Anda di halaman 1dari 2

menulis untuk sebuah peradaban kecil di dalam diri

READ MORE >> Renungan.

Rasulullah dan Seorang Yahudi Buta


Ismail Fahmi | May 2, 2006 10:00 am | Print

Menjadi seorang muslim bukan berarti kita perlu bilang secara harfiah (melalui ucapan,
pakaian, atau simbol-simbol) bahwa “aku muslim”. Ketika Islam, Iman, dan Ihsan
(konsep 165 menurut ESQ) sudah menyatu dalam diri, maka kita sudah tidak
memerlukan simbol-simbol Islam. Bahkan tatkala kita melakukan perbuatan yang mulia,
tidak perlu segera kita memberi stempel ‘made in Islam’. Ini yang saya pelajari dari kisah
Rasulullah dan seorang Yahudi Buta.

Sepulang dari sebuah acara temu muka orang Indonesia-Belanda di Gereja Martini
Groningen, ketika saya mengayuh sepeda, saya teringat kisah Rasulullah yang setiap hari
membawa makanan untuk seorang yahudi buta di pojok sebuah pasar. Bukan hanya
membawakan, bahkan ketika setiap kali yahudi itu menjelek-jelekkan beliau di depannya
sendiri, beliau tidak pernah protes, tidak mengoreksi, tidak sakit hati, dan tetap menyuapi
Yahudi itu. Beliau juga tidak memberikan khotbah tentang Islam, atau memberitahu apa
yang dilakukan itu adalah sebuah ajaran mulia dari Islam. Tidak. Beliau hanya datang
membawa makanan, menyuapi yahudi, dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh si
Yahudi. Itu dilakukan hingga beliau wafat.

Hal ini diteruskan oleh Abu Bakar. Ketika Abu Bakar memberikan makanan itu kepada
sang Yahudi, dan mengaku sebagai orang yang sebelumnya selalu membawa makanan
(berharap si Yahudi tidak tahu), si Yahudi bilang, “Kamu bukan orang yang sebelumnya.
Dia baik sekali. Dia sangat sayang kepadaku. Dia tidak hanya membawakan makanan,
tetapi juga menyuapi aku. Kamu kurang halus seperti dia.”

Pelajaran yang saya ambil adalah, ketika berhadapan dengan manusia, khususnya yang
beragama berbeda, yang harus kita kedepankan adalah “kasih sayang”. Rasul tidak
pernah mengajarkan tentang apa itu Islam selama menyuapi si Yahudi. Tetapi beliau
‘menjalankan’ Islam itu sendiri, yaitu memberikan ‘kasih sayang’ kepada orang yang
kurang mendapat kasih sayang itu, tanpa perlu bilang ‘inilah Islam’, dengan harapan
orang itu akan berubah pandangannya tentang Islam dan tentang dirinya kemudian
memeluk Islam. Rasul lakukan itu karena kasih sayang yang ditanamkan oleh Allah ke
dalam hatinya. Beliau lakukan dengan ikhlas.

Saya merasakan pelajaran itu mengalir kembali pada hari Minggu itu. Temen-teman dari
PD (Persekutuan Doa) yang dimotori oleh Mas Harry berniat menggalang dana untuk
membantu program CONFIDENT (program untuk orang-orang difable yang dikomandoi
oleh Cak Fu di Surabaya). Dengan bantuan Pak Bein, mereka mendapat kesempatan
untuk menyajikan makanan setelah misa dan membuka kencleng. Dengan senang hati
saya dan istri membantu menyiapkan sedikit cemilan (peyek).

Ketika ngobrol dengan orang Belanda di gereja itu, kadang saya ingin bilang, ’saya
seorang muslim’. Namun saya segera hilangkan perasaan yang ingin menunjukkan bahwa
orang Islam bisa bekerja sama dengan orang yang beragama lain untuk sebuah acara di
Gereja. Barangkali jawabannya adalah kisah Rasul itu. Cukup rasa kasih sayang yang
terlahir dari hati terdalam, yang terlahir dari syariat dan hakekat dalam berIslam, yang
berbicara. Itu pun berbicara kepada diri sendiri.