Anda di halaman 1dari 9

BAB II

LANDASAN TEORI

II.1 Pengertian Sensor

Sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala – gejala

atau sinyal – sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik,

energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya.

Suatu peralatan yang memberitahukan kepada sistem kontrol tentang apa yang

sebenarnya terjadi dinamakan sensor atau juga dikenal sebagai transduser. Sebagai

contoh tubuh manusia mempunyai sistem sensor luar biasa yang memberitahukan

kepada otak manusia secara terus menerus dengan gambar – gambar yang layak dan

lengkap di sekitar lingkungan. Untuk sistem kontrol si pembuat harus memastikan

parameter apa yang dibutuhkan untuk dimonitor sebagai contoh : posisi, temperatur,

dan tekanan, kemudian tentukan sensor dan rangkaian data interface untuk melakukan

perkerjaan ini. Sebagai contoh, kita ingin mengukur aliran cairan dalam suatu pipa

dengan menggunakan flowmeter, atau kita ingin mengukur aliran secara tidak

langsung dengan melihat seberapa lama cairan mengisi suatu tangki dengan ukuran

tertentu.

Kebanyakan sensor bekerja dengan mengubah beberapa parameter fisik seperti

temparatur atau posisi ke dalam sinyal listrik. Ini sebabnya mengapa sensor juga

dikenal sebagai transduser yaitu suatu peralatan yang mengubah energi dari satu

bentuk ke bentuk yang lain.

II.2 Klasifikasi Sensor

Berdasarkan parameter – parameternya sensor dapat dibagi menjadi :

Universitas Sumatera Utara


1. Sensor Posisi (position sensors)

Contoh : potensiometer, optical rotary encoders, dan LVDT.

2. Sensor Kecepatan (velocity sensors)

Contoh : optical dan direct current tachometers.

3. Sensor Proximity (proximity sensors)

Contoh : limit switches, optical proximity switches, dan hall – effect switches.

4. Sensor beban (load sensors)

Contoh : bonded – wire strain gauges, semiconductor force strain gauges, dan low

– force sensors.

5. Sensor Tekanan (pressure sensors)

Contoh : tabung bourdon, bellows, dan semiconductor pressure sensors.

6. Sensor Temperatur (temperature sensors)

Contoh : sensor temperatur bimetal, termokopel, resistance temperature detectors

(RTD), termistor, dan IC temperature.

7. Sensor Aliran (flow sensors)

Contoh : pelat orifice, tabung venture, tabung pitot, turbin, dan flowmeter

magnetik (magnetic flowmeters).

8. Sensor Permukaan Cairan (liquid – level sensors)

Contoh : discrete, dan lain – lain.

II.3 Sensor Proximity (proximity sensors)

II.3.1 Limit Switches

Suatu sensor proximity memberitahukan kepada kontroller jika suatu bagian

yang bergerak berada pada posisi yang tepat. Limit switch adalah salah satu contoh

dari sensor proximity. Limit switch adalah suatu tombol atau katup atau indikator

Universitas Sumatera Utara


mekanik yang diletakkan pada suatu tempat yang digerakkan ketika suatu bagian

mekanik berada di ujung sesuai dengan pergerakan yang diinginkan. Sebagai contoh,

dalam pembuka pintu otomatis garasi semua kontroller harus mengetahui apakah

pintu terbuka atau tertutup sepenuhnya. Limit switch dapat mendeteksi kedua kondisi

ini. Gambar 2.1 menunjukkan beberapa contoh limit switch. Limit switch sangat

berperan untuk banyak aplikasi, tetapi mereka memiliki dua kekurangan yaitu

digunakan secara terus menerus sebagai peralatan mekanik akhirnya akan rusak, dan

limit switch membutuhkan sejumlah tekanan fisik untuk digerakkan.

(a) (b)

(c)

Gambar 2.1. (a) Tombol tekan (b) Tombol fleksibel (c) Roller

II.3.2 Optical Proximity Sensors

Optical proximity sensors sering disebut dengan interrupters, menggunakan

sumber cahaya dan sensor cahaya yang diletakkan pada suatu tempat dimana objek

dapat dideteksi ketika memotong garis cahaya. Gambar 2.2(a) detektor cahaya

menghitung sejumlah kaleng dalam suatu proses penyusunan. Gambar 2.2(b) detektor

cahaya menentukan lubang read – only pada floopiy disk terbuka atau tertutup.

Universitas Sumatera Utara


(a) (b)

Gambar 2.2. (a) Menghitung kaleng – kaleng pada belt conveyor

(b) Mendeteksi lubang pada floopy disk

Detektor cahaya mempunyai empat tipe yang sering digunakan yaitu photo

resistor, photodiodes, photo transistors, dan photovoltaic cells.

1. Photo resistor

Photo resistor terbuat dari suatu material seperti cadmium sulfide (CdS),

mempunyai sifat bahwa resistansi akan menurun jika permukaan cahaya

meningkat. Agak sensitif dan tidak mahal, resistansi dapat berubah oleh beberapa

faktor dalam keadaan terang ataupun gelap. Gambar 2.3(a) menunjukkan

rangkaian interface photo resistor, R pd menurun dan V out meningkat.

2. Photodiode

Photodiode adalah dioda yang sensitif terhadap cahaya. Ketika sebuah cahaya

mengenai langsung kepada titik PN akan mengakibatkan meningkatnya kebocoran

arus balik. Gambar 2.3(b) menunjukkan photodiode dengan rangkaian interface.

