Anda di halaman 1dari 13

Theologos

Buah Pemikiran Pdt. Gani Wiyono, ThM

Skip to content
Top of Form
look for som

Bottom of Form

• Home
• Mengenai Saya

Orang Beriman Yang Berkemenangan


16 October, 2008 – 9:49 pm
Orang Beriman Yang Berkemenangan
(Roma 8: 18-37)
Adalah mudah untuk mengidentikan “kemenangan iman” dengan saat-saat di mana kita
merasa “beruntung”, saat-saat di mana kita dilepaskan dari kesulitan, saat-saat di mana
kita disembuhkan, saat-saat di mana cuaca kehidupan kita terasa cerah. Hal tersebut
tentunya benar adanya! Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah hanya itu saja ?
Dengan kata lain, mungkinkah kita tetap dapat mengalami kemenangan iman saat di
mana cuaca kehidupan kita terasa suram, saat di mana bahaya mengancam, saat di
mana kekurangan, sakit-penyakit, dan kesulitan hidup mengurung hidup kita?
Pertanyaan semacam inilah yang hendak dijawab oleh Rasul Paulus dalam Roma 8: 18-
37. Dalam bagian yang penuh dengan kalimat-kalimat nan indah ini jawaban Paulus
sangat positif. Maksudnya, tak peduli betapa gelap mendung kehidupan menaungi
kehidupan kita, tak peduli betapa besar bahaya dan krisis yang sedang kita hadapi saat
ini, tak peduli betapa berat “sekolah penderitaan” yang sedang kita jalani saat ini, setiap
orang percaya harus menyadari suatu fakta bahwa dirinya adalah “Pemenang” bahkan
“Lebih dari Pemenang”. Mungkin anda penasaran mendengar pernyataan Paulus yang
sepertinya tidak masuk diakal itu. Mungkin anda mau bertanya: Atas dasar apa Paulus
berani menyatakan bahwa kita adalah “lebih dari Pemenang”? Jawaban Paulus terhadap
pertanyaan anda adalah:
• Pertama, kita “lebih dari Pemenang” karena Allah selalu berada di pihak kita (Rom 8:31)
Ini adalah suatu kebenaran yang luar biasa. Dia yang menciptakan segala sesuatu, Dia
yang mengatur segala sesuatu, Dia yang menguasai segala sesuatu berada di pihak kita.
Woow betapa luar biasanya. Jika kita pegang erat-erat dan hayati kebenaran ini, tak ada
satu kuasa atau situasi di dunia ini baik yang kelihatan ataupun tidak kelihatan, baik yang
ada sekarang maupun akan datang dapat membuat kita “patah”. Satu-satunya hal yang
dapat mengalahkan kita hanyalah “diri kita sendiri”.
• • Kedua, kita “lebih dari Pemenang” karena ada Roh Kudus yang selalu siap membantu
dalam kelemahan kita (Rom 8:26). Entah saudara sadar atau tidak Roh Kudus senantiasa
bersyafaat untuk kita. Suatu kali seseorang wanita terbangun dari tidurnya di tengah
gelap gulita malam tanpa adanya alasan yang jelas. Yang pasti dia merasa didorong oleh
suatu kekuatan tak terlihat untuk berdoa. Maka berdoalah dia dalam kata-kata yang tak
bisa dia mengerti (kita orang Pentakosta menyebutnya berdoa dalam bahasa Roh).
Setelah beberapa saat dia mengakhiri doanya dan kembali tertidur. Beberapa waktu
kemudian dia mendengar khabar tentang tenggelamnya kapal Titanic. Yang membuat dia
terkejut adalah salah seorang dari penumpang yang selamat adalah suaminya. Di
kemudian hari dia menyadari bahwa saat di mana dia terbangun adalah saat di mana sang
suami berjuang menyelamatkan nyawanya dan saat di mana dia berhenti berdoa adalah
saat di mana sebuah regu penolong berhasil mengangkat suaminya dari dalam air laut
yang dingin.
• • Ketiga, kita “lebih dari Pemenang” karena Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi kita (8:28). Perhatikan kata “segala sesuatu” – yang jelas
berbicara tentang kekomprehensifan ruang lingkup karya Allah untuk mendatangkan
kebaikan bagi diri kita. Allah berkarya untuk kebaikan kita di kala suka dan duka, di kala
untung dan “buntung”, dan di tengah tawa sukacita atau raungan duka cita. Jangan slah
mengerti ya! Itu bukan berarti kita menyatakan bahwa hal-hal seperti sakit penyakit,
kegagalan usaha adalah hal-hal yang baik. Yang hendak kita nyatakan adalah bahwa
melalui atau hasil/tujuan dari proses yang negatif (tidak baik tersebut) adalah kebaikan.
Perhatikan kisah nyata berikut yang dapat menjadi sebuah illustrasi yang baik bagi
kebenaran Firman Tuhan di atas. Pada awal abad yang lalu, Alabama Selatan diancam
oleh serangan jutaan kumbang. Sudah pasti ada orang-orang percaya yang sungguh-
sungguh berdoa agar mereka bisa terhindar dari bencana tersebut. Namun, Allah memilih
jalan lain. Dia mengijinkan jutaan kumbang menghancurkan tanaman kapas, komiditi
utama di tanah tersebut. Namun, yang luar biasa adalah kejadian yang terjadi beberapa
tahun sesudah itu. Doa yang tidak terkabul itu ternyata mengubah perspektif penduduk
setempat. Mereka tahu bahwa mereka harus melakukan diversifikasi penanaman. Maka
mulailah mereka menanam kacang, kedelai, jagung, gandum, sayur-mayur dan tanaman
lainnya. Hasilnya daerah Alabama selatan mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa.
Bencana kumbang tentu bukan hal yang patut disyukuri bukan? Karena itu jelas
merugikan. Tapi yang patut disyukuri adalah hasil atau hikmah di balik tragedi tersebut!
Melalui tragedi itulah, Allah menuntun orang-orang Alabama kepada keadaan yang lebih
baik.

gwiyono | Khotbah/Renungan | Comments (0)


Esensi Pentakostalisme
29 September, 2008 – 8:13 am

Esensi dari Pentakostalisme


Sudahkah Menjadi Bagian Hidupmu?
(Kisah Para Rasul 2: 41-47)
Esensi dan penampilan (style) adalah dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Esensi
berbicara mengenai hal-hal yang permanen, sementara penampilan berbicara mengenai sesuatu
yang temporer. Esensi berbicara mengenai sesuatu yang tetap, sementara penampilan berbicara
mengenai sesuatu yang berubah. Esensi saya adalah seorang pria, 30 tahun silam, 10 tahun silam,
sekarang, dan bahkan 30 tahun lagi. Namun penampilan saya berubah. Foto-foto menjadi saksi
bahwa saya tak lagi seramping 10 tahun silam. Rambut saya tak selebat lagi 20 tahun silam.
Sudah mulai rontok di sana dan di sini, hingga mulai mengkilap kalau dilihat sekilas dari
belakang.
Banyak orang yang keliru memahami esensi dari Pentakostalisme. Mereka mengidentikan
Pentakostalisme dengan gaya khotbah yang “keras, cepat, dan tanpa teks”. Orang-orang yang
lain mengidentikan Pentakostalisme dengan emosionalisme – doa dengan “nangis-nangis” atau
teriakan, “jingkrak-jingkrak” dan tepuk tangan tanpa batas ketika memuji Allah. Apa yang
diungkapkan oleh mereka sebenarnya hanyalah sekedar “penampilan” dari Pentakostalisme,
yang bisa berubah sesuai dengan waktu, budaya, dan personalitas. Saya pernah hadir di sebuah
gereja Pentakosta di Timor-timur yang sangat dinamik, berkembang dengan pesat dan
mempunyai suasana rohani yang luar biasa. Namun, saya tak menjumpai adanya tepuk tangan di
sana, dan tidak pula khotbah yang cepat dan keras. Semuanya serba lembut, tenang, namun
powerful (luar biasa)
Jika apa yang dikatakan di atas hanyalah sekedar “penampilan” lalu apa yang menjadi esensi dari
Pentakostalisme itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita menoleh kepada sebuah
kitab dalam PB yang menjadi favorit dari orang-orang Pentakosta – Kisah Para Rasul (KPR).
Bagi orang Pentakosta, KPR adalah ibarat sebuah “model” atau “cetak biru” yang harus mereka
tiru dalam kehidupan pribadi, bergereja, dan bermasyarakat. Secara khusus, kita akan menyoroti
KPR 2: 41-47, yang memberikan kepada kita hal-hal yang menjadi esensi dari Pentakostalisme
itu sendiri.
• “Commited” to apostolic teachings – berpaut pada ajaran rasuli (KPR 2:42)
Perhatikan baik-baik sikap dari gereja perdana – gereja Pentakosta pertama di dunia: mereka
“commited” (berpaut sungguh-sunguh) terhadap kemurnian ajaran para Rasul. Ajaran atau
doktrin rasuli tidak mereka kecilkan artinya bagi kehidupan, di tengah dinamika dan aktivitas
kehidupan rohani mereka. Sangat berbeda dengan kebanyakan jemaat dewasa ini, yang aktif,
dinamik, tapi sayang ajarannya amburadul penuh takhayul. Dr. William Menzies,
menyatakan, bahwa sejarah gereja menjadi saksi lusinan kebangunan rohani yang besar telah
terjadi dari abad ke abad, pasca jaman gereja perdana, namun hanya ada satu yang bertahan
cukup lama – Gerakan Pentakosta modern! Mengapa? Karena gerakan ini “commited”
terhadap kemurnian ajaran rasuli yang diteruskan dari generasi lepas generasi.
• Connected – terkait dalam kelompok (KPR 2:42, 36)
Hal kedua yang menjadi esensi dari Pentakostalisme adalah fokusnya pada hubungan. “…
mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Gereja-gereja rumah
