Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Kudekati dia. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit. kuambil jarak beberapa depa. orang itu telah keluar membawa bungkusan. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. Melihat urat-uratnya. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Tapi. linggis kecil dan masih banyak yang lain. agar tidak konyol dicincang massa. hand phone. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Hujan turun makin deras. pukul besi. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. penuh kerut-merut. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. ia menjumpaiku. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Aku pun menurut. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. Ia mencoba memberiku segumpal daging. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. Aku tahu itu. Maling pun tetap harus serius. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap.html berbisik. Siapa tahu itu tangis buaya. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. Kukibaskan ekorku. Dia memandangku. Kuamati orang itu. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. mengenai kakinya. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. dia menangis.com/abclit. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Tapi aku menolak dengan halus. Tuhan. Dengan bahasa isyarat. alat pemotong besi. Perasaanku campur aduk. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. aku selalu waspada. http://www. atau benda lainnya. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. alat pemotong kaca. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. . Tangannya mengelus-elus kepalaku. Rupanya ia tanggap. Orang itu merasa serba salah. dan siap dihunjamkan di perutku. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Ya sangat dalam. drei. Ia pelan-pelan bangkit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. naluriku memaksaku berpikiran begitu. karena dulu. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Entah kenapa. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Dengan langkah yang gagah. Maka. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Ya. Aku menunduk. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. menyiapkan berbagai peralatan. ada besi pengungkit. Dari tempias cahaya lampu.processtext.

makin berkurang. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. Orang itu tumbang. ia menghentikan kegiatan itu. Bahkan. Ia tampak panik. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. muncul kilat. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. dan berharap ia segera berlari. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang.processtext. akhirnya. Aku sangat panik. maling itu tetap diam.com/abclit. Aku masih mendengar tangisnya. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Muncrat darah merah dari dadanya. dan canggung. Mereka mengelu-elukan aku. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. seperti menatapku. Aku memaksanya lari. Senapannya terus menyalak. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Aku menggonggong makin keras. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. Sial.html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. tangis anak dan istrinya. Melihat mata ibu. Makin keras. Entah kenapa. http://www. penuh kesunyian. Ia tersedu-sedu. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Terus menatapku. hingga orang-orang pun keluar rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tangis itu sangat panjang dan dalam. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Edisi 05/21/2006 Malam itu. Aneh. rebah ke tanah. Aku menggonggong sangat keras. . Tiba-tiba saja.

Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). ia juga tak menangis. Monang mencari-cari pisau. "Ampun. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Monang minta digantikan. Minyak tanah. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah.. Namun ia takut pada ayah. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah." katanya. Dan ibu menjerit-jerit lagi.. karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Kayu bakar? . ia tetap bergeming. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Beberapa kali. besok. Namun. Pastor dari paroki datang. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing. ayah mendengus.. Ketika kanak-kanak.. dalam pikiran ayah. Batu penggilingan? . Tapi. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. (Mungkin pula. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. Tidak. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Monang berlari ke dapur. Dan memang semestinya demikian. tak lama berselang. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah. lalu memukuli ibu lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. di ruang dalam. Tapi.com/abclit. Seumur-umur Monang jarang menangis.. ampun pak. Ayah berhenti memukul ibu.html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu.. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. Tapi. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. ia pun tidak menangis. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah.processtext.. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Ia memang selalu dimanjakan. Ia minta ijin pulang. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya.. http://www. apa? . Ayahnya pasti bisa menghindar! . Tubuhnya sampai gemetaran. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau. Waktu ayah meninggal. Dan lebih lagi. Namun. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. Ah. minyak tanah! .

?" suara si ayah pelan. Sebab. maka aku tidak membakar kamar ini. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api.!" panggil Monang.. "Ayah. ayah.com/abclit.. menghadap Monang menatap mata sang ayah. http://www. "Mo-nang. "Maafkanlah anakmu ini. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. Di tengah samudera itu.. Dan tetap tak menjawab. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. Ia tak menjawab.. tapi menahan diri... Tapi tangis ibu yang lirih itu.. Lalu berbalik. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. ada sebuah perahu yang terombang-ambing. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya.!" .. "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya. ayah.html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak.. Namun. Ayah menoleh.processtext. Ia merasa diajari seperti anak kecil. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. di malam pekat. "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus...

!" "Kau.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat.. Berikutnya. Mulai hari ini.. http://www.. Tuhan.. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.. "Jangan... "Ayah. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca.! Ya. "Berhenti di situ. Nak. Ibu pun demikian.processtext..com/abclit. Serasa sekejap. tetap di situ.. Ayah menggelengkan kepala.. "Ya." Monang bergerak pelan mundur.?" ayah bergerak pelan mendekati Monang. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai.. berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter.!" tangis ibu. ayah. Lama. ayah. lalu menghela napas panjang..!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung.html "Kau. . Monang terkejut mendengarnya.. "Ya. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. ayah berlutut dengan punggung tegak. Kemudian ayah tertegun..

. Kak.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian. Tapi menurut Monang." suara kak Nurma terputus." katanya..... Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Kerabatmu datang menjemput. "Engkau harus pulang sekarang.?" . Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu.. "I-i-ibu kenapa. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam.. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu.... Hingga kini. Ayahmu sakit keras. waktu itu. Berdoa?.com/abclit. Monang terkesiap mendengar janji ayah. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya. http://www. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?. >diaC< Telepon genggam berbunyi.. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal. meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo. "Ya. Dan akhirnya... Namun.... Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya.. Monang... Monang membersihkan kelopak matanya.. Allah.Generated by ABC Amber LIT Converter.?" Monang menenangkan hati. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya.. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir. "I-ibu.processtext. waktu itu." Sungguh. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi.. ayahnya sudah meninggal. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi..

Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau......?" Monang mengangguk dan lega... Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?. Tapi.?" "Mo-nang.. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?." jawab ibu waktu itu. Nak?" "Beginilah tukang koran. Namun.? "Ya. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. permintaan! Monang terdiam.. nanti aku merepotkan mereka.. Nak.. "Mo-nang? Kau mendengar aku... Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu.. http://www. Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini...html "Nah. Jantungnya berdetak lebih cepat.Generated by ABC Amber LIT Converter.... "Kau belum tidur....?" . Kak.. tapi ini penting. "Aku tukang mabuk. Bu.?" "Mmm. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu.. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok.. I-i-ibuu. Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi...!" Oo..processtext. Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang... Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan..." "Ibu kenapa. ibu mau juga ikut.com/abclit.

ah! Lalu apa permintaan ibu?.Generated by ABC Amber LIT Converter. Monang dan istrinya kekurangan biaya.html "Mm...processtext." "Lusa Ibu pulang. "Kenapa putus?" "Habis baterei... Aku tahu hatimu!" katanya... Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi. Bu.. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak. Bu." Terputus.com/abclit.. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon. Tapi lima bulan kemudian. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. http://www.. sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas.. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya. Nak. iya." kata ibu dari seberang sana." "Oo. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian. Ya. Namun. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu.." Ah.i-i-iya. ya. "Aku tahu keadaanmu... Si ibu menguatkan hatinya. "Hallo. anak mereka sakit dan mesti dioperasi. Maafkanlah. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka... Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi. Ibu tak bisa menginap di rumahmu.. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu.. Nak.. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya. Tak ada yang sempat mengantarkan. Betapa.. ia bertekad membahagiakan ibu.. Tak apa-apa... Nanti terganggu usaha koranmu.." . Nak. menantu dan cucu-cucuku..!" "Mm. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya.. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu. Bu. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca.

." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ. "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ. Bu. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening... Monang.. http://www.. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang.. Bila kayu bakar di rumah habis... di sebelahku..?" Monang mengiyakan. "Tapi. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya... Ia ingat.! Katakanlah apa permintaanmu itu.com/abclit. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. Kau ingat tempat itu....Generated by ABC Amber LIT Converter. pohon johar.?" "Iiya." Monang memasang pendengaran baik-baik." Monang menghela nafas.. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. Lantas?. dan pohon-pohon bambu memagari kampung. di kampungnya ada pohon mangga. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. ada kak Nurma di situ. Bu...processtext. "Permintaanku?" "Ya. Berpantun pun. Dan. Teruskanlah. dua hari sebelum aku berangkat ke sini. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu.. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu.." Monang ingat.. Pemiliknya Ompung Ojak.html "Ibu. "Monang? Kau mendengarku kan. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain... .." kata Monang akhirnya.. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang...

Nak.com/abclit.. "Baiklah. Nak..." jawab ibu cepat. aku akan beritahu Ompung Ojak. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar... Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur. Bagaimana.. ibulah yang selalu menyuruhnya.. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga. Bu? Ibu kan masih sehat.. http://www.. tinggal Ibu.?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu.. Sepulang dari sini.. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang. tak ada anak-anaknya yang di kampung. Nak. Ibu! Monang menarik nafas..!" Monang mengangguk... Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya. "Sekarang dengarlah baik-baik. "Lagi pula." "Terus...?" Oh.!" "Bagus.. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang... Diam beberapa saat. Bu.. maka ditebang yang tidak lurus." "Apa...." "Satu batang digunakan sebagai peti. kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?. Nak. Nak.processtext..Generated by ABC Amber LIT Converter....." . Bu. Kalau pohon johar..html Sepeninggal ayah. maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi.?" "Ada. Nai Manjur sudah meninggal...

Menelepon.. Ibu.!" Tut-tut-tut.com/abclit. Aku ingin menyenangkan hatimu.. Keindahan memang tak bisa diam.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.. Dia tersenyum. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Monang menelepon.. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.html "Ibu masih kuat.!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya. lalu telunjuknya menjentik.. Bu.. Aku ingin ada kacanya juga. Pergelangan tangan itu ngukel1.processtext. seperti yang kakak-kakak lakukan... Sekali lagi dia tersenyum... Nak. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana.... . Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok. Menelepon. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas." "Ibu..

Berdiri luka. tak banyak gerak. Waktu terlipat oleh kecepatan. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah.samar. dan menusuknya tanpa kata. mengeluarkan baju-baju dari koper. setelah mereguk kenikmatan. duduk luka.com/abclit. Jadi.anaknya entah ke mana. sejak 25 tahun yang lalu. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. seperti tangan penari. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. yang oleh Mas Ondi—penata busana.html Dibayangkannya. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini. abon. Dia berada di tandu. nantinya. Dan sejak itu. Tetapi. mencium kening istrinya. hampir dua puluh tahun lalu. Barangkali saja. Ah. Tetapi. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. sesuatu yang mustahil sebetulnya. suaminya tak menjawab apa-apa. Wening si bunga matahari. entah ada di ufuk mana saat ini. Wening si prenjak telah musnah. harus masuk sangkar. "Aku ingin menari. Neny. mengkristal di dinginnya malam. Anak. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. http://www. akan diberi untaian melati. rajangan dadar. yang harus selalu menjaga penampilan. tentu akan lain ceritanya. si sulung. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. mandi. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. Sony. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. mungkin pergi dengan pacarnya. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. tetapi menebarkan harum yang samar. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. kering tempe. sudah mendengkur kelelahan. Bang?" bisiknya suatu malam. lalu menghilang di kamar kerjanya. Sejak hampir sebulan ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Sepi kian runcing. dan dia bukan lagi Si Wening. Wening si walet. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. tetapi inilah hidupnya. seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. ketimun. sudah punah. boleh ya. Wening hanya diam. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. Malam ini. Bang Irfan sendiri. makan. Airmatanya beku. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. . entah siapa yang menjadi biang keladinya. tak banyak bicara. siap senyum. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. si ABG-itu. Kadang begitu datang. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi.processtext.

Album foto pentas terakhirnya. Mereka bergerak dalam diam.. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. biar aku menari untuk Abang saja....." "Kalau begitu. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya.. Bang?" "Tidak boleh. Itu saja. Dia ingin menari.. Hidupnya memang menjadi barang taruhan. Dan jiwa itu. atau apa pun impiannya. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh. Tetapi tak ada dari Bang Irfan. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. entah kapan. karena kau istriku. Aku memberimu semuanya. http://www. Dialah Drupadi berambut panjang itu.." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan. Dia ingin menjelma Drupadi.. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya. cermin. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday.Generated by ABC Amber LIT Converter. enggak pakai ini. Apa susahnya?" ucap Bang Irfan.. Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Aku lebih suka kau . Mom.. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian. rapi. segalanya. bahkan sms.. Maka pembicaraan itu terkunci di situ. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu." "Aku enggak suka tarian. "Kenapa. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa... mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan.. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua. ". hening. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari.." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku .processtext.. Wening beku..." bisik suaminya. Dialah dengan kain panjang .html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya.com/abclit." dari Neny sebelum pergi. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya.

Cahaya lampu berkebit. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. "Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. menghidupkannya dalam sebuah lakon. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. dia selalu lantang menjawab. ajaklah dia berbicara. http://www. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum. melintas perlahan di karpet merah. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. Jiwamu lebih halus.. membiarkan berpuluh. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. Izinkan dia bersamaku malam ini. Tepuk tangan berkepanjangan. Wening ingat. memberikan keheningan. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. melangkah hati-hati. Langkah yang sudah dihafalnya benar. wahai makhluk bumi. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. manakah Wening dan manakah Drupadi. Wening bangkit dari tempat duduknya. menyedot seluruh pancaindera penonton. menggema. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. maka kau akan dilimpahi cahaya. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. membiarkan dengung gong pertama bergema. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya.processtext. GKJ pecah.Generated by ABC Amber LIT Converter. tertiup pendingin udara..!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. memasuki pintu. berulang. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". Bang Irfan pulang. menaiki tangga. Dan penonton memang tak bisa membedakan. Akulah keindahan. Akan kuajarkan kepada kalian. ." jawabnya agak polos dan kekanakan. yang menciptakan jarak sepi.com/abclit. Tetapi.. Mereka terhenti di suatu ruang. berjalan dari pelataran GKJ. malam itu. bahwa inilah jiwa kalian. Itulah yang menggerakkan Drupadi. Dalam gemulai geraknya. "jadi penari.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya. membelah kerumunan penonton yang masih di luar. dan karenanya. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Biarkan matamu menangkapnya.

api kemarahannya menggelegak. "Abang pulang? Sudah makan. Lakukan keinginan abang. Aku suamimu. Aku tidak suka. Bang?" sapanya. Ucapan kasar.. Pintu rusak. Pasti bisnisnya gagal. Pintu terbanting. Belum lagi Wening duduk." Berkata demikian. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. . Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini..com/abclit. Sesaat kemudian.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. http://www. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. runcing. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. Irfan keluar dengan langkah besar. tapi kali ini. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat". Sunyi. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. Dikenakannya kemben kain panjang putih. Wening melepas bajunya. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar.html "Masih saja . Diserbunya kamar Wening. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang. terbuka dengan paksa.. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. Begitu kasar ucapan bang Irfan. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang. Silakan larang aku. Didobraknya pintu. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi.processtext. Suaminya terdiam. darah mengalir. Wening terpaku. telanjang. dasar. Wening masuk kamar.." Wening tercambuk..

memang telah rusak—lama sebelum malam ini.processtext. dan tak ada yang bisa menghentikannya. yang diberikan manusia. Dibiarkannya. Sesekali dia kengser. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah.. Wening yakin sekali. pintu hidupnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. http://www.com/abclit. Wening hanya melihat. Mereka semua membisu. "Mama. Dia adalah Wening.. juga mertua.html Iringan rebab menyayat malam. condong ke depan. dari tempatnya berdiri. Kain samparannya terlalu panjang.. sesekali pula dia tawing. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. Wening bergerak sangat lambat. yang berhasil diciptakannya. kali ini. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. menariknya perlahan. berenang dalam cahaya keindahan geraknya. mencoba mengingatkan ibunya.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. sebuah bangun menakjubkan. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. Langkahnya terus mengalir. Tidak. Bumi yang halus. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. please. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. Dia akan menari. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. Dan baginya. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dilaluinya pintu yang rusak itu. menoleh ke sudut. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. selebihnya dia melangkah perlahan.. Tetapi Wening telah menari. sejak malam ini. tak paham akan keindahan. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. dengan tatapan tertuju pada bumi. Namun. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. laki-laki memang tak pernah dewasa. . ah. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. ibu dan ayahnya yang renta. terseret gerak tubuhnya. Perlahan langkahnya menjauh. yang anehnya. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. miring ke kanan. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. Mereka berubah menjadi batu.. dan membagikannya kepada dunia. dungu. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu. entah sudah berapa lama. kemudian sanak saudaranya. sesekali dia ukel. anak-anaknya berdatangan dalam bisu." bisik Neny setengah menangis. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini.

html Irfan mencoba meringkus istrinya. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto. Karena saat ini..com/abclit. Wening bahkan tak melawan. dia tengah menari dengan jiwanya. khususnya pada bagian tangan. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. 982 1 Gerak tari Jawa. Wening tetap menari. tak terdengar sama sekali oleh Wening. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi.processtext. Dia hanya tersenyum. http://www. *** Bukit Nusa Indah. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora.. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. . karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. dibantu sanak saudara yang ada di situ. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg..

"Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Justru sepanjang digelandang. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu.processtext." katanya dengan gusar. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa. Seorang opsir dan dua pembantunya. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. . Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu.com/abclit. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Opsir itu murka dan menampar mukanya. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu. setelah mendapat laporan dari seorang kacung. http://www. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol.

bukan seperti pemberontak macam kamu. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Saya bicara sesungguhnya." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau." Opsir itu memerintahnya. Tuan. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya. http://www. tentu tuan akan mengerti lagu itu. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu.com/abclit. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu." jawabnya dengan enteng. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan.html "Aku seorang seniman. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut. Itu lagu Jawa.processtext." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat." jawab sang opsir. . ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek.

Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama." katanya dengan bahasa Jawa yang halus. Tuan benar-benar memiliki darah . Saya tinggal di sana selama tiga tahun.Generated by ABC Amber LIT Converter. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya. "Aha. tuan sungguh berbudaya. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami. Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. http://www.processtext. Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah. "Saya baru datang dari Surabaya." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda." "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. "Oh." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya." katanya. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas. tuan.com/abclit. Tentu saja tuan tak mengenal saya. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah.

Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin. "Ya." katanya. masih menurut opsir kami. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. menurut pengakuan opsir kami. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu." "Ah. Kedua.processtext. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Dan yang ketiga. saya kagum pada tuan. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. "Hapuslah darah tuan. Telah saya cari ." katanya dengan senyum simpul.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya pernah merantau ke negeri tuan.html seni yang kuat. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. dan tinggal di Paris selama dua tahun. "Ah. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi." katanya." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya.com/abclit. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas. tuan. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. http://www. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya.

Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami. Ucapannya tajam. Rencananya berjalan mulus. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. . Dia amat menghormati kesenian. mengetukkan jemarinya pada meja." sergahnya. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. "Saya seorang penulis. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. "Tentu saja. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu.com/abclit. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda. Itulah sebabnya saya sampai di sini. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda. Multatuli. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami." katanya. Tuan. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda.processtext. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden.Generated by ABC Amber LIT Converter. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya. http://www. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa." "Oh. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual.

Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia. rebah di halaman. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Terang. di belakang rumah serupa gubuk. tempat . Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. dan selamatlah aku dari hukuman mati. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. Segaris cahaya menelusup. http://www." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri.processtext. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. Yogyakarta.com/abclit. bilik-bilik kandang. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi.Generated by ABC Amber LIT Converter. selaksa celurit menggantung di dinding.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. Edisi 04/30/2006 Bulan.

Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. ”Bagaimana mungkin. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. ”Lancang benar mulutmu. krik-jangkrik. calon istrinya yang telah raib. merampas dan segera menyeret keduanya. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. perlahan redup. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. Pada Asnain.html tinggal Madrusin. mau merampas hak kami. Tatap matanya lelap. ”Kamu. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. Musdar. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. Madrusin. waktu itu. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. serupa pengembara letih. Hubunganku dengan Asnain. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. tiba-tiba. bersama Luki.. ”Dulu. Kok. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. paman. memegang tangan. campuri. Mail. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. Kalau. tanpa sebab-musabab jelas. berontak. Paman. Ia terdiam.processtext. menuju arena kerapan sapi. di tempat yang sama. dilepaslah baju hitam Madrusin. eppak-embuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. kecipak air dari padasan. http://www. atas keputusan Gani. Paman. Cericit tikus. beriringan. Madrusin segera menghindar.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. Sengaja. ketika itu. Kami tak ada masalah. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. ia tidak langsung menuju rumahnya. Memang tidak pulang. Gani. Begitu pun.com/abclit. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. Gani belum kalah.” Gani geram. tak menyia-nyiakan kesempatan. Bulan. ”Bilang sama eppakmu. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. masing-masing dibawa pulang. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. . Beruntung. tidak pantas jadi suami Asnain. kala itu. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. saling berpaut. Paman. Serupa tarian rombongan seronen. Ya. menepikan bayang. Beruntung. Dan sekarang. Madrusin. Nasib tak bisa ditimang. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. Cobalah sedikit sopan. yang belum lama ini. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. decak cicak.. kecewa kepada eppak-embuk. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. mencintai dan dicintai. Namun entah. Di benaknya. Lenguh sapi menggaung. beberapa kanca Gani. Madrusin bisa mengelak. Pada Gani. Lalu.

semenjak ia berusia sepuluh tahun. Sesekali. http://www. apa maksud dari semua itu. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. Hijau daun-daun. Atau. menggaruk. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. Madrusin pun gairah. Madrusin benar-benar gelisah. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. lengang. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti. (Tapi tidak. Gani kala itu berang. Kita bertemu beberapa bulan lagi. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri.html Langit tampak lebih cerah. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain. Keputusan sepihak. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. eppak-embuk. bisa dibilang. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. mengusap. Kalau Gani. menyabit rumput sebagai pakan sapi. Ya. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya.com/abclit. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. Asnainkah. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya.orang kampung kami. (sebagaimana kebanyakan orang. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. Madrusin yang gelisah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. sepagi ini. Terasa. belum kalah! Gani memalingkan muka. Ya. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap.processtext. Bahkan. Siapkan sapi-sapi andalannya. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. kandang dan pematang. Madrusin terpaku. mengingat pesan dari Gani. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. Ia mengernyitkan dahi. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. Terang. Asnain. ilalang bagi Madrusin. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. Entahlah. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. seumur hidup baru kali ini. Ia nikmati secangkir kopi. kepada Eppakmu. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu.) Sepagi ini. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. Pertengkaran. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya. Madrusin.

Sementara. Untunglah. Pada Asnain mantan tunangannya. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. . Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak.” desisnya. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. Ah. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Selang beberapa saat.Generated by ABC Amber LIT Converter. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. cepat menghindar. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya. ”Asytaga.com/abclit. dijemputlah celurit. Madrusin penuh tanya. tiba-tiba. apalagi sampai ia kecewa. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. Tentu saja Madrusin tak ingin. http://www. cepat ditunggu kakek. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. saling meminta maaf. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. Ia kenakan peci dan baju hitam. Bukannya ia takut dibunuh. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. celana komprang berlapis sarung. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam.” imbuh Imron. ”Ya. meski sebenarnya ia ragu dan curiga. apa gerangan yang membuat Gani. Madrusin mendesis di antara kebingungannya. Madrusin. Madrusin. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. Sebagaimana tradisi di kampung kami.” Madrusin tergagap. Tidak.html merunduklah serimbunan ilalang.processtext. Gani menunggu terlalu lama. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. di sela kegelisahannya. Karuan celurit itu luput sasaran. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani.

Madrusin tergagap. beriringan menuntun sapi. Sebagian di antara mereka membawa obor. http://www. di antara mereka sudah akrab dengan alam. Tentu ia akan marah-marah. ada apa. Lampu teplok menyala remang. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu.” ujar Imron. Imron. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. tubuhnya agak bungkuk. tak kunjung jatuh. tenang.” Mendadak. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar.processtext. Tidak. Kakek. Sesaat tubuh Madrusin tersentak. Asnain tak suka kepada tunangannya.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. ”Itu. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan.” ”Tentang. melihat Gani. menggantung pada batang bambu atap kandang. ia . sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar.com/abclit. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. Ranting-ranting pohon menggantung. barangkali sudah lama menunggu. Asnain sudah ada yang meminang. ”Sebenarnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada yang perlu dibicarakan denganmu. Mata Madrusin nanar. Asnain?” ”Tidak mungkin. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. orang-orang berjalan bersama. menampakkan seseorang yang sedang patah hati. ”Tapi. ia duduk. Sin. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. menunggumu. Ia masih ingin kamu jadi suaminya. Ron?” ”Barangkali. pada batang pohon dan buah siwalan. langsat warnanya keemasan. wajahnya berkerut.” imbuh.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. ”Ada yang perlu kubantu.” ”Ada apa dengan sapi. kalau soal itu maaf. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. Ah.” ”Memang kenapa?” . ya?” ”Kita nego. yang tengah duduk menunggu.processtext. ”Tak apa-apa.” jawabnya. tidak. kau dapat membujuk Eppakmu. bernafas lega.” Sejenak Madrusin.html harus tenang. Man. seraya meminta maaf didekatinya Gani. Madrusin mendekati Gani. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan.” suara Madrusin ramah. saya berharap. terlambat. Pelan. ”O. http://www. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran.” ”O.com/abclit. ”Maaf. kita?” ”Bulan depan. Madrusin. Man?" ”Ya. sapi kita.

dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. tajam. Madrusin tergagap.” ”Eppak. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging. ”Kenapa dengan. Asnain?” ”Taruhannya. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin.processtext. ingin menampar mulut Gani. Man. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf. http://www.” Madrusin. Gani pun naik pitam. untung saja Madrusin segera menghindar. Namun. Jogja 2004-2006 . ”Naif benar. Percayalah.com/abclit. tak bakal mau. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. naik pitam. Paman.” ”Sin. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. Tak seperti biasa. Madrusin terus menjaga dirinya.html ”Asnain.Generated by ABC Amber LIT Converter. sangat kuat dengan prinsipnya. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. yang hanya sisa tradisi. mengendalikan emosi.” desis Gani. Asnain tetaplah akan menjadi istriku. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi. Lancang benar kamu. Beliau.

Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat . juga tanpa wasiat.com/abclit. Tanpa firasat. Saat ditemukan. Bapak Ibu." "Istighfar kak. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. seperti korban overdosis. Tadi pagi masih segar bugar. Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. [2] Eppak Embuk. kini sudah terbujur kaku jadi mayat….Generated by ABC Amber LIT Converter. uji coba pertandingan kerapan sapi. Amat menakutkan. http://www. [3] Kae.processtext.html Catatan [1] Lotreng sapi. Para sesepuh adat. alim ulama.

kampung kita." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. Sebab. sebelum diusung ke pemakaman. bidang ilmu politik. Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. http://www. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. Nah.processtext. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. tidak segampang itu. tak lama lagi akan segera disembahyangkan. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. semuanya terserah ayah…. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya.com/abclit. agak sinis. menyelesaikan program doktor. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . jika ayah tidak ’pandai-pandai’." ketus Lusi.html membendung kesedihan.

" jawab bupati. tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. Selama menjabat. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. itu artinya kita berkolusi. Itu saja tidak dikabulkan bupati. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. menghormati beliau.orang nagari Sungai Emas. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. seperti hendak mengelak. biar mampus!" umpatnya. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. http://www. . ceritanya akan lain. jaringan telepon dipasang. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. Kalau saya bantu. pasti akan diterima. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. Hingga kini. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas.html ke rumah dinasnya. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. Padahal. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau. Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton.com/abclit. mentang-mentang kita sekampung. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. Ah. agar si Bujang Paik. "Daripada menganggur saja. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. meski tidak menjabat bupati lagi. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. "Tentu saja boleh Nduang. "Iya pak. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas.processtext. Bermohon kepada pak bupati. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas). Meski sudah pensiun. sedikit berdiplomasi. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau.

tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. Tak ada biaya. Ua-ha-ha-ha…. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. tukang jahit. Namun. Apa boleh buat! Kini." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. Sebenarnya. lurus tabung. Terlalu lurus.Generated by ABC Amber LIT Converter. pergi merantau. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. Anak-anak muda menganggur. tak jelas juntrungan. bupati sudah tiada. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. pura-pura tidak paham.processtext. entah sampai kapan. dasar orang jujur. tapi kini sudah mati." balas kak Pi’ah.com/abclit. Kematian yang misterius.html Sayang sekali. agak kesal. Sejak itulah. Lagi pula. Genap tujuh hari kematian bupati. Maka. seperti tabung." "Ah. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. kuli bangunan. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut . Ironis! Namanya Sungai Emas. kasar benar kelakar sutan. tak layak tempuh. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. Tak dihormati lagi. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. mengadu peruntungan ke Jakarta. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. jalan satu-satunya adalah. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. http://www. hanya tinggal nama. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. janda tua pemilik kedai kopi. bupati mulai dimusuhi. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. sok jujur. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. petugas parkir. satpam. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. tidak pula penyakit kronis. Sementara itu.

