Anda di halaman 1dari 48

METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF

Oleh; Drs. Sumani, M.M., M.Hum.

Sebelum dilakukan pembahasan tentang metodologi penelitian kuantitatif


lebih lanjut, berikut ini akan dikemukakan terlebih tentang keterkaitan antara
ilmu pengetahuan dengan metodologi penelitian.

A. Ilmu Pengetahuan dan Metodologi Penelitian


Ilmu (ilmu pengetahuan) atau Science menurut Moh Nasir (1999:9)
adalah pengetahuan tentang fakta-fakta baik natural maupun sosial yang
berlaku umum dan sistematik. Ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan yang
sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum.

1. Ilmu dan Proses Berpikir


Ilmu lahir karena manusia dibekali oleh Tuhan suatu sifat ingin
tahu. Keingintahuan seseorang terhadap permasalahan di sekelilingnya
dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya, dari pertanyaan-
pertanyaan: Apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari
mengelilingi bumi, kemudian timbul keinginan untuk mengadakan
pengamatan secara sistematik yang pada akhirnya melahirkan kesimpulan
bahwa bulan mengelilingi bumi dan bumi mengeleilingi matahari.
Kesimpulan ini terkadang masih dipertanyakan lagi seiring dengan
semakin berkembangnya tingkat rasa ingin tahu manusia serta semakin
berkembangnya ilmu itu sendiri.
Konsep antara ilmu dan berfikir adalah sama. Dalam memecahkan
masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan
suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang
khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentative melalui
penyelidikan.

Modul 1 Drs. Sumani, M.M., M.Hum. Metodologi Penelitian Kuantitaif


Tahun 2007 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FPBS IKIP PGRI Madiun
1
2

Di dalam berpikir secara nalar, terdapat dua unsur penting yaitu


unsur logis (berpikir secara logika) dan unsur analitis (berpikir ilmiah;
deduktif dan induktif).

2. Definisi Penelitian
Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris research yang
berasal dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Jadi arti research
yang sebenarnya adalah mencari kembali. Definisi lain dari penelitian
menurut Moh. Nasir (1999: 13) adalah penyelidikan yang hati-hati dan
kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang
amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Dari pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan yang hati-hati
serta teratur dan terus-menerus untuk memecahkan suatu masalah.
Sementara itu, Kerlinger (1986) menjelaskan bahwa research adalah
investigasi terhadap fenomena empirik yang dilakukan secara sistematis,
terkendali, dan kritis berdasarkan teori dan hipotesis yang menunjukkan
adanya hubungan antar fenomena. Dari definisi tersebut di atas, terdapat
tiga hal penting untuk memahami pengertian dari riset yaitu:
a. Riset merupakan proses yang berbasis masalah dengan objek suatu
fenomena empiris.
b. Proses riset dilakukan secara sistematis, terorganisasi, terkendali dan
kritis.
c. Tujuan riset menyajikan informasi untuk menjawab suatu masalah
yang spesifik.

3. Ilmu, Penelitian dan Kebenaran


Ilmu dan penelitian sebagaimana definisi di atas, menurut Whitney
(1960) keduanya adalah sama-sama merupakan proses. Hasil dari proses
tersebut adalah kebenaran (the truth). Berpikir sebagaimana halnya dengan
ilmu, juga merupakan proses untuk memperoleh kebenaran. Kebenaran
3

yang diperoleh melalui proses ilmiah, maka kebenarannya disebut dengan


kebenaran ilmiah.
Pada umumnya kebenaran ilmiah dapat diterima dikarenakan oleh
tiga hal yaitu:
a. Adanya koheren: konsisten dengan pernyataan sebelumnya
yang dianggap benar. (Si Fulan akan mati = benar. Alasannya semua
orang pasti mati).
b. Adanya koresponden: Suatu pernyataan dianggap benar jika
pengetahuan yang terkandung di dalam pernyataan tersebut
berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang
dituju oleh pernyataan tersebut. (Ibu kota RI adalah Jakarta = benar.
Karena sesuai dengan faktanya).
c. Pragmatis: Pernyataan dipercayai benar karena pernyataan
tersebut mempunyai sifat fungsional di dalam kehidupam praktis.
(contoh: agama).
Selain itu, ada kebanaran yang diperoleh melalui proses non ilmiah
sehingga yang dihasilkannya adalah kebenaran non ilmiah seperti
penemuan kebenaran secara kebetulan; secara common sense (akal sehat);
melalui wahyu; secara intuitif; secara trial and error; melaui spekulasi;
dan karena otoritas atau kewibawaan.

B. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian


Metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang
mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Prosedur kerja
mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemology.
Kualitas kebenaran yang diperoleh di dalam berilmu pengetahuan, terkait
langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.
Dengan prosedur kerja yang baik, kualitas kebenaran yang diperoleh
pun sejauh kebenaran epistemologik; dan ilmu pengetahuan hanya akan
mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologik
tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori
4

yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Gerak dari
tesis dan teori yang satu ke teori yang lain merupakan proses berkelanjutan
ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran epistemologik dalam upaya
menjangkau kebenaran absolut. Kebenaran absolut tersebut bagi pandangan
religius adalah milik Allah; bagi pandangan sekuler adalah kebenaran obyektif
universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus.
Kebenaran ilmiah dibangun dari sejumlah banyak kenyataan atau
fakta. Kenyataan atau fakta dalam telaah filosofik menurut Noeng Muhajir
(2000: 5) dapat dibedakan menjadi empat yaitu kenyataan empirik sensual,
kenyataan empirik logik, kenyataan empirik etik, dan kenyataan empirik
transenden. Selain sebagaimana dikemukakan di atas, metode penelitian juga
nerupakan ilmu yang mempelajari tentang metode-metode penelitian serta
ilmu tentang alat-alat di dalam penelitian. Di lingkungan filsafat terdapat juga
logika yang dikena sebagai ilmu tentang alat untuk mencari kebenaran. Bila
ditata di dalam sistematika, metodologi penelitian merupakan bagian dari
logika.

C. Metodologi Penelitian Kuantitatif


Mengawali pembahasan mengenai metodologi penelitian,kuantitatif
perlu disampaikan beberapa istilah yang berhubungan dengan penelitian yang
maknanya sering kali dikacaukan dengan istilah metodologi. Istilah-istilah
tersebut antara lain adalah prosedur, teknik, dan metode. Menurut Moh. Nasir
(1999: 51), Prosedur penelitian memberikan kepada peneliti urutan-urutan
pekerjaan yang harus dilakukan di dalam suatu penelitian. Teknik penelitian
menyatakan alat-alat pengukuran apa yang diperlukan di dalam melakukan
suatu kegiatan penelitian, sedangkan metode penelitian memandu si peneliti
tentang urut-urutan tentang cara penelitian tersebut dilakukan. Dengan
memahami perbedaan pengertian dari ketiga istilah tersebut, maka akan isa
dipahami pula tentang metodologi penelitian.
5

Metodologi penelitian, menurut Noeng muhajir (2000: 3), berkenaan


dengan pembahasan tentang konsep-konsep teoretik berbagai metode,
kelebihan dan kelemahannya, yang di dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan
pemilihan metode yang digunakan. Jadi secara garis besar metodologi dapat
dibedakan dengan metode. Metodologi lebih menekankan kepada aspek
teoretik, sedangkan metode lebih menekankan kepada aspek yang bersifat
teknis.
Metotodologi Penelitian kuantitatif dengan teknik statistiknya diakui
mendominasi analisis penelitian sejak abad ke-18 sampai abad ini. Dengan
semakin canggihnya teknologi komputer, berkembang teknik-teknik analisis
statistik yang mendukung pengembangan penelitian kuantitatif. Metodologi
penelitian kuantitatif statistik menjadi lebih bergengsi daripada metodologi
penelitian kuantitatif. Lebih-lebih bila diperhatikan pula pada sejumlah
kenyataan bahwa ada sementara calon ilmuwan yang menggunakan
metodologi kualitatif dengan alasan dan bukti ketidakmampuannya di dalam
menggunakan teknik-teknik analisis statistik.
Pada segi lain, karena bergengsinya metodologi penelitian kuantitatif
dengan teknik-teknik statistiknya, banyak ilmuwan ataupun pakar ilmu yang
tenggelam ke dalam teknik-teknik analisis yang canggih, sehingga melupakan
kelemahan disamping keunggulan filsafat dan teori metodologi penelitian
yang melandasinya.
Secara garis besar, dapat dijelaskan bahwa metodologi penelitian
kuantitatif mulai dengan menetapkan obyek studi yang spesifik,
dieliminasikan dari totalitas atau konteks besarnya sehingga menjadi ekplisist
atau jelas obyek studinya. Sesudah itu, baru disusun kerangka teori sesuai
dengan obyek studi spesifiknya. Dari situ, dapat dimunculkan hipotesis atau
problematik penelitian, instrumen pengumpulan data, teknik sampling serta
teknik analisisnya. Selain itu juga dapat ditentukan rancangan metodologi
lainnya seperti penetapan batas signifikansi, teknik-teknik penyesuaian jika
ada kekurangan atau kekeliruan di dalam hal data, adminstrasi, analisis, dan
semacamnya. Dengan kata lain, semua dirancang dan direncanakan secara
6

matang sebelum peneliti terjun ke lapangan untuk melakukan kegiatan


penelitiannya.
Secara umum, metode penelitian kuantitatif dibedakan atas dua
dikotomi besar, yaitu eksperimental dan noneksperimental. Eksperimental
dapat dipilah lagi menjadi eksperimen sungguhan dan eksperimen semu
(kuasi), subjek tunggal dsb. Sedangkan noneksperimental berupa deskriptif,
komparatif, korelasional, survey, dan ex post facto.
Untuk memperjelas pemahaman tentang penelitian non experiment,
maka berikut ini akan diuraikan dua rancangan non experiment yaitu
rancangan deskriptif dan ex post facto untuk diperbandingkan dengan
rancangan experimen.

1. Metode Deskriptif
a. Pengertian
Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status
kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem
pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Whitney
(1960) berpendapat bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta
dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari
masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam
masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan,
kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-
proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu
fenomena.
Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan
fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi
komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta
penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu
standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan
metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan
metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan
7

memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain.


Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).
Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau
standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif.
Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama
dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-
perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum
sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang
dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka
waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

b. Tujuan
Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi,
gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

c. Ciri-ciri Metode Deskriptif


1) Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian,
sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data
dasar belaka.(secara harafiah)
2) Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan
eksperimental.
3) Secara umum dinamakan metode survei.
4) Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomena-
fenomena, tetapi juga:
a) menerangkan hubungan,
b) menguji hipotesis-hipotesis
c) membuat prediksi, mendapatkan makna, dan
d) implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan
e) Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan
menggunakan schedule qestionair/interview guide.
8

d. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif


Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang
digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat
dibagi atas beberapa jenis, yaitu:
1) Metode survei,
2) Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive),
3) Penelitian studi kasus
4) Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
5) Penelitian tindakan (action research),
6) Peneltian perpustakaan dan dokumenter.

e. Kriteria Pokok Metode Deskriptif


Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang
dapat dibagi atas kriteria umum dan khusus. Kriteria tersebut sebagai
berikut:
1) kriteria umum
a) Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta
tidak terlalu luas.
b) Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak
terlalu umum
c) Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan
bukan merupakan opini.
d) Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus
mempunyai validitas.
e) Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu
penelitian dilakukan.
f) Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik
dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data
serta serta study kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis
9

harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang


digunakan jika kerangka teoritis untukitu telah dikembangkan.
2) Kriteria Khusus
a) Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam
nilai (value).
b) Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah
mengenai masalah status
c) Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada
kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan
pengaturan atau manupulasi terhadap variabel. Variabel dilihat
sebagaimana adanya.

f. Langkah-langkah Umum dalam Metode Deskriptif


Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkah-
langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut:
1) Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi
ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan
sumber yang ada.
2) Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan
dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari
masalah.
3) Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya
dengan masalah yang ingin dipecahkan.
4) Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara
eksplisit maupun implisit.
5) Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan
teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
6) Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data
yang telah dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai
kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit
pengukuran yang sepadan.
10

7) Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan


kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh
dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
8) Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta
hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-
rekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
9) Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.

Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat,


maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang
kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk
diverivikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka
kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model
matematika.

2. Causal Comparative/Ex Post Facto


a. Pengertian Ex Post Facto
Penelitian dengan rancangan ex post facto sering disebut dengan
after the fact. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian
itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian
ini merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa
atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk
mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002)
menguraikan bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang
dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terjadi
karena perkembangan suatu kejadian secara alami.
Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang variabel-
variabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak
dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini
biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin
11

melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor


penyebab terjadinya sesuatu.

b. Perbandingan Antara Ex Post Facto dengan Eksperimen


Dalam beberapa hal, penelitian ex post facto dapat dianggap
sebagai kebalikan dari penelitian eksperimen. Sebagai pengganti dari
pengambilan dua kelompok yang sama kemudian diberi perlakuan
yang berbeda. Studi ex post facto dimulai dengan dua kelompok yang
berbeda kemudian menetapkan sebab-sebab dari perbedaan tersebut.
Studi ex post facto dimulai dengan melukiskan keadaan sekarang, yang
dianggap sebagai akibat dari faktor yang terjadi sebelumnya, kemudian
mencoba menyelidiki ke belakang guna menetapkan faktor-faktor yang
diduga sebagai penyebabnya.
Penelitian ex post facto memiliki persamaan dengan penelitian
eksperimen. Logika dasar pendekatan dalam ex post facto sama
dengan penelitian eksperimen, yaitu adanya variabel x dan y. Kedua
metode penelitian tersebut membandingkan dua kelompok yang sama
pada kondisi dan situasi tertentu. Perhatiannya dipusatkan untuk
mencari atau menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-
variabel dalam data penelitian. Dengan demikian, banyak jenis
informasi yang diberikan oleh eksperimen dapat juga diperoleh melalui
analisis ex post facto.
Dalam penelitian eksperimen, pengaruh variabel luar
dikendalikan dengan kondisi eksperimental. Variabel bebas yang
dianggap sebagai penyebab dimanipulasi secara langsung untuk
meminimalkan pengaruh terhadap variabel terikat. Melalui
eksperimen, peneliti dapat memperoleh bukti tentang hubungan kausal
atau hubungan fungsional di antara variabel yang jauh lebih
menyakinkan daripada yang dapat diperoleh menggunakan studi ex
post facto.
12

Peneliti dalam penelitian ex post facto tidak dapat melakukan


manipulasi atau pengacakan terhadap variabel-variabel bebasnya. Hal
ini menunjukkan bahwa perubahan dalam variabel-variabelnya sudah
terjadi. Peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan
sebab dari akibat yang diamati tersebut. Furchan (383:2001)
menyatakan bahwa dengan tidak adanya kemungkinan peneliti untuk
melakukan manipulasi atau pengacakan.
Contoh perbedaan antara penelitian ex post facto dengan
eksperimen adalah sebagai berikut.
Sebuah penelitian berjudul Pengaruh Kecemasan Siswa pada
Waktu Mengerjakan Ujian Terhadap Hasil Ujian Mereka dapat
didekati dengan dua metode, yaitu eksperimen dan eks post facto.

1) Pendekatan Eksperimen
Dalam judul di atas terdapat dua variabel, yaitu variabel
bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam judul di atas
adalah kecemasan siswa dan ujian nasional. Variabel terikatnya
adalah hasil ujian.
Ciri dari penelitian eksperimen adalah adanya manipulasi
terhadap variabel bebas. Dari kondisi di atas, variabel bebas dapat
dimanipulasi menjadi cemas dan tidak cemas. Konkritnya, sebuah
kelas terdiri dari kelas A dan B. Masing-masing kelas dimanipulasi
kondisinya menjadi kelas A menjadi kelas yang cemas, sementara
kelas B menjadi kelas yang netral (pengendali).
Pengkondisian kelas dapat dilakukan dengan memberikan
sugesti kepada kelas A bahwa ujian yang diberikan akan
berpengaruh terhadap kenaikan kelas. Artinya, siswa yang
memiliki nilai yang rendah bisa dimungkinkan tidak naik kelas.
Sementara kelas B dikondisikan netral. Dengan pengertian bahwa
ujian di kelas B hanyalah untuk mengukur kemampuan
13

pemahaman terhadap suatu kompetensi tanpa adanya pengaruh dari


hasil dengan kenaikan kelas.
Setelah kelas sudah terkondisikan, maka diberikan soal
dengan tingkat kuantitas dan kualitas kesulitan yang sama. Pada
waktu yang bersamaan, lembar jawaban dikumpulkan bersama dan
dilakukan pengoreksian terhadap hasil jawab dari kelas A dan B.
Apabila terjadi perbedaan nilai, semisal, nilai kelas A lebih tinggi
daripada kelas B, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya
kecemasan ternyata mampu meningkatkan nilai ujian. Anggapan
lain, bahwa dengan adanya kecemasan membuat siswa semakin
berpacu untuk mendapatkan yang terbaik.

2) Pendekatan Ex Post Facto


Hal penting dalam pendekatan ex post facto adalah tidak
adanya manipulasi terhadap variabel. Dalam kasus di atas, dapat
didekati dengan ex post facto dengan melihat situasi kelas A dan B
yang sebelumnya tidak diadakan manipulasi. Artinya, kelas
tersebut berjalan secara alami. Misalnya, hasil ujian kelas A dan B
menunjukkan perbedaan dari satu siswa ke siswa lainnya. Dari
hasil tersebut, dilakukan klasifikasi antara siswa yang memiliki
nilai tinggi dengan siswa yang memiliki nilai rendah. Kemudian
dihubungkan antara kecemasan dengan hasil nilai. Misalnya
ditemukan kesimpulan bahwa nilai di atas rata-rata dikerjakan oleh
siswa yang memiliki kecemasan. Oleh karena itu, pengaruh
kecemasan siswa memang berpengaruh terhadap hasil ujian, yaitu
menjadi lebih baik.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan ini tentu saja
memiliki kekurangan. Dari kasus di atas dapat terlihat satu celah
kelemahan bahwa bisa jadi adanya faktor ketiga selain kecemasan
yang membuat nilai ujian meningkat. Hal ini dimungkinkan adanya
faktor ketiga, yaitu kecerdasan. Selain kecemasan, bisa
14

dimungkinkan bahwa kecemasan adalah situasi lain, sedangkan


kecerdasan menjadi penunjang utama.

c. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Ex Post Facto


1) Keungggulan
Metode ini baik untuk berbagai keadaan kalau metode yang
lebih kuat, yaitu metode eksperimental, tak dapat digunakan.
Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan
memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki
hubungan sebab akibat secara langsung. Apabila pengontrolan
terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak
realistik dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan
lain-lain variabel yang berpengaruh.
Apabila control di laboratorium untuk berbagai tujuan
penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari
segi etika diragukan atau dipertanyakan. Studi kausal-komparatif
menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat
gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi
apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan sejenis dengan
itu. Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan
rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah
membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat
dipertanggungjawabkan.

2) Kelemahan Pendekatan Ex Post Facto


Pendekatan ex post facto memiliki beberapa kelemahan.
Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut.
a) Tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas. Oleh karena
tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas, maka sukar untuk
memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang
15

relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-


faktor yang sedang diselidiki.
b) Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal,
melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor
dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang
disaksikan, menyebabkan soalnya sangat kompleks.
c) Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari
sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu
sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian
lain.
d) Apabila saling hubungan antar dua variabel telah
diketemukan, mungkin sukar untuk menentukan mana yang
sebab dan mana yang akibat.
e) Kenyataan bahwa dua, atau lebih, faktor saling
berhubungan tidaklah mesti memberi implikasi adanya
hubungan sebab akibat.
f) Menggolongkan-golongkan subjek ke dalam kategori
dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh)
untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan,
karena kategori-kategori itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tak
mantap.
g) Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan
pemilihan subyek secara terkontrol. Menempatkan kelompok
yang telah ada yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal
kecuali dalam hal dihadapkannya kepada variabel bebas adalah
sangat sukar.
16

D. Melakukan Penelitian Kuantitatif


1. Persyaratan Penelitian
a. Sistematis
Dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai
dengan yang kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan
efisien.
b. Berencana
Dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelum
dilakukan penelitian, sudah dipikirkan langkah-langkah
pelaksanaanya.
c. Mengikuti Konsep Ilmiah
Mulai dari awal sampai dengan akhir kegiatan, penelitian dilakukan
dengan mengikuti cara-cara atau langkah-langkah yang sudah
ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu
pengetahuan (taraf berpikir ilmiah oleh John Dewey di dalam
reflective thinking) yang antara lain meliputi:
1) The Felt Need
Penelitian dilakukan karena diawali oleh adanya kebutuhan atau
tantangan untuk menyelesaikan suatu masalah.
2) The Problem
Merumuskan masalah agar suatu masalah penelitian menjadi jelas
batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan
masakah tersebut.
3) The Hypothesis
Menetapkan hipotesis sebagai titik tolak mengadakan kegiatan
pemecahan masalah.
4) Collection of Data as Evidence
Mengumpulkan data untuk menguji hipotesis.
5) Concluding Belief
Menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan
dikembalikan kepada hipotesis yang sudah dirumuskan.
17

6) General Value of The Conclusion


Menentukan kemungkinan untuk mengadakan generalisasi dari
kesimpulan tersebut dan implikasinya di masa yang akan datang
(Sutrisno Hadi di dalam Suharsimi Arikunto, 1998: 15).

2. Prosedur Penelitian kuantitatif


Langkah-langkah penelitian kuantitatif menurut Suharsimi
Arikunto (1998: 17) adalah sebagai berikut:
a. Memilih Masalah
b. Melakukan Studi Pendahuluan
c. Merumuskan Masalah Rancangan
Penelitian
d. Merumuskan Anggapan Dasar dan Hipotesis
e. Memilih Pendekatan
f. Menentukan Variabel dan Sumber Data
g. Menentukan dan Menyusun Instrumen
h. Mengumpulkan Data
i. Menganalisis Data
Pelaksanaan
j. Menarik Kesimpulan
k. Menulis Laporan
Pembuatan Laporan

Langkah-langkah penelitian kuantitatif tersebut secara sederhana dapat


diuraikan sebagai berikut:

a. Memilih Masalah
Masalah timbul karena adanya tantangan, kesangsian atau
kebingungan terhadap suatu hal atau fenomena, kemenduaan arti
(ambiguity), halangan dan rintangan, celah (gap) baik antarkegiatan
18

atau antarfenomena baik yang telah ada ataupun yang akan ada.
Masalah yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Mempunyai Nilai Penelitian


Masalah mempunyai nilai penelitian apabila:
a) mempunyai sifat keaslian.
b) menyatakan suatu hubungan.
c) merupakan hal yang penting.
d) dapat diuji.
e) dinyatakan di dalam bentuk pertanyaan.

2) Mempunyai Fisibilitas (Dapat Dilaksanakan)


Persyaratan ini akan terpenuhi apabila:
a) Data serta metode untuk memecahkan masalah
tersedia.
b) Cukup waktu, tenaga dan biaya untuk
memecahkan masalah tersebut.
c) Ada dukungan dari pihak-pihak terkait.
d) Masalah tidak bertentangan dengan hukum,
moral dan etika.

3) Sesuai Dengan Kualifikasi Si Peneliti


Masalah yang baik adalah yang menarik bagi peneliti dan
sesuai dengan kualifikasi dari si peneliti itu sendiri.

4) Hasil Penelitian Bermanfaat


Ciri ini sekaligus merupakan syarat terpenting bagi suatu
kegiatan penelitian karena penelitian yang baik pada dasarnya
dilakukan dalam rangka untuk menyumbangkan hasil penelitian
tersebut kemajuan ilmu pengetahuan, meningkatkan efektifitas
kerja, atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada.
19

Masalah-masalah penelitian dapat diperoleh dari sumber


masalah sebagai berikut:
1) Pengalaman pribadi peneliti di dalam kehidupan sehari-hari.
2) Pengamatan pribadi terhadap lingkungan sekitar.
3) Bacaan-bacaan, baik yang ilmiah maupun yang non ilmiah.
20

b. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dimaksudkan untuk menjajagi kemungkinan
bisa tidaknya kegiatan penelitian diteruskan. Selain itu juga
dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti
agar masalahnya menjadi lebih jelas kedudukannya.
1) Manfaat Studi Pendahuluan
Manfaat dari studi pendahuluan antara lain terkait dengan
informasi yang di dapat oleh peneliti mengenai:
a) apa yang akan diteliti.
b) Di mana dan kepada siapa informasi dapat diperoleh.
c) Bagaimana cara memperoleh data/informasi.
d) Teknik apa yang akan dugunakan untuk menganalisis data.
e) Bagaimana harus mengambil kesimpulan serta
memanfaatkan hasil penelitian.
2) Cara Mengadakan Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dapat dilakukan pada 3 obyek yang biasa di
kenal dengan istila 3 p (paper, person, place).

c. Merumuskan Masalah Penelitian


Agar penelitian dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka
peneliti perlu untuk merumuskan masalahnya sehingga menjadi jelas
dari mana harus memulai, ke mana harus diarahkan dan dengan apa
bisa dijalankan. Umumnya masalah penelitian dirumuskan dengan
memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
2) Rumusan jelas dan padat.
3) mencerminkan ciri penelitian yang dilakukan.
Selain ketentuan di atas, masih terdapat beberapa ketentuan
yang diantaranya adalah rumusan masalah harus merupakan dasar bagi
perumusan judul, perumusan tujuan, dan pembuatan hipotesis.
Sebagai contohnya:
21

Judul : Studi Korelasi antara Motivasi Belajar dengan Prestasi


Belajar Bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun Tahun
Ajaran 2008-2009
Masalah: Adakah korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi
belajar bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun tahun
ajaran 2008-2009?
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara motivasi
belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa
SMUN 3 Madiun tahun ajaran 2008-2009

Untuk mengetahui apakah judul tersebut sudah memenuhi


persyaratan sebagai judul penelitian yang baik, maka bisa dilihat dari
unsur-unsur yang terdapat di dalam judul penelitian tersebut yang
diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Sifat atau jenis penelitian : Penelitian Korelasi


2) Obyek yang akan diteliti : Motivasi Belajar dan
Prestasi Belajar Bahasa Inggris
3) Subyek Penelitian : Siswa SMU 3 Madiun
4) Lokasi Penelitian : Sekolah SMU 3 Madiun
5) Waktu Penelitian : Tahun Ajaran 2004-2005

d. Merumuskan Aggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian


1) Anggapan Dasar
Anggapan dasar atau postulat menurut Winarno Surakhmad
di dalam Suharsimi Arikunto (1998: 60) adalah sebuah titik tolak
pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Setiap
peneliti dapat merumuskan postulat sendiri-sendiri yang bersifat
sangat subyektif. Seorang peneliti mungkin masih meragukan suatu
anggapan dasar yang oleh peneliti lain sudah diterima sebagai
22

suatu kebenaran. Dari contoh Judul penelitian di atas anggapan


dasar penelitian antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut:
a) Siswa SMUN 3 Madiun mendapatkan mata pelajaran
Bahasa Inggris.
b) Motivasi belajar siswa SMUN 3 Madiun bervariasi.
c) Prestasi belajar siswa SMUN 3 Madiun bervariasi.

2) Hipotesis Penelitian
a) Pengertian Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara yang masih perlu
dibuktikan kebenarannya di lapangan. Berasal dari kata hipo =
lemah dan thesis = kebenaran. Hipotesis diturunkan dari kajian
teoretik yang dijembatani penyusunannya oleh kerangka
berpikir.

b) Macam Hipotesis
Hipotesis dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu hipotesis
nol (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan ketiadaan, dan
hipotesis alternatif (Ha/H1) yang menyatakan keberadaan.
Dari contoh judul penelitian di atas, hipotesis
penelitiannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
a) Hipotesis Nol (Ho):
Tidak ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi
belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran
2004-2005.

b) Hipotesis Alternatif (Ha/H1):


Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar
bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005
23

Contoh lain dari perumusan hipotesis penelitian adalah:


Contoh Ho = “Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara
siswa yang mengikuti les dengan siswa yang
tidak mengikuti les”

Contoh H1 = “Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa


yang mengikuti les dengan siswa yang tidak
mengikuti les”
Berkenaan dengan perumusan hipotesis tersebut terdapat beberapa
hal yang perlu diperhatikan di dalam merumuskan hipotesis yaitu:
a) Hipotesis diperlukan pada penelitian yang bersifat inferensial
pertautan antara dua variabel atau lebih.
b) Susunan hipotesis hendaknya menggunakan kalimat deklaratif,
pertautan antara 2 variabel, jelas dan padat, serta
memungkinkan untuk diuji.
c) Penelitian yang mengkaji pertautan dua variabel,
membutuhkan satu hipotesis (“Ada ….. antara variabel A
dengan variabel B”). Penelitian yang mengkaji pertautan tiga
variabel, membutuhkan tiga hipotesis = (1) “Ada ….. antara
variabel A-1 dengan variabel B”, (2) “Ada ….. antara variabel
A-2 dengan variabel B”, (3) “Ada interaksi antara A-1 dan A-2
dalam memberikan pengaruh kepada B”
d) Penelitian deskriptif-kualitatif-eksploratif biasanya tidak
memerlukan hipotesis karena jenis penelitian ini cenderung
bersifat menggali satu variabel saja. Peneliti cukup
melaporkan secara deskriptif hasil galian itu baik dalam angka-
angka maupun uraian kalimat. Contoh = “studi tentang
kemampuan menulis karangan argumentasi siswa SD Bringin
kabupaten Ngawi tahun pelajaran 2002-2003”. Ingat dalam
mata kuliah statistik disebutkan “statistik deskriptif hanya
bertugas mengumpulkan-menata-menginterpretasi data, tidak
24

sampai pada penyimpulan”. Penyimpulan hanya terjadi pada


statistik inferensial.

e. Memilih Pendekatan (Metode dan Rancangan Penelitian)


Menurut Moh Nasir (1999: 55-98), secara umum, terdapat
banyak metode yang dapat digunakan untuk penelitian yang antara
antara lain:
1) Metode survei = metode untuk memperoleh fakta dari gejala yang
ada dan mencari keterangan secara faktual baik tentang institusi
sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.
2) Metode komparasional = metode penelitian deskriptif yang ingin
mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat dengan
menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya
suatu fenomena tertentu.
3) Metode eksperimen = metode observasi di bawah kondisi buatan
(artificial condition) di mana kondisi tersebut dibuat dan diatur
oleh si peneliti.
4) Metode sejarah = metode penelitian yang menyelidiki secara kritis
terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pemahaman di
masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati
tentang bukti validitas dari mana sumber sejarah serta interpretasi
dari sumber-sumber keterangan tersebut.
5) Metode deskriptif = metode pencarian fakta dengan interpretasi
yang tepat. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam
masyarakat, serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat, serta
situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-
kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses
yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu
fenomena.
6) Metode studi kasus = metode penelitian tentang status subjek
penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas
25

dari keseluruhan personalitas. Subjek penelitian dapat saja


individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat.
7) Metode analisis isi / content analysis = metode yang biasa dipakai
dalam analisis karya tulis seperti karya sastra dan lain-lain. Metode
ini dapat dipadukan dengan metode kualitatif, desktiptif, dan teori
kritik / apresiasi sastra, dan masih ada metode-metode yang
lainnya.
Sementara itu, metode penelitian kuantitatif juga memiliki
cakupan yang sangat luas. Secara umum, metode penelitian kuantitatif
dibedakan atas dua dikotomi besar, yaitu eksperimental dan
noneksperimental. Eksperimental dapat dipilah lagi menjadi eksperimen
sungguhan dan kuasi (semu), subjek tunggal dsb. Sedangkan
noneksperimental berupa deskriptif, komparatif, korelasional, survey,
dan ex post facto.
Rancangan penelitian kuantitatif dapat didesain sesuai dengan
pola hubungan antar variabel. Untuk itu, rancangan penelitian dapat
berupa = penelitian eksperimental, deskriptif, korelasional, dan lain
sebagainya. Pada intinya rancangan penelitian dibagi dalam dua
kelompok besar, yaitu = studi tentang hubungan dan studi tentang
perbedaan. Pola dari dua kelompok itu digambar dalam diagram
sebagai berikut:
1) Hubungan:
(Interaksi antara X-1 dan X-2 terhadap Y)
X-1

X-2
Diagram 1
26

(diagram di atas merupakan desain koresional  pertautan 3


variabel = 2 variabel bebas yaitu X-1 dan X-2, dan 1 variabel
terikat yaitu Y  membutuhkan tiga hipotesis)

X Y

Diagram 2
(Catatan: diagram di atas merupakan desain koresional 
pertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu X, dan 1 variabel
terikat yaitu Y  membutuhkan satu hipotesis)

2) Perbedaan:
FAKTOR B
B1 B2
FAKTOR A A1 Y Y
A2 Y Y

Diagram 3
(diagram di atas merupakan desain factorial 2 X 2  2 faktor 
pertautan 3 variabel = 2 variabel bebas, yaitu A dan B, serta 1
variabel terikat yaitu Y  membutuhkan 3 hipotesis)

FAKTOR A
A-1 A-2 A-3 A-4

Y Y Y Y

Diagram 4

(diagram di atas merupakan desain 1 faktor  pertautan 2 variabel


= 1 variabel bebas yaitu A yang terdiri dari 4 jenis perlakuan, dan 1
variabel terikat yaitu Y  membutuhkan 1 hopotesis)
27
28

f. Menentukan Variabel dan Sumber Data


1) Variabel Penelitian
a) Variabel adalah fenomena yang merupakan objek penelitian,
yaitu konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai, yaitu
sumber dari mana data diambil. Contoh = jenis kelamin (punya
nilai laki-laki dan perempuan), berat badan (punya nilai ringan,
sedang, berat)
b) Macam Variabel:
(1) Variabel kontinu, yaitu variabel yang dapat
ditentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dengan
desimal yang tidak terbatas. Contoh = berat (75,09 kg.,
76,14 kg., 80,00 kg.)
(2) Variabel descrete atau variabel kategori yaitu
variabel yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
pecahan atau desimal di belakang koma, variabel ini bersifat
dikotomis (dua kategori). Contoh = Jenis kelamin (laki-laki
dan perempuan), status perkawinan (kawin dan belum
kawin). Variabel yang nilainya lebih dari dua disebut
variabel politom. Contoh = tingkat pendidikan (SD, SLTP,
SLTA)
(3) Variabel independent (bebas) = variabel anteseden,
yaitu variabel yang secara bebas dapat dimanipulasi oleh
peneliti (dalam penelitian eksperimen), secara bebas
diambil oleh peneliti (sebagai in put) dan dapat
mempengaruhi variabel terikat (dalam penelitian
eksperimen atau ex post facto). Variabel dependent (terikat)
= variabel konsekuen, yaitu variabel yang kondisinya
merupakan akibat (out put) dari variabel bebas, bergantung
pada perilaku variabel bebas.
(4) Variabel moderator, yaitu variabel yang
berpengaruh terhadap variabel dependent tetapi tidak utama.
29

(5) Variabel random, yaitu variabel lain kecuali


moderator yang dapat berpengaruh terhadap variabel
dependent.
(6) Variabel aktif, yaitu variabel yang dimanipulasikan
oleh peneliti (yang aktif mempengaruhi variabel terikat).
(7) Variabel atribut, yaitu variabel yang tidak dapat
dimanipulasikan oleh peneliti karena karakternya melekat
pada objek / manusia. Contoh = intelegensi, jenis kelamin,
status sosial ekonomi, pendidikan, sikap, dll.

c) Pengukuran Variabel Penelitian


(1) Pengukuran merupakan kegiatan penetapan atau pemberian
angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan
tertentu.
(2) Macam-macam ukuran:
 Ukuran nominal = adalah ukuran di mana angka hanya
sebagai label saja, tidak menunjukkan tingkatan apa-
apa. Contoh = 1 (pria); 2 (wanita); 0 (banci)
 Ukuran ordinal = adalah ukuran di mana angka
menyatakan tingkatan, tetapi tidak memberikan nilai
absolut. Ukuran ini hanya digunakan untuk
mengurutkan / merangking objek dari rendah ke tinggi.
Skala rangking bukanlah skala yang mempunyai
interval yang sama. Contoh = 1 (25), 2 (60), 3 (65), 4
(95)
 Ukuran interval = adalah ukuran di mana angka
menunjukkan suatu tingkatan, tidak memberi nilai
absolut. Ukuran ini menyatakan bahwa interval antara
angka-angka tersebut sama besarnya / jaraknya. Contoh
nilai tes = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
30

 Ukuran rasio = adalah ukuran di mana angka


menunjukkan suatu tingkatan dan memberi nilai
absolut. Ukuran ini mempunyai titik nol. Angka
menunjukkan nilai yang sebenarnya dari objek yang
diukur. Contoh = jika ada 4 bayi: A, B, C, D
mempunyai berat badan 1 kg, 3 kg, 4 kg, 5 kg, maka
ukuran rasionya dapat digambarkan bahwa = 0 = 0, 1 =
A, 2 = 0, 3 = B, 4 = C, 5 = D
Teknik analisis statistik yang digunakan bagi sebuah
penelitian kuantitatif, sangat ditentukan oleh ukuran dari
setiap variable penelitian yang digunakan.

d) Devinisi operasional variabel adalah devinisi berdasarkan sifat


yang diamati sesuai indikator-indikator yang ditentukan oleh
peneliti. Contoh = Status sosial ekonomi yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah tingkat atau kedudukan orang tua siswa
dalam bidang ekonomi. Status sosial ekonomi tersebut
diungkap dengan indikator-indikator yaitu: jenis/macam
pekerjaan, jenjang pendidikan, masa kerja, ruang golongan
gaji, jabatan struktural, instansi kerja, besar gaji dan tunjangan
tiap bulan, fasilitas hidup.
e) Penyusunan devinisi operasional variabel yang berdasarkan
pada sifat dan indikator ini dapat disusun dengan logika
berpikir kritis, pengetahuan ilmiah dan pengalaman empiris
(Nana Sujana, 1990:14).
f) Devinisi operasional variabel berfungsi untuk mempertajam
pemahaman konsep dan ruang lingkup variabel-variabel yang
diambil peneliti sendiri, agar menjadi pedoman operasional
bagi peneliti pada saat melaksanakan penelitian.

2) Sumber Data
31

a) Pengertian Data
Data adalah keterangan mengenai sesuatu yang berbentuk
angka-angka dan mungkin bukan angka-angka (kuantitatif
maupun kualitatif)

b) Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling


(1) Populasi = semua anggota dari kelompok manusia,
kejadian, barang, data yang merupakan objek penelitian
(2) Sampel = sebagian kecil dari populasi yang harus
mewakili / representative. Jumlah sampel dapat ditentukan
dengan berbagai kriteria. Donald Ary menyebut 10 – 20
persen atau lebih (lihat Terj. Arief Furchon, 1982:198). Jika
jumlah objeknya kecil (kurang dari 30 orang) sebaiknya
menggunakan sampel total (sensus), artinya semuanya
dijadikan objek penelitian.
(3) Macam-macam teknik sampling (teknik penentuan sample):
 Random sampling = teknik pengambilan sampel di
mana semua anggota populasi mempunyai hak /
kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Teknik
ini dapat dilakukan dengan cara (1) undian = dengan
gulungan kertas, (2) ordinal = setelah ditentukan jumlah
sampel 200 orang dari 1000 orang (jadi seper lima-nya),
maka kita buat 5 gulungan kertas diberi angka 1, 2, 3, 4,
5. Kita ambil satu gulungan, jika jatuh nomor 3, maka
angka pertama dimulai dengan nomor 3, lalu = 8, 13,
18, 23, dan seterusnya. (3) dengan tabel bilangan
random, yaitu dengan menjatuhkan ujung pensil.
 Sampel berstrata (stratified sampling) = teknik ini
digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi
terbagi atas tingkat-tingkat atau strata. Setelah
ditentukan tiap-tiap stratanya (yang mewakili populasi),
32

lalu tiap strata diambil secara random. Contoh = tingkat


pendidikan, strata umur, strata kelas, dll.
 Sampel wilayah (area sampling) = teknik ini digunakan
jika peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas
area-area atau wilayah-wilayah. Setelah ditentukan tiap-
tiap wilayahnya (yang mewakili karakter seluruh
wilayah), lalu tiap wilayah diambil secara random.
Contoh = dari 34 provinsi di Indonesia diambil
beberapa propinsi yang mencerminkan keberhasilan KB
di Indonesia.
 Sampel proporsi (proportional sampling) = teknik ini
mirip sampel berstrata atau area dan tiap tiap bagian
diambil secara proporsional dalam persen yang telah
ditentukan. Setelah ditentukan tiap-tiap wilayahnya atau
stratanya (yang mewakili karakter seluruh wilayah atau
strata), lalu tiap bagian diambil secara random
berdasarkan jumlah proporsi yang ditentukan peneliti.
Sehingga sampel ini dapat digabung menjadi = stratifief
proporsional random sampling atau area proporsional
random sampling.
 Sampel bertujuan (purposive sampling) = teknik ini
digunakan karena peneliti mempunyai tujuan tertentu
atas beberapa pertimbangan peneliti. Pertimbangan itu
antara lain misalnya = keterbatasan waktu, tenaga dan
dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang
besar. Meskipun demikian, peneliti harus
mempertimbangkan bahwa = sampel harus mewakili,
sampel harus benar-benar diambil dari subjek yang
banyak mengandung ciri-ciri yang ada pada populasi
(key subject).
33

 Sampel kuota (Quota sampling) = teknik ini digunakan


jika peneliti telah menentukan jumlah tertentu yang
akan diambil sebagai sampel. Yang penting adalah
memenuhi quota tertentu yang ditetapkan dan
representatif.
 Sampel kelompok (Cluster sampling) = teknik ini
digunakan jika peneliti merasa bahwa populasinya
terdiri dari kelompok-kelompok yang setara, misalnya
= petani, pegadang, nelayan, ABRI, pegawai, dll.
Sampel tetap diambil secara representatif.

g. Menentukan dan Menyusun Instrumen


1) Intrumen penelitian dibuat dengan menyesuaikan teknik
pengambilan data yang dipilih.
2) Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
a) Validitas
(1) Validitas = menunjuk kepada sejauh mana suatu alat
mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Donald
Ary, 1982:281).
(2) Ada beberapa jenis validitas = (1) validitas isi = sejauh
mana instrumen mencerminkan isi yang dikehendaki.
Validitas ini sering disebut validitas kurikulum karena
suatu tes disusun berdasarkan kurikulum. (2) Validitas
bangun pengertian = menunjuk kepada apa unsur-unsur
yang membentuk pengertian itu dan sejauh mana hasil tes
dapat ditafsirkan menurut bangunan pengertian itu. Untuk
menyusun bangun pengertian (yang lalu berwujud
indikator-indikator) ini peneliti dapat menggunakan logika
berpikir, pengetahuan ilmiah, dan pengetahuan empiris
(Nana Sujana, 1990:14). (3) Validitas muka = berhubungan
dengan penilaian para ahli terhadap suatu alat ukur. Valid
34

kalau telah diperiksa oleh seorang ahli (pembimbing). (4)


Validitas empiris = valid jika telah diujicobakan di
lapangan. (5) dan lain-lain.
(3) Validitas empiris dapat diukur secara internal dan secara
eksternal. Secara internal instrumen penelitian akan diukur
tingkat kesulitannya dan tingkat daya bedanya. Secara
eksternal, hasil uji cobanya akan dibandingkan dengan nilai
standar. Ada banyak rumus statistik yang dapat digunakan
untuk melakukan komputasi guna mengetes validitas ini =
antara lain rumus korelasi product moment. Daya beda dan
tingkat kesulitan dapat dikomputasi dengan metode
Flanagan.

b) Reliabilitas
(4) Reliabilitas mengacu kepada sejauh mana suatu alat
ukur secara ajeg mengukur apa yang diukurnya. (Donald Ary,
1982:281). Reliabilitas diukur dengan teknik: test-retest, split-
half, tes parallel dan komputasinya dapat dengan menggunakan
rumus statistik korelasi product moment.

h. Mengumpulkan Data
Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk
menjaring data yang diperlukan sesuai dengan sampel yang telah
ditentukan. Macam-macam teknik sebagai berikut:
1) Interview atau wawancara. Dalam wawancara diperlukan panduan
atau pedoman wawancara, yaitu kisi-kisi yang berisi butir-butir
pertanyaan agar wawancaranya terarah. Wawancara dapat
dilakukan secara terbuka/bebas (mendalam = in-depth
interviewing) atau tertutup (dengan jawaban ya-tidak atau dengan
tanda checking)
35

2) Observasi. Sama dengan wawancara juga diperlukan kisi-kisi


observasi sehingga observer dapat mencatat gejala secara terurai
atau membubuhkan tanda checking.
3) Dokumentasi, yaitu teknik mengambil data dengan memeriksa
dokumen-dokumen yang telah ada sebelum penelitian berlangsung.
4) Qoessioner atau angket. Sama dengan interview atau observasi,
angket juga dibuat dengan kisi-kisi yang ditentukan oleh indikator-
indikator atau diskriptor-diskriptor. Ingatlah bagaimana menyusun
indikator (Nana Sujana, 1990:14).
5) Tes, dan lain-lain

i. Menganalisis Data
1) Tahapan Analisis Data Kuantitatif
Ada dua tahap dalam menganalisis data kuantitatif:
a) Analisis deskriptif yang menganalisis pendeskripsian data
dengan menyajikan: distribusi frekuensi. nilai median, mean,
modus, standar deviasi, histogram dan poligon;
b) Analisis inferensial yang macamnya terdiri antara lain sebagai
berikut:
c) Uji beda dua rata-rata = yaitu pembandingan dua rata-rata
yang menguji 3 macam hipotesis yaitu (a) ada berbedaan VS
tidak ada perbedaan, (b) lebih besar VS lebih kecil, (c) lebih
kecil VS lebih besar. Pilihlah jenis hipotesis sesuai dengan
desain penelitian yang dilakukan. Teknik komputasi statistik
yang dapat digunakan untuk uji beda dua rata-rata ialah t-test
atau z-test. Untuk uji beda lebih dari dua rata-rata
menggunakan Anava (analysis of variance) baik satu jalan
maupun dua jalan
d) Korelasi = yaitu teknik analisis statistik yang menguji ada atau
tidak adanya hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada
yang berpendapat bahwa uji korelasi ini dipakai untuk menguji
36

hubungan dua variabel atau lebih yang peneliti tidak tahu mana
yang variabel aktif dan mana yang variabel pasif.
e) Regresi = yaitu teknik analisis statistik yang menguji ada atau
tidak adanya sumbangan (kontribusi) variabel prediktor
(variabel bebas) terhadap variabel terikatnya. Uji regresi ini
dapat regresi sederhana (1 prediktor) dan regresi ganda (2 atau
lebih prediktor)
f) Chi Kuadrat, dan lain sebagainya. (Sudjana, 1982, Bandung:
Tarsito).
2) Hasil analisis data.
Bagian ini merupakan bagian yang beriisi laporan hasil
komputasi. Jadi, daftar data mentah (daftar nilai dalam tabel,
misalnya) hendaknya tidak ditulis di sini, tetapi diletakkan dalam
lampiran.

j. Menarik Kesimpulan
Kesimpulan adalah hasil dari suatu proses tertentu, yaitu
menarik dalam arti memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat
lain. Oleh karena itu, kesimpulan penelitian harus selalu mendasarkan
diri pada semua data yang diperoleh dari kegiatan penelitian. Dengan
kata lain, penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data. Oleh
karena itu kesimpulan tidak dapat lepas dari problematic dan hipotesis
penelitian.
Contoh:
Problematik:
Adakah korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi
belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran
2004-2005?
Hipotesis:
37

Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar


bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-
2005.
Kesimpulan:
Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar
bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-
2005.
k. Menulis Laporan
Penelitian adalah kegiatan ilmiah. Maka dari itu laporan
penelitian yang dibuat juga harus mengikuti aturan-aturan penulisan
karya ilmiah. Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh pembuat
laporan penelitian:
1) Penulis laporan harus tahu betul kepada siapa laporan itu ditujukan.
2) Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak
mengikuti proses penelitian.
3) Penulis laporan harus menyadari bahwa latar belakang
pengetahuan, pengalaman dan minat pembaca laporan tidaklah
sama.
4) Laporan harus jelas dan meyakinkan.

Untuk melengkapi pemahaman mengenai penelitian kuantitatif, berikut


ini akan diberikan beberapa karakteristik yang dapat membedakan pendekatan
kuantitatif dari kualitatif.

1. Karakteristik Pendekatan Kuantitatif


Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pendekatan kuantitatif
berdasarkan atas paradigma positivisme yang berpandangan bahwa
peneliti dapat dengan sengaja mengadakan perubahan terhadap dunia
sekitar dengan melakukan berbagai eksperimen. Para penganut positivisme
percaya bahwa manusia dapat menemukan aturan-aturan, hukum-hukum,
dan prinsip-prinsip umum tentang dunia kenyataan baik dalam ilmu-ilmu
38

alam maupun dalam ilmu-ilmu sosial termasuk pendidikan. Hukum-


hukum itu dapat ditemukan dari data empiris dengan menggunakan sampel
yang representatif. Mereka juga berpendirian bahwa realitas itu dapat
dipecah menjadi bagian-bagian dan hukum yang berlaku bagi bagian yang
kecil juga berlaku untuk keseluruhan.
Adapun karakteristik pendekatan kuantitatif yang dilandasi oleh
paradigma positivisme menurut Nasution (1998), Brannen (1999), Bryman
(1998) Strauss dan Corbin (2002) adalah sebagai berikut : (a) logika
eksperimen dengan memanipulasi variabel yang dapat diukur secara
kuantitatif agar dapat dicari hubungan antara berbagai variabel. (b)
mencari hukum universal yang dapat meliputi semua kasus, meskipun
dengan pengolahan statistik dicapai tingkat probabilitas dengan
mementingkan sampel untuk mencari generalisasi, (c) netralitas
pengamatan dengan hanya meneliti gejala-gejala yang dapat diamati
langsung dengan mengabaikan apa yang tidak dapat diamati dan diukur
dengan instrumen yang valid dan reliabel. Netralitas memungkinkan
penelitian itu direplikasi, (d) bersifat atomistik, yaitu memecah kenyataan
dalam bagian-bagian dan mencari hubungannya, (e) bersifat deterministik,
tertuju pada kepastian dengan mengadakan pengujian terhadap hipotesis,
dan (f) tujuan yang pokok adalah mencapai generalisasi yang dapat
digunakan untuk meramalkan atau memprediksi.
Di samping itu pendekatan kuantitatif juga dapat dijelaskan ciri-
cirinya ditinjau dari operasionalisasinya, yaitu : (1) desain penelitian
kuantitatif bersifat spesifik, jelas, rinci, hipotesis dirumuskan dengan tegas
dan ditentukan secara mantap sejak awal untuk dijadikan pegangan bagi
setiap langkah penelitian yang dilakukan, (2) tujuan penelitian kuantitatif
adalah untuk menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori dan
mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif, (3) instrumen
penelitian menggunakan tes, angket, wawancara, dengan alat berupa
kalkulator, komputer, dan sebagainya, (4) data penelitian bersifat
kuantitatif yang diperoleh dari hasil pengukuran berdasarkan variabel yang
39

dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen, (5) sampelnya besar,


representatif, dan diusahakan sedapat mungkin diambil secara random, (6)
analisis data dilakukan pada tahap akhir setelah pengumpulan data selesai,
bersifat deduktif dan menggunakan statistik, dan (7) hubungan antara
peneliti dengan responden berjarak, sering tanpa kontak langsung.

2. Karakteristik Pendekatan Kualitatif


Pendekatan kualitatif berdasarkan paradigma post-positivisme
yang mengikuti jalan yang berbeda dengan paradigma positivisme.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dilaksanakan dalam
situasi alamiah atau “natural setting” sehingga pendekatan ini juga disebut
metode naturalistik. Pada hakekatnya pendekatan kualitatif itu adalah
mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan
mereka, berusaha memahami bahasa dan penafsiran mereka mengenai
dunia sekitarnya. Untuk itu peneliti harus terjun ke lapangan dan berada di
tengah-tengah mereka dalam waktu yang cukup.
Menurut Nasution (1998), Suryabrata (1999), Moleong (1999),
Bogdan dan Biklen (2002), Lincoln dan Guba (2003), pendekatan
kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) sumber data adalah
situasi alamiah, peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi
sebagaimana adanya, langsung berhubungan dengan situasi dan orang
yang diteliti, (b) peneliti merupakan alat pengumpul data utama sehingga
disebut “key instrument”. Sebagai instrumen utama, peneliti dapat
memahami interaksi antar manusia, mengetahui gerak roman muka,
menyelami perasaan dan nilai yang terkandung dalam ucapan dan kegiatan
responden, (c) bersifat deskriptif sehingga datanya dituangkan dalam
bentuk uraian, (d) mengutamakan proses dari pada hasil, karena dengan
mengamati proses tersebut, maka hubungan antara bagian-bagian yang
diteliti akan jauh menjadi lebih jelas, (e) sampelnya purposif tidak bersifat
random dan jumlahnya sedikit tetapi dipilih orang-orang yang benar-benar
40

mengetahui permasalahan (key person) sesuai dengan tujuan penelitian, (f)


mengutamakan data langsung atau first hand dan mencari makna dibalik
perilaku, (g) partisipasi tanpa mengganggu, artinya untuk memperoleh
situasi alamiah, peneliti tidak menonjolkan diri saat melakukan observasi
agar tidak dianggap sebagai “orang luar” sehingga tidak mengganggu
kewajaran situasi, (h) mengutamakan perspektif emik, yaitu
mengutamakan pandangan responden dan bukan pandangan peneliti
(perspektif etik), (i) trianggulasi, yaitu mengadakan uji validitas data
kualitatif dengan mengadakan pengecekan tentang kebenaran data yang
diperoleh dari satu responden dengan responden lain yang dipandang juga
mengetahui kebenaran data tersebut, dan (j) analisis data bersifat induktif.
Di samping itu, ditinjau dari segi operasionalisasinya penelitian
yang menggunakan pendekatan kualitatif juga dapat diidentifikasi ciri-
cirinya, yaitu: (1) desain penelitian kualitatif bersifat umum, singkat,
fleksibel, dan berkembang dalam proses penelitian, serta tidak ada
hipotesis (2) tujuan penelitian adalah untuk memperoleh pemahaman
makna verstehen, menggambarkan realitas yang kompleks, (3) teknik
penelitian adalah dengan observasi berpartisipasi dan wawancara
mendalam sehingga bersifat deskriptif, (4) analisis data dilakukan secara
terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian dan bersifat induktif, dan
(5) hubungan antara peneliti dengan responden adalah akrab, empati, dan
kedudukannya sama.
Untuk memperjelas perbedaan di antara dua pendekatan tesebut,
berikut ini disampaikan pula ciri pembeda diatara penelitian kuantitatif
dan penelitian kualitatif sebagaimana tercantum di dalam Tabel 1 berikut.
41

Tabel 1:
PERBEDAAN ANTARA PENELITIAN KUANTITATIF DENGAN
PENELITIAN KUALITATIF

CIRI PEMBEDA PENELITIAN PENELITIAN


KUANTITATIF KUALITATIF
1. Datanya Berupa angka-angka Berupa kata-kata
2. Sifat Datanya Bersifat monitetik (Satu Bersifat ideosinkretis (Satu
tanda satu makna) tanda banyak makna)
3. Peranan Hipotesis Sangat penting Tidak harus disebutkan,
hanya sebagai alternatif,
tidak untuk diuji.
4. Peranan Statistik Statistik mutlak Tidak harus menggunakan
digunakan statistik.
5. Peranan Instrumen Mengandalkan pada Peneliti sendiri sebagai
intrumen instrumen karena harus
berinteraksi dengan obyek.
6. Sifat Proses dan Lebih berorientasi pada Lebih berorientasi pada
Produk produk proses
7. Sifat interaktif Tidak interaktif Interaktif
8. Nilai-nilai Bebas nilai Tidak bebas nilai
9. Generalisasi Dapat digeneralisisikan Tidak dapat
digeneralisisikan
10. Struktur Sudah memiliki struktur Sedang mencari bentuk
yang baku
42

STRUKTUR PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

JUDUL
PENGESAHAN
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Penelitian

BAB II. KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS


A. Kajian Teoretis
B. Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Berpikir
D. Hipotesis

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian
B. Metode Penelitian
C. Populasi, Sampel, dan Sampling
D. Teknik Pengumpulan Data
E. Teknik Analisis Data
F. Hipotesis Statistik

DAFTAR PUSTAKA
43

PENJELASAN SINGKAT ELEMEN DALAM PROPOSAL


PENELITIAN KUANTITATIF

1. Judul
Judul penelitian ditulis secara ringkas tetapi lengkap. Elemen-elemen yang
seyogyanya ada dalam judul adalah nama variabel, hubungan antar variabel,
metode penelitian, lokasi penelitian, dan tahun penelitian. Gaya penulisan judul
disesuaikan dengan selera penulis/pembimbing.

2. Pengesahan
Pengesahan berupa persetujuan komisi pembimbing tentang proposal
penelitian yang diajukan oleh mahasiswa. Persetujuan tersebut diberikan dalam
bentuk tanda tangan dari komisi pembimbing, yang biasanya berjumlah dua
orang untuk skripsi/tesis dan tiga orang untuk disertasi.

3. Daftar Isi
Daftar isi ditulis dengan format sebagaimana daftar isi pada struktur penulisan
proposal di atas. Masing-masing butir/elemen dalam daftar isi diikuti nomor
halaman.

4. Latar Belakang Masalah


Bagian ini berisi alasan yang melatarbelakangi dilaksanakannya penelitian
dengan topik sebagaimana tercermin dalam judul. Untuk itu perlu
dikemukakan beberapa hal sebagai berikut: Apa pentingnya masalah tersebut
diteliti? Sudah adakah penelitian serupa yang dilaksanakan? Apabila sudah,
apa perbedaan penelitian yang akan dilaksanakan dengan penelitian yang telah
ada?

5. Identifikasi Masalah
Dari uraian dalam Latar Belakang Masalah, diharapkan muncul berbagai
persoalan yang terkait terutama dengan variabel terikat (Y). Oleh karena itu,
44

dalam bagian ini diidentifikasikan berbagai persoalan/masalah tersebut.


Biasanya identifikasi masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dan ditulis
dalam bentuk paragraf. Jumlah masalah yang diidentifikasi dalam bagian ini
berkisar antara 5 hingga 10 buah.

6. Pembatasan Masalah
Karena terbatasnya kemampuan peneliti (baik kemampuan metodologis
maupun finansial/logistik) dan terbatasnya waktu, maka berbagai persoalan
yang telah teridentifikasi tidak mungkin dapat ditangani oleh peneliti sekaligus.
Oleh karena itu, dalam bagian ini peneliti membatasi lingkup penelitian yang
akan digarap. Pembatasan tersebut menyangkut penentuan jenis dan jumlah
variabel bebas dan variabel terikat serta hubungan antara keduanya.

7. Rumusan Masalah
Atas dasar pembatasan masalah di atas, peneliti merumuskan masalah
penelitiannya secara jelas. Rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif yang
menguji hipotesis diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya ya/tidak (yes/no
question). Pertanyaan tersebut hendaknya bersifat jelas, operasional, dan
terukur.

8. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dirumuskan secara spesifik berdasarkan masalah yang dikaji.
Dalam beberapa hal tujuan penelitian merupakan parafrase dari rumusan
masalah. Namun demikian rumusan lain dapat digunakan sepanjang relevan
dengan masalahnya. Hendaknya dihindari rumusan tujuan penelitian yang
terlalu umum.

9. Manfaat Penelitian
Dalam bagian ini dikemukakan manfaat yang dapat dipetik apabila penelitian
telah terlaksana. Manfaat tersebut dapat berupa manfaat praktis maupun
manfaat teoretis. Uraian tentang manfaat tersebut hendaknya bersifat spesifik,
45

yang terkait langsung dengan topik penelitian. Hendaknya dihindarkan uraian


tentang manfaat yang terlalu umum dan bombastis.

10. Kajian Teori


Bagian ini berisi deskripsi teori yang relevan dengan masalah/variabel yang
dikaji. Targetnya adalah terbentuknya konstruk teoiretis tiap variable. Proses
yang dilalui adalah sebagai berikut: memilih beberapa sumber teori yang
relevan, mendeskripsikan masing-masing teori, melakukan analisis kritis
terhadap masing-masing teori, melakukan analisis komparatif antar teori
berdasarkan hasil analisis kritis tersebut, dan membuat sintesis. Hendaknya
dihindari penulisan kajian teoretis yang hanya berupa kompilasi pendapat
orang lain.

11. Penelitian yang Relevan


Pada bagian ini dikemukakan hasil penelitian yang relevan dengan topik yang
sedang diteliti, baik yang dilakukan oleh peneliti sendiri maupun oleh orang
lain. Di samping untuk menghindari plagiasi, hasil penelitian yang relevan
dapat memperkuat teori sebagai landasan untuk menyusun kerangka berpikir.

12. Kerangka Berpikir


Apabila dalam Bagian Kajian Teori peneliti hanya mendeskripsikan teori
untuk masing-masing variabel, maka dalam Bagian Kerangka Berpikir
peneliti membuat kaitan antarvariabel. Kerangka berpikir berupa uraian logis
tentang hubungan antarvariabel berdasarkan konsep-konsep yang telah
diuraikan dalam kajian teori. Dengan kekuatan analisis dan style-nya sendiri
peneliti membuat kaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Untuk
memperkuat uraiannya itu peneliti dapat mengutip hasil penelitian orang lain
yang relevan. Kerangka berpikir ini digunakan sebagai landasan untuk
merumuskan hipotesis.
46

13. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban teoretis atas masalah yang diajukan. Oleh
karena itu, hipotesis dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan. Hipotesis
diajukan berdasarkan kerangka berpikir yang telah dibuat. Ketepatan
hipotesis tergantung pada ketajaman kerangka berpikirnya dan ketajaman
kerangka berpikir sebagian ditentukan oleh kedalaman kajian teorinya.

14. Tempat dan Waktu Penelitian


Dalam bagian ini dijelaskan tempat dan waktu penelitian. Ketika menjelaskan
tempat penelitian, peneliti belum menyinggung subjek penelitian. Yang
dijelaskan hanya tempatnya. Sementara itu, waktu penelitian mengacu pada
rentang waktu yang digunakan untuk melaksanakan penelitian, dari
perencanaan hingga pelaporan.

15. Metode Penelitian


Dalam bagian ini dijelaskan metode penelitian yang digunakan (misalnya,
metode eksperimen) sesuai dengan masalahnya. Yang perlu dijelaskan adalah
konsep motode yang digunakan itu, rancangan, dan variabelnya. Dalam
kaitannya dengan variabel penelitian, peneliti perlu menjelaskan jenis
variabel, definisi operasional variabel, dan hubungan antar variabel.

16. Populasi, Sampel, dan Sampling


Ketika menjelaskan populasi penelitian, peneliti menjelaskan karakteristik
populasi berikut alasan pengambilan populasi itu. Ketika menjelaskan sampel
penelitian, peneliti perlu menjelaskan jumlah sampel, alasan pengambilan
anggota sampel sejumlah itu, dan teknik pengambilan sampelnya (sampling).
Apabila perlu, peneliti dapat menjelaskan prosedur pengambilan sampel
untuk meyakinkan pembaca bahwa sampel yang diambil dari populasi benar-
benar representatif.
47

17. Teknik Pengambilan Data


Sebelum menjelaskan teknik pengambilan data, seyogyanya peneliti
menjelaskan jenis data dan ukuran-ukuran yang digunakan. Selanjutnya,
penjelasan tentang teknik/instrumen pengambilan data hendaknya bersifat
rinci/spesifik. Misalnya, apabila teknik pengambilan data berupa tes, maka
perlu dijelaskan nama tes, jenis tes, cakupan tes, jumlah butir tes, dan bobot
masing-masing butir tes. Peneliti perlu menjelaskan rancangan pengujian
validitas dan reliabilitas instrumen.

18. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data ditentukan berdasarkan masalah dan metode
penelitiannya. Apabila rumusan masalahnya lebih dari satu dan masing-
masing memerlukan teknik analisis yang berbeda, maka hal itu perlu
dijelaskan. Kiranya juga perlu disadari bahwa masing-masing teknik analisis
data memerlukan persyaratan tertentu; dan oleh karena itu, peneliti perlu
menjelaskan rancangan pengujian persyaratan analisis data, seperti
homogenitas varians populasi (sebelum peneliti membandingkan dua
kelompok atau lebih).

19. Hipotesis Statistik


Dalam bagian ini dikemukakan hipotesis statistik, yaitu hipotesis yang siap
diuji di lapangan, yang berisi hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (H1).
Bentuknya disesuaikan dengan rumusan masalahnya.

20. Daftar Pustaka


Dalam bagian ini dituliskan seluruh referensi yang dijadikan acuan dalam
penelitian dan yang disebut langsung dalam tubuh proposal. Rujukan yang
tidak disebut tidak perlu ditulis. Penulisan daftar pustaka disesuaikan dengan
aturan yang ada.
48

DAFTAR PUSTAKA

Brown, James Dean. Theodor S. Roger. 2003. Doing Second Language Research.
Oxford: Oxford University Press.

David, Nunan. Research Method in Language Learning. Cambrodge: Cambridge


University Press.

Isaac, Stephen and Michael, Wiliam B. 1984. Handbook in Research and


Evaluation. Callifornia: Edits Publisher

Kartini Kartono. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar


Maju.

Moh. Nasir. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: Rineka Cipta.

Winarno Surakhmad. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode, Teknik.


Bandung: Tarsito