Anda di halaman 1dari 3

e-Government

Saat ini jika kita browsing via search-engine semisal Google atau Altavista dan memasukan kata kunci
”pemerintah+daerah” atau ”situs+daerah” atau ”otonomi+daerah”, maka akan dengan mudah kita
temukan beberapa situs yang berisi promosi dan publikasi potensi suatu daerah. Situs-situs di internet yang
memuat potensi kedaerahan tersebut merupakan satu bentuk dari e-government. Indikasi kemajuan ini sangat
menggembirakan, setidaknya menjadi satu sisi positif manakala sebagian masyarakat menjadi prihatin saat
otonomi daerah diartikan sebagai suatu kesempatan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga.

Tapi, apapun itu, satu pertanyaan perlu diajukan, apakah kita semua memahami maksud dari e-Government ?.

Definisi e-Government

Mengacu pada definisi yang diajukan oleh World Bank, e-Government (selanjutnya kita singkat menjadi
e Gov) mengacu pada penggunaan teknologi informasi oleh instansi-instansi atau badan-badan pemerintahan
(misal dengan Wide Area Networks, Internet, komputer bergerak, dst), yang dengan semua itu mempermudah
dan meningkatkan kemampuan transfomasi hubungan antara warga negara, dunia bisnis, dan bagian-bagian
lain dari pemerintahan. Teknologi informasi ini dapat melayani segala bentuk kebutuhan yang berbeda :
layanan yang lebih baik dari pemerintah kepada warganya, peningkatan interaksi antara bisnis dan industri,
pemberdayaan masyarakat melalui akses informasi, hingga efisiensi manajemen pemerintahan. Hasil yang
akan dapat dilihat dari penggunaan Teknologi Informasi (TI) adalah penurunan korupsi, meningkatkan
transparansi, kesenangan yang lebih baik, pertumbuhan pajak dan penghasilan, dan/atau reduksi biaya-biaya.

Masih menurut World Bank, secara tradisional, biasanya interaksi antara seorang warga negara atau
pengusaha dengan badan pemerintah selalu berlangsung di kantor-kantor pemerintahan. Namun seiring
dengan pemunculan teknologi informasi dan komunikasi (ICT, Informations and Communications
Technology) semakin memungkinkan untuk mendekatkan pusat-pusat layanan pemerintah kepada setiap
klien. Sebagai misal jika ada pusat layanan yang tak terlayani oleh badan pemerintah, maka ada kios-kios
yang didekatkan kepada para klien atau dengan penggunaan komputer di rumah atau di kantor-kantor.

Jika kita analogikan dengan e-Commerce, dimana dimungkinkan para kalangan bisnis melakukan transaksi
diantara mereka dengan lebih efisien (B2B) dan membawa para pengguna lebih dekat pada kalangan bisnis
(B2C), e Gov bertujuan untuk membuat interaksi antara pemerintah dan warganya (G2C), pemerintah dan
kalangan bisnis (G2B), dan hubungan antar lembaga (G2G) lebih baik, serasi, transparan dan murah.

E-Commerce mempersiapkan segalanya melalui 4 tahap : 1) penerbitan/publikasi, 2) antar aktivitas, 3)


melengkapi transaksi, dan 4) pengiriman. Hari ini, sebagian besar aktifitas e Gov berpusat pada
publikasi/penerbitan. Sebuah studi yang dilakukan Anderson Consulting menemukan perbedaan yang luas
diantara negara-negara dalam usaha mereka membangun eGov.

Peluang bagi e-Government

Ada beberapa tantangan dan sekaligus peluang dari keberadaan e Gov :

Ø Efisiensi : efisiensi bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa proyek dapat mengurangi kesalahan dan
meningkatkan konsistensi hasil dengan melakukan standarisasi otomatisasi tugas. Lebih lanjut, efisiensi
juga terjadi pada sisi pembiayaan dan minimalisasi lapisan-lapisan proses di dalam organisasi dengan re-
engineering dan mengefisienkan prosedur operasi. Tentu saja waktu juga menjadi lebih efisien, terutama
pada tugas-tugas yang berulang. Manfaatnya adalah pegawai pemerintah dapat memperoleh kesempatan
untuk menambah ilmu dan kecakapan mereka.

Ø Peningkatan layanan dan lahirnya layanan baru : akan ditemui peningkatan kualitas, rentang jangkauan
dan aksesibilitas pada setiap layanan yang diberikan pemerintah. Dalam upaya memperbaiki efisiensi,
layanan harus ditingkatkan dengan cara, seperti, transaksi yang lebih cepat, akuntabilitas yang semakin
baik, dan proses-proses kerja yang lebih baik. Dari e Gov juga akan memicu lahirnya layanan baru :
seiring dengan kemungkinan untuk mengkombinasikan layanan yang sudah ada, dapat sekaligus
dikreasikan bagaimana memajukan iklim usaha dan sekaligus meningkatkan interaksi antar warga.
Ø Peningkatan partisipasi warga dalam pemerintahan : hal ini terjadi dengan cara menghubungkan setiap
orang yang berada dalam wilayah kendali, sedemikian hingga mereka dapat mengirim dan menerima
segala informasi dengan mudah. Hal tersebut akan membentuk komunitas -komunitas di masyarakat
berdasarkan kemampuan profesional mereka, hobi atau kebiasaan yang sama, hingga yang concern
secara khusus di bidang politik.

Ø Transparansi : setiap warga, tanpa batas wilayah, dapat dengan mudah mengakses informasi akurat
tentang kinerja pemerintah, misal di bidang politik dan ekonomi, dengan cara yang mudah dan murah.
Dengan isu demokratisasi sekarang, kesenjangan transparansi politik

E-Government memberikan peluang baru untuk meningkatkan kualitas pemerintahan, dengan cara
ditingkatkannya efisiensi, layanan-layanan baru, peningkatan partisipasi warga dan adanya suatu peningkatan
terhadap Global Information Infrastructure (GII) . Namun pada sisi lain, e Gov juga memberikan suatu
tantangan, diantaranya keamanan informasi, privacy, kesenjangan dalam akses komputer, dan manajemen
dan penyediaan pendanaan. Semua hal itu berselang selimpat dengan kombinasi intra dan antar perilaku
dalam pemerintahan. Bagaimanapun juga, ditemukan sejumlah perulangan tema yang terkadang dihubungkan
dengan hal-hal sebelumnya, minimnya pendekatan ketidaktergantungan teknologi untuk meningkatkan
kualitas pemerintah seperti wewenang yurisdiksi, prosedur penanganan informasi yang tepat, membangun
dan memelihara infrastruktur, penyediaan layanan, dan hak-hak warga.

Ø Meskipun eGov mencakup wilayah aktivitas dan pelaku yang luas, ada 3 sektor penting yang dapat
diidentifikasi : G2G, G2B dan G2C. Beberapa pengamat menambahkan sektor keempat, yaitu G2E
(government-to-employee).

Ø G2G : Dalam banyak hal, sektor ini mewakili kekuatan dari eGov. Beberapa pengamat menyarankan
agar pihak pemerintah pada setiap tingkatan harus memperbaiki dan meng-update sistem internal mereka
dan juga prosedurnya sebelum transaksi elektronik antara warga dan kalangan bisnis (dengan pihak
pemerintah) berjalan dengan sukses. G2G melibatkan pembagian data dan pertukaran data yang bersifat
elektronis diantara pelaku-pelaku pemerintah. Pelibatan pertukaran terjadi pada intra dan inter-instansi di
level nasional, sebagaimana juga terjadi di tingkat provinsi dan daerah.

Ø G2B : Aplikasi di G2B meminta banyak perhatian, sebagian besar karena tingginya antusias di sektor
bisnis dan potensi pemotongan biaya melalui peningkatan praktek-praktek procurement dan
meningkatkan kompetisi. Sektor G2B meliputi penjualan surplus barang-barang pemerintah kepada
publik, sebaik yang dilakukan pada upaya memperoleh barang dan layanan. Yang perlu dicatat, meski
tidak semua secara langsung tergantung pada teknologi informasi, beberapa metode procurement
berhubungan dengan sektor ini: (a) performance-based-contracting, yaitu suatu metode dimana
pembayaran kepada pih ak kontraktor dilakukan berdasar pada tujuan-tujuan aktual dan hasil kerja; (b)
share-in-savings contracts, yaitu kontraktor dibayar di muka, semisal instalasi sistem komputer yang
baru; (c) reverse-auctions, di satu sisi, dipercaya untuk menggunakan teknologi informasi dan secara
teratur dapat digunakan sebagai metode pembelian produk yang telah distandarisasikan dan secara
mudah dapat dievaluasi mutunya.

Ø G2C : Sektor ini didesain untuk memfasilitasi interaksi warga dengan pemerintah, yang bagi sebagian
pengamat hal itu merupakan tujuan utama dari eGov. Beberapa interaksi yang mungkin dilakukan,
misalnya memperbaharui perizinan dan sertifikasi, pembayaran pajak, akses ke informasi publik, dan
lain-lain. Jadi semacam ”one stop shopping” bagi warga masyarakat, dengan sekian banyak instansi
yang terlibat dan aksesnya dapat dilakukan secara individual. Akhirnya memang terlihat pada
peningkatan akses dan partisipasi publik, pada setiap waktu dan tanpa hambatan geografis.

Pada akhirnya, kesemua aktivitas di atas akan bermuara pada usaha maya dengan keuntungan nyata baik
dalam bentuk pisik maupun non-pisik.
Daftar Sumber Bacaan:
Majalah Trend Teknologi Informasi, ISSN 0215 – 2188, Vol. 1 No.10, Edisi 15 November – 15 Desember
1997.

Warta Ekonomi, Dwimingguan Bis nis & New Economy, No. 16/XIV/24 Juni 2002 .

HTTP://WWW.BERITAIPTEK .COM/MESSAGES/AKTUALNEWS

HTTP://WWW.KOMPAS.COM/KCM/NEWS/008/11/ 0031.HTM

HTTP://WWW.MASTEL .OR.ID /INDONESIA/POKJA/ E -COMMERCE /E -COMMERCE 5.HTML

HTTP://WWW.WASANTARA .NET .ID / EGOV.HTM

Arrange by: Burhan