Anda di halaman 1dari 26

KEARIFAN BUDAYA LOKAL

DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

KEARIFAN BUDAYA LOKAL


DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Oleh
SARASWATI 1

Abstrak
Secara garis besar, teori perencanaan berkembang dari alur besar instrumental
rasionalitas menuju komunikatif rasionalitas, yaitu mengalir dari alur authoritative knowledge ke
alur pelibatan berbagai fihak dalam perencanaan. Komunikatif rasionalitas dikemas dan
dikategorikan dalam teori perencanaan komunikatif (Communicative Planning Theory) dalam
bentuk konsep yang beragam, seperti advocacy planning, transactive planning, participatory
planning, radical planning, collaborative planning, dan lain-lain.
Namun demikian, dalam alur komuniatif rasionalitas tersebut, konsep dasar mengenai
komunikasi dan kolaborasi antara budaya lokal atau kearifan lokal dengan perencanaan masih
belum secara eksplisit dibicarakan, karena selama ini komunikatif rasionalitas lebih banyak
membicarakan hubungan antar individu, kelompok masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan
stakeholder perencanaan lainnya. Budaya atau kearifan budaya lokal sebagai bagian dari
“practical reasoning” sesungguhnya ada dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,
terutama di negara-negara sedang berkembang bukan barat (non western culture) seperti
Indonesia, di samping perencanaan normatif sebagai hasil penalaran “knowledge of science”
dalam perencanaan.
Tulisan ini menjelaskan konsep kolaborasi antara kearifan budaya lokal dengan
perencanaan dalam persfektif teori perencanaan.

Kata Kunci : Perencanaan Komunikatif, Perencanaan Kolaboratif, Budaya Lokal.

1
Penulis adalah dosen tetap pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota / Teknikn Planologi,
Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung.

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Pendahuluan ilmiah melalui proses penelitian


kuantitatif memang telah berlaku sejak
Berdasarkan sejarah, pengenalan abad ke-19, sehingga metode ilmiah
teori perencanaan berkembang pada saat menjadi berkonotasi positivis.
terjadinya perencanaan kota modern Positivisme mengangap adanya dunia
dalam konsep: Garden City, City obyektif, yang kurang lebih dapat segera
Beautiful, dan Public Health Reforms 2 . digambarkan dan diukur oleh metode
Teori perencanaan itu sendiri merupakan ilmiah, serta berupaya untuk
subjek studi yang sulit difahami, karena memprediksikan dan menjelaskan
di dalamnya akan menggambarkan hubungan sebab-akibat di antara
berbagai disiplin ilmu yang semakin variable-variable utamanya secara
dibahas akan memberi peluang kuantitatif. Metode positivistik ini
pengembangan yang semakin terbuka dikritik sebagai menghilangkan konteks
lebar. Ada pertanyaan utama dalam teori dari pemaknaan dalam proses
perencanaan yaitu: aturan apa yang pengembangan ukuran kuantitaf
dapat diterapkan dalam perencanaan terhadap fenomena faktual yang diteliti
untuk mengembangkan kota atau (Lincoln dan Guba 2000).
wilayah di antara hambatan politik, Oleh sebab itu, muncul
sosial, dan ekonomi? Jawabannya bukan pemikiran-pemikiran baru dalam teori
pada membangun sebuah model perencanaan yang mengarah pada
perencanaan, tapi lebih pada bagaimana komunikatif rasionalitas yang
praktek perencanaan yang berbasis pada dituangkan dalam berbagai konsep yang
karakteristik masyarakat di mana salah satunya digagas oleh Habermas
perencanaan itu akan diterima dan dengan Communicative Rationality,
dilaksanakan. Forester melalui Communicative
Selama dekade 1970 hingga Planning Theory. Healey dengan
1980an, muncul keprihatinan terhadap Collaborative Planning, dan
keterbatasan dan validitas informasi, Allmendinger dengan Postmodern
data serta metode kuantitaf yang sering Planning nya (Lihat Gambar berikut)
dihubungkan dengan positivisme sebagai
paradigma yang berlaku saat itu.
Paradigma positivisme yang
menurunkan pemahaman kebenaran

2
Campbell dan Fainstein, 1996. h. 5. yang
selanjutnya menjelaskan mengenai 3
karakteristik dasar sejarah perencanaan
yaitu: (1) penetapan kurun waktu para
pelopor perencananya; (2) periode
kelembagaan, profesionalisasi, dan
pengakuan perencanaan regional dan
perencanaan federal; dan (3) era pasca
Gambar 1
perang, masa krisis, dan diversifikasi
perencanaan. (Krueckeberg, 1983, dalam Sumber: Allmendinger, 2002. Towards a post positivist typology., hal. 80
Campbell dan Fainstein, 1996).

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Jika dilakukan periodesasi property dengan konsern utama pada


mengenai perjalanan teori perencanaan, land-use dan land development.
maka ada dua alur besar teori
perencnaan, yaitu instrumental Dalam perjalanannya,
rasionalitas dan komunikatif rasionalitas. perencanaan komunikatif dan
Instrumental rasionalitas merupakan perencanaan kolaboratif ini belum
konsep-konsep pemikiran pada era Pra membicarakan kemungkinan adanya
Modern Planning dan Modern Planning struktur budaya yang mungkin dapat
Theory, sedangkan komunikasi mendukung atau mungkin dapat
rasionalitas berada pada era Post mengganggu jalannya suatu
Modern Planning Theory. Dalam perencanaan. Unsur budaya ini dapat
typologinya, teori perencanaan ini dipandang sebagai bagian yang dapat
berada pada filisofi Positivist dan dipertimbangkan dalam komunikasi
Postpositivist (Almendinger, 2002) perencanaan. Salah satu peluang untuk
mempertimbangkan potensi lokal yang
Konsep perencanaan komunikatif dapat dikomunikasikan dan
dan kolaboratif yang dituangkan dalam dikolaborasikan dalam perencanaan,
tipologi postmoderen tersebut, telah adalah budaya lokal atau kearifan
banyak membicarakan tentang bagaiman budaya lokal sebagai bagian dari alasan
melakukan kolaborasi antara “knowledge praktis (practical reasoning) dalam
of science” dengan “practical perencanaan di samping pengetahuan
reasoning” dalam suatu perencanaan ilmiah (knowledge of science) yang
yang lebih berpihak pada kepentingan selama ini dimiliki oleh para perencana.
masyarakat banyak, tidak hanya Artikel ini menjelaskan posisi
berpihak pada kelompok yang mampu pertimbangan budaya lokal dalam
melakukan ‘lobby’ dengan pihak perspektif teori perencanaan.
pengambil keputusan saja. Perencanaan
komunikatif dan perencanaan kolaboratif Teori Perencanaan : Sebuah
merupakan kritik terhadap Pemerintah
Perspektif
dan Group Pelobi Bisnis dalam kapasitas
dan kompetensi pemerintah lokal,
Menurut Alexander (1986) teori
melalui keadilan alokasi ruang, pelibatan
adalah cara untuk memahami dunia, dan
masyarakat dalam proses perencanaan,
merupakan kerangka untuk
outcome dalam perbaikan lingkungan
menginterpretasikan fakta, atau cara
hidup, keberpihakan, dan perhatian
untuk memahami fakta dan merupakan
terhadap perilaku masyarakat dalam
kerangka menginterpretasikan
suatu lingkungan perumahan.
pengalaman. Ilmu pengetahuan pada
hakekatnya dibentuk dari gabungan
Konsep komunikatif, khususnya
antara fakta dan pengalaman, dengan
perencanaan kolaboratif yang digagas
demikian teori adalah kerangka yang
oleh Haley (1987) berawal dari
sepatutnya digunakan dan diterapkan,
pengalamannya dalam pengendalian
karena dapat menjelaskan fakta yang
pembangunan ruang kota dalam bidang
ada. Tidak ada definisi tunggal untuk
memahami perencanaan dan teori
Jurnal PWK Unisba
KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

perencanaan. Sama halnya dengan alam yang luas, dan (4) banyak
profesi perencana, tumbuh berkembang pendekatan yang dapat dipakai dalam
dan hadir dalam latar belakang yang perencanaan dengan meminjam alat
berbeda dan memiliki keluasan wawasan analisis, metoda, dan teori dari bidang
dari pengalaman masing-masing. ilmu pengetahuan lainnya.

Pengertian planning atau Perencanan tidaklah


perencanaan itu sendiri telah mengalami dikembangkan berdasarkan teori tetapi
banyak perkembangan. Perkembangan sebaliknya teori perencanaan
akan esensi perencanaan bagi manusia berkembang sebagai kelanjutan dari
mempunyai kaitan yang erat dengan pengalaman mengenai usaha-usaha
perkembangan peradaban dan teknologi manusia untuk mengatasi keadaan
(Sujarto, 1990). Hal ini karena lingkungan hidupnya (Sujarto, 1990).
perkembangan peradaban manusia Ada dua jenis utama teori perencanaan
berpengaruh terhadap kompleksitas yaitu : yang berusaha untuk menjelaskan
permasalahan yang dihadapi di dalam bagaimana sistem sosial berjalan dan
perencanaan, sementara perkembangan yang berusaha untuk menyediakan alat
teknologi berperan besar di dalam dan teknik (tools & technique) untuk
menetukan pola pendekatan perencanaan mengendalikan & mengubah sistem
yang hendak diterapkan. Sejalan dengan sosial (Feldt, dalam Catanese & Snyder,
perkembangan peradaban dan teknologi 1988 : 49). Jenis pertama, yaitu teori-
tersebut maka berkembang pula teori teori operasi sistem, terutama
perencanaan dan praktek-praktek memaparkan sejumlah disiplin akademis
perencanaan yang terjadi pada kurun tradisional, karena tidak ada disiplin
jaman tertentu. tunggal yang mencakup cukup luas
untuk semua aspek penting dari suatu
Pemahaman tentang teori sistem sosial. Jenis kedua, teori-teori
perencanaan (planning theory) perubahan sistem, menyajikan hampir
mengalami perdebatan yang panjang dan semua latar belakang dan teknik-teknik
luas, karena pemahamannya menjadi dari disiplin ilmu terapan, seperti
semakin melebar dan kompleks. Apa itu administrasi pemerintahan dan ilmu
teori perencanaan menjadi sulit teknik, di samping yang berasal dari
didefinisikan secara pasti karena berbagai disiplin ilmu lainnya. Teori-
beberapa alasan, di antaranya (Campbel. teori perubahan sistem dibagi dalam
S & Fainstein. S, 1996) : (1) teori empat jenis cabang utama, yaitu teori
perencanaan memiliki over-lap dengan rasionalisme, inkrementalisme,
berbagai disiplin ilmu lain (ilmu sosial, utopianisme dan metodisme.
politik, ekonomi, arsitektur, dll); (2)
batasan profesi perencana dan profesi Teori perencanaan rasional
lainnya sering tidak jelas, di mana mendasarkan pada pandangan
perencana tidak hanya membuat rencana menyeluruh mengenai sistem dan
dan bukan perencana dapat mengerjakan berusaha untuk memberikan satu
perencanaan; (3) ruang perencanaan pandangan menyeluruh mengenai semua
terbagi atas pola ruang dan lingkungan aspek yang terkait dengan sistem

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

kehidupan maupun yang tidak berkaitan komprehensif, perencana harus


dengan kehidupan. Bagian dari sistem mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan
kehidupan itu mencakup sistem wilayah masyarakat yang bermacam-macam
dan kehidupan di atasnya. Suatu sistem tersebut, bagaimanapun, dapat diukur
dapat didefinisikan sebagai seperangkat kepentingannya meskipun secara umum
komponen-komponen yang saling tidak dapat disatukan ke dalam hierarki
tergantung dengan ruang lingkup, tujuan masyarakat (Altsuler, dalam
keterkaitan dan stabilitas yang relatif Faludi 1983 : 194).
tinggi. Ruang lingkup (closure)
ketaktergantungan eksternal, sampai Teori perencanaan dapat dlihat
sejauh mana komponen-komponen dari sudut pandang atau perspektif
sistem tersebut tidak berinteraksi dengan pengetahuan yang cukup lebar melalui
komponen lain di luar sistem. proses kajian dan pengalaman
Keterkaitan (connectivity) mengukur perencana, sampai pada batasan yang
ketergantungan internal, yaitu suatu diterima dalam lingkungannya
batasan tingkat di mana komponen- (Alexander, 1986). Meskipun teori
komponen sistem saling berinteraksi satu perencanaan yang berkembang
sama lain. Stabilitas (stability) berlandaskan pandangan rasional, di
berhubungan dengan lamanya waktu di mana pemahaman aksioma rasional itu
mana sistem tersebut berakhir tanpa sendiri adalah suatu cara berfikir ilmiah
adanya perubahan atau gangguan yang dan anlitis menuju pemecahan suatu
berarti. Demikian dengan perencanaan permasalahan tertentu, atau suatu
wilayah dan kota pada hakekatnya dapat tindakan ‘masuk akal’ pada hal-hal yang
didekati melalui pendekatan sistem, dipertimbangkan dalam pemilihan
dengan menetapkan ruang lingkup, alternatif, pencapaian tujuan, dan
keterkaitan, dan stabilitas sistem. hubungan antara tujuan awal dan tujuan
akhir suatu ‘perencanaan’. Analisa
Kelompok perencana yang keputusan rasional adalah pondasi
mengaku termasuk dalam kelompok teoritis bagi perencanaan, melalui
perencana yang komprehensif penggunaan metoda dan alat canggih
menyatakan bahwa fungsi perencana untuk mencapainya. (Alexander, 1986).
yang terpenting adalah (Altshuler, dalam
Faludi, 1983 : 193) memahami
kepentingan masyarakat dan memiliki
pengetahuan yang cukup untuk
mengukur perkiraan pengaruh tindakan
yang diusulkan tersebut, terhadap
kepentingan masyarakat.

Masyarakat jelas mempunyai


tujuan yang berbeda-beda antara satu
orang atau satu kelompok dengan orang
atau kelompok lain, maka untuk
menyusun suatu rencana yang

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Demikian juga Mazza (2000) 3 dalam bentuk piramid turunan, sebagai


menyatakan bahwa dalam 50 tahun bagian dalam proses perencanaan.
terakhir ini, aktifitas perencanaan telah Piramida ini disebut dengan bagan
memperlihatkan dua karakter yang pengetahuan teknis dan tindakan
kontradiktif yaitu: (1) Proses perencanaan yang menjelaskan relasi
diversifikasi dan spesialisasi yang sosial dalam proses perencanaan agar
menerus dan berkembang, dan (2) diperoleh bentuk ruang yang efisien
Pembangunan yang lamban dan tidak Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam
menentu dalam ilmu pengetahuan teknis gambar berikut ini.
yang diformalisasi. Dalam Gambar 2
pelaksanaannya, proses spesialisasi dan
diversifikasi telah menghasilkan dua
konsekuensi yang berbeda dalam tori
perencanaan, dengan banyak alasan
bagaimana peluang rancangan grand
teori dan naratif akan mengalami
kelemahan dalam pendekatannya
(Mandelbaum, 1979 dalam Mazza,
2002). 4

Mazza juga menggambarkan


bahwa aturan-aturan yang dibuat dalam
Sumber : Mazza, Technical Knowledge and Planning
perencanaan, secara teoritis merupakan Actions. H. 19.
bagian dari bentuk ruang (spatial form)
yang secara hirarkis akan menghasilkan
hubungan hipotetikal yang timbal balik Perencanaan merupakan suatu
antara masyarakat dengan ruang atau aktivitas universal manusia, suatu
lingkunga alamnya, keperluan politis keahlian dasar dalam kehidupan yang
suatu kebijakan, dan perencanaan berkaitan dengan pertimbangan suatu
sebagai bagian dari pembelajaran sosial hasil sebelum diadakan pemilihan
(planning as a learning process). Secara diantara berbagai alternatif yang ada.
diagramatis, pernyataan ini dituangkan Sebagai suatu “idea “, perencanaan
sudah dikenal sejak masa Yunani yaitu
sejak munculnya kota-kota berpola pada
3
Mazza, Luigi. yang menyatakan bahwa masa itu seperti kota-kota di lembah
“During the last 50 years – and during almost the Euphirat. Tetapi perencanaan modern
whole century – Planning activities have shown (modern planning) mulai dikenal sejak
two relevant and seemingly contradictory
characters: a continuous and growing process of akhir abad ke 19 yaitu sejak masa
diversification and specialization, and a slow and revolusi industri yang terjadi di Eropa
uncertain development of the formalized Barat (Mumford, 1950, dalam sujarto
technical knowledge. The diversification process 1990). Sedangkan perencanaan sebagai
developed both through the spreading of suatu teori yang aktif dan mandiri baru
planning activities to new intervention sectors
and the incorporating of sectors in which other mulai dikembangkan tidak lebih dari 30
experts were already operating. tahun yang lalu (F.B.Gillie 1971, dalam
4
Op-cit, h. 12.

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Sujarto 1990). Perencanaan juga 1990). Secara mendasar, proses