Lagi pula. mulai bersemangat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. Sebab. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. bisa saja jauh lebih mengerikan. itu dia yang kita cari selama ini. Kenekatan macam itu. kematian selanjutnya. 2006 Catatan: . Kabarnya. Tapi. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. ganti bertanya. "Oh. http://www. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. kali ini sambil bergurau. "Putuskan saja tali jantungnya…. di nagari Sungai Emas. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo.com/abclit. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. Lupa saya. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. Tak bakal berhasil. "O." Kelapa Dua. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. "Tapi. Meski diam-diam. Sejenak si Datuk menerawang. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo." jawab Marajo Kapunduang. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. hanya akan mengundang musibah baru.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. Bila kelak ia memenangi pemilihan. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Bagaimana menurutmu?" "Nah.processtext. Namun. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. itu sama saja artinya dengan bunuh diri. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. kini ia pejabat eselon di Jakarta. Iya.

" Masih akan ia dengar berbagai decak kagum." "Terkenal. Tangis dibuat-buat. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. duh tampannya. sodoran mike." Timpal teman lain." sebelum kemudian ditutup. melempar senyum kiri-kanan. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. ia pikir itu bisa saja. entah sampai kapan. Tidakkah mereka memang menggali. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. awet muda. saat itu. janji palsu. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). masuk ke dalam sumur. Mengalir. "Itu ayahmu. tawa diejan. si ayah.processtext. akting murahan. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah. "Betapa beruntungnya kamu …. temannya akan berkata. cengengesan. Di depan kamera.Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. julur perekam.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. omong sok tahu. tentu saja. selalu darah. Lima tahun setelah hari ini. "Gagah.com/abclit. gadis itu akan sering berada di depan televisi. Dan." Beruntung? Hmh. saat itu semua tak penting lagi. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. tak lebih seorang dungu. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. kaya. Ayahnya sendiri bukankah juga. oh sungguh tak tahu malu. . Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. dari perut yang belah. Karena. Menggenang dari kepala yang rengkah. tentu pula. "Dermawan. darah. kalau memang demikian adanya. http://www. rakus. Mengangguk-angguk. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. Lalu meluncur. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah.

Senyum. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. takut-takut. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. Dan suatu hari. serta-merta duduk. kalau saja wartawan tahu. kulit hitam. atau seperti apakah.Generated by ABC Amber LIT Converter. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. angguk sopan—keramahan itu. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). kepada dirinya. Lima puluh tahun lalu. http://www. Bahkan kepadanya. Ke angkasa? Bagaimana. Serasa disedot. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. . pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. menjulurkan leher lambat-lambat. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul. ke angkasa. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. lelaki. nyembul-melesak. ia teringat black-hole. lantas melesat. Melesat? Ya. samar pantul wajah.html "Dua belas tahun putusan ringan. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. lubang hitam di jagat raya. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. peduli apa. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. Dan begitulah ia. meruang merongga. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). tentu. sumur. mengerang-erang. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. Disedot? Hati-hati. berputar-putar bagai melayang. lenyap tiba-tiba. kadang ingat kadang tiada. Tengkorak suaminya.com/abclit. pernah muncul dalam hidupnya. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. sumur itu.processtext. Merangkak (rambut keriting. berteriak. entah kenapa. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa…. menjelma ada. dengan melayang? Ah. lama-lama. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. si ayah … ah. Black-hole. Terangkat. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. Black-hole.

Tabuhan yang ganjil.html Ia berdiri. dedaun. Sumur. dari kayu-kayu. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain.com/abclit. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. Maka semua ini. sumur itu … tampak begitu jelas. dengan menegarkan dada. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. http://www. pelan-pelan menjulurkan leher. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. tetapi juga mendayu. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. Pemandangan yang mulanya juga samar. Dua sosok? Dua orang? Ya. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. di kedalaman geronggang mata. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. umbi-umbian yang bisa dimakan. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. lalu berganti dengan pemandangan lain. Oh. khusuk menabuh tifa. membalikkan tubuh dan berlari. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. Juga berbagai buah. semua akan ia peroleh dengan mudah. Itu biasa bagi mereka. tiba-tiba hidup. semakin jelas. ia lihat pemandangan itu: seseorang. Beberapa saat sesudahnya. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. Tetapi itu. yang disebut jangka waktu tertentu. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. patung-patung itu. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. seperti kata damero juga. Kadal. lalu merangkak. pelan-pelan bergerak. sumur melesak dari rongga mata.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suaranya tak hanya mengentak. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. dan tersandar ke dinding. patung-patung kayu yang berserakan rebah. ia kembali melangkah. tikus hutan. Jadi inilah ia: Fumeripits. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. mendekati tengkorak suaminya. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. duduk. akan ia tinggalkan? O. Oh. Maka. tidak. Merendahkan tubuh. Dan yang kini. ia tahu cara mendapatkan. Hidup? Ya. Semakin jelas. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. ular. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. melainkan dengan mencuri. jelas tak masalah. tentu bukanlah tanak. dan tubuhnya bergetar. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa.processtext. telah menemukan jawab. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. dan kemudian menjelas. Oh! Apakah. Sang Pencipta. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. tengkorak suaminya. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. Berkelana di hutan. Tetapi … itu. Desoipits dan Biwiripits. Tapi hanya sebentar. pelan menghilang. geletir air. tak boleh bertemu dengan siapa pun. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. Riak kecil. lebar dan luas. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. goyang pantul wajah. mulanya samar dan kemudian jelas.

rasa mual itu. dijulurkannya kaki ke dalam sumur. perut … oh. hiasan mahkota atau entah apa. dan dindingnya—melingkar searah . Ah. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. tirakatan semalam suntuk nglakoni. Tetapi. O. leher tertebas. jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. pundak lepas. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. Dua jam. crass. crass. membuat ia limbung. 30 menit. Hari telah malam. menyembur-nyembur. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. kelebat kapak. atau jarum emas. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. dalam rongga luas yang bagai semesta. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. dada. seperti meremehkan. cras. Tetapi ternyata tidak. dan dingin. itu bohong. ketika waktunya tiba.processtext. Dengan hari Kamis ini. 3 jam. Ayun tangan. walau sudah senja. Darah. darah yang memancur. tanpa sadar. menyembur-nyembur memualkannya. pusing yang kemudian menyusul. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. cincin. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. Lagi. darah. Semakin dekat. Sampai lama. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. nyata? Darah. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. Sepuluh menit. Lagi. minyak bondet. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. mulai nenepi. rujak degan. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. nyata? Dan tiba-tiba. Ia pun dedekep. http://www. dupa china. darah menyembur. batu merah delima. Dan kini. mangkok. Biwiripits. 1 jam. ujung dini hari.html tradisi pengayauan kepala. lalu rebah. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. seperti nasihat gurunya. darah. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas.com/abclit. mata rantai. orang masih berseliweran di sana-sini. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. Crass. oh …. Senyum seperti mencemooh. pemandangan ini tentu juga akan hilang. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi).Generated by ABC Amber LIT Converter.

akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. tetapi subur bagi pohon jati. Crass. perempuan juga. Selasa Kliwon…. Memancur-mancur. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. http://www. sejenak. . Senyum lebar yang bagai tertawa. Crass . terutama buah-buahan seperti mangga. Tetapi. Dan di sana.… Darah. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Menyembur-nyembur…. "mengangkat" si guci dari sumur. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. Lalu pelan. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. Dan seorang lagi. lima hari lagi. Tubuh lelaki itu bergetar. Tetapi nanti. lima hari lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Darah." Ya. leher putus. Guru. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. Selasa Kliwon. jauh dan kecil. Menajamkan mata. belimbing. Lalu gumam." Ya.processtext. jambu. pundak lepas. "Aku berhasil. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. takkan tampak sama sekali. Hela napas lega.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. Desoipits-Biwiripits. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. nangka.com/abclit. Lima hari lagi. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus. Crass. yang namanya guci. dibukanya mata. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Payakumbuh. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. "Selasa Kliwon. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka. Darah. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya. Seperti oase. suku terasing juga. Selasa Kliwon itu. Lima hari lagi…. menatap kosong ke televisi.

Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. bukan sembarang air. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. http://www. setelah memeriksa dan membersihkan kebun. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua. Pak Parto melakukan praktik pijat. Guna menjaga tempat mandi. dan churafat. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Sebagai penjaga kebun. dan kakus. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu.processtext. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. Istrinya ikut pula memijat. Namun. bidah. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. yang penduduknya beragama Islam santri. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. Saking besarnya.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. Pak Parto. seorang yang berusia setengah baya. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. Tetapi. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. yang dibantu oleh istrinya. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. walaupun agak jauh dari batangnya. Pada waktu siang. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. cuci.com/abclit. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. demikian panggilan akrabnya. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. bahkan bisa dibilang fanatik. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Bahkan. singkatan dari takhayul. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. Untuk praktisnya. Walaupun demikian. Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon .Generated by ABC Amber LIT Converter. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai.

" Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. Pak Thohir. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. "Wah. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. bidah. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban." kata Thohir dengan nada ketus. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun." kata Kyai Fauzan. "Tapi Kyai. yaitu Sang Penjaga. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. . Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya." kata Kyai Fauzan Saleh. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat.com/abclit. "Itu syrik. http://www. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya.Generated by ABC Amber LIT Converter. bukan ke dukun syrik. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul. bagaimana caranya memberantas takhayul. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu. demikian nama pemborong itu. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup.processtext. orang-orang desa sulit diberi tahu.

" jawab Thohir memakai bahasa santri. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai.Generated by ABC Amber LIT Converter. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. masjid. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa.processtext." jelas Thohir lebih lanjut. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. Kedua. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. Pertama. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini." "Begini Pak Kyai. rakyat harus dibuat simpati dulu. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu. MCK menggantikan kolam yang sekarang. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka. Pohon trembesi terkutuk itu. http://www. Di atasnya persis kita dirikan masjid. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi.html "Tapi. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. .com/abclit. Innal Batila kaan zahuko." kata Thohir menjelaskan usulnya. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun.

Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas. . penyakit menular.com/abclit. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. Dengan kembali kepada yang benar.processtext." tangkis Kyai Fauzan. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". Dalam tempo hanya enam bulan.html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya. mula-mula membangun masjid. dan gedung puskesmas. http://www. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. atau kelaparan. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu. "Lagi-lagi takhayul. seluruh bangunan itu selesai. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. Jika pohon itu ditebang. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. Mereka pun marah. kemudian MCK.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. Parto berkata kepada para pengikutnya. Tanah longsor mungkin gempa bumi. Pada suatu hari Jumat. maka Sing mBau Rekso akan marah besar. al ruju’ ilal haq. "Wah saya juga tidak tahu. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu.

processtext. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka. .com/abclit. Setahun kemudian. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. "Ya betul. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut." jawab Parto. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. terutama bangunan masjid. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. terutama masjid mulai retak-retak. http://www. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. timbul suatu gejala yang aneh. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Tidak saja air tidak lagi mengalir. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun.

" jawabnya sambil tertawa keras. pemborong itu merasa tersinggung. mengecat kamar mandi. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya.com/abclit. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. menggali lubang untuk resapan. karena . Jakarta. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud. http://www. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. membuat pagar bambu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat. Kenyataannya. Tidak cukup untukku hidup. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang. hidup dengan 460 watt. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. memperbaiki engsel pintu dan jendela. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru.html "Waduh." jawab Kyai Fauzan. Tanya saja pada pak insinyur. Tapi aku akan mencobanya. memasang kabel-kabel listrik. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Memperbaiki talang yang bocor. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. bangunan rubuh bukan soal agama.

Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Beberapa teman membantuku. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Kalau listrik tiba-tiba mati. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu. tengkeyu. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. tidak terlalu membutuhkan listrik. Di sebelah rumah. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Ah. Han. Terus dikeduk. Rumah itu sebuah kubangan besar memang.. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. Wianta. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk.com/abclit. kadang aku biarkan listrik tetap mati. dari teras depan hingga kamar mandi. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Sebagai seorang penulis. beberapa lukisan berjamur. termasuk mengusir rezim kesenian. Kadang aku sebel.. Karena sebel. man. ada bilik sederhana berdiri..processtext.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Boi. . Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. aku menjadi sangat kerepotan. Tengkeyu. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan.. http://www. karena pemakaian yang berlebihan. Kadang aku ragu. Rumah ini sudah dua tahun kosong. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. Katon. Tak ada orang yang mengontrak. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Tak ada honor untuk kontrak rumah. He-he. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. tempat seorang petani biasa beristirahat. tengkeyu... lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku.

Dadang menyewa tanah ini . Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. kadang kilatan-kilatan petir. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. tetapi karena lembab. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. Lembab. seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu. tapi lukisannya masih ada. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Mata memandang mata. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. Antara aku dan genteng kaca. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku.processtext. Seorang teman bercerita. aku pernah datang ke rumah ini. Mata memandang mata. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. http://www. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. lalu mengalami kecelakaan dan mati. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. Ada di depanku. Waktu yang membuat sebuah pintu. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Mata memandang mata. Mungkin tubuh mereka seperti angin. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. kecemasanku muncul lagi. Kopi dan Kremi. Kira-kira 10 tahun yang lalu.com/abclit. membersihkan diri dari kotoran. Sepasang anjing kami.html timbunan pasir yang mengotorinya. Pelukis perempuan itu sudah mati.

Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. diambil oleh beton-beton.com/abclit.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok.html selama 15 tahun. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. karena dia harus pindah ke kota lain. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. .processtext. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. kalau hujan besar. "Dang. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. di Ancol. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. "Ya. http://www. lalu berdiri sebuah bangunan baru." jawab Dadang. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. entah untuk rumah atau untuk ruko. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil. Aku teringat 1. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Betapa malangnya hidup ini. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air.

. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Kalau aku mati.000 patung Dadang ada di dalamnya. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. Aku terus menggali. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". Dan aku mulai kehabisan uang. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku.. rumah itu mirip dengan peti mati.. Hmmm. http://www. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Aku menyambutnya dengan ember-ember. aku harus kembali menimba air dari sumur. He-he-he. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Fit. Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. saxophon. hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme.processtext. Rumah itu memang terus bercerita.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. Ketika dia meninggalkan rumah ini. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. Manajer itu orang asing. 1. Hmmm. . Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Ketika aku tak punya uang. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati.Generated by ABC Amber LIT Converter. sayangku. dan sebuah harmonika.com/abclit.. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup.

bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. http://www. Hujan mulai berhenti. dan bukan bayangan mata air. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur.processtext. menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air. Waktu terasa dingin. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata. Aku melihat hidup. Perutku seperti tertekuk ke dalam. Langit mulai terang. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Angsa-angsa putih menyelam. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Kalau itu juga adalah bayangan mata air. menyembul.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. . Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur.. . Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri. Mata menatap mata..com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka saling memagut dan bercinta.. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Asmara angsa.. lalu mendarat kembali. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah.. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar.

untuk merebut cinta Siegfried. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. tidak minum wine.com/abclit. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Zahra. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. http://www. buah-buahan. sangat populer di seluruh dunia. Andrei Joukov. Di antaranya di tempat ini. ayu dan ganteng. pemilik istana dan telaga. Tampak Viatcheslav Gordeev.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. plain croissant. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. kegemarannya. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. yang mengelus rambutnya. menteri. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. yang secantik Odette. Begitu pula para pebalet teman Zahra. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Mendengar kabar ini. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. ngobrol dengan gubernur. dan jus jambu kelutuk. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Odette. Natalya Ashikhmina. pemeran Rothbart bergantian. jatuh cinta kepada Odette. yang ditemani balerina Masami Chino. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Sebaliknya. dan pembesar negara lainnya. Odette dan . Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Maya Ivanova. Alvin Nikolai. sebagai sponsor pertunjukan.500 penonton. juga grup dari Perancis. yang disihir Rothbart menjadi angsa. angin sepoi-sepoi. Rothbart sang penyihir. insya Allah. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. gubernur berjanji. Dia memilih minum air jeruk nipis. pernah berpentas Martha Graham. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. balerina 21 tahun.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Irina Ablitsova. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Mereka rame-rame menikmati salad. Usaha Rothbart berhasil. memamerkan putrinya. Pangeran Siegfried. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. gubernur. Odille. Maxim Fomin. yang putih maupun yang merah. Jerman. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. sup ikan tuna. tentang balet di Rusia. Dengan 1. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda.

lho. sampai Kakek terbatuk-batuk. Eugenia Singur. dan Anna Vakina. Eyang bisa kesleo. Siegfried sadar.processtext. ”Terpikat boleh terpikat. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. seluruh istana bergembira. kakek dan neneknya. siapa pun tak bakal salah memilih. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. saya sih. ”Odette atau Odille. Seketika. dan Anastasia Baranova.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah.Generated by ABC Amber LIT Converter. adalah para pemeran angsa kecil. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga.com/abclit.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya.” tukas Kakek. Rothbart marah besar. ibu. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Kakek terbatuk-batuk lagi. cocok-cocok saja.html dayang-dayangnya jatuh sedih.” celetuk Nenek. juga tante dan oomnya. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. ayah. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. Tatiana Chungunkina. . Semuanya tertawa. angsa itu menjelma Odette. Oxana Gasnikova. kedua adiknya. Semuanya tertawa. Olga Ivachenko. Sekalipun dengan mata terpejam. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. ”Awas. http://www. Begitulah. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya.

” . Semua tertawa. ”Lho.” ”Jangan begitu. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” ”Kesan.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator.” tukas Zahra. yang ndak cocok bagi kamu. Melihat kostumnya.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. Eyang.processtext. pertunjukan itu harusnya disensor.” sambung Kakek. memangnya kenapa?” tanya Zahra. sih.” tukas Nenek.” sanggah Kakek. Kesan. Eyang. ”Semuanya kan tertutup rapat. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. ”Itu kan mengumbar aurat. http://www.” ”Jangan begitu. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.com/abclit. Jika kita bicara soal kesan.” kata Kakek. Aduh. semuanya terkesan jelek. ”Tapi. ”Saya serius.” sergah Kakek lagi.html ”Apa.

”Mati orang kuburan!” potong Zahra. kok yang disalahin balerinanya. mendadak berubah jadi filosof. kecuali Kakek. wah. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. peradaban. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. sih.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Wah. . deh. wah. Obrolan berubah jadi perdebatan.” Semuanya tertawa. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. kostum Zahra ya seperti itu. http://www.” ”Eyang yang kasmaran.html ”Wah.” sambung Kakek. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Meriah. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Semuanya tertawa kecuali Kakek. bubar. Habis jadi diktator. Eyang ini gimana. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi.com/abclit.processtext.

.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.com/abclit. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” Zahra menukas. ” sergah Tante. http://www.” ”Saya heran.” kata Oom. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. kok Eyang sampai segitunya.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” sambung Kakek. runtuhlah kebudayaan. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ”Apa?” tanya Kakek. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.” cetus Kakek. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. ”Eyang benar-benar lowbrow.

ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. Eyang.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Kostum ketat itu. http://www. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. Mendengar kata Kakek ini.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.com/abclit. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Dalam KKN ada tradisi.” kata Zahra.” sewot Zahra.” sela Kakek. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari. ”Adalah tradisi balet. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” .

”Banyak negara yang busuk. Eyang. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.” kata si Oom. . Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. atau lusa. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Kita bisa menuduh mereka ateis. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Dan itu bukan teori.processtext. Eyang. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.com/abclit. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. kata Allah. Bukan kepada Tuhan.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. http://www.” tambah Tante.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal.” ”Hati orang siapa tahu. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Cucuku. Eyang. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Barangkali besok.

Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun.” tambah Nenek. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan.” sergah Kakek. Allah mencintai keindahan. Kecuali Kakek.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Anakmu bukan milikmu. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Ada api yang menyala-nyala. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.html ”Coba.” tukas Nenek. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” tukas Kakek. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Ada air yang mudah mematikan api. saya cuci tangan. http://www. Seperti tercium setan lewat.processtext.” jawab Tante.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Lengang sejenak.. saya dikasih contoh.” . Kita wajib memeliharanya.com/abclit. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Dan ternyata Allah itu indah. Zahra.

Tangerang. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.com/abclit.html ”Saya setuju. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. http://www. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat.processtext. Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. Dalam dandanan kebaya pinjungan. tidak mudah baginya untuk mengingat. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”.” sambung Zahra. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. Dalam balet. Eyang.” ”Sebagaimana balet. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. tidak ada pornografi dan pornoaksi. apa saja yang masih bisa . dengan cara rumit dan sedih. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Cobalah nikmati tari bedoyo. cukup sulit. tergetar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. tumbuh. Suatu dakwah keindahan tiada tara. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. apa saja yang masih bisa dipanggil. di sebuah tempat yang sulit dijangkau.

adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. Suara lirih mulai terdengar. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suara yang groyok. dan apa saja yang tidak boleh didengar. Diam. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. menyimak. Juga tubuh yang gampang gemetar. tafsir yang berkerumun. Bagiku sendiri. untuk apa. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. juga tidak kurang bermasalah. Mata yang menyempit. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. Apalagi. kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. Tugasku adalah belajar untuk diam. Dan banyak telinga sudah diproteksi. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. bahasa yang kabur. lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. mendengarkannya. berkaca sekaligus berkapur. Jarak psikologi yang jauh. dan sebuah lukisan kaca. dan bagaimana mengisahkannya. kadang lirih. mendengarkan. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.html tapi tidak ingin ia panggil. Ia lalu lebih sering diam. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. kadang membesar tanpa irama. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. sayup dan lamat-lamat. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri.com/abclit. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. kalau bukan karena penderitaan? . dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki.processtext. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul.

dan jangan nakal. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. Lalu saya bilang: Pak. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam. Waktu saya kecil. http://www. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. ”Sesampai di sekolah. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. apa salah saya. ia terlihat cukup tenang. saya pergi mandi. Nanti. saya hanya ingin menjadi guru. ”Satu per satu. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. ”Mereka sudah datang. belajarlah dengan baik. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. berdandan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kalau ada guru lain yang menggantikan. Rombongan itu mengikuti dari belakang. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. disusul oleh seekor yang lain. sepi itu begitu menjadi-jadi. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar. lalu mereka segera melesat pergi. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih. saya ini seorang guru. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. ”Pagi itu. ”Saya benar-benar tidak tahu. saya menciumi wajah murid-murid. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini.processtext. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. Di luar . hanya anak seorang janda. Lulus sekolah. Mbak.com/abclit. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku.html Tapi. Ya karena melihat guru-guru saya. Rapatnya mungkin akan lama. Sesekali aku menengok ke arah pintu. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. Saya ini dari kecil miskin.” Ia diam. Kembali matanya temlawung jauh.

” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah. ”Maaf. Mbak…. namun lirih. Ketika tiba giliran saya diperiksa. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Saya sedih sekali. Tangisan itu menjauh.com/abclit. Tapi…. dengan nada yang seperti berteriak. Bu…. lalu mencoba mendiamkan si bocah.html kegiatan mengajar. Ia dengan segera keluar. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah. wong saya memang tidak tahu. saya diambil lagi….processtext.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. ”Dua tahun kemudian. Bu…. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. dan aku tidak tahu mana yang tepat. ternyata tidak…. Tiba-tiba di luar mendung. ia berkata. neraka katut. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. ”Ya…. kembali duduk di sampingku. http://www. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang. mirip suara kanak-kanak. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. Saya juga tidak mengerti. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Sampai ke suwarga nunut. saya aktif di organisasi itu. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. Wong saya tahunya.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil. si bocah digendong ibunya.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. Saya mengira bahwa saya selamat. Mataku selamat dari rasa silau. Tubuh tuanya gemetar. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. . ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. matanya semakin berkeruh. neraka katut.

ingatlah anak perempuan Bapak…. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar. Tapi dia tetap mendekati saya. Aku menawarinya minum. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. Sesampai di kamar. Mbak. Tubuh saya penuh dengan kutu. Ibu itu diam.” Lagi-lagi. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. Kalau Bapak punya istri. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. Saya memohon berkali-kali. ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar.processtext. Lalu membuka celananya…. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. ”Maturnuwun. saya ini belum bersuami. Ia menutup pintu kamar. Saya bilang: Pak. Saya baru masuk saja. ingatlah istri Bapak. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. lalu… mengencingi saya…. ”Eh…. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. Tapi tidak ada yang menggubris. kalau Bapak punya anak perempuan. Ia mendekati saya. dan mengambilkan segelas air putih di meja. tanpa basa-basi. Mas….” Ibu itu terdiam. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh….Generated by ABC Amber LIT Converter. saya ditelanjangi…. Saya memohon ampun berkali-kali. http://www.com/abclit. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. Saya langsung diangkut begitu saja. di dekat leher.html ”Yang kedua itu. kemaluan bapak itu mengkeret.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. setelah saya bilang seperti itu. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. . tapi saya tetap ditelanjangi…. Lalu orang-orang itu pergi. Saya dibawa ke pabrik tebu. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan.

Semua serba salah. rambut saya itu panjang. Saya tidur di sebelah utara. kok diperlakukan seperti itu. mereka itu. Lalu…. saya juga dipukuli.com/abclit. Tapi. saya juga dipukuli pakai sepatu. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. kalau tidak saya lihat matanya.” Ibu itu suaranya mengecil. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. saya juga dipukuli. Kalau saya jawab. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu. Saya diberi pertanyaan yang sama. saya juga dipukuli. mengguntingi rambut saya.” Andre mengambil minuman di meja. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. saya dibawa ke sebelah selatan. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. tapi katanya saya dianggap menentang. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. ke kantor polisi. Eh. apa ya layak…. Kalau tidak dijawab. ”Suatu kali. lalu kalau diperiksa. Mbak. memperlakukan saya seperti bukan manusia. Kami bertiga menunggu. saya tunjukkan tempatnya. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. hampir sampai lutut. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. saya minta rambut saya. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya.Generated by ABC Amber LIT Converter. semakin lirih penuh dengan tekanan. http://www. menyeberangi jalan raya. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya. Setelah itu…. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. Yang tidak mau dipukuli. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek.” Ibu itu terdiam lagi. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk .html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. ”Setiap hari saya disiksa.processtext. muka saya dipukuli pakai sepatu. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu. Saya ini manusia. Di kantor polisi itu. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. Dulu.

Sebelum saya memakai pakaian. ”Dan rupanya itu belum cukup…. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya. Dipotret. wajahnya yang putih segera memerah. Tubuh Si Ibu terguncang. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu…. Ibu itu bangkit lalu keluar. seperti apa itu. Saya menjerit. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. saya minta waktu untuk berdoa. dan itu dipotret. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. Ibu itu masuk sambil berkata. ”Sebelum melakukan itu. Tidak ada suara cicak. Kok ada yang dinistakan seperti ini…. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata.” . Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti…. isak Mirna pun lenyap. Tintrim. ”Mbak. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu. Saya mengulurkan gelas air minumnya. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. Selesai kejadian itu. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. Andre membuang muka. http://www. Mbak.” Ruangan hening. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan.html mengambilkan minuman.” Semua diam. janji Tuhan tentang keadilan.processtext. Lalu menghirup napas agak panjang. teriak kesakitan dan tidak didengarkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu. Sepasang mata Mirna bobol. Mas. Gerimis turun di luar. Saya ingin tahu. Ada tetangga yang meninggal dunia. saya harus ke tempat kesripahan. Di dalam ruangan lembap ini.” Ibu itu kembali diam. Petugas-petugas itu malah tertawa.com/abclit. Sepintas yang sempat kudengar. Ia minum dengan pelan.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Mirna lalu mendekati Si Ibu. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Berkoreng di lutut kirinya.processtext. http://www. semen. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Hari masih gerimis. Edisi 03/12/2006 Selalu. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Di dalam taksi. Usianya paling 12 tahunan. Kadang berloncatan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. mungkin memastikan jadwal. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Andre merapikan alat. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas.html Kami mengiyakan. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. kapan kami bisa kembali lagi. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari .alat audiovisualnya. Ketika ibuku menyapa. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan.tara aku keluar rumah mencari taksi. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. dan hanya bisa bertanya. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Setiap pagi. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa.com/abclit. Selalu bercelana pendek kucel. berbincang pelan. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. seperti menjolok sesuatu. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu.

Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu.html bocah itu. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. . Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah.processtext. Memandang mata itu. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. yang kata Mama. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan. Dan ia selalu menggambar mata. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. http://www. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Ia menurunkan kaca mobilnya. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Tapi Papa kerap menghardik. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Berminggu-minggu mengikuti terapi. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog.com/abclit. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Ia suka menatapnya berlama-lama.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. mata dengan sebilah pisau yang menancap. ”Mata itu seperti jendela hati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. ia selalu disuruh menggambar. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Tak ada keruwetan. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. saat ia berusia tujuh tahun. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Ia ingat perkataan Oma. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah.

Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. Semua itu hanya mungkin. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. seperti mata bocah itu. padang gersang ilalang. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setiap menatap mata seseorang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Eceng . Begitu bening begitu jernih. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Membuat Gustaf berpikir. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Setiap kali terkenang mata itu. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Gustaf kini bisa mengerti.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. pecahan kaca yang menancap di kornea. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Karena itu.com/abclit. Rasanya. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Ketika berjongkok. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang berkilat licik. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap.processtext. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. kawat berduri yang terjulur panjang. batin Gustaf. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. http://www. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya.

Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. http://www. pikirnya. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. semuanya sudah tampak sempurna. Bila perlu ia menculiknya. Ia ingin membuka jendela.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. sambil berbicara kepada temannya. Begitu lift itu tertutup. Bila ia bisa memiliki mata itu. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. Gustaf tersenyum.com/abclit. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. . Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. dan melemparkan recehan.processtext.

ia menyapa. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang. Meneer. pekerjaannya. ia memberi salam. apa pun di ranjang.html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. makan di ranjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan takzimnya. baca koran di ranjang. mengantar sarapan. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri. membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya.processtext. http://www. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. asal kota tempat tinggalnya. ”Selamat pagi. meletakkan selembar koran. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. menyeka tubuhnya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta.” . dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya.com/abclit. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya.

saya terpaksa melakukannya. Tetapi. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya.processtext.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. ”Ya. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar.” kata si pemuda. Meneer. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. apa boleh buat. Meneer!” ”Ya. tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. tidak demikian halnya dengan lelaki itu. ”Sekali Anda membiarkannya. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. . meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. seterusnya akan diremehkan. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun. Ayo bangun. apalagi gusar. pemuda itu menyalakan lampu. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut. angin laut masih terus berembus dengan kencang.” >1<”Ya. lalu bangun. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap.Generated by ABC Amber LIT Converter. menggenjot sepeda dari rumah. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. Tetapi. empat kilometer jauhnya.” mulut lelaki itu menyahut. Namun.” jawab lelaki itu.” sahut lelaki itu singkat.com/abclit. http://www.

si pemuda terus saja mengobrol. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer.. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya.” . tidak memerlukan rekrut serdadu baru.” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya.” ”Anda tahu sekarang..” ”Nah. ”. ”Yaaa. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai. kenapa saya berada di sini. saya akan kehilangan satu setengah tahun. Sebabnya. http://www. kerja kasar seperti ini.” lelaki itu mengerinyutkan muka.html ”Kalau tidak. Anda renungkan.com/abclit. Kendati bukan jawaban yang memuaskan.. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan. bukan?” >d 1<”Mmmm. ”Coba.” kata perawatnya..” ”Hhmm..processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya. bayangkanlah. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja.perang dingin sudah berakhir. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya... ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil.. gajinya kecil Meneer.

Itu saya tidak bisa. Irak. Anda pernah berdinas di mana. ya. Tragisnya. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan ya yang sangat menjemukan. Meneer. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang.” ”Mmmm.com/abclit..processtext. Di Serbia. misalnya. ”Perang memang mengerikan. dalam satuan apa.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. . Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. Tetapi..” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan. Maka. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. Saya tak tahu. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. Kroasia. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya.” ”Ya? Tetapi. http://www. ”Ya. sebagai profesi. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar. Tetapi. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. kecuali ya. pikirnya. Dan ia mendapat kesan.” Suara lelaki itu terdengar datar.” Jawaban yang meragukan tentu saja.” ”Mmmm. Membunuh lalat saja saya tidak tega.. dilontarkannya pertanyaan. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. Bosnia. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. tak ada juga tanggapan yang didengarnya.

”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. ”Ya. kapan itu terjadi.processtext. Tetapi. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya. tidak untuk membunuhnya. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang.com/abclit.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. lalu ditutup lagi bila udara dingin.” ”Ya. Meneer! Lakukanlah mulai esok. Tidak terlalu sukar.” ”Ya. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan. http://www. lantas mengganti seprai. mendesing di sekeliling lampu. Ia lantas beranjak ke jendela. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. matanya nanar mengedari seluruh ruangan.” ”Ayo Meneer. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya.” ”Terima kasih. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut.Generated by ABC Amber LIT Converter. . memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. bukan? Cukup sambil berbaring saja.” ujarnya. akhirnya ia gagal menemukannya. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. Cukup beberapa menit saja. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja.

. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu. saya rada neuwsgierig sebenarnya. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia.processtext. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. Meneer. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo. Meneer. Konon. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm.. Tetapi.. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut.” ”Saya menentang perang Meneer. Meneer.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang. kakek saya lupa.” . Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia... Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. di zaman dia dulu. ”Meneer.com/abclit. ia mulai bicara lagi. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi.Generated by ABC Amber LIT Converter. tentara Ambon memang tukang perang.. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan. apalagi melawan bangsa sendiri. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai.” ”Mereka memerkosa wanita. http://www.” ”Ya. bukan?” ”Mmmm. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak.html Namun. mereka berada di bawah perintah penjajah. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan.

Ketika ia berpaling. dan mengganti seprai. ia melangkah keluar dari kamar. ”Saya terkadang lupa. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja. Tetapi. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda.” si pemuda nyengir karena merasa disindir.. kamar demi kamar. seperti baru sadar. Ia lantas bungkam.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama.. http://www. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. belum tertangkap sampai sekarang. Tragisnya.. Delapan ribu orang Islam. Meneer. Ia ..html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab. bukan? Cukup sambil berbaring saja. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag.com/abclit.. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor.processtext. Tidak terlalu sukar. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron.” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua. bukan?” ”Ahh..Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama. menukar piyamanya. ya.” ”Mmm. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. ”Maafkan saya.

com/abclit.processtext. Saya kehilangan dua tangan.” ”Ya. ”Ah. kata Anda. tetapi menggumam dalam hati. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza. 7206 .. tak semuanya berhasil dijinakkan. tetapi. cucu tukang perang. bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara. http://www. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer.” ujar lelaki itu.” ”Tetapi. Panggil saja Patti. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. Tetapi..html melangkah balik ke dalam.Generated by ABC Amber LIT Converter. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya. merenggut kertas tisu dari saku. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya.. mulutnya diam. kerja sipil gajinya kecil. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban. perang perlu dilanjutkan.” ”Nah.” Pemuda itu melangkah keluar.” ”Apa? Anda bilang apa.

tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. berputar-putar dengan gagahnya. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. Dengan bahasa kasarnya. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. dipersilakan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. masuk. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. Beberapa detik. ajudan itu tidak saja menyebalkan. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. . Ajudan setengah berlari membuka pintu. SH dan rombongan. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. tapi meyakinkan keganasannya. ”Pak Muis. Tak lama.processtext. http://www. Engku Nawar menarik nafas panjang. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. dan menutup kembali.com/abclit.

minuman datang.Generated by ABC Amber LIT Converter. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil. habis itu saya pulang. Oleh karena itu. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. Engku Nawar telah siap bersama cucunya.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis.html Sehabis magrib. keperluan. dan jalan kaki. cucu kesayangannya itu. Sarini. nanti saya sampaikan. tuh. Semua mengisi formulir yang sama. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. Dari percakapan orang-orang. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. Sebentar lagi selesai. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Tak lama.com/abclit. http://www. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. Sarini. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya. tapi cucunya. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya.” Mendengar pernyataan itu. Baginya waktu terasa berjalan lambat. yang sudah merasa haus. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah.” Engku Nawar mencoba bersabar. Saya cuma sebentar. Pak. Dari ruang tamu yang terbuka itu.processtext. yang lulusan kursus komputer berijazah itu. Ia merasa sesak duduk . nama. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Minum dulu. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. barangkali lima menit. Ibu. motor. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. Ia memeluk erat Sarini.” ”Sabar. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. ”Silakan Pak. Ambil saja airnya di sini. Tunggu saja.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. alamat. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja.

komandan pasukan PRRI. Kapten Tulus. Engku Nawar merasa sangat bahagia. Hampir dua tahun lalu. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno.Generated by ABC Amber LIT Converter. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. Akan tetapi. Akan tetapi. Nyawa tantangannya. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. . di bulan puasa. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. di mana ada perang. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Suatu malam bergerimis. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. ia masih mencoba merokok. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. Diam dengan pikirannya yang menerawang. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Ia lalu berdiri. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. biasanya mampir di warung kincir itu. meski sangat berbahaya. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Dan.com/abclit. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. menghilangkan rasa jenuh.processtext. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Mau tidak mau. Engku Nawar. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. yakni milik Wali Kampung muda. Lain halnya kalau malam telah larut. Engku Nawar harus bermuka dua. dari kejauhan. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. Tapi. http://www. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. yang dikenal berani. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. Pada masa itu. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. tak jauh dari Kampung Padangilalang.

com/abclit. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. mampir minum kopi di warung itu. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. datang menjumpai Engku Nawar.processtext. para pemulung dan calo-calo tanah. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya. Tanah itu tidak subur. ”Engku Nawar.html Sejak peristiwa itu. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu. Tempat pembuangan akhir sampah kota.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. Esok malamnya. Untunglah perang cepat selesai. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. di situ ada Engku Nawar. ia bisa hidup lebih baik. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA. cucunya itu sudah dibelikan sepeda .. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga.. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI.. Di mana ada bapak saya. Semua orang tahu.” Ketika orang tua itu mengiyakan. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota. Sopir-sopir truk sampah.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai. Tapi. http://www. datang saja ke rumah sehabis magrib. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. Bahkan. Sejak itu. Sebelumnya. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar.

sesuai urutan mendaftar. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. kemudian pada ajudan itu. ”Bapak Engku Nawar. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. Tamu sebanyak itu.processtext. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. Engku Nawar tidak percaya. Kalau saja ia tidak tua. Orang-orang bilang. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. Engku Nawar sadar. Pak. mesti pakai uang jutaan. lebih baik menemuinya di rumah. tapi tidak dinyatakan. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Tapi ia masih berharap. Padahal. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. besar sekali. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. yang lain seperti protes. Dan. Tapi. Semula. Di ruang yang terbatas itu. dengan tanda bel listrik. Tiap kali ikut tes. Keduanya sama-sama lincah. tugas ajudan itu berat. orangtua Wali Kota itu. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. Ini bukan kemauan saya.html motor. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. ”Sabar. ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. nomor dua. dan selanjutnya. kecuali Engku Nawar. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. tanpa banyak senyum. Engku Nawar tidak setuju. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. Sarini tidak lulus. Dengan sedikit lega. Orang-orang bilang. ia akan menerobos masuk. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. .” Meski tidak dibantahnya. Kalau ke kantor. Sebentar-sebentar menjawab telepon. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. Buktinya? Nomor satu. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. Pak Wali yang minta. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia akan mendapat giliran pertama.” kata ajudan berambut cepak tadi. Tapi. niat itu ditekannya. nomor tiga. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. http://www.

sudah malam. Dan. Sekarang pulanglah dulu. Saya pulang dibonceng cucu saya ini. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. tulis saja surat.*** Rawamangun. ”Maaf Engku. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. 5 Januari 2006 . akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. besok atau lusa lewat pukul dua. http://www. Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya. Wali Kota telah berada di depannya. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah..processtext. Saya hari ini banyak tamu. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali. Merasa hendak muntah. Pak. Menguap dan cepat tersadar. Kalau Engku ada perlu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Giliran Bapak. seperti hendak jatuh dari kedudukannya. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor. meski matanya juga sudah merah. ”Pak. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. Di perjalanan.com/abclit..

Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga. kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. Untungnya. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. Ada banyak kasus yang sangat pelik. diam saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Padahal. Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas. sekali lagi cuma diam. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. menurut dokter neurolog. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. http://www. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya.html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Dia capek sekali. Dita menghela nafasnya. tidak berbicara. Keterangan yang dibaca oleh Dita. Kalau kau mau.com/abclit.processtext. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara. aku mendengar dari Mamamu. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. ”Tina. bisa curhat kepadaku.” Perempuan remaja ini.” . Dita merasa lega.

Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. dia tadi membelikan boneka. ’Ini bukan kejahatan. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. http://www. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul. yang sudah lama kau inginkan.” Tina. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA.” Dita berkata sungguh-sungguh. aku kepingin pipis. Wali muridnya menyangka.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Mama. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita. Setelah bertemu beberapa kali.’ Aku mengangguk dengan cepat. meneruskan tulisannya. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. keluar dari masalah ini. Setelah pesta yang luar biasa itu.processtext. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. meneleponnya. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. Tulisan itu terbaca demikian.com/abclit. takut melihat kemarahan di mata Mama. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. yang adik suaminya itu. Bram. bukan karena apa-apa. Tiga bulan yang lampau. punya kemampuan berbahasa yang baik.html Pada jam ini. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. ”Sayang. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran).

kasus Tina sangat istimewa. apakah itu cinta.com/abclit. Bisa jadi karena aku dianggap lancang. tapi kami saling menyayangi. Bram-nya. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya. yang penting belajarlah dari masalah ini. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya. sayang. Dita tersenyum gelisah. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. ”Kita saling membutuhkan. Sehingga . kakakku. kalau pusingmu semakin bertambah.” ”Kamu pasti bisa. tulis Tina. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Windy. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. Dita memegang tangan Tina dan berkata.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita. aku tidak tahu. di seantero dunia ini.processtext.” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. tetaplah melakukan terapi bicara. tahu hal itu. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi.” Seandainya kau Mamaku. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu.” Bram menyambar cepat. suamimu yang kakakku itu. O ya. ”Ini masalah mereka. ”Dokter Dita.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. tapi diam saja. http://www. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku. Aku pastikan.” ”Tina. Dengarlah. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu. Buat Dita. Dita menelepon. perselingkuhan di antara orangtuanya. katakan kepadaku ya…. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita.

dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. Hari ini. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya. Yaa Tuhan. Aku dulu senang. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. Sungguh. setiap selesai tulisan. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. memasuki laboratorium yang besar.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Jadi. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. sahabat-sahabatku. Tina datang lagi. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. namun Eyang bilang. ”Papa dari anaknya”.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. malam itu ingin tidur di kamarku. Sebab.” Dear. Pada suatu senja. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. yang menyayanginya. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. juga pada pacarku.” Bram mendengarkan ceritanya. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. ”Sayang. ”Aku merasa.com/abclit. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. Bude. tanpa mengedipkan matanya. dengan menjadi psikiater. Kemudian. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. dokter Dita yang baik. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. ada dongeng. kurobek-robek. . yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. kue kesukaanku. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. http://www. terus aku ingin sekali bunuh diri. sehingga mereka harus menutup hidungnya. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. kalau Eyang tidur di kamarku. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan. Ini berarti sangat spesial. ha-ha-ha-ha.processtext.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

hiasan perang layaknya kaum ksatria. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya. ”Jesus is mijn opstanding. Harap Tuan mengerti. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. Inilah gambaran kaum bermartabat.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. http://www. Tuan.com/abclit. mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Namun. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku. Adapun gambar tengkorak itu. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu.

Saya tidak akan mengatakannya. Ia mengelus bulu kuduknya. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. Tuan. Akan kubawa pulang. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. menghiasi dinding. Dia terlalu menderita. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Aku seorang opsir biasa. Tak lama kemudian.” kata Kim Hok memuji. Sayang. Tuan. . apa harus kubilang untuk Nyonya itu.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Tuan. ”Begitulah kami bangsa Belanda. ”Tidak. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini. Dan Mevrouw Gubernur. ”Tentu saja.com/abclit. ah. Selamat jalan. meninggal terlalu cepat. Tuan. ia sangat menderita. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh. sebuah tubuh teronggok penuh luka. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal. Sungguh. dan mencintai seni dan kerajinan.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus.html Kim Hok menggeleng. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. adalah yang utama di antara perempuan Belanda.processtext. http://www. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut. saleh. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian.Generated by ABC Amber LIT Converter. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa. Sayang Tuan.

http://www.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia. Tan Kim Hok. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya.” kata salah seorang yang mengenalnya. . tidak kenal. Sayangnya. Banyak nama yang disebutkan. dan dilempar ke kanal.html ”Orang Tionghoa dibunuh.*** Yogyakarta. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu. ”Dia si pengukir nisan. ya. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun.” orang. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala. menjadi makanan lalat dan serangga.Generated by ABC Amber LIT Converter. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab.” kata pemilik warung itu. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh.processtext. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu. Lelaki tua ini. untuk menjelaskan kematiannya sendiri. nama-nama seseorang.com/abclit. ”Tanya saja kepada kepala desa. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

Dan. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. ”Oh. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. kematian suaminya.com/abclit. Saat menyiangi sawah. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. diiringi sedu-sedan. Diganggang matahari. untuk mengobati kepedihan hatiku. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. Gerimis menyudahi dirinya. Membuat malam membeku sendiri. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. Emprit ganthil. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. karena dia tahu. Ayah kami. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar. . sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. seperti tak pernah terjadi. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. di pemakaman.html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. Ketika aku berusia belasan. sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian.processtext. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut. Dia adik Ayah kami semua. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. limpahan lumpur itu lantas mengering. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. dan dengan begitu menggeser pematang. Namun. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Gusti…. Namun. Juga di dalam hatinya sendiri. dengan menggeser pematang secara licik. http://www. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. tempat jasad Pakde terkapar. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya.

turun dari jip. kami anak-anak. (Oh. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. dan kepala Ayah. mencari kekuatan di situ. Ah. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah.processtext. tidak hanya sebatas pematang itu. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. kebingungan. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. dan penuh ketakutan. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. mata tertutup. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. Selang beberapa hari kemudian. Sakit hatiku. dan dia digelandang ke dalam jip. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. maka kami memercayai kabar burung itu. mata tertutup. setelah Ayah berangkat entah ke mana. http://www. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat.com/abclit. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. Konon. Takkan terkikis dari ingatanku. Dengan cara yang sangat menghinakan. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. Ayah tinggal berpindah-pindah. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. sambil menggendong adikku yang terkecil. hati kami semua. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah.html Dia sudah mati. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. dan manakala dadanya belum tegak benar. Ibu. Suatu malam. Berminggu-minggu kemudian. Tapi. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. supaya tak ada orang desa yang . ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur….Generated by ABC Amber LIT Converter. 1965. koé akan kubunuh!” Siangnya. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. Tentara. Paginya. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali. Di akhir tahun kekacauan. dengan diiringi gerombolan pemuda.anak yang lain. dan kami anak. Ayah diperintahkan bersujud. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. Di bawah todongan pistol. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Ah. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya.

Tanpa itu. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. Kedua sisi. dia mendesak. dengan tangan gemetar. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. Walaupun tidak dikatakannya. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. Sama seperti ketika menjemput maut. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. mengapa aku tak pernah bertanya. bukankah dia juga ingin berziarah. Sesuatu. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. juga dicangkuli. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. Cuma.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Turunkan dulu. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. tak punya nisan. Setelah itu. linggis. Tak punya kuburan. dan. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. mengharukan. http://www. ketika kami menuruni tebing. ada semacam nista yang akan selalu melekat. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. Bunga-bunga itu mengambang. dari mana mayat akan diluncurkan. Peti matinya diusung menuju pemakaman. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. di mana salib dan nisan berbaur. menghampiri bengawan. Katanya.com/abclit. menakutkan. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. beberapa kali dia tertegun. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. Pukul dua siang sekarang. ke makam Ayahku. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. Begitulah.html melihat. cepat dilarikan arus. maka mendengunglah . kami kira. kami pulang. dan aku belum hamil juga. yang katanya. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. Setelah menikah. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. katanya. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. diperlebar nganganya. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. Mengikuti aku. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul.processtext. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku. mencari Ayah. gerimis mendesah dari langit. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. Dia. itulah akhir perkawinan kami. dua ratus meter ke arah bengawan. diperlebar. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Sebelum menuju bengawan. Letakkan di tanah. Oh Tuhan. meminta berkah.

kami minta maaf kepadamu.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis.processtext. terpaksa mendobrak adat kebiasaan. Ibu keluar menemui mereka di beranda.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto. ”Sudah berapa kali kami menggali.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. ”cuih….Generated by ABC Amber LIT Converter. . ”Kami pasrah.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. diiringi isak-tangis. Seperti mengutuk diri sendiri. ”Las…. juga panik. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri. ”Jeng. biar Gusti mau menerimanya. Kalau kau maafkan. Ampunilah. Tolong. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. ”Ampun…. sudilah kiranya memaafkan. dan dengan sebal. orang sedesa akan tahu siapa kita. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. terimalah saudara kami ini….” katanya menunduk. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah.com/abclit. seperti berbisik. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. mengiba-iba. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. http://www. meninggalkan jejak di tanah basah. maafkanlah umatmu ini. Beberapa saat kemudian.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. beku. Aku membalik.” Kuhela nafas. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman. mendekati peti mati. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. Sia-sia. Aku maju dengan dada tegak. sarat di wajah para pengantar. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Kau yang jadi kunci. Dari celah dinding tepas. atas nama jenazah dan keluarganya. menguak membukakan jalan untukku. tapi tak bisa juga. Dengan kepala tertunduk.

sebelah barat Desa Kwangko. seorang idiot. Patek dikenal sebagai seorang gila. dengan wirid yang lama. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Namun sebaliknya. Tapi Patek. Ia selalu menundukkan kepala. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namanya pun aneh. Itu pun ia tidak banyak omong. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. di masjid yang berbeda-beda. kira-kira delapan puluh kilometer. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. tidak mengandung arti apa pun. panggilan akrab Gazali. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. ia tidak menjelaskan mengapa ia . Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah.com/abclit. terus menjauh. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. http://www. karena perilakunya yang aneh. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. Jali. Namun. Desa Kwangko. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. Jika bicara.processtext.html Aku cuma membatu. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. mulai tinggal di Dusun nCuni. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya.

Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . tak ragu lagi. baik karyawan maupun orang kampung. tanpa hijab. Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. Walaupun tidak kawin. Kebersihan surau itu. Masjid atau surau itu tampak bersih. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. Tak ada debu. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. tempat orang mengambil air wudu. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. maklum. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. yang rajin membersihkan masjid. laki-laki dan perempuan bercampur. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. Tapi ia pantang meminta-minta. Walaupun kecil. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. Patek tentu saja bukan orang kaya. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk.html meninggalkan kampung halaman. walaupun terbuka tak berdinding. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. barangkali lebih tepat disebut surau. http://www. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. sebagaimana di Laut Hindia. ia tak mau dibayar. tempat tumpah darahnya itu. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu.processtext. bahkan dapat disebut orang miskin. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. Boleh dibilang. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Untuk membersihkan masjid itu. adalah berkat peranan Patek.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya riak air kecil ditiup angin. hidup sebatang kara. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. Di samping surau itu ada beberapa ledeng.com/abclit. Mungkin karena sedihnya. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal.

Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja.html sekitar seratus kilometer. walaupun jaraknya cukup jauh. Karena itu. tanpa mau menerima upah. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat.Generated by ABC Amber LIT Converter. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. ketika orang itu sampai di kota. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. tentu saja dengan izin penjaganya. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. Ia menganggap. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. dari Gereja Katolik Santa Maria. Karena sering mendengar cerita itu. semuanya di kota Dompu. Jika pergi ke kota Dompu. Patek yang jujur. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. . mencintai anak-anak. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu. tapi naik kendaraan umum. ia juga pergi ke gereja-gereja. di sebelah timur. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. Ternyata. Tapi anehnya. Di samping ke masjid-masjid. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual.com/abclit. http://www. hanya menjawab dengan anggukan. Pastor Dhakidae. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. Namun.processtext. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. tanpa pembelaan diri. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. Ia menanyakan kepada Patek. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi.

ibadah.” lanjut sang ustadz. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. demi keselamatannya di akhirat nanti. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. ”Pak Jali.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab. sekalian pindah agama. dan akhlak seseorang. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. Karena keteguhan sikap Jali. ”Ini bukan hanya pandangan saya.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. tetapi juga Protestan. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya.” sahut sang ustadz. http://www. walaupun orang yang dinilai . maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. Di samping itu ia pun mengancam Jali. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. Tapi dalam kenyataannya. Tapi. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. Sebagai akibatnya. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan.” kata Ustadz Abdul Rasyid. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. ”Patek itu sesat. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek.com/abclit.processtext. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu.” ancamnya. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila. Tapi Patek tidak banyak bicara. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. ”Ya itu lebih baik. sehingga ia mengadu kepada Jali. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam.

dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini.com/abclit. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini. Di pinggiran kali berwarna cokelat. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin.. Aku yakin. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. http://www. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. khususnya orang suku Sasak. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. Ya. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung.*** Garis Cahaya Bulan.processtext. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin. melambai-lambai ditiup angin. sesekali datanglah ke mari. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. . Karena Tuhan Yang Maha Tahu. Kalau kau tak percaya. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. sorga itu ada di sini. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial.. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. Bagi orang Sumbawa.

tidak kali ini. dan semuanya beres. perintah itu bertengger di pundakku.processtext. Begitu saja. Jika tugasku selesai. Tidak. Maaf.. Tak ada yang aneh di sana. dan manakala kau mengeluh. aku bukan pembunuh.com/abclit. itu pun tak sepenuhnya salah.. mudah sekali mendapatkan uang banyak. Ah. tetapi saat ini. tetapi. Aku tak mau mati sia-sia. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. Bayi. Itu pekerjaan kotor. Hampir tiga hari aku berjalan. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada. Bayi merah. bukan? Ha-ha-ha. mengendap-endap. ya. Ikuti perintah. Jangan salah. Kita ditentukan. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. atas apa yang kau dapatkan. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf.. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. aku bisa membunuh. kawan. karena semua sudah ada yang mengatur. Tunggu dulu. Mengelak berarti melompat dari rel. kau salah sama sekali. Sekali ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan dengan enaknya. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan . Gampang. http://www. Jangankan hidup. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. Aku masih bisa membangun hidupku. Tapi. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. menziarahi kubur ibuku. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Tak seorang pun.. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. kalau aku mau. Dialah yang memilihku... apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja. Hujan yang turun.. aku menemukan sorga itu di sini. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. Begini saja. di tengah panas terik.html Aku sendiri tak mengerti. tetapi. sudah biasa terjadi. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. ha-ha-ha-ha. Aku tidak bisa mengelak. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu.. Menjijikkan. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. dan melompat dari rel berarti hancur. lahir di rahim siapa pun. misalnya. Jangan dibalik.. sebagaimana yang kukatakan tadi.. Oleh karenanya. Aku tak mau hancur. kita tak pernah bisa memilih. maaf terlalu kasar kalimatku. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. Hidup inilah yang memilih kita.. aku harus . tanpa mempersalahkan siapa pun. Ah.

