Anda di halaman 1dari 1

Melukis Pelangi

Tanggal: 14 Oktober 2009


Sumber: Infobanknews.com

DI zaman mahasiswa dulu, ketika kantong sedang tipis-tipisnya ada yang memberi tahu bahwa tersedia rumah kos
lima kamar dengan tarif termurah. Ternyata setelah mau dilihat, pembawa berita mengatakan bahwa lima kamar
itu isinya kamar mandi semua.
Bila dalam dunia canda saja tidak ada yang seragam, apalagi dalam rumah sesungguhnya. Serupa tim sepak bola,
hidup juga kaya warna. Meminjam bahasa puitik Kahlil Gibran, tatkala manusia bercengkerama dengan
kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur. Kita serumah dengan kebahagiaan dan
kesedihan. Keserakahan hanya mau kebahagiaan, kemarahan mengenyahkan kesedihan, tidak saja melanggar
hukum alam, juga memperpanjang daftar penderitaan.

Dalam bayangan gelap keserakahan, tidak saja kesedihan menjadi awal penderitaan, kebahagiaan pun menjadi
bahan penderitaan. Terutama karena selalu dibayangi ketakutan kehilangan kebahagiaan. Mau ditakuti atau tidak,
kebahagiaan tidak kekal. Seperti terbitnya matahari, sekeras apa pun manusia menangis, bila waktunya terbit ia
akan terbit.
Sadar akan hukum besi perubahan, orang bijaksana melatih diri tidak serakah akan kebahagiaan, tidak kecewa
pada kesedihan. Jabatan naik, rezeki membaik tentu saja layak disyukuri. Namun, jangan pernah lupa, ia akan
berlalu. Diserang penyakit, uang selalu kurang, tentu saja mengundang keprihatinan. Namun, jangan lupa, tidak
saja dalam kebahagiaan tersedia bimbingan, dalam kesedihan juga ada bimbingan. Penderitaan adalah petunjuk
jalan untuk pergi ke tempat bernama rendah hati. Perhatikan manusia-manusia agung, semuanya berjumpa
kerendahhatian.
Yang sudah sampai di sini berpesan, temukan kebahagiaan yang tersembunyi di balik penderitaan. Namun, ini
lebih mudah ditemukan oleh orang yang terampil melukis pelangi. Indah karena dibentuk oleh berbagai warna
yang berbeda: kebahagiaan-kesedihan, sukses-gagal, dipuji-dicaci. Dan, modal terpenting yang mempermudah
tugas ini bernama compassion (kasih sayang).

Perhatikan pendapat seorang guru meditasi: �Like iron transformed into gold, the alchemy of compassion
transforms samsaric actions into happiness�. Seperti petapa yang bisa mengubah besi menjadi emas, kasih
sayang bisa mengubah penderitaan menjadi keagungan. Memancarkan kasih sayang ketika bahagia, semua orang
bisa. Namun, berbagi kebahagiaan ketika dicaci, hanya manusia mengagumkan yang bisa melaksanakannya.

Bermodalkan kemampuan melukis pelangi di dalam diri, kemudian baru mungkin lahir kecermatan melukis pelangi
di luar diri. Jangankan perbedaan antarnegara, dalam keluarga kecil pun perbedaan ada. Bila istrinya cerewet
biasanya suaminya pendiam. Atasan yang pemarah merindukan asisten yang penyabar. Pemilik yang mata duitan
memerlukan pengimbang berupa pemimpin peduli.
Ini tidak saja hukum alam dan bahan-bahan keberhasilan, namun juga jalan-jalan kesempurnaan. Perhatikan alam
sebagai wakil kesempurnaan. Pertama, ia senantiasa berubah. Kedua, alam melukis keindahan melalui berlimpah
perbedaan dari laut, gunung, sungai, danau. Ketiga, ia menjadi sumber berkah sekaligus musibah.

Kehidupan juga serupa. Ia tidak kekal, dibentuk dari hal-hal berbeda, sekaligus berisi berkah dan musibah. Dan, di
tangan-tangan yang terampil melukis pelangi, semuanya dibingkai menjadi lukisan menawan. Dalam bahasa
seorang putri yang mencintai papanya karena rajin berbagi kasih sayang ke mana-mana: �There must be some
one who painting the rainbow daddy!�. Mesti ada yang melukis pelangi. Biar perbedaan tidak selalu bermuara
pada pertengkaran.
Cermati pesan Lama Yeshe: �Purification requires a skillful combination of wisdom and compassion�.
Penyembuhan, pemurnian lebih mungkin dilakukan oleh mereka yang terampil merangkai kebijaksanaan dan kasih
sayang. Kebijaksanaan serupa langit yang memayungi semuanya. Kasih sayang seperti bumi. Bila menanam
kelapa dapatnya kelapa. Ia yang berbuat jahat akan dikejar polisi. Sekurang-kurangnya dikejar rasa bersalah.
Mereka yang banyak menolong, di mana-mana akan disambut senyuman.

Gede Prama adalah penulis buku Simfoni di Dalam Diri: Merubah Kemarahan Menjadi Keteduhan� dan Sadness,
Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into The Ultimate Healing (Gramedia:2009)