Anda di halaman 1dari 13

 Pengantar Materi

1. Latar belakang mempelajari Ilmu Negara

2. Ilmu Negara sebagai Ilmu Pengetahuan

Ilmu negara sebagai ilmu pengetahuan adalah hasil karya George jellineck dalam bukunya
“Algemeine Staatslehre” dengan sistematis Ilmu Negara sebagai berikut:

Staatswissenschaft (Ilmu Kenegaraan) dalam arti luas dibagi dalam dua bagian:
1. Staatswissenschaften (ilmu negara dalam arti sempit)
2. Rechtswissenschaften (Ilmu Pengetahuan Hukum).

Staatswissenschaften dalam arti sempit mempunyai 3 bagian:


a. Beschreibende Staatswissenschaft.
b. Theoretische Staatswissenschaft.
c. Praktische Staatswissenschaft.

a. Beschreibende Staatswissenschaft.
Sifat ilmu kenegaraan ini adalah deskriptif yang hanya menggambarkan dan menceritakan
peristiwa yang terjadi yang berhubungan dengan negara.

Peristiwa-peristiwa itu merupakan salah satuj gejala dalam masyarakat yang ditetapkan disusun
dalam suatu rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah tetapi tidak diterangkan apakah sebab
musabab timbulnya atau yang menimbulkan peristiwa-peristiwa itu dan bagaimana hubungannya
satu sama lain.

b. Theoretische Staatswissenschaft.
Beschreibende Staatswissenschaft mengumpulkan bahan-bahannnya, maka theoretische
Staatswissenschaft mengadakan lebih lanjut bahan-bahan tersebut. Dengan mengadakan analisa-
analisa dan memisahkan mana yang mempunyai ciri-ciri khusus.

Mengadakan penyusunan tentang hasil-hasil penyelidikannya dalam suatu kesatuan sistematis.

c. Prakaktische Staatswissenschaft.

Ilmu pengetahuan ini tugasnya mencari upaya bagaimana hasil dari penyelidikan Theoretische
Staatswissenschaft dapat dilaksanakan dalam praktek.

3. Ilmu Negara sebagai salah satu dasar Ilmu Hukum

 Pengertian Ilmu Negara

1. Etimologi
- Staatsleer (Belanda)
- Staatslehre (Jerman)
- Theory of state, The general Theory of state, atau political theory (Inggris)
- Theorie d’etat (Perancis)
- dll.

2. Pendapat ahli
- George Jellinek:
- Von Savigny

Ilmu negara adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki asas-asas pokok dan pengertian pokok
tentang negara dan hukum tata negara (Moh. Kusnardi dan Bintan R. Saragih)

Ilmu negara adalah ilmu yang mempelajari persoalan-persoalan serta pengertian-pengertian


umum yang biasa terdapat pada setiap negara. Perhatian ilmu negara ditujukan pada hal-hal yang
sama atau serupa dalam negara-negara yang ada atau pernah ada di dunia ini, misalnya tentang
bagaimana terjadinya dan lenyapnya negara (wujud dan lenyapnya); apakah unsur-unsur negara
itu;apakah tujuan negara itu; bagaimana perkembangannya; apa jenis-jenis dan lain sebagainya.
Ilmu negara tidak membahas bagaimana pelaksanaan hal-hal yang umum itu dalam suatu negara
tertentu, karena itu negara hanya mempunyai nilai teoritis belaka.

Bapak Ilmu Negara = George Jellinek

 Objek Ilmu Negara

Dalam pegertian abstrak objek ilmu negara adalah negara yang meliputi:
1. Asal mula negara
2. Hakekat Negara
3. Bentuk negara atau pemerintahan

Mengenai asal mula negara yang dimaksud bukanlah asal mula dari suatu negara tertentu (yang
konkrit), tetapi asal mula (terbentuknya, terjadinya) apa yang diamakan negara, yaitu negara
dalam pengertian yang umum-abstrak-universil.

Cabang ilmu obyeknya dalam pengertian:

1. Ilmu negara Umum-abstrak-


universil

NEGARA
2. HTN

3. Hukum tata konkrit-tertentu


pemerintahan

 Metode mempelajari Ilmu Negara:

1. metode induktif

suatu metode yang mempelajari suatu gejala yang khusus (peristiwa yang konkrit) untuk
mendapatkan kaedah-kaedah yang berlaku dalam lapangan yanglebih luas. Induction is
reasoning from particular fact or individual cases to a general conclution (Ashley Montagu).

2. metode deduktif

dimulai dengan kaedah-kaedah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari dalam
keadaan yang khusus.

Deduction is the process of reasoning from a general principle to a particular or specific


conclution.

3. metode histori

metode history (metode sejarah), atau suatu methode van histirische beschouwing; metode ini
digunakan untuk penelitian yang mencari gejala-gejala kemasyarakatan di masa lampau (history
background) yang sedikit banyak tentunya mempunyai hubungan dengan keadaan masyarakat di
masa sekarang. Apabila negara diselidiki secara metode sejarah, maka penyelidikannya ditujukan
kepada asal mula negara atau genetika negara, petumbuhan dan perkembangan negara serta
akhirnya dengan pembahasan keadaan negara saat ini.

4. metode perbandingan
metode yang mengadakan perbandingan di antara dua obyek penyelidikan atau lebih, untuk
menambah dan memperdalam pengetahuan tentang obyek-obyek yang diselidiki.

5. metode dialektis

metode tanya jawab atau dialog, di mana proses penyelidikannya dilakukan dengan cara tanya
jawab untuk mencoba mencari pengertian-pengertian tertentu. Cara bekerja yang dialektis ini
menimbulkan tiga macam unsur:
1. these, yaitu merupakan suatu dalil stelling.
2. antithese, merupakan suatu serangan terhadap dalil tersebut dari pihak yang berlainan
pendapatnya; dan
3. synthese, merupakann jalan tengah antara these dan antithese.

6. metode empiris
suatu metode yng menyadarkan diri pada keadaan-keadaan yang dengan nyata didapat di dalam
masyarakat.

7. metode rasionalitas

suatu metode yang mengutamakan pemikiran dengan logika dan pikiran sehat untuk mencapai
pengertian tentang masalah-masalah kemasyarakatan

8. metode sistematis

suatu metode yang didasarkan secara menghimpun bahan-bahan yang sudah tersedia terhadap
bahan-bahan mana dilakukan pelukisan, penguraian dan penilaian, kemudian dilakukan
klasifikasi dalam golongan-golongan di dalam suatu sistematik. Sistematik berarti “samen
hangende eenheid” yaitu suatu kesatuan di mana masing-masing bagian tidak simpang siur,
tetapi selalu berhubugan satu dengan lainnya.

9. metode hukum (juridische methode)

suatu metode yang di dalam proses penyelidikannya meninjau serta membahas objek
penyelidikannya dengan menitikberatkan kepada segi-segi yuridis, sehingga faktor-faktor yang
bersifat non yuridis (yaitu etis dan sosial) dikesampingkan.

10. metode fungsional

suatu metode yang di dalam proses penyelidikannya meninjau serta membahas obyek
penyelidikannya dengan menggandengkan, baik gejala-gejala dalam dunia ia masing-masing
tidak terlepas satu sama lain, melainkan terdapatnya hubungan yang timbal balik
(interdependent), sehingga dengan demikian negara selaku objek dapat mempengaruhi
masyarakat, juga sebaliknya masyarakat masyarakat itu dapat mempengaruhi negara.

11. metode sinkretis

suatu metode yang di dalam proses penyelidikannya meninjau serta membahas obyek
penyelidikannya dengan cara menggabungkan faktor-faktor baik yang bersifat juridis maupun
non juridis.

 Unsur Negara
1. Penghuni/Penduduk
2. Wilayah Negara
3. Kedaulatan
4. Kesanggupan
5. Pengakuan

 Pengertian Negara
1. Secara etimologi

Staat (Belanda dan Jerman)


State (Inggris)
Etat (Prancis)
Daulah (Arab)

2. Dalam arti formil dan materil

Dalam arti formil dimaksudkan negara ditinjau dari aspek kekuasaan, negara sebagai organisasi
kekuasaan dengan suatu pemerintahan pusat. Pemerintah menjelmakan aspek fomil dari negara.

Karakteristik dari negara formil adalah wewenang pemerintah untuk menjalankan paksaan fisik
secara legal.

Negara dalam arti formil adalah negara sebagai pemerintah (staat-overheid).

Negara dalam arti materil, negara sebagai masyarakat (staat-gemenchap) negara sebagai
persekutuan hidup.

3. Menurut para ahli:


a. Plato

suatu tubuh yang senantiasa maju, berevolusi, terdiri dari orang-orang (individu-individu).

b. Karl Marx

suatu alat kekuasaan bagi manusia (penguasa) untuk menindas kelas manusia yang lainnya.

c.Grotius

ibarat suatu perkakas yang dibikin manusia untuk melahirkan suatu keberuntungan dan
kesejahteraan umum.

d. Bellefoid
suatu persekutuan hukum yang menempati sesuatu wilayah untuk selama-lamanya dan yang
dilengkapi dengan suatu kekuasaan tertinggi untuk menyelenggarakan kemakmuran rakyat
sebesar-besarnya.

e. Thomas Hobbes

suatu tubuh yang dibuat oleh orang banyak beramai-ramai, yang masing-maisng berjanji akan
memakainya menjadi alat untuk keamanan dan perlindungan agi mereka.

f. Logemann

suatu organisasi kemasyarakatan (= pertambatan kerja/werk verband) yang mempunyai tujuan


dengan kekuasaannya mengatur serta menyelenggarakan sesuatu masyarakat. Organisasi itu
suatu pertambatan jabatan-jabatan (ambt, funksi) atau lapangan-lapangan kerja (werkkring)
tetap.

g. J.J. Rousseau

perserikatan dari rakyat bersama-sama yang melindungi dan mempertahankan hak masing-
masing diri dan harta benda anggota-anggota yang tetap hidup dengan bebas merdeka.

h. Ibnu Chaldun

suatu tubuh yang keadaannya persis keadaannya sebagai tubuh manusia, mempunyai sifat tabiat
sendiri, mempunyai badan jasmani dan rohani dan mempunyai batas umur sebagai halnya
keadaan manusia. Ada masnya lahir dan tumbuh (groei), ada pula masanya muda dan dewasa
(bloei), dan ada lagi masanya tua bangka dan mati (vergaan).

 Sifat dan hakikat Negara


1. dilihat secara politik:
a. sifat dari negara:
- memaksa
Negara memiliki sifat memaksa, dalam arti mempunyai kekuasaan fisik secara legal, sarana
untuk itu adalah polisi, tentara dan sebagainya. Sifat memaksa ini agar peraturan perundang-
undangan ditaati dan dengan demikian penertiban dalam masyarakat tercapai. Unsur paksa dapat
dilihat juga pada ketentuan harus bayar pajak.

- monopoli

Negara mempunyai monopoli dalam menetapkan tujuan bersama dari masyarakat. Daam rangka
ini negara dapat menyatakan bahwa aliran kepercayaan atau partai politik tertentun dilarang
karena dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat.
- mencakup semua

Semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali. Keadaan
demikian itu perlu, sebab kalau seeorang dibiarkan di luar raung lingkup aktifitas negara, maka
usaha negara ke arah tercapainya masyarakat yang dicita-citakan akan gagal.

b. Tujuan Negara

tujuan negara berhubungan erat dengan arganisasi dari negara. Kalau sutau negara bertujuan
untukm mencari kepuasan yang sebesar-besarnya, maka susunan dari organ-organnya, cara
bekerja dari organ tersebut, serta perhubungan dari organ-organnnya akan berlainan sekali
dengan negara yang tujuannya bukan mencari kepuasan.

menyelenggarakan kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya, atau menyelenggarakan


masyarakat adil dan makmur.

c. Filsafat yang dianutnya

2. dilihat secara sosiologis:


a. ikatan suatu bangsa
b. suatu organisasi kewibawaan
c. organisasi suatu jabatan
d. organisasi kekuasaan

3. Dilihat secara yuridis:


a. Pemilik atau penguasa atas tanah (teori patrimonial feodal)
b. pihak yang menguasai atau memerintah (hasil perjanjian timbal balik antara dua pihak)
c. pelindung ha asasi manusia (teori perjanjian masyarakat).
d. penjelmaan tata hukum nasional (Hans Kelsen).

 Tujuan Negara

Secara Umum:
1. mencapai kekuasaan politik
2. mencapai kemakmuran materil
3. mencapai kebahagiaan akhirat

Menurut teori ahli dan praktek negara:


1. Teori Shang Yang

Menghendaki supaya tiap-tiap negara mencari kekuasaan sebesar-besarnya. Untuk mencapainya


didukung oleh dua faktor:
a. faktor rakyatnya.
b. faktor negara itu sendiri.
Kalau seseorang akan membuat kuat (besar) suatu negara, maka rakyatny harus lemah (melarat).
Sebaliknya, kalau pemerintah menjadikan makmur rakyatnya, akibatnya menjadi lemah. Shang
Yang menganggap rakyat dan negara itu berbanding terbalik.

2. Machiavelli

Machiavelli juga bercita-cita mencari kekuasaan sebesar-besarnya. Dia menitikberatkan pada


sifat-sifat raja. Seorang penguasa/raja harus mempunyai dua sifat: di satu pihak harus cerdik
seperti kancil, supaya bisa menipu di mana saja dan supaya kalu akan ditipu sudah tahu
sebelumnya. Di samping ini raja harus berani seperti singa, supaya bisa menakut-nakuti
musuhnya.

3. Fasis Itali

Menurut golongan Fasis, bahwa negaralah yang primer dan bangsa menyusul kemudian. Kalau
begitu bukan bangsa membentuk negara tetapi orang lain. Menurut glongan fasis negara bukan
ciptaan rakyat. Negara itu ciptaan orang kuat. Kalau orang kuat ini telah membentuk organisasi
negara maka negara itu wajib menggembeng, mengisi jiwa rakyat.

Tujuan negara fasis adalah empirium dunia, si pemimpin mencita-citakan untuk mempersatukan
semua bangsa di dunia menjadi satu tenaga.
Tujuan negara itu adalah tujuan si pemimpin, maka keinginan negara adalah keinginan si
pemimpin. Tujuan negara berubah-ubah dari masa ke masa menurut pemimpin.

4. tujuan negara menurut Dante

Dante juga mencita-citakan empirium dunia. Tetapi cita-cita ini diliputi oleh pakaian, kesusilaan,
kesalahan, kemanusiaan, ke tuhanan. Tujuan negara adalah sama dengan tujuan cita-cita umat
manusia seluruh dunia, yaitu memperbesar dan mencapai kesempurnaan kehidupan rokhani yang
paling tinggi.

5. Tujuan negara RI

Tercantum dalam Pembukaan UUD 1945:

“……melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tujmpah darah Indonesia dan
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdaarkan kemerekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Dengan ketentuan tersebut negara RI mempunyai tujuan nsional dan tujuan internasional.

Tujuan nasional:
1. kebahagiaan dalam keluarga.
2. kemajuan kesejahteraan umum.
3. kecerdasan kehidupan bangsa.
Tujuan internasional ialah melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan:
1. kemerdekaan
2. perdamaian
3. keadilan sosial.

 Fugsi Negara
Diartikan sebagai tugas daripada organisasi negara itu diadakan

1. John Locke
Membagi fungsi negara atas tiga fungsi:
a. fungsi legislatif, untuk membuat peraturan.
b. fungsi eksekutif, untuk melaksanakan peraturan.
c. fungsi federatif, untuk mengurusi urusan luar negeri dan urusan perang dan damai.

Menurut John Locke, fungsi mengadili termasuk tugas eksekutif.

2. Montesquieu
a. fungsi legislatif, membuat undang-undang.
b. fungsi eksekutif,melaksanakan undang-undang.
c. fungsi yudikatif, mengawasi agar semua peraturan ditaati (fungsi mengadili).

Dikenal dengan teori trias politika. Masing-masing fungsi dipisahkan satu sama lain.

3. Van Vallenhoven
a. regeling, membuat peraturan.
b. bestuur, menyelenggarakan pemerintahan.
c. rechtspraak, fungsi mengadili.
d. politie, fungsi ketertiban dan keamanan.

Teori ini dikenal dengan catur praja.

4. Goodnow
a. policy making, adalah kebijaksanaan negara pada waktu tertentu untuk seluruh masyarakat..
b. policy eksekuting, adalah kebijaksanaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai policy
making.

Ajaran ini dikenal dengan dwipraja (dichotomy).

5. Moh koesnardi, SH
a. melaksanakan penertiban (law and order)
untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah bentrokan-bentrokan dalam masyarakat, maka
negara harus melaksanakan penertiban. Negara bertindak sebagai stabilisator

b. menghendaki kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.


 Hubungan Ilmu Negara

1. Ilmu politik
2. Hukum Tata Negara
3. Hukum Administrasi Negara

Ilmu politik adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari hidupnya negara.

Ilmu negara sebagai pengantar untuk mempelajari hukum tata negara dan hukum administrasi
negara. Ketiga-tiganya mempunyai objek yang sama yaitu negara.

TEORI ASAL MULA NEGARA

Teori Perjanjian Masyarakat

 Zaman Yunani Kuno

Adanya negara telah ada lebih dahulu dari adanya pemikiran negara dan hukum. Selama itu
peradaban-peradaban tinggi telah lahir dengan tidak menginsafi orang dasar-dasar apa yang
menyebabkan masyarakat boleh mengadakan peraturan-peraturan yang mengikat penduduk,
menerapkan suruhan-suruhan dan laranganlarangan untuk perbuatan mereka.

1. Socrates

Socrates mencari ukuran obyektif tentang baik buruk, indah dan jelek, yang hak dan tidak hak
dan sebagainya. Ini semua akan ditemukan, karena sukma manusia mempunyai bagian yang
dalam dan umum.

Negara tidak boleh dipandang sebagai ciptaan manusia, tetapi sebagai keharusan yang obyektif,
yang asal mulanya berpangkal dalam peketi manusia. Tugas negara ialah menciptakan hukum,
yang harus dilakukan oleh pemimpin-pemimpin yang dipilih secara seksama. Di sinilah
tersimpul pikiran demokratis. Hal ini disebabkan karena negara Yunani masih merupakan negara
kota atau polis, persoalan belum komplek, ruwet seperti sekarang ini, setiap warga negara selalu
memikirkan tentang negara.

2. Plato
Menurut plato asal mula negara terletak dalam kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan
manusia yang bermacam-macam dan kebutuhan untuk bekerja sama sebagai akiat daripadanya.
3. Aristoteles
Negara terjadi karena penggabungan keluarga besar, kelompok ini bergabung menjadi desa, desa
bergabung lagi menjadi yang lebih besar lagi sehingga menjadi negara, sifatnya masih polis atau
kota.

4. Epicurus

Negara adalah merupakan hasil daripada perbuatan manusia, yang diciptakan untuk
menyelenggarakan kepentingan anggota-anggotanya. Negara atau masyarakat adalah buatan
daripada individu-individu.

5. Zeno

Ajaran filsafat zeno sangat berlawanan dengan Epicurus. Sebab ajaran epicurus berpokok
pangkal pada manusia sebagai atoom dan pandangan hidupnya yang individulistis, sedangkan
ajaran Zeno bersifat universalistis. Universalismenya itu tidak hanya meliputi bangsa yunani
saja, tetapi meliputi seluruh manusia dan bersifat kejiwaan, seluruh kemanusiaan, oleh karena itu
lenyaplah perbedaan antara orang Yunani dengan orang biadab, antara orang yang merdeka
dengan budak. Kemudian timbullah moral yang memungkinkan terbentuknya kerajaan dunia, di
mana setiap orang mempunyai kedudukan yang sama sebagai warga dunia. Oleh kaum Stoa
orang-orang yang hidup dalam masyarakat digambarkan sebagai suatu kesatuan dan bersifat
abstrak, maka inilah yang memungkinkan terciptanya persatuan umat manusia. Hukum yang
berlaku adalah hukum alam. Hukum ini bersifat abadi tidak berubah-ubah. Di antara hukum alam
ini ada akal kita yang memungkinkan kita dapat mengetahui segala hal. Dan inilah yang
memberi kemungkinan kepada manusia untuk membentuk negara dunia.
Teori ketuhanan

 Zaman Romawi

Di antara perbedaan negara yunani dengan romawi adalah:


1. pada zaman romawi ilmu pengetahuan tidak dapat berkembag dengan pesat. Hal ini
disebabkan karena bangsa romawi adalah bangsa yang lebih menitikberatkan soal-soal praktis
daripada berpikir secara teoritis. Sedangkan bangsa yunani lebi merupakan orang-orang yang
suka berpikir, juga berpikir tentang negara dan hukum. Bangsa yunani banyak melahirkan ahli-
ahli filsafat. Dengan demikian maka konsepsi-konsepsi kenegaraan dari bangsa Romawi ini
hanya dapat kita ketahui dari praktek-praktek ketatanegaraannya, karena memang konsepsi-
konsepsi kenegaraannya selalu dilaksanakan di dalam lembaga-lembaga hukum serta lembaga-
lembaga kenegaraannya, sedangkan konsepsi-konsepsi kenegaraan bangsa yunani banyak
dibukukan.
2. kerajaan romawi itu dimulai dari keadaan yang terpecah belah, tetapi kemudian setelah
melalui peperangan-peperangan, keadaan di romawi mengalami perubahan-perubahan.
Perubahan yang penting adalah perubahan dari negara yang bersifat polis atau negara kota (city
state), Romawi menjadi suatu imperium (kerajaan dunia), yang dapat mmpersatukan seluruh
daerah peradaban dalam satu kerajaan. Sedangkan pada zaman Yunani negara dimulai dengan
kesatuan nasional yang kompak, tetapi akhirnya jatuh karena negara terpecah belah, yang tidak
dapat dikuasai lagi untuk dipersatukan kembali.

1. Polybius
Melahirkan teori tentang perubahan bentukbentuk negara yang akhirnya dikena dengan nama
cyclus theori.

Menurut Polybius bentuk negara atau pemerintahan yang satu sebenarnya adalah merupakan
akibat daripada bentuk negara yang lain yang telah langsung mendahuluinya. Dan bentuk negara
yang terakhir kemudian meruapakan sebab daripada bentuk negara yang berikutnya, demikianlah
seterusnya, sehingga nanti bentuk-bentuk negara itu dapat terulang kembali. Dengan demikian di
antara berbagai bentuk negara itu terdapat hubungan sebab akibat. Bentuk-bentuk negara itu
berubah-ubah sedemikian rupa, sehingga perubahannya itu merupakan suatu lingkaran, suatu
cyclus, maka dari itu teoinya disebut cyclus theori.

2. Cicero

Negara menurut Cicero adanya merupakan suatu keharusan, dan yang harus didasarkan atas ratio
manusia. Ajaran cicero ini sebetulnya meniru dan disesuaikan dengan ajaran kaum Stoa.
Pengertian ratio di sini dimaksud oleh Cicero adalah ratio yang murni, yaitu yang didasarkan atas
hukum alam kodrat. Jai tidaklah seperti ajaran Epicurus yang menganggap bahwa negara itu
adaah merupakan hasil daripada perbuatan manusia, dan fungsinya hanya sebagai alat saja
daripada manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
3. Seneca

Seneca pernah menjadi guru kaisar Nero. Pada waktu hidupnya Romawi sedang mengalami
bobrok. Kekuasaan negara hanya tinggal pada kekuatan bala tentaranya, raja-raja yang
memegang pemerintahan telah rusak akhlaknya. Sedangkan orang hanya mempunyai
kemungkinan menarik diri ke alam kebathinannya sendiri. Demikian juga yang dilakukan oleh
Seneca. Mulai saat itu orang mulai melepaskan dari adat kebiasaan yang luhur yang turun-
temurun pada bangsa romawi untuk mengabdi pada negara. Ini adalah merupakan suatu
perubahan yang besar sesudah orang berabad-abad lamanya memegang teguh adat kebiasaan
yang demikian. Orang mulai menjauhkan diri dari urusan-urusan kenegaraan dan mendalami
kebathinannya.