Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak
tubuh yang diperhalusmelalui estetika. Unsur utama yang paling pokok dalam tari
adalah gerak tubuh manusia yang sama sekali lepas dari unsur ruang, dan waktu, dan
tenaga. Akan tetapi di Era sekarang ini tidak sedikit orang yang kurang bisa memahami
akan arti seni tari.
Indonesia merupakan Negara yang kayak an budaya. Seni tari adalah salah satunya.
Memori kita terlalu lemah akan ingatan budaya sendiri. Maka dari itu kami disini akan
sedikit mengulas masalah tentang seni tari Indonesia. Tari Seudati salah satunya.
Dalam Makalah ini kami membahas setidaknya sedikit tetang, sejarah, asal – usul,
fungsi serta cirri dari Tari seudati. Kami sengaja menggunakan tema ini, karena kami
anggap cukup menarik untuk dijadikan pembahasan di dalam tugas Pendidikan seni
yang ditugaskan oleh guru pendidikan seni kepada kami.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sejarah Tari Seudati
2. Agar dapat memahami asal-usul Tari Seudati.
3. Sedikit mengenal ciri khas Tari Seudati
4. Mengetahui fungsi penggunan Tari Seudati

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Tari Seudati

Kata seudati berasal dari bahasa Arab syahadati atau syahadatain , yang berarti
kesaksian atau pengakuan. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati
berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Seudati mulai
dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh. Penganjur Islam memanfaatkan
tarian ini sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini
cukup berkembang di Aceh Utara, Pidie dan Aceh Timur. Tarian ini dibawakan dengan
mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu bagaimana
memecahkan suatu persoalan secara bersama. Pada mulanya tarian seudati diketahui
sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan,
diperagakan untuk mengawali permainan sabung ayam, atau diperagakan untuk bersuka
ria ketika musim panen tiba pada malam
bulan purnama.
Dalam ratoh, dapat diceritakan
berbagai hal, dari kisah sedih, gembira,
nasehat, sampai pada kisah-kisah yang
membangkitkan semangat. Ulama yang
mengembangkan agama Islam di Aceh
umumnya berasal dari negeri Arab. Karena
itu, istilah-istilah yang dipakai dalam seudati umumnya berasal dari bahasa Arab.
Diantaranya istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman yang berarti delapan, dan Syair
yang berarti nyayian.
Tari Seudati sekarang sudah berkembang ke seluruh daerah Aceh dan digemari oleh
masyarakat. Selain dimanfaatkan sebagai media dakwah, Seudati juga menjadi
pertunjukan hiburan untuk rakyat.

B. Asal Usul Tari Seudati


Tari Seudati pada mulanya tumbuh di desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga,
Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Kemudian berkembang ke desa Didoh,
Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Tari Seudati
berasal dari kabupaten Pidie. Seudati termasuk salah satu tari tradisional Aceh yang
dilestarikan dan kini menjadi kesenian pembinaan hingga ketingkat Sekolah Dasar.

2
Seudati ditarikan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu
orang pemimpin yang disebut syeikh , satu orang pembantu syeikh, dua orang
pembantu di sebelah kiri yang disebutapeetwie, satu orang pembantu di belakang yang
disebut apeet bak , dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang
penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Pada umumnya, tarian ini diperagakan di atas pentas dan dibagi menjadi beberapa
babak, antara lain: Babak pertama, diawali dengansaleum (salam) perkenalan yang
ucapkan oleh aneuk syahi saja, yaitu:
Assalamualaikum Lon tamong lam seung,
Lon jak bri saleum keu bang syekh teuku….
Fungsi aneuk syahi untuk mengiringi seluruh rangkaian tari. Salam pertama ini dibalas
oleh Syeikh dengan langgam (nada) yang berbeda:
Kru seumangat lon tamong lam seung,
lon jak bri saleum ke jamee teuku….
Syair di atas diulangi oleh kedua apeetwie dan apeet bak. Pada babak perkenalan ini,
delapan penari hanya melenggokkan tubuhnya dalam gerakan gemulai, tepuk dada serta
jentikan delapan jari yang mengikuti gerak irama lagu. Gerakan rancak baru terlihat
ketika memasuki babak selanjutnya. Bila pementasan bersifat perntandingan, maka
setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh
kelompok kedua dengan teknik yang berbeda pula.
Biasanya, kelompok pertama akan turun dari pentas. Babak kedua, dimulai dengan bak
saman , yaitu seluruh penari utama berdiri dengan membuat lingkaran di tengah-tengah
pentas guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan dimainkan.
Syeikh berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran ini menyimbolkan
bahwa masyarakat Aceh selalu muepakat (bermusyawarah) dalam mengambil segala
keputusan. Muepakat itu, jika dikaitkan dengan konteks tarian ini, adalah
bermusyawarah untuk menentukan samanatau likok yang akan dimainkan.
Di dalam likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan
ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikananeuk syahi .
Lantunan likok tersebut diawali dengan:
Iiiiii la lah alah ya ilalah…. (secara lambat dan cepat)
Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan secara cepat atau
lambat tergantung dengan lantunan yang dinyanyikan oleh aneuk syahi tersebut. Fase
lain adalah fase saman . Dalam fase ini beragam syair dan pantun saling disampaikan
dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti oleh semua penari.
Ketika syeikh melontarkan ucapan:

3
walahuet seuneut apet ee kataheee, hai syam,
maka anek syahi akan menimpali dengan jawaban:
lom ka dicong bak iboih, anuek puyeh ngon cicem subang.
Untuk menghilangkan rasa jenuh para penonton, setiap babak ditutup dengan formasi
lanie, yaitu memperbaiki formasi yang sebelumnya sudah tidak beraturan.
Artikel ini dikutip dari berbagai sumber yang terkait. Termasuk wawancara langung
dengan salah seorang penari seudati terkemuka di Aceh, Syeh La Geunta.

C. Ciri Khas Tari Seudati


Ciri khas Tari Seudati adalah Heroik, gembira, dan Kebersamaan. Disamping itu
tarian ini tidak menggunakan alat musik dan sebagai pengganti para penari
membunyikan kertikan jari, hentakan kaki, tepukan dada serta syair -syair yang
dilanturkan oleh dua orang narator yang disebut Aneuk Syahi. Syair-syair pengiring
biasanya bertemakan keagamaan atau informasi pembangunan negara. Sewaktu perang
Aceh, tari seudati digunakan untuk membakar semangat para pemuda untuk berperang
melawan penjajah. Tarian ini dilakukan khusus oleh para pria yang berjumlah 8 orang.
Jenis tarian ini tidak menggunakan alat
musik, tetapi hanya membawakan beberapa
gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan
pinggul, hentakan kaki ke tanah dan petikan
jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan
tempo lagu yang dinyanyikan. Bebarapa
gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah
dengan penuh semangat. Namun, ada
beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan
dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan
kesombongan sekaligus kesatria.
Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang
ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan
pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna
merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini
hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam.
Bagian-bagian terpenting dalam tarian seudati terdiri dari likok (gaya; tarian),
saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang menceritakan tentang kisah
kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.

D. Fungsi Tari Seudati

4
Tari seudati sendiri konon sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala di bagian Aceh
pesisir dengan nama tari ratoh atau ratoih, yakni sebuah tarian yang biasa dipentaskan
sebelum memulai acara sabung ayam, dan juga tari yang dimainkan di malam bulan
purnama untuk menyambut tibanya masa panen. Pendeknya, tari ini memang pada awal
perkembangannya merupakan sebuah tarian untuk bersuka ria. Dalam ratoh tersebut,
banyak kisah dan cerita yang terkandung di dalamnya dari kisah bahagia yang tercermin
dari gerakannya yang dinamis atau kadang begitu murung ketika bercerita tentang
sebuah kesedihan. Pun begitu dengan narrator yang mengiringi tarian ini. Semua kisah
yang berbaur itu disampaikan dengan bahasa Melayu dialek Aceh yang khas.

Dengan demikian jelaslah bahwa tari seudati merupakan hasil dari akulturasi
budaya pasca masuknya Islam ke Aceh. Semua istilah yang semula dari budaya
tempatan berubah dan diubah menjadi nama-nama yang bernafaskan Islam. Istilah-
istilah islam atau Arab itu tercermin dari istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman
yang berarti delapan, dan Syair yang berarti nyayian Selain itu, syair-syair lagu pun
dipresentasikan dalam bahasa Arab dan bahasa daerah dengan memuat pesan-pesan
dakwah, sehingga pada akhirnya tarian ini dijadikan sebagai media dakwah untuk
mengembangkan ajaran Islam. Tarian ini masih ada hingga sekarang, tetapi mengalami
penambahan fungsi, yaitu sebagai media untuk menyampaikan informasi tentang
perkembangan pemerintahan serta sebagai media hiburan. Dengan demikian, di masa-
masa awal perkembangannya, tarian seudati berfungsi sebagai media dakwah. Namun,
dalam konteks kekinian, selain berfungsi sebagai hiburan, tarian ini juga menyimbolkan
kekayaan budaya Aceh sekaligus sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan
pembangunan kepada rakyat. Tarian ini juga sering dipertandingkan dikenal dengan
istilah Seudati Tunang yang kadang-kadang berlangsung sampai menjelang subuh.

5
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kata seudati berasal dari bahasa Arab syahadati atau syahadatain , yang berarti
kesaksian atau pengakuan. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati
berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak.
Tari Seudati pada mulanya tumbuh di desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga,
Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Kemudian berkembang ke desa Didoh,
Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Tari Seudati
berasal dari kabupaten Pidie. Seudati termasuk salah satu tari tradisional Aceh yang
dilestarikan dan kini menjadi kesenian pembinaan hingga ketingkat Sekolah Dasar.
Ciri khas Tari Seudati adalah Heroik, gembira, dan Kebersamaan. Disamping itu
tarian ini tidak menggunakan alat musik dan sebagai pengganti para penari
membunyikan kertikan jari, hentakan kaki, tepukan dada serta syair -syair yang
dilanturkan oleh dua orang narator yang disebut Aneuk Syahi. Syair-syair pengiring
biasanya bertemakan keagamaan atau informasi pembangunan negara.
Tari seudati sendiri konon sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala di bagian Aceh
pesisir dengan nama tari ratoh atau ratoih, yakni sebuah tarian yang biasa dipentaskan
sebelum memulai acara sabung ayam, dan juga tari yang dimainkan di malam bulan
purnama untuk menyambut tibanya masa panen. Pendeknya, tari ini memang pada awal
perkembangannya merupakan sebuah tarian untuk bersuka ria. Dalam ratoh tersebut,
banyak kisah dan cerita yang terkandung di dalamnya dari kisah bahagia yang tercermin
dari gerakannya yang dinamis atau kadang begitu murung ketika bercerita tentang
sebuah kesedihan. Pun begitu dengan narrator yang mengiringi tarian ini. Semua kisah
yang berbaur itu disampaikan dengan bahasa Melayu dialek Aceh yang khas

6
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Seudati
http://www.sekolahvirtual.or.id/cgi-sys/suspendedpage.cgi
http://bagusriyanto.com/wisata-banda-aceh/tari-seudati-aceh.html

7
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa penulis telah
menyelesaikan tugas mata pelajaran Pendidikan Seni tepat pada waktunya. Makalah ini
kami berikan judul “Tari Seudati”.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi
teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Tubagus Muhyidin, S.Ag selaku Kepala Madrasah Aliyah Nurul Amal
Pusate Menes yang telah memberikan kami bimbina
2. Bapak Dian Jumhana selaku Guru bidang studi Pendidikan Seni yang telah
memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan
menyelesaikan tugas ini.
3. Teman – teman yang telah memberikan motivasi kami untuk dapat menangani , dan
mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
4. Dan orang – orang yang turut membantu dalam penulisan Makalah ini yang mana
tidak dapat saya sebutkan satu persatunya.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai, Amiin.

Menes, November 2010

Penulis

8i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1

A.Latar Belakang Masalah................................................................................... 1

B.Tujuan Penulisan.............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................... 2

A.Sejarah Tari Seudati......................................................................................... 2

B. Asal – usul Tari Seudati.................................................................................. 2

C.Ciri Khas Tari Seudati...................................................................................... 4

D.Fungsi Tari Seudati.......................................................................................... 5

BAB III PENUTUP.................................................................................................... 6

A.Kesimpulan....................................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 7

ii