Anda di halaman 1dari 2

LIMA JAYA

Lingkar Mahasiswa Jakarta Raya

Nasionalisasi Migas;

Telaah Kritis atas Production Sharing Contract (PSC),

Sebuah Upaya Menguak Arah Kebijakan Energi

Nasional
"If you want to rule the world, you need

to control oil. All the oil. Anywhere."

Monopoly, by Michel Collon

Tatkala minyak dan gas menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari
kehidupan manusia, maka penguasaan atas minyak dan gas menjadi jaminan
atas kelangsungan hidup sebuah bangsa. Dimana ada minyak dan gas maka
kekuatan modal, teknologi dan militer akan bergerak mengangkut nafsu
keserakahan segelintir kelompok kepentingan atasnama keadidayaan sebuah
bangsa.

Inilah bentuk Posmo Kolonialisme dan Imperialisme yang tetap menjunjung tinggi
prinsip EXPLOITATION DE LHOME PAR LHOME dan EXPLOITATION DE NATION PAR
NATION , eksploitasi manusia kepada manusia lain dan eksploitasi bangsa
kepada bangsa lain dalam kerangka penciptaan tatanan dunia, NOVUS ORDO
SECLORUM.

Kenaikan harga minyak dunia mencapai level tertinggi US$ 160 per barrel yang
terjadi baru-baru ini adalah sebuah demonstrasi unjuk kekuatan mereka dengan
menarik profit sebesar-besarnya melalui mekanisme freemarket tanpa ada
satupun yang bisa menghalangi.

Ironisnya, mereka yang dikenal sebagai penguasa-penguasa industri migas dunia


tersebut adalah MNC/TNC (Multinational Corporation/Transnational Corporation)
migas asing yang saat ini sedang asyik menjarah migas di bumi pertiwi
Indonesia.

Pada tahun 2001, Pemerintah telah menerbitkan Undang Undang Migas Nomor
22 tahun 2001 sebagai pengganti Undang Undang Nomor 8 tahun 1970.
Perubahan Undang-undang telah mengakibatkan perubahan yang mendasar
dalam pengelolaan industri migas nasional serta kedudukan Pertamina.

Dengan menimbang dan mengingat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat 3


yang berbunyi “Bumi, air dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar besar untuk

Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Masyarakat


LIMA JAYA
Lingkar Mahasiswa Jakarta Raya

kemakmuran rakyat” maka tepat pada tanggal 24 Mei 2008 Presiden Indonesia
Susilo Bambang Yudhoyono atas persetujuan DPR menetapkan kenaikan harga
Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai wujud pernyataan takluk, tunduk dan
penyerahan kedaulatan negara kepada rezim MNC/TNC migas asing.

Keputusan tidak populis dan kontroversial yang diambil oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono tentunya menimbulkan polemik sengit antar kelompok
kepentingan yang pro dan kontra atas keputusan tersebut. Sayangnya berbagai
silang pendapat yang elitis dan tidak merakyat tersebut justru membuat rakyat
semakin terjerumus dalam jurang kebingungan dan lumpur apatisme.

Sementara harga-harga barang dan jasa terus melambung menguras habis


seluruh kocek rakyat, silang pendapat diantara para elit tak kunjung memberi
solusi atas penderitaan rakyat. Rakyat dizalimi, dirugikan dan makin menderita.

Nyata sudah, bahwa keputusan kenaikan harga BBM tersebut adalah bukti
adanya perselingkuhan pemerintah dengan MNC/TNC migas asing sekaligus
penghianatan terhadap amanat penderitaan rakyat.

Perselingkuhan yang dilegitimasi dalam KKKS (Cooperation Contract Contractors)


dimana didalamnya mengatur Production Sharing Contract (PSC) termasuk
pengaturan tentang Cost Recovery, nyata-nyata menguntungkan MNC/TNC dan
bukan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagai stake holder
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin rakyat harus
mempertanyakan kemana sesungguhnya arah kebijakan energi nasional, atau
rakyat bangkit untuk merebut kembali hak-haknya atas bumi, air dan seluruh
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dengan menasionalisasi seluruh
kegiatan usaha yang terkait dengan migas untuk kepentingan rakyat.

Dari fenomena tersebut diatas serta berangkat dari keprihatinan kami Lingkar
Mahasiswa Jakarta Raya (LIMA JAYA) sebagai anak muda Nusantara, seminar
sehari yang kami selenggarakan ini diharapkan bisa memberikan pencerahan
kepada publik atas PSC dan utamanya terhadap arah kebijakan energi nasional
yang sesungguhnya.

Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Masyarakat