merupakan suatu rangkaian kegiatan perencanaaan mencakup tiga tahapan,
berfikir yang bersinambungan dan yaitu : formulasi nilai, identifikasi cara-
rasional untuk memecahkan suatu cara untuk mencapai tujuan, dan
permasalahan sacara sistematik, efektif pelaksanaan (Reiner & Davidoff, dalam
dan efisien (Holden, 1970, dalam Sujarto Faludi, 1983 : 28)
1990). Secara mendasar, proses
perencanaaan mencakup tiga tahapan, Teori perencanaan dibedakan
yaitu : formulasi nilai, identifikasi cara- dalam dua pendekatan utama, yaitu
cara untuk mencapai tujuan, dan pendekatan normatif dan pendekatan
pelaksanaan (Reiner & Davidoff, dalam tindakan. Dalam kedua pendekatan ini
Faludi, 1983 : 18) Perencanaan adalah pertama-tama mempelajari cara
aplikasi dari metoda ilmiah mengambil keputusan dalam manajemen
bagaimanapun sederhananya untuk (Cyert & March, 1959; Dyekman, 1961).
membuat kebijaksanaan (Reiner & Hal ini merupakan perbedaan yang
Davidoff, dalam Faludi, 1983 : 11) yaitu: dibuat dalam studi perencanaan oleh
Daland dan Parker (1962) dan yang
“Perencanaan adalah suatu terbaru juga dalam mempelajari “formasi
proses untuk menentukan kebijaksanaan” oleh Bauer (1968).
tindakan masa depan tindakan Perbedaan tersebut merupakan analog
masa depan yang tepat melalui terhadap studi perencanaan antara
serangkaian pilihan-pilihan. Di normative teori politik dan positif. Ilmu
dalam perencanaan, “proses
pengetahuan politik teori normatif yang
“merupakan sesuatu yang
bersinambungan (planning is a dihubungkan dengan bagaimana
continuous proces). perencanaan harus diproses secara
rasional. Tindakan pendekatan lebih
Proses perencanaan tidak mengarah pada batasan-batasan yang
mempumyai awal dan akhir yang berlawanan dalam mencoba untuk
definitif (Webber, 1963, dalam Sujarto, memenuhi program tindakan rasional
1990). Proses perencanaan akan (Bolan’s paper, hal 373)
berlangsung terus menuju ke upaya
penyelesaian masalah selanjutnya sesuai Jelasnya teori normatif dan
dengan perkembangan permasalahan positif dari perencanaan satu sama lain
yang baru. Proses perencanaan akan harus saling mendukung, misalnya
selalu tanggap dan menyesuaikan diri seseorang harus menyebutkan bahwa
dengan perkembangan di dalam penemuan secara empiris memodifikasi
masyarakat maupun berbagai sumber preskripsi yang ditentukan. Seperti
daya yang menunjangnya (Branch, 1968, Landblond dan teman kerjanya
dalam Sujarto, 1990 : 1). Perencanaan menjaganya sejak perencanaan aktual
merupakan suatu rangkaian kegiatan tidak pernah memprosesnya secara
berfikir yang bersinambungan dan rasional, pengertian perencanaan
rasional untuk memecahkan suatu regional bukan merupakan satu konsep
permasalahan sacara sistematik, efektif normatif yang cocok (Dahl dan
dan efisien (Holden, 1970, dalam Sujarto Lindblon, 1953, Bray Brooke dan

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Lindblon, 1963; Lindblon 1965, h. 51- terhadap teori empiris merupakan teori
69). positif dari perencanaan, nampaknya
sebuah tanda “muturity” dari suatu area
Tapi Banfield menggambarkan pencarian umumnya dan faktor-faktor
kesimpulan yang berbeda dari penemuan pendukungnya untuk teori yang
tersebut, bahwa organisasi tidak berhubungan dengan fakta empiris
dipergunakan dalam perencanaan terhadap perencanaan dan teori positif
rasional. Baginya sisa-sisa apa yang dilihat seperti tanda muturity dari suatu
tepat berlaku secara rasional namun wilayah pencarian secara intelektual,
suatu normative yang ideal belum pasti pengembangan lebih banyak material
harus berupa bentuk pengembangan termasuk bekas-bekas pada tngkatan
terhadap ideal yang memungkinkan teori normatif oleh karena maksud
ketepatannya dalam analisis keadaan, pengenalan untuk mengurangi
seperti perkembangan mungkin terjadi pengalaman teori perencanaan, namun di
karena tindakan pendekatan terhadap mana Banfild dan gambaran pertamanan
studi perencanaan akan membantu. pada studi empiris mengenai
perencanaan semua itu merupakan
Hubungan dekat terhadap proses perencanaan rasional seperti yang
idaman, idaman ini merupakan kehendak dikehendaki. Untuk lebih jelasnya studi
yang berlawanan dengan pengertian empiris dalam teori perencanaan ini
rasional dan perencanaan sedikit demi lebih jauh dijelaskan sebagai essay dari
sedikit pada konsep secara enpiris Altsuler (dalam Faludi, 1983, h. 193-
seperti, Madge (1968) menyarankan 209).
keseluruhan dan teori sedikit demi
sedikit merupakan kutub-kutub antara Teori Perencanaan telah banyak
ideologi yang aktual perubahan berkembang pada pendidikan
perencanaan sosial. Sama halnya, Khan perencanaan setelah berakhirnya
(1969) dalam bukunya yang terangkum ketenaran sekolah Chicago (Perlofi,
dalam “Studies in Sosial Policy and 1957). Benyamin A Handler mengenai
Planning Observers” di Amerika Serikat, “Apakah Perencanaan Itu?” (1957,
memaparkan perbedaan antara dalam Faludi, 1983) adalah contoh lain
keterkaitan dan pengertian merupakan dari perhatian akademik untuk
kuantitas bukan kualitas. Faludi merasa mengembangkan teori ini. Beberapa
telah pindah ke arah ini dalam beberapa tahun kemudian Hendri C Hightower
tulisannya, dan merasa menemukan (1970) mengulas lagi mengenai teori
dimensi-dimensi dari tindakan perencanaan yang lebih baik lagi yang
perencanaan, dan salah satunya kemudian dijadikan contoh dalam
memberikan pernyataan bahwa perumusan masalah dan beberapa
rasionalisasi dalam proses perencanaan pendekatan.
harus dibuat sedikit demi sedikit dan
berkesinambungan (Faludi, 1983). Ada beberapa teori mengenai
apakah teori perencanaan itu atau dalam
Umumnya lingkungan dan yang journal of the American institute of
mendukung untuk teori perencanaan Planners yang menerangkan sifat-sifat

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

perencanaan dan lingkupnya secara keputusan itu dibuat (Silvester, 1971-


panjang lebar. Berarti mereka lebih 1972).
menonjolkan usaha secara akademis
untuk menyatakan pada pelajar melalui Pergeseran Paradigma
kerangka kerja untuk memahami Perencanaan
perencanaan. Melalui kegiatan akademis
dan dengan cara latihan demikian adalah Perencanaan rasional (Rational
merupakan bekal untuk profesi seperti Planning) atau sering disebut
perencanaan yang kadang-kadang perencanaan menyeluruh
dilupakan oleh pelajar-pelajarnya. (Comprehensive Planning) pada
Semua itu lebih ditekankan di sekolah- dasarnya merupakan suatu kerangka
sekolah perencanaan sebagai tempat pendekatan atau metode pembuatan
latihan untuk mengembangkan daya keputusan yang disusun secara teratur
hayal mereka. Sebagai mana Kaplan dan logis (Banfield dalam Faludi, 1983,
(1964) menyatakan teori yang baru yaitu hal 139).
menghubungkan kemasyarakatan. Studi
perencanaan merangsang untuk Perencanaan rasional secara
berinovasi, penelitian yang akan menjadi konsepsual dan analitis mencakup
perencana Amerika. pertimbangan perencanaan yang laus.
Pertimbangan ini termasuk pula hal-hal
J. Brian Mc Loughlin (1969), yang berkaitan dengan seluruh rangkaian
dalam bukunya sistem pendekatan tindakan pelaksanaan serta berbagai
Perencanaan kota dan daerah. Lanjutan pengaruhnya terhadap pengembangan
pandangan tentang teori perencanaan (Sujarto, 1990). Dilihat dari produknya,
yang berdasarkan teori lokasi. Apa yang perencanaan rasional mencakup suatu
saya sebut sebagai teori di dalm totalitas dari seluruh aspek tujuan
perencanaan. Tapi secara jelas, dia selalu pembangunan. Sistematika perencanaan
membuat pertanyaan-pertanyaan seperti rasional dimulai dari diagnosa
perhatian pada teori perencanaan. permasalahan, perumusan dan tujuan
Sebagai contoh dia mengingatkan bahwa sasaran, penentuan serangkaian alternatif
proses perencanaan harus memiliki untuk mencapai tujuan, penentuan
bentuk yang mana untuk proses ini alternatif terbaik sesuai kebutuhan di
menjadikan manusia mengubah bentuk amsa depan, sampai dengan tindakan
lingkungannya. Pada jalan ini implementasi. Menurut Etzioni (dalam
keseluruhan teori perencanaan menjadi Faludi, 1983, hal. 217-218) keseluruhan
kesimpulan dari teori dalam sistematika perencanaan rasional selalu
perencanaan. Penekanan yang diberikan didasarkan atas analisis fakta, teori, dan
kepadanya adalah melemahkan, jadi oleh nilai-nilai yang terkait.
karena itu Mc Loughlin telah mengkritik
persis seperti yang saya pikirkan Pendekatan perencanaan rasional
(pendapat saya) untuk meletakan pada dapat dianggap sebagai suatu prosedur
kemajuan pendapat yang simpel dari yang dilakukan tahap demi tahap
proses yang aktual di mana suatu (Davidoff dan Reiner dalam Faludi,
1983, hal. 11). Sistematika perencanaan

