Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

naluriku memaksaku berpikiran begitu. Kudekati dia. http://www. Ya. Melihat urat-uratnya. Maling pun tetap harus serius. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit. dan siap dihunjamkan di perutku. Ia pelan-pelan bangkit. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Ia mencoba memberiku segumpal daging. alat pemotong besi. orang itu telah keluar membawa bungkusan. Kuamati orang itu. Siapa tahu itu tangis buaya. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). Dari tempias cahaya lampu. dia menangis. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. pukul besi. linggis kecil dan masih banyak yang lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Dengan bahasa isyarat. Entah kenapa. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). menyiapkan berbagai peralatan. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. agar tidak konyol dicincang massa. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. Aku pun menurut. Orang itu merasa serba salah. Aku menunduk. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Tangannya mengelus-elus kepalaku. hand phone. ada besi pengungkit. drei. kuambil jarak beberapa depa.html berbisik. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. atau benda lainnya. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng.processtext. Tuhan. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam.com/abclit. Tapi aku menolak dengan halus. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. aku selalu waspada. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Rupanya ia tanggap. Aku tahu itu. ia menjumpaiku. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. Maka. Kukibaskan ekorku. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. mengenai kakinya. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. alat pemotong kaca. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Hujan turun makin deras. Perasaanku campur aduk. . Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. Tapi. Dia memandangku. karena dulu. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. penuh kerut-merut. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Ya sangat dalam. Dengan langkah yang gagah. Kulihat apa reaksi selanjutnya.

. Tiba-tiba saja. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. muncul kilat. Sial. Tangis itu sangat panjang dan dalam. maling itu tetap diam. rebah ke tanah. Orang itu tumbang. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. akhirnya. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. http://www. ia menghentikan kegiatan itu. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Aku menggonggong sangat keras. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. Aku memaksanya lari. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. Aku menggonggong makin keras. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Ia tampak panik. Entah kenapa. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Makin keras. hingga orang-orang pun keluar rumah. Ia tersedu-sedu. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. seperti menatapku. Edisi 05/21/2006 Malam itu. dan canggung. penuh kesunyian. makin berkurang. Aneh. Bahkan.processtext. dan berharap ia segera berlari. Muncrat darah merah dari dadanya. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami.com/abclit. Terus menatapku. Aku masih mendengar tangisnya. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. Mereka mengelu-elukan aku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Melihat mata ibu. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Senapannya terus menyalak.html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. tangis anak dan istrinya. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Aku sangat panik. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas.

(Mungkin pula.. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. ia pun tidak menangis. Kayu bakar? . Ketika kanak-kanak. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. ampun pak.. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Beberapa kali. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. Tapi. tak lama berselang. http://www. Monang berlari ke dapur. Seumur-umur Monang jarang menangis. apa? .Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak. Ia minta ijin pulang. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. ia tetap bergeming. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar." katanya. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu... Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing.processtext. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya. Monang mencari-cari pisau. Dan ibu menjerit-jerit lagi. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Monang minta digantikan. Tapi. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. ia juga tak menangis. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Waktu ayah meninggal. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Ayahnya pasti bisa menghindar! . Pastor dari paroki datang. Minyak tanah. "Ampun. Ia memang selalu dimanjakan.. dalam pikiran ayah. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. Tapi. Tubuhnya sampai gemetaran. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Ayah berhenti memukul ibu. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu.. Dan lebih lagi. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. Dan memang semestinya demikian. besok. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri).com/abclit. Namun ia takut pada ayah. lalu memukuli ibu lagi. di ruang dalam. minyak tanah! . Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Batu penggilingan? ..html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur. Ah. Namun.. karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. ayah mendengus. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. Namun.

"Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus.. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak.com/abclit.. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!.processtext. Dan tetap tak menjawab.html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar.. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat.!" panggil Monang. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. "Ayah.. "Maafkanlah anakmu ini. Ia tak menjawab. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi.. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. "Mo-nang. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya. Di tengah samudera itu. ayah. di malam pekat.. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu.?" suara si ayah pelan.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. maka aku tidak membakar kamar ini. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. ada sebuah perahu yang terombang-ambing. ayah.. tapi menahan diri.. Lalu berbalik. Namun. Ayah menoleh. Ia merasa diajari seperti anak kecil. Tapi tangis ibu yang lirih itu. menghadap Monang menatap mata sang ayah.!" . "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya.. Sebab...

Monang terkejut mendengarnya.. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kemudian ayah tertegun.?" ayah bergerak pelan mendekati Monang.." Monang bergerak pelan mundur. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.processtext. tetap di situ..?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat..com/abclit. Ayah menggelengkan kepala. "Ayah. "Ya. Serasa sekejap.!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung. ayah... Ibu pun demikian. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya. "Jangan.!" tangis ibu. . Mulai hari ini. Berikutnya. Nak.! Ya.. Lama. http://www. ayah berlutut dengan punggung tegak... berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi... ayah.html "Kau.!" "Kau. lalu menghela napas panjang. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. "Berhenti di situ.. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. Tuhan. "Ya...

Namun..... Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. http://www. "Ya.. Kak. Monang terkesiap mendengar janji ayah. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka.. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu. Allah. waktu itu." katanya..Generated by ABC Amber LIT Converter.... Tapi menurut Monang. Berdoa?.. "I-ibu. Monang.. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya.?" . Monang meraih telepon genggamnya dari meja. "Engkau harus pulang sekarang. Kerabatmu datang menjemput.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian.. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo. Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya. Dan akhirnya. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam... Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?. ayahnya sudah meninggal. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi.. "I-i-ibu kenapa.. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal. Monang membersihkan kelopak matanya." Sungguh..?" Monang menenangkan hati.. Ayahmu sakit keras." suara kak Nurma terputus.processtext.. Hingga kini. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi... waktu itu.. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu.com/abclit. >diaC< Telepon genggam berbunyi. meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi.

. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan.. permintaan! Monang terdiam.?" "Mo-nang.?" .processtext. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?... nanti aku merepotkan mereka...Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini. ibu mau juga ikut.. Nak. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau.?" "Mmm. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang... Jantungnya berdetak lebih cepat..com/abclit. Nak?" "Beginilah tukang koran.. Tapi.... Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok... tapi ini penting. Kak. Namun. I-i-ibuu. "Mo-nang? Kau mendengar aku.....html "Nah.!" Oo..... Bu. "Kau belum tidur. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu. "Aku tukang mabuk. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?...?" Monang mengangguk dan lega. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu..... http://www.? "Ya. Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi.." "Ibu kenapa. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu." jawab ibu waktu itu..

.." "Lusa Ibu pulang." "Oo. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka. Betapa." Ah. Si ibu menguatkan hatinya. Tak ada yang sempat mengantarkan..!" "Mm... ia bertekad membahagiakan ibu. Nak..html "Mm.. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon. "Aku tahu keadaanmu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi.. "Hallo. Monang dan istrinya kekurangan biaya.... Maafkanlah. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya... Namun.. Aku tahu hatimu!" katanya." kata ibu dari seberang sana.. sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. Ibu tak bisa menginap di rumahmu. Nanti terganggu usaha koranmu. ah! Lalu apa permintaan ibu?. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca." Terputus. Tapi lima bulan kemudian.processtext. Bu. ya. Bu.com/abclit. http://www.. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak.. Bu. Ya. menantu dan cucu-cucuku. iya. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi.i-i-iya.. anak mereka sakit dan mesti dioperasi..." . Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian... Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. "Kenapa putus?" "Habis baterei.. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya. Nak. Tak apa-apa.. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu. Nak..

." kata Monang akhirnya. Kau ingat tempat itu. Bila kayu bakar di rumah habis." Monang ingat.html "Ibu..! Katakanlah apa permintaanmu itu. Lantas?.... ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang..?" Monang mengiyakan. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom.. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. di sebelahku. "Tapi. Monang. "Permintaanku?" "Ya. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu.. ada kak Nurma di situ..com/abclit.." Monang menghela nafas.. http://www. dan pohon-pohon bambu memagari kampung." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ... "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ.processtext. Dan. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening. Ia ingat. .Generated by ABC Amber LIT Converter.. dua hari sebelum aku berangkat ke sini. Teruskanlah.. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu. Bu. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang.. Pemiliknya Ompung Ojak... "Monang? Kau mendengarku kan. Bu.." Monang memasang pendengaran baik-baik.... Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. pohon johar. di kampungnya ada pohon mangga.... Berpantun pun.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa.?" "Iiya..

Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur.. aku akan beritahu Ompung Ojak. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang.. Bu. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga.. Nak... Nak." "Satu batang digunakan sebagai peti..!" Monang mengangguk.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Terus. tak ada anak-anaknya yang di kampung... maka ditebang yang tidak lurus. http://www. "Lagi pula....?" Oh. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak. Nak. Bagaimana..!" "Bagus. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang..processtext...... maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. Sepulang dari sini.html Sepeninggal ayah. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya.com/abclit. Nak. Nak. ibulah yang selalu menyuruhnya.... Bu? Ibu kan masih sehat. Nai Manjur sudah meninggal.?" "Ada...?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu.. "Sekarang dengarlah baik-baik." jawab ibu cepat.. Ibu! Monang menarik nafas..." "Apa. Bu. Kalau pohon johar... kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?. tinggal Ibu." .. "Baiklah.. Diam beberapa saat.

sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok. Keindahan memang tak bisa diam. Sekali lagi dia tersenyum..html "Ibu masih kuat. Monang menelepon.!" Tut-tut-tut. Ibu. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya... Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Menelepon.... lalu telunjuknya menjentik.. Dia tersenyum. ... Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www." "Ibu. Bu. Aku ingin ada kacanya juga. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas.!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya... Menelepon. Aku ingin menyenangkan hatimu. Nak.. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. Pergelangan tangan itu ngukel1..processtext.com/abclit.. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. seperti yang kakak-kakak lakukan.

Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. tak banyak gerak. harus masuk sangkar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. ketimun. tak banyak bicara. Dia berada di tandu. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. akan diberi untaian melati. Bang Irfan sendiri. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. Wening si walet. si ABG-itu. Wening si bunga matahari. suaminya tak menjawab apa-apa. setelah mereguk kenikmatan. si sulung. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. mungkin pergi dengan pacarnya. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah. Neny. dan dia bukan lagi Si Wening. seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. "Aku ingin menari. Anak. . di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. kering tempe. nantinya.com/abclit. Tetapi. Ah. sudah punah. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. sesuatu yang mustahil sebetulnya. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini. seperti tangan penari. tetapi inilah hidupnya.processtext. Berdiri luka. makan. boleh ya. siap senyum. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. yang oleh Mas Ondi—penata busana. Sepi kian runcing. tetapi menebarkan harum yang samar. yang harus selalu menjaga penampilan. Wening hanya diam. Sejak hampir sebulan ini. hampir dua puluh tahun lalu. http://www. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. Jadi. mencium kening istrinya. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. sudah mendengkur kelelahan. Kadang begitu datang. duduk luka. Barangkali saja. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. entah siapa yang menjadi biang keladinya. mengeluarkan baju-baju dari koper. Sony. Airmatanya beku. lalu menghilang di kamar kerjanya. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya. tentu akan lain ceritanya. rajangan dadar. Bang?" bisiknya suatu malam. Kadang muncul hanya untuk ganti baju.samar. entah ada di ufuk mana saat ini. dan menusuknya tanpa kata. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. abon. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. Dan sejak itu. mengkristal di dinginnya malam. Wening si prenjak telah musnah.html Dibayangkannya.anaknya entah ke mana. mandi. Waktu terlipat oleh kecepatan. Malam ini. sejak 25 tahun yang lalu. Tetapi.

" "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan." "Aku enggak suka tarian. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Mereka bergerak dalam diam. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. Aku memberimu semuanya. Aku lebih suka kau . Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan.com/abclit. rapi. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya.... Wening beku. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dan jiwa itu... "." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku . Apa susahnya?" ucap Bang Irfan. Dia ingin menari. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian.. Mom. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu.." dari Neny sebelum pergi. Itu saja.. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya. karena kau istriku. biar aku menari untuk Abang saja.. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti...html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua.. enggak pakai ini. entah kapan. Hidupnya memang menjadi barang taruhan. hening. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa. Bang?" "Tidak boleh. Dialah dengan kain panjang ." "Kalau begitu.. Dialah Drupadi berambut panjang itu.. dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari. Maka pembicaraan itu terkunci di situ... Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh. Album foto pentas terakhirnya. Tetapi tak ada dari Bang Irfan.. atau apa pun impiannya. http://www.. cermin. segalanya." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya.. Dia ingin menjelma Drupadi. bahkan sms.Generated by ABC Amber LIT Converter." bisik suaminya.processtext. "Kenapa.

bahwa inilah jiwa kalian. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum.com/abclit. Jiwamu lebih halus.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. memberikan keheningan. "Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. Tetapi. ajaklah dia berbicara. maka kau akan dilimpahi cahaya. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. Izinkan dia bersamaku malam ini. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. dia selalu lantang menjawab. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya." jawabnya agak polos dan kekanakan. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Cahaya lampu berkebit.. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. Biarkan matamu menangkapnya. wahai makhluk bumi. Dalam gemulai geraknya. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. menyedot seluruh pancaindera penonton. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. menaiki tangga. Itulah yang menggerakkan Drupadi. melintas perlahan di karpet merah. Langkah yang sudah dihafalnya benar.processtext. menghidupkannya dalam sebuah lakon. http://www. membelah kerumunan penonton yang masih di luar.. berjalan dari pelataran GKJ. berulang. Dan penonton memang tak bisa membedakan. malam itu. Tepuk tangan berkepanjangan. melangkah hati-hati. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. yang menciptakan jarak sepi. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup.. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. manakah Wening dan manakah Drupadi. "jadi penari. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. menggema. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. Akulah keindahan. membiarkan berpuluh. Akan kuajarkan kepada kalian. Bang Irfan pulang. tertiup pendingin udara. membiarkan dengung gong pertama bergema. memasuki pintu. Wening ingat. dan karenanya.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya. Mereka terhenti di suatu ruang. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Wening bangkit dari tempat duduknya. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. GKJ pecah. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat".

Ucapan kasar.html "Masih saja .Generated by ABC Amber LIT Converter. Wening terpaku.. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. http://www..com/abclit.. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. "Abang pulang? Sudah makan. Sesaat kemudian. Lakukan keinginan abang. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Aku suamimu. ." Wening tercambuk. terbuka dengan paksa. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. Sunyi. Wening masuk kamar. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. tapi kali ini. telanjang. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. darah mengalir. Begitu kasar ucapan bang Irfan. Aku tidak suka. Pintu terbanting.processtext. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang.. Suaminya terdiam. Belum lagi Wening duduk. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat". Diserbunya kamar Wening. Dikenakannya kemben kain panjang putih. Silakan larang aku. Pintu rusak. Pasti bisnisnya gagal." Berkata demikian. runcing.. Bang?" sapanya. Irfan keluar dengan langkah besar. Didobraknya pintu. Wening melepas bajunya. api kemarahannya menggelegak. dasar. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang.

kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir.html Iringan rebab menyayat malam. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. entah sudah berapa lama. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. sejak malam ini. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah. dan tak ada yang bisa menghentikannya. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. selebihnya dia melangkah perlahan. berenang dalam cahaya keindahan geraknya. Langkahnya terus mengalir. yang berhasil diciptakannya.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m.. laki-laki memang tak pernah dewasa. Kain samparannya terlalu panjang. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender. . "Mama. Dia akan menari. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. sebuah bangun menakjubkan.. Sesekali dia kengser. please. ah. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. dan membagikannya kepada dunia.. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. dari tempatnya berdiri. sesekali pula dia tawing. Mereka semua membisu. yang anehnya. Wening hanya melihat." bisik Neny setengah menangis. Tetapi Wening telah menari. juga mertua. kali ini. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya. http://www. menoleh ke sudut. Tidak. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. dungu. terseret gerak tubuhnya. Wening yakin sekali.. Dia adalah Wening.Generated by ABC Amber LIT Converter. ibu dan ayahnya yang renta. yang diberikan manusia. menariknya perlahan. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. kemudian sanak saudaranya. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. Dan baginya. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. dengan tatapan tertuju pada bumi. Bumi yang halus. Perlahan langkahnya menjauh. pintu hidupnya. Mereka berubah menjadi batu. condong ke depan. tak paham akan keindahan. sesekali dia ukel.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. Dilaluinya pintu yang rusak itu. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu. mencoba mengingatkan ibunya. Dibiarkannya. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh.processtext.com/abclit. Wening bergerak sangat lambat. miring ke kanan. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun.. Namun. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi.

mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral.processtext. khususnya pada bagian tangan.. seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora. . 982 1 Gerak tari Jawa. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia.. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg. tak terdengar sama sekali oleh Wening. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. dibantu sanak saudara yang ada di situ. Karena saat ini. *** Bukit Nusa Indah. Dia hanya tersenyum. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu.html Irfan mencoba meringkus istrinya. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas.com/abclit. http://www. Wening tetap menari.. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wening bahkan tak melawan. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya. dia tengah menari dengan jiwanya.

Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. Opsir itu murka dan menampar mukanya. setelah mendapat laporan dari seorang kacung. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ." katanya dengan gusar. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Seorang opsir dan dua pembantunya. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang.processtext. Justru sepanjang digelandang. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol. http://www. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu.com/abclit." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu.

Itu lagu Jawa. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa. http://www. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan.com/abclit. tentu tuan akan mengerti lagu itu. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya. bukan seperti pemberontak macam kamu." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat." jawab sang opsir." Opsir itu memerintahnya. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya. Tuan. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. .processtext." jawabnya dengan enteng. Saya bicara sesungguhnya." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami.html "Aku seorang seniman.

Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda. "Saya baru datang dari Surabaya. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira.com/abclit. tuan sungguh berbudaya. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. tuan. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu.processtext. Saya tinggal di sana selama tiga tahun. Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah. Tuan benar-benar memiliki darah . Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya." katanya dengan bahasa Jawa yang halus. Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas. http://www." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah. "Aha." katanya." "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. Tentu saja tuan tak mengenal saya. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah. "Oh.

" katanya dengan senyum simpul. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini." katanya. tuan. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin. Telah saya cari . ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. http://www. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. Saya pernah merantau ke negeri tuan. "Ya. dan tinggal di Paris selama dua tahun. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. "Hapuslah darah tuan. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa." katanya. "Ah. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya." "Ah. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi.html seni yang kuat. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. masih menurut opsir kami. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. Kedua. Dan yang ketiga. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. saya kagum pada tuan. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh. menurut pengakuan opsir kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas.com/abclit.processtext.

"Tentu saja.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi.com/abclit. . Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. Itulah sebabnya saya sampai di sini. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. Tuan. orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini." sergahnya." "Oh. Dia amat menghormati kesenian. Multatuli. http://www. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya. Rencananya berjalan mulus. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. "Saya seorang penulis. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. mengetukkan jemarinya pada meja. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya.processtext. Ucapannya tajam. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda." katanya.

html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya.com/abclit. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur. tempat . Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi. Yogyakarta. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Edisi 04/30/2006 Bulan. dan selamatlah aku dari hukuman mati. bilik-bilik kandang.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Segaris cahaya menelusup. di belakang rumah serupa gubuk. rebah di halaman. Terang. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia. selaksa celurit menggantung di dinding. http://www. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya.

sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. memegang tangan. waktu itu. tanpa sebab-musabab jelas. atas keputusan Gani. Serupa tarian rombongan seronen. krik-jangkrik. yang belum lama ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lalu. tak menyia-nyiakan kesempatan. Kami tak ada masalah. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. mau merampas hak kami. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. menepikan bayang. Cericit tikus. saling berpaut. Madrusin. menuju arena kerapan sapi. mencintai dan dicintai. masing-masing dibawa pulang. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. ”Bagaimana mungkin. Paman. Pada Asnain. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. Ya. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. Gani. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. Bulan. berontak. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. ”Lancang benar mulutmu. beriringan. Gani belum kalah. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. Nasib tak bisa ditimang. ”Bilang sama eppakmu. decak cicak. Musdar. eppak-embuk. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. perlahan redup.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. Sengaja. beberapa kanca Gani. kecewa kepada eppak-embuk. Madrusin segera menghindar. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. ”Kamu. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. ketika itu. di tempat yang sama. Kok. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. Pada Gani. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. Paman.html tinggal Madrusin. tidak pantas jadi suami Asnain. merampas dan segera menyeret keduanya. bersama Luki. ”Dulu. Hubunganku dengan Asnain. Namun entah. Cobalah sedikit sopan. Madrusin bisa mengelak. Beruntung. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. http://www. ia tidak langsung menuju rumahnya. Begitu pun. . Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. Memang tidak pulang.. kala itu. Beruntung. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. Lenguh sapi menggaung. serupa pengembara letih. Tatap matanya lelap. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. Madrusin. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin.. campuri. paman.processtext. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. tiba-tiba. Ia terdiam. dilepaslah baju hitam Madrusin. Paman.com/abclit. Kalau. kecipak air dari padasan. Mail. Dan sekarang.” Gani geram. Di benaknya. calon istrinya yang telah raib.

Entahlah. Gani kala itu berang. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain. lengang. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. ilalang bagi Madrusin. Kita bertemu beberapa bulan lagi.com/abclit. Atau. kandang dan pematang. Hijau daun-daun. Madrusin benar-benar gelisah. Madrusin. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. bisa dibilang. Asnainkah. menggaruk. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. Siapkan sapi-sapi andalannya. Ya. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. Kalau Gani. (Tapi tidak. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya.html Langit tampak lebih cerah. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. seumur hidup baru kali ini. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. Pertengkaran. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. http://www. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. belum kalah! Gani memalingkan muka. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. Sesekali. menyabit rumput sebagai pakan sapi. Keputusan sepihak. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). (sebagaimana kebanyakan orang. apa maksud dari semua itu. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. Madrusin terpaku. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. semenjak ia berusia sepuluh tahun. Madrusin yang gelisah. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. Madrusin pun gairah.orang kampung kami. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. Terang. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. mengusap. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . eppak-embuk. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya. Terasa. Ia nikmati secangkir kopi. Bahkan. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. mengingat pesan dari Gani. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata.) Sepagi ini. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ya. kepada Eppakmu. Ia mengernyitkan dahi. Asnain. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. sepagi ini. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya.

Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. di sela kegelisahannya. celana komprang berlapis sarung. Madrusin penuh tanya. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam.processtext.” imbuh Imron. Tentu saja Madrusin tak ingin. Selang beberapa saat. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. dijemputlah celurit. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. tiba-tiba. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. saling meminta maaf. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. Madrusin. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. Karuan celurit itu luput sasaran.html merunduklah serimbunan ilalang. apa gerangan yang membuat Gani.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. Madrusin. Ia kenakan peci dan baju hitam. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. Untunglah. ”Asytaga. Tidak. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. Bukannya ia takut dibunuh. cepat menghindar. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan.com/abclit. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak. meski sebenarnya ia ragu dan curiga. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik.” Madrusin tergagap. Gani menunggu terlalu lama. Madrusin mendesis di antara kebingungannya. apalagi sampai ia kecewa. . http://www. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. ”Ya. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. Sebagaimana tradisi di kampung kami.” desisnya. Pada Asnain mantan tunangannya. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. Ah. cepat ditunggu kakek. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. Sementara. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya.

com/abclit. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. pada batang pohon dan buah siwalan. Tidak.” Mendadak. orang-orang berjalan bersama.processtext. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung.” imbuh. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. ”Tapi.” ujar Imron. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. http://www. menunggumu. Lampu teplok menyala remang.Generated by ABC Amber LIT Converter. langsat warnanya keemasan. ia . menampakkan seseorang yang sedang patah hati. ia duduk. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. ”Sebenarnya. ada yang perlu dibicarakan denganmu. tak kunjung jatuh. Ron?” ”Barangkali. sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. Imron. Sesaat tubuh Madrusin tersentak.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar. beriringan menuntun sapi. barangkali sudah lama menunggu. di antara mereka sudah akrab dengan alam. Kakek. ”Itu. ada apa. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. Madrusin tergagap. melihat Gani. Ranting-ranting pohon menggantung. menggantung pada batang bambu atap kandang. Mata Madrusin nanar. tubuhnya agak bungkuk. Sin. Asnain?” ”Tidak mungkin. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. Tentu ia akan marah-marah. tenang. Asnain sudah ada yang meminang. Sebagian di antara mereka membawa obor. Ia masih ingin kamu jadi suaminya. wajahnya berkerut.” ”Tentang. Asnain tak suka kepada tunangannya.

Ah. ya?” ”Kita nego. tidak. Pelan.” suara Madrusin ramah. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. http://www.” ”Ada apa dengan sapi. Man?" ”Ya.” jawabnya. Madrusin mendekati Gani. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. Man. Madrusin. yang tengah duduk menunggu. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot. kau dapat membujuk Eppakmu.html harus tenang.” Sejenak Madrusin. sapi kita.” ”O. ”O. saya berharap. ”Maaf.processtext. bernafas lega.com/abclit. ”Tak apa-apa. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran.” ”Memang kenapa?” . seraya meminta maaf didekatinya Gani. ”Ada yang perlu kubantu. kita?” ”Bulan depan. terlambat. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan. kalau soal itu maaf.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. Lancang benar kamu. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. Man. Tak seperti biasa. sangat kuat dengan prinsipnya. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin. Asnain?” ”Taruhannya. ”Kenapa dengan. mengendalikan emosi. ingin menampar mulut Gani. tak bakal mau. Gani pun naik pitam. Beliau. Namun. Madrusin terus menjaga dirinya. http://www. Jogja 2004-2006 . dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. ”Naif benar. Percayalah.” desis Gani. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat.html ”Asnain.processtext. untung saja Madrusin segera menghindar. Paman. naik pitam. yang hanya sisa tradisi. Madrusin tergagap.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Eppak.com/abclit.” Madrusin. tajam. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging.” ”Sin. Asnain tetaplah akan menjadi istriku. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani.

mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa.Generated by ABC Amber LIT Converter. juga tanpa wasiat. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. Saat ditemukan. Tadi pagi masih segar bugar. [2] Eppak Embuk. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. Bapak Ibu." "Istighfar kak. seperti korban overdosis.com/abclit. [3] Kae. alim ulama. Tanpa firasat. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat . Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Para sesepuh adat.html Catatan [1] Lotreng sapi. Amat menakutkan. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka.processtext. http://www. uji coba pertandingan kerapan sapi.

"Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas.Generated by ABC Amber LIT Converter. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur.com/abclit. tidak segampang itu. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. menyelesaikan program doktor. tak lama lagi akan segera disembahyangkan. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. Sebab. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. agak sinis. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. semuanya terserah ayah…. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. http://www. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. Tapi. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. sebelum diusung ke pemakaman.html membendung kesedihan.processtext. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah. kampung kita. Nah." ketus Lusi. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. jika ayah tidak ’pandai-pandai’. bidang ilmu politik. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu.

itu artinya kita berkolusi. Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. meski tidak menjabat bupati lagi. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. ceritanya akan lain. Kalau saya bantu. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya.html ke rumah dinasnya. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. menghormati beliau. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang.orang nagari Sungai Emas. "Tentu saja boleh Nduang. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan. Ah.com/abclit. mentang-mentang kita sekampung. Meski sudah pensiun. Selama menjabat. Padahal. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. http://www. "Iya pak." jawab bupati. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. "Daripada menganggur saja. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas). jaringan telepon dipasang. pasti akan diterima. biar mampus!" umpatnya. . tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. seperti hendak mengelak. Hingga kini. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. sedikit berdiplomasi. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. Bermohon kepada pak bupati. agar si Bujang Paik.processtext. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. Itu saja tidak dikabulkan bupati. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau.

Sejak itulah. Sebenarnya. Tak dihormati lagi. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Maka. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut .processtext. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. pura-pura tidak paham. jalan satu-satunya adalah. seperti tabung. Apa boleh buat! Kini. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Anak-anak muda menganggur. tak jelas juntrungan. Lagi pula. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana." "Ah. Namun. janda tua pemilik kedai kopi. http://www. Sementara itu. dasar orang jujur. Kematian yang misterius. agak kesal. satpam. pergi merantau. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya." balas kak Pi’ah. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. Genap tujuh hari kematian bupati. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. hanya tinggal nama. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya.html Sayang sekali. mengadu peruntungan ke Jakarta. tukang jahit. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. bupati sudah tiada. entah sampai kapan. kuli bangunan. petugas parkir. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. sok jujur. lurus tabung.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. Tak ada biaya. tapi kini sudah mati. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. bupati mulai dimusuhi. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan.com/abclit. tidak pula penyakit kronis." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. Terlalu lurus. kasar benar kelakar sutan. Ua-ha-ha-ha…. Ironis! Namanya Sungai Emas. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. tak layak tempuh. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah.

