Anda di halaman 1dari 14

A good method of teaching is one of the factors to increase the quality of the learning

process. To realize it, cooperative learning model is considered to be one of the effective
methods in learning process. What is cooperative learning? Cooperative learning is a learning
model that focuses on the groups. The learners, with different characteristics, abilities, and
backgrounds, are divided into groups. Such a learning model gives priority to the cooperation
between groups in solving the problem and in applying the knowledge in order to reach the
learning objectives. Several types of cooperative learning are Jigsaw, NHT, STAD, TAI,
Think-Pair-Share, Picture and Picture, Problem Solving, Problem Posing, TGT, CIRC, and
Cooperative Script.

A. PENDAHULUAN
Menurut UNESCO, pembelajaran yang efektif pada abad ini harus diorientasikan pada empat
pilar yaitu, (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live
together. Keempatnya dapat diuraikan bahwa dalam proses pendidikan melalui berbagai
kegiatan pembelajaran peserta didik diarahkan untuk memperoleh pengetahuan tentang
sesuatu, menerapkan atau mengaplikasikan apa yang diketahuinya tersebut guna menjadikan
dirinya sebagai seseorang yang lebih baik dalam kehidupan sosial bersama orang lain.
Lebih lanjut, dalam rangka merealisasikan ‘learning to know’, guru memiliki berbagai fungsi
yang di antaranya adalah sebagai fasilitator, yaitu sebagai teman sejawat dalam berdialog dan
berdiskusi dengan siswa guna mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu
tertentu. Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah
memfasilitasi siswa untuk mengaplikasikan keterampilan yang dimilikinya sehingga dapat
berkembang dan dapat mendukung keberhasilan siswa nantinya.
Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat,
perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi
anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas
untuk berkreasi. Sebaliknya, bagi anak yang pasif peran guru pengarah dan fasilitator sangat
dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya dalam kegiatan belajar dan
pengembangan diri. Selanjutnya, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka,
memberi dan menerima perlu ditumbuhkembangkan termasuk dalam proses belajar mengajar
di sekolah. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses ‘learning to live together’
(belajar untuk menjalani kehidupan bersama).
Dalam pelaksanaannya, tujuan belajar yang utama ialah bahwa apa yang dipelajari itu
berguna di kemudian hari, yakni membantu kita untuk dapat belajar terus dengan cara yang
lebih mudah, sehingga tercapai proses pembelajaran seumur hidup (long life education).
Untuk mewujudkan hal ini, sangat dibutuhkan kerjasama antara berbagai pihak, terutama
antara peserta didik atau siswa dengan pendidik atau guru. Peran guru sebagai pendidik
sangat penting; oleh karena itulah, guru dituntut dapat menerapkan berbagai metode yang
efektif dan menarik bagi siswa dalam proses penyampaian materi pembelajaran. Salah satu
model pembelajaran yang aktif dan interaktif adalah model pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) karena melibatkan seluruh peserta didik dalam bentuk kelompok-
kelompok. Ada sejumlah hal yang harus dipahami oleh pendidik atau guru sebelum
mengaplikasikan metode ini dalam proses pembelajaran di kelas.

B. PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF


Menurut Zaini model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi
mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman itu memuat
tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan
pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa selama belajar.
Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran, diharapkan
adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah
berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan
discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari
subject centered ke learner centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa.
Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali bagi guru. Apakah model
pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model
pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam
kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah).
Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan
permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai
tujuan pembelajaran .
Holubec dalam Nurhadi mengemukakan belajar kooperatif merupakan pendekatan
pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan
kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran
yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan
silih asuh. Sementara itu, Bruner dalam Siberman menjelaskan bahwa belajar secara bersama
merupakan kebutuhan manusia yang mendasar untuk merespons manusia lain dalam
mencapai suatu tujuan.
Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas,
struktur tujuan, dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur
penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur
tujuan, dan struktur penghargaan pada model pembelajaran yang lain. Dalam proses
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama
pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah
hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari
temannya, serta berkembangnya keterampilan sosial.
C. PRINSIP DASAR DAN KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF
Menurut Johnson & Johnson , prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif adalah
sebagai berikut:
– setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan
dalam kelompoknya.
– setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok
mempunyai tujuan yang sama.
– setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di
antara anggota kelompoknya.
– setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
– setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan
untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
– setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah:
– siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi
dasar yang akan dicapai.
– Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik
tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
– Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu.
Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar
siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan
pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar,
saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Terdapat 6 (enam)
langkah model pembelajaran kooperatif:
– Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
– Menyajikan informasi
– Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
– Membimbing kelompok belajar
– Evaluasi dan pemberian umpan balik
– Memberikan penghargaan
Keunggulan dari model pembelajaran kooperatif adalah (1) membantu siswa belajar berpikir
berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam
praktik berpikir, (2) membantu siswa mengevaluasi logika dan bukti-bukti bagi posisi dirinya
atau posisi yang lain, (3) memberikan kesempatan pada siswa untuk memformulasikan
penerapan suatu prinsip, (4) membantu siswa mengenali adanya suatu masalah dan
memformulasikannya dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari bacaan atau
ceramah, (5) menggunakan bahan-bahan dari anggota lain dalam kelompoknya, dan (6)
mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik.

D. TIPE-TIPE MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN TEKNIK APLIKASINYA


Beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara
lain Slavin adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk.
Langkah-langkah mengaplikasikan tipe Jigsaw dalam proses pembelajaran adalah sebagai
berikut:
a. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri
dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi,
sedang, dan rendah serta jika mungkin anggota berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda
tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah
anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang
akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe
Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran
tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam
kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta
menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok
asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji).
Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang dicapai sesuai
dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40
siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang
terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal
memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli dan setiap siswa
menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru
memfasilitasi diskusi kelompok baik yang dilakukan oleh kelompok ahli maupun kelompok
asal.
b. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya
dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu
kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat
menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
c. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
d. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya
(terkini).
e. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
f. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan tipe Jigsaw untuk belajar materi baru, perlu
dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai.

2. Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Heads Together)


Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993). Pada
umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman
pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan tipe NHT:
a. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai
kompetensi dasar yang akan dicapai.
b. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau
skor awal.
c. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa,
setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
d. Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
e. Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor (nama) anggota
kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan
wakil jawaban dari kelompok.
f. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada akhir pembelajaran.
g. Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual.
h. Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya
(terkini).

3. Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)


Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk.
Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD:
a. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai
kompetensi dasar yang akan dicapai.
b. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh
skor awal.
c. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan
kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin anggota
kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan
jender.
d. Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai
kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk penguatan
pemahaman materi.
e. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
f. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
g. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil
belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

4. Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team


Accelerated Instruction)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan
keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran idnidvidual. Tipe ini dirancang untuk
mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu, kegiatan
pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI
ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan
oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan
saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas
keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut:
a. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara
individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
b. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau
skor awal.
c. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan
tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota
kelompok terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan
jender.
d. Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi
kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
e. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
f. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
g. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil
belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
Tipe-tipe pembelajaran kooperatif yang telah diuraikan di atas merupakan tipe-tipe yang
paling sering digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Terdapat tipe-tipe pembelajaran
kooperatif yang lain, yaitu:
– Model Pembelajaran Kooperatif: Think-Pair-Share
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share merupakan salah satu model
pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi
perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Think-Pair-Share
memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih
banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Dari cara seperti ini
diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan, dan saling tergantung pada
kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
– Model Pembelajaran Kooperatif : Picture and Picture
Sesuai dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran
yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga
pembelajaran menjadi bermakna.
– Model Pembelajaran Kooperatif : Problem Posing
Tipe pembelajaran kooperatif problem posing merupakan pendekatan pembelajaran yang
diadaptasikan dengan kemampuan siswa, dan dalam proses pembelajarannya difokuskan pada
membangun struktur kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan
kreatif. Proses berpikir demikian dilakukan siswa dengan cara mengingatkan skemata yang
dimilikinya dengan mempergunakannya dalam merumuskan pertanyaan. Dengan pendekatan
problem posing siswa dapat pengalaman langsung dalam membentuk pertanyaan sendiri.
– Model Pembelajaran Kooperatif : Problem Solving
Problem solving (pembelajaran berbasis masalah) merupakan pendekatan pembelajaran yang
menggiring siswa untuk dapat menyelesaikan masalah (problem). Masalah dapat diperoleh
dari guru atau dari siswa. Dalam proses pembelajarannya siswa dilatih untuk kritis dan kreatif
dalam memecahkan masalah serta difokuskan pada membangun struktur kognitif siswa.
– Model Pembelajaran Kooperatif : Team Games Tournament (TGT)
Pada pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT), peserta didik
dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan empat peserta didik yang
masing-masing anggotanya melakukan turnamen pada kelompoknya masing-masing.
Pemenang turnamen adalah peserta didik yang paling banyak menjawab soal dengan benar
dalam waktu yang paling cepat.
– Model Pembelajaran Kooperatif : Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Tipe CIRC dalam model pembelajaran kooperatif merupakan tipe pembelajaran yang
diadaptasikan dengan kemampuan peserta didik, dan dalam proses pembelajarannya
bertujuan membangun kemampuan peserta didik untuk membaca dan menyusun rangkuman
berdasarkan materi yang dibacanya.
– Model Pembelajaran Kooperatif : Learning Cycle (Daur Belajar)
Learning Cycle merupakan tipe pembelajaran yang memiliki lima tahap pembelajaran, yaitu
(1) tahap pendahuluan (engage), (2) tahap eksplorasi (exploration), (3) tahap penjelasan
(explanation), (4) tahap penerapan konsep (elaboration), dan (5) tahap evaluasi (evaluation).
– Model Pembelajaran Kooperatif : Cooperative Script (CS)
Dalam tipe pembelajaran Cooperative Script siswa berpasangan dan bergantian secara lisan
mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.

E. PEMBENTUKAN DAN PENGHARGAAN KELOMPOK


Menurut Slavin guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai
peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam
kelompok.
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan melalui langkah-langkah
berikut:
1. Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapt berupa nilai
tes/kuis awal atau menggunakan nilai tes/ulangan sebelumnya.
2. Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok,
misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang
kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih
nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria
berikut ini.
– Nilai peningkatan 5, jika nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal
– Nilai peningkatan 10, jika nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah
nilai awal
– Nilai peningkatan 20, jika nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di
atas nilai awal
– Nilai peningkatan 30, jika nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai awal
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh
masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan
sempurna.
Kriteria untuk status kelompok:
– Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (Rata-rata nilai
peningkatan kelompok < 15 )
– Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 ( 15 ≤ Rata-rata nilai
peningkatan kelompok < 20)
– Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25 ( 20 ≤ Rata-rata
nilai peningkatan < 25)
– Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (Rata-rata
nilai peningkatan kelompok ≥ 25)

F. PENUTUP
Dengan melihat karakteristik model pembelajaran kooperatif yang lebih menekankan pada
aktivitas belajar secara berkelompok, model ini dapat dijadikan salah satu alternatif metode
pembelajaran di kelas. Terlebih lagi terdapat banyak tipe pada model pembelajaran ini yang
dapat disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik serta materi
pembelajaran yang akan dibahas. Dengan melibatkan siswa secara aktif pada proses
pembelajaran di dalam kelas, diharapkan siswa dapat lebih ikut bertanggung jawab terhadap
peningkatan kemampuan belajarnya sendiri. Proses pembelajaran pun akan menjadi lebih
menarik dan tidak membosankan sehingga diharapkan hasil belajar juga akan meningkat.
REFERENSI

Hisyam Zaini dkk., 2004, Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD.


Johnson, D.W. & Johnson, R.T., 1991, Learning Together and Alone: Cooperative,
Competitive, and Individualistic Learning (3rd edition), Upper Saddle River, NJ: Prentice-
Hall.

Nurhadi, Agus Gerald Senduk, 2003, Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning/CTL), Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Siberman, 2000, Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject, terjemahan: Sarjuli
dkk, Jakarta: Penerbit YAPPENDIS.

Slavin R., 1990, Cooperative Learning: Theory, Research and Practice, Englewoods Cliff,
NJ: Prentice-Hall.

Diposkan oleh arini's di 02.06

artigos relacionados:
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi para guru dalam mengelola kelas ialah kesulitan
mengajar siswa dalam jumlah besar, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak jarang
guru menjadi stress, marah, dan ujung-ujungnya proses pembelajaran pun jadi berantakan.
Sebenarnya, mengelola kelas yang besar tidaklah terlalu sulit jika kita tahu pendekatan yang
tepat dalam membelajarkan siswa. Sebuah kelas dengan jumlah siswa yang banyak dan
tingkat heterogenitasnya tinggi, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dapat
menghasilkan sebuah komunitas pembelajar yang progresif dan efektif. Salah satu
pendekatan yang paling cocok dalam hal ini adalah model Pembelajaran Kooperatif
(Cooperative Learning).

Cooperative Learning adalah sebuah pendekatan untuk mengorganisir aktivitas-aktivitas


kelas ke dalam pengalaman-pengalaman akademik dan sosial. Pendekatan ini telah terbukti
berhasil dalam penerapannya, dimana para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil,
dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda, memanfaatkan aktivitas-aktivitas belajar
yang beragam untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap suatu pelajaran. Setiap
anggota kelompok bertanggungjawab tidak hanya untuk mempelajari apa yang diajarkan
guru, namun juga untuk membantu teman-teman dalam kelompoknya untuk belajar. Para
siswa harus bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas secara kolektif. Setiap
anggota suatu kelompok dinyatakan berhasil jika kelompok tersebut berhasil.

Usaha-usaha bekerjasama dalam kelompok dalam pembelajaran kooperatif dapat


menghasilkan benefit bagi para siswa yang terdapat dalam sebuah kelompok, dimana semua
anggota kelompok dapat:
a. Memperoleh sesuatu dari usaha satu sama lain (keberhasilan saya menguntungkan kamu,
dan keberhasilanmu menguntungkan saya)
b. Menyadari bahwa semua anggota kelompok menjalani hal yang sama
c. Mengetahui bahwa pencapaian seseorang secara mutual disebabkan oleh dirinya sendiri
dan anggota-anggota kelompoknya
d. Merasa bangga dan merayakan keberhasilan seorang anggota kelompok sebagai
keberhasilan bersama

Penelitian yang dilakukan para ahli dan praktisi pendidikan membuktikan bahwa teknik
pembelajaran kooperatif membawa dampak positif sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian akademik siswa
b. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat
c. Menambah kepuasan siswa terhadap pengalaman belajarnya
d. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berbicara (oral skills) dalam
berkomunikasi
e. Mengembangkan keterampilan sosial siswa
f. Mengangkat harga diri siswa
g. Membantu memajukan hubungan antar ras yang positif

Cooperative Learning memiliki 5 elemen dasar yang


memungkinkannya untuk membuahkan hasil yang lebih
produktif ketimbang pendekatan lain yang sifatnya
kompetitif dan individualistik. Kelima elemen tersebut
ialah:
1. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Saling ketergantungan positif membuat setiap anggota kelompok merasa terhubung satu sama
lain dalam proses menyelesaikan suatu tugas atau mencapai suatu tujuan. Usaha dari setiap
anggota kelompok sangat dibutuhkan demi kesuksesan kelompok. Setiap anggota kelompok
mempunyai sebuah kontribusi yang unik dalam upaya bersama berdasarkan peranannya,
kemampuannya, serta tanggung jawabnya.
Saling ketergantungan positif meliputi hal-hal sebagai berikut:
- Tujuan, yaitu hasil yang diharapkan dari aktivitas
- Insentif/dorongan, yaitu alasan mengapa sebuah kelompok harus menyelesaikan tugasnya
- Sumber daya, yaitu bahan dan alat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas
- Peranan, yaitu tugas yang diberikan kepada anggota kelompok untuk memastikan bahwa
setiap anggota memberikan kontribusi
- Sekuen, yaitu tahap-tahap atau langkah-langkah penyelesaian tugas
- Simulasi, yaitu alternatif pola pikir yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
- Tekanan dari luar, yaitu sesuatu yang membatasi waktu atau sesuatu yang digunakan
sebagai pendorong untuk pencapaian
- Lingkungan, yaitu bahwa setiap anggota kelompok berada dalam kedekatan satu sama lain
- Identitas, yaitu semua anggota kelompok terhubung dalam satu tim

