Anda di halaman 1dari 93

Perkenalkan namaku Anthony, dan panggilan akrabku adalah Anton.

Aku
berasal dari kota Malang (Jawa Timur), dan kedua orang tuaku masih tinggal
di sana. Umurku baru 25 tahun, dan saat ini sedang studi Master tahun
terakhir di Melbourne (Australia). Sejak lulus SMA aku langsung kuliah S1 di
Jakarta, dan sempat bekerja selama setahun di Jakarta setelah lulus S1. Aku
mendapat sponsor dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan S2 di
Australia. Aku memilih kota Melbourne karena banyak teman-temanku yang
menetap di sana.

Di pertengahan bulan November 2004 adalah awal dari liburan kuliah atau di
Australia sering disebut dengan Summer anniversary (liburan musim panas).
Summer anniversary di Australia biasanya maksimum selama 3 bulan lamanya.
Saat itu adalah pertama kali aku pulang ke tanah air dari studi luar negeri.
Rindu sekali rasanya dengan makanan tanah air, teman-teman, dan orang tua.

Saat itu aku pulang dengan pesawat Singapore Airlines dengan tujuan akhir
Bandara Juanda, Surabaya. Aku tiba di Surabaya sekitar pukul 11 pagi, dan
terlihat supir utusan ayah sudah sejak jam 10 pagi menunggu dengan sabar
kedatanganku. Ayah dan ibu tidak menjemputku saat itu karena hari
kedatanganku tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, ditambah lagi dengan
macetnya lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong yang membuat
mereka malas untuk ikut menjemputku di bandara.

Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah
bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Dia sudah aku anggap
seperti pamanku sendiri. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya
hanya seorang supir.

Aku sempat mencari makan di kota Surabaya. Tempat favoritku tetap di


restoran kwee tiau Apeng. Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin
masih pagi hari. Di malam hari terutama di malam minggu, restoran ini akan
penuh dengan antrean panjang.

Seabis makan, aku meminta supirku untuk langsung jos pulang ke Malang.
Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. Sepanjang
perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Bahasa jawa supirku
masih terkesan medok sekali. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga
lumayan medok. Tetapi sejak kuliah di Jakarta, aku jarang memakai bahasa
jawaku, sehingga terkesan sedikit luntur. Tapi setiap kata-kata jawa yang
terucap oleh supirku masih bisa aku mengerti 100%, hanya saja aku
membalasnya dengan separuh jawa separuh bahasa Indo.

Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita
perjalanan pulang kami. Aku tiba di rumahku di kota Malang sekitar jam 4
sore. Sesampai di gerbang rumah, supirku menekan klakson, memberi
peringatan orang di dalam rumah untuk membuka pintu gerbang.

Tak kurang dari 2 menit, pintu gerbang terbuka dan aku membuka jendela
mobilku memberi sapaan hangat kepada bibiku. Bibiku yang satu ini juga
absolutist ikut dengan ayah dan ibu. Bibiku ini bernama Tutik, dan sudah
berumur sekitar 50 tahun lebih. Bibi Tutik jago sekali memasak masakan
Indonesia. Makanan bibi yang batten aku rindukan selama aku kuliah di
Jakarta dan Melbourne. Aku sudah membuat daftar panjang masakan Bibi
Tutik selama 3 bulan liburan musim panas ini.

Setelah bersalaman dan bercanda ria dengan Bibi Tutik, tiba-tiba sosok gadis
muda keluar dari pintu rumah memberikan salam kepadaku. Aku sempat
tercengang oleh wajah cantik gadis yang masih terasa asing bagiku. Ternyata
gadis muda ini adalah pembantu rumah yang baru, karena pembantu
sebelumnya telah menikah dan pindah bersama suaminya. Aku menafsir bahwa
umur gadis ini sekitar 17 atau baru 18 tahun. Setelah diperkenalkan oleh Bibi
Tutik, pembantu baruku ini bernama Yanti.

Yanti berperawakan sedang, sekitar 158 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya
hitam dan lebar sehingga tambak bersinar-sinar. Rambutnya hitam sebahu.
Besar payudaranya bisa aku tafsirkan sekitar 32C. Pinggulnya mantap dan
kakinya mulus tanpa ada borok. Wajahnya cantik berhidung mancung, hanya
saja bibirnya sedikit tebal. Tapi mungkin itu yang membuatnya unik. Aku
sempat tidak mengerti mengapa ibu bisa menemukan pembantu secantik ini.

Yanti membantuku membawa koper bagasiku masuk, dan menanyakan diriku


apakah ada cucian atau pakaian kotor yang akan dicuci. Sepertinya Yanti telah
diberi advice oleh ibuku bahwa aku biasanya selalu membawa pakaian kotor
sewaktu pulang dari Jakarta. Jadi tidak heran ibu bisa menduga bahwa aku
pasti juga membawa baju kotor pulang.

Aku ameliorate 2 koper dan memisah-misahkan pakaian kotor dengan pakaian


bersih, dan juga menata rapi oleh-oleh dari Australia. Aku sudah menyiapkan
semua sovenir-sovenir untuk ayah, ibu, bibi Tutik, supir ayah. Dan tentu saja
oleh-oleh yang pertamanya buat pembantu absolutist yang kini sudah tidak
bekerja lagi dengan kita, saya berikan kepada Yanti. Ayah aku belikan topi
cowboy dari kulit kangguru. Menurutku cocok untuk ayah, terutama disaat
ayah sedang berkunjung di kebun apelnya. Ibu aku belikan kulit domba yang
halus untuk hiasan lantai kamarnya. Supir ayah aku belikan korek api
berlogokan kangguru dan kaos bergambarkan benua Australia. Sedangkan bibi
Tutik dan Yanti, aku belikan 2 parfum lokal untuk setiap orang.

Yanti tampak hepi banget diberi oleh-oleh parfum dariku. Aku memang
sengaja memilih parfum dengan botol yang unik, sehingga terlihat sedikit
mahal.

Ayah dan ibu pulang dari kantor sekitar jam 6 sore. Malam itu bibi Tutik aku
minta untuk memasak petai udang kecap favoritku. Aku melepas rindu dengan
ayah dan ibu. Kami berbincang-bincang sampai larut malam. Tak terasa kami
telah berbincang-bincang sampai jam 11 malam.

Kemudian aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Badanku sangat letih. Aku
sudah hampir 36 jam belum tidur. Aku tidak terbiasa tidur di dalam pesawat.

Sewaktu aku hendak menuju ke kamar tidurku, aku sempat berjalan berpas-
pasan dengan Yanti. Melihat aku hendak berpas-pasan dengannya, Yanti
langsung membungkukkan sedikit badannya sambil berjalan. Mata kami tidak
saling memandang satu sama lain. Menurut tradisi kami, tidak sopan pembantu
bertatap pandang dengan majikan saat berjalan berpas-pasan.

Malam itu, meskipun badan letih, aku masih belum langsung tidur. Aku sedang
melihat-lihat photo-photoku dan teman-teman di Melbourne di handphoneku.
Aku sempat kangen sedikit dengan Melbourne. Aku juga sempat berpikir
mengenai Yanti, dan penasaran sekali bagaimana ibu bisa menemukan
pembantu secantik Yanti.

Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi. Aku sudah tidak ingat sudah berapa
jam aku tidur.

Suasana rumah sedikit hening. Ayah dan ibu sudah pasti balik ke kantor lagi.
Aku memanggil-manggil bibi Tutik, dan tidak ada jawaban darinya. Tak
absolutist kemudian Yanti muncul dari kebun belakang.
“Nyo Anton wis mangan? (tuan muda Anton sudah makan?)” tiba-tiba Yanti
bertanya memecahkan suasana hening di rumah. Istilah ‘Nyo’ adalah
kependekan dari ‘Sinyo’ (bahasa Belanda rancu) yang sering dipake di Jawa
yang artinya tuan muda.

Aku berusaha membalas pertanyaan Yanti dengan bahasa Jawa. Tapi aku
sudah tidak terbiasa berbincang-bincang dengan 100% bahasa Jawa.

“Durung, aku sek tas tangi kok. Backbone bibi? Aku sudah laper nih! (Belon,
aku baru aja bangun tidur. Backbone bibi? Aku sudah lapar nih)” jawabku
separuh Jawa separuh Indo.

“Bibik melok nyonya. Ora ero budal nang endi. Nyonya mau tetep pesen nang
aku lek Nyo Anton pengen tuku apo gawe mangan isuk (Bibi ikut nyonya. Tidak
tau pigi kemana. Nyonya tadi titip pesan kepada saya kalo tuan Anton ingin
beli apa untuk makan pagi)” kata Yanti.

Pagi itu aku berharap bibi Tutik memasak untukku. Tapi apa boleh buat, aku
akhirnya meminta Yanti untuk beli nasi pecel favoritku di dekat rumah. Hanya
sekitar 100 beat dari rumahku. Setelah memberi uang kepadanya, Yanti pun
langsung segera berangkat.

Sambil menunggu Yanti kembali, aku menyalakan TV sambil menonton acara-


acara di MetroTV, RCTI, Trans TV, dan lain-lain. Rindu sekali aku dengan
siaran-siaran televisi Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menonton acara
favoritku seperti Extravaganza, Empat Mata, dan banyak pula yang lainnya.

Hanya sekitar 20 menit, Yanti telah kembali. Sambil makan nasi pecel aku
kembali menonton TV, sedangkan Yanti juga kembali ke kebun belakang kira-
kira mencuci atau menjemur pakaian.

Mataku sempat mencuri-curi pandang ke kebun belakang. Terlihat wajahnya


berkeringat karena terik matahari. Seperti yang aku duga, Yanti sedang
menjemur pakaian. Aku merasa kasihan terhadapnya, karena rata-rata
pakaian yang dijemurnya adalah milikku. Kulihat Yanti sedang berjinjit-jinjit
sambil menjemur pakaian. Kaos yang dikenakan Yanti sedikit pendek, sehingga
aku bisa melihat perut dan pusarnya. Perut Yanti ramping sekali. Payudaranya
sedikit menonjol kedepan. Aku sedikit bergairah melihat kelakuan Yanti saat
itu.
Aku menjadi tidak berkonsentrasi menonton TV, mataku tetap melirik saja ke
arah Yanti.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bibi Tutik.

“Anton sek tas tangi?! Cek siange tangine. (Anton baru bangun. Kok siang
banget bangunnya)” suara bibi Tutik membuyarkan semuanya.

“Bibi teko endi? Tak carik-carik mau. (Bibi dari mana? Dari tadi aku cari-
cari)” jawabku.

“Bibi sek tas melok nyonya nang pasar. Mari ngono barengi nyonya nang omahe
koncone nyonya diluk. (Bibi tadi ikut nyonya ke pasar. Setelah itu nemenin
nyonya ke rumah temannya sebentar)” jawab bibi.

“Anton gelem opo siang iki? Gelem sambel lalapan Tutik? (Anton pengen apa
siang ini? Pengen sambel lalapan Tutik)” tanya bibi. Maklum memang sambel
lalapan bikinan bibi Tutik tiada duanya. Makanya aku menamakannya ‘Sambel
Lalapan Tutik’. Aku pernah berpikir untuk membuka annex khusus masakan
bibi Tutik. Mungkin suatu hari nanti rencanaku ini bisa terwujud.

“Wuahhh … gelem bibi. Wis kangen aku mbek sambel lalapan tutik. Goreng
ikan pindang mbek goreng tempe sisan yo. (Wuahhh … mau bibi. Dah kangen
aku ama sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang dan goreng tempe juga
yah)” jawabku dengan girangnya.

Hari demi hari, waktuku hanya terbuang menonton TV, makan masakan-
masakan bibi Tutik, dan jalan-jalan ama teman-teman lama. Kadang-kadang
aku berkunjung ke rumah sodara ayah, sodara ibu, dan sepupu-sepupuku.
Absolutist kelamaan bahasa Jawaku kembali lagi seperti yang dulu.

Sampai pada suatu hari, sekitar pertengahan bulan December 2006 …

Sudah sebulan lamanya, aku hanya bisa memandang sosok Yanti dari kejauhan.
Semakin banyak memandang, semakin tumbuh rasa penasaran yang besar pula.
Yanti tampak semakin absolutist semakin cantik di mataku. Dan maaf, kata-
kata yang sebenarnya adalah Yanti semakin membuatku bernafsu. Ingin sekali
aku memiliki dirinya, jiwa dan raganya. Aku seperti kerasukan saat ini, tiap
kali aku melihat Yanti, otakku selalu terbayang-bayang dirinya saat
terlanjang.
Pada suatu hari, seingatku itu hari Jumat. Aku bangun kesiangan, lewat jam 11
pagi. Kepalaku pening karena bangun kesiangan. Kulihat sekeliling, bibi Tutik
sedang tidak ada di rumah. Aku masa bodoh dengan keadaan sekitar yang
sunyi. Aku duduk di daybed empuk di ruang keluarga, tapi kali ini aku tidak
menyalakan tv. Kudengar Yanti sedang di halaman belakang seperti biasanya
mencuci baju. Kali ini aku memberanikan niatku untuk mendekati, mungkin
awalnya harus saling kenal dulu biar akrab. Aku tidak pernah ngobrol santai
dengan Yanti selama ini, kebanyakan aku ngobrolnya dengan bibi Tutik. Karena
mungkin aku telah dibesarkan juga oleh bibi Tutik, jadi apa saja bisa
nyambung bila ngobrol dengan bibi Tutik.

Aku beranjak dari daybed dan menuju halaman belakang untuk mengajak
Yanti ngobrol. Namun hanya terhitung beberapa langkah dari pintu belakang,
aku terpeset dan terpelanting di belakang. Bunyi ‘gubrakan’ tubuhku lumayan
keras, dan pinggangku sakitnya bukan main. Yanti terkejut melihat tubuhku
yang terpelanting ke belakang. Aku meringis kesakitan, sambil memegangi
pinggangku yang sakitnya bukan main.

“Nyo Anton … kok iso moro-moro tibo? … (tuan muda Anton … kok bisa tiba-
tiba jatuh? …)” tanya Yanti panik.

Aku hanya bisa meringis sambil menunjuk lantai yang masih basah.

“Lahh … nyo Anton mosok ora ketok lek tehel’e sek basa ngono … endi seng
loro? … (lah … tuan muda Anton masa ngga liat kalo lantainya masih basah …
backbone yang sakit? …)” tanya Yanti sekali lagi.

Aku hanya bisanya meringis sambil memegang pinggulku yang masih saja sakit.

“Mlebu sek nyo Anton … tak urut’e cekno mendingan … longgo’o ndek daybed
sek … Yanti golek obat urut ndek kamar nyonya? … (masuk dulu tuan muda
Anton … aku urut biar mendingan … duduk saja di daybed … Yanti cari obat
urut di kamar nyonya? …)” pinta Yanti.

Aku menurut saja dengan permintaan Yanti. Aku baringkan tubuhku di atas
daybed empuk. Tak absolutist kemudian Yanti kembali sambil membawa
minyak tawon. Dia memintaku berbaring dengan posisi telungkup, dan
menyuruhku membuka setengah pakaian atasku. Saat ini aku ngga ada pikiran
apa-apa, karena aku masih berkonsentrasi membuang rasa sakit di
pinggangku.

Yanti terus mengurut-urut pinggangku yang sakit lumayan lama, dan sekali-
kali memijatnya. Aku akui pijatan dan urutan Yanti terasa nikmat, sehingga
perlahan-lahan rasa sakitnya mulai menghilang. Ternyata pertolongan pertama
yang ditawarkan Yanti sangat ampuh.

Kini rasa sakit di pinggangku perlahan-lahan membaik, meskipun masih ada


sedikit rasa sakit. Namun rasa nikmat pijatan dan urutan Yanti membuat akal
sehatku mati. Aku kemudian timbul rencana lain di dalam otakku.

“Yanti … ora enak iki ndek daybed … nang jero kamarku wae … ndek daybed iki
kudu arep melorot wae badanku … (Yanti … kagak enak nih di atas daybed … di
dalam kamarku aja … di atas daybed seperti yang mau melorot saja badanku
…)” pintaku.

Yanti hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku menuju ke kamarku.


Yanti memintaku untuk menunggu di kamar dulu, dia mau menyelesaikan
jemuran baju dulu, karena tanggung.

Di dalam kamar, otak kotorku sedang merencanakan taktik bagaimana


mendapatkan tubuh Yanti. Segala cara dan taktik telat aku pikirkan, dan
banyak sekali yang ada di otak ini.

Selang beberapa saat Yanti mengetok pintu kamarku, dan aku menyambutnya
dengan gembira.

“Yanti, bibik Tutik nyang endi? Teko omah jam piro jerene? (Yanti, bibi Tutik
pergi mana? Jam berapa nanti pulang katanya?)” tanyaku.

“Bibik ono urusan’e, ketokan’e sesok jange teko omah maneh. Koyok’e urusan
penting. (Bibi ada urusan, keliatannya besok baru pulang rumah lagi. Kayaknya
urusan penting)” jawab Yanti.

Mendengar jawaban Yanti tersebut, aku girangnya bukan main. Berarti hanya
aku dan Yanti saja yang ada di rumah saat ini. Papa/Mama pasti sedang di
kantor, dan biasanya mereka baru pulang sekitar jam 6 sore, dan ini masih
baru jam 12 siang lewat. Aku mencium bau kemenangan.
“Yanti, pinggangku sek rodo loro … tolong uruten maneh yo … urutan-mu uenak
tenan … ora kalah mbek pijetan’e sing wis mahir (Yanti, pinggangku masih rada
sakit nih … tolong diurut lagi yah … urutan-mu enak banget … kagak kalah ama
pijetan professional)” kataku sambil memujinya.

“Nyo Anton iki ono-ono wae … iki sing pertama Yanti mijetin wong liyo … ora
ono pengalaman’e (tuan muda Anton ini ada-ada aja … ini baru pertama kali
Yanti pijitin orang lain … masih belon ada pengalaman)” tundas Yanti.

“Walah walah … sing pertama wae wes hebat … pasti Yanti pisan hebat ndek
bidang liyo (walah walah … yang pertama kali aja sudah hebat … pasti Yanti
ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi.

“Nyo Anton iso wae seh … (tuan muda Anton bisa aja sih)” jawab Yanti
singkat.

“Yanti ojok jeluk aku nganggo jeneng ‘nyo’ … koyok cah cilik wae … jeluk
nganggo jeneng mas Anton wae … (Yanti jangan panggil aku dengan nama ‘nyo’
… kayak anak kecil aja … panggil mas Anton aja)” pintaku. Yanti hanya
menganggu tanda setuju.

Suasana kamar sempat hening, hanya terdengar bunyi napas Yanti yang
sedang asyik mengurut pinggangku. Tiba-tiba Yanti bertanya “Wes mendingan
saiki mas Anton? (Dah mendingan sekarang mas Anton)”.

Otakku langsung merespon pertanyaan Yanti dengan cepatnya. “Pinggangku


wes mendingan, tapi roso-roso’ne pokangku rodo linu. Coba’en diurut pisan
pokangku. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. Coba
diurut juga pahaku)” jawabku ngawur tapi mengena.

Tanpa protes atau bertanya Yanti langsung mengurut pahaku. Pertama-tama


paha kananku kemudian paha kiriku, saling bergantian. Posisi tubuhku kini
terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan Yanti sangat terasa
nikmat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam celana dalamku, ingin berdiri
saja maunya. Yah singkat kata, batang kontolku dah dari tadi ingin sekali
berdiri, tapi masih tertahan oleh celana dalamku.

Setelah selang beberapa saat, dengan tanpa malu-malu, tanpa basa-basi, dan
dengan pasang muka beton, aku mulai memberanikan diri.
“Yanti, saiki pokangku wis ora linu maneh, tapi saiki endokku dadi rodo linu.
Koyok’e nyambung teko pokang. Tolong sisan, tapi dielus-elus endokku lek ora
keberatan. (Yanti, sekarang pahaku dah ngga linu lagi, tapi sekarang buah
zakarku jadi rada linu. Kayaknya nyambung dari paha deh. Tolong juga, tapi
dielus-elus saja buah zakarku kalo ngga keberatan.)”, pintaku tidak tau diri.

Yanti sempat terhenti, dan bengong aja melihat tingkah polahku yang tidak
tau diri itu. Di raut wajahnya tidak tampak seperti protes atau marah,
melainkan seperti kaget dan bengong seakan-akan bertanya-tanya.

“Kok iso linu endok’e mas Anton … emange endok’e mas Anton melok kepleset?
(Kok bisa linu buah zakar mas Anton … emangnya buah zakar mas Anton ikut
terpeleset?)” tanya Yanti lugu.

“Yah, koyok’e ngono. (Yah, kayaknya begitu)” jawabku singkat.

Tanpa banyak tanya lagi, Yanti perlahan-lahan mulai mengelus-elus buah


zakarku dari luar celanaku. Rasanya tidak begitu nikmat, tapi ada getaran
napsu yang muncul dari otakku.

“Uenak mas Anton? (Enak mas Anton?)” tanya Yanti. Aku menjawab dengan
mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.

“Yo opo sek uenak? (Trus gimana yang enak?)” tanya Yanti lagi.

Aku berpikir sejenak, kemudian aku perolotin celanaku berserta celana


dalamku. Serentak melihat gelagatku, Yanti kaget bukan capital dan secara
reflek memejamkan matanya.

“Mas Antonnn … lopo kok mlorotin katok … ora ono acara’ne ngomong dhisik …
(Mas Antonnn … kenapa kok melorotin celana … tanpa ada acara ngomong
lagi)” protes Yanti dengan matanya yang masih terpejam.

“Loh, Yanti sek tas mau takok yok opo cekno uenak … lah ya aku plorotin wae
katok’e … cekno uenak elus-elusan’e (Lho, Yanti tadi tanya gimana caranya
biar enak … yah aku lepas saja celananya … biar enak elus-elusannya)” jawabku
menyakinkan Yanti.

Yanti masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-


raba pahaku mencari buah zakarku lagi. Setelah mendapatkan buah zakarku,
Yanti kembali mengelus-elusnya lagi. Kali ini … alamak … enak banget. Terasa
lembut sekali tangan Yanti. Serentak saja, batang penisku langsung tegak dan
mengeras.

“Lah … opo iki mas Anton … kok atos soro? (Lho … apa ini mas Anton … kok
keras banget?)” tanya Yanti heran dengan mata sambil terpejam.

“Yo delok’en wae Yanti … buka’en moto-mu cekno weruh … ora bahaya kok
(Yah liat aja Yanti … buka dulu matanya biar tau … ngga bahaya kok)” jawabku
dengan jantungku berdegup-degup kencang.

Perlahan-lahan Yanti membuka matanya, dan langsung terbelak kedua matanya


sambil terheran-heran.

“Lah … manuk’e mas Anton kok iso ngaceng koyok ngono … linu sisan tah? (Lho
… burung mas Anton kok bisa tegang kayak gitu … linu juga tah?)” tanya Yanti
lugu.

“Iki jeneng’e manukku ‘happy’ alias seneng … soale endok’e dielus-elus wong
wedok sing ayu kayak Yanti (Ini namanya burungku ‘happy’ alias senang …
soalnya buah zakarnya dielus-elus wanita cantik kayak Yanti)” kataku mulai
merayu.

“Mas Anton iki … (Mas Anton ini …)” kata-katanya terputus dan terlihat wajah
Yanti yang malu-malu atas pujianku itu. Yanti ternyata masih lugu dalam hal
beginian, membuatku semakin yakin kalo Yanti ini masih ting-ting alias
perawan.

Tanpa disuruh olehku, Yanti mulai mengelus-elus batang penisku dengan


lembut, kadang-kadang mengurut-urutnya. Tak karuan rasa, semakin dielus,
semakin tegang dan tegak berdiri. Yanti dari tadi senyum-senyum saja, dan
tampak wajahnya yang masih malu-malu.

Setelah absolutist dielus-elus oleh Yanti batang penisku berserta buah


zakarnya, aku ingin melaju di langkah berikutnya. Aku semakin berani dan
tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil berbaring kutatap wajah cantik dan manis
Yanti.

“Yanti …” kataku.
“Emmm …” jawab Yanti singkat.

“Saiki gantian yo … (Sekarang gantian yah)” kataku.

“Gantian yo opo? (Gantian gimana?)” tanya Yanti.

“Hmmm … ngene … saiki gantian aku … teko mau Yanti wis delok manukku
mbek endokku … sek dielus-elus maneh … saiki gantian aku seng delok
tempik’e Yanti (Hmmm … gini … sekarang gantian aku … dari tadi Yanti dah liat
burungku ama buah zakarku … dan dielus-elus lagi … sekarang gantian aku
yang liat memek Yanti” kataku tanpa basa-basi.

“Emoh mas Anton … isin aku … ojok mas Anton … (Ngga mau mas Anton … malu
aku … jangan mas Anton)” tolak Yanti.

Penolakan Yanti yang setengah hati itu membuatku makin penasaran dan
makin bernapsu. Aku beranjak dari ranjang, dan memaksa lembut Yanti untuk
merebahkan tubuhnya di atas ranjangku. Setelah berhasil merebahkan
tubuhnya Yanti langsung bertanya.

“Mas Antonnn … kate diapakno aku? (Mas Antonnn … mau diapain aku?)” tanya
Yanti pasrah.

“Menengo wae Yanti … ora aku apak-apak’no kok … mek arep delok tempik’e
Yanti … ora adil lek teko mau manukku tok seng didelok (Diam aja Yanti …
ngga bakalan aku apa-apain kok .. cuman pengen liat memek Yanti aja …ngga
adil kalo dari tadi burungku saja yang diliat)” kataku bohong. Padahal dibalik
benakku banyak hal yang aku ingin lakukan terhadap Yanti, terutama terhadap
tubuhnya.

Aku sekap roknya, dan aku tarik celana dalam dibalik roknya. Yanti berusaha
menahannya, tapi usahanya sia-sia, karena dia menahannya dengan setengah
hati alias tidak dengan sekuat tenaga. Kelakuan Yanti ini seperti lampu hijau
untukku. Seakan-akan pasrah saja mau diapain olehku.

Setelah berhasil melepas celana dalamnya, aku tarik roknya ke atas perutnya,
agar supaya aku bisa melihat jelas memeknya. Secara reflek Yanti menutup
memeknya dengan tangannya.
“Wes mas Antonnn … isin tenan aku … (Udahan mas Antonnn … malu banget
aku …)” kata Yanti.

“Durung Yanti … ojok mbok ditutupi tok tempik’e … ora ketokan … (Belon
Yanti … jangan ditutup terus bell memeknya … ngga keliatan)” kataku protes.

Aku kemudian tarik tangannya yang sedang menutupi memeknya. Yanti


langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya
menyilang. Yanti masih terus berusaha menyembunyikan memeknya dariku.
Bisa aku maklumi perasaan malu yang sedang Yanti alami. Aku mencoba
merayu dan menyakinkan Yanti apa adanya.

“Ojok isin-isin Yanti … ora ono sing ndelok kok … men aku tok wae … (Jangan
malu-malu Yanti … ngga ada siapa-siapa yang bisa liat kok … cuman ada aku
saja …)” rayuku lagi.

Kini Yanti mulai pasrah, dan kedua pahanya yang tadinya menyilang, sekarang
sudah mulai kendor. Segera saja aku ambil kesempatan ini untuk
mengendorkan pertahanan Yanti. Setelah aku berhasil membuka selangkangan
Yanti … alamak … aku langsung menelan ludah. Memek Yanti begitu indah dan
subur ditumbuhi oleh jembut-jembut yang masih lembut. Aku yakin jembut-
jembut ini tidak pernah sekalipun Yanti cukur sejak pertama kali tumbuh,
sehingga masih tampak halus lembut.

Kucoba lagi membuka selangkangan Yanti lebih lebar lagi, aku ingin sekali
menemukan biji etil Yanti. Aku merasa kesulitan menemukan biji etil Yanti
dengan mata terlanjang. Ketika aku mencoba membuka bibir memek Yanti
untuk menemukan biji etilnya, Yanti langsung protes.

“Mas Anton … ojok mas … (Mas … jangan mas …)” pinta Yanti. Aku semakin
gemas dengan aught penolakan pasrah Yanti.

Aku tidak mengubris permintaan Yanti, dan semakin gencar bergerilya


mencari biji etilnya. Ternyata tidak susah menemukan biji etilnya dengan
mencari pakai tangan. Aku mainin biji etilnya dengan gemas.

“Mas Anton … wes mas … uisin tenan aku … (Mas Anton … udahan mas … malu
banget aku)” mohon Yanti.
Otakku sudah gelap, dan tetap memainkan biji etilnya. Ternyata tidak perlu
memakan waktu absolutist untuk membuat memek Yanti basah. Mungkin ini
pertama kalinya Yanti merasakan nafsu birahi alias horny. Dia seperti tidak
tau harus bagaimana menghadapi situasi saat itu. Kedua tangan tidak lagi
menutup wajahnya. Tangan kanannya bersembunyi di balik bantal, dan tangan
kirinya meremas guling. Yanti menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan
geli. Tidak kudengar suara desahan dari mulut Yanti, tapi nafasnya kini sudah
berubah menjadi memburu. Aku berasumsi bahwa Yanti masih belum bisa atau
belum terbiasa mendesah.

“Yanti … tempik mu wis buasah tenan saiki … (Yanti … memekmu dah basah
banget sekarang)” pujiku.

“Masss … masss … wes masss … Yanti mbok opok’no … jarene mbek delok tok
… saiki kok di dolen tempik ku (Masss … masss … udahan masss … diapain
Yanti … katanya cuman mau liat aja … sekarang kok dimainin memekku)”
protes Yanti pasrah.

“Aku wes kesengsem karo tempikmu iki … gemesi wae … tak elus-elus malah
dadi buasah … (Aku dah jatuh cinta ama memekmu … bikin gemes aja … dielus-
elus malah jadi basah) … ” kataku sambil bercanda.

Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Yanti secara reflek tiba-tiba


menjerit “Mas Antonnn … massssss …”. Yanti orgasme di atas ranjangku.

Aku biarkan Yanti mengambil nafas dulu biar sedikit tenang.

“Yanti sek tas mau kok bengok … loro tah? (Yanti barusan aja kok teriak …
sakit?” tanyaku pura-pura bego.

“Ora loro mas … sek tas-an Yanti koyok kesetrum … rasa’e koyok nang surgo …
uenak tenan … atiku saiki sek dek-dekan (Ngga sakit mas … barusan Yanti
kayak kena setrum … rasanya seperti di surga … enak banget … jantungku
sekarang masih deg-degan)” jawab Yanti.

Kini saatnya giliranku untuk orgasme. Kontolku sudah sejak tadi tegang
melihat kelakuan Yanti. Pekerjaanku masih belum tuntas. Aku bingung apa
yang harus aku katakan ke Yanti bahwa aku ingin menyodok kontolku ini ke
dalam memeknya yang masih perawan itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya atau berkata apapun. Aku
mencoba untuk langsung capital terobos saja. Aku kembali membuka
selangkangan Yanti, dan mencoba mengarahkan kontolku ke mulut memeknya.
Yanti protes lagi.

“Mas Anton arep opo? (Mas Anton mau apa?)” tanya Yanti heran.

“Oh … aku gelem kesetrum sisan … koyok Yanti seng mau (Oh … aku juga mau
kesetrum … kayak Yanti tadi)” jawabku spontan.

“Lah … terus laopo manuk’e mas kate mlebu nang tempikku? (Lho … trus
kenapa burung mas mau masuk ke memekku?)” tanya Yanti heran.

Yanti benar-benar masih bau kencur di dalam urusan seperti ini. Mungkin
tidak ada orang yang pernah mengajarinya teori tentang hubungan seks atau
biasanya disebut dengan hubungan pasutri (pasangan suami istri).

“Aku baru iso kesetrum lek manukku mlebu nang tempikmu (Aku baru bisa
kesetrum kalo burungku masuk ke memekmu)” jawabku gombal.

“Ojok mas … engkuk loro … jarene wong-wong (Jangan mas … nanti sakit …
katanya orang-orang)” katanya.

“Ojok wedhi Yanti … tak mlebu pelan-pelan wae … tak jamin ora loro (Jangan
takut Yanti … dimasukin pelan-pelan aja … dijamin ngga sakit)” rayuku.

Yanti diam saja dan pasrah.

Aku kemudian mengarahkan ujung penisku ke bibir vagina/memek Yanti. Yanti


memejamkan matanya, dan kini giginya kembali menggigit bibir bawahnya.

Tangan kananku memegang pangkal penisku agar batang kontolku tegak


dengan mantap, dan tangan kiriku berusaha membuka bibir vagina Yanti,
supaya aku bisa melihat lubang memeknya. Karena Yanti masih perawan, ngga
mudah untuk menembuh pintu masuk gadis perawan. Hal ini sudah aku alami
sekali dengan pacar lamaku. Aku ngga ingin melihat Yanti nantinya menangis
seperti yang dialami oleh mantan pacarku yang dulu, setelah aku paksa masuk
batang kontolku ke lubang memeknya yang masih perawan.
Pertama-tama aku basahi terlebih dahulu ujung penisku dengan air ludahku
biar menjadi pelumas sementara, kemudian aku dorong masuk ujung penisku
kira-kira sedalam 2 centi. Setelah berhasil masuk kira-kira kedalaman 2
centi, aku diam sejenak, kulihat Yanti sedikit meringis menahan perih.

“Perih Yanti?” tanyaku iba.

“Rodok perih mas (Rada perih dikit mas)” jawab Yanti yang kini matanya
kembali terbuka memandangku.

“Tak mlebu alon-alon yah … lek perih ngomong’o … ojok meneng ae … (Aku
masukin pelan-pelan yah … kalo perih bilang aja … jangan diam aja) …”
suruhku.

Suasana kamarku makin panas saja rasanya. Aku lepas bajuku, sehingga kini
aku sudah terlanjang bebas. Kondisi Yanti masih lengkap, hanya roknya saja
yang terbuka.

Batang penisku yang dari tadi sudah masuk 2 centi itu masih tampak keras
saja. Aku kini tidak lagi memegangi batang kontolku, karena dengan menancap
2 centi saja di dalam memek Yanti dalam kondisi amat tegang, mudah untukku
menembus semua batang kontolku. Tapi kini aku harus memasang taktik biar
Yanti nantinya juga menikmati. Perih adalah maklum untuk gadis perawan yang
sedang diperawani.

Kedua tanganku kini menahan tubuhku. Aku membungkuk dan menatapi wajah
Yanti yang cantik. Yanti masih terlihat sedikit merintih karena rasa pedih
yang dialaminya.

Aku menekan lagi batang penisku, masuk sedikit, kira-kira setangah sampai 1
centi. Yanti meringis lagi.

Aku mainkan pinggulku maju dan mundur agar batang penisku maju mundur di
dalam liang memek Yanti. Batang kontolku cuman mentok sampai kedalaman
kira-kira 3 centi. Tapi aku terus bersabar sampai nanti tiba nanti saatnya
yang tepat. Aku teruskan irama maju mundur batang kontolku di dalam memek
Yanti.
Perlahan-lahan suara rintihan Yanti semakin memudar, dan wajah Yanti tidak
lagi merintih. Ujung penisku terasa basah oleh cairan yang kental. Aku yakin
cairan ini bukan air liurku yang tadi, melainkan cairan murni dari memek Yanti.

Sekarang batang kontolku bisa masuk perlahan-lahan lebih dalam lagi, dari 3
centi maju menjadi 4 centi, kemudian dari 4 centi masuk lebih dalam lagi
menjadi 6 centi.

“Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)” tanyaku. Yanti menggeleng-gelengkan


kepala pertanda tidak lagi sakit.

Napas Yanti kini kembali memburu dan terengah-engah, dan tidak lagi
menggigit bibir bawahnya. Tangan kanannya meremas sarung ranjangku dan
tangan kirinya meremas selimutku.

Goyangan pinggulku aku percepat sedikit demi sedikit, memberikan sensasi


erotis terhadap memek Yanti. Dalam sekejap kini aku bisa membuat batang
kontolku kini terbenam semuanya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti.

“Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)” tanyaku sekali lagi. Yanti kali ini
tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

“Tempik mu wis uenak maneh? (Memekmu dah enakan lagi?)” tanyaku


bercanda. Yanti mengangguk.

“Yanti … buka en klambimu … mosok ga kroso panas tah? … buka en ae cekno


adem (Yanti … buka bell bajumu … masa ngga merasa panas? … buka aja biar
sejuk)” kataku. Aku sebenarnya ingin memperawani Yanti dalam keadaan
benar-benar terlanjang.

Nanti menurut saja, dan kemudian dia melepas kaos bersama BH-nya, dan
masih membiarkan roknya, karena batang kontolku masih sibuk menari-nari di
dalam lubang memeknya. Tampak payudara Yanti yang merekah dengan ukuran
32C menurut tafsiranku. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas
untuk ukuranku. Puting susunya berwarna coklat gelap. Typical atau khas
payudara wanita asli Indonesia. Melihat puting susunya yang menantang
seperti itu, membuatku gemas rasanya. Aku mencubit sambil memelintir
puting susunya, dan Yanti protes atas tindakanku tersebut.
“Masss … loro masss … (Masss … sakit masss …)” protes Yanti lembut. Aku pun
kemudian senyum padanya, dan langsung menghentikan tindakanku tersebut.

Aku merasa sudah absolutist aku menggenjot tubuh Yanti siang itu. Tapi aku
masih belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya klimaksku. Aku sejak
tadi berpikir antara iya atau tidak nantinya aku memuncratkan air maniku ke
dalam memeknya. Sejujurnya aku berkeinginan hati untuk menyirami memek
Yanti dengan air maniku, tapi aku juga rada kuatir akan konsekwensinya bila
terjadi apa-apa dengannya, alias hamil nantinya.

Nafas Yanti semakin memburu saja, tapi wajahnya tampak makin gelap saja.
Darah Yanti seakan-akan memanas dan terkumpul di atas kepalanya. Kali ini
Yanti tak kuat untuk menahan genjotan-genjotan dan gesekan-gesekan nikmat
yang diberikan oleh batang kontolku. Mulut Yanti kini tak terkontrol. Untuk
pertama kalinya mulut Yanti mendesah atau merintih basah.

“Uhh … ohhh … masss … masss … kerih (geli) masss …” rintih Yanti.

“Aku kerih sisan Yanti … Yanti wis arep ngoyo? (Aku geli juga Yanti … Yanti
sudah mau pipis?)” tanyaku penasaran melihatnya sudah seperti cacing
kepanasan. Leher Yanti sudah mulai berkeringat. Sekujur badanku juga tidak
kalah keringatnya. Semakin berkeringat, semakin seru saja aku menggagahi
tubuh Yanti.

Seperti tau apa yang aku maksud dengan kata ‘pipis’, Yanti pun
menganggukkan kepalanya. Yanti sudah akan memasuki tahap orgasme yang
kedua kalinya.

Tidak sampai hitungan 2 menit, Yanti tiba-tiba memekik sambil tangan


kanannya meremas biceps-ku.

“Masss … ampunnn masss … kerih mbanget … arep ngoyo ketok’e … aahhh …


(Masss … ampunnn masss … geli banget … ingin pipis rasanya … ahhh …)” pekik
Yanti dengan tangan kanannya yang masih meremas biceps-ku.

Tidak salah lagi, Yanti telah mencapai orgasme keduanya. Memeknya semakin
basah saja. Aku berhenti menggenjotnya dan mendiamkan batang kontolku
tertanam dalam-dalam di dalam memeknya yang basah nan hangat. Kurasakan
setiap denyutan daging-daging di dalam memek Yanti.
Setelah buruan nafasnya mereda, aku cabut batang kontolku keluar dengan
maksud untuk melepas roknya yang masih menempel di tubuhnya. Aku ingin
melihatnya bugil tanpa busana apapun. Saat kutarik batang kontolku, aku
melihat sedikit bercak darah di tengah-tengah batang kontolku, dipangkal
kontolku, dan di daerah bulu jembutku. Kuperawani sudah Yanti, dan ini adalah
bukti keperawanan Yanti yang telah aku renggut darinya.

Yanti kini bugil tanpa selembar kain apapun. Aku kembali memasukkan batang
kontolku ke dalam memeknya. Masih terasa basah liang memek Yanti.

“Yanti … saiki aku sing kate ngoyo … siap-siap yo (Yanti … sekarang aku yang
harus pipis … siap-siap yah)” kataku.

Yanti seperti tidak mengerti apa yang aku katakan, tapi kepala mengangguk
saja (hanya menurut saja). Aku kembali menggenjoti liang memeknya lebih
cepat dari biasanya. Kupercepat setiap hentakan-hentakan, dan bisa
kurasakan kenikmatan gesekan-gesekan terhadap daging-daging di dalam
memek Yanti. Memberikan sensasi yang luar biasa dasyatnya.

Wajah Yanti kembali memerah, dan kini nafasnya kembali memburu lagi. Kali
ini Yanti sudah tidak malu-malu lagi untuk mendesah dan merintih nikmatnya
bercinta.

“Yanti … kepenak temenan nyenuk karo Yanti … tempik-mu gurih tenan (Yanti
… enak/senang banget ngentot ama kamu … memekmu gurih banget)” pujiku
sambil terus menggenjot memeknya.

“Masss Anton … masss … aku arep ngoyo maneh … ahhh masss … (Masss Anton
… masss … aku pengen pipis lagi … ahhh masss …)” desah Yanti.

“Iku jenenge arep teko Yanti … ora arep ngoyo (Itu namanya mau datang
Yanti … bukan mau pipis)” jawabku sambil tertawa renyah dan Yanti pun
tersenyum bingung. Mungkin baginya istilah ‘datang’ masih terasa aneh.

Sekujur tubuhku berkeringat dan tergolong basah kuyup. Sudah berapa tetes
keringatku yang jatuh di perut dan dada Yanti. Posisiku menyetubuhinya
masih tetap berada di atas. Sejak tadi aku belum menyuruhnya merubah
posisi. Mungkin bagiku lebih nyaman untuk Yanti digagahi dengan posisiku di
atas. Yanti masih termasuk bau kencur dalam masalah beginian.
Batang kontolku makin absolutist terasa makin mengeras. Lahar mani di
dalamnya ingin segera meletup keluar. Aku sudah tidak mampu untuk berpikir
dengan akal sehat kembali. Otot-otot disekujur batang kontolku sudah tidak
mampu lagi membentung lahar panas yang ingin segera menyembur keluar. Aku
sudah tidak perduli lagi dengan rasa kuatirku tadi. Aku hanya ingin
menyemburkan lahar panas ini secepat mungkin. Isi otakku sudah gelap
rasanya.

“Yanti … aku arep teko iki … ora iso di tahan maneh … saiki Yanti … saikiii …
Yantiii … (Yanti … aku mau datang nih … ngga bisa ditahan lagi … sekarang
Yanti … sekaranggg … Yantiii)” aku mengerang keras diiringi oleh semburan
lahar panas dari batang kontolku yang mengisi semua liang memek Yanti.
Semburan panas dari batang kontolku mendapat sambutan hangat dari Yanti.
Aku memeluk erat tubuh Yanti, dan Yanti membalas memelukku sambil
memekik memanggil namaku. Aku hanya dapat menduga bila Yanti
mendapatkan orgasme-nya yang ketiga kali. Batang kontolku berkali-kali
memuntahkan lahar panasnya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti. Mungkin
sekarang liang memek Yanti penuh sesak oleh lahar maniku.

Aku diam sejenak, mengatur nafasku kembali. Tubuhku masih menindih tubuh
Yanti. Kini semua keringatku bersatu dengan keringat Yanti. Aku memeluk
Yanti, sambil menciumi lehernya. Batang kontolku masih menancap di dalam
memek Yanti. Aku masih belum ingin mencabutnya sampai nanti batang
kontolku sudah mulai meloyo.

“Yanti … terima kasih … ” bisikku dalam bahasa Indo. Yanti hanya diam saja.
Tak absolutist kemudian, aku mendengar Yanti menyedot ingusnya. Ternyata
mata Yanti tampak berkaca-kaca. Aku menduga kuat Yanti ingin sekali
menangis, dan tampak penyesalan di wajahnya. Melihat tingkah laku Yanti, aku
berusaha memberinya abundance (kenyamanan), dan rayuan agar membuatnya
lega atau tidak sedih kembali. Aku mengatakan kepada Yanti bahwa ini adalah
rahasia kita berdua, dan mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Aku
berjanji padanya bahwa ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku
menyetubuhinya. Yanti begitu menurut dengan kata-kataku dengan polos dan
lugu.

Aku sedikit ada rasa penyesalan telah memperawani gadis cantik dan imut
seperti Yanti. Aku meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak
dapat menahan keinginanku itu karena sejak absolutist aku memantau dan
melihat sosok dirinya dari kejauhan. Begitu dekat dengannya, aku tidak
mampu lagi menahan nafsu birahiku.

Selama liburan musim panas tersebut, aku sering sekali mencuri-curi waktu
dan tempat untuk bersetubuh dengan Yanti. Sejak pertama kali
memperawaninya, agak susah untukku untuk menggagahi tubuh nikmatnya lagi.
Yanti selalu menolak dengan alasan takut sakit atau apa gitu. Tapi dasar lelaki
yang penuh dengan akal muslihat, aku tetap berhasil menikmati tubuhnya dan
memeknya berkali-kali.

Untung saja, makin absolutist Yanti semakin menyukai berhubungan badan


denganku. Banyak teknik yang aku ajarkan kepadanya, dari BJ, HJ, dan posisi
bercinta yang lain (doggy style, woman on top, gaya menyamping, dll). Aku
kadang meminta Yanti memberikan BJ atau HJ di ruang keluarga sambil aku
menonton TV disaat tidak ada orang di rumah.

Sejak saat itu pula, aku selalu memakai condom untuk mencegah sesuatu yang
tidak diinginkan. Aku tidak ingin aib ini sampai tercium oleh anggota
keluargaku yang lain.

Sudah sering kali aku bermain cinta dengan Yanti di liburan musim panas ini.
Aku sempat mengganti tanggal pesawatku kembali ke Melbourne agar aku bisa
lebih absolutist di Indonesia. Aku kembali ke Melbourne untuk melanjutkan
studiku lagi sekitar akhir Februari. Semenjak kembali ke Melbourne lagi, aku
kangen dengan Yanti, dan rindu bercinta dengannya. Kadang-kadang aku
menelpon rumah di waktu siang hari (waktu Indonesia) untuk mengobrol
dengan Yanti. Dan seputar obrolan kami adalah tentang ‘gituan’ aja.

Studiku tinggal 1 division lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan
studiku ini, agar aku bisa kembali ke Indonesia bertemu kembali dengan
Yanti. Sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana masa depanku dengan
Yanti. Tapi aku berkeinginan untuk tetap tinggal di Malang, batten tidak
melanjutkan atau bekerja di kantor perusahaan papa. Dengan ini aku bisa
senantiasa dekat dengan Yanti. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan
nasibku dengan Yanti.
Cerita Ngentot Dengan Gigolo Jakarta di Hotel Sahid
Setelah lama berpetualang dengan Hendra, aku perlu juga variasi bermain sex
yang lain, dengan ragu-ragu akhirnya kuusulkan ke Hendra untuk memanggil
gigolo supaya permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Hendra
menyetujui dengan syarat aku yang mencari dan dia yang memutuskan atau
memilih orangnya.

Setelah mencari informasi dari sana sini, akhirnya kudapatkan nomor telepon
jaringan gigolo, aku tidak mau lewat milist yang banyak menawarkan diri,
karena dari pengalaman mereka hanya besar nyali dan nafsu saja, tapi tidak
dengan stamina dan variasi permainan. Sesuai dengan kesepakatan dengan
seorang GM, akhirnya dia akan mengirim 3 orang untuk kami pilih di tempat
kami menginap, uang bukanlah masalah bagi kami.

Pada hari yang sudah ditetapkan, kami check in di Hotel Sahid. Tidak lama
kemudian datanglah sang GM dengan membawa 3 anak muda ganteng dan
macho, mungkin dibawah 25 tahun. Ketiganya memang kelihatan begitu atletis
dan tampan, tapi satu sudah out karena terlalu pendek, sedangkan dua lainnya
mampunyai tinggi paling tidak sama denganku, yang menjadi masalah bagiku
adalah memilih di antaranya.

Terus terang agak nervous juga aku, karena belum pernah aku membayar
untuk urusan sex. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku menyuruh mereka
bertiga untuk telanjang di hadapan kami, sesaat mereka ragu, tapi akhirnya
mau juga setelah kupancing dengan membuka baju atasku hingga terlihat bra
merahku. Dari pandangan matanya aku tahu bahwa mereka tertarik denganku,
bahkan tanpa dibayar pun aku yakin mereka mau melakukannya. Kupikir hanya
orang gila saja yang tidak tertarik dengan postur tubuhku yang putih seperti
Cina, tinggi semampai, sexy, dan wajah cantik, paling tidak itulah yang sering
dikatakan laki-laki.

“Oke, yang tidak terpilih, kalian boleh memegang buah dadaku ini sebelum
pergi asal mau telanjang di depanku sekarang.” kataku menggoda, dengan
demikian aku dapat melihat kejantanan mereka saat tegang, itulah yang
menjadi pertimbanganku.
Serempak mereka melepas pakaiannya secara bersamaan, telanjang di
depanku. Hasilnya cukup mengejutkanku, ternyata disamping memiliki tubuh
yang atletis, ternyata mereka mempunyai alat kejantanan yang mengagumkan,
aku dibuat takjub karenanya. Rata-rata panjang kejantanan mereka hampir
sama, tapi besar diameter dan bentuk kejantanan itu yang berbeda, kalau
tidak ‘malu’ dengan Hendra mungkin kupilih keduanya langsung.

Pandanganku tertuju pada yang di ujung, alat kejantanannya yang besar, aku
membayangkan mungkin mulutku tidak akan cukup untuk mengulumnya, hingga
akhirnya kuputuskan untuk memilih dia. Namanya Rio, mahasiswa semester
akhir di perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Rio tinggal di sini, lainnya mungkin lain kali.” kataku mengakhiri masa
pemilihan.

Setelah pilihan diambil, maka dua lainnya segera berpakaian dan menghampiri
aku yang masih tidak berbaju. Mula-mula si pendek mendekatiku dan
memelukku, tingginya hanya setelingaku. Diciumnya leherku dan tangannya
meremas lembut buah dadaku, lalu wajahnya dibenamkan ke dadaku, diusap-
usap sejenak sambil tetap meremas-remas menikmati kenyalnya buah dadaku,
lalu dia pergi. Berikutnya langsung meremas-remas buah dadaku, jari
tangannya menyelinap di balik bra, mempermainkan sejenak sambil mencium
pipiku.
“Mbak mempunyai buah dada dan puting yang bagus.” bisiknya, kemudian dia
pergi, hingga tinggal kami bertiga di kamar, aku, Rio dan Hendra yang dari
tadi hanya memperhatikan, tidak ada komentar dari dia kalau setuju atas
pilihanku.

“Rio, temenin aku mandi ya, biar segar..!” kataku, sebenarnya agak ragu juga
bagaimana untuk memulainya.
“Ayo Tante, entar Rio mandiin.” jawabnya.
“Emang aku udah Tante-Tante..?” jawabku ketus, “Panggil aku Lily.” lanjutku
sambil menuju kamar mandi, meninggalkan Hendra sendirian.

Sesampai di kamar mandi, Rio langsung mencium tengkukku, membuatku


merinding. Dipeluknya aku dari belakang sambil ciumannya berlanjut ke
belakang telingaku hingga leher. Kedua tangannya mulai meraba-raba buah
dadaku yang masih terbungkus bra merahku.
“Rio, kamu nakal..!” desahku sambil tanganku meraba ke belakang mencari
pegangan di antara kedua kaki Rio yang masih telanjang.
“Abis Mbak menggoda terus sih,” bisiknya disela-sela ciumannya di telinga.
Tangannya diturunkan ke celana jeans-ku, tanpa menghentikan ciumannya, dia
membuka celana jeans-ku, hingga sekarang aku tingal bikini merahku.
Ciumannya sudah sampai di pundak, dengan gigitan lembut diturunkan tali bra-
ku hingga turun ke lengan, begitu pula yang satunya, sepertinya dia sudah
terlatih untuk menelanjangi wanita dengan erotis dan perlahan, semakin
perlahan semakin menggoda. Perlahan tapi pasti aku dibuatnya makin terbakar
birahi.

Rio mendudukkan tubuhku di meja toilet kamar mandi, dia berlutut di


depanku, dicium dan dijilatinya betis hingga paha. Perlahan dia menarik turun
celana dalam merah hingga terlepas dari tempatnya, jilatan Rio sungguh lain
dari yang pernah kualami, begitu sensual, entah pakai metode apa hingga aku
dibuat kelojotan. Kepalanya sudah membenam di antara kedua pahaku, tapi
aku belum merasakan sentuhan pada daerah kewanitaanku, hanya kurasakan
jilatan di sekitar selangkangan dan daerah anus, aku dibuat semakin
kelojotan.

Sepintas kulihat Hendra berdiri di pintu kamar mandi melihat bagaimana Rio
menservisku, tapi tidak kuperhatikan lebih lanjut karena jilatan Rio semakin
ganas di daerah kewanitaanku, hingga kurasakan jilatan di bibir vaginaku.
Lidahnya terasa menari-nari di pintu kenikmatan itu, kupegang kepalanya dan
kubenamkan lebih dalam ke vaginaku, entah dia dapat bernapas atau tidak aku
tidak perduli, aku ingin mendapat kenikmatan yang lebih. Jilatan lidah Rio
sudah mencapai vaginaku, permainan lidahnya memang tiada duanya, saat ini
the best dibandingkan lainnya, bahkan dibandingkan dengan suamiku yang
selalu kubanggakan permainan sex-nya.

Rio berdiri di hadapanku, kejantanannya yang besar dan tegang hanya


berjarak beberapa centimeter dari vaginaku. Sebenarnya aku sudah siap, tapi
lagi-lagi dia tidak mau melakukan secara langsung, kembali dia mencium
mulutku dan untuk kesekian kalinya kurasakan permainan lidahnya di mulutku
terasa meledakkan birahiku, sementara jari tangannya sudah bermain di liang
kenikmatanku menggantikan tugas lidahnya. Aku tidak mau melepaskan
ciumannya, benar-benar kunikmati saat itu, seperti anak SMU yang baru
pertama kali berciuman, tapi kali ini jauh lebih menggairahkan.

Ciuman Rio berpindah ke leherku, terus turun menyusuri dada hingga belahan
dadaku. Dengan sekali sentil di kaitan belakang, terlepaslah bra merah dari
tubuhku, membuatku telanjang di depannya. Aku siap menerima permainan
lidah Rio di buah dadaku, terutama kunantikan permainan di putingku yang
sudah mengencang. Dan aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk itu,
kembali kurasakan permainan lidah Rio di putingku, dan kembali pula
kurasakan sensasi-sensasi baru dari permainan lidah. Aku benar-benar dibuat
terbakar, napasku sudah tidak karuan, kombinasi antara permainan lidah di
puting dan permainan jari di vaginaku terlalu berlebihan bagiku, aku tidak
dapat menahan lebih lama lagi, ingin meledak rasanya.

“Rio, pleassee, sekarang ya..!” pintaku sambil mendorong tubuh atletisnya.


“Pake kondom Mbak..?” tanyanya sambil mengusap-usapkan kepala
kejantanannya di bibir vaginaku yang sudah basah, sah, sah, sah.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, biasanya aku tidak pernah pakai kondom,
tapi karena kali ini aku bercinta dengan seorang gigolo, aku harus berhati-
hati, meskipun dengan lainnya belum tentu lebih baik. Kalau seandainya dia
langsung memasukkan kejantannya ke vaginaku, aku tidak akan keberatan,
tapi dengan pertanyaan ini aku jadi bingung. Kulihat ke arah Hendra yang dari
tadi memperhatikan, tapi tidak kudapat jawaban dari dia.

Tidak ada waktu lagi, pikirku. Maka tanpa menjawab, kutarik tubuhnya dan dia
mengerti isyaratku. Perlahan didorongnya kejantanannya yang sebesar pisang
Ambon itu masuk ke liang kenikmatanku, vaginaku terasa melar. Makin dalam
batang kejantanannya masuk kurasakan seolah makin membesar, vaginaku
terasa penuh ketika Rio melesakkan seluruhnya ke dalam.
“Aagh.. yess.. ennak Sayang..!” bisikku sambil memandang ke wajah Rio yang
ganteng dan macho, expresinya dingin, tapi aku tahu dia begitu menikmatinya.
“Pelan ya Sayang..!” pintaku sambil mencengkeramkan otot vaginaku pada
kejantanannya.
Kulihat wajaah Rio menegang, tangan kanannya meremas buah dadaku sedang
tangan kirinya meremas pantatku sambil menahan gerakan tubuhku.

Kurasakan kejantanan Rio pelan-pelan ditarik keluar, dan dimasukkan lagi saat
setengah batangnya keluar, begitu seterusnya, makin lama makin cepat.
“Oohh.. yaa.., truss..! Yes.., I love it..!” desahku, menerima kocokan kejantanan
Rio di vaginaku.
Rio dengan irama yang teratur memompa vaginaku, sambil mempermainkan
lidahnya di leher dan bibirku. Aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku,
desahanku semakin berisik terdengar. Rio mengangkat kaki kananku dan
ditumpangkan di pundaknya, kurasakan penetrasinya semakin dalam di
vaginaku, menyentuh relung vagina yang paling dalam. Kocokan Rio semakin
cepat dan keras, diselingi goyangan pantat menambah sensasi yang kurasakan.

“Sshhit.., fuck me like a bitch..!” desahanku sudah ngaco, keringat sudah


membasahi tubuhku, begitu juga dengan Rio, menambah pesona sexy pada
tubuhnya.
Aku hampir mencapai puncak kenikmatan ketika Rio menghentikan
kocokannya, dan memintaku untuk berdiri, tentu saja aku sedikit kecewa, tapi
aku percaya kalau dia akan memberikan yang terbaik.
“Mau dilanjutin di sini atau pindah ke ranjang..?” tanyanya terus menjilati
putingku.

Tanpa menjawab aku langsung membelakanginya dan kubungkukkan badanku,


rupanya dia sudah tahu mauku, langsung mengarahkan kejantanannya ke
vaginaku. Kuangkat kaki kananku dan dia menahan dengan tangannya, sehingga
kejantanannya dapat masuk dengan mudah. Dengan sedikit bimbingan,
melesaklah batang kejantanan itu ke vaginaku, dan Rio langsung menyodok
dengan keras, terasa sampai menyentuh dinding dalam batas terakhir
vaginaku, terdongak aku dibuatnya karena kaget.
“Aauugghh.., yes.., teruss.., yaa..!” teriakku larut dalam kenikmatan.

Sodokan demi sodokan kunikmati, Rio menurunkan kakiku, dan kurentangkan


lebar sambil tanganku tertumpu pada meja toilet, tangan Rio memegang
pinggulku dan menariknya saat dia menyodok ke arahku, begitu seterusnya.
Rasanya sudah tidak tahan lagi, ketika tangan Rio meremas buah dadaku dan
mempermainkan putingku dengan jari tangannya, sensasinya terlalu
berlebihan, apalagi keberadaan Hendra yang dengan setia menyaksikan
pertunjukan kami sambil memegang kejantanannya sendiri.

“Rio a.. ak.. aku.. sud.. sudah.. nggak ta.. ta.. han..!” desahku, ternyata Rio
langsung menghentikan gerakannya.
“Jangan dulu Sayang, kamu belum merasakan yang lebih hebat.” katanya, tapi
terlambat, aku sudah mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu.
“Aaughh.., yess.., yess..!” teriakku mengiringi orgasme yang kualami, denyutan
di vaginaku terasa terganjal begitu besar.
Rio hanya mendesah sesaat sambil tangannya tetap meremas buah dadaku
yang ikut menegang.
“Ayo Rio, keluarin sekarang, jangan goda aku lagi..!” pintaku memelas karena
lemas.
Rio mengambil handuk dan ditaruhnya di lantai, lalu dia memintaku berlutut,
rupanya Rio menginginkan doggie style, kuturuti permintaannya. Sekarang
posisiku merangkak di lantai dengan lututku beralaskan tumpukan handuk,
menghadap ke pintu ke arah Hendra.

Rio mendatangiku dari belakang, mengatur posisinya untuk memudahkan


penetrasi ke vaginaku. Setelah menyapukan kejantanannya yang masih
menegang, dengan sekali dorong masuklah semua kejantanan itu ke vaginaku.
Meskipun sudah berulang kali terkocok oleh kejantanannya, tidak urung
terkaget juga aku dibuatnya. Rio langsung memacu kocokannya dengan cepat
seperti piston mobil dengan silindernya pada putaran di atas 3000 rpm,
kenikmatan langsung menyelimuti tubuhku.

Rio menarik rambutku ke belakang sehingga aku terdongak tepat mengarah ke


Hendra. Berpegangan pada rambutku Rio mempermainkan kocokannya,
sesekali pantatnya digoyang ke kiri dan ke kanan, atau turun naik, sehingga
vaginaku seperti diaduk-aduk kejantanannya. Dia sungguh pandai
menyenangkan hati wanita karena permainannya yang penuh variasi dan diluar
dugaan.

Tiba-tiba kudengar teriakan dari Hendra, tepat ketika aku mendongak ke


arah dia, menyemprotlah sperma dia dari tempatnya dan tepat mengenai
wajah dan rambutku. Ternyata sambil menikmati permainan kami, dia
mengocok sendiri kejantanannya alias self service. Rio mengangkat badannya
tanpa melepas kejantanannya dariku, kini posisi dia menungging, sehingga
kejantanannya makin menancap di vaginaku tanpa menurunkan tempo
permainannya. Aku sudah tidak tahan diperlakukan demikian, dan untuk kedua
kalinya aku mengalami orgasme hebat dalam waktu yang relatif singkat,
sementara Rio masih tetap tegar menantang.

“Masih kuat untuk melanjutkan Mbak..?” tantang dia.


Kalau seandainya dia tidak bertanya seperti itu aku pasti minta waktu
istirahat dulu, tapi dengan pertanyaan itu, aku merasa tertantang untuk adu
kuat, dan tantangan itu tidak dapat kutolak begitu saja. Sebagai jawaban,
kukeluarkan kejantanannya dari tubuhku, kuminta dia rebah di lantai kamar
mandi beralas handuk, aku juga ingin ngerjain dia, pikirku.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, begitu dia telentang, kukangkangkan
kakiku di wajahnya hingga dia dapat merasakan cairan orgasme yang meleleh
dari vaginaku. Rasain, pikirku. Tapi aku salah, ternyata dia malah dengan
senang hati menghisap vaginaku hingga terasa kering dan kembali
mempermainkan lidah mautnya di vaginaku.

“Sialan, kalau begini aku bisa keluar lagi dan pasti KO.” pikirku.
Maka aku langsung berganti posisi. Sekarang aku di atas dia, berarti kendali
ada di tanganku dan akan kubuat dia kelojotan mencapai orgasme segera,
pikirku lagi. Tanpa membuang waktu lebih lama, kumulai gerakan andalanku,
yaitu ber-hula hop di atasnya sehingga aku yakin kejantanannya seperti
terpilin-pilin di vaginaku.

Agak kesulitan juga aku ber-hula hop karena terasa kejantanannya yang
besar mengganjal di dalam dan mengganggu gerakanku. Semakin kupaksakan
semakin nikmat rasanya dan semakin cepat gerakan bergoyangku kenikmatan
itu semakin bertambah, maka hula hop-ku semakin cepat dan tambah tidak
beraturan. Kuamati wajah Rio yang ganteng bersimbah peluh dan terlihat
menegang dalam kenikmatan, tangannya meremas-remas buah dadaku dengan
liarnya sambil mempermainkan putingku.

Hampir saja aku orgasme lagi kalau tidak segera kuhentikan gerakanku, tapi
ternyata Rio tidak mau berhenti. Ketika aku menghentikan gerakanku,
ternyata justru dia menggoyang tubuhku sambil menggerak-gerakkan
pinggulnya sehingga vaginaku tetap terkocok dari bawah, dan kembali
orgasmeku tidak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.

Rio tetap saja mengocok, meski dia tahu aku sedang di puncak kenikmatan
birahi. Kali ini aku benar-benar lemes mes mes, tapi Rio tidak juga
mengentikan gerakannya. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, sehingga
kami saling berpelukan. Dinginnya AC tidak mampu mengusir panasnya
permainan kami, peluh kami sudah menyatu dalam kenikmatan nafsu birahi.
Rio memelukku dan mencium mulutku sambil kembali mempermainkan lidahnya,
kejantanannya masih keras bercokol di vaginaku, terasa panas sudah, atau
mungkin lecet.

Tidak lama kemudian nafsuku bangkit lagi, kuatur posisi kakiku hingga aku
dapat menaik-turunkan tubuhku supaya kejantanan Rio bisa sliding lagi.
Meskipun kakiku terasa lemas, kupaksakan untuk men-sliding kejantanan Rio
yang sepertinya makin lama makin mengeras. Melihatku sudah kecapean, Rio
memintaku untuk masuk ke bathtub dan kuturuti keinginannya supaya aku
kembali ke posisi doggie. Sebelum memasukkan kejantanannya, Rio membuka
kran air hingga keluarlah air dingin dari shower di atas, kemudian dengan
mudahnya dia melesakkan kejantanannya ke vaginaku untuk kesekian kalinya.

Bercinta di bawah guyuran air shower membuat tubuhku segar kembali,


sepertinya dia dapat membaca kemauan lawan mainnya, kali ini kocokannya
bervariasi antara cepat keras dan pelan. Tidak mau kalah, setelah terasa
staminaku agak pulih, kuimbangi gerakan sodokan Rio dengan menggoyang-
goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan atau maju mundur melawan gerakan
tubuh Rio. Dan benar saja, tidak lama kemudian kurasakan cengkeraman
tangan Rio di pantatku mengencang, kurasakan kejantanan Rio terasa
membesar dan diikuti semprotan dan denyutan yang begitu kuat dari
kejantanan Rio.

Vaginaku terasa dihantam kuat oleh gelombang air bah, denyutan dan
semprotan itu begitu kuat hingga aku terbawa melambung mencapai puncak
kenikmatan yang ke sekian kalinya. Kami orgasme secara bersamaan akhirnya,
tubuhku langsung terkulai di bathtub. Kucuran air kurasakan begitu sejuk
menerpa tubuhku yang masih berpeluh. Rio mengambil sabun dan menyabuni
punggungku serta seluruh tubuhku. Dengan gentle dia memperlakukan aku
seperti layaknya seorang lady hingga aku selesai mandi.

Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi menuju ranjang untuk
beristirahat. Kulihat Hendra sudah mengenakan piyama dan duduk di sofa
memperhatikanku keluar dari kamar mandi. Expresi di wajah Hendra tidak
dapat kutebak, tapi tiada terlihat sinar kemarahan atau cemburu melihat
bagaimana aku bercinta dengan Rio di kamar mandi selama lebih dari satu
jam. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang hangat, mataku sudah
terlalu berat untuk terbuka, masih kudengar sayup-sayup pembicaraan
Hendra sebelum aku terlelap dalam tidurku.

“Kamu hebat Rio, belum pernah ada yang membuat dia orgasme terlebih
dahulu, bahkan setelah bermain dengan dua orang.” kata Hendra ketika Rio
keluar dari kamar mandi.
“Ah biasa saja Om.” jawab Rio kalem merendah.
“Emang dia sering melayani 2 orang sekaligus..?” lanjut Rio.
“Ah bukan urusanmu anak muda, oke Rio, tugas kamu sudah selesai, uang kamu
ada di sebelah TV dan kamu boleh pergi.” kata Hendra.

“Om, boleh saya usul..?”


“Silakan..!”
“Kalau saya boleh tinggal dan menemani lebih lama bahkan sampai pagi, biarlah
nggak usah ada tambahan bayar overtime, aku jamin dia pasti lebih dari puas.”
usul Rio.
“Cilaka..,” pikirku.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan Hendra karena sudah terlelap dalam tidur
indah.

Entah sudah berapa lama tertidur ketika kurasakan sesuati menggelitik


vaginaku. Sambil membuka mata yang masih berat, kulihat kepala sudah
terbenam di selangkanganku yang telah tebuka lebar. Ah, Rio mulai lagi,
pikirku. Ketika aku menoleh ke sofa mencari Hendra, kulihat dia telanjang
duduk di samping Rio yang juga telanjang sambil tersenyum ke arahku. Jadi
siapa yang bermain di vaginaku saat ini, terkaget aku dibuatnya. Langsung
duduk kutarik rambutnya dan ternyata si Andre, teman Rio yang kusuruh
pulang bersama si pendek tadi.

Sebenarnya dia tidak terpilih bukan karena aku tidak tertarik, tapi aku harus
memutuskan satu di antara dua yang baik.
“What the hell going on here..?” pikirku, tapi tidak sempat terucap karena
permainan lidahnya sungguh menggetarkan naluri kewanitaanku.
Kubiarkan Andre bermain di selangkanganku dan kunikmati permainan
lidahnya, meskipun tidak sepintar Rio, tapi masih membuatku menggelinjang-
gelinjang kenikmatan.

“Ugh.., shh..!” aku mulai mendesis.


Kubenamkan kepala Andre lebih dalam untuk mendapatkan kenikmatan lebih
jauh. Andre menjilatiku dengan hebatnya hingga beberapa saat sampai kulihat
Rio berdiri dari tempatnya dan menghampiri Andre. Diangkatnya kakiku
hingga terpentang dan Rio mengganjal pantatku dengan bantal hingga posisi
vaginaku sekarang menantang ke atas.

Rio mengganti posisi Andre, menjilati vaginaku dengan mahirnya, kemudian


mereka berganti posisi lagi. Cukup lama juga Rio dan Andre menjilati vaginaku
secara simultan. Sensasinya sungguh luar biasa hingga aku larut dalam
kenikmatan. Jilatan Andre sudah berpindah ke daerah anusku, ketika Rio
menjilati pahaku terus naik dan berhenti untuk bermain di daerah vaginaku.
“Aahh.., gilaa.., aagh.., shit.. yess..!” aku terkaget, karena baru kali ini aku
dijilati oleh dua laki-laki di daerah kewanitaanku.
Bayangkan dua lidah dengan satu di anus dan satunya di vagina. Keduanya
begitu expert dalam permainan lidah. Aku tidak tahu bagaimana
menggambarkan dengan kata-kata, sensasi ini terlalu berlebihan bagiku,
bahkan terbayang pun tidak pernah.

Dengan penuh gairah mereka bermain di kedua lubangku, aku tidak tahu harus
berkata apa selain mendesah dan menjerit dalam kenikmatan birahi. Aku
mencari pegangan sebagai pelampiasan rasa histeriaku, tapi tidak kudapatkan
hingga akhirnya kuremas-remas sendiri buah dadaku yang ikut menegang.
Tidak tahan menahan sensasi yang berlebihan, akhirnya aku mencapai
orgasme duluan. Orgasme tercepat selama hidupku, tidak sampai penetrasi
dan tidak lebih dari 15 menit, suatu rekor yang tidak perlu dibanggakan.

Mulut Rio tidak pernah beranjak dari vaginaku, disedotnya vaginaku seperti
layaknya vacum cleaner.
“Shit.. Rio.. stop.. stoop..! Please..!” pintaku menahan malu.
Lidah Rio naik menelusuri perutku dan berhenti di antara kedua bukit di
dadaku, lalu mendaki hingga mencapai putingku. Dikulumnya lalu sambil
meremas buah dadaku dia mulai mengulum dan mempermainkan putingnya
dengan lidah mautnya.

Belum sempat kurasakan mautnya permainan lidah Rio, aku merasakan Andre
telah menyapukan kejantanannya di bibir vaginaku sebentar dan langsung
kejantanan Andre tanpa basa basi langsung melesak masuk ke vaginaku.
Kurasakan ada perbedaan rasa dengan Rio karena bentuknya memang
berbeda. Punya Rio besar dan melengkung ke kiri bawah, agak unik, sedangkan
Andre kecil panjang melengkung lurus ke atas, jadi disini kurasakan dua rasa.

Gila, kalau tadi siang kurasakan punya Rio yang banyak menggesek bagian
kananku, sekarang kurasakan bagian atas vagina menerima sensasi yang
hebat, karena kejantanan Andre mempunyai kepala yang besar, menyodok-
nyodok dinding vaginaku. Kedua kakiku dipentangkan dengan lebar oleh Andre,
Rio bertambah gairan bergerilya menjelajahi kedua bukit dan menikmati
kenyalnya bukit dan putingku yang makin menegang. Tangannya tidak henti
meremas dan mengelus kedua bukit di dadaku, sesekali wajahnya dibenamkan
di antara kedua bukitku seperti orang gemas.

Andre makin kencang mengocok vaginaku sambil menjilati jari-jari kakiku.


Aku menggelinjang makin tidak karuan diperlakukan kedua anak muda ini.
Kocokan dan remasan tanganku di kejantanan Rio makin keras mengimbangi
permainan mereka.
“Uugghh.. sshh.. kalian.. me.., me..mang gilaa..!” teriakku.
Permainan mereka semakin ganas mengerjaiku.

Kutarik tubuh Rio ke atas, kini Rio sudah berlutut di samping kepalaku,
kejantanannya yang tegang tepat ke arah wajahku. Segera kulahap
kejantanannya, sekarang aku mau mengulumnya karena kejantanan itu
terakhir kali masuk di vaginaku, tidak seperti saat pertama tadi, entah
dengan siapa sebelum aku. Seperti dugaanku, mulutku ternyata tidak dapat
mengulum masuk semua batang kejantanannya, terlalu besar untuk mulut
mungilku.

Rio sekarang mengangkangiku, kepalaku di antara kedua kakinya, sementara


kejantanannya kembali tertanam di mulutku. Dikocok-kocoknya mulutku
dengan penis besarnya seolah berusaha menanamkan semuanya ke dalam, tapi
tetap tidak bisa, it’s too big to my nice mouth, very hard blowjob. Kurasakan
kenikmatan yang memuncak, dan kembali aku mengalami orgasme beberapa
saat kemudian.
“Mmgghh.. mmgh.. uugh..!” teriakku tertahan karena terhalang kejantanan Rio,
masih untung tidak tergigit saat aku orgasme.

Tanpa memberiku istirahat, mereka membalikkan tubuhku, kini aku tertumpu


pada lutut dan tanganku, doggy style. Andre tetap bertugas di belakang
sementara Rio duduk berselonjor di hadapanku. Seperti sebelumnya, Andre
langsung tancap gas mengocokku dengan cepat, kurasakan kejantanannya
makin dalam melesak ke dalam vaginaku, pinggangku dipegangnya dan
gerakkan berlawanan dengan arah kocokannya, sehingga makin masuk ke
dalam di vaginaku. Antara sakit dan nikmat sudah sulit dibedakan, dan aku
tidak sempat berpikir lebih lama ketika Rio menyodorkan kejantanannya di
mulutku kembali.

Kedua lubang tubuhku kini terisi dan kurasakan sensasi yang luar biasa.
Dengan terus mengocok, Andre mengelus-elus punggungku, kemudian
tangannya menjelajah ke dadaku, dielus dan diremasnya dengan keras
keduanya sesekali mempermainkan putingku, kegelian dan kenikmatan
bercampur menjadi satu. Tidak ketinggalan Rio memegang rambutku,
didorongnya supaya kejantanannya dapat masuk lebih dalam di mulutku.
“Emmhh.., mhh..!” desahku sudah tidak keluar lagi, terlalu sibuk dengan
kejantanan Rio di mulutku.

Kugoyang-goyangkan badanku, pantatku bergerak berlawanan gerakan Andre


dan kepalaku turun naik dengan cepat mengocok Rio.
Tidak lama kemudian, “Shit.., aku mau keluar..!” teriak Rio sambil menarik
kepalaku ke atas, tapi aku tidak perduli, malah kupercepat kocokan mulutku
hingga menyemprotlah sperma Rio dengan deras ke mulutku, semprotannya
cukup kencang hingga langsung masuk ke tenggorokanku.
Tanpa ragu lagi kutelan sperma yang ada di mulutku, Rio mengusap sisa
sperma di bibir yang tidak tertampung di mulutku.

Kulihat senyum puas di wajah Rio, lalu dia bergeser ke samping, ternyata
Hendra sudah berada di samping ranjang, dia kemudian mengganti posisi Rio
berselonjor di hadapanku. Tanpa menunggu lebih lama lagi langsung kukulum
kejantanan dia yang basah, kurasakan aroma sperma, sepertinya dia habis
berejakulasi melihat permainan kami bertiga. Karena ukuran kejantanan
Hendra tidak sebesar punya Rio, maka dengan mudah aku melahap semua
hingga habis sampai ke pangkal batangnya, dan segera mengocok keluar
masuk.

Andre mendorong tubuhku hingga telungkup di ranjang, entah bagaimana


posisi dia dengan tubuhku telungkup, dia tetap mengocok vaginaku dengan
ganasnya. Hendra hanya dapat mengelus rambutku dan mempermainkan buah
dadaku dari bawah. Tidak lama kemudian Andre mencabut kejantanannya, dan
langsung berbaring di sebelahku. Aku mengerti maksudnya, sebenarnya
harusnya aku yang mengatur dia bukan sebaliknya, tapi toh kuturuti juga.

Kutinggalkan Hendra dan aku menaiki tubuh Andre, kejantanannya masih


menegang ke atas, kuatur tubuhku hingga vaginaku pas dengan kejantanannya
yang sudah menunggu, lalu kuturunkan pantatku dan bles. Langsung saja aku
bergoyang salsa di atasnya. Kini aku pegang kendali, pantatku kuputar-putar
sehingga vaginaku terasa diaduk-aduk olehnya. Andre memegangi kedua buah
dadaku dan meremasnya. Hendra berdiri di atas ranjang dan menghampiriku,
dia menyodorkan kembali kejantanannya, kubalas dengan jilatan dan kuluman.
Ternyata Rio yang sudah recovery tidak mau ketinggalan, dia berdiri di sisi
lainnya dan menyodorkan kejantanannya ke arahku. Kini tanganku memegang
dua penis yang berbeda, baik dari ukuran, bentuk dan kekerasannya, belum
lagi yang tertanam di vaginaku, aku sedang menikmati tiga macam penis
sekarang. Kupermainkan Rio dan Hendra secara bergantian di mulutku antara
kuluman dan kocokan tangan. Pantatku tidak pernah berhenti bergoyang di
atas Andre, sungguh suatu sensasi dan kenikmatan yang sangat berlebihan
dan rasanya tidak semua orang dapat menikmatinya.

Beruntungkah aku..? Entahlah, yang jelas sekarang aku sedang melambung


dalam lautan kenikmatan birahi tertinggi. Entah sudah berapa banyak cairan
vaginaku terkuras keluar. Andre belum juga memperlihatkan tanda-tanda
akan orgasme. Aku mengganti gerakanku, kini turun naik sliding di atasnya,
kulepas tangan kiriku dari penis Rio dan kuelus kantong pelir Andre untuk
menambah rangsangan padanya. Ternyata Andre melawan gerakanku dengan
menaik-turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga kejantanannya
makin menancap dalam, tangannya tidak pernah melepas remasannya dari
buah dadaku.

Rio bergerak ke belakangku, dielusnya punggungku dan elusannya berhenti di


lubang anusku. Dengan ludahnya dia mengolesi lubang itu dan mencoba
memasukkan jarinya ke dalam, sesaat terlintas di benakku bahwa dia mau
anal, berarti double penetration. Aku belum siap untuk itu, tidak seorang pun
kecuali suamiku yang mendapatkan anal dariku. Kuangkat tangannya dari
anusku, pertanda penolakan dan dia mengerti. Rio berlutut di belakangku,
didekapnya tubuhku dari belakang dan tangannya ikut meremas-remas buah
dadaku. Sambil menciumi tengkuk dan telingaku, kejantanannya menempel
hangat di pantatku, kini dua pasang tangan di kedua buah dadaku.

Karena didekap dari belakang aku tidak dapat bergerak dengan leluasa,
akibatnya Andre lebih bebas mengocok vaginaku dari bawah. Aku sudah tidak
dapat mengontrol tubuhku lagi, entah sudah berapa kali aku mengalami
orgasme, padahal masih dengan Andre. Ada dua lagi penis menunggu giliran
menikmati vaginaku, Rio dan Hendra, suamiku.

Tidak lama setelah mengocokku dari bawah, kurasakan badan Andre yang
menegang kemudian disusul denyutan keras di vaginaku. Begitu keras dan
deras semprotan spermanya hingga aku tersentak kaget menerima sensasi itu
hingga aku menyusul orgasme sesaat setelahnya. Begitu nikmat dan nikmat,
untung aku sempat mengeluarkan kejantanan Hendra dari mulutku sesaat
setelah kurasakan semburan Andre, kalau tidak hampir pasti dia akan tergigit
saat aku mengikuti orgasme. Tubuhku langsung melemas, aku langsung terkulai
di atas tubuh Andre. Rio sudah melepas dekapannya dan Hendra duduk di
samping Andre, sepertinya mereka menunggu giliran.

Napasku sudah ngos-ngosan, aku dapat merasakan degup jantung Andre yang
masih kencang, keringat kami sudah bercampur menjadi satu. Kejantanan
Andre masih tertanam di vaginaku meskipun sudah melemas hingga akhirnya
keluar dengan sendirinya. Rio menawariku lippovitan, penambah energi.
Setelah aku berbaring di samping Andre, berarti dia sudah bersiap untuk
bertempur denganku, segera kuhabiskan minuman itu, kesegaran memasuki di
tubuhku tidak lama kemudian.

“Gila kamu Ndre, ternyata tak kalah dengan Rio.” komentarku.


“Ah biasa Mbak, kita udah biasa kerjasama kok.” jawabnya.
“Makanya kompak kan Mbak, dan Mbak termasuk hebat bisa melayani kami
sendiri-sendiri dalam satu hari, dan barusan adalah satu jam 17 menit.” Rio
menimpali.
“Biasanya kami langsung main bertiga, dan itu tidak lebih lama daripada
sendiri-sendiri, paling lama setengah jam sudah KO.” kembali Andre
menambahi.

ku ke kamar mandi supaya badan segar, kuguyurkan air hangat di sekujur


tubuhku, kusiram rambutku yang tidak karuan bercampur bau sperma. Jarum
jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam ketika aku keluar dari kamar
mandi. Kulihat mereka duduk di sofa, Rio dan Andre di sofa panjang
sementara Hendra di sofa satunya, masih bertelanjang. Ketika aku datang
hanya berbalut handuk, ranjang sudah dirapikan, entah apa rencana mereka,
pikirku. Persetan yang penting aku dapat menikmati dan kuikuti permainannya.

Rupanya aku terlalu lama dan asyik mandi hingga tidak tahu kalau makanan
datang dan sudah tersaji di meja. Aku merasa lapar, maklum habis selesai
dengan Rio disambung sama Andre dan aku belum makan sejak tadi siang. Aku
duduk di antara Rio dan Andre, yang kemudian disambut tarikan handuk
pembalut tubuhku oleh Rio hingga terlepas. Keduanya langsung mencium pipiku
kiri kanan dan kusambut remasan di kejantanan mereka yang agak menegang.
“Makan dulu yuk..!” ajakku langsung ke meja.
Kami berempat bertelanjang makan bersama sambil bercerita pengalaman
mereka. Aku tidak berani makan terlalu banyak, takut kalau terlalu banyak
bergoyang jadi sakit perut, yang penting tidak lapar dan dapat menambah
energi nanti, sepertinya mereka melakukan hal yang sama.

Setelah istirahat selesai makan, kembali aku duduk di antara dua anak muda
itu. Kali ini mereka langsung mencium leherku di kiri dan kanan sambil
meremas-remas dadaku masing-masing satu. Hendra berdiri ke arah kami, dia
meminta Rio berpindah tempat, dan dia langsung melakukan hal yang sama,
menciumi leherku dan terus turun ke dada, sekarang Andre dan Hendra
mengulum putingku di kiri dan kanan.

Rio tidak mau jadi penonton, dia langsung bejongkok di antara kakiku,
melebarkannya dan lidahnya mulai menjelajah di vaginaku. Mungkin dia masih
mencium aroma sperma Andre karena memang tidak kubersihkan, tapi dia
tidak perduli, jilatan demi jilatan menjelajah di vaginaku, dipermainkannya
vaginaku dengan lidah dan jari tangannya. Kenikmatan mulai kurasakan,
foreplay dengan 3 orang sekaligus, akan mempercepat perjalanan menuju
puncak kenikmatan birahi.

Dengan kemahiran permainan lidah Rio, aku sudah terbakar birahi, kepalanya
kujepit dengan kedua kakiku supaya lebih merapat di selangkanganku. Aku
tidak mau kejadian tadi terulang lagi, layu sebelum birahi.
“Sshh.., Rio masukin Sayang.., sekarang..!” pintaku di sela kuluman Andre dan
Hendra di dadaku.

Tanpa menunggu kedua kalinya, Rio segera bangkit dan menyapukan kepala
kejantanannya ke vaginaku, ternyata Andre mengikuti Rio, dia stand by di
sampingnya sambil mementangkan kakiku lebar. Tidak seperti sebelumnya,
kali ini Rio langsung mengocokku cepat dan keras, aku langsung menggeliat
kaget, tapi segera mulutku dibungkam dengan ciuman bibir oleh Hendra.
Andre sambil memegangi kakiku, dia menjilati kedua jari kakiku secara
bergantian. Aku ingin menjerit dalam kenikmatan tapi tidak dapat karena
lidah Hendra masih menikmati bibirku.

Kocokan Rio bertambah cepat, iramanya susah ditebak karena terlalu banyak
improvisasi, aku kewalahan mengikuti iramanya, disamping memang dia expert
mempermainkan iramanya, dilain sisi aku juga sibuk menghadapi dua orang
lainnya. Hendra minta aku mengulum kejantanannya, maka kusingkirkan Rio
dari vaginaku, aku langsung jongkok di depan dia yang duduk di sofa, langsung
mengulum penisnya yang sudah tegang.

Rio tidak mau menunggu lebih lama, dengan doggy style dia mulai memasuki
vaginaku. Sodokan awal perlahan, tapi selanjutnya makin keras dan cepat.
Andre, aku tidak tahu dimana posisi dia, tapi yang kutahu dia stand by di
samping Rio. Kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti irama Rio, makin lama
makin terasa nikmatnya, cukup lama dia mengocokku dengan berbagai variasi
gerakan hingga ketika puncak kenikmatan hampir kurengkuh, tiba tiba dia
mencabut kejantanannya. Aku mau protes, tapi ketika kutengok ke belakang
ternyata Andre sudah bersiap menggantikan posisi Rio, dan sekali dorong
tanpa menunggu reaksiku amblaslah kejantanannya ke vaginaku.

Sekali lagi kurasakan perbedaan sensasi dari keduanya. Entahlah aku tidak
dapat menentukan mana yang lebih nikmat. Andre langsung menggoyang
sambil mengocokku dengan iramanya sendiri. Saat Andre sedang memacuku
dengan cepat, tiba-tiba Hendra menyemprotkan spermanya di mulutku,
terkaget juga aku, karena terkonsentrasi pada kocokan Andre hingga kurang
memperhatikan ke Hendra. Kujilati sisa sperma di kejantanan dia yang tidak
terlalu banyak.

Ternyata Rio sudah mengganti posisi Andre, kemudian mereka berganti lagi
begitu seterusnya entah sudah berapa kali berganti menggilirku hingga aku
sudah tidak dapat membedakan lagi apakah yang mengocok vaginaku Andre
atau Rio, keduanya sama-sama nikmat. Mereka tidak memperdulikan sudah
berapa kali puncak birahi sudah kurengkuh. Selama aku belum bilang stop,
mereka akan terus memacuku ke puncak kenikmatan.

Entah sudah berapa lama dengan doggy style, lututku terasa capek. Aku
merangkak naik ke sofa yang ditinggal Hendra, tetap dengan posisi doggy
sofa mereka tidak memberiku kesempatan bernapas. Melayani satu Andre
atau Rio saja aku sudah kewalahan, apalagi menghadapi mereka berdua secara
bersamaan, dan mereka begitu kompak melayani birahiku. Berulang kali
mereka mencoba memasukkan kejantanannya ke lubang anus, tapi selalu
kutolak dan kutuntun kejantanannya kembali ke vaginaku.

Kunikmati sodokan demi sodokan dari belakang entah dari Rio atau Andre
hingga tiba-tiba kurasakan perbedaan yang drastis, begitu kecil dan rasanya
seperti hanya masuk separoh saja kocokannya. Aku menoleh kebelakang,
ternyata Hendra ikut bergiliran dengan mereka. Ternyata mereka melakukan
permainan. Ketika Hendra sedang mengocokku, Rio dan Andre mengundi siapa
berikutnya, begitu juga ketika Rio menyodokku, Hendra dan Andre mengundi
berikutnya, begitu seterusnya. Aku berharap supaya Hendra tidak pernah
menang.

Waktu giliran ternyata ditentukan tidak lebih dari 3 menit untuk orang
berikutnya, yang orgasme duluan harus merelakan diri jadi penonton. Entah
sudah berapa lama berlangsung, lututku sudah lemas, tapi serangan dari
belakang tidak menurun juga, aku heran juga ternyata Hendra dapat sedikit
mengimbangi permainan Rio dan Andre. Dan benar dugaanku, tidak lama
kemudian ketika si penis kecil sedang mengocokku, kurasakan denyutan-
denyutan di dinding vaginaku dan kudengar teriakan Hendra pertanda dia
orgasme. Kemudian kembali vaginaku berganti penghuni secara bergantian.

Mereka melakukannya dengan kompak, banyak lagi variasi yang dilakukan


mereka kepadaku, baik di ranjang, di meja makan, sambil berdiri menghadap
dinding, mereka lebih suka melakukan secara simultan. Ketika aku hampir
menghentikan permainan, mereka memberi tanda supaya aku berjongkok di
antara mereka dan dengan sedikit bantuan kuluman dan kocokan pada
kejantanan mereka secara bergantian, akhirnya menyemprotlah sperma
mereka secara hampir bersamaan. Semua memuncrat ke wajah, sebagaian
masuk mulut hingga ke tubuhku. Aku sangat menikmati ketika semprotan demi
semprotan menerpa wajah dan tubuhku, terasa begitu erotic.

Kami semua rebah di ranjang, jarum jam menunjukkan 01,30 dini hari, berarti
sekitar dua jam bercinta dengan tiga orang sekaligus, sungguh permainan
yang indah dan jauh memuaskan. Satu persatu tertidur kelelahan masih dalam
keadaan telanjang.

Tidak lama mataku terpejam ketika kurasakan ciuman di mulutku, Andre yang
sudah menindihku berbisik, “Boleh nggak aku minta lagi.” bisiknya pelan di
telingaku.
Tanpa menjawab, kubuka kakiku dan dengan mudahnya dia memasukkan
kejantanannya ke dalam. Dengan goyangan perlahan seperti menikmati,
ternyata tidak lama dia sudah orgasme, ternyata bisa juga dia orgasme
dengan cepat, mungkin 15 menit. Kemudian kami kembali tertidur.
Tidak lama kemudian kejadian tadi terulang lagi, kali ini dengan Rio. Dengan
cepat pula dia menuntaskan hasratnya. Ketika kami semua terbangun pukul 10
pagi, rasanya aku belum lama tidur, Kulihat Hendra sudah memakai pakaian,
sementara Rio dan Andre masih telanjang berbincang dengan Hendra.

“Pagi Sayang, bagaimana mimpi indahmu..?” tanyanya.


“Terlalu indah untuk sebuah mimpi.” jawabku yang langsung ke kamar mandi
untuk berendam menghilangkan lelah.
Tidak lama kemudian ketika sedang asyik berendam, muncullah Rio dan Andre
di pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci.

“Mau ditemenin mandi Mbak..?” tanya Andre.


“Pasti asyik kalau mandi bertiga.” sambung Rio.
Dan akhirnya sudah dapat diduga, kembali kami melakukan permainan sex
bertiga, tapi kali ini dilakukan di kamar mandi, ternyata sensasinya berbeda
dari tadi malam. Banyak juga aku belajar variasi baru. Bertiga di kamar mandi,
baik itu di bathtub, shower ataupun di meja westafel kamar mandi, sungguh
pengalaman yang luar biasa. Cukup lama juga kami bercinta di kamar mandi
hingga akhirnya Hendra mengingatkan kami waktu check out.

Pukul 12 siang kami sudah bersiap untuk check out. Ketika Rio dan Andre
sedang berpakaian, ternyata Hendra memintaku sekali lagi untuk ‘quicky’.
Dengan membuka pakaian seperlunya, kami kembali bercinta disaksikan kedua
gigolo itu. Namanya saja quicky, maka tidak sampai sepuluh menit dia sudah
menyemprotkan spermanya di vaginaku, dan segera memasukkan kembali
kejantanannya di balik celananya dan tanpa membersihkan lebih lanjut. Aku
menngenakan kembali celanaku yang merosot tadi, dan kami check out hotel
secara bersama-sama, tidak lupa setelah menukar nomer HP masing-masing
dengan kenangan yang indah.

Sejak saat itu aku sering meminta Rio ataupun Andre atau mereka berdua
untuk menemaniku kalau aku lagi perlu penyegaran. Soal ‘bisnis’ dengan
mereka sepertinya sudah tidak menjadi point utama lagi. Dan belakangan aku
tahu kalau Rio juga penggemar media ini, salam sayang untuk Rio apabila kamu
membaca cerita ini (nama sudah disamarkan sehingga yang bersangkutan saja
yang tahu). Maaf aku tidak minta ijin dulu, tapi kukira kamu tidak keberatan
kan Sayang. Salamku untuk Andre juga.

TAMAT
namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di
Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku
tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang.
Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau
bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA
(sekarang SMU).

Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru-guru dari kelas
yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian
adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda,
sekitar 25 tahunan. Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih,
hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut lurus yang di potong
pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.

Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang
cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku
sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah
meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas
menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak
menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang
senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan
paha dan betisnya yang mulus.

Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di
atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga
aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan
kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih.
Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan ‘show’ yang sedang
dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-
temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut.
Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan
serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku
sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan
jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku.
Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih
setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa,
sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah.
Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke
depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. “Sudah
selasai?” katanya sambil tersenyum. “Sudah, bu….” jawabku sambil membalas
senyumnya. “Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?” dia bertanya
mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua
pembicaraan dengan berbisik-bisik. “Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?”
kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. “Kita ketemu nanti di
depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?” katanya sambil tersenyum
simpul. Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas
dingin.

Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty


mendekati tempatku berdiri dan berkata, “Bud, kamu ikuti saya dari
belakang” Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan
pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan
sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti,
menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. “Kamu benar-
benar ingin melihat lagi?” tanyanya memecah kesunyian. “Lihat apa bu?”
jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi
pagi. “Ah, kamu, suka pura-pura…” Katanya sambil mencubit pinggangku pelan.
Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak
tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas
meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat.

Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah
lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen
bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan
kunci dan membuka pintu. “Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan
kunci kembali pintunya!” Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa
banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di
sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat,
ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga
memperlihatkan BH-nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih,
buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan
mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia
memanggilku. “Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…” katanya sambil
membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati
berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil
sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan
posisi membelakangiku. T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus
tubuhnya yang wangi.

Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan
risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling
parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam
celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia
membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar
celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan
perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku.
Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok,
hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty
dan sedikit meremasnya, gemas.
“Udah nggak sabar ya, Bud?” Kata bu Netty.
“Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….”
“Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?”
“Iya bu, eh, teh Netty”
Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty
dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat
dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran
kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh
sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya
membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat
semuanya serasa dalam mimpi.
“Gimana Bud, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-
liukkan pinggulnya.
“Kok kamu jadi bengong, Bud?” Lanjutnya sambil menghampiriku.
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan
mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama.
Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya,
aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….” Gumamnya ditengah
ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan
kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat
menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan
kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh”
Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke
pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan
mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu
kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya,
kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya
dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah
sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah
masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku
dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per
satu. Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku,
kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-
abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang
sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T-shirtnya yang baru dia
pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga
sekarang dia sudah telanjang bulat.

Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan
kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan
tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak. Aku terpaku melihat
tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh
telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku
mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya
melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan
itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya
rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping
dan membulat sangat sexy. Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang
sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang
mengkilap karena basah.

Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar


porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip
kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena
takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada
dasarnya aku tidak suka mengintip.

Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan


mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu-bulu kasar, bahkan ada banyak bulu
yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya
belasan centi. “Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya
lagi di batangnya” katanya sambil menghampiriku.
Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih
kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil
mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah
dikulumnya. Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. “Oooohhhh….
enak teh….” rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan
kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan
akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam
tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar
masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak
tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku. Spermaku menyemprot ke
dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu
tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya
jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi.
“Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!” Teriakku tak tertahankan lagi.
“Gimana? enak Bud?” Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari
kemaluanku.
“Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas.
“Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh” lanjutku sedikit
memohon.
“Boleh…,” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan
dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai. Aku
langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku,
tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin
pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan
rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat
vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya
dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku.
“Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan,
aaaaauuuuuhhhhhh!” Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit
kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat
tersebut. Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak
terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya
mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku
hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi
tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit
kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat
lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang
sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan
mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku.

“Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar
darimana?” Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang
banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet.
Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang
dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan
kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah
serta licin itu.
“Aku masukin ya teh?” Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku
melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku.
“Oooohhhh…” rintihnya,
“Aaaahhhh…” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika
kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku.
Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk
seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke
pangkalnya. Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang
tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya,
matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal-
senggal.
“Ahh-ahh-ahh auuuu!” Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya
hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di
tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam
bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku
bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri
dan kanan. Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan
kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya
saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy.

Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan


kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai
akhirnya, “Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh…
aaahhhhh” teriakannya semakin kacau.
Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu,
vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang
sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan
seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu. Bu Netty
sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku.
Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul,
aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu
beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya
menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam
dalam permainan yang panas.

Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan


seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat
gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan.
Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking
lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan
diriku berbaring di sebelahnya.

Sejak kejadian hari itu, aku sudah tidak lagi melakukan masturbasi, kami ML
setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku,
dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya
kehilangan mahkotanya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku
lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho). Saat kutanya, apa tidak takut
hamil?, dengan santai dia menjawab, bahwa dia sudah rutin disuntik setiap 3
bulan
Nama ku vivi (nama samaran), aq 23 tahun, chinese, 165 cm, 52 kg,
perawakkanku langsing dengan kulit putih rambut pirang sebahu, aq terbilang
cantik, dan aq bangga akan keindahan tubuhku yang selalu dengan telaten aq
rawat dan akan aq persembahkan kepada suamiku, keluargaku biasa
memanggilku dengan nama cinta, aq ibu rumah tangga, baru menikah +/- 1
tahun. Ko Andi (nama samaran) Suamiku pekerja keras dan termasuk
workakholic, sehari harinya habis waktunya di depan komputer asik mengutak
atik desain bangunan. aq sangat mengenal dan mencintai suamiku, seperti
pasangan muda pada umumnya kagiatan kami pada awal2 pernikahan selalu
disibukan dengan kegiatan bercinta, tiada hari tanpa bercinta dan aq selalu
dibuatnya puas, kadang kami bercinta di dapur, kamar mandi dan disetipa
tempat sudut rumah, sehingga aq selalu teringat apabila keruangan tersebut
kami pernah berinta di sana.

sampai suatu hari suami ku memanggil aq dan dengan sabar dan penuh cinta
membelaiku, aq masih ingat itu haru ulang tahunku dibulan februari 2010, aq
terharu dia begitu mengingat hari2 istimewa kami, seperti hari
pernikahan,hari ulahku, dll. Kembali ke acara perayaan ultah ku yang hanya
ada kami berdua, “Cin…kamu jangan kaget ya, kakak pikir kamu harus mulai
mengetahuinya sekarang,”ada apa sih kak?? emang ada apa? tanyaku. Kakak
tadi tes ke dokter spesialis androlog untuk mengetahui kesuburan benih
kakak, kamu tau kan kalau selama ini sudah 1 tahun kita menikah tapi kamu
belum hamil, (suamiku terlihat lesu dan tertunduk) dari hasil tes ternyata
kakak mandul,sperma kakak tidak mengandung zigot untuk membuat mu
hamil.” Jujur pada saat itu aq sangat langsung memeluk suamiku karena dia
menangis, aq membelai rambutnya dan sangat menyayanginya, aq sangat
mencintainya, aq memberikan harapan² dan pikiran positif untuk
membesarkan hatinya, kami mulai mencari cari majalah dan situs di internet
mengenai cara dan metode yang dapat meningkatkan kesuburan laki².
Sebulan..dua bulan berlalu…., satu tahunpun telah lewat, ko andi tembah
terlihat putusasa, dia menengglamkan diri dalam pekerjaannya.

Semakin lama dia semakin cuek pada diriku, aq mengerti perasaan dan
kekecewaan pada dirinya sendiri, aq terus mnoba memberikan dukungan
moral, tapi justru dari hari kehari ko andi semakin mengucilkan dirinya dan
menjauhi diriku.
Lama kelamaan aq menjadi ga tau harus berbuat apa, aq hanya terdiam dan
menyibukkan diri dengan kegiatan sebagai ibu rumah tangga, masak memasak
menjadi pilihanku. Pagi dansiang hari rumahku selalu ramai dikunjungi
ibu²yang mau belajar masak lauk pauk dan kue, selain menambah pendapatan
aq, juga mnghibur diriku yang merasa sepi dikucilkan suamiku, aq selalu
tertawa terpingkal pingkal melihat ulah anak² nakal yg ikut serta diajak
mamanya, aq pngn memiliki anak yang lincah seperti mereka, aq selalu berkata
seperti itu dalam hatiku.

aq perhatikan semakin lama ibu² yang datang belajat semakin banyak,


suamiku sendiri setiap hari tingkahnya menjadi jadi, sering pulang tengah
malam, aq sering takut ditinggal sendiri dirumah apabila telah malam, rumah
telah sepi, hanya ada aq sendiri dan televisi yang menemaniku, seringaq
tertidur di kursi sofa ruang tamu, aq sering menangis sendiri mengingat ko
andi yang tega membuatku merasa sendiri dan sepi, kalaupun dia pulang
tengahmalampun aq sapa dan aq sediakan makan malam walaupun ia diam
seribu bahasa. aq menghibur hatiku dengan gelak tawa ibu² dan anak²
mereka kesokkan harinya, tapi aq selalu takut apabila sore danmalam
menjelang karena aq akan sepi sendiri lagi.

Suatu pagi aq terbangun menyusuri perkarangan rumah dan sekitar rumah


kami, aq mulai melihat dan menyadari suasana rumahku semraut, banyak
tanaman dan rumput liar tumbuh di perkarangan rumahku, tanaman dan
bunga² kesayanganku mulai banyak yang ayu dan mati, padahal aq sangat suka
bunga². aq memutuskan harus mencari seorang tukang kebun, malam hari
suamiku pulang aq segera mengutarakan isi hatikukepada suamiku, tapi
seperti biasanya ditanggapi dengan dingin.

Besoknya pagi² aq memutuskan pergi ke surat kabar harian setempat


memasang iklan “mencari tukang kebun yang berpengalaman”aq mulai gelisah
saat sudah memasuki hari ketiga belum jugaada yang datang melamar menjadi
tukang kebun. Esoknya dihari keempat sore sekitar jam 5 datang seorang
bapak yang aq pikir umurnya sekitar 55 tahunan, orangnya lusuh dan dekil
dengan wajah memelas, aq pikir dia adalah pengemis dan segera aq kasih uang
10 ribu, tapi dia tersenum, bapak itu malah bertanya, apa ini rumah bapak
andi? iya jawab saya, ada apa pak? tanyaku berbalik. Bapak ingin bekerja jadi
tukang kebun disini seperti yang terpasang diiklan koran ini nak…Awalnya aq
menolak karena penampilannya yang udah dekil dan bau, tapi ntah kenapa aq
kasihan melihat bapak itu, aq bertanya” emang bapak sanggup bekerja? nama
bapak siapa?, jawab bapak itu, nama saya ujang, iya bapak masih kuat kerja
kok nak…hanya saja bapak sekarang belum makan, bapak boleh minta makan?

Setelah berpikir sejenak aq mempersilahkan bapak ujang masuk, aq


mempersilahkannya untuk duduk”tapi bapak punya rumah dimana?tanyaku,
Rumah Bapak di Sulawesi, Bapak kesini mencari kerja, tapi yang ada malah ga
bisa pulang lagi ke Sulawesi, bapak ga pnya istri dan anak, karena semasa
muda bapak dihabiskan dengan merantau ke mana mana, bapak suka berjalan
sesuka hati kemana aja, tapi ya beginilah nak, ternyata baak tua dijalan, umur
makin hari makin bertambah, fisik bapak semakin berkurang. Bapak merasa
sudah saat nya bapak mencari pekerjaan yang menetap, maaf kalau oleh
berarti bapak harus menginap di rumah ini kalau anak mengijinkan (kepala pak
ujang tertunduk). Aq tidak berani ambil keputusan pak, ntar aq harus tanya
suamiku dulu ya jawabku, sementara bapak malam ini tinggal aja disini, ntar aq
ambilkan handuk, dan peralatan mandi untuk bapak.

aq segera kembali membawa peralatan mandi pak ujang dan pak ujang segera
membersihkan tubuhnya, aq mencari cari baju bekas yang sudah lama tidak
dipakai suamiku karena aqmelihat baju pak ujang udah kumal dan tidak
membawa baju yang layak dipakai lagi, bila ia kerja ditempatku tentu ia harus
bersih kan pikirku. Pak ujang, ini bajunya ya diganti, kalau mau dicukur jangut
ma kumis pak ujang ini pisau cukurnya ya(aq mngambil pisau cukur suamiku
yang tidak terpakai lagi tapi aq tau masih cukup baru), pak ujang tersenyum
melihatku dan mengambilnya dengan segan, aq bertanya, kenapa pak? kok
tersenyum? ada yg lucu yaaq sambut juga dengan tersenyum”. Ga kok, bapak
udah lama ga menerima kebaikkan seperti ini…ohhhh jangan begitu pak, aq
sudah biasa sebagai ruinitas melayanin suami seperti ini, jadi aq tau keperluan
laki² seperti apa jawabku singkat.

aq segera menuju ruang tamu menonton teleisi sementara pak ujang


membersihkan dirinya, hari mulai malam sekitar jam 19.00 wib, aq mulai
menyiapkan makanan. Aq tersenyum melihat pak ujang telah rapi dan bersih,
janggutnya telah tidak ada lagi, tapi kok kumisnyamasih ada sih pak ?
tanyaku? bapak ga percaya diri kalau ga ada kumis ini nak “jawab pak ujang,
aq mempersilahkan dia makan, ayo pak, makan dulu ya, yang kenyang ya”
senyumku. pak ujang mulai menyendok nasi dan gulai kemudian duduk dilantai,
aq agak risih melihatnya duduk dilantai sementara aq duduk dimeja, karena
pak ujang tidak mau duduk dimeja sama sepertiku.
Kebiasaanku memakai rok mini atau celana pendek dirumah membuatku tidak
sadar kalau sekarang ada laki² lain dalam rumah ini yang memperhatikanku,
sambil makan kami asik bercerita mengenai riwayat hidup pak ujang, aq baru
tersadar dan malu saat melihat sorot matanya ke bawah meja, saat itu aq
memakai rok jeans mini, aq merapatkan kakiku, pak ujang terlihat maalu
karena aq tau arah matanya yang menatap paha dalamku, suasana terasa
mencair dan akrab karena pak ujang pandai membuatku tertawa dan
tersenyum saat kami saling bicara di meja makan walaupun makan telah uasai,
pak ujang tetap duduk dilantai.

jam menunjukkan pukul 10 malam, ga terasa ya pak ujang sekarang dah malam,
aq mau tdur, kamar bapak dibelakang ya pak…kami pun bergerak ke kamar
kami masing², jam 02 dini hari suamiku pulang dan lgsung tertidur, besoknya
saat makan pagi aq perkenalkan suamiku dengan pak ujang. tapi seperti yang
aq duga ditanggapi dengan hambar dan suamiku langsung pergi keluar rumah,
aq menghela nafas.

aq memutuskan seminggu ini aq ingin istirahat dan santai, aq menelpon ibu²


bahwa seminggu ke depan tidak ada latihan memasak. aq ingin membersihkan
isi roumah agar rapi dan indah, sementara pak ujang tanpa perlu aq suruh²
lagi pagi² jam 7 sudah mulai membersihkan dan merapikan tanaman,
memberikan pupuk dan menebang dahan yang lapuk sementara aq
membersihkan rumah .aq merasasangat senang karena ada yang menemani
pekerjaanku di saat² penat aq duduk di teras rumah memperhatikan pak
ujang yang sedang bekerja, aq mulai suka dengan pribadi pak ujang yang
pandai mencari cerita dan bahan tertawaan, banyak dari pengalaman hidupnya
yang cukup menggelikan dan menakutkan seperti dikejar preman,
pamongpraja, dll,aq jadi larut dalamceritanya, kadang hampir keluar air mata
inikarena sedih, tapi juga kadang karena tertawa terpingkal pingkal.

tapi seperti malam tadi aq perhatikan pak ujang selalu melirik tubuhku , aq
memakai celana sangatpendek sepangkal paha dan tanktop yang apabila
menunduk akan terlihat payudaraku, tentu aq harus menjaga sikap yang sopan.
Capek aq segera mandi dan masuk ke kamar mandi dan tidur, dikamar mandi
aq membuka seluruh bajuku dan meletakkannya di ember pakaian bekas
selesai mandi aq masuk kekamar tidur, aq bisa melihat pak ujang masih sibuk
bekerja, aq tertidur akhirnya….
Aq terbangun jam 4 sore, tidak terasa aq telah tertidur +/- 1 jam, aq lihat
pak ujang masih membersihkan rumput dari daun² kering dan ranting² bekas
potongan tadi, pak ujang berjalan menuju pohon mangga, ohhh tidak aq tidak
sengaja melihat dia membuka resleting celananya dan ia mengeluarkan
kejantanannya untuk buang air kecil, awalnya aq malu, tapi aq penasaran,
karena selama ini belum pernah melihat kejantanan laki² lain selain milik
suamiku, aq betul² kaget, milik pak ujang cukup besar pdahal itu pada saat
dia buang air kecil, bagaimana kalau lagi ereksi ya “batinku…aq melihat sampai
diaselesai buang air kecil dan menyimpan kembali kjantanannya dalam
celananya.

Penglihatan tadi cukup membuat ku terganggu, selama ini aq belum pernah


melihat yang gagah seperti tadi, belum lagi udah setahun ini aq tidak pernah
melakukan hubungan intim dengan suamiku. Ntah kenapa aq mulai masuk ke
kamar mandi aq ingin membersihkan kewanitaanku yang mulai basah. dikamar
mandi aq ambil tissue dan membersihkan kewanitaanku,tapi kemudian mataku
menangkap yang lain, aq mlihat ada noda putih di celana dalam dalam ember
cucian ku, aq ambil dan aq lihat lebih dekat, aq atu apa ini pikirku….ini
sperma…tapi kan suamiku ga ada, siapa ya yang buang spermanya di celana
dalamku, pikiranku segera tertuju dengan pak ujang, aq mulai gelisah dan
takut.

hari mulai malam, sekitar jam 6 sore mati lampu, aq paling tidak nyaman kalau
lampu mati. Pakk ujannhgg panggilku, pak tolong idupin lampu emergency ya,
iya nak “jawab pak ujang, aqmenunggu tapi lampu emergency ga juga menyala,
napa sih pak, kok belum idup”tanyaku???ga tau juga ya nak..jawab pak ujang.
Aqbaru teringat kalau lampu itu belum pernah dicas karena memang tidak
pernah mati lampu. Akhirnyaaq mmutuskan penerangan menggunakan lilin. pak
ujang duduk di lantai, sementara aq duduk di sofa, aq berbicara ttg apa aja
dg pak ujang ttg apa aja, dan jjur sangat menyenangkan, aq lupa kalau
tertawa pahaku kadang terangkat dan terbuka, lama² aq suka melihatnya
penasaran mengintip kewanitaanku, aq melihat duduknya mulai gelisah.

pak ujang jagan panggil nak, panggil aq cinta ya pak..iya non cnta kata pak
ujang, pak ujang, cnta udah mau tidur, pak ujang mau tdur? tanyaku, iya non
tidur aja, bapak juga mau masuk kamar, lalu kami masuk ke kamar masing².
Lampu juga tidak kunjung menyala, mulai gelisah, hujan mulai turun tambah
deras disertai petir menyambar, ketakutanku makin menjadi jadi, aq berpikir
lebih baik panggil pak ujang buat menjagaku. ketakutanku membuat aq lupa
menganti baju dan hanya memakai baju piyama (tentu memakai pakaian dalam)
dengan tali tengah melingkari pinggulku

Tok tok tok rok tok…aq mengtuk pintu kamar pak ujang..ga berapa lama pak
ujang membuka pintu, samar²terlihat pak ujang keluar memakai sarung, maaf
pak menganggu, aq takut dan ga bisa tdur pak…pak ujang jaga aq ya (aq
berkata penuh harap), pak ujang terlihat bingung, mksud non cnta apa ya…
bapak udah ngantuk mau tidur..”jawabnya, ya udahpak, kalau boleh aq tidur
diatas bapak tidur dibawah ya…jawabku sekenanya.

Pak ujang mempersilahkan aq tiur dikasurnya dan dia tidur beralaskan tikar di
lantai, aq suka tidur menyamping, tapi aq juga ga bisa tidur, mungkin karena
suasana kamar yang sumpek berbeda dengan kamarku yang wangi dan sejuk.

Hujan semakin deras dengan petir yang menggelegar. samar²aq merasakan


ranjang tempatku tidur mulai bergerak naik turun seakan akan ada yang
menaiki , ntah kenapa aq masih bepura pura tidur, hatiku mengatakan pak
ujang mulai bertingkah, salahku aq berbisik dalam hati, sekarang sudah
terlambat, mungkin dia sudah sangat nafsu dengan aq pikirku. aq masih coba²
berpurapura tidur.

Pelan² piyamaku terasa itarik dibagian kaki sampai pinggul sehingga buah
pantatku pasti terlihat oleh pak ujang. aq merasakan hembusan nafasnya
dipantat dan selangkanganku, ohhhh tidakkk yang aq takutkan mulai terjadi,
lidah dan kumis pak ujang menyapu vaginaku dengan lembut dan hangat,
begitu lama dan lembut dia menjilat vaginaku, yg aq heran kan aq pake celana
dalam(terakhir aq baru tau kalau celana dalam ku diguntingnya dibagian vagina
ku) lidah itu menerobos memasuki lubang vaginaku, lidahnyaterasa kasar dan
besar, vaginaku mulai terasa basah, tapi aq menyembunyikan kenikmatan ini,
aq masih bersikap seolah olah tertidur, kira² setngah jam kemudian aq
merasakan kejantanannya mulai digesek gesekkan ke pantatku, bagaimana dia
mengawiniku kalau posisi durku menyamping begini ?”tanyaku dalam hati,
jawabnya segera aq temukan, pelan² vaginaku ditekan rudalnya yang
hangat,awalnya aq deg²an tapi kemdian berubah menjadi panik, aq merasa
rudalnya sangat besar, vaginaku seakan akan terbelah sangat nyeriii””aq
mengigit bibirku sendiri, rudal itu sangat keras dan berdenyut denyut, aq
khawatir vaginaku tidak dapat menampung rudalnya, rudal itu terus memasuki
diriku tanpa ampun, terasa seluruh dinding vaginaku sesak oleh desakan
rudalnya, terusssss…. jauh memasuki tubuhku sampai dibagian yang belum
pernah dimasuki oleh suamiku, ohh tidakkkk!!!!desisku dalam hati, nikmatnya
luar biasa, terus masuk sampai mentok ke rahimku,,,, panjang banget!!!!

pak ujang menghentikan tusukkannya setelah meyentuh rahimku, sambil


\kelamin kami menyatu dia tidur disampingku tanpa bergerak, rupanya dia
ingin menikmati saat² menyatunya kelamin kami, lama aq menunggu apa yang
akan dilakukan nyalagipada kelaminku, terasa rudalnya makin mengeras dan
berdenyutdenyut kencang dalam vaginaku, sementara vaginaku mulai
bertambah basah, dia sengaja mempermainkanku desisku dalam hati.

kira² 15 menit kemudian pak ujang mulai menaik dan memasukkan rudalnya, aq
ingin merintih dan mjerit nikmat tapi tertahan krn menjaga harga diriku, aq
menikmati vaginaku dikawini dengan lembut dan mesra . Rudalnya begitu pelan
dan lembut keluar masuk mengawini kelamin betinaku, ntah mengapa aq
menangis pelan, pak ujang mengetahuinya dan mengusap air mataku, semua
sudah terjadi’ kata ku dalam hati…. sambil mengawiniaq dengan lembut pak
ujang menciumku, aq mulai membuka mataku menatap sayu ke mata pak ujang.

kemudian aq menatap ke bawah melihat vaginaku yang putih sedang proses


dikawini rudak pak ujang yang hitam besar, aq takjud melihat ukurannya
rudalnya, pantas vaginaku terasa sakit sekali, ukurannya sangat besar dan
bengkok ke atas. Pelan² ya pak lirihku pada pak ujang, aq mulai merubah
posisi menjadi terlentang sehingga pak ujang lebih leluasa mengawiniku..aq
tidak malu²lagi, aq mulai menjerit nikmat saat pak ujang menarik dan
menusuk vaginaku dengan agak cepat. pak ujang berkata”memek non sempit
banget,putih lagi, bapak suka, memek non tebel banget”aq tambah horny di
katakan seperti itu, +/- jam pak ujang mengawiniku, pakkk desisku…cinta mau
dibuahi sama pak ujang….cnta mau hamil pak…beri cinta anak please….

Aq kaget pak ujang dengan semangat memompa vaginaku dengan cepat dan
menyemburkan spermanya , vaginaku terasa hangat…nonnn kntol bapak tidak
akan bapak cabut ampe pagi ya biar non bisa hamil…(kelamin kami menyatu
sampe pagi ) kami kemudian tertidur.

Dini hari aq terbangun dan panik karena tau jam segini biasanya dia udah
pulang, tapi bgtu akan bangun trasa ada yang menempel, aq lihat rudal pak
ujang masih dalam vaginaku, aq coba lepas tapi malah membuat pak ujang
terbangun, pak please nanti suamiku tau, rupanya grakannku yang menarik
vaginaku untuk melepas rudalnya membuat rudalnya bangun, dengan cepat
rudalnya mengeras, aq terpekik saat aq ditarik dan dipeluknya dengan kuat aq
dikawini sampe aq terkencing kencing (krn aq menahan pipis), pak ujang
menyuruhku brjalan dengan pelan ke kamarku sambil mengawini diriku, pelan²
jalanku satu² langkah ke kamar tidurku, terlihat suamiku tertidur pulas, aq
disuruh mngangkat kakiku sebelah dan menaruhnya di atas meja rias sehingga
aq berdiri dalam possisi kaki mengangkang sebelah, aq melihat suamiku
tertidur pulas di depanku….kira² 10 menit kemudian rahimku kembali dibuahi
pak ujang, aq mengejang nikmat menikmati klimaksku…dan tertidurdi
ranjangku. sedangkan pak ujang kembali ke kamarnya
Aku dan istriku tak pernah memiliki apa yang anda biasa sebut dengan
kehidupan seks yang menarik. Saat kami melakukan seks, biasanya hanya
dalam posisi yang wajar saja. Irama kehidupan seks kami yang boleh
kukatakan membosankan itulah, aku mulai berfantasi tentang ‘hal dan orang
lain’. Untuk bahan fantasiku, aku membiasakan menonton film porno di malam
hari setelah semua orang di rumah tidur.

Yang mengejutkanku, kebanyakan film porno itu selalu melibatkan seorang


gadis muda. Dalam usia kepala tiga, aku tak pernah memikirkan wanita yang
lebih muda sampai aku menyaksikan film-film itu. Aku sadar kalau ternyata
gadis-gadis muda sangatlah panas.

Hal lain yang menarik perhatianku adalah kenyataan kalau permainan lesbian
sangat populer. Aku mulai tertarik dengan gadis muda yang mencumbui vagina
gadis muda lainnya yang lembut, basah, dan biasanya tak berambut.

Melihat film-film itu untuk berfantasi mulai mengubah kehidupanku. Aku


mempunyai tiga orang anak gadis yang beranjak remaja. Aku mulai
memperhatikan mereka, kulihat cara mereka berpakaian, cara jalannya, dan
segala tingkah laku mereka. Mereka menjadi obsesiku sendiri! Kuamati lebih
detil saat mereka bangun pagi untuk melihat putingnya yang mengeras di balik
pakaian tidur mereka. Kunikmati puting mereka yang terayun saat mereka
berjalan-jalan dalam rumah. Aku terus mengamati mereka sampai semuanya
beranjak menjadi seorang gadis muda yang sempurna.

Yang tertua adalah Irma. Dia mempunyai puting yang paling besar, branya
mungkin D-cup atau lebih besar. Dia sesungguhnya tak terlalu cantik, tapi
enak dipandang. Aku yakin teman-teman cowoknya banyak yang
memperhatikan dadanya. Irma juga mempunya pantat yang kencang dan
besar. Tapi meskipun dia yang paling tua di antara saudara-saudaranya, dia
sering bertingkah seperti gadis berusia separuh umurnya.

Yang paling muda Tia. Tia mungkin yang paling cantik di antara ketiganya.
Masalahnya adalah dia pemalas, hanya duduk dan tak mengerjakan apa pun
sepanjang waktu. Jadi pantatnya menjadi melebar..? Putingnya baru mulai
tumbuh. Dan di samping itu dia tomboy, aku jadi mempertanyakan jenis
kelaminnya. Dia lebih suka berada di antara cowok daripada cewek.
Eva yang di tengah, di antara anak-anakku, bentuk tubuhnya lah yang
terbagus. Bagiku, dia mempunyai tubuh dalam fantasiku. Dia memiliki tubuh
yang sempurna dengan bra B-cupnya, atau C-cup kecil. Rambutnya yang
panjang hingga melewati bahunya, dan matanya selalu nampak mempesona.
Masalahnya dia yang paling bandel. Selalu membuat masalah. Dia juga sadar
kalau dia punya tubuh yang bagus dan selalu memakai pakaian yang
memperlihatkan hal itu. Di antara anak-anakku, Eva lah yang jadi bahan
fantasi utamaku. Setiap kali aku menyetubuhi istriku, Eva lah yang ada dalam
benakku!

Kisah ini bermula dengan Irma dan temannya Cindy. Cindy setahun lebih muda,
tapi mereka sangat akrab. Cindy selalu menginap di rumah kami setidaknya
sekali sebulan. Cindy sangat kurus, dadanya kecil, tapi sangat manis.

*****

Suatu malam saat Cindy menginap, aku mulai melihat film porno seperti biasa.
Suaranya kumatikan jadi aku dapat mendengar kalau ada orang yang
mendekat. Lagipula aku dengar suara berisik dari kamar Irma. Kupikir mereka
sedang sibuk dengan urusan gadis remaja dan begadang sampai pagi
ngomongin tentang cowok dan sekolah, atau apapun yang menjadi urusan gadis
seusia mereka. Entah bagaimana suara yang kudengar tak lagi seperti orang
yang sedang ngobrol. Kadang kudengar suara erangan.. Yang lama-lama cukup
keras juga.

Aku mendekat ke pintu kamar Irma dan lebih mendengarkan apa yang tengah
terjadi. Dan benar! Itu suara erangan dan cukup berisik! Kalau saja pintunya
tak tertutup pasti kedengaran sampai luar dengan jelas. Lalu aku dengar
teriakan kenikmatan.

Kudorong pintunya sedikit terbuka. Apa yang kulihat didalam sangat


mengejutkanku. Cindy dan Irma berbaring di lantai dengan Tia diantara
mereka. Kepala Cindy berada diantara paha Irma dan kepala Tia ada di sela
paha Irma..

Setelah mataku dapat menyesuaikan dengan kegelapan kamar itu, kulihat


dada Irma bergerak naik turun dengan cepat karena nafasnya. Putingnya
ternyata lebih besar dari yang kubayangkan. Tangannya memelintir putingnya
sendiri saat Cindy menjilati kelentitnya dan dua jarinya yang terbenam pada
vagina Irma. Mata Irma terpejam dalam kenikmatan yang diberikan Cindy.

ads by AdXpansion

Aku terus memperhatikan mereka hingga paha Irma mencengkeram kepala


Cindy dan terlihat sepertinya dia akan ‘memecahkan’ putingnya sendiri saat
dia mendapatkan orgasmenya pada wajah Cindy. Kelihatannya Cindy juga telah
orgasme dalam waktu yang sama, karena dia mengangkatkan kepalanya dari
paha Irma dengan cairan vagina yang menetes jatuh di pipinya seiring dengan
tubuhnya yang mengejang dan kudengar sebuah umpatan keluar dari bibirnya.
Aku terkejut mundur saat kurasakan ada tubuh yang menekan punggungku.
Saat kutengok, kulihat Eva sedang berdiri di depanku. Eva memandangku
dengan mata indahnya dan bertanya..

“Apa Papa menikmatinya?” lalu dia melihat ke bawah dan meremas penisku
yang sudah keras.
“Tak perlu dijawab, aku bisa lihat dan rasa Papa menikmatinya.”
“Kenapa Papa tak lepas saja celana Papa dan bergabung dengan kami?”
tanyanya bersamaan dengan tangannya yang bergerak masuk dalam celanaku
dan mulai meremas penisku dengan pelan.

Dan sepertinya aku tak menginginkan hal lain selain ikut bergabung dengan
anak-anakku, tapi..

“Papa nggak bisa, Mama kalian akan membunuh Papa.” Aku dengar suara Irma
saat aku mulai menjauhi mereka.
“Papa nggak tahu apa yang Papa lewatkan!”

Sedihnya, aku tahu apa yang telah kulewatkan. Aku telah melewatkan
kesempatan untuk mendapatkan tak hanya satu, tapi empat gadis muda yang
panas. Fantasiku hampir saja jadi nyata.

Aku pergi ke kamarku dan berbaring disamping isteriku. Biasanya saat aku
dan isteriku melakukan hubungan seks terasa hambar. Kali ini saat aku
merangkak ke atas tubuhnya, kusetubuhi dia dengan keras dan cepat. Aku
keluar dalam beberapa menit saja, baru saja kukeluarkan penisku..
“Bagaimana denganku?” kudengar isteriku bertanya dan memegang penisku
yang masih keras.

Dia bergerak naik di atasku dan segera memasukkan kembali penisku dalam
vaginanya. Ini pertama kalinya dia berinisiatif. Dan kupikir ini juga pertama
kalinya dia di atas. Isteriku bergerak naik turun dan dapat kurasakan
tangannya yang mempermainkan kelentitnya saat dia bergerak diatasku.

Melihat isteriku yang berusaha meraih orgasmenya membuatku terangsang


kembali. Kuremas payudarnya, kubayangkan yang berada dalam genggamanku
adalah milik Irma. Kupelintir putingnya diantara jariku, keras dan lebih keras
lagi, tak mungkin menghentikan aku. Dia menggelinjang kegelian, tangannya
semakin menekan kelentitnya. Ini pertama kalinya kurasakan cairan vagina
isteriku menyemprot padaku. Orgasmenya kali ini terhebat dari yang pernah
didapatkannya. Aku jadi berpikir apa dia benar-benar puas dengan kehidupan
seks kami sebelumnya.

Isteriku mulai melemah. Aku belum keluar kali ini, jadi kugulingkan tubuhnya
kesamping dan segera menindihnya. Langsung kuhisap putingnya dengan
bernafsu. Kusetubuhi dia dengan kekuatan yang tak pernah kubayangkan
sebelumnya. Aku mulai merasakan orgasmeku akan segera meledak. Saat
puncakku semakin dekat, kugigit putingnya sedikit lebih keras, yang
membawanya pada orgasmenya. Dan saat kurasakan dinding vaginanya
berkontraksi pada penisku, kutembakkan spermaku jauh didalam tubuhnya
untuk kedua kalinya dalam tiga puluh menit ini. Kuturunkan tubuhku dari
atasnya.

“Tadi sungguh hebat” kata isteriku.


“Seharusnya kamu lebih sering seperti tadi.”

*****

Saat aku bangun keesokan harinya, isteriku sudah tak ada di sampingku. Tiba-
tiba kejadian tadi malam kembali terbayang. Kupejamkan mataku
menikmatinya dan tanganku bergerak kebawah mulai mengocok penisku yang
mengeras. Aku hampir saja mendapatkan orgasmeku saat kudengar..

“Kenapa Papa tak membiarkan kami saja yang melakukan untuk Papa?”
Kubuka mataku segera dan terkejut saat melihat Irma dan Cindy berdiri di
pintu kamarku. Orgasmeku tak dapat kucegah seiring dengan bayangan wajah
Cindy yang belepotan dengan cairannya Irma yang melintas di benakku.

“Ups, terlambat!” kata Irma saat mereka meninggalkan kamar.

Aku langsung bangkit dan segera mandi. Aku hampir selesai mandi saat tiba-
tiba isteriku membuka pintu kamar mandi dan menyelinap masuk.

“Anak-anak sudah pergi. Ayo bersenang-senang.”

Isteriku berjongkok di depanku dan memasukkan penisku yang masih loyo ke


mulutnya. Penisku mulai membesar dalam mulutnya karena rangsangan
lidahnya yang bergerak liar. Penisku makin membesar dan kurasakan kepala
penisku meluncur masuk ke tenggorokannya. Dia tak menariknya keluar dan
bibirnya semakin ditekankan ke rambut kemaluanku. Lalu kurasakan dia mulai
menelan, gerakan tenggorokannya serasa ombak hangat yang basah pada
penisku. Dan hal ini pertama kalinya bagi kami juga. Rasanya sungguh dahsyat,
sesuatu yang belum pernah kualami. Isteriku mempunyai keahlian yang
disembunyikan dariku.

Pelan-pelan dikeluarkannya penisku dari tenggorokannya lalu dimasukkannya


lagi seluruhnya. Dia menatapku dengan penisku yang terkubur dalam mulutnya
dan dengan pelan dikeluarkannya lagi.

“Kamu menyukainya sayang?” tanyanya.

Sebelum aku dapat menjawabnya dia melakukan hal itu lagi, menelanku
seluruhnya. Dia mulai menggerakkanya keluar masuk dalam mulutnya, dan
tetap memandangku saat dia melakukan itu. Isteriku mulai menaikkan
temponya hingga aku tak dapat menahannya lebih lama lagi saat tiba-tiba dia
berhenti..

“Hei, hei, tunggu dulu bung. Belum waktunya. Lubangku yang lain perlu
dimasuki, tahu.” katanya.

Isteriku berdiri dan berputar. Dia membungkuk di depanku, merapatkan


pantatnya padaku. Penisku terjepit di lubang anusnya maka kuarahkan pada
vaginanya.
“Siapa suruh mengalihkan senjatamu?” tanyanya.
“Kembalikan ke tempat semula!”

Dia meraihnya dan lalu mengembalikan penisku ke anusnya, sesuatu yang


pernah kulakukan sebelumnya, tapi tidak dengannya. Pelan-pelan dia
mendorong pantatnya ke belakang. Kulihat barangku jadi bengkok karena
tekanan itu, kepala penisku mulai membelah lubang anusnya, tapi belum masuk.
Kemudian tiba-tiba masuk begitu saja, hanya kepalanya saja.

Dia mengerang. Lalu, dia terus menekan ke belakang dan memperhatikan aku
memasukkan batang penisku seluruhnya. Aku tak dapat menolak rangsangan
ini, kuraih pinggangnya dan mendorong lebih keras lagi untuk memastikan aku
telah memasukinya seutuhnya. Kuputar pinggangku, memastikan dia dapat
merasakan setiap mili senjataku didalamnya, aku terpukau akan pemandangan
penisku yang terkubur dalam lubang anusnya. Lalu perlahan aku bergerak
mundur.

Saat hampir seluruhnya keluar kemudian kutekan lagi ke depan. Berikutnya


aku benar-benar keluarkan penisku dan menggodanya, mengoleskan kepalanya
saja pada lubang anusnya. Lalu benar-benar kusingkirkan menjauh dan
melesakkan batang penisku kembali kedalam lubang anusnya. Aku bergerak
maju mundur dengan cepat. Pelan, cepat, pelan dan keras. Tak terlalu lama
orgasmeku mulai naik. Dia pasti dapat merasakannya karena dia mulai
memainkan tangannya pada vaginanya, berusaha untuk meraih orgasmenya
sendiri. Untung saja dia mendapatkannya sebelum aku.

Saat kurasakan orgasmenya segera meledak, aku bergerak semakin liar.


Pantatnya bergoyang dalam setiap hentakan. Dia mulai mengerang dengan
keras seiring hentakanku terhadapnya. Tak kuhentikan gerakanku saat
orgasme merengkuhnya, milikku segera datang! Kudorong diriku sejauh yang
kubisa dan membiarkan spermaku bersarang dalam lubang anusnya. Isteriku
berteriak saat orgasme datang padanya secara berkesinambungan seiring
ledakan spermaku yang kuberikan padanya. Akhirnya, aku selesai, tapi dia
mendapatkan orgasme sekali lagi saat kepala penisku keluar dari jepitan
lubang anusnya.

Isteriku membersihkan tubuhku lalu mendorongku keluar dari kamar mandi.


Aku melangkah ke kamar kami dan berganti pakaian. Baru saja aku selesai
memakai pakaian saat isteriku keluar dari kamar mandi dan muncul dalam
kamar.

“Tadi benar-benar indah” katanya.


“Mungkin kita harus mengulanginya lagi nanti. Sekarang keluarlah dan nonton
TV.”

*****

Anak-anakku, tanpa Cindy pulang tak lama kemudian. Semuanya bertingkah


normal. Aku lihat pertandingan bola, dan mereka melakukan apa yang biasa
mereka kerjakan di hari Minggu sore.

Sisa seminggu itu normal-normal saja. Gadis-gadis pergi ke sekolah dan


Isteriku pergi kerja seperti biasanya. Tak ada seorangpun yang bicara atau
menanyakan tentang kejadian minggu lalu. Isteriku terlalu letih tiap malamnya
sepulang dia kerja. Anak-anakku juga bersikap seperti tak pernah terjadi
apapun. Aku jadi mulai berpikir apakah itu hanya khayalanku atau aku
bermimpi tentang itu?

Saat aku pulang kerja di hari Jum’at, anak-anaku meminta ijinku apa
temannya boleh menginap nanti malam. Cindy ingin meghabiskan kembali akhir
minggunya bersama kami dan Eva ingin temannya Ami bermalam juga. Aku
suka Ami. Dia anggun. Kalau saja aku masih remaja, aku pasti akan
mengajaknya kencan. Dia, seperti Eva, memiliki sosok sempurna. Bedanya Ami
memiliki wajah yang dapat membuatnya dengan mudah jadi seorang model
kalau dia mau.

Malam harinya semuanya pergi tidur lebih awal. Mereka benar-benar ingin
lepas dari rutinitas hariannya, baik itu sekolah atau kerja. Saat kami bangun
hari Sabtunya, semua orang memintaku untuk mengadakan pesta kebun. Maka,
isteriku maengajak mereka semua pergi ke toko untuk belanja. Aku
beristirahat sejenak kemudian pergi mandi. Ada kerjaan menungguku saat
mereka pulang nanti.

Saat mereka akhirnya pulang, sepertinya mereka memborong semua barang-


barang di toko. Aku bilang pada mereka kalau hanya aku saja yang memasak
pasti tak akan selesai. Bisa kacau jadinya. Akhirnya mereka bersedia berbagi
tugas. Dengan semua belanjaan yang mereka borong, memerlukan hampir dua
jam untuk memasaknya. Badanku bau asap dan terasa sangat letih. Saat aku
masuk kedalam rumah, tak ada seorangpun di ruang keluarga ataupun dapur.

“Hey! Dimana kalian?” teriakku, “Saatnya makan!”


“Ya!” kudengar jawaban dari kamar Irma. Tapi tak ada seorangpun yang
datang untuk makan.
“Hey, kalian sedang apa sih? Apa nggak ada yang mau makan?” tanyaku
jengkel.
“Ada!” kembali hanya jawaban yang kudengar dari kamar Irma.

Aku mendekat ke kamar Irma dan ternyata pintunya sedikit terbuka. Saat
aku menengok kedalam, kulihat para gadis dengan berbagai posisi tanpa
pakaian. Kudorong pintunya agar lebih terbuka.

“Apa yang kalian lakukan?”


“Sedang menunggu Papa.” Eva menjawab dan mendekat lalu menarik tanganku
agar masuk.
“Kami membiarkan Papa minggu kemarin, tapi akhir pekan ini Papa tak akan
dapat lolos dengan mudah.”
“Sudah Papa bilang. Mama kalian akan membunuhku!” tangkisku.
“Tidak, aku tak akan melakukannya!” kudengar suara isteriku saat kulihat dia
mengangkat kepalanya di antara paha Irma.
“Gadis-gadis ini menginginkanmu! Bisa apa aku menolak mereka?”

Eva menarik tanganku ke tengah kamar. Baru kemudian aku sadar kalau dia
tak mengenakan selembar benangpun. Kupandangi tubuhnya. Apa yang
kusaksikan ini jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Payudaranya besar tapi
kencang dengan putingnya yang menunggu untuk segera dihisap.

“Bisa apa aku menolak mereka?” pikirku saat aku rendahkan tubuhku dan
mulai menghisap puting itu.

Kurasakan puting Eva membesar dalam mulutku, lalu kutaruh diantara gigiku
dan mulai menggigitnya pelan. Saat aku sedang sibuk dengan itu kurasakan
ada tangan yang menarik turun resletingku. Lalu tangan itu merogoh kedalam
celana dalamku dan mengeluarkan penisku. Aku melihat ke bawah dan kudapati
Ami sedang mengarahkan penisku ke mulutnya dan segera saja dihisapnya.
Kutelusuri lekuk tubuh Irma dengan tanganku sampai pada vaginanya yang tak
berambut, dan menyelipkan jariku padanya. Dapat kurasakan kehangatan
dalam vaginanya dan basah saat jariki kutekankan masuk dengan pelan. Aku
berusah untuk mendorongnya lebih dalam lagi, tapi terasa ada yang menahan
gerakanku. Eva memandangku..

“Ya, Eva masih perawan, dan jari Papa adalah benda pertama yang memasuki
vagina Eva. Eva harap penis Papalah yang kedua.” aku membungkuk dan
mencium Eva, bibir kami seakan melebur bersama, sebuah ciuman yang
sempurna.

Sementara itu, Ami masih mengoralku. Usahanya jelas berdampak padaku.


Aku melihat kebawah, kepalanya bergerak maju mundur pada batang penisku.
Aku tak ingin mengeluarkan sperma pertamaku dalam mulut Ami sedangkan
ada pilihan lainnya. Vagina perawan Eva dihadapanku. Maka kukeluarkan
penisku dari mulut Ami.

“Kita dapat melanjutkannya nanti.” kataku padanya.

Kudorong Eva ke tempat tidur, menindihnya dengan lembut. Kucium dia lagi
lalu ciumanku bergerak ke sekujur tubuh telanjangnya. Kujilati lehernya, dan
kutinggalkan bekas disana agar dia mengingat kejadian indah ini nantinya.
Kemudian aku bergerak ke dadanya, menghisapi putingnya. Ini mengakibatkan
beberapa lenguhan keluar dari mulutnya. Saat kugigit lembut putingnya dan
punggungnya terangkat sedikit keatas karena terkejut. Lalu turun ke
perutnya hingga akhirnya bermuara pada vaginanya yang tak berambut.

Kupandangi sejenak lalu kubenamkan hidungku pada celahnya. Aroma yang


keluar dari vaginanya semakin membuatku mabuk. Saat kugantikan hidungku
dengan lidah, akibatnya jadi jauh lebih baik lagi. Saat ujung lidahku
merasakan untuk pertama kalinya hampir saja membuatku orgasme! Eva telah
basah dan siap untuk aksi selanjutnya. Penisku membesar dan keras hanya
dengan membayangkan apa yang segera menantiku didepan wajahku ini.

Ciumanku bergerak keatas dan berlabuh dalam lumatan bibirnya lagi seiring
dengan kepala penisku yang menguak beranda keperawanannya. Eva
mengalungkan lengannya dileherku dan menjepit pinggangku dengan kakinya
saat aku berusaha untuk memasukinya lebih dalam lagi. Dapat kurasakan
kehangatan yang menyambut kepala penisku. Aku tak dapat menahannya lebih
lama. Eva sangat panas, basah dan rapat!
Pelan namun pasti kutingkatkan tekananku pada vaginanya. Dapat kurasakan
bibirnya melebar menyambutku, ke-basahannya mengundangku masuk.
Kehangatan vaginanya membungkus kepala penisku saat aku menyeruak masuk.
Aku terus menekan kedalam dengan pelan meskipun aku ingin segera
melesakkannya kedalam dengan cepat seluruh batang penisku. Akhirnya dapat
kurasakan dinding keperawanannya, batas akhirnya sebagai seorang gadis
untuk menjadi seorang wanita seutuhnya. Kupandangi dia tepat di mata.

“Sayang, ini akan sedikit sakit, tapi Papa janji sakitnya hanya sebentar saja.”
kurasakan kakinya menjepit pinggangku lebih rapat saat aku merobek
pertahanan akhirnya. Akhirnya jebol juga dinding itu.
“Aargh! Gila! Sakit, Pa!” katanya dengan mata yang berkaca-kaca. Vaginanya
mencengkeram batang penisku, ototnya bereaksi pada penyusup dan rasa
sakit.
“Tenang sayang, sakitnya akan segera hilang.” dan kuteruskan menekan ke
dalam sampai akhirnya terbenam semua di dalamnya. Aku diam sejenak,
membiarkannya untuk beradaptasi.
“Gimana? Udah baikan?” tanyaku. Dia anggukkan kepalanya.
“Aku hanya merasa penuh, rasanya aneh. Tapi juga terasa enak berbarengan.”

Aku mulai menarik dengan pelan, hanya beberapa inchi, dan kemudian
mendorongnya lagi dengan lembut. Aku khawatir menyakitinya, tapi dalam
waktu yang sama aku tak ingin segera menembakkan spermaku. Aku ingin
menikmati rasa vaginanya selama mungkin. Kurasa dia mulai dapat
menikmatinya, kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam.

Kupercepat kocokanku, menariknya hampir keluar dan menekannya masuk


kembali dengan pelan, menikmati rasa sempit vaginanya pada penisku. Eva
mulai memutar pinggulnya seiring hentakanku. Tempo dan nafsu kami semakin
meningkat cepat. Kurendahkan tubuhku dan mencium lehernya dan bahunya.
Tiap gerakan tubuh kami mengantarku semakin dekat pada batas akhir.

“Ya Pa! Ya! Rasanya Eva hampir sampai!”


“Papa juga sayang!” Dan kulesakkan ke dalamnya untuk yang terakhir kali.
Menekan berlawanan arah dengannya mencoba sedalam mungkin saat
kuledakkan sperma semprotan demi semprotan kedalam vaginanya. Dapat
kurasakan cairan kami bercampur dan meleleh keluar dari vaginanya menuju
ke buah zakarku.
Tubuh Eva bergetar di bawahku, tangan dan kakinya mendorongku merapat
padanya. Pelan kutarik dan kudorong lagi semakin dalam padanya saat
persediaan spermaku akhirnya benar-benar kosong. Kutatap matanya lalu
menciumnya.

“Eva, ini adalah seks terbaik yang pernah Papa dapatkan.” aku lupa kalau kami
tak sendirian dikamar ini.
“Aku dengar itu!” kata isteriku.
“Kita akan lihat apa kita bisa mengubah anggapanmu itu!”

Dengan para gadis-gadis itu dalam kamar ini, aku sadar ‘kesenanganku’ baru
saja akan dimulai.
Goyang Klitoris, Aduh Nikmatnya (Artikel)
Semua pria ingin membahagiakan mempelai wanita. Untuk memastikan wanita
memperoleh kepuasan, mempelai pria wajib tahu tentang alat vital mempelai
wanita. Banyak gunjingan, seperti basah tidak enak. Bentuk alat kelamin
wanita persis seperti bentuk bibirnya. Untuk mengenal lebih dekat alat
kelamin wanita, artikel berikut ini membahas tentang klitoris, bagian organ
wanita yang bisa membuat mabuk kepayang dan merintih nikmat. Silakan ikuti
sajian berikut ini.

Klitoris

Klitoris mirip seperti tunas kecil terletak di antara kedua bibir vagina bagian
atas. Biasanya tertutup tudung kulit kecil. Ketika vagina terangsang, clitoris
agak membesar dan menonjol seperti dewi kenikmatan yang bangun dan
bangkit dari tidur. Klitoris merupakan sumber rangsangan erotis. Sebagian
besar wanita dapat mengalami orgasme klitoris lebih mudah ketimbang
orgasme G-spot. Percaya atau tidak, secara biologis, klitoris ekuivalen dengan
penis pria. Beberapa bulan pertama setelah masa pembentukan janin, alat
kelamin pria dan wanita tampak sama.

Cara Merangsang

Klitoris Anda mungkin sudah mencoba meraba perlahan-lahan dan lembut.


Anda memang tidak boleh menggaruk, menggilas, menggigit, atau memencet
klitoris. Bahkan jangan sekali-kali menggosok-gosok sambil berharap ada
kacang yang keluar. Untuk mendapatkan hasil optimal, lakukan berikut ini:

Gunakan Jari

Cukup bersihkan jari tangan dan potong kuku. Dengan sentuhan jari yang
memukau, Anda akan merasakan licin di bagian vagina. Bagaikan lagunya Bon
Jovi, Slippery When Wet. Klitoris pun akan mengembang bagaikan tunas kecil
yang keras.

Goyang Lidah

Jika Anda suka karaoke, jilatilah dengan lembut pada klitoris. Jika mempelai
wanita mulai mengerang dan merintih nikmat, Anda bisa semakin agresif
menjilatinya.

Organ Favorit Kedua

Anda dapat menggunakan penis untuk menyentil-nyentil klitoris sampai ia


merasakan kenikmatan tiada tara. Gunakan ujung penis dan gesekan ke
klitoris, sampai vagina menjadi basah.

Vitara

Jika semua jurus di atas tidak mempan juga, silakan menyervis kekasih
dengan Vitara atau yang sejenis yang dapat Anda beli di toko obat atau toko
"perlengkapan hubungan intim". Dijamin mempelai wanita akan terbuai ke
awan.

Ciri Wanita Maniak Seks (Artikel)


Ciri Wanita Trengginas Seks banyak dicari para pria tipe petualang. Sebagian
pria suka kepada wanita sensual yang maniak seks (baca: trengginas).
Diharapkan semua keinginan dan fantasi pria bisa terpenuhi. Meski setiap
wanita pada dasarnya sama dan bisa memenuhi keinginan pria, tetapi kadar
kualitas, tingkat ketrengginasan, kebringasan, kenakalan, ataupun keliaran
wanita berbeda-beda. Wanita yang lemah-lembut dan cenderung alim soal
seks, tentu tidak sehebat servis yang diberikan oleh wanita tipe trengginas
atau maniak seks. Bagi pria model moderat dan menginginkan permainan seks
yang wajar-wajar saja, tentu tidak menuntut banyak kepada wanita. Bagi pria
yang suka berfantasi dan cenderung hiperseks, biasanya mendambakan tipe
wanita yang “liar” dalam seks. Terlebih buat pria yang suka
nonton film blue, tentu mendambakan hubungan intim mirip seperti di film
blue. Untuk mendapatkan sesuai yang didambakan, silakan memperhatikan ciri
khas wanita yang trengginas seks berikut ini.

1. Mampu Mengobarkan Gairah Seks Sendiri

Wanita jenis ini mampu mengobarkan api asmaranya sendiri tanpa lama-lama
menunggu dirangsang pria. Survei menunjukkan wanita jenis ini mampu
berfantasi yang mengundang gairah. Misalkan, mengandaikan diri telanjang
atau setengah telanjang di tempat umum atau di mana saja, sehingga mata
lelaki menjadi jelalatan atau penasaran.
2. Tubuhku Istana Kenikmatanku

Slogan ini merupakan keyakinan diri wanita jenis ini. Ia memandang dirinya
sebagai tambang kenikmatan. Bilamana pria tidak atau kurang mampu
memuaskan, ia akan membimbing menunjukkan tempat-tempat yang harus
dirangsang dan dioptimalkan. Misalnya menunjukkan tempat G-spot. Bahkan ia
suka mengambil inisiatif .

3. Akulah Dewi Seks

Dengan pengakuan sebagai Dewi Seks, ia suka striptis atau tarian erotis di
depan pria sebelum hubungan intim. Ia mau melakukan apa saja demi kepuasan
bersama. Terkadang ia mengelabuhi sesuatu yang pada akhirnya ingin
hubungan intim dengan pria. Ia suka pura-pura meminta sesuatu tetapi
tersirat ajakan hubungan intim.

4. Memberikan Desahan Erotis

Biasanya suka menjerit atau teriak ketika dirangsang. Ia pun tidak segan-
segan mendesah sambil minta dicium organnya. Misal, payu dara, kaki, leher,
telinga, dll. Ekspresi erotis banyak diungkapkan oleh tipe wanita ini.

5. Berorientasi Pada Proses Menuju Orgasme

Biasanya wanita tipe ini tidak berorientasi pada orgasme, tetapi pada proses
menuju Orgasme. Wanita yang berupaya semaksimal mungkin mencapai titik
klimaks, tidak menganggap orgasme sebagai bonus. Ia beranggapan rangkaian
menuju orgasme penuh dengan kenikmatan dan keasyikan. Orgasme atau tidak
sebenarnya tergantung pada keyakinan wanita sendiri. Dengan beranggapan
dan yakin akan orgasme, maka apa pun rangkaian hubungan intim akan
membuahkan orgasme.

6. Punya Resep Khas Merangsang Pria

Sebagian besar wanita tahu bahwa cara menyenangkan dan memuaskan pria
adalah langsung memberikan rangsangan ke area bawah pusar. Namun
sebagian wanita punya resep khusus selain itu. Misalnya, menciumi tengkuk
pria atau cara lain yang bisa membakar gairah pria.

7. Tahu Apa Yang Pria Mau

Selain memberikan servis yang memuaskan, wanita jenis ini tahu apa yang
diinginkan pria pasangannya. Terkadang sebagian pria tidak mendambakan
yang aneh-aneh, tetapi cukup di-karaoke saja. Dengan penguasaan teknik oral
sex, wanita jenis ini mampu memberikan sensasi kenikmatan hubungan intim
yang luar biasa. Ia tak segan-segan memenuhi segala keinginan pria.

8. Suka Bereksperimen Posisi dan Jenis Foreplay

Meluangkan waktu untuk bereksperimen dengan posisi baru dan foreplay baru
merupakan kesukaan wanita jenis ini. Selain menemukan kenikmatan baru, jiwa
petualang bisa terakomodasi.

9. Selalu Membuat Hubungan Intim Penuh Gairah dan Penuh Nuansa Baru

Wanita tipe ini selalu memberikan gairah baru dan nuansa baru dalam
hubungan intim. Adakalanya ia mencari inspirasi dengan menyewa video blue
agar gairah seks bertambah. Bilamana gairah menurun, ada saja siasat yang
dimiliki wanita ini. Misal, hubungan intim di tempat baru, foreplay dengan
aneka variasi baru, membaca majalah porno, dll.

10. Menggairahkan Setiap Saat

Wanita model ini rela bangun lebih pagi guna mempersiapkan diri lebih
menggairahkan. Misal, pagi-pagi sudah mandi sehingga badan sudah bersih,
wangi, dan menggairahkan. Hubungan intim pagi hari pun siap dilakukan jika
memang dikehendaki. Pria pun tidak enggan atau sungkan. Wanita ini
sepanjang siang dan malam selalu tampak menggairahkan. Ia pun suka merayu
pasangan seakan baru pertama kali.

11. Seks Merupakan Prioritas Utama

Wanita tipe ini tidak pernah enggan atau menolak hubungan intim. Tidak ada
kata-kata, “Saya sedang capai,” ataupun ungkapan lain yang
senada. Ia tahu bahwa seks merupakan obat pertama sebagai penawar capai,
stress, enggan, dll. Meskipun sedang ogah-ogahan melayani suami, wanita
jenis ini mampu mengatasinya dengan baik dan memberikan pelayanan yang
memuaskan. Keengganan dapat diubah menjadi kenikmatan.
Berawal dari perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya waktu sma,
gw jadi memiliki kebiasaan seks yang tidak wajar. Berikut cerita dewasa yang
lebih lengkap.

Bermula sekitar 4 thn lalu, saya keluar dari pekerjaan dan mencoba merintis
usaha sendiri, untuk itu supaya saya bisa survive maka anak sama istri saya ,
saya taruh di kampung di daerah jawa barat, untuk itu saya jarang pulang ke
rumah, paling2 satu bulan sekali paling cepat. Setelah beberapa bulan
berjalan setiap saya pulang ke kampung, saya suka mendengar tetangga di
kampung suka membicarakan tentang istri saya yang mulai kembali
berhubungan dengan mantan pacar pertamanya waktu SMA dulu, Cuma saya
tidak begitu menanggapi , Cuma karena udah terlalu sering dan gosipnya
sudah mulai macam2 dan menjurus ke hal2 yang negative (katanya mantan
pacar istri saya ini suka masuk rumah saya malam2), maka saya juga jadi
penasaran , untuk itu saya mulai membuat sebuah rencana untuk menjebak
mereka , kebetulan rumah yang saya dan istri tempati ini adalah bekas rumah
kakaknya mertua saya dan jaraknya sekitar 20 mtr dari rumah mertua, jadi
saya berpura2 setiap pulang ke kampung saya tidak pernah tidur di rumah,
melainkan tidur di rumah mertua dengan alasan sambil mengerjakan proyek,
kebetulan juga rumah yang saya tempati itu listriknya tidak kuat, suka mati
kalo di pakai untuk membetulkan mesin, makanya dengan alasan itu , saya bisa
memasang kamera mini yang saya pasang di ruang tamu dan satu lagi di kamar
tidur istri saya (kebetulan istriku dulunya agak gaptek dia tidak tahu kalau
sedang di awasin pakai kamera ), kebetulan anakku dua2nya sudah pintar
tidurnya di kamarnya sendiri.
Satu dua hari belum ada tanda2 yang mencurigakan, saya juga bingung
padahal kata orang2 si Ujang ( nama mantan pacar istri saya ) hampir tiap
malam, datang ke rumah, setelah saya selidikin ternyata dianya sedang pergi
ke Bandung sedang mengurus surat2 mobil ( pantesan tidak kelihatan
seharian ). Pada malam keempat, tiba2 di kamera terlihat istri saya berjalan
mengendap2 menuju pintu, sambil membuka pintu perlahan2, begitu pintu
terbuka masuklah si Ujang ke dalam rumah , dan saya yakin itu si Ujang, dari
perawakannya yang tidak terlalu tinggi dan sedikit gemuk, sama rambut ikal
sedikit gondrong tidak salah lagi itu memang benar si Ujang mantan pacar
pertama istri saya ( herannya kok istri saya mau yah ), mereka berdua
mengobrol sebentar, saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya
kameranya memang tidak saya pasang audionya, takut berisik, nanti mertua
saya malah curiga, selama ini kan beliau tahunya saya sedang membetulkan TV
di kamar, tidak berapa lama kemudian , ‘EHHH’ si Ujang itu malah mulai
memegang2 tangan istri saya, terus tangannya mulai membelai2 rambut istri
saya dengan mesra , ‘KURANG AJAR’ saya jadi panasss bangett, cuma saya
mencoba untuk menahannya, tidak berapa lama malah istri saya yang
memegang pinggang si Ujang, terus menarik2 tangannya dan mengajaknya
menuju ke kamar,
‘bangs*tTT!!!!’, saya memaki dalam hati, saya sudah mulai tidak bisa menahan
diri lagi, apalagi ketika si Ujang juga mulai membalas merangkul tubuh istri
saya , tangan saya sudah mengepal rasanya mau memukul saja gambar yang
ada di TV, tidak berapa lama mereka berdua masuk ke dalam kamar, buru2
saja saya memindahkan jegnya ke kamera yang saya pasang di kamar tidur,
celakanya begitu saya pindahkan malah jadi tidak jelas, tidak keluar
gambarnya !!, mungkin karena penerangannya kurang memadai kali ya, dari
pada keduluan mereka langsung aja saya keluar kamar dan menuju ke rumah
saya, mertua saya sampe kaget melhat saya keluar kamar dengan terburu2, “
Aya naon A’? kok keburu2 ? “ tanya bapak mertua , “ Ohh , itu pak mau ambil
tang “, saya jawab sekenanya aja deh.
Saya langsung pergi setengah berjingkat, takut berisik, saya masuk dari
dapur, kebetulan pintu dapur mertua , berhadap2an dengan pintu dapur
rumah saya , begitu masuk saya langsung bergegas menuju jendela kamar yang
mengahadap dapur, kebetulan jendela di kampung umumnya cuma di tutup
pakai kain saja, jadi saya bisa mengintip agak mudah dan jelas, dan ketika
saya membuka sedikit, ‘WADUHH !!’ istri saya sama si Ujang sudah tidur2an
di kasur, si Ujang sudah mulai mencium pipi istri saya, tapi anehnya kali ini
saya malah tidak merasa emosi tuh, soalnya saya lihat istri saya juga
menikmati sepertinya, matanya merem, terus tangannya mulai di lingkarkan di
leher Ujang, terus kepala si Ujang di tariknya sampai wajah si Ujang
berhadapan dengan wajah istri saya, ‘SETANNN !!!’ bibir istri saya mulai
melumat bibir Ujang, “ mmpphh…mmpphhh “ Ujang dan istri saya berpagutan
mesra, aneh sekali, perlahan2 kemaluan saya malah bergerak nih, ‘
SOMPRETT !!!!, kenapa malah bangun nih kanjut’ pikir saya ,
‘WAH’ dari pada saya malah jadi salah tingkah akhirnya saya ambil aja kursi
yang ada di dapur, pelan2 saya duduk di kursi sambil mengintip, saya lihat
istri saya sudah mulai menarik2 kaos si Ujang, “ A’ ayo buka atuh kaos sama
celananya “ rengek istri saya, Ujang menurut, dia mulai membuka kaosnya,
sambil menurunkan juga celana panjangnya, “ Is… ( nama istri saya Euis ), biar
Aa’ yang buka baju kamu yahh? “ Ujang berkata sambil tangannya mulai
menarik kaos tanktop istri saya, ‘ WAHH !!! ‘ makin keras aja nih benda di
selangkangan saya melihat adegan itu, tidak berapa lama terlepaslah baju
istri saya, terus perlahan tangan Ujang mulai menurunkan celana Hawaii istri
saya, posisi istri saya yang tengah tiduran celananya di tarik hingga lepas,
sekarang pasangan selingkuh ini sudah setengah bugil, saya melihat benda di
dalam celana dalam si Ujang sudah mulai berubah, tangan istri saya sudah
mulai menyelinap masuk kedalam celana dalam Ujang, kelihatannya istri saya
sudah mulai meremas2 kemaluan si Ujang, dan Ujang juga tidak mau kalah, dia
mulai melepas tali Bra istri saya, sebentar saja sudah terlepas deh Bra istri
saya, Ujang mulai meremas payudara istri saya secara perlahan2, walaupun
sudah sedikit mengendur ( maklum sudah punya anak dua ) tapi dari bentuk
sih masih lumayan bagus, apalagi puting susunya juga tidak terlalu besar,
sambil merem-melek keenakan si Ujang mengulum pentil susu istri saya, yang
sebelah kiri, sementara tangannya yang kanan terus meremas2 payudara istri
saya yang bagian kanan, “ Ssssshhh….Aa’, enakkk bangettt sihhh….”, istri saya
mengerang keenakan badannya menggeliat2, sementara tangannya terus giat
meremas batang kemaluan si Ujang, “ Mmpph..mmbb…mbb…uhhhh….aku juga
enak nih Iissss…..”, rintih Ujang sambil terus mengulum pentil susu istri saya,
“ Aaaa’ udahhh donggg… E
uissss… gak kuattt nihhh….”, istri saya menggelinjang, mendesah sementara
tangannya sudah mulai berusaha melepaskan celana dalam si Ujang, tangan
Ujang beringsut melepas celana dalammya sendiri, batang kemaluannya
menyembul keluar dan menggantung, ukurannya sedang2 aja tuh kayaknya
tidak berbeda jauh dengan kemaluan saya.
Begitu batang kemaluan itu lepas dari sangkarnya, istri saya dengan sigap
menangkap kemudian meremas2 dengan gemas, karuan saja ini membuat
Ujang mengerang, “Aahhhh….Iissss…ssshh …Uuhhh…..” Ujang melepas
kulumannya di pentil susu istri saya, dia duduk bersandar di tembok, istri
saya yang sudah gemas langsung aja melahap batang kemaluan Ujang, ujung
kemaluan si Ujang di kenyot kuat2, Ujang mengerang kepalanya mendongak ke
atas, perutnya tertarik saking kuatnya kenyotan mulut istri saya, “
Aaarrrgggghhhhh…..Euisss!!…. ..Ampuuuunnnnnn, Ouuhhhhhhhh…………”,
Istri saya mulai mengulum2 batang kemaluan Ujang, batang itu dia masukin
terus di keluarin lagi dari mulutnya,” Ouuwbb…nymmm..mmhhh….slrrrupp. .”,
mulut istri saya,
terus menyiksa batang kemaluan Ujang, Dia mulai kepayahan tangannya
meremas2 rambut istri saya, “ Euisss…..uddaaahhh..aahhh…uran g..teu kuattt
deui…uuhhh….”, Ujang merintih sambil berusaha menarik kepala istri saya
supaya mulutnya lepas dari kemaluannya. Tetapi istri saya sepertinya sudah
kesetanan, sambil terus mengocok batang kemaluannya Ujang, mulutnya mulai
membantai biji kemaluan si Ujang, mulutnya mulai mengulum sambil sesekali
menggigit dua bola daging yang di tumbuhi bulu itu, Ujang menggeliat2
keenakan sesekali mulutnya menyeringai, mungkin ia sedang merasakan geli
bercampur sakit karena biji kemaluannya sesekali digigit oleh istri saya , “
Akhh….ssshhh.. Ouhh…Ngeunahhh euyy….trusssshhh…enaaakkkkhhh. .”, Ujang
mengerang panjang sepertinya dia benar2 kepayahan deh, istri saya memang
paling jago kalo di suruh Blow Job, saya saja lebih sering keoknya,
“Mmbbbhhh….heghh…uukh..ukh…”, mulut istri saya terus mengulum, menggigit
sambil tangannya mengocok batang kemaluan Ujang.
Selang beberapa menit kemudian saya melihat Ujang menarik kuat rambut
istri saya, badannya terdorong ke depan, suaranya mengerang parau, “
Aarrrgghhh…Euiss… uranggg keluarrrrrr….aaahhhhhhh…”, dan….’crett..ccrett’
menyemprot lah cairan sperma Ujang di mulut istri saya, “ I..ih..ih.. Aa’ kok
udah di keluarin sihhh???? “, istri saya protes sambil terus mengocok
kemaluan Ujang hingga tetes sperma yang terakhir keluar, “ Ouhh..ukhh…
Ukh.. habis geli sih Is …sshhh…aahhhh..”, tubuh Ujang ambruk ke kasur,
sementara istri saya berusaha membersihkan mukanya yang belepotan cairan
kenikmatan si Ujang, “ Terrusss…aku gimana dong Aa’… ?, rengek istri saya,
‘Huh !! Sialan !!’ kalo gak lagi ngintip sudah saya aja deh yang mengantikan si
Ujang buat menyetubuhi dia, soalnnya nih kanjut sudah tegang 200%, ‘GILA !!’
horny nya lebih dari kalau saya melihat adegan di filem Be-eF atau kalau pas
mau menyetubuhi istri saya , dua kali lipat , ‘Gustiiii…’ benar2 sensasi yang
luar biasa, sampai2 saya harus membuka resleting celana , untuk membuat
kanjut ini bisa bernafas..
Tak berapa lama kemudian istri saya sudah rebah di samping Ujang,
sementara tangannya masih mengelus2 kemaluan Ujang yang sudah sedikit
lembek, “ Aa’..gimana dong?..kanjutnya jadi lemes gini…”, rengek istri saya
sambil tangannya di selusupkan ke dalam celana dalamnya sendiri ( sepertinya
istri saya benar2 dikuasai nafsu birahi yang kuat ), “ Ayo dong Aa’ ini
lubangku udah gatelll….ihh..”, kembali dia merengek,
“ Sini Is…, Aa’ jilatin mau gak? “, lirih Ujang sambil mencium pentil susu istri
saya , Ujang mulai membuka celana dalam istri saya, kemudian dia membuka
paha istri saya lebar2 sehingga lubang kemaluan istri saya keliatan jelas,
walaupun sudah pernah melahirkan sampai dua kali, tapi lubang kemaluan istri
saya masih lumayan menggigit, ( tau deh sudah berapa kali lubang istri saya di
masukkin kemaluannya si Ujang ), Saya melihat Ujang mulai menyiumi perut
istri saya, kemudian semakin lama semakin turun, pas sampai di lobang
kemaluannya, istri saya menjerit kecil, “ Ouhhh….Ahhhhh….sss
ssshhh…jangan di gigit Aaaa’, sakittt….”, jerit istri saya sambil tangannya
meremas seprei kasur ,‘Sialan!!’, rupanya si Ujang balas dendam tadi
kemaluannya di gigit istri saya, Ujang mulai menjilat2 lubang bagian dalamnya,
hal ini membuat istri saya menggelinjang2 keenakan ( Padahal dia gak pernah
mau kalau kemaluannya di jilat saya, takut songong katanya ), “ Ouuww…
ssshh…gelliiiiii…uhh…sss hhh….geliiii..”.
istri saya mengerang2, makin beringas saja Ujang memainkan lubang kemaluan
istri saya, sementara saya lihat istri saya semakin liar, kepalanya di goyang
kekiri-kekanan, tangannya menjambak dan menarik2 rambut si ujang,
pinggulnya ditarik maju mundur “Ouuhhh…owwhh..ssshhh…udahhh..
udahhh..geliiii..”, rengek istri saya, ‘Waduhh’, mendengar istri saya
mengerang2 semakin tegang aja nih kanjut, apa kanjut si Ujang juga sama?…
Ehh..ternyata sama juga tuh, saya lihat kemaluan si Ujang perlahan2
mengeras, sambil terus menjilat kemaluan istri saya, Ujang mengocok2
kemaluannya sendiri hingga makin lama kelihatan kemaluannya semakin
tegang,
“ Sshh…mmbb..slrruppphh…nymmh..n ymm…sshhh..”, Ujang terus membantai
lubang kenikmatan istri saya, “ Euis…kanjut Aa’ udah siap nihh..di lanjut
teu..???”, Tanya si Ujang sambil mengocok kemaluannya di depan lubang
kemaluan istri saya,
“ Lanjutiinnn…Aaa’..udah basah nihh….uhhhh…”, desis istri saya sambil
mengangkang lebar2. Sejurus kemudian Ujang mulai memasukan kemaluannya
di lubang kenikmatan istri saya, “ Ssssshhh……….”, Ujang mendesis panjang
ketika kemaluannya masuk kedalam lubang nikmat istri saya, “
Uhhhhh….ssshh….aahhh
Ouhhh…..enakkk…”, istri saya mengerang kenikmatan kelihatannya dia memang
sudah tidak sanggup menahan birahinya, “ Ayuh atuh Aa’…di kocok dong
kanjutnya…”, rengek istri saya. Ujang mulai menggenjot kemaluannya turun
naik, ‘slepphh..clepp..cleephh..’ bunyi kemaluan istri saya nyaring sekali, itu
menandakan kalau lubang surga istri saya sudah basah sekali dengan
cairannya dia sendiri, sementara si Ujang berusaha memompa birahinya biar
sampai puncak, tapi karena dia tadi sudah keluar sepertinya bakal lama nih
ejakulasinya,
“ Ukhh..uhh..ukhh…ahh..ahhh..ukh …sshhh…uuhhh….ouhhh…” suara dua insan
yang di kuasai nafsu memenuhi ruangan kamar, sesekali Ujang mengulum
pentil susu istri saya, membuat istri saya semakin menggelinjang, “
Eeeehhh..ssshhh…enakkk Aaaa’…terusss..auwwwhh….ngeuna
hhhhhh…..Ooooooooo..”,
melihat istri saya keenakan, Ujang terus mengulum pentil susu istri saya
sambil terus mengocok kemaluannya turun naik, semakin lama semakin cepat
sehingga membuat istri
saya tidak kuat lagi menahan birahinya pinggulnya bergoyang cepat pantatnya
diangkat dan….”Aaaaaahhhh…E uissss……..keluarrrr….A’aaaa…Oo
ooooouuhhh……..”,
Istri saya mengerang sambil pahanya di tutup rapat menjepit pantat ujang, ‘
serrrr…..’ cairan istri saya keluar sepertinya, saya melihat dari celah lobang
kemaluannya, mengalir cairan bening, tangan istri saya meremas punggung
Ujang kuat2, “ Akhh…aauwwwhh….ssshh…..Aahhhh… .ouhhhhhh…enakkkk……….”
Ujang yang merasakan hangat di kemaluannya semakin kuat menggenjot
lubang surga istri saya sesekali pantatnya di putar2 sambil di dorong habis ke
depan,
“ Ugh..ukh…uhh…uhhh…lobangnya banjirrr….uuhhh…”, rintih Ujang sambil
terus mengocok kemaluannya, “ Ahh…uhhh…Brenti dulu…A’…Euis
ngiluu….akhh..”, istri saya menjerit2, tapi kelihatannya Ujang gak peduli, dia
terus menggenjot, karena merasa ngilu, istri saya membalas dengan
menggoyangkan pantatnya kekiri-kekanan, sambil sesekali di hentakkan ke
atas, Karuan aja si Ujang kewalahan, kemaluannya berdenyut-denyut ,“Ahhh…
sshhhh….enakkk.ahh..ahh h…Ough”
Ujang mencengkram kedua tangan istri saya, gerakan pantatnya makin cepat,
dan beberapa detik kemudian pantatnya di hentakkan kuat2….”
Aarrrgggghhhh…..urang keluarrr …Isssssss………..Arrrrhhhhhhhhhhh
….Ouuhhhhh………….”,
‘Crootttttt..crottt…’, Ujang mengerang panjang pantatnya berkedut2,
tubuhnya di hempaskan di atas tubuh istri saya pantatnya terdorong ke
depan sangat kuat, “ Ahhhh….sssshhhhhhh…..oouuhhhhh …..enakkk…..”,
lenguh Ujang sambil sesekali menggoyangkan pantatnya, kulihat spermanya
mengalir keluar dari celah2 lobang kenikmatan istri saya, ‘ Sialll si ujang!!,
ngapain air maninya di buang di dalam, untung aja istri saya KB kalo gak’,
umpatku dalam hati, gak berapa lama Ujang turun dari tubuh istri saya, ‘
kesempatan nih mumpung dia berdua masih lemes, saya kerjain ah saya pura2
grebek aja’, pikir saya, soalnya terus terang saya juga gak marah dengan
kelakuan mereka berdua malah saya menikmatinya, lihat aja ujung kepala
kanjut saya malah basah, terus pelan2 saya jalan ke pintu kamar
‘Brakkkkk!!!’, pintu kamar saya tendang hingga terbuka, Ujang dan istri saya
kaget bukan kepalang, “ bangs*ttt !!!, ngapain kamu berdua Ha???..”, hardik
saya, muka Ujang pucat pasi istri saya langsung panik, “
A..ampun..kang..ampun….”, kata Ujang ketakutan,
“ Iya A’ aku juga minta ampun…”, rengek istri saya langsung mencoba memeluk
badan saya, Cuma saya dorong lagi aja ke tempat tidur, “ Kamu berdua bikin
malu!!, sekarang juga kamu berdua ke kantor desa!!, saya tarik tangan si
Ujang, Ujang langsung sujud di depan saya, “ Ampuunnn kang, jangan bawa
saya ke Kuwu ( panggilan kades kalo di kampung ), tolong saya kang, nanti
bapak saya tahu dia jantungan ( si Ujang memang belum punya istri dan masih
tinggal bersama orang tuanya ), saya mau di suruh apa aja, saya mau kang asal
jangan di bawa ke pak kuwu, tolong kang..”, Ujang merengek sambil mencium
kaki saya, gak berapa lama istri saya juga ikut sujud di kaki saya, “ Iya A’,
tolong jangan bawa saya ke desa, Aa’ boleh ceraikan saya, saya rela…tolong
jangan bawa ke desa nanti bapak jadi malu, kasian bapak A’..”, rengek istriku
sambil terus menyiumi kaki saya, ‘Hmm…ini dia saya kerjain aja nih’ pikir saya
dalam hati.” Ya sudah begini saja, kamu Jang bikin surat perjanjian bahwa
kamu mau ngelakuin apa aja yang saya suruh, kalau kamu menolak, urusannya
aku bawa ke kantor polisi, gimana?”, tanya saya sambil mengambil kertas dan
ballpoint dari dalam laci, “ Iya kang saya sanggup…”, jawab Ujang lirih, sambil
bangun menuju meja, “ Kamu Is!, kamu juga buat perjanjian kalau kamu juga
mau aku suruh apa aja, kalo gak aku kasih tahu bapak kelakuan kamu ini dan
aku laporin polisi karena kamu sudah berselingkuh”, kata saya sambil
memberikan kertas ke istri saya, “ Iya A’, maafin saya yah…”, setelah
kedua2nya selesai membuat surat perjanjian, saya suruh mereka berdua
untuk ‘main lagi, “ Nah sebagai hukumannya kamu berdua harus mengulangi
apa yang kamu perbuat tadi di hadapan saya, saya mau merekamnya buat
bukti” kataku sambil mengambil HP kamera yang ada di saku ,
Ujang dan , saling pandang, mereka gak nyangka hukumannya bakal aneh
begitu,
“ Tapi A’..? “, istri saya keheranan sementara Ujang cuma menunduk lesu, “
Sudah kamu mau apa tidak?, kalo tidak aku ke pak kuwu sekarang..”, aku
berkata sambil mengarahkan kamera ke mereka berdua, “ I..iya,,deh A’…saya
mau…” sahut istriku terbata2, “ Kamu jang..???…”, tanya ku, “ Saya terserah
akang aja, tapi kayaknya saya gak sanggup kang tadi udah keluar dua kali,
lagian saya malu kalo di liatin”, jawab Ujang sambil memegang kemaluaanya
yang sudah lembek, “ Gak usah malu Jang, anggap aja aku gak ada, kan
mumpung akunya juga gak marah, jadi kamu bisa main sepuas kamu gimana?”,
kataku meyakinkan si Ujang, “ Ya udah deh kang, beneran gak apa2 nih aku
main sama istri akang??”, tanya Ujang lagi, “ Udah, beneran gak apa2 kok,
sana naik ke tempat tidur gih!!”, sahutku.
Ujang beringsut naik ke tempat tidur, sementara istri saya sudah duduk di
atas tempat tidur, badannya sedikit di tutupi selimut, “ Euis !!, ngapain di
tutupin biarin aja di buka, biar Ujang bisa nikmatin tubuh kamu “, kata saya
mirip seorang sutradara yang sedang memberikan pengarahan ke para
pemainnya, Ujang duduk di sebelah istri saya, mukanya masih pucat
ketakutan.
“ Ayoh !!… Is…bangunin tuh kanjutnya si Ujang, kamu khan..jagonya kalo
bangunin kanjut.”, kataku sambil mulai merekam mereka berdua, perlahan Euis
bangun dan mulai menghampiri kanjut Ujang, jari tangannya yang lentik mulai
mendarat di batang kanjut Ujang, sementara ujang mulai rebah di kasur,
rupanya dia juga gak mau terlalu terlihat mukanya oleh sorotan kamera HP-
ku, Euis sudah mulai beraksi, dia kelihatan agak canggung mungkin malu sama
aku suaminya, mungkin pikir dia mana ada suami yang menyuruh istrinya
bersetubuh dengan orang lain, “ Eh Euis.yang bener atuh,kalo kanjut Ujang
gak keras2 kapan kalian mau mainnya???..”, kataku sambil terus merekam,
Euis pun mulai memasukkan kepala kanjut Ujang di dalam mulutnya, dia
kulum2 pelan2 sesekali dijilat2 ujung kepalanya, Euis memang pintar untuk
yang satu ini, dia tahu titik mana di bagian kemaluan Ujang yang paling
sensitif, buktinya Ujang mulai menggelinjang kegelian, Cuma dia gak berani
mengeluarkan suaranya, “Heh…Jang…mana suaranya???….tadi waktu main yang
pertama kok keras sekarang kok diam??,..Hayo…keluarin suara kamu !!…”,
perintahku, Ujang dengan sedikit malu mulai bersuara, “
Sssshhhh…..mmmmpphhhhh….terrus ss..Iissss….ouhhhh….”, rintih Ujang,
Euis juga makin bersemangat ketika melihat batang kanjut Ujang mulai
mengeras, sisa2 air mani Ujang yang mulai mengering tidak di hiraukannya,
dia terus menjilat dan mengulum2, “ Mmmmpppphhh…slrruuuppphhh…emmm
mhh..emmhh…emmhh..”,
Kemaluan Ujang dia putar2, buah zakarnya di kulum sambil di tarik2 sampai
kempot, karuan saja Ujang makin keenakan, “ Okh..Ukhh…ssshhh…enak..Is,
benerrrrr….”, Ujang mengerang2 tangannya mulai meremas2 rambut istriku,
sementara aku yang menyaksikan adegan itu juga mulai horny lagi nih, aku
buka tali ikat pinggangku kemudian kanjutku kubiarkan keluar, Euis sempat
melirik perbuatanku, Cuma dia tidak bisa komentar karena mulutnya penuh
dengan biji zakar milik Ujang, sementara tubuh Ujang menggeliat2 sepertinya
dia merasa ngilu karena sudah dua kali kanjutnya memuntahkan air mani, “
Uughhh…ohhh…ngiluuu euy..Iss…ngiluuu..atos atuhh..”,
Rengek Ujang memohon supaya istri saya menghentikan pembantaian pada
kemaluannya.Kasihan juga si Ujang belum sempat istirahat lama kanjutnya
sudah di paksa bangun lagi,
Akhirnya saya suruh istri saya supaya mulai beraksi, “ Euis..ayoh kamu naik di
atas kanjut ujang, gantian kamu yang genjot sekarang..”, istri saya beringsut
pantatnya berada di atas kemaluan Ujang, kemudian sambil terus di genggam
perlahan kanjutnya di arahkan ke lobang kenikmatannya, sejurus kemudian
dimasukkannya batang nikmat Ujang ke lobang vaginanya, “ Ahhhhh……”, istri
saya mendesis ketika batang kanjut Ujang amblas ke dalam lobang
kemaluannya, “ Uuuuuhhhhh…..ssshhh….”, Ujang mendesis juga kelihatannya
dia sedang merasakan nikmat bercampur ngilu, istri saya mulai menaik
turunkan pantatnya, ‘cleppsss…sleppphh…cleppss…’, bunyi kedua kelamin ini
begitu nyaring mungkin karena lobang kemaluan istriku masih terisi oleh
sperma Ujang jadinya bunyinya nyaring, apalagi kulihat batang kanjut Ujang
belepotan cairan putih setiap keluar masuk lobang kemaluan istriku, “
Ouwh..ouwww..ssshhh….”
Istriku merintih2 keenakan, tangannya menggenggam erat sprei tempat
tidur, Ujang yang berada di bawah juga gak mau kalah, tangannya meremas2
payudara istriku dengan mesra, “ Sssshhh….ennaaaakk….aahhhh…ter russs….
Issss….”, rintih Ujang keenakkan Istri saya makin bersemangat pinggulnya
turun naik dengan cepat,
matanya merem melek, sementara mulutnya menganga mengeluarkan suara2
yang gak jelas,“ Ouwwhh…hrrrhhh….aarrrgggg….oou
pppphhhh….owhh..ouwwggghh….”
beberapa menit kemudian saya suruh istri dan Ujang untuk berganti posisi,
sekarang saya minta istri saya untuk nungging, “ Ayohh..Euis kamu sekarang
nungging, biar Ujang tusuk lobang kamu dari belakang…”, istri saya menurut
dia bangun kemudian menungging di atas tempat tidur, sementara Ujang
beringsut menghampiri pantat istriku yang sudah menganga menunggu
kanjutnya untuk di masukkan ke dalam lobang kenikmatannya, “
Eeegghhhh….ssshhhh…..”, Ujang mulai memasukkan batang kemaluannya ke
dalam lobang vagina istriku, ‘ Sleeeppppsss…’, sekali tekan masuklah batang
kanjut itu, “ Aaahhhhh…….ssssshhhhh…..ennaaa akkkk….”, istri saya mendesis
panjang, batang kemaluan mulai keluar masuk lobang vagina istriku, bunyinya
nyaring‘ Clepss..clophh…clops…clepss..c loph…cloph…’, Ujang terus menggenjot
kanjutnya, tangannya meremas2 pantat istriku “ahh…akhh..ukkh…ogghhh…
ssshh…o hhh…uuhhhhh….enaakkkk…ssshhhh… .”
Ujang terengah2 menikmati vagina istriku, “ Ssshhh….uhhh…
aaaaaa….ennaakkk… ”
Istri saya juga mengerang2 kenikmatan, Sementara saya lihat Ujang mulai
kepayahan, dengan posisi bersetubuh seperti ini membuat kanjutnya tidak
dapat bertahan lama,
“ Oghh..sssshhhh…..addd..ddduuuh hh….teuu…kuattttsss..deui…euuh hhh…….”,
Ujang menggenjot makin cepat, kemudian secara tiba2 dia mencabut
kanjutnya dan mengocoknya di luar vagina istri saya di sertai lenguhan
panjang, “ Aaaaaaaahhhhh…”,
‘Crroootttt…crettt..cre..cettt ..’ muncratlah cairan mani ujang di atas pantat
istriku
“ Urangggg…..Keluarrrrrrrr…..Ouu hhhhhhhh………”, Ujang mengerang2
perutnya berkedut stiap kali maninya menetes dari kepala kanjutnya,
kemudian dia ambruk ke kasur, “ Yahhh…Jang…kamu udah keluar?..”, tanyaku
sambil mengarahkan kamera Hp-ku kearah Ujang yang terduduk lemas, “
Uhh..iya..kang, gak kuat kalo gaya kayak gitu”, Ujang berkata lemah sambil
mengelap kanjutnya dengan kain seprei
Aku mematikan proses rekamnya, kemudian aku melihat ke arah istriku yang
masih nungging di kasur, sambil membuka celana dan kaosku aku menyuruh
Ujang untuk turun dari kasur, “ Sudah kamu turun Jang duduk di kursi
gantian aku yang mau ng*nt*t nih”,Kata saya sambil menghampiri tubuh istri
saya Euis.
Malam itu saya mampu bersenggama dengan istri saya lebih dari biasanya,
saya merasakan nikmat senggama yang luar biasa, ini karena sensasi yang saya
dapatkan dari melihat adegan istri saya bersenggama dengan Ujang. Sejak
saat itu bila saya ingin mendapatkan sensasi yang luar biasa waktu ML dengan
istri, maka saya biasanya mengajak Ujang atau orang lain untuk terlebih
dahulu menyetubuhi istri saya, berkat surat perjanjian yang di buat istri saya
dan Ujang maka saya bisa menyalurkan hasrat seks saya yang tidak lazim ini
dengan mudah, tapi lama-kelamaan istri saya juga mulai terbiasa dengan hal
itu, malah sekarang dia dapat lebih menikmatinya dan terkadang lebih sering
dia yang memilih pasangan untuk bersenggamanya, kami punya banyak
pengalaman untuk di ceritakan bila berkenan.
Aida namaku, mahasiswi 20 tahun di salah satu universitas di Surabaya. Aku cenderung
supel, senang tersenyum, periang dan aktif. Kata temanku aku adalah gadis kedua idola
kelasku setelah Yungky, temanku. Aku berkulit putih dengan bibir tebal yang sensual,
rambutku kupotong pendek sebahu sehingga leher kencang dan jenjangku dapat terlihat
indah. Aku sangat menjaga pakaianku, meski cukup sulit menemukan pakaian yang tidak
menonjolkan payudaraku yg berukuran 36B. Kesalahanku adalah aku terlalu supel dan
cepat dekat dengan laki-laki tanpa memikirkan bahwa mungkin saja mereka memiliki
niat jahat. dan itulah yang terjadi.

Siang itu teman akrab sekelasku (yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri) yang
bernama Taufik mampir ke kostku. seperti biasanya, saat siang keadaan kostku sangatlah
sepi. saat itu aku sedang tidak ada kuliah, jadi aku sendiri di kost. Taufik mengucapkan
salam dan akupun membalasnya. Lalu kami ngobrol di ruang tamu yg letaknya tidak
jauhdari kamarku (kamarku paling depan). Setelah duduk, Taufik menyerahkan
bungkusan yang ternyata berisi juice alpukat, kesukaanku.
“tumben bawa ginian?” tanyaku. “ada acara apa nih?”
“nggak, cuman tadi abis ke warung juice sama Yogi dan faruk” jawabnya santai.
Akupun membuka minuman itu dan meminumnya. Taufik lantas mengeluarkan buku
pelajaran dan duduk di sampingku sambil memintaku mengajarinya. Beberapa menit
kemudian aku merasa agak gerah, langsung saja kuhabiskan es juice pemberian Mas
taufik.
“panas ya?” kata mas Taufik, aku cuma mengangguk.
Rasa gerah itu lama-lama berubah menjadi sebuah perasaan yg aneh, tiba-tiba saja
jantungku berpacu kencang.
“Da… kamu dah putus sama si Johan ya?” tanya mas Taufik. aku hanya mengangguk
pelan sambil berusaha memfokuskan pikiran.
Tiba-tiba tangan mas taufik menyentuh pundakku dan menarikku ke pundaknya. Entah
apa yang ada dalam pikirkanku saat itu tapi badanku sangat lemas dan sulit digerakkan.
Belum habis heranku, tiba-tiba terasa gatal di sekitar kemaluanku, kemaluanku teras
panas, dan aku dapat merasakan putingku mulai mengeras.
“kenapa Da?” tanyanya lagi,
Tanpa menunggu jawabanku, mas Taufik sudah mencium pipiku dan lalu semakin
mendekat ke bibirku hingga akhirnya dia melumat bibirku. aku tidak bisa bergerak aku
hanya memalingkan wajah begitu mas Taufik menghentikan cumbuannya. Tanpa banyak
kata tangan Mas Taufik turun ke payudaraku yg masih terbungkus pakaianku dan mulai
meremasnya.
“jangan…” kataku lemas, tanganku mencoba menahan tangannya namun tidak bertenaga
sama sekali… sedangkan di vaginaku terasa semakin panas dan gatal, putingku terasa
semakin mengeras.
Perasaan aneh yang nikmat mulai terasa seiring dengan remasan remasan Mas Taufik di
dadaku. Aku mencoba menggerakkan diriku tapi benar-benar tidak mampu. Mas Taufik
meneruskan remasannya sambil tangan satunya mencopoti kancing depan kemejaku.
dalam hitungan menit, tangannya menyelusup ke dalam bajuku dan terus ke dalam Bra-
ku, kini Mas Taufik menyentuh payudaraku langsung. Tanpa sadar aku mendesah lirih
dan badanku terangkat saat Mas Taufik menyentuh dan mulai meremas payudaraku
secara langsung. Kembali bibirku dilumatnya dan semakin ganas, aku mulai terbawa.
Tanpa sadar aku membalas ciumannya, melupakan bahwa ini semua tidak benar. jari
jemarinya memilin-milin kecil putingku hingga aku benar-benar terangsang. Tanpa bicara
dia lalu mengeluarkan payudara kananku dari sarangnya lalu mendekatkan wajahnya ke
payudaraku.
“engg…” hanya itu yang keluar dari bibirku saat Mas Taufik mulai mengulum puting
kananku, menghisapnya kencang dan menjilatinya, mataku terpejam pasrah saat Mas
Taufik memainkan lidahnya dan menghisap puting kananku. Hanya nikmat yang ada di
dalam kepalaku hingga aku tak sadar saat mas Taufik membuka resleting jeansku.
Rasa nikmat itu semakin hebat seiring dengan erangan tertahanku saat Mas Taufik
menyusupkan tangannya dan memainkan jemarinya di kemaluanku, aku benar-benar
basah di bawah sana… mataku semakin terpejam, nafasku semakin tak beraturan. Ini
memang bukan pertama kalinya tubuhku disentuh lelaki, satu-satunya lelaki yang pernah
menyentuhku adalah mantan kekasihku Johan, namun aku belum pernah bersetubuh
dengannya. Aku memang tipikal yang mudah terangsang. Dan dengan begini, Mas Taufik
menjadi orang kedua yang menyentuh tubuhku. Perlahan tapi pasti Mas Taufik
menanggalkan jeansku hingga selutut, lalu menurunkan celana dalamku. kini tangannya
semakin leluasa bermain-main di permukaan bibir vaginaku, sesekali menyentuh
klitorisku, membuatku semakin merasakan nikmat. Wajahku semakin memerah karena
terangsang.
“jangan disini” ujar Mas Taufik tiba-tiba. “nanti kelihatan orang, kita ke kamarmu
saja” Dan tanpa basa-basi lagi Mas Taufik menuntunku (yang sudah sangat lemas dan
terangsang) ke dalam kamarku.
Kamarku tidak memiliki daun pintu, hanya ditutup kain kelambu, itu kamar paling depan
dan akses ke ruang tamu paling cepat, itu sebabnya aku memilih kamar itu, meski tidak
ada pintunya. soalnya teman-temanku sering datang berkunjung. Di kamar, Mas Taufik
tidak menunggu lama, dia merebahkanku di ranjang dan mulai menanggalkan jeansku
dan menarik lepas celana dalamku , hingga dia dapat melihat dengan jelas vaginaku yg
sudah basah. Kemejaku di singkap dan Bra-ku dinaikkan sehingga kedua payudaraku
juga terpampang jelas, dia mengecup dan memainkan lidahnya di payudaraku,
menghisap-hisap putingku hingga aku lebih sering lagi mendesah. Beberapa menit
melakukan itu, dia melepas celana panjangnya berikut CDnya. dan inilah pertama kalinya
aku menyaksikan penis laki-laki, meski pernah telanjang di depan Johan, aku belum
pernah melihat penis Johan. Mas Taufik meraih tanganku, menuntunnya ke kemaluannya
dan memintaku mengocoknya. aku belum tau harus bagaimana jadi yang aku lakukan
malah meremas-remasnya. Tak lama kemudian Mas Taufik naik ke ranjang,
meregangkan kedua kakiku dan menggesek-gesekkan kemaluannya ke vaginaku, aku
merasa sangat nikmat, detik berikutnya dia mulai mengarahkan penisnya dan melakukan
penetrasi.
“AAGGHH!!!” aku tersentak karena sakit yang luar biasa! tiba-tiba kesadaranku pulih!
aku mendorong tubuh Mas Taufik yang menindihku, tapi dia malah menahanku dengan
menindihkan tubuhnya padaku!.
“Sakit!!” ujarku sambil meringis menahan sakit, penis itu terasa masuk perlahan dan
semakin dalam, mencoba merenggut kehormatanku. “jangan!! sakit!! sudah mas!
jangan!” pintaku sambil meronta dan menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Sssa..AAKKHH!!!….” Dan satu hentakan berikutnya terasa sangat menyakitkan, Mas
Taufik terus menekan-nekankan penisnya hingga benar-benar amblas. Aku menangis
meringis menahan sakit sambil terus berusaha mendorong tubuh Mas Taufik yang
menindihku. Tanpa banyak kata, Mas Taufik mulai menarik kembali penisnya dan
membenamkannya lebih dalam lagi. aku kembali tersentak.
“Hmmmpphh!!” desahku menahan sakit.
Mas Taufik melakukannya berulang-ulang sambil terus menahan tubuhku yang berontak,
dia menggejotku semakin cepat dan cepat, tiba-tiba tirai pintu kamarku terbuka, kontan
aku terkejut sambil menoleh dan aku melihat dua teman sekelasku yang lain Yogi dan
Faruk masuk ke kamarku.
“bisa juga ternyata Aida dientot” komentar Yogi sambil tersenyum melihat Taufik yang
menggenjotku makin keras. Aku mulai menangis sambil mengerang-erang merasakan
sakitnya tusukan demi tusukan penis Mas Taufik.
“hebat kamu fik, bisa juga Aida kamu pake“ tambah Faruk.
Aku meronta tapi tak ada tenaga, Taufik mempercepat gerakannya, Yogi dan faruk duduk
di kursi kecil di tepi ranjangku, menyaksikan Taufik yang semakin kencang
menggenjotku, tiba-tiba ada suara langkah dari ruang tamu, lantas terdengar suara wanita
dewasa, Ibu Kost! pikirku setengah panik, aku berusaha menahan desahan dan eranganku
sebisa mungkin. Mengetahui itu, Mas Taufik bukannya memperlambat malah
mempercepat genjotannya. Untung saja setelah itu terdengar langkah menjauh disusul
pintu ditutup. Ibu kost menutup pintu rumah kost.
Rasa sakitnya mulai berkurang dan berganti dengan sensasi geli nikmat yang aneh.
Sepertinya vaginaku sudah bisa beradaptasi dengan penis Mas Taufik. Namun genjotan
kasar Mas Taufik membuatku tidak bisa menikmati, apalagi Yogi dan Faruk dengan
santainya menonton live show ini.
“Enggh…” erangku saat tiba-tiba Mas Taufik mencabut penisnya dan mengeluarkan
cairan putih kental di atas perutku.
Aku berusaha bangkit tapi Yogi dan faruk (yang entah kapan mereka melepas pakaian
mereka) menekan tubuhku hingga aku terbaring kembali.
“jangan…. jangan… yog…. sudah…” ucapku sambil menangis lemas.
Tubuhku sudah sangat lemas dan entah mengapa rasanya libidoku masih tinggi.
“habis kamu perawani” ucap Yogi sembari sambil melihat bercak darah di vaginaku.
Aku hanya terisak dan kembali mengerang saat penis Yogi yang lebih kecil dari punya
Taufik membelah bibir vaginaku.
“Emmh…ssempitnya memekmu Da…” ujar Yogi sambil menggerakkan penisnya keluar
masuk perlahan, menikmati gesekan-gesekan dinding vaginaku. Aku masih belum
berhenti menangis.
“jangan dibuang didalam” ujar Taufik (yang sudah kembali berpakaian) “siapa tau dia
dalam kondisi subur” tambahnya sambil ngeloyor keluar kamar.
Faruk yang dari tadi meremas-remas payudaraku mulai mendudukkanku dan
menanggalkan kemejaku diikuti Bra ku. Kini aku benar-benar bugil total di depan
mereka. Dengan penis Yogi mengaduk-aduk liang vaginaku.
“Ooh… cantiknya kamu Da…” ujar Yogi sambil mempercepat genjotannya. Kali ini aku
merasakan kenikmatan yang tadi tidak kudapatkan saat kehormatanku diambil Mas
Taufik. Aku mendesah lirih, seiring dengan genjotan dan nafas Yogi yang terdengar
sangat berat.
Yogi menggenjotku makin kencang, penisnya keluar masuk dengan cepat, tubuhku
sampai sedikit terguncang. Tanpa bicara, Faruk menempelkan penis besar dan
panjangnya ke bibirku dan memaksaku mengoralnya. aku menolak, tapi dia menekan
terus, hingga akhirnya penisnya bisa masuk, dia menggoyangkan penisnya searah.
“ooh… enak mulutmu Da… pake lidah Da…” ujar Faruk tanpa memperdulikan
penolakanku dan terus memompa mulutku. Sementara dibawah sana Yogi terus
menggenjotku.
Tiba-tiba Yogi mencabut penisnya dan memberi isyarat pada Faruk, mereka berganti
posisi. Aku benar-benar pasrah saat Faruk melesakkan penisnya ke vaginaku, ukurannya
sangat besar hingga akumerasa ngilu, kembali aku menangis…saat keperawananku
direnggut, aku digilir tiga orang sekaligus!!. Yogi mendekatkan penisnya ke mulutku,
mengocoknya dan memasukkanya ke mulutku dengan paksa.
“HMMPPHH!!!” jeritku tertahan saat dengan tiba-tiba kurasakan penis Yogi
menyemburkan cairannya. Aku berusaha melepaskan penisnya dari mulutku tapi Yogi
menahan kuat kepalaku dan malah memasukkan penisnya semakin dalam. Apalagi saat
itu Faruk memutar-mutarkan penisnya di dalam vaginaku, membuat aku tak bisa
berkosentrasi. Yogi membiarkan penisnya cukup lama hingga terpaksa aku menelan
seluruh spermanya. Rasa asin dan aneh menempel di lidahku. Setelah yakin aku sudah
menelan semua spermanya dia mencabut penisnya dari mulutku dan duduk di kursi
sambil melihat Faruk yang mengerjaiku.
Faruk mengangkat kedua kakiku dan menyandarkannya di bahunya lalu memasukkan
penisnya hingga amblas seluruhnya!. Penis faruk jauh lebih panjang dan lebih besar
dibandingkan penis Yogi maupun Mas Taufik membuat tubuhku tersentak.
“Auungghh!!!!….”erangku saat Faruk melesakkan seluruh penisnya. Faruk mulai
menggenjotku pelan tapi pasti. Membuat ngilu di vaginaku berangsur-angsur berubah
menjadi rasa nikmat. Kenikmatan-kenikmatan itu semakin terasa setiap Faruk
melesakkan penisnya.

“Aach… sssh… mmmh….” Erangku dengan mata terpejam menikmati genjotan Faruk.
Aku benar-benar lupa kalau ini adalah perkosaan. Aku terbuai dengan genjotan-genjotan
penis Faruk. Kenikmatan itu semakin terasa hingga…
“NGGGHHHHHHHHOOHHH!!” aku menjerit tertahan, tubuhku terlonjak, kakiku jatuh
dari bahu Faruk dan aku memeluk Faruk, gelombang itu datang lagi dan aku tanpa sadar
mencengkeram bahu Faruk hingga terluka.
Beberapa detik aku terpejam, rasa hangat terasa di liang vaginaku. Setelah itu badanku
melemas. Faruk mempercepat genjotannya.
“engh… hh…hhh…hhhh….” Nafasku yang benar-benar lemas saat Faruk menggenjotku.
Tidak lama kemudian Faruk membalikkan tubuhku dan mengangkat punggungku hingga
aku bertumpu pada dua siku tanganku. Dengan kasar Faruk melesakkan penisnya dari
belakang, tangannya menggenggam pinggangku dan menhadikannya tumpuan dari
pompaan penisnya ke vaginaku. Rasa nikmat itu muncul lagi….
“Oouchh…ssh…. Aaahh..ahha..ach…” aku menikmati kenikmatan pompaan penis Faruk
yang semakin cepat. Bunyi alat kelamin kami yang beradu semakin terdengar kencang.
Faruk menindihku dari belakang. Aku yang telungkup dan dia semakin brutal
memasukkan penis panjangnya itu dari belakang.
“eengh…sseh…sssh…MMMMPPHH!!!!….” tubuhku bergetar. Aku mencapai orgasme
keduaku. Faruk membiarkanku menikmati orgasmeku sebelum kembali memompaku
dengan kasar. Tulang-tulangku rasanya seperti dilolosi… aku sudah benar-benar lemas.
“AAAAGGHH!!” jeritku saat satu Faruk menghentakkan penisnya dalam satu hentakan
keras dan dalam. Faruk menggeram dan sedetik kemudian kurasakan penisnya
berdenyut…
Aku terlambat bereaksi, saat aku sadar apa yang akan terjadi, saat itu penis Faruk sudah
bergetar dan menyemburkan cairan-cairannya. Membuat vaginaku terasa hangat. Aku
tersentak dan kontan mulai menangis… Aku tak bisa membayangkan kalau harus
hamil!!.
“mending kamu langsung cuci di kamar mandi biar sperma itu keluar deh Da…” ujar
Faruk santai sambil mencabut penisnya.
Aku terisak semakin keras dan segera berlari keluar kamar menuju kamar mandi. Cairan
kental putih terlihat menetes dari vaginaku. Taufik keheranan melihatku berlari telanjang
ke kamar mandi sambil menangis. Aku tak peduli, aku langsung jongkok dan menyiram
vaginaku dengan shower hingga aku yakin semua cairan sperma Faruk benar-benar
keluar. Saat aku kembali ke kamar, mereka bertiga sudah ada di ruang tamu. Untunglah
saat itu sedang liburan kuliah, jadi semua anak kost sedang pulang kampung. Aku masuk
ke dalam kamarku dan menangis sejadi-jadinya.
“Orgasme dua kali ya Da??” Taufik bicara dari pintu kamarku. Aku tidak
menghiraukannya dan terus terisak dengan tangisanku. Lalu kurasakan Mas Taufik duduk
di ranjangku dan menarik tubuh telanjangku hingga menghadapnya.
“Nih…” katanya sambil tersenyum dan menunjukkan sebuah video di HPnya.
ASTAGA!! Rupanya Yogi tadi merekamku saat digauli oleh Faruk. Apalagi dia sengaja
mengclose-up wajahku saat aku orgasme!!!. Aku berusaha merebut HP itu tapi Mas
Taufik dengan cekatan melemparnya ke Yogi yang juga sudah berada di kamar.
“kalau ga mau keluargamu tahu lebih baik diam dan besok layani kami lagi” ujar Mas
Taufik dengan nada mengancam. “lagipula aku kan belum ngerasain isepanmu Da..”
tambahnya sambil beranjak pergi diikuti Yogi dan Faruk. Aku hanya bisa menangis dan
menangis, vaginaku terasa panas dan ngilu. Setelah insiden itu, aku harus siap untuk
dipakai mereka lagi. yang paling aku sesalkan adalah jumlah mereka terus bertambah dan
berganti-ganti saat menggilirku, aku jadi budak seks mereka.. Ternyata bukan hanya aku
korban mereka, satu sahabat baikku Yungky (pacar Taufik sendiri) diperawani dan
digarap oleh cowok satu kelas saat berlibur di Villa Malang dulu.

Huda masih menyodok vaginaku dalam posisi Doggy Style, desahan-desahan kecil keluar
dari mulutku seiring keluar masuknya penis kurusnya di vaginaku. Desahan nafas huda
terdengar makin cepat, cengkeraman tangannya semakin kencang di kedua payudaraku.
Tak lama Huda mempererat goyangannya tangannya beralih mencengkeram pinggangku
sambil memasukkan penisnya lebih dalam lagi.
“Engggh….” erangku pelan saat merasakan cairan sperma Huda yang hangat memenuhi
liang senggamaku.
Ini adalah pertama kalinya Huda menyetubuhiku. Dengan ini, berarti semua pria di
kelasku sudah pernah menyetubuhiku, menikmati tubuhku yang kencang ini. Tubuhku
tersungkur lemas di lantai kamar Yogi yang dilapisi karpet warna hijau, tanpa bicara
sepatah katapun Huda mengambil tissue dan membersihkan ceceran sperma yang
menetes di karpet, raut kepuasan terpancar dari wajah kampungannya. Cowok berwajah
di bawah standart itu baru saja menikmati tubuhku, seorang gadis yang jadi idola
kampus. Malam ini aku terpaksa (lagi) menginap di rumah Yogi, orang tuanya sedang ke
rumah neneknya, jadi dia hanya tinggal dengan adik laki-lakinya yang saat ini kelas 2
SMU. Yang mana tanpa sepengetahuan Yogi sendiri, adiknya sering meniduriku kalau
Yogi keluar, bahkan pernah mengajak teman-temannya menunggangiku bersamaan.
Kupaksakan kaki yang masih lemas untuk mengenakan kembali pakaianku, lalu keluar ke
kamar mandi untuk mencuci tubuhku, seusai mandi aku meminum pil anti hamil, seperti
malam-malam sebelumnya, untuk antisipasi agar aku tidak hamil jika besok ada yang
menyetubuhiku.Huda sudah tidak terlihat lagi di kamar. Hanya Yogi yang dari awal
menyaksikan langsung persetubuhanku dengan Huda duduk dan asyik mengedit hasil
rekaman persetubuhanku dengan Huda barusan. Aku beranjak naik ke tempat tidur untuk
beristirahat, sebelum aq terlelap dalam tidur, Yogi sempat mengingatkan tentang camping
bersama yang akan diadakan 2 hari dari sekarang, bersama anak-anak kelas C. Hanya 2
gadis dari kelas B yang diajak yaitu aku dan Yungky (yang juga telah menjadi budak seks
mereka), jadi aku tahu sekali kalau aku akan jadi bahan pertukaran antar kelas.
———————————–
Catur membawakan tas punggungku dan menaruhnya ke dalam bak truk tentara yang
akan menjadi sarana transportasi kita ke Malang. Sebenarnya tidak perlu menyewa truk,
toh ini hanya camping biasa, bukan OSPEK. Anak-anak kelas C sibuk menaruh barang
mereka di truk masing-masing, begitu pula kami. Siswa kelas C ada 55 orang, tapi yang
saat ini ikut camping hanya sekitar 20 orang, 15 cowok dan 5 cewek. Sedangkan seluruh
cowok kelas kami (kelas B) yang berjumlah 25 orang ikut semua, yang cewek hanya 4
orang, aku, Yungky, Adhelia dari kelas E dan Poppy dari kelas F. Entah bagaimana, tapi
sepertinya Taufik dkk telah berhasil membuat mereka menjadi budak seks juga. Di antara
pria kelas C ada seseorang yang bernama Agung, yang sering digosipkan menaruh hati
padaku, setiap aku melewati kerumunan anak-anak kelas C pasti mereka menyebut nama
Agung keras-keras. Agung berperawakan kecil dan pendek, kulitnya tidak terlalu gelap
namun bibirnya sedikit monyong, benar=benar bukan seleraku. Dan sepertinya sebentar
lagi dia akan ikut menikmati tubuhku.
“Oke Aida, Adhel ama Yungky ikut truk anak kelas C” komando Taufik. Aku sempat
protes tapi mereka tidak peduli, sebagai gantinya, 4 cewek kelas C ikut truk kelas B.
sepertinya mereka mau meraba-raba tubuh kami di sepanjang perjalanan nanti.
Walhasil aku sekarang duduk diantara cowok-cowok kelas C yang dengan sengaja
menyentuh-nyentuh pantatku saat membantuku naik ke truk tadi. Dan dengan sengaja
juga mereka mendudukkanku di sebelah Agung sambil menyorakinya. Agung memang
pernah bilang ke teman-temannya kalau dia naksir aku sejak semester satu. Truk berjalan,
akan makan waktu 3 jam untuk sampai di lokasi camping di Malang, aku dan Agung
hanya mengobrol saja. Lalu Agung mulai memberanikan diri memegang tanganku, aku
diam saja, Agung terlihat sangat kikuk. Yang lain mulai menyoraki Agung agar bertindak
lebih jauh, Agung semakin bingung dan salah tingkah. Tidak sabar melihat sikap Agung,
Anton, ketua kelas C yang bertubuh gemuk menghampiriku dan menarik tanganku
sehingga aku berdiri.
“begini loh Gung!” ujar Anton sambil mendekap tubuhku dari belakang, tangan kanannya
meremas-remas buah dadaku yang masih tertutup T-shirt. “nih, terus diginiin” katanya
sambil meletakkan tangan kirinya tepat di selangkanganku, lalu mulai menggerak-
gerakkan jarinya dari luar rok selututku. Tak perlu waktu lama bagi libidoku untuk naik,
aku memang paling tidak tahan bila daerah selangkangku dipermainkan. Apalagi saat itu
semua mata di truk memandang ke arahku, menambah sensasi tersendiri bagiku. Secara
refleks mataku terpejam dan aku mengeluarkan desahan halus tanda kenikmatan. Tiba-
tiba Anton menghentikan aktifitasnya dan mendorongku jatuh ke pangkuan si Agung.
“tuh! Gituin! Cepetan! Yang lain juga pengin!” ujar Anton sambil kembali duduk di
tempatnya.
Aku kini duduk di pangkuan Agung, penisnya yang sudah tegang terasa sekali menonjol
menyentuh pantatku. Tanpa banyak bicara dia meremas payudaraku dari luar, akupun
menjatuhkan tubuhku pasrah dipangkuannya. Tidak perlu waktu lama bagi tangannya
untuk menelusup ke balik Kaos dan BHku, meremas dan memain-mainkan putingku yang
sudah dari tadi mengeras. Aku memalingkan wajahku ke belakang dan bibir kamipun
berpagutan, kecupan-kecupan berubah menjadi hisapan-hisapan sebelum akhirnya
menjadi sapuan-sapuan lidah yang sangat menggebu-gebu. Tangan kanannya masih aktif
dengan payudara kiriku sedang entah sejak kapan, tangan kirinya telah bermain menusuk-
nusuk pamgkal pahaku yang masih tertutup celana dalam. Aku menjadi sangat horny, aku
tidak tinggal diam, tangan kiriku meremas-remas tonjolan di celananya, tampaknya dia
sangat menikmatinya. Aku sudah tidak tahan lagi, biasanya kalau sudah begini cowok di
kelasku pasti sudah menyodorkan penisnya untuk ku oral. Tapi Agung tampak sangat
polos.
“Aku isep ya?” akhirnya aku tidak tahan untuk tidak memintanya, Agung mengangguk
dan melepas pelukannya, aku berdiri lalu berlutut di dekat selangkangannya, dan mulai
membuka resleting celananya. Di sisi lain truk terdengar desahan keras, begitu kutoleh
ternyata Adhelia dan Yungky sudah mulai dipakai bersamaan. Adhelia asal Madiun yang
berwajah indo dengan badan sintal itu tersentak-sentak menerima genjotan Erik yang
berkulit hitam sedang Yungky yang memang bunga kelas dengan wajah manis, tubuh
langsing, kulit putih dan payudara kencang mengulum penis Dirman yang kurus tinggi
sementara dibelakangnya Joko yang berbadan gemuk memompanya tanpa ampun. Aku
jadi semakin horny melihatnya, maka begitu penis Agung yang lumayan panjang dan
kurus itu keluar dari celananya aku segera mengocok dan memasukkannya ke dalam
mulutku, kuhisap dan kukeluar-masukkan ke dalam mulutku dengan cepat, diiringi
sapuan lidah dan ludahku.
“SShmmm… Owh… ennak Da isepanmu… mmhh….” Agung mengerang keenakan
sambil nafasnya terus memburu. Akhirnya setelah beberapa menit mengoral, Agung
berdiri dan merebahkan tubuhku di kursi.
“aku nggak tahan Da, aku pakai kamu sekarang…” ujarnya dengan nafas tak teratur
sambil tangannya menggulung rokku hingga ke pinggang, dan langsung melucuti celana
dalamku, dia membuka celana dan celana dalamnya, lalu membimbing penisnya ke
vaginaku yg sudah lumayan basah.
“EEngghh…” erangku. Dalam hitungan detik penisnya memasuki rongga kewanitaanku
yang sudah basah, tubuhku menggelinjang sambil mendesah keras, detik berikutnya, dia
mengeluar-masukkan penisnya dengan berirama dan sangat cepat, membuat erangan dan
desahanku semakin cepat juga.
“akh akh ukh akh a…gung.. akh aaah… ssshh…” desahku mengimbangi goyangannya
yang semakin cepat.
“uuuh… Da… memekmu enak banget… ah… ah… nikmat…” ceracaunya sambil
menggenjotku lebih kencang dan dalam, aku semakin menggeliat-geliat, desahanku jadi
berubah menjadi sedikit berteriak. Luar biasa sekali, Agung mampu mempertahankan
bahkan menambah kecepatan genjotannya dalam waktu cukup lama, kira-kira 15 menit,
biasanya cowok-cowok kelasku sudah mulai tidak teratur irama genjotannya pada waktu
segitu. Agung meletakkan kedua tangannya ke payudaraku yang berayun, menjadikan
mereka daya tumpu genjotannya.
“Aw…akh akh akh uh akh ah ahaaa ahaa akh…” desahku semakin kencang, aku hampir
saja orgasme ketika kurasa Agung menghentikan genjotannya dan melesakkan penisnya
lebih dalam.
“Ahhak…akh…” desisku saat penisnya menancap sangat dalam dan memuntahkan cairan
hangatnya di rahimku. Sial pikirku, padahal aku hampir saja orgasme!!.
Melihat Agung telah mencapai ejakulasi, Anton (yang ternyata dari tadi memperhatikan)
bergegas menarik tubuh Agung ke belakang. “Minggir loe! Lama amat dari tadi” katanya
sambil menjauhkan Agung dariku. Tanpa banyak kata Anton mendekatiku dan melepas
celana serta celana jeansnya. Penisnya yang kepalanya cukup besar di pegangnya dengan
tangan kanan. Anton mengangkat kedua kakiku dan meregangkannya, hingga vaginaku
yang sudah bercampur dengan cairan Anton terpampang jelas. Detik berikutnya aku
mengerang saat kepala penisnya mulai menjarah liang senggamaku.
“augghm… ehm…” desahku. Anton menekan terus penisnya lambat-lambat hingga
seluruh batangnya menyatu dengan vaginaku. Terlihat betul dia menikmati jepitan
vaginaku.
“gila… bener-bener enak… hebat kamu Da” puji Anton sambil mulai menggenjotku.
“aah…akh..akh ekhm..uukh..hhh…sshhh” ceracauku saat penisnya keluar masuk dengan
cepat. “augh..ugh…ugh…” jeritanku semakin kencang, begitu pula genjotan Anton.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali larut dalam permainan seks, karena tadi
aku sudah hampir orgasme.
Wawan dan Satria bergerak menghampiri tubuhku yang sedang digenjot oleh Anton. Di
tengah-tengah desahanku, dengan santai mereka membantuku duduk dan melepaskan T-
shirtku diikuti BHku. Sementara Anton tidak menghentikan aksinya sama sekali,
membuat tubuhku sedikit terlonjak-lonjak.
“kita gabung bro…” ujar Satria. “jadi lebih hot”.
Tubuhku direbahkan kembali, aku hanya menurut karena memang nafsuku sedang
diujung tanduk. Sementara itu Anton semakin memasuk-masukkan penisnya semakin
dalam, membuatku mengeluarkan teriakan-teriakan kecil.
Tidak lama kemudian Satria sudah menyodorkan penisnya ke mulutku dan
memasukkannya. Sambil menikmati genjotan Anton, aku mengulum, menghisap, dan
menyapu batang penis Satria sampai Satria mengerang-erang kenikmatan.
“Hmph! Hmph slurp slurp ehkmm… NGGGHHHH!!!!” tubuhku mengejang keras. Aku
orgasme, Satria dan Anton menghentikan gerakan mereka ketika tahu aku mencapai
orgasme. Setelah beberapa detik mengejang, aku kembali lemas. Anton mencabut
penisnya lalu memberi isyarat pada Satria agar minggir. Begitu Satria minggir, Anton
membalikkan tubuhku yang benar-benar sudah lemas, dan menarik pantatku, aku tahu
yang dia inginkan, doggy style…
“Emmhh!!!…. akh!” jeritku saat penis Anton kembali menikmati vaginaku dari belakang.
Anton di belakang dan Satria di depan, dengan kedua tanganku bertumpu pada paha
Satria Anton mengobok-obok vaginaku lagi. Dipegangnya pinggulku kencang, lalu
digerak-gerakkannya dengan cepat, kembali jeritan-jeritan kecil keluar dari mulutku.
Tapi jeritanku tidak lama, karena setelah itu, Satria yang penisnya tepat di wajahku,
menarik kepalaku dan mengarahkan penisnya ke mulutku.
Anton menggoyangku maju-mundur, dan itu membuat penis Satria terkocok oleh
mulutku. Dan semakin kencang genjotannya, semakin cepat juga penis satria terkocok.
Benar saja, tidak sampai 2 menit kemudian, Satria mencengkeram kepalaku,
memasukkan penis pendeknya dalam-dalam dan mengeluarkan spermanya ke dalam
tenggorokanku. Aku mencoba menelan semuanya, tapi sebagian spermanya masih
menetes ke daguku. Satria mencabut penisnya dan duduk tidak jauh dengan wajah penuh
kepuasan. Wawan menggantikan posisinya, sambil meremas-remas buah dadaku, dia
memasukkan penisnya ke mulutku. Sementara di belakang, Anton mencengkeram dan
menguatkan pegangannya pada pinggulku, membuat gerakannya semakin kencang dan
dalam, Rintihan dan jeritanku tertahan oleh penis Wawan. Kemaluanku terasa perih
bercampur nikmat, Anton menunggangiku dengan kasar sekali, sepertinya dia
menumpahkan semua nafsu birahinya padaku.
“Dddaa…. OUUGGHH!!!!” geram Anton kemudian. Tubuhnya mengejang,
dibenamkannya penisnya ke vaginaku sedalam dia mampu, dan dapat aku rasakan dia
menyemburkan spermanya kedalam rahimku. Sesaat ketika Anton terdiam dan
menikmati ejakulasinya, Wawan mendorong kepalaku hingga penisnya terkocok
mulutku. Aku menggunakan lidahku, dan tampaknya dia keenakan.
Akhirnya Anton mencabut penisnya, sebuah erangan tertahan keluar dari bibirku (yang
disumpal dengan penis Wawan) saat kepala penisnya lepas dari vaginaku.
“Dasar pelacur!” katanya sambil memukul pantatku, aku sudah tidak peduli lagi, kata-
kata itu sudah sering aku dengar.
Wawan mencabut penisnya, menekan pinggulku dan memasukkan penisnya ke vaginaku,
masih dalam doggy style. Aku sendiri sudah sangat lemas, tubuhku aku biarkan terkulai
di bangku truk, sementara Wawan terus menunggangiku, mencari kenikmatannya sendiri.
Desahan dan desisanku sudah sangat lemas, meski masih jelas terdengar. Permainan
Wawan cenderung tidak beraturan sehingga aku tidak bisa menikmatinya. Vaginaku
mulai mongering, rasa pedih mulai menjalari vaginaku. Wawan semakin kencang
menggejotku, kini penisnya benar-benar menggesek dinding vaginaku yang kering dan
menyempit.

“oohh… mantap.. sempit banget… hh..hhh…” desahnya sambil menyenggamaiku.


Tidak berapa lama dia mencabut penisnya dan buru-buru mendekkatkan ke wajahku.
Wawan menumpahkan spermanya diwajahku, bukan mulutku, tapi wajahku, sehingga
wajah cantikku jadi belepotan terkena spermanya. Cairan kental itu berceceran di hidung,
pipi dan mataku. Setelah mengeluarkan semua spermanya, dia menggesek-gesekkan
penisnya ke bibirku. Dan sebelum pergi, Wawan meremas payudaraku kencang sekali
sampai aku meringis kesakitan. Aku lemas dan tebaring beberapa saat, sebelum akhirnya
aku memaksakan diri mengambil tissue basah di tasku, lalu membersihkan sperma
Wawan di wajahku, dan juga di kemaluanku. Setelah itu, aku mengenakan pakaian
lengkapku lagi. Di sepanjang sisa jalan, aku diapit oleh tiga orang, Rio, Aris dan Nanang,
Rio menarikku dipangkuannya dan menikmati payudaraku dari luar, sampai pakaian yang
aku kenakan jadi kusut. Sementara Aris dan Nanang bergantian memacu penisnya
dimulutku. Mereka tidak menunggangiku karena waktu yang tidak memungkinkan.
Hanya Nanang yang sempat berejakulasi di dalam mulutku, Aris tidak. Setengah jam
kemudian kami tiba di bumi perkemahan Malang, tempat pesta seks kami berikutnya.
Truk tentara yang kami gunakan menuju bumi perkemahan di Malang itu telah berhenti
di pelataran parkir. Agung dan Anton membantu menurunkan tas ranselku. Dari kejauhan
aku melihat Taufik sedang berbincang-bincang dengan kedua sopir truk itu. Dan entah
apa itu perasaanku saja, tapi kedua sopir truk itu seolah melihat ke arahku. Begitu selesai
menurunkan barang, teman-teman segera menuju ke kapling perkemahan yang sudah
disewa, kecuali Anton dan Taufik yang sepertinya masih ada urusan dengan para sopir
truk itu. Tidak lama kemudian Taufik memanggilku, kontan saja perasaanku berubah jadi
tidak enak. Benar saja, setelah mendekat, Anton langsung mengambil alih barang
bawaanku dan bergegas pergi, sedangkan Taufik bicara perlahan ke arahku.
“bapak-bapak ini pingin make kamu Da, kamu naik ke dalam truk gih!”. Ujar Taufik
pelan, aku tahu benar, ini perintah bukan permintaan. “ini pak Basuki dan yang ini pak
Aryo” ujar Taufik sambil memperkenalkan aku kepada kedua sopir itu.
Keduanya berpostur tubuh bagus meski sudah berumur sekitar 40-an, itu karena mereka
adalah supir truk mariner. Potongan keduanya cepak, hanya saja Pak Aryo berkulit gelap.
Akhirnya akupun naik ke bangku depan truk, diapit Pak Aryo dan Pak Basuki yang
memegang kemudi. Taufik sendiri tidak ikut. Aku jadi takut, selama ini aku belum
pernah melayani laki-laki yang usianya jauh lebih tua dariku, apalagi aku tidak tahu
mereka akan membawaku kemana.
“kembali utuh lho pak…” pesan Taufik ketika mesin truk sudah menyala dan mereka siap
pergi. Pak Basuki hanya tersenyum lebar. “beres” ucapnya. “utuh kok, paling cuman gak
kuat jalan aja..”.
Mendengar kata-kata itu aku langsung dapat membayangkan kalau mereka akan
membantaiku habis-habisan. Tapi aku tetap berusaha tenang. Tangan pak Basuki
menggapai tuas persneling, tapi oleh dia sengaja dilarikan ke selangkanganku yang
tertutup rok tipis selutut. Dia meremas kuat bagian itu, membuatku sedikit
menggelinjang. Sambil terkekeh-kekeh dia melarikan truk meninggalkan areal parkir.
Baru beberapa menit dari bumi perkemahan, tangan Pak Aryo sudah menjelajah di
tubuhku, mulai dari paha hingga dadaku, bahkan menyelusup ke balik T-shirtku lalu
meremas-remas payudaraku dari balik bra.
Remasan Pak Aryo terasa sangat kasar, namun mantap dan terasa sangat nikmat. Mataku
terpejam dan ninirku setengah terbuka setiap kali Pak Aryo mempermainkan putingku.
Entah sejak kapan tubuhku sudah jatuh tersandar pada dadanya yang bidang dan keras.
Benar-benar berbeda dengan remasan-remasan yang kudapatkan selama ini. Libidoku
cepat sekali naik dan vaginaku sudah benar-benar basah hanya karena sentuhan di
payudaraku!! Aku setengah sadar saat Pak Basuki membimbing tanganku untuk
membuka resleting celananya dan memainkan barangnya. Akupun menuruti kemauanya.
Pak Aryo melumat bibirku ganas, bau rokok dari mulutnya menyebar ke mulutku,
lidahnya menyapu dahsyat dan akupun membalasnya dengan ganas. Tangan pak Aryo
beralih menyingkap rokku ke atas, jarinya menelusup ke balik CD ku dan memainkan
jarinya keluar masuk kewanitaanku. Aku sudah tidak berdaya, dengan baju yang kusut
dan rok yang tersingkap, aku Cuma bisa mengerang, semakin cepat permainan jari Pak
Aryo, semakin keras eranganku. Tubuhku kusandarkan lemas pada dada Pak Aryo yang
semakin bernafsu memainkan vaginaku, nafasku tidak teratur, vaginaku benar-benar
becek. Akhirnya truk itu berhenti di sebuah jalanan sepi. Aku dan mereka berdua turun
dan melanjutkan permainan ke bak belakang truk yang sebelumnya sudah ditutup. Tanpa
segan mereka berdua melepas pakaiannya dan melucuti seluruh pakaianku. Aku
ditelentangkan di lantai truk, sekilas aku terkejut saat melihat kemaluan Pak Basuki yang
jauh lebih besar dan berotot dibandingkan punya Faruk yang sudah kurasa besar. Tanpa
bicara Pak Basuki memasukkan penisnya mulutku, akupun kesulitan menghisap penis
sebesar itu. Sedang Pak Aryo asyik meremas dan menjilat serta menggigit-gigit putting
susuku. Mereka melakukannya bergantian. Puas dengan mulutku, mereka mengambil
posisi, Pak Basuki yang pertama, dia melebarkan selangkanganku dan menancapkan
penisnya sedikit-demi sedikit, seolah-olah dia sangat menikmati hal ini.
“eghhhh…ehmmm..akkkkh……. aduuuh paaaAAKK!!….”jeritku, meski sudah sangat
basah aku merasa vaginaku tidak mampu menampung penis Pak Basuki, dinding-dinding
vaginaku seperti tertarik. Pak Basuki tetap tenang dan mengerang pelan sampai seluruh
penisnya amblas ke dalam vaginaku. Lalu dia membiarkanku mengambil nafas. Sebelum
dengan tiba-tiba dia menggenjotku dengan irama yang teratur dan cepat, aku kesakitan,
meringis dan menjerit, tapi genjotan Pak Basuki malah semakin menggila. Herannya,
berapa menit kemudian aku orgasme. Ini adalah orgasme tercepatku, mungkin ini
bedanya kalau disetubuhi oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman. PAk Basuki
membiarkan aku sebentar, lalu kembali memompa penisnya di dalam vaginaku.
“Aggh…ah…hmm…sshh…” desahanku semakin kencang, libidoku naik kembali,
tubuhku berkelenjotan digenjot Pak Basuki.
“enak banget… ehm… enak banget m3mekmu… sempit… kmu apain?” tanyanya sambil
mempercepat genjotannya.
“ugh…ra..rajin…mm..minum daun sirih pak…ahh…sshh…. enak pak…” jawabku
terputus-putus.
Dua puluh menit Pak Basuki menindihku, kewanitaanku benar-benar terasa perih dan
panas.
“ah…aukkkh…agh..agh…agh…auwww” aku hanya menjerit sambil menggeleng-
gelengkan kepalaku menahan sakit. Tubuhku benar-benar dihimpit dan kemaluanku
benar-benar dipacu sangat kasar dan cepat. “sss…sssakit…agh….agh…auww…
uhuhhh…” tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Pak Basuki tidak perduli. Waktu
terasa sangat lama berjalan, rasa nikmat memang ada, tapi begitu juga rasa sakit.
“bapak keluar… keluarin di dalam ya?” katanya berbisik ditelingaku sambil menekan-
nekan penisnya lebih dalam dan cepat lagi. Aku hanya mengangguk pelan, cowok-cowok
memang suka banget ngeluarin di dalam, pikirku.
Akhirnya Pak Basuki menusukkan penisnya dalam-dalam, aku yang menyadari kalau dia
mau ejakulasi menyambutnya dengan erangan keras. Dan cairan hangat menyembur ke
rahimku.
Tubuhku penuh dengan keringat, keringatku dan Pak Basuki. Pak Basuki sendiri terlihat
sangat puas. Pak Aryo tidak menyia-nyiakan kesempatan barang semenit, dengan santai
tubuhku yang lemas dibimbingnya dan kepala juga dadaku dinaikkannya ke jok truk, dia
mau menunggangiku dari belakang.
“engghh… pelan pe..lan… agghh…” Aku yang sudah lemas hanya bisa melenguh pelan
saat k0ntol pak Aryo melesak masuk ke vaginaku. Mudah saja penisnya masuk, vaginaku
sudah amat basah dari campuran cairan kewanitaan dan sperma pak Basuki. Pak Basuki
sudah mengenakan baju lengkapnya, dan beranjak keluar. Tak lama kemudian, mesin
truk menyala.
“eengh….ah…ah… ehm..ehmm…” lenguhku saat Pak Aryo asik menyetubuhiku di
posisi doggy style. Payudaraku yang terhimpit jok ikut bergoyang karena tubuhku sudah
benar-benar lemas.
“Enak banget tempikmu lonte!!” kata Pak Aryo sambil mempercepat pacuannya. “Gua
bakal entot loe ampe pagi! Tempik cewek kuliahan emang beda!!.” katanya. Kupingku
panas mendengarnya, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa
merintih dan semakin keras merintih. Tiba-tiba Pak Aryo menarik rambutku, hingga
tubuhku tertekuk ke belakang, genjotannya semakin kencang, aq bisa mendengar bunyi
kocokan penisnya di kemaluanku, tangan kanannya mencengkeram pinggulku erat-erat,
dan dia terus memperkuat genjotannya.
“Aaaah! Aaakh! Aakh pak! Sss..sssakit! Sakit!” jeritku.
“Diam loe lonte kuliahan!!” Bentak Pak Aryo.
Aku terus menjerit, tapi Pak Aryo tidak perduli. Setelah beberapa saat, akhirnya dia
melepaskan jambakan dan genggamannya, mambalikkan tubuhku dan memerintahku.
“pakai bajumu dan ISAP!!”. Pak Aryo mengeluarkan hp-nya dan mulai menekan tombol
rekam. Dia menyodorkan penisnya ke wajahku.
Tanpa disuruh, aku menghisap penisnya cepat-cepat, beberapa menit kemudian dia
menarik lepas penisnya dan mengeluarkan air maninya di wajahku, sangat banyak,
menetes2 hingga menodai kaosku, lalu dipaksakannya penisnya masuk ke mulutku, dan
ajaib! Dia mengeluarkan air maninya sekali lagi didalam mulutku, aku menelannya dan
menjilati penisnya hingga benar-benar bersih. Semuanya direkam olehnya.
“puas banget gua ******* cewek kuliahan kayak loe!!”. Katanya, “sekarang pake baju
loe semua, kecuali bra ama CD!!”. Aku menurut saja.
Setelah merapikan pakaianku aku merasa truk mulai berhenti. “ayo turun, kita mampir
sebentar” ujar Pak Aryo. aku menurut saja, dan begitu melihat sekitar ternyata aku berada
di sebuah Markas batalyon di Malang. tampak seorang tentara muda mendekat dan
berbincang-bincang dengan Pak Aryo.
“kamu bakal kita balikin ke kamp da..” ujar Pak Basuki pelan. “tapi ga mungkin dengan
keadaan kumal gitu, kamu mandi dulu disini, toh kita juga butuh mandi, dan setelah
mandi ntar kamu layanin dulu tentara muda itu, dia komandan disini”
“layani dia pak?”
“iya, bersetubuh ma dia, tapi kayaknya dia bakal ajak beberapa orang kepercayaannya”
“aduh pak, saya capek, bapak tau sendiri kan tadi perjalanan Surabaya-Malang saya
dipake temen-temen, trus dipake bapak-bapak”
“iya deh ntar saya coba lobby supaya dia ga ngajak temennya banyak-banyak, tapi kmu
pinter ya? minum daun sirih buat ngesetin m3mek kmu?”
“saya emang dah biasa pak, dari kecil”
Pak Aryo selesai bicara dengan tentara muda itu, lalu mereka mendekatiku.
“kamu ikut mas Pras ini, mandi sana trus kita pulangin ke kamp”
Aku menurut saja, mengikuti Pras dari belakang, ia mengantarku ke sebuah kamar mandi
di belakang barak, dan aku terkejut mengetahui kamar mandi itu gak ada pintunya.
“dah kmu mandi sana” ujar Pras sambil mencolek dadaku, “ntar aku sama temenku make
kamu di kamar mandi itu oke?”.
“mas sendiri aja ya?, ga usah pake temen?” pintaku memelas.
“lho? kenapa?”
“saya capek mas, hri ini digilir banyak orang”
“oke deh, ya udah mandi sana, saya liatin dari sini”
Perlahan tapi pasti aku memlepaskan kuncirku, rambutku yang sebahu tergerai luluh,
Mas Pras masih memandangiku dengan senyum-senyum sendiri. Meski sedikit risih, aku
mencoba bertahan dengan melepaskan pakaian terusanku, dan segeralah terlihat payudara
dan vaginaku yang memang tak tertutup bra maupun CD. Aku maju sedikit untuk
menyentuh air di bak, dingin sekali, pikirku, segera kuambil segayung air dan sambil
mencoba mengacuhkan dinginnya mala itu aku mengguyur tubuhku dengan air, dan
mulai mandi. Kuambil sabun batangan yang ada di dekat bak dan kugosok-gosokkan ke
tubuhku. Begitu selesai aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuhku, belum
selesai aku mengeringkan tubuhku, Mas Pras sudah menubrukku dari belakang,
meremas-remas payudaraku lemas, aku mengerang sedikit dan pasrah dalam pelukannya.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam cumbuan Mas Pras, dan juga tidak
butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kalau dia tidak lagi mengenakan celana,
penisnya menegang dan menggesek-gesek belahan pantatku.
“isep!” katanya agak kasar di telingaku.
Aku segera berbalik, berlutut di depan k0ntolnya dan mulai membuka mulutku,
memasukkan kepala penisnya dengan hati-hati, memainkan lidahku, dan menghisapnya
sekuatku.
“ehmm… engg…” erang Mas Pras setiap kuhisap penisnya kuat-kuat.
“masukkan…hmm…. Yang dalam…” perintahnya, tanpa menunggu dia memegang
kepalaku dan mengocok penisnya dalam mulutku.
Aku sedikit sulit berkosentrasi dengan tarikan di kepalaku, sekitar 2 menitan dia melepas
kepalaku dan menarik k0ntolnya dari mulutku.
“pegangan ke bak, aku mau nunggangin kamu dari belakang!” perintahnya, dan segera
setelah aku menungging dia melesakkan k0ntolnya ke temp1kku.
“Akkhh…” desahku kecil saat k0ntolnya menembus tiap lapis dinding luar vaginaku.
Tanpa menunggu lama, mas Pras menggoyangku. Erangannya merasakan setiap
kenikmatan saat menunggangiku menggema ke seluruh kamar mandi. Membuat
desahanku juga jadi semakin kencang.
“ukh… enak… lama banget ga ngerasain tempikk… ukh…” ujarnya sambil
memepercepat tunggangannya.
“akh! Akh!… akh… uuh… ssshh…” desahku sambil berusaha menerima goyangannya
yang semakin kencang. Wajahku megap-megap dan mataku merem melek menikmati
goyangannya.
Dicengkerammnya pinggulku dan ditekannya penisnya dalam-dalam sambil menarik
pinggulku, sehingga pantatku menekan perutnya, aku jadi lemas, pasrah, dan lelah,
kenikmatan yang kurasakan lambat-laun semakin mengambil-alih kendali atas tubuhku.
“akh! Akh!…uhmm… teruss… mas… aku… samp…sampai… AAAAgH!!!” akhirnya
tubuhku mengejang, Mas Pras menghentikan gerakannya sekitar lima detikan, lalu
kembali menunggangiku. Setelah beberapa menit dia menghujamkan penisnya dalam-
dalam dan mengejang, aku dapat merasakan hangat spermanya yang mengisi
kewanitaanku. Setelah puas dia memintaku membersihkan penisnya dengan lidahku.
“enak banget!” katanya, “aku bawa ke barak ya? Biar dient0t ma temen-temenku juga?”
katanya, tapi aku buru-buru menolak sambil memasang wajah lemas.
Untung dia mengurungkan niatnya. Malam itu aku dikembalikan ke Bumi Perkemahan
Malang, dimana ternyata anak-anak sedang pesta seks gila-gilaan di alam terbuka,
bahkan beberapa pria yang ikut bukan dari kampusku.