Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

TOKSIKOLOGI DASAR
UJI KETOKSIKAN AKUT DARI SIDAMETRIN
(SIPERMETRIN) TERHADAP MENCIT

Disusun oleh:
Gina Vinrensia (088114062)
Reyneldis Aprilia Adista Boleng (088114066)
Arumsih Kristining Tyas (088114074)
Jefta Willy Setiadi (088114080)
Fransisca Dian Permanasari (088114086)
Lusiana Dwi Aryanti (08811098)

LABORATORIUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010

1
PERCOBAAN I
UJI KETOKSIKAN AKUT DARI SIDAMETRIN (SIPERMETRIN) TERHADAP
MENCIT

I. LATAR BELAKANG
Pestisida merupakan zat yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan
hama. Hama yang paling sering ditemukan adalah serangga. Beberapa diantaranya
berlaku sebagai pembawa penyakit. Adapun penyakit yang ditularkan serangga ini
sebagian merupakan penyakit berat, seperti malaria, filariasis, demam kuning,
cacar riketsia, radang otak virus, tifus dan pes. Insektisida dapat membantu
mengendalikan penyakit-penyakit tersebut.

Namun pestisida khususnya dalam hal ini insektisida memiliki efek buruk
bukan hanya pada serangga tapi juga pada kesehatan manusia dan/ atau
lingkungan. Beberapa peristiwa keracunan massal oleh senyawa beracun dalam
insektisida mengakibatkan jatuhnya korban ribuan orang dan beberapa ratus di
antaranya meninggal. Kasus keracunan akut individual biasanya terjadi karena
memakan sejumlah besar pestisida secara tidak sengaja atau untuk bunuh diri.
Pejanan pestisida di tempat kerja kemungkinan besar dialami oleh para pekerja
yang terlibat dalam pembuatan, formulasi, dan penggunaan pestisida. Oleh karena
itu, penelitian yang berlanjut publikasi dan pendidikan yang memadai bagi kaum
awam mengenai potensi toksisitas senyawa insektisida perlu dilakukan untuk
mencegah peristiwa tersebut. Maka dalam kesempatan ini, kami akan melakukan
uji seberapa jauh potensi ketoksikan akut senyawa Sidamethrin secara per oral
terhadap mencit yang termasuk dalam penelitian ekperimental. Sasaran uji
ketoksikan akut ini adalah untuk memperoleh data kualitatif dan kuantitatif. Data
kualitatif berupa penampakan klinis dan morfologis efek toksik senyawa
Sidamethrin. Sedangkan data kuantitatifnya adalah harga LD50, yaitu dosis yang
dapat menyebabkan kematian 50% populasi hewan uji. Sehingga dari hasil uji
ketoksikan ini diharapkan manusia dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan
insektisida.

2
II. PERMASALAHAN
1. Berapa LD50 sipermetrin pada mencit?
2. Apa saja gejala klinis dari efek toksik yang timbul akibat pemejanan akut
Sidametrin (sipermetrin) pada mencit?

III. MANFAAT
a. Mengetahui potensi ketoksikan akut, berupa kisaran LD50 atau TD50
Sidametrin (sipermetrin) pada hewan uji.

b. Mengetahui gejala klinis yang timbul, efek toksik yang khas, dan
mekanisme yang memperantarai terjadinya kematian hewan uji akibat
pemberian Sidametrin (sipermetrin).

IV. TUJUAN
∗ Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, tata cara pelaksanaan,
luaran, dan manfaat uji ketoksikan akut Sidametrin (sipermetrin).
∗ Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui potensi ketoksikan akut (LD50) dari Sidametrin


(sipermetrin) pada mencit
b. Untuk mengetahui berbagai gejala klinis yang timbul, adanya efek
toksik yang khas, dan mekanisme yang memerantarai kematian hewan uji
V. PENELAAH PUSTAKA
Kondisi efek toksik adalah berbagai keadaan atau faktor yang dapat
mempengaruhi efektivitas absorbsi, distribusi dan eliminasi zat beracun sehingga
menentukan keadaan zat kimia utuh atau metabolitnya dalam sel sasaran serta
toksisitasnya atau keefektifan antaraksi dengan sel sasaran Peristiwa timbulnya pengaruh
bahaya atau efek toksik racun atas makhluk hidup melalui beberapa proses. Pertama
mahluk hidup mengalami pemejanan dengan suatu bahan tertentu. Berikutnya, setelah