Kenekatan macam itu.Generated by ABC Amber LIT Converter." Kelapa Dua. "Putuskan saja tali jantungnya…. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Meski diam-diam. kini ia pejabat eselon di Jakarta. kematian selanjutnya. Sebab. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. Namun.processtext. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. Tapi.com/abclit. hanya akan mengundang musibah baru. "O. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. kali ini sambil bergurau. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. Kabarnya. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. Bagaimana menurutmu?" "Nah. di nagari Sungai Emas. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. ganti bertanya. itu sama saja artinya dengan bunuh diri. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. Lagi pula. "Tapi. "Oh. http://www. Sejenak si Datuk menerawang. mulai bersemangat. itu dia yang kita cari selama ini. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. bisa saja jauh lebih mengerikan. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Tak bakal berhasil. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. Iya. 2006 Catatan: . Lupa saya. Bila kelak ia memenangi pemilihan. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata." jawab Marajo Kapunduang.

Tidakkah mereka memang menggali. Lima tahun setelah hari ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lalu meluncur. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. tawa diejan. tentu saja. dari perut yang belah. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. cengengesan. darah.processtext. sodoran mike.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. Di depan kamera. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. "Gagah. "Itu ayahmu." Beruntung? Hmh. http://www." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum. "Betapa beruntungnya kamu …. duh tampannya. gadis itu akan sering berada di depan televisi. Menggenang dari kepala yang rengkah. si ayah. . Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah." sebelum kemudian ditutup. omong sok tahu. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. oh sungguh tak tahu malu. "Dermawan. janji palsu. tak lebih seorang dungu. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. rakus. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. Mengangguk-angguk. Tangis dibuat-buat. masuk ke dalam sumur. Ayahnya sendiri bukankah juga. melempar senyum kiri-kanan. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. entah sampai kapan.com/abclit. tentu pula." "Terkenal. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. julur perekam." Timpal teman lain. awet muda. saat itu. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. akting murahan. selalu darah. temannya akan berkata. Karena. Dan. kalau memang demikian adanya. saat itu semua tak penting lagi. ia pikir itu bisa saja. Mengalir. kaya. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong.

.Generated by ABC Amber LIT Converter. lenyap tiba-tiba. Serasa disedot. pernah muncul dalam hidupnya. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. berputar-putar bagai melayang. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. kalau saja wartawan tahu. Bahkan kepadanya. angguk sopan—keramahan itu. http://www. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. Senyum. sumur. sumur itu. Dan begitulah ia. kepada dirinya. Tengkorak suaminya. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. meruang merongga. lama-lama. Disedot? Hati-hati. Terangkat. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. Melesat? Ya. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. kadang ingat kadang tiada. lantas melesat. Lima puluh tahun lalu.processtext. berteriak. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. Black-hole. Black-hole. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. si ayah … ah. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa….com/abclit. lubang hitam di jagat raya. dengan melayang? Ah. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). nyembul-melesak. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. ke angkasa. Dan suatu hari. ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. serta-merta duduk. lelaki. kulit hitam. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. ia teringat black-hole. peduli apa. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. menjulurkan leher lambat-lambat. mengerang-erang. entah kenapa. Merangkak (rambut keriting. takut-takut. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). sebuah lubang seperti sumur bagai muncul.html "Dua belas tahun putusan ringan. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. atau seperti apakah. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. menjelma ada. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). samar pantul wajah. Ke angkasa? Bagaimana. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. tentu.

Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. Beberapa saat sesudahnya. Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. Desoipits dan Biwiripits. tikus hutan. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. Jadi inilah ia: Fumeripits. tetapi juga mendayu. Sang Pencipta. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. Merendahkan tubuh. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. telah menemukan jawab. Riak kecil. dan tubuhnya bergetar. dengan menegarkan dada. Oh! Apakah. umbi-umbian yang bisa dimakan. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. pelan menghilang. mendekati tengkorak suaminya. Oh. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. lalu merangkak. lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. tentu bukanlah tanak. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. tidak. mulanya samar dan kemudian jelas. Dan yang kini. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). Maka semua ini. Itu biasa bagi mereka. ia lihat pemandangan itu: seseorang. Semakin jelas.html Ia berdiri. Hidup? Ya. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. di kedalaman geronggang mata. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. dedaun. ia kembali melangkah. duduk. goyang pantul wajah. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. pelan-pelan menjulurkan leher. Tapi hanya sebentar. http://www. Juga berbagai buah. sumur melesak dari rongga mata. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. dan kemudian menjelas. seperti kata damero juga. sumur itu … tampak begitu jelas. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. pelan-pelan bergerak. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. Berkelana di hutan. Dua sosok? Dua orang? Ya. Tetapi itu. Kadal. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. ular. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. jelas tak masalah. dan tersandar ke dinding. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya.processtext. patung-patung kayu yang berserakan rebah. membalikkan tubuh dan berlari. akan ia tinggalkan? O. dari kayu-kayu. lebar dan luas.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu berganti dengan pemandangan lain. Tabuhan yang ganjil. tengkorak suaminya. Sumur. patung-patung itu. tak boleh bertemu dengan siapa pun. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. geletir air. Oh. yang disebut jangka waktu tertentu. tiba-tiba hidup. Suaranya tak hanya mengentak. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. Tetapi … itu. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. melainkan dengan mencuri. semua akan ia peroleh dengan mudah. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. Maka. khusuk menabuh tifa.com/abclit. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. ia tahu cara mendapatkan. Pemandangan yang mulanya juga samar. semakin jelas.

Ayun tangan. dan dingin. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. darah menyembur. leher tertebas. dupa china. Dengan hari Kamis ini. crass. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti meremehkan. atau jarum emas. dijulurkannya kaki ke dalam sumur. crass. ujung dini hari. itu bohong. mulai nenepi. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. perut … oh. Ah. Tetapi ternyata tidak. dada. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. Senyum seperti mencemooh. Semakin dekat. rasa mual itu. Sampai lama. dan dindingnya—melingkar searah . Dua jam. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. tirakatan semalam suntuk nglakoni. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. seperti nasihat gurunya. cincin. nyata? Darah. minyak bondet. jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. Hari telah malam. menyembur-nyembur memualkannya. walau sudah senja. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. 1 jam.com/abclit. nyata? Dan tiba-tiba. mangkok. oh …. darah. mata rantai. Sepuluh menit. Lagi. tanpa sadar. Darah. hiasan mahkota atau entah apa. http://www. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. O. 3 jam. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. Tetapi. darah. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam. Crass. Lagi. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. menyembur-nyembur. orang masih berseliweran di sana-sini. 30 menit. ketika waktunya tiba. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. pundak lepas. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. Dan kini. pemandangan ini tentu juga akan hilang. membuat ia limbung. kelebat kapak. Ia pun dedekep. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. lalu rebah. Biwiripits. batu merah delima. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. dalam rongga luas yang bagai semesta. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. pusing yang kemudian menyusul.processtext. cras.html tradisi pengayauan kepala. rujak degan. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. darah yang memancur.

dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing.com/abclit. akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. Senyum lebar yang bagai tertawa. . Crass. Tubuh lelaki itu bergetar. Dan di sana. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. Crass. "Aku berhasil. Lima hari lagi…. pundak lepas. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hela napas lega. lima hari lagi. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati.processtext. dibukanya mata." Ya. belimbing. Darah. Lalu gumam. suku terasing juga. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. Lima hari lagi. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Lalu pelan. Selasa Kliwon itu. tetapi subur bagi pohon jati. Seperti oase. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. leher putus. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus. menatap kosong ke televisi. lima hari lagi. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. Tetapi nanti. Dan seorang lagi. Selasa Kliwon. jauh dan kecil. yang namanya guci. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda." Ya. "mengangkat" si guci dari sumur. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. "Selasa Kliwon. sejenak. Tetapi. perempuan juga. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. terutama buah-buahan seperti mangga. Menyembur-nyembur…. takkan tampak sama sekali. jambu. Memancur-mancur. Selasa Kliwon…. Menajamkan mata.… Darah. Payakumbuh. Guru. Crass . http://www. Darah. Desoipits-Biwiripits. nangka. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya.

http://www. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. dan kakus. dan churafat. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. bahkan bisa dibilang fanatik. Saking besarnya. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. bidah. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. Walaupun demikian. Bahkan. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa.com/abclit. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. bukan sembarang air. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. cuci. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Pak Parto. seorang yang berusia setengah baya. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . yang penduduknya beragama Islam santri.processtext. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Pada waktu siang. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. yang dibantu oleh istrinya. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Tetapi. Pak Parto melakukan praktik pijat. walaupun agak jauh dari batangnya. Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Guna menjaga tempat mandi. demikian panggilan akrabnya. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. setelah memeriksa dan membersihkan kebun. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. Untuk praktisnya. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. Namun. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. Istrinya ikut pula memijat. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. singkatan dari takhayul. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Sebagai penjaga kebun.

bukan ke dukun syrik." kata Kyai Fauzan Saleh. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. bagaimana caranya memberantas takhayul. yaitu Sang Penjaga.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. "Wah. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul." kata Thohir dengan nada ketus.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. "Tapi Kyai. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. "Itu syrik. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu. demikian nama pemborong itu. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu. bidah.processtext. orang-orang desa sulit diberi tahu. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini. Mereka percaya kepada dukun Parto itu." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. http://www. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya. Pak Thohir. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah." kata Kyai Fauzan. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan.com/abclit. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya.

Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu." kata Thohir menjelaskan usulnya. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. MCK menggantikan kolam yang sekarang. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu.html "Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini.processtext. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai.com/abclit. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil." "Begini Pak Kyai." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. . Pohon trembesi terkutuk itu. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri." jelas Thohir lebih lanjut. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. masjid. Di atasnya persis kita dirikan masjid." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi." jawab Thohir memakai bahasa santri. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. Innal Batila kaan zahuko. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Pertama. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan. rakyat harus dibuat simpati dulu. Kedua.

maka Sing mBau Rekso akan marah besar. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. http://www. Parto berkata kepada para pengikutnya. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas. Tanah longsor mungkin gempa bumi." tangkis Kyai Fauzan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan. Dalam tempo hanya enam bulan. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. "Lagi-lagi takhayul. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. al ruju’ ilal haq. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Jika pohon itu ditebang.processtext. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana. seluruh bangunan itu selesai. Pada suatu hari Jumat. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. Dengan kembali kepada yang benar. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. penyakit menular.html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. Mereka pun marah. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". dan gedung puskesmas. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu.com/abclit. atau kelaparan. . penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. mula-mula membangun masjid. kemudian MCK." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. "Wah saya juga tidak tahu. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya.

.processtext. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya. terutama masjid mulai retak-retak. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai. Tidak saja air tidak lagi mengalir. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. Setahun kemudian. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan." jawab Parto. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. terutama bangunan masjid. "Ya betul. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. timbul suatu gejala yang aneh. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. http://www.

processtext. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang." jawab Kyai Fauzan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. memperbaiki engsel pintu dan jendela. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. menggali lubang untuk resapan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Waduh. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. http://www. mengecat kamar mandi. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Tapi aku akan mencobanya. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud. bangunan rubuh bukan soal agama." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir." jawabnya sambil tertawa keras. karena . Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. Memperbaiki talang yang bocor. memasang kabel-kabel listrik. Tidak cukup untukku hidup. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Kenyataannya. Tanya saja pada pak insinyur. pemborong itu merasa tersinggung. hidup dengan 460 watt. membuat pagar bambu. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. Jakarta. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik.

Rumah itu sebuah kubangan besar memang.. Wianta.. karena pemakaian yang berlebihan. Tengkeyu.. tengkeyu. dari teras depan hingga kamar mandi. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. Di sebelah rumah. ada bilik sederhana berdiri. man. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa.. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Kadang aku sebel. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. . Beberapa teman membantuku. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan.processtext. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Ah. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata.. Tak ada honor untuk kontrak rumah. tempat seorang petani biasa beristirahat. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur. Han. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu.com/abclit. He-he. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. tengkeyu. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. tidak terlalu membutuhkan listrik. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. aku menjadi sangat kerepotan. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Rumah ini sudah dua tahun kosong. kadang aku biarkan listrik tetap mati. Tak ada orang yang mengontrak. Boi. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. Terus dikeduk. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. beberapa lukisan berjamur.. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena sebel. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Kalau listrik tiba-tiba mati. termasuk mengusir rezim kesenian. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Sebagai seorang penulis. Katon. Kadang aku ragu.

Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Dadang menyewa tanah ini . seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. http://www. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang.processtext. Mata memandang mata. Pelukis perempuan itu sudah mati. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Kira-kira 10 tahun yang lalu. Seorang teman bercerita. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi. Ada di depanku. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Antara aku dan genteng kaca. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Waktu yang membuat sebuah pintu. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai.com/abclit. lalu mengalami kecelakaan dan mati. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. tapi lukisannya masih ada. Mungkin tubuh mereka seperti angin. kecemasanku muncul lagi. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. aku pernah datang ke rumah ini. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. membersihkan diri dari kotoran. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. Kopi dan Kremi. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Lembab. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi karena lembab. Sepasang anjing kami. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi.html timbunan pasir yang mengotorinya. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. kadang kilatan-kilatan petir. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat.

lalu berdiri sebuah bangunan baru. kalau hujan besar. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. Aku teringat 1." jawab Dadang.com/abclit. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. "Dang. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. diambil oleh beton-beton. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia.html selama 15 tahun. . Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar.processtext. karena dia harus pindah ke kota lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Ya. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. http://www. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Betapa malangnya hidup ini. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. entah untuk rumah atau untuk ruko. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. di Ancol. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu.

dan sebuah harmonika. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. aku harus kembali menimba air dari sumur. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Rumah itu memang terus bercerita. http://www. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Aku terus menggali.com/abclit.000 patung Dadang ada di dalamnya. Kalau aku mati. . bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup.. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Hmmm. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara.Generated by ABC Amber LIT Converter..processtext. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. He-he-he. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. rumah itu mirip dengan peti mati.. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup. Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Ketika dia meninggalkan rumah ini. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. 1. sayangku. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku. Fit. Hmmm. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. Dan aku mulai kehabisan uang. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. Ketika aku tak punya uang. saxophon.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri.. Manajer itu orang asing. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Aku menyambutnya dengan ember-ember.

Angsa-angsa putih menyelam. bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. menyembul. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan.. Mata menatap mata. Hujan mulai berhenti.. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air. http://www. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri.processtext. Asmara angsa. Langit mulai terang. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. . Perutku seperti tertekuk ke dalam. Aku melihat hidup.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari... lalu mendarat kembali.. Kalau itu juga adalah bayangan mata air. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur.com/abclit. Mereka saling memagut dan bercinta. . dan bukan bayangan mata air. Waktu terasa dingin.

dan jus jambu kelutuk. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Andrei Joukov. untuk merebut cinta Siegfried. Maxim Fomin. sup ikan tuna. Odette. Jerman. ngobrol dengan gubernur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. Irina Ablitsova. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. insya Allah. http://www. buah-buahan. Usaha Rothbart berhasil. Dia memilih minum air jeruk nipis. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia.processtext. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. gubernur. balerina 21 tahun. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. menteri. kegemarannya. sebagai sponsor pertunjukan. yang disihir Rothbart menjadi angsa.500 penonton. Odette dan . Tampak Viatcheslav Gordeev. Mendengar kabar ini. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. jatuh cinta kepada Odette. pernah berpentas Martha Graham. tidak minum wine. juga grup dari Perancis. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. tentang balet di Rusia. Natalya Ashikhmina. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. Dengan 1. sangat populer di seluruh dunia. yang mengelus rambutnya.com/abclit. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Maya Ivanova.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. pemilik istana dan telaga. Zahra. Mereka rame-rame menikmati salad. Begitu pula para pebalet teman Zahra. ayu dan ganteng. Sebaliknya. memamerkan putrinya. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. yang secantik Odette. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. Pangeran Siegfried. Alvin Nikolai. angin sepoi-sepoi. Di antaranya di tempat ini. gubernur berjanji. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. yang ditemani balerina Masami Chino. pemeran Rothbart bergantian. Rothbart sang penyihir. Odille. yang putih maupun yang merah. plain croissant. dan pembesar negara lainnya.

http://www. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Olga Ivachenko. Siegfried sadar. Oxana Gasnikova. cocok-cocok saja. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. kakek dan neneknya. sampai Kakek terbatuk-batuk. ibu. seluruh istana bergembira. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette.html dayang-dayangnya jatuh sedih. Eugenia Singur. Kakek terbatuk-batuk lagi. Semuanya tertawa. Eyang bisa kesleo. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. juga tante dan oomnya. lho. saya sih. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Begitulah. . ”Terpikat boleh terpikat. angsa itu menjelma Odette. dan Anastasia Baranova.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Rothbart marah besar. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina.com/abclit. ”Odette atau Odille.” celetuk Nenek. ayah. Semuanya tertawa. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. siapa pun tak bakal salah memilih.” tukas Kakek. ”Awas. Seketika. dan Anna Vakina. Sekalipun dengan mata terpejam. kedua adiknya. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. adalah para pemeran angsa kecil. Tatiana Chungunkina.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.

” kata Kakek. ”Tapi.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.” ”Kesan. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.html ”Apa.” tukas Zahra.” ”Jangan begitu. Eyang. memangnya kenapa?” tanya Zahra. pertunjukan itu harusnya disensor.” tukas Nenek. Kesan. ”Semuanya kan tertutup rapat.” ”Jangan begitu. Semua tertawa. yang ndak cocok bagi kamu. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. ”Saya serius.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.” sanggah Kakek.” sambung Kakek.” . Eyang. semuanya terkesan jelek. ”Lho.com/abclit.processtext. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra. sih.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. ”Itu kan mengumbar aurat.” sergah Kakek lagi. Aduh. Jika kita bicara soal kesan. Melihat kostumnya.

” Semuanya tertawa. wah. Eyang ini gimana. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Obrolan berubah jadi perdebatan.processtext. http://www. peradaban. Meriah. wah. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Habis jadi diktator.” ”Wah.html ”Wah.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. bubar.” sambung Kakek.” ”Eyang yang kasmaran. kostum Zahra ya seperti itu. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kok yang disalahin balerinanya. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. sih. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Semuanya tertawa kecuali Kakek. deh.com/abclit. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana.Generated by ABC Amber LIT Converter. . mendadak berubah jadi filosof. kecuali Kakek.

” ”Saya heran.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. runtuhlah kebudayaan.” sambung Kakek.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.processtext.com/abclit. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Eyang benar-benar lowbrow. kok Eyang sampai segitunya.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Apa?” tanya Kakek. . ” sergah Tante. http://www.” Zahra menukas. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” kata Oom. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” cetus Kakek.

”Dalam KKN ada tradisi. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar.com/abclit. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.” sela Kakek.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Kostum ketat itu. Eyang.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Jangan melecehkan negeri sendiri.” sewot Zahra.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Adalah tradisi balet. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. http://www.” kata Zahra.” . jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari. Mendengar kata Kakek ini.

Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Bukan kepada Tuhan. Eyang.” tambah Tante. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” kata si Oom. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. atau lusa. . http://www. Kita bisa menuduh mereka ateis. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Eyang.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Eyang. ”Banyak negara yang busuk.com/abclit. kata Allah.processtext. Cucuku. Dan itu bukan teori. Barangkali besok. Dalam hidup para balerina dan balerino itu.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Hati orang siapa tahu. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal.

” tukas Kakek. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Ada api yang menyala-nyala. Lengang sejenak. Zahra. Allah mencintai keindahan. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Dan ternyata Allah itu indah.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral.” .” tukas Nenek.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi. Kecuali Kakek. saya cuci tangan. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak.. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. saya dikasih contoh.” jawab Tante. Ada air yang mudah mematikan api.processtext. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” tambah Nenek. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Anakmu bukan milikmu. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang.html ”Coba.com/abclit. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Kita wajib memeliharanya.” sergah Kakek. Seperti tercium setan lewat.

” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. tumbuh. Cobalah nikmati tari bedoyo. Dalam dandanan kebaya pinjungan. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”.com/abclit. cukup sulit.” sambung Zahra. Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. tidak mudah baginya untuk mengingat. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. apa saja yang masih bisa . sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. tergetar. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil. apa saja yang masih bisa dipanggil. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Tangerang. tidak ada pornografi dan pornoaksi.html ”Saya setuju.Generated by ABC Amber LIT Converter. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. di sebuah tempat yang sulit dijangkau. http://www.” ”Sebagaimana balet. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Dalam balet. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya. dengan cara rumit dan sedih.processtext. Eyang. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas.

lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. kalau bukan karena penderitaan? . siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. dan sebuah lukisan kaca. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. Tugasku adalah belajar untuk diam. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki. Jarak psikologi yang jauh.com/abclit. juga tidak kurang bermasalah. Suara lirih mulai terdengar. bahasa yang kabur. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. Bagiku sendiri. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. Apalagi. Dan banyak telinga sudah diproteksi. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. Suara yang groyok. menyimak. mendengarkan. http://www. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. Mata yang menyempit. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam.html tapi tidak ingin ia panggil. mendengarkannya. tafsir yang berkerumun. dan apa saja yang tidak boleh didengar. kadang lirih. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri.processtext. Ia lalu lebih sering diam. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. Diam. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. Juga tubuh yang gampang gemetar. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. kadang membesar tanpa irama.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan bagaimana mengisahkannya. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. berkaca sekaligus berkapur. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. sayup dan lamat-lamat. untuk apa. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing.

salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. dan jangan nakal.html Tapi. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. kalau ada guru lain yang menggantikan.” Ia diam. sepi itu begitu menjadi-jadi. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. saya pergi mandi. ”Satu per satu. Lalu saya bilang: Pak. ia terlihat cukup tenang. Saya ini dari kecil miskin. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. ”Sesampai di sekolah. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. saya ini seorang guru. Nanti. saya hanya ingin menjadi guru. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. http://www. belajarlah dengan baik. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. apa salah saya. Waktu saya kecil. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. Di luar . hanya anak seorang janda. ”Mereka sudah datang. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara. saya menciumi wajah murid-murid. Sesekali aku menengok ke arah pintu. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. Rapatnya mungkin akan lama. lalu mereka segera melesat pergi. Rombongan itu mengikuti dari belakang. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. disusul oleh seekor yang lain.processtext. Mbak. Ya karena melihat guru-guru saya. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. Lulus sekolah. ”Saya benar-benar tidak tahu. berdandan. Kembali matanya temlawung jauh. ”Pagi itu.

” ”Sampai ke suwarga nunut. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. Saya sedih sekali. wong saya memang tidak tahu. ”Maaf.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Bu…. neraka katut. Bu….” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah. dan aku tidak tahu mana yang tepat. ternyata tidak…. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang. Wong saya tahunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dengan nada yang seperti berteriak. kembali duduk di sampingku. ”Dua tahun kemudian.com/abclit. Saya mengira bahwa saya selamat. Ia dengan segera keluar. Mbak…. ”Ya…. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. lalu mencoba mendiamkan si bocah. mirip suara kanak-kanak. matanya semakin berkeruh. Saya juga tidak mengerti. Mataku selamat dari rasa silau. Tangisan itu menjauh. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah. neraka katut. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah.html kegiatan mengajar. si bocah digendong ibunya. . tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi. Tapi…. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil.processtext. Tiba-tiba di luar mendung. Tubuh tuanya gemetar. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. Ketika tiba giliran saya diperiksa. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. saya diambil lagi…. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. namun lirih. ia berkata.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. saya aktif di organisasi itu. http://www. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu.

Saya memohon ampun berkali-kali. di dekat leher. setelah saya bilang seperti itu. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. tapi saya tetap ditelanjangi…. Mbak. Saya memohon berkali-kali. Tapi tidak ada yang menggubris. tanpa basa-basi. Aku menawarinya minum. . ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar. ”Maturnuwun. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. Saya dibawa ke pabrik tebu. saya ini belum bersuami. Kalau Bapak punya istri. Ia mendekati saya. Ia menutup pintu kamar. ingatlah istri Bapak. Lalu membuka celananya…. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan.” Ibu itu terdiam. Lalu orang-orang itu pergi. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu… mengencingi saya….html ”Yang kedua itu.processtext. Saya bilang: Pak. kalau Bapak punya anak perempuan. kemaluan bapak itu mengkeret. ingatlah anak perempuan Bapak…. saya ditelanjangi…. Sesampai di kamar. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair.” Lagi-lagi. Tapi dia tetap mendekati saya. http://www. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar. dan mengambilkan segelas air putih di meja. ”Eh…. Mas…. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. Saya langsung diangkut begitu saja. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. Saya baru masuk saja.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya.com/abclit. Tubuh saya penuh dengan kutu. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. Ibu itu diam. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya.

ke kantor polisi. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk . Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. Dulu. Yang tidak mau dipukuli. Kalau saya jawab. Eh. Di kantor polisi itu. Tapi. semakin lirih penuh dengan tekanan. menyeberangi jalan raya.” Andre mengambil minuman di meja. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya. Semua serba salah. mereka itu. ”Setiap hari saya disiksa. saya minta rambut saya. Lalu…. tapi katanya saya dianggap menentang. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. rambut saya itu panjang. kok diperlakukan seperti itu. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. saya dibawa ke sebelah selatan. saya tunjukkan tempatnya. saya juga dipukuli. saya juga dipukuli. ”Suatu kali. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu. Saya tidur di sebelah utara. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. Setelah itu…. Mbak. saya juga dipukuli pakai sepatu. Saya ini manusia. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. kalau tidak saya lihat matanya. lalu kalau diperiksa.processtext. http://www. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. Kami bertiga menunggu. mengguntingi rambut saya. muka saya dipukuli pakai sepatu.” Ibu itu terdiam lagi. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi.com/abclit. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. memperlakukan saya seperti bukan manusia. Saya diberi pertanyaan yang sama. saya juga dipukuli. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya.” Ibu itu suaranya mengecil. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. apa ya layak…. hampir sampai lutut. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kalau tidak dijawab.

Di dalam ruangan lembap ini. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. http://www. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu….” Ruangan hening.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu. teriak kesakitan dan tidak didengarkan. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata.” . ”Mbak. ”Sebelum melakukan itu.” Ibu itu kembali diam. Mbak.html mengambilkan minuman. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. dan itu dipotret. saya minta waktu untuk berdoa. Dipotret. Mas. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. Lalu menghirup napas agak panjang. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu. Sepintas yang sempat kudengar. Sepasang mata Mirna bobol. Saya mengulurkan gelas air minumnya. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti…. janji Tuhan tentang keadilan. Ibu itu bangkit lalu keluar. Saya ingin tahu. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. Saya menjerit. Tidak ada suara cicak. Ibu itu masuk sambil berkata. Petugas-petugas itu malah tertawa. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. Ada tetangga yang meninggal dunia. Selesai kejadian itu. ”Dan rupanya itu belum cukup…. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana.” Semua diam. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. Gerimis turun di luar. Andre membuang muka. isak Mirna pun lenyap.com/abclit. wajahnya yang putih segera memerah.processtext. Tintrim. saya harus ke tempat kesripahan. seperti apa itu. Sebelum saya memakai pakaian. Ia minum dengan pelan. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. Kok ada yang dinistakan seperti ini…. Tubuh Si Ibu terguncang. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya.

Setiap pagi. Selalu bercelana pendek kucel. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Di dalam taksi. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . http://www. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing.com/abclit. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Berkoreng di lutut kirinya.processtext. Edisi 03/12/2006 Selalu. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu. semen. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Mirna lalu mendekati Si Ibu. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Usianya paling 12 tahunan. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Andre merapikan alat.html Kami mengiyakan.Generated by ABC Amber LIT Converter.tara aku keluar rumah mencari taksi.alat audiovisualnya. seperti menjolok sesuatu. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Ketika ibuku menyapa. Hari masih gerimis. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. berbincang pelan. dan hanya bisa bertanya. mungkin memastikan jadwal. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Kadang berloncatan. kapan kami bisa kembali lagi. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat.

”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu.html bocah itu. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. ”Mata itu seperti jendela hati. Dan ia selalu menggambar mata. http://www. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. yang kata Mama.processtext. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Tak ada keruwetan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. ia selalu disuruh menggambar. Memandang mata itu.com/abclit. saat ia berusia tujuh tahun. mata dengan sebilah pisau yang menancap. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Ia suka menatapnya berlama-lama. Ia menurunkan kaca mobilnya. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. . Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Ia ingat perkataan Oma. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tapi Papa kerap menghardik. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Eceng . Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Mata yang berkilat licik. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir.com/abclit. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. seperti mata bocah itu. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Setiap menatap mata seseorang. Ketika berjongkok. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Mata yang penuh kemarahan. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Setiap kali terkenang mata itu. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Semua itu hanya mungkin. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap.processtext. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Membuat Gustaf berpikir. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Begitu bening begitu jernih. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. kawat berduri yang terjulur panjang. pecahan kaca yang menancap di kornea. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. http://www. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. padang gersang ilalang. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. batin Gustaf.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Karena itu. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Rasanya. Gustaf kini bisa mengerti.

Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening.processtext. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Ia ingin membuka jendela. Gustaf tersenyum. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. http://www. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. sambil berbicara kepada temannya. Bila ia bisa memiliki mata itu. pikirnya. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. . Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Begitu lift itu tertutup. dan melemparkan recehan. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Bila perlu ia menculiknya. semuanya sudah tampak sempurna. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi.

apa pun di ranjang. mengantar sarapan.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. http://www. asal kota tempat tinggalnya. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya.com/abclit. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. pekerjaannya. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. meletakkan selembar koran. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang. membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. Dengan takzimnya. ia menyapa. baca koran di ranjang. Meneer. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. ia memberi salam.processtext.” . ”Selamat pagi.html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. menyeka tubuhnya. makan di ranjang. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya.

menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya. ”Ya. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas.” mulut lelaki itu menyahut. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut. Ayo bangun. .Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sekali Anda membiarkannya.” >1<”Ya. Namun. lalu bangun. angin laut masih terus berembus dengan kencang. http://www. saya terpaksa melakukannya. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. Tetapi.” sahut lelaki itu singkat.com/abclit. menggenjot sepeda dari rumah.” jawab lelaki itu. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. apa boleh buat. Meneer!” ”Ya. apalagi gusar. seterusnya akan diremehkan. tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya.” kata si pemuda. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. empat kilometer jauhnya.processtext. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar. pemuda itu menyalakan lampu. Tetapi. tidak demikian halnya dengan lelaki itu. Meneer.

” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. ”. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan.perang dingin sudah berakhir.” ”Anda tahu sekarang. si pemuda terus saja mengobrol. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya.” . Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai. bukan?” >d 1<”Mmmm.. bayangkanlah.” kata perawatnya.” lelaki itu mengerinyutkan muka. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil. Anda renungkan.html ”Kalau tidak.. ”Yaaa... saya akan kehilangan satu setengah tahun. tidak memerlukan rekrut serdadu baru.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Kendati bukan jawaban yang memuaskan. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. Sebabnya. gajinya kecil Meneer.” ”Nah. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja. http://www. kenapa saya berada di sini..” ”Hhmm. ”Coba.processtext... kerja kasar seperti ini.. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer.

Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. Meneer.. misalnya. Anda pernah berdinas di mana. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. dan ya yang sangat menjemukan. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. http://www. tak ada juga tanggapan yang didengarnya. Bosnia. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. . Irak.” ”Mmmm. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang. Tetapi. Itu saya tidak bisa.” ”Ya? Tetapi. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh.com/abclit. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. Maka. kecuali ya. dalam satuan apa.processtext. Tragisnya.” Suara lelaki itu terdengar datar. Di Serbia. Tetapi.. pikirnya. sebagai profesi.. Saya tak tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. Dan ia mendapat kesan. Membunuh lalat saja saya tidak tega. ”Perang memang mengerikan.” ”Mmmm. ya. Kroasia. dilontarkannya pertanyaan. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya. ”Ya.” Jawaban yang meragukan tentu saja.

” ”Ya. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. . Tidak terlalu sukar. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan.” ”Ayo Meneer. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. kapan itu terjadi. Tetapi. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. Ia lantas beranjak ke jendela. matanya nanar mengedari seluruh ruangan. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat.com/abclit.” ”Ya. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi.” ”Terima kasih. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. ”Ya. akhirnya ia gagal menemukannya. mendesing di sekeliling lampu. http://www.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya. Meneer! Lakukanlah mulai esok. Cukup beberapa menit saja.processtext. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. lantas mengganti seprai. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. lalu ditutup lagi bila udara dingin.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak untuk membunuhnya. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut. bukan? Cukup sambil berbaring saja.” ujarnya.

. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu.” ”Ya....Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang. http://www.” . Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan. saya rada neuwsgierig sebenarnya. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm.. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. ia mulai bicara lagi. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. Meneer. ”Meneer. bukan?” ”Mmmm. Meneer.” ”Saya menentang perang Meneer.. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo. di zaman dia dulu. Konon. Tetapi. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai. kakek saya lupa. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. Meneer.” ”Mereka memerkosa wanita.processtext. tentara Ambon memang tukang perang.html Namun. apalagi melawan bangsa sendiri. mereka berada di bawah perintah penjajah. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi.

”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya. Ketika ia berpaling. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. Tragisnya. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Tidak terlalu sukar. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. kamar demi kamar. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama.” ”Mmm. http://www. belum tertangkap sampai sekarang..” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. bukan?” ”Ahh. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab.” si pemuda nyengir karena merasa disindir. Delapan ribu orang Islam..Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia lantas bungkam. ia melangkah keluar dari kamar. ”Saya terkadang lupa.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang.. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu. Tetapi. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua. Ia . menukar piyamanya. Meneer.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang. ya.. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor. dan mengganti seprai. ”Maafkan saya. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama.com/abclit. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. seperti baru sadar..processtext.. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman.

”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. Panggil saja Patti.” ”Ya. http://www. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya. perang perlu dilanjutkan.” ”Apa? Anda bilang apa.. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza.” ”Tetapi. ”Ah. kata Anda. 7206 . bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara.” ”Nah. Tetapi. tetapi..processtext. tetapi menggumam dalam hati. cucu tukang perang. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban. mulutnya diam. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya.html melangkah balik ke dalam. kerja sipil gajinya kecil..Generated by ABC Amber LIT Converter. merenggut kertas tisu dari saku.” ujar lelaki itu.com/abclit.” Pemuda itu melangkah keluar. Saya kehilangan dua tangan. tak semuanya berhasil dijinakkan. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer.

duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. ajudan itu tidak saja menyebalkan. dipersilakan. SH dan rombongan. berputar-putar dengan gagahnya. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. http://www. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. Dengan bahasa kasarnya. Engku Nawar menarik nafas panjang. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. masuk. Beberapa detik. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. . ”Pak Muis. Tak lama. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. tapi meyakinkan keganasannya.com/abclit. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. dan menutup kembali. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu.processtext. Ajudan setengah berlari membuka pintu. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium.Generated by ABC Amber LIT Converter.

barangkali lima menit. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. Sebentar lagi selesai. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. yang lulusan kursus komputer berijazah itu. Dari ruang tamu yang terbuka itu. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. tapi cucunya. alamat. tuh.” ”Sabar. motor. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. Ia merasa sesak duduk . nama. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. http://www.processtext. Ia memeluk erat Sarini.com/abclit. Ibu. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. Oleh karena itu. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. nanti saya sampaikan. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Baginya waktu terasa berjalan lambat. keperluan. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil. ”Silakan Pak. cucu kesayangannya itu.html Sehabis magrib. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya.” Engku Nawar mencoba bersabar. yang sudah merasa haus. Minum dulu. dan jalan kaki. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. habis itu saya pulang. Sarini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya cuma sebentar. Dari percakapan orang-orang.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. Semua mengisi formulir yang sama.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis. Ambil saja airnya di sini. Sarini. Tunggu saja.” Mendengar pernyataan itu. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja. minuman datang. Engku Nawar telah siap bersama cucunya. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. Pak. Tak lama.

Lain halnya kalau malam telah larut. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. Engku Nawar. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. Suatu malam bergerimis. dari kejauhan. Mau tidak mau. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. Dan. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Kapten Tulus. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Akan tetapi. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP.com/abclit. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. Akan tetapi. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. Engku Nawar harus bermuka dua. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. ia masih mencoba merokok. komandan pasukan PRRI. Tapi. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. meski sangat berbahaya. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. Nyawa tantangannya. di mana ada perang. Hampir dua tahun lalu. yakni milik Wali Kampung muda. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. Engku Nawar merasa sangat bahagia. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. Ia lalu berdiri. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. di bulan puasa. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. . tak jauh dari Kampung Padangilalang.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. biasanya mampir di warung kincir itu. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. yang dikenal berani.processtext. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. Diam dengan pikirannya yang menerawang. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. Pada masa itu. menghilangkan rasa jenuh. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus.

.processtext. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga. Tempat pembuangan akhir sampah kota.. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya. Sebelumnya. Sejak itu. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. mampir minum kopi di warung itu. datang menjumpai Engku Nawar. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. Bahkan. Semua orang tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi. Di mana ada bapak saya.. Tanah itu tidak subur.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. para pemulung dan calo-calo tanah. cucunya itu sudah dibelikan sepeda . tak ada jalan lain bagi Engku Nawar. ”Engku Nawar. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. Esok malamnya. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. Sopir-sopir truk sampah. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya. datang saja ke rumah sehabis magrib. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu.com/abclit.” Ketika orang tua itu mengiyakan. di situ ada Engku Nawar. ia bisa hidup lebih baik. http://www.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. Untunglah perang cepat selesai. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA.html Sejak peristiwa itu. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai.

ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. Engku Nawar tidak setuju. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. ”Sabar. Tapi. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. Engku Nawar tidak percaya. Pak Wali yang minta. tugas ajudan itu berat.processtext. Keduanya sama-sama lincah. Engku Nawar sadar. Sarini tidak lulus. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. Dengan sedikit lega. http://www. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. nomor tiga. nomor dua. Pak. Tiap kali ikut tes. Tamu sebanyak itu. niat itu ditekannya. Tapi ia masih berharap. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas.” kata ajudan berambut cepak tadi. Orang-orang bilang. ia akan mendapat giliran pertama. kemudian pada ajudan itu. lebih baik menemuinya di rumah. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Tapi. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. Orang-orang bilang. orangtua Wali Kota itu. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. Buktinya? Nomor satu. Kalau ke kantor. sesuai urutan mendaftar.” Meski tidak dibantahnya. yang lain seperti protes. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. Semula. kecuali Engku Nawar. Di ruang yang terbatas itu. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu.com/abclit. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Sebentar-sebentar menjawab telepon. besar sekali. dan selanjutnya. ”Bapak Engku Nawar. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. dengan tanda bel listrik. Ini bukan kemauan saya. Kalau saja ia tidak tua. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu.html motor. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Padahal. ia akan menerobos masuk. tanpa banyak senyum. Dan. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. tapi tidak dinyatakan. mesti pakai uang jutaan. .

”Pak. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor. Giliran Bapak. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. besok atau lusa lewat pukul dua. 5 Januari 2006 . Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya.. Saya hari ini banyak tamu. Di perjalanan. Wali Kota telah berada di depannya.. sudah malam.processtext. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. meski matanya juga sudah merah. Pak. Dan.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu. ”Maaf Engku.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. Menguap dan cepat tersadar. tulis saja surat. seperti hendak jatuh dari kedudukannya.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. http://www. Merasa hendak muntah. akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. Sekarang pulanglah dulu.*** Rawamangun. Kalau Engku ada perlu. Saya pulang dibonceng cucu saya ini.com/abclit. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali.Generated by ABC Amber LIT Converter.

” . http://www. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga. sekali lagi cuma diam. Dia capek sekali. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. Untungnya. Kalau kau mau. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. diam saja. Keterangan yang dibaca oleh Dita. Dita merasa lega.html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Padahal. ”Tina. tidak berbicara. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini.” Perempuan remaja ini. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. Dita menghela nafasnya. Ada banyak kasus yang sangat pelik.com/abclit. menurut dokter neurolog. aku mendengar dari Mamamu. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. bisa curhat kepadaku. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara.

aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya.processtext. punya kemampuan berbahasa yang baik. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om.” Tina. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. dia tadi membelikan boneka.com/abclit. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran). ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. Bram. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. ’Ini bukan kejahatan.Generated by ABC Amber LIT Converter. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . keluar dari masalah ini. Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. http://www. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. Tiga bulan yang lampau. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA. ”Sayang. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. takut melihat kemarahan di mata Mama. Setelah bertemu beberapa kali. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. Wali muridnya menyangka.’ Aku mengangguk dengan cepat. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. yang adik suaminya itu.” Dita berkata sungguh-sungguh. bukan karena apa-apa. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita.html Pada jam ini. Setelah pesta yang luar biasa itu. yang sudah lama kau inginkan. aku kepingin pipis. ”Mama. meneruskan tulisannya. Tulisan itu terbaca demikian. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam. meneleponnya.

Dengarlah. suamimu yang kakakku itu. Dita memegang tangan Tina dan berkata.” ”Tina. tapi kami saling menyayangi. kakakku. tahu hal itu. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya. Bram-nya.” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. Windy. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita.com/abclit. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku.” Bram menyambar cepat. O ya. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu. ”Dokter Dita. tetaplah melakukan terapi bicara. aku tidak tahu. yang penting belajarlah dari masalah ini.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita. kalau pusingmu semakin bertambah. tapi diam saja. Dita menelepon.” ”Kamu pasti bisa. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Bisa jadi karena aku dianggap lancang. Sehingga . tulis Tina. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya. sayang. kasus Tina sangat istimewa. Buat Dita.processtext. Dita tersenyum gelisah. perselingkuhan di antara orangtuanya. apakah itu cinta. Aku pastikan. ”Kita saling membutuhkan. di seantero dunia ini. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia. http://www. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi. ”Ini masalah mereka. katakan kepadaku ya….” Seandainya kau Mamaku.

sehingga mereka harus menutup hidungnya. dengan menjadi psikiater. malam itu ingin tidur di kamarku. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Dear. Yaa Tuhan. Sebab. ada dongeng. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. ”Papa dari anaknya”. Pada suatu senja. terus aku ingin sekali bunuh diri. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. setiap selesai tulisan. memasuki laboratorium yang besar. juga pada pacarku. Aku dulu senang. kalau Eyang tidur di kamarku. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. kue kesukaanku. dokter Dita yang baik. Hari ini. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. Sungguh. . ”Sayang. kurobek-robek. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. yang menyayanginya. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan.” Bram mendengarkan ceritanya.com/abclit. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu. ”Jadi. sahabat-sahabatku. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. Bude.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik.processtext. Kemudian. ha-ha-ha-ha. tanpa mengedipkan matanya. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. ”Aku merasa. Tina datang lagi. namun Eyang bilang. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. http://www. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. Ini berarti sangat spesial.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik. mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. hiasan perang layaknya kaum ksatria. Harap Tuan mengerti. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . http://www. Inilah gambaran kaum bermartabat. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. Namun.com/abclit. ”Jesus is mijn opstanding. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana.processtext. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. Tuan.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku. Adapun gambar tengkorak itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk.

Tuan. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. menghiasi dinding.processtext. http://www. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa. . Ia mengelus bulu kuduknya. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus. Dia terlalu menderita.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. Sungguh. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. ah. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. ”Tentu saja.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Selamat jalan. Akan kubawa pulang. Aku seorang opsir biasa. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut. ”Begitulah kami bangsa Belanda. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi.” kata Kim Hok memuji. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh. Dan Mevrouw Gubernur. sebuah tubuh teronggok penuh luka. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Tuan. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini. ia sangat menderita. dan mencintai seni dan kerajinan. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal. saleh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Tuan. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. adalah yang utama di antara perempuan Belanda. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. Tuan.html Kim Hok menggeleng. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. Sayang. meninggal terlalu cepat.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa. Saya tidak akan mengatakannya. Tak lama kemudian. Sayang Tuan. ”Tidak.com/abclit. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. apa harus kubilang untuk Nyonya itu.

.html ”Orang Tionghoa dibunuh. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu. Sayangnya.” kata pemilik warung itu.com/abclit.processtext. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh.” kata salah seorang yang mengenalnya.” orang. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. http://www. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal.*** Yogyakarta. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. menjadi makanan lalat dan serangga.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia. ya. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. Lelaki tua ini. Tan Kim Hok. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab. untuk menjelaskan kematiannya sendiri. dan dilempar ke kanal. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu. ”Dia si pengukir nisan. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun. nama-nama seseorang.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. ”Tanya saja kepada kepala desa. Banyak nama yang disebutkan. tidak kenal.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

Saat menyiangi sawah. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. Dia adik Ayah kami semua.processtext. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar. Gerimis menyudahi dirinya. Membuat malam membeku sendiri. Gusti…. Dan. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. untuk mengobati kepedihan hatiku. Ayah kami. dengan menggeser pematang secara licik. tempat jasad Pakde terkapar. kematian suaminya. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. ”Oh. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. di pemakaman. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut. Juga di dalam hatinya sendiri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. Namun. Emprit ganthil. Namun. limpahan lumpur itu lantas mengering. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. http://www. karena dia tahu. . ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. Ketika aku berusia belasan. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda.html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. dan dengan begitu menggeser pematang. Diganggang matahari. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. seperti tak pernah terjadi. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. diiringi sedu-sedan.com/abclit. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu.

Selang beberapa hari kemudian.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. 1965. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri.html Dia sudah mati. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah.com/abclit. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. tidak hanya sebatas pematang itu. koé akan kubunuh!” Siangnya. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali.processtext. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. dengan diiringi gerombolan pemuda. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. Ayah tinggal berpindah-pindah. dan kepala Ayah. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. dan kami anak. Konon. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. mata tertutup. Di akhir tahun kekacauan. Takkan terkikis dari ingatanku. maka kami memercayai kabar burung itu. mencari kekuatan di situ. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. dan dia digelandang ke dalam jip. kami anak-anak. turun dari jip. setelah Ayah berangkat entah ke mana. Tapi. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. Ah. Berminggu-minggu kemudian. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. mata tertutup. Dengan cara yang sangat menghinakan. Suatu malam. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. kebingungan. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. http://www. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang.anak yang lain. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. Tentara. hati kami semua. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. (Oh. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. Di bawah todongan pistol. supaya tak ada orang desa yang . Paginya. dan penuh ketakutan. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. dan manakala dadanya belum tegak benar. Ayah diperintahkan bersujud. Ah. sambil menggendong adikku yang terkecil. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. Ibu. Sakit hatiku. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar.

maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. dengan tangan gemetar. diperlebar. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. kami kira. ketika kami menuruni tebing. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. dan aku belum hamil juga. juga dicangkuli. yang katanya. maka mendengunglah . Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. Sama seperti ketika menjemput maut. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. diperlebar nganganya. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. di mana salib dan nisan berbaur. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan.processtext. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Walaupun tidak dikatakannya. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. http://www. Dia.html melihat. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. ada semacam nista yang akan selalu melekat. bukankah dia juga ingin berziarah. mengapa aku tak pernah bertanya. itulah akhir perkawinan kami. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. dan. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. meminta berkah. beberapa kali dia tertegun. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. ”Turunkan dulu. Peti matinya diusung menuju pemakaman. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. linggis. menghampiri bengawan. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. menakutkan. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali. Setelah menikah. tak punya nisan. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku.com/abclit. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. Sebelum menuju bengawan. kami pulang. Katanya. dia mendesak. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. ke makam Ayahku. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. cepat dilarikan arus. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. Setelah itu. katanya. mengharukan. Tanpa itu. Letakkan di tanah. mencari Ayah. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Sesuatu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak punya kuburan. gerimis mendesah dari langit. Bunga-bunga itu mengambang. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. dua ratus meter ke arah bengawan. Kedua sisi. Mengikuti aku. Begitulah. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. dari mana mayat akan diluncurkan. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. Oh Tuhan. Cuma. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. Pukul dua siang sekarang.

Beberapa saat kemudian.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. kami minta maaf kepadamu. sarat di wajah para pengantar. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat.” Kuhela nafas. ”Jeng. Ibu keluar menemui mereka di beranda. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. Dari celah dinding tepas. mendekati peti mati.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. ”Las…. sudilah kiranya memaafkan. Kalau kau maafkan. ”Ampun…. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman. Dengan kepala tertunduk. beku.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi.com/abclit. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. terimalah saudara kami ini…. Sia-sia. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan. ”Kami pasrah. maafkanlah umatmu ini. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. diiringi isak-tangis. Ampunilah. ”Sudah berapa kali kami menggali. perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri.processtext.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. Aku membalik. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. mengiba-iba. biar Gusti mau menerimanya. juga panik. orang sedesa akan tahu siapa kita. terpaksa mendobrak adat kebiasaan. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. http://www. dan dengan sebal. Tolong.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. meninggalkan jejak di tanah basah.Generated by ABC Amber LIT Converter. menguak membukakan jalan untukku. atas nama jenazah dan keluarganya. seperti berbisik.” katanya menunduk. Seperti mengutuk diri sendiri. Aku maju dengan dada tegak. Kau yang jadi kunci. . Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. ”cuih….html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun. tapi tak bisa juga.

hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah.com/abclit. Tapi Patek. Namun. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Patek dikenal sebagai seorang gila. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. dengan wirid yang lama. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. Namanya pun aneh. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. Itu pun ia tidak banyak omong. Jika bicara. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. Ia selalu menundukkan kepala. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. panggilan akrab Gazali.Generated by ABC Amber LIT Converter. di masjid yang berbeda-beda. Desa Kwangko. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. kira-kira delapan puluh kilometer. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. Jali. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. ia tidak menjelaskan mengapa ia .processtext. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. karena perilakunya yang aneh. seorang idiot. Namun sebaliknya. terus menjauh. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. tidak mengandung arti apa pun. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. mulai tinggal di Dusun nCuni.html Aku cuma membatu. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. http://www. sebelah barat Desa Kwangko.

Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. Walaupun kecil. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. laki-laki dan perempuan bercampur. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. Untuk membersihkan masjid itu. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. tempat tumpah darahnya itu. Hanya riak air kecil ditiup angin. walaupun terbuka tak berdinding. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. bahkan dapat disebut orang miskin. yang rajin membersihkan masjid. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. maklum.com/abclit. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa. barangkali lebih tepat disebut surau. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. Patek tentu saja bukan orang kaya. adalah berkat peranan Patek. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. http://www. tempat orang mengambil air wudu. baik karyawan maupun orang kampung. Kebersihan surau itu. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal. Masjid atau surau itu tampak bersih. Tak ada debu. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu.html meninggalkan kampung halaman. sebagaimana di Laut Hindia. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. ia tak mau dibayar. tanpa hijab. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk. Boleh dibilang. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. hidup sebatang kara. Tapi ia pantang meminta-minta. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin karena sedihnya. tak ragu lagi.processtext. Walaupun tidak kawin. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua.

Tapi anehnya. di sebelah timur. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. Jika pergi ke kota Dompu. http://www. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. Ia menanyakan kepada Patek. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. Ia menganggap. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. semuanya di kota Dompu. Karena itu. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. walaupun jaraknya cukup jauh. tanpa mau menerima upah. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja.com/abclit. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. ketika orang itu sampai di kota. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. Ternyata. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Pastor Dhakidae. Patek yang jujur. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari. Karena sering mendengar cerita itu. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. . nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. dari Gereja Katolik Santa Maria. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. Di samping ke masjid-masjid. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. tanpa pembelaan diri. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu. mencintai anak-anak. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama.html sekitar seratus kilometer. ia juga pergi ke gereja-gereja. tapi naik kendaraan umum. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. Namun. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. hanya menjawab dengan anggukan. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. tentu saja dengan izin penjaganya.

”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. Tapi.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. Tapi dalam kenyataannya. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. ibadah. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. demi keselamatannya di akhirat nanti. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. tetapi juga Protestan.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek. http://www. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. walaupun orang yang dinilai .” ancamnya. Karena keteguhan sikap Jali. sekalian pindah agama. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah.” kata Ustadz Abdul Rasyid.com/abclit. Di samping itu ia pun mengancam Jali. ”Ya itu lebih baik. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. ”Ini bukan hanya pandangan saya. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman. Karena itu. sehingga ia mengadu kepada Jali. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. ”Patek itu sesat. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. Sebagai akibatnya. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang. dan akhlak seseorang.processtext. Tapi Patek tidak banyak bicara. ”Pak Jali. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali.” lanjut sang ustadz. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain.” sahut sang ustadz. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda.

sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin.*** Garis Cahaya Bulan. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi.. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin. melambai-lambai ditiup angin. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. . Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini.processtext. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. sorga itu ada di sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. http://www. khususnya orang suku Sasak.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. Kalau kau tak percaya. Ya. Bagi orang Sumbawa.com/abclit. Karena Tuhan Yang Maha Tahu. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. Aku yakin. sesekali datanglah ke mari. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. Di pinggiran kali berwarna cokelat..

processtext.. kalau aku mau. misalnya. maaf terlalu kasar kalimatku.html Aku sendiri tak mengerti. sudah biasa terjadi. kawan. Hampir tiga hari aku berjalan. itu pun tak sepenuhnya salah. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. Dan dengan enaknya. Begini saja.. Kita ditentukan. Oleh karenanya. aku harus . dan manakala kau mengeluh. Tak seorang pun. Jangan dibalik. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. Begitu saja. Bayi merah. tanpa mempersalahkan siapa pun. perintah itu bertengger di pundakku.Generated by ABC Amber LIT Converter. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. kau salah sama sekali. dan melompat dari rel berarti hancur.. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan . Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. ha-ha-ha-ha. Hidup inilah yang memilih kita. karena semua sudah ada yang mengatur. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. Aku tak mau hancur. Sekali ini.. dan semuanya beres. apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja.. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu. di tengah panas terik. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. tetapi. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. aku bukan pembunuh. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. atas apa yang kau dapatkan. aku bisa membunuh. Mengelak berarti melompat dari rel. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Tidak. mudah sekali mendapatkan uang banyak. Bayi. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. aku menemukan sorga itu di sini.. Tak ada yang aneh di sana. Ah. Aku tak mau mati sia-sia... tetapi saat ini. Jika tugasku selesai. bukan? Ha-ha-ha. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. mengendap-endap. Ah. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. Itu pekerjaan kotor. Menjijikkan. sebagaimana yang kukatakan tadi. Tunggu dulu.. Maaf. Dialah yang memilihku. kita tak pernah bisa memilih. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini.. Hujan yang turun. Jangankan hidup. Jangan salah. Ikuti perintah. Apakah aku bisa mengelak? Tidak.. Gampang. tidak kali ini. ya. menziarahi kubur ibuku. tetapi. http://www. Tapi. Aku tidak bisa mengelak. lahir di rahim siapa pun. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. Aku masih bisa membangun hidupku. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf.com/abclit. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku.

Bayi itu. Belum selesai dia berkata. baru saja rokok hendak kunyalakan. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu.. tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. entah siapa. Hening sekali perasaanku. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. Bayi yang cantik. ah. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. Tetapi. Maka. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. kuberikan sebotol susu. tidak. bersih dan menawan hati. dia. lalu aku letakkan di sudut jalan. Siapakah aku.com/abclit.. bayangkan jika itu terjadi dan .. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu. Sepi sekali di sekitarku. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu. Hmm. aku muak. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. mendadak akan pulang.Generated by ABC Amber LIT Converter. demikianlah.. pandangan yang wajar saja. Jujur saja. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. Begitulah.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin.. kurasa. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. terlalu religius kurasa. tentu saja aku selimuti. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. Umurku masih belum tiga puluh.. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah.. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. tidak. aku tak ingin menjadi juru rawat. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain.processtext. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. http://www. Kalau aku mau. Salah seorang. sudahlah.

Detak sepatu mengisi sunyiku. Kalau itu yang akan terjadi. aku duduk di ruang tunggu. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. tentu saja kuurungkan.com/abclit. bahkan sampah. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. tetapi juga perempuan. Dan aku—mau tak mau. Semua itu mungkin bagiku. . Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa.processtext. Digendongnya dengan sukacita. Tidak hanya laki-laki. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". Mereka gembira. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. Bulan di atas sana membulat putih. air. mengikutinya dari jarak tertentu. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. http://www. Tetapi. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. Bayi itu dipungutnya. untuk pemerasan yang sama. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. bagai piring perak. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. Aku pun tahu. lebih buruk lagi. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. Dia tiba di gubuknya. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). dan anak-anak. jongkok di kotak bayi itu. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. dibawanya bayi itu ke sarangnya. di pinggiran kali ini. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. Sempat kudengar ada suara anak kecil. lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. penasaran apa yang terjadi di sana. akan kuhabisi mereka semuanya. Asisten si nyonya datang.. Mereka bahagia. Bisa jadi dia orang gila. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. Kopi sudah separo kuhirup. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Atau. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. Kubayangkan. Dari sana. Tanpa bicara dia menatapku. tepat ketika matahari tenggelam. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. Tidak..html punggung. Pagi itu. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. gedung. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil.

Bercahaya penuh. betapa bahagianya si kecil itu. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. dan tergilas zaman.processtext. Tidak. semoga sudah masuk hari ini. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu. Aku tak peduli.. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. tangisnya. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. Begitu tajam rasanya di mataku. Dia memiliki keluarga. Ini aneh. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. karena memang tak penting. Malam ini. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. yang menganggapnya ancaman. dengan semuanya. Tetapi. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. Tidak mungkin. Ruang apartemenku harum.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. Aku beranjak. setelah menerima sesuatu. ". Ada senyum tersudut di bibir. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini. ah. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain. kesialan. . bersih. wajahnya. Bulat penuh.. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh. masih bisa kusaksikan bulan purnama. Tetapi. dia masih memiliki kasih sayang. Langit tanpa awan." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. http://www. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Kubayangkan. Yang aneh.com/abclit.

di pinggiran kali ini. di sini. http://www. kemarin malam.com/abclit. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. Aku banting telepon itu. dulu. semua penghuni gubuk merayakan pesta. Dan seperti kataku. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. Di tempat ini. Bukit Nusa Indah. Kubayangkan bulan. Maafkan. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. kemarin malam. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. Semua sampah harus dibersihkan. ini adalah sorga. Sunyi. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. Semua sampah harus dibersihkan. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. jika kau ada waktu. Kapan-kapan. Aroma sangit pembakaran. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka.processtext. Ya. Gelap. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. 982 . Di tempat ini melimpah kebahagiaan. Dia tertawa penuh kemenangan.html Aku terbangun oleh dering telepon. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Kepalaku masih berat. Sudahlah. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. aku bisa menolak permintaan. Ini sorga. Aku duduk di tengah sampah ini. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Alkohol menebar. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. di pinggiran kali ini. tergeletak di meja dan di karpet. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. Dan sudah terlaksana. cobalah ke tempat ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku pernah menyaksikannya. kepalaku rasanya mau pecah.

Siapa duga. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. http://www. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. penuh cerita pilu. Batam. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. Rambo. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. . Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Tapi. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai.com/abclit. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah.processtext. Atas nama kemandirian itu pula. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Aku jadi ragu berterus terang. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Tuan Chew Song Kit.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas. Tapi. Antara suka dan tiada. Nguyen telanjur segalanya bagiku. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi.Generated by ABC Amber LIT Converter. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Aku tahu. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Aku jadi teringat Vietkong. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya.

Generated by ABC Amber LIT Converter. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. Wan Syariful. Nguyen muncul tiba-tiba. dari benang menjadi kain. Tapi. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini.processtext. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. http://www. Wan Syariful. Tapi aku tak begitu hirau. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. . Dari mana asalnya kapas. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. sambung Wan berhujjah. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. Padahal. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Tapi. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. Atas keteguhan sikapku ini. Mana tahu. Sesiapa yang sudah dilepas. aku berbelah-pihak pada Nguyen.html Sekali lagi. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. bila ditanya. jujur. Tapi. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. Aku kehilangan jejak Nguyen. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab.com/abclit. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku.

Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Saat itu. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh.html Aku tertunduk lemas. Sungguh. terus terang. . Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya.processtext. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun.Generated by ABC Amber LIT Converter. teman setiaku sejak dulu. Meski. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Kami bersitatap tegang. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. http://www. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Suasana benar-benar hening beberapa lama. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. lewat di depan stand kami. Tak salah lagi. Dan perempuan itu langsung memelukku. Nguyen. aku bagai melompat menuju buku tamu.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Semua bisu. Tapi. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand.com/abclit. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. Apalagi. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku.

Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. kami sudah pisah ranjang. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Aku memeluknya sepenuh-mesra. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. Nguyen masih duduk . Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. Sebab. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku.com/abclit. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. Aku telah keliru memilih jodoh. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. Sing Anh. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Pembantunya. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Aku makin memperkuat pelukan. San Nam dan San Nangh. Hampir setahun ini. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Begitu pula kampung halamannya. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Mereka sudah jarang bertemu. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Dua adiknya. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. sahut Nguyen pelan. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Dalam perjalanan naik taksi itu. Nguyen pasrah.processtext. http://www. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. airmatanya tak henti mengalir. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah.

bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. .html menyandar didadaku. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain. http://www. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya.processtext. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar.. Maksudmu?. Menelepon pun tidak. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. Nguyen. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi.com/abclit. Nguyen meraih jemariku. aku tak bisa. Memang.. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda.. Tapi. Aku terdiam dan ternganga. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. Kamu tidak mencintaiku lagi. Inilah saatnya. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. Bang Rajab. kamu masih menjadi istri orang lain. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam. Maaf. Iya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sungguh. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. Lagi pula. kami sudah pisah ranjang cukup lama. Lampu temaram.

dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi. http://www. memang bukan akhir segalanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nguyen.processtext. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail.com/abclit. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Langit Hanoi terasa merah jambu. . Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. Andai saja. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Langit masih bertabur Nguyen. Nguyen. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. bagiku. saat aku sudah kembali ke Tanah Air. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Tapi. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Oktober 2005. Sungguh. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya.html Aku duduk di bibir ranjang. Selalu.

terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Tak ada yang peduli. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi.com/abclit. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai. kata mereka. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang . Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. arus sungai menjadi sangat deras. Terlalu angker. selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. http://www. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa ratus meter ke arah bukit.processtext.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan.

tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. tepat di atas ranjang keduanya. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. Tak ada apa-apa. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. Kakek Lido. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Tak lama. Rencananya.com/abclit. http://www. suaminya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Dua anak gadisnya. Dua orang gadis tangguh. Bahkan. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Tak terhitung dukun yang didatanginya. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. Gelap. .processtext. Tak hanya secara fisik. Hampir-hampir tak ada privacy. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.anaknya. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Jona dan Warni.

. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Alu kita patah. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. segar. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. http://www. nenek Lido dulu cantik. Lagipula. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Nenek Lido bertubuh subur. Kata ayahnya. Konon. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tapi kakek belum tertidur.com/abclit.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya.processtext. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. . Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saat istrinya membopong pisang. dan kuat seperti ibunya. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak.. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai.

. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Kindo. krreeek dari loteng.” Jona dan Warni menjerit. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. ”Siapa kamu? Aaakkhh. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya.processtext. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tiba-tiba. angin semakin kencang. . Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. http://www. Baju Jona telah robek di bagian depan. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni.. Rumah panggung itu bergerak. Akh..com/abclit.” kata Nenek Lido lagi. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah.. pikirnya. krreek. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.html ”Kata Nisa. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Terdengan pelan suara krek. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu.

html ”Siapaa. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Rumah panggung itu bergoyang keras. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang.. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Rappe mundur.?” teriaknya setengah melompat. http://www. Dalam gelap. Lelaki itu tersentak keras.com/abclit. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Maka. Sebilah pedang pendek. Rappe.processtext. Rappe semakin marah. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. dengan secepat kilat. Dengan sekali mengayunkan tangan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. jawara kampung sebelah. Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Nenek Lido melengking marah. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Dengan keras. Dari arah belakang. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah.. Dalam gelap. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai.

Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Dengan susah payah. Tak ada yang tahu.. Tangannya gemetar dan nyeri.processtext. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan. ”Kindo... Hanya itu. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Kakek tak bereaksi apa-apa.. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. . Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. kepalanya juga. Berhasil. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Entah apa.html ke depan pintu kamar. Tapi Nenek Lido tidak menangis..”. http://www.” Nenek Lido menyuruh Jona. Saat mendekati sakratul maut. ”Dia sudah pergi. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Cresss. Nyalakan lampu. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan.com/abclit. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya.. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. Kedua anaknya yang masih hidup. A Cong dan Beng Sin. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Dari balik kain penutup jasad. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti. Ling-Ling. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya.processtext.html Jakarta. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Istrinya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. . ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. http://www. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Korban berjatuhan.

mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu. Ling. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Jangan menangis terus-menerus. Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San.” katanya.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. Tuhan akan menerimanya di surga. Asap hio menyengat. Suamiku? Siong. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. ”Orang-orang yang berkedok membela . ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. gantunganku bila kau tak ada.com/abclit. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat. sebagian menutupi wajahnya. ”Sudahlah.processtext. Keng Hong melirik kedua adik iparnya. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rambutnya kusut. Relakan kepergian Siong.” kata Keng Hong. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata.

Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. ”A Cong.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana.” kata Keng Hong. Dia orang baik. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Setelah empat jam menggali tanpa henti. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. Jangan menangis terus. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu.processtext. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. air masih menggenangi halaman belakang. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Kau sekarang menjadi anak tertua. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. meskipun tinggal rintik-rintik. Semalam.com/abclit. Tapi A Siong mewarisi . Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik. kita pikirkan nanti saja. Malam. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong. Dengan kalimat terbata-bata. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Hujan terus turun sejak semalam. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. http://www. Wajah-wajah mereka muram.” ”Sudahlah. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. Keng Hong mencangkul tanah basah. tentu mau menolong kita. kau pergi ke tempat Paman Cia. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Sekarang.

http://www. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. . Kalau ada apa-apa. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. pendiri Pao An Tui. ia bisa mewakili ayahnya.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang. Ayahku teman baik Oei Kim Sin. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. Sementara mereka.html keberanian ayahnya. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu.processtext. babah-babah kaya itu. mereka kabur dari tempat itu. walaupun kita loyal terhadap Republik. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Ia lahir di sini. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Ling-Ling melolong-lolong. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. ”Kita memang serba sulit. Setelah korbannya ambruk. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. Dan mati pun di sini. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. Kedua adik A Siong keluar dari kamar. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir.” kata Sin Liong dengan nada menyesal.com/abclit. ”Aku datang terlambat. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya.orang miskin seperti kita. ”Ayahku selamanya membela Republik.

Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. Berkali-kali ia duduk dan berdiri. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. Kakak.” kata Hong San yang dari tadi diam saja. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Memang benar. kau tidak tahu. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus.” jawab Sin Liong kesal. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. http://www. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik. resah.processtext. baik yang kaya maupun yang miskin.com/abclit. Ia mengenal baik Oei Kim Sin. kaum peranakan Cina miskin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Keng Hong mengangguk. . ”Puh.” ”Benar. Mereka berteman baik sejak kecil. Lihat saja buktinya. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Matanya menyelundup keluar.

Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah. http://www. dan tidak banyak terpencar-pencar. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar.html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. .” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini.” kata Hong San. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.processtext.

Masuklah.com/abclit. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.” jerit perempuan di luar pintu. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu. tapi ditahan Keng Hong. temani kami. ”Aku. Bukalah pintunya. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan. ”Aku takut di rumah sendirian. Tadi baru saja ada orang mengintip. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. Kakak Hong. . ”Kau gantilah pakaianmu. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil.” katanya dengan suara parau. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong.” kata istrinya sambil menggigil. Semua cahaya di rumah kumatikan. tidur di sini. http://www. ”Siapa?!” bentak Keng Hong.html Seseorang mengetuk pintu. Mei Lan.

aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut. dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu. Tidak hanya puluhan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya. http://www. ”Tidak. tapi ratusan. Anakmu sendiri menjadi korban. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita.Generated by ABC Amber LIT Converter. terbunuh sia-sia. meresahkan malam yang basah.” Keng Hong tertawa samar dan kecut. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5.” kata Hong San.” kata istrinya sambil terisak. dan kau diam saja. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can.” katanya pelan. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. meninggalkan mereka. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda.processtext. Suara tangisannya pecah. . Ia telah tercebur ke dalamnya.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan.com/abclit. Kakak Hong?” tanya Hong San. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik.

html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Dan tumbal kaum kita.” kata Hong San. Tapi aku sangat lelah. . Tumbal revolusi kemerdekaan Republik.com/abclit. Lebih baik kutangguhkan besok pagi. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. ada seseorang mengendap-endap di luar. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. http://www. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya.” katanya dalam hati. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. ”Kakak. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua. kita telah membagi dua kekuatan. Firasatnya tak enak. Apa yang harus kita lakukan. Aku akan di sini sampai pagi. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya. ”Kau telah menjadi tumbal untukku.” ”Kakak beristirahatlah. Sementara Sin Liong menggelar tikar. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya.” bisik Hong San.” kata Keng Hong. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Di Semarang. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai. Siong. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam.processtext. Malam turun semakin sunyi. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku bangga memiliki anak sepertimu.

Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar.” Keng Hong mendekati pintu depan. ”Bangunkan Sin Liong.com/abclit.” katanya.processtext. ”Cuma ada satu orang. ”Sudah.” katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah. Dia menunggu di samping pintu. http://www.” kata Keng Hong. Kita sergap saja dia.html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya. ”Jangan terjebak.” jawab Hong San. . ”Mereka benar-benar meneror kita.

Ia membaca tulisan itu. Perlahan-lahan. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. .html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru.processtext. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. sebat. Kedua belah pihak mencurigai kita.com/abclit. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Dalam hitungan detik. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. http://www. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya.” Mereka berpandangan satu sama lain. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. tercekam ketakutan. ia membuka selot pintu. Diambilnya korek dari kantong celananya. Di antara rentetan senjata api. Lama mereka tiarap. Kedua adik iparnya memandang bingung. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan. lalu membukanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. tak tahu mesti berbuat apa.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah.

di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. 13 Januari 2005 Catatan: 1. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. . Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15.processtext. NICA. 2. 4. Ia mati bunuh diri tahun 1949. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. 3.html Yogyakarta. Panglima Tentara Belanda. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit.com/abclit. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota.

Generated by ABC Amber LIT Converter. putih pirang. itulah yang dilakukan olehnya. samar jadi terang. segera merembes air. tak tertahan oleh tatap. Tetapi bukan. selintas tampak seperti mata kayu.com/abclit. terus mengembang. lelaki tua itu merasa nyaman. meranggas tak teratur panjang dan jarang. Begitulah hitam jadi kelabu. kelabu jadi samar. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya.processtext. Pedih ini akan hilang. Tetapi bukan itu.html 5. dalam nanar. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. Dan. sebentar memusat sebentar menebar. ada sebuah titik. Bagai melayang. Lingkaran hitam yang berputar-putar. amat terang. Dan lalu. Dan gedung-gedung. matahari membelah. lingkaran hitam itu lalu menyatu. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. menjelma kerumun bulatan pijar. menggenang. Dan. yang semuanya kotor. lantas mengembang. siang memanggang meringkus dirinya. dinding-dinding kaca. Di sana. seperti bintang.. http://www. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas.. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Bukan hanya tameng. di puncak monumen. Tetapi takkan lama. Dan dari mata tuanya yang buram. seperti kemarin-kemarin.. jambang. semua terbentang. Begitulah terik. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. . Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. memang. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. dengan ganjil. Begitulah semua datang. kuning kelabu.

Apakah hanya matanya? Karena hari ini. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. pasokan senjata berdatangan. Dan Belanda pergi. Tetapi memang.orang dengan helm. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta... Lorong-lorong. sepatu boot. tajam pedih. Derek II. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. Si remaja ini. Di sana. Jepang menyerah. Titik putih. Masa berganti. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. menyandang tas di bahu kirinya. dadanya. lift ke atas ke bawah. Maka.” kata mereka. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. Derek (pos) I. bukan itu. Di atas papan itulah ia duduk. Memandang ke luar. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang. Atau mungkin membelah.. Seperti hamburan. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. dinding-dinding kaca.processtext. pun mengajaknya. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita.. berkacamata. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. dalam nanar. bagai melayang. lihat.. Bagai melayang. Pak Daud. lalu proklamasi. Orang itu masih muda.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan seperti mimpi. Kini tertahan. ada sebuah titik..html Begitulah semua datang. mulailah hari-hari itu. Atau menyibak.. ledakan dinamit. Dan wajah-wajah itu muncul. Mungkin lebih tampak seolah rebah. tidak. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. seperti angin menyapu ilalang. Monumen Nasional. ada banyak emas. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Akar-akar yang juga bagai bersembulan.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Berlompatan. Makin jelas.. Tampak amat sibuk.. semua terbentang. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka.. di atas kereta itulah ia.. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. Dan gedung-gedung.. tidak. Bengkulu. Berdebar. matahari membelah. menjelma kerumun bulatan pijar. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. langit goa yang runtuh. Menerobos hutan. tangga-tangga besi. Dan ah. berlalu lalang. http://www.. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. gema lori.com/abclit. Menyerang tambang. Dan lihatlah. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. Huah! Orang. di puncak Monas. ia . menghunjam mata. tidak.. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. Melayang. Begitu juga tambang emas di Lebong.. Ia akan bekerja di sebuah tambang. Membujuk. Maka. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. semua terbentang. Kata Pak Daud. Letusan? Belanda kembali datang. bagai mengambang.. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. Tetapi ya..

Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik.” mendehem lagi. Cuping hidung besar. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. Dibuat di Jepang.” Pak Jusuf inilah.. coba berdagang. Ia tak suka. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah.” ”Begini. Maaf. Dik Najir.. itu.. Tetapi. Tetapi. Jalan yang lebih baik. yang diangkat jadi juru tulis gudang. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah. Tatapan di balik kacamata. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini. cacat. dalam kepalanya? Tentu tidak.. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang.. ”Ma-maaf. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti. ”Dulu.com/abclit.. Untuk modal. .. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana. di tambang itu. ia mengalihkan pandang.. terasa ganjil. Agaknya ia harus terus-terang. Pak Jusuf berkata.. saya mengerti. kita berjuang. Lihatlah kini diri Dik Najir.. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi. Kacamata itu..processtext.. bagai melayang. ”Saya membutuhkannya. kembali ia palingkan muka. ”Saya paham. Kacamata itu. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. setelah Pak Daud meninggal. Tiba-tiba si pemuda menoleh. apa adanya.. Pak Jusuf. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam. seingatnya. Dari jauh ia datang karena yakin Nur. anak Pak Daud. yang ingin saya tahu yaa. tatapan itu. mendehem beberapa kali. Dik Najir.. Tatapan di balik kacamata. kenapa kini berbeda? Senyum itu. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. menatap ke arahnya. Tak enak ketahuan mengamati. emas yang kita sumbangkan dulu. ”Tapi. http://www.html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. ”Begitulah yang orang-orang dengar. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak.” Yang orang-orang dengar.Generated by ABC Amber LIT Converter.” senyum itu kembali. kini tersenyum. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang. emas Monas itu didatangkan dari Jepang.” Senyum itu masih. Refleks. Tetapi hei.” katanya. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant). ”saya punya usul. dulu merupakan sosok sederhana.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah.. Pak Jusuf.. Saya akan membantu. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. Saya tak mau. lalu berkata. emas itu tak usah dibagikan.processtext. Saya. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf. ”Emas itu memang ada pada saya. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. Dik Najir. melainkan disalurkan. mereka hanya meneruskan. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini.” . mengeluarkan dompet. seperti kecewa. Kaki saya putus bukan karena berperang. baiklah saya terangkan.” Diperbaikinya duduk. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu.. Sumbangkan saja.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas. begini.” ”Tidak. seperti mencari lagi posisi yang tepat. Jadi.” Ragu. Tapi karena dinamit itu. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas. Dik Najir tentu bertanya-tanya. ”Nah. langit goa yang runtuh. maaf. Kemudian katanya. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. disalurkan. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran. bagai mencari persetujuan. Lalu. Pak Jusuf mengeruk saku celananya.. Tak lebih. Dan karena jumlahnya sedikit.. kata mereka.” ”Tenang. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan.html Satu kaki tak ada. ia mengangguk. mendengus. mereka bilang ada yang digunakan.com/abclit.. http://www. tapi jumlahnya tak lagi sama.. Jemarinya merogoh. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. saya kemari hanya untuk hal itu. Itu gampang.” ”Ah tidak! Mana bisa. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya. ”Sebetulnya bukan dikembalikan. Dik Najir.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah.

Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah.html Satu rupiah? Ia ternganga..processtext. Ia terus meluncur.. yang siap menyambut koin. koin satu rupiah itu tak tersambut. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya.. Semua tak bergerak. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu. iseng. Wajah bulatnya tengadah. menatap ke arah koin. mata itu. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti. http://www. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda.. Ketika koin itu bergerak turun. Dan. si pemuda membalikkan tubuh. Diayunnya kaki. lapar. tapi kembali tertegun. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. Dengan hanya seribu. diam. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. Bahkan udara pun seperti mati. langkah si pemuda terhenti.. Mata di balik bingkai besar itu menganga. Betulkah? Betul. Sepertiku. tertahan bagai mengambang. dua puluh. tetapi koin 1. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. tak berkedip. Senyap.!” ”Triiingngng. nyaris menyentuh loteng.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. kaku tergantung. astaga. Tangannya yang terangkat. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas. taplak. tersentak. ketika itulah. sekilas tampak seperti mata kayu... Tapi ajaib. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut... semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. Pak Jusuf mengangguk. kursi. tidakkah berair bagai menangis? Pusing. Waktukah. Saat koin itu bergerak turun. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks. Mulutnya terbuka.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku tahu yang ia rasakan. Tetapi mendadak. diam. atau mungkin tiga puluh detik.!” Lelaki tua itu terkejut. tertahan bagai mengambang.. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya.com/abclit. kelihatan seperti patung. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut. yang berhenti? Dan Pak Jusuf.. teronggok di trotoar. Semua tak bergerak.. Lalu. semua kembali seperti biasa. gorden.. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung..000 rupiah itu kembali? . Meja. Sepuluh. Koin itu berhenti.

. Muak. berapa umur Bapak?” ”Oh. Ramadhan telah berlalu. Mencari kerja terus. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu.” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. ”Maaf..” Si pengemis seperti lega. Dan mata itu. ”Tujuh puluh tujuh. http://www. Tujuh puluh tujuh? Eh. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. asalan ia berkata. Karena itu. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. Minggu 28 Maret 1830. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah.. Tetapi ia telah di sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. .com/abclit. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. kau juga tahu. Memasukkan lamaran terus. hari itu. Jadi. Tiba-tiba ia merasa letih. di hadapan si pengemis. Dungu. tujuh puluh tujuh lidah emas.processtext. Edisi 11/06/2005 Ya..html Konyol.*** Payakumbuh. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. dalam lukisanku..

tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. Ya. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta. Pangeran harus kulukis tegak menantang. Namun di luar dugaan. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. Residen Kedu berwajah batu itu. Jadi. Raden Mas Joned. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. Karena itu. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. de Stuers. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. "Kalau mau Sultan .html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk.processtext. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir.Generated by ABC Amber LIT Converter. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. Lewat bisikan batin. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. ke langit sarat sriti. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas." desis Haji Ngisa. Dia tak ingin de Kock atau Valck. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. Hanya aku saja yang boleh sedih. terutama aku. Roest. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram. "Segalanya sudah diatur. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan.com/abclit. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. http://www. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. Dan orang-orang.

apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi.html Ngamid bisa menghilang. Ya. Nah. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan." . "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch." Ya. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. Namun. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. http://www. Pangeran." kata de Kock. Dan. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. saya tembak putra-putra Sampean. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean. Setelah itu. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. Jika ingin berkelahi. Tetapi. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga. Kalau berani menatap. "Jadi. Jenderal. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna.processtext. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid.com/abclit. hati Sampean bisa terbakar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang.

http://www. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. Ketahuilah.com/abclit." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. ketahuilah. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. Sekarang. Jenderal. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga. dia berseru.processtext. Saya siap dibunuh kapan pun. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. De Kock akan tinggal arang. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. urusan Haji Ngisa. Gusti. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. seperti Isa yang tersalib. membumbung menembus kabut. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. bukan urusan Sampean. sambil mendongakkan kepala. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. "Hei. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu. Mengapa tak Sampean lagi takjub. Kematian toh hanya kabut halus. Karena itu. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Tuan. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. Jadi. moksa ke langit. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. Dengan hati-hati pula. Urusan siapa? Urusan saya. silakan bunuh saya. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. kau tahu. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. Karena itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Sampean boleh khawatir." "Maaf. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. Sultan?" "Ya.com/abclit. Sampean tahu. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. http://www.processtext. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. > 0 Meski demikian. . Gandakusuma.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. Karena itu. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. berlebaran pada Jenderal de Kock. Ketakjuban. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat. Namun. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka. kita hanya akan bersilaturahmi. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah. ya. Sultan." "Allah tak menghendaki seperti itu. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. Sultan. wangi bunga kubur. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. sekali lagi." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma." "Jadi. Gandakusuma menyangkal. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan.

dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. Juga sayap dan kemegahan dunia. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan.html "Kita memang akan bersilaturahmi. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. Dia tahu sebentar lagi.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. Ya. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan. Nanti…. tetapi de Kock telah menjelma iblis. Gandakusuma. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya. http://www. Ayolah. namaku Saleh. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. Juga sayap dan segala yang dicinta. Sultan. mata yang kehilangan keperkasaan. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru. "Sudahlah.com/abclit. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. setelah pada pukul 08. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. Nanti kuberi kuda baru. . Digambarkan bersayap atau tak bersayap." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan sebagai iblis. O. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan.processtext.

Juli 2004. "Asal Usul Perang Jawa. die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro". 4. 5. 3. Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS.Generated by ABC Amber LIT Converter. Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro". Anak-anak Sultan Ngamid. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara.com/abclit. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey. nama Dipanegara dia berikan kepada putranya.html Semarang. http://www. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". "Historische Tableau.processtext. 2.

sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. agar Ibu mengerti. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih. bola mata tempat biasanya aku berteduh. Hatiku terbakar. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. "Ibu. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. Menuju jantung kota kecilku. Setelah aku bercerita panjang. sore kali ini menjadi lain. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain. Anak satu-satunya.Generated by ABC Amber LIT Converter." ucapku pelan. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Namun. Tak biasanya Ibu seperti itu. Semenjak usia lima tahun. Mencucuk sumsum dan tulang. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Sampai aku besar.olah saja ia sedang disengat kalajengking. Tetapi. Mulai sinis. Ah. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. Sebuah danau tenang. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya.html Sumber: Kompas. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. Angin menusuk gigil. Seperti kemarin juga. anak dendang itu juga manusia. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Namun. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi.processtext. Pukul dua belas tengah malam. http://www. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. hati-hati. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar.com/abclit. .

Tidak semua anak dendang seperti itu. Bersipongang.processtext. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang." "O." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku.com/abclit.html "Cobalah mengerti aku. semakin banyak aku berbicara. keluarganya. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari . Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). Ibu. Tidak ada yang menggoreskan cela. Menyisik bersama angin malam yang tajam. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. Percayalah. Ibu. Aku duduk di tepi trotoar. Aku telah selami pribadinya. dekat sebuah lampu taman. Sebatang rokok kuselai. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. Asapnya membaur dengan cuaca. Bahkan. Berbuai-buai. "Ya. Aku terpojok. Aku telah menyelaminya. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. http://www. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. Rabina itu perempuan yang baik.

Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. penjaga. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas. Bergema melantuni malam. Tetapi.html trotoar itu. Seolah berpitunang. Memukul. Ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter." jawabku tenang. dan penerus kesenian nenek moyang kita. Mengimbau. Tetapi. Dan suara itu. Aku ingin ke sana. Sayup. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. Di sanalah saluang tiap malam digelar. Mengapa mereka harus kita sisihkan. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh. Ingin menikmati rambut panjangnya." terangku lebih panjang. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala. jelas kutangkap dari gelagatnya. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. bulu matanya. Dan berulang. Akrab. Suara yang sudah teramat kukenal. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. bibirnya. .ulang datang. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. Namun. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Ingin melihat senyum Rabina. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya.processtext. "Mengertilah. http://www. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Ibu tetap tak sependapat denganku. Lirih.com/abclit. Pewaris. Lekat di kedua belah anak telingaku. Haruskah kita membunuhnya. berburu ke arahku. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan.pandangan sebelah mata?" Selalu. "Di samping berdendang. kita lecehkan dalam keseharian. Bergendang-gendang. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan. Kurasa Ibu tidak sepicik itu.

Sirompak Taeh 10). Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. Kemudian pada malam-malam berikutnya. bagaimana lagi. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. Memburu dan mengepungku. Karena setiap malam Rabina berdendang. Sawah Rawang 11). aku setia menungguinya. Ah. Hanya gambaran dari keberantakan. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Tidak jarang. http://www. Istirahat. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. Rabina. Ratok Bonjo 8). aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. sejak singgalang 13) didaki. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Tetapi. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya.com/abclit." ucapku lagi meyakinkan dirinya. "Aku mencintaimu. Dendang yang melirih. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Kadang aku merasa malu. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7). Meratapi malam. Tetapi. aku mulai mengikutinya berdendang. Di saat lain aku justru merasa bahagia. Tigo Giriak 12). Diam.processtext. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya.html Suara itu masih sangat jelas. Menatapku lama-lama.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nyaris tak mempunyai kelebihan.apa lagi. Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. "Mungkin kamu tak percaya. Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. aku harus membiayai keluargaku. Sebuah rumah kecil. Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. . Jam empat subuh saat itu. Sudah tidak bisa berbuat apa. Saat mula aku datang ke pagurawan. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Kadang terkesan merintih. Pariaman Panjang 9). Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. Aku tahu. tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. Ruang. Dan Rabina seolah tak percaya. Hidup memang keras bagi kami. "Ayah dan Ibuku sudah tua. aku telah mengatakan yang sesungguhnya. Dan lagi. biar sajalah. Lalu menunduk.

Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Memendung.com/abclit. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. Jatuh menimpa jemariku. Tetapi. Rasa cinta yang cemas. aku mengangguk juga. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu." katanya pelan. . pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. "Cobalah berpikir kembali." "Jangan berkata seperti itu. http://www. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Lembut. Sepenuh rasa cinta. Membenahi anak-anaknya yang berserakan. mencoba menatapku lagi. "Aku istirahat dulu ya. Rabina. Tetapi. Lalu aku mencium keningnya. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. Sudah hampir pagi. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. "Pulanglah.html Rabina mengangkat wajahnya. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. "Aku sayang kamu. Tak kuduga. Terima kasih sudah mengantarku pulang. Ukur timbang matang-matang. Namun. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Anak dendang. Wajah Rabina mengeruh. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. Aku mengusap rambutnya. pada waktu-waktu tersisa. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah. "Kamu berada di anjungan berukir megah.Generated by ABC Amber LIT Converter." Berat rasanya. Rabina!" Sejak saat itu. Bergulir. kami akan menikmatinya berdua. Tentang rindu. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang.processtext. Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Mencintaimu.

Biasanya dilakukan oleh perempuan. Aku menatapnya. Menyelai rokok lagi. Mendengar suara Rabina.processtext. Cahaya bintang berkilauan memendar bias. Ingin berteriak. Aku ingin mengatakan kepadanya. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). 8). Ke lapik gurau tempat Rabina berada. Membelenggu. 4) Pantun-pantun yang dilagukan. 11). "Aku mencintaimu. 5) Istilah.Generated by ABC Amber LIT Converter. awan-awan diam. . http://www. 10). 6). 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang. Menikmati saluang yang masih berkumandang. 9).com/abclit. Lalu aku berjalan. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Aku masih di trotoar itu. Rabina. Lama. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang.html "Pinanglah. kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. Di langit malam. Meninggalkan trotoar itu. Aku ingin memberontak. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung. Aku ingin ke sana. Aku mencintaimu!" Namun. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. tempat kesenian musik sedang digelar. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. Malam melilit.

Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra. fana. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. .com/abclit. ”Kamu ini psikolog. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang. bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). Di seberang sana. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. http://www. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak. kebiasaan serta irama keseharian mereka. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua.Generated by ABC Amber LIT Converter. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas.processtext.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. pendeta. Sebagai penulis. lembah dan gunung-gunung. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. Ini untuk melukiskan. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti.

. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual.. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi. Terasalah..” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. Terus terang. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ..processtext. Begitulah. aku lupa. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti.” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. Sang sahabat garuk-garuk kepala... http://www. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor.html ”Sudahlah. kamu jawab semua pertanyaanku. karena ini rumah wong edan. . Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu.” komentar istrinya.” tukas sang teman.. ”Masih cantik ya. Ketika hari pensiun tiba. ”Wah. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri. Pimpinan perusahaan. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. Kali ini aku mau. pekerjaanmu urban planner. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. Setelah itu sore tiba. bukan teknis. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung. Dia disuruh pidato..com/abclit.” sahutnya berseloroh. ”Kalau ingin menulis. waktu tidak seluas dibayangkannya. ya mustinya bangun pagi. ha-ha-ha.” tambahnya getas. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi.

sesekali merawat dengan memberinya pupuk. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi.. ”Ooh. dia seolah seperti landscaper.. Soal menulis. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan.” ujarnya dalam hati. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. dan semacamnya. Ia mulai bangun saat subuh. ”Benar juga. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman.html Dia cuma tertawa. http://www. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani.” Begitulah kehidupan pensiunan ini. Pertama berat. merapikan barang-barang. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman.com/abclit..” pikir sang istri. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan.. .. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. kalian tidak tahu. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Coba tanya beberapa teman.. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. gardening. Waktu saya ke sana. Dia menjadi petani.. sampai-sampai.” celoteh orang di kantor. Dia lebih tertarik pada tanaman. ”Mas Daru kini jadi petani lho. dan lain-lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. Katanya dia sampai diprotes tetangga. ”Kenapa bangun sepagi itu. space planning. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. memangkas dan merapikan daun-daun bambu.. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu. Pa?” tanyanya..processtext. sebelum matahari terbit. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi.. bersih-bersih. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling. lanscaping. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa.. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong.

Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali.. melihat kemajuan suaminya. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih.com/abclit. Dia baru menyadari..” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya.. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi.” Perkembangan berikutnya lagi. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kali. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. berada di ruang kerja menghadap komputer.. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. Hanya saja.processtext. . Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. http://www. kaget juga banyak orang). Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. selalu terjadi pada para pensiunan. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya. dari berbagai penjelasan dokter. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi. ia percaya.. Bukan hanya stretching.. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit.. Ia dilarikan ke rumah sakit. Sang istri percaya. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan.” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. ”Liong bun.. Ia merasa benar dengan feeling-nya. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga. Akan tetapi. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian.

Didekatinya suaminya dari belakang. http://www. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan. di balik cakrawala ada cakrawala. Itu Gunung Gede-Pangrango..Generated by ABC Amber LIT Converter.. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.com/abclit. Itu tadi ucapan suaminya. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam. ”Itu gunung apa Bib. dengan menggunakan nama panggilan suaminya. Ah. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Sang istri kian penasaran.. Sang suami diam.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.. Semua saudaranya tumbang di jalan... Wanita ini tersenyum. . Patman..” tanyanya. Di balik gunung ada gunung. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama.. bukan Gunung Indrakila. Ia ingin menguji memori suaminya. diiringi anjing kita.. ”Indrakila!” jawabnya. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango. Suaminya telah pulih kembali. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali.” suaminya melanjutkan kata-katanya.processtext. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka. Si istri kaget.

sebelum berucap.” Terhenyaklah sang istri. siap menulis lagi. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. Itu peristiwa puluhan tahun lalu. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik. Langit semburat merah.. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. 2005 . Mata sang istri menjadi berkaca-kaca.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita. di pinggir kolam. Ciawi Junction. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari.. Pagi benar-benar datang. Dia tahu. bukan Mertasari..html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri.com/abclit. tentang asal-usulnya. ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam.. ”Bibib telah benar-benar sehat. Dia peluk suaminya dari belakang.processtext. pertemuan mereka.. Si suami diam sesaat.” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya.

mengusir bayangan buruk itu. sembari bersiul-siul kecil. dan segera saling bisik. Ia memejam. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. . hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. sembari terus bersiul. Ia tak ingin kecewa lagi.siul ringan. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. keramas. Ramadhan kali ini. Setiap menjelang Ramadhan. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Saat ia berbaring di ranjang.. Ramadhan berlalu. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Bayangan kematian penuh darah. Langsung. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. memandang langit siang yang terang. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Melipat selimut.com/abclit. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini.processtext. Menyisir rambut dan memotong kuku. Menyemprotkan pewangi ruangan. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ia berdiri di ambang pintu. mengerut menatap laki-laki itu. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. ia bisa mencium bau amis darah itu. dan wangi. tapi ia masih saja hidup. Saat Ramadhan kemarin. Ah.html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. http://www. Atau erang kesakitan leher digorok. Merapikan pakaian..Generated by ABC Amber LIT Converter. ia berharap maut benar-benar akan datang. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. Dan tadi. rapi.

seperti kotak tempat menyimpan gitar. Kadang berbulan-bulan. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Parut luka seputar pundak. . Rutin yang ganjil. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Barangkali ia dukun. seperti lilin panas mencair. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan. Menjelang Ramadhan ia muncul. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Seperti selalu menghilang. menyapu. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Aneh. Sering. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. http://www. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Wajah. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. seperti bekas bacokan. tapi pergi ke kuburan.html Ia jarang berada di kamarnya. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. ia terlihat merokok siang hari. Para tetangga jadi gelisah.processtext.mayat itu meleleh. Beres-beres kamar. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Bila pulang. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Entahlah. Bergegas. Tato di lengan kanan. Tiap sore ia keluar. Berhari-hari. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. seperti mengawasi. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri.wajah yang membuatnya mengerang panjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sesekali. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Lihat saja tampang seramnya. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Kulit wajah mayat. memandang entah apa. Sebab. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Ia mengerang. Ini yang membuat kian penasaran. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Mengepungnya. Ia seperti tak mau dikenali. Mungkin ia rampok. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Menutup diri.com/abclit. Menenteng koper besar. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. mereka mendengis bengis. Mungkin intel. Memakai jaket kulit hitam. Misterius. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat.

Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Mati dengan tenang. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati.html Ia tergeragap bangun. ”Kamu punya bakat bagus. Lalu beberapa order ringan lainnya. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia pun suka menikmati saat. Lalu sepulang perang. Meski ia tahu. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Memang. tertib. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Paling mentok jadi sersan. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Ia terkapar. Ia akan tinggal di rumahnya. Kisah para raksasa penyantap manusia. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. sebagai seorang pembunuh bayaran. Mungkin. dan disiplin.” kata komandannya. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Seorang hakim. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak.processtext. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Kamu pantas jadi tentara. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. http://www. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Alangkah hebatnya jadi tentara. Dan ia membusung bangga. ia diberinya pekerjaan. kata teman-temannya.saat seperti itu. bisa memukuli orang sepuasnya.com/abclit. Membunuh seorang pengusaha. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Dan itu disukai komandannya. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Dikirim ke medan perang. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Di kampungnya. nanti bila sudah berhenti. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Tempat menyembunyikan diri. Orang. tak ada yang berani menghentikan. Umur tujuh tahun. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Percuma kalo cuma jadi tentara. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Menghabisi seorang wartawan. Benar kata komandannya. Sumpek bau comberan. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan.orang mengerubung. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. di bulan Ramadhan. Tapi membuatnya merasa aman. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk.

Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Biar tak banyak korban.” . Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar.” ajak Kiai Karnawi. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. http://www. Sorot matanya tenang. ”Kamu bisa membunuhku di sini. kenapa mobil perlahan berhenti. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Ia heran. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Sepotong. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Beberapa menderita sakit jiwa. Dan ia tersenyum. itu mobil mahal. Mencibir. Getir. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Sayang kan. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Ia tak terlalu menyimak. kamu mau membunuhku. Tanpa jejak. lalu mendorong mobil ke jurang. Bicaranya santun. Karena itulah. Beberapa mati dalam penjara. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu.com/abclit. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Tugasnya hanya membunuh. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian.processtext. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Kulitnya yang coklat resik. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Dan ia mulai mengawasi. ”Aku tahu. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Kamu cukup membunuhku. Rahang terkesan pipih. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Dan semoga saja. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Yogyakarta. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Lalu menggelar sajadah. yang pelan. Dengung jutaan serangga mengepung. ”Sekarang. Jangan sampai aku kesakitan ya. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang.processtext. lakukan tugasmu. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Ia bisa menembaknya. Enggak usah merepotkan sampeyan…. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Ia meraba belati. Ia merasa senja meremang. Alhamdulillah. Kemeresek daun jati jatuh. Kelebat bayang burung menyambar. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan.com/abclit. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Senyap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Amin. Ia mulai diusik gelisah.html Baru kali ini ia gemetar. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. ia hanya berdiri gamang. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. kecuali mati di bulan Ramadhan. Kalau boleh memilih. Singup. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Kematian di bulan Ramadhan. dan kini memburu kematiannya. Terdengar letusan. Tapi tolong. Gemetar tak yakin. Lengking gagak di kejauhan. Pelan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. http://www. Ia pun kemudian selalu berharap.

kalau pulang. bertahun-tahun. aku tidak tahu. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Entah berapa lama. Sejak itu. Sendiri aku kembali. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. aku tidak tahu. benjolan itu sering pindah-pindah. membuatku tidak betah. Kurasa benjolan itu mengganggu. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. Setelah pulang dari rumah sakit. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. justru itulah yang kukatakan kataku. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Suster. ternyata dibalut dengan perban. Sampai akhirnya. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. Dengan tersenyum ia menjawab. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Setelah sadar. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. di mana aku? tanyaku. Nah. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Ada rasa ngeri dalam diriku. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Kuraba kepalaku yang nyeri.processtext. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Bapak perlu istirahat banyak. aku selalu mencari teman untuk pulang. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. berakhir pukul satu siang.com/abclit. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. http://www. Ketika aku membuka mata. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. aku menjadi takut ke rumah sakit. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Jangan terlalu banyak bergerak.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. bukan karena sakit. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. kataku dalam hati. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Nyeri di kepala dan bagian . katanya. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. Seperti biasa. tetapi karena kalau tidur. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi.

sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia melayang jauh. . http://www. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. yang berbaring dekat jendela menyapaku. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. damai. Kami saling menyapa. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah.. tetapi tidak berhasil. Tadi malam.html kaki. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Tidak ada tulang yang patah.. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. Persis di pantat. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. kawan yang di sebelahku. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Ia menyapaku dengan lembut. dekat jendela pula. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. kalau boleh dengan menelan obat saja. Aku merintih-rintih. Sejak lama aku menghindari suntikan.processtext. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. tengah malam. Beberapa kali aku disuntik. Aku melihat cahaya yang indah. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain.com/abclit. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. muncul lagi. Oh. jarum itu menancap. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Ketika makan siang usai. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. hanya luka memar dan benturan di kepala. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. indahnya. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki.

tidak usah takut. Petang harinya aku membuka mata. Pak. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. kawan. oh. Bidadari-bidadari dari kayangan menari. Para pelayan yang sopan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. HB-nya sedang menurun. aku bertanya. Semua orang berpakaian yang indah-indah. sungguh menyejukkan hati. Tidur dekat jendela ini amat nyaman. http://www. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. mereka rindu bertemu dengan Anda. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Ia harus mendapat tambahan darah. Segala derita berlalu. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. seseorang menyapa aku.processtext. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. Berjalanlah bersama kami. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya. ayunannya yang menggoda. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja.. Dan belum lama berselang. .html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. Suster. persediaan yang tidak habis-habisnya. sebuah pesta yang meriah. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada suara menarik..com/abclit. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Semua tampan dan cantik jelita. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. nikmatnya. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. ketika Anda tertidur. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. Suster itu tersenyum. hidangan anggur merah yang meriah. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. Lentiknya tangan mereka. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami.

Maksud suster? tanyaku penasaran. Saya akan minta bantuan kawan yang lain. Baiklah. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. . Ah. katanya perlahan.processtext. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir. http://www.html Paginya. tidak apa-apa. jawab suster itu tenang. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah. Ya. Rupanya ia sedang terburu-buru. katanya sambil melangkah ke pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Pak. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. Ruang perjalanan akhir. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya.

Kurasa lebih lima belas menit kemudian. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Semula pada suatu sore dia datang. kapan aku kenal temanku yang satu ini. Suster berdatangan ke ruanganku. Kudorong daun jendela. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia . Ada apa. http://www. Edisi 10/02/2005 Aku lupa. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera.processtext. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. Setelah suster pergi. Bandung. aku dipindahkan ke ruang sebelah. disangga bantal... Buru-buru kutekan bel. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. di bangsal yang lain.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. tanpa mengenalkan diri. Pak? Suster. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. membukanya lebar-lebar. Namanya Roni.

Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang.” Saya terdiam bengong. jin. mobil. apa tidak dosa?” . atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.” katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. genderuwo atau jin. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. ”Ah yang benar!” sahutku. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul. genderuwo. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin.” jawabku. ”Anda sendiri gimana. sampai segala macam pesugihan.processtext. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. http://www.html gaib. paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. ”Betul kok Mas. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. Berprofesi makelar tuyul. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa.” ”Ah musyrik. Soal tuyul.

maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. Kami bingung mencarinya. Dia minta memerhatikan air. Harus dengan uang sebelumnya. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. ”Mau tahu siapa yang punya. http://www. Perempuan berambut ikal.” Beberapa hari kemudian. ”Lihat Mas. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian.” . ratusan ribu dengan ratusan ribu. Uang kami atur menurut nilainya. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan.html ”Ah ya tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Saya tidak melihat apa-apa. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. setiap uang di tas kerjaku hilang. ”Ah memang. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Nanti kalau mau saya ajari. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. mana untuk uang sekolah anak-anak.processtext. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. ada peristiwa aneh di rumahku. Nanti akan terlihat siapa orangnya.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang. Itu orangnya.” katanya. Istriku merengut. ”Betul kan Mas.com/abclit. Wong saya hanya perantara. detik itu pula raib di depan mata kami. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu. ada tuyul di sekitar sini.” jawabku. itu dia sedang menggendong tuyul. dan lain-lain.

” Benar-benar gila orang ini. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. Mana mungkin.” ujarnya.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. . dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup. Pandansimping. pikirku.” Bulu kudukku meremang.” katanya. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. ”Bisa lho Mas. http://www. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. pikirku. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. atau di Desa Tempuran. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan.processtext. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Cerpenmu bagus Mas. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S.

Tapi… senyum itu… ya Allah. ”Kalau mau ke kota.” jawabnya lirih. agak di luar kota. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. telah membuatku tidak bisa . Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan.com/abclit. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. http://www.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa. pikirku. saya boncengkan. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan. Pulangnya sehabis magrib. terasa bulu kudukku meremang. ini pasti perbuatan iseng si Roni. Ah. ini saya beri tahu ritualnya.” sapaku. supaya kerap mengirimi saya makanan. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul.processtext. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. menjelang melintasi jembatan. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku. rapal. ”Monggo Pak. pikirku.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.” ”Tidak kok Nak Mas. senyuman seperti orang menahan sakit itu. ”Lha. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. Ya Allah.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. Nak. Hingga pada suatu sore. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran.

.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat.) Klaten 2004 . Ternyata tidak mudah. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau.” jawabku seingatnya. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga.. http://www..com/abclit. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Dia tertegun beberapa saat. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh. Setelah bertanya kesana-kemari. alis tebal. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.html tidur semalaman. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. Seorang lelaki paruh baya. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras.processtext. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik.

. Engkau akan mengajar lagi nanti. tidak tidur malam. dsb. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Kau senang dapat mengajar lagi. jauh.com/abclit. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik.. memeluk. Kosong. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. seperti puasa.processtext. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari. http://www. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. kian lesi. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang. Matanya terus menerawang ke cakrawala. . Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. Kau akan dimasukkan kerja. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. namun kakak bergeming. Lurus. ”Elok-elok di sana. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai.Generated by ABC Amber LIT Converter.” pesan ibu. ”Paman dan bibi akan menjagamu. Wajahnya tambah putih. serta menarik-narik tangannya. Kakak tak hirau. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. berlari mendekati. Hanya memandang. bukan?” Kakak diam saja. Nak.

Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah. Begitu. Lambat. ”Tapi kakak diam saja. Bukan kepala stasiun. ai. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. ”Kakak sedang malas bicara.com/abclit. Salamilah paman dan bibimu.” ujar ibu. http://www. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA. Mariani. ”Payah hubungan pos sekarang. namun ayah tetap tidak dapat dicari. Nak. bertangisan. padahal hanya masinis kereta api. Sejak dia tidak jadi mengajar.” jawab Kak Lela.” . ”Seperti tak mendengar.” ”Kakak mendengar. paman dan bibimu tiba. harum dan bagus sekali rambutmu.” ”Malas bicara. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. Ikal. Sampai kini. Sedang kami hanya bisa memandang.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Tetapi ibu terus bicara. Itu. Membawa ayah. Sudah lama kakak serupa patung hidup. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Seolah-olah beliau orang penting. ”Ajaklah terus berkata-kata. Ah.” Kakak tetap tidak beringsut. tetapi ayah tidak terjangkau. ”Dia sayang sekali kepada kalian.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. Legam.processtext.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. ”Ai.” kata adik-adik. menyeru namanya. izin dulu ke komandan.

sama besar denganku. ”Paham aku itu. berteriak-teriak. ”Disuapi engkau Mariani. Kuburu anak-anak itu. anak rancak? Eh.processtext.” . ”Tapi mau dia makan. Kak?” ”Mau. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah. Sudah kering sekarang.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. aku melesat ke luar rumah.” ”Terlalu! Tengoklah. berdarah-darah.” kubilang. Kak. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat.com/abclit. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. Dia melengking. Berlubang-lubang.” istri paman menambahkan. Disuapi.html ”Jalan pun buruk.” balas ibu mengangguk. lalu menoleh kepada kakak. ”Tapi tidak dalam. http://www. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. Ada empat orang.Generated by ABC Amber LIT Converter. lihatlah. ”Anak-anak nakal itu. ”Mereka lempar kakakku dengan batu.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak.” sahut ibu. Yang lain siap-siap menyergap. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap. ”Begitu keadaannya. Ibu-ibu menceracau.

Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Tumpahkan terus.” jawab ibu. ”Rumah ini bagaimana. Tapi yang muda-muda menolak. ”Lepaskan. Sebuah bendi lewat di muka rumah. Jafar. ”Bagaimana aku bisa pindah. Kepalaku nanar. sebagai biasa’.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. Mariani? Nanti mengaji.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. ya. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kuping mendenging.com/abclit. Pamanmu juga. Paman kembali melihat ibu. ingin bersih-lingkungan.” dia bilang. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat. Seorang lelaki membelalak garang di depanku. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi. http://www. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat. Membelai-belai rambut dekat luka. kubalas berteriak.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang.” Tidak berjawab. penumpangnya tak menengok. Mengajilah saat maulud. Sengaja buya tua itu kemari. Nak. Hampir terjengkang. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum.processtext. Katanya.” ”Jual. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak.” . mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. Kakak terisak. Bahunya bergerak-gerak. ”Masih rajin engkau mengaji. bagai rembesan pada panci rusak. ia bilang.

selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Juga karena status ayah. sewaktu pulang. Polos. sudah tiga bulan ia mengajar.com/abclit. ”Ambil bantal. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap. Orang-orang tetap lewat di muka rumah. menanti pengangkatan. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela. Kak Lela berdoa. memandang paman serta bibi penuh harap. http://www. ”Belum juga ia berubah. Karena status ayah. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas.” lanjut bibi. Juga siang. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman. menatap kejauhan tak berbatas. Jafar.” balas ibu. Padahal. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. Lalu. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. ”Tenanglah Kakak.” kata ibu.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. Menyulut rokok. diputus tunangan. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Tetapi. Bagaimana . Diselimuti. Dia luruskan kakinya. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Berangkat gembira di pagi hari.processtext. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam. ”Sudah ke mana-mana kuobati. aku. Melihat pula ke luar. meski tak diucapkan. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Lagi pula. Paling tidak. banyak. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih.Generated by ABC Amber LIT Converter. tahu keberadaannya. Jafar. ditolak jadi guru. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. tak menengok. Bersih. ”Tidur. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. bila aku pindah. Atau diajaknya adik-adik. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari.” ulang Paman Jafar. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam.html ”Ei. serupa badai. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah.” Berbisik pula pada adik-adik. Sesekali kubawa pula ke sekolah.

Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. Dia kawanku. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. Anak Ampek Angkek. ”Kubawa Mariani sekalian.com/abclit. seperti ayah. Tapi. ”Rencanaku besok kembali. Putih. putri sulung. tak bergerak-gerak seperti bayi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kak. Di Pakanbaru juga kacau keadaan. atau kami yang kehilangan mereka.html keadaannya. Juga lalu di muka rumah. kakak dibawa paman dan istrinya. Mestinya ayah juga. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Dik.” ucap Paman Jafar. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. Dekat kami. ”Syukur ada kakak kalian. Kakak telah pergi. Kulitnya bersih. ”Komandanku tahu.” Ibu mengangguk-angguk. kalau cukup biaya.” Kakak terus tidur di beranda. Napasnya lunak. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami. *** . tak mungkin tidak. Tetapi.” Ayah tertawa suatu ketika. ya?” Kami mengangguk. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. http://www. Bila mati di mana berkubur…. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. Tugasku menunggu.” ujarnya kemudian. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. Ayah bangga dengannya. Kami juga. kalau laki-laki itu pulang suatu hari.processtext. tapi tangannya campin pula. Termasuk jalan hidup anak manusia. ”Kakek-nenek kalian guru. terampil-cekatan menangani rumah. Besoknya. ”Terpikir olehku. Barangkali karena perempuan. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya. Tetapi malah juru-api kereta api. berharap kakak jadi guru tamat SGA.” Ibu bernapas lega. Ibu menangis. kakak. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami.

di sebelah gudang. Sempit. . Emak. Di rapat persiapan perkawinanku.com/abclit. diam. Di rumah kami. setiap kali Pa bersuara. Ma. Kalau mengikuti urutan keluarga. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. Emak mau. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. ibunya sakit-sakitan. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. Cik Giok menempati kamar belakang. Separuh dindingnya dari tembok. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. Pa bilang. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting.processtext. bisu. di Pontianak. Hidup mereka susah. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. kamar itu amat sangat sederhana. http://www. lalu di pelabuhan. mengalahkan aku. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. Karena kata Pa. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. Supaya anak dan ibu selamat. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. dekat dapur.html Jakarta. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. aku mengikut saja. Malah sejak aku belum lahir. orangtua Cik Giok kurang mampu. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. waktu itu. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. Aku ditariknya keluar. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak.processtext. Kalau sudah begitu. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. Terutama siang hari. bilang pada Emak. Tidak apa-apa. berusaha mengeluarkan senyum. Supaya di hari Minggu. Jadi Cik . yang kebetulan tidak tidur siang. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. Sudah dekat ujian.. sebelum Emak bangun. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. Aku kelas enam. Ma bilang. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. saat bisa sedikit bersantai di kamar.com/abclit. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. aku masuk kamarnya. Memeluk bantalnya yang tipis. Katanya. menemuinya. Sebulan. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. Malam itu aku tak bisa tidur. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Katanya. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. dibuatkan baju. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. ketika pulang sekolah. Cik Giok menangis seharian. Emak. Hingga seminggu lalu. tahu. aku bayi yang cengeng. Lewat. membereskan rumah. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. Sore hari. menggosok. Satu kuartal. mengapa Sabtu. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. katanya. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. memanggil. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. kudapati kamar itu sudah kosong. aku mengantuk. Esok harinya.. Pulang sekolah. ibunya Cik Giok sakit keras.. Cik Giok harus dipanggil. dan mengurusi segala keperluan Emak). Enam bulan. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Tetapi aku diam saja. katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Juga beberapa malam setelah itu. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. mencuci. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. hingga aku terlelap. Sering di tengah cerita. berdebu. Itu hari yang paling tepat. Tiba-tiba aku menangis.html Aku pernah bertanya. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. bahwa ia bohong. mengajakku merasakan kesejukan di sana. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. Sehari sebelumnya. http://www. Lewat seminggu.

Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. Bubur encer dengan tung cai. Persis seperti dulu. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. kata Cik Giok. atas perintah Ma. yang tak beranjak dari meja makan. aku bertanya pada Ma. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Ma kelihatan kurang senang. Keras. Ma menanyakan kabar Cik Giok. kelihatan sedih. Ia akan tinggal terus bersama kita. Aku sudah berdiri. Menghabiskan bubur di mangkukku. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Menyiapkan sarapan untuk Emak. Ia kutarik masuk. Cik Giok sudah sibuk di dapur. Cik. . Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur. Mau kawin kamu.html Giok akan datang. Kami berpelukan erat. http://www. Ma. Tenggorokanku kering. Dan Cik Giok benar-benar datang. mendengus. Tetapi melihat wajah Emak. Aku berlari menyambutnya. Ubannya sudah banyak sekali.Generated by ABC Amber LIT Converter. memberi hormat pada Emak. Kurebut tas kain dari tangannya. kataku. Di ruang tamu. Aku bilang. Sudah. selamat. aku putuskan kembali duduk. mau mengajak Cik Giok. Wajahnya lebih tirus sekarang. dan aku. Kami menyantapnya dengan lahap. Tidak. katanya. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. Pagi-pagi. Cik Giok menangkupkan tangannya. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. siap menyusulnya.processtext. Matanya. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. Baik. aku harus mengepas baju pengantin. Emak. dengan dahi berkerut. Siangnya. Semua baik. kata Ma. ia kembali ke rumah ini lagi. Makan. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Pa. Aku mengikutinya dari belakang. suwiran ikan asin bakar.com/abclit. Semua dari kampung. Aku menyeringai saja. Setelah empat belas tahun pergi.

setiap calon pengantin selalu begitu. Mataku berat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada apa? Ia bertanya. Cik Giok tampak bingung. Tidak bisa tidur. Mungkin. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Terkejut dia melihatku. Sama persis dengan Ma. perutku terasa sangat penuh. Menuju pulang. Ma menjelaskan. Itu karena terlalu senang. kataku. Kami berjalan beriring.html Ayo ikut. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Ma mencubit lenganku. Tubuhku lelah. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. Ma menggeret Cik Giok keluar. Aku keluar kamar. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. mencari makanan di dapur. Meski masih agak longgar di pinggang. Cik. Cik? . Aku berputar-putar di depan cermin. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Dia belum tidur. Katanya lagi. tak tersenyum. Tulis surat buat siapa. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. Cik Giok tetap diam. http://www. Aku hanya mengangkat bahu. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. menuju jalan besar. kata Ma. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. Baju sudah hampir selesai. Ma bilang itu biasa. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. hanya beda warna. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Ia membereskan kertas suratnya.com/abclit. Tak berkomentar. Sakit. Cik. Sedikit lebih gelap. Mencari bajaj. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan.processtext.

Terlambat. Aku berlari ke kamar tidurnya. Menguncinya dari dalam. aku masuk kamar. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Mereka khawatir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia cuma bilang. Aku melompat. Temani Pa. Emak. Ketika aku tiba. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Ma minta aku pulang. Aku sudah tua. Nanti.processtext. Di tangannya ada kursi plastik. Aku tak ingin pergi. Pa tiba-tiba menghilang. Meninggalkanku. Aku tertidur. Dicari Emak. Wajahnya tegang. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Dia akan segera kembali menjelang pesta. Ma ikut bersungut-sungut.html Keluarga di kampung. Cik Giok sudah pergi. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Kuku menyuruhnya masuk. . Pa. Malas. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Cik Giok sudah pergi. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Kau harus berangkat ke Pontianak. Nanti semua akan jelas. Entah untuk berapa lama. Malamnya. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. tetapi Kuku menahanku. Emak menangis. katanya. Cik Giok kena stroke. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Cepat bangun. Entah dari mana. nanti aku akan mengerti. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Urus Emak. Dengan suara keras. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Sehat dan selamat.com/abclit. Katanya. Ketika aku kembali ke ruang tamu. Penting. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. kata Ma. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. http://www. Aku bersiap menyusul Cik Giok. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. sudah lama tidak jalan jauh. Tetapi suami malah mendesak. Terserah apa kata Ma. Kosong. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. dua belas hari lagi. Ma. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. menuju kamar mandi. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. katanya. katanya.

Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. besar. Perutku mulas. Di rumah duka. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. Dengan muka basah. . Beri hormat pada Mamamu. Maafkan aku. Erat.Generated by ABC Amber LIT Converter. menyeka matanya. Kakak perempuan Cik Giok. menggilas. Ia memelukku. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. kakak Cik Giok mencium pipiku. hingga aku sulit bernapas. Aku menangis. ia berbisik. genta-genta kecil bertalu-talu. memelukku. saling menindih. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. menjerit sambil berebut mendekati aku.com/abclit. Pa. Semua yang ada di sana menangis. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Cik Giok tak menunggu aku tiba. http://www. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. yang wajahnya amat mirip dengannya. katanya berulang-ulang. Rawamangun. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. mendorong. diam-diam. menjemput kami. Pa menangis lebih keras lagi. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat.processtext. membuang muka.

http://www. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. dari hari ke hari. pengarang. Pembunuh yang tak pernah gagal. di Nanggroe Aceh Darussalam. Menjarah perhatian. bermunculan di sana mengusung misi mulia. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. Apakah negarawan. secepat pesawat B747. Said Huseini. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. Ya Allah. penyair. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. di Nanggroe Aceh Darussalam. dan jasad manusia. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. atau Pengisi Neraka. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. Banyak yang bisa dituai di sana. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. Itulah yang terjadi pada Minggu. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka.processtext. Dan: Menjarah! Menjarah harta. di dasar kerak samudra. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia. Ketika surut. Menjarah popularitas. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. politikus. meraup uang selawat. penganjur kebaikan. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. Pencapaian yang luar biasa.000 jiwa melayang. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. pengusaha. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. kendaraan roda empat. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. kataku dengan titik air mata. Gelombang yang berlabuh. . gelombang itu menyemai ratapan. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga.com/abclit. Gelombang itu bernama tsunami. 26 Desember 2004. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. Hampir 300. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. di negeri yang aku cintai ini. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. dari waktu ke waktu.

aku kembali ke hotel berjalan kaki. Mak menunggu berhari-hari di pantai.com/abclit. di Kajhu. seorang lelaki berdiri dari sofa. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. kurasa sulit datang ke Banda Aceh.” ”Abang tak suka laut. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera. Kami menuju tempat berangin-angin. Aku suka deburan ombak. Terkadang aku melempar pancing dari sini. tiga potong pisang goreng. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Secangkir kopi. Tali ayunan menjuntai di kaso. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. menggendong anak perempuan berkepang dua. Setelah itu. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Tak ada hiasan di dinding. kecuali ayunan rotan tersangkut. Aku selalu bertanya kepada-Mu. bila pasang. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. Berjalan di atas dua keping papan.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. Kami masuk ke ruang tamu. Merbah terbang di ujung ranting. mencari buah pohon seri yang ranum. Angin berembus membawa sejuk pagi. Seperti menuju masjid.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Istrinya masih muda. Inilah sarapan pagi di luar hotel. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. Kunjungan singkat di Banda Aceh. ”Aku suka laut. menyongsong kedatanganku. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. Kami diajak ke belakang rumah. Di lobi. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. Gelombangnya menelan perahu Ayah.processtext. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. Celah daun tersibak. Aku duduk di halaman kedai kopi. . ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. subuh tadi. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. memakai pita. Aceh Besar.

malam pertama engkau menginap di sini. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur. Di rumah istrimu sekarang. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai. http://www. bagiku.com/abclit. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur. Malam ini.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa.” ”Aku tidak terganggu.processtext. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu.” teriak seseorang.” ”Aku sangat terganggu. meletakkan tubuhnya yang lelah. Engkau pernah dengar. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu. Kami melihat dia. Mau rasanya aku mengambil kapas. Dalam kampung terapung.” .html Ayah tak pernah pulang. ”Aku heran. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. Tak ada sunyi di sini.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. juga melihat laut di belakangnya. menyumbat telinga ini. orang dilahirkan di perahu. Dia berdiri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di rumah kekasihmu. dibesarkan di perahu.

”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi.processtext. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan. sebentar lagi layar akan ditutup.Generated by ABC Amber LIT Converter. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. ”Tinggal enam hari lagi. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Ayah gembira dan puas. Dia alihkan perhatian ke buku itu. Mungkin dia ingin melihat laut. Hanya tinggal beberapa hari lagi. ”Tapi mungkin. Desember akan digantikan Januari. ’Apa maksudnya. dia meneruskan ocehannya. Sekarang sudah pukul 01:45. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. Angin masuk membawa bau garam. jauh dari deburan itu. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. tidak. Dan aku tertawa. Buru-buru daun jendela dia tutup. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu.” Dia senyum. http://www. ”Kalau adat membolehkan. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya. Pengarang itu makan dengan lahap. Mala. 2004 akan digantikan 2005. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. Mak menjelaskannya. Dia berdiri dari tempat tidur. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan.” . Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. Dan. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. ’Gulai pakis dan santan durian. Dia pergi ke jendela. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. Malahayati. atau mungkin pada judulnya. Akan muncul lakon baru penghias dinding. ”tahun adalah lakon. Minggu. Kata Mak. Mak ?’ tanyaku.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari.” Dia menoleh kepada istrinya.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. kecuali kegelapan. ”Sampah Bulan Desember.” katanya ditujukan kepada si istri.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. kata Ayah.” Tak ada jawaban. ”Engkau sudah tidur rupanya. Orang Jakarta. ”Semisal pementasan. ”Sampah Bulan Desember. itulah istimewanya Desember. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu.” ”Maksudku. saat Pak Pos mengantar sebuah paket. 26 Desember 2004. Mak menggendongku.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya.com/abclit. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya. Berarti ini sudah Minggu.

Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. jam berdentang dua kali. kekasihnya itu. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti. Dia beranjak ke dekat pintu. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. http://www. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. membuka pintu. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Melihat semua itu. Dia tidak ingin mengganggunya. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Ayu mengikutinya.processtext. Kamar pengantin itu menjadi gelap. Malam-malam lain masih ada. Di dinding ruang tengah. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. masih juga dia tersenyum.com/abclit. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. Ditekannya alat pemadam lampu. Barangkali dia berpikir seperti itu. Sehari penuh menyambut tamu. Rita menyerahkan ongkos. Masih panjang kehidupan bersamanya. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Apalagi malam ini. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Kedua . tetapi gerak itu tidak berlanjut. beranjak turun.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

http://www. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba.” kata Ayu.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo.html marah. Firda menyibak vitrage. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta. kalau cerai sulit cari suami lagi. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega.processtext. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Rita dan Ayu berpelukan. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai.” . Nggak suka ya. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. berdebur-debur keras. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun.com/abclit. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. maafkan kata-kataku tadi. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. ”Mama. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua. punya tiga anak. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya.” jawabnya datar. he…he…he. Di dalam taksi. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. ”Suka juga. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun.

Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan. http://www. Firda?” Firda tidak segera menjawab. Memeluknya dari belakang.Generated by ABC Amber LIT Converter. .” ”Tapi kata orang hotel. Dan Ferdi ternyata merasakannya. Perasaannya lembut berdesir..” Senyum Ferdi memudar. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. ”. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.” Firda terdiam sesaat. kan?” Ferdi tersenyum lebar. Di luar penglihatan Ferdi.” ”Aku serius...com/abclit.. ”Ada apa.” ”So what ?” ”.. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur.processtext. kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu.. ”Kamu bosan ya.html ”Ya. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng.” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu..

Tetangga dekat. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci. nyaris tak terdengar. Tapi sudah lama kenal. melepaskan pelukan pada pinggang Firda.Generated by ABC Amber LIT Converter. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah.?” ”. Guru yang beruntung.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.com/abclit..html ”Jadi kenapa.. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran..” ”Oh.” Firda terdiam. berlalu begitu saja tanpa perhatian.. Bulan depan aku mau nikah.. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian.” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.” bisiknya dalam hati. berikut bursa saham yang terguncang. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. . yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam.” Tangan Ferdi perlahan merenggang.. http://www.processtext.

http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci.” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita.processtext.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja... akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi.. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu.600 cc berhenti di tempat gelap. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut.. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.” . ”Maafin aku. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang.. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula.. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam. ya.” Ferdi terdiam.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji.. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah.

Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. buru-buru membuka laci dashboard.. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya.. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh. http://www. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka.” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda.. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati.” Firda menjawab dengan pelukan erat. saling melambaikan tangan. Sampai kemudian keduanya berpisah. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan. biaya katering.” ”Nggak usah. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa. Cetak undangan. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit..html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. berbelok memasuki gang... dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil.com/abclit.. ”Tolong kamu terima.processtext.” Firda terdiam.. sewa gedung. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh. .

. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. komputer.” ”Ah. tapi lebih seringnya di Bandung.” ”Namanya juga kerja di restoran. ”Malam sekali.Generated by ABC Amber LIT Converter. pulangnya antara jam dua belas jam satu.” si bibi menimpali. bahasa Inggris. katanya.com/abclit. Restoran di hotel berbintang lagi. Kadang di Jakarta.processtext.” ”Yang penting gajinya lumayan. Tapi uang lemburnya tinggi.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya. kepribadian. http://www. belum. ya. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. Bulan lalu malah di . Karyawati biasa. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya.” kata ibu Firda.” jawab ibu Firda. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore. belanja-belanja. sampai harus ke Bandung segala. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus. yang bukanya dua puluh empat jam.. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. ”Bukan lumayan lagi.” ”Berat juga ya. Manajemen..” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain.” ”Berat sekali juga enggak. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. Jadi masih ada waktu buat rekreasi.

tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu. ya. Alloh. cucunya eyang Feldi... tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu. Ia pun bangkit hendak keluar kamar. ”Ada apa. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai. dateng ke lumahku. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. Aku kan ulang tahun. Eyang nggak mungkin lupa.html Bali sampai seminggu. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum.” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya.’..” ”Oh. Pasti. Jam dinding menunjuk setengah tujuh. ”Ini siapa. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga. sayang?” ”Ental siang jangan lupa. sih.com/abclit. ya.” .. http://www.” Ferdi tertawa. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami. ’Ya.

.” Ferdi menutup gagang telepon. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini.. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.” ”Eh. ”Minta sendiri gih sama Papa..” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh..html ”Dah. eyaaang.” . seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. ”Hai. ”Icha.processtext.” ”Anak sekarang.!” katanya dalam hati. Senyumnya seketika memudar.. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar.” ”Ya. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum.com/abclit. ”Hampir lupa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab. http://www.” ”Dadaah.

kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm. Tergantung papa dong.html Ferdi bertanya-tanya. kado perkawinan. Pa..” ”Kamu suka..com/abclit. sih?” ”Mmm.processtext. http://www. Papa jangan ngasih aku mobil juga.?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah.. ”Rumah. Maksudku. Pa. Sudah papa siapin.” ”Kado kok minta.Generated by ABC Amber LIT Converter. mau ngasih apa..” Setelah berpikir beberapa saat.” Ferdi tertegun. rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” .. ”Mau minta apa. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya. ”Tenang aja. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa..” ”Ah yang bener. kan.. rumah.” ”Terus.” ”Soalnya gini.

Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu.?” Jakarta..” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada.html ”Sudah. apa sih yang nggak papa kasih.processtext. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali.” Astrid sesaat terkesima. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri. ”Kok pakai balik nama segala.com/abclit. Edisi 08/14/2005 .. ”Thanks.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas. http://www.” Astrid heran.

Mansur meninggal karena bunuh diri. Matanya sembab. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. Sesekali ia menyeka air mata. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. Di sebelahnya. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan.com/abclit. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Memasuki usia 17. begitu mendengar kabar duka itu. ayahnya. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. . Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Mahmud. kata Mansur kepada ibunya. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Mahfud. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. juga membacakan Surat Yasin. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris.processtext. Mona. meninggal dunia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. anaknya. menolak cintanya. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Suka bermain sepak bola. Suaranya patah-patah. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. ia adalah anak yang lincah. Sesekali air matanya meleleh. Mansur adalah anak yang sangat sehat. kakak Mansur. Karena itu. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Tatapan matanya kosong. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. http://www. Meskipun badannya gemuk. Pada usia 16 dua tahun lalu. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. suaminya. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Dua petugas kepolisian baru saja pulang.

Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Mansur kemudian jadi langganan. Amat merindukan ibunya. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. suaminya. Karena itu. Duka mendalam menderanya.html Mengikuti nasihat ibunya. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Kata Mahmud. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Empat malam sebelumnya. arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Tetapi. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. Sesampainya di rumah. Lima malam sebelum kematian Mansur. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. http://www.com/abclit. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap. panas dinginnya tak kunjung hilang. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Dengan alasan tubuhnya masih lemah. Mansur ingin segera dibawa pulang. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. Tetapi. Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Tiba-tiba ia menangis lagi. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius.processtext. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. Ny Laila membesuk putranya. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Selain luka di usus yang kembali kumat. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. Yang terakhir. ia tak lagi berani membesuk putranya. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. ia berhenti karena tak tahan godaan. ternyata. kata dokter. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. baru berjalan satu bulan. hasilnya sangat manjur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi. ia mengalami komplikasi. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . Karena itu. Juga kemarin. ginjalnya juga terganggu. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. sebelum itu. Dan menginap di rumah sakit. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Dan.

Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Apa pun penyebab kematiannya. Bang Mansur. Ocha. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. Ia tersenyum getir. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering.processtext.com/abclit. Memangnya kenapa. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. putriku. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. dengan tulus kuucapkan pula doa. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. ”Bang Acung? Bukan. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Matanya tampak lelah dan marah. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Sebelum pulang.” kataku. Tatapannya kosong. ”Habis melayat. Tak ada senyum. gitu. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. Bang Acung itu Bang Mansur. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. Tetapi. Suaranya serak. ia tampak damai.Generated by ABC Amber LIT Converter.” istriku menimpali sambil lewat. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Air matanya meleleh. http://www. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. Sebagai tetangga.html memaafkan segala kesalahan anaknya. Yah. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. .” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. ”Iya. ”O.

Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri. Suaranya datang dari samping kamarnya. kalau mau sembuh dari penyakitnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. http://www. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Kepalanya dua. Bang Acung itu bukan bunuh diri. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. Juli 2005 . ia melihat seekor cecak. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah.html ”Yah.” gadisku bersila di hadapanku. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. Yah. Katanya. Dia jatuh. Yah. Kata suara itu. menyambar cecak itu untuk dimakan. Yah. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. cerita putriku selanjutnya.” jawabnya. Tanah Kusir. Yah. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum.Generated by ABC Amber LIT Converter. orang-orang enggak tahu sih.com/abclit. Orang-orang tidak pada tahu sih. Yah. Yah. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha.processtext.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. ”Jadi begitu ceritanya. Jadi.” Aku agak tertegun. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Bang Acung. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Tetapi. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur.

”Iyya. tinggi besar. Pipi kirinya. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. kurang nyaman.com/abclit. sedikit parau. Berkumis tebal. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. matanya memerah. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah. Sangar sekali kesannya. ada bekas luka sepanjang telunjuk. Suatu sore.processtext. Saya amati tamu ini hati-hati. seorang tak dikenal mendatangi saya.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. tanpa ada senyum. setelah melewati pekarangan kecil dan teras.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Ketika pintu dibuka. Dari mulutnya tercium bau alkohol. ”Baru pindah. Kancing baju bagian atasnya ternganga. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. Tubuhnya padat. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah. Kulit hitam. ya!” terdengar suaranya berat. Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya.

Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. Saya merasa. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. ”Iyyya. saling berhadapan. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. iya. untuk pertanyaan yang sama. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. masukkan dalam amplop uang Rp 10.000. ”Ada berapa. ”Mulai besok pagi. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar. Jangan lupa. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab.com/abclit. Saya kaget. Mau?” Setelah itu.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. ada sesuatu yang ganjil. . Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi. Kami masih berdiri di teras. Rautnya bengis. Kalau tidak. Bang…. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. Saya menarik napas. Pisau dapur biasa.processtext. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. http://www. saya. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar. ”Ada dua. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain….Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. Saya takut. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama.

di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. Bang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. badan sedikit dibungkukkan. ”Lagi kurang sehat. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. Saya dan istri terkejut. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar. Si sangar itu pasti. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam. Bang. Kemudian.com/abclit. Gedoran pintu terdengar makin kasar. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. Saya mencoba menenangkannya. Nekat!” Memelas suara istri saya. pergi begitu saja. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Salah-salah. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini.html ”Saya bersedia.processtext. tidak takut mati. ”Maaf. memang si sangar adanya. saya bertanya.” ”Suruh dia keluar! . Tiduran. ada yang terlupa?” ”Istrimu. Ketika pintu saya buka. ”Kita pindah saja. Pucat membias di wajahnya. Tampaknya. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi. http://www.

Pintu pagar dibukanya. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. Setelah itu. saya masuk menemui istri di kamar. amplop ke kantong celananya yang besar. Jangan-jangan itu semua pisau .” Si sangar tertawa terbahak-bahak. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. Akhirnya si sangar datang.com/abclit. Akhirnya dengan menguatkan diri.” katanya di sela sisa tawanya. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. ”Istrimu cantik. http://www. Saya menunggu. istri saya mencoba tersenyum. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Di hadapan si sangar. ”Cantik…. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar. pintu saya tutup.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebelum jauh melangkah dari pagar. ia terlihat cengengesan. Tangan istri saya terasa dingin. membuat saya tergagap. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar.html ”Tapi. ha-ha-ha…. ”Ini istri saya.processtext. Saya amati. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. Bang…. Pisau dimasukkannya ke dalam karung. si sangar menoleh dan berkata. Dengan perut terasa mulas.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. tapi wajahnya pucat sekali. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat. Setelah menatap istri saya beberapa jenak. cantik juga istrimu.

Kalau sebelum ke tanganku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. http://www. Bang. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. ”Kalau setajam ini. Bang.com/abclit. terduduk dengan napas sesak. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. ”Ada apa. termasuk menyembelih kambing atau ayam. Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. sama artinya sebuah penyiksaan. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. Tapi. dipakai menyembelih. pukul sebelas malam.” ia berkata dengan sangat dingin. ya pisau kami. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. akan sangat sakiiiit sekali. Pisau tumpul.” .” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. ha-ha-ha…. ”Sudah sangat tajam. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang.processtext. pintu rumah terdengar digedor kasar. Pasti si sangar itu. Maaf. pisau ini digorokkan ke leher kita. Pintu dibukakan perlahan. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras.

Abang…. tidak menyakitkan! Termasuk. Rumah-rumah orang sudah tutup. ”Bang. salah saya apa? Sesaat kemudian. ”Berikan pisau ini ke istrimu. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya. bagai dicubit saja…. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik. Kemudian.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya. Bermandikan cahaya. Tuhan. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. nyaris tidak mampu berdiri. ”Darah manis. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. Terlihat. http://www.com/abclit.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. ha-ha-ha-ha…. ”Mmmaaf. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. pandangilah saya saat ini. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan.00. ia akan menyembelih saya. Ya. Tapi.” Langit malam bertaburan bintang. mohon Bang! Jangan. karena luka oleh mata pisau yang tajam. Bang! Saya tidak tahu maksud. .html Ia akan menyembelih.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia raba leher saya. Sunyi. Lihatlah. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. kemudian dipegangnya lambat-lambat.” Ia terbahak.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit.processtext. dingin. Jangan ya Tuhan. untuk melukai kulit ini.

Santai sekali tampaknya. Saya pun duduk di kursi sebelahnya.html Kami bangun agak kesiangan. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . Baru saja pintu dingangakan. Saya gelagapan. http://www. ”Kesiangan. Abang.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Saya baru setahun keluar penjara.processtext. ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. Si sangar menyadari pintu terbuka. Saya membuka pintu depan. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami. ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. dengan seringaiannya. ”Eh. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya.com/abclit. Apa kabar. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. membunuh orang. berusaha tenang. Saya menggeleng. ya!” sapa si sangar. mempersilakan saya.

bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10. ”Ketika dipenjara. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. wortel. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau.000. kusembelih. Dan terakhir. Kalau dia tersenyum. http://www. Sesekali mengangguk. Ternyata.000.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena tidak menyakitkan baginya. ketimun. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. setiap rumah di kompleks ini. Kalau dia tertawa. Memotong sayur. Karena ingin hidup normal. misalnya. bawang. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat. dan sebagainya.processtext. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. saya cobakan tertawa sebisanya. ”Aku mahir mengasah pisau. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. Saya hanya melayani dengan tatapan mata. Dan. Begitu juga kentang. dulu. Kacang panjang. Tapi. Uang dari keringat sendiri. Istrimu. Bayarannya Rp 10.” suaranya agak lunak. oleh mereka. toh?” . Lagi pula bukankah ini pemaksaan. Dan aku pun dipenjara. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. apakah ia tahu. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. Karena itulah. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1. aku berpikir tobat. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi….000.com/abclit. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. mati. bisa kugarap jadi ladang. kangkung. Dalam hal ini. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. saya ikuti senyumnya. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. Kalau tidak mau. sebagai ibu rumah tangga. Iya. Terbayang tanah keluarga yang luas.” Saya mencoba belajar memahaminya.000 sebulan. ia mungkin akan tersenyum. buncis.html Saya hanya diam. kalau pisaunya tajam. golok atau merampok dan membunuh. yang jumlahnya lebih seratus rumah.” paparnya. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam.

menyembelih ayam. Kita yang menggunakannya. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. ”Begitu juga memperlakukan ikan. Kamu telah mendengarkan aku. kan?” Saya mengangguk. http://www. saya pun ikut berdiri. Itu artinya. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. ia merangkul bahu saya dengan hangat. rezekiku ada pada pisaumu. Dia berdiri. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya.com/abclit. katakan padaku. Ia kemudian melepaskan rangkulannya.processtext. Menjelang sampai di pintu pagar. ”Benar. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat. akan lebih baik. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. mempererat rangkulannya. Dan anak buahku. Bang!” ”Itu artinya. Paham. Terasa lebih penyayang.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau. ”Terima kasih. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. tidak ada yang berani mengganggumu. juga enak. ”Kamu telah membantu saya. Juga nyawamu!” . kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. Jika ada orang yang mengganggumu. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya.” ia berhenti sejenak. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga. kalau dengan pisau yang tajam. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Saya cepat mengangguk. Iya. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati. ”Ingat.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. Percayalah. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu. yah barangkali saja Rp 10. sembari berkata.

. Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Masih terngiang-ngiang. Ia datang bersama anak laki-lakinya. gemetar. Tampak dari atas. ia berjalan menuju suatu ruang. Setelah hampir 40 tahun. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. dalam.html Sejak saat itu. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. Kecemasan mengambang di bola matanya.processtext. sejak peristiwa berdarah itu berlalu.com/abclit. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. aku masih mendengar jeritan bapakmu. Gemanya sangat panjang. ”Her. sambil menimang dokumen lusuh itu. Memasuki kompleks gedung. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. Bajunya basah. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan. http://www. Memasuki lorong gedung. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari.

teman. Di Karang Bolong. Tapi di sana.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. Seperti puluhan tahun lalu. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. ”Her. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. Tapi kutahan. Masih jauh. antar Ibu nyekar bapakmu. Kata petugas. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. Mobil pun terus melaju. Ia minta mobil berjalan lurus. Nastiti.html ”Bukan hilang. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka.com/abclit. http://www.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. gelap. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun. aku merasa bingung dan cemas. Tapi dilenyapkan…. Sepanjang perjalanan. Tapi aku takut mereka kaget. kalau kamu tidak mengajar. ya bapaknya Herjuno itu. tapi tidak matanya.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. kami berangkat ke makam Bapak. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku. dalam. dan Murti. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. buru-buru Ibu mencegah. itu urusan negara. Makam itu kosong. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. dan sunyi. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. kami terdiam.processtext. Soal jasadnya. Aku kaget. dengan colt station sewaan. Suatu pagi. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara . Waktu itu. Ibu meneleponku. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. menembus desa demi desa. ”Maaf Bu. besok pagi.

Aku terbebas? Tidak juga. ada PKI. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. rasa pedih terus merajamku. Kan nggak sopan to. ada NU. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa.processtext. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat.” ujarnya dengan gemetar. Bagai tepung terigu ditebah angin. ”ganyang nekolim”. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. Seperti siang itu. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. khas jahitan pasar. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. langit kota kecil itu pun selalu menyala. Di pendopo itu. Dalam zaman yang gemuruh itu. ”hidup Nasakom”. warisan mertua. kaku seperti baja. diiringi sorak-sorai. aku mendengar jeritan mereka…. kami hidup menepi.” . dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis.html wajar dan terhormat. secara cuma-cuma. partai-partai saling bersaing. Menurut Swanggani. debu mengepul di jalanan. Dia menjawab ringan. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru. Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. Dari tempatku bersembunyi. ”Bersama tahanan lainnya. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. Sebuah rumah bergaya limasan. Hingga kini. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Bukan. Di bagian belakang. seorang tokoh PKI di kota kami. Kata-kata ”revolusi”. Ada PNI. http://www. Kami menempati rumah besar. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. dan ada PSI. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung.com/abclit. ada Masyumi. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril….Generated by ABC Amber LIT Converter. Tangan mereka terkepal. Waktu itu. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong.

Ada latihan menari dan menyanyi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. ”Ganyang Drajat!!!” . ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. ”Terima kasih. Katanya untuk rapat partainya. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai.processtext. Aku pun terdiam. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. lewat RRI. Beberapa jenderal diculik.” Tawa Pak Tular berderai. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. Mas Drajat terdiam. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Wajah bapakku tampak masam. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. http://www. Ada latihan ketoprak. Tidak sampai seminggu. Mas Drajat pun tidak keberatan. Kami hanya saling memandang.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. Setiap saat itu. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. bau mayat tercium di mana-mana. Pendopo kami selalu ramai.com/abclit. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Terima kasih. ”Hati-hati dengan Pak Tular. Sehabis isya. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. Apa salahnya?” kataku. Ia memandangku. Beberapa bulan kemudian.html Suatu ketika. Ada pendidikan bagi kader-kader partai.

Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Keras. Menembus malam. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. Pintu rumah kami digedor-gedor. kelewang. Dia sangat tenang.” Aku pun bergegas membawa Darsono. dan Murti lari keluar. Mas Drajat keluar dari kamar. bambu runcing. aku menemui mereka. Dadaku sesak. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Sungguh. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. aku gemetaran melihat parang. Aku memeluknya. . Sebulan kemudian. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. Nastiti. Sangat keras. Menuju rumah Bapak. Di rumah itu. ”Jaga kandunganmu. Dengan gemetar. Esoknya. Dan ajaib. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. Aku sendiri tidak paham.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. Aku tak bisa lagi menangis. Dia mencoba memberikan penjelasan.processtext. Akhirnya. http://www. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan.com/abclit. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. bentakanku menundukkan wajah mereka. Pak RT mampu menyabarkan mereka. aku melahirkan Herjuno. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Saya tidak tahu apa-apa…. aku membuka pintu. ”Bohong! Dasar Gerwani. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. kerumunan pun bubar. pada dini hari.

tapi luweng. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana. http://www. ia menemui seseorang.” Yogyakarta. Bahkan mungkin terguncang. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. Ia hendak berbalik. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya. 2005 . langkahnya tertahan. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. ”Bu…. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. Dengan tenang. kita sudah sampai. pagi hari. Kami keluar dari mobil. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. kini telinga negara telah tumbuh….html ”Bangun Her. Ia berharap negara berani untuk punya telinga. Kami pun berdoa.com/abclit. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya.processtext.” Herjuno tergeragap bangun.” Herjuno sangat kaget.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’. Namun. Kantor Komnas HAM.” ”Itu bukan makam Bu. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya.

” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. Dan suara berikutnya. Pak Memet. Kudengar juga suara istriku mengatakan.processtext. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. Aku sudah tahu roh surat itu. Istriku yang menyambutnya. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. Cuma sebentar saja.” kata Pak Marjan. ketua RT di wilayahku. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang. http://www. Aku membaca surat tersebut. istriku menyilakan tamu tersebut duduk.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. ini ada surat undangan.com/abclit. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. stensilan. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. ”Tidak usah. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. Tapi ia tidak berbicara.” jawab tamu itu. ”Pak Bagus. juga ikut. ya aku ada di rumah. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. Aku pun keluar kamar. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya. .html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas.

Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami. berpamitan bersamaan. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. Jawaban itu sudah cukup bagiku. diapit oleh dua orang dari mereka. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. seorang berada di depan rumah. ”Nanti juga tahu. dan kedua pak RT. Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. ”Ya dibawa sebagai bukti. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh. Ada kejaksaan. ”Sabar Mam. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. sapu tangan tidak lupa. http://www. Sesampai di halaman. Ada Mahkamah Agung. kecuali uang beberapa ribu saja. takut hilang di tengah jalan. Aku mencium dahinya. Dengan jawaban itu. pakai kaus kaki.html ”Kalau begitu. yang warnanya sudah pudar. celana dalam baru.” jawabnya singkat. ternyata ada tiga orang lainnya. Tidak sopan pakai pakaian begini.com/abclit. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku. Kartu SIM kutinggalkan. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Tersirat posisinya dan posisiku. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. atau di tempat tujuan. Ada polisi. saya ganti baju saja.” jawabnya. Dan semua isi dompet kutinggalkan. Mukanya pucat dan matanya kosong.” Tamu itu.processtext. .

Disambung suara memberi komando. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Juga suara mobil. Keringat membasahi tubuh. Aku tetap duduk. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. Tak ada suara lain.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. Detik ke menit. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. berdetak besar dan cepat. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. tunggu di situ.35. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. Aku tidak mau melihat jam. Pukul 16. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. Banglades. ”Bagus. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. yang tak pernah kurasakan di . Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama.com/abclit. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. Pohon-pohon ligir. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup. http://www. Sepi mencekam. Tidak ada yang datang. mengajakku menginap di rumahnya. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Sementara aku duduk sendirian. Juga tidak ada suara radio atau televisi. Remang malam turun menambah senyap.processtext.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. Suara banyak sepatu melangkah. Ketika ia bekerja. Gigil segar menyemangati. menit ke jam. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. Daun kemerisik kuinjak. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. yang kukunjungi beberapa hari. Langit biru dan angin segar musim gugur. terus berjalan. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. Kemudian suara sepatu ramai. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. Tapi tidak terdengar suara manusia. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. Juga suara orang tertawa sirna. yang jelas bukan dari kamar sebelah. Suaranya agak jauh. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur.

Aku tidak senang di kedua negeri itu. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. Ia meletakkan pistol di atas meja. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”. Kebebasan. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong. ”Selamat malam Pak. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam. Aku mengangguk. . Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah.processtext. ”Di sini tidak ada Pancasila. Aku mengangguk terlebih karena terkejut. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. http://www.” Suaranya menggelegar mengagetkan. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. Ia menyalakan lampu.html negeri ini. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Aku mendahului.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku. Ia tidak menyahut. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam.com/abclit. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya.” Suaranya lagi. ”Ini Blitz-krieg. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih.

tulang-belulangku. tikus dan kecoak. menerbangkanku berkeliling dunia. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. Aku mengusap mataku. sambil menahan napas. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. dan tikus. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. tetapi tidak menemukannya. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. sperma. kencing ludah.com/abclit. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. lintah dan semut menggerayangi tubuh. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. tikus besar-besar berlarian di tubuhku. Aku ingat bahasa Inggris. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. nyamuk. http://www.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. Perangai. bukan lagi suara manusia. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong.processtext. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing. menggeledah seluruh organ tubuhku. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. Mereka muncul terkadang bersamaan. dengan kawat berduri berlapis-lapis. tengkorak. Entah berapa orang. terasa darahku diisap lintah. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. membuat sesak napas. Ketika aku tidur. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. Aku mengusap kupingku. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi. terkadang sendiri-sendiri. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. getah bening. pintu keluar barak itu dibuka. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. lintah.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja.*** . pancaindraku. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. atau berapa ekor. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. Sejak malam itu. di tanah airku. setelah hampir dua minggu. sampai ke rambut dan kukuku. mana kecoak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Alhasil. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. ingus. menciumi bau keringatku. mana ular. aku tidak tahu lagi.

Ruang teduh. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. Ada masa memang. mungkin ingin membaca masa lalu. mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. Ruang tunggu dengan warna pastel. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. Kepala-kepala itu masih penuh derita.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. menekuni lantai. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini.com/abclit. Sebagian dari kepala mereka menunduk. Mungkin selamanya. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut.processtext. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. http://www. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. Tunggulah sejenak. dan menggelepar di sana. Lingsut. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. ruang nyaman. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. lelah. . Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih.

Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. sebelum kemudian kembali terlempar jauh.” Dan api berkobar.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. halaman-halaman tak terbaca. ”Nak. Dua kakak beradik.com/abclit. Mengepak pelan. Dan aku terus mencoba lagi. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. Hanya bermodal harap dan cita. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain. Tapi selalu dan selalu. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Percobaan yang selalu aku ulang. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. Mereka bertiga meregang. aku terlempar. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. kuberanikan diri untuk merangkainya. Tapi satu di antara mereka. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat.processtext. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut.Generated by ABC Amber LIT Converter. mendekati lubang ventilasi. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan. Dua orang yang masih lelap. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. dan saling melingkarkan lengan. Hanya sesekali. bisa kubawa pergi. Mereka mati dibalut api. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. Ibu mereka terlalu bersedih. Tangan ibu mereka sendiri. Setelah cukup tenaga. Aku mencium sari kisah yang terbakar. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai. Lalu aku akan terbang agak tinggi. kembali aku mengitari mereka. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. Demikianlah. aku lebih sering terpelanting. membuat rantai . seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api. dengan mereka yang mengalami sendiri. sempat aku hinggap. beradu kepala. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia. http://www. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. Mereka bertiga berpelukan. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. Sekali dua. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. berpelukan.

Dunia yang pahit. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Mereka tahu kami akan mati. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. Mereka mendorong kami. Satu di antaranya berkata. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. dia harus menanggung nista dan sengsara. Kaki-kaki mereka bengkok. ”Kami belum ingin surga. aku malu dengan teman-temanku.” Si anak yang berkata. begitu bayi terlahirkan. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. Tapi mereka memaksa kami. menyadap sari ce. Kami ingin bermain air dan bermain api. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. Tapi di hari itu. Mereka bohong. Ibuku kalah dalam menagih janji. Ibuku sudah tidak punya air mata. Ibuku tahu aku akan mati. ”Orangtuaku tidak ada di rumah. Mereka . Kami tidak ingin di sini. Mereka membiarkan aku mati. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Kami belum ingin ke sini. http://www. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. dan membiarkan perasaan ibuku bolong. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. tubuh-tubuh kecil berbaring. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. sebelum kembali terlempar jauh.html lingkaran yang kokoh. Kami ingin dunia. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. Hanya kami sungguh tidak mengerti. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. Kaki-kaki mereka mengecil. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. Mulut mereka sangat lemah. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. Mereka bilang biaya perawatan gratis. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. Pertama membiarkanku tidak punya gizi. bermata alum. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. Mereka mencoba membunuhku dua kali. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. Suaranya serak. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. Aku mengambil selendang milik ibu. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. Mereka tahu kami mati. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. Kembali aku hampir terpelanting.” Di samping lingkaran besar itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.rita. Mereka ingin mengatakan pada dunia.processtext. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. ada celah di dunia sana. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. Kami ingin belajar menjadi manusia.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka.com/abclit. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. Aku tidak enak dengan ibu guru. inilah kota kami yang indah dan makmur.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Kami ingin bernyanyi dan berlari.

. Mungkin sampai mati. dengan tubuh terlilit kabel. Aku ditabrak warna putih. ”Ah.”. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. . sambil menyeringai dan berkata. http://www. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Dan tibalah satu sentakan besar. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta. Aku ditabrak warna hitam. Tidak lebih. membobol gunung. Aku hanya seperti kupu-kupu. Aku digendong naik kereta. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. Kembali. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. menebangi hutan. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. Dengan wajah dan kulit plastik. meracuni laut.” Aku hinggap lagi. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit. Ya.processtext. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit.Generated by ABC Amber LIT Converter. mati pun masih menyisakan masalah. beterbangan. Seperti hilang. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. Bahkan. dengan tangan penuh tombol. Lihatlah. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil.. generasi yang lebih baik. Mereka datang dari mana-mana.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. di tengah. tanpa takut terserang polio. Bagi orang miskin seperti kami. ”Hari gini. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Aku hanya seperti kupu-kupu. itu hanya kabar yang berlebihan. Hanya seperti. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. Aku terlempar lagi. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. Aku seperti hancur.com/abclit. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. Aku mati karena muntaber. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata. gitu loogh. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi.html tahu. sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. Sangat besar dan kuat. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar.

Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. bunuh diri. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. keracunan kabar bohong dan bahan makanan. depresi. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. kelaparan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. maka dia pun berhenti sejenak. dan mungkin sekaligus mereka tolol. Hingga bagian yang terbakar itu. hingga tampak putih dan halus. disorientasi.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya.com/abclit. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. . Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. Mereka benar. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya.html Mereka benar. kurang gizi. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. Ada perbedaan memang. Di sisi yang lain. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat.processtext. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. http://www. Hari itu.

lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. orang-orang itu menolak. Dengan uang itu dia bisa membeli beras. Dalam sehari. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. ”Benar Mbah. membawa tas bagus. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. http://www. minyak tanah.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya.html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. Bagi Mbah Gimun. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun.Generated by ABC Amber LIT Converter. bersepatu bagus. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. ini gambar calon pak bupati itu.processtext. dan naik mobil yang juga sangat bagus. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. ”Iya. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. nanti ditempel di sana ya Mbah?” . garam. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. cucu-cucuku itu akan batuk semua. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. ”Kalau aku ikut kalian. Mereka berpakaian bagus-bagus. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. Kalau pedagang itu tidak datang. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. gula. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan.com/abclit. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak.

” Setelah para tamu itu pergi.” ”Tapi begini Mbah. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun. Mbah Gimun lalu membuka besek. Mbah Gimun kaget tetapi senang. saya diberi tembakau. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan. .” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. pasti. Lumayan. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. Cucu itu memberi tahu. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. melintingnya. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini. mencomot tembakaunya. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. http://www. Bukan hanya itu Mbah. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. ya terima kasih sekali. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan.processtext. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah.” ”O.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun. Katanya.com/abclit. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. diberi uang lagi. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum.Generated by ABC Amber LIT Converter. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut.

Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. lebarnya seperti sajadah. Pak RT dan Tukijan juga datang.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. ”Iya Pak RT. ”Salah satu saja Mbah.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mau dicoblos wakilnya boleh. Mereka mengantar beras. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. ”Terserah Embah. bupatinya juga boleh. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran. ”Lalu minggu depan ini Mbah. Yang ini yang kiri ini bupatinya. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah.html Beberapa hari kemudian. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . kita semua harus datang ke lapangan bola. Yang kanan wakilnya. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. Kertas gambar itu tebal dan kaku. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. ”Bukan dua tetapi satu Mbah.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi.processtext. http://www. gula.

tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak. agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. sepuluh ribu. Jam berapa Pak RT?” ”Sore.html ”Ya. Ada yang limapuluh ribu. semua membagi-bagikan uang dan barang. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun. Mbah Gimun menerima semuanya.com/abclit. akan layu.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Menjelang hari pencoblosan.” katanya pada anak-anak itu. dan tidak hapal wajahnya. Bau tembakaunya sudah tidak ada. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. ya.” . http://www. duapuluh ribu. sekitar jam empat. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya.processtext. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. jadi nanti kita semua makmur. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. Dia kan pengusaha. ”Ya siapa saja. Kalau layu mengiratnya alot.” begitu alasan Mbah Gimun. Hanya dia berpesan kepada anak-anak. Sebab baunya seperti minyak wangi. saya akan datang nanti. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. Sebab saya tidak tahu nama-namanya.” kata Mbah Gimun senang. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Enam calon bupati dan wakilnya.

Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Ada yang dicoblos di jidat. udara terasa tidak terlalu panas.com/abclit. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. ada pula yang tegang dan cemberut. . Di bilik pencoblosan. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. dan diberi kertas suara. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Baunya sangit dan keras. dengan menantu-menantunya.” Cimanggis. Karena masih pagi. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. http://www. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Ada yang tersenyum. di mata. Dengan mengucap Bismillah. ada yang tertawa. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok. dia kebingungan. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. ada yang di pipi. dan kepalanya ditutup udeng. ”Sayang. baju surjan hitam. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. bukan kita. 2005. Dia lalu melolos satu lembar kertas. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. memberi beras. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. menawarinya tempat duduk. memberi gula. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Bukan pak bupati. memberi teh. Dia mencari tempat duduk yang pas. Melihat Mbah Gimun kebingungan. Dari saku surjannya. Bara api di ujung rokok itu memerah. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. satu-per satu warga kampung dipanggil.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. sandal jepit. di hidung. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. dilihat kartunya. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. ada yang di mulut.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. Di rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mbah Gimun memakai kain sarung. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. Enam calon semuanya memberi uang. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. dicatat. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR.processtext. dengan anak-anaknya. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. memberi tembakau. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung.

”Ibu restui kepergianmu. bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak. dan moncong senapan itu seorang ibu. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku.processtext. tak akan kembali ke moncong senapan. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. http://www. Saat itu. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang. Ya.” . ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. Nak! Tapi.html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas.com/abclit. meski kau tak pernah lagi membalasnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu.

namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. sekaligus menjaganya.” Rumah kita makin lengang. Hanya kau yang tersisa. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. bule perempuan berkebangsaan Spanyol.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu. Abangmu. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. Jika kau sudah pergi. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Umurnya sudah berkepala delapan. Tanpa bapakmu. Pada surat itu. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. http://www. Acin berjanji. setelah masa tugasnya berakhir. Sejak itu. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. tak terdengar lagi khabar Acin. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. ibu sendiri saja di rumah!” katanya. merengek-rengek minta izin untuk merantau. Mencuci pakaian. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. Tanpa Rehan. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. tentu ibu akan bersendiri. lambat laun ia sukses. Rehan. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Setelah lulus jadi polisi. Wafa Sulastri. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. Selain bergiat sebagai pelukis.processtext. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. setelah tamat SMU di Payakumbuh. Tapi. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. ”Ruz ingin jadi anak ibu. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. . abangmu yang satu lagi. Delapan orang anak nenek. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. termasuk bapakmu. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. apalagi kerinduan ingin merawatnya. ”Kasihan. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. Saat itu. menimba air mandi. dan tinggal bersama ibu. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Acin dan juga kau. Kecuali bapakmu. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. menyuapkan makan. sejak menikah dengan perempuan rantau. Acin akan pulang membawa istrinya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. Tapi. Sejak enam tahun lalu. Bapakmu rela di-perempuan-kan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. http://www. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. Pada saat itu. Belum lama berselang. menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. .processtext. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Yang jelas. 13 tahun.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh.

com/abclit. mereka sudah terbang duluan. Cuma asal terbang. http://www. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap. Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berlalu dari samping Anggi dan Olan. setiap kali aku mau menghalau. makanya sering saling tubruk. Mereka memahami gerak-gerik kita.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka. .processtext.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh.” ”Mereka belum bisa melihat penuh.” ”Tapi. ”Heh.

”Mau apa?” tanya Olan.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. http://www. ”Dia dipanggil ayahku. ”Mau ke mana?” ulang Anggi.” kata Horas.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan. . ”Ke rumah Gumortap.” kata Anggi. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka.processtext. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit. ”Ada enggak?” tanya Horas.com/abclit.

siap berkelahi dengan ayahmu. ”Coba dia membawa kapal sekarang. Gumortap sekarang membenci ayahmu. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak.” kata Horas.” kata Anggi.” kata Olan.” katanya. tak akan banyak!” .html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi.” kata Anggi. Nanti malam musim ombak besar. ”Tapi semua sudah tahu. ”Mereka masih anak-anak burung. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. http://www. kita harus mengusir burung.com/abclit. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. ”Aku jalan dulu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kata Anggi.” ungkap Olan. ”Heh.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu.processtext. ”Aku ikut. ”Mesinnya kan sedang rusak. ”Biarkan saja mereka makan padinya.

Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun. bahwa Gumortap tidak bisa datang. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. dan tentu saja. ”Bilang sangat penting. tapi kemudian berlanjut saling pukul.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. pemain gondang yang baik. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. tak banyak yang tahu.processtext. .” kata Ayah Horas kepada abang Horas. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. http://www. juru mesin dan juru mudi yang baik. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau.” kata Ayah Horas. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut. ”Kau saja yang memanggil lagi. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. melalui jendela. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. Dan sejak itu.com/abclit. ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam.

Suara ayahnya dan beberapa orang lain. ”Banyak yang marah. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua. ”Kami mendengar lagi Pak. Horas mendengarkan dari balik pintu. tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan.” kata yang lain.” kata salah seorang tamu itu.html Begitulah. Licin dan halus. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya.processtext. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu..com/abclit.. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Entah siapa yang datang bertamu. Dia baru saja menutupkan jendela. Dan seseorang itu bisa saja. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. http://www. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal. . tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal.

com/abclit.” ”Bila perlu mendatangi rumahnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar. ”Bapak harus menegurnya.” ”Ya. barangkali seusia ayahnya.” kata yang lain.” ”Jangan mendatanginya.processtext.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. jangan mendatanginya. http://www. ”Dia kurang ajar. Perintahkan.” . Berani mengumbar ancaman kepada orang tua.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana. akan saya panggil ia ke sini. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya.

” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya.processtext. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura. Yang dapat dilakukannya adalah.com/abclit.html ””Katanya Bapak menghinanya. Tapi kalau ia keluar.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka. ada tamu.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. ”Eh. Inang?” tanya salah seorang tamu itu. Ia . maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. berjaga-jaga. “Baru dari pekan.

Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. Lalu Horas . Langit sore sebagian memerah.com/abclit. Horas melihat sekilas. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. Tangan Horas kini berlepotan darah. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Di sebelahnya. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. menusuk. Beberapa orangtua berusaha menolong. menusuk. Horas tak menjawab. ”Anak gila!” umpatnya. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. seraya mengatakan sesuatu. entah mengkhawatirkan siapa. darah seharum ombak malam. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. di kakinya. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. Namun Horas tak mendengar. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya.processtext. tapi Horas berhasil mengibaskan. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. Belati telanjang dan berbahaya. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya. http://www. Horas terus merangsek. menusuk.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Tapi pada suatu hari. http://www. dari kampung Pasar Kliwon. semuanya telah lulus perguruan tinggi. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Sesaat.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Tapi semuanya sukses. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. termasuk ia sendiri. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. beberapa .com/abclit. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. sebagian memilih jadi pengusaha. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Bank Jerman. Mereka mendirikan rumah berderetan.processtext. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. Tangannya gemetar menggenggam belati. Teman-temannya itu. tapi ia terpisah. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. Usamah juga ikut membeli tanah. tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. tapi tak semuanya jadi pegawai. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah.

memutuskan untuk memelihara seokor anjing. terutama anak kecilnya. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. http://www. tertidur selama 300 tahun itu. memberanikan diri." jelasnya lagi. maklum bertanya kepada ulama besar. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. Nabi sendiri suka dengan kucing. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. Tak tanggung-tanggung. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. Itu ada anjing besar." jelas ulama asal Minang itu. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang." jawab Buya. "Di Minangkabau. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. Kebetulan ia mengikuti aliran modern. anjing itu pun mati. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. Faris. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. Hector selalu menggonggong keras. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. "Di Mekkah. mungkin oleh tetangga yang tak suka. bersama pengasuhnya." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. bermain-main di rerumputan pinggir kali. Pernah ada hadist yang menceritakan. Minah. al Irsyad. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah.html ekor dicuri orang. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. dekat sawah.processtext. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. banyak penduduk yang memelihara anjing. Najib. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah. "Tengok ke halaman rumah. memelihara anjing sudah biasa. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. sangat sedih kehilangan Nero. jika Faris ingin . termasuk anjing. "Boleh tidak Buya. itu separuh penghuninya adalah anjing.com/abclit. Ia dan keluarga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rahmah el Yunusiyah. dekat Masjid al Azhar. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. dengan persetujuan seluruh keluarga.

Ketika lari terbirit-birit. teriak-teriak minta tolong. Pernah suatu pagi hari. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. setelah melapas ayam curiannya." jawab si pencuri. Pencuri itu pun. saya tidak mencuri. Pada suatu hari. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. Anjing juga tidak pernah mencuri." jawab Bu Usamah. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. Hector disuruh menunggu. Jika istri Usamah pergi ke pasar. Hector selalu dibawanya.processtext. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. Ketika mau mengambil kompor. berusaha mencuri ayam. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri." . rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. tidak.com/abclit. setelah selesai belanja. http://www. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli. ia tak pernah berbohong. Ia sempat membawa lari seekor ayam." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. Hector mengejarnya sampai tertangkap. maka pencuri itu pun bebas. jika tidak mau mengambil barang saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Tidak. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya. anjing itu pasti mati kami hajar. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. karena jika ikut masuk. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras. "Walaupun seekor anjing.html bermain-main di kali. Kalau Bapak tidak datang. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. Mendengar gonggongan anjingnya. karena mendapat gonggongan Hector. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. "Jaga dong anjingnya. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri.

Usamah sekeluarga menonton TV.com/abclit. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. Karena itu orang yang berniat jahat. Dan Faris sangat menyayanginya. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. baru Hector menggonggong. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. setia menjaga rumah dan majikannya. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. Cuma. Tapi kalau malam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Anjing ini sehat dan bersih. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. Kalau siang. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. Hector sudah berhenti bernapas. karena tidak bisa. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu. Haram. mengurungkan niatnya. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Kalau ada yang dicurigainya. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. Setelah sejenak duduk. tanda ada yang mengganggu. Anjing itu seperti malaikat. Faris pun menggoyang-goyangkannya. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa." "Yang najis itu air liur anjing gila. sebelum punya anjing. Faris sudah berangkat besar. sudah masuk SMP. Rupanya. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV.processtext. Tak pernah mencuri dan berbohong. Pada suatu sore di hari Sabtu. cuma mengangguk." "Apa Bapak tidak tahu. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. http://www. anaknya yang terkecil. "Masya Allah. . Hector rela dan biasa tidur di luar rumah. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. tapi Hector tidak bangun juga. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali." jawab Usamah.html "Lho Pak. Dulu saya pernah kecurian ayam. Ia masih akrab saja dengan Hector.

manusia pun akan mati. terutama Faris. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. seperti tidak kenal lelah.Generated by ABC Amber LIT Converter. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Melihat keadaan itu maka Usamah pun. seluruh keluarga gempar.html Melihat Hector tak bangun lagi. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya.processtext. sambil menitikkan air matanya." Keesokan harinya. malaikat akan masuk surga. seperti manusia. tanpa doa pun. Hanya menatap. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Tidak sekalipun berkedip. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. http://www. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. Hector akan masuk surga. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. bagian dari keluarga Usamah. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. pagi-pagi benar.com/abclit. Semuanya berasal dari Allah. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi." . apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. "Seperti ada dan tiada. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. Sebenarnya. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Kepada mereka. Tapi Hector lebih menyerupai manusia. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. Abah yakin. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Pak Usamah sempat membaca doa. Ia pun dikuburkan. Nius.

yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. Berubah sekarang. Nius. Bahkan mengerikan. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Dulu kami sering . diduduki hingga kini. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Kami ajak bermalam tidak mau. Satu di Palembang." jawab Tum. Ayah Bun tukang gigi. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Kalau aku pulang. dewasa atau jadi tua. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. lebih-lebih tukang gigi. sebagai grosir roti dan permen.Generated by ABC Amber LIT Converter. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga." Biju menerangkan dengan gembira.processtext. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue." "Hanya si Cudik. Dua lepau nasinya sekarang. "Bun di Medan jadi dokter. http://www. "Tak lama lagi pensiun. Si Talib di Dumai. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum.com/abclit. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. "Tentu!" kubilang." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. kendati kota kami tetap saja setelempap. sudah bercucu satu. Nius. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. akrab dengan pribumi.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil." tambah Amril. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. "Di mana dia?" tanyaku antusias.

"Itulah. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Mereka menggeleng.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak halam! Enak laaa. Nius.com/abclit. Suka-suka kami mau makan apa. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". Ibunya baik seperti ibu Bun. pintar di sekolah. kembali menampakkan senyum yang ganjil. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin. kami kerap nginap di rumah Sultani. Matanya tak terlalu sipit. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. adik Bun. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Keluarga itu memang kaya dan terpandang.processtext." KAWAN masa kecil itu lincah. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. mencukur. adik kelas kami. . Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. Tidak kecuali Sultani. Bak orang-orang dalam mimpi. http://www. atau menjelepak duduk di lantai. mengantar kue mohok hangat-hangat. lucu. Dia kapten sepak bola. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. tak pake babi laaa." sahut Tum. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. Juga pandai menjahit. kadang susu. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. Seperti di rumah Bun. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air." bilang Tum. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. "Tidak halam. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Tapi kami cegah.html bermalam di rumah itu. "Percuma. Minumnya teh hangat. "Jelas enak. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Rambut ekor kuda.

