dunia ini. Bisa jadi karena aku dianggap lancang.” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. ”Kita saling membutuhkan. Windy. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu. suamimu yang kakakku itu. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya. kasus Tina sangat istimewa. kakakku. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. http://www. Sehingga . ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. aku tidak tahu. tetaplah melakukan terapi bicara. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. ”Ini masalah mereka. katakan kepadaku ya….

sahabat-sahabatku. Kemudian. Hari ini. juga pada pacarku. Tina datang lagi. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. Aku dulu senang. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu.processtext. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. ada dongeng. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. setiap selesai tulisan. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. sehingga mereka harus menutup hidungnya. kalau Eyang tidur di kamarku.” Bram mendengarkan ceritanya. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. ”Aku merasa. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan. Yaa Tuhan. Pada suatu senja. Bude. kurobek-robek. dokter Dita yang baik. Ini berarti sangat spesial. namun Eyang bilang. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. ha-ha-ha-ha. yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. terus aku ingin sekali bunuh diri.” Dear. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. yang menyayanginya.com/abclit. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. ”Sayang. tanpa mengedipkan matanya. malam itu ingin tidur di kamarku. kue kesukaanku. ”Jadi. Sebab. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. http://www. Sungguh.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. ”Papa dari anaknya”. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. dengan menjadi psikiater. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya. memasuki laboratorium yang besar. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. .

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu. Tuan. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman. Namun.processtext. mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Jesus is mijn opstanding. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik. Inilah gambaran kaum bermartabat. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. http://www. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana. hiasan perang layaknya kaum ksatria.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . Harap Tuan mengerti. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku.com/abclit. Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. Adapun gambar tengkorak itu.

”Begitulah kami bangsa Belanda. saleh. Tuan. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. ia sangat menderita. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. sebuah tubuh teronggok penuh luka. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini.com/abclit.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. apa harus kubilang untuk Nyonya itu.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah.html Kim Hok menggeleng. Ia mengelus bulu kuduknya. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut. Saya tidak akan mengatakannya. Tuan. Sayang. Dan Mevrouw Gubernur. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. ”Tentu saja. Dia terlalu menderita. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. dan mencintai seni dan kerajinan. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. ah. Sungguh. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi. Tuan. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. . Selamat jalan. Tak lama kemudian.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu.” kata Kim Hok memuji. menghiasi dinding. http://www. Sayang Tuan. ”Tidak. Tuan. meninggal terlalu cepat. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa.processtext. adalah yang utama di antara perempuan Belanda. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Aku seorang opsir biasa. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. Akan kubawa pulang.

orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia.processtext. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh.” kata pemilik warung itu. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu. ”Tanya saja kepada kepala desa. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. Tan Kim Hok. menjadi makanan lalat dan serangga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lelaki tua ini. Banyak nama yang disebutkan. tidak kenal. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil.*** Yogyakarta. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. dan dilempar ke kanal. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang. Sayangnya. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya. untuk menjelaskan kematiannya sendiri.” kata salah seorang yang mengenalnya. http://www. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas.com/abclit. nama-nama seseorang.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab. ya. . seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun.html ”Orang Tionghoa dibunuh. ”Dia si pengukir nisan. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia.” orang.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. karena dia tahu. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. Diganggang matahari. Membuat malam membeku sendiri. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. Dan.html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. Namun.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. dan dengan begitu menggeser pematang. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. Juga di dalam hatinya sendiri. untuk mengobati kepedihan hatiku. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut. diiringi sedu-sedan. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar.com/abclit. dengan menggeser pematang secara licik.processtext. . Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. Gusti…. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. http://www. kematian suaminya. Ketika aku berusia belasan. di pemakaman. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Gerimis menyudahi dirinya. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. tempat jasad Pakde terkapar. seperti tak pernah terjadi. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. Ayah kami. Saat menyiangi sawah. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. ”Oh. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. Emprit ganthil. limpahan lumpur itu lantas mengering. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. Dia adik Ayah kami semua.

tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. Konon. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. supaya tak ada orang desa yang .Generated by ABC Amber LIT Converter. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. dan manakala dadanya belum tegak benar. Selang beberapa hari kemudian. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah. dan penuh ketakutan. Di akhir tahun kekacauan. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. Sakit hatiku. Di bawah todongan pistol. kami anak-anak. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. mata tertutup. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Suatu malam. kebingungan. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. Ah. koé akan kubunuh!” Siangnya. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. hati kami semua. (Oh. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. http://www. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol.html Dia sudah mati. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. mencari kekuatan di situ. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. tidak hanya sebatas pematang itu. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. maka kami memercayai kabar burung itu. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. Ayah diperintahkan bersujud.com/abclit. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. Paginya. setelah Ayah berangkat entah ke mana. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. dan kepala Ayah. Tapi. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. sambil menggendong adikku yang terkecil. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. Ah. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. 1965. dengan diiringi gerombolan pemuda. dan dia digelandang ke dalam jip.processtext. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. Ibu. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Takkan terkikis dari ingatanku. mata tertutup. turun dari jip. Berminggu-minggu kemudian. Tentara. Ayah tinggal berpindah-pindah. Dengan cara yang sangat menghinakan. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. dan kami anak. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah.anak yang lain. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan.

takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. Peti matinya diusung menuju pemakaman. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. mengharukan. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. Sesuatu. itulah akhir perkawinan kami. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. Setelah itu. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Cuma. Sama seperti ketika menjemput maut.processtext. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. Sebelum menuju bengawan. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. linggis. ada semacam nista yang akan selalu melekat. mengapa aku tak pernah bertanya. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. Letakkan di tanah. Tanpa itu. mencari Ayah. cepat dilarikan arus. katanya. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. dua ratus meter ke arah bengawan. menakutkan. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Oh Tuhan. Walaupun tidak dikatakannya. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. dia mendesak. dari mana mayat akan diluncurkan. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. meminta berkah. bukankah dia juga ingin berziarah. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. Setelah menikah. maka mendengunglah . tak punya nisan. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. dengan tangan gemetar. Tak punya kuburan. kami pulang. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Pukul dua siang sekarang. menghampiri bengawan. diperlebar. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku. beberapa kali dia tertegun. dan aku belum hamil juga. yang katanya. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. Dia. Begitulah.com/abclit. juga dicangkuli. Kedua sisi. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. kami kira. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. diperlebar nganganya. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. di mana salib dan nisan berbaur. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. ketika kami menuruni tebing. maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. dan. Bunga-bunga itu mengambang. http://www. gerimis mendesah dari langit.html melihat. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. Katanya. ”Turunkan dulu. Mengikuti aku. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. ke makam Ayahku. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat.

” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. terimalah saudara kami ini…. menguak membukakan jalan untukku. ”Sudah berapa kali kami menggali. Ibu keluar menemui mereka di beranda. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. Tolong. kami minta maaf kepadamu. Kalau kau maafkan. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto. meninggalkan jejak di tanah basah. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. Aku membalik.” katanya menunduk. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. juga panik. ”cuih…. orang sedesa akan tahu siapa kita. sudilah kiranya memaafkan. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. Ampunilah. Seperti mengutuk diri sendiri. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. ”Kami pasrah. Aku maju dengan dada tegak. diiringi isak-tangis. maafkanlah umatmu ini.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. dan dengan sebal. beku. perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. biar Gusti mau menerimanya. mendekati peti mati. ”Las…. Kau yang jadi kunci.com/abclit. sarat di wajah para pengantar. http://www.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. Dari celah dinding tepas.processtext. tapi tak bisa juga. ”Jeng.” Kuhela nafas.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun. seperti berbisik. ”Ampun…. mengiba-iba. Beberapa saat kemudian. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. terpaksa mendobrak adat kebiasaan. Dengan kepala tertunduk. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman. . Sia-sia. atas nama jenazah dan keluarganya.

misalnya mengenai kepercayaan atau imannya.com/abclit. Desa Kwangko. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. Jika bicara. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. seorang idiot. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. http://www. terus menjauh. Patek dikenal sebagai seorang gila. Jali. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. Namun sebaliknya.html Aku cuma membatu. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. panggilan akrab Gazali. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. dengan wirid yang lama. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. karena perilakunya yang aneh. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia tidak menjelaskan mengapa ia . Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. tidak mengandung arti apa pun. kira-kira delapan puluh kilometer. mulai tinggal di Dusun nCuni. Namanya pun aneh. Ia selalu menundukkan kepala. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf.processtext. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. Tapi Patek. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. sebelah barat Desa Kwangko. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. Namun. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. Itu pun ia tidak banyak omong. di masjid yang berbeda-beda.

yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. sebagaimana di Laut Hindia. barangkali lebih tepat disebut surau. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. walaupun terbuka tak berdinding. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. adalah berkat peranan Patek. Mungkin karena sedihnya. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Tapi ia pantang meminta-minta. Untuk membersihkan masjid itu. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa.com/abclit. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu.processtext. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. hidup sebatang kara. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. Boleh dibilang. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. Walaupun kecil. Kebersihan surau itu. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. baik karyawan maupun orang kampung. bahkan dapat disebut orang miskin.html meninggalkan kampung halaman. tanpa hijab. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk. Hanya riak air kecil ditiup angin. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya. Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. tempat orang mengambil air wudu. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Tak ada debu. Masjid atau surau itu tampak bersih.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. http://www. tempat tumpah darahnya itu. maklum. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. laki-laki dan perempuan bercampur. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. Walaupun tidak kawin. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. Patek tentu saja bukan orang kaya. yang rajin membersihkan masjid. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. ia tak mau dibayar. tak ragu lagi.

Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. tanpa mau menerima upah. tentu saja dengan izin penjaganya. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. ia juga pergi ke gereja-gereja.html sekitar seratus kilometer. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. Namun. Ternyata.com/abclit. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi. Patek yang jujur. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. dari Gereja Katolik Santa Maria. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. Jika pergi ke kota Dompu. tanpa pembelaan diri. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. walaupun jaraknya cukup jauh. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. hanya menjawab dengan anggukan. Di samping ke masjid-masjid. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. Ia menanyakan kepada Patek. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. http://www. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. Karena sering mendengar cerita itu. Karena itu. Pastor Dhakidae. Tapi anehnya. di sebelah timur. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. mencintai anak-anak. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. Ia menganggap. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. . di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. ketika orang itu sampai di kota.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. tapi naik kendaraan umum. semuanya di kota Dompu.processtext. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu.

Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. Sebagai akibatnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. sekalian pindah agama. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek. demi keselamatannya di akhirat nanti. Karena keteguhan sikap Jali.” ancamnya. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. sehingga ia mengadu kepada Jali. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. ”Ini bukan hanya pandangan saya. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. Tapi. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. ibadah. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan. walaupun orang yang dinilai . ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. http://www. Karena itu. ”Ya itu lebih baik. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain.” sahut sang ustadz.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab.com/abclit. ”Pak Jali. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. Tapi Patek tidak banyak bicara. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan.processtext.” kata Ustadz Abdul Rasyid. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa.” lanjut sang ustadz. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. tetapi juga Protestan. dan akhlak seseorang. ”Patek itu sesat. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. Di samping itu ia pun mengancam Jali. Tapi dalam kenyataannya. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid.

Bagi orang Sumbawa. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. Kalau kau tak percaya. Di pinggiran kali berwarna cokelat. . Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung. sesekali datanglah ke mari. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin.*** Garis Cahaya Bulan.. dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. khususnya orang suku Sasak. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. Aku yakin. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. Karena Tuhan Yang Maha Tahu. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung.com/abclit. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya. melambai-lambai ditiup angin. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. http://www. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. sorga itu ada di sini.processtext. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang.. Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Akhirnya dalam suatu ceramahnya.

Itu pekerjaan kotor. tidak kali ini. dan semuanya beres. misalnya.. Sekali ini. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. aku menemukan sorga itu di sini. Jangankan hidup. Kita ditentukan. aku bukan pembunuh. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. Bayi. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. tetapi. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. Aku tak mau mati sia-sia.com/abclit. aku bisa membunuh. lahir di rahim siapa pun. sudah biasa terjadi. Jangan dibalik. apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja. Mengelak berarti melompat dari rel. Tidak. Menjijikkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika tugasku selesai. Ikuti perintah. Hujan yang turun. kalau aku mau. http://www. menziarahi kubur ibuku.. kau salah sama sekali.. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. dan melompat dari rel berarti hancur. Tunggu dulu. Oleh karenanya. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu. Aku tidak bisa mengelak. dan manakala kau mengeluh. Begini saja.. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. Hidup inilah yang memilih kita. ha-ha-ha-ha. Bayi merah. Aku masih bisa membangun hidupku. sebagaimana yang kukatakan tadi. aku harus . Ah. tanpa mempersalahkan siapa pun. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini.. mengendap-endap..processtext. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan . Gampang. atas apa yang kau dapatkan.. tetapi. Begitu saja. Aku tak mau hancur. Dialah yang memilihku.. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. itu pun tak sepenuhnya salah. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. Jangan salah. maaf terlalu kasar kalimatku. Hampir tiga hari aku berjalan.html Aku sendiri tak mengerti. tetapi saat ini. Tapi. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. bukan? Ha-ha-ha. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. ya.. Maaf.. Tak seorang pun. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Tak ada yang aneh di sana. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. di tengah panas terik. kawan. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada.. mudah sekali mendapatkan uang banyak. Ah. perintah itu bertengger di pundakku. Dan dengan enaknya. kita tak pernah bisa memilih. karena semua sudah ada yang mengatur.

pandangan yang wajar saja. Begitulah.processtext. kuberikan sebotol susu. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang.com/abclit. aku tak ingin menjadi juru rawat. Salah seorang. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. bersih dan menawan hati. Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu.Generated by ABC Amber LIT Converter... tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. Maka. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu. Kalau aku mau. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. Hmm. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. dia. bayangkan jika itu terjadi dan . menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja.. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo.. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. entah siapa.. http://www. Hening sekali perasaanku. demikianlah. lalu aku letakkan di sudut jalan. aku muak. tidak. Sepi sekali di sekitarku. aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. kurasa. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. baru saja rokok hendak kunyalakan. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. tentu saja aku selimuti. Belum selesai dia berkata. sudahlah.. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. ah. Jujur saja. mendadak akan pulang. karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. Siapakah aku. tidak. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. Bayi itu.. Umurku masih belum tiga puluh. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. terlalu religius kurasa. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah. Bayi yang cantik. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . Tetapi. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. dan semoga saja dia berbahagia selamanya.

gedung. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil. Dan aku—mau tak mau. Tidak hanya laki-laki. Mereka gembira. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah.com/abclit. Bisa jadi dia orang gila. Kopi sudah separo kuhirup. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa. tepat ketika matahari tenggelam. penasaran apa yang terjadi di sana. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. aku duduk di ruang tunggu. . bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. Atau. Bulan di atas sana membulat putih. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. Sempat kudengar ada suara anak kecil.. air. Tanpa bicara dia menatapku. Kubayangkan. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. lebih buruk lagi. dan anak-anak. Detak sepatu mengisi sunyiku. di pinggiran kali ini. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. Pagi itu. untuk pemerasan yang sama. tentu saja kuurungkan. lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. Dia tiba di gubuknya. Tetapi. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu. mengikutinya dari jarak tertentu. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. http://www.html punggung. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. Dari sana. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. jongkok di kotak bayi itu. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. Aku pun tahu. Tidak. Asisten si nyonya datang. akan kuhabisi mereka semuanya. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. Semua itu mungkin bagiku. Kalau itu yang akan terjadi. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). bahkan sampah.processtext. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. Mereka bahagia.. bagai piring perak. dibawanya bayi itu ke sarangnya. Bayi itu dipungutnya. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. tetapi juga perempuan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Digendongnya dengan sukacita. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil.

Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. Ada senyum tersudut di bibir. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. dan tergilas zaman. wajahnya. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. betapa bahagianya si kecil itu. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu. Tidak mungkin. setelah menerima sesuatu.. Tetapi. ". Bercahaya penuh. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. tangisnya. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. Aku beranjak. yang menganggapnya ancaman. dengan semuanya. Aku tak peduli.com/abclit. Tidak. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Tetapi. karena memang tak penting. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu. Begitu tajam rasanya di mataku. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh. Bulat penuh. Ruang apartemenku harum. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. dia masih memiliki kasih sayang. Kubayangkan. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. Ini aneh. masih bisa kusaksikan bulan purnama. . Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada.Generated by ABC Amber LIT Converter. Malam ini. bersih. ah. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini. http://www. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain.. Langit tanpa awan. semoga sudah masuk hari ini. kesialan. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Dia memiliki keluarga.processtext. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. Yang aneh.

Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah.processtext. di pinggiran kali ini. Dia tertawa penuh kemenangan. 982 . kemarin malam. Aku pernah menyaksikannya. cobalah ke tempat ini. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Di tempat ini. dulu. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. Ya. Kubayangkan bulan. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. Gelap. Semua sampah harus dibersihkan. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. kemarin malam. Dan sudah terlaksana.Generated by ABC Amber LIT Converter. di sini. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. http://www. Aroma sangit pembakaran. ini adalah sorga. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. Bukit Nusa Indah. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. Sudahlah. Di tempat ini melimpah kebahagiaan. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. kepalaku rasanya mau pecah. Kepalaku masih berat. Ini sorga.html Aku terbangun oleh dering telepon. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. Maafkan. semua penghuni gubuk merayakan pesta. Aku duduk di tengah sampah ini. Kapan-kapan. aku bisa menolak permintaan. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. Dan seperti kataku. Semua sampah harus dibersihkan. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Aku banting telepon itu. Alkohol menebar. Sunyi. di pinggiran kali ini. jika kau ada waktu. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali.com/abclit. tergeletak di meja dan di karpet.

Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. Aku tahu. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. . Tuan Chew Song Kit. Aku jadi teringat Vietkong. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. Atas nama kemandirian itu pula. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. http://www. Aku jadi ragu berterus terang. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Batam. Rambo. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Siapa duga. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas.com/abclit. Antara suka dan tiada. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Tapi. Nguyen telanjur segalanya bagiku. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. penuh cerita pilu. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. Tapi.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya.

Mana tahu. Tapi. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. aku berbelah-pihak pada Nguyen. bila ditanya. Dari mana asalnya kapas. http://www. dari benang menjadi kain. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. jujur. . menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. Tapi aku tak begitu hirau. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. Atas keteguhan sikapku ini. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang.Generated by ABC Amber LIT Converter. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. Tapi.com/abclit. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. Padahal. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Nguyen muncul tiba-tiba. Wan Syariful. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Aku kehilangan jejak Nguyen.processtext. Wan Syariful. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. sambung Wan berhujjah. Tapi. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Sesiapa yang sudah dilepas.html Sekali lagi.

com/abclit. teman setiaku sejak dulu. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Semua bisu. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku. Dan perempuan itu langsung memelukku. Apalagi. . nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Kami bersitatap tegang. lewat di depan stand kami. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand.processtext. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. Tapi. Sungguh. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful.html Aku tertunduk lemas. Tak salah lagi. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya. Meski. aku bagai melompat menuju buku tamu. terus terang. Nguyen. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. Saat itu. http://www. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga.

Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. http://www. San Nam dan San Nangh. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Nguyen pasrah. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Aku makin memperkuat pelukan. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. Dalam perjalanan naik taksi itu. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu.com/abclit. Pembantunya. Aku memeluknya sepenuh-mesra. Sebab. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Aku telah keliru memilih jodoh. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami. sahut Nguyen pelan. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Dua adiknya. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. kami sudah pisah ranjang. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. Hampir setahun ini. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya.processtext. Sing Anh. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Nguyen masih duduk . Begitu pula kampung halamannya. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. airmatanya tak henti mengalir. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Mereka sudah jarang bertemu. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca.

aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. Lampu temaram. bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Sungguh. Nguyen.. Aku terdiam dan ternganga. kami sudah pisah ranjang cukup lama. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. Maksudmu?. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi.com/abclit. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lagi pula. http://www. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. Inilah saatnya. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi.processtext. Tapi. kamu masih menjadi istri orang lain. Maaf. Kamu tidak mencintaiku lagi. Bang Rajab. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. . Nguyen meraih jemariku. Iya. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. Memang. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda.html menyandar didadaku.. Menelepon pun tidak. aku tak bisa..

Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. Oktober 2005.html Aku duduk di bibir ranjang. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku.com/abclit. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Nguyen. Langit Hanoi terasa merah jambu. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Selalu. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sungguh. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi. Nguyen. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. Langit masih bertabur Nguyen. . http://www. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. Andai saja. Tapi. memang bukan akhir segalanya. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. bagiku. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara.processtext.

Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Tak ada yang peduli.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. kata mereka. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai. http://www. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang . arus sungai menjadi sangat deras.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya.processtext. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Terlalu angker. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Beberapa ratus meter ke arah bukit.

Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. http://www. Kakek Lido. Jona dan Warni. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Tak terhitung dukun yang didatanginya. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Tak lama. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Rencananya. Dua orang gadis tangguh. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Tak ada apa-apa. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Gelap. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan. tepat di atas ranjang keduanya. suaminya. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. .processtext. Dua anak gadisnya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah.anaknya. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Tak hanya secara fisik. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang.com/abclit. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk.

Alu kita patah. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. Saat istrinya membopong pisang. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. nenek Lido dulu cantik. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Lagipula.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. Konon. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda.. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak..processtext. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah. Kata ayahnya. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya.com/abclit. http://www. segar. .html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. Nenek Lido bertubuh subur. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. dan kuat seperti ibunya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. Tapi kakek belum tertidur.

Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu.. krreek. Terdengan pelan suara krek. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Akh. pikirnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya.” kata Nenek Lido lagi..” Jona dan Warni menjerit. Rumah panggung itu bergerak.html ”Kata Nisa. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Kindo. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido.com/abclit.. http://www.. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah. krreeek dari loteng. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Tiba-tiba. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit.. Baju Jona telah robek di bagian depan. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. ”Siapa kamu? Aaakkhh. .. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. angin semakin kencang. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya.

Lelaki itu tersentak keras. Dengan sekali mengayunkan tangan. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Rappe. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Nenek Lido melengking marah.processtext. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Rappe mundur. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Dengan keras. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Sebilah pedang pendek.. http://www. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Maka. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya.. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dalam gelap. Dari arah belakang. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rumah panggung itu bergoyang keras. jawara kampung sebelah.?” teriaknya setengah melompat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya.html ”Siapaa. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido.com/abclit. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Dalam gelap. Rappe semakin marah. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. dengan secepat kilat.

.” Nenek Lido menyuruh Jona. Dengan susah payah. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah.”. Tapi Nenek Lido tidak menangis. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah.processtext. http://www. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah.. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya.com/abclit. . Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Nyalakan lampu. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Entah apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang.. Kakek tak bereaksi apa-apa. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Saat mendekati sakratul maut. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Berhasil. kepalanya juga.html ke depan pintu kamar. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. ”Kindo..Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya itu. ”Dia sudah pergi.. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Cresss. Tak ada yang tahu. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis. Tangannya gemetar dan nyeri. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah.. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri.

Kedua anaknya yang masih hidup. Istrinya. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Korban berjatuhan. . A Cong dan Beng Sin.html Jakarta. Dari balik kain penutup jasad.com/abclit. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Ling-Ling.processtext. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya.

mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu. Asap hio menyengat.” katanya. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong.com/abclit. Suamiku? Siong. sebagian menutupi wajahnya. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. Ling. ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati. Keng Hong melirik kedua adik iparnya. Jangan menangis terus-menerus. ”Sudahlah.processtext.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat. Tuhan akan menerimanya di surga. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. ”Orang-orang yang berkedok membela . Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. gantunganku bila kau tak ada. Rambutnya kusut.” kata Keng Hong. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. http://www. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Relakan kepergian Siong.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Malam. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. Keng Hong mencangkul tanah basah. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong. tentu mau menolong kita. Setelah empat jam menggali tanpa henti. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Sekarang. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Tapi A Siong mewarisi . Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. ”A Cong. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Dengan kalimat terbata-bata. Hujan terus turun sejak semalam.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik. air masih menggenangi halaman belakang. Jangan menangis terus.processtext. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail.” ”Sudahlah. http://www. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran.com/abclit. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Wajah-wajah mereka muram. Kau sekarang menjadi anak tertua. kita pikirkan nanti saja. Dia orang baik. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. meskipun tinggal rintik-rintik.” kata Keng Hong. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Semalam. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. kau pergi ke tempat Paman Cia.

yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang. Ia menjawab ayahnya tidak ada. ”Aku datang terlambat. Kedua adik A Siong keluar dari kamar.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya.orang miskin seperti kita. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. Ia lahir di sini. Ling-Ling melolong-lolong. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Kalau ada apa-apa. http://www.html keberanian ayahnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. mereka kabur dari tempat itu. Sementara mereka. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. babah-babah kaya itu. ”Kita memang serba sulit. pendiri Pao An Tui. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. . ia bisa mewakili ayahnya. Setelah korbannya ambruk. ”Ayahku selamanya membela Republik. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya.” kata Sin Liong dengan nada menyesal. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu. Dan mati pun di sini. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. walaupun kita loyal terhadap Republik. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah.processtext. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu.com/abclit. Ayahku teman baik Oei Kim Sin.

Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik. kaum peranakan Cina miskin. Keng Hong mengangguk. kau tidak tahu. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer.” kata Hong San yang dari tadi diam saja. baik yang kaya maupun yang miskin. Memang benar. Ia mengenal baik Oei Kim Sin. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Kakak. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus.com/abclit. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. ”Puh. Lihat saja buktinya. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap.” ”Benar.processtext. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. Berkali-kali ia duduk dan berdiri. Matanya menyelundup keluar. http://www. Mereka berteman baik sejak kecil.” jawab Sin Liong kesal. . resah.

Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.” kata Hong San.html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah.” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. dan tidak banyak terpencar-pencar. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya. http://www. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.com/abclit. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. .

Generated by ABC Amber LIT Converter. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu.processtext.com/abclit. Semua cahaya di rumah kumatikan. Kakak Hong.” kata istrinya sambil menggigil.html Seseorang mengetuk pintu. Bukalah pintunya. ”Aku. . tapi ditahan Keng Hong. ”Aku takut di rumah sendirian. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya. Tadi baru saja ada orang mengintip. Masuklah. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan. temani kami.” jerit perempuan di luar pintu.” katanya dengan suara parau. ”Kau gantilah pakaianmu. http://www. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. Mei Lan. tidur di sini. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. ”Siapa?!” bentak Keng Hong.

Ia telah tercebur ke dalamnya. meninggalkan mereka.” katanya pelan. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya.processtext. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut.” kata Hong San. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. terbunuh sia-sia.com/abclit.” Keng Hong tertawa samar dan kecut. meresahkan malam yang basah. dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu. Suara tangisannya pecah. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Anakmu sendiri menjadi korban. . http://www. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. tapi ratusan. Kakak Hong?” tanya Hong San. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya. dan kau diam saja. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can.” kata istrinya sambil terisak. Tidak hanya puluhan. ”Tidak.

Malam turun semakin sunyi.” katanya dalam hati.” ”Kakak beristirahatlah. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Aku akan di sini sampai pagi. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua.” kata Keng Hong. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Apa yang harus kita lakukan. ada seseorang mengendap-endap di luar. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai.Generated by ABC Amber LIT Converter. kita telah membagi dua kekuatan.processtext. Aku bangga memiliki anak sepertimu.” kata Hong San.” bisik Hong San. http://www. Lebih baik kutangguhkan besok pagi. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya. Firasatnya tak enak. Siong. Sementara Sin Liong menggelar tikar. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. . Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. ”Kau telah menjadi tumbal untukku. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. Tapi aku sangat lelah. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Di Semarang. Dan tumbal kaum kita. ”Kakak. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu.com/abclit.

”Bangunkan Sin Liong.” kata Keng Hong. http://www. Kita sergap saja dia.” jawab Hong San.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar. Dia menunggu di samping pintu. .com/abclit.” Keng Hong mendekati pintu depan. ”Cuma ada satu orang.html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.” katanya. ”Jangan terjebak. ”Sudah. ”Mereka benar-benar meneror kita. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.” katanya.

Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. Di antara rentetan senjata api. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah. Kedua adik iparnya memandang bingung.processtext. Diambilnya korek dari kantong celananya. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Perlahan-lahan. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. ia membuka selot pintu. Dalam hitungan detik. lalu membukanya.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Lama mereka tiarap. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. http://www.” Mereka berpandangan satu sama lain. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan. sebat.html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Ia membaca tulisan itu. tercekam ketakutan. . tak tahu mesti berbuat apa. Kedua belah pihak mencurigai kita.com/abclit. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu.

2. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. Ia mati bunuh diri tahun 1949. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang.processtext. . Panglima Tentara Belanda.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. 13 Januari 2005 Catatan: 1. NICA. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota.com/abclit.html Yogyakarta. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. 3. 4.

samar jadi terang. di puncak monumen. dengan ganjil. Begitulah semua datang. semua terbentang. Dan lalu. Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. menggenang. Tetapi bukan. Dan dari mata tuanya yang buram. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. menjelma kerumun bulatan pijar. Dan. segera merembes air.com/abclit.. dinding-dinding kaca. jambang.. Di sana. yang semuanya kotor. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. amat terang. tak tertahan oleh tatap. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. Lingkaran hitam yang berputar-putar. sebentar memusat sebentar menebar. matahari membelah. Begitulah hitam jadi kelabu.processtext. Bagai melayang. Bukan hanya tameng. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. Tetapi bukan itu. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Tetapi takkan lama. Begitulah terik. kuning kelabu.. itulah yang dilakukan olehnya. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. terus mengembang. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. lelaki tua itu merasa nyaman. dalam nanar. putih pirang. seperti bintang. meranggas tak teratur panjang dan jarang. Dan gedung-gedung. kelabu jadi samar.html 5. ada sebuah titik. . http://www. Pedih ini akan hilang. seperti kemarin-kemarin. siang memanggang meringkus dirinya. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. lingkaran hitam itu lalu menyatu. Dan. memang. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949.Generated by ABC Amber LIT Converter. lantas mengembang. selintas tampak seperti mata kayu.

semua terbentang. Berdebar. Dan Belanda pergi. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan.com/abclit. tangga-tangga besi. dadanya. Monumen Nasional. berlalu lalang. Atau mungkin membelah. langit goa yang runtuh. Membujuk. menyandang tas di bahu kirinya. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Tetapi memang. Dan lihatlah... Maka. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. Tetapi ya. Jepang menyerah. Dan gedung-gedung.. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. dinding-dinding kaca. menghunjam mata. Seperti hamburan. Atau menyibak. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka. Memandang ke luar. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita. di puncak Monas. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. mulailah hari-hari itu. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan.. ledakan dinamit... di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. Makin jelas.. Akar-akar yang juga bagai bersembulan. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. Ia akan bekerja di sebuah tambang...Generated by ABC Amber LIT Converter. Maka. Si remaja ini. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. tidak. pasokan senjata berdatangan. ada sebuah titik. Huah! Orang.. Tampak amat sibuk. Dan seperti mimpi. Melayang. Orang itu masih muda. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. tidak. dalam nanar. Kata Pak Daud. ada banyak emas. Di atas papan itulah ia duduk. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran.processtext. Dan ah. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. berkacamata.. tidak. Mungkin lebih tampak seolah rebah. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. sepatu boot. di atas kereta itulah ia. gema lori. Di sana. Apakah hanya matanya? Karena hari ini. Lorong-lorong. menjelma kerumun bulatan pijar. Menyerang tambang.. ia . Pak Daud. tajam pedih.. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Menerobos hutan. Derek II. semua terbentang. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. http://www. Dan wajah-wajah itu muncul. lift ke atas ke bawah. seperti angin menyapu ilalang. bagai mengambang. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang. lihat. bukan itu. lalu proklamasi... Kini tertahan.. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. Begitu juga tambang emas di Lebong. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. Masa berganti. matahari membelah. Titik putih. beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. bagai melayang.html Begitulah semua datang. Berlompatan. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. Letusan? Belanda kembali datang.orang dengan helm. Bengkulu. Bagai melayang. Derek (pos) I. pun mengajaknya.” kata mereka..

mendehem beberapa kali. Jalan yang lebih baik. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. Refleks. ”Begitulah yang orang-orang dengar. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. ”Dulu..” katanya. emas yang kita sumbangkan dulu. Dik Najir. Pak Jusuf berkata.. setelah Pak Daud meninggal.” Senyum itu masih.. Agaknya ia harus terus-terang.. Dik Najir. Lihatlah kini diri Dik Najir. yang ingin saya tahu yaa. apa adanya. yang diangkat jadi juru tulis gudang. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. ”Saya membutuhkannya. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang.. kembali ia palingkan muka. Ia tak suka.. http://www. Tetapi hei. Kacamata itu. emas Monas itu didatangkan dari Jepang.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya mengerti. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang.. menatap ke arahnya. Tiba-tiba si pemuda menoleh. Maaf. Tatapan di balik kacamata. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik. dalam kepalanya? Tentu tidak. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. ia mengalihkan pandang. Untuk modal. Tetapi. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu.. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana. di tambang itu. tatapan itu. kini tersenyum..” ”Begini. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti. dulu merupakan sosok sederhana.processtext. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. Dibuat di Jepang. ”saya punya usul. ”Saya paham.. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. terasa ganjil. Tetapi. cacat. Tak enak ketahuan mengamati. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini. seingatnya. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam. Tatapan di balik kacamata.” Yang orang-orang dengar. Cuping hidung besar. coba berdagang. ”Tapi.. ”Ma-maaf. Kacamata itu. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi.com/abclit. Dari jauh ia datang karena yakin Nur. ..html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant).. itu. kenapa kini berbeda? Senyum itu. anak Pak Daud..” Pak Jusuf inilah. Pak Jusuf.” senyum itu kembali. kita berjuang. bagai melayang.” mendehem lagi. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu.

mengeluarkan dompet. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah. disalurkan.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas.. Dik Najir. mendengus. seperti mencari lagi posisi yang tepat. seperti kecewa. tapi jumlahnya tak lagi sama.html Satu kaki tak ada. Pak Jusuf mengeruk saku celananya. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini.” ”Tenang. mereka bilang ada yang digunakan. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan. Kemudian katanya. ia mengangguk.” . Pak Jusuf.” Ragu..” ”Tidak. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. Tak lebih. melainkan disalurkan. maaf. Saya akan membantu. mereka hanya meneruskan.processtext. Sumbangkan saja. Saya tak mau. http://www. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. Jadi. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas.. Jemarinya merogoh. ”Nah. Dan karena jumlahnya sedikit. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya. Tapi karena dinamit itu.. baiklah saya terangkan.Generated by ABC Amber LIT Converter.. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran. ”Emas itu memang ada pada saya. Kaki saya putus bukan karena berperang. Dik Najir. bagai mencari persetujuan. Saya. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu. emas itu tak usah dibagikan. Itu gampang. saya kemari hanya untuk hal itu. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. Saya. Lalu. begini..” Diperbaikinya duduk.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah..” ”Ah tidak! Mana bisa. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf.com/abclit. ”Sebetulnya bukan dikembalikan. langit goa yang runtuh. kata mereka. lalu berkata. Dik Najir tentu bertanya-tanya.

Diayunnya kaki.. Lalu. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. kelihatan seperti patung. semua kembali seperti biasa. Dengan hanya seribu. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti.. mata itu. Koin itu berhenti. Tapi ajaib. kursi. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong.. tetapi koin 1. Senyap. Mulutnya terbuka.. gorden. tertahan bagai mengambang. tersentak. Sepertiku. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. lapar.!” Lelaki tua itu terkejut. sekilas tampak seperti mata kayu... aku tahu yang ia rasakan. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks. koin satu rupiah itu tak tersambut. Ia terus meluncur. Waktukah.. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung. Ketika koin itu bergerak turun. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. ketika itulah. si pemuda membalikkan tubuh.. Mata di balik bingkai besar itu menganga. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. teronggok di trotoar. Meja. nyaris menyentuh loteng... Sepuluh. Saat koin itu bergerak turun. dua puluh. yang berhenti? Dan Pak Jusuf. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng.. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. tidakkah berair bagai menangis? Pusing. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. menatap ke arah koin. atau mungkin tiga puluh detik. Semua tak bergerak.000 rupiah itu kembali? .. diam. diam. http://www.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya.processtext. Dan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tangannya yang terangkat. Tetapi mendadak. astaga. Semua tak bergerak. langkah si pemuda terhenti.com/abclit. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. Wajah bulatnya tengadah. Pak Jusuf mengangguk. tertahan bagai mengambang.. Bahkan udara pun seperti mati. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. tapi kembali tertegun. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut.html Satu rupiah? Ia ternganga. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu. yang siap menyambut koin. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. iseng.. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas. Betulkah? Betul. kaku tergantung.!” ”Triiingngng. tak berkedip. taplak.

dalam lukisanku.” Si pengemis seperti lega.” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing..html Konyol. berapa umur Bapak?” ”Oh. Tetapi ia telah di sini. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah. Dungu. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. Tujuh puluh tujuh? Eh. hari itu. Dan mata itu. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. Memasukkan lamaran terus.*** Payakumbuh. di hadapan si pengemis. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. ”Maaf. Ramadhan telah berlalu. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Karena itu. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. http://www.. Mencari kerja terus. ”Tujuh puluh tujuh. kau juga tahu. asalan ia berkata. Minggu 28 Maret 1830. Muak..processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Jadi.com/abclit. Tiba-tiba ia merasa letih. .. Edisi 11/06/2005 Ya.. tujuh puluh tujuh lidah emas.

Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. Hanya aku saja yang boleh sedih. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. "Kalau mau Sultan . http://www. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Namun di luar dugaan. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. Jadi. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. Lewat bisikan batin. ke langit sarat sriti. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. Roest. "Segalanya sudah diatur. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta. Raden Mas Joned. Pangeran harus kulukis tegak menantang. terutama aku. Dan orang-orang.processtext. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. Ya. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. Residen Kedu berwajah batu itu. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. Dia tak ingin de Kock atau Valck. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. de Stuers." desis Haji Ngisa. Karena itu. tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas.html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan.

com/abclit. apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu." . mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi. http://www. Nah. "Jadi. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang. saya tembak putra-putra Sampean. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu." Ya. Jika ingin berkelahi. Namun. Setelah itu. Tetapi.html Ngamid bisa menghilang. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. hati Sampean bisa terbakar. Ya. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga.processtext. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan. Jenderal." kata de Kock. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan. Pangeran. Dan. Kalau berani menatap.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga.

dia berseru. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Urusan siapa? Urusan saya. Gusti. kau tahu. Karena itu. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. ketahuilah. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Karena itu. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. Saya siap dibunuh kapan pun.processtext. Dengan hati-hati pula. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu. Kematian toh hanya kabut halus. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. "Hei. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. moksa ke langit. Mengapa tak Sampean lagi takjub. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. sambil mendongakkan kepala. Jadi. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri.Generated by ABC Amber LIT Converter. silakan bunuh saya. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. seperti Isa yang tersalib. Ketahuilah. urusan Haji Ngisa. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. Sekarang. Jenderal. De Kock akan tinggal arang. Tuan. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. bukan urusan Sampean. http://www. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. membumbung menembus kabut. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu.com/abclit. andaikata de Kock dan para serdadu tahu.