3
mengalami absorbsi dari tempat pemejanan, racun atau metabolitnya akan terdistribusi ke
tempat aksi tertentu yang ada dalam mahluk hidup (Donatus, 2001).
Untuk meneliti berbagai efek yang berhubungan dengan massa pemejanan,
penelitian toksikologi biasanya dibagi menjadi 3 bagian atau kategori:
1. Uji toksisitas akut dilakukan dengan memberikan zat kimia yang sedang diuji
sebanyak 1 kali atau beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam.
2. Uji toksisitas subkronik dilakukan dengan memberikan bahan tersebut berulang-
ulang, biasanya setiap hari atau lima kali seminggu, selama jangka waktu kurang
lebih 10% dari masa hidup hewan.
3. Uji toksisitas jangka panjang, dilakukan dengan memberikan zat kimia berulang-
ulang selama masa hidup hewan atau sekurang-kurangnya sebagian besar dari
masa hidup hewan (Lu, 1995).
Uji toksikologi adalah tatacara untuk mendeteksi dan mengevaluasi kondisi,
mekanisme, wujud dan sifat efek toksik zat kimia pada hewan uji utnuk menentukan
batas keamanannya. Untuk praktikum kali ini digunakan uji ketoksikan tak khas yaitu
ketoksikan akut, selain itu subkronis dan kronis juga termasuk uji ketoksikan tak khas.
Toksisitas akut merupakan toksisitas yang dihasilkan dari pemejanan tunggal suatu
senyawa (Donatus,2001).
Uji ketoksikan akut dirancang untuk menentukan efek toksik suatu senyawa(misel
zat tambahan makanan)yang akan terjadi dalam waktu yang singkat setelah pemejanan
atau pemberiannya dengan takaran tertentu. Uji ini dikerjakan dengan memberikan dosis
tunggal senyawa uji pada hewan uji ( sekurang-kurangnya 2 jenis hewan uji roden dan
nirroden, janta maupun betina). Takaran dosis yang dianjurkan paling tidak 4 peringkat
dosis, berkisar dari dosis terendah yang tidak / hampir tidak mematikan seluruh hewan uji
sampai dengan dosis tertinggi yang dapat mematikan seluruh / hampir seluruh hewan uji.
Senyawa ini diberikan melalui jalur yang akan digunakan oleh manusia / jalur yang
memungkinkan manusia terpejani dengan senyawa itu (Donatus, 2001).
Adapun wujud efek toksik dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Respon fisiologis
Berkaitan erat dengan fungsi jasmani seperti bernafas, peredaran darah, kontraksi
otot kesetimbangan elektrolit dan lain sebagainya.

4
2. Respon biokimia
Contohnya pengikatan atau pengurangan aktivitas transpor elektron pembangkit
energi di mitokondria, sintesis protein, pergeseran sistem hormonal dan lain
sebagainya (Donatus,2001).
Penelitian ini dirancang untuk menentukan dosis letal median (LD50) toksikan.
Penelitian ini dirancang untuk Pengujian ini juga dapat menunjukkan organ sasaran yang
mungkin dirusak oleh efek toksik spesifiknya, serta memberikan petunjuk tentang dosis.
Yang sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama (Lu, 1995).
Letal Dose 50 didefinisikan para ahli pada Panel Organization of Economic
Coperation an Development sebagai turunan statistik dosis tunggal suatu zat yang
diharapkan dapat menyebabkan kematian pada 50 hewan uji. Penekanan dalam studi
toksisitas adalah pada kejelasan dosis respon dan onset tanda-tanda toksik. Hispatologi
menjadi sangat bernilai dalam mengidentifikasi organ sasaran (Hayes, 2001).

Potensi Ketoksikan akut


Dosis letal median sudah biasa digunakan sebagai ukuran ketoksikan akut suatu
senyawa atau bahan secara umum. LD50 ini dinyatakan sebagai miligram dari zat aktif
uji / kilogram berat badan hewan uji (mg/kg). Harga LD50 merupakan tolak ukur
ketoksikan akut racun.
LD50 didefinisikan sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik
diharapkan akan membunuh 50% hewan coba. Pengujian ini juga dapat menunjukkan
organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya, serta memberikan
petunjuk tentang dosis yang sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama.
evaluasi tidak hanya mengenai LD50, tetapi juga terhaap kelainan tingkah laku, stimulasi
atau depresi SSP, aktivitas motorik, dan pernafasan untuk mendapat gambaran tentang
sebab kematian. Hal ini harus dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium klinik dan
pembuatan sediaan histologik dari organ yang dianggap dapat memperlihatkan kelainan
(Ganiswarna, 1995)
Penggunaan nilai LD50 sangat berguna untuk hal-hal berikut :
1. Klasifikasi zat kimia sesuai dengan toksisitas relatifnya

Klasifikasi lazim adalah sebagai berikut:

5
Kategori LD50
Super toksik 5 mg/kg atau kurang
Amat sangat 5-50 mg/kg
Sangat toksik 50-500 mg/kg
Toksik sedang 0,5-5 mg/kg
Toksik ringan 5-15 mg/kg
Praktis tidak toksik >15 mg/kg

2. Dalam evaluasi dampak keracunan yang tidak disengaja, perencanaan penelitian


toksisitas akut dan kronik pada hewan; memberikan informasi tentang:

a. Mekanisme toksisitas

b. Pengaruh umur, seks, faktor penjamu, dan faktor lingkungan

c. Variasi respon antar spesies dan antar stain hewan

Memberikan informasi tentang reaktivitas suatu populasi hewan,


memberikan sumbangan bagi informasi yang membutuhkan dalam merencanakan
pengujian obat pada manusia dan dalam pengendalian mutu zat kimia, deteksi
pencemaran toksisitas serta perubahan fisik yang mempengaruhi bioavailabilitas
(Lu, 1995).
Piretroid dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan struktur dan manifestasi
klinisnya dalam dosis berlebih. Piretroid tipe satu (permetrin, aletrin, tetrametrin,
fenotrin) kekurangan gugus siano, sedangkan tipe dua (sipermetrin, deltametrin,
fenpropatrin, flufalinad, fenvalerat) yang memiliki gugus siano pada ikatan esternya
biasanya lebih poten dan toksik dibandingkan piretroid tipe satu (Goldfrank, 2002).
Cypermethrin

Cypermethrin (BSI, E-ISO, ANSI, BAN); cyperméthrine ((f) F-ISO)

Sipermetrin, ditemukan pada tahun 1975. Insektisida non-sistemik ini bekerja


sebagai racun kontak dan racun perut, efektif-terutama-untuk mengendalikan
Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, Hemiptera, dan kelas-kelas lainnya. Sipermetrin

6
digunakan di bidang pertanian, rumah tangga, kesehtan masyarakat, dan kesehatan
hewan. LD50 (tikus) sekitar 250-4.150 mg/kg; LD50 dermal (tikus) > 4.920 mg/kg
agak menimbulkan iritasi kulit dan mata; LC50 inhalasi (4 jam, tikus) 2,5 mg/liter
udara; NOEL (2 tahun, tikus) 7,5 mg/kg; dan ADI 0,05 mg/kg bb (Djojosumarto,
2008).

VI. LANDASAN TEORI


Uji ketoksikan akut merupakan suatu uji yang pemejanannya dilakukan
satu kali dalam dosis tunggal yang memberikan efek toksik pada hewan uji dalam
jangka waktu 24 jam.
Sipermetrin merupakan golongan piretroid tipe dua yang lebih toksik
dibandingkan piretroid tipe satu.
Penggunaan nilai LD50 sangat berguna untuk klasifikasi zat kimia sesuai
dengan toksisitas relatifnya serta untuk evaluasi dampak keracunan yang tidak
disengaja, perencanaan penelitian toksisitas akut dan kronik pada hewan.

VII. HIPOTESIS
1. LD50 sidametrin adalah

2. Gejala klinis yang muncul dari pemejanan akut sidametrin pada mencit adalah
takikardi, perubahan sikap, gelisah, konvulsi, dan pasif.