.com/abclit. Bayi yang cantik. Sepi sekali di sekitarku. ah. entah siapa. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. Bayi itu. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. Salah seorang. bayangkan jika itu terjadi dan . ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. mendadak akan pulang. Tetapi. Kalau aku mau.. demikianlah. kuberikan sebotol susu. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. lalu aku letakkan di sudut jalan. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. Hmm. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu. terlalu religius kurasa. aku muak. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. sudahlah. tentu saja aku selimuti. baru saja rokok hendak kunyalakan. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah... Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. Begitulah. tidak. tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. Jujur saja.. dia. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Belum selesai dia berkata. pandangan yang wajar saja. http://www. Hening sekali perasaanku. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. Umurku masih belum tiga puluh.processtext.. Maka. bersih dan menawan hati.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. aku tak ingin menjadi juru rawat. Siapakah aku. tidak. kurasa.. karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya.

lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. Digendongnya dengan sukacita. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. . akan kuhabisi mereka semuanya. aku duduk di ruang tunggu. di pinggiran kali ini. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. dan anak-anak. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. dibawanya bayi itu ke sarangnya. tentu saja kuurungkan. Sempat kudengar ada suara anak kecil. air. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil. bagai piring perak. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. tepat ketika matahari tenggelam. jongkok di kotak bayi itu. Semua itu mungkin bagiku. Bisa jadi dia orang gila.. penasaran apa yang terjadi di sana. Pagi itu. untuk pemerasan yang sama. Bulan di atas sana membulat putih. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. Kalau itu yang akan terjadi. http://www.com/abclit. mengikutinya dari jarak tertentu. Kopi sudah separo kuhirup. Bayi itu dipungutnya. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. Tanpa bicara dia menatapku. Mereka bahagia. Asisten si nyonya datang. Detak sepatu mengisi sunyiku. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. Tidak. Kubayangkan. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r".processtext. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. Dan aku—mau tak mau. Dari sana. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. Tetapi. bahkan sampah. Aku pun tahu. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. Atau. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). Tidak hanya laki-laki. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa. Dia tiba di gubuknya. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi.html punggung. tetapi juga perempuan. lebih buruk lagi. Mereka gembira.. gedung. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu.

dengan semuanya. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. betapa bahagianya si kecil itu. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. setelah menerima sesuatu. Aku beranjak. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. Ada senyum tersudut di bibir. wajahnya. Bercahaya penuh.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. Tetapi. ". jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. Tidak mungkin. Tidak. karena memang tak penting. masih bisa kusaksikan bulan purnama. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh. Malam ini. . yang menganggapnya ancaman. tangisnya. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. Yang aneh. Kubayangkan. Langit tanpa awan. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu..com/abclit. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. ah. Aku tak peduli. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. Ini aneh. Tetapi. Begitu tajam rasanya di mataku. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. Bulat penuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. semoga sudah masuk hari ini. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. dan tergilas zaman. Ruang apartemenku harum. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain. bersih. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini..processtext. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. kesialan. Dia memiliki keluarga. dia masih memiliki kasih sayang. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu. http://www.

Alkohol menebar. Aku pernah menyaksikannya. semua penghuni gubuk merayakan pesta. Sunyi. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. kemarin malam. dulu. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Aku banting telepon itu. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Aroma sangit pembakaran. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar. Semua sampah harus dibersihkan. Kapan-kapan. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. Di tempat ini melimpah kebahagiaan. Kepalaku masih berat.html Aku terbangun oleh dering telepon. ini adalah sorga. Dan sudah terlaksana. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. Semua sampah harus dibersihkan. di pinggiran kali ini. di sini. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. Bukit Nusa Indah. 982 . Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. Gelap. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. http://www. aku bisa menolak permintaan. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. Di tempat ini. Ini sorga. kemarin malam.com/abclit. Sudahlah. Dia tertawa penuh kemenangan. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Ya.processtext. Kubayangkan bulan. Aku duduk di tengah sampah ini. kepalaku rasanya mau pecah. di pinggiran kali ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. cobalah ke tempat ini. tergeletak di meja dan di karpet. Maafkan. jika kau ada waktu. Dan seperti kataku. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah.

Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. . Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. Nguyen telanjur segalanya bagiku. Atas nama kemandirian itu pula. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis.com/abclit. penuh cerita pilu. Batam. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Aku tahu. Tapi. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Tuan Chew Song Kit. Antara suka dan tiada.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas. Rambo. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. Aku jadi ragu berterus terang. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah.processtext. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Siapa duga. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. http://www. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Aku jadi teringat Vietkong. Tapi. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh.

pasti tak ada duanya di belahan bumi ini.html Sekali lagi. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. Sesiapa yang sudah dilepas. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. Nguyen muncul tiba-tiba. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. dari benang menjadi kain. Tapi aku tak begitu hirau. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. Wan Syariful. Atas keteguhan sikapku ini. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Wan Syariful. Padahal. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Aku kehilangan jejak Nguyen. Mana tahu. Tapi. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. sambung Wan berhujjah. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. http://www. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. jujur. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang. bila ditanya. .processtext. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Tapi. aku berbelah-pihak pada Nguyen. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Tapi. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Dari mana asalnya kapas.

terus terang. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku. Tak salah lagi. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Dan perempuan itu langsung memelukku. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Kami bersitatap tegang. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. . aku bagai melompat menuju buku tamu. Apalagi. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. Semua bisu. lewat di depan stand kami. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga.html Aku tertunduk lemas. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. Tapi. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Sungguh.processtext. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. Meski. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Suasana benar-benar hening beberapa lama. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. teman setiaku sejak dulu. http://www. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. Saat itu.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Nguyen.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan.

yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami. Pembantunya. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Begitu pula kampung halamannya. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. http://www. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. airmatanya tak henti mengalir. Hampir setahun ini. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan.processtext. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Dalam perjalanan naik taksi itu. Aku telah keliru memilih jodoh. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Dua adiknya. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. San Nam dan San Nangh. kami sudah pisah ranjang. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Mereka sudah jarang bertemu. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. Nguyen pasrah. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. Aku memeluknya sepenuh-mesra. Nguyen masih duduk . Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Sing Anh. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Aku makin memperkuat pelukan. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. sahut Nguyen pelan. Sebab.

Menelepon pun tidak. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. Lagi pula. Sungguh.html menyandar didadaku. kami sudah pisah ranjang cukup lama.processtext. aku tak bisa. . http://www. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. Nguyen meraih jemariku. Tapi. Bang Rajab..com/abclit. kamu masih menjadi istri orang lain. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam. Kamu tidak mencintaiku lagi. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Memang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Iya. Inilah saatnya. Aku terdiam dan ternganga. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi.. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. Nguyen. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda. Maaf.. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Lampu temaram. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya. Maksudmu?.

langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Selalu. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. bagiku. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Langit Hanoi terasa merah jambu. saat aku sudah kembali ke Tanah Air.com/abclit. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Tapi. memang bukan akhir segalanya. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. . Nguyen terus saja menangis sesegukan. Oktober 2005. Andai saja. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan.html Aku duduk di bibir ranjang. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Nguyen. Langit masih bertabur Nguyen. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Sungguh. http://www. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. Nguyen. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun.

selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. Tak ada yang peduli.com/abclit. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang . Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. arus sungai menjadi sangat deras. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Beberapa ratus meter ke arah bukit. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terlalu angker. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. http://www. kata mereka.processtext. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai.

Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Rencananya. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Hampir-hampir tak ada privacy. Tak lama. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. suaminya. . Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. tepat di atas ranjang keduanya. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu.anaknya. Jona dan Warni. http://www. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Kakek Lido.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. Tak ada apa-apa. Dua anak gadisnya. Tak hanya secara fisik. Bahkan.com/abclit. Dua orang gadis tangguh. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Gelap. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah.processtext. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Tak terhitung dukun yang didatanginya.

processtext. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. nenek Lido dulu cantik. Nenek Lido bertubuh subur. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. http://www. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya.com/abclit. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Kata ayahnya. dan kuat seperti ibunya. segar.. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. Alu kita patah. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Konon. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Lagipula. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Saat istrinya membopong pisang. . ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi.. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya.

com/abclit. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Nenek Lido agak gelisah tidurnya.. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Terdengan pelan suara krek. Baju Jona telah robek di bagian depan. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. ”Siapa kamu? Aaakkhh. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Kindo.” Jona dan Warni menjerit. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. Rumah panggung itu bergerak.. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Tiba-tiba. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. . krreeek dari loteng.html ”Kata Nisa. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona.. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. http://www. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur.. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Akh.. angin semakin kencang. pikirnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu.. krreek.processtext.” kata Nenek Lido lagi.

Lelaki itu tersentak keras. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Rumah panggung itu bergoyang keras. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai.. Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Dalam gelap. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido.processtext. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. dengan secepat kilat. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Maka. http://www. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Rappe semakin marah. Dengan sekali mengayunkan tangan. Rappe. Dalam gelap. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Dari arah belakang.html ”Siapaa.. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi.?” teriaknya setengah melompat. Nenek Lido melengking marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. jawara kampung sebelah. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Dengan keras. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Rappe mundur.

.. Tangannya gemetar dan nyeri. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Entah apa. ”Kindo.processtext. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. . Nyalakan lampu. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Hanya itu. http://www. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Cresss.. kepalanya juga. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Tapi Nenek Lido tidak menangis.. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Kakek tak bereaksi apa-apa.html ke depan pintu kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah. Dengan susah payah. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Tak ada yang tahu. Saat mendekati sakratul maut. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. ”Dia sudah pergi.” Nenek Lido menyuruh Jona.”. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Berhasil. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis.. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu.com/abclit. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan..

Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. Korban berjatuhan. http://www.html Jakarta. A Cong dan Beng Sin. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Istrinya. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. . Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya.processtext. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Dari balik kain penutup jasad. Ling-Ling. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti. ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Kedua anaknya yang masih hidup. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya.com/abclit.

Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Tuhan akan menerimanya di surga. Relakan kepergian Siong.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. sebagian menutupi wajahnya. Keng Hong melirik kedua adik iparnya.” kata Keng Hong. Ling.” katanya. Suamiku? Siong. mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. gantunganku bila kau tak ada. Jangan menangis terus-menerus. Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. ”Orang-orang yang berkedok membela .processtext. http://www. ”Sudahlah. ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Asap hio menyengat. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Rambutnya kusut.

air masih menggenangi halaman belakang. Dia orang baik. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik.processtext. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. ”A Cong. Semalam. Dengan kalimat terbata-bata. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Sekarang. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Wajah-wajah mereka muram. meskipun tinggal rintik-rintik. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Tapi A Siong mewarisi .” ”Sudahlah.com/abclit. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. tentu mau menolong kita. Setelah empat jam menggali tanpa henti. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. kau pergi ke tempat Paman Cia. Kau sekarang menjadi anak tertua. Hujan terus turun sejak semalam. Malam. Keng Hong mencangkul tanah basah. Jangan menangis terus.” kata Keng Hong. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. kita pikirkan nanti saja.

Kedua adik A Siong keluar dari kamar. Ayahku teman baik Oei Kim Sin. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Ling-Ling melolong-lolong.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. Kalau ada apa-apa.” kata Sin Liong dengan nada menyesal.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal.com/abclit. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya. Sementara mereka. pendiri Pao An Tui. Setelah korbannya ambruk. http://www.orang miskin seperti kita. ”Aku datang terlambat. . Dan mati pun di sini. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. ia bisa mewakili ayahnya. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore.html keberanian ayahnya. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. ”Kita memang serba sulit. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. walaupun kita loyal terhadap Republik. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. Ia lahir di sini. mereka kabur dari tempat itu. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. babah-babah kaya itu. ”Ayahku selamanya membela Republik.

kaum peranakan Cina miskin. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. kau tidak tahu. Mereka berteman baik sejak kecil. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap. resah. Matanya menyelundup keluar.” kata Hong San yang dari tadi diam saja. Keng Hong mengangguk. baik yang kaya maupun yang miskin. Memang benar. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. Lihat saja buktinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kakak.processtext.” jawab Sin Liong kesal. ”Puh.” ”Benar. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Berkali-kali ia duduk dan berdiri. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Ia mengenal baik Oei Kim Sin.com/abclit. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. . Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. http://www.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita.

” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini.com/abclit. http://www. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. dan tidak banyak terpencar-pencar.processtext. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah.” kata Hong San. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.Generated by ABC Amber LIT Converter. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun. .html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong.

”Kau gantilah pakaianmu. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong.processtext. ”Aku takut di rumah sendirian. Mei Lan. Masuklah. temani kami.” kata istrinya sambil menggigil.” katanya dengan suara parau.” jerit perempuan di luar pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidur di sini. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil.html Seseorang mengetuk pintu. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. ”Siapa?!” bentak Keng Hong. . Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu. Bukalah pintunya. Kakak Hong. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya. ”Aku. Semua cahaya di rumah kumatikan. http://www. Tadi baru saja ada orang mengintip. tapi ditahan Keng Hong.com/abclit. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.

Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. meninggalkan mereka. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut. Kakak Hong?” tanya Hong San. meresahkan malam yang basah. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. . dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu.processtext.” kata istrinya sambil terisak. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Tidak hanya puluhan. Ia telah tercebur ke dalamnya. tapi ratusan.” kata Hong San.” katanya pelan. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Suara tangisannya pecah.com/abclit. http://www. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. dan kau diam saja. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya.” Keng Hong tertawa samar dan kecut. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can. ”Tidak. terbunuh sia-sia. Anakmu sendiri menjadi korban.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Sementara Sin Liong menggelar tikar. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya.” katanya dalam hati. ”Kau telah menjadi tumbal untukku.” ”Kakak beristirahatlah. http://www. Apa yang harus kita lakukan. Aku akan di sini sampai pagi. Malam turun semakin sunyi. Firasatnya tak enak. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. ada seseorang mengendap-endap di luar. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya.” kata Hong San. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. Tapi aku sangat lelah.” kata Keng Hong. Ia melonjorkan kaki di atas dipan.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. kita telah membagi dua kekuatan. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Dan tumbal kaum kita.processtext. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Siong. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. Di Semarang. . Besok kutemani Kakak ke rumah ketua. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. ”Kakak.com/abclit.” bisik Hong San.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Lebih baik kutangguhkan besok pagi.

”Bangunkan Sin Liong.” katanya. ”Cuma ada satu orang. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.” katanya. Kita sergap saja dia.” kata Keng Hong.html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.” Keng Hong mendekati pintu depan. http://www. .” jawab Hong San.processtext. Dia menunggu di samping pintu. ”Sudah.com/abclit. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar. ”Mereka benar-benar meneror kita. ”Jangan terjebak.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu.processtext. Kedua adik iparnya memandang bingung.html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. ia membuka selot pintu. Lama mereka tiarap. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. lalu membukanya. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. http://www.” Mereka berpandangan satu sama lain. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. sebat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kedua belah pihak mencurigai kita. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. tak tahu mesti berbuat apa.com/abclit.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. . tercekam ketakutan. Dalam hitungan detik. Perlahan-lahan. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Ia membaca tulisan itu. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Diambilnya korek dari kantong celananya. Di antara rentetan senjata api.

Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. 4. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15. http://www.html Yogyakarta. Panglima Tentara Belanda.com/abclit. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit. 2. .processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. 13 Januari 2005 Catatan: 1. 3. NICA. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota. Ia mati bunuh diri tahun 1949.

http://www. itulah yang dilakukan olehnya.html 5. . jambang. seperti bintang. Begitulah hitam jadi kelabu. matahari membelah. meranggas tak teratur panjang dan jarang. di puncak monumen.Generated by ABC Amber LIT Converter. menggenang. amat terang. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. terus mengembang. Pedih ini akan hilang. dalam nanar. Bukan hanya tameng. siang memanggang meringkus dirinya. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. Lingkaran hitam yang berputar-putar.com/abclit. seperti kemarin-kemarin. Dan gedung-gedung. menjelma kerumun bulatan pijar. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Di sana. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949.. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. Tetapi bukan itu. putih pirang. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. tak tertahan oleh tatap. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. dinding-dinding kaca. samar jadi terang. kuning kelabu. Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. Begitulah terik. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. Begitulah semua datang. kelabu jadi samar. Dan. memang. Dan lalu. Bagai melayang. lelaki tua itu merasa nyaman. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. ada sebuah titik. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya.processtext. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. lantas mengembang.. Dan. dengan ganjil. sebentar memusat sebentar menebar. Tetapi takkan lama. semua terbentang. Tetapi bukan. segera merembes air. selintas tampak seperti mata kayu.. yang semuanya kotor. lingkaran hitam itu lalu menyatu. Dan dari mata tuanya yang buram.

dadanya. Melayang. Masa berganti. Maka. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. seperti angin menyapu ilalang. langit goa yang runtuh. Monumen Nasional. Menyerang tambang. semua terbentang. Berdebar. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. Dan gedung-gedung. semua terbentang. pun mengajaknya. Dan seperti mimpi. bukan itu. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. Begitu juga tambang emas di Lebong.. Tetapi ya. dalam nanar. Memandang ke luar. Di sana. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. dinding-dinding kaca. menyandang tas di bahu kirinya. Atau mungkin membelah. Mungkin lebih tampak seolah rebah.. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok.. Dan lihatlah. Akar-akar yang juga bagai bersembulan. ada banyak emas.. tidak. Dan wajah-wajah itu muncul. di atas kereta itulah ia. Di atas papan itulah ia duduk. sepatu boot. Huah! Orang. Pak Daud. Bagai melayang.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar... Kini tertahan. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. ledakan dinamit. berkacamata. Letusan? Belanda kembali datang.. menghunjam mata. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. menjelma kerumun bulatan pijar.” kata mereka. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. Kata Pak Daud. tidak.. Bengkulu. tajam pedih.. Jepang menyerah. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang. tidak. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki... Apakah hanya matanya? Karena hari ini.. gema lori. Titik putih. Derek II. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. Berlompatan.. Dan Belanda pergi. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tampak amat sibuk.. Atau menyibak. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. Lorong-lorong. Dan ah. ia . Orang itu masih muda. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan..com/abclit. Seperti hamburan. Derek (pos) I. di puncak Monas. Menerobos hutan. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. lalu proklamasi. matahari membelah. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. berlalu lalang. ada sebuah titik.orang dengan helm.html Begitulah semua datang. lihat. Membujuk. pasokan senjata berdatangan. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki..processtext. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita. Ia akan bekerja di sebuah tambang.. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa. tangga-tangga besi. Maka. bagai melayang. Si remaja ini. bagai mengambang. Tetapi memang. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. mulailah hari-hari itu. Makin jelas. lift ke atas ke bawah.

. yang ingin saya tahu yaa. Agaknya ia harus terus-terang. seingatnya. ”Saya paham. Untuk modal. saya mengerti. Tatapan di balik kacamata. Dik Najir.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Pak Jusuf inilah.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. . terasa ganjil.. Ia tak suka. Lihatlah kini diri Dik Najir.. menatap ke arahnya.” Senyum itu masih. Tetapi hei. dulu merupakan sosok sederhana. bagai melayang. kenapa kini berbeda? Senyum itu. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. di tambang itu.. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam.” katanya. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti... Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant). Pak Jusuf berkata. kini tersenyum. ”Begitulah yang orang-orang dengar. Tetapi. Refleks. itu. http://www. dalam kepalanya? Tentu tidak. ”Saya membutuhkannya. ”Dulu. kembali ia palingkan muka. tatapan itu.” senyum itu kembali. apa adanya.” ”Begini. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. ”Ma-maaf. Tatapan di balik kacamata.com/abclit. emas Monas itu didatangkan dari Jepang. Dibuat di Jepang.” mendehem lagi. ”Tapi. Kacamata itu.. ia mengalihkan pandang. Dik Najir. yang diangkat jadi juru tulis gudang.processtext. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana.. anak Pak Daud. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi.. cacat. Tak enak ketahuan mengamati. mendehem beberapa kali. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. Maaf. Dari jauh ia datang karena yakin Nur.. setelah Pak Daud meninggal.” Yang orang-orang dengar.. Tetapi. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. Pak Jusuf. ”saya punya usul. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu... kita berjuang.html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu. coba berdagang. Tiba-tiba si pemuda menoleh. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang. Jalan yang lebih baik. Cuping hidung besar.. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. emas yang kita sumbangkan dulu. Kacamata itu.

processtext. Dik Najir. Pak Jusuf. Sumbangkan saja. Saya. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. baiklah saya terangkan..” ”Ah tidak! Mana bisa. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. melainkan disalurkan.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas.” Ragu.. seperti kecewa.” Diperbaikinya duduk. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf. ”Emas itu memang ada pada saya. Pak Jusuf mengeruk saku celananya. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran. ”Nah.. Tak lebih. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya. maaf. ”Sebetulnya bukan dikembalikan. Dik Najir. Saya tak mau.” ”Tidak. Lalu. mengeluarkan dompet..com/abclit. Dan karena jumlahnya sedikit. saya kemari hanya untuk hal itu.. Dik Najir tentu bertanya-tanya. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. lalu berkata. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. Kemudian katanya. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas.” . mendengus. Itu gampang.html Satu kaki tak ada. Kaki saya putus bukan karena berperang.. langit goa yang runtuh. begini. seperti mencari lagi posisi yang tepat. tapi jumlahnya tak lagi sama. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu. Tapi karena dinamit itu. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. emas itu tak usah dibagikan.. Saya. disalurkan. ia mengangguk. bagai mencari persetujuan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya akan membantu.” ”Tenang. kata mereka. http://www. mereka hanya meneruskan. Jemarinya merogoh. Jadi. mereka bilang ada yang digunakan. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan.

iseng. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. Senyap. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. Semua tak bergerak. Tetapi mendadak... Semua tak bergerak. Lalu. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong... Ia terus meluncur. Pak Jusuf mengangguk. si pemuda membalikkan tubuh... Meja. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. taplak. diam. Diayunnya kaki. Dan. mata itu. semua kembali seperti biasa. http://www. tertahan bagai mengambang..Generated by ABC Amber LIT Converter. astaga. ketika itulah.. Betulkah? Betul. diam. yang siap menyambut koin. koin satu rupiah itu tak tersambut. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. langkah si pemuda terhenti. Dengan hanya seribu. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti... tetapi koin 1. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang.html Satu rupiah? Ia ternganga. menatap ke arah koin. gorden. Sepuluh. Ketika koin itu bergerak turun. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi.processtext. Mulutnya terbuka. tapi kembali tertegun..000 rupiah itu kembali? . jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng.. dua puluh. tertahan bagai mengambang.!” ”Triiingngng. nyaris menyentuh loteng. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut.!” Lelaki tua itu terkejut. tersentak. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas. tidakkah berair bagai menangis? Pusing. atau mungkin tiga puluh detik. aku tahu yang ia rasakan. Tapi ajaib. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu. Bahkan udara pun seperti mati. Saat koin itu bergerak turun. Tangannya yang terangkat. kursi. kaku tergantung.com/abclit. sekilas tampak seperti mata kayu. Koin itu berhenti.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya. kelihatan seperti patung. lapar.. Waktukah. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung. teronggok di trotoar.. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks. Mata di balik bingkai besar itu menganga. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. tak berkedip. yang berhenti? Dan Pak Jusuf. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. Wajah bulatnya tengadah. Sepertiku.

. Karena itu. Dan mata itu. Ramadhan telah berlalu.. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah. Minggu 28 Maret 1830.*** Payakumbuh. Mencari kerja terus.processtext.. kau juga tahu. Muak. Dungu. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. Tiba-tiba ia merasa letih. dalam lukisanku. tujuh puluh tujuh lidah emas. berapa umur Bapak?” ”Oh. Memasukkan lamaran terus. hari itu. Tujuh puluh tujuh? Eh. ”Maaf.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.. asalan ia berkata.” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. Jadi. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. ”Tujuh puluh tujuh. http://www. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Edisi 11/06/2005 Ya. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas.html Konyol. di hadapan si pengemis. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran.. . Tetapi ia telah di sini.” Si pengemis seperti lega. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Pangeran harus kulukis tegak menantang. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. Dia tak ingin de Kock atau Valck. Dan orang-orang. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. Hanya aku saja yang boleh sedih. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. Ya.html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram.processtext. http://www. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. Residen Kedu berwajah batu itu. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. Jadi. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. terutama aku. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas.com/abclit. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu." desis Haji Ngisa. Lewat bisikan batin. "Kalau mau Sultan . tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. Karena itu. de Stuers. ke langit sarat sriti." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. Namun di luar dugaan. Roest. Raden Mas Joned. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. "Segalanya sudah diatur. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa.

Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean. saya tembak putra-putra Sampean.processtext.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. hati Sampean bisa terbakar. Ya. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu. Namun. Kalau berani menatap. Pangeran. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch." kata de Kock. "Jadi. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. Setelah itu. http://www. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi. Jika ingin berkelahi." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. Tetapi. apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang." Ya. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. Jenderal. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. Dan. Nah. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga.html Ngamid bisa menghilang." . Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan.

Ketahuilah. Sekarang. seperti Isa yang tersalib. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. Saya siap dibunuh kapan pun. Mengapa tak Sampean lagi takjub. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. kau tahu. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga. dia berseru. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. bukan urusan Sampean. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. moksa ke langit. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. http://www. Jadi. silakan bunuh saya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. urusan Haji Ngisa. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu. Jenderal. membumbung menembus kabut. Urusan siapa? Urusan saya.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. ketahuilah. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . Gusti. De Kock akan tinggal arang. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. Karena itu. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. Tuan. "Hei. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Kematian toh hanya kabut halus. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. sambil mendongakkan kepala. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini.processtext. Karena itu. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Dengan hati-hati pula.

> 0 Meski demikian.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. kita hanya akan bersilaturahmi. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Sultan. http://www. Ketakjuban." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. Gandakusuma menyangkal." "Allah tak menghendaki seperti itu. sekali lagi. Gandakusuma. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar.Generated by ABC Amber LIT Converter. wangi bunga kubur. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat.processtext. Sampean boleh khawatir. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Sampean tahu. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. ya. berlebaran pada Jenderal de Kock. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah." "Jadi.com/abclit. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. Sultan. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan." "Maaf. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka. Sultan?" "Ya. Namun. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. Karena itu. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma. . dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan.

. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru. namaku Saleh. Sultan. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. setelah pada pukul 08." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan.html "Kita memang akan bersilaturahmi. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu.Generated by ABC Amber LIT Converter." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya.com/abclit. Gandakusuma. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. Juga sayap dan kemegahan dunia. Ayolah. Digambarkan bersayap atau tak bersayap. Dan sebagai iblis. Ya. http://www. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. Nanti kuberi kuda baru. Juga sayap dan segala yang dicinta. Nanti…. mata yang kehilangan keperkasaan. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita.processtext. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. Dia tahu sebentar lagi. O. tetapi de Kock telah menjelma iblis." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. "Sudahlah.

http://www. Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. "Asal Usul Perang Jawa. 3. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua.com/abclit.html Semarang. Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . Anak-anak Sultan Ngamid. Juli 2004.Generated by ABC Amber LIT Converter. nama Dipanegara dia berikan kepada putranya. 2.processtext. 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro". 5. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey. "Historische Tableau. die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro". 4. Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara".

Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. sore kali ini menjadi lain. Namun. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Menuju jantung kota kecilku.html Sumber: Kompas. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Namun. Hatiku terbakar. Sebuah danau tenang. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran.olah saja ia sedang disengat kalajengking. Pukul dua belas tengah malam. Seperti kemarin juga. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain. "Ibu. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Mulai sinis. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. Serupa sebelum-sebelumnya jua. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. Tetapi. http://www." ucapku pelan. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih. Semenjak usia lima tahun. . akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. Angin menusuk gigil. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. Anak satu-satunya. bola mata tempat biasanya aku berteduh. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi. hati-hati. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. Sampai aku besar.com/abclit. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. Ah. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan. agar Ibu mengerti. Tak biasanya Ibu seperti itu. anak dendang itu juga manusia. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. Mencucuk sumsum dan tulang. Setelah aku bercerita panjang.

Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang. keluarganya. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari . dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya. Tidak semua anak dendang seperti itu. semakin banyak aku berbicara. Rabina itu perempuan yang baik. Sebatang rokok kuselai. dekat sebuah lampu taman. Bersipongang. Aku telah selami pribadinya. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. Asapnya membaur dengan cuaca. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). Aku terpojok." "O. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Aku duduk di tepi trotoar. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. Berbuai-buai. Bahkan.processtext. Percayalah. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. Aku telah menyelaminya. http://www.html "Cobalah mengerti aku. "Ya." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong. Ibu. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. Menyisik bersama angin malam yang tajam. Ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu.com/abclit. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. Tidak ada yang menggoreskan cela.

html trotoar itu. Dan berulang.com/abclit. Ibu tetap tak sependapat denganku. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Akrab. Dan suara itu. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas. dan penerus kesenian nenek moyang kita. Haruskah kita membunuhnya. Ibu." terangku lebih panjang. Bergendang-gendang. Kurasa Ibu tidak sepicik itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. http://www. Tetapi. "Mengertilah. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan. Ingin menikmati rambut panjangnya.processtext. . kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. Namun. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. penjaga. Sayup. Bergema melantuni malam. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh. berburu ke arahku. "Di samping berdendang. Seolah berpitunang. bulu matanya." jawabku tenang. Lirih. kita lecehkan dalam keseharian. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala. Lekat di kedua belah anak telingaku. Tetapi. bibirnya. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. Di sanalah saluang tiap malam digelar. jelas kutangkap dari gelagatnya. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. Mengapa mereka harus kita sisihkan. Mengimbau.ulang datang. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. Pewaris. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. Suara yang sudah teramat kukenal. Ingin melihat senyum Rabina. Memukul.pandangan sebelah mata?" Selalu. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. Aku ingin ke sana.

apa lagi. Meratapi malam. Nyaris tak mempunyai kelebihan. . Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. Dan lagi. Istirahat.processtext. Sudah tidak bisa berbuat apa. Sebuah rumah kecil. bagaimana lagi. Kadang terkesan merintih. Ah.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Aku mencintaimu. Sawah Rawang 11). Kadang aku merasa malu." ucapku lagi meyakinkan dirinya.com/abclit. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. aku mulai mengikutinya berdendang. "Mungkin kamu tak percaya. Rabina. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Jam empat subuh saat itu. Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat. Di saat lain aku justru merasa bahagia. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. Tetapi. Hanya gambaran dari keberantakan. Tetapi. Saat mula aku datang ke pagurawan. Pariaman Panjang 9). tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. Dan Rabina seolah tak percaya. sejak singgalang 13) didaki. Karena setiap malam Rabina berdendang. biar sajalah. Sirompak Taeh 10). Diam.html Suara itu masih sangat jelas. Ruang. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. Ratok Bonjo 8). Tidak jarang. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. http://www. "Ayah dan Ibuku sudah tua. Aku tahu. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7). Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Tigo Giriak 12). Dendang yang melirih.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. Hidup memang keras bagi kami. aku telah mengatakan yang sesungguhnya. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. Kemudian pada malam-malam berikutnya. Menatapku lama-lama. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. aku setia menungguinya. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. Memburu dan mengepungku. aku harus membiayai keluargaku. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Lalu menunduk.

saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. Tetapi. Rabina. "Kamu berada di anjungan berukir megah. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. "Aku istirahat dulu ya. Mencintaimu." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. Tentang rindu.html Rabina mengangkat wajahnya. Bergulir. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. "Cobalah berpikir kembali. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. Membenahi anak-anaknya yang berserakan. "Aku sayang kamu. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Memendung. Lalu aku mencium keningnya. pada waktu-waktu tersisa. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu. kami akan menikmatinya berdua. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. Tetapi. http://www.processtext. Lembut. Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Namun. Jatuh menimpa jemariku.com/abclit. Rasa cinta yang cemas. Wajah Rabina mengeruh. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. Sepenuh rasa cinta. mencoba menatapku lagi. Tak kuduga." Berat rasanya. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Anak dendang." "Jangan berkata seperti itu. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya. Sudah hampir pagi. . Rabina!" Sejak saat itu. aku mengangguk juga. Aku mengusap rambutnya. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah." katanya pelan. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. Terima kasih sudah mengantarku pulang. Ukur timbang matang-matang. "Pulanglah. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang.

Aku ingin ke sana. Mendengar suara Rabina. 6). 8). Membelenggu.html "Pinanglah. Menikmati saluang yang masih berkumandang.com/abclit. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). Meninggalkan trotoar itu. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung. http://www. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. 9). Aku mencintaimu!" Namun. 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang. Aku ingin memberontak. Cahaya bintang berkilauan memendar bias. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. awan-awan diam. Aku ingin mengatakan kepadanya. Menyelai rokok lagi. 5) Istilah. Biasanya dilakukan oleh perempuan. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. Lama. Aku menatapnya. Aku masih di trotoar itu. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Rabina. 10). 4) Pantun-pantun yang dilagukan. 11). tempat kesenian musik sedang digelar. Malam melilit.processtext. Lalu aku berjalan. . Ingin berteriak.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Aku mencintaimu. Ke lapik gurau tempat Rabina berada. Di langit malam.

Sebagai penulis. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. ”Kamu ini psikolog.com/abclit. fana. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. pendeta. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit.Generated by ABC Amber LIT Converter. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. http://www. Ini untuk melukiskan. . atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. kebiasaan serta irama keseharian mereka.processtext. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang. lembah dan gunung-gunung. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Di seberang sana. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

. ”Masih cantik ya. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa.” sahutnya berseloroh.. Begitulah.. Terasalah. karena ini rumah wong edan. bukan teknis. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain.html ”Sudahlah. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta. waktu tidak seluas dibayangkannya. Pimpinan perusahaan. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. ya mustinya bangun pagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah itu sore tiba.. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Dia disuruh pidato.processtext. kamu jawab semua pertanyaanku.” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. Terus terang. .” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. aku lupa. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut.” komentar istrinya. ha-ha-ha. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi.” tambahnya getas. ”Kalau ingin menulis. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi. http://www.com/abclit. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. ”Aku memang belum pernah membangun rumah.. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.” tukas sang teman. Kali ini aku mau. ”Wah. Ketika hari pensiun tiba. Sang sahabat garuk-garuk kepala.. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual. Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.. pekerjaanmu urban planner. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung.. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek..

tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. ”Mas Daru kini jadi petani lho. sampai-sampai. dan lain-lain.. lanscaping.com/abclit. merapikan barang-barang. sesekali merawat dengan memberinya pupuk. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga.” celoteh orang di kantor. space planning. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa. sebelum matahari terbit. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Pa?” tanyanya.. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu.. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman.. Dia lebih tertarik pada tanaman. Coba tanya beberapa teman. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong.processtext.” ujarnya dalam hati. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia mulai bangun saat subuh. memangkas dan merapikan daun-daun bambu. gardening..” Begitulah kehidupan pensiunan ini. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. ”Benar juga..html Dia cuma tertawa. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling. http://www. Dia menjadi petani. Waktu saya ke sana.” pikir sang istri. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani... dan semacamnya. . Katanya dia sampai diprotes tetangga. Pertama berat.. kalian tidak tahu. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman.. dia seolah seperti landscaper.. bersih-bersih. ”Kenapa bangun sepagi itu. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. Soal menulis. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. ”Ooh.

. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya. kali. melihat kemajuan suaminya... Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Hanya saja.. berada di ruang kerja menghadap komputer. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. Dia baru menyadari. .processtext.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan. Akan tetapi. ”Liong bun. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong. Sang istri percaya. dari berbagai penjelasan dokter..” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Bukan hanya stretching. Ia dilarikan ke rumah sakit. Ia merasa benar dengan feeling-nya.. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun.. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung. ia percaya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya.” Perkembangan berikutnya lagi. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali.. kaget juga banyak orang). Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian.” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira.com/abclit. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi. selalu terjadi pada para pensiunan. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya.

Itu tadi ucapan suaminya. bukan Gunung Indrakila. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.. Sang istri kian penasaran... Sang suami diam.. Itu Gunung Gede-Pangrango. Ia ingin menguji memori suaminya. Didekatinya suaminya dari belakang. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Wanita ini tersenyum. . Suaminya telah pulih kembali. diiringi anjing kita.” tanyanya. di balik cakrawala ada cakrawala. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam... Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan. ”Indrakila!” jawabnya. Ah. Patman. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango. ”Itu gunung apa Bib.” suaminya melanjutkan kata-katanya.. Di balik gunung ada gunung. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila.. http://www. dengan menggunakan nama panggilan suaminya.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.com/abclit. Si istri kaget. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Semua saudaranya tumbang di jalan.processtext.

Si suami diam sesaat. Pagi benar-benar datang..” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya. Dia tahu.processtext.. Itu peristiwa puluhan tahun lalu.com/abclit. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari. Dia peluk suaminya dari belakang. pertemuan mereka.html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri. tentang asal-usulnya. Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. Langit semburat merah. siap menulis lagi. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita. ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam.” Terhenyaklah sang istri. bukan Mertasari. ”Bibib telah benar-benar sehat. sebelum berucap.Generated by ABC Amber LIT Converter.. http://www. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik.. di pinggir kolam. 2005 . Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri.. Ciawi Junction..

Ia tak ingin kecewa lagi. hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini.. Ia berdiri di ambang pintu. Merapikan pakaian. Atau erang kesakitan leher digorok.siul ringan. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. memandang langit siang yang terang. ia berharap maut benar-benar akan datang. mengerut menatap laki-laki itu..html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. sembari bersiul-siul kecil. http://www. . Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Menyisir rambut dan memotong kuku. dan wangi. dan segera saling bisik. Langsung. Saat ia berbaring di ranjang. Ramadhan kali ini. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. keramas. Ia memejam. Ah.com/abclit. Bayangan kematian penuh darah. mengusir bayangan buruk itu. Melipat selimut. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Setiap menjelang Ramadhan. rapi. sembari terus bersiul.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Ramadhan berlalu. Dan tadi.processtext. tapi ia masih saja hidup. Menyemprotkan pewangi ruangan. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Saat Ramadhan kemarin. ia bisa mencium bau amis darah itu.

Entahlah. Mungkin intel. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. ia terlihat merokok siang hari.com/abclit.mayat itu meleleh. Mengepungnya. Sesekali. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Memakai jaket kulit hitam. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Wajah. Menenteng koper besar. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Kadang berbulan-bulan. Bergegas. Lihat saja tampang seramnya. Berhari-hari. Ini yang membuat kian penasaran. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. memandang entah apa.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. seperti mengawasi. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Tiap sore ia keluar. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. mereka mendengis bengis. Ia seperti tak mau dikenali. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Barangkali ia dukun. Bila pulang. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu.processtext. Rutin yang ganjil. Seperti selalu menghilang. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Mungkin ia rampok. Misterius. Para tetangga jadi gelisah. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan. . http://www. Kulit wajah mayat. Parut luka seputar pundak. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. menyapu. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menjelang Ramadhan ia muncul.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. seperti bekas bacokan. Tato di lengan kanan. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Sering. Sebab. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Beres-beres kamar. Aneh. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Menutup diri. Ia mengerang. seperti lilin panas mencair.html Ia jarang berada di kamarnya. tapi pergi ke kuburan. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam.

Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Mungkin. Alangkah hebatnya jadi tentara. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Membunuh seorang pengusaha. Lalu sepulang perang. tertib. Meski ia tahu. Seorang hakim. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Tapi membuatnya merasa aman. Sumpek bau comberan. nanti bila sudah berhenti. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Dikirim ke medan perang.html Ia tergeragap bangun.orang mengerubung. ”Kamu punya bakat bagus. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. http://www. Percuma kalo cuma jadi tentara. Tempat menyembunyikan diri. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. bisa memukuli orang sepuasnya. kata teman-temannya. Memang. ia diberinya pekerjaan. Orang. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi.” kata komandannya.saat seperti itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Ia pun mendaftar jadi tentara. Ia akan tinggal di rumahnya. Di kampungnya. Benar kata komandannya. Menghabisi seorang wartawan. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. ia suka membayangkan diri jadi tentara. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Kamu pantas jadi tentara.com/abclit. Paling mentok jadi sersan. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. di bulan Ramadhan. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Mati dengan tenang. dan disiplin. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan.processtext. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. . Dan ia membusung bangga. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Lalu beberapa order ringan lainnya. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia pun suka menikmati saat. tak ada yang berani menghentikan. Ia terkapar. sebagai seorang pembunuh bayaran. Umur tujuh tahun. Dan itu disukai komandannya. Ia selalu ingin berada sangat dekat. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati.

Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Beberapa menderita sakit jiwa. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Tanpa jejak. Getir. Sepotong. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Kulitnya yang coklat resik. Dan ia tersenyum.Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa mobil perlahan berhenti. Ia heran. Dan ia mulai mengawasi. ”Aku tahu. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. itu mobil mahal. Sorot matanya tenang. Karena itulah.” . Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Kamu cukup membunuhku.com/abclit. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Mencibir. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Beberapa mati dalam penjara. Biar tak banyak korban. Tugasnya hanya membunuh. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi.processtext. lalu mendorong mobil ke jurang. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Sayang kan. Rahang terkesan pipih. Ia tak terlalu menyimak. http://www. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Bicaranya santun.” ajak Kiai Karnawi.

hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Yogyakarta. Amin.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Ia mulai diusik gelisah. Lengking gagak di kejauhan. Alhamdulillah. Lalu menggelar sajadah. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. yang pelan. Terdengar letusan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Ia pun kemudian selalu berharap. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Kemeresek daun jati jatuh. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. lakukan tugasmu. kecuali mati di bulan Ramadhan. Pelan. Kalau boleh memilih. http://www. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Dan semoga saja. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Ia merasa senja meremang. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. dan kini memburu kematiannya. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Tapi tolong. Kematian di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan.html Baru kali ini ia gemetar. Gemetar tak yakin.com/abclit. ia hanya berdiri gamang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Singup. Jangan sampai aku kesakitan ya. Ia meraba belati. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Senyap. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. ”Sekarang. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Kelebat bayang burung menyambar. Dengung jutaan serangga mengepung. Ia bisa menembaknya. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat.processtext.

suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Ketika aku membuka mata. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sampai akhirnya. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. kalau pulang. aku tidak tahu. katanya. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Entah berapa lama. Nyeri di kepala dan bagian . tetapi karena kalau tidur. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Sejak itu. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. berakhir pukul satu siang. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. justru itulah yang kukatakan kataku. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. http://www.com/abclit. membuatku tidak betah. benjolan itu sering pindah-pindah. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. Ada rasa ngeri dalam diriku. Seperti biasa. Bapak perlu istirahat banyak. Dengan tersenyum ia menjawab. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Kuraba kepalaku yang nyeri.processtext. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Nah. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. Sendiri aku kembali. Suster. aku tidak tahu. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. kataku dalam hati. Kurasa benjolan itu mengganggu.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. ternyata dibalut dengan perban. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. aku selalu mencari teman untuk pulang. bukan karena sakit. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. bertahun-tahun. aku menjadi takut ke rumah sakit. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Setelah pulang dari rumah sakit. di mana aku? tanyaku. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. Setelah sadar. Jangan terlalu banyak bergerak. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit.

Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. hanya luka memar dan benturan di kepala.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Aku merintih-rintih. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. kawan yang di sebelahku. Kami saling menyapa.html kaki. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. Sejak lama aku menghindari suntikan. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. dekat jendela pula. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. Beberapa kali aku disuntik. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. damai. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela.com/abclit. Oh. tetapi tidak berhasil. indahnya. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam. muncul lagi. tengah malam. Ia menyapaku dengan lembut. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. http://www. Aku melihat cahaya yang indah. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. Ia melayang jauh. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap.. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. yang berbaring dekat jendela menyapaku.. . Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. Ia mengendarai selimut malam yang putih. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. kalau boleh dengan menelan obat saja. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. jarum itu menancap. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain.processtext. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Ketika makan siang usai. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Tidak ada tulang yang patah. Persis di pantat. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Tadi malam.

HB-nya sedang menurun. persediaan yang tidak habis-habisnya. Semua tampan dan cantik jelita. hidangan anggur merah yang meriah. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. Berjalanlah bersama kami. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. ayunannya yang menggoda. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Lentiknya tangan mereka.processtext. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Bidadari-bidadari dari kayangan menari. ketika Anda tertidur. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. Petang harinya aku membuka mata. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali. kawan. http://www. Para pelayan yang sopan. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. Ia harus mendapat tambahan darah. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan.. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. . Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang.com/abclit. oh. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Suster.. sungguh menyejukkan hati. tidak usah takut. mereka rindu bertemu dengan Anda. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. Semua orang berpakaian yang indah-indah. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. seseorang menyapa aku. aku bertanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. nikmatnya. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. sebuah pesta yang meriah. Dan belum lama berselang. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya. Pak. Tidur dekat jendela ini amat nyaman. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. Segala derita berlalu.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. Suster itu tersenyum. ada suara menarik.

minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. Maksud suster? tanyaku penasaran. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah. . Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir. Baiklah. Rupanya ia sedang terburu-buru. Saya akan minta bantuan kawan yang lain. jawab suster itu tenang. katanya sambil melangkah ke pintu. katanya perlahan. Ya. http://www. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar. Ruang perjalanan akhir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku.html Paginya. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. tidak apa-apa.com/abclit. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. Ah. Pak. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter.processtext.

Edisi 10/02/2005 Aku lupa. Pak? Suster. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas. di bangsal yang lain. Setelah suster pergi.processtext. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia . Bandung.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kudorong daun jendela.. Semula pada suatu sore dia datang. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Namanya Roni.. disangga bantal. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. aku dipindahkan ke ruang sebelah.com/abclit. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. tanpa mengenalkan diri. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. Buru-buru kutekan bel. kapan aku kenal temanku yang satu ini. membukanya lebar-lebar. Ada apa. Suster berdatangan ke ruanganku.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. Kurasa lebih lima belas menit kemudian. http://www.

Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin. paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Soal tuyul. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. ”Anda sendiri gimana. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul. apa tidak dosa?” . genderuwo atau jin. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. genderuwo.” Saya terdiam bengong.html gaib. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.” jawabku.com/abclit. http://www. mobil. sampai segala macam pesugihan. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang.” katanya.” ”Ah musyrik. jin. ”Ah yang benar!” sahutku. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. ”Betul kok Mas. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. Berprofesi makelar tuyul. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho.

” . Wong saya hanya perantara. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang. Nanti akan terlihat siapa orangnya. ada peristiwa aneh di rumahku.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Perempuan berambut ikal. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. Itu orangnya. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. dan lain-lain. http://www. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan….com/abclit. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. mana untuk uang sekolah anak-anak. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. setiap uang di tas kerjaku hilang. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu.” Beberapa hari kemudian. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan. ”Mau tahu siapa yang punya. Istriku merengut. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu. detik itu pula raib di depan mata kami. Nanti kalau mau saya ajari.” ”Saya tidak melihat apa-apa. Dia minta memerhatikan air. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku.processtext. Kami bingung mencarinya. ratusan ribu dengan ratusan ribu. Harus dengan uang sebelumnya. ada tuyul di sekitar sini. Uang kami atur menurut nilainya. ”Betul kan Mas. itu dia sedang menggendong tuyul.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. ”Lihat Mas. ”Ah memang.” jawabku.” katanya.html ”Ah ya tidak. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa.

”Bisa lho Mas. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Pandansimping. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. atau di Desa Tempuran.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila. pikirku. pikirku. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup.com/abclit.” Bulu kudukku meremang. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. http://www. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. ”Cerpenmu bagus Mas.processtext. Mana mungkin.” ujarnya. Saya sendiri kurang berani menghadapinya.” Benar-benar gila orang ini. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.” katanya. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. .

Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa. senyuman seperti orang menahan sakit itu. terasa bulu kudukku meremang. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan. Hingga pada suatu sore. Ah.” jawabnya lirih.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. agak di luar kota. telah membuatku tidak bisa .html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya. ”Lha. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. ”Monggo Pak.” ”Tidak kok Nak Mas.com/abclit. supaya kerap mengirimi saya makanan. menjelang melintasi jembatan. rapal. pikirku. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. ”Kalau mau ke kota. Pulangnya sehabis magrib. Ya Allah.” sapaku.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. Nak. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku. ini pasti perbuatan iseng si Roni. saya boncengkan. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. Tapi… senyum itu… ya Allah. pikirku. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul.processtext. ini saya beri tahu ritualnya.

Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras.) Klaten 2004 .” jawabku seingatnya. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya. alis tebal. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga. berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau.. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. http://www. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.com/abclit.html tidur semalaman. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. Ternyata tidak mudah. Setelah bertanya kesana-kemari. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat.. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran. kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya.processtext. Dia tertegun beberapa saat. Seorang lelaki paruh baya.. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.

namun kakak bergeming. kian lesi.processtext. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. Kakak tak hirau. Nak. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari.com/abclit. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami.. Kosong. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. serta menarik-narik tangannya. ”Paman dan bibi akan menjagamu. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. berlari mendekati.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. dsb. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang.. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. seperti puasa. Wajahnya tambah putih. Lurus. ”Elok-elok di sana. Kau senang dapat mengajar lagi.” pesan ibu. jauh. Hanya memandang. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik. bukan?” Kakak diam saja. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. Kau akan dimasukkan kerja. Engkau akan mengajar lagi nanti. . tidak tidur malam. memeluk. http://www.

Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kakak sedang malas bicara. ”Ai. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa.” jawab Kak Lela. Nak. Sampai kini. Bukan kepala stasiun. padahal hanya masinis kereta api. tetapi ayah tidak terjangkau. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak. paman dan bibimu tiba.com/abclit.” ”Malas bicara.” . seperti kalau aku ngambek?” ”Ya.” kata Paman Jafar seperti minta maaf.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela. ai. ”Payah hubungan pos sekarang. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA. namun ayah tetap tidak dapat dicari. Ah. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap. Sedang kami hanya bisa memandang. Begitu. ”Dia sayang sekali kepada kalian.” Kakak tetap tidak beringsut. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat. Sudah lama kakak serupa patung hidup. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. Mariani. Itu.” ujar ibu. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. ”Tapi kakak diam saja. ”Seperti tak mendengar. http://www. menyeru namanya. harum dan bagus sekali rambutmu. bertangisan. Salamilah paman dan bibimu. ”Ajaklah terus berkata-kata. Ikal. Sejak dia tidak jadi mengajar. Lambat. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan.” ”Kakak mendengar. izin dulu ke komandan. Seolah-olah beliau orang penting. Legam.processtext. Membawa ayah.” kata adik-adik.html Tetapi ibu terus bicara.

Kak. ”Begitu keadaannya. anak rancak? Eh. berteriak-teriak. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan. Kak?” ”Mau. Dia melengking. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak.” kubilang. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak.processtext. berdarah-darah. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat. sama besar denganku. Berlubang-lubang. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah.html ”Jalan pun buruk. ”Tapi mau dia makan.” .” balas ibu mengangguk. lalu menoleh kepada kakak. ”Paham aku itu.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak.” istri paman menambahkan.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. http://www. Sudah kering sekarang. lihatlah. Kuburu anak-anak itu.” ”Terlalu! Tengoklah. Yang lain siap-siap menyergap. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. aku melesat ke luar rumah.” sahut ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Tapi tidak dalam. ”Anak-anak nakal itu. Disuapi. ”Disuapi engkau Mariani. Ibu-ibu menceracau. ”Mereka lempar kakakku dengan batu. Ada empat orang.com/abclit.

Paman kembali melihat ibu. Pamanmu juga. ”Masih rajin engkau mengaji. Tumpahkan terus.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. Seorang lelaki membelalak garang di depanku.com/abclit. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. Sengaja buya tua itu kemari. ”Rumah ini bagaimana. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat. ia bilang. bagai rembesan pada panci rusak.” . ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat.” jawab ibu.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Membelai-belai rambut dekat luka. ya. Katanya. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. http://www. Bibi ingin mendengarmu mengaji. kubalas berteriak. Hampir terjengkang.Generated by ABC Amber LIT Converter. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. Mengajilah saat maulud. penumpangnya tak menengok. ”Lepaskan. Kepalaku nanar. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. Tapi yang muda-muda menolak. Kakak terisak. Sebuah bendi lewat di muka rumah. ingin bersih-lingkungan. Jafar. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi.” Tidak berjawab.processtext. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Mariani? Nanti mengaji. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang.” dia bilang.” ”Jual. Nak. Bahunya bergerak-gerak.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. sebagai biasa’. ”Bagaimana aku bisa pindah. Kuping mendenging. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum.

Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. tahu keberadaannya.processtext. memandang paman serta bibi penuh harap. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. ”Sudah ke mana-mana kuobati.” balas ibu. Bersih. ”Ambil bantal. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam. Sesekali kubawa pula ke sekolah.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. ”Tidur. menanti pengangkatan. serupa badai. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. ”Belum juga ia berubah. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir. ditolak jadi guru.html ”Ei.” lanjut bibi.” Berbisik pula pada adik-adik. sudah tiga bulan ia mengajar. Atau diajaknya adik-adik. menatap kejauhan tak berbatas. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. tak menengok. Bagaimana . Juga siang. aku. Lalu. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap. ”Tenanglah Kakak. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman.Generated by ABC Amber LIT Converter. Paling tidak. bila aku pindah. Juga karena status ayah. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. Berangkat gembira di pagi hari. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. http://www. Dia luruskan kakinya. Jafar.” ulang Paman Jafar. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Orang-orang tetap lewat di muka rumah. Melihat pula ke luar. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Lagi pula. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. sewaktu pulang. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam.com/abclit. meski tak diucapkan. banyak. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas. Padahal. Jafar. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. Tetapi. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. diputus tunangan. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela.” kata ibu. Menyulut rokok. Karena status ayah. Polos. Diselimuti. Kak Lela berdoa.

Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami. Kami juga. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. kalau laki-laki itu pulang suatu hari. Tetapi malah juru-api kereta api. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas.html keadaannya. ”Rencanaku besok kembali. Barangkali karena perempuan. http://www. terampil-cekatan menangani rumah. seperti ayah. tapi tangannya campin pula.” Ibu bernapas lega.processtext. Bila mati di mana berkubur…. *** . ya?” Kami mengangguk. ”Syukur ada kakak kalian. Ayah bangga dengannya. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. Dik. tak bergerak-gerak seperti bayi. Ibu menangis. Kulitnya bersih. Tugasku menunggu. Besoknya. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. putri sulung. tak mungkin tidak.” ucap Paman Jafar.com/abclit. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. Rumah jadi lengang—lengang sekali.” Ibu mengangguk-angguk. ”Komandanku tahu. Di Pakanbaru juga kacau keadaan.Generated by ABC Amber LIT Converter. atau kami yang kehilangan mereka. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Tapi. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya. ”Kakek-nenek kalian guru. Tetapi. berharap kakak jadi guru tamat SGA. Termasuk jalan hidup anak manusia. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. ”Kubawa Mariani sekalian. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. Dia kawanku. Putih. Napasnya lunak.” Kakak terus tidur di beranda. kakak dibawa paman dan istrinya. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. Juga lalu di muka rumah.” ujarnya kemudian.” Ayah tertawa suatu ketika. Mestinya ayah juga. kakak. Kakak telah pergi. ”Terpikir olehku. kalau cukup biaya. Anak Ampek Angkek. Kak. Dekat kami.

Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. dekat dapur. yang selalu mendukung semua kehendak Ma.html Jakarta. ibunya sakit-sakitan. di Pontianak. Hidup mereka susah. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. Di rumah kami. orangtua Cik Giok kurang mampu. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Emak. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. diam. . Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. setiap kali Pa bersuara. Separuh dindingnya dari tembok. kamar itu amat sangat sederhana. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung. http://www. Supaya anak dan ibu selamat. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. Emak mau. bisu. Pa bilang. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. Di rapat persiapan perkawinanku. Sempit. Cik Giok menempati kamar belakang. Kalau mengikuti urutan keluarga. Karena kata Pa. mengalahkan aku. Ma. di sebelah gudang. lalu di pelabuhan.processtext. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami.com/abclit. Malah sejak aku belum lahir. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. aku mengikut saja.

Cik Giok menangis seharian. membereskan rumah. memanggil. Malam itu aku tak bisa tidur. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku.com/abclit. Satu kuartal. berdebu. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Katanya. aku masuk kamarnya. Tiba-tiba aku menangis.. bahwa ia bohong. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. berusaha mengeluarkan senyum. Terutama siang hari. mencuci. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. ketika pulang sekolah. Sore hari. Sehari sebelumnya. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Sebulan. katanya. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak.processtext. Lewat. hingga aku terlelap. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Kalau sudah begitu. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. saat bisa sedikit bersantai di kamar. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Emak. Hingga seminggu lalu. http://www. Tidak apa-apa. yang kebetulan tidak tidur siang. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Aku ditariknya keluar. Sudah dekat ujian.html Aku pernah bertanya. waktu itu. bilang pada Emak. Tetapi aku diam saja. Pulang sekolah. mengapa Sabtu. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. tahu. ibunya Cik Giok sakit keras. Cik Giok harus dipanggil. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. dan mengurusi segala keperluan Emak). Enam bulan. Supaya di hari Minggu. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. sebelum Emak bangun. aku bayi yang cengeng.. mengajakku merasakan kesejukan di sana. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. kudapati kamar itu sudah kosong. menemuinya. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. Katanya. Sering di tengah cerita. Lewat seminggu. Itu hari yang paling tepat. Ma bilang. Esok harinya..Generated by ABC Amber LIT Converter. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Aku kelas enam. aku mengantuk. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. dibuatkan baju. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. katanya. menggosok. Juga beberapa malam setelah itu. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. Jadi Cik . Memeluk bantalnya yang tipis. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali.

