Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. aku selalu waspada. atau benda lainnya. Dia memandangku. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. hand phone. Dari tempias cahaya lampu. Melihat urat-uratnya. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. orang itu telah keluar membawa bungkusan. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. karena dulu. pukul besi. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Aku menunduk. penuh kerut-merut. Maka. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Perasaanku campur aduk. agar tidak konyol dicincang massa. Tapi. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Aku pun menurut. Ya. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. ada besi pengungkit. Kudekati dia. Aku tahu itu. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. dia menangis. dan siap dihunjamkan di perutku. Ya sangat dalam. Dengan langkah yang gagah. linggis kecil dan masih banyak yang lain. Hujan turun makin deras. Tapi aku menolak dengan halus.processtext. drei. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. kuambil jarak beberapa depa. Ia pelan-pelan bangkit. menyiapkan berbagai peralatan. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. ia menjumpaiku. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. . Orang itu merasa serba salah. alat pemotong kaca. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. Siapa tahu itu tangis buaya. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit.html berbisik. Kukibaskan ekorku. Rupanya ia tanggap. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. Maling pun tetap harus serius.com/abclit. http://www. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). Entah kenapa. Dengan bahasa isyarat. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. Kuamati orang itu. Tuhan. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. mengenai kakinya. sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. naluriku memaksaku berpikiran begitu. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. alat pemotong besi.

makin berkurang. Muncrat darah merah dari dadanya. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Tangis itu sangat panjang dan dalam. Aneh. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku.processtext. hingga orang-orang pun keluar rumah. ia menghentikan kegiatan itu. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. Entah kenapa. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. dan berharap ia segera berlari. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Aku menggonggong sangat keras. rebah ke tanah. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Ia tersedu-sedu. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. muncul kilat. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Aku sangat panik. seperti menatapku. Orang itu tumbang. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Senapannya terus menyalak. Tiba-tiba saja. . Ia tampak panik. http://www. Edisi 05/21/2006 Malam itu. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Makin keras. Aku menggonggong makin keras. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. tangis anak dan istrinya. penuh kesunyian. maling itu tetap diam. Terus menatapku. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang.com/abclit. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. Sial. Melihat mata ibu. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan canggung.html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. Mereka mengelu-elukan aku. Bahkan. akhirnya. Aku memaksanya lari. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Aku masih mendengar tangisnya.

karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Monang minta digantikan. ayah mendengus. Tapi. Ia minta ijin pulang. Waktu ayah meninggal. Ia memang selalu dimanjakan. Tapi. Dan lebih lagi. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. lalu memukuli ibu lagi. tak lama berselang. Tubuhnya sampai gemetaran. Beberapa kali. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing. Ayahnya pasti bisa menghindar! .. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. di ruang dalam. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya." katanya. Minyak tanah. ia juga tak menangis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun. apa? . Dan ibu menjerit-jerit lagi. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. "Ampun. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi.. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Ayah berhenti memukul ibu. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Monang mencari-cari pisau. minyak tanah! . ampun pak.. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau. Batu penggilingan? . ia pun tidak menangis. Seumur-umur Monang jarang menangis. Tidak. Ah. besok. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak.processtext.html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur. Namun. http://www. Dan memang semestinya demikian.. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah. Pastor dari paroki datang. Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis... Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Kayu bakar? .. ia tetap bergeming. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah. Namun ia takut pada ayah. dalam pikiran ayah. Ketika kanak-kanak. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya.com/abclit. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). (Mungkin pula. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Tapi. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah.. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Monang berlari ke dapur. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat.

Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya. Lalu berbalik. Sebab.. ayah. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi... Ayah menoleh.?" suara si ayah pelan. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat. tapi menahan diri. ada sebuah perahu yang terombang-ambing.. Di tengah samudera itu. "Ayah. di malam pekat. menghadap Monang menatap mata sang ayah..Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. ayah. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!.. "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. http://www. maka aku tidak membakar kamar ini. "Maafkanlah anakmu ini. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana.. Tapi tangis ibu yang lirih itu. Ia merasa diajari seperti anak kecil. "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. Ia tak menjawab. "Mo-nang..!" .html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya.. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. Namun.. Dan tetap tak menjawab.. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya.processtext.!" panggil Monang.

.. ayah.... Lama. ayah. Monang terkejut mendengarnya.com/abclit..?" ayah bergerak pelan mendekati Monang.. . Ayah menggelengkan kepala.." Monang bergerak pelan mundur. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. "Jangan. lalu menghela napas panjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. ayah berlutut dengan punggung tegak. Kemudian ayah tertegun. Ibu pun demikian.. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca... bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri.. tetap di situ.!" "Kau. Mulai hari ini.!" tangis ibu. "Berhenti di situ.!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. "Ya. "Ya. "Ayah. http://www. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya.processtext. Tuhan.. berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi.. Nak.html "Kau. Berikutnya.! Ya. Serasa sekejap.

" katanya. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah..com/abclit...Generated by ABC Amber LIT Converter.. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Monang membersihkan kelopak matanya. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya. "Engkau harus pulang sekarang." Sungguh. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir... Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam.. "I-ibu. Kerabatmu datang menjemput. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal... Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi. Namun. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?. "I-i-ibu kenapa.. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu. >diaC< Telepon genggam berbunyi. Berdoa?. waktu itu. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi.. Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya. Monang." suara kak Nurma terputus.. "Ya.. Dan akhirnya.. Hingga kini...processtext.. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. Tapi menurut Monang. Ayahmu sakit keras. http://www...?" .. waktu itu. Monang terkesiap mendengar janji ayah.. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan..html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian.?" Monang menenangkan hati. ayahnya sudah meninggal. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo.. Kak. meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka. Allah.

.... Namun. ibu mau juga ikut. "Mo-nang? Kau mendengar aku.? "Ya.?" . Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok.." jawab ibu waktu itu.." "Ibu kenapa. Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi... Nak... Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang.com/abclit. Bu. Kak. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu... Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau..processtext.. tapi ini penting.... Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini.?" "Mo-nang. "Kau belum tidur. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok.?" "Mmm. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?..html "Nah.... I-i-ibuu.?" Monang mengangguk dan lega.. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan. "Aku tukang mabuk.. permintaan! Monang terdiam... nanti aku merepotkan mereka. Tapi.... Nak?" "Beginilah tukang koran...!" Oo.. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. Jantungnya berdetak lebih cepat. http://www.. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter.

"Kenapa putus?" "Habis baterei.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bu... Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon.. ya. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi." "Oo.. Nak. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. ah! Lalu apa permintaan ibu?. Ya." .. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. "Hallo." Terputus." kata ibu dari seberang sana. iya.. Bu. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu. Si ibu menguatkan hatinya...!" "Mm.. Betapa.... sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu. Aku tahu hatimu!" katanya. Nak." "Lusa Ibu pulang.. Tak ada yang sempat mengantarkan... menantu dan cucu-cucuku.com/abclit... Tak apa-apa.. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya. Ibu tak bisa menginap di rumahmu. Monang dan istrinya kekurangan biaya. anak mereka sakit dan mesti dioperasi.. Namun... Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian.html "Mm.. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi. http://www. Tapi lima bulan kemudian.. Nak. "Aku tahu keadaanmu." Ah.. Bu..processtext. ia bertekad membahagiakan ibu. Maafkanlah. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya. Nanti terganggu usaha koranmu.i-i-iya. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka.

?" Monang mengiyakan." kata Monang akhirnya. "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya. http://www.. Pemiliknya Ompung Ojak. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. Bila kayu bakar di rumah habis. Bu." Monang memasang pendengaran baik-baik. Teruskanlah.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa.processtext...... pohon johar.... Bu. "Permintaanku?" "Ya....! Katakanlah apa permintaanmu itu.. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu. dua hari sebelum aku berangkat ke sini. "Monang? Kau mendengarku kan.com/abclit. "Tapi..?" "Iiya.. dan pohon-pohon bambu memagari kampung... Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. Dan. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ.. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang.." Monang ingat. . ada kak Nurma di situ. Ia ingat.html "Ibu.. Monang..Generated by ABC Amber LIT Converter." Monang menghela nafas. Lantas?. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain.. Berpantun pun.. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening.. di kampungnya ada pohon mangga.. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. di sebelahku. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang.. Kau ingat tempat itu.

Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang.. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak. maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter... Sepulang dari sini." ..." "Apa.. Bu." "Satu batang digunakan sebagai peti.!" "Bagus... "Baiklah.?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya. Nak..... Nak..?" Oh. Ibu! Monang menarik nafas... Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur. Nak.. tak ada anak-anaknya yang di kampung. Kalau pohon johar. ibulah yang selalu menyuruhnya. Diam beberapa saat. Nak.. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang. kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?. Nak..?" "Ada.." "Terus. http://www..html Sepeninggal ayah....... tinggal Ibu.!" Monang mengangguk...processtext.. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga. Nai Manjur sudah meninggal. maka ditebang yang tidak lurus.com/abclit." jawab ibu cepat. Bagaimana. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar. Bu? Ibu kan masih sehat.. "Sekarang dengarlah baik-baik. Bu.. aku akan beritahu Ompung Ojak. "Lagi pula.

.. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. ... Bu.. Aku ingin ada kacanya juga.html "Ibu masih kuat." "Ibu. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. seperti yang kakak-kakak lakukan.. lalu telunjuknya menjentik..... Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Menelepon. Pergelangan tangan itu ngukel1. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan... Dia tersenyum. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok.!" Tut-tut-tut. Ibu.. Nak.processtext. Aku ingin menyenangkan hatimu.com/abclit.. Monang menelepon. Keindahan memang tak bisa diam.!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya. Menelepon.Generated by ABC Amber LIT Converter. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Sekali lagi dia tersenyum. http://www.

Airmatanya beku. kering tempe. sejak 25 tahun yang lalu. siap senyum. Wening si walet. Ah. tak banyak bicara. makan. Neny. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah.html Dibayangkannya. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. mungkin pergi dengan pacarnya. Sony. duduk luka. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. mengeluarkan baju-baju dari koper. Dan sejak itu. nantinya. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. seperti tangan penari.samar. akan diberi untaian melati. hampir dua puluh tahun lalu. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya.anaknya entah ke mana. seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. tak banyak gerak. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. rajangan dadar. tentu akan lain ceritanya. abon. Malam ini. Dia berada di tandu. sesuatu yang mustahil sebetulnya. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. mandi. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. Wening si prenjak telah musnah. Wening hanya diam. Sejak hampir sebulan ini. si sulung. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. entah ada di ufuk mana saat ini. http://www. Sepi kian runcing. Wening si bunga matahari. tetapi inilah hidupnya. sudah punah. yang harus selalu menjaga penampilan. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. dan menusuknya tanpa kata. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini. Jadi. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. "Aku ingin menari. harus masuk sangkar. Tetapi. Waktu terlipat oleh kecepatan. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah.processtext. si ABG-itu. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. tetapi menebarkan harum yang samar. Bang?" bisiknya suatu malam. dan dia bukan lagi Si Wening. setelah mereguk kenikmatan. Kadang begitu datang. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. suaminya tak menjawab apa-apa. boleh ya. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. Bang Irfan sendiri. yang oleh Mas Ondi—penata busana. mencium kening istrinya. entah siapa yang menjadi biang keladinya. mengkristal di dinginnya malam. ketimun.com/abclit. sudah mendengkur kelelahan. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Tetapi. lalu menghilang di kamar kerjanya. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. . Anak. Berdiri luka. Barangkali saja.

enggak pakai ini.. Mom." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku . Dialah Drupadi berambut panjang itu. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya. ".. Dan jiwa itu. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak. Bang?" "Tidak boleh. "Kenapa. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan... dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari.. Wening beku. bahkan sms. Dia ingin menari. Mereka bergerak dalam diam. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua... biar aku menari untuk Abang saja.. Tetapi tak ada dari Bang Irfan..com/abclit.." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan. Dialah dengan kain panjang ." dari Neny sebelum pergi..processtext. rapi. entah kapan.. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti. Hidupnya memang menjadi barang taruhan. Apa susahnya?" ucap Bang Irfan. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. Aku lebih suka kau .. Album foto pentas terakhirnya... Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian. atau apa pun impiannya. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. Itu saja... Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya." bisik suaminya. karena kau istriku.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Aku enggak suka tarian." "Kalau begitu. hening.html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. Aku memberimu semuanya. cermin. segalanya.. http://www. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya.. Maka pembicaraan itu terkunci di situ. Dia ingin menjelma Drupadi.

itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini.processtext. berulang. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Langkah yang sudah dihafalnya benar. Akan kuajarkan kepada kalian. berjalan dari pelataran GKJ. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. memasuki pintu. menghidupkannya dalam sebuah lakon. http://www. Akulah keindahan. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. . Tetapi. GKJ pecah.com/abclit. bahwa inilah jiwa kalian. tertiup pendingin udara. Wening ingat. Tepuk tangan berkepanjangan. Bang Irfan pulang. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. Biarkan matamu menangkapnya. melangkah hati-hati. malam itu.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam gemulai geraknya. yang menciptakan jarak sepi. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. membiarkan berpuluh. "Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. ajaklah dia berbicara. membelah kerumunan penonton yang masih di luar. dia selalu lantang menjawab. Itulah yang menggerakkan Drupadi. Izinkan dia bersamaku malam ini. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. Cahaya lampu berkebit. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". Jiwamu lebih halus. memberikan keheningan. wahai makhluk bumi. menggema.. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku." jawabnya agak polos dan kekanakan. maka kau akan dilimpahi cahaya. Mereka terhenti di suatu ruang. membiarkan dengung gong pertama bergema. dan karenanya. Wening bangkit dari tempat duduknya. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. menyedot seluruh pancaindera penonton.. Dan penonton memang tak bisa membedakan. manakah Wening dan manakah Drupadi. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. "jadi penari. melintas perlahan di karpet merah. menaiki tangga..

Wening melepas bajunya. Wening terpaku. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang.. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. Sesaat kemudian. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat". Pintu terbanting. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. Silakan larang aku. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Sunyi. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. Pasti bisnisnya gagal. api kemarahannya menggelegak. Aku suamimu. Didobraknya pintu..com/abclit." Berkata demikian. Wening masuk kamar. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. terbuka dengan paksa." Wening tercambuk. darah mengalir. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. "Abang pulang? Sudah makan.. Dikenakannya kemben kain panjang putih. Irfan keluar dengan langkah besar.processtext. Ucapan kasar.Generated by ABC Amber LIT Converter. telanjang. http://www. Bang?" sapanya. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami... Aku tidak suka. . tapi kali ini. Belum lagi Wening duduk. dasar. Suaminya terdiam. Lakukan keinginan abang. Pintu rusak. Diserbunya kamar Wening. runcing.html "Masih saja . Begitu kasar ucapan bang Irfan. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik.

Bumi yang halus. Dia akan menari. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. ibu dan ayahnya yang renta. berenang dalam cahaya keindahan geraknya.processtext. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. pintu hidupnya. Mereka semua membisu. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. menariknya perlahan. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender. http://www. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. sesekali dia ukel.. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m.. entah sudah berapa lama. Tetapi Wening telah menari.html Iringan rebab menyayat malam. Wening yakin sekali. Perlahan langkahnya menjauh. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. kali ini. Kain samparannya terlalu panjang. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. Langkahnya terus mengalir. yang anehnya. Sesekali dia kengser. Dilaluinya pintu yang rusak itu. Tidak. Wening hanya melihat. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. terseret gerak tubuhnya. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. Wening bergerak sangat lambat. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. sesekali pula dia tawing. sebuah bangun menakjubkan.com/abclit. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. . Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh. juga mertua." bisik Neny setengah menangis. dengan tatapan tertuju pada bumi. laki-laki memang tak pernah dewasa. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. ah. dan tak ada yang bisa menghentikannya. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. menoleh ke sudut. miring ke kanan. yang berhasil diciptakannya. "Mama. Dia adalah Wening. dari tempatnya berdiri. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. dungu. Dan baginya. tak paham akan keindahan. selebihnya dia melangkah perlahan. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah. Namun.. Mereka berubah menjadi batu. mencoba mengingatkan ibunya..Generated by ABC Amber LIT Converter. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. dan membagikannya kepada dunia. please. sejak malam ini. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun. kemudian sanak saudaranya. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. yang diberikan manusia. Dibiarkannya. condong ke depan.

*** Bukit Nusa Indah. . seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora. Dia hanya tersenyum. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas.processtext. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa.. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. tak terdengar sama sekali oleh Wening. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. dibantu sanak saudara yang ada di situ. dia tengah menari dengan jiwanya. khususnya pada bagian tangan.html Irfan mencoba meringkus istrinya. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. 982 1 Gerak tari Jawa. http://www. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto. Wening bahkan tak melawan. Karena saat ini. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda.. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya. Wening tetap menari.

processtext. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Opsir itu murka dan menampar mukanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. setelah mendapat laporan dari seorang kacung. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan.com/abclit. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. http://www." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan." katanya dengan gusar.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu. Justru sepanjang digelandang. Seorang opsir dan dua pembantunya. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara. . Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang.

" katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. .Generated by ABC Amber LIT Converter." Opsir itu memerintahnya. Tuan. tentu tuan akan mengerti lagu itu. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya.processtext.com/abclit. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum.html "Aku seorang seniman." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. Itu lagu Jawa." jawab sang opsir." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa." jawabnya dengan enteng. Saya bicara sesungguhnya. http://www. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa. bukan seperti pemberontak macam kamu.

Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira. Tentu saja tuan tak mengenal saya. "Saya baru datang dari Surabaya." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus. Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah. "Oh. tuan sungguh berbudaya. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. http://www. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami. Saya tinggal di sana selama tiga tahun. Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama." katanya dengan bahasa Jawa yang halus.processtext." "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit." katanya. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas. tuan. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. Tuan benar-benar memiliki darah . "Aha.

masih menurut opsir kami.com/abclit." katanya. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh. Telah saya cari . Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Dan yang ketiga. "Ah. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi. dan tinggal di Paris selama dua tahun. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. "Hapuslah darah tuan." "Ah. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. ia melirik sebentar ke arah lukisan itu." katanya. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. Saya pernah merantau ke negeri tuan. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. menurut pengakuan opsir kami. tuan. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas. Kedua. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini.html seni yang kuat. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. "Ya." katanya dengan senyum simpul. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin.processtext. saya kagum pada tuan. http://www. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya.Generated by ABC Amber LIT Converter." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu.

"Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. http://www. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya. . Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. "Tentu saja. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. Multatuli.Generated by ABC Amber LIT Converter.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa." katanya." "Oh. Ucapannya tajam. Itulah sebabnya saya sampai di sini. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar." sergahnya. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi.com/abclit. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. "Saya seorang penulis. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda. Tuan. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami. mengetukkan jemarinya pada meja. Rencananya berjalan mulus. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini.processtext. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. Dia amat menghormati kesenian. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya.

Terang.com/abclit. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. di belakang rumah serupa gubuk.processtext." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. Yogyakarta. rebah di halaman.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. Edisi 04/30/2006 Bulan. tempat . http://www. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia. selaksa celurit menggantung di dinding. dan selamatlah aku dari hukuman mati. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Segaris cahaya menelusup. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur. bilik-bilik kandang. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi.

Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. Cericit tikus. di tempat yang sama. perlahan redup. Tatap matanya lelap. Pada Gani. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. serupa pengembara letih. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. ”Bilang sama eppakmu. . Gani belum kalah. Namun entah. beberapa kanca Gani. ”Dulu. mau merampas hak kami. Paman. Madrusin. Lalu. memegang tangan. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. Ia terdiam. saling berpaut. Nasib tak bisa ditimang.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. ”Kamu. tiba-tiba. atas keputusan Gani. Pada Asnain. ia tidak langsung menuju rumahnya. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. Paman. beriringan. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. mencintai dan dicintai. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak.Generated by ABC Amber LIT Converter. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. dilepaslah baju hitam Madrusin. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. merampas dan segera menyeret keduanya. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Madrusin segera menghindar. campuri.. paman. masing-masing dibawa pulang. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. bersama Luki. tidak pantas jadi suami Asnain. kecipak air dari padasan. Kok. Musdar.. tak menyia-nyiakan kesempatan. calon istrinya yang telah raib. ketika itu. eppak-embuk. Dan sekarang. Di benaknya.processtext. Madrusin bisa mengelak. Begitu pun.com/abclit. Lenguh sapi menggaung. kecewa kepada eppak-embuk. Memang tidak pulang. Sengaja. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. Beruntung. berontak. krik-jangkrik. ”Lancang benar mulutmu. Mail. Madrusin. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap.” Gani geram. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. Kalau. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. Ya. Kami tak ada masalah. yang belum lama ini. menuju arena kerapan sapi. Serupa tarian rombongan seronen. decak cicak. kala itu.html tinggal Madrusin. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. Hubunganku dengan Asnain. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. ”Bagaimana mungkin. Cobalah sedikit sopan. Gani. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. Bulan. http://www. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. waktu itu. Paman. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. tanpa sebab-musabab jelas. menepikan bayang. Beruntung.

processtext. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri.orang kampung kami. sepagi ini. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. (Tapi tidak. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. Terang. Hijau daun-daun. eppak-embuk. bisa dibilang. Kita bertemu beberapa bulan lagi. Siapkan sapi-sapi andalannya. Kalau Gani. Atau. Madrusin. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. (sebagaimana kebanyakan orang. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). Asnainkah. Pertengkaran. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. Gani kala itu berang. Ia mengernyitkan dahi. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. mengingat pesan dari Gani. ilalang bagi Madrusin.Generated by ABC Amber LIT Converter.) Sepagi ini. Bahkan. menyabit rumput sebagai pakan sapi. mengusap. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti.com/abclit. lengang. Madrusin benar-benar gelisah. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. apa maksud dari semua itu. Madrusin terpaku. Sesekali. semenjak ia berusia sepuluh tahun. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. Madrusin yang gelisah. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. kandang dan pematang.html Langit tampak lebih cerah. Ya. Keputusan sepihak. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya. Ia nikmati secangkir kopi. belum kalah! Gani memalingkan muka. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. Asnain. seumur hidup baru kali ini. Ya. Terasa. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya. http://www. menggaruk. kepada Eppakmu. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. Entahlah. Madrusin pun gairah. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini.

”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. Selang beberapa saat. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. apalagi sampai ia kecewa. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. Tentu saja Madrusin tak ingin. apa gerangan yang membuat Gani. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. Sebagaimana tradisi di kampung kami. Bukannya ia takut dibunuh. celana komprang berlapis sarung. Madrusin mendesis di antara kebingungannya. tiba-tiba.” imbuh Imron. Sementara. Madrusin.com/abclit. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. http://www. Gani menunggu terlalu lama. Ah. Pada Asnain mantan tunangannya. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. Madrusin penuh tanya. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama.html merunduklah serimbunan ilalang. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga.” desisnya. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. Untunglah. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya. Karuan celurit itu luput sasaran. Madrusin. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. . meski sebenarnya ia ragu dan curiga. di sela kegelisahannya.processtext. dijemputlah celurit. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan. cepat menghindar. Ia kenakan peci dan baju hitam. ”Ya. ”Asytaga. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. saling meminta maaf.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. Tidak. cepat ditunggu kakek.” Madrusin tergagap. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori.

sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. melihat Gani. Tidak. Asnain sudah ada yang meminang. tenang. ada yang perlu dibicarakan denganmu.” ujar Imron. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. Sin. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. wajahnya berkerut. langsat warnanya keemasan.” imbuh. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. Ranting-ranting pohon menggantung. ”Itu. ada apa. menunggumu. beriringan menuntun sapi. di antara mereka sudah akrab dengan alam.” ”Tentang. Ia masih ingin kamu jadi suaminya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kakek. ”Sebenarnya. Lampu teplok menyala remang. menggantung pada batang bambu atap kandang. Madrusin tergagap. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. menampakkan seseorang yang sedang patah hati. ”Tapi.processtext. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar. tak kunjung jatuh. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama.com/abclit. Imron. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. barangkali sudah lama menunggu. ia duduk.” Mendadak. http://www. Mata Madrusin nanar. Sebagian di antara mereka membawa obor. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. ia . tubuhnya agak bungkuk. Ron?” ”Barangkali. pada batang pohon dan buah siwalan. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. orang-orang berjalan bersama. Sesaat tubuh Madrusin tersentak. Tentu ia akan marah-marah. Asnain?” ”Tidak mungkin. Asnain tak suka kepada tunangannya.

” ”Ada apa dengan sapi.com/abclit.” Sejenak Madrusin. Pelan. ”Ada yang perlu kubantu. yang tengah duduk menunggu.” jawabnya.” ”Memang kenapa?” . Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot. kalau soal itu maaf. ”Maaf. kau dapat membujuk Eppakmu. ya?” ”Kita nego. ”O. sapi kita.html harus tenang. bernafas lega.processtext. kita?” ”Bulan depan. ”Tak apa-apa. saya berharap. http://www. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan. Man?" ”Ya. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. seraya meminta maaf didekatinya Gani. terlambat. Ah.” suara Madrusin ramah.” ”O. Madrusin mendekati Gani. Man. Madrusin.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus.

mengendalikan emosi. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. Namun.Generated by ABC Amber LIT Converter. naik pitam. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. Gani pun naik pitam.com/abclit. Lancang benar kamu. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging. untung saja Madrusin segera menghindar. Madrusin terus menjaga dirinya. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin.” ”Eppak. Paman. Man. Madrusin tergagap.” Madrusin.” desis Gani. Asnain?” ”Taruhannya.processtext. Percayalah. ”Naif benar. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat. sangat kuat dengan prinsipnya.html ”Asnain. Tak seperti biasa. dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani. Asnain tetaplah akan menjadi istriku. tak bakal mau. yang hanya sisa tradisi. ”Kenapa dengan. http://www.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf.” ”Sin. ingin menampar mulut Gani. Jogja 2004-2006 . tajam. Beliau.

Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap.com/abclit. Amat menakutkan. Para sesepuh adat. uji coba pertandingan kerapan sapi. mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa. Tadi pagi masih segar bugar. seperti korban overdosis. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat . [3] Kae." "Istighfar kak. alim ulama. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tanpa firasat. Bapak Ibu. [2] Eppak Embuk.processtext.html Catatan [1] Lotreng sapi. Saat ditemukan. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. juga tanpa wasiat. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. http://www.

Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. Sebab. menyelesaikan program doktor. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap .html membendung kesedihan. sebelum diusung ke pemakaman. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. jika ayah tidak ’pandai-pandai’. semuanya terserah ayah…." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. Tapi. Nah. http://www. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab….com/abclit.processtext. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. kampung kita. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah.Generated by ABC Amber LIT Converter." ketus Lusi. bidang ilmu politik. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. tidak segampang itu. agak sinis. tak lama lagi akan segera disembahyangkan. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati.

sedikit berdiplomasi. itu artinya kita berkolusi. Kalau saya bantu. Itu saja tidak dikabulkan bupati. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. Selama menjabat. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau.com/abclit. Hingga kini. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. "Tentu saja boleh Nduang. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. seperti hendak mengelak. Padahal. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. jaringan telepon dipasang. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. Bermohon kepada pak bupati. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas). Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan." jawab bupati. pasti akan diterima. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. mentang-mentang kita sekampung. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan.processtext. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. "Iya pak. agar si Bujang Paik. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar.html ke rumah dinasnya. ceritanya akan lain. tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. menghormati beliau. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. Tapi. "Daripada menganggur saja. meski tidak menjabat bupati lagi.orang nagari Sungai Emas. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Sedikit demi sedikit ia kumpulkan. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Ah. Meski sudah pensiun. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton. biar mampus!" umpatnya. http://www. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu.

entah sampai kapan. Lagi pula." "Ah. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. Ironis! Namanya Sungai Emas. Sementara itu. mengadu peruntungan ke Jakarta. Kematian yang misterius. petugas parkir. tapi kini sudah mati. seperti tabung. bupati sudah tiada. sok jujur. hanya tinggal nama. Tak dihormati lagi. lurus tabung. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan.html Sayang sekali. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. http://www. Genap tujuh hari kematian bupati. dasar orang jujur. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). kasar benar kelakar sutan. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. kuli bangunan. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. Maka. Anak-anak muda menganggur.processtext. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Sebenarnya. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah." balas kak Pi’ah. tidak pula penyakit kronis. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. tak layak tempuh." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. Apa boleh buat! Kini. tukang jahit. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. Sejak itulah. jalan satu-satunya adalah. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut . tak jelas juntrungan. pergi merantau. agak kesal. pura-pura tidak paham. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. satpam. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. Terlalu lurus. janda tua pemilik kedai kopi. Tak ada biaya. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Ua-ha-ha-ha…. Namun. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.com/abclit. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang.Generated by ABC Amber LIT Converter. bupati mulai dimusuhi. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya.

mulai bersemangat. http://www. Sebab. kematian selanjutnya. Namun. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Bagaimana menurutmu?" "Nah.Generated by ABC Amber LIT Converter. bisa saja jauh lebih mengerikan.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Meski diam-diam. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. "Tapi. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Bila kelak ia memenangi pemilihan. di nagari Sungai Emas. itu sama saja artinya dengan bunuh diri." Kelapa Dua. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. Tapi. kali ini sambil bergurau. "O. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. Lupa saya. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. Kabarnya. Lagi pula. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri.processtext. ganti bertanya.com/abclit. 2006 Catatan: . "Putuskan saja tali jantungnya…." jawab Marajo Kapunduang. "Oh. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. kini ia pejabat eselon di Jakarta. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. hanya akan mengundang musibah baru. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. Sejenak si Datuk menerawang. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. Tak bakal berhasil. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. Iya. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Kenekatan macam itu. itu dia yang kita cari selama ini.

kalau memang demikian adanya. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda.com/abclit. "Betapa beruntungnya kamu …." Beruntung? Hmh. akting murahan. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. "Dermawan. dari perut yang belah.processtext. saat itu. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. Lalu meluncur. Tidakkah mereka memang menggali. rakus. "Itu ayahmu." Timpal teman lain. Tangis dibuat-buat. sodoran mike. tentu saja. tawa diejan. "Gagah. julur perekam. duh tampannya. http://www. tentu pula. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. darah. Dan. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. gadis itu akan sering berada di depan televisi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. ia pikir itu bisa saja. Menggenang dari kepala yang rengkah." sebelum kemudian ditutup. awet muda." "Terkenal. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah. janji palsu. kaya. Lima tahun setelah hari ini. si ayah. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata. . selalu darah. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. masuk ke dalam sumur.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. oh sungguh tak tahu malu. tak lebih seorang dungu. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. Karena. omong sok tahu. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). cengengesan. Mengangguk-angguk. Mengalir. saat itu semua tak penting lagi. entah sampai kapan. melempar senyum kiri-kanan. Di depan kamera. temannya akan berkata. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. Ayahnya sendiri bukankah juga. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum.

Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. lelaki. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. berputar-putar bagai melayang. kepada dirinya. ke angkasa. pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). walau samar (bagai dari alam bawah sadar). ia teringat black-hole. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. angguk sopan—keramahan itu. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. meruang merongga. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. atau seperti apakah. tentu. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. peduli apa. Merangkak (rambut keriting. takut-takut. Ke angkasa? Bagaimana. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. Dan begitulah ia. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. dengan melayang? Ah. lantas melesat. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. Tengkorak suaminya. ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa…. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. si ayah … ah. Lima puluh tahun lalu. Disedot? Hati-hati.html "Dua belas tahun putusan ringan. lenyap tiba-tiba. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. entah kenapa. sumur. Dan suatu hari. kulit hitam. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. kalau saja wartawan tahu. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). Black-hole. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. Melesat? Ya. . pernah muncul dalam hidupnya. nyembul-melesak. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. Senyum. mengerang-erang. lama-lama. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. http://www. samar pantul wajah. berteriak. menjulurkan leher lambat-lambat. Terangkat. menjelma ada. Serasa disedot. Bahkan kepadanya. kadang ingat kadang tiada.com/abclit. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar.processtext. sumur itu. Black-hole. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. serta-merta duduk. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul.Generated by ABC Amber LIT Converter. lubang hitam di jagat raya.

seperti kata damero juga. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. dedaun. ular. tidak. http://www. pelan-pelan bergerak. dan kemudian menjelas. Itu biasa bagi mereka. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. Hidup? Ya. patung-patung itu. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. membalikkan tubuh dan berlari. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). tentu bukanlah tanak. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. goyang pantul wajah. Tapi hanya sebentar. Merendahkan tubuh. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. Beberapa saat sesudahnya. Tabuhan yang ganjil. akan ia tinggalkan? O. Oh. tak boleh bertemu dengan siapa pun. dengan menegarkan dada. lebar dan luas. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . ia kembali melangkah.html Ia berdiri. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. dan tubuhnya bergetar. Kadal. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. yang disebut jangka waktu tertentu. Pemandangan yang mulanya juga samar. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. Maka semua ini. Sang Pencipta. Tetapi itu. pelan menghilang. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. Jadi inilah ia: Fumeripits. duduk. pelan-pelan menjulurkan leher. lalu merangkak. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. Suaranya tak hanya mengentak. mendekati tengkorak suaminya. Dua sosok? Dua orang? Ya. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. ia tahu cara mendapatkan. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. dari kayu-kayu. Oh! Apakah. dan tersandar ke dinding. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. di kedalaman geronggang mata. Riak kecil. umbi-umbian yang bisa dimakan. Berkelana di hutan. Sumur. Dan yang kini. lalu berganti dengan pemandangan lain. sumur itu … tampak begitu jelas. jelas tak masalah. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. tiba-tiba hidup. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. telah menemukan jawab. tengkorak suaminya. geletir air.processtext. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. semua akan ia peroleh dengan mudah. khusuk menabuh tifa. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. ia lihat pemandangan itu: seseorang. Oh. sumur melesak dari rongga mata. tetapi juga mendayu. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. Juga berbagai buah. Desoipits dan Biwiripits. Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa.com/abclit. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. patung-patung kayu yang berserakan rebah. Maka. Semakin jelas. mulanya samar dan kemudian jelas. Tetapi … itu. tikus hutan. semakin jelas.Generated by ABC Amber LIT Converter. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. melainkan dengan mencuri.

jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. batu merah delima. kelebat kapak. membuat ia limbung. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. Tetapi. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. dalam rongga luas yang bagai semesta. Hari telah malam. seperti meremehkan. Dan kini. pemandangan ini tentu juga akan hilang. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). Ayun tangan. menyembur-nyembur memualkannya. Sampai lama. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. O. pundak lepas. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. darah yang memancur. Lagi. Lagi. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. Tetapi ternyata tidak. rujak degan. dan dingin. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. tirakatan semalam suntuk nglakoni. darah menyembur. http://www. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. ujung dini hari. Crass. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. 3 jam. Semakin dekat. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. seperti nasihat gurunya. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. menyembur-nyembur. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. minyak bondet. leher tertebas. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. rasa mual itu. nyata? Dan tiba-tiba. dupa china. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. mata rantai. Dengan hari Kamis ini. atau jarum emas. dada. Dua jam. hiasan mahkota atau entah apa. orang masih berseliweran di sana-sini. tanpa sadar. cras. Senyum seperti mencemooh. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya.html tradisi pengayauan kepala.processtext. dijulurkannya kaki ke dalam sumur. dan dindingnya—melingkar searah . Darah. pusing yang kemudian menyusul. itu bohong. mangkok.com/abclit. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. Ia pun dedekep. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. ketika waktunya tiba. nyata? Darah. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. Biwiripits. lalu rebah. Sepuluh menit. crass. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. oh …. crass. darah. 1 jam. 30 menit. darah. cincin. walau sudah senja.Generated by ABC Amber LIT Converter. perut … oh. mulai nenepi. Ah. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam.

Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. lima hari lagi. Lima hari lagi. perempuan juga. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. jambu. . nangka. Menyembur-nyembur…. Tetapi. "Aku berhasil." Ya. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. Crass . Crass.processtext. Dan seorang lagi. Selasa Kliwon itu. Tubuh lelaki itu bergetar. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. Tetapi nanti. leher putus. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya. Lalu gumam. lima hari lagi. takkan tampak sama sekali. Menajamkan mata. Desoipits-Biwiripits. "Selasa Kliwon. Crass. Selasa Kliwon…. tetapi subur bagi pohon jati. Darah. Senyum lebar yang bagai tertawa. pundak lepas. dibukanya mata. jauh dan kecil. belimbing. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus. sejenak. Payakumbuh.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. "mengangkat" si guci dari sumur. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Darah. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Lalu pelan. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. yang namanya guci. Selasa Kliwon.com/abclit. menatap kosong ke televisi. akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. terutama buah-buahan seperti mangga. Memancur-mancur. Seperti oase. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan." Ya. suku terasing juga. Dan di sana. Guru. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Hela napas lega. Lima hari lagi….Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka.… Darah. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M.

Pak Parto. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Walaupun demikian.Generated by ABC Amber LIT Converter. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. walaupun agak jauh dari batangnya. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. setelah memeriksa dan membersihkan kebun.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. seorang yang berusia setengah baya. bidah. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. cuci. bahkan bisa dibilang fanatik. Tetapi. http://www. Untuk praktisnya. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. Sebagai penjaga kebun. Guna menjaga tempat mandi. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Istrinya ikut pula memijat. Bahkan. yang penduduknya beragama Islam santri. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. dan kakus. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. bukan sembarang air. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Pada waktu siang. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Namun. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. dan churafat.processtext. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. Saking besarnya. Pak Parto melakukan praktik pijat. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. yang dibantu oleh istrinya. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai.com/abclit. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. demikian panggilan akrabnya. singkatan dari takhayul.

bukan ke dukun syrik.processtext. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu." kata Thohir dengan nada ketus. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu. Pak Thohir." kata Kyai Fauzan. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. http://www. yaitu Sang Penjaga." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. "Itu syrik.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. "Tapi Kyai. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah. demikian nama pemborong itu. "Wah. bidah. orang-orang desa sulit diberi tahu. bagaimana caranya memberantas takhayul. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya." kata Kyai Fauzan Saleh. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. . orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai.

" jawab Thohir memakai bahasa santri." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi." kata Thohir menjelaskan usulnya. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. Innal Batila kaan zahuko. Di atasnya persis kita dirikan masjid. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu. Pertama.com/abclit." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini. http://www.html "Tapi. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan. Kedua. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". rakyat harus dibuat simpati dulu. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa. Pohon trembesi terkutuk itu. MCK menggantikan kolam yang sekarang. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. masjid. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing." "Begini Pak Kyai. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai." jelas Thohir lebih lanjut. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani.processtext. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. . Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu.

Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. kemudian MCK. Mereka pun marah.processtext. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. "Wah saya juga tidak tahu. mula-mula membangun masjid. seluruh bangunan itu selesai. Tanah longsor mungkin gempa bumi. Pada suatu hari Jumat. penyakit menular. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. Dalam tempo hanya enam bulan. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Parto berkata kepada para pengikutnya. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas. atau kelaparan.com/abclit. Jika pohon itu ditebang. http://www. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu. "Lagi-lagi takhayul. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. Dengan kembali kepada yang benar. .html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya." tangkis Kyai Fauzan. dan gedung puskesmas. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. maka Sing mBau Rekso akan marah besar. al ruju’ ilal haq. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo.

Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. Setahun kemudian. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. . bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. "Ya betul.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. timbul suatu gejala yang aneh. terutama bangunan masjid." jawab Parto. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya. Tidak saja air tidak lagi mengalir.com/abclit.processtext. terutama masjid mulai retak-retak. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai. http://www. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi.

Jakarta.html "Waduh. membuat pagar bambu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. mengecat kamar mandi." jawab Kyai Fauzan. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Kenyataannya. memasang kabel-kabel listrik. Tanya saja pada pak insinyur.processtext. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Tapi aku akan mencobanya. karena . Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud. http://www." jawabnya sambil tertawa keras. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. bangunan rubuh bukan soal agama. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Memperbaiki talang yang bocor. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat. memperbaiki engsel pintu dan jendela.com/abclit. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang. hidup dengan 460 watt. pemborong itu merasa tersinggung. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik. Tidak cukup untukku hidup. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. menggali lubang untuk resapan.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Wianta. Rumah ini sudah dua tahun kosong. ada bilik sederhana berdiri. http://www. He-he. Rumah itu sebuah kubangan besar memang. tempat seorang petani biasa beristirahat. termasuk mengusir rezim kesenian. aku menjadi sangat kerepotan.. Tengkeyu. karena pemakaian yang berlebihan. tengkeyu. Katon. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Sebagai seorang penulis. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Di sebelah rumah. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka.com/abclit. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya.processtext. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia.. beberapa lukisan berjamur. Ah. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. kadang aku biarkan listrik tetap mati. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur. man. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. . Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. tengkeyu. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu.. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Han.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Tak ada orang yang mengontrak. Kadang aku sebel. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Kalau listrik tiba-tiba mati. Karena sebel. Boi. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Beberapa teman membantuku. tidak terlalu membutuhkan listrik. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain..Generated by ABC Amber LIT Converter. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. dari teras depan hingga kamar mandi. Kadang aku ragu. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama.. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Terus dikeduk.. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan.

Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Kopi dan Kremi.com/abclit.html timbunan pasir yang mengotorinya. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang.processtext. Lembab. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. aku pernah datang ke rumah ini. Pelukis perempuan itu sudah mati. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. Mata memandang mata. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Sepasang anjing kami. lalu mengalami kecelakaan dan mati. Waktu yang membuat sebuah pintu. http://www. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. Ada di depanku. kecemasanku muncul lagi. Mungkin tubuh mereka seperti angin. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. Mata memandang mata. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Mata memandang mata. membersihkan diri dari kotoran. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. Antara aku dan genteng kaca. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. tapi lukisannya masih ada. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. kadang kilatan-kilatan petir. tetapi karena lembab. Kira-kira 10 tahun yang lalu. Dadang menyewa tanah ini . Seorang teman bercerita. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan.

Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. karena dia harus pindah ke kota lain. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. kalau hujan besar. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. di Ancol. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. . entah untuk rumah atau untuk ruko. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok." jawab Dadang. diambil oleh beton-beton. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi.processtext. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya. http://www. "Ya. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Betapa malangnya hidup ini. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok.com/abclit.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu.html selama 15 tahun. "Dang. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. Aku teringat 1. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. lalu berdiri sebuah bangunan baru.

Rumah itu memang terus bercerita. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Ketika dia meninggalkan rumah ini. Hmmm. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum.processtext. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Ketika aku tak punya uang. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. . Aku menyambutnya dengan ember-ember. http://www. Aku terus menggali. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air..html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Hmmm. Manajer itu orang asing. Kalau aku mati. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. He-he-he. sayangku. hari ini Petrus akan datang bersama Miko.000 patung Dadang ada di dalamnya. Dan aku mulai kehabisan uang. aku harus kembali menimba air dari sumur. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. rumah itu mirip dengan peti mati. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami.. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku.com/abclit. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. dan sebuah harmonika. saxophon. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri.. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. 1. Fit. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang.

Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas.com/abclit.. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air.. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. . Langit mulai terang. . Waktu terasa dingin. bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. Mata menatap mata. Perutku seperti tertekuk ke dalam. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. lalu mendarat kembali. menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air. dan bukan bayangan mata air.processtext. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur. http://www. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Aku melihat hidup.Generated by ABC Amber LIT Converter. Asmara angsa. Mereka saling memagut dan bercinta. Angsa-angsa putih menyelam. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata... Kalau itu juga adalah bayangan mata air.. menyembul. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Hujan mulai berhenti. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember.

Usaha Rothbart berhasil. Pangeran Siegfried. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. sangat populer di seluruh dunia. yang mengelus rambutnya. Begitu pula para pebalet teman Zahra. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. Tampak Viatcheslav Gordeev. gubernur. yang putih maupun yang merah. pernah berpentas Martha Graham. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. jatuh cinta kepada Odette. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Andrei Joukov. Odette. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Irina Ablitsova. dan jus jambu kelutuk. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. sup ikan tuna. plain croissant. kegemarannya. sebagai sponsor pertunjukan. tentang balet di Rusia.processtext. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. Sebaliknya. Odille. juga grup dari Perancis. gubernur berjanji. Dengan 1. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Rothbart sang penyihir. Dia memilih minum air jeruk nipis. Maxim Fomin. Natalya Ashikhmina.500 penonton.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di antaranya di tempat ini. Maya Ivanova. insya Allah. yang secantik Odette. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. Odette dan . balerina 21 tahun. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. http://www. pemeran Rothbart bergantian. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. ayu dan ganteng. Alvin Nikolai. yang ditemani balerina Masami Chino. Zahra. menteri. Mendengar kabar ini. Jerman.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. untuk merebut cinta Siegfried. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. pemilik istana dan telaga. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. tidak minum wine. dan pembesar negara lainnya. buah-buahan. Mereka rame-rame menikmati salad. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. memamerkan putrinya. angin sepoi-sepoi.com/abclit. ngobrol dengan gubernur. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia.

asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. siapa pun tak bakal salah memilih.processtext.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Olga Ivachenko. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. kedua adiknya. ”Odette atau Odille. ”Terpikat boleh terpikat.com/abclit. . Kakek terbatuk-batuk lagi. Begitulah. Eugenia Singur. ibu. dan Anna Vakina. http://www.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya.” tukas Kakek. Seketika. dan Anastasia Baranova. lho. Semuanya tertawa. Rothbart marah besar. ayah. Tatiana Chungunkina. angsa itu menjelma Odette. saya sih. Sekalipun dengan mata terpejam.html dayang-dayangnya jatuh sedih. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Siegfried sadar. cocok-cocok saja. Oxana Gasnikova. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova.” celetuk Nenek. juga tante dan oomnya. adalah para pemeran angsa kecil. Eyang bisa kesleo. kakek dan neneknya. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. sampai Kakek terbatuk-batuk. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. ”Awas. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Semuanya tertawa. seluruh istana bergembira.

”Itu kan mengumbar aurat.” sambung Kakek.” ”Jangan begitu. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Eyang. sih. ”Saya serius. Jika kita bicara soal kesan. Eyang. Semua tertawa. yang ndak cocok bagi kamu. Melihat kostumnya.html ”Apa.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. ”Lho.Generated by ABC Amber LIT Converter. pertunjukan itu harusnya disensor. Kesan. http://www. ”Semuanya kan tertutup rapat. ”Tapi.” ”Jangan begitu.” ”Kesan. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. Aduh. memangnya kenapa?” tanya Zahra.” tukas Zahra.” kata Kakek. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.” sergah Kakek lagi.processtext.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator.” sanggah Kakek.com/abclit.” .” tukas Nenek. semuanya terkesan jelek.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.

kecuali Kakek. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. .” ”Eyang yang kasmaran. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. kok yang disalahin balerinanya.” ”Wah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. mendadak berubah jadi filosof.com/abclit. Obrolan berubah jadi perdebatan. peradaban.” sambung Kakek. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kostum Zahra ya seperti itu. http://www. wah.html ”Wah. Eyang ini gimana. Habis jadi diktator. sih. Semuanya tertawa kecuali Kakek.processtext. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. bubar.” Semuanya tertawa.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. wah. deh. Meriah.

”Eyang benar-benar lowbrow. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. kok Eyang sampai segitunya. runtuhlah kebudayaan. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” ”Saya heran.processtext. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan. .” Zahra menukas.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” kata Oom.” cetus Kakek.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Apa?” tanya Kakek.” sambung Kakek.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. http://www. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ” sergah Tante.

” .” sela Kakek. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. ”Kostum ketat itu. http://www.com/abclit. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. Mendengar kata Kakek ini.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. ”Adalah tradisi balet.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kata Zahra. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.” sewot Zahra. Eyang. ”Jangan melecehkan negeri sendiri.processtext. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. ”Dalam KKN ada tradisi.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari.

processtext. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Eyang. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Kita bisa menuduh mereka ateis. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.com/abclit. atau lusa. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. kata Allah. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Dan itu bukan teori. . http://www.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Banyak negara yang busuk. Bukan kepada Tuhan. Eyang. Eyang. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan.” tambah Tante.” ”Hati orang siapa tahu. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Cucuku. Barangkali besok. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.” kata si Oom.

Seperti tercium setan lewat. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” tambah Nenek.html ”Coba. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang.” tukas Nenek. Kecuali Kakek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang.” sergah Kakek. saya dikasih contoh.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Dan ternyata Allah itu indah.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Lengang sejenak. Allah mencintai keindahan. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada api yang menyala-nyala. Ada air yang mudah mematikan api. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.” .. Zahra. Kita wajib memeliharanya. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. saya cuci tangan.com/abclit. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini. Anakmu bukan milikmu.” tukas Kakek.processtext.” jawab Tante. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.

cukup sulit. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. apa saja yang masih bisa .” sambung Zahra. tergetar.html ”Saya setuju. tidak mudah baginya untuk mengingat. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. Eyang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam balet. Cobalah nikmati tari bedoyo. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil. Tangerang.processtext.com/abclit. http://www. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. tidak ada pornografi dan pornoaksi. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”.” ”Sebagaimana balet. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. tumbuh. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. dengan cara rumit dan sedih. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. di sebuah tempat yang sulit dijangkau. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. apa saja yang masih bisa dipanggil. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti.

kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. Mata yang menyempit. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. sayup dan lamat-lamat. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. kalau bukan karena penderitaan? . Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya. Apalagi. Bagiku sendiri.processtext. Dan banyak telinga sudah diproteksi. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. Tugasku adalah belajar untuk diam. Suara lirih mulai terdengar. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki. bahasa yang kabur. http://www. dan apa saja yang tidak boleh didengar. lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. Ia lalu lebih sering diam. Diam. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. tafsir yang berkerumun. Suara yang groyok.com/abclit. dan bagaimana mengisahkannya. mendengarkannya. mendengarkan. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. untuk apa. dan sebuah lukisan kaca. Jarak psikologi yang jauh. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram.html tapi tidak ingin ia panggil. kadang lirih. menyimak. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. kadang membesar tanpa irama. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. juga tidak kurang bermasalah. berkaca sekaligus berkapur. Juga tubuh yang gampang gemetar.

http://www. Lalu saya bilang: Pak. Rapatnya mungkin akan lama. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. saya pergi mandi. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. ”Satu per satu. ia terlihat cukup tenang. Lulus sekolah. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. kalau ada guru lain yang menggantikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu mereka segera melesat pergi. saya ini seorang guru. Nanti. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. Sesekali aku menengok ke arah pintu.” Ia diam. sepi itu begitu menjadi-jadi. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. ”Saya benar-benar tidak tahu. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. saya menciumi wajah murid-murid. Mbak. ”Pagi itu. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini. Kembali matanya temlawung jauh. Waktu saya kecil. Rombongan itu mengikuti dari belakang. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya….processtext. ”Mereka sudah datang. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. dan jangan nakal. belajarlah dengan baik. disusul oleh seekor yang lain. berdandan. hanya anak seorang janda. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar. ”Sesampai di sekolah. Ya karena melihat guru-guru saya. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak.com/abclit. apa salah saya. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. Saya ini dari kecil miskin.html Tapi. saya hanya ingin menjadi guru. Di luar . mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku.

http://www. lalu mencoba mendiamkan si bocah.com/abclit. neraka katut. neraka katut. Tiba-tiba di luar mendung. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. mirip suara kanak-kanak. matanya semakin berkeruh. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur.processtext. Bu…. Bu…. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah. . Tubuh tuanya gemetar. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil.” ”Sampai ke suwarga nunut. wong saya memang tidak tahu. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang.html kegiatan mengajar. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. ternyata tidak…. Saya mengira bahwa saya selamat. Wong saya tahunya. ”Dua tahun kemudian. saya diambil lagi…. Saya sedih sekali. Mbak….” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. si bocah digendong ibunya.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung. Ketika tiba giliran saya diperiksa. ”Maaf. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. Tangisan itu menjauh. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. Tapi…. saya aktif di organisasi itu. Ia dengan segera keluar. ”Ya…. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. Saya juga tidak mengerti. ia berkata. kembali duduk di sampingku. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi. dan aku tidak tahu mana yang tepat. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah. namun lirih. Mataku selamat dari rasa silau.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda.Generated by ABC Amber LIT Converter. dengan nada yang seperti berteriak.

saya ditelanjangi…. Ia mendekati saya. Saya dibawa ke pabrik tebu. Saya memohon berkali-kali. Ia menutup pintu kamar. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. http://www. di dekat leher. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar. ingatlah istri Bapak. ingatlah anak perempuan Bapak….processtext.” Ibu itu terdiam. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar.html ”Yang kedua itu. Mas…. Saya langsung diangkut begitu saja. tapi saya tetap ditelanjangi…. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. Ibu itu diam.com/abclit. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. Tapi dia tetap mendekati saya. . Saya bilang: Pak. Sesampai di kamar. setelah saya bilang seperti itu. Saya memohon ampun berkali-kali. kemaluan bapak itu mengkeret. Lalu orang-orang itu pergi. saya ini belum bersuami. tanpa basa-basi. Saya baru masuk saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. Kalau Bapak punya istri. ”Maturnuwun. kalau Bapak punya anak perempuan. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. Mbak. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. Tapi tidak ada yang menggubris. dan mengambilkan segelas air putih di meja. Tubuh saya penuh dengan kutu. Lalu membuka celananya…. lalu… mengencingi saya…. ”Eh…. Aku menawarinya minum.” Lagi-lagi.

Saya tidur di sebelah utara. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. ke kantor polisi. rambut saya itu panjang.” Ibu itu terdiam lagi. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. Yang tidak mau dipukuli.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. Dulu.” Ibu itu suaranya mengecil. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. ”Setiap hari saya disiksa. kok diperlakukan seperti itu. http://www. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. kalau tidak saya lihat matanya. Mbak. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk . polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. menyeberangi jalan raya. saya tunjukkan tempatnya. Saya diberi pertanyaan yang sama. saya juga dipukuli. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. Lalu…. Setelah itu…. lalu kalau diperiksa. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh.com/abclit. Kami bertiga menunggu. hampir sampai lutut. mengguntingi rambut saya. Kalau saya jawab. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu. mereka itu. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. ”Suatu kali. semakin lirih penuh dengan tekanan. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu. saya juga dipukuli. Eh. Kalau tidak dijawab. muka saya dipukuli pakai sepatu. saya juga dipukuli pakai sepatu. apa ya layak…. Saya ini manusia. Semua serba salah. tapi katanya saya dianggap menentang. saya minta rambut saya. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. memperlakukan saya seperti bukan manusia. saya dibawa ke sebelah selatan. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.” Andre mengambil minuman di meja. Tapi. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. saya juga dipukuli. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar.processtext. Di kantor polisi itu.

Sepasang mata Mirna bobol. Tubuh Si Ibu terguncang. Saya mengulurkan gelas air minumnya. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. teriak kesakitan dan tidak didengarkan. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya. Mbak. Sebelum saya memakai pakaian.” Semua diam. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. Dipotret. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Saya ingin tahu. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu…. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu.” Ruangan hening. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. isak Mirna pun lenyap. ”Sebelum melakukan itu. wajahnya yang putih segera memerah. Tintrim. Di dalam ruangan lembap ini. Ia minum dengan pelan. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. Sepintas yang sempat kudengar.processtext. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti…. Ibu itu bangkit lalu keluar. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. Selesai kejadian itu. saya harus ke tempat kesripahan. http://www. ”Dan rupanya itu belum cukup….Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu.html mengambilkan minuman. Mas. ”Mbak. Saya menjerit.com/abclit. Ibu itu masuk sambil berkata. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata. dan itu dipotret. Andre membuang muka. Petugas-petugas itu malah tertawa. seperti apa itu.” Ibu itu kembali diam. Kok ada yang dinistakan seperti ini….” . Ada tetangga yang meninggal dunia. janji Tuhan tentang keadilan. Lalu menghirup napas agak panjang. saya minta waktu untuk berdoa. Gerimis turun di luar. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana. Tidak ada suara cicak.

alat audiovisualnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Usianya paling 12 tahunan. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Hari masih gerimis. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Di dalam taksi. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Ketika ibuku menyapa. Andre merapikan alat. Berkoreng di lutut kirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. semen. kapan kami bisa kembali lagi. Mirna lalu mendekati Si Ibu.html Kami mengiyakan. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu. http://www. Kadang berloncatan.tara aku keluar rumah mencari taksi. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. mungkin memastikan jadwal. seperti menjolok sesuatu. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. dan hanya bisa bertanya. berbincang pelan. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil.com/abclit. Edisi 03/12/2006 Selalu.processtext. Selalu bercelana pendek kucel. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Setiap pagi. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa.

Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska.com/abclit. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Tak ada keruwetan. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. http://www. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Ia menurunkan kaca mobilnya. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. yang kata Mama. Ia ingat perkataan Oma. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. mata dengan sebilah pisau yang menancap. Ia suka menatapnya berlama-lama. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Memandang mata itu. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan ia selalu menggambar mata. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan. saat ia berusia tujuh tahun. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang.html bocah itu.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. Tapi Papa kerap menghardik. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. . akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. ”Mata itu seperti jendela hati. ia selalu disuruh menggambar.processtext. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar.

Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Mata yang tertutup jelaga kebencian. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. seperti mata bocah itu. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Begitu bening begitu jernih. Rasanya. Gustaf kini bisa mengerti. Ketika berjongkok.Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Dan ia makin ingin memiliki mata itu.processtext. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. http://www. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Semua itu hanya mungkin. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Mata yang berkilat licik. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. Membuat Gustaf berpikir. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. batin Gustaf. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. pecahan kaca yang menancap di kornea. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Eceng . Setiap menatap mata seseorang. kawat berduri yang terjulur panjang. Karena itu. padang gersang ilalang.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Setiap kali terkenang mata itu. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly.com/abclit. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Mata yang penuh kemarahan. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda.

Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. dan melemparkan recehan.com/abclit.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. http://www. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya.processtext. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. semuanya sudah tampak sempurna. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Bila ia bisa memiliki mata itu. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gustaf tersenyum. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. . Bila perlu ia menculiknya. pikirnya. Begitu lift itu tertutup. Ia ingin membuka jendela. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. sambil berbicara kepada temannya.

http://www. Meneer. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri. Dengan takzimnya. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya. menyeka tubuhnya. baca koran di ranjang. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. ia memberi salam. asal kota tempat tinggalnya. ia menyapa. makan di ranjang.html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Selamat pagi. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela.processtext. apa pun di ranjang. mengantar sarapan.” . membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. pekerjaannya. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya.com/abclit. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang. meletakkan selembar koran. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu.

Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. Tetapi. angin laut masih terus berembus dengan kencang. ”Sekali Anda membiarkannya.” mulut lelaki itu menyahut. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar. seterusnya akan diremehkan.” kata si pemuda. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. Tetapi. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun. http://www.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. Meneer!” ”Ya. menggenjot sepeda dari rumah.com/abclit. Meneer. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. lalu bangun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun. apalagi gusar. saya terpaksa melakukannya. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya.” jawab lelaki itu.” >1<”Ya. empat kilometer jauhnya. pemuda itu menyalakan lampu. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. . Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut. Ayo bangun. ”Ya. tidak demikian halnya dengan lelaki itu. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya.” sahut lelaki itu singkat. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. apa boleh buat.processtext. tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar.

”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. Anda renungkan..” . bukan?” >d 1<”Mmmm.perang dingin sudah berakhir.. Kendati bukan jawaban yang memuaskan. si pemuda terus saja mengobrol.. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya.. kenapa saya berada di sini. saya akan kehilangan satu setengah tahun. bayangkanlah.. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya.html ”Kalau tidak. ”Coba. kerja kasar seperti ini.com/abclit. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer..” ”Nah.” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja.processtext...” ”Hhmm.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”.” lelaki itu mengerinyutkan muka. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu. ”Yaaa. tidak memerlukan rekrut serdadu baru. gajinya kecil Meneer. Sebabnya.” ”Anda tahu sekarang.” kata perawatnya. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan. http://www.

Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. kecuali ya. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. Itu saya tidak bisa. Tragisnya.. dilontarkannya pertanyaan. dan ya yang sangat menjemukan. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. .processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Ya. http://www. Tetapi.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar.com/abclit. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang. Tetapi.. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. Bosnia. Membunuh lalat saja saya tidak tega.” ”Ya? Tetapi. ya. tak ada juga tanggapan yang didengarnya. Irak.” Suara lelaki itu terdengar datar. Saya tak tahu. Anda pernah berdinas di mana.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. pikirnya. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. Meneer. Maka. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya.” ”Mmmm. dalam satuan apa. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. misalnya.” ”Mmmm. Di Serbia. Dan ia mendapat kesan. Kroasia..” Jawaban yang meragukan tentu saja. sebagai profesi. ”Perang memang mengerikan.

”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya. http://www.” ”Terima kasih.” ujarnya.” ”Ya. lalu ditutup lagi bila udara dingin. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Tetapi. Meneer! Lakukanlah mulai esok. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. Cukup beberapa menit saja. . bukan? Cukup sambil berbaring saja. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan.com/abclit.” ”Ayo Meneer.” ”Ya. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. lantas mengganti seprai. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. Ia lantas beranjak ke jendela. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. akhirnya ia gagal menemukannya. mendesing di sekeliling lampu. ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak untuk membunuhnya. matanya nanar mengedari seluruh ruangan. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja.processtext. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat. kapan itu terjadi. Tidak terlalu sukar.

” ”Saya menentang perang Meneer. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. Tetapi. Meneer. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan. kakek saya lupa.” ”Ya. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut.” . Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga.. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. Meneer. ”Meneer. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi.. Meneer.. saya rada neuwsgierig sebenarnya. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang.. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. Konon.processtext. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan. apalagi melawan bangsa sendiri. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm. tentara Ambon memang tukang perang. mereka berada di bawah perintah penjajah.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. bukan?” ”Mmmm...” ”Mereka memerkosa wanita. Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo.html Namun. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman. di zaman dia dulu. ia mulai bicara lagi.com/abclit.

Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua.. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu. kamar demi kamar.. ”Maafkan saya.. http://www. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda.. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. bukan?” ”Ahh..com/abclit. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda.processtext. Ketika ia berpaling. belum tertangkap sampai sekarang. Ia . dan mengganti seprai.” ”Mmm. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. Tragisnya. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman.” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. ya.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya.” si pemuda nyengir karena merasa disindir. ia melangkah keluar dari kamar. Ia lantas bungkam. Delapan ribu orang Islam. Tetapi.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. ”Saya terkadang lupa. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama. Meneer. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. seperti baru sadar. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama. menukar piyamanya.. Tidak terlalu sukar.

” ”Tetapi. perang perlu dilanjutkan.” ujar lelaki itu.. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. ”Ah. tetapi menggumam dalam hati. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer. tak semuanya berhasil dijinakkan.” Pemuda itu melangkah keluar.com/abclit.processtext. bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara. Panggil saja Patti. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. Saya kehilangan dua tangan. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya.. kata Anda. cucu tukang perang. mulutnya diam. Tetapi.” ”Apa? Anda bilang apa.. kerja sipil gajinya kecil. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau.” ”Nah. merenggut kertas tisu dari saku. tetapi. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban.” ”Ya.html melangkah balik ke dalam.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. 7206 .

dipersilakan. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol.processtext. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. . ”Pak Muis. Ajudan setengah berlari membuka pintu. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. http://www. Engku Nawar menarik nafas panjang.com/abclit. tapi meyakinkan keganasannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. berputar-putar dengan gagahnya. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. dan menutup kembali. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. ajudan itu tidak saja menyebalkan. masuk. Beberapa detik. SH dan rombongan.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Tak lama. Dengan bahasa kasarnya. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh.

Sebentar lagi selesai. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. motor. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah.html Sehabis magrib. tapi cucunya. Sarini. alamat.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik.processtext. ”Silakan Pak.” Engku Nawar mencoba bersabar. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. Sarini. habis itu saya pulang. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. minuman datang. Dari percakapan orang-orang. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya.” ”Sabar. Ia memeluk erat Sarini. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. yang lulusan kursus komputer berijazah itu.” Mendengar pernyataan itu.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis. keperluan. barangkali lima menit. Saya cuma sebentar. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. yang sudah merasa haus. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. nanti saya sampaikan. Oleh karena itu. Ambil saja airnya di sini. Minum dulu. dan jalan kaki. tuh. Baginya waktu terasa berjalan lambat.com/abclit. Ibu. Tak lama. nama. Dari ruang tamu yang terbuka itu. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. Engku Nawar telah siap bersama cucunya. Semua mengisi formulir yang sama. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil. http://www. Ia merasa sesak duduk . ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam. Tunggu saja. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. cucu kesayangannya itu. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Pak.

yakni milik Wali Kampung muda. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. Hampir dua tahun lalu. Engku Nawar harus bermuka dua. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. Mau tidak mau. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Diam dengan pikirannya yang menerawang. Pada masa itu. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. Lain halnya kalau malam telah larut. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. yang dikenal berani. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. Kapten Tulus. dari kejauhan. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. Nyawa tantangannya.com/abclit. ia masih mencoba merokok. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. Tapi. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus. di bulan puasa. biasanya mampir di warung kincir itu. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Akan tetapi. di mana ada perang. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. http://www. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Engku Nawar. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. menghilangkan rasa jenuh.processtext. Suatu malam bergerimis. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. komandan pasukan PRRI. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Dan. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. Ia lalu berdiri. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Akan tetapi. tak jauh dari Kampung Padangilalang. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. Engku Nawar merasa sangat bahagia. meski sangat berbahaya.

di situ ada Engku Nawar. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. cucunya itu sudah dibelikan sepeda . Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai.Generated by ABC Amber LIT Converter. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA. Sejak itu. Esok malamnya. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga. Tapi. Semua orang tahu. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus.html Sejak peristiwa itu. Sopir-sopir truk sampah.. mampir minum kopi di warung itu. Di mana ada bapak saya. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI.com/abclit. http://www. Tempat pembuangan akhir sampah kota. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. ”Engku Nawar.processtext. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. Bahkan. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. datang saja ke rumah sehabis magrib. Untunglah perang cepat selesai.. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya.” Ketika orang tua itu mengiyakan. Tanah itu tidak subur. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota. ia bisa hidup lebih baik. Sebelumnya. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA.. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. datang menjumpai Engku Nawar. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. para pemulung dan calo-calo tanah.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober.

hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. ”Sabar. Dan. ia akan mendapat giliran pertama. kemudian pada ajudan itu. Kalau ke kantor. Keduanya sama-sama lincah. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia akan menerobos masuk. Pak. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. tapi tidak dinyatakan. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Sarini tidak lulus. Dengan sedikit lega. http://www. ”Bapak Engku Nawar.com/abclit. Orang-orang bilang. . Kalau saja ia tidak tua. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. Tamu sebanyak itu. tanpa banyak senyum. Engku Nawar tidak setuju. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. Engku Nawar sadar. Tapi ia masih berharap. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. dan selanjutnya. dengan tanda bel listrik. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. sesuai urutan mendaftar. Ini bukan kemauan saya. yang lain seperti protes. kecuali Engku Nawar.processtext. mesti pakai uang jutaan. Orang-orang bilang. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. Pak Wali yang minta. Tiap kali ikut tes. Semula. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. nomor tiga. orangtua Wali Kota itu. Tapi.” Meski tidak dibantahnya. Di ruang yang terbatas itu. Sebentar-sebentar menjawab telepon. besar sekali. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. Tapi. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota. Buktinya? Nomor satu. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota.” kata ajudan berambut cepak tadi. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu.html motor. Padahal. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. niat itu ditekannya. tugas ajudan itu berat. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. nomor dua. Engku Nawar tidak percaya. lebih baik menemuinya di rumah.

Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. Saya hari ini banyak tamu. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah..Generated by ABC Amber LIT Converter. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. Saya pulang dibonceng cucu saya ini. 5 Januari 2006 . http://www. sudah malam. Pak. Giliran Bapak. Menguap dan cepat tersadar. ”Maaf Engku. Sekarang pulanglah dulu.com/abclit. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. seperti hendak jatuh dari kedudukannya.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu.. Di perjalanan.*** Rawamangun. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor. Merasa hendak muntah. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. Wali Kota telah berada di depannya.processtext. besok atau lusa lewat pukul dua. meski matanya juga sudah merah. tulis saja surat. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. Dan. akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. Kalau Engku ada perlu. ”Pak.

diam saja.” . tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. http://www. sekali lagi cuma diam. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dita menghela nafasnya. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis.” Perempuan remaja ini.html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). menurut dokter neurolog. Kalau kau mau. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. bisa curhat kepadaku.processtext. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Dita merasa lega. Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga. Untungnya. aku mendengar dari Mamamu. Padahal. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. ”Tina. tidak berbicara. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. Keterangan yang dibaca oleh Dita.com/abclit. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham. Ada banyak kasus yang sangat pelik. Dia capek sekali.

yang adik suaminya itu. Setelah bertemu beberapa kali. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul. ”Sayang. ”Mama.” Tina. Tulisan itu terbaca demikian. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. bukan karena apa-apa. Bram.com/abclit. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. Tiga bulan yang lampau.’ Aku mengangguk dengan cepat. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran). ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. Wali muridnya menyangka. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. punya kemampuan berbahasa yang baik. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. meneruskan tulisannya. http://www. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia tadi membelikan boneka. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam.” Dita berkata sungguh-sungguh. takut melihat kemarahan di mata Mama.html Pada jam ini. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita. ’Ini bukan kejahatan. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan.processtext. keluar dari masalah ini. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. Setelah pesta yang luar biasa itu. meneleponnya. aku kepingin pipis. yang sudah lama kau inginkan. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya.

” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. tapi diam saja. katakan kepadaku ya…. apakah itu cinta. Bisa jadi karena aku dianggap lancang. Buat Dita. yang penting belajarlah dari masalah ini. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya. kasus Tina sangat istimewa. kalau pusingmu semakin bertambah. Sehingga . karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. tahu hal itu. http://www. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku. ”Dokter Dita. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi. aku tidak tahu. Dita memegang tangan Tina dan berkata. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita. Windy.processtext. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia. Aku pastikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. suamimu yang kakakku itu. kakakku. sayang.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya.com/abclit.” ”Tina.” Seandainya kau Mamaku. Dengarlah. Bram-nya. perselingkuhan di antara orangtuanya. ”Kita saling membutuhkan. tulis Tina. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu.” ”Kamu pasti bisa. Dita menelepon. Dita tersenyum gelisah. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. O ya. ”Ini masalah mereka. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu. di seantero dunia ini.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya.” Bram menyambar cepat. tetaplah melakukan terapi bicara. tapi kami saling menyayangi.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita.

setiap selesai tulisan. . Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. Aku dulu senang. Ini berarti sangat spesial. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan. Hari ini.” Dear. tanpa mengedipkan matanya. Bude. Kemudian. sehingga mereka harus menutup hidungnya. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. terus aku ingin sekali bunuh diri. Yaa Tuhan. ”Aku merasa. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. namun Eyang bilang. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. dengan menjadi psikiater. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu. sahabat-sahabatku. dokter Dita yang baik.processtext. Pada suatu senja. ”Sayang.” Bram mendengarkan ceritanya. ”Papa dari anaknya”. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. Sebab. memasuki laboratorium yang besar. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. Sungguh. kalau Eyang tidur di kamarku. Tina datang lagi. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. kurobek-robek. ”Jadi. aku seperti sudah menebarkan bau busuk.com/abclit.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. kue kesukaanku. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. malam itu ingin tidur di kamarku. ada dongeng. http://www. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. juga pada pacarku. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. ha-ha-ha-ha. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. yang menyayanginya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. hiasan perang layaknya kaum ksatria. Namun. Inilah gambaran kaum bermartabat. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik. Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. Harap Tuan mengerti. http://www. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya.processtext. ”Jesus is mijn opstanding.com/abclit. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Tuan. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. Adapun gambar tengkorak itu. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan.

dan mencintai seni dan kerajinan. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus.com/abclit. Sayang Tuan. sebuah tubuh teronggok penuh luka. adalah yang utama di antara perempuan Belanda.html Kim Hok menggeleng. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. ”Tidak. menghiasi dinding. meninggal terlalu cepat. saleh.” kata Kim Hok memuji. apa harus kubilang untuk Nyonya itu.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati.Generated by ABC Amber LIT Converter. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. http://www. Tak lama kemudian. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Tuan. . Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu. Saya tidak akan mengatakannya. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. Tuan.processtext. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal. Tuan. Akan kubawa pulang. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh. Selamat jalan. Tuan. ah. ”Tentu saja. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. Dan Mevrouw Gubernur. ia sangat menderita. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. Aku seorang opsir biasa. Sayang. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. Ia mengelus bulu kuduknya. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Dia terlalu menderita. Sungguh. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. ”Begitulah kami bangsa Belanda.

Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. untuk menjelaskan kematiannya sendiri. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. tidak kenal. . ”Dia si pengukir nisan. ya.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. Tan Kim Hok. nama-nama seseorang. http://www. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. Lelaki tua ini.html ”Orang Tionghoa dibunuh.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia.” kata salah seorang yang mengenalnya. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga.Generated by ABC Amber LIT Converter. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab.” orang. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh. menjadi makanan lalat dan serangga. dan dilempar ke kanal. Sayangnya. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. ”Tanya saja kepada kepala desa.*** Yogyakarta. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu.” kata pemilik warung itu. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya.processtext. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala.com/abclit. Banyak nama yang disebutkan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

”Oh. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. Diganggang matahari. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. tempat jasad Pakde terkapar. Ayah kami. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. Dia adik Ayah kami semua. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali.processtext. Emprit ganthil. diiringi sedu-sedan. seperti tak pernah terjadi. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. http://www. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. karena dia tahu. Dan. Namun. dan dengan begitu menggeser pematang. dengan menggeser pematang secara licik. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. Ketika aku berusia belasan. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. Juga di dalam hatinya sendiri. sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. limpahan lumpur itu lantas mengering. Membuat malam membeku sendiri. Gerimis menyudahi dirinya. untuk mengobati kepedihan hatiku. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. Saat menyiangi sawah. . Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang.com/abclit. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. di pemakaman. Gusti….html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. kematian suaminya. Namun. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut.Generated by ABC Amber LIT Converter. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu.

mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. kebingungan. mencari kekuatan di situ. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. koé akan kubunuh!” Siangnya. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. dan manakala dadanya belum tegak benar. Paginya. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. Konon. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. mata tertutup. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. 1965.html Dia sudah mati. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. Berminggu-minggu kemudian. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. Ayah tinggal berpindah-pindah. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Takkan terkikis dari ingatanku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah. dan penuh ketakutan. dan kami anak. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. dan dia digelandang ke dalam jip. dengan diiringi gerombolan pemuda. Di bawah todongan pistol.anak yang lain. Tapi. sambil menggendong adikku yang terkecil. hati kami semua. (Oh. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. Ah. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. supaya tak ada orang desa yang . turun dari jip. http://www. Ayah menginap di rumah Pakde Samin.processtext. Sakit hatiku. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. setelah Ayah berangkat entah ke mana. mata tertutup. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. Ibu. tidak hanya sebatas pematang itu. Ayah diperintahkan bersujud.com/abclit. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. kami anak-anak. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali. Dengan cara yang sangat menghinakan. Suatu malam. Ah. Tentara. dan kepala Ayah. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. Selang beberapa hari kemudian. maka kami memercayai kabar burung itu. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. Di akhir tahun kekacauan.

sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. ke makam Ayahku.processtext. maka mendengunglah . aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. Oh Tuhan. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. katanya. Sebelum menuju bengawan. mengharukan. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. Dia. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. Setelah itu. ada semacam nista yang akan selalu melekat. gerimis mendesah dari langit. Begitulah. dia mendesak. diperlebar.com/abclit. Sesuatu. meminta berkah. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. kami kira. beberapa kali dia tertegun. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. juga dicangkuli. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. Tanpa itu. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. mengapa aku tak pernah bertanya. menghampiri bengawan. Setelah menikah. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. linggis. dari mana mayat akan diluncurkan. yang katanya. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. Cuma. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. kami pulang. dan aku belum hamil juga. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah.html melihat. Pukul dua siang sekarang. Sama seperti ketika menjemput maut. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. dan. http://www. diperlebar nganganya. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali. Peti matinya diusung menuju pemakaman. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. Mengikuti aku. menakutkan. bukankah dia juga ingin berziarah. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. ketika kami menuruni tebing. dua ratus meter ke arah bengawan. Bunga-bunga itu mengambang. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. cepat dilarikan arus. tak punya nisan. Kedua sisi. mencari Ayah. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku. Letakkan di tanah. di mana salib dan nisan berbaur. Walaupun tidak dikatakannya. dengan tangan gemetar. ”Turunkan dulu. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. Katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. itulah akhir perkawinan kami. Tak punya kuburan. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku.

Kau yang jadi kunci. Beberapa saat kemudian. terimalah saudara kami ini…. perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri. Ampunilah. dan dengan sebal. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. ”cuih…. meninggalkan jejak di tanah basah.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. maafkanlah umatmu ini. Aku maju dengan dada tegak. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto. mengiba-iba. sudilah kiranya memaafkan. orang sedesa akan tahu siapa kita.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis. ”Las…. ”Sudah berapa kali kami menggali.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. Tolong. tapi tak bisa juga. kami minta maaf kepadamu.” katanya menunduk. Dari celah dinding tepas. atas nama jenazah dan keluarganya. juga panik. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah.Generated by ABC Amber LIT Converter. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. beku.processtext. ”Jeng. Aku membalik. menguak membukakan jalan untukku. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. Ibu keluar menemui mereka di beranda. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. http://www. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. Dengan kepala tertunduk. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. ”Kami pasrah. diiringi isak-tangis. . sarat di wajah para pengantar.” Kuhela nafas. terpaksa mendobrak adat kebiasaan. Kalau kau maafkan.com/abclit. ”Ampun…. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. Seperti mengutuk diri sendiri. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. Sia-sia. mendekati peti mati.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. biar Gusti mau menerimanya. seperti berbisik. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan.

tidak mengandung arti apa pun. Tapi Patek. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. Namun. Desa Kwangko. Namun sebaliknya. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. karena perilakunya yang aneh. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. terus menjauh. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. Jika bicara. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. kira-kira delapan puluh kilometer. sebelah barat Desa Kwangko. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. mulai tinggal di Dusun nCuni. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. seorang idiot. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Itu pun ia tidak banyak omong. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. http://www. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. Ia selalu menundukkan kepala. ia tidak menjelaskan mengapa ia . Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. dengan wirid yang lama. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah.html Aku cuma membatu. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. Jali.com/abclit.processtext. di masjid yang berbeda-beda. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Namanya pun aneh. panggilan akrab Gazali. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. Patek dikenal sebagai seorang gila.

ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. Tapi ia pantang meminta-minta. Walaupun kecil. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. Masjid atau surau itu tampak bersih. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk. tempat orang mengambil air wudu. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. http://www. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. yang rajin membersihkan masjid. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. baik karyawan maupun orang kampung. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. Walaupun tidak kawin. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. hidup sebatang kara. Patek tentu saja bukan orang kaya. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya.processtext. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. ia tak mau dibayar. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. adalah berkat peranan Patek. Boleh dibilang. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . tanpa hijab. Kebersihan surau itu. Tak ada debu. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. laki-laki dan perempuan bercampur. Hanya riak air kecil ditiup angin. barangkali lebih tepat disebut surau. sebagaimana di Laut Hindia. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. bahkan dapat disebut orang miskin. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. walaupun terbuka tak berdinding. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat.com/abclit. Mungkin karena sedihnya. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki.html meninggalkan kampung halaman. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. maklum. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. Untuk membersihkan masjid itu. tak ragu lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. tempat tumpah darahnya itu. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal.

ia juga pergi ke gereja-gereja. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. Ia menganggap. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu.processtext. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama.com/abclit. di sebelah timur. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. Jika pergi ke kota Dompu. tapi naik kendaraan umum. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. Patek yang jujur. Ternyata. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. Tapi anehnya. http://www. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. Pastor Dhakidae. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. . tentu saja dengan izin penjaganya. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Karena sering mendengar cerita itu. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari. hanya menjawab dengan anggukan. ketika orang itu sampai di kota. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja. tanpa pembelaan diri. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu. Ia menanyakan kepada Patek. dari Gereja Katolik Santa Maria. Karena itu. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. semuanya di kota Dompu. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja.Generated by ABC Amber LIT Converter. tanpa mau menerima upah. Di samping ke masjid-masjid. walaupun jaraknya cukup jauh. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. mencintai anak-anak. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. Namun.html sekitar seratus kilometer. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan.

Cuma ia tidak bisa memaksa Jali. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. sehingga ia mengadu kepada Jali. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. Karena keteguhan sikap Jali. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. walaupun orang yang dinilai . ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini. tetapi juga Protestan. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. ”Ini bukan hanya pandangan saya. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. ibadah. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman. demi keselamatannya di akhirat nanti.com/abclit. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya.processtext. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Karena itu. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang. Sebagai akibatnya. ”Ya itu lebih baik.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu.” ancamnya.” sahut sang ustadz. Di samping itu ia pun mengancam Jali.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab.” lanjut sang ustadz. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. dan akhlak seseorang. Tapi dalam kenyataannya. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda.” kata Ustadz Abdul Rasyid. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. Tapi. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. ”Pak Jali.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. sekalian pindah agama. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek. ”Patek itu sesat. http://www. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Tapi Patek tidak banyak bicara. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa.

Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. Aku yakin. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. sesekali datanglah ke mari. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM. khususnya orang suku Sasak. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas.*** Garis Cahaya Bulan. . yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. Kalau kau tak percaya. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. http://www. Bagi orang Sumbawa. melambai-lambai ditiup angin. Di pinggiran kali berwarna cokelat. dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang.. Ya. Karena Tuhan Yang Maha Tahu. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial. sorga itu ada di sini. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.com/abclit. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin.. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya.

Aku tidak bisa mengelak. dan melompat dari rel berarti hancur. kau sedikit lebih pintar daripada keledai.. Dan dengan enaknya. aku menemukan sorga itu di sini. Oleh karenanya. dan manakala kau mengeluh. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. perintah itu bertengger di pundakku. Ah. karena semua sudah ada yang mengatur. http://www.. bukan? Ha-ha-ha. Aku tak mau mati sia-sia. Menjijikkan. ya. lahir di rahim siapa pun.. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. Hujan yang turun. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. di tengah panas terik. maaf terlalu kasar kalimatku.com/abclit. tetapi. sudah biasa terjadi.html Aku sendiri tak mengerti.. dan semuanya beres. sebagaimana yang kukatakan tadi. Hidup inilah yang memilih kita. ha-ha-ha-ha. Ah. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. Kita ditentukan. Aku masih bisa membangun hidupku. Tunggu dulu. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan . konyol dan tak sempat melakukan sesuatu... bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini.. aku bukan pembunuh. mengendap-endap. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. kawan.. misalnya. apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja. tanpa mempersalahkan siapa pun. Begitu saja. Jangan dibalik. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. Tidak. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. Aku tak mau hancur.. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi.. Tapi. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada. itu pun tak sepenuhnya salah. Bayi. aku bisa membunuh. mudah sekali mendapatkan uang banyak. Sekali ini. Itu pekerjaan kotor. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. kita tak pernah bisa memilih. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. tetapi. menziarahi kubur ibuku. Mengelak berarti melompat dari rel. atas apa yang kau dapatkan. Jika tugasku selesai. Jangankan hidup. Gampang. Jangan salah. Dialah yang memilihku. Tak seorang pun. Begini saja. tetapi saat ini. Hampir tiga hari aku berjalan. Bayi merah.processtext. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. Ikuti perintah.. tidak kali ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak ada yang aneh di sana. kalau aku mau. aku harus . kau salah sama sekali. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. Maaf.

Tetapi. Bayi yang cantik. kuberikan sebotol susu. tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. Maka. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. dia. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. Begitulah. entah siapa.. tidak. terlalu religius kurasa. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. mendadak akan pulang. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. tidak. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. pandangan yang wajar saja. ah. Hening sekali perasaanku. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. Jujur saja. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. lalu aku letakkan di sudut jalan. Hmm. tentu saja aku selimuti.. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. baru saja rokok hendak kunyalakan. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu. Salah seorang. http://www. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. Umurku masih belum tiga puluh. Kalau aku mau. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. demikianlah. Bayi itu. bayangkan jika itu terjadi dan . aku tak ingin menjadi juru rawat.. Belum selesai dia berkata.processtext.. sudahlah. bersih dan menawan hati. Sepi sekali di sekitarku. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir..com/abclit. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah..html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. aku muak. Siapakah aku.. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. kurasa. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya.

Pagi itu. Aku pun tahu. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. dibawanya bayi itu ke sarangnya. Bayi itu dipungutnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Asisten si nyonya datang. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. tetapi juga perempuan. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. Atau. air. penasaran apa yang terjadi di sana. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. bahkan sampah. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. aku duduk di ruang tunggu. Kubayangkan. dan anak-anak. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil. tentu saja kuurungkan.. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu.. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. Tanpa bicara dia menatapku. Sempat kudengar ada suara anak kecil. http://www. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. tepat ketika matahari tenggelam. Dari sana. Detak sepatu mengisi sunyiku. Digendongnya dengan sukacita. untuk pemerasan yang sama. Dia tiba di gubuknya.processtext. Bulan di atas sana membulat putih. jongkok di kotak bayi itu. Kopi sudah separo kuhirup. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. Tetapi. Tidak hanya laki-laki. . Bisa jadi dia orang gila. akan kuhabisi mereka semuanya. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. mengikutinya dari jarak tertentu.html punggung. Mereka bahagia. Mereka gembira. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku).com/abclit. Kalau itu yang akan terjadi. lebih buruk lagi. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. Dan aku—mau tak mau. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. Tidak. di pinggiran kali ini. Semua itu mungkin bagiku. gedung. bagai piring perak. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku.

Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. dan tergilas zaman. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi. betapa bahagianya si kecil itu. setelah menerima sesuatu.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini. Kubayangkan. Begitu tajam rasanya di mataku. Bercahaya penuh. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. Tidak mungkin.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada.. masih bisa kusaksikan bulan purnama. Aku tak peduli. Dia memiliki keluarga. Tetapi. yang menganggapnya ancaman. Bulat penuh. http://www.processtext. . Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. tangisnya. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. semoga sudah masuk hari ini. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh. ". wajahnya. dengan semuanya. Ini aneh.. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. Ruang apartemenku harum. kesialan. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. Ada senyum tersudut di bibir. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. bersih. Aku beranjak. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. dia masih memiliki kasih sayang. Yang aneh. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu. ah." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. Tidak. Malam ini. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu. Tetapi. karena memang tak penting. Langit tanpa awan. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer.

Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. Semua sampah harus dibersihkan. kemarin malam. Di tempat ini melimpah kebahagiaan.html Aku terbangun oleh dering telepon. kepalaku rasanya mau pecah.com/abclit. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. Maafkan. http://www. Sunyi. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. Semua sampah harus dibersihkan. dulu. tergeletak di meja dan di karpet. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Dan seperti kataku. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. Di tempat ini. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. Kapan-kapan. Ini sorga. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. Bukit Nusa Indah. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Dia tertawa penuh kemenangan. Aku pernah menyaksikannya. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Kepalaku masih berat. aku bisa menolak permintaan. Ya. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. Aku duduk di tengah sampah ini. Dan sudah terlaksana. jika kau ada waktu. Gelap. 982 . di pinggiran kali ini. cobalah ke tempat ini. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. di sini.processtext. di pinggiran kali ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kubayangkan bulan. ini adalah sorga. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar. Aroma sangit pembakaran. semua penghuni gubuk merayakan pesta. Alkohol menebar. Sudahlah. kemarin malam. Aku banting telepon itu. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar.

http://www. Antara suka dan tiada. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. Rambo.processtext. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. Atas nama kemandirian itu pula. penuh cerita pilu. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Tuan Chew Song Kit. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai.Generated by ABC Amber LIT Converter. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Tapi. Aku jadi ragu berterus terang.com/abclit. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. . Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Nguyen telanjur segalanya bagiku. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Aku jadi teringat Vietkong. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. Aku tahu. Batam. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Siapa duga. Tapi.

Tapi.processtext. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. Nguyen muncul tiba-tiba. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. bila ditanya. Wan Syariful. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. aku berbelah-pihak pada Nguyen. http://www. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. Dari mana asalnya kapas. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. Tapi. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. sambung Wan berhujjah. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh.html Sekali lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Tapi aku tak begitu hirau. Padahal. Aku kehilangan jejak Nguyen.com/abclit. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Mana tahu. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. jujur. Sesiapa yang sudah dilepas. Wan Syariful. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. Atas keteguhan sikapku ini. . Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Tapi. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. dari benang menjadi kain. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini.

Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. Tak salah lagi. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku.processtext. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya. Sungguh. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. aku bagai melompat menuju buku tamu. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan. lewat di depan stand kami. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku.html Aku tertunduk lemas. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. Apalagi.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. teman setiaku sejak dulu. Kami bersitatap tegang. Saat itu. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Tapi. http://www. . Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Meski. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. terus terang. Dan perempuan itu langsung memelukku. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Semua bisu. Nguyen. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku.

Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu.com/abclit. Hampir setahun ini. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. Mereka sudah jarang bertemu.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. http://www. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Aku memeluknya sepenuh-mesra. Pembantunya. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Aku telah keliru memilih jodoh. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya.processtext. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. sahut Nguyen pelan. Nguyen pasrah. Sebab. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Dalam perjalanan naik taksi itu. Dua adiknya. Aku makin memperkuat pelukan. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. San Nam dan San Nangh. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Begitu pula kampung halamannya. kami sudah pisah ranjang. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Nguyen masih duduk . sudah kembali beristirahat di kamarnya. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami. Sing Anh. airmatanya tak henti mengalir.

Maaf.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nguyen. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam. Menelepon pun tidak.processtext. Maksudmu?.html menyandar didadaku. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi.. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. kami sudah pisah ranjang cukup lama.. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar.. Aku terdiam dan ternganga. Iya. Nguyen meraih jemariku. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. Lagi pula. Bang Rajab. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. http://www. Tapi. Lampu temaram. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain. . bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. kamu masih menjadi istri orang lain. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. Memang. Kamu tidak mencintaiku lagi. Inilah saatnya.com/abclit. Sungguh. aku tak bisa.

Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Langit Hanoi terasa merah jambu. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Nguyen. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. Nguyen. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Oktober 2005.processtext. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. memang bukan akhir segalanya. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. . selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Tapi. Nguyen terus saja menangis sesegukan. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Sungguh. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. bagiku.html Aku duduk di bibir ranjang. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum. Selalu. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. http://www.com/abclit. Andai saja. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Langit masih bertabur Nguyen.

com/abclit. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang . Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. http://www. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Tak ada yang peduli. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. arus sungai menjadi sangat deras. Beberapa ratus meter ke arah bukit. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai. kata mereka. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Terlalu angker. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal.processtext.

html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda.processtext. Kakek Lido. Tak lama. Gelap. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Jona dan Warni. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik.com/abclit. Hampir-hampir tak ada privacy. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Tak terhitung dukun yang didatanginya. . tepat di atas ranjang keduanya. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Bahkan. suaminya. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Rencananya. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.anaknya. Tak ada apa-apa. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. Dua anak gadisnya. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang.

mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. segar. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu. Konon. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Lagipula. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai. Kata ayahnya. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. http://www. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi.com/abclit. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Saat istrinya membopong pisang. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Nenek Lido bertubuh subur. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ.. Alu kita patah. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. dan kuat seperti ibunya.processtext. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. nenek Lido dulu cantik. Tapi kakek belum tertidur. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. .

Kindo.. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. pikirnya. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi.” kata Nenek Lido lagi. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. krreek. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Terdengan pelan suara krek. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak.html ”Kata Nisa.” Jona dan Warni menjerit. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.com/abclit. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. http://www. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan..processtext. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Tiba-tiba. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu.. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. krreeek dari loteng.. ”Siapa kamu? Aaakkhh. angin semakin kencang. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. Akh. . Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu.. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah.. Baju Jona telah robek di bagian depan.

Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Dalam gelap. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Dengan sekali mengayunkan tangan. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido.?” teriaknya setengah melompat. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Maka. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Rappe semakin marah. Dalam gelap. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi.processtext.. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Dengan keras. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Rumah panggung itu bergoyang keras. Lelaki itu tersentak keras. Dari arah belakang. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Nenek Lido melengking marah.Generated by ABC Amber LIT Converter. jawara kampung sebelah. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. http://www.com/abclit. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Sebilah pedang pendek.. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu.html ”Siapaa. Rappe mundur. dengan secepat kilat. Rappe.

Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi...com/abclit. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu.”. Tapi Nenek Lido tidak menangis. Tangannya gemetar dan nyeri. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Berhasil. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. http://www. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Tak ada yang tahu. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah.html ke depan pintu kamar.. . Hanya itu. ”Kindo. ”Dia sudah pergi.. Nyalakan lampu. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras.processtext.” Nenek Lido menyuruh Jona. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Entah apa. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan.. Saat mendekati sakratul maut. Kakek tak bereaksi apa-apa. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari..Generated by ABC Amber LIT Converter. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan. kepalanya juga. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Cresss. Dengan susah payah. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu.

Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti.Generated by ABC Amber LIT Converter. .html Jakarta. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. Ling-Ling. Kedua anaknya yang masih hidup. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Korban berjatuhan. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. http://www. Dari balik kain penutup jasad.com/abclit. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Istrinya. A Cong dan Beng Sin. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam.processtext. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya.

Suamiku? Siong.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ling. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Rambutnya kusut.” katanya. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat.processtext. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. ”Sudahlah. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. Relakan kepergian Siong. Asap hio menyengat. Keng Hong melirik kedua adik iparnya. ”Orang-orang yang berkedok membela . Tuhan akan menerimanya di surga. Jangan menangis terus-menerus.” teriaknya sambil menggerung-gerung.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang.” kata Keng Hong. gantunganku bila kau tak ada. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu. sebagian menutupi wajahnya. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. http://www. ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati.

Kau sekarang menjadi anak tertua. Malam. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. Jangan menangis terus. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. kita pikirkan nanti saja. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. air masih menggenangi halaman belakang. Dia orang baik. tentu mau menolong kita. meskipun tinggal rintik-rintik. Semalam. Wajah-wajah mereka muram. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. ”A Cong. Hujan terus turun sejak semalam. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak.com/abclit. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Dengan kalimat terbata-bata.” kata Keng Hong. Setelah empat jam menggali tanpa henti. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian.processtext. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. http://www. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. Tapi A Siong mewarisi . kau pergi ke tempat Paman Cia. Keng Hong mencangkul tanah basah. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik. Sekarang. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong.” ”Sudahlah. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga.

Ayahku teman baik Oei Kim Sin. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Sementara mereka.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya. walaupun kita loyal terhadap Republik. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. ”Kita memang serba sulit. Dan mati pun di sini.” kata Sin Liong dengan nada menyesal. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Kedua adik A Siong keluar dari kamar.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal.orang miskin seperti kita. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Kalau ada apa-apa.html keberanian ayahnya.processtext. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. ”Aku datang terlambat. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. mereka kabur dari tempat itu. pendiri Pao An Tui. ia bisa mewakili ayahnya. Ling-Ling melolong-lolong. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. . babah-babah kaya itu. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu. ”Ayahku selamanya membela Republik. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. http://www. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. Ia lahir di sini. Setelah korbannya ambruk. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore.

Berkali-kali ia duduk dan berdiri. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. .com/abclit. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik.” jawab Sin Liong kesal. Kakak. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. ”Puh.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.” ”Benar. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. kaum peranakan Cina miskin. baik yang kaya maupun yang miskin. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. http://www. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. Ia mengenal baik Oei Kim Sin. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. resah. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku. Mereka berteman baik sejak kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kata Hong San yang dari tadi diam saja.processtext. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita. Keng Hong mengangguk. Matanya menyelundup keluar. Lihat saja buktinya. Memang benar. kau tidak tahu.

Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar. . Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.com/abclit.processtext.” kata Hong San.html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. http://www.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. dan tidak banyak terpencar-pencar. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini.

” katanya dengan suara parau. temani kami.processtext. Bukalah pintunya. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu. Tadi baru saja ada orang mengintip. Semua cahaya di rumah kumatikan. tapi ditahan Keng Hong. http://www. Masuklah.” kata istrinya sambil menggigil. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.Generated by ABC Amber LIT Converter. . ”Siapa?!” bentak Keng Hong. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. ”Aku. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong. ”Aku takut di rumah sendirian.html Seseorang mengetuk pintu. Kakak Hong.com/abclit. ”Kau gantilah pakaianmu. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya. tidur di sini. Mei Lan.” jerit perempuan di luar pintu.

” Keng Hong tertawa samar dan kecut. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Ia telah tercebur ke dalamnya. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. meninggalkan mereka. . dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu. meresahkan malam yang basah. Anakmu sendiri menjadi korban.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. terbunuh sia-sia. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu.com/abclit.processtext. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut.” kata Hong San. tapi ratusan. Kakak Hong?” tanya Hong San.” kata istrinya sambil terisak. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can. ”Tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. http://www. dan kau diam saja. Suara tangisannya pecah.” katanya pelan. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya. Tidak hanya puluhan.

com/abclit. Sementara Sin Liong menggelar tikar. ”Kakak.” kata Hong San. http://www. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah.” ”Kakak beristirahatlah. kita telah membagi dua kekuatan. Aku akan di sini sampai pagi. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Dan tumbal kaum kita.processtext. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. Mimpi orang-orang kecil macam kita.” kata Keng Hong. Firasatnya tak enak. Malam turun semakin sunyi. ”Kau telah menjadi tumbal untukku. Lebih baik kutangguhkan besok pagi. Siong. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu.” bisik Hong San. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Tapi aku sangat lelah. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya. Apa yang harus kita lakukan. . ada seseorang mengendap-endap di luar.” katanya dalam hati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Di Semarang. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua.

Kita sergap saja dia. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.” kata Keng Hong. ”Bangunkan Sin Liong. ”Jangan terjebak. ”Mereka benar-benar meneror kita. .processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Dia menunggu di samping pintu. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar. ”Sudah.html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.” katanya.” katanya. http://www.” Keng Hong mendekati pintu depan.” jawab Hong San. ”Cuma ada satu orang.

Di antara rentetan senjata api. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. tak tahu mesti berbuat apa. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan.html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Kedua belah pihak mencurigai kita. . orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Lama mereka tiarap. lalu membukanya. ia membuka selot pintu. Dalam hitungan detik. Ia membaca tulisan itu.” Mereka berpandangan satu sama lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya.com/abclit. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. http://www. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Perlahan-lahan.processtext. tercekam ketakutan. Diambilnya korek dari kantong celananya. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. sebat. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Kedua adik iparnya memandang bingung. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru.

http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Yogyakarta. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. 13 Januari 2005 Catatan: 1. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15.processtext. 4. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit.com/abclit. Ia mati bunuh diri tahun 1949. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. NICA. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. 2. 3. . Panglima Tentara Belanda.

Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. jambang. siang memanggang meringkus dirinya. Tetapi takkan lama. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Pedih ini akan hilang. itulah yang dilakukan olehnya. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. meranggas tak teratur panjang dan jarang. Dan. lingkaran hitam itu lalu menyatu. Lingkaran hitam yang berputar-putar. segera merembes air.Generated by ABC Amber LIT Converter. semua terbentang. putih pirang. Tetapi bukan itu. Di sana. memang. tak tertahan oleh tatap. lelaki tua itu merasa nyaman.processtext. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. Dan. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. seperti bintang. kelabu jadi samar. Tetapi bukan. selintas tampak seperti mata kayu.. Begitulah hitam jadi kelabu. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. Begitulah semua datang. Dan lalu.. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. amat terang. samar jadi terang. Dan gedung-gedung. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. matahari membelah. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. seperti kemarin-kemarin. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. kuning kelabu. . dalam nanar. dinding-dinding kaca. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. menjelma kerumun bulatan pijar. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. yang semuanya kotor.. http://www.html 5. Begitulah terik. Dan dari mata tuanya yang buram.com/abclit. ada sebuah titik. dengan ganjil. lantas mengembang. di puncak monumen. menggenang. Bukan hanya tameng. terus mengembang. sebentar memusat sebentar menebar. Bagai melayang.

dalam nanar. tidak. seperti angin menyapu ilalang. Jepang menyerah. menyandang tas di bahu kirinya. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. Bengkulu. sepatu boot. Memandang ke luar. Pak Daud. matahari membelah. Makin jelas. ia . Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. Tetapi memang. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan.. Membujuk. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. lalu proklamasi. bagai melayang. Seperti hamburan.. Si remaja ini. Lorong-lorong.. Kini tertahan. menjelma kerumun bulatan pijar... Tetapi ya. Dan lihatlah. Atau menyibak. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan.. ada banyak emas. Ia akan bekerja di sebuah tambang. Derek II.. Maka. Bagai melayang. dadanya. Kata Pak Daud. Orang itu masih muda. ledakan dinamit.Generated by ABC Amber LIT Converter. mulailah hari-hari itu. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka.. Atau mungkin membelah. langit goa yang runtuh. di puncak Monas. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. tidak. Menyerang tambang.” kata mereka. Berdebar. Maka. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa.. semua terbentang. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang.. Letusan? Belanda kembali datang. ada sebuah titik. Berlompatan. Dan gedung-gedung.. Derek (pos) I. http://www. di atas kereta itulah ia.. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. Di sana. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan.com/abclit. menghunjam mata. pun mengajaknya. Masa berganti. lift ke atas ke bawah. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana.orang dengan helm. tangga-tangga besi. tajam pedih. tidak.html Begitulah semua datang. Apakah hanya matanya? Karena hari ini. Tampak amat sibuk... berlalu lalang.processtext. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. Monumen Nasional. Menerobos hutan. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. Akar-akar yang juga bagai bersembulan. dinding-dinding kaca. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. Di atas papan itulah ia duduk.. Melayang.. Dan wajah-wajah itu muncul. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. bukan itu. Dan seperti mimpi. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. semua terbentang. Dan ah. lihat.. bagai mengambang.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Huah! Orang. Titik putih. Mungkin lebih tampak seolah rebah. berkacamata. Begitu juga tambang emas di Lebong. pasokan senjata berdatangan. gema lori. Dan Belanda pergi. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti.

”Begitulah yang orang-orang dengar. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. Cuping hidung besar..” mendehem lagi. kita berjuang. Lihatlah kini diri Dik Najir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dari jauh ia datang karena yakin Nur. ”Ma-maaf. yang ingin saya tahu yaa. ”Dulu.com/abclit. terasa ganjil. dulu merupakan sosok sederhana. di tambang itu. coba berdagang. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal.. menatap ke arahnya. emas yang kita sumbangkan dulu. Untuk modal. Dik Najir. Tiba-tiba si pemuda menoleh. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang.” katanya. Dibuat di Jepang... Kacamata itu. Tetapi. saya mengerti.” Yang orang-orang dengar. Pak Jusuf berkata. ”Saya paham. Jalan yang lebih baik.. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi. ia mengalihkan pandang.. setelah Pak Daud meninggal. Kacamata itu. Tetapi hei.. Refleks.” Pak Jusuf inilah.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. . itu. kini tersenyum. yang diangkat jadi juru tulis gudang. dalam kepalanya? Tentu tidak.” Senyum itu masih. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini. ”Tapi. bagai melayang. anak Pak Daud. kembali ia palingkan muka. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik.. cacat. Pak Jusuf.” senyum itu kembali.” ”Begini. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant). Maaf. Ia tak suka. kenapa kini berbeda? Senyum itu. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu.. Tatapan di balik kacamata.. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu. seingatnya. Dik Najir. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. Tetapi. http://www. tatapan itu. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah.html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. apa adanya.. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. Tatapan di balik kacamata. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana. emas Monas itu didatangkan dari Jepang. ”Saya membutuhkannya. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti.. ”saya punya usul. Agaknya ia harus terus-terang..processtext. mendehem beberapa kali. Tak enak ketahuan mengamati. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang.. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam.

Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya. Itu gampang. Pak Jusuf. lalu berkata. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. bagai mencari persetujuan...” Ragu. Tapi karena dinamit itu. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. melainkan disalurkan. emas itu tak usah dibagikan. ”Nah.processtext. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan.com/abclit. mendengus. Lalu..” ”Tenang. seperti mencari lagi posisi yang tepat. mereka bilang ada yang digunakan. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu. seperti kecewa. kata mereka. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan.html Satu kaki tak ada. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. Pak Jusuf mengeruk saku celananya. Saya akan membantu. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. ”Emas itu memang ada pada saya.” ”Tidak. Sumbangkan saja.” . Saya. Dik Najir.. tapi jumlahnya tak lagi sama.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah. begini. Jadi. Kaki saya putus bukan karena berperang. ia mengangguk. baiklah saya terangkan. Jemarinya merogoh. Dik Najir tentu bertanya-tanya.. Saya tak mau. disalurkan. Kemudian katanya. mereka hanya meneruskan.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www..” Diperbaikinya duduk. maaf. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran. langit goa yang runtuh.” ”Ah tidak! Mana bisa. Dan karena jumlahnya sedikit. saya kemari hanya untuk hal itu. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas. ”Sebetulnya bukan dikembalikan. Tak lebih. mengeluarkan dompet.. Saya. Dik Najir.

Generated by ABC Amber LIT Converter.!” ”Triiingngng. diam. Bahkan udara pun seperti mati. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. Wajah bulatnya tengadah.. aku tahu yang ia rasakan. Mulutnya terbuka. nyaris menyentuh loteng. gorden. si pemuda membalikkan tubuh. Lalu. tetapi koin 1.. Tetapi mendadak. tapi kembali tertegun. Waktukah. Sepuluh. lapar. tidakkah berair bagai menangis? Pusing. Dengan hanya seribu.. Ketika koin itu bergerak turun. menatap ke arah koin.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya. yang berhenti? Dan Pak Jusuf.. taplak. tertahan bagai mengambang. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. teronggok di trotoar. tersentak.processtext. tertahan bagai mengambang. Dan. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong... dua puluh. kaku tergantung. tak berkedip. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu. Tangannya yang terangkat. semua kembali seperti biasa. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung.com/abclit. kelihatan seperti patung. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. Tapi ajaib. Senyap. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti. Saat koin itu bergerak turun.. Koin itu berhenti. Ia terus meluncur. langkah si pemuda terhenti. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. Semua tak bergerak.. Sepertiku. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas.html Satu rupiah? Ia ternganga. sekilas tampak seperti mata kayu. atau mungkin tiga puluh detik. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks.. diam. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut... Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya.. iseng.000 rupiah itu kembali? . Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut. Pak Jusuf mengangguk. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng. kursi. koin satu rupiah itu tak tersambut. ketika itulah. Meja.. yang siap menyambut koin. Betulkah? Betul. Mata di balik bingkai besar itu menganga.!” Lelaki tua itu terkejut. http://www.. mata itu. astaga. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. Semua tak bergerak. Diayunnya kaki.

processtext. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. ”Maaf. tujuh puluh tujuh lidah emas.. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Minggu 28 Maret 1830. hari itu. asalan ia berkata. Mencari kerja terus.html Konyol.. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Karena itu. Dan mata itu.” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. Dungu. Muak. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. ”Tujuh puluh tujuh.com/abclit. Memasukkan lamaran terus. di hadapan si pengemis. dalam lukisanku. .Generated by ABC Amber LIT Converter. Tujuh puluh tujuh? Eh. Ramadhan telah berlalu. kau juga tahu. Tetapi ia telah di sini..*** Payakumbuh.. http://www. Tiba-tiba ia merasa letih.. Jadi.” Si pengemis seperti lega. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. berapa umur Bapak?” ”Oh. Edisi 11/06/2005 Ya.

Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. terutama aku." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. Pangeran harus kulukis tegak menantang. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas.com/abclit. "Kalau mau Sultan . aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram. Karena itu. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. Ya. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. Residen Kedu berwajah batu itu. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. Jadi.Generated by ABC Amber LIT Converter. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. Raden Mas Joned." desis Haji Ngisa. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. Dia tak ingin de Kock atau Valck. "Segalanya sudah diatur. Dan orang-orang. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. ke langit sarat sriti. Lewat bisikan batin. http://www. Namun di luar dugaan.processtext.html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. Hanya aku saja yang boleh sedih. de Stuers. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. Roest.

saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean.com/abclit. Nah." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean. saya tembak putra-putra Sampean. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. Ya. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan. "Jadi. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Tetapi.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. Namun. http://www. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang. Dan. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. Setelah itu." Ya. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika ingin berkelahi. hati Sampean bisa terbakar.html Ngamid bisa menghilang. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu." kata de Kock. apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu. Pangeran. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna.processtext. Kalau berani menatap. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. Jenderal." . mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga.

Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Karena itu. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. ketahuilah. Urusan siapa? Urusan saya. Karena itu. dia berseru. Jenderal. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. kau tahu." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Dengan hati-hati pula. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. silakan bunuh saya. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. Mengapa tak Sampean lagi takjub. Sekarang. membumbung menembus kabut. Saya siap dibunuh kapan pun. "Hei. Jadi. Kematian toh hanya kabut halus. sambil mendongakkan kepala.com/abclit. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. http://www. seperti Isa yang tersalib. Tuan. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan.processtext. urusan Haji Ngisa. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. Gusti. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. bukan urusan Sampean. moksa ke langit. De Kock akan tinggal arang. Ketahuilah.

Sultan. . Ketakjuban. http://www. Karena itu. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar. Sultan?" "Ya. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah." "Maaf." "Allah tak menghendaki seperti itu. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. Sampean boleh khawatir. Sampean tahu. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat.com/abclit. sekali lagi. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. Sultan.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. kita hanya akan bersilaturahmi. berlebaran pada Jenderal de Kock. wangi bunga kubur. Namun. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka.processtext. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. > 0 Meski demikian.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Jadi. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma. Gandakusuma." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Gandakusuma menyangkal. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. ya. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat.

html "Kita memang akan bersilaturahmi. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. setelah pada pukul 08. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. Gandakusuma. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. Sultan. Nanti….00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan. http://www. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. tetapi de Kock telah menjelma iblis. Juga sayap dan segala yang dicinta. Nanti kuberi kuda baru. Dan sebagai iblis. Digambarkan bersayap atau tak bersayap. Juga sayap dan kemegahan dunia. namaku Saleh. . Ayolah. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. "Sudahlah. Dia tahu sebentar lagi. O. mata yang kehilangan keperkasaan.com/abclit." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok.processtext. Ya. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan.

5. Anak-anak Sultan Ngamid. "Asal Usul Perang Jawa. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua.com/abclit.html Semarang. 3. "Historische Tableau.processtext. Juli 2004. Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro". 2. Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro". Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. 4. http://www. nama Dipanegara dia berikan kepada putranya. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey.

Tak biasanya Ibu seperti itu. Namun. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya. Setelah aku bercerita panjang. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. Menuju jantung kota kecilku.html Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Mulai sinis. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. hati-hati. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. Semenjak usia lima tahun. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Tetapi. Namun." ucapku pelan.processtext. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan. Ah. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Angin menusuk gigil. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Mencucuk sumsum dan tulang. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. http://www. Pukul dua belas tengah malam. Anak satu-satunya. "Ibu. agar Ibu mengerti. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi. . Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. bola mata tempat biasanya aku berteduh. Hatiku terbakar.com/abclit. Sebuah danau tenang.olah saja ia sedang disengat kalajengking. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. sore kali ini menjadi lain. anak dendang itu juga manusia. Sampai aku besar. Seperti kemarin juga. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah.

Aku telah selami pribadinya. Aku duduk di tepi trotoar. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari . tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. Menyisik bersama angin malam yang tajam." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. Aku terpojok. "Ya. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. Ibu.processtext. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang." "O. Percayalah. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. http://www. dekat sebuah lampu taman. Sebatang rokok kuselai. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Asapnya membaur dengan cuaca. Bersipongang. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong. Tidak semua anak dendang seperti itu. Berbuai-buai. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. semakin banyak aku berbicara. Bahkan. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. Rabina itu perempuan yang baik. Aku telah menyelaminya.html "Cobalah mengerti aku. keluarganya. Tidak ada yang menggoreskan cela. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). Ibu.

Ibu. Namun. bulu matanya. Mengapa mereka harus kita sisihkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh." jawabku tenang. Haruskah kita membunuhnya. berburu ke arahku. Tetapi.processtext. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. . Lirih. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. "Mengertilah. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan." terangku lebih panjang. Ingin menikmati rambut panjangnya. Lekat di kedua belah anak telingaku. dan penerus kesenian nenek moyang kita. Suara yang sudah teramat kukenal. Sayup. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. http://www. Bergema melantuni malam.pandangan sebelah mata?" Selalu. Seolah berpitunang. penjaga. "Di samping berdendang. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. bibirnya. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas. Pewaris. Akrab. Memukul. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. kita lecehkan dalam keseharian. jelas kutangkap dari gelagatnya. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. Ingin melihat senyum Rabina. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Aku ingin ke sana. Di sanalah saluang tiap malam digelar. Mengimbau. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Ibu tetap tak sependapat denganku.ulang datang. Tetapi. Bergendang-gendang.html trotoar itu. Dan berulang. Kurasa Ibu tidak sepicik itu. Dan suara itu.com/abclit.

ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi.html Suara itu masih sangat jelas. Sirompak Taeh 10). aku mulai mengikutinya berdendang. "Mungkin kamu tak percaya. Nyaris tak mempunyai kelebihan. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. Rabina. Hidup memang keras bagi kami. Istirahat. Jam empat subuh saat itu. Tetapi. Kemudian pada malam-malam berikutnya. bagaimana lagi. aku setia menungguinya.processtext. Tidak jarang. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7). Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. Karena setiap malam Rabina berdendang. Dan lagi. Kadang terkesan merintih. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. aku harus membiayai keluargaku. Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. Diam. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Ratok Bonjo 8).apa lagi. Aku tahu. Saat mula aku datang ke pagurawan.Generated by ABC Amber LIT Converter." ucapku lagi meyakinkan dirinya. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Di saat lain aku justru merasa bahagia. Ah. sejak singgalang 13) didaki. Dan Rabina seolah tak percaya. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. Tigo Giriak 12). Menatapku lama-lama. Memburu dan mengepungku. Lalu menunduk. Hanya gambaran dari keberantakan. biar sajalah. Sudah tidak bisa berbuat apa. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. "Aku mencintaimu. . aku telah mengatakan yang sesungguhnya. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku. tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. Ruang. Meratapi malam.com/abclit. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Kadang aku merasa malu. Dendang yang melirih. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Pariaman Panjang 9). Tetapi. http://www. Sebuah rumah kecil. "Ayah dan Ibuku sudah tua. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. Sawah Rawang 11). Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat.

com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun. Aku mengusap rambutnya." katanya pelan. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Sudah hampir pagi. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. Mencintaimu. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu." "Jangan berkata seperti itu. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. Memendung. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya. "Aku sayang kamu. Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. "Pulanglah. Jatuh menimpa jemariku. Rabina!" Sejak saat itu. http://www." Berat rasanya. Wajah Rabina mengeruh. Tetapi. aku mengangguk juga. . Anak dendang. Tak kuduga. Tetapi. "Cobalah berpikir kembali. "Aku istirahat dulu ya. Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Terima kasih sudah mengantarku pulang. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Sepenuh rasa cinta. Membenahi anak-anaknya yang berserakan.html Rabina mengangkat wajahnya. Bergulir. Ukur timbang matang-matang. Rabina. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan.processtext. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang. pada waktu-waktu tersisa. Lembut. Rasa cinta yang cemas. mencoba menatapku lagi. kami akan menikmatinya berdua. "Kamu berada di anjungan berukir megah. Tentang rindu. Lalu aku mencium keningnya." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya.

kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. Di langit malam. Aku ingin memberontak.processtext. 6). . 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). 8). 10). Ke lapik gurau tempat Rabina berada. Cahaya bintang berkilauan memendar bias. Lama. 11). Biasanya dilakukan oleh perempuan. 5) Istilah. Aku menatapnya. Aku masih di trotoar itu. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. awan-awan diam. 4) Pantun-pantun yang dilagukan. Rabina. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung. Aku mencintaimu!" Namun. Aku ingin ke sana. Ingin berteriak.html "Pinanglah. Menikmati saluang yang masih berkumandang. tempat kesenian musik sedang digelar. Mendengar suara Rabina. 9). Menyelai rokok lagi. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Lalu aku berjalan. Meninggalkan trotoar itu. Malam melilit.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Membelenggu. "Aku mencintaimu. Aku ingin mengatakan kepadanya.com/abclit. 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang.

kebiasaan serta irama keseharian mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah.processtext. lembah dan gunung-gunung. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. pendeta.com/abclit. Sebagai penulis. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya. Ini untuk melukiskan. . ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. http://www. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang. bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Di seberang sana. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra. fana. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. ”Kamu ini psikolog.

ha-ha-ha. kamu jawab semua pertanyaanku. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi.” tambahnya getas. Kali ini aku mau. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.. Beberapa teman ada yang mengusap air mata.” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. .. ya mustinya bangun pagi. Sang sahabat garuk-garuk kepala. ”Masih cantik ya.html ”Sudahlah.. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri. aku lupa. Terus terang. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek.. waktu tidak seluas dibayangkannya. Begitulah. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual. Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut.” sahutnya berseloroh.” tukas sang teman. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. pekerjaanmu urban planner.processtext.. bukan teknis.Generated by ABC Amber LIT Converter..” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. Terasalah. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. karena ini rumah wong edan. Pimpinan perusahaan. http://www. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung. Ketika hari pensiun tiba. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain. Setelah itu sore tiba. Dia disuruh pidato. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri. ”Kalau ingin menulis.com/abclit.” komentar istrinya.. ”Wah.. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa.

”Mas Daru kini jadi petani lho. dan lain-lain.processtext. Pertama berat. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman.” celoteh orang di kantor. ”Benar juga. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. dia seolah seperti landscaper.” pikir sang istri. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan. Dia menjadi petani. Dia lebih tertarik pada tanaman. sebelum matahari terbit. Ia mulai bangun saat subuh. dan semacamnya.. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi.. lanscaping.” Begitulah kehidupan pensiunan ini.com/abclit. http://www. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling.. ”Ooh.. Katanya dia sampai diprotes tetangga. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu. gardening.. memangkas dan merapikan daun-daun bambu.html Dia cuma tertawa. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri.... Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. merapikan barang-barang. Waktu saya ke sana. Coba tanya beberapa teman.. bersih-bersih. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. sesekali merawat dengan memberinya pupuk. sampai-sampai. space planning.Generated by ABC Amber LIT Converter. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. .” ujarnya dalam hati. kalian tidak tahu. Pa?” tanyanya. Soal menulis.. ”Kenapa bangun sepagi itu..

Ia merasa benar dengan feeling-nya. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga. Sang istri percaya... kaget juga banyak orang). ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi. Akan tetapi. selalu terjadi pada para pensiunan. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.. berada di ruang kerja menghadap komputer. ia percaya. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa.” Perkembangan berikutnya lagi. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya. Dia baru menyadari. kali. melihat kemajuan suaminya. Ia dilarikan ke rumah sakit.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan.. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. .. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan.” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian.. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya.. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali..processtext..” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. ”Liong bun. http://www. dari berbagai penjelasan dokter. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya. Bukan hanya stretching. Hanya saja.

Ah..” suaminya melanjutkan kata-katanya. Itu Gunung Gede-Pangrango..processtext.. Wanita ini tersenyum. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam. Si istri kaget.. diiringi anjing kita. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama.” tanyanya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Indrakila!” jawabnya. Sang suami diam... Semua saudaranya tumbang di jalan. bukan Gunung Indrakila. di balik cakrawala ada cakrawala. dengan menggunakan nama panggilan suaminya. Itu tadi ucapan suaminya. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango. Di balik gunung ada gunung. Didekatinya suaminya dari belakang. . Suaminya telah pulih kembali. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan..html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya. ”Itu gunung apa Bib. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan. http://www. Patman. Ia ingin menguji memori suaminya. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu. Sang istri kian penasaran. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali...

”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. pertemuan mereka.processtext... Mata sang istri menjadi berkaca-kaca.Generated by ABC Amber LIT Converter. siap menulis lagi. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik. sebelum berucap. Langit semburat merah. di pinggir kolam. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. Itu peristiwa puluhan tahun lalu.” Terhenyaklah sang istri.. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. bukan Mertasari.” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya. ”Bibib telah benar-benar sehat.. Si suami diam sesaat.html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri. Ciawi Junction. Dia tahu. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari.. Dia peluk suaminya dari belakang.com/abclit. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita. Pagi benar-benar datang. http://www. tentang asal-usulnya. 2005 ..

processtext. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. mengerut menatap laki-laki itu. Ia memejam. rapi. mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Dan tadi. Menyisir rambut dan memotong kuku. sembari terus bersiul. Saat Ramadhan kemarin. sembari bersiul-siul kecil. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah.. Melipat selimut. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Ia tak ingin kecewa lagi.html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. tapi ia masih saja hidup. keramas. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. memandang langit siang yang terang. Ah.. Menyemprotkan pewangi ruangan. ia berharap maut benar-benar akan datang. hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. . dan segera saling bisik. http://www. Merapikan pakaian. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Setiap menjelang Ramadhan. ia bisa mencium bau amis darah itu. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Ia berdiri di ambang pintu. Ramadhan kali ini. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Saat ia berbaring di ranjang. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Atau erang kesakitan leher digorok.com/abclit.siul ringan. Langsung. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. dan wangi. Ramadhan berlalu.

Parut luka seputar pundak. Rutin yang ganjil. . Kulit wajah mayat. Menutup diri. seperti mengawasi. Seperti selalu menghilang. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. http://www. Sesekali. Beres-beres kamar.com/abclit. Wajah. Menjelang Ramadhan ia muncul. Tato di lengan kanan. seperti bekas bacokan. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. memandang entah apa. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Ini yang membuat kian penasaran. seperti lilin panas mencair. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Sering. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Misterius. Aneh. Berhari-hari. Bila pulang. seperti kotak tempat menyimpan gitar. menyapu. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Memakai jaket kulit hitam. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Sebab. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan. Mungkin intel.processtext. mereka mendengis bengis. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Tiap sore ia keluar.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita. Menenteng koper besar. Para tetangga jadi gelisah. Mungkin ia rampok. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Entahlah. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Bergegas. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan.html Ia jarang berada di kamarnya. Kadang berbulan-bulan. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Lihat saja tampang seramnya. Mengepungnya. Ia mengerang. ia terlihat merokok siang hari. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. tapi pergi ke kuburan. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu.mayat itu meleleh. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Barangkali ia dukun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Ia seperti tak mau dikenali. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki.

Menghabisi seorang wartawan. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. tak ada yang berani menghentikan. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Tempat menyembunyikan diri. Memang. Umur tujuh tahun. bisa memukuli orang sepuasnya. Benar kata komandannya. Orang. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk.html Ia tergeragap bangun. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Di kampungnya. kata teman-temannya. Membunuh seorang pengusaha. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Dan ia membusung bangga. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Sumpek bau comberan. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. di bulan Ramadhan.processtext. Lalu sepulang perang. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Mungkin. Kisah para raksasa penyantap manusia. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Dan itu disukai komandannya. dan disiplin. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Percuma kalo cuma jadi tentara. Ia pun suka menikmati saat. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Seorang hakim. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. tertib. . Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. Ia menikmati bayaran yang lumayan. ia diberinya pekerjaan.com/abclit.saat seperti itu. Tapi membuatnya merasa aman. Meski ia tahu. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. ia suka membayangkan diri jadi tentara. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Ia pun mendaftar jadi tentara. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Kamu pantas jadi tentara. Paling mentok jadi sersan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. nanti bila sudah berhenti. Lalu beberapa order ringan lainnya. http://www.” kata komandannya. Ia terkapar. Ia akan tinggal di rumahnya. sebagai seorang pembunuh bayaran.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kamu punya bakat bagus. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Alangkah hebatnya jadi tentara. Mati dengan tenang. Ia sudah membeli rumah buat hari tua.orang mengerubung. Dikirim ke medan perang. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta.

http://www. Karena itulah.” ajak Kiai Karnawi. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Beberapa mati dalam penjara. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Ia amati raut tua Kiai Karnawi.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Biar tak banyak korban.” .sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Sepotong. Dan ia mulai mengawasi.processtext. Bicaranya santun. Kamu cukup membunuhku. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. itu mobil mahal. lalu mendorong mobil ke jurang. Ia heran. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Rahang terkesan pipih. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Dan ia tersenyum. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Kulitnya yang coklat resik. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Beberapa menderita sakit jiwa. ”Aku tahu. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Ia tak terlalu menyimak. Sayang kan. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Getir.com/abclit. Tanpa jejak. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Mencibir. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. kamu mau membunuhku. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Tugasnya hanya membunuh. Sorot matanya tenang. kenapa mobil perlahan berhenti.

Amin. ia hanya berdiri gamang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Yogyakarta. kecuali mati di bulan Ramadhan. Enggak usah merepotkan sampeyan…. lakukan tugasmu. Ia pun kemudian selalu berharap. http://www. Lalu menggelar sajadah. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kelebat bayang burung menyambar. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Tapi tolong. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Kematian di bulan Ramadhan. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Dengung jutaan serangga mengepung.com/abclit. Lengking gagak di kejauhan. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Dan semoga saja. Ia merasa senja meremang. Senyap.html Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. Kalau boleh memilih. Gemetar tak yakin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Jangan sampai aku kesakitan ya. Pelan. Ia bisa menembaknya. Singup. yang pelan. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia mulai diusik gelisah. ”Sekarang. Alhamdulillah. Kemeresek daun jati jatuh. Ia meraba belati.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan.processtext. dan kini memburu kematiannya. Terdengar letusan. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini.

Entah berapa lama. katanya. Dengan tersenyum ia menjawab. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. justru itulah yang kukatakan kataku. http://www. aku tidak tahu. bukan karena sakit. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. bertahun-tahun. Suster. Ketika aku membuka mata. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. membuatku tidak betah. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Kurasa benjolan itu mengganggu. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. aku selalu mencari teman untuk pulang. Nah. Setelah sadar. Sendiri aku kembali. aku menjadi takut ke rumah sakit. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. ternyata dibalut dengan perban. di mana aku? tanyaku. Setelah pulang dari rumah sakit. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. Sejak itu. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Jangan terlalu banyak bergerak. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. benjolan itu sering pindah-pindah. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. kalau pulang. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. kataku dalam hati. Ada rasa ngeri dalam diriku. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Kuraba kepalaku yang nyeri. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Bapak perlu istirahat banyak. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Nyeri di kepala dan bagian . Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. berakhir pukul satu siang.com/abclit. Sampai akhirnya.processtext. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. aku tidak tahu.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. Seperti biasa. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. tetapi karena kalau tidur. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan.

Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. . aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Kali ini kukira ia mengoceh lagi.com/abclit. Tidak ada tulang yang patah. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Persis di pantat. tetapi tidak berhasil. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. hanya luka memar dan benturan di kepala. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Sejak lama aku menghindari suntikan. Aku melihat cahaya yang indah. http://www. kalau boleh dengan menelan obat saja.processtext.html kaki. Beberapa kali aku disuntik. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. tengah malam. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Kami saling menyapa. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Ia melayang jauh.. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Ia mengendarai selimut malam yang putih. dekat jendela pula. indahnya. Ia menyapaku dengan lembut. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam. muncul lagi. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Oh. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Aku merintih-rintih. Tadi malam. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. kawan yang di sebelahku. jarum itu menancap.. yang berbaring dekat jendela menyapaku. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Ketika makan siang usai. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. damai.

Segala derita berlalu. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. Para pelayan yang sopan. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. Semua orang berpakaian yang indah-indah. kawan. mereka rindu bertemu dengan Anda. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Suster itu tersenyum. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Tidur dekat jendela ini amat nyaman. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. sungguh menyejukkan hati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suster. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. Berjalanlah bersama kami. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. tidak usah takut. ketika Anda tertidur. ayunannya yang menggoda. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. seseorang menyapa aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. HB-nya sedang menurun. oh. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. persediaan yang tidak habis-habisnya.. Pak. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. Semua tampan dan cantik jelita. ada suara menarik. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara.com/abclit. hidangan anggur merah yang meriah.. http://www. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. nikmatnya. sebuah pesta yang meriah. Petang harinya aku membuka mata. Lentiknya tangan mereka. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh.processtext. Dan belum lama berselang. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. Bidadari-bidadari dari kayangan menari. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. aku bertanya. Ia harus mendapat tambahan darah. . Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya.

saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. . Ah. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah. Ya.processtext. http://www. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. Saya akan minta bantuan kawan yang lain. Rupanya ia sedang terburu-buru. jawab suster itu tenang. minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. katanya perlahan. Maksud suster? tanyaku penasaran. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah.html Paginya. Ruang perjalanan akhir. tidak apa-apa. katanya sambil melangkah ke pintu.com/abclit. Pak. Baiklah.

19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. disangga bantal. Semula pada suatu sore dia datang. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas. Setelah suster pergi.processtext. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. Kudorong daun jendela. di bangsal yang lain. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. Pak? Suster. aku dipindahkan ke ruang sebelah. Namanya Roni. Buru-buru kutekan bel.. Suster berdatangan ke ruanganku. Edisi 10/02/2005 Aku lupa.com/abclit. tanpa mengenalkan diri. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera.. kapan aku kenal temanku yang satu ini. http://www. membukanya lebar-lebar. Bandung. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia .html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kurasa lebih lima belas menit kemudian. Ada apa. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar.

paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang.” katanya. sampai segala macam pesugihan. ”Ah yang benar!” sahutku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berprofesi makelar tuyul. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan. genderuwo.” ”Ah musyrik. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho. genderuwo atau jin.” Saya terdiam bengong.com/abclit.processtext. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar. http://www. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. ”Anda sendiri gimana. ”Betul kok Mas.html gaib. Soal tuyul. mobil. apa tidak dosa?” .” jawabku. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. jin. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul.

kecuali bayang-bayang wajahku sendiri. Nanti akan terlihat siapa orangnya. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam.” Beberapa hari kemudian. Dia minta memerhatikan air. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan.processtext. ratusan ribu dengan ratusan ribu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan….com/abclit. Uang kami atur menurut nilainya. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia.” katanya. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Istriku merengut.” jawabku.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. ”Ah memang. ada peristiwa aneh di rumahku.” . Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang. Nanti kalau mau saya ajari. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. Perempuan berambut ikal. Kami bingung mencarinya. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu. detik itu pula raib di depan mata kami. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian. Wong saya hanya perantara. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. dan lain-lain.html ”Ah ya tidak. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa. ”Mau tahu siapa yang punya.” ”Saya tidak melihat apa-apa. ”Lihat Mas. http://www. ada tuyul di sekitar sini. ”Betul kan Mas. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. setiap uang di tas kerjaku hilang. mana untuk uang sekolah anak-anak. Itu orangnya. Harus dengan uang sebelumnya. itu dia sedang menggendong tuyul. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku.

. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo. ”Cerpenmu bagus Mas. atau di Desa Tempuran. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. http://www. Pandansimping. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. Saya sendiri kurang berani menghadapinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila.” ujarnya. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S. pikirku.” Bulu kudukku meremang. Mana mungkin.” katanya.com/abclit. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.processtext.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan.” Benar-benar gila orang ini. ”Bisa lho Mas. pikirku.

” jawabnya lirih. Nak.” sapaku. telah membuatku tidak bisa . Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok. pikirku. Pulangnya sehabis magrib. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku.processtext. Ah. senyuman seperti orang menahan sakit itu. ”Monggo Pak. rapal. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Hingga pada suatu sore. ini saya beri tahu ritualnya. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. terasa bulu kudukku meremang.” ”Tidak kok Nak Mas. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa. Tapi… senyum itu… ya Allah.com/abclit.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. ”Lha. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan. supaya kerap mengirimi saya makanan. menjelang melintasi jembatan. saya boncengkan. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. ini pasti perbuatan iseng si Roni.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. agak di luar kota. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. Ya Allah. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku. ”Kalau mau ke kota. pikirku.

kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras.. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. Ternyata tidak mudah. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga.) Klaten 2004 . berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau. Seorang lelaki paruh baya.” jawabku seingatnya.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Setelah bertanya kesana-kemari.processtext. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh.. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik.html tidur semalaman. alis tebal. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. http://www. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya. Dia tertegun beberapa saat. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab.. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu.

silakan Kalau Lelaki Itu Pulang. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. seperti puasa. memeluk. . tidak tidur malam. ”Elok-elok di sana. Kosong. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela.” pesan ibu. Kau senang dapat mengajar lagi. dsb. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. Lurus. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. namun kakak bergeming.processtext.com/abclit. Engkau akan mengajar lagi nanti. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari.Generated by ABC Amber LIT Converter. bukan?” Kakak diam saja. Matanya terus menerawang ke cakrawala. berlari mendekati. ”Paman dan bibi akan menjagamu. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. serta menarik-narik tangannya. Nak. Wajahnya tambah putih.. Hanya memandang. kian lesi.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. jauh.. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. http://www. Kau akan dimasukkan kerja. Kakak tak hirau.

” ”Malas bicara. Sampai kini.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. ”Seperti tak mendengar. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah.processtext. ”Ai. ai. ”Tapi kakak diam saja. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan. Nak. bertangisan.” kata adik-adik. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA.html Tetapi ibu terus bicara. Sejak dia tidak jadi mengajar. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. ”Kakak sedang malas bicara. Salamilah paman dan bibimu. Sedang kami hanya bisa memandang.” ”Kakak mendengar. izin dulu ke komandan. ”Ajaklah terus berkata-kata. ”Payah hubungan pos sekarang. Seolah-olah beliau orang penting. http://www. Mariani. paman dan bibimu tiba.Generated by ABC Amber LIT Converter.” jawab Kak Lela. Begitu. padahal hanya masinis kereta api. harum dan bagus sekali rambutmu. Sudah lama kakak serupa patung hidup.” ujar ibu.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap. menyeru namanya. ”Dia sayang sekali kepada kalian. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus.” Kakak tetap tidak beringsut.” . Lambat. Itu. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela. tetapi ayah tidak terjangkau. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak.com/abclit. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. namun ayah tetap tidak dapat dicari. Bukan kepala stasiun. Ah. Membawa ayah. Legam. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. Ikal.

html ”Jalan pun buruk.” ”Terlalu! Tengoklah. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. berdarah-darah. Kak.processtext.” .” kubilang. Kak?” ”Mau. berteriak-teriak. Yang lain siap-siap menyergap.” sahut ibu. Ada empat orang. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah. ”Tapi mau dia makan. Disuapi. aku melesat ke luar rumah.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak.” istri paman menambahkan. Sudah kering sekarang. lihatlah. ”Paham aku itu. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap. ”Disuapi engkau Mariani. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak. ”Tapi tidak dalam. sama besar denganku. ”Anak-anak nakal itu. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. ”Mereka lempar kakakku dengan batu.” balas ibu mengangguk. lalu menoleh kepada kakak. anak rancak? Eh. ”Begitu keadaannya. Ibu-ibu menceracau. Dia melengking.com/abclit. Berlubang-lubang.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. Kuburu anak-anak itu. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan.

”Lepaskan. kubalas berteriak. Tumpahkan terus. bagai rembesan pada panci rusak.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. ingin bersih-lingkungan. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap.” ”Jual. ”Masih rajin engkau mengaji. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Sebuah bendi lewat di muka rumah. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang. Sengaja buya tua itu kemari. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. Hampir terjengkang. ya. ”Bagaimana aku bisa pindah. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap.” Tidak berjawab. Paman kembali melihat ibu. sebagai biasa’. Kepalaku nanar. Pamanmu juga.com/abclit.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Tapi yang muda-muda menolak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bibi ingin mendengarmu mengaji. ”Rumah ini bagaimana. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat. Mengajilah saat maulud. Bahunya bergerak-gerak. Jafar. penumpangnya tak menengok. ia bilang. Seorang lelaki membelalak garang di depanku. Mariani? Nanti mengaji.processtext.” jawab ibu.” . http://www. Membelai-belai rambut dekat luka. Kakak terisak. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Nak. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Kuping mendenging. Katanya.” dia bilang.

” balas ibu. Tetapi.processtext. banyak. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. bila aku pindah. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Jafar. ”Belum juga ia berubah. aku. Sesekali kubawa pula ke sekolah. Padahal. sudah tiga bulan ia mengajar. memandang paman serta bibi penuh harap. Bagaimana .html ”Ei. ”Sudah ke mana-mana kuobati. tak menengok. Melihat pula ke luar.” lanjut bibi. Berangkat gembira di pagi hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. ”Tidur. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir. Menyulut rokok. Dia luruskan kakinya. Paling tidak.” Berbisik pula pada adik-adik. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. tahu keberadaannya. Atau diajaknya adik-adik.” ulang Paman Jafar.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. Jafar. Bersih. ditolak jadi guru. Lagi pula. Diselimuti. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi.” kata ibu. serupa badai. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap. Lalu. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam. Orang-orang tetap lewat di muka rumah. meski tak diucapkan. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. Karena status ayah. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam. ”Tenanglah Kakak. menatap kejauhan tak berbatas. Kak Lela berdoa. Juga siang. http://www. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. Polos. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. Juga karena status ayah. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari.com/abclit. diputus tunangan. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. sewaktu pulang. ”Ambil bantal. menanti pengangkatan. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman.

Mestinya ayah juga. Dekat kami. berharap kakak jadi guru tamat SGA. http://www. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Dia kawanku. ”Terpikir olehku. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. Tapi.” ucap Paman Jafar. ”Kubawa Mariani sekalian. Di Pakanbaru juga kacau keadaan. kakak dibawa paman dan istrinya. terampil-cekatan menangani rumah. Kakak telah pergi. Ibu menangis. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. kalau cukup biaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Syukur ada kakak kalian. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya. Tetapi. ”Kakek-nenek kalian guru.” ujarnya kemudian. Anak Ampek Angkek. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. kalau laki-laki itu pulang suatu hari.com/abclit. seperti ayah. Bila mati di mana berkubur…. ”Komandanku tahu. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. Kak. Besoknya. Termasuk jalan hidup anak manusia.” Ayah tertawa suatu ketika. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. putri sulung.” Kakak terus tidur di beranda. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. Kulitnya bersih.html keadaannya. ”Rencanaku besok kembali. Tetapi malah juru-api kereta api. tapi tangannya campin pula. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. tak mungkin tidak. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami.processtext. Kami juga. tak bergerak-gerak seperti bayi. Putih. atau kami yang kehilangan mereka. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. kakak. Ayah bangga dengannya. ya?” Kami mengangguk. Tugasku menunggu.” Ibu mengangguk-angguk.” Ibu bernapas lega. Dik. Barangkali karena perempuan. *** . Napasnya lunak. Juga lalu di muka rumah.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. di Pontianak.html Jakarta. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. diam. Di rumah kami. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting. Supaya anak dan ibu selamat. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. ibunya sakit-sakitan. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. . Kalau mengikuti urutan keluarga. di sebelah gudang. Karena kata Pa. Emak mau. mengalahkan aku. Di rapat persiapan perkawinanku. Malah sejak aku belum lahir. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung. Sempit. Separuh dindingnya dari tembok.processtext. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. Pa bilang. lalu di pelabuhan. Hidup mereka susah. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. Ma. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Cik Giok menempati kamar belakang. bisu. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. dekat dapur. Emak. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. kamar itu amat sangat sederhana.com/abclit. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. http://www. orangtua Cik Giok kurang mampu. setiap kali Pa bersuara. aku mengikut saja.

Sore hari... Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. Sering di tengah cerita. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. Lewat. aku mengantuk. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. Cik Giok harus dipanggil. dan mengurusi segala keperluan Emak). mengapa Sabtu. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. memanggil. saat bisa sedikit bersantai di kamar. Sebulan. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. yang kebetulan tidak tidur siang. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. berusaha mengeluarkan senyum. Malam itu aku tak bisa tidur. aku masuk kamarnya. katanya. waktu itu. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. kudapati kamar itu sudah kosong. Katanya. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. ketika pulang sekolah. Satu kuartal. Tetapi aku diam saja. Tiba-tiba aku menangis. dibuatkan baju. http://www. bilang pada Emak. mencuci. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. aku bayi yang cengeng.com/abclit. Aku ditariknya keluar.processtext. Juga beberapa malam setelah itu. Ma bilang. Cik Giok menangis seharian. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. Tidak apa-apa. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Lewat seminggu. Hingga seminggu lalu. bahwa ia bohong. membereskan rumah. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. mengajakku merasakan kesejukan di sana. Itu hari yang paling tepat. Pulang sekolah. menemuinya. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. Sudah dekat ujian. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. Memeluk bantalnya yang tipis. Katanya. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi.. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak. Supaya di hari Minggu. Emak.html Aku pernah bertanya. Esok harinya. menggosok. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. ibunya Cik Giok sakit keras. sebelum Emak bangun. Enam bulan. Jadi Cik . hingga aku terlelap. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. berdebu. tahu. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. katanya. Kalau sudah begitu. Aku kelas enam. Terutama siang hari. Sehari sebelumnya. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok.

Persis seperti dulu. kata Ma. Makan. Setelah empat belas tahun pergi. Tenggorokanku kering. Menghabiskan bubur di mangkukku. Bubur encer dengan tung cai. mau mengajak Cik Giok. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. mendengus. dengan dahi berkerut. Ia kutarik masuk. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. Aku menyeringai saja. selamat. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. kata Cik Giok. Aku sudah berdiri.html Giok akan datang. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Semua baik. siap menyusulnya. Ma menanyakan kabar Cik Giok. aku putuskan kembali duduk. Kami berpelukan erat. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. Tetapi melihat wajah Emak. Ma kelihatan kurang senang. aku harus mengepas baju pengantin. Menyiapkan sarapan untuk Emak. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. http://www. yang tak beranjak dari meja makan. Wajahnya lebih tirus sekarang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mau kawin kamu.com/abclit. memberi hormat pada Emak. kataku. suwiran ikan asin bakar. katanya. atas perintah Ma. Cik Giok sudah sibuk di dapur. . tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Aku berlari menyambutnya. Kurebut tas kain dari tangannya. kelihatan sedih. Cik Giok menangkupkan tangannya. Ia akan tinggal terus bersama kita. Aku mengikutinya dari belakang. Ma. Siangnya. Emak. Aku bilang.processtext. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. Tidak. Sudah. ia kembali ke rumah ini lagi. Ubannya sudah banyak sekali. Dan Cik Giok benar-benar datang. aku bertanya pada Ma. dan aku. Cik. Matanya. Baik. Pa. Keras. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Pagi-pagi. Kami menyantapnya dengan lahap. Di ruang tamu. Semua dari kampung. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur.

Itu karena terlalu senang. Sakit. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. menuju jalan besar. Cik Giok tampak bingung. Ma bilang itu biasa. Sedikit lebih gelap. Tak berkomentar. Terkejut dia melihatku.processtext. Cik. setiap calon pengantin selalu begitu. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Sama persis dengan Ma. Cik? . Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Menuju pulang. Meski masih agak longgar di pinggang. hanya beda warna. tak tersenyum. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. mencari makanan di dapur. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Ma menggeret Cik Giok keluar. Ma mencubit lenganku. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Tulis surat buat siapa. Aku berputar-putar di depan cermin. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. Aku keluar kamar. Kami berjalan beriring. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Katanya lagi. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. kataku. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. Baju sudah hampir selesai. Cik. kata Ma. Mencari bajaj. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Aku hanya mengangkat bahu. Ada apa? Ia bertanya. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Ma menjelaskan. Cik Giok tetap diam. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga.com/abclit. perutku terasa sangat penuh. Tubuhku lelah. Dia belum tidur. Mataku berat. http://www. Mungkin. Ia membereskan kertas suratnya. Tidak bisa tidur. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan.html Ayo ikut.

Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Ketika aku kembali ke ruang tamu. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. . kata Ma. Dia akan segera kembali menjelang pesta. Menguncinya dari dalam. tetapi Kuku menahanku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Dengan suara keras. Pa tiba-tiba menghilang. sudah lama tidak jalan jauh. Emak menangis. Entah untuk berapa lama. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Malas. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Aku tertidur. Cik Giok sudah pergi. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Mereka khawatir. Aku sudah tua. Cepat bangun. Dia cuma bilang. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Aku melompat. Urus Emak.processtext. katanya. Aku tak ingin pergi. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. katanya. Dicari Emak. Meninggalkanku. Kau harus berangkat ke Pontianak. menuju kamar mandi. Ma ikut bersungut-sungut. Ketika aku tiba. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. dua belas hari lagi. nanti aku akan mengerti. Nanti. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Aku bersiap menyusul Cik Giok. Terserah apa kata Ma. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. Sehat dan selamat. Malamnya. Kuku menyuruhnya masuk. aku masuk kamar. Kosong. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak.html Keluarga di kampung. Emak. Ma. katanya. Cik Giok sudah pergi. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Di tangannya ada kursi plastik. Penting. Temani Pa. Tetapi suami malah mendesak. http://www. Terlambat. Katanya. Entah dari mana. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Nanti semua akan jelas.com/abclit. Ma minta aku pulang. Wajahnya tegang. Pa. Aku berlari ke kamar tidurnya. Cik Giok kena stroke.

Erat. Semua yang ada di sana menangis. menyeka matanya. Di rumah duka. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. mendorong. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. menjerit sambil berebut mendekati aku. Dengan muka basah. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. saling menindih. Beri hormat pada Mamamu. Pa. yang wajahnya amat mirip dengannya. memelukku. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. besar. Rawamangun.processtext.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. . Perutku mulas. kakak Cik Giok mencium pipiku. katanya berulang-ulang. Maafkan aku. menjemput kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. menggilas. genta-genta kecil bertalu-talu. hingga aku sulit bernapas. Pa menangis lebih keras lagi. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. Aku menangis. http://www. membuang muka. diam-diam. Cik Giok tak menunggu aku tiba. ia berbisik.com/abclit. Ia memelukku. Kakak perempuan Cik Giok. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku.

kendaraan roda empat. Apakah negarawan. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. Hampir 300. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. di Nanggroe Aceh Darussalam. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. http://www. kataku dengan titik air mata. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. Gelombang yang berlabuh. Pencapaian yang luar biasa. secepat pesawat B747. Ketika surut. politikus. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. . dari hari ke hari. Ya Allah. bermunculan di sana mengusung misi mulia. menyurukkannya ke bawah serbet penutup.com/abclit. Itulah yang terjadi pada Minggu. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. atau Pengisi Neraka.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. meraup uang selawat. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. Gelombang itu bernama tsunami. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. Dan: Menjarah! Menjarah harta. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku.000 jiwa melayang. Said Huseini. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. di dasar kerak samudra. penganjur kebaikan. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. Banyak yang bisa dituai di sana. penyair. 26 Desember 2004. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. Pembunuh yang tak pernah gagal. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. gelombang itu menyemai ratapan. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. Menjarah popularitas. dan jasad manusia. dari waktu ke waktu. Menjarah perhatian. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. di negeri yang aku cintai ini. pengusaha. di Nanggroe Aceh Darussalam. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. pengarang.processtext. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi.

Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Secangkir kopi.” ”Abang tak suka laut. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. Di lobi.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami.com/abclit. subuh tadi. Aku duduk di halaman kedai kopi. Tali ayunan menjuntai di kaso. Inilah sarapan pagi di luar hotel. Merbah terbang di ujung ranting. Kami menuju tempat berangin-angin. Kunjungan singkat di Banda Aceh. aku kembali ke hotel berjalan kaki. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. Setelah itu. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera. Gelombangnya menelan perahu Ayah. Berjalan di atas dua keping papan. Celah daun tersibak. Seperti menuju masjid. seorang lelaki berdiri dari sofa. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. Terkadang aku melempar pancing dari sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku suka deburan ombak. memakai pita. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. menyongsong kedatanganku. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. Istrinya masih muda. Mak menunggu berhari-hari di pantai. tiga potong pisang goreng. . Kami diajak ke belakang rumah. Tak ada hiasan di dinding. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. Aku selalu bertanya kepada-Mu.processtext. bila pasang. kecuali ayunan rotan tersangkut. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. http://www. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. Kami masuk ke ruang tamu. mencari buah pohon seri yang ranum. Aceh Besar. menggendong anak perempuan berkepang dua. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. Angin berembus membawa sejuk pagi. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. di Kajhu. ”Aku suka laut. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa.

” teriak seseorang.processtext. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur. bagiku.” ”Aku tidak terganggu. ”Aku heran. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang. meletakkan tubuhnya yang lelah.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. dibesarkan di perahu. Tak ada sunyi di sini. Malam ini. Kami melihat dia.” .html Ayah tak pernah pulang. http://www. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu. Mau rasanya aku mengambil kapas.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa. Di rumah kekasihmu. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu. menyumbat telinga ini. Dalam kampung terapung. orang dilahirkan di perahu. Engkau pernah dengar.com/abclit. Di rumah istrimu sekarang. malam pertama engkau menginap di sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia berdiri. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang.” ”Aku sangat terganggu. juga melihat laut di belakangnya.

Ayah gembira dan puas. Pengarang itu makan dengan lahap. Orang Jakarta. Desember akan digantikan Januari. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya. ”Kalau adat membolehkan. ”Tinggal enam hari lagi. http://www. 2004 akan digantikan 2005. ”Sampah Bulan Desember.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari. Dan aku tertawa.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. Mak ?’ tanyaku. Dia pergi ke jendela. Minggu. ”Semisal pementasan. Dia alihkan perhatian ke buku itu.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. kecuali kegelapan. kata Ayah. Kata Mak. Akan muncul lakon baru penghias dinding. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu.” Dia senyum. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. Malahayati. jauh dari deburan itu. 26 Desember 2004. Dia berdiri dari tempat tidur. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. saat Pak Pos mengantar sebuah paket. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan.” . Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. Dan. dia meneruskan ocehannya. Buru-buru daun jendela dia tutup. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Mak menjelaskannya. ”Sampah Bulan Desember. ’Gulai pakis dan santan durian. sebentar lagi layar akan ditutup. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan. ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu. Hanya tinggal beberapa hari lagi. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. Mala.” Tak ada jawaban.processtext. tidak. ”Tapi mungkin.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Dia menoleh kepada istrinya.com/abclit.” katanya ditujukan kepada si istri. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia. Berarti ini sudah Minggu. ’Apa maksudnya. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. Sekarang sudah pukul 01:45.” ”Maksudku. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. ”tahun adalah lakon. Mak menggendongku.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya. itulah istimewanya Desember. atau mungkin pada judulnya. ”Engkau sudah tidur rupanya. Angin masuk membawa bau garam. Mungkin dia ingin melihat laut.

Malam-malam lain masih ada. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Masih panjang kehidupan bersamanya. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah.com/abclit. jam berdentang dua kali. Kamar pengantin itu menjadi gelap. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Sehari penuh menyambut tamu. Melihat semua itu. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. http://www. Rita menyerahkan ongkos. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. Barangkali dia berpikir seperti itu. beranjak turun. Ditekannya alat pemadam lampu. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. tetapi gerak itu tidak berlanjut. Dia beranjak ke dekat pintu. kekasihnya itu. masih juga dia tersenyum. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. Apalagi malam ini. Di dinding ruang tengah. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Dia tidak ingin mengganggunya. membuka pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin.processtext. Kedua . Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. Ayu mengikutinya.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

berdebur-debur keras. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. punya tiga anak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. kalau cerai sulit cari suami lagi.” kata Ayu. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun.html marah. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. Nggak suka ya.processtext. Firda menyibak vitrage. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun. maafkan kata-kataku tadi. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas.” .com/abclit.” jawabnya datar.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba. Rita dan Ayu berpelukan. http://www. ”Mama. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. he…he…he. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega. Di dalam taksi. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta. ”Suka juga.

kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng. ”. ”Kamu bosan ya..” ”So what ?” ”. ”Ada apa.” Senyum Ferdi memudar. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda.. kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu..html ”Ya. http://www.processtext.... Dan Ferdi ternyata merasakannya. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.” ”Aku serius. Di luar penglihatan Ferdi.. Firda?” Firda tidak segera menjawab. kan?” Ferdi tersenyum lebar. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. .Generated by ABC Amber LIT Converter.” Firda terdiam sesaat.” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur. Memeluknya dari belakang. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat.” ”Tapi kata orang hotel. Perasaannya lembut berdesir. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.com/abclit.

berikut bursa saham yang terguncang. Tetangga dekat. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh...com/abclit.” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP.” Tangan Ferdi perlahan merenggang.?” ”.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu..html ”Jadi kenapa.. Bulan depan aku mau nikah.” ”Oh.” Firda terdiam. yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam.” bisiknya dalam hati... Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku. http://www. berlalu begitu saja tanpa perhatian. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.. . melepaskan pelukan pada pinggang Firda. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran. Tapi sudah lama kenal. Guru yang beruntung. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah.processtext. nyaris tak terdengar.

Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi.. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam.com/abclit. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya... Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut.” .. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah.. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.600 cc berhenti di tempat gelap.” Ferdi terdiam.Generated by ABC Amber LIT Converter.. ”Maafin aku..” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah. ya. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci.processtext.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu. http://www. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.

Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan.. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya..” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil.. dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi.” Firda terdiam. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu.” Firda menjawab dengan pelukan erat.processtext.. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. Cetak undangan. Sampai kemudian keduanya berpisah. sewa gedung.com/abclit. buru-buru membuka laci dashboard. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya.. ”Tolong kamu terima. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu. biaya katering.. .” ”Nggak usah. http://www. saling melambaikan tangan. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil. berbelok memasuki gang. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit..Generated by ABC Amber LIT Converter. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras..html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka.. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas.

Jadi masih ada waktu buat rekreasi. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta.” ”Berat juga ya. ”Malam sekali..” ”Berat sekali juga enggak.Generated by ABC Amber LIT Converter. kepribadian.” kata ibu Firda. http://www. sampai harus ke Bandung segala. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. Karyawati biasa. belum.processtext. ”Bukan lumayan lagi. bahasa Inggris.” ”Namanya juga kerja di restoran.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus.” jawab ibu Firda. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya.. yang bukanya dua puluh empat jam. Bulan lalu malah di . Kadang di Jakarta. Restoran di hotel berbintang lagi. Tapi uang lemburnya tinggi. tapi lebih seringnya di Bandung. ya.. komputer.” ”Yang penting gajinya lumayan.” ”Ah. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. belanja-belanja.com/abclit. katanya. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya. pulangnya antara jam dua belas jam satu. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. Manajemen.” si bibi menimpali.

.” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. http://www. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga.’.” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai.Generated by ABC Amber LIT Converter. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami.. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu.. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu.com/abclit. ya. ’Ya.processtext. sih.” Ferdi tertawa.html Bali sampai seminggu.” . sayang?” ”Ental siang jangan lupa. Eyang nggak mungkin lupa. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. Alloh. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan. ”Ada apa. ”Ini siapa. Pasti. cucunya eyang Feldi. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. dateng ke lumahku.” ”Oh.. Jam dinding menunjuk setengah tujuh. Aku kan ulang tahun. ya. Ia pun bangkit hendak keluar kamar.

. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini.com/abclit. eyaaang. ”Hai. Senyumnya seketika memudar. http://www. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.” ”Anak sekarang..Generated by ABC Amber LIT Converter. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum.. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar.!” katanya dalam hati. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.” Ferdi menutup gagang telepon.html ”Dah.. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab. ”Minta sendiri gih sama Papa.processtext.” ”Ya. ”Icha..” ”Dadaah.” ”Eh.” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya.” . seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. ”Hampir lupa.

. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa.” ”Kamu suka.html Ferdi bertanya-tanya. Maksudku. ”Tenang aja. Tergantung papa dong. rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” .?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah. rumah. Papa jangan ngasih aku mobil juga.” ”Terus.processtext. mau ngasih apa.. http://www. Pa.. sih?” ”Mmm...com/abclit..” ”Kado kok minta.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Soalnya gini. Pa. ”Rumah. Sudah papa siapin. ”Mau minta apa. kan. kado perkawinan.” ”Ah yang bener. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm.” Ferdi tertegun..” Setelah berpikir beberapa saat. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya.

”Kok pakai balik nama segala.” Astrid sesaat terkesima.html ”Sudah.processtext. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri.com/abclit.” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada.Generated by ABC Amber LIT Converter.. http://www.?” Jakarta. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama. ”Thanks.. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali. Edisi 08/14/2005 . Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas. apa sih yang nggak papa kasih.” Astrid heran. Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu.

Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. kakak Mansur. Di sebelahnya. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Pada usia 16 dua tahun lalu. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. Sesekali ia menyeka air mata. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. suaminya. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Mahfud. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Memasuki usia 17. Mansur adalah anak yang sangat sehat. Mona. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. http://www.processtext. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. begitu mendengar kabar duka itu. kata Mansur kepada ibunya. . Meskipun badannya gemuk. Karena itu. anaknya. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. meninggal dunia. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. Suaranya patah-patah. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien.com/abclit. Matanya sembab. Mahmud. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Sesekali air matanya meleleh. juga membacakan Surat Yasin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Mansur meninggal karena bunuh diri. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. ayahnya. Tatapan matanya kosong. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. Suka bermain sepak bola. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. menolak cintanya. ia adalah anak yang lincah. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah.

Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Mansur ingin segera dibawa pulang. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Lima malam sebelum kematian Mansur. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. Dengan alasan tubuhnya masih lemah. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Kata Mahmud. Yang terakhir. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. hasilnya sangat manjur. Amat merindukan ibunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebelum itu. Ny Laila membesuk putranya. Tetapi. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. ia berhenti karena tak tahan godaan. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. suaminya.html Mengikuti nasihat ibunya. Empat malam sebelumnya. http://www. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Karena itu. Tetapi.processtext. baru berjalan satu bulan. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Dan. ia mengalami komplikasi. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. ia tak lagi berani membesuk putranya. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Dan menginap di rumah sakit. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Duka mendalam menderanya. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Selain luka di usus yang kembali kumat. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Mansur kemudian jadi langganan. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. kata dokter. Juga kemarin. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Tetapi. Tiba-tiba ia menangis lagi. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. Karena itu.com/abclit. panas dinginnya tak kunjung hilang. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. ginjalnya juga terganggu. ternyata. Sesampainya di rumah.

Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. Matanya tampak lelah dan marah. Tatapannya kosong. Bang Mansur. Tetapi. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. dengan tulus kuucapkan pula doa. Yah. Kusingkap kain penutup wajah Mansur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. ”Iya. Ia tersenyum getir.html memaafkan segala kesalahan anaknya. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Air matanya meleleh. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. ”O. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. ia tampak damai. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. gitu. Apa pun penyebab kematiannya. ”Bang Acung? Bukan. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. ”Habis melayat. http://www. Sebagai tetangga.com/abclit.” kataku. Memangnya kenapa. Sebelum pulang.” istriku menimpali sambil lewat. Suaranya serak. . putriku.” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. Tak ada senyum.processtext. Bang Acung itu Bang Mansur. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Ocha.

Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri. Lalu terbayang wajah damai Mansur.html ”Yah. Yah. orang-orang enggak tahu sih. http://www. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. Suaranya datang dari samping kamarnya.” gadisku bersila di hadapanku. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Kata suara itu. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Bang Acung itu bukan bunuh diri. Yah. ia melihat seekor cecak. kalau mau sembuh dari penyakitnya. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Orang-orang tidak pada tahu sih. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. Tetapi. Tanah Kusir. Katanya. Dia jatuh. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Yah. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum.processtext.” jawabnya. Yah. Juli 2005 . Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Jadi. Kepalanya dua. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. cerita putriku selanjutnya.” Aku agak tertegun. menyambar cecak itu untuk dimakan. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur. ”Jadi begitu ceritanya. Yah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya.com/abclit. Yah. Bang Acung.

tinggi besar. Kulit hitam. ”Baru pindah. Saya amati tamu ini hati-hati. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah. tanpa ada senyum.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. http://www. Sangar sekali kesannya. Kancing baju bagian atasnya ternganga. sedikit parau. setelah melewati pekarangan kecil dan teras. seorang tak dikenal mendatangi saya. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. kurang nyaman. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. Tubuhnya padat. Suatu sore. matanya memerah.processtext. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. Ketika pintu dibuka. Berkumis tebal. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . Pipi kirinya. sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. ada bekas luka sepanjang telunjuk. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur. Dari mulutnya tercium bau alkohol. ”Iyya. ya!” terdengar suaranya berat. Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya.

ada sesuatu yang ganjil. ”Ada dua. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. ”Iyyya. Saya takut. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. Kami masih berdiri di teras. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. http://www. Rautnya bengis. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain…. Pisau dapur biasa. saya. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. Saya kaget. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. Mau?” Setelah itu. iya. untuk pertanyaan yang sama. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. Kalau tidak. Jangan lupa. . masukkan dalam amplop uang Rp 10. Saya menarik napas. ”Ada berapa. saling berhadapan. Bang…. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman.processtext. ”Mulai besok pagi. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. Saya merasa.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar.000.com/abclit.

Si sangar itu pasti. Tampaknya.com/abclit. Tiduran. Nekat!” Memelas suara istri saya.html ”Saya bersedia. badan sedikit dibungkukkan. Salah-salah. saya bertanya. http://www. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi. Saya dan istri terkejut. pergi begitu saja. ”Kita pindah saja. ”Lagi kurang sehat. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam. Saya mencoba menenangkannya. Gedoran pintu terdengar makin kasar. Ketika pintu saya buka. ”Maaf. Bang. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. Kemudian. tidak takut mati. memang si sangar adanya. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. Bang.” ”Suruh dia keluar! . mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar.processtext. ada yang terlupa?” ”Istrimu. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. Pucat membias di wajahnya.

Pintu pagar dibukanya. ia terlihat cengengesan. amplop ke kantong celananya yang besar. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. Setelah itu. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat. Pisau dimasukkannya ke dalam karung.com/abclit. cantik juga istrimu. http://www.” Si sangar tertawa terbahak-bahak. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. ha-ha-ha…. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya. ”Istrimu cantik.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. Setelah menatap istri saya beberapa jenak. Tangan istri saya terasa dingin. si sangar menoleh dan berkata.html ”Tapi. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar. Di hadapan si sangar. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu. istri saya mencoba tersenyum. Saya menunggu. Jangan-jangan itu semua pisau . ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar. membuat saya tergagap. pintu saya tutup.processtext.” katanya di sela sisa tawanya. Sebelum jauh melangkah dari pagar. ”Ini istri saya. ”Cantik…. Akhirnya si sangar datang. saya masuk menemui istri di kamar. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. tapi wajahnya pucat sekali. Dengan perut terasa mulas. Saya amati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Akhirnya dengan menguatkan diri. Bang….

Bang.Generated by ABC Amber LIT Converter. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. Pintu dibukakan perlahan. dipakai menyembelih. Tapi. ya pisau kami. pintu rumah terdengar digedor kasar.” . Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya. pukul sebelas malam. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. ”Ada apa. ha-ha-ha…. Pisau tumpul. Maaf. akan sangat sakiiiit sekali. Kalau sebelum ke tanganku. termasuk menyembelih kambing atau ayam. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. pisau ini digorokkan ke leher kita. ”Sudah sangat tajam. Pasti si sangar itu.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. sama artinya sebuah penyiksaan.” ia berkata dengan sangat dingin. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. terduduk dengan napas sesak. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. ”Kalau setajam ini. Bang. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. http://www.processtext. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras.com/abclit.

Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak menyakitkan! Termasuk. Abang….” Langit malam bertaburan bintang.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. ”Berikan pisau ini ke istrimu. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. karena luka oleh mata pisau yang tajam. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik.com/abclit. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. ”Bang. Bang! Saya tidak tahu maksud. Jangan ya Tuhan. Bermandikan cahaya. Kemudian. ia raba leher saya. Lihatlah. untuk melukai kulit ini. Terlihat. ”Mmmaaf. dingin. pandangilah saya saat ini. ”Darah manis. ha-ha-ha-ha…. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri.00. Rumah-rumah orang sudah tutup. bagai dicubit saja…. Tapi. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. ia akan menyembelih saya.processtext. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. nyaris tidak mampu berdiri.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya.html Ia akan menyembelih. kemudian dipegangnya lambat-lambat. Sunyi. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. http://www. salah saya apa? Sesaat kemudian. . Tuhan. Ya. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. mohon Bang! Jangan.” Ia terbahak.

Si sangar menyadari pintu terbuka. ”Eh. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. berusaha tenang. membunuh orang. http://www. Baru saja pintu dingangakan. ”Kesiangan. Abang. Santai sekali tampaknya. ”Saya baru setahun keluar penjara.processtext. Saya menggeleng. Apa kabar. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. Saya gelagapan. ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. mempersilakan saya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. dengan seringaiannya. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri. Saya membuka pintu depan. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. ya!” sapa si sangar. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami.html Kami bangun agak kesiangan. ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar.

”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang. Karena tidak menyakitkan baginya. oleh mereka. ”Ketika dipenjara. mati. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. saya ikuti senyumnya. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1. Dan. Iya. Sesekali mengangguk. Dalam hal ini.processtext. saya cobakan tertawa sebisanya. Uang dari keringat sendiri. buncis.html Saya hanya diam.000. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. golok atau merampok dan membunuh. kalau pisaunya tajam. kusembelih. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. ketimun. bawang.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. Lagi pula bukankah ini pemaksaan.000. Kalau dia tertawa. bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. ”Aku mahir mengasah pisau. aku berpikir tobat. Terbayang tanah keluarga yang luas. apakah ia tahu. Istrimu. Memotong sayur. yang jumlahnya lebih seratus rumah. dulu. Kacang panjang. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi…. kangkung. ia mungkin akan tersenyum.000 sebulan. setiap rumah di kompleks ini. Tapi. dan sebagainya. Kalau tidak mau. toh?” . harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. http://www. Kalau dia tersenyum. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat.” paparnya. Karena itulah. Bayarannya Rp 10. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam. Dan terakhir. Saya hanya melayani dengan tatapan mata.” Saya mencoba belajar memahaminya.” suaranya agak lunak. bisa kugarap jadi ladang. Ternyata. Begitu juga kentang. misalnya. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. Karena ingin hidup normal. sebagai ibu rumah tangga. wortel. Dan aku pun dipenjara. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau.000. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau.

Juga nyawamu!” . Kita yang menggunakannya. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. akan lebih baik. mempererat rangkulannya. ”Kamu telah membantu saya.processtext. sembari berkata.” ia berhenti sejenak. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat. Ia kemudian melepaskan rangkulannya. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. Kamu telah mendengarkan aku. Bang!” ”Itu artinya. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya. ia merangkul bahu saya dengan hangat. Dia berdiri. Percayalah. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. kalau dengan pisau yang tajam.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya. Itu artinya. ”Terima kasih. juga enak. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu. tidak ada yang berani mengganggumu. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. Jika ada orang yang mengganggumu. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar. yah barangkali saja Rp 10. rezekiku ada pada pisaumu. Menjelang sampai di pintu pagar. Iya. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. katakan padaku. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya. ”Ingat. ”Benar.com/abclit. ”Begitu juga memperlakukan ikan. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. kan?” Saya mengangguk. Paham. menyembelih ayam. saya pun ikut berdiri. Dan anak buahku. Terasa lebih penyayang.html Saya cepat mengangguk.

dalam. Kecemasan mengambang di bola matanya.html Sejak saat itu. Bajunya basah. Memasuki kompleks gedung. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng. aku masih mendengar jeritan bapakmu. ia berjalan menuju suatu ruang. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. Gemanya sangat panjang. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan. Para kelelawar muncul dari lubang lebar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah hampir 40 tahun. gemetar. http://www. Masih terngiang-ngiang. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk.com/abclit. sambil menimang dokumen lusuh itu. ”Her. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. . Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu. Tampak dari atas. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. Memasuki lorong gedung. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu.processtext. sejak peristiwa berdarah itu berlalu. Ia datang bersama anak laki-lakinya.

Aku kaget. dan sunyi. Ibu meneleponku.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. besok pagi. Tapi di sana. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. Makam itu kosong.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. tapi tidak matanya. Ia minta mobil berjalan lurus. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan. Di Karang Bolong.com/abclit. gelap.Generated by ABC Amber LIT Converter.html ”Bukan hilang. Tapi dilenyapkan…. dan Murti. Mobil pun terus melaju. Seperti puluhan tahun lalu. Soal jasadnya. ya bapaknya Herjuno itu. dalam. ”Maaf Bu. kami berangkat ke makam Bapak. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. buru-buru Ibu mencegah. teman. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara . tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. kalau kamu tidak mengajar. dengan colt station sewaan. aku merasa bingung dan cemas. Tapi kutahan. ”Her. menembus desa demi desa. Suatu pagi. Sepanjang perjalanan. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka. atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. http://www. Nastiti.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. Waktu itu. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. itu urusan negara. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. kami terdiam. Masih jauh. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. antar Ibu nyekar bapakmu. Tapi aku takut mereka kaget. Kata petugas.processtext.

html wajar dan terhormat. Aku terbebas? Tidak juga. langit kota kecil itu pun selalu menyala. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. kami hidup menepi. Bukan. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku.” ujarnya dengan gemetar. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. Dia menjawab ringan. Kan nggak sopan to. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung. Menurut Swanggani. khas jahitan pasar. Seperti siang itu. Bagai tepung terigu ditebah angin. dan ada PSI.” . Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. seorang tokoh PKI di kota kami. ada Masyumi. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Kata-kata ”revolusi”. Tangan mereka terkepal. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. Ada PNI. ”hidup Nasakom”. http://www. aku mendengar jeritan mereka…. kaku seperti baja. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. Hingga kini. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah.processtext. ada PKI. Sebuah rumah bergaya limasan. Di bagian belakang. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa. partai-partai saling bersaing. Dalam zaman yang gemuruh itu. ”Bersama tahanan lainnya. warisan mertua. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru. secara cuma-cuma. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar.com/abclit. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. debu mengepul di jalanan. ada NU. diiringi sorak-sorai. Waktu itu. Di pendopo itu. rasa pedih terus merajamku. Kami menempati rumah besar. ”ganyang nekolim”. Dari tempatku bersembunyi.

lewat RRI. Pendopo kami selalu ramai. Setiap saat itu. Aku pun terdiam.” Tawa Pak Tular berderai. Mas Drajat pun tidak keberatan. ”Hati-hati dengan Pak Tular. Terima kasih. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. Tidak sampai seminggu. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Ada latihan menari dan menyanyi.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Sehabis isya. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. Ada latihan ketoprak.html Suatu ketika. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. Apa salahnya?” kataku. Beberapa jenderal diculik.com/abclit.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. Mas Drajat terdiam. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. Wajah bapakku tampak masam. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. bau mayat tercium di mana-mana. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. ”Ganyang Drajat!!!” . Kami hanya saling memandang. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. Katanya untuk rapat partainya. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. http://www. ”Terima kasih. Beberapa bulan kemudian. Ia memandangku.

Aku memeluknya. Dan ajaib. Pak RT mampu menyabarkan mereka. Sungguh. bentakanku menundukkan wajah mereka. Sebulan kemudian. http://www. Dengan gemetar. ”Bohong! Dasar Gerwani. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. aku gemetaran melihat parang. pada dini hari. Mas Drajat keluar dari kamar. Dadaku sesak. Aku sendiri tidak paham. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. dan Murti lari keluar.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. Esoknya. Akhirnya. Nastiti.processtext. Dia mencoba memberikan penjelasan. Menembus malam. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. .com/abclit. Menuju rumah Bapak. aku melahirkan Herjuno.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Aku tak bisa lagi menangis. Dia sangat tenang. Sangat keras.” Aku pun bergegas membawa Darsono. Di rumah itu. bambu runcing. Keras. Pintu rumah kami digedor-gedor. ”Jaga kandunganmu. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. kelewang. ”Saya tidak tahu apa-apa…. aku menemui mereka. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. aku membuka pintu. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. kerumunan pun bubar.

namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk.” ”Itu bukan makam Bu. Kami keluar dari mobil.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana.html ”Bangun Her. 2005 . pagi hari. Ia berharap negara berani untuk punya telinga. langkahnya tertahan. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’. kita sudah sampai.com/abclit. kini telinga negara telah tumbuh….” Herjuno sangat kaget. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya.processtext. Namun. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. Dengan tenang. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya.” Yogyakarta. http://www. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. tapi luweng. Kami pun berdoa. Bahkan mungkin terguncang. ”Bu…. Kantor Komnas HAM. ia menemui seseorang. sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya.” Herjuno tergeragap bangun. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. Ia hendak berbalik.

Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. Cuma sebentar saja. ketua RT di wilayahku. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. ini ada surat undangan. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. ya aku ada di rumah. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang. Pak Memet. stensilan.com/abclit.” jawab tamu itu. ”Pak Bagus. Aku pun keluar kamar. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. Aku sudah tahu roh surat itu. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. juga ikut. Dan suara berikutnya.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. ”Tidak usah. Kudengar juga suara istriku mengatakan. Tapi ia tidak berbicara. Istriku yang menyambutnya. istriku menyilakan tamu tersebut duduk. Aku membaca surat tersebut. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. .” kata Pak Marjan.html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas. http://www. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku.

Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. Dengan jawaban itu. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami. ”Ya dibawa sebagai bukti. takut hilang di tengah jalan.html ”Kalau begitu. saya ganti baju saja. Ada Mahkamah Agung.processtext. Tidak sopan pakai pakaian begini. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku. atau di tempat tujuan.” jawabnya singkat. Aku mencium dahinya.com/abclit. kecuali uang beberapa ribu saja. celana dalam baru. diapit oleh dua orang dari mereka.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. yang warnanya sudah pudar. Kartu SIM kutinggalkan. berpamitan bersamaan. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya. pakai kaus kaki. http://www. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh. dan kedua pak RT. Jawaban itu sudah cukup bagiku. ”Nanti juga tahu. Ada kejaksaan.” Tamu itu. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. ternyata ada tiga orang lainnya. sapu tangan tidak lupa. Tersirat posisinya dan posisiku.” jawabnya. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. Dan semua isi dompet kutinggalkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. . ”Sabar Mam. Sesampai di halaman. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Mukanya pucat dan matanya kosong. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. Ada polisi. seorang berada di depan rumah. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut.

com/abclit. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. Juga suara mobil. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Kemudian suara sepatu ramai. ”Bagus. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar.35. Aku tidak mau melihat jam. Gigil segar menyemangati. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne. Juga suara orang tertawa sirna. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. Tak ada suara lain. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. Disambung suara memberi komando. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Ketika ia bekerja. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. Sepi mencekam. mengajakku menginap di rumahnya. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. Pukul 16.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. Detik ke menit. Tidak ada yang datang. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup. Langit biru dan angin segar musim gugur. terus berjalan. http://www. Daun kemerisik kuinjak. menit ke jam. tunggu di situ. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. Banglades. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina.processtext. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Juga tidak ada suara radio atau televisi. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. yang tak pernah kurasakan di . aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. yang jelas bukan dari kamar sebelah. Suaranya agak jauh. Keringat membasahi tubuh. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. Tapi tidak terdengar suara manusia. Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama. berdetak besar dan cepat. Aku tetap duduk. Sementara aku duduk sendirian. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong. Suara banyak sepatu melangkah. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. Pohon-pohon ligir. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. Remang malam turun menambah senyap. yang kukunjungi beberapa hari.

”Ini Blitz-krieg.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku.” Aku mendahului. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. ”Di sini tidak ada Pancasila. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong. .processtext. Aku mengangguk.” Suaranya menggelegar mengagetkan. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan.com/abclit. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Suaranya lagi.html negeri ini. Kebebasan. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. Aku tidak senang di kedua negeri itu. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. Ia meletakkan pistol di atas meja. ”Selamat malam Pak. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. Ia tidak menyahut. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. Ia menyalakan lampu. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih. Aku mengangguk terlebih karena terkejut. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam. http://www. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya.

lintah dan semut menggerayangi tubuh. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. terasa darahku diisap lintah. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. ingus. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. Mereka muncul terkadang bersamaan. dengan kawat berduri berlapis-lapis. Ketika aku tidur. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. atau berapa ekor. menciumi bau keringatku. sampai ke rambut dan kukuku. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. lintah. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri.processtext. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing. aku tidak tahu lagi. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. menerbangkanku berkeliling dunia. http://www. pintu keluar barak itu dibuka. tikus dan kecoak.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. tikus besar-besar berlarian di tubuhku. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. Aku ingat bahasa Inggris. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. mana ular. tulang-belulangku. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. membuat sesak napas.com/abclit. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. mana kecoak. Entah berapa orang. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. menggeledah seluruh organ tubuhku. sperma. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi. setelah hampir dua minggu. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. getah bening. Aku mengusap kupingku. tetapi tidak menemukannya. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. sambil menahan napas. dan tikus. Alhasil. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong. Aku mengusap mataku.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja. pancaindraku. bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. Perangai. bukan lagi suara manusia. nyamuk. di tanah airku. Sejak malam itu. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. terkadang sendiri-sendiri.*** .Generated by ABC Amber LIT Converter. tengkorak. kencing ludah.

Lingsut. Ruang teduh.com/abclit. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. mungkin ingin membaca masa lalu. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. dan menggelepar di sana. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. lelah. mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. Mungkin selamanya. Tunggulah sejenak. Ada masa memang. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. Kepala-kepala itu masih penuh derita. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. menekuni lantai. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. http://www. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Ruang tunggu dengan warna pastel. Sebagian dari kepala mereka menunduk. . Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut. ruang nyaman. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat.

Uang mereka tidak cukup untuk membiayai. Dan aku terus mencoba lagi. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. Demikianlah.processtext. Mereka bertiga meregang. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. Dua orang yang masih lelap. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain. Mereka bertiga berpelukan. kuberanikan diri untuk merangkainya. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa. ”Nak. halaman-halaman tak terbaca. sebelum kemudian kembali terlempar jauh. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. Hanya sesekali. Dua kakak beradik. Sekali dua. Aku mencium sari kisah yang terbakar. Setelah cukup tenaga. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. aku terlempar. Tapi selalu dan selalu. mendekati lubang ventilasi. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. bisa kubawa pergi.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia. kembali aku mengitari mereka. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. beradu kepala. Lalu aku akan terbang agak tinggi. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut. Ibu mereka terlalu bersedih. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah.com/abclit. membuat rantai .Generated by ABC Amber LIT Converter. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Hanya bermodal harap dan cita. dan saling melingkarkan lengan. Tangan ibu mereka sendiri. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api. aku lebih sering terpelanting. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. Tapi satu di antara mereka. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. sempat aku hinggap. Mereka mati dibalut api. http://www. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. berpelukan. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi.” Dan api berkobar. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. Mengepak pelan. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. dengan mereka yang mengalami sendiri. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. Percobaan yang selalu aku ulang.

Mereka . Kami ingin bernyanyi dan berlari. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka.com/abclit. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Aku mengambil selendang milik ibu. dan membiarkan perasaan ibuku bolong.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. inilah kota kami yang indah dan makmur. Mereka membiarkan aku mati. Kami belum ingin ke sini. begitu bayi terlahirkan. Mereka mendorong kami. http://www. Ibuku sudah tidak punya air mata. ”Orangtuaku tidak ada di rumah. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. Mereka tahu kami akan mati.rita. Kami tidak ingin di sini. Kembali aku hampir terpelanting. Kaki-kaki mereka mengecil. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. Mulut mereka sangat lemah. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Kaki-kaki mereka bengkok. Mereka bohong. Aku tidak enak dengan ibu guru. Mereka tahu kami mati. menyadap sari ce. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. Pertama membiarkanku tidak punya gizi. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. sebelum kembali terlempar jauh. Ibuku tahu aku akan mati. Ibuku kalah dalam menagih janji. Tapi mereka memaksa kami. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. Satu di antaranya berkata. Dunia yang pahit. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. dia harus menanggung nista dan sengsara. Mereka mencoba membunuhku dua kali. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu.” Di samping lingkaran besar itu. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. ”Kami belum ingin surga. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. aku malu dengan teman-temanku. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Mereka ingin mengatakan pada dunia. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. bermata alum. Kami ingin dunia.html lingkaran yang kokoh. Hanya kami sungguh tidak mengerti. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja.” Si anak yang berkata. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. tubuh-tubuh kecil berbaring. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Kami ingin bermain air dan bermain api. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Mereka bilang biaya perawatan gratis. Suaranya serak. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. ada celah di dunia sana. Tapi di hari itu.processtext. Kami ingin belajar menjadi manusia.

. Bagi orang miskin seperti kami. beterbangan. berharap menyadap dan menghadirkan kisah.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. dengan tangan penuh tombol. Mungkin sampai mati. menebangi hutan.”. Tidak lebih. . Dengan wajah dan kulit plastik. tanpa takut terserang polio. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. Aku terlempar lagi. Lihatlah. Ya.processtext. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. Dan tibalah satu sentakan besar.. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. Aku hanya seperti kupu-kupu. sambil menyeringai dan berkata.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu.com/abclit. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta. http://www. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil. di tengah. meracuni laut. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. Kembali. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. mati pun masih menyisakan masalah. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. Sangat besar dan kuat. Mereka datang dari mana-mana. generasi yang lebih baik. Aku ditabrak warna hitam. ”Ah. Bahkan. Aku hanya seperti kupu-kupu. itu hanya kabar yang berlebihan. ”Hari gini. Aku ditabrak warna putih. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit.” Aku hinggap lagi. Hanya seperti. membobol gunung. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. Seperti hilang. dengan tubuh terlilit kabel.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi.html tahu. gitu loogh. Aku seperti hancur. Aku digendong naik kereta. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi. Aku mati karena muntaber.

Hari itu. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. maka dia pun berhenti sejenak. dan mungkin sekaligus mereka tolol. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu.processtext. keracunan kabar bohong dan bahan makanan. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. bunuh diri. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Di sisi yang lain. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. kelaparan. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. Ada perbedaan memang. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan.com/abclit. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. depresi. disorientasi. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Mereka benar.html Mereka benar. http://www. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan.Generated by ABC Amber LIT Converter. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. kurang gizi. Hingga bagian yang terbakar itu. hingga tampak putih dan halus. .

Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. dan naik mobil yang juga sangat bagus. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. garam.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. Kalau pedagang itu tidak datang. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. ”Benar Mbah. bersepatu bagus. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun. ini gambar calon pak bupati itu. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya.processtext. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. ”Kalau aku ikut kalian. Bagi Mbah Gimun. Mereka berpakaian bagus-bagus. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. nanti ditempel di sana ya Mbah?” . Dengan uang itu dia bisa membeli beras. gula. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. cucu-cucuku itu akan batuk semua. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. ”Iya. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. membawa tas bagus. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Dalam sehari.com/abclit.html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. minyak tanah. orang-orang itu menolak. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli.

Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu.” Setelah para tamu itu pergi. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. Bukan hanya itu Mbah. Katanya. saya diberi tembakau. diberi uang lagi. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya.com/abclit. . Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Mbah Gimun lalu membuka besek. Cucu itu memberi tahu.” ”O. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. melintingnya. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut. mencomot tembakaunya. http://www. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas.” ”Tapi begini Mbah. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun. Lumayan. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah.processtext. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Mbah Gimun kaget tetapi senang. ya terima kasih sekali. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. pasti. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan.

gula. kita semua harus datang ke lapangan bola.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. ”Salah satu saja Mbah. ”Bukan dua tetapi satu Mbah. Mereka mengantar beras. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. Yang ini yang kiri ini bupatinya. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi.processtext.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan.html Beberapa hari kemudian. Pak RT dan Tukijan juga datang. ”Lalu minggu depan ini Mbah. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. Mau dicoblos wakilnya boleh. Yang kanan wakilnya. Kertas gambar itu tebal dan kaku. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. bupatinya juga boleh. lebarnya seperti sajadah. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci.com/abclit. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. ”Iya Pak RT. ”Terserah Embah.

agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak. Hanya dia berpesan kepada anak-anak. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. Kalau layu mengiratnya alot.” katanya pada anak-anak itu. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Dia kan pengusaha.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jam berapa Pak RT?” ”Sore.” . semua membagi-bagikan uang dan barang. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun.” Enam calon bupati dan wakilnya. ”Ya siapa saja.” begitu alasan Mbah Gimun. Ada yang limapuluh ribu. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir. http://www. Menjelang hari pencoblosan.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Mbah Gimun menerima semuanya. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. duapuluh ribu. dan tidak hapal wajahnya.” kata Mbah Gimun senang. jadi nanti kita semua makmur. Sebab baunya seperti minyak wangi. akan layu. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. sekitar jam empat.html ”Ya. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.com/abclit. Bau tembakaunya sudah tidak ada. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. ya.processtext. Sebab saya tidak tahu nama-namanya. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. sepuluh ribu. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. saya akan datang nanti.

dengan anak-anaknya.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. Dia mencari tempat duduk yang pas. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. sandal jepit. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Bukan pak bupati. ada yang tertawa. Karena masih pagi. Enam calon semuanya memberi uang. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. memberi teh. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. dengan menantu-menantunya. di hidung. satu-per satu warga kampung dipanggil.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. Bara api di ujung rokok itu memerah. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Di bilik pencoblosan. Dengan mengucap Bismillah.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan kepalanya ditutup udeng. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. udara terasa tidak terlalu panas. di mata. ada pula yang tegang dan cemberut. Mbah Gimun memakai kain sarung. http://www. Dia lalu melolos satu lembar kertas.com/abclit. baju surjan hitam. dicatat. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. 2005. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. memberi tembakau. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. . menawarinya tempat duduk. Di rumah. Ada yang dicoblos di jidat. memberi beras. Melihat Mbah Gimun kebingungan. Ada yang tersenyum. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya.” Cimanggis.processtext. ada yang di pipi. dilihat kartunya. Baunya sangit dan keras. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Dari saku surjannya. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. ada yang di mulut. bukan kita. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. dan diberi kertas suara. ”Sayang. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. memberi gula. dia kebingungan. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti.

html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.” . bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. http://www. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. dan moncong senapan itu seorang ibu. Nak! Tapi. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi. Ya. tak akan kembali ke moncong senapan. ”Ibu restui kepergianmu. Saat itu. meski kau tak pernah lagi membalasnya.com/abclit.

namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. Tapi. Wafa Sulastri. http://www. Rehan. Sejak enam tahun lalu.” Rumah kita makin lengang. bule perempuan berkebangsaan Spanyol. Mencuci pakaian. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. sejak menikah dengan perempuan rantau. . Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. Kecuali bapakmu. Tanpa bapakmu. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. Selain bergiat sebagai pelukis. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. tak terdengar lagi khabar Acin. Sejak itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Bapakmu rela di-perempuan-kan. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Acin akan pulang membawa istrinya. tentu ibu akan bersendiri. ibu sendiri saja di rumah!” katanya. menyuapkan makan. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. sekaligus menjaganya. lambat laun ia sukses. termasuk bapakmu. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. setelah masa tugasnya berakhir. Saat itu. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Tapi. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. ”Ruz ingin jadi anak ibu.processtext. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Umurnya sudah berkepala delapan. merengek-rengek minta izin untuk merantau. Jika kau sudah pergi. Acin berjanji. menimba air mandi. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. abangmu yang satu lagi. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. Abangmu. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. dan tinggal bersama ibu. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Tanpa Rehan. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. apalagi kerinduan ingin merawatnya. Delapan orang anak nenek. Setelah lulus jadi polisi. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. Hanya kau yang tersisa. Acin dan juga kau. ”Kasihan. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. setelah tamat SMU di Payakumbuh. Pada surat itu.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak. http://www. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. Pada saat itu. 13 tahun. Yang jelas. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli. Belum lama berselang. . Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu.com/abclit.

Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap. Cuma asal terbang.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh.com/abclit. ”Heh. . Berlalu dari samping Anggi dan Olan. setiap kali aku mau menghalau. mereka sudah terbang duluan. http://www.” ”Tapi. Mereka memahami gerak-gerik kita.” ”Mereka belum bisa melihat penuh. makanya sering saling tubruk.

. ”Ke rumah Gumortap. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan. ”Ada enggak?” tanya Horas. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka.processtext. http://www.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan.” kata Anggi. ”Mau ke mana?” ulang Anggi.” kata Horas. ”Dia dipanggil ayahku. ”Mau apa?” tanya Olan. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.

” kata Anggi. ”Aku jalan dulu.html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi. ”Tapi semua sudah tahu. siap berkelahi dengan ayahmu. Nanti malam musim ombak besar.” katanya. tak akan banyak!” . ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. ”Mereka masih anak-anak burung.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Coba dia membawa kapal sekarang. Gumortap sekarang membenci ayahmu.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak. kita harus mengusir burung. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. ”Heh.” ungkap Olan. ”Mesinnya kan sedang rusak. http://www.” kata Horas.processtext. ”Aku ikut.com/abclit.” kata Anggi.” kata Olan.” kata Anggi. ”Biarkan saja mereka makan padinya.

Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka.processtext.com/abclit. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. juru mesin dan juru mudi yang baik. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau. ”Bilang sangat penting. . ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. tapi kemudian berlanjut saling pukul. tak banyak yang tahu. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. pemain gondang yang baik. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya. http://www. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam. ”Kau saja yang memanggil lagi. melalui jendela. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun. bahwa Gumortap tidak bisa datang. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Dan sejak itu. dan tentu saja. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut.” kata Ayah Horas. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu.

html Begitulah.com/abclit. Entah siapa yang datang bertamu.” kata salah seorang tamu itu. tanpa dukungan juru mudi Gumortap. tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal. Horas mendengarkan dari balik pintu. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan.. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal. ”Banyak yang marah. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. Dia baru saja menutupkan jendela. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. Dan seseorang itu bisa saja. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. http://www. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. ”Kami mendengar lagi Pak. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Suara ayahnya dan beberapa orang lain. Licin dan halus. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah.processtext. .” kata yang lain..

dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar. barangkali seusia ayahnya. ”Bapak harus menegurnya.” .” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kata yang lain.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. http://www. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua.com/abclit.” ”Jangan mendatanginya. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya.” ”Bila perlu mendatangi rumahnya. jangan mendatanginya.” ”Ya. akan saya panggil ia ke sini. ”Dia kurang ajar.processtext. Perintahkan.

Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Eh. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Yang dapat dilakukannya adalah.html ””Katanya Bapak menghinanya. ada tamu.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya.” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. Inang?” tanya salah seorang tamu itu. maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. Ia . Tapi kalau ia keluar. “Baru dari pekan. http://www.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas.processtext. berjaga-jaga. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah.com/abclit. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu.

menusuk. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. Langit sore sebagian memerah. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. menusuk. di kakinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. darah seharum ombak malam. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu.com/abclit. ”Anak gila!” umpatnya. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. seraya mengatakan sesuatu. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. Tangan Horas kini berlepotan darah. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. entah mengkhawatirkan siapa. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. menusuk. tapi Horas berhasil mengibaskan. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Namun Horas tak mendengar. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. Horas tak menjawab. Horas terus merangsek. http://www. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya.processtext. Belati telanjang dan berbahaya.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. Di sebelahnya. Lalu Horas . Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. Beberapa orangtua berusaha menolong. Horas melihat sekilas.

tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. dari kampung Pasar Kliwon.com/abclit. beberapa . Bank Jerman. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Tapi semuanya sukses. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. Mereka mendirikan rumah berderetan. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. termasuk ia sendiri.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. http://www. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank. Teman-temannya itu. semuanya telah lulus perguruan tinggi. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Sesaat. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah. Tangannya gemetar menggenggam belati. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. Usamah juga ikut membeli tanah. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. tapi tak semuanya jadi pegawai. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Tapi pada suatu hari. tapi ia terpisah. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. sebagian memilih jadi pengusaha.

sangat sedih kehilangan Nero." jelasnya lagi. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. dekat sawah. "Di Mekkah. dengan persetujuan seluruh keluarga.processtext. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. "Di Minangkabau. Tak tanggung-tanggung. bersama pengasuhnya. Nabi sendiri suka dengan kucing." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga." jawab Buya. anjing itu pun mati. Ia dan keluarga. memberanikan diri. "Boleh tidak Buya. bermain-main di rerumputan pinggir kali. banyak penduduk yang memelihara anjing. termasuk anjing. mungkin oleh tetangga yang tak suka. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang.html ekor dicuri orang. terutama anak kecilnya. dekat Masjid al Azhar. itu separuh penghuninya adalah anjing. Najib. "Tengok ke halaman rumah. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. jika Faris ingin .Generated by ABC Amber LIT Converter." jelas ulama asal Minang itu. Kebetulan ia mengikuti aliran modern. Faris. Rahmah el Yunusiyah. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. Hector selalu menggonggong keras. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. http://www. memelihara anjing sudah biasa. Itu ada anjing besar. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. al Irsyad. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. tertidur selama 300 tahun itu. Pernah ada hadist yang menceritakan. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. maklum bertanya kepada ulama besar.com/abclit. Minah.

karena mendapat gonggongan Hector. "Walaupun seekor anjing. "Jaga dong anjingnya. Ia sempat membawa lari seekor ayam. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. anjing itu pasti mati kami hajar. Pada suatu hari. setelah selesai belanja. Hector mengejarnya sampai tertangkap. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. berusaha mencuri ayam. http://www. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector.html bermain-main di kali. maka pencuri itu pun bebas. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. karena jika ikut masuk. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. Pernah suatu pagi hari. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. Pencuri itu pun. Ketika lari terbirit-birit. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. teriak-teriak minta tolong." jawab si pencuri. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. ia tak pernah berbohong. Jika istri Usamah pergi ke pasar. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. setelah melapas ayam curiannya.processtext. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. "Tidak. tidak." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu.com/abclit. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. saya tidak mencuri. Ketika mau mengambil kompor. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. Anjing juga tidak pernah mencuri. Hector selalu dibawanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya." . jika tidak mau mengambil barang saya." jawab Bu Usamah. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. Kalau Bapak tidak datang. Mendengar gonggongan anjingnya. Hector disuruh menunggu.

baru Hector menggonggong. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. Usamah sekeluarga menonton TV. Hector sudah berhenti bernapas. Anjing itu seperti malaikat. http://www. Setelah sejenak duduk. Kalau siang. Anjing ini sehat dan bersih. setia menjaga rumah dan majikannya. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. sudah masuk SMP.processtext." jawab Usamah. Tak pernah mencuri dan berbohong. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. anaknya yang terkecil.html "Lho Pak." "Yang najis itu air liur anjing gila. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. sebelum punya anjing.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia terutama dekat sekali dengan Faris.com/abclit. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. Dulu saya pernah kecurian ayam. Faris sudah berangkat besar. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. Karena itu orang yang berniat jahat. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik. Ia masih akrab saja dengan Hector. mengurungkan niatnya. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. "Masya Allah. karena tidak bisa. cuma mengangguk. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. Tapi kalau malam. . Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah." "Apa Bapak tidak tahu. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. tanda ada yang mengganggu. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. Rupanya. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. Haram. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Faris pun menggoyang-goyangkannya. Kalau ada yang dicurigainya. Pada suatu sore di hari Sabtu. Cuma. tapi Hector tidak bangun juga. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. Dan Faris sangat menyayanginya.

tanpa doa pun. Hector akan masuk surga. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Hanya menatap. seperti tidak kenal lelah. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami. seluruh keluarga gempar. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. seperti manusia. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Melihat keadaan itu maka Usamah pun. Pak Usamah sempat membaca doa. Tapi Hector lebih menyerupai manusia.html Melihat Hector tak bangun lagi. malaikat akan masuk surga. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. Tidak sekalipun berkedip. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. manusia pun akan mati. Kepada mereka.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi. bagian dari keluarga Usamah. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. http://www. Abah yakin. apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. "Seperti ada dan tiada. Semuanya berasal dari Allah. Ia pun dikuburkan. terutama Faris. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. pagi-pagi benar. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya." Keesokan harinya. Sebenarnya. sambil menitikkan air matanya. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh." . bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Nius.processtext.

diduduki hingga kini. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. sudah bercucu satu. "Di mana dia?" tanyaku antusias. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Nius. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya." jawab Tum. sebagai grosir roti dan permen.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kalau aku pulang. Dulu kami sering . Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. Satu di Palembang. Nius. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil." Biju menerangkan dengan gembira. http://www.com/abclit. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Ayah Bun tukang gigi. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. kendati kota kami tetap saja setelempap.processtext. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Bahkan mengerikan. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. Kami ajak bermalam tidak mau. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil." tambah Amril. Berubah sekarang. "Seperti orang-orang di dalam mimpi." "Hanya si Cudik. Dua lepau nasinya sekarang. "Tentu!" kubilang. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. akrab dengan pribumi. Dia dan keluarganya tergolong aneh. lebih-lebih tukang gigi. "Tak lama lagi pensiun. "Bun di Medan jadi dokter. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. dewasa atau jadi tua. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. Si Talib di Dumai. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. si Talib dan si Tunik yang acap pulang.

" sahut Tum. "Jelas enak. Tapi kami cegah. kami kerap nginap di rumah Sultani. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Matanya tak terlalu sipit. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega." KAWAN masa kecil itu lincah. "Itulah. http://www. Ibunya baik seperti ibu Bun. Mereka menggeleng. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin. Dia kapten sepak bola. kadang susu. Minumnya teh hangat. pintar di sekolah. Nius. adik Bun. atau menjelepak duduk di lantai. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. Suka-suka kami mau makan apa. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Seperti di rumah Bun." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. mencukur. adik kelas kami. "Tidak halam. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". "Percuma. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Tidak kecuali Sultani.html bermalam di rumah itu. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami.processtext. tidak halam! Enak laaa. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. kembali menampakkan senyum yang ganjil. Juga pandai menjahit. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. lucu. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air.com/abclit. Rambut ekor kuda. Bak orang-orang dalam mimpi. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. mengantar kue mohok hangat-hangat.Generated by ABC Amber LIT Converter. tak pake babi laaa. ." bilang Tum.

Ibunya tersipu. Dan Bun disunat. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. Babah mau coba? Sret. Baju. Biju dan Tunik juga. . "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. http://www. "Sebetulnya telat Bun. Terbahak-bahak seperti hantu air. Dan pernah pula Buya Makruf. mengajak makan. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. "Ayaaa." "Tidak sakit. Kami berebut. Mestinya waktu kita kelas tiga. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. laaa. Iya kan. Bun mau potong bulung bole potong. tidak terasa.processtext. Kelas enam disunat.com/abclit. serta sarung beliau "terbang. ke halaman masjid. selesai!" Ayah Bun terkekeh. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Ulah Sultani! Suatu kali. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. jadi keras. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Lalu ia sambar roti. mencangkunginya seperti buang hajat." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. alias usil plus kurang ajar. Bun?" Bun mengangguk lemah. Mukanya pucat serupa mayat. Berenang kalang kabut ke tepi. guru mengaji kami. kopiah. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. Ayah dan ibunya setuju. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. "Malah.html "Makan. Portir bioskop juga dia ulahi. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung.

com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebulan ditanggung fasih. Tunik juga. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Sultani berkata: "Sudah Bun. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. malah sebelah sini terlampau pendek. Suaranya merdu. kan?" Aku mengangguk. tidur-tidur ayam. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Ketika kuraba.processtext. Sudahlah. sepekan rambutmu . "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. Rancak. "Tadi di sini terlampau pendek. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. "Rambutku dia cukur. tentu saja. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Mataku merem melek. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Jangan pula licin tandas bak kelapa.html Setelah sembuh. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. Eh. ikut mengaji saja. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. Tetapi. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Aku malah tak sekali. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Kepandaian itu turun dari ibunya. "Seperti model rambut Bang Rustam. http://www. Mendesis-desis lunak. Bukan saja Bun. kuratakan. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Dan sesekali. tajwid dan kiraahnya elok. Biar aku yang ngajar. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Rustam. Tapi aku merasa. Tak licin di sekeliling kepala.

Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. Bagus juga kau gundul. tahi kuda dan entah dengan apa lagi. Tepatnya. Dia mendekat. aku menghindar." kata Amril.com/abclit. http://www. hasilnya nihil. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Tetapi mereka pun tidak tahu. Pernah kami tanya ke situ. Atau pergi. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak.processtext. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran." sambung Biju lesu. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Menyepak pintu hingga rubuh. Mereka melempar rumah itu dengan batu. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Nius. Suara mereka teramat gaduh. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. berteriak-teriak. suatu pagi. Sejumlah orang menerabas masuk. Tahi kambing.html panjang lagi. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Kaca-kaca pecah berderai. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Mereka . aku menghambur ke jalan." Tum diam saja mendengarkan sunyi. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Mereka menuju rumah Sultani. Nius. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani.

Bergelombang-gelombang manusia. seolah-olah tidak pernah lelah. diseret abangku pulang. Menangis. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Bahkan sampai kini. Dia juga menangis. "Semua orang bilang begitu. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Aneh sekali. Hanya mata saja. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. dua buah. kemarin pagi. tegak kaku di ambang pintu. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. melihat aku di tengah kerumunan. meraung-raung. Kusaksikan ayah Sultani diseret. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku. Tanganku dicekal. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. Lututku menggigil. Buas sekali. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. Menghabisinya. http://www.com/abclit. Perempuan itu terjerembap di halaman. yang menatapku tanpa berkedip. Ibu Sultani berlari mengejar. Sultani juga.Generated by ABC Amber LIT Converter. 2 April 2005 . "Dan. Orang-orang masih berteriak. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. "Mulai kurang ajar ya. Mukanya berdarah.processtext.* Jakarta.html terus berteriak. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai.

bupati. Sungguh menghabiskan waktu. Sudah sering datang orang. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. satu dua. bibit tanaman. saya menjawab sekenanya. maupun wali kota. Karena istri saya gelisah. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan.com/abclit. persoalan anak dengan orangtuanya. mengular sampai jalanan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. Kadang-kadang saya juga diundang camat. Juga tentang hubungan suami istri. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. Istri saya memberi tahu.processtext. soal usaha tambak udang. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. http://www. setelah sarapan. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. menjenguk lewat jendela. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. ramai. satu dua. yang sama sekali tidak saya ketahui.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika ditanya. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. sekadar yang saya tahu. perburuhan. menantu dengan mertua. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Saya acuh tak acuh. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Istri saya belum menemui mereka. Saya rasa kali ini juga begitu. pengairan sawah. Ada apa? Saya acuh tak acuh. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. perbankan. Di samping para tetangga. Sudah sering datang orang. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. . bawahan dengan atasan. Misalnya. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Kadang datang berbondong.

Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. tidak ke mana-mana. agaknya hanya saya seorang. dan berapa orang saudaranya. lalu saya cari alamatnya. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya.000 orang. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. Saya catat riwayat hidupnya. dibawa pulang ke rumahnya. ia seharian di rumah saja. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara. Begitulah. sementara beban keluarganya besar. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. Misalnya. menyadarkan saya. Kepala kantor orang itu kebingungan. menyebabkan banyak orang mengenal saya. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari.processtext. sampai kenalan baru. Saya interviu keluarganya. teman-teman. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. bupati.000 karakter. ia kaget. Seluruhnya orangorang biasa. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. http://www. saya dijuluki "pendengar yang baik". lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. tidak benar-benar membutuhkan saya. Tulisan obituari itu tidak panjang. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Untuk sikap saya itu.html Rasanya camat. dan wali kota. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. keluarga. juga tayangan televisi. sebagaimana kematian itu pasti tiba. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Cukup menyenangkan. Alasan saya. sekitar 5. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. . misalnya. di sebuah desa yang lengang. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik.com/abclit. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Sebagai penulis lepas. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. teman. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Kadang sampai 8. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Masa pensiun pasti datang. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. pekerjaan terakhirnya. sedangkan untuk orang-orang biasa. Keluarganya memberi tahu. Begitu siuman. kenapa tidur di rumah.

ia meninggal." jawabnya. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. jika seseorang ngobrol dengan saya. tak ada yang menulis.processtext." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis. http://www. Saya tak bisa menjawab. Wah. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. "Maaf. Tidak kenapa-kenapa. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sementara itu ada pula yang bilang. seseorang yang ngobrol dengan saya. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Banyak komentar. Pak. Dan sebagainya. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. Ada yang bilang. Ini benar-benar klenik. saya sedang mewawancarainya." Tapi.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. kenapa?" "Maaf. ataupun di stasiun bus. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. Maka ada saja orang yang anti-saya. Saya nggak mau ditulis sekarang. ada yang mengartikan. Dari kejadian itu. Tapi ini kebetulan saja. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Yang jail maupun pelesetan." . Banyak usulan.com/abclit. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. kompleks pertokoan. Pak Jurnalis. Ntar saya yang menulis Bapak. "Lho. "Pak. ini bahaya. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal.

" "Saya permisi. http://www. yang paling kritis. Saya jadi pendiam dan menyendiri. lima orang." "Jangan ditinggal korek apinya ini. Banyak ngomong dianggap meramal. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain." "Biar untuk Bapak saja. anak-anak ini sok tahu. Lalu malah terjadi serba-salah.com/abclit. Di pertemuan-pertemuan desa. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Keterlaluan. Jika sampai di sini hal itu masih baik. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Menurut mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. wah. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Pak. katanya. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: . Ketika orang menanyakan pendapat saya. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. kenapa?" "Maaf. Apa yang akan terjadi dengan saya.processtext. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. Pak." "Lho. Kritiknya tidak berdasar. Memangnya saya cenayang. Anak-anak saya. dan si bungsu di SD kelas 5. Pak. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. sedikit saja saya ngomong. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama.html "Baiklah. Tidak kenapa-kenapa. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya.

. Nah." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala. "Kalian ngawur. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. ini dosa." jawab anak-anak itu." "Ayah marah kena keritik. Ayah pernah menulis obituari.html "Dari mana kalian tahu." "Semuanya. kalian ngawur. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah." "Itu harapan saya." "Semua orang bicara dosa dan pahala. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga." "Boleh saja." "Nah. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.com/abclit. kan.processtext." "Begini." jawab saya. Itu doa saya." "Tidak bisa seenaknya begitu.

Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Nah. menjenguk lewat jendela. Kami sebenarnya keluarga bahagia. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Saya sering lelah berdebat dengan anak. Istri saya guru SMP. sedang rakus-rakusnya makan. cerdas dan berani.processtext. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Saya menulis apa saja. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Padahal saya selalu bilang. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Saya acuh tak acuh. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . Istri saya belum menemui mereka." "Nah. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Istri saya memberi tahu. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah.com/abclit. Sebagai ayah. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. anak-anak saya itu diam. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Hari baru membuka matanya. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Sudah sering datang orang. satu dua. mengular sampai jalanan. Ada apa? Setelah sarapan. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. termasuk menulis berita. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Jam baru menunjukkan pukul 05. http://www. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM." Mendengar keterangan saya. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. Lima anak semuanya sekolah. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Karena istri saya gelisah. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. setelah sarapan. Saya rasa kali ini juga begitu. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup.anak saya tersebut.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. merangsek ke depan meja saya.00.

processtext. mereka menatap kebenaran. anak-anak. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. di jalan. nistagmus. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan.html Mata mereka nanar. berserakan memenuhi ruang dan udara. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. itu bukan karena ia ingin. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. di kebun. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. di atas pohon. Entah berapa lama saya pingsan. Tangerang. Tapi tidur itu tak pernah panjang. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. di reruntuhan rumah. Ahad. Waktu saya siuman. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. . Sinar matahari memancar. di luar kemauan. tak seekor pun tampak terbang. berserak. laki-laki. perempuan. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. Kalau toh ia tertidur.. Bahkan burung-burung.. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. mencecap pencerahan. 26 Desember 2004.tanggal akhir hayat. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. http://www. tua. diselimuti lumpur. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. panas. Alhamdulillah. kemudian dibiarkannya mencair.com/abclit. muda. 20 Januari 2005. Seluruh mayat itu. Cuaca cerah. di pekarangan. Mungkin hanya karena terlalu lelah. bayi.

namun tetap tanpa jawaban.processtext. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" . memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. "Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. Masmu Jito tidak ikut. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. hingga warna itu berubah tua. Pada siang yang murung itu. "Ya. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. Tapi sayang. http://www. Kami juga sudah menunggu lama. Kantuk masih menggelayutinya. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Bagaimana kabarmu.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. Pertanyaan serupa diulang.com/abclit. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk. Mbok Nah diam.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Mereka sudah lama menunggumu.Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Di ruang tengah. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. Tapi. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat. kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. dan Drajat yang pengusaha real estate. entahlah. Swandaru yang anggota DPRD." . persisnya sejak Lebaran tahun lalu. hendak menyulut. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi.com/abclit. tapi dicegah Ambar. "Eyang Putri tidak senang bau rokok.processtext." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. http://www. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak. seperti koor. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak.. "Di kamar.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Setelah diam beberapa jenak.. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" . Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. Swandaru merangkul Gendut.com/abclit.. "Ndut. http://www. Gendut pun beranjak. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar. Pintu kamar itu diketuknya. "Saya Gendut. Empat pasang mata mengepung dirinya. Mbak Ambar.html Gendut memasukkan rokok di sakunya. perlahan." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru.processtext. Kamu kan cucunya yang paling disayangi. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda." Gendut termangu. Mbak Kunti. coba kamu temui Eyang Putri.

ya bukan urusan saya. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. Kalian mesti tanya developernya. Gendut langsung menyelinap masuk. dong. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya. namun hanya beberapa puluh senti. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani. http://www. Perkara pembangunan itu macet." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu. Aku menebak. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka. Ketika menonton televisi. semua beres." "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Seperti yang kami kenal. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri.html Pintu pelan dibuka. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. Semua kakaknya saling memandang.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Nggak ada komplain. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi.

Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang.html "Tanya itu developer. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. Anak dan istriku tampak cemas. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. tapi HP-nya off. Aku ngomel sendiri. Aku terus mengomel. http://www. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri. hingga commercial break memotong tayangan berita itu. . Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. tapi gagal. Mereka pun langsung masuk rumah sakit.processtext. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Mereka menangis. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi.com/abclit.

. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat. dengan bangga. dan berani. Gendut belum berani bicara.html Kami sama sekali tidak menyangka. Sesungguhnya. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas. yang gigih menentang setiap penyimpangan. DI antara para cucu. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. Namun. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. wajahnya tampak lelah. Di layar televisi siang tadi.processtext. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano. wajah Eyang Putri tampak pucat..com/abclit. semakin bersilangan. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. semakin tumpang-tindih. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. no comment" . http://www. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. dia akan mengejarmu sampai neraka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia melihat. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. jujur. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. tapi juga sangat sedih. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu." pesan bapak belasan tahun lalu. malu. Ia hanya mematung di samping ranjang. ia hanya berucap "no comment. Walau cuma serupiah.

kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan.processtext. sawah yang membentang. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. adas pula waras. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. pemberani. Setiap pagi. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. cabe puyang. Matanya masih bercahaya. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. kencur. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. dlingo bengle. jahe. Padahal jumlahnya belasan. toh akhirnya goyah juga. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. sungai yang mengalir. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. gunung yang menjulang atau langit yang biru.html Setegar apa pun hati keluarga kami. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Dan ingatannya masih tajam.com/abclit. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. Meskipun usianya di atas delapan puluh. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. Dengan runtut. http://www. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. Tapi. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. Ada yang culas. Ketika kami kecil. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. Juga nama cicit-cicitnya. Setelah Eyang Kakung meninggal. Harum tapi juga semegrak. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. Rimpang-rimpang jahe. Jamu itu kemudian dijual di pasar. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. laut yang bergelombang. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. jujur. dan entah apa lagi. atau penjilat. meskipun akhirnya tidak ." ujarnya. Tubuhnya masih cukup tegap. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. licik. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. dengan berbagai wataknya.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan.html hidup bahagia. yang dipikir cuma perut." pesan Eyang Putri. http://www." ujar Mas Swandaru sambil bercanda.com/abclit. "Ah kamu. Ayo. Semua tertawa." Eyang menatapku. nggak apa-apa…" . "Kalau saya ya pilih kaya. "Bicaralah. Aku kelimpungan. Bingung. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya." sergah Mbak Ratri. "Kalau kamu bagaimana. Gendhut.processtext.

Eyang Putri diam. tapi hanya untuk mengakali. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik.processtext. Mendadak. tapi licik.com/abclit. Dia punya banyak akal." Semua tertawa. http://www. "Dia bukan pintar. "Pintar kamu. Ndhut…" Eyang Putri terkekeh. mengurung kami. ketakutan diam-diam merambat.

http://www." Malam makin larut. kalau kalian besar nanti.com/abclit. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam. Kantuk pun bergelayut. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana. Dia bilang. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. "Benar Eyang." ujar Mbak Kunthi. "Maka. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang. "Iya. "Akhirnya. Ratri menyahut. dalam gelap malam.html Kami mengangguk. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya.processtext. Satu per satu kami tertidur. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani…. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai.…"sahut Mas Swandaru. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani.Generated by ABC Amber LIT Converter. .

Tapi Gendut memberanikan diri bicara. Urat-urat wajah mereka menegang. "Ndut. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Ke mana air mata itu.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. tak ada suara terucap. tapi masih tetap tegap. Bukan kancil atau ular piton…" . Eyang Putri menggeleng. Perempuan renta itu berjalan pelan. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras. pikir Gendut. http://www. Eyang. "Biar aku duduk…. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. Gendut kaget.processtext. "Kita berdoa. lemah. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. Dalam beberapa kejap. Di luar kamar. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Wajah mereka tertunduk. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar." ujarnya pelan. empat kakak Gandut masih menunggu. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. Mereka hanya saling memandang.

kami percaya dan yakin.com/abclit. "Mestinya sejak dulu. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya…. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih." ujar Gendut.html "Bagaimana kamu tahu. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. "Tapi maaf Eyang." "Tapi. "Itu yang aku sesalkan.processtext. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" . http://www. merintih. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil. meskipun kami tidak punya bukti. Ya.

Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…. Tubuh mereka serasa berubah transparan. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya.processtext. Semua mendadak terasa terlepas. Mungkin…. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu. Edisi 05/22/2005 . http://www." ujar Kunthi. Itu masalahnya. Mereka merasa dilucuti. akan mengembalikan martabatnya…." ujar Eyang setengah meradang. "Kebenaran akan membersihkan namanya. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. sebelum akhirnya pingsan.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. seperti terbaca. Eyang Putri berkali-kali menarik napas.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. ditelanjangi. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. DI rumah itu.

artinya pula tak lain satu kata: gila. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? . bagi kami. tak bisa tidak.com/abclit. sepatu manusia. Jejak sepatu celaka. pikirmu. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu. di zaman homo habilis juga belum ada. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. seluruh waktumu. dan waktu melenguh. neanderthal.sia? Maka sembunyi itu. Di suatu waktu di zaman lain. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. homo erectus.html SEPATU itu. Dari satu waktu ke lain waktu. Dan itu artinya. Betapa kekal jejak itu. Dengarlah sepatu berderap. sepatu serupa. segera jadi bohong besar. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. menginjak seekor trilobite.. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu. ditemukan juga jejak sepatu.. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong.. menguap. Jejak celaka! Bagaimana bisa. TETAPI trilobite. dari satu batu ke lain batu. bongkah itu akhirnya pecah. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. Semua akan hancur. harus kami bikin tetap sembunyi. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. dengan cara begitu rupa. memanjang ke fragmen tengkorak. lebar 11 cm. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. Jejak melesak di tubuh-tubuh . setiap detik dalam hidupmu. seperti yang selalu kami yakin. dengan bertumpu di bagian tumit. lekuk bawah tumit 2 cm. Sepatu lars. selain fosil antilope. Homo habilis. Betapa kekal.Generated by ABC Amber LIT Converter. ternyata sia. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. tertahan dalam bongkah batu. melesak di leher. homo sapiens. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm. SEPATU itu. http://www. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu.processtext.

Pekik. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. gebuk pukulan. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu. timbul-hilang. http://www. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto.com/abclit. dengan amarah bagai meluah.processtext. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila. Gemuruh derap menggasak koridor. semua kami musnahkan. tetapi kami lupa? Tetapi toh. Racau panik. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. bertumpang tindih dengan hardik. Bisa heboh. Bisa runyam. Jadi. Menggasak leher. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. Orang-orang berseragam ini. membuat kami sungguh kelabakan. Tetapi lalu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menembus ruang. Baiklah. Terdengar pula suara seperti letusan. Dengan satu kali jumpa pers. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. melipat waktu. kenapa mereka menyerbu kampus? . tetapi itu biasa. dengan foto-foto yang dideformasi. menjalar lirih ke telingamu. juga lolongan. menerjang. rusuk. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. jerit. ketika muncul di Science. Dan setelah segalanya beres. lengking tangis. Mahasiswa berlarian. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. untunglah. SEPATU itu. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. Artinya. sebetulnya telah ikut terbakar. begitu jauh. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. selesai. berhamburan.. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul.. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. ruang kuliah. perpustakaan. Memang muncul berita di koran lokal. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. telah hampir sepuluh tahun kini. merangsek masuk ke dalam kampus. penuh literatur fiktif. Fragmen tengkorak itu.html Tetapi. Tulisan yang tentu saja direkayasa.. bentak. Betulkah foto itu hilang? Atau. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh.

Mahasiswa diburu. aku bagai melayang. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk.processtext. kemudian. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. kini menjelma jadi kuyu. Di dalam juga tak kalah sesak. Juga senggukan tertelan. Bila sebelumnya tampak heroik. Seperti lelap. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. kursi-meja berjumpalitan.com/abclit. menembus ruang. Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. di sinilah foto itu kini. Takkah aneh bahwa foto itu. http://www. Beberapa digelandang digiring ke truk. Tetapi. entah ruangan apa. Lihatlah seorang dari kami. Dan di lantai. Dalam lembab. Dan lihatlah lembab itu. beberapa dilarikan ambulans. Menatap ruyup ke tengah ruangan. Ke sesosok tubuh yang terbujur. Padahal tak ada hujan. bukan? Sesekali terdengar helaan napas. Beberapa kepala pelan terangkat. pada setiap kepala yang tepekur. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. Tak ada hujan. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini). Dan juga celaka. Merembes dalam bisik. seperti halnya juga tadi di lantai satu. seperti berat. TAK ada hujan. di luar tak ada becek. kami gunakan untuk mencari. Begitu tenang. tetapi terasa seperti hujan. Mungkinkah hujan lain. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. Menembus waktu. bagai tertidur. Menetes. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. demonstrasi. itu bukan urusan kami. meresap dalam senyap. Labor-ruang praktikum hancur. Kampus diserbu. bagai tertidur. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). tegak termangu di puncak tangga. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. Melalui pintu yang ternganga. . dari hari lain. Di luar rumah sangat banyak orang. pun ruang perpustakaan. seluruh waktu kami. Dan setelah segalanya selesai. ruangan itu juga tampak porak-poranda. berbaku tindih jejak sepatu. setiap detik dalam hidup kami. Masuk ke halaman yang kukenal. Sungguh situasi yang tak terduga. Tetapi yang jelas. ternyata ada di sini? Memang aneh.html Namun tentu. Rumah yang kukenal. Dan takkah pula lumpur lain. dalam basah. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. basah itu. Tak ada becek.bermimpi tentang demokrasi. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. Dan lihatlah itu tadi. Pulau-pulau yang terbujur. Ke arah kanan sebuah ruangan luas.

memintaku mencarinya.com/abclit. Jejak melesak di tubuh-tubuh. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. dari satu batu ke lain batu. begitu jauh. Dan inilah ia. di hampir seluruh bagian tubuh itu. Menerima makian. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. ada foto itu. aku selalu lupa. Betapa kekal jejak itu. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. Dan. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Kini aku bebas ruang. Dari satu waktu ke lain waktu. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. bukan aku. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Begitu lengang. http://www. Ruang kerja Ayah. rusuk. Meremukkan leher. kamarku. Menembus dinding. Mungkin juga itu orang lain. tak lagi penting. dan waktu melenguh. 4 April 2005 . aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. Tubuhku. Kembali aku melayang. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Sangat serupa.html Itulah aku. timbul-hilang. Menggasak leher. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. mematahkan rusuk. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. Gebrakan meja. Menghunjam dan melesak. Dan. pernah atau tidak. Mungkin pula itu di masa depan. melipat waktu. sehingga ia begitu marah? Tetapi.processtext. Bebas waktu. ke lain ruang. tepat menimpa si fosil jejak sepatu. pikirmu. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. Kamar yang juga tampak begitu tenang. Dengarlah sepatu berderap. ganjilnya pula: di atas foto itu. Begitu pas. Tetapi itulah. Siapa tahu. menjalar lirih ke telingamu. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. Menembus ruang. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. Dan. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. sang arkeolog ini. tak jauh dari tubuhku. atau mencoba melihat menggunakan mataku. Tetapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebuah jejak baru.

dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai.com/abclit. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. Karena itu. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu. . http://www. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Maka. dengarkanlah ceritaku. tanpa cambukan. memedihkan mata dengan getir pasir. untukmu Gusti. Gusti.

kepala yang dilindas truk.com/abclit." Ia tak lagi punya jejak. Dengan petikan sitar gaib. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota. Ya. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. tapi keretanya telah remuk. Jika tak percaya. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan." Ia tak bisa lagi menangis. "O.Generated by ABC Amber LIT Converter. darah yang terus mengucur. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga. .processtext.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. Tak bisa mengutuk. Ramli. Ia tak bisa mengamuk. Tak di mana-mana. http://www. dan malam yang kehilangan rembulan.

" Tak di mata yang menciptakan surga. http://www. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku.html "Tak di mata yang menyimpan surga.Generated by ABC Amber LIT Converter. ke jalanan becek bertabur roti. Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku.processtext." Kamu cuma budak haram. mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu. Maka. ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan. Lukman.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga. ke got becek untuk mandi. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena . "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium. aku memang cuma budak haram. "Ya.com/abclit.

"Ya. Lukman. Ayolah. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan. Lukman. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian. . http://www. "Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800. pulanglah ke negeri ibumu." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam.processtext. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan..Generated by ABC Amber LIT Converter. "Mereka tak punya algojo. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Hanya.html pasporku hanyut di sungai. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko.com/abclit." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah." Maka.. Nanti kamu dipenjara. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. tetapi segera pulanglah. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. Lukman. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. Nanti kamu didenda." Ya. aku akan pulang. segeralah pulang.000 budak haram. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman.

"Ke gua gelap itu?" Ya.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu. Sayang. Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. "Ibu? Ibuku telah mati.processtext. http://www. ke kopi terakhirmu. . Kalaupun masih hidup.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri. Sayang. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang.

" Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu. Rahma. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu. Karena itu. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati. menguburmu dengan bunga mimpi." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu.com/abclit.processtext.. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan.. "Kalau begitu aku tak mau pulang.html "Setelah itu." Begitulah Cara Waktu Mengaduh. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa . Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam.

Kau tahu bukan Redana. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. Kau tentu bisa menjelma ikan. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. "Tidak di keriuhan?" Ya.com/abclit. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu.processtext. Rahma. Tidak di jalan-jalan. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran." Ya. Rahma. http://www. "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik. Kau tahu bukan Romo Sindu. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak . "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. Rahma.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pangeran Kelelawar itu. Rahma. Rahma. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan. kota ini memang sialan. Tentu keindahan tak harus disembunyikan. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban. Padri Minohek itu. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan.

Kunti. Rahma. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi. Aku hanya. 23 tahun. Tetapi mereka hendak dibunuh juga. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu. Kunti. "Jangan lari." Dor! "Namaku Guspar Hasan..processtext. aku tahu. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi. Aku hanya. 37 tahun. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki. Kunti.. mereka melenguh seperti kerbau api. Maka begitulah cara Waktu mengaduh..com/abclit. Tetapi mereka hendak dijagal juga. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri." Dor! .Generated by ABC Amber LIT Converter. "Namaku Petro Sale. Tetapi. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. Rahma. Ia menangis dalam gerimis. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. Rahma.. Bukan di Kurusetra.html pernah pulang. Bukan di padang pembantaian. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. ke ujung mati. http://www. Kunti.

Aku. buaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ya Kasturi. . Tak ada obat. Lalu kaulepaskan angsa. Kunti." Dor! "Namaku Remi Guis. tikus." Dor! Lalu kau pun tahu. 25 tahun. ular.html "Namaku Markus Taji. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri.. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi.processtext. hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati.. aku hanya membawa tikar menuju belukar. Aku hanya. musang. http://www. Soekarno. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri.. "Halo. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni. "Aku mencintai Hang Tuah.com/abclit. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi.. kuldi." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela.

Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. danau akan gaduh. Soekarno kehilangan tuah.com/abclit. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok. kita memang kodok. eng-krok. krok. dan kita akan kesepian. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku. Ya.processtext. http://www. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. burung-burung terbang ke langit entah." "Aha! Aku suka metaforamu. Sayang.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. Oke. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia. revolusi telah patah. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana." "Ah. krok. "Jadi. kita adalah budak yang tak punya malu. tua. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela. Hijazz. "kita cuma eng-krok. kau keliru." tiba-tiba Angela menyela. krok. kita memang bahagia. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis." "Ya." kataku mengolok-olok. kalau dia menangis. . Sebab di hadapan Sang Waktu.

Jadi. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. Dan Kau tahu. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti.com/abclit. Karena itu. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. Kuala Lumpur-Selangor.Generated by ABC Amber LIT Converter. 2005 . Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. http://www. Cintaku. Kekasihku. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera." Aneh. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. suami-istri yang kian merenta itu. semua ternyata hanya lumpur.processtext. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. "Lihat Hijazz. itu aku dan engkau. Lumpur-Mu.

html .com/abclit.processtext. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.