7
VIII. METODE PENELITIAN
1. Variabel penelitian
a. Variabel utama
• Variabel bebas
Pemberian Sidametrin (sipermetrin) dengan 4 tingkatan dosis:
− Dosis I : 2,8 mg/20 gram BB mencit

− Dosis II : 5,6 mg/20 gram BB mencit

− Dosis III : 11,2mg/20 gram BB mencit

− Dosis IV : 22,4 mg/20 gram BB mencit

• Variabel tergantung
Jumlah mencit yang mati, gejala toksik (takikardi, bradikardi dipsnea,
bradipnea), perubahan berat badan
b. Variabel pengganggu
• Varibel yang dikendalikan
Jenis mencit : jantan ,galur swiss bobot 20-30 g
• Variabel yang tidak dikendalikan
Keadaan lingkungan laboratorium seperti suhu dan kelembapan
2. Alat dan bahan

 Alat

• Timbangan analitik

• Beaker glass

• Labu ukur

• Pangaduk

• Pipet ukur

• Pipet tetes

8
• Spuit injeksi oral

 Bahan

• Sidametrin (sipermetrin)

• Aquadest

• Hewan uji

3. Cara kerja

1. Pemilihan hewan uji

Dipilih hewan uji mencit galur swiss, dewasa, sehat, beratnya seragam (variasi
diperbolehkan ± 10% ), dipilih 5 ekor

2. Pengelompokan hewan uji

Hewan uji terpilih diadaptasi dilaboratorium selama 1 minggu

Lakukan penimbangan hewan uji

Hewan uji dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai peringkat dosis yang akan
diberikan, ditambahkan satu kelompok kontrol negatif

Tiap kelompuk uji paling tidak terdiri dari lima ekor hewan uji

3. Tata cara pemberian


9
Senyawa uji dipersiapkan dalam 4 tingkatan dosis:

Dosis I : 3,5 mg/20 gram BB mencit


Dosis II : 7 mg/20 gram BB mencit
Dosis III : 14 mg/20 gram BB mencit
Dosis IV : 28 mg/20 gram BB mencit
Hitung volume pemberian

Berikan pada hewan uji secara p.o.

4. Pengamatan

Pengamatan dilakukan selama 24 jam

Pengamatan meliputi pengamatan fisik terhadap gejala klinis, perubahan berat


badan, jumlah hewan yang mati, histopatologi seluruh organ

5. Analisis dan evaluasi hasil

Data gejala klinis yang tampak pada fungsi vital secara kualitatif dipakai untuk
mengevaluasi mekanisme penyebab kematian

Data gejala efek toksik digunakan untuk mengevaluasi spektrum efek toksik

Data jumlah hewan yang mati, secara kuantitatif digunakan untuk menghitung
LD50 mengikuti salah satu cara dalam pendahuluan

10
Bila sampel batas volume maksimum tidak menimbulkan kematian hewan uji,
maka dosis tertinggi tersebut dinyatakan sebagai LD50 semu

11
DAFTAR PUSTAKA
Donatus, I. A., 2001 a, Toksikologi Dasar, 200 – 201, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta
Donatus, I.A.,2001 b, Toksikologi Pangan, Edisi I,142-152 PAU Pangan dan Gizi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Djojosumarto, P., 2008, Pestisida dan Aplikasinya,hal. 109, Agro Media Pustaka, Jakarta

Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, hal 675,764-766, Fakultas Kedokteran,


Universitas Indonesia, Jakarta
Goldfrank, Lewis, R., 2002, Goldfrakn’s Toxicologic Emergencies 7th edition, 1373, The
McGraw-Hill companies, Inc, USA
Hayes, 2001, Acute Toxicity and Eye Irritancy Principles and Method of Toxicology, 850,
860, 862, 867, Taylor, Philadolphia
Lu, F.C.,1995,Toksikologi Dasar : Asas, Organ Sasaran, dan Perilaku Resiko, ed. II hal
8, 10, 12, 85-93, UI Press, Jakarta

12
PEMBAHASAN
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui potensi ketoksikan akut
(LD50) dari Sidametrin (sipermetrin) pada mencit serta untuk mengetahui berbagai
gejala klinis yang timbul, adanya efek toksik yang khas, dan mekanisme yang
memerantarai kematian hewan uji (mencit).
Uji toksikologi dibagi menjadi dua, yaitu uji ketoksikan khas dan uji
ketoksikan tidak khas. Percobaan yang dilakukan ini termasuk dalam uji
ketoksikan tidak khas. Uji ketoksikan akut ini adalah uji yang digunakan untuk
menentukan atau mengetahui efek toksik suatu senyawa dalam bentuk kisaran
dosis pestisida yang menimbulkan ketoksikan dalam waktu singkat (24 jam)
setelah pemejanan dengan dosis tertentu dan untuk menilai gejala klinis yang
terjadi, serta mekanisme yang memerantai dan adanya efek toksik yang khas.
Senyawa yang digunakan dalam percobaan ini adalah Sidametrin, dan
hewan uji yang digunakan adalah mencit. Sidametrin merupakan senyawa
pestisida yang salah satu komposisinya adalah sipermetrin, senyawa sipermetrin
termasuk dalam golongan piretroid tipe 2 yang memiliki gugus siano pada ikatan
esternya, dan lebih bersifat toksik.
Struktur
Cypermethrin

Cypermethrin (BSI, E-ISO, ANSI, BAN); cyperméthrine ((f) F-ISO)

Sipermetrin sering digunakan dalam bidang pertanian, rumah tangga,


kesehtan masyarakat, dan kesehatan hewan. Dimana secara teoritis, LD50 (tikus)
sekitar 250-4.150 mg/kg; LD50 dermal (tikus) > 4.920 mg/kg agak menimbulkan
iritasi kulit dan mata; LC50 inhalasi (4 jam, tikus) 2,5 mg/liter udara; NOEL (2
tahun, tikus) 7,5 mg/kg; dan ADI 0,05 mg/kg BB.

13
Sidametrin adalah senyawa tak larut air sehingga pada perlakuan secara per oral
pada mencit, sidametrin tidak dilarutkan dalam air, melainkan langsung di ambil
dengan spuit oral karena sidametrin yang digunakan ini sudah berwujud cairan, dengan
konsentrasi 50 mg/mL. Mekanisme sidametrin sehingga menyebabkan kematian.
Mekanisme toksik dari sidametrin yaitu menghambat pengeluaran asetilkolin esterase
pada aktifitas kolinergik sehingga reseptor kolinergik merangsang pengeluaran
asetilkolin terus menerus tanpa dihidrolisis yang menyebabkan terjadinya akumulasi
asetilkolin.

Hewan uji yang digunakan adalah mencit dengan galur swiss karena adanya
beberapa kesamaan antara mencit dengan manusia terutama adanya kemiripan absorbsi,
distribusi serta metabolismenya. Dalam pemilihan mencit sebagai hewan uji terdapat
beberapa hal yang seharusnya dikendalikan yang disebut variabel pengacau, yaitu:
umur, galur, dan berat badan. Mencit yang digunakan pada praktikum berjumlah 20
ekor, tiap kelompok kecil mendapatkan 5 ekor mencit, satu mencit sebagai kontrol
keempat ekor mencit dipejankan dengan 4 varian dosis :
Dosis I : 3,5 mg/20 gram BB mencit
Dosis II : 7 mg/20 gram BB mencit
Dosis III : 14 mg/20 gram BB mencit
Dosis IV : 28 mg/20 gram BB mencit

Dosis I adalah dosis terendah dimana pada dosis terendah ini diharapkan tidak
bersifat toksik bagi mencit atau tidak menyebabkan mencit mati, sedangkan pada dosis
IV yang merupakan dosis tertinggi sehingga diharapkan dapat menjadi dosis dimana
terdapat efek toksik atau mematikan bagi mencit. Pemejanan sidametrin dilakukan secara
p.o untuk menyamakan perlakuan dengan pemberian pada manusia. Pada percobaan,
dilakukan pengamatan terhadap jumlah hewan yang mati sehingga dapat diketahui nilai
LD50. Namun pada praktikum ini didapatkan semua mencit baik yang dipejankan dengan
dosis terendah sampai dosis tertinggi mengalami kematian. Sehingga tidak didapatkan
letal dosis karena 100% mencit mati. Konsentrasi larutan stok sidametrin yang digunakan

