Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. Aku tahu itu. Kukibaskan ekorku.com/abclit.html berbisik. mengenai kakinya. penuh kerut-merut. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. http://www. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Tapi. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Ya sangat dalam. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Hujan turun makin deras. alat pemotong kaca. dan siap dihunjamkan di perutku. karena dulu. Ya. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. . Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. aku selalu waspada. Aku pun menurut. Tuhan. Kuamati orang itu. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. naluriku memaksaku berpikiran begitu. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. ada besi pengungkit. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. ia menjumpaiku. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. hand phone. Dengan bahasa isyarat. Ia mencoba memberiku segumpal daging. kuambil jarak beberapa depa. alat pemotong besi. drei. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya.processtext. Tapi aku menolak dengan halus. linggis kecil dan masih banyak yang lain. Maka. Ia pelan-pelan bangkit. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. Dari tempias cahaya lampu. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. menyiapkan berbagai peralatan. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Maling pun tetap harus serius. Entah kenapa. Aku menunduk. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). Siapa tahu itu tangis buaya. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. atau benda lainnya. Melihat urat-uratnya. agar tidak konyol dicincang massa. pukul besi. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. dia menangis. Orang itu merasa serba salah. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Perasaanku campur aduk. Dia memandangku. Rupanya ia tanggap. orang itu telah keluar membawa bungkusan. Dengan langkah yang gagah. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Kudekati dia.

Aku masih mendengar tangisnya. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Muncrat darah merah dari dadanya. seperti menatapku. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Aku sangat panik. Aku menggonggong makin keras. makin berkurang. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Aneh. penuh kesunyian. hingga orang-orang pun keluar rumah. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. rebah ke tanah. Edisi 05/21/2006 Malam itu. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. akhirnya. http://www. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Orang itu tumbang.com/abclit. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Melihat mata ibu. dan canggung. maling itu tetap diam. dan berharap ia segera berlari. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. tangis anak dan istrinya. Tangis itu sangat panjang dan dalam. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Bahkan. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Sial. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Aku memaksanya lari. Tiba-tiba saja. Terus menatapku. Senapannya terus menyalak. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. Mereka mengelu-elukan aku. Ia tersedu-sedu. Entah kenapa. muncul kilat. .html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. Ia tampak panik. Makin keras. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu.processtext. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. ia menghentikan kegiatan itu. Aku menggonggong sangat keras.

tak lama berselang. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pastor dari paroki datang. karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. Tubuhnya sampai gemetaran. Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. "Ampun. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Tapi. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Tapi. (Mungkin pula. ia pun tidak menangis. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). ayah mendengus.. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu.. Namun. lalu memukuli ibu lagi. Namun. Ayah berhenti memukul ibu.. minyak tanah! . supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. apa? . http://www. Batu penggilingan? ..com/abclit. Tapi. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis.processtext. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. ia juga tak menangis. Monang mencari-cari pisau. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. Beberapa kali.. Kayu bakar? . Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Ia memang selalu dimanjakan. Tidak. Minyak tanah.. ia tetap bergeming. Monang minta digantikan. dalam pikiran ayah. Waktu ayah meninggal. Namun ia takut pada ayah. Monang berlari ke dapur. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. Dan lebih lagi. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. Ketika kanak-kanak.html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Seumur-umur Monang jarang menangis. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah.. besok. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. di ruang dalam. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau." katanya. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. Dan memang semestinya demikian. Dan ibu menjerit-jerit lagi. Ia minta ijin pulang. Ayahnya pasti bisa menghindar! . mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah. ampun pak. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. Ah. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken..

Dan tetap tak menjawab. "Ayah. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. http://www.!" panggil Monang. di malam pekat.com/abclit.. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. Di tengah samudera itu. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya. "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya... ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak.?" suara si ayah pelan. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat. Tapi tangis ibu yang lirih itu. "Maafkanlah anakmu ini. ayah. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api.. "Mo-nang.. Ia tak menjawab. "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. Ayah menoleh.. ada sebuah perahu yang terombang-ambing.!" .. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. tapi menahan diri.. Lalu berbalik. Sebab. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. menghadap Monang menatap mata sang ayah. ayah. Namun. maka aku tidak membakar kamar ini.html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar... Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi.. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia merasa diajari seperti anak kecil.

Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.. Serasa sekejap.!" "Kau.. "Ayah. Ayah menggelengkan kepala. Kemudian ayah tertegun.. Lama.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. "Ya." Monang bergerak pelan mundur.. "Ya. lalu menghela napas panjang..processtext..!" tangis ibu. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca. ayah berlutut dengan punggung tegak.. Ibu pun demikian.?" ayah bergerak pelan mendekati Monang... ayah. Monang terkejut mendengarnya.! Ya.!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung..Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya. Tuhan. Mulai hari ini. http://www. "Berhenti di situ.. Berikutnya. tetap di situ..com/abclit. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai.. .. Nak. "Jangan. berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi.html "Kau. ayah.

" suara kak Nurma terputus." Sungguh. meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?.... waktu itu. Hingga kini.. Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya. Monang terkesiap mendengar janji ayah.. Monang.. http://www. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu.?" . Ayahmu sakit keras..... Berdoa?.. Monang meraih telepon genggamnya dari meja. "I-i-ibu kenapa. ayahnya sudah meninggal.. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. "Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. waktu itu.. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Allah.. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi.. Tapi menurut Monang. "Engkau harus pulang sekarang. Dan akhirnya. Kerabatmu datang menjemput. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi. >diaC< Telepon genggam berbunyi." katanya. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir..com/abclit.. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam... Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. Namun....?" Monang menenangkan hati. Monang membersihkan kelopak matanya. "I-ibu. Kak. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya.processtext. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian.. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal.

?" Monang mengangguk dan lega.. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang. "Aku tukang mabuk. I-i-ibuu. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok. http://www. ibu mau juga ikut.... Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan." jawab ibu waktu itu...?" "Mmm. nanti aku merepotkan mereka.... "Kau belum tidur...html "Nah.. Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini.. permintaan! Monang terdiam.. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?.. Nak.?" .... Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu... Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu....? "Ya. Kak.com/abclit.?" "Mo-nang.. Bu. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau. Namun. "Mo-nang? Kau mendengar aku.. tapi ini penting..Generated by ABC Amber LIT Converter.!" Oo... Jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi. Nak?" "Beginilah tukang koran." "Ibu kenapa. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu.processtext.... Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok.. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?.

.." Terputus. ia bertekad membahagiakan ibu. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya... Monang dan istrinya kekurangan biaya... Betapa... ah! Lalu apa permintaan ibu?. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Bu. "Aku tahu keadaanmu. Nak.. iya. ya. Nak. Aku tahu hatimu!" katanya. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu." Ah." kata ibu dari seberang sana. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon." "Oo.. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian. Tak ada yang sempat mengantarkan. anak mereka sakit dan mesti dioperasi.. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya..i-i-iya.... http://www. "Kenapa putus?" "Habis baterei. Tak apa-apa. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi." . Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka.. Maafkanlah..processtext. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu. Bu." "Lusa Ibu pulang...html "Mm. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya.. sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi.. Ya. Bu. "Hallo.!" "Mm. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. Namun.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ibu tak bisa menginap di rumahmu.. Si ibu menguatkan hatinya.. Nanti terganggu usaha koranmu.. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak. Nak.. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. menantu dan cucu-cucuku. Tapi lima bulan kemudian.

"Tapi.. ada kak Nurma di situ. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain. pohon johar.." Monang memasang pendengaran baik-baik. Lantas?. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Berpantun pun. Teruskanlah.com/abclit. dan pohon-pohon bambu memagari kampung... Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. Bu. Ia ingat. Monang..... dua hari sebelum aku berangkat ke sini. "Monang? Kau mendengarku kan. Bila kayu bakar di rumah habis. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ.. di sebelahku. di kampungnya ada pohon mangga.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa..! Katakanlah apa permintaanmu itu.. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang. Dan. Pemiliknya Ompung Ojak..?" Monang mengiyakan.?" "Iiya.. "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ. ... Bu.." kata Monang akhirnya..Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Ibu.. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang. "Permintaanku?" "Ya.processtext..... Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening.." Monang ingat. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan.. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu.. http://www.. Kau ingat tempat itu." Monang menghela nafas.

Ibu! Monang menarik nafas..?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu." . maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?.. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang... Nak...Generated by ABC Amber LIT Converter. Sepulang dari sini. "Sekarang dengarlah baik-baik...processtext.. ibulah yang selalu menyuruhnya.... Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya... maka ditebang yang tidak lurus.. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang.. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga. Nak. http://www.!" Monang mengangguk. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar...?" Oh. Kalau pohon johar. aku akan beritahu Ompung Ojak. tinggal Ibu.?" "Ada. Diam beberapa saat.. Bu? Ibu kan masih sehat. Bu.." "Apa... Bu.. Nak." "Terus.!" "Bagus. "Lagi pula.." jawab ibu cepat... Nak. Bagaimana..com/abclit." "Satu batang digunakan sebagai peti. "Baiklah...html Sepeninggal ayah. Nak.. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak.. tak ada anak-anaknya yang di kampung. Nai Manjur sudah meninggal.

Aku ingin ada kacanya juga.... Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan.. Keindahan memang tak bisa diam. Sekali lagi dia tersenyum.. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok.!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya. Menelepon. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. .. Nak. Menelepon. Pergelangan tangan itu ngukel1. http://www. sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok..Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti yang kakak-kakak lakukan.." "Ibu.. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.. Monang menelepon.processtext.. lalu telunjuknya menjentik. Dia tersenyum..com/abclit.!" Tut-tut-tut. Aku ingin menyenangkan hatimu.html "Ibu masih kuat. Bu.. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya.. Ibu.

tak banyak bicara. Sejak hampir sebulan ini. duduk luka. entah siapa yang menjadi biang keladinya.com/abclit. tetapi menebarkan harum yang samar. hampir dua puluh tahun lalu. lalu menghilang di kamar kerjanya. mencium kening istrinya. Sepi kian runcing. sesuatu yang mustahil sebetulnya. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. Anak. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. kering tempe. seperti tangan penari. yang harus selalu menjaga penampilan. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. Tetapi. rajangan dadar. entah ada di ufuk mana saat ini. Dia berada di tandu. Wening si bunga matahari. Airmatanya beku. ketimun. Sony. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah. sudah mendengkur kelelahan. Barangkali saja. Kadang begitu datang. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. "Aku ingin menari. makan. mengkristal di dinginnya malam. Tetapi. setelah mereguk kenikmatan. http://www. yang oleh Mas Ondi—penata busana. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. Jadi. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. Waktu terlipat oleh kecepatan. Wening si prenjak telah musnah. suaminya tak menjawab apa-apa. Malam ini. siap senyum. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. Ah. si sulung. Neny. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah.anaknya entah ke mana. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran.html Dibayangkannya. dan menusuknya tanpa kata. seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. mengeluarkan baju-baju dari koper. dan dia bukan lagi Si Wening. harus masuk sangkar. . di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. Berdiri luka. nantinya. tetapi inilah hidupnya. Dan sejak itu. tak banyak gerak. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. Wening hanya diam. boleh ya. sejak 25 tahun yang lalu.Generated by ABC Amber LIT Converter. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang.samar. sudah punah. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya.processtext. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. mandi. Bang?" bisiknya suatu malam. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. akan diberi untaian melati. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. Bang Irfan sendiri. mungkin pergi dengan pacarnya. Wening si walet. tentu akan lain ceritanya. abon. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. si ABG-itu. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini.

" dari Neny sebelum pergi. http://www.html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Maka pembicaraan itu terkunci di situ. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera.. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya. Dan jiwa itu.. enggak pakai ini.." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan. entah kapan.. Dia ingin menari.. Itu saja. biar aku menari untuk Abang saja. Mom. cermin..processtext. Aku lebih suka kau ...... segalanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti. atau apa pun impiannya. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh. hening. "Kenapa. Tetapi tak ada dari Bang Irfan.. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian. Album foto pentas terakhirnya." "Kalau begitu. Dialah Drupadi berambut panjang itu. Dialah dengan kain panjang . Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya... Wening beku. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu. Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua. Bang?" "Tidak boleh.. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya.. bahkan sms. Apa susahnya?" ucap Bang Irfan." "Aku enggak suka tarian." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku .com/abclit. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan." bisik suaminya.. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday. Mereka bergerak dalam diam. Dia ingin menjelma Drupadi. rapi. ".. Aku memberimu semuanya. dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari. karena kau istriku. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa.. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya. Hidupnya memang menjadi barang taruhan.

"Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. berjalan dari pelataran GKJ. yang menciptakan jarak sepi. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. dan karenanya. Dalam gemulai geraknya. malam itu.. melintas perlahan di karpet merah. Tetapi.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya.. Itulah yang menggerakkan Drupadi. "jadi penari. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. http://www. manakah Wening dan manakah Drupadi. menghidupkannya dalam sebuah lakon. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup. bahwa inilah jiwa kalian. tertiup pendingin udara. dia selalu lantang menjawab. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. menyedot seluruh pancaindera penonton. berulang. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". memasuki pintu. menaiki tangga.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. Jiwamu lebih halus.com/abclit. menggema. memberikan keheningan. ajaklah dia berbicara. Wening bangkit dari tempat duduknya. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. Langkah yang sudah dihafalnya benar. Tepuk tangan berkepanjangan.." jawabnya agak polos dan kekanakan. Cahaya lampu berkebit. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. maka kau akan dilimpahi cahaya. Izinkan dia bersamaku malam ini. Dan penonton memang tak bisa membedakan. melangkah hati-hati. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Bang Irfan pulang. wahai makhluk bumi. Biarkan matamu menangkapnya. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. Akulah keindahan. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. membiarkan berpuluh. Akan kuajarkan kepada kalian. membelah kerumunan penonton yang masih di luar. . Wening remaja 18 tahun itu menjawab. membiarkan dengung gong pertama bergema. Mereka terhenti di suatu ruang. Wening ingat.processtext. GKJ pecah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum.

runcing.. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang. Dikenakannya kemben kain panjang putih. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat". Sesaat kemudian. dasar. "Abang pulang? Sudah makan... Pintu terbanting." Berkata demikian. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Wening melepas bajunya. http://www. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. Wening masuk kamar. Diserbunya kamar Wening. tapi kali ini. Ucapan kasar. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai.processtext. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. darah mengalir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suaminya terdiam. Aku suamimu. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. Begitu kasar ucapan bang Irfan. api kemarahannya menggelegak. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang. Belum lagi Wening duduk. Sunyi. Pasti bisnisnya gagal. Bang?" sapanya. telanjang. Irfan keluar dengan langkah besar.. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. Wening terpaku. Pintu rusak. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening.." Wening tercambuk. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan.com/abclit. terbuka dengan paksa. Lakukan keinginan abang. Aku tidak suka. . Didobraknya pintu.html "Masih saja . Silakan larang aku.

laki-laki memang tak pernah dewasa. berenang dalam cahaya keindahan geraknya.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m. kali ini. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. Dia akan menari. sesekali dia ukel.processtext. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi.. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. Dibiarkannya. miring ke kanan. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. yang anehnya. Dilaluinya pintu yang rusak itu. pintu hidupnya. Wening bergerak sangat lambat.. dungu. Mereka berubah menjadi batu. sejak malam ini. Tetapi Wening telah menari. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. Bumi yang halus.. yang diberikan manusia. menariknya perlahan. selebihnya dia melangkah perlahan. Sesekali dia kengser. dengan tatapan tertuju pada bumi. Dan baginya. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu. "Mama. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. sesekali pula dia tawing. http://www. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender. Dia adalah Wening. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. condong ke depan. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. ibu dan ayahnya yang renta. . Perlahan langkahnya menjauh. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. dari tempatnya berdiri.com/abclit. sebuah bangun menakjubkan. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. Mereka semua membisu. Langkahnya terus mengalir. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. ah. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya. terseret gerak tubuhnya. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah.. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. please. juga mertua.Generated by ABC Amber LIT Converter.. entah sudah berapa lama. Kain samparannya terlalu panjang. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. Namun.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. dan tak ada yang bisa menghentikannya. dan membagikannya kepada dunia. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. menoleh ke sudut. kemudian sanak saudaranya. mencoba mengingatkan ibunya. Tidak. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa.html Iringan rebab menyayat malam. Wening yakin sekali. Wening hanya melihat. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. tak paham akan keindahan. yang berhasil diciptakannya." bisik Neny setengah menangis. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun.

Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. dibantu sanak saudara yang ada di situ. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. *** Bukit Nusa Indah. . seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora. khususnya pada bagian tangan. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Wening tetap menari. http://www. Dia hanya tersenyum.. dia tengah menari dengan jiwanya.html Irfan mencoba meringkus istrinya. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto.. Wening bahkan tak melawan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. 982 1 Gerak tari Jawa. tak terdengar sama sekali oleh Wening. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri.processtext. Karena saat ini.

." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa. setelah mendapat laporan dari seorang kacung.processtext. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. http://www. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. Justru sepanjang digelandang. Seorang opsir dan dua pembantunya. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah." katanya dengan gusar. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu.com/abclit. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. Opsir itu murka dan menampar mukanya. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu.

Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya. Tuan." jawab sang opsir. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum.html "Aku seorang seniman. Saya bicara sesungguhnya. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa." Opsir itu memerintahnya. Itu lagu Jawa." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. http://www. bukan seperti pemberontak macam kamu. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu.processtext. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat.com/abclit. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan." jawabnya dengan enteng. . tentu tuan akan mengerti lagu itu. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut.

Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah. Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama." "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi. "Aha. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas." katanya dengan bahasa Jawa yang halus. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami. "Saya baru datang dari Surabaya. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira.com/abclit. "Oh. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu. Tentu saja tuan tak mengenal saya. http://www. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. tuan.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. tuan sungguh berbudaya. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri." katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya tinggal di sana selama tiga tahun." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus.processtext. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. Tuan benar-benar memiliki darah . Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar.

ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi. Kedua. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. tuan." katanya." "Ah. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. "Ya. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas. Dan yang ketiga. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin." katanya. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. dan tinggal di Paris selama dua tahun. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa." katanya dengan senyum simpul. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Hapuslah darah tuan.Generated by ABC Amber LIT Converter. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya.html seni yang kuat. http://www. Telah saya cari . Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. menurut pengakuan opsir kami. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya.processtext.com/abclit. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. masih menurut opsir kami. saya kagum pada tuan. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya. Saya pernah merantau ke negeri tuan. "Ah. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu.

Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda." katanya. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. Itulah sebabnya saya sampai di sini. . Multatuli. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. "Saya seorang penulis. Ucapannya tajam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rencananya berjalan mulus. orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. Tuan. "Tentu saja. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. http://www. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami.com/abclit. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya." sergahnya. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda." "Oh. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. mengetukkan jemarinya pada meja. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual.processtext. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. Dia amat menghormati kesenian. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi.

http://www. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. Edisi 04/30/2006 Bulan. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. bilik-bilik kandang. rebah di halaman. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. Terang. tempat . Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi. Yogyakarta. dan selamatlah aku dari hukuman mati." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Segaris cahaya menelusup.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. di belakang rumah serupa gubuk. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. selaksa celurit menggantung di dinding.processtext. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur.

dilepaslah baju hitam Madrusin. Cobalah sedikit sopan. campuri. Beruntung. Hubunganku dengan Asnain.. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Lenguh sapi menggaung. Serupa tarian rombongan seronen. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. Bulan. Mail. Kalau. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. serupa pengembara letih. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. Kok. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. tanpa sebab-musabab jelas. tak menyia-nyiakan kesempatan. memegang tangan. mau merampas hak kami. Kami tak ada masalah. perlahan redup. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. atas keputusan Gani. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. menuju arena kerapan sapi. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. Madrusin bisa mengelak. Nasib tak bisa ditimang. yang belum lama ini. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. Gani belum kalah.processtext. Pada Gani. . Beruntung. ”Dulu. Ya. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. masing-masing dibawa pulang.com/abclit. http://www. saling berpaut. berontak. di tempat yang sama. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. Cericit tikus. ”Kamu. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. paman.. Pada Asnain. kala itu. decak cicak. Madrusin. menepikan bayang. Sengaja. krik-jangkrik. ketika itu. tiba-tiba. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. kecewa kepada eppak-embuk. Memang tidak pulang. waktu itu. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. Namun entah. eppak-embuk. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. ia tidak langsung menuju rumahnya. mencintai dan dicintai. Gani.html tinggal Madrusin. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. Madrusin. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. merampas dan segera menyeret keduanya. Di benaknya. Ia terdiam. Musdar. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. Lalu. beriringan. kecipak air dari padasan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Madrusin segera menghindar. tidak pantas jadi suami Asnain. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. ”Bilang sama eppakmu. calon istrinya yang telah raib. Begitu pun. ”Bagaimana mungkin.” Gani geram. Tatap matanya lelap. beberapa kanca Gani. ”Lancang benar mulutmu. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. bersama Luki. Paman. Dan sekarang. Paman.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. Paman.

Kalau Gani. Madrusin. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya.orang kampung kami. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. kepada Eppakmu. (sebagaimana kebanyakan orang. Madrusin yang gelisah. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). Gani kala itu berang. Terasa. Ya. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. apa maksud dari semua itu.html Langit tampak lebih cerah. Madrusin benar-benar gelisah. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. Kita bertemu beberapa bulan lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. Terang. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. Madrusin pun gairah. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. Madrusin terpaku. Entahlah. Atau. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. Asnainkah. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. (Tapi tidak. Siapkan sapi-sapi andalannya. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. menyabit rumput sebagai pakan sapi. Sesekali. kandang dan pematang. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. sepagi ini. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. http://www. Asnain. Ia nikmati secangkir kopi. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya. Keputusan sepihak. mengingat pesan dari Gani. seumur hidup baru kali ini. Ya. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. Ia mengernyitkan dahi. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. ilalang bagi Madrusin. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. Hijau daun-daun. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya.com/abclit. Pertengkaran. mengusap. bisa dibilang. lengang. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. menggaruk. Bahkan. belum kalah! Gani memalingkan muka. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya.) Sepagi ini. eppak-embuk. semenjak ia berusia sepuluh tahun. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah.processtext. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain.

Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan. Ah. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel.com/abclit. Madrusin. ”Asytaga. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. Karuan celurit itu luput sasaran. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak.” imbuh Imron.processtext. di sela kegelisahannya. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya. Madrusin mendesis di antara kebingungannya. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam. cepat menghindar. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. Selang beberapa saat. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. ”Ya.” desisnya. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. http://www. Sementara.” Madrusin tergagap. meski sebenarnya ia ragu dan curiga. celana komprang berlapis sarung. cepat ditunggu kakek. Madrusin. Bukannya ia takut dibunuh. Pada Asnain mantan tunangannya. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. Gani menunggu terlalu lama. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. Madrusin penuh tanya. apa gerangan yang membuat Gani. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. apalagi sampai ia kecewa.html merunduklah serimbunan ilalang. tiba-tiba. saling meminta maaf. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. Ia kenakan peci dan baju hitam. dijemputlah celurit. Tentu saja Madrusin tak ingin. Untunglah. Tidak. . Sebagaimana tradisi di kampung kami.

Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama.” ujar Imron. menggantung pada batang bambu atap kandang. http://www. ia duduk. menunggumu. ”Tapi. Sesaat tubuh Madrusin tersentak. ada apa. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar. wajahnya berkerut. Ia masih ingin kamu jadi suaminya. sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. ”Itu. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. langsat warnanya keemasan. Ron?” ”Barangkali. Tidak.com/abclit. barangkali sudah lama menunggu. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. Lampu teplok menyala remang. Sebagian di antara mereka membawa obor. tak kunjung jatuh. Mata Madrusin nanar. Sin. melihat Gani. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang.” imbuh. Asnain tak suka kepada tunangannya. beriringan menuntun sapi. ia . ”Sebenarnya.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. Asnain?” ”Tidak mungkin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kakek.processtext. tenang. Imron. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. Tentu ia akan marah-marah.” Mendadak. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung. di antara mereka sudah akrab dengan alam. Asnain sudah ada yang meminang. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. tubuhnya agak bungkuk. menampakkan seseorang yang sedang patah hati. orang-orang berjalan bersama. pada batang pohon dan buah siwalan. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. Madrusin tergagap. Ranting-ranting pohon menggantung. ada yang perlu dibicarakan denganmu.” ”Tentang.

kalau soal itu maaf. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang.” ”Ada apa dengan sapi.com/abclit. Pelan. saya berharap. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. yang tengah duduk menunggu. ”Tak apa-apa.html harus tenang.processtext. Man. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. Man?" ”Ya. Ah. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran.” ”O.Generated by ABC Amber LIT Converter. seraya meminta maaf didekatinya Gani. ”Ada yang perlu kubantu. kita?” ”Bulan depan.” jawabnya. ”Maaf. terlambat.” Sejenak Madrusin.” suara Madrusin ramah. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan. Madrusin. kau dapat membujuk Eppakmu. http://www. tidak. Madrusin mendekati Gani. ya?” ”Kita nego. bernafas lega.” ”Memang kenapa?” . ”O. sapi kita.

Beliau.html ”Asnain. ”Naif benar. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. Namun.com/abclit. Percayalah.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. Paman. Jogja 2004-2006 . Madrusin tergagap. Tak seperti biasa. mengendalikan emosi.processtext. Gani pun naik pitam.” desis Gani. ingin menampar mulut Gani. http://www. tajam. sangat kuat dengan prinsipnya. Asnain?” ”Taruhannya.” Madrusin. ”Kenapa dengan. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani. Man.” ”Eppak. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin. tak bakal mau. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat. yang hanya sisa tradisi.” ”Sin. naik pitam. Lancang benar kamu. Madrusin terus menjaga dirinya. untung saja Madrusin segera menghindar.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi. Asnain tetaplah akan menjadi istriku. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan.

mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. uji coba pertandingan kerapan sapi. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. alim ulama. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. Bapak Ibu. juga tanpa wasiat. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. http://www. Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap." "Istighfar kak. Amat menakutkan. seperti korban overdosis. Para sesepuh adat. Tadi pagi masih segar bugar. [2] Eppak Embuk. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat .processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. [3] Kae.com/abclit. Tanpa firasat. Saat ditemukan. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri.html Catatan [1] Lotreng sapi.

" ketus Lusi. kampung kita. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. Tapi. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi.com/abclit. Sebab. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. menyelesaikan program doktor. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. sebelum diusung ke pemakaman. http://www. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. tak lama lagi akan segera disembahyangkan. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. jika ayah tidak ’pandai-pandai’.processtext. Nah. bidang ilmu politik. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. semuanya terserah ayah…. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . agak sinis.html membendung kesedihan." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. tidak segampang itu. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah.

meski tidak menjabat bupati lagi. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. "Tentu saja boleh Nduang. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. Tapi. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. "Iya pak. agar si Bujang Paik. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya. Kalau saya bantu.html ke rumah dinasnya.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. seperti hendak mengelak. Hingga kini. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. ceritanya akan lain. pasti akan diterima. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan.processtext. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton." jawab bupati. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. mentang-mentang kita sekampung. sedikit berdiplomasi. Selama menjabat. jaringan telepon dipasang. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. menghormati beliau. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. "Daripada menganggur saja. Padahal.com/abclit. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. Itu saja tidak dikabulkan bupati. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. .Generated by ABC Amber LIT Converter.orang nagari Sungai Emas. biar mampus!" umpatnya. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. http://www. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. itu artinya kita berkolusi. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. Bermohon kepada pak bupati. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas). tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. Ah. Meski sudah pensiun.

orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut .com/abclit. bupati sudah tiada. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. Ua-ha-ha-ha…. Anak-anak muda menganggur. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejak itulah. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana. Namun." balas kak Pi’ah. Terlalu lurus. bupati mulai dimusuhi. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Lagi pula. pergi merantau. dasar orang jujur. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. Sebenarnya. pura-pura tidak paham. sok jujur. kuli bangunan. mengadu peruntungan ke Jakarta.html Sayang sekali. lurus tabung. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. tak layak tempuh. entah sampai kapan. Kematian yang misterius. jalan satu-satunya adalah. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. tapi kini sudah mati. Apa boleh buat! Kini. janda tua pemilik kedai kopi. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. http://www. Ironis! Namanya Sungai Emas. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. tukang jahit. Maka." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. kasar benar kelakar sutan. Genap tujuh hari kematian bupati. tak jelas juntrungan. petugas parkir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sementara itu.processtext. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. hanya tinggal nama. tidak pula penyakit kronis. agak kesal. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya." "Ah. satpam. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. Tak ada biaya. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. Tak dihormati lagi. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. seperti tabung.

apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. "Oh.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. Meski diam-diam. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. itu sama saja artinya dengan bunuh diri. kini ia pejabat eselon di Jakarta. Sejenak si Datuk menerawang.processtext. Iya. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo. Tak bakal berhasil. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Bagaimana menurutmu?" "Nah. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. kematian selanjutnya. Kenekatan macam itu. Tapi. ganti bertanya. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. "Putuskan saja tali jantungnya….com/abclit. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. itu dia yang kita cari selama ini. Lupa saya. Lagi pula. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. "Tapi." jawab Marajo Kapunduang. bisa saja jauh lebih mengerikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. "O." Kelapa Dua. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. Kabarnya. hanya akan mengundang musibah baru. Bila kelak ia memenangi pemilihan. kali ini sambil bergurau. Namun. di nagari Sungai Emas. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. http://www. Sebab. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. mulai bersemangat. 2006 Catatan: .

omong sok tahu. cengengesan. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). tawa diejan. "Gagah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. Lalu meluncur. entah sampai kapan. oh sungguh tak tahu malu. dari perut yang belah.com/abclit. "Itu ayahmu." sebelum kemudian ditutup. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Tidakkah mereka memang menggali. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. "Dermawan." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi." Beruntung? Hmh. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah." "Terkenal. rakus. . "Betapa beruntungnya kamu …. Lima tahun setelah hari ini. darah.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas.processtext. tak lebih seorang dungu. Mengalir. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah. tentu pula. Dan. http://www. sodoran mike. saat itu. melempar senyum kiri-kanan. Tangis dibuat-buat. temannya akan berkata." Timpal teman lain. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata. julur perekam. akting murahan. Di depan kamera. gadis itu akan sering berada di depan televisi. kaya. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. awet muda. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. janji palsu. duh tampannya. tentu saja. Ayahnya sendiri bukankah juga. Karena. si ayah. kalau memang demikian adanya. Menggenang dari kepala yang rengkah. selalu darah. ia pikir itu bisa saja. saat itu semua tak penting lagi. masuk ke dalam sumur. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. Mengangguk-angguk. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu.

ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. berteriak. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. Senyum. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. Merangkak (rambut keriting. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa…. si ayah … ah. atau seperti apakah. kepada dirinya. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. serta-merta duduk. samar pantul wajah. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. peduli apa. Ke angkasa? Bagaimana. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. kadang ingat kadang tiada.com/abclit. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. ke angkasa. menjelma ada. ia teringat black-hole. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. tentu.processtext. Black-hole. pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. Melesat? Ya. lama-lama. entah kenapa. Black-hole. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul. pernah muncul dalam hidupnya. Terangkat. sumur itu. Bahkan kepadanya. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. Disedot? Hati-hati. Serasa disedot. kulit hitam. takut-takut. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. lenyap tiba-tiba. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. lantas melesat. sumur. berputar-putar bagai melayang. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). menjulurkan leher lambat-lambat. http://www. . ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa.html "Dua belas tahun putusan ringan. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. mengerang-erang. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). angguk sopan—keramahan itu. meruang merongga. kalau saja wartawan tahu. nyembul-melesak. Tengkorak suaminya.Generated by ABC Amber LIT Converter. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). Dan suatu hari. dengan melayang? Ah. Lima puluh tahun lalu. lelaki. lubang hitam di jagat raya. Dan begitulah ia.

lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa.html Ia berdiri. mulanya samar dan kemudian jelas. Berkelana di hutan. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. patung-patung itu. mendekati tengkorak suaminya. Desoipits dan Biwiripits. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). Sang Pencipta. jelas tak masalah. akan ia tinggalkan? O. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. pelan menghilang. patung-patung kayu yang berserakan rebah. Dan yang kini. dengan menegarkan dada. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. sumur melesak dari rongga mata. ia lihat pemandangan itu: seseorang. Beberapa saat sesudahnya. Itu biasa bagi mereka. Oh. dari kayu-kayu. dan kemudian menjelas. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. tetapi juga mendayu. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. pelan-pelan menjulurkan leher. tentu bukanlah tanak. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. Juga berbagai buah. sumur itu … tampak begitu jelas.Generated by ABC Amber LIT Converter. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. membalikkan tubuh dan berlari. Hidup? Ya. di kedalaman geronggang mata. dan tersandar ke dinding. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. semakin jelas. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. lalu berganti dengan pemandangan lain. ia kembali melangkah. geletir air. Oh. Riak kecil. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. ia tahu cara mendapatkan. yang disebut jangka waktu tertentu. Semakin jelas. dan tubuhnya bergetar. Tapi hanya sebentar. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. lalu merangkak. Oh! Apakah. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. Tetapi … itu. duduk. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. telah menemukan jawab. tiba-tiba hidup. seperti kata damero juga. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. goyang pantul wajah. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. semua akan ia peroleh dengan mudah. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. http://www. ular. dedaun. Maka semua ini. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. Suaranya tak hanya mengentak. Kadal. Tabuhan yang ganjil. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. Pemandangan yang mulanya juga samar. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. tidak. umbi-umbian yang bisa dimakan.com/abclit. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. pelan-pelan bergerak. melainkan dengan mencuri. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. Dua sosok? Dua orang? Ya.processtext. Sumur. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. Merendahkan tubuh. khusuk menabuh tifa. lebar dan luas. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. Tetapi itu. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. tak boleh bertemu dengan siapa pun. tengkorak suaminya. Jadi inilah ia: Fumeripits. Maka. tikus hutan.

mangkok. 3 jam. Dua jam. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. crass. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. 30 menit. pundak lepas. seperti meremehkan. Darah. ujung dini hari. Sampai lama. dijulurkannya kaki ke dalam sumur.com/abclit. Hari telah malam. Ia pun dedekep. dalam rongga luas yang bagai semesta. perut … oh. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. mata rantai. cincin. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. dada.Generated by ABC Amber LIT Converter. pemandangan ini tentu juga akan hilang. itu bohong. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. darah. darah menyembur. hiasan mahkota atau entah apa. http://www. orang masih berseliweran di sana-sini. Senyum seperti mencemooh. membuat ia limbung. mulai nenepi. menyembur-nyembur memualkannya. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. Biwiripits. Dengan hari Kamis ini. leher tertebas. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. darah yang memancur. Crass. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. Lagi. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. atau jarum emas. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. tanpa sadar. Tetapi ternyata tidak. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. ketika waktunya tiba. crass. Sepuluh menit. Tetapi. 1 jam. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. menyembur-nyembur. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. Semakin dekat. kelebat kapak. tirakatan semalam suntuk nglakoni. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. darah. Ah. cras. rasa mual itu. Dan kini. O. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam.processtext. pusing yang kemudian menyusul. Ayun tangan. dan dindingnya—melingkar searah . seperti nasihat gurunya. dupa china. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. batu merah delima. nyata? Darah.html tradisi pengayauan kepala. nyata? Dan tiba-tiba. minyak bondet. lalu rebah. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. walau sudah senja. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. oh …. dan dingin. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. rujak degan. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. Lagi.

lima hari lagi. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. Memancur-mancur. lima hari lagi. tetapi subur bagi pohon jati. Selasa Kliwon…. Crass . Crass. jambu. Darah. Hela napas lega. Senyum lebar yang bagai tertawa. yang namanya guci. belimbing. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya. Lima hari lagi…. Dan di sana. menatap kosong ke televisi. Guru. pundak lepas. Seperti oase." Ya. sejenak. akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. perempuan juga. Menajamkan mata. Tetapi nanti. Tubuh lelaki itu bergetar. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka. Lalu gumam. Darah. nangka. http://www.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. Menyembur-nyembur….Generated by ABC Amber LIT Converter. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. "Selasa Kliwon. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus.… Darah. suku terasing juga. dibukanya mata. Dan seorang lagi. takkan tampak sama sekali. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai." Ya. Desoipits-Biwiripits. Lalu pelan. terutama buah-buahan seperti mangga. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. Selasa Kliwon. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. "Aku berhasil. Tetapi. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. . Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil.processtext. Crass. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Selasa Kliwon itu. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. leher putus. "mengangkat" si guci dari sumur. Payakumbuh. jauh dan kecil.com/abclit. Lima hari lagi.

Guna menjaga tempat mandi. dan kakus. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. Bahkan. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Namun. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. demikian panggilan akrabnya. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Sebagai penjaga kebun. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. bahkan bisa dibilang fanatik.processtext. dan churafat. Istrinya ikut pula memijat. bukan sembarang air. http://www. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. seorang yang berusia setengah baya. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. bidah. Pak Parto. cuci. yang dibantu oleh istrinya. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. Pada waktu siang. setelah memeriksa dan membersihkan kebun. singkatan dari takhayul. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. Untuk praktisnya.com/abclit. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Tetapi. Saking besarnya. walaupun agak jauh dari batangnya. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua. Pak Parto melakukan praktik pijat. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Walaupun demikian. yang penduduknya beragama Islam santri. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu.

html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. bukan ke dukun syrik.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya. http://www. "Itu syrik.com/abclit. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu." kata Kyai Fauzan Saleh. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban." kata Thohir dengan nada ketus. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI.processtext. demikian nama pemborong itu. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup. . Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul. Pak Thohir. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. bagaimana caranya memberantas takhayul." kata Kyai Fauzan. "Tapi Kyai. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. "Wah. yaitu Sang Penjaga. bidah. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. orang-orang desa sulit diberi tahu. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya.

Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. http://www. masjid." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. MCK menggantikan kolam yang sekarang. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. rakyat harus dibuat simpati dulu. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". Pohon trembesi terkutuk itu. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu." "Begini Pak Kyai. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu." jawab Thohir memakai bahasa santri. Kedua." kata Thohir menjelaskan usulnya. Di atasnya persis kita dirikan masjid. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu. Innal Batila kaan zahuko." jelas Thohir lebih lanjut.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Pak Kyai yang memimpin dakwah itu.com/abclit. Pertama. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil.html "Tapi. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri.processtext. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa.

" kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. al ruju’ ilal haq. seluruh bangunan itu selesai. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". Pada suatu hari Jumat. mula-mula membangun masjid." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. Dengan kembali kepada yang benar.Generated by ABC Amber LIT Converter. atau kelaparan. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat. "Wah saya juga tidak tahu. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas.com/abclit. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. dan gedung puskesmas. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan. Jika pohon itu ditebang. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. Dalam tempo hanya enam bulan. Mereka pun marah. "Lagi-lagi takhayul. Parto berkata kepada para pengikutnya.processtext. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. http://www. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. kemudian MCK. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong." tangkis Kyai Fauzan. . Tanah longsor mungkin gempa bumi. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu. penyakit menular. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya.html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu. maka Sing mBau Rekso akan marah besar.

" jawab Parto.Generated by ABC Amber LIT Converter. terutama bangunan masjid. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. . "Ya betul. Tidak saja air tidak lagi mengalir. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. http://www. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri.com/abclit. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. timbul suatu gejala yang aneh. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. terutama masjid mulai retak-retak. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Setahun kemudian.processtext. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka.

Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud.processtext. memperbaiki engsel pintu dan jendela." jawab Kyai Fauzan. memasang kabel-kabel listrik. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. Tanya saja pada pak insinyur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. karena . Jakarta. hidup dengan 460 watt. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat. Hampir tak ada waktu untuk istirahat." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang.html "Waduh. http://www. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. menggali lubang untuk resapan. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. pemborong itu merasa tersinggung. membuat pagar bambu. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Tidak cukup untukku hidup. Tapi aku akan mencobanya." jawabnya sambil tertawa keras. mengecat kamar mandi.com/abclit. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. Memperbaiki talang yang bocor. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. bangunan rubuh bukan soal agama. Kenyataannya.

Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. tidak terlalu membutuhkan listrik. Wianta. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Han.. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar.. ada bilik sederhana berdiri. Tak ada orang yang mengontrak. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. . Boi.. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. tengkeyu. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. dari teras depan hingga kamar mandi. beberapa lukisan berjamur. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu. Ah. kadang aku biarkan listrik tetap mati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebagai seorang penulis. Karena sebel. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Tengkeyu. Kadang aku ragu. Rumah itu sebuah kubangan besar memang. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Terus dikeduk. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan.. Di sebelah rumah. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. man. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. Katon. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. tempat seorang petani biasa beristirahat..com/abclit. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku.. tengkeyu. Kadang aku sebel. He-he. termasuk mengusir rezim kesenian. Beberapa teman membantuku. aku menjadi sangat kerepotan.processtext. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Rumah ini sudah dua tahun kosong. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur. Kalau listrik tiba-tiba mati. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. karena pemakaian yang berlebihan. http://www. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia.

Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. aku pernah datang ke rumah ini. Sepasang anjing kami. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Seorang teman bercerita. kadang kilatan-kilatan petir. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. tapi lukisannya masih ada. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan.html timbunan pasir yang mengotorinya. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. http://www. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Kira-kira 10 tahun yang lalu. seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks.processtext. Dadang menyewa tanah ini . Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Kopi dan Kremi. lalu mengalami kecelakaan dan mati. membersihkan diri dari kotoran. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. tetapi karena lembab. Waktu yang membuat sebuah pintu. kecemasanku muncul lagi. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Pelukis perempuan itu sudah mati. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu. Ada di depanku. Mungkin tubuh mereka seperti angin. Antara aku dan genteng kaca. Lembab. Mata memandang mata.com/abclit. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas.Generated by ABC Amber LIT Converter.

000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. lalu berdiri sebuah bangunan baru. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. Aku teringat 1. . Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter. diambil oleh beton-beton. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu." jawab Dadang. Betapa malangnya hidup ini. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. karena dia harus pindah ke kota lain.com/abclit. entah untuk rumah atau untuk ruko. kalau hujan besar. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini.html selama 15 tahun. "Dang. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. di Ancol. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. http://www. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah.processtext. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya. "Ya.

Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. http://www. 1. Fit. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup.. sayangku. Ketika dia meninggalkan rumah ini. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Ketika aku tak punya uang. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku.processtext. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang.. He-he-he. Aku terus menggali. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. .. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup. rumah itu mirip dengan peti mati. aku harus kembali menimba air dari sumur. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Manajer itu orang asing.com/abclit. Dan aku mulai kehabisan uang. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita..000 patung Dadang ada di dalamnya. Rumah itu memang terus bercerita. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan sebuah harmonika.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". saxophon. Kalau aku mati. Hmmm. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Hmmm. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. hari ini Petrus akan datang bersama Miko.

Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri. http://www. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur.. dan bukan bayangan mata air. lalu mendarat kembali. Hujan mulai berhenti. Mereka saling memagut dan bercinta.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Aku melihat hidup. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Perutku seperti tertekuk ke dalam. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas. Angsa-angsa putih menyelam. .. Waktu terasa dingin.com/abclit. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. Mata menatap mata. Asmara angsa. Kalau itu juga adalah bayangan mata air.. .processtext. bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak... Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur. Langit mulai terang. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. menyembul. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata. menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air.

juga grup dari Perancis. pemilik istana dan telaga. yang mengelus rambutnya. ayu dan ganteng. Lalu bergabung ikut ngobrol pula.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rothbart sang penyihir. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. kegemarannya. tidak minum wine. yang secantik Odette. Dengan 1. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. dan jus jambu kelutuk. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Odette. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. pemeran Rothbart bergantian. Odille.500 penonton. Andrei Joukov. Zahra. Odette dan . dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky.processtext. Di antaranya di tempat ini. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Sebaliknya. untuk merebut cinta Siegfried. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. http://www. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Usaha Rothbart berhasil. sangat populer di seluruh dunia. jatuh cinta kepada Odette. menteri. gubernur. pernah berpentas Martha Graham. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. yang ditemani balerina Masami Chino. Mendengar kabar ini. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Natalya Ashikhmina. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. Maya Ivanova. Begitu pula para pebalet teman Zahra. tentang balet di Rusia. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. sup ikan tuna. memamerkan putrinya. Mereka rame-rame menikmati salad. Jerman. dan pembesar negara lainnya. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Maxim Fomin. plain croissant. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. Dia memilih minum air jeruk nipis. Tampak Viatcheslav Gordeev. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. angin sepoi-sepoi. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. insya Allah. Irina Ablitsova. buah-buahan. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille.com/abclit. gubernur berjanji. ngobrol dengan gubernur. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. balerina 21 tahun. sebagai sponsor pertunjukan. yang putih maupun yang merah. Alvin Nikolai. Pangeran Siegfried. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia.

juga tante dan oomnya. Eyang bisa kesleo. siapa pun tak bakal salah memilih. Semuanya tertawa.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Seketika. Oxana Gasnikova. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. ayah.com/abclit. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. dan Anna Vakina. lho.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya sih. sampai Kakek terbatuk-batuk. Rothbart marah besar. ”Odette atau Odille. Siegfried sadar. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Sekalipun dengan mata terpejam. kakek dan neneknya. dan Anastasia Baranova. Eugenia Singur. http://www. ”Awas. angsa itu menjelma Odette. kedua adiknya.” celetuk Nenek. Semuanya tertawa. ibu. .html dayang-dayangnya jatuh sedih. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. cocok-cocok saja. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. Tatiana Chungunkina.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Olga Ivachenko. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga.” tukas Kakek. Kakek terbatuk-batuk lagi. Begitulah. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. ”Terpikat boleh terpikat. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette.processtext. adalah para pemeran angsa kecil. seluruh istana bergembira. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa.

sih. yang ndak cocok bagi kamu.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. Kesan.processtext. Melihat kostumnya.” tukas Nenek. Aduh. ”Saya serius.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Jika kita bicara soal kesan. memangnya kenapa?” tanya Zahra.” ”Jangan begitu.” tukas Zahra. semuanya terkesan jelek. ”Semuanya kan tertutup rapat. Eyang.html ”Apa. Semua tertawa.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya.” sambung Kakek.” sanggah Kakek. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” . ”Lho. Eyang.” ”Jangan begitu. http://www. pertunjukan itu harusnya disensor.com/abclit.” kata Kakek.” sergah Kakek lagi. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. ”Tapi. ”Itu kan mengumbar aurat.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Kesan.

” sambung Kakek.html ”Wah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Meriah. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kok yang disalahin balerinanya. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra.processtext. Obrolan berubah jadi perdebatan. peradaban.” ”Eyang yang kasmaran. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi.” ”Wah.com/abclit. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. wah. wah. kecuali Kakek. mendadak berubah jadi filosof.” Semuanya tertawa. Eyang ini gimana. http://www. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. . Habis jadi diktator. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. bubar.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. Semuanya tertawa kecuali Kakek. deh. kostum Zahra ya seperti itu. sih.

” sergah Tante. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Apa?” tanya Kakek. . ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sambung Kakek. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. kok Eyang sampai segitunya.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat.” Zahra menukas.” cetus Kakek. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” kata Oom. ”Eyang benar-benar lowbrow.” ”Saya heran.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. runtuhlah kebudayaan.processtext. http://www.

” sewot Zahra.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari.” sela Kakek.” . Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.” kata Zahra. http://www. ”Adalah tradisi balet.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.processtext. Eyang. ”Dalam KKN ada tradisi. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Mendengar kata Kakek ini. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.com/abclit.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ”Kostum ketat itu.

Cucuku. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. .com/abclit. Kita bisa menuduh mereka ateis. Eyang. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Eyang. Barangkali besok. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis. kata Allah.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Bukan kepada Tuhan. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. Dalam hidup para balerina dan balerino itu.” ”Hati orang siapa tahu.” tambah Tante. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. ”Banyak negara yang busuk.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.processtext. Dan itu bukan teori. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” kata si Oom. Eyang.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. http://www. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. atau lusa.

Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun.” tambah Nenek. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. saya dikasih contoh. Kita wajib memeliharanya. Kecuali Kakek.” sergah Kakek.processtext.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.com/abclit. Seperti tercium setan lewat. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak.” jawab Tante. Anakmu bukan milikmu. Dan ternyata Allah itu indah.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. saya cuci tangan.html ”Coba. http://www. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…..” tukas Nenek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. Zahra. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Lengang sejenak.” tukas Kakek. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Ada air yang mudah mematikan api.” . Semuanya tertawa kecuali Kakek. Ada api yang menyala-nyala.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Allah mencintai keindahan. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang.

” sambung Zahra. tidak mudah baginya untuk mengingat. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Suatu dakwah keindahan tiada tara. tergetar. apa saja yang masih bisa . Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat.html ”Saya setuju. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya. sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. apa saja yang masih bisa dipanggil. Tangerang. Cobalah nikmati tari bedoyo. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka.” ”Sebagaimana balet. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. di sebuah tempat yang sulit dijangkau. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. Eyang. cukup sulit. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam balet. Dalam dandanan kebaya pinjungan. dengan cara rumit dan sedih. http://www.com/abclit. tumbuh.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. menyimak. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Dan banyak telinga sudah diproteksi. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. Suara lirih mulai terdengar. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. mendengarkannya. Ia lalu lebih sering diam.com/abclit. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri. Diam. untuk apa. Suara yang groyok. http://www. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam. juga tidak kurang bermasalah. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya. kadang membesar tanpa irama. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. dan apa saja yang tidak boleh didengar. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar.html tapi tidak ingin ia panggil.processtext. Apalagi. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki. Bagiku sendiri. Jarak psikologi yang jauh. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. Juga tubuh yang gampang gemetar. sayup dan lamat-lamat. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. mendengarkan. Mata yang menyempit. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. kalau bukan karena penderitaan? . lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. dan sebuah lukisan kaca. berkaca sekaligus berkapur. kadang lirih. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. bahasa yang kabur. dan bagaimana mengisahkannya. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. tafsir yang berkerumun. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. Tugasku adalah belajar untuk diam. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna.

Waktu saya kecil. saya hanya ingin menjadi guru. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. ”Sesampai di sekolah. http://www. ”Saya benar-benar tidak tahu. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku. ”Satu per satu. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. Nanti. Lalu saya bilang: Pak.html Tapi. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. Kembali matanya temlawung jauh. Saya ini dari kecil miskin. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih. lalu mereka segera melesat pergi. ”Pagi itu. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya ini seorang guru. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. Rapatnya mungkin akan lama. Di luar . lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar. ”Mereka sudah datang. dan jangan nakal. Lulus sekolah.processtext. apa salah saya. hanya anak seorang janda. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini.” Ia diam. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. Mbak. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. berdandan. Sesekali aku menengok ke arah pintu. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. saya pergi mandi. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara. saya menciumi wajah murid-murid. disusul oleh seekor yang lain. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak. ia terlihat cukup tenang. sepi itu begitu menjadi-jadi. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. kalau ada guru lain yang menggantikan.com/abclit. Rombongan itu mengikuti dari belakang. belajarlah dengan baik. Ya karena melihat guru-guru saya.

http://www. neraka katut. Ia dengan segera keluar. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. Saya juga tidak mengerti. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah. Tangisan itu menjauh. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. mirip suara kanak-kanak. namun lirih. si bocah digendong ibunya. Tapi…. matanya semakin berkeruh. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Ya…. ”Maaf. ”Dua tahun kemudian. ternyata tidak….” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah. wong saya memang tidak tahu. lalu mencoba mendiamkan si bocah. dengan nada yang seperti berteriak. Bu…. neraka katut. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu.” ”Sampai ke suwarga nunut. Mataku selamat dari rasa silau. dan aku tidak tahu mana yang tepat.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil. Tiba-tiba di luar mendung. saya aktif di organisasi itu. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. Tubuh tuanya gemetar. Wong saya tahunya. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. kembali duduk di sampingku. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. ia berkata. Ketika tiba giliran saya diperiksa. saya diambil lagi…. Mbak….html kegiatan mengajar. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi. Saya mengira bahwa saya selamat. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. . dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung.com/abclit. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. Saya sedih sekali. Bu….” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.processtext.

Saya memohon ampun berkali-kali. setelah saya bilang seperti itu.” Ibu itu terdiam. Lalu membuka celananya…. Saya bilang: Pak. Tapi tidak ada yang menggubris. lalu… mengencingi saya…. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. dan mengambilkan segelas air putih di meja. Ia menutup pintu kamar. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. di dekat leher. Saya dibawa ke pabrik tebu. kalau Bapak punya anak perempuan. Saya memohon berkali-kali. ”Maturnuwun. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya. . kemaluan bapak itu mengkeret. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. ingatlah istri Bapak. http://www. Mas…. saya ditelanjangi…. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. Ibu itu diam.com/abclit. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar.” Lagi-lagi. tapi saya tetap ditelanjangi…. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan.Generated by ABC Amber LIT Converter. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka.html ”Yang kedua itu. Tapi dia tetap mendekati saya. Mbak.processtext. Tubuh saya penuh dengan kutu. Kalau Bapak punya istri. ”Eh…. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. Aku menawarinya minum. Lalu orang-orang itu pergi. Sesampai di kamar. Saya langsung diangkut begitu saja. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. tanpa basa-basi. ingatlah anak perempuan Bapak…. Ia mendekati saya. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. saya ini belum bersuami. Saya baru masuk saja.

”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. lalu kalau diperiksa. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu. saya juga dipukuli pakai sepatu. Saya ini manusia. ”Suatu kali. ke kantor polisi.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. rambut saya itu panjang. Setelah itu…. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya.” Ibu itu suaranya mengecil. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. memperlakukan saya seperti bukan manusia. saya minta rambut saya. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. apa ya layak…. hampir sampai lutut.” Ibu itu terdiam lagi. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. Yang tidak mau dipukuli. Tapi.com/abclit.processtext.” Andre mengambil minuman di meja. semakin lirih penuh dengan tekanan. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu. muka saya dipukuli pakai sepatu. http://www. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. menyeberangi jalan raya. Mbak. Semua serba salah. Kami bertiga menunggu. saya dibawa ke sebelah selatan. saya juga dipukuli. Saya tidur di sebelah utara. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. mengguntingi rambut saya. Di kantor polisi itu. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. ”Setiap hari saya disiksa. saya tunjukkan tempatnya. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. saya juga dipukuli. Eh. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. Dulu. tapi katanya saya dianggap menentang. Kalau saya jawab. mereka itu. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk . Kalau tidak dijawab. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya. kalau tidak saya lihat matanya. saya juga dipukuli. kok diperlakukan seperti itu. Lalu…. Saya diberi pertanyaan yang sama.

teriak kesakitan dan tidak didengarkan.processtext. Kok ada yang dinistakan seperti ini…. Lalu menghirup napas agak panjang. dan itu dipotret. ”Sebelum melakukan itu.” Ibu itu kembali diam. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya. Ibu itu masuk sambil berkata. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. wajahnya yang putih segera memerah.” Semua diam.” . Ibu itu bangkit lalu keluar. ”Mbak. saya harus ke tempat kesripahan. Saya menjerit. Ada tetangga yang meninggal dunia. seperti apa itu. Saya mengulurkan gelas air minumnya. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. Sepasang mata Mirna bobol. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti…. Petugas-petugas itu malah tertawa. http://www. Sebelum saya memakai pakaian.html mengambilkan minuman. Saya ingin tahu. Mbak. isak Mirna pun lenyap. Ia minum dengan pelan. Di dalam ruangan lembap ini. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu. Tintrim. Andre membuang muka. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata.com/abclit. Mas. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu.” Ruangan hening. Gerimis turun di luar. ”Dan rupanya itu belum cukup…. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. Selesai kejadian itu. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tubuh Si Ibu terguncang. Sepintas yang sempat kudengar. Tidak ada suara cicak. Dipotret. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. janji Tuhan tentang keadilan. saya minta waktu untuk berdoa. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu…. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu.

Kadang berloncatan. http://www. kapan kami bisa kembali lagi. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Selalu bercelana pendek kucel. dan hanya bisa bertanya. Edisi 03/12/2006 Selalu. mungkin memastikan jadwal.alat audiovisualnya. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Hari masih gerimis. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.processtext. seperti menjolok sesuatu. semen. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat.tara aku keluar rumah mencari taksi. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . Andre merapikan alat. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing.html Kami mengiyakan. Setiap pagi. Mirna lalu mendekati Si Ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Berkoreng di lutut kirinya. Ketika ibuku menyapa. berbincang pelan. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Usianya paling 12 tahunan. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu.com/abclit. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Di dalam taksi. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan.

”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan.com/abclit. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. yang kata Mama.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Tak ada keruwetan. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Tapi Papa kerap menghardik. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Ia menurunkan kaca mobilnya. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan.processtext. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Ia ingat perkataan Oma. ”Mata itu seperti jendela hati. ia selalu disuruh menggambar. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. http://www. . sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam.html bocah itu. Memandang mata itu. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Ia suka menatapnya berlama-lama. saat ia berusia tujuh tahun.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. mata dengan sebilah pisau yang menancap. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Dan ia selalu menggambar mata. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan.

pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Gustaf kini bisa mengerti. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. seperti mata bocah itu. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Begitu bening begitu jernih. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. kawat berduri yang terjulur panjang. Mata yang berkilat licik. http://www. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. Setiap kali terkenang mata itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Karena itu. Semua itu hanya mungkin. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. padang gersang ilalang. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Ketika berjongkok. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Setiap menatap mata seseorang. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Eceng . pecahan kaca yang menancap di kornea. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya.com/abclit. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Mata yang tertutup jelaga kebencian. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. batin Gustaf. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah.processtext. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Membuat Gustaf berpikir. Mata yang penuh kemarahan. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Rasanya. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly.

http://www.processtext. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Bila perlu ia menculiknya.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. sambil berbicara kepada temannya. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Ia ingin membuka jendela. pikirnya. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. semuanya sudah tampak sempurna. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Bila ia bisa memiliki mata itu. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu.com/abclit. Begitu lift itu tertutup. Gustaf tersenyum. dan melemparkan recehan.

mengantar sarapan. ”Selamat pagi. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. makan di ranjang. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. apa pun di ranjang. Dengan takzimnya. ia memberi salam. http://www. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta.processtext. membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. asal kota tempat tinggalnya.com/abclit. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri.Generated by ABC Amber LIT Converter.” . meletakkan selembar koran. menyeka tubuhnya. ia menyapa. Meneer. baca koran di ranjang. pekerjaannya. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu.html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya.

”Sekali Anda membiarkannya. apalagi gusar. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya.” jawab lelaki itu. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas.” mulut lelaki itu menyahut.processtext. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya. ”Ya. Namun.” sahut lelaki itu singkat. Meneer!” ”Ya.” >1<”Ya. angin laut masih terus berembus dengan kencang. Ayo bangun. menggenjot sepeda dari rumah. Tetapi. lalu bangun. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. saya terpaksa melakukannya.com/abclit. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. . tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. Meneer. apa boleh buat. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. Tetapi.” kata si pemuda.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. pemuda itu menyalakan lampu. empat kilometer jauhnya. tidak demikian halnya dengan lelaki itu. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun. tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar. seterusnya akan diremehkan.

http://www.” ”Nah.perang dingin sudah berakhir. bukan?” >d 1<”Mmmm.” kata perawatnya. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. kenapa saya berada di sini. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja. ”. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil.” ”Hhmm. kerja kasar seperti ini..” ”Anda tahu sekarang. Anda renungkan. gajinya kecil Meneer.” ..html ”Kalau tidak. Sebabnya. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer. bayangkanlah. si pemuda terus saja mengobrol.” lelaki itu mengerinyutkan muka. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya. ”Yaaa. Kendati bukan jawaban yang memuaskan..processtext.. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu.” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya.. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan. tidak memerlukan rekrut serdadu baru. ”Coba.. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai. saya akan kehilangan satu setengah tahun.com/abclit...Generated by ABC Amber LIT Converter.

http://www. Di Serbia. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya... ”Ya. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. sebagai profesi. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan.” ”Ya? Tetapi.processtext. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. Dan ia mendapat kesan. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. Bosnia. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang. Tragisnya.com/abclit. ya. Tetapi. Anda pernah berdinas di mana. pikirnya. ”Perang memang mengerikan. Meneer. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. .. dalam satuan apa. tak ada juga tanggapan yang didengarnya.” ”Mmmm. Irak. misalnya. Kroasia. dan ya yang sangat menjemukan. Maka. dilontarkannya pertanyaan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. Itu saya tidak bisa. Tetapi. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. Saya tak tahu.” Jawaban yang meragukan tentu saja.” ”Mmmm. Membunuh lalat saja saya tidak tega. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. kecuali ya.” Suara lelaki itu terdengar datar.

Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. Meneer! Lakukanlah mulai esok.” ”Ayo Meneer. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang.” ”Ya. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. tidak untuk membunuhnya. Cukup beberapa menit saja. akhirnya ia gagal menemukannya. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi.processtext.com/abclit. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Ia lantas beranjak ke jendela.” ujarnya. lantas mengganti seprai. . di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. Tetapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya.” ”Ya. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. kapan itu terjadi. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. mendesing di sekeliling lampu. ”Ya.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. Tidak terlalu sukar. matanya nanar mengedari seluruh ruangan. lalu ditutup lagi bila udara dingin. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. http://www.” ”Terima kasih.

Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. saya rada neuwsgierig sebenarnya. ia mulai bicara lagi. Meneer. mereka berada di bawah perintah penjajah. http://www. Meneer. Meneer. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai. Tetapi. Konon.” ”Ya.” . Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm.. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan.” ”Saya menentang perang Meneer.html Namun. di zaman dia dulu.processtext. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. apalagi melawan bangsa sendiri. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu.. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang. bukan?” ”Mmmm.. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo... Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi. kakek saya lupa.com/abclit. tentara Ambon memang tukang perang. Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia.. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman. ”Meneer.” ”Mereka memerkosa wanita.

” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. Tidak terlalu sukar. Tetapi. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya.. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua. bukan? Cukup sambil berbaring saja. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman. http://www.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang.” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu.. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya.. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu. kamar demi kamar.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja.com/abclit. seperti baru sadar.. ”Maafkan saya. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron.” si pemuda nyengir karena merasa disindir. Ia . Ia lantas bungkam. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu.” ”Mmm. ”Saya terkadang lupa. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. bukan?” ”Ahh. belum tertangkap sampai sekarang. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu.processtext. ia melangkah keluar dari kamar. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. dan mengganti seprai.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan.. Meneer. Tragisnya. menukar piyamanya. ya. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda. Ketika ia berpaling. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor. Delapan ribu orang Islam.

http://www. kerja sipil gajinya kecil. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau. tak semuanya berhasil dijinakkan. tetapi menggumam dalam hati. kata Anda.” ”Nah. Panggil saja Patti.” Pemuda itu melangkah keluar. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya.. perang perlu dilanjutkan. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer.processtext. tetapi. Tetapi. Saya kehilangan dua tangan.” ”Apa? Anda bilang apa. cucu tukang perang.” ujar lelaki itu. 7206 . bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. mulutnya diam. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza. merenggut kertas tisu dari saku.com/abclit.” ”Ya.html melangkah balik ke dalam.” ”Tetapi. ”Ah. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban... dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja.

Tak lama. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. tapi meyakinkan keganasannya. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. Ajudan setengah berlari membuka pintu. dan menutup kembali. http://www. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. . Engku Nawar menarik nafas panjang. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang.processtext.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. Beberapa detik. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol.com/abclit. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan bahasa kasarnya. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh. masuk. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu. ajudan itu tidak saja menyebalkan. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. dipersilakan. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. ”Pak Muis. SH dan rombongan. berputar-putar dengan gagahnya.

Sarini. Dari percakapan orang-orang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. Saya cuma sebentar. yang sudah merasa haus. Ia memeluk erat Sarini.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. nama. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya. nanti saya sampaikan. minuman datang.html Sehabis magrib. Semua mengisi formulir yang sama. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. barangkali lima menit. motor. Ia merasa sesak duduk . Ambil saja airnya di sini. tapi cucunya. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. Baginya waktu terasa berjalan lambat. http://www. Dari ruang tamu yang terbuka itu. dan jalan kaki. Minum dulu. keperluan. Sarini. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja. ”Silakan Pak.” Mendengar pernyataan itu. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. Engku Nawar telah siap bersama cucunya. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya.” ”Sabar. Sebentar lagi selesai. Ibu.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. yang lulusan kursus komputer berijazah itu.processtext. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. tuh. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam. Lampu-lampu taman yang besar dan terang.com/abclit. Oleh karena itu. alamat. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. Tunggu saja. habis itu saya pulang. Pak.” Engku Nawar mencoba bersabar. cucu kesayangannya itu. Tak lama. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil.

processtext. Nyawa tantangannya. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. Mau tidak mau.com/abclit. komandan pasukan PRRI. Akan tetapi. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. http://www. yang dikenal berani. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. meski sangat berbahaya. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. Engku Nawar. Ia lalu berdiri.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. dari kejauhan. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Hampir dua tahun lalu. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. Pada masa itu. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. Kapten Tulus. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. Lain halnya kalau malam telah larut. . di bulan puasa. biasanya mampir di warung kincir itu. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. Diam dengan pikirannya yang menerawang. menghilangkan rasa jenuh. Akan tetapi. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. yakni milik Wali Kampung muda. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. Engku Nawar harus bermuka dua. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. Suatu malam bergerimis. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. Engku Nawar merasa sangat bahagia. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. tak jauh dari Kampung Padangilalang. Dan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia masih mencoba merokok. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. di mana ada perang. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. Tapi. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain.

datang menjumpai Engku Nawar. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar. mampir minum kopi di warung itu. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. Sebelumnya. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA.” Ketika orang tua itu mengiyakan. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya. Tanah itu tidak subur. di situ ada Engku Nawar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu.. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. Semua orang tahu. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota.html Sejak peristiwa itu. cucunya itu sudah dibelikan sepeda ..” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. ia bisa hidup lebih baik. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga. Tempat pembuangan akhir sampah kota. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya. ”Engku Nawar.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. Bahkan. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. Untunglah perang cepat selesai. para pemulung dan calo-calo tanah. http://www.. Di mana ada bapak saya. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. datang saja ke rumah sehabis magrib. Esok malamnya. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai.processtext. Tapi. Sejak itu. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet.com/abclit. Sopir-sopir truk sampah. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu.

http://www. Tapi. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. tanpa banyak senyum. Buktinya? Nomor satu. niat itu ditekannya. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota. ia akan mendapat giliran pertama.html motor. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. . ia akan menerobos masuk. Dengan sedikit lega. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. Sarini tidak lulus. Kalau ke kantor. kemudian pada ajudan itu.” Meski tidak dibantahnya. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. Tiap kali ikut tes. Dan. tapi tidak dinyatakan. Orang-orang bilang. Ini bukan kemauan saya. Pak Wali yang minta. dan selanjutnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. nomor tiga. Engku Nawar tidak setuju. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. Semula. Engku Nawar sadar. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. Kalau saja ia tidak tua. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga.processtext. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. kecuali Engku Nawar. ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. sesuai urutan mendaftar. Padahal. nomor dua. orangtua Wali Kota itu. ”Bapak Engku Nawar. mesti pakai uang jutaan. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. Tamu sebanyak itu. Tapi. besar sekali. Tapi ia masih berharap. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. lebih baik menemuinya di rumah. Orang-orang bilang. tugas ajudan itu berat. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. Sebentar-sebentar menjawab telepon. Pak. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. ”Sabar. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. Engku Nawar tidak percaya. Di ruang yang terbatas itu. dengan tanda bel listrik. Keduanya sama-sama lincah. yang lain seperti protes.com/abclit. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium.” kata ajudan berambut cepak tadi.

Kalau Engku ada perlu. Di perjalanan. 5 Januari 2006 . Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. ”Maaf Engku. Pak. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. meski matanya juga sudah merah. Saya hari ini banyak tamu. tulis saja surat. seperti hendak jatuh dari kedudukannya. Merasa hendak muntah. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum. besok atau lusa lewat pukul dua. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. Sekarang pulanglah dulu. Dan. Wali Kota telah berada di depannya.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu. akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. Menguap dan cepat tersadar. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor.*** Rawamangun.processtext.. sudah malam. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali. http://www.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. Giliran Bapak. Saya pulang dibonceng cucu saya ini.. ”Pak.com/abclit.

apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. aku mendengar dari Mamamu. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. diam saja. Padahal. bisa curhat kepadaku. ”Tina.processtext. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya. tidak berbicara.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Dia capek sekali. Ada banyak kasus yang sangat pelik. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. Dita merasa lega. Keterangan yang dibaca oleh Dita. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. http://www. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara.” . Kalau kau mau.com/abclit. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga. sekali lagi cuma diam.html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Dita menghela nafasnya.” Perempuan remaja ini. menurut dokter neurolog. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Untungnya. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas.

meneruskan tulisannya. meneleponnya.com/abclit. Wali muridnya menyangka. ”Sayang. Tulisan itu terbaca demikian. takut melihat kemarahan di mata Mama. aku kepingin pipis. Bram.html Pada jam ini. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. ”Mama. punya kemampuan berbahasa yang baik. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran). keluar dari masalah ini. Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA. Tiga bulan yang lampau. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik.” Dita berkata sungguh-sungguh. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan.’ Aku mengangguk dengan cepat. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik. dia tadi membelikan boneka.processtext. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. ’Ini bukan kejahatan. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. Setelah pesta yang luar biasa itu. http://www.” Tina. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. bukan karena apa-apa. Setelah bertemu beberapa kali. yang adik suaminya itu. yang sudah lama kau inginkan. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita.

di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. tetaplah melakukan terapi bicara. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. kasus Tina sangat istimewa. di seantero dunia ini.” Seandainya kau Mamaku. yang penting belajarlah dari masalah ini. perselingkuhan di antara orangtuanya. Aku pastikan. Dita tersenyum gelisah. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia. suamimu yang kakakku itu.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita. aku tidak tahu. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya. Windy. Sehingga . kakakku. ”Kita saling membutuhkan.” Bram menyambar cepat.” ”Tina.” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. katakan kepadaku ya…. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. Bisa jadi karena aku dianggap lancang.processtext. Bram-nya. Dengarlah. Dita menelepon. kalau pusingmu semakin bertambah. http://www. Dita memegang tangan Tina dan berkata. tapi kami saling menyayangi. O ya. Buat Dita. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. tulis Tina.” ”Kamu pasti bisa. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya. sayang. tahu hal itu. tapi diam saja. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya. ”Ini masalah mereka. ”Dokter Dita.com/abclit. apakah itu cinta.

com/abclit. kurobek-robek. ha-ha-ha-ha.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. ”Sayang.” Dear.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku dulu senang. dengan menjadi psikiater. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu.” Bram mendengarkan ceritanya. ”Aku merasa. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri.processtext. dokter Dita yang baik. ”Jadi. memasuki laboratorium yang besar. Ini berarti sangat spesial. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. Sebab. http://www. ada dongeng. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. sehingga mereka harus menutup hidungnya. terus aku ingin sekali bunuh diri. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. Pada suatu senja. kalau Eyang tidur di kamarku. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. ”Papa dari anaknya”. setiap selesai tulisan. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. yang menyayanginya. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. juga pada pacarku. Bude. Sungguh. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. malam itu ingin tidur di kamarku. Hari ini. namun Eyang bilang. yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. sahabat-sahabatku. Kemudian. kue kesukaanku. . Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. tanpa mengedipkan matanya. Yaa Tuhan. Tina datang lagi.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

http://www. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . hiasan perang layaknya kaum ksatria. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku. mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. Adapun gambar tengkorak itu. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya. ”Jesus is mijn opstanding. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana. Harap Tuan mengerti. Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tuan.com/abclit.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. Namun. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. Inilah gambaran kaum bermartabat.processtext.

Tuan. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa. dan mencintai seni dan kerajinan. menghiasi dinding. apa harus kubilang untuk Nyonya itu. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. http://www. ah. Tuan. ”Tentu saja. adalah yang utama di antara perempuan Belanda. Tak lama kemudian. ia sangat menderita. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu.html Kim Hok menggeleng. Sayang. Ia mengelus bulu kuduknya. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Aku seorang opsir biasa.processtext. Dan Mevrouw Gubernur. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. sebuah tubuh teronggok penuh luka. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. Saya tidak akan mengatakannya. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut.com/abclit. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. ”Begitulah kami bangsa Belanda. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. Sayang Tuan. ”Tidak. Akan kubawa pulang. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini. . Tuan. meninggal terlalu cepat. saleh. Dia terlalu menderita.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus.” kata Kim Hok memuji. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah. Selamat jalan. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Tuan. Sungguh.

ya. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun. ”Tanya saja kepada kepala desa. http://www.” orang. nama-nama seseorang. Tan Kim Hok. Sayangnya. menjadi makanan lalat dan serangga.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang. . akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala.” kata pemilik warung itu. Lelaki tua ini. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal. ”Dia si pengukir nisan.” kata salah seorang yang mengenalnya.processtext. untuk menjelaskan kematiannya sendiri. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. Banyak nama yang disebutkan. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. dan dilempar ke kanal. tidak kenal.*** Yogyakarta.html ”Orang Tionghoa dibunuh. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab.com/abclit.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. Dia adik Ayah kami semua.processtext.html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. di pemakaman. Membuat malam membeku sendiri. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. Ayah kami. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. ”Oh.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. Namun. Dan.com/abclit. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar. . diiringi sedu-sedan. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. dengan menggeser pematang secara licik. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. karena dia tahu. Saat menyiangi sawah.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. untuk mengobati kepedihan hatiku. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. dan dengan begitu menggeser pematang. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. Gusti…. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. http://www. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. seperti tak pernah terjadi. tempat jasad Pakde terkapar. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. Namun. Gerimis menyudahi dirinya. Juga di dalam hatinya sendiri. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. kematian suaminya. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. Diganggang matahari. Ketika aku berusia belasan. Emprit ganthil. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. limpahan lumpur itu lantas mengering. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian.

processtext. dengan diiringi gerombolan pemuda. mata tertutup. koé akan kubunuh!” Siangnya. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. kami anak-anak. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. maka kami memercayai kabar burung itu. supaya tak ada orang desa yang . dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. dan manakala dadanya belum tegak benar. dan kami anak. turun dari jip. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. Ah. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. Ibu. Ah. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali. Takkan terkikis dari ingatanku. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. Tapi. Suatu malam. tidak hanya sebatas pematang itu. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. dan penuh ketakutan. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. Di bawah todongan pistol. http://www. mata tertutup. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. setelah Ayah berangkat entah ke mana. Sakit hatiku.anak yang lain. Ayah diperintahkan bersujud. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. mencari kekuatan di situ. Selang beberapa hari kemudian. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. Ayah tinggal berpindah-pindah.com/abclit. hati kami semua. Dengan cara yang sangat menghinakan. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Di akhir tahun kekacauan.html Dia sudah mati. Konon. dan dia digelandang ke dalam jip. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. (Oh. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. sambil menggendong adikku yang terkecil. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. Berminggu-minggu kemudian. kebingungan. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. dan kepala Ayah. 1965. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. Tentara. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. Paginya. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang.

dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. Walaupun tidak dikatakannya. bukankah dia juga ingin berziarah. Sama seperti ketika menjemput maut. Sesuatu. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. diperlebar nganganya. dia mendesak. ketika kami menuruni tebing.html melihat. maka mendengunglah . Sebelum menuju bengawan. ke makam Ayahku. Bunga-bunga itu mengambang. gerimis mendesah dari langit. Peti matinya diusung menuju pemakaman. dua ratus meter ke arah bengawan. mencari Ayah. tak punya nisan. Begitulah. ada semacam nista yang akan selalu melekat. menakutkan. kami kira. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya.com/abclit. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. dan. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. Setelah itu. mengharukan. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. Dia kuajak menemui Ibuku di desa.processtext. menghampiri bengawan. Kedua sisi. dan aku belum hamil juga. Cuma. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. yang katanya. itulah akhir perkawinan kami. dari mana mayat akan diluncurkan. Pukul dua siang sekarang. dengan tangan gemetar. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. Tak punya kuburan. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. cepat dilarikan arus. linggis. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. Dia. Katanya. meminta berkah. http://www. Tanpa itu. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. Mengikuti aku. beberapa kali dia tertegun. katanya. Oh Tuhan. Letakkan di tanah. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. di mana salib dan nisan berbaur. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. mengapa aku tak pernah bertanya. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. ”Turunkan dulu. Setelah menikah. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. kami pulang. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali.Generated by ABC Amber LIT Converter. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. diperlebar. juga dicangkuli.

” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis. Seperti mengutuk diri sendiri. terimalah saudara kami ini…. Aku maju dengan dada tegak. Aku membalik. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Kau yang jadi kunci. ”cuih…. orang sedesa akan tahu siapa kita. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. atas nama jenazah dan keluarganya. terpaksa mendobrak adat kebiasaan. juga panik. mendekati peti mati. maafkanlah umatmu ini. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. dan dengan sebal. sudilah kiranya memaafkan. Ibu keluar menemui mereka di beranda.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. ”Ampun…. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur.processtext. Dari celah dinding tepas. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan. beku. Kalau kau maafkan. Dengan kepala tertunduk.com/abclit. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. ”Las…. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. meninggalkan jejak di tanah basah. perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri. ”Sudah berapa kali kami menggali. Tolong.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun. ”Jeng. http://www. . menguak membukakan jalan untukku. sarat di wajah para pengantar. kami minta maaf kepadamu. Ampunilah. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. tapi tak bisa juga. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. biar Gusti mau menerimanya. Sia-sia. seperti berbisik. Beberapa saat kemudian. mengiba-iba.” katanya menunduk. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman.” Kuhela nafas. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. diiringi isak-tangis. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. ”Kami pasrah.

mulai tinggal di Dusun nCuni.processtext. seorang idiot. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. terus menjauh. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. di masjid yang berbeda-beda. karena perilakunya yang aneh. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya.com/abclit. Namun. http://www.html Aku cuma membatu. Ia selalu menundukkan kepala. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. kira-kira delapan puluh kilometer. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. dengan wirid yang lama. panggilan akrab Gazali. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. Namun sebaliknya. Jika bicara. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. Namanya pun aneh. sebelah barat Desa Kwangko. Itu pun ia tidak banyak omong. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. Patek dikenal sebagai seorang gila. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. Tapi Patek. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. Jali. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. ia tidak menjelaskan mengapa ia . misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. tidak mengandung arti apa pun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Desa Kwangko. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya.

Walaupun kecil. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. Untuk membersihkan masjid itu. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah.processtext. adalah berkat peranan Patek. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung.com/abclit. tak ragu lagi. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. maklum. yang rajin membersihkan masjid. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk. tanpa hijab. Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. ia tak mau dibayar. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. bahkan dapat disebut orang miskin. Boleh dibilang. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . Kebersihan surau itu. Hanya riak air kecil ditiup angin. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. http://www. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu. Walaupun tidak kawin.html meninggalkan kampung halaman. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. tempat tumpah darahnya itu. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. hidup sebatang kara.Generated by ABC Amber LIT Converter. baik karyawan maupun orang kampung. Mungkin karena sedihnya. Tak ada debu. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. sebagaimana di Laut Hindia. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. Patek tentu saja bukan orang kaya. Masjid atau surau itu tampak bersih. walaupun terbuka tak berdinding. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal. laki-laki dan perempuan bercampur. tempat orang mengambil air wudu. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. barangkali lebih tepat disebut surau. Tapi ia pantang meminta-minta.

Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. mencintai anak-anak. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. walaupun jaraknya cukup jauh. tanpa pembelaan diri. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. Ia menanyakan kepada Patek. dari Gereja Katolik Santa Maria. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi. Tapi anehnya. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. tapi naik kendaraan umum. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. hanya menjawab dengan anggukan. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. Di samping ke masjid-masjid. Ternyata. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. semuanya di kota Dompu. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena sering mendengar cerita itu. http://www. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. Namun. di sebelah timur. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. ia juga pergi ke gereja-gereja. tanpa mau menerima upah. Patek yang jujur. Ia menganggap. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. Pastor Dhakidae. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat.html sekitar seratus kilometer. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam.processtext. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. . Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. Karena itu.com/abclit. ketika orang itu sampai di kota. tentu saja dengan izin penjaganya. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. Jika pergi ke kota Dompu. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja.

Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. http://www.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. demi keselamatannya di akhirat nanti. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman.com/abclit. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. Tapi dalam kenyataannya. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam. ”Patek itu sesat.processtext. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Karena keteguhan sikap Jali. ”Pak Jali. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini.” lanjut sang ustadz. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. walaupun orang yang dinilai . Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. sekalian pindah agama. ”Ini bukan hanya pandangan saya. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali.” sahut sang ustadz. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. Di samping itu ia pun mengancam Jali. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai akibatnya. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. Tapi. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. ibadah. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila.” ancamnya. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. Karena itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan. sehingga ia mengadu kepada Jali. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. dan akhlak seseorang. Tapi Patek tidak banyak bicara.” kata Ustadz Abdul Rasyid. ”Ya itu lebih baik. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda. tetapi juga Protestan. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya.

sorga itu ada di sini. http://www. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin.*** Garis Cahaya Bulan. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu.Generated by ABC Amber LIT Converter.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. Ya. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. sesekali datanglah ke mari.. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Kalau kau tak percaya.processtext. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung. Di pinggiran kali berwarna cokelat. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan.. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin. khususnya orang suku Sasak.com/abclit. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. Aku yakin. Karena Tuhan Yang Maha Tahu. . melambai-lambai ditiup angin. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang. Bagi orang Sumbawa.

Mengelak berarti melompat dari rel.. aku bukan pembunuh. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. Jika tugasku selesai. Kita ditentukan. dan melompat dari rel berarti hancur. Maaf. menziarahi kubur ibuku. ha-ha-ha-ha. atas apa yang kau dapatkan. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. aku bisa membunuh.. Aku masih bisa membangun hidupku. Ah. Aku tak mau hancur. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan . Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. Tidak. Hidup inilah yang memilih kita. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. Hujan yang turun.. perintah itu bertengger di pundakku. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. kawan. Tapi.. Sekali ini. http://www. aku harus . lahir di rahim siapa pun. Bayi merah. sebagaimana yang kukatakan tadi.. di tengah panas terik.. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. Tak ada yang aneh di sana. dan semuanya beres. ya. misalnya. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. Dan dengan enaknya. Apakah aku bisa mengelak? Tidak.com/abclit. Aku tak mau mati sia-sia. Gampang. dan manakala kau mengeluh. Dialah yang memilihku. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. Ah. Tak seorang pun. bukan? Ha-ha-ha. kau salah sama sekali. kita tak pernah bisa memilih. mudah sekali mendapatkan uang banyak. Menjijikkan.html Aku sendiri tak mengerti. maaf terlalu kasar kalimatku. kalau aku mau. Jangan dibalik. Jangankan hidup. Aku tidak bisa mengelak. Hampir tiga hari aku berjalan. itu pun tak sepenuhnya salah.Generated by ABC Amber LIT Converter. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf. Oleh karenanya.processtext. Tunggu dulu.. tanpa mempersalahkan siapa pun.. sudah biasa terjadi. tetapi. karena semua sudah ada yang mengatur. Itu pekerjaan kotor. mengendap-endap. Begitu saja. apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja. tetapi saat ini. tetapi. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini.. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu.. Jangan salah.. Begini saja. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. Bayi. Ikuti perintah. aku menemukan sorga itu di sini. tidak kali ini.

Tetapi. aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. Jujur saja. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan.. http://www. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. Sepi sekali di sekitarku. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. ah.. Bayi yang cantik.processtext. Hmm.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). bersih dan menawan hati. kuberikan sebotol susu. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. Umurku masih belum tiga puluh. dia. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu.com/abclit. Begitulah. Salah seorang. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. Kalau aku mau. kurasa. mendadak akan pulang. baru saja rokok hendak kunyalakan. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. Bayi itu. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng.. tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. tidak. Maka. Belum selesai dia berkata. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . tentu saja aku selimuti. tidak. Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu.. lalu aku letakkan di sudut jalan. Siapakah aku... bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. terlalu religius kurasa. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah. pandangan yang wajar saja.. entah siapa. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. aku muak. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. demikianlah. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. Hening sekali perasaanku. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. sudahlah.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. aku tak ingin menjadi juru rawat. bayangkan jika itu terjadi dan .

kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Mereka bahagia. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. Detak sepatu mengisi sunyiku. Sempat kudengar ada suara anak kecil. Atau. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. dibawanya bayi itu ke sarangnya. Aku pun tahu. Pagi itu. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. Kopi sudah separo kuhirup. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. . Dia tiba di gubuknya. aku duduk di ruang tunggu. Digendongnya dengan sukacita. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk.com/abclit. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. Bayi itu dipungutnya. lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". Mereka gembira. akan kuhabisi mereka semuanya. tetapi juga perempuan. jongkok di kotak bayi itu. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu.. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. http://www. mengikutinya dari jarak tertentu. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. di pinggiran kali ini.. Tidak. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. Tidak hanya laki-laki. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. Kalau itu yang akan terjadi. lebih buruk lagi. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). Bulan di atas sana membulat putih. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa.Generated by ABC Amber LIT Converter. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. Semua itu mungkin bagiku. dan anak-anak. air. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. Kubayangkan. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. Asisten si nyonya datang. tentu saja kuurungkan. Bisa jadi dia orang gila.html punggung. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil. gedung. Dari sana. Dan aku—mau tak mau. untuk pemerasan yang sama. penasaran apa yang terjadi di sana. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. bahkan sampah. Tetapi.processtext. tepat ketika matahari tenggelam. Tanpa bicara dia menatapku. bagai piring perak.

kesialan. dan tergilas zaman. ah. Tidak.. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. tangisnya. dia masih memiliki kasih sayang. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Bulat penuh. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi. ".processtext. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. masih bisa kusaksikan bulan purnama. wajahnya. Ada senyum tersudut di bibir.. . Bercahaya penuh. yang menganggapnya ancaman. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain. semoga sudah masuk hari ini. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh.com/abclit. Tetapi. setelah menerima sesuatu. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Kubayangkan. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. Begitu tajam rasanya di mataku. bersih. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. dengan semuanya. Aku tak peduli. Ruang apartemenku harum. Aku beranjak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi. Langit tanpa awan. Yang aneh. http://www. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. betapa bahagianya si kecil itu. Tidak mungkin. karena memang tak penting. Malam ini. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. Dia memiliki keluarga. Ini aneh. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani.

Aku pernah menyaksikannya. http://www. Alkohol menebar. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. aku bisa menolak permintaan. Kepalaku masih berat. Maafkan. Aku banting telepon itu. Semua sampah harus dibersihkan. semua penghuni gubuk merayakan pesta. di pinggiran kali ini. Ya. Di tempat ini melimpah kebahagiaan. Gelap. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Bukit Nusa Indah. kemarin malam. Dan seperti kataku.html Aku terbangun oleh dering telepon. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aroma sangit pembakaran. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. Sudahlah. Dia tertawa penuh kemenangan. di pinggiran kali ini. Dan sudah terlaksana. dulu. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. kemarin malam. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. di sini. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. tergeletak di meja dan di karpet. Sunyi. cobalah ke tempat ini. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. Semua sampah harus dibersihkan. 982 . Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar. Kubayangkan bulan.com/abclit. jika kau ada waktu. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Ini sorga. kepalaku rasanya mau pecah. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. Aku duduk di tengah sampah ini. Kapan-kapan. Di tempat ini.processtext. ini adalah sorga.

Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. http://www. Aku jadi ragu berterus terang. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. Nguyen telanjur segalanya bagiku.com/abclit. Antara suka dan tiada. . Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa.processtext. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Rambo. Aku jadi teringat Vietkong. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Tapi. penuh cerita pilu. Tapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tahu. Siapa duga. Tuan Chew Song Kit. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas. Batam. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Atas nama kemandirian itu pula. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara.

http://www. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Tapi. Atas keteguhan sikapku ini. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. sambung Wan berhujjah. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. Nguyen muncul tiba-tiba. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. Wan Syariful. aku berbelah-pihak pada Nguyen. bila ditanya. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. Padahal. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. dari benang menjadi kain. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan.com/abclit.html Sekali lagi. Tapi. Dari mana asalnya kapas. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Mana tahu. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Aku kehilangan jejak Nguyen. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Sesiapa yang sudah dilepas. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku. Tapi. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Wan Syariful. jujur.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. . Tapi aku tak begitu hirau. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang.

Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan.com/abclit. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. terus terang. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua.html Aku tertunduk lemas. Semua bisu. aku bagai melompat menuju buku tamu. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. Tapi. Saat itu. teman setiaku sejak dulu. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. Meski. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Apalagi. lewat di depan stand kami. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. . I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun. Kami bersitatap tegang. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. Dan perempuan itu langsung memelukku. Nguyen. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya.processtext. Tak salah lagi. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Sungguh. http://www.

Hampir setahun ini. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Aku memeluknya sepenuh-mesra.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Dalam perjalanan naik taksi itu. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. San Nam dan San Nangh. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. Sebab. Mereka sudah jarang bertemu. Dua adiknya. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. airmatanya tak henti mengalir. http://www. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu.com/abclit. Pembantunya. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Nguyen masih duduk . Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. Begitu pula kampung halamannya. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. kami sudah pisah ranjang. Aku telah keliru memilih jodoh. Nguyen pasrah. Aku makin memperkuat pelukan. Sing Anh. sahut Nguyen pelan.processtext.

Lampu temaram.processtext. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. Inilah saatnya. Menelepon pun tidak. kamu masih menjadi istri orang lain. Maksudmu?.html menyandar didadaku. kami sudah pisah ranjang cukup lama. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. Maaf. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam. Tapi. Bang Rajab.com/abclit. http://www. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. Memang. . Nguyen. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap.. bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Lagi pula.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Iya. Sungguh. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. Aku terdiam dan ternganga.. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Kamu tidak mencintaiku lagi. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. aku tak bisa. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. Nguyen meraih jemariku. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya.

saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. Oktober 2005. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Langit masih bertabur Nguyen.Generated by ABC Amber LIT Converter. Andai saja. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. Langit Hanoi terasa merah jambu. Nguyen. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. bagiku. Tapi. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun.html Aku duduk di bibir ranjang. Nguyen. . http://www. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. Selalu. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu.processtext. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum.com/abclit. Sungguh. memang bukan akhir segalanya. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi.

selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. http://www. arus sungai menjadi sangat deras. kata mereka. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan.com/abclit. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu.processtext. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Beberapa ratus meter ke arah bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang .Generated by ABC Amber LIT Converter. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Terlalu angker.

Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang.com/abclit. suaminya. Dua orang gadis tangguh. Kakek Lido. Tak ada apa-apa. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Gelap. Dua anak gadisnya. http://www. tepat di atas ranjang keduanya. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Tak lama. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya.Generated by ABC Amber LIT Converter.anaknya. . Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan. Tak hanya secara fisik.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. Tak terhitung dukun yang didatanginya.processtext. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Jona dan Warni. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah.

Saat istrinya membopong pisang. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. . Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. http://www. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai. segar.Generated by ABC Amber LIT Converter. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Nenek Lido bertubuh subur.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Kata ayahnya.. Lagipula. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya.processtext. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Konon. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya.. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah. Alu kita patah. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. nenek Lido dulu cantik. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. dan kuat seperti ibunya. Tapi kakek belum tertidur.com/abclit.

krreek. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. pikirnya. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan.html ”Kata Nisa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya.. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya.. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. .” Jona dan Warni menjerit. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi.processtext. http://www.. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.” kata Nenek Lido lagi. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Kindo. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Tiba-tiba. angin semakin kencang. Baju Jona telah robek di bagian depan. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. ”Siapa kamu? Aaakkhh. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Akh. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek.. krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni.. Rumah panggung itu bergerak. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido.. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir. Terdengan pelan suara krek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah.com/abclit.

jawara kampung sebelah. Rappe semakin marah. Rumah panggung itu bergoyang keras.. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Nenek Lido mengenalinya: Rappe.?” teriaknya setengah melompat. Nenek Lido melengking marah. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu.com/abclit. Dalam gelap. Maka. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan sekali mengayunkan tangan. Rappe. dengan secepat kilat. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Rappe mundur. Dalam gelap. http://www. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi.html ”Siapaa. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Sebilah pedang pendek. Dengan keras. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Lelaki itu tersentak keras. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Dari arah belakang. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan.processtext..

. Tak ada yang tahu. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Nyalakan lampu.. . Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras..processtext. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi.. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ke depan pintu kamar. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan.” Nenek Lido menyuruh Jona. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri.. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya itu. Entah apa. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Kakek tak bereaksi apa-apa. Dengan susah payah. Tangannya gemetar dan nyeri. Berhasil. Cresss.. kepalanya juga. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah.”. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. ”Kindo. ”Dia sudah pergi. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis. Tapi Nenek Lido tidak menangis. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari.com/abclit. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Saat mendekati sakratul maut. http://www.

com/abclit. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Dari balik kain penutup jasad. http://www. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Jakarta. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti. ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. Ling-Ling. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Istrinya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Korban berjatuhan.processtext. A Cong dan Beng Sin. Kedua anaknya yang masih hidup. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. . Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri.

Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Asap hio menyengat. gantunganku bila kau tak ada.” kata Keng Hong. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong.” katanya. Ling. sebagian menutupi wajahnya.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang.processtext. mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu.com/abclit. ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. Jangan menangis terus-menerus. ”Orang-orang yang berkedok membela . Keng Hong melirik kedua adik iparnya. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Tuhan akan menerimanya di surga. Suamiku? Siong. Rambutnya kusut. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun.Generated by ABC Amber LIT Converter.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Relakan kepergian Siong. ”Sudahlah. http://www.

Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Malam. tentu mau menolong kita. Setelah empat jam menggali tanpa henti. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Kau sekarang menjadi anak tertua. ”A Cong. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. Keng Hong mencangkul tanah basah. kau pergi ke tempat Paman Cia. Wajah-wajah mereka muram. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Dia orang baik. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. kita pikirkan nanti saja. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail.” ”Sudahlah. Dengan kalimat terbata-bata. Hujan terus turun sejak semalam.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Semalam. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah.com/abclit. Jangan menangis terus.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. meskipun tinggal rintik-rintik. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya.” kata Keng Hong. air masih menggenangi halaman belakang.processtext. http://www. Sekarang. Tapi A Siong mewarisi . Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran.

Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. babah-babah kaya itu. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. mereka kabur dari tempat itu. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Ia lahir di sini. Sementara mereka. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. . Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. ”Aku datang terlambat. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. ”Ayahku selamanya membela Republik.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. Kedua adik A Siong keluar dari kamar. walaupun kita loyal terhadap Republik. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya.” kata Sin Liong dengan nada menyesal.processtext. ia bisa mewakili ayahnya. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya.html keberanian ayahnya. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Ling-Ling melolong-lolong.orang miskin seperti kita. Dan mati pun di sini. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. pendiri Pao An Tui. Setelah korbannya ambruk. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu. http://www. Ayahku teman baik Oei Kim Sin.com/abclit.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. ”Kita memang serba sulit. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu. Kalau ada apa-apa.Generated by ABC Amber LIT Converter.

menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. Memang benar. Keng Hong mengangguk. ”Puh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku. Ia mengenal baik Oei Kim Sin.processtext. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu.” jawab Sin Liong kesal.” ”Benar. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. baik yang kaya maupun yang miskin. . Kakak.” kata Hong San yang dari tadi diam saja.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. kaum peranakan Cina miskin. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Mereka berteman baik sejak kecil. kau tidak tahu. resah. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. http://www. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Lihat saja buktinya. Matanya menyelundup keluar. Berkali-kali ia duduk dan berdiri.com/abclit. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita.

Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah. http://www.processtext. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal.” kata Hong San.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun. dan tidak banyak terpencar-pencar. .com/abclit. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta.html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya.

temani kami.Generated by ABC Amber LIT Converter.” jerit perempuan di luar pintu. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu.” katanya dengan suara parau.html Seseorang mengetuk pintu. . ”Kau gantilah pakaianmu. ”Aku takut di rumah sendirian. tapi ditahan Keng Hong.com/abclit. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. Semua cahaya di rumah kumatikan. ”Aku.” kata istrinya sambil menggigil. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya. http://www. Bukalah pintunya. Mei Lan. Kakak Hong. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong. Tadi baru saja ada orang mengintip. Masuklah. ”Siapa?!” bentak Keng Hong. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil.processtext. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan. tidur di sini.

Tidak hanya puluhan. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Suara tangisannya pecah. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can.” kata Hong San. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik.” Keng Hong tertawa samar dan kecut.” kata istrinya sambil terisak.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut. .Generated by ABC Amber LIT Converter. meninggalkan mereka.com/abclit. Ia telah tercebur ke dalamnya. Anakmu sendiri menjadi korban. dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. tapi ratusan.” katanya pelan. dan kau diam saja. Kakak Hong?” tanya Hong San. meresahkan malam yang basah.processtext. ”Tidak. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. http://www. terbunuh sia-sia.

” katanya dalam hati. Firasatnya tak enak. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. Sementara Sin Liong menggelar tikar. Aku akan di sini sampai pagi.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. http://www. Malam turun semakin sunyi. Tapi aku sangat lelah. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua. ”Kau telah menjadi tumbal untukku. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai. kita telah membagi dua kekuatan. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya. Aku bangga memiliki anak sepertimu. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. ”Kakak. Apa yang harus kita lakukan. Mimpi orang-orang kecil macam kita. . Dan tumbal kaum kita. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di Semarang.com/abclit. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja.” bisik Hong San. Lebih baik kutangguhkan besok pagi.” kata Keng Hong. ada seseorang mengendap-endap di luar.processtext. Siong. Ia melonjorkan kaki di atas dipan.” kata Hong San. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya.” ”Kakak beristirahatlah.

”Sudah. ”Jangan terjebak.” katanya.” kata Keng Hong. ”Mereka benar-benar meneror kita. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah. ”Bangunkan Sin Liong.” jawab Hong San.processtext. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar.” Keng Hong mendekati pintu depan.com/abclit. .html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Kita sergap saja dia. ”Cuma ada satu orang. Dia menunggu di samping pintu.” katanya.

com/abclit. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam hitungan detik.html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. lalu membukanya. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah. Di antara rentetan senjata api. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. http://www. Lama mereka tiarap. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Diambilnya korek dari kantong celananya.processtext. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur.” Mereka berpandangan satu sama lain. . Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. tercekam ketakutan. sebat. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. Perlahan-lahan. Kedua belah pihak mencurigai kita. tak tahu mesti berbuat apa. Ia membaca tulisan itu. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. ia membuka selot pintu. Kedua adik iparnya memandang bingung. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit.

http://www.com/abclit. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota. Ia mati bunuh diri tahun 1949. NICA. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit. 13 Januari 2005 Catatan: 1. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda.html Yogyakarta. 3.processtext. 4. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. Panglima Tentara Belanda.Generated by ABC Amber LIT Converter. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. 2. .

kelabu jadi samar. Tetapi bukan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949.html 5. seperti kemarin-kemarin. putih pirang. menjelma kerumun bulatan pijar. jambang.. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. matahari membelah. http://www. yang semuanya kotor.processtext. Begitulah terik. lingkaran hitam itu lalu menyatu. Begitulah semua datang. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. Tetapi bukan itu. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. meranggas tak teratur panjang dan jarang. Tetapi takkan lama. siang memanggang meringkus dirinya. semua terbentang. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Begitulah hitam jadi kelabu. Dan gedung-gedung. Pedih ini akan hilang. kuning kelabu. itulah yang dilakukan olehnya. Bukan hanya tameng. Lingkaran hitam yang berputar-putar. ada sebuah titik. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan.. Bagai melayang. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. sebentar memusat sebentar menebar. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. lelaki tua itu merasa nyaman. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar.. amat terang. segera merembes air. Dan. seperti bintang. .com/abclit. selintas tampak seperti mata kayu. lantas mengembang. menggenang. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. memang. tak tertahan oleh tatap. Dan dari mata tuanya yang buram. Di sana. samar jadi terang. di puncak monumen. Dan lalu. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. dengan ganjil. Dan. dalam nanar. dinding-dinding kaca. terus mengembang. Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan.

Letusan? Belanda kembali datang. Pak Daud. Kini tertahan. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. lalu proklamasi. seperti angin menyapu ilalang.. Derek II. langit goa yang runtuh.. gema lori.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Huah! Orang. bagai mengambang... Masa berganti. di atas kereta itulah ia. Bengkulu. bagai melayang. pun mengajaknya. Menyerang tambang.processtext.. semua terbentang. menghunjam mata. Berdebar. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. dadanya. Tetapi memang. Berlompatan. Makin jelas. Jepang menyerah. berkacamata. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. menjelma kerumun bulatan pijar. Melayang. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. Ia akan bekerja di sebuah tambang. menyandang tas di bahu kirinya. Seperti hamburan. ada banyak emas. dalam nanar. tangga-tangga besi. Atau mungkin membelah. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. Bagai melayang.. Dan seperti mimpi. Atau menyibak. Memandang ke luar. Si remaja ini.. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. semua terbentang. ada sebuah titik. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. http://www. Kata Pak Daud. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. ia . Dan ah.. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. bukan itu..com/abclit. Apakah hanya matanya? Karena hari ini. tajam pedih.. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. Membujuk.” kata mereka. Begitu juga tambang emas di Lebong. Monumen Nasional. Dan lihatlah. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa.. Orang itu masih muda. tidak. Derek (pos) I. lift ke atas ke bawah.. Titik putih. Dan Belanda pergi. Maka.. matahari membelah.Generated by ABC Amber LIT Converter. mulailah hari-hari itu.. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. lihat. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Di sana. Lorong-lorong. tidak.. Di atas papan itulah ia duduk. Maka. Dan wajah-wajah itu muncul. Dan gedung-gedung. di puncak Monas. pasokan senjata berdatangan. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk.. Akar-akar yang juga bagai bersembulan. ledakan dinamit.html Begitulah semua datang. Mungkin lebih tampak seolah rebah. berlalu lalang. Menerobos hutan.. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. dinding-dinding kaca. Tampak amat sibuk. beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. tidak.orang dengan helm. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. sepatu boot. Tetapi ya. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita.

”Saya membutuhkannya. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini. kenapa kini berbeda? Senyum itu. Tatapan di balik kacamata.” senyum itu kembali.. emas Monas itu didatangkan dari Jepang... Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. menatap ke arahnya. Tetapi. setelah Pak Daud meninggal. tatapan itu.html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. dulu merupakan sosok sederhana. saya mengerti. ia mengalihkan pandang. Tetapi hei.. anak Pak Daud. cacat. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu.. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti. emas yang kita sumbangkan dulu. Jalan yang lebih baik. dalam kepalanya? Tentu tidak. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu.. Kacamata itu.processtext. yang ingin saya tahu yaa. itu. Maaf. Dibuat di Jepang.. kita berjuang. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi.” Yang orang-orang dengar. Pak Jusuf.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. Kacamata itu. di tambang itu. ”Dulu.” Senyum itu masih. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant). disepuh ke 77 bentuk berupa lidah.” Pak Jusuf inilah. Ia tak suka kalimat tak jelas itu... ”Saya paham. kembali ia palingkan muka.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Begitulah yang orang-orang dengar.. Refleks. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana. yang diangkat jadi juru tulis gudang. Ia tak suka. Tetapi. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam. ”Tapi. Dari jauh ia datang karena yakin Nur. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah.” katanya. . kini tersenyum. bagai melayang. ”saya punya usul... Lihatlah kini diri Dik Najir. seingatnya. Pak Jusuf berkata. Dik Najir. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang.com/abclit. Dik Najir. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. Untuk modal.. mendehem beberapa kali. http://www.” ”Begini. Tak enak ketahuan mengamati. Cuping hidung besar. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. coba berdagang. terasa ganjil. Tiba-tiba si pemuda menoleh.” mendehem lagi.. Tatapan di balik kacamata. Agaknya ia harus terus-terang. ”Ma-maaf. apa adanya.

Pak Jusuf mengeruk saku celananya. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas. Sumbangkan saja. kata mereka. Jadi. mereka bilang ada yang digunakan. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas. begini. saya kemari hanya untuk hal itu. mendengus. Saya tak mau. ”Emas itu memang ada pada saya. http://www.. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah. ia mengangguk.. melainkan disalurkan.processtext.” ”Tenang. Tapi karena dinamit itu. disalurkan.” . ”Sebetulnya bukan dikembalikan.” Ragu. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran. Dik Najir. baiklah saya terangkan. seperti kecewa. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. Pak Jusuf. ”Nah. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya.. Saya akan membantu.com/abclit. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf.. lalu berkata. emas itu tak usah dibagikan. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. Tak lebih. Saya. maaf. Itu gampang. Kaki saya putus bukan karena berperang.” ”Ah tidak! Mana bisa.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah. seperti mencari lagi posisi yang tepat..html Satu kaki tak ada. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu.” ”Tidak. mengeluarkan dompet.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi jumlahnya tak lagi sama. Saya. Dik Najir. Kemudian katanya. bagai mencari persetujuan. Dan karena jumlahnya sedikit. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan.. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. langit goa yang runtuh.” Diperbaikinya duduk.. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. Dik Najir tentu bertanya-tanya. Jemarinya merogoh. Lalu. mereka hanya meneruskan.

. iseng.com/abclit. Ketika koin itu bergerak turun. Semua tak bergerak. tetapi koin 1. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. langkah si pemuda terhenti. mata itu. koin satu rupiah itu tak tersambut. nyaris menyentuh loteng. sekilas tampak seperti mata kayu. aku tahu yang ia rasakan. semua kembali seperti biasa. si pemuda membalikkan tubuh. yang berhenti? Dan Pak Jusuf. Wajah bulatnya tengadah. gorden. yang siap menyambut koin.. astaga. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak.!” ”Triiingngng..html Satu rupiah? Ia ternganga. http://www. atau mungkin tiga puluh detik. tak berkedip. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. Mata di balik bingkai besar itu menganga. tertahan bagai mengambang.. Semua tak bergerak. kursi. tidakkah berair bagai menangis? Pusing.!” Lelaki tua itu terkejut. Pak Jusuf mengangguk. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut.. Meja. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu.. Koin itu berhenti.. Mulutnya terbuka..000 rupiah itu kembali? . dua puluh. Saat koin itu bergerak turun. kaku tergantung. Lalu. tersentak. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas.. Sepuluh. Tangannya yang terangkat. Ia terus meluncur. ketika itulah.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Tapi ajaib.. diam... terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. Tetapi mendadak. teronggok di trotoar. Sepertiku. tertahan bagai mengambang. menatap ke arah koin.. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. kelihatan seperti patung. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung. Diayunnya kaki. Waktukah. Betulkah? Betul. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks. Senyap. diam. Bahkan udara pun seperti mati. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut. taplak. lapar. Dan.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya.processtext. Dengan hanya seribu. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. tapi kembali tertegun.

. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. Minggu 28 Maret 1830. Karena itu. hari itu.” Si pengemis seperti lega. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. dalam lukisanku. ”Maaf. Dan mata itu. di hadapan si pengemis..” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. http://www. Dungu. asalan ia berkata. berapa umur Bapak?” ”Oh. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu.html Konyol. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tujuh puluh tujuh? Eh. Tiba-tiba ia merasa letih. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu.processtext.. Tetapi ia telah di sini. Edisi 11/06/2005 Ya. . Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana.Generated by ABC Amber LIT Converter. tujuh puluh tujuh lidah emas. kau juga tahu. Jadi. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. Ramadhan telah berlalu. Muak.com/abclit..*** Payakumbuh. Memasukkan lamaran terus. ”Tujuh puluh tujuh.. Mencari kerja terus.

Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini." desis Haji Ngisa. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. "Kalau mau Sultan . Namun di luar dugaan. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu.com/abclit. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. http://www. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas. de Stuers. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. Dan orang-orang. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan.Generated by ABC Amber LIT Converter." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. "Segalanya sudah diatur.processtext. Raden Mas Joned. Lewat bisikan batin. Ya. Karena itu. Jadi. Hanya aku saja yang boleh sedih.html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Pangeran harus kulukis tegak menantang. Roest. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. ke langit sarat sriti. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. terutama aku. Residen Kedu berwajah batu itu. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta. Dia tak ingin de Kock atau Valck.

processtext. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Setelah itu.com/abclit. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean. Nah. Ya. http://www. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga. Tetapi. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. "Jadi. Namun. Dan. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun." kata de Kock. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga. Pangeran. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna. Jika ingin berkelahi. saya tembak putra-putra Sampean. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran." .3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid. Kalau berani menatap. hati Sampean bisa terbakar. mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi.html Ngamid bisa menghilang. apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu. Jenderal." Ya. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan.

Ketahuilah. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri.com/abclit. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. seperti Isa yang tersalib. membumbung menembus kabut. Sekarang. Urusan siapa? Urusan saya. Kematian toh hanya kabut halus. dia berseru. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. Jadi. bukan urusan Sampean. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. urusan Haji Ngisa. Karena itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. sambil mendongakkan kepala. wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. Saya siap dibunuh kapan pun. http://www. Gusti.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. Dengan hati-hati pula. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. Mengapa tak Sampean lagi takjub. moksa ke langit. "Hei. kau tahu. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub.processtext. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. Karena itu. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. Tuan. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. De Kock akan tinggal arang. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. ketahuilah. Jenderal. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. silakan bunuh saya.

sekali lagi. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Karena itu. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka. Sampean boleh khawatir. ya.processtext. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Sampean tahu. Ketakjuban. Sultan. http://www. Gandakusuma.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu." "Jadi. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. > 0 Meski demikian. Sultan. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan." "Maaf. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. kita hanya akan bersilaturahmi. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma. wangi bunga kubur.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan. Namun." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu. Sultan?" "Ya. Gandakusuma menyangkal. berlebaran pada Jenderal de Kock.com/abclit. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat. ." "Allah tak menghendaki seperti itu.

" kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. . Dia tahu sebentar lagi. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. Dan sebagai iblis. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. Nanti….html "Kita memang akan bersilaturahmi. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. setelah pada pukul 08. Ya. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. tetapi de Kock telah menjelma iblis. O. Digambarkan bersayap atau tak bersayap.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan. Juga sayap dan kemegahan dunia. namaku Saleh.Generated by ABC Amber LIT Converter. mata yang kehilangan keperkasaan. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. Ayolah. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu.com/abclit. Juga sayap dan segala yang dicinta. "Sudahlah. http://www. Nanti kuberi kuda baru. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru.processtext. Sultan. Gandakusuma. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu.

Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro".com/abclit. Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. 3. Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . http://www. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey. nama Dipanegara dia berikan kepada putranya.Generated by ABC Amber LIT Converter. 2.processtext. 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Juli 2004. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua.html Semarang. Anak-anak Sultan Ngamid. "Historische Tableau. "Asal Usul Perang Jawa. 4. Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. 5. die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro".

hati-hati. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Namun. Semenjak usia lima tahun. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Mulai sinis. Angin menusuk gigil.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Anak satu-satunya. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. anak dendang itu juga manusia. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan. Mencucuk sumsum dan tulang. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya.olah saja ia sedang disengat kalajengking. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. sore kali ini menjadi lain. Hatiku terbakar. bola mata tempat biasanya aku berteduh. Tak biasanya Ibu seperti itu. Ah." ucapku pelan. "Ibu. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih.html Sumber: Kompas. Sampai aku besar. . Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Setelah aku bercerita panjang. Sebuah danau tenang. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Pukul dua belas tengah malam. agar Ibu mengerti. Namun. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. Menuju jantung kota kecilku. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. http://www. Seperti kemarin juga. Tetapi. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam.com/abclit. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan.processtext. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. Serupa sebelum-sebelumnya jua. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya.

Ibu. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. Sebatang rokok kuselai. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. dekat sebuah lampu taman. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. Menyisik bersama angin malam yang tajam. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. Tidak semua anak dendang seperti itu. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari .Generated by ABC Amber LIT Converter. "Ya.com/abclit. keluarganya. Bahkan. Berbuai-buai. Aku duduk di tepi trotoar. http://www." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. Rabina itu perempuan yang baik.processtext. Ibu. Bersipongang. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong.html "Cobalah mengerti aku. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang. Aku telah menyelaminya." "O. Aku telah selami pribadinya. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. Asapnya membaur dengan cuaca. semakin banyak aku berbicara. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Aku terpojok. Tidak ada yang menggoreskan cela. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya. Percayalah.

"Mengertilah. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Sayup. bulu matanya." jawabku tenang. bibirnya. dan penerus kesenian nenek moyang kita.ulang datang. Mengapa mereka harus kita sisihkan. Mengimbau. Lekat di kedua belah anak telingaku.processtext. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Akrab. Haruskah kita membunuhnya. Ingin melihat senyum Rabina. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Memukul. "Di samping berdendang. http://www.html trotoar itu. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. penjaga. Dan berulang. Tetapi. Ingin menikmati rambut panjangnya. Ibu tetap tak sependapat denganku. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. Namun. Aku ingin ke sana. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. Dan suara itu. berburu ke arahku. Suara yang sudah teramat kukenal. jelas kutangkap dari gelagatnya.pandangan sebelah mata?" Selalu. Bergema melantuni malam.com/abclit. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala. Ibu." terangku lebih panjang. Lirih. . Bergendang-gendang. Kurasa Ibu tidak sepicik itu. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. Seolah berpitunang. kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. Di sanalah saluang tiap malam digelar. kita lecehkan dalam keseharian. Pewaris.

aku setia menungguinya. Rabina." ucapku lagi meyakinkan dirinya. aku mulai mengikutinya berdendang. Lalu menunduk. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Karena setiap malam Rabina berdendang. "Aku mencintaimu. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. Tidak jarang. biar sajalah. Diam. "Mungkin kamu tak percaya. "Ayah dan Ibuku sudah tua.apa lagi. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. Aku tahu. http://www. sejak singgalang 13) didaki. Di saat lain aku justru merasa bahagia. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. Kadang terkesan merintih. Dendang yang melirih. Tetapi. Memburu dan mengepungku. Tigo Giriak 12). Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. Hidup memang keras bagi kami. Meratapi malam. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. Sirompak Taeh 10). bagaimana lagi. Pariaman Panjang 9). Ruang. aku harus membiayai keluargaku. Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. Ah. Ratok Bonjo 8). Dan lagi. aku telah mengatakan yang sesungguhnya.html Suara itu masih sangat jelas. Hanya gambaran dari keberantakan. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Sebuah rumah kecil. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. Kemudian pada malam-malam berikutnya. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat. Dan Rabina seolah tak percaya. Istirahat. . Nyaris tak mempunyai kelebihan. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Saat mula aku datang ke pagurawan. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma.processtext. Tetapi. Jam empat subuh saat itu. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Sudah tidak bisa berbuat apa. Sawah Rawang 11).Generated by ABC Amber LIT Converter. Menatapku lama-lama.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain.com/abclit. Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Kadang aku merasa malu. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7).

"Aku istirahat dulu ya. . Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Terima kasih sudah mengantarku pulang.com/abclit. mencoba menatapku lagi. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Anak dendang. Bergulir. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya.html Rabina mengangkat wajahnya. Tetapi. Rasa cinta yang cemas. tidak hanya ketika ia berdendang saja. pada waktu-waktu tersisa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah. Mencintaimu. Tetapi. http://www. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. Namun. Tak kuduga. Wajah Rabina mengeruh. Sepenuh rasa cinta. Lalu aku mencium keningnya. Jatuh menimpa jemariku. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami." katanya pelan. Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Aku mengusap rambutnya. Membenahi anak-anaknya yang berserakan." Berat rasanya. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. "Pulanglah. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. Tentang rindu." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Sudah hampir pagi. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. Memendung. "Aku sayang kamu. "Kamu berada di anjungan berukir megah. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan." "Jangan berkata seperti itu.processtext. aku mengangguk juga. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. Rabina!" Sejak saat itu. Lembut. Rabina. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang. kami akan menikmatinya berdua. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu. Ukur timbang matang-matang. "Cobalah berpikir kembali.

Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Aku masih di trotoar itu. Lama. Aku ingin memberontak.processtext. "Aku mencintaimu. awan-awan diam. Aku ingin ke sana. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. 5) Istilah. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung. Rabina. . Malam melilit. Meninggalkan trotoar itu. Mendengar suara Rabina. 4) Pantun-pantun yang dilagukan. 11). Membelenggu. Di langit malam. 6). Ingin berteriak. 8). Aku ingin mengatakan kepadanya. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. 10). Menikmati saluang yang masih berkumandang. Aku menatapnya. Aku mencintaimu!" Namun. tempat kesenian musik sedang digelar.com/abclit. Ke lapik gurau tempat Rabina berada. Menyelai rokok lagi. 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang.html "Pinanglah. Lalu aku berjalan. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. 9). Cahaya bintang berkilauan memendar bias. Biasanya dilakukan oleh perempuan. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh.

kebiasaan serta irama keseharian mereka. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. Sebagai penulis. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya. fana. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit.com/abclit. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris.processtext. pendeta. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. ”Kamu ini psikolog. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak. . di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra. Di seberang sana. http://www. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Ini untuk melukiskan. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. lembah dan gunung-gunung. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi.

Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu.. karena ini rumah wong edan.” tambahnya getas. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. ha-ha-ha. Kali ini aku mau. Beberapa teman ada yang mengusap air mata.” komentar istrinya. kamu jawab semua pertanyaanku.. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual.” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Masih cantik ya. http://www. ”Kalau ingin menulis. Pimpinan perusahaan... Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta. . bukan teknis.” tukas sang teman. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri.. Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi.” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan.. Ketika hari pensiun tiba.. Sang sahabat garuk-garuk kepala. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut.” sahutnya berseloroh.com/abclit. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti.html ”Sudahlah. ya mustinya bangun pagi. Begitulah.. aku lupa. pekerjaanmu urban planner. Terasalah. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. Dia disuruh pidato. Setelah itu sore tiba.. waktu tidak seluas dibayangkannya. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung. ”Wah. Terus terang.processtext.

”Ooh.. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman. Pa?” tanyanya. . Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. gardening. lanscaping. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. sebelum matahari terbit..” Begitulah kehidupan pensiunan ini. dan lain-lain.. ”Mas Daru kini jadi petani lho. dan semacamnya.. merapikan barang-barang. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. sampai-sampai.html Dia cuma tertawa. Dia lebih tertarik pada tanaman. Waktu saya ke sana. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. bersih-bersih. Dia menjadi petani. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa...” celoteh orang di kantor.. Coba tanya beberapa teman. ”Kenapa bangun sepagi itu. Soal menulis. Ia mulai bangun saat subuh. space planning. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan..” pikir sang istri. sesekali merawat dengan memberinya pupuk. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman... Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. http://www. ”Benar juga. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu. dia seolah seperti landscaper.” ujarnya dalam hati.. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.com/abclit. kalian tidak tahu.processtext. Katanya dia sampai diprotes tetangga. memangkas dan merapikan daun-daun bambu. Pertama berat. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya.Generated by ABC Amber LIT Converter.

selalu terjadi pada para pensiunan. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. kaget juga banyak orang). Ia merasa benar dengan feeling-nya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Ia dilarikan ke rumah sakit.. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian.” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. Bukan hanya stretching. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan.. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan.” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. . bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya.processtext. Hanya saja. http://www. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan..Generated by ABC Amber LIT Converter. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. Akan tetapi.” Perkembangan berikutnya lagi.. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung.. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali. ”Liong bun. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi.. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. ia percaya.. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. berada di ruang kerja menghadap komputer. kali. Sang istri percaya. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya... dari berbagai penjelasan dokter.com/abclit. melihat kemajuan suaminya. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Dia baru menyadari.

Semua saudaranya tumbang di jalan. di balik cakrawala ada cakrawala. ”Itu gunung apa Bib.. Suaminya telah pulih kembali.. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan. . Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango. Didekatinya suaminya dari belakang. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter..processtext.” suaminya melanjutkan kata-katanya. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Itu tadi ucapan suaminya. Ia ingin menguji memori suaminya.. Patman.. diiringi anjing kita.com/abclit. ”Indrakila!” jawabnya. dengan menggunakan nama panggilan suaminya. Sang istri kian penasaran. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka. Sang suami diam. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu. Ah. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam.. Di balik gunung ada gunung.. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Wanita ini tersenyum. Si istri kaget. bukan Gunung Indrakila... Itu Gunung Gede-Pangrango.” tanyanya.

sebelum berucap. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik. Dia tahu. ”Bibib telah benar-benar sehat. Ciawi Junction. Si suami diam sesaat.com/abclit.. 2005 .html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri. http://www. ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. pertemuan mereka. episode-episode manis yang pernah mereka lewati.. siap menulis lagi. Langit semburat merah..” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita.” Terhenyaklah sang istri. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. bukan Mertasari. Dia peluk suaminya dari belakang.. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari..processtext.. Mata sang istri menjadi berkaca-kaca.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu peristiwa puluhan tahun lalu. di pinggir kolam. tentang asal-usulnya. Pagi benar-benar datang.

Merapikan pakaian. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. . dan wangi. Menyemprotkan pewangi ruangan. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah.html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini.com/abclit. keramas. Saat ia berbaring di ranjang. Melipat selimut. hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Langsung. Ramadhan berlalu. Setiap menjelang Ramadhan. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Ia memejam. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Ah. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi.. rapi. Bayangan kematian penuh darah. Ia tak ingin kecewa lagi.processtext.siul ringan. Menyisir rambut dan memotong kuku. sembari bersiul-siul kecil. Ramadhan kali ini. Atau erang kesakitan leher digorok. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. memandang langit siang yang terang. dan segera saling bisik. mengusir bayangan buruk itu. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Saat Ramadhan kemarin. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. sembari terus bersiul. Dan tadi. ia bisa mencium bau amis darah itu. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. mengerut menatap laki-laki itu. Ia berdiri di ambang pintu. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. ia berharap maut benar-benar akan datang.Generated by ABC Amber LIT Converter.. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. tapi ia masih saja hidup. http://www.

Ia seperti tak mau dikenali. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. http://www. Ia mengerang. Mungkin ia rampok. Kadang berbulan-bulan. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Wajah. Sering. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. seperti bekas bacokan. Seperti selalu menghilang. memandang entah apa.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Sesekali. seperti kotak tempat menyimpan gitar.com/abclit. Rutin yang ganjil. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Para tetangga jadi gelisah. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. mereka mendengis bengis. Ini yang membuat kian penasaran. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Mungkin intel. Berhari-hari. Memakai jaket kulit hitam. Lihat saja tampang seramnya. . Tato di lengan kanan. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. Bila pulang. Bergegas. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Entahlah. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Sebab. Misterius. seperti lilin panas mencair. Menutup diri. Barangkali ia dukun. Menenteng koper besar. Tiap sore ia keluar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. tapi pergi ke kuburan. Kulit wajah mayat. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. menyapu. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. ia terlihat merokok siang hari. Beres-beres kamar. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita. Menjelang Ramadhan ia muncul. Aneh. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya.html Ia jarang berada di kamarnya. seperti mengawasi. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar.processtext. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka.mayat itu meleleh. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Mengepungnya. Parut luka seputar pundak.

. Percuma kalo cuma jadi tentara. Tempat menyembunyikan diri. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. ”Kamu punya bakat bagus. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia selalu ingin berada sangat dekat.saat seperti itu. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran.” kata komandannya. Dikirim ke medan perang. Dan itu disukai komandannya. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Meski ia tahu. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Di kampungnya. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Mungkin. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. kata teman-temannya. ia suka membayangkan diri jadi tentara.com/abclit. Lalu beberapa order ringan lainnya. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Benar kata komandannya. Tapi membuatnya merasa aman. ia diberinya pekerjaan.html Ia tergeragap bangun. sebagai seorang pembunuh bayaran. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Sumpek bau comberan. dan disiplin. Kamu pantas jadi tentara. bisa memukuli orang sepuasnya. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seorang hakim. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Umur tujuh tahun. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. nanti bila sudah berhenti. Membunuh seorang pengusaha. Kisah para raksasa penyantap manusia. Menghabisi seorang wartawan.processtext. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. http://www. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mati dengan tenang. Ia terkapar. Ia pun mendaftar jadi tentara.orang mengerubung. Dan ia membusung bangga. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Alangkah hebatnya jadi tentara. Ia akan tinggal di rumahnya. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Paling mentok jadi sersan. tertib. di bulan Ramadhan. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Memang. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Lalu sepulang perang. Ia pun suka menikmati saat. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. tak ada yang berani menghentikan. Orang.

processtext. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Dan ia tersenyum. Tugasnya hanya membunuh. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang.” . kenapa mobil perlahan berhenti. Beberapa menderita sakit jiwa. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Rahang terkesan pipih. kamu mau membunuhku.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Bicaranya santun. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Mencibir. Dan ia mulai mengawasi. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. ”Aku tahu. Ia heran. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Kulitnya yang coklat resik. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Karena itulah. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu.com/abclit. Beberapa mati dalam penjara. Sorot matanya tenang. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Sepotong. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan.” ajak Kiai Karnawi. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Ia tak terlalu menyimak. Tanpa jejak. Getir. lalu mendorong mobil ke jurang. Sayang kan. itu mobil mahal. http://www.

Ia bisa menembaknya. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sekarang. Ia pun kemudian selalu berharap. Terdengar letusan.com/abclit. http://www. kecuali mati di bulan Ramadhan. Tapi tolong. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. ia hanya berdiri gamang.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Enggak usah merepotkan sampeyan…. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Amin. Kematian di bulan Ramadhan. Ia meraba belati. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. dan kini memburu kematiannya. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan.processtext. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Yogyakarta. Dengung jutaan serangga mengepung. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. yang pelan. Singup. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini.html Baru kali ini ia gemetar. Kalau boleh memilih. Kelebat bayang burung menyambar. Gemetar tak yakin. Jangan sampai aku kesakitan ya. Kemeresek daun jati jatuh. Senyap. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Dan semoga saja. Ia merasa senja meremang. Lalu menggelar sajadah. Lengking gagak di kejauhan. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Alhamdulillah. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Pelan. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. lakukan tugasmu. Ia mulai diusik gelisah. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat.

Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Jangan terlalu banyak bergerak.processtext. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. berakhir pukul satu siang. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Kuraba kepalaku yang nyeri. Nah. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. Sejak itu. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. Setelah pulang dari rumah sakit. Ada rasa ngeri dalam diriku. Entah berapa lama. katanya. Sendiri aku kembali. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. kalau pulang. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. membuatku tidak betah. ternyata dibalut dengan perban. Setelah sadar. Ketika aku membuka mata. http://www. Nyeri di kepala dan bagian . Dengan tersenyum ia menjawab. benjolan itu sering pindah-pindah. Sampai akhirnya. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. aku selalu mencari teman untuk pulang. justru itulah yang kukatakan kataku. tetapi karena kalau tidur. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Bapak perlu istirahat banyak. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. aku tidak tahu. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. kataku dalam hati.com/abclit. Suster. bukan karena sakit. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. bertahun-tahun. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kurasa benjolan itu mengganggu. aku tidak tahu. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Seperti biasa. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. di mana aku? tanyaku. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. aku menjadi takut ke rumah sakit.

Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. http://www. hanya luka memar dan benturan di kepala. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. tetapi tidak berhasil.html kaki. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Ketika makan siang usai. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam. Persis di pantat. tengah malam. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. yang berbaring dekat jendela menyapaku.. Ia melayang jauh. kalau boleh dengan menelan obat saja. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. indahnya. . dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. jarum itu menancap. Tadi malam. muncul lagi. Ia menyapaku dengan lembut. Kami saling menyapa. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. Ia mengendarai selimut malam yang putih.processtext.com/abclit. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. Aku melihat cahaya yang indah. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Tidak ada tulang yang patah. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. Aku merintih-rintih. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain.. dekat jendela pula. kawan yang di sebelahku. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. Sejak lama aku menghindari suntikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Oh. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. Beberapa kali aku disuntik. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. damai.

ada suara menarik. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. ayunannya yang menggoda. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. tidak usah takut. mereka rindu bertemu dengan Anda.. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. http://www. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. hidangan anggur merah yang meriah. . Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. persediaan yang tidak habis-habisnya. seseorang menyapa aku. Suster itu tersenyum.com/abclit. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. HB-nya sedang menurun. sungguh menyejukkan hati. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. kawan.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. Tidur dekat jendela ini amat nyaman. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. Petang harinya aku membuka mata. Pak. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. Segala derita berlalu. Berjalanlah bersama kami. Ia harus mendapat tambahan darah. oh. Semua orang berpakaian yang indah-indah. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya.processtext. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Lentiknya tangan mereka. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. aku bertanya. Semua tampan dan cantik jelita.. Suster. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. sebuah pesta yang meriah. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Dan belum lama berselang. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Para pelayan yang sopan. ketika Anda tertidur. nikmatnya. Bidadari-bidadari dari kayangan menari.

com/abclit. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Saya akan minta bantuan kawan yang lain. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ruang perjalanan akhir. Ah.processtext. Rupanya ia sedang terburu-buru. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. Ya. tidak apa-apa. katanya perlahan. katanya sambil melangkah ke pintu. . minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. http://www. Baiklah. Maksud suster? tanyaku penasaran. Pak.html Paginya. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir. jawab suster itu tenang. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar.

dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. Kudorong daun jendela. di bangsal yang lain. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Namanya Roni. kapan aku kenal temanku yang satu ini. Ada apa.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Semula pada suatu sore dia datang. Setelah suster pergi.processtext. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera. Bandung. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. Buru-buru kutekan bel.. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia . Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas. Kurasa lebih lima belas menit kemudian. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. disangga bantal. Pak? Suster. aku dipindahkan ke ruang sebelah. membukanya lebar-lebar.. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. http://www. tanpa mengenalkan diri. Suster berdatangan ke ruanganku. Edisi 10/02/2005 Aku lupa.

” ”Ah musyrik. ”Betul kok Mas. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. apa tidak dosa?” .” katanya. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. genderuwo.” jawabku.” Saya terdiam bengong. Berprofesi makelar tuyul. paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan. jin. ”Ah yang benar!” sahutku. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. genderuwo atau jin. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.com/abclit. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. ”Anda sendiri gimana.html gaib. Soal tuyul. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul.processtext. mobil. sampai segala macam pesugihan. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya.

Coba nanti dari belakang kita cibiri dia.html ”Ah ya tidak.” ”Saya tidak melihat apa-apa. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang.” katanya. Dia minta memerhatikan air. itu dia sedang menggendong tuyul. ”Mau tahu siapa yang punya. Harus dengan uang sebelumnya.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Itu orangnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Perempuan berambut ikal. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. ”Betul kan Mas. ratusan ribu dengan ratusan ribu.processtext. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa.” jawabku. ”Lihat Mas. dan lain-lain. detik itu pula raib di depan mata kami. ada peristiwa aneh di rumahku. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. setiap uang di tas kerjaku hilang. Kami bingung mencarinya. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya.” . http://www. Uang kami atur menurut nilainya. ”Ah memang.com/abclit. Wong saya hanya perantara. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.” Beberapa hari kemudian. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian. Istriku merengut. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. mana untuk uang sekolah anak-anak. Nanti kalau mau saya ajari. ada tuyul di sekitar sini. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu. Nanti akan terlihat siapa orangnya.

atau di Desa Tempuran.” Bulu kudukku meremang.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. ”Cerpenmu bagus Mas. Mana mungkin. ”Bisa lho Mas. pikirku.Generated by ABC Amber LIT Converter. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup.” katanya. Pandansimping. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. http://www. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. . Saya sendiri kurang berani menghadapinya. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo.” Benar-benar gila orang ini.com/abclit. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya.processtext. pikirku.” ujarnya. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya.

agak di luar kota. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. rapal. Pulangnya sehabis magrib. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. saya boncengkan. ini pasti perbuatan iseng si Roni. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. Ya Allah. telah membuatku tidak bisa .” sapaku. menjelang melintasi jembatan. ”Lha. Hingga pada suatu sore. Ah. pikirku. Tapi… senyum itu… ya Allah. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. ini saya beri tahu ritualnya. ”Kalau mau ke kota.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. senyuman seperti orang menahan sakit itu. ”Monggo Pak. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan.” ”Tidak kok Nak Mas. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya. Nak. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok. pikirku. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.com/abclit.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. terasa bulu kudukku meremang.” jawabnya lirih. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan. http://www. supaya kerap mengirimi saya makanan.processtext.

alis tebal.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.html tidur semalaman. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran.” jawabku seingatnya. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni. Ternyata tidak mudah.processtext. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Dia tertegun beberapa saat.com/abclit. berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Seorang lelaki paruh baya. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. Setelah bertanya kesana-kemari. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. http://www. kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga... Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras.) Klaten 2004 . ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik.. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat.

Generated by ABC Amber LIT Converter. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari. bukan?” Kakak diam saja. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. Hanya memandang.com/abclit.” pesan ibu. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. jauh. Lurus. serta menarik-narik tangannya. kian lesi. Wajahnya tambah putih. memeluk. Matanya terus menerawang ke cakrawala. tidak tidur malam. dsb. Kosong. Nak. ”Elok-elok di sana. Engkau akan mengajar lagi nanti. . Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. namun kakak bergeming. http://www.processtext. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. seperti puasa.. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Kau akan dimasukkan kerja. berlari mendekati.. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. Kau senang dapat mengajar lagi. Kakak tak hirau. ”Paman dan bibi akan menjagamu.

Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA.com/abclit. Sampai kini. Bukan kepala stasiun. ”Kakak sedang malas bicara. menyeru namanya. ”Tapi kakak diam saja. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. Sedang kami hanya bisa memandang.” ujar ibu. Ah.” kata adik-adik. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak.” jawab Kak Lela. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. Salamilah paman dan bibimu. ”Ai. ”Seperti tak mendengar. Ikal. padahal hanya masinis kereta api.html Tetapi ibu terus bicara. http://www. Seolah-olah beliau orang penting. izin dulu ke komandan. Legam. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. bertangisan.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela. Nak.” . Begitu.” ”Malas bicara. ”Payah hubungan pos sekarang. Membawa ayah. ai. Mariani. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah. namun ayah tetap tidak dapat dicari. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat. paman dan bibimu tiba. Lambat. ”Dia sayang sekali kepada kalian. tetapi ayah tidak terjangkau. Sejak dia tidak jadi mengajar.” ”Kakak mendengar.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu. ”Ajaklah terus berkata-kata. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya. Sudah lama kakak serupa patung hidup.” Kakak tetap tidak beringsut. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak.processtext. harum dan bagus sekali rambutmu.

”Disuapi engkau Mariani. Sudah kering sekarang. Berlubang-lubang.com/abclit. Ada empat orang. http://www. ”Mereka lempar kakakku dengan batu.” balas ibu mengangguk.” kubilang.” .” Istri Paman Jafar menghampiri kakak. ”Tapi mau dia makan. Dia melengking. Kak. sama besar denganku. ”Begitu keadaannya. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. Yang lain siap-siap menyergap. lalu menoleh kepada kakak. Kuburu anak-anak itu. Disuapi. ”Paham aku itu.” sahut ibu. ”Tapi tidak dalam.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Terlalu! Tengoklah. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. berteriak-teriak. ”Anak-anak nakal itu.processtext. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat.html ”Jalan pun buruk. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak. Kak?” ”Mau. anak rancak? Eh.” istri paman menambahkan. aku melesat ke luar rumah. berdarah-darah. lihatlah. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah. Ibu-ibu menceracau.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap.

penumpangnya tak menengok. Sebuah bendi lewat di muka rumah. ”Bagaimana aku bisa pindah. Kakak terisak.” Tidak berjawab. Kuping mendenging.” .” ”Jual. Mariani? Nanti mengaji. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Katanya. ”Rumah ini bagaimana. ya. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seorang lelaki membelalak garang di depanku. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. sebagai biasa’. Bahunya bergerak-gerak. http://www.” dia bilang. Hampir terjengkang. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang. Jafar.” jawab ibu. ingin bersih-lingkungan.processtext.com/abclit. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi. Pamanmu juga. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat. Mengajilah saat maulud. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. ia bilang. Tumpahkan terus. Kepalaku nanar. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. Tapi yang muda-muda menolak. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Paman kembali melihat ibu. ”Lepaskan. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. bagai rembesan pada panci rusak.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Sengaja buya tua itu kemari. kubalas berteriak. Nak. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat. ”Masih rajin engkau mengaji.

”Tidur. banyak. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. menanti pengangkatan. ”Ambil bantal. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. Jafar. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam. ”Sudah ke mana-mana kuobati. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari. ”Tenanglah Kakak. Sesekali kubawa pula ke sekolah. Bersih. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. meski tak diucapkan. Tetapi. Berangkat gembira di pagi hari. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. serupa badai. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. Atau diajaknya adik-adik. ditolak jadi guru. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. bila aku pindah. Menyulut rokok.” Berbisik pula pada adik-adik. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. Orang-orang tetap lewat di muka rumah. Lagi pula. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. tahu keberadaannya. memandang paman serta bibi penuh harap.html ”Ei. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir.” lanjut bibi. Juga karena status ayah. Karena status ayah. aku. diputus tunangan.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. Diselimuti. Bagaimana . Juga siang.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. menatap kejauhan tak berbatas. tak menengok. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. Melihat pula ke luar. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap.” kata ibu. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Dia luruskan kakinya. ”Belum juga ia berubah. sudah tiga bulan ia mengajar. Lalu. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Polos. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. sewaktu pulang. http://www. Padahal. Jafar. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas. Kak Lela berdoa.” ulang Paman Jafar. Paling tidak. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela.com/abclit.” balas ibu. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam.

berharap kakak jadi guru tamat SGA. Juga lalu di muka rumah. Di Pakanbaru juga kacau keadaan. kakak. *** .” Ibu mengangguk-angguk. atau kami yang kehilangan mereka. ”Terpikir olehku.” Ibu bernapas lega. ”Kakek-nenek kalian guru. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. terampil-cekatan menangani rumah. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. Tugasku menunggu. tapi tangannya campin pula. ”Kubawa Mariani sekalian. putri sulung.processtext. kakak dibawa paman dan istrinya. Ayah bangga dengannya. ”Komandanku tahu. ”Syukur ada kakak kalian. Putih. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Tetapi. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. ”Rencanaku besok kembali. Dekat kami. Kulitnya bersih. Tetapi malah juru-api kereta api. Mestinya ayah juga. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. tak bergerak-gerak seperti bayi. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami. Tapi. Anak Ampek Angkek.” Kakak terus tidur di beranda.com/abclit. Napasnya lunak. Ibu menangis. Kak. kalau cukup biaya.” Ayah tertawa suatu ketika. kalau laki-laki itu pulang suatu hari. Bila mati di mana berkubur….” ucap Paman Jafar. ya?” Kami mengangguk. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Termasuk jalan hidup anak manusia. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. http://www.” ujarnya kemudian.Generated by ABC Amber LIT Converter.html keadaannya. Kami juga. seperti ayah. Barangkali karena perempuan. Besoknya. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya. Dik. Kakak telah pergi. Dia kawanku. tak mungkin tidak. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas.

orangtua Cik Giok kurang mampu. Kalau tak boleh dibilang paling jelek.Generated by ABC Amber LIT Converter. kamar itu amat sangat sederhana. Sempit. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Pa bilang.processtext. ibunya sakit-sakitan. mengalahkan aku. di sebelah gudang. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. diam. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. aku mengikut saja. Karena kata Pa. Supaya anak dan ibu selamat. Hidup mereka susah. Ma. . Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. Emak mau. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. Di rapat persiapan perkawinanku. http://www. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. setiap kali Pa bersuara. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. Di rumah kami. dekat dapur. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. Emak. Cik Giok menempati kamar belakang.com/abclit. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. di Pontianak. Separuh dindingnya dari tembok. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting. Malah sejak aku belum lahir. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. bisu. lalu di pelabuhan. Kalau mengikuti urutan keluarga. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung.html Jakarta. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu.

memanggil. sebelum Emak bangun. katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dibuatkan baju. Supaya di hari Minggu. saat bisa sedikit bersantai di kamar. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. Satu kuartal. Lewat. Emak. Pulang sekolah. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. Terutama siang hari. Enam bulan. mengapa Sabtu. aku masuk kamarnya. waktu itu. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. Tidak apa-apa. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. Emak bilang Cik Giok pulang kampung.. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. Tetapi aku diam saja. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. Kalau sudah begitu. http://www. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. Tiba-tiba aku menangis. Sore hari. Malam itu aku tak bisa tidur. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. Aku kelas enam. kudapati kamar itu sudah kosong. Cik Giok harus dipanggil. Memeluk bantalnya yang tipis. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. dan mengurusi segala keperluan Emak). tahu. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. berdebu. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. katanya. Sebulan. hingga aku terlelap. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Katanya. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. mengajakku merasakan kesejukan di sana. ketika pulang sekolah. Katanya.com/abclit.processtext. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku.html Aku pernah bertanya. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. bahwa ia bohong. Sudah dekat ujian. Cik Giok menangis seharian. menemuinya. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. yang kebetulan tidak tidur siang. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak. bilang pada Emak. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. berusaha mengeluarkan senyum. menggosok. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. Juga beberapa malam setelah itu. Ma bilang. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja.. Sering di tengah cerita. Itu hari yang paling tepat. aku bayi yang cengeng. membereskan rumah. Aku ditariknya keluar.. Sehari sebelumnya. aku mengantuk. ibunya Cik Giok sakit keras. Lewat seminggu. Hingga seminggu lalu. mencuci. Esok harinya. Jadi Cik .