Memberitahukan bahwa photodiode diberi tegangan reversed biased dan bahwa

kebocoran arus balik yang kecil diubah ke dalam penguatan tegangan oleh

operational amplifier.

Universitas Sumatera Utara


3. Photo transistor

Gambar 2.3(c) menunjukkan cahaya secara efektif menghasilkan arus base dengan

membangkitkan sepasang rongga elektron pada titik CB, semakin banyak cahaya

maka transistor akan bekerja semakin baik.

4. Photovoltaic cell

Photovoltaic cell berbeda dengan sensor cahaya sebab Photovoltaic cell

sebenarnya menghasilkan daya listrik dari cahaya. Semakin besar cahaya maka

semakin besar pula tegangan atau dapat juga dinamakan solar cell. Ketika

digunakan sebagai sensor tegangan output yang kecil biasanya dikuatkan seperti

ditunjukkan pada Gambar 2.3(d).

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 2.3. (a) Photoresistor (b) Photodiode (c) Phototransistor

(d) Photovoltaic Cell

Beberapa aplikasi menggunakan optical proximity sensor yang dinamakan

dengan slotted coupler, juga disebut optointerrupter seperti yang ditunjukkan pada

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.4. Peralatan ini terdiri dari sumber cahaya dan detektor. Ketika suatu objek

bergerak ke dalam slot maka garis cahaya akan hancur. Peralatan ini diciptakan

dengan bentuk standar yang bervariasi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.4(a).

Untuk mengoperasikannya daya harus disediakan untuk LED, dan sinyal output

diambil dari phototransistor seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4(b), yang

menyediakan TTL – level (5 V atau 0 V) output. Ketika slotnya terbuka, cahaya

mengenai transistor maka akan menyala. Ketika sinar terganggu maka transistor akan

mati dan collector akan naik hingga 5 V melalui resistor.

(a) (b)

Gambar 2.4. (a) Tipe bentuk (b) Rangkaian

II.3.3 Hall – Effect Proximity Sensors

Pada tahun 1879 E. H. Hall menetapkan efek yang dinamakan efek hall yang

berasal dari namanya sendiri. Dia menemukan sifat khusus dari tembaga dan

kemudian semikonduktor yang lain. Mereka dapat menghasilkan tegangan dalam

medan magnet. Ini adalah merupakan sifat utama dari germanium dan indium. Efek

hall sebenarnya digunakan untuk wattmeter dan gaussmeter, dan sekarang juga

digunakan untuk sensor proximity. Gambar 2.5 menunjukkan beberapa tipe aplikasi.

Universitas Sumatera Utara


Dalam semua kasus sensor efek hall menghasilkan tegangan ketika medan magnetk

meningkat dengan sendirinya. Ini dapat dilakukan dengan menggerakkan magnet atau

mengubah garis medan magnet tetapi nilai dari tegangan hall tidak bergantung pada

pergerakan magnetnya melainkan bergantung pada medan magnetnya. Gambar 2.6

menunjukkan bagaimana efek hall bekerja. Pertama – tama sumber tegangan eksternal

digunakan untuk menghasilkan arus (I) pada semikonduktor kristal. Tegangan output

(V H ) melewati bagian dari kristal secara tegak lurus dengan arah arus. Ketika medan

magnet didekatkan maka tegangan negatif akan dibelokkan ke satu sisi untuk

menghasilkan tegangan. Hubungan ini dapat dijelaskan pada rumus berikut ini :

KIB
VH = ..................................................................................................... (2-1)
D

Dimana :

V H = Tegangan efek hall

K = Konstanta (bergantung pada material)

I = Arus dari sumber eksternal

B = Medan magnet

D = Konstanta ketebalan

(a) (b)

Gambar 2.5. (a) Berhadapan (b) Bergeser

Universitas Sumatera Utara


(c) (d)

Gambar 2.5. (c) Notch (d) Deteksi metal

Gambar 2.6. Cara Kerja Efek Hall

Rumus (2-1) menyatakan bahwa V H sebanding dengan I dan B. Jika I adalah

konstan dan V H sebanding dengan medan magnet (B). Oleh karena itu output tidak

sesungguhnya on atau off. Untuk memperoleh aksi switch maka output harus seperti

deteksi ambang seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.7(a). Rangkaian ini

menggunakan dua penguat pembanding (comparator amps) untuk menghasilkan

tegangan swith yang tinggi dan rendah. Ketika V H mencapai 0,5 V penguat atas akan

menyalakan R-S flip-flop dan ketika mencapai 0,25 V maka penguat bawah akan

mematikan flip-flop. Untuk bekerjanya rangkaian ini, maka kita harus memastikan

Universitas Sumatera Utara


magnet cukup mendekati sensor agar V H mencapai 0,5 V dan magnet cukup menjauhi

sensor agar V H mencapai 0,25 V.

Sensor efek hall yang lengkap dapat dibeli dalam bentuk IC. Salah satu contoh

adalah Allegro 3175 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.7(b). Allegro terdiri dari

sensor (X), bagian arus silang, dan deteksi ambang. Transistor akan bekerja ketika

medan magnet mencapai +100 gauss dan tidak bekerja ketika menurun hingga –100

gauss. Transistor dapat memuat 15 mA, yang dapat mengatur relay kecil atau

rangkaian digital secara langsung. Sensor efek hall biasanya digunakan pada banyak

aplikasi. Sebagai contoh, katup keyboard computer dan sensor proximity dalam

mesin.

(a) (b)

Gambar 2.7. (a) Deteksi Ambang (b) Allegro UGN – 3175

Universitas Sumatera Utara