Cik Giok bergegas pergi ke belakang.html Giok akan datang. Aku berlari menyambutnya. Matanya. Dan Cik Giok benar-benar datang. Semua baik. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. Ubannya sudah banyak sekali. Cik. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. dan aku. Makan. Cik Giok menangkupkan tangannya.processtext. Aku menyeringai saja. Ma. Semua dari kampung. Aku mengikutinya dari belakang. mendengus. Siangnya. katanya. suwiran ikan asin bakar. Tetapi melihat wajah Emak.com/abclit. . kata Cik Giok. Menyiapkan sarapan untuk Emak. selamat. aku bertanya pada Ma. aku harus mengepas baju pengantin. Ia kutarik masuk. kataku. Wajahnya lebih tirus sekarang. Menghabiskan bubur di mangkukku. Keras. Sudah. Ma kelihatan kurang senang. yang tak beranjak dari meja makan. http://www. Di ruang tamu. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. memberi hormat pada Emak. Kami berpelukan erat. Tidak. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Pa. Kami menyantapnya dengan lahap. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. Pagi-pagi. Cik Giok sudah sibuk di dapur. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. dengan dahi berkerut. aku putuskan kembali duduk. Mau kawin kamu.Generated by ABC Amber LIT Converter. siap menyusulnya. Persis seperti dulu. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Ma menanyakan kabar Cik Giok. Baik. Ia akan tinggal terus bersama kita. kata Ma. mau mengajak Cik Giok. Emak. atas perintah Ma. kelihatan sedih. Aku sudah berdiri. Aku bilang. Kurebut tas kain dari tangannya. Setelah empat belas tahun pergi. Bubur encer dengan tung cai. ia kembali ke rumah ini lagi. Tenggorokanku kering.

perutku terasa sangat penuh. Kami berjalan beriring. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. kataku. Ma menggeret Cik Giok keluar. hanya beda warna. menuju jalan besar. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. Ma mencubit lenganku. Cik. Cik? . kata Ma. Mataku berat. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Sedikit lebih gelap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. Tak berkomentar. Cik. Terkejut dia melihatku. setiap calon pengantin selalu begitu. Aku keluar kamar.com/abclit. Ada apa? Ia bertanya. Sakit.html Ayo ikut. Tulis surat buat siapa. Ma menjelaskan. Aku hanya mengangkat bahu. http://www. Tidak bisa tidur. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. tak tersenyum. mencari makanan di dapur. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. Dia belum tidur. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Ma bilang itu biasa. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. Mungkin. Sama persis dengan Ma. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan.processtext. Meski masih agak longgar di pinggang. Tubuhku lelah. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Mencari bajaj. Cik Giok tampak bingung. Menuju pulang. Itu karena terlalu senang. Katanya lagi. Baju sudah hampir selesai. Ia membereskan kertas suratnya. Cik Giok tetap diam. Aku berputar-putar di depan cermin. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan.

dua belas hari lagi. Aku berlari ke kamar tidurnya. Pa tiba-tiba menghilang. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Ma minta aku pulang. tetapi Kuku menahanku. Aku sudah tua.Generated by ABC Amber LIT Converter. Entah dari mana. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. katanya. Aku tertidur. Aku melompat. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Temani Pa. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Malamnya. Cepat bangun.processtext. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Dicari Emak. Ketika aku tiba. katanya. Cik Giok kena stroke. Pa. Meninggalkanku. http://www. Cik Giok sudah pergi. Cik Giok sudah pergi. aku masuk kamar. Dia akan segera kembali menjelang pesta. Malas. Terlambat. Entah untuk berapa lama. Emak menangis. Sehat dan selamat. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Urus Emak. Nanti. Mereka khawatir. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Dengan suara keras. nanti aku akan mengerti. Katanya.html Keluarga di kampung.com/abclit. sudah lama tidak jalan jauh. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. menuju kamar mandi. Menguncinya dari dalam. Ma ikut bersungut-sungut. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Ma. kata Ma. Wajahnya tegang. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Aku tak ingin pergi. Kau harus berangkat ke Pontianak. Nanti semua akan jelas. Tetapi suami malah mendesak. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Dia cuma bilang. Terserah apa kata Ma. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Kosong. . Emak. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Aku bersiap menyusul Cik Giok. katanya. Di tangannya ada kursi plastik. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. Penting. Kuku menyuruhnya masuk. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Ketika aku kembali ke ruang tamu.

Ia memelukku. Dengan muka basah. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. Kakak perempuan Cik Giok. saling menindih. Beri hormat pada Mamamu. diam-diam. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. Semua yang ada di sana menangis. menjerit sambil berebut mendekati aku. membuang muka. mendorong. Cik Giok tak menunggu aku tiba.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. Perutku mulas. yang wajahnya amat mirip dengannya. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. Erat.com/abclit. memelukku. kakak Cik Giok mencium pipiku. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. Di rumah duka. besar. Pa. Rawamangun. http://www. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. menyeka matanya. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. menjemput kami.processtext. Pa menangis lebih keras lagi. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi. ia berbisik. menggilas. Aku menangis. katanya berulang-ulang.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. . Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. Maafkan aku. genta-genta kecil bertalu-talu. hingga aku sulit bernapas. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan.

Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. penganjur kebaikan. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku. Gelombang yang berlabuh. penyair. pengusaha. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. Itulah yang terjadi pada Minggu. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. Menjarah popularitas. kataku dengan titik air mata. meraup uang selawat. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. Pembunuh yang tak pernah gagal.000 jiwa melayang. http://www. Banyak yang bisa dituai di sana. secepat pesawat B747. dari hari ke hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. Dan: Menjarah! Menjarah harta. dan jasad manusia. Hampir 300. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. gelombang itu menyemai ratapan. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. di dasar kerak samudra.processtext. dari waktu ke waktu. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. bermunculan di sana mengusung misi mulia. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. pengarang. Apakah negarawan. Gelombang itu bernama tsunami. Pencapaian yang luar biasa. . 26 Desember 2004. Menjarah perhatian. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. di negeri yang aku cintai ini. di Nanggroe Aceh Darussalam. Ya Allah. di Nanggroe Aceh Darussalam. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. atau Pengisi Neraka.com/abclit. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. politikus. Ketika surut. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. Said Huseini. kendaraan roda empat. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi.

Gelombangnya menelan perahu Ayah. Inilah sarapan pagi di luar hotel. ”Aku suka laut. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. Kunjungan singkat di Banda Aceh. bila pasang. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. Istrinya masih muda. Terkadang aku melempar pancing dari sini. . Merbah terbang di ujung ranting. Aku duduk di halaman kedai kopi. subuh tadi. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. memakai pita. menggendong anak perempuan berkepang dua.” ”Abang tak suka laut.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah itu. Kami diajak ke belakang rumah. di Kajhu. Aku suka deburan ombak. Di lobi. tiga potong pisang goreng. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. http://www.processtext. Tali ayunan menjuntai di kaso. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. Tak ada hiasan di dinding. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. seorang lelaki berdiri dari sofa. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. menyongsong kedatanganku. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. Secangkir kopi. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok.com/abclit. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. mencari buah pohon seri yang ranum. Kami masuk ke ruang tamu. Aceh Besar. Berjalan di atas dua keping papan. Mak menunggu berhari-hari di pantai. aku kembali ke hotel berjalan kaki. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. kecuali ayunan rotan tersangkut. Angin berembus membawa sejuk pagi. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. Seperti menuju masjid. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Aku selalu bertanya kepada-Mu.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. Celah daun tersibak. Kami menuju tempat berangin-angin.

”Aku heran. http://www. dibesarkan di perahu.” . bagiku. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu. menyumbat telinga ini.html Ayah tak pernah pulang. Malam ini. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur. Mau rasanya aku mengambil kapas. Di rumah kekasihmu. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. Kami melihat dia.” ”Aku sangat terganggu.processtext. malam pertama engkau menginap di sini. Dia berdiri. Engkau pernah dengar.” teriak seseorang.com/abclit.” ”Aku tidak terganggu.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai. meletakkan tubuhnya yang lelah. Tak ada sunyi di sini. orang dilahirkan di perahu. Dalam kampung terapung. juga melihat laut di belakangnya. Di rumah istrimu sekarang. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu.

Pengarang itu makan dengan lahap. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. Berarti ini sudah Minggu.” Dia senyum. Akan muncul lakon baru penghias dinding. Sekarang sudah pukul 01:45.” katanya ditujukan kepada si istri. Dan aku tertawa.” ”Maksudku. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. kecuali kegelapan. Dia alihkan perhatian ke buku itu. ’Gulai pakis dan santan durian. Buru-buru daun jendela dia tutup. Mungkin dia ingin melihat laut.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari. Mak menggendongku. Mak menjelaskannya. Mala. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. sebentar lagi layar akan ditutup. Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. ”Tapi mungkin. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu.com/abclit.processtext. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. Desember akan digantikan Januari. tidak. ’Apa maksudnya. dia meneruskan ocehannya.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya. Mak ?’ tanyaku.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia.” . ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu. http://www. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. jauh dari deburan itu. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu. Kata Mak. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan. ”Tinggal enam hari lagi. Dia pergi ke jendela. Dia berdiri dari tempat tidur. saat Pak Pos mengantar sebuah paket.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”tahun adalah lakon. itulah istimewanya Desember. Malahayati. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik. Minggu. Angin masuk membawa bau garam.” Tak ada jawaban.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya. 2004 akan digantikan 2005. 26 Desember 2004.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. Ayah gembira dan puas. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan.” Dia menoleh kepada istrinya. ”Kalau adat membolehkan. Dan. kata Ayah. ”Engkau sudah tidur rupanya. ”Semisal pementasan. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. ”Sampah Bulan Desember. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. ”Sampah Bulan Desember. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Orang Jakarta. atau mungkin pada judulnya.

Di dinding ruang tengah. Malam-malam lain masih ada. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. membuka pintu. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Sehari penuh menyambut tamu. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Kedua . Apalagi malam ini. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang. masih juga dia tersenyum. Melihat semua itu. jam berdentang dua kali. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. Kamar pengantin itu menjadi gelap. Ayu mengikutinya. Masih panjang kehidupan bersamanya.com/abclit. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Ditekannya alat pemadam lampu. http://www. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. beranjak turun. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. Dia tidak ingin mengganggunya.processtext. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Rita menyerahkan ongkos. kekasihnya itu. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Barangkali dia berpikir seperti itu. tetapi gerak itu tidak berlanjut. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. Dia beranjak ke dekat pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

punya tiga anak. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. he…he…he. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun.” jawabnya datar. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya. http://www. Nggak suka ya.html marah. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba.” . Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta. Di dalam taksi. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik.processtext. ”Mama.” kata Ayu. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo. maafkan kata-kataku tadi. ”Suka juga. berdebur-debur keras. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas. Rita dan Ayu berpelukan. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. kalau cerai sulit cari suami lagi. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega.com/abclit. Firda menyibak vitrage. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua.

Di luar penglihatan Ferdi. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang....” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali.” Senyum Ferdi memudar. Perasaannya lembut berdesir.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Aku serius. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.” ”So what ?” ”. Dan Ferdi ternyata merasakannya. ”Ada apa.” ”Tapi kata orang hotel.processtext. Firda?” Firda tidak segera menjawab. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat.. ”.” Firda terdiam sesaat... Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. Memeluknya dari belakang.html ”Ya. .com/abclit. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng. ”Setiap ketemu kita berbulan madu. ”Kamu bosan ya. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu. http://www.. kan?” Ferdi tersenyum lebar.

?” ”. Tetangga dekat.” ”Oh.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.” Tangan Ferdi perlahan merenggang. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh..” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP. http://www.” bisiknya dalam hati. berlalu begitu saja tanpa perhatian. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran..com/abclit.. melepaskan pelukan pada pinggang Firda. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda. . yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam.” Firda terdiam. Bulan depan aku mau nikah. Guru yang beruntung.. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. berikut bursa saham yang terguncang.html ”Jadi kenapa.. nyaris tak terdengar.processtext. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Tapi sudah lama kenal. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci.

Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula... Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji.” Ferdi terdiam.processtext. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah.. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi..” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita.. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. ”Maafin aku.com/abclit. http://www.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.” . Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci.. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya. ya. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab..600 cc berhenti di tempat gelap.Generated by ABC Amber LIT Converter.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.

ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. buru-buru membuka laci dashboard. Cetak undangan.html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. http://www.com/abclit. berbelok memasuki gang.. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit...Generated by ABC Amber LIT Converter. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. ”Tolong kamu terima. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi....processtext. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan. Sampai kemudian keduanya berpisah.” Firda menjawab dengan pelukan erat. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan. saling melambaikan tangan.” ”Nggak usah. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. biaya katering. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka.” Firda terdiam... Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh..” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. . Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil. sewa gedung.

Manajemen. kepribadian. Tapi uang lemburnya tinggi. yang bukanya dua puluh empat jam. ya. komputer. tapi lebih seringnya di Bandung.. belanja-belanja.” ”Berat sekali juga enggak. Bulan lalu malah di .” jawab ibu Firda.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. katanya. sampai harus ke Bandung segala..” ”Yang penting gajinya lumayan. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. Restoran di hotel berbintang lagi. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. pulangnya antara jam dua belas jam satu. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. Kadang di Jakarta. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam.” ”Namanya juga kerja di restoran. ”Bukan lumayan lagi. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. Jadi masih ada waktu buat rekreasi.. http://www.” si bibi menimpali.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus.” ”Berat juga ya. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. bahasa Inggris.processtext. ”Malam sekali.” ”Ah. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore. Karyawati biasa. belum.” kata ibu Firda.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya.

ya. dateng ke lumahku.” ”Oh.html Bali sampai seminggu.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan.. Eyang nggak mungkin lupa. ya.processtext..” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga. http://www.. Aku kan ulang tahun. ’Ya. Ia pun bangkit hendak keluar kamar. ”Ini siapa. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. cucunya eyang Feldi.. Jam dinding menunjuk setengah tujuh. ”Ada apa.” Ferdi tertawa. sih. Alloh. sayang?” ”Ental siang jangan lupa.” . Pasti.’. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu.com/abclit.” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum.

Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini.html ”Dah.” Ferdi menutup gagang telepon.” ”Dadaah. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar. seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. http://www. ”Minta sendiri gih sama Papa.” ”Anak sekarang. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum. ”Hampir lupa..” ”Eh. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya.!” katanya dalam hati.processtext. eyaaang.. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh.. ”Icha. ”Hai. Senyumnya seketika memudar. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.” ”Ya. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab...” .Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.

kado perkawinan.” Ferdi tertegun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sudah papa siapin.” ”Terus. mau ngasih apa. Tergantung papa dong. kan. sih?” ”Mmm. http://www. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm... rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” .html Ferdi bertanya-tanya.com/abclit. Pa. ”Tenang aja.?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah.. Pa. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa. rumah...” ”Kamu suka.” ”Ah yang bener.processtext. ”Rumah. Maksudku.” Setelah berpikir beberapa saat.. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya.” ”Kado kok minta. Papa jangan ngasih aku mobil juga.” ”Soalnya gini. ”Mau minta apa..

?” Jakarta.html ”Sudah.” Astrid sesaat terkesima. Edisi 08/14/2005 ..” Astrid heran.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. apa sih yang nggak papa kasih.” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama.processtext.. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri.com/abclit. Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali. ”Thanks. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas. ”Kok pakai balik nama segala.

processtext. . Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. ayahnya. Tatapan matanya kosong. Mona. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. anaknya. kata Mansur kepada ibunya. Suka bermain sepak bola. Pada usia 16 dua tahun lalu.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Sesekali ia menyeka air mata. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. Memasuki usia 17. juga membacakan Surat Yasin. Di sebelahnya. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. Mansur adalah anak yang sangat sehat. ia adalah anak yang lincah. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Matanya sembab. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. kakak Mansur. Mahfud. Mahmud. Suaranya patah-patah. Sesekali air matanya meleleh. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. http://www. Mansur meninggal karena bunuh diri. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. meninggal dunia. menolak cintanya. Meskipun badannya gemuk. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. begitu mendengar kabar duka itu. Dua petugas kepolisian baru saja pulang.Generated by ABC Amber LIT Converter. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. suaminya. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. Karena itu.com/abclit. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur.

Sesampainya di rumah. Juga kemarin. ia tak lagi berani membesuk putranya. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Amat merindukan ibunya. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Empat malam sebelumnya. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Yang terakhir. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Dan. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Dengan alasan tubuhnya masih lemah. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. ginjalnya juga terganggu. arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. Kata Mahmud. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Karena itu. hasilnya sangat manjur. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. Tetapi. Duka mendalam menderanya. kata dokter. Selain luka di usus yang kembali kumat. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan.com/abclit. Mansur kemudian jadi langganan. panas dinginnya tak kunjung hilang. ternyata.processtext. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. baru berjalan satu bulan. Lima malam sebelum kematian Mansur. Ny Laila membesuk putranya. ia mengalami komplikasi. Tetapi. ia berhenti karena tak tahan godaan. suaminya. Karena itu. Dan menginap di rumah sakit.html Mengikuti nasihat ibunya. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Tetapi. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Mansur ingin segera dibawa pulang. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. sebelum itu. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. http://www. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. Tiba-tiba ia menangis lagi.

” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Apa pun penyebab kematiannya. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Memangnya kenapa. .” istriku menimpali sambil lewat. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Sebagai tetangga. ”Habis melayat. Ia tersenyum getir. Matanya tampak lelah dan marah. gitu. Tetapi. putriku. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Sebelum pulang.com/abclit. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Air matanya meleleh. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Bang Mansur. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Bang Acung itu Bang Mansur.html memaafkan segala kesalahan anaknya. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. ”O. Tatapannya kosong. ”Iya. Tak ada senyum. Ocha. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. http://www.” kataku.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. dengan tulus kuucapkan pula doa. ia tampak damai. ”Bang Acung? Bukan. Yah. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Suaranya serak. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah.

Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. Yah. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur. Kepalanya dua. Lalu Bang Acung mendengar bisikan.processtext. Dia jatuh.html ”Yah. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Kata suara itu. Tetapi. Jadi.” jawabnya.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. ia melihat seekor cecak.” gadisku bersila di hadapanku. Yah. Yah.” Aku agak tertegun. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Orang-orang tidak pada tahu sih. Katanya. cerita putriku selanjutnya. Tanah Kusir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang Acung. orang-orang enggak tahu sih. Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. kalau mau sembuh dari penyakitnya. Yah. Bang Acung itu bukan bunuh diri. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah. Yah. Yah.com/abclit. menyambar cecak itu untuk dimakan. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. http://www. Juli 2005 . Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. ”Jadi begitu ceritanya. Suaranya datang dari samping kamarnya. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri.

ada bekas luka sepanjang telunjuk. Tubuhnya padat. ya!” terdengar suaranya berat. Ketika pintu dibuka. sedikit parau. matanya memerah.processtext. seorang tak dikenal mendatangi saya. ”Baru pindah. Saya amati tamu ini hati-hati.com/abclit. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. Suatu sore. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. Kancing baju bagian atasnya ternganga. tinggi besar. kurang nyaman. Berkumis tebal. http://www. Sangar sekali kesannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. tanpa ada senyum. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. Kulit hitam.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. setelah melewati pekarangan kecil dan teras. ”Iyya. Dari mulutnya tercium bau alkohol. sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya. Pipi kirinya. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan.

untuk pertanyaan yang sama. ”Ada berapa. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman. ”Ada dua. Saya merasa.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Iyyya.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. Saya menarik napas. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi. Bang…. Saya kaget. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar.processtext.000. Saya takut.com/abclit. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. masukkan dalam amplop uang Rp 10. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain…. saya. iya. ”Mulai besok pagi. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab. Mau?” Setelah itu. Kami masih berdiri di teras. . Kalau tidak. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. http://www. ada sesuatu yang ganjil. Jangan lupa. saling berhadapan. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. Rautnya bengis. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. Pisau dapur biasa.

Ketika pintu saya buka. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini. Kemudian. ”Lagi kurang sehat. pergi begitu saja. saya bertanya. ”Maaf. badan sedikit dibungkukkan. Saya dan istri terkejut. Bang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. Si sangar itu pasti. Tiduran. Bang. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar. Tampaknya. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. tidak takut mati. ”Kita pindah saja. Nekat!” Memelas suara istri saya. memang si sangar adanya. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar.html ”Saya bersedia. Gedoran pintu terdengar makin kasar. http://www. Pucat membias di wajahnya. Saya mencoba menenangkannya.com/abclit.processtext. ada yang terlupa?” ”Istrimu. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam.” ”Suruh dia keluar! . Salah-salah. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas.

membuat saya tergagap. pintu saya tutup.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar. Tangan istri saya terasa dingin.” Si sangar tertawa terbahak-bahak. ”Ini istri saya. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. ia terlihat cengengesan. Saya amati. si sangar menoleh dan berkata.processtext. Di hadapan si sangar. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar.html ”Tapi.com/abclit. amplop ke kantong celananya yang besar. Jangan-jangan itu semua pisau . saya masuk menemui istri di kamar. http://www. Pisau dimasukkannya ke dalam karung. Sebelum jauh melangkah dari pagar. Bang…. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Setelah itu. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop.” katanya di sela sisa tawanya. ”Cantik…. Pintu pagar dibukanya. Setelah menatap istri saya beberapa jenak. Akhirnya dengan menguatkan diri. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. ”Istrimu cantik. Saya menunggu. Akhirnya si sangar datang. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu. tapi wajahnya pucat sekali. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat. Dengan perut terasa mulas. cantik juga istrimu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya. istri saya mencoba tersenyum. ha-ha-ha…. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali.

dipakai menyembelih. Kalau sebelum ke tanganku. Pintu dibukakan perlahan. Bang. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang. http://www.com/abclit. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. Bang. ”Sudah sangat tajam. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras. pintu rumah terdengar digedor kasar. terduduk dengan napas sesak.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya. pukul sebelas malam. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur.processtext.” . ya pisau kami.” ia berkata dengan sangat dingin. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pasti si sangar itu. Maaf. ha-ha-ha…. pisau ini digorokkan ke leher kita. ”Ada apa. Mata pisau pun terlihat lebih tajam.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. akan sangat sakiiiit sekali. Pisau tumpul. termasuk menyembelih kambing atau ayam. ”Kalau setajam ini. sama artinya sebuah penyiksaan. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. Tapi.

Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik. Rumah-rumah orang sudah tutup. ”Mmmaaf. karena luka oleh mata pisau yang tajam. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. Kemudian. tidak menyakitkan! Termasuk. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. ha-ha-ha-ha…. Abang…. untuk melukai kulit ini. Tapi. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. salah saya apa? Sesaat kemudian. Bang! Saya tidak tahu maksud. Terlihat. ia raba leher saya. . Jangan ya Tuhan. Ya. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. bagai dicubit saja….” ia menyerahkan dua pisau ke saya.” Langit malam bertaburan bintang. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20. pandangilah saya saat ini. nyaris tidak mampu berdiri.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit. Bermandikan cahaya.html Ia akan menyembelih. ”Bang.com/abclit. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri.processtext. ”Darah manis. Lihatlah. mohon Bang! Jangan. ia akan menyembelih saya. kemudian dipegangnya lambat-lambat. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. Tuhan.” Ia terbahak. ”Berikan pisau ini ke istrimu. dingin.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.00. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. Sunyi.

Generated by ABC Amber LIT Converter. mempersilakan saya. dengan seringaiannya. ya!” sapa si sangar. ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar. Baru saja pintu dingangakan. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. Saya menggeleng. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami. membunuh orang.com/abclit. ”Saya baru setahun keluar penjara. Saya membuka pintu depan. Apa kabar. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri. Si sangar menyadari pintu terbuka. berusaha tenang. ”Kesiangan. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. Abang. ”Eh. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. Saya gelagapan.processtext. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan.html Kami bangun agak kesiangan. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. Santai sekali tampaknya. http://www. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya.

Tapi. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. kangkung. Dalam hal ini. apakah ia tahu. buncis. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau. setiap rumah di kompleks ini. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau. ”Aku mahir mengasah pisau. Terbayang tanah keluarga yang luas. dulu. kalau pisaunya tajam. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. Uang dari keringat sendiri. saya cobakan tertawa sebisanya. Istrimu. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. dan sebagainya. kusembelih. golok atau merampok dan membunuh. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya.html Saya hanya diam. Kalau dia tertawa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Iya. Dan aku pun dipenjara. toh?” . Dan. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. Begitu juga kentang. bisa kugarap jadi ladang. Ternyata. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. Sesekali mengangguk. saya ikuti senyumnya. Lagi pula bukankah ini pemaksaan. Karena itulah. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. Bayarannya Rp 10. Saya hanya melayani dengan tatapan mata. Kalau tidak mau.com/abclit.000. Memotong sayur. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi….” paparnya.” suaranya agak lunak.processtext. bawang. wortel.000. ia mungkin akan tersenyum. misalnya.” Saya mencoba belajar memahaminya. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. sebagai ibu rumah tangga. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. Karena tidak menyakitkan baginya. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat. yang jumlahnya lebih seratus rumah. http://www. Kalau dia tersenyum. Dan terakhir. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1.000. Kacang panjang. oleh mereka. ”Ketika dipenjara. mati. bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10. aku berpikir tobat. ketimun. Karena ingin hidup normal.000 sebulan.

”Terima kasih. katakan padaku.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. Dia berdiri. mempererat rangkulannya. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. kalau dengan pisau yang tajam. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. ”Begitu juga memperlakukan ikan. Dan anak buahku. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat. akan lebih baik. Iya. Ia kemudian melepaskan rangkulannya. Itu artinya. http://www. sembari berkata. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar. Juga nyawamu!” . saya pun ikut berdiri. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Saya cepat mengangguk. juga enak. ia merangkul bahu saya dengan hangat. Menjelang sampai di pintu pagar. rezekiku ada pada pisaumu. Kita yang menggunakannya. menyembelih ayam.com/abclit.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. Percayalah. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu.processtext. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. Terasa lebih penyayang. Bang!” ”Itu artinya. tidak ada yang berani mengganggumu. kan?” Saya mengangguk.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya. ”Benar. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati. ”Ingat. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau. yah barangkali saja Rp 10.” ia berhenti sejenak. Jika ada orang yang mengganggumu. Paham. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. Kamu telah mendengarkan aku. ”Kamu telah membantu saya. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya.

tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan.processtext. Memasuki kompleks gedung. Setelah hampir 40 tahun. dalam. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Memasuki lorong gedung. Gemanya sangat panjang. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng. aku masih mendengar jeritan bapakmu. Bajunya basah. sejak peristiwa berdarah itu berlalu. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang.com/abclit. Ia datang bersama anak laki-lakinya. Tampak dari atas. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. ”Her. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. http://www. Kecemasan mengambang di bola matanya. Masih terngiang-ngiang. ia berjalan menuju suatu ruang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. . Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas.html Sejak saat itu. sambil menimang dokumen lusuh itu. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. gemetar.

atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. aku merasa bingung dan cemas. besok pagi. Sepanjang perjalanan. Tapi di sana. ya bapaknya Herjuno itu.html ”Bukan hilang. kami terdiam. Aku kaget. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. dengan colt station sewaan. Di Karang Bolong. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan. teman. Seperti puluhan tahun lalu. buru-buru Ibu mencegah. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara .processtext. http://www. kalau kamu tidak mengajar. ”Maaf Bu. Makam itu kosong.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mobil pun terus melaju.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. itu urusan negara. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka.com/abclit. Tapi dilenyapkan…. Kata petugas. dalam. dan sunyi.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. ”Her. menembus desa demi desa. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. Tapi aku takut mereka kaget. Masih jauh. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. Waktu itu. kami berangkat ke makam Bapak. Nastiti. gelap. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. tapi tidak matanya. Ibu meneleponku. dan Murti. Tapi kutahan. antar Ibu nyekar bapakmu. Ia minta mobil berjalan lurus. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. Suatu pagi. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. Soal jasadnya.

khas jahitan pasar. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. seorang tokoh PKI di kota kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di pendopo itu. Bagai tepung terigu ditebah angin. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. http://www. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Dia menjawab ringan. secara cuma-cuma. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. ada NU. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Menurut Swanggani.html wajar dan terhormat. Dari tempatku bersembunyi. Seperti siang itu. Ada PNI. ”hidup Nasakom”. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. ”Bersama tahanan lainnya. aku mendengar jeritan mereka…. partai-partai saling bersaing. Hingga kini. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. dan ada PSI. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan.” . Bukan. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. Waktu itu. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. Sebuah rumah bergaya limasan.” ujarnya dengan gemetar. diiringi sorak-sorai. kami hidup menepi. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa. warisan mertua. ”ganyang nekolim”. Kan nggak sopan to. Kami menempati rumah besar. Tangan mereka terkepal. debu mengepul di jalanan. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. Dalam zaman yang gemuruh itu. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. ada PKI. langit kota kecil itu pun selalu menyala. ada Masyumi. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru. kaku seperti baja. Aku terbebas? Tidak juga. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung. Kata-kata ”revolusi”. Di bagian belakang. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang.processtext. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. rasa pedih terus merajamku.com/abclit.

Ada latihan menari dan menyanyi. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. Setiap saat itu. Ada latihan ketoprak. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Terima kasih.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. Beberapa bulan kemudian. ”Hati-hati dengan Pak Tular. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. Mas Drajat pun tidak keberatan.com/abclit. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai. Sehabis isya. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Kami hanya saling memandang. Aku pun terdiam. Wajah bapakku tampak masam. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. Pendopo kami selalu ramai. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. bau mayat tercium di mana-mana. lewat RRI.” Tawa Pak Tular berderai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mas Drajat terdiam. ”Terima kasih. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. Beberapa jenderal diculik.processtext. Ia memandangku. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. Apa salahnya?” kataku.html Suatu ketika. Katanya untuk rapat partainya. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. Tidak sampai seminggu. http://www. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. ”Ganyang Drajat!!!” .

Aku sendiri tidak paham. Pintu rumah kami digedor-gedor. Nastiti. aku menemui mereka. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Dia mencoba memberikan penjelasan. Dadaku sesak. Dia sangat tenang.” Aku pun bergegas membawa Darsono.processtext. Sangat keras.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. aku membuka pintu. ”Bohong! Dasar Gerwani. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. dan Murti lari keluar. Dan ajaib. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. aku melahirkan Herjuno.com/abclit.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. Menuju rumah Bapak. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan. aku gemetaran melihat parang. Di rumah itu. Menembus malam. Aku tak bisa lagi menangis. ”Saya tidak tahu apa-apa…. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Aku memeluknya. bambu runcing. Pak RT mampu menyabarkan mereka. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. Mas Drajat keluar dari kamar. kerumunan pun bubar. Sungguh. pada dini hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. kelewang. bentakanku menundukkan wajah mereka. Dengan gemetar. Keras. Esoknya. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. Akhirnya. . Sebulan kemudian. ”Jaga kandunganmu. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. http://www.

Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. pagi hari. kini telinga negara telah tumbuh…. sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya.processtext. Kami pun berdoa. kita sudah sampai. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. Namun.html ”Bangun Her. ”Bu…. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana. http://www. Kantor Komnas HAM. Ia hendak berbalik. Kami keluar dari mobil. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya. ia menemui seseorang.” Herjuno tergeragap bangun.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia berharap negara berani untuk punya telinga. 2005 . yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’.” Yogyakarta.” ”Itu bukan makam Bu. Dengan tenang. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. tapi luweng. Bahkan mungkin terguncang.” Herjuno sangat kaget. langkahnya tertahan.

Aku membaca surat tersebut. istriku menyilakan tamu tersebut duduk.” jawab tamu itu. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. ketua RT di wilayahku. ini ada surat undangan. Pak Memet.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kudengar juga suara istriku mengatakan. Aku pun keluar kamar. Aku sudah tahu roh surat itu. stensilan. Cuma sebentar saja. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. Istriku yang menyambutnya. Tapi ia tidak berbicara. juga ikut.html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas. ”Tidak usah. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. ”Pak Bagus. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. Dan suara berikutnya. .” kata Pak Marjan. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. ya aku ada di rumah. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku.com/abclit. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. http://www. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang.processtext.

Kartu SIM kutinggalkan. ”Nanti juga tahu. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Ada Mahkamah Agung. diapit oleh dua orang dari mereka. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. Ada polisi. Tersirat posisinya dan posisiku. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar. atau di tempat tujuan. Dengan jawaban itu. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. Mukanya pucat dan matanya kosong. Tidak sopan pakai pakaian begini. Sesampai di halaman. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya.html ”Kalau begitu. Dan semua isi dompet kutinggalkan.” jawabnya. kecuali uang beberapa ribu saja. ”Sabar Mam. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. celana dalam baru. Jawaban itu sudah cukup bagiku. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. . Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh. berpamitan bersamaan.com/abclit.processtext. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang. dan kedua pak RT.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh.” jawabnya singkat. Aku mencium dahinya. seorang berada di depan rumah. Ada kejaksaan. saya ganti baju saja. yang warnanya sudah pudar. pakai kaus kaki. ternyata ada tiga orang lainnya.” Tamu itu. http://www. sapu tangan tidak lupa. takut hilang di tengah jalan. ”Ya dibawa sebagai bukti. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami.

Daun kemerisik kuinjak. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. terus berjalan. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. tunggu di situ. Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama. Tidak ada yang datang. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. yang kukunjungi beberapa hari. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup. Langit biru dan angin segar musim gugur. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. Remang malam turun menambah senyap. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. Disambung suara memberi komando. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. berdetak besar dan cepat. Aku tidak mau melihat jam. Tapi tidak terdengar suara manusia. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. mengajakku menginap di rumahnya. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Juga suara orang tertawa sirna. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Pukul 16. http://www. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin.35. Suara banyak sepatu melangkah. Detik ke menit. Ketika ia bekerja. Kemudian suara sepatu ramai. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. yang tak pernah kurasakan di . yang jelas bukan dari kamar sebelah. Pohon-pohon ligir. Juga tidak ada suara radio atau televisi. Suaranya agak jauh. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. Sementara aku duduk sendirian. Tak ada suara lain. Juga suara mobil. Gigil segar menyemangati. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. menit ke jam. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. Banglades. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong.com/abclit. Sepi mencekam. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Keringat membasahi tubuh.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. Aku tetap duduk. ”Bagus. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu.

Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. Ia meletakkan pistol di atas meja.” Aku mendahului. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. http://www. Ia tidak menyahut. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih. Kebebasan.processtext. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah. Aku mengangguk terlebih karena terkejut. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. ”Ini Blitz-krieg.” Suaranya menggelegar mengagetkan. ”Di sini tidak ada Pancasila. Ia menyalakan lampu. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku.” Suaranya lagi. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. Aku mengangguk. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. Aku tidak senang di kedua negeri itu. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam. . ”Selamat malam Pak.com/abclit.html negeri ini. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku.

Aku mengusap kupingku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder.processtext. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. ingus. http://www. Alhasil. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. mana kecoak. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. Ketika aku tidur. dan tikus. sampai ke rambut dan kukuku. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. setelah hampir dua minggu. Aku ingat bahasa Inggris. dengan kawat berduri berlapis-lapis. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong.com/abclit. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. pintu keluar barak itu dibuka. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. menerbangkanku berkeliling dunia. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing. menggeledah seluruh organ tubuhku. getah bening. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. tetapi tidak menemukannya. Sejak malam itu. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. Entah berapa orang. Aku mengusap mataku. tikus besar-besar berlarian di tubuhku. di tanah airku. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi. membuat sesak napas. mana ular. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. nyamuk. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. Perangai. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. terkadang sendiri-sendiri. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. tikus dan kecoak. atau berapa ekor. aku tidak tahu lagi. sperma. pancaindraku. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. kencing ludah. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. bukan lagi suara manusia. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. tulang-belulangku. Mereka muncul terkadang bersamaan. lintah. lintah dan semut menggerayangi tubuh.*** . sambil menahan napas. terasa darahku diisap lintah. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. menciumi bau keringatku. tengkorak.

Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. . Sebagian menatap kosong langit-langit ruang.processtext. Lingsut.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. http://www. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang.com/abclit. Ada masa memang. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. lelah. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. ruang nyaman. Mungkin selamanya. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Tunggulah sejenak. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu. dan menggelepar di sana.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. Kepala-kepala itu masih penuh derita. Ruang teduh. Sebagian dari kepala mereka menunduk. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. mungkin ingin membaca masa lalu. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. menekuni lantai. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. Ruang tunggu dengan warna pastel. Kepala-kepala itu masih penuh cerita.

Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. berpelukan. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. Tangan ibu mereka sendiri. Dua kakak beradik. Mereka bertiga berpelukan. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. kuberanikan diri untuk merangkainya. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa. dan saling melingkarkan lengan. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil.processtext. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. bisa kubawa pergi. Hanya sesekali. Mengepak pelan. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. Percobaan yang selalu aku ulang. Lalu aku akan terbang agak tinggi. membuat rantai . Tapi selalu dan selalu. Hanya bermodal harap dan cita. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. Aku mencium sari kisah yang terbakar. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. sempat aku hinggap. http://www. Demikianlah. dengan mereka yang mengalami sendiri. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. Dua orang yang masih lelap. halaman-halaman tak terbaca. Tapi satu di antara mereka. Ibu mereka terlalu bersedih. mendekati lubang ventilasi. kembali aku mengitari mereka. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. Mereka mati dibalut api. aku terlempar. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api.” Dan api berkobar. sebelum kemudian kembali terlempar jauh. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai.com/abclit. ”Nak. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. Setelah cukup tenaga. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi.Generated by ABC Amber LIT Converter. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. Mereka bertiga meregang. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. aku lebih sering terpelanting. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Dan aku terus mencoba lagi. beradu kepala. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. Sekali dua. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan.

Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. dan membiarkan perasaan ibuku bolong. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. ”Orangtuaku tidak ada di rumah. Kaki-kaki mereka bengkok. Tapi di hari itu. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. http://www. Kami ingin bernyanyi dan berlari. Ibuku tahu aku akan mati.rita. Suaranya serak. Mereka mendorong kami. Pertama membiarkanku tidak punya gizi. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. dia harus menanggung nista dan sengsara. sebelum kembali terlempar jauh. Satu di antaranya berkata. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. Kami ingin bermain air dan bermain api. Mereka bohong. Mereka tahu kami akan mati. Ibuku sudah tidak punya air mata.html lingkaran yang kokoh. tubuh-tubuh kecil berbaring. ada celah di dunia sana. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. aku malu dengan teman-temanku. Aku mengambil selendang milik ibu. Mereka tahu kami mati. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. ”Kami belum ingin surga.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. Kembali aku hampir terpelanting. Kami ingin belajar menjadi manusia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kami tidak ingin di sini. Mereka mencoba membunuhku dua kali. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. Kami ingin dunia. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Ibuku kalah dalam menagih janji.” Di samping lingkaran besar itu. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. Mulut mereka sangat lemah. Hanya kami sungguh tidak mengerti. begitu bayi terlahirkan. Kaki-kaki mereka mengecil. Kami belum ingin ke sini.” Si anak yang berkata. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. bermata alum.com/abclit. Tapi mereka memaksa kami. Dunia yang pahit. menyadap sari ce. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. inilah kota kami yang indah dan makmur. Mereka membiarkan aku mati. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Mereka . Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai.processtext. Aku tidak enak dengan ibu guru. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. Mereka ingin mengatakan pada dunia. Mereka bilang biaya perawatan gratis.

tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. Aku ditabrak warna putih. . sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. Bagi orang miskin seperti kami. beterbangan. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. meracuni laut.” Aku hinggap lagi. Aku terlempar lagi. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. Aku hanya seperti kupu-kupu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lihatlah. di tengah. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. ”Ah. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. itu hanya kabar yang berlebihan.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. Ya. dengan tangan penuh tombol. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. sambil menyeringai dan berkata.com/abclit.”. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi. menebangi hutan. Kembali. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. Aku ditabrak warna hitam. ”Hari gini.. Aku mati karena muntaber. gitu loogh.. Mereka datang dari mana-mana. Aku hanya seperti kupu-kupu. Aku digendong naik kereta. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. Sangat besar dan kuat. mati pun masih menyisakan masalah. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit.html tahu. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. Tidak lebih. membobol gunung. Hanya seperti. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. dengan tubuh terlilit kabel. generasi yang lebih baik. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. tanpa takut terserang polio. Seperti hilang. http://www. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Dan tibalah satu sentakan besar. Aku seperti hancur. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku.processtext. Dengan wajah dan kulit plastik. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. Mungkin sampai mati. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit. Bahkan.

Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. http://www. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. dan mungkin sekaligus mereka tolol. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya.processtext. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu.com/abclit.html Mereka benar. maka dia pun berhenti sejenak. Ada perbedaan memang. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hari itu. kurang gizi. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Di sisi yang lain. Mereka benar. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. kelaparan. disorientasi. . Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. depresi. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. bunuh diri. Hingga bagian yang terbakar itu. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. hingga tampak putih dan halus. keracunan kabar bohong dan bahan makanan.

lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. Dengan uang itu dia bisa membeli beras. ”Iya. nanti ditempel di sana ya Mbah?” .html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. cucu-cucuku itu akan batuk semua. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kalau aku ikut kalian. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli. Dalam sehari. Mereka berpakaian bagus-bagus. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. garam. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Bagi Mbah Gimun. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. gula. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam.com/abclit. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. dan naik mobil yang juga sangat bagus. ”Benar Mbah. http://www. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. ini gambar calon pak bupati itu. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka.processtext. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. membawa tas bagus. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. minyak tanah. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. bersepatu bagus. orang-orang itu menolak. Kalau pedagang itu tidak datang.

nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.com/abclit.” Setelah para tamu itu pergi.” ”O. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. saya diberi tembakau. Lumayan. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas. diberi uang lagi. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. Mbah Gimun lalu membuka besek. . Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan. pasti. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. mencomot tembakaunya. Cucu itu memberi tahu. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Bukan hanya itu Mbah.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Tapi begini Mbah. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. http://www. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. ya terima kasih sekali. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun. Katanya.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah. melintingnya. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum.processtext. Mbah Gimun kaget tetapi senang. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah.

”Lalu minggu depan ini Mbah.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Bukan dua tetapi satu Mbah. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. lebarnya seperti sajadah. Mereka mengantar beras. Kertas gambar itu tebal dan kaku.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. gula.html Beberapa hari kemudian. Yang kanan wakilnya. Mau dicoblos wakilnya boleh. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. Pak RT dan Tukijan juga datang. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. ”Iya Pak RT.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. Yang ini yang kiri ini bupatinya. kita semua harus datang ke lapangan bola.com/abclit. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT.processtext. ”Salah satu saja Mbah. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. http://www. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. ”Terserah Embah.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . bupatinya juga boleh.

dan tidak hapal wajahnya. ya. sekitar jam empat. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya.processtext. Kalau layu mengiratnya alot. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. Jam berapa Pak RT?” ”Sore. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. duapuluh ribu. ”Ya siapa saja. http://www.com/abclit. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Sebab baunya seperti minyak wangi.” . Ada yang limapuluh ribu. Bau tembakaunya sudah tidak ada. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun.” Enam calon bupati dan wakilnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak. saya akan datang nanti. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Mbah Gimun menerima semuanya.” begitu alasan Mbah Gimun. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun. Menjelang hari pencoblosan. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. akan layu. jadi nanti kita semua makmur. semua membagi-bagikan uang dan barang. agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak.” katanya pada anak-anak itu. Dia kan pengusaha. sepuluh ribu. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya.html ”Ya.” kata Mbah Gimun senang. Sebab saya tidak tahu nama-namanya. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman.

Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Di rumah. Enam calon semuanya memberi uang. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. 2005. udara terasa tidak terlalu panas. di mata. bukan kita. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Dari saku surjannya. dan kepalanya ditutup udeng. . dicatat. Mbah Gimun memakai kain sarung. dan diberi kertas suara. dilihat kartunya. Dia mencari tempat duduk yang pas. Dia lalu melolos satu lembar kertas. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. baju surjan hitam. Melihat Mbah Gimun kebingungan. ada yang di mulut.processtext. memberi beras. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. sandal jepit. dengan anak-anaknya. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. dengan menantu-menantunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. Bara api di ujung rokok itu memerah. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. ada yang tertawa.” Cimanggis. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. memberi tembakau. ”Sayang. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. satu-per satu warga kampung dipanggil. Dengan mengucap Bismillah. memberi teh. Baunya sangit dan keras. Ada yang tersenyum. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. di hidung. Ada yang dicoblos di jidat. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. ada yang di pipi. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. menawarinya tempat duduk. Karena masih pagi. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. http://www. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas.com/abclit. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. Di bilik pencoblosan. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. memberi gula. Bukan pak bupati. ada pula yang tegang dan cemberut. dia kebingungan. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu.

http://www. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. ”Ibu restui kepergianmu. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang.html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu.processtext. tak akan kembali ke moncong senapan. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. dan moncong senapan itu seorang ibu. Nak! Tapi. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. Ya.” . Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. meski kau tak pernah lagi membalasnya. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi.com/abclit. Saat itu. bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak.

”Ruz ingin jadi anak ibu. . menimba air mandi. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. dan tinggal bersama ibu. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Jika kau sudah pergi. http://www. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. tentu ibu akan bersendiri. Hanya kau yang tersisa. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. termasuk bapakmu. lambat laun ia sukses. Bapakmu rela di-perempuan-kan. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. Sejak enam tahun lalu. Abangmu. merengek-rengek minta izin untuk merantau.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. bule perempuan berkebangsaan Spanyol. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. Tanpa bapakmu. tak terdengar lagi khabar Acin. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. abangmu yang satu lagi. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. Rehan. Sejak itu. Delapan orang anak nenek. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. ”Kasihan. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. Setelah lulus jadi polisi. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. apalagi kerinduan ingin merawatnya.” Rumah kita makin lengang. Kecuali bapakmu. Acin dan juga kau. sejak menikah dengan perempuan rantau. setelah tamat SMU di Payakumbuh. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. menyuapkan makan. Saat itu. Wafa Sulastri. Mencuci pakaian. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. sekaligus menjaganya.com/abclit. namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. Selain bergiat sebagai pelukis. Tapi. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. ibu sendiri saja di rumah!” katanya. Tanpa Rehan. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima.processtext. Acin akan pulang membawa istrinya. Pada surat itu. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. Umurnya sudah berkepala delapan. setelah masa tugasnya berakhir. Acin berjanji. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. Tapi.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. Yang jelas. . Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. http://www. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu.processtext.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu.com/abclit. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. 13 tahun. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Pada saat itu. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas.Generated by ABC Amber LIT Converter. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. Belum lama berselang. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh.

com/abclit. setiap kali aku mau menghalau. Berlalu dari samping Anggi dan Olan. . http://www. Mereka memahami gerak-gerik kita. makanya sering saling tubruk. Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh. Cuma asal terbang. ”Heh.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka.” ”Tapi.” ”Mereka belum bisa melihat penuh.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. mereka sudah terbang duluan.

”Dia dipanggil ayahku. http://www.” kata Anggi. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka. ”Mau apa?” tanya Olan.com/abclit. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau. ”Ke rumah Gumortap. .” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan. ”Mau ke mana?” ulang Anggi.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. ”Ada enggak?” tanya Horas.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit.” kata Horas.processtext. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka.

siap berkelahi dengan ayahmu. ”Biarkan saja mereka makan padinya.” kata Horas. ”Tapi semua sudah tahu. Gumortap sekarang membenci ayahmu.com/abclit. http://www.” kata Anggi. ”Mesinnya kan sedang rusak.” katanya. tak akan banyak!” . Nanti malam musim ombak besar.” kata Anggi. ”Heh.html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi.” kata Olan.” ungkap Olan. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah.processtext.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. ”Mereka masih anak-anak burung. ”Coba dia membawa kapal sekarang. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. ”Aku jalan dulu.Generated by ABC Amber LIT Converter. kita harus mengusir burung. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak. ”Aku ikut.” kata Anggi.

Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. Dan sejak itu.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka.” kata Ayah Horas. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota. dan tentu saja. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka.processtext. ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya.com/abclit. melalui jendela. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam. ”Bilang sangat penting. bahwa Gumortap tidak bisa datang.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. http://www. pemain gondang yang baik. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau. juru mesin dan juru mudi yang baik. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. ”Kau saja yang memanggil lagi. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. tak banyak yang tahu. tapi kemudian berlanjut saling pukul. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya.

Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua.” kata salah seorang tamu itu. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. tanpa dukungan juru mudi Gumortap.html Begitulah. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah. Dan seseorang itu bisa saja. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. Licin dan halus.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kami mendengar lagi Pak.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. Horas mendengarkan dari balik pintu.com/abclit. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Dia baru saja menutupkan jendela. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil.. http://www. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Entah siapa yang datang bertamu. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya.. ”Banyak yang marah.” kata yang lain. . Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. Suara ayahnya dan beberapa orang lain. tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah.

html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. ”Dia kurang ajar.” kata yang lain.processtext.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya.” .” ”Ya. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua. http://www. akan saya panggil ia ke sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. barangkali seusia ayahnya.” ”Jangan mendatanginya. dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.” ”Bila perlu mendatangi rumahnya.com/abclit. jangan mendatanginya. ”Bapak harus menegurnya. Perintahkan.

” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ””Katanya Bapak menghinanya. ”Eh. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka. http://www. berjaga-jaga.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati. Inang?” tanya salah seorang tamu itu. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah. Ia . Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya. Yang dapat dilakukannya adalah. “Baru dari pekan.processtext. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura. maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Tapi kalau ia keluar.com/abclit. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. ada tamu.

Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. Horas terus merangsek. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. menusuk. menusuk.processtext. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. ”Anak gila!” umpatnya. tapi Horas berhasil mengibaskan. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. http://www. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya. Langit sore sebagian memerah. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. di kakinya. Tangan Horas kini berlepotan darah. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. Lalu Horas . Namun Horas tak mendengar. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. Belati telanjang dan berbahaya. darah seharum ombak malam. menusuk. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. entah mengkhawatirkan siapa. Horas tak menjawab. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. seraya mengatakan sesuatu.com/abclit. Di sebelahnya. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Horas melihat sekilas.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. Beberapa orangtua berusaha menolong.

sebagian memilih jadi pengusaha. tapi tak semuanya jadi pegawai. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. beberapa . seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Sesaat. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. termasuk ia sendiri. Tangannya gemetar menggenggam belati. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. Tapi pada suatu hari. Tapi semuanya sukses. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. Bank Jerman. Mereka mendirikan rumah berderetan. Usamah juga ikut membeli tanah. Teman-temannya itu.processtext.com/abclit. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. tapi ia terpisah. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. semuanya telah lulus perguruan tinggi. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. dari kampung Pasar Kliwon.

Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. maklum bertanya kepada ulama besar. "Boleh tidak Buya. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. bermain-main di rerumputan pinggir kali. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. memberanikan diri. memelihara anjing sudah biasa. "Tengok ke halaman rumah. Itu ada anjing besar. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. bersama pengasuhnya. banyak penduduk yang memelihara anjing. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. dekat Masjid al Azhar. sangat sedih kehilangan Nero. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector.html ekor dicuri orang. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. jika Faris ingin . Rahmah el Yunusiyah. Ia dan keluarga. al Irsyad." jawab Buya. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. "Di Mekkah. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. tertidur selama 300 tahun itu.com/abclit. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. anjing itu pun mati. dengan persetujuan seluruh keluarga. Tapi baru berjalan satu setengah tahun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Faris. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. http://www. terutama anak kecilnya." jelasnya lagi. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Hector selalu menggonggong keras. itu separuh penghuninya adalah anjing. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. Minah. dekat sawah. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah. Kebetulan ia mengikuti aliran modern.processtext. mungkin oleh tetangga yang tak suka. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero." jelas ulama asal Minang itu. Nabi sendiri suka dengan kucing. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. Tak tanggung-tanggung. Najib. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. termasuk anjing. Pernah ada hadist yang menceritakan. "Di Minangkabau." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru.

"Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu.com/abclit.processtext. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli. "Jaga dong anjingnya. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. Pada suatu hari. Mendengar gonggongan anjingnya. Ia sempat membawa lari seekor ayam. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri. Ketika mau mengambil kompor. setelah selesai belanja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika istri Usamah pergi ke pasar." jawab Bu Usamah. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. "Tidak. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. Hector disuruh menunggu. Ketika lari terbirit-birit. Kalau Bapak tidak datang. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. Anjing juga tidak pernah mencuri.html bermain-main di kali. anjing itu pasti mati kami hajar. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya." jawab si pencuri. karena jika ikut masuk. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. Hector selalu dibawanya. maka pencuri itu pun bebas. berusaha mencuri ayam. karena mendapat gonggongan Hector. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. ia tak pernah berbohong. jika tidak mau mengambil barang saya. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. saya tidak mencuri. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. Pernah suatu pagi hari. setelah melapas ayam curiannya. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. Pencuri itu pun. "Walaupun seekor anjing. tidak." . teriak-teriak minta tolong." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. http://www. Hector mengejarnya sampai tertangkap.

tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah." jawab Usamah. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik.com/abclit. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. Faris sudah berangkat besar. Dulu saya pernah kecurian ayam. Ia masih akrab saja dengan Hector. Faris pun menggoyang-goyangkannya. .html "Lho Pak. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu." "Yang najis itu air liur anjing gila. Cuma. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Karena itu orang yang berniat jahat. setia menjaga rumah dan majikannya.processtext. tanda ada yang mengganggu. sudah masuk SMP. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. Tak pernah mencuri dan berbohong. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. tapi Hector tidak bangun juga. Tapi kalau malam. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. Usamah sekeluarga menonton TV. cuma mengangguk. mengurungkan niatnya. Kalau siang. http://www. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. anaknya yang terkecil. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. Anjing itu seperti malaikat. Hector sudah berhenti bernapas. Kalau ada yang dicurigainya. baru Hector menggonggong. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. "Masya Allah. sebelum punya anjing. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah. Setelah sejenak duduk. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. Dan Faris sangat menyayanginya.Generated by ABC Amber LIT Converter. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. Rupanya. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV. Anjing ini sehat dan bersih. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. karena tidak bisa." "Apa Bapak tidak tahu. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Haram. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. Pada suatu sore di hari Sabtu.

bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. Ia pun dikuburkan. seperti manusia. manusia pun akan mati. Hector akan masuk surga. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya." Keesokan harinya. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. malaikat akan masuk surga. Abah yakin. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. Semuanya berasal dari Allah. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami. Pak Usamah sempat membaca doa. Kepada mereka. pagi-pagi benar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya menatap. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya.html Melihat Hector tak bangun lagi. Nius. apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. terutama Faris. http://www. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. bagian dari keluarga Usamah. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. tanpa doa pun.com/abclit. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun." .processtext. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. seperti tidak kenal lelah. Melihat keadaan itu maka Usamah pun. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. Sebenarnya. Tidak sekalipun berkedip. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Tapi Hector lebih menyerupai manusia. seluruh keluarga gempar. sambil menitikkan air matanya. "Seperti ada dan tiada. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh.

Kami ajak bermalam tidak mau. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. diduduki hingga kini. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. dewasa atau jadi tua. Dia dan keluarganya tergolong aneh. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga." tambah Amril.processtext. http://www. Bahkan mengerikan. "Bun di Medan jadi dokter.Generated by ABC Amber LIT Converter." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Berubah sekarang. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. sebagai grosir roti dan permen. Ayah Bun tukang gigi. Kalau aku pulang. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. "Tentu!" kubilang.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Nius. akrab dengan pribumi." "Hanya si Cudik.com/abclit. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo." Biju menerangkan dengan gembira." jawab Tum. Dulu kami sering . Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Dua lepau nasinya sekarang. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Nius. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. "Tak lama lagi pensiun. lebih-lebih tukang gigi. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Si Talib di Dumai. Satu di Palembang. kendati kota kami tetap saja setelempap. "Di mana dia?" tanyaku antusias. sudah bercucu satu.

Keluarga itu memang kaya dan terpandang. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. "Tidak halam. adik kelas kami. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. tak pake babi laaa. Rambut ekor kuda. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. pintar di sekolah. Nius.com/abclit. Mereka menggeleng. Ibunya baik seperti ibu Bun. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. Bak orang-orang dalam mimpi. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam." sahut Tum. http://www. Suka-suka kami mau makan apa. "Jelas enak. kadang susu. adik Bun. Seperti di rumah Bun." KAWAN masa kecil itu lincah. mengantar kue mohok hangat-hangat." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. "Itulah. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Tidak kecuali Sultani. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Dia kapten sepak bola. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". Juga pandai menjahit. lucu. atau menjelepak duduk di lantai." bilang Tum. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. "Percuma.Generated by ABC Amber LIT Converter. kami kerap nginap di rumah Sultani. Tapi kami cegah. tidak halam! Enak laaa. Matanya tak terlalu sipit. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri.html bermalam di rumah itu. . mencukur. Minumnya teh hangat.processtext. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin. kembali menampakkan senyum yang ganjil.

Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Kami berebut. alias usil plus kurang ajar. Portir bioskop juga dia ulahi. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. mengajak makan. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. guru mengaji kami. http://www. serta sarung beliau "terbang. Mestinya waktu kita kelas tiga. Babah mau coba? Sret. Bun mau potong bulung bole potong. Ibunya tersipu. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai." "Tidak sakit. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. jadi keras. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. "Sebetulnya telat Bun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan Bun disunat. Ulah Sultani! Suatu kali. Kelas enam disunat." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. Lalu ia sambar roti. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. Baju.processtext. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. tidak terasa. Biju dan Tunik juga. Bun?" Bun mengangguk lemah. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Ayah dan ibunya setuju. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. laaa. Dan pernah pula Buya Makruf. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. Mukanya pucat serupa mayat. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir. "Malah. . Terbahak-bahak seperti hantu air. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat.com/abclit. kopiah. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. "Ayaaa.html "Makan. Berenang kalang kabut ke tepi. selesai!" Ayah Bun terkekeh. Iya kan. mencangkunginya seperti buang hajat. ke halaman masjid.

processtext. tentu saja. http://www. ikut mengaji saja. Ketika kuraba. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Aku malah tak sekali.html Setelah sembuh. malah sebelah sini terlampau pendek. Kepandaian itu turun dari ibunya. Sebulan ditanggung fasih. Bukan saja Bun. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. "Seperti model rambut Bang Rustam. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Eh. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Dan sesekali. Rancak. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. kuratakan. Mataku merem melek. sepekan rambutmu . Mendesis-desis lunak. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Biar aku yang ngajar. tajwid dan kiraahnya elok. Tetapi. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. tidur-tidur ayam. "Rambutku dia cukur. Tapi aku merasa. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. "Tadi di sini terlampau pendek. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Tak licin di sekeliling kepala. Rustam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku serahkan kepalaku pada Sultani.com/abclit. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. kan?" Aku mengangguk. Suaranya merdu. "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. Sudahlah. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Sultani berkata: "Sudah Bun. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. Tunik juga.

suatu pagi." sambung Biju lesu. Tahi kambing." kata Amril. Bagus juga kau gundul." Tum diam saja mendengarkan sunyi. Tetapi mereka pun tidak tahu. Dia mendekat. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. berteriak-teriak. Mereka melempar rumah itu dengan batu. Atau pergi. Mereka menuju rumah Sultani. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun.com/abclit. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Tepatnya. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Pernah kami tanya ke situ. hasilnya nihil. Suara mereka teramat gaduh. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Sejumlah orang menerabas masuk. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Nius.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. aku menghindar. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran.html panjang lagi. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. http://www.processtext. Nius. Menyepak pintu hingga rubuh. Mereka . melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Kaca-kaca pecah berderai. aku menghambur ke jalan. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya.

kemarin pagi. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Menangis. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku. Orang-orang masih berteriak. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Aneh sekali. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. Buas sekali. "Dan. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Kusaksikan ayah Sultani diseret. diseret abangku pulang. "Semua orang bilang begitu. melihat aku di tengah kerumunan.com/abclit. Dia juga menangis. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. http://www. seolah-olah tidak pernah lelah. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan.processtext. Bergelombang-gelombang manusia. Mukanya berdarah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Perempuan itu terjerembap di halaman. meraung-raung. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. Tanganku dicekal. "Mulai kurang ajar ya.html terus berteriak. dua buah. Lututku menggigil. Menghabisinya. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. Hanya mata saja. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. 2 April 2005 . Ibu Sultani berlari mengejar. Bahkan sampai kini. yang menatapku tanpa berkedip. Sultani juga. tegak kaku di ambang pintu.* Jakarta.

menjenguk lewat jendela. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit.Generated by ABC Amber LIT Converter. bibit tanaman. Di samping para tetangga. Kadang-kadang saya juga diundang camat. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Sudah sering datang orang. mengular sampai jalanan. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. bawahan dengan atasan. Misalnya. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. bupati. . yang sama sekali tidak saya ketahui. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. menantu dengan mertua. perbankan. Sungguh menghabiskan waktu.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Juga tentang hubungan suami istri. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. maupun wali kota. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya.com/abclit. ramai. setelah sarapan. Karena istri saya gelisah. Ada apa? Saya acuh tak acuh. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Sudah sering datang orang. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga.processtext. Kadang datang berbondong. Istri saya memberi tahu. pengairan sawah. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Jika ditanya. satu dua. saya menjawab sekenanya. Istri saya belum menemui mereka. persoalan anak dengan orangtuanya. Saya rasa kali ini juga begitu. perburuhan. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. sekadar yang saya tahu. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. http://www. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. Saya acuh tak acuh. satu dua. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. soal usaha tambak udang.

menyebabkan banyak orang mengenal saya. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. bupati. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Begitu siuman. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Untuk sikap saya itu. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. juga tayangan televisi. Alasan saya. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Saya interviu keluarganya. http://www. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. saya dijuluki "pendengar yang baik". Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. sementara beban keluarganya besar. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. dan berapa orang saudaranya. Barangkali mereka juga membaca obituarinya.html Rasanya camat. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia.000 orang. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Sebagai penulis lepas. Begitulah. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia seharian di rumah saja. dibawa pulang ke rumahnya. sedangkan untuk orang-orang biasa. Keluarganya memberi tahu. agaknya hanya saya seorang. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. dan wali kota. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Misalnya. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Cukup menyenangkan. Seluruhnya orangorang biasa. kenapa tidur di rumah. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. teman-teman. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. pekerjaan terakhirnya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. .000 karakter. tidak ke mana-mana. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. lalu saya cari alamatnya. di sebuah desa yang lengang. sampai kenalan baru. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. tidak benar-benar membutuhkan saya. Tulisan obituari itu tidak panjang. ia kaget. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya.processtext. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Saya catat riwayat hidupnya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. keluarga. Masa pensiun pasti datang. misalnya. menyadarkan saya. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Kadang sampai 8. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. sekitar 5. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari.com/abclit. teman. Kepala kantor orang itu kebingungan.

Ntar saya yang menulis Bapak. Pak Jurnalis. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Saya tak bisa menjawab. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal." Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yang jail maupun pelesetan. Banyak komentar. seseorang yang ngobrol dengan saya." jawabnya.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. kompleks pertokoan. "Lho. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. Dan sebagainya. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati.processtext. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. Pak. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Saya nggak mau ditulis sekarang. "Maaf. saya sedang mewawancarainya. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya.com/abclit. ini bahaya. Ini benar-benar klenik. Maka ada saja orang yang anti-saya. Tapi ini kebetulan saja. Dari kejadian itu. Banyak usulan. Ada yang bilang. Tidak kenapa-kenapa. Sementara itu ada pula yang bilang. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. ia meninggal. ataupun di stasiun bus. Wah. ada yang mengartikan." ." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis. tak ada yang menulis. kenapa?" "Maaf. http://www. "Pak. jika seseorang ngobrol dengan saya.

Kritiknya tidak berdasar. anak-anak ini sok tahu. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Keterlaluan. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. dan si bungsu di SD kelas 5. Jika sampai di sini hal itu masih baik.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Baiklah. Pak. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. wah. Lalu malah terjadi serba-salah.com/abclit.processtext. Anak-anak saya. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Pak. Apa yang akan terjadi dengan saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu." "Saya permisi. lima orang. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: . terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2." "Biar untuk Bapak saja. Pak." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. http://www. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Banyak ngomong dianggap meramal. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Menurut mereka. Saya jadi pendiam dan menyendiri." "Lho." "Jangan ditinggal korek apinya ini. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya. kenapa?" "Maaf. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. katanya. Di pertemuan-pertemuan desa. sedikit saja saya ngomong. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. yang paling kritis. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Tidak kenapa-kenapa. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Memangnya saya cenayang.

kalian ngawur." "Semua orang bicara dosa dan pahala. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. ini dosa. http://www." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala." "Semuanya. "Kalian ngawur. Ayah pernah menulis obituari. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah." "Nah. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga." jawab anak-anak itu. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga." jawab saya. Nah." "Ayah marah kena keritik.html "Dari mana kalian tahu." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu." "Itu harapan saya.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext." "Begini.com/abclit." "Boleh saja. . Itu doa saya. kan." "Tidak bisa seenaknya begitu.

" "Nah. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Sudah sering datang orang. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. termasuk menulis berita. Saya acuh tak acuh. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Istri saya belum menemui mereka. Nah. Sebagai ayah. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Karena istri saya gelisah. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Kami sebenarnya keluarga bahagia. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan.00. Saya sering lelah berdebat dengan anak." Mendengar keterangan saya. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. merangsek ke depan meja saya. Istri saya memberi tahu. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Hari baru membuka matanya. mengular sampai jalanan. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. Ada apa? Setelah sarapan. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Istri saya guru SMP. Lima anak semuanya sekolah. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . sedang rakus-rakusnya makan.processtext. Padahal saya selalu bilang. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. satu dua. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Saya rasa kali ini juga begitu.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Saya menulis apa saja. Jam baru menunjukkan pukul 05. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. http://www. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. cerdas dan berani. setelah sarapan. anak-anak saya itu diam. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya.anak saya tersebut.com/abclit. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. menjenguk lewat jendela.

Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. tua. Waktu saya siuman. Tangerang. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. http://www. Tapi tidur itu tak pernah panjang. Bahkan burung-burung. Alhamdulillah. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur.com/abclit.processtext. Eyang juga jauh dari bantal dan guling.. diselimuti lumpur. Sinar matahari memancar. panas. nistagmus. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas.html Mata mereka nanar. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Seluruh mayat itu. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. perempuan. mereka menatap kebenaran. di jalan.. itu bukan karena ia ingin. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. kemudian dibiarkannya mencair. tak seekor pun tampak terbang. di luar kemauan. muda. 20 Januari 2005. anak-anak. di reruntuhan rumah. mencecap pencerahan. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. bayi. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Ahad. Cuaca cerah. berserakan memenuhi ruang dan udara. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. di kebun. berserak. Entah berapa lama saya pingsan. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. di atas pohon. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas.tanggal akhir hayat. 26 Desember 2004. laki-laki. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin hanya karena terlalu lelah. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. Kalau toh ia tertidur. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. di pekarangan.

"Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. http://www. hingga warna itu berubah tua. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" .com/abclit. Pertanyaan serupa diulang. Tapi sayang. Masmu Jito tidak ikut. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. Kantuk masih menggelayutinya. Mbok Nah diam. "Ya. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan.processtext. Bagaimana kabarmu. namun tetap tanpa jawaban. Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. Kami juga sudah menunggu lama. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. Pada siang yang murung itu. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk.

kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka. "Eyang Putri tidak senang bau rokok. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat. persisnya sejak Lebaran tahun lalu. tapi dicegah Ambar." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak. Swandaru yang anggota DPRD. seperti koor. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak. entahlah." . hendak menyulut.com/abclit. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. dan Drajat yang pengusaha real estate. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. "Di kamar. Tapi.processtext. Mereka sudah lama menunggumu. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Di ruang tengah..

coba kamu temui Eyang Putri.." Gendut termangu. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" .processtext. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. "Ndut. Empat pasang mata mengepung dirinya. Gendut pun beranjak. Swandaru merangkul Gendut. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar.com/abclit. "Saya Gendut. perlahan.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru.html Gendut memasukkan rokok di sakunya. Mbak Kunti. Kamu kan cucunya yang paling disayangi. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu.. Mbak Ambar. Pintu kamar itu diketuknya. Setelah diam beberapa jenak. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar.

Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nggak ada komplain. namun hanya beberapa puluh senti. Kalian mesti tanya developernya." "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri.com/abclit. Ketika menonton televisi." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. Perkara pembangunan itu macet. Aku menebak. Seperti yang kami kenal. ya bukan urusan saya. Semua kakaknya saling memandang. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya. Gendut langsung menyelinap masuk. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani.processtext. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. dong. http://www. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka.html Pintu pelan dibuka. semua beres.

Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement. tapi gagal.com/abclit. Mereka pun langsung masuk rumah sakit. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. tapi HP-nya off.processtext. Aku terus mengomel. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. hingga commercial break memotong tayangan berita itu. Aku ngomel sendiri. http://www. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. Anak dan istriku tampak cemas. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. Mereka menangis. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi.html "Tanya itu developer. .

Sesungguhnya. wajah Eyang Putri tampak pucat. wajahnya tampak lelah. tapi juga sangat sedih. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano.. semakin bersilangan. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat." pesan bapak belasan tahun lalu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia hanya berucap "no comment.. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas. dan berani. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. dengan bangga. Ia hanya mematung di samping ranjang. Walau cuma serupiah. Di layar televisi siang tadi. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. dia akan mengejarmu sampai neraka.processtext. semakin tumpang-tindih. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. http://www. Gendut belum berani bicara. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. DI antara para cucu. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. Namun.com/abclit. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga.html Kami sama sekali tidak menyangka. jujur. yang gigih menentang setiap penyimpangan. malu. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. Ia melihat. no comment" .

Setiap pagi. kencur. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. Meskipun usianya di atas delapan puluh. Tubuhnya masih cukup tegap. Harum tapi juga semegrak. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. Juga nama cicit-cicitnya. gunung yang menjulang atau langit yang biru. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri.processtext. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Rimpang-rimpang jahe. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. atau penjilat. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. toh akhirnya goyah juga. http://www." ujarnya. dlingo bengle. Padahal jumlahnya belasan. pemberani. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. adas pula waras.Generated by ABC Amber LIT Converter. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Setelah Eyang Kakung meninggal. meskipun akhirnya tidak . Ada yang culas. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. jahe. sungai yang mengalir. jujur. laut yang bergelombang. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. Tapi.com/abclit. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. cabe puyang. Dan ingatannya masih tajam. dan entah apa lagi. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. Ketika kami kecil. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. Dengan runtut. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. dengan berbagai wataknya. Jamu itu kemudian dijual di pasar. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. licik.html Setegar apa pun hati keluarga kami. Matanya masih bercahaya. sawah yang membentang. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur.

"Ah kamu. Aku kelimpungan." pesan Eyang Putri.html hidup bahagia. "Bicaralah. "Kalau kamu bagaimana. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan." Eyang menatapku. nggak apa-apa…" .processtext. "Kalau saya ya pilih kaya. Semua tertawa. http://www. yang dipikir cuma perut. Gendhut.com/abclit. Bingung.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri." sergah Mbak Ratri." ujar Mas Swandaru sambil bercanda. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya. Ayo.

ketakutan diam-diam merambat. Ndhut…" Eyang Putri terkekeh. http://www. tapi hanya untuk mengakali.com/abclit.processtext. Eyang Putri diam. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" .Generated by ABC Amber LIT Converter." Semua tertawa. Mendadak. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar. "Pintar kamu. Dia punya banyak akal. mengurung kami.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. tapi licik. "Dia bukan pintar.

dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani…. "Iya. dalam gelap malam.html Kami mengangguk.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. Ratri menyahut. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai." Malam makin larut. Kantuk pun bergelayut." ujar Mbak Kunthi. Satu per satu kami tertidur. http://www. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang. Dia bilang. "Maka. kalau kalian besar nanti. . "Akhirnya.…"sahut Mas Swandaru. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana. "Benar Eyang.processtext. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Di luar kamar. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. lemah.processtext. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. empat kakak Gandut masih menunggu.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. Bukan kancil atau ular piton…" . pikir Gendut. tapi masih tetap tegap. Gendut kaget. "Ndut. Eyang Putri menggeleng. Mereka hanya saling memandang. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya.com/abclit. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Perempuan renta itu berjalan pelan. "Biar aku duduk…. Ke mana air mata itu. Urat-urat wajah mereka menegang. Dalam beberapa kejap. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. tak ada suara terucap. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras. http://www. Wajah mereka tertunduk. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. Eyang. "Kita berdoa." ujarnya pelan. Tapi Gendut memberanikan diri bicara.

com/abclit. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" . meskipun kami tidak punya bukti. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya…. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ya. "Tapi maaf Eyang. "Mestinya sejak dulu. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam.html "Bagaimana kamu tahu. "Itu yang aku sesalkan. kami percaya dan yakin. merintih. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih." "Tapi.processtext. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. http://www. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil." ujar Gendut.

Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. Edisi 05/22/2005 . Tubuh mereka serasa berubah transparan. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. http://www. Itu masalahnya. seperti terbaca. Mereka merasa dilucuti. DI rumah itu. Mungkin…. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. akan mengembalikan martabatnya…. ditelanjangi. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu. Eyang Putri berkali-kali menarik napas. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. Semua mendadak terasa terlepas.com/abclit. "Kebenaran akan membersihkan namanya.processtext.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun." ujar Eyang setengah meradang.Generated by ABC Amber LIT Converter." ujar Kunthi. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…. sebelum akhirnya pingsan.

Dan itu artinya. lebar 11 cm. ternyata sia. Semua akan hancur. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih.. dan waktu melenguh. bagi kami. dengan cara begitu rupa. sepatu serupa. Betapa kekal jejak itu. seluruh waktumu. Homo habilis. seperti yang selalu kami yakin. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu. TETAPI trilobite. dari satu batu ke lain batu. harus kami bikin tetap sembunyi. menginjak seekor trilobite.html SEPATU itu. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. artinya pula tak lain satu kata: gila. neanderthal. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. segera jadi bohong besar. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. pikirmu. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. tertahan dalam bongkah batu. bongkah itu akhirnya pecah.Generated by ABC Amber LIT Converter. menguap. sepatu manusia. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? . di zaman homo habilis juga belum ada. http://www. Jejak melesak di tubuh-tubuh . Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. Jejak celaka! Bagaimana bisa. selain fosil antilope. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. setiap detik dalam hidupmu.processtext. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu. Sepatu lars. dengan bertumpu di bagian tumit. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong. melesak di leher. homo erectus. Dari satu waktu ke lain waktu. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. Jejak sepatu celaka.. Dengarlah sepatu berderap. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm.sia? Maka sembunyi itu. SEPATU itu. tak bisa tidak. ditemukan juga jejak sepatu. Di suatu waktu di zaman lain. homo sapiens. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. lekuk bawah tumit 2 cm..com/abclit. Betapa kekal. memanjang ke fragmen tengkorak.

merangsek masuk ke dalam kampus.html Tetapi. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. untunglah.. Fragmen tengkorak itu. Baiklah. tetapi kami lupa? Tetapi toh. Menggasak leher. Bisa heboh. Artinya.processtext. dengan amarah bagai meluah. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. Racau panik. jerit. sebetulnya telah ikut terbakar. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. perpustakaan. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu. Gemuruh derap menggasak koridor. menerjang. membuat kami sungguh kelabakan. Mahasiswa berlarian. lengking tangis. Orang-orang berseragam ini. Betulkah foto itu hilang? Atau. Dan setelah segalanya beres. Memang muncul berita di koran lokal. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila..Generated by ABC Amber LIT Converter. melipat waktu. rusuk. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. http://www. Tetapi lalu. Dengan satu kali jumpa pers. menjalar lirih ke telingamu. dengan foto-foto yang dideformasi. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. ruang kuliah. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. gebuk pukulan. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. selesai. Menembus ruang. bentak. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. timbul-hilang. juga lolongan. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh. Tulisan yang tentu saja direkayasa. kenapa mereka menyerbu kampus? . penuh literatur fiktif. telah hampir sepuluh tahun kini. semua kami musnahkan. Bisa runyam. SEPATU itu. begitu jauh. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Jadi.. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. tetapi itu biasa. ketika muncul di Science. bertumpang tindih dengan hardik. Terdengar pula suara seperti letusan. berhamburan. tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto.com/abclit. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. Pekik.

Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. dari hari lain. Melalui pintu yang ternganga. Menembus waktu. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. beberapa dilarikan ambulans. Dan lihatlah itu tadi. Dan juga celaka. Tetapi yang jelas. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. Lihatlah seorang dari kami. menembus ruang. berbaku tindih jejak sepatu. di sinilah foto itu kini. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. seluruh waktu kami. Tetapi. Tak ada becek. seperti berat. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. kami gunakan untuk mencari. Mahasiswa diburu. Dan lihatlah lembab itu. Dan takkah pula lumpur lain. Juga senggukan tertelan. Di dalam juga tak kalah sesak. di luar tak ada becek. itu bukan urusan kami. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. Dan setelah segalanya selesai. Pulau-pulau yang terbujur. Menetes. tegak termangu di puncak tangga. Tak ada hujan. Beberapa kepala pelan terangkat. demonstrasi. Masuk ke halaman yang kukenal. Merembes dalam bisik. Di luar rumah sangat banyak orang. bagai tertidur.processtext. Rumah yang kukenal. pada setiap kepala yang tepekur. Labor-ruang praktikum hancur. setiap detik dalam hidup kami. http://www. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. kemudian. Beberapa digelandang digiring ke truk. Dan di lantai. aku bagai melayang. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). basah itu. seperti halnya juga tadi di lantai satu. tetapi terasa seperti hujan. dalam basah. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini).Generated by ABC Amber LIT Converter. . pun ruang perpustakaan. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. Menatap ruyup ke tengah ruangan. Mungkinkah hujan lain. kursi-meja berjumpalitan. bagai tertidur. Sungguh situasi yang tak terduga. Padahal tak ada hujan. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. ternyata ada di sini? Memang aneh. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. Bila sebelumnya tampak heroik. meresap dalam senyap. Takkah aneh bahwa foto itu.bermimpi tentang demokrasi.html Namun tentu. TAK ada hujan. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. Seperti lelap. Dalam lembab. bukan? Sesekali terdengar helaan napas. entah ruangan apa. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. ruangan itu juga tampak porak-poranda.com/abclit. Ke sesosok tubuh yang terbujur. Kampus diserbu. Begitu tenang. kini menjelma jadi kuyu.

Siapa tahu. ganjilnya pula: di atas foto itu. Menggasak leher. di hampir seluruh bagian tubuh itu. dan waktu melenguh. atau mencoba melihat menggunakan mataku.Generated by ABC Amber LIT Converter. sehingga ia begitu marah? Tetapi. Tetapi itulah. Dan. dari satu batu ke lain batu. timbul-hilang. Betapa kekal jejak itu. Kembali aku melayang. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. menjalar lirih ke telingamu. pikirmu. rusuk. Dan.processtext. ke lain ruang. Tubuhku. Sangat serupa. ada foto itu. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. tak jauh dari tubuhku. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Menerima makian. Jejak melesak di tubuh-tubuh. Dan. Dengarlah sepatu berderap. bukan aku. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. pernah atau tidak. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. Gebrakan meja.html Itulah aku. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. 4 April 2005 . Menembus dinding. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. melipat waktu. Dari satu waktu ke lain waktu. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. Bebas waktu. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. Ruang kerja Ayah. Meremukkan leher. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. Kamar yang juga tampak begitu tenang. Menghunjam dan melesak. http://www. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. sebuah jejak baru. Menembus ruang. memintaku mencarinya. kamarku. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. tepat menimpa si fosil jejak sepatu. mematahkan rusuk. Begitu lengang. Tetapi. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. aku selalu lupa. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. begitu jauh. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. sang arkeolog ini. Kini aku bebas ruang.com/abclit. tak lagi penting. Mungkin pula itu di masa depan. Dan inilah ia. Begitu pas. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. Mungkin juga itu orang lain.

memedihkan mata dengan getir pasir. untukmu Gusti.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati. http://www. Karena itu.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Gusti. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari. dengarkanlah ceritaku. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. . tanpa cambukan. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur.processtext.com/abclit. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Maka. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri.

"Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya. Ramli. Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota. Jika tak percaya." Ia tak bisa lagi menangis. tapi keretanya telah remuk.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan. Ia tak bisa mengamuk. darah yang terus mengucur. Tak bisa mengutuk. Tak di mana-mana.com/abclit. kepala yang dilindas truk. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga. Dengan petikan sitar gaib. dan malam yang kehilangan rembulan. "O." Ia tak lagi punya jejak. http://www. . di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya.processtext.

ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan.Generated by ABC Amber LIT Converter.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga." Tak di mata yang menciptakan surga. mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu. ke got becek untuk mandi.processtext. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku. http://www. aku memang cuma budak haram.com/abclit. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium.html "Tak di mata yang menyimpan surga. ke jalanan becek bertabur roti. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena ." Kamu cuma budak haram. Maka. Lukman. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku. "Ya.

000 budak haram. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. http://www. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan.. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. "Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko.com/abclit. Hanya. "Mereka tak punya algojo.. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Lukman. ." Ya. Lukman. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah. Nanti kamu dipenjara. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. Lukman. aku akan pulang." Maka. segeralah pulang. Ayolah. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. pulanglah ke negeri ibumu. "Ya. Nanti kamu didenda.processtext. tetapi segera pulanglah.html pasporku hanyut di sungai.

"Ibu? Ibuku telah mati. ke kopi terakhirmu. Kalaupun masih hidup. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang.processtext. ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya. Sayang.com/abclit. . Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. "Ke gua gelap itu?" Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri. http://www. Sayang.

Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam. http://www..Generated by ABC Amber LIT Converter. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu.com/abclit." Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu.html "Setelah itu." Begitulah Cara Waktu Mengaduh. Karena itu. "Kalau begitu aku tak mau pulang. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir.. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu. menguburmu dengan bunga mimpi. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa .processtext. Rahma. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati.

"Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak . Pangeran Kelelawar itu. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. Rahma. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. http://www. Kau tentu bisa menjelma ikan. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak. Padri Minohek itu. "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. Rahma. Kau tahu bukan Redana.processtext. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. Rahma. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi.com/abclit. Rahma.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak di jalan-jalan.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban. Rahma. kota ini memang sialan. "Tidak di keriuhan?" Ya. Kau tahu bukan Romo Sindu. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. Tentu keindahan tak harus disembunyikan." Ya. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai.

Ia menangis dalam gerimis. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. Rahma. Aku hanya. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu.. 23 tahun. "Jangan lari. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. ke ujung mati. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri.html pernah pulang. Tetapi mereka hendak dibunuh juga. mereka melenguh seperti kerbau api. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. Aku hanya.com/abclit. "Namaku Petro Sale... Rahma." Dor! . Rahma.. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi.processtext. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki. Kunti. Kunti. aku tahu. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bukan di padang pembantaian. Tetapi mereka hendak dijagal juga. Bukan di Kurusetra. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi." Dor! "Namaku Guspar Hasan. 37 tahun. Tetapi. Kunti. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. Kunti. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api. Maka begitulah cara Waktu mengaduh. http://www.

com/abclit. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri." Dor! Lalu kau pun tahu. . hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati.. http://www. Aku. "Halo. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi. Lalu kaulepaskan angsa. ular. Aku hanya.. 25 tahun.processtext. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan.. Tak ada obat. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi.html "Namaku Markus Taji. kuldi. Soekarno. buaya.. musang. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi." Dor! "Namaku Remi Guis. ya Kasturi. "Aku mencintai Hang Tuah. Kunti.Generated by ABC Amber LIT Converter." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela. tikus." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni. aku hanya membawa tikar menuju belukar.

Sayang. dan kita akan kesepian. Ya.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. kalau dia menangis. . krok. Hijazz. http://www. Oke.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Jadi. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. kita memang kodok. krok. Sebab di hadapan Sang Waktu. tua. kita adalah budak yang tak punya malu. krok.processtext." "Ya. kau keliru. kita memang bahagia. eng-krok. Soekarno kehilangan tuah. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. danau akan gaduh. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela." "Aha! Aku suka metaforamu.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku. "kita cuma eng-krok. revolusi telah patah. burung-burung terbang ke langit entah." "Ah." kataku mengolok-olok. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya." tiba-tiba Angela menyela. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia.com/abclit.

Kekasihku. Cintaku. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta." Aneh. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. Kuala Lumpur-Selangor. http://www. Lumpur-Mu. Karena itu. "Lihat Hijazz. Jadi. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. semua ternyata hanya lumpur.com/abclit. suami-istri yang kian merenta itu. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti. itu aku dan engkau. 2005 . Dan Kau tahu. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera. Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa.

http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.html .com/abclit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful