Anda di halaman 1dari 12

HIMPUNAN

MATEMATIKA DISKRIT

Achmad Rizky 20109214


Ahmad Aqil Azizi 21109259
Ahmad Idannul Furqon 20109429
Aldo Serena Widodo 26109761
Angga Septian Nugroho 21109631

Universitas Gunadarma
Fakultas Ilmu Komputer
PTA 2010/2011
1.1 HIMPUNAN

Himpunan adalah suatu kumpulan / koleksi dari obyek-obyek sembarang. (Cara


pengumpulan obyek-obyek itu biasanya berdasarkan sifat/keadaan mereka yang sama, ataupun
berdasarkan suatu aturan tertentu/yang ditentukan).

Contoh (1.1)

Misalnya himpunan yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Jakarta atau himpunan dari
semua bilangan asli yang lebih besar dari 9, ataupun himpunan yang terdiri dari ayam, bebek, dan
sapi.

Catatan (1):
• Obyek-obyek di atas disebut elemen (unsur anggota) himpunan dan biasanya dinyatakan
dengan huruf kecil, misalnya a,b,p,x dan lain-lain.
• Suatu himpunan biasanya dinyatakan dengan huruf besar, misalnya himpunan A, B, P, Y dan
lain-lain.
• Bila a merupakan elemen dari himpunan A, sedangkan b bukan elemen dari himpunan A,
maka kita dapat menuliskan a ∈B , b∉ A

Kita mengenal 2 bentuk dalam penulisan suatu himpunan sebagai berikut :

1. Bentuk pendaftaran (Tabular-Form) yaitu dengan menuliskan semua elemen himpunan


tersebut di dalam kurung kurawal. Sebagai contoh :
Himpunan A = {Jakarta, Medan, Surabaya}
Himpunan N = {1, 2, 3, ...}
Himpunan P = { ∅ ,12, IV, α}

2. Bentuk pencirian (Set-Builder Form) yaitu dengan menuliskan sifat/ketentuan mengenai


elemen himpunan tersebut. Sebagai contoh:
Himpunan S = { x | x adalah bilangan genap }
Himpunan T = { x | x adalah pelajar yang pandai }

Contoh (1.2) :

Kita dapat mengubah penulisan himpunan dari tabular-form ke set-builder form atau
sebaliknya.
Misalnya M = { x | x adalah nama hari dalam satu minggu } = { Senin, Selasa, Rabu, Kamis,
Jumat, Sabtu, Minggu }, atau P = { x | x 2 – 4 = ∅ } = {-2, 2} ataupun N = { x | x bilangan asli } =
{ 1, 2, 3, ...} dan lain-lain.
Bentuk mana yang dipakai, tergantung mana yang lebih mudah dan menyenangkan.

Catatan (2) :

Suatu himpunan disebut hingga bila banyak anggotanya ( yang berbeda ) hingga. Kalau
banyak anggotanya tak hingga, disebut himpunan tak hingga.
Dapat dicatat bahwa anggota-anggota yang sama, dihitung sekali. Himpunan yang tidak
mempunyai anggota disebut himpunan hampa (kosong) dinyatakan dengan ∅ .
Contoh (1.3) :
Contoh himpunan ∅ : A = { x | x2 = 9, x genap}

Catatan (3) :
Himpunan A dan B dikatakan sama, A = B bila mereka mempunyai anggota-anggota yang
sama.

Contoh (1.4) :
A = { 2, 1, 4}, B = { 4, 1, 2} maka A = B. Juga bila P = { x | x 2 – 3x = -2 }, Q = { 2, 1}, R = {1 ,2 ,2 ,
1} maka P = Q = R

Definisi:
Himpunan A dikatakan himpunan bagian (Subset) dari himpunan B, bila setiap anggota dari
A juga merupakan anggota dari B. Ditulis A⊂ B merupakan himpunan super/super set dari A,
A⊃ B .

Contoh (1.5) :
P = { 1,2,4 } Q = {1,4,5,2} maka P⊂Q , jelas karena setiap anggota dari P adalah anggota
Q juga.
G = { x | x bilangan genap }, H = { x | x bilangan bulat }, maka G⊂H

Catatan (4) :
Notasi “ ≠ ” digunakan juga untuk menyatakan pernyataan “Subset atau Sama
Dengan”. Jadi A⊆ B berarti A subset B atau a=b . Bila A⊂ B dikatakan pada A subset
sebenarnya dari B. Tetapi di dalam buku ini kita menggunakan notasi baik untuk subset sebenarnya
ataupun tidak sebenarnya.

Catatan (5) :
Kita dapat menuliskan definisi kesamaan 2 himpunan sebagai berikut:
A = B jika dan hanya jika A⊂ B dan B⊂A

Catatan (6) :
Dua himpunan A dan B dikatakan dapat diperbandingkan (Comparable) bila A⊂ B atau
B⊂A .

Contoh (1.6) :
A = {a, b, c}, B = {a, b} maka A dapat diperbandingkan dengan B karena B⊂A ,
sedangkan S = {2, 4, 5} dan T = {2, 4,6} tidak dapat diperbandingkan S ∉T dan T ∉S . ( :
bukan subset)

Catatan (7) :
Kadang-kadang kita jumpai bahwa objek dari suatu himpunan merupakan himpunan pula,
himpunan semacam itu disebut suatu keluarga (family), kelas dari himpunan atau himpunan dari
himpunan-himpunan (set of sets). Biasanya kita tulis dengan huruf berbentuk A, B, C dan lain-lain.

Contoh (1.7) :
1. Di dalam geometri kita mengenal berkas garis yang mana merupakan himpunan dari garis
lurus. Sedang kita tahu pula bahwa masing-masing garis lurus tersebut adalah himpunan
dari titik-titik.
2. Himpunan { (2,3), (1,0), (0,4,7) } adalah suatu keluarga dari himpunan (2,3), (1,0) , dan
(0,4,7).
3. A = { 2, (1,4), (0,2,1) }, A bukan suatu keluarga himpunan karena anggotanya ada yang
bukan himpunan

Catatan (8) :
Untuk membatasi himpunan yang kita bicarakan, di definisikan suatu himpunan yang mana
setiap himpunan dalam pembicaraan kita itu selalu merupakan subsetnya. Himpunan tersebut
dinamakan himpunan semesta (universal set) dan dinyatakan dengan . Jadi selalu berlaku A⊂U
untuk setiap A.

Contoh (1.8):
Dalam geometri datar yang menjadi himpunan semesta adalah himpunan semua titik pada
bidang datar.

Catatan (9) :
Keluarga semua subset dari suatu himpunan S biasa disebut himpunan kuasa (power set)
dari S ditulis 2S. Banyaknya anggota dari 2S adalah 2n dimana n adalah jumlah anggota dari S. Di sini
termasuk pula ∅ , karena ∅ merupakan subset dari himpunan manapun.

Contoh (1.9) :
M = (a,b), subset-subset dari M adalah ∅ , (a), (b), (a,b) = M, jadi 2 M = { ∅ , (a), (b), m
}. Banyaknya anggota dari 2M = 22 = 4

Catatan (10) :
2 himpunan disebut saling lepas (saling asing/ disjoint) bila tidak mempunyai anggota
sama.

Contoh (1.10)
i. A = (4,3), B = (2,0) sailng lepas
ii. P = (1, 2, 3), Q = (1 , 6 ,7) tidak saling lepas karena 1⊂P juga 1⊂Q

1.2 DIAGRAM VENN

Untuk menggambarkan hubungan antara himpunan-himpunan dapat kita menggunakan


diagram Venn. Himpunan kita gambarkan sebagai daerah lingkaran sedangkan semesta sebagai
daerah empat persegi panjang. Perhatikan contoh-contoh berikut:

Contoh (1.11) :
Misalkan A⊂ B dan A≠∅ dapat kita gambarkan sebagai berikut:
Misalkan pula A dan B tidak dapat diperbandingkan. Gambar 2, A dan B tidak saling lepas
dan gambar 3, A dan B saling lepas.

1.3 OPERASI ANTAR HIMPUNAN

Beberapa operasi yang penting adalah :

1. Gabungan (Union), dinotasikan dengan ∪


A U B = (x | x A atau x B)
Di dalam diagram Venn:

Contoh (1.12) :
S = (a, b, c)
T = (a,b,p,r)

Maka S∪T = (a,b,c,p,r).

Catatan (11) :
Berlaku :
(i) A∪ B=B∪ A
(ii) A⊂ A∪B ; B⊂ A∪ B
(iii) Bila A⊂ B maka A∪ B= A
(iv) A∪∅=a. A∪U =U

2. Irisan (Intersection), dinotasikan dengan ∩


A∩ B = ( x | x ∈ A dan x ∈B ).
Di dalam diagram Venn :

Bila A dan B saling lepas maka A∩ B=∅

Contoh (1.12) :
Bila P = (a,b,c,d,e), Q = (d,e,f,g)
maka P∩Q (d,e).
Bila R = (p,q,r) maka P∩R=∅

Catatan (12) :
(i) A∩ B=B∩ A
(ii)  A∩B⊂ A ; A∩B⊂B
(iii) Bila A⊂ B maka A∩ B= A
(iv) A∩∅=∅ , A∩U =A

3. Selisih (Difference), dinotasikan dengan -


A – B = ( x | x ∈A dan x ∈B )
Di dalam diagram Venn :

Contoh 1.13 :
S = (a, b, c, d), T = (f,b,d,g)
maka S – T = (a, c), dan T – S = (f,g)

Catatan (13) :
(i)  A−B ⊂ A
(ii) A− B≠B− A bila A≠ B
(iii) Bila A⊂ B maka A− B=∅ dan  B− A⊂ B
4. Komplemen dari A, dinotasikan A' atau Ac
Di dalam diagram Venn :

A ' = x∨x ∉ A , x∈U =U − A

Contoh (1.14) :
Misalkan U (x | x huruf Latin) dan T = (x | x huruf mati) maka T' = ( x | x huruf hidup) =
(a,e,i,o,u).

Catatan (14) :
(i) A∩ A' =∅
(ii) A∪ A' =U
(iii) U ' =∅ , ∅' =U
(iv)  A ' '= A
(v) A− B= A∩B '
(vi) Bila A⊂ B maka B ' ⊂ A'

Catatan (15) :
Operasi selisih simetri, dinotasikan dengan ∆:
A ∆ B =  A∪B− A∩B= A−B∪ B− A
Seperti dalam diagram Venn:

Contoh (1.15) :
Bila A = (2,3,4,5,6) dan B = {1,3,4,6} maka A ∆ B = 125).

Catatan (16)
Hasil kali cartesius dari 2 himpunan A dan B, yaitu :
A x B = {(a,1), (a,2), (b,1), (b,2), (c,1), (c,2)}
B x A = {(1,a), (1,b), (1,c), (2,a), (2,b), (2,c)}
Terlihat bahwa pada umumnya A x B≠B x A
1.4 Aljabar Himpunan

Himpunan dengan operasi yang telah kita jelaskan pada bagian (1, 3) yang lalu, ternyata
memenuhi banyak sekali hukum dan kesamaan aljabar. Beberapa diantaranya telah disebutkan.
Secara lengkap, hukum dan kesamaan aljabar himpunan tersebut dapat kita lihat pada tabel (1.1)

Hukum Idempoten Hukum Asosiatif


(1a) A∪ A= A (2a)  A∪B∩C =A∪ B∩C
(1b) A∩ A= A (2b)  A∩B∪C =A∩ B∩C
Hukum Komutatif Hukum Distributif
(3a) A∪ B=B∪ A (4a) A∪ B∩C = A∪B∩ A∪C 
(3b) A∩ B=B∩ A (4b) A∩ B∩C = A∩B∩ A∩C 
Hukum Identitas Hukum Involusi
(5a) A∪∅=A (7)  A ' ' =A
(5b) A∩∅=∅
(6a) A∪U =U
(6b) A∩U =A
Hukum Komplemen Hukum DeMorgan
(8a) A∪ A' =U (10a)  A∪B '= A' ∩B '
(8b) A∩ A' =∅ (10b)  A∩B ' = A' ∪B '
(9a) U ' =∅
(9b) ∅' =U

Untuk membuktikan berlakunya hukum-hukum pada aljabar himpunan, kita dapat


menggunakan 2 cara.

Cara pertama adalah membuktikan bahwa himpunan hasil operasipada ruas kiri merupakan
himpunan bagian dari himpunan hasil pada ruas kanan dan sebaliknya

Hal ini berakibat ruas kanan = ruas kiri.

Cara kedua adalah menggunakan diagram Venn

Contoh (1.16 ):
Kita ingin membuktikan hukum DeMorgan :  A∪B ' = A' ∩B '

Cara 1 :
Pertama kita tunjukkan bahwa  A∪B ' ,⊂A' ∩B '

Ambil sembarang x ∈ A∪B' berarti x ∉ A∪B , yang berarti pula x ∉ A dan


x ∉ B . Jadi x ∈A ' dan x ∈B ' , berarti x ∈A ' ∩B Oleh karena itu  A∪B ⊂ A' ∩B ' .

Selanjutnya kita tunjukkan bahwa A '∩B ' ⊂ A∪B' . Ambil sembarang x ∈A '∩B ' ,
berarti x ∈ A dan x ∈ B . Karena itu x ∉A dan x ∉ B , berarti x ∈ A∪B . Jadi
x ∈ A∪B' . Sehingga A '∩B '⊂ A∪B' .

Kita Ingat bahwa bila diketahui 2 himpunan P dan Q yang memenuhi P⊂Q dan Q⊂ P
maka P = Q. Berdasarkan ini, terbukti bahwa  A∪B ' = A' ∩ B'
Cara 2 :
Dengan diagram Venn, terlihat  A∪B ' adalah bagian yang berarsir pada gambar 10a.
A ' ∩B ' adalah bagian yang berarsir ganda pada gambar 10d. Nampak bahwa kedua bagian
 A∪B ' serta A '∩B ' adalah sama.

Catatan (17) :
Suatu sifat penting yang dimiliki oleh aljabar himpunan adalah sifat dualitas dari kesamaan
himpunan. Dual E dari kesamaan E adalah kesamaan yang diperoleh dengan berturut-turut
∪,∩, ∅ , dan U pada E masing-masing diganti dengan ∩,∪, U dan ∅ . Sebagai
contoh, E : U ∩A∪ B∩ A= A mempunyai dual E :

∅∪ A∩ B∪ A= A

1.5 HIMPUNAN HINGGA DAN PERHITUNGAN ANGGOTA

Kalau A adalah himpunan hingga, artinya A mempunyai anggota sebanyak hingga, kita
dapat menyatakan banyaknya anggota A sebagai n(a) atau #(A).

Berikut ini beberapa sifat yang berkaitan dengan banyak anggota himpunan :

1. Jika A dan B himpunan hingga yang saling lepas ( A∩ B = ∅ ), maka


n  A∪ B=n An B
2. Jika A dan B sembarang himpunan hingga, maka A∪ B hingga, demikian pula A∩ B
Di sini n  A∪ B=n An B−n A∩B
3. Sifat (2) dapat kita perluas untuk sembarang 3 himpunan hingga A, B dan C.
Berarti n  A∪ B∪C =n  An  Bn C −n A∩B−n  A∩C −n B∩C A∩ B∩C 

Contoh (1.18):
Dari 120 orang mahasiswa semester 5 Sekolah Tinggi Komputer Gunadarma, 100 orang
mengambil paling sedikit satu mata kuliah apilikasi pilihan, yaitu kuliah Asuransi, Perbankan serta
Transportasi.

Juga diketahui bahwa:


65 orang mengambil Asuransi
45 orang mengambil Perbankan
42 orang mengambil Transportasi
20 orang mengambil sekaligus Asuransi dan Perbankan
25 orang mengambil sekaligus Asuransi dan Transportasi
15 orang mengambil sekaligus Perbankan dan Transportasi

Kita ingin mengetahui secara tepat berapa orang mahasiswa yang mengambil sekaligus 3
mata kuliah tersebut.
Untuk itu kita gambar diagram Venn seperti pada gambar 11, dengan A menyatakan
himpunan mahasiswa yang mengambil Asuransi, B yang mengambil Perbankan dan C yang
mengambil Transportasi.
Himpunan semesta U merupakan himpunan dari 120 orang mahasiswa semester 5
tersebut.
Di sini berarti n  A∪ B∪C  = 100 , n A=65 , n  B=45 , nC =42, n A∩B∩C=15 .
Berdasarkan sifat (3) di atas diperoleh n  A∩B∩C  , yaitu banyaknya mahasiswa yang
mengambil sekaligus ketiga mata kuliah tersebut, adalah 8 orang.
Sehingga, kalau setiap bagian diagram Venn kita lengkapi dengan banyaknya anggota,
diperoleh gambar 13.

Keterangan :
20 – 8 = 12 orang mengambil Asuransi dan Perbankan tetapi tidak mengambil Transportasi.
25 – 8 = 17 orang mengambil Asuransi dan Transportasi tetapi tidak mengambil Perbankan.
15 – 7 = 8 orang mengambil Perbankan dan Transportasi tetapi tidak mengambil Asuransi
65 – 12 – 7 – 8 = 28 orang mengambil Asuransi saja
45 – 12 – 7 – 8 = 18 orang mengambil Perbankan saja
42 – 17 – 7 – 8 = 10 orang mengambil Transportasi saja
120 – 100 = 20 orang tidak mengambil satu pun dari 3 mata kuliah tersebut.

ARGUMEN DAN DIAGRAM VENN

Banyak statemen verbal dapat dialihkan menjadi statemen himpunan. Statemen ini dapat
digambarkan dengan diagram Venn. Oleh karena itu, diagram Venn acap kali digunakan untuk
menganalisa validitasnya suatu argumen.

Contoh (1.19) :

Pandang asumsi S1, S2, S3 berikut :


S1 : Guru adalah orang yang tenteram hidupnya
S2 : Setiap raja merupakan orang kaya
S3 : Tidak ada orang kaya yang juga tenteram hidupnya

Kita hendak menggambarkan asumsi di atas dalam diagram Venn


Himpunan guru termuat dalam himpunan orang yang tenteram hidupnya (asumsi S1).
Himpunan orang tenteram hidupnya akan saling lepas dengan himpunan orang kaya (asumsi S3).
Himpunan raja termuat seluruhnya di dalam himpunan orang kaya (asumsi S2).

Dari sini dapat kita putuskan bahwa konklusi “Tidak ada guru yang merupakan orang kaya”
adalah valid. Demikian pula konklusi “Tidak ada seorang pun guru yang juga raja”.
Konklusi “Raja tenteram hidupnya” adalah tidak valid.

Contoh (1.20) :
Bagaimana kalau asumsi S2 pada contoh (1.19) yang lalu kita ubah menjadi “Ada raja yang
merupakan orang kaya”?

Diagram Venn berubah menjadi seperti pada gambar 14.

Jadi konklusi “Tidak ada seorang pun guru yang juga raja” adalah tidak valid. Demikian pula
halnya konklusi “Semua raja tidak tenteram hidupnya”.

1.7 BUKTI DENGAN INDUKSI MATEMATIKA (INDUKSI LENGKAP)


Jika P adalah suatu proposisi yang didefinisikan pada himpunan bilangan bulat positif N =
(1,2,3,...), artinya P(n) bisa bernilai benar (true) atau salah (false) kemudian P mempunyai sifat :

1. P(1) benar
2. P(n+1) benar untuk P(n) benar,
maka P adalah benar untuk semua n bilangan bulat positif anggota N.

Contoh (1.21) :
Pandang P adalah proposisi yang menyatakan bahwa jumlah n buah bilangan ganjil yang
pertama adalah n.

P(n) : 1 +3 + 5 . . . + (2n – 1) = n2

Bilangan ganjil ke n adalah (2n-1) dan bilangan ganjil berikutnya (yang ke n + 1) adalah (2n-
1)
Di sini P(1) : 1 = 12 benar
Anggap P(n) benar, maka
P(n+1) : 1 + 2 + 3 + . . . + (2n-1) + (2n+1)
= n2 + (2n + 1) = (n + 1)2 benar
Jadi P(n) benar untuk semua bilangan bulat positif n.