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

rasional dimulai dari diagnosa posmodernisme kritis yang telah


permasalahan, perumusan dan tujuan terbangun dan telah memainkan peran
sasaran, penentuan serangkaian alternatif penting dalam pemikiran barat (Lincoln
untuk mencapai tujuan, penentuan dan Guba 2000).
alternatif terbaik sesuai kebutuhan di
amsa depan, sampai dengan tindakan Konstruksionisme dan
implementasi. Menurut Etzioni (dalam posmodernisme kritis mengemukakan
Faludi, 1983, hal. 217-218) keseluruhan tantangan filosofis mendasar terhadap
sistematika perencanaan rasional selalu positivisme dan menawarkan alternatif
didasarkan atas analisis fakta, teori, dan pendekatan teoritus dan praktis terhadap
nilai-nilai yang terkait. penelitian. Tradisi ini telah menghimpun
minat yang semakin meningkat,
Teori perencanaan rasional ini sebagian disebabkan karena mereka
membutuhkan keandalan, ketersediaan, memberikan perhatian secara tepat
dan validitas data yang sangat tinggi, waktu terhadap masalah-masalah sosial
sehingga ukuran-ukuran kuantitatif dan politis, yang tidak diperhatikan oleh
merupakan salah satu syarat para peneliti positivis. Perhatian para
berlangsungnya pandangan menyeluruh positivis untuk mengungkap kebenaran
terhadap suatu sistem yang akan dan fakta-fakta dengan menggunakan
direncanakan. Sedangkan di sisi lain, metode eksperimental atau survai telah
secara khusus, ukuran-ukuran ditantang oleh kaum interpretivis yang
kuantintatif sering mengesampingkan menyatakan bahwa metode-metode
makna dan penafsiran dari data yang tersebut memaksakan suatu pandangan
terkumpul. Metode ini mengenakan dunia tentang permasalahan dan
makna dan penafsiran pihak luar bukannya menangkap, mendeskripsikan
terhadap data, serta mensyaratkan dan memahami pandangan dunia
sampel statistik yang justru seringkali tersebut.
tidak mencerminkan kelompok sosial
tertentu dan tidak memungkinkan Kondisi persyaratan yang sangat
generalisasi atau pemahaman terhadap bersifat komprehensif tersebut pada
kasus-kasus individual. Oleh sebab itu perkembangannya menimbulkan kritik
dalam perjalanannya, metode terhadap keefektifan model perencanaan
kuantintatif dan positivistik dalam rasional (Sujarto, 1990). Persyaratan
perencanaan rasional yang menyeluruh yang sangat komprehensif menurut para
ini cenderung mengesampingkan nilai incrementalist terlalu berat bagi para
dari domain penelitian ilmiah. pengambil keputusan yang
kemampuannya sangat terbatas,
Rasionalisme dan Positivisme sehingga menimbulkan banyak kesulitan
akhirnya telah menjadi bentuk (Etzioni dalam Faludi, 1983, 217-218)
pelembagaan yang dominan dalam
penelitian sosial akan tetapi dominasi ini Secara umum kritik terhadap
semakin ditantang oleh kritik dari dua model perencaan rasional didasarkan
alternatif tradisi pemikiran, yaitu atas permasalahan yang dihadapi oleh
konstruksionisme interpretif dan keandalan produknya, yang meliputi

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

(Sujarto, 1990): a. Produk perencaan diinginkan maupun yang tidak


rasional dirasakan kurang memberikan diinginkan.
informasi dan arahan yang relevan bagi
para pembuat keputusan mengenai Karena adanya kelemahan-
prioritas penanganan masalah; b. Usaha kelemahan tersebut Robinson (dalam
penyelesaian masalah yang mencakup Faludi, 1985) memandang pentingnya
berbagai unsur secara menyeluruh dinilai meningkatkan fungsi perantara
sebagai hal yang sangat sukar (intermediate) yang berfungsi
direalisasikan, mengingat adanya menjembatani antara perencanaan
keterbatasan faktor keuangan, sementara komprehensif jangka panjang dengan
dinamika perkembangan sistem perencanaan proyek jangka pendek. Dari
masyarakat berlangsung sangat cepat; c. sini kemudian muncul model
Karena anggapan serta analisis perencanaan Disjointed Incrementalism
perencanaan rasional ini menekankan dan Mixed Scanning yang mencoba
pada azas totalitas, maka ini berarti menjawab kelemahan rasional
perlunya ditunjang oleh sistem informasi menyeluruh (rational comprehensive
sebagai masukan data yang lengkap, planning).
rinci, dan handal. Resiko yang mungkin
muncul dalam hal ini adalah waktu Di dalam prakteknya, ternyata
penyelesaian rencana yang lama dan perencanaan menyeluruh memang tidak
keandalan mutu data yang seringkali dapat menjawab seluruh aspek
tidak sesuai dengan harapan; dan d. perencanaan, sehingga kritik terhadap
Salah satu syarat tercapainya kelemahan model tersebut mulai muncul
pelaksanaan perencanaan rasional adalah sejak dekade 1960-an, yaitu kritik
adanya sistem koordinasi kelembagaan terhadap keefektipan London Masterplan
yang mapan, yang pada kenyataannya buatan Sir Patrick Abercrombie.
justru hal ini seringkali menjadi masalah
besar. Perkembangan teori-teori
perencanaan di Amerika pada dekade
Sedangkan menurut Robinson 60-an tidaklah terlepas dari sejarah
(dalam Faludi 1985, h.171), kelemahan- kehidupan bangsa Amerika, dengan
kelemahan model perencanaan rasional berbagai konflik tentang deskriminasi
meliputi: a. Kegagalannya untuk rasial dan ketidak adilan sosial pada
menyediakan informasi mutakhir dan waktu itu, kemiskinan yang masih
bermakna yang digunakan sebagai dasar melanda sebagian besar warga negara
tindakan; b. Kegagalannya dalam Amerika yang berkulit hitam pada saat
menjabarkan sasaran Masterplan ke itu baru mulai membuka mata para
dalam bentuk sasaran tindakan; c. perencana, bahwa pada hakekatnya
Ketidak berhasilannya dalam mendorong perencanaan pembangunan harus pula
tindak lanjut perencanaan pada tingkatan melihat segi-segi sosial serta peran serta
instansi pelaksana; d. Kegagalannya masyarakat dalam pembangunan.
untuk melakukan evaluasi terhadap
akibat-akibat perencanaan, baik yang Selama kurun waktu antara tahun
1950 dan 1960an, Davidoff (1983)

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

mengamati bahwa issue terbesar dalam rencana akibat pluralisme, diharapkan


perencanaan pada waktu itu belum betul-betul muncul produk perencanaan
terpecahkan, khususnya dalam keadilan yang handal dan diterima berbagai
alokasi kesejehteraan sosial, pihak. Dalam prakteknya pelaksanaan
pengetahuan, keterampilan dan masalah plural planning, dan advocacy planning
lainnya yang masih menjadi masalah ini merupakan wahana dukungan
yang diperdebatkan. Davidoff profesional untuk berkompetisi dalam
mengatakan bahwa untuk menjawab hal pemilihan rencana terbaik tentang
tersebut perlu suatu kondisi yang pembangunan masyarakat. Sedangkan
memberikan kebebasan kepada dalam unitary planning, advocacy bukan
masyarakat kota (urban democracy) merupakan hal yang penting karena
yang mapan, yang memungkinkan setiap tidak ada kompetisi terhadap produk
warga negara dapat berperan aktip dalam perencanaan yang dibuat oleh
proses pengambilan keputusan (public pemerintah. (Davidoff, 1983)
policy). Dalam suatu sistem demokrasi,
adalah hal yang lumrah ditemui tentang Sedangkan John Friedmann
adanya suatu oposisi. Dari segi (1987) memandang bahwa tidak
perencanaan, oposisi ini hendaknya tidak efektifnya komunikasi dalam proses
dipandang sebagai sesuatu yang perencanaan, dapat terjadi karena para
bertentangan, namun sebaliknya harus perencana umumnya menganggap
dipandang sebagai dukungan terhadap dirinya superior dibandingkan
rencana yang ada. Dengan adanya masyarakat sebagai kliennya. Perencana
masyarakat yang pluralis ini, diharapkan merasa bahwa dengan teknik-teknik
adanya peningkatan dalam derajat yang dimilikinya mereka mampu
rasionalitas selama proses penyiapan memecahkan berbagai masalah karena
rencana. Konsep ini mengharuskan dapat melihat kerumitan masalah dengan
perencana berada pada posisi advocate, lebih rasional. Sedangkan masyarakat
atau dalam proses perencanaannya sebagai klien beranggapan bahwa
dikenal dengan konsep Advocacy pengalaman adalah guru yang terbaik,
Planning. karena sudah teruji secara alamiah. Dan
permasalahan dapat dipecahkan karena
Advocacy Planing sebagai keterlibatan klien secara langsung.
perencanaan alternatif ini diharapkan Karena adanya jurang pendapat ini,
mampu mendorong proses perencanaan Friedmann mengusulkan transactive
dalam beberapa hal, di antaranya : (1) sebagai jembatan penghubung, melalui
agar masyarakat lebih tahu tentang apa yang disebut sebagai the life of
pilihan-pilihan alternatif yang ada, dan dialogue. The life of dialogue ini dapat
tiap alternatif tersebut didukung terjadi dari hubungan antara dua pihak,
sepenuhnya oleh tiap pengusul, (2) hal bila memiliki karakteristik: interaktif
ini selanjutnya akan memaksa public yang originalitas, tindakan yang
agency untuk berkompetisi dalam objective, dan bila ada konflik tidak
perencanaan dengan masyarakat dan dipandang sebagai kendala akan tetapi
wakilnya untuk mendapat dukungan dijadikan potensi komplementer. Dalam
politik, dan (3) dengan adanya alternatif menjalankannya diperlukan eksistensi