Iya kan. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Baju. Kelas enam disunat. Biju dan Tunik juga. Mukanya pucat serupa mayat.processtext." "Tidak sakit. tidak terasa. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Mestinya waktu kita kelas tiga. http://www. ke halaman masjid. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. Berenang kalang kabut ke tepi. "Ayaaa. Ulah Sultani! Suatu kali. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Ayah dan ibunya setuju. Lalu ia sambar roti. mengajak makan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. Portir bioskop juga dia ulahi. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir.com/abclit. Kami berebut. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. guru mengaji kami. Babah mau coba? Sret. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. serta sarung beliau "terbang. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. kopiah. "Sebetulnya telat Bun. Dan Bun disunat. Ibunya tersipu. Dan pernah pula Buya Makruf.html "Makan. selesai!" Ayah Bun terkekeh. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. laaa. "Malah. mencangkunginya seperti buang hajat. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. Bun mau potong bulung bole potong. . jadi keras. alias usil plus kurang ajar. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. Terbahak-bahak seperti hantu air. Bun?" Bun mengangguk lemah.

tajwid dan kiraahnya elok. http://www. Aku malah tak sekali. Tunik juga. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Kepandaian itu turun dari ibunya. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari.com/abclit. Biar aku yang ngajar. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. kuratakan. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. Jangan pula licin tandas bak kelapa.processtext. Tapi aku merasa. Mataku merem melek. Tetapi. Ketika kuraba. Bukan saja Bun. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. tidur-tidur ayam. kan?" Aku mengangguk. Sudahlah. Sultani berkata: "Sudah Bun. tentu saja. "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. "Seperti model rambut Bang Rustam. Sebulan ditanggung fasih. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. Rancak. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. "Rambutku dia cukur. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain.html Setelah sembuh. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. ikut mengaji saja. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Mendesis-desis lunak. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Rustam. "Tadi di sini terlampau pendek. Dan sesekali. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Suaranya merdu. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. malah sebelah sini terlampau pendek. sepekan rambutmu . Eh. Tak licin di sekeliling kepala.Generated by ABC Amber LIT Converter.

"Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Lebih-lebih waktu Sui Lin." kata Amril.html panjang lagi.com/abclit. aku menghindar. Atau pergi. Mereka . Sejumlah orang menerabas masuk. Nius. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. Suara mereka teramat gaduh. Mereka melempar rumah itu dengan batu. Tetapi mereka pun tidak tahu. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Menyepak pintu hingga rubuh. Dia mendekat." sambung Biju lesu. Tahi kambing. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani. Pernah kami tanya ke situ." Tum diam saja mendengarkan sunyi. berteriak-teriak. Nius. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran.processtext. Tepatnya. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Kaca-kaca pecah berderai. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Mereka menuju rumah Sultani. hasilnya nihil. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Bagus juga kau gundul. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. aku menghambur ke jalan. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak. suatu pagi.

Aneh sekali. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat.processtext. Bergelombang-gelombang manusia. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara.com/abclit. diseret abangku pulang. melihat aku di tengah kerumunan. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. dua buah. Menghabisinya. Mukanya berdarah. yang menatapku tanpa berkedip. Dia juga menangis. kemarin pagi. seolah-olah tidak pernah lelah. Orang-orang masih berteriak. http://www. Sultani juga. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. "Mulai kurang ajar ya. meraung-raung. Hanya mata saja. Perempuan itu terjerembap di halaman. Ibu Sultani berlari mengejar. Tanganku dicekal. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. tegak kaku di ambang pintu. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. 2 April 2005 . Lututku menggigil. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. Menangis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Buas sekali.html terus berteriak.* Jakarta. "Semua orang bilang begitu. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. "Dan. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Bahkan sampai kini.

setelah sarapan. bibit tanaman. soal usaha tambak udang. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. bupati. sekadar yang saya tahu. Saya acuh tak acuh. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. yang sama sekali tidak saya ketahui. saya menjawab sekenanya. ramai. Karena istri saya gelisah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sudah sering datang orang. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Sudah sering datang orang. bawahan dengan atasan. satu dua. Kadang datang berbondong.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. menjenguk lewat jendela. Di samping para tetangga. Ada apa? Saya acuh tak acuh. Istri saya belum menemui mereka. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Juga tentang hubungan suami istri. Sungguh menghabiskan waktu. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. perbankan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah.processtext. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. Istri saya memberi tahu.com/abclit. http://www. mengular sampai jalanan. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. maupun wali kota. menantu dengan mertua. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Kadang-kadang saya juga diundang camat. . Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. perburuhan. Saya rasa kali ini juga begitu. pengairan sawah. Jika ditanya. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. satu dua. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. persoalan anak dengan orangtuanya. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Misalnya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah.

Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. agaknya hanya saya seorang. Kadang sampai 8. lalu saya cari alamatnya. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Cukup menyenangkan. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. sebagaimana kematian itu pasti tiba. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak.000 orang. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Kepala kantor orang itu kebingungan.com/abclit. teman-teman. dibawa pulang ke rumahnya. Seluruhnya orangorang biasa. sampai kenalan baru. sementara beban keluarganya besar. teman. http://www. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. sekitar 5. Sebagai penulis lepas. menyebabkan banyak orang mengenal saya. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Untuk sikap saya itu. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. menyadarkan saya. Barangkali mereka juga membaca obituarinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Alasan saya. saya dijuluki "pendengar yang baik". lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. tidak benar-benar membutuhkan saya. dan berapa orang saudaranya. Misalnya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Saya interviu keluarganya. Masa pensiun pasti datang. sedangkan untuk orang-orang biasa. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. pekerjaan terakhirnya. Begitulah. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. kenapa tidur di rumah. juga tayangan televisi. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. . Keluarganya memberi tahu. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. tidak ke mana-mana. ia kaget. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan.processtext. Saya catat riwayat hidupnya. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. keluarga. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya.000 karakter. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Tulisan obituari itu tidak panjang. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. bupati. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Begitu siuman. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia.html Rasanya camat. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. di sebuah desa yang lengang. misalnya. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. ia seharian di rumah saja. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. dan wali kota. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil.

seseorang yang ngobrol dengan saya. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. http://www. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. kompleks pertokoan. tak ada yang menulis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dari kejadian itu.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar.com/abclit." jawabnya. "Pak. Banyak usulan. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. ia meninggal. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. jika seseorang ngobrol dengan saya." ." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis. Maka ada saja orang yang anti-saya. Banyak komentar. Wah. Saya tak bisa menjawab. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Saya nggak mau ditulis sekarang. saya sedang mewawancarainya." Tapi. ini bahaya. "Maaf. Tidak kenapa-kenapa. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. "Lho. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. Ntar saya yang menulis Bapak. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati. kenapa?" "Maaf. Dan sebagainya. Pak Jurnalis.processtext. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. Ada yang bilang. ataupun di stasiun bus. Pak. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. Ini benar-benar klenik. ada yang mengartikan. Tapi ini kebetulan saja. Sementara itu ada pula yang bilang. Yang jail maupun pelesetan.

Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. katanya. yang paling kritis." "Lho. Pak. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Di pertemuan-pertemuan desa.html "Baiklah. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Kritiknya tidak berdasar. Banyak ngomong dianggap meramal. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. sedikit saja saya ngomong. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. kenapa?" "Maaf. Apa yang akan terjadi dengan saya. Lalu malah terjadi serba-salah. Pak. Pak." "Saya permisi. Menurut mereka. Saya jadi pendiam dan menyendiri. anak-anak ini sok tahu. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya. Keterlaluan.processtext." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: ." "Jangan ditinggal korek apinya ini. wah. Ketika orang menanyakan pendapat saya. Anak-anak saya." "Biar untuk Bapak saja. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Tidak kenapa-kenapa. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Memangnya saya cenayang. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu.com/abclit. lima orang. http://www. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. dan si bungsu di SD kelas 5.Generated by ABC Amber LIT Converter.

processtext.com/abclit. http://www." "Ayah marah kena keritik." "Tidak bisa seenaknya begitu." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala." "Semua orang bicara dosa dan pahala." jawab anak-anak itu." "Semuanya. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Ayah pernah menulis obituari.html "Dari mana kalian tahu. kan. kalian ngawur." "Begini. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu." "Nah. "Kalian ngawur. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga.Generated by ABC Amber LIT Converter." jawab saya." "Boleh saja. Nah. . ini dosa. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah." "Itu harapan saya. Itu doa saya.

Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. http://www. Nah. menjenguk lewat jendela. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Sebagai ayah." "Nah. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya sering lelah berdebat dengan anak. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . Saya menulis apa saja. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Padahal saya selalu bilang. Jam baru menunjukkan pukul 05. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Lima anak semuanya sekolah. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Kami sebenarnya keluarga bahagia. Istri saya memberi tahu. setelah sarapan. termasuk menulis berita. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai.00. Karena istri saya gelisah.Generated by ABC Amber LIT Converter. anak-anak saya itu diam. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. satu dua. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. Ada apa? Setelah sarapan. Sudah sering datang orang. Hari baru membuka matanya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. merangsek ke depan meja saya." Mendengar keterangan saya. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Istri saya belum menemui mereka. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. sedang rakus-rakusnya makan. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Istri saya guru SMP. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan.anak saya tersebut. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. cerdas dan berani. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. mengular sampai jalanan. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Saya acuh tak acuh. Saya rasa kali ini juga begitu.com/abclit. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan.processtext. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya.

Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir.processtext. nistagmus. 26 Desember 2004. mereka menatap kebenaran. Ahad. diselimuti lumpur. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. di atas pohon. muda. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. Alhamdulillah. mencecap pencerahan. Mungkin hanya karena terlalu lelah. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. perempuan. berserakan memenuhi ruang dan udara. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. anak-anak. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. Kalau toh ia tertidur. Entah berapa lama saya pingsan. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas.tanggal akhir hayat. berserak. Cuaca cerah. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk.. di jalan. laki-laki. panas. di kebun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. bayi.. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. di reruntuhan rumah. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan.html Mata mereka nanar. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. di pekarangan. tua. Tangerang. . Bahkan burung-burung. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. tak seekor pun tampak terbang. itu bukan karena ia ingin.com/abclit. Waktu saya siuman. Sinar matahari memancar. 20 Januari 2005. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Seluruh mayat itu. http://www. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. kemudian dibiarkannya mencair. di luar kemauan. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Tapi tidur itu tak pernah panjang.

melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. namun tetap tanpa jawaban. Bagaimana kabarmu. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Kantuk masih menggelayutinya. Kami juga sudah menunggu lama. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" . Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk. "Ya. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. Pertanyaan serupa diulang. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. Masmu Jito tidak ikut. Pada siang yang murung itu. "Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar.processtext. Mbok Nah diam. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. http://www. hingga warna itu berubah tua. Tapi sayang.

html "Di ruang tengah. dan Drajat yang pengusaha real estate. persisnya sejak Lebaran tahun lalu. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak. http://www. tapi dicegah Ambar. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Eyang Putri tidak senang bau rokok. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. entahlah. Swandaru yang anggota DPRD. Mereka sudah lama menunggumu. hendak menyulut. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. seperti koor.com/abclit.. "Di kamar. Tapi." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak.processtext. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat." . kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka.

"Saya Gendut. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Mbak Ambar.. coba kamu temui Eyang Putri. http://www. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" . Cepatlah kamu ketuk pintu kamar. Gendut pun beranjak." Gendut termangu. Mbak Kunti. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar. "Ndut.com/abclit..processtext. Empat pasang mata mengepung dirinya." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda. Kamu kan cucunya yang paling disayangi.html Gendut memasukkan rokok di sakunya. Pintu kamar itu diketuknya.Generated by ABC Amber LIT Converter. perlahan. Setelah diam beberapa jenak. Swandaru merangkul Gendut. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri.

" "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri.com/abclit. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu.processtext. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan. http://www. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. Aku menebak. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani. Gendut langsung menyelinap masuk. Ketika menonton televisi. Kalian mesti tanya developernya. Seperti yang kami kenal. namun hanya beberapa puluh senti. Nggak ada komplain.Generated by ABC Amber LIT Converter. Perkara pembangunan itu macet. ya bukan urusan saya. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. Semua kakaknya saling memandang. dong. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka.html Pintu pelan dibuka. semua beres.

com/abclit. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. Aku ngomel sendiri. Anak dan istriku tampak cemas. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. Aku terus mengomel. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri.processtext. tapi HP-nya off. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. . Mereka menangis.html "Tanya itu developer. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. hingga commercial break memotong tayangan berita itu. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang. Mereka pun langsung masuk rumah sakit. tapi gagal. http://www. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement. Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu.

"Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. Ia melihat... tapi juga sangat sedih. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. semakin tumpang-tindih.html Kami sama sekali tidak menyangka. Ia hanya mematung di samping ranjang. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. Di layar televisi siang tadi. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. wajahnya tampak lelah.com/abclit. dia akan mengejarmu sampai neraka. jujur. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. Gendut belum berani bicara. Walau cuma serupiah. no comment" . Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. dengan bangga. semakin bersilangan. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. malu. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul." pesan bapak belasan tahun lalu. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. wajah Eyang Putri tampak pucat.Generated by ABC Amber LIT Converter. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano. http://www. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. ia hanya berucap "no comment. DI antara para cucu. dan berani. yang gigih menentang setiap penyimpangan. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat.processtext. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. Namun. Sesungguhnya.

Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. sungai yang mengalir. dan entah apa lagi. Setelah Eyang Kakung meninggal. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Juga nama cicit-cicitnya. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Tapi. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. http://www. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. Rimpang-rimpang jahe. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. meskipun akhirnya tidak . adas pula waras. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar.com/abclit. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. Ada yang culas. jujur. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. Ketika kami kecil. toh akhirnya goyah juga. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. Padahal jumlahnya belasan. licik. laut yang bergelombang. jahe.Generated by ABC Amber LIT Converter. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. dengan berbagai wataknya. sawah yang membentang. Dan ingatannya masih tajam. pemberani. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Setiap pagi. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. Jamu itu kemudian dijual di pasar." ujarnya. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita.processtext.html Setegar apa pun hati keluarga kami. dlingo bengle. Tubuhnya masih cukup tegap. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Meskipun usianya di atas delapan puluh. Matanya masih bercahaya. kencur. atau penjilat. gunung yang menjulang atau langit yang biru. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. Harum tapi juga semegrak. cabe puyang. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. Dengan runtut. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu.

"Kalau kamu bagaimana. "Kalau saya ya pilih kaya.html hidup bahagia. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya. Bingung." sergah Mbak Ratri." Eyang menatapku. yang dipikir cuma perut. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan. Semua tertawa.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Bicaralah.processtext." pesan Eyang Putri." ujar Mas Swandaru sambil bercanda. "Ah kamu. Ayo. Gendhut. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri. http://www.com/abclit. Aku kelimpungan. nggak apa-apa…" .

"Pintar kamu. "Dia bukan pintar. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar.processtext. Dia punya banyak akal. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar. Mendadak.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik.com/abclit. tapi hanya untuk mengakali. Eyang Putri diam." Semua tertawa. Ndhut…" Eyang Putri terkekeh. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . tapi licik. ketakutan diam-diam merambat. mengurung kami.

kalau kalian besar nanti. Satu per satu kami tertidur. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai. Ratri menyahut.com/abclit. Dia bilang. . jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang.…"sahut Mas Swandaru. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya. "Benar Eyang. "Iya. Kantuk pun bergelayut. "Akhirnya. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani…. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. dalam gelap malam. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. http://www. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri." ujar Mbak Kunthi.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri.html Kami mengangguk. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan." Malam makin larut. "Maka.

semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Ke mana air mata itu. Bukan kancil atau ular piton…" . Mereka hanya saling memandang. Eyang. empat kakak Gandut masih menunggu. Gendut kaget. "Biar aku duduk….html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. tapi masih tetap tegap." ujarnya pelan. Urat-urat wajah mereka menegang. Perempuan renta itu berjalan pelan. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. "Kita berdoa. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. lemah. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. Dalam beberapa kejap. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. Wajah mereka tertunduk.processtext. "Ndut. Tapi Gendut memberanikan diri bicara. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Di luar kamar. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras. tak ada suara terucap. http://www. pikir Gendut. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri menggeleng.com/abclit.

meskipun kami tidak punya bukti.com/abclit." "Tapi.html "Bagaimana kamu tahu. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www." ujar Gendut. Ya. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" . "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. "Mestinya sejak dulu. "Itu yang aku sesalkan. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil. merintih.processtext. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya…. kami percaya dan yakin. "Tapi maaf Eyang.

Semua mendadak terasa terlepas. Eyang Putri berkali-kali menarik napas. sebelum akhirnya pingsan. Mungkin…. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas.com/abclit. Itu masalahnya. Edisi 05/22/2005 . http://www.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. ditelanjangi. seperti terbaca." ujar Eyang setengah meradang. Tubuh mereka serasa berubah transparan. "Kebenaran akan membersihkan namanya. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter." ujar Kunthi. akan mengembalikan martabatnya…. DI rumah itu. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya. Mereka merasa dilucuti.

Generated by ABC Amber LIT Converter. menginjak seekor trilobite. Jejak sepatu celaka.. Betapa kekal. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. http://www. homo erectus. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu.. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. menguap. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. dan waktu melenguh. Di suatu waktu di zaman lain. bagi kami. tak bisa tidak. bongkah itu akhirnya pecah. SEPATU itu. Semua akan hancur. Dari satu waktu ke lain waktu.html SEPATU itu. pikirmu.. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. melesak di leher. ternyata sia.sia? Maka sembunyi itu. di zaman homo habilis juga belum ada. Betapa kekal jejak itu. lebar 11 cm. seluruh waktumu. setiap detik dalam hidupmu. ditemukan juga jejak sepatu. sepatu serupa. seperti yang selalu kami yakin. dari satu batu ke lain batu. artinya pula tak lain satu kata: gila. harus kami bikin tetap sembunyi. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. Sepatu lars. tertahan dalam bongkah batu.processtext. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong. Jejak celaka! Bagaimana bisa. segera jadi bohong besar.com/abclit. dengan cara begitu rupa. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. homo sapiens. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? . memanjang ke fragmen tengkorak. lekuk bawah tumit 2 cm. TETAPI trilobite. selain fosil antilope. dengan bertumpu di bagian tumit. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. sepatu manusia. Jejak melesak di tubuh-tubuh . Dengarlah sepatu berderap. neanderthal. Homo habilis. Dan itu artinya.

foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. Orang-orang berseragam ini.html Tetapi. dengan foto-foto yang dideformasi. ketika muncul di Science. tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto. gebuk pukulan. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi lalu. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. Artinya.. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. tetapi kami lupa? Tetapi toh. Terdengar pula suara seperti letusan. tetapi itu biasa.. ruang kuliah. dengan amarah bagai meluah. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. begitu jauh.processtext. penuh literatur fiktif. Baiklah.com/abclit. semua kami musnahkan. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. Gemuruh derap menggasak koridor. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. Jadi. Menggasak leher. Dan setelah segalanya beres. telah hampir sepuluh tahun kini. bentak. Racau panik. http://www. lengking tangis. bertumpang tindih dengan hardik. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh. untunglah. SEPATU itu. membuat kami sungguh kelabakan. Pekik. Dengan satu kali jumpa pers. berhamburan. Fragmen tengkorak itu. melipat waktu.. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Bisa runyam. Mahasiswa berlarian. merangsek masuk ke dalam kampus. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. perpustakaan. menerjang. rusuk. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu. sebetulnya telah ikut terbakar. juga lolongan. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. menjalar lirih ke telingamu. Tulisan yang tentu saja direkayasa. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Menembus ruang. kenapa mereka menyerbu kampus? . Betulkah foto itu hilang? Atau. jerit. timbul-hilang. selesai. Bisa heboh. Memang muncul berita di koran lokal.

Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. demonstrasi. Masuk ke halaman yang kukenal. Di dalam juga tak kalah sesak. tetapi terasa seperti hujan. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Ke sesosok tubuh yang terbujur. berbaku tindih jejak sepatu. Mungkinkah hujan lain. itu bukan urusan kami. Di luar rumah sangat banyak orang. Lihatlah seorang dari kami. Tak ada becek. kursi-meja berjumpalitan. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini). Begitu tenang. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). seluruh waktu kami. pun ruang perpustakaan. Dan lihatlah itu tadi. seperti halnya juga tadi di lantai satu.com/abclit. dari hari lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. ruangan itu juga tampak porak-poranda. entah ruangan apa. Tak ada hujan.html Namun tentu. Merembes dalam bisik. Dan takkah pula lumpur lain. di luar tak ada becek. meresap dalam senyap. Dan setelah segalanya selesai. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau.bermimpi tentang demokrasi. Sungguh situasi yang tak terduga. basah itu. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. Menembus waktu. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. di sinilah foto itu kini. kini menjelma jadi kuyu. TAK ada hujan. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. Kampus diserbu. Bila sebelumnya tampak heroik. tegak termangu di puncak tangga. Padahal tak ada hujan. Dan di lantai. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. Rumah yang kukenal. Mahasiswa diburu. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. bagai tertidur. Seperti lelap. bukan? Sesekali terdengar helaan napas. Beberapa kepala pelan terangkat. kemudian. Pulau-pulau yang terbujur. menembus ruang. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. kami gunakan untuk mencari. ternyata ada di sini? Memang aneh. dalam basah. Melalui pintu yang ternganga. pada setiap kepala yang tepekur. Labor-ruang praktikum hancur. bagai tertidur. Beberapa digelandang digiring ke truk. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. aku bagai melayang. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. http://www. . beberapa dilarikan ambulans. Menetes. seperti berat.processtext. setiap detik dalam hidup kami. Dan lihatlah lembab itu. Tetapi yang jelas. Dalam lembab. Dan juga celaka. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. Tetapi. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. Menatap ruyup ke tengah ruangan. Takkah aneh bahwa foto itu. Juga senggukan tertelan.

timbul-hilang. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah.com/abclit. di hampir seluruh bagian tubuh itu. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. Dan. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. 4 April 2005 . ke lain ruang. dan waktu melenguh. Menembus ruang. pikirmu. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. Bebas waktu. kamarku. Menghunjam dan melesak. Tetapi. Tetapi itulah. Dan. Jejak melesak di tubuh-tubuh. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. Dengarlah sepatu berderap. memintaku mencarinya.html Itulah aku. rusuk. Menembus dinding. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. sang arkeolog ini. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. Dan inilah ia. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. Kamar yang juga tampak begitu tenang. mematahkan rusuk. menjalar lirih ke telingamu. sebuah jejak baru. Tubuhku. Gebrakan meja. Sangat serupa. Begitu lengang. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. tak jauh dari tubuhku. ganjilnya pula: di atas foto itu. sehingga ia begitu marah? Tetapi. Dari satu waktu ke lain waktu. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. melipat waktu. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. tak lagi penting.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menerima makian. http://www. Siapa tahu. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. aku selalu lupa. Ruang kerja Ayah. Begitu pas.processtext. Dan. Mungkin juga itu orang lain. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Mungkin pula itu di masa depan. bukan aku. dari satu batu ke lain batu. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. ada foto itu. Menggasak leher. begitu jauh. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. atau mencoba melihat menggunakan mataku. Meremukkan leher. Kembali aku melayang. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. Betapa kekal jejak itu. Kini aku bebas ruang. pernah atau tidak. tepat menimpa si fosil jejak sepatu.

dengarkanlah ceritaku. . karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri. memedihkan mata dengan getir pasir. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Gusti.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki. untukmu Gusti. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Karena itu. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati. Maka.com/abclit. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. tanpa cambukan.processtext. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai. http://www.

.Generated by ABC Amber LIT Converter. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. Jika tak percaya. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan.processtext. http://www. Tak bisa mengutuk." Ia tak lagi punya jejak." Ia tak bisa lagi menangis. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. dan malam yang kehilangan rembulan.com/abclit. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota. kepala yang dilindas truk. darah yang terus mengucur. Ya.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya. Ramli. tapi keretanya telah remuk. Dengan petikan sitar gaib. Tak di mana-mana. Ia tak bisa mengamuk. "O.

Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga." Tak di mata yang menciptakan surga. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. Lukman.com/abclit. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium. ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan. ke jalanan becek bertabur roti. "Ya. Maka.processtext. http://www. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena . mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu. ke got becek untuk mandi. Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku.html "Tak di mata yang menyimpan surga.Generated by ABC Amber LIT Converter." Kamu cuma budak haram. aku memang cuma budak haram.

" Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan. Nanti kamu didenda.. Hanya. pulanglah ke negeri ibumu.000 budak haram. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan. aku akan pulang. "Ya. Ayolah. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap.. Lukman.com/abclit. http://www. "Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800." Maka. Lukman. . Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko. Lukman. "Mereka tak punya algojo. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman.processtext. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. tetapi segera pulanglah. segeralah pulang.html pasporku hanyut di sungai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nanti kamu dipenjara." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah." Ya. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam.

Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. . ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya. ke kopi terakhirmu. "Ibu? Ibuku telah mati. Kalaupun masih hidup. Sayang. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang. http://www." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. "Ke gua gelap itu?" Ya. Sayang.com/abclit.

Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam. Rahma.com/abclit." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu.html "Setelah itu. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir..processtext. menguburmu dengan bunga mimpi.. http://www." Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa . Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu. Karena itu. "Kalau begitu aku tak mau pulang. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan." Begitulah Cara Waktu Mengaduh.

Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan. Kau tentu bisa menjelma ikan. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. Kau tahu bukan Redana. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran." Ya. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. http://www. Pangeran Kelelawar itu. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. Rahma. Rahma. Rahma. Rahma. Kau tahu bukan Romo Sindu. Tidak di jalan-jalan. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. "Tidak di keriuhan?" Ya. kota ini memang sialan. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban. Padri Minohek itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tentu keindahan tak harus disembunyikan.processtext. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak.com/abclit. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. Rahma. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak .

aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi.html pernah pulang. Aku hanya. Tetapi mereka hendak dijagal juga. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra. ke ujung mati. Kunti. http://www. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. mereka melenguh seperti kerbau api. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki. "Jangan lari. Rahma.. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana.com/abclit. Bukan di Kurusetra. 37 tahun. Rahma.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kunti.processtext. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. aku tahu. "Namaku Petro Sale.. Rahma. Kunti. Tetapi.." Dor! . Maka begitulah cara Waktu mengaduh. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi. Aku hanya. Tetapi mereka hendak dibunuh juga. Bukan di padang pembantaian. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri.. 23 tahun." Dor! "Namaku Guspar Hasan. Kunti. Ia menangis dalam gerimis. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api.

dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri. Kunti. Lalu kaulepaskan angsa. tikus. buaya.. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan. "Halo. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi. ya Kasturi. aku hanya membawa tikar menuju belukar." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela. ular. Aku hanya. 25 tahun.." Dor! Lalu kau pun tahu. kuldi.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. . "Aku mencintai Hang Tuah. Aku." Dor! "Namaku Remi Guis. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi. http://www.html "Namaku Markus Taji.." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni.com/abclit. musang. hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri. Soekarno.. Tak ada obat.

dan kita akan kesepian. Soekarno kehilangan tuah.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti." "Ah. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. Ya. kalau dia menangis. . "Jadi. danau akan gaduh. krok. burung-burung terbang ke langit entah." "Aha! Aku suka metaforamu. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu.Generated by ABC Amber LIT Converter." tiba-tiba Angela menyela.processtext. krok. krok. Oke. http://www. Hijazz. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok. kita memang kodok. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku." "Ya. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia. kau keliru. "kita cuma eng-krok. tua.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip.com/abclit. revolusi telah patah. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya." kataku mengolok-olok. Sayang. eng-krok. kita adalah budak yang tak punya malu. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela. Sebab di hadapan Sang Waktu. kita memang bahagia.

Kekasihku. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti." Aneh. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri. semua ternyata hanya lumpur. Karena itu. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. Jadi. 2005 . Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. suami-istri yang kian merenta itu. Dan Kau tahu. "Lihat Hijazz.processtext. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera. Cintaku. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. Kuala Lumpur-Selangor.Generated by ABC Amber LIT Converter. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. http://www.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. itu aku dan engkau.com/abclit. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Lumpur-Mu.

html . http://www.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful