Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak disekitar
kita. Bakteri pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat dengan kita pun juga
terdapat bakteri contohnya saja tas, buku, pakaian, dan banyak hal lainnya. Maka dari itu
bakteri merupakan penyebab penyakit yang cukup sering terjadi. Karena banyaknya
manusia yang mengabaikan penyakit tersebut karena terkadang gejala awal yang
diberikan ada gelaja awal yang biasa saja. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita
masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara bakteri itu menginfeksi dan gejala-gejala
apa yang akan dberikannya.
Banyaknya manusia yang mulai tidak begitu peduli dengan gejala awal
terjangkitnya bakteri salah satunya adalah pada saluran pencernaan. Saluran pencernaan
adalah saluran yang sangat berperan dalam tubuh. Jika saluran pencernaan terganggu
akan cukup mengganggu aktivitas tubuh saat itu. Tapi banyak masyarakat yang tidak
peduli dengan penyakit yang ditimbulkan. Misalnya saja penyakit yang dapat
ditimbulkan oleh bakteri ada diare, gejala awalnya ada kondisi perut yang tidak enak
gejala awalnya cukup biasa tetapi jika terlalu didiamkan akan membuat kondisi itu
menjadi akut dan fatal. Maka dari itu, bakteri merupakan penyebab penyakit yang cukup
banyak pada saat ini.

I.2. Tujuan Penulisan


Makalah ini disusun dengan tujuan agar kita semua dapat gambaran mengenai
bakteri khususnya pada saluran pencernaan yang banyak ditemukan. Sehingga
diharapkan para masyarakat dapat melakukan pencegahan atau pengobatan dalam
mengatasi bakteri ini.

I.3. Metode Penulisan

-1-
Metode penulisan yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode
pustaka dan studi literatur, dengan mencari dan mengumpulkan data penting dari
berbagai sumber seperti website dan situs-situs internet serta buku-buku yang ada.

I.4. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi 3 bagian, meliputi :
Bab I pendahuluan
I.1 Latar Belakang
I.2 Tujuan Penulisan
I.3 Metode Penulisan
I.4 Sistematika Penulisan
Bab II Isi
II.1 Patogenesitas Bakteri
II.2 Bakteri pada saluran pencernaan
II.2.1 Escherichia coli
II.2.2 Shigella sp.
II.2.3 Salmonella sp.
II.2.4 Helicobacter pylori
II.2.5 Clostridium perfringens
II.2.6 Vibrio cholerae
II.2.7 Vibrio parahaemolyticus
II.2.8 Vibrio vulnficus
II.2.9 Bacillus cereus
Bab III Penutup
III. 1. Kesimpulan
III. 2. Saran

-2-
BAB II
ISI
II.1 Patogenesis Bakteri
Patogenisitas adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit pada organisme
inang. Mikroba mengungkapkan patogenisitas mereka dengan cara virulensi, sebuah
istilah yang mengacu pada tingkat patogenisitas mikroba. Oleh karena itu, faktor-faktor
penentu virulensi patogen adalah salah satu dari genetik atau biokimia atau struktural
fitur-fiturnya yang memungkinkan untuk menghasilkan penyakit pada inang.

• Yang mendasari Mekanisme Patogenisitas Bakteri


1. Invasiveness adalah kemampuan untuk menyerang jaringan. Ini meliputi
mekanisme untuk kolonisasi (kepatuhan dan multiplikasi awal), produksi zat
ekstraselular yang memfasilitasi invasi (invasins) dan kemampuan untuk
memotong atau mengatasi mekanisme pertahanan inang.
2. Toxigenesis adalah kemampuan untuk menghasilkan racun. Bakteri dapat
menghasilkan dua jenis racun disebut exotoxins dan endotoksin.
a. Exotoxins adalah racun yang dilepaskan dari sel bakteri dan dapat
bertindak di bagian jaringan yang menghapus situs pertumbuhan
bakteri.
b. Endotoksin dapat dilepaskan dari pertumbuhan sel-sel bakteri hasil
dari pertahanan inang efektif (misalnya lisozim) atau kegiatan
antibiotik tertentu.

1. Kolonisasi
Tahap pertama dari infeksi mikroba adalah kolonisasi: pembentukan patogen di
portal masuk yang tepat. Patogen biasanya menjajah jaringan inang yang
berhubungan dengan lingkungan eksternal.

2. Kepatuhan spesifik Bakteri to Cell dan Jaringan Permukaan

-3-
Beberapa jenis pengamatan memberikan bukti tidak langsung untuk spesifisitas
kepatuhan bakteri ke inang atau jaringan.
1. Tissue tropisme: bakteri tertentu diketahui memiliki preferensi yang jelas untuk
jaringan tertentu atas orang lain.
2. Spesifisitas Spesies: bakteri patogen tertentu hanya menginfeksi spesies tertentu.
3. Genetik kekhususan dalam suatu spesies: strain tertentu atau ras dalam suatu
spesies secara genetik kebal terhadap pathogen.

3. Mekanisme Kepatuhan to Cell atau Jaringan Permukaan

Mekanisme untuk kepatuhan mungkin melibatkan dua langkah:

1. Nonspesifik kepatuhan : lampiran reversibel bakteri untuk eukariotik permukaan


(kadang-kadang disebut" docking)

2. kepatuhan Tertentu: lampiran permanen reversibel mikroorganisme ke permukaan


(kadang-kadang disebut "penahan").

Situasi umum adalah bahwa lampiran lampiran reversibel mendahului ireversibel


tetapi dalam beberapa kasus, situasi sebaliknya terjadi atau kepatuhan tertentu mungkin
tidak akan pernah terjadi.

kepatuhan nonspesifik melibatkan pasukan menarik spesifik yang memungkinkan


pendekatan bakteri ke permukaan sel eukariotik. Kemungkinan interaksi dan pasukan
yang terlibat adalah:

1. interaksi hidrofobik
2. atraksi elektrostatik
3. atom dan molekul getaran yang dihasilkan dari dipol berfluktuasi frekuensi yang sama
4. Brown
5. Perekrutan dan menyaring oleh polimer biofilm berinteraksi dengan glycocalyx bakteri
(kapsul)

-4-
II.2 Bakteri pada Saluran Pencernaan
Pada saluran pencernaan terdapat berbagai penyakit yang dapat terjadi. Salah satu
penyebabnya adalah bakteri. Begitu banyak bakteri yang dapat menjangkit saluran
pencernaan. Maka dari itu akan diperkenalkan bakteri-bakteri yang terdapat pada saluran
pencernaan.

II.2.1. Escherichia coli


a. Ciri-ciri:
• Berbentuk batang

• Bakteri gram negatif

• Tidak memiliki spora

• Memiliki pili

• Anaerobik fakultatif

• Suhu optimum 370C

• Flagella peritrikus

• Dapat memfermentasi karbohidrat dan menghasilkan gas

• Patogenik, menyebabkan infeksi saluran kemih

-5-
Gambar 1. Esherichia coli

b. Habitat

Habitat utama Escherichia coli adalah dalam saluran pencernaan manusia


tepatnya di saluran gastrointestinal dan juga pada hewan berdarah hangat. Bakteri ini
termasuk umumnya hidup pada rentang 20-40 derajat C, optimum pada 37 derajat. Total
bakteri ini sekitar 0,1% dari total bakteri dalam saluran usus dewasa.

c. Virulensi dan Infeksi

Penyebab diare dan Gastroenteritis (suatu peradangan pada saluran usus). Infeksi
melalui konsumsi air atau makanan yang tidak bersih. Racunnya dapat menghancurkan
sel-sel yang melapisi saluran pencernaan dan dapat memasuki aliran darah dan berpindah
ke ginjal dan hati. Menyebabkan perdarahan pada usus, yang dapat mematikan anak-anak
dan orang tua. E. coli dapat menyebar ke makanan melalui konsumsi makanan dengan
tangan kotor, khususnya setelah menggunakan kamar mandi. Solusi untuk penyebaran
bakteri ini adalah mencuci tangan dengan sabun.

d. Patogenesis
Untuk Escherichia coli, penyakit yang sering ditimbulkan adalah diare. E. coli
sendiri diklasifikasikan berdasarkan sifat virulensinya dan setiap grup klasifikasinya
memiliki mekanisme penularan yang berbeda-beda.

a. E. Coli Enteropatogenik (EPEC)


E. coli ini menyerang manusia khususnya pada bayi. EPEC melekatkan diri pada
sel mukosa kecil. Faktor yang diperantarai oleh kromosom akan menimbulkan pelekatan
yang kuat. Pada usus halus, bakteri ini akan membentuk koloni dan menyerang pili
sehingga penyerapannya terganggu. Akibatnya adalah adanya diare cair yang biasanya

-6-
sembuh diri tetapi dapat juga menjadi kronik. EPEC sedikit fimbria, ST dan LT toksin,
tetapi EPEC menggunakan adhesin yang dikenal sebagai intimin untuk mengikat inang
sel usus. Sel EPEC invasive (jika memasuki sel inang) dan menyebabkan radang.

b. E. Coli Enterotoksigenik (ETEC)


Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk menimbulkan pelekatan ETEC pada
sel epitel usus kecil. Lumen usus terengang oleh cairan dan mengakibatkan
hipermortilitas serta diare, dan berlangsung selama beberapa hari. Beberapa strain ETEC
menghasilkan eksotosin tidak tahan panas. Prokfilaksis antimikroba dapat efektif tetapi
bisa menimbulkan peningkatan resistensi antibiotic pada bakteri, mungkin sebaiknya
tidak dianjurkan secara umum. Ketika timbul diare, pemberian antibiotic dapat secara
efektif mempersingkat lamanya penyakit. Diare tanpa disertai demam ini terjadi pada
manusia, babi, domba, kambing, kuda, anjing, dan sapi. ETEC menggunakan fimbrial
adhesi (penonjolan dari dinding sel bakteri) untuk mengikat sel – sel enterocit di usus
halus. ETEC dapat memproduksi 2 proteinous enterotoksin: dua protein yang lebih besar,
LT enterotoksin sama pada struktur dan fungsi toksin kolera hanya lebih kecil, ST
enterotoksin menyebabkan akumulasi cGMP pada sel target dan elektrolit dan cairan
sekresi berikutnya ke lumen usus. ETEC strains tidak invasive dan tidak tinggal pada
lumen usus.

c. E. Coli Enterohemoragik (EHEC)


Menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksinya pada sel Vero, suatu
sel hijau dari monyet hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenic dari toksin.
EHEC berhubungan dengan holitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan
sindroma uremia hemolitik, suatu penyakit akibat gagal ginja akut, anemia hemolitik
mikroangiopatik, dan trombositopenia. Banyak kasus EHEC dapat dicegah dengan
memasak daging sampai matang. Diare ini ditemukan pada manusia, sapi, dan kambing.

d. E. Coli Enteroinvansif (EIEC)

-7-
Menyebabkan penyakit yang sangat mirip dengan shigellosis. Memproduksi
toksin Shiga, sehingga disebut juga Shiga-toxin producing strain(STEC). Toksin merusak
sel endotel pembuluh darah, terjadi pendarahan yang kemudian masuk ke dalam usus.
EIEC menimbulkan penyakit melaluii invasinya ke sel epitel mukosa usus.

e. E. Coli Enteroagregatif (EAEC)


Menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di Negara berkembang.
Bakeri ini ditandai dengan pola khas pelekatannya pada sel manusia. EAEC menproduksi
hemolisin dan ST enterotoksin yang sama dengan ETEC.

Gambar 2. Patogenesis Escherichia coli


e. Penularan
Penularan pada bakteri ini adalah dengan kontak dengan tinja yang
terinfeksi secara langsung, seperti :
- makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah
dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor
- Tidak mencuci tangan dengna bersih setelah selesai buang air besar atau
membersihkan tinja yang terinfeksi, sehingga kontaminasi perabotan dan alat-alat
yang dipegang.

-8-
II.2.2. Shigella sp.
a. Ciri-ciri:
• Batang pendek

• gram negatif

• Tunggal

• Tidak bergerak

• Suhu optimum 370c

• Tidak membentuk spora

• Aerobik, anaerobik fakultatif

• Patogenik, menyebabkan disentri

Secara morfologis tidak dapat dibedakan dari salmonella, tetapi dapat dibedakan
berdasarkan reaksi-reaksi fermentasi dan uji serologis. Tidak seperti salmonella, shigella
memfermentasikan berbagai karbohidrat, dengan pengecualian utama laktosa untuk
menghasilkan asam tanpa gas.

Produksi Pencairan Reduksi Produksi Fermentasi Karbohidrat


Organisme
H2S Gelatin Nitrat Indol Glukosa Laktosa Sukrosa Manitol Dulsitol
Shigella
- - + - Asam - - - -
dysentriae
Shigella
- - + + Asam - - Asam -
flexneri
Shigella
- - + Variabel Asam - - Asam Variabel
boydii
Shigella
- - + - Asam - Asam Asam -
sonnei
Tabel 1. Reaksi biokimiawi spesies-spesies Shigella

-9-
Shigella dysentriae merupakan penyebab penyakit yang paling parah karena
menghasilkan eksotoksin yang mempunyai sifat neurotoksik dan enterotoksik. Jadi, anak-
anak yang terjangkiti shigelosis dapat menderita kejang. Eksotoksin ini adalah protein
terlarut yang tidak tahan panas. Darah dan lendir dalam tinja penderita penyakit diare
yang mendadak merupakan petunjuk kuat bagi shigelosis.

Gambar 3. Shigella sp.

b. Habitat
Habitat pada Shigella sp. ini adalah saluran pencernaan manusia. Dia dapat
tumbuh subur di usu manusa.

c. Virulensi dan Infeksi


Bakteri Shigella sp. dalan infeksinya melewati fase oral. Bakteri ini mampu
mengeluarkan toksin LT. Bakteri ini mampu menginvasi ke epitel sel mukosa usus halus,
berkembang biak di daerah invasi tersebut. Lalu, mengeluarkan toksin yang merangsang
terjadinya perubahan sistem enzim di dalam sel mukosa usus halus(adenil siklase).
Akibat invasi bakteri ini, terjadi infiltrasi sel-sel polimorfonuklear dan menyebabkan

- 10 -
matinya sel-sel epitel tersebut, sehingga terjadi tukak-tukak kecil di daerah invasi.
Akibatnya, sel-sel darah merah dan plasma protein keluar dari sel dan masuk ke lumen
usus dan akhirnya keluar bersama tinja lalutinja bercampur lendir dan darah.
Masa inkubasi berkisar 1-7 hari, yang paling umum yaitu sekitar 4 hari. Gejala
mula-mulanya yaitu demam dan kejang perut yang nyeri. Diare biasanya terjadi setelah
48 jam, diikuti oleh disentri 2 hari kemudian. Pada kasus yang parah, tinja terutama
terdiri dari darah, lendir, dan nanah.

d. Patogenesis Shigella sp.


• Shigella mempenetrasi intraseluler epitel usus besar
• Terjadi perbanyakan bakteri
• Menghasilkan edotoksin yang mempunyai kegiatan biologis
• S. Dysenteriae menghasilkan eksotoksin yang mempunya sifat neorotoksik dan
enterotoksik

Gambar 4. Patogenesis Shigella sp.

e. Penularan
Infeksi Shigella sp. dapat diperoleh dari makanan yang sudah terkontaminasi,
walaupun keliatannya makanan itu terlihat normal. Air pun juga dapat menjadi salah satu

- 11 -
hal yang terkontaminas dengan bakteri ini. Artinya, infeksi Shigella dapat terjadi jika ada
kontak dengan feses yang terkontaminasi dan makanan yang terkontaminasi.

II.2.3 Salmonella sp.


a. Ciri-ciri:
• Batang gram negatif

• Terdapat tunggal

• Tidak berkapsul

• Tidak membentuk spora

• Peritrikus

• Aerobik, anaerobik fakultatif

• Patogenik, menyebabkan gastroenteritis

Gambar 5. Salmonella sp.

Menurut reaksi biokimiawinya, salmonella dapat diklasifikasikan menjadi tiga


spesies: S. typhi, S. choleraesuis dan S. enteriditis.

- 12 -
Uji atau S. S.
S. typhi
Substrat enteriditis choleraesuis
Produksi H2S + + V
Reduksi nitrat + + +
Produksi indol - - -
Pencairan
- - -
gelatin
Laktosa - - -
Sukrosa - - -
Glukosa A AG AG
Maltosa A AG AG
Manitol A AG AG
Dulsitol - V V

Tabel 2. Reaksi biokimiawi spesies Salmonella


V=variabel; A=asam; G=gas

b. Habitat
Terdapat pada kolam renang yang belum diklorin, jika terkontaminasi melalui
kulit,akan tumbuh dan berkembang pada saluran pencernaan manusia.

C. Infeksi

Masuk ke tubuh orang melalui makanan atau minuman yang tercemar bakteri ini.
Akibat yang ditimbulkan adalah peradangan pada saluran pencernaan sampai rusaknya
dinding usus. Penderita akan mengalami diare, sari makanan yang masuk dalam tubuh
tidak dapat terserap dengan baik sehingga penderita akan tampak lemah dan kurus. Racun
yang dihasilkan bakteri salmonella menyebabkan kerusakan otak, organ reproduksi
wanita, bahkan yang sedang hamilpun dapat mengalami keguguran. Satwa yang bisa
menularkan bakteri salmonella ini antara lain primata, iguana, ular, dan burung.

d. Patogenesis

- 13 -
– Menghasilkan toksin LT.
– Invasi ke sel mukosa usus halus.
– Tanpa berproliferasi dan tidak menghancurkan sel epitel.
– Bakteri ini langsung masuk ke lamina propria yang kemudian menyebabkan
infiltrasi sel-sel radang.

Gambar 6. Patogenesis dari salmonella

e. Penularan

Melalui makanan yang erat kaitannya dengan perjamuan makanan. Terjadi sakit
perut yang mendadak. Jadi, melalui kontar makanan yang terjangkit atau terkontaminasi
bakteri.

II.2.4. Helicobacter pylori

- 14 -
Gambar 7. Helicobacter pylori

a. Ciri-ciri:
• Berbentuk batang melengkung

• Bakteri gram negatif

• Mikroaerofilik

• Memiliki 4-6 flagella

• Dapat mengoksidasi hidrogen

• Menghasilkan oksidase, katalase, dan urease

• Patogenik, menyebabkan gastrointestinal

b. Habitat

Awal saluran pencernaan manusia.

c. Virulensi dan Infeksi H. Pylori

Helicobacter pylori memproduksi toksin yang disebut vacuolating cytotoxin A.


Racun ini dapat menyerang sel dalam vakuola, yang merupakan rongga terikat membran
dalam sel, menyebabkan gastritis dan bisul parah.
Pada titik tertentu dalam siklus kehidupan bakteri, beberapa bentuk perubahan
organisme dari bakteri bentuk spiral untuk coccoid. Alasan di balik ini juga tidak jelas
apakah itu adalah suatu usaha untuk beradaptasi dengan situasi stres, tahap tidak aktif,
atau sinyal kematian sel.

- 15 -
d. Patogenesis

- Setelah H. pylori tertelan, bakteri memasuki lumen lambung, atau rongga.


- Karena memiliki flagela Helicobacter pylori dapat menahan kontraksi otot perut.
- Setelah tiba di lapisan lendir, bakteri kemudian melubang lapisan
tersebutmenggunakan flagela dan bentuk heliks untuk membuat gerakan seperti
sekrup.

Gambar 8. Patogenesis Helicobacter pylori

II.2.5. Clostridium perfringens


a. Ciri-ciri:

- 16 -
• Batang gram positif

• Terdapat tunggal, barpasangan, dan dalam rantai

• Berkapsul

• Sporanya ovoid (melonjong), sentral sampai eksentrik

• Anaerobik

• Menghasilkan eksotoksin, menyebabkan kelemayuh (suatu infeksi jaringan disertai


gelembung gas dan keluarnya nanah)

Gambar 9. Clostridium perfringens

Spesies bakteri ini dibagi menjadi enam tipe, A sampai F, berdasarkan pada
toksin-toksin yang secara antigenik berbeda, yang dihasilkan oleh setiap galur. Tipe A
adalah galur yang menyebabkan keracunan makanan oleh perfingens. Peracunan
disebabkan oleh sel-sel vegetatif pada waktu membentuk spora di rongga usus. Spora
akan menghasilkan eksotoksin yang enterostatik sehingga menyebabkan penyakit.

b. Habitat

- 17 -
Bakteri ini tersebar luas di lingkungan dan sering terdapat di dalam usus manusia,
hewan peliharaan dan hewan liar. Spora organisme ini dapat bertahan di tanah, endapan,
dan tempat-tempat yang tercemar kotoran manusia atau hewan.

c. Infeksi dan virulensi


Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan ´perfringens´ yang
merupakan istilah yang digunakan untuk keracunan makanan yang disebabkan oleh C.
perfringens . Keracunan perfringens secara umum dicirikan dengan kram perut dan diare
yang mulai terjadi 8-22 jam setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak
C. perfringens penghasil toxin penyebab keracunan makanan. Keracunan perfringens
didiagnosis dari gejala-gejalanya dan waktu dimulainya gejala yang agak lama setelah
infeksi. Lamanya waktu antara infeksi dan timbulnya gejala merupakan ciri khas penyakit
ini. Diagnosis dipastikan dengan memeriksa adanya racun dalam kotoran pasien.
Konfirmasi secara bakteriologis juga dapat dilakukan apabila ditemukan sangat banyak
bakteri penyebab penyakit di dalam makanan atau di dalam kotoran pasien.

Dalam sebagian besar kasus, penyebab sebenarnya dari keracunan oleh C.


perfringens adalah perlakuan temperatur yang salah pada makanan yang telah disiapkan.
Sejumlah kecil organisme ini seringkali muncul setelah makanan dimasak, dan berlipat
ganda hingga tingkat yang dapat menyebabkan keracunan selama proses pendinginan dan
penyimpanan makanan. Daging, produk daging, dan kaldu merupakan makanan-makanan
yang paling sering terkontaminasi.

Keracunan perfringens paling sering terjadi dalam kondisi pemberian makan


bersama (misalnya di sekolah, kantin, rumah sakit, rumah-rumah perawatan, penjara, dll.)
di mana sejumlah besar makanan disiapkan beberapa jam sebelum disajikan.

d. Patogenesis
–Menghasilkan toksin LT
–Toksin merangsang enzim adenilat siklase pada dinding usus yang mengakibatkan
bertambahnya konsentrasi cAMP sehingga hipersekresi air dan klorida dalam usus.
–Hal ini mengakibatkan reabsorpsi Na terhambat dan menyebabkan diare.

- 18 -
Peracunan disebabkan oleh sel-sel vegetatif pada waktu membentuk spora di
rongga usus. Pengobatannya hanya menghilangkan gejala karena tidak ada pengobatan
lain yang khusus.

Gambar 10. Patogenesis Clostridium perfringens

e. Penularan
Menelan makanan yang terkontaminasi oleh tanah dan tinja dimana makanan
tersebut sebelumnya disimpan dengan cara yang memungkinkan kuman berkembangbiak.

II.2.6. Vibrio cholerae


a. Ciri-Ciri:
• Bakteri gram negatif

• Batang lurus dan agak lengkung

- 19 -
• Terdapat tunggal dan dalam rantai berpilin

• Tidak berkapsul

• Tidak membentuk spora

• Bergerak flagella tunggal polar

• Aerobik, anaerobik fakultatif

• Patogenik, menyebabkan kolera

Vibrio cholera terdapat dalam dua biotipe atau galur: biotipe klasik dan biotipe El Tor.
Dinamakan El Tor karena organism tersebut diisolasi di pos karantina El Tor di Teluk Suez
pada thun 1905.

Uji Klasik El Tor

Uji Voges-Proskauer untuk


asetilmetilkarbinol - +
Produksi Indol + +
Pencairan gelatin + +
Produksi H2S - -
Fermentasi glukosa + +
Fermentasi laktosa Lambat Lambat
Hemolisis butir darah merah
domba atau kambing - +
Hemaglutinasi butir darah merah
- +
ayam
Tabel 3. Reaksi biokimiawi biotipe Vibrio cholerae

- 20 -
Gambar 11. Vibrio cholerae

b. Habitat bakteri
Bakteri yang dapat hidup pada salinitas yang relatif tinggi seperti di air laut dan
perairan payau. Tumbuh dan berkembang biak di dalam usus manusia.

c. Infeksi dan vilurensi


Menyebabakan penyakit kolera (cholera) yang penyakit infeksi saluran usus
bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam
tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri tersebut
mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus sehingga terjadilah diare
(diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya seseorang dalam waktu hanya
beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada kondisi dehidrasi.
Apabila dehidrasi tidak segera ditangani, maka akan berlanjut kearah hipovolemik
dan asidosis metabolik dalam waktu yang relatif singkat dan dapat menyebabkan
kematian bila penanganan tidak adekuat. Pemberian air minum biasa tidak akan banyak
membantu, Penderita (pasien) kolera membutuhkan infus cairan gula (Dextrose) dan
garam (Normal saline) atau bentuk cairan infus yang di mix keduanya (Dextrose Saline).

d. Patogenesis

Pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal tanda dan gejala yang
ditampakkan, antaralainialah :

- Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului oleh rasa mulas atau tenesmus.
- Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan

- 21 -
putih keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti
manis yang menusuk.

- Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan
mengeluarkan gumpalan-gumpalan putih.

- Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.

- Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah
merasakan mual sebelumnya.

- Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
- Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-
tandanya seperti ; detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung,
hypotensi dan lain-lain yang bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti
cairan tubuh yang hilang dapat mengakibatkan kematian.

e. Penularan
Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik.
Bakteri vibrio cholerae berkembang biak dan menybar melalui feces (kotoran) manusia,
bila kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya
maka orang lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera
itu juga.

II.2.7. Vibrio parahaemolyticus


a. Ciri-ciri:
• Bentuk koma atau batang lurus gram negatif

• Terdapat tunggal

• Tidak berkapsul

• Tidak membentuk spora

- 22 -
• Falgelum tunggal mengutub

• Aerobik, anaerobik fakultatif

• Mmebutuhkan garam

• Hemolitik
• Patogenik, menyebabkan gastroenteritis

Gambar 12. Vibrio parahaemolyticus


b. Habitat
Tumbuh pada kadar NaCl optimum 3%, kisaran suhu 5 – 43°C, pH 4.8 – 11,
terdapat di perairan laut dan berkembang pada hewan-hewan seafood. Pertumbuhan
berlangsung cepat pada kondisi suhu optimum (37°C) dengan waktu generasi hanya 9–10
menit.

c. Virulensi dan Infeksi


Penyebab penyakit gastroenteritis yang disebabkan oleh produk hasil laut
(seafood ), terutama yang dimakan mentah, dimasak tidak sempurna atau terkontaminasi
dengan seafood mentah setelah pemasakan. Gastroenteritis berlangsung akut, diare tiba-
tiba dan kejang perut yang berlangsung selama 48 – 72 jam dengan masa inkubasi 8 – 72
jam. Gejala lain adalah mual, muntah, sakit kepala, badan agak panas dan dingin. Pada
sebagian kecil kasus, bakteri juga menyebabkan septisemia. Kasus keracunan karena Vp
lebih banyak terjadi pada musim panas. Kondisi ini berkorelasi positif dengan prevalensi
dan jumlah kontaminasi Vp pada sampel seafood lingkungan yang juga meningkat

- 23 -
dengan meningkatnya suhu perairan. Tingkat salinitas air laut juga berpengaruh pada
tingkat kontaminasi.

d. Patogenesis
- Masa inkubasi: 8-72 jam

- Gejala utama: sakit perut, diare, mual, dan muntah


- Disertai sedikit demam & rasa kedinginan
- Sembuh dalam waktu 2-5 hari
- Tidak disebabkan toksin

e. Penularan
Dengan mengkonsumsi makananan laut yang sudah terkontaminasi

II.2.8. Vibrio vulnficus


a. Ciri-ciri:
• Berbentuk batang melengkung

• Bakteri gram negatif

• Bergerak aktif, memiliki flagella

• Habitat di air laut

• Patogenik, menyebabkan selulitis atau keracunan darah dan gastroenteritis

- 24 -
Gambar 13. Vibrio vulnficus

b. Habitat
Banyak ditemukan di dalam air laut hangat. Tumbuh dan berkembang pada hewan
laut seperti kerang. Selnjutnya dapat tumbuh pada usus manusia jika terkontaminasi
melalui makanan.

c. Virulensi dan Infeksi

Patogen pada orang yang makan makanan laut yang terkontaminasi atau memiliki
luka terbuka yang terkena air. Menyebabkan muntah, diare, dan sakit perut. Dalam sistem
kekebalan, terutama mereka dengan penyakit hati kronis, V. vulnificus dapat menyerang
baik dari luka atau dari saluran pencernaan, menyebabkan penyakit yang disebut
septikemia primer, ditandai dengan demam, gerah, shock septik dan kematian.sebaiknya
setiap orang sangat disarankan untuk tidak mengkonsumsi mentah atau dimasak tidak
cukup makanan laut.

d. Patogenesis

- Masa inkubasi: biasanya 12 – 72 jam sesudah mengkonsumsi seafood mentah atau


setengah matang

- Masa penularan: dianggap tidak terjadi penularan dari orang ke orang baik langsung
atau melalui makanan yang terkontaminasi kecuali pada keadaan tertentu.

e. Penularan
Penularan terjadi diantara mereka yang mempunyai risiko tinggi, yaitu orang-
orang yang “immunocompromised” atau mereka yang mempunyai penyakit hati kronis,

- 25 -
infeksi terjadi karena mengkonsumsi “seafood” mentah atau setengah matang.
Sebaliknya, pada hospes normal yang imunokompeten, infeksi pada luka biasanya terjadi
sesudah terpajan dengan air payau (misalnya kecelakaan ketika mengendarai
perahu/boat) atau dari luka akibat kecelakaan kerja (pengupas tiram, nelayan).

II.2.9. Bacillus cereus

a. Ciri-ciri:
• Berbentuk batang

• Bakteri gram positif

• Dapat membentuk endospora

• Tidak memiliki flagel

• Anaerobik fakultatif

• Menghasilkan enterotoksin

• Patogenik, menyebabkan mual, muntah, dan diare

Gambar 14. Bacillus cereus

b. Habitat

Sangat umum berada di dalam tanah dan tumbuh-tumbuhan.

- 26 -
c. Virulensi dan Infeksi
Ada dua jenis penyakit yang berhubungan dengan Bacillus cereus. Yang paling
umum adalah penyakit diare disertai dengan sakit perut. Sebuah masa inkubasi 4 sampai
16 jam diikuti dengan gejala-gejala berlangsung 12 hingga 24 jam.
Jenis penyakit kedua adalah penyakit yg menyebabkan muntah sering dikaitkan
dengan konsumsi beras tidak benar didinginkan setelah memasak. Penyakit ini ditandai
dengan muntah dan mual yang biasanya terjadi dalam 1 sampai 5 jam setelah konsumsi
makanan yang terkontaminasi.

- 27 -
BAB III

PENUTUP

III. 1 Kesimpulan

Bakteri merupakan makhluk hidup yang memiliki variasi atau keberagaman.


Karena perbedaan itu habitat, patogenesis, cara infeksi, dan penularannya pun berbeda-
beda. Ada yang terdapat pada saluran pernfasan, urogenital, dan tentu saja pada saluran
pencernaan. Pada saluran pencernaan umumnya mereka dapat berpengaruh pada feses
manusia dan umumnya menyebabkan diare walaupun tidak hanya itu saja. Cara
infeksinya berbeda-beda dan pengobatannya pun juga berbeda-beda.

III. 2. Saran

Bakteri makhluk kecil yang jarang kita sadari keberadaanya. Maka jika terjangkit
salah satu penyakit dari bakteri kita jangan meremehkan gejala awal yang dialami karena
umumnya gejala awalnya sangat biasa. Karena jika diremehkan bisa saja menjadi akut.
Harus mengikuti tahap-tahap pencegahan yaitu dengan menjaga kebersihan diri.

- 28 -
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Jenis dan patogenesis Mikroorganisme penyebab diare.


www.scribd.com. 1 April 2010, pk 19.00
Pelczar Jr, Michael J. 1988. Dasar-dasar mikrobiologi jilid 2 terjemahan. Jakarta :
Universitas Indonesia.
Anonim. Bacillus cereus. www.life.umd.edu. 2 April 2010, pk. 18:15
Anonim. Clostridium prefingens. www.microbewiki.kenyon.edu. 2 April 2010, pk 18:40
Anonim. Escherichia coli. www.eid.ac.cn. 2 April 2010, pk 18:53
Anonim. Helicobacter pylori. www.bioweb.uwlax.edu, pk 19:39
Anonim. Vibrio vulnificus. www.nwfsc.noaa.gov. 2 April 2010, pk 20:15
Anonim. Vibrio parahaemolyticus. www.pathmicro.med.sc.edu. 2 April 2010, pk 20:20
Todar Kenneth. 2009. Bacteri pathogenesis. www.textbookofbacteriology.net. 4 April
2010, pk 23:30

- 29 -