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

dan substasi perencanaan yang sama,


interest dan komitment yang setara, Habermas menyatakan bahwa
hubungan timbal balik atau interaktif analisa perencanaan secara esensial
yang memadai, dan memiliki kerangka merupakan tugas moral yang fungsi
waktu (time frame) yang equal utamanya adalah untuk membantu dalam
(Friedmann 1987). membentuk dan menginterpretasikan
norma-norma sosial. Oleh karena itu,
Oleh karena itu proses timbal maka perencana terutama harus
balik (mutual learning) antara klien dan mengembangkan kriteria dan metode-
perencana merupakan faktor yang metode untuk menganalisa dengan tepat
mendasar dalam konsep pluralisme, antara tindakan-tindakan yang mungkin
transactive, adcocacy, dan perencanaan untuk dilakukan dengan kebutuhan dasar
yang komunikatif. Dalam proses ini manusia di lingkungannya. Di samping
perencana belajar dari pengalaman itu, perencana harus memperhatikan
pribadi dan klien, sedangkan klien metoda-metoda yang tepat untuk
belajar dari kepakaran taknik dari memvalidasi konsensus yang dicapai
perencana. Dengan proses ini dalam masalah-masalah yang dihadapi
pengetahuan kedua belah pikah menjadi (Hemmens, 1980 : 2-3).
makin bertambah.
Perjalanan teori perencanaan
Dalam praktek pelaksanaan pada dasarnya identik dengan
plural planning dan advocacy planning munculnya model-model pendekatan
(Davidof dan Reinir, 1983), merupakan perencanaan seperti procedural planning,
wahana dukungan profesional untuk radical planning, communicative
berkompetisi dalam pemilihan rencana planning, collaborative planning, dan
terbaik tentang pembangunan lain-lain. Friedman (1987) menjelaskan
masyarakat. Sedangkan dalam unitary runtutan perjalanan teori perencanaan ke
planning, advocacy planning bukan dalam 4 tahapan yaitu: (1) Reformasi
merupakan hal yang penting karena Sosial (Social Reform); (2) Analisis
tidak ada kompetisi terhadap produk Kebijakan (Policy Analysis); (3)
perencanaan yang dibuat oleh Pembelajaran Sosial (Social Learning);
pemerintah. Dalam perencanaan dan (4) Mobilisasi Sosial (Social
transactive, yang juag didasarkan pada Mobilization). Selain itu perjalanan dan
komunikasi efektif antara perencana dan perkembangan teori perencanaan
klien, harus dibedakan dua tingkat dikemukakan juga oleh Healey dan
komunikasi, yaitu (a) Komunikasi antar Yiftachel yang dsajikan kembali dalam
individu (person centered), yaitu yang post positivist (Almendinger, 2002. h.4
berhubungan dengan segala macam dan 7),. Dimulai dengan konsep
tingkah laku manusia, (b) relasi antar “Garden City” pada tahun 1900an
subjek (subject-metter-related hingga Master Plan dan Rasional
communication), yang sangat didukung Comprehensive Planning pada tahun
oleh hubungan-hubungan utama/primer 1950-1960an sebagai hasil dari
dari dialog serta tidak untuk dipahami pemikiran dan perdebatan analitikal
secara sendiri-sendiri tentang “what

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

menurut Yiftachel ini dapat digambarkan


is Urban Planning”, perdebatan tentang sebagai berikut. (Gambar 2)
bentuk kota dalam “What is a Good Demikian juga dengan Healey
Urban Plan”, dan perdebatan tentang (Healey et al, 1979, dalam
prosedur dalam “What is a Good Allmendinger, 2002. h.80), menyusun
Planning Process?”. Pada perjalanan alur pergerakan teori perencanaan dari
paradigma berikutnya, terpecah berbagai sudut pandang pergeseran orientasi
pemikiran, khususnya pada tahun berfikir. Procedural Planning Theory
1970an terpengaruh oleh pemikiran sebagai bagian dari theory of Planning
Marxist, Weber, yang dituangkan dalam terpilah ke dalam Social Planning,
konsep-konsep Pluralism, Advocacy Planning dan Incrementalism,
Decentralisasi, Advocacy, Transactive, yang selanjutnya menghasilkan 4
Pragmatism, dan lainnya. Dan pada pemikiran baru yaitu politik ekonomi
tahun 1980an terjadi pemikiran (Political Economy), paham
reformasi Marxist, orientasi kemanusiaan baru (The New
keberlanjutan pembangunan, Humanism), Implementasi dan kebijakan
konsolidasi, diskriminasi positif, Neo (Implementation & Policy), dan
Pluralism, dan Rational Pragmatism. Pragmatisme. Untuk lebih jelasnya dapat
Gambaran tipologi teori perencanaan dilihat pada gambar berikut. (Gambar 3)

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Sumber: Allmendinger, 2002. Towards a post positivist typology., hal. 83.

POST POSITIVIST SEBAGAI ALUR modern yang positivistik sebagai ideolgi


PERENCANAAN ALTERNATIF pihak-pihak yang berkepentingan untuk
mempertahankan stuktur-stuktur
Posmodernisme kritis kekuasaan karena marekalah yang
beragumentasi bahwa pandangan atau beruntung daripadanya (Franz,1991).
ukuran yang dipaksakan ini juga secara Dalam menghadapi kritik-kritik ini para
eksplisit mendukung bentuk-bentuk positivis mengoreksinya dalam bentuk
pengetahuan ilmiah yang secara post-positivisme yang kita kenal saat ini.
eksplisit mereproduksi stuktur kapitalis Seperti diketahui, positivisme
dan ketidak adilan hierarkhis yang mengasumsikan adanya sebuah dunia
menyertainya. Filsuf-filsuf kritis seperti yang objektif. Oleh karena sering
Herbert Marcuse, Max Horkheimer, dan meneliti fakta-fakta yang dipahami
T.W. Adorno menyerang sosiologi dalam hubungan korelasi-korelasi dan

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

asosiasi-asosiasi yang ditentukan di tantangan metodologikal terhadap


antara banyak vareabel. Post-positivisme metooda-metoda kuantintatif. Secara
konsisten dengan positivismi dalam meningkat, grounded theory yang telah
mengasumsikan bahwa dunia yang dikembangkan Glaser dan strauss
objektif ada namun menganggap bahwa (1967) telah digunakan oleh para post
kemungkinan dunia belum siap untuk positivis untuk memeriksa dan menaksir
dipahami dan bahwa hubungan- variabel-variabel dan hubungannya
hubungan variabel atau fakta-fakta dalam situasi di mana pengukuran
mungkin hanyalah merupakan sesuatu kuantitatif dan kendali statistikal tidak
yang bersipat kemungkinan, bukan mungkin digunakan.
sesuatu yang determenistik. Jadi, para
postivis mempokuskan pada metode- Post Positivist sebagai suatu
metode eksperimental dan kuantitatip aliran dalam teori perencanaan
yang digunakan untuk menguji dan menekankan konteks sosial dan politik
membuktikan hipotesa-hipotesa, dengan dalam konsepsinya. Pemikiran ini
ditambahkan penggunaan metoda mencakup kolaboratif, postmodern, dan
kualitatif untuk mengumpulkan pendekatan neo-pragmatisme. Post
informasi yang lebih luas di luar Positivist mengenyampingkan dikotomi
variabel-variabel yang tellah siap ukur. antara substantif dan prosedural dan gap
antara teori dan praktis, lebih pada
Secara logis, terdapat sebuah penafsiran teori perencanaan yang
fokus falsification dibandingkan konsisten sebagai gagasan yang dapat
verifacation terhadap kompleksitas dioperasionalisasikan dan diaplikasikan
fenomena dunia nyata. Hanya pada suatu daerah, baik nasional, sub
dibutuhkan satu contoh yang berlawanan nasional, dan lokal atau pada tatanan
atw ciri untuk memalsukan sebuah skala supra nasional. (Almendinger,
hubungan yang telah diusulkan tetapi 2002)
harus diperkirakan semua kemungkinan
variabek-variabel yang ada untuk Yiftachel (1989:24) mengikuti
membuktikan sebuah hubungan yang Tiryakian (1968) mendefinisikan
konsisten berlaku pada semua kondisi. tipologi analitis yang sangat berguna
Lebih jauh lagi,usaha yang meningkat dengan tiga fungsi dasar, yaitu: (1)
harus disediakan untuk membuat domain melakukan koreksi terhadap salah
mengenai generalizability penemuan konsep dan kebingungan, dengan
berdasarkan ciri-ciri dari konteks klasifikasi konsep lain yang terkait
samplingnya. Saat ini fokus dalam post secara sistematis. (2) mengorganisisr
positivisme adalah pada metode pengetahuan secara efektif melalui
kualitatif yang dimodelkan melalui definisi dan parameter yang jelas dari
metode-metode positivistik dan desain- suatu masalah, dan (3) memfasilitasi
desain eksperimental seperti yang teorisasi melalui penetapan subjek besar
dilakukan oleh Miles dan Huberman dan menyiapkan riset lanjutan untuk
(1994). Hal ini mencerminkan usaha- memperkaya khasanah dan pemahaman.
usaha yang dilakukan oleh para post
positivis untuk mengarahkan tantanga-

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Dalam perjalanannya social Mencincang, 1983, Hesse, 1980, dalam


planning dan advocacy planning Almendinger 2002).
dianggap sebagai pengembangan dari
teori perencanaan prosedural yang Model Perencanaan Kolaboratif
mengarah pada kesejahteraan sosial dan Komunikatif (pergeseran dari
(Healey, et al, 1979: 7). Selanjutnya Instrumentalist Rationality ke
teori perencanaan juga mengarah pada Communicative Rationality)
pandangan masyarakat yang pluralis, (Healey,1997) Collaborative Planning
sehigga diperlukan pemahaman tentang (Patsy healey) seorang yang banyak
sifat masyarakat yang pluralistik ini mempublikasikan pemikiran tentang
melalui pendekatan incremental, teori perencanaan dan praktik
transaktif, advokasi, dan radical planning perencanaan fisik serta land use,
(Hudson, 1979). mengenalkan pendekatan kolaborasi,
consensus dan negosiasi dalam proses
Seperti aliran-aliran feminisme, perencanaan. Ia termasuk kelompok
postpositivist menggunakan pemahaman pendukung pemikiran perencanaan
post modernisme dalam teori sosial. sebagai kegiatan yang komunikatif.
Dalam dua dekade terdahulu, teori Bagian pertama buku ini
perencanaan didominasi oleh mengungkapkan bagaimana patsy ini
pemahaman “post” yaitu post modern, sangat dipengaruhi oleh pemikiran
post structuralis, dan post positivist. Habermas. Ia memberikan ide tentang
Dalam semangat itu telah terjadi kemungkinan untuk suatu dialog
pergeseran pemahaman teroi sosial dan kolektif dengan kelemahannya yang
filsafat ilmu yang mengarah pada dapat diubah oleh kelompok yang kuat.
perbaikan kondisi masyarakat dan Bagian kedua meerupakan hasil
kesejahteraan sosial dengan pendekatan telusuran patsy mengenai fokus kegiatan
yang sepadan antara berbagai ilmu sosial, ekonomi, dan alam di tingkat
pengetahuan, baik alam maupun sosial. lokal. Pada bagian akhir, suatu usulan
(Bohman, 1991: 16-17, dalam tentang desain institusi yang
Almendinger, 2002: 8) memungkinkan perencanaan kolaborasi
ini dapat diwujudkan. Pendekatan yang
Pendekatan post-positivist ditawarkan patsy ini lekat sekali dengan
menekankankan pada : (a) penolakan masalah konflik dalam perencanaan
pemahaman positivist dan metodologi yang memang tidak bisa dihindarkan
(termasuk naturalisme) dengan lagi dalam masyarakat yang pluralis.
penekanan yang lebih besar pada Dapat dikatakan bahwa pendekatan
konteks sosial dan historis. (b) kolaborasi ini merupakan model
mempertimbangklan kriteria normative perencanaan kontemporer yang paling
diantara teori yang ada, (c) menjelaskan progresif. Pendekatan partisipatif yang
teori yang bervariasi, dan (d) juga lekat dengan masalah konflik akan
memberikan ruang yang cukup bagi self mempunyai kekuatan penuh bila dapat
intrepreting dan otonomi pribadi atau mengintervensi para stakeholder
kelompok. (Bohman et. Al, 1991, mempunyai kemauan politik untuk
berkolaborasi. Semangat kolaborasi

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

tentu harus didukung oleh suatu kelompok dan kesatuan sosial yang ada
komunitas yang mempunyai nilai-nilai dalam masyarakat tersebut, dan dalam
persamaan dan saling menghormati. masyarakat itu sendiri
Buku ini harus diakui memberikan solusi kecenderungannya adalah membentuk
penting dalam menjawab isu-isu dan kelas–kelas atau kelompok–kelompok
pendekatan dalam perencanaan spatial sosial. Oleh Marxis, kelas-kelas tersebut
kontemporer. dipandang sebagai kelompok individu
atau kelompok kesatuan sosial yang
Pertimbangan Aspek Budaya pada dasarnya bukan ditentukan semata–
mata oleh tempatnya dalam proses
Lokal dalam Perencanaan
produksi maupun dalam bidang
ekonomi, akan tetapi kelas sosial
Prinsip utama dalam perencanaan
tersebut dapat ditentukan oleh tempatnya
haruslah dirancang untuk manusia
dalam kesatuan praktek praktek sosial
(Human beings) (O’Harrow,1949 dalam
dalam arti menurut tempatnya dalam
Berger,1981), Perencanaan tidak sekedar
kesatuan pembagian kerja yang
normatif (ought to be) atau bagaimana
mencakup hubungan–hubungan politik
produk perencanannya (how planning
dan ideologi. ( N Poulantzas, dalam
is), tapi harus intrepretatif, aplikatif,
Gidden, A., 1987 : 46 ).
adaptif dan pembelajaran
(Friedman,1987)
Oleh E Alexander, masyarakat
dipandang sebagai bentuk organisasi
Setiap manusia dalam menjalani
yang satu dengan organisasi lainnya,
kehidupan di dunia ini, baik secara
dimana suatu organisasi dihubungkan
individu maupun kelompok selalu
oleh lokasi geografis (E. Alexander,
mempunyai cita-cita dan rencana karena
dalam Catanese, J.A., 1984 : 169).
adanya dorongan oleh pranata kehidupan
Individu menjadi anggota suatu
yang ada di sekitarnya. Pranata
masyarakat karena mereka bertetangga,
kehidupan itu sendiri merupakan hasil
dan hubungan–hubungan ini diperkuat
akumulasi dari masyarakat sebagai orang
dengan adanya berbagai organisasi dan
dan kelompok yang mempunyai identitas
politik setempat sehingga membentuk
diri, yang dapat dibedakan antara
suatu konteks upaya perencanaan pada
kelompok orang yang satu dengan yang
tingkat masyarakat.
lainnya, serta hidup dalam suatu wilayah
dan budaya tertentu yang terbentuk dari
Dalam kaitannya dengan peran
kelompok individu. ( Widjaya, A. W,
dan fungsi perencanaan, oleh Alexander
1986 : 9 ).
di bagi menjadi tiga pandangan
pemikiran guna menjelaskan bagaimana
Kita tidak dapat menyangkal
interaksi–interaksi tersebut dibentuk
bahwa manusia adalah mahluk sosial di
guna menghasilkan suatu keputusan.
dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam
Pandangan pertama adalah apa yang
setiap masyarakat, jumlah kelompok dan
disebut sebagai etilist, dimana
kesatuan sosial tersebut bukan hanya
pandangan ini melihat adanya
satu, melainkan setiap warga masyarakat
keputusan–keputusan masyarakat
dapat menjadi bagian dari berbagai
Jurnal PWK Unisba
KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

sebagai produk dari sekelompok kecil menyeluruh adalah meliputi konsepsi


individu–individu yang mempengaruh dan analisis dari berbagai elemen
dan seringkali mewakili dari golongan organisasi yang selanjutnya akan
atas. Pandangan kedua memandang berpengaruh terhadap hasil
pengambilan keputusan masyarakat pembangunan. Fungsi tersebut
sebagai permainan pluralist dari mensyaratkan bahwa perencana yang
berbagai kelompok kepentingan dari komprehensif haruslah (Altshuler, dalam
individu–individu yang berbeda. Faludi, 1983: 193): Memahami
Pandangan ketiga yaitu yang kepentingan masyarakat, dan memiliki
memandang masyarakat sebagai pengetahuan untuk mengukur perkiraan
gelanggang interaksi antara kelompok pengaruh tindakan yang diusulkan
dan kepentingan yang melembaga atau tersebut terhadap kepentingan
terorganisir, dengan kebijaksanaan masyarakat.
sebagai hasil dari strategi-strategi
mereka. Perencanaan dibuat untuk
menghasilkan suatu sistem yang
Pandangan–pandangan yang menyeluruh. Secara procedural
berbeda tersebut merupakan kerangka perencanaan menyeluruh ini dianggap
konseptual bagi analisa perencanaan dan sama dengan dasar-dasar perencanaan
dampaknya dalam konteks masyarakat, rasional lainnya yaitu melalui
di mana konteks perencanaan berbeda pengumpulan data dan informasi yang
antara satu kebudayaan dengan bersifat deskriptif, menganalisisnya,
kebudayaan lainnya, antara kelompok memilih keputusan terbaik, dan
masyarakat yang satu dengan lainnya, merevisinya. (Branch, 1983. h 55-56)
dan antara satu bangsa dengan bangsa
lainnya. Oleh sebab itu studi Pada masa pasca industri
perbandingan / debat tentang sekarang ini yang dicirikan oleh
perencanaan akan dapat memberikan kebutuhan perencanaan yang sangat
kesempatan adanya pandangan – mendesak dengan kompleksitas
pandangan baru. permasalahan semakin rumit, namun
dihadapkan pada banyak keterbatasan,
Alam dapat berubah tergantung maka terobosan-terobasan di bidang
dari perilaku manusia, baik secara model perencanaan sangat dibutuhkan.
individu maupun kelompok. Hal ini Untuk itu maka pengetahuan tentang tori
dapat terjadi karena adanya ketiada- dan praktek perencanaan sangat
harmonisan antara perilaku, praktek diperlukan. Altshuler (dalam Faludi,
perencanaan dan pengawasan. Timbal 1983 : 209). Adalah penting bagi
balik antara pertumbuhan penduduk, perencana untuk meningkatkan
lingkungan, teknik, dan politik inilah kemampuan dan memperkaya wawasan
yang mendasari perencanaan baik teori dasar maupun praktek.
menyeluruh atau comprehensve Penguasaan akan teori dan perencanaan
planning. “Comprehensive Planning yang mendalam dapat dijadikan landasan
Theory” mengandung pemahaman berpijak dalam menentukan
bahwa Teori Perencanaan yang kebijaksanaan yang akan diambil, karena

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

teori perencanaan banyak berkembang bernteraksi dengan lingkungannya.


dari pengalaman yang selanjutnya Faktor faktor tersebut mencakup akses
divalidasi di dalam praktek dan teori pada ..sumerdaya penting.. sitem harta
(Friedman 1987 : 24-25). milik yang tdak hanya terkait dengan
tanah, tetapi juga dengan air, pohon, dan
Keterkaitan teori dan praktek sumberdaya laut;.. dan pertanyaan
pada akhirnya menjadi dua sisi yang tentang pemberdayaan atau tingkat
tidak dapat dipisahkan dalam kontrol yang diusahakan rakyat terhadap
perencanaan, dan menjadi sebuah sumberdaya sumberdaya dan proses
disiplin yang dapat beubah dan pengambilan keputusan yang
berkembang sesuai dengan aktivitas mempengaruhi pengelolaan sumberdaya
manusia yang membawanya agar alam. (Dietz, 1998:42)
semakin dekat dan sesuai dengan
tuntutan aktivitas tersebut (Alexander, Seperti pendapat John Friedmaan
1986). Oelh sebab itu, baik secara ruang, (1969) menyatakan bahwa, dalam suatu
aktivitas, manusia, dan berbagai elemen tindakan perencanaan, maka perencana
lokasi harus dipertimbangkan dalam bergerak kedepan sebagai pribadi atau
proses perencanaan. sebagai agen otonom. Dimana ukuran
keberhasilannya akan banyak
Definisi pembangunan saat ini bergantung pada keterampilannya dalam
secara fundamental harus dirubah. Ini melakukan hubungan antar pribadi.
tidak lagi hanya sebagai penghormatan
terhadap masalah memodernisasikan Perencanaan pembangunan pada
masyarakat yang tradisional, tidak lagi dasarnya adalah sebuah kegiatan
semata sebagai duplikasi intensifikasi perencanaan yang berlangsung melalui
energi dan sumberdaya alam, proses kebudayaan yang terwujud di
pembangunan yang terpisah dari dalam dan melalui pranata sosial yang
pembangunan negara. Pembangunan terdapat pada kehidupan penduduk di
haruslah mengakui dan melibatkan suatu wilayah (Suparlan, 1998: 25). Hal
keadaan lokal, menumbuhkan potensi ini berdasarkan keyakinan bahwa nlai-
perkembangan yang ada dan nilai budaya setempat merupakan
dibangkitkan secara internal, kontribusi sumber inspirasi utama bagi
institusi dan pengetahuan lokal. Keadaan terbentuknya semangat dan pengetahuan
ini harus inheren secara erat dengan lokal (indigenous knowlendge), sehingga
keberlanjutan pembangunan. masyarakat lokal akan memiliki
(Dowdeswell Quoted in UNEP 1995: 9, kemampuan untuk memperkuat daya
dalam Furze, Lacy, and Birckhead, adaptasinya (adaptive capacity) terhadap
1996). berbagai perubahan, baik internal
maupun eksternal. Denan demikin
“...pembangunan penduduk lokal dapat mengembangkan
berkesinambungan hanya akan berhasil pranata sosial yang ada untuk
pada satu skala bilamana mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik
memperhatikan faktor-faktor sosial secara sosial, ekonomi, dan politik.
budaya yang mempengaruhi cara rakyat Dalam konteks tersebut, keberadaan

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

pengetahuan lokal dalam pembangunan kultural, dan sosial sebagai capital stock
sesungguhnya memiliki peran dan arti pembangunan.
penting yang sejajar dengan pengetahuan
ilmiah modern (Dietz, 1998:41). Dalam prakteknya, pengelolaan
pembangunan wilayah dan pengetahuan
Melalui insitusi lokal yang kuat, lokal (traditional knowledge)
penduduk setempat dapat mengambil mempunyai keterkaitan yang cukup
keputusan secara mandiri dan melakukan signifikan dengan konsep perencanaan
negosiasi-negosiasi secara bebas dengan wilayah. Banyak pengetahuan lokal yang
fihak lain yang memiliki kepentingan sekarang menghilang secara cepat
berbeda (Alam,1999:6). Institusi lokal seiring dengan berpulangnya para
inilah yang kemudian berkewajiban pencetusnya (possessors). Menjadi
untuk menetapkan aturan-aturan catatan penting, bahwa sejalan dengan
pertukaran timbal balik antar anggota lenyapnya pengalaman praktis yang
penduduk sehingga dapat mewujudkan sebenarnya tanpa biaya ini, bersamaan
kerjasama sukarela dan partisipas yang dengan berlalunya waktu, seharusnya
setara (Lubis, 1999:55). menjadi pertimbangan yang arif, karena
selain memberikan pengaruh pada
Sebagai sebuah sumberdaya, keuntungan sosial ekonomi, juga pada
nilai-nilai budaya dapat ditempatkan industri dan pembelajaran sosial, tapi
sebagai salah satu kekuatan penggerak juga merupakan esensi dari
(driving force) bagi kemajuan wilayah, pembangunan itu sendiri. (Johannes,
terutama dalam mengembangkan 1989. h 9, dalam Kay and Alder, 1999,
kapabilitas, kompetensi, dan reputasi h. 132).
wilayah. Penguasaan nilai-nilai budaya
lokal dapat dijadikan instrumen untuk Sangat banyak wilayah yang
menciptakan kepribadian dan mental memiliki kelompok budaya yang
penduduk yang senantiasa mau untuk berbeda antar satu kawasan dengan
terus belajar (learning nation). Proses kawasan lain di dunia. Wilayah-wilayah
pembelajaran ini penting agar dapat ini memiliki nilai-nilai kebudayaan yang
menciptakan daya saing suatu wilayah. kuat dan berpengaruh dalam
Oleh karena itu proses kemajuan pembangunan wilayahnya, khususnya
ekonomi lokal tidak dapat dipisahkan banyak dijumpai pada masyarakat non
dari peningkatan kemampuan barat (non western cultures), dengan
sumberdaya manusia (human capital). tingkat kepercayaan, keagamaan, dan
Kemajuan ekonomi seharusnya perilaku yang sangat bererti dalam
diintepretasikan sebagai refleksi dari menyelesaikan masalah mereka secara
kemajuan pengetahuan manusia. Hal ini efektif dan efisien. (Kay and Alder,
sesuai dengan pendapat Kuznets (1966, 1999. h. 133).
dalam Alam, 1999) yang menyatakan
bahwa kebijakan yang berorientasi pada Dalam pemikiran post positivist
pertumbuhan ekonomi perlu segera (Allmendingr, 2002) pengetahuan lokal
dipertimbangkan aspek institusional, juga dijadikan sebagai salah satu
kontributor dalam Indigenous Planning

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Theory, yang tentunya memerukan dengan dukungan bersama antara


Social Scientific Philosophy dan Social keaneka ragaman biologikal dan
Theory yang memadai sebagai bagian keanekaragaman kultural atau budaya
dari kerangka teoritis dalam masyarakat setempat?
perencanaan.
Kesimpulan
Potensi untuk mengaplikasikan
pengetahuan lingkungan secara Perkembangan teori perencanaan
tradisional.. merupakan pengetahuan telah mengarah dari alur instrumental
sederhana, tapi sangat banyak. Harus rasionalitas ke alur komunikatif
menjadi penyeimbang bagi rasionalitas, yaitu suatu pemahaman
pengembangan teknik, bentuk, dan bahwa perencanaan perlu melibatkan
penelitian biological, dinamisasi berbagai aspek yang terlibat di dalam
masyarakat, sifat polusi dan kerusakan perencanaan, termasuk di dalamnya
lingkungan..sebelum keputusan akan adalah masyarakat sebagai bagian
diambil.. (Johannes, 1989. dalam Kay penting dalam proses perencanaan.
and Alder, 1999, h. 135). Oleh sebab itu Namun aspek budaya dan kearifan lokal
diperlukan suatu integrasi antara belumlah mendapat perhatian khusus
pengetahuan lokal, kebudayaan, praktek, sebagai salah satu aspek yang perlu
kepercayaan, dan perilaku yang ada ke diperhatikan.
dalam perencanaan dan pengelolaan
wilayah pesisir sebagai bahan Teori perencanaan sebagai suatu
pertimbangan bijaksana dalam optimasi perspektif, ternyata telah mengantarkan
keuntungan bersama antara program perlunya pelibatan masyarakat dalam
pembangunan dan kesejahteraan perencananaan melalui berbagai bentuk
masyarakat pesisir (Kay and Alder, konsep baik teoritis maupun praktek,
1999. h.137). seperti advocacy planning, transactive,
pluralism, communicative, collaborative,
Dalam kongres “Perlindungan dan lain-lain.
Taman dan Wilayah” (Parks and
Protected Areas) ke 4 di Caracas tahun Pertimbangan aspek budaya lokal
1992 dengan tema Manusia dan Taman merupakan salah satu alternatif bagi
(People and Parks), memberikan pelibatan potensi lokal daerah dalam
intruksi melalui pertanyaan: Bagaiman perencanaan, yang didukung oleh
area yang dilindungi dapat memberikan beberapa teori perencanaan yang telah
kontribusi terhadap pembangunan ada dan berkembang dan memungkinkan
berkelanjutan melalui kesejahteraan untuk diteliti lebih jauh. Teori dasar
ekonomi, tanpa penurunan nilai alam yang dapat dijadikan landasan pemikiran
untuk mendapatkan kehidupa mapan? penelitian ini adalah masuk dalam
Bagaimana masyarakat lokal dapat paradigma postpositivisme, alur post
memperoleh banyak keuntungan dari modern planning theory, dan secara
konservasi? Dan menjadi pendukung specifik masuk dalam kategori
perlindungan tersebut? Bagaimana communicative planning theory dan
daerah yang dilindungi akan dikelola collaborative planning.

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

for future directions., Center For


Bahan Bacaan urban Policy Research.
10. Campbell, Scott and Fainstein, Susan.
1. Alexander, Ernest. R., 1986, S, ed., 1996, Readings in
Approach To Planning, Planning Theory, Blackwell
Introducing Current Planning Publisher.
Theories, concepts, and Issues, 11. Catanese Anthony J & Snyder,
Gordon and Breach Science 1989. Urban Planning
Publishers (terjemahan) penerbit Erlangga,
2. Allmendinger, Philip, 2001, Planning Bandung.
In The Postmodern Times, 12. Churchuman C.W. 1968. The
Routledge Systems Aproach, Delll
3. Allmendinger, Philip, 2002, Toward publishing CO. New York.
Post-Positivist Typology of 13. Clark, John. R., 1996, Coastal Zone
Planning Theory, SAGE Management Handbook, Lewis
Publication, 1 (1). 77-99. Publisher, Washington DC.
4. Altshuler, Alan. 1983. “The Goals 14. Davidoff, Paul & Reiner, Thomas
Of Comprehensive Plan “, A, 1983. “A Choice Theory of
journal of Amerika institute of Planning, journal of Amerika
Planner vol. 31 August 1965, institute of Planner vol. 28
Dalam Andreas Faludi “A may 1962, Dalam Andreas
Reader in planning Theoty Faludi “A Reader in planning
“pergamun press oxford. Theory “. Pergamon Press
5. Banfield, Edward C. 1983. Ends Oxford.
and Means in Planning, 15. Faludi, Andreas., 1983, A Reader in
international social science Planning Theory., Pergamon
journal vol XI, No 3,1959, Press, Oxford.
Dalam Andreas Faludi “A 16. Forester, John, 1989, Planning in The
Reader in planning Theory Face of Power, University of
“pergamun press oxford. California Press
6. Biliana, Cician and Knecht, Robert. 17. Forsyth, Ann., 1999, Administrative
W., , Integrated Coastal and Discretion and Urban and
Ocean Management, Concept Regional Planners’ values,
and Practices., Island Press, Journal of Planning Literature,
Washington. XIV-5-15, Columbus.
7. Branch, Melville C, 1983, 18. French, Peter W., 2004, The
Comprehensive Planning, Changing nature of, and
General Theory and Principles., approaches to, UK Coastal
Pacifik Palisades, California, management at the start of the
8. Brooks, Michael. P. , 2002, Planning twenty-first century, The
Theory For Practitioners., Geographical Journal.
Planners press, American 19. Friedman, John. 1965. Regional
Planning Association. Development Theory (a case
9. Burchell, Robert. W. and Sternlieb, study of venezuela).
George., ed., 1979, Planning 20. Friedman, John., 1987, Planning in
Theory in The 1980's, a search The Public Domain, From

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Knowledge to Action, Princeton 29. Kahn, Afred J. 1983. Theory And


University Press. Practice of Social Planning,
21. Furze, Brian, De Lacy, Terry, and Russel Sage Foundation, New
Birckhead, Jim. 1996. Culture, York, Dalam Andreas Faludi
Conservation, and Biodiversity. “A Reader in planning Theory
The Social Dimension of “Pergamon Press Oxford.
Linking Local Level 30. Kay, Robert and Alder,
Development and Conservation Jacqueline., 1999, Coastal
trough Protected Areas. Wiley Planning and Management, E
22. Handy, Charles. B., 1980, & FN SPON. An imprint of
Understanding Organization, Routledge, London and New
Penguin Books, New Zealand.
York.
23. Healey, Patsy. 1997. Collaborative
31. Mandelbaum, Seymour. J, Mazza,
Planning, Shaping Places in
Luigi, Burchel, Robert. W., ed.,
Fragmanted Societies. Planning
1996, Exploration in Planning
Environtment Cities..
Theory., Center For urban Policy
24. Healey, Patsy. 2000. Planning Research. New Brunswick
Theory and Urban and 32. Manners, Robert. A. terjemahan oleh
Regional Dynamics : A David Kaplan., 2002, Teori
Comment on Yiftachel and Budaya, Pustaka Pelajar.
Huxley. International Journal 33. Mazza, Luigi., 2002, Technical
of Urban and Regional Knowledge and Planning
Research. 24 (4). Actions, Milan Polytechnic, Italy
25. Hemmens, George C. 1983. Public (I): 11-26, SAGE Publication
Planning, university of North 34. Meltzer, Evelyne., 1998,
carolina at chapel Hill, 1980, International Review of
Integrated Coastal Zone
Dalam Andreas Faludi “A
Management.,
Reader in planning Theoty 35. Ostrom, Elinor., 1994, Governing The
“Pergamon Press Oxford. Commons, The Evolution of
26. Hendler, Sue. ed., 1995, Planning Institution for Collective Action,
Ethics, A reader in Planning Cambridge University Press.
Theory Practice and Education., 36. Paris, Chrish, ed., 1982, Critical
New Brunswick, New Jersey Reading in Planning Theory,
27. Hodgell, Murlin. R. , 1984, Zoning, Pergamon Press, Oxford.
Kansas Engineering Experiment 37. Sasongko., 1986, Pengantar
Station. Perencanaan Kota (terjemahan),
28. Institution of Civil Engineers, ed., Penerbit Erlangga. Jakarta.
1992, Coastal Zone Planning and 38. Sidarta, Moch., 2003, Pembangunan
Management. Proceedings of Kota Pantai / Water Front City
The Conference Coastal Development. , Institut Teknologi
Management ’92: Intregating Bandung,
Coastal Zone Planning and 39. Soedjito, Bambang B. Materi
Management in the next century,
Organized by the Institution of
Kuliah PL 778 : Advanced
Civil Engineers and held in Seminar on Planning Theory,
Blackpool on 11 – 13 May, 1992. S2 PWK ITB, Bandung 1992.

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

40. Soule, Jeff. Concepts of Urban planning Theoty “pergamun


Planning. American Planning press oxford,. 1983
Association. Berkeley Planning 2. Bafield, Edward C. Ends and Means
Journal 14 (2000) in Planning, international
41. Sturrock, John. ed. Terjemahan oleh social science journal vol XI,
Nahar, Muhammad. 2004. No 3,1959, Dalam Andreas
Strukturalisme – Post- Faludi “A Reader in planning
strukturalisme, Dari Levi-Staruss Theory “pergamun press
sampai Derrida. JP-Press.
oxford,. 1983
Surabaya.
42. Sujarto, Djoko, 2003, Zonasi Ruang
3. Catanese Anthony J & Snyder,
Kelautan, Institut Teknologi Urban Planning (terjemahan)
Bandung. penerbit Erlangga, bandung
43. Sujarto, Djoko, Materi Kuliah PL 1989.
601. Planning Process and 4. Churchuman C.W. The Systems
Practice. S2 PWK ITB Aproach, Delll publishing CO.
Bandung 1990. New York 1968.
44. Sujarto, Djoko., 2003, Perencanaan 5. Davidoff, paul & Reiner, Thomas A,
Tata Ruang., Institut Teknologi “A Choice Theory of
Bandung Planning, journal of Amerika
45. The H John Heinz, , The Hidden institute of Planner vol. 28
Coast of Coastal Hazards. may 1962, Dalam Andreas
Implications for Risk Assesment Faludi “A Reader in planning
and Mitigation., Island Press, Theory “. Pergamon Press
Washington. Oxford,. 1983
46. Wheeler M, Stephen. Perspektif 6. Hemmens, George C. Public
Regional Planning : a call to Planning, university of North
re-evaluate the field. Berkeley carolina at chapel Hill, 1980,
Planning Journal No. 14, 2000 Dalam Andreas Faludi “A
47. Woltjer, Johan., 2000, Consensus
Planning, The Relevance of
Reader in planning Theoty
Communicative Planning Theory “Pergamon Press Oxford,.
in Duch Infrastructure 1983
Development., Ashgate. 7. Kahn, Afred J. Theory And Practice
48. Wood, Julia. T, 2004, of social Planning, Russel
Communication Theories in sage Foundation, New York,
Action. An Introduction., Dalam Andreas Faludi “A
Thomson, Wadsworth. Reader in planning Theory
“Pergamon Press Oxford,. 1983
8. Soedjito, Bambang B. Materi Kuliah
PL 778 : Advanced Seminar
1. Altshuler, Alan “The Goals Of on Planning Theory, S2 PWK
Comprehensive Plan “, journal ITB, Bandung 1992.
of Amerika institute of Planner 9. Sujarto, Djoko, Materi Kuliah PL
vol. 31 August 1965, Dalam 601. Planning Process and
Andreas Faludi “A Reader in

Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Practice. S2 PWK ITB


Bandung 1990.

Jurnal PWK Unisba