(semacam kelompok kecil) adalah ujung tombak dari perkembangan yang luar biasa dari
Kekristenan pada abad pertama. Dalam kelompok semacam ini tidak ada “penonton”, semua
adalah “pemain”. Mereka saling berbagi suka, duka, dan beban. Mereka melayani dan
dilayani, menghibur dan dihibur, mencukupi dan dicukupi. Keterkaitan gereja Pentakosta
perdana bukan hanya melalui kelompok kecil, melainkan juga dalam kelompok yang lebih
besar. Gereja Perdana bertemu secara regular di Bait Allah (2:46). Ibadah raya adalah sebuah
“event” yang ditunggu-tunggu sebab di sanalah mereka bisa secara bersama-sama merayakan
hadirat Allah yang mulia.
• Confirmation – peneguhan melalui tanda dan mukjizat(KPR 2:43)
Berita, visi, dan misi dari gereja perdana diteguhkan dengan (confirmed by) hadirnya tanda-
tanda dan mukjizat. Hal yang sama terjadi ketika kita membaca sejarah gerakan Pentakosta
modern. Dua orang misionaris Pentakosta mula-mula di Indonesia, Van Klavern dan
Groesbeck, merasa terpanggil untuk datang ke Indonesia. Namun mereka tidak punya cukup
uang untuk menumpang kapal. Namun Allah meneguhkan panggilan mereka, ketika gembala
mereka, W. F. Offiler, mendoakan seorang wanita yang terkena tumor ganas, Emily
Malquist, dan wanita itu beberapa saat kemudian mengalami kesembuhan ilahi. Uang yang
sedianya untuk operasi diserahkan oleh sister Emmily untuk pekerjaan Tuhan. Dan uang
itulah yang akhirnya dipakai oleh Groesbeck dan Van Klavern pergi ke Indonesia.
• Caring – kepedulian sosial yang cukup tinggi (KPR 2:44-45)
Gereja perdana adalah gereja yang punya kepedulian yang luar biasa pada mereka yang
sedang menderita. Yang surplus begitu murah hati untuk memberi yang minus hingga dalam
KPR 4:34 dikatakan, tak seorangpun dari antara mereka yang berkekurangan.” Dr. George
Wood, sekretaris umum GSJA, Amerika menulis, “ Tidak ada satupun bagian dari tubuh
Kristus Dewasa ini yang dapat menandingi orang-orang Pentakosta dalam kemurahan hati
mereka …. untuk menolong mereka yang menderita.”
• Converts – misi untuk memenangkan petobat baru (KPR 2: 47)
Tujuan utama dari Baptisan Roh Kudus adalah untuk memberdayakan orang percaya untuk
bersaksi (KPR 1:8); karena itu sebuah gereja Pentakosta tanpa converts (petobat baru) hanya
sekedar nama belaka. Gereja Pentakosta yang pertama bertumbuh karena “tiap-tiap hari
Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Pertanyaannya adalah:
melalui siapa Tuhan bekerja untuk menambah jumlah orang yang diselamatkan? Malaikat?
Bukan! Melalui orang-orang percaya! Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, segmen dari
Kekristenan yang mengalami pertumbuhan yang paling pesat adalah kaum Pentakosta.
Hanya mulai dengan beberapa gelintir orang saja pada tahun 1901 di Topeka Kansas, pada
tahun 2001 jumlah penganut dari gerakan ini sudah mencapai lebih dari 550 juta jiwa.Angka-
angka yang menakjubkan bukan? Apa rahasianya? Para pakar setuju bahwa dari sejak awal
para penganut gerakan ini adalah orang-orang yang haus untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi
Tuhan. Misi adalah detak jantung dari gerakan ini.
Inilah kelima unsur yang menjadi esensi dari Pentakostalisme. Anda dan saya yang menyebut
diri kaum Pentakosta, sudahkah menjadi pribadi yang punya “5-C” ini: commited, connected,
confirmation, caring dan converts? Jika jawabannya “ya”, anda adalah seorang Pentakosta
sejati!

gwiyono | Khotbah/Renungan | Comments (0)


PENGUCAPAN SYUKUR
14 September, 2008 – 7:46 pm

PENGUCAPAN SYUKUR
(Teks: 1 Kor 4-7)
Introduksi:
Pada puncak dari karirnya, Mark Twain, dibayar 5 dollar untuk tiap kata yang ditulisnya.
Suatu hari ada seseorang menulis surat kepadanya sembari menyelipkan uang 5 dollar di
dalamnya. Isi dari surat itu aneh: Sebuah pertanyaan! “Apa yang menjadi kata favorit
anda?” Mark Twain membalas surat itu dengan satu kata: ”Thanks” – terimakasih.
Anda boleh tertawa atau tersenyum. Tapi jangan sampai meremehkan pengucapan syukur.
• Seneca menulis: Nothing is more honorable than a grateful heart.
• Seorang pujangga yang lain menulis: ”A thankful heart is not only the greatest
virtue, but the parent of all the other virtues.”
Jadi jangan heran bila kita mendapati bahwa Rasul Pauluspun memandang pengucapan syukur
sebagai sesuatu yang amat penting. Jikalau anda menyelidiki surat-surat Paulus anda akan
mendapatkan bahwa ”Thanks” pemgucapan syukur merupakan salah satu kerap dijumpai
dalam suratsurat Paulus.
Andaikata hidup Paulus selalu beruntung tidak kerap buntung oleh karena ketiban bencana
atau masalah, bukanlah hal yang aneh bila kata-kata itu mendominasi surat-surat Paulus.
Akan tetapi, dari kesaksian yang ditulisnya kita mendapatkan kesan yangs ebaliknya. Paulus
lebih banyak dihantam prahara kehidupan. Meskipun demikian ia sanggup untuk terus
mengucap syukur. Apa ya yang menjadi rahasia dari sikap semacam itu?
Pertama, pengucapan syukur mengalir dari hati yang berfokus pada apa yang telah
dimiliki bukan pada apa yang belum dimiliki .
Paulus mengucap syukur bahwa jemaat Korintus yang dibinanya telah memilik karunia-
karunia rohani yang luar biasa, meski ia tahu bahwa mereka semua masih kanak-kanak
secara rohani. Paulus mengucap syukur bahwa mereka ”berkata-kata di dalam bahasa Roh”,
meski ia tahu dalam kasih mereka masih ”taman kanak-kanak” (meminjam istilahnya Gus
Dur). Paulus mengucap syukur bahwa jemaat Korintus memiliki karunia nubuat, meski
mereka kurang ”respect” terhadap Bapak Rohaninya sendiri – Paulus.
Pada bulan November 2001, seorang wanita yang berusia 67- tahun menerima penghargaan
khusus – Lifetime Achievement Award dari The Bible Societies. Nama Wanita itu Nadine
Hammonds. Nadine adalah seorang wanita yang luar biasa. Kedua matanya buta, namun ia
mampu menghafal seluruh isi PB. Pada penerimaan “award” tersebut seseorang bertanya
kepadanya: “Apakah anda kecewa karena mata anda buta?”
Jawab Nadine:
“Oh my goodness, no,” she said. “I do wish I could see a sunset. I
would love to see the ocean. I’d love to see the stars! But see, I
learned a long time ago, you don’t focus on what you don’t have. I’d
love to have those things, but I don’t focus on them. I think of what
I do have — a sharp mind and a good memory! I can study the Bible
by braille everyday, and now I’ve got it in my memory bank! Now I
just pull out whatever I need, whenever I want. It is a great gift
from God.
Kita pun seharusnya demikian pula bukan? Memang dalam hidup ini ada banyak hal yang
tidak memuaskan hasrat kita. Kita mengingini itu, yang kita dapat ini. Kita menghendaki ini,
yang keluar itu. Kerap kali harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan ini membuat kita
kecewa, bahkan tak jarang memicu kita untuk ‘complaint” dan bersungut-sungut. Teks kita
kali ini mengajak kita untuk menginventaris apa yang sudah kita punya; apa yang ada di
tangan kita, bukan apa yang ada dalam ranah harapan, cita-cita atau mimpi-mimpi kita. Teks
kita kali ini mengajak kita menghayati apa-apa yang sudah ada di dalam tangan kita sebagai
sesuatu yang patut disyukuri dan dijadikan titik awal untuk membangun sesuatu yang lebih
baik.
Kedua, pengucapan syukur mengalir dari hati yang berfokus pada bagaimana melayani
orang lain bukan bagaimana dilayani orang lain.
Masalah paling serius yang dihadapi oleh Paulus dalam membina hubungan dengan jemaat di
Korintus adalah bahwa jemaat tersebut kurang bisa menghargai dirinya – the founder dan
spiritual father of the congregation. Kalau anda teliti membaca seluruh surat Paulus dalam
1 dan 2 Korintus, terlihat kesan bahwa jemaat ini meremehkan Paulus, Bapa Rohaninya.
Paulus bukanlah ”the Apostle of Glory” (Rasul Mulia) yang pelayanan kaya akan tanda dan
mukjizat. Khotbah-khotbahnya tidak dihiasi kemilau indah gagasan-gagasan filosofi.
Khotbahnya hanyalah Salib Kristus yang tampaknya kurang attraktif dan kurang memiliki
nilai jual tinggi.
Complain, ketidakpuasan, kejengkelan kerap kali mewarnai hati manusia ketika semua usaha
dan pelayanan terbaiknya mendapatkan balasan yang tidak setimpal; Tidak jarang
kejengkelan tersebut akhirnya berubah menjadi ”dendam’ yang akhirnya berbuah
”kejahatan”. Seorang pembantu rumah tangga (TKI) di Singapura telah berusaha
memberikan pelayanan yang terbaik bagi sang tuan rumah dan keluarganya. Namun yang
sering dia terima adalah perlakuan kasar yang tak jarang berbuah penganiayaan. Pelayanan
dan pengabdian yang dibalas dengan kekaisaran dan aniaya ini akhirnya membawa akibat
fatal bagi sang tuan rumah. TKI tersebut dendam dan akhirnya membunuh sang tuan rumah
dan anaknya.
Paulus sebenarnya bisa berfokus pada “apa” yang harus dilakukan jemaat Korintus, anak-
anak rohaninya kepada dirinya. Namun kalau dia melakukannya tentu bukan pengucapan
syukur yang mengalir dari hatinya, melainkan kepahitan. Dia berfokus pada ’apa” yang bisa ia
lakukan untuk jemaat Korintus sebagai wujud pengabdian dan pelayannya kepada Tuhan
Yesus Kristus, kepala Gereja yang sejati. Itulah sebabnya, pengucapan syukur selalu
mengalir dari dalam hatinya!!!
Para suami, anda bisa terus menerus mengucap syukur bila fokus anda adalah bagaimana
melayani dan mengabdi sepenuh hati kepada isteri dan anak-anak anda.
Para isteri, anda bisa terus menerus mengucap syukur, ditengah kesibukan anda di rumah,
yang kerap dipandang orang sebagai sebuah penjara, bila fokus anda adalah memberikan
yang terbaik bagi isteri dan anak-anak.
Ketiga, pengucapan syukur mengalir dari hati yang berfokus pada hadirat Allah, bukan
pada situasi yang menghambat atau bahkan menghancurkan jiwa.
Secara teoritis, jemaat di Korintus tampaknya kurang menjanjikan untuk terus dibina oleh
Paulus. Sebenarnya ada jemaat-jemaat lain yang lebih punya potensi untuk dikembangkan
menjadi jemaat yang baik. Paulus sebenarnya bisa memilih untuk mengabaikan mereka
dengan alasan buat apa buang-buang waktu untuk membina jemaat yang menghancurkan
kalbunya. Paulus sebenarnya bisa menghindari ”situasi” sulit di Korintus dan berpaling pada
situasi yang lebih baik di Berea. Namun Paulus tetap menghadapi jemaat di Korintus dengan
segala kepelikan dan masalahnya! Dia menghadapinya dengan hati yang diwarnai pengucapan
syukur, sebagaimana tercermind alam pembukaan surat-suratnya. Kenapa dia bisa begitu?
Karena dia memfokuskan dirinya pada hadirat Allah yang telah memanggil dan menyertai Dia
untuk menangani masalah di Korintus. Fokus kepada Hadirat Allah yang luar biasa inilah yang
menjadi kunci dari pengucapan syukur yang terus menerus dalam diri Paulus.
Pada tahun 1636, Martin Rinkart dipanggil untuk melayani di kota Eillenburg. Saat itu
perang besar berkecemuk di seluruh Eropa. Perang bukan saja menewaskan para prajurit
dan orang sipil. Perang juga memabwa dampak negatif yang beruntun: kelaparan dan wabah.
Tahun 1636, ketika Riunkart bertugas di Eillenburg, wabah penyakit merajelala hingga
mengakibatkan ribuan orang tewas, Setiap hari, Rinkart harus memimpin kebaktian
penguburan 40-50 orang. Keadaan yang mengerikan semacam itu bisa membikin orang
lumpuh atau paling tidak ketakutan dan cepat-cepat menyelematkan diri denganc ara
meninggalkan kota. Namun Rinkart memutuskan untuk tetap tinggal dan melayani. Hatinya
lebih terfokus pada Allah ketimbang situasi kelam yang menyelimuti Eillenburg. Kepada
jemaatnya dia berkata: To his congregation he said,
“We must lean on God’s presence.
We must be the presence of Jesus
for one another. We must have the
sustaining presence of the spirit to guide us
or we will no survive.
Begitu fokusnya Rinkar pada hadirat Allah ditengah situasi yang mencekam, hingga sebuah
lagu indah lahir dari hatinya pada tahun 1636.
Now thank we all our God
With heart and hands and voices,
Who wondrous things hath done,
In whom this world rejoices;
Who, from our mothers’ arms,
Hath blessed us on our way
With countless gifts of love,
And still is ours today.
Di mana posisi anda saat ini? Apakah anda berada di tengah situasi kehidupan yang tidak
menguntungkan! Hingga anda sukar untuk berkata ”Thank U” Lord. Ingat Paulus, ingat
Martin Rinkart. Mereka Bisa! Mereka Akhirnya Menang terhadap situasi mereka! Anda dan
sayapun pasti Bisa!

gwiyono | Khotbah/Renungan | Comments (0)


Gereja: Sebuah “Rumah” Bagi Kita
30 August, 2008 – 3:19 pm
Gambaran gereja perdana yang ditampilkan dalam Kisah Para Rasul kerap kali dijadikan cetak
biru dari sebuah gereja “ideal ” di muka bumi ini. Itulah sebabnya “the main objective” dari
semua gerakan restorasi gereja adalah memulihkan “the faith and practices of the primitive
church” (Keyakinan dan praktek-praktek gereja perdana). Salah satu aspek dari gereja perdana
yang menarik untuk saya ulas di sini adalah “koinonia”. Lalu bagaimana kita memahami
“koinonia”? Gambaran (images) mungkin lebih baik menangkap arti dari kata ini dengan lebih
baik ketimbang gagasan-gagasan abstrak. “Home” (rumah) menurut saya adalah gambaran
terbaik dari “koinonia”. Rumah adalah tempat di mana ada proses memberi dan menerima;
dikasihi dan mengasihi; mendidik dan dididik; menyembuhkan dan disembuhkan;mengampuni
dan diampuni. Rumah, juga, seperti yang dikatakan oleh Robert Frost adalah , ..”suatu tempat di
mana ketika anda pergi ke sana, ia akan mempersilahkan masuk anda,” bahkan ketika anda
sepertinya tidak layak masuk. Apakah Gereja sudah menjadi Rumah?

gwiyono | Uncategorized | Comments (0)


Televisi dan Kita (Repost)
27 August, 2008 – 5:08 pm

Peran Sentral Televisi dalam dunia dewasa ini:


• Victor Strasburger, dokter spesialis anak, “TV adalah orang tua elektronik
ketiga.”
• “The Major Agent of Socialization”, menurut Marva Dawn.
• “bukan lagi Allah kedua melainkan Allah pertama” menurut pakar
komunikasi Islam, Jallaludin Rachmat.
Manfaat Televisi:
• Memperluas wawasan dan membukakan cakrawala. Televisi adalah ibarat “jendela
dunia” di mana kita dapat menengok “segala sesuatu di luar sana”
• Memperkaya pengalaman hidup. Televisi telah memungkinkan kita untuk mengalami
berbagai hal tanpa harus merasakannya sendiri. Kita tahu tempat-tempat lain tanpa harus
mengunjunginya.
• Menyediakan sarana hiburan “murah dan meriah” untuk membunuh kejenuhan dan
kebosanan kita.
Dampak negatif dari Televisi:
• Menyita banyak waktu. Rata-rata orang-orang Amerika menonton TV empat setengah
jam sehari. Sedangkan waktu yang digunakan untuk bicara dengan pasangan hidupnya
haya 4-5 menit; 30 detik dengan anak-anaknya.
• Mengurangi daya kreasi dan imajinasi. Televisi menawarkan “segala sesuatu” secara
visual dan instant. Pikiran tidak diberi waktu dan kesempatan untuk mencipta sendiri.
• Mengurangi daya pikir logis dan linear. Neil Postman menulis bahwa media TV lebih
memberi penekanan pada perasaan dan hiburan ketimbang pada pemikiran rasional. Coba
lihat iklan shampo merk tertentu yang menunjukkan seorang gadis yang lagi kusut.
Kenapa karena rambutnya jelek . Itulah sebabnya dia dijauhi cowok-cowok. Ketika dia
keramas dengan sampho merk tertentu tiba-tiba rambutnya cemerlang dan cowok-cowok
pada nempel kayak perangko.
• Peniruan perbuatan kekerasan, anti-sosial dan percabulan. Tak diragukan lagi agen
sosialasi kekerasan, anti-sosial<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> dan
percabulan yang paling hebat dewasa ini adalah TV. Sadar atau tidak manusia adalah
makhluk yang cenderung untuk menjadi peniru. Inilah yang menjadikan tayangan TV
menjadi sesuatu yang punya potensi bahaya. Sebuah tragedi di Littletown, 20 April 1999
mungkin bisa menggarisbawahi kebenaran ini. Dua orang remaja Columbine High school
menembak mati 12 teman sekelas dan 1 orang guru mereka, melukai 23 orang dan
akhirnya membuh diri mereka sendiri. Dua film dianggap menginspirasi kejadian ini.
Yang pertama adalah basketball Diarries dan yang kedua adalah Natural-born killers.
• Televisi memupuk terbentuknya nilai-nilai dan gaya hidup yang kurang sehat; yaitu:
○ Kurang menghargai “proses”. Di layar TV segala sesuatu berlangsung cepat.
Karena memang itulah gaya TV. Hitungan dalam TV adalah “detik” bukan
“tahun”. Akibat kurang menghargai proses ini, timbul kecenderungan ingin
mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
○ Lebih menghargai “bungkusan – bentuk luar” ketimbang “isi”nya. TV lebih
memfokuskan memepromisikan “bungkus” ketimbang isinya. Itulah sebabnya
model-model iklan umumnya dipilih yang cantik dan bertubuh bagus. Hal-hal
yang lahiriah inilah yang mereka tekankan sebagai sesuatu yang bernilai yang
orang lain harus dapatkan juga. Jati diri seseorang bukan lagi diukur berdasarkan
jiwanya, melainkan penampilannya.
○ “Having is More Important Than Being”. TV mengajar kita bahwa dala dunia
masa kini yang penting adalah bukannya what you are (siapa anda), tetapi what
you have. Jika adan punya Balenp, jika anda punya kartu kredit BCA, rumah
bagus, dll kamu barulah layak disebu seseorang. Tak peduli dengan cara apa anda
memperolehnya.
○ The Imported is better. Karena yang menjadi sumber utama isi siaran TV adalah
program yang dihasilkan di Barat, tidak heran timbul kekaguman kepada apa saja
uang berasal dari Barat.
<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>
<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Suatu penelitian terhadap 3 film kartun Jepang –
Sailor Mooh, Dragon Ball. Dan Magic Knight Ray Earth yang dilakukan oleh Sri Andayani
menyingkapkan bahwa 58,4% menunjukkan sikap anti-sosial. Dari jumlah tersebut: kata-kata
kasarm 38,56%, mencelakakan, 28,46%, dan mengejek 11,4%.

gwiyono | Uncategorized | Comments (1)


« Older posts
Newer posts »
Syndication
via RSS
via Email

via Technorati

• Pages
○ Mengenai Saya

November 2010
S M T W T F S
« Dec
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30
• Recent Posts
○ Ketika Pengharapan tak berimpit dengan Kenyataan.
○ KARUNIA-KARUNIA ROH DALAM HIDUP DAN PELAYANAN (1)
○ ROH KUDUS MENGINSYAFKAN MANUSIA AKAN DOSA (YOHANES 16:
8-9)
○ KIAMAT 2012
○ PESAN DARI ZIKLAG
• Recent Comments
○ richardyoka on Televisi dan Kita (Repost)
○ ekaputrat on Hello world!
• Archives
○ December 2009
○ November 2009
○ March 2009
○ February 2009
○ January 2009
○ November 2008
○ October 2008
○ September 2008
○ August 2008
○ July 2008
• Meta
○ Register
○ Log in
• Dimana Anda?
Feedjit Live Blog Stats
• Unique Visitors

Offshore Jones Act Counter

• Tinggalkan Pesan
Enable Javascript to get full functionality of this shoutbox


Recent Visitors

• Feedjit Live Blog Stats


• Blogroll
○ Agustina Suwanto
○ Amelia Rumbiak
○ APTS
○ GSSJA Indonesia
○ Hariagus Rimba
○ Jeanny Rumuat
○ Keith Sorbo
○ Paul Lesly Tubalawony
○ rajapresentasi
○ Steve McKinney
○ STT Satyabhakti
○ Triyogo Setyatmoko
○ Wonsuk Ma
○ ἐν χριστῳ (Ekaputra Tupamahu)
• Categories
○ Khotbah/Renungan
○ Refleksi Teologis
○ Uncategorized

© 2007 Theologos. Powered by Wordpress wearing MyJournal Hypereal by BlogoSquare


There are currently 28 posts extending over categories with loads upto 2 comments with valid
XHTML and CSS.