Anda di halaman 1dari 12

Meningkatkan Produksi Gula dengan Menemukan Varietas Tebu Baru

Januari 30, 2010 oleh plantus

Produksi gula nasional Indonesia mengalami kemerosotan sangat tajam dalam tiga dasawarsa

terakhir. Kemerosotan ini menjadikan Indonesia, yang pernah menjadi produsen gula sekaligus

eksportir gula, berubah menjadi importir gula terbesar.

Meningkatkan Produksi Gula dengan Menemukan Varietas Tebu Baru

Produksi gula nasional Indonesia mengalami kemerosotan sangat tajam dalam tiga dasawarsa

terakhir. Kemerosotan ini menjadikan Indonesia, yang pernah menjadi produsen gula sekaligus

eksportir gula, berubah menjadi importir gula terbesar. Rata-rata impor setiap tahun mencapai 1,5

juta ton, atau setara dengan Rp 1 triliun.

Bahkan potensi ekonomi yang hilang yang seharusnya diterima pelaku bisnis gula di Indonesia, baik

oleh petani tebu maupun pabrik gula, menjadi sangat besar.

Salah satu kemerosotan produktivitas gula Indonesia, tidak saja karena semakin berkurangnya sawah

beririgasi teknis serta meningkatnya areal sawah tegalan, tetapi juga pemakaian varietas tebu yang

tidak mendukung produktivitas lahan.

Belum lagi sistem keprasan yang sampai dilakukan lebih dari 10 kali sampai 15 kali dalam lahan yang

sama, padahal idealnya hanya sekitar tiga kali.

Dalam kondisi seperti itu, PT Perkebunan Nusantara XI di Jawa Timur berupaya mencari terobosan

dengan mengembangkan varietas baru tanaman tebu, yaitu varietas R-579.

Varietas baru ini mampu menghasilkan rata-rata 10,07 ton gula/hektare atau dua kali lipat

dibandingkan produktivitas nasional yang rata-rata 4 ton gula/hektare. Angka itu juga melampaui

program “akselerasi produksi gula nasional tahun 2007″ sebanyak 8,5 ton gula/hektare.

Oleh karena itulah, Menteri Pertanian Bungaran Saragih memberikan penghargaan khusus kepada PT

Perkebunan Nusantara XI atas pengembangan varietas baru R-579 melalui SK Mentan No

372/TU.210/A/XI/2002.

Dengan pengembangan varietas baru ini, akselerasi peningkatan produktivitas akan mampu

mendorong perbaikan pendapatan petani tebu yang memasok bahan baku kepada pabrik-pabrik gula.

Varietas baru R-579 ini merupakan salah satu varietas unggulan PT Perkebunan Nusantara XI yang

diharapkan mampu memperbaiki keadaan rendahnya produktivitas lahan tebu milik petani.
Varietas ini pada musim giling yang sedang berjalan ini dikembangkan di Pabrik Gula Djatiroto,

Lumajang dengan produktivitas bervariasi antara 8 – 15 ton gula/hektare.

“Kami optimistis apabila dikembangkan secara konsisten, maka sasaran produktivitas rata-rata 8,5

ton gula setiap hektare pada tahun 2007 sudah dapat dicapai,” kata Sekretaris Perusahaan PT

Perkebunan Nusantara XI, Adig Suwandi.

Dengan produksi sebesar itu maka biaya produksi diharapkan dapat ditekan secara bertahap dari Rp

3.100/kg pada saat ini menjadi kurang dari Rp 2.200/kg.

Varietas lain yang memberi harapan cerah untuk peningkatan produktivitas gula nasional, adalah

varietas POJ 3016. Varietas lama ini dimurnikan kembali melalui kultur jaringan. Di pabrik gula

Kanigoro, Madiun, varietas ini mampu menghasilkan gula lebih dari 11 ton/hektare.

Varietas unggul berproduksi tinggi atau high yielding varieties dipandang sebagai unsur penting dan

langkah awal menuju kebangkitan industri gula nasional. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya,

adalah ketepatan jadwal tanam, mutu intensifikasi, penyediaan agro input, manajemen tebang-

angkut, dan efisiensi pabrik.

“Kami sadar langkah-langkah mendasar untuk mencapai produktivitas bukan persoalan mudah,

mengingat lebih dari 75 persen bahan baku industri gula yang berbasis di Jawa berasal dari tebu

rakyat,”kata Adig Suwandi.

Kesediaan petani untuk merehabilitasi tanaman keprasan lanjut dan menggantinya dengan varietas

unggul, tidak mudah diatasi dalam situasi keterbatasan dana seperti sekarang.

Salah satu cara yang kini dilakukan PTP Nusantara XI, pada tahun pertama lahan-lahan yang

memerlukan rehabilitasi tanaman akan disewa oleh pabrik gula, sedangkan pada tahun kedua

keprasan tebu yang sudah diganti varietasnya dikembalikan pengelolaannya kepada petani tebu.

Harga gula yang membaik dapat menjadi insentif bagi petani tebu untuk menggeluti dan

mengembangkan tanaman tebu melalui teknologi budidaya yang semakin baik sesuai anjuran dari

hasil penelitian dan pengembangan pabrik gula. Sebaliknya harga gula yang rendah atau di bawah

biaya produksi berpotensi mengancam kelangsungan hidup pabrik-pabrik gula, meskipun untuk

beralih ke komoditas lain juga tidak ada jaminan harga yang layak.

Dengan demikian, perlindungan sementara kepada industri gula domestik tetap diperlukan. Selama

masa transisi inilah, agenda peningkatan kinerja operasional dan keuangan dilakukan, dengan
harapan dapat bersaing dengan gula impor. Sasaran yang dicapai adalah biaya produksi yang dapat

bersaing dengan produsen terefisien di dunia sekitar 5,5 sen sampai 7 sen dolar AS/lb.

Produktivitas tebu tidak hanya dikembangkan melalui varietas – varietas baru, tetapi juga sedang

dikembangkan melalui bioteknologi, sehingga varietas baru dengan rendemen sampai 20 persen. Saat

ini metode pendekatan untuk mendapatkan varietas tebu rendemen tinggi, dengan jalan teknis

pemuliaan konvensional.

Selama 20 tahun terakhir, sudah puluhan varietas baru berhasil ditemukan namun potensi rendeman

hanya 12 persen, bahkan rendemen nyata tinggal tujuh persen akibat banyaknya faktor-faktor lain di

lapangan.

Bioteknologi merupakan teknologi baru yang telah dikembangkan secara pesat, sehingga membuka

peluang untuk pemuliaan tebu. Strategi yang ditempuh PTP Nusantara XI untuk pemuliaan tebu guna

mendapatkan varietas unggul dengan jalan, mendalami fungsi gen-gen yang terkait dengan

rendemen. Salah satu di antaranya yaitu Gen SPS yang berhasil dikarakterisasi.

“Dua gen lainnya Neutral Inveratse (NI) dan Sucrosa Transporter (ST) menjadi target kami dalam

penelitian yang dilakukan bersama-sama dengan Universitas Negeri Jember,” katanya.

Dengan merekayasa tiga gen itu diharapkan akumulasi sukrosa dapat dimaksimalkan, sehingga

diperoleh rendemen tebu sampai 25 persen. Pendekatan ini memiliki keunggulan, gen yang menjadi

target adalah gen asli dari tebu sendiri atau bukan tebu dari luar negeri, sedangkan yang dimanipulasi

hanyalah ekspresi gen-gen tersebut.

Secara logika, teknologi ini dapat meningkatkan potensi rendemen sampai dua kali lipat dibandingkan

yang sekarang, bahkan bisa menekan biaya produksi sehingga gula Indonesia dapat bersaing di pasar

bebas.

PTP Nusantara XI berhasil mentransfer gen toleran kekeringan ke dalam tiga varitas tebu Indonesia

masing-masing R-579, PS 90-1428 serta JT 26.

situshijau.co.id, 26 November 2002

HASIL BIOETANOL BEBERAPA VARIETAS TEBU


Tebu merupakan salah satu jenis tanaman potensial di Indonesia untuk dijadikan sumber bioetanol yang diperlukan
sebagai bahan bakar nabati. Bioetanol sebagai bahan bakar nabati memiliki sejumlah sifat yang positif dibanding
bahan bakar minyak dari segi kepentingan lingkungan dan kesehatan manusia.
Namun, untuk meningkatkan daya saingnya secara ekonomis, pilihan varietas tebu yang digunakan perlu ikut
menjadi pertimbangan produsen. Karena hasil bioetanol yang diperoleh banyak bergantung pada varietas dan cara
pengolahan. Ini akan mengarah pula pada prioritas varietas mana yang akan dikembangkan untuk tujuan
menghasilkan bioethanol.

Bioetanol dari tebu bisa menjadi salah satu pilihan utama karena produktivitasnya cukup tinggi rata-rata 6.000 liter
per hektar. Pada jagung hasilnya sekitar 2.400 liter/ha dan ubikayu 2.600 liter/ha.

Bioetanol dari tanaman merupakan hasil fermentasi monosakarida yang terkandung. Proses lanjutan yang
melengkapi meliputi destilasi bertingkat dan dehidrasi melalui proses ekstraksi destilasi.

Keragaman hasil bioetanol sesuai varietas tebu sudah menjadi obyek penelitian Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indoneisa (P3GI). Termasuk rendemen dan hasil per hektar. Bahkan juga perbedaan hasil oleh jenis isolat yang
digunakan dalam fermentasi nira tebu dan tetes untuk memperoleh bioetanol.

Perlakuan fermentasi pada penelitian P3GI tersebut berlangsung secara batch selama 72 jam. Nira dan tetes tebu
yang digunakan berasal dari tebu varietas normal NA, NB, NC, ND dan NE, serta tebu genjah varietas GX, GY dan
GZ. Umur tebu yang digunakan adalah 6 dan 12 bulan.

Dari kelompok varietas normal berumur 12 bulan, hasil tertinggi diperoleh adalah dari varietas NB, yakni 112,16
liter/ton. Yang lainnya agak di bawah dan tidak begitu berbeda satu dengan lainnya. Yakni ND menghasilkan 105,05
liter bioetanol/ ton, NC 102,75 liter/ton, NE 102,05 liter/ton dan NA 101,58 liter/ton.

Riset untuk Varietas Tebu Adaptif


26/08/2010 | adig | Artikel

SURABAYA (26/08/2010) – Sadar atau tidak sadar, perubahan iklim telah menjadi fenomena global yang tidak bisa
dihindari lagi. Teori evolusi mengajarkan kepada kita, hanya makhluik hidup yang mampu beradaptasi terhadap
perubahan lingkungan lah yang dapat bertahan dan melangsungkan kehidupannya. Sebagai makhluk hidup yang
diharapkan para pengelolanya mampu menghasilkan gula berlimpah melalui aktivitas fotosintesis, keberadaan
varietas tebu unggul dan adaptif terhadap perubahan iklim sangat diperlukan.

Kalangan produsen gula sangat berkepentingan dengan riset untuk menghasilkan varietas dimaksud karena inilah
kunci penyelesaian masalah dalam produksi. Perubahan iklim setidaknya menjadikan batasan antara kemarau dan
penghujan makin kabur. Seperti sekarang, secara definisi Agustus masuk hitungan musim kemarau, tetapi ternyata
masih turun hujan, bahkan di beberapa wilayah kerja PG PTPN XI dengan intensitas cukup besar. Lembaga riset
seperti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) terus didorong untuk melakukan riset ke sana dan
segera menghasilkan agar dapat disebar ke lapangan. Tanpa riset varietas, masa depan industri gula akan suram.

DESKRIPSI TEBU VARIETAS PS 864

SK Pelepasan
Nomor : 56/Kpts/SR.120/1/2004
Lampiran : 16 Januari 2004
Asal persilangan
PR 1117 Polycross pada tahun 1986

Sifat Morfologi
1. Batang
- Bentuk batang : Konis, susunan antar ruas berbiku, dengan penampang melintang agak pipih.
- Warna batang : Hijau kekuningan
- Lapisan lilin : tipis
- Retakan tumbuh : ada, tetapi tiidak semua ruas
- Cincin tumbuh : Melingkar datar diatas puncak mata, dengan warna kuning kecoklatan
- Teras dan Lubang : Masif dengan penampang melintang agak pipih.
- Bentuk buku ruas : Konis terbalik, dengan 3-4 baris mata akar, baris paling atas tidak melewati
puncak mata. - Alur mata : Tidak ada

2. Daun
- Warna : Hijau kekuningan
- Ukuran lebar daun : 4-6 cm
- Lengkung daun : Melengkung kurang dari ½ panjang daun
- Telinga daun : Ada, pertumbuhan lemah, dengan kedudukan serong
- Bulu bidang punggung: Sempit dan jarang, tidak mencapai puncak pelepah,
kedudukan condong
- Sifat lepas pelepah : agak mudah
3. Mata
- Letak mata : pada bekas pangkal pelepah
- Bentuk mata : bulat, dengan bagian terlebar di atas tengah-tengah mata
- Sayap mata : berukuran sama lebar, dengan tepi sayap rata
- Rambut tepi basal : tidak ada
- Rambut jambul : tidak ada
- Pusat tumbuh : di atas tengah mata

Sifat-sifat agronomis
1. Pertumbuhan
- Perkecambahan : baik
- Kerapatan batang : rapat (> 10 per meter)
- Diameter batang : sedang
- Pembungaan : sporadis, namun berbunga lebat pada kondisi kurang N
- Kemasakan : tengahan sampai lambat
- Daya kepras : baik
2. Potensi produksi
- Hasil tebu (ku/ha) : 1221 ± 228 (sawah); 888 ± 230 (tegalan)
- Rendemen : 8,34 ± 0,60 (sawah); 9.19 ± 0.64 (tegalan)
- Hablur gula (ku/ha) : 101,4 ± 18,5 (sawah); 82,5 ± 27,3 (tegalan)
3. Ketahanan hama dan penyakit
- Agak tahan terhadap hama penggerek pucuk
- Tahan terhadap penyakit-penyakit pokkahbung, blendok dan mosaik tahan dan agak tahan terhadap
penyakit luka api
4. Kesesuaian lokasi : Cocok untuk dikembangkan ditanah-tanah aluvial, baik dilahan sawah maupun
tegalan. Pemberian pupuk N yang cukup akan menekan pembungaan dan memperlambat kemasakan.
Keterangan lain
- Peneliti : Mirzawan P.D.N; Eka Sugiyarta; Kabul Agus Wahyudi; Hermono Budhisantosa; Suwandi;
Widi Sasongko; Mutomo Adi.
- Nama lama sebelum diusulkan : PS 86-10029
Perilaku Varietas
PS 864 sebelumnya dikenal dengan seri PS 86-10029, merupakan keturunan dari PR 1117 (polycross)
yang dilepas Menteri Pertanian pada tahun 2004. Perkecambahan varietas ini adalah sangat baik
dengan anakan yang serempak, klentekan mudah. Sifat dasar pembungaan adalah sedikit atau
sporadis, tetapi akan menjadi lebat apabila ditanam pada lahan-lahan marginal, terganggu
drainasenya dan atau kekurangan pupuk Nitrogen (karena respon terhadap N yang sangat tinggi).
Walaupun terjadi pembungaan, karena diikuti munculnya siwil sekitar 3 mata pucuk, maka proses
penggabusan akan dihentikan oleh adanya siwilan tersebut. Sehingga walaupun ditebang agak
terlambat, PS 864 masih dapat bertahan KDT nya.
Pada lahan–lahan bertekstur ringan sampai berat, PS 864 masih cukup baik pertumbuhannya. Bahkan
pada lahan tegalan dimana kondisi kering panjang terjadi, dijumpai keadaan tanaman tinggal 3-5
daun hijau, masih menunjukkan tingkat kelengasan batang yang cukup tinggi. Potensi produksi tebu
cukup tinggi dengan rendemen sedikit dibawah PS 851. Tipe kemasakan terdapat kecenderungan
pada kelompok tengah lambat. Kadar sabut berkisar 13%.
PS 864 menunjukkan tingkat toleransi kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan PS 851. Untuk
daerah tegalan dengan pola tanam awal penghujan varietas ini akan cocok dikembangkan.

DESKRIPSI TEBU VARIETAS PS 865


NAMA ASAL CB 6979)
SK Pelepasan
Keputusan Menteri Pertanian
Nomor : 342/Kpts/SR.120/3/2008
Tanggal : 28 Maret 2008
Tentang Pelepasan Tebu Varietas CB 6979 dengan nama PS 865
Asal Persilangan
Persilangan POJ 4947 x POJ 2946 pada tahun 1986
Sifat Morfologi

1. Batang
• Bentuk ruas : Silindris, susunan antar ruas lurus dengan penampang melintang bulat
• Warna batang : hijau kuning keunguan
• Lapisan lilin : ada di sepanjang ruas dan tebal sehingga mempengaruhi warna ruas
• Retakan tumbuh : tidak ada
• Cincin tumbuh : melingkar datar menyinggung puncak mata, dengan warna kekuningan
• Teras dan lubang : kecil sampai sedang
• Bentuk buku ruas : konis, dengan 2-3 baris mata akar, baris paling atas tidak melewati puncak mata
• Alur mata : sempit dan dangkal, mencapai pertengahan ruas

2. Daun
• Warna daun : hijau
• Ukuran lebar daun : sedang (4 - 6 cm)
• Lengkung daun : tegak
• Telinga daun : tidak ada
Bulu bidang punggung : ada, lebih dari ¼ lebar pelepahnya, tidak mencapai puncak pelepah,
pertumbuhan jarang dengan posisi rebah
• Sifat lepas pelepah : agak mudah

3. Mata
• Letak mata : pada bekas pangkal pelepah
• Bentuk mata : lonjong
• Sayap mata : berukuran sama lebar, dengan tepi sayap rata
• Rambut tepi basal : tidak ada
• Rambut jambul : ada
• Pusat tumbuh : pada tengah mata

Sifat-sifat agronomis1. Pertumbuhan


• Perkecambahan : cepat
• Awal pertunasan : cepat
• Kerapatan batang : sedang (6-10 batang/meter)
• Diameter batang : sedang
• Pembungaan : sporadis - sedang
• Kemasakan : awal - tengah
• Daya kepras : baik
2. Potensi produksi
Lahan tegalan :
- Hasil tebu (ku/ha) : 804 ± 112
- Rendemen (%) : 9,38 ± 1,41
- Hasil hablur (ku/ha) : 74,81 ± 12,01
3. Ketahanan hama dan penyakit
- Penggerek batang : tahan
- Penggerek pucuk : tahan
- Penyakit blendok : tahan
- Pokkahbung : tahan
4. Kesesuaian lokasi : cocok untuk lahan tegalan di Jawa dengan jenis tanah Aluvial bertipe iklim C2
5. Kadar sabut : + 16,58
Perilaku Varietas
Varietas PS 865 sebelumnya dikenal dengan nama seri CB 6979 merupakan keturunan dari hasil
persilangan POJ 4947 x POJ 2946 pada tahun 1986. Setelah melalui program seleksi awal di Pasuruan,
kemudian diadaptasikan ke berbagai lokasi, ternyata adaptasi di wilayah Subang merupakan tipologi
yang sangat cocok untuk pengembangannya.
Varietas tebu PS 865 menunjukkan keragaan tanaman yang memuaskan pada lahan Aluvial, Latosol,
Podsolik dan Grumosol di Subang yang sepenuhnya mengandalkan tadah hujan. Tingkat ketersediaan
air yang terbatas dan jeluk tanah terbatas untuk perakaran, tampaknya pertumbuhan tanaman PS
865 sangat baik. Sementara varietas utama lainnya tampak mulai terhambat pertumbuhannya pada
kondisi lengas tanah yang semakin terbatas.
Pada kondisi serangan hama penggerek batang dan penggerek pucuk yang sangat tinggi, terlihat
bahwa PS 865 sangat toleran terhadap serangan tersebut sehingga mampu memberikan produksi
tebu yang paling memuaskan. Hasil pengamatan secara deskriptif terlihat bahwa pada jenis lahan
berat (liat) seperti di Jatitujuh, terlihat keragaan tanaman seragam pertumbuhannya dengan rata-rata
8-10 batang per meter juring. Pertunasan terjadi secara serempak, berbatang tegak, diameter sedang
sampai besar. Ketahanan terhadap kekeringan tampak pada tingkat perkecambahan pada
keprasannya yang tidak terganggu pertumbuhannya. Tampaknya PS 865 sangat cocok untuk
dikembangkan pada lahan tegalan dengan tingkat kesuburan yang terbatas.
Keterangan lain
Peneliti : Eka Sugiyarta dan Bari Ngaridjan
Pemilik varietas : Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia.

DESKRIPSI TEBU VARIETAS KIDANG KENCANA


(NAMA ASAL PA 198)
SK Pelepasan
Keputusan Menteri Pertanian
Nomor : 334/Kpts/SR.120/3/2008
Tanggal : 28 Maret 2008
Tentang Pelepasan Tebu Varietas PA 198
Asal Persilangan
Tidak diketahui, pertama kali berkembang di Dusun Kencana, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka Jawa
Barat.
Sifat Morfologi
1. Batang
• Bentuk ruas : Silindris, susunan antar ruas lurus sampai berbiku, dengan penampang melintang
bulat
• Warna batang : hijau kekuningan, menjadi coklat keunguan bila terpapar sinar matahari
• Lapisan lilin : ada di sepanjang ruas, tipis tidak mempengaruhi warna ruas
• Retakan tumbuh : tidak ada
• Cincin tumbuh : melingkar datar di atas puncak mata, dengan warna kuning kehijauan
• Teras dan lubang : masif
• Bentuk buku ruas : konis, dengan 2-3 baris mata akar, baris paling atas tidak melewati puncak mata
• Alur mata : tidak ada

2. Daun
• Warna daun : hijau muda
• Ukuran lebar daun : lebar (lebih dari 6 cm)
• Lengkung daun : melengkung kurang dari ½ panjang daunTelinga daun : ada, lemah-sedang,
dengan kedudukan serong
• Bulu bidang punggung : tidak ada
• Sifat lepas pelepah : mudah
3. Mata
• Letak mata : pada bekas pangkal pelepah
• Bentuk mata : bulat telur, dengan bagian terlebar di tengah
• Sayap mata : berukuran sama lebar, dengan tepi sayap bergerigi
• Rambut tepi basal : tidak ada
• Rambut jambul : tidak ada
• Pusat tumbuh : di atas tengah mataSifat-sifat agronomis
1. Pertumbuhan
• Perkecambahan : cepat, seragam
• Awal pertunasan : cepat
• Kerapatan batang : sedang (8-10 batang/meter)
• Diameter batang : sedang - besar
• Pembungaan : sporadis
• Kemasakan : tengah - lambat
• Daya kepras : baik
2. Potensi produksi
Lahan sawah :
- Hasil tebu (ku/ha) : 1.125 ± 325
- Rendemen (%) : 10,99 ± 1,65
- Hasil hablur (ku/ha) : 110,6 ± 22,1
Lahan tegalan :
- Hasil tebu (ku/ha) : 992 ± 238
- Rendemen (%) : 9,51 ± 0,88
- Hasil hablur (ku/ha) : 95,4 ± 25,5
3. Ketahanan hama dan penyakit
- Penggerek batang : tahan
- Penyakit blendok : tahan
Pokkahbung : tahan
- Luka api : tahan
4. Kesesuaian lokasi
Cocok untuk lahan tegalan dan sawah jenis tanah mediteran dengan iklim C3, Kambisol C3, Aluvial C2
dan Grumusol C2.
5. Kadar sabut : + 13,05
Perilaku Varietas
Penyebaran varietas tebu PA 198 yang awalnya beradaptasi dan berkembang dusun Kidangkencana,
Jawa Barat terus meningkat dan produktivitasnya cukup baik. Dalam waktu relatif singkat bahkan
telah mulai diminati oleh para petani di Daerah Istimewa Yogyakarta dan di Jawa Timur. Varietas yang
sama juga berkembang di pertanaman petani tebu rakyat wilayah PG Bungamayang Lampung yang
dikenal dengan nama BM 96-05, wilayah PT Gunung Madu Plantation Lampung dengan nama GM 25
serta wilayah PG Cintamanis Sumatera Selatan dengan nama CM 47. Karena varietas ini tidak
diketahui secara pasti asal usulnya, sehingga dilakukan usulan pemutihan dengan nama Kidang
Kencana (KK).
Varietas tebu KK menunjukkan keragaan tanaman yang memuaskan pada lahan geluh-liat (tekstur
sedang sampai berat) dengan air cukup tersedia. Sementara itu pada lahan tanpa pengairan,
tampaknya KK menunjukkan keragaan yang kurang memuaskan, sehingga kesesuaian tipologi
wilayah pengembangannya adalah pada lahan yang tersedia lengas tanah cukup (sawah
berpengairan).
Hasil pengamatan secara deskriptif terlihat bahwa pada jenis lahan berat, terlihat keragaan tanaman
seragam pertumbuhannya dengan jumlah batang yang rapat. Pertunasan terjadi secara serempak,
berbatang tegak, diameter sedang sampai besar. Jarang berbunga, diameter sedang sampai besar,
hasil tebu cukup tinggi, rendemen tinggi, kemasakan awal tengah, kadar sabut sekitar 13%.
Pada kondisi kebun yang terganggu drainasenya terjadi pengecilan diameter batang dan pertumbuhan
agak terhambat. Sementara itu pada lahan yang kekurangan air akan terjadi pemendekan ruas
batang, dan pengaruhnya pada populasi batang pada tanaman keprasannya akan berkurang.
Tampaknya varietas tebu KK lebih sesuai untuk lahan Aluvial dan Mediteran dengan kadar liat yang
tidak terlalu tinggi dengan pengairan.yang cukup serta tidak terjadi gangguan drainase.
Keterangan lain
Peneliti : Bari Ngarijan dan Kusmiyanto
Pemilik varietas : PT. PG. Rajawali Nusantara II
Sumber Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia(www.sugarresearch.org)