Anda di halaman 1dari 34

KONSULTAN INDIVIDUAL BIDANG GENERIC CAPACITY

BUILDING UNTUK PENINGKATAN KAPASITAS DAERAH


DI DALAM MENGELOLA ASSET DAN PENINGKATAN
PENDAPATAN KOTA CIMAHI

31 AGUSTUS 2009

Sarwin Atmowiredjo
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

KATA PENGANTAR

Penugasan Konsultan Individual Bidang Generic Capacity Building di Kota Cimahi sejak 15
September 2008 hingga 31 Agustus 2009 antara lain adalah membantu/mendampingi pemerintah
Kota Cimahi di dalam menentukan skema pengelolaan aset investasi subproyek USDRP dan
peningkatan kapasitas daerah di dalam mengelola aset untuk peningkatan pendapatan daerah.
Dalam kerangka subproyek USDRP Kota Cimahi telah membangun Pasar Atas Baru dimulai
tanggal 12 November 2007 yang dibiayai dengan dana IBRD Loan Agreement Nomor 4786-IND
tanggal 20 Oktober 2005. Sehubungan dengan hal tersebut Laporan Akhir konsultan membatasi
pada hasil pendampingan yang berkaitan dengan pengelolaan aset, baik aset investasi USDRP
maupun aset pemerintah Kota Cimahi non USDRP yang mempunyai potensi untuk dikembangkan
sebagai sumber pendapatan daerah. Peningkatan pendapatan dari hasil pengelolaan aset daerah
dapat dicapai dengan melaksanakan pengelolaan secara profesional dengan dukungan SDM yang
memadai dan tertib administrasi aset daerah. Laporan akhir ini tidak dapat terwujud tanpa bantuan
dan dukungan jajaran pemerintah Kota Cimahi dan komponen USDRP. Untuk itu konsultan
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkerjasama dan menaruh harapan
kiranya hasilnya dapat bermanfaat.

Cimahi, 31 Agustus 2009


Konsultan Individual
Bidang Generic Capacity Building

Sarwin Atmowiredjo

i
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR i
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Methodologi 1

BAB II KEMAJUAN KERJA 2


2.1. Aspek legal dan kelembagaan 2
2.2. Kemajuan pembangunan USDRP 3
2.2.1. Kemajuan fisik 4
2.2.2. Kemajuan non fisik 6
2.3. Pengelolaan aset USDRP 11
2.4. Pengelolaan aset non USDRP 11
2.4.1. Kondisi dan status aset 12
2.4.2. Retribusi dan kontribusi yang dihasilkan 16

BAB III PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DALAM KEMAJUAN KERJA 18


3.1. Aspek legal dan kelembagaan 18
3.2. Kemajuan pembangunan USDRP 19
3.3. Pengelolaan aset USDRP 19
3.3.1. Kewajiban pengelola 19
3.3.2. Penetapan harga kios dan pemasarannya 19
3.4. Pengelolaan aset non USDRP 20
3.4.1. Pengelolaan terminal angkutan penumpang 20
3.4.2. Komplek Glanggang Olahraga (GOR) Sangkuriang 21
3.4.3. Pusat Perdagangan Cimahi Mall 21

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 21


4.1. Kesimpulan 21
4.1.1. Aset USDRP 21
4.1.2. Aset non USDRP 22
4.2. Rekomendasi 22
4.1. Aset USDRP 22
4.2. Aset non USDRP 22

LAMPIRAN:

I. Perjanjian Penerusan Pinjaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah


Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat atas dana Pinjaman dari The International Bank for
Reconstruction and Development, Loan Agreement Nomor: 4786-IND TANGGAL 20
Oktober 2005 Dalam Rangka Pembiayaan Urban Sector Development Reform Project
(USDRP) No.: SLA-1208/DP3/2007 tanggal 18 April 2007

ii
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

II. Daftar nama pedagang Pasar Atas Lama yang dipindahkan


III. Keputusan Walikota Cimahi Nomor: 912-05/Kep 128-Bappeda/2009 tanggal 26 Mei 2009
tentang Pembentukan Project Management Unit (PMU) Untuk Pelaksanaan Urban Sector
Development Reform Project (USDRP) Kota Cimahi
IV. Keputusan Walikota Cimahi Nomor: 050/Kep.84-Bappeda/2009 tanggal 31 Maret 2009
tentang Perubaan Pembentukan Project Implementation Unit (PIU) Urban Sector
Development Reform Project (USDRP) Kota Cimahi Tahun Anggaran 2009
V. Perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kota Cimahi dengan PT Cimahi Persada tentang
Pengelolaan Terminal Pasar Antri Baru No.130/22-Perj/2007
0067/PAB/VII/2007
tanggal 31 Juli 2007
VI. Draft naskah Perjanjian Kerjasama antara Dinas Koperasi UMKM Perindustrian
Perdagangan dan Pertanian dengan Perusahan Daerah (PD) Jati Mandiri tentang
Pengelolaan Pasar Atas Baru Kota Cimahi
VII. Daftar rekapitulasi Amandemen kontrak Pembangunan Pasar Atas Baru Kota Cimahi
VIII. Review terhadap Dokumen Amandemen Kontrak IV Pembangunan Pasar Atas Baru Kota
Cimahi
IX. Foto-foto aset Pemerintah Kota Cimahi yang potensial sebagai sumber pendapatan
daerah
X. Klipping berita surat kabar yang berkaitan dengan pembangunan Pasar Atas Baru Kota
Cimahi
XI. Daftar hadir acara presentasi Laporan Akhir Konsultan Individual pada tanggal 28 Agustus
2009 bertempat di ruang rapat Bappeda Pemerintah Kota Cimahi.

iii
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Urban Sector Development Reform Project (USDRP) bertujuan untuk membantu Pemerintah
Kota/Kabupaten untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya melalui perbaikan
pelayanan publik. Dalam memenuhi tujuan ini, USDRP menyatukan tiga pendekatan yaitu
pembaruan tata pemerintah dasar, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta investasi
pelayanan publik. Dalam rangka melaksanakan Program USDRP tersebut pemerintah Kota
Cimahi melakukan investasi pembangunan prasarana umum dalam kerangka subproyek
USDRP berupa pembangunan Pasar Atas Baru yang dibiayai dari dana IBRD, Loan
Agreement Nomor 4786-IND tanggal 20 Oktober 2005. Dalam hubungan ini penugasan
konsultan perseorangan Urban Institutional Development Project (UIDP) pada pemerintah
Kota Cimahi adalah untuk membantu pemerintah Kota Cimahi menentukan skema
pengelolaan yang tepat bagi aset investasi dimaksud agar memenuhi syarat kriteria cost
recovery, yaitu (i) membentuk pola pengelolaan aset yang baik, (ii) handal (iii)
berkesimambungan, (iv) harus dapat mengembalikan pinjaman, (v) harus dapat berkembang
dengan baik dan (vi) dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat.

1.2. Methodologi
Dalam melakukan pekerjaan untuk merealisasikan rencana kerja konsultan berkoordinasi
dengan instansi yang terkait, antara lain Dinas Koperasi UMKM Perindustrian Perdagangan
dan Pertanian, UPTD Pasar, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Perhubungan, PD. Jati Mandiri,
Bagian Keuangan, Bagian Pengelolaan Aset dan Bagian Hukum serta dengan Konsultan
individual bidang lainnya. Koordinasi dan konsultasi dilakukan secara berkala dan
berkelanjutan. Koordinasi juga dilakukan dengan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia
(ASPARINDO) khususnya dalam rangka pemilihan pola pemasaran kios dan manajemen
pasar. Hasil dari koordinasi tersebut antara lain diwujudkan dengan memberikan masukan
kepada pemerintah Kota Cimahi dalam menetapkan skema pengelolaan yang tepat.
Konsultan juga membantu Dinas UMKM Perindustrian Perdagangan dan Pertanian dalam: (i)
mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam persiapan pengelolaan Pasar Atas
Baru pada masa transisi (ii) mempersiapkan draft perjanjian kerjasama tentang pengelolaan
Pasar Atas Baru antara pemerintah Kota Cimahi cq. Dinas Koperasi UMKM Perindustrian
Perdagangan dan Pertanian dengan PD. Jati Mandiri (iii) hal-hal lainnya yang berkaitan
dengan rencana pengelolaan Pasar Atas Baru. Selain itu konsultan telah pula melakukan

1
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

kajian dan memberikan masukan mengenai pengelolaan aset tetap pemerintah Kota Cimahi
yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah.

BAB II KEMAJUAN KERJA

2.1. Aspek legal dan kelembagaan


Dasar hukum pelaksanaan program USDRP di Kota Cimahi adalah sebagai berikut:
1) Surat Walikota Cimahi tentang Permohonan Keikutsertaan dalam Proyek Pembangunan
Pasar Atas Baru, nomor 912.09/3653/Bapeda, tanggal 29 September 2005;
2) Persetujuan DPRD Kota Cimahi terhadap pinjaman dana dari Bank Dunia untuk kegiatan
USDRP dituangkan dalam Keputusan DPRD Kota CImahi nomor 09/Kep.DPRD/VII/2005
tanggal 07 Juli 2005
3) Program Management Unit (PMU) sebagai unit pengelola proyek berkedudukan di Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) disahkan melalui Keputusan Walikota
Cimahi nomor 050/Kep.268-Bapeda/2005 pada tanggal 18 Nopember 2005, yang kemudian
diubah melalui Keputusan Walikota Cimahi nomor 050/Kep.66-Bapeda/2006 pada tanggal
16 Juni 2006 dan terakhir diubah lagi dengan Keputusan Walikota Cimahi Nomor 912-
05/Kep.128-Bappeda/2009 tanggal 26 Mei 2009.
4) Project Implementation Unit (PIU) sebagai unit pelaksana proyek berkedudukan di Dinas
Pekerjaan Umum disahkan melalui Keputusan Walikota Cimahi nomor 050/Kep.286-
Bapeda/2005 pada tanggal 21 Desember 2005, yang kemudian diubah melalui Keputusan
Walikota Cimahi nomor 050/Kep.65-Bapeda/2006 tanggal 16 Juni 2006 dan terakhir diubah
lagi dengan Keputusan Walikota Cimahi Nomor 050/Kep.84-Bappeda/2009 tanggal 31 Maret
2009.
5) Pembentukan Panitia Pengadaan Barang/Jasa Kegiatan Pembangunan Pasar Atas Baru
Kota Cimahi Tahun Anggaran 2006 berdasarkan Keputusan Walikota Cimahi nomor
620/Kep.44.A-Distakot/2006 tanggal 2 Mei 2006
6) Rencana Tindak Transparansi dan Partisipasi, Pembaharuan Keuangan Daerah dan
Pembaharuan Pengadaan Barang dan Jasa dalam rangka USDRP Disahkan Melalui
Keputusan Walikota nomor : 050/Kep.5-Bapeda/2004 pada tanggal 19 Januari 2004
7) Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor : 11 Tahun 2003 Tentang Rencana Strategis Daerah
Kota Cimahi Tahun 2003 – 2007
8) Perjanjian Penerusan Pinjaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kota
Cimahi, Provinsi Jawa Barat Nomor: SLA-1208/DP3/2007 Tanggal 18 April 2007 Atas Dana
Pinjaman dari The International Bank for Reconstruction and Development, Loan Agreement

2
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Nomor 4786-IND Tanggal 20 Oktober 2005 Dalam Rangka Pembiayaan Urban Sector
Development Reform Project (USDRP)
9) Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor: 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Panjang (RPJMD) Kota Cimahi Tahun 2007-2012

2.2. Kemajuan pembangunan USDRP


Pasar Atas baru dibangun bersebelahan dengan Pasar Atas Lama yang merupakan pasar
tradisional, dan direncanakan menjadi satu kesatuan kawasan perdagangan Pasar Atas yang
saling mendukung dan melengkapi. Areal Pasar Atas Baru Kota Cimahi dibangun di atas tanah
seluas 5.600 m2, dengan menghapuskan ex kantor Dinas Tata Kota dan ex kantor Dinas
Perhubungan. Penetapan lokasinya diputuskan oleh Walikota Cimahi dengan Keputusan
Walikota Cimahi nomor 050/Kep.32.A-Bapeda/2006 tanggal 23 Maret 2006 tentang Penetapan
Lokasi Pembangunan Pasar Atas Baru Kota Cimahi. Adapun status tanah merupakan tanah
milik Pemerintah Kota Cimahi berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
028/Kep.01-PLK/2006 tanggal 2 Januari 2006 tentang Penyerahan, Penghapusan dan
Pengalihan Aset Milik/Dikuasai Pemerintah Propinsi Jawa Barat kepada Pemerintah
Kabupaten/Kota, dan Berita Acara No: 030/331/BIN. PEN. UM, tanggal 25 Februari Tahun
2004 tentang Serah Terima Tanah, Bangunan, Kendaraan Dinas, Perlengkapan Kantor,
Dokumen dan Arsip dari Pemerintah Kabupaten Bandung kepada Pemerintah Kota Cimahi.
Pasar Atas Baru direncanakan terdiri dari bangunan 3 lantai, dengan luas ± 7.630m2, dengan
tata ruangan sebagai berikut :
1) Lantai dasar, luas ± 2.686,33 m2 terdiri atas :
a) Pujasera dan ruang makan : daya tampung 23 pedagang
b) Kantor pengelola pasar
c) Kantor pengelola parkir dan WC
d) Area parkir motor : daya tampung ± 84 buah
e) Area parkir mobil : daya tampung ± 30 buah
f) Mushola

2) Lantai 1, luas ± 2.598,04 m2 terdiri atas :


a) Pujasera dan ruang makan : daya tampung 23 pedagang
b) Kios ukuran 2x2 m2 : daya tampung 191 pedagang
c) WC/toilet
3) Lantai 2, luas ± 2.095,94 m2 terdiri atas :
a) Kios ukuran 2x2 m2 : daya tampung 191Pedagang

3
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

b) WC/toilet
4) Lantai 3 (dak), luas ± 250 m2, terdiri dari :
a) Gudang
b) Torn : 2 buah

2.2.1. Kemajuan Fisik


a. Paket Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa
i) Kontrak Jasa Konsultan Supervisi Pembangunan : 1 buah
ii) Kontrak Jasa Konstruksi : 1 buah
b. Studi Kelayakan (FS), DED, UKL/UPL, Rekayasa Lalulintas dan Dokumen Lelang
Dalam rangka pembangunan Pasar Atas Baru Kota disusun beberapa kajian pendukung
yaitu :
i) Feasibility Study (FS) / Studi Kelayakan : disusun pada tahun 2005, direvisi terus
menerus sampai dengan mendapat persetujuan dari Bank Dunia pada bulan Januari
tahun 2007
ii) Detail Engineering Design (DED) : disusun pada tahun 2005, direvisi dan disetujui oleh
Bank Dunia pada akhir tahun 2006
iii) Status UKL / UPL : disusun dan disahkan pada tahun anggaran 2006
iv) Rekayasa Lalulintas : disusun dan disahkan pada tahun anggaran 2006
v) Dokumen Lelang : disusun pada tahun 2006, direvisi dan disetujui oleh pada bulan
Januari tahun 2007
vi) Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) : disusun pada tahun 2005, diperbaharui secara
kontinyu dan disetujui pada bulan Januari tahun 2007

c. Proses Pengadaan
Proses pengadaan untuk pekerjaan Pembangunan Pasar Atas Baru Kota Cimahi, sebagai
berikut :
i) Pengadaan Jasa Konsultan :
- Pelaksanaan lelang tanggal 1 Maret 2007 – 5 Nopember 2007
- Pemenang lelang : PT Nitosaba Konsultan Nusantara (NIKONA)
- Penandatangan kontrak pada tanggal 5 Nopember 2007, nomor 05/PP-PWSPPAB
/KPA-DTK/2007
- Jangka waktu yang lama dalam pelaksanaan lelang jasa konsultansi yakni pada proses
penandatangan kontrak karena menyesuaikan dengan proses pelelangan konstruksi
terutama proses penerbitan NOL dari Bank Dunia.

4
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

- Nilai Kontrak : Rp.252.076.000,- (dua ratus lima puluh dua juta tujuh puluh enam ribu
rupiah).
ii) Pengadaan Jasa Konstruksi :
- Pelaksanaan lelang tanggal 1 Pebruari 2007 – 12 Nopember 2007
- No Objection Letter (NOL)/Pernyataan tidak keberatan dari Bank Dunia untuk Calon
Pemenang Lelang dikeluarkan pada tanggal 3 Oktober 2007 melalui surat nomor
Ref.L4786/106 perihal Loan 4786-IND : Urban Sector Development Reform Project,
Clarification on NCB Bid Evaluation Report for Development of Atas Baru Market in Kota
Cimahi, West Java.
- Pemenang lelang : PT. Guna Karya Nusantara;
- Penandatanganan kontrak pada tanggal 12 Nopember 2007, nomor 03/PK/PPAB/ DTK
/2007.
- Nilai Kontrak : Rp.13.754.614.500,- (tiga belas milyar tujuh ratus lima puluh empat juta
enam ratus empat belas ribu lima ratus rupiah), dengan rincian sebagai berikut :
Dana pinjaman ..................Rp 11.748.536.000,-- ( Pembangunan Pasar Atas
Baru)
APBD ........................... .....Rp 755.659.000,-- ( Rehab Kantor Pemadam
Kebakaran)
PPN dana pinjaman ...........Rp 1.174.853.600,-- (tidak dipungut)
PPN dana APBD ...............Rp 75.565.900,--
Jumlah ................ Rp 13.574.614.500,--
- Berdasarkan Amandemen Kontrak IV Nomor: 04/PK/ADD.IV.PPAB/DTK/2008 tanggal
06 Oktober 2008, dengan adanya pekerjaan tambahan nilai kontrak dinaikkan menjadi
Rp 15.128.055.800,-- (termasuk PPN)

d. Pelaksanaan pembangunan fisik


Pembangunan subproyek USDRP Pasar Atas Baru Kota Cimahi dimulai pada tanggal 12
November 2007 dan direncanakan selesai pada Juli 2008, namun dalam pelaksanaannya
terjadi perubahan-perubahan yang dituangkan ke dalam beberapa Amandemen Kontrak
yang secara kronologis dapat dikemukakan sebagai berikut:
i) Amandemen Kontrak I No. 01/PK/ADD.I.PPAB/DTK/2008 tanggal 27 Maret 2008,
perubahan dimensi baja profil H-beam 400.400.13.21 menjadi dimensi WF
588.300.10.16 karena alasan kelangkaan di pasaran

5
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

ii) Amandemen Kontrak II No. 02 PK/ADD.II.PPAB/DTK/2008 tanggal 08 Juli 2008,


perpanjangan masa kontrak dari 240 hari kalender menjadi 330 hari kalender karena
alasan pekerjaan terlambat dimulai
iii) Amandemen Kontrak III No. 03/PK/ADD.III.PPAB/DT/2008 tanggal 22 Agustus 2008,
perubahan: 1) Dimensi balok baja dari WF 588.300.10.16 menjadi WF 600.200.11.17, 2)
Sumber air dari sumur menjadi sambungan PDAM, 3) Material pembungkus kolom dari
bata menjadi beton K 175, 4) Material tangga dari precast menjadi beton site mix.
iv) Amandemen Kontrak IV No. 04/PK/ADD.IV.PPAB/DTK/2008 tanggal 06 Oktober 2008,
perpanjangan masa kontrak dari 330 hari kalender menjadi 405 hari kalender karena ada
pekerjaan tambahan yaitu: 1) pekerjaan lantai 2) pembuatan saluran air hujan 3)
pekerjaan pelapis lantai dan dinding, pengecatan bangunan utama dan Pujasera.

2.2..2. Kemajuan non fisik


Kemajuan non fisik berupa realisasi penggunaan dana pinjaman dan dana APBD di dalam
pembangunan Pasar Atas Baru serta pemindahan sebagian pedagang pasar atas lama yang
kiosnya harus dibongkar karena lokasinya dijadikan jalan yang menjadi bagian proyek
pembangunan Pasar Atas Baru, yaitu sebagai berikut:
a. Dana Pinjaman
Pembayaran uang muka sebesar Rp 2.349.707.200,-- (dua milyar tiga ratus empat puluh
sembilan juta tujuh ratus tujuh ribu dua ratus rupiah) atau 20%, dituangkan dalam:
i) Berita Acara Pembayaran Nomor: 01/BAP/GN/2007 tanggal 03 Desember 2007
ii) Surat Perintah Membayar (SPM) Nomor: 00001/962642/12/2007 tanggal 04
Desember 2007
iii) Surat Perintah Penciran Dana Nomor: 95948H/022/100 tanggal 10 Desember
2007
b. Dana APBD
Pembayaran uang muka sebesar Rp 166.224.980,-- (seratus enam puluh enam juta dua
ratus dua puluh empat ribu sembilan ratus delapan puluh rupiah) atau 20%, dituangkan
dalam:
i) Berita Acara Pembayaran Nomor: 01/BAP-APBD/GN/2007 tanggal 10 Desember
2007
ii) Surat Perintah Membayar (SPM) Nomor: 931/711/XII/SPM-TB.PAB/Keu/2007
tanggal 11 Desember 2007

6
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

iii) Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Nomor: 932/04440/LS-BM/XII/2007


tanggal 13 Desember 2007

c. Pemindahan pedagang Pasar Atas lama yang kiosnya harus dibongkar


(1) Latar Belakang
Berdasarkan Loan Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia dengan IBRD
diatur antara lain bahwa penerima kredit, dalam hal ini Pemerintah Daerah peserta
ULG di dalam melaksanakan proyek harus menghindari terjadinya konflik dengan
masyakat dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu disyaratkan agar sebelum
proyek dimulai, semua masalah yang berkaitan dengan hak-hak pihak
ketiga/masyarakat dan lingkungan harus diselesaikan terlebih dahulu. Apabila di
dalam merealisasikan pembangunan sub-proyek, akibat dampaknya, terdapat pihak
yang menjadi korban, misalnya ada anggota masyarakat yang tanah dan rumahnya
tergusur, maka kepada yang bersangkutan harus dicarikan jalan keluarnya yaitu
antara lain dipindahkan ke tempat yang baru, diberi ganti rugi yang wajar sehingga
kebutuhan ekonomi keluarganya dan kelangsungan usahanya tidak terganggu, juga
kualitas kehidupannya harus tidak menjadi lebih buruk. Untuk itu dipersyaratkan
adanya rencana aksi (Land Acquisition and Resettlement Action Plan/LARAP) untuk
mengatasi dan menghindarkan adanya goncangan sosial di dalam masyarakat.
Untuk proyek yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup harus dibuatkan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

(2) Pembangunan Pasar Atas Baru


Pembangunan Pasar Atas Baru dibiayai dengan dana Loan IBRD di dalam kerangka
sub-proyek USDRP. Pasar Atas Baru dibangun bersebelahan dengan Pasar Atas
lama dan sebagai dampaknya ada bagian dari Pasar Atas lama harus dibongkar
untuk dijadikan jalan lingkungan Pasar Atas Baru. Hal tersebut mengakibatkan
adanya beberapa kios yang harus dibongkar dan pedagang yang berjualan di kios
tersebut harus pindah. Sejalan dengan persyaratan yang dimuat di dalam Loan
Agreement IBRD dimaksud, maka pembongkaran kios tersebut harus pula
mendapat penyelesaian yang sebaik-baiknya sehingga tidak akan menimbulkan
gejolak sosial di masyarakat.

(3) Kondisi di lapangan

7
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Pasar Atas lama adalah pasar tradisional yang terutama menyediakan kebutuhan
pokok sehari-hari berupa bahan makanan, sayuran dan buah-buahan. Di dalam
pasar terdapat dua jenis pedagang, yaitu pedagang yang menempati kios dan
pedagang yang menempati lapak (ruang terbuka). Masing-masing pedagang
mempunyai surat ijin berdagang di tempat tersebut, yaitu:
a) Ijin Pemakaian Kios (IPK) dikeluarkan oleh Dinas Perekonomian dan Koperasi
b) Ijin Pemakaian Lapak (IPL) dikeluarkan oleh Unit Pasar Atas (lama), sejak tahun
2008 tidak ada lagi ijin baru atau perpanjangan yang diterbitkan.
Dalam kaitannya dengan rencana pembongkaran bagian dari Pasar Atas lama,
terdapat 14 lapak yang diberikan ijin atas nama 12 orang (Lampiran 1), yang tempat
berdagangnya akan dibongkar, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
§ Pemilik lapak/kios yang aktif berdagang
§ Pemilik lapak/kios yang tidak berdagang dan tidak menyewakan
§ Pemilik lapak/kios yang menyewakan kepada pedagang lain
§ Pedagang yang menyewa lapak/kios dari pemiliknya

Dari hasil observasi/wawancara di lapangan, dapat dihimpun data sebagai berikut:

Pihak Unit Pasar Atas tidak pernah memberikan/mengeluarkan pernyataan atau


informasi tentang pemberian ganti rugi atau kompensasi terhadap para pedagang
yang terpaksa harus meninggalkan tempat usahanya karena tempatnya terkena
imbas dari pembangunan Pasar Atas Baru harus dibongkar.

§ Pada dasarnya para pedagang yang bersangkutan menyadari posisinya, bahwa


mereka tidak mungkin (tidak mampu) untuk pindah ke Pasar Atas Baru dan
mereka mengharapkan adanya kompensasi.

§ Para pedagang tidak pernah mengajukan tuntutan apapun atau menyampaikan


aspirasinya kepada pengelola Pasar Atas dan tidak pernah menunjuk
/mengangkat siapapun di antara mereka sebagai wakilnya.

§ Dalam mengantisipasi timbulnya gejolak apabila pembongkaran dilaksanakan,


Kepala Unit Pasar Atas berpendapat, bahwa seyogianya para pedagang
bermusyawarah diantara mereka dan memutuskan hal apa yang menjadi
keinginann/aspirasinya dan dalam musyawarah tersebut pihak pengelola pasar
dilibatkan.

§ Alternatif penyelesaian para pedagang tersebut adalah sebagai berikut:

8
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Ø Pindah ke tempat (pasar) lain, pihak Unit Pasar dapat membantu

Ø Pindah ke Pasar Atas Baru, dengan bantuan subsidi dan bimbingan teknis.

(4) Penghasilan pedagang

Dengan mengambil sample pedagang nasi ( Ibu Imas) yang berjualan di Pasar Atas
sejak tahun 1973, diperoleh data bahwa omzet penjualan harian antara Rp 200.000,--
sampai Rp 400.000,--. Apabila dari penjualan tersebut yang bersangkutan mendapat
keuntungan 20%, maka keuntungan per hari antara Rp 40.000,-- sampai Rp 80.000,--
atau rata-rata Rp 60.000,-- Nilai ini dapat dijadikan salah satu komponen dalam
perhitungan penetapan kompensasi kepada pedagang.

(5) Rekomendasi

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka untuk menyelesaikan masalah pedagang


yang harus pindah (dipindahkan) direkomendasikan melakukan langkah-langkah
sebagai berikut:

Ø Melihat pada jenis barang dagangan dan kondisi sosial ekonomi masing-masing,
kiranya para pedagang tersebut tidak mungkin dipindahkan dan melanjutkan
usahanya di Pasar Atas Baru, oleh karena itu mereka lebih cocok dipindahkan
(relokasi) ke bagian lain Pasar Atas lama atau ke pasar lain dengan bantuan
pengelola Pasar Atas lama;

Ø Apabila ada pedagang yang dapat memenuhi syarat untuk melanjutkan usahanya
di Pasar Atas Baru, kiranya kepada yang bersangkutan perlu diberikan bantuan
subsidi/keringanan harga sewa kios dan diberikan bimbingan teknis untuk
meningkatkan mutu pelayanan dan menyesuaikan jenis barang dagangannya.;

Ø Mengingat para pedagang yang bersangkutan hingga saat ini belum pernah
menyampaikan aspirasinya, maka disarankan agar mereka bermusyawarah
untuk menetapkan hal-hal yang menjadi keinginannya. Dalam melakukan
musyawarah disarankan mengikutsertakan Kepala Unit Pasar Atas lama agar
hal-hal yang berkaitan dengan kelangsungan usahanya dapat dibantu.

Ø Dalam hal pedagang tidak dapat melanjutkan usahanya dan menyatakan akan
berhenti berdagang, kiranya kepada yang bersangkutan wajar untuk
dipertimbangkan diberikan bantuan (santunan) yang memadai. Persoalannya
mungkin timbul mengenai masalah dananya dianggarkan dari mana dan kapan

9
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

pelaksanaannya. Sebaliknya apabila pedagang menuntut ganti rugi yang tidak


wajar, harus dilakukan mediasi dan ditekankan bahwa Pemerintah Kota Cimahi
tidak dapat menyediakan dana yang besar.

(6) Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Cimahi

Dalam rangka menyelesaikan permasalahan tersebut telah diadakan rapat pada


tanggal 27 November 2008 dan 3 Desember 2008, menghasilkan kesimpulan bahwa
pihak pemerintah Kota Cimahi akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Ø Pemerintah Kota Cimahi akan memberikan kompensasi kepada pedagang


tersebut dan untuk menetapkan besarnya nilai kompensasi akan dilakukan
perhitungan oleh Dinas terkait dengan memperhatikan kondisi bangunan, NJOP,
surat ijin pemakaian dan klasifikasi dari masing-masing pedagang.

Ø Kepada pedagang yang bersangkutan akan disampaikan/disosialisasikan


rencana pemerintah Kota Cimahi tersebut pada saat keadaan pasar agak sepi,
satu dan lain agar masalah ini tidak meluas dan tidak menimbulkan opini pihak
lain yang tidak diinginkan.

Ø Sebelum dilakukan sosialisasi terlebih dahulu dilakukan lobby/pendekatan


informal kepada pedagang yang bersangkutan, sehingga nanti pada saat
sosialisasi yang bersangkutan sudah dapat menerima dan memahami
sepenuhnya kebijakan pemerintah Kota Cimahi.

Ø Pendataan pedagang harus dilakukan secara akurat dan setiap kesepakatan


harus dituangkan dalam surat pernyataan sebagai bukti otentik, sehingga setiap
langkah kebijakan pemerintah Kota Cimahi dalam menyelesaikan masalah ini
dapat dipertanggungjawabkan dan didukung dengan data yang otentik.

Ø Pemberian kompensasi diutamakan kepada pedagang yang masih aktif,


meskipun pemilik ijin kios/lapak juga harus diperhatikan hak-haknya.

Ø Waktu pelaksanaan pembongkaran harus sudah pasti (jelas) dan disampaikan


kepada para pedagang pada saat sosialisasi.

Ø Perhitungan nilai kios/lapak dilakukan secara normatif sesuai dengan ketentuan


yang berlaku dan memperhatikan kodisinya, tetapi di dalam pemberian
kompensasi kepada pedagang harus memperhatikan aspek sosial dan nilai-nilai
kepatutan (hati nurani).

10
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Ø Dana untuk kompensasi akan diambil dari APBD Kota Cimahi dana
pembangunan Pasar Atas Baru.

(7) Realisasi Rencana Pemerintah Kota Cimahi


Sebagai tindak lanjut dari rencana pemerintah Kota Cimahi, perhitungan harga kios
telah dilakukan oleh Dinas Tata Kota dan hasilnya akan dijadikan acuan di dalam
memberikan kompensasi. Disamping itu juga telah dirancang pertemuan informal
untuk menampung aspirasi para pedagang dan menyampaikan rencana pemerintah
Kota Cimahi kepada para pedagang. Berdasarkan Undangan Sekretaris Daerah
Kota Cimahi No.005/3665/Bapeda tgl 4 Desember 2008 (Lampiran 2) pertemuan
tersebut dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 2008 di Aula Kelurahan Cimahi.
Dalam pertemuan tersebut disampaikan rencana pembongkaran sebagian pasar
atas lama untuk prasarana jalan lingkungan Pasar Atas Baru dan kesediaan
Pemerintah Kota untuk memberikan kompensasi kepada para pedagang yang
terkena dampak dari pembongkaran tersebut. Belum ada kesepakatan /persetujuan
antara kedua pihak mengenai realisasinya. Namun melalui upaya pendekatan yang
persuasif dan intensif kepada para pedagang, pada akhirnya semua pedagang
dapat menerima dan menyetujui kompensasi yang ditawarkan oleh pemerintah Kota
Cimahi. Pembayaran kompensasi telah dapat diselesaikan seluruhnya pada bulan
April 2009.

2.3. Pengelolaan aset USDRP


Pembangunan Pasar Atas Baru secara fisik sudah selesai dan sedianya mulai dioperasikan
pada tanggal 21 Juni 2009, namun karena adanya perkembangan di lapangan yang masih
memerlukan pertimbangan dan kajian lebih lanjut oleh pemerintah Kota Cimahi maka rencana
pengoperasian pada tanggal tersebut belum dapat dilaksanakan. Pada awalnya, skema
pengelolaan yang dipilih adalah: dikelola Perusahaan Daerah : Pemerintah Daerah bersama
Mitra Swasta sebagai Pemegang Saham. Kemudian berubah menjadi: dikelola UPTD
bekerjasama dengan BUMD dan terakhir Pasar Atas Baru direncanakan akan dikelola oleh PD.
Jati Mandiri (BUMD pemerintah Kota Cimahi). Penunjukan PD Jati Mandiri sebagai pengelola
pasar tersebut belum dikukuhkan dengan Keputusan Walikota Cimahi karena ada hal-hal yang
masih perlu dikaji lebih lanjut. Namun demikian PD Jati Mandiri telah melakukan persiapan-
persiapan yang berkaitan dengan rencana pengelolaan pasar antara lain mempersiapkan
layout, peruntukan ruang dan rencana pemasaran kios.

2.4. Pengelolaan aset non USDRP

11
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Salah satu tugas pokok konsultan individual bidang Generic Capacity Building untuk
peningkatan kapasitas daerah di dalam mengelola aset dan peningkatan pendapatan daerah
sesuai dengan TOR adalah melaksanakan studi mengenai program dan aset yang dapat
memberikan pendapatan bagi pemda, baik yang telah ada maupun potensial, serta membantu
dalam menganalisa penggunaan aset secara optimal dan pengelolaan secara profesional.
Sejalan dengan hal tersebut maka dalam rangka pendampingan konsultan individual di bidang
pengelolaan aset Pemerintah Kota Cimahi, telah dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan aset
Pemerintah Kota Cimahi yang mempunyai nilai strategis agar di dalam pengelolaannya
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud. Dalam hubungan ini dipilih empat macam aset
yang mempunyai nilai strategis dari aspek fungsi pelayanan masyarakat, fungsi ekonomis dan
fungsi tertib administrasi pengelolaan aset daerah. Aset tersebut adalah:
· Terminal angkutan penumpang pada Pasar Citeureup, Pasar Atas dan Pasar Antri Baru.
· Komplek Gelanggang Olah Raga (GOR) Sangkuriang.
· Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa), di Kelurahan Cigugur Tengah, Kota Cimahi.
· Pusat Perdagangan Cimahi Mall.

2.4.1. Kondisi dan status aset


a. Terminal Pasar Citeureup, terletak di Jl. Sangkuriang, Kota Cimahi bersebelahan dan
menyatu dengan lokasi Pasar Citeureup. Fasilitas penunjang berupa kios makanan dan
minuman prasarana terminal adalah bagian dari bangunan Pasar Citeureup. Tidak ada
fasilitas toilet/kamar kecil yang diperuntukkan bagi pengguna jasa terminal (penumpang
dan awak angkutan umum).
b. Terminal Pasar Atas, terletak di Jl. Djulaeha Karmita, Kota Cimahi bersebelahan dengan
bangunan/prasarana Pasar Atas (lama). Bangunan penunjang fasilitas terminal terdiri
atas Kantor Terminal, Musholla, MCK dan 5 kios. Penggunaan kios adalah untuk: 1)
Kantor Koperasi “Wahana Mandiri”, 2) Wartel, 3) Tempat pangkas rambut, 4) Kios penjual
Alat Tulis Kantor dan Fotocopy, 5) Warung nasi. Menurut keterangan Kepala Seksi
Terminal Dinas Perhubungan, Kios dan MCK tersebut pengelolaannya selama ini
dikontrakkan kepada Koperasi Pegawai Negeri “Wahana Mandiri”.
c. Terminal Pasar Antri Baru, dibangun dan dimiliki oleh swasta (PT. Cimahi Persada yang
juga membangun Pasar Antri Baru) di atas tanah milik TNI-AD. Dinas Perhubungan
mengelola Terminal Pasar Antri Baru berdasarkan ketentuan Peraturan Daerah Kota
Cimahi No. 20 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Perhubungan di Kota Cimahi yang

12
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

menyatakan bahwa terminal dikelola oleh Dinas Perhubungan. Sehubungan dengan hal
tersebut telah dibuat perjanjian kerjasama
No.180/22-PERJ/2007
0067/pab/VII/2007 Tanggal 31 Juli 2007 tentang pengelolaan terminal Pasar Antri
Baru antara Pemerintah Kota Cimahi cq. Dinas Perhubungan dengan PT. Cimahi
Persada. Berdasarkan perjanjian tersebut ditetapkan bahwa pemkot Cimahi cq. Dinas
Perhubungan berhak menggunakan fasilitas terminal dan fasilitas pendukungnya dengan
kewajiban membayar sewa sebesar Rp. 60.000.000,-- per tahun, yang dibayar per
triwulan sebesar Rp 15.000.000,-- (lima belas juta rupiah), ditambah dengan biaya
pemeliharaan terminal yang dibebankan pada Anggaran Rutin Dinas Perhubungan Kota
Cimahi. Fasiltas penunjang terminal berupa kios dan MCK tidak termasuk dalam
pengelolaan Dinas Perhubungan, sehingga tidak ada pendapatan dari kios dan MCK
tersebut. Jangka waktu perjanjian kerjasama berlaku untuk tiga tahun dan dapat
diperpanjang kembali sesuai hasil evaluasi dan kesepakatan kedua belah pihak.
Pemeliharan terminal hingga saat ini pernah dilakukan dengan memperbaiki bagian-
bagian yang rusak dan dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan atas beban APBD.
Dalam struktur organisasi pemkot Cimahi, unit pengelola terminal berada dibawah Seksi
Parkir dan Terminal Dinas Perhubungan. Unit Pengelola Terminal bukan merupakan
UPTD sehingga di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari pengelolaan terminal (penataan
terminal dan pemungutan retribusi) tidak disediakan biaya operasional.

d. Komplek GOR Sangkuriang terdiri atas satu stadion dan satu hall. Sarana olah raga yang
terdapat di dalam stadion adalah lapangan sepak bola dan lintasan atletik. Sarana
penunjang adalah tribun untuk penonton dan billboard untuk skor/hasil pertandingan. Dari
prasasti yang terdapat pada pintu masuk stadion dapat diketahui bahwa stadion tersebut
diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Mayjen Solihin GP pada tanggal 28 Agustus 1974
sebagai aset Kabupaten Bandung. Stadion masih berfungsi untuk kegiatan olahraga,
namun terlihat secara umum kondisinya kurang terpelihara dan belum didayagunakan
secara optimal. Adapun hall yang terletak di depan stadion baru selesai direhabiltasi dan
belum digunakan. Pemerintah Kota Cimahi belum menetapkan kuasa pengguna/pihak
yang ditugasi mengelola stadion dan hall tersebut dan saat ini masih berada dalam
administrasi Bagian Pengelolaan Aset. Disamping itu data administrasi dari Bagian
Pengelolaan Aset menunjukkan bahwa stadion dan hall tersebut merupakan aset
peralihan dari Kabupaten Bandung dan belum dilengkapi dengan sertifikat hak atas tanah

13
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

atas nama pemerintah Kota Cimahi. Pada saat diterima dari Kabupaten Bandung juga
dalam kondisi belum bersertifikat.

e. Rusunawa
Terdapat dua komplek Rusunawa di Kota Cimahi, yaitu satu di Kelurahan Cigugur
Tengah dan satu lagi di Kelurahan Cibeureum, Cimahi Selatan.

i) Rusunawa di Kelurahan Cigugur Tengah, Kota Cimahi.

Dibangun tahun 2003 mulai operasional tahun 2006. Terdiri atas 5 Blok/tower yaitu
Blok A, B , C, D dan E masing-masing 4 lantai a 12 unit hunian- 21m2. Blok A, B, C
dan D terisi penuh sedangkan Blok E masih dalam tahap penyelesaian pembangunan
dan belum diserahkan pengelolaannya dari Departemen Pekerjaan Umum kepada
pemerintah Kota Cimahi.
§ Status aset adalah: 1) tanah milik pemerintah Kota Cimahi dan 2) bangunan
milik Departemen Pekerjaan Umum (belum diserahkan kepada pemerintah
Kota Cimahi), sebagai konsekuensinya biaya operasional tidak dapat
sediakan dari APBD dan penerimaan pendapatan tidak dimasukkan sebagai
penerimaan APBD.
§ Pengelolaan aset dilaksanakan oleh UPTD (Dinas Pekerjaan Umum) dengan
jumlah pegawai 20 orang terdiri : 5 orang PNS; 2 orang Honorer Pemkot dan
13 orang pegawai honorer yang dibayar dari dana pendapatan rusunawa
sebesar Rp 500.000,--/orang/bulan atau Rp. 78.000.000,-- per tahun.

ii) Rusunawa di Kelurahan Cibeureum, masih dalam proses pembangunan.

f. Pusat Perdagangan Cimahi Mall


Pusat Perdagangan Cimahi Mall beserta fasilitas pendukungnya adalah aset pemkot
Cimahi yang dibangun berdasarkan perjanjian kerjasama Bangun Guna Serah1 antara
pemkot Cimahi sebagai pemilik yang sah atas tanah yang terletak di Kelurahan
Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi dengan PT. Bumi Kencana Indah
(BKI) sebagai mitra/investor. Berdasarkan perjanjian kerjasama

1
Bangun Guna Serah = BOT (Build Operate Transfer) adalah pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa
tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian
didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya
diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka
waktu. (Pasal I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2008 TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN
BARANG MILIK NEGARA/DAERAH)

14
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Nomor: 180/07-Perj/2003
008/Perj/BKI/VII/03

tanggal 17 Juli 2003 tentang Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Perdagangan Pasar
Antri Kota Cimahi Beserta Fasilitas Penunjangnya.
Dalam pelaksanaannya, Pasar Antri dipindahkan ke lokasi baru di Jalan Sriwijaya,
menjadi Pasar Antri Baru yang dibangun dan dikelola oleh PT. Cimahi Persada di atas
tanah milik TNI-AD berdasarkan perjanjian kerjasama antara Koperasi TNI-AD dengan
PT. Cimahi Persada. Sedangkan PT. Bumi Kencana Indah membangun Pusat
Perdagangan Cimahi Mall beserta fasilitas pendukungnya di atas tanah milik pemerintah
Kota Cimahi eks Pasar Antri tersebut dan mendapat hak untuk mengelola Pusat
Perdagangan Cimahi Mall secara komersial selama 30 tahun dengan kewajiban
menyetorkan kontribusi tahunan ke kas daerah. Setelah perjanjian kerjasama berakhir
tanah dan bangunan Cimahi Mall berikut sarana pendukungnya tersebut diserahkan hak
kepemilikannya kepada pemerintah Kota Cimahi.
Proses perjanjian pembangunan Pusat Perdagangan Cimahi Mall secara kronologis
adalah sebagai berikut:

i. Pada tanggal 17 Juli 2003 ditandatangani Perjanjian Kerjasama antara pemerintah


Kota Cimahi dengan PT. Bumi Kencana Indah (BKI) tentang Pembangunan dan
Pengelolaan Pusat Perdagangan Pasar Antri Kota Cimahi Beserta Fasilitas
Penunjangnya

No. 180/07-Perj/2003
008/Perj/BKI/VII/03

ii. Pada tanggal 5 Juli 2005 ditandatangani Addendum Pertama Pembangunan dan
Pengelolaan Pusat Perdagangan Pasar Antri Kota Cimahi Beserta Fasilitas
Penunjangnya

No. 180/18 - Perj/2005


0027/Perj/BKI/VII/05

iii. Pada tanggal 14 Juli 2006 ditandatangani Addendum Kedua Pembangunan dan
Pengelolaan Pusat Perdagangan Cimahi Mall Beserta Fasilitas Penunjangnya

No. 180/9b - Perj/2006


027/Perj/BKI/VII/2006

iv. Pada tanggal 20 April 2007 ditandatangani Addendum Ketiga Pembangunan dan
Pengelolaan Pusat Perdagangan Cimahi Mall Beserta Fasilitas Penunjangnya

15
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

No. 180/10 – Perj/2007


029/Perj/BKI/IV/2007
Hal-hal pokok yang dimuat di dalam perjanjian kerjasama tersebut antara lain sebagai
berikut:
Ø Dasar perjanjian kerjasama antara pemkot Cimahi dengan PT. Bumi Kencana
Indah dimaksud adalah Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota
Cimahi Nomor 08/Kep.DPRD/VI/2003 tanggal 18 Juni 2003.
§ Tujuan kerjasama adalah:
v Penataan wajah kota
v Pengaturan lalu lintas
v Penataan Pedagang Kaki Lima
v Perbaikan kualitas lingkungan
v Meningkatkan pertumbuhan perekonomian serta Pendapatan Asli
Daerah (PAD)
§ Jangka waktu perjanjian kerjasama ditetapkan selama 30 (tiga puluh) tahun.
§ Biaya pembangunan sebesar Rp 153.694.663.361,52.
§ Dana Kontribusi pertahun yang harus disetorkan ke Kas Daerah sebesar
Rp 250.000.000,--.(dua ratus lima puluh juta rupiah). Jika terlambat dikenakan
denda sebesar 2% dari kontribusi terhutang.
§ Status hak atas tanah adalah Hak Pengelolaan bagi pemkot Cimahi dan Hak
Guna Bangunan di atas di atas Hak Pengelolaan bagi PT. Bumi Kencana Indah.
§ Selama jangka waktu perjanjian PT Bumi Kencana Indah wajib
mengasuransikan bangunan dan fasilitas penunjangnya dalam jenis asuransi
kebakaran.

§ Serah terima fisik dan kepemilikan tanah dan bangunan berikut fasilitas
penunjangnya dari PT. Bumi Kencana Indah kepada pemkot Cimahi dilakukan
setelah Hak Guna Bangunan an. PT Bumi Kencana Indah berakhir, tanpa syarat
apa pun.

2.4.2. Retribusi/kontribusi yang dihasilkan dan tatacara penyetorannya ke Kas Daerah


a. Retribusi terminal
Retribusi dipungut dari angkutan umum penumpang yang memasuki terminal sebesar
Rp 1.000,-(seribu rupiah) berlaku untuk satu hari yang mulai berlaku sejak bulan Mei 2009.
Semula besarnya retribusi adalah Rp 200,-- setiap kali memasuki terminal.
Dari data sampling tanggal 11 Mei 2009 penyetoran retribusi ke kas daerah jumlah
16
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

penerimaan retribusi perhari rata-rata Rp 1.940.000,-- atau sama dengan 1.940


kendaraan umum yang dipungut retribusinya dari semua terminal dan subterminal di Kota
Cimahi.
Retribusi terminal yang dipungut pada masing-masing terminal dan pos Dinas
Perhubungan dihitung dan jumlahnya dituangkan dalam nota hitung yang ditandatangani
oleh petugas penghitung. Berdasarkan nota hitung tersebut, selanjutnya uang disetorkan
ke Bendaharawan Khusus Penerima, dibuatkan Laporan Pemungutan dan Penyetoran
UKT ditandatangani oleh Kepala Seksi Terminal dan diterbitkan Surat Ketetapan Retribusi
Daerah (SKRD) oleh Kepala Dinas Perhubungan sebesar jumlah dimaksud. Selanjutnya
Bendaharawan khusus Penerima menyetorkan ke rekening Kas Daerah pada Bank Jabar
Banten. Proses tersebut dilaksanakan dalam satu hari. Hasil pemungutan retribusi hari
Senin, Selasa, Rabu dan Kamis disetorkan pada hari kerja berikutnya. Sedangkan hasil
pemungutan retribusi hari Jum’at, Sabtu dan Minggu disetorkan pada hari Senin, hal ini
disebabkan hari Sabtu dan Minggu bukan hari kerja dan bank penerima setoran tutup.

b. Retribusi dan pembayaran sewa Rusunawa


§ Tarip sewa dan Penerimaan sewa
Lantai 1 Rp 175.000,-- per bulan 48 x 175.000 = Rp 8.400.000,--
Lantai 2 Rp 160.000,-- per bulan 48 x 160.000 = Rp 7.680.000,--
Lantai 3 Rp 150.000,-- per bulan 48 x 150.000 = Rp 7.200.000,--
Lantai 4 Rp 140.000,-- per bulan 48 x 140.000 = Rp 6.720.000,--
Jumlah ....... Rp 30.000.000,--
Penerimaan sewa dalam setahun sebesar Rp 360.000.000,--

§ Biaya-biaya yang dibebankan kepada penghuni:


Biaya tetap:
- Kebersihan dan Keamanan Rp 5.000,-- per bulan x 192 = Rp 810.000,--
- Parkir roda 2 milik penghuni Rp 15.000,-- per bulan x 60 = Rp 900.000,--
- Biaya beban meter air Rp 5.000,-- per bulan x 192 = Rp 810.000,--
Jumlah ............................. Rp 2.520.000,--
Jumlah biaya setahun mencapai Rp 30.240.000,--

Biaya tidak tetap:


- Biaya listrik (tergantung pada jumlah kwh penggunaan) dibayarkan ke PLN
- Biaya pemakaian air per m3 Rp 1.000,--

17
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

§ Pengelolaan Keuangan:
Semua pembayaran sewa dan biaya-biaya lain tersebut dibayarkan langsung ke
rekening BRI (Rek Rusunawa 1). Dana pada rekening ini dapat digunakan untuk
biaya operasional (honorarium pegawai dan pemeliharaan) dan sisanya ditampung
dalam rekening BRI lainnya (Rek Rusunawa 2) tidak disetor ke Kas Daerah.

c. Kontribusi Pusat Perdagangan Cimahi Mall


Belum diperoleh data tentang pembayaran kontribusi sebagai pelaksanaan perjanjian
antara pemerintah Kota Cimahi dan PT. Bumi Kencana Indah.

BAB III PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DALAM KEMAJUAN KERJA

3.1 Aspek legal dan kelembagaan


3.1.1 Sebagai tindak lanjut hasil rapat tanggal 27 Januari 2009 membahas perhitungan harga
kios Pasar Atas Baru dan draft perjanjian kerjasama pengelolaan, yang dihadiri wakil
dari Bapeda, Disperekop, CPMU-DJCK, MTAS to CPMU dan konsultan individual, telah
dibahas skema pengelolaan Pasar Atas Baru yaitu dilakukan oleh SKPD bekerjasama
dengan Mitra (BUMD) dengan pola Kerjasama Operasional (KSO). Pemilihan skema
yang ideal sesuai Petunjuk Alternatif Skema Pengelolaan Investasi/Sub-Proyek Pemerintah
Daerah Yang Dibiayai Proyek USDRP2 mengalami kendala perijinan dari DPRD yang
prosesnya akan memerlukan waktu yang lama, sedangkan pembangunan Pasar Atas
Baru mendekati penyelesaian. Adapun yang menjadi persoalan dalam merealisasikan
bentuk kerjasama antara SKPD dan BUMD yaitu adanya keharusan pemilihan mitra
kerjasama melalui tender sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor: 50 Tahun 2007
tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah dan Peraturan Pemerintah No.36
Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Kedua Peraturan Pemerintah
tersebut tidak memberikan pengecualian kepada BUMD sebagai pihak ketiga di dalam
pelaksanaan kerjasama Daerah. Dengan perkataan lain tidak ada ketentuan yang
eksplisit yang mengatur penunjukan BUMD tanpa melalui tender sebagai mitra
kerjasama. Berdasarkan hal tersebut penunjukan BUMD sebagai mitra kerjasama tanpa
tender belum ada dasar hukumnya.

3.1.2 Perkembangan selanjutnya (kondisi hingga bulan Agustus 2009) adalah bahwa
pengelolaan Pasar Atas Baru akan dilakukan sepenuhnya oleh PD Jati Mandiri, status
2
Project Management Manual USDRP, BAB I

18
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

aset tetap menjadi milik pemerintah Kota Cimahi. Adapun MOU antara pemerintah Kota
Cimahi dan PD Jati Mandiri masih dalam pembahasan dan belum ada titik
temu/kesepakatan mengenai hak dan kewajiban masing-masing sehingga penunjukan
resmi oleh pemerintah Kota Cimahi kepada PD Jati Mandiri sebagai lembaga pengelola
Pasar Atas Baru belum dapat dikukuhkan dengan Keputusan Walikota Cimahi.
3.2. Kemajuan pembangunan USDRP
Kontrak pembangunan Pasar Atas Baru sudah selesai pada tanggal 3 Januari 2009 dan sudah
diserah terimakan dari Kontraktor PT. Guna Karya Nusantara kepada pemerintah Kota Cimahi.
Namun demikian untuk dapat dioperasikan masih perlu dilakukan pekerjaan tambahan antara
lain untuk pagar, gardu jaga dan kelengkapan prasarana kios. Untuk itu pemerintah Kota
Cimahi harus menganggarkan dana APBD tahun 2009. Penambahan pekerjaan tersebut berarti
menambah nilai investasi pembangunan Pasar Atas Baru.
3.3. Pengelolaan aset USDRP
3.3.1. Kewajiban pengelola
Salah satu persyaratan untuk dapat terlaksananya operasional Pasar Atas Baru adalah
pengelola harus dapat menampung Pedagang Kaki Lima (PKL) eks Jalan Gandawijaya
yang pada awal rencana pembangunan Pasar Atas Baru dijanjikan akan dapat
menempati Pasar Atas Baru. Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Dinas
Koperasi UMKM Perindustrian Perdagangan dan Pertanian (Dinas yang membawahi
pengelolaan pasar) jumlah PKL eks Jalan Gandawijaya ada 199 orang. Apabila
semuanya ditampung berarti sama dengan 49% dari kapasitas kios/ruang yang
tersedia. Sementara itu PKL berharap harga kios di Pasar Atas Baru tidak mahal agar
dapat terjangkau. Dalam suratnya kepada Walikota Cimahi para PKL menyatakan hanya
mampu membayar Rp 15.000,- (lima belas ribu rupiah) per hari. Sedangkan harga yang
ideal/feasible berdasarkan perhitungan konsultan FMR (dengan memperhitungkan biaya
operasional dan biaya lain) harga sewa kios pertahun adalah Rp 7.200.000,-- atau sama
dengan Rp 19.800,-- per hari.

3.3.2. Penetapan harga kios dan pemasarannya


Dilema yang dihadapi pengelola adalah, di satu sisi harus menetapkan harga kios yang
terjangkau PKL dan di sisi lain diwajibkan melunasi pinjaman dan membayar kontribusi
ke kas daerah. Disamping itu pengisian kios selain yang diperuntukkan bagi PKL tidak
mudah karena harus ada upaya menawarkan kepada penyewa baru (bukan
memindahkan pedagang dari pasar yang lama) dan bersaing dengan Pusat

19
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

Perdagangan Cimahi Mall, aset pemerintah Kota Cimahi yang dikelola oleh swasta, yang
sejak beberapa waktu yang lalu aktif berpromosi menawarkan kiosnya.

3.4. Pengelolaan aset non USDRP


3.4.1. Pengelolaan terminal angkutan penumpang
§ Tidak terdapat penerimaan pengelolaan terminal dari retribusi Kios dan retribusi dari
sarana penunjang lainnya (MCK) disebabkan kios dan MCK bagi penumpang dan
pengemudi angkutan umum yang ada, khususnya di terminal Pasar Atas,
pengelolaannya selama ini dikontrakkan kepada Koperasi Pegawai Negeri “Wahana
Mandiri” dan pembayaran kontraknya kepada Kas Daerah dilakukan pada setiap
bulan Agustus. Adapun kios dan MCK di Terminal Pasar Antri Baru adalah milik
swasta.
§ Mekanisme penyetoran hasil retribusi mengakibatkan ada saatnya uang hasil
pemungutan retribusi pada petugas/unit pengelola terminal tertahan selama tiga hari.
Sementara itu petugas pengelola terminal di dalam melaksanakan tugasnya sehari-
hari tidak disediakan biaya operasional. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan
masalah antara lain: 1) menambah beban tanggung jawab pengelola terminal atas
resiko terjadinya kehilangan dan kekurangan selama uang berada dalam
penguasannya dan 2) terbuka peluang terjadinya rekayasa dan penyalahgunaan.
§ Dinas Perhubungan menggunakan aset pihak swasta sebagai terminal (Pasar Antri
Baru) dengan membayar sewa kepada pihak swasta tersebut dan menanggung biaya
pemeliharaannya yang dibebankan kepada APBD Kota Cimahi, berdasarkan
perjanjian kerjasama yang berlaku selama tiga tahun (dapat diperpanjang kembali
sesuai hasil evaluasi dan kesepakatan kedua belah pihak). Penggunaan aset swasta
oleh pemkot Cimahi untuk pelayanan umum tidak melanggar ketentuan perundangan-
undangan yang berlaku, namun demikian apabila di dalam masa perjanjian terjadi
perselisihan yang berakibat pada pembatalan perjanjian maka dapat berdampak
fungsi terminal dalam menyelenggarakan pelayanan umum yang bersifat strategis
menjadi terganggu. Kerjasama antara swasta dengan pemerintah (Pusat/Daerah)
pada umumnya adalah dengan memanfaatkan atau mendayagunakan aset yang
dimiliki sendiri oleh pemerintah bersama pihak swasta dengan prinsip saling
menguntungkan. Dalam hal ini pemerintah sebagai pemilik aset posisi tawarnya lebih
kuat dalam menetapkan kebijakan yang akan dilaksanakan dalam kerjasama tersebut.

20
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

§ Perubahan pengenaan tarip retribusi dari Rp 200,-- tiap kali masuk terminal menjadi
Rp 1.000,-- per hari, menurut keterangan petugas dan pengemudi angkutan umum
dirasakan pelaksanaannya lebih efisien dan sudah berlaku/dilaksanakan sejak tanggal
1 Mei 2009. Dalam sample data, penyetorannya ke kas daerah pada tanggal 11 Mei
2009 (hasil pemungutan retribusi terminal tanggal 8, 9 dan 10) masih tetap
menggunakan perhitungan dengan satuan Rp 200,- Tercatat dalam setoran sebanyak
29.230 lembar karcis retribusi kendaraan umum @ Rp 200,--, jumlah Rp 5.846.000,--.
Berdasarkan Pasal 158 ayat (1) Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa “Pajak daerah dan retribusi daerah
ditetapkan dengan Undang-Undang yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Daerah ”.Perubahan tarip retribusi termasuk yang harus
ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pemberlakuan tarip baru Rp 1.000,-- untuk satu
hari tersebut belum didukung dengan peraturan daerah yang diperlukan.
3.4.2. Komplek Gelanggang Olah Raga (GOR) Sangkuriang.
§ Aset belum dikelola secara optimal sesuai dengan fungsinya disebabkan belum
adanya Satuan Kerja yang ditunjuk sebagai kuasa pengguna barang dan
tersedianya dana untuk biaya-biaya rutin/operasional aset tersebut.
3.4.3. Rusunawa
§ Belum ada dasar hukum penerimaan sewa harus disetor ke kas daerah sebagai
pendapatan daerah. Perda Kota Cimahi No.09 Tahun 2004 tidak mengatur hal
ini.
§ Status aset belum sepenuhnya menjadi milik pemkot sehingga beban biaya
operasional tidak dapat dibebankan pada APBD
3.4.4. Pusat Perdagangan Cimahi Mall
§ Jadwal jatuh tempo penyetoran dan besarnya kontribusi selama masa kerjasama
yang diatur dalam perjanjian belum dijabarkan secara konkrit sehingga
pengenaan sanksi denda apabila terjadi keterlambatan pembayaran kontribusi
tidak dapat diberlakukan secara tegas.

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. Kesimpulan
4.1.1. Aset USDRP

21
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

a. Pembangunan Pasar Atas Baru sudah selesai dan dapat dioperasikan setelah selesainya
pembangunan tambahan/pelengkap.
b. Pasar Atas Baru akan dikelola oleh PD Jati Mandiri dan akan dimulai setelah
diterbitkannya surat Keputusan Walikota Cimahi tentang penunjukan PD Jati Mandiri
sebagai pengelola Pasar Atas Baru, sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang
telah disepakati dan ditetapkan.
c. Kios belum dipasarkan
d. Pasar Atas Baru akan menampung eks PKL Jalan Gandawijaya dan penyewa/ pedagang
baru.

4.1.2. Aset Non USDRP


a. Terdapat aset pemerintah Kota Cimahi yang mempunyai potensi sebagai sumber
pendapatan daerah belum dikelola secara optimal.
b. Terdapat penggunaan aset milik pihak ketiga oleh pemerintah Kota Cimahi dalam
menyelenggarakan pelayanan umum.
c. Tanggal jatuh tempo dan besarnya kewajiban pembayaran kontribusi pengelolaan Pusat
Perdagangan Cimahi Mall belum dijabarkan secara konkrit.
d. Terdapat aset tetap (tanah dan bangunan) milik pemerinta Kota Cimahi yang belum
bersertifikat.
4.2. Rekomendasi
4.2.1. Aset USDRP
a. PD. Jati Mandiri segera ditunjuk secara resmi sebagai pengelola Pasar Atas Baru
agar operasional Pasar Atas Baru dapat dimulai sesuai dengan perencanaan yang
sudah dibuat.
b. Dilakukan sosialisasi dan promosi pemasaran kios yang intensif.
c. Dalam rangka penempatan pedagang ex PKL Jl. Gandawijaya di Pasar Atas Baru
agar dipastikan telah dilakukan seleksi secara obyektif sehingga apabila akan
diberikan fasilitas subsidi/keringanan harga sewa kios tidak terjadi salah sasaran.
4.2.2. Aset non USDRP
a. Dibuat program pengelolaan aset terhadap aset-aset pemerintah Kota Cimahi yang
mempunyai potensi sebagai sumber pendapatan daerah
b. Kerjasama dengan pihak ketiga (swasta) terutama yang menyangkut penyediaan
sarana bagi pelayanan umum seyogianya dengan memanfaatkan aset milik
pemerintah Kota Cimahi sendiri.

22
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

c. Ditetapkan jadwal penyetoran dan besarnya kontribusi pengelolaan Pusat


Perdagangan Cimahi Mall sebagai alat monitoring dan dasar untuk pengenaan
denda /sanksi apabila terjadi keterlambatan.
d. Dilakukan upaya penyelesaian proses pensertifikatan tanah-tanah milik pemerintah
Kota Cimahi yang belum bersertifikat atau yang tercatat atas nama pihak lain.
Rekapitulasi permasalahan dan rekomendasi dapat dilihat pada tabel berikut.

23
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

PENGELOLAAN PASAR ATAS BARU


No. ASPEK Kondisi saat ini Kondisi yang diinginkan Permasalahan Rekomendasi

1 Kelembagaan Sedang pembahasan Badan pengelola pasar Belum ada kesepakatan Diupayakan dapat segera
Draft perjanjian ditunjuk/dikukuhkan antara Pemkot dan BUMD tercapai kesepakatan
tentang syarat dan
ketentuan yang akan
diperjanjikan
Pengisian kios Belum ditentukan Harapan Eks PKL untuk dapat Penempatan eks PKL Alokasi kios bagi eks PKL
2
peruntukan bagi sisa eks berdagang di Pasar Atas Baru berkaitan juga dengan ditetapkan dan kepada
PKL Gandawijaya yg tidak terwujud penetapan harga sewa mereka dapat diberikan
tertampung di Pasar Antri yang terjangkau keringanan /subsidi harga
baru
3. Pemasaran Kios belum dipasarkan Kios laku tersewa seluruhnya Harga kios belum ditetapkan Harga kios ditetap-kan
kios dilanjutkan dengan
sosialisasi dan promosi
Pasar dikelola secara
4 Manajemen Sedang dipersiapkan oleh Belum ditetapkan SOP ditetapkan ole PD.
pasar PD Jati Mandiri profesional sehingga berhasil Standard Operational & Jati Mandiri
menarik pengunjung dan Procedure (SOP)
pedagang

Bangunan dan Masih ada sarana yang Semua sarana yang diperlukan Pembangunan sarana Pengawasan terhadap
5.
prasarana kurang (pagar keliling dipastikan telah lengkap tambahan harus melalui pembangunan harus
dan pos jaga serta sehingga dapat segera prosedur lelang dan ketat agar
partisi antara lapak) ioperasikan pelaksanaannya perlu penyelesaiannya tepat
waktu waktu

24
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

PENGELOLAAN TERMINAL
No. Uraian Permasalahan Keadaan yang dikehendaki Rekomendasi

1 Penerimaan retribusi dari Penerimaan retribusi terkait Pemkot Cimahi memiliki sarana Pemkot Cimahi melengkapi sarana
sarana penunjang terminal dengan minimnya sarana pendukung terminal yang memadai pendukung terminal sesuai standard
pendukung terminal yang sebagai pemenuhan pelayanan yang ditentukan.
dimiliki pemkot Cimahi kepada masyarakat dan sekaligus
akan mendapatkan pemasukan dari
retribusinya
2. Status aset terminal Pasar a) Bangunan terminal dan sarana Pemkot Cimahi mempersiapkan
a) Bangunan terminal dan sarana
Antri Baru dan sarana pendukungnya merupakan aset keberadaan terminal yang dibangun
pendukungnya milik swasta di
pendukungnya pemkot Cimahi di atas tanah milik pemkot Cimahi,
atas tanah milik TNI AD yang lebih representatif, dapat
b) Pembebanan APBD hanya untuk
b) Membayar sewa kepada menampung bus antar-kota jurusan
kepentingan aset pemkot Cimahi
swasta dan menanggung biaya jarak jauh dan memenuhi kebutuhan
pemeliharan atas beban APBD c) Tidak ada resiko terhadap kelang- warga Kota Cimahi. Kerjasama
sungan pelayanan umum dengan swasta seyogianya dilakukan
c) Resiko terhadap kelangsungan
dengan mendayagunakan aset
pelayanan umum apabila terjadi
pemkot Cimahi yang belum
perselisihan
dimanfaatkan (idle)
3. Penetapan tarip baru retribusi a) Rincian setoran retribusi a) Rincian setoran sesuai dengan
Penetapan kenaikan/perubahan tarip
terminal terminal belum disesuaikan tarip retribusi yang berlaku
retribusi harus sesuai dengan
dengan tari baru yang berlaku
Peraturan Daerah
b) Kenaikan tarip retribusi belum b) Tarip baru retribusi ditetapkan/
didukung dengan Peraturan dilengkapi dengan Peraturan
Daerah Daerah
Tidak disediakan, sementara Tersedianya biaya operasional Disediakan biaya operasional untuk
4. Biaya operasional
beban tanggung jawab lebih besar dalam rangka meningkatkan kinerja men-dukung kinerja dalam upaya
pengelolaan terminal
dan pendapatan retribusi terminal peningkatan pendapatan retribusi.

25
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

PUSAT PERDAGANGAN CIMAHI MALL


Kondisi yang diinginkan
No. ASPEK Kondisi saat ini Permasalahan Rekomendasi
(setelah BOT berakhir)
1 Status aset
Ø Tanah Ø milik Pemkot Cimahi Aset seluruhnya, tanah dan Jangka waktu kerjasama panjang. Dipastikan pensertifikatan atas
bangunan menjadi milik Untuk menjamin keamanan aset tanah lokasi Cimahi Mall atas
Ø Bangunan mall Ø milik mitra, dalam masa
Pemkot Cimahi dalam kondisi dan kepastian hukum kepemilikan nama Pemkot Cimahi (HPL)
BOT,( akan diserahkan
yang baik, laik komersil dan Pemkot Cimahi atas tanah selama dan atas nama PT. BKI (HGB)
oleh pengelola/mitra
dilengkapi dengan dokumen masa kerjasama, maka harus serta dokumen pemilikan yang
kepada Pemkot Cimahi
pemilikan yang sah atas nama diterbitkan sertifikat hak atas sah atas nama Pemkot Cimahi
setelah masa BOT
Pemkot Cimahi tanah bagi masing-masing pihak.
berakhir)*
2 Pengelolaan aset Ø Dikelola secara komersial
oleh PT. Bumi Kencana Untuk dapat mengelola aset Perlu adanya strategi untuk
Indah dalam rangka kerja- secara profesional diperlukan mengantisipasi kebutuhan
sama BOT selama 30 adanya lembaga pengelola dan tersebut, antara lain dengan
tahun sejak 2007 Pemkot melalui BUMD atau SDM yang memadai. Hal meningkatkan kapasitas SDM
badan pengelola yang tersebut harus dipersiapkan /BUMD bidang pengelolaan
Ø Pemkot Cimahi tidak dibentuk khusus mengelola sejak dini. aset.
terlibat di dalam aset dapat lebih berperan di
pengelolaan aset dalam pengelolaan aset,
sehingga pendapatan daerah
3 Pengelolaan Keuangan Ø Hak sepenuhnya PT Bumi dapat ditingkatkan melalui Jadwal jatuh tempo penyetoran Ditetapkan jadwal penyetoran
Kencana Indah, sumber ini dan besarnya kontribusi selama dan besarnya kontribusi
masa kerjasama yang diatur sebagai alat monitoring dan
Ø Pemkot Cimahi mendapat
dalam perjanjian perlu dijabarkan dasar untuk pengenaan denda
kontribusi tahunan dari
secara konkrit /sanksi apabila terjadi
pengelola selama masa
keterlambatan.
kerjasama
*) Perjanjian Kerjasama antara Pemkot Cimahi dengan PT. Bumi Kencana Indah.--> Perjanjian kerjasama Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Perdagangan Pasar Antri Kota Cimahi
Beserta Fasilitas Penunjangnya tgl. 17 Juli 2003 No. 180/07-perj/2003; 008/Perj/BKI/VII/03, Addendum Pertama tgl 5 Juli 2005 dan Addendum Kedua tgl 14 Juli 2006 dan Addendum
Ketiga tgl 20 April 2007 No. 180/10 – Perj/2007; 029/Perj/BKI/IV/2007 tentang Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Perdagangan Cimahi Mall beserta fasilitas penunjangnya.

26
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

KOMPLEK GOR SANGKURIANG

No. URAIAN Kondisi saat ini Kondisi yang diinginkan Permasalahan Rekomendasi

1 Status aset
a. Stadion Ø Stadion dan Hall tercatat Dokumen pemilikan Aset dimaksud merupakan Pensertifikatan tanahnya
Tanah sebagai milik pemkot seharusnya dilengkapi dengan pelimpahan dari Prov Jawa Barat diupayakan bersama-sama
Bangunan Ø Dokumen kepemilikan sertifikat hak atas tanah atas yang ketika itu belum dilengkapi dengan aset pemkot lainnya
b. Hall belum dilengkapi nama pemkot Cimahi dengan sertifikat hak atas tanah. yang belum bersertifikat.
Tanah dengan sertifikat hak Upaya pensertifikatan tanah dan Harus ada upaya khusus
Bangunan atas tanah balik nama sertifikat memerlukan (crash program) untuk
waktu, kelengkapan dokumen dan mengatasi masalah serupa.
prosedur yang panjang.
2 Pengelolaan aset Ø Stadion dan Hall belum Aset dikelola dan difungsikan Belum ada instansi/SKPD yang Ditetapkan kuasa pengguna
dikelola dan difungsikan secara optimal sehingga dapat ditunjuk sebagai kuasa pengguna/ /pengelolanya agar aset tidak
secara optimal. dimugkinkan menjadi sumber pengelola menjadi terlantar dan aset
Ø Hall baru selesai pendapatan daerah dapat dikelola/ difungsikan
direhabilitasi secara optimal sesuai dengan
Ø Aset berada dalam peruntukannya.
administrasi/pengurusan
Bagian Pengelolaan Aset

3. Pengelolaan Keuangan Biaya pemeliharaan menjadi Dapat memberikan pemasukan Belum ada perencanaan untuk Dibuat perencanaan
beban APBD, tidak ada bagi pendapatan daerah mendayagunakan aset sehingga pendayagunaan aset
pendapatan dari aset ini. dapat menjadikannya sebagai
sumber pendapatan daerah

27
Laporan Akhir GCB Kota Cimahi 2009

RUSUNAWA CIMAHI KELURAHAN CIGUGUR TENGAH

No. Uraian Kondisi saat ini Kondisi yang diinginkan Permasalahan Rekomendasi
1. Status aset:
a. Tanah Ø milik Pemkot Cimahi Tanah dan bangunan sebagai Ø Belum bersertifikat Tanah disertifikatkan atas
b. Bangunan Ø milik Pemeritah Pusat milik pemkot Cimahi Ø Belum ada penyerahan kepemi- nama pemkot Cimahi
likan kepada pemkot Cimahi
2. Pengelolaan aset
a. Penyelenggaraan Ø dilakukan oleh UPTD Dikelola oleh lembaga/ badan Status aset belum jelas, kapan
administrasi, pengelola yang mandiri, bangunan rusunawa menjadi aset
ketertiban, sehingga aset dapat dikelola pemkot Cimahi
kebersihan dan secara profesional Sementara menunggu
keamanan penetapan status aset
rusunawa seluruhnya menjadi milik
Ø dilakukan oleh UPTD
b. Pemeliharaan rutin pemkot Cimahi, perlu
dan swadaya
bangunan dan ditetapkan pedoman
penghuni
lingkungan pengelolaan aset dan
pedoman pengelolaan
3. Pengelolaan keuangan keuangan rusunawa
a. penerimaan sewa. sesuai dengan ketentuan
Ø Pembayaran sewa Ø Sebagai bagian dari Ø Belum ada dasar hukum
yang berlaku
disetor langsung oleh penerimaan/ pendapatan penerimaan sewa harus disetor
penyewa ke BRI dan APBD ke kas daerah sebagai penda-
ditampung dalam patan daerah.Perda No.09 Ta-
rekening UPTD hun 2004 tidak mengatur hal ini.
Rusunawa
b. biaya operasional Ø Diambil dari hasil Ø Disediakan dalam APBD Ø Status aset belum sepenuhnya
penerimaan sewa menjadi milik pemkot sehingga
c. otorisasi penarikan beban biaya operasional tidak
Ø Kepala UPTD
/penggunaan dana Rusunawa dapat dibebankan pada APBD

28