Cik Giok menangkupkan tangannya. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur. Tetapi melihat wajah Emak. Aku berlari menyambutnya. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Wajahnya lebih tirus sekarang. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Baik. Kurebut tas kain dari tangannya. aku putuskan kembali duduk. aku bertanya pada Ma. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. kata Ma. . Kami menyantapnya dengan lahap. memberi hormat pada Emak. Semua baik. Makan. Ubannya sudah banyak sekali. Emak. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Aku bilang. Aku sudah berdiri. Di ruang tamu. siap menyusulnya. mau mengajak Cik Giok. Pa.com/abclit. Ma kelihatan kurang senang. Sudah. kelihatan sedih. Bubur encer dengan tung cai. atas perintah Ma. suwiran ikan asin bakar. Siangnya. Cik. Ia akan tinggal terus bersama kita. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Aku mengikutinya dari belakang. Mau kawin kamu.html Giok akan datang. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. Persis seperti dulu. katanya. Kami berpelukan erat. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. Dan Cik Giok benar-benar datang. Semua dari kampung. Pagi-pagi. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. kata Cik Giok. Menyiapkan sarapan untuk Emak. aku harus mengepas baju pengantin. Tidak. Matanya. selamat. Aku menyeringai saja. dan aku. Cik Giok sudah sibuk di dapur. kataku. yang tak beranjak dari meja makan. dengan dahi berkerut. Tenggorokanku kering. Ia kutarik masuk. Ma. http://www.processtext. Menghabiskan bubur di mangkukku. Keras.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah empat belas tahun pergi. mendengus. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. ia kembali ke rumah ini lagi. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Ma menanyakan kabar Cik Giok.

Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Sama persis dengan Ma. kataku. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Ada apa? Ia bertanya. mencari makanan di dapur. Sakit.processtext. Cik. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. tak tersenyum. http://www. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Mungkin. Ma mencubit lenganku. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Cik Giok tetap diam. Katanya lagi. menuju jalan besar. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. perutku terasa sangat penuh. Cik. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. setiap calon pengantin selalu begitu. Mencari bajaj. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. Lalu aku naik ke tempat tidurnya.html Ayo ikut. Cik? . Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Tak berkomentar. Ma menggeret Cik Giok keluar. Dia belum tidur. Aku hanya mengangkat bahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Baju sudah hampir selesai. Aku berputar-putar di depan cermin. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Menuju pulang. hanya beda warna. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Aku keluar kamar. Meski masih agak longgar di pinggang. Itu karena terlalu senang. Tubuhku lelah. Sedikit lebih gelap. Tulis surat buat siapa. Tidak bisa tidur. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. kata Ma. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi.com/abclit. Ia membereskan kertas suratnya. Ma menjelaskan. Cik Giok tampak bingung. Kami berjalan beriring. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Terkejut dia melihatku. Mataku berat. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Ma bilang itu biasa.

siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. Kuku menyuruhnya masuk. Pa tiba-tiba menghilang. Malas. Cepat bangun. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Terserah apa kata Ma. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Nanti. Penting. Malamnya. Cik Giok sudah pergi. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Di tangannya ada kursi plastik. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Aku berlari ke kamar tidurnya. katanya. Aku bersiap menyusul Cik Giok. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. katanya. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Temani Pa. Cik Giok kena stroke. Emak. Dia cuma bilang.html Keluarga di kampung. . Aku sudah tua.com/abclit. http://www. Sehat dan selamat. Ketika aku kembali ke ruang tamu.processtext. Mereka khawatir. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. Dia akan segera kembali menjelang pesta. Cik Giok sudah pergi. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. katanya. Wajahnya tegang. nanti aku akan mengerti. Aku tertidur. Aku melompat. Pa. dua belas hari lagi. Meninggalkanku. Emak menangis. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Entah untuk berapa lama. Entah dari mana.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Ma ikut bersungut-sungut. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Ketika aku tiba. Nanti semua akan jelas. tetapi Kuku menahanku. Dicari Emak. kata Ma. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Ma minta aku pulang. Katanya. Kau harus berangkat ke Pontianak. Tetapi suami malah mendesak. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Menguncinya dari dalam. sudah lama tidak jalan jauh. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Dengan suara keras. aku masuk kamar. Urus Emak. Ma. Terlambat. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Aku tak ingin pergi. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. menuju kamar mandi. Kosong.

Semua yang ada di sana menangis. . mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. yang wajahnya amat mirip dengannya. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. hingga aku sulit bernapas. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. menjerit sambil berebut mendekati aku. Rawamangun. Cik Giok tak menunggu aku tiba. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. genta-genta kecil bertalu-talu. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. menyeka matanya. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. katanya berulang-ulang. Kakak perempuan Cik Giok. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU.com/abclit. Beri hormat pada Mamamu. Dengan muka basah.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Aku menangis. membuang muka. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. ia berbisik. Di rumah duka. menjemput kami. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. Ia memelukku. mendorong. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. Erat.Generated by ABC Amber LIT Converter. saling menindih. kakak Cik Giok mencium pipiku. Maafkan aku. menggilas.processtext. diam-diam. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi. Pa menangis lebih keras lagi. besar. http://www. Pa. memelukku. Perutku mulas.

politikus. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. atau Pengisi Neraka.processtext. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. secepat pesawat B747. 26 Desember 2004. kataku dengan titik air mata. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. . Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. Ketika surut. Dan: Menjarah! Menjarah harta. Menjarah popularitas. dari waktu ke waktu. Menjarah perhatian. pengusaha. Said Huseini. Banyak yang bisa dituai di sana.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. Hampir 300. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. http://www. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. Itulah yang terjadi pada Minggu. gelombang itu menyemai ratapan. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. Ya Allah.000 jiwa melayang. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. kendaraan roda empat. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku. bermunculan di sana mengusung misi mulia. pengarang. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. penganjur kebaikan. di Nanggroe Aceh Darussalam. Apakah negarawan. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. Pencapaian yang luar biasa. di Nanggroe Aceh Darussalam. Gelombang itu bernama tsunami. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. di dasar kerak samudra. dari hari ke hari. penyair. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. di negeri yang aku cintai ini. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi. Gelombang yang berlabuh. meraup uang selawat.com/abclit. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. dan jasad manusia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pembunuh yang tak pernah gagal. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom.

sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Terkadang aku melempar pancing dari sini. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. bila pasang. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. tiga potong pisang goreng. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. Gelombangnya menelan perahu Ayah. Celah daun tersibak. menyongsong kedatanganku. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. kecuali ayunan rotan tersangkut. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera. http://www. Tali ayunan menjuntai di kaso. Aku duduk di halaman kedai kopi.processtext. Aku selalu bertanya kepada-Mu. subuh tadi. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mak menunggu berhari-hari di pantai. Angin berembus membawa sejuk pagi. Inilah sarapan pagi di luar hotel. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. memakai pita. Kunjungan singkat di Banda Aceh. Aceh Besar. Di lobi. Merbah terbang di ujung ranting. aku kembali ke hotel berjalan kaki. Aku suka deburan ombak. Kami menuju tempat berangin-angin. Kami masuk ke ruang tamu. Setelah itu. ”Aku suka laut. mencari buah pohon seri yang ranum. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. menggendong anak perempuan berkepang dua. seorang lelaki berdiri dari sofa.com/abclit.” ”Abang tak suka laut. Kami diajak ke belakang rumah. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Istrinya masih muda. Secangkir kopi. Seperti menuju masjid.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. Berjalan di atas dua keping papan. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. Tak ada hiasan di dinding. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. di Kajhu. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. .

” . Engkau pernah dengar.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. Dalam kampung terapung. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang. bagiku. ”Aku heran. Kami melihat dia. http://www. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur.” ”Aku tidak terganggu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. orang dilahirkan di perahu. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa. Dia berdiri. dibesarkan di perahu.processtext.” teriak seseorang. Tak ada sunyi di sini.” ”Aku sangat terganggu. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu.com/abclit. Mau rasanya aku mengambil kapas.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur. meletakkan tubuhnya yang lelah. Di rumah kekasihmu. menyumbat telinga ini. Di rumah istrimu sekarang. juga melihat laut di belakangnya. Malam ini.html Ayah tak pernah pulang. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang. malam pertama engkau menginap di sini.

” katanya ditujukan kepada si istri. kecuali kegelapan.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. itulah istimewanya Desember. Mak ?’ tanyaku. Kata Mak. Berarti ini sudah Minggu. ”Sampah Bulan Desember. Desember akan digantikan Januari. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. Buru-buru daun jendela dia tutup. Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. atau mungkin pada judulnya. ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu. ”Kalau adat membolehkan. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia.processtext. Dia alihkan perhatian ke buku itu. dia meneruskan ocehannya. Orang Jakarta. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. http://www. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. Malahayati. tidak. Ayah gembira dan puas. ”Tapi mungkin.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari. ”Sampah Bulan Desember. saat Pak Pos mengantar sebuah paket. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. Angin masuk membawa bau garam. Mak menggendongku. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. Sekarang sudah pukul 01:45. ”tahun adalah lakon. ”Engkau sudah tidur rupanya. Dia berdiri dari tempat tidur.” Dia menoleh kepada istrinya.” Tak ada jawaban. Mala. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu.” ”Maksudku. Mak menjelaskannya. Pengarang itu makan dengan lahap. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan.” Dia senyum. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Minggu. Dan. Dia pergi ke jendela. ’Gulai pakis dan santan durian. sebentar lagi layar akan ditutup.” . Dan aku tertawa. kata Ayah. jauh dari deburan itu. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. ”Tinggal enam hari lagi.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan. Mungkin dia ingin melihat laut. ”Semisal pementasan. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. 2004 akan digantikan 2005.com/abclit. 26 Desember 2004. ’Apa maksudnya. Akan muncul lakon baru penghias dinding.

Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. Melihat semua itu. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. masih juga dia tersenyum. kekasihnya itu. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. Ditekannya alat pemadam lampu. beranjak turun. Kamar pengantin itu menjadi gelap. Dia tidak ingin mengganggunya. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Barangkali dia berpikir seperti itu. membuka pintu. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. tetapi gerak itu tidak berlanjut. jam berdentang dua kali. Masih panjang kehidupan bersamanya. Malam-malam lain masih ada. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. Apalagi malam ini.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Sehari penuh menyambut tamu. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang.com/abclit. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Di dinding ruang tengah. http://www. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. Dia beranjak ke dekat pintu. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Rita menyerahkan ongkos. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Kedua . Ayu mengikutinya.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

com/abclit. punya tiga anak. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.html marah. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. maafkan kata-kataku tadi.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo.” . Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. Nggak suka ya. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. Di dalam taksi. ”Mama. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. berdebur-debur keras.” jawabnya datar. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya. Firda menyibak vitrage. kalau cerai sulit cari suami lagi. Rita dan Ayu berpelukan. ”Suka juga.” kata Ayu. he…he…he. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua.processtext.

” ”Aku serius.. Memeluknya dari belakang. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. Perasaannya lembut berdesir. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu. ”Setiap ketemu kita berbulan madu. ”.. Dan Ferdi ternyata merasakannya.” Senyum Ferdi memudar. ”Ada apa.. . kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. http://www.” ”So what ?” ”. kan?” Ferdi tersenyum lebar.Generated by ABC Amber LIT Converter.. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur.processtext. ”Kamu bosan ya...” ”Tapi kata orang hotel. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.” Firda terdiam sesaat.. Firda?” Firda tidak segera menjawab. Di luar penglihatan Ferdi.” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali.com/abclit.html ”Ya.

.. berlalu begitu saja tanpa perhatian.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Bulan depan aku mau nikah.” Tangan Ferdi perlahan merenggang.com/abclit. nyaris tak terdengar. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh. Tapi sudah lama kenal. Guru yang beruntung..” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP.. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran.html ”Jadi kenapa.. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.. Tetangga dekat. http://www.. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian.” Firda terdiam.” ”Oh. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci.?” ”. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku. melepaskan pelukan pada pinggang Firda. berikut bursa saham yang terguncang.” bisiknya dalam hati.

com/abclit.” Ferdi terdiam. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan.. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya.. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut.. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam.. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah. ya.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya.. http://www. Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci..600 cc berhenti di tempat gelap.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu. ”Maafin aku. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi..” . Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah.” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita.

.. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. buru-buru membuka laci dashboard. Sampai kemudian keduanya berpisah.. saling melambaikan tangan. Cetak undangan. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras.” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja.” Firda menjawab dengan pelukan erat. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka.html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas.” ”Nggak usah. sewa gedung. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati.. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh. biaya katering.com/abclit.. ”Tolong kamu terima.processtext. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil. http://www. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh.. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya... Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. . mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan.” Firda terdiam. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. berbelok memasuki gang..

Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. katanya.” ”Berat juga ya.” si bibi menimpali..” ”Berat sekali juga enggak.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya.” ”Yang penting gajinya lumayan.processtext.” ”Namanya juga kerja di restoran.com/abclit. http://www. Jadi masih ada waktu buat rekreasi. kepribadian.” ”Ah. tapi lebih seringnya di Bandung.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya. Restoran di hotel berbintang lagi. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. Manajemen. belum. ”Malam sekali. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. belanja-belanja.” kata ibu Firda.Generated by ABC Amber LIT Converter. bahasa Inggris. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore. pulangnya antara jam dua belas jam satu. sampai harus ke Bandung segala. komputer. Bulan lalu malah di . Tapi uang lemburnya tinggi. Kadang di Jakarta. Karyawati biasa. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. ya. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung.. ”Bukan lumayan lagi.” jawab ibu Firda. yang bukanya dua puluh empat jam.. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta.

”Ada apa.” ”Oh. Eyang nggak mungkin lupa. Alloh. cucunya eyang Feldi. http://www.” .html Bali sampai seminggu.” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya.. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. Pasti.com/abclit. dateng ke lumahku.. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum.processtext. ”Ini siapa.” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu.” Ferdi tertawa.. Jam dinding menunjuk setengah tujuh. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu. ya. ya. Ia pun bangkit hendak keluar kamar. Aku kan ulang tahun. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan. sih. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami.. sayang?” ”Ental siang jangan lupa.Generated by ABC Amber LIT Converter. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga. ’Ya.’.

processtext.” ”Anak sekarang. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar. Senyumnya seketika memudar... ”Hai.com/abclit.html ”Dah.” ”Dadaah. seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. http://www..” Ferdi menutup gagang telepon. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini. ”Minta sendiri gih sama Papa. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab.” ..” ”Eh.!” katanya dalam hati.. eyaaang. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh.” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya. ”Hampir lupa.” ”Ya. ”Icha.

. kado perkawinan..” ”Ah yang bener.... http://www. Papa jangan ngasih aku mobil juga. Sudah papa siapin. mau ngasih apa.. Pa. ”Tenang aja. kan. Maksudku.” ”Kado kok minta. rumah. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa. Pa.. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm. ”Mau minta apa.” ”Terus. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Kamu suka.” ”Soalnya gini. rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” .processtext.” Ferdi tertegun.html Ferdi bertanya-tanya.” Setelah berpikir beberapa saat. Tergantung papa dong.com/abclit. ”Rumah. sih?” ”Mmm.?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah.

Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama. ”Kok pakai balik nama segala. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas.html ”Sudah. Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu. Edisi 08/14/2005 . ”Thanks. http://www.processtext.” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali.Generated by ABC Amber LIT Converter.. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri. apa sih yang nggak papa kasih.?” Jakarta.com/abclit..” Astrid sesaat terkesima.” Astrid heran.

Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. Mahmud. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. Sesekali ia menyeka air mata. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya.processtext. suaminya.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Suka bermain sepak bola. ia adalah anak yang lincah. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. begitu mendengar kabar duka itu. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Sesekali air matanya meleleh. Karena itu. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Meskipun badannya gemuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. .com/abclit. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. kata Mansur kepada ibunya. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Mansur adalah anak yang sangat sehat. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. Matanya sembab. Mahfud. Tatapan matanya kosong. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. meninggal dunia. ayahnya. juga membacakan Surat Yasin. Mona. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Memasuki usia 17. menolak cintanya. Suaranya patah-patah. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. Mansur meninggal karena bunuh diri. http://www. Pada usia 16 dua tahun lalu. Di sebelahnya. anaknya. kakak Mansur. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu.

Tiba-tiba ia menangis lagi. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Sesampainya di rumah. hasilnya sangat manjur. Duka mendalam menderanya. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. ginjalnya juga terganggu. Mansur ingin segera dibawa pulang. http://www. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Amat merindukan ibunya. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Dengan alasan tubuhnya masih lemah. sebelum itu. baru berjalan satu bulan. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Tetapi. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. panas dinginnya tak kunjung hilang. Mansur kemudian jadi langganan. Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. kata dokter. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. suaminya. Yang terakhir. ia tak lagi berani membesuk putranya. Dan menginap di rumah sakit. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Tetapi. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. Kata Mahmud. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri.com/abclit. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Karena itu. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya.processtext. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . ia mengalami komplikasi. Selain luka di usus yang kembali kumat. Ny Laila membesuk putranya. ia berhenti karena tak tahan godaan. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Tetapi.html Mengikuti nasihat ibunya. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Juga kemarin. Lima malam sebelum kematian Mansur. arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. Empat malam sebelumnya. ternyata. Karena itu. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Dan.

Suaranya serak. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. . Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. ”Bang Acung? Bukan. ”Iya. ”Habis melayat. Ocha. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. Matanya tampak lelah dan marah. Bang Mansur. ”O. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. dengan tulus kuucapkan pula doa. Air matanya meleleh.” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. Bang Acung itu Bang Mansur. Sebelum pulang.html memaafkan segala kesalahan anaknya. Memangnya kenapa. Apa pun penyebab kematiannya. gitu. Tak ada senyum.com/abclit. Tatapannya kosong. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Ia tersenyum getir. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah.” kataku. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. http://www. Sebagai tetangga. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Tetapi. ia tampak damai. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku.processtext. putriku. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. Yah. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” istriku menimpali sambil lewat. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum.

Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. Yah.” jawabnya. Yah. ”Jadi begitu ceritanya. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Juli 2005 . orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Bang Acung.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Bang Acung itu bukan bunuh diri. Tetapi. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Jadi. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah. Lalu Bang Acung mendengar bisikan.” gadisku bersila di hadapanku. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Yah. Dia jatuh. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. Kepalanya dua. cerita putriku selanjutnya.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. Yah. ia melihat seekor cecak. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu.com/abclit. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. orang-orang enggak tahu sih. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. menyambar cecak itu untuk dimakan.processtext. kalau mau sembuh dari penyakitnya.” Aku agak tertegun. Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri. Kata suara itu. Tanah Kusir. Yah. Orang-orang tidak pada tahu sih.html ”Yah. Yah. Suaranya datang dari samping kamarnya. Katanya. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya.

com/abclit. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur. tinggi besar. matanya memerah. Berkumis tebal. ”Baru pindah. Kancing baju bagian atasnya ternganga. ya!” terdengar suaranya berat. setelah melewati pekarangan kecil dan teras.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. tanpa ada senyum. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah. Pipi kirinya. Suatu sore. Tubuhnya padat. Ketika pintu dibuka. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. Saya amati tamu ini hati-hati. Kulit hitam. seorang tak dikenal mendatangi saya. Sangar sekali kesannya.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah. ”Iyya. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. http://www. sedikit parau. kurang nyaman. Dari mulutnya tercium bau alkohol. ada bekas luka sepanjang telunjuk. Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan.

Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi. ”Ada berapa. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. saling berhadapan. . pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain…. ”Mulai besok pagi. Kalau tidak. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. Saya merasa. http://www. Saya takut. ada sesuatu yang ganjil. Kami masih berdiri di teras.000. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. untuk pertanyaan yang sama. Mau?” Setelah itu.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pisau dapur biasa. ”Ada dua.processtext. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. iya. Bang…. masukkan dalam amplop uang Rp 10. Jangan lupa.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar. Saya menarik napas. Saya kaget. Rautnya bengis. saya. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. ”Iyyya. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman.

”Kita pindah saja.com/abclit. Nekat!” Memelas suara istri saya. Gedoran pintu terdengar makin kasar. http://www. tidak takut mati. Saya mencoba menenangkannya. ”Maaf. Salah-salah. ”Lagi kurang sehat. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. memang si sangar adanya. Tampaknya. badan sedikit dibungkukkan. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam. Bang. ada yang terlupa?” ”Istrimu. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi. Si sangar itu pasti. Kemudian. Tiduran.processtext. saya bertanya. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas.html ”Saya bersedia. Bang.” ”Suruh dia keluar! . Ketika pintu saya buka. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. Saya dan istri terkejut.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini. Pucat membias di wajahnya. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar. pergi begitu saja. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan.

” katanya di sela sisa tawanya. istri saya mencoba tersenyum. amplop ke kantong celananya yang besar.Generated by ABC Amber LIT Converter.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar. Akhirnya si sangar datang. Sebelum jauh melangkah dari pagar. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali.processtext. ha-ha-ha…. ”Cantik…. pintu saya tutup. Saya amati.” Si sangar tertawa terbahak-bahak. membuat saya tergagap. Jangan-jangan itu semua pisau . Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. saya masuk menemui istri di kamar. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat.com/abclit. Bang…. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Setelah itu. ”Istrimu cantik. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. Setelah menatap istri saya beberapa jenak. http://www. cantik juga istrimu. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. ia terlihat cengengesan. si sangar menoleh dan berkata. Dengan perut terasa mulas. Pintu pagar dibukanya. Akhirnya dengan menguatkan diri.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya. ”Ini istri saya. Di hadapan si sangar. Tangan istri saya terasa dingin.html ”Tapi. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. Pisau dimasukkannya ke dalam karung. tapi wajahnya pucat sekali. Saya menunggu. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar.

Kalau sebelum ke tanganku. akan sangat sakiiiit sekali. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. ya pisau kami. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. terduduk dengan napas sesak. Pisau tumpul. Pintu dibukakan perlahan. ”Ada apa. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. http://www.com/abclit. pintu rumah terdengar digedor kasar. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras. sama artinya sebuah penyiksaan. pisau ini digorokkan ke leher kita.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. dipakai menyembelih. Bang. Pasti si sangar itu. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa.” ia berkata dengan sangat dingin. ”Kalau setajam ini. Maaf.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. pukul sebelas malam. ha-ha-ha….” . Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang. Bang. termasuk menyembelih kambing atau ayam. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. ”Sudah sangat tajam. Tapi.processtext.

Tapi. Terlihat. Abang…. kemudian dipegangnya lambat-lambat. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. Sunyi.html Ia akan menyembelih. nyaris tidak mampu berdiri. Rumah-rumah orang sudah tutup.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20. ia raba leher saya. salah saya apa? Sesaat kemudian. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar.com/abclit.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit. Bang! Saya tidak tahu maksud. Ya. ”Darah manis. ”Mmmaaf. ia akan menyembelih saya. Kemudian. Bermandikan cahaya. ”Berikan pisau ini ke istrimu.” Langit malam bertaburan bintang. mohon Bang! Jangan. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. Lihatlah. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. . dingin. pandangilah saya saat ini. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri. ha-ha-ha-ha…. tidak menyakitkan! Termasuk. karena luka oleh mata pisau yang tajam.” Ia terbahak.processtext. Tuhan. Jangan ya Tuhan. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik. untuk melukai kulit ini.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. bagai dicubit saja…. ”Bang.00. http://www.

mempersilakan saya. berusaha tenang. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami. ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . Abang. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya. dengan seringaiannya. membunuh orang. ya!” sapa si sangar. ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar. Saya membuka pintu depan. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri. http://www.processtext. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. Baru saja pintu dingangakan.com/abclit. ”Saya baru setahun keluar penjara. Saya gelagapan. ”Eh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Apa kabar. Si sangar menyadari pintu terbuka. ”Kesiangan. Santai sekali tampaknya. Saya menggeleng. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk.html Kami bangun agak kesiangan. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras.

000. kusembelih. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. toh?” . Dan aku pun dipenjara. Karena itulah.” Saya mencoba belajar memahaminya. Uang dari keringat sendiri.html Saya hanya diam. bawang. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat. Bayarannya Rp 10. Kalau tidak mau. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. Karena ingin hidup normal. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. yang jumlahnya lebih seratus rumah. golok atau merampok dan membunuh. bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10. apakah ia tahu. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. ia mungkin akan tersenyum. Sesekali mengangguk. mati. saya ikuti senyumnya. dulu. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi…. aku berpikir tobat. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau. buncis. Karena tidak menyakitkan baginya. ”Ketika dipenjara.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi. Ternyata. saya cobakan tertawa sebisanya. Memotong sayur. bisa kugarap jadi ladang.000.processtext. dan sebagainya. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. Istrimu. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. Dan. wortel. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. Iya.com/abclit. http://www. Kacang panjang. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. sebagai ibu rumah tangga. ”Aku mahir mengasah pisau. kangkung. setiap rumah di kompleks ini. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau. misalnya.” suaranya agak lunak. Begitu juga kentang. ketimun. Saya hanya melayani dengan tatapan mata. Lagi pula bukankah ini pemaksaan. Kalau dia tertawa. kalau pisaunya tajam. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. Dan terakhir. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. Terbayang tanah keluarga yang luas.000 sebulan. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam.” paparnya. oleh mereka. Kalau dia tersenyum. Dalam hal ini.000. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang.

yah barangkali saja Rp 10. menyembelih ayam. Jika ada orang yang mengganggumu. Ia kemudian melepaskan rangkulannya. akan lebih baik. sembari berkata. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan.com/abclit. ”Benar. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu. Bang!” ”Itu artinya. Iya. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya. ”Kamu telah membantu saya. ”Begitu juga memperlakukan ikan. Kita yang menggunakannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu artinya. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. saya pun ikut berdiri. http://www. ia merangkul bahu saya dengan hangat. Percayalah. mempererat rangkulannya. juga enak. kan?” Saya mengangguk. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. Terasa lebih penyayang. Dan anak buahku. kalau dengan pisau yang tajam. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. Menjelang sampai di pintu pagar. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar. tidak ada yang berani mengganggumu.processtext. ”Terima kasih.html Saya cepat mengangguk. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat. Paham. Juga nyawamu!” . Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga. katakan padaku. Dia berdiri. ”Ingat. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya. rezekiku ada pada pisaumu. Kamu telah mendengarkan aku. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih….” ia berhenti sejenak. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan.

Masih terngiang-ngiang. Kecemasan mengambang di bola matanya. Tampak dari atas. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Setelah hampir 40 tahun. ia berjalan menuju suatu ruang. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. ”Her.com/abclit. Memasuki lorong gedung. sambil menimang dokumen lusuh itu. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang.processtext. http://www. sejak peristiwa berdarah itu berlalu. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. dalam. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan. Ia datang bersama anak laki-lakinya. Memasuki kompleks gedung. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. . Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu. Bajunya basah. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. aku masih mendengar jeritan bapakmu. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. Gemanya sangat panjang. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas.html Sejak saat itu. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. gemetar.Generated by ABC Amber LIT Converter. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk.

Makam itu kosong. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. ”Maaf Bu. Masih jauh.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. Di Karang Bolong. menembus desa demi desa. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun. Aku kaget. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. Suatu pagi. ya bapaknya Herjuno itu.com/abclit.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara . Nastiti. itu urusan negara. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. Mobil pun terus melaju. dalam. dan sunyi.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan. Waktu itu. teman. atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. aku merasa bingung dan cemas. Tapi dilenyapkan…. Ibu meneleponku. gelap. Ia minta mobil berjalan lurus. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka. Tapi kutahan. Seperti puluhan tahun lalu. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. Tapi aku takut mereka kaget. Tapi di sana. Soal jasadnya. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. buru-buru Ibu mencegah. http://www. kami berangkat ke makam Bapak. dan Murti. kami terdiam.Generated by ABC Amber LIT Converter. besok pagi.html ”Bukan hilang.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. antar Ibu nyekar bapakmu. kalau kamu tidak mengajar. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. Kata petugas. tapi tidak matanya. Sepanjang perjalanan. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku. ”Her. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan.processtext. dengan colt station sewaan. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah.

Di bagian belakang. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. ada PKI.processtext. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. warisan mertua.com/abclit. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. secara cuma-cuma. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. Kata-kata ”revolusi”.” . Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung. aku mendengar jeritan mereka….Generated by ABC Amber LIT Converter. Seperti siang itu. Waktu itu. dan ada PSI. ada Masyumi. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. Tangan mereka terkepal. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. ”ganyang nekolim”. dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. http://www. ada NU. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. Kan nggak sopan to. Aku terbebas? Tidak juga. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar.” ujarnya dengan gemetar. Bukan. Hingga kini. seorang tokoh PKI di kota kami. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. Sebuah rumah bergaya limasan. kami hidup menepi. Dia menjawab ringan. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan.html wajar dan terhormat. ”hidup Nasakom”. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. ”Bersama tahanan lainnya. Menurut Swanggani. Bagai tepung terigu ditebah angin. rasa pedih terus merajamku. debu mengepul di jalanan. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. Dalam zaman yang gemuruh itu. langit kota kecil itu pun selalu menyala. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. kaku seperti baja. partai-partai saling bersaing. khas jahitan pasar. Ada PNI. Di pendopo itu. diiringi sorak-sorai. Dari tempatku bersembunyi. Kami menempati rumah besar. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru.

bau mayat tercium di mana-mana.Generated by ABC Amber LIT Converter. lewat RRI. Pendopo kami selalu ramai. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. Mas Drajat pun tidak keberatan. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. Setiap saat itu. Katanya untuk rapat partainya. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. http://www. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami.processtext. Apa salahnya?” kataku. Ada latihan menari dan menyanyi. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. Beberapa bulan kemudian.com/abclit. Aku pun terdiam.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. ”Terima kasih. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai. Ia memandangku. Ada latihan ketoprak. Wajah bapakku tampak masam. Mas Drajat terdiam. Sehabis isya. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat.html Suatu ketika.” Tawa Pak Tular berderai. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. Terima kasih. Kami hanya saling memandang. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. ”Ganyang Drajat!!!” . ”Hati-hati dengan Pak Tular. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Beberapa jenderal diculik. Tidak sampai seminggu. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami.

processtext. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. Esoknya. kelewang. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. aku membuka pintu. Dengan gemetar. ”Bohong! Dasar Gerwani. aku gemetaran melihat parang. pada dini hari. Pintu rumah kami digedor-gedor. aku melahirkan Herjuno. Aku tak bisa lagi menangis. Dia mencoba memberikan penjelasan. dan Murti lari keluar. ”Jaga kandunganmu. aku menemui mereka. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Pak RT mampu menyabarkan mereka. Akhirnya. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. . kerumunan pun bubar. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat.” Aku pun bergegas membawa Darsono. Mas Drajat keluar dari kamar. Menuju rumah Bapak. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan. bentakanku menundukkan wajah mereka.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Dadaku sesak. Aku sendiri tidak paham. Sungguh. ”Saya tidak tahu apa-apa…. Aku memeluknya. Nastiti. Keras. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebulan kemudian. Menembus malam. Di rumah itu.com/abclit. Dan ajaib. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya. bambu runcing.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. Dia sangat tenang. http://www. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Sangat keras.

membawa dokumen setebal kecemasan ibunya. ia menemui seseorang. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. Kami pun berdoa. tapi luweng. kini telinga negara telah tumbuh….html ”Bangun Her. Kami keluar dari mobil. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. http://www. Namun.” Herjuno tergeragap bangun. 2005 .processtext. Ia berharap negara berani untuk punya telinga.” Yogyakarta. pagi hari. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya.com/abclit.” ”Itu bukan makam Bu. Dengan tenang. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’. ”Bu…. Ia hendak berbalik. Kantor Komnas HAM. langkahnya tertahan. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. kita sudah sampai. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya.” Herjuno sangat kaget. Bahkan mungkin terguncang. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya.

seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda.processtext. istriku menyilakan tamu tersebut duduk. ya aku ada di rumah.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio.com/abclit. stensilan. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. Aku membaca surat tersebut. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. ”Pak Bagus. ketua RT di wilayahku. Dan suara berikutnya.html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kudengar juga suara istriku mengatakan. Tapi ia tidak berbicara. Pak Memet. . Aku sudah tahu roh surat itu. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang.” jawab tamu itu. juga ikut. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya.” kata Pak Marjan. Cuma sebentar saja. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya. ”Tidak usah. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. ini ada surat undangan. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. Istriku yang menyambutnya. Aku pun keluar kamar. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. http://www. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku.

berpamitan bersamaan.processtext. ”Sabar Mam. Dan semua isi dompet kutinggalkan. Tidak sopan pakai pakaian begini.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. ternyata ada tiga orang lainnya. celana dalam baru.html ”Kalau begitu. Aku mencium dahinya. Kartu SIM kutinggalkan. Ada Mahkamah Agung. Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar. kecuali uang beberapa ribu saja. Dengan jawaban itu.” jawabnya singkat. http://www. sapu tangan tidak lupa. ”Ya dibawa sebagai bukti. Mukanya pucat dan matanya kosong. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya.com/abclit. Tersirat posisinya dan posisiku. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. diapit oleh dua orang dari mereka. Ada polisi. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. dan kedua pak RT. saya ganti baju saja. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang. Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. seorang berada di depan rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. Jawaban itu sudah cukup bagiku. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh.” Tamu itu. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku. ”Nanti juga tahu. . ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. yang warnanya sudah pudar. Ada kejaksaan. takut hilang di tengah jalan. Sesampai di halaman. atau di tempat tujuan. pakai kaus kaki. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat.” jawabnya.

Juga suara orang tertawa sirna. Keringat membasahi tubuh. Gigil segar menyemangati.processtext. yang kukunjungi beberapa hari. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. Detik ke menit. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. Disambung suara memberi komando. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tidak mau melihat jam. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Juga tidak ada suara radio atau televisi. Kemudian suara sepatu ramai. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. berdetak besar dan cepat. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. terus berjalan. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Aku tetap duduk. Banglades. http://www. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. Tapi tidak terdengar suara manusia. Langit biru dan angin segar musim gugur.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. tunggu di situ. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. Tak ada suara lain.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Ketika ia bekerja. Suara banyak sepatu melangkah. Tidak ada yang datang. Pukul 16. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. ”Bagus. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. yang jelas bukan dari kamar sebelah. yang tak pernah kurasakan di . Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. Remang malam turun menambah senyap. Sementara aku duduk sendirian. Daun kemerisik kuinjak. mengajakku menginap di rumahnya. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup.35. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. menit ke jam. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. Juga suara mobil. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Sepi mencekam. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra.com/abclit. Pohon-pohon ligir. Suaranya agak jauh. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades.

Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”. Aku mengangguk. http://www. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. ”Selamat malam Pak. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya.” Suaranya menggelegar mengagetkan. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam. Aku mengangguk terlebih karena terkejut. . Kebebasan. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku. Aku tidak senang di kedua negeri itu. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Ia meletakkan pistol di atas meja. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang.html negeri ini. Ia menyalakan lampu. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong.processtext.” Aku mendahului. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. ”Di sini tidak ada Pancasila. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. Ia tidak menyahut. ”Ini Blitz-krieg.com/abclit.” Suaranya lagi. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam.

Sejak malam itu. Aku mengusap mataku. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. tikus besar-besar berlarian di tubuhku. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. getah bening. mana kecoak. lintah dan semut menggerayangi tubuh. bukan lagi suara manusia. tulang-belulangku. terkadang sendiri-sendiri. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. pancaindraku. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. membuat sesak napas. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. menerbangkanku berkeliling dunia. sperma. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. sampai ke rambut dan kukuku. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja. Mereka muncul terkadang bersamaan. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. aku tidak tahu lagi. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong. dengan kawat berduri berlapis-lapis. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing. sambil menahan napas. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. Aku mengusap kupingku. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. pintu keluar barak itu dibuka. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. menggeledah seluruh organ tubuhku. lintah. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. mana ular. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. Perangai. atau berapa ekor. di tanah airku.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. Aku ingat bahasa Inggris. setelah hampir dua minggu. tetapi tidak menemukannya. dan tikus. nyamuk. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. terasa darahku diisap lintah. Alhasil. http://www. kencing ludah. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. Entah berapa orang. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas.processtext. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan.*** .Generated by ABC Amber LIT Converter. menciumi bau keringatku. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. tikus dan kecoak. tengkorak. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi.com/abclit. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. Ketika aku tidur. ingus.

”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. http://www. ruang nyaman. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. menekuni lantai.com/abclit. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. . Kepala-kepala itu masih penuh cerita. mungkin ingin membaca masa lalu. Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. dan menggelepar di sana. lelah. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. Kepala-kepala itu masih penuh derita. Lingsut. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. Ruang teduh.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut.processtext. mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. Sebagian dari kepala mereka menunduk. Ada masa memang. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. Mungkin selamanya. Tunggulah sejenak.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. Ruang tunggu dengan warna pastel. Aku mengitari mereka perlahan-lahan.

Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. Mengepak pelan. Demikianlah. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. bisa kubawa pergi. mendekati lubang ventilasi. Lalu aku akan terbang agak tinggi. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api.Generated by ABC Amber LIT Converter. berpelukan. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa. dan saling melingkarkan lengan. halaman-halaman tak terbaca. Mereka mati dibalut api. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. Ibu mereka terlalu bersedih. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. dengan mereka yang mengalami sendiri. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. kuberanikan diri untuk merangkainya. Sekali dua. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. Mereka bertiga berpelukan. Percobaan yang selalu aku ulang. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. Mereka bertiga meregang. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. Dan aku terus mencoba lagi. beradu kepala. ”Nak. Tangan ibu mereka sendiri. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut.com/abclit. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. Tapi selalu dan selalu. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia.” Dan api berkobar. Hanya bermodal harap dan cita. Tapi satu di antara mereka. kembali aku mengitari mereka. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan.processtext. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. Aku mencium sari kisah yang terbakar. aku lebih sering terpelanting. aku terlempar. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. Setelah cukup tenaga. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. Dua kakak beradik. Dua orang yang masih lelap. http://www. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. sempat aku hinggap. sebelum kemudian kembali terlempar jauh. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. membuat rantai . Hanya sesekali.

Satu di antaranya berkata. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. Kami ingin bernyanyi dan berlari. Ibuku sudah tidak punya air mata. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. Ibuku tahu aku akan mati. tubuh-tubuh kecil berbaring. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Tapi mereka memaksa kami.rita. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. aku malu dengan teman-temanku. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. http://www. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Aku tidak enak dengan ibu guru. Pertama membiarkanku tidak punya gizi.processtext. Mulut mereka sangat lemah. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. dia harus menanggung nista dan sengsara. Mereka bohong. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. Mereka tahu kami akan mati. Aku mengambil selendang milik ibu.html lingkaran yang kokoh. dan membiarkan perasaan ibuku bolong. menyadap sari ce. Tapi di hari itu. Mereka mencoba membunuhku dua kali. ”Kami belum ingin surga. Kami ingin bermain air dan bermain api. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. Mereka bilang biaya perawatan gratis. begitu bayi terlahirkan. ada celah di dunia sana. Mereka tahu kami mati. inilah kota kami yang indah dan makmur. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. Kami belum ingin ke sini. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Mereka membiarkan aku mati. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Mereka . Kaki-kaki mereka bengkok. Mereka ingin mengatakan pada dunia. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. bermata alum. Mereka mendorong kami. ”Ada yang salah dengan tubuh kami.” Di samping lingkaran besar itu. Dunia yang pahit. Kami tidak ingin di sini. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. Kembali aku hampir terpelanting. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini.” Si anak yang berkata. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Kami ingin dunia. sebelum kembali terlempar jauh. Kami ingin belajar menjadi manusia. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. Kaki-kaki mereka mengecil.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka.com/abclit. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. Ibuku kalah dalam menagih janji. Hanya kami sungguh tidak mengerti. Suaranya serak. ”Orangtuaku tidak ada di rumah.

*** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. dengan tangan penuh tombol. beterbangan. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi.html tahu.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. Aku seperti hancur. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit. Aku hanya seperti kupu-kupu. Seperti hilang.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. Dengan wajah dan kulit plastik. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. Aku mati karena muntaber. tanpa takut terserang polio. Dan tibalah satu sentakan besar. itu hanya kabar yang berlebihan..” Aku hinggap lagi. membobol gunung. Aku ditabrak warna hitam. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. Hanya seperti. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. menebangi hutan. meracuni laut. Sangat besar dan kuat. Kembali. http://www. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata.processtext. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. mati pun masih menyisakan masalah. gitu loogh. . sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. di tengah. Aku digendong naik kereta. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. ”Ah. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. sambil menyeringai dan berkata. Ya. Aku terlempar lagi. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan.. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil. Bagi orang miskin seperti kami.”. dengan tubuh terlilit kabel. Aku ditabrak warna putih. Mereka datang dari mana-mana. Mungkin sampai mati. Tidak lebih. ”Hari gini. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi.com/abclit. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit. Lihatlah. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. generasi yang lebih baik. Aku hanya seperti kupu-kupu. Bahkan. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta.

Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. kelaparan. kurang gizi. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. bunuh diri. Hari itu. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. hingga tampak putih dan halus.com/abclit. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Ada perbedaan memang. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. Hingga bagian yang terbakar itu. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. http://www. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya.processtext. dan mungkin sekaligus mereka tolol.html Mereka benar. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Mereka benar. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. . keracunan kabar bohong dan bahan makanan. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. Di sisi yang lain. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat. disorientasi. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. maka dia pun berhenti sejenak. depresi. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu.

Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. Dengan uang itu dia bisa membeli beras. bersepatu bagus. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. nanti ditempel di sana ya Mbah?” .com/abclit. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli. orang-orang itu menolak. Bagi Mbah Gimun. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. http://www. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam.processtext. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. ”Iya. cucu-cucuku itu akan batuk semua. garam.Generated by ABC Amber LIT Converter. membawa tas bagus. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. dan naik mobil yang juga sangat bagus.html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. ini gambar calon pak bupati itu. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Kalau pedagang itu tidak datang. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. gula. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. ”Kalau aku ikut kalian. Mereka berpakaian bagus-bagus. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. ”Benar Mbah. Dalam sehari. minyak tanah.

Cucu itu memberi tahu.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. saya diberi tembakau. Katanya. Mbah Gimun lalu membuka besek. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan.Generated by ABC Amber LIT Converter. mencomot tembakaunya. http://www.com/abclit. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. Bukan hanya itu Mbah. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah.” Setelah para tamu itu pergi. . Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. pasti. melintingnya. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.processtext. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. ya terima kasih sekali.” ”Tapi begini Mbah. Mbah Gimun kaget tetapi senang. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya.” ”O. Lumayan. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. diberi uang lagi. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan.

Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. bupatinya juga boleh. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. ”Bukan dua tetapi satu Mbah. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran.html Beberapa hari kemudian. ”Terserah Embah. http://www. Yang ini yang kiri ini bupatinya.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. kita semua harus datang ke lapangan bola. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. ”Salah satu saja Mbah. Mau dicoblos wakilnya boleh. ”Iya Pak RT.com/abclit.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan.processtext. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. Mereka mengantar beras. lebarnya seperti sajadah. ”Lalu minggu depan ini Mbah. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. Yang kanan wakilnya. Pak RT dan Tukijan juga datang. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Kertas gambar itu tebal dan kaku. gula.

processtext. sepuluh ribu. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Jam berapa Pak RT?” ”Sore.” katanya pada anak-anak itu. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. Menjelang hari pencoblosan. ya. Ada yang limapuluh ribu. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. sekitar jam empat. duapuluh ribu. agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak. Kalau layu mengiratnya alot. Dia kan pengusaha. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. Sebab baunya seperti minyak wangi. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman. semua membagi-bagikan uang dan barang. akan layu. Bau tembakaunya sudah tidak ada.” .” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. ”Ya siapa saja.” Enam calon bupati dan wakilnya. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. Sebab saya tidak tahu nama-namanya. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir.html ”Ya. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. saya akan datang nanti.” kata Mbah Gimun senang. jadi nanti kita semua makmur. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak. http://www. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun.” begitu alasan Mbah Gimun.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan tidak hapal wajahnya. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.com/abclit. Mbah Gimun menerima semuanya.

Karena masih pagi. 2005. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. Dia lalu melolos satu lembar kertas. Bukan pak bupati. Enam calon semuanya memberi uang. Dengan mengucap Bismillah.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. Dia mencari tempat duduk yang pas. satu-per satu warga kampung dipanggil. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. ada pula yang tegang dan cemberut. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. di mata. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu.” Cimanggis. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. sandal jepit. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. dengan menantu-menantunya. Mbah Gimun memakai kain sarung. dilihat kartunya. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. memberi beras. Baunya sangit dan keras. udara terasa tidak terlalu panas. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. Di bilik pencoblosan. menawarinya tempat duduk. memberi gula. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. dia kebingungan. Ada yang tersenyum. Bara api di ujung rokok itu memerah. Di rumah. ”Sayang. dicatat. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. dan diberi kertas suara. bukan kita. dengan anak-anaknya. ada yang di pipi. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. .processtext. Ada yang dicoblos di jidat.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. http://www. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada yang di mulut. dan kepalanya ditutup udeng. ada yang tertawa. memberi tembakau.com/abclit. Melihat Mbah Gimun kebingungan. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Dari saku surjannya. memberi teh. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. di hidung. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. baju surjan hitam.

html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. ”Ibu restui kepergianmu. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. tak akan kembali ke moncong senapan. dan moncong senapan itu seorang ibu. http://www. meski kau tak pernah lagi membalasnya. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu.com/abclit. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. Saat itu. Ya. Nak! Tapi. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak.” . Edisi 07/03/2005 (1) Anakku.processtext. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang.

setelah masa tugasnya berakhir. Acin berjanji. Selain bergiat sebagai pelukis. Umurnya sudah berkepala delapan. Tanpa bapakmu. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. apalagi kerinduan ingin merawatnya. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. Acin akan pulang membawa istrinya. ”Kasihan. Sejak itu. Kecuali bapakmu. Mencuci pakaian. menimba air mandi. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Sejak enam tahun lalu. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Wafa Sulastri. sejak menikah dengan perempuan rantau. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. setelah tamat SMU di Payakumbuh.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu. Tanpa Rehan. Bapakmu rela di-perempuan-kan. sekaligus menjaganya. Setelah lulus jadi polisi. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. Delapan orang anak nenek. Jika kau sudah pergi. lambat laun ia sukses. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. ibu sendiri saja di rumah!” katanya.processtext.” Rumah kita makin lengang. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. tentu ibu akan bersendiri. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima.com/abclit. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. Saat itu. dan tinggal bersama ibu. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. abangmu yang satu lagi. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. Pada surat itu. bule perempuan berkebangsaan Spanyol. ”Ruz ingin jadi anak ibu. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. termasuk bapakmu. Rehan. Abangmu. Tapi. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. merengek-rengek minta izin untuk merantau. . namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Acin dan juga kau. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon.Generated by ABC Amber LIT Converter. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. Tapi. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. tak terdengar lagi khabar Acin. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. menyuapkan makan. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. http://www. Hanya kau yang tersisa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. 13 tahun. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu.processtext. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. http://www. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Belum lama berselang. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. Pada saat itu. menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Yang jelas. .html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri.com/abclit. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu.Generated by ABC Amber LIT Converter.

” ”Mereka belum bisa melihat penuh. mereka sudah terbang duluan.” ”Tapi.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka. Berlalu dari samping Anggi dan Olan. . Cuma asal terbang.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh. ”Heh. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap. setiap kali aku mau menghalau. http://www. Mereka memahami gerak-gerik kita.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng. makanya sering saling tubruk.com/abclit.

” kata Horas.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. ”Ke rumah Gumortap. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka. ”Ada enggak?” tanya Horas. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan. ”Dia dipanggil ayahku. ”Mau apa?” tanya Olan. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau.processtext.” kata Anggi. .Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. ”Mau ke mana?” ulang Anggi. http://www.

”Aku jalan dulu.” kata Anggi. ”Mereka masih anak-anak burung. kita harus mengusir burung. ”Biarkan saja mereka makan padinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nanti malam musim ombak besar. tak akan banyak!” .html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi.” kata Anggi. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah.” kata Olan.” kata Anggi.” ungkap Olan. ”Tapi semua sudah tahu. Gumortap sekarang membenci ayahmu. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak. ”Mesinnya kan sedang rusak. ”Heh.com/abclit. siap berkelahi dengan ayahmu. http://www. ”Aku ikut.” katanya.processtext.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. ”Coba dia membawa kapal sekarang.” kata Horas.

ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu.” kata Ayah Horas. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. Dan sejak itu. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. ”Kau saja yang memanggil lagi. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. melalui jendela. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. ”Bilang sangat penting. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam. . semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. bahwa Gumortap tidak bisa datang.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun.processtext. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. dan tentu saja. juru mesin dan juru mudi yang baik. http://www. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. pemain gondang yang baik.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. tapi kemudian berlanjut saling pukul. tak banyak yang tahu. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota.

Entah siapa yang datang bertamu.. . Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah.” kata yang lain. Horas mendengarkan dari balik pintu. Licin dan halus. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan.com/abclit. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah. http://www.. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Dia baru saja menutupkan jendela.” kata salah seorang tamu itu.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal.html Begitulah.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Dan seseorang itu bisa saja. tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. Suara ayahnya dan beberapa orang lain. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. ”Banyak yang marah. ”Kami mendengar lagi Pak.

com/abclit. akan saya panggil ia ke sini. http://www.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. ”Dia kurang ajar.” kata yang lain. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya. ”Bapak harus menegurnya.” .” ”Bila perlu mendatangi rumahnya. Perintahkan. barangkali seusia ayahnya. dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.” ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana.processtext. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua.” ”Jangan mendatanginya. jangan mendatanginya.

” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu.” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. Inang?” tanya salah seorang tamu itu. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Tapi kalau ia keluar. Ia .com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura. ”Eh. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka.html ””Katanya Bapak menghinanya. “Baru dari pekan. Yang dapat dilakukannya adalah. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah. ada tamu. http://www. maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. berjaga-jaga.processtext.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun Horas tak mendengar. entah mengkhawatirkan siapa. menusuk. Di sebelahnya. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. menusuk. Beberapa orangtua berusaha menolong. darah seharum ombak malam. Tangan Horas kini berlepotan darah. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. di kakinya. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. ”Anak gila!” umpatnya.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Horas tak menjawab.processtext. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. http://www. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. menusuk. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya. seraya mengatakan sesuatu. tapi Horas berhasil mengibaskan. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. Lalu Horas . Horas melihat sekilas. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. Langit sore sebagian memerah.com/abclit. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Belati telanjang dan berbahaya. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. Horas terus merangsek. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya.

Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. Tangannya gemetar menggenggam belati. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. tapi ia terpisah. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. sebagian memilih jadi pengusaha. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. termasuk ia sendiri. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. Tapi semuanya sukses. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. http://www. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Usamah juga ikut membeli tanah.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. beberapa . Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. Sesaat. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. dari kampung Pasar Kliwon. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. tapi tak semuanya jadi pegawai.processtext. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. semuanya telah lulus perguruan tinggi. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Bank Jerman. Tapi pada suatu hari. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Teman-temannya itu. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. Mereka mendirikan rumah berderetan. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank.

yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. bersama pengasuhnya. dengan persetujuan seluruh keluarga. "Boleh tidak Buya. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. terutama anak kecilnya. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. "Tengok ke halaman rumah. "Di Minangkabau. Nabi sendiri suka dengan kucing. al Irsyad. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. itu separuh penghuninya adalah anjing. sangat sedih kehilangan Nero. "Di Mekkah. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. Minah. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. maklum bertanya kepada ulama besar. Rahmah el Yunusiyah. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan." jelasnya lagi. Hector selalu menggonggong keras. Ia dan keluarga. dekat Masjid al Azhar.processtext. Itu ada anjing besar. Tak tanggung-tanggung." jawab Buya. jika Faris ingin . Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. tertidur selama 300 tahun itu.com/abclit. Pernah ada hadist yang menceritakan. Najib. anjing itu pun mati. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah." jelas ulama asal Minang itu. banyak penduduk yang memelihara anjing. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. memelihara anjing sudah biasa. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. bermain-main di rerumputan pinggir kali. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. http://www. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama.Generated by ABC Amber LIT Converter. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. mungkin oleh tetangga yang tak suka. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. dekat sawah.html ekor dicuri orang. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. memberanikan diri. termasuk anjing. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Faris." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. Kebetulan ia mengikuti aliran modern.

http://www. Pada suatu hari. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. Pencuri itu pun. Hector disuruh menunggu." jawab Bu Usamah. karena mendapat gonggongan Hector. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. "Tidak. Ketika lari terbirit-birit. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector.processtext." jawab si pencuri. tidak. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. Mendengar gonggongan anjingnya. teriak-teriak minta tolong. ia tak pernah berbohong. saya tidak mencuri. Jika istri Usamah pergi ke pasar. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli. "Jaga dong anjingnya. Pernah suatu pagi hari. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri. jika tidak mau mengambil barang saya. setelah melapas ayam curiannya. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. berusaha mencuri ayam. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. "Walaupun seekor anjing. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. anjing itu pasti mati kami hajar. Kalau Bapak tidak datang.Generated by ABC Amber LIT Converter. karena jika ikut masuk. Ia sempat membawa lari seekor ayam." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras. setelah selesai belanja. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. Hector selalu dibawanya. Anjing juga tidak pernah mencuri. Ketika mau mengambil kompor.html bermain-main di kali." . "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. Hector mengejarnya sampai tertangkap. maka pencuri itu pun bebas.com/abclit.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah. baru Hector menggonggong. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. Kalau ada yang dicurigainya. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga.html "Lho Pak. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Anjing itu seperti malaikat. anaknya yang terkecil. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. karena tidak bisa. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Hector sudah berhenti bernapas. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. Usamah sekeluarga menonton TV. cuma mengangguk. setia menjaga rumah dan majikannya. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat." "Yang najis itu air liur anjing gila. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Ia masih akrab saja dengan Hector. Dulu saya pernah kecurian ayam. http://www. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. sebelum punya anjing. Anjing ini sehat dan bersih. mengurungkan niatnya. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. Karena itu orang yang berniat jahat. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu." "Apa Bapak tidak tahu. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik. Pada suatu sore di hari Sabtu. Rupanya. Faris sudah berangkat besar. Haram. . sudah masuk SMP. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. Tapi kalau malam. tapi Hector tidak bangun juga. Setelah sejenak duduk. Cuma. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV. Kalau siang." jawab Usamah.com/abclit. tanda ada yang mengganggu. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali.processtext. "Masya Allah. Dan Faris sangat menyayanginya. Tak pernah mencuri dan berbohong. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. Faris pun menggoyang-goyangkannya. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam.

apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Kawan-kawan lama kami jarang pulang.html Melihat Hector tak bangun lagi. Ia pun dikuburkan. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. Melihat keadaan itu maka Usamah pun.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. Nius. Hanya menatap. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun." . seperti manusia. seluruh keluarga gempar. Hector akan masuk surga. Semuanya berasal dari Allah. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. Kepada mereka. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. Abah yakin. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. http://www. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya. sambil menitikkan air matanya. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Tidak sekalipun berkedip. tanpa doa pun. Pak Usamah sempat membaca doa. seperti tidak kenal lelah. Sebenarnya. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. pagi-pagi benar. Tapi Hector lebih menyerupai manusia. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. bagian dari keluarga Usamah. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi.processtext.com/abclit. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. "Seperti ada dan tiada.Generated by ABC Amber LIT Converter. malaikat akan masuk surga. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. manusia pun akan mati. terutama Faris." Keesokan harinya.

Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. "Di mana dia?" tanyaku antusias. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. sebagai grosir roti dan permen. diduduki hingga kini. Ayah Bun tukang gigi. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping." jawab Tum. Bahkan mengerikan." Biju menerangkan dengan gembira. "Tak lama lagi pensiun.com/abclit. "Tentu!" kubilang. dewasa atau jadi tua. kendati kota kami tetap saja setelempap. Satu di Palembang. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. Nius.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Si Talib di Dumai. akrab dengan pribumi.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. Dia dan keluarganya tergolong aneh." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Kami ajak bermalam tidak mau." "Hanya si Cudik. Nius. Berubah sekarang. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. "Bun di Medan jadi dokter. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Kalau aku pulang. Dulu kami sering ." tambah Amril. lebih-lebih tukang gigi. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. sudah bercucu satu. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Dua lepau nasinya sekarang. http://www. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga.

kembali menampakkan senyum yang ganjil. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. . lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Nius. mengantar kue mohok hangat-hangat. Tapi kami cegah. Seperti di rumah Bun." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. tak pake babi laaa. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. Mereka menggeleng. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Bak orang-orang dalam mimpi. mencukur. "Jelas enak. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Rambut ekor kuda. adik Bun." sahut Tum. Ibunya baik seperti ibu Bun. tidak halam! Enak laaa.processtext. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. Dia kapten sepak bola. Matanya tak terlalu sipit. kadang susu. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. atau menjelepak duduk di lantai. "Itulah. http://www. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. "Tidak halam. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. kami kerap nginap di rumah Sultani." KAWAN masa kecil itu lincah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Minumnya teh hangat. "Percuma. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin.com/abclit. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. Tidak kecuali Sultani. Suka-suka kami mau makan apa. lucu. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. pintar di sekolah. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Juga pandai menjahit." bilang Tum. adik kelas kami.html bermalam di rumah itu. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok.

Ayah dan ibunya setuju. . Dan pernah pula Buya Makruf. Kelas enam disunat. Ulah Sultani! Suatu kali. Baju." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. "Sebetulnya telat Bun. jadi keras. http://www. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. "Ayaaa. serta sarung beliau "terbang. Mestinya waktu kita kelas tiga. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. tidak terasa. Bun mau potong bulung bole potong.processtext. Terbahak-bahak seperti hantu air. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. Iya kan. Lalu ia sambar roti. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. selesai!" Ayah Bun terkekeh." "Tidak sakit.com/abclit. Babah mau coba? Sret. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir. mencangkunginya seperti buang hajat. Dan Bun disunat. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. laaa. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. guru mengaji kami. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Bun?" Bun mengangguk lemah. Berenang kalang kabut ke tepi. mengajak makan. Mukanya pucat serupa mayat. Ibunya tersipu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ke halaman masjid. "Malah. Portir bioskop juga dia ulahi. Kami berebut. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu.html "Makan. kopiah. alias usil plus kurang ajar. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Biju dan Tunik juga.

kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Tunik juga.processtext. malah sebelah sini terlampau pendek. Mataku merem melek. http://www. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. kuratakan. Sebulan ditanggung fasih. Sultani berkata: "Sudah Bun. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Tapi aku merasa. Sudahlah. "Seperti model rambut Bang Rustam. Aku malah tak sekali. Rancak. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. "Tadi di sini terlampau pendek. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Suaranya merdu. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Kepandaian itu turun dari ibunya. Ketika kuraba. Eh. Tak licin di sekeliling kepala.html Setelah sembuh. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. tidur-tidur ayam. "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. ikut mengaji saja.com/abclit. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. Tetapi. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Bukan saja Bun. sepekan rambutmu . kan?" Aku mengangguk. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. Dan sesekali. Mendesis-desis lunak. tentu saja. tajwid dan kiraahnya elok.Generated by ABC Amber LIT Converter. Biar aku yang ngajar. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. "Rambutku dia cukur. Rustam. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk.

Kaca-kaca pecah berderai. suatu pagi.com/abclit. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. Sejumlah orang menerabas masuk. Dia cerita begini-begitu aku buang muka." kata Amril. aku menghambur ke jalan. Nius. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Menyepak pintu hingga rubuh. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Nius. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Tahi kambing. Lebih-lebih waktu Sui Lin.processtext. Mereka . Bagus juga kau gundul. Mereka melempar rumah itu dengan batu. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku menghindar. Dia mendekat. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. berteriak-teriak. Atau pergi. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak. Tepatnya. Mereka menuju rumah Sultani. http://www. hasilnya nihil. Suara mereka teramat gaduh.html panjang lagi. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Tetapi mereka pun tidak tahu." sambung Biju lesu." Tum diam saja mendengarkan sunyi. Pernah kami tanya ke situ.

tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. yang menatapku tanpa berkedip. melihat aku di tengah kerumunan. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. Hanya mata saja. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. kemarin pagi. Aneh sekali. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa.com/abclit.* Jakarta. Lututku menggigil. "Dan. Menghabisinya. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. Orang-orang masih berteriak. tegak kaku di ambang pintu. "Mulai kurang ajar ya. http://www. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. "Semua orang bilang begitu. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Buas sekali. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Tanganku dicekal. Ibu Sultani berlari mengejar. Menangis.processtext. Mukanya berdarah. Dia juga menangis. Bahkan sampai kini. Perempuan itu terjerembap di halaman. 2 April 2005 . Sultani juga. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. meraung-raung. seolah-olah tidak pernah lelah. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara.html terus berteriak. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. dua buah. Bergelombang-gelombang manusia. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku.Generated by ABC Amber LIT Converter. diseret abangku pulang.

banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Sudah sering datang orang. sekadar yang saya tahu. Saya rasa kali ini juga begitu. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. bupati. yang sama sekali tidak saya ketahui. satu dua. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. ramai. Sudah sering datang orang. Jika ditanya. mengular sampai jalanan. maupun wali kota. menantu dengan mertua. bibit tanaman. . bawahan dengan atasan. pengairan sawah. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. Saya acuh tak acuh.processtext. menjenguk lewat jendela.com/abclit. persoalan anak dengan orangtuanya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Karena istri saya gelisah. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. satu dua. perbankan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Sungguh menghabiskan waktu. Istri saya memberi tahu. Juga tentang hubungan suami istri. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Kadang-kadang saya juga diundang camat. soal usaha tambak udang. Istri saya belum menemui mereka. Ada apa? Saya acuh tak acuh. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. setelah sarapan. perburuhan.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya menjawab sekenanya. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Di samping para tetangga. Kadang datang berbondong. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. http://www. Misalnya. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan.

keluarga. lalu saya cari alamatnya. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu.000 karakter. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. . Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak.000 orang. Misalnya. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Kadang sampai 8. Begitu siuman. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. sampai kenalan baru. menyebabkan banyak orang mengenal saya. bupati. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. dan wali kota. agaknya hanya saya seorang. dibawa pulang ke rumahnya. Alasan saya. Saya catat riwayat hidupnya. tidak benar-benar membutuhkan saya. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya. di sebuah desa yang lengang. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Begitulah. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Keluarganya memberi tahu. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. teman.com/abclit. sekitar 5. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. saya dijuluki "pendengar yang baik". Tulisan obituari itu tidak panjang. tidak ke mana-mana. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Saya interviu keluarganya. Kepala kantor orang itu kebingungan. dan berapa orang saudaranya. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. menyadarkan saya. pekerjaan terakhirnya.processtext. Untuk sikap saya itu. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Seluruhnya orangorang biasa. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. juga tayangan televisi. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. ia kaget.Generated by ABC Amber LIT Converter. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Masa pensiun pasti datang. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. teman-teman. Cukup menyenangkan. misalnya. ia seharian di rumah saja. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Sebagai penulis lepas. kenapa tidur di rumah. sementara beban keluarganya besar. sebagaimana kematian itu pasti tiba. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. http://www. sedangkan untuk orang-orang biasa.html Rasanya camat.

" Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis.processtext. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. Yang jail maupun pelesetan. "Pak. Saya tak bisa menjawab. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Tidak kenapa-kenapa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pak. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu." . Ini benar-benar klenik. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. kompleks pertokoan. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Dan sebagainya. Ntar saya yang menulis Bapak. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. Saya nggak mau ditulis sekarang. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. Sementara itu ada pula yang bilang. seseorang yang ngobrol dengan saya. Ada yang bilang. tak ada yang menulis. ini bahaya. Banyak komentar. Banyak usulan. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati. Maka ada saja orang yang anti-saya. "Lho. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. ia meninggal." Tapi.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Wah. jika seseorang ngobrol dengan saya. Pak Jurnalis. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. ataupun di stasiun bus. ada yang mengartikan.com/abclit. Tapi ini kebetulan saja. "Maaf. http://www. kenapa?" "Maaf. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Dari kejadian itu." jawabnya. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. saya sedang mewawancarainya.

html "Baiklah. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Tidak kenapa-kenapa. Ketika orang menanyakan pendapat saya. anak-anak ini sok tahu. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Anak-anak saya. Banyak ngomong dianggap meramal. sedikit saja saya ngomong. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Pak. Memangnya saya cenayang. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Lalu malah terjadi serba-salah. Keterlaluan." "Jangan ditinggal korek apinya ini. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya. wah." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: . Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari." "Biar untuk Bapak saja. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. yang paling kritis. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Pak. lima orang. Kritiknya tidak berdasar.com/abclit. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. dan si bungsu di SD kelas 5. Menurut mereka. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu." "Lho. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Saya permisi. kenapa?" "Maaf. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Pak. katanya. Apa yang akan terjadi dengan saya. Di pertemuan-pertemuan desa.processtext.

kan. http://www. ini dosa." "Nah.html "Dari mana kalian tahu." "Itu harapan saya.com/abclit. Ayah pernah menulis obituari." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Itu doa saya. kalian ngawur. Nah." jawab saya. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext." jawab anak-anak itu." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. "Kalian ngawur. ." "Semua orang bicara dosa dan pahala. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga." "Semuanya." "Ayah marah kena keritik." "Boleh saja." "Begini. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah." "Tidak bisa seenaknya begitu.

" "Nah. Saya sering lelah berdebat dengan anak. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Istri saya memberi tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya acuh tak acuh. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . mengular sampai jalanan. Sudah sering datang orang. merangsek ke depan meja saya. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. satu dua.anak saya tersebut. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Saya menulis apa saja. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain. Sebagai ayah. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Lima anak semuanya sekolah." Mendengar keterangan saya. Jam baru menunjukkan pukul 05.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Istri saya guru SMP. menjenguk lewat jendela. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. Hari baru membuka matanya. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. sedang rakus-rakusnya makan. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. anak-anak saya itu diam. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. cerdas dan berani. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Nah. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Istri saya belum menemui mereka. termasuk menulis berita. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya.processtext. Padahal saya selalu bilang. Saya rasa kali ini juga begitu. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. http://www.00. Ada apa? Setelah sarapan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak.com/abclit. setelah sarapan. Kami sebenarnya keluarga bahagia. Karena istri saya gelisah.

Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Ahad. berserak. Mungkin hanya karena terlalu lelah. berserakan memenuhi ruang dan udara. perempuan. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. di atas pohon. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. Seluruh mayat itu. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. 20 Januari 2005. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. . di jalan. Bahkan burung-burung. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. http://www. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. mencecap pencerahan.com/abclit. Kalau toh ia tertidur. Waktu saya siuman.. tua. tak seekor pun tampak terbang. di luar kemauan. Tangerang. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Alhamdulillah. 26 Desember 2004. Sinar matahari memancar. di reruntuhan rumah.. diselimuti lumpur. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. di kebun. anak-anak.html Mata mereka nanar. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun.Generated by ABC Amber LIT Converter. laki-laki. panas. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. mereka menatap kebenaran. Cuaca cerah.processtext. Entah berapa lama saya pingsan. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Tapi tidur itu tak pernah panjang. muda. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. bayi. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan.tanggal akhir hayat. kemudian dibiarkannya mencair. di pekarangan. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. itu bukan karena ia ingin. nistagmus.

Masmu Jito tidak ikut.com/abclit. Mbok Nah diam. Pada siang yang murung itu. "Ya. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan. Kantuk masih menggelayutinya. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan. Bagaimana kabarmu. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk. Tapi sayang.processtext. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. namun tetap tanpa jawaban. http://www.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. Eyang Putri tak tega bertanya lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. "Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" . Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Pertanyaan serupa diulang. Kami juga sudah menunggu lama. hingga warna itu berubah tua.

" Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. Tapi.. "Eyang Putri tidak senang bau rokok. Mereka sudah lama menunggumu.html "Di ruang tengah. seperti koor. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka. entahlah. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat. http://www. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak." .processtext. Swandaru yang anggota DPRD. hendak menyulut. persisnya sejak Lebaran tahun lalu. "Di kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. dan Drajat yang pengusaha real estate. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak.com/abclit. tapi dicegah Ambar.

Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext." Gendut termangu. perlahan. "Saya Gendut. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar.. Setelah diam beberapa jenak. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar. coba kamu temui Eyang Putri. Empat pasang mata mengepung dirinya. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Kamu kan cucunya yang paling disayangi." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru. Swandaru merangkul Gendut. "Ndut. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda. Mbak Kunti.. Pintu kamar itu diketuknya.com/abclit.html Gendut memasukkan rokok di sakunya. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" . http://www. Gendut pun beranjak. Mbak Ambar.

html Pintu pelan dibuka. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya.processtext. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani. dong. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri." "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . Semua kakaknya saling memandang.com/abclit. Perkara pembangunan itu macet. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu. Kalian mesti tanya developernya. Gendut langsung menyelinap masuk. semua beres. ya bukan urusan saya. namun hanya beberapa puluh senti.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketika menonton televisi. Aku menebak. http://www. Seperti yang kami kenal. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. Nggak ada komplain. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ.

hingga commercial break memotong tayangan berita itu. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. Anak dan istriku tampak cemas.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi gagal. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Mereka pun langsung masuk rumah sakit. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi. Aku terus mengomel.processtext. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement. Aku ngomel sendiri. tapi HP-nya off. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang.com/abclit. Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. . Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. http://www. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Mereka menangis.html "Tanya itu developer.

Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. tapi juga sangat sedih. Di layar televisi siang tadi. dengan bangga. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. no comment" .. Gendut belum berani bicara. DI antara para cucu. malu." pesan bapak belasan tahun lalu. wajah Eyang Putri tampak pucat. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. ia hanya berucap "no comment.. dia akan mengejarmu sampai neraka. Ia melihat. dan berani. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat. jujur. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. http://www. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. yang gigih menentang setiap penyimpangan. semakin bersilangan. Sesungguhnya. Walau cuma serupiah. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas. Ia hanya mematung di samping ranjang. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga.com/abclit. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan.processtext. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. semakin tumpang-tindih.html Kami sama sekali tidak menyangka. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul. Namun. wajahnya tampak lelah.

Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. laut yang bergelombang. dlingo bengle. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. sungai yang mengalir. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. Tapi. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. jujur.html Setegar apa pun hati keluarga kami. Dan ingatannya masih tajam. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. gunung yang menjulang atau langit yang biru. Rimpang-rimpang jahe. Padahal jumlahnya belasan. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Ada yang culas. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Jamu itu kemudian dijual di pasar. adas pula waras. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. pemberani. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. jahe. kencur." ujarnya.processtext. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. Tubuhnya masih cukup tegap. Juga nama cicit-cicitnya. dan entah apa lagi. toh akhirnya goyah juga. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. Ketika kami kecil. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. http://www. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. sawah yang membentang. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. Meskipun usianya di atas delapan puluh. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. Setiap pagi. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. meskipun akhirnya tidak . Setelah Eyang Kakung meninggal. Harum tapi juga semegrak. Dengan runtut. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. licik. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. dengan berbagai wataknya. atau penjilat. Matanya masih bercahaya. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. cabe puyang.

yang dipikir cuma perut. nggak apa-apa…" . Aku kelimpungan.Generated by ABC Amber LIT Converter." pesan Eyang Putri." sergah Mbak Ratri. Semua tertawa.html hidup bahagia. "Kalau kamu bagaimana." Eyang menatapku." ujar Mas Swandaru sambil bercanda. http://www. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan.com/abclit. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya. Gendhut. "Ah kamu. "Kalau saya ya pilih kaya. "Bicaralah.processtext. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri. Ayo. Bingung.

tapi licik.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar." Semua tertawa. ketakutan diam-diam merambat. Mendadak. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . Eyang Putri diam.processtext. tapi hanya untuk mengakali. Dia punya banyak akal. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar. Ndhut…" Eyang Putri terkekeh. http://www. "Pintar kamu. "Dia bukan pintar. mengurung kami.com/abclit.

. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri." Malam makin larut. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang. dalam gelap malam. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani….Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.html Kami mengangguk.com/abclit. Dia bilang. kalau kalian besar nanti.…"sahut Mas Swandaru. Satu per satu kami tertidur. "Iya. Ratri menyahut. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya. "Akhirnya. "Benar Eyang. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai. Kantuk pun bergelayut. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. http://www. "Maka. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana." ujar Mbak Kunthi.

Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. "Biar aku duduk…. Dalam beberapa kejap. Di luar kamar. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. tapi masih tetap tegap. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. Perempuan renta itu berjalan pelan. Bukan kancil atau ular piton…" . pikir Gendut. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya. tak ada suara terucap. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras." ujarnya pelan. "Kita berdoa. empat kakak Gandut masih menunggu. Mereka hanya saling memandang. http://www.com/abclit. Eyang Putri menggeleng.processtext. Tapi Gendut memberanikan diri bicara. Ke mana air mata itu. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Urat-urat wajah mereka menegang. Eyang. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. lemah. Wajah mereka tertunduk. "Ndut.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. Gendut kaget. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya.

Generated by ABC Amber LIT Converter. "Itu yang aku sesalkan." ujar Gendut." "Tapi. "Mestinya sejak dulu. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" .processtext. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya…. http://www. Ya. "Tapi maaf Eyang.html "Bagaimana kamu tahu.com/abclit. meskipun kami tidak punya bukti. Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil. merintih. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. kami percaya dan yakin. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk….

Eyang Putri berkali-kali menarik napas. Semua mendadak terasa terlepas. "Kebenaran akan membersihkan namanya. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. Mungkin…. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka.com/abclit. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya. Mereka merasa dilucuti. Itu masalahnya. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…. seperti terbaca. akan mengembalikan martabatnya…. sebelum akhirnya pingsan. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu." ujar Eyang setengah meradang. Tubuh mereka serasa berubah transparan.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. http://www. DI rumah itu." ujar Kunthi.Generated by ABC Amber LIT Converter. ditelanjangi.processtext. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. Edisi 05/22/2005 .

bagi kami. Di suatu waktu di zaman lain. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. homo erectus. Jejak melesak di tubuh-tubuh . sepatu manusia. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. Dengarlah sepatu berderap.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. segera jadi bohong besar. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. pikirmu. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong.. seperti yang selalu kami yakin. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu. melesak di leher.com/abclit. artinya pula tak lain satu kata: gila. ditemukan juga jejak sepatu. neanderthal. lebar 11 cm. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. memanjang ke fragmen tengkorak. homo sapiens. setiap detik dalam hidupmu. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. Jejak sepatu celaka.. Betapa kekal. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. Jejak celaka! Bagaimana bisa. di zaman homo habilis juga belum ada. Homo habilis. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. dan waktu melenguh. dengan cara begitu rupa. ternyata sia. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm. menguap. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? . lekuk bawah tumit 2 cm. harus kami bikin tetap sembunyi.html SEPATU itu. Sepatu lars. SEPATU itu.sia? Maka sembunyi itu. menginjak seekor trilobite. bongkah itu akhirnya pecah.. tertahan dalam bongkah batu.processtext. Semua akan hancur. Betapa kekal jejak itu. Dan itu artinya. tak bisa tidak. dari satu batu ke lain batu. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. selain fosil antilope. http://www. TETAPI trilobite. seluruh waktumu. dengan bertumpu di bagian tumit. sepatu serupa. Dari satu waktu ke lain waktu.

berhamburan.. menerjang. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. sebetulnya telah ikut terbakar. ruang kuliah. tetapi itu biasa.processtext. Mahasiswa berlarian. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. Pekik.com/abclit. Orang-orang berseragam ini. menjalar lirih ke telingamu. Menembus ruang. Gemuruh derap menggasak koridor. bertumpang tindih dengan hardik. lengking tangis. untunglah. Betulkah foto itu hilang? Atau. Dengan satu kali jumpa pers. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. bentak. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila. rusuk. Baiklah. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu.html Tetapi. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh. SEPATU itu. semua kami musnahkan. Tetapi lalu. Bisa runyam. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. Terdengar pula suara seperti letusan. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. ketika muncul di Science.. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. merangsek masuk ke dalam kampus. kenapa mereka menyerbu kampus? . tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto. gebuk pukulan. melipat waktu. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. Jadi. begitu jauh. membuat kami sungguh kelabakan. tetapi kami lupa? Tetapi toh. juga lolongan.. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. Dan setelah segalanya beres. perpustakaan. http://www. Memang muncul berita di koran lokal. Menggasak leher. jerit. Artinya. penuh literatur fiktif. dengan foto-foto yang dideformasi. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. dengan amarah bagai meluah. timbul-hilang. telah hampir sepuluh tahun kini. selesai. Fragmen tengkorak itu. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Tulisan yang tentu saja direkayasa. Bisa heboh. Racau panik.

Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). berbaku tindih jejak sepatu. Beberapa kepala pelan terangkat. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. dari hari lain. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. demonstrasi. Tak ada hujan. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini). Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. Padahal tak ada hujan. Lihatlah seorang dari kami. Labor-ruang praktikum hancur. kemudian. TAK ada hujan. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. aku bagai melayang. di luar tak ada becek. Mungkinkah hujan lain. Takkah aneh bahwa foto itu. setiap detik dalam hidup kami. kami gunakan untuk mencari. Di dalam juga tak kalah sesak. Kampus diserbu. Rumah yang kukenal. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. ruangan itu juga tampak porak-poranda. Di luar rumah sangat banyak orang. Menetes. Dan setelah segalanya selesai. pun ruang perpustakaan. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. ternyata ada di sini? Memang aneh. meresap dalam senyap. basah itu. Dan takkah pula lumpur lain.bermimpi tentang demokrasi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. Merembes dalam bisik. http://www. Dan di lantai. . kursi-meja berjumpalitan. Menatap ruyup ke tengah ruangan.com/abclit. Tetapi. bukan? Sesekali terdengar helaan napas. seluruh waktu kami. itu bukan urusan kami.processtext. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. Mahasiswa diburu. Pulau-pulau yang terbujur. tegak termangu di puncak tangga. Ke sesosok tubuh yang terbujur. Menembus waktu. seperti halnya juga tadi di lantai satu. di sinilah foto itu kini. Dan lihatlah lembab itu. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. seperti berat. Beberapa digelandang digiring ke truk. Dan lihatlah itu tadi. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. bagai tertidur. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. Masuk ke halaman yang kukenal. pada setiap kepala yang tepekur. Sungguh situasi yang tak terduga. Tak ada becek. Juga senggukan tertelan. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. kini menjelma jadi kuyu. Seperti lelap.html Namun tentu. beberapa dilarikan ambulans. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. Tetapi yang jelas. bagai tertidur. Bila sebelumnya tampak heroik. dalam basah. Begitu tenang. Dan juga celaka. menembus ruang. Melalui pintu yang ternganga. tetapi terasa seperti hujan. Dalam lembab. entah ruangan apa.

pikirmu. ganjilnya pula: di atas foto itu. Tetapi itulah. Menembus dinding. Sangat serupa. Mungkin juga itu orang lain. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. http://www. Bebas waktu. Dari satu waktu ke lain waktu. Begitu pas. Gebrakan meja. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. mematahkan rusuk. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. Begitu lengang. kamarku.com/abclit. Dan. Ruang kerja Ayah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin pula itu di masa depan. Menggasak leher. ke lain ruang. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. Dan. Tubuhku. pernah atau tidak. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. tak lagi penting. atau mencoba melihat menggunakan mataku. Meremukkan leher. melipat waktu. Betapa kekal jejak itu. timbul-hilang. Kembali aku melayang. Tetapi. Menghunjam dan melesak. Siapa tahu. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. Kamar yang juga tampak begitu tenang. bukan aku. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. Menembus ruang. sehingga ia begitu marah? Tetapi. Kini aku bebas ruang. tak jauh dari tubuhku. aku selalu lupa. begitu jauh. Dengarlah sepatu berderap.processtext. dan waktu melenguh. Dan inilah ia. 4 April 2005 . Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. di hampir seluruh bagian tubuh itu. Jejak melesak di tubuh-tubuh. dari satu batu ke lain batu. sebuah jejak baru. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. menjalar lirih ke telingamu.html Itulah aku. ada foto itu. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. tepat menimpa si fosil jejak sepatu. rusuk. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. sang arkeolog ini. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. Menerima makian. Dan. memintaku mencarinya. kapankah itu? Pastilah di masa lalu.

Maka. dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita. Karena itu.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. . http://www. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. untukmu Gusti. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. memedihkan mata dengan getir pasir. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki.com/abclit. Gusti. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. dengarkanlah ceritaku.processtext. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. tanpa cambukan.

processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak bisa mengutuk. Ya. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. Jika tak percaya. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. Tak di mana-mana. Ia tak bisa mengamuk. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga." Ia tak lagi punya jejak. "O. dan malam yang kehilangan rembulan." Ia tak bisa lagi menangis. http://www. darah yang terus mengucur. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya.com/abclit. kepala yang dilindas truk. Ramli. Dengan petikan sitar gaib. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. . tapi keretanya telah remuk.

Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku. http://www." Kamu cuma budak haram.Generated by ABC Amber LIT Converter." Tak di mata yang menciptakan surga. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku. "Ya. ke got becek untuk mandi. aku memang cuma budak haram. Lukman. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup.html "Tak di mata yang menyimpan surga. mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu.processtext.com/abclit. ke jalanan becek bertabur roti. Maka.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga. ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena .

"Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800. . Lukman. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. "Mereka tak punya algojo. aku akan pulang. Lukman. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. "Ya. pulanglah ke negeri ibumu. Hanya. http://www." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko. Ayolah.processtext. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. tetapi segera pulanglah. Nanti kamu dipenjara. Lukman..Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah.com/abclit. segeralah pulang.000 budak haram. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan.." Ya." Maka.html pasporku hanyut di sungai. Nanti kamu didenda.

com/abclit.processtext. http://www. ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sayang.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu. "Ibu? Ibuku telah mati. "Ke gua gelap itu?" Ya. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang. Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. Kalaupun masih hidup. ke kopi terakhirmu. Sayang. ." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri.

menguburmu dengan bunga mimpi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir.com/abclit. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu." Begitulah Cara Waktu Mengaduh.. Rahma.. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam.processtext. http://www. "Kalau begitu aku tak mau pulang. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu." Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu.html "Setelah itu. Karena itu. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa .

"Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak. Rahma. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. Pangeran Kelelawar itu. Padri Minohek itu. "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. http://www. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak . tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. Kau tentu bisa menjelma ikan. "Tidak di keriuhan?" Ya. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan.com/abclit. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tidak di jalan-jalan. Tentu keindahan tak harus disembunyikan. Rahma." Ya. Kau tahu bukan Romo Sindu. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. kota ini memang sialan. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu. Rahma. Rahma. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. Kau tahu bukan Redana. Rahma. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman.processtext.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban.

Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra.html pernah pulang. aku tahu. mereka melenguh seperti kerbau api. Bukan di Kurusetra.. Rahma. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. Aku hanya. Kunti.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api. http://www. Tetapi. Tetapi mereka hendak dijagal juga. Tetapi mereka hendak dibunuh juga.com/abclit. Rahma. 23 tahun. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu. Aku hanya. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi." Dor! . Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi. Kunti. Kunti. Bukan di padang pembantaian. Ia menangis dalam gerimis.processtext.." Dor! "Namaku Guspar Hasan... Kunti. ke ujung mati. 37 tahun. "Jangan lari. "Namaku Petro Sale. Maka begitulah cara Waktu mengaduh. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki. Rahma.

ya Kasturi.com/abclit." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi. "Halo. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. 25 tahun." Dor! "Namaku Remi Guis. hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati.html "Namaku Markus Taji.. . ular. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi.. musang. aku hanya membawa tikar menuju belukar.. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi. Aku hanya. Soekarno. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri. http://www. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri. tikus. Aku.. Tak ada obat." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela. buaya. "Aku mencintai Hang Tuah." Dor! Lalu kau pun tahu.processtext. kuldi. Kunti. Lalu kaulepaskan angsa.

Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya. "Jadi. krok. kita memang kodok. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela. burung-burung terbang ke langit entah. dan kita akan kesepian. Hijazz." tiba-tiba Angela menyela. revolusi telah patah. eng-krok. krok. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia.com/abclit. ." kataku mengolok-olok. Soekarno kehilangan tuah. Sayang. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. kita memang bahagia. kalau dia menangis. kita adalah budak yang tak punya malu. Ya. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. Oke. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. danau akan gaduh. Sebab di hadapan Sang Waktu. kau keliru. krok." "Aha! Aku suka metaforamu. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok." "Ah.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. tua.processtext. "kita cuma eng-krok." "Ya. http://www.

itu aku dan engkau. Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. 2005 . liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor." Aneh. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. "Lihat Hijazz. Lumpur-Mu. Kekasihku.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. Jadi.processtext. Karena itu. Kuala Lumpur-Selangor. http://www. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. Cintaku.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera. semua ternyata hanya lumpur. suami-istri yang kian merenta itu. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti. Dan Kau tahu. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga.

http://www.processtext.html .com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful