Anda di halaman 1dari 2

Ritual Adat Nuju Jerami di Bangka Belitung

Dari berbagai adat istiadat, tradisi, ritual budaya dan kebiasaan lama masyarakat Bangka
Belitung, Tradisi Nuju Jerami termasuk salah satu yang tidak populer lagi saat ini. Padahal
tradisi budaya seperti ini mengandung nilai luhur dan budaya yang patut dijaga.

Seperti meredupnya berbagai budaya dan tradisi lama oleh budaya modern, Tradisi Nuju
Jerami sudah jarang sekali dapat kita jumpai di Bangka Belitung. Kalaupun ada itu hanyalah
terdapat pada beberapa wilayah saja.
Tradisi Nuju Jerami merupakan salah satu bentuk rangkaian pesta adat yang bertepatan dengan
panen padi. Budaya ini sebagai ungkapan wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan sang
pencipta alam semesta atas berlimpahnya panen padi yang didapat saat itu dan dimasa yang akan
datang.

Kultur masyarakat Bangka Belitung yang dahulu juga bertanam padi, membuat tradisi ini
berkembang pada masa-masa itu. Namun seiring perubahan zaman, pola pencaharian dan
kebiasaan yang terinduksi budaya modern membuat kebiasaan bertanam padi pun ditinggalkan
banyak masyarakat Bangka Belitung.

Saat ini Dusun Air Abik di Desa Gunung Muda, Belinyu merupakan satu-satunya tempat yang
masih melakukan ritual adat Nuju Jerami di Bangka Belitung. Budaya itu tetap dijaga dan
dilestarikan oleh masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakatnya pun tetap melanjutkan
kebiasaan menanam padi untuk kebutuhan sehari-harinya.

Prosesi Adat Nuju Jerami Di Dusun Air Abik

Esensi utama ritual adat ini adalah menumbuk padi sebanyak tujuh kali, sehingga oleh
masyarakat Bangka Belitung disebut dengan Nuju (Tujuh) dan Jerami sebagai sebutan untuk
padi yang ditumbuk didalam lesung (tempat menumbuk padi yang terbuat dari kayu).

Peralatan yang disiapkan antara lain dua buah kotak yang berisi alu dan lesung, padi dan
dibungkus kain berwarna kuning keemasan. Kemudian peralatan itu diarak sepanjang jalan
dusun menuju tempat ritual.

Lalu pada tumbukan ketiga dan seterusnya. Pada setiap tumbukan. Tumbukan pertama mengandung arti sebagai ucapan salam kepada segentar bumi (bumi sebagai lahan ladang) agar penguasa bumi jangan sampai marah kepada manusia. Mereka melepaskan seluruh pekerjaan lainnya dan berbaur bersama. Padi yang telah di taruh didalam lesung kemudian ditumbuk dengan menggunakan dua buah alu secara bergantian sebanyak tujuh kali. buang jong. Tumbukan kedua mengandung arti sebagai ucapan salam kepada segentar alam agar penguasa alam tidak menganggu acara ritual adat nuju jerami. warga Air Abik yang masih menganut kepercayaan atiesme itu bermaksud mengucapkan salam kepada segentar angin. Ritual Nuju Jerami dimulai dengan mengeluarkan alu dan lesung dari dalam kotak lalu tetua adat membacakan mantra dan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. suasana kekeluargaan dan silaturahmi begitu tampak karena seluruh masyarakat sekitar turut serta menyemarakkan acara ini. sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bangka Belitung. Mudah-mudahan potensi budaya seperti ini dapat dilestarikan hingga ke masa-masa yang akan datang. embun dan mengungkapkan rasa terima kasih karena mereka telah membawa pulang hasil berladang. Setelah itu suasana Dusun tampak seperti Lebaran. kawin massal.Pada tempat yang telah ditetapkan. bertamu dan bersilaturrahmi pun dilakukan. Tradisi Adat Nuju Jerami saat ini telah masuk sebagai salah satu agenda wisata budaya Bangka Belitung. suasana khidmat terasa dengan dipimpin langsung oleh tetua adat. Seperti budaya Bangka Belitung lainnya (Acara Adat Perang Ketupat di Tempilang. . Yang menarik. Selain itu hampir setiap rumah menyediakan berbagai makanan dan jamuan untuk tamu yang berkunjung. dll) Ritual Nuju Jerami saat ini berkembang menjadi salah satu komoditas pariwisata Bangka Belitung. Ritual Nuju Jerami diakhiri dengan membagikan beras yang sudah ditumbuk kepada tujuh orang dengan tujuan agar warga mendapat berkah di tahun-tahun mendatang akan hasil padi mereka.