Anda di halaman 1dari 9

Kasus PT Lumbung Tani Indonesia

(PT LTI)

Latar Belakang
Bedasarkan pengamatan kami terhadap kasus ini, terdapat empat pihak yang
terkait:

PT Lumbung Tani Indonesia (PT. LTI)

PT. Lumbung Tani Indonesia berdomisili di jalan ngagel 85 A, Surabaya. PT


Lumbung Tani Indonesia, mendirikan pabrik gula fructose yang berlokasi di
Mojokerto. Rencananya pabrik ini akan memproduksi 50% EFS (Enriched
Fructosa Syrup), 77% DS (Dry System) dari bahan baku akar singkong. Untuk
keperluan tersebut, PT Lumbung Tani Indonesia membeli mesin mesin dari
Kloekner Industrie Anlagen (KINA) yang bekerja sama dengan Starcosa Gmbh
(Kina and Starcosa). Adapun untuk memperoleh mesin mesin tersebut, PT
Lumbung Tani Indonesia meminjam dana kepada Deutsche Genossenschaft
Bank (DG Bank), sehingga berdasarkan perjanjian pinjaman PT Lumbung Tani
Indonesia, berkewajiban untuk melakuan pembayaran terhadap pinjaman
beserta bunganya. Pada keputusan terakhir arbitrase, pihak PT Lumbung Tani
Indonesia diwakili oleh Dr Harald Voelze Boersenplantz.

Deutsche Genossenschaft Bank (DG Bank)

Deustsche Genossenschaft bank (DG Bank) adalah sebuah bank yang berkantor
pusat di Plaats der Republik, 6000 Frankfurt/Main, Republik Federasi Jerman. DG
bank memberikan pinjaman dana atau kredit kepada PT Lumbung Tani
Indonesia.

Kloekner Industrie Anlagen dan Starcosa GmbH (Kina&Starcosa)

Kina dan Starcosa ini sebagai penjual mesin dan komponen mesin untuk
memproduksi gula fructose. PT Lumbung Tani Indonesia membeli mesin tersebut
dari Kina dan Starcosa. Dalam perkembangannya, Kina dan Starcosa melakukan
wanprestasi kepada PT Lumbung Tani Indonesia.

Para Penanggung Hutang (PT Rajut Djatim Baru, Mr David Lauwidjaja,


Mrs Anneke Lauwidjaja, dan Mrs Ester Lauwidjaja)

Dalam perkembangan kasus ini, terdapat pihak penanggung hutang yang


bersama dengan PT LTI bertanggung jawab renteng atas pelunasan pembayaran
hutang PT LTI kepada DG Bank.

Adapun pihak penanggung hutang tersebut adalah :


1. PT Rajut Djatim Baru, berdomisili di jalan Pregolan Bunder 19 Surabaya.

2. Mr David Lauwidjaja, berdomisili di jalan Pregolan Bunder 19 Surabaya.

3. Mrs Anneke Lauwidjaja, berdomisili di jalan Ngagel 85 A Surabaya.

4. Mrs Ester Lauwidjaja, berdomisili di jalan Pregolan Bunder 19 Surabaya.

Pada keputusan terakhir arbitrase, pihak para penanggung hutang bersama


dengan PT Lumbung Tani Indonesia diwakili oleh Dr Harald Voelze
Boersenplantz.

Gambaran Umum Kasus PT Lumbung Tani Indonesia


PT Lumbung Tani Indonesia (PT LTI) berencana memproduksi 50% EFS dan 77%
DS dari bahan baku akar singkong. Untuk memproduksi itu, PT LTI membeli
seperangkat mesin dari Kloekner Industrie Anlagen dan Starcosa GmbH
(Kina&Starcosa).

pada tanggal 15 November 1984. Cara pembelian, penjualan, pembayaran dan


penyerahan serta pemasangan mesin dituangkan dalam export-contract
antara PT LTI dan Kina&Starcosa. Komponen mesin yang dibeli oleh PT LTI dari
Kina&Starcosa disepakati berkapasitan 100 ton perhari, dengan nilai kontrak DM
15.920.000

Pada tanggal 11 Desember 1984, PT LTI membuat perjanjian pinjaman (Loan


Agreement) dengan DG Bank. Berdasarkan Loan Agreement, pihak DG bank
telah memberikan pinjaman/kredit kepada PT LTI sebesar DM 13.532.000 untuk
pembayaran 85% dari nilai kontrak pembelian mesin mesin oleh PT LTI kepada
Kina&Starcosa.

Pembayaran mesin mesin oleh PT LTI kepada Kina&Starcosa selain dari kredit
yang diperoleh dari DG Bank, juga dibayar dengan cara 5% down payment
(dibayar tunai), 10% dengan pembukaan L/C pada Bank Dagang Negara
dikonfirmasikan oleh PT LTI di Frankfurt, Jerman.

Berdasarkan Loan Agreement, PT LTI berkewajiban membayar pinjaman tersebut


dengan 10 kali cicilan per setengah tahun sesuai dengan Repayment Schedule.
Adapun kewajiban lainnya PT LTI adalah

1. Membayar bunga atas kredit yang masih terhutang sebesar 9,5% per
annum.
2. Bunga keterlambatan 3.5% di atas suku bunga yang ditentukan untuk
setiap kali keterlambatan pembayaran.
3. Ganti rugi i.c. “GLOBAL SETTLEMENT of DAMAGES” sebesar 3.5% di
atas suku bunga yang ditentukan sebagai “CHARGE of DEFAULT”
apabila dan setiap kali bercidera janji.
4. Dengan keterlambatan dan Global Settlement of Damages masing-
masing sebesar 3.5% di atas suku bunga yang ditentukan
diperhitungkan dari mulai hari bayar/gugur daripada pembayaran yang
terlambat tersebut dikredit dan dibukukan pada Rekening Kreditor.
5. Membayar dengan segera dan sekaligus ongkos pembiayaan
tambahan “ADDITIONAL FINANCING COST” yang timbul sebagai akibat
dari adanya perubahan Repayment Schedule.

Pada tanggal 7 januari 1985 dibuat perjanjian Payment Guarantee antara DG


Bank dengan pihak PT LTI dan para penanggung hutang. Dalam perjanjiannya,
PT LTI bersama dengan para penanggung hutang, bertanggung jawab secara
renteng atas pelunasan hutang PT LTI kepada DG Bank. Adapun para
penanggung hutang tersebut adalah :
1. PT. RAJUT DJATIM BARU, berdomisili di Jalan Pregolan Bunder 19 Surabaya.
2. MR. DAVID LAUWIDJAJA, berdomisili di Jalan Pregolan Bunder 19 Surabaya.
3. MRS. ANNEKE LAUWIDJAJA, berdomisili di Jalan Ngagel 85 A Surabaya.
4. MRS ESTER LAUWIDJAJA, berdomisili di Jalan Pregolan Bunder 19
Surabaya.

Pada kenyataannya PT LTI hanya melakukan pembayaran untuk termin pertama


yang jatuh tempo pada 27 Febuari 1987 di bulan maret – april 1986 (sebesar DM
163,169.99) dan termin kedua yang jatuh temponya 27 agustus 1987
(dibayarkan pada 21 juli 1987 dengan nominal DM 100,000). Sisanya masih
terhutang. Sehingga baik PT LTI maupun para penanggung hutang telah
melakukan wanprestasi.

Adapun list yang masih terhutang sebagai berikut :


1. Bunga dan Utang Pokok
jatuh tempo sampai 31 Oktober 1988. DM
8.327.429.37,-
2. Utang selebihnya meskipun menurut Repayment
Schedule belum jatuh tempo karena cidera janji
pada saat tanggal 6 Maret 1989 DM
8.119.200.00,-
3. Bunga terutang atas utang butir 2 selama periode
31 Oktober 1988 – 6 Maret 1989 DM 269.963.40,-
4. Bunga keterlambatan atas pembayaran utang pokok DM
1.352.598.57,-
5. Charge of Default atas pembayaran-pembayaran
yang jatuh tempo total pembayaran yang terhutang
pada tanggal 30 Juni 1989 DM
694.050.29,-

Total DM18.763.241.63,-
Pengadilan Negeri Surabaya

Berdasarkan tindakan wanprestasi tersebut, DG Bank melakukan gugatan


perdata di pengadilan negeri Surabaya (reg no 568/PDT.G/1989/PN.Sby)
terhadap para tergugat yaitu :
1. PT LUMBUNG TANI INDONESIA sebagai Tergugat I
2. PT. RAJUT DJATIM BARU sebagai Tergugat III
3. MR. DAVID LAUWIDJAJA sebagai Tergugat IV
4. MRS. ANNEKE LAUWIDJAJA sebagai Tergugat V
5. MRS ESTER LAUWIDJAJA sebagai Tergugat VI

DG Bank menuntut dilakukannya sita jaminan dan sita penyesuaian dan


meminta agar para tergugat melunasi hutangnya yaitu sebesar DM
18.763.241.63 (Deutsche Mark: delapan belas juta tujuh ratus enam puluh tiga
ribu dua ratus empat puluh satu dan enam puluh tiga per seratus) ditambah
bunga yang berjalan terus dan biaya-biaya lainnya sesuai perjanjian Loan
Agreement.

Adapun sanggahan atau keberatan para tergugat (PT LTI dan para penjamin
hutang) adalah seharusnya DG bank (penggugat) mengajukan permasalahan ini
dihadapan badan arbitrase, dikarenakan sesuai dengan pasal 15:2 alinea
pertama dlm Loan Agreement dengan tegas menyatakan keinginan para pihak
untuk menyelesaikan sengketa atau perselisihan melalui badan arbitrase.
Adapun bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut

“Semua perselisihan/sengketa yang timbul dalam hubungannya dengan LOAN


AGREEMENT ini, termasuk sengketa-sengketa mengenai keabsahan dari LOAN
AGREEMENT atau setiap ketentuan yang ada didalamnya, akan diselesaikan oleh
ARBITRASE berdasarkan ketentuan-ketentuan INTERNATIONAL CHAMBER
COMMERCE (ICC) sesuai dengan Persetujuan Arbitrase yang terlampir
pada LOAN AGREEMENT SEBAGAI LAMPIRAN V.”

Sanggahan lainnya adalah penyitaan seharusna dilakukan oleh badan arbitrase.


Adapun yurispundensi tetap makamah agung RI menyatakan dengan tegas
apabila pihak dalam suatu perjanjian sepakat menyelesaikan sengketanya di
hadapan badan arbitrase, seharusnya pengadilan negeri tidak berwenang
mengadili.

Berdasarkan hal diatas, para tergugat memoho putusan :

1. Menyatakan Pengadilan Negeri Surabaya tidak berwenang mengadili


perkara ini;
2. Membatalkan/mencabut Sita Jaminan/Sita Penyesuaian yang telah
diletakkan dalam perkara ini;
3. Menolak gugatan, atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan tidak dapat
diterima;
4. Menghukum Penggugat untuk membayar ongkos perkara.

Adapun sebelum kejadian ini, Kina & Starcosa telah melakukan wanprestasi
terlebih dahulu terhadap PT LTI sehingga menyebabkan PT LTI tidak dapat
memenuhi produksi 50% EFS (Enriched Fructosa Syrup), 77% DS (Dry System).
Loan agreement merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kontrak
eksport antara PT LTI (tergugat I) dengan Kina dan Starcosa.

Pernyataan para tergugat mengenai tidak berwenangnya pengadilan negeri


untuk mengadili perkara ini disanggah oleh pengadilan negeri Surabaya
dikarenakan

• Pasal 15:2 “loan agreement” menegaskan: “Walaupun demikian Pemberi


Pinjaman memiliki hak untuk melancarkan tindakan hukum di depan
Pengadilan yang berwenang di Indonesia, dengan tidak mengecualikan
setiap wilayah hukum berwenang lainnya sejauh menyangkut tindakan
hukum di Pengadilan yang berwenang, ARBITRASE tidak akan dilakukan,
tetapi pengeluaran perintah Penyitaan atau Sita Jaminan, Penahanan tidak
akan mengecualikan arbitarse”.
• Dengan demikian Penggugat berhak untuk mengajukan perkara ini ke
forum Pengadilan Negeri atau forum Arbitrase, karena Penggugat telah
menggunakan haknya mengajukan perkara ini ke forum Pengadilan Negri
dalam hal ini Pengadilan Negri Surabaya, maka Pengadilan Negeri Surabaya
berwenang mengadili perkara ini;
• Karena Pengadilan Negeri Surabaya berwenang mengadili perkara ini,
hukum yang berlaku adalah hukum Republik Indonesia termasuk
Hukum Acaranya, karena itu Sita Penyesuaian (Vergelijkende Beslag) yang
dilakukan menurut ketentuan dan cara-cara berdasarkan hukum di Indonesia
adalah sah dan berharga;
• Tentang tempat pelaksanaan penerapan hukum/tentang pilihan domisili,
karena Penggugat telah memilih forum Pengadilan Negeri di Indonesia untuk
menyelesaikan sengketanya, bertolak dari pasal 118 HIR yang menyebutkan
pada azasnya gugatan diajukan di tempat tinggal Tergugat, adalah tepat dan
benar Penggugat menggunakan hak dan azas umum tersebut, kendatipun
dalam LOAN AGREEMENT menentukan Frankfurt/Main sebagai tempat
penerapan hukum.
• Tentang Eksepsi Pengadilan Negeri Surabaya tidak berwenang mengadili
perkara ini, adalah tidak tepat dan tidak beralasan, karena itu harus ditolak,
dan biaya perkara karena belum selesai ditangguhkan hingga putusan akhir.

Pada akhirnya keputusan final hakim pertama pengadilan negeri Surabaya


adalah sebagai berikut:
• Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
• Menyatakan sebagai hukum Tergugat I, II, III, IV dan V telah
melakukan wanprestasi.
• Menghukum Tergugat I, II, III, IV dan V untuk membayar seluruh
jumlah hutang kepada Penggugat sebesar DM 18.763.241.63
(Deutsche Mark: Delapan belas juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu dua
ratus empat puluh satu dan enam puluh tiga per seratus) ditambah bunga
yang berjalan terus dan biaya lainnya sesuai perjanjian Loan Agreement,
terhitung sejak gugatan ini didaftarkan sampai dengan perkara ini
dilaksanakan.
• Menyatakan Sita Perbandingan atau Sita Penyesuaian (Vergelijkende
Beslag) dan Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) yang dilakukan dalam
perkara ini adalah sah dan berharga.

Pengadilan Tinggi
Dikarenakan keputusan hakim pertama pengadilan negeri Surabaya tersebut
tidak memuaskan, para pihak Tergugat menolak putusan Hakim Pengadilan
Negeri Surabaya tersebut dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi
Surabaya.

Adapun putusan hakim banding, sama seperti putusan hakim pertama


pengadilan negeri Surabaya.

Makamah Agung RI
Keputusan pengadilan tinggi Surabaya tersebut ditolak oleh para pihak tergugat
dan memohon pemeriksaan kasasi kepada makamah agung RI dengan
mengemukakan keberatan kasasi yang isi pokoknya :
1. Pengadilan Tinggi Surabaya dalam putusannya sama sekali tidak
mempertimbangkan memori banding para Pemohon Kasasi/ Tergugat
asal I, II, III, dan IV. Pengadilan Tinggi Surabaya hanya mengoper seluruh
pertimbangan hukum Pengadilan Negeri sehingga Pengadilan Tinggi tidak
menuruti Surat Edaran MARI tanggal 2 Agustus 1962 No. 856 /
62/189K/Sip/1962 yang dialamatkan kepada Ketua Pengadilan Tinggi seluruh
Indonesia;
2. Pengadilan Tinggi Surabaya dalam memeriksa perkara ini begitu saja
mengambil oper segala pertimbangan hukum judex facti Pengadilan
Negeri Surabaya. Seharusnya Hakim Banding memeriksa kembali perkara
dalam keseluruhannya baik mengenai fakta maupun mengenai pengetrapan
hukumnya. Oleh karena itu bertentangan dengan Yurisprudensi tetap MARI
dalam putusannya No. 9511 K/Sip/1973 tanggal 9 Oktober 1973;
3. Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya yang hanya menyetujui keputusan
Pengadilan Negeri Surabaya a quo tanpa memberikan pertimbangan hukum
yang tepat yang mengandung “persetujuannya” itu haruslah dinyatakan
tidak cukup. Putusan Pengadilan Tinggi bertentangan dengan
Yurisprudensi tetap MARI dalam putusannya No. 9K/Sip/1972 tanggal 19
Maret 1972;
4. Para Pemohon Kasasi/Tergugat asal I, II, III dan IV tidak
sependapat dan sangat keberatan atas pertimbangan hukum judex facti
mengenai kewenangan memeriksa dan mengadili perkara ini seperti terurai
dalam putusan sela yang kemudian dipertahankan pada putusan akhir dan
diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Surabaya karena berdasarkan artikel 15.1
dan artikel 15.2 dari LOAN AGREEMENT bukti P-1, menetapkan bahwa
antara Pemohon Kasasi/Tergugat-tergugat asal dan Termohon
Kasasi/Penggugat asal telah disepakati secara tegas tentang pilihan
hukum (yaitu hukum Republik Federasi Jerman) dan tempat
pelaksanaan penerapan hukumnya (adalah Frankfurt-am Main) serta
forum Arbitrase untuk menyelesaikan sengketa yang timbul;
Berdasarkan pasal 1338 KUH Perdata, maka apa yang telah disepakati
secara sah berlaku sebagi undang-undang yang mengikat, maka Loan
Agreement untuk pilihan hukum dan tempat penerapah hukum haruslah di
Republik Federasi Jerman. Pemohon Kasasi telah menunjuk dan
mengangkat Dr. Harald Voelze Boersenplatz 1 am Main sebagai agen
untuk pelayanan proses Arbitrase di Republik Federasi Jerman.
Dengan demikian penyelesaian sengketa yang timbul terlebih dahulu sebagai
pilihan utama diselesaikan melalui BADAN ARBITRASE, sehingga
Termohon kasasi/Penggugat asal telah keliru mengajukan gugatan melalui
Pengadilan Negeri Surabaya. Oleh karena itu Pengadilan Negeri Surabaya
dinyatkan tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini;
5. Pemohon Kasasi tidak sependapat dan sangat berkeberatan pertimbangan
hukum judec facti tentan pasal 17:4 Loan Agreement tersebut. Loan
Agreement – bukti P-1 adalah bagaian yang tak terpisahkan dan saling kait
mengkait dengan Export Contract bukti T-1;
6. Pertimbangan hukum judex facti mengenai bunga untuk jumlah pinjaman
yang belum dibayar sebesar 9.5% setahun ternyata tidak konsisten dengan
pertimbangan hukum yang lain. Tentang bunga judex facti mendasarkan
pada artikel 5.1 Loan Agreement, tentang pilihan hukum judex facti telah
melanggar artikel 15.1 dan 15.2 Loan Agreement;
7. Judex facti sama sekali tidak memeriksa dan memberikan pertimbangan
hukum atas gugatan Rekonpensi para Pemohon Kasasi/Tergugat-tergugat
asal.
Tindakan KINA & STARCOSA yang tidak sesuai dengan perjanjian eksport
contract yang telah disepakati adalah merupakan wanprestasi dan oleh
karena Loan Agreement tersebut adalah bagian yang tidak
terpisahkan dengan Export Contract, maka Termohon Kasasi/Penggugat
asal harus pula bertanggung jawab atas perbuatan wanprestasi KINA &
STARCOSA.

Makamah Agung RI setelah memeriksa perkara ini dalam tingkat kasasi, dalam
putusannya berpendirian bahwa keberatan kasasi yang diajukan oleh
Pemohon Kasasi ad. 4 dapat dibenarkan karena judex factie telah salah
menerapkan hukum yang dalam putusannya telah menolak Eksepsi
Pemohon Kasasi/Tergugat-tergugat asal.
Pendirian Mahkamah Agung ini didasari oleh alasan yuridis yang intisarinya sbb:
• Loan Agreement dalam sengketa, menetapkan pada pasal 15 (1,2),
bahwa Loan Agreement ini ditundukkan pada hukum FEDERAL REPUBLIC
of GERMANY;
• Segala sengketa yang mungkin timbul sehubungan dengan perjanjian
pinjaman tersebut akan diselesaikan melalui ARBITRASE;
• Berdasarkan hal-jal tersebut di atas, maka berarti dalam perjanjian ini
ada KLAUSULA ARBITRASE, yang menurut Yurisprudensi tetap
Indonesia menyebabkan Pengadilan tidak berwenang lagi
mengadili perkara yang terjadi karena sengketa pinjaman
tersebut;
• Bahwa akan tetapi pada pasal 15.2 melanjutkan menyatakan: “bahwa
kreditur” (“Lender”) tetap mempunyai hak untuk membawa perkara ke
depan Pengadilan di Indonesia;
• Menurut pendapat Mahkamah Agung alinea tersebut di atas (pasal 15.2
alinea kedua) haruslah diartikan sebgai tidak sejalan bahkan
bertentangan denga pasal 1.2 yang menentukan bahwa untuk “Loan
Agreement ini diperlakukan hukum dari Federal Republic of Germany, hal
mana tentu tidak dapat dilaksanakan Pengadilan Indonesia;
• Selebihnya dari itu, ketentuan bahwa Kreditur (“Lender”) tetap
mempunyai hak untuk mengajukan sengketa kepada Pengadilan
Indonesia yang berwenang, adalah ketentuan yang tidak
seimbang, karena debitur (“Borrower”) tidak memiliki hak yang
demikian, dalam hal mana Pengadilan (dalam hal ini Mahkamah
Agung) berwenang menyatkan bahwa alinea kedua dari pasal 15.2
LOAN AGREEMENT tersebut tidak dapat diperlakukan;

Karena alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat bahwa


dalam “LOAN AGREEMENT” ini terdapat KLAUSULE ARBITRASE, dan
berarti pula Pengadilan haruslah menyatakan diri tidak berwenang.
Adapun keputusan Mahkamah Agung RI sebagai berikut:

• Mengabulkan permohonan kasasi dari pemohon-pemohon kasasi:


1. PT LUMBUNG TANI INDONESIA ,
2. PT. RAJUT DJATIM BARU,
3. MR. DAVID LAUWIDJAJA,
4. MRS. ANNEKE LAUWIDJAJA,

• Membatalkan putusan pengadilan Tinggi Surabaya tanggal 1 Oktober


1991 No. 769/Pdt/1990/PT.Sby, (yo putusan Pengadilan Negeri Surabaya
tanggal 21 Juli 1990 No. 568/Pdt.G/1989/PN. Sby., tersebut;

• Menyatakan Eksepsi Tergugat I, II, III dan IV dapat diterima;


• Menyatakan Pengadilan Negeri tidak berwenang memeriksa perkara ini;

• Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima;


• Menyatakan Sita Perbandingan atau Sita Penyesuaian (Vergelikende
Beslag) dan Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) yang telah dilakukan
dalam perkara ini tidak sah dan tidak berharga;
• Memerintahkan Pengdilan Negeri Surabaya untuk mengangkat sita
tersebut.