14
adalah 50 mg/ml. Setelah pemejanan dilakukan dan diamati, maka selama 3 jam pertama
pada dosis 1 tidak ada hewan uji yang mati, pada dosis 2 ada 2 hewan uji yang mati, pada
dosis 3 ada 1 yang mati dan dosis 4 ada 1 hewan uji yang mati, namun setelah 24 jam
ternyata seluruh mencit mati. Hal ini mengakibatkan data tidak dapat digunakan karena
hewan uji yang mati lebih dari 50%. Kematian mencit yang tidak sesuai peringkat dosis
maupun kematian seluruh hewan uji ini diperkirakan karena faktor berikut:
• Perbedaan cara penyuntikan tiap kelompok mencit,

kemungkinan sidametrin masuk ke paru-paru hewan uji atau spuit injeksi masih
belum bebas dari gelembung sehingga memberikan efek mematikan bagi mencit
selain karena senyawa toksiknya.

• Kondisi patologis mencit

Kemungkinan mencit yang digunakan untuk percobaan kali ini sudah pernah
terpejan senyawa toksik lain, sehingga ketika mencit ini digunakan lagi dan
dipejankan senyawa toksik, tubuh mencit sudah tidak dapat mentoleransi senyawa
toksik yang masuk dan akhirnya mengakibatkan kematian.

Gejala yang diamati setelah pemejanan yaitu pada susunan saraf pusat dan
somatomotor meliputi perilaku (sikap terhadap pengamat, kegelisahan), kereaktifan
terhadap aneka rangsangan ( keaktifan, kepasifan), gejala (tremor, konvulsi), susunan
saraf otonom yang meliputi sekresi( lakrimasi yang artinya pengeluaran keringat),
pernafasan yang meliputi sifat dan laju pernafasan (bradipnea yang artinya, dispnea),
kardiovaskuler (bradikardi yang artinya denyut jantung lemah dan takikardi yang artinya
denyut jantung yang tinggi), dan saluran cerna.
Dari percobaan didapatkan untuk mencit disetiap kelompok perlakuan sebagian
besar menunjukkan perubahan sikap, gelisah, tremor, konvulsi, bergerak, dispnea dan
kecepatan denyut jantung meningkat. Dan jika dilihat histopatologinya setelah dibedah
pada mencit yang mati, didapat:
• Hati berwarna lebih hitam(merah tua, gelap), bengkak
• Ginjal berwarna merah hingga cokelat
• Lambung bengkak dan pucat (warna putih susu)

15
• Paru-paru tidak mengalami perubahan
• Jantung berwarna merah kecokelatan hingga hitam
Dari uji ketoksikan akut yang dilakukan tidak dapat diperoleh data kuantitatif
berupa LD50 yang merupakan suatu besaran yang diturunkan secara statistik untuk
menyatakan dosis tunggal dari suatu senyawa yang diduga menimbulkan efek toksik
yang berarti pada 50% hewan uji (mencit), hal ini dikarenakan matinya semua hewan uji.
padahal yang dibutuhkan hanya kematian sebagian hewan uji dari populasi tersebut. Jika
ada nilai LD50 maka dapat digunakan untuk melakukan perkiraan terhadap takaran dosis
untuk uji toksikologi yang lainnya serta untuk mengetahui potensi ketoksikan akut
sidametrin.
Sebagai tambahan, untuk menghitung LD50 dapat digunakan beberapa metode,
berikut kelebihan dan kelemahan metode tersebut:
Kelebihan:
• Metode Grafik Lithfield & Wilcoxon; sangat mudah dilakukan, perhitungannya
mudah, LD50 dapat diketahui dari persamaan garis.

• Metode Kertas Grafik Probit Logaritma Miller & Tainter; bisa dipakai untuk semua
pola kematian, dapat digunakan untuk mengevaluasi batas keamanan dari suatu obat,
memiliki batas taraf keamanan serta kepercayaan.
Kekurangan
• Metode Kertas Grafik Probit Logaritma Miller & Tainter; hasilnya kurang valid.

16