P. 1
50 cerpen Kompas (1)

50 cerpen Kompas (1)

4.0

|Views: 1,212|Likes:
Dipublikasikan oleh tiktaktiktuk

More info:

Published by: tiktaktiktuk on Nov 11, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2015

pdf

text

original

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. Hujan turun makin deras. Ia pelan-pelan bangkit. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. karena dulu. Ya sangat dalam. Maling pun tetap harus serius. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Melihat urat-uratnya. sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. menyiapkan berbagai peralatan. naluriku memaksaku berpikiran begitu. Kuamati orang itu. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Kukibaskan ekorku. . Dengan bahasa isyarat. Kulihat apa reaksi selanjutnya. http://www. Rupanya ia tanggap.com/abclit. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. drei. dan siap dihunjamkan di perutku. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. alat pemotong kaca. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. Orang itu merasa serba salah. agar tidak konyol dicincang massa. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Aku pun menurut. Perasaanku campur aduk. Siapa tahu itu tangis buaya. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Kudekati dia. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. aku selalu waspada. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). Entah kenapa. orang itu telah keluar membawa bungkusan. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Ya. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. ia menjumpaiku. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. Aku tahu itu. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. atau benda lainnya. pukul besi.processtext. Tuhan. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. penuh kerut-merut. kuambil jarak beberapa depa. mengenai kakinya. Dari tempias cahaya lampu. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Aku menunduk. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit.html berbisik. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Tapi aku menolak dengan halus. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Maka. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. alat pemotong besi. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. hand phone. linggis kecil dan masih banyak yang lain. ada besi pengungkit. Dia memandangku. dia menangis. Tapi. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Dengan langkah yang gagah.

Mereka mengelu-elukan aku. Ia tersedu-sedu. akhirnya. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Entah kenapa. Melihat mata ibu. Muncrat darah merah dari dadanya. rebah ke tanah. tangis anak dan istrinya. Senapannya terus menyalak. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. diiringi letusan senapan yang membabi buta. Tangis itu sangat panjang dan dalam.processtext. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. maling itu tetap diam. muncul kilat. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Aku sangat panik. dan berharap ia segera berlari. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. Sial.html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. . Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. makin berkurang. Orang itu tumbang. penuh kesunyian. Aku memaksanya lari. Tiba-tiba saja. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. http://www. hingga orang-orang pun keluar rumah. Aku menggonggong makin keras. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. ia menghentikan kegiatan itu. Aku menggonggong sangat keras.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Makin keras. Aku masih mendengar tangisnya. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. seperti menatapku. Bahkan. Terus menatapku. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Edisi 05/21/2006 Malam itu. Aneh. Ia tampak panik. dan canggung. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok.com/abclit.

.com/abclit. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah. Namun. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing. "Ampun. Monang mencari-cari pisau.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia juga tak menangis. Ah.html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. Tapi. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. Dan ibu menjerit-jerit lagi. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah. Ayahnya pasti bisa menghindar! ." katanya. (Mungkin pula. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Tubuhnya sampai gemetaran. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan.. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. Tapi. ia tetap bergeming.. karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik.. Namun. Minyak tanah. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Dan memang semestinya demikian. yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Monang minta digantikan. Waktu ayah meninggal. Pastor dari paroki datang. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. Namun ia takut pada ayah. ia pun tidak menangis.. ayah mendengus. di ruang dalam. ampun pak. dalam pikiran ayah. Tapi. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat. tak lama berselang. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Ia memang selalu dimanjakan. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Dan lebih lagi. http://www.processtext. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. besok. lalu memukuli ibu lagi. Ayah berhenti memukul ibu. Tidak. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Seumur-umur Monang jarang menangis. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Beberapa kali. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau. Batu penggilingan? . mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Ketika kanak-kanak. Ia minta ijin pulang. Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. minyak tanah! .. Kayu bakar? .. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. Monang berlari ke dapur.. seperti baru saja kena sihir menjelma patung. apa? . Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya.

Ia merasa diajari seperti anak kecil. Ia tak menjawab. tapi menahan diri.. ayah. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!.?" suara si ayah pelan..processtext. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. ada sebuah perahu yang terombang-ambing. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. "Maafkanlah anakmu ini. maka aku tidak membakar kamar ini. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. Di tengah samudera itu. Tapi tangis ibu yang lirih itu.. Namun. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya... "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus. menghadap Monang menatap mata sang ayah..com/abclit. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. "Mo-nang.!" . "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya. ayah. Ayah menoleh.. Dan tetap tak menjawab... Lalu berbalik. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak. Sebab..!" panggil Monang. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat..html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar. "Ayah. di malam pekat. http://www.

Lama. "Ya.com/abclit.." Monang bergerak pelan mundur.processtext..html "Kau. Tuhan. "Ayah. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya. lalu menghela napas panjang. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. Nak. Ibu pun demikian.?" ayah bergerak pelan mendekati Monang. "Jangan. "Ya. Ayah menggelengkan kepala. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. "Berhenti di situ. Serasa sekejap.... ayah berlutut dengan punggung tegak.. Mulai hari ini..!" tangis ibu.. http://www. ayah...!" "Kau..! Ya. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. ayah. Berikutnya. berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi..Generated by ABC Amber LIT Converter. tetap di situ. Kemudian ayah tertegun.!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung.. Monang terkejut mendengarnya.. .

. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya.com/abclit.... Kak.. waktu itu.. Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Allah. Monang terkesiap mendengar janji ayah. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi. http://www.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian. pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi... Monang. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?. ayahnya sudah meninggal. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka. "I-ibu. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. "Ya. Monang membersihkan kelopak matanya. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya.?" . Kerabatmu datang menjemput. waktu itu..." suara kak Nurma terputus.. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir... >diaC< Telepon genggam berbunyi... Dan akhirnya. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Namun. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu.?" Monang menenangkan hati.. Hingga kini. "Engkau harus pulang sekarang... meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Tapi menurut Monang. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal..processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam.. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu.. "I-i-ibu kenapa. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo.." katanya. Berdoa?. Ayahmu sakit keras." Sungguh.

com/abclit.. permintaan! Monang terdiam...html "Nah. Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok." jawab ibu waktu itu. Bu... Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. Nak. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu. http://www.... Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini.. Namun..?" . nanti aku merepotkan mereka.... Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang. Tapi.." "Ibu kenapa. I-i-ibuu..!" Oo. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau.. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?. Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi.processtext. Kak. "Aku tukang mabuk.?" "Mo-nang..? "Ya.... "Kau belum tidur.. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan.... Nak?" "Beginilah tukang koran..?" Monang mengangguk dan lega. Jantungnya berdetak lebih cepat.. "Mo-nang? Kau mendengar aku. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu. Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok.. ibu mau juga ikut.Generated by ABC Amber LIT Converter....?" "Mmm. tapi ini penting...

processtext.... Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya... sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya." kata ibu dari seberang sana. Tak apa-apa.. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. Bu.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit... Maafkanlah. http://www. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi. Monang dan istrinya kekurangan biaya. menantu dan cucu-cucuku.. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu. Ibu tak bisa menginap di rumahmu..i-i-iya." "Oo." "Lusa Ibu pulang... Si ibu menguatkan hatinya.. Tak ada yang sempat mengantarkan. iya.. Ya.. ya. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon." . sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas.. Aku tahu hatimu!" katanya. "Hallo. ia bertekad membahagiakan ibu. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak." Ah. anak mereka sakit dan mesti dioperasi. Tapi lima bulan kemudian... Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya. Bu. Nak. Nanti terganggu usaha koranmu. "Kenapa putus?" "Habis baterei.. "Aku tahu keadaanmu.html "Mm. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian. Bu." Terputus.. Betapa.. ah! Lalu apa permintaan ibu?. Nak. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu... Namun..!" "Mm. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi. Nak..

?" Monang mengiyakan. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom...html "Ibu..com/abclit.. .. di sebelahku... "Tapi. Pemiliknya Ompung Ojak. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening." Monang ingat.. http://www... "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ....." kata Monang akhirnya. Monang.?" "Iiya. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan.! Katakanlah apa permintaanmu itu. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain. Berpantun pun... ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya.. "Monang? Kau mendengarku kan.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa...processtext. Ia ingat. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang. "Permintaanku?" "Ya. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang... ada kak Nurma di situ. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Bila kayu bakar di rumah habis. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu. pohon johar. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya..." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ. Lantas?. Bu. Kau ingat tempat itu. dan pohon-pohon bambu memagari kampung. di kampungnya ada pohon mangga. Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu." Monang memasang pendengaran baik-baik. dua hari sebelum aku berangkat ke sini. Teruskanlah..." Monang menghela nafas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan.. Bu.

tak ada anak-anaknya yang di kampung.processtext... Nak. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur.?" "Ada. Sepulang dari sini.." .. "Sekarang dengarlah baik-baik.. Bu? Ibu kan masih sehat." jawab ibu cepat. Diam beberapa saat.....Generated by ABC Amber LIT Converter.." "Apa. Nai Manjur sudah meninggal... maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. "Lagi pula. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak.. Kalau pohon johar.. maka ditebang yang tidak lurus." "Terus. kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?.. "Baiklah.com/abclit..... Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar. Nak. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga.!" "Bagus..?" Oh. Bu..... tinggal Ibu. aku akan beritahu Ompung Ojak.html Sepeninggal ayah. Bagaimana.. ibulah yang selalu menyuruhnya. Nak.. Nak..!" Monang mengangguk.. Nak. Ibu! Monang menarik nafas. http://www.?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu.." "Satu batang digunakan sebagai peti.. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang. Bu..

Sekali lagi dia tersenyum..." "Ibu. ..Generated by ABC Amber LIT Converter.. Aku ingin ada kacanya juga.. seperti yang kakak-kakak lakukan.html "Ibu masih kuat. sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok.. Monang menelepon. Dia tersenyum.processtext. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas.. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. Menelepon. Pergelangan tangan itu ngukel1. Keindahan memang tak bisa diam. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. http://www.. Bu.. Aku ingin menyenangkan hatimu.. lalu telunjuknya menjentik. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Nak.com/abclit. Ibu. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Menelepon...!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya...!" Tut-tut-tut.

seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. rajangan dadar. Kadang begitu datang. kering tempe. Berdiri luka. Wening si bunga matahari. suaminya tak menjawab apa-apa. ketimun. si ABG-itu. Bang Irfan sendiri. Ah. Tetapi. Malam ini. Dan sejak itu. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. mungkin pergi dengan pacarnya. mandi. nantinya. mengkristal di dinginnya malam. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran.processtext. entah ada di ufuk mana saat ini. tentu akan lain ceritanya. seperti tangan penari. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. Sejak hampir sebulan ini. Barangkali saja.anaknya entah ke mana. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jadi.html Dibayangkannya. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. sejak 25 tahun yang lalu. dan menusuknya tanpa kata. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. Dia berada di tandu. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. Waktu terlipat oleh kecepatan. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. Neny. makan. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah. Sony. sudah mendengkur kelelahan. harus masuk sangkar. "Aku ingin menari. mengeluarkan baju-baju dari koper. tak banyak bicara. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. tetapi inilah hidupnya. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. . yang harus selalu menjaga penampilan. hampir dua puluh tahun lalu. Sepi kian runcing. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. sudah punah. Wening si prenjak telah musnah. sesuatu yang mustahil sebetulnya. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. Wening hanya diam. tetapi menebarkan harum yang samar. Tetapi. Wening si walet. entah siapa yang menjadi biang keladinya. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. dan dia bukan lagi Si Wening. siap senyum. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. abon. akan diberi untaian melati. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. Airmatanya beku. boleh ya. Anak. si sulung. yang oleh Mas Ondi—penata busana.samar. setelah mereguk kenikmatan. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini.com/abclit. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. duduk luka. lalu menghilang di kamar kerjanya. http://www. mencium kening istrinya. Bang?" bisiknya suatu malam. tak banyak gerak. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini.

dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa.. segalanya. ". Dan jiwa itu. Dia ingin menari." "Aku enggak suka tarian... Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian... dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. Aku lebih suka kau .processtext." dari Neny sebelum pergi. dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari.." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya.. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu. rapi. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh. Dialah Drupadi berambut panjang itu. Maka pembicaraan itu terkunci di situ." bisik suaminya. bahkan sms. http://www.com/abclit. atau apa pun impiannya.. cermin. Dialah dengan kain panjang . Mereka bergerak dalam diam. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan. Dia ingin menjelma Drupadi. Mom.. karena kau istriku.. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak.. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua.Generated by ABC Amber LIT Converter. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku .html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi.. Hidupnya memang menjadi barang taruhan. Itu saja. Tetapi tak ada dari Bang Irfan. Album foto pentas terakhirnya. biar aku menari untuk Abang saja.. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti.. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Bang?" "Tidak boleh. "Kenapa. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya.. hening.. Aku memberimu semuanya. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Apa susahnya?" ucap Bang Irfan. enggak pakai ini.." "Kalau begitu.. entah kapan.. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. Wening beku.

processtext. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". maka kau akan dilimpahi cahaya. bahwa inilah jiwa kalian. Tetapi. melintas perlahan di karpet merah. GKJ pecah. Itulah yang menggerakkan Drupadi. http://www. tertiup pendingin udara. ajaklah dia berbicara. Tepuk tangan berkepanjangan. . Wening bangkit dari tempat duduknya. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup. melangkah hati-hati. menyedot seluruh pancaindera penonton. memasuki pintu. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. menaiki tangga. dia selalu lantang menjawab. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. wahai makhluk bumi.. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. Akan kuajarkan kepada kalian. Akulah keindahan. Wening ingat. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. membiarkan dengung gong pertama bergema.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. menggema. memberikan keheningan. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. Cahaya lampu berkebit.. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. Bang Irfan pulang. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum. Dalam gemulai geraknya.com/abclit. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. berjalan dari pelataran GKJ. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. Jiwamu lebih halus." jawabnya agak polos dan kekanakan. Dan penonton memang tak bisa membedakan. yang menciptakan jarak sepi. menghidupkannya dalam sebuah lakon. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. dan karenanya..html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya. Izinkan dia bersamaku malam ini. namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. "Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari. "jadi penari. Biarkan matamu menangkapnya. malam itu. membiarkan berpuluh. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. Langkah yang sudah dihafalnya benar. Mereka terhenti di suatu ruang.Generated by ABC Amber LIT Converter. membelah kerumunan penonton yang masih di luar. berulang. manakah Wening dan manakah Drupadi.

telanjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Didobraknya pintu. Diserbunya kamar Wening. Pintu rusak. Lakukan keinginan abang.processtext. Ucapan kasar. darah mengalir. Irfan keluar dengan langkah besar. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. Wening terpaku. runcing. terbuka dengan paksa. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. Dikenakannya kemben kain panjang putih. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. Begitu kasar ucapan bang Irfan.com/abclit. Silakan larang aku. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang. Bang?" sapanya. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. http://www. tapi kali ini. Wening masuk kamar. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang. tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan.. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. api kemarahannya menggelegak.. Sunyi. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat"... Suaminya terdiam. "Abang pulang? Sudah makan. "Kapan kau mau mendengar ucapanku. dasar.html "Masih saja . Wening melepas bajunya. ." Wening tercambuk. Aku suamimu.. Pintu terbanting. Pasti bisnisnya gagal. Aku tidak suka. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. Sesaat kemudian. Belum lagi Wening duduk." Berkata demikian.

yang anehnya. Dia akan menari. Wening yakin sekali." bisik Neny setengah menangis. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. Tetapi Wening telah menari. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. Wening hanya melihat. condong ke depan. sesekali pula dia tawing.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebuah bangun menakjubkan. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender.com/abclit.. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya.. entah sudah berapa lama. dan membagikannya kepada dunia. http://www. kali ini. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. mencoba mengingatkan ibunya.. Wening bergerak sangat lambat. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. selebihnya dia melangkah perlahan. terseret gerak tubuhnya. Sesekali dia kengser. Dilaluinya pintu yang rusak itu. Kain samparannya terlalu panjang. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. Namun. Langkahnya terus mengalir. tak paham akan keindahan. sesekali dia ukel. Bumi yang halus. kemudian sanak saudaranya. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. Dan baginya.. please. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. menariknya perlahan. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. ibu dan ayahnya yang renta. dari tempatnya berdiri.html Iringan rebab menyayat malam. Tidak. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. dengan tatapan tertuju pada bumi. dan tak ada yang bisa menghentikannya. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. yang diberikan manusia.. Mereka semua membisu. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. Dibiarkannya. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. dungu. miring ke kanan. . pintu hidupnya. yang menjaganya dari campur tangan orang lain. berenang dalam cahaya keindahan geraknya. Mereka berubah menjadi batu. sejak malam ini. Perlahan langkahnya menjauh. juga mertua. Dia adalah Wening. "Mama. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun. yang berhasil diciptakannya. menoleh ke sudut. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya. laki-laki memang tak pernah dewasa. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. ah. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m.

Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. dibantu sanak saudara yang ada di situ.html Irfan mencoba meringkus istrinya. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg.. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda.com/abclit. 982 1 Gerak tari Jawa. http://www.processtext. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. Dia hanya tersenyum. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. dia tengah menari dengan jiwanya. tak terdengar sama sekali oleh Wening. .Generated by ABC Amber LIT Converter. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. khususnya pada bagian tangan. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas... Wening bahkan tak melawan. Wening tetap menari. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. 2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi. seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora. *** Bukit Nusa Indah. Karena saat ini.

com/abclit. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa. Seorang opsir dan dua pembantunya.processtext. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu. setelah mendapat laporan dari seorang kacung.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Opsir itu murka dan menampar mukanya. http://www. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. Justru sepanjang digelandang." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan." katanya dengan gusar.html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang.

" "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. tentu tuan akan mengerti lagu itu. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan. ." jawab sang opsir. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau.html "Aku seorang seniman. Saya bicara sesungguhnya. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa. Tuan. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. bukan seperti pemberontak macam kamu. Itu lagu Jawa." Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya." jawabnya dengan enteng.processtext." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa. http://www. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya." Opsir itu memerintahnya.com/abclit.

" "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi. tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tapi saya malah mendapatkan pukulan. "Oh. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu. tuan sungguh berbudaya. tuan. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda." katanya dengan bahasa Jawa yang halus." katanya. Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar.com/abclit. Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya. Tuan benar-benar memiliki darah . Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu. Tentu saja tuan tak mengenal saya. "Aha. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya.processtext. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami. Saya tinggal di sana selama tiga tahun. Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas. http://www. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira. "Saya baru datang dari Surabaya.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. http://www. menurut pengakuan opsir kami. masih menurut opsir kami. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini. tuan.Generated by ABC Amber LIT Converter." katanya. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya. Saya pernah merantau ke negeri tuan." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya. ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Kedua. "Ah. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. Dan yang ketiga. "Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas." katanya dengan senyum simpul. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin. dan tinggal di Paris selama dua tahun. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang." katanya. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh.html seni yang kuat. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya.com/abclit. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. Telah saya cari . "Ya. "Hapuslah darah tuan. saya kagum pada tuan. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi.processtext. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu." "Ah.

Tuan. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami.com/abclit. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya.processtext. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual. Dia amat menghormati kesenian. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya." sergahnya. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman." "Oh. http://www. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. Itulah sebabnya saya sampai di sini. Multatuli. Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh. Rencananya berjalan mulus. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia." katanya. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. "Saya seorang penulis. mengetukkan jemarinya pada meja. orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Ucapannya tajam. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa. "Tentu saja. . Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami.

Yogyakarta. Segaris cahaya menelusup. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal.com/abclit. di belakang rumah serupa gubuk. dan selamatlah aku dari hukuman mati. tempat . Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu. Edisi 04/30/2006 Bulan. rebah di halaman. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang.processtext. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya. bilik-bilik kandang. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri. Terang.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg. selaksa celurit menggantung di dinding. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. http://www. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur.

Mail. Musdar. Serupa tarian rombongan seronen. ketika itu. Pada Asnain. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. atas keputusan Gani. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. Lalu. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. tak menyia-nyiakan kesempatan.processtext. Gani. ia tidak langsung menuju rumahnya. Nasib tak bisa ditimang.html tinggal Madrusin. paman. Lenguh sapi menggaung. Dan sekarang.com/abclit. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. Beruntung. yang belum lama ini. ”Dulu. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. ”Lancang benar mulutmu. campuri.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. Memang tidak pulang. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman. mencintai dan dicintai. di tempat yang sama. krik-jangkrik. Madrusin. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. ”Bagaimana mungkin. tidak pantas jadi suami Asnain. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. berontak. perlahan redup. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari. beberapa kanca Gani. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. Kok.” Gani geram. masing-masing dibawa pulang. Madrusin. Ya. tanpa sebab-musabab jelas. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. kala itu. serupa pengembara letih. Bulan. ”Bilang sama eppakmu. Tatap matanya lelap. Kami tak ada masalah. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. Namun entah. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. Begitu pun. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. menepikan bayang. calon istrinya yang telah raib. decak cicak. Pada Gani. Di benaknya. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. Paman. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. Cericit tikus. Kalau. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. bersama Luki... memegang tangan.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Paman. Gani belum kalah. kecipak air dari padasan. Madrusin bisa mengelak. tiba-tiba. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. dilepaslah baju hitam Madrusin. http://www. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. Paman. Madrusin segera menghindar. Sengaja. . merampas dan segera menyeret keduanya. waktu itu. Ia terdiam. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. menuju arena kerapan sapi. beriringan. mau merampas hak kami. saling berpaut. Beruntung. eppak-embuk. kecewa kepada eppak-embuk. Hubunganku dengan Asnain. Cobalah sedikit sopan. ”Kamu.

bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya. Hijau daun-daun. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. Kita bertemu beberapa bulan lagi. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain.) Sepagi ini. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Asnainkah. Atau. menyabit rumput sebagai pakan sapi. Entahlah. (Tapi tidak. mengusap. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. Bahkan. Madrusin. Madrusin terpaku. http://www. Pertengkaran. mengingat pesan dari Gani. bisa dibilang. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. Sesekali. Asnain. semenjak ia berusia sepuluh tahun. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). apa maksud dari semua itu. Keputusan sepihak. Siapkan sapi-sapi andalannya. Terasa. lengang.processtext. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. menggaruk. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. Ia nikmati secangkir kopi. Gani kala itu berang. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. (sebagaimana kebanyakan orang. kepada Eppakmu. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. Ia mengernyitkan dahi. sepagi ini. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. kandang dan pematang.com/abclit. Ya. Ya. seumur hidup baru kali ini. Terang. Madrusin yang gelisah. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. ilalang bagi Madrusin.html Langit tampak lebih cerah. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. Kalau Gani. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya. Madrusin benar-benar gelisah. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti. Madrusin pun gairah. belum kalah! Gani memalingkan muka. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya. eppak-embuk. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang.orang kampung kami.

html merunduklah serimbunan ilalang. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. Madrusin. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya. Sebagaimana tradisi di kampung kami. Karuan celurit itu luput sasaran. ”Asytaga. Untunglah.” imbuh Imron. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak.com/abclit. Sementara. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. Madrusin mendesis di antara kebingungannya. apalagi sampai ia kecewa.” Madrusin tergagap. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. Pada Asnain mantan tunangannya. Tidak. Madrusin. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Bukannya ia takut dibunuh. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. Gani menunggu terlalu lama. celana komprang berlapis sarung. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. http://www. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. meski sebenarnya ia ragu dan curiga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ah. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. Tentu saja Madrusin tak ingin. Selang beberapa saat. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik.processtext. Madrusin penuh tanya. . cepat ditunggu kakek. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut. cepat menghindar. ”Ya. saling meminta maaf. Ia kenakan peci dan baju hitam. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. dijemputlah celurit. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin.” desisnya. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. di sela kegelisahannya. tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. tiba-tiba. apa gerangan yang membuat Gani.

” imbuh. Imron. melihat Gani. langsat warnanya keemasan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama. Ranting-ranting pohon menggantung. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. ia . Madrusin tergagap. tak kunjung jatuh. ada yang perlu dibicarakan denganmu. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. barangkali sudah lama menunggu. beriringan menuntun sapi. Asnain tak suka kepada tunangannya. Tentu ia akan marah-marah. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. ”Sebenarnya. ia duduk. Asnain sudah ada yang meminang. menunggumu. tenang. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung. pada batang pohon dan buah siwalan.” ujar Imron. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar.” ”Tentang.processtext. Lampu teplok menyala remang. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. Ron?” ”Barangkali. http://www. ”Tapi.” Mendadak. Tidak. di antara mereka sudah akrab dengan alam. Sebagian di antara mereka membawa obor. Kakek.com/abclit. Sesaat tubuh Madrusin tersentak.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. Asnain?” ”Tidak mungkin. sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. ”Itu. menampakkan seseorang yang sedang patah hati. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. Mata Madrusin nanar. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. Sin. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. Ia masih ingin kamu jadi suaminya. ada apa. menggantung pada batang bambu atap kandang. wajahnya berkerut. orang-orang berjalan bersama. tubuhnya agak bungkuk.

Pelan.” jawabnya. bernafas lega. Man?" ”Ya. http://www. ”O.” ”Memang kenapa?” . terlambat. kita?” ”Bulan depan.” suara Madrusin ramah. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. yang tengah duduk menunggu. ”Tak apa-apa. saya berharap. tidak. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan. Madrusin mendekati Gani. ya?” ”Kita nego.html harus tenang. ”Maaf. ”Ada yang perlu kubantu.” Sejenak Madrusin.” ”O. Man. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus.processtext. sapi kita. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. kau dapat membujuk Eppakmu. Ah. seraya meminta maaf didekatinya Gani.” ”Ada apa dengan sapi. Madrusin. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. kalau soal itu maaf.

Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging. Asnain tetaplah akan menjadi istriku. untung saja Madrusin segera menghindar. Man. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. ”Naif benar.” ”Eppak.processtext. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf.” desis Gani. Madrusin tergagap.” Madrusin. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. Gani pun naik pitam. Lancang benar kamu. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat. Madrusin terus menjaga dirinya.com/abclit. tak bakal mau. Jogja 2004-2006 . http://www. ”Kenapa dengan. mengendalikan emosi. ingin menampar mulut Gani. Beliau. Tak seperti biasa. tajam.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi. naik pitam. Paman. dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat.html ”Asnain. sangat kuat dengan prinsipnya.” ”Sin. Namun. Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat. Percayalah. Asnain?” ”Taruhannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani. yang hanya sisa tradisi.

Para sesepuh adat. Bapak Ibu. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat . juga tanpa wasiat. uji coba pertandingan kerapan sapi. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Tanpa firasat. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. Saat ditemukan. mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa. [2] Eppak Embuk. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. seperti korban overdosis. Tadi pagi masih segar bugar." "Istighfar kak. [3] Kae.html Catatan [1] Lotreng sapi.processtext. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas.com/abclit. Amat menakutkan. alim ulama.

http://www. sebelum diusung ke pemakaman. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. menyelesaikan program doktor. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . jika ayah tidak ’pandai-pandai’. semuanya terserah ayah…. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah. bidang ilmu politik. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Nah. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. tak lama lagi akan segera disembahyangkan.processtext." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. agak sinis. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas.com/abclit. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Tapi. Sebab. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah.html membendung kesedihan. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. tidak segampang itu. kampung kita. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani." ketus Lusi. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas.

beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. Itu saja tidak dikabulkan bupati. mentang-mentang kita sekampung. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. pasti akan diterima. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. biar mampus!" umpatnya. http://www. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam." jawab bupati. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. "Iya pak. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. Kalau saya bantu. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. "Daripada menganggur saja. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. Selama menjabat. itu artinya kita berkolusi. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. Meski sudah pensiun. sedikit berdiplomasi. Ah. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya.html ke rumah dinasnya. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan.com/abclit. tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. ceritanya akan lain. agar si Bujang Paik.Generated by ABC Amber LIT Converter. menghormati beliau. seperti hendak mengelak. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan.processtext. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. Tapi. jaringan telepon dipasang. "Tentu saja boleh Nduang. . Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton. meski tidak menjabat bupati lagi. Padahal.orang nagari Sungai Emas. Bermohon kepada pak bupati. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas). Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. Hingga kini.

mengadu peruntungan ke Jakarta. Ua-ha-ha-ha…. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. pergi merantau. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. kasar benar kelakar sutan. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. Terlalu lurus. pura-pura tidak paham. lurus tabung. Apa boleh buat! Kini. Anak-anak muda menganggur. Sejak itulah. agak kesal. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. Kematian yang misterius. jalan satu-satunya adalah. tapi kini sudah mati. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri.com/abclit. seperti tabung. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. sok jujur. bupati mulai dimusuhi.html Sayang sekali. Ironis! Namanya Sungai Emas. janda tua pemilik kedai kopi. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. tidak pula penyakit kronis. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. Genap tujuh hari kematian bupati. dasar orang jujur. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. tak layak tempuh." "Ah. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. Lagi pula. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. entah sampai kapan." balas kak Pi’ah. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut . sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). Namun. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Tak dihormati lagi. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. Sebenarnya. bupati sudah tiada. Sementara itu. petugas parkir. satpam. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. tukang jahit. tak jelas juntrungan. http://www.processtext. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. Maka. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Tak ada biaya. hanya tinggal nama. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. kuli bangunan.

"O.com/abclit. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo. Lagi pula. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. mulai bersemangat. Namun. Meski diam-diam. kali ini sambil bergurau. Tapi. Sejenak si Datuk menerawang. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. di nagari Sungai Emas. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. http://www. Bagaimana menurutmu?" "Nah. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri." Kelapa Dua. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. kematian selanjutnya.processtext. "Putuskan saja tali jantungnya…. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. itu sama saja artinya dengan bunuh diri.Generated by ABC Amber LIT Converter. 2006 Catatan: . Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. Kabarnya. Lupa saya. kini ia pejabat eselon di Jakarta. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. Kenekatan macam itu. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Sebab. Bila kelak ia memenangi pemilihan. "Tapi. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Tak bakal berhasil. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya. itu dia yang kita cari selama ini. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. bisa saja jauh lebih mengerikan. "Oh. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. ganti bertanya. hanya akan mengundang musibah baru. Iya." jawab Marajo Kapunduang.

sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. dari perut yang belah. entah sampai kapan. gadis itu akan sering berada di depan televisi. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. melempar senyum kiri-kanan. temannya akan berkata. jadi budak rating dan iklan? Tetapi. selalu darah. si ayah. darah. omong sok tahu." Timpal teman lain.com/abclit. tentu pula. Dan. duh tampannya. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. kalau memang demikian adanya." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum. saat itu. Mengalir. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. cengengesan. Tangis dibuat-buat. "Itu ayahmu. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Lalu meluncur. kaya. Ayahnya sendiri bukankah juga. oh sungguh tak tahu malu. tentu saja. "Dermawan. saat itu semua tak penting lagi. Di depan kamera. . akting murahan. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. julur perekam. Karena. Lima tahun setelah hari ini. Tidakkah mereka memang menggali." "Terkenal. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. "Betapa beruntungnya kamu …. rakus. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. awet muda. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. janji palsu.processtext. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata. http://www. tawa diejan. masuk ke dalam sumur. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. Mengangguk-angguk. sodoran mike. tak lebih seorang dungu. Menggenang dari kepala yang rengkah. "Gagah." Beruntung? Hmh." sebelum kemudian ditutup. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia pikir itu bisa saja.

kulit hitam. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). mengerang-erang. Disedot? Hati-hati. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lima puluh tahun lalu. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. si ayah … ah. ia teringat black-hole.com/abclit. serta-merta duduk. atau seperti apakah. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). samar pantul wajah. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. entah kenapa. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. Terangkat. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. . menjulurkan leher lambat-lambat. kadang ingat kadang tiada. menjelma ada. berteriak. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. Black-hole. http://www. dengan melayang? Ah. lubang hitam di jagat raya. Ke angkasa? Bagaimana. nyembul-melesak. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. Black-hole. ke angkasa. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. sumur itu. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. lama-lama. Bahkan kepadanya. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. sumur. Senyum. tentu. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. pernah muncul dalam hidupnya. lenyap tiba-tiba. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. Dan suatu hari. kalau saja wartawan tahu. takut-takut. meruang merongga. Merangkak (rambut keriting. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa….html "Dua belas tahun putusan ringan. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. berputar-putar bagai melayang. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. lantas melesat. Melesat? Ya. kepada dirinya. peduli apa.processtext. angguk sopan—keramahan itu. lelaki. Dan begitulah ia. Serasa disedot. Tengkorak suaminya. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut.

dari kayu-kayu. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. Maka semua ini. Oh. Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. dan kemudian menjelas. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. lalu berganti dengan pemandangan lain. Desoipits dan Biwiripits. ular. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. dengan menegarkan dada. pelan menghilang. dedaun. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. ia tahu cara mendapatkan. lebar dan luas. dan tubuhnya bergetar. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. Juga berbagai buah. Tapi hanya sebentar. Tetapi … itu. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. jelas tak masalah. Pemandangan yang mulanya juga samar. tetapi juga mendayu. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. yang disebut jangka waktu tertentu. dan tersandar ke dinding. Dua sosok? Dua orang? Ya. patung-patung kayu yang berserakan rebah. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. akan ia tinggalkan? O. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. semakin jelas.com/abclit.processtext. duduk. ia lihat pemandangan itu: seseorang. Beberapa saat sesudahnya. tiba-tiba hidup. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. tentu bukanlah tanak. Oh! Apakah. lalu merangkak. tikus hutan. mulanya samar dan kemudian jelas. di kedalaman geronggang mata. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. tak boleh bertemu dengan siapa pun. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. ia kembali melangkah. Kadal. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . Berkelana di hutan. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). tengkorak suaminya. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. Riak kecil. Oh. Semakin jelas. pelan-pelan bergerak. umbi-umbian yang bisa dimakan. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu. Dan yang kini. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. pelan-pelan menjulurkan leher. goyang pantul wajah. seperti kata damero juga. sumur itu … tampak begitu jelas. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. Hidup? Ya. khusuk menabuh tifa. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. Tabuhan yang ganjil. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu.html Ia berdiri. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. Sang Pencipta. Jadi inilah ia: Fumeripits. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa. Merendahkan tubuh. patung-patung itu. mendekati tengkorak suaminya. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. telah menemukan jawab. Maka. http://www. semua akan ia peroleh dengan mudah. Itu biasa bagi mereka. membalikkan tubuh dan berlari. Sumur. Tetapi itu. Suaranya tak hanya mengentak. melainkan dengan mencuri.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak. sumur melesak dari rongga mata. geletir air.

dada. http://www. crass. darah. dijulurkannya kaki ke dalam sumur. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. rasa mual itu. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. hiasan mahkota atau entah apa. pundak lepas. Lagi. 3 jam. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali.com/abclit. cincin. Semakin dekat. saat itulah: di dalam keterpejaman mata. Crass.processtext. Biwiripits. tanpa sadar. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. oh …. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. walau sudah senja. dalam rongga luas yang bagai semesta. Hari telah malam. Ia pun dedekep. nyata? Darah. menyembur-nyembur. darah. cras. seperti nasihat gurunya. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. Tetapi ternyata tidak. mulai nenepi.html tradisi pengayauan kepala. darah menyembur. menyembur-nyembur memualkannya. ujung dini hari. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. darah yang memancur. kelebat kapak. dan dingin. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. mangkok. crass. 1 jam. Lagi. Tetapi. Sepuluh menit. dupa china. leher tertebas. O. Dan kini. mata rantai. dan dindingnya—melingkar searah . Ah. membuat ia limbung. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. seperti meremehkan. rujak degan. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. pusing yang kemudian menyusul. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. pemandangan ini tentu juga akan hilang. nyata? Dan tiba-tiba. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. Sampai lama. batu merah delima. atau jarum emas. Dua jam. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. minyak bondet. Darah. ketika waktunya tiba. perut … oh. Ayun tangan. lalu rebah. tirakatan semalam suntuk nglakoni. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. itu bohong. Senyum seperti mencemooh. Dengan hari Kamis ini. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua. jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. orang masih berseliweran di sana-sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. 30 menit. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik.

Dawam Rahardjo Sumber: Kompas.processtext. http://www. Desoipits-Biwiripits. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Crass. nangka. "Selasa Kliwon. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Darah. Seperti oase. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya.com/abclit. Senyum lebar yang bagai tertawa. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. jambu. perempuan juga. Memancur-mancur. Darah. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. pundak lepas. tetapi subur bagi pohon jati. Crass . suku terasing juga. lima hari lagi. belimbing. Menyembur-nyembur…. "mengangkat" si guci dari sumur. Dan seorang lagi. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila. takkan tampak sama sekali. Selasa Kliwon itu. Selasa Kliwon. dibukanya mata. menatap kosong ke televisi. sejenak. Crass. jauh dan kecil. Guru. Menajamkan mata. Hela napas lega. Payakumbuh." Ya. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Lalu pelan. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. lima hari lagi. Lima hari lagi…. Lalu gumam. akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. Dan di sana. leher putus. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. . mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. Lima hari lagi. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus.… Darah. Tetapi. terutama buah-buahan seperti mangga. yang namanya guci. "Aku berhasil." Ya. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. Selasa Kliwon…. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. Tetapi nanti. Tubuh lelaki itu bergetar.

com/abclit. Namun. Pak Parto melakukan praktik pijat. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. demikian panggilan akrabnya. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. Untuk praktisnya. yang penduduknya beragama Islam santri. Walaupun demikian. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. cuci. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. walaupun agak jauh dari batangnya. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Pak Parto. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. Guna menjaga tempat mandi. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. Istrinya ikut pula memijat. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . Saking besarnya. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Tetapi. dan churafat. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Pada waktu siang. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua.processtext. dan kakus. setelah memeriksa dan membersihkan kebun. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. singkatan dari takhayul. yang dibantu oleh istrinya. Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. bukan sembarang air.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Sebagai penjaga kebun. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. bidah. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. seorang yang berusia setengah baya. Bahkan. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. bahkan bisa dibilang fanatik.

http://www. bukan ke dukun syrik. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah. demikian nama pemborong itu. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu." kata Kyai Fauzan Saleh. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu. bagaimana caranya memberantas takhayul. bidah. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. orang-orang desa sulit diberi tahu. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya. yaitu Sang Penjaga. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup." kata Thohir dengan nada ketus. . dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. "Wah.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. "Tapi Kyai.Generated by ABC Amber LIT Converter. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. Pak Thohir. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. "Itu syrik." kata Kyai Fauzan. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul." "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya.com/abclit. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai.processtext. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri.processtext." jelas Thohir lebih lanjut. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun. rakyat harus dibuat simpati dulu. http://www. MCK menggantikan kolam yang sekarang. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. masjid. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. Di atasnya persis kita dirikan masjid." jawab Thohir memakai bahasa santri.html "Tapi. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan. Pertama. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. Kedua. "Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai.com/abclit. Innal Batila kaan zahuko." kata Thohir menjelaskan usulnya. . apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya. Pohon trembesi terkutuk itu." "Begini Pak Kyai. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu.

Dalam tempo hanya enam bulan. al ruju’ ilal haq.com/abclit. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana.processtext. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar".html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. "Wah saya juga tidak tahu. "Lagi-lagi takhayul. kemudian MCK. Parto berkata kepada para pengikutnya." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya. http://www. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu. atau kelaparan. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa." tangkis Kyai Fauzan. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Dengan kembali kepada yang benar. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada suatu hari Jumat. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. mula-mula membangun masjid. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. Mereka pun marah. dan gedung puskesmas. maka Sing mBau Rekso akan marah besar. penyakit menular. Jika pohon itu ditebang. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab. Tanah longsor mungkin gempa bumi. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu. seluruh bangunan itu selesai. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. .

Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. "Ya betul. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya." jawab Parto. .html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu.processtext. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. timbul suatu gejala yang aneh. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. http://www. terutama masjid mulai retak-retak. Setahun kemudian. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu.com/abclit. terutama bangunan masjid. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka. Tidak saja air tidak lagi mengalir. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air.

bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang. bangunan rubuh bukan soal agama. hidup dengan 460 watt. Memperbaiki talang yang bocor. membuat pagar bambu. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. memperbaiki engsel pintu dan jendela. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. karena . Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tanya saja pada pak insinyur. apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud. Tidak cukup untukku hidup. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. http://www. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Kenyataannya. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. Jakarta." jawabnya sambil tertawa keras. Tapi aku akan mencobanya.com/abclit. menggali lubang untuk resapan. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. mengecat kamar mandi.html "Waduh. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. pemborong itu merasa tersinggung. memasang kabel-kabel listrik. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi.processtext." jawab Kyai Fauzan.

processtext. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka. dari teras depan hingga kamar mandi. Ah. beberapa lukisan berjamur. . Wianta. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. Tak ada orang yang mengontrak. kadang aku biarkan listrik tetap mati. http://www. Karena sebel. Tengkeyu.. tempat seorang petani biasa beristirahat. termasuk mengusir rezim kesenian. Kalau listrik tiba-tiba mati. Kadang aku sebel. aku menjadi sangat kerepotan. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan.. Terus dikeduk. Rumah ini sudah dua tahun kosong. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Kadang aku ragu. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Rumah itu sebuah kubangan besar memang.. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. He-he. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Di sebelah rumah. tengkeyu. tidak terlalu membutuhkan listrik. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. man.html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. Boi. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. ada bilik sederhana berdiri. Sebagai seorang penulis. Han. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. tengkeyu. Katon. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa..Generated by ABC Amber LIT Converter. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur.. Beberapa teman membantuku. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. karena pemakaian yang berlebihan. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu.com/abclit..

tapi aku melihat tubuhku sedang mandi. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai. kecemasanku muncul lagi. Mata memandang mata. Dadang menyewa tanah ini . seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. Mungkin tubuh mereka seperti angin. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Lembab. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. Antara aku dan genteng kaca. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. Mata memandang mata. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa.html timbunan pasir yang mengotorinya. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. Ada di depanku.com/abclit. Sepasang anjing kami. http://www. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Mata memandang mata. tetapi karena lembab. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. Kira-kira 10 tahun yang lalu. Waktu yang membuat sebuah pintu. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu. aku pernah datang ke rumah ini. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. tapi lukisannya masih ada. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. kadang kilatan-kilatan petir. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. Kopi dan Kremi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. lalu mengalami kecelakaan dan mati. membersihkan diri dari kotoran. Seorang teman bercerita. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi.processtext. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan. Pelukis perempuan itu sudah mati.

Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok. kalau hujan besar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. diambil oleh beton-beton. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur. Betapa malangnya hidup ini. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu.processtext. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. Aku teringat 1. karena dia harus pindah ke kota lain. "Dang.com/abclit. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi." jawab Dadang. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. di Ancol. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. entah untuk rumah atau untuk ruko. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. http://www. "Ya. lalu berdiri sebuah bangunan baru. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. . dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil.html selama 15 tahun.

Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. . Aku terus menggali. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup. 1. dan sebuah harmonika. Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. Ketika dia meninggalkan rumah ini. Rumah itu memang terus bercerita. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku. saxophon. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. aku harus kembali menimba air dari sumur..processtext.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri.000 patung Dadang ada di dalamnya.. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. Hmmm. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. Dan aku mulai kehabisan uang. Dia akan datang dengan sebotol Vodka.Generated by ABC Amber LIT Converter. rumah itu mirip dengan peti mati. http://www. Manajer itu orang asing.. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". Fit. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air.. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Hmmm. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. sayangku. He-he-he. Ketika aku tak punya uang.com/abclit. Kalau aku mati.

Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata.Generated by ABC Amber LIT Converter. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. Kalau itu juga adalah bayangan mata air. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas.. Angsa-angsa putih menyelam.com/abclit. . menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. . Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Perutku seperti tertekuk ke dalam.processtext.. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga.. Mata menatap mata.. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Aku melihat hidup. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas.. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Asmara angsa. Mereka saling memagut dan bercinta. Hujan mulai berhenti. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. menyembul. Waktu terasa dingin. lalu mendarat kembali. dan bukan bayangan mata air. Langit mulai terang. http://www. bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak.

angin sepoi-sepoi. ayu dan ganteng. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev.500 penonton. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. pemeran Rothbart bergantian. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Jerman. plain croissant. Irina Ablitsova. Andrei Joukov. menteri. Odette dan . Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. http://www. balerina 21 tahun. untuk merebut cinta Siegfried. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. jatuh cinta kepada Odette. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. tentang balet di Rusia. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. Maya Ivanova. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. Maxim Fomin. Dia memilih minum air jeruk nipis.processtext. insya Allah. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Odille. ngobrol dengan gubernur. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pangeran Siegfried. dan jus jambu kelutuk.com/abclit. yang putih maupun yang merah. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. Begitu pula para pebalet teman Zahra. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. gubernur berjanji. tidak minum wine. yang disihir Rothbart menjadi angsa. Sebaliknya. yang secantik Odette. gubernur. sup ikan tuna. Dengan 1. kegemarannya. Di antaranya di tempat ini. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Usaha Rothbart berhasil. Odette. sebagai sponsor pertunjukan. Mereka rame-rame menikmati salad. sangat populer di seluruh dunia. Alvin Nikolai. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. pemilik istana dan telaga. Rothbart sang penyihir. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. dan pembesar negara lainnya. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. juga grup dari Perancis. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. buah-buahan. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. pernah berpentas Martha Graham. memamerkan putrinya. yang mengelus rambutnya.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. Tampak Viatcheslav Gordeev. yang ditemani balerina Masami Chino. Zahra. Natalya Ashikhmina. Mendengar kabar ini.

Seketika. Begitulah. ”Awas. ”Odette atau Odille.” tukas Kakek. Semuanya tertawa.com/abclit. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Olga Ivachenko. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Kakek terbatuk-batuk lagi. ”Terpikat boleh terpikat.” celetuk Nenek. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. . juga tante dan oomnya. Semuanya tertawa. Rothbart marah besar. ibu. dan Anna Vakina.processtext. kakek dan neneknya. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. seluruh istana bergembira. Eyang bisa kesleo. angsa itu menjelma Odette. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. saya sih. siapa pun tak bakal salah memilih. sampai Kakek terbatuk-batuk.html dayang-dayangnya jatuh sedih. http://www. adalah para pemeran angsa kecil. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Siegfried sadar. Eugenia Singur. Oxana Gasnikova.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. ayah. lho. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. dan Anastasia Baranova. cocok-cocok saja.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Sekalipun dengan mata terpejam. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Tatiana Chungunkina. kedua adiknya.

”Tapi. http://www. Melihat kostumnya. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” sergah Kakek lagi.” ”Jangan begitu.processtext.” sanggah Kakek.” sambung Kakek. Kesan. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. memangnya kenapa?” tanya Zahra. yang ndak cocok bagi kamu.” tukas Nenek. Semua tertawa.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. Jika kita bicara soal kesan.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Lho.com/abclit.html ”Apa.” ”Jangan begitu. ”Semuanya kan tertutup rapat.” .” ”Kesan. Aduh. ”Itu kan mengumbar aurat. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. Eyang. Eyang. semuanya terkesan jelek. sih.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. pertunjukan itu harusnya disensor. ”Saya serius.” tukas Zahra.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas.” kata Kakek.

” ”Eyang yang kasmaran. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. kok yang disalahin balerinanya. wah. mendadak berubah jadi filosof.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget.html ”Wah. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. kostum Zahra ya seperti itu. Eyang ini gimana. kecuali Kakek.com/abclit. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. peradaban. Habis jadi diktator. Meriah. deh.” ”Wah. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra.processtext.” Semuanya tertawa. http://www. sih. . Obrolan berubah jadi perdebatan.” sambung Kakek. wah. bubar.

”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. ” sergah Tante. http://www. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Omong kosong!” sergah Kakek.” kata Oom. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.” cetus Kakek. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh.” ”Saya heran. . runtuhlah kebudayaan.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” Zahra menukas.” sambung Kakek.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.com/abclit. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.processtext. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Apa?” tanya Kakek. kok Eyang sampai segitunya.

http://www. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.” kata Zahra. ”Dalam KKN ada tradisi. ”Kostum ketat itu. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.Generated by ABC Amber LIT Converter. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya.com/abclit.” sewot Zahra. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. Eyang. ”Adalah tradisi balet.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. Mendengar kata Kakek ini.processtext.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” sela Kakek.” . begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari.

com/abclit. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.” tambah Tante. Eyang. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja.processtext.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. . Cucuku. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari. kata Allah. ”Banyak negara yang busuk. Bukan kepada Tuhan.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Kita bisa menuduh mereka ateis. http://www. Eyang. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Dalam hidup para balerina dan balerino itu.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori. Barangkali besok.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Eyang. atau lusa.” ”Hati orang siapa tahu. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. Dan itu bukan teori.” kata si Oom. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.

” tukas Kakek. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. Anakmu bukan milikmu. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang.” tambah Nenek. Zahra. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Kecuali Kakek.” sergah Kakek. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Seperti tercium setan lewat. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. http://www. Dan ternyata Allah itu indah. saya dikasih contoh.processtext.com/abclit.” . saya cuci tangan.” tukas Nenek. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Ada api yang menyala-nyala.Generated by ABC Amber LIT Converter.” jawab Tante. Lengang sejenak.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Kita wajib memeliharanya. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Allah mencintai keindahan..” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Ada air yang mudah mematikan api. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.html ”Coba.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.

Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. Dalam balet. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. dengan cara rumit dan sedih. apa saja yang masih bisa dipanggil. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Tangerang. tumbuh. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. cukup sulit. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. http://www. Eyang. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. di sebuah tempat yang sulit dijangkau. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. tidak ada pornografi dan pornoaksi.com/abclit. apa saja yang masih bisa . Dengan apa dan bagaimana ia memanggil. Cobalah nikmati tari bedoyo. tergetar. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Suatu dakwah keindahan tiada tara.processtext. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang.” sambung Zahra. tidak mudah baginya untuk mengingat.” ”Sebagaimana balet.html ”Saya setuju. sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup.

mendengarkan. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. berkaca sekaligus berkapur. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Juga tubuh yang gampang gemetar. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat.html tapi tidak ingin ia panggil.Generated by ABC Amber LIT Converter. sayup dan lamat-lamat. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. Jarak psikologi yang jauh. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. Mata yang menyempit. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. Bagiku sendiri. kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. menyimak.processtext.com/abclit. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. Tugasku adalah belajar untuk diam. dan apa saja yang tidak boleh didengar. Suara lirih mulai terdengar. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya. Diam. Suara yang groyok. mendengarkannya. Dan banyak telinga sudah diproteksi. Apalagi. lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. http://www. tafsir yang berkerumun. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. bahasa yang kabur. dan sebuah lukisan kaca. kadang lirih. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. kalau bukan karena penderitaan? . dan bagaimana mengisahkannya. untuk apa. juga tidak kurang bermasalah. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. Ia lalu lebih sering diam. kadang membesar tanpa irama. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri.

diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. Saya ini dari kecil miskin. ”Pagi itu. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. lalu mereka segera melesat pergi. Ya karena melihat guru-guru saya. berdandan. Rombongan itu mengikuti dari belakang.html Tapi. Rapatnya mungkin akan lama. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya pergi mandi. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. ”Sesampai di sekolah. Mbak. saya hanya ingin menjadi guru. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam.com/abclit. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya. ”Satu per satu. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. kalau ada guru lain yang menggantikan. saya ini seorang guru. Waktu saya kecil. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini. ”Saya benar-benar tidak tahu.processtext. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. apa salah saya. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak. Nanti. Lulus sekolah. Di luar . dan jangan nakal. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar.” Ia diam. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. sepi itu begitu menjadi-jadi. Kembali matanya temlawung jauh. ”Mereka sudah datang. ia terlihat cukup tenang. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. disusul oleh seekor yang lain. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku. belajarlah dengan baik. Sesekali aku menengok ke arah pintu. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. hanya anak seorang janda. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. http://www. saya menciumi wajah murid-murid. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. Lalu saya bilang: Pak.

Saya juga tidak mengerti. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung. wong saya memang tidak tahu. Mbak…. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. Ia dengan segera keluar. mirip suara kanak-kanak. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Ketika tiba giliran saya diperiksa. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. ternyata tidak….html kegiatan mengajar. namun lirih. ”Maaf.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Saya mengira bahwa saya selamat. http://www. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. lalu mencoba mendiamkan si bocah. ”Ya…. Tiba-tiba di luar mendung. neraka katut. .processtext. neraka katut. Wong saya tahunya. si bocah digendong ibunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan aku tidak tahu mana yang tepat. Tubuh tuanya gemetar. Tapi…. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah.com/abclit. Saya sedih sekali. ia berkata. kembali duduk di sampingku. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama. saya aktif di organisasi itu. matanya semakin berkeruh. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. Bu…. Tangisan itu menjauh.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil. Bu…. saya diambil lagi…. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. Mataku selamat dari rasa silau.” ”Sampai ke suwarga nunut. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang. dengan nada yang seperti berteriak. ”Dua tahun kemudian.” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah.

” Lagi-lagi. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. ”Maturnuwun. Kalau Bapak punya istri. Sesampai di kamar. Saya dibawa ke pabrik tebu.processtext. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. ingatlah anak perempuan Bapak…. Tapi tidak ada yang menggubris. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. tanpa basa-basi. Mbak. Ia mendekati saya. saya ditelanjangi…. Saya memohon ampun berkali-kali.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan. setelah saya bilang seperti itu. Saya langsung diangkut begitu saja. Aku menawarinya minum. Lalu membuka celananya…. ingatlah istri Bapak. Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. .com/abclit. dan mengambilkan segelas air putih di meja. Saya memohon berkali-kali. ”Eh…. Saya baru masuk saja. ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar. kemaluan bapak itu mengkeret.” Ibu itu terdiam. di dekat leher. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar. Tapi dia tetap mendekati saya.html ”Yang kedua itu. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. kalau Bapak punya anak perempuan. saya ini belum bersuami. http://www. tapi saya tetap ditelanjangi…. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. Tubuh saya penuh dengan kutu. Saya bilang: Pak. Lalu orang-orang itu pergi.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. lalu… mengencingi saya…. Mas…. Ia menutup pintu kamar. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. Ibu itu diam. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya.

Saya ini manusia.com/abclit. saya minta rambut saya. menyeberangi jalan raya. Di kantor polisi itu.” Andre mengambil minuman di meja. tapi katanya saya dianggap menentang. saya juga dipukuli. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya. mengguntingi rambut saya. saya juga dipukuli pakai sepatu. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu. muka saya dipukuli pakai sepatu. Dulu. kok diperlakukan seperti itu. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh.processtext. saya dibawa ke sebelah selatan. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu. Kalau saya jawab. http://www. hampir sampai lutut. Kami bertiga menunggu. kalau tidak saya lihat matanya. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk .” Ibu itu terdiam lagi. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin.” Ibu itu suaranya mengecil. saya tunjukkan tempatnya. Saya tidur di sebelah utara. saya juga dipukuli. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. Setelah itu…. saya juga dipukuli. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. Lalu…. Eh. lalu kalau diperiksa. Mbak. mereka itu. ”Setiap hari saya disiksa. semakin lirih penuh dengan tekanan. memperlakukan saya seperti bukan manusia. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya. Tapi. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. Yang tidak mau dipukuli. apa ya layak…. rambut saya itu panjang. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. Kalau tidak dijawab. Saya diberi pertanyaan yang sama. Semua serba salah.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. ”Suatu kali. ke kantor polisi. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres.

”Mbak.processtext. Ada tetangga yang meninggal dunia. Dipotret. Sepintas yang sempat kudengar. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya.” Semua diam. Ibu itu bangkit lalu keluar. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. Andre membuang muka. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya. ”Sebelum melakukan itu. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu…. Lalu menghirup napas agak panjang. Sebelum saya memakai pakaian. Tubuh Si Ibu terguncang. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia.” Ibu itu kembali diam. wajahnya yang putih segera memerah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kok ada yang dinistakan seperti ini…. Di dalam ruangan lembap ini. Selesai kejadian itu. dan itu dipotret. saya minta waktu untuk berdoa. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu. saya harus ke tempat kesripahan. Ia minum dengan pelan. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu. http://www. isak Mirna pun lenyap. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. Saya mengulurkan gelas air minumnya.” .html mengambilkan minuman. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana. Saya menjerit. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Petugas-petugas itu malah tertawa. Ibu itu masuk sambil berkata. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. Tintrim.” Ruangan hening. Tidak ada suara cicak. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti….com/abclit. ”Dan rupanya itu belum cukup…. Mbak. seperti apa itu. Sepasang mata Mirna bobol. Mas. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. Gerimis turun di luar. janji Tuhan tentang keadilan. teriak kesakitan dan tidak didengarkan. Saya ingin tahu.

processtext. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Di dalam taksi. seperti menjolok sesuatu. Ketika ibuku menyapa. Andre merapikan alat. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Berkoreng di lutut kirinya. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka. Usianya paling 12 tahunan. kapan kami bisa kembali lagi. berbincang pelan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. Selalu bercelana pendek kucel. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Edisi 03/12/2006 Selalu. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock. mungkin memastikan jadwal. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. semen. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing.html Kami mengiyakan. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu.com/abclit. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Hari masih gerimis. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. dan hanya bisa bertanya. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kadang berloncatan. Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Setiap pagi.tara aku keluar rumah mencari taksi.alat audiovisualnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil. Mirna lalu mendekati Si Ibu.

Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Dan ia selalu menggambar mata. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Memandang mata itu. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Ia menurunkan kaca mobilnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Tapi Papa kerap menghardik. seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. . Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju.com/abclit. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.processtext. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. saat ia berusia tujuh tahun. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. ”Mata itu seperti jendela hati. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Ia ingat perkataan Oma. mata dengan sebilah pisau yang menancap. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Ia suka menatapnya berlama-lama. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan.html bocah itu.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Tak ada keruwetan. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Berminggu-minggu mengikuti terapi. ia selalu disuruh menggambar. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. yang kata Mama.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Setiap kali terkenang mata itu. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. seperti mata bocah itu.com/abclit. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Eceng . setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia.processtext. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Rasanya. batin Gustaf. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. padang gersang ilalang. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. pecahan kaca yang menancap di kornea. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. http://www. Membuat Gustaf berpikir. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. kawat berduri yang terjulur panjang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Gustaf kini bisa mengerti. Setiap menatap mata seseorang. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Karena itu. Ketika berjongkok. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Semua itu hanya mungkin. Mata yang berkilat licik. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. Begitu bening begitu jernih. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. Mata yang penuh kemarahan. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan.

sambil berbicara kepada temannya. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. pikirnya. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Bila ia bisa memiliki mata itu. Gustaf tersenyum. Begitu lift itu tertutup. semuanya sudah tampak sempurna. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. . Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi.processtext. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. Bila perlu ia menculiknya. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. dan melemparkan recehan.com/abclit. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. http://www. Ia ingin ketika ia muncul kembali. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. Ia ingin membuka jendela.

ia menyapa.com/abclit. ”Selamat pagi. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. ia memberi salam. apa pun di ranjang.” . menyeka tubuhnya. makan di ranjang. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. asal kota tempat tinggalnya. Dengan takzimnya.html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. pekerjaannya. membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. mengantar sarapan. meletakkan selembar koran. baca koran di ranjang. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya. Meneer.processtext. http://www.

tidak demikian halnya dengan lelaki itu. Tetapi. Meneer.processtext. seterusnya akan diremehkan.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. empat kilometer jauhnya. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun.” kata si pemuda.com/abclit. Namun. apalagi gusar. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka. http://www. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. lalu bangun. tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar.” mulut lelaki itu menyahut. ”Ya. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. Meneer!” ”Ya. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya. angin laut masih terus berembus dengan kencang.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya.” jawab lelaki itu. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. menggenjot sepeda dari rumah. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut.Generated by ABC Amber LIT Converter.” sahut lelaki itu singkat. Ayo bangun. saya terpaksa melakukannya. pemuda itu menyalakan lampu. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. ”Sekali Anda membiarkannya. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun.” >1<”Ya. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. . Tetapi. apa boleh buat.

” ”Anda tahu sekarang.. ”Coba.” ”Nah. http://www. gajinya kecil Meneer. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan. saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer.com/abclit. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja..perang dingin sudah berakhir.Generated by ABC Amber LIT Converter.” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil.” kata perawatnya. kerja kasar seperti ini..” ”Hhmm..processtext. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya.” lelaki itu mengerinyutkan muka. ”Yaaa. Kendati bukan jawaban yang memuaskan. tidak memerlukan rekrut serdadu baru. ”. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu. bayangkanlah. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. Sebabnya. bukan?” >d 1<”Mmmm... Anda renungkan.html ”Kalau tidak. kenapa saya berada di sini. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai. si pemuda terus saja mengobrol... saya akan kehilangan satu setengah tahun.” .

Irak. dalam satuan apa. Itu saya tidak bisa.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan. Tetapi. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. ”Perang memang mengerikan. dan ya yang sangat menjemukan. ”Ya. Meneer.. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya. Maka.processtext.. Saya tak tahu. Dan ia mendapat kesan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kecuali ya. Tragisnya. .html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. Anda pernah berdinas di mana.” Jawaban yang meragukan tentu saja.” ”Mmmm. dilontarkannya pertanyaan.” Suara lelaki itu terdengar datar. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar.. tak ada juga tanggapan yang didengarnya. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. Kroasia. Tetapi. sebagai profesi.” ”Ya? Tetapi. pikirnya. Di Serbia. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang.” ”Mmmm. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. Bosnia. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. Membunuh lalat saja saya tidak tega. http://www.com/abclit. misalnya. ya.

html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja.processtext. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Cukup beberapa menit saja. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. Tetapi. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat. akhirnya ia gagal menemukannya.” ”Terima kasih. lantas mengganti seprai.com/abclit. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. lalu ditutup lagi bila udara dingin. Ia lantas beranjak ke jendela.” ”Ya. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. matanya nanar mengedari seluruh ruangan. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. kapan itu terjadi.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran.” ujarnya. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. . Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut.Generated by ABC Amber LIT Converter. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan. tidak untuk membunuhnya. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. mendesing di sekeliling lampu. http://www. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya. Tidak terlalu sukar.” ”Ayo Meneer. Meneer! Lakukanlah mulai esok.” ”Ya. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. ”Ya. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan.

bukan?” ”Mmmm. tentara Ambon memang tukang perang. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. kakek saya lupa. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan.. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut. ia mulai bicara lagi. si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan.processtext. Meneer. Meneer. apalagi melawan bangsa sendiri.” .” ”Ya.” ”Saya menentang perang Meneer.. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. Meneer. mereka berada di bawah perintah penjajah. Tetapi. saya rada neuwsgierig sebenarnya. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo.. Konon. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman.com/abclit. Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia. http://www.. di zaman dia dulu. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai.html Namun. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm. ”Meneer..” ”Ya? Saya sendiri menentang perang..Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak.” ”Mereka memerkosa wanita.

” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu.” ”Mmm. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama. Tetapi.. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu. seperti baru sadar. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. ”Saya terkadang lupa. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. ia melangkah keluar dari kamar.. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. dan mengganti seprai.” si pemuda nyengir karena merasa disindir. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda. bukan?” ”Ahh. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu. menukar piyamanya. Tidak terlalu sukar.. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja. Ia lantas bungkam. ya.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang.com/abclit. belum tertangkap sampai sekarang. bukan? Cukup sambil berbaring saja. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu.. Ketika ia berpaling. Ia . di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab.Generated by ABC Amber LIT Converter. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. ”Maafkan saya. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron..processtext. Delapan ribu orang Islam.. Tragisnya. Meneer. http://www. kamar demi kamar.

kata Anda.processtext.. mulutnya diam. tetapi menggumam dalam hati. tetapi. http://www. cucu tukang perang.” ”Tetapi. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. tak semuanya berhasil dijinakkan. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban. Panggil saja Patti.” ujar lelaki itu. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau. Saya kehilangan dua tangan. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya. merenggut kertas tisu dari saku. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya. 7206 .. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza.” ”Nah. bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara. perang perlu dilanjutkan..com/abclit.html melangkah balik ke dalam.” Pemuda itu melangkah keluar.” ”Apa? Anda bilang apa. Tetapi.” ”Ya. ”Ah. kerja sipil gajinya kecil.

Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya. ”Pak Muis. Dengan bahasa kasarnya. Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. http://www. Engku Nawar menarik nafas panjang. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. ajudan itu tidak saja menyebalkan. dan menutup kembali.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. tapi meyakinkan keganasannya. masuk. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. SH dan rombongan.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. dipersilakan. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar. Tak lama. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota.com/abclit. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. . Beberapa detik. Ajudan setengah berlari membuka pintu. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. berputar-putar dengan gagahnya. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu.processtext. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu.

”Boleh saya menemuinya sebentar saja. Oleh karena itu. nanti saya sampaikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebentar lagi selesai. alamat. Dari ruang tamu yang terbuka itu. yang lulusan kursus komputer berijazah itu.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. motor.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis. dan jalan kaki. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. Engku Nawar telah siap bersama cucunya. tapi cucunya. Minum dulu. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil.” Mendengar pernyataan itu. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. http://www. Sarini. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya.html Sehabis magrib. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. Baginya waktu terasa berjalan lambat. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. yang sudah merasa haus. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. Dari percakapan orang-orang. minuman datang. habis itu saya pulang. cucu kesayangannya itu. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya. keperluan. Semua mengisi formulir yang sama. Ambil saja airnya di sini. tuh. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Saya cuma sebentar. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya. Ia merasa sesak duduk . Ia memeluk erat Sarini. nama. Pak. Tunggu saja. ”Silakan Pak. Tak lama. Sarini. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil.” Engku Nawar mencoba bersabar. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga.” ”Sabar.processtext. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam.com/abclit. Ibu. barangkali lima menit.

Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Akan tetapi. tak jauh dari Kampung Padangilalang. Lain halnya kalau malam telah larut. Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. Kapten Tulus. Ia lalu berdiri. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. . Ia mempererat belitan sarung di lehernya. Diam dengan pikirannya yang menerawang. Akan tetapi.html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Engku Nawar harus bermuka dua. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. di mana ada perang. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. ia masih mencoba merokok. Engku Nawar. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Tapi. Dan. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. yang dikenal berani. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Nyawa tantangannya. Pada masa itu. biasanya mampir di warung kincir itu. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. yakni milik Wali Kampung muda. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. dari kejauhan. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. http://www. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak.processtext. di bulan puasa. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang.com/abclit. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. meski sangat berbahaya. menghilangkan rasa jenuh. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. Mau tidak mau. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Engku Nawar merasa sangat bahagia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. Hampir dua tahun lalu. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Suatu malam bergerimis. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. komandan pasukan PRRI.

Esok malamnya.processtext.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu.. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota.. Tempat pembuangan akhir sampah kota. Sopir-sopir truk sampah. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga.html Sejak peristiwa itu. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu.” Ketika orang tua itu mengiyakan. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. Di mana ada bapak saya. datang menjumpai Engku Nawar. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. Sejak itu. cucunya itu sudah dibelikan sepeda . Sebelumnya. mampir minum kopi di warung itu. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. para pemulung dan calo-calo tanah. Tapi. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. ia bisa hidup lebih baik.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya. Untunglah perang cepat selesai. Semua orang tahu. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. Tanah itu tidak subur. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus.com/abclit. datang saja ke rumah sehabis magrib. http://www. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai. Bahkan. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya.. ”Engku Nawar. di situ ada Engku Nawar.

. dengan tanda bel listrik. Sebentar-sebentar menjawab telepon. Tamu sebanyak itu. kecuali Engku Nawar. lebih baik menemuinya di rumah. Orang-orang bilang. nomor tiga. Sarini tidak lulus.html motor. Ini bukan kemauan saya. tapi tidak dinyatakan. Tapi ia masih berharap. Dan. Padahal. nomor dua. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya.” Meski tidak dibantahnya. orangtua Wali Kota itu. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. tugas ajudan itu berat.processtext. Kalau ke kantor. Tiap kali ikut tes. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. Buktinya? Nomor satu. mesti pakai uang jutaan. Pak Wali yang minta. Semula. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. http://www. yang lain seperti protes. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. Pak. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota.” kata ajudan berambut cepak tadi. besar sekali. ia akan menerobos masuk.com/abclit. tanpa banyak senyum. Keduanya sama-sama lincah. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. Dengan sedikit lega. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. Engku Nawar sadar. Engku Nawar tidak percaya. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. kemudian pada ajudan itu. sesuai urutan mendaftar. ”Sabar. Tapi. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. ”Bapak Engku Nawar. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Kalau saja ia tidak tua. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. Di ruang yang terbatas itu. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. Orang-orang bilang. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota. Engku Nawar tidak setuju.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. niat itu ditekannya. ia akan mendapat giliran pertama. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. dan selanjutnya. Tapi.

” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. http://www.*** Rawamangun. sudah malam. ”Maaf Engku. Giliran Bapak. Pak. Sekarang pulanglah dulu. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. ”Pak. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu.processtext. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya. Di perjalanan. Saya pulang dibonceng cucu saya ini. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kalau Engku ada perlu. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. Menguap dan cepat tersadar.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu.. meski matanya juga sudah merah. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. 5 Januari 2006 . Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. Wali Kota telah berada di depannya. seperti hendak jatuh dari kedudukannya. besok atau lusa lewat pukul dua. tulis saja surat.. Dan. Saya hari ini banyak tamu.com/abclit. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. Merasa hendak muntah.

http://www. Ada banyak kasus yang sangat pelik.” Perempuan remaja ini. tidak berbicara. ”Gadis ini tidak bisa ngomong. Dita menghela nafasnya. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. aku mendengar dari Mamamu. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. diam saja. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. Untungnya. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga.Generated by ABC Amber LIT Converter. menurut dokter neurolog. ”Tina. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu. Kalau kau mau. kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. Dia capek sekali. Keterangan yang dibaca oleh Dita.html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Padahal. Dita merasa lega. sekali lagi cuma diam.com/abclit. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. bisa curhat kepadaku.processtext. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham.” . sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya.

padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita. Setelah bertemu beberapa kali. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. yang adik suaminya itu. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. bukan karena apa-apa. ”Sayang. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam. Bram. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran). ”Mama.’ Aku mengangguk dengan cepat. Tulisan itu terbaca demikian.com/abclit. kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. Wali muridnya menyangka. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. aku kepingin pipis. dia tadi membelikan boneka. takut melihat kemarahan di mata Mama.” Tina. Setelah pesta yang luar biasa itu. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. meneruskan tulisannya. meneleponnya.html Pada jam ini. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul.processtext.” Dita berkata sungguh-sungguh. ’Ini bukan kejahatan. Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. punya kemampuan berbahasa yang baik. Tiga bulan yang lampau. yang sudah lama kau inginkan. http://www. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. keluar dari masalah ini. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik.

”Kita saling membutuhkan. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu. sayang.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. Bram-nya. tapi diam saja. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik.” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. suamimu yang kakakku itu. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya. Windy. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu. kakakku. apakah itu cinta. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita. katakan kepadaku ya….” ”Kamu pasti bisa. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku. kalau pusingmu semakin bertambah. tapi kami saling menyayangi. O ya. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia. Aku pastikan. Sehingga .” Bram menyambar cepat. Buat Dita. ”Dokter Dita. tahu hal itu. tetaplah melakukan terapi bicara. kasus Tina sangat istimewa. yang penting belajarlah dari masalah ini. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi. http://www.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita. di seantero dunia ini.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya. Bisa jadi karena aku dianggap lancang. perselingkuhan di antara orangtuanya. aku tidak tahu.” Seandainya kau Mamaku. Dita memegang tangan Tina dan berkata.” ”Tina. Dita menelepon. apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya.processtext. Dita tersenyum gelisah. Dengarlah.com/abclit. ”Ini masalah mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. tulis Tina.

hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang.” Dear.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang. ada dongeng. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. namun Eyang bilang. ”Aku merasa.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Bram mendengarkan ceritanya. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. memasuki laboratorium yang besar. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. . yang menyayanginya. Kemudian. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. Sebab. ”Jadi. kalau Eyang tidur di kamarku. juga pada pacarku. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan. Tina datang lagi. sehingga mereka harus menutup hidungnya.processtext. Bude. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. http://www. Hari ini. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. Yaa Tuhan. Pada suatu senja. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. kurobek-robek.com/abclit. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. Aku dulu senang. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. Sungguh. dokter Dita yang baik. tanpa mengedipkan matanya. malam itu ingin tidur di kamarku. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. sahabat-sahabatku. yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. ”Sayang. setiap selesai tulisan. ha-ha-ha-ha. Ini berarti sangat spesial. dengan menjadi psikiater. ”Papa dari anaknya”. kue kesukaanku. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini. terus aku ingin sekali bunuh diri. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

Namun. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. http://www. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. Harap Tuan mengerti.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu. Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik.processtext. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Adapun gambar tengkorak itu. Inilah gambaran kaum bermartabat. Tuan. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya. hiasan perang layaknya kaum ksatria.com/abclit. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman. ”Jesus is mijn opstanding.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu.

”Tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Kim Hok menggeleng. adalah yang utama di antara perempuan Belanda. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka.processtext. Saya tidak akan mengatakannya. Sayang Tuan. Aku seorang opsir biasa. ”Begitulah kami bangsa Belanda. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian.com/abclit. menghiasi dinding. Dan Mevrouw Gubernur. saleh. Sungguh. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut. sebuah tubuh teronggok penuh luka. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. Tuan. ah. Tak lama kemudian. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa. dan mencintai seni dan kerajinan. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. meninggal terlalu cepat. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. Dia terlalu menderita. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. Selamat jalan. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa. Tuan. http://www. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. . Sayang.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. ia sangat menderita. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini. Tuan. ”Tentu saja. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. Tuan.” kata Kim Hok memuji. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi. Akan kubawa pulang. apa harus kubilang untuk Nyonya itu. Ia mengelus bulu kuduknya.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal.

dan dilempar ke kanal. nama-nama seseorang. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab. Banyak nama yang disebutkan.processtext. ya. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. tidak kenal. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal. Sayangnya. menjadi makanan lalat dan serangga.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu.” kata salah seorang yang mengenalnya. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. Tan Kim Hok. ”Dia si pengukir nisan. ”Tanya saja kepada kepala desa. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala. untuk menjelaskan kematiannya sendiri.*** Yogyakarta.html ”Orang Tionghoa dibunuh. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu. .” kata pemilik warung itu. http://www.com/abclit. Lelaki tua ini.” orang.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. .html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut. Gusti…. dengan menggeser pematang secara licik. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar. untuk mengobati kepedihan hatiku. ”Oh. Namun. limpahan lumpur itu lantas mengering. Gerimis menyudahi dirinya. diiringi sedu-sedan. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. Dan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Dia adik Ayah kami semua. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. Namun.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. Ketika aku berusia belasan. seperti tak pernah terjadi. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. http://www. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. di pemakaman. Saat menyiangi sawah. Juga di dalam hatinya sendiri. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. Ayah kami. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. Diganggang matahari. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. dan dengan begitu menggeser pematang. tempat jasad Pakde terkapar.com/abclit. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. kematian suaminya. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. Membuat malam membeku sendiri.processtext. karena dia tahu. Emprit ganthil.

apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur. http://www. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. mata tertutup.processtext. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. dengan diiringi gerombolan pemuda. Selang beberapa hari kemudian. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. Berminggu-minggu kemudian. dan kami anak. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. maka kami memercayai kabar burung itu. Takkan terkikis dari ingatanku. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. turun dari jip. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. Tapi. Tentara. tentara menggedor rumah Pakde Samin. dan penuh ketakutan. dan manakala dadanya belum tegak benar. Dengan cara yang sangat menghinakan. dan kepala Ayah. kebingungan.html Dia sudah mati. dan dia digelandang ke dalam jip. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. (Oh. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. mencari kekuatan di situ. hati kami semua. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. 1965. Konon.Generated by ABC Amber LIT Converter. kami anak-anak. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. mata tertutup. Di bawah todongan pistol. supaya tak ada orang desa yang . Paginya. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. Suatu malam. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah. Ayah tinggal berpindah-pindah. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. sambil menggendong adikku yang terkecil. Di akhir tahun kekacauan. Sakit hatiku. Ah. setelah Ayah berangkat entah ke mana. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. Ibu. Ah. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali.anak yang lain. Ayah diperintahkan bersujud. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. tidak hanya sebatas pematang itu. koé akan kubunuh!” Siangnya. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur….com/abclit.

maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. dia mendesak. Katanya. Setelah menikah. dan aku belum hamil juga. mengharukan. ada semacam nista yang akan selalu melekat. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Setelah itu. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. Walaupun tidak dikatakannya. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Tak punya kuburan. Sama seperti ketika menjemput maut. dan. bukankah dia juga ingin berziarah. Pukul dua siang sekarang. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. ketika kami menuruni tebing. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. linggis. Mengikuti aku. dari mana mayat akan diluncurkan. meminta berkah. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku. Oh Tuhan. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku.com/abclit.processtext. Letakkan di tanah. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. Sesuatu. http://www. di mana salib dan nisan berbaur. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. gerimis mendesah dari langit. Dia. maka mendengunglah . Dia kuajak menemui Ibuku di desa. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. Sebelum menuju bengawan. tak punya nisan. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah. beberapa kali dia tertegun. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. yang katanya. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera.html melihat. cepat dilarikan arus. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. juga dicangkuli. tidak bakal ditemukan di Aceh sana. ke makam Ayahku. menghampiri bengawan. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. Begitulah. kami kira. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. Peti matinya diusung menuju pemakaman. Kedua sisi. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. menakutkan. diperlebar nganganya. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Turunkan dulu. kami pulang. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. itulah akhir perkawinan kami. diperlebar. Cuma. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. dengan tangan gemetar. Bunga-bunga itu mengambang. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. katanya. Tanpa itu. mencari Ayah. mengapa aku tak pernah bertanya. dua ratus meter ke arah bengawan. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali.

perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri. dan dengan sebal. ”cuih…. ”Las…. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. kami minta maaf kepadamu. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto. Beberapa saat kemudian. Dengan kepala tertunduk. menguak membukakan jalan untukku. tapi tak bisa juga. sudilah kiranya memaafkan. Dari celah dinding tepas. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung.” kusemburkan ludahku ke mulutnya. juga panik. Ibu keluar menemui mereka di beranda.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. mendekati peti mati. Seperti mengutuk diri sendiri.com/abclit. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. Aku maju dengan dada tegak. Kalau kau maafkan. diiringi isak-tangis. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman. Kau yang jadi kunci.” Kuhela nafas. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. terimalah saudara kami ini…. ”Ampun…. maafkanlah umatmu ini.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis. meninggalkan jejak di tanah basah. biar Gusti mau menerimanya. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. beku. terpaksa mendobrak adat kebiasaan. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. . Tolong. atas nama jenazah dan keluarganya. sarat di wajah para pengantar. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan. ”Kami pasrah. Ampunilah. seperti berbisik. terutama mereka yang menggali berlumur tanah. ”Sudah berapa kali kami menggali. Sia-sia. mengiba-iba. Aku membalik. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. orang sedesa akan tahu siapa kita. ”Jeng.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun.processtext.” katanya menunduk. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah.

Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini….html Aku cuma membatu. ia tidak menjelaskan mengapa ia . Jali. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Namun. Ia selalu menundukkan kepala. kira-kira delapan puluh kilometer. http://www. Namanya pun aneh. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. Namun sebaliknya. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. Patek dikenal sebagai seorang gila. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. Itu pun ia tidak banyak omong. panggilan akrab Gazali. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. karena perilakunya yang aneh. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. Desa Kwangko. misalnya mengenai kepercayaan atau imannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak mengandung arti apa pun. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. mulai tinggal di Dusun nCuni. dengan wirid yang lama. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. di masjid yang berbeda-beda. sebelah barat Desa Kwangko. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. seorang idiot. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. Jika bicara. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. Tapi Patek. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. terus menjauh. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu.com/abclit.processtext. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni.

sebagaimana di Laut Hindia. Mungkin karena sedihnya. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk. ia tak mau dibayar. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. tak ragu lagi. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni.processtext. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. Tak ada debu. Patek tentu saja bukan orang kaya. walaupun terbuka tak berdinding. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa. Tapi ia pantang meminta-minta. Walaupun kecil. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. Boleh dibilang. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. hidup sebatang kara. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . yang rajin membersihkan masjid. bahkan dapat disebut orang miskin. laki-laki dan perempuan bercampur. Walaupun tidak kawin.html meninggalkan kampung halaman.com/abclit. http://www. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. tempat tumpah darahnya itu. baik karyawan maupun orang kampung. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. adalah berkat peranan Patek. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. Masjid atau surau itu tampak bersih. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. barangkali lebih tepat disebut surau. maklum. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. Hanya riak air kecil ditiup angin. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. tempat orang mengambil air wudu. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu. Kebersihan surau itu. Untuk membersihkan masjid itu. tanpa hijab.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya.

Jika pergi ke kota Dompu. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. . walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan.com/abclit. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. Di samping ke masjid-masjid. Ternyata. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu. tapi naik kendaraan umum. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. tanpa mau menerima upah. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. dari Gereja Katolik Santa Maria. Patek yang jujur. http://www.processtext. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. tentu saja dengan izin penjaganya. semuanya di kota Dompu. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. Pastor Dhakidae. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. ketika orang itu sampai di kota. Namun. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. Ia menganggap. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. Karena sering mendengar cerita itu. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. hanya menjawab dengan anggukan. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. Ia menanyakan kepada Patek. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. walaupun jaraknya cukup jauh. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. Tapi anehnya. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat.html sekitar seratus kilometer. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena itu. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. mencintai anak-anak. di sebelah timur. ia juga pergi ke gereja-gereja. tanpa pembelaan diri. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi.

Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. ”Ini bukan hanya pandangan saya. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. sekalian pindah agama. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. Tapi. Karena keteguhan sikap Jali. Tapi Patek tidak banyak bicara. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali.com/abclit. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri. Sebagai akibatnya. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila. Di samping itu ia pun mengancam Jali. ”Ya itu lebih baik. ”Pak Jali. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain. ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya. tetapi juga Protestan. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. Karena itu. ibadah.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa.” ancamnya.” lanjut sang ustadz.processtext. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. demi keselamatannya di akhirat nanti. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. ”Patek itu sesat.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam.” sahut sang ustadz. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini. walaupun orang yang dinilai . tidak mengiyakan dan tidak pula menolak.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. http://www.” kata Ustadz Abdul Rasyid. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. dan akhlak seseorang. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek. sehingga ia mengadu kepada Jali. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat. Tapi dalam kenyataannya. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan.

sorga itu ada di sini. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin.com/abclit. khususnya orang suku Sasak.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. Ya. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. sesekali datanglah ke mari. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. Di pinggiran kali berwarna cokelat. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial.*** Garis Cahaya Bulan. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Karena Tuhan Yang Maha Tahu. dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. Bagi orang Sumbawa.. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung. Kalau kau tak percaya. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya.processtext. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini. apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin. melambai-lambai ditiup angin. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. ..

Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. kalau aku mau. Ah. ya. tetapi saat ini. aku bukan pembunuh. Sekali ini. Tunggu dulu. Dan dengan enaknya. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada.. Begini saja. dan melompat dari rel berarti hancur. Jika tugasku selesai.. di tengah panas terik. Oleh karenanya. dan manakala kau mengeluh. perintah itu bertengger di pundakku. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Dialah yang memilihku. kita tak pernah bisa memilih. Kita ditentukan. Hampir tiga hari aku berjalan. aku bisa membunuh. ha-ha-ha-ha. mudah sekali mendapatkan uang banyak. tetapi... Aku tak mau hancur. Maaf. Itu pekerjaan kotor. Bayi. sebagaimana yang kukatakan tadi.processtext. tetapi. tidak kali ini.. bukan? Ha-ha-ha. Hidup inilah yang memilih kita. kau salah sama sekali. Gampang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan . mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. Jangan dibalik. Jangankan hidup. itu pun tak sepenuhnya salah. dan semuanya beres. Tak ada yang aneh di sana.. karena semua sudah ada yang mengatur. Mengelak berarti melompat dari rel.. Tak seorang pun.. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. misalnya. aku menemukan sorga itu di sini. kita tak pernah bisa memilih hidup kita. aku harus .html Aku sendiri tak mengerti. Aku tidak bisa mengelak. Ikuti perintah. Aku tak mau mati sia-sia. sudah biasa terjadi. Menjijikkan. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja.. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. Tidak. Hujan yang turun. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf. Begitu saja. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. kawan. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. Ah. Aku masih bisa membangun hidupku. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu. http://www. mengendap-endap. Tapi. lahir di rahim siapa pun. atas apa yang kau dapatkan. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. Jangan salah. maaf terlalu kasar kalimatku.. tanpa mempersalahkan siapa pun.com/abclit. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku.. menziarahi kubur ibuku. Bayi merah. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah.

. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. aku tak ingin menjadi juru rawat. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. ah. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. dia. lalu aku letakkan di sudut jalan. bayangkan jika itu terjadi dan . http://www. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu.com/abclit. Hening sekali perasaanku. tentu saja aku selimuti. tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. aku muak. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. tidak. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. Tetapi. kurasa. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu.. Jujur saja. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. Kalau aku mau.processtext. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu. baru saja rokok hendak kunyalakan. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. terlalu religius kurasa. pandangan yang wajar saja.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). kuberikan sebotol susu. Bayi yang cantik.. mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. Siapakah aku. tidak. bersih dan menawan hati. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. Bayi itu.. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. Maka. Umurku masih belum tiga puluh. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. mendadak akan pulang. Begitulah.. Belum selesai dia berkata. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. sudahlah. Sepi sekali di sekitarku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. Salah seorang. aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. demikianlah. Dari jarak tertentu aku mengawasinya.. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. Hmm. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah. jangan pernah berpikir tentang itu padaku. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya.. entah siapa.

Dan aku—mau tak mau. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. Kubayangkan. Kopi sudah separo kuhirup. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. dibawanya bayi itu ke sarangnya. Atau. Mereka gembira. Tidak. aku duduk di ruang tunggu. air. bagai piring perak.. mengikutinya dari jarak tertentu. Mereka bahagia. Asisten si nyonya datang. Detak sepatu mengisi sunyiku. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. Tidak hanya laki-laki.html punggung. Pagi itu. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. lebih buruk lagi. gedung. Aku pun tahu. Semua itu mungkin bagiku. di pinggiran kali ini. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. Sempat kudengar ada suara anak kecil. Dari sana. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu.com/abclit. http://www. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. penasaran apa yang terjadi di sana. Bisa jadi dia orang gila. tentu saja kuurungkan. dan anak-anak. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. untuk pemerasan yang sama. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. jongkok di kotak bayi itu. Bayi itu dipungutnya. Digendongnya dengan sukacita. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam.processtext.. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. Bulan di atas sana membulat putih. tetapi juga perempuan. tepat ketika matahari tenggelam. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. Kalau itu yang akan terjadi. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. bahkan sampah. akan kuhabisi mereka semuanya. . Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. Dia tiba di gubuknya. Tanpa bicara dia menatapku. Tetapi.

Ini aneh. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. Ada senyum tersudut di bibir. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini.processtext. tangisnya. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu.com/abclit. dia masih memiliki kasih sayang. yang menganggapnya ancaman. karena memang tak penting. ah. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. setelah menerima sesuatu. Tetapi. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. Ruang apartemenku harum. Tidak.. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu. Yang aneh. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. Dia memiliki keluarga. dengan semuanya. Tetapi. Aku tak peduli. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh.. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Langit tanpa awan. bersih. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. ". Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Kubayangkan. masih bisa kusaksikan bulan purnama. dan tergilas zaman. Begitu tajam rasanya di mataku. Bercahaya penuh. Bulat penuh. . karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain. Aku beranjak. betapa bahagianya si kecil itu. wajahnya. Tidak mungkin. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi. kesialan. yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. Malam ini. semoga sudah masuk hari ini.

Kepalaku masih berat. menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. ini adalah sorga. Aroma sangit pembakaran. Aku duduk di tengah sampah ini. Semua sampah harus dibersihkan. semua penghuni gubuk merayakan pesta. cobalah ke tempat ini. dulu. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Maafkan. Dan sudah terlaksana. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Sunyi. Dan seperti kataku. jika kau ada waktu. Dia tertawa penuh kemenangan. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. kemarin malam. di pinggiran kali ini. di sini. Bukit Nusa Indah. Kapan-kapan. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu.html Aku terbangun oleh dering telepon.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kubayangkan bulan.processtext.com/abclit. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. kemarin malam. http://www. Sudahlah. Aku pernah menyaksikannya. Di tempat ini melimpah kebahagiaan. Alkohol menebar. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. Ini sorga. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. kepalaku rasanya mau pecah. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. di pinggiran kali ini. Semua sampah harus dibersihkan. tergeletak di meja dan di karpet. Aku banting telepon itu. aku bisa menolak permintaan. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. 982 . Di tempat ini. Ya. Gelap. karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar.

Tuan Chew Song Kit. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. Aku tahu. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Antara suka dan tiada. Aku jadi ragu berterus terang. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Rambo. Nguyen telanjur segalanya bagiku. penuh cerita pilu. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Tapi. Aku jadi teringat Vietkong.com/abclit. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Atas nama kemandirian itu pula.processtext. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Batam. Tapi. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. http://www. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. . Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Siapa duga.Generated by ABC Amber LIT Converter. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara.

com/abclit. Sesiapa yang sudah dilepas. Nguyen muncul tiba-tiba. http://www. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Mana tahu. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda.html Sekali lagi. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. jujur. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. aku berbelah-pihak pada Nguyen. sambung Wan berhujjah. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah.processtext. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Tapi. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. dari benang menjadi kain. Tapi aku tak begitu hirau. Tapi. Wan Syariful.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. Dari mana asalnya kapas. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. Padahal. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. Aku kehilangan jejak Nguyen. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. Atas keteguhan sikapku ini. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. . Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. bila ditanya. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Tapi. Wan Syariful. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang.

teman setiaku sejak dulu. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. Apalagi. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. Saat itu. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu.html Aku tertunduk lemas. Kami bersitatap tegang. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. Meski. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga.processtext. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya.com/abclit. aku bagai melompat menuju buku tamu. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. . Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. terus terang.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Tak salah lagi. lewat di depan stand kami. Sungguh. Nguyen. Dan perempuan itu langsung memelukku. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya. Tapi. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun. http://www. Semua bisu. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Begitu pula kampung halamannya. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Hampir setahun ini. Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya.com/abclit. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. Aku telah keliru memilih jodoh. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. San Nam dan San Nangh. Dalam perjalanan naik taksi itu. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Pembantunya. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku.processtext. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Mereka sudah jarang bertemu. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Nguyen pasrah. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. airmatanya tak henti mengalir. http://www. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Sebab. Nguyen masih duduk . Aku memeluknya sepenuh-mesra. sahut Nguyen pelan. kami sudah pisah ranjang. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Dua adiknya. Sing Anh. Aku makin memperkuat pelukan. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami. Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.

Lampu temaram. Memang. Menelepon pun tidak. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. Maksudmu?... kamu masih menjadi istri orang lain. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. aku tak bisa. Nguyen meraih jemariku. kami sudah pisah ranjang cukup lama. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Nguyen.html menyandar didadaku. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain. Bang Rajab. Sungguh. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya. bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Kamu tidak mencintaiku lagi. Tapi. Inilah saatnya.. . Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam. Lagi pula.processtext. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda. Aku terdiam dan ternganga. Maaf. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. Iya.com/abclit.

processtext. memang bukan akhir segalanya. Langit masih bertabur Nguyen. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. http://www. Nguyen. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Andai saja. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. bagiku. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. . Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata.html Aku duduk di bibir ranjang. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Sungguh. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Nguyen. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum.com/abclit. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. Langit Hanoi terasa merah jambu. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. Tapi. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Nguyen terus saja menangis sesegukan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Selalu. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Oktober 2005.

Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Beberapa ratus meter ke arah bukit. kata mereka. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. http://www. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu.processtext. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi.com/abclit. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. arus sungai menjadi sangat deras. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. Tak ada yang peduli. Terlalu angker. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang .Generated by ABC Amber LIT Converter.

sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang.processtext. http://www. Rencananya. Gelap. Tak lama. Jona dan Warni. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. tepat di atas ranjang keduanya. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua.anaknya. Tak hanya secara fisik. Bahkan. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Dua orang gadis tangguh. Hampir-hampir tak ada privacy. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Kakek Lido. Tak ada apa-apa. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. .com/abclit. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. suaminya. Dua anak gadisnya.

Lagipula. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. Kata ayahnya.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. Nenek Lido bertubuh subur. . Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. http://www. segar. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. nenek Lido dulu cantik. dan kuat seperti ibunya.processtext. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Saat istrinya membopong pisang. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya.com/abclit. Konon. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Alu kita patah. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya.. Tapi kakek belum tertidur. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda.

Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya.. Rumah panggung itu bergerak. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido.” Jona dan Warni menjerit. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Baju Jona telah robek di bagian depan. Terdengan pelan suara krek. pikirnya. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. http://www. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. krreeek dari loteng. Akh. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.” kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek.. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah.processtext.. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya.. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. ”Siapa kamu? Aaakkhh.. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu.Generated by ABC Amber LIT Converter. krreek. Tiba-tiba. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Nenek Lido agak gelisah tidurnya.com/abclit. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. . Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni.. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan.html ”Kata Nisa. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Kindo. angin semakin kencang. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya.

dengan secepat kilat. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Maka. Dalam gelap.?” teriaknya setengah melompat.Generated by ABC Amber LIT Converter. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Rumah panggung itu bergoyang keras. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam.com/abclit. Dengan keras. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Rappe mundur. http://www. Dengan sekali mengayunkan tangan. Dari arah belakang. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Sebilah pedang pendek. jawara kampung sebelah. Nenek Lido melengking marah. Lelaki itu tersentak keras. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya.html ”Siapaa. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Rappe semakin marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rappe. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya . Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Dalam gelap. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona.processtext. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai... Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan.

Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan.”. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu.processtext. kepalanya juga. Kakek tak bereaksi apa-apa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Tangannya gemetar dan nyeri. http://www. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi.html ke depan pintu kamar.. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi.” Nenek Lido menyuruh Jona. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Berhasil. Tapi Nenek Lido tidak menangis. ”Kindo. Entah apa. Dengan susah payah.. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Saat mendekati sakratul maut. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis.. ”Dia sudah pergi. Tak ada yang tahu. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Cresss. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah. .. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu.com/abclit. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras... Nyalakan lampu.

A Cong dan Beng Sin. Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Istrinya. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. http://www. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam.html Jakarta.processtext. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Kedua anaknya yang masih hidup. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. ikut-ikutan menjerit di samping ibunya. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Korban berjatuhan. Ling-Ling. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dari balik kain penutup jasad. . Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti.

Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San.” kata Keng Hong.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. gantunganku bila kau tak ada. Ling. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Suamiku? Siong. mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu. Rambutnya kusut. Jangan menangis terus-menerus.” katanya. ”Sudahlah. sebagian menutupi wajahnya. Tuhan akan menerimanya di surga.processtext. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat. http://www. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. Keng Hong melirik kedua adik iparnya. Asap hio menyengat. ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya.com/abclit. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Relakan kepergian Siong. ”Orang-orang yang berkedok membela .

Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. kau pergi ke tempat Paman Cia. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu.” kata Keng Hong. Setelah empat jam menggali tanpa henti. ”A Cong. meskipun tinggal rintik-rintik. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. Kau sekarang menjadi anak tertua. Jangan menangis terus.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. Tapi A Siong mewarisi . hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong.processtext. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Malam. http://www. air masih menggenangi halaman belakang. Dia orang baik. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. tentu mau menolong kita. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga.com/abclit. Keng Hong mencangkul tanah basah. Semalam. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Wajah-wajah mereka muram. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Hujan terus turun sejak semalam. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat.” ”Sudahlah. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Dengan kalimat terbata-bata. Sekarang. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. kita pikirkan nanti saja. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Kedua adik A Siong keluar dari kamar.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal. ”Ayahku selamanya membela Republik. pendiri Pao An Tui. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir. http://www. . babah-babah kaya itu. Dan mati pun di sini. Setelah korbannya ambruk. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya. Sementara mereka.com/abclit. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. Ling-Ling melolong-lolong. Ayahku teman baik Oei Kim Sin. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah.html keberanian ayahnya. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. walaupun kita loyal terhadap Republik. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu.processtext. ”Aku datang terlambat. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Kalau ada apa-apa. mereka kabur dari tempat itu.” kata Sin Liong dengan nada menyesal. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. Ia lahir di sini.orang miskin seperti kita. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia bisa mewakili ayahnya. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. ”Kita memang serba sulit. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Ia menjawab ayahnya tidak ada. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang.

Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda.processtext. http://www. ”Puh. Memang benar. baik yang kaya maupun yang miskin. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. Matanya menyelundup keluar. Mereka berteman baik sejak kecil. orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. . Kakak. kau tidak tahu. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita. Ia mengenal baik Oei Kim Sin.” jawab Sin Liong kesal. kaum peranakan Cina miskin. Berkali-kali ia duduk dan berdiri. Lihat saja buktinya. resah. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.com/abclit.” kata Hong San yang dari tadi diam saja. Keng Hong mengangguk.” ”Benar.

Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. http://www. . Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah.” kata Hong San. dan tidak banyak terpencar-pencar.html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal.com/abclit.” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar.processtext.

Kakak Hong.Generated by ABC Amber LIT Converter. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. Mei Lan. tidur di sini.” jerit perempuan di luar pintu. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu.html Seseorang mengetuk pintu.” katanya dengan suara parau. temani kami. ”Aku takut di rumah sendirian. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. . ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan. ”Aku. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya.processtext. http://www. ”Kau gantilah pakaianmu. Bukalah pintunya.” kata istrinya sambil menggigil. Semua cahaya di rumah kumatikan. Tadi baru saja ada orang mengintip. Masuklah. ”Siapa?!” bentak Keng Hong.com/abclit. tapi ditahan Keng Hong.

Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Ia telah tercebur ke dalamnya. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya.” kata Hong San. meninggalkan mereka. Anakmu sendiri menjadi korban.” kata istrinya sambil terisak.” katanya pelan.processtext. meresahkan malam yang basah. . ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. ”Tidak. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. dan kau diam saja. http://www.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. terbunuh sia-sia. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Kakak Hong?” tanya Hong San. Tidak hanya puluhan. tapi ratusan. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can.” Keng Hong tertawa samar dan kecut. Suara tangisannya pecah. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu.

”Kau telah menjadi tumbal untukku. http://www. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya.” ”Kakak beristirahatlah. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. Lebih baik kutangguhkan besok pagi. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. Firasatnya tak enak. Dan tumbal kaum kita. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua. ”Kakak. ada seseorang mengendap-endap di luar. Aku akan di sini sampai pagi. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. Tapi aku sangat lelah.” kata Keng Hong. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Apa yang harus kita lakukan. kita telah membagi dua kekuatan.” katanya dalam hati. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. . Malam turun semakin sunyi. Siong. Sementara Sin Liong menggelar tikar.” kata Hong San.” bisik Hong San. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Aku bangga memiliki anak sepertimu.processtext.com/abclit. Di Semarang. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai. Mimpi orang-orang kecil macam kita.

com/abclit. ”Jangan terjebak. ”Mereka benar-benar meneror kita.processtext.” Keng Hong mendekati pintu depan. Dia menunggu di samping pintu. Kita sergap saja dia.” kata Keng Hong. ”Bangunkan Sin Liong. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah. ”Sudah.” katanya. . Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar.html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.” jawab Hong San. http://www.” katanya. ”Cuma ada satu orang.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Generated by ABC Amber LIT Converter. ia membuka selot pintu.com/abclit. lalu membukanya. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. Kedua belah pihak mencurigai kita. Di antara rentetan senjata api. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. Ia membaca tulisan itu. Diambilnya korek dari kantong celananya. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah.” Mereka berpandangan satu sama lain. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai.processtext.html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Kedua adik iparnya memandang bingung. . Lama mereka tiarap. sebat. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. http://www. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. Dalam hitungan detik. Perlahan-lahan. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. tercekam ketakutan. tak tahu mesti berbuat apa. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya.

http://www.processtext. Panglima Tentara Belanda. 2. . Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China. NICA. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. Ia mati bunuh diri tahun 1949. 4. 13 Januari 2005 Catatan: 1. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang.com/abclit. 3.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Yogyakarta.

Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. Bagai melayang. tak tertahan oleh tatap. menjelma kerumun bulatan pijar. dinding-dinding kaca. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Dan gedung-gedung. samar jadi terang. selintas tampak seperti mata kayu. dalam nanar. Begitulah semua datang. memang. Dan. seperti kemarin-kemarin. Dan dari mata tuanya yang buram..html 5. Pedih ini akan hilang. siang memanggang meringkus dirinya. kelabu jadi samar. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949. terus mengembang. lantas mengembang. semua terbentang. Di sana. menggenang. Tetapi takkan lama. jambang.. http://www. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. . Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. itulah yang dilakukan olehnya. putih pirang. Dan. lelaki tua itu merasa nyaman.com/abclit. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Dan lalu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Begitulah terik. ada sebuah titik.processtext. dengan ganjil. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. Tetapi bukan. yang semuanya kotor. lingkaran hitam itu lalu menyatu. matahari membelah. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. Lingkaran hitam yang berputar-putar. Begitulah hitam jadi kelabu. kuning kelabu. amat terang.. Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. segera merembes air. Bukan hanya tameng. Tetapi bukan itu. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. seperti bintang. meranggas tak teratur panjang dan jarang. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. sebentar memusat sebentar menebar. di puncak monumen. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas.

beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. Kini tertahan. Dan ah. Derek II. di atas kereta itulah ia.. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. tajam pedih. tangga-tangga besi. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. Huah! Orang. Monumen Nasional. sepatu boot. Ia akan bekerja di sebuah tambang. dalam nanar. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta... bagai melayang. dadanya. di puncak Monas. Menerobos hutan. Akar-akar yang juga bagai bersembulan. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. seperti angin menyapu ilalang. Titik putih.. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. menghunjam mata.. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang. Bagai melayang.. Membujuk. Atau menyibak.. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. Dan lihatlah. Dan gedung-gedung. Atau mungkin membelah. Pak Daud.. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu.. Tampak amat sibuk. langit goa yang runtuh.” kata mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berlompatan.. Tetapi ya. Dan Belanda pergi.com/abclit. semua terbentang. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. Berdebar. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk.. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar.html Begitulah semua datang. mulailah hari-hari itu. Jepang menyerah. menjelma kerumun bulatan pijar. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa. lihat. ia . Melayang. Di atas papan itulah ia duduk. lift ke atas ke bawah. Begitu juga tambang emas di Lebong. Kata Pak Daud. bukan itu. bagai mengambang. ada sebuah titik. berkacamata.. matahari membelah. ledakan dinamit. Bengkulu. Maka. tidak. Derek (pos) I. pasokan senjata berdatangan. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. tidak. Makin jelas.. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita. Di sana.. Maka. Orang itu masih muda. gema lori. lalu proklamasi. Tetapi memang. http://www. Si remaja ini. semua terbentang. Dan wajah-wajah itu muncul. ada banyak emas.. Lorong-lorong. Apakah hanya matanya? Karena hari ini. Dan seperti mimpi. dinding-dinding kaca. menyandang tas di bahu kirinya. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka. tidak. tidakkah amat berdebar? Semuda ini.processtext..orang dengan helm.. Seperti hamburan. Memandang ke luar. Masa berganti. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. Mungkin lebih tampak seolah rebah. Menyerang tambang. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. Letusan? Belanda kembali datang. berlalu lalang. pun mengajaknya.

mendehem beberapa kali. Dibuat di Jepang. ”saya punya usul. dalam kepalanya? Tentu tidak.” senyum itu kembali. tatapan itu. kembali ia palingkan muka. ”Saya membutuhkannya..” Pak Jusuf inilah. Tiba-tiba si pemuda menoleh. emas Monas itu didatangkan dari Jepang. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant). http://www.” ”Begini. Dik Najir. cacat. yang ingin saya tahu yaa.. Untuk modal. kenapa kini berbeda? Senyum itu.processtext. coba berdagang.. seingatnya. Dari jauh ia datang karena yakin Nur. Maaf.com/abclit. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana. Agaknya ia harus terus-terang.” katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini.. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu... Refleks. Tatapan di balik kacamata. ”Ma-maaf. saya mengerti.. menatap ke arahnya. ”Dulu. anak Pak Daud. emas yang kita sumbangkan dulu.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. . Kacamata itu. kini tersenyum.. Jalan yang lebih baik.. itu.” Senyum itu masih. Dik Najir. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu.. Ia tak suka. ”Saya paham. Cuping hidung besar. di tambang itu. ”Tapi. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. terasa ganjil.. Kacamata itu. Tak enak ketahuan mengamati. ”Begitulah yang orang-orang dengar. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah. dulu merupakan sosok sederhana. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. Pak Jusuf. ia mengalihkan pandang. Lihatlah kini diri Dik Najir. Tatapan di balik kacamata. Tetapi hei. yang diangkat jadi juru tulis gudang. setelah Pak Daud meninggal. bagai melayang.” mendehem lagi. Tetapi. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam.. kita berjuang. Pak Jusuf berkata...html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana.” Yang orang-orang dengar. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang. Tetapi. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti. apa adanya.

seperti mencari lagi posisi yang tepat.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah. begini. bagai mencari persetujuan. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas. Pak Jusuf mengeruk saku celananya. mereka hanya meneruskan. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan.” ”Ah tidak! Mana bisa. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran. lalu berkata. Saya. ”Sebetulnya bukan dikembalikan.” ”Tenang. Tak lebih.html Satu kaki tak ada. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan. baiklah saya terangkan. Tapi karena dinamit itu. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya. langit goa yang runtuh. kata mereka.” Diperbaikinya duduk. Sumbangkan saja.” ”Tidak. Saya akan membantu. emas itu tak usah dibagikan. mereka bilang ada yang digunakan. Saya. disalurkan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dik Najir. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. seperti kecewa. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini..” . melainkan disalurkan. mengeluarkan dompet.” Ragu. Pak Jusuf. ”Emas itu memang ada pada saya. Saya tak mau..processtext. tapi jumlahnya tak lagi sama. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu.. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi.. saya kemari hanya untuk hal itu. mendengus. ia mengangguk. Jemarinya merogoh. Dik Najir tentu bertanya-tanya. Jadi.. Kaki saya putus bukan karena berperang.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas. Kemudian katanya. Itu gampang.com/abclit. maaf. http://www. ”Nah. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah. Dan karena jumlahnya sedikit. Lalu... Dik Najir.

com/abclit. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku.. Ia terus meluncur... diam. tertahan bagai mengambang.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. tetapi koin 1. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng. aku tahu yang ia rasakan.. yang berhenti? Dan Pak Jusuf. kelihatan seperti patung. teronggok di trotoar. tidakkah berair bagai menangis? Pusing. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas.. Dengan hanya seribu. si pemuda membalikkan tubuh. langkah si pemuda terhenti. Bahkan udara pun seperti mati.processtext.html Satu rupiah? Ia ternganga. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. Pak Jusuf mengangguk. Betulkah? Betul. iseng. Sepuluh..!” Lelaki tua itu terkejut. Mulutnya terbuka. menatap ke arah koin. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut. Semua tak bergerak. Tapi ajaib. taplak. gorden.. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu.. tersentak... bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks. Senyap. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut. Ketika koin itu bergerak turun. lapar. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung. nyaris menyentuh loteng. Meja. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti.. Saat koin itu bergerak turun. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong. diam. yang siap menyambut koin.. Tetapi mendadak. Semua tak bergerak. Tangannya yang terangkat. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. Wajah bulatnya tengadah. semua kembali seperti biasa. Diayunnya kaki. Sepertiku. kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. ketika itulah..000 rupiah itu kembali? . kaku tergantung.. Dan. Waktukah. dua puluh. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. astaga. tak berkedip. koin satu rupiah itu tak tersambut. atau mungkin tiga puluh detik. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. kursi. http://www. tertahan bagai mengambang. sekilas tampak seperti mata kayu. Mata di balik bingkai besar itu menganga. tapi kembali tertegun. Lalu.!” ”Triiingngng. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. mata itu. Koin itu berhenti.

berapa umur Bapak?” ”Oh. Dan mata itu.. http://www.” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Tetapi ia telah di sini. Ramadhan telah berlalu. Jadi.” Si pengemis seperti lega.. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. Mencari kerja terus. Karena itu. Minggu 28 Maret 1830. ”Maaf. tujuh puluh tujuh lidah emas. Dungu. . aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Edisi 11/06/2005 Ya. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. Tiba-tiba ia merasa letih.com/abclit...html Konyol.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tujuh puluh tujuh? Eh. di hadapan si pengemis. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah. dalam lukisanku..processtext. kau juga tahu. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. asalan ia berkata. Muak. ”Tujuh puluh tujuh. Memasukkan lamaran terus.*** Payakumbuh. hari itu.

Hanya aku saja yang boleh sedih. Raden Mas Joned. Dia tak ingin de Kock atau Valck. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas. Pangeran harus kulukis tegak menantang." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan.processtext. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. "Kalau mau Sultan . Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. "Segalanya sudah diatur. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu.html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. terutama aku. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. Jadi. Namun di luar dugaan. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. ke langit sarat sriti. Dan orang-orang. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram. Lewat bisikan batin. de Stuers. Karena itu. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan.com/abclit. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. Roest. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. http://www. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. Ya." desis Haji Ngisa. Residen Kedu berwajah batu itu.

Pangeran.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. Jenderal." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga. Ya. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid.com/abclit. Dan. "Jadi. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan. Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. Namun. Tetapi. Kalau berani menatap. saya tembak putra-putra Sampean. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan. Nah.processtext." . apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu." kata de Kock. hati Sampean bisa terbakar. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan." Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna. Jika ingin berkelahi. Setelah itu. http://www. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid.html Ngamid bisa menghilang. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean.

Urusan siapa? Urusan saya. Dengan hati-hati pula.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Mengapa tak Sampean lagi takjub. Sekarang. ketahuilah. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. Tuan. sambil mendongakkan kepala. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. Saya siap dibunuh kapan pun. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. membumbung menembus kabut. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. http://www. Karena itu. Ketahuilah. "Hei. silakan bunuh saya. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. urusan Haji Ngisa. kau tahu.processtext. moksa ke langit. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. Jenderal. dia berseru. Jadi. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu. Kematian toh hanya kabut halus. seperti Isa yang tersalib. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. Karena itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. De Kock akan tinggal arang. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. bukan urusan Sampean. Gusti.com/abclit.

"Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan.processtext. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma. berlebaran pada Jenderal de Kock. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Namun.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. Sampean boleh khawatir. Ketakjuban. > 0 Meski demikian. ya. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. Sultan." "Jadi. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan. Sultan?" "Ya. wangi bunga kubur. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah.com/abclit. . Sampean tahu." "Allah tak menghendaki seperti itu. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. http://www." "Maaf. Gandakusuma. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. Karena itu. Sultan. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. kita hanya akan bersilaturahmi." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. sekali lagi. Gandakusuma menyangkal.

namaku Saleh. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu. . "Sudahlah. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya. Dan sebagai iblis. Ya. Nanti…." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. tetapi de Kock telah menjelma iblis. Nanti kuberi kuda baru. Ayolah. Sultan. Juga sayap dan segala yang dicinta. Digambarkan bersayap atau tak bersayap. Gandakusuma. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan. Dia tahu sebentar lagi.processtext. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan.com/abclit." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. http://www.html "Kita memang akan bersilaturahmi. Juga sayap dan kemegahan dunia.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. setelah pada pukul 08. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu. mata yang kehilangan keperkasaan." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. O.

4. "Asal Usul Perang Jawa.Generated by ABC Amber LIT Converter. 5. 2. http://www. Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro". Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey.html Semarang. "Historische Tableau. Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. Juli 2004. nama Dipanegara dia berikan kepada putranya. Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro".com/abclit. 19 Oktober 2005 Catatan: 1. Anak-anak Sultan Ngamid.processtext. 3.

Setelah aku bercerita panjang. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Pukul dua belas tengah malam. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. bola mata tempat biasanya aku berteduh. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Mencucuk sumsum dan tulang. Tak biasanya Ibu seperti itu. http://www. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. Tetapi. . Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. sore kali ini menjadi lain.html Sumber: Kompas. "Ibu. Anak satu-satunya. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku. agar Ibu mengerti. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. Ah. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Namun. Hatiku terbakar. Mulai sinis. Angin menusuk gigil.olah saja ia sedang disengat kalajengking. Sampai aku besar. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. hati-hati. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Sebuah danau tenang.processtext. anak dendang itu juga manusia. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Seperti kemarin juga." ucapku pelan.com/abclit. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit. Namun. Semenjak usia lima tahun. Menuju jantung kota kecilku. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi.

Rabina itu perempuan yang baik.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Ya. Sebatang rokok kuselai. dekat sebuah lampu taman. Aku telah menyelaminya. Aku telah selami pribadinya. Percayalah. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. Tidak ada yang menggoreskan cela. Ibu. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. semakin banyak aku berbicara. Menyisik bersama angin malam yang tajam. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. Bahkan. Aku duduk di tepi trotoar. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. keluarganya. Berbuai-buai.processtext. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. Tidak semua anak dendang seperti itu. Ibu. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4). Asapnya membaur dengan cuaca. http://www.com/abclit. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari . Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. Bersipongang. Aku terpojok. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya.html "Cobalah mengerti aku." "O.

penjaga. Suara yang sudah teramat kukenal. Di sanalah saluang tiap malam digelar. http://www. jelas kutangkap dari gelagatnya. bulu matanya. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas.com/abclit.html trotoar itu. Ingin melihat senyum Rabina. Namun. Tetapi.processtext." terangku lebih panjang. "Di samping berdendang. dan penerus kesenian nenek moyang kita. Seolah berpitunang.ulang datang. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Mengapa mereka harus kita sisihkan. Akrab. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Lekat di kedua belah anak telingaku. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. Memukul. Dan suara itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.pandangan sebelah mata?" Selalu. Bergema melantuni malam. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Dan berulang. Aku ingin ke sana. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh. Pewaris. kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Ibu tetap tak sependapat denganku. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. . "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan. Ibu. Kurasa Ibu tidak sepicik itu." jawabku tenang. Lirih. kita lecehkan dalam keseharian. Sayup. Ingin menikmati rambut panjangnya. Bergendang-gendang. Tetapi. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. berburu ke arahku. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. Haruskah kita membunuhnya. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. Mengimbau. "Mengertilah. bibirnya. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala.

Nyaris tak mempunyai kelebihan.com/abclit. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Kadang terkesan merintih. Hidup memang keras bagi kami. aku telah mengatakan yang sesungguhnya. Istirahat. Tidak jarang. "Aku mencintaimu. sejak singgalang 13) didaki. Menatapku lama-lama. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Diam. Kadang aku merasa malu. Ratok Bonjo 8). Sudah tidak bisa berbuat apa. aku setia menungguinya. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. . aku harus membiayai keluargaku. Rabina. Saat mula aku datang ke pagurawan. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. Lalu menunduk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. Jam empat subuh saat itu. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Ah. Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat. Sebuah rumah kecil. Karena setiap malam Rabina berdendang. aku mulai mengikutinya berdendang. Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai.processtext. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7).html Suara itu masih sangat jelas. Kemudian pada malam-malam berikutnya. Tetapi. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. Aku tahu. Dan Rabina seolah tak percaya. Pariaman Panjang 9). http://www. Memburu dan mengepungku. Ruang. Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. Di saat lain aku justru merasa bahagia. Dendang yang melirih. Dan lagi. "Ayah dan Ibuku sudah tua. Tigo Giriak 12)." ucapku lagi meyakinkan dirinya.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. Meratapi malam. Tetapi. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. Sirompak Taeh 10). Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. bagaimana lagi. biar sajalah. Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. Sawah Rawang 11).apa lagi. Hanya gambaran dari keberantakan. "Mungkin kamu tak percaya.

. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam. "Cobalah berpikir kembali. Tak kuduga. Mencintaimu. "Aku istirahat dulu ya. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya. http://www. Bergulir." katanya pelan. dua garis air bening tetes dari sudut matanya. kami akan menikmatinya berdua. Rasa cinta yang cemas. Sepenuh rasa cinta.html Rabina mengangkat wajahnya.processtext. Aku mengusap rambutnya. Anak dendang. pada waktu-waktu tersisa. Tetapi. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Tentang rindu. Wajah Rabina mengeruh. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. "Aku sayang kamu." "Jangan berkata seperti itu. Namun. mencoba menatapku lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang. Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah." Berat rasanya. Tetapi. aku mengangguk juga. Memendung. Rabina. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. Rabina!" Sejak saat itu. "Pulanglah. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu. Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. Sudah hampir pagi. Terima kasih sudah mengantarku pulang. "Kamu berada di anjungan berukir megah. Lalu aku mencium keningnya." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. Membenahi anak-anaknya yang berserakan. Jatuh menimpa jemariku.com/abclit. Lembut. Ukur timbang matang-matang.

http://www. Cahaya bintang berkilauan memendar bias. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. Membelenggu. Aku masih di trotoar itu. Ingin berteriak. 4) Pantun-pantun yang dilagukan. tempat kesenian musik sedang digelar. Menyelai rokok lagi. . awan-awan diam. 11). 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang. Mendengar suara Rabina. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). Aku ingin memberontak.html "Pinanglah. 6). Aku ingin mengatakan kepadanya. Biasanya dilakukan oleh perempuan. 8). Di langit malam. 10). Lama.com/abclit. Rabina. 5) Istilah. Malam melilit.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Menikmati saluang yang masih berkumandang. kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. 9). "Aku mencintaimu. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. Lalu aku berjalan. Ke lapik gurau tempat Rabina berada. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. Aku ingin ke sana. Meninggalkan trotoar itu. Aku menatapnya. Aku mencintaimu!" Namun. 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung.

bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit. Sebagai penulis. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra. fana. kebiasaan serta irama keseharian mereka.com/abclit. . Di seberang sana. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. lembah dan gunung-gunung. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. http://www. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. ”Kamu ini psikolog. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. Ini untuk melukiskan. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang.processtext. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya).Generated by ABC Amber LIT Converter. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya. atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. pendeta. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah.

”Kalau ingin menulis.. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. karena ini rumah wong edan. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta.html ”Sudahlah. Pimpinan perusahaan.” sahutnya berseloroh.” tukas sang teman. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Terasalah. bukan teknis. ”Wah. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Sang sahabat garuk-garuk kepala. Kali ini aku mau. Setelah itu sore tiba.. Ketika hari pensiun tiba. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti.. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. kamu jawab semua pertanyaanku. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor.com/abclit.. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut. Terus terang. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung.” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. waktu tidak seluas dibayangkannya. . Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.” tambahnya getas. ”Masih cantik ya. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual..processtext. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri.. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. Dia disuruh pidato.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain. ha-ha-ha.” komentar istrinya. Begitulah. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi. pekerjaanmu urban planner.” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek. aku lupa. ya mustinya bangun pagi.. http://www.

”Ooh. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri.. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu. memangkas dan merapikan daun-daun bambu. Dia lebih tertarik pada tanaman. space planning. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman..Generated by ABC Amber LIT Converter. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan.. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani..processtext. ”Benar juga.” pikir sang istri. gardening. sesekali merawat dengan memberinya pupuk. dan lain-lain.. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa. . dia seolah seperti landscaper.. Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. Soal menulis. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling.” celoteh orang di kantor. Ia mulai bangun saat subuh. ”Kenapa bangun sepagi itu. bersih-bersih. ”Mas Daru kini jadi petani lho. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. http://www.. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Waktu saya ke sana. Pertama berat. Dia menjadi petani. dan semacamnya. kalian tidak tahu.. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan...” ujarnya dalam hati. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman. sebelum matahari terbit.. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. lanscaping.html Dia cuma tertawa. sampai-sampai. Katanya dia sampai diprotes tetangga. merapikan barang-barang. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.” Begitulah kehidupan pensiunan ini. Coba tanya beberapa teman.com/abclit. Pa?” tanyanya.

” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Bukan hanya stretching.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia percaya.. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali.” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. Akan tetapi. ”Liong bun. Sang istri percaya.. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan.com/abclit.. Hanya saja. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. kaget juga banyak orang). sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya. berada di ruang kerja menghadap komputer. Dia baru menyadari. kali. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi.. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong. http://www.. selalu terjadi pada para pensiunan. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. dari berbagai penjelasan dokter.. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. .” Perkembangan berikutnya lagi.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan... melihat kemajuan suaminya. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya.. Ia dilarikan ke rumah sakit.processtext. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya.

.... Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semua saudaranya tumbang di jalan. ”Indrakila!” jawabnya.. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. di balik cakrawala ada cakrawala. Si istri kaget. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam. realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Itu tadi ucapan suaminya. http://www. Sang istri kian penasaran.” suaminya melanjutkan kata-katanya. Sang suami diam.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya. Ah. Ia ingin menguji memori suaminya.processtext.... diiringi anjing kita.. Itu Gunung Gede-Pangrango. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila.com/abclit. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan.” tanyanya. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka. ”Itu gunung apa Bib. Wanita ini tersenyum.. Didekatinya suaminya dari belakang. Suaminya telah pulih kembali. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu. Patman. Di balik gunung ada gunung. dengan menggunakan nama panggilan suaminya. bukan Gunung Indrakila.

tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita.html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri. di pinggir kolam. Si suami diam sesaat. ”Bibib telah benar-benar sehat.” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya. Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. Dia tahu. tentang asal-usulnya. Ciawi Junction. http://www. Dia peluk suaminya dari belakang. pertemuan mereka... Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari. Langit semburat merah. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik. bukan Mertasari... sebelum berucap. siap menulis lagi..processtext.. Itu peristiwa puluhan tahun lalu.” Terhenyaklah sang istri.com/abclit. 2005 . ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. Pagi benar-benar datang.Generated by ABC Amber LIT Converter.

hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. memandang langit siang yang terang.. mengusir bayangan buruk itu. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. dan wangi. Bayangan kematian penuh darah.Generated by ABC Amber LIT Converter. rapi. sembari terus bersiul. Saat Ramadhan kemarin. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Melipat selimut. Dan tadi. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Menyemprotkan pewangi ruangan. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. http://www. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. Setiap menjelang Ramadhan. ia bisa mencium bau amis darah itu.. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. keramas. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Menyisir rambut dan memotong kuku. Saat ia berbaring di ranjang. Ramadhan berlalu.com/abclit. Langsung. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu. Merapikan pakaian.siul ringan. mengerut menatap laki-laki itu. Ah. Atau erang kesakitan leher digorok. tapi ia masih saja hidup.processtext. . dan segera saling bisik. Ramadhan kali ini. ia berharap maut benar-benar akan datang. Ia memejam.html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. Ia tak ingin kecewa lagi. Ia berdiri di ambang pintu. sembari bersiul-siul kecil.

Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya.mayat itu meleleh.html Ia jarang berada di kamarnya. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. http://www. Bergegas.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti mengawasi. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. seperti bekas bacokan. Seperti selalu menghilang. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Misterius. Wajah. Ia seperti tak mau dikenali. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Sering. menyapu. Mungkin intel. ia terlihat merokok siang hari. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Berhari-hari. Barangkali ia dukun. Tiap sore ia keluar. . Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Bila pulang. Menutup diri. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Tato di lengan kanan. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. tapi pergi ke kuburan. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu.processtext. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. seperti kotak tempat menyimpan gitar. memandang entah apa. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Ini yang membuat kian penasaran.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita. Sebab. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Beres-beres kamar. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Memakai jaket kulit hitam. Mungkin ia rampok. Kulit wajah mayat. Menenteng koper besar. Rutin yang ganjil. Parut luka seputar pundak. Mengepungnya. Kadang berbulan-bulan. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Sesekali. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan.com/abclit. Ia mengerang. seperti lilin panas mencair. Aneh. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Para tetangga jadi gelisah. Lihat saja tampang seramnya. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Entahlah. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. mereka mendengis bengis. Menjelang Ramadhan ia muncul. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam.

”Kamu punya bakat bagus. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Tempat menyembunyikan diri. sebagai seorang pembunuh bayaran. Ia selalu ingin berada sangat dekat. Orang. Lalu sepulang perang. Sumpek bau comberan. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Di kampungnya.” kata komandannya. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Alangkah hebatnya jadi tentara.saat seperti itu. Kisah para raksasa penyantap manusia. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Dikirim ke medan perang. ia diberinya pekerjaan. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Dan itu disukai komandannya.orang mengerubung. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Ia terkapar. Menghabisi seorang wartawan. Membunuh seorang pengusaha. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dan ia membusung bangga. kata teman-temannya. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. . memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. tak ada yang berani menghentikan. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan.com/abclit. Benar kata komandannya. dan disiplin. Tapi membuatnya merasa aman. di bulan Ramadhan. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia akan tinggal di rumahnya. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Mungkin. Meski ia tahu. Paling mentok jadi sersan. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Kamu pantas jadi tentara. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Percuma kalo cuma jadi tentara. http://www.processtext. tertib. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. nanti bila sudah berhenti. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. ia suka membayangkan diri jadi tentara. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. bisa memukuli orang sepuasnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seorang hakim. Mati dengan tenang. Ia pun suka menikmati saat.html Ia tergeragap bangun. Lalu beberapa order ringan lainnya. Umur tujuh tahun. Memang.

Kamu cukup membunuhku. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Biar tak banyak korban. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia heran. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Ia amati raut tua Kiai Karnawi.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Sayang kan. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan.processtext. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Karena itulah. Mencibir. kenapa mobil perlahan berhenti. Sorot matanya tenang. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. itu mobil mahal. Beberapa mati dalam penjara. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Kulitnya yang coklat resik.” ajak Kiai Karnawi. Sepotong. http://www. Tugasnya hanya membunuh. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Bicaranya santun. Dan ia tersenyum. Ia tak terlalu menyimak. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana.Generated by ABC Amber LIT Converter. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. lalu mendorong mobil ke jurang. ”Aku tahu. Beberapa menderita sakit jiwa. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya.com/abclit. Getir. Tanpa jejak. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. kamu mau membunuhku. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan.” . Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Rahang terkesan pipih. Dan ia mulai mengawasi.

Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram.com/abclit. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu.html Baru kali ini ia gemetar. diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Ia mulai diusik gelisah. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Kemeresek daun jati jatuh. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Jangan sampai aku kesakitan ya. lakukan tugasmu. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Terdengar letusan. kecuali mati di bulan Ramadhan. Gemetar tak yakin.processtext. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. ia hanya berdiri gamang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. ”Sekarang. Lengking gagak di kejauhan. Alhamdulillah. Lalu menggelar sajadah. dan kini memburu kematiannya. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Yogyakarta. http://www. Pelan. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Dan semoga saja. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . yang pelan. Kelebat bayang burung menyambar. Ia pun kemudian selalu berharap. Amin. Ia merasa senja meremang. Enggak usah merepotkan sampeyan…. Kalau boleh memilih. Tapi tolong.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia meraba belati. Senyap. Dengung jutaan serangga mengepung. Singup.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Kematian di bulan Ramadhan.

katanya. Sampai akhirnya. Kuraba kepalaku yang nyeri. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. ternyata dibalut dengan perban. Kurasa benjolan itu mengganggu.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. Sejak itu. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. tetapi karena kalau tidur. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Nyeri di kepala dan bagian . Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Jangan terlalu banyak bergerak. bukan karena sakit. bertahun-tahun. di mana aku? tanyaku. Dengan tersenyum ia menjawab. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. Nah. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter.com/abclit. aku selalu mencari teman untuk pulang. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Ada rasa ngeri dalam diriku. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. justru itulah yang kukatakan kataku. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. Suster. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Seperti biasa. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Setelah pulang dari rumah sakit. Sendiri aku kembali. kalau pulang. Entah berapa lama. aku tidak tahu. kataku dalam hati. Ketika aku membuka mata.processtext. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. aku menjadi takut ke rumah sakit. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Setelah sadar. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Bapak perlu istirahat banyak. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. membuatku tidak betah. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. berakhir pukul satu siang. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. benjolan itu sering pindah-pindah. aku tidak tahu. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah.

Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Ia melayang jauh. yang berbaring dekat jendela menyapaku. Aku melihat cahaya yang indah. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. tengah malam. Persis di pantat. indahnya. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. damai. Tadi malam. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. dekat jendela pula. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah.com/abclit. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain.Generated by ABC Amber LIT Converter. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela.. Sejak lama aku menghindari suntikan. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. http://www. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. jarum itu menancap. Beberapa kali aku disuntik. Ia menyapaku dengan lembut. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. hanya luka memar dan benturan di kepala. Tidak ada tulang yang patah. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Ketika makan siang usai.processtext. muncul lagi. Oh. . Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. kawan yang di sebelahku.html kaki.. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. tetapi tidak berhasil. Kami saling menyapa. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. kalau boleh dengan menelan obat saja. menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Aku merintih-rintih.

Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. http://www.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku.processtext. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali. Suster. kawan. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. ayunannya yang menggoda. ada suara menarik. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. Tidur dekat jendela ini amat nyaman.. ketika Anda tertidur. sungguh menyejukkan hati. hidangan anggur merah yang meriah. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Ia harus mendapat tambahan darah. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. Dan belum lama berselang.com/abclit. Berjalanlah bersama kami. nikmatnya. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. . Segala derita berlalu. Bidadari-bidadari dari kayangan menari. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. Pak. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. Semua tampan dan cantik jelita. tidak usah takut.Generated by ABC Amber LIT Converter. Suster itu tersenyum. Semua orang berpakaian yang indah-indah. Para pelayan yang sopan. oh. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. aku bertanya. HB-nya sedang menurun. Lentiknya tangan mereka. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Petang harinya aku membuka mata.. seseorang menyapa aku. persediaan yang tidak habis-habisnya. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. sebuah pesta yang meriah. mereka rindu bertemu dengan Anda.

minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan. http://www. Rupanya ia sedang terburu-buru.Generated by ABC Amber LIT Converter. Baiklah. Ah. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. katanya sambil melangkah ke pintu. Pak. Ruang perjalanan akhir. tidak apa-apa. jawab suster itu tenang. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Saya akan minta bantuan kawan yang lain. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar.processtext. Maksud suster? tanyaku penasaran. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir.html Paginya. katanya perlahan. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. Ya. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah.com/abclit. .

disangga bantal. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia . di bangsal yang lain. Ada apa.processtext. membukanya lebar-lebar. Namanya Roni.com/abclit. aku dipindahkan ke ruang sebelah. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. Bandung. tanpa mengenalkan diri. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Semula pada suatu sore dia datang. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. Kurasa lebih lima belas menit kemudian. Setelah suster pergi. Buru-buru kutekan bel.. Suster berdatangan ke ruanganku. kapan aku kenal temanku yang satu ini. Pak? Suster. Kudorong daun jendela.. Edisi 10/02/2005 Aku lupa. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera.

jin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. ”Betul kok Mas. ”Anda sendiri gimana. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin. genderuwo atau jin. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. genderuwo.” ”Ah musyrik. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul. mobil. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. Berprofesi makelar tuyul. http://www. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor. apa tidak dosa?” . Soal tuyul.” Saya terdiam bengong. sampai segala macam pesugihan. paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku.com/abclit. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. ”Ah yang benar!” sahutku.processtext.” jawabku.html gaib. ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar.” katanya. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.

”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. ”Betul kan Mas. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa. ratusan ribu dengan ratusan ribu. ada tuyul di sekitar sini. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. ”Ah memang. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian.” .Generated by ABC Amber LIT Converter. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia. itu dia sedang menggendong tuyul.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. dan lain-lain. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam.html ”Ah ya tidak. Itu orangnya. Harus dengan uang sebelumnya. Kami bingung mencarinya. Wong saya hanya perantara. ”Mau tahu siapa yang punya. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu. Nanti akan terlihat siapa orangnya. ”Lihat Mas.” jawabku. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.” Beberapa hari kemudian. Nanti kalau mau saya ajari. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan. http://www. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Uang kami atur menurut nilainya. Dia minta memerhatikan air. detik itu pula raib di depan mata kami.” ”Saya tidak melihat apa-apa. mana untuk uang sekolah anak-anak.processtext.com/abclit. ada peristiwa aneh di rumahku. setiap uang di tas kerjaku hilang.” katanya. Istriku merengut. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. Perempuan berambut ikal.

Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. . Mana mungkin.processtext. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang.com/abclit. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. atau di Desa Tempuran.” Bulu kudukku meremang.” Benar-benar gila orang ini. ”Cerpenmu bagus Mas. http://www. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan.” ujarnya. ”Bisa lho Mas. Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan.Generated by ABC Amber LIT Converter.” katanya. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. Pandansimping. pikirku. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S. pikirku. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh.

Ya Allah. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. terasa bulu kudukku meremang.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku. dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. ini pasti perbuatan iseng si Roni. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. Pulangnya sehabis magrib. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. pikirku. menjelang melintasi jembatan. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. pikirku. Hingga pada suatu sore. telah membuatku tidak bisa .” jawabnya lirih. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan.” ”Tidak kok Nak Mas. rapal. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Tapi… senyum itu… ya Allah. ”Lha. ”Kalau mau ke kota. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. senyuman seperti orang menahan sakit itu. ”Monggo Pak.com/abclit. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. supaya kerap mengirimi saya makanan.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota.” sapaku. agak di luar kota.processtext. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. Nak. saya boncengkan. Ah. ini saya beri tahu ritualnya.

kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau.Generated by ABC Amber LIT Converter..processtext. alis tebal. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya.com/abclit. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. Dia tertegun beberapa saat. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu.. Setelah bertanya kesana-kemari. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran. Ternyata tidak mudah. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.html tidur semalaman. Seorang lelaki paruh baya.” jawabku seingatnya.. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. http://www.) Klaten 2004 .

html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari. . Wajahnya tambah putih. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang.” pesan ibu. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. bukan?” Kakak diam saja. Lurus. Kakak tak hirau. Engkau akan mengajar lagi nanti. seperti puasa. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Kau akan dimasukkan kerja. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik. ”Paman dan bibi akan menjagamu. tidak tidur malam. namun kakak bergeming. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. Kau senang dapat mengajar lagi. berlari mendekati. http://www.processtext. Matanya terus menerawang ke cakrawala..com/abclit. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Kosong. jauh. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. ”Elok-elok di sana.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Nak. Hanya memandang. kian lesi. memeluk. serta menarik-narik tangannya. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. dsb.

”Ai.” kata adik-adik. Ikal. izin dulu ke komandan. Lambat.com/abclit.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap. Legam. Seolah-olah beliau orang penting.processtext.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. Begitu. Sudah lama kakak serupa patung hidup. ”Kakak sedang malas bicara. harum dan bagus sekali rambutmu. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya. ”Ajaklah terus berkata-kata. Ah. Mariani.” . ”Dia sayang sekali kepada kalian.html Tetapi ibu terus bicara.” ”Kakak mendengar. ”Payah hubungan pos sekarang. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. ai. namun ayah tetap tidak dapat dicari.” jawab Kak Lela. padahal hanya masinis kereta api.” ”Malas bicara. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak. Sampai kini. bertangisan. ”Tapi kakak diam saja. http://www. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA. Sejak dia tidak jadi mengajar. Nak. menyeru namanya. Bukan kepala stasiun. ”Seperti tak mendengar. Sedang kami hanya bisa memandang.” ujar ibu. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. tetapi ayah tidak terjangkau. Salamilah paman dan bibimu. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Membawa ayah.” Kakak tetap tidak beringsut. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. paman dan bibimu tiba. Itu.

Ada empat orang. Disuapi.com/abclit.” ”Terlalu! Tengoklah. Berlubang-lubang. Ibu-ibu menceracau.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak. Dia melengking. ”Anak-anak nakal itu. Kak. aku melesat ke luar rumah. Sudah kering sekarang. lalu menoleh kepada kakak.” balas ibu mengangguk. ”Disuapi engkau Mariani. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat. ”Paham aku itu. ”Tapi tidak dalam. berteriak-teriak. ”Tapi mau dia makan.html ”Jalan pun buruk. lihatlah. ”Begitu keadaannya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. berdarah-darah. http://www.” istri paman menambahkan. Kuburu anak-anak itu. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan.” kubilang. anak rancak? Eh.” . ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap.” sahut ibu. Kak?” ”Mau. Yang lain siap-siap menyergap. ”Mereka lempar kakakku dengan batu. sama besar denganku.

” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Bahunya bergerak-gerak. Nak. ingin bersih-lingkungan.processtext. Kuping mendenging. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Sebuah bendi lewat di muka rumah.” ”Jual. sebagai biasa’. Mengajilah saat maulud. Mariani? Nanti mengaji. Katanya. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. Seorang lelaki membelalak garang di depanku. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Lepaskan. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Bibi ingin mendengarmu mengaji. http://www.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi. ya. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. kubalas berteriak.” jawab ibu. Paman kembali melihat ibu. ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. ”Masih rajin engkau mengaji.” Tidak berjawab. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. ia bilang. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Pamanmu juga. Kepalaku nanar. ”Rumah ini bagaimana. bagai rembesan pada panci rusak. Tumpahkan terus. penumpangnya tak menengok. Tapi yang muda-muda menolak. Sengaja buya tua itu kemari. Hampir terjengkang. Membelai-belai rambut dekat luka. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat.” dia bilang. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Jafar.” . ”Bagaimana aku bisa pindah. Kakak terisak.

processtext. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. bila aku pindah. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Menyulut rokok. Lalu. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam. ”Tidur. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Tetapi. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. Polos. diputus tunangan. Bersih. Orang-orang tetap lewat di muka rumah. ”Ambil bantal. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. serupa badai.com/abclit. meski tak diucapkan. menanti pengangkatan. Paling tidak. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap. ”Sudah ke mana-mana kuobati. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. Juga karena status ayah.” ulang Paman Jafar. http://www. Kak Lela berdoa. aku. Berangkat gembira di pagi hari. ”Belum juga ia berubah.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. Jafar. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. Karena status ayah. menatap kejauhan tak berbatas. Bagaimana . Jafar. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela.” lanjut bibi.” Berbisik pula pada adik-adik. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. banyak. Melihat pula ke luar. Juga siang. Lagi pula. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. ”Sstt!” ucap bibi perlahan.html ”Ei. Dia luruskan kakinya. sewaktu pulang. memandang paman serta bibi penuh harap. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir. Atau diajaknya adik-adik. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. sudah tiga bulan ia mengajar. ditolak jadi guru.” balas ibu. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Diselimuti. tahu keberadaannya. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex.” kata ibu. Padahal. tak menengok. Sesekali kubawa pula ke sekolah.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Tenanglah Kakak.

Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. Rumah jadi lengang—lengang sekali. ”Kubawa Mariani sekalian. Anak Ampek Angkek. Ayah bangga dengannya.” Ibu bernapas lega. *** . Besoknya. Kak.” Ibu mengangguk-angguk. Ibu menangis. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah.” ujarnya kemudian. ”Kakek-nenek kalian guru. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami. Putih. Kami juga. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. ”Syukur ada kakak kalian. Tetapi. atau kami yang kehilangan mereka. Tapi. http://www. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. Termasuk jalan hidup anak manusia. ”Terpikir olehku. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. ”Komandanku tahu.html keadaannya. berharap kakak jadi guru tamat SGA.processtext. putri sulung. tapi tangannya campin pula. Tetapi malah juru-api kereta api. Dia kawanku.” Kakak terus tidur di beranda. Dekat kami. Kulitnya bersih. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. kakak dibawa paman dan istrinya. seperti ayah. Tugasku menunggu. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Di Pakanbaru juga kacau keadaan. kalau laki-laki itu pulang suatu hari. Mestinya ayah juga. Dik.com/abclit. tak bergerak-gerak seperti bayi. ”Rencanaku besok kembali. kakak. kalau cukup biaya. tak mungkin tidak.” ucap Paman Jafar. ya?” Kami mengangguk. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. terampil-cekatan menangani rumah. Juga lalu di muka rumah.” Ayah tertawa suatu ketika. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. Kakak telah pergi. Napasnya lunak. Bila mati di mana berkubur…. Barangkali karena perempuan.

ibunya sakit-sakitan. Jangan lupa baju buat Cik Giok.processtext. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. dekat dapur. Separuh dindingnya dari tembok. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. lalu di pelabuhan. Ma. Karena kata Pa. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting. di Pontianak.html Jakarta. Pa bilang.com/abclit. orangtua Cik Giok kurang mampu. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. Emak mau. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. Malah sejak aku belum lahir. bisu. Emak. setiap kali Pa bersuara. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. kamar itu amat sangat sederhana. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. Di rumah kami. diam. Cik Giok menempati kamar belakang. di sebelah gudang. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. . Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. http://www. Sempit. aku mengikut saja. Kalau mengikuti urutan keluarga. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. Di rapat persiapan perkawinanku. Supaya anak dan ibu selamat. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. mengalahkan aku. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. Hidup mereka susah.

Emak. menemuinya. saat bisa sedikit bersantai di kamar. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. Hingga seminggu lalu. Cik Giok menangis seharian. katanya. Juga beberapa malam setelah itu. Sebulan. ketika pulang sekolah. menggosok. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Sudah dekat ujian.processtext. Ma bilang. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. mengajakku merasakan kesejukan di sana. Tidak apa-apa. Lewat. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Katanya. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. Esok harinya. bilang pada Emak. dibuatkan baju. mencuci. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. aku masuk kamarnya. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. katanya. Kalau sudah begitu. Aku ditariknya keluar. sebelum Emak bangun. Supaya di hari Minggu. Satu kuartal.. aku mengantuk. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Lewat seminggu. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. dan mengurusi segala keperluan Emak). yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Malam itu aku tak bisa tidur. Sore hari. yang kebetulan tidak tidur siang.com/abclit.html Aku pernah bertanya. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. waktu itu. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. http://www. Pulang sekolah. Katanya. Cik Giok harus dipanggil. membereskan rumah. mengapa Sabtu. kudapati kamar itu sudah kosong. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. bahwa ia bohong. berusaha mengeluarkan senyum. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. tahu.. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. Aku kelas enam. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. Tetapi aku diam saja. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak. Sering di tengah cerita. memanggil. Sehari sebelumnya. Jadi Cik . Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. aku bayi yang cengeng. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak..Generated by ABC Amber LIT Converter. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. Itu hari yang paling tepat. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. berdebu. Memeluk bantalnya yang tipis. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Enam bulan. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. Tiba-tiba aku menangis. ibunya Cik Giok sakit keras. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Terutama siang hari. hingga aku terlelap.

kelihatan sedih. Dan Cik Giok benar-benar datang. http://www. Bubur encer dengan tung cai. Tetapi melihat wajah Emak. katanya. Cik Giok menangkupkan tangannya. Sudah. Emak. Menyiapkan sarapan untuk Emak. Siangnya. aku bertanya pada Ma. Mau kawin kamu.html Giok akan datang. Ia akan tinggal terus bersama kita. Cik Giok sudah sibuk di dapur. Baik. Ma menanyakan kabar Cik Giok. kata Cik Giok. siap menyusulnya. Aku mengikutinya dari belakang. aku putuskan kembali duduk. Setelah empat belas tahun pergi. Cik. Pa. Tidak. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Matanya. Kami berpelukan erat. Aku sudah berdiri. kataku. atas perintah Ma.processtext. dengan dahi berkerut. Menghabiskan bubur di mangkukku. mendengus. Tenggorokanku kering. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. Semua dari kampung. ia kembali ke rumah ini lagi. Keras. suwiran ikan asin bakar. Pagi-pagi. Kami menyantapnya dengan lahap. memberi hormat pada Emak. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. aku harus mengepas baju pengantin. . yang tak beranjak dari meja makan. Kurebut tas kain dari tangannya. mau mengajak Cik Giok. Aku menyeringai saja. Ma kelihatan kurang senang. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. Di ruang tamu. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Ia kutarik masuk. Ubannya sudah banyak sekali. Semua baik.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wajahnya lebih tirus sekarang. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur. kata Ma. Makan. Aku bilang. Ma. selamat. Aku berlari menyambutnya. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Persis seperti dulu. dan aku.com/abclit.

html Ayo ikut. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Aku keluar kamar. Cik Giok tampak bingung. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Menuju pulang. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Aku hanya mengangkat bahu. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. perutku terasa sangat penuh. Ma menjelaskan. Terkejut dia melihatku. Cik. bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Ia membereskan kertas suratnya. setiap calon pengantin selalu begitu. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. tak tersenyum. Kami berjalan beriring. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Cik. Mungkin. Baju sudah hampir selesai. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Dia belum tidur. Mencari bajaj. kataku. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Sakit. kata Ma. Sama persis dengan Ma. Ma menggeret Cik Giok keluar. mencari makanan di dapur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sedikit lebih gelap. hanya beda warna. Tidak bisa tidur.com/abclit. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Cik? . Meski masih agak longgar di pinggang. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. Itu karena terlalu senang. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. Ma mencubit lenganku. http://www. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Mataku berat. Tulis surat buat siapa. Katanya lagi.processtext. Cik Giok tetap diam. Ada apa? Ia bertanya. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. menuju jalan besar. Tubuhku lelah. Ma bilang itu biasa. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Aku berputar-putar di depan cermin. Tak berkomentar.

processtext. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Cepat bangun. katanya. Cik Giok kena stroke. dua belas hari lagi. nanti aku akan mengerti. Dicari Emak. Aku melompat. Dia akan segera kembali menjelang pesta. kata Ma. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Aku berlari ke kamar tidurnya. katanya. Terserah apa kata Ma. Meninggalkanku. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Temani Pa. . Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. Kuku menyuruhnya masuk.html Keluarga di kampung. Menguncinya dari dalam. Kau harus berangkat ke Pontianak. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Malas. menuju kamar mandi. Sehat dan selamat. Aku tak ingin pergi. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. sudah lama tidak jalan jauh. Entah untuk berapa lama. Kosong. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. Nanti semua akan jelas. katanya. aku masuk kamar. Ketika aku kembali ke ruang tamu. Di tangannya ada kursi plastik. Entah dari mana. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku bersiap menyusul Cik Giok. tetapi Kuku menahanku. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Katanya. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Ma ikut bersungut-sungut. Urus Emak. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Dengan suara keras. Ma. Wajahnya tegang. Emak menangis. Penting. Pa. Malamnya. Cik Giok sudah pergi. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Pa tiba-tiba menghilang.com/abclit. Terlambat. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Ma minta aku pulang. Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Nanti. Mereka khawatir. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Dia cuma bilang. Aku tertidur. Aku sudah tua. Ketika aku tiba. Cik Giok sudah pergi. Tetapi suami malah mendesak. Emak. http://www.

yang wajahnya amat mirip dengannya. menggilas.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat.com/abclit. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. Semua yang ada di sana menangis. Maafkan aku. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. menjerit sambil berebut mendekati aku. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. besar. menjemput kami. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. memelukku. Pa. Dengan muka basah. Ia memelukku. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. katanya berulang-ulang.processtext. . Cik Giok tak menunggu aku tiba.Generated by ABC Amber LIT Converter. menyeka matanya. Rawamangun. Erat. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. Aku menangis. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. genta-genta kecil bertalu-talu. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. Beri hormat pada Mamamu. membuang muka. Di rumah duka. ia berbisik. http://www. Pa menangis lebih keras lagi. mendorong. saling menindih. Kakak perempuan Cik Giok. kakak Cik Giok mencium pipiku. diam-diam. Perutku mulas. hingga aku sulit bernapas.

atau Pengisi Neraka. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. Dan: Menjarah! Menjarah harta. Banyak yang bisa dituai di sana.com/abclit. http://www. dari hari ke hari. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. meraup uang selawat.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. 26 Desember 2004. penganjur kebaikan. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. di Nanggroe Aceh Darussalam. pengarang. Ketika surut. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia. penyair. pengusaha. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. di dasar kerak samudra. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. Pembunuh yang tak pernah gagal. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. dan jasad manusia. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. bermunculan di sana mengusung misi mulia. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. Menjarah perhatian. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. gelombang itu menyemai ratapan.000 jiwa melayang.Generated by ABC Amber LIT Converter. kataku dengan titik air mata. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. kendaraan roda empat. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. Hampir 300. di Nanggroe Aceh Darussalam. Menjarah popularitas.processtext. Gelombang yang berlabuh. Gelombang itu bernama tsunami. Pencapaian yang luar biasa. . secepat pesawat B747. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. dari waktu ke waktu. politikus. Itulah yang terjadi pada Minggu. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. Apakah negarawan. Ya Allah. di negeri yang aku cintai ini. Said Huseini.

Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. Aku duduk di halaman kedai kopi. Aku selalu bertanya kepada-Mu. bila pasang. Kunjungan singkat di Banda Aceh. ”Aku suka laut. Tak ada hiasan di dinding. Merbah terbang di ujung ranting. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Kami masuk ke ruang tamu. Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. http://www. Celah daun tersibak. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. . Angin berembus membawa sejuk pagi. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. memakai pita. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Aku suka deburan ombak.processtext. di Kajhu. aku kembali ke hotel berjalan kaki. Aceh Besar. Di lobi. Seperti menuju masjid. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. Gelombangnya menelan perahu Ayah. Secangkir kopi. Kami diajak ke belakang rumah.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. subuh tadi. Tali ayunan menjuntai di kaso. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. Kami menuju tempat berangin-angin. Terkadang aku melempar pancing dari sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah itu. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera. Berjalan di atas dua keping papan. Inilah sarapan pagi di luar hotel. Mak menunggu berhari-hari di pantai. tiga potong pisang goreng. menggendong anak perempuan berkepang dua.” ”Abang tak suka laut. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Istrinya masih muda.com/abclit. menyongsong kedatanganku. mencari buah pohon seri yang ranum. kecuali ayunan rotan tersangkut. seorang lelaki berdiri dari sofa.

”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. Engkau pernah dengar. dibesarkan di perahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Aku heran. Di rumah kekasihmu. Dia berdiri.com/abclit. juga melihat laut di belakangnya. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu. malam pertama engkau menginap di sini.” ”Aku tidak terganggu. meletakkan tubuhnya yang lelah. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. http://www. orang dilahirkan di perahu.” teriak seseorang. bagiku.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa.html Ayah tak pernah pulang. Dalam kampung terapung. Di rumah istrimu sekarang. Tak ada sunyi di sini.” . Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur.” ”Aku sangat terganggu. menyumbat telinga ini. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur. Kami melihat dia.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang.processtext. Mau rasanya aku mengambil kapas. Malam ini.

Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia. ”Engkau sudah tidur rupanya. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu. 2004 akan digantikan 2005. itulah istimewanya Desember. ”Semisal pementasan.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari.Generated by ABC Amber LIT Converter. Angin masuk membawa bau garam.” ”Maksudku. Mala.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. Dia berdiri dari tempat tidur. kata Ayah.” Dia senyum. atau mungkin pada judulnya. ’Apa maksudnya. Mak menggendongku. Hanya tinggal beberapa hari lagi. ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu.” Dia menoleh kepada istrinya.” katanya ditujukan kepada si istri. Pengarang itu makan dengan lahap. Dia pergi ke jendela. Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. http://www. jauh dari deburan itu. Akan muncul lakon baru penghias dinding.processtext. tidak. Dan aku tertawa. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Orang Jakarta. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan. Buru-buru daun jendela dia tutup. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. ”Tinggal enam hari lagi.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya. sebentar lagi layar akan ditutup. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan. Malahayati. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. Berarti ini sudah Minggu. Dia alihkan perhatian ke buku itu. Dan. Ayah gembira dan puas. ”Kalau adat membolehkan. kecuali kegelapan. dia meneruskan ocehannya. Mungkin dia ingin melihat laut. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. ”Sampah Bulan Desember.” Tak ada jawaban. 26 Desember 2004. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. Sekarang sudah pukul 01:45.com/abclit. Mak ?’ tanyaku. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. ”tahun adalah lakon. ”Tapi mungkin. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. ’Gulai pakis dan santan durian. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. saat Pak Pos mengantar sebuah paket. Desember akan digantikan Januari. Kata Mak. ”Sampah Bulan Desember.” . Mak menjelaskannya. Minggu.

beranjak turun. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Melihat semua itu.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Sehari penuh menyambut tamu. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang. Dia tidak ingin mengganggunya. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu. Rita menyerahkan ongkos. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu. Apalagi malam ini. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Kedua . Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Dia beranjak ke dekat pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Barangkali dia berpikir seperti itu. jam berdentang dua kali. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas.processtext. Malam-malam lain masih ada. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti. Ayu mengikutinya. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. kekasihnya itu. tetapi gerak itu tidak berlanjut. Di dinding ruang tengah. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas. Kamar pengantin itu menjadi gelap.com/abclit. Ditekannya alat pemadam lampu. membuka pintu. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. Masih panjang kehidupan bersamanya. http://www. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. masih juga dia tersenyum.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima. ”Suka juga. ”Mama. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. Firda menyibak vitrage. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun. http://www.” kata Ayu.html marah. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya. Di dalam taksi. Nggak suka ya. maafkan kata-kataku tadi. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta.” . perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega. punya tiga anak. he…he…he.” jawabnya datar. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun.com/abclit. berdebur-debur keras. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat.processtext. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo. kalau cerai sulit cari suami lagi. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. Rita dan Ayu berpelukan. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang.Generated by ABC Amber LIT Converter. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan. ”. . ”Kamu bosan ya. kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu.processtext.” ”Tapi kata orang hotel. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. Dan Ferdi ternyata merasakannya. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur..” ”So what ?” ”.. Di luar penglihatan Ferdi.com/abclit.” Firda terdiam sesaat.html ”Ya. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda..” ”Aku serius. kan?” Ferdi tersenyum lebar. Perasaannya lembut berdesir. Firda?” Firda tidak segera menjawab. http://www. ”Ada apa. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu... Memeluknya dari belakang.. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan.” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali.” Senyum Ferdi memudar.

” Firda terdiam.. melepaskan pelukan pada pinggang Firda.Generated by ABC Amber LIT Converter.” bisiknya dalam hati. Bulan depan aku mau nikah. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah. nyaris tak terdengar. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku. Tetangga dekat. ”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci.” ”Oh.html ”Jadi kenapa. Guru yang beruntung.?” ”.. berlalu begitu saja tanpa perhatian. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda..” Tangan Ferdi perlahan merenggang. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.. berikut bursa saham yang terguncang... Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Tapi sudah lama kenal.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu. http://www.com/abclit.processtext. .” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh..

Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam.. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab..” . http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. ”Maafin aku. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab.com/abclit.. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3...600 cc berhenti di tempat gelap. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya.” Ferdi terdiam.. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu. Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci..” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita. ya. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang.

biaya katering. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu.html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya.. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka. ”Tolong kamu terima. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya.. buru-buru membuka laci dashboard.” Firda terdiam. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh.com/abclit. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa.” Firda menjawab dengan pelukan erat. .. Cetak undangan. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas.. http://www..” ”Nggak usah. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi.” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sampai kemudian keduanya berpisah. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu... Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit.. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. saling melambaikan tangan..processtext. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras. sewa gedung. berbelok memasuki gang. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. dan akhirnya lenyap selepas tikungan.

Tapi uang lemburnya tinggi. yang bukanya dua puluh empat jam. katanya...” si bibi menimpali.” ”Namanya juga kerja di restoran.” ”Berat sekali juga enggak. belum.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer.. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan.” ”Ah.processtext. tapi lebih seringnya di Bandung. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. Kadang di Jakarta. Jadi masih ada waktu buat rekreasi. pulangnya antara jam dua belas jam satu.” kata ibu Firda.com/abclit. ya.” jawab ibu Firda. sampai harus ke Bandung segala. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. Karyawati biasa.” ”Yang penting gajinya lumayan.” ”Berat juga ya. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore. Restoran di hotel berbintang lagi. Bulan lalu malah di . bahasa Inggris. ”Bukan lumayan lagi.html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. kepribadian. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. komputer. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. ”Malam sekali. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. Manajemen. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya. belanja-belanja.

. sayang?” ”Ental siang jangan lupa.html Bali sampai seminggu. Alloh. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu. Aku kan ulang tahun. Pasti.processtext.’.” Ferdi tertawa. ya. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa. ya. Ia pun bangkit hendak keluar kamar. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu. ”Ada apa. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan..” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai. ’Ya.” .com/abclit. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum. ”Ini siapa. cucunya eyang Feldi. sih. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga..Generated by ABC Amber LIT Converter. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami.” ”Oh. Eyang nggak mungkin lupa. http://www. dateng ke lumahku.” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. Jam dinding menunjuk setengah tujuh..

” Ferdi menutup gagang telepon.” .!” katanya dalam hati.” ”Eh. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar. http://www.processtext.html ”Dah. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum.” ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter.. ”Icha..” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang. ”Minta sendiri gih sama Papa..” ”Dadaah. ”Hampir lupa. seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar.com/abclit. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.” ”Anak sekarang. eyaaang. Senyumnya seketika memudar.. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab.. ”Hai. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Pa. Maksudku. http://www. rumah.” ”Terus.” ”Kamu suka. sih?” ”Mmm.” Setelah berpikir beberapa saat. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya.com/abclit..html Ferdi bertanya-tanya. ”Tenang aja. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa.” ”Soalnya gini...?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah. ”Mau minta apa. kado perkawinan.” ”Kado kok minta.” ”Ah yang bener. kan. Papa jangan ngasih aku mobil juga. Tergantung papa dong. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm... Sudah papa siapin.. ”Rumah.. Pa.processtext. rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” .” Ferdi tertegun. mau ngasih apa.

Edisi 08/14/2005 .processtext. apa sih yang nggak papa kasih. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri.?” Jakarta.” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada.. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali.. http://www.” Astrid sesaat terkesima. ”Thanks. Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu.com/abclit. ”Kok pakai balik nama segala.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas.” Astrid heran.html ”Sudah.

Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. juga membacakan Surat Yasin. http://www. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. ia adalah anak yang lincah. ayahnya.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pada usia 16 dua tahun lalu. begitu mendengar kabar duka itu. Mahmud. Sesekali air matanya meleleh. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. suaminya. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Memasuki usia 17.processtext. Matanya sembab. Suaranya patah-patah. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. . Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. meninggal dunia. Mansur adalah anak yang sangat sehat. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. Mona. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Mahfud. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. Tatapan matanya kosong. Meskipun badannya gemuk. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. kakak Mansur. Di sebelahnya. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. kata Mansur kepada ibunya. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. menolak cintanya. Mansur meninggal karena bunuh diri. Keduanya gagal membujuk Mahmud. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Karena itu. Sesekali ia menyeka air mata. Suka bermain sepak bola. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. anaknya. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai.

Dengan alasan tubuhnya masih lemah. sebelum itu. ginjalnya juga terganggu. Sesampainya di rumah. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Karena itu. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Mansur kemudian jadi langganan. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Yang terakhir. ia berhenti karena tak tahan godaan. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap. Lima malam sebelum kematian Mansur. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. http://www. suaminya. Empat malam sebelumnya. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. baru berjalan satu bulan. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Juga kemarin. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. Dan. panas dinginnya tak kunjung hilang. Mansur ingin segera dibawa pulang. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Amat merindukan ibunya.processtext. Tetapi. Tetapi. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. ternyata. ia mengalami komplikasi. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. hasilnya sangat manjur. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. ia tak lagi berani membesuk putranya. Duka mendalam menderanya. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. arwahnya tak bisa diterima Tuhan.html Mengikuti nasihat ibunya. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Selain luka di usus yang kembali kumat. Dan menginap di rumah sakit.com/abclit. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Tetapi. Kata Mahmud. Ny Laila membesuk putranya. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Karena itu. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. Tiba-tiba ia menangis lagi. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. kata dokter. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh.

Yah. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. ”Habis melayat. Ocha. Sebelum pulang. putriku. ia tampak damai. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Bang Acung itu Bang Mansur. Memangnya kenapa. http://www. ”Iya. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. . gitu. Air matanya meleleh. ”Bang Acung? Bukan. ”O.html memaafkan segala kesalahan anaknya. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Suaranya serak.” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. Tak ada senyum.com/abclit. Tatapannya kosong. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. Sebagai tetangga. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu.” istriku menimpali sambil lewat.processtext. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. Ia tersenyum getir. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. Bang Mansur. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. Apa pun penyebab kematiannya.” kataku. dengan tulus kuucapkan pula doa. Tetapi. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Matanya tampak lelah dan marah.

Kepalanya dua. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah.” gadisku bersila di hadapanku. Tetapi.” jawabnya. Bang Acung itu bukan bunuh diri. Yah. cerita putriku selanjutnya. Dia jatuh. Orang-orang tidak pada tahu sih. Yah. Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri. Bang Acung. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri.html ”Yah. http://www. ia melihat seekor cecak. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Lalu terbayang wajah damai Mansur. menyambar cecak itu untuk dimakan. Yah. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. Suaranya datang dari samping kamarnya. Yah. Kata suara itu. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya.processtext. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur. kalau mau sembuh dari penyakitnya. ”Jadi begitu ceritanya. Yah. Tanah Kusir. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Jadi.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang.” Aku agak tertegun. orang-orang enggak tahu sih. Juli 2005 .com/abclit. Yah. Katanya.

kurang nyaman. ”Iyya. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. ya!” terdengar suaranya berat. sedikit parau. Tubuhnya padat. matanya memerah.Generated by ABC Amber LIT Converter. setelah melewati pekarangan kecil dan teras. Ketika pintu dibuka. sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya.com/abclit. http://www. ”Baru pindah. Kancing baju bagian atasnya ternganga.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah. Sangar sekali kesannya. Saya amati tamu ini hati-hati. Pipi kirinya. Dari mulutnya tercium bau alkohol. Berkumis tebal. tanpa ada senyum. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. tinggi besar. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah. Kulit hitam. Suatu sore. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur. ada bekas luka sepanjang telunjuk. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan.processtext. seorang tak dikenal mendatangi saya.

http://www. Saya menarik napas. ”Ada berapa. ”Iyyya. saya. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi. Jangan lupa. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain….processtext. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. ada sesuatu yang ganjil. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. Kami masih berdiri di teras. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar. . Saya takut. Rautnya bengis. Saya kaget. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar. saling berhadapan. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. masukkan dalam amplop uang Rp 10. Saya merasa.000. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar. Mau?” Setelah itu. ”Ada dua.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. iya. untuk pertanyaan yang sama. ”Mulai besok pagi. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang…. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab. Pisau dapur biasa.com/abclit. Kalau tidak.

”Lagi kurang sehat. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. Bang. Tiduran. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi. Dengan keramahan yang sangat berlebihan. ada yang terlupa?” ”Istrimu. badan sedikit dibungkukkan.com/abclit. Gedoran pintu terdengar makin kasar. Saya dan istri terkejut. http://www. Ketika pintu saya buka. ”Kita pindah saja. memang si sangar adanya. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. ”Maaf. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Si sangar itu pasti. Bang. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya. Salah-salah. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar.html ”Saya bersedia. Tampaknya.” ”Suruh dia keluar! . pergi begitu saja. Nekat!” Memelas suara istri saya. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini. Saya mencoba menenangkannya.processtext. tidak takut mati. saya bertanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pucat membias di wajahnya. Kemudian.

lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. Di hadapan si sangar. cantik juga istrimu. Setelah menatap istri saya beberapa jenak. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali. istri saya mencoba tersenyum. Dengan perut terasa mulas.com/abclit. amplop ke kantong celananya yang besar. Tangan istri saya terasa dingin. tapi wajahnya pucat sekali. ia terlihat cengengesan. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar. Setelah itu. Sebelum jauh melangkah dari pagar. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku. ha-ha-ha….” Si sangar tertawa terbahak-bahak. Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. pintu saya tutup. si sangar menoleh dan berkata. Akhirnya dengan menguatkan diri. Pisau dimasukkannya ke dalam karung. Akhirnya si sangar datang. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu. Jangan-jangan itu semua pisau .” katanya di sela sisa tawanya. ”Cantik…. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Bang….” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. saya masuk menemui istri di kamar. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya.html ”Tapi. membuat saya tergagap. ”Ini istri saya.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar. Saya menunggu. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat. ”Istrimu cantik. Pintu pagar dibukanya. Saya amati.

Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya. Bang.processtext. Kalau sebelum ke tanganku. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang. pukul sebelas malam. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras. Bang. dipakai menyembelih.com/abclit. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya. termasuk menyembelih kambing atau ayam. Pisau tumpul. Pasti si sangar itu. ya pisau kami. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. ”Sudah sangat tajam. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. Maaf.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. sama artinya sebuah penyiksaan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur. ”Ada apa. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. pintu rumah terdengar digedor kasar. terduduk dengan napas sesak. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. Tapi. Pintu dibukakan perlahan.” .” ia berkata dengan sangat dingin. ha-ha-ha…. pisau ini digorokkan ke leher kita. ”Kalau setajam ini. http://www. akan sangat sakiiiit sekali.

pandangilah saya saat ini. Kemudian. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20. Tuhan. karena luka oleh mata pisau yang tajam.00. tidak menyakitkan! Termasuk. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya. bagai dicubit saja…. kemudian dipegangnya lambat-lambat. Lihatlah. ia akan menyembelih saya.processtext. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. untuk melukai kulit ini. ”Mmmaaf.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. Bang! Saya tidak tahu maksud. ”Bang. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. Abang….com/abclit. mohon Bang! Jangan. Bermandikan cahaya. Jangan ya Tuhan. Sunyi.” Langit malam bertaburan bintang. Rumah-rumah orang sudah tutup. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya. ia raba leher saya.” Ia terbahak. ”Berikan pisau ini ke istrimu.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit.html Ia akan menyembelih. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik. Tapi.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya. . Terlihat. Ya. http://www. ha-ha-ha-ha…. dingin. kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. salah saya apa? Sesaat kemudian. nyaris tidak mampu berdiri. ”Darah manis.

ya!” sapa si sangar. Saya gelagapan. ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar.com/abclit. http://www. ”Eh. Apa kabar. ”Saya baru setahun keluar penjara. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami.processtext. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. Si sangar menyadari pintu terbuka. Baru saja pintu dingangakan. Abang. ”Kesiangan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. dengan seringaiannya. Saya membuka pintu depan. Saya menggeleng. mempersilakan saya. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri. membunuh orang.html Kami bangun agak kesiangan. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. berusaha tenang. Santai sekali tampaknya.

Saya hanya melayani dengan tatapan mata. bawang. ”Aku mahir mengasah pisau. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam.000 sebulan. Karena itulah. Iya. kalau pisaunya tajam. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau. wortel. ”Pisau tajam itu penting kita miliki. ketimun. aku berpikir tobat. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang. misalnya. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup.html Saya hanya diam.” suaranya agak lunak.000. yang jumlahnya lebih seratus rumah. Terbayang tanah keluarga yang luas. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam. saya cobakan tertawa sebisanya. golok atau merampok dan membunuh. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. Kalau dia tersenyum. saya ikuti senyumnya. kangkung. Uang dari keringat sendiri. Ternyata. Bayarannya Rp 10. buncis. Dan aku pun dipenjara.000. Dan terakhir. toh?” . Karena tidak menyakitkan baginya. Kacang panjang. Karena ingin hidup normal. Dan. http://www. bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10.processtext. Memotong sayur. Tapi. kusembelih. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap rumah di kompleks ini. Begitu juga kentang. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. Sesekali mengangguk. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. apakah ia tahu. mati. dan sebagainya. Kalau dia tertawa. ”Ketika dipenjara. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat.” paparnya. ia mungkin akan tersenyum. sebagai ibu rumah tangga. Istrimu. Kalau tidak mau. dulu. Lagi pula bukankah ini pemaksaan. Dalam hal ini.” Saya mencoba belajar memahaminya. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi…. oleh mereka.com/abclit.000. bisa kugarap jadi ladang. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar.

Itu artinya. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. ”Benar. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. sembari berkata. http://www. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. Jika ada orang yang mengganggumu. Ia kemudian melepaskan rangkulannya. ”Ingat. Iya. mempererat rangkulannya. Menjelang sampai di pintu pagar. akan lebih baik. ia merangkul bahu saya dengan hangat. kan?” Saya mengangguk. Percayalah. juga enak. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu.com/abclit. Kita yang menggunakannya. Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya. saya pun ikut berdiri. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. Kamu telah mendengarkan aku. Dan anak buahku. Dia berdiri.” ia berhenti sejenak. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. ”Terima kasih. rezekiku ada pada pisaumu. ”Begitu juga memperlakukan ikan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya. yah barangkali saja Rp 10. Paham.html Saya cepat mengangguk. katakan padaku. Juga nyawamu!” . Terasa lebih penyayang. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga. Bang!” ”Itu artinya. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar. ”Kamu telah membantu saya. tidak ada yang berani mengganggumu.processtext.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya.” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. menyembelih ayam. kalau dengan pisau yang tajam. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat.

Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. Masih terngiang-ngiang. Tampak dari atas. aku masih mendengar jeritan bapakmu.html Sejak saat itu. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Bajunya basah.processtext. . sambil menimang dokumen lusuh itu. dalam.com/abclit. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. Kecemasan mengambang di bola matanya. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu. sejak peristiwa berdarah itu berlalu. http://www. Ia datang bersama anak laki-lakinya. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng.Generated by ABC Amber LIT Converter. gemetar. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang. Memasuki kompleks gedung. Gemanya sangat panjang. ”Her. Memasuki lorong gedung. ia berjalan menuju suatu ruang. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Setelah hampir 40 tahun. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang.

atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab. Ia minta mobil berjalan lurus.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. teman. Waktu itu.html ”Bukan hilang. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. dalam. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara . Di Karang Bolong. besok pagi. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. Soal jasadnya. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang. Tapi kutahan. antar Ibu nyekar bapakmu. Aku kaget. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. buru-buru Ibu mencegah. itu urusan negara. kalau kamu tidak mengajar. menembus desa demi desa. kami terdiam. tapi tidak matanya. Ibu meneleponku. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. aku merasa bingung dan cemas.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. dengan colt station sewaan. ya bapaknya Herjuno itu. ”Her. Sepanjang perjalanan. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka. gelap.processtext. Makam itu kosong. Kata petugas. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. kami berangkat ke makam Bapak. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku. Tapi di sana. Mobil pun terus melaju. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. Seperti puluhan tahun lalu.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun. ”Maaf Bu. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. Tapi dilenyapkan…. Suatu pagi. http://www. dan sunyi. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. Nastiti.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. Tapi aku takut mereka kaget. dan Murti. Masih jauh.

” ujarnya dengan gemetar. ada PKI. suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. dan ada PSI. Kan nggak sopan to. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. aku mendengar jeritan mereka…. langit kota kecil itu pun selalu menyala.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada Masyumi. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. diiringi sorak-sorai. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. Bagai tepung terigu ditebah angin. rasa pedih terus merajamku. debu mengepul di jalanan. khas jahitan pasar.processtext.” . Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. seorang tokoh PKI di kota kami. Bukan. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. Sebuah rumah bergaya limasan. dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung. warisan mertua. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. secara cuma-cuma. ”ganyang nekolim”. Kata-kata ”revolusi”. Di pendopo itu. ”hidup Nasakom”. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. partai-partai saling bersaing. ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. Seperti siang itu. Waktu itu. Hingga kini. Kami menempati rumah besar.html wajar dan terhormat. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Tangan mereka terkepal.com/abclit. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. Di bagian belakang. Aku terbebas? Tidak juga. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Ada PNI. Dia menjawab ringan. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. kami hidup menepi. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru. kaku seperti baja. Dari tempatku bersembunyi. http://www. Menurut Swanggani. ada NU. Dalam zaman yang gemuruh itu. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. ”Bersama tahanan lainnya. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu.

Ada latihan ketoprak. Apa salahnya?” kataku. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. Aku pun terdiam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Wajah bapakku tampak masam.html Suatu ketika. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. ”Ganyang Drajat!!!” . Setiap saat itu. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. Mas Drajat pun tidak keberatan. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. Tidak sampai seminggu. Kami hanya saling memandang. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat….com/abclit. Ada latihan menari dan menyanyi. lewat RRI. Ia memandangku. ”Hati-hati dengan Pak Tular. ”Terima kasih. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu.” Tawa Pak Tular berderai. Beberapa jenderal diculik. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. Katanya untuk rapat partainya. Sehabis isya. bau mayat tercium di mana-mana. Terima kasih. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. http://www. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai. Mas Drajat terdiam. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. Beberapa bulan kemudian. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan.processtext. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. Pendopo kami selalu ramai.

kerumunan pun bubar. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Dadaku sesak. aku gemetaran melihat parang. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan. Menuju rumah Bapak. Di rumah itu. Mas Drajat keluar dari kamar. ”Jaga kandunganmu.processtext. Aku tak bisa lagi menangis. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. Aku memeluknya. ”Saya tidak tahu apa-apa…. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. Sebulan kemudian. dan Murti lari keluar. aku membuka pintu. Sungguh. Keras. aku menemui mereka. Dia mencoba memberikan penjelasan. pada dini hari. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. Dan ajaib. Sangat keras. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya. Akhirnya. aku melahirkan Herjuno.” Aku pun bergegas membawa Darsono. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. Pintu rumah kami digedor-gedor. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. Aku sendiri tidak paham. Dengan gemetar. kelewang. bambu runcing. ”Bohong! Dasar Gerwani. . Nastiti. Dia sangat tenang. bentakanku menundukkan wajah mereka. Esoknya. Menembus malam.com/abclit. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. Pak RT mampu menyabarkan mereka.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya.

Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. Ia hendak berbalik.html ”Bangun Her. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. kini telinga negara telah tumbuh…. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk.” Herjuno tergeragap bangun. kita sudah sampai.” ”Itu bukan makam Bu. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya. Namun. 2005 . pagi hari.” Yogyakarta. Dengan tenang. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’. langkahnya tertahan. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya. http://www.processtext. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. ia menemui seseorang. Bahkan mungkin terguncang. Kami keluar dari mobil. Kantor Komnas HAM.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Herjuno sangat kaget. sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya. tapi luweng. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana. ”Bu…. Ia berharap negara berani untuk punya telinga.com/abclit. Kami pun berdoa.

istriku menyilakan tamu tersebut duduk. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah.” jawab tamu itu. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. Pak Memet. juga ikut. ”Pak Bagus. Aku pun keluar kamar.” kata Pak Marjan.html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. http://www. ketua RT di wilayahku. stensilan. Kudengar juga suara istriku mengatakan. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. ya aku ada di rumah.processtext. . Aku membaca surat tersebut. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya. Aku sudah tahu roh surat itu. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. ini ada surat undangan. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. Tapi ia tidak berbicara.com/abclit. Dan suara berikutnya. ”Tidak usah. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. Cuma sebentar saja. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya. Istriku yang menyambutnya.

dan kedua pak RT. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Jawaban itu sudah cukup bagiku. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang.com/abclit.” jawabnya singkat. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya.” jawabnya. yang warnanya sudah pudar. ternyata ada tiga orang lainnya. seorang berada di depan rumah.Generated by ABC Amber LIT Converter. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. Sesampai di halaman. ”Nanti juga tahu. Ada Mahkamah Agung. ”Ya dibawa sebagai bukti. ”Sabar Mam. Aku mencium dahinya. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami. berpamitan bersamaan.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh.processtext. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. . diapit oleh dua orang dari mereka. celana dalam baru. Kartu SIM kutinggalkan. Dengan jawaban itu. Mukanya pucat dan matanya kosong. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. kecuali uang beberapa ribu saja. Tidak sopan pakai pakaian begini. Ada polisi. Tersirat posisinya dan posisiku.” Tamu itu. Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan.html ”Kalau begitu. pakai kaus kaki. saya ganti baju saja. http://www. sapu tangan tidak lupa. atau di tempat tujuan. Dan semua isi dompet kutinggalkan. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. Ada kejaksaan. takut hilang di tengah jalan. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku.

Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. Sementara aku duduk sendirian. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Kemudian suara sepatu ramai. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. Disambung suara memberi komando. yang jelas bukan dari kamar sebelah. menit ke jam. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. Aku tetap duduk. ”Bagus.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong.com/abclit. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. Suara banyak sepatu melangkah. Detik ke menit. Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. Keringat membasahi tubuh. Sepi mencekam. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Juga suara mobil. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong.processtext. yang tak pernah kurasakan di . Tidak ada yang datang. terus berjalan. Aku tidak mau melihat jam. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide. berdetak besar dan cepat. Daun kemerisik kuinjak. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. Banglades. Suaranya agak jauh. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. Pukul 16. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Langit biru dan angin segar musim gugur. Gigil segar menyemangati. Tak ada suara lain. Juga suara orang tertawa sirna. Pohon-pohon ligir. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Ketika ia bekerja. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. mengajakku menginap di rumahnya. Remang malam turun menambah senyap. Juga tidak ada suara radio atau televisi. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup.35. http://www. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Tapi tidak terdengar suara manusia. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. tunggu di situ. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. yang kukunjungi beberapa hari.

Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam.” Suaranya menggelegar mengagetkan. Ia meletakkan pistol di atas meja. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih. ”Di sini tidak ada Pancasila. Ia menyalakan lampu. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku.processtext. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Aku mengangguk. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam. Ia tidak menyahut. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. http://www. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya.html negeri ini. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong. Aku mengangguk terlebih karena terkejut.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Aku mendahului.com/abclit. Kebebasan.” Suaranya lagi. Aku tidak senang di kedua negeri itu. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. ”Selamat malam Pak. ”Ini Blitz-krieg. di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. .

Alhasil. di tanah airku. getah bening. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. sampai ke rambut dan kukuku. Ketika aku tidur. lintah. terkadang sendiri-sendiri. terasa darahku diisap lintah. tikus dan kecoak. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. Mereka muncul terkadang bersamaan. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi. ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. sambil menahan napas. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. mana ular. Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. membuat sesak napas. tengkorak.*** . bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong. aku tidak tahu lagi. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. dan tikus. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. pancaindraku. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. http://www. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. Aku ingat bahasa Inggris. mana kecoak. menciumi bau keringatku. dengan kawat berduri berlapis-lapis. bukan lagi suara manusia. Tapi apa yang kulihat tidak berubah.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja. atau berapa ekor. setelah hampir dua minggu. Aku mengusap kupingku. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. lintah dan semut menggerayangi tubuh. tetapi tidak menemukannya. tulang-belulangku. Entah berapa orang. sperma. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. kencing ludah. pintu keluar barak itu dibuka.com/abclit. Sejak malam itu. ingus. nyamuk. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. Aku mengusap mataku. menggeledah seluruh organ tubuhku. menerbangkanku berkeliling dunia. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. Perangai. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. tikus besar-besar berlarian di tubuhku.processtext.

Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu.processtext. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. Ruang tunggu dengan warna pastel. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Kepala-kepala itu masih penuh derita. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk. Lingsut. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. dan menggelepar di sana. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. Sebagian dari kepala mereka menunduk. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. mungkin ingin membaca masa lalu. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa.Generated by ABC Amber LIT Converter. ruang nyaman. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. mungkin ingin kembali membaca masa lalu.com/abclit. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat. Mungkin selamanya. lelah. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut. Tunggulah sejenak. Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. Ruang teduh. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. menekuni lantai.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. http://www. Ada masa memang. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. . Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka.

mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain.” Dan api berkobar. Setelah cukup tenaga. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. sebelum kemudian kembali terlempar jauh. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. membuat rantai . Lalu aku akan terbang agak tinggi.com/abclit. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai.processtext. Percobaan yang selalu aku ulang. Mereka mati dibalut api. Tangan ibu mereka sendiri. Mereka bertiga meregang. ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. kembali aku mengitari mereka. ”Nak. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Demikianlah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dua orang yang masih lelap. Mereka bertiga berpelukan. Tapi selalu dan selalu. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api. Sekali dua. aku lebih sering terpelanting. http://www. kuberanikan diri untuk merangkainya. Hanya sesekali. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia. Ibu mereka terlalu bersedih. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. mendekati lubang ventilasi. Aku mencium sari kisah yang terbakar. dan saling melingkarkan lengan. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. dengan mereka yang mengalami sendiri. beradu kepala. bisa kubawa pergi. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. sempat aku hinggap. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. Dua kakak beradik. berpelukan. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. Dan aku terus mencoba lagi. Tapi satu di antara mereka. halaman-halaman tak terbaca. aku terlempar. Hanya bermodal harap dan cita. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Mengepak pelan. Bocah-bocah itu seperti berjongkok.

Suaranya serak. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Satu di antaranya berkata. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya.com/abclit. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. Mereka membiarkan aku mati. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti.” Di samping lingkaran besar itu.processtext. begitu bayi terlahirkan. Mereka tahu kami akan mati. uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. ”Orangtuaku tidak ada di rumah.” Si anak yang berkata. Pertama membiarkanku tidak punya gizi.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. dia harus menanggung nista dan sengsara. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. Mereka bohong. tubuh-tubuh kecil berbaring.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Hanya kami sungguh tidak mengerti. Aku mengambil selendang milik ibu. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. Kami tidak ingin di sini. Kami ingin dunia. http://www. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. Mulut mereka sangat lemah.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. Dunia yang pahit. Ibuku kalah dalam menagih janji. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. Mereka ingin mengatakan pada dunia. Kaki-kaki mereka bengkok. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. aku malu dengan teman-temanku. Kami ingin belajar menjadi manusia. Kami ingin bernyanyi dan berlari. Mereka bilang biaya perawatan gratis. Aku tidak enak dengan ibu guru. inilah kota kami yang indah dan makmur. Ibuku sudah tidak punya air mata.rita. ada celah di dunia sana. Kami ingin bermain air dan bermain api. Ibuku tahu aku akan mati. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Mereka tahu kami mati. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. Mereka mencoba membunuhku dua kali. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. Kembali aku hampir terpelanting. Tapi mereka memaksa kami. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. ”Kami belum ingin surga. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Tapi di hari itu. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji.html lingkaran yang kokoh. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. bermata alum. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. Mereka mendorong kami. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. Kami belum ingin ke sini. sebelum kembali terlempar jauh. dan membiarkan perasaan ibuku bolong. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. Kaki-kaki mereka mengecil. menyadap sari ce. Mereka .

Sangat besar dan kuat. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. Seperti hilang.” Aku hinggap lagi. membobol gunung. Bagi orang miskin seperti kami. Bahkan.”.. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta. tanpa takut terserang polio. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata. generasi yang lebih baik. gitu loogh. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. Dengan wajah dan kulit plastik. Aku terlempar lagi. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. dengan tangan penuh tombol. Aku digendong naik kereta. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap.processtext. Mereka datang dari mana-mana. meracuni laut. Ya. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. .com/abclit. Dan tibalah satu sentakan besar. Aku ditabrak warna putih. Tidak lebih. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. ”Hari gini.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang.. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. mati pun masih menyisakan masalah. Lihatlah. Kembali. http://www. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. Aku ditabrak warna hitam. Aku mati karena muntaber. Mungkin sampai mati. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. sambil menyeringai dan berkata. beterbangan. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Aku hanya seperti kupu-kupu. ”Ah. itu hanya kabar yang berlebihan. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan.html tahu. Aku hanya seperti kupu-kupu. Hanya seperti. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit. menebangi hutan. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. Aku seperti hancur. dengan tubuh terlilit kabel. di tengah. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil.

Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. Di sisi yang lain. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas. . Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu. Hingga bagian yang terbakar itu. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. disorientasi. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. bunuh diri. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. Ada perbedaan memang. kurang gizi. bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat. keracunan kabar bohong dan bahan makanan.html Mereka benar. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya. Mereka benar. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. http://www. dan mungkin sekaligus mereka tolol. maka dia pun berhenti sejenak. Hari itu. depresi. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. hingga tampak putih dan halus.com/abclit.processtext. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya. kelaparan. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya.

com/abclit. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. cucu-cucuku itu akan batuk semua. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. gula. Bagi Mbah Gimun. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. membawa tas bagus. dan naik mobil yang juga sangat bagus. ”Kalau aku ikut kalian. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. nanti ditempel di sana ya Mbah?” .html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. Mereka berpakaian bagus-bagus. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Dalam sehari. Kalau pedagang itu tidak datang. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya.processtext. garam. ”Iya. orang-orang itu menolak. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Dengan uang itu dia bisa membeli beras.” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli. ”Benar Mbah. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. ini gambar calon pak bupati itu. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. minyak tanah. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun. bersepatu bagus.

diberi uang lagi. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas. Mbah Gimun lalu membuka besek.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. Bukan hanya itu Mbah. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. mencomot tembakaunya. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. . sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya.com/abclit. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu.processtext. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. Katanya. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. Cucu itu memberi tahu.” ”O. saya diberi tembakau. menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu.” Setelah para tamu itu pergi.” ”Tapi begini Mbah. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. Mbah Gimun kaget tetapi senang. Lumayan. pasti. melintingnya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. http://www.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. ya terima kasih sekali.

Mereka mengantar beras. Ada dang-dutnya lo Mbah!” .html Beberapa hari kemudian. bupatinya juga boleh.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. ”Lalu minggu depan ini Mbah.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Pak RT dan Tukijan juga datang. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. ”Salah satu saja Mbah. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. Yang ini yang kiri ini bupatinya. lebarnya seperti sajadah. Kertas gambar itu tebal dan kaku.processtext. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. http://www. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. Yang kanan wakilnya.com/abclit. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT. gula. ”Bukan dua tetapi satu Mbah. ”Terserah Embah. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. kita semua harus datang ke lapangan bola. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran. ”Iya Pak RT. Mau dicoblos wakilnya boleh.

Menjelang hari pencoblosan.” . Hanya dia berpesan kepada anak-anak. sepuluh ribu. semua membagi-bagikan uang dan barang. Mbah Gimun menerima semuanya.html ”Ya.” begitu alasan Mbah Gimun. Sebab baunya seperti minyak wangi.” Enam calon bupati dan wakilnya. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. saya akan datang nanti.” kata Mbah Gimun senang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato.processtext.com/abclit. http://www. Bau tembakaunya sudah tidak ada. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Dia kan pengusaha. duapuluh ribu. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. jadi nanti kita semua makmur. sekitar jam empat. dan tidak hapal wajahnya.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah.” katanya pada anak-anak itu. Kalau layu mengiratnya alot. ya. Ada yang limapuluh ribu. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. akan layu. Jam berapa Pak RT?” ”Sore. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. ”Ya siapa saja. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. Sebab saya tidak tahu nama-namanya. agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu.

Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. sandal jepit. dengan anak-anaknya. Di rumah. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. udara terasa tidak terlalu panas. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok. memberi teh. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Ada yang dicoblos di jidat. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti.” Cimanggis.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Melihat Mbah Gimun kebingungan. Ada yang tersenyum. ada pula yang tegang dan cemberut. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. memberi tembakau. bukan kita. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. . Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. ada yang di pipi. http://www. Bara api di ujung rokok itu memerah. satu-per satu warga kampung dipanggil. Bukan pak bupati. Dia lalu melolos satu lembar kertas. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas.com/abclit. dan diberi kertas suara. dengan menantu-menantunya. Karena masih pagi. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Dari saku surjannya. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. memberi beras.Generated by ABC Amber LIT Converter. menawarinya tempat duduk. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. ”Sayang. dia kebingungan. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. dan kepalanya ditutup udeng. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. di hidung. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Baunya sangit dan keras. dilihat kartunya. dicatat. baju surjan hitam. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. Enam calon semuanya memberi uang. di mata.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Mbah Gimun memakai kain sarung. memberi gula. 2005. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan.processtext. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Dengan mengucap Bismillah. ada yang tertawa. Dia mencari tempat duduk yang pas. ada yang di mulut. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. Di bilik pencoblosan. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci.

http://www. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang. Ya. tak akan kembali ke moncong senapan. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak. Saat itu. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. dan moncong senapan itu seorang ibu. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku. ”Ibu restui kepergianmu.html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu.processtext. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi. meski kau tak pernah lagi membalasnya. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. Nak! Tapi. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam.Generated by ABC Amber LIT Converter.” .com/abclit. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu.

Jika kau sudah pergi. lambat laun ia sukses. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Tapi. Sejak itu. sejak menikah dengan perempuan rantau. Pada surat itu. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. sekaligus menjaganya. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. tentu ibu akan bersendiri. tak terdengar lagi khabar Acin. namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Delapan orang anak nenek. Abangmu. Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru. Tanpa Rehan. Selain bergiat sebagai pelukis. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan.processtext. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. Rehan. termasuk bapakmu.com/abclit. ibu sendiri saja di rumah!” katanya. Wafa Sulastri. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. abangmu yang satu lagi. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. ”Kasihan. Acin berjanji. Kecuali bapakmu. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. Tapi. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. bule perempuan berkebangsaan Spanyol. ”Ruz ingin jadi anak ibu. Setelah lulus jadi polisi. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. Bapakmu rela di-perempuan-kan. tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. Mencuci pakaian. dan tinggal bersama ibu. http://www. apalagi kerinduan ingin merawatnya. Tanpa bapakmu. Acin akan pulang membawa istrinya. menimba air mandi. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. menyuapkan makan. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan.” Rumah kita makin lengang. merengek-rengek minta izin untuk merantau. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. Saat itu. Acin dan juga kau. setelah tamat SMU di Payakumbuh. . dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. setelah masa tugasnya berakhir. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. Hanya kau yang tersisa. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya. Sejak enam tahun lalu. Umurnya sudah berkepala delapan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. http://www.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli.processtext. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. Pada saat itu. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Yang jelas.com/abclit. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas. Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. . Belum lama berselang. 13 tahun.

makanya sering saling tubruk.” ”Tapi. Cuma asal terbang. setiap kali aku mau menghalau. Berlalu dari samping Anggi dan Olan. . http://www. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap. mereka sudah terbang duluan.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka. Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng.com/abclit.processtext.” ”Mereka belum bisa melihat penuh.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh. Mereka memahami gerak-gerik kita. ”Heh.

” kata Anggi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit. ”Ke rumah Gumortap. ”Mau ke mana?” ulang Anggi.processtext. ”Mau apa?” tanya Olan.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan.com/abclit. http://www. . ”Ada enggak?” tanya Horas.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka. ”Dia dipanggil ayahku.” kata Horas.

” kata Anggi. http://www. ”Biarkan saja mereka makan padinya.” kata Horas.” kata Anggi. siap berkelahi dengan ayahmu.com/abclit.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. ”Coba dia membawa kapal sekarang.” ungkap Olan. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak. Gumortap sekarang membenci ayahmu.” katanya.” kata Anggi. kita harus mengusir burung. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. ”Mesinnya kan sedang rusak.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Mereka masih anak-anak burung. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. Nanti malam musim ombak besar. tak akan banyak!” .processtext. ”Heh.” kata Olan. ”Aku jalan dulu. ”Tapi semua sudah tahu. ”Aku ikut.html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi.

http://www. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. melalui jendela.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau.” kata Ayah Horas. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. bahwa Gumortap tidak bisa datang. ”Bilang sangat penting. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. Dan sejak itu. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang.processtext. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut.com/abclit.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. tak banyak yang tahu. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya. juru mesin dan juru mudi yang baik. tapi kemudian berlanjut saling pukul. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam. dan tentu saja. ”Kau saja yang memanggil lagi. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun. . sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. pemain gondang yang baik.

tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal.html Begitulah. tanpa dukungan juru mudi Gumortap.” kata yang lain. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Licin dan halus. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. http://www. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Entah siapa yang datang bertamu. Dia baru saja menutupkan jendela. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya.” kata salah seorang tamu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil.processtext. ”Banyak yang marah. . Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. Dan seseorang itu bisa saja. ”Kami mendengar lagi Pak.ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Horas mendengarkan dari balik pintu. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah... Suara ayahnya dan beberapa orang lain. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya.com/abclit. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar.

” ”Bila perlu mendatangi rumahnya.” . dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.processtext. akan saya panggil ia ke sini.” kata yang lain.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana. barangkali seusia ayahnya. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya. Perintahkan.” ”Jangan mendatanginya. ”Dia kurang ajar.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. http://www. jangan mendatanginya. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Ya. ”Bapak harus menegurnya.com/abclit.

maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. berjaga-jaga. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. ada tamu.html ””Katanya Bapak menghinanya. Ia .Generated by ABC Amber LIT Converter. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu.com/abclit.processtext. ”Eh.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati. “Baru dari pekan. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka. Yang dapat dilakukannya adalah. Tapi kalau ia keluar. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura.” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. http://www. Inang?” tanya salah seorang tamu itu.

Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. http://www. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun Horas tak mendengar. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. menusuk. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. Beberapa orangtua berusaha menolong. Horas melihat sekilas. Horas tak menjawab.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. Tangan Horas kini berlepotan darah.processtext. Horas terus merangsek. di kakinya. Di sebelahnya. entah mengkhawatirkan siapa. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah.com/abclit. ”Anak gila!” umpatnya. menusuk. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. tapi Horas berhasil mengibaskan. Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. darah seharum ombak malam. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Lalu Horas . Sang ayah memandang khawatir ke arahnya. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. Belati telanjang dan berbahaya. menusuk. seraya mengatakan sesuatu. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Langit sore sebagian memerah. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap.

tapi tak semuanya jadi pegawai. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. Sesaat. Tapi pada suatu hari. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. dari kampung Pasar Kliwon. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga.html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. Tapi semuanya sukses. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. Mereka mendirikan rumah berderetan. Usamah juga ikut membeli tanah. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. http://www. Bank Jerman.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M. tapi ia terpisah. tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo.com/abclit. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. termasuk ia sendiri. semuanya telah lulus perguruan tinggi. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. beberapa . Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Tangannya gemetar menggenggam belati.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Teman-temannya itu. sebagian memilih jadi pengusaha. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah.

processtext. Nabi sendiri suka dengan kucing. mungkin oleh tetangga yang tak suka. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. dekat Masjid al Azhar. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. memelihara anjing sudah biasa. sangat sedih kehilangan Nero. http://www. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah. memberanikan diri. jika Faris ingin . terutama anak kecilnya. bermain-main di rerumputan pinggir kali. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil." jelasnya lagi. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. tertidur selama 300 tahun itu. Rahmah el Yunusiyah. "Di Mekkah. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang. bersama pengasuhnya." jelas ulama asal Minang itu. al Irsyad. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. "Boleh tidak Buya. anjing itu pun mati. Itu ada anjing besar. Faris. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. maklum bertanya kepada ulama besar. dengan persetujuan seluruh keluarga. Pernah ada hadist yang menceritakan. itu separuh penghuninya adalah anjing. Kebetulan ia mengikuti aliran modern. "Di Minangkabau.com/abclit. Tak tanggung-tanggung. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan.html ekor dicuri orang. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. Najib. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. Hector selalu menggonggong keras. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. dekat sawah. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. termasuk anjing. Minah.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero." jawab Buya. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. Ia dan keluarga. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. "Tengok ke halaman rumah. banyak penduduk yang memelihara anjing.

Pada suatu hari. jika tidak mau mengambil barang saya. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. Kalau Bapak tidak datang. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. setelah selesai belanja. http://www. Jika istri Usamah pergi ke pasar. anjing itu pasti mati kami hajar. Ia sempat membawa lari seekor ayam. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras. "Jaga dong anjingnya. Hector mengejarnya sampai tertangkap. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri. Anjing juga tidak pernah mencuri. berusaha mencuri ayam. teriak-teriak minta tolong. saya tidak mencuri. maka istri Usamah kembali ke mobilnya. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya. Mendengar gonggongan anjingnya. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. setelah melapas ayam curiannya. "Tidak." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. karena mendapat gonggongan Hector." jawab Bu Usamah.Generated by ABC Amber LIT Converter." .com/abclit. Hector disuruh menunggu." jawab si pencuri. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. karena jika ikut masuk. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman.html bermain-main di kali. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. "Walaupun seekor anjing. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. Pencuri itu pun. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri. Hector selalu dibawanya. Ketika mau mengambil kompor. ia tak pernah berbohong. Ketika lari terbirit-birit. maka pencuri itu pun bebas.processtext. tidak. Pernah suatu pagi hari. akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli.

tapi Hector tidak bangun juga. Ia masih akrab saja dengan Hector. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. Tapi kalau malam. Faris pun menggoyang-goyangkannya. baru Hector menggonggong. mengurungkan niatnya. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah. Kalau siang. Cuma. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Anjing ini sehat dan bersih. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. http://www. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV. . Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat." "Apa Bapak tidak tahu. Rupanya. anaknya yang terkecil. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. Dulu saya pernah kecurian ayam. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya." "Yang najis itu air liur anjing gila. Usamah sekeluarga menonton TV.html "Lho Pak. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. cuma mengangguk. Dan Faris sangat menyayanginya. Kalau ada yang dicurigainya. Hector sudah berhenti bernapas.processtext. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. setia menjaga rumah dan majikannya. Karena itu orang yang berniat jahat. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. tanda ada yang mengganggu. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik. Haram. "Masya Allah. sebelum punya anjing. karena tidak bisa. Anjing itu seperti malaikat. Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. Faris sudah berangkat besar. Tak pernah mencuri dan berbohong. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. sudah masuk SMP." jawab Usamah.com/abclit. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. Pada suatu sore di hari Sabtu. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV.Generated by ABC Amber LIT Converter. Setelah sejenak duduk. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu.

Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. sambil menitikkan air matanya. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Tidak sekalipun berkedip. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. Sebenarnya. manusia pun akan mati. Semuanya berasal dari Allah. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. Abah yakin. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana.html Melihat Hector tak bangun lagi. Ia pun dikuburkan." Keesokan harinya. seperti manusia. tanpa doa pun. Tapi Hector lebih menyerupai manusia. Kawan-kawan lama kami jarang pulang. Melihat keadaan itu maka Usamah pun. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. Nius. apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. seperti tidak kenal lelah. Hector akan masuk surga. tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Kepada mereka. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. http://www.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. seluruh keluarga gempar. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun.Generated by ABC Amber LIT Converter." . malaikat akan masuk surga. Pak Usamah sempat membaca doa. terutama Faris. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. bagian dari keluarga Usamah. Hanya menatap. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi. "Seperti ada dan tiada. pagi-pagi benar. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami.processtext.com/abclit.

akrab dengan pribumi. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. sebagai grosir roti dan permen. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. kendati kota kami tetap saja setelempap." tambah Amril. Nius. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. Bahkan mengerikan. Dua lepau nasinya sekarang.processtext. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga." Biju menerangkan dengan gembira. "Tentu!" kubilang." "Hanya si Cudik. "Di mana dia?" tanyaku antusias.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar." jawab Tum. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. dewasa atau jadi tua. Kami ajak bermalam tidak mau. Ayah Bun tukang gigi. Nius. http://www. Si Talib di Dumai. ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. diduduki hingga kini. "Tak lama lagi pensiun. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping.com/abclit. Berubah sekarang. Dulu kami sering . Dia dan keluarganya tergolong aneh. "Bun di Medan jadi dokter. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. sudah bercucu satu. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. lebih-lebih tukang gigi." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Satu di Palembang. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Kalau aku pulang. si Talib dan si Tunik yang acap pulang.

Mereka menggeleng. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin.com/abclit. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. atau menjelepak duduk di lantai. Nius. "Jelas enak. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. Dia kapten sepak bola. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. "Itulah. dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. tidak halam! Enak laaa. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. Minumnya teh hangat. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. tak pake babi laaa. "Tidak halam. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. Rambut ekor kuda." sahut Tum. adik kelas kami. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. http://www. kadang susu. pintar di sekolah. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. kembali menampakkan senyum yang ganjil. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Suka-suka kami mau makan apa. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. mengantar kue mohok hangat-hangat. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. Juga pandai menjahit. Matanya tak terlalu sipit. Tapi kami cegah. adik Bun. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". Ibunya baik seperti ibu Bun. kami kerap nginap di rumah Sultani.processtext. "Percuma. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. ." bilang Tum. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. Seperti di rumah Bun. Tidak kecuali Sultani.Generated by ABC Amber LIT Converter. mencukur." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. lucu. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Bak orang-orang dalam mimpi." KAWAN masa kecil itu lincah.html bermalam di rumah itu.

Terbahak-bahak seperti hantu air. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. guru mengaji kami. Kami berebut. Portir bioskop juga dia ulahi. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. Baju. alias usil plus kurang ajar." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. "Sebetulnya telat Bun.html "Makan. Dan pernah pula Buya Makruf. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. http://www. Ibunya tersipu. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Iya kan. . serta sarung beliau "terbang." "Tidak sakit. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Berenang kalang kabut ke tepi. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. "Ayaaa. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. "Malah. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Bun?" Bun mengangguk lemah. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. Lalu ia sambar roti. mengajak makan. Bun mau potong bulung bole potong. selesai!" Ayah Bun terkekeh. Biju dan Tunik juga.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik.processtext. tidak terasa. Ayah dan ibunya setuju. Ulah Sultani! Suatu kali. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. kopiah. ke halaman masjid. Dan Bun disunat. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir. Babah mau coba? Sret. Kelas enam disunat. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Mukanya pucat serupa mayat. jadi keras. Mestinya waktu kita kelas tiga. mencangkunginya seperti buang hajat. laaa. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu.

sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. "Tadi di sini terlampau pendek. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. sepekan rambutmu . tajwid dan kiraahnya elok. Eh. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Aku malah tak sekali. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Ketika kuraba. Mendesis-desis lunak.html Setelah sembuh. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Kepandaian itu turun dari ibunya. Sultani berkata: "Sudah Bun. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. Sudahlah. "Seperti model rambut Bang Rustam. tentu saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. kan?" Aku mengangguk. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Sebulan ditanggung fasih. ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. kuratakan. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Tetapi. Rustam. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Tapi aku merasa. "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. "Rambutku dia cukur. ikut mengaji saja.com/abclit. tidur-tidur ayam. Rancak. Dan sesekali. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Tak licin di sekeliling kepala. Mataku merem melek. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Suaranya merdu.processtext. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. banyak kawan merasakan ulah Sultani. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. malah sebelah sini terlampau pendek. http://www. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Tunik juga. Bukan saja Bun. Biar aku yang ngajar. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Aku serahkan kepalaku pada Sultani.

"Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak.Generated by ABC Amber LIT Converter.html panjang lagi. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. Atau pergi. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Suara mereka teramat gaduh. Tahi kambing. suatu pagi. Menyepak pintu hingga rubuh. Tetapi mereka pun tidak tahu.com/abclit." Tum diam saja mendengarkan sunyi. Tepatnya. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran.processtext. Mereka melempar rumah itu dengan batu. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Nius. aku menghindar. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. hasilnya nihil. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. Sejumlah orang menerabas masuk. Bagus juga kau gundul. tahi kuda dan entah dengan apa lagi." sambung Biju lesu. Dia mendekat. Kaca-kaca pecah berderai. Mereka . aku menghambur ke jalan. http://www. Pernah kami tanya ke situ. Dendamku laksana sumur tanpa dasar." kata Amril. berteriak-teriak. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Nius. Mereka menuju rumah Sultani. Dia cerita begini-begitu aku buang muka.

Generated by ABC Amber LIT Converter. tegak kaku di ambang pintu. "Semua orang bilang begitu. Dia juga menangis. Orang-orang masih berteriak. "Dan. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku.* Jakarta. "Mulai kurang ajar ya.com/abclit. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. Sultani juga.processtext. Aneh sekali. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai. Tanganku dicekal. Menghabisinya. Kusaksikan ayah Sultani diseret. seolah-olah tidak pernah lelah. Menangis. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Bahkan sampai kini. Bergelombang-gelombang manusia. yang menatapku tanpa berkedip. Mukanya berdarah. meraung-raung. melihat aku di tengah kerumunan. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. http://www. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Lututku menggigil. diseret abangku pulang.html terus berteriak. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. kemarin pagi. dua buah. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Ibu Sultani berlari mengejar. Buas sekali. Perempuan itu terjerembap di halaman. 2 April 2005 . Hanya mata saja. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani.

Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. bibit tanaman. http://www. Istri saya memberi tahu. Juga tentang hubungan suami istri. Di samping para tetangga. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Kadang-kadang saya juga diundang camat. sekadar yang saya tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sudah sering datang orang. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. Ada apa? Saya acuh tak acuh. Jika ditanya. satu dua. Sungguh menghabiskan waktu. menantu dengan mertua. bupati.com/abclit. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. maupun wali kota. saya menjawab sekenanya. Saya rasa kali ini juga begitu. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Istri saya belum menemui mereka. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Kadang datang berbondong. Misalnya. mengular sampai jalanan. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. bawahan dengan atasan. Sudah sering datang orang. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. perbankan. Saya acuh tak acuh. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. setelah sarapan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. . ramai. persoalan anak dengan orangtuanya. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. soal usaha tambak udang.processtext. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. menjenguk lewat jendela. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Karena istri saya gelisah. pengairan sawah.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. perburuhan. yang sama sekali tidak saya ketahui. satu dua. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit.

Saya interviu keluarganya. sedangkan untuk orang-orang biasa. Keluarganya memberi tahu. bupati.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. saya dijuluki "pendengar yang baik". menyebabkan banyak orang mengenal saya. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. . Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. dibawa pulang ke rumahnya. teman. ia seharian di rumah saja. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. kenapa tidur di rumah. menyadarkan saya. lalu saya cari alamatnya. sementara beban keluarganya besar. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Misalnya. dan wali kota. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer.000 orang. Kepala kantor orang itu kebingungan. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara.com/abclit. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Saya catat riwayat hidupnya.html Rasanya camat. misalnya. Sebagai penulis lepas. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. di sebuah desa yang lengang. Begitulah. sekitar 5. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Masa pensiun pasti datang. ia kaget. teman-teman. http://www. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. pekerjaan terakhirnya. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya. tidak benar-benar membutuhkan saya. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. sebagaimana kematian itu pasti tiba. keluarga.processtext. Untuk sikap saya itu. lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. agaknya hanya saya seorang. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. Alasan saya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia. juga tayangan televisi. Seluruhnya orangorang biasa. Begitu siuman. dan berapa orang saudaranya. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya.000 karakter. Kadang sampai 8. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Tulisan obituari itu tidak panjang. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. sampai kenalan baru. Cukup menyenangkan. tidak ke mana-mana.

Sementara itu ada pula yang bilang.processtext." . tak ada yang menulis. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. Banyak usulan. Wah. "Pak." Tapi. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. ia meninggal. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. ataupun di stasiun bus.Generated by ABC Amber LIT Converter. ada yang mengartikan. "Lho. jika seseorang ngobrol dengan saya. Yang jail maupun pelesetan. seseorang yang ngobrol dengan saya. Maka ada saja orang yang anti-saya. "Maaf." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis. saya sedang mewawancarainya. Tidak kenapa-kenapa. kompleks pertokoan. Dari kejadian itu. ini bahaya. Ada yang bilang. Saya tak bisa menjawab. Ini benar-benar klenik. Pak Jurnalis. Ntar saya yang menulis Bapak. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati. ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati. Saya nggak mau ditulis sekarang. kenapa?" "Maaf. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Banyak komentar." jawabnya. Pak. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Tapi ini kebetulan saja.com/abclit. http://www. Dan sebagainya.

Saya jadi pendiam dan menyendiri. sedikit saja saya ngomong. http://www.processtext. Keterlaluan. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: . sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi." "Biar untuk Bapak saja." "Lho. Ketika orang menanyakan pendapat saya. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2. Menurut mereka. Kritiknya tidak berdasar. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari.com/abclit. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. anak-anak ini sok tahu. Lalu malah terjadi serba-salah. wah. lima orang. Memangnya saya cenayang." "Saya permisi. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Pak. Di pertemuan-pertemuan desa. Pak.html "Baiklah. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. dan si bungsu di SD kelas 5. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang. kenapa?" "Maaf. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. katanya." "Jangan ditinggal korek apinya ini. Banyak ngomong dianggap meramal. Apa yang akan terjadi dengan saya. yang paling kritis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. Anak-anak saya. Pak. Tidak kenapa-kenapa.

" "Semua orang bicara dosa dan pahala. . Nah." jawab anak-anak itu. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga." "Boleh saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari." "Nah." "Ayah marah kena keritik. Itu doa saya." "Itu harapan saya." jawab saya." "Begini. Ayah pernah menulis obituari. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. kalian ngawur.html "Dari mana kalian tahu. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah." "Tidak bisa seenaknya begitu. ini dosa. "Kalian ngawur. kan.com/abclit. http://www." "Semuanya." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.processtext.

Kami sebenarnya keluarga bahagia. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. setelah sarapan. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. Padahal saya selalu bilang.processtext. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. Istri saya guru SMP. anak-anak saya itu diam." "Nah. Istri saya memberi tahu. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Anak-anak yang bersiap ke sekolah.com/abclit. termasuk menulis berita.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. menjenguk lewat jendela. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Istri saya belum menemui mereka. Hari baru membuka matanya. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam." Mendengar keterangan saya. merangsek ke depan meja saya. Saya acuh tak acuh. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan.00. Jam baru menunjukkan pukul 05. Saya sering lelah berdebat dengan anak. mengular sampai jalanan.anak saya tersebut. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. sedang rakus-rakusnya makan. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Saya menulis apa saja. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. http://www. Ada apa? Setelah sarapan. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. Lima anak semuanya sekolah. Nah. Sudah sering datang orang. Sebagai ayah. Saya rasa kali ini juga begitu. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . cerdas dan berani. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Karena istri saya gelisah. satu dua. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka.

nistagmus. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. di pekarangan. tua. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. mereka menatap kebenaran. di luar kemauan. di kebun. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan.html Mata mereka nanar. Cuaca cerah. kemudian dibiarkannya mencair. panas. Kalau toh ia tertidur. Sinar matahari memancar. lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Ahad. berserakan memenuhi ruang dan udara. tak seekor pun tampak terbang. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. 26 Desember 2004. Bahkan burung-burung. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. laki-laki.. di atas pohon. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. anak-anak. Tapi tidur itu tak pernah panjang. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan.tanggal akhir hayat. di reruntuhan rumah. mencecap pencerahan. bayi. Mungkin hanya karena terlalu lelah. berserak.processtext. Seluruh mayat itu. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. itu bukan karena ia ingin. Alhamdulillah.. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. diselimuti lumpur. perempuan. Entah berapa lama saya pingsan. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan.com/abclit. muda. Tangerang. di jalan. . Waktu saya siuman. 20 Januari 2005.

Kami juga sudah menunggu lama. Bagaimana kabarmu. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Masmu Jito tidak ikut. Kantuk masih menggelayutinya. "Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan.com/abclit. Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan. Mbok Nah diam. namun tetap tanpa jawaban. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Tapi sayang. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan.processtext. "Ya. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" . hingga warna itu berubah tua. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. Pertanyaan serupa diulang. Pada siang yang murung itu. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter.

"Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat.. http://www. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. "Eyang Putri tidak senang bau rokok." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi. tapi dicegah Ambar. entahlah." . yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. Mereka sudah lama menunggumu. seperti koor.processtext. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. dan Drajat yang pengusaha real estate. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak. kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit.html "Di ruang tengah. "Di kamar. hendak menyulut. Swandaru yang anggota DPRD. Tapi. persisnya sejak Lebaran tahun lalu.

Empat pasang mata mengepung dirinya.. Pintu kamar itu diketuknya. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" . Mbak Ambar. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar. Gendut pun beranjak. Swandaru merangkul Gendut. http://www. perlahan." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Gendut memasukkan rokok di sakunya. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda. Cepatlah kamu ketuk pintu kamar. Kamu kan cucunya yang paling disayangi. "Ndut.com/abclit. coba kamu temui Eyang Putri. Setelah diam beberapa jenak. Mbak Kunti. "Saya Gendut.processtext. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu.." Gendut termangu.

Nggak ada komplain. Seperti yang kami kenal." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. ya bukan urusan saya. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya. Perkara pembangunan itu macet. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri.processtext. Gendut langsung menyelinap masuk. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi. Semua kakaknya saling memandang. namun hanya beberapa puluh senti. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar.html Pintu pelan dibuka. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani. semua beres." "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" .com/abclit. Kalian mesti tanya developernya. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan.Generated by ABC Amber LIT Converter. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. http://www. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka. Aku menebak. dong. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Ketika menonton televisi. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu.

Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku. Anak dan istriku tampak cemas. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi. tapi gagal. Aku ngomel sendiri. mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. . Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi.html "Tanya itu developer. hingga commercial break memotong tayangan berita itu. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu. http://www. Mereka pun langsung masuk rumah sakit.com/abclit. Mereka menangis. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement. Aku terus mengomel. tapi HP-nya off. Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang.processtext. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri.Generated by ABC Amber LIT Converter.

kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. dia akan mengejarmu sampai neraka. Gendut belum berani bicara.. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas.html Kami sama sekali tidak menyangka.processtext. no comment" . Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat. http://www. DI antara para cucu. wajahnya tampak lelah. semakin tumpang-tindih. Ia hanya mematung di samping ranjang." pesan bapak belasan tahun lalu. Namun. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras. Di layar televisi siang tadi. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. wajah Eyang Putri tampak pucat. dengan bangga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sesungguhnya. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut. takut menambah beban perasaan Eyang Putri.. yang gigih menentang setiap penyimpangan. dan berani. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. Walau cuma serupiah. malu. jujur. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano.com/abclit. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. tapi juga sangat sedih. semakin bersilangan. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. ia hanya berucap "no comment. Ia melihat.

cabe puyang. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. Setiap pagi. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. gunung yang menjulang atau langit yang biru. Padahal jumlahnya belasan.processtext. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. atau penjilat. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. Juga nama cicit-cicitnya. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. dlingo bengle. Meskipun usianya di atas delapan puluh. Jamu itu kemudian dijual di pasar. adas pula waras. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Ada yang culas.html Setegar apa pun hati keluarga kami. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. sungai yang mengalir. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Setelah Eyang Kakung meninggal. jujur. pemberani. Harum tapi juga semegrak. http://www. Tubuhnya masih cukup tegap. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. Rimpang-rimpang jahe. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona. Matanya masih bercahaya. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan ingatannya masih tajam. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan." ujarnya. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. dengan berbagai wataknya. jahe. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. Tapi. licik. toh akhirnya goyah juga. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. meskipun akhirnya tidak . Dengan runtut. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur.com/abclit. Ketika kami kecil. sawah yang membentang. laut yang bergelombang. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. dan entah apa lagi. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. kencur.

http://www.com/abclit." sergah Mbak Ratri. Aku kelimpungan.processtext. Semua tertawa. "Kalau saya ya pilih kaya. Gendhut. "Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan. "Ah kamu. Ayo." ujar Mas Swandaru sambil bercanda.html hidup bahagia." pesan Eyang Putri.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bingung. nggak apa-apa…" . "Kalau kamu bagaimana. "Bicaralah. yang dipikir cuma perut. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri." Eyang menatapku. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya.

"Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar. mengurung kami.com/abclit. Eyang Putri diam. ketakutan diam-diam merambat.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik. "Dia bukan pintar.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Ndhut…" Eyang Putri terkekeh." Semua tertawa. "Pintar kamu. tapi hanya untuk mengakali. tapi licik. http://www. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. Dia punya banyak akal. Mendadak.

"Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai. Satu per satu kami tertidur. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani…." ujar Mbak Kunthi. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana." Malam makin larut. Kantuk pun bergelayut. Dia bilang. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan. "Maka. "Akhirnya. "Benar Eyang.processtext.html Kami mengangguk. kalau kalian besar nanti. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Iya.com/abclit. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. http://www. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya. . Ratri menyahut.…"sahut Mas Swandaru. dalam gelap malam. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri.

"Ndut. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. tak ada suara terucap. Di luar kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter." ujarnya pelan. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. Gendut kaget. lemah. http://www. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. empat kakak Gandut masih menunggu. Urat-urat wajah mereka menegang. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras. Dalam beberapa kejap.processtext. Eyang. "Biar aku duduk…. tapi masih tetap tegap. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. "Kita berdoa. Ke mana air mata itu. Tapi Gendut memberanikan diri bicara. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya. Perempuan renta itu berjalan pelan. Bukan kancil atau ular piton…" . Eyang Putri menggeleng.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. Mereka hanya saling memandang.com/abclit. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. pikir Gendut. Wajah mereka tertunduk.

"Mestinya sejak dulu.com/abclit. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. merintih. "Tapi maaf Eyang. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang." "Tapi.processtext. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil. Ya." ujar Gendut.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. meskipun kami tidak punya bukti. http://www. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" . Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya….html "Bagaimana kamu tahu. kami percaya dan yakin. Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih. "Itu yang aku sesalkan.

Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti terbaca. DI rumah itu. Itu masalahnya. ditelanjangi. Semua mendadak terasa terlepas. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. Mungkin…." ujar Kunthi.html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri…. "Kebenaran akan membersihkan namanya. Mereka merasa dilucuti. http://www.com/abclit." ujar Eyang setengah meradang. Tubuh mereka serasa berubah transparan. sebelum akhirnya pingsan. atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. akan mengembalikan martabatnya…. Eyang Putri berkali-kali menarik napas.processtext. Edisi 05/22/2005 .

setiap detik dalam hidupmu. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? . sepatu serupa. homo erectus. seluruh waktumu. Sepatu lars. bongkah itu akhirnya pecah. ternyata sia. Dengarlah sepatu berderap. Jejak celaka! Bagaimana bisa. menginjak seekor trilobite. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. ditemukan juga jejak sepatu. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. segera jadi bohong besar. Betapa kekal..html SEPATU itu. harus kami bikin tetap sembunyi. dengan bertumpu di bagian tumit.sia? Maka sembunyi itu. lebar 11 cm.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa. SEPATU itu. pikirmu. Homo habilis. sepatu manusia. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. Di suatu waktu di zaman lain.processtext. Dan itu artinya. homo sapiens. Jejak sepatu celaka. Jejak melesak di tubuh-tubuh . Betapa kekal jejak itu. neanderthal. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. menguap. tak bisa tidak. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. dengan cara begitu rupa. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu. dari satu batu ke lain batu. bagi kami. TETAPI trilobite.. melesak di leher. di zaman homo habilis juga belum ada. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu. http://www. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. lekuk bawah tumit 2 cm. dan waktu melenguh. tertahan dalam bongkah batu. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong. Dari satu waktu ke lain waktu. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm. memanjang ke fragmen tengkorak. Semua akan hancur.. selain fosil antilope. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. artinya pula tak lain satu kata: gila. seperti yang selalu kami yakin.

tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto. Dengan satu kali jumpa pers. begitu jauh. sebetulnya telah ikut terbakar. Menggasak leher. Tulisan yang tentu saja direkayasa. dengan amarah bagai meluah. Racau panik. tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Dan setelah segalanya beres..processtext.com/abclit.. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science. dengan foto-foto yang dideformasi. Baiklah. bertumpang tindih dengan hardik. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. berhamburan. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. Fragmen tengkorak itu. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila. rusuk. Jadi. Bisa runyam. perpustakaan. Orang-orang berseragam ini. ruang kuliah. semua kami musnahkan. Terdengar pula suara seperti letusan. ketika muncul di Science. Memang muncul berita di koran lokal. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan.html Tetapi. Mahasiswa berlarian. telah hampir sepuluh tahun kini. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu. timbul-hilang. Gemuruh derap menggasak koridor. melipat waktu. selesai. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. tetapi itu biasa. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. Betulkah foto itu hilang? Atau. untunglah. kenapa mereka menyerbu kampus? . gebuk pukulan.Generated by ABC Amber LIT Converter. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. menjalar lirih ke telingamu.. SEPATU itu. juga lolongan. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. Artinya. jerit. Bisa heboh. tetapi kami lupa? Tetapi toh. membuat kami sungguh kelabakan. lengking tangis. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. http://www. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. Tetapi lalu. bentak. merangsek masuk ke dalam kampus. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Menembus ruang. penuh literatur fiktif. Pekik. menerjang.

Tak ada becek. Begitu tenang.processtext. Rumah yang kukenal. Seperti lelap. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini). Menembus waktu. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. Tetapi yang jelas. bukan? Sesekali terdengar helaan napas. tegak termangu di puncak tangga. kami gunakan untuk mencari. Tak ada hujan. Di dalam juga tak kalah sesak. Melalui pintu yang ternganga. Beberapa kepala pelan terangkat. Menetes. demonstrasi. dari hari lain. ruangan itu juga tampak porak-poranda. meresap dalam senyap. Ke sesosok tubuh yang terbujur. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. Kampus diserbu.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap detik dalam hidup kami. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. Mungkinkah hujan lain. TAK ada hujan. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. Sungguh situasi yang tak terduga. dalam basah. seluruh waktu kami. Dan lihatlah lembab itu. Bila sebelumnya tampak heroik. Dan takkah pula lumpur lain. Juga senggukan tertelan.bermimpi tentang demokrasi. pada setiap kepala yang tepekur. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. beberapa dilarikan ambulans. menembus ruang.html Namun tentu. Dalam lembab. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. Merembes dalam bisik. aku bagai melayang. kursi-meja berjumpalitan. Takkah aneh bahwa foto itu. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. kemudian. Pulau-pulau yang terbujur. Padahal tak ada hujan. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. http://www. Labor-ruang praktikum hancur. di sinilah foto itu kini. seperti halnya juga tadi di lantai satu.com/abclit. Tetapi. Di luar rumah sangat banyak orang. Menatap ruyup ke tengah ruangan. basah itu. kini menjelma jadi kuyu. Dan di lantai. Mahasiswa diburu. ternyata ada di sini? Memang aneh. Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. bagai tertidur. bagai tertidur. entah ruangan apa. Dan juga celaka. Dan setelah segalanya selesai. Lihatlah seorang dari kami. Beberapa digelandang digiring ke truk. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. itu bukan urusan kami. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. seperti berat. tetapi terasa seperti hujan. . berbaku tindih jejak sepatu. Dan lihatlah itu tadi. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Masuk ke halaman yang kukenal. pun ruang perpustakaan. di luar tak ada becek.

tak jauh dari tubuhku. begitu jauh. ada foto itu. Dengarlah sepatu berderap. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku.processtext. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. http://www. ganjilnya pula: di atas foto itu. Kamar yang juga tampak begitu tenang. dan waktu melenguh. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Begitu lengang. sehingga ia begitu marah? Tetapi. Dan. Dari satu waktu ke lain waktu. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. Dan inilah ia. ke lain ruang. Tetapi. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. Dan. mematahkan rusuk. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. aku selalu lupa. Menerima makian. tak lagi penting. Ruang kerja Ayah. Menghunjam dan melesak. dari satu batu ke lain batu. bukan aku. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. Gebrakan meja. Begitu pas. di hampir seluruh bagian tubuh itu. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. pikirmu. Betapa kekal jejak itu. tepat menimpa si fosil jejak sepatu. Jejak melesak di tubuh-tubuh. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Menggasak leher. Bebas waktu. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. menjalar lirih ke telingamu. Sangat serupa. Mungkin juga itu orang lain. Siapa tahu. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. rusuk. Kembali aku melayang. pernah atau tidak.html Itulah aku. melipat waktu. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Mungkin pula itu di masa depan. Menembus ruang. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. atau mencoba melihat menggunakan mataku. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. Kini aku bebas ruang. Menembus dinding. Meremukkan leher. Tetapi itulah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. 4 April 2005 . sang arkeolog ini. Tubuhku.com/abclit. sebuah jejak baru. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. kamarku. memintaku mencarinya. timbul-hilang.

dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita.com/abclit.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. untukmu Gusti. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. memedihkan mata dengan getir pasir. tanpa cambukan. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari. . Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. dengarkanlah ceritaku. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. Gusti. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara.processtext. Karena itu. http://www. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki. Maka. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu.

Tak di mana-mana. "O. dan malam yang kehilangan rembulan. . "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. Ia tak bisa mengamuk. kepala yang dilindas truk. Tak bisa mengutuk. http://www.html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan." Ia tak lagi punya jejak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota.com/abclit.processtext. Ya. tapi keretanya telah remuk. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya. Jika tak percaya. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga." Ia tak bisa lagi menangis. Dengan petikan sitar gaib. Ramli. darah yang terus mengucur.

"Ya. Lukman. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium. Maka. aku memang cuma budak haram." Tak di mata yang menciptakan surga.html "Tak di mata yang menyimpan surga. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku.com/abclit. ke got becek untuk mandi. http://www." Kamu cuma budak haram. ke jalanan becek bertabur roti. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena .processtext. ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan. mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu.

Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko.. Lukman.com/abclit." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap.000 budak haram. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Nanti kamu didenda. Nanti kamu dipenjara. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan.Generated by ABC Amber LIT Converter." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan." Maka. . segeralah pulang. Lukman. "Ya. Ayolah. pulanglah ke negeri ibumu. http://www. Hanya. "Mereka tak punya algojo. "Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800. tetapi segera pulanglah. aku akan pulang. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular." Ya.. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian. Lukman.processtext.html pasporku hanyut di sungai.

Generated by ABC Amber LIT Converter. . ke kopi terakhirmu. http://www. Sayang." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu. ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya. Kalaupun masih hidup. Sayang. "Ke gua gelap itu?" Ya.com/abclit.processtext. Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang. "Ibu? Ibuku telah mati.

com/abclit. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu. Rahma. "Kalau begitu aku tak mau pulang.." Begitulah Cara Waktu Mengaduh. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati. http://www. menguburmu dengan bunga mimpi." Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa .Generated by ABC Amber LIT Converter. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan.. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu.html "Setelah itu.processtext. Karena itu. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir.

Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan. kota ini memang sialan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kau tahu bukan Redana. Rahma. Pangeran Kelelawar itu. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan.com/abclit. Kau tahu bukan Romo Sindu. "Tidak di keriuhan?" Ya. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak . "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak. "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. Kau tentu bisa menjelma ikan.processtext. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban. http://www. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu." Ya. Rahma. Tentu keindahan tak harus disembunyikan. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. Rahma. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. Padri Minohek itu. Tidak di jalan-jalan. Rahma. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. Rahma.

http://www. ke ujung mati. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu.. mereka melenguh seperti kerbau api. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. Tetapi.processtext.. Rahma. 37 tahun. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra. Kunti. Bukan di Kurusetra. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi. Ia menangis dalam gerimis. "Namaku Petro Sale.. Rahma. Kunti. Kunti. Tetapi mereka hendak dibunuh juga..com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bukan di padang pembantaian. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi. "Jangan lari." Dor! "Namaku Guspar Hasan. Kunti. Aku hanya. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri. 23 tahun. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki." Dor! .html pernah pulang. Aku hanya. Maka begitulah cara Waktu mengaduh. Tetapi mereka hendak dijagal juga. aku tahu. Rahma.

hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati. "Halo. "Aku mencintai Hang Tuah. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi.. Lalu kaulepaskan angsa. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi. 25 tahun. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela.com/abclit... Kunti. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi.processtext. tikus." Dor! Lalu kau pun tahu. ya Kasturi. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri. aku hanya membawa tikar menuju belukar. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri. Tak ada obat. Aku hanya. http://www. kuldi. . buaya.." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni. Soekarno. musang." Dor! "Namaku Remi Guis.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku.html "Namaku Markus Taji. ular.

" kataku mengolok-olok. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. kita memang bahagia. revolusi telah patah. dan kita akan kesepian. "Jadi. http://www. "kita cuma eng-krok. kita adalah budak yang tak punya malu. Hijazz. krok." "Aha! Aku suka metaforamu. krok. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia.processtext.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip." "Ah." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. Ya. tua. Oke.Generated by ABC Amber LIT Converter. burung-burung terbang ke langit entah. kalau dia menangis. kita memang kodok. eng-krok." tiba-tiba Angela menyela. danau akan gaduh. "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. kau keliru. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis. Soekarno kehilangan tuah.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya.com/abclit. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela." "Ya. krok. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku. . Sayang. Sebab di hadapan Sang Waktu.

suami-istri yang kian merenta itu.processtext. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. 2005 . itu aku dan engkau. http://www. Dan Kau tahu. Karena itu. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. Lumpur-Mu." Aneh. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. Kuala Lumpur-Selangor. Jadi. Kekasihku. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera. "Lihat Hijazz. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri.html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. semua ternyata hanya lumpur. Cintaku.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.

processtext.html .com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->