Anda di halaman 1dari 8

Jurnal APLIKASI Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008

ISSN.1907-753X

Perhitungan Kehilangan Pratekan Total


dengan Memakai Teori Kemungkinan
M. Sigit Darmawan
Dosen Jurusan Diploma Teknik Sipil, FTSP - ITS
Email: msdarmawan@ce.its.ac.id

ABSTRAK

Salah satu tahapan perhitungan yang penting untuk perhitungan konstruksi beton pratekan
adalah perhitungan besarnya kehilangan pratekan (loss of prestress). Pada umumnya
perhitungan kehilangan pratekan dilakukan dengan memakai anggapan bahwa semua
variabel yang berpengaruh bersifat deterministik. Anggapan ini menjadi kurang tepat bila
dikaitkan dengan sifat-sifat beton dan baja pratekan yang mempunyai tingkat variabilitas
yang tertentu. Pada studi ini akan disajikan perhitungan kehilangan pratekan akibat susut
dan rangkak pada beton serta relaksasi pada baja, dengan memperhitungkan variabilitas
sifat-sifat beton dan baja pratekan. Variabitas beton dan baja pratekan akan
diperhitungkan dalam perhitungan dengan memakai analisis teori kemungkinan (probability
analysis). Mengingat sangat terbatasnya data parameter statistik beton dan baja pratekan
untuk kondisi Indonesia, maka parameter statistik yang diperlukan untuk perhitungan
kehilangan pratekan akan diambil dari berbagai penelitian sebelumnya yang pada
umumnya dilakukan di luar Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa memasukkan
variabilitas sifat-sifat beton dan baja pratekan mempunyai efek yang cukup besar terhadap
besarnya kehilangan pratekan. Kehilangan pratekan akibat susut dan rangkak beton serta
relaksasi baja dan kombinasi dari ketiga faktor tersebut mempunyai mempunyai rata-rata
sebesar 3.86%, 10.05%, 4.31% dan 18.22%, dengan koefisien penyebaran sebesar 57%, 35%,
18% dan 25%.
Kata Kunci: Kehilangan Pratekan Total, Susut, Rangkak, Relaksasi, Probability
Analysis

1. PENDAHULUAN Pada umumnya perhitungan kehilangan


pratekan dilakukan dengan anggapan semua
Perhitungan kehilangan pratekan total (loss
parameter beton dan baja pratekan bersifat
of prestress) merupakan salah satu tahapan
deterministik (dapat ditentukan dengan
yang penting dalam pehitungan konstruksi
pasti). Tentu saja anggapan ini kurang tepat
beton pratekan. Besarnya kehilangan
bila dikaitkan dengan sifat-sifat material
pratekan menentukan seberapa besar gaya
beton yang pada umumnya mempunyai
yang diperlukan untuk pemberian
tingkat variabilitas yang cukup besar.
pratekanan agar struktur beton pratekan
Seperti halnya beton, material baja
mampu memikul beban-beban yang
pratekan juga mempunyai variabilitas
direncanakan secara efektif. Meskipun
tertentu, meskipun tidak sebesar material
kesalahan dalam perhitungan kehilangan
beton.
pratekan, tidak mempunyai dampak yang
berarti terhadap kekuatan maksimum Pada studi ini akan dilakukan perhitungan
penampang beton pratekan, kesalahan kehilangan pratekan akibat susut dan
dalam perkiraan kehilangan pratekan rangkak pada beton serta relaksasi pada
mempunyai efek yang besar terhadap baja pratekan dengan memasukkan
tingkat pelayanan (serviceability) dari variabitas sifat-sifat beton dan baja.
struktur beton pratekan. Masalah yang Variabilitas sifat-sifat beton dan baja akan
mungkin timbul akibat kurang tepatnya diperhitungkan dengan memakai analisis
perkiraan kehilangan pratekan adalah teori kemungkinan (probability analysis).
terjadinya lendutan yang berlebihan dan
atau retak yang berlebihan.

Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini Halaman 1
Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008 Jurnal APLIKASI
ISSN.1907-753X

2. TINJAUAN PUSTAKA 3. PERUMUSAN CREEP DAN SUSUT BETON


3.1. Susut Beton
Perhitungan kehilangan pratekan lazimnya
dilakukan dengan mengacu kepada Regangan akibat susut pada beton pada
perumusan empiris yang diberikan oleh umur t (hari) dapat ditentukan dengan
peraturan beton (code). Salah satu code perumusan sebagai berikut (AS 3600, 2002):
yang memberikan perumusan yang cukup
jelas tentang cara-cara perhitungan ε cs ( t ) = k 1ε cs.b ................................(1)
kehilangan pratekan akibat susut dan
rangkak pada beton adalah AS 3600.
dimana εcs.b adalah regangan susut dasar
Sebaliknya untuk ACI 318 tidak memberikan
rencana (basic design shrinkage strain) dan
perumusan tertentu untuk memperhitungkan
k1 adalah factor modifikasi untuk
kehilangan pratekan akibat kedua faktor
memasukkan pengaruh:(i)umur beton;
tersebut.
(ii)tipe lingkungan; dan (iii) ukuran dan
Seperti diketahui susut dan rangkak adalah bentuk penampang. Bila tidak ada data dari
deformasi beton yang tergantung waktu dan hasil tes untuk menentukan εcs.b, AS 3600
meningkat dengan bertambahnya waktu. menyarankan untuk memakai nilai sebesar
Selain itu besarnya rangkak juga dipengaruhi 700x10-6. Namun demikian perlu dicatat
besarnya tegangan yang bekerja. Ada bahwa nilai sebenarnya εcs.b bervariasi
beberapa model yang dapat digunakan untuk antara 500x10-6 s/d 1000x10-6. Sedangkan
memprediksi kedua fenomena tersebut, nilai k1 ditentukan sesuai perumusan Gilbert
mulai perumusan sederhana seperti yang (1990) sebagai berikut
diberikan dalam peraturan beton (code),
sampai dengan perumusan yang cukup k 4 k 5 ( t − t c ) 0.7
komplex seperti diusulkan oleh Bazant dan k1 = ...........................(2)
Baweja (1995). ( t − t c ) 0.7 + k 6

Beberapa peneliti, antara lain Gilbert dimana


(1988), Koutsoukis (1996), Khor (1999) telah
melakukan studi perbandingan berbagai
model untuk perhitungan susut dan rangkak k 4 = 0.62 + 1.5e −.005 t h .......................(3)
pada beton, termasuk perumusan yang
diberikan oleh peraturan beton seperti AS 4.0 − 0.04 × h
3600, ACI 209, CEB-FIP. Namun demikian k5 = .........................(4)
hasil studi perbandingan tersebut, belum 3
dapat menyimpulkan apakah model tertentu t
memprediksi lebih baik dibandingkan dengan
k 6 = h ........................................(5)
7
model yang lain. Hasil studi perbandingan
tersebut juga menunjukkan ada perbedaan dan tc waktu (dalam hari) ketika curing
yang cukup besar antara model yang satu dihentikan. Pada persamaan diatas h adalah
dengan yang lainnya serta kurang berhasil rata-rata kelembaban tahunan (%), and th
dalam memprediksi data tes yang tersedia adalah tebal teoritis penampang (mm) yang
(Gilbert,1988). Hasil studi juga didefinisikan sebagai
menghasilkan kesimpulan bahwa perumusan
AS 3600 memberikan nilai yang merupakan
2A g
th = ....................................(6)
rata-rata dari model yang lainnya. ue
Berdasarkan hasil studi tersebut, maka pada dengan Ag adalah luas penampang total dan
penelitian ini akan dipakai AS 3600 untuk
ue adalah keliling penampang yang
menentukan besarnya susut dan rangkak berhubungan langsung dengan udara.
pada beton.
3.2. Rangkak Beton
Regangan akibat rangkak pada beton pada
umur t (hari) dapat dihitung dengan
perumusan sebagai berikut (AS 3600, 2002):

Halaman 2 Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini
Jurnal APLIKASI Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008
ISSN.1907-753X

fc k 7 k 8 ( t − t a ) 0.7
ε cc ( t ) = φ cc ( t ) ......................(7) k2 = ......................(9)
E c (28) ( t − t a ) 0.7 + k 9

dimana dimana

φ cc ( t ) = k 2 k 3 φ cc.b ............................(8) k 7 = 0.76 + 0.9e −.008 t h .....................(10)

k 8 = 1.37 − 0.011 × h .....................(11)


dimana fc adalah tegangan pada beton,
Ec(28) adalah modulus elastis beton pada
umur 28 hari, φ cc.b adalah factor rangkak
k 9 = 0.15t h ..................................(12)
dasar (basic creep factor), yang tergantung
dan ta umur (hari) pada saat beban
pada kuat tekan beton (lihat Tabel 1). Perlu
dikerjakan.
dicatat bahwa nilai φ cc.b dapat bervariasi
sampai dengan ±30%.
3.3. Relaksasi Baja Pratekan
Tabel 1: Faktor Rangkak Dasar φ cc.b . Tegangan pada baja pratekan akan
berkurang dengan waktu bila baja ditahan
f’c dalam kondisi regangan yang tetap.
(MPa) 20 25 32 40 50 Kejadian ini disebut relaksasi, yang serupa
φ cc.b 5.2 4.2 3.4 2.5 2.0 dengan rangkak pada beton. Beberapa
faktor yang mempengaruhi besarnya
relaksasi antara lain, temperatur, tegangan
awal baja dan tipe baja pratekan. Besarnya
Adapun k2 adalah factor modifikasi seperti
kehilangan pratekan setelah waktu t (hari)
halnya faktor k1 pada perhitungan susut and
dapat diperkirakan dengan formula sebagai
k3 faktor untuk memperhitungkan umur
berikut (AS 3600, 2002):
beton pada saat gaya pratekan dikerjakan
(lihat Gambar 1).
R p ( t ) = k 10 k 11 k 12 k 13 R b ..................(13)
  1.50

dimana k10, k11 and k12 adalah faktor


1.25 modifikasi untuk memperhitungkan lama
pemberian pratekanan, temperatur dan
k 1.00
besarnya tegangan awal. Rb adalah faktor
relaksasi dasar, yang tergantung pada tipe
3

baja. Besarnya Rb bervariasi antara 1 s/d 2%


0.75
untuk baja dengan relaksasi rendah (low
relaxation prestressing steel). Adapun nilai
0.50 k10 and k11 dapat ditentukan dengan
0.50 0.75 1.00 1.25
Strengh Ratio at Prestressing Tranfer (f /f )
'
1.50
perumusan sebagai berikut:
c c

Gambar 1: Koefisien Rangkak k3. [ ]


k10 = log 5.4( t − t p )1 / 6 ..................(14)

te
Adapun nilai k2 ditentukan dengan memakai k 11 = ≥ 1.0 ..............................(15)
perumusan 20
dimana tp adalah waktu ketika baja
pratekan ditarik (hari) dan te adalah
temperatur rata-rata tahunan (oC). Nilai dari

Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini Halaman 3
Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008 Jurnal APLIKASI
ISSN.1907-753X

k12 tergantung pada proporsi tegangan akibat relaksasi baja dan ditentukan
terhadap tegangan maksimum baja dan besarnya sebagai
dapat ditentukan nilainya berdasarkan
Gambar 2.
⎡ kehilangan (susut + rangkak ) ⎤
k 13 = ⎢1 − ⎥.
1.50
⎣ f si ⎦
....(16)

dimana fsi adalah tegangan awal pada baja


1.00
pratekan
k12
3.4. Parameter Statistik Yang Dipakai
0.50
Mengingat tidak terdokumentasinya data
penelitian tentang susut dan rangkak pada
0.00
0.40 0.50 0.60 0.70 0.80
beton di Indonesia, maka parameter
Stress in Strand as Proportion of f statistik yang akan dipakai untuk
pu
perhitungan kehilangan pratekan dengan
memakai analisa teori kemungkinan adalah
Gambar 2: Koefisien Relaksasi k12 memakai parameter statistik yang berasal
dari penelitian di luar Indonesia (lihat Tabel
2).
Faktor k13 dipakai untuk memperhitungkan
pengaruh susut dan rangkak pada beton
terhadap besarnya kehilangan pratekan

Tabel 2: Parameter Statistik Yang Dipakai


Parameter Rata-rata COV Distribusi Referensi
εcs.b Uniform
750 x10-6 144x x10-6 AS 3600
(regangan susut dasar rencana) (500-1000)x10-6
φ cc.b 2.5 0.43
Uniform
AS 3600
(3.25-1.75)
(faktor rangkak dasar)
Rb (%) Uniform
1.5 0.29 AS 3600
(faktor relaksasi dasar) (1-2)
f’c (MPa)
F’ac + 7.5 sb= 6 Lognormal Attard and Stewart (1998)
(kuat tekan beton)
Ec(t) (MPa)
4600 f c' ( t ) - - Mirza et al. (1979)
(modulus elastis beton)
MEc(Ec(t)) 1.0 0.12 Normal -
Ep (MPa)
195000 0.02 Normal Mirza et al. (1980)
(modulus elastis baja)
fpu (MPa)
1.04 fpk 0.025 Normal Mirza et al. (1980b)
(tegangan max baja)
H (mm)
Hnom+0.8 s = 3.6 Normal Mirza and McGregor (1979b)
(Tinggi balok)
B (mm)
Bnom+2.5 S = 3.7 Normal Mirza and McGregor (1979b)
(lebar balok)
ME(Susut) 1.0 0.34 Normal Bazant and Baweja (1995)
ME(Rangkak) 1.0 0.23 Normal Bazant and Baweja (1995)
RH (%)
80 0.1 Normal Stewart (1996)
(kelembaban relatif)
te (oC)
27.5 0.1 Normal -
(temperatur rata-rata tahunan)
a ’
F c =kuat tekan karakteristik;b s=standar deviasi, COV=koefisien penyebaran;c ME=Model Error; fpk= tegangan
maksimum baja karakteristik

Halaman 4 Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini
Jurnal APLIKASI Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008
ISSN.1907-753X

Analisa teori kemungkinan dilakukan dengan berurutan pada Gambar 4, 5, 6 dan 7.


melakukan simulasi Monte Carlo. Simulasi Kehilangan pratekan dinyatakan dalam
Monte Carlo dilakukan dengan memasukkan persen terhadap besarnya tegangan awal
sebuah nilai dari setiap variabel yang baja pratekan (fsi).
terlibat kedalam perumusan kehilangan
pratekan dengan secara acak (random) Gambar 4 menunjukkan bahwa kehilangan
sesuai dengan tipe distribusinya. Langkah ini pratekan akibat susut mempunyai rata-rata
dilakukan berulangkali untuk mendapatkan sebesar 3.86% dan koefisien penyebaran
nilai kehilangan pratekan yang dapat (COV) sebesar 57%, sementara Gambar 5
diterima secara statistik, misalnya dengan menunjukkan kehilangan pratekan akibat
melakukan 1000000 simulasi. Dengan rangkak mempunyai rata-rata sebesar
tersedianya perangkat keras komputer yang 10.05% dan koefisien penyebaran sebesar
relatif cepat, simulasi sebanyak ini telah 35%. Hasil ini sesuai perkiraan bahwa
dapat dilakukan dalam waktu yang relatif kehilangan pratekan akibat susut akan
singkat. mempunyai koefisien penyebaran lebih
besar dibandingkan akibat rangkak karena
model error untuk susut mempunyai
4. APLIKASI PERHITUNGAN
koefisien penyebaran yang lebih besar
Sebagai contoh perhitungan, maka dilakukan dibandingkan model error untuk rangkak.
perhitungan kehilangan pratekan untuk 1.2 105
balok pratekan dengan dimensi seperti
Gambar 3. 1 105

Mean=3.86%; COV=0.57
4
8 10
Count

4
6 10
675 mm
900 mm
4
4 10
Aps
2 104

0
300 mm 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22

Gambar 3: Balok 300 mm x 900 mm. Kehil angan Pratekan Akibat Susut (%)
Gambar 4: Kehilangan Pratekan Akibat Susut
Sedangkan data disain yang dipakai adalah Beton.
sebagai berikut:
1.2 105

f’c (kuat tekan)=40 MPa 5


Aps(luas penampang baja)=3643 mm2 1 10

f’ci(kuat tekan saat transfer)=30 MPa Mean=10.05%; COV=0.35


Ep(modulus elastis baja)=195000 MPa 8 104

fsi (tegangan awal baja pratekan)=1100 MPa


Count

4
6 10

5. HASIL YANG DIPEROLEH


4 104
Selanjutnya dilakukan perhitungan besarnya
kehilangan pratekan akibat susut dan 2 10
4

rangkak pada beton serta relaksasi pada


baja setelah umur 30 tahun, dimana pada 0
umumnya pada umur ini nilai kehilangan 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34
pratekan telah mencapai nilai maksimum. Kehilangan Prate kan Akibat Rangkak (%)

Hasil perhitungan kehilangan pratekan Gambar 5: Kehilangan Pratekan Akibat


disajikan dalam bentuk histogram secara Rangkak Beton.

Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini Halaman 5
Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008 Jurnal APLIKASI
ISSN.1907-753X

Gambar 6 menunjukkan kehilangan pratekan 0.12


akibat relaksasi pada baja, dimana
diperoleh nilai rata-rata sebesar 4.31% 0.10
dengan koefisien penyebaran sebesar 18%.

Probability Density
0.08
Gambar 7 selanjutnya menunjukkan
kehilangan pratekan akibat kombinasi susut 0.06
dan rangkak pada beton serta relaksasi pada
baja, dimana diperoleh nilai rata-rata 0.04
sebesar 18.22% dengan koefisien penyebaran
sebesar 25%.
0.02

  1.4 10
5 0.00
0 2 4 6 8 10 12
5
Kehilangan Pratekan Akibat Susut (%)
1.2 10
Gambar 8: Distribusi Kehilangan Pratekan
1 10
5 Mean=4.31%; COV=0.18 Akibat Susut.

4
8 10 0.14
Count

4 0.12
6 10

4 0.10
4 10
Probability Density

2 10
4 0.08

0 0.06
1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9
Kehilangan Pratekan Akibat Relaksasi (%) 0.04
Gambar 6: Kehilangan Pratekan Akibat
Relaksasi Baja. 0.02

  2 105 0.00
0 5 10 15 20 25
Kehilangan Pratekan Akibat Rangkak (%)

5
Gambar 9: Distribusi Kehilangan Pratekan
1.5 10
Mean=18.22%; COV=0.25 Akibat Rangkak.

0.60
Count

1 105

0.50

4
Probability Density

5 10 0.40

0.30
0
4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48
Kehilangan Pratekan Total (Susut+Rangkak+Relaksasi) (%) 0.20

Gambar 7: Kehilangan Pratekan Akibat Susut


dan Rangkak Beton serta Relaksasi Baja. 0.10

0.00
Gambar 8, 9, 10 dan 11 secara berurutan 2 3 4 5 6 7
menyajikan distribusi kehilangan pratekan Kehil angan Pratekan Akibat Relaksasi (%)
akibat susut dan rangkak beton serta Gambar 10: Distribusi Kehilangan Pratekan
relaksasi pada baja dan kombinasi dari Akibat Relaksasi.
ketiga faktor tersebut.

Halaman 6 Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini
Jurnal APLIKASI Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008
ISSN.1907-753X

  0.10 akibat susut mempunyai rata-rata sebesar


3.86% dengan koefisien penyebaran sebesar
57%, kehilangan pratekan akibat rangkak
0.08
mempunyai rata-rata sebesar 10.05% dengan
koefisien penyebaran yang lebih kecil, yaitu
Probability Density

0.06 sebesar 35%. Sedangkan kehilangan


pratekan akibat relaksasi baja mempunyai
rata-rata sebesar 4.31% dengan koefisien
0.04
penyebaran sebesar 18%. Akibat kombinasi
susut dan rangkak beton serta relaksasi
0.02 baja, kehilangan pratekan mempunyai rata-
rata sebesar 18.22% dengan koefisien
penyebaran sebesar 25%.
0.00
5 10 15 20 25 30 35
Kehilangan Pratekan Total (Susut+Rangkak+Relaksasi) (%)
7. DAFTAR ACUAN
Gambar 11: Distribusi Kehilangan Pratekan
Akibat Susut dan Rangkak Beton serta
Relaksasi Baja. ACI 318 (2002), Building Code Requirement
for Sructural Concrete (ACI 318-02) and
Gambar 8, 9, 10 dan 11 telah secara jelas Commentary (ACI 318R-02), American
menunjukkan bahwa nilai kehilangan Concrete Institute, Farmington Hills,
pratekan mempunyai variasi yang cukup Michigan.
besar. Dengan demikian perlu diperhatikan ACI Commitee 209 (1992), Prediction of
bahwa nilai kehilangan pratekan yang Creep, Shrinkage and Temperature
diperoleh dengan cara deterministik Effects in Concrete Structures (ACI
(mengabaikan variasi sifat-sifat beton) ada 209), ACI Manual of Concrete Practice,
kemungkinan tidak akurat. Nilai yang American Concrete Institute,
diperoleh secara deterministik tersebut, Farmington Hills, Michigan.
pada umumnya merupakan nilai yang
mendekati rata-rata dari besarnya AS 3600 (2001), Concrete Structures,
kehilangan pratekan. Nilai yang didapat Standards Association of Australia,
secara deterministik (rata-rata) tersebut Homebush, New South Wales, Australia.
mempunyai kemungkinan sebesar ±50% akan Attard, M. M. and Stewart, M. G. (1998), A
terlampaui. Hampir semua code telah Two Parameter Stress Block for Model
memberi peringatan kemungkinan for High Strength Concrete, ACI
ketidaktepatan nilai kehilangan pratekan Structural Journal, ACI, Vol. 95, No. 3,
yang diperoleh berdasarkan perumusan yang pp. 305-317.
diberikan dalam code. Untuk itu diperlukan
kehati-hatian dalam menentukan besarnya Bazant, Z. P. and Baweja, S. (1995), Creep
kehilangan pratekan karena akan and Shrinkage Prediction Model for
berpengaruh kepada tingkat pelayanan Analysis and Design of Concrete
balok pratekan, misalnya besarnya lendutan Structures-model B3, Materials &
atau retak yang diluar perkiraan. Structures, Vol. 28, pp. 357-365.
Comite Euro-International du Beton (1990),
6. KESIMPULAN CEB-FIP International recommendations
Hasil studi menunjukkan bahwa perhitungan for the design and construction of
kehilangan pratekan akibat susut dan rangka concrete structures, CEB-FIP Code 90,
beton serta relaksasi pada baja dengan Paris-London.
memperhitungkan variabilitas sifat-sifat Gilbert, R. I. (1988), Time Effects in
beton dan baja pratekan mempunyai Concrete Structures, Elsevier, New
pengaruh yang cukup besar. Dengan York, USA.
memasukkan pengaruh variasi dan
ketidaktentuan sifat-sifat beton dan baja,
didapatkan bahwa kehilangan pratekan

Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini Halaman 7
Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008 Jurnal APLIKASI
ISSN.1907-753X

Gilbert, R. I. and Mickleborough, N. C. Mirza, S. A., Kikuchi, D. K. and MacGregor,


(1990), Design of Prestressed Concrete, J. G. (1980), Flexural Strength
Unwin Hyman Ltd, London. Reduction Factor for Bonded
Prestressed Concrete Beams, ACI
Khor, E. H. (1999), Early-age Effects on
Journal, Vol. 77, No. 4, pp. 237-246.
Serviceability Reliability of Reinforced
Concrete Flexural Members, PhD Mirza, S. A. and MacGregor, J. G. (1979b),
Thesis, Department of Civil Variations in Dimensions of Reinforced
Engineering, Clemson University, SS, Concrete Members, Journal of the
USA. Structural Division, ASCE, Vol. 105, No.
ST4, pp. 751-766.
Koutsoukis, M. (1996), On the Probabilistic
Time-dependent Axial Shortening of Stewart, M. G. (1996), Serviceability
Tall Concrete Building, PhD Thesis, Reliability Analysis of Reinforced
Department of Civil and Mechanical Concrete Structures, Journal of
Engineering, University Tasmania, Structural Engineering, ASCE, Vol. 122,
Australia. No. 7, pp. 794-803.
Mirza, S. A., Hatzinikolas, M. and
MacGregor, J. G. (1979), Statistical
Description of Strength of Concrete,
Journal of the Structural Division, ASCE,
Vol. 105, No. ST6, pp. 1021-1037.

Halaman 8 Jurnal APLIKASI: Media Informasi & Komunikasi Aplikasi Teknik Sipil Terkini