2. Interaksi Langsung (Face-to face Interaction)


Interaksi langsung merupakan sebuah bentuk interaksi dimana setiap anggota kelompok harus
berpartisipasi dengan cara mengkomunikasikan atau mendiskusikan tujuan yang akan
dicapai. Dalam interaksi ini para anggota kelompok menjelaskan secara lisan bagaimana
memecahkan masalah, saling membagikan pengetahuan, saling mengecek tingkat
pemahaman, mendiskusikan konsep-konsep yang sedang dipelajari, serta menghubungkan
pembelajaran yang lalu dengan yang sekarang

3. Pertanggungjawaban Individu dan Kelompok


(Individual and Group Accountability)
Pertanggungjawaban individu dan kelompok berarti
bahwa setiap anggota kelompok mempunyai
tanggungjawab untuk dapat mendemonstrasikan
pengetahuan dan pemahaman mengenai ekspektasi-ekpektasi akademik yang dipelajari dan
tujuan-tujuan sosial. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam poin ini yaitu:
- Para siswa sebaiknya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, karena semakin kecil
kelompoknya, akan semakin besar pertanggungjawaban individual yang dapat diberikan
siswa
- Tes individual perlu diberikan kepada setiap siswa
- Guru perlu menguji siswa secara acak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan
dengan memanggil satu atau dua orang siswa untuk mempresentasikan pekerjaan
kelompoknya kepada guru atau seluruh kelas
- Guru perlu mengobservasi setiap kelompok dan mencatat frekuensi dimana setiap anggota
berkontribusi terhadap pekerjaan kelompok
- Guru perlu menugaskan seorang anggota dalam setiap kelompok sebagai pengecek
(checker). Checker menanyakan kepada anggota-anggota kelompok mengenai pokok-pokok
gagasan yang menjadi jawaban kelompok.
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajarkan apa yang telah mereka
pelajari kepada teman kelompoknya.
4. Keterampilan Antarpibadi dan Kelompok Kecil (Interpersonal & Small-Group
Skills)
Keterampilan antarpribadi dan kelompok kecil ini adalah keterampilan yang dibutuhkan
sebelum atau dikembangkan selama proses bekerja kelompok. Keterampilan sosial yang
harus diajarkan antara lain adalah:
- Kepemimpinan
- Membuat keputusan
- Membangun kepercayaan
- Komunikasi
- Manajemen konflik

5. Proses kelompok (Group Processing)


Dalam hal ini anggota-anggota kelompok
mendiskusikan sebaik apa pencapaian mereka
terhadap tujuan-tujuan mereka dan memelihara
hubungan kerja yang efektif. Selain itu, secara
bersama membuat keputusan mengenai perilaku-
perilaku mana yang dapat diteruskan atau yang harus
diubah, serta menjelaskan tindakan-tindakan yang
dilakukan di dalam kelompok , mana yang berguna
dan mana yang tidak.

Contoh-contoh aktivitas kelas yang menggunakan prinsip Cooperative Learning antara lain
adalah:
A. Jigsaw
Metode Jigsaw dalam menyusun pembelajaran kooperatif melibatkan pembagian informasi
atau data ke dalam “potongan-potongan” terpisah yang menjadi satu keseluruhan. Karena
keseluruhan dibangun dari potongan-potongan yang berbeda yang bersatu bersama, maka
digunakanlah nama “Jigsaw”.
Ada beberapa variasi Metode Jigsaw. Dalam paragraph-paragraf di bawah ini dijelaskan dua
struktur jigsaw yang paling umum.
Dalam kedua struktur ini, para murid adalah bagian dari sebuah kelompok dasar yang terdiri
dari tiga atau empat murid. Setiap murid dalam kelompok dasar ini bertanggung jawab
terhadap potongan-potongan informasi atau tugas yang berbeda-beda. Sebagai satu
keseluruhan, kelompok ini harus menggabungkan menjadi satu “potongan-potongannya”,
yang mana setiap anggota bertanggung jawab. Kelompok secara keseluruhan bertanggung
jawab terhadap kombinasi informasi atau terhadap produk tunggal yang adalah kombinasi
dari tugas-tugas yang berbeda-beda.
Dua variasi Metode Jigsaw ini dapat diilustrasikan dengan menggambarkan bagaimana
sebuah cerita Alkitab dapat di “jigsaw” dengan dua cara.
Dalam variasi yang lebih sederhana, yang disebut “Simple Jigsaw” (Jigsaw Sederhana),
setiap murid dalam kelompok dasar diminta membaca dan mencatat materi, misalnya sebuah
cerita Alkitab, dalam porsi tertentu. Lalu kelompok itu bertemu dan setiap murid
menceritakan ringkasan catatan mereka kepada teman-teman kelompoknya. Lalu kelompok
itu me-review semua materi dan bertanggung jawab terhadapa materi tersebut dengan
menjawab quiz, melakukan tugas, atau berpartisipasi dalam diskusi kelas.
Dalam variasi yang lebih rumit, yang disebut “Expert Jigsaw” (Jigsaw Ahli), murid-murid
diberi tugas dalam kelompok dasar mereka seperti telah dijelaskan sebelumnya. Namun
demikian, sebelum melaporkan kepada kelompok dasar mereka, murid-murid terlebih dahulu
bertemu dengan 1,2, atau 3 murid dari kelompok lain yang diberi tugas dengan porsi yang
sama dengan mereka. Dalam “kelompok expert” ini, murid-murid bekerja sama untuk
menentukan apa yang akan dipresentasikan kepada kelompok dasar mereka dan
mendiskusikan hal ini bersama-sama agar supaya menjadi “ahli (expert)”. Setiap murid
kemudian mempresentasikan materinya kepad akelompok dasarnya yang akan bertanggung
jawab terhadap materi tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya.
SARAN-SARAN PENGGUNAAN:

Cobalah men”jigsaw” sebuah lembar kerja, ayat-ayat hafalan, cerita-cerita Alkitab, masalah
istilah-istilah dalam Matematika, me-review pertanyaan atau sebagian porsi dari buku teks.

B. Berpikir-Berpasangan-Berbagi (Think-Pair-Share)
1. Pengutaraan Masalah
2. Waktu untuk Berpikir
3. Kerja Berpasangan
4. Berbagi dengan Seluruh Kelas

Dalam Berpikir-Berpasangan-Berbagi, sebuah pertanyaan diajukan, murid-murid berpikir


sendiri tentang pertanyaan tersebut dalam waktu yang ditentukan, umumnya 30 detik sampai
1 menit, lalu membentuk pasangan-pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan itu dengan
seseorang di kelas. Selama waktu berbagi/sharing, murid-murid dipanggil ke depan untuk
membagikan jawaban mereka kepada kelas sebagai satu keseluruhan.
Terkadang anda mungkin dapat meminta pertanggungjawaban murid-murid dalam
mendengarkan partner mereka. Selama waktu berbagi/sharing, panggillah murid-murid untuk
memberitahu jawaban yang mereka punyai dengan partner mereka.

C. Berpikir-Berpasangan-Menyelesaikan (Think-Pair-
Solve)
1. Waktu untuk Berpikir
2. Waktu untuk Berpasangan
3. Kerja Menyelesaikan Masalah

Dengan mensubstitusi diskusi tim untuk langkah terakhir


Berpikir-Berpasangan-Berbagi, tercipta sebuah struktur yang sama sekali berbeda. Murid-
murid tetap menyelesaikan dua langkah berpikir pertama, lalu berbagi dengan salah seorang
anggota lain dalam tim mereka, lalu keseluruhan tim berbagi bersama. Jika murid-murid
mendiskusikan topik di dalam tim mereka, dan bukannya satu persatu murid berbagi dengan
seluruh kelas, aka nada lebih banyak partisipasi aktif.
Jika murid-murid duduk dalam kelompok-kelompok, mudah untuk meminta murid-murid
mendiskusikan sebuah topik, baik dalam pembukaan maupun kesimpulan yang anda buat.
Contohnya, pada akhir pelajaran tentang Nuh dan air bah, anda dapat bertanya, “Mengapa
Tuhan membinasakan seluruh bumi kecuali Nuh dan keluarganya? Pikirkanlah jawabannya,
berbagilah dengan seorang partner dalam tim, lalu beritahukanlah jawaban-jawaban kalian
pada seluruh anggota tim”.

D. Numbered-Heads Together
Numbered-Heads Together adalah jawaban terhadap metode tradisional “Pertanyaan dan
Jawaban Seluruh Kelas” yang digunakan guru untuk mengecek pengertian atau melakukan
review singkat. Guru tidak menanyakan pertanyaan dan memanggil seorang siswa yang
mengacungkan tangan, melainkan kegiatan Numbered-heads ini akan membuat seluruh kelas
berpikir dan terlibat.

Numbered-Heads Together:
1. Murid-murid diberi nomor
2. Murid-murid berdiskusi
3. Guru mengajukan pertanyaan
4. Guru memanggil sebuah nomor

EMPAT LANGKAH:
Numbered-Heads Together adalah struktur yang sederhana, terdiri dari empat langkah begitu
para murid sudah berkumpul dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari
empat murid.
1. MURID DIBERI NOMOR
Murid diberi nomor satu sampai empat dalam setiap kelompok.Jika satu atau dua kelompok
hanya punya tiga anggota, mereka harus bergiliran menjawab ketika nomor empat dipanggil.
2. GURU MENGAJUKAN PERTANYAAN
Guru mengumumkan sebuah pertanyaan, dan, jika perlu, batasan waktu. Ini adalah waktu
yang baik untuk menanyakan pertanyaan tentang aplikasi praktis dalam hidup mereka dari
sebuah cerita Alkitab, daripada hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan faktual.
3. MURID-MURID BERDISKUSI
Murid-murid,secara harafiah, mendekatkan kepala mereka dan berkumpul bersama untuk
memastika setipa orang tahu jawabannya. Peran seorang “pengecek” bisa ditambahkan di sini
agar supaya satu orang bertanggung jawab untuk memastikan setiap orang tahu jawabannya.
4. GURU MEMANGGIL SEBUAH NOMOR
Guru memanggil sebuah nomor secara acak dan murid-murid di setiap kelompok yang
mempunyai nomor tersebut mengangkat tangan (atau berdiri) jika mereka tahu jawabnnya
dan guru memilih salah satu dari murid-murid itu untuk menjawab.

Variasi: Cobalah melempar dadu untuk membuat kegiatan Numbered-Heads ini seperti
permainan dan juga anda tidak perlu mengingat-ingat nomor berapa yang sudah anda panggil
terlalu sering.

Jika hanya ada sedikit tim yang punya murid yang mengangkat tangan (atau berdiri), anda
dapat berkata “ Tidak cukup nomor_____yang mengangkat tangan; akan kuberi kalian satu
menit lagi untuk memastikan semua nomor_____ tahu jawabannya”. Anda mungkin harus
menata ulang pertanyaan supaya murid-murid lebih mengerti.
Jika ada beberapa bagian dalam jawaban,
maka guru akan mendapatkan partisipasi
yang lebih banyak dengan memanggil satu
tim untuk menyebutkan satu bagian, tim lain
untuk menyebutkan bagian yang lain, dan
seterusnya.
Jika seorang murid memberi jawaban yang
hanya benar sebagian, guru dapat bertanya,
“Apakah ada nomor_____ lain yang dapat
menambahkan sesuatu untuk jawaban itu?”

E. Roundtable dan Roundrobin


Roundtable dan Roundrobin adalah struktur pembelajaran kooperatif sederhana yang dapat
digunakan dengan subyek manapun. Roundtable paling banyak digunakan pada awal sebuah
pelajaran untuk mengadakan aktivitas pembangunan tim yang berhubungan dengan isi
pelajaran.
ROUNDTABLE
Langkah-langkah Roundtable (berurutan):
Langkah 1. Permasalahan. Guru menanyakan sebuah pertanyaan dengan banyak
kemungkinan jawaban, misalnya sebutkan semua nama cabang olahraga yang kamu tahu,
semua kitab dalam Alkitab (PL/PB), semua bagian kalimat, semua nama suku-suku asli.
Langkah 2. Kontribusi Murid. Murid-murid membuat sebuah daftar di secarik kertas, setiap
anak menulis satu jawaban lalu meneruskan kertas tersebut kepada orang di sebelah kirinya.
Kertas itu lalu berjalan mengelilingi meja, maka nama kegiatan ini-Roundtable (Meja
Bundar)
Variasi: Struktur ini dapat digunakan dalam berbagai macam cara. Roundtable dapat
dijalankan tidak dengan tekanan waktu atau dapat dibentuk dalam format perlombaan,
dengan penghargaan yang diberikan pada tim yang mendapatkan jawaban paling banyak, atau
dengan penghargaan terhadap tujuan kelas yang adalah hasil kontribusi seluruh tim. Adalah
baik jika Roundtable dijalankan dalam berbagai macam cara. Jika aktivitas ini dijalankan
sebagi perlombaan, mungkin ada baiknya untuk menyeimbangkan suasana kompetisi yang
tercipta dengan menggunakan hanya sedikit atau tidak ada sama sekali tekanan waktu.
Keefektifan Roundtable dan Roundrobin seringkali ada dalam proses kreasinya, bukan pada
produk hasilnya.
Roundtable Serempak: Terkadang untuk jawaban-jawaban panjang atau ketika produk adalah
tujuan, dua, tiga, atau bahakan empat kertas dapat disebarkan secara serempak. Sebagai
contoh, sebuah Roundtable tentang Makanan Kelompok mungkin mempunyai kertas yang
mewakili setiap kelompok makanan.
Roundtable Berpasangan: Murid-murid bekerja dalam pasangan dalam kelompok empat
orang. Mereka meneruskan secarik kertas ke depan dan ke belakang, sambil menulis jawaban
untuk persoalan yang memiliki banyak jawaban. Ketika waktu habis, mereka
membandingkan jawaban-jawaban mereka dengan jawaban-jawaban pasangan lain dalam
timnya. Mereka lalu menyimpulkan bahwa dua pasang pasangan lebih baik daripada hanya
satu. Catatan: Roundtable berpasangan melipatgandakan partisipasi dibandingkan Roundtable
Berurutan.
ROUNDROBIN
Roundrobin adalah rekan penyeimbang oral dari Roundtable: murid-murid cukup bergiliran
menyatakan pendapat, tanpa perlu mencatat. Roundrobin dapat digunakan untuk anak-anak
yang masih terlalu kecil untuk menulis; atau ketika tujuannya adalah partisipasi dan bukan
produk. Roundrobin untuk murid-murid yang lebih besar disebut Shareround (Berbagi
Berkeliling).
PENGAPLIKASIAN
Secara informal, Roundtable dan Roundrobin seringkali dapat digunakan sebagai aktivitas
satu-kali untuk mengenalkan atau menyediakan materi awal untuk sebuah pelajaran Alkitab.
Ketika kekurangan lembar kerja, murid-murid dapat bergiliran berkontribusi dalam satu
lembar kerja per kelompok. Pada usia yang sangat muda, aktivitas ini dapat berarti setiap
anak menandai satu huruf diantara banyak huruf atau memasukkan sebuah barang ke dalam
keranjang yang dikelilingkan di meja.

Hasil: Tim-tim bekerjasama ketika melakukan Roundtable/Roundrobin. Sikap membantu


meningkat. Kegiatan ini mendorong partisipasi dari murid-murid yang pemalu. Mengikuti
Roundtable/Roundrobin, murid-murid cenderung mencari partisipasi dari seluruh anggota,
bahkan dalam situasi-situasi dimana partisipasi penuh tidak direncanakan. Roundtable dan
Roundrobin sangatlah efektif dalam menciptakan identifikasi tim yang posotif dan kemauan
untuk bekerja dalam tim.

Mudah-mudahan bermanfaat, maju terus pendidikan Indonesia.

disusun oleh: Efraent L., SS

Referensi: