P. 1
Penyakit Mata 2

Penyakit Mata 2

|Views: 1,673|Likes:
Dipublikasikan oleh La Ode Rinaldi
Blok 9
Ilmu Penyakit Mata
by dr. Sri Mastuti Rahayu, SpM
Blok 9
Ilmu Penyakit Mata
by dr. Sri Mastuti Rahayu, SpM

More info:

Published by: La Ode Rinaldi on Nov 11, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2014

pdf

text

original

dr. Mastutie , Sp.M.

KULIAH ILMU PENYAKIT MATA. EED

KONJUNGTIVA
Merupakan jaringan mukosa  Terdiri atas :  Konjungtiva palpebra  Konjungtiva fornik  Konjungtiva bulbi 

Konjungtiva diinnervasi oleh serabut-serabut sensibel yang berasal dari n. trigeminus.  Vaskularisasi konjungtiva : * Berasal dari cabang a. oftalmika. Arkus palpebrae superior mempercabangkan -A. konjungtiva posterior -A. siliaris anterior, berjalan ke depan bersama insertio m.rectus lateralis, msk bola mata di limbus kornea, membntk kapiler yang beranastomose dengan A. konjungtivalis posterior. -A. siliaris posterior longus yang memberi juga vaskularisasi ke korpus siliaris. 

Konjungtiva palpebrae superior & inferior

Melekat erat pada tarsus, cukup tebal. Pemukaanya licin. Fungsinya supaya bola mata dapat bergerak dengan bebas. Makin kebelakang perlekatan makin tak erat, diisi dengan jaringan ikat longgar 

Sekresinya seperti air mata ( akuos ) dan disebut gld lakrimalis asesoria. Bersama lapisan mukus membentuk tear film  Gunanya tear film ini : 1.Enzym lysozym yang bersifat bakterisida yang menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri baik yang saprofit maupun yang patogen. 2.Menyapu bersih semua kotoran dari bola mata. 3.Sebagai pelicin/lubrikasi.

Konjungtiva bulbi :  Sangat tipis dan transparan sehingga vasa pada episklera nampak dari luar.  Episklera adalah jaringan pengikat longgar antara konjungtiva bulbi dan kapsula Tenoni. Konjungtiva bulbi melekat erat pada tepi kornea dan merupakan salah satu fiksasi dari kornea.

Konjungtiva Fornik: 
Batas antara konj. palpebra dan konj. bulbi. Diisi oleh jaringan ikat longgar dan lemak. Fornik superior terdapat muara kecil-kecil dari saluran gld. lakrimal.  Terdapat sel goblet yaitu kelenjar asinotubuler yang menghasilkan lapisan mukus ( tear film ).  Retrotarsal terdapat kelenjarkelenjar : -Kel Wolfring. -Kel Krause.

Mata merah
Hyperaemie : -Inflamasi : vasodilatasi aktif. -Kongesti : vasodilatasi pasif *Hyperaemie a. konjungtivalis posterior disebut conjunctival injection *Hyperaemie a. siliaris anterior disebut pericorneal injection

Conjunctival injection 
Pelebaran a. konjungtivalis posterior.  Berkelok ± kelok, mudah digerakkan, berpangkal dr fornik konjungtiva dan puncaknya berada pada limbus. Cara mengecek :

Tekan pangkal arteri : anemis sebentar. Gerak-gerakkan konjungtiva bulbi : ikut bergerak. Ini menandakan letaknya superfisial. Warna : merah muda

Pericorneal injection.
Mulai limbus menuju ke fornik (makin lama makin tipis).  Ditekan : tdk berubah warna kr letaknya profunda. Digerakkan: tak ikut bergerak. Warna merah, lebih gelap. Terdapat pada radang kornea ( profunda / superfisial ), iridoklitis dan skleritis.

Perdarahan Konjungtiva
Kausa perdarahan: - Dari vasa yang pecah.
- Dari penyakit darah. - Dari robekan konjungtiva - Pada anak kecil biasanya krn batuk rejan (pertusis)

Edema Konjungtiva
(Chemosis conjunctivae)  Causa : -Penyakit konjungtiva sendiri (radang). -Penyakit sistemik : -Penyakit ren dan cor. -Neurovasculair oedeem.  Pada tarsus edema tak dapat besar sekali.  Pada pembengkakan yang hebat kadang-kadang sampai menutupi rima palpebrae dan kornea, menekuk keluar sehingga mata tak dapat ditutup.

Simblefaron 
Perlekatan konjungtiva bulbi dan konjungtiva palpebra

Penyebab : ‚ Trauma kimia ‚ Syndroma Stevens Johnson

Pterygium
P Proses degenerasi, T Jaringan fibrovaskuler  konjungtiva melebar ke kornea

Melanoma konjungtiva

KONJUNGTIVITIS
- Adalah radang pada konjungtiva.

- Kausa : infeksi, trauma, allergi. Infeksi : -Bisa disebabkan oleh bermacam-macam kuman. -Cara menentukan penyebab : a -Ambil sekret konjungtiva, lihat dibawh mikroskop. -Lebih akurat ambil epitelnya Tempat mikroorganisme : 1.Diluar epitel misal toksin dari staphylococcus aureus. 2.Penetrasi ke epitel misalnya gonococcen. 3.Disamping penetrasi juga berproliferasi. Terdapat pada kuman-kuman yang membentuk granuloma misalnya tuberculosa, lepra dll.

KONJUNGTIVITIS 
Terdapat tanda-tanda radang umum yaitu dolor, tumor, rubor dan calor. Calor ± panas , tak dapat diukur Rubor ± merah berupa injeksi konjungtiva Dolor ± berupa ngganjel, gatal, perih Tumor ± sebagai proses eksudasi dan infiltrasi berupa ‚ Sekret ‚ Bangunan patologis ‚ Khemosis konjungtiva

KONJUNGTIVITIS 
Gejala ( keluhan ) :

Merah Ngeres / ngganjel Keluar kotoran (nglodok) Dempet waktu pagi hari (O.K kotoran yang kering waktu tidur)

KONJUNGTIVITIS 
Tanda (pemeriksaan) :

Conjunctival injection Sekret (+) (akibat proses eksudasi) Ada bangunan patologis pada konjungtiva palpebra (akibat proses infiltrasi sel radang) Khemosis

Sekret
Macam-macam sekret:
serous (cair bening) mukus (kental bening elastis) purulen (cair keruh kuning) membran (keruh lengket pada dasar, bila diangkat berdarah)  pseudomembran (keruh lengket pada dasar, bila diangkat tak berdarah)  Sanguis (cair merah ada darah) 
  

Sekret
Sekret serous  Encer seperti air  Penyebabnya virus.  Setelah dua / tiga hari dapat menjadi mukopurulen, karena super infeksi dari kuman komensal (daya tahan menurun sehingga kuman komensal tumbuh tak terkendali)

Sekret

Sekret mukous  kental, bening, elastis (bila ditarik dengan ujung kapas),  penyebabnya biasanya karena proses khronis/alergi  Fibrin-fibrin dalam keadaan utuh.  Klinis : bila ditutul kapas akan lentur (elastis) sebab terdiri dari fibrin

Sekret
Sekret purulen  Makin ganas kumannya makin purulen (nanah) mis : Gonococcen  Banyak sel yang mati, terutama leukosit, dan jaringan nekrose  Kuman-kumannya type ganas, fibrin sudah hancur.  Bila ditutul kapas, ia akan terhisap, sifatnya seperti air, berwarna kuning  Campuran : mukopurulen, kental berwarna kuning, elastis. Penyebabnya : biasanya kuman coccen yang lain.

Sekret purulen

Sekret
Sekret Pseudomembran  Seolah-olah seperti melekat pada konjungtiva tetapi mudah diambil dan tak mengakibatkan perdarahan.  Penyebabnya antara lain streptococcus haemoliticus

Sekret
Sekret Membranosa :  Misal : pada conjunctivitis diphtherica.  Terbentuk sekret, sel 2 lepas ,terbentuk jaringan nekrotik.  Terjadi defek konjungtiva.  Membran sukar dilepas dan bila dipaksa akan berdarah karena ada ulkus dibawahnya.

Sekret
Sekret Sanguis  Sekret bercampur darah.  Terdapat pada konjungtivitis karena virus yang sangat virulent.  Sering disertai sekret purulent setelah dua/ tiga hari, karena ada super infeksi dari bakteri komensal.

Pemeriksaan bakteriologis
Bahan untuk pembuatan preparat :  Sekret : didapat dg cara swap / diusap dengan lidi steril  Epitel : didapat dengan cara scraping yaitu mengambil sebagian dari epitel konjungtiva.  Pengecatan : -Sekret : biasanya cukup dicat dengan cat Gram kecuali bila diduga disebabkan jamur, diphtheri,dll -Epitel dicat dengan cat darah misalnya Giemsa, Wright. Hasilnya : dapat dilihat jenis kuman dan inclusion body (tanda dari konjungtivitis akibat virus). -Dapat dilihat macam-macam lekosit : -PMN : biasanya pd infeksi coccen yang pyocyaneus. -Eosinofil : misal pada allergi. -Makrofag : misal pada trachoma.

Bangunan patologis
Sebagai akibat proses infiltrasi sel radang 

Bentuknya macam-macam : papula folikel vesikel excrecencies concretio flikten pinguikula 

Papula : Ujud kelainan yang menonjol dari permukaan konjungtiva dengan diameter kurang dari 5 mm, terjadi akibat timbunan infiltrasi produk radang, neutrofil, limfositt dan leukosit yang lain

Folikel:  Merupakan pembesaran limfadenoid.  Besarnya rata - rata sama.  Tersusun berderet-deret.  Lebih sering di konjungtiva palpebrae inferior

Bangunan patologis
Vesikel :  Karena terkumpulnya cairan. Batasnya tegas.  Kausa : proses degenerasi, penyakit virus (herpes), combustio.

Bangunan patologis
Excrecensies :  Hipertrofi papiller (papula) di palpebra superior.  permukaan datar, seperti bludru.  Kalau lebih besar dari biasa : seperti batu yang disusun pada tembok = cobble stone pavement.  Warna : merah kasar.  Terdapat pada konjungtivitis vernalis.

Bangunan patologis
Concretio :  Disini terdapat hipertrofi yang berlebihan dan pemadatan sehingga berwarna putih seperti kapur.  Pemadatan ini dapat dicukil keluar.  Sering disebut lithiasis

Bangunan patologis
Flikten :  Lokasi : konjungtiva bulbi, limbus kornea dan kornea.  Tonjolan berwarna putih kekuningan, berisi limfosit, dengan tanda radang di sekitarnya.

Bangunan patologis
Pinguikula :  Merupakan proses degenerasi  Kausa : iritasi kronis misalnya debu, asap, angin.  Misalnya : tinggal dekat pabrik.  Letak : konjungtiva bulbi yg tdk tertutup palpebra.  Terjadi dari jaringan pengikat hyalin / elastis.

KONJUNGTIVITIS
Radang pada konjungtiva kausa : infeksi, alergi atautrauma infeksi,
KLASIFIKASI KONJUNGTIVITIS AKUTA: y Konjungtivitis kataralis akut y Konjungtivitis purulenta y Konjungtivitis inklusi y Konjungtivitis membranosa y Konjungtivitis haemorhagik KONJUNGTIVITIS KRONIK y Konjungtivitis kataralis kronik y Konjungtivitis flikten y Konjungtivitis vernalis y Konjungtivitis trakhomatosa y Konjungtivitis allergi

KONJUNGTIVITIS AKUT
Konjungtivitis akut 
Konjungtivitis

yang paling sederhana disebut konjungtivitis simplek.  Dibagi : Akut dan kronis.  Kausa : trauma, infeksi, allergi.

sehingga

Konjungtivitis kataralis akut 
Kausa : Virus (adenovirus)  Gejala-gejala : Rubor, kalor, tumor, dolor , H haemorrhagi subkonjungtiva < sering terjadi >

, permulaan sekret cair (serous), eksudat tidak mengandung fibrinpsekret kental ( purulent ) bangun tidur mata menjadi dempet ( infeksi sekunder kuman komensal ). 

Konjungtivitis kataralis kronik 
Kausa : staphylococcen, diplobacillus Morax-Axenfeld.  dimargo palpebrae menyebabkan blefaritis ( terutama pada kantus internus dan eksternus sehingga terjadi blefaritis angularis ).  konjungtivitis dapat menimbulkan blephritis /sebaliknya sehingga penyakit ini merupakan penyakit yang kronis, terutama bila daya tahan penderita rendah  Terapi : drug of choice penicilin dan preparat sulfa .  Pada bentuk kronis, konjungtiva mengalami hipertrofi dan terbentuk follikel pada konjungtiva palpebra

KONJUNGTIVITIS PURULENTA 
awal serous / serosanguinis p purulent.  Kausa : kuman yang virulent misalnya gonococc, meningococ, inclusion virus (chlamidia spc).  Neiseria Gonorhoica : - Inokulasi melalui hubungan sex - Kontaminasi: Tak langsung: melalui handuk, saputangan, jari Langsung dari sumber infeksi.  Meningococ : kurang ganas dari GO. Komplikasi : meningo-coccaemia p meningitis.  Karakteristik GO : - Hiperakut. - Masa inkubasi : 48 jam - 5 hari. - Dalam 2 hari palpebra dapat bengkak, disertai khemosis.

Konjungtivitis gonorrhoika 
Kausa : Neiseria gonorrhoeca, inkubasi 3 - 5 hari.  Cepat menjalar ke kornea, dimulai bagian atas karena forniks atas lebih longgar sehingga pus lebih banyak terkumpul dan toksin dari kuman merusak kornea mulai dari lapisan epitel. ( enzim proteolitik merusak dinding sel)  Cepat terjadi ulkus yang dapat perforasi (tanda perforasi : iris prolaps, COA dangkal, TIO turun, bila sembuh akan menyebabkan lekoma adherent),  Bila tak diobati dengan baik, kuman masuk kedalam sehingga terjadi endoftalmitis (bila sembuh sendiri menjadi phtisis bulbi)  Pada bayi-bayi yang baru lahir, konjungtivitis hiperakut ini disebut ophthalmia neonatorum (infantil purulent conjunctivitis)  Terapi untuk GO : Drug of choice = Penicillin 10.000 IU/cc ditetes tiap jam. Diencerkan dari PPA 3 juta/botol(vial)

Konjungtivitis purulenta 
Kausa : Inclusion virus. (Chlamidia trachomatosa)  Disebut juga konjungtivitis inklusi  Membedakan GO dan inclusion virus : Dengan masa inkubasi : (melalui alloanamnesis ) Inclusion virus : 5-10/11 hari. Manifestasi lebih banyak di konjungtiva inferior, sembuh dengan hipertrofi papilair. Gonorrhoe : kurang dari 5 hari. Bila ragu - ragu, obati saja untuk GO.  Bayi yang baru lahir, diberi profilaktik dengan ditetesi nitras argenti 1-2% (metode Crede). Sekarang banyak dipakai solutio protargol 5-10%, atau chloramphenicol tetes mata  Pada GO, biasanya org tuanya menderita urethritis GO. Karena itu jangan lupa periksa dan obati orang tuanya.

INCLUSION CONJUNCTIVITIS 
Manifestasi : -Pada anak : konjungtivitis purulenta -Pada orang dewasa : swimming pool conjunctivitis.  Pada anak-anak : - Bangunan patologis konjungtiva : papillair. - Asal : dari urethritis/endocervicitis non spesifik org tua - Penularan : inokulasi. - Perjalanan penyakit : akut ± hiperakut ( 10 hari 3 mgg ) Kadang-kadang bisa kronis : 3 minggu - 1 tahun. Folikel : 3 bulan tak ada folikel (blm terbtk). " 3 bulan : ada folikel. Mikroskopis : Inclusion body (intrasel mukosa) Banyak PMN terutama yang akut

INCLUSION CONJUNCTIVITIS 
Pada orang dewasa : - Terdapat folikel. - Kausa ( berenang dalam swimming pool ) : Kuman - Chlamydia trachomatosa - Staphylococcus aureus - Pneumococcus - Sekret kemudian menjadi mukopurulent dan purulent. - Dapat menjadi kronis.

KONJUNGTIVITIS MEMBRANOSA 
Membran : bila dikupas akan berdarah oleh karena

konjungtiva mengalami nekrosis. 
Pseudomembran : dapat dilepas dengan mudah. 

Dibedakan 3 bentuk : 1. Membran yang sangat tebal, sangat keruh. Terdapat pada konjungtivitis karena coryne bacterium diphtheriae atau dapat karena streptococcus haemolyticus. Harus diDD dengan : -Erythema multiforme. -Pemphigus. 2. Membran yang sedang, tak begitu tebal 3. Benar-benar pseudomembran: tipis, transparan, mudah dilepas. Misal pada : konjungtivitis vernalis, sangat kronis dan mengalami eksaserbasi pada musim kemarau.

KONJUNGTIVITIS MEMBRANOSA
Konjungtivitis difteri :  Diduga berhubungan dengan diphtheri nasal / nasopharynx. Mulai seperti konjungtivitis kataralis, 2-3 hari kemudian mulai terlihat membran terutama pada konjungtiva palpebrae. Pada konjungtiva bulbi : tak ada, kornea : jarang.  Diagnosa : mikroskopis.  Terapi : A.D.S.10-40.000 IU, tergantung keganasannya. Konjungtivitis karena B streptococcus haemolyticus.  Kausa : -Eksogen : dari luar tubuh. -Endogen : berasal dari fokus infeksi dalam tubuh.  Mencapai konjungtiva melalui jaringan pengikat. Karena itu diambil sedikit epitel konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopis (scraping)  Gejala-gejala : -Eksogen : gambaran seperti difteri tetapi lebih hebat. Sering kornea ikut terkena. -Endogen: kronis sehingga inflamasi tdk sehebat yang eksogen.  Terapi : Antibiotika dan preparat sulfa

KONJUNGTIVITIS FOLIKULARIS 
Terdiri atas : Conjunctivitis follicularis akut Conjunctivitis follicularis kronik  Folikel : hipertrofi adenoid. (Jar. lymfe)  Syarat : harus ada jaringan limfoid.  Bayi kurang dari 3 bulan belum ada jaringan ini.  Pada anak-anak kecil sering membesar sebagai bagian dari pembesaran jaringan limfoid yang umum. Misal pada tonsilitis kronik.  Adanya folikel tanpa diikuti peradangan disebut follikulosis.  Terdapat pada konjungtiva inferior dan forniks.  Bila diikuti peradangan maka disebut konjungtivitis follikularis.

Kerato-conjunctivitis epidemica 
Banyak kasus  Menyebabkan epidemi. Terjadi radang pada konjungtiva dan timbul folikel bisa meluas dan menimbulkan infiltrat di kornea  Disertai pembesaran kelenjar lymfe preaurikuler  Penjalaran terjadi setelah hari ke 3-4 dan menyebabkan keratitis pungtata superfisialis yang mengelompok pada daerah sentral. Akibatnya visus akan sangat menurun.  Mikroskopis : -O.K penyebab virus maka terdapat inclusion body. -Lekosit MN dan giant cell.  Terapi : Broad spectrum antibiotica, preparat sulfa

Konjungtivitis Fliktenularis 
Sinonim : konjungtivitis eksematosa/ skrofulose (kulit babi).  Biasanya diderita oleh anak

15 tahun. 

Terdapat flikten : penonjolan pd konjungtiva bulbi (nasal / temporal), J 5 mm, berisi infiltrasi limfosit berbatas tegas, dikelilingi injeksi konjungtiva lokal disekitarnya.  Kausa: allergi terhadap basil TBC, Koch-Weeks bacil, Cacing perut (dibuktikan dengan test lab)  Lokasi flikten :

-Pada konjungtiva bulbi: konjungtivitis flikten. -Pada limbus kornea : kerato-conjunctivitis phlyctaenularis. -Pada kornea : keratitis flikten. 
Bila kronis residif di kornea, dapat membentuk flikten yang memberi kesan seperti menjalar sehingga disebut Wonder phlyctaen  Bila didapat ke 3 nya : ophthalmia phlyctaenularis

Konjungtivitis Fliktenularis 
Flikten dapat mengalami nekrosis sehingga terbentuk ulkus, terutama pada kornea (jarang perforasi)  Tergantung letaknya : - Superfisial :dapat sembuh sempurna tanpa bekas. - Lebih dalam : sembuh dengan sikatrik. - Ulkus kornea yang berjalan disertai neovaskularisasi di atasnya disebut keratitis fasikulosa. - Pembuluh darahnya disebut : pannus fliktenularis.  Mikroskopis : Banyak sekali eosinophyl dan limfosit  Pada flikten belum tentu bisa didapatkan kumankuman sebab mungkin kausanya allergi.  Terapi : -Kausal. -Simptomatis : antihistamin

Konjungtivitis Fliktenularis

Konjungtivitis Fliktenularis

Konjungtivitis follikularis kronik 
Perjalanan penyakit : kronis.  Gejala inflamasi ringan, sekret hampir tak ada/sedikit (mukous).  Kausa : tak diketahui. Mungkin disebabkan karena virus.  Faktor risiko : -Kebersihan kurang,rumah yang berjejal, banyak asap/debu. -Refraksi anomali yang tak dikoreksi. -Memang pembawaan mudah diserang.  Gambaran klinis : sukar dibedakan dengan follikulosis. -Bisa pd konjungtiva palpebrae superior / inferior. -Tak ada komplikasi pada kornea. -Tak ada limfadenopati regional.  Terapi : anti radang dan/atau simptomatis

KONJUNGTIVITIS VERNALIS 
Biasanya terdapat pada anak-anak.  Kadang-kadang terdapat pd dewasa muda ( 30 th).  Merupakan penyakit allergi, timbul terutama pada musim

panas (kemarau).  Sebabnya : - Mungkin karena udara yang panas, banyak debu / kuman - Yang pasti belum diketahui.  Karakteristik : - Hipertrofi papil berbentuk seperti coble stone pavement ( susunan batu kali) - Hipertrofi jaringan ikat pada stratum papillare p degenerasi hyalin abu-abu/ biru keputihan. - Kambuh pada musim panas, hilang pada musim hujan

KONJUNGTIVITIS VERNALIS
1. Type palpebra/tarsal : gambaran coble stone. 2. Type bulbair/limbal : hipertrofi papil pd limbus. Ada yang mengatakan terjadi gelatinous degenerasi. Pada limbus melingkar menutupi limbus kornea. Juga dapat menjalar ke cornea, terjadi keratitis pungtata lalu menjalar ke subepithelial sehingga disebut keratitis sub epithelial dari Tuan Tobgy.  Kausa : allergi. Diduga terhadap serbuk-serbuk bunga yang ada di musim panas.  Terapi : - Antihistamin -Antiphlogistik . - Kauterisasi -Radiasi - Operasi sampai di tarsus (eksisi) 
Ada 2 type :

Konjungtivitis follikularis toksika / alergika 
Terutama pada anak-anak kecil karena peka

terhadap suatu toksin.  Kausa : - Toksin mikroorganisme (coccen/ moraxaxenfeld). - Obat-obatan : pilocarpin, eserin, miotikum - Sulfas atropin: dermatitis allergi pada kulit palpebra.  Dapat dicoba dengan patch test pada palpebra.  Keluhan : ada rasa gatal.

KONJUNGCTIVITIS VERNALIS 
Type Palpebra

TRAKHOMA 
Penyebabnya adalah : Chlamydia Trachomatosa (Virus)  Penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia stl GO dan defisiensi vit A.  Terutama terdapat di dataran rendah dengan hawa lembab misal di daerah pantai.  Pada keadaan kering, virus akan mati.  Banyak di Mesir dan Arab sehingga disebut Egyptian conjunctivitis.  Karakteristik : kronis eksaserbasi, inflamasi ringan, gejala yang menyolok gatal dan ngeres (seperti klilipen).  Sekret : mukous p muko-purulen.

TRAKHOMA 
-Dapat menyerang semua umur.

-Penularan : Melalui sekret pada std I. Vektor : jari, handuk, tangan yang basah.  Predisposisi : -Gizi yang kurang baik. -Keadaan hygiene yang jelek.  Terapi : -Meningkatkan kebersihan. -Memperbaiki gizi. -Obat-obatan : preparat sulfa. -Antibiotika broad spectrum

TRAKHOMA 
Perjalanan penyakit : ada 4 stadium

-Stadium I -Stadium II -Stadium III -Stadium IV

TRAKHOMA
Stadium I 
Peradangan konjungtiva yang sukar

dibedakan dengan konjungtivitis yang lain. Kemudian timbul bangunan patologis benjolan kecil konjungtiva tarsalis, puncak mendatar (granula). Kadang-kadang terdapat pada forniks. Di sini ia lebih bebas bergerak dan tekanan dari sekitarnya tak besar sehingga bentuknya lebih besar, menonjol dan bulat. Ini disebut avisiones. 

Terdiri dari infiltrat limfosit dan makrofag.

TRAKHOMA
Stadium II  Penyakit yang ditandai granula trakhoma : para trakchoma. Pada trakhoma atas harus ada granula pd konj fornik nasal atas dan folikel berbentuk polimorph.  Kronis, berbulan-bulan atau bertahun-tahun p irritasi kronis pada konjungtiva p hipertrofi papiler, follikel berbagai ukuran (polimorph) p akhir std II mulai timbul keratitis trakhomatosa, akibat gesekan kronis follikel polimorph pada kornea.  Keratitis trakhomatosa: infiltrat (pungtata) pd marginal atas, tersusun membentuk bulan sabit, konkaf ke bawah dan superfisial. Akibat iritasi kronis folikel p neovaskularisasi disebut pannus trakhomatosa.  Kadang-kadang terjadi ulkus yang superfisial dan tidak mendalam.

Trachoma

Stadium II

TRAKHOMA
Stadium III  Folikel polimorph mulai masak (seperti bisul) ppecah.  Bila infiltrasi folikel melewati membrana basalis p sikatrik. Harus dibedakan sikatrik karena trakhoma dan karena sebab lain ( trauma mekanis, kimia, bekas operasi dll.).  Pada trakhoma di palpebra superior subtarsalis terdapat sikatrik berderet dan bersambung-sambung seperti pita akibat banyaknya granula yang pecah p bersatu dan konjungtiva menebal.  Sikatrik yang telah lama dan tebal p retraksi sehingga fornik konjungtiva dangkal, bulu mata tertarik mengarah kedalam timbul enteropion dan trikhiasis.

Trakhoma Stadium III

TRAKHOMA
Stadium IV 
Disebut metatrakhoma.  Entropion p waktu berkedip bulu mata menggosok kornea p

timbul keratitis p sikatrik kornea yang tebal dan menyeluruh (lekoma total p Visus 1/~).  Rangsang kronis bulu mata p pannus yg kasar (disebut pannus crassus).  Selain itu retraksi p jalan air mata dari kelenjar lakrima di daerah forniks superior tersumbat p walau produksi air mata tetap, tetapi bola mata menjadi kering p keratinisasi dan deskuamasi (xerosis) p debu dan kotoran lain terkumpul sehingga menghancurkan permukaan depan bola mata p keratomalasia dan kebutaan.  Jadi yang menentukan stadium-stadium trakhoma ialah bentukanbentukan patologis pada konjungtiva superior

Trakhoma Stadium IV

Peny sistemik dng manifestasi di konjungtiva
1.Leptotrikhosis 2.Tuberkulosis 3.Sifilis 4.Lmphogranulomae venereum 5.Tularaemia 6.Parinaud oculoglandular follicularis

1.Leptotrikhosis 
Ada hipertrofi papiler  Banyak infiltrat berupa lesi fokal disertai nekrosis  

  

warna abu-abu (titik-titik nekrosis) pd konjungtiva palpebrae konjungtiva dan bulbi yg tak pernah mencapai superfisial (jadi tak ada ulkus). Mikroskopis : Dengan pengecatan gram terlihat jamur berupa filamen yang tak bercabang-cabang, biru dan dikelilingi oleh sel - sel limfoid dan sel plasma Anamnesis : sering tidur bersama kucing (di mulut kucing banyak leptothrix). Pembesaran gld preaurikularis yang besar sekali dan tak pernah ada perforasi. Sering disertai febris. Terapi : Terhadap fungus : tak ada terapi lokal pada mata untuk fungus sehingga terapinya sukar. Dapat dicoba Amfoterisin B

2.Tuberkulosis 
Asal : mungkin eksogen/endogen.  

  

-Eksogen : misal jari yang kena basil tuberkel -Endogen : fokal infeksi pada suatu tempat. Klinis : Terdapat nodula pada konjungtiva, warna abuabu, p terbentuk ulkus. Gejala-gejala hebat (bengkak pada konjungtiva). Limfadenopati yang besar dan dapat pecah ( ada pustulasi ). Dapat menyebabkan kebutaan. Terapi : Obat-obat anti tuberkulosis.

3.Sifilis 
Jarang didapatkan.  Stadium I :

- Ulkus durum : sering tak terdiagnosa oleh dokter - Terdapat limfadenopati preaurikuler - Terapi : mudah dan cepat (bila diagnosis tepat) Bila tidak diobati, ulkus dapat hilang tetapi penyakit berjalan terus  Sifat ulkus : -Besar. -Tepi meninggi. -Dasar : abu-abu kotor, permukaan kasar.  Stadium II : -Lesi/bercak putih agak meninggi, basah (intertriginasi) dikelilingi daerah hyperaemie.  Stadium III : - Granuloma pada limbus kornea. -Pecah : menimbulkan ulkus yang indolen. -Limfadenopati regional sampai di servikal.

4. Limfogranuloma Venerum
-Kausa : Virus. -Sifat : bendungan aliran limfe p elefantiasis konjungtiva.

5.Tularaemia 
   

Kausa : pasteurilla tularensis. Vektor : rhodentia,kadang-kadang bisa oleh lalat. Terberat dari semua lymhadenopathie. MI sangat pendek ( 4 hr sp beberp minggu tergantung KU pasien ) Gejala-gejala : - Hebat, palpebra bengkak - Sekret hebat sampai sifatnya semi-membraneus. - Terdapat limfogranuloma dimana-mana misal pada konjungtiva, kornea dan terbentuk ulkus. - Penderita demam, menggigil, sakit kepala, muntah. - Limfhadenopati disertai suppurasi yang kronis, sampai berbulan-bulan tak sembuh. - Dapat terjadi sepsis yang mengancam jiwa penderita. - Penyebaran cepat.

6. Okuloglandular folikularis Parinaud 
1989 Tn.Parinaud menemukan suatu penyakit engan gejala- 

   

gejala : - Limfogranuloma. - Nodular infiltrat limfoid. - Febris. - Adenopathie. Konjungtivitis unilateral. Diduga terjadi melalui binatang (kucing) Kausa : hampir semua kuman yang bisa menyebabkan granuloma dapat menimbulkan sindroma ini Misalnya: tuberkulosis, sifilis, limfogranuloma venereum, tularaemie, jamur ( terbanyak ialah leptotrikhosis). Gambaran klinis : MI : 3 - 7 hari, terjadi peradangan konjungtiva dengan limfadenopati preaurikuler

PENYAKIT KONJUNGTIVA YANG MERUPAKAN PENJALARAN PENYAKIT KULIT
1. ACNE ROSACEA - Biasa berupa tanda akne di pipi, merah. - Kausa : kelainan hormonal/gangguan tr digestivus. - Konjungtivitis yang berpapil dan dapat menjadi ulkus. Kornea berupa infiltrat pungtata, numularis, dapat terjadi ulkus. Kadang-kadang disertai pannus = pannus rosacea. -Terapi : -Hormonal. -Diet : kurangi lemak dan karbohydrat. -Menghindari zat-zat yang menyebabkan vasodilatasi (alkohol, kopi, teh dll.) -Banyak vitamin dan sayur-sayuran. -Prognosis : dubia

PENYAKIT KONJUNGTIVA YANG MERUPAKAN PENJALARAN PENYAKIT KULIT
2. PEMFIGUS Terjadi konjungtivitis kronis dengan banyak bulla, pecah, maserasi, terjadi sikatrik, retraksi, terjadi ektropion. Paling banyak di konjungtiva palpebra inferior. -Darah : eosinofil. -Tak berbentuk follikel seperti pada trakhoma, kalau timbul pannus : bisa mulai dari mana saja. -Prognosis jelek : Biasanya fatal. Kalau hidup : buta / visus1/ b 3. ERITEMA MULTIFORME Menyebabkan konjungtivitis katarralis, purulenta dan ulkus kornea. Juga mungkin terjadi konjungtivitis semi membranosa sehingga konjungtiva hancur sama sekali. Kadang-kadang terjadi simbklefaron / ankiloblefaron - Kausa : idiosinkrasi terhadap obat. (Steven Johnson Syndrom) -Terapi : Antidotum obat tersebut, Antiflogistik, Antihistamin. 4. DERMATITIS HERPETIFORMIS Dapat disebabkan oleh herpes simplek atau herpes zoster

TUMOR-TUMOR KONJUNGTIVA
BENIGNA:  Granuloma, terbanyak karena pecahnya khalasion.  Fibroma : -Bisa pedunculated (bertangkai) dan disebut Polip. -Letak : pada forniks konjungtiva. -Terapi : ekstirpasi.  Angioma :  Naevus.  Lipoma.  Liymfoma.  Kista, terbanyak : dermoid cyste. MALIGNA:  Carcinoma plano cornificans. (paling banyak ditemukan) Letak : paling sering pada perbatasan epitel konjungtiva (transitional) ke kornea (squameus complex). Bisa meluas ke kedua belah pihak.  Melanoma : - Dari luar (kulit) - Dari dalam bola mata (Uvea).

Kornea 
Merupakan lanjutan dari sklera, ikut membentuk bola mata  Merupakan bagian dari media refrakta (diperiksa dgn fundus reflek)  Bersifat transparan dan avaskuler

Kornea 
Diinervasi oleh N V (Trigeminus),

merupakan organ yang paling banyak mempunyai serabut syaraf sensibel terutama bagian sentralnya sehingga sentuhan sedikit pada kornea akan dirasakan sangat sakit.  Kornea memiliki 5 lapisan yaitu :
Epitel Membrana Bowman Stroma Membrana Descemeth Endothel

Kelainan Kornea 
Megalokornea 

Keratokonus

Kornea
Kekeruhan kornea dapat disebabkan oleh : Infiltrat (mis pada keratitis) Sikatrik kornea Nebula, makula, leukoma Pembuluh darah baru di kornea disebut Pannus. Disebabkan oleh radang kronis di kornea dimana kornea berusaha menyembuhkan sendiri dengan membentuk pembuluh darah baru untuk membawa nutrisi dan bhn pertahanan tubuh.

Kekeruhan kornea 

Keratitis Disciformis

Kekeruhan kornea 

Keratitis Pungtata superfisialis

Kekeruhan kornea 

Keratitis geografika

Kekeruhan kornea 

Trakhoma stadium IV
Lekoma total + Panus crasuss

Kekeruhan kornea 

Leukoma

Kekeruhan kornea 

Edema kornea

§

Pannus

Transplantasi kornea

Pemeriksaan Kornea 
Dengan Keratoskop dari Placido.  Keratoskop Placido berupa kepingan dengan gambaran lingkaran-lingkaran yang konsentris dan lubang ditengahnya, untuk memeriksa permukaan kornea.  Cara pemeriksaan : pemeriksa menghadap jendela pasien membelakangi jendela. Pemeriksa akan melihat refleksi dari garisgaris konsentris pada kornea melalui lubang. Supaya lebih jelas, dimuka lubang ditambah lensa positif misal + 20 D.  Gambaran keratoskop yang normal :

Licin dan mengkilat. Lingkaran-lingkaran bulat, konsentris dan kontinyu. 

Kelainan-kelainan yang dapat dijumpai : Lingkaran kontinyu tetapi ada bagian yang tidak mengkilat (kabur) ; mrintis (bergerigi). Ini tanda edema kornea. Lingkaran tidak kontinyu : defek epitel kornea; misal pada ulkus kornea, erosio, vulnus, fistula kornea. Lingkaran mengkilat, kontinyu, konsentris tetapi berkelok-kelok : ada sikatrik pada kornea Lingkaran mengkilat, kontinyu, oval dan tidak konsentris : astigmatisme.

Pemeriksaan Kornea
Dengan fluorescein test. 
Tujuan : untuk mengetahui adanya defek pada kornea  Kornea ditetesi larutan fluorescein 2 %, lalu diencerkan dengan air (NaCl), maka bagian yang ada defek akan berwarna hijau = Fluorescein test + . Pada pemeriksaan fistula kornea, tak usah diencerkan dengan air sebab larutan akan dicairkan oleh cairan yang keluar dari fistula sehingga akan keluar seperti air terjun (mengalir kebawah dan berfluorescein).

Pemeriksaan Kornea 
Dengan focal illumination
Untuk memeriksa kejernihan kornea, menggunakan sinar lampu yang difokuskan dengan lensa 20 Dioptri Kornea diamati dengan kaca pembesar

Radang kornea disebut keratitis Apabila disertai dengan jaringan nekrosis disebut ulkus kornea

Keratitis
Perlu pemeriksaan :
Subjektif : anamnesa Objektif : dengan Focal ilumination Keratoskop placido Tes flouresin

Keratitis denritika ¨

Keratitis 
Pemeriksaan subjektif (anamnesis),

mengidentifikasi keluhan penderita :
Mata merah Penglihatan kabur Nrocos (keluar air) Silau (photophobia) Ganjel / sensasi benda asing

Keratitis 

Pemeriksaan objektif :  Injeksi silier  Infiltrat kornea Tentukan letak dan bentuknya 1. Bidang sagital : superfisial, profunda 2. Bidang frontal : 1. perifer (marginal) 2. parasentral 3. sentral 3. Sesuai jarum jam Tentukan ukuran, jumlah

Keratitis 
Bentuk infiltrat :
Pungtata Numularis Vesikulosa Laminaris

Geografika Disciformis Dendritika

Pembagian Keratitis 
Keratitis superfisialis
Keratitis pungtata superfisialis Kerato conjunctivitis epidemica Keratitis sicca Keratitis neuroparalitika Keratitis et lagoftalmus Keratitis fliktenularis Keratitis trakhomatosa Keratitis herpetiformis Keratitis rosacea Keratitis bullosa 

Keratitis Profunda
Keratitis parenkimatosa Keratitis disciformis

KERATITIS PUNGTATA SUPERFISIALIS 
Penyebab adenovirus  Bentuk infiltrat pungtata, flourescein positif  Letak superfisial, biasanya sentral atau parasentral  Biasanya dimulai dari perifer karena merupakan lanjutan dari konjungtivitis kataralis  Injeksi silier positif  Tanda-tanda umum keratitis

Kerato conjunctivitis epidemica 

Disertai pembesaran kel. limfe preaurikuler

Keratitis sicca 
Disebabkan produksi air mata yang kurang, dapat

karena :
Trakhoma Simblefaron karena: ‚ Steven Johnson Syndrom ‚ Trauma kimia

Keratitis neuroparalitika
Karena paralisis N.V Akibatnya sensibilitas kornea menurun, daya tahan terhadap penyakit menurun karena bila ada kerusakan kornea tidak terasa. Pemeriksaan dengan tes reflek kornea / sensibilitas kornea (kornea disentuh dengan ujung kapas, normal akan berkedip. Bila tak berkedip Œsensibilitas ‚.)

Keratitis et lagoftalmus 
Karena lagoftalmus shg kornea bag. bawah

waktu tidur tidak tertutup palpebra. Akibatnya kornea menjadi kering dan epitel mudah terkelupas, shg kuman akan menempel dan berkembang biak

KERATITIS FLIKTENULARIS 
Lokasi flikten :

- limbus : keratokonjungtivitis
fliktenularis. - Kornea : keratitis fliktenularis. 
Bila kronis residif di kornea, dapat membentuk flikten yang memberi kesan seperti menjalar sehingga disebut Wonder phlyctaen  Bila didapat ke 3 nya : ophthalmia phlyctaenularis

Keratitis trakhomatosa 
Ditemukan pada trakhoma stadium II

Ciri : Letak infiltrat kornea diatas, berbentuk bulan sabit Bentuk infiltrat pungtata  Proses terjadinya : Karena gesekan dari folikel yang kasar (folikel polimorph), pada konjungtiva tarsus palpebra superior

Keratitis trakhomatosa 
Trakhoma stadium II
Letak infiltrat cornea diatas, berbentuk bulan sabit Bentuk infiltrat punctata 

Trakhoma stadium III
(Cicatrix palpebra) 

Trachoma stadium IV
(lekoma total+pannus crassus)

KERATITIS HERPETIFORMIS 

Bentuk infiltrat Herpes simpleks : Vesikulosa Bentuk paling awal (vesikel kecil) Sering sulit ditemukan Laminaris Bentuk seperti benang, gabungan vesikel yang berderet. Denritika Bentuk laminaris bercabang Geografika Bentuk vesikel bergerombol Disiformis

Keratitis rosasea 
Ada hubungan dengan

akne rosasea

Ulkus Kornea 
Radang pada kornea disertai dengan jaringan nekrosis

ULKUS KORNEA CUM HIPOPION 
Radang pada kornea disertai dengan jaringan nekrosis  Bisa disertai dengan terkumpulnya nanah di COA,

karena toksin dari kuman menembus ke COA dengan cara difusi, kemudian mengiritasi iris sehingga terjadi iritis, eksudasi ke COA mengendap sebagai hipopion.

Sikatrik kornea 

Penyembuhan luka pada kornea, baik akibat radang , maupun trauma. Ada 3 jenis sikatrik kornea :
1. Nebula 2. Makula 3. Lekoma

Sikatrik kornea 
Nebula
Penyembuhan akibat keratitis superfisialis. Kerusakan kornea pada membrana Bowman sampai 1/3 stroma Pada pemeriksaan terlihat seperti kabut di kornea, hanya dapat dilihat di kamar gelap dengan focal ilumination dan bantuan kaca pembesar

Sikatrik kornea 
Makula Penyembuhan akibat ulkus kornea. Kerusakan kornea pada 1/3 stroma sampai 2/3 ketebalan stroma Pada pemeriksaan terlihat putih di kornea, dapat dilihat di kamar dengan focal ilumination / batere tanpa bantuan kaca pembesar

Sikatrik kornea 
Leukoma
Penyembuhan akibat ulkus kornea Kerusakan kornea lebih dari 2/3 ketebalan stroma. Kornea tampak putih, dari jauh sudah kelihatan. Apabila ulkus kornea sampai tembus ke endotel, akan terjadi perforasi, dengan tanda ‚ Iris prolaps, COA dangkal, TIO menurun. ‚ Sembuh menjadi lekoma adheren (lekoma disertai sinekhia anterior)

LEKOMA ADHEREN

PENYAKIT KONJUNGTIVA YANG MERUPAKAN PENJALARAN PENYAKIT KULIT
1. ACNE ROSACEA - Biasa berupa tanda akne di pipi, merah. - Kausa : kelainan hormonal/gangguan tr digestivus. - Konjungtivitis yang berpapil dan dapat menjadi ulkus. Kornea berupa infiltrat pungtata, numularis, dapat terjadi ulkus. Kadang-kadang disertai pannus = pannus rosacea. -Terapi : -Hormonal. -Diet : kurangi lemak dan karbohydrat. -Menghindari zat-zat yang menyebabkan vasodilatasi (alkohol, kopi, teh dll.) -Banyak vitamin dan sayur-sayuran. -Prognosis : dubia

OBAT MATA
BENTUK SEDIAAN CARA PEMBERIAN

Kenapa Bentuk Sediaan & Cara Pemberian Obat berbeda-beda ???

Bentuk Sediaan & Cara Pemberian secara umum tergantung dari :

- Keadaan Pasien - Farmakokinetik Obat

Farmakokinetik obat meliputi :
Absorbsi : Proses penyerapan obat dari tempat pemberian ke dalam sirkulasi sistemik tubuh (darah) Distribusi : Proses pengangkutan obat dari sirkulasi sistemik ke jaringan-jaringan tubuh Metabolisme/biotransformasi : proses perubahan kimiawai obat dalam tubuh supaya obat bisa dikeluarkan dari tubuh Ekskresi : proses pengeluaran obat dari tubuh

Beberapa Bentuk Sediaan Obat : Tablet, Kaplet, Kapsul Tetes Sirup Salep Suppositoria Suntikan Inhalasi dll

Cara Pemberian Obat :
1. Per oral
Cara pemberian yang paling umum Banyak timbul masalah : terutama hal absorbsi dan adanya first pass metabolism

4.Topical / Permukaan epitel (Perkutan, tetes mata, tetes telinga, dll) Absorbsi sukar Dipakai untuk pengobatan local

6. Suntikan (im, iv, sc, ic, intra arterial, intra peritoneal dan intratekal)

Cara Pemberian Khusus untuk Mata : Periokuler Intracameral Intravitreal

OBAT-OBAT YANG BANYAK DI PAKAI DI BIDANG MATA :

Obat Anestesi Lokal Obat Glaucoma Mydriatics & Cycloplegics Anti Infeksi Hyperosmotic Agents dll.

Obat Anestesi Lokal

Farmakokinetik
Absorbsi dipengaruhi tempat penyuntikan ikatan obat jaringan vasokonstriktor Fungsi Vasokonstriktor memperlama efek anestetik lokal, mengurangi perdarahan dan menghindari efek samping sistemik Metabolisme : - golongan ester kolinesterase - golongan amid enzim mikrosom hati Kecepatan metabolisme bervariasi prilokain > mepivakain > bupivakain Selain berpengaruh local, anestetik local berpengaruh thp : * SSP gelisah, kejang, tremor dan kejang * Ganglion * Sambungan saraf otot menyebabkan turunnya respon otot thp rangsang * Dan semua jenis serabut otot pd otot polos tjd spasmolitik

PEMBAGIAN ANESTETIK LOKAL A. GOLONGAN ESTER - Kokain - Prokain - Tetrakain - Benzokain B. Golongan Amid - Lidokain - Dibukain - Mepivakain - Bupivakain

MEKANISME KERJA Obat anestesi menurunkan permeabilitas membran sel thd ion Na + membran stabil hantaran (konduksi) impuls saraf terhambat mencegah potensial aksi Dari keseluruhan proses menyebabkan hilangnya rasa sakit

SIFAT ANESTETIK LOKAL YANG IDEAL Tidak iritatif Kerusakan saraf tidak permanen (reversible) Batas keamanan (therapeutic index) lebar Mempunyai potensi yang tinggi Efek toksis yang bisa diterima Onset cepat Durasi cukup Mudah larut Stabil, baik pada penyimpanan maupun sterilisasi

Cara Pemberian Anestetil Lokal pada Mata ada 2 cara : Injeksi & Topical

Injeksi : 

Facial Nerve Block Retrobulbar / Peribulbar anesthesia dll

Topical : 

Gonioscopy Tonometry Evaluasi abrasi kornea Electroretinography Minor Surgery of Conjunctiva Contact Lens Fitting Suture removal Debridemen kornea dll

OBAT GLAUCOMA

Pembagian Glaukoma
Terkait dengan Tata Laksana, Glukoma dibagi 2 macam : Glaukoma Sudut Tertutup (Glaukoma Akut) Glaukoma Sudut Terbuka (Glaukoma Kronik

Tata Laksana
Glaukoma Akut adalah surgical problem (masalah pembedahan), artinya glaukoma akut terapi definifnya adalah pembedahan, meskipun sebelumnya harus didahului pemberian obatobatan sebelum dilakukan pembedahan Glaukoma Kronik adalah medical problem (masalah obat), artinya terapi utamanya adalah obat-obatan, meskipun tidak menutup kemungkinan perlunya tindakan pembedahan.

Mekanisme kerja Obat Glaukoma secara garis besar lewat 2 cara : Mengurangi produksi akuos humor Meningkatkan outflow akuos humor

Kelompok Obat Glaukoma yang sering dipakai :

1. Epinephrines :Epinephrine, Dipivefrin 2. Alpha-2 Adrenergic Agonist : Apraclonidine, Brimonidine 3. Beta Adrenergic Blocking Agents : Betaxolol, Timolol 4. Direct ±Acting Miotics : Carbachol, Pilocarpin 5. Cholinesterase Inhibitor Miotics : Physostigmin, Demecarium 6. Carbonic Anhidrase Inhibitors : Acetazolamide, Brinzolamid 7. Hyperosmotic Agens : Glyserin, Mannitol 8. Prostaglandins & Prostamides : Latanopros, Bimatopros Untuk mengurangi rasa sakit, bisa diberi obat2 analgesik

CONTOH OBAT YANG BEKERJA PADA RESEPTOR
Reseptor Aksi agonist alamiah Agonist Antagonist

Reseptor Adrenergik : Type 1 vasokontriksi Type 2 hipotensi akuos humor turun Type 1 denyut jantung akuos humor naik Type 2 bronkodilat, vasodilat Reseptor Kolinergik : Muskarinik

------klonidin dopamine salbutamol,terbulatin

prazosin ---------propanolol,atenolol ----------

Nikotinik Reseptor Histamin Tipe H 1 Tipe H 2

denyut jantung turun pupil miotik motilitas usus naik sekresi kelenjar naik tonus singgter naik kontraksi otot lurik

pilocarpin, neostigmin

atropine

-------

tubokurare

bronkokontrik, vasodilat sekresi asam lambung

-----------

anti histamin cimetidin,ranitidine

Midriatics & Cycloplegics

Phenilephrine HCl Atropin Homotropin Scopolamin Cyclopentolat dll

Anti Infective Agents

Ada 3 : Antibiotic Antifungal Antiviral

Antibiotic :
1. Aminoglikosida (Gentamisin, Neomicin, Amikasin) 2. Kuinolon (Ciprofloksasin, Ofloksasin, Norfloksasin) 3. Sulfonamid (Sulafametoksazol, Sulfacetamid, Sulfisokzasol) 4. Penicilin (Ampicilin, Amoksisilin, Oksacilin) 5. Cepalosporin (Cefotaksim, Cefuroksim, Ceftazimin) 6. Lain-lain (Polimiksin, Kloramfenicol, Eritromisin, Vancomisin dll)

Antifungal :
Natamycin Miconazole IV Amphotericine B

Antiviral :
Cidofovir Formivirsen Sodium Foscarnet Sodium Ganciclovir Sodium Trifluridine Vidarabine

Hyperosmotic Agents :

Gliserin Isosorbid Manitol Urea

Retinoblastoma 
Tumor di retina  Sering pada anak anak  Merupakan tumor ganas  Bisa mengenai satu atau kedua mata  Gejala
Leukokoria Cat eyes

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->