Sultan. Sampean tahu.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Sampean boleh khawatir. wangi bunga kubur. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan. > 0 Meski demikian. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya." "Maaf." "Allah tak menghendaki seperti itu. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma. Namun. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gandakusuma. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan. Ketakjuban. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. sekali lagi.com/abclit.processtext. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar. Karena itu. ya. Sultan." "Jadi. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. ." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu. kita hanya akan bersilaturahmi. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Sultan?" "Ya. http://www. berlebaran pada Jenderal de Kock. Gandakusuma menyangkal. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat.

Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. Ya. Juga sayap dan segala yang dicinta.processtext. Juga sayap dan kemegahan dunia. Dan sebagai iblis. mata yang kehilangan keperkasaan. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. setelah pada pukul 08. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan.com/abclit. Nanti…. tetapi de Kock telah menjelma iblis. Dia tahu sebentar lagi. Digambarkan bersayap atau tak bersayap. Nanti kuberi kuda baru. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. Ayolah. namaku Saleh." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. O. . "Sudahlah." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. http://www. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya. Sultan.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan.Generated by ABC Amber LIT Converter." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi.html "Kita memang akan bersilaturahmi. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. Gandakusuma.

Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. Juli 2004. die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro". Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey. nama Dipanegara dia berikan kepada putranya. 4. "Asal Usul Perang Jawa. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro".Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. 5.html Semarang. 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Anak-anak Sultan Ngamid.processtext. 2. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. "Historische Tableau. 3. http://www.

Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul dua belas tengah malam. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Sampai aku besar. Namun. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. Mulai sinis. bola mata tempat biasanya aku berteduh. Hatiku terbakar. agar Ibu mengerti. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Seperti kemarin juga. Namun. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya. Tetapi.com/abclit. "Ibu. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. Menuju jantung kota kecilku. Sebuah danau tenang. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Setelah aku bercerita panjang. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan." ucapku pelan.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam.html Sumber: Kompas. Tak biasanya Ibu seperti itu. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. Ah. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan. .processtext. Mencucuk sumsum dan tulang. Semenjak usia lima tahun. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih. Anak satu-satunya. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. sore kali ini menjadi lain.olah saja ia sedang disengat kalajengking. hati-hati. Angin menusuk gigil. anak dendang itu juga manusia. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain.

jadi namanya Rabina?" Ibu memotong. semakin banyak aku berbicara. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari ." "O. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. Menyisik bersama angin malam yang tajam. Percayalah. Sebatang rokok kuselai. Ibu. http://www. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. dekat sebuah lampu taman. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Rabina itu perempuan yang baik. Aku telah menyelaminya. Ibu. Tidak semua anak dendang seperti itu. Aku telah selami pribadinya. Aku terpojok.com/abclit. Aku duduk di tepi trotoar. keluarganya. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya.html "Cobalah mengerti aku.processtext. Berbuai-buai." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. Tidak ada yang menggoreskan cela. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). "Ya. Bersipongang. Asapnya membaur dengan cuaca.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bahkan.

Memukul.Generated by ABC Amber LIT Converter. kita lecehkan dalam keseharian. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. Ibu tetap tak sependapat denganku. Ibu.pandangan sebelah mata?" Selalu. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Aku ingin ke sana. Namun. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Haruskah kita membunuhnya. Ingin melihat senyum Rabina. http://www. Suara yang sudah teramat kukenal. berburu ke arahku. penjaga.processtext. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. Seolah berpitunang." terangku lebih panjang. Bergema melantuni malam. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. dan penerus kesenian nenek moyang kita. Mengapa mereka harus kita sisihkan. Dan suara itu. "Mengertilah.html trotoar itu. Mengimbau. Sayup. Di sanalah saluang tiap malam digelar. Tetapi. jelas kutangkap dari gelagatnya. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala. Akrab.ulang datang. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. Bergendang-gendang. "Di samping berdendang. bibirnya. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. bulu matanya. Kurasa Ibu tidak sepicik itu. Dan berulang. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan. Ingin menikmati rambut panjangnya. Pewaris. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh." jawabku tenang. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Lekat di kedua belah anak telingaku. Lirih. . Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas.com/abclit. kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. Tetapi.

Istirahat. Dan Rabina seolah tak percaya. bagaimana lagi. Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. Di saat lain aku justru merasa bahagia. http://www. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Tetapi. Dan lagi. Aku tahu. "Ayah dan Ibuku sudah tua. Tetapi. Kadang aku merasa malu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku.com/abclit." ucapku lagi meyakinkan dirinya. Kadang terkesan merintih. Lalu menunduk. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. Saat mula aku datang ke pagurawan. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah.apa lagi. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. Sudah tidak bisa berbuat apa. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. Hidup memang keras bagi kami. Sawah Rawang 11). Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Kemudian pada malam-malam berikutnya. sejak singgalang 13) didaki. Jam empat subuh saat itu. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7). "Mungkin kamu tak percaya. Sebuah rumah kecil. Menatapku lama-lama. Pariaman Panjang 9). Memburu dan mengepungku. Rabina. "Aku mencintaimu.processtext. Ratok Bonjo 8). Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat. Karena setiap malam Rabina berdendang.html Suara itu masih sangat jelas. aku telah mengatakan yang sesungguhnya. Sirompak Taeh 10). biar sajalah. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. aku setia menungguinya. . Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Meratapi malam. Nyaris tak mempunyai kelebihan. Ruang. Tigo Giriak 12). aku mulai mengikutinya berdendang. Diam. aku harus membiayai keluargaku. Tidak jarang. Ah. Dendang yang melirih. Hanya gambaran dari keberantakan.

Sepenuh rasa cinta. Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah. mencoba menatapku lagi. http://www.processtext." "Jangan berkata seperti itu. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Memendung. Bergulir. Aku mengusap rambutnya. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya. Tetapi. "Aku istirahat dulu ya. "Cobalah berpikir kembali.com/abclit. Rabina." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Terima kasih sudah mengantarku pulang. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. "Pulanglah. Namun. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. Tetapi. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. Tentang rindu. Sudah hampir pagi. aku mengangguk juga. Tak kuduga. Lembut. Ukur timbang matang-matang. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Rasa cinta yang cemas.html Rabina mengangkat wajahnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Kamu berada di anjungan berukir megah. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. Anak dendang." katanya pelan. Rabina!" Sejak saat itu. kami akan menikmatinya berdua. Wajah Rabina mengeruh. Membenahi anak-anaknya yang berserakan. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. Jatuh menimpa jemariku. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. Mencintaimu. "Aku sayang kamu. Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Lalu aku mencium keningnya. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu. pada waktu-waktu tersisa. ." Berat rasanya. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang.

12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang. 11). 5) Istilah. 9). Membelenggu. Aku ingin ke sana. Lalu aku berjalan. 4) Pantun-pantun yang dilagukan.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Aku mencintaimu. Rabina. Aku ingin memberontak. 8). Malam melilit. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. awan-awan diam. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. Aku ingin mengatakan kepadanya. 10). Aku mencintaimu!" Namun. Menyelai rokok lagi. Lama. Cahaya bintang berkilauan memendar bias. .html "Pinanglah. Aku menatapnya. 6). Aku masih di trotoar itu. tempat kesenian musik sedang digelar. Di langit malam.processtext. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). Mendengar suara Rabina. Menikmati saluang yang masih berkumandang. Ingin berteriak. http://www. Meninggalkan trotoar itu.com/abclit. Biasanya dilakukan oleh perempuan. kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Ke lapik gurau tempat Rabina berada. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung.

Di seberang sana. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya. kebiasaan serta irama keseharian mereka. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. lembah dan gunung-gunung.Generated by ABC Amber LIT Converter. atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. fana. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. Sebagai penulis. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. http://www. di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang.processtext. pendeta. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. ”Kamu ini psikolog. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit. Ini untuk melukiskan.com/abclit. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang. .

. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek.” tambahnya getas.” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. Terasalah. karena ini rumah wong edan. ”Aku memang belum pernah membangun rumah.. Begitulah. bukan teknis.Generated by ABC Amber LIT Converter. ya mustinya bangun pagi. Setelah itu sore tiba. ”Kalau ingin menulis. ”Masih cantik ya. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu..processtext. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. Pimpinan perusahaan. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut.. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. Kali ini aku mau. Terus terang. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa.. Dia disuruh pidato. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. aku lupa. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu..” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. kamu jawab semua pertanyaanku... Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain. pekerjaanmu urban planner.” sahutnya berseloroh..” tukas sang teman. Sang sahabat garuk-garuk kepala. . menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. ha-ha-ha. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.com/abclit. waktu tidak seluas dibayangkannya.html ”Sudahlah. Ketika hari pensiun tiba. http://www. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi. ”Wah.” komentar istrinya.

space planning. kalian tidak tahu.. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. http://www. dan semacamnya. memangkas dan merapikan daun-daun bambu. Pa?” tanyanya. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman... Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri.html Dia cuma tertawa.” celoteh orang di kantor..processtext. sampai-sampai. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman.” ujarnya dalam hati. merapikan barang-barang.com/abclit. Soal menulis. ”Mas Daru kini jadi petani lho.. dan lain-lain. Dia lebih tertarik pada tanaman. ”Benar juga... Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu.” pikir sang istri. sesekali merawat dengan memberinya pupuk. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan.” Begitulah kehidupan pensiunan ini. Pertama berat. ”Ooh. Ia mulai bangun saat subuh.. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani.Generated by ABC Amber LIT Converter. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. ”Kenapa bangun sepagi itu. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. dia seolah seperti landscaper.. . Coba tanya beberapa teman. lanscaping. Waktu saya ke sana. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. bersih-bersih. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman.. sebelum matahari terbit. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga.. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. gardening. Katanya dia sampai diprotes tetangga. Dia menjadi petani.

. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung.. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali. ia percaya. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian.” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. kaget juga banyak orang). Akan tetapi.com/abclit. http://www.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong. berada di ruang kerja menghadap komputer. Dia baru menyadari. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya.. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. melihat kemajuan suaminya. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan.. Ia dilarikan ke rumah sakit. kali. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga.processtext. ”Liong bun. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya. dari berbagai penjelasan dokter. .. selalu terjadi pada para pensiunan.” Perkembangan berikutnya lagi. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya... Hanya saja. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Bukan hanya stretching. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan.” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya.. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. Sang istri percaya.

dengan menggunakan nama panggilan suaminya. Ia ingin menguji memori suaminya.. Suaminya telah pulih kembali. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila.. Sang istri kian penasaran.. Patman. ”Indrakila!” jawabnya. Itu tadi ucapan suaminya.Generated by ABC Amber LIT Converter. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam. Wanita ini tersenyum. Didekatinya suaminya dari belakang. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Sang suami diam.. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango.processtext. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu. bukan Gunung Indrakila. http://www.com/abclit.. diiringi anjing kita. Itu Gunung Gede-Pangrango.” suaminya melanjutkan kata-katanya.... duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan. . Si istri kaget.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya. ”Itu gunung apa Bib. Ah.. Di balik gunung ada gunung. di balik cakrawala ada cakrawala. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan. Semua saudaranya tumbang di jalan.” tanyanya.

siap menulis lagi.. sebelum berucap. ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. pertemuan mereka.” Terhenyaklah sang istri..html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri.. Langit semburat merah. ”Bibib telah benar-benar sehat. Itu peristiwa puluhan tahun lalu.. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik. Si suami diam sesaat. 2005 . Pagi benar-benar datang. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. Dia tahu. Dia peluk suaminya dari belakang. bukan Mertasari.processtext...” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita. http://www. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari.com/abclit. di pinggir kolam. Ciawi Junction. tentang asal-usulnya.

hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Setiap menjelang Ramadhan. Ramadhan kali ini. sembari terus bersiul. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. Atau erang kesakitan leher digorok. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Ah.siul ringan. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Langsung. keramas. rapi. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Ramadhan berlalu. ia berharap maut benar-benar akan datang. Menyemprotkan pewangi ruangan. Saat Ramadhan kemarin. mengusir bayangan buruk itu. Ia berdiri di ambang pintu.html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. . mengerut menatap laki-laki itu. Ia tak ingin kecewa lagi. ia bisa mencium bau amis darah itu. sembari bersiul-siul kecil. Saat ia berbaring di ranjang. memandang langit siang yang terang. Melipat selimut. dan wangi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Dan tadi.com/abclit. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia memejam. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. dan segera saling bisik.. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. http://www. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Merapikan pakaian. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya.. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah.processtext. tapi ia masih saja hidup. Menyisir rambut dan memotong kuku. Bayangan kematian penuh darah.

Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Kadang berbulan-bulan.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Para tetangga jadi gelisah. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. memandang entah apa. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Menjelang Ramadhan ia muncul. Mengepungnya. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Misterius. Rutin yang ganjil.mayat itu meleleh. Mungkin ia rampok. seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Ia seperti tak mau dikenali. Sering. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Parut luka seputar pundak. Beres-beres kamar. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki.com/abclit. Wajah. seperti lilin panas mencair. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Memakai jaket kulit hitam. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Lihat saja tampang seramnya. Kulit wajah mayat. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. http://www. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Barangkali ia dukun.html Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Sesekali. . Menenteng koper besar. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini.processtext. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. ia terlihat merokok siang hari. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. seperti mengawasi. menyapu. Bila pulang. Menutup diri. Mungkin intel. Ini yang membuat kian penasaran. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. mereka mendengis bengis. Tato di lengan kanan. Ia mengerang. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. tapi pergi ke kuburan. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Berhari-hari. Bergegas. Tiap sore ia keluar. Aneh. Entahlah. Sebab.

Ia pun suka menikmati saat. tak ada yang berani menghentikan. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. . saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Di kampungnya.” kata komandannya. bisa memukuli orang sepuasnya. Percuma kalo cuma jadi tentara. Tapi membuatnya merasa aman. dan disiplin. Menghabisi seorang wartawan. ”Kamu punya bakat bagus. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia pun mendaftar jadi tentara. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Ia terkapar. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Benar kata komandannya. Membunuh seorang pengusaha. Sumpek bau comberan. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Dan ia membusung bangga. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu.html Ia tergeragap bangun. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. kata teman-temannya. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Lalu sepulang perang. setiap kali kakeknya menyembelih ayam.processtext. Seorang hakim.saat seperti itu. Mati dengan tenang. nanti bila sudah berhenti. Dikirim ke medan perang. ia diberinya pekerjaan. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Orang. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Meski ia tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Ia akan tinggal di rumahnya. Dan itu disukai komandannya. karena pejabat itu pingin kawin lagi. tertib. Kisah para raksasa penyantap manusia. Tempat menyembunyikan diri. Paling mentok jadi sersan. Memang. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan.com/abclit. http://www. di bulan Ramadhan. Kamu pantas jadi tentara. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Mungkin. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Alangkah hebatnya jadi tentara. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. sebagai seorang pembunuh bayaran. Umur tujuh tahun. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang.orang mengerubung. Lalu beberapa order ringan lainnya.

Biar tak banyak korban. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia heran. Kulitnya yang coklat resik. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Sepotong. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Beberapa menderita sakit jiwa. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Kamu cukup membunuhku. Ia tak terlalu menyimak. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. kamu mau membunuhku. lalu mendorong mobil ke jurang. Bicaranya santun. kenapa mobil perlahan berhenti. Dan ia tersenyum. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.com/abclit. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Tanpa jejak. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Karena itulah. Sayang kan. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Rahang terkesan pipih. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. itu mobil mahal.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dan ia mulai mengawasi. Getir.” . Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. ”Aku tahu. Tugasnya hanya membunuh. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan.processtext. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. http://www. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Sorot matanya tenang. Beberapa mati dalam penjara.” ajak Kiai Karnawi. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Mencibir.

Jangan sampai aku kesakitan ya. Kemeresek daun jati jatuh. yang pelan. dan kini memburu kematiannya. Yogyakarta. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri.html Baru kali ini ia gemetar. lakukan tugasmu. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Kelebat bayang burung menyambar. Lalu menggelar sajadah. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Ia merasa senja meremang. Kalau boleh memilih. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. diperkenankan mati di bulan Ramadhan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Pelan. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Singup. Kematian di bulan Ramadhan. Amin. ia hanya berdiri gamang. Ia bisa menembaknya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Ia mulai diusik gelisah. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. kecuali mati di bulan Ramadhan. Senyap. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Gemetar tak yakin. ”Sekarang. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Tapi tolong.processtext.com/abclit. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Alhamdulillah. Ia pun kemudian selalu berharap. Dan semoga saja. http://www. Lengking gagak di kejauhan.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Terdengar letusan. Ia meraba belati. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Dengung jutaan serangga mengepung.

berakhir pukul satu siang.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas.processtext. di mana aku? tanyaku. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. aku tidak tahu. aku menjadi takut ke rumah sakit. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. Dengan tersenyum ia menjawab. membuatku tidak betah. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Suster. kataku dalam hati. bukan karena sakit. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Setelah sadar.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. http://www. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Nyeri di kepala dan bagian . Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. benjolan itu sering pindah-pindah. Kurasa benjolan itu mengganggu. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Ada rasa ngeri dalam diriku. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. kalau pulang. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Sampai akhirnya. Setelah pulang dari rumah sakit. Sejak itu. aku tidak tahu. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. ternyata dibalut dengan perban. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. aku selalu mencari teman untuk pulang. Kuraba kepalaku yang nyeri. Sendiri aku kembali. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. bertahun-tahun. Bapak perlu istirahat banyak. katanya.com/abclit. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Nah. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Jangan terlalu banyak bergerak. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. Seperti biasa. Entah berapa lama. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Ketika aku membuka mata. tetapi karena kalau tidur. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. justru itulah yang kukatakan kataku. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri.

setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Tadi malam. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. http://www. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius.processtext. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. Ia menyapaku dengan lembut. . menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Aku melihat cahaya yang indah. Aku merintih-rintih. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. dekat jendela pula.com/abclit. hanya luka memar dan benturan di kepala. Tidak ada tulang yang patah. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia melayang jauh. yang berbaring dekat jendela menyapaku. indahnya. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. tetapi tidak berhasil. jarum itu menancap. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Kami saling menyapa. Ketika makan siang usai. kawan yang di sebelahku. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. Oh. Beberapa kali aku disuntik. Persis di pantat.. kalau boleh dengan menelan obat saja. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain. tengah malam. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam.. Sejak lama aku menghindari suntikan. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar.html kaki. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. muncul lagi. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. damai. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal.

Bidadari-bidadari dari kayangan menari. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak.Generated by ABC Amber LIT Converter. seseorang menyapa aku. Semua orang berpakaian yang indah-indah. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. Para pelayan yang sopan. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. Suster itu tersenyum. oh. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Pak. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. tidak usah takut. kawan. HB-nya sedang menurun. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. ketika Anda tertidur.. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. aku bertanya. Petang harinya aku membuka mata. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. sungguh menyejukkan hati. Berjalanlah bersama kami. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. nikmatnya.processtext. persediaan yang tidak habis-habisnya.com/abclit. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali. Tidur dekat jendela ini amat nyaman. ayunannya yang menggoda. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Lentiknya tangan mereka. Suster. hidangan anggur merah yang meriah. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. sebuah pesta yang meriah. ada suara menarik. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. Ia harus mendapat tambahan darah. Semua tampan dan cantik jelita. Segala derita berlalu. . tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. http://www.. Dan belum lama berselang. mereka rindu bertemu dengan Anda.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku.

minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah.processtext. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar. tidak apa-apa. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. Ya. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. Ah.html Paginya. Rupanya ia sedang terburu-buru. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Baiklah. . Saya akan minta bantuan kawan yang lain. http://www. Maksud suster? tanyaku penasaran.Generated by ABC Amber LIT Converter. katanya sambil melangkah ke pintu. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. Pak. Ruang perjalanan akhir. jawab suster itu tenang. katanya perlahan. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini.com/abclit.

processtext. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. Pak? Suster.. Kudorong daun jendela. di bangsal yang lain. Bandung.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia . tanpa mengenalkan diri. Edisi 10/02/2005 Aku lupa.. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. Ada apa. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namanya Roni. aku dipindahkan ke ruang sebelah. membukanya lebar-lebar. Suster berdatangan ke ruanganku. http://www. Buru-buru kutekan bel. Kurasa lebih lima belas menit kemudian. Semula pada suatu sore dia datang. disangga bantal. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar.com/abclit. Setelah suster pergi. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera. kapan aku kenal temanku yang satu ini.

”Ah yang benar!” sahutku. http://www. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang.processtext. jin. ”Anda sendiri gimana.” jawabku. sampai segala macam pesugihan. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. Berprofesi makelar tuyul. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. mobil.” Saya terdiam bengong. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin. Soal tuyul. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar. apa tidak dosa?” . genderuwo atau jin. ”Betul kok Mas. genderuwo. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho.” katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya.” ”Ah musyrik. paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku.com/abclit. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul.html gaib.

Harus dengan uang sebelumnya. dan lain-lain. Kami bingung mencarinya.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Dia minta memerhatikan air.” Beberapa hari kemudian. ”Lihat Mas. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.” . Nanti kalau mau saya ajari. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul.” katanya. Nanti akan terlihat siapa orangnya.html ”Ah ya tidak.com/abclit. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang.processtext. Istriku merengut. http://www. Uang kami atur menurut nilainya. itu dia sedang menggendong tuyul. ada tuyul di sekitar sini. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. ratusan ribu dengan ratusan ribu. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. Wong saya hanya perantara. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam. Perempuan berambut ikal. mana untuk uang sekolah anak-anak. ”Betul kan Mas. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. ada peristiwa aneh di rumahku. Itu orangnya. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nah itu nomor rumahnya kelihatan.” ”Saya tidak melihat apa-apa. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. ”Mau tahu siapa yang punya. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa.” jawabku. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. ”Ah memang. setiap uang di tas kerjaku hilang. detik itu pula raib di depan mata kami. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka.

com/abclit.” Benar-benar gila orang ini.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. Mana mungkin. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Pandansimping. pikirku. pikirku. ”Cerpenmu bagus Mas. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ujarnya. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S. http://www. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka.” Bulu kudukku meremang. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.” katanya. . atau di Desa Tempuran. ”Bisa lho Mas. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila.processtext.

Nak. Tapi… senyum itu… ya Allah. terasa bulu kudukku meremang.” jawabnya lirih.Generated by ABC Amber LIT Converter. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. telah membuatku tidak bisa . tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. ini saya beri tahu ritualnya.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. pikirku. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. Ah. menjelang melintasi jembatan. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. senyuman seperti orang menahan sakit itu.” sapaku. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana. rapal. ini pasti perbuatan iseng si Roni. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok. saya boncengkan. agak di luar kota. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan. pikirku.com/abclit. ”Kalau mau ke kota. Hingga pada suatu sore.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku.processtext. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya. Ya Allah. http://www. ”Monggo Pak. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. supaya kerap mengirimi saya makanan. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan. Pulangnya sehabis magrib. ”Lha.” ”Tidak kok Nak Mas.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.

.processtext. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar.com/abclit. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia tertegun beberapa saat. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh.) Klaten 2004 . alis tebal. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Setelah bertanya kesana-kemari. http://www. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu.. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya.” jawabku seingatnya. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni. Seorang lelaki paruh baya. berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau. Ternyata tidak mudah.html tidur semalaman.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga.

Matanya terus menerawang ke cakrawala. serta menarik-narik tangannya. tidak tidur malam.. kian lesi.com/abclit.processtext. Lurus. Kau akan dimasukkan kerja. Wajahnya tambah putih. ”Paman dan bibi akan menjagamu. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Nak. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. . Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. Engkau akan mengajar lagi nanti. Kakak tak hirau. dsb. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. bukan?” Kakak diam saja.. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang. berlari mendekati. Hanya memandang. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. seperti puasa.Generated by ABC Amber LIT Converter. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas.” pesan ibu. jauh. Kosong. Kau senang dapat mengajar lagi. memeluk. http://www. ”Elok-elok di sana. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. namun kakak bergeming. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari.

Mariani. Lambat. Sejak dia tidak jadi mengajar. namun ayah tetap tidak dapat dicari. ”Payah hubungan pos sekarang.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Ai. Legam. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. ”Kakak sedang malas bicara.” Kakak tetap tidak beringsut. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. ”Ajaklah terus berkata-kata. ”Tapi kakak diam saja.” jawab Kak Lela.” kata adik-adik. bertangisan. Seolah-olah beliau orang penting. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya.processtext. padahal hanya masinis kereta api. ai.” . tetapi ayah tidak terjangkau. menyeru namanya.” ”Malas bicara. ”Dia sayang sekali kepada kalian. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA. ”Seperti tak mendengar. Bukan kepala stasiun. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. izin dulu ke komandan. Membawa ayah. Begitu. Ikal. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. harum dan bagus sekali rambutmu.com/abclit. Sedang kami hanya bisa memandang. Salamilah paman dan bibimu.” ujar ibu. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. Sampai kini. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Ah.html Tetapi ibu terus bicara. Sudah lama kakak serupa patung hidup. http://www.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap.” ”Kakak mendengar. Nak. Itu. paman dan bibimu tiba. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah.

aku melesat ke luar rumah. berdarah-darah. Kuburu anak-anak itu. Kak?” ”Mau. ”Paham aku itu. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah.” istri paman menambahkan. ”Tapi mau dia makan. anak rancak? Eh. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak.” balas ibu mengangguk. Dia melengking. ”Mereka lempar kakakku dengan batu.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak. Ibu-ibu menceracau. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan. Berlubang-lubang.com/abclit. Sudah kering sekarang.” . http://www. Kak.processtext. lalu menoleh kepada kakak.” kubilang. Yang lain siap-siap menyergap. sama besar denganku. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat.” ”Terlalu! Tengoklah. berteriak-teriak. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak. ”Anak-anak nakal itu. Ada empat orang. ”Tapi tidak dalam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. Disuapi. lihatlah.” sahut ibu. ”Disuapi engkau Mariani. ”Begitu keadaannya.html ”Jalan pun buruk.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak.

Kepalaku nanar. Seorang lelaki membelalak garang di depanku. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Jafar. http://www.” jawab ibu. Mengajilah saat maulud. ”Masih rajin engkau mengaji. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Katanya.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. ”Rumah ini bagaimana. Paman kembali melihat ibu. ya.processtext.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. sebagai biasa’. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. ia bilang. Bahunya bergerak-gerak. kubalas berteriak. Membelai-belai rambut dekat luka.Generated by ABC Amber LIT Converter. ingin bersih-lingkungan.” . Kakak terisak. Sengaja buya tua itu kemari. Tapi yang muda-muda menolak.” dia bilang.” ”Jual.” Tidak berjawab. Nak. ”Lepaskan. Pamanmu juga. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Mariani? Nanti mengaji. bagai rembesan pada panci rusak. Tumpahkan terus. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. penumpangnya tak menengok. Kuping mendenging. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi. Hampir terjengkang. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat. ”Bagaimana aku bisa pindah.com/abclit. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Sebuah bendi lewat di muka rumah.

Juga karena status ayah.” lanjut bibi. Jafar.com/abclit. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. ”Tidur. ”Belum juga ia berubah. Jafar. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. Polos. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. Atau diajaknya adik-adik. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari. bila aku pindah. menanti pengangkatan.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap.” ulang Paman Jafar. banyak. Karena status ayah. tak menengok. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela. Sesekali kubawa pula ke sekolah. serupa badai. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. Dia luruskan kakinya. Orang-orang tetap lewat di muka rumah.” balas ibu. sewaktu pulang. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman. Bersih. ”Tenanglah Kakak.” kata ibu. aku. Tetapi. ”Ambil bantal. Lagi pula. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana.html ”Ei.processtext. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Melihat pula ke luar. Bagaimana . http://www. ditolak jadi guru. meski tak diucapkan.” Berbisik pula pada adik-adik. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. Padahal. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. diputus tunangan. Berangkat gembira di pagi hari. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Kak Lela berdoa. menatap kejauhan tak berbatas. memandang paman serta bibi penuh harap. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. Diselimuti. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Paling tidak. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. tahu keberadaannya. Lalu. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam. Menyulut rokok. sudah tiga bulan ia mengajar. ”Sudah ke mana-mana kuobati. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. Juga siang. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam.

Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. Termasuk jalan hidup anak manusia. ”Terpikir olehku. ”Kakek-nenek kalian guru. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. Kami juga. kakak dibawa paman dan istrinya.” ucap Paman Jafar. ya?” Kami mengangguk. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. Napasnya lunak. Dekat kami. kalau laki-laki itu pulang suatu hari. Mestinya ayah juga. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. Kakak telah pergi. terampil-cekatan menangani rumah.” Ibu bernapas lega. atau kami yang kehilangan mereka. Barangkali karena perempuan. seperti ayah. Tapi. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat.html keadaannya. Kulitnya bersih. Dia kawanku. kakak. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami. Ayah bangga dengannya. http://www.” Ibu mengangguk-angguk. Tetapi malah juru-api kereta api. Tetapi. berharap kakak jadi guru tamat SGA. Putih.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Rencanaku besok kembali. Dik. tak bergerak-gerak seperti bayi. Juga lalu di muka rumah. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. ”Komandanku tahu. Tugasku menunggu.com/abclit. Anak Ampek Angkek. Kak. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Ibu menangis. tak mungkin tidak. kalau cukup biaya. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya.processtext. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja.” Kakak terus tidur di beranda. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami.” Ayah tertawa suatu ketika. Di Pakanbaru juga kacau keadaan. ”Kubawa Mariani sekalian. Besoknya. *** . ”Syukur ada kakak kalian.” ujarnya kemudian. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. Bila mati di mana berkubur…. putri sulung. tapi tangannya campin pula.

html Jakarta. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk.processtext. Malah sejak aku belum lahir. Emak. kamar itu amat sangat sederhana. ibunya sakit-sakitan. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. di sebelah gudang. aku mengikut saja. bisu. Sempit. Pa bilang. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Ma. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. diam.com/abclit. Hidup mereka susah. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. Separuh dindingnya dari tembok. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. mengalahkan aku. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. Emak mau. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. Cik Giok menempati kamar belakang. setiap kali Pa bersuara. Di rumah kami. . Di rapat persiapan perkawinanku. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. Kalau mengikuti urutan keluarga. Supaya anak dan ibu selamat. dekat dapur. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. lalu di pelabuhan. Karena kata Pa. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. di Pontianak. orangtua Cik Giok kurang mampu.

Ma bilang. Sore hari. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. Aku ditariknya keluar. Itu hari yang paling tepat. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku.html Aku pernah bertanya. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. sebelum Emak bangun. dan mengurusi segala keperluan Emak). Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Terutama siang hari. Enam bulan. katanya. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. bahwa ia bohong. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. saat bisa sedikit bersantai di kamar. menggosok. Katanya. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok.processtext. Sudah dekat ujian.. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. Tetapi aku diam saja. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. memanggil. berusaha mengeluarkan senyum. Katanya. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. berdebu. Malam itu aku tak bisa tidur. yang kebetulan tidak tidur siang. Cik Giok harus dipanggil. Kalau sudah begitu. Esok harinya. aku masuk kamarnya. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Supaya di hari Minggu. Jadi Cik . ketika pulang sekolah. Lewat seminggu. Sering di tengah cerita. mencuci. Cik Giok menangis seharian. Hingga seminggu lalu. hingga aku terlelap. katanya. dibuatkan baju. ibunya Cik Giok sakit keras.. Lewat. membereskan rumah. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Memeluk bantalnya yang tipis. Juga beberapa malam setelah itu. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. aku bayi yang cengeng. Sebulan. Pulang sekolah. Tiba-tiba aku menangis. kudapati kamar itu sudah kosong. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. http://www. Emak. Aku kelas enam. Satu kuartal. Sehari sebelumnya. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. mengapa Sabtu.. Tidak apa-apa. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. bilang pada Emak. menemuinya. aku mengantuk. mengajakku merasakan kesejukan di sana. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. waktu itu. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. tahu.

Wajahnya lebih tirus sekarang. Semua dari kampung. Ma. Tenggorokanku kering.processtext. katanya. kata Ma. Pa. Cik Giok menangkupkan tangannya. Sudah. Bubur encer dengan tung cai. Dan Cik Giok benar-benar datang. aku putuskan kembali duduk. Makan. http://www. memberi hormat pada Emak. Pagi-pagi. Setelah empat belas tahun pergi. Aku sudah berdiri. Semua baik. dan aku. Mau kawin kamu. Ubannya sudah banyak sekali. siap menyusulnya. Ma menanyakan kabar Cik Giok. Di ruang tamu. Kami menyantapnya dengan lahap. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. aku harus mengepas baju pengantin.html Giok akan datang. Baik. Menyiapkan sarapan untuk Emak.com/abclit. Kurebut tas kain dari tangannya. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. suwiran ikan asin bakar. Cik. mendengus. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. yang tak beranjak dari meja makan. Tetapi melihat wajah Emak. Persis seperti dulu. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. aku bertanya pada Ma. Keras. selamat. Ma kelihatan kurang senang. Matanya. Aku menyeringai saja. Siangnya. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Cik Giok sudah sibuk di dapur. kelihatan sedih. kata Cik Giok. mau mengajak Cik Giok. atas perintah Ma. Aku mengikutinya dari belakang. dengan dahi berkerut. kataku. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Ia akan tinggal terus bersama kita. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. Emak. ia kembali ke rumah ini lagi. Ia kutarik masuk. . Menghabiskan bubur di mangkukku. Kami berpelukan erat. Aku bilang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku berlari menyambutnya. Tidak. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur.

http://www. perutku terasa sangat penuh. Katanya lagi.html Ayo ikut. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. kataku. Lalu aku naik ke tempat tidurnya.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. Itu karena terlalu senang. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Baju sudah hampir selesai. Menuju pulang. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. Dia belum tidur. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Cik? . kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Tubuhku lelah. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. Aku berputar-putar di depan cermin. Ia membereskan kertas suratnya. Mungkin. Ma bilang itu biasa. Aku keluar kamar. Cik Giok tetap diam. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Terkejut dia melihatku. Kami berjalan beriring. Tidak bisa tidur. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. Ada apa? Ia bertanya. Mencari bajaj. Ma mencubit lenganku. Sama persis dengan Ma. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. menuju jalan besar. Ma menjelaskan. Meski masih agak longgar di pinggang. Cik. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Cik Giok tampak bingung. tak tersenyum.com/abclit. setiap calon pengantin selalu begitu. Sedikit lebih gelap. hanya beda warna. Mataku berat. Tak berkomentar. mencari makanan di dapur. Sakit. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Aku hanya mengangkat bahu. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. Ma menggeret Cik Giok keluar. Cik. Tulis surat buat siapa. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. kata Ma.

Terlambat. sudah lama tidak jalan jauh. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. menuju kamar mandi. Emak. Aku melompat. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Ketika aku kembali ke ruang tamu. Dengan suara keras. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Cik Giok sudah pergi. katanya. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Kosong.com/abclit. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. kata Ma. Malamnya. Nanti. Dicari Emak. Ketika aku tiba. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Pa. Malas. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Entah untuk berapa lama. Terserah apa kata Ma. Ma minta aku pulang. aku masuk kamar. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku.html Keluarga di kampung. Pa tiba-tiba menghilang. Padahal tadi duduk manis di samping Emak.processtext. Wajahnya tegang. Urus Emak. Aku tertidur. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Aku tak ingin pergi. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Kuku menyuruhnya masuk. Cik Giok sudah pergi. Dia cuma bilang. Kau harus berangkat ke Pontianak. tetapi Kuku menahanku. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. http://www. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Cepat bangun. nanti aku akan mengerti. Sehat dan selamat. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. katanya. Menguncinya dari dalam. katanya. Aku sudah tua. Penting. Di tangannya ada kursi plastik. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. dua belas hari lagi. Tetapi suami malah mendesak. Cik Giok kena stroke. Nanti semua akan jelas. Katanya. Meninggalkanku. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Ma ikut bersungut-sungut. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Temani Pa. Emak menangis. Dia akan segera kembali menjelang pesta. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. Mereka khawatir. Aku berlari ke kamar tidurnya. Aku bersiap menyusul Cik Giok. Ma. Entah dari mana.

Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. . http://www. Rawamangun. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. menjemput kami. Dengan muka basah. yang wajahnya amat mirip dengannya. genta-genta kecil bertalu-talu. Di rumah duka. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. ia berbisik. Perutku mulas. Pa. mendorong. Kakak perempuan Cik Giok. katanya berulang-ulang. memelukku. Cik Giok tak menunggu aku tiba.Generated by ABC Amber LIT Converter. saling menindih. hingga aku sulit bernapas.com/abclit. membuang muka. menggilas. Pa menangis lebih keras lagi. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat.processtext. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. Maafkan aku. besar. Beri hormat pada Mamamu. menyeka matanya. diam-diam. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. Semua yang ada di sana menangis. kakak Cik Giok mencium pipiku. Aku menangis. Erat. menjerit sambil berebut mendekati aku. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. Ia memelukku. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti.

di Nanggroe Aceh Darussalam. politikus. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. Gelombang yang berlabuh. pengusaha. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. Itulah yang terjadi pada Minggu.com/abclit. Pencapaian yang luar biasa. Said Huseini. dari waktu ke waktu. Banyak yang bisa dituai di sana. di dasar kerak samudra. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. . Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. Ya Allah. kendaraan roda empat. Gelombang itu bernama tsunami. di Nanggroe Aceh Darussalam. http://www. kataku dengan titik air mata. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi. Menjarah popularitas. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. dan jasad manusia.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. bermunculan di sana mengusung misi mulia. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. Pembunuh yang tak pernah gagal.Generated by ABC Amber LIT Converter. meraup uang selawat. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. penyair. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. Dan: Menjarah! Menjarah harta. Ketika surut. penganjur kebaikan.000 jiwa melayang. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. gelombang itu menyemai ratapan. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. Hampir 300.processtext. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. secepat pesawat B747. di negeri yang aku cintai ini. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. Menjarah perhatian. dari hari ke hari. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. atau Pengisi Neraka. Apakah negarawan. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. 26 Desember 2004. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. pengarang.

kecuali ayunan rotan tersangkut. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. Angin berembus membawa sejuk pagi. Merbah terbang di ujung ranting.” ”Abang tak suka laut. Aku suka deburan ombak. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. Di lobi. Setelah itu. Aku selalu bertanya kepada-Mu. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera. Kunjungan singkat di Banda Aceh. subuh tadi.processtext. Tak ada hiasan di dinding. Gelombangnya menelan perahu Ayah. Tali ayunan menjuntai di kaso. Terkadang aku melempar pancing dari sini. . menggendong anak perempuan berkepang dua. di Kajhu. Kami menuju tempat berangin-angin.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. Kami masuk ke ruang tamu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. Inilah sarapan pagi di luar hotel. bila pasang. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. Secangkir kopi. Mak menunggu berhari-hari di pantai. http://www. seorang lelaki berdiri dari sofa. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan.com/abclit. Kami diajak ke belakang rumah. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Seperti menuju masjid. Istrinya masih muda. tiga potong pisang goreng. aku kembali ke hotel berjalan kaki. ”Aku suka laut. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. mencari buah pohon seri yang ranum. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Berjalan di atas dua keping papan. Aceh Besar. menyongsong kedatanganku. Aku duduk di halaman kedai kopi. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. memakai pita. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Celah daun tersibak.

”Aku heran.com/abclit. Engkau pernah dengar. orang dilahirkan di perahu. Di rumah istrimu sekarang.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu. Dia berdiri. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur. Kami melihat dia. dibesarkan di perahu.” . malam pertama engkau menginap di sini. meletakkan tubuhnya yang lelah. Mau rasanya aku mengambil kapas.” ”Aku sangat terganggu. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang. juga melihat laut di belakangnya. Dalam kampung terapung. Tak ada sunyi di sini. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu. menyumbat telinga ini. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang.html Ayah tak pernah pulang. Malam ini. Di rumah kekasihmu.processtext. http://www.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa.” teriak seseorang. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur.” ”Aku tidak terganggu.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. bagiku.

” Tak ada jawaban. Angin masuk membawa bau garam. Dia pergi ke jendela. ”Tapi mungkin. Dan aku tertawa. tidak.” ”Maksudku.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu. ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. Buru-buru daun jendela dia tutup. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. ”tahun adalah lakon. http://www. Mak menggendongku. ”Engkau sudah tidur rupanya. Ayah gembira dan puas. Desember akan digantikan Januari. Mungkin dia ingin melihat laut. ”Kalau adat membolehkan. ”Tinggal enam hari lagi. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan. Malahayati. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu.” katanya ditujukan kepada si istri. kata Ayah. Minggu.” Dia menoleh kepada istrinya. Dan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. dia meneruskan ocehannya. Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya.” Dia senyum. Mak menjelaskannya. saat Pak Pos mengantar sebuah paket.” . Berarti ini sudah Minggu. ”Semisal pementasan.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya. ”Sampah Bulan Desember. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. ’Gulai pakis dan santan durian. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan. Hanya tinggal beberapa hari lagi. jauh dari deburan itu. Akan muncul lakon baru penghias dinding.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. ’Apa maksudnya. Kata Mak. Dia alihkan perhatian ke buku itu. Mak ?’ tanyaku. sebentar lagi layar akan ditutup.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari. Pengarang itu makan dengan lahap. atau mungkin pada judulnya. ”Sampah Bulan Desember. Mala. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol.com/abclit. itulah istimewanya Desember. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. 2004 akan digantikan 2005. Sekarang sudah pukul 01:45.processtext. Orang Jakarta. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik. Dia berdiri dari tempat tidur. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. 26 Desember 2004. kecuali kegelapan.

Masih panjang kehidupan bersamanya. Sehari penuh menyambut tamu.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai.Generated by ABC Amber LIT Converter. membuka pintu. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. tetapi gerak itu tidak berlanjut. Rita menyerahkan ongkos. Kamar pengantin itu menjadi gelap. Melihat semua itu. jam berdentang dua kali. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Kedua .com/abclit. http://www. Ayu mengikutinya. Dia beranjak ke dekat pintu. Apalagi malam ini. Di dinding ruang tengah. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Dia tidak ingin mengganggunya. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. kekasihnya itu. beranjak turun. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Malam-malam lain masih ada. Ditekannya alat pemadam lampu. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. masih juga dia tersenyum.processtext. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Barangkali dia berpikir seperti itu.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua.html marah.” jawabnya datar. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. ”Suka juga. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta. ”Mama. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. berdebur-debur keras. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas. maafkan kata-kataku tadi.processtext. Rita dan Ayu berpelukan. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya.” . he…he…he. punya tiga anak.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. Di dalam taksi. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut.” kata Ayu. http://www. Firda menyibak vitrage. kalau cerai sulit cari suami lagi. Nggak suka ya.

”Ada apa. Di luar penglihatan Ferdi.. http://www.” ”Tapi kata orang hotel... Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur. Perasaannya lembut berdesir. Firda?” Firda tidak segera menjawab.processtext. Dan Ferdi ternyata merasakannya.. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat..” ”So what ?” ”. . mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan.. Memeluknya dari belakang.” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.html ”Ya. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu. kan?” Ferdi tersenyum lebar.com/abclit. kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang.” Firda terdiam sesaat.. ”Kamu bosan ya. ”.” ”Aku serius.” Senyum Ferdi memudar.

nyaris tak terdengar.. melepaskan pelukan pada pinggang Firda.. Tetangga dekat.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.. .” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP.processtext. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.” ”Oh. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku.” bisiknya dalam hati. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Guru yang beruntung.. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci.” Firda terdiam.. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. Bulan depan aku mau nikah. berlalu begitu saja tanpa perhatian. berikut bursa saham yang terguncang.. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh.” Tangan Ferdi perlahan merenggang. Tapi sudah lama kenal.html ”Jadi kenapa.com/abclit..?” ”. http://www.

Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter... Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah..” Ferdi terdiam. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya... ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan. ”Maafin aku. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji.com/abclit.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah.. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.processtext. http://www. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam.” . Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. ya.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut.600 cc berhenti di tempat gelap.” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula.. Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.

saling melambaikan tangan. Sampai kemudian keduanya berpisah. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa.” ”Nggak usah. Cetak undangan. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras.. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas..” Firda terdiam. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. sewa gedung.” Firda menjawab dengan pelukan erat. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. berbelok memasuki gang.. buru-buru membuka laci dashboard. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh.. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya. http://www. dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. biaya katering. ”Tolong kamu terima..com/abclit.html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya.processtext. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda... Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka. .. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu.” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja.. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil.

katanya. Jadi masih ada waktu buat rekreasi.” ”Berat sekali juga enggak. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. http://www. belum. belanja-belanja. Bulan lalu malah di .com/abclit.” ”Yang penting gajinya lumayan. yang bukanya dua puluh empat jam. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. Restoran di hotel berbintang lagi. sampai harus ke Bandung segala. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus. Karyawati biasa.” kata ibu Firda. Manajemen. komputer. ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. Tapi uang lemburnya tinggi.” ”Namanya juga kerja di restoran. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. Kadang di Jakarta.” jawab ibu Firda.. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya.” ”Ah. ”Malam sekali.processtext. pulangnya antara jam dua belas jam satu. kepribadian.. ”Bukan lumayan lagi.” si bibi menimpali.. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. bahasa Inggris. tapi lebih seringnya di Bandung.” ”Berat juga ya.

” .. cucunya eyang Feldi.processtext. Jam dinding menunjuk setengah tujuh. ”Ada apa. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan.” ”Oh. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu. sih. Alloh.” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai. sayang?” ”Ental siang jangan lupa.html Bali sampai seminggu. Eyang nggak mungkin lupa. Pasti. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. http://www. Ia pun bangkit hendak keluar kamar. ’Ya. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga.” Ferdi tertawa. ya. ya. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum..’.Generated by ABC Amber LIT Converter..” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. ”Ini siapa. dateng ke lumahku. Aku kan ulang tahun. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu..com/abclit.

.Generated by ABC Amber LIT Converter..!” katanya dalam hati. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini..” Ferdi menutup gagang telepon. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.” . ”Icha.. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh.” ”Anak sekarang. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang. seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. Senyumnya seketika memudar.processtext. eyaaang.html ”Dah.” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya. ”Hampir lupa.” ”Dadaah. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar.” ”Ya.” ”Eh. ”Hai.. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab. ”Minta sendiri gih sama Papa. http://www. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum.com/abclit.

.” ”Soalnya gini..” Setelah berpikir beberapa saat.” ”Terus.processtext. mau ngasih apa. kan. rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” . ”Mau minta apa. Maksudku.Generated by ABC Amber LIT Converter. kado perkawinan. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa.?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah. ”Rumah. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya.com/abclit.” ”Kamu suka.. Sudah papa siapin. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm. ”Tenang aja.” ”Ah yang bener. http://www. Pa. sih?” ”Mmm.. Tergantung papa dong.... Papa jangan ngasih aku mobil juga.” Ferdi tertegun.” ”Kado kok minta. Pa. rumah.html Ferdi bertanya-tanya.

Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. apa sih yang nggak papa kasih. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali.?” Jakarta.. Edisi 08/14/2005 .” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada.” Astrid heran. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri. http://www. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama.processtext.html ”Sudah. ”Kok pakai balik nama segala.” Astrid sesaat terkesima..com/abclit. ”Thanks.

Meskipun badannya gemuk. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. meninggal dunia. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. Sesekali air matanya meleleh.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Mahmud.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Mansur adalah anak yang sangat sehat. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. Tatapan matanya kosong. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. ia adalah anak yang lincah. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. kakak Mansur. Suaranya patah-patah. Matanya sembab. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. Mona. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Memasuki usia 17. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. suaminya. juga membacakan Surat Yasin. begitu mendengar kabar duka itu. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. http://www. Karena itu. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. anaknya.processtext. Sesekali ia menyeka air mata. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Suka bermain sepak bola. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. ayahnya. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Di sebelahnya. kata Mansur kepada ibunya. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. menolak cintanya. Pada usia 16 dua tahun lalu. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Mahfud. . Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. Mansur meninggal karena bunuh diri. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing.

ia mengalami komplikasi. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya.processtext. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. ia berhenti karena tak tahan godaan. Amat merindukan ibunya. arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Sesampainya di rumah. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. ginjalnya juga terganggu. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Yang terakhir. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Lima malam sebelum kematian Mansur. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. sebelum itu. Karena itu. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Tetapi. Karena itu. Juga kemarin. ia tak lagi berani membesuk putranya. hasilnya sangat manjur. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. http://www. Tetapi. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya.html Mengikuti nasihat ibunya. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. baru berjalan satu bulan. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Dan. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Mansur kemudian jadi langganan. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Selain luka di usus yang kembali kumat. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Empat malam sebelumnya. suaminya. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Kata Mahmud. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Tiba-tiba ia menangis lagi. Mansur ingin segera dibawa pulang. ternyata. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. panas dinginnya tak kunjung hilang. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Dan menginap di rumah sakit. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. Ny Laila membesuk putranya. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Duka mendalam menderanya. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. Tetapi. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba.com/abclit. kata dokter. Dengan alasan tubuhnya masih lemah.

. ”Iya. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. Matanya tampak lelah dan marah. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. Ocha.com/abclit. Memangnya kenapa. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya.html memaafkan segala kesalahan anaknya. Tetapi.processtext. Ia tersenyum getir. http://www. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi.” istriku menimpali sambil lewat. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. ”Bang Acung? Bukan. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Bang Mansur. dengan tulus kuucapkan pula doa. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Sebagai tetangga. gitu. ”O. Tak ada senyum.” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. ”Habis melayat. Sebelum pulang. putriku. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Yah. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. Tatapannya kosong. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Air matanya meleleh. Bang Acung itu Bang Mansur. Apa pun penyebab kematiannya.” kataku. Suaranya serak. ia tampak damai.

Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri. Yah. Yah.” jawabnya. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. Yah.” gadisku bersila di hadapanku.com/abclit. Kepalanya dua. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. Suaranya datang dari samping kamarnya. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Kata suara itu.processtext. Juli 2005 . cerita putriku selanjutnya. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Bang Acung.” Aku agak tertegun. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Orang-orang tidak pada tahu sih. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. orang-orang enggak tahu sih. Yah. Tanah Kusir. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah.html ”Yah. ia melihat seekor cecak. ”Jadi begitu ceritanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. kalau mau sembuh dari penyakitnya. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. Katanya. Yah. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. menyambar cecak itu untuk dimakan. Dia jatuh. Yah. Tetapi. http://www. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Jadi. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Bang Acung itu bukan bunuh diri.

ada bekas luka sepanjang telunjuk. Ketika pintu dibuka. ”Iyya. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan. Berkumis tebal. tanpa ada senyum. tinggi besar. Tubuhnya padat. Kancing baju bagian atasnya ternganga. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah. seorang tak dikenal mendatangi saya. Suatu sore. Dari mulutnya tercium bau alkohol. ya!” terdengar suaranya berat. matanya memerah. sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. kurang nyaman. setelah melewati pekarangan kecil dan teras. Saya amati tamu ini hati-hati.com/abclit. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. http://www. ”Baru pindah. Sangar sekali kesannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. sedikit parau. Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . Kulit hitam. Pipi kirinya.processtext.

hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. masukkan dalam amplop uang Rp 10. Kalau tidak. Rautnya bengis.Generated by ABC Amber LIT Converter. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain….com/abclit. Jangan lupa. untuk pertanyaan yang sama. Pisau dapur biasa. saling berhadapan.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. ”Iyyya. Mau?” Setelah itu. ada sesuatu yang ganjil. ”Ada dua. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. Bang…. ”Ada berapa. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. Saya kaget.processtext. Saya menarik napas. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. ”Mulai besok pagi. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. iya. http://www. saya.000. . Saya takut. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. Kami masih berdiri di teras. Saya merasa. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar.

processtext.com/abclit. Bang. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar. ”Kita pindah saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam.html ”Saya bersedia. Kemudian. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini. ”Maaf. memang si sangar adanya. badan sedikit dibungkukkan. ”Lagi kurang sehat. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. tidak takut mati.” ”Suruh dia keluar! . Gedoran pintu terdengar makin kasar. Nekat!” Memelas suara istri saya. Saya dan istri terkejut. Salah-salah. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Tiduran. ada yang terlupa?” ”Istrimu. http://www. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. Saya mencoba menenangkannya. Pucat membias di wajahnya. Bang. saya bertanya. Ketika pintu saya buka. Tampaknya. pergi begitu saja. Si sangar itu pasti.

Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. tapi wajahnya pucat sekali. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. Setelah itu. amplop ke kantong celananya yang besar. ha-ha-ha…. pintu saya tutup. Bang…. Saya menunggu. ”Istrimu cantik.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di hadapan si sangar. membuat saya tergagap.” katanya di sela sisa tawanya. Sebelum jauh melangkah dari pagar. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya. istri saya mencoba tersenyum.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. saya masuk menemui istri di kamar.processtext. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali. Tangan istri saya terasa dingin. Akhirnya dengan menguatkan diri. Jangan-jangan itu semua pisau .000 di tempat yang ditunjukkan si sangar.com/abclit. cantik juga istrimu. Pintu pagar dibukanya. ”Cantik…. Setelah menatap istri saya beberapa jenak.” Si sangar tertawa terbahak-bahak. si sangar menoleh dan berkata. Dengan perut terasa mulas. ”Ini istri saya. Pisau dimasukkannya ke dalam karung.html ”Tapi. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu. Akhirnya si sangar datang. http://www. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. ia terlihat cengengesan. Saya amati. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar.

pukul sebelas malam. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. ”Sudah sangat tajam. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur. Bang.” ia berkata dengan sangat dingin. pintu rumah terdengar digedor kasar. ”Kalau setajam ini. Maaf. Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya.” . termasuk menyembelih kambing atau ayam. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya. Bang. ”Ada apa. Kalau sebelum ke tanganku. Pasti si sangar itu. Pisau tumpul. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras. akan sangat sakiiiit sekali. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. Pintu dibukakan perlahan. ya pisau kami.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. terduduk dengan napas sesak. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. dipakai menyembelih.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. Tapi.com/abclit. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. ha-ha-ha…. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang. sama artinya sebuah penyiksaan. pisau ini digorokkan ke leher kita. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. http://www.

Rumah-rumah orang sudah tutup. ”Darah manis. Tapi.” Langit malam bertaburan bintang. . Jangan ya Tuhan. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. Ya.00. Kemudian. tidak menyakitkan! Termasuk. dingin. Sunyi. mohon Bang! Jangan.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. ”Berikan pisau ini ke istrimu. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. ”Bang. Bermandikan cahaya. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20.processtext.html Ia akan menyembelih.com/abclit. Tuhan. Abang…. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri. untuk melukai kulit ini. ia akan menyembelih saya. ha-ha-ha-ha…. http://www. Lihatlah.” Ia terbahak. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. bagai dicubit saja…. kemudian dipegangnya lambat-lambat.Generated by ABC Amber LIT Converter. karena luka oleh mata pisau yang tajam. Bang! Saya tidak tahu maksud. Terlihat. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. nyaris tidak mampu berdiri.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. ”Mmmaaf. ia raba leher saya. pandangilah saya saat ini. salah saya apa? Sesaat kemudian.

ya!” sapa si sangar. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. berusaha tenang.html Kami bangun agak kesiangan. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. http://www. dengan seringaiannya. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya. ”Eh. ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar. ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang.com/abclit. Saya membuka pintu depan.Generated by ABC Amber LIT Converter. mempersilakan saya. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. Apa kabar. Saya menggeleng.processtext. Baru saja pintu dingangakan. Abang. ”Saya baru setahun keluar penjara. Si sangar menyadari pintu terbuka. membunuh orang. Saya gelagapan. Santai sekali tampaknya. ”Kesiangan. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami.

saya cobakan tertawa sebisanya. mati. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. Karena tidak menyakitkan baginya. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat.” Saya mencoba belajar memahaminya. oleh mereka. Karena itulah.com/abclit.000.processtext. Begitu juga kentang. ia mungkin akan tersenyum. http://www. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1. kangkung. saya ikuti senyumnya. Terbayang tanah keluarga yang luas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Istrimu. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. bawang.html Saya hanya diam. Kacang panjang. ”Ketika dipenjara. wortel. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. ketimun. Dan. Bayarannya Rp 10. yang jumlahnya lebih seratus rumah. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. Dan aku pun dipenjara. Kalau dia tertawa. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang. kusembelih. toh?” . Iya. buncis. Karena ingin hidup normal. Tapi. dulu. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau. apakah ia tahu.000. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. setiap rumah di kompleks ini. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. Kalau dia tersenyum. golok atau merampok dan membunuh.” paparnya. Saya hanya melayani dengan tatapan mata. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga.000. dan sebagainya. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. Sesekali mengangguk. Dan terakhir. bisa kugarap jadi ladang. Memotong sayur. misalnya.” suaranya agak lunak. Lagi pula bukankah ini pemaksaan. Kalau tidak mau. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi…. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. ”Aku mahir mengasah pisau. Ternyata. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau. kalau pisaunya tajam.000 sebulan. aku berpikir tobat. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. Dalam hal ini. bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10. Uang dari keringat sendiri. sebagai ibu rumah tangga.

kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. saya pun ikut berdiri. sembari berkata. Kamu telah mendengarkan aku. Dan anak buahku. Itu artinya. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat.” ia berhenti sejenak. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. ”Terima kasih. Terasa lebih penyayang. Juga nyawamu!” . ”Begitu juga memperlakukan ikan. Percayalah. ”Benar. Jika ada orang yang mengganggumu. Bang!” ”Itu artinya. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya.html Saya cepat mengangguk. Dia berdiri. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. katakan padaku. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kita yang menggunakannya. yah barangkali saja Rp 10.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati. Paham.com/abclit. rezekiku ada pada pisaumu.processtext. ia merangkul bahu saya dengan hangat. Menjelang sampai di pintu pagar. Iya. ”Kamu telah membantu saya. mempererat rangkulannya. kan?” Saya mengangguk. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu. http://www. menyembelih ayam. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga. Ia kemudian melepaskan rangkulannya. juga enak. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. akan lebih baik.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. kalau dengan pisau yang tajam. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. ”Ingat.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. tidak ada yang berani mengganggumu. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar.

saya sering berkhayal membunuhnya! Padang. Masih terngiang-ngiang. Setelah hampir 40 tahun.processtext. Kecemasan mengambang di bola matanya. Memasuki lorong gedung. dalam. ia berjalan menuju suatu ruang. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Bajunya basah. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar.html Sejak saat itu. . aku masih mendengar jeritan bapakmu. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. sejak peristiwa berdarah itu berlalu. Gemanya sangat panjang. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu. Ia datang bersama anak laki-lakinya. Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. http://www.com/abclit. ”Her. Memasuki kompleks gedung. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan.Generated by ABC Amber LIT Converter. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. sambil menimang dokumen lusuh itu. Tampak dari atas. gemetar.

dan sunyi. dan Murti. menembus desa demi desa. Masih jauh. tapi tidak matanya. teman. Nastiti. Kata petugas.processtext. kami berangkat ke makam Bapak. Tapi dilenyapkan….” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. Di Karang Bolong. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. Tapi aku takut mereka kaget. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. dalam. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara . bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. ya bapaknya Herjuno itu. Seperti puluhan tahun lalu. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. aku merasa bingung dan cemas. antar Ibu nyekar bapakmu. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku.html ”Bukan hilang. ”Her. http://www.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. Ia minta mobil berjalan lurus. ”Maaf Bu. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. kalau kamu tidak mengajar. Soal jasadnya. Makam itu kosong. Suatu pagi. Ibu meneleponku. atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. kami terdiam. Sepanjang perjalanan. Waktu itu. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun. Tapi di sana.Generated by ABC Amber LIT Converter. dengan colt station sewaan.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. Tapi kutahan. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. Aku kaget. besok pagi. gelap. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. Mobil pun terus melaju. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan.com/abclit.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. itu urusan negara. buru-buru Ibu mencegah. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua.

html wajar dan terhormat. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. seorang tokoh PKI di kota kami. Sebuah rumah bergaya limasan. ”ganyang nekolim”. ”Bersama tahanan lainnya. Bagai tepung terigu ditebah angin. khas jahitan pasar. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. Aku terbebas? Tidak juga. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa.com/abclit. langit kota kecil itu pun selalu menyala. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. rasa pedih terus merajamku. Dalam zaman yang gemuruh itu. Waktu itu.processtext. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. Di bagian belakang. partai-partai saling bersaing. kaku seperti baja. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. Di pendopo itu. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. Bukan. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru.” . dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Dari tempatku bersembunyi. Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. Kata-kata ”revolusi”. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Seperti siang itu. Tangan mereka terkepal. Kami menempati rumah besar. ”hidup Nasakom”. Hingga kini. ada PKI. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. http://www. kami hidup menepi. Menurut Swanggani. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. Ada PNI. ada Masyumi. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar. aku mendengar jeritan mereka…. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada NU. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. Kan nggak sopan to. secara cuma-cuma. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. warisan mertua.” ujarnya dengan gemetar. dan ada PSI. diiringi sorak-sorai. debu mengepul di jalanan. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. Dia menjawab ringan.

”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Pendopo kami selalu ramai. Ada latihan menari dan menyanyi. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat….html Suatu ketika. ”Ganyang Drajat!!!” .” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. Mas Drajat pun tidak keberatan. Ia memandangku. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. Aku pun terdiam. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai.processtext. Kami hanya saling memandang. Ada latihan ketoprak.Generated by ABC Amber LIT Converter. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. bau mayat tercium di mana-mana. lewat RRI. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. Apa salahnya?” kataku. Katanya untuk rapat partainya. Wajah bapakku tampak masam. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. Beberapa bulan kemudian. Tidak sampai seminggu. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. ”Hati-hati dengan Pak Tular. Beberapa jenderal diculik. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Setiap saat itu. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. Mas Drajat terdiam. ”Terima kasih. http://www. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. Terima kasih.com/abclit.” Tawa Pak Tular berderai. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. Sehabis isya. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu.

Dan ajaib. pada dini hari. Esoknya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. ”Jaga kandunganmu. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Keras. Nastiti. http://www. aku melahirkan Herjuno. bentakanku menundukkan wajah mereka. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. kelewang. Pintu rumah kami digedor-gedor. Akhirnya. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. Aku memeluknya. aku gemetaran melihat parang. Dia sangat tenang. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan.processtext. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. Menembus malam. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. ”Bohong! Dasar Gerwani. kerumunan pun bubar. dan Murti lari keluar. .” Aku pun bergegas membawa Darsono. aku menemui mereka. Dia mencoba memberikan penjelasan. Di rumah itu. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. Menuju rumah Bapak. Dadaku sesak. Mas Drajat keluar dari kamar. Aku sendiri tidak paham.com/abclit. Sebulan kemudian. Pak RT mampu menyabarkan mereka. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. aku membuka pintu. Dengan gemetar. Sangat keras. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Aku tak bisa lagi menangis. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. bambu runcing. ”Saya tidak tahu apa-apa…. Sungguh.

Namun.” Herjuno sangat kaget. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. Kami keluar dari mobil. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. Bahkan mungkin terguncang. Kami pun berdoa.com/abclit. Ia hendak berbalik.processtext. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya. Ia berharap negara berani untuk punya telinga. pagi hari.” Herjuno tergeragap bangun.” ”Itu bukan makam Bu. ”Bu…. langkahnya tertahan. http://www.” Yogyakarta. Dengan tenang. 2005 . sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. Kantor Komnas HAM. kini telinga negara telah tumbuh…. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana. ia menemui seseorang. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. tapi luweng.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. kita sudah sampai. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang.html ”Bangun Her.

html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. istriku menyilakan tamu tersebut duduk.” kata Pak Marjan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pak Memet. ”Tidak usah. ya aku ada di rumah. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga.” jawab tamu itu. juga ikut. http://www. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. Cuma sebentar saja. ketua RT di wilayahku. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. stensilan. . ”Pak Bagus. Aku sudah tahu roh surat itu. Kudengar juga suara istriku mengatakan.com/abclit. Aku pun keluar kamar. ini ada surat undangan. Aku membaca surat tersebut. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya.processtext. Tapi ia tidak berbicara. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya. Dan suara berikutnya. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang. Istriku yang menyambutnya.

Ada Mahkamah Agung. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya. pakai kaus kaki. Dengan jawaban itu. Ada kejaksaan. celana dalam baru. saya ganti baju saja. Tidak sopan pakai pakaian begini. . Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar. kecuali uang beberapa ribu saja.” jawabnya. sapu tangan tidak lupa. takut hilang di tengah jalan. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. berpamitan bersamaan. Sesampai di halaman.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku.” Tamu itu. ”Sabar Mam. Jawaban itu sudah cukup bagiku.” jawabnya singkat. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. diapit oleh dua orang dari mereka. seorang berada di depan rumah. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh. Mukanya pucat dan matanya kosong. yang warnanya sudah pudar. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. Kartu SIM kutinggalkan. Aku mencium dahinya. dan kedua pak RT.html ”Kalau begitu. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami. ternyata ada tiga orang lainnya. Tersirat posisinya dan posisiku.processtext. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. atau di tempat tujuan. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua.com/abclit. ”Nanti juga tahu. Ada polisi. ”Ya dibawa sebagai bukti. Dan semua isi dompet kutinggalkan.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. http://www.

Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama.processtext. yang kukunjungi beberapa hari. terus berjalan. Kemudian suara sepatu ramai. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. Suara banyak sepatu melangkah. Daun kemerisik kuinjak. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. Juga tidak ada suara radio atau televisi. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. Pukul 16. Suaranya agak jauh. mengajakku menginap di rumahnya. Banglades. Pada malam harinya diadakan pesta di taman.com/abclit. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. Aku tidak mau melihat jam.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Juga suara mobil. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. Disambung suara memberi komando. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. Tidak ada yang datang. Tak ada suara lain. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. ”Bagus. tunggu di situ. Tapi tidak terdengar suara manusia. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. Aku tetap duduk. Sepi mencekam. Ketika ia bekerja. Sementara aku duduk sendirian. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. http://www. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. menit ke jam. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. Remang malam turun menambah senyap. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. Langit biru dan angin segar musim gugur. yang tak pernah kurasakan di . Juga suara orang tertawa sirna. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. Keringat membasahi tubuh. Gigil segar menyemangati.35.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. yang jelas bukan dari kamar sebelah. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. Pohon-pohon ligir. berdetak besar dan cepat. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Detik ke menit.

Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku. Ia meletakkan pistol di atas meja. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur.processtext.” Suaranya lagi.” Suaranya menggelegar mengagetkan. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. Ia tidak menyahut.” Aku mendahului. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”. Kebebasan.html negeri ini. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong.Generated by ABC Amber LIT Converter. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam. . Ia menyalakan lampu. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku. ”Selamat malam Pak. http://www. Aku tidak senang di kedua negeri itu. Aku mengangguk. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah.com/abclit. ”Di sini tidak ada Pancasila. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. Aku mengangguk terlebih karena terkejut. ”Ini Blitz-krieg.

tikus besar-besar berlarian di tubuhku. Perangai. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. tetapi tidak menemukannya. menggeledah seluruh organ tubuhku. di tanah airku. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja. tulang-belulangku. ingus. terkadang sendiri-sendiri. mana kecoak. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. menciumi bau keringatku. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. Aku mengusap kupingku. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. lintah. atau berapa ekor. aku tidak tahu lagi. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan.processtext. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. dengan kawat berduri berlapis-lapis. bukan lagi suara manusia. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. tikus dan kecoak. setelah hampir dua minggu. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. sampai ke rambut dan kukuku. Aku mengusap mataku. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. kencing ludah. pintu keluar barak itu dibuka. Sejak malam itu. Mereka muncul terkadang bersamaan. pancaindraku. Ketika aku tidur. terasa darahku diisap lintah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing. mana ular. getah bening. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. Aku ingat bahasa Inggris. nyamuk. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. tengkorak. menerbangkanku berkeliling dunia. sperma. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. Entah berapa orang.com/abclit.*** . bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. Alhasil. sambil menahan napas. http://www. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. membuat sesak napas. lintah dan semut menggerayangi tubuh. dan tikus. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong.

lelah. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. ruang nyaman. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. Mungkin selamanya. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. menekuni lantai. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. . Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. Ruang teduh. mungkin ingin membaca masa lalu. Ruang tunggu dengan warna pastel.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas.com/abclit. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. Lingsut. dan menggelepar di sana. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu.processtext. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. Tunggulah sejenak. Kepala-kepala itu masih penuh derita. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. Ada masa memang. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Sebagian dari kepala mereka menunduk.

Tapi selalu dan selalu. Mereka mati dibalut api. mendekati lubang ventilasi.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. berpelukan. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia.com/abclit. http://www. ”Nak. dan saling melingkarkan lengan. Lalu aku akan terbang agak tinggi. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. Dua kakak beradik. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. Hanya sesekali.processtext. halaman-halaman tak terbaca. membuat rantai . Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. Mengepak pelan. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. Aku mencium sari kisah yang terbakar. Ibu mereka terlalu bersedih. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. bisa kubawa pergi. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. Mereka bertiga meregang. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. Tapi satu di antara mereka. beradu kepala. Setelah cukup tenaga. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. kembali aku mengitari mereka. kuberanikan diri untuk merangkainya. Mereka bertiga berpelukan. Percobaan yang selalu aku ulang. aku lebih sering terpelanting. sempat aku hinggap. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. Hanya bermodal harap dan cita. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. Tangan ibu mereka sendiri. Sekali dua. sebelum kemudian kembali terlempar jauh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Demikianlah. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan. aku terlempar. dengan mereka yang mengalami sendiri. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai. Dan aku terus mencoba lagi.” Dan api berkobar. Dua orang yang masih lelap. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa.

dan membiarkan perasaan ibuku bolong. Aku mengambil selendang milik ibu.processtext. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. Pertama membiarkanku tidak punya gizi. Suaranya serak. ada celah di dunia sana. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. Kaki-kaki mereka mengecil. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Mereka tahu kami akan mati. Mulut mereka sangat lemah. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. Ibuku sudah tidak punya air mata.com/abclit. Mereka ingin mengatakan pada dunia. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. aku malu dengan teman-temanku. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. bermata alum. dia harus menanggung nista dan sengsara. inilah kota kami yang indah dan makmur. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. tubuh-tubuh kecil berbaring.” Di samping lingkaran besar itu. Hanya kami sungguh tidak mengerti.html lingkaran yang kokoh. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. Mereka tahu kami mati. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. ”Orangtuaku tidak ada di rumah. Dunia yang pahit. Mereka mendorong kami. Tapi di hari itu. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah.rita. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. Kami ingin dunia. Kami tidak ingin di sini. Satu di antaranya berkata. ”Kami belum ingin surga.” Si anak yang berkata. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. Ibuku tahu aku akan mati. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. Kami belum ingin ke sini. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. menyadap sari ce. Mereka bohong. Kaki-kaki mereka bengkok. Aku tidak enak dengan ibu guru. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. Mereka bilang biaya perawatan gratis. Tapi mereka memaksa kami. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. Ibuku kalah dalam menagih janji. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Kami ingin bernyanyi dan berlari. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. Kami ingin belajar menjadi manusia. http://www. Kami ingin bermain air dan bermain api. Mereka . begitu bayi terlahirkan. sebelum kembali terlempar jauh. Mereka membiarkan aku mati. Mereka mencoba membunuhku dua kali. Kembali aku hampir terpelanting.

” Aku hinggap lagi. Aku hanya seperti kupu-kupu. sambil menyeringai dan berkata. tanpa takut terserang polio. di tengah.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. ”Hari gini.processtext.com/abclit. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. Mungkin sampai mati. Aku ditabrak warna hitam. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. Seperti hilang. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta. Sangat besar dan kuat. beterbangan. Lihatlah.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. Mereka datang dari mana-mana. Ya. Tidak lebih. Bahkan. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. meracuni laut. Aku mati karena muntaber. ”Ah. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. Aku terlempar lagi. . http://www. Aku seperti hancur. mati pun masih menyisakan masalah. sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. Aku digendong naik kereta. Bagi orang miskin seperti kami. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit. gitu loogh. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. Dengan wajah dan kulit plastik. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. menebangi hutan. Aku hanya seperti kupu-kupu. dengan tubuh terlilit kabel.html tahu. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. dengan tangan penuh tombol. Dan tibalah satu sentakan besar. Aku ditabrak warna putih. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. Kembali. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata...”. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. membobol gunung. Hanya seperti. itu hanya kabar yang berlebihan. generasi yang lebih baik.

. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. Hari itu. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. maka dia pun berhenti sejenak. dan mungkin sekaligus mereka tolol. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat. disorientasi. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. depresi. Di sisi yang lain. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. bunuh diri. kelaparan. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. Hingga bagian yang terbakar itu. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. Ada perbedaan memang. hingga tampak putih dan halus. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. Mereka benar.com/abclit. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. http://www. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. keracunan kabar bohong dan bahan makanan. kurang gizi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam.html Mereka benar.processtext.

atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. Dengan uang itu dia bisa membeli beras. ”Kalau aku ikut kalian. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. cucu-cucuku itu akan batuk semua. Bagi Mbah Gimun. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. Kalau pedagang itu tidak datang. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. orang-orang itu menolak. ini gambar calon pak bupati itu. ”Benar Mbah. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. gula. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. membawa tas bagus. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul.com/abclit. nanti ditempel di sana ya Mbah?” . saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. minyak tanah.processtext. bersepatu bagus. Mereka berpakaian bagus-bagus. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. garam.html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. ”Iya. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. http://www. Dalam sehari. dan naik mobil yang juga sangat bagus. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya.

Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya.” ”O. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. pasti. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya.” ”Tapi begini Mbah. saya diberi tembakau. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya.com/abclit. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. Katanya. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini. Bukan hanya itu Mbah. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. melintingnya. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun.processtext.” Setelah para tamu itu pergi. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. mencomot tembakaunya. Cucu itu memberi tahu. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut. Mbah Gimun lalu membuka besek. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Lumayan. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. diberi uang lagi. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. . ya terima kasih sekali. Mbah Gimun kaget tetapi senang. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. http://www. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah.

Kertas gambar itu tebal dan kaku. Mereka mengantar beras.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. gula. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. ”Lalu minggu depan ini Mbah. ”Iya Pak RT.com/abclit.html Beberapa hari kemudian. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding.processtext. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran. Yang ini yang kiri ini bupatinya. ”Salah satu saja Mbah. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . Yang kanan wakilnya. bupatinya juga boleh. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. ”Terserah Embah. Mau dicoblos wakilnya boleh.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. http://www. lebarnya seperti sajadah.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan. kita semua harus datang ke lapangan bola. Pak RT dan Tukijan juga datang. ”Bukan dua tetapi satu Mbah.

Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun. ya. sepuluh ribu. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak. Hanya dia berpesan kepada anak-anak.” . Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Kalau layu mengiratnya alot.” katanya pada anak-anak itu. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. dan tidak hapal wajahnya. ”Ya siapa saja. Ada yang limapuluh ribu.processtext. Mbah Gimun menerima semuanya. semua membagi-bagikan uang dan barang.” kata Mbah Gimun senang. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. Sebab saya tidak tahu nama-namanya. duapuluh ribu. Bau tembakaunya sudah tidak ada.com/abclit.” Enam calon bupati dan wakilnya. Jam berapa Pak RT?” ”Sore. saya akan datang nanti. Menjelang hari pencoblosan. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. http://www. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir. agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ”Ya.” begitu alasan Mbah Gimun. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. akan layu. sekitar jam empat. Sebab baunya seperti minyak wangi.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Dia kan pengusaha. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. jadi nanti kita semua makmur.

Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. dia kebingungan. ada pula yang tegang dan cemberut. http://www. di mata. dilihat kartunya. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Karena masih pagi. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. Ada yang dicoblos di jidat. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Baunya sangit dan keras. Dia mencari tempat duduk yang pas. Di rumah. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. ada yang di pipi. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok.processtext. Bara api di ujung rokok itu memerah. di hidung. dan kepalanya ditutup udeng. Dari saku surjannya. .com/abclit. Ada yang tersenyum. udara terasa tidak terlalu panas. memberi teh. Mbah Gimun memakai kain sarung.” Cimanggis. baju surjan hitam. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. dan diberi kertas suara. dengan anak-anaknya. ada yang di mulut.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. dicatat. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. 2005. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. Melihat Mbah Gimun kebingungan. ”Sayang. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Enam calon semuanya memberi uang. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. menawarinya tempat duduk. memberi beras. bukan kita. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. memberi gula. memberi tembakau. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. dengan menantu-menantunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di bilik pencoblosan. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Bukan pak bupati. Dia lalu melolos satu lembar kertas. ada yang tertawa. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. sandal jepit. Dengan mengucap Bismillah. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. satu-per satu warga kampung dipanggil.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan.

” . Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. Saat itu. ”Ibu restui kepergianmu. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu.processtext.html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi. meski kau tak pernah lagi membalasnya. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu.com/abclit. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. http://www. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang. Nak! Tapi. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. dan moncong senapan itu seorang ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku. tak akan kembali ke moncong senapan. Ya.

processtext. Bapakmu rela di-perempuan-kan. merengek-rengek minta izin untuk merantau. Acin dan juga kau. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. dan tinggal bersama ibu. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Jika kau sudah pergi. . Hanya kau yang tersisa. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. Tanpa Rehan. http://www.com/abclit. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. menimba air mandi. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. tak terdengar lagi khabar Acin. Acin akan pulang membawa istrinya. Wafa Sulastri. Abangmu. lambat laun ia sukses. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. apalagi kerinduan ingin merawatnya. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. setelah tamat SMU di Payakumbuh. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Tapi. Delapan orang anak nenek. ibu sendiri saja di rumah!” katanya. sejak menikah dengan perempuan rantau. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. ”Ruz ingin jadi anak ibu.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. Sejak itu. Saat itu. tentu ibu akan bersendiri. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. Sejak enam tahun lalu. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. termasuk bapakmu. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. Tapi. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Acin berjanji. Umurnya sudah berkepala delapan. bule perempuan berkebangsaan Spanyol. setelah masa tugasnya berakhir. ”Kasihan. Mencuci pakaian. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin.” Rumah kita makin lengang. sekaligus menjaganya. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah lulus jadi polisi. abangmu yang satu lagi. menyuapkan makan. Tanpa bapakmu. Kecuali bapakmu. Selain bergiat sebagai pelukis. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. Rehan. Pada surat itu.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Pada saat itu. 13 tahun. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. http://www. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. . si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Yang jelas. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. Belum lama berselang. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih.com/abclit. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap.processtext.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Cuma asal terbang.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka.processtext. setiap kali aku mau menghalau. Mereka memahami gerak-gerik kita. mereka sudah terbang duluan. http://www. ”Heh. .com/abclit. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap.” ”Tapi. Berlalu dari samping Anggi dan Olan. makanya sering saling tubruk. Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh.” ”Mereka belum bisa melihat penuh.

com/abclit. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau. ”Dia dipanggil ayahku. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka. ”Ke rumah Gumortap.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. ”Ada enggak?” tanya Horas.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan.” kata Horas. ”Mau apa?” tanya Olan. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit.” kata Anggi. .processtext. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka. ”Mau ke mana?” ulang Anggi.

”Heh. ”Coba dia membawa kapal sekarang.” katanya. http://www.” kata Anggi. ”Mereka masih anak-anak burung.” ungkap Olan.html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi. ”Aku ikut. Nanti malam musim ombak besar. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. kita harus mengusir burung.” kata Anggi. tak akan banyak!” . Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. Gumortap sekarang membenci ayahmu.processtext.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. siap berkelahi dengan ayahmu.” kata Anggi. ”Mesinnya kan sedang rusak. ”Aku jalan dulu.” kata Olan. ”Biarkan saja mereka makan padinya.” kata Horas. ”Tapi semua sudah tahu.

processtext. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. tak banyak yang tahu. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam.com/abclit. pemain gondang yang baik. bahwa Gumortap tidak bisa datang.” kata Ayah Horas. tapi kemudian berlanjut saling pukul. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. melalui jendela. dan tentu saja. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun.Generated by ABC Amber LIT Converter. juru mesin dan juru mudi yang baik. Dan sejak itu. http://www. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. ”Bilang sangat penting. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. ”Kau saja yang memanggil lagi. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. . sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota.

tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal..” kata salah seorang tamu itu. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan.” kata yang lain.html Begitulah. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Dia baru saja menutupkan jendela.com/abclit. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. . Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua.. ”Banyak yang marah. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. http://www. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. Horas mendengarkan dari balik pintu. tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Entah siapa yang datang bertamu.processtext. Licin dan halus. Suara ayahnya dan beberapa orang lain. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. ”Kami mendengar lagi Pak. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. Dan seseorang itu bisa saja. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah.

” ”Ya.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. ”Bapak harus menegurnya. ”Dia kurang ajar. akan saya panggil ia ke sini. jangan mendatanginya. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua. http://www. barangkali seusia ayahnya.com/abclit.” ”Jangan mendatanginya. dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Perintahkan.” .processtext.” kata yang lain.” ”Bila perlu mendatangi rumahnya. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya.

Inang?” tanya salah seorang tamu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ””Katanya Bapak menghinanya. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya.processtext. Tapi kalau ia keluar. maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. http://www.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati.com/abclit. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. berjaga-jaga. Ia . ada tamu. Yang dapat dilakukannya adalah. “Baru dari pekan. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah.” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. ”Eh.

Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya.com/abclit. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. Tangan Horas kini berlepotan darah. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. seraya mengatakan sesuatu. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. Belati telanjang dan berbahaya. Horas melihat sekilas. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. Di sebelahnya. Langit sore sebagian memerah. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. entah mengkhawatirkan siapa. menusuk. ”Anak gila!” umpatnya. Beberapa orangtua berusaha menolong. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. menusuk.processtext. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya. menusuk. di kakinya. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Namun Horas tak mendengar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. Lalu Horas . Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. darah seharum ombak malam. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Horas terus merangsek. tapi Horas berhasil mengibaskan. http://www. Horas tak menjawab. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu.

dari kampung Pasar Kliwon. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. beberapa . tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. semuanya telah lulus perguruan tinggi. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Tapi pada suatu hari. Sesaat. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Tapi semuanya sukses. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Teman-temannya itu. sebagian memilih jadi pengusaha. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. tapi tak semuanya jadi pegawai. http://www. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. Tangannya gemetar menggenggam belati. Usamah juga ikut membeli tanah. termasuk ia sendiri. Bank Jerman. Mereka mendirikan rumah berderetan.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. tapi ia terpisah. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak.processtext. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu.

Nabi sendiri suka dengan kucing. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing.html ekor dicuri orang. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. anjing itu pun mati.com/abclit. itu separuh penghuninya adalah anjing. Pernah ada hadist yang menceritakan. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. jika Faris ingin .Generated by ABC Amber LIT Converter." jelasnya lagi. Rahmah el Yunusiyah. dekat sawah. banyak penduduk yang memelihara anjing. tertidur selama 300 tahun itu. Najib. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. Hector selalu menggonggong keras. maklum bertanya kepada ulama besar. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. http://www. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. mungkin oleh tetangga yang tak suka. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. memelihara anjing sudah biasa. Itu ada anjing besar. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. "Di Mekkah. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang." jelas ulama asal Minang itu. Faris. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. Ia dan keluarga. "Di Minangkabau. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah. sangat sedih kehilangan Nero. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. dekat Masjid al Azhar. "Boleh tidak Buya. terutama anak kecilnya. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. termasuk anjing. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. Kebetulan ia mengikuti aliran modern. memberanikan diri. bermain-main di rerumputan pinggir kali. dengan persetujuan seluruh keluarga. bersama pengasuhnya. al Irsyad." jawab Buya. Tak tanggung-tanggung. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. "Tengok ke halaman rumah. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah. Minah.processtext. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga.

tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. Jika istri Usamah pergi ke pasar. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras. Ketika lari terbirit-birit. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. http://www. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. berusaha mencuri ayam. saya tidak mencuri. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. setelah melapas ayam curiannya. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. Ketika mau mengambil kompor. "Jaga dong anjingnya." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pada suatu hari." . tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. anjing itu pasti mati kami hajar.com/abclit. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. ia tak pernah berbohong." jawab Bu Usamah. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. Pencuri itu pun. Hector mengejarnya sampai tertangkap. "Tidak.html bermain-main di kali. karena jika ikut masuk. Ia sempat membawa lari seekor ayam. maka pencuri itu pun bebas. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. karena mendapat gonggongan Hector. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. Anjing juga tidak pernah mencuri. tidak." jawab si pencuri. Hector disuruh menunggu. "Walaupun seekor anjing. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli.processtext. Hector selalu dibawanya. jika tidak mau mengambil barang saya. setelah selesai belanja. Mendengar gonggongan anjingnya. Pernah suatu pagi hari. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. Kalau Bapak tidak datang. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. teriak-teriak minta tolong.

" jawab Usamah. Hector sudah berhenti bernapas. . Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. Setelah sejenak duduk. mengurungkan niatnya. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. tapi Hector tidak bangun juga. Dan Faris sangat menyayanginya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dulu saya pernah kecurian ayam. Faris pun menggoyang-goyangkannya. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. baru Hector menggonggong.processtext. Rupanya." "Apa Bapak tidak tahu. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik. Haram. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. Cuma. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. Anjing ini sehat dan bersih. Karena itu orang yang berniat jahat. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu. Ia masih akrab saja dengan Hector. setia menjaga rumah dan majikannya. Kalau ada yang dicurigainya. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. http://www. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Anjing itu seperti malaikat. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. sudah masuk SMP. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. karena tidak bisa. Tak pernah mencuri dan berbohong. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. anaknya yang terkecil. Tapi kalau malam.com/abclit. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. cuma mengangguk. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. Usamah sekeluarga menonton TV. Pada suatu sore di hari Sabtu. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV." "Yang najis itu air liur anjing gila. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Kalau siang. "Masya Allah. sebelum punya anjing. tanda ada yang mengganggu. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara.html "Lho Pak. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Faris sudah berangkat besar. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah.

memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. http://www. Abah yakin. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak.html Melihat Hector tak bangun lagi. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami. terutama Faris. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. seluruh keluarga gempar. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. bagian dari keluarga Usamah. Tapi Hector lebih menyerupai manusia. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Kepada mereka. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. manusia pun akan mati.com/abclit. apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Pak Usamah sempat membaca doa. Hanya menatap. Semuanya berasal dari Allah. Tidak sekalipun berkedip. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Nius. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. seperti tidak kenal lelah." Keesokan harinya. malaikat akan masuk surga. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. pagi-pagi benar." . seperti manusia. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Melihat keadaan itu maka Usamah pun.processtext. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Hector akan masuk surga. Sebenarnya. sambil menitikkan air matanya. tanpa doa pun. Ia pun dikuburkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Seperti ada dan tiada.

akrab dengan pribumi. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. Nius. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Satu di Palembang. Kami ajak bermalam tidak mau. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Nius. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Si Talib di Dumai.Generated by ABC Amber LIT Converter. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau." Biju menerangkan dengan gembira. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. lebih-lebih tukang gigi. "Tak lama lagi pensiun. Bahkan mengerikan. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar." jawab Tum. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. Berubah sekarang. Dia dan keluarganya tergolong aneh. dewasa atau jadi tua. sebagai grosir roti dan permen." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya.com/abclit. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. diduduki hingga kini." tambah Amril. "Di mana dia?" tanyaku antusias.processtext. Ayah Bun tukang gigi. Kalau aku pulang. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil. Dua lepau nasinya sekarang. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. sudah bercucu satu. "Bun di Medan jadi dokter. kendati kota kami tetap saja setelempap. "Tentu!" kubilang." "Hanya si Cudik. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. http://www. Dulu kami sering .html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil.

Generated by ABC Amber LIT Converter." KAWAN masa kecil itu lincah." bilang Tum. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin. Tapi kami cegah. Bak orang-orang dalam mimpi. tidak halam! Enak laaa. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Minumnya teh hangat." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". . Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Dia kapten sepak bola. kadang susu. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong." sahut Tum. Ibunya baik seperti ibu Bun. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. kembali menampakkan senyum yang ganjil. http://www. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. "Tidak halam. Seperti di rumah Bun. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. Juga pandai menjahit. Rambut ekor kuda. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. lucu. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air.processtext. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. "Itulah. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. Matanya tak terlalu sipit. Nius. Mereka menggeleng. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. adik Bun.html bermalam di rumah itu. mengantar kue mohok hangat-hangat. Tidak kecuali Sultani. Suka-suka kami mau makan apa. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. mencukur. tak pake babi laaa. "Jelas enak. atau menjelepak duduk di lantai. kami kerap nginap di rumah Sultani. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. "Percuma.com/abclit. pintar di sekolah. adik kelas kami.

"Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Kelas enam disunat. jadi keras.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bun mau potong bulung bole potong. Mestinya waktu kita kelas tiga. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. "Ayaaa.processtext. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. ke halaman masjid. Biju dan Tunik juga. tidak terasa. Baju. Ulah Sultani! Suatu kali. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. alias usil plus kurang ajar. Iya kan. selesai!" Ayah Bun terkekeh. Ibunya tersipu. Kami berebut. Terbahak-bahak seperti hantu air.com/abclit. Dan Bun disunat. Ayah dan ibunya setuju. Berenang kalang kabut ke tepi. kopiah. Mukanya pucat serupa mayat. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Lalu ia sambar roti. Portir bioskop juga dia ulahi. Bun?" Bun mengangguk lemah. ." "Tidak sakit. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat.html "Makan. mencangkunginya seperti buang hajat. guru mengaji kami. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. Dan pernah pula Buya Makruf. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. Babah mau coba? Sret. "Malah. http://www. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. serta sarung beliau "terbang. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. laaa. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. mengajak makan. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. "Sebetulnya telat Bun. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air.

potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. sepekan rambutmu . "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. kuratakan. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. Rustam. Biar aku yang ngajar. "Rambutku dia cukur. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. ikut mengaji saja. Ketika kuraba. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Mendesis-desis lunak. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. kan?" Aku mengangguk. Sultani berkata: "Sudah Bun. tentu saja. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Aku malah tak sekali. Sebulan ditanggung fasih. Suaranya merdu. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Tetapi. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. "Tadi di sini terlampau pendek. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. http://www. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Dan sesekali. Tak licin di sekeliling kepala. banyak kawan merasakan ulah Sultani. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. tidur-tidur ayam. tajwid dan kiraahnya elok. Mataku merem melek. Tunik juga. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. "Seperti model rambut Bang Rustam. Tapi aku merasa.html Setelah sembuh. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Kepandaian itu turun dari ibunya. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Rancak. Eh. Sudahlah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bukan saja Bun.processtext. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. malah sebelah sini terlampau pendek.com/abclit.

Sejumlah orang menerabas masuk. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Tahi kambing. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Atau pergi. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani. Bagus juga kau gundul.processtext. aku menghambur ke jalan. hasilnya nihil. Nius. Nius. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran. Mereka . Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak.com/abclit. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Tetapi mereka pun tidak tahu.html panjang lagi. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Mereka menuju rumah Sultani. Tepatnya. suatu pagi. Kaca-kaca pecah berderai. Dia mendekat. aku menghindar. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. Suara mereka teramat gaduh. Dendamku laksana sumur tanpa dasar." Tum diam saja mendengarkan sunyi." kata Amril." sambung Biju lesu. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Mereka melempar rumah itu dengan batu. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. http://www. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. berteriak-teriak. Pernah kami tanya ke situ. Menyepak pintu hingga rubuh.

2 April 2005 . Ibu Sultani berlari mengejar. Bahkan sampai kini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Orang-orang masih berteriak. Kusaksikan ayah Sultani diseret. melihat aku di tengah kerumunan. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. Hanya mata saja.* Jakarta. seolah-olah tidak pernah lelah. Tanganku dicekal. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. "Dan. dua buah. http://www. tegak kaku di ambang pintu. Menangis. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. yang menatapku tanpa berkedip. Lututku menggigil. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku. kemarin pagi. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. Menghabisinya. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. Buas sekali.processtext. meraung-raung. "Mulai kurang ajar ya. Sultani juga. Dia juga menangis. Aneh sekali. Mukanya berdarah. "Semua orang bilang begitu. Bergelombang-gelombang manusia. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat.html terus berteriak.com/abclit. diseret abangku pulang. Perempuan itu terjerembap di halaman.

Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Jika ditanya. Di samping para tetangga.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Kadang datang berbondong. bawahan dengan atasan. http://www. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. mengular sampai jalanan. sekadar yang saya tahu. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja.Generated by ABC Amber LIT Converter. menjenguk lewat jendela.processtext. Ada apa? Saya acuh tak acuh. satu dua. Misalnya. . dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. maupun wali kota. Istri saya belum menemui mereka. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. menantu dengan mertua. perbankan. Sungguh menghabiskan waktu. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga.com/abclit. saya menjawab sekenanya. satu dua. Saya acuh tak acuh. Saya rasa kali ini juga begitu. setelah sarapan. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. soal usaha tambak udang. persoalan anak dengan orangtuanya. perburuhan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Istri saya memberi tahu. bibit tanaman. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. pengairan sawah. Karena istri saya gelisah. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. bupati. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. ramai. Kadang-kadang saya juga diundang camat. Sudah sering datang orang. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Juga tentang hubungan suami istri. yang sama sekali tidak saya ketahui. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Sudah sering datang orang.

Kepala kantor orang itu kebingungan.com/abclit. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Sebagai penulis lepas. teman-teman. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. bupati. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. lalu saya cari alamatnya. dan berapa orang saudaranya. Masa pensiun pasti datang. dibawa pulang ke rumahnya. keluarga. teman.000 karakter. . sedangkan untuk orang-orang biasa. Seluruhnya orangorang biasa. agaknya hanya saya seorang. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. sebagaimana kematian itu pasti tiba. ia kaget. Misalnya. ia seharian di rumah saja. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Alasan saya. sementara beban keluarganya besar. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia. http://www. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. Keluarganya memberi tahu. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. kenapa tidur di rumah. Kadang sampai 8.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. dan wali kota. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu.processtext. misalnya. pekerjaan terakhirnya. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. tidak benar-benar membutuhkan saya. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. menyadarkan saya. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Begitulah. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Begitu siuman. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. Untuk sikap saya itu. tidak ke mana-mana. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Saya interviu keluarganya.html Rasanya camat. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. juga tayangan televisi.000 orang. Saya catat riwayat hidupnya. sekitar 5. saya dijuluki "pendengar yang baik". Tulisan obituari itu tidak panjang. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. sampai kenalan baru. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. di sebuah desa yang lengang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Cukup menyenangkan.

saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. ini bahaya. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Saya nggak mau ditulis sekarang. Dari kejadian itu. Wah. Ntar saya yang menulis Bapak. Tapi ini kebetulan saja. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal.processtext. Maka ada saja orang yang anti-saya. http://www." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis. Ada yang bilang. seseorang yang ngobrol dengan saya. Pak Jurnalis. kenapa?" "Maaf. Yang jail maupun pelesetan. saya sedang mewawancarainya. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. tak ada yang menulis. Saya tak bisa menjawab." . Banyak usulan. "Lho. Dan sebagainya. "Pak. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya." Tapi.com/abclit. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati." jawabnya. ada yang mengartikan.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. Tidak kenapa-kenapa. kompleks pertokoan. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Sementara itu ada pula yang bilang. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Banyak komentar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pak. "Maaf. ataupun di stasiun bus. ia meninggal. jika seseorang ngobrol dengan saya. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Ini benar-benar klenik.

anak-anak ini sok tahu. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: . Ketika orang menanyakan pendapat saya. Menurut mereka. katanya. kenapa?" "Maaf. http://www. Keterlaluan. lima orang. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. wah." "Lho." "Biar untuk Bapak saja. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya. Apa yang akan terjadi dengan saya. Pak. sedikit saja saya ngomong. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Tidak kenapa-kenapa." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Banyak ngomong dianggap meramal. Pak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya." "Saya permisi.processtext." "Jangan ditinggal korek apinya ini. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang.com/abclit. Memangnya saya cenayang. Saya jadi pendiam dan menyendiri. dan si bungsu di SD kelas 5. Pak. yang paling kritis. Anak-anak saya. Kritiknya tidak berdasar. Lalu malah terjadi serba-salah. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu.html "Baiklah. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Di pertemuan-pertemuan desa.

http://www." "Begini. kan. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.com/abclit.html "Dari mana kalian tahu. "Kalian ngawur. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari.processtext." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu." "Boleh saja." "Tidak bisa seenaknya begitu. kalian ngawur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ayah pernah menulis obituari." "Ayah marah kena keritik. ini dosa." "Semuanya. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala." "Semua orang bicara dosa dan pahala. Nah. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga." "Itu harapan saya." "Nah. . Itu doa saya." jawab saya." jawab anak-anak itu.

Lima anak semuanya sekolah. sedang rakus-rakusnya makan. Karena istri saya gelisah. Padahal saya selalu bilang. merangsek ke depan meja saya. Saya sering lelah berdebat dengan anak. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar.com/abclit. Saya rasa kali ini juga begitu. Hari baru membuka matanya.anak saya tersebut. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. termasuk menulis berita. Ada apa? Setelah sarapan. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Jam baru menunjukkan pukul 05. Istri saya memberi tahu. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Istri saya guru SMP. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. mengular sampai jalanan. Sudah sering datang orang.00. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. satu dua. http://www. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya." "Nah. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak.processtext. menjenguk lewat jendela. cerdas dan berani.Generated by ABC Amber LIT Converter. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Saya acuh tak acuh.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Nah." Mendengar keterangan saya. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Kami sebenarnya keluarga bahagia. Sebagai ayah. Saya menulis apa saja. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. anak-anak saya itu diam. setelah sarapan. Istri saya belum menemui mereka. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.

Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. tua.processtext. di pekarangan. Sinar matahari memancar. mereka menatap kebenaran. Waktu saya siuman. nistagmus.html Mata mereka nanar.tanggal akhir hayat. di atas pohon.com/abclit. http://www. di jalan. Cuaca cerah. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Tapi tidur itu tak pernah panjang. Ahad. Kalau toh ia tertidur. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. Alhamdulillah. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. anak-anak. berserakan memenuhi ruang dan udara. 20 Januari 2005. berserak. 26 Desember 2004. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Entah berapa lama saya pingsan. Tangerang. bayi.. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. Mungkin hanya karena terlalu lelah. perempuan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. tak seekor pun tampak terbang. . laki-laki. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. kemudian dibiarkannya mencair. di kebun. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. Seluruh mayat itu. itu bukan karena ia ingin. di luar kemauan. panas. muda. Bahkan burung-burung. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang.. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. di reruntuhan rumah. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. mencecap pencerahan. diselimuti lumpur.

"Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. Bagaimana kabarmu.com/abclit. Mbok Nah diam. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. Kami juga sudah menunggu lama. Pertanyaan serupa diulang. Masmu Jito tidak ikut. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk. namun tetap tanpa jawaban. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. Kantuk masih menggelayutinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi sayang. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan. "Ya. hingga warna itu berubah tua. Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. Pada siang yang murung itu. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan.processtext. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" . Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. http://www.

html "Di ruang tengah. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. tapi dicegah Ambar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak.com/abclit." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi.. Tapi." . http://www.processtext. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat. hendak menyulut. Mereka sudah lama menunggumu. "Di kamar. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka. dan Drajat yang pengusaha real estate. seperti koor. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak. persisnya sejak Lebaran tahun lalu. entahlah. Swandaru yang anggota DPRD. "Eyang Putri tidak senang bau rokok. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya.

perlahan. Pintu kamar itu diketuknya. "Ndut.processtext. Kamu kan cucunya yang paling disayangi. Empat pasang mata mengepung dirinya.. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru." Gendut termangu. Mbak Kunti. coba kamu temui Eyang Putri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gendut pun beranjak. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar. Setelah diam beberapa jenak.com/abclit.html Gendut memasukkan rokok di sakunya.. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda. Swandaru merangkul Gendut. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" . Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. http://www. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Mbak Ambar. "Saya Gendut.

mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. Seperti yang kami kenal. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dong. Ketika menonton televisi. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. Perkara pembangunan itu macet. Gendut langsung menyelinap masuk." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani. namun hanya beberapa puluh senti. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka. http://www. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan. Nggak ada komplain. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu.html Pintu pelan dibuka. Semua kakaknya saling memandang. Aku menebak.processtext. Kalian mesti tanya developernya. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri." "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . semua beres. ya bukan urusan saya.com/abclit. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri.

Mereka menangis. Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. tapi gagal.html "Tanya itu developer. Mereka pun langsung masuk rumah sakit. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. tapi HP-nya off. . http://www. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi. Aku terus mengomel. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. hingga commercial break memotong tayangan berita itu.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku ngomel sendiri. Anak dan istriku tampak cemas.com/abclit.

. Sesungguhnya." pesan bapak belasan tahun lalu. Namun. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas.com/abclit. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat. Ia melihat. dengan bangga. http://www. yang gigih menentang setiap penyimpangan. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. jujur. ia hanya berucap "no comment.html Kami sama sekali tidak menyangka. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. DI antara para cucu. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan berani. semakin tumpang-tindih. Ia hanya mematung di samping ranjang. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. Di layar televisi siang tadi. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut.processtext. wajah Eyang Putri tampak pucat. dia akan mengejarmu sampai neraka. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. semakin bersilangan. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. wajahnya tampak lelah. tapi juga sangat sedih. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. no comment" . Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. malu.. Gendut belum berani bicara. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. Walau cuma serupiah. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul.

dengan berbagai wataknya. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. Matanya masih bercahaya. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. toh akhirnya goyah juga.com/abclit. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Setelah Eyang Kakung meninggal. jujur. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. Jamu itu kemudian dijual di pasar. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. Dengan runtut. dan entah apa lagi. Harum tapi juga semegrak. Padahal jumlahnya belasan. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri melarang kami pindah rumah.html Setegar apa pun hati keluarga kami. laut yang bergelombang. dlingo bengle.processtext. Meskipun usianya di atas delapan puluh. Tapi. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. sawah yang membentang. http://www. pemberani. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. Rumah kami pun penuh aroma jamu. licik. cabe puyang. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. Dan ingatannya masih tajam. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. kencur. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. meskipun akhirnya tidak . sungai yang mengalir." ujarnya. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. Ketika kami kecil. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. gunung yang menjulang atau langit yang biru. Setiap pagi. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Juga nama cicit-cicitnya. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. Ada yang culas. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. adas pula waras. Rimpang-rimpang jahe. atau penjilat. Tubuhnya masih cukup tegap. jahe. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru.

"Bicaralah. yang dipikir cuma perut. "Kalau saya ya pilih kaya. "Ah kamu. Bingung. "Kalau kamu bagaimana. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter." sergah Mbak Ratri. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan.html hidup bahagia." pesan Eyang Putri. nggak apa-apa…" . Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri. Gendhut." ujar Mas Swandaru sambil bercanda. Aku kelimpungan.com/abclit." Eyang menatapku.processtext. Semua tertawa. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya. Ayo.

Ndhut…" Eyang Putri terkekeh. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas.processtext. Dia punya banyak akal. tapi hanya untuk mengakali. ketakutan diam-diam merambat. tapi licik. http://www. "Pintar kamu. Eyang Putri diam.com/abclit.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik." Semua tertawa. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar. mengurung kami. "Dia bukan pintar. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . Mendadak.

Ratri menyahut. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya." ujar Mbak Kunthi. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri." Malam makin larut. "Akhirnya.html Kami mengangguk. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. . http://www. "Maka.com/abclit. dalam gelap malam.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani…. Satu per satu kami tertidur. "Iya. kalau kalian besar nanti. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. "Benar Eyang. Dia bilang. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang. Kantuk pun bergelayut. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam.…"sahut Mas Swandaru.

http://www. Mereka hanya saling memandang. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. pikir Gendut. Eyang Putri menggeleng. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya. Perempuan renta itu berjalan pelan. Tapi Gendut memberanikan diri bicara.processtext. empat kakak Gandut masih menunggu. Bukan kancil atau ular piton…" . Eyang. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. tak ada suara terucap. Gendut kaget. Ke mana air mata itu. "Ndut. "Biar aku duduk…. Wajah mereka tertunduk. Urat-urat wajah mereka menegang. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. tapi masih tetap tegap. lemah. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. Di luar kamar.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. "Kita berdoa. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun.com/abclit. Dalam beberapa kejap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras." ujarnya pelan. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini.

Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. http://www. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya.html "Bagaimana kamu tahu. "Itu yang aku sesalkan. "Tapi maaf Eyang. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. merintih. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya….processtext. meskipun kami tidak punya bukti.Generated by ABC Amber LIT Converter." ujar Gendut. Ya. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil.com/abclit. "Mestinya sejak dulu." "Tapi. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" . Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih. kami percaya dan yakin.

" ujar Eyang setengah meradang. Edisi 05/22/2005 . Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. DI rumah itu.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. http://www. ditelanjangi. seperti terbaca. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. Semua mendadak terasa terlepas. sebelum akhirnya pingsan. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas.com/abclit. "Kebenaran akan membersihkan namanya. akan mengembalikan martabatnya…. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri….processtext. Mereka merasa dilucuti. Mungkin…. Itu masalahnya." ujar Kunthi. Eyang Putri berkali-kali menarik napas. Tubuh mereka serasa berubah transparan. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu.

dengan bertumpu di bagian tumit. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. homo erectus. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. dari satu batu ke lain batu. SEPATU itu. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jejak sepatu celaka. seperti yang selalu kami yakin. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. Betapa kekal. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong...html SEPATU itu. pikirmu. Jejak melesak di tubuh-tubuh . harus kami bikin tetap sembunyi. menginjak seekor trilobite. lekuk bawah tumit 2 cm. seluruh waktumu. Sepatu lars. bagi kami. http://www. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. homo sapiens. lebar 11 cm. dengan cara begitu rupa. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu. menguap.com/abclit. Homo habilis. Dan itu artinya. Dari satu waktu ke lain waktu. setiap detik dalam hidupmu. Semua akan hancur. memanjang ke fragmen tengkorak. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? .processtext. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. neanderthal. Di suatu waktu di zaman lain.sia? Maka sembunyi itu. di zaman homo habilis juga belum ada.. TETAPI trilobite. segera jadi bohong besar. artinya pula tak lain satu kata: gila. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. selain fosil antilope. ditemukan juga jejak sepatu. melesak di leher. ternyata sia. dan waktu melenguh. tertahan dalam bongkah batu. sepatu serupa. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. tak bisa tidak. bongkah itu akhirnya pecah. Jejak celaka! Bagaimana bisa. Dengarlah sepatu berderap. sepatu manusia. Betapa kekal jejak itu. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu.

rusuk. sebetulnya telah ikut terbakar. ruang kuliah. tetapi itu biasa. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. selesai. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila. Mahasiswa berlarian. melipat waktu. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Racau panik. Fragmen tengkorak itu. SEPATU itu. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Bisa heboh. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu.. Tetapi lalu. Menggasak leher. dengan amarah bagai meluah. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. Artinya. Jadi. merangsek masuk ke dalam kampus. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. timbul-hilang. Pekik.processtext. Betulkah foto itu hilang? Atau. tetapi kami lupa? Tetapi toh. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. begitu jauh. Memang muncul berita di koran lokal. juga lolongan. perpustakaan.. Orang-orang berseragam ini. ketika muncul di Science. dengan foto-foto yang dideformasi. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. Bisa runyam. kenapa mereka menyerbu kampus? . penuh literatur fiktif. berhamburan. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. semua kami musnahkan. bentak.html Tetapi. tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto.. untunglah. Gemuruh derap menggasak koridor. Baiklah. jerit. Dan setelah segalanya beres. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. lengking tangis. bertumpang tindih dengan hardik. menerjang. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. membuat kami sungguh kelabakan. Terdengar pula suara seperti letusan. Dengan satu kali jumpa pers. Tulisan yang tentu saja direkayasa. telah hampir sepuluh tahun kini. menjalar lirih ke telingamu.com/abclit. gebuk pukulan. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh. Menembus ruang. http://www. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini.

Mungkinkah hujan lain. seluruh waktu kami. Rumah yang kukenal. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. dalam basah. kini menjelma jadi kuyu. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. basah itu. Juga senggukan tertelan. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. Melalui pintu yang ternganga. Begitu tenang. berbaku tindih jejak sepatu. Ke sesosok tubuh yang terbujur. pun ruang perpustakaan.com/abclit. TAK ada hujan. Bila sebelumnya tampak heroik. Merembes dalam bisik. Dan lihatlah itu tadi. Menembus waktu. Seperti lelap. menembus ruang. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). Di dalam juga tak kalah sesak. Tak ada becek. Takkah aneh bahwa foto itu. Menetes. setiap detik dalam hidup kami. bagai tertidur. Di luar rumah sangat banyak orang. http://www. meresap dalam senyap. demonstrasi. . ruangan itu juga tampak porak-poranda. aku bagai melayang. Masuk ke halaman yang kukenal. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. beberapa dilarikan ambulans. bukan? Sesekali terdengar helaan napas. Dan setelah segalanya selesai. Lihatlah seorang dari kami. Dan juga celaka. seperti berat. Pulau-pulau yang terbujur.Generated by ABC Amber LIT Converter. kemudian. Kampus diserbu. Mahasiswa diburu. dari hari lain. kami gunakan untuk mencari. Dalam lembab. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. Sungguh situasi yang tak terduga. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. bagai tertidur. Beberapa digelandang digiring ke truk. di luar tak ada becek. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. Dan lihatlah lembab itu. Tetapi. Dan takkah pula lumpur lain. itu bukan urusan kami. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur.bermimpi tentang demokrasi. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. ternyata ada di sini? Memang aneh. Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda.processtext. Beberapa kepala pelan terangkat. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. tegak termangu di puncak tangga. Labor-ruang praktikum hancur. seperti halnya juga tadi di lantai satu. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini).html Namun tentu. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. pada setiap kepala yang tepekur. Tetapi yang jelas. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. Menatap ruyup ke tengah ruangan. Tak ada hujan. Padahal tak ada hujan. di sinilah foto itu kini. kursi-meja berjumpalitan. tetapi terasa seperti hujan. entah ruangan apa. Dan di lantai.

Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. Gebrakan meja. 4 April 2005 . Tetapi. melipat waktu. tak lagi penting.html Itulah aku. ganjilnya pula: di atas foto itu. pikirmu. memintaku mencarinya. Jejak melesak di tubuh-tubuh. Dengarlah sepatu berderap. Dan. Tetapi itulah. di hampir seluruh bagian tubuh itu. Menembus dinding. bukan aku.processtext. sang arkeolog ini. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. Dan inilah ia. tepat menimpa si fosil jejak sepatu. mematahkan rusuk. Kembali aku melayang. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Kini aku bebas ruang. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. Begitu pas. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. Ruang kerja Ayah. http://www. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. begitu jauh. dari satu batu ke lain batu. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Dan. Siapa tahu. ada foto itu. Tubuhku. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. tak jauh dari tubuhku. ke lain ruang. kamarku. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. rusuk. Dan. pernah atau tidak. sebuah jejak baru. dan waktu melenguh. Dari satu waktu ke lain waktu. Betapa kekal jejak itu. Menembus ruang. sehingga ia begitu marah? Tetapi. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. Menerima makian. Mungkin pula itu di masa depan. Begitu lengang. Sangat serupa.com/abclit. timbul-hilang. Mungkin juga itu orang lain. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus.Generated by ABC Amber LIT Converter. menjalar lirih ke telingamu. Bebas waktu. atau mencoba melihat menggunakan mataku. aku selalu lupa. Meremukkan leher. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. Menghunjam dan melesak. Menggasak leher. Kamar yang juga tampak begitu tenang.

Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Karena itu. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. . Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu. http://www. untukmu Gusti. Gusti.com/abclit. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. dengarkanlah ceritaku. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. tanpa cambukan. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai. memedihkan mata dengan getir pasir. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. Maka. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki.

kepala yang dilindas truk.com/abclit. "O. http://www. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu." Ia tak lagi punya jejak. tapi keretanya telah remuk. Tak bisa mengutuk. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota.processtext." Ia tak bisa lagi menangis. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. Ya. . Ramli.Generated by ABC Amber LIT Converter. darah yang terus mengucur. Jika tak percaya. dan malam yang kehilangan rembulan. Ia tak bisa mengamuk. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. Dengan petikan sitar gaib. Tak di mana-mana. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga.

Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena . ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan. aku memang cuma budak haram. http://www. ke got becek untuk mandi.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku. mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga." Kamu cuma budak haram. Lukman. Maka. ke jalanan becek bertabur roti. "Ya." Tak di mata yang menciptakan surga. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup.html "Tak di mata yang menyimpan surga.com/abclit. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium.

Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Nanti kamu dipenjara.000 budak haram. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan. Hanya.com/abclit. tetapi segera pulanglah. segeralah pulang. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan.." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam.processtext. . Nanti kamu didenda. "Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800." Maka. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. aku akan pulang. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. Lukman. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan. pulanglah ke negeri ibumu. http://www. "Mereka tak punya algojo. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan.html pasporku hanyut di sungai. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian." Ya. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. Ayolah. Lukman. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko.. Lukman.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Ya.

Sayang. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya. Kalaupun masih hidup. Sayang.com/abclit. . ke kopi terakhirmu." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri. Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. "Ibu? Ibuku telah mati.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu.processtext. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang. "Ke gua gelap itu?" Ya.

Rahma. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu.com/abclit. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam.. Karena itu.html "Setelah itu. menguburmu dengan bunga mimpi. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir." Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu.processtext.. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa ." Begitulah Cara Waktu Mengaduh. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati. "Kalau begitu aku tak mau pulang.

Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. Rahma. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. "Tidak di keriuhan?" Ya.com/abclit. Padri Minohek itu. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban. "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. Rahma. Kau tahu bukan Redana. kota ini memang sialan. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak . "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. Pangeran Kelelawar itu. http://www. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. Tentu keindahan tak harus disembunyikan.processtext. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman." Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kau tahu bukan Romo Sindu. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. Rahma. Tidak di jalan-jalan. Kau tentu bisa menjelma ikan. Rahma. Rahma.

Kunti.html pernah pulang. Tetapi mereka hendak dibunuh juga.. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. Rahma. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra. Tetapi mereka hendak dijagal juga. Tetapi. Rahma.. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. 23 tahun. Ia menangis dalam gerimis... aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki." Dor! . Bukan di Kurusetra." Dor! "Namaku Guspar Hasan. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api. "Namaku Petro Sale. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. 37 tahun. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi. Aku hanya. "Jangan lari. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu. Kunti. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. Maka begitulah cara Waktu mengaduh. ke ujung mati.com/abclit. mereka melenguh seperti kerbau api. Kunti. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi. http://www. Aku hanya. Kunti. Rahma.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. aku tahu. Bukan di padang pembantaian.

http://www.. "Halo.html "Namaku Markus Taji.Generated by ABC Amber LIT Converter. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri. Lalu kaulepaskan angsa. buaya. aku hanya membawa tikar menuju belukar. ular. Aku. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan. kuldi. Aku hanya. musang. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri.. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi.processtext.. . hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati. Tak ada obat. Kunti. ya Kasturi. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi. 25 tahun. tikus. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi." Dor! "Namaku Remi Guis. "Aku mencintai Hang Tuah." Dor! Lalu kau pun tahu.com/abclit." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela.. Soekarno.

dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok." tiba-tiba Angela menyela." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. Hijazz. danau akan gaduh. Sayang. tua.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku. Sebab di hadapan Sang Waktu. kita memang kodok. kalau dia menangis. burung-burung terbang ke langit entah.Generated by ABC Amber LIT Converter. krok." "Ah. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis. kita adalah budak yang tak punya malu. "kita cuma eng-krok. . Soekarno kehilangan tuah. Ya. "Jadi. eng-krok. kita memang bahagia. kau keliru. Oke. revolusi telah patah." kataku mengolok-olok.com/abclit. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. dan kita akan kesepian. krok. http://www. krok.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela." "Ya.processtext." "Aha! Aku suka metaforamu.

Kuala Lumpur-Selangor.processtext. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. "Lihat Hijazz. Jadi. suami-istri yang kian merenta itu. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. Lumpur-Mu. Dan Kau tahu. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. Karena itu. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera. itu aku dan engkau. Cintaku. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu." Aneh. http://www. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. 2005 . Kekasihku. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. semua ternyata hanya lumpur.

processtext.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.html .